Telapak Setan Jilid 05: Lengcu timur dari Nirwana

Jilid 05: Lengcu timur dari Nirwana

Di KOLONG langit masih ada suratan apa lagi yang jauh lebih menyedihkan daripada kematian dirinya sendiri ?

Pada waktu itulah, tiba-tiba ia mendengar pria bertato sembilan naga sedang berteriak keras.

"Eeei Eeei Bukankah engkau si-perempuan berkerudung telah membantu dirinya? Mengapa sekarang malahan bertengkar dengan dirinya ?"

Gak In Ling merasa hatinya agak bergerak setelah mendengar perkataan itu, buru-buru ia menyeka airmata yang membasahi wajahnya, lalu putar badan dan menghampiri Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu.

Terdengar gadis baju merah itu sedang berkata dengan suara yang amat dingin.

"Anak murid perkumpulanmu sering kali melewati batas wilayah dan mencelakai jiwa anak

murid kami, sekarang malah engkau menuduh diriku hmm, aku benar-benar tak bisa mengerti

bagaimana caranya engkau sebagai seorang ketua mendidik serta menguasai anak buah... "

Thian-hong pangcu segera tertawa dingin.

"Apakah engkau memaksa aku untuk mengambil beberapa contoh yang bisa dijadikan sebagai bukti ?" serunya.

"Tentu saja aku harus mencari bukti yang nyata "

"Eei, eeh nanti dulu, jangan ribut dulu " sela Gak In Ling berusaha melerai. "Kemungkinan besar diantara kalian memang sudah terjadi suatu kesalah pahaman."

Gadis berkerudung merah itu sama sekali tidak melirik kearah Gak In Ling barang sekejap pun, hardiknya dingin:

"Siapa engkau ? Berani benar banyak ngebacot ditempat ini ?"

Pria bertato sembilan naga amat menghormati Gak In Ling, ketika didengarnya gadis berkerudung merah itu bicara kasar dan kurang ajar terhadap pemuda itu, sepasang matanya kontan melotot besar, sambil mencekal toya besinya dia siap menerjang maju kedepan. Dengan cepat Gak In Ling menarik tangannya, ia menjawab dengan nada hambar:

"Aku sih cuma seorang manusia tak bernama dalam dunia persilatan, seorang gelandangan yang tak punya tempat tinggal."

"Hmm, tapi menurut penilaianku, semestinya engkau adalah anak murid dari perkumpulan thian- hong-pang . "

Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Dalam perkumpulan kami tidak terdapat seorang manusia macam dia." sahutnya. Mendengar ucapan itu gadis berkerudung merah jadi tertegun, kemudian tertawa sinis.

"Huuh Engkau sebagai anak murid perkumpulan thian- hong-pang, tapi orang lain tidak mengakui dirimu sebagai anak buahnya, belum pernah kujumpai manusia yang tak tahu malu seperti dirimu itu."

Ucapan ini tajam dan sinisnya bukan kepalang, siapapun tak akan tahan mendengar sindiran seperti ini.

Pria bertato sembilan naga tak dapat menahan diri lagi, sambil meraung keras, gembornya. "Kau ini macam apa? Maknya. ...dianggap nya kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih lihay dari pada dirinya ?"

"Saudara, harap tutup mulut" cegah Gak In Ling dengan cepat, sorot matanya segera dialihkan kearah gadis baju merah itu, kemudian menambahkan lebih jauh.

"Mungkin saja aku adalah seorang manusia yang paling tak tahu malu dikolong langit, tapi setiap patah kata yang kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya. Pangcu maupun Lengcu sama-sama merupakan dua kekuatan besar didalam dunia penilaian, asal kalian berdua dapat bergandengan tangan dan bekerja sama, rasanya tidak terlalu sukar untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, sekarang aku mempunyai seratus persen keyakinan yang bisa membuktikan-bahwa anak buah kalian berdua bukanlah mati di pihak kalian sendiri, cuma sayang buktinya kurang cukup hingga sukar untuk membuat kalian percaya, tapi aku tetap berharap agar kalian berdua suka menyelidiki masalah ini secara bijaksana dan otak dingin."

Gadis berkerudung merah itu mendengus dingin.

"Hm Siapakah namamu, cepat katakan"

Hawa gusar terlintas diwajah Gak In Ling, akan tetapi ia tetap bersabar diri. "Aku bernama Gak In Ling "jawabnya.

"Oooh, jadi engkau yang bernama Gak in Ling?" seru gadis berkerudung merah itu dengan wajah tertegun. Sorot matanya tanpa terasa menyapu wajah pemuda itu tajam-tajam, kembali pikirnya : "Hai... tampan juga wajahnya...."

"Lengcu, bukankah engkau sedang mencari diriku?" ujar pemuda itu lagi dengan suara hambar.

"Hm, rupanya engkau sedikit tahu diri " sambil berkata gadis itu alihkan sorot matanya

kearah lain-

"Lengcu, kalau engkau hendak membinasakan diriku, maka alangkah baiknya kalau mengijinkan aku untuk menerjang masuk kedalam lembah Toan-hua-kok ini dan mati didalam gua."

Gadis berkerudung merah itu tertawa dingin “Hm, engkau tak usah banyak bicara, dibawah panjiku manusia semacam- engkau tidak digunakan untuk melakukan pertarungan pertama, aku lihat lebih baik engkau bunuh diri saja"

Diatas wajah Gak In Ling terlintas napsu membunuh yang amat tebal, jangan dikata wataknya memang tinggi hati dan sombong, sekalipun terbuat dari tanah liatpun mungkin akan terbakar juga oleh hawa amarah yang berkobar.

Gak In Ling tak pernah menyangka maksud baiknya untuk memikirkan keselamatan dunia persilatan ditukar dengan sindiran tajam yang begitu sinis sehingga membuat ia tak bisa menahan diri lagi.

Dengan cepat Gak In Ling putar badannya, lalu berkata dengan nada yang seram.

"Hm, tak kusangka Lengcu nirwana adalah seorang manusia yang bodoh dan tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. tak sepantasnya kalau aku orang she Gak mempercayai berita dalam dunia persilatan dengan begitu saja."

Gadis berkerudung merah mengerutkan alisnya dan maju tiga langkah kedepan, hardiknya dengan ketus:

"Kurang ajar engkau berani menghina Lengcu kami ?"

"Oooh, jadi eagkau bukan lengcu itu sendiri?" seru Gak In Ling tertegun.

"Lengcu kami bukan seorang manusia biasa, hmm Manusia kurcaci macam engkau tidak nanti berhak untuk menjumpainya "

Gak In Ling benar-benar sudah naik pitam, sorot matanya membara dan ia membentak dengan keras.

"Mungkin aku orang she Gak sudah mengalah terlalu lama terhadap dirimu. sehingga kau anggap diriku jeri terhadapmu."

"Aku tahu selama ini engkau mengalah terus karena engkau takut mati." sela gadis berkerudung merah itu sebelum sang pemuda sempat menyelesaikan kata-katanya.

"Haa ha... haa... meskipun aku Gak In Ling bukan seorang enghiong hohan, tapi soal mati hidup sudah tak pernah kupikirkan lagi didalam hatiku, kalau engkau memang berhasrat untuk membinasakan orang she Gak ditanganmu, ayo sekarang juga silahkan turun tangan "

"Bagus, bagus sekali seorang enghiong ho-han memang tak boleh tunduk terhadap kaum wanita." teriak pria bertato sembilan naga didalam hati kecilnya.

"Hm apakah engkau hendak melakukan pergulatan bagaikan binatang yang terjebak?" Kembali perempuan berkerudung merah itu mengejek sambil tertawa dingin.

Pada saat ini perasaan antipati sudah muncul dalam hati Gak In Ling terhadap anak buah dari Yau Ti lengcu itu, ia merasa muak dan sebal, maka dengan ketus katanya:

"Engkau tak usah sombong dan tekebur, belum tentu engkau mampu untuk mempertahankan diri sebanyak sepuluh jurus diujung telapakku."

"Apa ?" jerit perempuan berkerudung merah.

Perkataan ini memang tak masuk diakal dan sukar untuk bikin gadis itu untuk mempercayainya, sekalipun Thian- hong pangcu yang berada di sisinya pun diam-diam berpikir. "Gak In Ling, engkau terlalu congkak dan omong besar."

Dengan wajah yang mengerikan dan suara yang tenang Gak in Ling berkata kembali:

"Aku bilang, tidak sampai sepuluh jurus aku orang she Gak dapat memaksa dirimu untuk terkapar diatas tanah dan menemui ajalmu dalam lembah Toan-hun-kok ini."

Perempuan berkerudung merah adalah seorang gadis yang sombong dan tinggi hati, dihina dan diejek oleh musuhnya dengan kata-kata yang begitu menghina apalagi berada dihadapan thian-hong pangcu, tentu saja membuat hatinya jadi panas sekali, dengan mata melotot dan memancarkan sinar kebengisan ia membentak:

"Bangsat, kalau hanya bicara melulu tidak ada gunanya, lihat seranganku ini " dengan jurus "Han yo-sui" atau bebek kedingingan bermain diair, ia terjang tubuh sianak muda itu.

Walaupun perempuan ini bukan lengcu nirwana. Tetapi dari tanda perintah yang dibawanya serta dikawal oleh empat orang dayang cantik, bisa ditarik kesimpulan bahwa kedudukannya amat tinggi, dan dengan sendirinya ilmu silat yang dimilikinya lihay sekali.

Setelah serangan dilancarkan, angin pukulan menderu- deru dan desiran tajam memanjang bagaikan bianglala, telapaknya berputar silih berganti sementara badannya bagaikan burung walet melayang kesana- kemari dengan gesitnya. Begitu lincah dan enteng, badannya sehingga menyilaukan mata.

Melihat serangan musuh, Gak In Ling merasakan hatinya tercekat, pikirnya didalam hati.

"Dibawah panji-panji nirwana, rupanya tak ada manusia yang lemah, tidak aneh kalau kata katanya begitu sombong dan takabur "

Ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya hanya dalam waktu singkat, pemuda itu tidak berani bertindak gegabah, buru-buru dengan gerakan tukar jubah ganti posisi, dia loncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Dalam anggapan perempuan berkerudung merah itu Gak In Ling pasti tak akan berhasil lolos dari cengkeramannya, atau paling sedikit walaupun nyaris dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya, keadaan pemuda itu tentu gelagapan dan mengenaskan sekali.

Siapa tahu dugaannya meleset sama sekali, bukan saja Gak In Ling dapat melepaskan diri dari terjangan kilatnya bahkan semua gerakan dilakukan dengan enteng dan leluasa sekali, tanpa terasa lagi ia menjerit tertahan-

Buru- buru jurus yang pertama dibuyarkan dan berganti dengan gerakan yang lain, baru saja sepasang kaki Gak In Ling menempel permukaan tanah, ia telah menerjang kembali kedepan sambil secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai.

Serangannya tajam dan ganas sekali, dimana angin pukulan dan bayangan jarinya dituju kejalan darah kematian di sekujur badan lawannya.

Dibawah serangan yang begitu gencar, Gak In Ling dengan gerakan yang enteng dan lincah tetap menerobos lewat diantara sambaran-sambaran lawan, meskipun tubuhnya tidak sampai terkena tapi seakan-akan ia telah kehilangan daya untuk membalas.

Empat orang dayang baju merah yang menyaksikan jalannya pertempuran itu dari sisi kalangan, sama-sama berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo, diatas wajahnya jelas menampilkan rasa kasihan, simpatik, kaget dan tak tenang, rupanya tanpa sadar mereka sedang menguatirkan keselamatan pemuda tampan itu.

Pria bertato sembilan naga paling gelisah dan cemas, diantara beberapa orang itu, terdengar ia bergumam seorang diri.

"Ayo, bocah tambah tenaga bagus, pukul terus, hajar saja dia sampai mampus "

Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, entah berapa banyak kekuatan tubuhnya yang terbuang oleh teriakan-teriakannya itu.

Ketegangan dan mara bahaya mencekam seluruh kalangan membuat suasana jadi sesak, dalam waktu singkat pertarungan sudah berlangsung sebanyak tujuh jurus, akan tetapi selama ini Gak In Ling tidak pernah melancarkan serangan balasan-

Gadis berkerudung merah itn segera melancarkan serangan yang kedelapan, sambil tertawa dingin ia berseru.

"Gak In Ling, tahukah engkau ini jurus yang keberapa ?"

"Jurus kedelapan-" jawab Gak In Ling sambil menghindar kesamping kanan dari gadis itu. "Nona, kita toh tak pernah terikat oleh dendam sakit hati apapun juga, demi kesejahteraan dunia persilatan, aku... "

"Tak usah banyak bicara lagi." bentak perempuan berkerudung merah. "Kalau engkau tidak mati, aku tak akan berhenti menyerang"

Cahaya membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dalam waktu yang amat singkat alisnya telah berkerut dan ia telah mengambil suatu keputusan yang menakutkan,

Baru saja perempuan itu menyelesaikan jurus yang kedelapan, siap melancarkan jurus yang kesembilan, tiba-tiba sia nak muda itu membentak nyaring.

"Hm, rupanya kau sudah bosan hidup, dan ingin mencari jalan kematian bagi diri sendiri"

Cahaya merah memancar keseluruh angkasa muncullah bayangan telapak yang tak terhitung jumlahnya menyelimuti seluruh tubuh perempuan berkerudung merah itu.

Begitu menyaksikan cahaya merah memancar keempat penjuru, hati perempuan berkerudung merah itu tercekat oleh rasa ngeri, dengan kagetnya dia menjerit. "Ah Telapak maut"

Laksana kilat tubuhnya melayang kesamping dengan menggunakan gerakan yang paling diandalkan oleh Ya u Ti lengcu yakni gerakan "Sian-cu Leng-in" atau bidadari jalan diatas awan, ia loncat sejauh tiga tonbak dari tempat semula.

Dalam perkiraan perempuan berkerudung merah itu, dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dia pasti akan berhasil melepaskan diri dari lingkaran pengaruh cahaya merah yang dipancarkan dari telapak maut sianak muda itu, siapa tahu gerakan tubuh Gak In Ling jauh lebih cepat daripada dirinya, belum sempat sepasang kaki perempuan berkerudung merah itu menyentuh tanah, tiba-tiba dari atas kepalanya sudah terdengar bentakan dari Gak In Ling berkumandang datang. "Engkau akan lari ke mana ?"

Cahaya merah dengan kencangnya mengikuti datang dan tetap menekan disekitar batok kepalanya.

Mendengar bentakan itu perempuan berkerudung merah tadi semakin terkesiap. dia tahu bahwa selembar jiwanya sudah tergenggam dalam cengkeraman malaikat elmaut, pikirannya jadi kacau dan timbullah keinginan untuk mempertahankan hidupnya, membuat dara itu tanpa sadar melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat kedepan-

Nampaklah sepasang, telapak Gak in Ling yang berwarna merah darah sudah makin mendekati batok kepala perempuan berkerudung merah itu, dan rupanya sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.

Di saat yang amat kritis itulah tiba-tiba Thian-hong-pangcu membentak keras. "Gak ln Ling, jangan lukai dirinya "

Segulung angin pukulan yang kencang, bagaikan angin puyuh dengan cepat menerjang kearah dada dianak muda itu.

Sebenarnya Gak In Ling memang tiada berhasrat mencelakai perempuan itu, maka selama delapan jurus yang pertama ia tak pernah melancarkan serangan balasan, kini setelah mendengar bentakan keras dari Thian-hong pangcu, dengan cepat segenap tenaga pukulannya ditarik kembali dan ia meloncat kearah samping.

"Blaaam" ditengah udara bergeletar ledakan keras, diikuti Gak In Ling mendengus berat.

Pertarungan seru yang sedang berlangsungpun segera berhenti, suasana dalam kalangan diliputi oleh kesunyian yang menyeramkan-

Sinar mata semua orang segera ditujukan ke satu arah, yakni ditujukan kearah Gak In Ling yang terkapar diatas tanah, darah kental mengucur keluar dari mulutnya, wajah yang tampan kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sehingga menakutkan sekali.

Dengan sorot mata yang pudar ia menyapu sekejap seluruh orang yang hadir didalam kalangan, dibalik biji matanya yang hambar dan tinggi hati sama sekali tidak nampak perasaan benci, yang ada hanya kemurungan serta kesedihan yang membuat orang jadi bingung. 

Empat orang dayang baju merah dengan tangan yang gemetar berdiri menjublek disisi kalangan, empat pasang mata dialihkan ketubuh pemuda itu, mereka tak dapat menilai apakah Gak In Ling seorang baik atau bukan, tetapi menurut perasaan mereka majikannya telah salah melukai seseorang yang tidak sepantasnya dilukai.

Perempuan berkerudung merah itu sendiri mundur kebelakang dengan sorot mata memancarkan rasa penyesalan, tangannya yang diluruskan ke bawah tampak agak gemetar.

Pria bertato sembilan naga sendiri melototkan sepasang matanya bulat-bulat, mulutnya terbuka lebar, perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini boleh dibilang membingungkan hatinya.

Dia dengan Gak In Ling walaupun baru bergaul selama satu hari, tapi setiap patah kata dan tingkah laku pemuda itu telah berkesan dalam hati kecilnya, bahkan menimbalka rasa hormat dan sayang bagi dirinya.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Thian-hong pangcu berteriak nyaring. "oooh kau terluka ?" Tubuhnya dengan cepat berkelebat kemuka dan menubruk kearah Gak In Ling yang sedang merangkak bangun itu.

"Hey, kau mau apa?" bentak pria bertato sembilan naga dengan penuh kegusaran- "Aku akan beradu jiwa dengan kalian."

Toya besi dalam genggamannya diiringi desiran angin tajam segera disapu ke depan dengan jurus "Heng-sau cian-kim" atau menyapu rata selaksa prajurit, dari desiran tajam yang dihasilkan oleh angin pukulan itu dapat diketahui bahwa babatannya disertai tenaga yang amat besar.

Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah jadi sangat terperanjat melihat datangnya serangan itu, buru-buru mereka loncat mundur beberapa tombak kebalakang den-gelagapan-

"Ee ee... engkau jangan salah paham" teriak Thian-hong pangcu dengan suara tertahan-"Aku tidak bermaksud untuk mencelakai jiwanya engkau jangan menaruh curiga."

Sepasang mata pria bertato sembilan naga telah berubah jadi merah berapi, melihat serangannya gagal secara beruntun ia lancarkan tujuh buah serangan berantai, sambil menyerang teriaknya marah.

"Hm kalian menyebut diri sebagai dua pemimpin besar dalam dunia persilatan, mengembar-gemborkan tujuan untuk mewujudkan kedamaian dan kebenaran bagi umat persilatan, tapi kalian sama sekali tak pantas dinilai dengan dirinya... kalian sama sekali tak bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang bengkok, kalian hanya pandai melakukan perbuatan menuruti emosi dan suara hati."

Jangan dilihat dia hanya seorang manusia kasar, setiap patah katanya ternyata amat menusuk perasaan orang.

Secara beruntun Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah harus menghindarkan diri kembali dari ancaman ketujuh buah serangan kilat itu, mereka gagal menembusi pertahanan bayangan toya dari pria bertato sembilan naga, hal ini bukanlah dikarenakan ilmu silat pria kasar itu amat lihay dan melebihi mereka berdua melainkan tindakan pria itu sendiri yang nekad membuat mereka jadi jeri.

Setiap jurus dan gerakannya dalam melancarkan serangannya, yang diutamakan adalah bagaimana caranya melukai lawan, pertahanan terhadap dirinya sendiri boleh dibilang sama sekali terbuka, rupa-rupanya ia sudah tidak memperdulikan keselamatan pribadi.

Pepatah-kuno mengatakan: satu orang sudah nekad, maka selaksa orang tak mampu melawan-Kendatipun ilmu silat yang dimiliki kedua orang perempuan itu sangat tinggi, tetapi bila mereka tidak melukai pria bertato sembilan naga lebih dahulu, tak mungkin pertahanan bisa dijebolkan dalam waktu singkat.

Dengan pandangan sedih Gak In Ling menyaksikan jalannya pertarungan ditengah gelanggang gumamnya seorang diri.

"Heng-tay, engkau adalah satu-satunya sahabat yang kumiliki didalam dunia persilatan, tapi beradu jiwa bagi diriku tindakan tersebut sama sekali tak ada harganya."

Sejenak kemudian dari dalam sakunya Gak In Ling ambil keluar botol berwarna hijau tua ketika sorot matanya yang sayu memandang botol dalam genggamannya, tangan yang mencekal tadi nampak mulai gemetar keras.

Dengan pandangan ngeri ia memandang botol persolen ditangannya, lalu berseru dengan penuh kepedihan-

"Setengah tahun setengah tahun ooh... Terlalu pendek. terlalu pendek sekali yaa, Thian Hukuman yang kau timpakan pada keluarga Gak kami terlalu berat, apakah engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk menyaksikan manusia-manusia laknat itu hidup dengan suka ria diatas jagad tanpa berhasil kujamah dan kulenyapkan-.. "

Airmata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang pucat, dengan penuh kepedihan ia menggigit bibirnya sendiri.

Hidup, belum tentu merupakan suatu kejadian yang paling baik, tapi hidup jauh lebih baik daripada mati, tapi ketika suatu kehidupan sudah dirasakan tiada artinya dan tiada harganya lagi, keadaan tersebut jauh lebih baik diakhiri dengan suatu kematian.

Gak In Ling, walaupun tidak menginginkan suatu kehidupan yang penuh penderitaan, akan tetapi dia harus tetap hidup untuk menyelesaikan tugas penting yang menjadi bebannya, oleh sebab itu ia tak dapat mati dengan begitu saja.

Perlahan-lahan Gak In Ling membuka penutup botol persolen itu dan mengambil keluas sebutir pil berwarna hijau tua, kemudian obat tadi dimasukkan ke dalam mulutnya.

Thian-hong pangcu walaupun selama ini selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari serangan-serangan maut dari pria bertato sembilan naga, namun pikirannya sama sekali tertuju kearah pemuda itu.

Apa yang dilakukan Gak In Ling dapat dilihat olehnya dengan jelas, hampir saja jantungnya copot karena kaget, tak tertahan lagi ia berteriak nyaring.

"Gak in Ling, engkau tak boleh menelan obat itu, tak boleh... " suaranya penuh perasaan sedih dan memohon, sementara air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Mendengar jeritan itu, perempuan berkerudung merah tadi pun melirik sekejap kearah Gak In Ling, setelah melihat obat yang ditelan diapun menjerit tertahan-"Aaah Pil cui-sim-wan "

"Pil cui-sim-wan ?" Pria bertato sembilan naga pan terperanjat, tanpa sadar jurus serangan-nyapun makin memgendor.

Menggunakan kesempatan itulah perempuan berkerudung merah melancarkan serangan dengan jurus "Tiam-sak-seng-kim" atau menutul batu jadi emas, ia totok jalan darah cian-keng-hiat di atas bahu pria bertato sembilan naga itu. Sementara itu Thian-hong pangcu telah meloncat kehadapan Gak In Ling.

Rupanya takdir telah menentukan lain, menanti dara cantik baju putih itu berhasil tiba di-hadapan sang pemuda, obat cui-sim-wan tadi telah tertelan kedalam perut sang pemuda yang keras kepala ini.

"Ooooh... mengapa kau hancurkan dirimu sendiri ?" keluh Thian-hong pangcu.

Dengan pandangan dingin Gak In Ling menyapu sekejap kearahnya kemudian perlahan-lahan memejamkan matanya, ia sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu.

Napas Gak In Ling yang memburu perlahan-lahan jadi tenang dan teratur kembali, wajahnya yang pucat kinipun sudah berubah jadi semu merah, dari luaran ia nampak sudah sembuh kembali, tapi dalam kenyataan kesegaran tersebut diperoleh seakan-akan seorang pemadat yang baru saja menghisap candu.

Keheningan dan kesunyian mencekam seluruh kalangan, begitu sepi sehingga setiap orang dapat mendengar detak jantungnya sendiri, dalam keedaan begini Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah telah melupakan perselisihan mereka, seluruh pikiran dan perhatian mereka telah ditumpahkan ketubuh Gak In Ling.

Suasana yang sesak kian mencekam seluruh jagad, membuat lembah Toan-hun-kok berubah jadi sepi sesunyi kuburan-

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepatnya akhirnya Gak In Ling menghela napas panjang dan membuka matanya kembali, sosot matanya memancarkan kemurungan dan kepedihan Thian-hong pangcu segera maju kedepan, tegurnya. "Kau kau apakah kau dalam keadaan baik ?"

Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah-wajahnya yang tampan diliputi keketusan dan kehambaran, ia sapu sekejap wajah kedua orang dara itu kemudian berkata dengan dingin-

"Mungkin kalian berdua merasa kecewa bukan ?"

"Apa yang kami kecewakan?" tanya perempuan berkerudung merah tanpa berpikir panjang.

"Kecewa karena aku tidak mati"

"Apakah engkau mengira bahwa kami mengharapkan engkau lekas mati?" tanya Thian-hong pangcu dengan sedih.

"Semoga saja kalian tidak berharap begitu."

"Asal sejak ini hari engkau takkan memusuhi umat persilatan didaratan Tionggoan lagi, persoalan yang sudah lewat tak akan kuungkap kembali." ujar perempuan berkerudung merah pula dengan suara yang lebih lembut.

"Setiap orang yang kucari dan setiap orang yang hendak kubunuh, tak akan tertolong oleh siapapun."

"Seandainya ada orang yang berhasil menolong korban-korbanmu itu ?"

"Kecuali kalau dia mampu membinasakan aku orang she Gak "

"Diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia, apakah engkau yakin bisa menangkan semua jago dalam dunia persilatan?" ujar Thian-hong pangcu dengan sedih.

Suaranya lembut dan halus, seakan-akan seorang isteri yang setia sedang menasehati suaminya.

Gak In Ling menengadah memandang langit nan biru, lalu menghela napas panjang. "Mungkin ucapanmu itu tidak salah." sahutnya.

Mendengar jawaban itu, satu ingatan berkelebat dalam benak Thian-hong pangcu, ujarnya lagi dengan lembut.

"Asal orang yang kau cari benar-benar telah melakukan kejahatan lebih dahulu dan dosa-dosa mereka dapat dibuktikan, kendatipun engkau tidak menjatuhi hukuman terhadnp mereka, umat persilatan, pasti akan membantu dirimu untuk melampiaskan dendam sakit hati ini... "

Dari perkataan itu sudah jelas sekali menunjukkan bahwa gadis ini memperingatkan bahwa ia bersedia membantu usaha pemuda itu.

"Aku tidak mengharapkan orang lain menemui ajalnya karena persoalan dari aku orang she Gak. Perkataanmu itu tak bisa kuterima." tukas Gak In Ling dengan cepat.

"Darimana engkau bisa tahu kalau orang lain akan menemui ajalnya karena persoalanmu itu?" tanya perempuan berkerudung merah.

"Karena orang-orang yang hendak kucari itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, di antara mereka yang paling lemahpun memiliki ilmu silat yang seimbang dengan kepandaianku."

Ucapan ini dengan cepat mengejutkan hati dua orang gadis itu, mereka pernah menyaksikan sendiri sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Gak In Ling, seandainya apa yang dia ucapkan tidak salah maka kendatipun segenap kekuatan inti yang ada dalam dunia persilatan di himpun menjadi satu belum tentu bisa membantu usaha pemuda itu.

Setelah berpikir sebentar, Thian-hong pangcu bertanya kembali. "Bagaimana dengan mereka yang berilmu silat paling tinggi?"

"Ilmu silat yang dimilikinya jauh diatas kepandaian yang kumiliki, kalau dicarikan perbandingannya maka bagaikan sinar rembulan dan cahaya kunang-kunang."

Tiba-tiba perempuan berkerudung merah itu teringat kembali akan lengcunya yang memiliki ilmu silat amat tinggi, dengan gelisah segera tanyanya.

"Siapakah mereka? Asal engkau sebutkan nama-namanya, mungkin saja ada orang yang mampu menangkan mereka"

Tertegun hati Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ia sadar dirinya telah terlanjur bicara, airmukanya segera berubah hebat dan katanya dengan tawar.

"Semoga saja dalam setengah tahun kemudian kita jangan sampai bertemu lagi, sebab bila sampai terjadi pertarungan lagi maka belum tentu aku akan mengalah seperti apa yang kulakukan pada saat ini."

Habis berkata ia segera berjalan menuju ke arah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.

Perubahan sikap yang diperlihatkan Gak In Ling ini sangat mencengangkan hati dua orang dara tersebut, dalam hati kecilnya perempuan berkerudung merah segera berpikir.

"Kenapa sih tabiat orang ini begitu aneh ?Barusaja baik tiba-tiba jadi ketus, sungguh membingungkan."

Dalam pada itu Thian-hong pangcu telah menghadang jalan pergi sianak muda itu, tegurnya.

"Apakah engkau hendak masuk kedalam ?"

"Apakah pangcu kembali akan menghalangi jalan pergiku ?"

Dengan pandangan sedih Thian-hong pangcu menyapu sekejap wajah pemuda itu, kemudian menjawab.

"Lembah Toan-hun-kok bisa bertahan selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, tanpa seorangpun mampu membasmi mereka dari muka bumi, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan yang mereka miliki bukan hanya terbatas pada Hiat-mo-ong seorang, kepergianmu seorang diri apakah tidak merasa bahwa kekuatan yang kau miliki terlalu lemah ?"

"Aku rasa persoalan ini merupakan masalah pribadiku sendiri, aku minta engkau tak usah mencampurinya." jawab Gak In Ling ketus. Airmuka Thian-hong pangcu berubah hebat.

"Kau kau benar-benar kejam.... engkau tak dapat menyelami perasaan orang lain-..."

teriaknya.

Dengan cepat Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah lain, kemudian menjawab.

"Jika engkau berdua dapat menyelami perasaan orang, aku hanya berharap agar kalian dapat memikirkan keselamatan serta keamanan bagi umat manusia yang ada dikolong langit."

Habis berkata ia berjalan lewat disisi tubuh Thian-hong pangcu dan buru-buru masuk kedalam gua.

Thian-hong pangcu menghela napas sedih, setelah termenung sebentar sambil menggigit bibir tiba-tiba ia berpaling kearah perempuan berkerudung merah itu dan berkata.

"Seorang tamu tak akan merepotkan dua orang tuan rumah, harap engkau utusan timur suka menyampaikan kepada lengcu kalian, bahwa mulai saat ini seluruh keamanan dunia persilatan kuserahkan pada dia seorang untuk mengendalikannya." selesai berkata dengan langkah cepat ia menyusul kedalam gua di mana bayangan tubuh Gak In Ling melenyapkan diri.

Dengan wajah kaget dan tertegun perempuan berkerudung merah itu berdiri menjublek ditempat semula, pikirnya,

"Ucapan itu kenapa harus aku yang sampai kan ?"

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding kearah pria bertato sembilan naga pesannya kepada keempat orang dayang itu.

"Setelah membebaskan jalan darah orang itu kalian segera pulang kegunung dan lapor kepada lengcu, katakanlah andaikata didalam tiga hari aku utusan timur belum kembali juga, itu berarti sejak detik ini utusan timur sudah tak dapat melayani lengcu lagi."

Selesai berkata ia segera lari masuk kedalam gua itu pula.

Hati perempuan memang sukar diraba. Sementara itu, setelah Gak In Ling masuk kedalam gua, ia merasa ruang dalam gua tadi luas sekali, dindingnya terbuat dari batu dan licin bagaikan cermin, jelas tempat itu bukan gua alam tapi dibuat oleh tenaga manusia.

Setelah berbelak-belok beberapa kali dan kurang lebih sudah mencapai tiga- empat puluh tombak dalamnya, Gak In Ling masih belum berhasil menemukan suatu ruangan, hal ini membuat hatinya amat terkejut.

Pada saat itulah mendadak dari dalam gua berkumandang datang suara pembicaraan manusia, terdengar seseorang yang bersuara serak sedang berkata.

"Menurut cahaya sang surya seharusnya harusnya sekarang sudah mendekati tengah hari, kenapa belum nampak ada yang mengirim nasi ? Apakah mereka hendak siksa kita sampai mati karena kelaparan?"

"Sekalipun mereka benar-benar akan menyiksa kita sampai mati kelaparan, apa yang dapat kau katakan ?" sambung seorang yang lain dengan nada dingin. "Hmm Mereka berani ?"

"Kenapa tidak berani? Meskipun dahulu engkau "Tok-seng" Nabi bisa Kongsun To pernah menggemparkan dunia persilatan, namun pada saat ini kau masih berada dalam genggamannya, sekalipun bocah yang berumur tiga tahunpun takkan jeri terhadap dirimu "

Rupanya orang yang pertama tadi dibikin gusar oleh ucapan tersebut, terdengar ia meraung dengan gusar.

"Leng Inpoocu, apakah engkau ingin merasakan kelihayanku ?"

"Hm, engkau kira aku jeri terhadap dirimu ?" jawab Leng In poocu sambil mendengus dingin-Tiba-tiba suara yang lain berkumandang menengahi percekcokan itu.

"Omitohud Selama banyak tahun sicu berdua bukan hanya berkelahi satu kali saja, tapi menang kalah, selalu tak bisa ditentukan, apa sih gunanya membuang tenaga lagi dengan percuma?"

Rupanya si Nabi racun Kongsun To adalah seorang manusia yang tidak pakai aturan, dengan cepat dia menyambung kembali.

"Benar, benar, Buddha Antik, selama banyak tahun aku belum pernah bergebrak melawan dirimu. Mari, mari kita adu kepandaian, coba lihat siapa yang lebih unggul diantara kita."

"Aku menyadari bahwa kepandaianku masih belum mampu menangkan diri sicu," jawab orang yang disebut Buddha Aantik itu

"Eei kamu tak usah kuatir, aku akan tetap menggunakan peraturan lama, tak akan aku

gunakan jurus racun, semuanya pakai jurus murni," seru Nabi racun lagi.

Ketika Gak In Ling mendengar bahwa didalam gua itu terdapat juga siBuddha Antik yang paling dibenci, darah panas seketika bergelora dalam rongga dadanya, dengan langkah yang lebih cepat lagi dia mendekati kearah berasal nya suara tadi.

Tiga buah tikungan kembali sudah dilewati akhirnya setelah berjalan beberapa saat lamanya sampailah pemuda itu disuatu tempat yang terbuka, sebuah ruang batu seluas dua puluh tombak lebih muncul didepan mata, pada sisi kanan ruang batu itu terdapat sebuah lorong yang entah menghubungkan tempat itu dengan mana, sedang suara pembicaraan ya bergema tadi berasal dari dalam sebuah dinding batu berwarna putih yang ada disebelah kanan-

Gak In ling sama sekali tidak ragu-ragu, dengan langkah yang cepat ia berjalan menuju ke samping kiri.

Tiba-tiba...

"Gak In Ling, apakah kau sudah bosan hidup dan kepingin cari kematian buat diri sendiri ?" suara teguran seseorang berkumandang memecahkan kesunyian-

Apa yang dipikir dan diperhatikan Gak In Ling pada saat ini adalah menemukan persembunyiannya Buddha Antik, ketika secara tiba-tiba namanya disebut orang hatinya jadi amat terperanjat. Dengan cepat ia putar badan sambil silangkan telapaknya didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Ketika sorot matanya dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi, terlihatlah Thian-hong pang cu serta perempuan berkerudung merah telah berdiri berjejer kurang lebih lima depa dihadapannya.

Gak In Ling segera tertawa dingin dan menegur.

"Kedatangan kalian berdua apakah dikarenakan aku orang she Gak ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab Thian hong pangcu sambil mengangguk.

"Apakah diantara kita bertiga harus diputuskan lebih dahulu siapa yang berhak melanjutkan hidup dan siapa yang pantas menemui ajalnya ?" seru pemuda itu lagi sambil tertawa dingin.

"Apakah maksudmu, selain percekcokan dan perkelahian, diantara kita sudah tiada urusan lain lagi ?" bantah Thian-hong pangcu dengan wajah yang sedih. Sambil bicara dari pancaran matanya terlintaslah rasa murung dan kesal.

Gak In Ling bukan seorang tolol ataupun bodoh, sudah tentu ia dapat menangkap arti dari perkataan itu, tetapi berada dalam keadaan seperti ini ia tetap berlagak pilon seolah-olah sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan itu. Dengan cepat pokok pembicaraan dialihkan kemasalah lain, ujarnya dengan hambar.

"Kalau memang kedatangan kalian berdua bukanlah mencari aku orang she Gak guna bertarung, aku harap kamu berdua segera tinggalkan tempat ini, masa depan dunia persilatan tergantung diatas bahu kalian berdua, menempuh bahaya karena urusan yang begini sepele sama sekali tak ada harganya bagi kalian berdua... "

Selesai berkata tanpa menantikan jawaban lagi ia segera berjalan menuju kedinding batu sebelah kiri.

"Engkau hendak menjebolkan dinding batu itu?" seru perempuan berkerudung merah tanpa terasa.

"Sedikitpun tidak salah "

"Tahukah engkau siapa saja yang terkurung didalam ruangan gua batu itu ?" Gak In Ling menghentikan langkahnya kemudian menjawab.

"Nabi racun Kongsun To, Leng In poocu dan Buddha Antik."

Ketika mengucapkan nama Buddha Antik, suaranya sengaja diperkeras dan diperberat. "Pernahkah engkau mendengar kata-kata yang berbunyi Nabi racun mengejutkan kolong langit, pedang Leng In bagaikan malaikat ?" seru Thian hong pangcu kembali. Mendengar perkataan ini Gak In Ling hatinya terjelos, pikirnya didalam hati. "Mungkin aku akan menemui suatu kesulitan yang besar sekali."

Walaupun dalam hati ia mempuyai pendapat demikian, tetapi perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, dengan suara hambar ia hanya berkata.

"Ucapanmu itu memang sangat mengejutkan hati orang, tetapi bagaimanapun juga ruangan ini harus dijebolkan"

Sekalipun Thian-hong pangcu belum terlalu lama berkumpul dengan Gak In Ling, akan tetapi dia sudah memahami sifat serta tabiatnya, ia mengerti apa yang telah diucapkan oleh si anak muda itu pasti akan dilakukan olehnya, dengan cepat dara cantik baju putih itu meloncat kehadapan pemuda itu sambil serunya dengan suara berat.

"Gak In ling, perkataanmu selalu menggembar-gemborkan demi kesejahteraan dan keamanan umat persilatan didaratan Tionggoan, tapi pernahkah engkau berpikir apa akibatnya andaikata Nabi racun Kongsun To dilepaskan dari kurungan itu ?"

Gak In Ling tertegun, ia tak pernah mempertimbangkan akibat dari perbuatannya itu. Sudah tentu hal ini disebabkan karena ia masih belum tahu bagaimanakah watak serta tabiat dari Nabi racun Kongsun To itu sendiri.

Gak In Ling berdiri tertegun dan lama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun, pada saat itu suasana ruang dalam pun sunyi senyap dan tak kedengaran suara apapun, jelas pembicaraan diantara mereka telah tercuri dengar oleh orang-orang itu.

Gak In Ling memandang sekejap kearah dua orang gadis itu, seakan-akan sedang berkata terhadap mereka, ia bergumam seorang diri.

"Tetapi Buddha Antik berada didalam, bagaimana juga aku harus masuk kedalam."

Menyaksikan si anak muda itu sudah tergerak hatinya oleh perkataannya, Thian-hong pangcu melanjutkan kembali kata-katanya.

"Demi masalah pribadimu serta kepuasan bagi dirimu sendiri, engkau membuat segenap umat persilatan jadi sengsara dan mendapat celaka, coba bayangkan tegakah Ling-simmu berbuat begitu ?Jawablah "

Perkataan ini mengandung maksud yang sangat dalam dan mengetuk perasaan halus sianak muda itu, membuat Gak In Ling jadi sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan, tapi ia bersumpah akan mencabut jiwa Buddha Antik, mungkinkah ia tinggalkan tempat tersebut dengan begitu saja ?

Antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi, antara dendam dan cinta telah menyulitkan pemuda angkuh she Gak ini, dalam benaknya segara muncul pelbagai ingatan serta pikiran yang saling bertentangan, ia mulai merasakan kebingungan, kebimbangan dan kekacauan-

Pada saat itulah dari balik dinding berkumandang kembali suara terlakan dari Nabi racun Kongsun To.

"Hei, manusia yang menamakan dirinya Gak In Ling, andaikata engkau mampu melepaskan aku dari tempat kurungan ini, maka aku akan menyanggupi tiga syarat yang kau ajukan-" Jelas manusia racun itu hendak mencengkeram kesempatan baik ini untuk melarikan diri. 

"Sungguhkah perkataanmu itu ?" tanya Gak In Ling dengan perasaan hati agak tergerak.

"Apa itu sungguh atau palsu " maki Nabi racun Kongsun To marah-marah. "Selama hidup aku Nabi racun belum pernah mengucapkan kata kata yang palsu ataupun membohongi orang lain."

Gak In Ling yang dasarnya memang tidak mengenali orang itu tentu saja tidak memahami watak serta tingkah lakunya, sepasang matanya yang jeli tanpa terasa dialihkan kearah Thian-hong pangcu dengan sorot penuh selidik.

"Walaupun selama hidup Nabi racun Kongsun To tak pernah berbohong dan menipu orang lain, tetapi manusia ini licik dan sangat berbahaya." ujar Thian hong pangcu dengan sedih. "Andai kata engkau lepaskan dirinya, maka ia akan memperlihatkan permainan setan kepadamu."

Setelah mengetahui bahwa Nabi racun Kong sun To tak pernah berbohong, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling tegurnya kearah balik dinding. "Syarat macam apakah yang engkau sanggupi ?"

"Asal aku mampu melakukan serta mengerjakan pasti akan kupenuhi, tapi engkau tak boleh minta aku untuk mati "

Kongsun To manusia yang ahli dalam penggunaan racun memang lihay sekali dalam melakukan semua pekerjaan, sebelum terlanjur ia telah mempersiapkan jalan mundur bagi diri sendiri.

"Baik, kita putuskan dengan janji ini," jawab Gak In Ling sambil mengangguk, selesai berkata ia siap menghantam dinding ruangan tersebut.

"Gak In Ling, sebelum bertindak aku harap engkau suka mempertimbangkan lebih dahulu tentang keamanan serta keselamatan sendiri" ajar Thian-hong pangcu lagi dengan penuh perhatian-

Gak In Ling seketika merasakan perasaan hatinya jadi hangat sekali, tapi ketika teringat olehnya bahwa kehidupan selama setengah tahun dengan cepatnya akan berakhir dan pada saat itu semua kehangatan akan musnah, ia jadi murung dan kesal kembali, sambil tertawa hambar katanya.

"Sekarang dia sedang membutuhkan bantuan dariku,aku percaya perbuatannya tidak akan sampai merugikan diriku "

"Tetapi andaikata mereka sudah kau lepas kan dari kurungan dan pada saat itu mereka sudah tiada lagi yang diharapkan lagi darimu, bagaimana keadaannya ?" sambung perempuan berkerudung merah dari samping. Gak In Ling tertawa.

"Sebelum mereka terlepas dari kurungan, akan kubicarakan syarat-syarat tersebut lebih dahulu "jawabnya.

Dalam pada itu Nabi racun Kongsun To telah berseru kembali dari dalam ruangan-"Ayoh, cepat Apakah engkau tak mampu untuk menjebolkan pintu batu tersebut ?"

Gak In Ling mengerutkan dahinya, dalam hati ia segera mengambil keputusan dan serunya. "Harap kalian berdua suka mengundurkan diri kesamping."

Dengan mengguna kan jurus menyapu rata lima bukit, pemuda itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas dinding batu itu.

Blaaaam Di tengah ledakan yang amat dahsyat, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, sebongkah batu cadas yang keras terhajar hancur dari atas dinding ruangan, begitu dahsyat dan kuatnya angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling itu sehingga muncullah sebuah lubang sebesar tiga depa di tempat itu.

Dengan cepat Gak In Ling loncat kemuka dan menghadang didepan mulut gua tadi, tiba-tiba tercium bau harum disisi tubuhnya, ketika ia berpaling tampaklah dua orang nona sudah berdiri dikedua belah sisinya.

Tebaran bubuk dinding memusingkan kepala dan mengaburkan pandangan semua orang, pada saat itulah dari dalam ruangan berkumandang suara gelak tertawa Nabi racun Kongsun To yang amat keras.

"Haaah haah haaah aku telah bebas.... aku telah bebas basah haaah...."

Ditengah gelak tawa yang keras dan memekakkan telinga itu, terbawa pula suara gemerincingnya rantai yang saling beradu.

Thian-hong pangcu serta perempuan berkerudung merah itu segera menengok kedalam, tiba-tiba kedua orang gadis itu menjerit tertahan dan loncat mundur ketempat semula, keadaan mereka bagaikan terpa gut oleh ular berbisa.

Gak In Ling tertegun, dengan cepat ia menengok kedalam, setelah mengetahui apa yang terjadi sadarlah sianak muda itu.

DidaLam ruangan terlihatlah seorang kakek tua berambut putih bermata cekung dan berjenggot panjang terpantek diatas dinding, dua buah rantai yang amat besar dan kuat menembusi tulang bahunya dan membelenggu kakek itu didinding batu, pakaian yang dikenakan sudah compang-camping tak karuan sehingga bagian bawahnya boleh dibilang sama sekali tak tertutup,

Dengan pandangan yang seksama Gak In Ling memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, terlihat olehnya ruang batu itu berliku-liku seperti sebuah lorong rahasia, kalau diujung lorong tidak terdapat sebuah pintu batu mungkin tempat itu sama sekali tak mirip seperti sebuah ruangan.

Bau busuk dan hawa lembab memancar keluar dari ruangan tadi, begitu tak sedap baunya sampai-sampai memuakkan sekali. Ketika ia menyaksikan bahwa ditempat itu tiada orang lain, hatinya kaget bercampur heran, setelah sangsi sebentar akhirnya ia melangkah masuk kedalam ruangan itu.

Sejak dinding itu berlubang, dengan pandangan yang tajam kakek itu menatap terus wajah Gak In Ling tanpa berkedip. menanti pemuda itu melangkah masuk kedalam ruangan, ia baru berkata sambil tertawa.

"Selama banyak tahun akhirnya aku berhasil juga mendapatkan kesempatan untuk meloloskan

diri."

sikapnya begitu girang dan bangga, seakan-akan Gak In Ling memang sudah menolong dia. Gak In Ling maju dua langkah kedepan, lalu menegur.

"Siapakah engkau ? Dan siapa namamu d i- antara tiga orang yang ada disini ? Dimana pula mereka berdua ?"

"Haa haa. . .. haa aku adalah Nabi racun Kongsun To " setelah berhenti sebentar ia melanjutkan- "Engkau takut ?" Gak In Ling tertawa dingin.

"Hee hee.. hee jangan dikata badanmu masih dirantai diatas dinding, sekalipun kau sudah

bebas merdekapun aku tak nanti akan jeri terhadap dirimu."

"Sebentar lagi aku tokh akan bebas merdeka " seru Kengsun To dengan senyum mengejek.

"Hmm Engkau mengira bahwa aku pasti akan menolong dirimu?^

Rupanya Nabi racun Kongsun To sudah menduga kalau Gak In Ling pasti akan mengucapkan kata-kata tersebut, bukannya terkejut atau heran dia malah tertawa. "Haa.... haa aku sudah menduga kalau engkau akan bersikap begitu terhadap diriku"

Gak In Ling terperanjat, suatu firasatjelek terlintas diatas wajahnya, serunya tanpa sadar.

"Kalau memang begitu engkau tak akan seyakin itu "

"Hee hee. ... bocah cilik aku Nabi racun Kongsun To kalau tak mampu mengalahkan dirimu, buat apa aku cari nama dan berkelana dalam dunia persilatan ?" seru Kongsun To sambil tertawa dingin. Setelah berhenti sebentar, ia tertawa terbahak-bahak lalu melanjutkan-

"Sekarang aku akan memberitahukan dirimu secara terus-terang, d isaat dinding batu itu kau jebolkan tadi, tanpa disadari kalian telah keracunan hebat"

Gak In Ling merasa amat terkejut, tapi dengan cepat sambil tertawa lantang sahutnya. "Hmm Siasat yang kau gunakan memang luar biasa sekali "

"Siasat apa ?"

"Siasat benteng kosong" jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.

Mendengar perkataan itu Nabi racun Kongsun To angkat kepala dan tertawa tergelak.

"Haa haa bocah cilik, kalau engkau tak percaya silahkan mengerahkan tenaga dan

mencobanya sendiri. Selama hidup belum pernah ku lakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan keberhasilannya, apalagi urusan ini penting sekali."

Dalam hati kecilnya Gak In Ling memang merasa curiga, karena sewaktu menjebolkan dinding tembok tadi ia sama sekali tidak mencium bau yang terasa aneh olehnya, mendengar perkataan itu ia segera menurut dan diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya.

Tiba-tiba air mukanya berubah hebat, napsu membunuh menyelimuti wajahnya yang tampan, selangkah demi selangkah ia maju ke depan, serunya.

"Kongsun To, engkau tak pernah menyangka dengan tindakanmu ini, bukan?"

Airmuka Nabi racun Kongsun To masih tetap tenang seperti sedia kala, sambil tertawa seram ia menjawab.

"Bukankah sudah kukatakan, selamanya aku tak pernah melakukan tindakan yang tidak meyakinkan diriku, tindakanmu itupun sudah berada dalam dugaanku." Gak In Ling merasakan hatinya makin tercekat sesudah mendengar perkataan itu.

"Setelah engkau mati, aku bisa menggeledah isi sakumu sendirL Hm Bukankah racun ini bisa kupunahkan kembali ?"

"Ha haa.... kalau engkau menginginkan tak usah digeledah lagi, aku akan mempersilahkan engkau untuk memilihnya sendiri."

Sambil berkata dari balikjubahnya yang robek mencomot sana merogo kemari, dalam waktu singkat sudah ada dua puluh botol lebih obat yang beraneka macam dipaparkan dihadapan pemuda itu, katanya.

"Diantara lima belas buah botol ini ada tiga belas botol berisi obat racun yang amat keji, sebuah botol berisi racun berdaya kerja lambat dan hanya satu botol saja yang berisi obat pemunah, jikalau engkau punya keberanian untuk mengadu nasib, aku bersedia menyerah kalah dengan begini saja."

Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka kalau Nabi racun Kongsun To bakal menggunakan tindakan semacam itu untuk menghadapi dirinya, tanpa terasa ia berdiri tertegun-

"Engkau tak usah putar otak lebih jauh." kata Kougsun To lagi sambil tertawa, "kalau di kolong langit masih ada orang yang mampu mengenali jenis racun yang kupergunakan, apa guna nya aku pergunakan julukan sebagai Nabi racun?"

Satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak Gak In Ling, baru saja dia akan buka suara Kongsun To sudah berkata lagi.

"Sedikitpun tidak salah, engkau dapat menggunakan binatang untuk mencoba obatku ini, tapi dalam satu tiga perempat jam dari mana engkau mampu untuk mengumpulkan lima belas macam binatang ?"

Tindak-tanduk orang ini memang licik dan berbahaya sekali, bahkan semua yang sedang dipikir oleh orang lain telah berhasil ditebak semua olehnya.

Dalam keadaan begini boleh dibilang Gak In Ling sudah kehabisan akal, ia segera tertawa dingin-

"Hmm Engkau cukup keji dan hebat." serunya.

"Hee hee.. hee sekarang engkau bersedia membebaskan diriku, bukan ?"

Gak In Ling ingin cepat-cepat temukan Buddha Antik, sambil menggeleng dia bertanya. "Dimanakah dua orang lainnya ?"

"Apakah engkau juga akan melepaskan mereka berdua ?" tanya Kongsun To dengan nada tertegun-

Sebelum Gak In Ling sampat menjawab.

Leng In poocu yang berada didalam sudah berseru dengan suara lantang. "Ada apa ? Apakah engkau Kongsun To merasa tidak puas ?"

"Sedikitpun tidak salah." sahut Kongsun To dengan mata melotot, "aku memang merasa tidak puas, sebab selembar nyawaku harus kutukar dengan tiga macam syarat." Leng In poocu tertawa dingin.

"Hee hee engkau anggap aku Leng ciau adalah seorang manusia yang suka mencari

keuntungan dari orang lain ? Engkau bisa mengabulkan tiga macam syaratnya, apakah aku tak bisa penuhi juga tiga buah syaratnya ? Hmm, apa yang hendak. kau katakan lagi?"

"Haa haa anggaplah aku memang berpandangan sempit." seru Kongsun To kemudian

tertawa terbahak-bahak.

Gak In Ling yang selama ini membungkam segera berseru sambil tertawa dingin.

"Tiada halangannya bagiku untuk melepaskan engkau lebih dahulu, tapi kita harus bicarakan dulu pertukaran syaratnya."

"Nah, katakanlah"

Gak Ia Ling berpikir sebentar, lalu berkata "Pertama, mulai hari ini engkau tak boleh membunuh orang lagi didaratan Tionggoan."

"Tidak boleh membunuh semua orang pria atau tak boleh membunuh kaum wanita ?"

"Tentu saja baik lelaki maupun perempuan tak boleh dibunuh "

"Wah kalau begitu aku merasa keberatan," seru Nabi racun Kongsun To sambil geleng kepalanya berulang kali. "bagiku permintaan itu termasuk dua macam syarat."

"Engkau ingin mengingkari janji ?" tegur Gak In Ling dengan alis berkerut.

Kongsun To tenang sekali, jawabnya. "Manusia tokh dibagi antara laki dan perempuan, sedang laki dan perempuan merupakan jenis yang berbeda, tentu saja harus dianggap sebagai dua syarat."

Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, rupanya dia akan turun tangan untuk membunuh kakek tua itu

Menyaksikan tingkah laku dari lawannya, Nabi racun Kongsun To tetap tenang-tenang saja sengaja ia berkata sambil tertawa hambar.

"Sekalipun aku dibunuh, pada akhirnya kalianpun tak akan lolos dari kematian."

"Engkau anggap aku takut menghadapi kematian ?" seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-

"Haa haa aku tahu kalau engkau tak takut mati." jawab Kongsun To sambil tertawa seram, "bahkan dua orang gadis itupun tidak takut mati, tapi, pernahkah engkau membayangkan dengan kematiannya berdua maka dunia persilatan akan jadi kalut dan kacau tidak karuan?"

orang ini benar benar licik sekali, rupanya dia hendak menggunakan pembicaraan yang telah didengarnya tadi sebagai senjata untuk memaksa lawannya tunduk.

Sedikitpun tidak salah, napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak In Ling perlahan-lahan lenyap tak berbekas, ia menghela napas di dalam hati dan mengangguk. "Baiklah, anggap saja sebagai dua syarat "

"Haa haa rupanya engkau bijaksana sekali hebat, hebat... ." seru Kongsun To sambil

tertawa hambar.

Gak In Ling mendengus dingin-"Hmm, mana obat pemunahnya ?" "Engkau toh belum lepaskan diriku, kenapa aku mesti serahkan dulu obat pemunah itu kepadamu ?"

"Ingin kuperiksa dulu obat pemunah itu cukup atau tidak ?"

"Untuk bagian satu orang, aku rasa jauh lebih dari cukup "

"Untuk tiga orang " seru Gak In Ling sambil tertawa dingin-

"Wah, keberatan. Permintaaan sudah melebihi tiga syarat yang kita janjikan-"

napsu membunuh yang menyelimuti wajah Gak ln Ling muncul kembali dibalik sorot mata nya, dengan nada yang seram ia berseru. "Manusia she Kongsun, rupanya engkau cari mati"

Sepasang telapak segera diulangkan didepan dada, dan rupanya serangan yang maha dahsyat segera akan dilancarkan-

Sebagai manusia yang licik dan banyak akal setelah meninjau sejenak situasi yang dihadapinya pada saat itu, Nabi racun Kongsun To menyadari apabila ia tidak menolong kedua orang gadis itu, maka pemuda itu akan mengadu jiwa. Buru-buru serunya dengan nada gelisah.

"Baik, baiklah.... biar kutolong kalian bertiga, anggap saja untuk kali ini aku telah berbuat murah hati."

Gak In Ling tertawa dingin, perlahan-lahan ia turunkan kembali sepasang telapaknya dan berkata.

"Aku ingin memeriksa lebih dahulu obat pemunahnya itu "

"Engkau tidak percaya dengan diriku ?" seru sikakek dengan sorot mata berkilat.

"Tentu saja tidak percaya "

Mendengar perkataan itu Nabi racun Kong sun To naik pitam, ia mendengus dan berkata.

"Kalau tidak percaya lebih baik mati, sekalipun aku harus mati didalam gua ini juga tidak akan kuberikan obat pemunah tersebut padamu." habis berkata ia segera pejamkan mata rapat-rapat

Melihat kakek itu sudah unjukkan keras kepalanya, dia tahu kalau tidak mengalah maka suasana tak akan beres, maka diapun berkata. "Baiklah, aku orang she Gak bersedia mempercayai dirimu." Sambil berkata ia segera berjalan menghampiri Nabi racun Kongsun To itu.

Ketika mengetahui bahwa Gak In Ling bersedia mempercayai dirinya, dari balik mata Kong sua To segera memancar wajah kegirangan, sinar kegirangan tersebut muncul dari hati sanubarinya dan sudah puluhan tahun lamanya tak pernah muncul, cuma sayang tidak lama kemudian cahaya tersebut telah sirap kembali. Kakek tua itu segera memegang rantai yang membelenggu tubuh nya dan berkata.

"Rantai besi ini diikatkan pada dinding bata, dibalik dinding tersembunyi alat rahasia yang amat lihay, oleh sebab itulah meskipun sudah banyak tahun aku dikurung di tempat ini tapi selamanya tak berani menarik. Mari, mari siap kau tarik ujung yang sana dan aku akan menarik dari ujung sebelah sini, dengan begitu rantai ini akan patah.

Gak In Ling menurut dan segera memegang ujung rantai tersebut, serunya. "Ayo tarik "

"cukupkah tenaga dalammu ?" Gak In Ling tertawa dingin.

"cukup atau tidak. setelah engkau terlepas dari kurungan boleh dicoba sendiri" Kongsun To agak tertegun, tiba-tiba ia tertawa dan menjawab.

"Haa haa benar, ucapanmu memang benar. Sekalipun tidak engkau ucapkan, aku pun tak

akan lepaskan dirimu dengan begitu saja."

Tidak menunggu Gak In Ling buka suara lagi, ia segera membentak keras.

"Tariiik " sambil menggentak rantai baja itu segera dibetot kebelakang dan

"Blaaaam"

Rantai baja sebesar ibujari itu tertarik patah jadi dua bagian- Gak In Ling maupun Nabi racun Kongsun To sama-sama mundur selangkah ke belakang, pikir pemuda itu dalam hati dengan perasaan tercekat.

"Luar biasa sekali tenaga dalam yang dimiliki orang ini."

Rasa terkejut yang dialami Kongsun To be berapa kali lipat lebih hebat daripada Gak In Ling, diatas wajahnya sama sekali tidak terlintas rasa gembira atau senang karena lolos dari kurungan, sebaliknya pikiran dan perasaannya terasa bertambah hebat. Lama... lama sekali, kakek itu baru menatap wajah Gak In Ling sambil berkata.

"Tenaga dalam yang engkau miliki sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada apa yang kuduga semula, engkau memang luar biasa sekali"

"Hmm, aku merasa bangga sekali mendengar pujianmu itu." jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin.

Habis berkata ia segera berjalan maju beberapa langkah kedalam, tidak berapa jauh ia temukan sebuah ruang batu lagi yang luasnya sepuluh tombak persegi, disana nampak dua orang kakek tua dalam keadaan mengenaskan dirantai pula diatas dinding batu.

Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang lenyap dibalik ruangan, tiba tiba Kongsun To membentak nyaring.

"Gak In Ling, benarkah engkau hendak menyelamatkan mereka ?"

Gak In Ling segera berhenti dan putar badan, dengan wajah berubah memberat ia tertawa dingin.

"Apakah engkau hendak menghalangi diriku" jengeknya.

"Sedikitpun tidak salah, aku memang bermaksud begitu." jawab Kongsun To sambil tertawa dingin pula.

Leng In poocu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat gelisah, ia segera berseru.

"Waah, kalau engkau berhasil bereskan dia badanmu tentu akan bertambah gemuk karena tak usah menepati janji lagi."

"Leng-heng," ujar Kong sun To sambil tertawa dingin, "sebelum engkau berhasil meloloskan diri, lebih baik kurangilah penggunaan akal licik dihadapanku "

Melihat Kongsun To tak mau masuk perangkap. Leng In poocu sadar bahwa satu pertarungan sengit tak dapat dihindari lagi, dalam hati segera pikirnya.

"Meskipun Gak In Ling belum tentu mampu menangkan Kongsun To, tetapi harapan bagiku untuk lolos masih tetap ada." Maka sambil tertawa dingin serunya.

"Asal engkau pergunakan obat-obat racun yang pernah mengangkat namamu dalam dunia persilatan, bukankah pertarungan sengit dapat kau hindari dengan begitu saja ?"

"Hee... . hee Leng-heng, apakah engkau tidak menilai orang lain terlalu tinggi ? Terhadap

dirimupun aku tidak gunakan racun, apalagi untuk menghadapi dirinya ?" Bicara sampai disini ia berpaling dan ujarnya kembali kepada Gak In Ling.

"Bocah, engkau boleh berlega hati Paling banter aku cuma melukai dirimu dan tidak sampai mencabut selembar jiwamu, karena aku masih menepati janjiku " Gak In Ling tertawa dingin

"orang tua, kau boleh legakan hatimu. Sebelum engkau punahkan racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu, akupun takkan mencabut jiwamu "

Bicara sampai disini dia melirik sekejap ke arah Kongsun To dengan sikap yang congkak dan tinggi hati.

Leng In poocu yang berada disamping kalangan diam-diam merasa terperanjat, pikirnya. "Tekebur amat bocah ini."

Kongsun To sebagai Nabi racun yang sangat dihormati orang tentu saja tak kuat menahan penghinaan yang terasa tajam baginya itu, api kegusaran membakar dadanya membuat napsu membunuh tak bisa dikendalikan lagi, dengan mata berkilat hardiknya.

"Kurang ajar, rupanya engkau benar-benar ingin modar ?"

Gak In Ling ingin buru-buru membuat perhitungan dengan Buddha Antik, ia tak ingin banyak membuang waktu lagi, sambil ayun sepasang telapaknya kedepan bentaknya. "Sambutlah seranganku ini"

Dengan jurus "Gan-liok-peng-sah" atau Belibis hinggap di pasir datar, laksana kilat ia menotok dada Kongsun To dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Pada saat Gak In Ling membetot putus rantai besi tadi, Kengsun To sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki pemuda itu luar biasa sekali, oleh sebab itulah meskipun dalam pembicaraan ia berlagak seolah-olah sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap pemuda she Gak. tapi dalam kenyataannya ia sudah mempunyai perasaan was- was yang tinggi terhadap diri musuhnya itu.

Maka ketika dilihatnya Gak In Ling melancarkan serangan, ia tak berani bertindak gegabah buru-buru dengan gunakan jurus Jian-liong-ki-hong" atas menunggang naga naik burung hong ia loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, tidak menunggu Gak In Ling berganti jurus, dengan menggunakan gerakan "Liong-hui-hong wu" atau naga terbang burung hong menari dia balik menghantam iga kiri pemuda itu.