Telapak Setan Jilid 04 : Umur Gak In Ling mengandalkan racun

Jilid 04 : Umur Gak In Ling mengandalkan racun

TAPI Gak ln Ling tetap gelengkan kepalanya.

"Jangan, kau jangan ikut. Sebab orang yang berada dalam lembah itu jauh lebih menakutkan dari pada setan, kalau tidak tanyakanlah sendiri kepada..." bicara sampai disini ia segera berpaling ke belakang, tapi dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun, sebab pada saat itu Thian-hong pangcu sedang mengikuti di belakang tubuhnya persis pada jarak lima depa.

Dengan muka tercengang segera tegurnya: "Pangcu, apakah engkau juga akan ikut menempuh bahaya ?"

Merah jengah selembar wajah Thian-hong pangcu, tiba-tiba ia tertawa dingin, dan menjawab: "Penghuni yang berdiam dalam lembah ini sangat membahayakan jiwa dan keselamatan dari umat persilatan didaratan Tionggoan, sejak dahulu aku memang ada maksud untuk menyelidiki lembah ini. Hmm, kau tak usah berpikir yang bukan-bukan, janganlah kau anggap kedatanganku kemari adalah disebabkan karena dirimu."

"Oooh, kalau memang begitu aku orang she Gak-lah yang terlalu berlagak pintar." ujar pemuda itu kemudian dengan hambar.

"Ei, benarkah orang yang berada dalam lembah ini jauh lebih menakutkan daripada setan?" terdengar pria bertato sembilan naga telah berseru pula dengan nada cemas. "Kalau memang begitu aku si manusia bertato sembilan naga harus mengobrak-abrik orang itu, dan ingat urusan ini sama sekali tak ada urusannya dengan dirimu." dalam gugupnya ternyata pria kasar inipun meniru lagak Thian-hong pangcu.

Gak In Ling ingin cepat-cepat menemukan Buddha Antik dan tak ingin membuang waktu dengan percuma, setelah memandang sekejap kearah dua orang itu ujarnya dengan hambar:

"Kalau memang begitu, mari kita kerjakan urusan masing-masing." dengan langkah lebar ia berjalan lebih dahulu memasuki lembah tersebut.

"Hm, kau tak boleh aku ikut, justru aku akan sengaja ikuti terus dirimu, akan kulihat apa yang bisa kau lakukan-" pikir pria bertato sembilan naga didalam hati. Berpikir sampai disitu diapun dengan cepat membuntuti dibelakangnya.

Thian-hong pangcu berpaling dan memandang sekejap kearah lima orang yang masih bersemadhi, melihat In Hong Totiang dan Liau Wan Taysu telah mendusin, hatinya jadi lega dan dengan cepat gadis itu memburu dibelakang Gak ln Ling.

Pada dasarnya tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang itu memang sangat tinggi, sepanjang perjalanan walaupun tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, akan tetapi kalau dibandingkan dengan orang biasa, langkah mereka lima enam kali lipat jauh lebih cepat.

Tidak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah memasuki mulut selat Toan-hun kok yang sempit, didepan mereka muncullah cabang jalan yang satu menuju ketenggara sedang yang lain-menuju kearah timur laut, jalan manakah yang harus ditempuh tak seorangpun yang tahu. .

Pada jalan masuk kedua buah jalan simpangan tadi tersebar tengkorak-tengkorak manusia yang berserakan dimana-mana,jumlah mereka sampai ratusan dan sepintas memandang suasana ditempat itu terasa seram dan mengerikan sekali.

Tanpa sadar Thian-hong pangcu menggeserkan tubuhnya dua langkah kesamping Gak In Ling, mungkin dalam perasaan seorang gadis hanya mendekati kaum pria yang dicintainyalah dirinya baru terasa aman-

Sementara itu manusia bertato sembilan naga telah bergumam dengan suara yang kasar: "Maknya, neneknya kenapa begitu banyak barang-barang yang menjijikkan berserakan disini ? Benarkah mereka jauh lebih menakutkan daripada setan ?"

Dengan cepatnya mereka bertiga telah tiba dijalan persimpangan tersebut, Gak in Ling segera berhenti dan bertanya:

"Kalian berdua akan memilih jalan yang mana ?"

"Kau sendiri ?" pria bertato sembilan naga balik bertanya.

"Aku memilih jalan yang ini " sahut Gak In Ling sambil menuding ke arah jalan yang bercabang kearah Timur- laut.

"Oooh, hah hah hah kebetulan sekali, akupun hendak melewati jalan yang ini " sambil tertawa terbahak-bahak pria bertato sembilan naga segera berjalan lebih dahulu memasuki jalan cabang tadi.

Gak In Ling tertegun, ketika ia berpaling kearah Thian-hong pangcu maka tampaklah gadis baju putih itu sudah melewati disisi tubuhnya dan berangkat menyusul dibelakang pria bertato sembilan naga.

Jalan lembah itu berliku liku bagaikan usus kambing, tidak selang beberapa saat kemudian bayangan punggung kedua orang itu sudah lenyap dibalik tikungan yang pertama, mereka berdua tak seorangpun yang berpaling kearah Gak In Ling, mungkin dalam perkiraan mereka sianak muda itu pasti akan menyusul dibelakangnya.

Gak In Ling tidak langsung berangkat kearah Timur- laut, sambil menoleh jalan yang ada disebelah kiri, pikirnya.

Jikalau tiga orang mengambil jalan yang sama, bukankah itu berarti telah meninggalkan sebuah jalan kehidupan bagi Buddha Antik? Biarlah aku mengambil jalan yang kearah tenggara saja."

Sementara itu hendak berjalan menuju kekiri, tiba-tiba satu ingatan berkelebat kembali dalam benaknya.

"Buddha Antik adalah seorang jago bu-lim yang amat tersohor, sekalipun ia berjumpa dengan Thian-hong pangcu, belum tentu gadis itu akan menyusahkan dirinya, aku rasa kalau aku orang she Gak harus berjalan seorang diri malah kekuatanku terasa jauh lebih lemah."

Senyuman dingin tersungging diujung bibirnya, untuk beberapa saat ia tak tahu jalan manakah yang harus ditempuh olehnya.

Pada saat itulah dari dalam lembah tiba-tiba berkumandang datang suara bentakan keras dari pria bertato sembilan naga.

"Maknya bangsat Kalian anggap setelah kamu semua menyaru sebagai setan dan malaikat maka yayamu lantas ketakutan dan lari terbirit-birit?"

Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong.

Gak In Ling terkejut, dengan cepat ia putar badan dan lari menuju kearah mana berasal-nya suara tadi.

Baru saja bayangan tubuh Gak In Ling lenyap dibalik tikungan yang pertama, dari balik jalan persimpangan yang menuju kearah tenggara tiba-tiba muncul dua orang manusia aneh yang berwajah menyeramkan, sambil memandang bayangan punggung sang pemuda yang lenyap ditikungan mereka tertawa dingin, kemudian bagaikan hembusan puyuh kedua orang itu menyusul dari belakangnya.

Dengan kecepatan yang tinggi Gak In Ling melayang masuk kedalam lembah, sepanjang jalan ia lihat tulang putih yang memantulkan api fosfor berserakan dimana-mana pemandangan sekitar tempat itu mengerikan sekali bagaikan masuk ke kerajaan setan saja.

Setelah melalui tujuh- delapan tikungan, pemuda itu mulai bingung dan tak dapat membedakan arah lagi.

Pada tikungan kesepuluh akhirnya Gak In Ling menemukan cahaya terang memancar masuk dari arah depan, apa yang kemudian terlihat olehnya membuat sianak muda itu tertegun.

Ditengah gelanggang tampaklah pria bertato sembilan naga sedang memutar senjata toyanyadan melangsungkan pertarungan sengit melawan tiga orang manusia aneh berbaju hitam yang mukanya corang- coreng oleh lima- enam warna, pertarungan itu berjalan seru dan ramai sekali.

Thian-hong pangcu sendiri berada lima tombak diluar gelanggang, sorot matanya yang jeli menyapu sekejap kearah Gak In Ling, seakan-akan ia sudah lama sekali menantikan kedatangannya .

Dengan pandangan yang tajam Gak In Ling menyapu sekejap seluruh pemandangan dalam lembah itu, ia lihat luas lembah tersebut kurang- lebih duapuluh tombak persegi, batu cadas berserakan disana-sini, tanaman gundul dan gersang sekali, diatas dinding tebing batu disebelah depan terdapat sebuah mulut gua yang tidak terlalu besar, dan tempat itulah merupakan pusat dari lembah tersebut.

Setelah menyapu sekejap suasana dalam gelanggang pertarungan, ia segera mengetahui bahwa pria bertato sembilan naga berhasil menguasai keadaan dan merebut diatas angin, hal ini melegakan hatinya, tanpa banyak berpikir- pemuda ini segera melangkah kearah mulut gua.

Mendadak dari belakang tubuh sianak muda itu berkumandang datang suara teguran yang amat menyeramkan-

"Bangsat!! Engkau tak usah menuju kesana lagi, ditempat inilah mayatmu akan bersemayam antuk selama-lamanya "

Mendengar suara teguran tersebut, Gak In Ling merasa terperanjat, dengan cepat ia menghentikan langkahnya dan berpaling kebelakang.

Tampaklah dua orang manusia aneh bermuka hijau bergigi taring dan berwajah mengerikan sedang berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan mukanya, kehadiran orang itu sangat mengejutkan hatinya, pemuda itu segera berpikir.

"Sejak kapan kedua orang makhluk aneh itu tiba disini ? Kenapa aku sama sekali tidak merasakannya ?"

Berpikir sampai disitu, ia segera buka suara dan menjawab dengan dingin. "Hmm, dengan andalkan apakah kalian berdua berani omong besar ?"

ooo

"Haaah haaah haaah " manusia aneh yang ada disebelah kanan tertawa seram.

"Kami berdua disebut Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, bangsat, pernah kau dengar lembah itu? IHemm hemm... "

Thian-hong pangcu yang ikut mendengar pembicaraan itu dari sisi kalangan, wajahnya segera berubah hebat, pikirnya.

"Kedua orang ini menyebut dirinya sebagai Siu-kok-siang-hun sepasang sukma penjaga lembah, kalau begitu semua orang yang hendak memasuki lembah ini sepanjang jalan telah mati dibunuh oleh mereka berdua, dus berarti kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini pasti luar biasa sekali."

Berpikir demikian tanpa sadar ia maju ke-muka dan mendekati pemuda she Gak itu. Dalam pada itu Gak In Ling telah berkata kembali sambil tertawa dingin.

"Heh heh heh jadi kalau begitu tulang putih yang berserakan dalam lembah ini adalah hasil

karya dari kalian berdua ?"

"Tentu saja "jawab manusia aneh yang berada disebelah kiri sambil tertawa lengking. "oleh karena tulang putih yang berserakan dijalan masuk lembah itu sudah terlalu banyak, maka dari itu engkau sibangsat cilik baru dapat hidup sampai ditempat ini " Gak In Ling tertawa dingin.

"Apakah itu pengecualian yang kalian berdua berikan khusus buat aku orang she Gak?" sambil berkata diam-diam hawa murninya telah dihimpun kedalam telapak.

"Haaahh haahh haahh sedikitpun tidak salah, dan sudah sepantasnya kalau engkau

mengucapkan banyak terima kasih kepada toa-ya mu berdua."

Habis berkata manusia aneh yang berada disebelah kanan segera menerjang maju kedepan.

Pada waksu itu Thian-hong pangcu telah berada kurang lebih dua depa disamping sianak muda itu, melihat datangnya tubrukan hatinya tercekat, ia berpaling ke arah Gak In Ling dan serunya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Gak In Ling, kedua orang ini mampu membinasakan segenap jago yang datang kedalam lembah ini, hal tersebut membuktikan bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, sewaktu bertarung nanti aku harap engkau suka berhati-hati."

"Engkau tak usah kuatir, itu urusan pribadiku "jawab sang pemuda ketus.

Pada saat itulah dari arah gelanggang pertarungan berkimandang datang suara teriakan pria bertato sembilan naga. "Enyah kau bangsat dari tempat ini"

“Ploook”

Dan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera menggema memenuhi angkasa, jelas ada seseorang yang menemui ajalnya dj ujung toya besinya.

Setelah berhasil membunuh seorang musuhnya, napsu membunuh berkobar dalam dada pria bertato sembilan naga, ia tertawa terbahak-bahak dan berseru keras. "Huh Tiga orang tak mampu, apa gunanya kalian berdua ? Roboh kamu "

Mengikuti bentakan yang amat keras itu, kembali terdengar dua kali jeritan ngeri memecahkan kesunyian, tak usah dilihat lagi jelas kedua orang musuhnya yang tertinggal mati konyol pula diujung toya bajanya.

Melihat rekannya pada binasa, sepasang sukma penjaga lembah jadi amat gusar, orang yang ada disebelah kanan segera membentak keras.

"Bangsat Lembah pencabut nyawa takkan- mengijinkan orang lain untuk berlagak -sok, terimalah seranganku "

Dengan dahsyatnya ia menerjang kearah pria bertato sembilan naga dengan jurus "Tui san-tiam hay" atau mendorong gunung membendung samudra, diiringi desiran angin tajam ia hajar musuhnya habis-habisan-

"Kembali" bentak Gak In Ling pula dengan sorot mata berkilat.

Tubuhnya loncat maju kedepan, dengan jurus "Lek-peng-ngo-gi" atau lima bukit hancur merata ia sambut datangnya serangan orang itu dengan keras lawan keras.

Gerakan tubuh kedua belah pihak sama-sama cepatnya, dalam waktu singkat empat buah telapak telah saling beradu satu sama lainnya.

"Blaaam "

Ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh jagad menggeletar diangkasa, pasir dan debu seketika beterbangan diangkasa bagaikan ketimpa angin puyuh, sebuah Ling sedalam tiga depa muncul diatas permukaan tanah.

Ditengah gulungan angin kencang, tubuh Gak In Ling terdorong mundur dua langkah ke-belakang, darah panas dalam dadanya bergolak kencang, hal ini membuat hatinya amat terkesiap. sebab dari bentrokan tersebut ia dapat menilai bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini rupanya masih jauh diatas Buddha Antik.

Sebaliknya manusia aneh itu sendiri harus mundur sejauh empat- lima langkah sebelum berhasil berdiri tegak. lengan kanannya terasa kaku dan linu sekali, sedangkan dadanya jadi sesak dan hampir saja muntah darah segar.

Dengan sorot mata yang tajam dan penuh memancarkan rasa ketakutan ia menatap wajah Gak In Ling, kemudian tegurnya. "Siapa engkau ?"

"Gak In Ling "

"Apa ? Gak In Ling?" teriak sepasang sukma penjaga lembah hampir berbareng, dari balik mata kedua orang itu segera memancarkan napsu membunuh yang amat tebal, selangkah demi selangkah mereka mendekati sianak muda itu. Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Hmm Kenapa kalian berdua tak berani menjumpai orang dengan wajah aslimu ?" Sambil berkata hawa murninya dihimpun ke dalam telapak.

Manusia aneh yang berada disebelah kanan menyapu sekejap kearah Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan naga, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya. "Jadi kalian berdua pun akan menceburkan diri didalam air keruh ini ?"

"Haah.... haah haah... apa itu air keruh dan air jernih, kalau mau bergebrak, ayoh sekarang

juga kita bergebrak " sahut pria bertato sembilan naga sambil tertawa bergelak.

Gak In Ling tidak ingin ribut terlalu lama dengan orang-orang itu, ia membutuhkan Buddha Antik yang ingin ditemuinya secepat mungkin, sambil tertawa dingin segera serunya. "Apakah Buddha Antik berada didalami lembah ini ?" Manusia aneh yang berada disebelah kanan tertawa seram.

"Hmm, asal engkau mampu menangkan kami berdua, dengan sendirinya Buddha Antik akan munculkan diri untuk menemui dirimu."

Napsu membunuh melintas dalam wajah Gak ln Ling, tiba-tiba dengan menggunakan jurus "Wong-hong-hui-si" atau angin puyuh terbangkan serat, ia hantam kedua orang musuhnya sambil membentak.

"Sambutlah seranganku ini " angin pukulan yang tajam dengan cepat menerjang dada kedua orang itu.

Sejak permulaan sepasang sukma penjaga- lembah sudah bermaksud untuk membinasakan Gak ln ling, melihat datangnya ancaman tersebut mereka membentak keras, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan cepat mengerubuti sianak muda itu, jurus serangan yang digunakan ganas dan keji, sedang arah yang dituju semuanya merupakan jalan darah kematian ditubuh musuhnya.

Kiranya Gak in Ling menyerang musuhnya dengan jurus angin puyuh terbangkan serat itu bukan lain adalah hendak memancing lawannya masuk jebakan, setelah sepasang sukma penjaga lembah melancarkan serangan balasan, tiba-tiba badannya berputar melepaskan diri dari kepungan kedua orang itu, permainan telapaknya dengan cepat berubah, laksana kilat ia lancarkan tujuh kali serangan berantai kearah manusia aneh yang berada disebelah kanan.

Pada dasarnya ilmu silat yang dimiliki Gak In Ling memang tinggi sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, setelah serangannya dipusatkan pada satu orang maka daya tekanan yang terpancar keluar tentu saja luar biasa hebatnya.

Terlihatlah bayangan telapaknya meluncur kesana- kemari, seluruh angkasa penuh dengan cahaya tajam yang berkilauan, untuk beberapa saat sulit bagi orang untuk membedakan mana yang serangan asli dan mana yang palsu, yang terasa hanya tekanan yang mendesak ketubuhnya kian lama kian bertambah berat membuat dada sesak.

Ilmu silat yang dimiliki sepasang sukma penjaga lembah sendiri tidak lemah. Tapi mereka tak pernah menyangka kalau gerakan tubuh dari Gak In Ling bisa sedemikian cepatnya, menanti mereka menyadari akan bahaya yang mengancam, manusia aneh yang ada disebelah kiri sudah tak sempat untuk memberikan pertolongan lagi.

Dengan cepat manusia aneh disebelah kanan memutar badan, baru saja ia bermaksud ayun telapaknya melancarkan serangan balasan, siapa sangka angin pukulan yang dipancarkan Gak In Ling telah mencapai depan dadanya tidak sampai setengah depa.

Mati hidup hanya terpaut pada satu detik, manusia aneh itu segera mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelamatkan dirinya, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras, tubuhnya laksana kilat membubung ke angkasa dan secara nyaris ia loloskan diri dari ancaman angin pukulan lawan-

Thian-hong pangcu yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat, tanpa terasa ia berteriak keras.

"Ei, bukankah engkau adalah In-tiong-hok bangau ditengah mega Go To Peng ?" Bersamaan dengan jeritan sang dara, tiba-tiba Gak In Ling tertawa dingin, bayangan hitam nampak berkelebat lewat dan tahu-tahu jejak tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Sekonyong- konyong . . . .

Dari tengah udara berkumandang datang jeritan kaget dari manusia aneh itu, disusul... Blaaam

Sebuah benda berat terbanting keatas tanah dengan keras, dan Gak in Ling pun sambil mencekal sebuah topeng kulit manusia berdiri dihadapan musuhnya.

Menanti pria bertato sembilan naga angkat kepala, tampaklah olehnya manusia aneh yang di kenal sebagai manusia berwajah seram tadi kini sudah berubah jadi seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah putih bersih, ia tak tahu dengan gerakan tubuh apakah si anak muda itu mencopot topeng lawan, teriaknya dengan hati terkejut.

"Waduuuh waduh., eeei kakek bangkotan, apakah engkau siluman monyet yang muncul

kembali dikolong langit, kok- aneh benar mukamu bisa herubah-ubah."

Sambil berkata ia menatap wajah orang itu dengan pandangan tercengang bercampur kaget.

Sedangkan Thian-hong pangcu sendiri dengan pikiran bimbang memandang kearah Gak In Ling, sedang hatinya berpikir terus.

"Sebenarnya sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang-dimiliki orang ini ?"

Dengan sorot mata yang menggidikkan hati Gak In Ling menatap kearah kakek tua itu, lalu ujarnya dengan suara yang menyeramkan-

"Bangau ditengah mega, bagaimanakah kau tahu caranya Tiang- kang sam-kiat serta chin-hway ngo-gi menemui ajalnya ?"

Tanpa sadar Bangau-ditengah-mega Go To Peng mundur tiga langkah kebelakang, dalam waktu singkat diatas wajahnya secara berturut-turuf menampilkan perasaan kaget, gusar, murung dan takut.

Gak In Ling membanting topeng kulit manusia itu keras-keras keatas tanah, lalu sambil berpaling kearah manusia aneh yang lain serunya pula dengan nada seram.

"Belibis ditengah mega, apakah engkau akan memaksa aku orang she Gak untuk mencopot pula topeng kulit manusia yang kau kenakan ?"

Mendengar ucapan tersebut manusia aneh tadi mundur selangkah kebelakang dengan ketakutan, walaupun hatinya merasa ngeri tapi ia tidak sudi menurut perkataan orang dengan begitu saja, sebab bagaimanapun juga mereka berdua adalah jago-jago kenamaan didalam dunia persilatan-

Dengan sorot mata penuh kebencian Belibis ditengah- mega menatap wajah pemuda itu, kemudian jengeknya sinis.

"Huhh Asal engkau memiliki kemampuan tersebut, silahkan melakukan sendiri," sembari berkata hawa murninya segera dihimpun kedalam telapak.

"Hm Kalau engkau hendak paksa aku orang she Gak untuk turun tangan sendiri. Maka kemungkinan besar sebelum saat ajalmu tiba siksaan yang paling hebat akan kau rasakan lebih dulu." seru Gak In Ling dengan napsu membunuh berkobar-kobar.

Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati manusia aneh itu, keseraman dan kengerian yang dipancarkan dari tubuh sianak muda itu seketika memaksa lawannya tanpa sadar mundur tiga langkah kebelakang.

Tiba-tiba Gak In Ling membentak keras, semua orang hanya merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Gak In Ling sudah balik kembali ketempat semula. Sedang manusia aneh yang berada dihadapannya kedengaran menjerit kaget.

Menanti semua orang berpaling lagi kearah-nya, maka topeng bengis yang semula menutupi wajahnya kini sudah lenyap tak berbekas dan sebagai gantinya dihadapan mereka berdirilah seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang bermuka merah padam dan memelihara jenggot panjang .

Semua perubahan yang berlangsung dalam kalangan terjadi dalam waktu yang amat singkat, dalam kalangan itu kecuali Thian-hong pangcu siapapun tak sempat menyaksikan gerakan tubuh macam apakah yang telah dipergunakan Gak In Ling.

Pria bertato sembilan naga sambil mengerdipkan matanya segera tertawa dengan wajah melongo.

"Waduuuh gerakan apakah yang telah digunakan ? Ehmm, memang luar biasa "

Dalam pada itu Gak In Ling sudah membanting topeng kulit manusia itu keatas tanah, lalu sambil menyapu wajah kedua orang musuhnya ia mengejek sinis. "Belibis ditengah mega, apa yang hendak kau katakan lagi ?"

Air muka Bangau-ditengah-mega Go To Peng serta Belibis-di tengah-mega Go To Ki berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sejak mereka mengetahui bahwa pemuda yang munculkan diri di tempat itu bukan lain adalah Gak ln Ling, kedua orang itu telah sadar kehadirannya di sana adalah untuk mencabut nyawa mereka berdua. Pada saat itulah mereka telah ambil keputusan untuk berusaha menyingkirkan musuh bebuyutan ini.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaan siapapun, dan yang paling penting ternyata ilmu silat yang dimiliki pihak lawan telah mencapai kesempurnaan yang begitu hebat.

Wajah Bangau-ditengah-mega Go To Peng yang pucat pias bagaikan mayat nampak berkerut kencang, tiba-tiba ia berkata.

"Gak In Ling, aku dengan dirimu toh tak pernah kenal, apa yang hendak kau lakukan terhadap

diriku ?"

Ketika mengucapkan kata kata "kita tidak pernah saling kenal"-sengaja kalimat tersebut di utarakan dengan suara yaag keras, sedang sinar matanya tanpa sadar melirik kearah Thian-hong pangcu, rupanya ia sedang mohon bantuan dari gadis muda itu.

Manusia, siapa yang tak takut mati ? Meski pun Bangau- ditengah- megago To Peng serta Belibis- ditengah- megago To Ki adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, namun setelah keselamatan mereka terancam, merekapun melupakan apa artinya malu.

Gak In Ling segera tertawa dingin,jengeknya. "Hee hee hee dua bersaudara dari keluarga Go, masa tempo dulu kalian berani melakukan, sekarang sudah tak punya keberanian untuk mengakuinya ?"

Nada suara pemuda ini terasa dingin mengerikan dan penuh mengandung hawa pembunuhan. selangkah demi selangkah ia maju mendekati kedua orang musuhnya.

Dengan penuh ketakutan Belibis- ditengah- megagoTo Ki mundur dua langkah kebelakang jeritnya.

"Gak In Ling, apa yang harus kuakui... apa yang harus kuakui ? coba katakanlah lebih dulu."

Suaranya agak gemetar dan kegagahan yang diperlihatkan semula kini sudah lenyap tak berbekas, mungkin mereka telah sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih dibawah kepandaian musuhnya, maka kedua orang itu jadi putus asa dan ketakutan-Gak In Ling menengadah lalu tertawa seram

"Haa haa haa. urusan apakah itu? Kalau tidak jelas tanyakan sendiri setelah bertemu dengan Tiang- kang Sam- kiat serta cin-hway ngo-gi..."

Gelak tertawanya keras hingga menembusi angkasa dan penuh mengandung napsu membunuh serta kesadisan-

Thian-hong pangcu mengerutkan dahinya, dengan suara ketus segera bentaknya. "Gak In Ling Kau tak boleh membinasakan mereka berdua "

Mendengar perkataan itu sepasang alis Gak In Ling kontan berkerut, tiba-tiba ia putar badan dan tertawa dingin.

"Hee hee hee bukankah sedari tadi aku sudah berkata pangcu, diantara kita berdua selamanya tidak bisa hidup saling berdampingan, keputusanku untuk membunuh kedua orang ini sudah bulat, bilamana pangcu merasa tidak puas, tak ada halangannya maju bersama mereka, aku sama sekali tak gentar untuk menghadapi kalian secara berbareng."

Dari perkataan pihak musuhnya, Bangau- di tengah- mega go To Peng serta Belibis-ditengah mega Go To Ki telah mengetahui bahwa jiwa mereka berdua tak dapat tertolong lagi, binatang yang terkurung akan menunjukkan kenekadannya demikian pula halnya dengan kedua orang bersaudara ini, setelah harapan hidupnya musnah mereka berdua segera saling bertukar pandangan sekejap kemudian tanpa mengeluarkan sedikit suarapun melancarkan tubrukan kearah Gak in Ling.

Bangau-ditengah-mega Go To Peng meloncat ketengah udara dan menyerang kearah bawah dengan jurus "Hui-po-nu-thiau" atau gelombang dahsyat diair terjun, sebaliknya Belibis ditengah mega Go To Ki menerjang dari samping dengan jurus "Peng-hun-ciu-si" atau bagi rata adil makmur, arah yang dituju bukan lain adalah jalan kematian diatas lambung musuhnya.

Setelah timbul kenekadan serta niat untuk mengadu jiwa, serangan-serangan yang dilancarkan kedua orang ini bukan saja amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san, bahkan tempat-tempat yang diserangpun merupakan bagian yang vital dan berbahaya ditubuh manusia, seakan-akan dengan jurus serangan tersebut mereka hendak membinasakan musuhnya.

Baru saja Gak In Ling menyelesaikan kata-katanya, angin pukulan yang dilancarkan kedua orang itu sudah mendekati tubuhnya, kecepatan gerak yang dilancarkan benar-benar mengerikan sekali.

Diatas wajah Gak In Ling sama sekali tidak terlintas rasa kaget ataupun tercengang, hanya napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik matanya kini bertambah tebal.

Pada saat empat buah telapak dari dua bersaudara she Go hampir mengenai diatas dada Gak In Ling itulah, tiba-tiba...

Sianak muda itu membentak nyaring, sepasang telapaknya diayun ke depan secepat kilat, cahaya merah menyelimuti daerah sekitar beberapa tombak ditempat itu.

"Blaaaam. " dua ledakan dahsyat yang memekakkan telinga menggelegar diudara, dua jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma bergema memecahkan kesunyian-.. disusul plak Plak Dua sosok tubuh yang tinggi besar terbanting diatas tanah pada jarak kurang lebih satu tombak dari tempat semula, darah kental mengucur keluar dari tujuh lubang indera, pada detik itu juga nyawa mereka berdua telah lenyap tinggalkan raga.

Dua orang jago persilatan yang seringkali melakukan kejahatan dan sudah terlalu banyak membunuh jago kangouw itu akhirnya menemui ajalnya ditangan seorang pemuda yang masih muda belia, mereka tak pernah menyangka kalau pada akhirnya jiwa mereka bakal lenyap karena suatu hutang lama yang pernah mereka lakukan pada belasan tahun berselang.

Napsu membunuh yang menyelimuti diwajari Gak In Ling perlahan-lahan lenyap kembali dengan termangu- mangu ia memandang dua sosok mayat yang terkapar diatas tanah, bibirnya sementara berkemak-kemik tiada hentinya namun tiada seorangpun yang tahu apa yang sedang dia ucapkan-

Dalam pada itu pria bertato sembilan naga telah dibikin terkejut hingga berdiri termangu-mangu, dia merasa kepandaian silat yang dimilikinya sudah cukup ampuh, tapi tak pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang jauh lebih muda daripada dirinya ternyata memiliki kepandaian silat yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.

Sekilas napsu membunuh berkelebat dalam mata Thian-hong pangcu, perlahan-lahan ia berjalan mendekati punggung Gak In Ling, pada saat itu gadis tersebut telah merasa bahwa sehari pemuda itu tidak mati maka sehari pula dunia persilatan tak akan mendapat ketenangan, karena perbuatan yang dilakukan orang ini memang benar mengerikan sekali.

Akhirnya dara cantik baju putih itu berhenti pada jarak tiga depa- dibelakang Gak in Ling, telapaknya beberapa kali diangkat keatas tapi setiap kali niat tersebut dibatalkan-

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Gak in Ling menyeka keringat yang membasahi keningnya, kemudian berkata dengan suara hambar.

"Pangcu, saat ini merupakan kesempatan yang paling baik bagimu untuk turun tangan"

Ucapan halus, tenang dan wajar sekali, seakan akan orang yang hendak dibunuh oleh Thian hong pangcu bukanlah dirinya melainkan orang lain-

Thian-hong pangcu mengertak gigi, tiba-tiba ia tarik kembali telapak tangannya dan berseru sambil tertawa dingin.

"Engkau tak usah kuatir, tak nanti kuhantam dirimu secara membokong. Aku pasti akan memberi suatu kesempatan kepadamu untuk melakukan pertarungan secara adil "

Perlahan-lahan Gak ln Ling putar badannya dan memandang sekejap kearah dara cantik baju putih itu dengan pandangan tenang, kemudian katanya.

"Apakah pangcu sudah mengambil keputusan untuk tidak melepaskan diriku lagi ?"

"Kepandaian silat yang kau miliki toh tidak berada dibawah kepandaian silatku, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk ditentukan, mulai dari sekarang, apakah engkau tidak merasa terlalu pagi untuk membicarakan soal mati hidup ?"

Dalampada itu pria bertato sembilan naga telah mendusin akan apa yang sudah terjadi, menyaksikan keanehan itu buru-buru teriaknya.

"Eei, eei bukankah tadi masih baik-baik saja, kenapa sekarang sudah cekcok kembali ?"

Gak In Ling tertawa tawar.

"Aku tahu pangcu berhati bajik dan penuh welas-asih, aku orang she Gak merasa tak tega untuk mencelakai dirimu, tetapi ini hari juga akan kuberitahukan kepadamu bahwa semua orang yang kubunuh adalah manusia-manusia yang dosanya telah bertumpuk-tumpuk."

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan- "Didalam lembah pemutus nyawa tulang putih berserakan di mana-mana, itulah hasil karya yang mereka lakukan, apakah manusia keji semacam ini tidak pantas untuk dibunuh ?"

"Memang mereka patut dibunuh, tetapi kau bukan membunuh mereka karena ingin melenyapkan kaum jahat dari maka bumi, kau melakukan pembunuhan tersebut karena demi kepentingan pribadimu sendiri, bukankah begitu?"

Gak In Ling menghela napas panjang.

"Apapun alasanku sehingga membunuh mereka berdua, sekalipun kuucapkan belum tentu kau akan percaya, lagi pula akupun tidak bersedia mencari simpati atau belas kasihan orang lain terhadap diriku, oleh sebab itu lebih baik tak usah kukatakan apakah alasanku sehingga melakukan kesemuanya ini."

Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Persoalannya bukan pada belas kasihan atau tidak, simpati atau tidak, yang menjadi masalah pada saat ini adalah bagaimana caramu untuk tancap kaki didalam dunia persilatan sejak kini ?"

"Batas waktu setahun akan berlalu dengan cepatnya." kata Gak In Ling sambil tertawa sedih. "paling banter para jago didaratan Tionggoan akan menggali jenasahku dari Liang kubur, kenapa hal itu mesti dipikirkan lagi ?"

Selesai berkata dia lanjutkan langkahnya menuju kedalam lembah.

Air muka Thian-hong pangcu berubah hebat setelah mendengar perkataan itu. tanpa terasa ia berseru.

"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu itu, apakah engkau dapat menerangkan lebih jauh" kali ini suaranya telah berubah jadi lembut dan halus sekali.

"Lebih baik pangcu tak usah tahu." kata Gak In ling sambil tertawa tawa.

"Tapi aku ingin memahaminya."

"Hey, akupun tidak mengerti" teriak pria bertato sembilan naga pula dengan suara keras.

Gak In Ling menyapu wajah kedua oraig itu sekejap. lalu berkata.

"Tempat ini tak bisa ditinggali terlalu lama, kalau memang pangcu serta saudara ini merasa bahwa semua manusia yang tinggal dalam lembah ini patut dibunuh, lebih baik biarkanlah aku orang she Gak lanjutkan kembali perjalanan ku seorang diri."

"Eei. hal ini mana boleh jadi, masa ada keramaian yang begitu menarik hati engkau tidak perkenankan diriku untuk nonton, itu namanya tidak adil." gembor pria bertato sembilan naga tanpa berpikir.

sebaliknya Thian-hong pangcu menatap wajah sianak muda itu dan berkata. "Engkau toh tak pernah memberi penjelasan kepadaku, maka sampai sekarangpun aku masih belum mengerti."

Suaranya lembut dan sangat halus, bahkan mendekati permohonan-Mendengar ucapan itu Gak In Ling segera menghentikan langkahnya dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Aku hanya bisa hidup selama setahun saja dikolong langit " selesai berkata dengan langkah lebar ia berjalan menuju kemulut gua.

Thian-hong pangcu merasakan hatinya tercekat dan jantungnya berdebar keras, dengan cepat ia loncat kemuka dan menghadang jalan pergi sianak muda itu, ujarnya dengan lirih.

"Gak In Ling, pernahkah engkau mendengar tentang kata-kata yang berbunyi demikian-"obat mujarab menyelamatkan manusia dari kematian?" suaranya penuh mengandung nasihat serta anjuran sementara titik air mata tak dapat dikuasai lagi menetes keluar membasahi pipinya.

Perkenalannya dengan Gak In Ling baru berlangsung tidak sampai satu hari, bahkan gadis ini pernah berhasrat untuk membunuh dirinya.

Akan tetapi setelah mengetahui bahwa sianak muda itu hanya mampu hidup dikolong langit hanya setahun belaka, tak dapat dibendung lagi air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.

Hati kaum wanita... selamanya memang merupakan teka teki yang tak bisa diraba dan diselami oleh siapapun.

Dalam hati Gak In Ling menghela napas sedih, tapi diluaran ia berlagak pilon dan seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, ujarnya sambil tertawa.

"Dikolong langit sudah tiada obat mujarab lagi yang bisa menyembuhkan penyakit yang ku-derita, pangcu Kembalilah... Lembah Toan hun kok adalah sarang naga dan gua harimau

tempat ini berbahaya sekali dan setiap saat jiwa kita akan terancam oleh maut, sedang engkau adalah seorang pemimpin persilatan yang mengatur semua rencana besar bagi kedamaian serta keamanan umat manusia, tindakanmu menempuh bahaya bukanlah suatu keputusan yang cerdik, karena itu aku harap engkau suka keluar dari lembah ini."

Tiba-tiba Thian-hong pangcu angkat kepala nya yang telah basah oleh air mata, ujarnya.

"Aku akan menyertai dirimu, agar engkau tidak berkelana seorang diri."

"Benar, dan akupun akan turut serta pula" sambung pria bertato sambilan naga dengan cepat.

Dalam pikiran orang ini, selamanya mungkin tak pernah kenal akan arti sedih atau murung, kendatipun menghadapi masalah yang bagaimana seriusnya ia tetap tenang dan bersikap wajar.

Sementara itu Gak In Ling merasakan hatinya bergerak setelah mendengar ucapan-ucapan tersebut, ia tarik napas panjang dan alihkan sorot matanya kearah lain, ujarnya sambil tertawa hambar.

"Pangcu, jikalau engkau hendak memikirkan bagi kedamaian serta keselamatan seluruh umat persilatan, maka tidak sepantasnya kalau engkau selidiki lembah ini"

"Mengapa aku harus memikirkan mereka?" jawab Thian-hong pangcu dengan cepat. Gak In ling tertegun-

"Lalu siapakah yang pangcu pikirkan?" ia bertanya

"Tentu saja memikirkan dirimu "

"Akupun memikirkan dirimu " gembor pria bertato sembilan saga dengan keras.

Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya, mungkin gadis yang berwatak keras kepala ini benar-benar telah berubah.

Secara tiba-tiba Gak In Ling merasakan pikirannya jadi kalut dan bingung sekali, dengan suara berat serunya.

"Kalian memikirkan seseorang yang usianya tinggal setahun belaka, kalian terlalu goblok"

Gelak tertawanya penuh mengandung nada ejekan, tetapi tak dapat menutupi rasa sedih dan pedihnya yang tak terhingga.

"Tidak mungkin hanya setahun-.. tidak mungkin hanya setahun-" seru Thian-hong pangcu sambil menengadah keatas langit.

Perkataan itu seakan-akan diucapkan bagi Gak In Ling, tapi seakan-akan juga sedang memperkuat kepercayaannya pada diri sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba dari bukit mulut gua berkumandang datang gelak tertawa yang sangat keras dan memekakkan telinga.

"Haa haa , haa jangan dibilang setahun, mungkin hari inipun tak bisa dilewatkan dalam

keadaan hidup,"

Bersamaan dengan menggemanya gelak tertawa, dari balik gua muncullah seorang kakek tua yang gemuk. cebol berambut putih, bermata cekung dan muka seram bagaikan setan.

Begitu melihat kemunculan orang itu, dengan hati terkejut Thian-hong pangcu -segera berteriak keras. "Aah Hiat-mo-ong ?"

Pada saat yang bersamaan di belakang tubuh mereka bertiga melayang turun tujuh orang manusia aneh yang rambutnya terurai sebahu, dengan cepatnya Gak In Ling bertiga dikepung ditengah kalangan-

Siapapun tak menduga pada saat itu pula diatas puncak bukit sebelah depan tiba-tiba muncul pula empat orang dayang baju merah yang masing-masing membawa sebuah tanda pengenal.

Suasana dalam kalangan seketika diliputi oleh ketegangan, setiap saat suatu pertarungan sengit bakal meledak.

Suasana dalam lembah ketika itu benar-benar diliputi ketegangan, siapapUn di antara mereka tak ada yang mengetahui bahwa empat orang dayang baju merah telah muncul di puncak sebelah depan-

Demikian halnya pula dengan orang-orang dari lembah Toan-hun-kok, tak seorangpun yang mengetahui akan kehadiran dayang-dayang tersebut sebab kemunculan Thian-hong pangcu serta Gak In Ling yang sudah cukup merepotkan diri mereka sehingga tak sempat untuk memikirkan yang lain-

Sejak kecil Gak In Ling berdiam didalam benteng oh-liong-poo, kecuali manusia aneh dari utara serta manusia sesat dari selatan tiada orang lain yang menemani dirinya, sebaliknya dua orang tokoh sakti itu karena terikat oleh sesuatu pembatasan membuat kedua orang itu kecuali melayani kebutuhannya tak dapat membicarakan masalah tentang dunia persilatan dengan majikan mudanya, oleh sebab itu meskipun nama besar "Hiat-mo-ong" atau Raja- iblis- berdarah ini amat tersohor serta ditakuti setiap orang, tetapi pemuda ini sama sekali tidak mengenali dirinya.

Begitulah, sambil mengerdipkan sepasang matanya Gak In Ling berpaling kearah Thian-hong pangcu dan bertanya.

"Pangcu, engkau kenal dengan orang ini ?" sikapnya wajar dan sedikitpun tidak menanjukan rasa jeri ataupun takut.

Perasaan hati Thian-hong pangcu yang bergolak oleh emosi perlahan-lahan jadi reda dan tenang kembali, mendengar pertanyaan itu dia segera mengangguk.

"Sekarang musuh tangguh sedang berada di depan mata, maafkanlah aku tak dapat membicarakan tentang asal-usulnya dengan dirimu " habis berkata ia segera maju kedepan dan serunya, kembali dengan nada dingin.

"Hiat-mo-ong, engkau masih ingat dengan sumpahmu dimasa lampau ?"

Dengan suatu gerakan yang cepat ringan dan cekatan Hiat-mo-ong melayang keluar dari guanya, tak nampak kekuatan yang dipergunakan tapi tubuhnya bagaikan kapas saja melayang di-angkasa, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki kakek cebol itu luar biasa dahsyatnya.

Dengan sorot mata yang tajam Hiat-mo-ong menatap wajah Thian-hong pangcu tanpa berkedip. lama sekali ia baru menjawab.

"Aku tidak goblok, tidak bodoh tentu saja masih ingat dengan jelas sekali "

"Hee hee hee kalau memang begitu, mengapa kau tinggalkan Khong ciang ?"

Hiat-mo-ong menengadah dan tertawa seram.

"Haa.... haa. ... haa cian-jiat-ji-siu sepasang kakek Cacad sudah banyak tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan, mati hidupnya tidak ketahuan, sampai sekarangpun tak tahu dimanakah batang hidung mereka, kenapa aku tak boleh munculkan diri dalam dunia persilatan ? Kedatanganku pada saat inipun sudah merasa agak menyesal karena terlambat beberapa tahun lamanya."

"Hee hee hee sekalipun dua kakek Cacad sudah tak ada, tetapi didaratan Tionggoan

pada saat ini toh masih ada aku" sahut Thian-hong pangcu dengan sorot mata mengandung napsu membunuh. Hiat-mo-ong tertawa menghina.

"Sebelum aku masuk ke daratan Tionggoan memang sudah kudengar kalau daratan Tionggoan pada saat ini telah menjadi jajahan dari dua orang gadis aneh, akan tetapi... "

"Akan tetapi kenapa ?"

Hiat mo-ong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu sambil tertawa jawabnya.

"Aku berani datang kemari, seharusnya kau pun bisa memahami apa maksud dari perkataanku yang belum habis diucapkan itu."

Napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Thian-hong pangcu, katanya dengan dingin.

"Kalau memang begitu cobalah sendiri, apakah aku punya kemampuan untnk melenyapkan dirimu atau tidak... "

Tubuhnya segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya diangkat dan siap melancarkan serangan-

Tapi sebelum ia sempat melancarkan pukulannya, Gak In Ling telah berseru dengan lantang.

"Huuh Engkau Hiat- mo-ong paling banter hanya seorang jagoan kelas dua atau tiga didalam dunia persilatan, berani benar adu kekuatan dengan pangcu kami, andaikata majikanmu datang sendiri, nah mungkin saja pangcu kami baru terpaksa harus turun tangan sendiri."

Bicara sampai disitu ia loncat kehadapan Thian-hong pangcu, dan ujarnya dengan nada serius.

"Pangcu, ijinkanlah tecu untuk menghadapi manusia kurcaci ini."

Tindakan yang dilakukan Gak In Ling ini secara tiba-tiba membingungkan hati Hiat-mo-ong, dengan mata terbelalak lebar-lebar ia memandang kearah sianak muda itu tanpa berkedip. sedang dalam hati pikirnya dengan keheranan.

"Kalau ditinjau dari ribut-ribut yang baru saja berlangsung diantara mereka berdua, jelas menunjukkan bahwa kedua orang itu berada pada posisi yang saling bermusuhan, kenapa sekarang bajingan itu menyebut dirinya sebagai anak murid perkumpulan Thian-hong-pang ? Sungguh aneh sekali."

Bagaimanapun rasa curiga dan sangsi yang berkecamuk didalam benak Hiat-mo-ong, ia tidak bisa tidak. harus mempercayai karena orang kang ouw tak ada yang sudi menurunkan derajat sendiri dihadapan orang lain, apalagi menuruti perintah orang lain, sudah tentu manusia seperti

Gak In Ling yang memiliki ilmu silat amat lihay, tak akan bersedia mengaku jadi anak buah perkumpulan orang...

Pria bertato sembilan naga, adalah seorang pria kasar yang berpikiran polos, kalau Hiat-mo-ong yang tersohor karena kelicikan serta kepintarannya itupun untuk beberapa saat tak dapat menebak keadaan yang sebenarnya, bisa dibayangkan darimana pria ini dapat berpikir sejauh ini ?

Tanpa terasa ia segera bergumam seorang diri

"Ooh, rupanya bocah itu diurusi oleh perempuan tersebut. Huh sungguh tak becus "

Tanpa terasa sepasang matanya dialihkan ke Thian-hong pangcu.

Sementara itu dara cantik baju putih itu sedang berdiri dengan muka tercengang dan tidak habis mengerti, hal itu semakin membingungkan hati pria bertato sembilan naga, pikirnya lebih jauh.

"Aneh benar kalau dilihat tampang gadis itu, rupanya dia sendiripun tak tahu sedari kapan dia mempunyai seorang auggauta macam pemuda itu, makinya.. sebenarnya apa yang sudah terjadi"

Sedikitpun tidak salah, Thian-hong pangcu memang dibikin kebingungan dan tak habis mengerti oleh tindakan Gak In Ling yang secara tiba-tiba itu, sambil menatap wajah pemuda itu tanpa terasa ia berseru. "Gak ln Ling... "

"Pangcu, engkau harus menjaga diri baik-baik demi kesejahteraanmu serta keamanan didalam dunia persilatan-" tukas pemuda she Gak dengan cepat. "Terhadap manusia kelas dua dan tiga macam mereka buat apa mesti turun tangan sendiri? Andaikata dalam pertarungan nanti tecu tak untung dan menderita kalah, barulah pangcu turun tangan sendiri."

Pada dasarnya Thian-hong pangcu adalah seorang manusia yang cerdik, dalam menghadapi persoalan apapun biasanya ia dapat menebak secara jitu, justru pada saat ini pikirannya sedang kalut dan tidak tenang, ia tak dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari pemuda itu, pikirnya didalam hati.

"Ooh, mungkin Gak In Ling ada permintaan yang hendak diajukan kepadaku, maka menggunakan kesempatan ini sengaja ia cari hati dihadapanku."

Berpikir sampai disini ia termenung lagi be berapa saat lamanya, kemudian berpikir lebih jauh.

"Tapi hal ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin dengan wataknya yang angkuh tidak mungkin dia adalah manusia seperti itu, lalu apa sebabnya ia berbuat begitu ?"

Di pihak lain Hiat-mo-ong merasa hawa amarahnya berkobar didalam dada setelah berulang kali dimaki Gak In Ling sebagai manusia kelas dua atau kelas tiga didalam dunia persilatan, dengan gemas dan penuh perasaan dendam ia menghardik.

"Bocah keparat yang masih belum hilang bau teteknya, kalau aku adalah jago kelas dua atau kelas tiga dalam dunia kangouw, lalu kau adalah jago kelas berapa ?"

"Hee hee hee apakah aku telah salah berbicara ?" ejek Gak ln Ling dengan nada seram.

"Hmm, apa engkau anggap benar ?"

"Huh Didalam lembah Toaa-hun-kok ini sudah ada puluhan orang yang menemui ajalnya ditanganku, aku rasa semua tingkah laku serta perbuatan mereka adalah mendapat perintah darimu, sedang engkau sendiri bukankah sedang menjalankan perintah dari majikanmu?"

Walaupun ucapan itu merupakan suatu dugaan belaka, tapi nada ucapannya begitu pasti dan meyakinkan-

Hiat-mo-ong licik dan banyak akal, namun ia tak dapat menebak apakah Gak In Ling benar-benar mengetahui latar belakangnya atau tidak. kendatipun begitu, ia sudah mempertingkat kewaspadaannya.

"Bajingan ini tak dapat dibiarkan hidup di kolong langit, aku harus lenyapkan dirinya secepat mungkin " teriaknya kemudian-

Dari sikap keragu-raguan yang diperlihatkan Hiat- mo-ong serta lama sekali tidak menjawab. Gak In Ling mengetahui bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia segera tertawa dingin dan serunya.

"Apakah engkau menginginkan penjelasan yang lebih terang lagi dari diriku?"

"Penjelasan apa ?"

"Apa yang kusaksikan didalam gedung keluarga Gak. tidak lain adalah hasil siasat licik dari majikanmu, bukankah begitu ?" jengek sang pemuda sambil tertawa dingin. Airmuka Hiat- mo-ong berubah hebat, bentaknya.

"Keparat yang tak tahu diri, ucapanmu ngawur dan seenaknya saja. Hm Rupanya kau sudah bosan hidup "

Dengan menggunakan jurus "Mo-ciang-peng san" atau telapak iblis meratakan bukit, ia mengirim satu pukulan dahsyat kearah dada Gak In Ling.

Desiran angin tajam yang disertai ledakan guntur menggeletar diang kas a, begitu hebatnya serangan itu hingga mengejutkan hati orang.

Sejak permulaan tadi Gak In Ling sudah tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Hiat- mo-ong jauh diatas kepandaian Go To Peng, Go To Ki serta Buddha Antik, hawa murninya diam-diam telah dihimpun kedalam telapak dan setiap saat dapat melancarkan serangan balasan.

Begitu menyaksikan serangan dari Hiat- mo ong telah meluncur datang, Gak In Ling tidak berani berayal, buru-buru bentaknya keras. "Bagus sekali datangnya serangan itu "

Dengan jurus "Kua-hay-peng-mo" atau melewati samudra melenyapkan iblis, laksana kilat tubuhnya bergeser delapan depa kesamping, sepasang telapaknya diiringi desiran angin yang kencang menghajar iga kiri Hiat-mo-ong, kecepatannya menghadapi perubahan amat cepat dan ancamannya ganas sekali, seakan-akan dia sudah tahu disitulah letak titik kelemahan dari jurus serangan yang akau dilancarkan musuhnya.

Hiat-mo-ong mimpipun tak pernah menyangka Gak In Ling dengan usianya yang masih begitu muda ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam yang sama sekali diluar dugaan, sejak dilihatnya sianak muda itu geserkan badannya ketika menyambut datangnya serangan, ia sudah tahu bahwa gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya.

Oleh sebab itu, jurus telapak iblis meratakan bukit hanya digunakan sampai setengah jalan lalu ditarik kembali, dari menyerang ia mengubah posisinya jadi bertahan, dengan sepasang telapaknya ia sambut datangnya serangan dari Gak In Ling yang mengancam iga kirinya.

Dalam anggapan Hiat-mo-ong, kendatipun Gak In Ling memiliki perubahan jurus yang cepat dan kepandaiannya yang tinggi, namun dengan usianya yang masih muda tentu tenaga dalam yang dimiliki tidak akan begitu sempurna, maka sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Siapa sangka kejadian diluar dugaan, dengan sikap yang wajar sianak muda itu ayunkan telapak tangannya.

"Blaaam" dengan cepat sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan suara ledakan keras yang menggeletar diudara, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa keadaan benar-benar mengerikan sekali.

Dengan sempoyongan Hiat- mo-ong tergetar mundur tiga langkah kebelakang, dadanya terasa jadi sesak dan sepasang lengannya jadi linu dan kaku, hatinya terasa amat terkesiap.

Dengan pandangan kaget bercampur ngeri ia menyapu sekejap kearah Gak In Ling, sementara tubuhnya berdiri menjublek ditempat semula, ia tak mengira kalau musuhnya begitu kuat dan hebatnya.

"Mungkinkah itu ?" pikir Hiat-mo ong dengan hati tercekat "Mungkinkah dikolong langit benar-benar terdapat kejadian yang aneh seperti ini ?"

Dia ingin menyeka matanya dengan tangan agar apa yang terlihat bisa lebih jelas, tapi sepasang tangannya terasa linu dan kaku, begitu sakit sampai tak kuat diangkat lagi. Thian-hong pangcu sendiripun merasa amat terkesiap. pikirnya.

"Sebenarnya sampai dimana sih kesempurnaan tenaga dalam yang dia miliki ? Air pasang, perahupun bertambah tinggi, belum pernah aku lihat dia menderita kalah."

Sebaliknya pria bertato sembilan naga segera bertepuk tangan bersorak-sorai karena kegirangan, teriaknya.

"Waduuuh bocah, kamu memang hebat, kamu memang hebat "

Teriakan keras dari pria bertato sembilan naga segera mengejutkan hati Hiat-mo-ong yang pada waktu itu masih berdiri menjublek dengan mata terbelalak mulut melongo, tampak biji matanya berputar lalu membentak keras.

"Ini hari lembah Toan-hun-kok akan menjadi tempat kubur bagi kalian semua, serbu " Begitu perintah diturunkan, tujuh orang manusia aneh berambut panjang yang berdiri dibelakang Thian-hong pangcu tanpa mengeluarkan sedikit suarapun segera menerjang maju kedepan, dengan gencar dan hebatnya mereka serang dara cantik baju putih itu serta pria bertato sembilan naga.

Jangan dilihat pria bertato sembilan maga adalah seorang kasar yang berhati polos, yang sebenarnya dia adalah seorang jago dari kalangan lurus yang amat benci terhadap segala macam kejahatan, ketika dilihatnya ketujuh orang manusia aneh itu menerjang ke depan, toyabajanya segera diputar lalu sambil membentak keras ia menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Thian-hong pangcu sudah bikin persiapan, meskipun gerakan tubuhnya sedikit lebih lambat daripada pria bertato sembilan naga, akan tetapi serangan yang dilancarkan olehnya telah mengenai sasarannya lebih dahulu.

Dalam waktu singkat sembilan orang jago lihay itu sudah bertarung jadi satu, bayangan manusia berkelebat silih berganti, angin puyuh menderu- deru mengelilingi daerah seluas beberapa tombak. pasir dan batu beterbangan diangkasa membuat siapapun yang berada disitu merasakan napasnya jadi sesak.

Agaknya ketujuh orang manusia aneh berambut panjang itu memiliki serangkaian ilmu silat yang sangat lihay, meskipun tenaga dalam yang dimiliki Thian-hong pangcu serta pria bertato sembilan naga jarang ditemui tandingannya dikolong langit, tetapi setelah bertemu dengan tujuh orang musuh tangguh, seketika itu juga mereka rasakan agak ngotot dan tertekan hebat.

Dipihak lain rupanya sebelum melakukan penyerangan, ketujuh orang manusia aneh itu sudah kompromi lebih dulu, begitu melancarkan serangan enam orang diantaranya segera mengerubuti Thian-hong pangcu seorang, sedangkan hanya ada seorang jago yang menghadapi pria bertato sembilan naga, hal ini membuat dara cantik baju putih itu tak mampu menerjang keluar dari kepungan-

Dengan pandangan yang menyeramkan Hiat-mo-ong memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian katanya.

"Hmm tidak sampai berapa jurus lagi, pangcumu itu akan menemui ajalnya ditempat ini."

"Huuh Hanya mengandalkan beberapa orang setan kerbau malaikat ular semacam itu ?" Jengek Gak In ling sambil tertawa dingin, rasa kuatirnya dengan cepat ditekan kedalam dada.

Mendengar perkataan itu Hiat-mo-ong segera angkat kepala menyapu sekejap kearah tujuh orang anak buahnya yang sedang bertarung sengit ditengah gelanggang, tampaklah olehnya meskipun mereka menerjang musuhnya dengan gagah perkasa dan tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri, akan tetapi sama sekali tidak terlihat tanda-tanda untuk merebut kemenangan, bahkan ada kalanya malahan terdesak hebat sehingga kacau-balau tak keruan, hal ini segera mengejutkan hatinya.

"Oooh Sungguh tak nyana Thian-hong pangcu yang tidak lebih hanya seorang gadis muda lemah ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tinggi dan hebat." ia berpikir didalam hati, "kalau dia saja begitu lihay, apalagi perempuan yang bernama Gadis suci dari nirwana, entah bagaimana dahsyatnya." Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia bersuit panjang.

Gak In Ling terperanjat ketika mendengar suara suitan panjang itu, baru saja ia hendak buka suara, tiba-tiba dari balik gua muncul kembali enam orang manusia aneh yang punya dandanan persis seperti tujuh orang manusia aneh pertama tadi.

Berhubung gua-gua itu sebagian besar tersembunyi di balik batu cadas yang besar, maka bila tidak ada orang yang muncul disana, siapapun tak akan menduga kalau ditempat itu terdapat sebuah gua.

Begitu munculkan diri, tanpa berpikir panjang keenam orang manusia aneh itu segera menerjang kearah Thian-hong pangcu, seakan-akan sebelum kejadian Hiat-mo-ong telah memberi petunjuk kepada mereka tujuan yang mesti diserang.

Menyaksikan peristiwa itu Gak in Ling merasa amat terperanjat, ia tahu segenap prajurit dan panglima yang ada didalam lembah Toan-hun-kok, sebagian besar merupakan jago-jago lihay yang berkepandaian tinggi.

Jikalau satu lawan enam, pemuda itu masih yakin Thian-hong pangcu mampu untuk menghadapinya. Sekalipun tidak berhasil merebut kemenangan, sedikit banyak tidak sampai dikalahkan- Tapi sekarang dara cantik itu sekaligus harus menghadapi duabelas orang musuh, ia tak bisa bayangkan apa yang bakal terjadi.

Rupanya Hiat-mo-ong sudah melihat akan ketidaktenangan pemuda lawannya, sambil tertawa dingin ia segera mengejek.

"Gak In Ling, hendak kulihat apa yang hendak kau lakukan untuk mengatasi situasi seperti ini

?"

Baru saja perkataan itu diselesaikan, tiba-tiba dari atas tebing berkumandang datang suara bentakan nyaring.

"Hm Main kerubut dan andalkan jumlah banyak apakah kalian hendak merusak peraturan dunia persilatan ?"

Bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, dua kali jeritan ngeri menggema memecahkan kesunyian, dua orang diantara enam orang manusia aneh yang hendak menerjang kearah Thian-hong pangcu telah roboh terkapar diatas tanah, disusul dalam lembah tersebut muncullah empat orang dayang cilik baju merah yang membawa tanda perintah ditangannya, diantara mereka berdirilah seorang dara berbaju merah bergaun merah dan berkerudung kain merah.

Pria bertato sembilan naga serta Thian-hong pangcu yang sedang bertarung masih belum merasakan apa-apa, sebaliknya Gak In Ling serta Hiat-mo-ong diam-diam merasa tertegun dan kaget, karena kedatangan orang-orang itu sangat cepat dan ganas sekali sehingga sukar membuat orang untuk mempercayainya.

Gak ln Ling berpaling memandang sekejap kearah orang-orang itu, kemudian satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir.

"Aaah kemungkinan besar gadis suci dari nirwana telah tiba, tidak aneh kalau kelihayan nya

luar biasa."

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dingin segera ujarnya.

"Menurut penilaianku, pada hari ini lembah Tan-hui-kok akan mengalami kehancuran total dan mungkin sejak detik ini akan terhapus dari dunia persilatan-"

Dalampada itu gadis berkerudung merah itu sudah ikut terjun kedalam gelanggang pertarungan, tampaklah telapak tangannya beterbangan klan kemari dengan kecepatan bagaikan kilat, kelihayannya sama sekali tidak berada dibawah kepandaian Thian-hong pangcu.

Dalam waktu singkat situasi dalam gelanggang pun mengalami perubahan besar, setelah hati nya merasa lega Gak In Ling pun melangkah maju kedepan, sambil mengawasi wajah Hiat- mo-ong, serunya.

"Hiat- mo-ong, sekarang tibalah giliranmu untuk berangkat menghadap raja akhirat."

Hiat-mo ong tidak mengucapkan sepatah katapun, sinar matanya yaag tajam dengan cepat menyapu sekejap sekeliling tempat itu, otaknya berputar kencang untuk mencari jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya.

Tetapi sebelum ingatan apapun berhasil ia dapatkan, Gak In Ling telah mengangkat sepasang telapaknya sambil membentak nyaring. "Hiat- mo-ong Apakah engkau kenal dengan telapakku ini ?"

Hiat-mo-ong angkat kepala, tapi setelah sorot matanya terbentur dengan telapak lawan, dengan ketakutan dia mundur dua langkah kebelakang, serunya tertahan-"Aaah telapak maut "

Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, sambil tertawa dingin ujarnya. "Engkau meracuni umat persilatan didaratan Tionggoan, hutang darah harus dibayar dengan darah, ini hari aku orang she Gak adalah utusan pencabut nyawa yang khusus datang kemari untuk membetot nyawa anjingmu. Nah, serahkanlah jiwamu " Selangkah demi selangkah ia maju mendekati Hiat-mo-ong.

Tercekat hati iblis tua itu menyaksikan kegagahan serta kesadisan yang diperlihatkan oleh Gak In Ling, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah.

Dipihak lain jeritan-jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, jelas ada beberapa orang yang telah menemui ajalnya.

Mendadak Gak In Ling membentak keras, dengan jurus hujan darah angin amis ia menerjang kearah Hiat-mo-ong, tampaklah cahaya darah tersebar memenuhi angkasa, begitu hebatnya serangan itu sehingga menggetarkan hati semua orang.

Begitu menyaksikan pihak lawan mengeluarkan pukulan mautnya, semangat tempur dari Hiat mo-ong seketika lenyap tak berbekas, dalam keadaan begini tentu saja ia tak berani melancarkan serangan balasan-

Tanpa memperdulikan tindakannya memalukan atau tidak. dengan gerakan keledai malas bergulingan ia menggulingkan tubuhnya diatas tanah dan menghindar sampai tiga- empat tombak jauh-nya dari tempat semula, kemudian meloncat bangun dan ditengah suitan nyaring tanpa berpikir lagi ia kabur masuk ke dalam gua.

Begitu mendengar suara suitan tersebut, manusia manusia aneh lainnyapun jadi gugup, mereka kabur terbirit-birit dan lari tunggang langgang dalam sekejap mata jeritan ngeri menggema silih berganti, ada empat orang manusia aneh yang roboh dalam keadaan binasa, sedang sisanya cepat-cepat lari masuk kedalam gua untuk menyelamatkan diri.

Terhadap kesemuanya itu, seolah-olah Gak In Ling sama sekali tidak merasakan, dengan termangu- mangu dia memandang kearah mulut gua dimana Hiat-mo-ong melenyapkan diri.

Gumamnya seorang diri.

"Tenaga dalam yang kumiliki telah turun kejurang kehancuran-.. oooh, Thian Mengapa engkau bersikap begitu tak adil terhadap keluarga Gak kami ?"

Alis matanya yang panjang mengerdip beberapa kali, air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi wajahnya yang tampan-

Sekalipun dihadapan orang ia tunjukkan sikapnya yang kukuh dan keras kepala, sekali pun dihadapan orang ia memandang hambar tentang keselamatan jiwanya, tapi bagaimana juga dia tetap adalah seorang manusia, bahkan seorang pemuda yang lemah lembut. Setelah teringat bahwa usianya sangat terbatas sedangkan pekerjaan besar yang harus diselesaikan belum berhasil dipenuhi timbullah rasa sedih dalam hatinya.