Telapak Emas Beracun Jilid 2

Jilid 2

Dia menggelengkan kepala.

Dia melihat sorot kecewa memancar dari mata Xiao Ling. Bagaimanapun juga sebenarnya dia tidak ingin melukai hati Xiao Ling. Walaupun hanya melewati satu hari yang singkat, perasaannya kepada gadis itu sudah begitu panas.

Diam-diam Gu Zhuo Piao memarahi dirinya, "Mengapa benda yang telah kudapatkan, selalu merasa kalau barang itu bukan barang berharga lagi? Mengapa di dalam hatiku selalu terasa ada suatu kekuatan yang lebih kuat melawan pikirannya? Aku tidak tahu apa sebabnya.”

Dia menarik sorot matanya yang dingin. Dengan lembut dia melihat Xiao Ling dan berkata, Aku hanya seorang pelajar, aku tidak nyaman bersama dengan pendekar-pendekar itu, lebih baik kau pergi sendiri ke sana. Jika kau ingin menemuiku, datang saja ke sini.” 

Xiao Ling mengangguk dengan terpaksa.

Gu Zhuo Piao membukakan pintu untuknya. Dia turun dari kereta.

Lalu Gu Zhuo Piao berbisik, "Aku menunggumu di rumah.”

Hati Xiao Ling mulai muncul rasa senang dan manis seperti madu. Dia memiringkan tubuhnya membiarkan telinganya terkena bibir Gu Zhuo Piao yang hangat.

Kemudian pintu kereta ditutup dan keretapun berlalu dari sana. Tiba-tiba Xiao Ling merasa apa yang dia dapatkan tiba-tiba saja menghilang. Tapi setelah semua menghilang, dia akan mendapatkannya kembali. Dia mentertawakan dirinya begitu bodoh.

Dia berpikir, "Bukan selamanya kami tidak bisa bertemu, mengapa harus timbul perasaan seperti ini?" Dengan langkah besar dia berjalan ke depan pintu kantor Biao Zhen Yuan. Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao tampak sedang tertawa dengan senang, karena mendengar perkataan pemuda yang berada di sampingnya. Begitu melihat Xiao Ling menyebrang, wajahnya tampak berubah, dia tidak tahu identitas Xiao Ling dan juga tidak tahu apa tujuan Xiao Ling datang kemari. Dia mengira Xiao Ling datang untuk mencarinya.

Dia tidak ingin apa yang telah terjadi semalam diketahui oleh orang-orang kantor Biao, tapi dia juga tidak bisa melarang Xiao Ling datang ke kantor Biao Zhen Yuan.

Tapi dia merasa gadis ini tidak menganggap keberadaannya. Manusia selalu mempunyai alasan untuk menghibur diri. Dia berpikir, "Kemarin malam sangat gelap, mungkin dia tidak melihatku dengan jelas... tapi untuk apa dia datang ke sini?”

Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu adalah orang yang mereka tunggu setiap hari yaitu Yu Jian Xiao Ling. Orang kantor Biao selalu menyangka kalau Yu Jian Xiao Ling adalah laki-laki. Yu Jian Xiao Ling jarang keluar dari Jiang Si Hu Qiu. Pantas pendekar- pendekar salah tafsir kepadanya.

Xiao Ling tiba di depan pintu. Jubah merah dan wajah cantiknya membuat banyak laki-laki yang berada di kantor Biao itu terbengong- bengong melihatnya.

Pemuda kurus dan tihggi yang sejak tadi berdiri di sisi Hong Gong Zhao, segera mendekati Xiao Ling. Tapi Hong Gong Zhao sudah menghilang. Xiao Ling merasa marah tapi juga ingin tertawa. Dia berpikir, "Kau kira dengan pergi diam-diam akan menyelesaikan semua masalah?”

Pemuda kurus itu bertanya, "Nona mencari siapa?”

Xiao Ling melihat pemuda itu, melihat hidungnya yang lurus, mulutnya yang berbentuk kotak, sorot mata seperti elang. Sepertinya pemuda ini sangat pintar. Diapun terlihat seperti seorang laki-laki sejati. Xiao Ling bertanya, "Apakah di sini adalah tempat Si Tu Xiang Cheng?” Pemuda itu mendengar kalau gadis itu mencari Si Tu Xiang Cheng, tapi dia hanya memanggil marganya. Membuat Si Tu Xiang Cheng yang berkedudukan begitu tinggi dan berwibawa, merasa tidak dihormati dan tidak pantas.

Dengan takjub dia melihat gadis itu. Melihat gadis itu begitu langsing, cantik seperti bunga. Dia berpikir, "Sepertinya di dunia persilatan tidak pernah mendengar nama orang ini?”

Tapi pemuda ini terbiasa bersikap teliti. Rasa herannya sedikitpun tidak terlihat, dengan sungkan dia berkata, "Permisi, siapa nama Nona? Ada keperluan apa mencari Pendekar Si Tu, nanti aku akan memberitahukannnya kepada Pendekar Si Tu.”

Xiao ling berkata, "Katakan kepadanya bahwa Jiang Su Hu Qiu Wisma Xiao Xiang datang berkunjung, apakah itu cukup!”

Pemuda itu dengan aneh bertanya, "Nona ini adalah Yu. ”

Xiao Ling memotong, "Benar, aku adalah Xiao Ling, sengaja datang ke sini untuk mencari Pendekar Si Tu.”

Dengan hormat pemuda itu membungkukkan badannya dan berkata, "Ternyata Nona adalah Pendekar Xiao.”

Pemuda itupun pesilat tangguh. Dia begitu menghormati Xiao Ling bukan karena nama besar Xiao Ling. Yang perlu diketahui bahwa nama Yu Jian Xiao Ling, di dunia persilatan masih terasa asing. Tapi jika ditambah dengan nama Jiang Nan Wisma Xiao Xiang Yu Jian Xiao Ling kesannya pasti akan berbeda.

Karena Wisma Xiao Xiang di dunia persilatan mempunyai kesan sangat berwibawa, maka begitu mendengar nama itu pemuda tadi langsung bersikap hormat.

Si Tu Xiang Cheng masih diam. Dia sedang menunggu kedatangan orang Wisma Xiao Xiang. Kali ini dia telah mengumpulkan semua pendekar, dengan alasan mencegah terjadinya musibah di dunia persilatan, sebenarnya dia ingin menolong kelangsungan perusahaan Biao Zhen Yuan yang dia miliki. Dia sama sekali tidak berencana untuk menghadapi Can Jin Du Zhang. Can Jin Du Zhang selalu tidak diketahui datang dan perginya. Bagaimana dia bisa mendapatkannya?

Diam-diam dia berencana menyuruh Xiao Ling tinggal di kantor Biao Zhen Yuan untuk sementara. Dia berpikir bila ada orang Wisma Xiao Xiang, Can Jin Du Zhang tidak akan berani menyerangnya. Tapi dia tidak tahu kalau kemunculan Can Jin Du Zhang kali ini, tujuannya bukan kepada kantor Biao Zhen Yuan yang kecil ini.

Dia merasa sangat senang, demi menyelamatkan dirinya, dia menganggap kalau dirinya pintar, dia tidak tahu di antara perubahan manusia dan hal rumit lainnya, semua tidak bisa diduga sama sekali, Yu Jian Xiao Ling seperti angin membuat kantor Biao Zhen Yuan kacau balau.

Si Tu Xiang Cheng tidak kecewa karena Xiao Ling seorang perempuan. Dia berpikir walaupun Xiao Ling hanya seorang anak- anak, asalkan anak itu datang dari Wisma Xiao Xiang, semua tidak masalah.

Dia sangat berpengalaman dan pandai bicara. Walaupun banyak pikiran, dia tetap terlihat begitu tenang.

Dia melayani Xiao Ling di ruang tamu, melihat hanya dia sendiri yang datang dan Long Shi Jian belum kembali, dia ingin bertanya, tapi mengingat Long Shi Jian Liu Pei Qi sudah lama berkelana di dunia persilatan pasti tidak akan terjadi sesuatu padanya. Mungkin dia ada keperluan lain. Apalagi Yu Jian Xiao Ling sudah datang. Long Shi Jian kembali atau tidak bukan masalah penting lagi.

Yu Jian Xiao Ling pertama kalinya berkelana di dunia persilatan. Walaupun kurang berpengalaman tapi dia sangat pintar dan pandai bicara. Dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan jelas.

Sejak kecil dia sudah sombong dan manja, belum pernah merasa dirugikan. Kemarin malam dia belum bisa melupakan apa yang telah terjadi padanya. Dia ingin membalas perlakuan 3 pak tua itu kepadanya. Dia berkata, "Ketua, beberapa hari ini pendekar yang datang ke kota Bei Jing sepertinya cukup banyak, apakah Anda bisa memperkenalkannya mereka kepadaku? Supaya aku bisa kenal lebih dekat dengan mereka.”

Segera Si Tu Xiang Cheng menjawab, "Itu lebih baik, sebenarnya mereka sudah tahu nama besar Nona, mereka sangat ingin bertemu dengan Nona.”

Dia berpesan kepada orang yang ada di sisinya lalu menyuruhnya mengundang para pendekar itu ke sana. Dia menunjuk pemuda tinggi dan kurus itu, "Aku perkenalkan orang itu dulu kepada Nona. Dia baru terkenal, namanya adalah Ru Yun Long, Pendekar Muda Ni. Kalian sama-sama pendekar muda, tentunya boleh lebih akrab sedikit." Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

Xiao Ling hanya melirik pemuda ini sebentar, wajah Ru Yun Long, Ni Fang Biao menjadi merah. Hati Xiao Ling sudah diisi oleh seseorang, dia tidak akan memperhatikan yang lain lagi. Tapi Ni Fang Biao merasa pendekar perempuan yang usianya hampir sama dengannya, dia ingin berkenalan lebih akrab lagi.

Tidak lama kemudian, masuk seorang pak tua berperawakan pendek dan gemuk. Wajahnya merah, begitu masuk, dia langsung tertawa dan berteriak, "Katanya ada orang yang datang dari Wisma Xiao Xiang, mari perkenalkan dia kepadaku!”

Si Tu Xiang Cheng sepertinya sangat menghormati orang ini. Dia berdiri sambil tertawa, "Tetua Sun, ini adalah putri Fei Ying Shen Jian, Yu Jian Xiao Ling.”

Pak tua itu tertawa dan berkata, "Sangat baik, ini sangat baik, benar-benar cantik. Teman lama sudah ada penerus, aku merasa sangat senang, sangat senang.”

Si Tu Xiang Cheng segera memperkenalkan mereka, "Ini adalah Tian Ling, Tetua Sun, dia kenal dengan ayahmu.”

Xiao Ling segera berdiri, walaupun dia tidak begitu menyukai orang-orang Kantor Biao, tapi tetua ini adalah teman ayahnya, ceritanya beda lagi. Dia tidak terpikirkan sama sekali, Fei Ying Shen Jian jarang berkelana di dunia persilatan, temannya pun pasti sangat sedikit. Tian Ling Xing Sun Qing Yu mungkin hanya pernah bertemu satu kali dengan ayahnya mana bisa disebut kenal. Ini hanya upaya supaya menarik Xiao Ling lebih akrab dengan mereka. Xiao Ling tidak berpengalaman, dia tidak tahu kalau ini adalah cara seseorang bergaul.

Ada lagi yang masuk ke dalam ruang itu. Xiao Ling melihat kalau mereka adalah 2 pak tua kemarin malam. Xiao Ling pura-pura tidak melihat, tapi dia sedang berpikir dengan cara apa membuat kedua orang itu malu.

Jin Dao Wu Di Huang dan Ba Bu Ca Chan Cheng Gai melihat Xiao Ling. Keturunan Xiao Xiang Bao Yu Jian Xiao Ling yang ditunggu- tunggu oleh semua orang ternyata hanya seorang gadis berjubah merah yang mereka temui kemarin malam. Mereka merasa malu dan takut. Tapi dalam keadaan seperti itu, mereka tetap harus bertatap muka, mereka benar-benar serba salah.

Apa yang sedang dipikirkan oleh Xiao Ling dan mereka bertiga, Si Tu Xiang Cheng sama sekali tidak tahu, karena itu dia dengan gesit memperkenalkan mereka.

Dalam situasi seperti itu, Xiao Ling tiba-tiba terbersit satu pikiran, membuat hatinya menjadi luluh. Dia ingat sewaktu dia mengatakan ingin bertarung dengan Jin Dao Wu Di, wajah Gu Zhuo Piao terlihat begitu dingin.

Xiao Ling berpikir, "Mungkin Gu Zhuo Piao tidak suka kalau aku bersikap kasar, untuk apa hanya karena hal kecil seperti ini membuat Gu Zhuo Piao tidak suka? Walaupun kata-kata mereka tidak sopan, tapi aku berhasil memecut mereka. Sekarang boleh dikatakan kami sudah impas. Kalau aku bersikap baik kepada mereka dan tidak mengungkit hal itu lagi, jika Gu Zhuo piao tahu dia pasti akan merasa senang.”

Dia terus memikirkan Gu Zhuo Piao, wajahnya selalu tersenyum seperti bunga, perasaan aneh membuat perasaannya terpusat kepada Gu Zhuo Piao dan perasaannya kepada yang lain sudah tidak penting lagi dan bila ada hal yang tidak disukai Gu Zhuo Piao, dia berusaha untuk tidak melakukannya.

Ini adalah sifat manusia, bagi seseorang perasaan hati lebih kuat dibandingkan dengan apapun. Apalagi perasaan cinta, kekuatannya seperti air bah, tidak bisa dibendung dan alirannya sangat kuat.

Jadi sewaktu Si Tu Xiang Cheng memperkenalkan Cheng Gai, dan Huang Gong Zhao, Xiao Ling hanya tersenyum karena hatinya merasa bahagia, perasaan ini membuatnya dia tidak memperhatikan masalah kecil lainnya.

Cheng Gai dan Huang Gong Zhao tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, diam-diam mereka berterima kasih kepadanya karena sudah menutupi kesalahan mereka.

Dalam situasi seperti itu, pikiran setiap orang tidak sama. Tapi dalam hati mereka merasa sangat senang karena apa yang mereka inginkan semua bisa dicapai dengan mudah. Xiao Ling tampak bahagia dan cantik. Dia seperti bulan yang berada di antara bintang- bintang, mendapat pujian dan rasa iri. Tapi dia merasakan kalau pujian yang diucapkan beribu-ribu kata, tidak bisa disamakan dengan pujian Gu Zhuo Piao.

Malam dia begitu merindukan Gu Zhuo Piao. Karena itu dia menyuruh Si Tu Xiang Cheng menyiapkan sebuah kereta, dia mengatakan akan mengunjungi teman ayahnya. Si Tu Xiang Cheng menyetujuinya.

0-0-0

BAB 3

Telapak emas beraksi Ketua Biao mati seketika

Xiao Ling telah naik ke atas kereta. Xiao Ling menyuruh kusir menuju tempat tinggal Gu Zhuo Piao. Rumah masih jauh tapi dia sudah berhenti, karena dia tidak mau orang lain mengetahui kemana dia pergi.

Walaupun dia tidak begitu tahu jalan-jalan di kota Bei Jing, tapi karena dia selalu memperhatikan jalan menuju rumah Gu Zhuo Piao maka dia bisa mengingatnya. Manusia selalu berbuat seperti itu kepada seseorang yang mereka cintai, semua hal menyangkut tentang si dia selalu diperhatikan dengan seksama.

Malam semakin larut, tapi dia tidak ragu mengetuk pintu, dia merasa apa yang dimiliki oleh Gu Zhuo Piao, juga adalah miliknya.

Pintu terbuka, yang membuka pintu adalah pak tua yang kemarin membukakan pintu untuk mereka. Xiao Ling tenggelam dalam kegembiraan karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan orang yang dia cintai. Sambil tertawa dia berkata, "Apakah Tuan Muda Gu ada?”

Dia yakin pertanyaannya akan dijawab oleh pak tua itu dengan jawaban positif. Bukankah Gu Zhuo Piao tadi sempat mengatakan kalau dia akan menunggu Xiao Ling di rumah?

Dengan bingung pak tua itu menatapnya dan bertanya, "Apa, Tuan Muda Gu?" Sepertinya pak tua ini sudah lupa wajah Xiao Ling kemudian dia berkata lagi, "Tuan Muda Gu tidak ada, sebelum gelap dia sudah pergi.”

Xiao Ling bertanya, "Apakah dia akan segera pulang?" Dia berharap pak tua ini akan memberikan jawaban yang membuatnya merasa puas.

Dengan hati-hati pak tua itu menjawab, "Tuan Muda Gu tidak berpesan apapun, sebenarnya Tuan Muda jarang kemari. Kadang- kadang satu bulan hanya datang sekali. Nona mencarinya ada keperluan apa? Aku pasti akan menyampaikannya kepada Tuan Muda.”

Kekecewaan berat membuatnya dia merasa ditipu, Yu Jian Xiao Ling hampir pingsan.

Dia berusaha menguatkan dirinya lalu menggelengkan kepala, "Tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa.”

Pak tua dengan bingung melihat Xiao Ling kemudian dia masuk dan menutup pintu. Xiao Ling seperti terbuang begitu saja di luar, niat untuk marah pun sudah tidak ada. Dia hanya merasakan kesedihan yang sangat mendalam, dia mengeluarkan banyak pengorbanan, tapi yang dia dapatkan hanyalah tipuan. Sifat kerasnya membuat Xiao Ling mulai meneteskan air mata.

Dia benci kepada dirinya sendiri, dia benci kepada tubuhnya, setiap sentimeter tubuhnya pernah diraba oleh Gu Zhuo Piao.

Dia merasa kesepian dan bingung. Lupa pada semua hal, pada waktu, rasa dingin, keluarga, baginya semua hal sudah tidak penting lagi.

Cintanya semakin dalam, rasa bencinya pun semakin mendalam. Walaupun hanya kesalahan kecil, Tapi bisa menjadi kebencian. Dia mulai merasa curiga pada semua peristiwa. Bukankah Gu Zhuo Piao sendiri merupakan teka-teki yang sulit untuk diuraikan? Siapakah dia sebenarnya? Mengapa dia memperlakukannya seperti itu? Apakah dia sengaja membohongi Xiao Ling atau ada hal yang lebih penting darinya dan dia pergi begitu saja?

Tiba-tiba dia ingin mencari jawaban dari semua pertanyaan ini, karena itu dia kembali lagi ke tempat tinggal Gu Zhuo Piao.

Di ujung jalan terlihat ada dua orang penjaga malam. Mereka membawa pisau, melihat Xiao Ling, mereka segera berteriak, "Siapa itu?”

Xiao Ling kaget tapi tidak menjawab, tapi karena dia seorang perempuan, kedua penjaga malam itu berkata, "Nona, sudah malam mengapa anda masih belum pulang? Selama dua hari ini di kota Bei Jing sering muncul perampok kelas kakap. Banyak keluarga kaya yang dirampok. Nona harus berhati-hati, lebih baik cepat pulang!”

Xiao Ling mengangguk, kedua penjaga itu sudah berlalu dari sana.

Sekarang hari sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.

Dia melihat ke rumah Gu Zhuo Piao yang sudah berada di depannya, seperti seekor walet dengan ringan dia terbang melintasi tembok rumah itu. Ilmu pedang keluarga Xiao Xiang mengutamakan keringanan karena itu ilmu meringankan tubuh menjadi hal yang penting. Ilmu meringankan tubuh Xiao Ling di dunia persilatan boleh dikatakan termasuk nomor satu.

Hanya beberapa kali dia meloncat turun dan naik, dia berhasil melewati beberapa atap rumah, dia bersiap-siap menuju rumah Gu Zhuo Piao untuk mencari tahu.

Waktu itu lampu di rumah itu tiba-tiba padam, segera dia bersembunyi. Tampak bayangan seseorang berwarna kuning keluar dengan cepat dari arah taman, kecepatannya sungguh mengejutkan, membuat Xiao ling yang mempunyai mata jeli tidak bisa melihat sosok itu dengan jelas.

Dengan cepat Xiao Ling menguntitnya dari jarak tertentu tapi dia hanya bisa melihat bayangan itu dalam sekejap mata kemudian menghilang. Dia berpikir, "Kecepatan orang itu benar-benar hebat, sepertinya ayahpun masih kalah. Siapakah dia sebenarnya? Apakah dia adalah Gu Zhuo Piao? Kalau dia bukan Gu Zhuo Piao, siapakah dia? Mengapa orang itu bisa keluar dari rumahnya?”

Xiao Ling baru berkelana di dunia persilatan tapi dia sudah menemukan peristiwa-peristiwa aneh. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba dari kejauhan tampak beberapa bayangan orang sedang berlari. Sepertinya mereka sedang berkelahi dan kadang-kadang mengeluarkan suara bentakan.

Dia berpikir sebentar, dia memilih untuk tetap bersembunyi di atas atap rumah. Beberapa bayangan itu tampak ilmu silatnya tidak rendah. Hanya dalam waktu sekejap mereka sudah berada di dekat sana. Terlihat bayangan itu berbaju hitam. Wajahnya ditutup dengan kain berwarna hitam, dia tampak sedang bertarung dengan 3 orang berbaju polisi.

Orang berbaju hitam itu di punggungnya menggendong sebuah bungkusan. Tapi bungkusan itu tidak menghalangi gerakannya, kedua tangannya berusaha menahan 3 pisau yang terus menyerangnya, posisinya tidak berada di bawah angin. Ketiga orang itu adalah polisi, salah satu dari mereka usianya sedikit tua. Dia menggunakan tombak, ilmu silatnya tinggi, sedangkan dua orang lainnya hanya mempunyai ilmu silat biasa-biasa saja tapi mereka terus membentak, "Kau terlalu serakah, dalam kurun waktu 5 hari ini kau telah merampok 11 keluarga, kau benar- benar keterlaluan!”

Si baju hitam terdiam tapi telapak tangannya semakin gencar menyerang sepertinya dia ingin segera membunuh ketiga polisi ini. Tiba-tiba si baju hitam membentak, "Turun!" Segera tangannya melambai, salah satu polisi itu terdorong hingga terjatuh. Terdengar suara teriakan, orang itu pasti akan mati. Orang yang memakai tombak itu segera berteriak dengan kaget, "Kau... Jin Gang Zhang.”

Si baju hitam memegang tangan orang yang membawa pisau kemudian tangan kanannya melayang, dada orang itu terkena pukulan dan langsung muntah darah, tubuhnya sempoyongan dan langsung ambruk dari atap rumah.

Orang yang membawa tombak dengan kekuatan penuh menghadapinya. Walaupun berusaha melawan dengan sekuat tenaga tapi dia hanya bisa menahan angin yang dihasilkan lengan baju hitam orang ini. Dia membentak, "Kau benar-benar keterlaluan, hitung- hitung aku, Jin Yan Peng buta, aku tidak akan melihat ternyata ketua kantor Biao menjadi perampok. Tapi jika aku mati di tangan Jin Gang Shou Si Tu Xiang Cheng aku rela. Hari ini aku tidak bisa berkata apa- apa lagi, aku menjual nyawaku kepadamu.”

Sambil bicara dia tetap melawan, setiap jurus tombak benar-benar lihai berarti dia pemah belajar pada guru bagus tapi tenaga untuk menahan serangan si baju hitam semakin lama semakin melemah.

Yu Jian Xiao Ling bersembunyi di atas atap. Semua dilihatnya dengan jelas, dia merasa lebih kaget, dia tidak mengerti dengan situasi yang telah terjadi. Kalau Ternyata si baju hitam itu adalah Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng mengapa seorang pemimpin dunia persilatan Huang He dan Zhang Jiang bisa menjadi perampok?

Orang yang sedang berkelahi bisa memastikan siapa yang akan mati dan siapa yang bertahan hidup. Xiao Ling menghadapi pilihannya yaitu dia tidak akan ikut campur atau keluar untuk membantu mengalahkan perampok berbaju hitam.

Cukup lama dia tidak bisa mengambil keputusan. Dia diundang oleh Jin Gang Shou Si Tu Xiang Cheng untuk membantunya. Kalau orang berbaju hitam ini adalah Si Tu Xiang Cheng, harus bagaimana sikapnya kepada perintah dari plakat bambu itu.

Apalagi dia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti ada yang tidak beres di sini.

Jin Yan Peng hampir tidak bisa bertahan lagi, dahinya mulai mengeluarkan keringat tapi dia mencoba untuk terus bertahan, terus menghindari serangannya.

Tiba-tiba karena Jin Yan Peng menghindar, pundak kiri terkena jari Si Tu Xiang Cheng. Dia merasakan sakit yang menusuk hati. Dia sadar orang berbaju hitam ini tidak akan membiarkannya hidup. Dia menahan sakit, dengan sekuat tenaga terus melawan.

Jin Yan Peng sudah bekeja di pemerintahan 30 tahun lebih. Dia tahu dia tidak buta, dia yakin orang itu adalah Jin Gang Zhang Si Tu Xiang Cheng, tapi mengapa dia harus merampok, dia tidak mengerti.

Si baju hitam tertawa, "Sobat, mengaku kalah saja!”

Suara si baju hitam sangat keras, begitu terdengar oleh Yu Jian Xiao Ling, dia menahan nafas, ternyata orang itu benar Jin Gang Zhang.

Sewaktu dia sedang bersiap-siap menyerang lagi, dia mendengar ada suara dingin.

Di kejauhan terlihat bayangan orang. Bayangan itu adalah bayangan yang tadi dikuntitnya, mengikuti tawa dinginnya dia muncul kembali. Dia berhenti sejenak, di bawah sinar terlihat orang ini memakai baju berwarna kuning. Wajah orang ini berwarna kuning. Tidak mirip dengan wajah manusia. Hampir saja Xiao Ling berteriak. Dia tahu orang ini adalah orang yang telah menguasai dunia persilatan selama ratusan tahun, dia adalah iblis nomor satu, Can Jin Du Zhang. Waktu itu tiba-tiba saja dia berpikiran aneh. Pertama dia mengira bayangan orang ini adalah Gu Zhuo Piao. Ternyata terbukti salah, tapi mengapa Can Jin Du Zhang terlihat keluar dari rumah Gu Zhuo Piao?

Dia masih terkaget-kaget. Dua orang yang sedang bertarung itu hampir pingsan ketakutan.

Begitu mendengar tawa dinginnya, mereka yang sedang berkelahi hanya bengong. Orang datang diikuti dengan suaranya, mereka merasakan ada angin dingin yang merasuk ke dalam hatinya. Karena mereka berdua adalah orang persilatan, tidak mungkin mereka tidak kenal dengan orang itu. Si baju hitam tidak melihat Jin Yan Peng lagi. Dia sadar dia bukan lawan Can Jin Du Zhang, dia pikir apapun bisa ditinggal, tapi nyawanya harus diselamatkan terlebih dulu.

Mata Jin Yan Peng sangat jeli, dia melihat orang berbaju hitam itu benar adalah Jin Gang Zhang Si Tu Xiang Cheng.

Dia harus mengganti 800 ribu tail perak milik pemerintah yang pernah dihilangkan olehnya. Walaupun dia mempunyai simpanan uang dari hasil keringatnya selama beberapa tahun tapi uang sebanyak 800 ribu tail bukan jumlah yang sedikit, mana mungkin dia bisa mengumpulkannya dalam waktu singkat? Tapi bila dia tidak membayar kepada pemerintah, keluarganya akan mati dipancung.

Di dunia persilatan mana yang salah dan mana yang mana yang benar sulit dibedakan. Dia terpaksa melakukan semua ini. Dia menanam benih jahat, dia pasti akan mendapatkan buah jahat. Kadang-kadang kejahatan yang dilakukan akan terus menempel selama beberapa generasi. Kalau ada keturunannya yang mempunyai ilmu silat tinggi dan pintar, orang itu bisa membereskan permasalah di masa lalu. Walaupun dengan cara tidak benar.

Jin Gang Zhang ingin cepat lolos dari Can Jin Du Zhang, tapi dia lupa bila sudah berhadapan dengan Can Jin Du Zhang mana mungkin bisa melarikan diri?

Baru saja dia meloncat, dia merasa ada angin datang menyerangnya. Dia sangat hafal dengan tenaga telapak setiap perkumpulan. Di dalam hati dia sudah memperkirakannya tapi tenaga telapak tangan ini belum pernah dilihatnya.

Tenaga telapak tangan terasa begitu lembut tapi ada suatu kekuatan aneh yang menariknya seperti menyuruh agar kau rela mati di bawah telapak tangan ini.

Walaupun dia tidak tahu rahasia telapak ini tapi dia tahu bagaimana lihainya telapak ini. Dia sadar ingin melarikan diripun sepertinya sudah tidak mungkin, terpaksa dia yang sedang berada di atas pelan-pelan turun.

Dia turun dari atas genting, tapi Can Jin Du Zhang sama sekali tidak bergerak. Berarti angin telapak yang datang tadi berasal dari jarak jauh. Dari jauh saja sudah merasa begitu dahsyat, apalagi dari dekat.

Jin Yan Peng kaget dan masih dalam keadaan bengong sedangkan Xiao Ling yang masih berada di atas genting hanya bisa terbelalak melihat kekuatan telapak itu. Apalagi Xiao Ling yang masih terkejut, merasa ada sesuatu yang aneh.

Ternyata tangan kanan Can Jin Du Zhang sedikit melayang ke arah Xiao Ling. Penglihatan Xiao Ling sangat baik. Dia melihat telapak Can Jin Du Zhang berkilau karena dia memakai sarung tangan kuning.

Dalam kilauan warna kuning itu, tampak kelima jari Can Jin Du Zhang masih utuh. Xiao Ling kaget, "Ayah mengatakan 70 tahun lalu, di depan buyutku dia memotong jarinya dan orang-orang dunia persilatan yang pernah bertemu dengannya pun mengatakan dia hanya mempunyai 3 jari. Tapi mengapa sekarang jari-jarinya utuh? Walaupun ilmu silatnya sangat tinggi tapi tidak mungkin jari yang sudah putus bisa tumbuh kembali?”

Segera Xiao Ling menenangkan dirinya, "Mungkin karena sarung tangannya terdiri dari lima jari lengkap, tapi jari yang ada di dalam sarung tangan itu hanya 3. Karena itu tanda telapak yang ditinggalkan hanya terdiri dari 3 jari.”

Sebenarnya kecuali penjelasan ini tidak ada penjelasan lain lagi. Xiao Ling yang bersembunyi di atas atap sama sekali tidak berani bergerak. Dia hanya seorang gadis, walaupun ilmu silatnya tinggi tapi melihat ada orang seperti bukan orang, seperti setan tapi bukan setan. Dia pasti tetap akan merasa kaget juga takut. Tapi dia ingin tahu, kesempatan ini tidak akan disia-siakan begitu saja karena itu diapun mengintip.

Can Jin Du Zhang diam tidak bicara seperti sebuah patung batu yang berdiri dengan tegak.

Sorot mata yang tajam seperti menertawakan Jin Gang Zhang Si Tu Xiang Cheng juga seperti sedang melihat Si Tu Xiang Cheng yang berusaha memberontak sebelum mati.

Di depan Can Jin Du Zhang nyawa tampak tidak berarti. Hidup dan mati hanya berjarak satu benang tipis dan jarak ini begitu pendek dan lemah.

Keadaan sepi benar-benar membuat orang menjadi sesak nafas.

Menghadapi kematiannya ada seseorang yang menerima begitu saja tidak berani melawan, ada juga yang berusaha untuk lari. Jika tidak lari dia pasti akan melawan.

Yang pasti jika melawan dia pasti akan mati. Ini hanya akan mempercepat kematiannya. Tiba-tiba Jin Gang Zhang membentak, kedua telapak menyerang. angin telapak tangannya seperti bisa membuat gunung runtuh dan laut dibalikkan, tenaga ini diarahkan ke Can Jin Du Zhang.

Serangan ini dikerahkan dengan tenaga yang dikumpulkan Si Tu Xiang Cheng selama hidupnya. Setengah kehidupannya dihabiskan untuk berlatih ilmu Jin Gang Zhang. Sekarang sudah saatnya dikeluarkan, itu adalah tenaga yang dahsyat.

Can Jin Du Zhang tetap tidak bergeser terhadap angin tenaga telapak yang melanda. Dia sama sekali tidak merasa ini memberatkannya.

Kedua telapak Si Tu Xiang Cheng diluncurkan secepat kilat menyerang ke dada Can Jin Du Zhang. Jika serangan ini terkena pada sasaran, orang sekuat besipun tidak akan bisa bertahan. Jin Yan Peng melihat telapak ini hampir mengenai tubuh Can Jin Du Zhang. Dia benar-benar merasa khawatir.

Begitu Can Jin Du Zhang datang, Jin Yan Peng tahu kalau dia adalah iblis yang membunuh orang tanpa berkedip. Tapi kedatangannya sangat membantu dirinya. Jin Yan Peng melihat dia tidak bisa menghindar. Dalam hati dia berpikir, "Walaupun kau berilmu silat tinggi, tidak akan bisa menahan serangan sekuat ini. Kau terlalu sombong, jika tidak bisa menahan serangan ini, kau akan celaka begitu juga denganku.”

Jin Gang Zhang merasakan kalau jari-jarinya hampir mengenai baju kuning Can Jin Du Zhang. Dia merasa gembira, segera mengeluarkan nafas. Ilmu yang dipakainya sekarang adalah tenaga telapak Xiao Tian Xing.

Badan Can Jin Du Zhang tetap tidak bergerak tapi mengikuti telapak itu mundur. Walaupun tenaga telapak Jin Gang Zhang Si Tu Xiang Cheng bisa membuat batu hancur tapi tidak bisa tepat mengenai sasaran dan tenaga yang dikeluarkan juga tidak sempurna.

Si Tu Xiang Cheng dengan sekuat tenaga menyerang, tapi dia merasakan kalau tenaganya tidak stabil. Karena merasa terkejut dia ingin menarik kembali kekuatannya, tapi semua sudah terlambat.

Can Jin Du Zhang sudah membalas menyerangnya, bila Si Tu Xiang Cheng menghindari serangan ini kesamping mungkin dia tidak akan terkena serangan itu. Tapi dia sudah seperti panah yang dilepas dari busurnya, gerakannya sudah tidak terkendali lagi.

Dia mulai merasakan tenaga telapak yang aneh itu dan kekuatannya mulai menyerangnya, seperti mendengar lonceng pemanggil roh, membuatmu mati kebingungan tapi juga terasa manis.

Hanya dalam waktu singkat dia sudah mengetahui kekuatan Can Jin Du Zhang, tapi dia tidak sempat mengatakannya kepada orang lain. Seumur hidupnya dia sudah terkenal selama puluhan tahun di dunia persilatan, Jin Gang Zhang Si Tu Xiang Cheng hanya karena serangan lambat ini dia harus kehilangan nyawa.

Xiao Ling yang bersembunyi di atap rumah kaget dengan semua kejadian yang terjadi secara beruntun dan tiba-tiba.

Dia lahir dari keluarga pesilat, sejak kecil dia selalu berlatih ilmu silat, ilmu pedang dari Wisma Xiao Xiang sangat terkenal, Yu Jian Xiao Ling adalah generasi keempat dari generasi Xiao, dan dia termasuk orang terkuat dan kemampuan ilmu silatnya tidak rendah. Tapi sampai sekarang dia belum bisa melihat jurus apa yang dipakai oleh Can Jin Du Zhang? Karena kalau dilihat dari luar sepertinya Si Tu Xiang Cheng dengan sengaja dan rela mendekatkan dirinya ke arah serangan telapak tangan Can Jin Du Zhang.

Jin Yan Peng yang sejak tadi berdiri di sisi dan melihat semua kejadian itu merasa beruntung, karena Can Jin Du Zhang membantunya, melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan. Di kota Bei Jing telah terjadi peristiwa perampokan secara beruntun dan besar-besaran, sekarang perampoknya telah tertangkap dan perampok itu telah mati. Jadi hasil rampokannya bisa diambil kembali, kekhawatiran selama beberapa hari ini bisa hilang dan kehidupan akan tenang kembali.

Di atas atap suasana terasa sepi dan sunyi. Pertarungan, teriakan, bentakan, suara angin dari telapak, suara senjata yang beradu, sekarang terasa seperti es yang membeku, tapi rasa sepi seperti ini bukan rasa sepi yang menenangkan hati, melainkan menyimpan rasa menyeramkan yang sangat dalam. Apalagi saat melihat wajah Can Jin Du Zhang yang dingin dan sorot matanya yang tajam, menarik pandangannya yang menerawang jauh dan memindahkannya ke wajah Jin Yan Peng. Perasaan ngeri semakin terasa pada Jin Yan Peng, lalu dengan senyum terpaksa dia lontarkan kepada Can Jin Du Zhang. Tapi wajah Can Jin Du Zhang terlihat datar, tidak terlihat ekspresi apapun, di kegelapan wajah Can Jin Du Zhang seperti hantu gentayangan yang baru keluar dari kuburnya. Dengan dingin Can Jin Du Zhang bertanya kepada Jin Yan Peng, "Apakah aku yang harus bergerak terlebih dahulu?”

Kata-kata ini baru saja diucapkan, membuat wajah Jin Yan Peng langsung pucat. Yu Jian Xiao Ling yang sedang bersembunyipun merasa bulu kuduknya berdiri, baginya nyawa seseorang itu harus disayang, dia sama sekali tidak bisa membayangkan ada seseorang yang tidak mempunyai dendam, tapi bisa mengambil nyawa orang tersebut dengan seenaknya.

Jin Yan Peng sudah lama bekerja untuk pemerintah, melihat keadaan seperti ini, dia sadar bila hari ini akan pergi dari sana dengan suasana tenang sepertinya itu tidak mungkin.

Melihat ilmu silat yang dimiliki oleh Si Tu Xiang Cheng saja dia kalah di tangan Can Jin Du Zhang, hanya dalam satu jurus dia sudah kehilangan nyawa, apalagi dengan kemampuan yang dimilikinya.

Jin Yan Peng adalah polisi terkenal di kota Bei Jing, sudah banyak perampok yang mati ditangannya. Tapi pada saat dia berada dalam keadaan hidup dan mati, dia tetap tenang menghadapinya. Dia berpikir kalau dia mati di tangan Jin Gang Shou, Si Tu Xiang Cheng, yang ternyata adalah perampok yang selama beberapa hari ini merajalela, dia akan mati sia-sia. Karena sekarang dia sudah mengetahui siapa perampoknya, matipun dia rela.

Setiap orang memiliki perasaan yang sama yaitu bila ada kesempatan melarikan diri dia pasti berusaha lari dari sana. Tapi kalau sadar dia tidak bisa kabur lagi, dia akan pasrah dan menerima apa adanya.

Otak Jin Yan Peng terus berputar, kemudian dia tertawa dengan sedih dan berkata, "Apa yang Tetua perintahkan, aku pasti akan menurut, hanya saja ada satu hal yang belum sempat kuselesaikan, harap Tetua mau memberikan satu hari kepadaku, bila aku telah membereskan urusanku ini, aku pasti akan bunuh diri demi Tetua, tidak perlu Tetua yang turun tangan.”

Can Jin Du Zhang tertawa dengan dingin, "Baiklah! Baiklah!” Dengan senang Jin Yan Peng berkata lagi, "Terima kasih karena Tetua menyetujui, aku tidak akan melupakan janjiku.”

Kemudian dia mengangkat mayat Si Tu Xiang Cheng di pundaknya, sekarang dia diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup, dia tidak akan mau dengan sia-sia di sini, dia sedang memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari Can Jin Du Zhang.

Tiba-tiba Can Jin Du Zhang mengulurkan telapaknya, dia menepuk belakang leher Jin Yan Peng, "Aku lihat kau adalah seorang laki-laki sejati, dalam waktu 3 hari ini kau harus mempersiapkan penguburanmu sendiri.”

Jin Yan Peng merasa tubuhnya mati rasa, perasaan ini bercokol lama di dalam tubuhnya. Dia tertawa, dia sadar bahwa dia tidak akan bisa melarikan diri dari Can Jin Du Zhang. Lalu diapun membawa mayat Si Tu Xiang Cheng dan diam-diam pergi dari sana.

Xiao Ling yang masih berada di atap rumah itu melihat apa yang telah terjadi di sana. Dia melihat kekejaman yang dilakukan oleh Can Jin Du Zhang, dia hanya bisa merasa sedih. Dia juga merasa takut dan tidak bisa menerima semua itu begitu saja.

Sekarang keadaan kembali sunyi, seperti tidak pernah terjadi sesuatu di sana, tapi Can Jin Du Zhang masih berada di sana seperti sedang memikirkan sesuatu. Xiao Ling berharap dia segera pergi dari sana.

Hati Xiao Ling merasa gundah, dia ingin melawan Can Jin Du Zhang yang ditakuti oleh semua orang itu, dan langsung bertanya kepadanya, mengapa dia begitu kejam? Tapi ketakutan yang ada di dalam setiap manusia membuatnya berharap bisa keluar dari lingkaran yang mematikan itu.

Xiao Ling menarik nafas panjang lalu membalikkan badan dan pergi, dia pun membersihkan salju yang menempel di bajunya. Dia mengangkat kepalanya dan dia sangat terkejut karena Can Jin Du Zhang sudah berada di depannya, dia tidak tahu sejak kapan Can Jin Du Zhang berada di dekatnya.

0-0-0 BAB 4

Curiga

Long Shi Jian, Lin Pei Qi karena teringat bahwa temannya mengalami kesulitan, dia ingin segera tiba di Wisma Xiao Xiang, sesampainya di sana dia mengeluarkan plakat bambu yang diukir sendiri oleh Xiao Xiang Jian Ke.

Ketua Wisma Xiao Xiang Shen Jian, Xiao Xi melihat plakat perintah itu, walaupun bukan dia sendiri yang berangkat tapi dia tetap memerintahkan putri kesayangannya pergi ke utara. Bagi Long Shi Jian, Lin Pei Qi hal ini sudah cukup memuaskan.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi ingin segera tiba di kampung halamannya, tapi karena harus melayani Xiao Ling yang baru pertama kalinya berkelana di dunia persilatan maka perjalananpun jadi agak terhambat. Setelah lewat He Bei, Long Shi Jian, Lin Pei Qi bertemu dengan Hong Qi Si Jia (Empat pendekar bendera merah). Mereka mengenal lewat mengobrol, dari selintingan mereka mendengar ada seorang pendekar yang baru muncul dan selalu menutupi wajahnya. Dan menamakan dirinya adalah Zhong Nan Yu Da Fu, dia selalu muncul di daerah Jiang Nan.

Dulu, sewaktu para pendekar dunia persilatan mengepungnya, dia terkenal dengan senjata rahasia beracun yang dilepaskan oleh dua bersaudara Tang. Siapa yang menang atau kalah belum bisa diketahui. Tapi orang yang bernama Yu Da Fu menghilang sejak saat itu, dan lama tidak muncul lagi di dunia persilatan.

Begitu Long Shi Jian, Lin Pei Qi mendengar kalau orang itu muncul lagi, dia merasa sangat senang, diam-diam dia berpikir, "Kalau kali ini ada yang membantu ditambah dengan ilmu pedang yang dimiliki oleh generasi Xiao sekarang, mungkin kami bisa membasmi iblis Can Jin Du Zhang,”

Karena itu dengan terburu-buru dia kembali lagi ke daerah selatan. Dia mengelilingi Zhong Zhou, walaupun dia mengenal baik para pendekar Jiang Nan tapi dia tidak bisa mendapatkan informasi tentang ‘Pendekar Berwajah Tertutup' itu. Karena dia mengkhawatirkan keadaan teman lamanya, maka diapun kembali ke utara. Tapi pada saat dia bertemu dengan setiap pendekar di sepanjang perjalanan, tidak lupa dia mengutarakan niat dan tujuannya yaitu bila para pendekar itu bertemu dengan Yu Da Fu, diharapkan dia bisa segera ke daerah utara.

Dengan cepat dia kembali ke Bei Jing, waktu itu tepat siang hari. Dia melihat kudanya mengeluarkan air liur dan dahak. Dia tahu kalau kudanya sudah terlalu lelah, dia mengeluh, "Sepertinya aku juga merasa lelah sekali.”

Dia berharap dia bisa segera sampai di kantor Biao Zhen Yuan dan bertemu dengan Jin Gang Shou, Si Tu Xiang Cheng, siapa tahu Si Tu Xiang Cheng telah mendapatkan berita lebih baik darinya.

Dengan pelan kuda itu berjalan, hati Long shi Jian, Lin Pei Qi selalu dipenuhi dengan harapan, sepanjang perjalanannya menuju kantor Biao Zhen Yuan. Dari kejauhan dia melihat kantor Biao Zhen Yuan tampak sepi, dia mulai merasa ada yang janggal. Segera dia turun dari kudanya dan berlari ke depan pintu kantor Biao itu. Terlihat di depan pintu kantor Biao yang berwarna hitam mengkilat tampak ada dua helai kertas segel.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi merasa terkejut, dia terus berpikir untuk menemukan jawabannya tapi satu ingatan pun tidak terlintas dalam kepalanya. Mengapa kantor Biao yang terkenal seperti Zhen Yuan bisa disegel oleh pemerintah?

Dia berdiri di depan pintu dan hanya bisa terpaku. Dia berpikir, "Ini benar-benar aneh, Si Tu Xiang Cheng tidak pernah melanggar hukum, walaupun dia telah menghilangkan uang 800 ribu tail uang milik pemerintah, tapi pemerintah pasti akan memberikan waktu untuk mencari penggantinya, tidak ada aturan sampai harus disegel.... Apakah Can Jin Du Zhang memakai kekuatan pemerintah membuat kantor Biao Zhen Yuan ditutup, tapi sepertinya itu tidak mungkin." Dia sama sekali tidak tahu peristiwa sebenarnya bahwa Si Tu Xiang Cheng menjadi perampok, bukan hanya dia saja yang tidak menyangka bahkan seluruh penduduk kota Bei Jing sepertinya akan merasa demikian ketika mendengar berita ini, tidak ada seorangpun yang tidak akan merasa terkejut.

Selama dua hari ini kota Bei Jing sangat ramai dan meributkan hal ini. Hal pertama yang diributkan mereka adalah ketua kantor Biao Zhen Yuan, Jin Gang Shou, Si Tu Xiang Cheng adalah perampok yang selama berhari-hari

merajalela di kota Bei Jing, barang-barang rampokan itu ternyata disimpan di kantor Biao, dan di sana terdapat pula beberapa ribu tail uang. Karena alasan itu pulalah maka kantor giao Zhen Yuan disegel pemerintah, dan sekarang keluarga Jin Gang Shou dihukum.

Yang berhasil membuka kedok perampok itu tidak lain adalah polisi terkenal kota Bei Jing yang bernama Jin Yan Peng, dan dia diberi hadiah oleh atasannya. Tapi secara tiba-tiba dia meninggal, di belakang lehernya terlihat ada bekas telapak tangan berwarna emas yang tanpa dua jari. Dari mana asalnya bekas telapak tangan ini hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.

Yang lebih aneh lagi adalah, dua kantor Biao lainnya yang ada di kota Bei Jing, ditutup juga dan ketua kantor Biao lainnya yang bernama Ma Zhan Yuan dan Wei Shou Ru pun pensiun. Kota Bei Jing yang begitu luas sekarang tidak ada satu kantor Biao juga di sana.

Di kota Bei Jing beredar gosip seperti itu tapi Long Shi Jian, Lin Pei Qi sama sekali tidak mengetahuinya.

Dia membawa kudanya dan berdiri sebentar di depan kantor Biao Zhen Yuan, lalu pelan-pelan dia berlalu dari sana. Walaupun pengalamannya di dunia persilatan sangat banyak, tapi sekarang ini dia sama sekali tidak terpikirkan ide apapun.

Tiba-tiba ada seseorang yang menimpuknya dari belakang, dia merasa terkejut. Long Shi Jian, Lin Pei Qi sangat terkenal di dunia Persilatan, ilmu silatnya tinggi. Tapi ada orang yang dengan diam- diam menimpuknya dari belakang, dan dia baru sadar. Kalau orang itu bemiat ingin membunuhnya, walaupun dia mempunyai 10 kepala sekalipun pasti kepalanya akan berpindah tempat. Karena itu dia merasa sangat terkejut. Begitu dia membalikkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang menimpuknya ternyata terlihat Gu Zhuo Piao sedang tertawa kepadanya, Long Shi Jian, Lin Pei Qi merasa aneh, "Gu Zhuo Piao hanya seorang pelajar, mengapa pada saat dia berada di belakangku, aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya?”

Tapi dia segera mencari alasan yang logis, "Mungkin saat itu aku sedang berpikir ke mana-mana dan tidak memperhatikan di belakangku ada orang.”

Dengan tersenyum Gu Zhuo Piao berjalan mendekati. Long Shi Jian, Lin Pei Qi dan berkata, "Sudah lama tidak bertemu dengan Pendekar Lin.”

Begitu melihat Gu Zhuo Piao, Long Shi Jian, Lin Pei Qi seperti bertemu dengan saudaranya saja, segera dia menarik tangan Gu Zhuo Piao dan berkata, "Kakak Gu, apa yang telah terjadi? Mengapa semenjak aku pergi ke Jiang Nan selama satu bulan, di sini bisa terjadi perubahan yang sangat besar?”

Gu Zhuo Piao tertawa dan menjawab, "Ceritanya sangat panjang, ikutlah pulang denganku, nanti Kakak akan mengerti.”

Dia menarik tangan Long Shi Jian, Lin Pei Qi, mereka berlalu dari sana.

Dalam hati Long Shi Jian, Lin Pei Qi merasa aneh, tapi karena dia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi maka dia ikut dengan Gu Zhuo Piao tanpa banyak bicara.

Setelah mereka berputar-putar maka sampailah mereka di suatu tempat, Gu Zhuo piao tertawa dan berkata, "Kita sudah sampai di rumahku.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi melihat keadaan di sana, terlihat rumah itu sangat besar, pintu utamanya bercat merah hati. Di depan pintu ada sebuah papan nama yang tertulis 'Rumah Perdana Menteri'.

Gu Zhuo Piao melihat ekspresi Long Shi Jian, Lin Pei Qi, dia ingin tertawa lalu diapun berkata, "Ini adalah rumahku, silakan masuk!” Long Shi Jian, Lin Pei Qi merasa semakin aneh, melihat pemuda yang terlihat misterius itu, lalu dengan hormat dia berkata, "Aku tidak tahu kalau Anda adalah putra seorang menteri, maafkan aku!”

Gu Zhuo Piao tertawa, "Kakak jangan bersikap seperti itu, aku merasa malu karenanya.”

Tampak beberapa pelayan menghampiri mereka dan dengan hormat mereka berkata, "Tuan Muda, Anda sudah pulang?”

Ada seorang pelayan yang membawakan kuda Long Shi Jian, Lin Pei Qi. Long Shi Jian, Lin Pei Qi merasa semakin curiga dengan keadaan yang terjadi, dia tidak berani bertanya, dalam hati dia berpikir, "Ini benar-benar aneh, ternyata pelajar ini putra dari perdana menteri, sepertinya nama Gu Zhuo Piao hanya nama samaran, tapi mengapa tuan muda ini harus menyamar untuk berkenalan dengan para Pendekar dunia persilatan?”

Dia merasa banyak keanehan yang terjadi, membuatnya merasa bingung, terpaksa dia mengikuti Gu Zhuo Piao masuk ke dalam rumahnya.

Rumahnya sangat luas, benar-benar tidak terbayangkan olehnya, dia berpikir, "Rumah milik orang pemerintahan benar-benar luas dan dalam seperti laut. Kali ini aku masuk ke dalamnya apakah aku akan selamat keluar dari sini? Sepertinya sulit untuk ditebak.”

Mereka berjalan melewati beranda, lalu melewati taman, orang- orang yang bertemu dengan Gu Zhuo Piao pasti akan berhenti untuk memberi hormat. Long Shi Jian, Lin Pei Qi bisa dikatakan orang yang telah berpengalaman cukup banyak, tapi melihat keadaan seperti itu, dia merasa tubuhnya menjadi lemas.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di sebuah taman. Begitu masuk di sana terlihat ada sebuah gunung buatan, di atas gunung itu terlihat ada tumupukan salju yang belum mencair. Di sisi gunung itu terlihat ada sebuah kolam bunga teratai. Sekarang air kolam tampak membeku. Bunga-bunga dan pepohonan banyak yang gundul. Hanya terlihat beberapa pohon Mei Hua, dan pohon itu berbunga, mengeluarkan harum yang enak. Di belakang taman itu terdapat kebun bambu, dan ada sebuah kamar untuk melukis. Gu Zhuo Piao menunjuk beberapa kamar lalu berkata, "Kalau sudah sampai di dalam, aku akan memperkenalkan beberapa teman kepada Kakak.”

Hati Long Shi Jian, Lin Pei Qi masih tidak tenang tapi dia tetap mengikuti Gu Zhuo Piao masuk ruangan itu. Begitu pintu didorong, Long Shi Jian, Lin Pei Qi melihat ada yang sedang bermain catur dan orang itu adalah Tian Ling Xing, Sun Qing Yu.

Begitu dia masuk, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berteriak. Di sana ternyata ada Ba Bu Chan Cheng Gai, Jin Dao Wu Di Huang, dan Su Qi sedang membersihkan pedang. Sedangkan yang bermain catur bersama Sun Qing Yu adalah Ru Yun Long Ni Fang Biao.

Melihat orang-orang berkumpul di sana, dia merasa agak tenang dan tertawa, "Ternyata kalian ada di sini semua, membuatku...”

Dia kaget dan tidak melanjutkan perkataannya karena di sana terkurung beberapa orang. Dia memperhatikan beberapa orang itu. Dia melihat lagi dengan lebih teliti orang-orang yang ada di dalam ruangan itu. Wajah mereka terlihat sedang ada masalah besar. Udara begitu dingin, tapi keringat terus menetes. Dengan cepat dia bertanya, "Mana Kakak Si Tu? Mana Nona Xiao? Apa yang telah terjadi pada kantor Biao Zhen Yuan?”

Gu Zhuo Piao menarik sebuah kursi dan tertawa, "Kakak Lin, silakan duduk dulu nanti baru kita bicara.”

Hati Long Shi Jian, Lin Pei Qi sangat kacau. Ba Bu Gan Tan sudah membuka mulut, tapi ditutup lagi. Long Shi Jian, Lin Pei Qi dengan cemas berkata, "Apa yang telah terjadi, tolong katakan kepadaku!”

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu meletakkan biji caturnya. Dengan tenang dia berkata, "Lin Lao San masih dalam keadaan tergesa-gesa. Bila kau tergesa-gesa semua akan percuma.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi terlihat lebih cemas lagi, "Apa yang telah terjadi?” Jin Dao Wu Di Huang menceritakan semuanya kepada Long Shi Jian, Lin Pei Qi. Sambil menghembuskah nafas dia terus mendengarkannya dan berkata, "Mengapa Kakak Si Tu melakukan ini? Mengapa? Sekarang di mana Nona Xiao? Hheehh, ini benar- benar. ”

Sun Qi yang sedang membersihkan pedangnya tiba-tiba berdiri dan melayangkan pedang itu. Dengan marah berkata, "Walaupun Can Jin Du Zhang berilmu tinggi, lihai, dan juga beracun tapi jika aku bertemu dengannya, aku pasti akan bertarung dengannya.”

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu berkata, "Anak Qi, di depan Tuan Muda kau harus sopan.”

Gu Zhuo Piao tertawa dan berkata, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Anggaplah aku sebagai Gu Zhuo Piao, jangan menganggap aku orang lain." Kemudian dia tertawa. Tapi tawanya tampak aneh.

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu melihat dia. Matanya berputar dan berkata, "Tuan Muda, harap Anda jangan menyalahkannya. Semenjak kakaknya mati, dia berubah seperti ini.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi kaget, "Apa?!! Apakah ”

Sun Qi terduduk lemas di kursinya sambil meneteskan air mata, "Kakakpun terkena serangan telapak itu. Dia meninggal hampir 1 bulan yang lalu.”

Dahi Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkeringat lagi. Suasana kamar menjadi hening dan sepi.

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu tertawa. Wajah merahnya tampak berkilauan. Dia berkata, "Jangan mengira kau bisa menipuku. Aku ingin tahu kau akan lari ke mana." Dia tertawa dengan senang.

Gu Zhuo Piao mundur.

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu meletakkan biji caturnya dan tertawa, "Kau kalah!”

Ru Yun Long juga tertawa dan berkata, "Pak tua ini benar-benar sangat lihai. Aku kalah lagi.” Gu Zhuo Piao tertawa dan sambil membereskan biji catur lagi. "Catur ini seperti kehidupan manusia, bila telah berbuat kesalahan

satu kali dia akan terus kalah, Kakak Ni harus berhati-hati supaya kalahnya tidak terlalu cepat." Sorot matanya terlihat tajam dan aneh, dia melihat ke sekeliling ruangan itu dan berkata, "Tapi siapapun yang kalah lebih awal atau akhir, dia tetap akan kalah!”

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu tertawa terbahak-bahak, "Perkataan Tuan Muda memang berbeda dengan orang lain. Catur seperti kehidupan manusia, selangkahpun tidak boleh salah.”

Orang-orang yang di sana merasa kata-kata mereka berdua seperti mengandung duri tapi tidak ada seorangpun yang berusaha mencari tahu apa arti dari kata-kata ini.

Apalagi Long Shi Jian, Lin Pei Qi pikirannya penuh dengan kecurigaan, dia tidak ada waktu untuk mencari tahu apa arti dari kata-kata mereka berdua ini.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkata, “Tuan Muda terlalu sungkan.” "Kalian adalah laki-laki sejati dunia persikitan, aku sudah lama

ingin mengenal kalian. Kalau mengundang kalian pada saat biasa

belum tentu ada yang mau datang. Sekarang karena terjadi peristiwa ini, biarlah aku membantu sedikit-sedikit," Gu Zhuo Piao menjawab.

Cahaya dari luar menyinari wajahnya yang berwarna kuning muda.

Warnanya menjadi bias aneh.

Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu kebetulan mengangkat kepala saat itu. Sorot matanya dan sorot mata Gu Zhuo Piao yang tajam beradu. Tiba-tiba timbul suatu pikiran di kepalanya dan dia segera maju 2 langkah. Sambil menepuk pundak Gu Zhuo Piao dia berkata, "Kita terus membicarakan hal itupun akan percuma saja. Siapa yang menjadi pendekar atau pahlawan nanti bisa kita ketahui. Tuan Muda benar-benar bertindak sangat cepat.”

Mata Gu Zhuo Piao bergerak. Dia merasakan ada tenaga besar datang dari tangan Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu. Diam-diam Gu Zhuo Piao berpikir, "Pak tua ini ternyata pesilat benar-benar tangguh." Segera Gu Zhuo Piao tersenyum. Sebelum semua tenaga dikeluarkan oleh Tian Ling Xiang Sun Qing Yu, Gu Zhuo Piao menjulurkan tangannya, seperti ingin menarik tangan Tian Ling Xiang, Sun Qing Yu tapi dia tertawa, Tetua Sun terlalu memujiku.”

Tenaga telapak tangan Tian Ling Xiang Sun Qing Yu baru saja akan dikeluarkan tapi tangan kanan Gu Zhuo Piao seperti menepuk nadi tangannya, sangat pelan tapi waktunya sangat tepat seperti disengaja, tapi juga seperti tidak sengaja. Memaksa dia menarik kembali tenaga yang akan dikeluarkan.

Kejadian ini hanya berlangsung dalam waktu sekejap. Orang lain belum sempat melihat, Gu Zhuo Piao sambil tertawa, pergi dari sana.

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu menghembuskan nafas panjang. Dia roboh di kursinya. Wajahnya terlihat penuh pikiran dan berkata, "Aku hidup sampai setua ini, sudah bertemu dengan pesilat tangguh tidak terhitung banyaknya dan aku sudah pernah melihat apapun tapi aku tidak bisa menilai siapa sebenarnya orang ini. Jika dia ternyata menyimpan ilmu silat tinggi tapi rasanya tidak mungkin, tapi jika dia tidak bisa ilmu silat, itupun tidak mungkin.”

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu terus menarik nafas. Jin Dab Wu Di Huang dengan penuh curiga berkata, "Maksudmu. ”

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu melanjutkan, "Yang kumaksud adalah dia. Jika mata tuaku ini tidak salah melihat, ilmu silat orang itu berada di atasku dan juga kau. Dia putra perdana menteri, dari mana dia bisa belajar ilmu silat setinggi itu? Di dunia persikitan ini siapa yang bisa mengajarkan kepadanya ilmu setinggi itu? Kecuali. ”

Setelah selesai bicara, wajah Tian Ling Xiang Sun Qing Yu tampak berubah dengan cepat.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkata, "Aku tidak melihat kalau orang itu memiliki ilmu silat tinggi.”

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu berkata, "Akupun berharap demikian.” Sekarang di dalam pikiran mereka masing-masing mereka berusaha menebak siapa Gu Zhuo Piao sebenarnya. Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkata, "Bagaimanapun orang itu telah berbuat baik kepada kita, apalagi dia adalah putra perdana menteri dia tidak mempunyai dendam dengan kita. Dia tidak akan mencelakakan kita. Tidak peduli dia bisa ilmu silat atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita.”

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu menggelengkan kepalanya. Diapun sepertinya tampak kebingungan.

"Yang harus diperhatikan sekarang adalah di mana Can Jin Du Zhang? Dia mempunyai maksud apa lagi? Dmana Yu Jian Xiao Ling sekarang berada? Semua ini harus kita pikirkan baik-baik," kata Long Shi Jian, Lin Pei Qi.

Tian Ling Xiang Sun Qing Yu berkata, "Itu sudah pasti, masa aku tidak tahu tentang hal ini?”

Posisi Tian Ling Xiang Sun Qing Yu di dunia persikitan sangat tinggi. Begitu mendengar kata-kata Long Shi Jian, Lin Pei Qi yang tidak sopan, dia tidak menyukainya.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi segera berkata, "Kita semua akan mendengarkan pak tua yang mengatur kami.”

Dengan pelan Tian Ling Xiang Sun Qing Yu berkata, "Bila kita terus diam di sini, itu bukan jalan keluarnya. Aku rasa Can Jin Du Zhang sudah meninggalkan kota Bei Jing. Dan 3 kantor Biao di kota Bei Jing sudah tutup, apa alasan dia masih di sini? Jika Yu Jian Xiao Ling. ”

Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi, "Akupun tidak tahu dia berada di mana. Mungkin dia tinggal di rumah temannya.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi dengan cepat berkata, "Tidak mungkin. Baru pertama kalinya Yu Jian Xiao Ling keluar dari Wisma Xiao Xiang dan ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan rumah, mana mungkin dia mempunyai teman di Bei Jing?” Ru Yun Long yang sejaki tadi diam, tiba-tiba dia berkata, "Sewaktu dia meninggalkan kantor Biao Zhen Yuan, dia mengatakan ingin mencari teman ayahnya.”

Jin Dao Wu Di Huang berkata, "Setahuku dia kenal dengan Gu Zhuo Piao.”

Tanya Tian Ling Xiang Sun Qing Yu, "Bagaimana kau bisa tahu?” Jin Dao Wu Di Huang menjawab dengan wajah merah, "Kakak

Cheng pun tahu. ”

Cheng Gai segera berkata, "Kita melihat dengan kepala sendiri mereka berjalan bersama dan sering mengobrol.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi mengerutkan dahinya dan berkata, "Ini tidak mungkin. ”

Setiap orang bertanya-tanya. Tian Ling Xiang Sun Qing Yu yang dianggap paling pintar di dunia persilatan sekarang tampak kebingungan. Setiap masalah pasti menjadi teka teki.

Kapan teka teki ini bisa dipecahkan?

-00-

Malam itu, Xiao Ling bersembunyi di atap rumah. Dia melihat Si Tu Xiang Cheng mati di tangan Can Jin Du Zhang juga melihat Jin Yan Peng terluka dan pergi dari sana. Sewaktu dia bersiap-siap akan pergi dari sana baru saja dia mengangkat kepalanya, Can Jin Du Zhang sudah berada di depannya. Sejak kapan dia ada di sana, Xiao Ling sendiri tidak tahu.

Begitu mata Xiao Ling bertemu dengan mata Can Jin Du Zhang, Xiao Ling merasa gemetar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan terhadap perubahan ini.

Tapi Can Jin Du Zhang sepertinya tidak berniat jahat kepadanya. Walaupun wajahnya terlihat dingin dan kejam, dia berdiri dengan pandangan dingin kepada Xiao Ling, tidak ada seorangpun yang tahu di balik wajah dingin dan kejam itu tersimpan rahasia apa.

Akhirnya Can Jin Du Zhang membentak, "Cepat pergi dari sini!” Xiao Ling merasa suaranya penuh kekuatan yang tidak bisa dilawan, dia tidak ingat kalau dia pernah merasakan kekuatan ini.

Walaupun Xiao Ling tidak ingin meninggalkan tempat itu, tapi kakinya telah melangkah, jubahnya yang berwarna merah tampak berkibar tertiup angin.

Gerakan Xiao Ling sangat cepat, mungkin dia ingin memperlihatkan kepada Can Jin Du Zhang bahwa dia tidak sama seperti orang lain, tidak berguna.

Tapi Xiao Ling tetap merasa benci kepada dirinya mengapa dia begitu menurut kepada Can Jin Du Zhang. Saat dia menyuruh Xiao Ling, diapun segera pergi.

"Apakah kau merasa takut kepadanya? Keturunan Wisma Xiao Xiang tidak pernah takut kepada siapapun. Aku harus membuat dia merasakan jurus Hui Feng Wu Liu Jian!" Diam-diam Xiao Ling berpikir seperti itu.

Karena itu dia kembali lagi ke tempat tadi tapi di sana sudah kosong dan suasana begitu sepi. Malam dingin seperti air, salju mulai turun lagi. Bayangan Can Jin Du Zhang sudah tidak terlihat.

Dia merasa malu, setiap masalah membuatnya ingin menangis, sekarang salju terus beterbangan di depannya.

Xiao Ling merasa dia tidak bisa tinggal di kota Bei Jing. Dia ingin pulang dan berbaring di tempat tidurnya sendiri sambil menangis.

"Can Jin Du Zhang adalah perampok. Si Tu Xiang Cheng juga perampok. Begitu juga dengan Gu Zhuo Piao. Semua perampok, perampok!" Dia merasa marah dan benci. Salju bercampur dengan air mata menerpa wajahnya, dia merasa wajahnya dingin. Dia menghapus dengan jubahnya.

Dengan cepat dia berlari ke luar kota Bei Jing tapi begitu melihat keadaan begitu gelap, dia menjadi kebingungan. Dari tempat ini menuju rumahnya harus melalui perjalanan jauh, bermacam-macam kesulitan yang terpikir olehnya membuat dia berhenti melangkah. Dia berdiri dengan bengong. Dia tidak tahu kalau di belakangnya selalu ada bayangan yang mengikutinya. Bila dia berhenti, maka bayangan itupun ikut berhenti.

Tiba-tiba bayangan itu terbang ke belakangnya, tidak bersuara sedikitpun, sampai-sampai suara baju yang terbawa oleh anginpun tidak terdengar. Kalau saja sekarang dia membalikkan kepalanya, maka dia akan melihat Can Jin Du Zhang berdiri di belakangnya. Can Jin Du Zhang sendiripun merasa ragu. Jika Xiao Ling membalikkan kepalanya maka keadaan akan mengubah banyak masalah tapi Xiao Ling tidak membalikkan kepalanya.

Akhirnya Can Jin Du Zhang berjalan lagi menuju jalan yang dilaluinya sewaktu dia datang tadi.

Dalam kegelapan hanya ada Xiao Ling yang sedang berdiri di atas genting. Hari mulai terang, dia merasa banyak hal yang harus dipikirkan. Semua pikiran tertuju pada bayangan Gu Zhuo Hao. Ada bayangan seseorang yang lewat dengan cepat. Tapi tiba-tiba saja dia berhenti. Sepertinya bayangan itu merasa aneh melihat ada sesosok bayangan berdiri di atas atap.

Bayangan itu berbalik dan terbang mendekati Xiao Ling. Begitu dia melihat orang yang berdiri di atas atap itu adalah Xiao Ling. Dia mengeluarkan suara aneh yang berbunyi, "Yi.”

Dengan cepat Xiao Ling sudah membalikkan badannya. Dia melihat ada seseorang berbaju hitam dan wajah ditutup dengan kain hitam berdiri di sana. Segera Xiao Ling membentak, "Siapa kau? Kau mau apa?”

Dengan suara aneh si baju hitam itu menjawab, "Hari mulai terang, kau berdiri di atas atap, bukankah nanti akan dilihat orang?”

Begitu Xiao Ling melihat, di timur hari mulai terang.

Kata orang berbaju hitam itu lagi, "Cepat pulang, mengapa masih berdiri di sana?" Dia seperti perhatian kepada Xiao Ling.

Xiao Ling mendengar suara orang berbaju hitam ini aneh tapi dia merasa sangat mengenalnya dan sepertinya dia selalu mendengarkan suara itu, "Tapi kapan aku pernah mendengar suara aneh ini?” Xiao Ling merasa orang berbaju hitam itu tidak berniat jahat kepadanya. Tapi siapakah dia? Mengapa dia begitu perhatian kepadanya. Xiao Ling bertambah bingung Apakah dia adalah Gu Zhuo Piao? Tiba-tiba dia berpikiran seperti itu.

Diam-diam dia menjulurkan telapak tangannya, dia ingin membuka kain penutup wajah orang itu.

Tangan itu bergerak secepat angin. Tangan kanan Xiao Ling sudah mencengkram. Mencengkram ke penutup wajah berwarna hitam itu.

Si baju hitam itu menghindar. Xiao Ling menggunakan jurus keluarga Xiao, Pin Fen Chun Se.

Si baju hitam tersenyum, tawanya keluar dari balik penutup wajahnya. Anehnya dia belum mengeluarkan jurus, tapi orang ini sudah tahu jurus apa yang akan digunakannya, kemudian dengan cepat orang itu lari dari hadapan Xiao Ling. Beberapa kali loncatan dia sudah menjauh.

Yu Jian Xiao Ling merasa aneh. Dia berpikir ilmu meringankan tubuhnya termasuk yang terbaik, tapi bila dibandingkan dengan orang itu, dia masih kalah jauh.

Tapi dia bertekad ingin membuka penutup wajah orang itu. Walaupun ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, tapi Xiao Ling tetap ingin mencobanya. Karena itu dia tidak ragu lagi mengikuti orang itu.

Dia merasa kecewa kepada Gu Zhuo Piao yang tidak menepati janjinya. Kecuali marah, benci, dan malu, semua hal mengenai Gu Zhuo piao, merupakan teka teki baginya.

Karena berbagai macam alasan, dia berharap bisa mengungkap teka teki ini.

Dia berharap semua perasaannya kepada Gu Zhuo Piao hanya ilusinya saja. Gu Zhuo Piao hanya seorang tuan muda yang sempat mencintainya.

Ilmu meringankan tubuh orang itu jauh lebih hebat daripada Xiao Ling. Jika ilmu meringankan tubuh orang ini dilihat dari kacamata orang dunia persilatan, mereka pasti akan membelalak kaget. Tapi Xiao Ling hanya bisa menyalahkan ilmu meringankan tubuhnya yang kurang bagus, dia tidak berpikir kalau kemampuan orang ini sudah mencapai tingkat tertinggi. Karena Xiao Ling masih sedikit mengetahui tentang ilmu silat yang berada didunia persilatan. Sebenarnya ilmu meringankan tubuhnya pun sudah sampai tahap di mana orang tidak bisa mengejarnya.

Hari sudah dini hari. Seorang tukang sayur yang masih terkantuk- kantuk berjalan di jalanan yang dipenuhi salju. Dia mengomel dan berkeluh kesah karena rasa dingin yang menusuk tulang. Tiba-tiba dia melihat ada dua bukitan hitam dengan kecepatan tinggi melewatinya. Dia merasa ketakutan dan melempar sayur yang dipikulnya begitu saja lalu diapun berlutut.

Dengan sekuat tenaga Xiao Ling mengejar orang berbaju hitam itu.

Anehnya si baju hitam sepertinya tidak ingin jauh-jauh dari Xiao Ling. Jika mau dia sudah meninggalkan Xiao Ling sejak tadi. Xiao Ling sudah menjauhi kota dan sekarang berada di tempat agak sepi. Si baju hitam turun dari atap dan berlari sepanjang jalan. Walaupun Xiao Ling berusaha sekuat tenaga mengejarnya tetapi dia hanya bisa menjaga jarak dengan orang itu. Jarak itu tidak bisa diperpendek.

Dia tergesa-gesa karena hari sudah mulai terang. Sepanjang jalan tampak orang-orang yang berlalu lalang, dia sudah tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuhnya lagi.

Tiba-tiba si baju hitam itu mempercepat langkahnya, hanya dalam beberapa kali turun dan naik, dia sudah menghilang.

Xiao Ling tidak bisa mengejar orang itu tapi mata Xiao Ling terus menatap bayangan itu. Dia melihat orang itu memasuki sebuah rumah kecil. Sepertinya dia masih sempat membalikkan kepalanya lalu melambaikan tangan kepada Xiao Ling. Benar-benar membuat Xiao Ling marah.

Sekarang dia tidak berpikir sama sekali, apakah si baju hitam itu berilmu silat lebih tinggi darinya atau semua ini karena hal lain. Dia segera memanjat dinding meletakkan jubahnya lalu mencabut pedang yang ada di balik tubuhnya kemudian diapun turun dari atap.

Di dalam ruangan tidak ada orang. Perabot rumahpun tidak ada. Rumah itu kosong melompong dan masih tercium bau tidak sedap, yang membuat dia ingin muntah.

Xiao Ling tertarik pada orang yang berilmu silat tinggi dan tampak misterius yang masuk ke rumah tua yang gelap ini. Dia tidak banyak pikir, selangkah demi selangkah dia masuk ke dalam rumah itu.

Tiba-tiba di halaman terdengar ada yang bersuara. Segera Xiao Ling membawa pedang dan memutarnya. Kemudian tubuhnya berputar mengikuti pedang itu. Ternyata hanya sepotong ranting pohon yang terjatuh, dia menertawakan dirinya yang merasa terlalu tegang.

Selangkah demi selangkah Xiao Ling maju. Dia melihat setiap kamar di rumah itu kosong dan penuh dengan sarang laba-laba, debu memenuhi setiap sudut kamar.

Tiba-tiba terasa ada angin yang berhembus ke dalam. Meniup ke tubuh dan wajahnya. Xiao Ling membersihkan badannya dari debu. Dia berpikir, "Mengapa si baju hitam itu begitu masuk langsung menghilang? Apakah dia keluar dari pintu belakang?” Xiao Ling tiba- tiba teringat pada hal itu tetapi dia tidak terpikirkan kalau ilmu orang itu lebih tinggi darinya. Jika ingin membunuh, sudah sejak tadi dilakukan oleh si baju hitam, tidak perlu menghindarnya sampai sini. ”Tapi si baju hitam telah memancingnya ke sini, lalu dia menghilang, karena apa semua ini?”

Baru saja Xiao Ling akan meninggalkan tempat yang menyeramkan itu tiba-tiba ada satu sesosok bayangan berwarna merah lewat di depannya. Dengan cepat Xiao Ling mengikutinya, terlihat jubah yang tadi digantungnya di dinding sekarang tergantung di kusen pintu.

Sekarang dia baru merasa ada rasa takut menjalari hatinya. Si baju hitam sebentar muncul lalu sebentar menghilang, membuat Xiao Ling ketakutan. Dia berhenti berlari, melihat ke sekeliling tempat itu. Rumah tua itu tidak terlihat ada siapapun di sana kecuali jubah merahnya yang bergerak karena tertiup angin.

Dia mengambil jubahnya dengan ujung pedang. Begitu dia melihat semua kamar, ternyata di salah satu kamar di rumah itu, terdapat meja dan kursi.

Segera dia mengambil jubahnya, dengan sangat berhati-hati dia memasuki kamar itu.

Tapi kamar itu kosong tidak ada siapapun di sana. Dia mengira musuh akan menyerangnya ternyata tidak ada.

Kamar ini tidak sama dengan kamar-kamar lainnya yang ada di rumah itu. Kecuali ada kursi, meja, di sudut kamar masih ada sebuah tempat tidur. Kasur dan selimut yang ada di atas ranjang itu sangat bersih, sepertinya ada orang yang menginap di kamar itu.

Di dalam rumah tua, kotor, dan seram itu ternyata ada sebuah kamar yang rapi, hal ini membuat Xiao Ling merasa aneh.

Pedang dipegangnya lebih kuat lagi. Dia terus memicingkan matanya. Walaupun kamar itu kecil tapi rapi, sepertinya si empunya kamar adalah orang menyukai kebersihan.

"Tapi siapakah si empunya kamar ini? Apakah dia adalah si baju hitam? Siapakah si baju hitam itu sebenarnya? Apakah dia adalah Gu Zhuo Piao? Heeheehh, sebenarnya siapakah Gu Zhuo Piao itu?" Selama dua hari ini benaknya selalu memikirkan banyak pertanyaan tapi tidak satupun ada jawabannya.

Banyak pertanyaan tersimpan di dalam hati ditambah lagi sekarang dia merasa patah hati. Tubuhnya mulai merasa lemas. Dia menarik nafas panjang dan duduk di kursi di dalam kamar itu.

Tiba-tiba dia berdiri mengambi kertas yang tersimpan di atas meja. Setelah dia membaca, hatinya merasa berdebar-debar. Dia bertambah kaget.

Ternyata isi surat itu adalah: "Anak Ling, jika kau sudah membaca surat ini, segeralah pulang karena masalah di sini sudah diselesaikan. Cepat kembali ke Jiang Nan. Di belakang rumah ini ada seekor kuda. Di bawah bantal ada sejumlah uang, kau ambil saja uang itu. Sesudah kembali ke Wisma Xiao Xiang, jangan pernah bocorkan kalau aku ada di sini! Ingat, kau harus ingat!

Tertanda: Ayah.”

Xiao Ling membaca sekali lagi dan dapat dipastikan kalau itu adalah tulisan ayahnya. Tapi bukankah ayahnya masih di Wisma Xiao Xiang?

Keadaan ini hampir membuatnya gila. Dia berpikir, "Ayah belum pernah keluar dari Wisma Xiao Xiang, mengapa sekarang tiba-tiba berada di He Bei? Tapi ini adalah tulisan ayah! Untuk apa ayah kemari? Apakah si baju hitam itu adalah ayah? Apakah ayah tinggal di kamar ini?" "Mengapa ayah menyuruhku pulang lebih awal? Mengapa ayah menyuruhku supaya jangan membocorkan keberadaannya di sini?" Dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu karena itu dengan perasaan cemas dia berputar-putar di dalam kamar dan sama sekali tidak terpikirkan suatu ide.

Akhirnya dia melepaskan niatnya untuk mencari jawaban dan berpikir, "Ayah menyuruhku pulang, aku memang ingin pulang. Dari tadi aku memang sudah ingin meninggalkan kota Bei Jing.”

Dengan pelan dia meraba ke bawah bantal. Benar ada sebungkus kain. Dia tahu isi bungkusan itu adalah uang. Dia menarik nafas panjang, keluar dari kamar lalu pergi ke belakang rumah mencari seekor kuda di sana. Dia merasa badannya lemas dan tidak bersemangat. Sewaktu baru keluar dari Wisma Xiao Xiang, dia bercita-cita dan bersemangat tinggi, sekarang semangat itu sudah tidak ada. Dia ingin kembali ke rumah, hidup seperti dulu, tenang dan normal, melupakan semua yang telah terjadi sini, tapi.. apakah dia bisa melakukannya?

Dia berjalan ke belakang rumah, ternyata benar di sana ada seekor kuda yang diikatkan ke sebuah pohon. Dia merasa senang sekaligus khawatir. Tiba-tiba sepasang kakinya menjadi lemas, dan diapun terjatuh.

Dia berusaha bangun tapi tidak ada tenaga sama sekali. Dia memegang wajahnya, panas seperti terbakar api. Kepala pusingnya sampai merasa berputar-putar, dia tahu dia telah jatuh sakit.

Selama ini dia selalu merasa kelelahan sepanjang perjalanan, apalagi perasaannya terpukul begitu hebat. Dia merasa kaget dan takut, pantas dia bisa jatuh sakit.

'Sakit', kata ini adalah kata asing baginya. Semenjak dia mendalami ilmu silat, belum pernah dia jatuh sakit, tapi apa artinya sakit, dia sangat mengerti.

Orang yang berlatih ilmu silat apalagi sudah mempunyai ilmu tenaga dalam, pasti jarang sakit. Tapi jika sekali sakit, perasaannya akan sama seperti air sungai Huang He, tidak bisa dibendung. Karena itu hanya dalam waktu sebentar tenaga Xiao Ling sudah tersedot banyak. Dengan lemas terbaring di bawah. salju tanah terasa sangat dingin tapi suhu tubuhnya semakin panas.

Bahkan tenaga untuk berdiripun tidak ada, tapi dia tahu dia tidak boleh terus berbaring di situ. Dengan pelan dia berdiri untuk merangkak ke kamar itu. Perjalanan ke kamar itu jika dilakukan pada saat biasa hanya dalam sekejap mata sudah sampai di sana, tetapi sekarang dia merasa waktunya sangat panjang dan sulit.

Dia berusaha merangkak ke ranjang. Pikiran tidak bisa berkonsentrasi dengan jelas.

Sesudah lama tertidur akhirnya dia terbangun juga. Kamar begitu gelap dan malam sudah tiba. Dia hanya berharap tuan rumah segera kembali. Siapapun tuan rumah ini, tidak menjadi masalah baginya.

Badan seperti dibakar api, bibir pecah-pecah. Sekarang dengan pengorbanan sebesar apapun dia berusaha untuk mendapatkan setetes air. Dia tertidur lagi, di dalam rumah tua dan seram itu siapa yang menduga kalau di sini terbaring seorang gadis sedang tersiksa oleh sakit?

Waktu dilewatinya tanpa keadaan sadar, tidak mendapatkan air, tidak ada obat juga tidak ada makanan.

Xiao Ling merasa dia sedang berjalan menuju kematian, tidak ada seorangpun yang mengulurkan tangan untuk menolongnya. Lama kelamaan panasnya mulai turun, tapi badannya bertambah lemas, dia membutuhkan air dan makanan.

0-0-0

BAB 5

Gelombang demi gelombang Suatu malam.

Di halaman tiba-tiba muncul 2 sosok manusia. Terdengar suara terengah-engah. Mereka pasti sudah berlari dengan jarak yang jauh, dua sosok ini berlari sangat cepat. Mereka tampak berputar di halaman kemudian terdengar salah satu berkata, "Kelihatannya rumah ini tidak ada penghuni.”

Yang satu lagi terdengar menarik nafas panjang dan berkata, "Itu lebih baik. Kita bersembunyi dulu saja di sini. Jika harus lari lagi aku tidak kuat." Dia berkata lagi, "Bagaimana kabar keluarga Sun, bagaimana keadaan paman dan keponakannya itu? Menurutku sekarang mereka pasti sudah tidak bernyawa lagi.”

Yang satu lagi berkata, "Siluman itu tidak main-main. Jangankan yang lain, yang larinya cepat saja belum pernah kulihat. Hhhehh! Apakah kau membawa korek api, kita pasang lampu dahulu.”

Kemudian dari dalam kegelapan muncul sebuah cahaya. Ternyata mereka adalah Ba Bu Can Cheng Gai dan Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao.

Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao membawa korek api lalu berjalan. Dia membawa sebuah golok berwarna emas. Ba Bu Can Cheng Gai mengikutinya dari belakang. Dia membawa sepasang pena hakim.

Sambil berjalan Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao berkata, "Di sini tidak ada siapapun, aku berharap siluman itu tidak bisa mencari kita sampai ke sini.”

Ba Bu Can Cheng Gai dengan kaget berkata, "Di dalam sepertinya ada orang.”

Segera Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao berhenti melangkah. Terdengar suara rintihan. Di tempat seperti ini dan situasi seperti sekarang ini, mendengar ada suara seperti itu benar-benar membuat Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao mati rasa. Wajahnya tampak berubah. Dia membentak, "Siapa!" Kecuali suara rintihan tidak terdengar ada jawaban.

Ba Bu Can Cheng Gai berkata, "Sepertinya itu suara seorang perempuan, apakah dia terluka?”

Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao tidak menjawab. Dia berhati-hati mendekatinya sumber suara itu.

Dia berjalan melewati sebuah kamar, Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao tiba-tiba berkata, "Lihat di sana ada orang, suara rintihan itu keluar dari kamar ini.”

Dengan bantuan cahaya redup, dia melihat ke dalam kamar yang terdapat kursi dan meja. Mereka berdua bersiap-siap mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Mereka bersiap siaga jika tiba-tiba saja diserang, dengan cepat mereka berlari masuk ke dalam kamar.

Di dalam kamar itu ada Yu Jian Xiao Ling. Dia sudah tidak tahan lagi. Tiba-tiba ada yang berjalan mendekati ranjangnya, antara sadar dan tidak sadar, dia mendengar ada yang berteriak, “Bukankah dia adalah Yu Jian Xiao Ling?”

Karena kaget Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao berteriak. Ba Bu Can Cheng Gai dengan cepat berlari ke arah itu. Dengan kaget diapun bertanya, "Mengapa Nona Xiao ada di sini? Kelihatannya dia bukan terluka tapi jatuh sakit.” Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao masih ingat dengan penghinaan Xiao Ling pada saat hujan salju. Dia tidak memikirkan kalau semua itu dia sendiri yang mencarinya. Melihat Xiao Ling yang sekarat, dia berpikir akan berpangku tangan saja dan berkata, "Kita jangan mengurus masalah orang lain lagi, kita sendiripun tidak bisa menjaga diri.”

Ba Bu Can Cheng Gai terpaku mendengar perkataan temannya, tapi dia langsung bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao. Tiba-tiba di belakang mereka terdengar tawa dingin dan seram.

Begitu mendengar tawa itu, bulu kuduk Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao dan Ba Bu Can Cheng Gai segera berdiri.

Segera Jin Dao Wu Di Huang menggunakan jurus Ba Feng Feng Yun mengelilingi tubuhnya dengan cahaya golok dan dengan cepat membalikkan badannya. Ba Bu Can Cheng Gai juga mengeluarkan pena hakimnya dan segera membalikkan badan.

Begitu membalikkan badan mereka berteriak karena terkejut.