Telapak Emas Beracun Jilid 1

Jilid 1

Belum pukul lima, tapi hari sudah tampak gelap, salju terus turun di kota Bei Jing, di atap setiap rumah dipenuhi dengan salju tebal, dari jauh antara langit dan bumi tampak menyambung dan berwarna keabuan.

Angin besar berhembus ke pepohonan yang juga sudah dipenuhi dengan salju, salju yang berjatuhan membuat burung-burung yang hinggap di pepohonan langsung beterbangan, saat itu bumi terasa sepi.

Di dekat kota di sebelah barat, ada sebuah jalan yang dipenuhi dengan batu kerikil, sekarang jalanan itupun tampak sepi, tidak ada sesosok bayangan manusia, hanya tampak prajurit yang sedang berpatroli menjaga kota, suara baju mereka yang tertiup angin terdengar dengan jelas dalam suasana yang dingin dan sepi itu.

Tapi bila kita berjalan semakin mendekati kota, hari sepertinya masih sore, di jalan besar di kota itu yang letaknya di barat, tampak lampu-lampu mulai dinyalakan. Orang yang berjalan di bawah siraman salju terlihat cukup banyak. Sekarang adalah awal jaman Dinasti Man Qing, dengan melihat keadaan kota Bei Jing dapat terlihat bahwa keadaan negarapun sangat tenang dan kuat, rakyat hidup dengan makmur. Beberapa rumah makan besar di jalan itu tampak dipenuhi dengan tamu. Di sebelah sana tercium harumnya arak dan sayur, saat itu adalah saat paling sibuk. Di ujung jalan itu ada sebuah rumah makan yang terkenal dengan masakan daging kambing, rumah makan itu bernama Xi Lai Sun, pintu utamanya menghadap ke jalan. Jendela-jendelanya digantung dengan tirai yang tampak berat dan tebal, pada saat membuka tirai terasa ada udara panas yang menyelubungi rumah makan itu.

Di balik pintu terdapat sebuah ruangan besar, ruangan itu berisi 10 meja lebih yang berbentuk bulat. Di atas meja ada sebuah wadah yang berisi bara api yang apinya berkobar dengan besar. Api itu digunakan untuk memanggang daging. Siapapun yang saling kenal disana atau tidak saling mengenal, duduk bersama-sama mengelilingi meja bulat itu. Ada yang berdiri dan ada pula yang duduk. Tiga cangkir arak pasti akan masuk ke dalam perut, sambil mengobrol tidak tentu arah tanpa terasa mereka sudah menjadi teman, tapi setelah keluar dari rumah makan itu mereka tidak akan saling kenal lagi.

Dari rumah makan itu, bila masuk ke ruangan lebih dalam lagi kita akan melewati sebuah taman kecil, dan di sana terdapat kamar utama, yang setiap kamarnya pasti terdapat meja dan di atasnya terdapat wadah yang berisi bara api dengan kobaran api sangat besar. Itu baru tempat yang tepat untuk makan daging kambing.

Hari ini rumah makan Xi Lai Sun sangat ramai, ruangan yang berada di sebelah kiri sering terdengar tawa besar dan lepas. Pelayan rumah makan sibuk keluar masuk ruangan itu.

Ternyata kantor Biao terbesar di kota Bei Jing yang bernama Zhen Yuan, dengan pemimpin kantor Biao yang mendapat julukan Jin Gang Zhang (Telapak tangan baja/emas), bernama Si Tu Xiang Cheng, sedang menjamu para tamunya.

Si Tu Xiang Cheng sudah memimpin dunia persilatan bagian Da He selama 20 tahun tepatnya di daerah utara dan selatan. Namanya sangat terkenal. Pelayan rumah makan di sana berusaha menjilat orang yang terkenal seperti Si Tu Xiang Cheng.

Tiba-tiba dari luar tampak sebuah kereta yang berjalan dengan cepat memasuki rumah makan itu. Di sisi kanan dan kiri kereta itu tampak dua ekor kuda gagah, mereka seperti sedang menjaga kereta itu. Para penunggang itupun tampak gagah, tapi mereka tampak mengerutkan dahinya. Sepertinya mereka menyimpan sebuah kekhawatiran besar.

Dengan lincah mereka turun dari kuda, kemudian mereka membuka pintu kereta, dan membantu seorang laki-laki tinggi dan berwajah cekung turun dari kereta. Kedua mata laki-laki itu seperti terpejam, nafasnya terengah-engah, sepertinya untuk berjalan keluar dari kereta juga sangat sulit.

Sambil setengah menggendong laki-laki itu, kedua laki-laki itu membawanya masuk ke rumah makan Xi Lai Sun, bos rumah makan itu segera menghampiri mereka dan bertanya, “Tuan Guo Kedua, mengapa Anda bisa menjadi seperti ini? Apakah perlu kucarikan tabib?”

Kedua laki-laki itu tidak mempedulikannya, dengan nada kasar mereka bertanya, "Dimana ketua Biao? Tolong bawa kami ke sana!” Bos rumah makan itu sadar telah terjadi sesuatu maka tanpa banyak bicara dia langsung membawa mereka melewati taman kecil itu.

Kedua laki-laki itu langsung mendorong pintu kamar, karena ada hal yang sangat penting, mereka sudah melupakan sopan santun, dengan suara serak mereka terus memanggil, "Ketua Biao!”

Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng sedang minum-minum dengan gembira, yang duduk menemaninya kebanyakan adalah para pendekar yang berasal dari Huang He dan Zhang Jiang, begitu melihat ada orang yang tiba-tiba masuk, tentu saja mereka sangat terkejut, tapi setelah melihat wajah yang kekuningan itu mereka langsung tambah terkejut dan langsung berdiri, dengan cemas mereka bertanya, "Adik Kedua, apa yang telah terjadi?”

Orang yang sedang makanpun merasa kaget pada saat melihat apa yang ada di depannya.

Kedua laki-laki berbadan tegap itu segera menjawab, "Kami memang pantas mati!”

Karena merasa cemas wajah Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng mengeluarkan keringat, lalu dia bertanya, "Apa yang telah terjadi?" Segera dia menarik sebuah kursi dan mempersilakan laki-laki yang tampak sakit itu untuk duduk di sana, dia berharap laki-laki itu bisa menjawab pertanyaannya, tapi laki-laki itu tampak lemah dan tidak bisa bicara.

Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng adalah orang yang telah banyak makan asam garam kebidupan, kalau bukan karena suatu hal yang berat dia tidak akan cemas sampai seperti itu, karena laki-laki yang tampak sakit itu tak lain adalah saudara sehidup sematinya. 

Di kantor Biao Zhen Yuan yang menduduki posisi kedua adalah seorang pesilat pedang yang bernama Guo Zhu, Guo Zhu sedang menangani antaran barang yang bernilai delapan ratus ribu tail perak milik pemerintah.

Sambil ketakutan kedua laki-laki itu berlutut lalu berkata, "Kami pantas mati karena kami tidak mampu melaksanakan perintah Ketua Biao, dan membuat wakil Biao terluka, dan barang-barang yang kami bawapun hilang semua.”

Karena merasa cemas Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng menghentakkan kakinya, "Tidak disangka, benar-benar tidak disangka, barang-barang antaran bisa hilang, tapi di mana hilangnya? Siapa yang telah merampas dan merampok barang-barang itu? Dimana wakil Biao bisa terluka?”

Salah satu dari laki-laki berbadan tegap itu menjawab, "Baru saja kami membawa Biao (barang antaran) selama satu hari perjalanan, kami tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu, pada saat melewati Zhang Jia Gou, disana ada sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, di sana tiba-tiba muncul seorang pesilat yang hanya mempunyai sebelah tangan, hanya mengatakan beberapa patah kata, dia dan wakil ketua sudah bertarung, tapi baru saja berlangsung beberapa jurus, wakil ketua sudah terkena serangan telapak tangannya, aku sudah lama ikut dengan Ketua Biao, tapi tidak pernah melihat ada orang yang berbuat begitu telengas, dan tidak hanya ilmu silatnya sangat tinggi, hanya mengandalkan sebelah tangannya dia bisa membunuh beberapa orang kita yang jumlahnya sekitar 20 orang, tidak ada seorangpun yang masih hidup, kecuali aku dan Wang Shou Zheng, semua mati di hutan itu." suaranya serak, matanya memancarkan ketakutan, sepertinya dia begitu trauma menyaksikan hal yang begitu kejam, sehingga membuatnya benar-benar ketakutan.

Para pendekar yang berada di Sana merasa terkejut mendengar penjelasan laki-laki itu, apalagi Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng, dia berkata lagi, "Lanjutkan ceritamu!”

Laki-laki itu tampak menarik nafas dan berkata lagi, "Orang itu tidak membunuh kami berdua karena dia menyuruh kami kembali ke sini supaya bisa memberitahukan hal ini kepada Ketua bahwa dalam 3 bulan ini 3 kantor Biao yang ada di Bei Jing harus tutup semua, kalau tidak menuruti perintahnya maka begitu rombongan Biao keluar dari propinsi He Bei, mereka akan segera merampok dan semua anggota Biao akan dibunuh, setelah bicara seperti itu diapun menghilang.”

Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng menggebrak meja dengan marah, "Dia sangat sombong!”

Laki-laki itu tidak berani bicara lagi, Si Tu Xiang Cheng berkata kepada laki-laki itu, "Teruskan ceritamu!”

Laki-laki itu melihat Guo Zhu yang tampak sekarat dan berkata lagi, "Lalu kami melihat barang-barang yang kami bawa ternyata masih utuh dan kamipun merasa lega, tapi rasa lega itu hanya sebentar karena secara tiba-tiba muncul puluhan ekor kuda dari dalam hutan itu, penunggang kuda itu adalah para lelaki berbaju hitam. Mereka masing-masing membawa sebuah kereta kuda yang berisi barang-barang Biao, pergi entah kemana. Karena jumlah kami lebih sedikit maka kami tidak berani bertarung dengan mereka, bukan karena kami takut mati, tapi kami bertekad kami harus bertahan supaya bisa memberitahukan apa yang telah kami lihat di sana dan menyampaikan kalau saudara-saudara kita banyak yang kehilangan nyawa, hanya Tuan Guo Kedua yang masih terasa ada nafasnya, akhirnya kami membawanya kembali ke kota Bei Jing, tapi orang-orang kantor memberitahu bahwa Ketua sedang menjamu tamu, akhirnya kami datang ke sini!”

Setelah mendengar cerita itu, Si Tu Xiang Cheng diam tidak bicara banyak, dalam jamuan itu kebetulan ada dua ketua Biao lainnya, mereka adalah Tie Zhi Jin Wan, Wei Shou Ru (Jari baja butiran emas) dan Pi Gao Zhang, Ma Zhan Yuan, serta dua bersaudara Bao Ding, yang merupakan pesilat tangguh, masih ada lagi Long Shi Jian, Lin Pei Qi (Naga tanpa pedang).

Long Shi Juan, Lin Pei Qi pun ikut mendengarkan cerita itu, tiba- tiba dia bertanya, "Di bagian mana Tuan Guo Kedua terluka?”

Laki-laki itu menjawab, "Orang itu menyerang dengan cepat, kami tidak tahu persis beliau terluka di mana, mungkin di daerah sekitar dada dan perut.” Long Shi Juan, Lin Pei Qi menanggapi, "Oh!" dia bertanya lagi, "Apakah aku boleh melihat lukanya?”

Si Tu Xiang Cheng menarik nafas dan berkata, "Luka adik kedua sangat parah, sekarang bagaimana aku harus berbuat?”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi mendekati Guo. Zhu, membuka baju bagian depannya dan tiba-tiba dia berteriak, "Ternyata ini disebabkan oleh dia!”

Semua pendekar yang ada di sana bersama-sama bertanya, "Siapa dia?" nada bicara mereka penuh dengan rasa terkejut.

Lin Pei Qi berkata lagi, "Tidak disangka Can Jin Du Zhang (Telapak Emas Beracun) yang sudah menghilang selama 17 tahun tiba-tiba bisa muncul lagi sekarang, sepertinya generasi kita akan mendapatkan musibah lagi.”

Kata-kata Can Jin Du Zhang baru saja disebut, Ma Zhan Yuan dan dua bersaudara Bao Ding, merasa sedikit terkejut, tapi angkatan yang lebih tua seperti Wei Shou Ru dan Si Tu Xiang Cheng benar- benar sangat kaget.

Tampak di bawah dada Guo Zhu ada bekas luka berwarna emas menembus kulitnya dan bentuknya sangat aneh. Tiga jari dan jari tengah seperti terputus. Melihat bekas telapak ini, wajahnya pucat dan dia jatuh terduduk lemas di sebuah kursi.

Lin Pei Qi menghembuskan nafas dan berkata, "Can Jin Du Zhang sudah beredar di dunia persilatan selama 100 tahun setiap kali muncul dunia persilatan akan mengalami musibah besar-besaran, anehnya selama ratusan tahun ini orang-orang kalangan persilatan selalu menggosipkan bahwa orang ini pernah mati 4 kali, tapi setelah

10 tahun berlalu orang ini pasti akan muncul kembali, tidak perlu jauh-jauh 17 tahun yang lalu, aku dan Kakak Si Tu melihatnya sendiri, orang itu terluka di 13 tempat dan juga terkena racun dari Si Zhuan Tang Men 5 bersaudara, kelihatannya dia sulit untuk bertahan hidup, tapi sekarang dia tiba-tiba muncul lagi.”

Si Tu Xiang Cheng pun tampak khawatir, lalu dia berkata, "17 tahun yang lalu, ayahku mengeluarkan undangan dan mengundang semua pendekar yang ada di dunia persilatan untuk melawan orang itu, tapi orang-orang Zhong Yuan yang berjumlah 50 orang, 32 di antaranya terluka, kelihatannya dia tidak mati, apalagi Yu Da Fu dengan pedang berhasil menusuk dada kirinya dan diapun terkena senjata rahasia keluarga Tang, di dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa menawarkan racunnya, semua orang merasa gembira karena di dunia akan berkurang seorang siluman, tapi Apakah

orang ini benar orang tidak bisa mati?”

Dia melihat Guo Zhu yang nafasnya terdengar semakin berat, dia merasa sedih melihatnya, lalu dia berkata, "Kelihatannya adik kedua tidak akan bisa bertahan lagi, tidak ada seorang pun yang bisa bertahan dari Can Jin Du Zhang! Heehh”

Tiba-tiba dua Pendekar Bao Ding, sang Lao Da (kakak tertua) berkata, "Apakah benar di dunia yang begini luas tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya?”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi menjawab, "Bukan aku menganggap remeh tenaga dan kekuatan kita, tapi di dunia ini benar-benar belum ada orang yang bisa melawannya, hanya saja orang itu dan keturunan Xiao Xiang Jian Ke entah ada hubungan apa, bila ada keturunan Xiao Xiang Jian Ke yang muncul, maka orang itu tidak akan berani muncul di dunia persilatan.

Sun Can (salah satu dari dua pendekar Bao Ding) berkata, "Kalau orang itu adalah orang nomor satu di dunia persilatan, mengapa ia bisa cacat?"

Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkata, "Kakak Sun belum lama muncul di dunia persialatan, apakah Kakak tidak tahu apa yang sedang beredar di dunia persilatan? 70 tahun yang lalu, Can Jin Du Zhang bertarung dengan pesilat pedang nomor satu yaitu Xiao Xiang Jian Ke, Xiao Ming, Xiao Ming dengan jurus 49 Shou Feng Wu Liu Jian berhasil menang setengah jurus darinya (Tangan angin tarian pedang Yang Liu), tapi Xiao Ming tidak berhasil melukainya, orang itu marah, dia memotong ibu jari dan jari tengah tangan kanannya sendiri, lalu dia bersumpah tidak akan pernah mau menggunakan pedang lagi, tapi mengenai tangan kirinya bisa cacat, itu, karena tangannya dipotong oleh Dong Hai San Xian, Wu Zhen Zi. Apa alasannya? Tidak ada seorangpun yang tahu.

Dong Han San Xian sudah 50 tahun tidak muncul, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu, kecuali Dong Han San Xian, siapa yang mampu mengalahkan orang itu?”

Wei Shou Ru yang sejak tadi terdiam sekarang berkomentar, "Kalau turunan Xiao Xiang Jian Ke bisa mengubah keadaan ini, itu lebih baik, tapi masalahnya selama 50 tahun ini dia tidak mau mengurusi permasalahan dunia persilatan, mungkin sekarang dia bisa menghalangi bencana ini, tapi turunan Xiao Xiang Jian Ke selalu hidup menyendiri, tidak mau peduli dengan budi dan dendam, kecuali bila mempunyai plakat yang terbuat dari bambu itu, kita baru bisa mengundang mereka keluar.”

Dia bertanya kepada Long Shi Jian, Lin Pei Qi, "Kakak Lin sering berkelana di dunia persilatan, apakah ada orang yang memiliki plakat ini? Dan kepada siapa kita bisa meminjamnya?”

Lin Pei Qi tampak berpikir sebentar, lalu menjawab, "Dulu plakat Xiao Xiang Jian Ke berjumlah 7 buah dan dia sendiri yang mengukirnya, itu sudah ratusan tahun berlalu, sekarang walaupun masih ada tapi tidak banyak lagi, apalagi sekarang itu menjadi barang langka, orang yang memilikinya pasti menyembunyikannya, bila digunakan bukan untuk kepentingannya sendiri, dia pasti tidak akan mau memberikannya kepada orang lain bukan?”

Suasana kembali sepi, tiba-tiba Si Tu Xiang Cheng berdiri lalu berkata, "Sekarang aku benar-benar merasa tidak tenang, adik kedua sepertinya tidak akan bisa bertahan lagi dan dia akan mati, 800 ribu tail perak milik pemerintah tidak akan bisa diambil kembali, tidak disangka selama puluhan tahun aku bersusah payah mendirikan kantor Biao Zhen Yuan sekarang akan hancur begitu saja, mungkin aku sendiripun akan hancur, aku tidak mempunyai cara lain lagi, sekarang aku harus bagaimana? Kita adalah teman, aku yakin kalian pun pasti akan tahu kesulitanku seberat apa. Sekarang aku akan pulang dulu untuk membereskan masalah ini, aku akan berusaha mengganti hilangnya 800 ribu tail perak itu.” Dia tertawa dengan sedih, "Walaupun harus menjual istri atau menggadaikan anak-anakku, itu tidak akan cukup, aku harus mengganti 800 ribu tail perak itu, setelah itu aku akan bertarung dengan Can Jin Du Zhang.”

Kata-katanya membuat orang-orang yang ada di sana merasa sedih, apalagi Wei Shou Ru dan Ma Zhan Yuan, melihat keadaan kantor Biao Zhen Yuan mau tidak mau merekapun memikirkan kantor Biao mereka sendiri. Keresahan mereka jelas tampak. Sewaktu semua orang di sana terdiam dan memikirkan masalah itu, tiba-tiba dari luar ada yang batuk, dengan cepat Si Tu Xiang Cheng bertanya, "Siapa disana?”

Di luar ada yang menjawab, "aku", seorang pelayan masuk dan.....

membawakan sehelai kertas, dia memberi hormat dan berkata, "Di sebelah ruangan ini ada yang menyuruhku memberikan surat ini kepada Tuan Besar Si Tu."

Si Tu Xiang Cheng tampak mengerutkan alisnya dan melihat kertas itu, setelah membacanya hingga habis, wajah Si Tu Xiang Cheng tampak berubah dan dia berkata kepada pelayan tadi, "Katakan kepada tuan muda itu untuk menunggu.”

Pelayan itu keluar, Si Tu Xiang Cheng segera memberitahukan kepada orang-orang di sana, "Tuhan benar-benar telah memberikan jalan kepada kita, benda yang kita inginkan tidak sengaja bisa kudapatkan.”

Dia memberikan surat itu kepada Long Shi Jian, Lin Pei Qi, dan berkata, "Ada pepatah yang mengatakan: sepatu hingga sobek dan hancur sulit didapatkan tapi sekarang malah mendapatkannya tanpa menghabiskan tenaga.”

Lin Pei Qi membaca surat itu dengan teliti dia berkata, "Aku tidak sengaja mendengar perkataan Tuan, mengetahui bahwa Tuan sangat ingin mendapatkan plakat bambu itu, dan aku mendapatkan plakat itu tanpa sengaja, karena itu aku ingin memberikannya kepada Tuan." Dia melihat hadirin yang ada di sana dan berkata lagi, "Suatu kebetulan yang jarang terjadi." Hatinya merasa senang terdengar dari perkataannya. Pelayan tadi masuk lagi dan berkata, "Tuan muda yang berada di ruang sebelah sekarang berada di pintu depan, apakah Tuan Besar akan menyuruhnya masuk?”

Segera Si Tu Xiang Cheng berkata, "Cepat persilakan dia masuk!”

Dia bersiap menyambut orang itu, dari luar masuk seorang pemuda berbaju mewah, dia tertawa kemudian memberi hormat, "Maafkan karena telah mendengar perkataan Anda dari ruang sebelah.”

Para tamu yang ada di ruangan itu segera berdiri dan Si Tu Xiang Cheng segera membalas memberi hormat, "Kakak jangan merasa sungkan, bertemu dengan seseorang yang berhati mulia seperti Kakak, kami merasa sangat berterima kasih, kalau Kakak berkata seperti itu malah membuat kami menjadi malu."

Tampak pemuda itu mempunyai 2 alis kasar, hidungnya besar, dia benar-benar tampan, wajahnya memancarkan sedikit cahaya emas, kedua matanya mengandung aura membunuh, mulutnya tipis. Dia tampak bersifat dingin, tapi setelah mengobrol, orang-orang merasa dia adalah pemuda yang ramah.

Pemuda itu berkata lagi, "Tuan mungkin adalah Jin Gang Shou, Pendekar Si Tu Xiang Cheng yang terkenal di dunia persilatan, sudah lama aku mendengar nama besar Tuan, hanya saja belum berjodoh untuk berkenalan, hari ini kita bisa bertemu, ternyata benar kalau Tuan adalah naga berwujud manusia. Aku hanya seorang pelajar yang tidak berguna, tapi aku mengagumi orang persilatan yang tegas dan bisa membedakan antara budi dan dendam, hari ini aku bisa bertemu dengan kalian, benar-benar membuatku merasa senang.”

Dia terus menerus mengucapkan terima kasih dan dengan sungkan Si Tu Xiang Cheng menyuruh pemuda itu duduk dan memperkenalkan orang-orang yang ada di sana satu per satu kepada pemuda itu, pemuda itu bermarga Gu dan bemama Zhuo Piao, dia seorang pelajar.

Gu Zhuo Piao sangat pandai bicara, dari utara ke selatan, dari barat ke timur, sepertinya dia sangat paham dengan semua hal dan membuat orang tertarik mendengar perkataannya serta tidak cepat bosan.

Tapi Si Tu Xiang Cheng saat ini sedang sangat terburu-buru, dia berharap pemuda itu segera menceritakan tentang plakat bambu itu, dari sudut matanya Gu Zhuo Piao melihat kegelisahan Si Tu Xiang Cheng dan dia pun mengerti, dia tertawa, "Beberapa hari lalu aku pergi ke Jiang Nan, di sana aku secara tidak sengaja membantu satu keluarga yang hampir jatuh miskin, lalu dia memberikan kepadaku sebuah plakat kayu, menurut orang itu karena aku adalah orang yang senang bepergian, mungkin dengan adanya benda itu bisa berguna untukku, lalu aku bertanya benda itu benda apa. Orang itu memberitahu bahwa plakat itu adalah plakat yang diwariskan secara turun temurun dari jaman nenek moyangnya, itu adalah plakat bambu yang berisi perintah, ternyata nenek moyangnya adalah Xiao Xiang Jian Ke, sebagai ucapan terima kasih maka dia pun memberikannya kepadaku.”

Gu Zhuo Piao tertawa dan berkata lagi, "Aku hanya seorang pelajar tidak berhubungan dengan dunia persilatan, dan tidak mempunyai dendam dengan siapapun, kemana-mana aku selalu sendiri, akupun tidak membawa benda berharga di tubuhku, perampok tidak akan mau dekat-dekat denganku, apalagi di tubuhku hanya ada plakat bambu ini, selain itu akupun tidak bisa menggunakannya, tidak disangka berkat plakat bambu ini aku bisa berkenalan dengan banyak pendekar yang sudah lama memang ingin kukenal, hal ini saja sudah membuatku merasa senang.”

Selesai bicara dia tertawa berderai, suaranya menyebar ke seluruh ruangan, samar-samar ada nada dingin yang tidak tersirat, Guo Zhu mendengarkan pemuda itu tertawa, tapi wajahnya tiba-tiba tampak kaget dan takut, dia berusaha bangun, tapi karena tubuhnya terkena racun Can Jin Du Zhang, dia hanya bisa terduduk lemas. Sampai saat ini dia masih bisa bertahan dikarenakan dia memiliki tenaga dalam yang sudah dilatihnya selama puluhan tahun. Sekarang sedikit saja bergerak telah membuat tenaganya terkuras habis, membuat organ dalam tubuhnya terasa sakit, hati, usus sepertinya sudah terlepas dari tubuhnya. Dia berteriak kesakitan dan ambruk ke lantai. Hal ini membuat orang-orang yang ada disana terkejut, yang selalu bersama-sama dengan Guo Zhu adalah Si Tu Xiang Cheng, apalagi selama puluhan tahun mereka selalu bersama, dia merasa sangat sedih dan terus meraba mayat Guo Zhu, lalu dia menangis tersedu-sedu.

Para pendekar yang ada di sanapun merasa sedih, Gu Zhuo Piao melihat keadaan di sana, dia mengeluarkan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, seperti mengandung perasaan yang dalam, rumitnya masalah ini membuat dia tidak bisa menjelaskan apa yang berkecamuk di dalam hatinya.

Tapi ekspresi seperti itu dengan cepat lenyap dari wajahnya, orang-orang di sana tidak sempat memperhatikan ekspresinya, walaupun ada yang melihat tapi merekapun tidak akan tahu makna apa yang tersimpan di balik semuanya.

Long Shi Jian, Lin Pei Qi menghapus air matanya dan dengan sedih dia berkata, "Orang yang telah meninggal tidak akan bisa hidup kembali, Kakak Si Tu, kau jangan terlalu larut di dalam kesedihan, di depan masih banyak kesulitan yang menunggu, Kakak Si Tu yang akan memimpin kami untuk memecahkan masalah ini, kalau Kakak tidak tabah dan kuat, kami tidak mempunyai harapan lagi.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi adalah sahabat Si Tu Xiang Cheng, maka dia berani berkata seperti itu, walaupun Si Tu Xiang Cheng merasa sangat sedih, tapi karena pengalamannya berkelana selama ini di dunia persilatan segera membuatnya tampak tenang dan raut wajahnya sekarang tampak tegas, semua ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Setelah mendengar nasihat dari sahabatnya sendiri, dengan cepat dia menghilangkan kesedihan itu, dia berdiri dan memberi hormat kepada Gu Zhuo Piao, "Kakak member! uluran tangan untuk membantu kami dengan meimnjamkan plakat bambu yang telah langka kepada kami, bukan hanya aku saja yang berhutang budi kepada Kakak tapi kami semua orang persilatan berhutang budi kepada Kakak, karena itu aku mewakili mereka mengucapkan terima kasih kepada Kakak.” Dengan cepat Gu Zhuo Piao menolak, dia merasa sungkan dan diapun mengeluarkan plakat bambu itu, karena benda itu sudah berusia ratusan tahun warnanya pun sudah berubah menjadi hitam, lalu dia berkata, "Kata-kata Kakak tadi membuatku malu, Kakak ambillah plakat perintah ini, tapi kalau ada hal lain yang bisa kubantu, aku pasti akan berusaha membantu, aku berharap Kakak jangan terlalu larut dalam kesedihan.”

Dengan sikap hormat Si Tu Xiang Cheng menerima plakat itu, tampak dipermukaan plakat ada gambar seorang pelajar berbaju panjang dan di belakang bajunya terselip sebuah pedang. Ternyata plakat itu benar-benar plakat yang dulu sangat terkenal yang bernama plakat Xiao Xiang Jian Ke.

Dengan hormat dia berkata, "Aku tidak bisa mengucapkan kata- kata lain selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya."

Dia membalikkan badan dan bicara kepada Long Shi Jian, Lin Pei Qi, "Sekarang keadaan sudah menjadi seperti ini, kita harus bergerak dengan cepat, Kakak Lin, kau segera pergi ke Jiang Su Hu Qiu untuk bertemu dengan turunan Xiao Xiang Jian Ke, Fei Hua Shen (Dewa bunga terbang), mohon dia memandang masalah ini sebagai masalah dunia persilatan, dan mohon kepadanya supaya keluar untuk membantu kita, supaya musibah ini bisa teratasi.”

Si Tu Xiang Cheng berpesan lagi, "Bila bertemu dengan teman- teman dunia persilatan lainnya, beritahukan kepada mereka mengenai hal ini dan undanglah mereka untuk datang ke ibu kota lalu kita sama-sama mencari jalan keluarnya. Kalau Can Jin Du Zhang sudah muncul, musibah pasti akan datang menerpa kita. Bila hanya mengandalkan murid-murid Xiao Xiang belum tentu kita bisa membasmi orang itu, karena hal ini menyangkut erat dengan dunia persilatan, maka masalah ini bukan menjadi masalah kantor Biao Zhen Yuan lagi. Kakak Lin, kau harus berhati-hati.”

Long Shi Jian, Lin Pei Qi berkata, "Hal ini sangat mendesak aku akan berangkat sekarang." Lalu diapun berpamitan kepada semua pendekar yang ada di sana kemudian dia berkata kepada Gu Zhuo Piao, "Kalau Kakak Gu tidak ada keperluan lain, tinggallah untuk sementara dulu di ibukota, setelah aku pulang, kita bisa mengobrol lebih akrab lagi." Setelah bicara seperti itu diapun segera berlalu dari sana.

Si Tu Xiang Cheng memberikan perintah kepada dua bersaudara Bao Ding, "Apakah kalian bisa mengundang paman kalian datang ke sini? Dulu dalam rapat Hua Shan, paman kalian dan ayahku adalah pemimpinnya, kalau mereka bisa datang ke sini keadaan mungkin akan sedikit lebih baik, tapi kudengar sudah lama paman kalian tidak mengurusi hal-hal dunia persilatan apakah dia ”

Dengan cepat Sun Can berkata, "Walaupun pamanku sudah lama pensiun, tapi kalau hal seperti ini sudah terjadi, beliau pasti tidak akan berpangku tangan.”

"Kalau begitu ini lebih bagus. Kalau ada Tian Ling Xing datang memimpin kita, aku akan merasa lebih tenang lagi.”

Begitu Gu Zhuo Piao mendengar nama Tian Ling Xing, matanya tampak bercahaya, dia melihat ke arah Bao Ding Shuang Jie, Sun Can merasa sorot mata pemuda itu tajam seperti pisau, diam-diam Sun Can berpikir, "Orang itu dari luar tampak lemah, mengapa matanya bisa bersorot tajam seperti itu? Sepertinya dia bukan orang biasa- biasa saja, dia pasti menyimpan banyak rahasia. Tapi dia berniat membantu kami, apa yang dia rahasiakan dari kami?"

Si Tu Xang Ceng meletakkan jenasah Guo Zhu dengan baik, kemudian membereskan bajunya, air matanya menetes lagi.

Ekspresi wajah Gu Zhuo Piao tampak aneh lagi, dia berpikir, "Orang lain yang membunuh temanmu dan kau tampak begitu sedih, tapi kalau kau membunuh orang, apa yang sedang kau pikirkan saat itu?”

Setelah mendengar perintah Si Tu Xiang Cheng semua yang ada di sana segera bubar, Si Tu Xiang Cheng merasa hatinya sangat kacau, tapi dia masih tetap, merasa berterima kasih kepada Gu Zhuo Piao, dan mengundangnya datang ke kantor Biao Zhen Yuan. Malam semakin larut, Jin Gang Shou, Si Tu Xiang Cheng tetap menemani jenasah Guo Zhu, dia ingat semua kenangannya bersama Guo Zhu, tidak terasa diapun menghembuskan nafas.

Seperti yang dipikirkan oleh Gu Zhuo Piao tadi, sewaktu membunuh orang apa yang dia pikirkan? Dendam dan budi saling berkaitan, semua ada di ujung golok, siapa yang salah dan siapa yang benar, apakah ada seseorang yang bisa menentukannya?

Sun Can berbaring di tempat tidurnya, apa yang dilihatnya malam itu, masih terus dipikirkannya sampai sekarang.

Malam terasa sepi seperti air, satu jam lagi matahari akan terbit, dia mendengar Sun Qi mendengkur dalam tidurnya, tapi dia masih tetap merasa gelisah dan tidak bisa tidur.

Pamannya yang bernama Tian Ling Xing, Sun Qing Yu dulu adalah seorang yang lincah, pintar, dan pembawaannya tenang. Dia terkenal di dunia persilatan. Sejak kecil dia selalu mengikuti pamannya, dia seorang yang lincah dan pikirannya jauh, dia seperti pamannya. Tapi ada satu kekurangannya, dia bersifat licik, tidak sejujur adiknya Sun Qi.

Sekarang dia bolak balik dengan gelisah di tempat tidurnya sambil berpikir bahwa dunia persilatan akan dilanda musibah, ini adalah kesempatan untuk membuatnya terkenal, dia menunggu datangnya musibah itu.

Jendela tertutup dengan rapat, salju turun dengan lebatnya dan angin berhembus dengan kencang, semua terdengar dari luar jendela, tapi salju dan angin tidak bisa masuk ke dalam kamarnya. Dia berpikir, "Walaupun dunia persilatan akan mengalami musibah besar, tapi kalau kita hanya menjaga diri kita sendiri, tidak banyak tanya dan tidak ikut campur, tentunya musibah ini tidak akan ada hubungannya denganku? Seperti saat ini walaupun turun salju dan angin berhembus dengan kencang tapi aku tetap bisa tidur dengan enak di balik selimut?" Memikirkan hal itu diapun tertawa, tidak lama kemudian jendelapun terbuka tanpa suara, ternyata angin dan salju berhembus masuk ke dalam kamar. Dia menyalahkan dirinya karena tidak menu tup jendela dengan rapat. Tampak bayangan seseorang berbaju kuning gerakannya lebih cepat daripada hembusan salju yang masuk, dia telah berdiri di depannya.

Kecepatan orang itu benar-benar membuatnya tidak bisa membayangkan, Sun Can merasa terkejut dan bertanya, "Siapa kau?”

Orang itu tidak menjawab, tapi Sun Can sudah tahu siapa yang datang, walaupun sebenarnya dia tidak percaya dengan penglihatannya, bahwa yang datang adalah Can Jin Du Zhang, karena orang berbaju kuning itu tidak memiliki lengan, wajahnya tampak datar. Kalau kedua matanya tidak ada cahaya kehidupan maka kau akan merasa terkejut karena orang itu tidak seperti orang hidup, sekarang Sun Gan bisa membuktikan perasaannya.

Orang itu menatap Sun Can yang tampak ketakutan dan terkejut, dengan tertawa dingin dia terus menatap Sun Can, wajahnya datar seperti orang mati. Tapi karena tertawa wajahnya tampak berubah, hal ini malah membuat Sun Can merasa lebih takut dan ketakutannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Sudah lama Sun Can berkelana di dunia persilatan, dia telah melewati banyak hal yang mengancam nyawanya, tapi perasaan takut seperti sekarang ini baru pertama kali dia rasakan. Tapi dia tidak lupa untuk memasang kuda-kuda mempertahankan keselamatan dirinya.

Segera dia meloncat dari tempat tidur, kaki kiri menendang perut orang itu, sedangkan kaki kanannya menendang ke tempat lain, ini adalah jurus Lian Huan Shuang Fei Jiao (Sepasang kaki terbang tidak berhenti). Sun Can mengira walaupun jurus ini tidak akan melumpuhkan orang itu tapi setidaknya bisa membuat orang itu terluka, tapi mungkin membuatnya mundur beberapa langkah, sehingga Sun Can bisa mengambil kesempatan untuk melarikan diri.

Tapi orang itu malah tertawa dingin, dengan mudah dia menghindari jurus itu, tangan orang itu dilayangkan dengan miring, walaupun tangan itu dilancarkan dengan tidak cepat tapi Sun Can tetap tidak bisa menghindar, terpaksa dia menarik kakinya kembali, tapi telapak tangan itu sudah mendekat, dan dengan ringan menekan di antara perut dan dada. Dia merasa salah satu anggota badannya terlepas dan dia tidak merasakan apa-apa lagi.

Pada saat melihat tubuh Sun Can yang sudah tidak bernyawa lagi, dia tampak seperti menyesal, tubuhnya bergerak dan dia langsung menghilang. Di luar jendela, tampak salju yang masih turun dan angin berhembus dengan kencang.

Sun Can adalah orang kedua terkenal yang mati di tangan Can Jin Du Zhang.

Hal ini menambah kebencian dan ketakutan para pendekar kepada Can Jin Du Zhang, dan juga mempercepat kedatangan Tian Ling Xing, Sun Qing Yu.

Hanya dalam beberapa hari, banyak pendekar yang berkumpul di kota Bei Jing, orang terkenal yang sudah berkumpul kurang lebih ada 20 orang. Dan diantara mereka yang paling terkenal adalah Tian Ling Xing (Pintu bintang langit), Sun Qing Yu, Ba Bu Gan Chan (Delapan langkah mengusir tenggoret), Zheng Gai, dan Jin Dao Wu Di (Golok emas tidak ada lawannya), Huang Gong Zhao, serta orang-orang berilmu silat tinggi lainnya. Sedangkan pesilat yang lebih junior ada Ru Yun Shen Long Ni Pang Biao.

Jin Gang Zhang, Si Tu Xiang Cheng berusaha melayani para tamunya dengan baik. Tapi sampai sekarang, Long Shi Jian, Lin Pei Qi masih belum memberikan kabar, hal ini membuat Si Tu Xiang Cheng merasa khawatir. Hingga suatu hari datang orang-orang persilatan dari daerah selatan dan memberitahu kepadanya bahwa dunia persilatan Jiang Nan, Jiang Su Hu Qiu dari Wisma Xiao Xiang, ada orang terkuat yang berasal dari generasi keempat yang bernama Xiao Ling. Ternyata dia sudah berangkat ke utara kabar ini membuat Si Tu Xiang Cheng menjadi tenang.

Selama puluhan tahun Xiao Xiang Men belum pernah mau ikut campur dengan urusan dendam atau budi yang terjadi di dunia persilatan, tapi kali ini merupakan pengecualian. Si Tu Xiang Cheng sedang menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan plakat bambu itu. Setelah mendengar cerita itu, Gu Zhuo Piao menjadi orang yang sangat ingin ditemui oleh para pendekar yang sedang berkumpul di sana. Tapi setelah bertemu terakhir kalinya di rumah makan itu, sampai sekarang batang hidung Gu Zhuo Piao tidak tampak, ternyata dia menghilang begitu saja, tidak ada kabar berita sama sekali darinya. Si Tu Xiang Cheng merasa aneh, siapakah Gu Zhuo Piao sebenarnya? Kemana perginya dia? Apakah dia akan muncul kembali? Pertanyaan-pertanyaan ini kecuali Gu Zhuo Piao sendiri, tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya.

Suatu sore, angin dan salju baru berhenti, Jin Dao Wu Di, Huang Gong Zhao mengajak Tie Zhi Jin, Wan Wei Shou Ru dan Ba Bu Gan Chan, Zheng Gai pergi ke kota bagian utara untuk makan bebek panggang, dengan sempoyongan mereka berjalan karena mabuk, mereka tidak menunggang kuda juga tidak naik kereta, mereka berjalan kaki di udara dingin seperti itu.

Walaupun mereka sudah berumur, tapi setelah minum arak, dan arak masuk ke dalam perut mereka, mereka teringat kembali pada masa muda dahulu pada saat mereka mereka menguasai dunia persilatan, dan juga kekuatan yang mereka miliki untuk berlari menyebrangi sungai atau berlari di darat. Merekapun mengobrolkan hal-hal yang terjadi tentang budi dan dendam. Dan tidak lupa mengenai perempuan.

Walaupun salju sudah berhenti dan angin berhenti berhembus tapi jalanan begitu gelap dan jarang dilewati orang, di kejauhan tampak seorang penunggang kuda yang berjalan menembus salju yang bertumpuk, berjalan ke arah mereka. Kuda itu semakin mendekat, ternyata penunggang kuda itu seorang gadis yang mengenakan jubah berwarna merah. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari alamat seseorang.

Walaupun tidak bisa melihat dengan jelas karena hari gelap, tapi sepertinya wajah gadis itu cantik, sewaktu Jin Dao Wu Di masih muda dulu dia adalah seorang playboy. Sekarang melihat ada gadis cantik di hadapannya, segera dia tertawa dan berkata, "Kalau saja aku lebih muda 10 tahun, aku pasti akan merayunya, aku yakin aku bisa mendapatkannya.”

Gadis itu melihat ada seseorang yang bicara, alisnya terangkat, dan dia melihat ada 3 orang laki-laki. yang usianya sekitar 50 tahun, dia pikir yang mereka bicarakan bukan tentang dirinya, maka diapun bersikap masa bodoh.

Tapi Ba Bu Gan Chan Zheng Gai terus melihat gadis itu, diapun tertawa dan berkata, "Kakak-kakak yang sudah tua, walaupun umur kita sudah tua tapi kita masih tampan dan ganteng serta mempunyai tenaga yang tidak kalah dengan anak muda, lihat gadis itu sedang melihat ke arah kita.”

Jin Dao Wu Di ikut tertawa, biasanya Tie Zhi Jin Wan Wei Shou Ru adalah orang yang sangat tenang dan bisa mengontrol diri, tapi karena tadi terlalu banyak minum, diapun bicara dengan sembarangan, "Jahe tua tetap jahe paling pedas, kalau seorang gadis tahu tentang barang bagus, tentunya dia harus mencari kita.”

Gadis itu mendengar, dia berusaha menahan diri, akhirnya dia sadar yang mereka bicarakan adalah tentang dirinya, segera dia berhenti dan bertanya, "Hei! Siapa yang kalian maksud itu?”

Jin Dao Wu Di masih tidak tahu diri dan berkata, "Nona, kami sedang membicarakan tentang dirimu!”

Gadis itu biasanya hidup dengan tenang diapun berasal dari keluarga kaya, belum pernah dia mendengar kata-kata penghinaan seperti itu, karena itu dia segera melayangkan pecutnya ke kepala Huang Gong Zhao.

Huang Gong Zhao menghindar dan berkata, "Nona cantik tidak boleh sembarangan memecut orang.”

Ternyata pecut itu berbelok. Ujung pecut mengikuti arahnya menghindar. Pecut ini benar-benar memukul kepala Huang Gong Zhao.

Sekarang Huang Gong Zhao mulai marah dan berteriak, "Gadis galak, kau benar-benar memukulku.” Gadis itu memecut lagi dan berkata, "Kau memang harus dipukul.”

Jin Dao Wu Di bukan pesilat biasa. Dia tidak akan membiarkan pecut itu terus memukul ke arah kepalanya lagi. Dia mendekat dan menarik pecutnya lalu berkata, "Hari ini tuan besar harus mengajar gadis galak ini.”

Pecut itu kembali dilayangkan. Memecut Huang Gong Zhao. Di dalam kegelapan tampak dia dengan tepat melayangkan pecut dan mengenai nadi.

Sekarang Huang Gong Zhao baru sadar kalau dia telah bertemu dengan seorang pesilat tangguh dunia persilatan.

Ba Bu Gan Chan Zheng Gai merasa kaget dan berkata, "Gadis ini bisa menotok nadi dari jarak jauh.”

Huang Gong Zhao memiringkan badannya dan berusaha menghindari pecut ini. Dia berteriak, "Siapa kau, apakah kau tidak mengenalku, Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao?”

Dia ingin dengan nama besarnya membuat gadis itu terkejut. Ternyata gadis ini sama sekali tidak mau tahu, dia membalikkan tangannya dan memecut lagi. Gadis itu membentak, "Apakah kau pantas menanyakan identitasku?”

Tidak disangka gadis itu malah menjawab seperti itu, hal ini membuat Huang Gong Zhao lebih marah lagi. Setelah berhasil menghihdari pecut itu, dia segera menyerang lagi dengan telapak tangannya. Tangannya memukul pantat kuda.

Ilmu silat Jin Dao Wu Di sangat tinggi, daya pukul telapak tangannya berbobot 200-300 kilogram. Kuda tidak akan bisa menahan kekuatan itu, kuda meringkik dan kaki depannya terangkat tinggi.

Gadis itu berteriak, "Kau cari mati!” Sambil bicara, dia turun dari kudanya. Pecut yang dipegangnya tampak dilambaikan sebagai pengganti pedang. Hanya dalam waktu singkat bayangan pecut memenuhi tempat itu.

Pecut telah menotok 3 nadi Huang Gong Zhao. Huang Gong Zhao tidak menyangka kalau gadis itu bisa mengeluarkan jurus silat begitu hebat. Dia berteriak dan melengkungkankan badannya. Walaupun dia bisa menghindari jurus itu tapi cara menghindarnya sangat memalukan.

Gadis ini seperti bayangan yang terus menempel. Bayangan pecut datang lagi, Huang Gong Zhao hampir tidak bisa bertahan.

Ba Bu Gan Chan, Zheng Gai dan Tie Zhi Jin Wan Wei Shou Ru melihat Huang Gong Zhao selama ini dianggap pahlawan terkenal tapi kalah di tangan seorang gadis. Karena sedang mabuk dan juga sama-sama menyimpan dendam, mereka bertiga mengeroyok gadis itu.

Gadis itu tertawa dingin dan berkata, "Tidak disangka, orang- orang di dunia persilatan Huang He dan Zhang Jiang adalah orang tidak tahu malu." Pecut itu sebentar dijadikan pecut sebentar dijadikan pedang. Walaupun mereka menyerang secara bertiga tetapi tetap tidak bisa mengalahkan gadis itu. Tiba-tiba dari ujung jalan tampak ada orang yang menunggang kuda sambil menyanyi. Suaranya terdengar begitu merdu.

Begitu suara berhenti, kuda orang itu pun sudah berada di depan mereka.

Walaupun gadis itu berilmu silat tinggi tapi tenaganya sedikit kurang. Apalagi dia bertarung dengan 3 pesilat tangguh. Tenaganya mulai terkuras tapi pecut yang dipegangnya bergerak lebih ganas lagi.

Orang yang di atas kuda itu terkejut. Dia menghentikan kudanya. Orang itu tidak lain adalah Gu Zhuo Piao yang sudah lama tidak tampak.

Gu Zhuo Piao duduk di atas sebuah batu besar. Dengan teliti dia memperhatikan semua jurus gadis itu. Tiba-tiba dia berteriak, "Berhenti! Jangan bertarung lagi. Kalian semua berada di satu kubu.”

Tapi mereka berempat masih bertarung dengan serunya. Gu Zhuo Piao segera berkata "Aku adalah Gu Zhuo Piao, Pendekar Wei harap berhenti. Nona ini adalah temanku.” Tie Zhi Jin Wan mendengar suara Gu Zhuo Piao. Dia segera berhenti dan keluar dari arena pertarungan. Karena sudah terkuras banyak tenaga, akhirnya dia mulai sadar dari mabuknya. Begitu teringat kalau 3 pesilat tangguh terkenal mengeroyok seorang gadis yang tidak dikenal, kelak jika hal ini tersebar di dunia persilatan malah akan menjadi bahan tawaan orang-orang. Apalagi gadis itu berilmu tinggi.

Jurus-jurus anehnya, semua akan membuat masa depannya cerah. Dia merasa menyesal.

Kedatangan Gu Zhuo Piao bisa dijadikan alasan. Dia memberi hormat kepada Gu Zhuo Piao dan berkata, "Sudah lama aku tidak bertemu dengan Kakak Gu. Gadis ini adalah teman Kakak Gu, seharusnya kami menghormatinya." Dia membalikkan badan dan berkata, "Kakak Huang, Kakak Zheng, berhenti! Aku akan memperkenalkan seorang teman baik kepada kalian.”

Segera Huang Gong Zhao dan Zheng Gai berhenti. Gadis itu merasa tenaganya tidak akan cukup, diapun berhenti untuk beristirahat. Tapi matanya tetap melotot dengan besar seperti tidak ingin mengnentikan pertarungan seru ini.

Gadis itu merasa aneh. Dia sama sekali tidak mengenal pemuda yang sedang berada di atas kuda. Tapi mengapa sejak tadi dia terus mengatakan kalau dia adalah temannya. Walaupun ilmu silatnya tinggi tapi dia baru saja berkelana di dunia persilatan, beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang berpengalaman yang selalu mengikutinya. Karena ada keperluan lain maka diapun kembali ke Jiang Nan, karena itu gadis itu baru pertama kalinya merasakan kalau dunia persilatan benar-benar besar dan aneh. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti juga tidak bisa ditangani.

Pertama kalinya dia bertarung, dia mengira dengan mengandalkan ilmu silatnya, dia pasti bisa menang, tidak disangka pertarungan ini hampir saja membuatnya kalah. Dia merasa sangat sedih. Dia tidak tahu kalau lawannya yang berjumlah 3 orang itu adalah pesilat unggulan di dunia persilatan. Jika dia bisa mengalahkan satu orang saja, itu sudah cukup untuk membuat namanya terkenal. Sekarang dia bertarung dengan tiga orang sekaligus, jika bukan karena usianya masih muda dan belum berpengalaman, mungkin mereka akan kalah.

Mereka lebih sedih lagi. Semakin dipikir perasaannya semakin tidak enak, sehingga dia terpaku di sana.

Tie Zhi Wei Shou Ru sudah memperkenalkan Zheng Gai dan Huang Gong Zhao kepada Gu Zhuo Piao. Karena sudah bertarung, maka rasa mabuk mereka sudah berkurang banyak. Wajah mereka tampak sedikit malu. Gu Zhuo Piao sangat pintar, dia bisa menebak identitas gadis itu. Dalam hati dia tertawa, "Kalian benar-benar dengan tangan kiri sendiri menampar wajah kalian, begitu kalian tahu siapa gadis ini, mungkin kalian akan meloncat masuk ke sungai karena malu.”

Tapi dia berdiam diri. Wei Shou Ru mengira dia benar-benar teman gadis itu. Mereka lalu menanyakan dari mana perguruan gadis itu, tapi dengan cara sederhana dia menutupinya. Mereka bertiga mengundang Gu Zhuo Piao datang ke kantor Biao tapi ditolaknya juga, kemudian dengan kecewa akhirnya mereka pergi.

0-0-0

BAB 2

Gadis Pemalu

Gu Zhuo Piao turun dari kudanya. Dia melihat gadis itu masih bengong, matanya tampak melotot, entah apa yang sedang dipikirkannya, segera dia tersenyum. Wajahnya mengeluarkan cahaya yang aneh. Pelan-pelan dia mendekati gadis itu. Pada saat bertarung tadi jubahnya terjatuh, baju merahnya yang terjatuh dipenuhi dengan salju berwarna putih, benar-benar menjadi warna yang sangat indah dan kontras.

Dia memungut jubah itu, membersihkan salju yang menempel di jubah itu dan berkata, "Nona harap jangan marah.”

Gadis itu memang merasa marah karena kata-kata penghinaan yang mereka ucapkan tadi dan kemarahannya belum terlampiaskan.

Begitu melihat mereka bertiga pergi begitu saja, dia melampiaskan kemarahan pada Gu Zhuo Piao. Tiba-tiba pecutnya diayunkan ke arah Gu Zhuo Piao.

Tampaknya Gu Zhuo Piao memang tidak bisa ilmu silat. Begitu melihat pecut datahg menyerangnya, dia berusaha menghindar. Karena terpeleset, pecut kuda ini belum mengenainya, dia sudah terjatuh tersungkur dan berteriak, "Nona, harap jangan bertindak kasar! Aku menangkap ayam saja tidak bisa, mana kuat aku menghadapi pecut Nona?”

Gadis itu melihat Gu Zhuo Piao yang jatuh tersungkur di bawah, dia mulai merasa tidak enak. Diam-diam dia berpikir, "Aku tidak kenal dan tidak ada permusuhan dengannya, diapun tidak pernah bersalah kepadaku malah tadi dia tadi membantuku supaya keluar dari kepungan 3 orang itu. Jika sekarang aku memecut dan berbuat kasar kepadanya. He he! Mengapa selama dua hari ini aku menjadi seorang yang pemarah?”

Dia melihat Gu Zhuo Piao yang masih di bawah. Selama beberapa hari di kota Bei Jing terus turun salju. Salju menjadi sangat tebal. Kadang-kadang malah ada tempat yang berubah menjadi es dan tempat itu sangat licin. Gu Zhuo Piao bersiap bangun. Dia sudah berusaha 2 kali untuk bangun tetapi selalu terjatuh kembali. Gadis itu merasa malu. Dia berpikir, "Sepertinya orang ini benar-benar seorang pelajar yang lemah. Apakah dia terluka karena karena terjatuh tadi?”

Karena itu dia mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Tapi segera dia merasa ini tidak pantas. Akhirnya dia menjulurkan pecut kudanya maksudnya tidak lain adalah membantu Gu Zhuo Piao supaya bisa berdiri.

Dengan senang Gu Zhuo Piao berkata, "Terima kasih, Nona." Dia memegang pecut itu mungkin karena pecut itu licin, gadis itupun tidak bisa berdiri dengan benar. Gu Zhuo Piao yang sedang menarik pecut itu dan berusaha untuk berdiri. Gadis itu terjatuh karena pecut tersebut ditarik oleh Gu Zhuo Piao dengan kuat. Mereka terjatuh bersamaan. Karena Gu Zhuo Piao tidak bisa menahan beban tubuhnya akhirnya dia terjatuh dan menindih gadis itu. Es dan salju berada dimana-mana, tapi gadis itu merasa panas yang keluar dari tubuh laki-laki itu membuataya dirinya merasa panas. Karena marah dan juga malu, dia mendorong Gu Zhuo Piao dan Gu Zhuo Piao terjatuh kembali ke tempat semula. Dia ingin marah tapi tidak ada alasan yang jelas. Dia mencari kudanya, tapi kudanya sudah tidak ada di sekitar sana. Ternyata kudanya lari sewaktu dia sedang bertarung, terpaksa dia memungut jubahnya dan pergi.

Kali ini Gu Zhuo Piao bangun dengan cepat. Dia menunggang kudanya dan menyusul gadis itu sambil berteriak, "Nona, tunggu dulu!" Hanya dalam waktu singkat dia berhasil mengejar gadis itu dan sambil tertawa dia berkata, "Apakah ini pertama kalinya Nona datang ke kota Bei Jing?”

Gadis itu melihatnya, merasa ingin marah juga ingin tertawa, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gu Zhuo Piao. Gu Zhuo Piao berkata sendiri, "Hari sudah malam, seorang gadis berada sendiri di tempat asing benar-benar tidak aman, lebih baik mencari tempat beristirahat. Tapi jangan mencari penginapan, orang-orang yang ada di sana bukan orang baik-baik ”

Keadaannya selama dua hari ini membuat gadis itu tersiksa. Malam tidak berani tidur lelap. Kata-kata Gu Zhuo Piao benar-benar mengenai pikirannya. Gu Zhuo Piao menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tahu kalau di kota ini ada sebuah tempat bersih juga tenang, selain itu tuan rumahnya adalah seorang yang baik dan jujur. Kalau Nona menginap di sana mungkin akan lebih baik.”

"Dimana tempat itu?”

"Rumahku. Jika Nona tidak merasa keberatan, Nona boleh beristirahat di rumahku selama satu malam.”

Gadis itu memang tidak ingin tinggal di penginapan dan dia melihat Gu Zhuo Piao, "Pemuda ini seperti seorang pelajar bodoh, dia tidak akan berani berbuat macam-macam. Apalagi sekarang sudah malam, tidak ada tempat untuk pergi lagi. Biar aku ikut dia saja.” Gu Zhuo Piao melihat gadis itu tidak menjawab, lantas bertanya, "Apakah Nona mau ikut denganku?”

Gadis itu mengangguk. Dengan cepat Gu Zhuo Piao turun dari kudanya dan berkata, "Silakan Nona yang naik kuda, aku akan membawa Nona pergi ke tempat itu.”

Gadis itu berpikir, "Pelajar ini benar-benar bodoh. Kalau aku menunggang kudanya, mana mungkin aku bisa mengikutinya?"

Gadis itu melihat kalau Gu Zhuo Piao sangat ganteng. Mulutnya selalu tersenyum. Gadis itu mulai menaruh perhatian padanya dan bertanya, "Apakah rumahmu jauh?”

"Tidak! Tidak! Tepat berada di depan.”

"Kalau begitu kita berjalan bersama-sama saja.”

Karena memakai kata ‘kita', gadis ini merasa hubungannya terlalu dekat. Kata-kata ini langsung membuat wajahnya menjadi merah padam dan dia pun menundukkan kepala. Untung Gu Zhuo Piao tidak melihatnya. Tampaknya karena dia merasa senang dia terus berjalan.

Setelah berputar-putar sebentar mereka berhenti di sebuah rumah besar lalu Gu Zhuo Piao berkata, "Rumahku di sini.”

Wajah gadis ini menjadi merah lagi. Gu Zhuo Piao mengetuk pintu kemudian membawanya masuk ke dalam. Gadis itu melihat rumahnya begitu mewah dan banyak pelayan. Tempat ini seperti rumah pejabat atau rumah orang kaya. Dia merasa sangat aneh, "Siapakah pemuda ini sebenarnya? Kelihatan dia bukan seorang pelajar biasa tapi dia terlihat sangat menarik. Jika dia seorang pelajar mengapa tempat tinggalnya begitu mewah?”

Walaupun dia merasa aneh, tapi tidak banyak lagi yang dia pikirkan. Dengan gesit Gu Zhuo Piao melayani gadis itu. Teh pun disunguhkan, lalu menyalakan penghangat ruangan sehingga membuat ruangan itu menjadi hangat, kemudian pelayan membawakan makanan untuk makan malam. Semua makanan yang disuguhkan adalah makanan yang biasa disukai gadis-gadis. Selama beberapa hari perjalanan, gadis ini merasa sangat lelah dan kekurangan makanan. Ini pertama kalinya dia bisa mendapatkan kenikmatan, dia merasa benar-benar sangat berterima kasih kepada Gu Zhuo Piao. Dia mulai mau berbincang-bincang dengan Gu Zhuo Piao. Jubah merahnya dibuka, pedang diturunkan dari tubuhnya. Pedang itu lebih pendek dibandingkan dengan pedang biasa. Sarung pedang bukan terbuat dari besi juga bukan terbuat dari baja, tapi warnanya putih seperti terbuat dari giok dengan kualitas terbaik. Gu Zhuo Piao melihat semuanya, lalu dia tertawa lagi.

Malam semakin larut. Ruangan itu terpasang puluhan lampu. Api penghangat masih berkobar dengan besar, membuat orang yang baru datang dari luar dan kedinginan langsung merasa nyaman.

Gadis itu minum arak Zhu Ye Qing yang terkenal. Di bawah sinar lampu, terlihat dia memakai baju ketat berwarna hijau, benar-benar terlihat langsing dan cantik. Apalagi sewaktu dia bicara, matanya terlihat sangat lincah, membuat Gu Zhuo Piao terpesona.

Gadis itu melihat Gu Zhuo Piao yang terus memandangnya. Wajahnya menjadi merah dan diapun berkata, "Aku mulai mengantuk, aku ingin segera tidur.”

Gadis itu mengambil jubah merahnya, bungkusan kain berisi baju dengan ukuran kecil, serta pedangnya. Dia sangat menyayangi pedangnya. Dengan hati-hati dia memegang pedangnya dan mengikuti Gu Zhuo Piao melewati ruang tamu, teras, dan sampailah mereka di sebuah kamar. Begitu pintu dibuka, terlihat kamar itu dihias dengan sangat indah dan seperti kamar seorang gadis. Dan sepertinya memang khusus disiapkan untuknya. Begitu sampai di depan pintu, Gu Zhuo Piao berhenti melangkah dan berkata, "Selamat tidur!”

Gadis itu tertawa dan diapun menutup pintunya. Dalam hati dia berkata, "Orang ini benar-benar orang baik dan sopan, bahkan dia tidak berani masuk ke dalam." Dia berpikir lagi, Siapa namanya pun aku belum tahu, diapun tidak tahu namaku. Orang itu benar-benar sangat aneh.” Dia terus berpikir. Dia teringat pada  kejadian tadi. Pada  saat mereka berdua terjatuh di atas salju. Wajahnya menjadi merah lagi.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, dia segera bertanya, "Siapa?”

Terdengar suara Gu Zhuo Piao dari luar, "Ini aku, masih ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Masuklah!"

Pintu dibuka. Dengan wajah berseri-seri Gu Zhuo Piao masuk. Gadis itu sedang menyandar ke tempat tidurnya. Gu Zhuo Piao mendekat dan berkata, "Ada yang ingin kutanyakan, tapi aku takut mengganggumu, tapi tetap harus kutanyakan."

Dia berjalan mendekati ranjang, tidak sengaja dia menginjak kaki gadis itu. dia terus meminta maaf.

Gu Zhuo Piao dan tepat menginjak di nadi Yong Quan. Bila nadi tersebut tertekan maka tubuh akan terasa lemas dan seperti kehilangan seluruh tenaga. Bicarapun tidak bisa. Dia merasa cemas. Tapi sepertinya Gu Zhuo Piao tidak tahu mengenai hal itu. Dia berkata, "Begitu aku melihatmu, aku langsung menyukaimu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat.”

Dia tampak ragu. Kemudian dia berkata lagi, "Kalau kau tidak mau aku bicara terus, aku akan berhenti.”

Gadis itu tidak bisa bergerak dan tidak bisa bicara. Mendengar kata-kata Gu Zhuo Piao, dia merasa malu dan juga cemas sekaligus senang. Karena belum pernah dia mendengar ada yang bicara seperti kepadanya, juga tidak ada yang berani berkata dengan bahasa seperti itu kepadanya. Pemuda ini begitu terus terang, benar-benar membuatnya merasa malu. Tapi diam-diam dia juga menyukai orang ini.

Wajah gadis itu cantik seperti bunga. Gu Zhuo Piao semakin menyukainya. Dia berkata, "Kalau aku boleh menciummu, apa yang kau perintahkan pasti akan kulakukan. Tapi bila kau menolaknya, tolong katakan kepadaku, maka aku akan segera pergi dari kamar ini.” Gadis itu merasa malu, cemas, dan wajahnya lebih menjadi merah lagi. Hatinya berdebar-debar. Dia berpikir, "Kalau dia benar-benar ingin menciumku, aku harus bagaimana? Kenapa semuanya bisa begitu bertepatan, dia tak sengaja menginjak nadi di kakiku. Apakah dia pura-pura tidak bisa ilmu silat, kemudian datang untuk menghinaku? Sekarang aku harus bagaimana ”

Gu Zhuo Piao mendekatinya kemudian pelan-pelan mulai menciumnya. Gadis itu tidak bisa menghindar. Tapi juga tidak ingin menghindar. Diam-diam dia memejamkan matanya. Dia merasa ada bibir panas yang mendarat di pipinya kemudian beralih ke bibirnya.

Apa yang dirasakan gadis itu sekarang, walaupun dengan seribu atau sepuluh ribu bahasa tidak akan bisa melukiskan perasaannya. Dia hanya merasakan badannya seperti meleleh kemudian naik ke puncak. Apakah ini yang disebut sayang, benci, malu, atau marah, dia tidak bisa membedakannya lagi. Dia hanya merasa kalau perasaan yang dialaminya sekarang seumur hidup tidak akan bisa dilupakan.

Gu Zhuo Piao menciumnya. Melihat wajahnya yang malu-malu, hatinya seperti ada gelombang. Tangannya pelan-pelan meraba-raba tubuh gadis itu. Tapi dia terus berpikir, "Aku benar-benar tidak mengerti akan diriku sendiri. Selama ini aku berharap kalau aku dihormati dan cepat mendapatkan cinta. Tapi begitu orang mulai menghormatku, aku menginginkan mereka merasa benci dan takut kepadaku. Kegundahan hatiku siapa yang bisa membantuku untuk menjelaskannya?”

Dia membiarkan wajahnya berhenti di depan wajah gadis itu, kemudian dia melipat lututnya dengan kuat menindih lutut gadis itu.

Gadis itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Gu Zhuo Piao. Dia hanya merasa ada kehangatan. Di antara kehangatan itu dia merasa sedikit malu. Begitu lututnya secara kebetulan menyenggol totokannya, nadinyapun terbuka, tenaga yang hilang tadi dengan cepat kembali ke dalam tubuhnya.

Dengan tenaga itu, dia mendorong badan Gu Zhuo Piao yang mendekatinya. Gu Zhuo Piao dengan kaget melihatnya. Dia seperti tidak sadar dengan apa yang telah terjadi. Hanya dalam waktu singkat gadis ini terlihat bingung.

"Aku tidak boleh menyalahkan dia. Ya sudahlah!”

Wajahnya lebih merah lagi. Gadis itu menyimpan banyak perasaan kepada Gu Zhuo Piao.

Dia adalah seorang gadis angkuh dan harga dirinya sangat tinggi. Ini pertama kali hatinya diketuk oleh seseorang, perasaan senang dan sayang, benci dan marah, bercampur menjadi satu.

Banyak pikiran lewat di dalam benaknya. Beratus kata berputar- putar di ujung lidahnya, akhirnya dia hanya berkata, "Duduklah!”

Mata Gu Zhuo Piao tampak berkilau. Kali ini kilauan mata adalah kilauan gembira. Dia melihat gadis itu kemudian duduk di sisinya. Gadis itu menarik nafas dan bertanya, "Margamu apa?”

Dengan sangat berhati-hati Gu Zhuo Piao mengelus tangan lembut itu dan menjawab, "Namaku adalah Gu Zhuo Piao.”

Tangan gadis itu dielus-elus, tapi dia tetap tidak menepisnya. Dia hanya berkata dengan lembut, "Kenapa kau tidak bertanya kepadaku siapa namaku?”

Gadis itu menundukkan kepalanya. Dia begitu cantik juga malu- malu.

Gu Zhuo Piao tertawa, "Aku tidak bertanya karena aku sudah tahu kalau margamu adalah Xiao. Dan namamu adalah Xiao ling. Apakah benar?”

Dia kaget dan bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu?”

"Walaupun aku bodoh, tapi setelah melihat ilmu silat dan pedang kesayanganmu, siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Yu Jian Xiao Ling!”

Gadis itu merasa lebih kaget lagi. Dia berusaha melepaskan pegangan tangan Gu Zhuo piao dan bertanya, "Kau bisa ilmu silat?” Gu Zhuo Piao tertawa, "Coba kau tebak apakah aku bisa?”

Tiba-tiba Xiao Ling berdiri, dia merasa malu dan juga marah. Semua itu mengalahkan perasaan senang dan sayang. Jari tangan kanannya bergerak seperti pedang dengan cepat menotok ke arah tenggorokan Gu Zhuo Piao.

Nadi ini adalah nadi yang mematikan. Jika orang yang mempunyai ilmu silat, pasti akan langsung menghindar. Tapi Gu Zhuo Piao tidak menghindar, matanya mengeluarkan cahaya aneh, dia seperti tidak tahu apa-apa, sepertinya mati di ujung jari tangan itupun dia rela, sepertinya dia tahu kalau jari itu tidak akan menotoknya.

Jari dikeluarkan seperti angin dan sudah berada di tenggorokannya, tiba-tiba jarinya terasa lemas dan bergeser. Gu Zhuo Piao sekali lagi menangkap tangannya. Mata gadis menjadi merah dan berkata, "Jangan membohongiku!”

Seorang pesilat pedang yang selalu mengayunkan pedang dan selalu disorot oleh orang-orang dunia persilatan, karena kekuatan cinta dan mengalami perasaan bergelombang seperti air, sekarang dia terlihat lemah dan menurut. Dia menurut pada saat dipeluk oleh Gu Zhuo Piao. Hati seorang gadis selalu seperti itu. Begitu dia merasakan cinta, keangkuhan dan rasa gengsinya dengan cepat menghilang.

Di dalam perasaan cinta dan dicintai mempengaruhi Gu Zhuo Piao. Tapi jika kau adalah seorang yang pintar, dari sorot matanya yang terlihat gembira dan bahagia, kau akan menemukan cahaya lain. Dia seperti menyimpan suatu rahasia sekalipun di depan orang yang dia cintai.

Xiao Ling menyandar ke pundak Gu Zhuo Piao. Melihat api besar yang berkobar di penghangat ruangan, dia hampir lupa pada tujuannya datang ke utara.

Kata-kata yang mereka ucapkan sepertinya tidak ada habis- habisnya. Kadang-kadang hanya terucap kata-kata biasa tapi pada saat didengar oleh mereka terasa seperti musik yang mengeluarkan bunyi merdu. Xiao Ling menceritakan tentang kehidupannya. Gu Zhuo Piao dengan diam mendengarkan, walaupun dia sudah tahu semuanya.

Keadaan awal musim semi dan akhir musim dingin. Bunga musim semi, air yang mengalir di bawah jembatan kecilpun diceritakan oleh Xiao Ling. Seperti menjadi sebuah lukisan yang bagus. Dia menceritakan tentang keluarganya. Ayahnya yang bernama Fei Ying Shen Jian. Dia menjadi pahlawan yang sering diceritakan di dalam legenda.

Dia memperlihatkan pedang giok kepada Gu Zhuo Piao. Dengan sombong sekaligus senang dia berkata kepada Gu Zhuo Piao, "Ini adalah pedang sakti milik keluarga kami.”

Dia mencabut pedang itu. Pedang itu berwarna putih bersih. Sambil tertawa dia berkata, "Kau lihat, semua terbuat dari giok. Hanya ada satu di dunia.”

Gu Zhuo Piao menerima pedang itu dengan teliti melihatnya. Garanya melihat pedang bukan seperti cara seorang pelajar melihat pedang.

Kemudian dia menunjuk pedang cacat sebesar uang logam dan bertanya, "Mengapa pedang ini bisa cacat?”

Xiao Ling berpikir sebentar kemudian menjawab, "Cacat ini dikarenakan sebuah rahasia besar. Rahasia ini kecuali keluargaku, tidak ada yang tahu tapi aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Gu Zhuo Piao melihatnya dan tertawa. Wajah gadis itu menjadi merah dan berkata, "Kau jahat!”

Dengan bahagia Gu Zhuo Piao tertawa, "Baiklah! Baiklah! Aku tidak akan tertawa lagi. Tolong beritahu kepadaku.”

Xiao Ling merapikan rambutnya dan berkata, "Di dunia persilatan ini ada seorang yang sangat lihai. Namanya adalah Can Jin Du Zhang. Apakah kau pernah mendengarnya?”

Gu Zhuo Piao mengangguk. Xiao Ling melanjutkan, "70 tahun yang lalu, buyutku yang bernama Xiao Xiang Jian Ke sangat terkenal di dunia persilatan. Pada waktu itu setiap 10 tahun pasti diadakan seuatu perlombaan. Semua pesilat boleh ikut serta bertanding." Xiao Ling terlihat sangat senang dan berkata, "Itu sangat baik bisa bertanding tapi sekarang ini perlombaan seperti itu sudah tidak ada lagi." Dia seperti menyayangkan karena tidak bisa ikut bertanding.

Gu Zhuo Piao melihat Xiao Ling, dia tertawa lagi.

Xiao Ling memelototinya kemudian berkata lagi, "2 kali pertandingan buyutku mendapatkan julukan sebagai pemilik ilmu silat nomor satu di dunia persilatan. Pada saat itu beliau benar-benar saat terkenal. Waktu itu Wisma Xiao Xiang menjadi tempat suci bagi kalangan persilatan. Orang-orang yang datang ke Wisma Xiao Xiang sebelum mencapai 1 kilometer dari wisma, harus turun dari kudanya kemudian berjalan kaki ke Wisma Xiao Xiang. Kecuali peraturan ini, pedangpun tidak boleh tergantung di tubuh, kau bisa lihat bahwa mereka begitu menghormati buyutku.”

Cahaya matanya terlihat begitu senang. Gu Zhuo Piao bertepuk tangan.

Dia berkata lagi, "Hingga suatu hari, Wisma Xiao Xiang kedatangan seorang penunggang kuda berbaju kuning, dengan pedang tergantung di tubuhnya. Orang itu tak lain adalah Can Jin Du Zhang. Murid-murid buyutku melihat dia menunggang kuda masuk begitu saja dan juga menggantung pedangnya, merasa dia tidak menghormati buyutku, mereka marah sekali dan ingin bertarung dengannya.”

Xiao Ling berhenti sejenak, seperti sedang mengenang cerita tentang buyutnya kemudian dia melanjutkan lagi. "Waktu itu tangan Can Jin Du Zhang belum putus, jari-jarinya masih sempurna. Namanyapun bukan Can Jin Du Zhang, tapi Jin Jian Gu Du Piao." Dia melihat Gu Zhuo Piao dan berkata, "Namanya dan namamu sangat mirip.”

Gu Zhuo Piao membersihkan sudut mata dengan tangan lalu tertawa. Xiao Ling berkata lagi, "Ilmu Jin Jian Gu Du Piao sangat tinggi. Beberapa murid buyutku tidak sanggup mengalahkannya. Akhirnya buyutku keluar dan menanyakan apa yang dia kehendaki. Katanya dia tidak menyukai buyutku dan ingin bertarung pedang dengan buyutku. Kalau dia menang, dia ingin buyutku menghapus gelar 'nomor satu'. Dia masih mengatakan masih banyak orang yang berilmu silat lebih tinggi dari buyutku. Buyutku menyetujuinya permintaannya. Kalau dia kalah, dia berjanji tidak akan menggunakan pedangnya lagi dan selain itu dia akan memotong keempat jarinya. Dengan cara seperti itu dia tidak bisa memakai pedangnya lagi.”

Gu Zhuo Piao tidak berekspresi saat mendengarkan cerita Xiao Ling. Xiao Ling berkata lagi, "Mereka bertarung di Wisma Xiao Xiang, di lapangan berlatih ilmu silat. Mereka berdua adalah pesilat yang dalam kurun waktu 10 tahun itu merupakan yang terkuat. Pertarungan itu sangat sengit dan heboh. Orang yang berada di sisi lapangan hanya bisa melihat bayangan pedang tapi tidak terlihat ada bayangan manusia.”

Xiao Ling terus bicara, sepertinya pada saat itu dia sendiri yang menyaksikan pertarungan itu. "Kemampuan ilmu pedang mereka hampir sama. Ilmu pedang buyutku sangat kuat tapi ilmu pedang orang itu sangat aneh dan misterius, tidak seperti berasal dari perkumpulan manapun yang ada di dunia ini. Mereka berdua bertarung dari pagi sampai malam, masih tidak bisa menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tapi mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.”

Dia berhenti sebentar dan melanjutkan lagi, "Begitulah, mereka bertarung selama 2 hari 1 malam. Tidak pernah beristirahat. Terakhir tangan mereka terasa lemas dan hampir tidak bisa mengangkat pedang lagi. Tapi mereka tetap ngotot tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya buyutku memberi sebuah ide, mengganti pedang dengan mulut untuk bertarung ilmu pedang." Dia melihat ke arah Gu Zhuo Piao.

Apakah kau mengerti dengan perkataanku? Itu artinya adalah mengalahkan jurus-jurus ilmu pedang dengan beradu mulut. Salah satu dari mereka menyebut sebuah jurus, kalau lawan tidak bisa menangkis bagaimana cara mencairkan jurus itu, artinya dia kalah.

Gu Zhuo Piao mengangguk mengerti.

"Mereka berdua adalah pesilat pedang tangguh. Mereka tidak takut kalau lawan akan menipu mereka, karena itu mereka duduk di bawah. Satu kalimat demi satu kalimat dilontarkan. Awalnya berjalan dengan sangat cepat, terakhir semakin melambat. Dengan cara seperti itu mereka melewati satu hari lagi, tetap tidak ada yang kalah ataupun menang.”

Dia tertawa lagi, "Sewaktu salah satu pihak sedang bicara yang lainnya diijinkan untuk makan, maka mereka bisa bertahan. Tiba-tiba Jin Jian Gu Du Piao dengan perasaan senang menepuk kakinya dan berkata, 'Can Yang Qing Shu.' (=matahari merusak pohon). Buyutku menjawab, Liu Si Ru Jing' (=tangkai Yang Liu seperti kaca). Buyutku merasa aneh, mengapa dia memakai jurus Can Yang Qing Shu, anehnya orang itu terlihat begitu senang.”

Dia melihat Gu Zhuo Piao lalu tertawa dan berkata lagi, "Kau tidak mengerti ilmu silat pasti kau tidak akan tahu tentang Can Yang Qing Shu, itu adalah jurus yang sangat biasa. Dengan jurus mudah itu, orang seperti buyutku yang berilmu tinggi pasti akan dengan sangat mudah memecahkannya.

Dia mengedipkan matanya dan berkata lagi, Tapi buyutku tahu kalau jurus itu sangat mudah dipecahkan tapi jurus itu tidak akan bisa menyerang musuh. Karena itu dia menjawab, Tiu Si Ru Jing. Artinya adalah cahaya pedang di depannya akan berkumpul menjadi tabir cahaya. Walaupun tidak menyerang musuh tapi jurus ini untuk melindungi diri, tapi jurus ini masih bisa lebih, buyutku kurang berhati-hati.”

"Jin Jian Gu Du Piao segera berteriak, Wing Jin Quan Tu (Emas membeku melingkari tanah), jurus ini sangat aneh, artinya pedang dibekukan dan tidak bisa menyerang lagi. Buyutku berpikir lama baru menjawab, 'Qian Tiao Wan Xu.' (Beribu-ribu bilangan sepuluh ribu permulaan). Jurus ini menggetarkan pedang dengan tenaga dalam, pedang berubah menjadi beribu-ribu buah dan menyerang lawan, tapi dia menjawab, Wu Hang Lun Hui.' (lima bilangan, kembali bergiliran), jurus inipun menggunakan tenaga dalam untuk menggetarkan pedang, kemudian membentuk lingkaran cahaya dan lingkaran cahaya ini semakin mengecil, jurus buyutku yaitu Qian Tiao Wan Xu akan masuk ke dalam lingkaran dan membuangnya ke samping.”

"Buyutku merasa terkejut, pesilat tangguh bertarung dengan pedang, kalau pedang terlepas dari tangan artinya pesilat itu kalah, terakhir buyutku baru tahu kalau sejak semula dia membuat jebakan dan memancing buyutku mengatakan Qian Tiao Wan Xu, maka dia akan mengatakan Wu Hang Lun Hui untuk memaksa buyutku melepaskan pedang dari tangannya.”

Xiao Ling menyandarkan kepalanya ke bahu Gu Zhuo Piao lalu berkata lagi, "Setelah satu jam berpikir buyutku tidak menemukan cara untuk memecahkan jurus itu, dia melihat Jin Jian Gu Du Piao yang sedang makan dan minum dengan senang, tapi buyutku terus berpikir, dia tidak ingin makan apapun, dalam hati dia merasa marah dan cemas, tiba-tiba dia berteriak, Hui Feng Wu Liu (angin kembali, pohon yang liu menari). Setelah Jin Jian Gu Du Piao mendengar jurus itu, paha ayam yang sedang digigitnya langsung terjatuh.”

Gu Zhuo Piao bertanya, "Apakah kau menyaksikan sendiri peristiwa itu?”

Xiao Ling tertawa dan menjawab, "Kau jahat! Waktu itu aku entah berada di mana, mana mungkin aku melihatnya? Ini semua cerita dari buyutku, buyutku menceritakannya kembali kakekku, kakek menceritakan kepada ayahku, dan ayahpun menceritakannya kepadaku.”

Gu Zhuo Piao tertawa.

Xiao Ling berkata lagi, "Hui Feng Wu Liu adalah jurus terakhir milik keluarga kami, dan juga jurus pamungkas, caranya adalah pergelangan tangan diputar, kemudian melempar pedang, pedang mengikuti aliran tenaga dalam dan berputar, dan pedang akan berputar ke punggung musuh, lalu menusuknya dari belakang. Jurus kakek buyutku benar-benar hebat, walaupun pedang terlepas dari tangan tapi tidak berarti dia kalah, malah pedang itu menyerang musuh dengan telak. Di belakang musuh ada pedang menyerang tenaga berasal dari pergelangan tangan, dan tidak akan bisa menghindar lagi.”

Dengan senang Xiao Ling berkata lagi, "Kali ini giliran Jin Jian Gu Du Piao yang cemas, dia duduk sambil terus berpikir selama 4 jam, setelah buyutku cukup beristirahat, tiba-tiba Jin Jian Gu Du Rao berdiri dan dengan diam dia mengambil pedang lalu memotong ibu jari dan jari tengah tangan kanannya, kemudian dia pergi begitu saja. Buyutku benar-benar mengaguminya, karena dalam hidup buyutku dia pernah mendapat musuh tangguh.”

Mendengar hal itu wajah Gu Zhuo Piao tampak bercahaya sepertinya diapun mengagumi tetua persilatan yang gagah.

Xiao Ling menarik nafas dan berkata, "Buyutku merasa sangat sedih, wajahnya menjadi suram, tiba-tiba buyutku mengambil pedang yang sekarang ini sedang kupegang, juga mengambil pedang yang ditinggalkan oleh Jin Jian Gu Du Piao, kedua pedang itu diadukan dengan tenaga dalam buyutku yang kuat, dan pedang ini hanya sedikit cacat, tapi tidak membuat pedang itu putus, itu sebabnya mengapa pedangku ada cacatnya.”

Gu Zhuo Piao bertanya, "Sekarang pedang emas itu berada di mana?”

Xiao Ling menjawab, "Pedang emas itu sudah rusak dan mata pedang itupun terdapat cacat.”

Mereka terdiam, akhimya Xiao Ling berkata lagi, "Kemudian buyutku memberitahu kakekku mengapa dia melakukan hal itu, menurut buyutku kalau mereka benar-benar bertarung, dia tidak akan pernah terpikirkan jurus Hui Feng Wu Liu itu karena dia sendiripun belum mencapai tahap bisa melukai musuh, walaupun buyutku bisa menang, tapi dia merasa kemenangannya tidak mutlak. Sekalipun dia bisa mengeluarkan jurus itu tapi belum tentu bisa melukai Jin Jian Gu Du Piao. Setelah dua tahun berlalu, buyutku membuat peraturan di dalam keluarganya yaitu keluarga Xiao tidak boleh ada yang ikut campur masalah dunia persilatan lagi, juga tidak boleh merebut nama besar di dunia persilatan, siapa yang berani melanggar, maka orang itu tidak akan diakui keturunan keluarga Xiao lagi.

Terakhir kakekku baru tahu kalau tangan kiri Jin Jian Gu Du Piao ternyata dipotong oleh salah satu dari Dong Hai San Xian (Tiga dewa dari laut timur), Wu Chen Ren, buyutku memberitahu kepada kakek waktu itu Jin Jian Gu Du Piao belum terlatih menggunakan tenaga telapaknya, kalau tidak karena tidak bisa menggunakan pedang, Wu Chen Ren belum tentu bisa melukainya, mendengar hal itu buyutku merasa sangat sedih, beliau tidak mengijinkan murid-muridnya ikut campur masalah dunia persilatan untuk seterusnya.”

Gu Zhuo Piao tampak berpikir, "Xiao Xiang Jian Ke memang pantas disebut pendekar dan pesilat sejati, melihat keadaan orang- orang persilatan sekarang benar-benar jauh berbeda dibandingkan dengan jamannya.”

Xiao Ling berkata lagi, "Terakhir, Jin Jian Gu Du Piao mengganti namanya menjadi Can Jin Zhang, kelakuannya semakin aneh, racun yang dilatihnya dengan mengandalkan telapak tangannya semakin kuat, dapat dikatakan tiada duanya saat itu, maka orang-orang persilatan menamakannya Can Jin Du Zhang, beberapa kali kalangan persilatan sangat ingin membunuhnya, tapi keluarga kami yaitu keluarga Xiao tidak pernah mau ikut campur mengenai masalah ini, anehnya Can Jin Du Zhang pun tidak pernah datang ke Wisma Xiao Xiang lagi untuk membalas dendam. Kemudian buyutkupun meninggal. Tapi perlakuan Can Jin Du Zhang kepada keluarga Xiao tetap menghormat, walau ada masalah apapun, bila ada keluarga Xiao yang terlibat, dia pasti akan menghindar, tapi selama ini kami dari keluarga Xiao juga sangat menghormatinya.”

Xiao Ling melihat ke arah Gu Zhuo Piao lalu tertawa, "Kau jangan menyalahkan kami karena kami menghormati iblis yang membunuh orang tanpa mengedipkan matanya, semua kata-katanya ditepati, membuktikan kalau dia adalah laki-laki sejati, dibandingkan dengan ketiga orang pak tua yang semalam mengira mereka hebat, bukankah Jin Jian Gu Du Piao lebih baik beberapa kali lipat dari mereka, apakah menurutmu kata-kataku, benar?”

Gu Zhuo Piao menjawab, "Betul, betul sekali!" Sewaktu dia mengatakan itu, seperti tidak ada perasaan terkandung di dalamnya.

Xiao Ling berkata lagi, "Buyutku sudah lama meninggal, kakekkupun sudah meninggal, tapi Can Jin Du Zhang masih hidup, sepertinya orang ini tidak bisa dianggap remeh.”

Kemudian tampak Xiao Ling mengerutkan alisnya dan berkata lagi, "Beberapa hari lalu di kota Bei Jing salah satu kantor Biao yang bernama Zhen Yuan menyuruh seseorang datang ke rumahku dan dia membawa plakat buatan buyutku, menurutnya dia ingin kami membantunya membasmi Can Jin Du Zhang yang tiba-tiba saja muncul, ayahku tidak ingin membantunya tapi ayahku tidak bisa berbuat apa-apa karena plakat berisi perintah itu dibuat sendiri oleh buyutku, semuanya berjumlah 7 buah, buyutku membuat plakat itu karena dia merasa selama hidupnya dia telah bersalah kepada 7 orang ini atau mungkin juga karena berhutang budi kepada mereka. Walaupun buyutku sendiri yang membuat peraturan tidak boleh ikut campur masalah dunia persilatan, tapi ketujuh orang itu merupakan pengecualian, karena itu beliau mengukir tujuh buah plakat bambu, dan siapapun yang memiliki plakat ini dia bisa meminta kepada keluarga Xiao untuk melakukan apa saja.

Tapi begitu buyutku selesai mengukir pelakat ini, setelah dipikir- pikir, akhirnya beliau hanya mengeluarkan 4 buah. Tidak ada yang tahu plakat itu diberikan kepada siapa saja. Selama beberapa tahun itu, plakat perintah hanya muncul 2 kali. Berarti sekarang adalah untuk ketiga kalinya. Ayahku campur tangan dalam menangani masalah ini karena ada perintah warisan buyutku tapi ayahku tidak mau keluar sendiri maka aku mewakilinya.”

Dia tertawa lagi, "Sebetulnya akupun tidak mau melakukan hal ini. Mungkin keluargaku juga tidak bisa mengalahkan Can Jin Du Zhang. Sekalipun bisa mengalahkan dia, aku tetap tidak menginginkannya.”

Dengan cerewet dia terus bicara. Wajah Gu Zhuo Piao tidak ada ekspresi sama sekali. Tapi sorot matanya terlihat kalau perasaannya terus berubah, naik dan turun. Masa lalu seperti asap dan mimpi, semua kembali ke dalam hati. Kecuali dia sendiri yang tahu, dia tidak bisa bicara dengan siapapun.

Pelan-pelan dia memegang pinggang Xiao Ling dan bertanya, "Kalau begitu mengapa kau datang kemari?”

Xiao Ling menjawab, "Aku harus datang kemari karena aku ingin tahu seperti apa Can Jin Du Zhang sebenarnya.”

"Sejak kecil hingga dewasa aku selalu berada di rumah, sekarang aku mempunyai kesempatan untuk keluar, aku benar-benar senang.”

Gu Zhuo Piao tertawa. Sorot matanya melihat jauh ke luar jendela.

-00-

Sore hari. Dia menyiapkan kereta untuk mangantar Xiao Ling ke kantor Biao Zhen Yuan. Dari jendela kereta dia bisa melihat dari kantor Biao Zhen Yuan, keluar laki-laki berbadan tegap dan gagah. Jin Dao Wu Di Huang Gong Zhao baru saja selesai makan. Dia berada di luar pintu sedang membersihkan gigi dengan tusuk gigi, masih ada seorang pemuda tinggi berada di sisinya, mereka sedang mengobrol.

Gu Zhuo Piao berkata kepada Xiao Ling, "Itu adalah kantor Biao Zhen Yuan.”

Xiao Ling melihat dari jendela, tiba-tiba dia berteriak, "Lihat, pak tua yang kemarin juga ada di sini. Lihat, dia begitu sombong. Aku harus memberi pelajaran kepadanya!”

Gu Zhuo Piao tertawa, dia tidak tertarik sama sekali dengan hal ini. Sebenarnya dia selalu dingin terhadap apapun, seperti menghadapi orang atau hal lain yang ada di dunia ini, tidak ada satupun yang pantas bisa membuatnya melirik. Kadang-kadang dia merasa apa yang berada di dunia ini seharusnya ada atau tidak.

Xiao Ling tahu aura dingin yang ditimbulkannya. Dia merasa sifat Gu Zhuo Piao selalu berubah-berubah. Kadang-kadang panas seperti api, kadang dingin seperti air, kadang seperti seorang pelajar bodoh, kadang seperti orang yang sangat pintar. Xiao Ling tidak dapat menduga sifat sebenarnya. Tapi hati suci gadis ini sudah menjadi miliknya. Xiao Ling berpikir, "Siapapun dia, aku akan tetap mencintainya.”

Karena itu dengan lembut dia bertanya kepada dia, "Apakah kau akan menemaniku masuk?”