Raja Naga 7 Bintang Jilid 02

Jilid-02

"Kalau hal ini tidak terpikirkan olehmu, aku bisa membantumu memberikan pendapat," kata pengemis kecil itu.

"Ada siasat licik apa lagi?"

"Cuma ingin membantumu menemukan bagaimana caranya untuk berterima kasih padaku."

"Cara apa? Katakanlah."

Gadis berkepang itu mengedipkan matanya, benar-benar ingin mendengar akal bulus apa lagi yang dipikirkan anak ini

Pengemis kecil itu terbatuk kecil untuk menjernihkan suaranya dan membalikkan mukanya seraya serius berkata,

"Apabila kau membiarkan aku untuk mencium bibirmu itu, anggap saja sudah berterima kasih padaku, kita berdua impas."

Wajah gadis berkepang menjadi merah dan tampang si pengemis kecil itu seperti yang serius akan melakukan apa yang telah diucapkannya.

"Berani sekali kau Kalau kau berani menciumku, aku akan. " "Kau akan apa?"

Gadis berkepang itu bisa apa? Dia hanya bisa lari dan larinya sangat cepat sehingga kedua kepangnya berkibar ditiup angin. Kepang rambutnya bagaikan dua kupu-kupu yang terbang di atasnya.

Si pengemis kecil itu tertawa terbahak-bahak sampai pinggangnya sakit.

ooo)o(ooo

Sekarang sudah bulan 4, musim semi sudah tiba.

Pengemis kecil itu tidak mengejar kupu-kupu itu. Walaupun dia menyukai kupu-kupu yang cantik tapi dia tidak suka melihat muka yang putih pucat seperti orang mati itu. Di dalam hutan jauh lebih aman dibandingkan di luar.

Dia lalu memasuki hutan itu, ia ingin mencari pohon yang berdahan besar untuk tidur. Tidak disangka sebelum dia menemukan pohon, sudah ada orang yang mencari dia.

Yang datang semuanya ada lima orang dan datang dari empat penjuru, mengurungnya di tengah-tengah.

Kelima jagoan itu. berwajah gelap dan galaki kelihatannya biarpun mereka bukanlah jagoan dari dunia persilatan tapi setidaknya untuk membunuh anak kecil seperti dia bukanlah hal yang sulit.

Diantaranya ada seseorang yang di lehernya tumbuh benjolan besar seperti tumor yang ternyata adalah pemimpin mereka dan di tangannya terdapat sebilah golok penjagal sapi. Dia tertawa melihat si pengemis kecil.

"Saudara kecil, kamu mengerti aturan atau tidak? Saudara kami sudah sangat tertarik pada kambing gemuk itu, mengapa kau mau merebutnya?"

"Kambing gemuk? Kambing gemuk dari mana?"

Dengan tampang tidak mengerti si pengemis kecil berkata, "Bahkan kambing kurus pun aku tidak pernah memegangnya,

kapan aku pernah berebut kambing gemuk dengan kalian?"

"Lewat tanganmu tercium aroma kekayaan, paling sedikit yang ada di depan itu kita dapat bagian setengahnya, yang begini pun kamu tidak mengerti?"

"Tidak," kata pengemis kecil itu. Paling sedikit aku sudah 30-50 hari tidak mandi, seluruh badanku baunya setengah mati, mana ada aroma kekayaan?

Dia menarik lengan bajunya sendiri serta mencium- ciumnya,  tapi tak lama dia langsung menjauhkan hidungnya dan mengejapkan matanya.

"Bau sekali, benar-benar bisa membuat orang mati karenanya, kalau tidak percaya coba saja kau cium sendiri"

Pemimpin mereka itu sangat marah

"Hey bocah tengiki kau pura-pura bodoh, ya?" Dia memutar-mutar pergelangan tangannya yang memegang pisau jagal itu, saudara-saudaranya langsung bersorak memberi dukungan,

"Buat si brengsek kecil ini tidak berkutik dulu baru bicara, kita lihat apa dia itu sayang uang atau sayang nyawa?"

Pengemis kecil itu akhirnya sadar.

"oh, ternyata kalian ini perampok yang mau merampas uangku." Dia menghembuskan nafasnya.

"Perampok perampas uang, ternyata mau merampas uang seorang pengemis kecil, perampok yang demikian juga sangatjarang ditemui."

Pemimpin itu menelan ludahnya lalu mengacungkan goloknya, pengemis kecil itu cepat-cepat mengangkat tangannya.

"Kau tidak boleh marah, kalau marah maka benjolanmu itu akan bertambah besar, bahkan mungkin saja besarnya melebihi besar kepalamu dan kalau sudah begitu jadi tidak menarik lagi."

Dia tersenyum sampai terlihat lesung pipinya sambil berkata,

"Asalkan tidak marah, apapun yang kau inginkan akan kuberi." "saudara kami tidak suka yang lainnya, asalkan melihat uang

yang berkilauan, kemarahannya akan langsung mereda."

"Kalau uang aku tidak punya, bagaimana kalau barang berharga?"

"Boleh." Pemimpin itu reda marahnya dan tertawa. "Tentu saja boleh."

"Kalian mau yang besar atau mau yang kecil?" "Tentu saja yang besar, makin besar makin baik."

"Kalau begitu jadi lebih mudah." si pengemis kecil tertawa dan berkata,

"Yang lain aku tidak punya tapi barang berharga aku punya satu bahkan luar biasa besarnya."

Tiba-tiba pengemis kecil berbaring di tanah dan melindungi kepalanya dengan tangannya serta berkata,

"Barang berharganya ada di sini, kalian cepatlah mengambilnya."

Yang lainnya tidak melihat bayangan sedikitpun dari barang berharga itu, lalu bertanya dengan galak,

"Di sini mana ada barang berharga?"

"Barang berharga itu ya aku, akulah barang berharga itu." Sambil menutup hidungnya berkata,

"Segini besarnya barang berharga itu kalian tidak mau?"

Kali ini pemimpin itu benar-benar naik darah, benjolan yang ada di lehernya benar-benar seperti membesar.

"Dasar anak kurang ajar, berani melecehkan leluhurmu?" Kali ini dia benar- benar mengayun- ayunkan pisaunya mengancam, sekali menyerang tubuh pengemis kecil pasti tersayat- sayat. Paling sedikit bisa kehilangan setengah nyawa.

saudara-saudaranya yang lain pun ikut menyergap. semua mata pisau menghadap ke si pengemis kecil, walaupun senjata yang digunakan mereka bukanlah senjata yang digunakan oleh para jagoan di dunia persilatan tetapi masih bisa menakuti s i pengemis kecil.

Dia ketakutan sampai seluruh badannya gemetaran, tapi sinar di dalam kedua matanya sama sekali tidak memancarkan arti ketakutan sedikitpun.

Tiba-tiba dari luar hutan ada 4-5 berkas sinar yang masuk ke dalam hutan, diantaranya ada sinar yang berwarna perak yang bersinar paling terang, tapi tidak terlihat terlalu jelas juga.

Kedatangannya sangatlah cepat bahkan dengan kecepatan penglihatan manusia tidak akan bisa melihatnya. Begitu sinar itu masuk dan melewati mereka, kelima orang itu langsung tersungkur di tanah secara bersamaan dan tidak akan pernah bangkit lagi untuk selamanya.

Kelima orang yang berbadan sehat seperti sapi itu tidak sempat menarik nafas sudah keburu mati. serangan gelap tadi sangat cepat, tepat, dan menakutkan. serangan seperti itu hanya bisa dikeluarkan oleh pesilat tangguh berilmu tinggi dari dunia persilatan dan yang berilmu tinggi seperti itu bila dicari di seluruh negeri pun tidak akan ada sampai 10 orang. serangan itu paling sedikit dilakukan oleh dua orang karena sinar tadi datang dari dua penjuru yang berbeda dan warnanya pun berbeda. Pesilat tangguh seperti mereka, bagaimana mungkin muncul di tempat seperti ini pada waktu yang bersamaan? sinar tadi sudah menghilang, orangnya pun tidak ada.

Pengemis kecil itu sama sekali tidak melihat sinar itu, terlebih lagi sama sekali tidak melihat ada orang diluar hutan itu

Dia tentu saja tidak tahu siapa yang telah menolongnya, tapi biar bagaimanapun nyawanya telah terselamatkan sehingga sudah seharusnya dia berterima kasih. Angin bertiup di antara pepohonan dan dedaunan, hutan kosong sunyi sepi.

Dia tiba-tiba bangkit dari tanah dan jangankan ada perasaan sedikit berterima kasihi dia malah gusarnya setengah mati sampai mukanya pun merah.

"orang brengsek mana yang telah menolongku?" Dia bahkan memaki,

"Siapa yang menyuruhmu menolongku? Apakah kalian kira melawan perampok rendahan seperti mereka pun aku tidak mampu?"

sudah ditolong tapi dia malah balas memarahi.

Jika mau ditelusuri, di dunia ini mana ada bajingan yang paling tidak tahu diuntung dan paling tidak waras selain si pengemis kecil?

Untungnya orang yang telah menolongnya itu sudah pergi, kalau tidak mungkin yang tadinya hidup pun bisa jadi mati. Kalau tidak ada pendengar sama sekali, baik itu pembicaraan orang, nyanyian, atau bahkan makian, semuanya adalah sesuatu yang membuat orang lelah dan bosan.

Pengemis kecil itu juga merasa dia semakin marah semakin tidak ada artinya. Dia juga sudah lelah memaki dan juga ingin mencari sebatang pohon untuk beristirahat sejenak setelah itu baru memikirkan bagaimana cara mengurusi kelima mayat itu karena walaupun mereka hanyalah perampok tingkat delapan (rendahan) tapi jangan sampai setelah matipun peti mati saja tidak punya.

Kali ini akhirnya dia menemukan dahan pohon yang sesuai dengan keinginannya untuk beristirahat dan sedang bersiap-siap untuk memanjatnya.

Dia sudah membalikkan badannya, oleh karena itu sama sekali tidak melihat apa yang terjadi di belakang punggungnya.

Dia juga tidak menyangka bahwa diantara kelima orang itu masih ada seorang yang masih hidup.

orang yang sudah mati tidak akan hidup kembali. Yang mati pun bukan lima orang, melainkan empat orang.

Pimpinan perampok itu sama sekali belum mati, begitu si pengemis kecil membalikkan badannya, Mayat nya mulai bergerak.

Tidak tahu mengapa, walaupun dia sudah menderita luka parah tapi gerakan tubuhnya masih luar biasa tangkas, jauh lebih tangkas daripada sebelumnya.

Pengemis kecil sudah sampai di depan pohon yang hendak dipanjatnya. Pemimpin perampok itu memandangi si pengemis kecil dengan matanya yang berlumuran darah dan benjolan yang ada di lehernya berubah menjadi merahi dari merah berubah menjadi ungu yang terang seperti kristal berwarna ungu yang bercahaya dan transparan.

Tiba-tiba tubuhnya melonjak seperti seekor macan kumbang hendak menerkam ke arah pengemis kecil itu. Gerakannya bukan berasal dari kekuatan yang dimiliki perampok tingkat delapan, bahkan perampok tingkat tujuh, enam, lima, empat, tiga juga tidak bisa. sebetulnya baik perampok tingkat dua sekalipun tidak akan dapat melakukannya. Kekuatannya adalah kekuatan tingkat satu.

Walaupun dia terluka, tapi kehebatan jurus pukulannya, baik kecepatan, tenaga, jurus, maupun kekuatannya semuanya nomor satu.

Meskipun golok penjagal sapinya sudah terlepas dari tangannya pada saat dia jatuh tersungkur tadi, tapi kedua kepalan tinjunya lebih menakutkan dari pisaunya.

Urat-urat tangan berwarna hijau yang ada di atas kepalan tinjunya pun berubah menjadi ungu kemerah-merahan yang bercahaya dan transparan.

Sekarang baru tahu bahwa orang ini sama sekali bukan orang sembarangan, apa pun yang dilakukannya tidak menunjukkan kekuatan orang rendahan, yang sebelumnya pasti hanyalah pura- pura saja.

orang yang memiliki kekuatan tingkat atas tidak mungkin mau mengangkat saudara dengan yang kekuatannya tingkat rendahan. Tidak bisa dipercaya kalau pengemis kecil itu sama sekali tidak bisa melihatnya. Tapi dia memang sama sekali tidak melihat karena dia tidak memiliki mata di belakang tubuhnya.

Untungnya dia memiliki sepasang telinga yang tajam sehingga bisa mendengar bunyi udara yang dipukul pada saat orang itu melancarkan pukulannya. Begitu bunyi itu datang, dia sudah rebah di atas tanah.

Hanya terdengar bunyi d uar dan membuat pohon yang lebih keras daripada karang di lautan itu tumbang dengan satu pukulan. Pengemis kecil itu kaget sekali.

seluruh badannya tidak ada yang terluka tapi sekujur tubuhnya basah oieh keringat dingin. saudara-saudaranya yang lain mungkin semuanya hebat seperti dia.

orang yang memiliki kekuatan tingkat atas berpura-pura menjadi orang yang kekuatannya rendah adalah sesuatu yang sangat membahayakan sekali, jika tadi tidak ada yang menolongnya, bagaimana mungkin dia bisa hidup sampai sekarang?

Dia sekarang baru mengerti, baru sadar bahwa tidak seharusnya dia marah tadi. Tapi yang tidak bisa dimengerti, mengapa pesilat tangguh dari dunia persilatan sengaja berpura-pura untuk merebut barang curian si pengemis kecil? Dan juga mau mengambil nyawa pengemis kecil itu. Adakah yang tahu apa sebenarnya yang terjadi?

ooo)o(ooo

BAB III BERANEKA RAGAM PANJI (BENDERA)

Tanggal 16 bulan 4, lewat siang..... Bagi Song chang Sheng, begitu hari ini dimulai, sama sekali tidak ada perbedaan dengan hari-hari sebelumnya, tetapi sesudah menyantap makan siang, dia menemukan satu masalah aneh yang tidak pernah ditemuinya seumur hidupnya.

Song chang Sheng adalah pemilik toko penjual peti mati satu- satunya yang ada di kota kecil Liu. Mungkin karena penduduk di kota ini hidupnya sangat sederhana dan bersahaja sehingga hidup mereka lebih panjang, oleh karena itu bisnisnya tidak begitu bagus bahkan ada kalanya uang yang didapatnya tidak cukup untuk makan. Tak disangka hari ini, setelah selesai makan siang, ada sejumlah bisnis besar yang datang ke tempatnya.

Pada saat itu, dia sedang duduk di meja kasir sambil terkantuk- kantuk. Angin yang bertiup di bulan 4 masuk ke dalam melalui jendela dan membuat sekujur tubuhnya tidak enak membuat dia merasa seakan-akan segala sesuatunya ada yang tidak beres.

Yang lebih menjengkelkan lagi, baru saja dia tidur tiba-tiba dibangunkan orang dan orang itu adalah seorang pengemis kecil.

Biasanya kalau ada pengemis yang datang, sedikit banyak dia akan mengeluarkan uang kecil untuk mereka, tapi hari ini bahkan sedikit nasi pun dia tidak ingin memberikannya. Tak disangka malah pengemis kecil ini yang mengeluarkan seonggok uang dari badannya dan diberikan kepadanya.

Ternyata pengemis kecil ini datang bukan untuk minta sesuap nasi.

"Aku mau membeli peti mati, lima buah peti mati. Coba kau hitung dulu apakah uang ini cukup atau tidak?" Song chang Sheng termanggu-manggu. Pengemis kecil yang hidup demi sesuap nasi, apabila meninggal ada tikar rumput yang membungkus jasadnya saja bisa dibilang sudah bagus. Tapi pengemis kecil Ini malah mau membeli peti mati dan sekali beli lima buah peti.

song chang sheng sudah melakukan bisnis ini selama 30 tahun, Tapi kejadian seperti ini belum pernah dia temukan.

Lebih aneh lagi, setelah menaikkan kelima peti mati itu ke dalam keretanya dan pergi bersama pengemis kecil itu ke hutan di luar kota untuk mengambil mayat-mayat itu, ternyata setelah sampai di sana bahkan satu mayat pun tidak ada. Kalau tidak ada yang mati mengapa membeli peti mati?

Dia baru saja hendak bertanya kepada pengemis kecil itu apa yang sebenarnya telah terjadi, pengemis kecil itu sudah lenyap. bahkan uang pembelian lima peti mati sebesar 20 liang lebih juga ditinggalkan begitu saja.

Jika pengemis kecil itu benar-benar hanya ingin mempermainkannya saja, uang sebanyak 23 liang itu sama sekali bukan main-main.

song chang sheng semakin dipikir semakin tidak mengerti.

Lebih tidak disangka-sangka olehnya, baru saja kelima peti mati itu ditaruhnya lagi di tokonya, tiba-tiba ada orang yang datang mau membelinya.

Kali ini yang membeli peti mati lagi-lagi seorang pengemis, dan sekali membelijuga lima buah peti. Wajah pengemis ini sangat kasar, kelihatannya dia jauh lebih galak dibandingkan dengan pengemis kecil tadi.

Song chang sheng tidak berani bertanya macam-macam padanya, tapi tidak bisa tidak bertanya, orang yang mau dimasukkan ke dalam peti ada di mana? Kelima peti ini mau diantar ke mana?

Pengemis berwajah kasar itu malah membalikkan wajahnya berkata,

"Ini adalah rahasia, rahasia dengan taruhan nyawa." Ekspresinya benar-benar serius.

"Kalau kau tahu yang meninggal itu siapa, mulai hari ini hidupmu akan merana seumur hidup."

selesai berkata, dia sendiri mencari dua buah kereta untuk mengangkut peti-peti itu lalu pergi. song chang sheng sudah dibuat terkejut sampai tidak berani mengeluarkan satu patah pun. Malam itu dia sama sekali tidak bisa tidur.

Mayat-mayat yang ada di dalam hutan itu mengapa bisa tiba-tiba hilang? Penjual peti mati Song chang sheng dan si pengemis kecil itu sama-sama tidak mengerti.

Sewaktu dia pergi, mayat-mayat itu masih ada di sana dan semuanya sudah mati. Pukulan pimpinan perampok itu adalah pukulan terakhir dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, seperti bertekad hendak mati sama-sama, oleh karena itu setelah pukulannya mengenai pohon dia langsung mati lemas. Empat mayat lainnya sudah menjadi dingin beku lebih dulu. Kali ini pengemis kecil itu memeriksa ulang kembali semuanya baru pergi. Pengemis kecil ingin membelikan peti mati untuk mereka. Kali ini yang hendak mencuri uangnya lah yang menghendaki nyawanya. Uang itu didapatnya dengan susah payah dan sebenarnya uang itu hendak dibelikannya permen, kue, daging dan memberikannya kepada gadis berkepang dua itu. Tapi malahan dibelikan peti mati.

Seseorang asalkan masih hidup, tidak bisa dihindari pasti ada saatnya di mana harus melakukan sesuatu yang sama sekali tidak dikehendaki oleh diri sendiri. Pengemis kecil tentu saja tidak tahu mayat-mayat itu dibawa pergi oleh siapa, dan juga tidak menyangka bahwa pengemis yang bermuka kasar itu bakal pergi ke toko song Chang shen untuk membeli lima buah peti mati.

Dia hanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat kejadian ini. Pada malam harinya, dia sampai di kota Ji Nan. setelah berputar dijalan raya besar sebanyak dua kali, dia melihat Wu Tao. Kedua orang ini sepertinya memiliki alasan tertentu.

Mayat-mayat yang terdapat di dalam hutan itu dibawa pergi oleh orang yang berbaju hijau itu dengan melemparkannya ke atas pohon yang ditutupi daun lebat pada waktu pengemis kecil itu pergi membeli peti mati.

orang berbaju hijau itu sama sekali belum melepaskannya, selalu mengawasinya tapi sama sekali belum bertindak apa-apa.

Pengemis kecil itu pulang dari membeli peti mati dan mendapati bahwa semua mayatnya hilang, sama sekali tidak berusaha untuk mencari. Dia sudah membelikan peti mati bagi mereka dengan kata lain sudah menunjukkan niat baiknya, tidak peduli mayat mereka diambil oleh siapa sudah tidak ada hubungannya lagi dengannya, dia sudah tidak tertarik lagi dengan masalah ini.

orang berbaju hijau itu justru sebaliknya sangat tertarik dengan masalah kelima orang ini, bahkan menyuruh bawahannya untuk membelikan lima buah peti mati dan menempatkan kelima mayat itu ke dalamnya serta membawanya pergi, bahkan melepaskan pengemis kecil yang selalu dikejarnya.

Apa hubungan antara kelima orang itu dengan orang berbaju hijau itu? Mengapa dia mau mengurus kematian mereka? Mengapa tiba-tiba membiarkan pengemis kecil itu pergi?

Para bawahannya sama sekali tidak berani menanyakannya, dia juga tidak wajib untuk memberikan penjelasan apapun kepada mereka, hanya mengeluarkan perintah pendek,

"Lain kali kalau kalian bertemu dengan anak itu di mana pun juga, tidak boleh mengganggu dia."

Di mukanya yang pucat terdapat emosi yang sangat dalam. "segera antarkan kelima mayat ini ke kota Ji Nan."

Di saat pengemis kecil bertemu dengan wu Tao, kelima peti itujuga sudah masuk ke kota Ji Nan. Malam hari........

Bagi sebagian besar orang, malam ini tidak sama dengan malam- malam sebelumnya, di dalam kota Ji Nan pun lebih sunyi dan suram dibandingkan biasanya. Toko-toko yang biasanya dagangannya paling ramai, pagi-pagi sudah menutup tokonya, bahkan tidak berani melayani pelanggan yang sudah terikat janji bisnis beberapa hari sebelumnya.

Dua keluarga yang tadinya sepakat hendak mengadakan pesta perkawinan di restoran Da san Yuan pun jadi beralih ke tempat lain untuk merayakannya.

Tidak ada seorangpun yang tahu apa alasan dari semua ini, semua pemilik restoran beserta pelayannya tidak ada yang mau membuka mulut tentang hal ini.

satu-satunya yang bisa dijadikan petunjuk adalah semua toko baik yang jauh maupun dekat semuanya milik orang yang paling kaya dan berkuasa, Sun Ji Cheng. Luar rumah dan halaman keluarga Sun dijaga ketat oleh pengawal-pengawal tangguh yang menunggangi kuda yang bisa berlari sangat cepat, ke sana kemari.

Ketika pengemis kecil itu bertemu Wu Tao, saat itu Wu Tao sedang makan malam di dalam sebuah restoran yang tidak terlalu besar dan tampangnya sepertinya sedang tidak bersemangat, bahkan dua piring berisi masakan dan sebotol arak di depannya sama sekali tidak disentuhnya.

Pengemis kecil itu hampir sepanjang hari memperhatikannya dari seberang jalan, lalu tiba-tiba menetapkan hatinya untuk menemani dia dan menghilangkan kejemuannya serta sekalian membantunya untuk menghabiskan kedua piring masakan dan sebotol arak itu.

sayangnya orang tua yang bermuka panjang dan kotor itu sama sekali tidak memperdulikan perasaannya dan mengacuhkan dia, sepertinya tidak melihat sama sekali ada orang yang berdiri dihadapanya.

Pengemis kecil itu tertawa sambil memperlihatkan kedua lesung pipinya. Dia bukanlah orang yang dengan seenaknya melepaskan dua piring berisi masakan yang enak dan sebotol arak bagus begitu saja.

Walaupun orang tua ini lebih menyayangi uang daripada nyawa alias kikir, tapi pengemis kecil itu percaya dia masih ada cara untuk menghadapinya.

Dia pertama-tama duduk dulu di depan orang tua itu, setelah itu baru bertanya,

"Apakah kau kehilangan dompetmu?"

Pertanyaan ini sudah ditelitinya lama, sesuatu yang bisa membuat Wu Tao tidak bisa lagi tidak memperdulikan dia.

Wu Tao benar-benar masuk perangkap. dia mengangkat kepalanya bertanya padanya,

"Bagaimana kau tahu kalau aku kehilangan dompetku?" "Aku tentu saja tahu."

Pengemis kecil itu balik bertanya, "Apakah kau mau kucarikan dompetmu?"

sambil berbicara, dia sudah mengambil sumpit yang ada di atas meja dan memakan telinga babi, hati babi, usus babi, lambung babi, dan ginjal babi dari dalam piring masing-masing dua buah. Wu Tao hanya bisa melihatnya makan.

"Uang yang ada di dalam dompet itu cukup untuk membeli seekor babi. Apakah kau benar-benar mau mencarikannya untukku?"

"sedikitpun tidak berbohong."

"Kapan kau bisa menemukannya kembali?" "Saat ini juga." Pengemis kecil itu berkata,

"Aku bisa menemukannya kembali sekarang juga."

selesai berkata, daging iris panggang yang ada dipiring satunya lagicjuga sudah habis setengah dimakannya.

Wu Tao tentu saja cepat-cepat bertanya, "Mana dompetku?"

"Dompetmu ada di sini." sumpit yang ada di tangan kanan pengemis kecil itu sama sekali tidak berhenti dan menggunakan tangan kirinya mengeluarkan dompet itu,

"Bukankah ini milikmu?" "Benar, itu milikku."

sama sekali tidak salahi tapi sayangnya isi dompet itu sudah kosong. wu Tao hanya merasakan kegembiraan yang kosong.

"Di dalam dompetku seharusnya ada uang sebanyak 23 liang 33 sen." "Aku tahu itu" Pengemis kecil itu sambil makan daging dan minum arak berkata,

"Tapi tadi aku hanya mengabulkan permintaanmu untuk mencarikan dompetmu, tidak untuk mencarikan uangmu."

"Mana uangnya?"

"gangnya sudah habis kupakai."

Pengemis kecil itu membiarkan wu Tao marah dan melanjutkan bicaranya,

"Aku berani taruhan kau pasti tidak tahu bagaimana caranya aku bisa menghabiskan uang itu."

Uang sudah tidak ada, marah pun percuma saja, dia menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafasnya.

"Dengan uang 23 liang bisa untuk aku hidup selama satu bulan, bagaimana kau bisa menghabiskannya dalam sekejap?"

"Aku membeli sedikit barang." "Membeli barang apa?" "Membeli lima buah peti mati."

Wu Tao menahan nafas, hanya bisa menatap pengemis kecil itu, tampangnya seperti orang yang baru menginjak kotoran anjing saja.

"Untuk apa membeli peti mati?" dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Aku mengambil uangmu memang pada dasarnya ingin membantumu untuk berbuat sedikit kebajikan."

Pengemis kecil itu berkata,

"Kebetulan sekali di tengah jalan aku melihat ada lima orang yang sudah mati, makanya kau mewakilimu untuk membelikan peti mati bagi mereka, mewakilimu untuk melakukan kebajikan."

Dia mengeluh berkata,

"Kesempatan seperti itu sebenarnya jarang ada, tapi dalam sekejap saja kau bisa menemukannya, kelihatannya nasibmu benar- benar bagus."

Wu Tao melotot menatapnya sambil merapatkan bibirnya, tidak tahu apakah ingin menangis atau ingin tertawa, atau ingin menggigit si pengemis kecil itu.

Lewat beberapa lama baru dia mengeluarkan amarahnya, sambil tertawa pahit berkata,

"Kalau begitu kelihatannya nasib baikku benar-benar bagus untuk mereka."

orang tua ini ternyata bisa juga bicaranya. Pengemis kecil itu tertawa.

"Aku sudah mengira kau adalah orang yang mengerti akan baik dan buruk."

Dia malah sengaja memanas-manasi dia, "Lain kali kalau ada kesempatan seperti itu, aku pasti akan memberikannya padamu."

Dia sepertinya berniat untuk membuat orang tua itu marah.

Wu Tao melototkan matanya kepadanya lama, tiba-tiba menggebrakkan tangannya ke meja sambil berkata,

"Ambilkan araknya"

Dia memerintahkan pelayan restoran itu,

"Aku mau arak Lian Hua Bai 2,5 kg yang paling baik dan juga 5 macam masakan yang enak untuk menemani minum arak, tidak peduli berapa pun harganya."

Kali ini si pengemis kecil pun dibuat kaget.

Tadi orang mengira dialah yang gila, tapi sekarang dia merasa orang tua yang kikir itulah yang gila, kalau tidak bagaimana mungkin tiba-tiba berubah menjadi bermurah hati dan boros.

Begitu arak datang dia langsung minum tiga cawan dan tertawa keras sebanyak tiga kali setelah menaruh cawannya, sambil mengeluarkan suara keras dari dadanya dan berkata,

"Puas....sungguh puas..., susah lama aku tidak minum sepuas ini."

Dia bahkan menuangkan secawan arak untuk si pengemis kecil. "Mari, kau juga menemaniku minum arak ini, mau makan apa

langsung saja suruh mereka membawanya, hari ini kita makan sampai puas." Pengemis kecil itu langsung mengambil cawan berisi arak itu dan membawanya ke mulutnya.

orang gila semuanya tidakpunya akal sehat, hanya berdasarkan sedikit kebaikkannya saja, jika tidak mungkin dia akan gemar memukul.

Setelah minum tiga cawan araki Wu Tao tiba-tiba bertanya, "Kau tahu tidak kenapa hari ini aku begitu gembira?" "Tidak tahu."

"Karena kau."

Wu Tao tertawa dengan keras.

"Kaulah yang membuat aku gembir aku tidak pernah bertemu bajingan seperti dirimu."

Pengemis kecil itu juga tertawa keras,

"Bajingan seperti aku memang sangat sukar ditemukan." sekarang dia sudah bisa melihat bahwa orang tua itu sebenarnya

tidak gila, hanya saja hidupnya terlalu menghemat, terlalu banyak aturan, terlalu kaku, jadi mencari kesempatan untuk dirinya supaya rileks sedikit dan gembira sedikit. Dalam situasi seperti ini seseorang itu biarpun sedikit gila adalah hal yang wajar.

Wu Tao minum secawan arak lagi lalu dengan tiba-tiba menggebrak meja dengan menggunakan tenaganya.

"Bajingan-bajingan itu semuanya brengsek." Dia berkata, "Kalau bukan karena bertemu denganmu, malam ini aku pasti bakal dibuat mereka marah sekali sampai serasa tidak bisa tidur."

"Bajingan-bajingan itu siapa?"

"Lau Xiang sou si penjual kain sutra itu beserta anak buahnya." Wu Tao benar-benar sedang marah,

"Aku sudah menyuruh orang untuk membawakan surat untuk memesan kain sutra dari shan Dong, padahal sudah janji barangnya bakal diterima hari ini bahkan uang pemesanannya pun sudah dibayar, tapi hari ini mereka tutup bahkan sepertinya tidak ada seorangpun di dalamnya, aku berteriak-teriak sampai tenggorokkanku sakit pun tidak ada yang menghiraukan."

Pengemis kecil itu juga ikut menggebrakkan meja dengan sekuat tenaga.

"orang itu benar-benar brengsek, kita jangan hiraukan mereka, ayo, minum... minum..."

Wu Tao hatinya senang lagi.

"Betul, kita jangan hiraukan mereka, ayo, minum... minum..." sayangnya dia bukanlah peminum yang baik, baru saja dua

cawan arak yang masuk ke dalam perut, dia langsung besar kepala. Mukanya merah seperti binatang yang bisa memanjat pohon, waktu berbicara tenggorokkannya seperti tersedak sebutir telur saja.

Tapi otaknya sepertinya masih sadar, masih bisa bertanya kepada pengemis kecil ini, "Margaku Wu, namaku Wu Tao, namamu siapa?"

"Namaku Yuan Bao (barang berharga)." Pengemis kecil itu berkata,

"Itu loh barang yang disukai oleh orang-orang." "Yuan Bao." Wu Tao tertawa keras.

"Nama ini benar-benar cocok sekali dengan orangnya."

saat ini orang berbaju hijau itu sudah memasuki kota Ji Nan.

Dua buah kereta yang mengangkut kelima peti mati itu juga sudah tiba, tapi yang menarik keretanya bukan kuda melainkan orang.

Anak buah perkumpulan pengemis sama sekali tidak memiliki kereta yang ditarik oleh kuda, apa saja yang mereka lakukan semuanya harus mengandalkan diri sendiri, mengucurkan keringat sendiri, menggunakan kekuatan sendiri

Ada pengemis bermuka bopeng yang mendorong kereta itu dari belakang, orang berbaju hijau itu berjalan pelan-pelan dibela kang mereka, kedua matanya masih saja dingin sambil menatap kosong ke kejauhan. Walaupun raganya ada di sini tetapi hatinya seperti berada di dunia yang lain, dunia yang tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalamnya.

Taman Bulan Purnama. Tapi sepertinya tidak ada sinar bulan yang bisa masuk ke taman ini. Kereta usang itu ditindih oleh peti- peti mati itu sampai berbunyi nyit...nyit... Udara di dalam penuh dengan bau minyak tanah dan sampah. Warna wajah orang berbaju hijau itu semakin pucat menakutkan.

sebenarnya mau diapakan kelima peti mati itu? Dikirim untuk apa? Tidak ada seorangpun yang tahu dan tidak ada seorangpun yang berani bertanya.

Kereta itu bergerak di kegelapan malam dan orang yang mendorong kereta itu bermandikan keringat di udara yang dingin ini.

Tiba-tiba, 7-8 buah senjata yang panjang keluar dari kegelapan malam, 70-80 orang jagoan berkelibat keluar dari kegelapan malam, mengepung kedua kereta yang sudah tidak dapat bergerak itu.

Kepandaian setiap orangnya sangat hebat dan cepat, golok yang tersampir di pinggang pun sudah keluar dan bercahaya diterpa sinar malam.

orang berbaju hijau itu berjalan terlalu lamban sehingga sudah dihadang oleh kepungan di luar sehingga yang ada hanya si muka bopeng, warna di muka bopengnya itu berubah seakan-akan setiap bopeng yang ada di wajahnya mengeluarkan cahaya. Tapi dia tidak bergerak sedikitpun.

Dia bisa melihat bahwa yang benar-benar menakutkan bukanlah orang-orang ini, golok yang ditangan 70-80 orang jagoan ini apabila digabungkan sama sekali tidak menakutkan, bila dibandingkan dengan orang yang tangannya memegang secangkir arak.

orang ini duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayupohon angsana yang didorong oleh orang. Kursi itu bisa didorong karena di bawah kursi itu dipasang roda dan orang yang duduk diatasnya sedang memegang cangkir arak di tangannya karena dia memang sedang minum arak.

Tempat ini bukanlah tempat untuk minum arak dan sekarang juga bukan waktunya untuk minum arak. Tidak ada seorang pun yang duduk di kursi panjang dan sengaja menyuruh orang untuk mengantarnya ke tempat ini untuk minum arak.

orang ini justru datang seperti itu, lagi pula sepertinya memang datang untuk minum arak karena selain cangkir arak di tangannya, dia sama sekali tidak tertarik dengan keadaan sekelilingnya.

Ada seseorang yang berdiri di sebelah kursi berodanya dan orang itujustru kebalikkan dari dirinya. Dia berpakaian menarik serta wajahnya selalu menampilkan muka yang penuh dengan senyuman ramah, orang ini seperti sebatang lembing, sepertinya setiap saat bisa terbang melesat menembus jantung orang lain.

Begitu sampai di depan kereta itu dia berkata dengan dingin, "Margaku Lian dan namaku Lian Gen. orang-orang ini semuanya

adalah bawahanku, mereka bersedia mati demi aku kapan saja." Gaya bicaranya langsung dan ringkas tapi sangat galak.

"oleh karena itu aku juga bisa mengambil nyawa kalian setiap saat."

si bopeng itu malah tertawa berkata,

"kebetulan sekali kita pun sedang tidak menginginkan orang lain mati, sendiri juga tidak ingin mati." Dia berkata,

"Kami hanyalah si miskin yang menginginkan sesuap nasi." "Aku bisa melihatnya."

"Kami sama sekali tidak membawa uang di tubuh kami, di dalam kereta juga tidak ada barang yang berharga, hanya ada lima buah peti mati saja."

si muka bopeng berkata,

"Di dalam peti juga tidak ada uang emas juga perhiasaan, di dalamnya hanya ada beberapa orang mati." Dia berkata sambil mengeluh,

"Karena itu saya tidak mengerti mengapa kalian mau mencegat kami?"

"Kami hanya ingin meminjam beberapa barang untuk dibawa pulang untuk dilihat."

"Barang apa yang bisa kami pinjamkan untukmu?" "Peti mati." Lian Gen berkata,

"Kelima peti mati yang ada di atas kereta itu." "Apakah kelima peti mati itu enak dilihat?"

"Peti mati tidak enak dilihat, orang mati juga tidak enak dilihat." Lian Gen berkata,

"Yang enak dilihat aku tidak mau melihatnya, yang tidak enak dilihat aku justru makin ingin melihatnya."

"Kamu benar-benar ingin melihatnya?" "Ya." "Tidak bisa tidak melihatnya?"

"Tidak bisa." Lian Gen berkata dtngan suara keras, "Bahkan walaupun tetua Long Tou dan tetua Xiao dari

perkumpulan pengemis ada di sini, aku tetap akan melihatnya." si muka bopeng menghela nafasnya.

"Kalau begitu, mengapa tidak sekarang saja kau perintahkan beberapa orang ini untuk menggantikanmu mati."

Wajah Lian Gen langsung berubah, dengan perlahan mengeluarkan tangannya lalu dengan tiba-tiba membalikkan telapak tangannya dan golok salah satu anak buah di belakangnya langsung berada di tangannya lalu langsung mematahkannya menjadi dua dengan kedua tangannya.

orang yang ditangannya ada cangkir arak yang duduk di kursi beroda setelah ini baru mengeluarkan suaranya,

"Ilmu silat yang hebat. ..ilmu silat yang hebat... "Dia tersenyum berkata,

"Bahkan orang-orang di wisma Raja Cakar Elang di Huai Nan kemungkinan juga tidak banyak yang bisa menandingimu."

Lian Gen tertawa dingin,

"Mereka memang bukan tandinganku."

Dengan menggunakan kedua tangannya dia mengambil golok yang dipatahkannya tadi dan tiba-tiba sebelah tangannya melemparkannya lalu hilang, hanya terdengar suaranya saja, ternyata golok yang patah itu sudah masuk menembus peti mati itu.

Raut muka si bopeng sama sekali tidak berubah, hanya berkata dengan dingin,

"Untung sekali yang di dalam peti mati itu adalah orang mati, ditusuk beberapa kali pun tidak jadi masalah."

"Dia sudah mati, tapi kau belum mati."

Di tangan Lian Gen masih ada sebagian lagi dari golok patah tadi. "Yang ini adalah bagianmu."

Perkataan itu baru saja selesai diucapkan, tiba-tiba ada seseorang yang muncul di antara Lian Gen dan si muka bopeng. seseorang yang bewajah putih pucat dan berbaju hijau yang datangnya bagaikan ditiup angin.

Lian Gen mundur setengah langkah ke belakang lalu bertanya, "siapa kau?"

orang yang berbaju hijau itu seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakannya dan juga seolah-olah tidak melihatnya. Dengan perlahan-lahan dia mengeluarkan panji-panji kecil dari tubuhnya yang diikatkan pada tiang bendera hitam yang panjangnya 6-7 cun. Apakah panji-panji kecil ini adalah alat yang digunakannya untuk membunuh orang?

Tangan Lian Gen yang digunakan untuk memegang golok itu mengeluarkan keringat dingin dan tangan semua orang yang memegang golok pun mengeluarkan keringat dingin. siapapun bisa melihatnya orang yang berbaju hijau itu bisa membunuh orang hanya dengan menggunakan sebatang ranting pohon. Dia sama sekali tidak membunuh orang. Dia hanya menancapkan panji-panji itu satu persatu di atas kelima peti mati itu. Lima buah peti mati, lima buah panji.

Dia pergi sesudah menancapkan semua panji-panji itu.

Pengikutnya pun mengikutinya pergi dan meninggalkan kelima peti mati yang tadinya sampai mati pun tidak akan diserahkan. semua jagoan yang membawa golok itu sebera memberikan jalan.

Yang mereka inginkan hanyalah peti-peti mati itu dan bukan orangnya. Karena mereka sudah meninggalkan peti-peti itu, mereka juga tidak mau mencari masalah lebih jauh, lebih cepat memeriksa lebih cepat pulang, lalu minum araki mandi, dan tidur Jauh lebih baik daripada mempertaruhkan nyawa di tengah malam.

Tidak ada yang menyangka mereka akan pergi tapi mereka benar-benar telah pergi dan hanya meninggalkan lima buah panji yang ditancapkan di atas kelima peti mati itu. Mengapa mereka berbuat demikian?

Tidak ada seorangpun yang mengerti dan tidak ada seorangpun yang mencoba berpikir untuk mengerti.

Di lorong panjang yang gelap. dengan sinar bulan yang berwarna putih, tiupan angin yang dingin, Lian Gen tiba-tiba mengangkat tangannya.

"Kita pergi." Dia berkata, "Bawa serta kelima peti itu." Ada empat orang menyarungkan goloknya dan mendorong kereta ini. Baru saja berjalan dua langkahi tiba-tiba mereka berhenti, sepertinya empat pasang kaki itu terkena semacam ilmu hitam karena bagaikan ada tangan yang tidak terlihat yang menancapkan paku-paku di keempat pasang kaki itu sampai ke tanah sehingga tidak bisa bergerak.

Mata keempat orang itu dan yang lainnya semuanya menatap ke satu arah, yaitu menatap ke panji-panji itu.

Kebetulan pada saat itu ada angin yang bertiup dan mengibarkan panji-panji yang tertancap itu, ternyata di atas panji-panji itu penuh dengan gambar kuntum bunga beraneka warna. Dibawah cahaya sinar bulan, gambar-gambar itu terlihat lebih hidup,

setelah beberapa saat barulah kaki keempat orang itu bisa bergerak tetapi bukan bergerak maju malah bergerak mundur.

Lian Gen marah besar dan dia memerintahkan anak buahnya dengan nada seperti dalam ketentaraan yang tidak ada seorangpun yang berani melawannya.

Mereka tidak berani melawan juga tidak berani mengelak, tapi rasa takut dan hormat mereka terhadap Lian Gen tidak berkurang.

Tapi mereka sudah tidak ada yang berani menggerakkan kelima peti mati tersebut.

Lian Gen menjulurkan telapak tangan besinya dan mencengkram lengan salah seorang anak buahnya. sekuat apapun lengan seseorang apabila sudah terkena cengkraman tangan besinya pasti akan hangus remuk. sekali mengeluarkan perintahi dia tidak akan mengucapkannya dua kali, dia akan menggunakan tindakan untuk menekankan hal itu.

suara tulang lengan yang remuk itu membuat bulu kuduk orang berdiri di dinginnya angin malam. suara jeritan orang yang remuk lengannya itu seperti lolongan serigala layaknya.

Dengan pandangan sedingin es, Lian Gen menjulurkan goloknya kedepan muka setiap orang yang ada di sana sambil berkata,

"Adakah, orang yang mau membawa kelima peti mati ini?"

Tidak ada yang berani mendekat, tidak ada seorangpun yang berani.

orang yang duduk di kursi beroda itu tiba-tiba meletakkan cangkir araknya dan menghela nafas panjang.

"Tidak ada gunanya." Dia berkata,

"walaupun kau bunuh mereka semua juga tidak akan ada gunanya. Tetap saja tidak akan ada yang berani menyentuh kelima peti mati itu."

Lian Gen membalikkan kepalanya dan bertanya dengan nada marahi "Mengapa?"

"Karena mereka semua mengenali panji-panji yang ada di atas peti-peti itu." orang yang duduk di kursi beroda itu berkata,

"30 tahun ini, di kota Ji Nan dalam radius 800 li tidak ada seorang pun yang berani mengusik panji bunga milik tuan besar tua Tian." Lian Gen tertawa dingin.

"Kalau mengusiknya lalu apa yang akan terjadi,"

"Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi." orang yang duduk di kursi roda itu berkata,

"Mengapa tidak kau coba saja sendiri?"

Urat-urat yang ada di dahi Lian Gen kelihatan menonjol. "Aku justru ingin mencobanya,"

Keretanya masih ada dijalan, peti matinya masih ada di atas keretanya, dan panjinya masih ada di atas peti matinya.

Lian Gen mendekati secara perlahan-lahan, urat-urat yang ada di belakangan tangannya sudah menonjol.

Dia benar-benar ingin mencabut sendiri panji-panji itu.

Dengan ilmu silat serta ilmu golok yang tinggi, pohon yang besar sekalipun bisa dicabut olehnya. Tapi dia malah tidak bisa mencabuti panji-panji kecil itu.

Baru saja tangannya terjulur ke depan, ternyata sudah ada orang tua berbaju hitam yang kurus kering, pendek dan kepala botak yang berdiri di depan kereta itu dan menggunakan tangannya yang kurus kering menangkap lengan Lian Gen dan memegang telapak tangan besinya.

Wajah Lian Gen langsung menggeliat kesakitan, walaupun badannya masih berdiri di sana tetapi keringat dingin sebesar kacang sudah keluar membasahi tubuhnya. orang tua berkepala botak itu hanya menatap dingin kepadanya dan bertanya dengan nada dingin,

"Kamu adalah pengurus kediaman Sun Ji Cheng yang berjulukan Tenaga Dewa Iblis itu?"

"Ya." Suara Lian Gen terdengar sangat menderita dan kesakitan. "Ya, aku adalah Lian Gen."

"Kalau begitu kau telah melakukan kesalahan." orang tua itu berkata,

"Ada dua hal yang kamu salah." "oh?"

"Yang pertama, kau sama sekali tidak boleh mengusik panji-panji ini."

"Yang kedua?"

"Yang kedua, kau terlalu tinggi menilai ilmu silatmu sendiri" orang tua itu berkata dengan dingin,

"Ilmu silatmu masih jauh bila dibandingkan dengan orang-orang dari wisma Raja Cakar Elang di Huai Nan."

Seusai mengucapkan kalimat itu, terdengar suara tulang yang remuk di tengah tiupan angin malam.

Lian Gen menjerit, badannya terangkat seperti pohon yang dicabut sampai ke akarnya dan terlempar seperti tombak yang dilempar. Bawahannya langsung mundur, yang tertinggal hanya orang yang duduk di kursi beroda itu yang sedang tertawa dan bertepuk tangan.

"Tiga raja dari Huai Nan, yang terkuat, Lao Wang." Dia berkata dengan nada memuji yang tulus,

"Ilmu cakar elang tuan Lao Wang benar-benar hebat."

"Hebat, benar-benar hebat." Ternyata dalam lorong yang gelap masih ada seseorang yang bertepuk tangan dan tertawa. Tidak disangka pengurus Zheng dari restoran Da San Yuan juga punya mata yang jeli, dengan sekali melihat sudah dapat menebak ilmu yang digunakan paman Lao Wang, benar-benar hebat.

Usia orang ini masih muda tapi badannya sangat tinggi.

Walaupun usianya juga tidak bisa dikatakan masih kecil tapi kalau tertawa kelihatannya seperti anak kecil. Tampang orang ini tidak bisa dikatakan tampan, mata yang kecil, mulut yang besar, hidung peseki muka bulat, sekali tertawa matanya langsung tidak terlihat, tapi tampangnya enak dilihat.

orang ini ternyata juga duduk dikursi di atas kereta yang bisa bergeraki juga seperti Zheng Nan Yuan yang mendorong sendiri kursinya, dia juga mendorong sendiri kursinya untuk mendekat. Zheng Nan Yuan tertawa.

"Ternyata tuan muda Tian." Dia memberi salam dari kursi beradanya,

"Apa kabar tuan muda?" "Pengurus Zheng, apa kabar?" "Mengapa tuan muda juga menggunakan kursi yang seperti ini?"

"saya mempelajarinya darimu." Tuan muda Tian dari partai Panji Bunga berkata,

"Dari dulu aku sudah ingin menggunakan kursi yang seperti ini." "Tapi aku ingat dua hari sebelumnya tuan muda masih

bersemangat, tuan muda bisa naik 20 lebih anak tangga di sebuah kedai kecil dengan mudah."

“Di mana kau menemukan mereka?”

“Kedua kakiku ini memang sangat berguna sekali, kalau tidak tuan besar kami tidak akan memanggilku Tian Ji Zi.”

“Lalu mengapa tuan muda duduk di kursi seperti itu?” Zheng Nan Yuan bertanya lagi.

“Karena aku seorang pemalas,” kata Tian Ji Zi. “Aku selalu merasa sayang harus membuang tenaga hanya untuk berjalan kaki.”

Zheng Nan Yuan tertawa lagi. Kedua orang itu tertawanya sangat gembira sekali.

“Apakah pengurus restoran seperti anda datang ke tempat ini karena kelima tamu kami?”

“Tamu? Lima tamu yang mana?”

“Yang memiliki panji yang diberikan tuan besar kami adalah tamu kami, baik mati atau hidup sama saja.” Tian Ji Zi tertawa sambil bertanya, “Apakah anda bisa membiarkan aku untuk membawa pergi mereka semua?” “Silahkan.”

Zheng Nan. Yuan segara mendorong kursinya menyingkir. Dia adalah orang yang tahu diri, lebih dulu mendorong kursinya untuk memberi jalan kepada Tian Ji Zi.

Tak disangka tuan Lao Wang berkata terlebih dahulu, “Tunggu dulu.”

Zheng Nan Yuan baru saja membalikkan mukanya, sepasang cakar elang tuan Lao Wang yang sudah terkenal di dunia persilatan sudah berada di depan tenggorokannya.

Tangan inilah yang tadi meremukkan tangan Lian Gen, dengan menggunakan sedikit tenaga, tenggorokan siapa pun pasti berlubang.

Zheng Nan Yuan sama sekali tidak mengedipkan matanya, hanya berkata dengan tawar, “Ada apa?”

“Kamu tahu orang mati yang ada di dalam peti mati itu siapa?” “Tidak tahu.”

“Lalu mengapa kau ingin melihat kelima peti mati itu?”

“Karena kemarin malam di rumah majikan kami terjadi kejadian yang aneh.” Zheng Nan Yuan berkata,”oleh karena itu semua orang yang baru datang hari ini ke kota Ji Nan, tidak peduli hidup atau mati, kami ingin melihatnya.”

Di waktu yang bersamaan, Wu Tao sedang mabuk berat di dalam restoran. Pengemis kecil yang bernama Yuan Bao itu hanya duduk di sebelahnya memandangi Wu Tao, dia tidak tahu apakah dia sendiri sadar atau mabuk.

Dengan situasi yang terjadi malam ini, orang-orang yang sudah berada di kota Ji Nan semua akan merasa kalau mabuk lebih baik dibandingkan sadar.

Di mana-mana terdapat timbunan kayu besar yang didatangkan dari berbagai daerah, udara di sekelilingnya dipenuhi oleh wangi yang berasal dari serpihan kayu.

Semua orang tahu bahwa dalam jarak 800 li tidak ada lagi perusahaan kayu yang lebih besar dari “Sen Ji”, tapi tidak ada seorangpun yang tahu bahwa ini adalah salah satu cabang dari partai Panji Bunga.

Dibelakang lapangan yang penuh dengan wangi kayu ada sebuah gubuk kayu yang tinggi dan luas. Kereta bobrok yang membawa kelima peti mati itu sudah dibereskan dengan cara dipereteli menjadi sampah sedangkan kelima peti mati itu sudah dibawa masuk ke dalam gubuk kayu itu.

Diatas sebuah meja yang dibuat dengan menggunakan paku kayu yang besar, terdapat sebuah lentera, semangkuk daging, satu guci arak, dan tiga set cangkir dan sumpit. Tapi hanya ada dua orang yang duduk.

Mata elang si “cakar elang” Lao Wang sedang menatap tajam orang yang duduk dihadapannya, Tian Ji Zi.

“Apakah kau benar-benar percaya si marga Zheng itu hanyalah seorang pengurus kedai arak biasa?” “Aku tidak percaya.”

“Kalau begitu seharusnya tadi kau tidak memintaku untuk melepaskannya.”

“Untuk apa kau menahannya?” Tian Ji Zi tertawa. “Mengudangnya kemari untuk minum arak?”

“Paling tidak aku bisa menjejal ilmu silatnya.”

“Kau tidak perlu menjejalnya.” Tian Ji Zi berkata dengan pasti, “Ilmunya tidak lebih bawah dibandingkan ilmu kita.”

Si cakar elang tidak berbicara lagi, biji matanya mendadak mengerut dan dengan tiba-tiba membalikkan badannya dan melompat, dengan satu tangan melindungi kepalanya, dia mendobrak keluar jendela.

Di luar jendela tidak ada orang sama sekali.

Ternyata orang itu telah masuk ke dalam melalui jendela yang lainnya. Orang yang bermuka putih pucat seperti orang mati dengan pandangan mata yang sepertinya selalu melihat ke kejauhan, baju hijau di badan sudah dicuci bersih, sebelah lengan bajunya terselip di pinggang.

Tian Ji Zi. memandanginya, lalu memandangi kelima peti mati itu.

Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa pahit. “Mengapa kau selalu mencampuri urusan bisnis kami?”

Orang berbaju hijau itu balas bertanya, “Mengapa tidak kau tanyakan orang-orang itu mengapa mereka tertarik dengan kelima peti mati ini?” “Sudah kutanyakan.” Tian Ji Zi berkata, “Dia hanya berkata kemarin malam di rumah majikannya telah terjadi suatu kejadian yang aneh.”

“Mengapa tidak kau tanyakan kejadian aneh seperti apa yang telah terjadi?”

“Aku tidak perlu bertanya, karena aku sudah mengetahuinya.” Tian Ji Zi berkata, “Di rumah mereka ada tiga orang yang terbunuh.”

“Siapa ketiga orang itu?”

“Yang satu pengawal pribadinya Qiu Bu Dao, yang satu Liu Jin Niang yang terkenal sebagai orang yang ahli menyulam dan mantan dayang istana,” kata Tian Ji Zi. “Masih ada satu lagi yaitu majikan mereka Sun Ji Cheng.”

“Sun Ji Cheng juga mati?” Orang berbaju hijau itu terkejut. “Bagaimana matinya?”

“Rumornya mati oleh pukulan tinju Xiao Lin milik Qiu Bu Dao, sekali pukul langsung mati.”

“Lalu Qiu Bu Dao?”

“Mati keracunan oleh arak beracun.” Tian Ji Zi berkata, “Kata orang, racun yang ada di dalam arak itu bisa membunuh satu kompi orang.”

“Siapa yang menaruh racun di dalam arak itu?”

“Mungkin Sun Ji Cheng, mungkin Liu Jin Niang, atau mungkin Qiu Bu Dao sendiri.” Tian Ji Zi berkata, “Mereka bertiga memiliki kemungkinan besar menaruh racun dalam arak, dan masing-masing memiliki alasan untuk menghabisi nyawa yang lainnya.” Dia tertawa pahit. “Aku sudah mencarikan paling sedikit 70-80 macam alasan bagi mereka, lapi untuk alasan yang sebenarnya sekarang mungkin hanya Tuhan yang tahu.”

Orang yang berbaju hijau itu merenungkannya.

Si cakar elang sudah kembali, dia berdiri di sampingnya, matanya menyipit menatap urat-urat aliran darahnya yang ada di belakang kepalanya, sepasang cakarnya sudah penuh dengan tenaga dalam.

Orang berbaju hijau itu sepertinya sama sekali tidak merasakannya, lewat beberapa saat barulah bertanya kembali, “Di mana mereka mati?”

“Di kamar rahasia Sun Ji Cheng.”

“Apakah ada orang lain yang tahu keberadaan kamar rahasia itu?”

“Tidak ada.”

“Jadi tidak ada orang lain yang bisa membubuhkan racun ke dalam arak itu?”

“Benar.”

Tian Ji Zi melanjutkan, “Kamar rahasia itu ada di dalam kamar tidur, kemarin malam para penjaga yang berjaga di luar kamar itu melihat Sun Ji Cheng masuk ke dalam dengan Qiu Bu Dao dan setelah itu tidak ada seorangpun yang melihat mereka keluar dari kamar itu.” Mata orang berbaju hijau itu tiba-tiba terfokus dan bercahaya, “Dalam situasi seperti ini, kematian mereka bertiga hanya ada satu alasan.” Dia berkata, “Mati bersama-sama karena cinta.”

“Aku juga berpikir demikian,” kata Tian Ji Zi.

“Karena mereka saling bunuh sendiri, artinya tidak ada pembunuhnya, mengapa semua bawahan Sun Ji Cheng memeriksa semua orang asing yang masuk ke kota Ji Nan? Bahkan orang mati pun tidak terkecuali?” Orang berbaju hijau itu berkata sekata demi sekata, “Apakah masih ada rahasia di dalamnya?”

Pertanyaan tadi merupakan pokok dari kejadian ini, seperti pisau yang langsung ditusukkan ke seekor ular.

* satuan mata uang china jaman dulu. ooo)O(ooo

BAB IV ORANG TUA YANG MEMAINKAN SAN XIAN*

Tanggal 16 bulan 4, malam...

Penyelidikan yang sangat ketat sudah dibentangkan ditengah kegelapan malam. Jumlah orang yang bermobilisasi jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kepala pemerintahan (setingkat residen) yang mengatur di kota Ji Nan. Orang yang mengorganisir sukarela termasuk keluarga pengawal Sun Ji Cheng, pelayan yang bekerja di toko-toko milik bawahan Sun Ji Cheng, juga saudara dan kerabat dari orang-orang ini, semuanya sangat mengenal baik segala masalah yang ada di dalam kota Ji Nan. Setiap kedai teh, kedai arak, dan tempat pelacuran di setiap daerah semuanya ada dalam penyelidikan mereka. Pada saat ini, Wu Tao yang sedang mabuk itu sudah dipersiapkan sebuah kamar kecil di belakang oleh pelayan kedai arak itu untuk tinggal.

Yuan Bao ternyata masih belum pergi karena dia juga mabuk, benar-benar mabuk. Keduanya mabuk sampai tidak sadar akan sekelilingnya, pening sampai bingung.

Yang bertanggung jawab untuk memeriksa daerah ini adalah pengurus kedua toko “Kai Yuan Jian Hao” milik Sun Ji Cheng yang bernama Yang Ke Dong.

Orang ini pintar dan cekatan juga pandai berbicara, tetapi menghadapi setan mabuk seperti Wu Tao dia juga kehabisan akal, tidak ada satu pertanyaan pun yang bisa dijawab.

Tapi setan mabuk seperti Wu Tao sama sekali tidak berarti, jika seseorang memiliki masalah di hatinya, tidak akan mungkin dengan seorang pengemis kecil minum sampai mabuk seperti ini.

Jadi Yang Ke Dong memutuskan untuk melepaskan kedua orang

ini.

Tapi dia tetap harus terus mengadakan penyelidikan, kelihatannya malam ini tidak mungkin bisa pulang ke rumah untuk tidur. Istri yang baru dinikahinya pasti akan berbaring di ranjang dengan mata terbuka menunggunya pulang.

Dia tidak dapat menahan diri untuk menggerutu diam-diam di dalam hatinya karena dia sendiri juga tidak mengerti, jelas-jelas kematian

* alat musik kuno yang terdiri dari tiga senar. majikan besar Sun itu mati karena cinta, pembunuhnya pun sudah bunuh diri, tapi mengapa orang-orang ini masih menyuruh dia untuk menanggung beban seperti ini?

Yang makin membuatnya tidak mengerti, orang asing yang datang ke kota Ji Nan dari awal hari ini, apa hubungannya dengan kematian majikan besar Sun?

Tidak ada seorangpun yang mengerti akan hal ini, oleh karena itu pertanyaan orang yang berbaju hijau itu walaupun merupakan masalah yang utama, tetap hanya sia-sia saja.

Tian Ji Zi berdiri, menepuk-nepuk kelima peti mati itu dan balik bertanya, “Di dalam sini benar-benar ada orang mati?”

“Tentu saja ada.”

“Yang mati itu temanmu?” “Bukan.”

“Lalu siapa?”

“Aku sendiri juga tidak kenal.” Orang berbaju hijau itu berkata, “Satu pun tidak ada yang kenal.” Tian Ji Zi terpaku.

“Kau sendiri tidak kenal!” Dia bertanya kepada orang berbaju hijau itu, “Lalu kau membawa mereka kemari untuk apa?”

“Untuk diberikan kepadamu.”

Tian Ji Zi terkejut dan membelalakan matanya, bahkan bola matanya seperti hendak keluar saja. “Kau sengaja membeli lima buah peti mati dan memasukkan lima orang mati kedalamnya hanya untuk diberikan kepadaku?”

“Ya.”

Tian Ji Zi merasa dirinya hendak pingsan, buru-buru lari untuk minum semangkuk besar arak, hampir saja arak yang diminumnya keluar dari hidungnya.

Akhirnya dia tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa. “Kalau aku tidak mengenal siapa dirimu, pasti sudah langsung kutendang keluar.”

Biasanya dia menggunakan cara itu untuk menghadapi orang gila. Tapi orang yang berbaju hijau itu sama sekali tidak gila dan juga tidak mabuk.

Bahkan kelihatannya dia lebih sadar daripada banyak orang yang ada di muka bumi ini. Melihat sikapnya yang seperti itu, Tian Ji Zi tidak dapat mengeluarkan ketawanya lagi, tidak dapat menahan diri bertanya, “Untuk apa kau berikan mereka kepadaku?”

Orang berbaju hijau itu tingkah lakunya semakin misterius. “Aku ingin kau melihat siapa mereka sebenarnya? Bagaimana mereka mati?”

Peti mati itu memang tidak dipaku mati.

Melihat lima orang mati di dalamnya dan luka mereka yang mematikan, wajah Tian Ji Zi langsung berubah menjadi sangat misterius dan takjub. Orang berbaju hijau itu bertanya padanya, “Apa yang sudah kautemukan?”

Tian Ji Zi terus menerus menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah lewat beberapa waktu baru dengan pelan-pelan berkata, “Aku tidak menemukan apapun, aku sama sekali tidak punya jaminan.”

Tiba-tiba dia menepuk tangannya lalu muncul seorang anak muda yang sangat bersih dari atas sampai bawah dan bertanya,

"Tuan besar ada di mana?"

"Pagi ini suasana hati tuan besar tidak begitu bagus, lalu pergi keluar seorang diri dan tidak memperbolehkan seorangpun mengikutinya." Anak muda itu bertanya,

"Tidak ada yang tahu kemana tuan besar pergi."

Pada saat ketua partai Panji Bunga yaitu generasi tua dari dunia persilatan yang sangat langka, tuan besar Tian Yong Hua, suasana hatinya sedang tidak enaki pasti akan pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh orang lain.

Tapi yang tidak diketahui orang lain, Tian Ji Zi pasti selalu tahu. orang berbaju hijau sudah bertanya lagi padanya.

"Bisakah kau membawaku pergi ke sana?"

"sebenarnya tidak boleh, siapapun tidak boleh pergi ke sana, tetapi kali ini. " Tian Ji Zi melihat mayat-mayat yang ada di dalam

peti mati itu lalu menghela nafasnya berkata,

"Kali ini sepertinya terpaksa melanggar aturan." orang berbaju hijau itu bangkit dengan perlahan-lahan, tiba-tiba membalikkan kepalanya menghadapi tatapan mata tajam si cakar elang Lao Wang dan berkata dengan dingin,

"Tempat yang kau pilih tidak bagus." "Tempat apa?"

orang berbaju hijau itu mengelus-elus belakang kepalanya. "Tempat ini tidak bagus, sangat tidak bagus."

Raut muka si cakar elang berubah, matanya menyipit.

Tadi waktu dia menerobos keluar jendela dan mendapati di luar tidak ada siapa-siapa, dia sudah marah kepada orang bermuka pucat seperti mayat dan berbaju hijau ini. Memang tidak ada satupun dari Tiga Raja dari Huai Nan yang temperamennya baik,

Dia bertanya kepada orang berbaju hijau itu dengan dingin, "Mengapa tempat itu tidak bagus?"

"Karena kau barusan sudah siap-siap mengeluarkan jurus, sepertinya siap untuk mengeluarkan salah satu jurus dari ilmu Tiga Belas Cakar Dewa Elang dari partai Cakar Elang kalian, yaitu jurus Menerkam Macam, untuk menghadapiku."

si cakar elang Lao Wang tertawa dingin,

"Aku memakai jurus ini untuk menghadapimu boleh dikatakan sudah menghargaimu." "Untungnya kau tidak benar-benar menggunakannya, kalau tidak. "

"Kalau tidak apa? " Bersambung 03.