Rahasia Peti Wasiat Jilid 17

Jilid 17

"Meski bagus pemandangan tempat ini, tapi aku tidak tahan pada wataknya yang sebentar marah dan sebentar gembira itu," tutur Beng-ai

"Walaupun sifatnya rada aneh, tapi hatinya sangat baik," kata It-hiong

"Kutahu, namun ”

"Sudahlah, jangan disebut-sebut lagi," potong It-hiong dengan tertawa "Ingin kutanya padamu, Kau mau kawin denganku atau tidak?"

Beng-ai mengangguk, lalu menunduk dan meliput ujung baju

"Jika begitu, hendaknya bersabar sementara. nanti katau semua urusan sudah kita selesaikan, tentu akan kubawa dirimu meninggalkan tempat ini " Beng-ai  mengambil dua butir telur ayam dan dipecah kulitnya, dituang ke dalam mangkuk, lalu diaduk dengan sumpit, katanya, "Sesungguhnya apa yang kalian lakukan di sini?"

"Sekarang kamu jangan tanya, kelak tentu akan tahu sendiri," ucap It-hiong.

Beng-ai membuka tutup wajan dan menuangkan adukan telur sembari berkata pula, "Dan

mengapa kalian harus mengelabui diriku."

"Kamu kan orang perempuan, ada sementara urusan tidak perlu kau tahu."

Beng-ai menunduk diam

Pelahan It-hiong menepuk bahunya dan menghiburnya, "Jangan berpikir yang tidak-tidak, jika benar kamu ingin hidup bersamaku, hendaknva kau sabar sementara ini, pasti takkan kuperlakukan dirimu dengan jelek."

Setelah termenung sejenak, pelahan Beng-ai berkata, "Ingin .

. . ingin kuberitahukan  satu hal padamu . . . " "Urusan apa?" tanya It-hiong

Kembali Beng-ai termenung sejenak, tiba-tiba ia menggeleng kepala dan berkata. "Ah, sudahlah. lebih baik tidak kukatakan”

It-hiong tertawa, "Baiklah, jika hendak kau katakan tentu akan kudengarkan, katau tidak kau katakan juga takkan kupaksa."

Lalu dia menggerayangi lagi si nona, kemudian meninggalkan dapur Setiba di ruangan depan dilihatnya Tui-beng- poan-koan Toh Po-sit asyik mempelajari kotak pusaka itu, ia coba tanya, "Sudah dapat kau buka?"

"Tidak." jawab Toh Po-sit

"Lain kali bila bertemu lagi dengan orang yang hendak rebut kotak ini, tentu akan kutanya sesungguhnya apa isi kotak ini." kata It-hiong.

“Memangnya siapa yang mau memberitahukan padamu," ujar Toh Po-sit dengan tertawa

"Tempo hari mestinya Kiong-su-sing Sun Thian-tik hendak memberitahukan padaku, tapi aku tidak mau terima," tutur It- hiong.

Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit melenggong. "Mengapa kau tolak?"

It-hiong mengangkat pundak. "Sebab kukuatir bila kutahu isi kotak, ada kemungkinan akan timbul angkara murka dan ingin kukangkanginya Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin saja sangat ingin mendapatkan kotak ini. padahal aku merasa tidak lebih hebat daripada mereka "

"Sungguh manusia tidak becus!"omel Toh Po-sit mendadak.

It-hiong menyengir tanpa menjawab. Ia sudah biasa dicaci- maki, maka makian orang tidak dihiraukannya

Mendadak Tui-beng-poan-koan melemparkan kotak itu ke atas meja dan berkata pula. "Sudah lanjut begini usiaku, tapi ..." "Belum pernah melihat anak bodoh seperti diriku, begitu bukan?" tukas lt-hiong dengan tertawa.

“Betul," kata Toh Po-sit “Bukan maksudku sengaja membual, dahulu waktu aku masih muda seperti dirimu sekarang . ."

Sekali ini It-hiong tidak menimbrung, tapi Beng-ai tidak bicara lebih lanjut, tiba-tiba sorot

matanya berkilau dan mendesis, "Ssst, ada orang datang!"

Tergerak hati It-hiong dan Bun-hiong, segera mereka pasang kuping mendengarkan dengan cermat.

Benar juga suara orang itu dari jauh mendekat "Ah, memang benar terdiri satu keluarga!” “Bagaimana kita papak mereka?"

Tapi mendadak It-hiong mendesis dengan suara tertahan. "Ssst, ternyata rombongan mereka. Tok-gan-bu-siang dan Co jing-bin."

Dengan tenang Toh Po-sit berkata,” Lekas kalian sembunyi saja, juga nona Oh suruh sembunyi, biar kupermainkan mereka, lekas masuk!"

It-hiong dan Bun hiong tahu betapa hebat kepandaian orang tua itu, untuk melayani Tok-gan-bu-siang berdua tentu bukan soal, segera mereka menurut dan cepat menyelinap ke ruangan dalam.

Sejenak kemudian terdengar suara langkah Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho dan Co Jing-bin Sing It-hong sudah sampai di luar pagar bambu, terdengar Sing It-hong sedang berkata. "Loliok, kukira tuan rumah di sini pasti seorang sastrawan yang suka kepada ketenangan dan kesunyian "

"Peduli dia sastrawan atau bukan, biarlah kita masuk saja dan minta disediakan makanan," demikian Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho menanggapi

Lalu terdengarsuara pintu digedor dengan keras

"Siapa itu?" teriak Tui-beng-poaa-koan Toh Po-sit dari dalam "Orang lalu!" jawab Ong Sian-ho

"Ada keperluan apa?" tanya pula Toh Po-sit "Ingin numpang minum " jawab si mata satu "Oo, silakan masuk!"

Lalu Ong Sian-ho dan Sing It-hong mendorong pintu dan masuk ke ruangan tamu, melihat Toh po sit duduk di kursi bambu, tanpa memberi hormat mereka lantas duduk juga di samping tuan rumah

"Saudara tinggal sendirian di sini ?" tanya Tok-gan-bu-siang dengar, menyeringai

Pada pundaknya tergantung sebuah bungkusan. melihat bentuknya jelas itulah kotak pusaka palsu yang dirampasnya dari Liong It-hiong.

Sambil mengangguk Toh Po-sit menjawab. "Betul, kalian datang dan mana?"

"Dari bawah gunung," kata si mata satu Toh Po-sit tertawa, "Jika kalian ingin minum silakan ambil sendiri saja. Kakiku ada penyakit, tidak leluasa bergerak, maaf tidak kuladeni "

Segera si mata satu Ong Sian-ho mendekati meja dan menuang dua cangkir toh. secangkir disodorkan kepada si tembong Co-jing-bin, sembari minum ia tanya lagi, "Saudara she apa ?”

“She Toh," jawab Tui-beng-poan-koan.

"She apa?" si mata satu menegas dengan melengak. "Toh," kata Toh Po-sit

Terpancar sinar mata satu dengan aneh, dengan menyeringai ia berkata. "Sangat sedikit orang she Toh, namun pernah kutahu ada seorang she Toh. yaitu kepala polisi terkenal di Tiang-an, namanya Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit. Apakah saudara kenal dia' ?"

"Kenal,'' Toh Po-sit mengangguk.

Air muka si mata lalu terubah pucat, "Ada hubungan apa antara dia denganmu?"

"Ada hubungan sangat erat," jawab Toh Po-sit "Oo, betul ?" si mata satu menegas.

"Ya, sekarang dia sudah pensiun dan mengasingkan diri di suatu tempat “

"Kutanya, ada huhungan apa antara kalian ?" Tui-heng-poan-koan menatapnya dan balas tanya dengan tersenyum "Untuk apa kau tanya urusan ini?'

"Ada seorang saudara misanku... “

Mendadak si tembong menyela, "Loliok. bicara urusan yang benar saja “

Seketika suara si mata satu berubah, dengan wajah tersenyum ramah ia berkata, "Rumah penduduk di sekitar sini sangat sedikit, bukan?"

"Ya, cuma satu rumah in saja," Toh Po-sit menagangguk.

“Jika begitu, ingin kutanya, kira-kira satu jam yang lalu pernah kau lihat dua pemuda lewat disini?”

"Oya, ada, bukankah dua pemuda yang masih muda belia?" jawab Toh Po-sit.

"Aha, betult" seru si mara satu dengan gembira

"Mereka juga datang kesini dan minta minum, seorang di antaranya membawa sebuah kotak yang aneh. "

Segera si mata satu membuka bungkusannya dan berkata, 'Serupa kotak ini bukan?"

"Ya betul ..!”seru Tui-beng-poan-koan dengan lagak terkejut "He. aneh mengapa kalian juga mempunyai kotak seperti

ini?"

Si mata satu tidak menjawab, tapi tanya dengan cepat. "Mereka masih berada di sini?

"Tidak, sudah pergi." jawab Toh Po-sit. “Pergi ke mana?" cepat si mata satu tanya pula.

Toh Po-sit menggeleng, "Entah, cuma malam ini mereka akan datang lagi

"Dan mana kau tahu ?" seru si mata satu dengan girang

"Mereka tanya padaku apakah malam ini boleh mondok semalam di smi, kujawab boleh saja, lalu mereka pergi dengan riang gembira," tutur Toh Po-sit

"Mereka menuju ke jurusan mana?" tanya si mata satu "Ke atas gunung," tutur Toh Po-sit

Si mata satu alias Ong Sian-bo lantas tanya si tembong, "Aneh. untuk apa mereka menuju ke atas gunung?"

"Tentu ada urusan penting." jawab si tembong

Memangnya urusan apa?" si mata satu merasa tidak habis mengerti

"Siapa tahu!" kata sj tembong

"Eh. ada urusan apa kalian mencari mereka?" tanya Toh Po-sit

"Mereka itu penipu, kami hendak mencari mereka untuk membikin perhitungan," tutur si mata satu.

"Oo. penipu? Memangnya barang apa yang mereka tipu dari kalian ?" tanya Toh Po-sit dengan melengak.

Si mata satu menuding kotak palsu yang di bawanya, jawabnya dengan gemas, "Mereka menggunakan kotak palsu ini untuk menipu sebuah kotak pusaka asli milik kami sehingga kami rugi besar, coba  pantas mampus tidak perbuatan mereka ?”

“O kiranya begitu, mereka memang pantas mampus” kata Toh Po-sit “Sungguh rendah mereka, masih muda belia, tidak belajar baik, tapi main tipu, sungguh pantas mampus!''

"Mereka bilang malam ini akan mondok disini?" tanya si mata satu

"Betul," Toh Po-sit mengangguk.

"Kau kira mereka benar akan kembali lagi ke sini?" “Bisa saja, mereka kan tidak perlu dusta padaku?

Lalu si mata satu berkata pula pada si tembong. "Lojit, kukira mereka bermaksud menyembunyi-kan kotak itu di suatu tempat, lalu kembali dan minta mondok di sini, bagaimana pendapatmu?”

"Ya, aku sependapat denganmu."' si tembong mengangguk

"Jika begitu, biarlah kita tunggu saja di sini untuk membekuk mereka," kata si mata satu dengan tertawa

Kembali si tembong mengangguk setuju. Si mata satu menoleh kepada Toh Po-sit dan berkata, "Eh, dapatkah saudara membantu kami"'

"Membantu apa?" tanya Toh Po-sit.

“Biarkan kami sembunyi di dalam rumah, bila mereka pulang, hendaknya engkau pura-pura tidak tahu dan tetap melayani mereka." "Kemudian?" tanya Toh Po-sit

Si mata satu mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangkan sebiji pil hitam dan diberikan kepada Toh Po-sit, katanya, "Ini obat tidur, hendaknya diam-diam kau campurkan.dalam makanan mereka sehabis mereka makan tentu akan jatuh pingsan "

Tui-beng-poan-koan menerima pil itu dan diperiksa dengan teliti, tanyanya kemudian, "Ini bukan racun?"

"Bukan, bukan," sahut si mata satu

Toh Po-sit menyimpan pil itu dipandangnya cuaca di luar. katanya, "Hari sudah hampir gelap setiap saat mereka bisa datang. Jika kahan hendak sembunyi, sebaiknya sekarang juga lekas sembunyi."

"Sebaiknya sembunyi di mana?" tanya si mata satu.

Dengan terhuyung-huyung Toh Po-sit berdiri, katanya. "Sembunyi saja di dalam kamarku, tidak nanti mereka menerobos ke dalam kamarku “

Sembari bicara ia membawa mereka masuk ke kamar

Ia melangkah dengan sangat lambat, satu tindak cuma bergeser sekian senti. serupa seorang lumpuh

Si mata satu merasa heran, ia tanya. Kedua kakimu ini kenapa?"

"Dua tahun yang lalu aku pernah sakit lumpuh, tutur Toh Po- sit dengan menyesal "Meski jiwaku dapat dipertahankan, tapi kedua kaki tidak mau turut perintah lagi " "Jika gerak-gerikmu tidakleluasa mengapa tinggal sendirian di sini?"'

"Soalnya aku suka ketenangan, sebab itulah kuminta anakku membangun gubuk ini”

"Kenapa tidak menggunakan pelayan?'' tanya si mata satu

"Ada seorang mak tua, kebetulan kemarin pulang kampung karena punya cucu "

Tengah bicara  mereka sudah sampai di  depan sebuah kamar, Toh Po-sit membuka pintu dan berkata, 'Inilah kamar tidurku, silakan kalian sembunyi saja di dalam "

Tok-gan-bu-siaug dan Co-jing-bin lantas masuk ke situ. "Kalian lapar tidak?" tanya Toh Po-sit

“Ada sedia makanan di sini?" tanya Tok-gan-bu-siang alias si setan jangkung mata satu.

"Ada sekadarnya, silakan kalian duduk sebentar, akan kuambilkan," habis berkata Toh Po-sit lantas merapatkan pintu kamar dan menuju ke dapur

la geser langkahnya yang pelahan serupa siput menuju ke dapur, dibukanya lemari makan dan

mengeluarkan sepiring bakmi goreng sisa siang tadi.

Dipanaskan sisa bakmi itu di dalam wajan, ditambahnya air, lalu menyalakan api tungku

Tidak lama sisa bakmi goreng itu telah dimasaknya menjadi bakmi kuah, ia tuang bakmi kuah di dalam dua mangkuk dan dilengkapi dua pahang sumpit lalu dibawanya ke kamar, dengan bahu ia dorong pmtu kamar, katanya dengan tertawa, "Sudah kubuatkan dua mangkuk bakmi kuah. silahkan kalian makan seadanya"

Si mata satu dan si tembong sedang duduk di tepi ranjang, melihat dia masuk dengan membawa dua mangkuk bakmi kuali, cepat mereka menyongsong dan menerimanya, kata si mata satu dengan tertawa. 'Terima kasih!"

"Ah, jangan sungkan," jawab Toh Po-sit

Si mata satu memandang mi kuah yang dipegangnya, tiba- tiba ia tanya dengan tertawa, "Eh, di manakah pil yang kuberikan padamu tadi1?''

"Ada, di sini," sabut Toh Po-sit. “Di mana?" tanya si mata satu

Toh Po-sit merogoh keluar pil yang dimaksud. katanya, "Ini, betul tidak?"

Maka tertawalah si mata satu. katanya, "Baiklah. jangan hilang “

“Tidak, tentu tidak," kata Toh Po-sit

“Sebentar bila mereka datang, hendaknya kau bicara dengan mereka dengan suara keras supaya kami dengar di dalam kamar”.

"Baik, baik," dengan tersenyum Toh Po-sit mengundurkan diri dari kamar dan kembali keruangan depan serta duduk di tempat semula diambilnya sebuah pipa tembakau panjang, lalu menyalakan api dan mulai udut. Di dalam kamar si mata satu dan si tembong tidak segera makan mie kuah itu, mereka menaruh mangkuk mi di atas meja, lalu si tembong berkata. "Loliok, kurasa tua bangka itu agak aneh baiknya kita jangan makan bakmi ini "

'Memang kurasakan juga dia agak aneh," kata si mata- satu."Cuma kita kan tidak ada permusuhan dengan dia, tentunya dia takkan meracuni kita."

"Untuk meracuni kita kan tidak perlu harus bermusuhan dulu," ujar si tembong

"Ya, tapi kan tidak ada tanda-tanda dia orang jahat?"

"Biar kulihat dulu apa yang sedang dilakukannya sekarang, kalau tidak ada yang mencurigakan

barulah kita makan mi kuah ini," habis berkata si tembong lantas membuka pintu, dengan pelahan ia menyelinap keluar

Dengan langkah berjinjit jinjit ia merunduk ke samping pintu dia coba mengintip keluar, dilihatnya Tui-beng-poan-koan sedang duduk dan asyik udut, sikapnya tenang dan santai, sama sekali tidak ada sesuatu tanda mencurigakan.

Pelahan ia menyurut mundur kembali ke dalam kamar katanya dengan suara lirih, "Ia sedang udut di ruang depan, tampaknya tiada sesuatu apa "

"Jika begitu marilah kita makan," ajak si mata satu "Nanti dulu," kata si tembong

'Ai, ada apa lagi?"

"Sebaiknya dicicipi dulu satu sumpit." "Kamu sungguh terlampau hati-hati," ujar si mata satu sambil mengangkat mangkuk dicicipinya satu sumpit mi kuah itu. sambil mulut mengunyah dan mata berkedip, katanya dengan tertawa,

"Ehm, lumayan rasanya!"

"Tidak ada rasa yang ganjil ?" tanya si tembong sangsi. “Tidak ada," si mata satu menggeleng

Setelah berulang tanya lagi baru si tembong merasa lega, segera ia ikut duduk dan makan bakmi kuah itu

Baru saja selesai mereka makan, mendadak pintu kamar diketuk orang

Si tembong berjingkat, teriaknya "Siapa itu?"

Sebabnya dia kaget adalah karena sebelum pintu diketuk, pada hakikatnya ia tidak mendengar sesuatu suara orang mendekati pintu

“Aku!'' terdengar jawaban Tui-beng-poan-koan di luar kamar

Dengan was-was si tembong memandang si mata satu, tanyanva dengan suara tertahan, "Adakah kaudengar suara langkahnva tadi ?”

Si mata satu menggeleng.

Seketika si tembong merasa prihatin, sejenak ia tatap pintu kamar, habis ini barulah ia membuka Pintu. DilihatnyaTui-beng-poan-koan berdiri di depan pintu dengan tersenyum, tanpa terasa si tembong menyurut mundur selangkah dan bertanya,

"Ada urusan apa?”

"Kalian sudah makan ?" tanya Toh Po-sit dengan tertawa

Si tembong mengangguk, “Ya, kepandaian masakmu memang boleh juga, cukup enak bakmi kuah tadi.

"Ha..ha " Tui-beng-poan-koan terbahak "Terima kasih atas pujianmu."

“Mereka mungkin takkan datang kemari," segera si mata satu menyambung

"Hari baru saja gelap, tunggulah sebentar lagi," kata Toh Po- sit ia merandek sejenak, lalu

menyambung dengan tertawa. "Ai, aku ini memang sudah pikun, sejauh ini belum lagi mengetahui nama kalian yang terhormat"

"Aku she Ong bernama Sian-bo, ini saudara angkatku, namanya Sing It hiong."

"O, selamat berkenalan," kata Toh Po-sit sambil memberi hormat

"Dan saudara sendiri bernama siapa?" tanya si mata satu Ong Sian ho

Toh-beng-poan-koan tersenyum dan menjawab,"Namaku Po- sit'" "Hahhh!" si mata satu terperanjat "Jadi jadi engkau Ini Toh Po-sit ?''

Orang tua itu mengangguk dengan tersenyum

"Jadi engkau ini Tui-Beng-poan-koan ?” si tembong ikut menegas

Kembali Toh Po-sit mengangguk

Serentak si mata satu meraba tangkai pedang katanya dengan kejut dan curiga. "Kabarnya engkau sudah mati, kiranya masih hidup di dunia ini '

" Pensiun dan mati tidak banyak bedanya," kata Tui-beng- poan-koan tersenyum. "Seorang kalau sudah pensiun kan tidak ada bedanya serupa mayat hidupbelaka…"

Segera si tembong juga menarik rujungnya dan siap tempur, ucapnya, "Waktu kami masuk kemari tadi, kenapa tidak kaukatakan terus terang?"

"Kalian kan tanya padaku kenal Toh Po-sit tidak, kujawab kenai, kalian juga tanya ada hubungan apa antara Toh Po-sit denganku kubilang sangat erat hubungannya. Pula sudah kuberitahukan kepada kalian bahwa dia sudah pensiun dan mengasingkan diri di suatu tempat, apakah semua itu belum cukup jelas?"

"Kukira engkau pasti kenal kami, betul tidak?" tanya si mata satu dengan sikap bermusuhan

"'Lok-lim-jit-coat, sudah lama kudengar julukan kalian," jawab Po-sit "Kau tahu sahabat kalangan liok-lim yang terjungkal di tanganmu berjumlah tidak sedikit'

"Ya, sedikitnya sudah lebih 300 orang," ucap Po-sit tak acuh

Seketika si mata satu menarik muka, ucapnya dengan seram, "Tentu kaupun tahu tidak sedikit sahabat jang ingin mencari dan membikin perhitungan denganmu."

"Ya, kutahu."

"Dan aku ini termasuk satu di antaranya,' kata si mata satu. "OoT?” Toh Po-sit tetap tak acuh

Seketika timbul nafsu membunuh pada air muka si mata satu katanya. "Tentang alasanmu mengundurkan diri dan dunia kangouw. apakah benar karena penyakit kakimu?"

"Bukan," jawab Po-sit sambil menggeleng. 'Habis, apa sebabnya?" tanya si mata satu.

Sebagai pejabat polisi, meski secara resmi dapat ku tumpas kaum penjahat, tapi banyak pula urusan yang tidak dapat kulakukan secara leluasa alasanku minta pensiun justru agar aku dapat bekerja dengan bebas dan leluasa"

Si mata satu menjengek, "Hm, sungguh aku tidak mengerti, mengapa kau selalu memusuhi sahabat lok-lim kami?"'

"Hanya karena minat saja." jawab Toh Po-sit

"Tapi minat demikian pada suatu hari pasti dapat membuat jiwamu melayang,'' kata si mata satu sambil menyeringai. "Untuk ini aku sendiri cukup maklum," kata Toh Po-sit 'Seorang panglima pun setiap saat

dapat gugur di garis depan, hal ini tidak pernah kupikirkan lagi, umpama aku mati juga tidak rugi malahan sudah banyak untung"

"Ada seorang adik misanku mati di tanganmu beberapa tahun yang lalu sejauh ini ingin kubikin perhitungan denganmu, kemudian ku dengar kamu sudah mati. tak tersangka sebenarnya kamu masih hidup, sungguh sangat kebetulan hari ini dapat bertemu di sini denganmu tanpa susah payah kucari “

"He-he, boleh juga" ucap Toh Po-sit tak gentar

'Creng', serentak si mata satu melolos pedangnya, dengusnya, "Hm, hari ini biar kubelajar

kenal denganmu!"

Habis berkata segera pedang bergerak dan bermaksud menyerang.

"Nanti dulu Loliok'"  seru si tembong alias Sing It-hong "Harus kita tanya dia sejelasnya sesungguhnya Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong itu apakah benar pernah datang kemari?'"

"Tidak perlu tanya lagi," ujar si mata satu "Yang dikatakannya pasti dusta."

"Haha. kamu salah, yang kukatakan justru sejujurnya," seru Toh Po-sit denga tertawa.

'Kalau tidak percaya, silakan kalian melihatnya sendiri keluar, itu dia, mereka sudah di situ." Begitu selesai bicara serentak ia menggeser mundur keluar halaman

Ternyata di halaman memang betul sudah berdiri dua orang pemuda, siapa lagi katau bukan Liong It-hiong dan Pang Bun-hiong.

Cepat si maia satu dan si tembong juga mengejar keluar, melibat Bun-hing dan It-hiong berdiri di situ dengan senyum dikulum, air muka mereka berubah seketika.

"Ayo maju kemari, jika kalian masih mau bergebrak, silakan di sini saja lebih luas." Kata Toh Po sit tertawa.

Mendedak si tembong menarik ujung baju si mata satu. desisnva dengan kuatir. "Wah, Loliok. kepalaku terasa agak pusing'”

Saat  itu si mata  satu  sendiri juga meresa kepala pening, dada sesak dan mual. kedua kaki terasa lemas pula, keruan ia sangat  terperanjat, serunya,  "Wah, celaka, kita keracunan, lekas lari”

Segera ia mendahului melompat ke luar halaman, tapi baru saja ia meloncat ke atas, kontan ia jatuh terbanting di tanah serupa burung yang kena pelinteng

Begitu pula si tembong mengalami nasib yang sama.

Air muka si mata satu berubah pucat pasi, sekuatnya ia coba mengangkat tubuhnya dan meraung.

"Toh Po-sit, caramu ini terhitung ksatria macam apa? Huh. ternyata kau juga suka bertindak secara rendah begini, pakai racun segala!" "Ini namanya senjata makan tuan” jawab Toh Po-sit dengan tersenyum "Kalian kan bermaksud membunuh orang dengan racun, maka aku pun menggunakan racun supaya kalian tahu bagaimana rasanya "

“Lekas berikan obat penawarnya'' teriak si mata satu beringas

“Tidak ada obat penawar." jawab Toh Po-sit sambil menggeleng

Muka si mata satu pucat serupa mayat, kontan ia mencaci- maki "Dirodok, sesungguhnya apa kehendakmu?. Lekas buka kartu, apa syaratmu"'

“Aku tidak menghendaki lain. hanya minta jiwa kalian," jawab Toh Po-sit ketus "Kejahatan kalian sudah kelewat takaran, sudah tiba waktunya kalian mendapatkan ganjaran  setimpal "

Cemas dan gugup si mata satu, teriaknya parau 'Kamu tidak berhak menjatuhkan kematian kepada kami, jika kauanggap kami pantas mati, harus kauserahkan kami kepada pihak yang berwajib”

"Diserahkan pihak yang berwajib berarti ada kesempatan bagi kalian untuk kabur, begitu bukan? jengek Toh Po-sit

Karena isi hatinya tepat tertebak, seketika si mata satu bungkam

Tui-beng-poan-koan mendengus. "Hm. tadi kan sudah kukatakan, sebabnya aku pensiun adalah karena aku ingin bekerja secara bebas dan leluasa.

Dahulu bilamana buronan kutangkap, karena terbatas oleh ketentuan undang-undang sukar bagiku untuk menjatuhkan hukuman mati bagi mereka, seringkah memberi kesempatan kepada mereka untuk kabur. Sebab itulah sengaja kuminta pensiun saja Sekarang kedudukanku adalah rakyat biasa. aku dapat bertindak se sukaku tanpa terikat.

Si mata satu mulai merasakan perut melilit, ia tahu racun mulai bekerja, ajalnya sudah dekat, tanpa teraba tubuh bergemetar, ucapnya dengan terputus-putus, "Aku …kami tidak ada permusuhan apa pun denganmu mengapa .. . mengapa engkau memperlakukan kami sekeji ini?"

Pada waktu kalian melakukan kejahatan, apakah pernah kalian pikirkan bahwa para korban itupun tidak pernah ada permusuhan apa pun dengan kalian?" tanya Toh Po-sit

Kembali si mata satu tidak mampu menjawab

"Toh Po-sit," dengan memelas si tembong memohon, "harap engkau suka membebaskan kami, seterusnya kami akan kembali ke jalan yang benar, boleh?"

"Ya, mohon ampuni kami sekali saja, kami bersumpah akan menjadi manusia baru," tukas si mata satu cepat

Tui-beng-poan-koan menggeleng kepala, tanpa bicara ia melangkah keluar It-hiong dan Bun-hiong juga ikut keluar. Mereka menuju ke depan rak bunga di ruangan depan, Tui- beug-poan-koan mengangkat turun satu pot tanaman pohon cemara kerdil, ia berjongkok dan merawat tanaman bougsai itu.

Agaknya dia tak mau lagi memikirkan si mata satu dan si tembong yang sedang bergelut dengan elmaut.

"Apakah engkau benar-benar menghendaki mereka mati keracunan'" tanya It-hiong 'Ehm,' Tui-beng-poau-koan mengangguk.

“Tidak kautanya mereka sedikit urusan lagi"' kata it-hiong "Tanya apa?"

"Mereka tentu tahu apa isi kotak pusaka,bukankah engkau pun ingin tahu?'

'"Tidak, setelah minta keterangan mereka, lalu menyaksikan mereka mati begitu saja, kurasa terlampau tidak berperikemanusiaan."

"Jika aku, rasanja lebih suka mengampuni jiwa mereka untuk mendapatkan rahasia isi kotak." kata Bun-hiong tiba tiba

"Bagiku justru lebih suka kehilangan seratus buah kotak begitu dan tetap akan menghukum mati mereka," tukas Tui-beng- poan-koan

'Sebab apa?" tanya Bun-hiong

"Sebab aku kan Tui-beng poan-koan (jaksa penuntut nyawa), barangsiapa yang pantas mampus pasti takkan kulepaskan dia "

"Selain itu apakah masih ada alasan lain?" tanya Bun-hiong.

"Sejak umur delapan aku sudah yatim piatu, sebabnya adalah karena pada suatu hari rumahku kedatangan sekawanan bandit. mereka membunuh ayah-bundaku dan saudaraku, mereka merampok harta benda milik kami, kemudian aku berguru dan belajar kungfu, aku bersumpah selama hidupnya akan menumpas kawanan penjahat pada umumnya " Ia menengadah, lain berkata pula dengan tersenyum, "Itulah salah satu alasanku mengapa harus kuhukum mati mereka, apakah alasanku ini tidak cukup kuat?"

Wajah Bun-hiong tidak ada senyum lagi, dengan khidmat ia mengangguk

"Kutahu,' kata Toh Po-sit pula dengan menghela napas. "dengan menghukum mati mereka sesungguhnya aku membantu si gembong iblis perencana intrik itu untuk membasmi lawan-lawannya, tapi terpaksa aku tidak dapat berpikir banyak lagi "

"Sesungguhnya siapakah si perencana intrik itu?" tanya It- hiong.

"Yaitu orang yang membuat kotak mi," kata Toh Po-sit.

"Menurut pendapatmu, selain berisi intrik, kotak itu tiada berisi barang lain lagi?" tanya It-hiong

"Ya, hampir mutlak dapat dikatakan begitu," Toh Po-sit mengangguk

"Jika begitu, untuk apalagi kita mencari gembong iblis yang misterius itu di Cap pek pan-nia?"

Tui-beng poan-koan tersenyum .”Tidak, harus kau pergi ke sana, sebab perencana intrik itu sangat mungkin adalah dia sendiri "

Ia merandek sejenak, lalu berkata pula, "Nah sekarang boleh kalian seret mayat mereka keluar dan ditanam"

It-hiong dan Bun-hiong menuju ke halaman, terlihat si mata satu dan si tembong sudah kaku tak berkutik lagi, hidung, mata, mulut dan telinga mereka keluar darah. Sedang Oh Beng-ai tampak berdiri bingung di situ

'Mestinya jangan kau keluar.' kata li-uiong mendekati wanita itu

“Kedua orang iin mereka…" ucap Beng-ai dengan muka pucat "Kau kenal mereka?" tanya It-hiong dengan tertawa.

Cepat Beng-ai menggeleng. "Tidak kenal mereka. Maksudku, mereka mati dengan sangat mengenaskan.

"Tidiak," ujar It-biong. "Cara mati mereka memang betul menakutkan, tapi kematian mereka tidaklah mengenaskan. Sebab selama hidup mereka telah membunuh orang tak terhitung jumlahnya, kematian mereka adalah ganjaran yang setimpal."

"Mengapa mereka bisa datang kemari'" tanya Beng-ai. "Apalagi selain ingin mendapatkan kotak itu," tutur It-hiong. Beng-ai menghela napas dan bergumam.

"Manusia mati karena harta, burung mati karena mencari pangan, pameo ini memang tidak salah .

It-hiong mengangkat mayat si mata satu, katanya kepada Bun-hiong. "Boleh kau angkat mayat satunya, ayo'"

Begitulah mereka mengangkat kedua mayat itu keluar rumah, mereka mencari suatu tempat dan menggali sebuah liang untuk menguburnya Setiba kembali di rumah gubuk itu, Beng-ai sudah menyiapkan santapan, mereka berempat lantas makan malam

"Setelah kotak itu ditemukan kembali, besok juga boleh kalian membawanya ke Cap-pek-pan-nia," kata Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit sambil makan. "Esok juga aku akan pulang ke sana, selanjutnya boleh kalian menemuiku di sana."

Habis bicara ia lantas hendak kembali ke kamar

"Eh, nanti dulu," kata It-hiong. Lantas bagaimana dengan nona Oh?"

"Biarkan dia tinggal saja di ini” ucap Toh Po-sit

"Kurasa kurang aman membiarkan dia tinggalan sendirian di sini," ujar It-hiong. "Kenapa engkau tidak membawanya ke sana sekalian?"

Toh Po-sit berpikir sejenak, katanya kemudian sambil mengangguk, "Ehm, boleh juga kubawa dia ke sana, di sana memang juga perlu seorang perempuan yang dapat menanak nasi."

Habis berkata ia lantas kembali ke kamarnya.

Beng-ai tampak kurang senang, ia menggerundel terhadap It- hiong, "Kenapa bukan engkau saja yang membawaku pergi?'

Kau minta kubawa dirimu ke Cap-pek-pan-nia ?'' tanya It- hiong

'Ya,'" si nona mengangguk

"Ai, jangan bercanda." ujar It-hiong tertawa Jika kamu mahir kungfu masih mendingan, tapi dirimu cuma seoraug nona yang lemah dan tidak tahan sekali pukul"

"Aku tidak takut," jawab Beng-ai. Namun It-hiong tetap menggeleng

Mulut si nona menjengkit, ia bersihkan meja makan, sesudah mencuci mangkuk piring, ia kembali lagi ke ruangan dan berkata. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan keluar?"

"Baiklah," jawab It-hiong sambil berbangkit

Keduanya lantas meninggalkan Pang Bun hiong dan keluar, mereka menyusur sebuah jalan setapak yang menuju ke lereng gunung.

Cuaca malam ini sangat Indah, cahaya bulan terang dan lembut, angm meniup sepoi basah mengiringi bayang pohon bergoyang pelahan, Mereka berjalan berendeng melintasi jalan setapak tesebut serupa sepasang kekasih

Sekian lamanya mereka berjalan dengan diam kemudian Liong It-hiong yang membuka suara lebih dulu, "Ada urusan apa hendak kau bicarakan denganku?"

Beng-ai seperti tenggelam dalam lamunannya. selang sejenak barulah menjawab. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan”

"Jika kau rasa tidak ada sesuatu yang perlu dirahasiakan, segala apa tentu dapat kau katakan” ujar It-hiong.

Si nona mendadak berheti dan menatapnya dengan tajam, tanyanya kemudian dengan suara lirih, "Apakah ben . . . benar engkau suka padaku?" '"Apakah kauminta kusumpah lagi?" tanya It-hiong dengan tertawa.

Beng-ai tertawa malu, ucapnya, "Soalnya aku selalu merasa tidak setimpal menjadi istrimu

"Sebab apa?" lanya It-hiong

"Adu dua sebab," jawab Beng-ai “Pertama. aku kan perempuan yang sudah… "

"Soal pertama tidak perlu kau pikirkan,” potong lt-hiong dengan tertawa "Kutahu engkau masih suci bersih, dan itu sudah cukup. Katakan saja yang kedua"

Beng-ai ragu sejenak, lalu berkata. "Kedua asal-usulku tidak bersih, sudah lama mestinya hendak kukatakan padumu namun aku merasa takut dan….”

"Jangan takut katakan saja terus terarig.”uiar lt-hiong

"Sesudah kukatakan, biaa jadi engkau akan terus melengos dan tinggal pergi “

"Tidak, pasti tidak " “Betul ?”

"Ya!"

"Aku….aku adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam'" habis berkata demikian Beng-ai lantas menunduk.

It-hong sangat senang, pelahan ia angkat dagu Si nona.diciumnya berulang bibir Beng-ai yang tipis itu Muka si nona menjadi merah, malu dan girang, ia membenamkan mukanya di dada anak

muda itu dan bertanya. 'Engkau tidak menvesal ?*'

“Tidak, sama sekali tidak," jawab It-hiong mantap sambil merangkulnya erat-erat

"Tentu sangat di luar dugaanmu. Bukan?'" tanya Beng-ai.

"Tidak, sudah lama kutahu kamu adik perempuan Oh Kiam- lam. selama ini sengaja kutunggu Kau bicara sendiri padaku."

"Oo. jadi engkau sudah tahu sebelum ini ?” terbelalak mata Beng-ai

"Ya," kata It-hiong

Beng-ai menjadi curiga, 'Hah, jadi kunjunganmu ke Liu-jun-ib dulu memang sengaja hendak mendekati aku?"

"Kau bicara dengan terbalik” kata It-hiong tertawa "Kamu yang sengaja mendekati aku. Waktu itu kamu berkomplot dengan In-tiong-yan Pok Yang-thian dan muncul di kelenteng itu dengan nama samaran Ni Beng-ai dan menipu kotak pusakaku "

"Betul, sampai kulupa pada peristiwa tersebut," kata Beng-ai dengan tertawa "Cuma apa yang kulakukan itu adalah karena dipaksa oleh Pok Yang-thian. Dia kan saudara angkat kakakku terpaksa harus kukerjakan baginya"

'Kautahu apa isi kotak itu?" tanya It-hiong

"Tidak tahu," jawab Beng-ai sambil menggeleng. "Berulang pernah kutanya dia, namun dia tidak mau menjelaskan " 'Biar kuberitahukan padamu. Mereka yakin di dalam kotak itu tersimpan shelai peta rahasia tinggalan kakakmu, yaitu peta rahasia harta karun. maka terjadilah perebutan kotak itu dengan saling membunuh."

"Oo …” Beng-ai terkejut

"Apakah kau tahu kakakmu dibunuh oleh siapa?" tanya It- hiong

"Tidak tahu." Beng-ai menggeleng

"Konon kakakmu meninggalkan satu partai harta itu?"

"Aku tidak tahu. meski aku ini adiknya, tapi selamanya aku tidak berani tanya urusannya," jawab si nona dengan menggeleng pula.

"Sebab apa engkau sampai terjerumus ke rumah hiburan?" tanya it-hiong

"Kautahu, meskiki Bu-lim-jit-coat adalah saudara angkat kakakku tapi sebenarnya persaudaraan di antara mereka cuma akur di luar dan renggang di dalam sering mereka bertengkar karena pembagian rejeki yang tidak merata, mereka menuduh kakak terlampau serakah dan sesungguhnya kakak memang rada rakus”

"Sebagai pemimpin besar ke 72 sarang bandit ketujuh propinsi selatan, adalah layak jika bagiannya lebih besar daripada yang lain." ujar It-hiong

"Sering kuberi nasihat agar cuci tangan saja dan jangan bekerja pula, namun dia tidak mau menurut, tebaliknya aku didamperat habis-habisan. Kemudian aku pun tidak berani omong lagi. Namun kutahu Lok-lim-jit-coat merasa dendam kepada kakak tampaknya ada maksud mereka akan memakna kakak mengundurkan diri dari pimpinan."

"Bisa jadi kakakmu dibunuh oleh mereka bertujuh?" ujar It- hiong

"Tidak, waktu kakak meninggal mereka sama berada di markas besar, kukira tidak mungkin dilakukan oleb mereka. Cuma ketika mereka menerima berita kematian kakak, mereka memang kelihatan sangat gembira, malahan mengadakan pesta perayaan. Kutahu tak dapat lagi tinggal di sana, cepat kularikan diri Aku kabur ke Hangciu untuk mondok di tempat seorang saudara ibuku, siapa tahu paman itu sudah pindah tempat, terpaksa kutinggal di hotel tanpa berdaya, akhirnya aku kehabisan sangu orang hotel mengusirku, karena tiada jalan lain, terpaksa ku …”

Bertutur sampai di sini. pecahlah tangisnya dengan sedih

"Jangan menangis, dalam keadaan begitu, apa yang kaulakukan memang dapat dimaklumi." dengan lembut It- hiong menghiburnya

'Engkan tidak memandang hina padaku?" tanya Beng-ai sambil mendongak dengan air mata masih meleleh

"Pasti tidak," jawab lt-hnmg,

Maka Beng-ai bertutur pula, "Meski aku terjerumus di rumah hiburan, namun nasibku tidak terlampau jelek, karena induk semang melibat wajahku cukup lumayan maka aku tidak boleh sembarangan menerima tamu, lantaran itulah aku dapat bertahan kebersihan tubuhku hingga kini. Ini sesungguhnya, hendaknya engkau percaya padaku "

"Kupercaya," tukas It-hiong dengan tersenyum Beng-ai tertawa sambil mengusap air matanya "Aku sangat bahagia berkenalan denganmu “

"Aku juga," kata It-hiong

“Tapi ingin kutanya padamu, aku kau bawa kesini apakah ada maksud tujuan tertentu?" tanya Beng-ai tiba-tiba

"Kau kira aku ada maksud tujuan lain ?" It-hiong tersenyum. "Sebaiknya tidak ada," si nona merasa terhibur

"Hendaknya kau percaya saja padaku " kata it-hiong. "Selaputnya tidak peduli apa yang terjadi, yang pasti, tidak akan kubikin susah padamu.'

Gembira sekali Oh Beng-ai kembali ia membenamkan kepalanya di dada anak muda itu

Esok paginya, dengan membawa kotak palsu itu It-hiong dan Bun-hiong meninggalkan lagi Bokkan-san dan menuju ke utara.

Setelah perjalanan dua hari, tibalah mereka di kota Kimleng, Bun-hiong mengundang It-hiong mampir ke rumahnya untuk bermalam esoknya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke utara

Berturut-turut empat-lima hari telah lalu selama itu "tidak terjadi sesuatu, hal ini rada di luar dugaan Liong It-hiong, katanya dengan tertawa, "Sekail ini agaknya kita dapat sampai di Cap-pek-pan-nia dengan selamat."

"Ya, semoga,'' kata Bun hiong. Sebelum ini. setiap kali kotak ini berada ditangan siapa pun, dalam waktu singkat tentu akan muncul perampas, tapi sekali ini ternyata tidak terjadi gangguan, maka sekali ini kita mungkin dapat mencapai tempat tujuan dengan aman."

Mungkiri orang tahu kotak yang kita bawa ini barang palsu," kata Bun-hiong dengan tertawa, "maka ……”

"Kukira hal ini tidak mungkin," potong it-hiong. "Seumpama ada seorang misterius selalu mengikuti jejak kotak pusaka ini, sekali ini kecuali dia pernah menyusup ke rumah gubuk tempat tinggal Toh-locianpwe itu, kalau tidak, tak mungkin dia tahu barang yang kita bawa ini adalah palsu. Padahal kau tahu betapa hebat kepandaian Toh Po-sit, jika ada orang menyatroni tempat tinggalnya, betapapun sulit terlepas dan mata telinganya "

“Jika begitu, mungkin tokoh yang misterius itu telah membuntuti jejak Ang-liu-soh Ban Sam-hian." ucap Bun-hiong dengan tertawa

It-hiong mengangguk, '"Betul, mungkin kotak palsu yang dibuat Hui Giok-koan itu selain dapat menipu Ban Sam-hian, bisa jadi tokoh misterius itu pun ikut tertipu sehingga ia pun mengikuti jejak Ban Sam-hian."

Tapi segera ia membantah alibi sendiri, katanya pula denga menggeleng, "Namun jika demikian halnya, kenapa Tok-gan- bu-siang dan Cojing-bin justru mengikuti diriku?'

"Mungkin secara tidak sengaja dia melihat kotak yang kaubawa itu," kata Bun-hiong

“Tidak aku tidak peceaya bisa terjadi kebetulan seperti itu…" "Memangnya kau suka ada orang muncul untuk merampas kotak palsu ini?"

"Ah, jangan bercanda, masa aku suka terjadi begitu"'

"Jika tidak suka hendaknya engkau jangan sangsi dan curiga macam-macam lagi."

Liong It-biong memandang sekitarnya, katanya kemudian. “Tampaknya kita sudah hampir sampai di Jiciu bukan?”

"Ya kira kira tujuh atau delapan li lagi.' kita Bun-bong.

Apakah malam ini kita akan tinggal di Jiciu…..”sampai di situ, mendadak ucapannya terputus dan mendadak berhenti melangkah.

Bun-hiong juga ikut berhenti, ia pandang hutan di kedua samping jalan, katanya dengan tertawa. "Sungguh aneh.tempat ini bukan hutan lebat di tengah pegunungan, darimana datangnya suara binatang buas?”

Kiranya serentak mereka mendangat suara auman serupa suara harimau, sebab itulah mereka terkejut dan sama berhenti

"Mungkinkah suara guruh?" kata It-hiong sambil celingukan kian kemari.

Sekonyong-konyong terdengar lagi lebih jelas raungan harimau berkumandang dan dalam hutan sana.

"Masa ini suara guntur''" ucap Bun-luoug dengan tertawa.

It-hiong memegang pedang yang buru dibelinya, katanyn dengan prihatin, "Aku tidak percaya di sini  ada harimau “ “Hauungg'' suara auman itu semakin dekat. “Ini bukan suara harimau “Ucap Bun-hiong

dengan air muka berubah

"Habis apa kalau bukan harimau." tanya it-hiong kuatir ''Macan tutul!" kata Bun hiong

"Darimana kau tahu ?" tanya it-hiiong dengan terkesiap

"'Tahun yang lalu pernah akuu berburu bersama beberapa kawan dan banyak melihat binatang buas sebangsa harimau kumbang dan macan tutul maka dapat kubedakan suara mereka"

“Jika benar macan tutul tentu terlebih sulit dihadapi." kata lt- hiong dengan kuatir.

Tiba-tiba terdengar lagi suara raungan yang terlebih keras suaranya sudah semakin dekat malahan sudah mulai terdengar suara ''Srek-srek"' suara langkah harimau

Segera Bun-hiong melolos pedang, katanva. “Jika di tempat ini ada macan tutul, mau-tak-mau kita harus memberantasnya kalau tidak ...”

Ucapnya terputus mendadak, sebab dia sudah melihat munculnya macan tutul. Seekor macan tutul yang menakutkan. Binatang buas ini muncul dari hutan yang berdekatan, kedua buah matanya yang hijau berkilat itu menatap It-hiong berdua dengan buas.

Namun macan tutul ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan dituntun orang, yang menuntun macan tak-lain- tak-bukan adalah Kim-ci-pa Song Goan-po "Aha. kiranya engkau, Song-tangkeh!' teriak It-hiong

"Ya, kembali kita berjumpa pula," jawab Song Goan-po sambil terkekeh

Ia menuntun macan tutul ini dan berhenti di tengah jalan dengan sikap mengadang.

It-hiong bekernyit kening, katanya, "Dari mana kau dapatkan macan tutul ini ?”

“Ini macan piaraanku " tutur Song Goan po dengan tertawa. Kupiara dia sejak kecil, maka dia sangat penurut pada perintahku "'

"Kau gunakan dia untuk mencelakai orang?" tanya It-biong

"Tidak mesti," kata Song Goan-po. “Tanpa perintahkudia takkan sambarangan mengganggu orang. Tapi sekali kuberi perintah, hehe… "

It-hiong menuding Bun-hiong dan berkata pula, "Dia ini sahabatku. Pendekar Harimau Pang Bun-hiong

"Haha, sayang dia bukan harimau tulen!" ejek Song Goan-po dengan tertawa lebar.

Dia memang bukan harimau tulen, tapi dia mempunyai kesaktian untuk menundukkan macan tutul tulen," kata It- hiong dengan tertawa.

Berputar biji mata Song Goan-po, ia tatap Pang Bun-hiong, katanya sambil menyeringai, "Apakah betul, anak muda?" Bun-hiong melototi It-hiong sekejap, tegurnya "Hai, kenapa kau timpakan kesulitan kepadaku ?”

It-hiong terbahak-bahak “Hahaha…engkau kan sudah, berpengalaman memburu macan tutul, dan aku tidak."

"Hai Liong It-hiong, tentu kau tahu maksud kedatanganku," seru Song Goan-po. "Nah, lekas lemparkan bungkusan yang kaubawa itu kepadaku '

It-hiong mengangkat pundak. jawabnya, "Sumber beritamu ternyata makin lama makin cepat dan juga tajam ternyata kamu sudah tahu aku bernama Liong it-hiong"

"Ketika di luar Liong-coan-ceng tempo hari bilamana kutahu kamu ini Liong It-hiong, tentu sekali hantam sudah kubinasakan dirimu," kata Song Goan-po

“Oya ?" It-hiong tertawa

"Sekarang tidak perlu banyak omong, kau mau beri kotak itu atau tidak?" tanya Song Goan-po tak sabar

"Coba katakan dulu kepadaku cara bagaimana kau tahu kami mendapatban kotak pusaka ini. Dari mana kau tahu kami akan lalu di sini?" tanya lt-hiong

"Ada orang menyampaikan berita padaku,” tutur Song Goan- po.

"Siapa?" tanya lt-hiong pula, "Entah…”

"Kenapa tidak tahu?'' “Tidak ada alangannya kukatakan terus terang padamu," tutur Song Goan-po. "Tempo hari setelah ku kabur dan Liong-coan- ceng, langsung ku datang ke selatan. Beberapa hari yang

lalu ku lewat di suatu tempat dan bermalam di suatu hotel. pada waktu tengah malam mendadak ada orang membisiki aku dari atas rumah, katanya kamu sudah mendapatkan kotak pusaka ini,aku disuruh mencegat dirimu di uni. Habis bicara orang itu lantas menghilang waktu kususul ke atas rumah sudah tidak terlihat lagi bayangan orang itu '

“Dan suaranya tidak dapat kau kenali dia?" tanya It-hiong “Tidak," kata Song Goan-po.

“Mengapa kau percaya kepada kisikan seorang yang tidak jelas asal-usulnya?" tanya It-hiong

Song Goan-po tertawa, "Lantaran aku sudah kehilangan petunjuk jejak kotak pusaka, tiba-tiba datang orang memberi kabar begitu, terpaksa harus kupercayai ucapannya. Tapi sekarang sudah terbukti orang itu tidak dusta padaku."

''Jika orang itu dapat membisikimu dari jarak jauh, ini menandakan kungfu orang itu pasti sangat tinggi, jika dia tahu di mana beradanya kotak pusaka dan dia sendiri tidak merampasnya melainkan cuma menyampaikan berita itu padamu, apakah kau tahu sebab apa dia berbuat demikian"

"Tahu,' jawab Goan po “Coba katakan, sebab apa?"

"Ia bilang setelah kudapatkan kotak pusaka harus memberi tiga bagian rejeki padanya sebab itulah kupercaya dia pasti seorang dari kalangan putih yang cukup ternama disampntg ingin mendapat bagian, di lain pihak kuatir pula diketahui orang akan maksudnya itu sehingga merusak nama baiknya, sebab itulah dia berbuat begitu secara diam-diam "

"Apakah rekaanmu ini masuk di akal?" tanya It-hiong. "Masuk di akal," jawab Song Goan-po tertawa.

"Jika begitu, biar kutanya lagi satu soal padamu," kata It- hiong. "Apakah kau tahu apa isi kotak itu?"

"Kau sendiri tidak tahu'" jawab Song Goan-po dengan heran

"Kutahu, tapi rahasia yang menyangkut kotak itu terlalu banyak cerita yang.tersebar, maka ingin kudengar juga pendapatmu "

Song Goan-po tertawa cerdik, katanya, "Kiranya kamu belum mengetahui apa isi kotak itu. tapi ingin memancing pengakuanku "

“Setahuku, kolak itu berisi sehelai peta rahasia harta karun tinggalan Oh Kiam-lam, betul tidak”

Air muka Song Goan-po berubah, "Jika kamu sudah tahu, mengapa tanya lagi padaku ?"

"Jika yang kau ketahui juga cuma sekian saja. maka biarlah kukatakan padamu bahwa mutlak kotak itu tidak berisi peta rahasia segala, yang ada cuma intrik belaka "

"Intrikk?" Song Goan-po melengak "Intrik apa?"

“Begini, menurut kenyataan yang sudah terjadi, di katangan liok-lim daerah utara akhir-akhir ini tampil seorang tokoh misterius, ia telah menjagoi berpuluh sarang bandit di beberapa propinsi utara, tapi dia masih bermaksud menaklukkan ke 72 sarang bandit daerah selatan. Karena dia tahu setelah Oh Kiam-lam mati, lalu kalian sedang sibuk mencari harta peninggalan Oh Kiam-lam. Maka ia sengaja membuat, sebuah kotak pusaka untuk mengadu domba agar antara kalian Lok-lim-jit-coat saling membunuh, bilamana kalian bertujuh sudah menggeletak semua, maha dapatlah ia menarik keuntungan tanpa susah payah dan menundukkan ke 72 sarang bandit sebagai anak buahnya."

"Dari mana kau tahu hal ini?" tanya Song Goan-po dengan prihatin.

"Berdasarkan perkiraanku," jawab It-hioug

"Aku berani bertaruh denganmu, orang yang menyampaikan bisikan padamu bahwa kotak pusaka berada di tanganku bukan lain daripada gembong iblis Cap pek-pau-nia itu.”

Song Goan-po termenung sejenak, katanya dengan tertawa, "Perkiraanmu memang cukup beralasan, tapi aku baru mau percaya bilamana kotak pusaka itu sudah kulihat sendiri,

“Kotak itu berada di sini." kata It-hiong sarnbil menuding bungkusan di atas punggungnya

"Tapi apakah kamu mampu membukanya?”

"Serahkan padaku, dengan sendirinya ada akalku untuk membukanya," kata Goan-po

"Kotak ini juga berisi obat peledak, bila tidak dibuka menurut cara yang sudah diatur setiap saat kotak ini bisa meledak."

"Ada caraku dapat membuatnya tidak meledak," ujar si botak alias Song Goan-po "Bagaimana caranya?"

"Tak dapat kukatakan padamu”

''Ya sudah jika tidak mau kau katakan lekas menyingkir.'"

Song Goan-po menepuk punggung macan tutul di sampingnya, katanya sambil menyeringai "Boleh kau tanya kawanku ini apakah mau menyingkir atau tidak."

It-hiong berpaling dan berkata kepada Pang Bun-hiong dengan tertawa. "Pang heng, engkau adalah ahli memburu binatang buas. sekarang giliranmu u ntuk beraksi."

"Buiyet!" omel Bun-hiong dengan tertawa

"Orang sengaja datang demi dirimu, untuk itu dia sengaja mengajak kawannya yang kereng itu mengapa.. ?”

Mendadak Soug Goan-po mendorong macan tutul itu sambil membentak. "Gigit saja kepala bocah itu, kawan'"

Serentak macan tutul itu meraung sekali serupa anak panah terlepas dari busurnya, langsung ia menerkam Pang Bun-hiong

Keruan Bun-hiong terkejit cepat ia mengeos dan melompat ke samping. makinya, "Binatang, aku tidak punya kotak pusaka untuk apa kau cari diriku?'

Gerak-gerik macan tutul terlebih gesit daripada harumau umumnya, tubrukannya tadi sungguh secepat kilat, tapi di sini pula letak kelemahannya, lantaran terlampau cepat, biIa sekali terkam tidak kena sasarannya, seketika ia pun tak dapat berhenti dan begitulah keadaannya sekarang, waktu Pang Bun-biong melompat ke samping, dengan cepat macan tutul itu melompat lewat di tempat berdiri Bun-hiong tadi dia rnenyelonong ke depan dua tombak jauhnya.

Kesempatan itu digunakan Bun-hiong untuk memburu ke sana, pedang terus menusuk pantat binatang itu.

Siapa tahu macan tutul ini bukanlah macan tutul biasa, jelas dia pernah mengalami latihan

yang keras, ternyata dengan gesit ia dapat menghindari serangan, sekali ekornya bergerak, seperti kitiran ia putar balik sambil meraung, sebelah cakarnya terus mencengkeram.

Dalam keadaan demikian bila pedang Pang Bun-hiong tetap menusuk, macan tutul itu tetap akan kena tertusuk, tapi ia sendiri tentu juga akan tercakar mati, terpaksa ia menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur.

Dua kali menubruk mencakar tidak kena sasaran, macan tutul itu tambah buas, kembali ia

mengeluarkan suara auman galak dan menubruk lagi.

Tetap Bun-hiong tidak berani memapak tubrukan yang dahsyat itu, ia mendak ke bawah untuk menghindar, dengan jurus "Kim-sian-toh-hong" atau katak emas menjulur lidah, ia angkat pedang untuk menusukk perut binatang itu .

Begitulah terjadi pertarungan sengit antara manusia dan macan tutul. Sama sekali macan tutul itu tidak dapat menyentuh Pang Bun-hiong.sebaliknya Bim-hiong juga tidak mampu membereskan dia dalam waktu singkat dan pertarungan bertambah seru.

Melihat macan tutul itu cukup kuat menghadapi Pang Bun hiong, Song Goan-po tertawa senang, ia tepuk tangannya yang berbulu dan berteriak, "Nalh Liong It-hiong boleh juga kita main-main beberapa jurus" Segera ia menerjang maju. sebelah telapak tangan lantas menabas

It-hiong mengegos ke samping, pedang lantas dilolos, sekali sabat ia tebas, pinggang lawan.

Mendadak Song Goan-po meloncat ke atas. selagi terapung kedua kakinya menendang beruntun-runtun mengincar kedua mata Liong It-hioiig.

Akan tetapi Liong It-hiong mendoyong ke belakang, pedang berputar, dari menabas berubah menjadi mencungkil, perut lawan yang diarah.

Song Coan-po tidak malu berjuluk "Kim-ci-pa" atau si macan tutul, gerak-geriknya sama gesitnya serupa macan tutul tulen, kedua kakinya memancalsehingga tubuh melejit ke samping, berbareng itu sebelah tangannya menghantam dengan dahsyat

It-hiong merasakan tenaga pukulan jauh itu sangat kuat cepat ia pun melompat mundur, tapi cepat ia menerjang maju dan melancarkan serangan lagi, pedang berputar, sebentar menusuk dan sebentar lagi menabas tanpa putus.

Ternyata pertarungan mereka berdua tidak kalah sengitnya dibandingkan pertarungan Pang Bun hiong melawan macan tutul.

Meski Bun-hiong sudah pernah berburu macan tutul, tapi hal itu dilakukan dengan memasang

perangkap, sesungguhnya ia tidak pernah bertarung melawan harimau atau macan tutul. Sebab itulah semula ia rada jeri dan tidak berani melancarkan serangan secara bebas sehingga sampai sekian lamanya macan tutul itu tidak terkena satu pukulanpun.

Sebaliknya macan tutul itu seperti memiliki tenaga yang tidak habis-habisnya, berturut ia menubruk belasan kali meski tetap tidak dapat menerkam Pang Bun-hiorg namun, masih tetap tidak berhenti menubruk dan mencakar dengan garangnya.

Sembari menghindar Pang Bun-hiong juga mencari peluang untuk balas menyerang, namun beberapa kali pedang menyerang tetap sukar mengenai bagian mematikan di tubuh binatang buas itu, mau-tak-mau ia mulai gelisah

"Haungg'" sambil mengaum, mendadak serangan harimau tutul itu berubah ia tidak menubruk dan mencakar lagi melainkan mendesak maju dengan pelahan. sikapnya kelihatan licik dan menakutkan

Bun-hiong merinding sambil menyurut mundur selangkah demi selangkah, omelnya. "Binatang, memangnya kamu akan main gila cara lain?"

"Haunggg!" macan tutul itu meraung pula terus menerjang lurus ke depan

Cepat Bun-hiong bergeser ke samping, berbareng pedang menusuk ke perut binatang buas itu.

Sekali ini perut macan tutul itu tertusuk, ia menggerang keras lantaran ia sedang menyeruduk dengan cepat mata ujung pedang Bun-hiong juga sempat menyayat luka kecil kulitnya malahan kaki belakang harimau itu sempat mendepak "plok". batang pedang terpental lepas dari pegangan dan jatuh ke dalam hutan. Karena kagetnya, Bun-hiong ikut terpelanting dan jatuh terjengkang. Untung harimau tutul itu terus menerjang ke depan dan tidak sempat putar balik untuk menerkamnya lagi. Cepat Bun-hiong melompat bangun

Setelah menyelonong ke sana beberapa tombak jauhnya, segera macan tutul itu putar balik dan main tubruk dan mencakar lagi.

Akhirnya Pang Bun-hiong juga kehabisan kesabaran, mendadak ia membentak, sebelah kaki terus mendepak "'Bluk', tepat pinggang harimau terdepak, kontan ia terguling.

Bun-hiong tida sia-siakan kesempatan itu, sembari membentak secepat kilat ia melompat keatas punggung harimau, dengan telapak tangan ia hantam batok kepala binatang itu  sekuatnya, sekaligus ia melancarkan tujuh-delapan kali pukuIan. Akhirnya macan tutul itu tidak bergerak lagi sebab batok kepalanya pecah. Bun-hiong menghela napas lega, ia mengusap air keringat yang membasahi jidatnya, gumamnya “Keparat, bilamana tahu pakai telapak tangan terlebih cepat selesai daripada pedang tentu sejak tadi beres.

Melihat kawannya sudah membereskan macan tutul itu. Liong It-hiong yang agak kerepotan melayani Song Goan-po lantas berteriak. "Hei jangan diam saja di situ lekas bantu diriku'"

,

"Kenapa terburu-buru? Kan perlu kuganti napas dulu!" ucap Bun-hiong.

Pelahan ia berjalan ia mengambil kambali pedang yang terpental  ke hutan tadi, dilihatnya se-

rangan Song Goan-po semakin ganas, sebaliknya Liong it- hiong mulai kelihatan kewalahan. Segera ia berseru. "He, Song botak, jika kamu tidak lekas enyah, sebentar boleh kau susul macan tutulmu pulang ke rumah nenek moyangmu''

Melihat harimau kasayangan sendiri terpukul mati. tidak kepalang rasa murka Song Goan-po. Sungguh kalau bisa ia ingin segera menghantam mampus Liong lt-hiong lalu membuat perhitungan dengan Pang Bun-hiong.

Akan tetapi disini mendengar ucapan Pang Bun-hiong. dirasakan kata-kata orang masuk diakal juga. Terpikir olehnya untuk mengalahkan Liong It-hiong saja tidak mudah, apalagi kalau bertambah lagi seorang Pang Bun-hiong, jelas dirinya pasti akan keok.

Meski watak Song Goan-po kasar dan pemarah, tapi ia pun tahu perlu sayang akan jiwa

sendiri. Maka mendadak ia melompat mundur sambil membentak. "Berhenti dulu!"

Segera Liong It-hiong berhenti menyerang, katanya dengan tertawa, "Kau mau apa?"

Dengan muka cemberut Song Goan-po diam saja. tapi mendekati bangkai macan tutulnya, ia berjongkok dan meraba-rabanya sejenak dengan wajah sedih dan gemas, ia pandang Pang Bun-hiong dangan gusar, katanya, "Keparat, kau bunuh harimauku, utangmu ini hendaknya dicatat'

"Hah, tidak perlu basa-basi. lekas enyah saja” jawab Bun- hiong dengan tertawa

Song Goan-po mendengus, dipanggulnya bangkai harimau, lalu hendak melangkah pergi "Nanti dulu, Losi!" mendadak bergema suara orang di dalam hutan. Menyusul muncul seorang kakek berbaju hitam Usia kakek ini kira-kira 60-an, mukanya lonjong serupa muka kuda, matanya terbelalak bercahaya serupa mata ular, sikapnya dingin dan seram

Melihat si kakek, Song Goan-po terkejut dan bergirang, ia berhenti dan berseru, "Aha….Jiko kiranya engkau . . "

Si kakek baju hitam mendengus pelahan,

“Ehm, jangan pergi dulu. Jelek-jelek kita kan bersaudara, marilah kita bersatu membereskan mereka "

"Kenapa tidak?" si kakek mengangguk. "Bagus," seru Song Goan-po dengan girang.

"Tapi cara bagaimana kita bagi rejeki setelah mendapatkan barang itu?"

"Satu dibagi dua." jawab si kakek.

"Baik, setuju!" seru Song Goan-pu sambil membuang bangkai harimau, lalu ia berpaling kepada It-hiong dan Bun-hiong, katanya dengan terkekeh, "Nah, kawan, sekali ini kita dua lawan dua boleh coba lagi!"

It-hiong tersenyum, "Apabila tidak keliru dugaanku, yang ini tentunya Cian-in-jiu Loh Bok-kong bukan'.'"

"Haha. tepat dugaanmu," seru Song Goan-po

It-hiong menjura terhadap Cian-in-jiu Loh Bok-kong, katanya, "Sudah lama kudengar nama besar Juragan Loh, sungguh beruntung dapat berjumpa di sini " v Loh Bok-kong menjengek. "Hm. tidak perlu banyak omong. Pendek kata, kalau ingin seIamat harus lekas serahkan kotak pusaka itu. Mengingat tidak mudah kau hidup sampai sebesar ini, biar kuampuni jiwamu!"

"Ah, jangan sungkan,” kata It-hiong tertawa

"Ada kemampuan apa yang kau kuasai, silahkan coba ambil saja jiwaku dan kotak pusaka ini."

"Kurang ajar, sungguh bocah yang tak tahu mati hidup," damperat Loh Bok-kong sambil terkekeh

"Baik. ingin kulihat kamu mempunyai berupa lembar nyawa serep"

Habis berucap, sekali berkelebat, tahu-tahu ia sudah melompat ke depan Liong It-hiong.langsung kelima jarinya yang terangkum serupa pisau terus menjojoh ke muka Liong It-hiong.

Gerak serangannya sungguh secepat kilat lagi lihai. lt-biong menyurut mundur, pedang berputar cepat untuk menangkis

la tahu gerak serangan lawan yang pertama itu pasti cuma pancingan belaka, tapi ia tidak

tahu serangan berikutnya akan mengincar bagian mana, sebab itulah it-hiong putar kencang pedangnya untuk berjaga

Benar jaga, baru setengah jalan segera serangan Loh Bok- kong berubah telapak tangan kanan ikut menyerang juga, tetap dengan juri terangkap untuk memotong pinggang Liong It-hiong.

Tapi karena It-hiong sudah tahu sebelumnya dengan putar pedang untuk melindung seluruh tubuhnya tanpa memberi peluang, maka kedua kali serangan Loh Bok-kong dapat dipatahkan seluruhnya

Baru sekarang Loh Bok-kong tahu It-hiong bukan lawan empuk.Namun dia terhitung tokoh kelas tinggi kalangan bandit, selama hidupnya entah berapa kali pernah mengalami pertempuran sengit. pengalamannya luas. Iwekangnya kuat,

Setelah dua kali serangan gagal, mendadak sebelah kaki menendang. Tendangan ini telah mengacaukan pertahanan Liong It-hiong terpaksa ia bergeser mundur, lalu pedang balas menabas kaki lawan

Namun reaksi Loh Bok-kong cepat dan gesit sekali, baru saja pedang It-hiong menabas, cepat ia menarik kembali tendangannya, berbareng kedua telapak tangan menghantam ke depan secara mengacip, gayanya seperti gunting atau kacip mengarah leher

Inilah kungfu andalan Loh Bok-kong sesuai julukannya Cian- in-jiu atau tangan kacip, jurus serangan itu di sebut "Tui-in- kiu-cian" atau sembilan kali kacip pemburu awan.

Baru pertama kali ini Liong It-hiong kenal Loh Bok-kong, tapi sebelumnya sudah diketahuinya tangan kacip orang yang merupakan kungfu lihai di dunia persilatan, maka sebelumnya ia sudah berjaga-jaga, dan begitu melihat orang menyerang dengan mengacip, cepat melompat mundur sehingga serangan orang terpatahkan.

Biasanya tangan kacip Loh Bok-kong itu jarang gagal, kini Liong It-biong ternyata dapat

menghindar begitu saja, diam-diam ia mendongkol dan merasa malu, tapi lantaran itu juga merangsang amarahnya, dengan mata mendelik ia membentak, mendadak ia melompat ke  atas, dengan gaya "harimau Iapar menerkam kambing” segera ia menubruk

Melihat tubrukan lawan yang lihai itu, mendadak It-hiong mendak sedikit, ia pun mengertak sekerasnya, pedang menegak menyambut tubrukan orang dengan suatu tusukan

Loh Bok-kong seperti sudah menduga akan jurus serangan lawan ini.menadak telapak tangan kanan menyampok, "plak" batang pedang It-hiong tertolak ke samping, menyusul telapak tangan yang lain terus menghantam batok kepala anak muda itu

Cepat It-hiong mengegos, menyusul pedang balas menusuk leher musuh. Pertarungan mereka berlangsung dengan sengit serupa duel dua orang musuh bebuyutan, kedua pihak sama mengeluarkan serangan maut. Makin lama makin dahsyat.

Melihat gelagatnya serangan Loh Bok-kong terlebih ganas, tapi setiap kali menghadapi serangan berbahaya, pada detik gawat selalu It-hiong dapat menyelamatkan diri

Nyata untuk dapat menentukan kalah dan menang, antara mereka berdua masih diperlukan waktu pertarungan yang lama.

Setelah mengikuti beberapa jurus pertarungan mereda. Sung Goan-po yakin kakek yang kedua itu pasti akan menang, maka ia lantas mendekati Pang Bun-hiong. katanya sambil menyeringai "'Nah. sekarang aku akan menuntut balas bagi macan tutul kesayanganku, lekas serahkan nyawamu”

Bun-hiong tertawa, "Eh. Kau sendiri harus hati-hati, jangan sampai kepalamu juga kuhantam remuk serupa macan tutulmu," ejek Bun-hiong Song Goan-po membentak murka, mendadak ia menubruk maju kedua tangan menghantam sekaligus sehingga menerbitkan angin pukulan dahsyat.

Bun-hiong tidak ingin keras lawan keras ia megeos ke samping, dengan cekatan ia berputar ke samping kiri lawan pedang terus menusuk pinggang si botak. Song Goan-po mendengus sekali sambil berputar, tangan kiri menyarnpuk tangkai pedang lawan menyusul kaki kanan terus menendang

"Aduhh." baru saja kedua orang mulai bergebrak, segera terdengar suara jeritan. Song Goan-po mengira Loh Bok-kong kecundang. ia terkejut dan cepat melompat mundur serta menoleh ke sana.

Sebaliknya Bun-hiong dapat mengenali jeritan itu adalah suara Liong It-hiong ia pun terkejut dan coba memandang ke sana terlihat It-hiong sudah mengeletak di tanah agaknya jatuh pingsan

Tentu saja Bun-hiong terkesiap, sembari membentak segera ia bermaksud menerjang ke sana untuk menolong

“Jangan bergerak”' mendadak Loh Bok-kong menggertaknya dengan sebelah kaki menginjak batok kepala Liong It-hiong. Seketika Bun-hiong tidak berkutik, sebab ia tahu jika dirinya menerjang ke sana asalkan pihak lawan sedikit menggunakan tenaga, seketika kepala It-hiong akan remuk.

Tentu saja ia cemas, cepat katanya "Juragan Loh, jika sampai kau celakai jiwanya, tentu akan kulabrak dirimu mati-matian'"

"Hm, kamu setimpal melabrakku?" ejek Loh Bok-kong. ' "Sedikitnya engkau kan sudah tua dan aku masih muda kuat, biarpun sekarang belum dapat menandingimu pada suatu hari kelak pasti setimpa! kulabrakmu "

"Hahahaha. betul juga ucapanmu ini…”tiba-tiba Loh Bok-kong tergelak

"Maka boleh kau ambil saja barangnya dan lekas pergi.'' kata Bun-hiong

Benar juga, segera Loh Bok kong berjongkok dan melepaskan bungkusan yang tersandang dipunggung Liong lt-hiong. habis itu mendadak ia putar tubuh terus lan pergi secepat terbang.

Keruan Sung Goan-po melenggong cepat ia mengejar sambil berteriak, "Tunggu dulu, Jiko!"

Dengan cepat sekali bayangan kedua orang itu lantas menghilang di kejauhan.

Bun-hioag lantas mendekati lt-hiong. ia berjongkok dan coba membalik tubuh kawannya itu, terlihat kedua mata It-hiong terpentang lebar, pikirannya sega.r Keruan ia melenggong bingung

"Hei. engkau tidak apa apa?"

"Coba periksa hiat-to kelumpuhanku,'' kata It-hiong.

Pandangan Bun-hiong beralih ke hiat-to kelumpuhanan, ditemukan pada hiat-toto yang dimaksud tertancap sebatang jarum kecil warna perak, segera ia cabut jarum itu dan diperiksa katanya kemudian "Tampahnya tidak beracun"

"Kalau beracun, sejak tadi jiwaku sudah amblas " ujar It-hiong sambil menyengir. Bun-hiong lempar jarum itu dan memijat Hiat-to sembari tanya, 'Tua bangka itu yang menimpuk dengan jarum itu?"

"ya siapa lagi." sahut It-hiong "Sungguh rendah caranya, di luar tahuku senjata rahasianya menyambar keluar dari dalam lengan baju"'
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).