Rahasia Peti Wasiat Jilid 16

Jilid 16

“Hah, ada setan?” Bun-hiong melengak.

“Betul, baru saja kena kupegang,” kata Kiau-kiau dengan takut.

Secara cerdik Bun-hiong menyurut mundur dua tindak, lalu berseru, “Kiu-bwe-hou, kenapa lampu tidak kau nyalakan?”

“Cret”, terdengar suara ketikan api, segera cahaya terang menerangi keadaan situ.

Ternyata benar, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui berdiri di luar terali besi.

Nyata orang ini serupa hantu saja yang pergi-datang tanpa bersuara.

Melihat tampang orang, ngeri Kiau-kiau, serunya, “Oo, Thian, alangkah buruk mukamu?!”

Setelah menyalakan lampu, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui lantas menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Meski buruk rupa, tapi pasti bukan seorang kakek loyo yang nafsu besar tenaga kurang!”

Muka Kiau-kiau tampak pucat, “Wah, tak tersangka usiamu sudah selanjut ini, apakah benar engkau ini Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui?”

Kiu-bwe-hou tersenyum, ucapnya perlahan, “Berhadapan dengan nona cantik serupa dirimu, sungguh aku berharap diriku ini bukan Kiu-bwe-hou.”

Mendadak Kiau-kiau tertawa menggiurkan, katanya, “Cuma, setelah dipandang lagi, wajahmu juga tidak terlalu buruk.

Asalkan rambutmu disisir rapi, kuyakin pasti akan sedap dipandang.”

Kiu-bwe-hou mengangguk dengan tertawa, “Baik, aku bersedia mencobanya menurut saranmu. Sekarang apakah boleh beri tahukan namamu kepadaku?”

“Hamba she Loan bernama Kiau-kiau.”

“Haha, Loan Kiau-kiau, indah dan sedap didengar namamu ini. ” Kiu-bwe-hou tertawa senang.

“Terima kasih atas pujianmu,” ujar Kiau-kiau sambil memberi hormat.

Kiu-bwe-hou menuding Pang Bun-hiong, tanyanya dengan tertawa, “Ada hubungan apa antara dia denganmu?”

“Tidak ada hubungan apa-apa, cuma kenalan biasa saja,” jawab Kiau-kiau.

Tertawa Kiu-bwe-hou mulai lenyap, tanyanya, “Lalu, untuk apa kedatanganmu ini?”

“Kudatang mencari seorang. ”

Seketika Bun-hiong merasa tegang, cepat ia menukas, “Sudah berulang kuperingatkan padamu agar jangan ikut kemari, tapi kau tidak menurut dan tetap menyusul ke sini, sungguh runyam.”

Tak terduga Loan Kiau-kiau lantas mencibir padanya dan menjawab, “Ala, jangan sok, memangnya kedatanganku ini hendak mencari dirimu?”

Keruan Bun-hiong melengak, katanya dengan mendongkol, “Baik, tampaknya kau sudah bosan hidup.”

Kiau-kiau tidak gubris padanya, ia pandang Kiu-bwe-hou, ucapnya dengan tertawa genit, “Coba kau terka kudatang kemari untuk mencari siapa?”

“Mencari diriku?” Kiu-bwe-hou menegas. “Hah, tepat!” seru Kiau-kiau.

Kiu-bwe-hou tertawa, “Oo, barangkali kau sengaja melamar menjadi teman tidurku?”

“Ai, kuharap janganlah engkau pakai kata-kata tidak enak begini,” ujar si nona dengan lagak malu-malu. “Paling-paling cuma di mulut saja hamba suka bicara agak lepas, tapi sesungguhnya aku ini orang perempuan yang baik-baik.”

Kiu-bwe-hou bergelak tertawa, lalu bertanya, “Lantas, ada urusan apa kau cari diriku?”

“Aku ingin mengangkat guru padamu,” jawab Kiau-kiau.

Seketika suara tertawa Kiu-bwe-hou lenyap dan berganti dengan wajah yang tercengang, ia menegas, “Apa katamu? Kau ingin mengangkat guru padaku?”

“Betul,” Kiau-kiau mengangguk. “Kudengar engkau ini tokoh dunia persilatan kelas top yang jarang ada bandingannya, maka berharap dapat mengangkat dirimu sebagai guru untuk belajar kungfu sakti.”

“Oo, kiranya begitu. ” Kiu-bwe-hou tertawa senang.

Segera Loan Kiau-kiau memohon lagi, “Apakah engkau sudi menerimaku sebagai murid?”

Dengan tertawa Kiu-bwe-hou menjawab, “Ehm, lumayan dapat menerima nona secantik dirimu sebagai murid. ”

Terbeliak mata Loan Kiau-kiau, serunya dengan girang, “Jadi engkau sudi?”

Kiu-bwe-hou merogoh saku, entah hendak mengambil barang apa, katanya sembari tersenyum, “Asalkan cocok syaratnya, tentu saja dapat kuterima.”

Habis berkata, mendadak ia lemparkan sesuatu ke dalam kamar tahanan.

“Blang”, terdengar letusan yang tidak terlampau keras, seluruh kamar tahanan itu lantas penuh asap kuning tebal dengan bau yang menusuk hidung....

*****

Entah sudah berselang berapa lama, waktu Loan Kiau-kiau siuman, ia merasakan dirinya berbaring di suatu tempat tidur yang terletak di ruangan bawah tanah yang sangat luas.

Sebabnya dia sekali pandang lantas tahu berada di ruang bawah tanah adalah karena sekeliling ruangan adalah dinding batu belaka, tiada sebuah jendela atau lubang hawa. Namun ruang bawah tanah ini terpajang sangat indah dan teratur dengan istimewa, tampaknya serupa kamar tidur, juga serupa ruang tamu, segala macam perabotan tersedia lengkap, minta apa pun dapat didapatkan di situ.

Kiau-kiau sangat heran, perlahan ia merangkak bangun dan duduk.

Pada saat itulah, bagian tengah ruang bawah tanah ini, tempat yang terpajang serupa kamar tamu itu, sebuah kursi dengan sandaran tinggi mendadak berputar. Maka terlihatlah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui duduk tenang di kursi itu, dengan senyum misterius ia menegur, “Kau sudah mendusin?”

Sampai sekian lama Loan Kiau-kiau melenggong, akhirnya ia tanya, “Cara bagaimana engkau membawaku ke sini?”

Kiu-bwe-hou meraba jenggotnya dan menjawab dengan tertawa, “Tempat ini bukankah jauh lebih baik daripada kamar tahanan itu?”

Kiau-kiau coba mengamat-amati sekitar ruangan, lalu tanya dengan sangsi, “Apakah tempat inikah kamar tidurmu?”

“Ehm,” Kiu-bwe-hou mengangguk.

“Ada apa engkau membawaku ke sini?” tanya Kiau-kiau.

“Tadi kau bilang ingin mengangkat guru padaku, makanya sekarang hendak kubicarakan syarat-syaratnya denganmu. ”

“Asalkan engkau sudi menerimaku sebagai murid, syarat apa pun akan kupenuhi,” ujar Kiau-kiau dengan tersenyum manis.

“Bagus jika begitu,” kata Kiu-bwe-hou. “Nah, boleh kita mulai bicara lagi dari awal. Siapa namamu?” “Hamba bernama Loan Kiau-kiau.”

“Apa hubunganmu dengan Pang Bun-hiong?”

“Tidak ada hubungan apa-apa, hanya kenalan biasa saja, kami berkumpul beberapa hari, lain tidak.”

“Jika begitu, jelas kau bukanlah perempuan baik-baik. Sudah pernah bersuami tidak?” tanya Kiu-bwe-hou.

“Tidak pernah, hanya pernah hidup bersama sekian lama saja.”

“Siapa lelaki yang tinggal bersamamu itu?”

“Dia sudah mati, kukira tidak perlu mengungkatnya lagi.” “Tidak, justru aku ingin tahu siapa dia?”

“Dia... dia... namanya. ” Kiau-kiau sengaja berlagak

gelagapan.

Tiba-tiba Kiu-bwe-hou terkekeh-kekeh aneh, katanya, “Sebaiknya kau jangan bohong, sebab Pang Bun-hiong sudah mengaku seluruhnya.”

Kiau-kiau melenggong, “Oo, dia sudah mengaku seluruhnya?”

“Ya,” Kiu-bwe-hou mengangguk. “Dia sangat bodoh, dia ngotot terus, setelah kupotong sebelah kakinya baru mau mengaku terus terang.”

Muka Kiau-kiau menjadi pucat demi mendengar sebelah kaki Bun-hiong terkutung, katanya, “Wah, jika dia sudah mengaku sebenarnya, betapa pun hamba juga tidak berani dusta lagi. Lelaki yang pernah hidup bersamaku dahulu itu, dia... dia adalah musuhmu, ialah Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam.”

“Oo, memang pernah kudengar dia mempunyai simpanan wanita cantik, kiranya yang dimaksud ialah dirimu,” kata Kiu- bwe-hou dengan tertawa.

“Tapi hamba tidak suka padanya,” cepat Kiau-kiau menukas. “Dia pelit dan pemberang, hidup bersama dia sungguh tidak enak.”

“Hm, jangan bohong,” jengek Kiu-bwe-hou. “Perangai Oh Kiam-lam pemberang memang tidak salah, orangnya pelit juga betul. Tapi setahuku, terhadap orang perempuan dia sangat royal.”

“Sungguh, dia tidak begitu baik padaku,” ujar Kiau-kiau. “Setiap bulan dia hanya memberi uang belanja seratus tahil perak padaku dan tidak pernah lebih sepeser pun. Sebab itulah, begitu dia mati hamba lantas tak sanggup hidup lagi.”

“Selama ini kau tinggal di mana?” tanya Kiu-bwe-hou. “Di Hoay-giok-san.”

“Cara bagaimana pula kau berkenalan dengan Pang Bun- hiong?”

“Ia bilang melihat engkau membawa lari adik perempuan Oh Kiam-lam, yaitu Oh Beng-ay, lalu dia menyiarkan berita tersebut dan dapat kudengar lalu kuminta dia membawaku ke sini. ”

“Untuk apa?” tanya Kiu-bwe-hou.

“Hamba ingin bertemu dengan Nona Oh dan minta beberapa duit padanya, sebab harta peninggalan Oh Kiam-lam sangat mungkin jatuh padanya, sedangkan masa remajaku telah kukorbankan di tangan Oh Kiam-lam, kan berhak minta sedikit uang pensiun padanya.”

“Oo, kiranya begitu. ” Kiu-bwe-hou mengangguk-angguk

dengan tertawa.

“Apakah boleh dia kutemui?” tanya Kiau-kiau. Kiu-bwe-hou menggeleng kepala.

“Sebab apa?”

“Sebab aku tidak pernah menculik Nona Oh, sudah tujuh tahun aku mengasingkan diri di Ma-cik-san ini dan selama itu tidak pernah meninggalkan tempat ini selangkah pun.”

“Apa betul?” Kiau-kiau melengak.

“Jiwamu berada dalam cengkeramanku, apakah perlu kudusta padamu?” ujar Kiu-bwe-hou dengan tersenyum.

Kiau-kiau tampak sangsi, ucapnya, “Tapi Pang Bun-hiong bilang dia menyaksikan sendiri engkau mengunjungi rumah pelesiran Liu-jun-ih dan membawa lari Giok-nio, yaitu Oh Beng-ay.”

“Dia sengaja membikin desas-desus demikian, tentu ada maksud tujuannya, biar sebentar kutanyai dia,” jengek Kiu- bwe-hou.

“Sialan,” omel Kiau-kiau. “Dia bercerita seperti terjadi sungguhan, kiranya bohong belaka. Ayo biar kita tanyai dia sejelasnya.” “Tentu akan kutanya padanya,” kata Kiu-bwe-hou. “Sekarang boleh kita bicara suatu urusan lain. Kecuali dirimu, apakah Oh Kiam-lam masih mempunyai simpanan lain?”

“Tidak ada,” jawab Kiau-kiau.

“Berdasarkan apa kau berani memastikan tidak ada?” “Sebab dia memimpin 72 sarang bandit, setiap hari sibuk

bukan main, mana ada waktu luang terlalu banyak untuk main

perempuan?”

Kiu-bwe-hou mengangguk-angguk, “Ya, memang betul. Jika begitu, tentu kau tahu siapa saja yang merupakan sahabat baiknya?”

“Tidak tahu,” jawab Kiau-kiau. “Agaknya dia tidak mempunyai sahabat karib, sebab dia suka curiga dan tidak memercayai siapa pun.”

Kiu-bwe-hou memandangnya sejenak dengan tatapan tajam, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata, “Apakah benar-benar kau ingin mengangkat guru padaku?”

“Benar,” jawab Kiau-kiau. “Perempuan seperti hamba ini kan perlu seorang yang dapat dijadikan sandaran.”

“Baik, dapat kuterima dirimu, cuma di antara kita tidak cuma guru dan murid saja, tapi juga dapat menjadi suami istri.

Bagaimana pendapatmu?”

Kiau-kiau menunduk malu, ucapnya dengan tersenyum, “Asalkan engkau sudi, hamba sih menurut saja.”

Kiu-bwe-hou meraba dagu Kiau-kiau, katanya, “Wajahmu sangat cantik, tapi entah bagaimana perawakanmu?” “Aii, engkau ini ” gerutu Kiau-kiau dengan tertawa genit.

“Bila kau mau buka baju dan coba perlihatkan tubuhmu kepadaku, segera akan kuterima permintaanmu,” kata Kiu- bwe-hou.

“Ini... ini. ” muka Kiau-kiau berubah merah.

“Justru inilah salah satu syaratku!”

“Kan waktu masih panjang, kenapa engkau terburu-buru?”

“Soalnya ingin kulihat apakah ada cacat pada tubuhmu, apabila ada cacat, terus terang aku tidak mau.”

“Untuk ini tidak perlu engkau khawatir,” ujar Kiau-kiau. “Bila tubuhku ada cacat, tidak nanti Oh Kiam-lam menerima diriku.”

“Tapi aku harus melihatnya sendiri baru mau percaya,” kata Kiu-bwe-hou.

Kiau-kiau ragu sebentar, mendadak ia tertawa cerah, katanya, “Baik, jika engkau ingin lihat bolehlah kau lihat sesukamu.”

Segera ia menjulurkan kaki ke bawah tempat tidur, ia berdiri dan benarlah segera ia mulai membuka ikat pinggang dan menanggalkan baju.

Hanya sekejap saja ia sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Meski dia sudah seorang perempuan yang “mulus di luar dan bobrok di dalam”, namun perawakannya memang benar indah tanpa cela, malahan ia terus bergaya dan dapat membuat orang lupa daratan. Ia tidak malu, sebab ia memang sudah biasa telanjang bulat di depan kaum lelaki. Sekarang demi untuk memikat hati Kiu- bwe-hou, ia sengaja beraksi dengan macam-macam gerakan menggiurkan.

Namun Kiu-bwe-hou ternyata tidak terpikat oleh tubuhnya yang penuh daya tarik itu, ia cuma menikmatinya dengan duduk tenang. Selang sekian lama barulah ia berdiri, lalu mendekati tempat tidur, baju Kiau-kiau yang ditanggalkan semua itu diambilnya.

Mata Kiau-kiau terbelalak lebar, tanyanya dengan melenggong, “Untuk apa engkau mengambil pakaianku?”

“Nona cantik seperti dirimu ini sungguh tidak perlu pakai baju,” ucap Kiu-bwe-hou dengan tertawa. “Harus kau pertunjukkan di mana bagian keunggulanmu. ”

Sembari bicara, baju Kiau-kiau terus dirobeknya sepotong demi sepotong.

Keruan Kiau-kiau terkejut, serunya, “Hei, hamba tidak membawa baju serep, jika bajuku kau robek semuanya, lalu hamba pakai apa?”

“Kau tidak perlu pakai apa-apa,” jawab Kiu-bwe-hou sambil melemparkan potongan baju terakhir yang dirobeknya. “Kan di sini tak ada orang lain lagi.”

Ia terus melangkah ke depan pintu satu-satunya di ruangan bawah tanah ini, lalu menoleh dan menyambung lagi, “Di dalam kamar ini, tersedia ransum yang cukup kau gunakan selama dua bulan, maka sementara ini boleh kau tinggal saja di kamar ini.” Habis berkata ia terus melangkah keluar. “Blang”, pintu lantas anjlok dari atas begitu dia berada di luar ruangan.

*****

Di lain pihak, ketika Pang Bun-hiong siuman, ia merasa dirinya berbaring di tepi sebuah danau.

Semula ia mengira dirinya sedang mimpi, ketika angin malam mengusap mukanya dan terasa agak dingin barulah ia tahu bukan lagi mimpi. Cepat ia bangun duduk dan terkesiap, “He, mengapa aku berada di sini?”

Teringat olehnya semula dirinya terkurung di ruangan bawah tanah, kemudian Kiu-bwe-hou melemparkan sesuatu benda dan segera dirinya tak sadarkan diri. Mengapa sekarang bisa berbaring di tepi danau?

Jangan-jangan ada orang menolongnya keluar? Tapi di manakah tuan penolong itu?

Ia coba berpaling dan memandang sekitarnya, suasana kelihatan sunyi senyap tiada terlihat bayangan seorang pun. Ia terheran-heran, gumamnya, “Sesungguhnya apakah yang terjadi?”

Ia menengadah, memandang langit, bulan sudah tidak kelihatan, rasanya tidak lama lagi fajar akan tiba.

Ia berdiri dan memandang lagi ke depan, terlihat tanah datar membentang ke depan, tidak terlihat lagi bayangan pegunungan, maka tahulah dia ada orang menolongnya meninggalkan Ma-cik-san serta ditinggalkan di tepi danau.

Ia garuk-garuk kepala, lalu bergumam pula, “Sungguh lucu, ternyata ada orang menolongku keluar, tapi mengapa dia tidak tinggal di sini untuk bertemu denganku?”

Tiba-tiba terpikir olehnya mungkin “tuan penolong” itu meninggalkan sesuatu tulisan, maka ia coba mencari sekitar tempat dia berbaring tadi.

Segera pula ia lantas merogoh saku sendiri, benarlah ditemukan secarik kertas, segera ia membentang kertas itu dan dibaca, ternyata ada tulisan singkat di situ, bunyinya: “Mengingat kau telah mengantarkan seorang perempuan cantik kepadaku, biarlah sekali ini kuampuni jiwamu. Tapi kalau berani menginjak Ma-cik-san lagi, pasti akan kucabut nyawamu.”

Kiranya “tuan penolong” ini bukan lain dari Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui.

Hal ini sangat di luar dugaan Bun-hiong, sama sekali tak terpikir olehnya Kongsun Siau-hui dapat melepaskan dia begitu saja.

Ia menggeleng kepala dan menyengir, gumamnya, “Jelas dia tahu kepergianku ke Ma-cik-san bukan untuk mencari Kui-ih To Thian-lau apa segala, mengapa dia lepaskan diriku begitu saja tanpa tanya sesuatu keterangan? Ah, ya, pasti Loan Kiau- kiau telah menceritakan semua kepadanya. Tapi sengaja dia tidak menaruh perhatian terhadap cara Tui-beng-poan-koan To Po-sit mengalihkan bencana kepada orang lain, malahan mau melepaskan diriku, jangan-jangan. ”

Ia seperti memahami sesuatu, tiba-tiba ia merasa ngeri, pikirnya, “Wah, celaka! Tentu dia bersembunyi di sekitar sini dan siap membuntuti diriku. Sekali ini rasanya bisa repot.”

Semula ia mengira yang hendak dipancing dan ditangkap To Po-sit adalah Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau, sebab itulah ia membawa perempuan itu ke Ma-cik-san, tapi tak terduga olehnya To Po-sit tidak memasang sesuatu perangkap di Ma- cik-san, sebaliknya malah bertemu dengan Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui yang tulen, seyogianya sekarang juga dia mesti pulang ke Bok-kan-san dan melaporkan pengalamannya kepada To Po-sit. Tapi bila diam-diam Kiu-bwe-hou membuntutinya, jelas dirinya sukar lagi pulang ke tempat To Po-sit.

Sampai sekian lama ia termenung, ia ambil keputusan paling baik pergi dulu dari Thay-oh. Segera ia jemput pedangnya dan melangkah pergi.

Sepanjang jalan ia tidak berani menoleh, sebab ia pikir hanya dengan pura-pura tidak tahu saja baru dapat mencari kesempatan untuk lolos dari penguntitan Kiu-bwe-hou.

Beberapa li ia menuju ke arah barat, hari sudah mulai terang, Kota Gihin sudah kelihatan dari kejauhan.

Ia percepat langkahnya, tidak lama kemudian sudah sampai di depan gerbang kota, ia mencampurkan diri di tengah orang banyak yang sibuk menuju ke pasar, setiba di dalam kota dengan cepat ia menyelinap masuk ke sebuah tikungan jalan, lalu mencari tempat sembunyi untuk mengintip.

Tapi sekian lamanya ia menunggu tetap tidak terlihat Kiu-bwe- hou ikut masuk kota, yang berbondong masuk kota kebanyakan orang udik yang mau ke pasar.

Aneh, mengapa Kiu-bwe-hou tidak muncul? Jangan-jangan dugaan sendiri salah dan sama sekali orang tidak melakukan penguntitan padanya.

Padahal, bilamana Kiu-bwe-hou tahu tipu muslihat To Po-sit yang “lempar batu sembunyi tangan” itu pasti dia tidak mau menyudahi urusan dengan begini saja melainkan akan mencari To Po-sit untuk ditanyai. Dan untuk bisa bertemu dengan To Po-sit harus menguntit jejaknya....

Begitulah Bun-hiong terus berpikir sekian lamanya, namun Kiu-bwe-hou tetap belum tertampak bayangannya.

Hati Bun-hiong penuh tanda tanya, tapi juga merasa tenteram. Bahwa Kiu-bwe-hou tidak menguntitnya jelas kejadian yang baik baginya. Ia mengangkat pundak, lalu keluar dari tempat sembunyinya dan meneruskan ke tengah kota.

Ia mendapatkan penjual sarapan pagi di tepi jalan, ia minum semangkuk bunga tahu panas dan makan sepotong siopia, lalu mengeluyur keluar kota melalui pintu selatan, setiba di luar kota ia terus berlari dengan kencang.

Sekali ini sembari lari ia pun berulang menoleh ke belakang, namun bayangan Kiu-bwe-hou tetap tidak kelihatan. Maka dapatlah ia memastikan Kiu-bwe-hou memang tidak membuntutinya.

Dan mengapa Kiu-bwe-hou tidak mengikuti jejaknya?

Hanya ada satu jawaban, yaitu dia terpikat oleh kecantikan Loan Kiau-kiau.

Terhadap keselamatan Loan Kiau-kiau sama sekali tidak menjadi perhatian Bun-hiong, sebab kalau dalam suratnya Kiu- bwe-hou sudah menyatakan “mengingat kau telah mengantarkan seorang perempuan cantik kepadaku”, itu menandakan Kiau-kiau takkan mengalami siksa derita, sebab itulah tidak terpikir olehnya untuk kembali ke Ma-cik-san untuk menolong Kiau-kiau. Begitulah ia terus berlari cepat ke depan, setiba di setiap tempat yang strategis ia lantas berhenti dan sembunyi di tepi jalan untuk mengintai, setelah nyata-nyata tidak ada orang menguntit barulah ia melanjutkan perjalanan.

Petang hari itu ia sampai di kaki gunung Bok-kan-san, kembali ia sembunyi di balik hutan untuk mengintai sekian lamanya, setelah jelas tidak ada orang membuntutinya barulah beranjak naik ke atas gunung.

Dengan tertawa ia bergumam, “Sekian hari kutempuh perjalanan 200 li dan selama ini tidak tampak bayangannya, bilamana dia masih juga membuntuti aku, maka dia pasti bukan manusia melainkan setan.”

Meski begitu, ia tetap tidak mengendurkan kewaspadaannya, ia masih berulang menoleh ke belakang untuk mengamati setiap gerak-gerak yang terjadi.

Setelah melintasi beberapa puncak, hari sudah gelap. Ia sangat hafal akan keadaan pegunungan ini, maka tidak mengalami sesuatu kesulitan. Akhirnya ia sampai di kaki puncak selatan Bok-kan-san, tiba di depan rumah bambu tempat tirakat Tui-beng-poan-koan To Po-sit.

Di dalam rumah ada cahaya lampu, agaknya To Po-sit belum tidur.

Ia mendorong pintu pagar bambu sambil berseru lantang, “To- locianpwe, aku sudah pulang!”

Ia khawatir To Po-sit menyangkanya sebagai musuh dan menyerangnya secara mendadak, maka ia berteriak memberitahukan siapa dirinya.

Terdengar suara To Po-sit bertanya di dalam, “Apakah Pang Bun-hiong di situ?” “Betul,” jawab Bun-hiong. “Masuk!” seru To Po-sit.

Bun-hiong menuju ke ruang tamu dan mendorong pintu.

Cahaya lampu sangat terang di dalam ruangan. Begitu Bun- hiong melangkah masuk, seketika air mukanya berubah hebat, serupa hiat-to mendadak tertutuk dan berdiri melongo kaku.

“Mengapa baru sekarang kau datang?” tanya To Po-sit dengan mengulum senyum.

Tidak, dia bukan Tui-beng-poan-koan To Po-sit melainkan Kiu- bwe-hou Kongsun Siau-hui adanya.

Dengan aman tenteram ia duduk di atas kursi bambu, serupa duduk di rumah sendiri, sikapnya tenang dan sangat wajar.

Muka Bun-hiong berubah pucat dan mata terbelalak lebar, sungguh seperti melihat setan saja, sekujur badan merinding.

Setelah tercengang sekian lama barulah ia berucap, “Hah, engkau ternyata benar membuntuti aku.”

Karena melihat pihak lawan duduk tenang di tengah ruangan, ia yakin To Po-sit pasti sudah dicelakai, sebab itulah ia sangat berduka.

Ternyata Kiu-bwe-hou lantas menggeleng kepala, jawabnya dengan tersenyum, “Tidak, aku tidak pernah menguntit dirimu, sudah lebih satu jam kupulang ke sini.”

Pang Bun-hiong tambah kejut dan bingung, tanyanya, “Dari mana kau tahu Tui-beng-poan-koan tinggal di sini?”

Kiu-bwe-hou tertawa, katanya, “Sejak mula kutahu dia tinggal di sini.”

Hati Bun-hiong terasa pedih seperti disayat-sayat, ucapnya dengan gusar, “Jadi sudah kau bunuh dia?”

Kiu-bwe-hou mengangguk, “Ehm, kedua kakinya sudah hampir lumpuh, tapi masih suka cari perkara. ”

“Sret”, serentak Bun-hiong melolos pedangnya dan berteriak dengan bengis, “Dan di mana Nona Oh?!”

“Hamba berada di sini!” suara nyaring merdu menanggapi pertanyaannya.

Tertampaklah Oh Beng-ay alias Giok-nio melangkah keluar dengan membawa satu nampan bakpao yang masih mengepulkan asap.

Ia tersenyum senang, tampaknya seperti sudah lengket dengan Kiu-bwe-hou.

Keruan Bun-hiong tidak habis mengerti, matanya terbelalak terlebih lebar serupa mata ikan mas yang akan melompat keluar, tanyanya dengan tercengang, “Ken. kenapa engkau

jadi begini?”

“Memangnya ada yang tidak benar?” jawab Oh Beng-ay sambil tertawa mengikik dan menaruh bakpao di atas meja.

Bun-hiong menuding Kiu-bwe-hou dengan pedangnya dan berteriak, “Apakah kau tahu siapa dia?!”

“Tahu,” jawab Beng-ay dengan mengangguk dan tertawa. “Jika tahu siapa dia, kenapa kau sebaik ini kepadanya?” teriak Bun-hiong dengan berjingkrak.

“Eh, kalau bicara hendaknya yang sopan,” ujar Beng-ay. “Hamba cuma membuatkan beberapa biji bakpao untuk dia, kenapa kau bilang aku baik padanya?”

Bun-hiong menarik muka, jengeknya, “Hm, kiranya kalau memang sudah kenal, pantas sudah kurasakan ada sesuatu yang tidak beres di antara kalian dan dugaanku ternyata tidak salah. Biarlah kubinasakanmu lebih dulu dan urusan belakang!”

Sekali pedang bergerak segera ia hendak menyerang.

Cepat Beng-ay sembunyi di belakang Kiu-bwe-hou, jeritnya takut, “Hei, jangan sembrono, kan engkau sendiri yang memperkenalkan dia kepadaku?!”

Bun-hiong melenggong dan menahan serangannya, tanyanya dengan bingung, “Apa katamu?”

“Coba kau pandang yang cermat, beliau sendiri kan Tui-beng- poan-koan To-locianpwe,” kata Beng-ay.

Kembali Bun-hiong melenggong, “Apa betul?”

Segera Kiu-bwe-hou menukas dengan tertawa, “Jika kau sudah pangling padaku, sedikitnya kan dapat kau bedakan suaraku, sungguh goblok!”

Bun-hiong terkesima, dengan kebingungan ia mengeluh, “O, Tuhanku, kiranya engkau sendirilah To-locianpwe.”

“Kiu-bwe-hou” lantas menarik rambut sendiri yang panjang itu, kiranya dia pakai rambut palsu, lalu menyingkap kedok mukanya yang berupa sehelai kulit tipis sehingga tertampaklah wajah aslinya sebagai To Po-sit, katanya dengan tertawa, “Ai, tak kusangka kau sedemikian bodoh.”

Bun-hiong menghela napas, ucapnya dengan kikuk, “Ya, seharusnya dapat kuduga engkau bisa menyamar sebagai Kiu- bwe-hou, cuma. ”

“Cuma apa?” jengek To Po-sit dengan menarik muka.

Mestinya Bun-hiong hendak melampiaskan rasa dongkolnya, tapi melihat orang tua itu menarik muka, cepat ia tertawa dan berkata, “O, tidak, tidak apa-apa.”

Dia serupa Liong It-hiong, sedikit banyak mempunyai semacam rasa segan dan hormat terhadap Tui-beng-poan- koan ini, apalagi berhadapan, sama sekali ia tidak berani bersikap keras.

To Po-sit mendengus lagi, “Hm, tentu kau keki karena merasa telah kupermainkan dirimu, begitu bukan?”

“Ah, tidak, mana kuberani,” jawab Bun-hiong dengan menyengir.

“Memangnya kau berani?” jengek Tui-beng-poan-koan dengan mendelik. “Hm, ini sungguh sukar dimengerti. Kusuruh kau sebarkan desas-desus, tapi sengaja kau bawa seorang perempuan yang tidak ada sangkut paut ke Ma-cik-san, sungguh ngaco!”

“Engkau bilang seorang perempuan tidak ada sangkut paut?” tanya Bun-hiong dengan melenggong.

“Ya,” jawab To Po-sit. Bun-hiong memandang Oh Beng-ay sekejap, lalu berpaling lagi ke arah Tui-beng-poan-koan To Po-sit dan berkata, “Namun dia adalah. ”

“Tutup mulut!” bentak To Po-sit mendadak.

Seketika Bun-hiong urung bicara, ia pun merasa tidak boleh menyebut urusan Oh Kiam-lam di depan Oh Beng-ay.

To Po-sit lantas berkata kepada Beng-ay, “Sudahlah, di sini tidak ada urusanmu lagi, bolehlah kau kembali ke kamarmu.”

Beng-ay seperti sangat jeri kepada orang tua itu, sedikit pun tidak berani membangkang, segera ia mengiakan dan memberi hormat, lalu mengundurkan diri.

To Po-sit mengambil sebiji bakpao dan mulai makan, katanya, “Ayo, makan dulu baru bicara lagi.”

Sehari suntuk menempuh perjalanan, perut Pang Bun-hiong memang sudah lapar, maka tanpa sungkan ia lantas duduk dan ikut makan, satu per satu bakpao dilangsir ke dalam mulut.

Watak Tui-beng-poan-koan To Po-sit sungguh sukar diraba, sebentar marah, lain saat tertawa. Mendadak sekarang ia tertawa senang dan berucap, “Tak nyana dia mahir membuat bakpao selezat ini.”

Bun-hiong mengiakan.

“Tinggal di sana sungguh sangat menyusahkan, ingin makan apa pun harus kukerjakan sendiri,” keluh To Po-sit.

“Mengapa tidak kau bawa dia ke sana?” tanya Bun-hiong. “Mana boleh,” jawab To Po-sit sambil menggeleng.

“Eh, cara bagaimana engkau membereskan Loan Kiau-kiau?” tanya Bun-hiong dengan suara tertahan.

Tui-beng-poan-koan To Po-sit mencomot lagi sepotong bakpao, digerogotinya separuh ke dalam mulut, sambil mengunyah ia menjawab, “Telah kukurung dia di suatu ruangan bawah tanah. ”

“Siapa yang menjaga dia?” “Tidak ada.”

“Wah, kan dia bisa mati kelaparan?” ujar Bun-hiong.

“Tidak, di ruang bawah tanah itu tersedia perbekalan yang cukup dimakan olehnya selama dua bulan,” tutur To Po-sit.

“Jika dia orang perempuan yang tiada sangkut paut dengan urusan kita, mengapa engkau tidak mengusirnya saja?”

“Sebenarnya dia juga bukan sama sekali tidak ada sangkut paut,” ujar Tui-beng-poan-koan. “Dengan mengurungnya di sana, sedikit banyak ada juga faedahnya bagiku.”

“Apakah ruang di bawah tanah itu sangat kuat?” tanya Bun- hiong.

“Ya, tidak mungkin dia dapat lolos, sebab tiada sepotong baju pun yang dipakainya,” tutur Tui-beng-poan-koan To Po-sit.

“Hei, kenapa bisa jadi begitu?” Bun-hiong tercengang.

“Aku telah berbuat sesuatu yang kurang bermoral,” kata To Po-sit dengan tersenyum. “Sebab telah kupaksa dia telanjang bulat, lalu kurobek pakaiannya.”

“Hah, memang perbuatan tidak pantas,” kata Bun-hiong dengan tertawa geli.

Tiba-tiba Tui-beng-poan-koan berdiri, katanya, “Cahaya bulan cukup terang di luar, marilah kita jalan-jalan keluar.”

Lalu ia mendahului beranjak keluar.

Lebih dulu Bun-hiong comot dua potong bakpao baru menyusul keluar, sembari makan ia tanya, “Apakah Liong It- hiong belum pulang?”

“Belum, kukira selekasnya dia akan pulang,” jawab To Po-sit.

Keduanya berjalan keluar rumah bambu itu menyusuri jalan setapak pegunungan dengan santai, dengan tertawa To Po-sit berkata pula, “Kau sangka Loan Kiau-kiau itu adalah orang yang hendak kutangkap, begitu bukan?”

“Betul,” jawab Bun-hiong. “Kupikir engkau menggunakan Nona Oh sebagai umpan, maka dapat diduga orang yang hendak kau tangkap pasti sanak famili keluarga Oh. Sedang Loan

Kiau-kiau jelas adalah perempuan yang hidup bersama Oh Kiam-lam, maka kusangka dia yang kau incar.”

“Dia bilang padamu hendak menolong Nona Oh?” tanya To Po-sit.

“Ya, dia mengaku mendiang Oh Kiam-lam cukup baik padanya, maka ia ingin menyelamatkan nyawa Nona Oh sekadar membalas kebaikan Oh Kiam-lam.”

“Hm, dan kau percaya kepada ocehannya?” jengek To Po-sit. “Aku memang rada sangsi, tapi selain alasan itu memang sukar dimengerti apa alasan yang lain?”

Tui-beng-poan-koan To Po-sit menengadah, memandang rembulan yang menghiasi langit, katanya kemudian, “Biar kukatakan padamu, alasan atau tujuannya adalah harta.”

Bun-hiong merasa tidak paham, tanyanya, “Maksudnya menolong Nona Oh apakah akan mendatangkan keuntungan baginya?”

“Dia memang mengira begitu,” tutur To Po-sit. “Sebab Oh Kiam-lam memang meninggalkan suatu partai harta karun yang besar, mungkin dia tidak kebagian, maka bermaksud mengorek keterangan dari Nona Oh tentang ke mana perginya harta tinggalan Oh Kiam-lam itu.”

“Apakah Nona Oh mengetahui di mana beradanya harta peninggalan kakaknya?” tanya Bun-hiong.

“Jika ia tahu disembunyikan di mana harta peninggalan sang kakak, tentu dia tidak terjerumus menjadi pelacur,” ucap To Po-sit.

Bun-hiong mengangguk, “Ya, benar. Ada suatu jalan pikiranku, yaitu harta peninggalan Oh Kiam-lam sangat mungkin disembunyikan di dalam kotak hitam itu, makanya banyak orang berusaha merampas kotak itu.”

“Salah,” kata Tui-beng-poan-koan To Po-sit dengan tertawa. “Aku berani bertaruh denganmu, isi kotak hitam itu mutlak pasti bukan harta peninggalan Oh Kiam-lam.”

“Habis apa isi kotak itu?” “Entah, yang jelas kutahu isi kotak itu pasti juga bukan peta pusaka segala.”

“Jika begitu, jadi kotak itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Oh Kiam-lam?”

“Juga tidak betul, kotak itu justru sangat erat hubungannya dengan Oh Kiam-lam.”

“Hubungan erat bagaimana?” tanya Bun-hiong dengan bingung.

Tui-beng-poan-koan hanya menggeleng saja tanpa menjawab.

“Sesungguhnya siapa orang yang hendak kau tangkap itu?” tanya Bun-hiong pula.

“Sekarang tidak dapat kukatakan padamu, cuma tidak lebih dari setengah tahun tentu akan kau ketahui,” tutur To Po-sit perlahan.

“Apakah Nona Oh tahu engkau memperalat dia untuk memancing dan menangkap seseorang?” tanya Bun-hiong.

“Dia tidak tahu, maka selanjutnya juga jangan kau sebut- sebut lagi tentang kakaknya,” pesan To Po-sit.

“Apakah masih perlu kupergi lagi ke selatan untuk menyebarkan desas-desus?”

“Tidak perlu lagi. Sekarang akan kuberi suatu tugas lain kepadamu. Esok boleh kau pergi ke kota, pesanlah sebuah kotak hitam pada salah sebuah bengkel, bentuknya harus serupa dengan kotak hitam aslinya. Apakah tugas ini dapat kau laksanakan?” “Kukira dapat,” jawab Bun-hiong. “Untuk apakah engkau membuat sebuah kotak tiruan begitu?”

To Po-sit tersenyum, katanya, “Jika Liong It-hiong berhasil merampas kembali kotak hitam itu segera kita dapat menukar yang asli itu dengan kotak tiruan yang kita bikin itu. Umpama Liong It-hiong pulang dengan bertangan kosong, kalian juga dapat membawa kotak palsu itu ke Cap-pek-pan-nia.”

“Aha, akal bagus!” seru Bun-hiong dengan tertawa.

To Po-sit menyambung lagi, “Kuharap kalian dapat membereskan gembong iblis di Cap-pek-pan-nia yang misterius itu. Sudah tentu, sebaiknya kalau kalian dapat menangkapnya hidup-hidup, sebab kuingin lihat orang macam apakah dia itu?”

“Baik, aku dan Liong It-hiong pasti akan berbuat sepenuh tenaga,” jawab Bun-hiong dengan mengangguk.

Tui-beng-poan-koan To Po-sit berhenti melangkah, katanya dengan tertawa, “Kau kira perangkap yang kuatur di Ma-cik- san itu bagus atau tidak?”

“Bagus sekali,” jawab Bun-hiong tertawa.

To Po-sit memutar balik ke arah rumah bambu, ucapnya pula dengan tersenyum senang, “Sebabnya tempo hari aku tidak memperlihatkan diriku untuk menemuimu, maksudku ingin menguji daya guna perangkap itu. Akhirnya terbukti memang sangat efektif.”

“Yang paling bagus adalah jerangkong di tempat tidur itu,” ujar Bun-hiong. “Tanpa jerangkong itu tentu takkan berhasil menawan orang yang terpancing ke sana.” Ia pun ikut putar balik, tanyanya kemudian sambil memandang kedua kaki orang tua itu, “Sekarang kedua kakimu sudah kuat untuk berjalan?”

“Sebenarnya kakiku tidak ada penyakit,” jawab To Po-sit. “Kukhawatir Liong It-hiong tidak mau membantuku, maka sengaja kutipu dia.”

Diam-diam Bun-hiong mendongkol akan kelicikan orang, seharusnya tua bangka inilah yang pantas berjuluk “Kiu-bwe- hou” dan bukan Tui-beng-poan-koan.

Teringat kepada Kiu-bwe-hou, ia coba tanya, “Engkau menyaru sebagai Kiu-bwe-hou, apakah engkau tidak khawatir Kiu-bwe-hou yang tulen muncul mendadak?”

“Tidak takut,” jawab To Po-sit. “Sebab dia takkan muncul untuk selamanya.”

“Apakah Kiu-bwe-hou sudah mati?” “Ya.”

“Cara bagaimana matinya?” tanya Bun-hiong. “Dibinasakan orang.”

“Orang yang mampu membunuh Kiu-bwe-hou pasti seorang tokoh yang mahasakti.”

“Terima kasih atas pujianmu,” ujar To Po-sit dengan tertawa. Bun-hiong melengak, “Jadi engkau yang membunuh dia?”

To Po-sit mengangguk dan berkata dengan tak acuh, “Kejadian itu sudah dua tahun yang lalu. Dia kan seorang iblis mahajahat, sudah lama ada maksudku hendak membereskan dia. Sampai dua tahun yang lalu baru kutemukan dia.”

“Tidak ada orang lain yang tahu kejadian itu?” tanya Bun- hiong.

“Ehm,” To Po-sit mengangguk. “Jerangkongnya sudah kau lihat, yaitu jerangkong yang berada di tempat tidur itu.”

“Apakah dia memang bertempat tinggal di sana?” tanya Bun- hiong.

“Ya, harimau itu adalah piaraannya, kemudian dapat ditundukkan.”

Bicara sampai di sini mereka sudah pulang sampai di luar rumah bambu itu.

“Bilakah engkau akan kembali lagi ke sana?” tanya Bun-hiong pula.

“Tunggu nanti kalau Liong It-hiong sudah pulang baru kembali ke sana.”

“Dalam pada itu, kalau orang yang hendak kau tangkap itu sudah pergi ke sana, lalu bagaimana?”

To Po-sit tersenyum, “Jangan khawatir, meski aku tidak berada di sana, tapi perangkap itu tetap akan bekerja sepenuhnya. Malahan sudah kutaruh bahan makanan di dalam kamar tahanan itu, bila dia kejeblos ke ruangan itu, dalam sepuluh hari saja dia takkan mati kelaparan.”

Sembari bicara ia sudah masuk ke dalam rumah.

Bun-hiong ikut masuk sambil bertanya, “Malam ini kutidur di mana?”

“Tidur saja di kamar semula,” kata To Po-sit. “Sekarang bolehlah kau pergi mengaso, urusan lain boleh kita bicarakan esok.”

Maka Bun-hiong lantas menuju ke ruang belakang, ia cuci badan dulu, lalu masuk kamarnya.

Tapi baru saja berbaring, segera terdengar suara Oh Beng-ay berseru tertahan di luar kamar, “Pang-kongcu, apakah engkau sudah tidur?”

Bun-hiong mengenakan baju dan turun dari tempat tidur untuk membuka pintu kamar, tanyanya dengan tertawa, “Engkau belum tidur?”

Sikap Beng-ay kelihatan malu-malu, jawabnya, “Hamba tidak dapat pulas, ingin kubicara denganmu. ”

“Baiklah, masuk,” kata Bun-hiong.

Perlahan Beng-ay masuk ke kamar, sekalian ia membentang daun pintu yang setengah terbuka, lalu ia mengambil kursi dan duduk di dekat pintu, katanya dengan tersenyum malu, “Hamba ingin tanya sedikit urusan padamu ”

“Bicara saja,” kata Bun-hiong.

Si nona menatapnya dengan tajam, katanya, “Sesungguhnya untuk urusan apakah kalian menipuku ke sini?”

“Pertanyaanmu ini harus dijawab oleh Liong It-hiong saja,” ucap Bun-hiong dengan tertawa.

“Dia tidak berada di sini, maka hamba tanya saja padamu,” kata Beng-ay.

Bun-hiong berdehem perlahan, katanya, “Tidak pantas kau curigai ketulusannya, dia memang berniat memperistri dirimu, sebab itulah ia membawamu ke sini.”

“Tapi ada semacam perasaanku yang cukup keras, kukira kalian seperti sedang melakukan sesuatu urusan secara diam- diam,” kata Beng-ay.

“Apa pun yang sedang kami lakukan pasti tidak merugikanmu, untuk ini kau tidak perlu khawatir,” kata Bun-hiong.

“Bolehkah kutahu apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Beng-ay.

“Untuk ini... hanya dapat kuceritakan begini, To-locianpwe adalah seorang detektif sangat ternama, lantaran lanjut usia beliau telah pensiun, namun, beliau tetap tidak melupakan tugasnya yang harus menumpas kejahatan untuk keamanan umum, sebab itulah beliau menyuruh Liong It-hiong dan diriku membantunya menangkap seorang gembong iblis dunia hitam.”

“Siapakah gembong iblis itu?” tanya Beng-ay.

Bun-hiong menggeleng, “Entah, beliau tidak mau menjelaskan.”

“Di ruangan tadi engkau bilang dia menyamar sebagai Kiu- bwe-hou, apakah Kiu-bwe-hou. ”

“Ada apa?” tanya Bun-hiong.

“Sesungguhnya siapakah dia?” tanya Beng-ay. Bun-hiong tahu orang sengaja berlagak pilon, tapi ia pun tidak mau membongkarnya, katanya dengan tertawa, “Kiu-bwe-hou itu seorang busuk, namun dia sudah mati.”

“Oo, Kiu-bwe-hou sudah mati?” Beng-ay tampak tergerak hatinya.

“Betul, dia dibunuh oleh To-locianpwe, sebab itulah beliau berani menyaru sebagai Kiu-bwe-hou tanpa khawatir akan kepergok yang asli.”

“Untuk apa dia menyaru sebagai Kiu-bwe-hou?” tanya Beng-ay pula.

“Mungkin ada sebabnya, tapi aku tidak tahu.” “Dia tidak memberitahukan padamu?”

“Tidak,” kata Bun-hiong. “Perangainya sangat aneh, berbagai urusan tidak dijelaskannya kepadaku.”

“Bukankah pernah kau bawa seorang perempuan menemuinya di suatu tempat?”

“Betul. ”

“Siapa perempuan itu?” “Seorang perempuan busuk.” “Siapa namanya?”

“Dia she Be dan bernama Hiau-bwe,” Bun-hiong berdusta. “Dia seorang perempuan bejat moral, suka memikat lelaki dan berbuat cabul.” “Untuk apa kau bawa perempuan begitu untuk menemui dia?” tanya Beng-ay.

“Sebab kukira dia mempunyai hubungan dengan gembong iblis yang diincar To-locianpwe itu, maka. ”

“Jika engkau sendiri tidak tahu siapa gembong iblis itu, dari mana kau tahu perempuan itu ada hubungannya dengan iblis tersebut?” potong Beng-ay.

Seketika Bun-hiong tak dapat menjawab, cepat ia menutupi rasa kikuknya dengan tergelak, “Haha, tentang ini boleh

coba kau terka.”

Beng-ay tersenyum hambar, katanya, “Hamba tidak sanggup menerkanya, silakan kau jelaskan saja.”

Otak Bun-hiong bekerja cepat dan mendapat alasan, katanya dengan tertawa, “Begini kisahnya. Beberapa hari yang lalu kebetulan aku bertemu dengan perempuan itu, berulang ia mencari keterangan padaku tentang tempat kediaman To- locianpwe, kukira dia ada urusan hendak menemui beliau maka kubawa dia ke sana.”

“Kau bawa dia ke mana?” tanya Beng-ay pula. “Ke suatu tempat,” tutur Bun-hiong.

“Tempat mana?” desak si nona.

“Ai, hendaknya jangan kau korek-korek keteranganku lebih dalam. Kau kan seorang gadis, ada sementara urusan lebih baik tidak perlu tahu.”

“Tapi urusan ini rasanya kan tidak perlu dirahasiakan terhadapku bukan?” Bun-hiong angkat pundak, katanya, “Sudah larut malam, silakan kembali kamarmu dan tidur saja.”

“Jadi tetap takkan kau katakan padaku?” tanya Beng-ay.

“Urusan yang dapat kukatakan padamu dengan sendirinya akan kuberi tahu tanpa kau minta,” ujar Bun-hiong.

Beng-ay seperti mau omong sesuatu, tapi urung, lalu berkata, “Baiklah, sampai bertemu besok.”

Habis memberi salam ia lantas mengundurkan diri.

Esok paginya, Bun-hiong berdiam di kamarnya dan melukis sebuah gambar konsep kotak hitam, dengan contoh gambar itu ia pamit kepada To Po-sit terus turun gunung.

Kira-kira 20 li jauhnya, sampailah dia di Kota Hou-hong, ia mencari sebuah bengkel paling besar dan masuk ke situ....

Tiga hari kemudian ia datang lagi ke bengkel itu, kotak hitam yang dipesannya sudah jadi, meski tidak seluruhnya mirip kotak hitam yang asli, namun sudah cukup untuk mengelabui pandangan orang awam.

Ia bungkus kotak itu dengan sepotong kain, dibayarnya sepuluh tahil perak, lalu meninggalkan kota.

Baru sampai di kaki gunung Bok-kan-san sebelah selatan, tiba- tiba dilihatnya sesosok bayangan berlari datang dari arah timur, dari jauh bayangan orang itu serupa Liong It-hiong adanya, maka ia coba berhenti dan memandangnya lebih cermat.

Sesudah orang agak dekat, ternyata benar Liong It-hiong adanya, tentu saja Bun-hiong kegirangan, segera ia berteriak, “Hai, Liong It-hiong, kau sudah pulang?!”

Tangan kiri Liong It-hiong mengempit sebuah bungkusan, agaknya sudah berlari setengah harian sehingga sekujur badan mandi keringat, melihat yang menyapanya ialah Pang Bun-hiong, ia pun sangat girang, serunya, “Aha, kebetulan sekali kedatangan Pang-heng, lekas bantu menahan mereka sementara!”

Bun-hiong melengak oleh keterangan itu, ia menegas, “Kau dikejar orang?”

“Coba kau lihat belakang sana!” kata It-hiong.

Waktu Bun-hiong memandang jauh ke sana, benar juga dua orang sedang menguber tiba dengan cepat, dilihat dari gerak tubuh dan kecepatan mereka, jelas tergolong jago silat kelas tinggi, ia menjadi khawatir dan bertanya, “Siapakah mereka?”

“Nomor enam dan nomor tujuh dari Lok-lim-jit-coat, yaitu Tok- gan-bu-siang Ong Sian-ho dan Coh-jing-bin Sing It-hong.”

“Sebab apa mereka mengejarmu?” tanya Bun-hiong.

“Apa lagi, tentu saja ingin merampas kotak hitam ini,” kata It- hiong sambil menuding bungkusan yang dikempitnya.

Waktu Bun-hiong menoleh, terlihat Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho, Si Setan Jangkung Mata Satu, dan Coh-jing-bin Sing It-hong, Si Tembong Hijau, sudah mengejar tiba. Mendadak ia mendapat akal, cepat ia sodorkan kotak hitam palsu yang dibawanya itu kepada It-hiong dan berkata, “Ini kotak palsu, lekas ambil dan berikan kotak aslinya kepadaku.”

“Dari mana kau dapatkan kotak hitam palsu ini?” tanya It- hiong tercengang.

“Biar kuberi tahukan nanti saja,” kata Bun-hiong gelisah.

Segera ia “rebut” bungkusan yang dikempit Liong It-hiong, berbareng ia tukar dengan bungkusan yang dibawanya, lalu melompat ke sana dan menyelinap ke dalam hutan di kaki gunung.

Selagi It-hiong masih merasa bingung, sementara itu Tok-gan- bu-siang dan Coh-jing-bin sudah mengejar tiba.

Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho, usianya antara 38-39 tahun, sesuai julukannya, perawakannya tinggi kurus, matanya buta sebelah kiri dan ditutup dengan sepotong kain, ia pakai senjata pedang, sekilas pandang memang mirip setan jangkungan.

Adapun usia Coh-jing-bin Sing It-hong lebih muda dua-tiga tahun daripada Ong Sian-ho, tampangnya sangat aneh dan lucu, muka sebelah kiri hampir seluruhnya hijau biru serupa orang liar yang muncul dari pegunungan.

Begitu mereka lari sampai di depan Liong It-hiong, serentak mereka berhenti dan mengambil posisi mengepung.

Mata si setan jangkung yang tinggal satu itu menyipit, lalu bertanya dengan menyeringai, “He, siapa itu yang bicara denganmu tadi?”

Wajah It-hiong memperlihatkan senyuman lelah, jawabnya. “Ah, seorang sahabat biasa, kuminta tolong padanya, siapa tahu dia segera lari ketakutan begitu mendengar nama kalian berdua. ”

Melihat It-hiong masih mengempit bungkusannya, si setan jangkung mata satu tidak memerhatikan bahwa bungkusan itu sudah bukan barang semula lagi, ia menyeringai dan berkata, “Makanya, setelah kau kepergok oleh kami mau tak mau kau harus menerima nasib. Nah, kalau ingin selamat, lekas serahkan kotak pusaka itu.”

It-hiong menggeleng, jawabnya, “Wah, tidak bisa. Kotak pusaka yang kuperoleh dengan susah payah mana boleh kuserahkan begitu saja kepada kalian.”

Senjata si tembong Sing It-hong adalah ruyung beruas tujuh, sekali ia putar ruyungnya, katanya dengan terkekeh aneh, “Hehe, memangnya kau ingin bergulat dengan jiwamu?”

It-hiong mengangguk, “Ya, betapa pun aku penasaran jika harus menyerah begitu saja. Biarlah kucoba kepandaian kalian lagi.”

Ruyung Sing It-hong lantas menyabet sambil membentak. “Ayo, Loliok (si nomor enam), bereskan dia saja!”

Tanpa menunggu perintah lagi, kontan pedang si setan jangkung juga menusuk ke dada Liong It-hiong.

Pedang pandak Siau-hi-jong oleh It-hiong sudah dikembalikan kepada Kiong-su-sing Sun Thian-tik, maka sekarang ia sama sekali tidak bersenjata, untuk melayani serangan dua macam senjata lawan jelas sangat sulit.

Cepat ia melompat ke samping untuk menghindari sabetan ruyung si tembong, lalu kotak palsu digunakan untuk menangkis pedang si setan jangkung, menyusul ia terus melayang sejauh beberapa tombak ke samping.

Mana Ong Sian-ho dan Sing It-hong mau tinggal diam, cepat mereka membayangi It-hiong, kembali mereka melancarkan serangan maut.

Sekuatnya It-hiong menghindar lagi beberapa kali, ia merasa tidak perlu berkorban jiwa bagi sebuah kotak palsu, segera ia berlagak kelabakan dan sengaja memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang, lalu membiarkan kotak terjatuh ke tanah.

Tentu saja si tembong sangat girang, cepat ia menubruk maju, sekali tendang ia bikin kotak itu mencelat jauh, lalu memburu ke sana untuk mengambilnya.

Begitu meraih bungkusan itu, cepat ia buka kain pembungkusnya dan melihat memang betul berisi sebuah kotak, dengan tertawa lebar ia berseru kepada kawannya, “Loliok, sudah cukup, ayo kita pergi!”

Tok-gan-bu-siang masih terus melancarkan serangan kepada Liong It-hiong sembari menjawab, “Nanti dulu, tampaknya bocah ini perlu juga diberi hajaran, biarkan kubereskan dia sekalian!”

“Boleh juga,” kata si tembong. Ia mengeluarkan kotak palsu itu, rantai yang bergandeng pada kotak dibelitnya di pergelangan tangan sendiri, lalu putar ruyung dan menerjang maju lagi, bersama si mata satu mereka mengerubuti Liong It- hiong.

Sembari bertempur Liong It-hiong mendamprat, “Keparat, jahanam! Jarang kulihat penjahat berhati keji serupa kalian, sudah merampas kotak orang masih mengincar jiwaku pula.”

“Memang betul, mau apa?!” si mata satu menyeringai, serangannya tambah gencar.

Ruyung si tembong juga menyabet kian-kemari dengan dahsyatnya, setiap jurus serangan selalu mengincar bagian mematikan.

Liong It-hiong telah mengeluarkan segenap kepandaiannya untuk menghindar dan balas menyerang, namun tetap kewalahan, satu ketika pinggangnya keserempet ruyung Siang It-hong, keruan ia berkaok kesakitan.

“Pang Bun-hiong,” terpaksa ia berteriak minta tolong, “kalau tidak segera keluar, akan kumakimu!”

“Ini dia!” seru Bun-hiong sambil menerobos keluar dari tempat sembunyinya, begitu mendekat pedang lantas menebas dan menangkis, seketika si mata satu didesak ke samping dan terjadilah satu lawan satu.

Setelah saling gebrak beberapa jurus, dapatlah si setan mata satu melihat ilmu pedang lawan cukup lihai, ia terkesiap, bentaknya, “Hei, siapa bocah ini?!”

“Inilah Hou-hiap Pang Bun-hiong adanya!” jawab Bun-hiong dengan tertawa.

Berbareng pedang lantas menebas dan menusuk sehingga si mata satu terkejut, cepat ia mengegos dan melompat mundur.

“Lojit, lawan keras, lekas angkat kaki!” teriaknya sembari berputar dan mendahului kabur secepatnya.

Kalau satu lawan satu si tembong juga merasa tidak mampu mengalahkan Liong It-hiong, segera ia melancarkan suatu serangan untuk mendesak mundur It-hiong, kesempatan itu lantas digunakan untuk melompat ke samping dan segera angkat langkah seribu alias kabur.

“Kejar, lekas kejar! Jangan sampai mereka lolos, lekas kejar!” demikian Liong It-hiong berteriak-teriak.

Di mulut ia berkaok “kejar”, tapi kakinya justru tidak bergerak selangkah pun. Ia merasa cuma kehilangan sebuah kotak palsu dan dapat menggertak lari dua lawan tangguh, betapa pun masih berharga.

Bun-hiong juga tidak mengejar, ia saksikan kedua lawan ngacir dan menghilang di kejauhan, katanya dengan tersenyum sambil mengangkat pundak, “Dirodok, uangku sepuluh tahil perak harga kotak palsu itu hilang percuma begitu saja.”

“Hm, kau cuma kehilangan sepuluh tahil perak saja lantas mengeluh, jiwaku malahan hampir amblas!” ucap It-hiong sambil menyengir.

Bun-hiong simpan kembali pedangnya, katanya, “Marilah pergi, bisa jadi mereka akan mengetahui kotak itu adalah barang palsu dan putar balik lagi, lekas kita kembali ke atas gunung.”

Keduanya lantas lari masuk ke dalam hutan, dari balik semak- semak rumput Bun-hiong mengeluarkan kotak asli dan dikembalikan kepada Liong It-hiong, lalu keduanya berlari ke atas gunung dengan cepat.

Sembari lari It-hiong bertanya, “Bilakah kau pulang?” “Sudah pulang selama empat hari,” jawab Bun-hiong.

“Dan untuk apa kau bikin kotak palsu itu?” tanya It-hiong heran.

“Itu gagasan To Po-sit,” tutur Bun-hiong. “Ia bermaksud menyuruh kita membawa kotak palsu ke Cap-pek-pan-nia.” “Banyak juga akal bulusnya,” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Memang dia benar-benar seekor rase tua yang licik dan licin, sungguh aku kagum padanya,” kata Bun-hiong.

“Apakah tugasmu sudah kau laksanakan dengan baik?” tanya It-hiong.

“Hanya boleh dikatakan selesai setengah saja, sebab di Hoay- giok-san aku bertemu dengan Coa-kat-bijin Loan Kiau-kiau, dia itu perempuan simpanan Oh Kiam-lam, ketika mendengar berita diculiknya Oh Beng-ay oleh Kiu-bwe-hou, segera ia mengirim orang mengundangku ke tempatnya. ”

Lalu ia ceritakan pengalamannya.

Heran juga Liong It-hiong mendengar To Po-sit menyamar sebagai Kiu-bwe-hou dan memasang perangkap di Ma-cik-san, tanyanya, “Adakah dia menceritakan siapa sesungguhnya orang yang ingin ditangkapnya?”

“Tidak,” jawab Bun-hiong.

“Caranya itu sungguh tidak enak,” ujar It-hiong. “Kita yang bekerja mati-matian, tapi dia tetap main teka-teki, tidak mau menjelaskan siapa yang hendak ditangkapnya.”

“Ya, dia memang suka jual mahal, katanya setengah tahun kemudian tentu kita akan tahu sendiri.”

“Bagaimana dengan Oh Beng-ay?” “Tidak apa-apa, baik-baik saja.”

“Dia tidak menyatakan sendiri bahwa dia adalah adik perempuan Oh Kiam-lam?” “Tidak.”

“Sungguh kuharap dia mau bicara terus terang,” ujar It-hiong dengan tertawa.

“Ini merupakan permintaan pelik baginya,” Bun-hiong juga tertawa. “Jika aku menjadi dia, pasti juga aku tidak mau mengaku kakak sendiri adalah benggolan bandit.”

“Adakah dia tanya akan diriku?” tanya It-hiong. “Ada,” kata Bun-hiong.

“Apakah si tua she To itu cukup baik kepadanya?”

“Aku cuma tinggal semalam saja di atas gunung, keadaan di sana tidak begitu jelas bagiku, kukira tidak terjadi sesuatu.”

“Tabiatnya sangat buruk, salah sedikit saja lantas dicaci maki olehnya, semoga Nona Oh tidak sampai dicaci maki olehnya.”

“Soal dicaci maki kukira sukar dihindar,” kata Bun-hiong dengan tertawa. “Baru saja kupulang ke sana langsung didamprat habis-habisan olehnya. Kalau kupikir lagi, sungguh penasaran.”

“Hal ini kan sudah kuberi tahukan padamu sebelumnya. Bekerja baginya bukan saja tanpa balas jasa, sebaliknya akan sering didamprat olehnya. Jika kau tidak tahan boleh saja mengundurkan diri.”

“Tidak, aku tidak ingin mengundurkan diri. Aku masih akan terus bekerja baginya, ingin kulihat sesungguhnya apa maksud tujuannya,” kata Bun-hiong dengan tertawa. Begitulah sembari bicara sambil lari, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah bambu.

Tui-beng-poan-koan To Po-sit sedang membetulkan sebuah pot bunga di atas rak, melihat kedatangan mereka, dengan tersenyum ia memapaknya dan menegur, “Kau sudah pulang, It-hiong?”

Sambil memberi hormat It-hiong mengiakan.

Melihat bungkusan yang dibawa It-hiong, dengan tertawa To Po-sit tanya pula, “Itukah kotak pusakanya?”

“Ya,” jawab It-hiong.

Orang tua itu lantas mengambil bungkusan itu dan dibukanya, setelah memeriksa kotak itu, dengan tertawa puas ia berkata, “Pembuatan kotak ini memang sangat bagus dan cermat sekali. ”

Ia berpaling dan bertanya kepada Pang Bun-hiong, “Kalian bertemu di mana?”

“Di bawah gunung,” tutur Bun-hiong. “Waktu itu baru saja kupulang sampai di kaki gunung, kebetulan kulihat dia. ”

“Kotak palsu yang kusuruh bikin di kota itu apakah belum jadi?” sela Tui-beng-poan-koan To Po-sit.

“Sudah jadi,” jawab Bun-hiong.

“Mana barangnya? Kenapa tidak dibawa pulang?” tanya To Po- sit pula.

“Sudah kubawa pulang,” kata Bun-hiong. “Di mana?” To Po-sit terkesiap.

“Sudah jatuh di tangan orang lain,” tutur Bun-hiong.

“Hei, sesungguhnya apa yang telah terjadi?” tanya To Po-sit terkejut.

“Kotak itu dibawa lari orang,” jawab Bun-hiong sambil menyengir.

Seketika mata To Po-sit mendelik, ucapnya dengan gusar, “Apa katamu? Liong It-hiong yang jauh-jauh pulang dari Tengciu saja tidak sampai kehilangan kotak itu, tapi sebuah kotak palsu kau bawa pulang dari Hou-hong ternyata begitu saja dirampas orang, sungguh kau ini terlampau tidak becus.”

“Eh, janganlah To-locianpwe marah dulu,” tutur Bun-hiong dengan tertawa, “coba dengarkan penjelasanku. ”

“Penjelasan? Penjelasan kentut!” damprat To Po-sit. “Sejak mula juga dapat kuterka kau ini pasti tidak becus. Sudah setua ini usiaku, belum pernah kulihat orang segoblok dirimu.”

Makin damprat makin bengis dia sehingga air liurnya bertebaran.

“Jika To-locianpwe mau memaki, silakan memaki diriku saja, sebab kotak palsu itu akulah yang menghilangkannya,” sela It- hiong dengan tertawa.

Tui-beng-poan-koan melenggong dan menegas, “Apa katamu?”

“Kubilang akulah yang menghilangkan kotak palsu itu,” tukas It-hiong. Seketika To Po-sit melongo bingung, “Kenapa kotak palsu itu bisa berada padamu?”

“Begini kisahnya,” tutur It-hiong. “Eh, bagaimana kalau kita bicara saja di dalam rumah?”

Tui-beng-poan-koan To Po-sit lantas melangkah ke dalam rumah.

Waktu It-hiong dan Bun-hiong ikut masuk, tertampaklah Oh Beng-ay berdiri di tengah ruangan dengan wajah gembira.

It-hiong mendekati si nona, tanyanya dengan tertawa, “Bagaimana Giok-nio, baik-baik saja?”

Beng-ay tersenyum dan mengangguk.

To Po-sit lantas memberi tanda dan berkata kepada si nona, “Lekas menanak nasi, di sini tidak ada urusanmu.”

Beng-ay menjulur lidah dan cepat berlari ke belakang.

Sesudah ambil tempat duduk, dengan sikap kereng To Po-sit lantas berkata, “Nah, sesungguhnya apa yang terjadi, lekas ceritakan!”

It-hiong berdehem perlahan, lalu menceritakan apa yang dialaminya setelah tiba di Tengciu, sampai Hiat-pit-siucay Hui Giok-koan terbunuh dan sebelum mengembuskan napas terakhir memberitahukan tempat simpanan kotak pusaka, yaitu di dalam sumur tua di depan kelenteng....

“Lalu bagaimana?” tanya To Po-sit.

“Lalu kuturun ke sumur tua itu dan berhasil menemukan kotak ini,” tutur It-hiong.

“Dan selanjutnya tidak ada lagi orang lain yang berusaha merampas kotak lagi?”

“Pada belasan hari pertama memang aman tenteram, tapi belasan hari kemudian setelah menyeberangi Tiangkang, tiba- tiba muncul Tok-gan-bu-siang Ong Sian-ho dan Coh-jing-bin Sing It-hong berdua, entah dari mana mereka mendapat kabar, mendadak mereka muncul dan mencegat perjalananku.”

“Menurut ceritamu dulu, kan Hui Giok-koan juga pernah membuat sebuah kotak palsu dan hendak menipu orang lain, kemudian pada waktu menggali, mendadak muncul Ang-liu- soh Ban Sam-hian dan membawa lari kotak palsu. Dengan begitu, bilamana ada orang ingin merampas kotak pusaka seharusnya Ban Sam-hian yang menjadi sasaran, mengapa kau lagi yang diincar?”

“Memang hal inilah yang membuatku sangat heran,” jawab It- hiong. “Kurasakan seperti ada seorang yang sangat misterius yang selalu mengikut ke mana perginya kotak pusaka tulen ini. Setiap kali kotak ini jatuh di tangan siapa, segera ia menyiarkan beritanya supaya diketahui orang lain, agaknya dia sengaja hendak melihat orang saling berebut kotak pusaka dan saling bunuh tanpa berakhir.”

Tui-beng-poan-koan To Po-sit manggut-manggut, ucapnya dengan tersenyum, “Ya, ini menandakan di balik urusan kotak pusaka ini terdapat sebuah intrik keji, mungkin sekali dalam waktu singkat segera ada orang akan mencari ke sini.”

“Betul, maka kita perlu siap siaga.” kata It-hiong.

“Kemudian bagaimana sesudah Ong Sian-ho dan Sing It-hong muncul merampas kotakmu?”

“Karena sendirian tidak mampu melawan empat kepalan mereka, terpaksa aku angkat langkah seribu alias kabur secepatnya. Sepanjang jalan aku berusaha sembunyi kian- kemari, tampaknya hampir terlepas dari uberan mereka, siapa tahu mereka muncul lagi dan terpaksa aku lari pula.

“Tadi baru saja sampai di kaki gunung, kebetulan bertemu dengan Pang-heng, kuberi tahu apa yang terjadi, segera Pang-heng menukarkan kotak palsu yang dibawanya dengan

kotak asli, lalu Pang-heng pura-pura lari ketakutan. Sementara itu Ong Sian-ho berdua menyusul tiba, kutempur mereka lagi beberapa jurus, akhirnya kupura-pura kewalahan dan membiarkan kotak direbut mereka sehingga semua urusan pun terakhir.”

Setelah mengetahui semua seluk-beluk kejadian ini barulah Tui-beng-poan-koan To Po-sit tahu salah marah kepada Pang Bun-hiong, dengan tertawa ia berkata kepada pemuda itu, “Kenapa tidak kau katakan sejak tadi, kalau kau katakan tentu tidak dicaci maki, sungguh tolol.”

Bun-hiong menyeringai, katanya, “Selanjutnya boleh kita saling berjanji saja, bilamana To-cianpwe hendak memaki orang, kuharap dapat diberi kesempatan untuk memberi penjelasan. Setuju?”

“Tampaknya kau masih penasaran karena kumaki,” kata To Po-sit dengan tertawa. “Jika demikian, supaya kau puas, boleh kau balas caci maki diriku. Meski sering kumaki orang, tapi hampir tidak pernah tahu rasanya dimaki orang.”

It-hiong dan Bun-hiong sama tertawa.

“Lantas apa tindakan To-locianpwe setelah kotak pusaka dapat kita rebut kembali?” tanya It-hiong dengan tertawa.

To Po-sit tidak segera menjawab, berulang-ulang ia mengamati kotak pusaka itu, katanya kemudian, “Tampaknya kotak ini sukar dibuka, cuma, dibuka atau tidak toh sama saja. ”

“Apakah To-locianpwe tahu apa isi kotak ini?” tanya It-hiong.

“Entah, aku tidak tahu, cuma dapat kupastikan isinya mutlak bukan peta rahasia harta karun segala,” jawab To Po-sit.

“Konon di dalam kotak terdapat obat peledak, bilamana tidak dibuka menurut cara yang sudah diatur, kalau menyentuh obat peledak seketika kotak akan meledak.”

“Ya, sangat mungkin,” To Po-sit mengangguk.

“Jika kotak ini cuma semacam intrik keji saja, lalu siapakah yang mengatur intrik ini?” tanya It-hiong.

“Mungkin adalah orang yang hendak kutangkap itu,” kata To Po-sit.

“Siapakah dia?” tanya It-hiong pula.

“Tidak dapat kuberi tahukan sekarang,” ucap Tui-beng-poan- koan To Po-sit.

“Menurut cerita Pang-heng, To-locianpwe hendak menyuruh kami membawa kotak palsu ke Cap-pek-pan-nia?”

“Betul,” jawab Tui-beng-poan-koan. “Tapi sekarang kotak palsu itu sudah dibawa lari orang, terpaksa kalian harus membuat satu lagi.” “Apa yang harus kami lakukan setiba di Cap-pek-pan-nia?” tanya It-hiong.

“Begitu berhadapan dengan gembong iblis misterius itu segera kalian tangkap dia dan membawanya menemuiku di sini.”

“Tidak perlu disangsikan lagi Cap-pek-pan-nia pasti sebuah sarang harimau atau kubangan naga,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Kalau melulu tenaga kami berdua jelas tidak gampang untuk menangkap gembong iblis misterius itu.”

“Tidak dapat menangkapnya dengan kekuatan kan dapat membekuknya dengan akal,” kata To Po-sit. “Betapa pun kalian adalah orang cerdik, kuyakin kalian sanggup melaksanakan tugas.”

“Jika begitu, besok juga kami pergi ke Hou-hong untuk membuat lagi sebuah kotak palsu, habis itu kami lantas berangkat,” kata It-hiong.

To Po-sit mengangguk setuju.

“Apakah masih ada petunjuk lain?” tanya It-hiong. “Tidak ada lagi,” jawab To Po-sit.

“Jika begitu sementara kumohon diri dulu,” segera It-hiong memberi hormat dan menuju ke ruangan belakang.

Setiba di dapur, melihat Oh Beng-ay sedang mengolah santapan, perlahan It-hiong mendekati si nona dan mendadak merangkul pinggangnya dari belakang.

“Aiii!” Beng-ay menjerit kaget. Waktu melihat Liong It-hiong, ia menjadi marah dan memukuli dadanya sambil mengomel, “Sialan, bikin kaget saja. ” It-hiong menangkap kedua tangan si nona dan mendadak mencium pipinya sekali, katanya dengan tertawa, “Rindu padaku tidak, sayang?”

Muka Beng-ay berubah merah, omelnya, “Huh, untuk apa kurindu padamu!”

“Haha, benar tidak merindukan daku?” “Tidak!”

“Juga tidak senang karena kepulanganku?” “Ya!”

“Wah, jika begitu, terpaksa kupergi saja,” kata It-hiong dengan tertawa.

Beng-ay melengak, “Apa katamu? Kau mau pergi lagi?” “Ya, besok juga segera berangkat,” kata It-hiong.

Mulut si nona menjengkit, katanya dengan kurang senang, “Hm, sesungguhnya apa yang sedang kalian lakukan? Masa baru pulang segera mau pergi lagi?”

“Toh kau tidak senang akan kepulanganku, terpaksa besok juga kulanglang buana lagi,” kata It-hiong.

“Ah, omong kosong!” omel Beng-ay dengan tertawa.

“Eh, sayurmu hangus,” seru It-hiong sambil melepaskan tangan si nona.

Cepat Beng-ay mengaduk sayurnya, lalu menciduknya ke dalam piring, lalu wajan kosong dituangi minyak sembari bertanya, “Apa benar engkau hendak pergi lagi?”

“Betul, besok kupergi menyelesaikan suatu urusan, selang dua hari lagi baru pulang kemari. ”

“Bagaimana kalau kau bawa serta diriku?” tanya Beng-ay sambil berpaling setelah mengisi wajan dengan air dan memberi tutup.

“Kau sudah bosan tinggal di gunung?” tanya It-hiong.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(