Rahasia Peti Wasiat Jilid 15

Jilid 15

“Terus terang aku sendiri tidak jelas,” jawab Hui Giok-koan. “Ada orang bilang kotak itu asalnya milik Toako kami, sebab itu aku merasa berhak mendapatkannya”.

“Toako yang kau maksudkan itu apakah mendiang Eng-jiau- ong Oh Kiam-lam?” tanya It-hiong.

Hui Giok-koan mengangguk, “Ya, kau tahu dia adalah kakak angkat kami yang dahulu terkenal Lok-lim-jit-coat (ketujuh jago top dunia bandit), beliau adalah pemimpin besar ke 72 sarang bandit ketujuh propinsi daerah Selatan. Harta benda yang dikumpulkannya selama ini sukar dihitung. Namun ketika kami mengadakan inventarisasi harta kekayaannya sesudah beliau meinggal, ternyata sisa kekayaannya tinggal tidak seberapa lagi dan entah kemana larinya ?”.

“Menurut perkiraan kalian ada berapa harta kekayaannya ?” tanya It-hiong.

“Sedikitnya ada seribu laksa tahil perak,” tutur Giok-koan.

It-hiong menghela napas, katanya, “Wah sungguh suatu jumlah yang sangat memikat. Lalu, kalian mencurigai dia menyembunyikan harta kekayaannya, begitu?”

“Ya, meski dia mengangkat saudara dengan kami, tatapi dia memperlakukan kami tidak begitu baik. Kau tahu wataknya sangat keras, pemberang, segala urusan diputus dan ditindak sendiri. Sebab itulah diantara kami bersaudara; biasanya cuma kelihatan cocok diluar tapi renggang didalam. Mungkin ia juga kuatir kami akan mengincar harta bendanya, maka diam-diam ia menyembunyikannya dulu harta kekayaannya dan akhirnya dibinasakan orang”.

“Apakah kalian tahu siapa yang membunuhnya ?”, tanya It- hiong.

Giok-koan menggeleng, “Entah tidak tahu. Setiap tahun dia pasti meninggalkan markas untuk beberapa bulan lamanya. Pada suatu hari dia pergi lagi, kami tidak tahu kemana perginya. Selang lebih sebulan, tiba-tiba kami menerima kabar, katanya dia terbunuh diluar kota Tiang-an….”.

“Dan kalian menyusul ke tempat kejadian itu?” tanya It-hiong. “Ya, sudah kami lihat sendiri.” Giok-koan mengangguk. “Bagaimana keadaannya ?” tanya It-hiong pula.

“Waktu kami sampai ditempat kejadian, pihak pemerintah sudah keburu menguburnya,” tutur Giok-koan. “Demi untuk mengetahui sebab-musabab kematiannya, kami membongkar kuburannya dan memeriksa jenazahnya. Waktu itu mayatnya sudah mulai membusuk, tapi kami masih dapat menemukan sebab kematiannya, yaitu pada dadanya terdapat sebuah bekas telapak tangan. Jelas dia mati terkena pukulan tenaga dalam yang amat kuat sehingga menggetarkan rusak jantungnya”.

“Tokoh dunia persilatan jaman ini rasanya sangat sedikit yang mampu membunuh dia,” ujar It-hiong.

“Bukan cuman sedikit saja, bahkan boleh dikatakan tidak ada,”kata Giok-koan. “Dia punya Eng-jiau-kang sudah terlatih hingga mencapai tingkatan yang sempurna, meski kami bertujuh bergabung juga tidak mampu melawannya”.

“Tadi kau bilang setiap tahun dia pasti meninggalkan rumah untuk beberapa bulan lamanya, bilamana kalian dapat menemukan tempat yang selalu didatanginya itu mungkin akan dapat pula tahu sebab musabab serta siapa pembunuhnya”.

“Ya, sudah kami usust, namun sama sekali tidak menemukan sesuatu.” Tutur Giok-koan.

“Urusan ini sungguh sangat aneh,” kata It-hiong. “Mungkinkah dia mempunyai simpanan orang perempuan disuatu tempat”.

“Kamipun sama berpikir begitu, cuman tidak ada setitik indikasi yang kami temukan,” kata Giok-koan.

“Kemudian, siapakah yang menyiarkan berita tentang kotak pusaka itu adalah milik Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam ?,” tanya It- hiong.

“Hal itu didengar Pok Yang-thian ketika pada suatu hari makan disuatu restoran, ceritanya harta kekayaan Oh-toako kami disembunyikan didalam sebuah peti wasiat, dan peti wasiat itu berada dibawah penjagaan seorang kakek yang bernama Be si buta. Setelah mendengar berita itu, segera Pok Yang-thian pulang dan memberitahu kepada kami. Setelah kami selidiki, diketahui Be si buta itu tinggal di kaki gunung Ban-yang, dia terhitung sanak saudara Oh-toako kami. Segera kami berangkat ke Ban-yang-san untuk mencari Be buta, tapi setiba disana, kami menemukan Be buta sudah mati dirumahnya, tubuhnya luka terbacok, sudah mati satu-dua hari sebelumnya”.

“Wah jika begitu, jadi kotak itu memang benar milik Oh-toako kalian ?,” tanya It-hiong seperti melengak.

“Betul,” jawab Giok-koan, “Terbunuhnya Be buta membuktikan Oh-toako kami memang pernah menyerahkan sebuah peti wasiat di bawah penjagaannya. Dan pada sebelum kami tiba di rumah Be buta, lebih dulu sudah ada orang mendahului datang dan membunuhnya serta membawa lari peti wasiat tersebut”.

“Orang yang membunuh Be buta itu mungkinkah Si Hin?,” tanya It-hiong.

“Entah, kamipun tidak tahu,” jawab Giok-koan. “Malahan kami juga tidak berani apakah peti yang sedang kita perebutkan ini adalah peti wasiat yang diserahkan Oh-toako kepada Be buta itu, cuma, bila ternyata ada sebuah peti wasiat muncul didunia persilatan dan menjadi sasaran perebutan orang banyak, dengan sendirinya kami juga ingin mendapatkannya untuk memperjelas duduknya perkara”. Tapi diantara kalian Lok-lim-lit-coat masing-masing juga mempunyai pikiran serakah dan ingin mencaplok sendirian peti wasiat itu, betul tidak ?” tanya It-hiong dengan tersenyum ejek.

“Betul,” jawab Giok-koan sambil menyengir. “Kami bertujuh sudah berpisah dan menempuh jalannya sendiri dan menguasai wilayah masing-masing”.

“Setelah kaudapatkan peti itu, apakah pernah kaubuka dan periksa isinya ?”tanya It-hiong pula.

“Belum,” Giok-koan menggeleng. “Kau tahu sendiri, peti itu terbuat dengan sangat bagus dan kukuh, samasekali aku tidak tahu dan tidak sanggup membukanya. Kudengar pula peti itu terpasang obat peledak yang berbahaya, maka tidak berani kubukanya secara paksa, kalau meledak kan aku bisa celaka sendiri”.

“Lantas bagaimana tindakanmu selanjutnya ?”, tanya It-hiong.

“Kudengar gembong yang menguasai Cap-pek-pan-nia yang tidak diketahui namanya itu paham cara membuka peti wasiat itu, maka ada maksudku hendak kesana untuk menemui dia.” Tutur Giok-koan. “Kemarin dulu kulewat disini dan mendengar Wi Ki-tiu hendak merayakan ulang tahunnya yang ke-60, kugunakan kesempatan ini untuk mengucapkan selamat kepadanya, tak tersangka dia juga sudah tahu kudapatkan peti wasiat itu dan diam-diam mengatur tipu muslihat untuk menjebakku”.

“Apakah tidak kaupikirkan bahwa semua ini sangat mungkin cuman sebuah tipuan belaka ?”, tanya It-hiong.

“Tipuan bagaimana/”, tanya Giok-koan. “Mungkin ada orang mengharapkan kalian Lok-lim-jit-coat saling membunuh, sebab itulah dia sengaja mengatur tipu muslihat dengan menggunakan sebuah peti sebagai umpan, supaya kalian saling berebut dan saling genjot, ia sendiri hanya menonton dengan santai. Bilaman kalian bertujuh sudah sama bonyok, barulah ia muncul untuk mengeduk keuntungan yang tinggal diambil saja”.

Mata Hui Giok-koan terbelalak, tanyanya: “Jika betul begitu, lantas siapakah gerangan yang mengatur tipu muslihat itu ?”.

“Kupikir sangat mungkin adalah gembong misterius yang bercokol di Cap-pek-pan-nia itu”, ujar It-hiong. “Ia bermaksud merajai dunia Lok-lim daerah Selatan, namun kekuatannya belum mampu menaklukkan ke 72 sarang kalian, sebab itulah ia sengaja mengatur tipuan ini agar kalian saling membunuh lantaran berebut sebuah peti kosong.

Muka Hui Giok-koan menjadi merah, ia merasa malu, katanya,”Jika betul begitu, maka maksud tujuannya boleh dikatakan sudah tercapai”.

“Betul, sebab kamu sudah membunuh saudara angkatmu sendiri, si In-tiong-yan Pok Yang-thian,” kata It-hiong dengan tertawa.

Tampaknya Hui Giok-koan merasa malu hati, ia menunduk dan tidak bersuara lagi.

Perlahan It-hiong berucap pula, “Cuman kalau sekarang kamu mau insaf masih keburu. Kuharap kauberikan peti itu kepadaku, biar kuantar dan menemui gembong iblis di Cap- pek-pan-nia itu, bukan mustahil dapat kubongkar tipu muslihatnya secara tuntas”. Giok-koan termenung sejenak, katanya kemudian,” Tapi bila kotak itu memang betul tersimpan harta karun Oh-toako kami dan engkau berikan kepada pihak sana, kan runyam ?”.

“Tidak bisa,” ujar It-hiong dengan tertawa. “Tentu aku mempunyai cara yang aman, kujamin dia takkan mendapatkan apa-apa”.

“Baik, akan kubawamu untuk mengambil peti itu,” kata Giok- koan dengan ikhlas. “Peti itu kusembunyikan tidak jauh dari sini”.

It-hiong menaruh mangkuk dan sumpitnya, ia mendekati jendela dan melongok keluar, katanya kemudian,” Hari sudah hampir fajar, bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat

?”.

“Baik,” jawab Giok-koan.

Segera Liong It-hiong memanggil pelayan, selesai membayar rekening segera mereka meninggalkan hotel.

Melihat tenaga Hui Giok-koan belum pulih seluruhnya, It-hiong memberikan kuda sendiri padanya, ia sendiri berjalan kaki mengintil dari belakang.

Hui Giok-koan melarikan kuda keluar kota dan menuju ke Barat.

Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat sepi diluar kota, Hui Giok-koan berpaling kebelakang, setelah memandang sejenak, tiba-tiba ia mendesis,”Ssstt, rasanya ada orang membuntuti kita”.

“Dia tentulah saudara angkatmu sendiri, yaitu Kim-ci-pa Song Goan-po atau mungkin juga Kim-kong Taysu dan Koh-ting Tojin,” ujar It-hiong dengan tertawa.

Air muka Hui Giok-koan berubah, katanya ,”Jika Song-siko masih mudah dihadapi, tapi kalau Kim-kong Taisu dan Koh- ting Tojin, tentu urusan bisa gawat”.

“Jangan kuatir, biar kita mencari akal untuk melepaskan diri dari penguntitan mereka,”ujar It-hiong.

Kembali Hui Giok-koan menoleh kebelakang lalu bertanya.”Apa akalmu ?”.

“Marilah lebih dulu kita berlari sebentar,” kata It-hiong.

Habis berkata ia terus menabok pantat kuda sambil membentak. Kuda itu terus membedal dengan cepat kedepan.

It-hiong juga lantas mengejar dengan kencang, mereka terus berlari kedepan secepat terbang, hanya sebentar saja beberapa li sudah dilalui.

Berualgn Hui Giok-koan menoleh, tiba-tiba ia mendesis lagi, “Ssst, betul juga, memang ada orang membuntuti kita, seperti dua orang”.

“Kau kenal siapa mereka?” tanya It-hiong.

“Tidak jelas, hanya terlihat dua sosok bayangan berkelebat menghilang dikejauhan,” tutur Giok-koan.

“Marilah kita melepaskan diri dari penguntitan mereka,” ujar It-hiong. “Kau lihat didepan sana jalanan agak berliku, disebelah kanan jalan adalah hutan lebat, lihat jelas tidak ?”.

Giok-koan memandang ke depan, jawabnya mengangguk,” Ya, kulihat”. “Begitu kita memasuki jalan beriku itu, segera kau lompat turun dari kuda dan menyusup ke dalam hutan, biarkan kuda tetap berlari kedepan,” tutur It-hiong. “Nah, kau paham maksudku ?”.

“Baik,” jawab Giok-koan. “Kuharap mereka dapat kita tipu”.

Segera ia membedal kudanya terlebih cepat menuju kejalan berliku itu.

It-hiong tetap mengintil kencang dari belakang dan baru saja mereka mencapai jalan berliku itu, serentak Giok-koan membelokkan kudanya menyusur hutan ditepi jalan, habis itu mendadak ia meraih dahan pohon yang melintang diatasnya, seketika kuda itu lari kedepan tanpa penunggang, sedangkan Giok-koan terus melompat keatas pohon.

It-hiong masih sempat mendepak pantat kuda itu, karena kaget dan kesakitan, kuda itu membedal kesetanan kedepan. It-hiong sendiri terus menyusup kedalam hutan dan bersembunyi.

Hui Giok-koan juga sembunyi diatas pohon tanpa bergerak. Terdengar detak lari kuda yang semakin menjauh.

Sejenak kemudian tertampaklah dua sosok bayangan melayan lewat secepat terbang, hanya sekejap saja lantas menghilang didepan sana.

Meski cuman sekilas saja, namau Liong It-hiong yang bersembunyi didalam hutan sudah dapat melihat jelas mereka bukan Kim-kong Taisu dan Koh-ting Tojin, juga bukan Kim-ci- pa Song Goan-po. Tentu saja ia terkejut dan heran, pikirnya “Wah, tampaknya yang mengincar peti wasiat ini tidak sedikit jumlahnya….

Setelah kedua pengejar tadi menghilang dikejauhan, barulah Hui Giok-koan melompat turun dari pohon, desisnya, “Ayo lekas berangkat, kita menuju ke Utara!”.

Setelah berlari-lari satu-dua li jauhnya kearah Utara, kemudian mereka berhenti disuatu tempat sepi dikaki gunung.

Lantaran tenaganya belum pulih seluruhnya dan tadi mengalami lari cepat sekian jauhnya, Hui Giok-koan merasa kepayahan, segera ia duduk mengaso disitu sambil mengembus napas, serunya,” Mendingan kedua penguntit itu dapat kita tinggalkan”.

It-hiong juga duduk mengaso, tanyanya,” Siapakah mereka tadi ?”.

“Mereka juga saudara angkatku, Tok-gan-bu-siang Ong Siau- ho dan si tembong Seng It-hong,” tutur Hui Giok-koan.

It-hiong tertawa, katanya,” Ada satu hal sampai saat ini belum lagi dapat kupahami….

“Hal apa ?” tanya Giok-koan.

“Tempo hari kami membunuh Pok Yang-thian diluar kota Kimleng dan membawa lari kotak itu. Kejadian itu cuma dilihat olehku dan Pang Bun-hiong,” ucap It-hiong. “Padahal kita tidak pernah menyiarkan kejadian itu, mengapa ada orang sebanyak ini mengetahui kotak pusaka jatuh ditanganmu dan beramai-ramai membuntutimu ?”.

Dengan air muka bingung Giok-koan mengangguk, katanya, “Ya, aku sendiri tidak mengerti, memang sangat aneh……”. Dengan senyum sinis It-hiong berucap pula,”Sebab itulah, kuyakin pasti ada satu orang yang senantiasa mengawasi kotak itu, kemana perginya itu selalu orang itupun mengikuti kesitu, bahkan menyampaikan berita kepada orang lain yang sedang mengincar kotak”. 

Kening Giok-koan berkernyit, ucapnya,” Jika demikian jadi terlebih terbukti bahwa semua ini memang cuma tipuan belaka, semuanya telah dapat kau terka dengan tepat”.

“Cuma biarpun kotak itu memang kosong, juga tetap akan kubawa pergi ke Cap-pek-pan-nia, ingin kutemui gembong iblis yang misterius itu,” kata It-hiong.

Giok-koan menengok sekelilingnya, lalu mendesis,”Jika sekarang juga kau mau, segara dapat kugali kotak itu untukmu”.

“Kau tanam kotak itu disini ?”, It-hiong menegaskan.

“Ya, kupendam dibawah pohon yang terletak kira-kira tiga tombak dibelakangku,” tutur Giok-koan

It-hiong memandang kearah yang dimaksud; katanya, ”Jika begitu, ayolah lekas kau gali saja”.

Segera Hui Giok-koan beranjak menuju kedalam hutan. It- hiong ikut juga kesana. Setibanya dibawah sebatang pohon tua yang tinggi besar, Giok-koan berhenti dan bertanya, “Apakah kau bawa senjata seperti belati dan sebagainya ?”.

It-hiong melolos belati yang tersembunyi dibalik baju dan disodorkan kepadanya, katanya dengan tertawa, “Senjataku sekarang tersisa belati ini saja, hendaknya kau gunakan dengan baik-baik, jangan sampai patah”. Giok-koan terima belati itu, segera ia berjongkok dibawah pohon dan mulai menggali.

Dengan cepat sekali sudahsatu-dua kaki dalamnya liang galiannya; lalu diangkut keluar sebuah kotak besi berbentuk persegi.

Melihat bentuk kotak yang tidak sama itu, It-hiong melenggong katanya, “Hei, bukan kotak ini !”.

“Tidak salah lagi,” ujar Giok-koan dengan tertawa. “Memang kubeli kotak ini dan menyembunyikan kotak semula didalamnya….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara mendesing nyaring dua kali menyambar dari kanan-kiri dalam hutan.

Dari suaranya yang mendenging tajam itu, jelas ada orang menyambitkan dua macam am-gi atau senjata rahasia.

It-hiong terkejut, cepat ia menjatuhkan diri dan menggelundung kesana sehingga am-gi yang menyambar dari belakang itu dapat dihindarkan.

“Crak”, terlihat cahaya putih berkelebat, sebilah pisau tepat menancap di batang pohon.

Adapun am-gi yang menyambar kearah Hui Giok-koan itu adalah sebatang panah kecil, begitu cepat dan jitu sambaran panah itu sehingga Hui Giok-koan tidak sempat mengelak, dengan tepat punggungnya tertancap panah, ia menjerit dan jatuh terguling.

Pada saat itu juga dua sosok bayangan orang melompat keluar dari kanan-kiri dalam hutan, yang seorang menerjang kearah Liong It-hiong, seorang lagi menubruk Hui Giok-koan. Langsung ia rebut kotak besi yang masih dipegang Giok-koan.

Yang hendak rmerebut kotak itu adalah seorang kakek berbaju kuning, bagian pelipis kanan terdapat sebuah uci-uci besar  dan berwarna merah.

Yang menerjang Liong It-hiong itu adalah seorang lelaki setengah umur, ia membawa golok; begitu menubruk maju langsung ia membacok kepala It-hiong.

Cepat It-hiong berguling lagi kesamping, berbareng ia raup segenggam tanah terus dihamburkan kemuka lawan sambil membentak, “Awas jimatku”.

Lelaki setengah baya itu tidak menduga akan akan kejadian ini, mukanya tertawur tanah sehingga berkaok-kaok kesakitan, ia kucek-kucek matanya yang kelilipan, tapi ia menjadi semakin beringas, segera ia angkat golok dan menebas lagi kepinggang It-hiong.

Pada saat itulah tiba-tiba si kakek beruci-uci berseru, “Ayolah kita pergi saja, kerbau !!”.

Mendengar itu cepat lelaki itu menarik kembali goloknya dan melompat mundur, lalu ikut si kakek kabur keluar hutan.

Waktu It-hiong melompat bangun, dilihatnya kotak yang dipegang Hui Giok-koan tadi sudah hilang, ia tahu tentu dibawa lari si kakek baju kuning tadi. Keruan ia kuatir dan gusar, bentaknya, “Jangan lari!!”.

Segera ia bermaksud mengejar kesana, namun Hui Giok-koan keburu berseru padanya: “Jangan dikejar !”. Sehabis berucap demikian , kepala Hui Giok-koan lantas terkulai lemas ketanah. Tampaknya luka pada punggungnya yang terkena panah itu sangat parah, sudah tidak jauh lagi dari ajalnya.

Watak Liong It-hiong berbudi, ia tidak tega meninggalkan orang begitu saja, terpaksa ia urungkan maksud mengejar musuh dan coba memeriksa dulu keadaan luka Hui Giok-koan, tanyanya:”Bagaimana perasaanmu ?”.

Muka Hui Giok-koan berkerut-kerut menahan sakit, ucapnya: “Aku tidak…. Tidak tahan lagi”.

Panah yang menancap di punggung kiri Hui Giok-koan itu kelihatan sangat dalam, agaknya melukai juga jantungnya. It- hiong tahu orang sukar diselamatkan, diam-diam ia gegetun, ia coba tanya pula, “Apakah kau kenal mereka ?”.

Mendadak darah segar merembes keluar dari mulut Hui Giok- koan, sorot matanyapun mulai guram, ucapnya dengan terputus-putus: “Yang tua itu ialah… ialah Ang-liu-soh (si kakek uci-uci merah) Ban Sam….Ban Sam-hian dan lelaki… lelaki setengah baya itu adalah anak buahnya”.

It-hiong menggigit bibir, katanya, “Keparat ! Sergapan mereka sungguh cepat sekali serupa angin lesus saja sehingga sukar ditahan !”.

Mulut Hui Giok-koan terbuka, wajahnya menampilkan senyuman sebelum ajal, ucapnya, “Aku membu… membunuh Pok Yang-thian, pantas juga… pantas juga aku mati di tangan Ban Sam-hian…. .cuma…cuma kalau dia menyangka sudah berhasil mendapatkan kotak pusaka, jelas dia agak…agak kekanak-kanakan”.

“Apa maksudmu ?”,tanya It-hiong melenggong.

Giok-koan tersenyum, katanya, “Aku hampir… hampir mati, maka tidak perlu kudustaimu lagi. Kotak itu… kotak itu kusembunyikan di… di Jit-hian-tiam, disamping kelenteng Kwa-te-bio ada… ada sebuah sumur, kumasukkan kotak itu kedalam sumur, boleh… boleh kau ambil saja dari sana”.

Habis berucap, senyumnya lenyap dan napaspun putus.

Sampai sekian lama Liong It-hiong termangu-mangu, lalu tertampil senyum kecut, gumamnya, “Hm, orang ini sungguh banyak tipu akalnya, lebih dulu dia sengaja menanam sebuah kotak palsu untuk menipu orang...”.

Tapi orang sudah mati, betapapun ia tidak dapat marah lagi kepadanya. Segera ia menggali sebuah liang dibawah pohon dan mengubur mayat Hui Giok-koan. Dilihatnya fajar sudah menyingsing segera ia putar balik kearah datangnya tadi…..

---ooo000ooo---

Disuatu petang hari musim panas, dikota Gi-hin yang terletak ditepi danau Thay kelihatan ada sebuah kereta kuda yang megah.

Kereta kuda ini masuk kota dari pintu gerbang Barat dan berhenti didepan hotel “Thay-oh-khek-can” yang terbesar dikota ini.

Sekali pandang saja pelayan hotel yang sudah berpengalaman itu segera tahu kedatangan tamu yang berkantung tebal, maka cepat mereka menyambut keluar.

Dan begitu pitu kereta terbuka, seorang pemuda ganteng mendahului melompat turun. Dia tak lain tak bukan Pang Bun- hiong adanya.

Dengan senyum yang dibuat-buat pelayan memberi hormat dan bertanya, “Kongcuya ini apakah cuma singgah saja atau ingin bermalam ?”.

Pang Bun-hiong memandang kepintu hotel dan berkata, “Apakah ada kamar yang bersih ?”

“Ada, ada !!” cepat pelayan menjawab.

“Jika begitu, kami minta dua kamar yang satu untuk tinggal pengendara kereta ini….” Bun-hiong menuding Siang Po-hok yang menjadi kusir itu, lalu berkata pula dengan tertawa kedalam kereta, “Silahkan keluar, istriku !”.

Dibawah dukungan Bun-hiong, pelahan turunlah seorang perempuan cantik.

Dia bukan lain daripada Kiau-kiau yang mengaku sebagai “si molek berbisa” itu.

Pada dasarnya dia memang sangat cantik, ditambah lagi sekarang memakai baju yang mentereng, siapapun yang melihatnya pasti menyangka dia seorang nyonya terhormat dari keluarga bangsawan.

Eberapa pelayan itupun sama silau menghadapi wanita anggun deimikian, mereka sama memberi hormat dengan menunduk.

“Ayolah menunjukkan jalannya,” seru Bun-hiong.

Pelayan mengiakan dan membawa mereka kedalam hotel.

Dihalaman belakang hotel tersedia kamar kelas utama yang tenang, pelayan membuka sebuah kamar menyilakan mereka masuk, habis itu lantas membawakan air minum dan memberikan servis yang menyenangkan. Kiau-kiau merasa terganggu oleh hilir mudik kawanan pelayan itu, katanya, “Bun-hiong, suruh mereka keluar saja”.

Segera Buh-hiong memberi tanda dan berkata: “Ayo, keluar saja kalian, tanpa dipanggil jangan masuk kemari.”

Beberapa pelayan itu sama mengiakan dan mengundurkan diri.

Didalam kamar kini tinggal mereka berdua saja, Kiau-kiau melempar tubuhnya ditempat tidur, dengan lemah ia mengeluh, “Oo, menumpang kereta selama 20-an hari, sungguh capek sekali”.

Bun-hiong duduk disampingnya, dipijatnya punggung si cantik, katanya dengan tertawa: “Akhirnya sampai juga ditempat tujuan, bolehlah engkau mengaso dua-tiga hari”.

“Tidak kita mengaso sebentar saja dan segera berangkat lagi,” kata Kiau-kiau.

“Ah, buat apa terburu-buru ?”,kata Bun-hiong.

“Oh Beng-ai berada dalam cengkeraman Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui dan setiap saat jiwanya bisa melayan, urusan segawat ini masa tidak membuat gelisah?”.

“Jika Kongsun Siau-hui hendak mencelakai Oh Beng-ai, biarpun ia mempunyai nyawa serep sepuluh juga sudah lama amblas”, ujar Bun-hiong. “Dan bila ia tidak bermaksud membunuhnya, biar kita kesana beberapa hari lagi juga masih keburu”.

“Kau tahu apa?”, omel Kiau-kiau dengan mendongkol. “Yang kukuatirkan adalah Oh Beng-ai akan dinodai rase jahat itu. Betapapun dia kan masih perawan ting-ting, bila kesuciannya dilanggar, sungguh lebih gawat daripada dia terbunuh saja”.

“Ya, aku tahu”, ujar Bun-hiong dengan tertawa. “Tapi sudah lebih sebulan dia berada dalam cengkeraman Kongsun Siau- hui, apakah kau kira Kongsun Siau-hui akan bersikap ramah padanya. Huh, kukira bukan mustahil sudah…. “.

“Sudah, cukup!”, sela Kiau-kiau. “Jangan banyak omong hal- hal yang menyinggung perasaanku. Bilamana Kongsung Siau- hui sampai mengganggu seujung bulu romanya, hmm…, lihat saja kalau tidak kubeset kulitnya”.

Pang Bun-hiong tertawa, dipencetnya pelahan dagu si cantik, katanya: “Sungguh aneh, mengapa perasaanmu terhadap perempuan lebih mesra daripada terhadap orang lelaki ?”.

“Tidak perlu banyak omong”, kata Kiau-kiau.

“Kita sudah berkumpul lebih 20 hari, namun sampai sekarang aku masih belum paham akan dirimu”.

“Ini membuktikan engkau adalah seorang tolol besar”, ujar Kiau-kiau.

Bun-hiong tertawa: “Apakah dapat kau beritahukan padaku maksud tujuanmu yang sebenarnya hendak menolong Oh Beng-ai ?”.

“Kan tidak jelek Oh Kiam-lam terhadapku dan aku ingin membalas kebaikannya, inilah maksud tujuanku yang sebenarnya”.

“Aku tidak percaya”, ucap Bun-hiong dengan tersenyum. Mendadak Kiau-kiau membalik tubuh dan menghadapinya sambil mendamperat: “Jadi kau anggap ada maksud tujuan tertentu sebabnya aku hendak menolong Oh Beng-ai?”.

Bun-hiong mengangkat pundak: “Aku tidak tahu, makanya aku tanya padamu”.

Kiau-kiau melototinya sekejap: “Hmm…, makin lama kamu semakin ceriwis, aku tidak suka kepada lelaki yang bawel. Jika kamu banyak omong lagi seperti ini bisa segera kusuruh kau enyah !”.

“Ha ha ha, jika kausuruh aku enyah, pasti segera aku akan enyah, aku ini memang orang yang tahu diri”, seru Bun-hiong dengan tertawa.

“Baik, sekarang juga enyah!”, kata Kiau-kiau. “Apa betul ?”, Bun-hiong menegas.

“Betul!”.

“Kau kira dengan kecantikanmu akan dapat menaklukkan Kiu- bwe-hou Kongsun-hui?”.

“Ya, kenapa tidak?”, jawab Kiau-kiau. “Jika kamu ikut disampingku tentu akan mengganggu urusan malah”.

“Baiklah, jika begitu. Terpaksa aku angkat kaki saja”, ucap Bun-hiong sambil berbangkit.

“Ya, pergi saja”, tukas Kiau-kiau.

Bun-hiong menunduk dan mencium sekali dipipi si cantik, katanya dengan tertawa: “Jika begitu, selamat tinggal !. Terima kasih atas kebaikan dan kenikmatan yang kauberikan padaku selama likuran hari ini. Semoga kelak masih diberikan kesempatan untuk bertemu lagi denganmu”.

Habis berkata ia lantas membalik dan menuju ke pintu kamar. “Tunggu sebentar”, kata Kiau-kiau.

Bun-hiong membalik tubuh pula, tanyanya dengan tertawa: “Apakah masih ada sesuatu yang perlu kukerjakan bagimu ?”.

“Jika kamu perlu uang, dapat kuberi sedikit, apakah kau mau

?”, tanya Kiau-kiau dengan tertawa.

Bun-Hiong menggeleng, “Tidak, tidak perlu. Terima kasih atas maksud baikmu. Diriku ini tidak dijual”.

Dalam keadaan demikian, Kiau-kiau berbalik merasa berat untuk ditinggal pergi malah, katanya segera: “Jika begitu, boleh kau pergi lagi mencari aku di Hoai-giok-san, kedatanganmu akan tetap kusambut dengan gembira”.

“Baik”, jawab Bun-hiong. “Apabila aku tidak mendapatkan perempuan lain pasti aku akan kesana dan mencarimu lagi”.

Kiau-kiau menjadi marah, ia tanggalkan sepatu dan dilemparkan kearah Bun-hiong sambil menjerit: “Keparat, kamu pantas mampus!. Memangnya kau anggap aku ini perempuan macam apa ?”.

Bun-hiong mengegos untuk menghindari sepatu yang menyambar kepalanya, ia tergelak dan memberi salam, lalu membuka pintu kamar dan keluar.

Ia tidak bilang kepada pelaya kemana dirinya akan pergi, juga tidak pamit kepada Siang Po-hok yang menjadi kusir, langsung ia meninggalkan hotel itu. Berkumpul selama lebih 20 hari dengan perempuan cantik itu, kini ia sudah tahu dia adalah seorang perempuan judes dan cerewet atau bawel, maka tadi ia sengaja membuatnya marah untuk memancing datanya pengusiran.

Sebabnya ia bertindak demikian adalah karena ia ingin mendahului ke Ma-cik-san ditepi Thay-oh untuk memberitahu Tui-beng-poan-koan To Po-sit agar siap menghadapinya.

Bahwa Tui-beng-poan-koan To Po-sit menyuruh dia menyiarkan isyu tentang Oh Beng-ai diculik oleh Kiu-bew-hou Kongsun Siau-hui dan dibawa ke Ma-cik-san di Thay-oh, tujuannya tentulah ingin memancing dan menawan seseorang.

Sebab itulah Bun-hiong yakin Tui-beng-poan-koan tentu sudah mengatur perangkap di Ma-cik-san, sedangkan Kiau-kiau sangat mungkin adalah sasaran yang hendak ditangkap To Po- sit, maka ia merasa perlu mendahului menyampaikan berita itu.

Begitulah ia berlari cepat sekian lamanya, akhirnya sampailah ditepi Barat danau besar itu. Ia mencari tempat berkumpulnya perahu nelayan ditepi danau. Dilihatnya ada beberapa orang sedang mengobrol iseng disitu. Ia mendekati mereka dan memberi salam, lalu bertanya: “Numpang tanya saudara, ada urusan ingin kupergi ke Ma-cik-san, apakah dapat kusewa perahu disini ?”.

Seorang nelayan tua mengamat-amatinya beberapa kejap, lalu balas bertanya: “Untuk apa adik ini mau pergi ke Ma-cik-san?”.

“Kudengar pemandangan pegunungan itu sangat indah permai, maka ingin kucoba pesiar kesana”, jawab Bun-hiong. “Bilamana nanti keindahannya memang tidak tercela, ada maksudku akan membangun rumah disana untuk belajar”. Nelayan tua itu tertawa geli, katanya” “Masa adik ini belum tahu berita yang tersiar?”.

“Berita apa?”, tanya Bun-hiong.

“Di Ma-cik-san sudah lama ada orang bertempat tinggal disitu, malahan orang itu memiara seekor harimau untuk menjaga gunung itu sehingga tidak ada orang yang berani kesana”, tutur si nelayan tua.

“Oo, apakah Lotiang tahu siapakah yang bermukim disana ?”.

“Entah, aku tidak tahu, tidak ada orang yang pernah melihatnya”, si nelayan tua menggelengkan kepala.

“Kukatakan terus terang saja, orang itu adalah pamanku”, kata Bun-hiong dengan tertawa. “Beliau sendiri yang menyuruhku belajar saja ketempatnya yang indah dan tenang itu, maka tentang harimau itu juga tidak perlu kutakuti”.

“Oo, kiranya orang itu adalah paman adik sendiri”, si nelayan tua bersuara heran. “Dan mengapa pamanmu itu sengaja piara harimau buas ?”.

“Harimau itu dipiaranya sejak kecil. Sebenarnya tidak sembarang menggigit orang”, jawab Bun-hiong.

“Tapi beberapa bulan yang lalu ada seorang mati tergigit harimau itu”.

“Ahh, masa terjadi begitu ?”, Bun-hiong bersuara kaget.

“Memang betul terjadi”, kata si nelayan tua sambil mengangguk.

Bun-hiong memperlihatkan rasa menyesal, ucapnya: “Wah, sungguh malang. Kejadian ini pasti akan kutanyakan kepada pamanku. Jika betul harimau itu suka mengganggu manusia, maka binatang itu tidak dapat dipiara lagi. Ai, pepatah bilang piara harimau hanya mendatangkan maut, tampaknya memang tepat”.

Ia berhenti sejenak, lalu tanya mereka: “Siapa diantara kalian yang mau mengantarku ke Ma-cik-san dengan perahunya ?”.

Tidak ada seorangpun menyatakan mau.

Bun-hiong mengeluarkan sepotong perak, katanya: “Akan kubayar lima tahil perak ini, cukup sekali jalan saja; asal ada yang mau…. “.

“Biarlah kuantar tuan kesana”, sambung si nelayan tua tadi.

Tidak lama kemudian Bun-hiong sudah berada diatas perahu si nelayan tua dan meluncur ke Ma-cik-san yang terletak ditengah danau.

Bun-hiong duduk termenung di haluan perahu menghadapi kerlip air danau yang tenang, pemandangan danau dengan gunungnya yang indah.

“Kongcu”, tiba-tiba si nelayan tua berkata. “Apakah boleh kutahu nama pamanmu yang mulia itu?”.

“Watak pamanku sangat aneh, dia tidak suka bergaul dengan orang… “.

“Beliau tinggal sendirian di Ma-cik-san sana ?”, tanya pula si nelayan.

“Ya”, Bun-hiong mengangguk. “Ada orang bercerita, katanya beliau mahir ilmu silat, apakah betul ?”.

“Ehm, paman pernah belajar”.

“Pernah ada orang diam-diam mengunjungi Ma-cik-san dan melihat pamanmu naik harimau berkeliaran di pegunungan sana. Orang sama menyangka beliau adalah Toapekong, semuanya ketakutan dan cepat berlutut dan menyembah padanya”.

Bun-hiong tertawa: “Kenapa menyangka paman sebagai Toapekong?”.

“Sebab hanya Toapekong saja yang dapat naik harimau!”, tutur si nelayan tua.

“Ha ha ha, bukan. Paman bukan Toapekong”, kata Bun-hiong dengan terbahak. “Paman memang gemar naik harimau, bilamana iseng beliau suka naik binatang itu dan berkeluyuran kian kemari sekedar mencari hiburan saja”.

“Sekarang penduduk di sekitar sini sama menyebut pamanmu sebagai Losancu (penguasa gunung tua), semuanya menghormat dan juga segan padanya, siapapun tidak berani lagi mengunjungi Ma-cik-san”.

Bun-hiong hanya tertawa saja tanpa menanggapi, namun dalam hati sangat heran. Pikirnya, “Sungguh aneh, To Po-sit adalah seorang jujur dan lurus, kenapa dia sengaja berlagak begitu untuk menakuti orang ?. Jika alasannya supaya tidak ada orang mengganggu ketenangannya kan juga tidak perlu piara harimau buas segala. Harimau hanya dapat mengganas terhadap orang biasa, terhadap jago persilatan sama sekali tidak ada gunanya”. Pada saat itulah si nelayan tua menuding jauh kedepan, katanya: “Lihat, itulah Ma-cik-san!”.

Waktu Bun-hiong memandang kesana, tertampak permukaan danau dikejauhan sana muncul barisan lereng gunung, ia coba tanya: “Berapa lama lagi baru sampai disana ?”.

“Mungkin perlu satu jam lagi”, tutur si nelayan.

Bun-hiong memandang cuaca, katanya: “Tampaknya sang surya sudah hampir terbenam”.

“Ya, setibanya di Ma-cik-san nanti mungkin juga waktunya matahari terbenam”, ujar si nelayan tua.

Benar juga, pada waktu matahari menghilang di ufuk Barat, saat itu juga perahu mereka tepat sampai di tempat tujuan.

Bagian Barat lereng pegunungan itu banyak tebing yang terjal dan banyak pula gua batu. Lubang gua berbentuk bundar serupa telapak kaki kuda, maka gunung itu mendapat nama Ma-cik-san atau gunung telapak kaki kuda. Sudah tentu apapun namanya hanya berdasarkan dongeng saja.

Setelah perahu menepi, Bun-hiong membayar sewa dan mengucapkan terima kasih kepada nelayan tua, lalu melompat ke daratan dan berlari cepat keatas gunung.

Setelah mendaki sebagian tebing curam, yang terlihat didepan adalah hutan yang rimbun sehingga seolah-olah tertutup rapat, suasana seram menakutkan.

Namun kepandaian Bun-hiong tinggi dan nyalinya besar. Ia yakin perjalanannya ini pasti tak akan berbahaya baginya, maka sama sekali ia tidak kuatir, langsung is menyusur hutan. Ia tidak tahu sesungguhnya dibagian mana Tui-beng-poan- koan To Po-sit bertempat tinggal, tapi karena ia anggap Ma- cik-san ini tidak luas, seharusnya tidak sulit untuk menemukan tempat tinggal orang.

Siapa tahu, meski sudah cukup lama ia mencari kian kemari, yang terlihat olehnya tetap hutan lebat belaka dan sukar dijajaki serupa lautan, sama sekali tidak tertampak sebidang tanah kosong apapun.

Mau-tak-mau hati Bun-hiong mulai kebat-kebit, pikirnya: “Buset!. Kenapa hutan ini sedemikian luasnya?”.

Begitulah ia terus menerobos hutan sekian lama lagi dan tetap belum mencapai ujungnya. Ia merasa seperti masuk ketempat yang menyesatkan, tentu saja ia was-was.

Ia coba berhenti dan membatin: “Jangan-jangan hutan ini memang sebuah tempat yang bisa menyesatkan?!”.

Baru saja timbul pikiran demikian, sekonyong-konyong dalam hutan yang berdekatan bergema auman keras.

Itulah auman harimau !.

Keruan Bun-hiong terkejut, ia menoleh dan memandang kearah suara, namun tidak terlihat bayangan harimau. Tentu saja ia merasa tidak aman, ia coba bersuara: “Toh-locianpwe, caihe Pang Bun-hiong adanya, mohon Locianpwe sudi tampil bertemu”.

Ia bicara dengan suara keras sehingga dapat berkumandang jauh.

Siapa tahu baru saja lenyap suaranya, mendadak terdengar suara meraung keras, dari dalam hutan melompat keluar seekor harimau loreng dan langsung menerkamnya. Harimau itu sebesari kerbau, kelihatan sangat buas.

Melihat keganasan harimau itu, berdiri bulu roma Pang Bun- hiong.

“Jangan kurang ajar1”, bentaknya sambil melompat jauh kesamping.

Karena menubruk tempat kosong, kebuasan harimau itu tidak berkurang, sekali ekor melingkar, ia putar tubuh dan kembali menerkam lagi.

Cepat Bun-hiong meloncat keatas dan hinggap diatas dahan pohon yang bercabang, teriaknya: “Binatang kurang ajar!.

Mana boleh sembarang kau ganggu manusia ?. Masa kamu tidak tahu aku ini sahabat majikanmu ?!”.

Pada hakikatnya harimau itu tidak tahu apa yang diucapkan Bun-hiong. Agaknya dia sangat marah karena mangsanya melompat keatas pohon. Beberapa kali harimau itupun melompat keatas, akhirnya rupanya tahu sukar mencapai tempat Bun-hiong terpaksa ia berhenti meloncat dan berbaring dibawah pohon sambil melototi Bun-hiong dan mengaum.

“Ayo pergi, panggil kemari majikanmu”, bentak Bun-hiong sambil mengangkat tangan.

Namun si harimau tidak menghiraukannya dan tetap mengawasi dia.

“Binatang yang tidak tahu adat”, maki Bun-hiong. “Kalau tidak mengingat majikanmu, tentu sekali hantam kumampuskanmu

!”. Harimau itu tetap diam saja.

Bun-hiong pikir bila bertahan terus cara begini bukanlah jalan keluar yang baik. Kembali ia memaki: “Binatang kurang ajar, barangkali kamu tidak pernah ketemu orang pandai, biar sekarang kau lihat kelihaianku !”.

Ia patahkan satu potong ranting kecil, dengan gerak menimpuk senjata rahasia ia sambitkan ranting kayu itu ke batok kepala harimau.

Kencang sekali sambaran ranting kayu itu, “plok”, dengan tepat batok kepala harimau tertimpuk.

Kungfu Pang Bun-hiong sudah mencapai tingkat tinggi, biarpun sehelai daun yang dilemparkannya juga cukup kuat untuk mencelakai orang. Untuk membunuh harimau dengan lemparan kayu inipun dapat dilaksanakannya, cuma dia tidak berniat membunuhnya, maka sambitannya itu tidak terlalu keras.

Walaupun begitu toh harimau itu sudah kesakitan sehingga melonjak kaget dan menyurut mundur sambil meraung-raung seakan-akan sedang memaki dan menantang Bun-hiong bila berani ayolah turun kemari.

Kembali Bun-hiong memotong setangkai ranting dan disambitkan pula, sekali ini tepat mengenai hidung harimau. Karena kesakitan, binatang itu mengerang sambil menyurut mundur lagi, lalu bergaya hendak menubruk.

“Memangnya kau berani ? Sekali ini hendak kutimpuk matamu

!”, kata Bun-hiong dengan tertawa.

Sembari bicara kembali ia memotes setangkai ranting pula. Namun harimau itu rupanya sudah kapok. Melihat Bun-hiong hendak menimpuknya lagi, sambil meraung cepat ia putar haluan dan ngacir.

Tujuan Bun-hiong justru hendak membuat harimau itu lari agar dia dapat menguntitnya. Maka begitu begitu harimau itu kabur, segera ia melompat turun dan mengejar dengan kencang.

Harimau itu sudah takut padanya, ketika mengetahui Bun- hiong mengejarnya, larinya semakin cepat. Ia menyelinap kian kemari ditengah hutan lebat dan lari pontang-panting.

Sambil mengejar Bun-hiong mengeluarkan suara galak pula untuk menggertaknya. Setelah mengejar sekian lama, harimau itu menyusup masuk kebalik semak-semak lebat, lalu menghilang.

Bun-hiong tidak berani mengejar kesitu. Ia coba melompat keatas pohon dan memandang kesekitarnya.

Sekali pandang terlihatlah sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil.

Kiranya beberapa tombak lagi kedepan sana sudah sampai di ujung hutan lebat itu. Terlihat diluar hutan adalah sebidang tanah landai dengan rumput halus hijau, ditengah lapangan rumput berdiri sebuah gedung megah dengan halaman yang luas. Disekeliling gedung itu diberi pagar bambu dan ditanami berbagai macam bunga yang aneh, suasana tenang dan pemandangan indah.

Bun-hiong yakin inilah tempat kediaman “Losancu” To Po-sit. Segera ia melompat turun dan berlari ke rumah itu. Setibanya diluar pintu pagar bambu, terlihat didepan pintu ada pigura yang bertuliskan tiga huruf, To-kong-loh” atau villa megah. Ditepi pintu terdapat pula sebuah papan kecil dengan tulisan “dilarang mauk tanpa izin” dan dibawahnya tertulis “Hormat Kongsun Siau-hui”.

Diam-diam Bun-hiong tertawa geli, ia pikir tulisan ini adalah perbuatan Toh Po-sit yang sengaja digunakan untuk memancing orang yang hendak dijebaknya, kalau tidak kan tidak perlu namanya ditulis disitu.

Ia coba mengetuk pintu sambil berteriak: “Toh-locianpwe, silakan buka pintu, aku Pang Bun-hiong!”.

Namun keadaan rumah itu tetap sunyi senyap, tidak terlihat seorangpun yang menjawab atau muncul.

Bun-hiong sangat heran, sukar dimengerti mengapa bisa begini. Ia pandang tulisan “dilarang masuk” yang terpampang disamping pintu itu, pikirnya, “Mungkin ia sedang keluar karena ada urusan, maka dipasang papan ini. Padahal kedatanganku berkepentingan baginya, tentunya aku boleh masuk saja kesitu”.

Didalam pintu adalah jalan terbuat dari balok batu, kedua samping jalan banyak pot bunga diatas rak. Setelah melintasi jalan batu tersebut, sampai disebuah ruangan tamu yang terbuka.

Sementara hari sudah gelap, namun didalam ruangan tidak ada penerangan, tampaknya penghuninya memang tidak berada dirumah.

Bun-hiong berhenti sejenak diluar ruangan dan coba memandang kedalam. Tertampak pepajangan ruang tamu yang sangat serasi, perabotannya terbuat dari kayu cendana wangi. Bagian dalam melintang sebuah meja besar dan disambung dengan sebuah meja lain yang memanjang keluar. Kedua samping meja ada enam kursi diseling dengan meja kecil diantara kursi dan kursi.

Ditengah ruangan tidak terdapat meja pemujaan melainkan tergantung sebuah lukisan lambang panjang umur dan dikanan-kiri meja panjang melintang itu terdapat dua vas bunga. Masih kelihatan segar bunga didalam vas.

Ditengah ruangan terdapat sebuah lampu gantung, lampu kaca berukir bunga. Meskipun lampu tidak menyala, kacanya kelihatan cemerlang dan indah.

Bun-hiong tidak berani sembarangan masuk, ia berseru dengan lantang: “Toh-locianpwe, apakah engkau di rumah ?!”.

Tetap tidak ada suara jawaban.

Bun-hiong ragu sejenak. Kemudian ia melangkah ketengah ruangan, dilihatnya disebelah kanan ada sebuah pintu tembus, ia coba melongok keluar pintu, tapi karena hari sudah gelap sehingga tidak terlihat apapun.

Ia mendekati meja panjang dan mencari geretan api, dinyalakannya lampu gantung itu.

Setelah lampu menyala, ia coba melongok lagi kebagian dalam. Sekarang terlihat jelas disitu ada sebuah jalan samping, yaitu yang menyusur serambi ke belakang.

Kembali ia berteriak lagi dan tetap tidak kelihatan orang muncul. Segera ia menyusuri serambi, pada kamar serambi pertama ia coba mengetuk pintunya.

Sekali ketuk, tahu-tahu pintu kamar terbuka sendiri. Didalam kamar juga tidak ada penerangan, namun lamat-lamat kelihatan sebuah tempat tidur dengan perabotan yang sederhana, hanya sebuah meja, kelambu tertutup rapat, didepan tempat tidur ada sepasang sepatu kain.

Nyata sekali diatas ranjang ada orang tidur.

Hal ini sangat diluar dugaan Bun-hiong, cepat ia menyurut mundur dan memberi hormat, serunya: “Toh-locianpwe, apakah engkau disini ?”.

Tidak ada suara ditempat tidur, seperti orang tidur itu sudah mati.

Sangsi dan heran, Bun-hiong kembali ia berteriak: “Toh- locianpwe, engkau disitu ?”\

Teap tiada sesuatu reaksi apapun.

Kening Bun-hiong berkernyit, pikirnya, “Sungguh aneh. Didepan ranjang ada sepatu, jelas ada orangnya. Mengapa tidak terjaga bangun ?”.

Ia merasakan keganjilan, tapi yang terpikir olehnya adalah orang ditempat tidur itu mungkin mati mendadak. Maka ia coba mendekati tempat tidur.

Begitu mendekat, mendadak dirasakan semacam hawa kematian yang membuatnya merinding.

Mungkinkah Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit mendadak mati sakit ditempat tidur ?

Tidak, tidak mungkin terjadi kebetulan seperti itu!.

Ia tenangkan diri, lalu menyingkap kelambu. Baru saja tersingkap sedikit, seketika ia menjerit kaget.

Ternyata ditempat tidur menggeletak sesosok jerangkong. Jerangkong putih yang utuh.

Jerangkong putih ini duduk tegak diatas tempat tidur, sungguh kaget Bun-hiong tak terkatakan, serentak ia menyurut mundur dua-tiga tindak.

Waktu melangkah mundur itulah sekonyong-konyong kaki terasa menginjak tempat kosong, seluruh orangnya terus kejeblos kebawah.

Pada saat menginjak tempat kosong itu, sekilas benaknya timbul pikiran telah menginjak papan putar, namun sudah kasip dan sukar menghindar lagi. Tanpa kuasa ia kejeblos kedalam sebuah gua yang gelap gulita.

Setelah anjlok enam-tujuh tombak dalamnya, barulah sampai permukaan tanah.

Kejadian yang mendadak dan diluar dugaan ini membuatnya kaget dan tidak sempat mengerahkan tenaga sehingga kepala terbentur dan pusing tujuh keliling, matapun berkunang- kunang. Sampai sekian lama barulah pikiran jernihnya pulih kembali.

Waktu ia memandang keatas, papan putar tadi sudah merapat seperti semula dan tiada setitik lubang lagi. Keadaan gelap gulita, jari sendiripun tidak kelihatan.

Setelah termangu-mangu sejenak barulah ia berdiri pelahan. Ia coba meraba kedepan, sesudah maju dua-tiga tindak baru teraba dinding batu yang dingin dan keras. Ia merambat lagi kekiri, setelah membelok diujung dinding, akhirnya terasa sebuah pintu beruji besi. Terali besi sangat kuat, besarnya hampir sebulatan lengan manusia. Ia pegang dua potong terali besi itu dan diguncangkan sekuatnya, namun tidak bergeming sama sekali. Ia tahu terali besi itu sangat kuat dan sukar dijebol oleh tenaga manusia.

Seketika hati Bun-hiong tertekan, pikirnya, “Wah, celaka!. Sekali ini aku benar-benar menjadi kura-kura didalam tempurung orang !”.

Ia coba merambat lagi kekiri terali, kembali teraba dinding batu, maka tahulah dia bahwa dirinya terkurung didalam kamar penjara seluas setombak persegi, iapun maklum bilamana tidak mendapatkan pertolongan dari luar, betapapun sukar lolos dari penjara maut ini.

Ia cemas dan bingung juga, sukar dimengerti mengapa Tui- beng-poan-koan Toh Po-sit sengaja memperlakukan dia cara demikian. Sekarang ia tahu jerangkong yang duduk ditempat tidur itu hanya semacam perangkap yang sengaja dipasang Toh Po-sit, bila orang melihat jerangkong secara mendadak, tentu kaget dan tanpa terasa menyurut mundur, dengan begitu pasti akan menginjak papan putar dan kejeblos kebawah.

Tapi ia sudah berulang kali menyatakan siapa dirinya, mengapa Toh Po-sit masih memperlakukan dia cara demikian? Apakah mungkin yang memasang perangkap ini bukan Tui- beng-poan-koan Toh Po-sit .

Karena pikiran ini seketika ia paham duduknya perkara. Tanpa terasa is bergumam, “Aha betul, tuan rumahnya pasti bukan Toh-locianpwe, makanya dia tidak gubris teriakanku…”

Lalu teringat olehnya nama yang terpampang dipapan pada pintu pagar itu, ia terkesiap dan berseru: “Wah, jangan-jangan tuan rumah disini ialah Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui ?”.

Tapi bilamana betul tuan rumahnya ialah Kongsun Siau-hui, apa maksud tujuan Toh Po-sit yang menyuruhnya menyiarkan berita bohong tentang diculiknya Oh Beng-ai oleh gembong iblis itu ke Ma-cik-sa sini ?

Tidak perlu disangsikan lagi maksud tujuan Toh Po-sit adalah untuk memancing dan menawan seseorang, tapi mengapa perangkapnya diatur ditempat kediaman Kongsun Siau-hui ini

?

Apakah mungkin dia dan Kongsun Sian-hui adalah satu komplotan ?

Akan tetapi jelas tidak, karena Toh Po-sit dan Kongsun Siau- hui adalah dua jenis manusia yang berbeda, tidak mungkin mereka bersekongkol untuk menghadapi orang lain.

Jika begitu, sekarang hanya ada sebuah penjelasan, yaitu maksud tujuan Toh Po-sit bukan untuk menawan seorang melainkan sengaja memancing seorang untuk mencari Kongsun Siau-hui dan maksudnya mungkin supaya terjadi perang tanding antara mereka atau ada maksud lain.

Ia merasa rekaan ini rada masuk di akal, sebab itulah ia mulai merasakan posisi sendiri sangat berbahaya, sebab kalau tuan rumahnya betul Kongsun Siau-hui, maka dirinya sudah menjadi musuh yang telah mengganggunya.

Kongsun Siau-hui adalah tokoh yang terkenal kejam, tentu dia tak akan bersikap ramah terhadap musuh yang menyatroninya.

Lantas bagaimana baiknya ? Baru saja ia berpikir bagaimana baiknya, tiba-tiba dari luar terali besi sana ada cahaya lampu.

Itu dia, Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui sudah datang.

Terdengar suara “srak-srek:, suara langkah orang yang semakin dekat.

Mendadak cahaya lampu terang benderang.

Seketika Bun-hiong merasa bagai menatap cahaya matahari yang menyilaukan, hampir sukar mata terpentang, sebab itulah seketika tak jelas siapa pendatang ini.

Terdengar orang itu mengeluarkan suara tertawa terkekeh aneh yang menusuk perasaan, habis itu berucap sekata demi sekata; “Hei, siaucu, namamu Pang Bun-hiong ya ?”.

Bun-hiong mengalingi matanya dengan tangan, tanyanya dengan terkesiap: “Siapakah engkau?”.

“Apakah kamu buta-huruf?”, jawab orang itu dengan terkekeh. “Oo, jadi engkau benar Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui ?”,

Bun-hiong menegas. “Betul,” kata orang itu.

“Wah, sungguh tak tersangka…. “.

“Toh-locianpwe yang kau panggil berulang itu siapa ?”, tanya Kongsun Siau-hui.

“Mohon engkau menyingkirkan dulu lampumu, boleh ?{“, pinta Bun-hiong. Kongsun Siau-hui lantas gantung lampu yang dipegangnya itu di dinding. Karena itu cahaya lampu lantas bergeser dan orangnya dapat terlihat jelas sekarang.

Usianya antara 67-69 tahun, perawakannya tinggi kurus, mukanya terasa dingin dan seram, rambutnya semampir dipundak dan memakai baju hitam, sekilas pandang serupa hantu yang mengerikan.

Diam-diam Bun-hiong menarik napas dingin, ia memberi hormat dan berkata: “Sungguh sangat beruntung dapat berjumpa dengan tokoh kosen dunia persilatan jaman kini”.

Kongsun Siau-hui tersenyum tak acuh, tanyanya pula: “Coba jawab, siapakah Toh-locianpwe yang kaupanggil berulang- ulang itu ?”.

“Toh Thian-lau namanya “, jawab Bun-hiong.

“Siapa itu Toh Thian-lau ?”, tanya Kongsun Siau-hui pula.

“Seorang tabib terkenal, orang memberi julukan Kui-ih (tabib setan) padanya, sebab penyakit aneh dan betapa parahnya, asalkan diberi obat olehnya seketika akan sembuh”.

“Aneh mengapa belum pernah kudengar nama seperti ini ?”, ujar Kongsun Siau-hui sambil menyeringai.

“Dia bukan tokoh dunia persilatan”, kata Bun-hiong. “Oo, ia tinggal di Ma-cik-san sini ?”, tanya Kiu-bwe-hou.

“Aku diberitahu orang, katanya dia pindah dan berdiam di Ma- cik-san, tapi tampaknya aku tertipu, sungguh runyam !”. Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui menyeringai, katanya pula: “Siapa yang bilang padamu bahwa Kui-ih Toh Thian-lau pindah kesini ?”.

“Hiat-pit-siucai Hui Giok-koan”, kata Bun-hiong.

“O, kiranya dia. Darimana dia tahu aku mengasingkan diri disini ?”.

“Ia tidak bilang Locianpwe mengasingkan diri disini, ia cuma bilang Kui-ih Toh Thian-lau pindah dan berdiam disini.

Kongsun Siau-hui mengangguk, tanyanya pula: “Untuk apa kaucari Toh Thian-lau?”.

“Hendak kuminta tolong agar dia mengobati penyakit istri sahabatku”, tutur Bun-hiong.

“Siapakah sahabatmu itu?”, kembali Kongsun Siau-hui bertanya.

“Liong It-hiong”, jawab Bun-hiong. “Istrinya menderita sakit apa ?”. “Sakit cemburu !”.

Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui tertawa: “Hah, dia singa betina yang sok cemburu !”.

“Ya, asalkan sahabatku itu memandang sekejab perempuan lain, seketika istrinya ribut tidak berhenti”, tutur Bun-hiong. “Pernah satu kali sahabatku mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati kawan, pesta dimeriahkan dengan musik dan nyanyi. Tapi istrinya membawa pentung dan mengobrak- abrik pesta itu, bahkan memukul mati penyanyinya. “Karena tidak tahan gangguan istri yang cemburu itu, sahabatku minta nasehat padaku. Kutahu Kui-ih Toh Thian-lau mempunyai obat mujarab yang dapat menyembuhkan perempuan cemburu, maka sengaja aku datang kemari mencarinya. Siapa tahu keterangan Hui Giok-koan ternyata tidak benar sehingga perjalananku ini cuma sia-sia belaka”.

“Tapi perjalananmu ini tidaklah sia-sia, sebab akupun mahir mengobati penyakit cemburu”, ujar Kiu-bwe-hoa dengan tertawa.

“Hah, apa betul ?”, Bun-hiong menegas dengan berlagak girang.

“Tentu saja betul”, kata Kiu-bwe-hou. “Ada beberapa resepku yang cespleng untuk menyembuhkan penyakit cemburu”.

“Wah bagus sekali”, seru Bun-hiong bersemangat. “Dapatkan Locianpwe memberikan padaku resep mujarab itu ?”.

“Boleh. Nah, silahkan dengarkan dengan cermat…”, lebih dulu Kongsun Siau-hui berdehem untuk membersihkan kerongkongan, lalu menyambung: “Pertama, sup daging merpati, dimakan si perempuan tiap tengah malam, maka rasa cemburunya akan hilang. Kedua bungkus katak buduk dengan kain bekas datang bulan si perempuan dan ditanam didepan kamar, maka rasa cemburunya akan lenyap atau…..”.

Bun-hiong berlagak mengingat baik-baik beberapa resep yang diuraikan orang, katanya: “Wah, beberapa resep Locianpwe itu tampaknya sangat mujarab, cuman agak sulit dilaksanakan…”

“Bila beberapa resep ini tidak manjur, masih ada satu resepku yang kutanggung cespleng seratus prosen”, kata Kiu-bwe-hou dengan tertawa.

“Apa resepnya ?”, tanya Bun-hiong.

“Resep ini namanya potong dan habis perkara”, tutur Kiu-bwe- hou. “Caranya adalah dengan membawa sebilah golok, pada waktu si perempuan lagi tidur nyenyak, sekali bacok penggal kepalanya dan rasa cemburunya lantas hilang sama sekali”.

“Ha ha ha”, Bun-hiong tergelak. “Meski resep terakhir ini sangat manjur, cuman obatnya terlampau keras, kukira tidak cocok digunakan”.

“Ya, maka lebih baik menggunakan resep yang kukatakan tadi”, ujar Kiu-bwe-hou.

“Terima kasih atas petunjuk Locianpwe, tentu akan kusampaikan resepmu tadi kepada sahabatku biar dicobanya…”

“Cuma saya, mungkin sahabatmu itu tidak sempat lagi menyembuhkan penyakit cemburu istrinya”, tukas Kiu-bwe- hou.

“Kenapa bisa begitu ?” Bun-hiong melengak.

“Coba jawab, apa yang tertulis dipapan pintu tadi sudah kaubaca tidak ?”.

“Ya, kubaca”, Bun-hiong mengangguk. “Cuma…”

“Jika begitu biar kukatakan padamu”, potong Kiu-bwe-hou dengan tertawa: “Barang siapa berani sembarangan menerobos masuk kesini tanpa izinku, semuanya harus mati disini”. Habis berkata ia tanggalkan lentera tadi dan hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu, Locianpwe”, seru Bun-hiong.

“Kau mau bicara apa lagi ?”, tanya Kiu-bwe-hou dengan tertawa.

“Peraturan Locianpwe itu terasa agak terlampau keras, seharusnya diperlonggar sedikit”, ujar Bun-hiong.

Kiu-bwe-hou meraba janggutnya, katanya perlahan: “Dengan sendirinya dapat kuperlonggar sedikit, cuma hal itu harus tunggu sampai kamu mau bicara terus-terang siapa itu Toh- locianpwe yang kau sebut-sebut itu dan maksud tujuan kedatanganmu kesini”.

Sampai disini ia terus melangkah pergi.

Cahaya lampu dari terang berubah menjadi guram dan akhirnya lenyap.

Kembali Bun-hiong terkurung dikamar penjara yang gelap gulita. Dengan lesu ia duduk dikaki dinding dan bergumam, “Tua bangka ini sungguh tidak malu sebagai seekor rase tua, tampaknya aku sudah ditakdirkan akan mati disini…”

Ia tahu hanya ada satu jalan mungkin dapat terhindar dari kematian, yaitu tunduk kepada kehendak Kiu-bwe-hou dan bicara terus terang segalanya tentang maksud kedatangannya adalah ingin mencari Tui-beng-poan-koan Toh Po-sit, sebab atas perintah Toh Po-sit dirinya menyiarkan desas-desus tentang diculiknya adik perempuan Eng-jiau-ong Oh Kiam-lam oleh Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui…

Tapi mana boleh dia mengaku terus terang ? Jika ia bicara terus terang, apakah bukan berarti menggagalkan rencana Toh Po-sit ?.

Padahal dengan susah payah barulah Toh Po-sit berhasil mengatur rencana ini, mana boleh dirinya merusaknya ?

Tidak boleh!. Mutlak tidak boleh bicara terus terang.

Begitulah ia lantas berdiri dengan bersemangat, ia mendongak keatas, pikirnya, “Mungkin dapat keluar melalu atas sana.

Biarlah coba kupanjat keatas”.

Begitu ambil keputusan, segera ia gunakan ilmu cecak merayap dan merambat keatas.

Kira-kira enam-tujuh tombak tingginya, sebelah tangannya sudah dapat meraba papan putas diatas. Dengan jari tangan kiri ia cengkeram celah dinding untuk menahan tubuhnya, lalau dengan tangan kanan ia pukul papan putar dibagian atas.

Tenaga pukulannya tidak lemah, papa kayu setebal beberapa senti saja dapat dihantamnya hancur, tapi sekarang ia sudah memukul sekuatnya beberapa kali, dirasakan papan putar itu sekeras batu, sedikitpun tidak bergeming.

Kenapa bisa begitu?. Jangan-jangan papan putar itu terbuat dari besi ?

Ia coba menggores papan itu dengan kuku, ternyata benar papan putar itu memang terbuat dari besi. Hal ini membuat semangatnya gembos, segera ia kendurkan cengkeraman jari kiri dan merosot turun kebawah.

Sekarang ia merasa hanya ada satu jalan saja baginya, yaitu menunggu ajal. Ia duduk dikaki dinding lagi dengan lesu. Diam-diam ia sesalkan nasib sendiri yang jelek sehingga kebentur Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui yang sialan ini.

Kemudian teringat juga akan Coa-kat-bijin alias Kiau-kiau, mendadak terbangkit semangatnya. Pikirnya, “Aha, betul tidak lama lagi iapun akan kemari, bisa jadi dia memang dapat menjatuhkan Kongsun Siau-hui dengan pikatan kecantikannya. Bila betul demikian ada harapan bagiku untuk hidup”.

Pada saat sedang berpikir itulah, tiba-tiba dari atas berkumandang suara orang memanggil perlahan: “ Kongsun Siau-hui…. Kongsun Siau-hui…”.

Jelas itulah suara orang perempuan.

Bun-hiong sangat girang, serentak ia berdiri, pikirnya: “Itu dia, memang betul dia sudah datang!”.

“Kongsun Siau-hui…. Kongsun Siau-hui… engkau dimana ?”, terdengar suara Kiau-kiau sedang memanggil, agaknya dia sudah memasuki ruangan besar itu sehingga suaranya terdengar jelas.

Tiba-tiba Bun-hiong mendapatkan pikiran lain untuk cepat meloloskan diri, segera ia merayap lagi keatas dan menunggu kesempatan.

Cara meloloskan diri yang terpikir oleh Bun-hiong adalah kalau Kongsun Siau-hui tidak muncul untuk bertemu dengan Kiau- kiau, tentu sebentar lagi sangat mungkin Kiau-kiau akan mengikuti caranya tadi, membuka kelambu dan kaget, lalu kejeblos kebawah.

Jika terjadi demikian, maka pada saat Kiau-kiau kejeblos dan papan putar terbalik, peluang itu akan digunakannya untuk menerobos keluar.

Sebab itulah pada waktu ia merambat sampai di ujung dinding segera ia kumpulkan tenaga pada kedua kakinya dan menunggu datangnya kesempatan baik.

“Hei, Kongsun Siau-hui, engkau ada disini atau tidak ?”, terdengar suara Kiau-kiau sudah berada didalam kamar atas.

Bun-hiong mendengarkan dengan cermat, terdengar suara kaki Kiau-kiau berhenti didepan tempat tidur. Tanpa terasa hati Bun-hiong ikut berdebar.

Ia tahu bila pada saat itu dirinya bersuara memperingatkan, Kiau-kiau diatas pasti dapat terhindar dari bahaya kejeblos. Tapi ia tidak mau berbuat demikian, sebab ia tahu Kiau-kiau adalah perempuan yang tidak dapat dipercaya. Pada waktu ia tidak sanggup melawan Kiu-bwe-hou, yang dipikirnya tentu cuma menyelamatkan diri sendiri dan pasti tidak mau menyerempet bahaya menolongnya. Sebab itulah ia mengambil keputusan akan meloloskan diri lebih dulu, kemudian baru berdaya menolong perempuan itu dari ancaman bahaya.

“Kongsun Siau-hui, kaukah disitu?” terdengar suara Kiau-kiau memanggil pula, suaranya dekat tempat tidur. Nyata ia mengira ada orang tidur disitu.

“Hm, apakah engkau terlanjur mampus dalam tidurmu ?”, omel Kiau-kiau, berbareng itu agaknya ia lantas menyingkap kelambu dan tentu juga lantas melihat jerangkong ditempat tidur.

Serentak terdengar jeritan melengking, menyusul papan besi lantas ambles kebawah. Kiau-kiau benar-benar kejeblos kedalam kamar penjara itu. Tapi ketika Bun-hiong bermaksud menggunakan peluang itu untuk melompat keluar, mendadak terdengar suara “blang” yang keras, papan besi yang ambles kebawah itu tahu-tahu sudah merapat kembali.

Keruan Bun-hiong melenggong.

Kiranya papan jebakan itu berbeda dari papan putar umumnya. Pada papan putar biasa, bagian tengah tentu diberi bersumbu. Jika setengah bagian ambles kebawah, sebagian lagi lantas menjengkit keatas dan maksud Bun-hiong akan melompat keluar melalui lubang papan yang menjengat itu.

Namun papan jebakan ini ternyata tidak begitu buatannya. Papan ini ambles seluruhnya kebawah, sehingga pada hakikatnya tidak ada peluang bagi orang untuk melayang keluar.

“Aduh!”, terdengar Kiau-kiau menjerit kesakitan karena jatuh terbanting.

Bun-hiong tercengang sejenak, akhirnya ia menegur dengan tersenyum kecut: “Apakah kamu terluka ?”.

Karena kejeblok kedalam ruangan yang gelap gulita, memangnya hati Kiau-kiau lagi cemas, kini mendadak terdengar ada orang bersuara menegur dari atas, keruan ia tambah kaget setengah mati, jeritnya takut: “Hei, siapa itu ? Siapa ?”.

“Aku, bekas pacarmu !”, jawab Bun-hiong dengan tertawa. Lalu ia melompat turun lagi kebawah.

Karena tidak dapat melihat jelas, Kiau-kiau menyurut mundur ketakutan, serunya: “Sia… siapa kau ?”. “Pacar yang kemarin baru saja kau enyahkan dari Thay-ih- khek-can itu!”, jawab Bun-hiong dengan tertawa.

“Oo….” Kiau-kiau bersuara lega, tapijuga tidak kurang kejut dan sangsinya: “Ken… kenapa engkau juga berada disini ?”.

“Sebenarnya hendak kujadi pelopor bagimu”, tutur Bun-hiong: “Tak terduga begitu sampai disini lantas masuk perangkap”.

Lalu ia mendekati Kiau-kiau dan berbisik padanya: “Sebentar bila Kiu-bwe-hou Kongsun Siau-hui muncul, jangan sekali- sekali kau ceritakan maksud kedatanganmu, paham tidak ?”.

“Sebab apa ?” tanya Kiau-kiau dengan melenggong.

Bun-hiong berbisik pula ditepi telinga orang: “Sekarang kita sudah tertawan olehnya, jika engkau bicara terus terang hendak menolong Oh Beng-ai, tentu dia akan memperlakukan kita sebagai musuh”.

“Lantas bagaimana ?”, tanya Kiau-kiau pula.

“Bagaimana ?”, Bun-hiong mengulang dengan mendongkol: “Hm, bisa jadi jiwamu akan amblas”.

Kiau-kiau meraba bagian pinggang yang kesakitan, katanya: “Engkau juga terjeblos dari atas sana ?”.

“Ya “, jawab Bun-hiong: “Sebenarnya aku cukup hati-hati sejak datang kesini, tapi mendadak aku lihat jerangkong yang menakutkan itu, karena gugup aku jadi lengah dan terjeblos kesini”.

“Ya, jerangkong itu memang menakutkan”, ucap Kiau-kiau: “Entah mengapa Kongsun Siau-hui menggunakan jerangkong untuk menakuti orang”.

“Aku sendiri tidak tahu mengapa”, ujar Bun-hiong. “Sudah kaulihat dia atau belum ?”, tanya Kiau-kiau. “Sudah”, jawab Bun-hiong.

“Bagaimana bentuknya ?”. “Sangat gagah dan ganteng”. “Apa betul ?”.

“Kenapa kauperhatikan bagaimana bentuknya ?”, tanya Bun- hiong dengan tertawa.

“Ini sangat penting”, ujar Kiau-kiau. “Jika dia seorang tua yang sudah ompong, tentu tidak menguntungkan bagiku. Kau tahu, terhadap urusan begituan hampir semua orang tua cuman keinginan ada, tapi tenaga tidak cukup”.

“Hm, banyak juga yang kau pikirkan”, jengek Bun-hiong.

“Urusan ini adalah modal andalanku”, kata Kiau-kiau dengan tertawa. “Dengan wajah dan tubuhku yang memmikat ini, apa yang kulakukan selalu berhasil. Maka sekali ini akupun berharap dapat menyelamatkan diri berdasarkan modalku ini”.

“Semoga dia terpikat olehmu, supaya akupun dapat ikut membonceng dan lolos dari sini”, kata Bun-hiong.

“Eh, apakah dia tidak tanya untuk apa engkau datang kesini

?”, tanya Kiau-kiau.

“Ada, kubilang kedatanganku ini ingin mencari Kui-ih Toh Thian-lau, namun dia tidak percaya”.

“Lalu cara bagaimana dia memperlakukan dirimu ?”. “Ia bilang aku akan mati didalam kamar penjara ini.

Tampaknya dia bermaksud membuatku mati kelaparan disini”. “Dan engkau berpikir bagaimana?”, tanya Kiau-kiau.

Bun-hiong menyengir: “Tentu saja kuingin lari keluar dari sini, asalkan ada kesempatan…”.

Kiau-kiau memandang sekitar situ, katanya dengan bimbang: “Tempat macam apakah ini ?”.

“Sebuah kamar tahanan seluas setombak, tiga sisinya dinding batu, satu sisi terbuat dari terali besi”, tutur Bun-hiong.

Terali besinya berada disisi mana ?” tanya Kiau-kiau.

Bun-hiong menariknya kedepan terali besi, katanya dengan tertawa: “Coba kaupegang sendiri, cukup besar juga !”.

Setelah meraba terali besi, Kiau-kiau berucap dengan terkesiap: “Wah, tampaknya sangat kuat… “

“Ya, pernah kucoba mengguncangnya, rasanya serupa kecapung hendak menggoyangkan pilar”, ujar Bun-hiong.

Kiau-kiau coba meraba-raba bagian luar terali besi, katanya kemudian: “Diluar ini apakah lorong dibawah tanah ?

“Ya”, jawab Bun-hiong.

Waktu Kiau-kiau meraba-raba lagi, tiba-tiba dirasakan tangannya menyentuh tubuh seseorang, keruan ia kaget dan cepat menarik kembali tangannya sambil menyurut mundur dan berteriak: “Wah, ada setan!”.