Rahasia Kampung Setan Jilid 31

 
Jilid 31

 PADA saat itu telinganya telah dapat menangkap satu suara meskipun suara itu tidak nyaring, tetapi bagi Ho Hay Hong yang ilmu kekuatan tenaga dalamnya sudah cukup sempurna, dapat ia menangkap suara itu dengan jelas.

"Jangan banyak tanya, lekas jalan. Sekarang pertempuran didanau Keng-liong-tie itu. sudah selesai, kita harus cepat bertindak. Jikalau tidak, bocah itu nanti setelah kembali kedaerah nya, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadapnya," demikian suara yang tertangkap oleh telinga Ho Hay Hong.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, karena ia masih mengenali bahwa suara itu adalah suara toa- suhengnya!

Matanya lalu ditujukan kejalan raya, tampak olehnya beberapa bayangan orang sedang berjalan.

Tak lama kemudian, tampak beberapa orang-orang Kang ouw yang memiliki kepandaian cukup sempurna. Orang-orang itu tentunya datang dari daerah utara, dan bukan tidak ada sebabnya mereka datang kemari mencari dirinya.

Dengan gerakan sangat cekatan ia sembunyikan diri dibelakang pohon dan berkata kepada Lie Hui dengan suara perlahan:

"Lekas sembunyikan diri, orang-orang itu tentu bukan orang-orang dari golongan baik-baik."

Lie Hui juga merasa tegang dengan cepat sembunyikan diri ke belakang pohon, ia bertanya dengan suara perlahan: "Suhu, mereka berjalan dijalannya sendiri, ada hubungan apa dengan kita?"

"Kau jangan banyak tanya, aku suruh kau sembunyi sudah tentu ada sebabnya!"

Waktu itu, kedua fihak berpisah semakin dekat, hingga Ho Hay Hong dapat melihat dengan tegas wajah-wajah orang itu. Dalam hatinya berpikir: "Toa-suheng sudah menghianati suhu, menggabungkan diri dengan golongan Liong-houw-hwee, mereka tentunya orang-orang dari Liong houw-hwee."

Ia juga teringat bagaimana jahat dan kejamnya sang Toa-suheng yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri t idak ingat budi gurunya. Ingat juga ia bagaimana sewaktu Toa-suhengnya tersebut, memberontak melawan gurunya.

Kalau bukan dia sendiri yang turun tangan dan membela suhunya, Dewi ular dari gunung Ho-lan-san mungkin sudah binasa ditangan nya. Dan kini setelah ia mengetahui bahwa suhunya itu, ialah Dewi ular dari gunung Ho-lan san, adalah orang yang menolong jiw a ibunya, ia semakin merasa bahwa Toa-suhengnya itu terlalu kejam, oleh karena itu juga, maka ia lalu marah seketika.

Orang-orang itu mengenakan pakaian seragam. Dan Toa-suhengnya, Tan-song selaku pimpinan rombongan, berjalan didepan.

Ho Hay Hong yang masih sembunyikan diri dibelakang pohon begitu melihat Toa-suhengnya, lantas mengeluarkan suara jengekan. Tan Song merandek dan memerint ahkan semua orangnya juga berhenti.

Ho Hay Hong lompat keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata sambil tertaw a dingin:

"Toa-suheng, sudah lama kita tidak bertemu."

Begitu melihat Ho Hay Hong, Tan Song nampak tercengang. Lama ia baru bisa berkata: "Oh, jiesutee ! Kau masih hidup?"

Ho Hay Hong segera dapat menduga maksud kedatangan suhengnya itu, maka lalu berkata sambil tertaw a terbahak-bahak:

"Kiranya Toa-suheng telah mendengar juga kabar akan diadakan pertempuran didanau Keng liong-tie ?  Jadi, sengaja Toa-suheng datang kemari melulu buat mengubur jenasahku ? Ha ha ha! Tetapi mungkin kau akan kecewa, karena aku masih segar bugar. Ha ha !"

Lie Hui yang tidak tahu persengketaan antara dua saudara seperguruannya itu, juga turut keluar  dari tempat persembunyiannya.

Kecantikan telah menarik perhatian Tan Song hingga lama ia memandangnya. Ho Hay tong merasa tidak senang, lalu berkata pada Lie Hui:

"Aku tidak perint ahkan kau keluar, apa perlunya kau keluar?"

"Mereka tokh bukan musuh!" kata Lie Hui.

"Siapa kata begitu padamu?" Ho Hay Hong kelihatan sengit. "Bukankah dia suhengmu ? Dia. juga masih terhitung supekku!"

Jiwa Lie Hui masih putih bersih dan ke kanak-kanakan. Ho Hay Hong terpaksa tekan perasaannya, memaafkan dirinya.

"Kau tidak boleh  panggil  dia  supek, ini adalah perint ahku!" demikian dia berkata. Kemudian ia memberi penjelasan selanjutnya, Dia sudah mengkhianati suhunya! Murid yang murtad merupakan suatu perbuatan, atau kejahatan paling besar dalam rimba persilatan.

Oleh karena itu, maka suhumu terpaksa akan segera mengambil tindakan untuk menghukum dia. Lekas kau mundur kesamping! Kalau tidak ada perint ahku, jangan bergerak sembarangan!"

Lie Hui menurut, ia undurkan diri. Meskipun dalam hati merasa heran tetapi tidak berani tanya.

"Kita berdua sebetulnya saudara seperguruan, mengapa lantaran suhu kita yang jahat dan berbuat keterlaluan, lantas saling bermusuhan ? Ho Sutee sekarang aku menjabat Hwee-cu dari perkumpulan Liong-how-hwee, anak buahku jumlahnya sangat banyak.

Meskipun kau sudah berhasil dalam usahamu dan menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, tetapi kalau tidak mendapat dukungan saudara- saudara dari perkumpulan, kedudukanmu tidak akan bisa kokoh. Kita berdua saudara masing-masing sudah mendapat kedudukan baik, mengapa tidak melupakan saja persengketaan yang lama ? Marilah kita bekerja sama." kata Tan Song. "Toa Suheng kau jangan mimpi yang muluk-muluk! Aku adalah Ho Hay Hong laki-laki jantan, tidak suka mengadakan perhubungan dengan orang yang sudah berkhianat dengan gurunya. Atas ajakanmu, aku ucapkan terima kasih, tetapi maafkan aku tidak boleh tidak sekarang ini harus mewakili suhu untuk bertindak terhadap mu!" kata Ho Hay Hong sambil tertaw a dingin.

Wajah Tan Song berubah seketika ia berkata:

"Sutee, ucapan yang bermaksud baik  sepertinya memang baik. Kalau kau tidak mau menurut, yang rugi nanti adalah kau sendiri, Coba saja lihat apa yang terjadi kemudian. Sudah putus hubunganku dengan suhu yang jahat dan kejam, aku sudah bukan muridnya, asal kau jangan juga tak ada hak mencampuri urusanku.

Lagi pula, sekarang aku sudah merupakan salah satu pemimpin dari satu perkumpulan, juga tidak suka kau perlakukan   semaumu.   Jika  kau    menerima    baik taw aranku, bagi kita kedua fihak sama-sama baiknya.

Jikalau tidak, kau didaerah utara tak akan ada orang yang mau mendukung tidak lama pasti akan runtuh. Aku masih ingat persaudaraan lama, maka aku merasa perlu memperingatkan padamu. Pikirlah dulu masak-masak.

"Murid yang sudah murtad, siapa saja dapat membunuhnya, tidak perlu aku pikir-pikir lagi." kata Ho Hay Hong.

Ia sudah hendak bertindak, tetapi mendadak ingat bahwa perkumpulan Liong houw wee sejak matinya Thian lam Lojin mati ditangan Ing siu, kini telah dipimpin olehnya. Perkumpulan orang-orang Kang-ouw itu kalau tidak mempunyai kedudukan cukup kuat tentunya tidak bisa berdiri terus hingga sekarang.

Apalagi ia sudah lama berpisah dengan toa suhengnya itu, mungkin kini sudah berhasil memperkuat kedudukan perkumpulan itu. Maka ia tidak berani berlaku gegabah.

"Kita berdua sudah tidak bisa berdiri dan bersama- sama in i sudah pasti. Oleh karenanya, maka satu- satunya jalan penyelesaian ialah pertempuran. Sekarang kau siap sedia baik pertempuran satu lawan satu atau pertempuran total kau boleh pilih sendiri.

Aku pikir, selama in i kepandaianmu tentunya sudah mendapat banyak kemajuan. Permusuhan antara kita kalau dibiarkan terus, juga tidak baik, sekarang kita boleh menggunakan kesempatan itu, boleh selesaikan sebaik-baiknya!" demikian ia terkata.

"Kalau begitu kau katakan dengan maksud baik kau tentunya mengira aku takut padamu, Aku tahu rejekimu bagus sekali, belum lama kita berpisah, kau sudah mendapat pengalaman ajaib bukan saja sudah berhasil mendapat ilmu kepandaian luar biasa, tetapi juga sudah berhasil menempati kedudukan Bengcu rimba hijau daerah utara.

Tetapi, kau jangan sombong! Aku hendak beritahukan padamu suatu berita yang mengejutkan. Heh, heh, gurumu si Dewi ular dari gunung Ho lan-san yang hina dina itu, sekarang sudah kut aw an dan sekarang sedang menjalani hukuman ditempat markasku.

Kalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh basmi perkumpulan Liong houw-hw ee, kemudian bebaskan gurumu, aku pikir, kau adalah muridnya yang tersayang, kau tentunya tidak tega melihat ia menderita."

Ia berkata sampai disitu dan tidak melanjutkan kata- katanya lagi, mendadak tertaw a terbahak-bahak, kedengarannya sangat menyeramkan.

Ho Hay Hong terperanjat, ia bertanya: "Apa? Suhu berada dalam tanganmu?"

"Aku tahu, setelah mendengar berita ini kau pasti terkejut, tetapi ini adalah suatu kenyataan. Kepandaian ilmu silatnya sudah musnah, dia sudah menjadi seorang yang tidak berguna, bagaimana sanggup melawan kekuatan Liong houw hwee?" kata Tan Song dingin.

"Perbuatanmu yang mengkhianati gurumu ini saja sudah merupakan suatu dosa terbesar yang tidak dapat diampuni, dan sekarang kau berani menyiksa guru, maka dosamu ini tidak cukup kau tebus dengan jiw amu saja. Aku lihat sebaiknya kau jangan berbuat keterlaluan, supaya tidak menimbulkan kemarahan orang banyak," kata Ho Hay Hong marah.

"Menimbulkan kemarahan orang banyak?" kata Tan Song sambil tertaw a besar." Jikalau aku takut, aku tentu tidak berbuat demikian. Percuma saja kau menjadi pemimpin golongan rimba hijau, apakah kau  masih  belum mengerti keadaan rimba persilatan dewasa in i? Kekuatan adalah keadilan!"

Mendengar jaw aban itu, Ho Hay Hong tidak dapat kendalikan hawa amarahnya lagi, maka lalu menyerang.

Diserang demikian hebat, Tan Song buru-buru lompat mundur, wajahnya berubah. "Jisutee, dengar! Jiwa Dewi Ular gunung Ho-lan-san sudah berada ditanganku, ini berarti bahwa mati hidupnya tergantung dengan keputusanku. Kalau kau berlaku tidak sopan lagi, jangan sesalkan aku berlaku kejam!"

Ho Hay Hong terkejut, buru-buru menarik kembali serangannya dan bertanya. "Apa maksud ucapanmu ini?"

"Kecuali kau bersedia bekerja sama denganku, lain alasan apapun tak ada gunanya, aku akan tetap bunuh mati padanya!"

"Kau benar-benar berani berbuat demikian?" "Mengapa tidak? Heh. mungkin kau Ho Hay Hong

belum mencari tahu keadaanku."

Ho Hay Hong juga tahu benar kekejaman dan kejahatan bekas suhengnya itu, apa yang ia katakan, pasti dapat dilakukan maka saat itu ia lantas merasa serba salah.

Pada saat itu, dari belakang tiba-tiba terdengar suara orang berkata: "Tan-siang Sucu. Kau benar benar tidak memandang kaw an, aku siorang tua ini baru kenal adatmu. ."

Ho Hay Hong berpaling, ia lihat Poh loya lari menghampiri dirinya dengan napas tersengal-sengal.

"Sungguh sial !" demikian ia berpikir "apabila ia datang mencari onar denganku, benar-benar sangat menyulitkan."

Selagi masih berpikir, Poh loya sudah berada dihadapannya. Tanpa memperdulikan orang lainnya, ia langsung menyerbu Lie Hui, "Bagus sekali! Kau budak hina ini juga berada disini, lekas ikut aku pulang!"

Ho Hay Hong segera lompat maju, pura-pura melakukan serangan sambil berkata: "Tunggu dulu!"

Poh Lay tidak tahu bahwa serangan Ho Hay Hong itu bukan sungguh-sungguh, karena jeri atas kepandaiannya, maka buru-buru lompat mundur sambil berkata:

"Tang-siang Sucu, apakah kau benar-benar hendak memusuhi aku siorang tua?"

"Poh toako perempuan ini adalah musuhku bangkai kawanku masih belum dingin: matanya juga belum meram, terpaksa aku minta maaf padamu." kata Ho Hay Hong.

"Tidak bisa, anakku satu-satunya lantaran  dia sekarang telah kabur, tidak kembali lagi. Dalam dunia yang luas ini, seorang yang belum mempunyai pengalaman seperti dia, bagaimana harus hidup? Aku Poh Lay hanya mempunyai anak satu-satunya, biarpun aku harus berbuat dosa terhadap pangcu Tong jiauw - pang, aku juga harus cari ia kembali. Tang-siang Sucu, Jikalau kau masih sudi ingat persahabatan kita yang lalu, janganlah menyulitkan aku lagi!"

Berkata sampai disitu, orang tua itu mengalirkan air mata dengan sedihnya.

Sementara itu, Lie Hui terus menggelendot dibadan Ho Hay Hong, matanya terbuka lebar memandang Poh Lay, sedang dalam hatinya merasa bingung, mengapa suhunya yang bukan orang dari golongan rendah, sudah bersahabat kental dengan Poh Lay? Ia sesalkan diri sendiri tidak memiliki kepandaian ilmu silat tinggi, hingga tidak bisa membasmi kawanan Tok- jiauw pang. Akan tetapi keadaan dan kenyataan memaksa ia harus berlaku sabar, sebab jika ia hendak menuntut balas dendam sakit hati orang tuanya ia harus mempunyai semangat baja dan keuletan serta bertekun mempelajari ilmu silatnya.

Ia pandang Poh Lay dengan sikap sebagai musuh besar, tetapi hatinya merasa tidak senang. Sekarang ia masih belum mengerti betul keadaan suhunya, apakah suhunya nanti akan menyerahkan dia kepada musuh besarnya?"

Terhadap pemuda wajah pucat yang tergila-gila kepadanya, ia cuma bisa menyatakan maafnya, Sebab meskipun besar cinta pemuda itu terhadap dirinya, tetapi ia adalah anak dari musuh besarnya.

Sementara itu, Poh Lay yang tahu perkataannya tidak berhasil menggerakkan hati Ho Hay Hong, pikirannya semakin gelisah dan sedih, hingga airmatanya mengalir semakin deras katanya dengan suara gemetar:

"Yah, dimasa muda memang aku pernah juga melakukan perbuatan yang tidak senonoh, juga pernah meninggalkan  anakku   yang   dilahirkan   dengan perkaw inan tidak sah. Tetapi itu semua disebabkan terhalang oleh orang tuaku, hingga kini suami istri harus hidup terpencar.

Sekarang, Tuhan masih berbelas kasihan terhadap diriku, aku hanya mempunyai anak lelaki  satu-satunya itu. Usiaku sudah lanjut, sudah tentu tidak bisa mempunyai anak lagi maka semua pengharapanku kutumpahkan kepada anakku seorang itu, aku hanya mengharap supaya ia bisa menjadi manusia baik-baik.

Tak kusangka kecintaanku itu malah merusakkan dirinya, hingga ia berani jatuh cinta kepada anak perempuan musuhnya. Tang-siang Sucu, kedukaanku ini tak dapat kuucapkan dengan kata-kata kepadamu, seandai kau bagaimana kau harus berbuat.,"

Ho Hay Hong diam tidak menjaw ab, pikirannya bekerja keras, bagaimana harus  menyelesaikan persoalan in i. Ia hendak menolak permint aan Poh Lay, tetapi ketika menyaksikan keadaan yang menyedihkan orang tua itu ia juga t idak tega hati.

Selagi dalam keadaan gelisah, Poh Lay telah mengeluarkan sebuah benda dan berkata dengan suara gemetar:

"Sebelum dia, aku masih ada seorang anak perempuan. Ibunya adalah seorang perempuan satu- satunya yang kucinta, sehingga saat ini. Tetapi. Oleh karena dihalangi oleh orang-tuaku, kita tidak dapat melangsungkan perkawinan. Dan tidak  lama kemudian, ia juga meninggal dunia, karena mereras, sedang anak perempuan itu juga t idak tahu dimana sekarang berada Aih., kasihan anakku yang sudah menjadi piatu itu."

Ia menatap mukanya dan menangis seperti anak kecil. Benda yang digenggam dalam kepalannya telah terjatuh tanpa terasa.

Ho Hay Hay yang menyaksikan tanpa di sengaja ketika itu lantas merasa tertarik. Karena benda yang merupai kalung rantai itu, diujungnya terdapat sebuah batu giok tulen, di bawah sinar matahari batu giok itu memancarkan sinarnya yang berkilauan. Tetapi yang menarik perhatiannya ialah benda itu mirip benar dengan batu giok yang dimiliki oleh gadis baju ungu, kekasihnya di utara.

Ia segera memunggutnya dan diperiksanya dengan seksama.

Barang serupa itu, dahulu gadis baju ungu juga pernah memperlihatkan padanya, bahkan hendak dihadiahkan kepada Hw a-chiu Hoa-tho untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi karena batu giok itu ada menyangkut riw ayat dirinya, maka ia melarang diberikan kepada tabib keparat itu.

Ia masih ingat akan benda berharga itu, bahkan ia dahulu pernah berjanji dengannya, hendak mencari tahu siapa ayahnya.

Selagi ia berdiri tertegun, telinganya mendengar suara Poh Lay: "Sewaktu aku berpisahan dengan kekasihku itu, aku memberikan padanya batu giok yang serupa bentuk dan warnanya."

Ho Hay Hong terkejut mendengar keterangan itu, ia lantas teringat kata-kata kekasihnya: "Sewaktu ibu hendak menutup mata, benda ini diserahkan kepada engkong dan minta padanya jikalau aku sudah dewasa supaya memberitahukan tentang riw ayat diriku. Tetapi, engkong sendiri juga tidak tahu siapa adanya ayahku, maka benda ini diberikan padaku, suruh aku mencari sendiri."

Diam-diam ia memandang muka Poh Lay, sementara dalam hatinya berpikir: ”Jikalau benar dia adalah ayahnya, bagaimana aku harus berbuat?" Ia tahu bahwa gadis baju ungu itu seorang gadis baik dan beradat tinggi, sedangkan ayahnya adalah seorang perkumpulan orang-orang jahat golongan Tok-jiauw- pang. Ayah dan anak ini, kalau dibandingkan tidak ubahnya bagaikan bumi dan langit.

Ia sangat cemas, apabila benar bahwa Poh Lay ini adalah ayah gadis kekasihnya, ada kemungkinan akan terjadi suatu tragedi yang mengenaskan.

Dan seandainya gadis baju ungu itu tahu bahwa ayahnya adalah orang dari golongan jahat juga ada kemungkinan ia akan bunuh diri.

Apakah Poh Lay t idak bisa undurkan diri dari golongan Tok-jiauw-pang? Kemungkinan baginya masih ada, tetapi sekalipun ia mau, barangkali juga tidak diizinkan oleh golongannya.

Selain daripada itu, Poh Lay adalah salah seorang kepercayaan golongan Tok-jiauw-pang, bagaimana Lie Hui mau melepaskan usahanya untuk menuntut balas dendam ?

Ia menarik napas dalam, tidak tahu bagaimana harus membereskan persoalan yang sangat rumit itu.

Ia jadi tidak berani menghadapi kenyataan. Persoalan itu sangat menakuti hatinya.

Mendadak timbul suatu pikiran hendak merusak batu giok itu, karena dengan dirusaknya batu giok itu, berarti lenyaplah semua barang bukti. Tetapi perbuatan itu melanggar hati nuraninya sendiri, bagaimanapun juga ia tidak dapat melakukannya. Dalam keheningan suasana, tiba-tiba terdengar suara Poh Lay: "Tang-siang Sucu, aku mohon padamu, biarlah anakku itu tinggal hidup!"

Ia kira Ho Hay Hong tergerak hatinya, maka memberi penjelasan lagi:

"Mengenai kerugianmu, aku siorang tua bersedia mengorbankan segala apa untuk menggantikannya. Asal kau buka mulut, selama aku mempunyai kemampuan, tidak akan mengecewakan kau."

"Jangan kata apa-apa lagi, bagaimanapun kau meminta aku juga tidak akan menerima!" Ujar Ho Hay Hong.

Mendengar jawaban itu, perasaan Lie Hui segera tampak girang dan ujukkan senyumannya yang menggiurkan.

"Suhu, kau sungguh baik hati! Seumur hidup aku tidak akan melupakan budimu ini!" demikian ia berkata.

"Kita sudah menjadi guru dan murid, kau tidak perlu berkata demikian."

Poh Lay tertaw a menyeringai dan berkata: ”Tang- siang Sucu. kau benar-benar seorang manusia palsu. Kau membohongi aku dengan mengatakan bahwa budak ini adalah musuh sahabatmu, sampai kau bawa lari padanya, maka aku t idak boleh t idak harus pandang kau sebagai sahabat!"

Ho Hay Hong mengerti maksudnya, dalam hatinya berpikir: ”jika sekarang kubinasakan dia, bagaimana nanti kalau diketahui oleh gadis baju ungu?”

Sementara itu Poh, Lay mendadak membentak. "Tang-Siang Sucu, kalau kau tidak memperhatikan kesulitanku lagi, aku terpaksa akan adu jiw a denganmu!"

Sebelum Ho Hay Hong menjawab Tan Song mendadak berkata:

"Tua bangka benar-benar sudah lamur matamu! Dia bukan Tang-siang Sucu!"

"Kalau begitu, siapa dia?" tanya Poh Lay.

"Siapa dia kau masih belum kenal, percuma kau menjadi orang rimba persilatan. Kuberitahukan padamu, dia adalah Bengcu golongan rimba hijau daerah utara Ho Hay Hong yang namanya sangat kesohor itu!"

Ho Hay Hong tidak keburu mencegah, maka lalu berkata dengan marah:

"Orang she Tan kau berani mengoceh tidak karuan, benar-benar sudah bosan hidup!"

Dengan cepat ia bergerak menghampiri dan menyerangnya.

Tan Song lompat mundur seraya berkata: "Ho sutee coba kau tengok kebelakang."

Ho Hay Hong berpaling, tertampak olehnya bahwa Poh Lay sudah menangkap Lie Hui, bahkan mengancam hendak menotok jalan darahnya. Sementara itu, Lie Hui coba meronta dengan wajah pucat dan mulut menganga.

Poh Lay berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Haha  kiranya   adalah  Ho  Bengcu.  Tidak kusangka

sebagai seorang pemimpin kau masih mengaku sebagai manusia rendah Tang Siang Sucu !" "Lepaskan dia, jikalau tidak, aku segera turun tangan mengambil jiwamu!" berkata Ho Hay Hong marah.

"Dia sudah terjatuh dalam tanganku, kalau aku hendak membinasakannya, itu sangat mudah sekali. Kau si orang she Ho mesti berkepandaian tinggi, juga tidak bisa berbuat apa apa. Hahaha!" kata Poh Lay sambil tertaw a terbahak-bahak.

Diluar dugaan semua orang, suara tertaw anya mendadak berhenti dan kemudian jatuh rubuh ditanah, jiw anya melayang seketika.

Karena kejadian yang mengejutkan itu, orang baru tahu bahwa seorang gadis cantik berbaju ungu telah jalan menghampiri.

Ho Hay Hong yang melihat kedatangan gadis baju ungu itu, lalu berseru:

"Hei kau."

Gadis itu tersenyum manis, katanya dengan suara duka.

"Dari jauh aku tadi sudah dengar suara bentakanmu!"

Lie Hui segera menubruk Ho Hay Hong. Gadis baju ungu yang menyaksikan itu, lalu tersenyum dan berkata:

"Aku tadi lihat orang tua itu menggunakan nona ini untuk memaksa kau maka lalu"

Ho Hay Hong mengucurkan keringat dingin, ketika ia menghampiri Poh Lay, orang tua itu ternyata sudah tidak bernyaw a. Kepalanya seperti disambar petir, hampir saja ia roboh. Walaupun ia biasa berlaku tenang, tetapi menghadapi kejadian demikian, jantungnya tak urung berdebar juga. Karena gadis itu tidak tahu bahwa orang yang dibunuhnya itu justru adalah ayahnya sendiri.

Karena ia khawatir akan terjadi apa apa atas diri gadis itu. maka ia buru-buru menyembunyikan batu Giok orang tua tadi kedalam sakunya, kemudian berkata padanya.

"Terima kasih atas bantuanmu, kedatangan mu ini sesungguhnya diluar dugaanku."

"Kau t idak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku, aku tahu diluarnya kau berlaku manis terhadapku tetapi dalam hatimu sudah ada gadis lain yang menempati, maka tidak perhatikan diriku lagi," berkata gadis berbaju ungu sambil menundukkan kepala.

"Kau jangan salah faham, aku justru mencari kau dan hendak menanyakan padamu dimana kau selama ini berada?" berkata Ho Hay Hong.

"Ho Hay Hong kau tidak perlu berlaku pura-pura terhadapku aku mungkin kau sudah mengharap supaya aku lekas mati, supaya kau bisa bersenang-senang dengan gadismu itu."

Muka Ho Hay Hong merasa panas, ia tidak bisa menjawab.

Sementara itu Lie Hui yang mendengarkan pertengkaran mulut sejak tadi semakin merasa bingung, lalu bertanya.

"Enci, Siapakah tadi gadis yang kau maksudkan tadi?" "Dia adalah kekasihnya yang lama!" jawabnya dengan

hati mendongkol. Lie Hui heran, matanya menatap wajah suhunya, kemudian berkata.

"Suhu, mengapa aku belum pernah dengar bahwa kau sudah punya kekasih?"

Kiranya gadis itu mengira bahwa gadis yang dimaksudkan oleh gadis berbaju ungu tadi adalah dirinya sendiri, maka ia mengajukan pertanyaan demikian.

Ho Hay Hong takut gadis berbaju ungu marah, sehingga mericuhkan keadaan, maka setelah menenangkan pikirannya, lalu menghampirinya dan berkata dengan suara perlahan:

"Adik, apa kau tidak tahu bagaimana suasana di tempat ini sekarang?"

"Kalau sudah tahu, lalu mau apa?" kata gadis baju ungu tidak senang.

Meskipun mulutnya mengatakan demikian, tetapi dalam hatinya sudah t idak marah lagi.

"Mungkin kau masih belum tahu bahwa orang-orang  ini semua adalah musuhku. ." kata Ho Hay Hong.

"Jangan bicara lagi. Siapa tidak tahu kau berkepandaian tinggi? Dalam pertempuran di danau Keng-liong-tie bukan saja kau sudah berhasil membinasakan jago iblis kenamaan, bahkan sudah berhasil membinasakan seekor burung garudanya Kakek perjinak garuda.

Kemudian kau bertempur lagi dengan Kakek penjinak garuda itu sehingga beberapa puluh jurus. Sekarang namamu sudah menjadi buah tutur hampir semua orang Kang-ouw, merupakan satu jago muda yang sangat luar biasa tangkasnya.

Sebelum itu aku dengar banyak kabar  yang merupakan desas desus mengenal dirimu, aku kira kau sudah mati, tak kuduga kau masih hidup bahkan berhasil membinasakan musuh besarmu. Hm, di mana nona baju putih itu sekarang ? Mengapa tidak bersamamu?"

Ho Hay Hong berdiri tertegun dengan mulut menganga, lama baru berkata sambil tertaw a getir.

"Aku tahu kesalah fahamanmu sudah terlampau mendalam, tidak dapat dijelaskan dengan sepatah dua kata. Tapi bagaimanapun juga kau anggap diriku, aku tetap Ho Hay Hong di kemudian hari kau tentu akan mengerti sendiri. Sekarang musuh tangguh berada disekitar kita benar-benar tidak mudah dihadapi.

Apa lagi musuh menggenggam kelemahanku, ia hendak memaksaku supaya tunduk kepadanya. Oleh karena itu maka adikku, bagaimanapun juga kau marah terhadapku aku masih hendak minta pertolonganmu untuk satu hal saja."

Menyaksikan sikap tenang Ho Hay Hong gadis itu juga terkejut, katanya dengan suara pelahan.

"Kau ingin aku melakukan tugas apa? lekas katakan supaya hatiku tidak cemas!"

Ho Hay Hong tersenyum puas, ia pikir gadis itu masih ingat cintanya hingga soalnya mudah diselesaikan.

ia lalu  mengeluarkan lambang emas dari dalam sakunya, diberikan kepada gadis baja ungu seraya berkata. "Emas ini adalah tanda kepercayaan Beng-cu rimba hijau daerah utara, Setelah kau berada didaerah utara setiap anggota rimba hijau itu semua akan  menurut perint ah orang yang membaw a tanda ini. Sekarang kau harus segera kembali keutara, kau perlihatkan tanda emas in i kepada saudara-saudara rimba hijau disana perint ahkan kepada mereka supaya segera membasmi perkumpulan Liong houw hwee dan menolong jiw a Dewi ular dari gunung Ho-lan-san bersama kawan-kawannya. Pesan kepada mereka, jangan sampai lalai, apabila terjadi kealpaan, nanti kalau aku ketahui akan hukuman seberat-beratnya. Lekas berangkat, tokoh-tokoh Liong- houw-hwee semua berada disini, aku percaya kekuatan mereka sudah tidak ada, hingga mudah dibasmi."

Mendengar perkataan itu. gadis baju ungu terkejut, dengan mata melirik kepada Tan Song ia berkata:

"Apakah tindakanmu ini tidak terlalu gegabah?"

"Tidak. Asal kau lakukan rencanaku ini, aku disini tidak khaw atir akan mendapatkan bahaya. Lekas berangkat, nanti setelah berhasil usaha kita, aku juga segera kembali ke utara, kita bisa bertemu lagi di rumah engkong. Kau jangan pergi kemana-mana, tidak  lama lagi aku akan kembali."

Perkataan penghabisan Ho Hay Hong melegakan hati si gadis baju ungu, hingga ia merasa girang. Kesusahan hatinya selama itu, seketika itu juga lantas lenyap bagaikan asap tertiup angin. Setelah meninggalkan pesan kepada Ho Hay Hong supaya berlaku hati-hati, ia lantas memutar tubuhnya dan berangkat ke utara.

Pada saat ia angkat kaki, Tan Song mendadak berkata sambil berkata dingin: "Kau hendak kemana?"

Kemudian tangannya bergerak sebilah pedang melesat keluar dari tangannya langsung meluncur ke arah gadis baju ungu.

Lie Hui terperanjat, belum sempat memanggil suhunya pedang panjang dipundaknya sudah dihunus oleh suhunya kemudian meluncur mengejar pedang Tan Song.

Tan Song tertaw a dingin kemudian mengempos kekuatan tenaga dalamnya hingga pedangnya melesat semakin tinggi dan terus mengejar sasarannya.

Dengan demikian pedang Ho Hay Hong t idak berhasil menjatuhkan pedang Tan Song. Dalam ilmu mengendalikan pedang ia memang masih kalah jauh dengan bekas toa suhengnya itu tetapi karena keadaan memaksa ia keluarkan juga kepandaiannya untuk menolong jiwa kekasihnya.

Sementara itu gadis baju Ungu itu masih belum tahu kalau dirinya terancam bahaya. Ia masih terus berlari tanpa menoleh.

Ho Hay Hong cemas sekali, ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya hendak mengadu jiw a dengan Tan Song.

Diluar dugaannya, selagi dalam keadaan sangat kritis, tiba-tiba terdengar suara orang berkata:

"Apakah artinya ini? Ditengah hari bolong dan keadaan aman bagaimana hendak mengadu jiwa?"

Suara orang itu sangat nyaring dan kuat sekali h ingga mengejutkan semua orang. Gadis berbaju Ungu itu mendadak lompat kekiri dan membentak:

"Kau orang tua ini benar benar tidak kenal sopan! Perlu apa merint angi perjalananku?" Belum habis kala katanya, orang tua itu sudah tertaw a lagi, kemudian lompat ke samping dan tangannya menyambut pedang Tan Song yang berkilauan.

Setelah itu, pedang Ho Hay Hong juga disambarnya hingga dua bilah pedang itu berada dalam genggaman tangannya.

"Tidak beres! Tidak beres! Bu-ing Khong khong-jie dan Ceng-ceng-jie dijaman dahulu sudah mati semua, apakah disini kembali muncul dua manusia itu?"

Sehabis berkata demikian, dua bilah pedang di tangannya dilemparkan ke tanah, hingga menancap sangat dalam. Kemudian ia berkata lagi:

"Ini tidak seimbang, pedang yang menyusul belakangan jelas masih kurang mahir hingga tidak berhasil mengejar pedang yang pertama, juga tidak berhasil menolong si cantik. Haha! Bocah ini benar-benar tidak tahu diri."

Dengan kedatangan orang tua secara tiba-tiba itu, Ho Hay Hong dan Tan Song terpaksa menghentikan pertempurannya.

Keduanya sama-sama merasa heran dan berpaling mengaw asi padanya.

Ternyata dia adalah seorang tua berjenggot dan berambut panjang mengenakan jubah warna kuning. Gadis berbaju ungu sejenak nampak terkejut, kemudian bertanya kepada Ho Hay Hong:

"Engko Hong, apakah kau tidak halangan ?"

"Aku disini tidak ada halangan suatu apa, bagaimana dengan kau?"

"Baik-baik saja, hanya dikacaukan oleh kedatangan orang tua jubah kuning ini!"

"Syukurlah, lekas pergi, kalau terlambat nanti." kata Ho Hay Hong sambil tersenyum.

Setelah gadis baju ungu melanjutkan perjalanannya, orang tua jubah kuning itu perlahan-lahan menghampiri dibelakangnya diikut i oleh seorang jago tua berpakaian wanita hijau. Ketika melihat Ho Hay Hong lalu berseru:

"Oh, kau.!"

Tan Song mundur selangkah, matanya menatap orang tua itu. Sebab Ho Hay Hong kenal dengan orang tua itu, maka ia tidak berani berlaku gegabah.

Jago tua baju hijau itu lalu berkata kepada Ho Hay Hong:

"Ho siaohiap, Sudah lama kita tidak ketemu, bagaimana keadaanmu belakangan ini?"

Ho Hay Hong memandang orang tua jubah kuning sejenak, baru berkata.

"Atas karunia Tuhan, selama ini baik-baik saja. Bagaimana denganmu Khong ciok Gin cee Lo enghiong?"

Jago tua itu memang benar Khong ciok Gin cee, yang sudah lama t idak terdengar kabar beritanya. Dengan tidak mudah aku baru berhasil mengundang Siauw sianseng ini turun gunung. Aih. Terjadinya perubahan dunia benar-benar diluar dugaanku," kata Khong ciok Gin cee.

"Apa yang kau maksudkan?" tanya Ho Hay Hong yang tidak dapat memahami perkataannya.

Sementara itu dalam hatinya sudah menduga bahwa orang tua berbaju kuning itu tentunya adalah salah satu dari lima jago luar biasa dari daerah Tionggoan ketua partay Cong-lam pay, pendekar jubah kuning.

"Sungguh tak kusangka bahwa Ho siauw hiap adalah saudara kandung Tang-siang Sucu." berkata Khong ciok Gin-cee sambil menghela napas maka kuperkenalkan, sianseng ini adalah ketua partai Cong lam-pay Pendekar jubah kuning. Oleh karena kematian Su hiantee yang di binasakan o leh saudaramu, sehingga rumah tangganya kocar-kacir. Dan akhirnya membangkitkan kemarahan pendekar jubah kuning, terpaksa turun gunung untuk menuntut balas dendam kepada saudaramu."

"Memang benar, kelakuan saudaraku itu terlalu ganas dan kejam, tidak mempunyai rasa prikemanusian, aku sendiri juga merasa tidak puas atas sepak terjang. Tetapi sekarang ia sudah meninggal dunia." kata Ho Hay Hong.

Berkata sampai disitu, ia tidak melanjutkan kata katanya, dengan tenang memandang Pendekar jubah kuning.

Orang tua itu mengerutkan keningnya dan berkata: "Oh,  orang   she   Ho   yang   Khong  ciok   Gin-cee Lo

enghiong   pernah   sebutkan   itu,  kiranya  adalah kau?

Nampaknya  memang  memiliki  bakat  menjadi satu jago kenamaan. Tetapi musuh saudaramu terlalu banyak, meskipun sudah mati juga belum cukup untuk menebus dosanya."

Mendengar kata-kata yang sangat tajam, Ho Hay Hong mau tidak mau harus waspada.

"Aku anggap orang yang sudah mati bagaimanapun besar dosanya juga turut impas. Entah bagaimana anggapan Ciangbun Tayhiap yang berkepribadian tinggi ini?" kata Ho Hay Hong.

"Nampak Ho siaohiap hendak membela saudaramu, aku kira"

Ho Hay Hong tahu bahwa ucapan selanjutnya tentunya tidak mengandung maksud baik, maka segera memotongnya:

"Ciangbun tayhiap tidak mau melepaskan maksud permusuhan terhadap saudaraku, apakah hendak membongkar kuburannya baru merasa puas?"

"Ho siaohiap benar-benar sangat lihay dan pandai bicara aku siorang she Siauw benar-benar sangat kagum. Memang betul, dendaman sebaiknya jangan ditarik panjang. Tetapi perbuatan yang dilakukan oleh saudaramu terhadap muridku serumah tangga, sebetulnya sangat keterlaluan, maka tidak boleh dihabiskan begitu saja. Peribahasa ada kata:  hutang ayah harus dibayar oleh anaknya. Saudaramu terlalu banyak musuhnya, mau tidak mau Ho siaohiap harus turut menanggungnya!" berkata Pendekar jubah kuning sambil tertaw a dingin. Khong-ciok Gin-cee lalu berkata: "Sauw tayhiap, anak muda ini sifatnya jujur, benar-benar merupakan seorang muda luar biasa yang jarang ada. Aku pikir"

Belum lagi Khong-ciok Gin-cee mengakhiri ucapannya, Sudah dipotong oleh Pendekar jubah kuning:

"Lo enghiong, Su-to Siang adalah murid ku. Bolehkah kau jangan turut campur tangan?"

Suasana menampak semakin meruncing, ke dua pihak sama-sama mengotot mempertahankan pendiriannya. Orang-orang Liong-houw yang semula mengira orang tua jubah kuning itu adalah kawan Ho Hay Hong, kini malah merasa girang.

Tan Song segera mengeluarkan perint ah. Supaya semua orang-orangnya mundur, memberi tempat bagi mereka untuk bertempur.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: "Tang-Siang Sucu dimasa hidupnya memang terlalu kejam, tetapi sekarang sudah mati, seharusnya habis semua dosanya. Tak kusangka orang tua ini masih hendak memperhitungkan hutangnya kepadaku. Sesungguhnya sangat keterlaluan! 

Hawa amarahnya tidak dapat dikendalikan lagi, maka lalu berkata sambil tertawa nyaring: "Yah, yah kalau tayhiap tetap hendak menuntut balas dendam kepada orang yang sudah mati, ini berarti mencari onar terhadapku. Aku Ho Hay Hong kalau masih tetap hendak berbicara soal keadilan, kau tentunya anggap aku seorang penakut. Begini saja, tayhiap anggaplah aku sebagai Tang siang Sucu. Semua hutangnya boleh kau perhitungkan denganku!" "Apa kau kira aku tidak berani?" kata Pendekar jubah kuning sambil tertaw a dingin dan berjalan menghampiri Ho Hay Hong.

Khong ciok Gin cee buru-buru melint ang ditengah- tengah antara keduanya itu.

"Ciangbun tayhiap harap sabar dulu. harap tayhiap suka pandang mukaku, lepaskan anak muda ini."

Perkataan itu diucapkan dengan sikap sungguh- sungguh dan seolah-olah memohon dengan meratap, hingga mengejutkan Pendekar jubah kuning.

Jikalau ia menuruti hatinya, melakukan serangan terhadap Ho Hay Hong, ia berarti tidak memandang muka Khong-ciok Gin-cee. Ia mengerti itu, sebagai sesama orang Kang-ouw, bagaimanapun juga harus menjaga muka. Maka lalu menjawab dengan berubah nadanya:

"Tang siang Sucu mungkin belum mati, lo enghiong jangan lepaskan pikiranmu untuk menuntut balas karena mendengar keterangan sepihak dari anak muda ini!"

Khong-ciok Gin-cee terkejut, dalam hatinya  berpikir: itu memang benar, Ho siaohiap meskipun seorang jujur, tetapi karena hendak membela saudaranya mungkin ia terpaksa membohong.

Kemungkinan itu memang ada, selagi hendak menanyakan kepada Ho Hay Hong, anak muda itu sudah berkata sambil tertaw a dingin.

"Ucapan Siauw tayhiap ini jelas terlalu memandang rendah diriku seorang she Ho. Jikalau kau tidak percaya, boleh ikut aku sama-sama pergi menyaksikan sendiri kuburannya. Apakah aku perlu membohongi tayhiap ?"

"Jikalau orang dalam kuburan bukan Tang siang Sucu. sebaliknya kuburan kosong, bukan kah aku tertipu olehmu?" kata Pendekar jubah kuning dingin.

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong sangat marah dengan alis berdiri ia berkata dengan suara keras:

"Maksud Siauw tayhiap apakah suruh aku membongkar kuburannya, supaya tayhiap bisa menyaksikan sendiri betul atau palsu."

Ia sudah berlaku nekad, hendak menggempur jago kenamaan itu.

Pada saat itu Tan Song mendadak berkata: "Benar, hal itu sangat perlu !"

Ucapan orang she Tan ini mengandung maksud mengadu domba, pertama-tama adalah Khong-ciok Gin- cee yang merasa sangat tidak senang, menatapnya sejenak, lalu berkata padanya:

"Kau anak muda ini jangan turut campur! Tak ada bagiannya kau dalam urusan ini. Kau hendak mengadu domba juga tidak ada gunanya !"

Muka Tan Song merah, tetapi ia tidak berani membantah. Hanya dalam hatinya saja menyumpahi orang tua ini.

Pendekar jubah kuning juga memandang sebentar kemudian berkata:

"Ucapan orang ini mengandung maksud mengadu domba, tentunya bukan orang baik-baik, aku selamanya mempunyai adat aneh, tidak mudah tertipu. Mari jalan. Khong ciok Lo enghiong, kita pergi periksa dulu, baru nanti berurusan lagi dengannya !"

Sehabis berkata demikian, lantas bergerak dan sebentar sudah menghilang.

Khong ciok Gin cee memandang Ho Hay Hong sejenak berkata padanya dengan suara perlahan:

"Kuharap keteranganmu ini benar semua sampai kita bertemu, lagi !"

Sehabis berkata demikian, lalu mengikuti jejak pendekar jubah kuning.

Perubahan itu telah mengejutkan Ho Hay Hong, ia tidak menduga bahwa pendekar jubah kuning itu sifatnya demikian aneh.

Mendadak ia ingat kejahatan Tang Song yang hendak mengadu domba, kalau pendekar jubah kuning bukan seorang bersifat aneh, tentunya akan marah-marah dan menyerang padanya. Oleh karena itu, maka ia lalu menghampirinya sangat marah.

"Toa suheng, kau kejam! ilmu mengendalikan pedangmu, nampak semakin maju, Sayang kau sudah mengkhianati suhu. Orang yang sudah berkhianat tak berhak buka suara. Ha! Ha!!"

Munculnya anak Poh Lay secara mendadak, mungkin ada suatu hal yang kebetulan. Dan untung baginya, harapan Tan Song dan orang-orangnya agaknya belum mengetahui kedatangannya.

Tetapi saat itu pikirannya menjadi bimbang tenaga pemuda itu dapat digunakan untuk membantu dirinya, tetapi apabila ia sudah mengetahui kematiannya ayahnya mungkin juga bisa berabe.

Dengan berlaku pura-pura berpikir, ia menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, berkata kepada anak Poh Lay.

"Aku tahu kau adalah anaknya Poh Lay. sekarang kekasihmu sudah berada ditangan musuh. Jikalau kau tidak lekas bertindak memberi pertolongan, kau nanti akan menyesal untuk selama-lamanya. Sekarang kau jangan bersuara dulu, mereka mengetahui kedatanganmu. Turutlah nasehatku, kau serang dua orang yang mengancam Lie Hui dan kemudian menolong jiw anya.

Pemuda itu agaknya tercengang, tetapi kemudian geser kakinya. Kali ini gerakannya gesit sekali, sebentar saja sudah berada dekat dengan rombongan orang-orang Liong-houw hwee.

Ho Hay Hong diam-diam sangat girang, karena gerakan pemuda itu membuktikan bahwa usahanya telah berhasil. Karena ia takut diketahui oleh Tan Song, maka ia lalu  mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan berkata.

"Lekas bertindak, jangan sangsi!"

Suara itu hanya di tujukan kepada pemuda itu, t idak didengar oleh lainnya.

Dengan t iba-tiba dua orang yang mengancam Lie Hui tadi telah rubuh binasa, karena leher masing-masing sudah terkena serangan belati t ipis yang amat tajam. Setelah itu, sesosok bayangan lompat keluar dari tempat sembunyinya dan berseru.

"Aaaa! Usahaku telah berhasil!"

Lie Hui dengan cepat menubruk suhunya hingga membuat Ho Hay Hong hampir jatuh.

Tan Song sangat marah, tetapi ia tak berani menyerang Ho Hay Hong, sebaliknya menyerbu anak Poh Lay.

Ho Hay Hong buru-buru mendorong Lie Hui dan menyerang Tan Song.

Tan Song mundur beberapa langkah, dan pemuda itu juga sudah berhasil memperbaiki posisinya.

Ketika Lie Hui melihat pemuda itu, dalam hati merasa tidak senang. Meskipun ia tahu pemuda itu yang menolong jiwanya, juga tetap tidak menghiraukannya.

Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan menyerang salah seorang berpakaian kuning pengawalnya Tan Song.

Orang itu ternyata cukup tangkas, meski pun di serang secara mendadak, tetapi dalam beberapa gebrakan sudah berhasil memukul mundur Lie Hui.

Pemuda anak Poh Lay ketika menyaksikan Lie Hui terpukul mundur segera loncat maju, tangannya bergerak, dua bilah belati pendek melesat dari tangannya dan tepat telah mengenakan tubuh pengaw al Tan Song sehingga orang tersebut rubuh binasa seketika itu juga.

Dengan senjata belati pendeknya yang sangat berbisa anak Poh Lay bertindak, barang siapa mendekati Lie Hui, kontan di serangnya hingga semua jeri padanya. Walaupun pemuda itu membela dirinya mati-matian, tetapi Lie Hui tetap tidak mau menyapa, karena hingga saat itu, ia masih menganggap bahwa pemuda itu adalah anak musuhnya"

Dalam pertempuran sengit, pemuda itu berhasil membinasakan beberapa orang musuhnya, tetapi ia sendiri juga tampak kewalahan dan perlahan-lahan mulai lelah.

Dalam medan pertempuran itu, jumlah musuh nampak makin sedikit, akhirnya tinggal Tan Song dan tiga pengawalnya yang masih tetap melawan mati-matian!

Tak lama kemudian Ho Hay Hong kembali sudah membinasakan tiga pengawal itu, hingga tinggal Tan Song seorang yang masih hidup.

Menyaksikan semua orangnya telah binasa secara mengenaskan, Tan Song merasa pilu.

"Ho Hay Hong ! Dewi ular dari gunung Ho lan san juga akan turut binasa bersamaku, kau jangan  bangga dengan kemenangan." demikian Tan Song berkata dengan suara nyaring.

"Toa suheng, kalau boleh aku katakan dengan terus terang aku  sudah  kirim  orang  ke  utara  untuk memerint ahkan orang-orangku didaerah utara membasmi orang-orangmu. Ancamanmu ini aku sedikitpun tidak takut. Sekarang aku mewakili suhu hendak menghukum kau! Kau boleh pilih sendiri, kau hendak turun tangan sendiri atau suruh aku yang bertindak? bagaimanapun juga kau sudah tidak bisa hidup lagi."

Tan Song terkejut, katanya: "Kau hendak membohongi aku? Hahaha Ho Hay Hong, sejak kau mangkat dewasa aku sudah biasa membohongi orang, apa kau kira dapat membohongi aku?"

"Dengan tanda kepercayaanku plat emas aku perint ahkan gadis baju ungu tadi untuk melakukan tugas seperti apa yang aku beritahukan padamu. Dalam waktu beberapa hari saja perkumpulan Liong houw-hwee yang kau banggakan akan segera lenyap dari muka bumi. Aku bohong padamu juga tak ada gunanya, biar bagaimana kau tokh sudah tidak bisa lagi menolong jiwamu sendiri."

Tan Song tahu bahwa ucapan itu bukan main-main maka kemudian menggorok lehernya sendiri.

Ia sedang pikir hendak suruh Lie Hui menggali lubang untuk mengubur jenazah Poh Loya. Siapa nyana pemuda itu sudah melihatnya lebih dulu hingga lalu menjerit kaget, matanya menatap jenazah ayahnya.

Ho Hay Hong terkejut, tapi segera mengerti apa sebabnya:

Sesaat itu ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, berdiri terpaku menantikan reaksi selanjutnya.

Pemuda itu mendadak menangis seperti anak kecil, kemudian jatuhkan diri dan menubruk jenazah ayahnya.

Setelah puas menangis, pemuda itu bangkit, matanya menatap wajah Ho Hay Hong.

"Kaukah yang membunuh mati ayahku?" demikian ia bertanya.

Ho Hay Hong tidak menjaw ab, oleh karena yang membunuh orang tua itu justru gadis berbaju ungu kekasihnya sendiri. Ia juga tidak ingin hal itu nanti akan menggagalkan segala rencananya, maka sejenak, akhirnya menjawab:

"Maaf, aku telah kesalahan tangan." Lie Hui mendadak berseru:

"Tidak ! Suhu, kau."

"Maaf, ayahmu memang mati ditanganku." demikian Ho Hay Hong dengan cepat memotong.

Pemuda itu berkata dengan suara keras.

"Apa? Apa kau kira sudah cukup dengan perkataan maaf saja? Kau ! kau telah membinasakan ayahku, aku terpaksa hendak menuntut balas terhadapmu!"

Dengan secara nekad ia benturkan kepalanya kepada tubuh Ho Hay Hong, tetapi dapat didorong oleh tangan Ho Hay Hong.

"Atas kesalahan tanganku ini, aku sendiri juga merasa sangat menyesal. Kau jangan menuruti hawa napsumu dulu, biarlah aku nanti pikirkan cara penjelasan yang sebaik-baiknya."

"Orang yang sudah mati tokh tidak bisa hidup lagi ? Sekalipun kau memberikan harta kekayaan yang berlimpah-limpah, juga tidak dapat menghapus kebencianku ! Bagaimana kau hendak menyelesaikan urusan ini?"

Ho Hay Hong bungkam, sulit baginya untuk menjawab.

Lie Hui yang menyaksikan suhunya berada dalam kesulitan, segera maju dan berkata: "Ayahmu mati ditanganku, kalau kau hendak  menuntut balas, boleh menuntut balas terhadapku, t idak ada sangkut pautnya dengan suhu!"

"Betulkah keteranganmu itu?" tanya pemuda itu terkejut.

Sesaat kemudian, perasaan kagetnya telah  diganti oleh perasaan marah, ia lupa segala kesedihannya dan berkata dengan suara keras:

"Tidak peduli siapa, membunuh orang harus mengganti jiwa. Kau harus tahu bahwa itu mutlak !"

Sehabis berkata demikian, dengan menggunakan ilmu Tay-kie-na-chiu-hoat, menyerang Lie Hui.

Sambil mengelak, Lie Hui berseru. "Ketahuilah olehmu bahwa orang-orang Tok-jiauw-pang semua adalah musuh-musuhku, Kematian ayahmu sudah pada tempatnya, kalau masih bisa dikubur dengan baik, itu masih untung baginya. Tidak kusangka kau masih ada muka begitu tebal hendak menuntut balas dendam terhadapku. Em! Aku juga hendak menggunakan kesempatan ini. untuk menuntut balas dendam kawanan- kawanan Tok-jiauw-pang yang telah membasmi habis semua orang-orang tua dan saudara-saudaraku!"

Demikian sengitnya Lie Hui, hingga ia balas  menyerang pemuda itu dengan seluruh kepandaiannya.

Pemuda itu menghadapi kesulitan lebih hebat lagi, karena gadis itu merupakan gadis satu-satunya yang ia cintai sepenuh hati, tetapi kini harus d ihadapinya sebagai musuh. Maka sementara bertempur, dalam otaknya sudah mengambil keputusan, apabila sudah berhasil menuntut balas dendam sakit hati kematian ayahnya, ia lantas hendak bunuh diri, untuk mengakhiri riwayat hidupnya.

Kepandaian ilmu silatnya masih diatas Lie Hui, tetapi  Lie Hui, dengan pedang panjang di tangan, maka keduanya jadi berimbang.

Ho Hay Hong yang menyaksikan pertempuran sengit itu, tidak tahu bagaimana harus bertindak. Mendadak dalam otaknya terlint as suatu pikiran. Sebaiknya aku berkata terus terang bahwa Poh Lay sebetulnya mati di tangan kekasih sendiri.

Sekarang ia berada jauh di utara, sudah tentu tidak mudah dicari. Lagipula ia barangkali juga tidak berani menghadapi kekasihku dengan keterlaluan, sebab bukanlah sengaja membinasakan ayahnya.

-ooo0dw0ooo-