Rahasia Kampung Setan Jilid 29

 
Jilid 29

ORANG  itu adalah salah seorang dari anggota golongan rimba hijau  daerah utara.  Berhadapan Bengcunya, sekalipun korban jiw a ia tidak merasa sayang. Maka ia lalu berkata sambil tertaw a dingin:

"Kalau kau mengatakan demikian, aku juga perlu memperingatkanmu."

Ia berhenti sejenak, pikirnya hendak mengatakan hampir setengah umurku aku seorang She Siauw sudah kenyang berkelana didunia Kang-ouw, tapi selama itu tidak mendapatkan nama apa-apa. Kalau aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengangkat derajatku, niscaya seumur hidupku sudah tidak akan dipandang orang lagi."

Dalam keadaan seperti ini ia tahu, jikalau ia mau berlaku nekad, menyerbu lawannya tanpa memikir apa resikonya, jauh lebih dihargai dari pada sepak terjangnya dimasa-masa yang lampau. Kemungkinan besar ia tidak dapat pertahankan nyaw anya lebih lama, tetapi namanya akan tetap tinggal harum, hingga matipun tidak menyesal.

Itu adalah pikirannya seorang kecil. Karena lama namanya hampir dilupakan orang, hingga timbul pikiran yang bukan-bukan.

"Dengan terus terang, masih belum cukup derajatmu bertempur dengan Bengcuku!" berkata orang ini sambil tertaw a terbahak-bahak.

Ucapan itu menggemparkan banyak orang. Ho Hay Hong juga lantas terbangun semangatnya.

Ia sungguh tidak pernah menyangka bahwa seorang anggota golongan rimba hijau biasa saja juga berani mengeluarkan perkataan demikian! Tentu saja jago pedang pertengahan umur itu lantas marah. Dengan muka merah padam dan  mata beringas ia menatap wajah orang itu, seolah-olah hendak ditelannya bulat-bulat.

Ho Hay Hong sudah waspada. Dalam suasana gawat seperti itu, setiap saat bisa saja timbul pertumpahan darah.

Disamping harus melindungi jiw a saudara-saudaranya ia juga harus menjaga muka jago pedang itu, supaya jangan sampai terlalu kehilangan muka.

Ia hendak memberi teguran, tak ia duga bahwa anak buahnya itu sudah maju menghampiri sijago pedang dan berkata dengan suara keras:

"Apakah kau saja yang boleh membuka mulut? Tidak boleh orang lain mengeluarkan perkataannya?!"

Orang itu berhenti kira-kira dua tombak di hadapan sijago pedang, katanya dengan membusungkan dada.

"Kalau kau tidak senang, boleh membuat perhitungan dengan aku! Aku seorang she Siau meskipun hanya merupakan seorang kecil yang tidak mempunyai nama didaerah utara, tetap juga bukan orang yang boleh kau hina sesuka mu. Tidak percaya boleh coba!"

Mendengar kata-kata gagah berani dari anak buahnya, Ho Hay Hong membatalkan maksudnya hendak menegur.

Ia tahu pertempuran tak dapat dielakkan lagi. Maka kini ia lebih memperhatikan sikap lawannya.

Dengan demikian, ia kini telah mengangkat tinggi prestise anak buahnya dihadap orang banyak. Semua penonton lalu diam, tidak berani membuka suara. Mereka sedang menantikan suatu pertempuran sangat dahsyat yang jarang tertampak dalam sejarah rimba persilatan.

Jago pedang pertengahan umur  dalam marahnya malah tertaw a terbahak-bahak.

"Bagus, bagus ! Kau benar-benar seorang gagah berani, aku benar-benar sangat kagum." demikian jago pedang itu berkata.

Baru saja menutup mulut tubuhnya yang kekar sudah lompat melesat setinggi tiga tombak. Ditengah udara ia pentang dua lengannya, dari atas menyerang lawannya.

Orang she Siauw itu t idak seberapa tinggi kepandaian ilmu silatnya. Tetapi ia sudah bertekat bulat hendak membela pemimpinnya dengan jalan apapun. Maka ketika diserang oleh lawannya, ia sedikitpun tidak gugup. Sambil mengeluarkan suara bentakan keras, ia menyambut serangan lawannya.

Dari gerakannya, Ho Hay Hong sudah dapat mengetahui sampai dimana tinggi kepandaian anak buahnya. Maka ia tidak tinggal diam lagi. dengan cepat digesernya kakinya, cepat bagaikan  kilat  ia  sudah merint angi majunya jago pedang itu.

Kemudian dengan menggunakan serangan tenaga dalam. Ia berhasil memaksa lawannya turun kebawah.

"Bagus ! Kalau tidak dihajar anaknya, orang tuanya tidak akan mau keluar. Sekarang aku hendak menguji kepandaianmu!" kata jago pedang pertengahan umur. Dengan kecepatan bagaikan kilat ia lantas menyerang Ho Hay Hong, dengan tiga jari tangan ia menotok tiga bagian jalan darah dibadan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong geser kakinya tiga langkah! berkata dengan suara keras:

"Tunggu dulu ! Dengar dulu keteranganku, nanti baru berkelahi!"

Para penonton kembali gempar. Dianggapnya Ho Hay Hong jeri menghadapi lawannya.

Ho Hay Hong segera mengerti akan sikap orang banyak, terpaksa membatalkan maksudnya semula, dan menyambut serangan lawannya.

Begitu dua kekuatan saling beradu, jago pedang itu lantas terdorong mundur tiga langkah, mukanya merah membara, seperti kepiting direbus.

Cepat ia menghunus pedangnya, kemudian menyerang dengan gencar.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan Ing-siu: "Mundur!"

Jago pedang itu terkejut, buru-buru menarik pedangnya dan berkata dengan perasaan bingung:

"Suhu kau.!"

"Mundur! kau bukan tandingannya!"

Jago pedang itu bersangsi sejenak, tetapi akhirnya tidak berani menentang perintah gurunya dan terus mundur ke samping.

Ing-Siu bertindak keluar dengan langkah lebar. Sesaat kemudian bunyi gembreng nyaring sekali, sehingga suaranya lama menggema diangkasa. Ho Hay Hong memerint ahkan mundur para saudaranya, katanya dengan suara tegas:

"Ing-siu ! Sekarang mari  kita bereskan semua permusuhan diantara kita berdua. Aku hanya hendak tanya: Kita berkelahi dengan tangan kosong atau dengan senjata tajam?"

"Kau muda dan aku tua, tingkatan kita berbeda jauh. Biarlah kau yang memilih dulu!" kata Ing-siu sambil tertaw a terbahak-bahak.

Ho Hay Hong mengerti sedang berhadapan dengan lawan sangat tangguh, maka harus berlaku setenang- tenangnya.

"Aku usulkan menggunakan pedang saja. Bagaimana pikiranmu?" demikian ia berkata.

"Boleh juga! Aku tahu kau memiliki pedang garuda sakti. Kau hendak menggunakan pedang itu untuk menyilaukan mata kawan-kawan rimba persilatan?" kata Ing-siu.

"Pedang Kim-hiap Sim kiam yang baru kau dapatkan adalah Sebilah pedang peninggalan jaman purbakala, kedahsyatan pedang itu sesungguhnya tidak dibawah pedang garuda Sakti. Mengapa kau hanya mengatakan pedangku saja? Haha!"

Ia menghunus pedangnya, pedang itu akan menentukan nasibnya dikemudian hari. maka ia mengharap dengan pedangnya itu dapat membuka lembaran sejarah hidup baru yang gilang-gemilang dalam rimba persilatan. Dan seandainya ia yang kalah dan mati dimedan pertempuran, tetapi kematian secara lelaki itu akan meninggalkan nama harum untuk selama-lamanya. Kematian secara lelaki, secara jantan itu  tidak terhitung memalukan. Ia menggumam sendiri sejenak, kemudian pandangan matanya di tujukan keatas.

Pada saat itu, ia mengharapkan satu atau dua orang yang terdekat dengannya dari orang yang berada disitu, supaya dapat menyaksikan bagaimana ia melawan musuhnya dengan gagah dan gigih.

Ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya. Setelah memberi peringatan lebih dulu kepada lawannya, lalu melakukan serangannya yang pertama dengan hebat.

Pedang pusaka Ing-siu juga sudah keluar dari sarungnya dengan cepat dapat menutup serangan Ho Hay Hong.

Ketika dua pedang saling beradu, seketika telah menimbulkan suara amat nyaring, suara itu lama menggema diudara.

Beradunya dua pedang itu sudah cukup mengejutkan para penonton, beberapa orang yang tidak memiliki dasar kuat tenaga dalamnya, telah digetarkan oleh suara pedang. Sehingga buru-buru menutup telinga masing- masing.

Badan Ho Hay Hong sedikit tergoncang, tetapi dengan cepat ia dapat pertahankan posisinya. Dengan mau menatap wajah lawannya, kembali ia menyerang.

Secepat kilat pula Ing-siu dapat menyambut serangannya, hingga untuk kedua kalinya dua pedang pusaka itu saling beradu lagi. Tetapi heran, kali in i tidak menimbulkan suara nyaring seperti yang pertama. Hal itu menimbulkan keheranan bagi semua penonton sebab hal itu merupakan suatu kejadian yang sangat janggal. Orang itu t idak mengerti bahwa dua orang kuat kelas satu itu sudah mengeluarkan serangan mereka yang paling dahsyat, barang siapa sedikit lengah saja, segera terbinasa ditangan lawannya.

Ketika adu pedang untuk ketiga  kalinya, kembali menimbulkan suara nyaring. Serangan Ho Hay Hong berubah menjadi gerak tipu yang paling ampuh, tetapi terdorong mundur tiga tombak oleh kekuatan Ing-siu.

Wajah semua penonton berubah seketika. Banyak orang anggap Ho Hay Hong pasti kalah, mereka menduga tidak lama lagi Ho Hay Hong pasti mati dibawah pedang Ing-sui.

Ho Hay Hong mengeluarkan suara tertahan mundur dua langkah lagi.

Wajahnya sudah pucat pasi. Selama t iga kali mengadu tenaga tadi, dua kali ia sudah terasa terpukul hebat dalam tubuhnya sebaliknya dengan Ing-siu yang memiliki kekuatan tenaga dalam hebat sekali, tampak biasa saja. Ho Hay Hong sebetulnya sudah terluka tetapi tidak diketahui oleh para penonton.

Ia tahu benar bahwa kekuatan tenaga dalamnya sendiri masih selisih jauh sekali dengan lawannya, maka kalau selalu mengadu kekuatan dengan keras lawan keras begitu, sesungguhnya sangat membahayakan dirinya.

Diam-diam ia merubah taktik, kini ia tidak lagi berani mengadu kekuatan tenaga. Pada saat itu, serangan keempat Ing-siu telah dilancarkan bagaikan angin meniup daun kering, cepat mengancam wajah Ho Hay Hong. Ho Hay Hong  putar kaki kebelakangnya bagaikan gasing memutar, sedang pedangnya disodorkan, dengan menggunakan gerak t ipu dalam ilmu Silat Kun-hiap Sam-kay, menutup serangan lawannya yang sangat kuat.

Ing-siu mengetahui, ia berkata sambil tertaw a dingin: "Kau kira dapat mewariskan kepandaian Kakek

Penjinak garuda, haha !"

Ho Hay Hong diam saja, tidak menghiraukan perkataan lawannya. Dengan gerak tipu menutup diri dalam lawan ia menutup rapat sekujur badannya, kemudian dengan satu gerak t ipu diluar langit ada langit menyerang bagian baw ah lawannya.

Para penonton sangat mengkhaw atirkan keselamatan Ho Hay Hong. Dalam pandangan mereka asal jago tua itu melancarkan serangannya lagi. Ho Hay Hong pasti akan mengalami bahaya.

Beruntung Ho Hay Hong tidak mengerti maksud lawannya. Andai ia terus naik darah dan tidak dapat mengendalikan perasaannya, seluruh keadaannya pasti dapat dikuasai oleh Ing-siu.

Sebetulnya Ing siu dapat membinasakan Ho Hay Hong dalam waktu sepuluh jurus. Tetapi ia tidak mau melepaskan kesempatan untuk menggemparkan dunia Kang-ouw dengan cara sangat mudah.

Ia tahu bahwa munculnya ia kembali dikalangan Kang- ouw kali in i, biar bagaimanapun terkenal namanya tentu masih ada yang asing kepandaiannya sekarang. Ia bermaksud hendak menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan Ho Hay Hong, disamping harapannya yang besar tindakannya itu nanti akan  menggemparkan seluruh dunia Kang ouw.

Ho Hay Hong tetap membisu, sebab saat itu ia masih berada dalam posisi yang buruk.

Pedang Ing siu mendadak mengeluarkan suara sangat aneh, sehingga menarik perhatian semua orang. Entah dengan cara bagaimana jago tua itu sudah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam senjatanya, sehingga pedang yang sudah hebat itu bertambah hebat lagi.

Ho Hay Hong juga segera dapat merasakan pengaruhnya. Karena begitu pedangnya menyentuh pedang lawan, terasanya seperti tersedot oleh semacam kekuatan tenaga sangat gaib.

Semula ia tidak merasa terlalu aneh, tetapi sepuluh jurus kemudian pelahan-lahan kekuatan tenaga murninya terasa makin banyak berkurang, sehingga diam-diam merasa terkejut.

Apabila kejadian seperti itu berlangsung terus menerus, sekalipun lawannya tidak bergerak,  ia sendirilah yang akan kehabisan tenaga.

Diam-diam ia merasa sedih dan mendongkol,  sebab kini ternyatalah bahwa kekuatan tenaganya masih jauh dibawah Ing siu. Tadinya belum pernah terpikirkan olehnya, apakah kekuatan tenaganya sendiri bakal dapat menandingi kekuatan lawannya atau tidak.

Ia hanya menuruti hawa nafsunya sendiri, tanpa memikirkan itu semua. Dan kini, kalau dipikir masak- masak, perbuatannya itu sesungguhnya sangat bodoh sekali.

Tanpa disadari matanya melirik kearah para penonton disekitarnya, yang saat itu sedang memandang dirinya dengan penuh rasa kasihan.

Ia lantas naik darah. Selama hidupnya, yang paling ditakuti olehnya justru diperlakukan demikian oleh orang, sebab pandangan itu menimbulkan rasa rendah diri lagi seperti dulu.

Perasaan rendah diri itu sudah terlalu lama mencekam hatinya, dan perasaan itu pulalah yang membuatnya menjauhkan segala pergaulan dan kini, setelah dengan secara susah payah mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, barulah rasa rendah diri itu lenyap bagaimana ia dapat membiarkan rasa itu timbul lagi dalam lubuk hatinya?

Terdorong oleh tekadnya, ia kini menggunakan ilmu silatnya garuda sakti.

Jurus pertama garuda sakti, terjun kedalam laut telah digunakan, Ing siu yang menyaksikan itu, sejenak terheran-heran, ia segera berdiri tegak, tidak berani bergerak.

Wajah dan sikap Ing siu menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap tipu silat itu, peristiw a menyedihkan dimasa yang lalu, timbul kembali dalam ingatannya, sebab t ipu silat garuda sakti itu, pernah dari tangan orang lain, merenggut dua jiw a saudaranya dan membuatnya mengasingkan diri  selama enam puluh tahun tidak berani keluar. Kulit diwajahnya nampak berkerenyit, mendadak mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya yang kokoh kekar bersama pedangnya melesat menyerbu kedalam lingkaran gerakan Ho Hay Hong dengan kecepatan bagaikan kilat.

Semua penonton dikejutkan oleh perbuatan jago tua itu, semua t idak mengerti apa sebabnya Ing-siu demikian kalap setelah menyaksikan lawannya melesat ke tengah udara.

Secepat kilat pula, dua lawan yang sedang mengadu pedang itu sudah memencar kembali. Diantara berkelebatnya sinar pedang berkilauan, dua lawan itu masing-masing lompat mundur satu tombak.

Jenggot Ing-siu yang panjang nampak tergoyang- goyang, sepasang matanya terbuka lebar. Sedangkan wajah Ho Hay Hong nampak semakin pucat badannya basah kuyup, napasnya tersengal-sengal, pedang ditangannya mengeluarkan bunyi suara mengaung, ujungnya menancap ditanah.

Siapa kalah? Siapa menang? Ini merupakan suatu pertanyaan besar, yang tidak dapat dijawab oleh semua yang menonton.

Dalam keadaan demikian, semua penonton menganggap bahwa kesudahan dari pertandingan tadi adalah seri.

Ing-siu kini tidak berani unjuk senyuman lagi, juga tidak berani berlaku jumawa seperti tadi. Dengan wajah murung ia bertanya:

"Apakah itu Kakek penjinak garuda yang mengajarkan kau?" "Tidak perlu kau tahu! Nanti setelah ada yang menang dan yang kalah, sudah tentu kau akan tahu sendiri!" Ho Hay Hong bicara dengan napas memburu.

"Kau jangan anggap bahwa aku jeri terhadap ilmu silat ini. Hm, ilmu silat ini sudah basi!" kata Ing-siu sambil tertaw a menyengir, tangannya lalu bergerak. Herannya serangannya itu tidak mengeluarkan suara atau hembusan angin, tetapi Ho Hay Hong mendadak mengeluarkan seruan tertahan dan mundur beberapa langkah.

Ia coba mempertahankan kedudukannya kembali lompat melesat setinggi lima tombak dan menyerang dengan kakinya. Setelah itu ia melayang dan undurkan diri.

Ing-siu masih tetap berdiri tanpa bergerak, segera menegurnya dengan nada suara dingin:

"Bocah, apa kau sudah menyerah?"

Entah apa sebabnya wajah Ho Hay Hong mendadak berubah pucat. Pandangan matanya ditujukan kesamping, tetapi kemudian mendadak ditarik kembali. Dengan pikiran tidak tenang ia menjawab:

"Kalah menang masih belum ada ketetapan, mengapa aku harus menyerah?"

Perubahan sikap Ho Hay Hong tadi tiada yang menyaksikan, begitupun Ing-siu.

Beberapa puluh orang yang berada ditempat itu, setiap orang berdiri tegak dengan mata membelalak tanpa ada seorangpun yang berani bergerak, semua berdiri bagaikan patung, seolah-olah melihat kedatangan iblis.

Ditengah-tengah orang banyak itu, nampak berdiri seorang tua berambut putih, bertubuh tinggi besar namun agak bongkok, dengan tenang menyaksikan jalannya pertempuran.

Orang tua itu memakai topi lebar yang pinggirnya hampir menutupi alis mata dan seluruh mukanya yang sudah keriputan. Karena dua bahunya masing-masing dihinggapi seekor burung garuda raksasa, hingga munculnya orang tua itu segera menarik perhatian orang banyak. semua mata ditujukan kepadanya dengan penuh keheranan dan ketakutan.

Kedatangan orang tua aneh ditengah-tengah ramainya penonton secara mendadak itu hanya diketahui oleh orang ditempat dimana ia berdiri, yang lainnya masih ramai dengan suara masing-masing.

Disisi orang tua itu berdiri seorang muda yang usianya belum cukup  tiga-puluh  tahun  dengan  pakaiannya berw arna kelabu, Disisi pemuda berbaju kelabu ini berdiri seorang gadis jelita berpakaian warna putih.

Mata tiga orang yang baru datang itu juga ditujukan kedalam medan pertempuran dengan sikap berlainan.

Orang tua itu begitu serius, memperhatikan jalannya pertempuran, kulit mukanya yan sudah keriput nampak merah, mulutnya menggumam: "Bocah ini sungguh berani mati, sudah mencampuri kepandaian ilmu silat garuda Sakti ku. Hm! ini pasti perbuatan Chiu Khim, t idak salah lagi!" Ia berpaling memandang sigadis baju putih sejenak, sinar matanya menunjukkan betapa sangat marahnya.

Gadis itu seolah-olah tidak memperhatikan sikap si orang tua, ia menundukan kepala, dari mukanya menunjukan kepedihan hatinya.

Sementara si pemuda baju kelabu, dengan tenang sekali dia menyaksikan jalannya pertempuran, matanya lebih banyak ditujukan kepada gerak-gerik Ho Hay Hong, agaknya sangat tertarik perhatiannya oleh gerak tipu setiap serangan dari ilmu garuda Sakti yang diperlihatkan Ho Hay Hong. Bibirnya memperlihatkan senyum dingin, agaknya kenal baik dengan ilmu silat Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong sungguh t idak menyangka bahwa Kakek penjinak garuda, Tiat Chiu Khim dan pemuda baju kelabu itu bisa mendadak datang kemedan pertempuran dengan berbareng,

Pikirannya menjadi kacau memikirkan soal itu, tetapi tidak dapat menemukan sebab-sebabnya.

Hanya sepintas selalu ia memandang kearah mereka bertiga, seperti t idak berani memandang lama-lama.

Tiat Chiu Khim telah memberi cinta kasih yang hangat padanya, kepada Kakek penjinak garuda ia menaruh dendam sakit hati, sedangkan pemuda berbaju kelabu itu dengan mendadak tadi memberikan bantuan tenaga padanya!

Tiga orang itu seperti satu badan, tetapi berlainan sikap dan kelakuannya, sehingga sulit baginya untuk menghadapi persoalan mereka. Ho Hay Hong masih berada ditengah udara. Ketika hendak melancarkan serangannya dengan ilmu garuda sakti, tiba-tiba matanya dapat melihat bayangan kekasihnya. Ia sangat girang, dianggapnya Tiat Chim Khim juga datang untuk menyaksikan jalannya pertempuran.

Tetapi, kemudian ia telah dapatkan dirinya Kakek penjinak garuda juga disitu. Semula sih dianggap matanya yang salah, sebab ia sedikitpun tidak menduga bahwa musuh besarnya bisa datang menyaksikan pertempuran ini. tetapi kemudian ternyata betul. Penemuan itu membuat pikirannya kalut , ia berusaha untuk melupakan diri kekasihnya.

Tatkala ia melancarkan serangannya kepada Ing-siu, sepintas lalu matanya melirik si-gadis. Ketika dua mata saling beradu, bibir gadis itu seperti bergerak, hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Oleh karena pikirannya bercabang,  dalam pertempuran itu hampir saja ia binasa diujung pedang lawannya. Untung ia buru-buru membatalkan serangannya dan merubah gerak tipunya, untuk melindungi diri lebih dulu. Sedangkan di fihaknya Ing-Siu juga belum ada maksud hendak mengambil jiw anya, rupanya hendak mengalahkan Ho Hay Hong dengan suatu cara yang menggemparkan dunia rimba persilatan.

Namun demikian, sudah cukup membuat Ho Hay Hong mandi keringat dingin.

Ia tidak berani memandang lagi kearah gadis, seluruh perhatiannya dipusatkan kepada serangan lawannya. Tetapi ia juga harus mengakui bahwa dengan munculnya gadis kekasihnya, semangat dan tenaganya seolah-olah bertambah, ia masih dapat pertahankan kedudukannya, walaupun dengan sisa tenaga yang hampir habis.

Ia mengerti perasaannya sendiri, ia juga tahu bahwa usahanya untuk mempertahankan kedudukannya itu semata-mata karena kehadiran kekasihnya, karena ia tidak suka rubuh dihadapan kekasihnya.

Ia melupakan bahaya yang mengunci jiw anya, lupa sudah kepada munculnya si Kakek penjinak garuda secara tiba-tiba.

Dengan mendadak Ing-siu melemparkan pedangnya dan berkata Sambil tertaw a terbahak-bahak:

"Bocah she Ho! Aku sudah memberikan banyak kesempatan bagimu, sekarang t idak lagi! Dalam sepuluh jurus aku akan mengambil batok kepalamu. Awas! Kau jangan gegabah. Ha! Ha! Hal"

Suara tertaw a orang tua itu menggema diudara sekian lama, hingga mengejutkan semua orang yang mendengarkannya.

Dengan ucapan Ing-Siu itu, juga menyadarkan para penonton, apa sebabnya pertandingan tadi berlangsung sekian lama tanpa ada keputusannya.

Ternyata Ing-siu sengaja mengulur-ulur tempo dengan maksud hendak pertontonkan kepandaiannya,  maka tidak mau lekas-lekas mengakhiri pertandingan.

Ho Hay Hong juga mengempos semangatnya. Tidaklah mudah mendapatkan kedudukannya seperti sekarang. Sekalipun mati, ia lebih suka mati secara jantan, dan kalau boleh musuhnya harus membayar mahal.

Ia mengeluarkan siu lan panjang, asap putih  keluar dari mulutnya, ternyata ia sudah  menggunakan kekuatan, tenaga murni Cie-yang Cin-khie.

Ia juga melemparkan pedangnya, hingga menancap diatas sebuah batu besar.

Dari fihak suporternya sementara itu terdengar suara riuh yang memberi semangat padanya.

Ing-siu yang menyaksikan Ho Hay Hong hendak melawan dirinya dengan tangan kosong lalu berkata sambil tertaw a besar.

"Bocah she Ho. Dalam rimba persilatan dewasa ini, orang yang berani melawan aku dengan tangan kosong, jumlahnya b isa dihitung dengan jari tangan. Oleh karena itu, meskipun kau nanti mati, tetapi kematianmu ini secara terhormat, sungguh patut dibanggakan!"

Ho Hay Hong yang mendengar ucapan itu, mendadak tertaw a terbahak-bahak.

Ing-siu sudah menghampiri dirinya dengan langkah lebar, tangannya digerakan, telapak tangannya yang lebar, nampak merah membara bagaikan besi habis dibakar.

Ho Hay Hong tahu bahwa lawannya sudah mengerahkan kekuatan tenaganya dikedua telapakan tangannya, tetapi ia tidak takut. Bahkan dengan berani ia maju menyongsong, hingga dua lawan itu jadi berdiri berhadap-hadapan semakin dekat. Suasana semakin gaw at, semua orang yang menyaksikan pertandingan itu pada tahan napas. . .

Sebelum Ing-siu melancarkan serangannya yang paling dahsyat, tiba-tiba terdengar suara wanita.

"Hay Hong-ko. kau."

Suara itu menarik perhatian semua orang hingga semua mata lantas ditujukan ke arah Tiat Chiu Khim. Mungkin hanya dialah penonton wanita satu-satunya dalam pertempuran adu jiw a itu.

Ho Hay Hong segera mengenali suaranya Tiat Chiu Khim. Dalam terkejutnya, pandangan matanya segera ditujukan kearah wanita tersebut. Entah sejak kapan, si Kakek penjinak garuda sudah tidak ada di sampingnya, hanya tinggal  lagi  sipemuda  baju  kelabu  yang mengaw ani dirinya.

Tiat Chiu Khim seolah-olah hendak memberi keterangan padanya, ia hendak menyapa Ho Hay Hong, tetapi dengan cepat tangannya ditarik oleh pemuda baju kelabu.

Ho Hay Hong tidak ada kesempatan untuk menghadapi kekasihnya, ia mempersilahkan lawannya menyerang lebih dulu.

"Kau dulu !" demikian Ing-siu menjawab sambil  tertaw a mengejek.

Ho Hay Hong sangat mendongkol. Dengan tiba-tiba melancarkan serangan.

Ing-siu menyambuti serangan Ho Hay Hong dengan satu tangan tetapi serangan itu ternyata hebat sekali. Ketika dua tenaga saling beradu, jenggot Ing-siu nampak berkibar-kiba r, matanya terbuka lebar. Sambil mendongakkan kepala, ia tertaw a terbahak-bahak.

Sedangkan difihaknya Ho Hay Hong tampak sebaliknya, pemuda itu mundur terhuyung hingga enam langkah, darahnya bergolak, hampir jatuh pingsan.

Suporter Ho Hay Hong dengan semangat berkobar- kobar memberi dorongan padanya "Bengcu! Hayo lawan terus, lawan terus. maju terus. ganyang!!!"

Tetapi seruan suporter Ho Hay Hong itu segera disambut oleh suara tertaw aan riuh dari para penonton lainnya.

Orang she Siauw dari golongan rimba hijau daerah utara segera lompat dan berkata dengan suara nyaring:

"Mengapa kalian tertaw a ? Siapa yang merasa tidak senang, boleh berhadapan denganku!"

Suara tertaw a itu lantas sirap, ternyata tiada satu orangpun yang berani keluar menyambut tantangan orang she Siauw itu.

Ho Hay Hong merasa sangat terharu menyaksikan perbuatan orang she Siauw itu. Sebagai seorang Bengcu, sudah tentu harus pertahankan prestisenya. Oleh karena itu maka ia bertekad hendak melawan sehingga tetes darah yang penghabisan.

Dengan mendadak ia lompat melesat dan melancarkan serangan tiba-tiba.

Ing-siu tampaknya tidak menghiraukan serangan itu, dengan membalikkan satu tangannya yang merah membara menyambut serangan Ho Hay Hong, hingga jago muda itu melayang turun lagi ketanah.

Dua kali gagal, Ho Hay Hong mulai agak putus asa.

Sementara itu, Ing-siu sudah maju menghampiri lagi sambil melancarkan serangannya.

Ho Hay Hong menggunakan kekuatan tenaga murninya "Cie-yang cin-khie" untuk menyambut serangan lawannya.

Dalam mengadu kekuatan kali in i, Ing-siu terdorong mundur setengah langkah, sedangkan Ho Hay Hong terpental.

Waktu itu, napasnya memburu, kepalan puyeng, tubuhnya seperti dibakar, tetapi keringat dingin mengucur keluar.

Ho Hay Hong benar-benar sudah sangat payah, hampir tidak sanggup mempertahankan diri. Tetapi dengan mendadak suatu kekuatan tenaga luar biasa menyusup masuk dari belakang tubuhnya.

Dan tak lama kemudian kekuatan tenaganya sudah pulih kembali seperti sedia kala, bahkan dirasakan semakin bertambah.

Ia terkejut dan terheran-heran, buru-buru berpaling tetapi t idak tertampak ada orang di belakang dirinya.

Sebagai seorang yang paham ilmu silat, ia mengerti bahwa ada orang berkepandaian tinggi dengan secara diam-diam menyalurkan kekuatan tenaga dalam dari jarak jauh. Ia heran karena orang yang mampu berbuat demikian, seharusnya sudah pasti memiliki ilmu yang telah mencapai taraf tertinggi. Ia juga merasa heran, mengapa orang berilmu  itu tidak unjukkan diri. Sebagai seorang yang sudah memiliki ilmu demikian tinggi, tidak mungkin takut terhadap Ing- siu. Siapakah dia sebenarnya ? Apa sebabnya hendak membantu Ho Hay Hong ?

Matanya menyapu orang-orang diantara penonton, tetapi tetap tidak menemukan orang yang membantu dirinya secara diam-diam itu.

Ia mengerti ada orang diam-diam membantu dirinya, tetapi sebagai seorang keras kepala dan tinggi hati, ia tidak suka menerima bantuan dengan cuma-cuma, maka ia lalu beralih tempat, menghadap ke barat.

Perbuatan itu membikin bingung semua penonton, mereka t idak mengerti apa sebabnya ia memutar badan mengubah posisinya.

Baru saja ia berdiri, Ing-siu telah berkata sambil  tertaw a.

"Bocah she Ho ! Kau sanggup menyambuti seranganku, benar-benar merupakan satu bakat yang sangat baik untuk dididik menjadi seorang kuat. Sekarang marilah sambuti lagi seranganku!"

Ho Hay Hong mengangkat tangannya menyambuti serangan Ing-siu. Kali ini kembali ia lantas rubuh.

Ing-siu sudah mengetahui dari sikap Ho Hay Hong, bahwa serangan pertama tidak melukai diri anak muda itu, maka serangannya kali in i telah ditambah dua bagian kekuatan tenaganya. Tetapi Ho Hay Hong yang rubuh kebelakang, tiba-tiba tertahan oleh suatu kekuatan gaib, hingga buru-buru berdiri lagi.

Ini semakin membuat heran si orang tua, tapi dengan sendirinya juga merasa tidak senang. Karena dibantu secara demikian, dalam hatinya Ho Hay Hong menganggap bahwa orang itu kasihan terhadap dirinya.

Dengan bangkitnya Ho Hay Hong kembali setelah mendapat pukulan keras tadi, pandangan para penonton terhadap dirinya mulai berubah. Mereka yang semula mengira Ho Hay Hong pasti akan kalah, ternyata sanggup melawan dengan gigih.

Ing-siu sendiripun tidak kalah herannya, jelas Ho Hay Hong sudah rubuh tadi, tapi mengapa bangkit kembali ? Kalau tidak memiliki kekuatan tenaga dalam luar biasa, tidak mungkin dia bisa berbuat demikian.

ia mulai merasa curiga, anak muda itu mungkin benar- benar memiliki ilmu yang sengaja disembunyikan. Sekarang ia mulai hati-hati mencari kesempatan sebaik- baiknya untuk memberi pukulan terakhir.

Pikiran itu telah membuat lenyap kesombongannya. Dalam hidupnya ia belum pernah merasa jeri terhadap siapapun juga, tetapi kini pikirannya mulai goncang.

ia hanya tahu bahwa lawannya itu masih muda belia yang dalam waktu sangat singkat sudah berhasil merebut kedudukan sebagai pemimpin golongan rimba hijau daerah utara.

Ia tidak tahu benar asal-usulnya anak muda itu tetapi dari apa yang dihadapinya ia merasa bahwa lawannya itu memang banyak menyimpan rahasia. Ia menghentikan serangannya. Meskipun wajahnya masih tampak senyuman, namun sudah tidak berani memandang ringan lawannya lagi dan berdiri tiga tombak didepan lawannya.

Bagi orang yang menaruh perhatian, segera dapat melihat sikap ragu-ragu jago tua itu, sebab  dari semula ia selalu berdiri terpisah kira-kira dua tombak dari lawannya, sedang kini ia terpisah agak jauh.

Sementara itu Tiat Chiu Khim yang menyaksikan Ho Hay Hong sudah bangkit lagi lalu melambaikan tangan kepadanya, tetapi segera dicegah oleh pemuda baju kelabu.

Ho Hay Hong segera memikirkan maksud si gadis, tiba-tiba sudah diserang lagi oleh lawannya. Ia terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya menyambut serangan itu.

Untuk kesekian kalinya ia mengadu kekuatan tenaga dengan jago tua itu. Kali ini ia tidak sanggup pertahankan posisinya, tidak ampun lagi lantas terpental tiga tombak lebih.

Kali ini Ing-siu benar-benar sudah bertekad hendak mengambil jiwa lawannya, ia maju merangsek, tangannya bergerak menyerang bagian jalan darah di rusuk Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong yang terpental ketengah udara, sebetulnya hendak menggunakan ilmunya meringankan tubuh untuk pertahankan kedudukannya, tetapi ternyata sudah kehabisan tenaga, hingga tidak berdaya sama sekali. Kini ia baru tahu betapa hebatnya kekuatan Ing-siu kalau bukan kekuatan tenaga gaib yang menunjang dirinya sedari tadi, barangkali ia kini rubuh menjadi bangkai.

Dalam keadaan tidak berdaya, Ing-siu sudah maju menyergap lagi. Ho Hay Hong mengharap pertolongan tenaga gaib tadi, tetapi kali ini t idak muncul lagi, sedang tangan Ing-siu sudah mengancam dirinya.

Dalam keadaan sangat kritis, t iba-tiba dapat satu akal. Ditengah udara ia mengeluarkan suara bentakan keras: "Lihat seranganku!"

Ing-siu yang mendengar suara itu, mendadak tarik kembali serangannya, ia khaw atir tertipu akal  muslihat Ho Hay Hong.

Dengan demikian, terluputlah lagi ia dari serangan maut Ing-siu. Ketika kakinya menginjak tanah, rasa nyeri masih belum lenyap. Untuk menutupi kelemahannya, ia masih memberi pujian atas kegesitan lawannya.

Ing siu yang mendengar pujian itu, semakin percaya bahwa anak muda itu benar-benar memiliki kepandaian tinggi yang sengaja disembunyikan.

Kecuali Ho Hay Hong sendiri, semua orang t idak tahu apa sebabnya Ing siu mendadak membatalkan serangannya dan mundur teratur. Dengan demikian maka kesudahannya kembali menjadi seri.

Ing Siu mulai naik pitam. Semula ia hendak membinasakan lawannya dalam beberapa jurus dengan serangannya yang terampuh. Tak disangkanya bahwa lawannya yang masih sangat muda itu ternyata bukan satu lawan ampuh, sehingga membuyarkan harapannya. Setelah beberapa jurus adu kekuatan tadi, ternyata masih tetap seri, hingga orang tua yang namanya pernah menggemparkan rimba persilatan itu, merasa kehilangan muka. Kini ia terpaksa mengeluarkan ilmu simpanannya yang sudah dilatih dengan tekun selama beberapa puluh tahun, yang semula hendak digunakan untuk mengalahkan musuh lamanya, si Kakek Penjinak garuda.

Meskipun ia belum tahu benar sampai di mana kekuatan tenaga dalam Ho Hay Hong, tetapi jika diukur dari usianya, t idak mungkin lebih hebat dari pada dirinya sendiri.

ia lalu menggerakkan ilmunya kekedua tangannya, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Bocah awas! Ini adalah ilmu-ilmu Tay-lo Sin kang yang telah kulatih selama beberapa puluh  tahun sekarang kau coba sambutlah!"

Sehabis berkata demikian, meluncurlah dua tangannya yang dinamakan Tay lo Sin kang itu.

Bagaikan seorang yang sudah berada di atas punggung harimau, Ho Hay Hong tidak bisa turun atau mundur begitu saja. Mau  tidak mau ia terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, untuk menyambut serangan musuh.

Ketika kekuatan dua pihak saling beradu, Ho Hay Hong merasa jantungnya tergoncang hebat, hingga hampir jatuh pingsan.Dengan t iba-tiba kekuatan gaib itu kembali menjalar kedalam tubuhnya, kekuatan tenaganya pulih kembali, bahkan tambah berlipat ganda

Betapapun herannya, ia juga tidak berani memikirkan lagi, karena lawannya sudah mulai menyerang lagi. Kali ini ternyata ia sedikitpun tidak bergeming. Ia hendak menarik kembali tangannya, diluar dugaannya sudah tersedot oleh kekuatan tenaga dalam Ing-sui.

Mengertilah ia kini bahwa lawannya hendak mengadu kekuatan tenaga dalam dengan cara menyedot kekuatan lawannya. Ia juga tahu bahwa mengadu, kekuatan tenaga dalam secara demikian, adalah sesuatu cara yang paling berbahaya.

Barang siapa yang belum cukup sempurna kekuatan tenaga dalamnya bisa tersedot habis-habisan tenaganya oleh lawannya, hingga bisa membawa akibat kematian.

Dalam keadaan demikian, Ho Hay Hong terpaksa berlaku nekad. Ia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, sedangkan kekuatan gaib itu juga masih tetap mengalir dalam tubuhnya. Meskipun ia tidak tahu benar siapa orang yang telah membantu terus-terusan secara menggelap itu, tetapi ia tidak berani berpikir terlalu banyak lagi.

Dalam mengadu kekuatan secara demikian, dua kali Ing-siu pernah mencoba menambah kekuatan buat menjatuhkan lawannya, tetapi setelah Ho Hay Hong mendapat tambahan tenaga gaib  dari orang yang membantu dirinya secara menggelap, keadaan menjadi seru lagi.

Ho Hay Hong mengerti bahwa kekuatan tenaga dalam orang yang membantu dirinya itu jelas masih diatas Ing- siu. Tetapi oleh karena disalurkan kedalam tubuhnya dari jarak jauh, dengan sendirinya agak terhalang.

Ia kini mulai merasa dirinya dijadikan boneka oleh dua orang kuat untuk mereka mengadu kekuatan. Orang yang menyalurkan tenaga gaib itu tidak mau unjuk diri, jelas merupakan musuh Ing-siu. Maka meskipun ia berhasil mengatasi kekuatan tenaga lawannya, tetapi tidak merasa bangga atau girang.

Sementara itu. Ing-siu juga sudah mulai tahu bahwa anak muda itu diam-diam telah dibantu oleh lain orang yang lebih kuat dari dirinya sendiri.

Diam-diam ia terkejut, tetapi tidak tahu orangnya yang melakukan perbuatan itu, ia juga tidak menduga bahwa dalam rimba persilatan pada waktu itu, masih ada orang yang memiliki kekuatan tenaga demikian hebat, tahu jelas bahwa maksud orang itu sengaja hendak merusak nama baiknya dihadapan orang banyak.

Ia mulai gusar dan penasaran. Oleh karena pikirannya terganggu, hingga terdorong mundur beberapa langkah oleh Ho Hay Hong.

Suatu kejadian yang cukup menggemparkan! Kejadian yang sekaligus telah merubah pikiran para penonton yang semula anggap Ho Hay Hong pasti kalah.

Jenggot putih Ing-siu berkibar-kibar, matanya mendelik, wajah yang tadinya merah kini tampak pucat, jidanya juga mulai berkeringat Jelas ia sedang berusaha keras hendak mempertahankan kedudukannya.

Walaupun ia sudah berusaha mati-matian tetapi karena kekuatan tangannya memang kalah setingkat dari lawannya yang menggelap, maka ia tidak berdaya. Dibawah sorakan ramai-ramai penonton, mulut Ing-siu mulai menyemburkan darah segar. Kemudian dengan mata beringas ia berkata sambil tertaw a nyaring: "Bagus, bagus! Bocah she Ho, peruntunganmu memang bagus benar!"

Ho Hay Hong menggunakan kesempatan itu mengerahkan kekuatan tenaganya ke jari tangannya, kemudian memberi rangsakan hebat kepada lawannya.

Ing-siu yang masih tertaw a terbahak-bahak mendadak menerima serangan hebat Ho Hay Hong, jantungnya tergoncang hebat, mulutnya kembali menyemburkan darah.

Setelah mengeluarkan suara tertaw a yang mengerikan, orang tua itu akhirnya jatuh roboh ditanah.

Jago pedang pertengahan umur muridnya Ing siu, tampak terkejut dan terheran-heran. Segera dihampiri gurunya, tetapi ternyata sudah putus nyawanya.

Ho Hay Hong menyaksikan semua kejadian dengan hati bingung, sementara tenaga gaib yang membantu dirinya juga sudah meninggalkan dirinya.

Jago pedang pertengahan umur itu dengan mata beringas segera menyerang Ho Hay Hong hendak menuntut balas atas kematian gurunya Tetapi dengan mudah dapat dipukul mundur oleh Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong t idak mau berbuat keterlaluan terhadap jago pedang itu, maka tidak balas menyerang hanya memberikan peringatan sekedarnya.

Jago muda itu juga mengerti bukan tandingan Ho Hay Hong, maka lantas berlalu dengan membaw a jenazah gurunya.

Ho Hay Hong masih penasaran terhadap orang yang membantu dirinya secara menggelap, maka setelah jago pedang itu berlalu, ia mulai mencari-cari disekitar danau itu.

Tiba-tiba tampak Tiat Chiu Khim maju menyongsong dengan diikut i oleh pemuda baju kelabu.

"Adik Khim, kau hendak kemana? Lekas kembali!!" pemuda baju kelabu itu berkata.

Ho Hay Hong terkejut, ia masih belum tahu apa yang harus dilakukan, Tiat Chiu him sudah berkata padanya:

"Engko Hay Hong aku…aku"

"Kau kenapa?" tanya Ho Hay Hong dingin.

"Aku sudah terluka." jaw ab sinona ambil menahan rasa sakitnya.

Belum lagi Ho Hay Hong menjaw ab, pemuda baju kelabu sudah memburu dan mencekal lengannya seraya berkata:

"Aku tadi sudah pesan padamu jangan banyak bergerak tetapi kau tidak mau dengar kata"

Ho Hay Hong diam-diam  berpikir: ”nampaknya benar ia telah terluka.”

Ia t idak tega menyaksikan penderita kekasihnya, maka lantas menoleh dan berusaha mengendalikan perasaannya.

Pemuda baju kelabu menarik tangan Tiat Chiu Khim seraya berkata:

"Adik Khim, sudahlah. Jangan kau pikirkan dia lagi salah-salah kau sendiri nanti yang akan celaka!" Tiat Chiu Khim hendak menangis, tetapi tidak bisa mengeluarkan airmata, ia memandang Ho Hay Hong sejenak, diam-diam hatinya mengeluh dan terpaksa berlalu mengikuti pemuda baju kelabu.

Ho Hay Hong tidak dapat mengendalikan perasaanya lagi, dengan cepat memburu.

Pemuda baju kelabu agaknya mengerti perasaan anak muda itu, ia berpaling dan menegurnya:

"Orang she Ho. apa kau masih hendak mence lakakan dirinya?"

"Apa maksud ucapanmu ini?" tanya Ho Hay Hong. "Minggir urusan dalam perguruan kita, t idak perlu kau

campur tangan!"

Dengan menahan hawa amarahnya. Ho Hay Hong berkata sambil tersenyum:

"Mengapa kau berkata demikian terhadapku? Kau harus tahu bahwa aku belum pernah mencampuri urusan dalam perguruanmu!"

"Aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu! Adik Khim, tenanglah!" kata pemuda baju kelabu yang segera menarik tangan Tiat Chiu Khim.

Tiat Chiu Khim memandang Ho Hay Hong sejenak mendadak meronta melepaskan tangannya dari cekalan pemuda baju kelabu dan secepat kilat menubruk Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong kelabakan, ia berdiri terpaku. Sedang Tiat Chiu Khim sudah sesapkan kepalanya didada anak muda ini, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Ho Hay Hong tidak mengerti apa sebabnya sigad is begitu ketakutan, ia hanya tahu pasti ada sebabnya.

Pemuda baju kelabu yang semula terkejut, kemudian berkata dengan suara gusar:

"Adik Khim kemari, kau berani melanggar pesanku?"

Tiat Chiu Khim tidak berani menjawab, gadis yang gagah perkasa itu kini mendadak berubah demikian lemah, hal itu sangat mengherankan Ho Hay Hong.

Karena Tiat Chiu Khim tetap membandel, pemuda baju kelabu itu lantas marah.

"Baik, kau tidak dengar kata, jangan sesalkan kalau aku nanti akan berlaku t idak pantas terhadapmu?"

Sehabis berkata demikian, tangannya lantas bergerak melancarkan satu serangan.

Ho Hay Hong menangkis serangan itu dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya balas menyerang, sementara itu mulutnya berkata:

"Harap saudara jangan sembarang bertindak, jelaskanlah dulu duduk perkara!"

Tetapi pemuda baju kelabu itu tidak menghiraukan dengan beruntun melancarkan serangannya.

Ho Hay Hong melihat pemuda itu tidak mudah dikasih mengerti, dalam hatinya juga mendongkol. Tanpa banyak bicara lagi, ia lantas balas menyerang dengan tangan dan kakinya. Dengan demikian serangan pemuda baju kelabu itu agak kendor.

Tiat Chiu Khim mendadak berseru: "Hay Hong, kita harus lekas kabur! Kakek penjinak garuda berkata didekat sini!"

Ho Hay Hong dapat menerima usul si nona, dengan cepat memondong tubuh si gadis dan melarikan diri.

Dengan tiba-tiba ia merasakan sambaran angin dari atas kepalanya. Tanpa menoleh Ho Hay Hong juga melancarkan serangan tangan dan lompat sejauh satu tombak lebih. Kembali satu bayangan hitam melayang diatas kepalanya, kiranya ada seekor burung garuda raksasa yang menyerang dirinya.

Ia segera mengerti bahwa Kakek penjinak garuda sudah datang, tetapi sebelum berhasil menyingkir, bayangan Kakek penjinak garuda sudah berada dihadapan matanya.

Dengan wajah dingin Kakek penjinak garuda memandang mereka berdua, kemudian membuka  topinya yang lebar, hingga tampaklah seraut wajah yang keriputan.

"Haha! Kau hendak kabur? Huh!" Tertaw alah ia terbahak-bahak.

Ho Hay Hong tidak takut, sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak.

"Kita telah bertemu lagi Kakek penjinak garuda.

Kedatanganmu sungguh sangat kebetulan."

Kata-kata Ho Hay Hong ini mengejutkan semua penonton, mereka tidak menyangka bahwa orang yang baru datang itu adalah Si Kakek penjinak garuda yang sangat terkenal. "Aku hendak tanya padamu lebih dulu, darimana kau dapat pelajaran ilmu garuda sakti itu?" tanya si Kakek penjinak garuda dengan sikap garang.

Ho Hay Hong ragu-ragu menjawab, ia memandang kekasihnya.

"Lekas jawab!" demikian Kakek penjinak garuda mendesak lagi.

"Bagaimana kalau aku tidak mau menjaw ab?" balas menanya Ho Hay Hong dengan berani.

"Aku tahu, kepandaian itu pasti budak hina yang mengajarkan padamu. Jikalau kau tidak mau mengaku aku hendak bunuh dia lebih dulu !"

"Sungguh jumawa! Cianpwe ternyata seorang yang tidak kenal aturan haha! Aku sekarang baru tahu sifatmu!" kata Ho Hay Hong sambil tertawa.

"Kau jangan anggap karena tadi kau habis membunuh Ing-siu yang namanya sangat terkenal, lantas tidak pandang mata lagi padaku Kau harus tahu." Mendadak berubah nada suaranya, "terus terang, dengan kepandaian yang tidak berarti itu, masih belum mampu menandingi burung garudaku. Apa yang kau buat bangga?"

"Seekor burung saja ada harganya kau banggakan, benar-benar lucu."

Dua ekor burung garuda itu agaknya mengerti kalau mereka dihina, mendadak dua-duanya berbunyi nyaring dan terbang keangkasa hendak menyerang Ho Hay Hong. Kakek penjinak garuda pura-pura menggapaikan tangannya, dua ekor burung garuda hinggap lagi dikedua bahunya, tetapi matanya masih mengawasi Ho Hay Hong.

"Kau mau menjaw ab atau tidak ?" tanya pula Kakek penjinak garuda.

Ho Hay Hong khaw atir orang tua itu benar-benar memberikan ancamannya, ini berarti menyusahkan diri kekasihnya, maka buru-buru menjawab sambil tertaw a dingin:

"Tidak halangan kujelaskan padamu, ilmu garuda sakti itu adalah Dewi ular dari gunung Ho-lan-san yang mewariskan padaku. Kalau kau tidak percaya boleh tanyakan sendiri!"

"Tidak mungkin ia memiliki ilmu pelajaran itu."

"Kau jangan berkata sembarangan! Beliau masih hidup, kau boleh tanyakan sendiri !"

"Aku tak percaya!"

"Ilmu itu ada salinannya, asal bisa  mendapatkan salinannya siapapun juga bisa mempelajari!"

"Dimana kitab salinannya sekarang?" "Sudah aku robek-robek."

"Baik, benar tidak ia wariskan ilmu itu padamu, tetapi

ia sekarang sudah khianati aku, maka aku hendak hukum padanya menurut peraturan dalam perguruanku, kau serahkan padaku, lekas!" Karena kata-katanya itu bernada memerint ah, maka Ho Hay Hong juga tidak sudi menyerah begitu saja, jawabnya dingin:

"Maaf, aku tidak bisa terima perint ah semacam ini!"

"Apa?" tanya Kakek penjinak garuda marah, "perempuan ini adalah muridku, dengan hak apa kau hendak melindunginya?"

"Atas nama keadilan dan prikemanusian aku hendak melindungi dirinya! Dengan sejujurnya, aku tidak puas atas sepak terjang dan perbuatanmu terhadap muridmu sendiri !"

Dihadapan umum Kakek penjinak garuda diperlakukan demikian rupa, sudah tentu naik darah.

"Bocah, kau sungguh berani ! Kau nanti ku hancur leburkan tulang-tulangmu!" demikian katanya.

Tiat Chiu Khim mendadak berkata sambil menghela napas:

"Hay Hong, biarlah aku sendiri yang memikul semua dosaku!"

"Tidak, aku memang sudah lama hendak menggempur dia!" jawab Ho Hay Hong sambil mendongak keatas.

Sementara itu, salah satu anggauta golongan rimba hijau daerah utara mendadak melemparkan pedang garuda saktinya kepadanya seraya berkata:

"Bengcu. aw as pedangmu nanti hilang!" Ho Hay Hong menyambut pedang saktinya, semangatnya lantas terbangun, ia berkata sambil tertawa nyaring: "Kakek penjinak garuda, marilah menggunakan kesempatan ini kita bereskan permusuhan kita!"

"Bangsat kecil ! Dengan mengandalkan apamu kau berani menantang aku?" kata Kakek penjinak garuda.

Tangannya segera bergerak, hembusan angin hebat lalu meluncur dari tangannya.

Ho Hay Hong mundur lima langkah, baru bisa berdiri tegak.

Sambil mengawasi pedangnya Ho Hay Hong berkata kepada kekasihnya.

"Adik Khim, kau jangan takut ! Kalau harus mati juga biarlah kita mari bersama-sama!"

Tiat Chiu Khim menundukkan kepala, hatinya merasa girang. Katanya dengan suara sedih:

"Hay Hong, sebelum mati, aku hendak memberi sedikit penjelasan dulu padamu, kau tadi pasti salah faham terhadap diriku, mengira aku kembali lagi kepadanya, betul tidak?"

"Memang benar! Aku tadi memang berpikir demikian." "Aku sudah  dapat  menduga pikiranmu.  Sekarang aku

hendak      berterus-terang     padamu.     Aku    kembali

kepadanya, semata-mata buat keselamatanmu, tahukah kau."

"Aku tidak tahu, aku sedikitpun tidak mengira!"

"Sejak aku meninggalkan kau, aku lantas lari ke kampung setan, maksudku ialah  hendak memancingnya ia keluar, karena aku pikir kau pasti bukan tandingan Ing-siu, maka itu." "Oh!" kata Ho Hay Hong seolah-olah baru sadar. "Kiranya begitu? Adik Khim, aku benar-benar terlalu goblok, belum pernah memikirkan hal itu!"

Tiat Chiu Khim tersenyum, sedikitpun  tidak mempunyai perasaan takut lagi.

"Aku tahu antara Ing-siu dan Kakek penjinak garuda ada permusuhan hebat. Maka aku pancing ia keluar. Aku pikir ia pasti akan kebentrok dengan Ing-siu, dengan demikian jiwamu baru tertolong dari bahaya!"

Kata-kata itu keluar lagi dari mulut kekasihnya, sudah tentu ia percaya sepenuhnya.

Pada saat itu, seekor burung garuda mendadak menukik menyerang dirinya.

Dengan cepat ia mengambil keputusan,  dengan tenaga sepenuhnya ia meluncurkan pedangnya ke udara.

Burung garuda itu ternyata cerdik sekali, dengan paruh dan kukunya ia berhasil memukul jatuh pedang pusaka Ho Hay Hong. Tetapi burung itu tidak mengerti bahwa Ho Hay Hong pandai mengendalikan pedang. Selagi merasa bangga, pedang Ho Hay Hong yang meluncur turun, tadi mendadak telah melesat balik lagi keatas, turun menikam dirinya.

-ooo0dw0ooo-