Rahasia Kampung Setan Jilid 27

 
Jilid 27

"CIU KHIM, kau ada harganya bagiku untuk pergi menempuh bahaya, segalanya kau jangan kuatir, aku akan mengeluarkan seluruh tenaga untukmu!"

Tiat Chiu Kim masih tetap tersenyum dan berkata:

"Ah, kau begitu baik perlakukan diriku, tidak tahu aku bagaimana harus membalas budi mu?"

Ucapannya itu sebetulnya hanya sekedar untuk menutupi perasaannya sendiri, tetapi setelah diucapkannya, mendadak pikiran jernih dalam otaknya.

„Pada akhirnya, sikap pemuda itu demikian sungguh- sungguh dan selalu menyatakan maksudnya hendak mengeluarkan tenaga baginya, apakah sebetulnya yang telah terjadi?“

Memikir itu, ia jadi bimbang. Dicobanya untuk menenangkan kembali pikirannya, mendadak merasa bahwa urusan itu agak aneh. Pikirnya: „Jikalau ia ada maksud hendak berbuat jahat terhadap diriku, niscaya sudah lama berhasil, mengapa?“

Mukanya menjadi merah, ia teringat kembali bagaimana ketika dirinya diserang oleh Tio Kang. Ilmunya Pan Ciok Sin-kang orang tua itu sudah lama ia kenal, dahulu ia sering minta orang tua itu supaya menurunkan pelajaran itu padanya, tetapi selalu tidak berhasil membujuk nya, tak ia duga orang tua yang dahulu demikian baik hati itu, ternyata sudah menggunakan ilmunya itu untuk menyerang dirinya.

Biasanya orang yang terkena serangan ilmu itu, binasa seketika itu juga, tetapi oleh karena Tio Kang mempelajari ilmu itu hanya setengah jalan saja, maka belum mengerti betul sedalam-dalamnya

Walaupun demikian, ia berani memastikan bahwa orang yang terkena serangan itu, jarang yang dapat di tolong jiwanya.

Ia tahu bahwa ia sendiri jelas sudah terkena serangan ilmu itu, tetapi mengapa sekarang masih segar bugar? Dalam hal ini jelas masih mengandung banyak rahasia yang tidak mengerti!

Berpikir sampai disitu, hawa amarahnya baik seketika, dengan perasaan bingung ia bertanya pada Ho  Hay Hong:

"Betulkah aku terkena ilmu Pan-Ciok Sin kang dari Tio Kang?"

"Benar, aku sebetulnya tidak tahu ilmu apa yang digunakan, tapi setelah diberitahukan oleh Lam-Kiang Tay-Bong, aku diberi tahu bahwa jahanam itu menggunakan ilmu dari kalangan Budha yang tertinggi."

"Mengapa aku sekarang masih dalam keadaan selamat?" "Aku sudah mengeluarkan hawa murni yang membeku dalam tubuhmu, sudah tentu tidak ada halangan lagi!"

Terkejut gadis itu bukan main setelah mendengar keterangan Ho Hay Hong.

"Apa katamu?"

Ketika ditanya secara itu dan dipandang demikian rupa oleh sinona, segera Ho Hay Hong menundukkan kepala dan dengan kemalu-maluan ia menjawab:

"Maaf aku oleh karena aku dalam bahaya, aku tadi terpaksa.melakukan. "

Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya untuk menjelaskan perbuatannya.

Menyaksikan sikap jujur pemuda itu, tersadarlah Tiat Chiu Khim atas kekeliruannya. Bahwa pemuda itu tadi berlaku demikian atas dirinya semua, hanyalah hendak menolong dirinya dari cengkeraman maut.

Ia ingin membuktikan kebenaran dugaannya, maka bertanya pula:

"Dengan cara bagaimana kau tadi menolong aku?"

Sejenak Ho Hay Hong nampak ragu-ragu, akhirnya ia berkata juga:

"Aku mendapat keterangan dari Lam-kiang Tay bong orang yang terkena serangan ilmu itu dalam waktu tiga jam pasti binasa, kecuali jika menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk mengeluarkan hawa murni yang mengeram dalam tubuhnya. Oleh karena itu, Aku buru- buru minta diri kepada Lam kiang Tay bong dan menggunakan waktu yang sangat berharga pergi  mencari seorang wanita yang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya, hendak minta tolong padanya untuk membantu menyembuhkan kau!"

Ia berkata sambil melirik sinona, ketika melihat gadis itu tidak marah, ia lalu melanjutkan keterangannya:

"Tetapi aku lama mencari, tidak menemukan wanita semacam itu. Karena melihat jiw amu dalam bahaya, dengan mengambil resiko akan kau damprat  aku terpaksa turun tangan sendiri, menyembuhkan lukamu!"

"Waktu aku mendusin, mengapa aku melihatmu ditanah dalam keadaan pingsan?"

"Kekuatan tenaga dalamku kurang sempurna, maka kulakukan setengah jalan. Aku merasa t idak kuat. Dalam keadaan kritis itu, terpaksa aku menempuh bahaya menggunakan ilmuku Ci-yang Cin-khie. Tindakanku akhirnya berhasil. Tetapi, waktu kau membuka mata aku takut kau marah. Hatiku terlalu cemas, hingga tidak mengendalikan tenagaku, oleh karenanya aku lantas jatuh pingsan dan tidak ingat orang lagi."

Tiat Chiu Kim mengingat kembali apa yang dilihatnya setelah dia tersadar dan menyalakan lampu, maka ia anggap bahwa keterangan itu tidak salah lagi

Kini ia merasa terharu dan menyesal atas perbuatannya tadi yang sudah memukul pada pemuda tersebut, bahkan hampir saja membunuhnya.

Ho Hay Hong melihat gadis itu termenung memikirkan apa yang telah terjadi, pikirannya merasa tidak tenang, lalu berkata sambil menundukkan kepala:

"Nona, barangkali kau akan marah atas perbuatanku yang lancang dan kurang sopan aku bersedia menerima hukumanmu, tetapi aku minta kau maafkan atas perbuatanku tadi !"

Mata Tiat Chiu Khim yang jeli memandang Ho Hay Hong, pemuda itu menundukkan kepala dengan sikap tidak tenang.

Tangannya diulur, mengusap-usap muka Ho Hay Hong dengan sikap mesra dan berkata dengan suara duka:

"Kau t idak perlu sesalkan perbuatanmu sendiri, akulah seharusnya yang mengucapkan terima kasih padamu."

Ia menghela napas pelahan. Saat itu, lenyaplah semua perasaan marah dan mendongkolnya diganti dengan perasaan menyesal.

Ia tidak tahu apa sebabnya ia bisa berubah demikian lemah. Dahulu anggapnya bahwa dia adalah seorang gadis berderajat tinggi sehingga nampak tegas kesombongannya. Tiada seorang lelaki dipandang dalam matanya, tak disangkanya kali in i ia benar-benar sudah ditundukkan oleh Ho Hay Hong.

Ketika Ho Hay Hong merasa mukanya di raba oleh gadis itu, tergoncanglah hatinya.

"Chiu Khim, kau suka memaafkan aku?"

Tiada jawaban keluar dari mulutnya, ia mengedip- ngedipkan matanya, sesaat itu seolah-olah berada di awan. Tanpa dapat lagi mengenakkan perasaannya dengan mendadak jatuhkan dirinya kedalam pelukan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong terperanjat, hampir tidak dapat membuka mulut untuk menyatakan kegembiraannya, hanya: "Chiu Khim kau....adik Khim." kata-kata itu saja yang dapat dikeluarkan dari mulutnya.

Apa yang dirindukan selama itu, apa yang dipikirkan, dalam kamar yang sempit itu kini sudah mendapat jawabannya. Semua usaha dan jerih payahnya selama ini telah mendapat imbalan yang setimpal.

Dalam matanya kecuali si dia, sudah tidak ada lain orang lagi. Sedang dalam mata si gadis, juga kecuali si dia, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Dengan tangan agak gemetaran Ho Hay Hong memeluk erat-erat tubuh kekasihnya. seolah-olah takut terlepas lagi.

Sang waktu berjalan terus tanpa dirasa. Dua insan yang kelelap dalam arus asmara itu tidak sadar bahwa ada sepasang mata yang mengintai mereka dari luar

Diluar jendela, dibaw ah sebuah pohon beringin, tanpa satu kepala orang dengan jenggot dan rambutnya yang putih bagaikan perak menongol mengintip kedalam kamar.

Dari rambut dan jenggotnya yang sudah putih, dapat diduga bahwa orang yang mengintip itu adalah seorang yang sudah lanjut usianya.

Sepasang matanya yang bercahaya terus ditujukan kepada dua tubuh yang sedang berpelukan didalam kamar itu adalah Ho Hay Hong dengan Tiat Chiu Khim.

Mendadak orang tersebut menghunus pedang dari pinggangnya, yang ternyata terdapat ukiran dari huruf- huruf kecil "KIM AP SIN KIAM" Ho Hay Hong masih belum tahu bahwa pedang KIM  AP SIN KIAM itu akan ditujukan kepadanya. Ia Sudah kelelap dalam lautan asmara, ia anggap bahwa dalam dunia ini hanya ia berdua Tiat Chiu Khim.

Ia berkata dengan suara pelahan kepada kekasihnya: "Adik Chiu Khim, tahukah kau betapa besar cintaku

terhadapmu? Tetapi selama itu aku tidak berani mengutarakan isi hatiku, karena aku takut kau akan marah. Ow, keadaanmu masih terlalu lemah, maukah kalau aku bantu dengan kekuatan tenaga dalamku?"

"Tidak usah, kau sendiri masih memerlukan waktu istirahat yang cukup." jawab sinona.

Ho Hay Hong mengusap-usap rambutnya yang hitam dan panjang, pelahan menundukan kepalanya, memandang wajah sinona yang cantik jelita. Wajah itu kini nampak sangat tenang, tidak lagi ketus dingin dan agung seperti yang sudah-sudah.

"Chiu Khim, sekarang aku baru tahu aku sebetulnya serupa saja dengan manusia biasa, yang membutuhkan cinta dan kehangatan. Selama itu aku suka berbuat atas kehendakku sendiri dengan sendirinya sering mengalami kejadian-kejadian yang agak mengecewakan.

Tetapi dengan sejujurnya, aku sedikitpun tidak membenci kelakuanmu dahulu yang demikian dingin terhadapku. Chiu Khim, ada kalanya karena memikirkan dirimu, tidak jarang aku mengucurkan air mata dengan diam-diam. Adakalanya juga timbul pikiran hendak mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan mengasingkan diri di tempat sunyi." demikian ia berkata sambil tersenyum. Kemudian ia tersenyum getir dan berkata pula.

"Akan tetapi, sekarang aku harus bangkit, aku sudah dapat memahami, betapa indahnya jiw a dan penghidupan itu. Kadang-kadang mendung dan kadang cerah."

Ia masih hendak melanjutkan kata-katanya, satu tangan yang hangat tiba-tiba meraba mukanya.

Dengan bernapsu ia memegang erat-erat t angan yang hangat dan halus itu katanya dengan suara pelahan:

"Chiu Khim, marilah kita bergandengan tangan meninggalkan dunia yang terlalu banyak panca roba in i, pergi kedunia yang penuh damai!"

"Engko Hong, aku seperti mendapat firasat tidak baik." berkata Tiat Chiu Khim sambil menghela napas.

Ho Hay Hong terperanjat. "Firasat apa?"

"Aku merasa diantara aku dengan kau segera dialingi oleh kabut gelap, mungkin tak bisa berkumpul lebih lama.".

"Kenapa? Kenapa?" tanya Ho Hay Hong semakin heran. "Adik Khim jangan kau pikirkan yang bukan- bukan. Asal kita saling mengerti, betapapun besarnya urusan, semua dapat dipecahkan. Kau cantik dan pintar, mengapa bisa timbul pikiran dan kekuatiran demikian rupa?"

"Tetapi aku selalu merasa bahwa antara kita agaknya masih seperti asing."

Tidak menunggu kata-kata selanjutnya Ho Hay Hong mempererat cekalannya. Bibir gadis itu dilumatnya habis. Tiat Chiu Khim semula masih coba meronta-ronta, tetapi akhirnya memejamkan matanya.

Segala-galanya menjadi tenang. Pikiran Tiat Chiu Khim yang selalu risau, membutuhkan hiburan seperti itu. Tetapi hidupnya belum pernah mengalami kejadian serupa itu hingga sekujur badannya gemetaran.

Dengan tiba-tiba Ho Hay Hong dapat menangkap suara desiran angin, kemudian disusul dengan meluncurnya sebuah benda berkeredepan dari luar jendela.

Dengan wajah berubah, buru-buru di dorongnya tubuh Tiat Chiu Khim. Sedang ia sendiri terus menjatuhkan diri ke lantai.

Benda itu ternyata adalah sebilah pedang pendek terus menancap diatas meja. Ia tidak memperdulikan pedang pendek itu, lebih dahulu melesat dahulu melesat kedepan jendela untuk melihat siapa orangnya yang melempar pedang tersebut.

Dalam keadaan gelap ia hanya menampak sesosok tubuh manusia lari kabur dengan kecepatan kilat, sebentar sudah lenyap dari pandangan mata.

Ilmu meringankan tubuh orang itu sungguh hebat, hingga Ho Hay Hong hampir tidak percaya matanya sendiri.

Ia berdiri terpaku sambil berpikir: Orang ini tengah malam buta menyerang aku, entah siapa dia dan apa pula maksudnya.

Kertas diambil oleh Ho Hay Hong yang segera dibacanya. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : "Bocah! Sungguh berani kau membinasakan murid kesayanganku. Dosamu tak dapat diampuni. Dalam waktu tiga hari ini, akan kuambil jiwamu. Dengan ini sudah kuperingatkan padamu lebih dahulu, supaya jangan sampai orang-orang dunia Kang-Ouw menyesalkan dan mentertawakan, aku sebagai orang tingkatan tua menghina orang dari t ingkat muda!"

Dibawah tertanda tulisannya : Ing-siu.

Ho Hay Hong terkejut, cepat sekali dia mendapat kabar. Begitu pikirnya. Rupanya dia juga d ia sudah tahu! Memikir lagi sampai disitu, Ho Hay Hong jadi teringat kembali kepada kejadian-kejadian sebelumnya, apa yang telah dilakukan bersama Tiat Chiu Khim. Ia menengok kearah gadis itu, mukanya menjadi merah sendiri.

Melihat Ho Hay Hong melihat kearahnya, Tiat Chiu Khim bertanya:

"Hay Hong, apa benar kau membunuh muridnya?"

"Ya. Muridnya adalah Long-gee-mo!" jaw ab Ho Hay Hong sambil menunduk.

Mendengar disebutnya nama Long-gee-mo, gadis itu rupanya merasa tidak senang. Tetapi karena urusan itu bukan biasa lagi, maka ia lalu berkata:

" Habis, kau pikir bagaimana?"

"Aku juga tidak tahu harus berbuat apa."

"Kita tokh tidak boleh berpeluk tangan menunggu kematian "

"Memang !" sahutnya agak cemas. Tetapi setelah melihat pandangan mata Tiat Chiu  Khim seolah-olah hendak menjajagi isi hatinya, ia lalu berkata pula: "Musuh yang mengganggu kita harus lawan. Aku Ho Hay Hong juga bukan anak kemarin sore, takut apa?"

Belum lagi menutup mulut, pintu kamar mendadak terbuka. Sesosok tubuh manusia melompat masuk bagaikan setan.

Ho Hay Hong terkejut, buru-buru ditariknya tangan Tiat Chiu Khim, sedang tangan kirinya menyerang orang itu.

Orang yang menyerbu masuk itu agaknya tidak menduga akan disambut dengan hebat Ho Hay Hong. Tetapi hanya terdengar suara dengusannya dari hidung, tubuhnya tidak bergerak. Kemudian dengan gesit sekali tahu tahu telah menerobos masuk antara Ho Hay Hong dan Tiat Chiu Kim. Pedang yang menancap diatas meja sudah tercabut, Setelah itu dia lompat keluar lagi melalui jendela.

Namun demikian Ho Hay Hong masih sempat melihat tegas wajahnya. Teringat akan ancamannya segera ia berseru: "Ow, dia adalah Ing-siu?" Mendengar seruan Ho Hay Hong, Tiat Chiu Khim terperanjat, ia bertanya: "Kau kenal dia?"

"Tidak, tetapi aku dapat memastikan dialah orangnya!"

Mata Tiat Chiu Khim mengawasi pohon beringin di luar jendela, katanya dengan suara perlahan.

"Hay Hong, ia demikian berani dan kurang ajar, pasti ada yang diandalkan. Bukannya aku tidak memandang dirimu, Hay Hong. Dengan sejujurnya, kau tidak ada gunanya melawan dia!"

Ho Hay Hong sedikitpun tidak marah, katanya: "Justru karena itu, maka aku hendak belajar kenal dengannya, tua bangka itu mungkin anggap kepandaian dirinya sendiri terlalu tinggi, sedikitpun tidak pandang mata kau dan aku. Sesungguhnya sangat menjemukan, biar bagaimana aku harus melawan dia!"

"Dalam waktu kesulitan seperti ini, aku tenang sehingga tidak menimbulkan kesalahan!"

Ha Hay Hong menganggukan kepala, ia mengerti maksud gadis itu, yang merasa kuatirkan keselamatannya.

"Aku tahu benar riw ayat dirinya. Pada enam puluh tahun berselang, ia sudah merupakan seorang rimba persilatan yang tergolong orang kuat. Tempat ini sudah diketahuinya dengan jelas kalau kira tetap berdiam disin i, sungguh berbahaya. Kita harus lekas pergi!"

"Kemana saja kita boleh pergi, setidak-tidaknya jauh lebih baik daripada tetap kita di sini. Mari jalan !"

Lebih dulu Ho Hay Hong lompat keluar melalui lobang jendela, dengan sangat hati-hati ia menghunus pedang pusakanya memeriksa keadaan di sekitarnya.

Tiat Chiu Khim agaknya ingat sesuatu, ia bertanya: "Hay Hong, pedang emasnya itu, apakah ada

keistimewaannya dari pedang biasa?"

"Adik Khim, kau sungguh pintar. Aku sebetulnya hendak menyebutkan nama pedang itu, tetapi mendadak lupa. Mungkin, rimba persilatan yang selama in i tenang, sudah waktunya akan diganggu oleh kawanan iblis. Pedang itu adalah pedang sakti peninggalan dari zaman purba yang dinamakan pedang Kim Ap Sin kiam iblis tua itu mendapatkannya dari gunung sua-giam-san daerah utara, benar-benar t idak oleh dipandang ringan!"

"Pedang itu masih asing bagiku, agaknya  belum pernah dengar nama itu. Tetapi dari namanya saja dapat diduga pasti pedang pusaka dari jaman kuno yang tajamnya luar biasa!"

Berkata sampai disitu, wajah Tiat Chiu Kim yang cantik nampak mulai diliputi oleh perasaan murung, katanya pula:

"Kepandaiannya sendiri entah sampai dimana tingginya, aku belum pernah menyaksikan tetapi dari kepandaian muridnya yang tidak di baw ah kepandaianku, dapat diduga, aku barang kali sulit dihadapi!"

"Ya, aku sendiri sudah pikir begitu. Akan tetapi, sekarang aku sudah menjadi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, Biar bagaimana, juga tidak boleh merendah terhadapnya!"

Dua muda mudi itu berjalan diatas jala raya yang sepi sunyi dan gelap gulita.

Ho Hay Hong tidak takut Ing-siu, hanya dalam hati masih merasa berat buat  meninggalkan kekasihnya. Jikalau dahulu, sedikitpun ia tidak perlu kuatirkan semua ini, dengan hati tabah dapat ia menghadapi jago dari tingkat tua itu.

Tiat Chiu Khim memandang dirinya, mendadak menghela napas, dari pandangan matanya yang sayu, dapat diduga bagaimana perasaan hatinya pada saat itu! "Kalau kau mau mengendalikan hawa marahmu, aku lebih suka mengikuti kau mengasingkan diri kegunung yang sepi, untuk menghindarkan bencana ini!"

"Jikalau tidak beruntung aku harus mati, tidak apalah. Tetapi jiw aku akan hidup terus didalam hati saudara- saudara golongan rimba hijau, aku tidak menyesal lagi!"

Tiat Chiu Khim tidak berkata apa-apa lagi, ia dapat mengerti bahwa kata-kata Ho Hay Hong itu dengan secara tidak langsung menolak usulnya.

Sambil menggenggam gagang pedang pusakanya, mata Ho Hay Hong memandang pedang pusaka yang memancarkan sinar berkilauan, sementara dalam hatinya berpikir: "Selew atnya malam in i, adalah besok pagi. Waktu itu aku Ho Hay Hong yang menjadi pemimpin golongan rimba hijau, harus menentukan sendiri hari depanku. Namaku akan menjadi harum  atau  ludas, dalam waktu satu hari itu dapat ditentukan. Maka aku harus mengeluarkan seluruh kepandaianku, kalau perlu adu jiw a dengannya."

Ia berjalan sambil melamun. Ketika berpaling kearah kekasihnya buat menghibur beberapa patah. Sang kekasihnya ternyata sudah tidak ada di sampingnya.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay  Hong,  sejak kapan Tiat Chiu Khim meninggalkan dirinya, ia juga t idak tahu.

Dalam cemasnya ia buru-buru lari balik sambil berderu memanggil-manggil nama kekasihnya.

Sekaligus ia sudah lari sepuluh pal lebih tetapi tidak menemukan jejak sang kekasih maka ia mengira sudah terjadi apa-apa atas dirinya. Ia mengingat kembali apa yang telah terjadi, belum lama berselang bukankah nona itu mengikuti dibelakangnya?

Kecuali ia yang menyingkir sendiri, dalam rimba persilatan dewasa in i tidak mungkin ada orang lain bagaimanapun lihaynya dia, yang bisa menyomot Tiat Chiu Khim dari dekatnya tanpa diketahui sama sekali olehnya.

Selain daripada itu jikalau orang yang menangkap gadis itu berkepandaian amat tinggi, agaknya tidaklah perlu sampai menggunakan cara demikian untuk merampas Tiat Chiu Khim. Bukankah ada lebih baik bila merampas secara terang-terangan?

Ho Hay Hong berdiri terpaku. Ia bertanya kepada dirinya sendiri: ”Pasti ia yang pergi sendiri! Tetapi apa sebabnya? Ilmu meringankan tubuhnya lebih mahir dari padaku, lagipula karena pikiranku sedang risau, sudah tentu tidak tahu.”

Semakin dipikir semakin kuat dugaannya! sebab kecuali itu, kemungkinan lainnya sedikit sekali, bahkan boleh dikata tidak mungkin sama sekali.

Pikirannya pelahan-lahan mulai reda, tetapi sebentar kemudian perasaannya tidak tenang lagi.

Ia sesungguhnya tidak dapat memikirkan apa sebabnya yang sebetulnya. Apa sebab Tiat Chiu Khim berlalu? Dan apa pula maksudnya.

Ia mulai memikir yang bukan-bukan. "Apakah oleh karena aku menolak keinginannya yang baik lantas ia menjadi marah?" demikian ia  bertanya pada dirinya sendiri.

Tetapi, itu juga belum tentu, Karena ia  tahu benar sifat dan perangainya. Ia tahu asal gadis itu  jauh berbeda dengan orang biasa, adanya sombong dan tinggi hati, tetapi pikirannya t idak sampai demikian sempit.

"Mungkin ia pergi mencari bala bantuan!" demikian ia berpikir lagi.

Kalau benar demikian halnya, mengapa tidak berunding dulu dan lantas pergi?

Apalagi kesehatannya belum pulih kembali seluruhnya, darimana ia harus minta bantuan?

Rupa-rupa pikiran berkecamuk dalam benaknya, pelahan-lahan ia jadi kesal sendiri. Apakah ia merasa kecewa terhadapku?

Ia mengingat-ingat kembali apa-apa yang telah diucapkan Tiat Chiu Khim didalam rumah penginapan. Alisnya lalu dikerutkan dan berkata kepada diri sendiri: ”Apakah ia sudah mempunyai kekasih? Jikalau tidak, mengapa ia selalu merasa bahwa hubungan kita diliputi oleh kabut? Ucapan itu jelas mengandung maksud menolak cinta-ku.”

Oleh karena itu maka ia segera menarik kesimpulan: ”Mungkin, karena hendak membalas budiku yang menolong jiw anya, ia pura-pura berlaku cinta terhadapku. Aa, aa, aku tidak menduga bahwa perbuatannya itu semata-mata hanya untuk membalas budi. Akh. Tiat Chiu Khim mengapa kau tidak mau mengatakan secara terus terang? Mungkin pikiranku b isa agak tenang, tetapi Sekarang, aih."

Pikirannya semakin risau, penderitaan hatin itu dirasakan lebih berat daripada penderitaan lahir.

Ia tertaw a getir sendiri dan akhirnya memutuskan untuk melupakan gadis idamannya itu.

Ia melanjutkan perjalanannya dengan hati berat dan putus harapan.

Ia memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi sekali. Dengan pikiran yang kusut ia berlari, mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melanjutkan perjalanannya.

Ia tidak memikirkan tempat mana yang harus dituju, matanya memandang kearah jauh, membiarkan kakinya lari bagaikan bergeraknya mesin.

Dengan mendadak, dibelakangnya terdengar serentetan orang tertaw a.

Dalam keadaan terkejut, ia berpaling matanya segera menatap kepada orang yang tertaw a itu.

Ia terkejut karena mata orang itu bagaikan sinar bintang dipagi hari, yang seolah-olah ingin menembusi hatinya.

Ia tidak berani memandang terus, tanpa disadari ia menundukkan kepala, sedang dalam hatinya berpikir: ”Siapakah dia? Apakah,.,., dia Tiat Chiu Khim.”

Teringat kekasihnya pikirannya terbuka. Ia maju beberapa langkah. ia baru lihat tegas bahwa orang itu mengenakan kedok kulit manusia, sewaktu mengeluarkan suara tertaw a kulitnya tidak bergerak.

Sebagai seorang pintar, ia segera dapat  mengenali dari tubuh orang itu, maka seketika itu ia lantas berkata.

"Tidak perlu menyaru lagi, Ing-siu bukalah kedokmu."

Orang yang bertubuh tinggi besar itu berkata sambil tertaw a:

"Bocah, kau benar-benar pintar". Sementara itu  ia juga sudah membuka kedoknya, selembar muka merah tertampak didepan mata Ho Hay Hong.

Mata Ho Hay Hong ditujukan kepada pedang pusaka dipinggang orang tua itu, kemudian berkata:

"Jangan main gila lagi, kembalikan nona Chiu  Khim ku,"

Orang tua itu terkejut dan bertanya:

"Siapa nona Chiu Khim?"

Tetapi kemudian ia segera mengerti, sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata pula.

"Bocah, kau benar-benar tolol, sehingga sahabat perempuanmu hilang juga tidak tahu. Sungguh sangat memalukan, kau masih berani menganggap dirimu sebagai pemimpin rimba hijau daerah Utara ?"

Menyaksikan sikap yang sungguh-sungguh, agaknya memang tidak tahu benar, maka Ho Hay Hong lalu berpikir: ”Apakah benar-benar Chiu Khim pergi atas kemauannya sendiri.?” Seketika itu ia merasa sedih lagi, karena dari  sini dapat membuktikan dugaannya sendiri. Namun demikian, karena sedang berhadapan dengan musuh tangguh, maka buru-buru mengendalikan perasaannya.  Ia berkata:

"Ing-siu, kau merintangi perjalananku, apakah hendak menuntut balas buat kematian muridmu?"

Mata Ing-siu menatap wajah Ho Hay Hong, jaw abnya: "Benar,    aku    sebetulnya    hendak   membunuhmu

sekarang   juga,   tetapi   setelah   melihatmu,  pikiranku

berubah lagi. Aku menghendaki supaya kau mati dihadapan jago rimba persilatan seluruh dunia, supaya semua orang rimba persilatan tahu bahwa aku Ing-siu bukan saja belum mati, bahkan lebih hebat daripada Ing- siu pada enam puluh t ahun berselang!"

"Bicara memang gampang. Tetapi aku bukanlah patung, mana aku mau membiarkan diri ku diperlakukan dengan sesuka hatimu?"

"Hebat, hebat. Aku tahu bahwa kau yang masih muda belia, sudah berhasil menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara. Kepandaian ilmu silatmu sudah pasti tak dapat dibandingkan dengan orang biasa. Tetapi kalau dibandingkan dengan aku, itu seperti telur diadu dengan batu."

Ho Hay Hong semangatnya bangun seketika, mendengar perkataan itu bukan saja  tidak marah, sebaliknya malah tertaw a terbahak-bahak. Ia berkata dengan suara keras:

"Bagus, bagus. Aku jadi ingin sekali mencoba kepandaianmu?" Ia maju lagi tiga langkah dan berkata dengan suara berat:

"Aku mau tanya padamu. Bagaimana pertarungan ini kita mulai?"

"Bocah! Keberanianmu memang patut dipuji, benar tidak kecewa kau jadi jago muda. Tapi Sayang kau terjatuh di tanganku Tentang pembukaan mudah saja. Tempat boleh kau pilih, aku nanti akan datang untuk mengambil jiwamu!"

Ho Hay Hong seketika itu melupakan rasa sedihnya dengan semangat menyala nyala ia berkata.

"Aku tahu bahwa pedang pusakamu itu Kim Ap Sin Kiam, benda peninggalan zaman purba. Tetapi pedang garuda Saktiku juga bukan pedang biasa, marilah kita mengadu pedang siapa yang lebih tajam."

Ing-siu tampak terkejut ia bertanya "Kau pernah apa dengan kakek penjinak  garuda  ?  Mengapa  kau membaw a-bawa pedang garuda saktinya?"

"Tentang ini kau tidak perlu tanya!" sahut Ho hay Hong. "Kalau waktunya sudah tiba, kau datang saja berhadapan denganku !"

"Baik, besok tengah hari kita bertemu lagi."

Ia melirik Ho Hay Hong sejenak, lantas berlalu.

Baru saja orang tua itu memutar tubuhnya, Ho Hay Hong melihat sebuah makam menonjol maka lalu bertanya:

"Tunggu dulu! Aku mau tanya padamu, ini kuburan siapa?" "Tang-Siang Sucu!" jaw abnya sambil tertaw a dingin. Mendengar jawaban itu, bukan kepalang terkejutnya

Ho Hay Hong, sehingga seketika itu berdiri menjublek.

Tang-siang Sucu meskipun jahat, tetapi bagaimanapun juga masih terhitung saudara sekandungnya sendiri.

Ia berdiri terpaku sekian lama, mendadak wajahnya berubah.

Ing-Siu juga tidak lantas pergi. Menyaksikan sikap Ho Hay Hong, lantas bertanya.

"Kau berdua sama-sama membunuh muridku, sudah seharusnya menerima hukuman mati. Kau menyesal juga sudah terlambat."

Ia tidak tahu bahwa Tang-siang Sucu adalah saudara sekandung Ho Hay Hong, dianggapnya kawan biasa saja. Katanya pula.

"Meskipun kau merasa kasihan, tidak urung kau sendiripun akan mati. Kau juga tidak usah pura-pura,  hari ini adalah hari kematian kawanmu, dan besok adalah giliranmu. Aku selamanya dapat membedakan dengan tegas, siapa musuh siapa tuan penolong tidak pernah membunuh orang yang tidak berdosa, tetapi juga belum pernah melepaskan musuh-musuhku begitu saja. Siapa suruh kau tidak mencari keterangan dulu?"

Sehabis berkata demikian, lantas berjalan meninggalkan Ho Hay Hong.

"Berhenti!"

Kemudian berkata dengan gemas: "Ing-siu! Kau membunuh saudaraku, maka sekarang kau adalah musuh besarku, serahkanlah jiw amu!"

"Bocah, telah kuberikan kesempatan padamu untuk hidup satu hari lagi. Apakah kau masih kurang puas!"

Ho Hay Hong mendekati Ing-siu dengan langkah lebar, dengan mata beringas ia berkata:

"Orang lain boleh takut padamu, tetapi aku Ho Hay Hong tidak ! Lekas hunus pedang pusakamu, mari kita bertempur mati-matian!"

Dengan cepat menghunus pedang garuda saktinya dan pasang kuda-kuda. Matanya menatap wajah Ing-siu, katanya gusar:

"Lekas ! Jikalau tidak, aku akan berlaku kurang ajar terhadapmu!"

Sejak dahulu, enam puluh tahun berselang Ing-siu pernah menjagoi dunia Kang-ouw dan namanya dikenal orang di seluruh rimba persilatan. Belum pernah ia melihat seorang yang tidak takut mati seperti anak muda didepan matanya ini. Maka alisnya lalu dikerutkan kemudian berkata:

"Bocah, apa kira aku mudah kau hadapi?"

"Aku tidak perduli kau mudah di hadapi atau tidak.

Ganti jiwa saudaraku lebih dulu, jangan banyak bicara!"

Ing-siu tertawa terbahak-bahak, lama baru berkata : "Bocah, menang atau kalah besok sudah tentu dapat

diketahui, perlu apa kau begitu tergesa-gesa?" Ing-siu adalah seorang yang kejam dan banyak akalnya. Meskipun ia tahu sedang bermusuhan, tetapi ia masih dapat berlaku sabar.

Ia telah mengambil keputusan, besok saja membinasakan anak muda itu dihadapan jago-jago rimba persilatan.

"Baik. besok ya besok. Jikalau tidak datang pada waktunya, jangan sesalkan kalau aku datang kerumahmu." berkata Ho Hay Hong marah.

Ing-siu tertaw a terbahak-bahak, dengar membaw a hawa amarahnya ia terlalu.

Ho Hay Hong mengaw asi dengan hati panas, kemudian ia memandang tanah kuburan dan menggumam:

"Hay Thian. Hay Thian, hendaknya kau mati dengan meram. Aku akan menuntut balas dendam untukmu!"

Untuk pertama kalinya ia mengucurkan air matanya bagi saudaranya yang jahat dan banyak dosa itu. Dibawah sinar bintang di langit, dengan ditiup oleh angin malam yang dingin, untuk pertama kalinya ia mengungkapkan perasaannya !

Lama ia berdiri di depan kuburan, mendadak dikejutkan oleh suara burung malam. Kini hatinya telah dipenuhi oleh hawa amarah dan permusuhan, pikirannya terhadap kekasihnya telah lenyap sama sekali.

Setelah bersembahyang didepan kuburan Tang-siang Sucu, ia lantas berlalu. Perlahan-lahan ia menghilang di tempat gelap, ia memulai perjalanannya untuk membuka lembaran baru yang gilang-ge milang atau mati sebagai ksatria.

Keesokan pagi-pagi sekali, di kalangan Kang-ouw mendadak tersiar berita yang mengejutkan.

Berita itu bagaikan halilintar disiang hari bolong, merupakan suatu kejadian besar sejak adanya riw ayat dunia Kang ouw.

Berita besar itu adalah akan  dilakukannya pertandingan antara Ing-siu, jago tua kenamaan sejak enam puluh tahun berselang dengan pemimpin golongan rimba hijau daerah utara.

Berita besar ini ditiup-tiup demikian rupa sehingga belum sampai satu hari, sudah menggemparkan seluruh rimba persilatan.

Hampir setiap orang yang pernah menginjak dunia Kang ouw atau yang mengerti ilmu silat, tidak ada yang tidak tahu berita yang mengejutkan itu.

Hanya dalam waktu satu hari saja, hampir disetiap rumah makan, jalan besar dan setiap gang, semua orang membicarakan berita itu.

Sebab nama Ing-siu sudah lama terkenal, tiada orang rimba persilatan yang tidak tahu. Sedangkan pemimpin golongan rimba hijau daerah utara yang baru muncul juga telah banyak perbuatannya yang patut dipuji.

Dua manusia besar itu hendak melakukan pertarungan, berita itu benar-benar telah menggemparkan seluruh rimba persilatan. Oleh karena itu juga saudara-saudara dari golongan rimba h ijau dari daerah utara yang dekat daerah selatan, pada berbondong-bondong menuju ke selatan, untuk menyaksikan pertandingan besar itu.

Dalam waktu satu hari saja, golongan rimba hijau daerah selatan juga gempar. Pemimpin daerah utara yang sudah lama dijeleki o leh mereka, kini ternyata bertindak demikian berani, hingga pandangan mereka berubah seketika.

Tempat ditunjuk oleh Ho Hay Hong  untuk mengadakan pertandingan itu, adalah tempat sebagai daerah ternama didaerah selatan, yang letaknya kira-kira sepuluh pal dari propinsi Ciat-kang.

Tempat itu merupakan sebuah danau  yang mempunyai pemandangan alam indah.

Hari itu, mulai dari pagi hari, jalanan yang menuju kedanau itu telah dipenuhi oleh manusia-manusia yang menuju ketempat itu untuk menyaksikan pertandingan besar.

Hari itu udara cerah diatas langit hanya terdapat beberapa gumpal awan putih yang tersebar dimana- mana.

Ho Hay Hong dengan berpakaian ringkas dan seorang diri, jalan diatas jalan raya  yang menuju kedanau. Sepanjang jalan tampak banyak mata ditujukan padanya hingga semangatnya semakin menyala nyala.

Ia mengerti bahwa ini adalah Satu ujian paling berat dalam seluruh hidupnya, mati hidupnya  tergantung dalam pertempuran hari ini.  Bukan hanya itu saja, bahkan nama baik golongan rimba hijau daerah utara juga tergantung di dalam tangannya.

Ia berusaha keras menekan emosinya, supaya melupakan berlalunya dua kekasihnya dan kematian saudaranya. Ia berusaha setenang mungkin, supaya dapat melawan musuhnya dengan sebaik-baiknya.

Ia tidak berani membayangkan apakah ia akan berhasil, tetapi ia harus bertahan sekuat tenaga. Sekalipun bukan tandingannya, atau harus hancur lebur di medan pertempuran, ia juga akan melawan dengan gigih.

Dalam keadaan demikian, ia tiba ditempat yang hendak dijadikan medan pertempuran.

Sebelum ia tiba, tempat itu sudah penuh dengan manusia yang berjejal-jejal ingin menyaksikan pertempuran bersejarah itu.

Ho Hay Hong yang suka ketenangan, juga tak mau mengagulkan diri. Begitu melihat Ing siu masih belum datang, ia segera mencari suatu tempat yang agak tenang, dan duduk seorang diri.

Baru saja ia duduk, dibawah sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempat ia duduk mendadak terdengar suara orang berkata: "Saudara-saudara, Ho Hay Hong yang menduduki kursi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara itu, kabarnya adalah seorang muda yang usianya terpaut tidak jauh dengan kita. Belum lama ia muncul didunia Kang Ouw, sudah menggemparkan rimba persilatan, benar-benar sangat mengagumkan!"

"Ng !" demikian terdengar jawaban suara lain orang, "aku mempunyai satu pandangan lain, aku anggap seorang muda paling pantang namanya terlalu menonjol. Meskipun ia sudah menjadi pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, tetapi kalau dibandingkan dengan Ing-siu, masih selisih jauh. Dalam pertempuran ini mungkin ia akan rugi!"

Terdengar pula suaranya orang ketiga: "Hm, jieko! Aku lihat belum tentu seperti apa yang kau duga. Orang sengaja hendak menunjukkan kepandaiannya dirimba persilatan daerah selatan, tidak mungkin memikirkan rugi atau tidak rugi!"

Jelas suara orang itu mengandung nada mengiri dan mengejek.

Hati Ho Hay Hong tergerak. Dan ia mendengar suara lain berkata: "Sam suheng, sudahlah, semua tidak perlu bertengkar memperbincangkan urusan orang lain. Biar bagaimana sebentar lagi kita tokh akan dapat menyaksikan sendiri."

Ho Hay Hong berpaling kearah orang-orang itu, dibawah pohon besar itu ternyata ada duduk empat orang muda, yang masing-masing menyoren pedang.

Ketika empat pemuda itu melihat Ho Hay Hong  memandang mereka dengan sinar matanya yang tajam, semua terperanjat.

Ho Hay Hong juga segera mendapat kenyataan bahwa mereka itu bukan orang-orang dari golongan jahat, maka tidak menghiraukannya, tetap duduk sambil mendongakkan kepala menantikan kedatangannya Ing- siu.

Dengan mendadak, terdengar suara tertaw a nyaring menggema diudara. Suara itu diulangi lagi berulang-ulang hingga menimbulkan perhatian semua orang yang ada disitu.

Empat pemuda itu juga lantas diam, celingukan mencari cari.

Ho Hay Hong juga dapat merasakan bahwa kekuatan tenaga dalam orang itu tidak dimiliki oleh orang sembarangan. Ketika ia angkat muka, matanya segera dapat lihat seorang yang mengenakan pakaian panjang warna kelabu, berdiri menghadap kebarat. Ditengah- tengah orang banyak, orang itu nampak sangat menyolok.

Setelah Ho Hay Hong melihat tegas siapa adanya orang itu, diam-diam terkejut, karena orang itu adalah orang luar biasa berbaju kelabu dari kampung setan, yang kepandaian ilmu silatnya didapatkan dari Kakek penjinak garuda.

Ia heran mengapa orang itu juga datang kemari, agaknya juga tertarik oleh pertempuran yang akan datang.

Ho Hay Hong tidak takut, tetapi ia tidak ingin orang itu mengacau jalannya pertempuran.

Ia t idak ingin dirinya diketahui oleh orang itu, maka ia pindah ke bawah pohon, duduk berhadapan dengan empat pemuda tadi.

Tak disangka-sangka, baru saja ia duduk dihadapannya sudah berdiri tiga orang laki-laki berbadan tegap berpakaian warna ungu, membentak padanya dengan suara kasar: "Bagus, Tang Siang Sucu, kita cari-cari kau kemana- mana, tak disangka kau berada sini mencari angin. Haha, bangun, bangun Jangan berlagak gila!"

"Tuan-tuan ada keperluan apa?" balas menanya Ho Hay Hong agak heran.

"Keperluan apa?" jawab tiga orang itu berbareng: "Kurang   ajar.   Tang siang   Sucu,  kau  juga  pandai

berlagak,  Tiga  bulan  berselang,  kau  telah  membunuh

habis serumah tangga toako kita, dosamu apakah masih perlu kita jelaskan lagi."

Mereka memandang Ho Hay Hong dengan seksama, kemudian berkata pula sambil tertaw a.

"Sungguh kebetulan, suhumu sekarang tidak berada disini, maka kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk menuntut balas dendam.

Sehabis berkata orang itu memberi isyarat dengan matanya, salah seorang lantas berkata dengan suara keras:

"Bocah durhaka kita sudah mengundang seorang pandai, untuk mengambil jiwamu !"

Orang itu jarinya menunjuk kepada seorang pertengahan umur dengan berpakaian seperti pelajar. Lalu berkata pula sambil memperkenalkan orang itu.

"Tuan ini adalah ahli silat yang baru diundang oleh golongan kita, Tiat bin Sie-Seng dari gunung Lo losan. Haha, bocah, kau sekarang boleh mati dengan mata meram !" Ho Hay Hong mengerti bahwa karena perbuatan saudaranya, tidak nyana kini mereka telah salah faham dan anggap ia yang melakukan kejahatan itu.

Ia tahu mereka datang dengan penuh amarah, maka juga tahu bahwa pertempuran ini tidak dapat dielakkan lagi.

Ia berpikir: ”saudara sudah mati, keluarga Ho hanya tinggal aku sendiri, biarlah aku yang menalangi tanggung jawabnya.”

Bagaimanapun juga Ho Hay Hong adalah saudara sekandungnya. Meskipun ia tidak setuju perbuatannya, tetapi kejadian sudah terjadi demikian rupa, juga tidak bisa tinggal diam, maka ia lalu berkata dengan gagah:

"Baik, aku Tang siang Sucu akan melayani kehendak kalian!"

Tiga orang dengan serentak mundur. Tiat bin Sie seng lalu tertaw a terbahak-bahak dan berkata:

"Sudah lama aku mendengar namamu yang  besar, hari in i bertemu muka, benar saja memang bukan seorang sembarangan. Sebetulnya aku ingin bersahabat denganmu, tetapi karena tugas, aku tidak bisa berbuat apa-apa, harap kau suka memaafkan!"

Ho Hay Hong tahu bahwa waktu sangat berharga baginya, maka ia tidak mau membuang waktu dengan cuma-cuma. Katanya sambil memberi hormat:

"Tuan datang dengan membaw a tugas, sudah tentu bukan atas kehendakmu sendiri. Jangan khawatir, aku tidak akan membaw a tuan kedalam kancah permusuhan!" "Awas!" kata Tiat bin Sie-Seng sambil menganggukkan kepala dan tersenyum.

Tangannya bergerak melakukan serangan membacok dengan tangan kosong.

Hanya satu gerakan, Ho Hay Hong sudah tahu sampai dimana tingginya kepandaian pelajar itu, diam-diam terkejut.

Lelaki berpakaian ungu ketika menyaksikan Ho Hay Hong menggeser kakinya, lantas berkata sambil tertaw a menyeringai:

"Ha ha, haha! Bocah! Kau tahu juga, ini adalah ilmu silat dari golongan Lo lo san yang sangat terkenal didaerah selatan!"

Ho Hay Hong yang tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, lalu memusatkan seluruh kepandaiannya, dengan satu tangan ia maju menyerang dengan cepat.

Empat pemuda berbaju kuning nampaknya tertarik oleh pertempuran itu, semua bangkit dari tempat duduknya.

Tiat bin sieseng sendiri diam-diam juga mengakui kepandaiannya Ho Hay Hong.

Ia juga segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya yang masih sangat muda itu.

Pe rtempuran itu dengan cepat sudah menarik perhatian orang banyak, hingga pada datang berduyun- duyun untuk menyaksikan.

Ho Hay Hong sangat khaw atir hal itu akan menarik perhatiannya lelaki berbaju kelabu dari kampung setan maka ia hendak mengakhiri pertempuran itu dengan cepat.

Serangan hebat segera dilancarkan kepada lawannya.

Tiat bin sieseng terkejut, ia tidak menduga lawannya yang masih muda belia, memiliki kekuatan tenaga yang demikian hebat. Kalau semula ia pikir hendak memperkembangkan ilmu silatnya dari golongan Lo-lo- san, yang dianggapnya akan dapat menggemparkan rimba persilatan, kini harapan itu telah buyar sebagian.

Selagi Tiat-bin Sie seng memikirkan diri lawannya, Ho Hay Hong mendadak lompat melesat menyingkir meninggalkan lawannya.

Tiat-bin Sie seng heran atas sikapnya Ho Hay Hong sebab belum kalah sudah lari, maka segera mengejarnya.

Sebaliknya dengan tiga lelaki baju ungu, mereka itu mengira Ho Hay Hong tidak berani melawan hingga kabur, lalu sambil tertaw a:

"Manusia tidak tahu malu! Kita lihat kau hendak lari kemana!"

Dengan serentak mereka juga lari mengejar.

Ho Hay Hong lari meninggalkan tempat dekat danau yang akan dijadikan  medan pertempuran, kemudian berhenti disuatu tempat.

Tempat itu sangat tersembunyi, tiada manusia jalan disitu, oleh karenanya ia boleh menunggu dengan tenang. Atau kalau harus bertempur lagi, juga t idak takut akan dikerumuni oleh banyak orang yang menonton. Setelah mereka berlalu, diantara penonton seorang anak muda tampan yang muda sekali, yang usianya kira- kira baru enam belas tahun juga turut mengejar.

Orang banyak menganggap hanya ingin menonton, maka t iada seorangpun yang menghiraukannya.

Belum lama Ho Hay Hong tiba ditempat itu, Tiat bin sieseng segera menyergap sambil berseru.

"Kau belum kalah mengapa lari? Apakah maksudmu yang sebenarnya?"

Ho Hay Hong tanpa bicara segera menyambut Tiat-bin Sie-seng dengan serangan hebat, sehingga lawannya terpaksa mundur.

Tiat bin Sie seng agak mendongkol, ia kembali mengeluarkan kepandaiannya untuk menyerang lagi.

Ia menggunakan gerakan-gerakan yang sangat lincah menghujani Ho Hay Hong demikian rupa dengan serangan-serangannya yang aneh-aneh, sehingga  Ho Hay Hong seolah-olah terkurung dalam serangan tangannya.

Ho Hay Hong juga merasa heran menghadapi serangan yang demikian aneh itu, maka ia tidak berani gegabah. Ia lalu menggunakan ilmu silatnya Kun-hap Samkay, melayani lawannya dengan seru.

Di bawah teriknya sinar matahari dua orang itu bertempur sengit. Difihaknya Tiat-bin Sie-seng nampaknya sudah bertekad bulat hendak menjatuhkan lawannya, sedangkan Ho Hay Hong agak heran, sebab lawannya itu hanya diundang untuk membantu saja, mengapa bertempur mati-matian demikian rupa, agaknya seperti musuh besar.

Tetapi sudah menjadi kenyataan demikian, ia juga tidak perlu berpikir terlalu banyak, maka dengan tekad bulat pula hendak merubuhkan lawannya.

Ia tidak tahu bahwa Tiat-bin Sie Seng ada maksud hendak menjagoi rimba persilatan, meskipun diluarnya nampak berlaku merendah, tapi dalam hatinya hendak menjatuhkan semua orang kuat dalam rimba persilatan.

Sementara itu tiga lelaki berbaju ungu, terus siap sedia untuk menantikan kesempatan, apabila Ho Hay Hong terdesak, segera akan dibinasakan!

Pemuda tampan yang ikut menonton tadi, telah sembunyikan dirinya jauh-jauh, bukan saja Hay Hong tidak tahu, sedangkan dipihaknya orang-orang berbaju ungu juga tiada seorang pun yang tahu.

Pe rtempuran berlangsung semakin seru, serangan masing-masing juga semakin hebat. Kini dari f ihak orang- orang berbaju ungu agaknya juga sudah mulai mendapat firasat bahwa Tiat bin sie seng tidak mungkin dapat merebut kemenangan, hingga mereka diam-diam merasa khaw atir.

Yang mengherankan ialah Tiat-bin Sie seng sendiri nampaknya tidak bisa merasa khawatir, bahkan sebaliknya, diwajahnya yang putih bersih, setiap saat terlint as suatu perasaan girang

Perasaan girang itu semakin nyata tertampak mengikuti jalannya pertempuran, seolah-olah  sudah yakin benar ia pasti akan dapat meraih kemenangan. Hal in i tidak mengherankan, karena ilmu silatnya dengan tangan kosong yang dinamakan gerak tipu membelah awan, memang benar-benar luar biasa aneh.

Juga keampuhannya, keistimewaan ilmu silatnya itu, ada mempunyai suat kesanggupan mencari  jalan kelemahan lawannya dan kemudian dicecer secara hebat.

Ia semakin girang, karena mengetahui  bahwa serangan lawannya kalau dilihat dari luar memang hebat sekali, tetapi kalau diperhatikan benar-benar, lawannya, itu pikirannya seperti terpengaruh oleh perasaan kikuk dan bingung.

Setiap kali melakukan serangan, sebelum serangannya mengenakan sasarannya, telah dibatalkan dengan tiba- tiba.

Dengan tiba-tiba satu pikiran terlint as dalam otak Tiat- bin Sie-seng, ia segera menarik kesimpulan bahwa lawannya itu mungkin belum memiliki kekuatan mahir seperti kekuatan tenaga dalamnya

Sementara itu Ho Hay Hong yang sedang bertempur terus makin lama nampak makin gelisah sebab dalam pikirannya selalu terganggu oleh bayangan Ing-siu yang dikiranya saat itu sudah tiba dan menghinanya tidak berani datang memenuhi janji.

Pikirannya semakin gelisah, serangannya  semakin tidak teratur.

Ia sendiri juga merasa heran, karena belum pernah demikian bingung.

Dalam keadaan demikian, telinganya mendadak dapat menangkap suara sambaran angin, dengan sendirinya ia mengelak dan menggerakkan tangan kirinya untuk menangkis serangan lawannya, sedang tangan kanannya membuat satu lingkaran yang ditujukan kepada dua bagian jalan darah lawannya.

Setelah mengeluarkan serangannya itu, ia mulai memusatkan kekuatan tenaganya dan pikirannya

Selagi berusaha untuk memusatkan pikirannya, suara keras terdengar pula, dalam waktu sekejap mata, suara itu sudah mendekati dirinya.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, ia tidak menduga bahwa perubahan gerakan lawannya demikian pesat, bahkan bisa menembusi serangannya sendiri yang rapat.

Disamping terkejut, pikirannya seketika itu jernih kembali, tetapi hendak menarik kembali tangannya untuk menangkis serangan lawannya sudah tidak keburu lagi. Diantara suara ledakan keras ia terpaksa mengempos hawa murni dan membusungkan dadanya.

Karena keadaan mendesak walaupun ia berhasil menghindarkan diri dari serangan depan, tetapi tidak berhasil mengelakkan sambaran angin dari serangan tersebut, hingga bajunya robek sebagian.

Diantara sorak-sorai dari orang-orang berbaju ungu, Ho Hay Hong dapat menampak tegas bahwa wajah Tiat- bin Sie-seng menunjukkan sikap puas, bangga dan jumawa, bibirnya tersungging satu senyuman yang mengandung sindiran. Ini membuat panas hatinya, hingga dengan tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan bersiul panjang. Tiat-bin Sie seng terkejut, ia dapat merasakan bahwa suara siu lan itu agak aneh, samar-samar seperti mengandung kemarahan sangat besar.

Ia melihat lagi wajah Ho Hay Hong, Saat itu nampak pucat pasi, sedang kedua matanya bersinar buas, dua tangannya dirangkapkan didepan dadanya, bergerak tidak berhenti-henti.

Dalam hati lalu berpikir : ”Apa yang akan dilakukan oleh anak muda ini ? Sikapnya yang buas ini, sungguh menakutkan”

Selagi pikirannya belum tenang, suara bentakan nyaring t iba-tiba keluar dari mulut Ho Hay Hong :

"Tiat-bin Sie-seng, serahkan jiw amu!"

Dua tangannya yang satu disodorkan yang satu ditarik kembali, lambat-lambat bergerak kehadapan Tiat-bin Sie Seng.

O-oodwoo-O