Rahasia Kampung Setan Jilid 26

 
Jilid 26

TETAPI ia agak masih penasaran, dalam keadaan kalut seperti itu, tangannya menyerang Long-gee-mo, kemudian lompat mundur setombak lebih sambil memaki-maki Ho Hay Hong:

"Hay Hong, kau benar-benar seperti patung, tidak mengerti maksud orang baik."

Pada saat itu, Long-gee-mo mendadak rubuh terlentang, Tiat Chiu Khim terlepas dari tangannya.

Ho Hay Hong dengan cepat menyambar tubuh sinona, dan lompat mundur.

Pada saat itu, ia baru tahu bahwa Long-gee-mo bergulingan ditanah sambil menggeram, dahinya penuh air keringat, keadaan sangat menyedihkan.

Tak lama kemudian, Long-gee-mo mengeluarkan suara jeritan mengerikan, mulutnya mengeluarkan darah, sejenak tubuhnya mengeliat akhirnya berhenti.

Diluar rubuhnya Tang siang sucu sendiri, serangannya tadi secara kebetulan mengenakan bagian yang paling lemah ditubuh Long gee-mo.

Karena Long gee-mo mempelajari ilmu weduk, yang tidak mempan senjata tajam, tetapi di bagian yang paling lemah, sedikitpun tidak boleh diganggu. Apa mau, serangan Tang siang Sucu tadi dengan tepat mengenakan bagian yang paling lemah itu, hingga kekuatan tenaga dalamnya buyar semua dan jiwanyapun turut melayang.

Sebetulnya, maksud Tang siang Sucu hanya hendak merebut Tiat Chiu Kim, bukannya membantu Ho Hay Hong. Tetapi kini setelah berbuat kesalahan ia lantas minta upah, kepada Ho Hay Hong. "Ho Hay Hong Saudaramu demikian baik hati terhadap kau, bagaimana kau  hendak membalas budi?" demikian ia berkata.

Lam kiang Tay-bong sangat marah, dengan satu tamparan ia memukul muridnya sehingga terlempar jatuh.

"Binatang! Aku mau lihat bagaimana kau menghadapi Ing-siu?" sang guru itu menegur.

Tang siang Sucu merayap  bangun selagi masih ketakutan, lantas mendengar teguran demikian dari mulut suhunya. Ia tahu bahaya telah  mengancam dirinya, maka buru-buru berlutut di hadapan gurunya seraya berkata:

"Tecu telah kesalahan bertindak, ampunilah dosa muridmu!"

"Binatang! Bagaimana aku dapat mengampuni dosamu? Kau sudah menimbulkan bencana seharusnya kau tanggung sendiri akibatnya!"

Ho Hay Hong merasa t idak enak, maka lalu berkata. "Cianpwee adalah suhunya, sudah tentu dapat

mengambil keputusan. Apakah. "

Ia sengaja berhenti sejenak, kemudian berkata pula. "apakah cianpwee jeri terhadap Ing siu? Maka tidak berani membela murid sendiri ?"

Mendengar perkataan itu Lam-kiang Tay-bong tenang kembali, katanya dingin: "Kau jangan turut campur!"

"Sekarang Long-gee-mo telah binasa ditangan muridmu. Kalau suhunya mengetahui ini, pasti tidak mau, mengerti. Saat itu haha." Kemudian ia berkata kepada Tang-siang Sucu, "aku tahu maksudmu, membinasakan Long gee mo, adalah hendak merebut nona ini dari tangannya, bukan hendak membantu aku dengan sejujurnya. Tetapi Long-gee-mo kini sudah mati aku tidak akan sesalkan kau lagi. Kesalahan in i harus kita pikul berdua. Untuk selanjutnya kita akan merupakan kawan, dalam satu barisan, jangan mempersulit satu sama lainnya lagi!"

Ia memondong tubuh Tiat Chiu Khim dan berkata pula: "Cianpwee, tanggung jaw ab kita tanggung bersama-sama, kau pikir bagaimana?".

Lam-kiang Tay-bong diam-diam berpikir: ”kesalahan ini seharusnya menjadi tanggung jaw abku, tetapi ia suka menanggung sebagian apa salahnya aku terima?"

Sebagian orang yang banyak akal ia anggap hanya menerima baik permint aannya saja rasanya belum cukup menggerakkan hati Ho Hay Hong, maka ia hendak memberi sedikit budi, supaya  ia lekas membereskan permusuhan dengan kakek penjinak garuda.

"Siaohiap benar, kesalahan sudah terjadi, kita harus tanggung bersama!" demikian ia berkata.

Ho Hay Hong mundur dua langkah, katanya dingin: "Cianpwee, maafkan aku akan berkata secara blak-

blakan. Jelasnya, ucapanmu ini bukan keluar dari hatimu yang sejujurnya !"

"Mengapa kau berkata demikian ?"

"Cianpwee mengatakan hendak damai, tetapi tindakanmu tidak demikian. Bukankah itu merupakan suatu bukti yang nyata bahwa ucapanmu tidak sesuai dengan tindakanmu."

"Apa kau kira tindakanku ini tidak menguntungkan kau? Kalau p ikir demikian, itu salah besar. Aku bukannya mengandung maksud jahat tetapi sebaliknya hendak membantu kau !"

"Membantu aku? Cianpwee ingin membantu apa ?" "Kau jangan tanya dulu, berikanlah nona itu dulu

padaku, aku hendak periksa keadaannya !"

"Tidak, aku tahu sifatmu suka berubah tidak menentu, kalau aku menuruti perint ahmu, berarti  aku  serahkan jiw a nona ini kemulut harimau !"

Mendengar perkataan itu, Lam kiang Tay bong tertawa terbahak-bahak.

"Siaohiap, kau terlalu menghina diriku. Kau pikir, aku adalah satu dari lima orang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini, bagaimana aku bisa melakukan perbuatan demikian? Legakan hatimu, jangan sia-siakan waktu lagi, ini tidak menguntungkan bagi dia"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: “Apa ia hendak berbuat? Bukankah ia sudah melihat sendiri, mengapa perlu memeriksa lagi ?”

Ia masih ragu-ragu, sedangkan Lam kiang Tay bong sudah berada dihadapannya. Mendadak ia mengambil keputusan. Karena jiw a nona itu memang sangat berbahaya, biarlah ia periksa, barangkali ia juga tidak berani melakukan perbuatan yang akan merendahkan martabatnya sendiri. Maka ia tidak merint angi lagi, membiarkan Lam kiang Tay bong memeriksa sinona.

Maka Lam kiang Tay bong memandang wajah sinona tanpa berkedip, lama baru berkata:

"Masih untung, kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, hingga keadaan dalam tubuhnya tidak terdapat kerusakan. Masih ada sedikit harapan !"

Kedudukan Lam kiang Tay-bong tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, tidak mungkin berani mengucapkan perkataan sembarangan. Maka hati Ho Hay Hong mulai lega.

Ia masih belum mengerti, mengapa orang demikian buas dan kejam seperti Lam kiang Tay bong dengan mendadak berlaku demikian baik terhadapnya?

Dan sikap yang ditunjukkan oleh orang tua itu sejak semula, juga sikap persahabatan yang tiada  mengandung sifat permusuhan, hal in i ia benar-benar sangat bingung.

"Dalam tubuhnya terluka parah, hingga hanya murninya buyar dan membeku di dalam  tubuhnya, jikalau tidak lekas diobati, barangkali tidak bisa hidup sampai empat puluh delapan jam!"

"Cianpwee paham ilmu tabib?" tanya Ho Hay Hong. "Terpaksa harus minta pertolongan tabib,  aku barang

kali tidak  sanggup."  jaw ab  Lam kiang  Tay bong sambil

menggelengkan kepala.

Hati Ho Hay Hong merasa cemas.

"Kalau begitu, aku harus menggunakan waktuku sebaik-baiknya, untuk mencari tabib pandai!" "Dengan terus terang, luka ini harus di bantu oleh obat Liong yan-Hiang. Obat itu adalah buatan kakek penjinak garuda sendiri yang ia selalu banggakan. Dalam badan nona ini tidak mungkin tidak sedia!"

Ho Hay Hong diam-diam mengeluh: celaka, Liong yan hiang yang terakhir pada dirinya semua sudah diberikan padaku, mana sekarang masih ada lagi."

Lamkiang dapat lihat sikap gelisah sianak muda, ia pura-pura menanya:

"Apakah ia tidak mempunyai persedian obat itu?" "Kecuali Liong yan-heng, apakah sudah tidak ada obat

lain lagi?"

"Bukannya tidak bisa, tetapi kalau menggunakan lain obat, khasiatnya agak kurang. Walaupun dapat menyembuhkan luka dalam tubuhnya, juga tidak menyembuhkan seluruhnya. Dengan sisa luka   yang masih ada, sudah cukup untuk memusnahkan kekuatan tenaganya, hingga harus menderita penyakit selama- lamanya. Penderitaan ini lebih berat dari kematian."

Mendengar keterangan itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong.

"Cianpwee, benarkah kau sudah tidak berusaha?"

Lam-kiang Tay-bong dengan jelas dapat memahami perasaan hati Ho Hay Hong. Ia tahu bahwa anak muda itu selamanya tidak pernah meminta pertolongan orang, tetapi kini atas kemauan sendiri minta pertolongannya jelas betapa dalam cintanya terhadap gadis itu. Maka lalu berkata. "Mengapa kau tidak mencari Kakek penjinak garuda, ia sudah pasti mempunyai persedian cukup obat Liong-yan- hiang!"

Perkataan itu menyadarkan Ho Hay Hong, dengan alis berdiri ia berkata:

"Ow, ya. Kakek penjinak garuda pasti mempunyai banyak persedian!"

Tetapi, kemudian ia berpikir lagi: ”aku sendiri sudah bertengkar dengannya, dengan cara bagaimana aku bisa mendapatkan obat itu darinya?”

Apalagi sekarang ia sudah membunuh pembantunya yang diandalkan Tio-kang, kejadian ini membawa akibat lebih meruncingnya percekcokan mereka. Mungkin Kakek penjinak garuda sudah mendapat kabar kematian pembantunya itu mungkin juga ini sedang mengadakan pengusutan.

Ia tahu bahwa Tiat Chiu Khim sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Andaikata si Kakek, itu sendiri masih belum mengetahui bahwa gadis itu sudah tahu riw ayat dirinya, hingga mau memberikan obatnya, tetapi bagi gadis itu sendiri barangkali lebih suka mati, juga tidak, mau menerima pemberiannya.

Ia kenal baik perangai gadis itu, ia juga tahu sifat keras kepala dan tinggi hati gadis itu. Kini ia menghadapi persoalan yang sangat rumit ini, benar-benar memusingkan kepalanya.

"Sekarang ini, jiw anya benar-benar sedang, terancam bahaya maut, akibat bubarnya hawa murni, ia tidak bisa sadarkan dirinya. Kalau tidak lekas mendesak keluar hawa murni yang mengeram dalam tubuhnya, dalam waktu tiga jam, pasti binasa!" kata Lam-kiang Tay bong.

"Benarkah kata-katamu ini?" tanya Ho Hay Hong terkejut.

Tetapi kemudian ia merasa bahwa pertanyaannya itu sia sia saja karena seorang seperti Lam-kiang Tay bong baik tentang kepandaian ilmu silatnya, maupun kedudukannya dalam rimba persilatan, sudah merupakan salah satu dari tokoh tokoh yang terkenal namanya, bagaimana ia bisa melakukan perbuatan rendah, yang seolah-olah memukul anjing yang kecemplung dalam air.

"Orang yang menyembuhkan lukanya itu harus seorang wanita, Sebab siaohiap kau juga tahu bahwa bagian penting untuk mengalirkan hawa itu letaknya ditempat tersembunyi. Maka itu aku lebih dulu sudah peringatkan kau, harap kau lekas mencari seorang sahabat wanita yang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu kau."

Muka Ho Hay Hong merah, sementara dalam hatinya berpikir, aku muncul dikalangan Kang ouw masih belum lama, kenalan tidak banyak, kemana harus mencari sahabat wanita yang demikian t inggi kepandaiannya?

Dalam hati mengeluh, kecuali gadis berbaju ungu, Toan bok Bun Hw a dan Su-to Cian Hui, sudah tidak ada lain kawan wanita lagi.

Namun dari tiga wanita itu, Su-to Cian Hui dan Toan bok Bun Hw a sudah tidak tahu dimana jejak mereka juga sudah lama tidak ada kabar beritanya, sudah tentu tidak dapat diketemukan dalam waktu singkat. Sedangkan gadis berbaju ungu juga sudah pergi dengan hati panas, sekalipun dapat diketemukan barangkali juga tidak mau menyembuhkan luka Tiat Chiu Khim.

Sementara itu, Lam-kiang Tay-bong mendesak lagi: "Ho Siaohiap, waktu sangat berharga, hingga tidak

dapat dibeli dengan emas. Kau jangan sia-siakan lagi, pergilah lekas!"

Ho Hay Hong seperti baru tersadar dari mimpinya, tanpa pikir lagi, ia lalu mengucapkan terima kasihnya kepada Lam kiang Tay bong.

Dalam keadaan bingung, tanpa banyak pikir lagi, Ho Hay Hong lantas pondong tubuh Tiat Chiu Khim lari menuju ke selatan dan sebentar saja sudah menghilang.

Waktu itu cuaca gelap, suasana sunyi jalan yang sepi hanya terdengar suara langkah kakinya yang menginjak jalan raya.

Ia berjalan sambil menundukkan kepala, mendadak terdengar suara bunyi ringan, buru buru menghentikan kakinya.

Bagai orang yang kepandaiannya mencapai taraf tertinggi, asal mendengar suara rumput tertiup angin saja, segera dapat membedakan baik atau jahat.

Ia berkepandaian demikian tinggi, sudah tentu tidak terkecualikan. Suara itu seolah-olah suara jatuhnya daun kering tetapi juga mirip dengan suara orang rimba persilatan yang melayang turun selagi kakinya menginjak tanah. Oleh karena itu, maka ia tidak berani berlaku gegabah. Ia juga tahu bahwa maksud kedatangannya kedaerah selatan kali in i, tanpa disengaja telah menimbulkan permusuhan, hingga meletakkan dirinya seolah-olah terkepung oleh musuh-musuhnya.

Ia pasang mata mencari-cari, tetapi tidak menemukan tanda apa-apa.

Tetapi, ia juga tidak percaya bahwa pendengarannya sendiri tadi salah, maka ia percaya bahwa orang yang melayang turun itu tadi sudah sembunyikan diri d itempat gelap.

Ia menemukan satu akal, ia sengaja perdengarkan suara tertaw a dingin, kemudian melanjutkan perjalanannya, seolah-olah t idak tahu apa-apa.

Dengan mendadak. Tiat Chiu Khim mengeluarkan suara rint ihan pelahan, suara itu meski pun tidak nyata tetapi dalam telinga Ho Hay Hong sudah cukup membangkitkan rasa girangnya. Dengan cepat ia menanyakan:

"Chiu Khim, kau sudah sadar?"

Bulu mata Tiat Chiu  Khim yang panjang nampak bergerak-gerak dua kali, kemudian membuka matanya perlahan-lahan.

Ho Hay Hong berusaha keras menekan perasaannya yang tidak tenang, diam-diam memperhatikan keadaannya. Ia sangat terkejut ketika  menyaksikan betapa lemah keadaan gadis itu.

Cahaya matanya tidak bersinar lagi, tetapi biji matanya yang jeli itu masih tetap mengandung rahasia yang mendebarkan hatinya. Gadis itu merint ih dua kali, mengawasi keadaan sekitarnya sebentar, agaknya juga mengetahui dirinya berada dalam pelukan seorang lelaki hingga ia coba meronta.

Ho Hay Hong berkata dengan suara perlahan.

"Chiu Khim. inilah aku, kau beristirahatlah dengan tenang."

Mendengar namanya disebut, ia segera berhenti meronta dan bertanya: "Kau siapa?"

Suaranya itu tidak bertenaga, seolah-olah mengambang.

"Aku Hay Hong!" jaw ab Ho Hay Hong dengan lemah- lembut.

Ia mengerti perasaan si gadis pada waktu itu, lalu ia segera memberi keterangan.

"Kau sudah terluka, orang yang melukai kau itu, kini sudah kubinasakan. Kau beristirahatlah dengan hati tenang"!

"Hay Hong, ini tempat apa?"

"Ditengah perjalanan!" jawabnya sangat hati-hati. "Hay Hong, aku sudah hampir mati, aku minta tolong

padamu, supaya mengabarkan kepada ibu bahw a aku." Berkata sampai disitu, air matanya mengalir keluar.

Jantung Ho Hay Hong berguncang keras, katanya tegas:

"Tidak, Chiu Khim kau tidak bisa mati. Aku Ho Hay Hong, asal  aku masih bisa bernapas, tidak akan membiarkan kau mati di tangan iblis itu. Lekas dengar kata-kataku, beristirahatlah dengan tenang."

Tiat Chiu Khim pelahan-lahan memejamkan matanya, berkata sambil tersenyum getir:

"Hay Hong, aku tahu kau sedang menghiburi aku, terima kasih atas kebaikanmu, tetapi aku barangkali t idak bisa hidup lebih lama lagi."

"Chiu Khim, kau tidak boleh mengeluarkan perkataan seperti orang tua putus asa. Kau t idak b isa mati, dengan terus terang, hatiku bahkan lebih cemas daripada kau sendiri"

Ia mengepal-ngepal t injunya dan- berkata pula:

"Chiu Khim, kau harus tabahkan hatimu, apakah kau sudah lupa musuh ayahmu?"

"Takkan kulupakan, takkan kulupakan."

Gadis itu meskipun mulutnya mengatakan demikian tetapi kepalanya pelahan-lahan menunduk, rambutnya yang hitam panjang terurai kebahunya dan menutupi wajahnya.

Jantung Ho Hay Hong dirasakan hampir loncat keluar, ia pikir, apakah benar sudah dekat ajalnya?"

Pikiran yang menakutkan itu sekilas terlint as dalam otaknya, sesaat kemudian ia bingung sendiri. Ia buru- buru menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya memanggil-manggil.

"Chiu Khim, kau sadarlah, sadarlah!"

Tiat Chiu Khim yang sudah pingsan, ketika digoyang tubuhnya, terganggulah luka dalam tubuhnya, hingga mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan orangnya juga sadar dengan segera. Dengan suara hampir tidak bertenaga ia bertanya:

"Ada urusan apa? Hay Hong !"

"Pertahankanlah kekuatanmu, aku akan mencari orang untuk menolong dirimu !"

"Aku sudah tidak ada harapan lagi, kau tak usah mencapekkan hati !"

"Tidak, bagaimanapun juga, aku harus menolong dirimu."

"Hay Hong, demikian baik kau terhadap diriku, kalau aku bisa melihat ibu sekali lagi. Sekalipun mati juga tidak menyesal."

Hati Ho Hay Hong tercekat, selagi memikirkan ucapan gadis in i, hembusan angin mendadak menyerang dirinya.

Meskipun pikirannya sedang risau, tetapi karena kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, dengan sendirinya panca indranya sangat tajam. Maka begitu merasa ada hembusan angin menyambar, ia segera mengerti ada orang membokong dirinya.

Ia masih tetap melanjutkan perjalanannya, sedang tangan kirinya secepat kilat balas menyerang.

Diluar dugaannya, serangan secepat kilat itu ternyata mengenakan tempat kosong.

Menurut perhitungannya, betapapun tinggi kepandaian orang itu, juga sulit mengelakkan serangannya yang ganas itu, tapi apa yang terjadi, ternyata diluar dugaannya. Dengan cepat ia menoleh, matanya segera melihat pemimpin golongan Lempar batu, Chim Kiam sianseng berdiri t idak jauh dibelakangnya.

Pemimpin itu masih tetap mengenakan kerudung mantel yang terbuat dari kulit harimau, hingga nampak semakin keren.

Pikiran mulai tenang, tetapi ia merasa curiga, maka lalu bertanya:

"Sianseng ada keperluan apa?"

"Keperluan apa? Hm! Tanyalah kepada dirimu sendiri." jawab Chim Kiam sianseng.

Ho Hay Hong berpikir: ”Pemimpin ini dahulu ramah tamah terhadapku, belum pernah bersikap demikian bengis, apakah terjadi perkara lagi?”

"Aku benar-benar tidak mengerti, harap Sianseng memberikan penjelasan!" demikian ia berkata.

Chim Kiam sianseng dengan sinar mata dingin memandang gadis dalam pondongannya, lalu berkata dengan nada suara dingin:

"Apakah lantaran nona ini kau bermusuhan denganku? Memang benar, nona ini memang cantik jelita, tetapi bagi orang gagah yang tulen tidak nanti sampai terjerumus kedalam perosok pipi licin!"

Ho Hay Hong semakin tidak mengerti, ia berkata: "Sianseng jangan coba main lidah, katakanlah

maksudmu yang sebenarnya!"

"Baik, aku sekarang jelaskan. Pribahasa ada kata orang, yang membunuh jiw a orang harus mengganti jiwa pula. Ho Siaohiap, kau membunuh paman guruku, maka sekarang aku minta kau ganti jiwanya !"

Kini tersadarlah Ho Hay Hong bahwa kedatangan pemimpin partay itu adalah hendak menuntut balas dendam kematian paman gurunya.

"Memang benar, sinaga api Tio Kang adalah paman gurumu, tetapi aku membinasakan dia ada sebabnya, kalau kau tidak percaya, tanyalah kepada Lam Kiang Tay-bong locianpwee. Tio Kang itu adalah musuh besarku yang dahulu merenggut jiwa ibuku!"

"Kau bohong, siapapun tahu bahwa kau siaohiap dengan suka rela suka menjadi anjing nona ini !"

"Katakanlah dengan sebenarnya, apa maksud dengan ucapanmu suka rela tadi? Apa maksud pula dengan ucapan anjing itu? Hm, hm, apakah aku Ho Hay Hong yang hidup sebagai orang laki-laki, tidak bisa menuntut balas dendam sakit hati ibuku?"

"Mulutmu ingatkan menuntut balas, padahal yang sebenarnya adalah supaya kau menyenangkan hatinya. Apa kau kira aku tidak tahu ?"

"Kalau kau tidak percaya, sudahlah, kau menghendaki bagaimana, terserah denganmu sendiri, jangan demikian menghina aku"

Ketika teringat bahwa luka kekasihnya justru atas perbuatan Tio Kang, maka seketika hawa amarahnya memuncak. Dengan suara marah ia berkata pula:

"Nona ini tanpa sebab dilukai o lehnya kau adalah keponakan muridnya, sungguh kebetulan dapat kugunakan untuk melampiaskan kemarahan hatiku." "Bocah she Ho, disini bukan daerah utara yang kau boleh berbuat sesukamu, kau harus tahu bahwa aku sudah memasang jaring, setiap waktu dapat mengunci  jiw amu!" berkata Chim Kiang sianseng sambil tertaw a dingin.

"Kalau aku takut kau gertak, Sekarang aku t idak akan berani berlaku salah terhadapmu. Jangan banyak bicara majulah!" berkata Ho Hay Hong sambil tertaw a terbahak- bahak.

Ia sudah yakin benar kepandaiannya sendiri, meskipun lawannya itu merupakan seorang lawan tangguh yang besar pengaruhnya, tetapi ia tidak menghiraukan, dengan menudingkan jari tangannya, ia berkata pula:

"Mari, mari kita boleh bertempur sepuas-puasnya, biar darah merah nantinya menyelesaikan persengketaan kita!"

"Bengcu rimba hijau daerah utara benar saja hebat. Baik, mari disinilah kita putuskan!" berkata Chim Kiam sianseng sambil tertaw a besar.

Suara tertaw a demikian nyaring, hingga mengejutkan serombongan burung-burung malam, begitupun Tiat Chiu Khim juga sampai terkejut. Gadis itu bertanya dengan heran:

"Hay Hong. kau ribut dengan siapa?"

"Chim Kiam sianseng." jawab Ho Hay Hong.

Tiat Chiu Khim berulang-ulang menyebut nama itu, mendadak berkata:

"Bukankah dia itu pemimpin golongan Lempar batu?" "Benar." "Apakah yang dia ingin Hay Hong, jikalau ia hendak mencari onar denganmu, sekalian kau mintakan kembali pedang pusaka garuda sakti,"

Ho Hay Hong berpikir. ”Y a, hampir saja aku lupa”.

Matanya segera mengawasi pemimpin itu, benar saja ia melihat pedang pusaka itu berada diatas  punggungnya.

"Chiu Kim, pedang pusakamu benar berada diatas punggungnya!" berkata Ho Hay Hong sambil tertaw a nyaring:

"Kau yakin dapat merampas kembali." tanya Tiat Chiu Kim.

Karena berbicara terlalu banyak, napas gadis itu menurun, dan kemudian mulutnya menyemburkan darah

Menyaksikan keadaan itu, Ho Hay Hong mendadak dengan kecepatan seperti kilat tangannya bergerak melancarkan serangan keatas sebuah pohon besar, kemudian disusul oleh suara jeritan manusia, dari atas pohon itu melayang seorang laki-laki yang jatuh ditanah. 

Dengan marah sekali, ia mengambil sebuah jarum halus dari bahu Tiat Chiu Kim, kemudian bertanya kepada Chim kiam sianseng:

"Aku hendak tanya, apakah ini perbuatan mu ?"

"Ho Siaohiap kau jangan mengoceh saja, lihatlah dulu biar jelas kau nanti boleh lagi."

Ho Hay Hong menyambar orang tua itu dan diangkat tinggi tinggi, setelah diperiksanya ia baru melihat bahwa orang itu mempunyai laut muka yang dicoreng-coreng mendadak ia berseru: "Oh! Manusia hutan. Penemuan itu telah menggerakkan hatinya, matanya berputaran diwajah coreng-coreng manusia liar, lalu tangannya dimasukkan ke dalam saku orang itu, seolah-olah mencari apa-apa.”

Sebentar kemudian, ia mengeluarkan tangannya dengan perasaan kecew a, sebab di dalam tubuh orang itu tidak didapatkan obat Liong Yen hiang yang dibutuhkan,

"Ho siaohiap, aku kira meskipun kau sudah menduduki kedudukan tinggi sebagai Bengcu rimba hijau daerah utara, tetapi kekuatanmu yang sebenarnya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian kakek penjinak garuda. Akibat perbuatanmu ini kau nanti akan merasakan sendiri" berkata Chim kiam sianseng sambil tertaw a dingin.

"Jangan khaw atir, aku berniat membinasakan orangnya sudah tentu tidak takut ia datang menuntut balas." berkata Ho Hay Hong. kemudian mengangkat tangannya, sinar gemerlapan meluncur dari tangannya menuju kearah barat.

Kiranya, senjata rahasia tadi adalah jarum yang dibawa oleh manusia liar itu.

Ho Hay Hong sangat tajam pandangan matanya, ia sudah lama melihat ada orang tersembunyi digerombolan batu yang berada diarah barat maka dengan senjatanya orang itu ia sambitkan kepada orang tersembunyi itu.

Benar seperti apa yang d iduganya, orang tersembunyi ditumpukan batu itu mengeluarkan suara jeritan ngeri sesosok bayangan orang lompat tinggi satu tombak kemudian suaranya habis dan orangnya jatuh ditanah, binasa seketika itu juga.

Chim Kiang sianseng dengan matanya yang tajam, segera dapat melihat bahwa dijidat orang itu menancap sebuah jarum, hingga dalam hati diam-diam juga terkejut. Ia sungguh tidak menduga bahwa kepandaian pemuda itu mendapat kemajuan demikian pesat.

Ho Hay Hong berkata sambil tertaw a dingin:

"Tak kusangka sianseng juga rela menjadi anjingnya Kakek penjinak garuda, aku hendak tanya padamu apakah manusia-manusia liar ini, kau yang membawa dari kampung setan?"

"Ho siaohiap, tak ada gunanya kau banyak bicara, aku membaw a perint ah Kakek penjinak garuda dari jauh datang kemari, mencari kau membuat perhitungan dan menangkap kembali muridnya yang mengkhianati dirinya!"

"Bagus, bagus, sekarang kau perint ah manusia liar, kemudian kumpul disatu tempat dan mengundurkan diri diam-diam."

Ho Hay Hong sementara itu sudah meletakan Tiat Chiu Khim ke tempat yang aman, kemudian bertanya kepada Chim Kiang sianseng sambil tertaw a dingin:

"Dengan seorang diri saja kau hendak bertempur denganku?"

"Kau jangan sombong, dengan seorang diri sudah cukup aku menundukkan kau."

Tangannya segera bergerak membabat Ho Hay Hang, tetapi serangan itu mendadak beralih dan berganti menjadi gerakan memotong. Yang aneh ialah setiap gerakannya itu menimbulkan suara mengaum.

Ho Hay Hong mundur selangkah, kemudian maju menyerbu, dua law an itu mengadu kekuatan tenaga masing-masing lantas lompat mundur sejauh satu tombak.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ”Menurut hasil percobaan ini, kekuatan tenaga dalam ku ternyata tidak kalah dengannya, mengapa aku tidak menggunakan ilmu silat garuda Sakti?”

Sehabis berpikir, ia lantas bersiul nyaring, kemudian lompat setinggi lima tombak.

Gayanya dan perobahan gerakannya, Chim Kiam sianseng sudah pernah melihat dari kakek penjinak garuda, maka wajahnya berubah seketika, mulutnya berseru:

"Ah ! Kau ternyata pandai ilmu garuda sakti."

Dengan mendadak ia menghentikan perlawanan, mungkin kepandaian ilmu silat luar biasa itu sudah tergores dalam sekali dalam sanubarinya, sehingga menimbulkan rasa takut.

Ketika tangan Ho Hay Hong sudah mendekati dirinya, ia baru sadar dengan tiba-tiba. tetapi pedang pusaka garuda Sakti diatas punggungnya sudah direbut oleh Ho Hay Hong yang hebat hanya menumbangkan Pohon- pohon yang berada disitu tidak mengambil jiwa manusia.

Ho Hay Hong menghunus pedangnya, ujung pedang mengeluarkan suara mengaum dan menimbulkan percikan seperti bunga mekar, secepat kilat menikam diri Chim Kiam sianseng.

Chim Kiam Sian-seng segera mengeluarkan ilmu serangannya yang dibanggakan. Selama itu serangan itu menimbulkan suara angin menderu bagaikan angin puyuh.

Ia sudah tahu bahwa hari itu menemukan lawan tangguh yang dalam hidupnya belum pernah ia ketemukan. Pandangannya berubah seketika. Setiap serangannya dilakukan dengan hebat dan ganas, karena serangan yang hebat itu, maka perlahan-lahan dapat merubah kembali keadaan.

Ho Hay Hong yang menggunakan ilmu pedangnya yang bisa digunakan untuk menghadapi lawan tidak begitu tangguh, tetapi mendadak ia berpikir: ”Ilmu pedangku ini meskipun aneh dan hebat, tetapi untuk menghadapi lawan kelas satu seperti dia ini, agaknya kurang leluasa, mengapa aku t idak gunakan ilmu pedang terbangku, mungkin lebih hebat.”

Pikiran itu hanya sekejap saja terlontar dalam otaknya, sedang pedang panjangnya sudah di sodorkan lagi tiga dim.

Hawa. dingin timbul mendahului ujung pedang, Cim Kiam sianseng yang dalam hidupnya pernah bercanda dengan senjata tajam, saat itu. juga timbul perasaan jeri.

Dengan cepatnya tangannya bergerak menyerang pedang yang mengancam dirinya, kemudian menggunakan kesempatan itu, ia maju selangkah dan menyerang dengan tangan kanan. Lengan tangannya itu ada mengandung kekuatan tenaga besar sekali, apalagi serangan itu merupakan serangan yang mematikan yang sulit dijaga oleh lawannya.

Pada saat itu, Ho Hay Hong Sudah tahu benar bahwa serangan lawannya itu hebat sekali ia juga tahu kecuali lompat tinggi untuk mengelakkan serangan itu, sudah tidak ada jalan lain yang lebih baik.

Oleh karena keadaan mendesak, terpaksa ia lompat tinggi menghindarkan serangan itu. .

Tetapi secepat kilat pikirannya berubah pula, dalam anggapannya Chim Kiam sianseng bukanlah lawan sembarangan, jikalau dirinya sendiri tidak berani menempuh bahayanya untuk menjatuhkannya, karena kekuatan kedua pihak yang berimbangan dalam waktu singkat tidak mungkin bisa ditentukan.

Tujuannya ingin lekas menyelesaikan pertempuran itu supaya tidak menghambat waktu, karena waktu baginya memang benar-benar sangat berharga. Oleh karena itu maka ia telah mengambil keputusan, bertekad hendak menyelesaikan pertempuran sesingkat mungkin.

Bersamaan pada saat ia mengambil keputusan itu, dan tubuhnya bergerak, dan digeser maju dengan tiba-tiba menyambitkan pedang garuda sakti dari tangannya.

Pe rtempuran dengan cara mengadu jiw a itu adalah caranya yang bisa dilakukan oleh orang-orang Kang ouw yang kepandaiannya biasa. Dengan cara yang buruk itu Ho Hay Hong telah gunakan untuk menghadapi jago tua yang sudah ulung, sebaliknya malah membuat jago tua itu terheran-heran tidak habisnya.

Karena t imbulnya pikiran semacam itu, mau t idak mau telah mempengaruhi gerakannya. Sementara itu sinar pedang yang berkilauan sudah berada dihadapan matanya.

Detik-detik yang sangat berbahaya itu, yang masih sanggup mengendalikan perasaan yang tergoncang hebat, tetapi pedang yang tajam itu juga terpisah hanya tiga dam saja dihadapan perutnya.

Ketika ia tersadar ujung pedang sudah menyentuh bajunya, bukan kepalang terkejutnya. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya, tangannya menyapu.

Setelah terdengar suara benturan hebat, Ho Hay Hong tidak dapat berdiri tegak, badannya terhuyung-huyung dan rubuh terjengkang. Sedangkan Chim Kiam sianseng mengeluarkan suara jeritan ngeri, juga rubuh ditanah.

Dengan mengertak gigi, tangannya memegang perutnya perlahan-lahan ia mencoba bangun, tetapi baru saja berdiri kakinya tidak kuat mengimbangi tubuhnya, hingga akhirnya rubuh lagi.

Pedang garuda sakti menancap diperutnya sedalam setengah kaki, usus keluar berantakan. Darah merah mengalir dari bekas lukanya sehingga membasahi tanah disekitarnya.

Rasanya sudah tidak jauh dengan ajalnya, tetapi dengan mengandalkan latihan yang tidak terputus, selama beberapa puluh tahun, ia masih dapat mempertahankan dirinya.

Wajahnya putih bagaikan kertas, keringat dingin ngucur keluar, jago tua kaw akan yang pernah malang melintang didunia Kangouw itu, kini harus merasakan betapa hebatnya penderitaan sebelum putus nyaw anya. Dengan perasaan gusar ia mencabut pedang dari perutnya, lalu disambitkan kepada Ho Hay Hong.

Tetapi Ho Hay Hong dapat mengelak, sehingga pedang itu meluncur terus dan menancap disebuah pohon besar. Dari sin i dapat diukur betapa hebat kekuatan tenaga pemimpin itu, di saat menghadapi mautpun, ia masih dapat menggunakan tangannya sedemikian hebat.

Dengan mata penuh kebencian ia memandang Ho Hay Hong, mulutnya menggumam.

"Bocah, disamping merasa puas, kau jangan lupa pembalasan atas perbuatanmu di kemudian hari."

Menyaksikan keadaan yang mengenaskan itu. Ho Hay Hong merasa menyesal.

"Chim Kiam sianseng, matilah dengan tenang, aku nanti akan kubur jenazahmu dengan baik . . ."

Chim Kiam sianseng tidak menghiraukan, ia mendongak dan berkata sambil menghela napas:

"Oh Tuhan, aku Chim Kiam sianseng pernah menjagoi kalangan Kangouw hampir seumur hidupku,  tak kusangka bisa binasa ditangannya. Apakah ini lantaran dosaku dahulu yang sudah membunuh banyak jiwa."

Entah sejak kapan matanya mengembang air, dalam keadaan demikian, ia menarik napas yang penghabisan.

Ho Hay Hong menghampiri, selagi mau mengangkat tubuhnya untuk dikubur, mendadak terdengar riuh suara tambur. Cepat ia menarik kembali tangannya, dalam hatinya berpikir: ”mereka sudah tentu bisa mengurus jenazahnya, tidak perlu aku campur tangan”

Ia lalu memondong tubuh Tiat Chiu-Khim kemudian melanjutkan perjalanannya.

Pada waktu itu, Tiat Chiu Khim kembali membuka matanya mulutnya mengeluarkan suara pelahan: "Suhu. suhu"

Ho Hay Hong terkejut, pikirnya: ”apakah ia memanggil kakek penjinak garuda?”

Mendadak timbul kebenciannya, katanya kepada diri sendiri: "Tua bangka biadab itu, apa ada harganya untuk dipikiri."

Terdengar pula suara keluhan Tiat Chiu Khim: "Ah, suhu aku sudah dekat mati."

Mendengar suara kekasihnya seperti orang mengigau Ho Hay Hong bercekat. Ia kira lukanya kambuh, sehingga menimbulkan panas dalam tubuhnya, maka perlu segera ditolong.

Tetapi, kemana harus mencari seorang wanita yang berkepandaian t inggi?

Ia berjalan sambil memandang wajah si nona, ketika menampak wajah sigadis semakin pucat, diam-diam merasa sangat khaw atir.

Buru-buru ia mengerahkan ilmunya lari pesat, lari menuju kekota.

Tiba didalam kota, ia lalu mencari rumah penginapan dan memesan sebuah kamar. Ia letakkan tubuh Tiat Chiu Khim diatas pembaringan sedang ia sendiri keluar lagi. Untuk mencari seorang wanita yang memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna. Tetapi, bagaimana caranya untuk menemukan wanita demikian ? Ia t idak pikirkan lagi.

Ia menyusuri hampir setiap jalan dalam kota, tetapi tidak menemukan seorang wanita yang dimaksudkan.

"Apakah kau harus menyaksikan ia mati dalam tanganku?" demikian ia berpikir dan bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Hatinya sedih, pikirannya semakin risau. Ia mulai menyesal, mengapa Liong-yan-hiang yang tinggal sisanya itu dihabiskan semua, kalau tidak, mungkin ia sekarang masih bisa di tolong.

Tempat itu terpisah dengan kampung setan hanya seperjalanan kira-kira seratus pal saja, kalau ia harus pergi kesana, pulang baik Sudah menggunakan waktu kira-kira setengah hari, in i masih belum terhitung kesulitan-kesulitan yang harus d ihadapi dalam sepanjang jalan, apalagi kalau menghadapi Kakek penjinak garuda sendiri.

Dengan putus asa ia balik ke rumah penginapan. Semua pelayan rumah penginapan merasa heran menyaksikan sikapnya, yang tergesa-gesa dan gelisah, tetapi ia tidak menghiraukan.

Baru saja membuka pintu kamar, sudah menyaksikan Tiat Chiu Khim sedang bergulingan sambil merint ih.

Dengan hati pilu ia berlut ut dipinggir pembaringan, tetapi kecuali menghibur, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tetapi, seratus patah kata hiburan, apa gunanya ?

Suara rint ihan si nona, seolah-olah ketukan martil mengetuk hatinya, hingga semakin pilu.

Airmata mengalir turun tanpa dirasa, ia berkata sendiri sambil mendongakkan kepala: "Apakah aku harus berpeluk tangan menyaksikan kematiannya? Apakah kecuali orang perempuan, sudah tidak ada orang lagi yang dapat meringankan penderitaannya?"

Mendadak suatu pikiran terlint as dalam otaknya, apa yang dibutuhkan oleh sinona hanya kekuatan tenaga dalam untuk membuyarkan hawa murni yang membeku dalam tubuhnya, tidak menentukan harus kaum wanita saja yang boleh menyembuhkan.

Ia mulai menyesalkan kebodohannya sendiri, mengapa sejak tadi ia tidak dapat memikirkan. Orang lelakipun dapat melakukan, hanya bagi kaum wanita sebetulnya lebih leluasa dan lebih pantas daripada seorang lelaki apalagi kalau bukan suaminya.

Ia menjadi girang, tetapi ketika tangannya diulurkan untuk meraba tubuh si nona, segera menemukan kesulitan lagi.

Bagaimana seandai nanti t imbul kesalah pahaman dari pihak si nona ?

Pikirannya bimbang menghadapi gadis cantik itu, perasaan rendah diri t imbul lagi dalam pikirannya.

Selama itu ia tidak berani mengutarakan rasa hatinya terhadap Tiat Chiu Khim, sebab dalam hatinya sudah teraling o leh jaring yang t idak dapat ditembus, karena ia tidak mempunyai keberanian untuk menembus jaring itu. Karena ia sebagai pemuda sebatang kara,  apalagi tidak ketahuan asal usulnya, maka selama itu ia selalu dihinggapi oleh rasa rendah diri yang terlalu mencekam hatinya. Dengan demikian maka ia tak berani membuka mulut menyatakan cintanya.

Ia anggap Tiat Chiu Khim bagaikan bidadari yang t idak dapat dijamah oleh tangannya sendiri, sebab ia adalah seorang biasa.

Ia berdiri sekian lama dengan hati bimbang t idak tahu bagaimana harus berbuat ? Sementara itu, penderitaan Tiat Chiu Khim semakin hebat.

Hati Ho Hay Hong semakin gelisah, beberapa kali ia mengulurkan tangannya, tetapi kemudian ditariknya kembali.

Mendadak ia bangkit dan memadamkan penerangan lampu lilin, hingga keadaan dalam kamar menjadi gelap gulita.

Kini ia agaknya mulai tenang.

Dalam anggapannya, seolah-olah perbuatannya itu tidak ada orang yang menyaksikan, ketika mengulurkan tangannya lagi untuk membuka pakaian si nona, jantungnya berdebar semakin keras.

Ia pejamkan matanya, pakaian Tiat Chiu Khim lembar demi lembar dibukanya, setelah t inggal baju didalamnya, pikirannya baru tenang lagi.

Diam-diam ia yang bernyali kecil, mengapa baru menghadapi seorang wanita cantik saja sudah demikian tegang ? Tetapi ketika tangannya meraba tubuh si nona, ketenangan mulai lenyap lagi, tangan itu gemetaran, ia mengharap bahwa yang diraba itu adalah  sebuah patung.

Dilain pihak, ia juga takut kalau-kalau Tiat Chiu Khim nanti mendusin, bagaimana anggapan nona itu kepada dirinya? Salah-salah ia bisa dituduh sebagai lelaki bangor yang hendak menodai kesuciannya.

Ketika tangannya menyentuh tubuh sinona dapat masakan hawa hangat dari tubuh si nona yang kemudian terus seperti masuk kedalam hatinya.

Ia susut keringat yang membasahi jidanya, sambil memejamkan matanya ia membuka baju penghabisan yang menutupi tubuh si nona hingga tak ada selembar kain menutup tubuh yang padat montok itu.

Meskipun keadaan gelap gulita, tetapi Ho Hay Hong seperti dapat memandang tubuh yang putih halus padat itu, hingga jantungnya berdebar keras sekali.

Akhirnya, ia tidak dapat mengendalikan  perasaan sendiri, ia seperti sudah lupa akan dirinya sendiri, pelahan-lahan menundukkan kepala, mencium pipi si nona.

Pada saat itu. Tiat Chiu Khim seperti terjaga, sebentar ia merint ih, kemudian membuka matanya.

Ho Hay Hong tidak menduga dalam keadaan demikian gadis itu tersadar, hingga sesaat itu ia menjadi gugup, terkejut dan ketakutan. Sepatah katapun tidak  keluar dari mulutnya. Ia harus bertindak secepat kilat, buru-buru menotok jalan darahnya dan merebahkan diri sinona lag i.

Ia menghitung-hitung waktu, dua jam telah berlalu. Ia buru-buru mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia disalurkan kedalam tubuh Tiat Chiu Khim, melalui jalan darah sinona yang berada dibawah perutnya.

Tidak ada seorangpun yang menyaksikan, tetapi Ho Hay Hong merasa panas.

Hawa panas bergerak dari telapak tangan Ho Hay Hong masuk kedalam tubuh Tiat Chiu Khim pelahan lahan mencairkan hawa yang membeku dalam tubuh.

Tak lama kemudian, Tiat Chiu Khim, mulai perdengarkan suara rint ihan pelahan, dan kali in i suara itu agaknya tidak mengandung penderitaan.

Bahkan sebaliknya, suara itu seperti mengandung rasa nikmat, hingga diam diam hati Ho Hay Hong merasa terhibur.

Ia terus menyalurkan kekuatan tenaga dalam ke tubuh gadis itu. hingga dalam waktu singkat ia sendiri sudah mulai lelah.

Dengan pandangan mata yang tajam, ia dapat lihat wajah sinona sudah mulai agak ke merah-merahan, tapi ia tahu, bahwa saat itu sangat penting baginya, maka ia tidak berlalu berlaku lengah, ia buru-buru menyalurkan terus tenaganya.

Gadis itu mendadak mengeluarkan suara rint ihan lagi kemudian mengoceh: "Suhu, maafkan perbuatanku terhadapmu." Ho Hay Hong terkejut, tetapi ia tidak menghiraukan, sebab itu bukanlah maksud yang sesungguhnya dari si nona.

"Suhu suhu. terimalah aku kembali. Aku bersedia mengabdi kepadamu seumur hidup." demikian si nona mengoceh lagi.

Dari ocehan gadis itu, Ho Hay Hong dapat menarik kesimpulan perangai gadis itu sebetulnya lembut dan halus serta mengenal budi orang.

Meskipun dengan Kakek penjinak garuda sudah berubah menjadi musuh, tetapi ia masih tidak melupakan budinya yang sudah membesarkan dan mendidiknya menjadi orang kuat.

Ia diam-diam merasa bersyukur bahwa mendapatkan pasangan yang cantik dan baik hati.

Dilain pihak, ia merasa benci terhadap kepribadian Kakek penjinak garuda, orang yang usianya sudah demikian lanjut, masih ingin mengaw ini seorang gadis yang pantas menjadi cucunya.

Karena pikirannya bercabang, ia merasakan terlalu letih, badannya gemetaran.

Ia terkejut dan diam-diam berpikir: ”Kalau ditilik dari keadaanku ini, kekuatan tenagaku rasanya belum cukup untuk menyembuhkan lukanya.”

Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menempuh bahaya, dengan menggunakan ilmunya Cie-yang Cin- khie, karena Selain itu, tidak ada jalan lain lagi. Tetapi ilmu itu tidak mudah didapatkan, apabila digunakan secara sembarangan, salah-salah bisa membaw a akibat yang membahayakan dirinya sendiri.

Tetapi, ia sudah mengambil keputusan, maka tidak memikirkan segala rintangan. Dengan mengerahkan ilmunya keujung jari tangannya, lalu disalurkan melalui jalan darah dan masuk kedalam tubuh si gadis.

Tatkala hawa kedua pihak saling beradu, badan kedua orang tersebut menimbulkan getaran hebat sejenak, Tiat Chiu Khim mendadak berteriak dan membuka matanya.

Ho Hay Hong baru hendak mengucapkan syukur atas berhasilnya tindakannya, apa mau selagi baru hendak menarik kembali ilmunya, tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan Tiat Chiu Khim, sehingga hawa dalam badannya terus naik kekepala, dan seketika itu juga matanya gelap lalu jatuh pingsan.

Tiat Chiu Khim mengawasi dengan perasaan dingin, matanya yang lebar sudah pulih cahayanya. Meskipun berada ditempat gelap, tetapi agaknya dikejutkan oleh jatuhnya tubuh Ho Hay Hong, hingga lama tidak bisa membuka mulut.

Matanya menatap wajah Ho Hay Hong, agaknya baru dapat mengenali dengan tegas, maka ia lalu berseru:

"Oh, kau Ho Hay Hong."

Selanjutnya ia memikirkan apa yang sebetulnya telah terjadi.

Dari lobang jendela menghembus angin malam yang dingin hingga badannya menggigil. Rasa dingin telah menyadarkan dirinya, ia baru tahu bahwa kini tak ada selembar benangpun melekat pada tubuhnya. Rasa malu timbul pada dirinya hingga wajahnya berubah seketika.

Sejenak nampak ia ragu-ragu, kemudian tangannya bergerak dan menyerang Ho Hay Hong !

Ho Hay Hong yang masih dalam keadaan pingsan menggelinding jatuh, jidanya membentur tembok, hingga mengeluarkan darah.

Tiat Chiu Khim masih, marah, untuk ke dua kalinya ia hendak menyerang. Serangan kali ini agak berat, apabila jatuh dibadan Ho Hay Hong, pasti akan menghancurkan tulang-tulangnya.

Tiat Chiu Khim sedang marah, tidak biasa memikir terlalu banyak, Tetapi selagi hendak turun tangan, tiba tiba pikiran yang jernih timbul dalam otaknya, dan telah membatalkan maksudnya. Ia tidak suka membinasakan seorang yang tidak berdosa, sebelum tahu betul apa salahnya.

Ia menarik kembali lengannya, tetapi hembusan angin yang sudah keluar dari tangannya telah menggempur tembok sehingga menimbulkan suara nyaring.

Dimalam hari sunyi, suara gempuran pada tembok pada dinding itu, telah mengejutkan para tamu yang menginap dalam rumah penginapan itu. Sebentar para tamu berduyun-duyun keluar dari masing-masing kamarnya dengan membaw a penerangan lilin.

Tiat Chiu Khim terheran heran, ia bertanya kepada diri sendiri: ”Mengapa ia bawa aku kemari?”

Sebagai gadis yang tinggi hati, ia tidak dapat menahan perlakuan seperti itu, maka tangan diangkat lagi hendak penyerang. Ho-Hay Hong yang masih pingsan, sudah tentu t idak berdaya. Selagi dalam keadaan bahaya, t iba- tiba terdengar suara orang mengetuk pintu, kemudian disusul o leh suara teguran dari luar: "Hai, hei apa yang kalian lakukan?"

Tiat Chiu Khim membatalkan maksudnya buru-buru mengenakan pakaiannya, kemudian membuka pintu dan bertanya:

"Kau siapa ?"

Orang itu lalu menjawab.

"Maaf aku telah mengganggu kalian. Aku adalah pelayan rumah makan ini. aku hendak tanya apa tadi yang telah terjadi didalam kamar kalian ini? Mengapa terdengar suara gempuran demikian nyaring?"

"Tidak ada apa-apa, silahkan kembali!"

Ia menutup kembali pintunya, tidak perduli pelayan tadi sudah pergi atau belum, ia mengambil korek api untuk menyalakan lilin.

Sebentar kemudian kamar menjadi terang benderang, sementara suara langkah kaki pelayan juga semakin lama semakin menjauh.

Ho Hay Hong masih tetap dalam keadaan pingsan, napasnya lemah, Karena menggunakan tenaga terlalu banyak, wajahnya pucat sekali.

Tiat Chiu Khim memandangnya sejenak lalu berkata- kata sendiri: "Hm! Kau manusia rendah yang tidak tahu malu, masih berlagak mati."

Ia menghampiri, diangkatnya tubuh Ho Hay Hong, dipandangnya dengan seksama. Tetapi kenyataannya tidak seperti apa yang  ia pikirkan, Saat itu wajahnya putih bagaikan mayat, keringat dingin membasahi sekujur badannya napasnya sangat lemah, seolah-olah habis menggunakan tenaga terlalu banyak. Ia terkejut menyaksikan keadaan demikian, lalu bertanya-tanya kepada diri sendiri: "Kenapa dia?"

Ia kini mulai memikir, sebentar segera dapat mengetahui dari keadaan itu bahwa pemuda pujaannya itu seperti seorang kehabisan tenaga.

"Mengapa ia jadi demikian?" ia bertanya-tanya kepada diri sendiri.

Timbullah pikirannya pula untuk menanyakan lebih dahulu sejelas-jelasnya, kemudian baru ditolongnya.

Mukanya dirasakan panas, wajah yang tadinya putih mulai memerah hingga membuat dia nampak semakin cantik pada ketika itu. Ia yang seumur hidupnya tidak pandang mata kepada orang laki, tak disangka kini seluruhnya telah disaksikan semua oleh Ho Hay Hong.

Jikalau mengingat itu, kemarahannya lantas berkobar. Maka ia lalu menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menyadarkan pemuda itu.

Ho Hay Hong pelahan-lahan tersadar. Ia menarik napas panjang, perlahan-lahan membuka matanya.

Dalam hati Tiat Chiu Khim benci sekali padanya, ia sebetulnya sudah pikir hendak membinasakannya saja. Tetapi ketika melihat pemuda tersebut, membuka mata gadis in i coba mengendalikan hawa amarahnya, pura- pura tertawa, dan menanya dengan suara lemah lembut: "Kau sudah berasa enakan?"

Ho Hay Hong tidak tahu apa yang terkandung dalam hati gadis itu, ketika melihat sang gadis dalam keadaan sehat dan segar bugar, dalam hati merasa terkejut bercampur girang.

Ia tidak dapat mengendalikan lagi perasaannya, segera mengulurkan tangannya menggenggam dengan tangan Tiat Chiu Khim, dan berkata dengan girang:

"Oh, kau sudah sembuh, aku sangat girang sekali!"

Tiat Chiu Khim membiarkan lengannya di pegang, namun kemarahan dalam hatinya masih belum padam, ia ingin segera memberi hajaran lagi kepada pemuda yang tidak sopan itu.

"Terima kasih atas perhatianmu, untung tidak terjadi apa-apa atas diriku!" demikian ia berkata.

Ho Hay Hong tidak tahu bahwa ucapan tu mengandung sindiran, ia berkata sambil tertaw a:

"Chiu Khim, sekarang hanya kurang semacam obat saja, dan kau akan sembuh sama sekali. Kita harus segera berusaha untuk mengambilnya, supaya jangan terjadi perubahan lagi."

Tiat Chiu Khim tercengang, dalam hatinya bertanya:

„Apa maksud perkataannya ini?“

Dengan menekan perasaannya ia bertanya: "Obat apa?"

"Liong-yan-hiang !"

"Oh! Obat seperti itu hanya kakek penjinak garuda seorang saja yang memiliki." "Ya, justru karena itu maka tak mudah diambilnya, nampaknya sekali in i kita harus menempuh bahaya." berkata Ho Hay Hong sambil menganggukkan kepala. Melihat wajah gadis yang berseri-seri hampir ia tidak dapat menahan perasaan birahinya, ia berkata pula.

-oo0dw0oo-