Rahasia Kampung Setan Jilid 25

 
Jilid 25

SEBAGAI seorang yang berotak cerdas dengan  cepat ia dapat memperbaiki kesalahannya, kembali dia melesat setinggi t iga kaki lalu menukik dan menyerbu lagi.

Orang bermuka merah juga menggunakan lengan jubahnya lagi untuk menggoyangkan serangan Ho Hay Hong. Dengan suara marah orang tua itu berkata kepada Tiat Chiu Khim:

"Kiranya kau sibudak hina ini yang memberi pelajaran padanya, Baiklah kubunuh dulu kau!"

Sehabis berkata demikian, serangannya segera dialihkan kepada Tiat Chiu Khim.

Dengan satu gerakan yang lincah, dan bagaikan terbang. Tiat Chiu Khim lompat tinggi, dengan kekuatan dari dua kakinya, ia melakukan gerakan bagaikan burung terbang di tengah udara, kemudian menggunakan gerak tipu keempat dari ilmu silat  garuda sakti menyerang musuhnya.

Orang tua bermuka merah itu semakin kalap,  ia berteriak-teriak seperti orang gila:

"Budak hina, kau benar-benar ingin mampus."

Meskipun mulutnya mengucapkan demikian, tetapi tangan dan kakinya tidak tinggal diam, dengan tergesa- gesa ia lompat sejauh lima tombak, mengelakkan serangan yang hebat itu. Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu, tergeraklah hatinya, karena gadis itu ternyata mengajar ia melakukan serangan secara demikian . . .

Ia segera meniru gerakan itu dengan suatu gerakan hebat ia mendepak musuhnya mundur beberapa langkah.

Orang tua bermuka merah matanya nampak beringas, napsu memburunya nampak berkobar, dengan tiba-tiba ia mengangkat tinggi dua telapakan tangannya, kemudian dirangkap seolah-olah melakukan gerakan menjura, namun bagian telapak tangannya dihadapkan keluar dan didorongnya, seketika itu juga hembusan angin meluncur dari telapak tangan itu, menuju kearah Tiat Chiu Khim.

Pada waktu itu Lam kiang Tay bong mendadak berseru:

"Huh, tua bangka kau ternyata juga pandai ilmu Pat- ciok sin-ciang dari golongan Budha!"

Ucapan itu telah mengejutkan semua orang yang ada disitu, semua mata ditujukan kepada Tio Kang si naga api.

Saat itu orang tua bermuka merah itu mukanya semakin merah, matanya yang buas beringas terbuka lebar, rambut dikepalanya seolah-olah berdiri semua, langkah kakinya bagaikan hantu hendak menyergap orang, benar-benar sangat menakutkan.

Dengan tiba-tiba Tiat-Chiu Khim menjerit dan rubuh ditanah. Ho Hay Hong terkejut, ia meninggalkan musuhnya dan menghampirinya, wajah gadis itu nampak pucat bagaikan kertas, matanya dipejamkan, napasnya sangat lemah, agaknya sudah hendak putus nyaw a.

Ho Hay Hong menjadi kalap, ia menggeram, dengan tenaga sepenuhnya menyerang diri Tio Kang.

Orang tua bermuka merah itu masih tetap melakukan gerakan seperti tadi, setiap tanah yang diinjak, meninggalkan bekas kakinya sedalam tiga dim, setelah mengeluarkan suara dari hidung, kembali, melakukan serangan dengan dua tangan seperti tadi.

Lam-kiang Tay-bong dengan alisnya berdiri mendadak keluar dari tempatnya dan membuat gerakan yang serupa dengan orang bermuka merah, dua telapak tangannya mengeluarkan hembusan angin hebat, lantas menyambut serangan orang tua bermuka merah.

Ketika dua kekuatan saling beradu menimbulkan suara gemuruh, dua-duanya tidak dapat pertahankan kakinya, hingga masing-masing mundur beberapa langkah.

Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, diam diam merasa heran, karena dengan kepandaian yang dimiliki oleh Lam-kiang Tay-bong tetapi masih belum dapat menjatuhkan orang tua bermuka merah, dapat dimengerti serangan ilmu silat dari golongan Budha itu, apabila tadi ia yang menyambut, barangkali tubuh dan tulang-tulangnya akan hancur lebur!

Meskipun dalam hatinya sangat marah, apalagi karena terlukanya gadis itu, tetapi biar bagaimana ia masih merupakan seorang yang mengerti keadaan, ia tahu benar apabila hendak menuntut balas dendam itu, ia harus berlaku sabar menunggu kesempatan baik.

Jikalau, hanya menuruti hawa nafsu saja, akibatnya pasti akan mencelakakan diri sendiri, hal in i baginya t idak ada faedahnya sama sekali.

Perlahan-lahan ia tenang kembali. Ia berdiri menghadapi Tio Kang sambil memulihkan kekuatan tenaganya.

Terhadap bantuan tenaga Lam-kiang Tay-bong ia agak bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa sebabnya Lam-kiang Tay-bong turun tangan membantu dirinya?

Tio Kang sangat marah atas perbuatan Lam-Kiang Tay-bong, katanya:

"Sahabat Lam-kiang, aku tadi sudah kata, setelah membereskan bocah ini, baru mengadu kekuatan denganmu, tetapi tanpa sebab kau berani turun tangan merint angi tindakanku, apakah sebetulnya maksudmu itu."

"Maksudku ada tiga, satu aku t idak puas menyaksikan sepak terjangmu, terutama di hari tua kau telah berubah tujuanmu dengan mengabdikan diri  kepada Kakek penjinak garuda, hal ini sangat menggemaskan. Dua, aku benci terhadapmu karena kau menyebut nama julukanku yang lama, sehingga membangkitkan kedukaanku. Dan ketiga, jiw anya pemuda ini masih perlu ditinggalkan untuk menghadapi Kakek penjinak garuda sendiri, kau hanya seorang hamba saja, tidak ada harganya mengorbankan jiw a untukmu. Tiga sebab ini kau pikir bagaimana?" jawabnya tenang. "Kalau demikian halnya, kau saudara Lam lie memang bermaksud mencari onar denganku."

"Bukan, bukan, aku hanya tidak suka menyaksikan ia mati terlalu lekas!"

"Sungguh enak omonganmu, padahal dalam hatinya sebetulnya menyumpahi supaya aku mati lebih dulu. Betul tidak?"

"Jikalau kau anggap demikian, aku terpaksa mengakui."

"Pikiranmu memang bagus, tetapi aku Tio Kang bukanlah seorang yang tidak ada gunanya, seranganku tadi, hanya suatu percobaan saja, tak kusangka telah mengejutkan kau. Nampaknya kau juga hanya mendapat nama kosong belaka."

"Aku memang seorang yang mendapat nama kosong belaka, perlu apa kau selalu ingat saja. Ha ha ha!"

Sehabis berkata, matanya mementang ke arah Tang- siang Sucu, agaknya mengandung maksud dalam.

Tang siang Sucu mengerti maksud gurunya tetapi senjata rahasia paku Thian-moting teng diluar tahu gurunya sudah digunakan sampai habis. Maka sesaat itu menjadi bingung, tidak tahu bagaimana harus menghadapi gurunya.

Ho Hay Hong sementara itu selesai dalam usaha memulihkan kekuatan tenaganya, selagi hendak melancarkan serangan lagi, Pat-kwa Yu sin mendadak mengeluarkan suara jeritan mengerikan kemudian rubuh telentang. Liong-eng Houw-cia buru-buru menghampiri, tetapi pahlawannya itu ternyata sudah putus jiw anya, hingga wajahnya berubah seketika.

Dengan mata beringas, ia menyapu orang-orang di sekitarnya, tetapi tidak ada yang dicurigainya hingga amarahnya lalu ditimpahkan kediri Ho Hay Hong. Ia berkata sambil tertaw a dingin:

"Saudara, kejam sekali perbuatanmu, sesungguhnya tidak kuduga"

Belum habis ucapannya, Hok-kauw-cia juga mendadak mengeluarkan jeritan ngeri dan rubuh mati di tanah.

Dengan demikian, suasana menjadi kacau, anak buah yang dibawa oleh Liong-eng Houw pada lompat keluar, mencari-cari disekitarnya dengan perasaan t idak tenang.

Akan tetapi, kecuali orang-orang yang ada disitu, tidak terdapat bayangan orang lain lagi.

Keadaan semakin kalut , mereka bersama-sama memperbincangkan kejadian aneh itu.

Dalam waktu sekejap, semua anak buah Liong-ceng Houw-sie pada berpencaran mengurung tempat itu, seolah-olah berhadapan dengan musuh tangguh.

Liong-ceng Houw-sie berkata dengan suara gusar: "Houw Bengcu, kau harus mengaku bahwa kematian

The Kang dan Hok-kauw-cia adalah perbuatanmu seorang. Coba kau pikir, kecuali mereka berdua, anak buahku tidak ada lagi yang bertempur denganmu."

"Aku dengan mereka berdua tidak mempunyai permusuhan apa-apa, diwaktu pertempuran hanya melukai mereka sedikit saja, yang tidak mungkin mengakibatkan kematian mereka. Kejadian ini hanya hal yang sangat mencurigakan, kau harus menggunakan pikiranmu dengan tenang untuk memikirkan soal ini dengan tenang" kata Ho Hay Hong.

"Houw Bengcu, juga merupakan salah seorang pemimpin golongan rimba Hijau, fakta demikian meyakinkan, apakah masih perlu dibantah?" kata Liong- ceng Houw-sie marah. Dengan napsu berkobar-kobar ia menghunus senjatanya yang sudah terkenal, maju menghampiri Ho Hay Hong.

Suasana semakin gaw at, semua anak buahnya tahu bahwa Liong-ceng Houw-sie mempunyai satu kebiasaan, jikalau sudah mengeluarkan senjatanya, senjata itu harus menghirup darah musuhnya baru dimasukkan lagi.

"Apa boleh buat, jikalau Bengcu telah menyalakan api, aku terpaksa mengiringi kehendakmu!" berkata ia. Ho Hay Hong sambil tertaw a getir.

Dalam amarahnya Liong-ceng Houw-sie lantas mengeluarkan sumpah: "Jikalau dalam tiga puluh jurus aku tidak berhasil memindahkan batok kepala Houw Bengcu, aku rela melepaskan kedudukanku sebagai Bengcu rimba hijau daerah selatan dan kemudian aku akan bunuh diri dihadapan Houw Bengcu!"

Sementara itu Tio Kang yang menyaksikan dua pemimpin dari golongan rimba hijau saling bertengkar sendiri, ia lalu berdiri beristirahat seraya berkata.

"Bagus, aku mengijinkan kau bereskan musuhmu lebih dulu."

Liong Ceng Houw-sie segera hendak membuka suara lagi, tak diduga salah satu dari pembantunya ialah orang tua hidung bengkok kembali menjerit dan mati disaat itu juga.

Kematian tiga anak buahnya secara misterius, benar- benar sangat mengejutkan, hingga saat itu juga keadaan semakin kalut .

Liong-ceng Houw-sie selama menduduki kursi Bengcu rimba hijau daerah selatan, belum pernah mengalami pukulan demikian hebat, di samping marah ia juga merasa sedih atas kematian beberapa pahlawannya.

"Houw Bengcu, jikalau bukan kau biarlah aku yang mati!"

Ia berdiri tegak, senjata tombaknya yang ujungnya merupakan bulan satu mendadak di angkatnya dan menyerang Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong juga merasa heran, dalam hati ia berpikir: ”Apakah sebab musabab yang sebenarnya, mengapa tanpa sebab orang orang itu mati mendadak? Dan orang-orang mati itu justeru orang-orang yang pernah bertempur denganmu?"

Siapakah sebetulnya yang membokong secara keji, yang hendak memindahkan dosanya diatas pundakku?

Selagi pikirannya bekerja, Liong-ceng Houw-sie sudah berada dimukanya. Dalam waktu sesingkat itu, ia sudah dapat lihat bahwa diujung senjata Liong-ceng Houw-sie timbul asap putih, ia segera mengetahui senjata itu ada mengandung barang beracun yang sangat jahat.

Ia tidak berani berlaku gegabah, dengan cepat menggunakan pedangnya untuk menangkis, setelah itu  ia geser kakinya kesamping. Liong-ceng Houw-sie maju mendesak lagi, senjatanya menyontek keatas kemudian membabat bahu kirinya sedikitpun tidak memberikan kesempatan bagi lawannya.

Ho Hay Hong selagi hendak menangkis dengan pedangnya lagi, matanya mendadak melihat seseorang anak buah Liong-ceng Houw-sie lagi berkutetan dengan maut. Menyaksikan penderitaan orang itu, bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, ia lalu membatalkan maksudnya hendak memberi perlawanan dan lompat mundur sejauh setombak lebih.

Tak lama ia lompat mundur, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan mengerikan, kemudian jatuh rubuh ditanah, hanya mengeliat dua kali, kemudian putus nyawanya.

Ia buru buru berseru:

"Liong-ceng Houw-sie, kau periksa dulu orangmu ini, dia pernah bertempur denganku atau tidak?"

Liong-ceng Houw-sie baru tahu bahwa anak buahnya itu adalah Cit-Sa ciang yang terkenal kebuasannya, namun ia belum pernah bertempur dengan Ho Hay Hong. maka seketika itu ia lantas berdiri tertegun.

Kini ia bukan lagi hanya terkejut atau marah lagi, bahkan agak bingung.

Ia pikir: ”seandainya ada orang membokong, tidak mungkin terlepas dari mataku, lagi pula, mereka semua merupakan orang-orang punya pilihan, mengapa mereka sendiri juga t idak merasa kalau diserang orang ? Apakah didalam tubuh kita sendiri terdapat penghianat yang lebih dulu menggunakan obat berbisa?” Ia mengingat-ingat kembali semua orang-orangnya dan pelayan pelayannya, tapi orang-orangnya itu semua adalah orang kepercayaan, juga sudah beberapa puluh tahun mengikuti dirinya, tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.

Ia berdiri bingung, sementara itu terdengar pula suara jeritan ngeri dari anak buahnya, beberapa anak buahnya rubuh binasa saling susul.

Peristiw a misteri itu menyakiti hatinya, kalau memikirkan anak buahnya yang setia pada  binasa dengan penasaran hampir saja ia mengeluarkan  air mata.

Kini ia tidak lagi mencurigai Ho Hay-Hong, sebab orang-orang yang binasa sebagian besar belum pernah bertempur dengan Ho Hay Hong.

Kalau begitu, siapakah yang harus di curigai?

Anak buahnya yang masih hidup, semua berdiri tertegun dengan badan gemetaran, ada juga ketakutan dirinya sudah kemasukan racun.

Suasana diliputi oleh perasaan ngeri dan sedih, kecuali Liong cing Houw sie, siapapun rasanya tidak sanggup menyingkirkan perasaan ngeri itu.

Tio Kang juga merasa heran, karena urusan tidak menyangkut dirinya, ia tidak mau ambil pusing.

Liong ceng Houw sie mendadak menggeram: "Semua jangan bergerak !"

Hakekatnya, tanpa ia keluarkan perint ah, semua anak

buahnya juga tidak ada satupun yang berani melangkahkan kaki. Dalam otaknya diliputi oleh berbagai pertanyaan, membuatnya hampir seperti orang gila.

Dengan mendadak, rasa  dingin bergerak dalam tubuhnya, seolah-olah binatang semut yang menggeremet, melalui sekujur badannya, sehingga gemetar.

Wajahnya pucat seketika, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri: "Apakah aku juga"

Perasaan nyeri menyerang dingin tiba-tiba, sesaat itu keadaannya seperti para korban yang terdahulu, meronta-ronta sambil memegangi lehernya:

Ia menggeram dengan suara seram, masih mempertahankan kekuatan tenaganya dengan mengempos tenaga dalamnya, tetapi hawa dingin dalam tubuhnya tidak berhasil ditekannya, perlahan-lahan mengalir kedekat jantung.

Ia agaknya tahu bahwa ajalnya sudah dekat, maka lantas menggeram sambil mendongakkan kepala:

"Ya Tuhan, sebelum aku mati, tolonglah tunjukkan siapa orangnya yang berani melakukan perbuatannya keji! Jikalau t idak, aku akan mati penasaran !"

Suaranya itu demikian menakutkan dan menyedihkan bagi semua anak buahnya, yang sudah tahu bagaimana garangnya pemimpin mereka, juga belum pernah melihat sikap demikian mengherankan hingga semua anak buahnya pada mengucurkan air mata.

Ho Hay Hong yang menyaksikan keadaan itu juga merasa terharu. Ia lompat keluar  dan membentak dengan suara keras: "Siapakah yang melakukan perbuatan keji in i, kalau memang satu laki, silahkan keluar untuk mengakui perbuatannya."

Lam kian Tay bong dengan sinar matanya yang dingin memandang Tang-siang Sucu sejenak, sinar mata itu mengandung teguran.

Cee-siang Sucu agaknya juga sesalkan perbuatannya, dengan perasaan t idak tenang ia menundukkan kepala.

Gerakan yang t idak berarti itu ternyata sudah menarik perhatian Ho Hay Hong, sesaat itu darahnya mendidih. Dengan suara keras ia berkata Sambil menuding Cee siang Sucu:

"See siang Sucu, lekas mengakui, supaya ia lekas berangkat dengan mata meram!"

See siang Sucu mendadak angkat muka, wajahnya menunjukkan perubahan yang menyeramkan.

"Kau gila." demikian ia berseru dengan suara nyaring.

Liong ceng Houw-sie sudah akan roboh, tetapi ketika mendengar suara itu, mendadak  terbangun semangatnya, matanya yang beringas  memandang wajah See-siang Sucu, kemudian berkata sambil terbawa terbahak-bahak:

"Tidak salah lagi, See siang Sucu, ini memang perbuatanmu. Suaramu penuh rasa takut sehingga gemetaran."

Wajah See-siang Sucu berubah, dengan tiba-tiba lompat melesat setinggi lima tombak tanpa menghiraukan suhunya, lantas kaburkan diri. Semua anak buah Liong ceng Houw-sie berteriak marah, lalu mengejarnya.

Ho Hay Hong juga merasa marah, segera menggunakan ilmunya pedang terbang, hingga pedang melesat keluar dari tangannya, mengejar See-siang Sucu.

Melihat dirinya dikejar demikian rupa, See siang Sucu diam-diam juga merasa ketakutan, dalam keadaan bingung, pedang Ho Hay Hong berhasil menembusi badannya.

Sebelum putus nyawa, ia masih mengeluarkan jeritan menakutkan, dengan badan mandi darah, ia roboh tersungkur.

Lam kiang Tay bong yang menyaksikan kematian muridnya, membentak dengan marah. "Bocah she  Ho, kau berani . . ."

Cepat bagaikan kilat, ia sudah lompat ke hadapan Ho Hay Hong, selagi hendak menyerang dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaganya, tiba-tiba terdengar suara bentakan Liong ceng Houw sie:

"Lam kiang Tay bong, kalau kau berani membunuh sahabatku setanku nanti akan merampas nyaw amu!"

Lam kiang Tay bong dalam hidupnya  sebetulnya belum pernah kenal apa artinya takut, tetapi ketika melihat wajah dan sikap pemimpin rimba Hijau yang menyeramkan itu, teringat pula kematian yang tidak wajar dari pemimpin rimba hijau itu, tanpa sadar lantas  ia membatalkan maksudnya.

Liong ceng Houw-sie meninggalkan pesan terakhir kepada anak buahnya: "Hai, saudara-saudaraku dengar! Selanjutnya kita harus menyatukan diri dengan saudara-saudara didaerah utara tidak boleh ada perpecahan lagi. Siapa yang tidak mau turut pesan ku ini, aku akan minta Ho Beng-cu untuk menghukum dengan keras. Tentang nona baju ungu itu, setelah kalian pulang kemarkas, segera bebaskan, ingat baik-baik pesanku ini!"

Sehabis meninggalkan pesan kepada anak buahnya ia berpaling dan berkata kepada Ho Hay Hong:

"Aku sangat menyesal bahwa persahabatan kita tidak lama, untuk selanjutnya, semua urusan kuserahkan padamu. Selamat tinggal, Sahabatku."

Sehabis berkata demikian, matanya dipejamkan, tubuhnya yang besar, roboh bagaikan pohon raksasa yang tumbang.

Semua anak buahnya lalu maju menggerung dan menangis dengan sedihnya.

Lam-kiang Tay-bong yang menyaksikan keadaan demikian juga merasa terharu.

"Murid durhaka, meskipun setengah dari umurmu kau mengikuti aku, namun aku juga tidak dapat menuntut balas untukmu." demikian ia berkata sendiri.

Dengan mata terpejam, ia perintahkan empat bintang dan pengaw alnya mengubur jenazah Cee-siang Su-cu.

Hanya dalam waktu sekejap mata saja ia telah berubah banyak dilihat sepintas lalu, seperti sudah jauh lebih tua dari biasanya. Mungkin karena kesedihan atas perbuatan dan kematian salah satu muridnya yang tersayang. Dari fihak anak buah Liong-ceng Houw-sie, kini repot mengurus jenazah-jenazah para saudaranya yang mati secara mengenaskan. Sikap garang yang tadi d iunjukkan ketika baru tiba kini telah lenyap seluruhnya dan diganti dengan kedukaan.

Dalam keadaan demikian mereka meninggalkan lapangan dan pulang kembali kemarkas.

Ho Hay Hong lalu menghampiri dan membimbing Tiat Chiu Khim, napas gadis itu nampak semakin lemah, hingga Ho Hay Hong diam-diam merasa khawatir.

Dengan hati penuh dendam, ia maju menghampiri Tio Kan seraya berkata.

"Mari kita lanjutkan, kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!"

Tio Kang kini merasa sangat menyesal atas perbuatannya, sebab apabila gadis itu binasa, bagaimana ia harus pertanggung jawabkan perbuatannya kepada si kakek penjinak garuda?

Lagi pula, si kakek yang tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, sudah pasti akan marah bahkan akan menghukum dirinya.

Menghadapi Ho Hay Hong penuh dendam dalam hatinya, ia masih bingung terlongong-longong.

Ketika ia merasa hembusan angin, ia baru sadar, tetapi Ho Hay Hong sudah berada di tengah udara.

Ia lalu mengarahkan seluruh kekuatan tenaganya ketelapak tangannya, hendak menyambut serangan Ho Hay Hong. Sementara itu Ho Hay Hong juga sudah mulai menyerang dengan sepenuh tenaganya.  Serangannya kali ini ada mengandung sari dari gerak tipu kedua ilmu silat garuda sakti. Ini adalah berkat kecerdasan otaknya yang dengan secara tiba-tiba dapat menemukan satu cara yang lebih ampuh.

Tio Kang yang pikirannya masih belum tenang, meskipun sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, tetapi ketika menyaksikan Ho Hay Hong mengadakan perobahan gerak tipunya secara memadai, dalam hati agak terkejut dan terpaksa melepaskan maksudnya hendak menyerang lebih dulu, tarik mundur dirinya.

Ho Hay Hong sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya, selagi hendak menukik, mendadak mendapat satu akal, dengan menggunakan pedang terbang untuk memegat mundurnya musuh.

Dengan cepat ia menghunus pedangnya dan disambilkan kearah musuhnya.

Tio Kang mendorong keluar dua tangannya, hembusan angin kuat meluncur keluar, hembusan angin itu diikut i oleh cahaya merah, membara.

Dengan mendadak suara halus mendesir, pedang terbang Ho Hay Hong ternyata berhasil menembusi hembusan anginnya secara aneh. Bagaikan sambaran kilat cepatnya, pedang Itu  menikam kearahnya. Ia sungguh t idak menyangka adanya perubahan yang tidak terduga-duga itu, hingga sesaat gerakannya menjadi kalut . Lam kiang Tay bong yang menyaksikan semua kejadian itu, berkata kepada diri sendiri: ”Bocah ini sungguh besar rejekinya, pantas ia bisa  menanjak demikian pesat."

Ho Hay Hong sendiri juga tidak menyangka ilmu pedangnya kali ini demikian ampuh, ia mengempos lagi kekuatan tenaga dalamnya menambah kekuatan pedangnya, untuk menyerang musuhnya.

Bersamaan dengan itu, ia juga hendak menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, ia lompat melesat lagi setinggi tiga tombak, menggunakan gerak tipu keempat dari ilmu silat garuda Sakti, serangan itu dilakukan dengan kekuatan tenaga sepenuhnya.

Tio Kang sedang repot mengelakkan sambaran pedang terbang dengan menggunakan lengan jubahnya semakin repot ketika diserang berulang-ulang oleh Ho Hay Hong.

Suatu kali, serangan Ho Hay Hong telah mengenakan dengan telak bagian tulang diatas pundaknya, hingga menimbulkan rasa nyeri yang menyusup sampai kesekujur badan.

Berhasil dengan serangannya itu, Ho Hay Hong tidak mau berlaku ayal lagi. Dua tangannya  menyerang dengan beruntun, sehingga orang tua bermuka merah itu mulutnya menyemburkan darah.

Dalam keadaan demikian  Lam kiang Tay bong mendadak menghampiri dan berkata padanya:

"Tio Kang dalam hidupmu terlalu banyak kejahatan kau lakukan, maafkan aku terpaksa tidak dapat memandang kau sebagai Sahabat aku terpaksa bantu Ho Hay Hong melaksanakan tugasnya!"

Dimasa yang lampau, Lamkiang Tay bong, memang sudah ada permusuhan dengan Tio Kang, hanya karena kekuatan mereka berimbang. Satu sama lain tidak bisa berbuat apa-apa.

Kini jiwa Tio Kang berada dalam keadaan berbahaya, sudah tentu Lam kiang Tay bong t idak mau melewatkan kesempatan baik itu. Satu tangannya bergerak, hembusan angin hebat telah menghancurkan tulang siku Tio Kang.

Dengan demikian, sekalipun Tio Kang terbuat  dari besi, juga tidak bisa tahan lagi. Ia jatuh roboh ditanah sambil menggeram.

Lam-kiang Tay-bong masih khawatir musuhnya itu belum mati, hingga dikemudian hari bisa menimbulkan onar lagi. maka dengan secara kejam ia menyerang lagi tanpa kenal kasihan.

Serangannya itu satu mengenakan bagian perut, satu lagi mengenakan dada, Tidak ampun lagi, jiw a Tio Kang seketika itu juga melayang pergi menemui raja akherat.

Ho Hay Hong yang sudah berhasil menuntut balas sakit hati ibunya, sudah merasa puas. Tetapi ia merasa kurang senang atas perbuatan Lam kiang Tay bong, yang membinasakan lawannya selagi dalam keadaan tidak berdaya, selagi hendak menegur, Lam kiang Tay bong sudah berkata lebih dulu:

"Rejekimu memang besar, jikalau tidak lantaran kau membunuh muridku, dalam hidupmu jangan harap kau dapat mengganggu seujung rambutnya!" Teringat nasib cee-siang sucu, wajah Lam kiong Tay- bong nampak murung, matanya menatap wajah Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong anggap ucapan Lam-kiong Tay-bong itu mengandung maksud mengejeki dirinya, maka lantas berkat sambil tertaw a dingin:

"Apa maksud ucapanmu ini?"

"Benar-benar kau tidak tahu?" balas menanya Lam- kiong Tay-bong.

"Sudah tentu tidak tahu, maka aku bertanya padamu," jawabnya sambil menggelengkan kepala.

"ilmu serangan naga berbisa yang dipelajari oleh Tio Kang, memang ampuh sekali, tetapi juga ada kelemahannya, ialah pantang terhadap darah manusia!" sejenak ia berdiam, lalu sambungnya: "Pedangmu masih ada bekas darah muridku, maka bisa menembusi serangan Tok-liang-ciang nya, dan membingungkan dirinya. Dengan demikian kau mendapat kesempatan baik melukai dirinya. Jikalau t idak demikian."

Ia tidak suka banyak bicara, dengan singkat ia melanjutkan kata-katanya:

"Pendek kata, kau dapat menuntut balas dendam sakit hati ibumu, ini sebetulnya berkat kematian muridku. Aku percaya, hal ini pasti diluar dugaanmu."

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong  memikirkan kembali apa yang telah terjadi tadi. Memang ada banyak bagian yang mirip seperti apa yang dikatakan oleh orang tua itu. Oleh karena itu, ia merasa menyesal atas perbuatannya yang sudah membinasakan murid nya, maka ia lalu berkata:

"Cianpwee berulang-ulang membantu aku, sebaliknya aku sudah membinasakan salah satu muridmu. Tetapi hal itu sebetulnya karena terpaksa, cianpwee juga sudah menyaksikan sendiri bagaimana kelakuan muridmu, kiranya cianpwee dapat memaafkan perbuatanku."

"Muridku yang durhaka itu menggunakan senjata rahasianya Thian-mo-teng secara sembarangan, membunuh beberapa anggauta golongan rimba hijau yang tak berdosa, mungkin karena perbuatannya itu hingga membangkitkan amarah Tuhan dan  mengambil jiw anya dengan meminjam tanganmu. Apa mau dikata!"

Lam-kiang Tay-bong sebetulnya hendak marah, tetapi karena melihat sikap Ho Hay Hong yang merendah dan jujur, segera merubah maksudnya.

Pada saat itu, dari jauh nampak setitik bayangan lari ke arah mereka, dari sudah terdengar suaranya: "Ho koko. Ho koko "

Mendengar sebutan itu, ia segera mengetahui siapa orangnya. Dalam hatinya lalu berpikir: ”celaka dan seorang wanita ce mburu, apabila mengetahui aku masih mempunyai kawan seorang gadis cantik entah bagaimana marahnya ?”

Ia menunggu dengan perasaan tidak tenang, benar saja, ketika gadis baju ungu itu melihat Thiat Chiu Kirim, kegirangan lantas lenyap seketika, katanya dengan nada suara dingin:

"Ho koko, kau memang benar!" "Adik jangan marah, dia adalah tuan penolongku, sekarang dalam keadaan terluka, kita harus lekas tolong jiw anya" demikian Ho Hay Hong memberi keterangan.

Gadis baju ungu itu mengaw asi Tiat Chiu Khim sejenak lalu berkata:

"Ho koko, dia cantik bukan?"

"Apa maksudmu menanyakan soal itu?" balas menanya Ho Hay Hong.

"Kau melakukan perjalanan keselatan secara ke buru2, apakah lantaran ingin menemui dia ?" tanya gadis baju ungu sambil mencibirkan bibirnya.

Ho Hay Hong tidak lekas menjaw ab dengan suara gelagapan ia berkata:

"Kau menanya itu apa maksudnya?"

Tang-siang Sucu tiba-tiba berjalan menghampiri dan berkata sambil memberi hormat:

"Sudah lama kita tidak bertemu, nona!"

Gadis baju ungu tercengang, ia balas menanya: "Kau siapa ?"

Ia segara mengetahui bahwa wajah pemuda itu mirip dengan Ho Hay Hong, seolah-olah saudara kembar. Timbullah perasaan curiganya, maka lalu bertanya pula.

"Kau kenal aku ?"

"Namaku Ho Hay Thian, aku rasanya tidak asing dengan nona, maka aku tadi berani menyapamu !"

Gadis itu kembali dikejutkan oleh keterangan itu, katanya mendumel. "Ho Hay Thian. Eeeh nama kalian berdua hanya beda satu huruf saja. Bagaimana sebetulnya ?"

"Ini bukan soal aneh, dia memang saudaraku !"

"Oh, apakah yang Ho koko sering sebut itu adalah kau ini ?"

"Benar !"

"Kalau begitu kau juga saudara angkatku."

Semula Tang siang Sucu agak heran, tetapi kemudian mengerti.

"Adik marilah kita pergi ! Sekarang waktu hampir malam!"

"Hay Hong koko, aku tadi dengar orang yang membebaskan diriku berkata, bahwa mereka kehilangan banyak saudara, sehingga Bengcunya sendiri juga turut berkorban ditempat ini, betulkah itu ?"

Ho Hay Hong mengangguk dan berkata: "Jalan sebentar nanti beritahukan padamu."

Gadis itu memanggil Tang siang Sucu.

"Hay Thian koko, mari kita berjalan berjalan bersama- sama !"

Tang siang Sucu yang mendapat perlakuan manis dari sicant ik semangatnya seperti terbang keatas awan.

Sebagai seorang pemuda yang gemar paras cantik segera timbullah n iat jahatnya. Ia sengaja menunjuk Tiat Chiu Khim yang masih belum sadar dan berkata:

"Apakah jalan bersamanya ?" Ditunjuknya Tiat Chiu Khim, hati gadis itu merasa t idak senang. "Entah bagaimana kehendak Hay Hong koko, aku sendiri juga tidak tahu !"

"Ia  terluka  parah,   sudah   tentu   memerlukan peraw atan. Apa kau tega hati meninggalkan begitu saja

?" kata Ho Hay Hong.

"Kau sudah punya hutang budi kepada nona ini, sudah tentu aku tidak boleh berlaku demikian kejam." berkata gadis baju ungu dengan suara sedih.

"Begini saja, ia terluka parah,  memerlukan pengobatan tabib dengan cepat. Biar bagaimana kita tidak ada urusan penting, biarlah Hay Hong dengannya jalan lebih dulu, kita boleh mengikuti pelahan-lahan!" kata Tang siang Sucu.

Ho Hay Hong sudah tahu bahw a saudaranya itu gemar pipi licin dan banyak akalnya, maka lalu berkata:

"Adik kalau mau jalan, kita harus jalan bersama-sama

!"

Tang siang Sucu mendadak berbisik di telinganya: "Hay Hong, urusan sudah menjadi begini aku lihat

sebaiknya kau berikan dia padaku, biarlah aku yang urus!"

"Kau hendak menggertak aku?" tanya Ho Hay Hong tidak senang.

"Mana aku berani? Aku hanya meminta, kau menurut atau tidak, terserah padamu!"

"Meminta? Hm! Enak kau omong, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan?. Kuberitahukan padamu, dengannya aku t idak ada hubungan apa-apa, kau jangan pikir yang bukan bukan!" kata Ho Hay Hong. "Sudah tentu, kedudukanmu sekarang sudah berlainan, sudah tentu tidak pandang mata lagi padaku." kata Tang siang Sucu.

Long-gee-mo yang sejak tadi diam saja, mendadak berkata dengan suaranya yang tajam:

"Tunggu dulu kalian berdua jangan bertengkar lagi. Nona ini, harus diserahkan padaku. Dia adalah muridnya kakek penjinak garuda, denganku ada mempunyai permusuhan dalam setidak-tidaknya harus meninggalkan sebelah lengan tangannya, jika tidak, aku akan marah!"

Gadis baju ungu mengaw asi padanya sejenak, alisnya dikerutkan, tanyanya pelahan: "Hay Hong koko, siapakah orang ini !"

"Dia adalah muridnya Ing Siu, tetapi aku tidak pandang mata padanya!" jawab Ho Hay Hong sejujurnya.

Karena ia benci kesombongan pemuda  berbentuk aneh itu, maka ia ucapkan kata-katanya itu sengaja demikian nyaring. Benar saja, Long-gee-mo yang mendengar ucapan itu, wajahnya berubah seketika.

"Apakah Ing siu dari Suat giam-san yang muncul secara mendadak itu?" tanya gadis baju ungu kaget.

"Benar!"

Gadis itu memandangnya lagi sejenak,  katanya dengan perasaan khawatir:

"Hay Hong koko, sekali-kali jangan kau ganggu, dia, bukankah saya sudah pesan padamu?"

"Dia sendiri yang datang mencari onar, bukan aku yang mencari padanya! Aku selalu tidak suka mengganggu orang, tetapi juga tak suka diganggu orang. Aku t idak takut dia berkepala tiga atau berlengan enam." jaw ab Ho Hay Hong sambil tertawa dingin.

Tang siang Sucu lantas berkata:

"Hay Hong kau keliru, Kakek penjinak garuda adalah musuh kita bersama, semua seharusnya kita bersatu padu menghadapi padanya tidak boleh lantaran paras cantik muridnya, sehingga hendak meninggalkan maksud kita yang semula!"

Gadis berbaju ungu yang mendengar kata-kata itu, sinar matanya yang bening ditujukan kewajah Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong bukan seorang bodoh, ia segera memahami maksud ucapan Tang siang Sucu.

Long-gee-mo mendorong Tang siang Sucu berjalan menghampiri Ho Hay Hong, berkata sambil tertaw a cengar cengir:

"Saudara tidak perlu lantas ingin melindungi si jelita hingga bermusuhan denganku. Kau harus tahu bahwa suhu setelah bertapa dan mempelajari ilmu silat selama banyak tahun, kali in i muncul lagi kedunia Kangouw, kepandaian ilmu silatnya sudah jauh lebih tinggi daripada kakek penjinak garuda. Suhu dalam hidupnya  paling benci kepada Kakek penjinak garuda, telah bersumpah hendak menumpas seluruh rumah tangganya untuk menuntut balas dendam. Nona ini adalah murid kakek penjinak garuda yang dididik langsung olehnya, hingga hubungan mereka sangat erat, sudah tentu suhu tidak mau melepaskan begitu saja. Aku lihat saudara tokh bukan saudara seperguruan dengannya juga bukan sanak famili, sehingga tak perlu menjual nyawa untuknya!"

Tanpa menunggu Ho Hay Hong membuka mulut, ia sudah bicara lagi:

"Saudara dalam tanganmu memegang emas lambang kebesaran sebagai Bengcu golongan rimba hijau daerah utara, memimpin ribuan bahkan laksaan orang-orang gagah rimba hijau, kedudukanmu tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, Suhu juga berdiam digunung suat giam-san daerah utara.

”Satu sama lain masih merupakan tetangga dekat, sudah seharusnya saling membantu. Tetapi  kalau saudara tidak mengingat permusuhan suhu  dan bertindak menurut kemauan sendiri, mungkin akan menimbulkan akibat tidak baik bagi kedua pihak.

”Kalau hal ini telah terjadi, walaupun saudara berkepandaian tinggi, juga tidak dapat menghindarkan bencana yang akan menimpa nasibmu dan semua anak buahmu!"

Ho Hay Hong menundukan kepala memandang Tiat Chiu Khim, gadis itu matanya dipejamkan napasnya lemah meskipun masih terdapat warna merah dikedua pipinya tetapi keadaannya sangat mengkhaw atirkan.

Ia tahu apabila tidak diberi pertolongan dengan lekas, mungkin akan membahayakan jiw anya.

Hatinya semakin sedih, tanpa sadar sikapnya menjadi kalut . Long-gee-mo mengira bahwa gertakannya tadi berhasil, tanpa ragu-ragu, lantas berkata lagi: "Saudara perlu apa lantaran seorang perempuan, mengorbankan hari depanmu yang gilang gemilang? Dengan kepandaian yang kau miliki, tak usah takut t idak dapat menemukan gadis yang lebih cantik daripadanya."

Sewaktu bicara matanya terus berputaran kearah gadis berbaju ungu.

"Long-gee-mo apa maksudmu? Apakah kau kira aku takut kepada suhumu Ing siu?" kata Ho Hay Hong.

Long-gee-mo, melihat wajah Ho Hay Hong berubah dingin, alisnya berdiri telah mengetahui bahwa pemuda itu sudah marah. Tetapi dengan mengandalkan pengaruh gurunya, ia tak takut. Katanya sambil tertaw a dingin:

"Saudara keliru, bagaimana siaotee berani menganggap demikian, hanya mengharap supaya saudara  suka  memberikan  sedikit  muka,  jangan merint angi tindakanku."

"Baik, aku berikan kau kelonggaran, hari in i aku ampuni jiw amu satu kali!" kata Ho Hay Hong, Kemudian berpaling dan berkata kepada gadis berbaju ungu:

"Jalan, jangan perdulikan dia lagi."

"Ho koko, benarkah kau hendak membela dia?" tanya gadis berbaju ungu.

Melihat gadis itu mengajukan sikap tidak senang, Ho Hay Hong mengerti bahwa gadis itu tidak puas dengan tindakannya. Maka lalu berkata dengan sabar:

"Adik, dia adalah penolongku, budinya terhadap diriku tidak boleh diabaikan begitu saja. Sekarang dia dalam bahaya, bagaimana aku boleh tinggalkan begitu saja?" "Ho koko, kau terus mengelabui mataku sekarang aku sudah mengerti segala-galanya. Jiwamu sendiri dalam keadaan bahaya kau masih tidak melupakan pikiranmu kedaerah selatan. Semuanya semata-mata lantaran ingin menemui kekasihmu. Kau dengannya adalah sepasang kekasih yang setimpal, aku aku hanya hanya ."

Berkata sampai disitu, air matanya berlinang, membasahi pipinya, kemudian dengan tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan lari.

"Adik. adik kau jangan salah paham dengarlah keteranganku " kata Ho Hay Hong cemas.

Tetapi gadis itu tidak menghiraukan, dengan hati remuk redam, ia mempercepat gerak kakinya sebentar saja sudah menghilang di jalan raya.

Ho Hay Hong mengerti bahwa hati gadis itu sudah kalut dan resah. Ia teringat bagaimana cinta kasih gadis itu kepada dirinya, hatinya merasa pilu hampir saja mengeluarkan air mata.

Tetapi dua duanya sama-sama berat, hingga ia tidak bisa mengambil keputusan.

"Hay Hong sebenarnya kau seorang yang tak berbudi dan berperasaan, berani perlakukan adik angkatmu demikian kejam. Pe rcuma saja  kau duduki kursi pemimpin rimba hijau daerah utara."

"Tutup mulut Hay Thian, dengan hak apa kau berani menegur aku?" tanya Ho Hay Hong marah.

"Sabar. tenanglah sedikit, kau benar-benar sudah mabok pipi lic in" kata Tang-siang Sucu. "Saudara aku selamanya berlaku adil. Sekarang kau boleh pilih sendiri, Sebetulnya hendak bertempur atau hendak berdamai?" kata Long gee mo.

Ho Hay Hong yang sedang gelisah mendengar perkataan itu lantas naik darah.

"Kalau bertempur mau apa?" jawabnya dengan suara keras.

Long gee mo mengeluarkan suara dari h idung, dengan mendadak maju menyerbu dan menyerang.

Ho Hay Hong dengan cepat meletakkan Tiat Chiu Khim ditanah, menggunakan gerak tipu garuda sakti terjun kelaut dari ilmu silat garuda Sakti, melompat  setinggi lima tombak lebih kemudian menukik dan menyergap lawannya.

Disergap secara hebat demikian, Long-gee  mo terpaksa mundur.

Ho Hay Hong sudah menyaksikan  kepandaian  ilmu silat Long gee mo. mengetahui jelas setiap jurusnya terutama kebiasaannya menggunakan tangan kiri untuk menyerang lawannya.

Ia tidak berani berlaku gegabah, sebelum turun ketanah. lebih dulu menggunakan gerak tipunya dari ilmu silat Kun-hap Sam-kay menutup bagian muka dan bagian bawah.

Long gee mo dengan gemas melancarkan dua kali serangan sambil memaki-maki.

Ho Hay Hong tidak menghiraukan, dengan gaya yang manis sekali geser kakinya ke-samping, mengelakkan serangan Long gee mo kemudian balas menyerang dengan hebat.

Long gee mo terkenal dengan kelincahannya, ia bertempur sambil bergerak kesana kemari, mulutnya saban-saban mengeluar bentakan. Tiba-tiba lompat mundur setombak lebih, lima jari tangannya dipentang, tetapi tidak digunakan untuk menyerang Ho Hay Hong, sebaliknya menyerang Tiat Chiu Khim yang masih dalam keadaan pingsan.

Ho Hay Hong tidak menduga pemuda itu demikian keji dan ganas, maka lalu membentak:

"Long gee mo ! Kau ini termasuk orang gagah ataukah binatang buas? Lihat serangan!"

Serangan segera dilancarkan, merint angi maksud Long gee mo.

Long gee mo juga seorang beradat berangasan, karena maksudnya digagalkan, timbullah nafsunya hendak membunuh, ia berkata dengan suara gusar.

"Bocah! Hari in i kalau tidak mampu menghancurkan tulang-tulangmu dan membeset kulitmu, selanjutnya aku tidak akan muncul didunia Kang-ouw lagi !"

Dalam keadaan marah, ia keluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan beruntun ia melancarkan serangannya tiga kali, yang dilakukan demikian  cepat dan dahsyat ditujukan kepelbagai bagian jalan darah terpenting ditubuh Ho Hay-Hong.

Wajah Ho Hay Hong berubah, sebab yang nampaknya tidak ada apa-apanya yang istimewa, tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, serangan itu seolah-olah terdiri dari banyak tangan yang menyerang dari berbagai sudut.

Dalam keadaan demikian, kemana saja ia menyingkir, pasti akan kena serangannya, serangan itu merupakan ilmu tunggal yang sangat ampuh warisan Ing siu guru anak muda itu.

Ia tidak berani menempuh bahaya, satu-satunya jalan hanya lompat melesat setinggi tiga tombak mengelakkan serangan hebat itu.

Diluar dugaannya, bahwa maksud Long-gee mo bukan ditujukan padanya, maka ketika Ho Hay Hong melesat tinggi, serangannya lantas dialihkan kepada Tiat Chiu Khim.

Serangan hebat itu telah melontarkan tubuh Tiat Chiu Khim sejauh setombak lebih. Bukan kepalang terkejut Ho Hay Hong matanya beringas memandang musuhnya. Gerakannya berhenti seketika ia berdiri tegak bagaikan patung.

Dengan tangan Tiat Chiu Khim yang putih halus tampak babak belur karena kebentur batu, sehingga mengucurkan banyak darah. Hati Ho Hay Hong merasa pilu menyaksikan keadaan kekasihnya, setindak demi setindak ia berjalan menghampiri musuhnya, dan gerak kakinya yang berat dapat diduga diserang menggunakan suatu ilmu luar  biasa setidak-tidaknya juga sedang mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Lam kiang Tay bong yang menyaksikan, kejadian itu. lalu berkata sambil menghela napas:

"Sungguh tidak ada harganya lantaran seorang perempuan." Siulan itu panjang dan nyaring, hingga lama menggema diudara.

"Apa katamu Cianpwee !"

Bibir Lam Kiang Tay-bong tersungging senyuman mengejek jawabnya:

"Dunia bukan sedaun kelor Ho siaohiap, perempuan ini serahkan saja padanya !"

"Cianpwee, ini adalah pikiranmu sendiri yang terlalu egois. Seandai gadis ini bukan dia,  kau tentu tidak berpikir demikian, betul tidak ?" kata Ho Hay Hong t idak senang.

"Kau masih terlalu muda, masih belum mengerti kedudukanmu sendiri. Kau berbuat hanya menuruti hawa napsumu, dikemudian hari kau pasti akan menyesal. Kalau tidak percaya, sepuluh tahun kemudian kau boleh pikirkan kembali perkataanku ini, betul atau tidak?" 

Ho Hay Hong tidak menghiraukan orang tua itu, karena orang tua itu ada permusuhan dengan si Kakek penjinak garuda, dengan sendirinya kata-katanya juga banyak mengandung sentimen.

Karena ia t idak suka perbuatan dan pikiran Lam Kiang Tay-bong, maka lalu berkata:

"Cianpwee, perkataanmu mungkin benar, tetapi itu ada urusan sepuluh tahun kemudian."

Long gee mo tahu bahwa pertempuran mati-matian ini tidak bisa dicegah lagi, maka lalu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya sambil memandang lawannya. Dua musuh terpisah semakin dekat. Ho-Hay Hong berkata:

"Kau coba seranganku ! Dengan terus terang, ini adalah serangan dari kekuatan seluruh tenagaku. Kalau masih belum mampu menjatuhkan kau, aku akan cuci tangan, meninggalkan penghidupan dunia Kang-ouw !"

Ia memusatkan seluruh kekuatan tenaganya, mendadak mendongakkan kepala dan bersiul nyaring.

Siulan itu panjang dan nyaring, lama  menggema diudara.

Sementara itu, kakinya bergerak perlahan, kemudian merandak, mendorong tangannya ke-depan dan melancarkan serangannya.

Hembusan angin hebat meluncur dari tangannya menuju Long gee mo.

Bunyi menggelegar menggema diudara, Long gee-mo mundur terhuyung-huyung, hingga empat lima langkah baru berhenti. Rambutnya kusut aw ut-awutan.

Dilain pihak, Ho Hay Hong kegirangan, sebab serangannya itu adalah serangan percobaan. Seharusnya serangan itu dilakukan secara menukik dari atas udara tetapi kali in i ia gunakan dengan kaki menginjak tanah. Diluar dugaannya, telah berhasil sangat memuaskan.

Berhasil dengan serangannya, pikirannya tenang kembali, dua tangannya terus bergerak, melanjutkan serangannya

Long-gee-mo terpaksa menyambuti serangan hebat Ho Hay Hong, tetapi sekali lagi ia terpukul mundur. Kini ia bukan cuma merasa heran saja tetapi juga mulai ketakutan. Ia sudah salah hitung mengenai kekuatan Ho Hay Hong!

Ia hendak melawan, tetapi begitu beradu dengan kekuatan Ho Hay Hong, ia sendiri yang terdorong mundur. Entah bagaimana pemuda itu dapat mematahkan ilmu Ing Siu, gurunya sendiri?

Bahkan maju ia menjadi kalap!

Seluruh kekuatan tenaganya dipusatkan ketangan kanan, lalu maju merangsak sambil melancarkan serangannya.

Ho Hay Hong geser maju kakinya dua kali, hingga posisi dua pihak bukan lagi  berhadapan, melainkan miring.

Tangan kanannya bergerak bagaikan kilat sedang jari tangan kirinya menotok jalan darah Thay-heng dan Pek hwe dibadan Long gee-mo.

Badan Long-gee-mo berputaran laksana titiran, mengelakan serangan dari dua jurus, sedang tangan kanannya balas menyerang batok kepala Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong semakin tebal kepercayaannya terhadap kekuatan sendiri, apalagi dalam keadaan marah, maka serangannya semakin lama semakin hebat, sebaliknya dengan Long-gee-mo karena menyaksikan lawannya semakin gagah, apalagi setelah dua kali mengadu kekuatan, telah membuktikan keunggulannya Ho Hay Hong, maka semangatnya menurun.

Long-gee-mo yang dibentak terus menerus, akhirnya lompat mundur setombak lebih, sementara itu, tangannya menyambar tubuh Tiat Chiu Khim, sedang mulutnya berseru.

"Kalau kau berani maju lagi, aku akan hancurkan nona itu lebih dulu!"

Tang-siang Sucu yang menyaksikan pertempuran itu, mendadak mengeluarkan suara dari hidung, bersamaan dengan itu, tangannya mendadak bergerak menyerang perut Long-gee-mo

Ho Hay Hong terkejut, ia menghentikan serangannya dan berkata:

"Tang siang sucu, kau"

Belum lagi melanjutkan kata-katanya, serangan Tang siang sucu mendadak berubah, dengan kecepatan bagaikan kilat, jari tangannya dipentang, menyambar tubuh Tiat Chiu Khim.

Dilain saat, lengan kirinya ditekuk menghajar batok kepala Long gee-mo.

Serangannya itu dilakukan secara aneh, ternyata merupakan Salah satu gerak tipu dari ilmu silat garuda sakti yang sudah dirubah.

Lam kiang Tay bong sendiri juga merasa bingung, buru-buru mencegah:

"Thian-jie, lekas batalkan seranganmu,  jangan mencari onar dengan musuh tangguh!"

Long-gee-mo yang menghadapi musuh dari dua pihak meskipun berkepandaian tinggi, juga kewalahan. Sambil menggeram hebat, ia tinggalkan Ho Hay Hong dan balik menyerang Tang siang Sucu. Ia sangat benci atas perbuatan Tang siang Sucu, sehingga dirinya terjepit. Maka ia bertekad hendak membinasakan Tang siang Sucu, sekalipun ia sendiri berada dalam keadaan berbahaya.

Perbuatan Tang siang Sucu, segera menyadarkan Ho Hay Hong kini ia tahu apa maksudnya Tang siang Sucu turun tangan menyerang Long gee-mo.

Sementara itu, tangan Tang siang Sucu yang sudah berhasil menjambret ujung baju Tiat Chiu Khim, mendadak diserang hebat oleh Long-gee-mo, hingga terjadilah pertempuran segi tiga yang masing-masing memperebutkan dirinya seorang gadis.

Lam kiang Tay-bong yang menyaksikan perbuatan muridnya, dengan marah perint ahkan Tang siang Sucu supaya melepaskan Tiat Chiu Khim.

Ho Hay Hong yang menyaksikan Tiat Chiu Khim dalam bahaya tanpa ragu-ragu menyerang tangan Tang siang Sucu yang menjambret ujung baju nona itu. Namun ia takut melukai tubuh kekasihnya, maka serangan itu di tujukan ke lengan Tang siang Sucu dengan hebat.

Tang siang Sucu terpaksa menarik kembali tangannya, melepaskan tangannya yang sudah berhasil menjambret ujung baju Tiat Chiu Khim.

Oooo-dw-oooO