Rahasia Kampung Setan Jilid 24

 
Jilid 24

HO HAY HONG mengerti bahwa pemimpin rimba h ijau itu bermaksud menyulitkan kedudukannya. Tapi ia sudah bertekad, setapakpun tak akan mundur.

"Jika Bengcu memang ada maksud memperbesar sengketa, aku juga tak bisa berkata apa-apa, silahkan" Belum habis ucapannya, Pat kwa Yu in ciang mendadak lompat keluar dan berkata dengan suara keras:

"Aku The Kang seorang yang tak tahu diri, ingin belajar kenal lebih dulu dengan kepandaian ilmu silat daerah utara!"

Dua tangannya lain bergerak melancarkan serangan.

Ho Hay Hong berdiri masih sedikitnya hanya kira-kira berjarak lima tombak namun sudah dapat merasakan betapa hebatnya hembusan angin yang keluar dari sambaran tangannya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa pandang ringan musuhnya ini.

Maka ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya dengan jurus apa yang dinamakan "diluar langit masih ada langit", tangan kanannya digunakan untuk menangkis serangan Pat kwa Yu-sin ciang, sedang tangan kirinya digunakan untuk menyerang.

Selagi Pat kwa Yu sinciang hendak menggunakan gerak tipunya yang terampuh, membelah bunga menyampok daun" untuk menghadapi musuhnya baru mencapai setengah jalan, tiba-tiba kebentur oleh kekuatan hebat.

Ia tidak keburu menarik kembali serangannya, tak ampun lagi dihajar oleh serangan Ho Hay Hong hingga seketika itu juga lantas juga jatuh pingsan.

Setelah berhasil menjatuhkan lawannya, semangat Ho Hay Hong terbangun. Selagi hendak menantang pemimpin rimba hijau daerah selatan, mendadak darah dalam tubuhnya bergolak, kepalanya dirasakan pening. Untung ia masih dapat menguasai dirinya, untuk pertahankan prestasinya, ia lantas berkata dengan suara keras.

"Kau rupanya sangat penasaran, tidak halangan maju sekalian!"

Tubuhnya yang hendak rubuh ke kiri, digunakan untuk menubruk Hok kauw cia sambil mementang dua lengannya.

Hok kauw cia yang tiada maksud melawan Ho Hay Hong, tetapi karena keadaan memaksa, mau tidak mau ia pentang tangannya, menyambut Ho Hay Hong. Malang baginya, kekuatan sangat hebat telah mendorongnya sehingga ia mundur terhuyung-huyung.

Ho Hay Hong sebetulnya sudah hampir tidak sanggup pertahankan berdirinya kaki, tetapi dengan tindakannya yang luar biasa ini, bukan saja tidak sampai roboh, sehingga malah mengejutkan musuh-musuhnya.

Liong ceng Houw sie segera merubah sikapnya semula yang memandang rendah, ia maju menghampiri dan berkata sambil tertaw a dipaksa:

"Ha ha ha! Sudah lama aku dengar kepandaian  Bengcu yang luar biasa, hari ini setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku percaya bahwa  apa yang pernah kudengar itu ternyata benar. Ini bukan saja merupakan suatu keuntungan besar bagi golongan rimba hijau daerah utara, tetapi juga merupakan suatu kehormatan bagi seluruh kawan dari golongan rimba hijau." Ho Hay Hong yang masih bisa pertahankan dirinya hanya dengan kekerasan hatinya ketika mendengar perkataan itu, lantas berkata dengan suara keras:

"Liong ceng Houw sie, aku sebetulnya tiada maksud melukai orangmu. Tapi karena terdesak olah keadaan, terpaksa aku bertindak berlawanan dengan kemauanku sendiri, harap kau suka maafkan!"

"Mana, mana, ini adalah Bengcu yang masih suka pandang mata padaku, jikalau tidak, Bengcu pasti tidak akan berlaku demikian!"

Pemimpin itu meskipun wajahnya masih menunjukkan sikap berseri-seri, tetapi sepasang matanya penuh api kebencian.

Ho Hay Hong yang berpandangan mata tajam, bagaimana tidak tahu? Maka diam-diam ia merasa gelisah.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda. Ketika ia menoleh, benar saja  derap kaki kuda-kuda itu adalah kuda tunggangan gadis kaki telanjang yang sedang dibedal dengan pesatnya.

Kuda itu lari laksana terbang, dalam waktu sekejap mata sudah berada dihadapan matanya.

Bukan kepalang girangnya Ho Hay Hong buru-buru menghampirinya dan berkata dengan separoh berbisik di telinganya.

"Akhirnya kau keburu sampai, aku sudah lama menunggu dengan sangat gelisah."

Gadis kaki telanjang seolah-olah tidak dengar, semua perkataannya, buru-buru mengeluarkan bungkusan obat bubuk dari dalam saku diberikan kepada Ho Hay Hong seraya berkata:

"Lekas telan, kalau terlambat." Dengan sikap ketakutan gadis itu menoleh ke belakang, hal mana sangat mengherankan Ho Hay Hong. Buru-buru ia berpaling nampak olehnya seorang pemuda berbaju  putih dan berwajah tampan sedang berjalan menghampiri.

Pemuda itu tampan dan gagah, gerakannya menunjukkan bukan orang sembarangan. Ia berjalan lambat tetapi gesit sekali, sebentar saja sudah berada di hadapan matanya.

Ho Hay Hong tercekat, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri: ”ilmu apa yang digunakan oleh pemuda ini ?”

Tiat Chiu Khim ketika melihat pemuda itu menghampiri dirinya mendadak mundur dua langkah, wajahnya menunjukkan sikap gelisah.

Ho Hay Hong yang tidak mengerti apa sebabnya diam- diam merasa heran. Karena gadis yang berani dan berkepandaian tinggi itu, biasanya berkelakuan tenang dan tidak takut dengan siapa saja, tetapi mengapa sekarang demikian gugup dan ketakutan ? Apakah pemuda baju putih itu benar-benar seorang lihay yang harus ditakuti ?

Oleh karena itu, maka ia juga tidak berani berlaku gegabah, ia diam saja, menantikan perkembangan lebih lanjut.

Dilain pihak, diam-diam ia sudah menelan obat bubuknya Liong yan hiang. Ketika obat bubuk itu masuk ketenggorokannya, bau harum yang sangat tebal dirasakan seperti menghembus keluar dari mulutnya, sehingga dapat tercium oleh semua orang yang berdiri di sekitar tempat itu.

Semua orang menoleh kearahnya, dan memandangnya dengan penuh keheranan.

Bau harum itu terus mengalir keseluruh tubuhnya, hingga racun sangat berbisa dari serangan San hoa Ciang, lenyap seketika.

Diam-diam ia coba mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia telah dapat kenyataan bahwa keadaan dalam tubuhnya sudah pulih kembali seperti biasa.

Dari girang timbul perasaan terima kasih, dari perasaan terima kasih timbul perasaan cinta. Lalu diam- diam ia bersumpah kepada diri sendiri asal masih bisa bernapas, ia pasti tidak akan membiarkan sang kekasih menderita.

Pada saat itu, Tiat Chiu Khim sudah mundur kehadapan Tang Siang Sucu, pemuda bangor itu lantas pentang kedua lengannya, memeluk tubuh sigadis.

Tiat Chiu Khim yang tidak tenang pikirannya, hampir saja berada dalam pelukan Tang Siang Sucu. Ho Hay Hong mendadak mengeluarkan suara bentakan  keras dan menyambitkan pedang panjangnya.

Ia sebetulnya hendak menghadapi pemuda baju putih yang tidak dikenalnya itu tapi ketika menampak Tiat Chiu Khim dalam ancaman perbuatan Tang siang Sucu yang tidak sopan, pedangnya terpaksa di gunakan untuk menyambit saudaranya sendiri. Sebelum tangan Tang siang Sucu berhasil menjamah tubuh Tiat Chiu Khim pedang Ho Hay Hong sudah berada hanya sejarak sekaki dihadapan mukanya.

Tang siang Sucu menjerit kaget, karena ia tahu benar betapa hebatnya serangan pedang itu, maka ia buru buru lompat mundur.

Suasana lantas menjadi gempar, semua orang terkejut bahwa Ho Hay Hong menilik kepandaian ilmu pedang terbang. Hanya Tiat Chiu Khim seorang yang tahu, bahwa kepandaian ilmu itu adalah kepandaian ilmu si Kakek penjinak garuda.

Selagi semua orang ramai memperbincangkan soal pedang terbang itu, pemuda baju putih itu mendadak pentang mulut:

"Aha, bagus sekali, dengan susah payah aku mencari, tak kusangka berada disini."

Suaranya itu cempreng sekali, sehingga mengejutkan semua orang.

Kedatangan pemuda tidak dikenal tanpa diundang itu, memang sudah menimbulkan perasaan tidak senang kepada semua orang yang ada disitu, kini setelah mendengar suaranya yang menjemukan, dan tidak karuan Juntrungannya, maka semua orang memandangnya dengan perasaan muak.

Ho Hay Hong kini baru melihat keadaan yang sebenarnya. Pemuda itu mempunyai bentuk muka yang agak aneh, dahinya tajam, hidungnya mancung, bibirnya tipis, daun telinganya berdiri, matanya merah. Sedang rambut dikepalanya berwarna kuning dan menurun dikedua pundaknya mirip dengan binatang serigala, hingga ia merasa geli dan tertaw a sendiri.

Gerakan pemuda itu memang diakui sangat gesit, dan jauh memang seperti pemuda yang tampan dan gagah, tak disangkanya setelah dilihat dari dekat, merupakan seorang pemuda aneh bahkan mirip dengan satu makhluk aneh.

Ho Hay Hong melihat pemuda aneh itu memandang Tiat Chiu khim dengan matanya yang liar tanpa berkedip, diam-diam ia merasa sangat mendongkol. Maka dihadapan orang banyak, tanpa malu-malu ia menarik tangan si gadis dan ditanya dengan suara perlahan.

"Siapa orang itu?"

"Aku juga tidak tahu," jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Ho Hay Hong tercengang. "Mengapa takut padanya?" "Ini aku sendiri juga tidak mengerti, aku hanya merasa

baru melihat mukanya saja sudah takut."

"Kau kenal dengannya?!" "Tidak!"

"Mengapa ia terus mengikuti kau?", Tiat Chiu Khim pentang lebar matanya dan menjawab:

"Aku sendiri juga tidak mengerti. Sejak ia melihat aku, lantas mengikuti aku sampai disin i. Aku tidak menghiraukannya, tetapi juga tidak bisa melepaskan diri darinya. Kadang-kadang ia tertaw a padaku, membuat aku merasa takut." "Ow, aku tahu, dia mungkin tertarik oleh kecantikanmu, maka terus membuntuti."

Mendengar ucapan demikian, selembar muka Tiat Chin Khim merah seketika dengan perasaan tidak senang ia mengaw asi pemuda aneh itu sejenak, kemudian berkata:

"Hm persetan dengan pemuda ceriw is seperti dia."

Ho Hay Hong tidak mau menggoda lagi  maka pembicaraannya dialihkan kesoal lain.

"Aku tadi dengar kau kata jangan sampai terlambat kalau terlambat bagaimana? Aku sangat  khawatir, semula kiranya jiwaku tidak akan tertolong lagi, tak kusangka hanya lamaran pemuda ceriw is ini. Tetapi ada aku disini, ia tidak akan berani berlaku kurang ajar terhadapmu. Jikalau ia berani, aku akan hajar dia."

Tiat Chiu Khim menundukkan kepala dan berkata:

"Aku selamanya bernyali besar, tidak takut kepada siapapun. Tetapi entah apa sebabnya, ketika melihat dia lantas takut."

Berkata sampai disitu, dengan perasaan bingung memandang Ho Hay Hong, kemudian melirik kepada pemuda aneh itu.

Pemuda aneh itu ketika melihat si nona melirik kepadanya, tingkah lakunya semakin tengik. Sambil tertaw a dingin ia menghampiri Ho Hay Hong seraya berkata dengan suaranya yang tajam:

"Kepandaianmu mengendalikan pedang sangat aneh, mirip dengan kepandaian si tua bangka penjinak garuda. Aku sebetulnya tidak suka mencampuri urusan orang lain, tetapi sekarang aku hendak mencoba-coba kepandaianmu!"

Perkataan pemuda itu mengejutkan semua orang yang ada disitu, sebab terhadap seorang dari angkatan tua yang namanya sangat kesohor seperti kakek penjinak garuda, ia menggunakan sebutan si tua bangka. Pada waktu itu orang-orang angkatan muda yang berlaku demikian sombong, hanya ia seorang saja.

Ho Hay Hong berpikir: Kakek penjinak garuda meskipun kejam tetapi bagaimanapun juga adalah seorang luar biasa yang kenamaan. Kau orang macam apa, berani demikian menyebutnya?

Meskipun dalam hati Ho Hay Hong merasa tidak senang, tetapi ia masih bertanya dengan nada suara dingin.

"Siapa she dan nama tuan yang mulia! Bolehkah kiranya kau beritahukan padaku?"

"Ow, ow. namaku Long gee mo, tiada halanganku beritahukan padamu!" jaw abnya sambil tertaw a.

Suara tertaw anya itu meskipun tidak nyaring, tetapi tajam dan menusuk telinga. Jelas ia sedang memamerkan kekuatan tenaga dalamnya.

Lam kiang Tay-bong yang menyaksikan sikap congkak pemuda itu, alisnya dikerutkan lalu bertanya.

"Kau murid siapa?"

Long-gee mo mendengar pertanyaan itu, menoleh dan menjawab:

"Locianpwee, apa kau tanya padaku?" Sikapnya demikian jumawa, seolah-olah tidak pandang mata Lamkiang Tay bong. Lam kiang Tay bong meskipun sangat mendongkol, tetapi karena harus menjaga kedudukannya ia tidak mau sembarangan turun tangan terhadap anak muda, maka hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.

Long gee-mo tidak ambil pusing, masih tetap dengan sikapnya yang jumawa ia berkata:

"Suhu sudah lama tidak mau mencampuri urusan duniawi, locianpwee tahu namanya juga tidak ada faedahnya, sebaiknya aku tidak jawab!"

Belum pernah ada orang bersikap demikian jumawa terhadap Lam kiang Tay bong, maka ia lantas berkata:

"Kalau begitu, aku akan minta anda sendiri yang membuka mulut !"

Ucapan Itu mengundang maksud: ’Karena tidak mendapat jaw aban yang semestinya maka pemuda itu hendak ditaw an, supaya suhunya datang sendiri memberi jawaban.’

Tetapi Long gee mo tidak mengerti, entah ia memang tidak mengerti betul atau memang berlaku bodoh. Ketika mendengar perkataan itu, kepalanya digeleng-gelengkan seraya berkata:

"Tidak ada gunanya, tidak ada gunanya, masa mau suhu menjawab pertanyaanmu ?"

Lam kiang Tay bong lantas marah, tidak dapat kendalikan perasaannya menghadapi sikap congkak pemuda itu. Lebih cepat ia menghampiri dan berkata: "Bocah! Matamu hanya melihat keatas. Kau begitu kurang ajar. Aku terpaksa tidak tinggal diam, maka aku hendak mewakili suhumu mengajar adat kau !"

Jubahnya dikebutkan, dari situ mengeluarkan hembusan angin hebat.

Long gee mo berteriak tajam:

"Apa? Locianpwee benar-benar hendak menghajar aku?"

Sementara itu angin hebat sudah menyambar dirinya, ia agaknya mengetahui bahwa serangan itu amat dahsyat, maka buru-buru lompat setinggi lima tombak

Ia tidak menduga bahwa kepandaian orang tua itu demikian tingginya, wajahnya berubah seketika. Dari tengah udara ia melayang sejauh delapan tombak. tepat di dibelakang Liong ceng Houw sie berdiri agak jauh, kemudian berseru:

"Oooh celaka ! Locianpwee jangan  begitu, seranganmu ini benar-benar akan mematahkan tulangku!"

Lam kiang Tay bong masih mendongkol dengan sikap anak muda itu, maka hendak diberi hajaran seperlunya.

Tetapi Lam kiang Tay bong berpikir lagi, dari gerakan pemuda itu dapat dipastikan bahwa suhunya tentunya juga merupakan satu tokoh terkemuka. Karena ia tidak ingin membesarkan urusan, maka hanya diberi peringatan saja lalu balik ketempatnya sendiri.

Ketika Long gee mo balik lagi ketengah lapangan, sikapnya semula yang sangat sombong nampak berkurang, ia tidak berani mencari onar dengan Lam kiang Tay bong, langsung menghadapi Ho Hay Hong. kemudian berkata sambil memberi hormat.

"Ucapanku nasib berlaku, tadi aku kata hendak mencoba kepandaianmu, jikalau tidak maka sia-sialah perjalananku ini."

Pikiran Ho Hay Hong tertuju kepada ucapan terakhir pemuda itu, selagi memikirkan  apa maksudnya, dari depan tiba-tiba merasa hembusan angin, kemudian disusul oleh teriakan Tiat Chiu Khim: "Lekas menyingkir!"

Ia tersadar seketika, buru-buru mengelak dan balas menyerang.

Long gee mo tanpa sebab menarik dirinya jauh-jauh kemudian melakukan latihan napas dan tangan seperti seorang yang sedang mengadakan latihan olah raga. setelah itu barulah melancarkan serangannya yang kedua.

Ho Hay Hong yang masih belum mengerti, tetap menggunakan tangan untuk menangkis serangan itu. Sebentar terdengar suara beradunya dua tangannya yang halus sekali, tangan Ho Hay Hong dirasakan seperti mau patah oleh serangan lawannya, hingga diam-diam terkejut.

Ia sebetulnya hendak menggunakan gerak tipuan untuk mengelakkan kekuatan lawannya, kemudian balas menyerang diluar dugaan lawannya, tak disangkanya, ketika serangannya baru setengah jalan lawannya juga menggunakan siasat yang serupa, hingga ia diam-diam memuji kepandaian pemuda itu.

Sekarang ia buru sadar bahwa perhitungannya terhadap kepandaian lawannya ternyata, sudah keliru ia memikirkan pemuda itu entah dari golongan mana, mengapa kepandaiannya semakin tinggi.

Tetapi, sejak ia berhasil mempelajari ilmu silat garuda sakti, meskipun Ia dikejutkan olah kepandaian lawannya tetapi masih dapat mengendalikan perasaannya sendiri,  ia geser kakinya beberapa langkah, dengan menggunakan siasat pertahanan, telah berhasil menahan serangan lawannya.

Long gee mo segera berkata dengan suara nyaring: "Boleh juga. boleh juga. Bolehkah aku minta tanya

apakah kau murid keturunan yang dididik langsung oleh kakek penjinak garuda?"

"Kalau iya, mau apa?"

"Kalau iya, itulah paling baik. Hari in i aku hendak membunuhmu!"

Sehabis berkata ia sudah akan bergerak lagi karena ia sudah anggap Ho Hay Hong benar-benar muridnya kakek penjinak garuda.

Dari ucapan yang menggunakan istilah tua bangka kepada kakek penjinak garuda, ia sudah tahu bahwa pemuda itu berdiri sebagai musuh dengan  kakek penjinak garuda, telah mendengar perkataan pemuda itu makin kuat dugaannya, ia lalu berkata:

"Jika aku bukan muridnya, lalu bagaimana?"

"Kau berani mengatakan bukan? Akh tidak, tidak! Kau pasti adalah muridnya atau setidak-tidaknya cucu muridnya, atau mungkin juga ada sedikit hubungan dengannya maka aku harus membunuhmu!" Ho Hay Hong dengan tenang bertanya: "Mengapa kau hendak membunuh aku? Katakanlah sebabnya, supaya seandainya aku mati juga tidak penasaran!"

"Kakek penjinak garuda adalah  musuh bebuyutan suhu semua kepandaianku kudapatkan dari suhu, mengapa aku tidak melakukan sesuatu bagi suhuku?"

"Siapakah suhumu itu?" "Ing Siu, kau dengar tidak!"

"Haha, kau salah kawan! Kakek penjinak garuda t idak ada hubungan apa-apa denganku, ucapanku tadi hanya untuk menyelidiki siapakah suhumu, benar seperti apa yang aku duga, dia adalah Ing Siu."

"Kau bohong, kepandaianmu mengendalikan pedang semuanya dari golongan kakek penjinak garuda, dalam hal ini, aku percaya semua orang yang ada disini sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,  bagaimana kau hendak mengelabui mataku ?"

Tiat Chiu Khim mendadak maju dan berkata:

"Kau ini menuduh orang dengan sikap b iasa dan t idak sopan, benar-benar tidak mengenal aturan. Aku  ini adalah muridnya sikakek penjinak garuda, kau mau apa?"

Ho Hay Hong berkata kepada Chiu Khim dengan suara pelahan:

"Kau dengan kakek penjinak garuda sudah memutuskan hubungan, Jangan lupa bahwa dia adalah musuhmu !" "Aku lihat dia sangat menjemukan maka kupikir hendak memberikan ia sedikit pelajaran!" berkata Tiat Chiu Khim.

"Kau sudah tak takut lagi?" tanya Ho Hay Hong heran. "Aku mungkin masih takut, tetapi mungkin juga tidak!" "Kenapa?" tanya Ho Hay Hong semakin heran.

Gadis itu tiba-tiba merasa sangsi lama baru berkata:

"Kau berada di sampingku, aku seperti mendapat perlindungan!"

"Bagaimana jika kau tak berada di sampingmu" "Aku tak tahu!"

"Aku kira tidak ada harganya kau keluarkan tenaga

untuk kakek penjinak garuda!"

Gadis itu menggelengkan kepala dan berkata dengan tegas:

"Tidak. Ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Kepandaianku kudapatkan dari dia, maka kali ini hitung- hitung sebagai balasan, tapi selanjutnya aku tidak akan keluarkan tenaga untuknya lagi, juga tidak akan mau lagi menggunakan ilmu kepandaiannya!"

Oleh karena gadis itu dapat membedakan dengan tegas antara budi dengan kebencian, maka Ho Hay Hong tak bisa membantah. Ia tahu bahwa gadis itu sifatnya tinggi hati, diberi nasehatpun tidak berguna, maka ia diam saja.

Suasana mendadak tegang, sebab dua orang itu semua merupakan murid-murid dari dua orang terkuat pada dewasa in i, dan pertandingan itu ada hubungannya dengan perguruannya.

Buat Lam kiang Tay bong kini  lebih cenderung membantu pihaknya Long gee mo, sebab ia sendiri juga bermusuhan dengan si-kakek penjinak garuda.

Matanya tajam menatap Tiat Chiu Khim, meskipun Ho Hay Hong berulang-ulang telah menyatakan bahwa gadis itu sudah memutuskan hubungan dengan kakek penjinak garuda, tapi kini karena mengeluarkan tenaga untuk kakek penjinak garuda, maka ia lantas alihkan kemarahannya pada Ho Hay Hong, yang tak seharusnya melarang tindakan muridnya.

Sementara itu Liong ceng Houw sie yang merasa dirinya di kesampingkan, sebagai seorang pemimpin  rimba hijau tujuh propinsi yang sudah biasa di hormati oleh anak buahnya, juga belum pernah mendapat perlakuan yang demikian dingin, maka dalam hati merasa tidak senang.

Belum lama berselang ia masih dianggap sebagai pemimpin golongan rimba hijau, tak diduganya dengan kedatangan Long gee mo dan Tiat Chiu Khim, ia lantas di kesampingkan.

Dalam mata pemimpin rimba hijau itu, kecuali anak buahnya sendiri, yang lainnya semua dianggap sebagai musuh yang tak boleh diampuni.

Tetapi ia masih merasa ragu-ragu. Sebab di samping Ing Siu dan kakek perjinak garuda dua orang kuat itu, masih ada Lam kiang Tay bong yang juga merupakan salah satu dari lima tokoh terkuat rimba persilatan dewasa ini yang ada disitu. Pada saat itu, Long gee mo lantas menghampiri Tiat Chiu Khim dan segera melakukan serangan, hingga keduanya lantas mulai bertempur.

Ho Hay Hong menyaksikan kekasihnya bertempur dengan musuh, kepandaian mereka berimbang.  Ia sangat marah, tetapi karena keadaan tidak mengijinkan, terpaksa mengendalikan amarahnya.

Liong ceng Houw sie mendadak timbul pikiran lain: ”Jika aku menggunakan kesempatan ini, memberi pukulan telak padanya, sungguhnya paling baik. Jika tidak, setelah gadis itu berhasil menjatuhkan musuhnya, tidak mudah kuhadapinya.”

Sebagai seorang Kang-ouw kawakan, ia dapat menghadapi segala sesuatu dengan menyesuaikan keadaan. Dari sikap dan kata-kata Tiat Chiu Khim dengan Ho Hay Hong, Ia segera dapat menduga bahwa dua muda-mudi itu berdiri disatu pihak. Dengan demikian, bilamana Ho Hay Hong diserang musuh, Tiat Chiu Khim pasti akan membantu dengan tenaga sepenuhnya

Semula ia tidak takut kepada gadis yang cantik itu, sebab kecuali kecantikannya, tidak ada apa-apanya yang menonjol. Tetapi sekarang anggapan pemimpin itu telah berubah, ia sungguh tidak menduga bahwa gadis itu adalah murid kakek penjinak garuda !

Ia tahu benar, siapa adanya Kakek penjinak garuda itu, anak muridnya sudah tentu juga tidak boleh dipandang ringan.

Sebagai seorang ambisius, setelah mengetahui kekuatan Ho Hay Hong, lantas t imbul maksudnya hendak menjatuhkan dengan akal untuk menghindarkan pertempuran hebat, karena ia belum yakin bisa mengalahkannya, bahkan bisa jadi dia sendiri yang akan jadi buah tertaw aan kaw an-kaw an dari rimba hijau.

Harapan satu-satunya adalah: Long-gee-mo berhasil membinasakan kawan-kawannya.

Pemuda aneh itu meskipun sering mengganggu dan kadang-kadang bahkan mengejek dirinya, sehingga dianggapnya sebagai pengacau yang memusingkan, tetapi keadaan sekarang berlainan, karena menghadapi lawan labih berat, sudah tentu memilih yang ringan.

Sementara itu, Tang siang Sucu masih berdiri disitu, menantikan kesempatan baik untuk turun tangan.

Tang-siang Sucu tergila-gila paras Tiat Chiu Khim yang cantik jelita, tetapi benci perbuatannya yang menyulitkan dirinya dihadapan orang banyak. Ia lebih benci lagi melihat sikapnya yang demikian erat terhadap Ho Hay Hong.

Tang siang Sucu terhadap Ho Hay Hong sedikitpun tidak mempunyai kesan baik, terutama perbuatannya t adi yang sangat memalukan dirinya. Ia masih simpan dihati, setiap saat mencari kesempatan hendak menuntut balas dendam.

Apa mau, Lam kiang Tay bong telah mengeluarkan perint ah:

"Bunuh yang perempuan, bebaskan yang laki!"

Yang perempuan dimaksudkan Tiat Chiu Khim dan yang laki dimaksudkan Ho Hay Hong.

Tang siang Sucu tidak berani melawan perint ah suhunya, meskipun ia diasuh dan dibesarkan oleh Lam- kiang Tay bong, tetapi orang tua itu bukanlah seorang yang dapat dipermainkan.

Matanya terus berputaran, menjelajahi tiap bagian tubuh Tiat Chiu Khim. Seumur hidupnya ia belum pernah demikian tergila-gila terhadap wanita, apa lacur, selagi benih cinta sedang bersemi, gadis yang dicintai sudah menyerahkan diri dalam pelukan orang lain.

Dan yang lebih celaka, orang itu bukan lain dari saudara sekandungnya sendiri! Tetapi ia tidak perdulikan soal saudara atau bukan, ia sudah biasa membenci siapa saja yang berani menentang perbuatannya atau orang yang merebut kepentingannya.

Pandangan matanya cukup tajam, meski pun Tiat Chiu Khim sedang melakukan pertempuran hebat, tetapi ia masih bisa melihat dengan tegas setiap bagian, sehingga yang paling halus ditubuh gadis itu.

Ia anggap dirinya seorang anak muda romantik yang memiliki wajah tampan dan gaya menarik hati. Tak disangka si gadis cantik jelita yang dirindui itu, t idak sudi mendekati, mau tidak mau ia terpaksa mengakui kebodohannya sendiri.

Sementara itu, Su siang Sucu mendadak timbul pikirannya yang jahat: ”kalau saat ini aku bokong padanya dengan senjata rahasia paku Thian mo teng, sekalipun berkepandaian tinggi sekali, juga  tidak mungkin lolos dari tangan maut!”

Yang dimaksudkan dengan dia oleh pemuda ini ialah Ho Hay Hong.

Sedangkan Ho Hay Hong sendiri pada saat itu masih menyaksikan jalannya pertempuran antara Tiat Chiu Khim dengan Long gee mo dengan hati cemas, jelas bahwa seluruh perhatiannya sedang ditujukan kepada pertempuran itu.

Sudah tentu See siang Sucu merasa girang, diam-diam ia mengeluarkan dua buah Thian-mo-teng yang mengeluarkan sinar gemerlapan, ia hilangkan dulu sinarnya dengan tanah lumpur, hingga sinarnya lenyap.

Senjata rahasia itu meskipun nampaknya biasa saja, seperti senjata-senjata rahasia lainnya, tetapi mengandung bisa yang sangat berbahaya. Sekalipun binatang buas seperti singa atau harimau dan ular berbisa, juga akan mati seketika jika terkena serangan paku itu.

Tetapi sebelum melaksanakan maksudnya, ia masih memikirkan perint ahnya Lam kiang Tay bong, karena justru bertentangan dengan maksudnya sendiri. Jika ia membinasakan Ho Hay Hong dengan senjata itu, suhunya pasti tidak tahu karena bekerjanya bisa dalam tubuh orang yang terkena serangannya baru ketahuan setelah berlangsung tiga jam. Dalam waktu t iga jam itu, mungkin pertempuran sudah selesai, siapa yang akan menduga kalau sang korban mati ditangannya?

Paku Thian mo-teng bentuknya halus sekali, tidak mudah dilihat oleh mata biasa. Apalagi sinarnya sudah dihapus oleh lumpur tanah liat. Jangankan orang lain, sekalipun orang yang diserang, juga tidak tahu, karena serangan itu hanya menimbulkan rasa seperti orang digigit nyamuk.

Diam-diam ia geser kakinya kebelakang Lam kiang Tay bong menantikan kesempatan baik untuk turun tangan. Kesempatan yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba, meluncurlah sebuah paku halus tetapi sangat berbisa itu dari dalam tangannya. Dengan tidak mengeluarkan sedikit suarapun juga, paku meluncur kearah Ho Hay Hong.

See siang Sucu sangat girang, diam-diam berkata sendiri: "Haha, bocah, akhirnya kau binasa ditanganku."

Tetapi, tepat pada saat paku berbisa itu meluncur, Liong ceng Houw sie mendadak lompat  menyerbu  Ho Hay Hong. Tubuhnya yang tinggi besar, justru menghalangi tubuh Ho Hay Hong yang sedang diserang oleh senjata rahasia See siang Sucu.

See siang Sucu terkejut, matanya dibuka lebar-lebar, karena ia tahu bahwa senjata itu pasti akan bersarang dalam tubuh Liong ceng Houw sie. Dasar nasib!

Liong ceng Houw sie yang memiliki kekuatan tenaga dalam cukup sempurna, ketika terkena senjata berbisa itu, hanya terkejut sejenak, karena seperti ada apa-apa yang tidak beres, tetapi tidak dapat menemukan bagian mana yang tidak be res.

Hanya sejenak hatinya tercekat, tetapi tidak berhenti, dengan tangannya yang besar, secepat kilat menyerang batok kepala Ho Hay Hong, dan kakinya juga melakukan tendangan geledek.

Serangan mendadak tanpa peringatan dan secara pengecut itu, membangkitkan kemarahan Ho Hay Hong, ia juga mengeluarkan suara bentakan keras, dengan satu gerakan luar biasa mengelakkan serangan Liong ceng Houw sie, kemudian balas menyerang bagian jalan darah Khie hiat musuhnya. Sementara itu, See siang Sucu diam-diam berpikir. "Sekarang aku sudah kesalahan membunuh pemimpin rimba hijau daerah selatan. Kematiannya itu pasti akan menimbulkan kecurigaan anak buahnya, dan apabila diadakan pemeriksaan, pasti menyulitkan diriku.”

Ia tahu benar pengaruh Liong ceng Houw sie, juga tahu benar bahwa anak buahnya hampir menyusup di mana-mana. Kalau diketahui oleh anak buahnya, ia pasti akan menjadi musuh besar golongan rimba hijau daerah selatan.

Meskipun ia sendiri t idak takut, tetapi setidak-tidaknya juga menyulitkan kedudukannya. Oleh karenanya, maka ia lalu mengambil keputusan turun tangan lebih dulu, untuk membasmi habis anggota-anggotanya yang terkuat.

Semakin memikir, ia jadi semakin gelisah, napsunya membunuh juga semakin berkobar. Ketika Lam kiang Tay bong berpaling kearahnya dan melihat mata muridnya yang berapi-api, tentu saja merasa heran, maka ditegurnya:

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, murid hanya menyaksikan pertempuran hebat dari dua orang kuat itu, dalam hati merasa kagum!" jawabnya dengan sikap menghormat.

"Sekali lagi jangan membunuh pemuda she Ho itu, karena dia dengan kakek penjinak garuda terlibat permusuhan. Di kemudian hari, besar faedahnya bagi kita." See siang Sucu meski mulutnya menyahut akan ingat pesan itu, tetapi keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.

Tidak berani lagi ia berpikir untuk membunuh Ho Hay Hong, Kini perhatiannya dialihkan kepada anak buah Liong ceng Hou sie.

Dengan cara yang serupa ia tujukan serangannya kepada Hok kauw cia.

Hok kauw cia yang sedang pusatkan perhatiannya kemedan pertempuran, meskipun lengannya merasa gatal, ia juga t idak perhatikan.

Dengan cara itu juga See siang Sucu menyerang Pat kwa Yu sin, ciu pat kwa Yu sin chin yang masih terluka bekas serangan Ho Hay Hong, sudah tentu tidak berasa sama sekali.

Dua kali serangannya berhasil baik nyalinya semakin besar. Ia mengambil sebuah lagi, kali in i serangannya ditujukan kepada orang tua hidung bengkok, salah satu dari t iga pembantu Liong ceng Houw sie.

Setelah itu dengan beruntun ia menyerang orang- orangnya Liong ceng Houw sie. sehingga menghabiskan dua belas senjata paku beracun.

See siang Sucu setelah melakukan perbuatannya yang keji. diam-diam memperhatikan gerak-gerik semua korbannya tetapi mereka tidak menunjukkan maupun reaksi apa-apa, bahkan masih tertaw a-taw a.

Dua belas orang yang diserang itu, semua merupakan tokoh tokoh terkemuka dalam kalangan rimba hijau daerah selatan yang lainnya meskipun masih ada, tetapi senjata paku beracun See siang Sucu sudah keburu habis, hingga mereka boleh merasa beruntung, tidak turut kawan-kaw annya keneraka.

See sang Sucu simpan kotak pakunya, otaknya dikerjakan semakin keras. Dengan cara bagaimana harus mengambil jalan keluar lagi senjata itu dari tubuh para korbannya, supaya orang lain tidak sampai tahu perbuatannya.

Sementara itu, pertempuran antara Ho Hay Hong dengan Liong-ceng Houw sie masih terus berlangsung dengan serunya. Ho Hay Hang masih belum tahu bahwa ia hampir saja menjadi korbannya senjata beracun See siang Sucu.

Ia juga tidak tahu bahwa Liong-ceng Houw-sie tanpa ia turun tangan juga akan mati. Ia hanya khaw atir keselamatan kekasihnya. Karena melihat sekian lama belum ada yang menang dan yang kalah maka ia lalu berseru:

"Nona Chiu Khim, lekas gunakan ilmu garuda sakti!"

Mendengar perkataan itu. Liong ceng Houw-sie mendadak lompat mundur sebelum kalah, matanya ditujukan ke arah Tiat Chiu Khim, agaknya ing in menyaksikan ilmu luar biasa itu.

Tong siang Sucu juga mendadak merasa tegang urat syarafnya, matanya ditujukan ke arah gadis pujaannya tanpa berkedip.

Hanya See siang Sucu yang tujukan perhatiannya kepada Liong-ceng Houw sie. Ia khaw atir pemimpin rimba hijau itu sebelum mati mengetahui rahasia kematiannya. Liong ceng Houw sie tidak bergerak, Ho  Hay Hong juga demikian. Kini ia baru tahu bahwa pemuda yang bentuknya aneh itu sesungguhnya gagah sekali, bertempur sekian lama sikapnya semakin gagah. Sedangkan dipihaknya Tiat Chiu Khim nampak jelas agak kewalahan.

Tiba-tiba ia merasa benci dengan kedudukannya sendiri. Seandainya ia bukan pemimpin rimba  hijau daerah utara, ia pasti tidak akan membiarkan pemuda aneh itu demikian congkak.

Sementara itu Tiat Chiu Khim mendadak lompat setinggi tiga tombak lebih, ditengah udara melakukan gerakan salto yang manis sekali.

Selanjutnya, cepat bagaikan kilat ia meluncur turun, telapakan tangannya dengan satu gerakan yang manis menyerang pundak Long gee mo.

Tidak ampun lagi Long gee mo menjerit, tubuhnya terpental dan rubuh kearah Lam kiang Tay bong.

Tang siang Sucu seperti menemukan apa-apa, mulutnya mengeluarkan seruan girang.

"Aaaa! Ini gerak t ipu yang pertama."

Dalam tangannya menggenggam segumpal potongan kertas dengan tangan bergemetaran ia berkata pula:

"Gerak tipu yang pertama kiranya begitu. haha, untung keterangan dalam kertas masih belum terobek."

Ho Hay Hong berpikir apabila ilmu kepandaiannya ini terjatuh dalam tangannya, untuk selanjutnya entah berapa banyak jiw a yang akan melayang ditangannya! Pikiran sehat mendadak timbul dalam otaknya, dengan cepat ia menghunus pedangnya dan dilontarkan kearahnya.

Tang siang Sucu yang melihat pedang Ho Hay Hong meluncur kearahnya, bukan kepalang  terkejutnya. Karena dahulu ia pernah merasakan hebatnya serangan itu, maka lantas lari.

Diluar dugaannya, sesosok bayangan orang sudah berada disampingnya dan merebut gumpalan kertas dari dalam tangannya Orang itu bukan lain daripada Ho Hay Hong.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat, belum hilang rasa kaget: Tang siang Sucu, Ho Hay Hong sudah menarik kembali pedangnya dan berdiri sambil tersenyum.

Tang siang Sucu sangat mendongkol, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lam kiang Tay bong tahu bahwa Long gee mo terlalu sombong, kalau t idak diberi sedikit hajaran, ia pasti t idak mau unjukkan tempat sembunyi gurunya.

Oleh karena ada maksud hendak berserikat  dengan Ing Siu untuk menghadapi Kakek penjinak garuda, maka ia sengaja memberi pertolongan kepada Long gee mo supaya jangan sampai rubuh.

Dengan agak susah payah Tiat Chiu  Khim baru berhasil menjatuhkan pemuda ceriw is itu, sudah tentu tidak mau t inggal diam. Cepat ia maju menghampiri, jari tangannya menotok jalan darah bagian perut anak muda itu. Jalan darah yang diarah itu merupakan salah satu dari dua belas jalan darah terpenting anggauta badan manusia, apabila kena ditotok. sekalipun tidak mati, setidak-tidaknya juga akan terluka parah.

Lam kiang Tay bong yang selagi hendak memberi sedikit hajaran  kepada Long gee mo supaya mau menyerah. Tetapi ketika melihat jiw a Long gee mo terancam, pikirannya mendadak berubah. Ia tidak lagi memberi hajaran Long gee mo, Sebaliknya menyerang Tiat Chiu Khim.

Tiat Chiu Khim terkejut, buru-buru mengelakkan serangan Lam kiang Tay bong.

Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu, benar- benar merasa bingung, ia tidak dapat membedakan siapa kawan siapa lawan.

Masih dalam keadaan bingung, Lam kiang Tay bong sudah menyerang lagi sehingga tiga kali. Setiap serangannya seolah-olah diliputi oleh bayangan bunga Bwee, yang mengurung sekujur badan Tiat Chiu khim.

Walaupun Tiat Chiu khim cukup gesit mengelakan serangan jago tua dari Tay bong itu, namun lawannya adalah salah satu dari lima orang kuat rimba persilatan pada dewasa itu, apalagi diserang bertubi-tubi dengan serangannya yang aneh sudah tentu agak kewalahan dan terpaksa mundur.

Selagi gadis itu dalam keadaan bahaya, Ho Hay Hong tidak mau berpikir terlalu banyak, tidak lagi perdulikan kawan atau lawan, ia lalu bertindak menyergap  Lam kiang Tay bong. Dengan beruntun ia menggunakan tiga rupa  gerak tipu dari ilmu silatnya Kun hap Sam kay yang paling hebat.

Dengan campur tangannya Ho Hay Hong, serangan Lam kiang Tay-bong lantas terhambat. Dan dengan demikian, maka Tiat Chin Khim juga terlepas dari bahaya.

Tak ia duga, sebelum ia berdiri tegak. Tang siang Sucu dan See siang Sucu sudah menyerang  lagi  dari kanan dan kiri dengan berbareng.

Tiat Chiu khim yang keras kepala, meskipun berada dalam bahaya, wajah dan sikapnya tetap t idak berubah. Dengan menggunakan serangan jari tangan, ia sudah berhasil mendesak mundur See siang Sucu sehingga empat langkah.

Selagi hendak melancarkan serangannya lagi, mendadak ia berdiri tertegun, matanya memandang kearah jauh.

Tang siang Sucu sangat girang, dengan cepat bertindak, jari tangannya sudah menyentuh baju sinona.

Nampaknya ia masih penasaran. Selagi hendak menyergap Tiat Chiu Khim, seorang tua muka merah, mendadak datang menghampiri dan berkata sambil tertaw a:

"Lam kie Gw at cu! Sudah lama kita tidak bertemu!"

Lam kiang Tay bong paling tidak senang ada orang menyebut nama julukan yang lama  maka ketika mendengar perkataan itu, wajahnya berubah seketika. "Benar, naga api Tio Kang, kau ternyata masih hidup!" katanya dingin.

Orang muka merah itu sedikitpun tidak marah, katanya sambil tertaw a:

"Lam kie Gwat cu, apakah kau mengharap aku lekas mati? iya,kan kawan lama, in i benar-benar sudah tidak ingat persahabatan lama!"

Pada saat itu, asal ia lanjutkan gerakannya, gadis itu akan terluka parah. Tetapi dalam perasaannya mendadak timbul perubahan besar.

Dalam waktu sangat singkat, di otaknya timbul pertentangan sendiri. Ia harus melanjutkan tindakannya atau tidak?

Dalam hidupnya ia sudah membinasakan banyak jiwa manusia, belum pernah timbul perasaan ragu-ragu seperti itu. Tetapi karena orang yang hendak dibinasakan itu justru orang yang dicintai, maka pikirannya lantas merasa bimbang.

Dalam pada itu, Tiat Chin Khim sudah sadar akan keadaannya. Dengan cepat ia geser kakinya, mundur setombak lebih.

Setelah Tiat Chiu Kim mundur, Tang-siang Sucu baru merasa menyesal, ia sesalkan dirinya sendiri, mengapa kesempatan demikian baik, dilepaskan begitu saja?

Matanya beralih ke arah Tiat Chiu Khim, nadanya lantas berubah, ia berkata dengan nada suara dingin:

"Chiu Khim. tadi ketika kau melihat aku, mengapa lantas kabur?" Dalam hatinya Tiat Chiu Khim meski-pun sangat mendongkol, tetapi karena sudah lama diasuh oleh orang tua itu, perasaan takut dan hormat sudah melekat, hingga tidak bisa merubah dengan cepat. Maka ketika mendengar teguran itu, ia diam saja sambil menundukkan kepala.

Empat bintang yang sekian lama diam saja mendadak lompat keluar. Dengan mengandalkan pengaruh Lam kiang Tay bong, ia lalu menegur dengan suara keras:

"Tua bangka, kemarin kau menghajar kita sekalian seenaknya saja, sekarang kita akan menuntut keadilan!"

"Setan tua, dendam pasti di balas. Kau dengan aku sudah berdiri sebagai musuh, sekarang kini salah satu harus ada yang mampus!" kata Tang siang Sucu.

Orang tua muka merah tertaw a terbahak bahak dan berkata:

"Lam kie Gw at cu, apa ini perint ahmu?"

"Kalau ya, mau apa?" demikian Lam kiang-Tay bong balas menanya.

"Tak kusangka setelah berpisah sepuluh tahun lebih, meskipun wajahmu sudah berubah, tetapi adatmu masih tetap berangasan seperti dulu. hahaha!"

Orang tua muka merah itu tidak menghiraukan lagi empat bintang dan Tang siang Sucu, perlahan-lahan menghampiri Tiat Chiu Khim seraya berkata:

"Tidak perlu banyak bicara, majulah, biar aku dapat melaksanakan keinginanku!" Tiat Chiu khim tetap menundukkan kepala, meskipun dalam hatinya ingin mengatakan tidak mau pulang, tetapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya.

Ho Hay Hong meninggalkan Lam kiang Tay-bong, dengan langkah lebar menghampiri Tio Kang dan berdiri menghalang didepan Tiat Chiu Khim. Katanya dengan suara berat:

"Ia sudah bersumpah tidak akan pulang kekampung setan, kau jangan mendesak terus!"

Orang tua muka merah itu ketika melihat Ho  Hay Hong, wajahnya berubah.

"Bocah, kau jangan turut campur tangan aw as batok kepalamu!"

Mendengar ucapanmu itu Ho Hay Hong teringat dendam sakit hatinya. Mendadak ia tertaw a bergelak- gelak dan berkata:

"Batok kepalaku? Haha! Sepuluh tahun berselang belum berhasil kau pindahkan, sekarang kau hendak pindahkan lagi? Barang kali sudah tak keburu lagi!"

Ia berhenti tertaw a, dengan buas menatap siorang tua dan sambungnya:

"Tio kang mungkin kau sudah lupa peristiw a berdarah yang kau lakukan pada sepuluh tahun lebih berselang, tetapi, aku sebagai keturunan dari orang yang menjadi korban keganasanmu, selama sepuluh tahun lebih aku hidup piatu, tiada satu menit aku dapat melupakanmu! Bagaimana kau hendak membantah? Katakanlah!" Orang tua bermuka merah itu terkejut, sinar matanya yang tajam beralih kearah Lam kian Tay bong, katanya dengan singkat:

"Lam kie Gw at cu! Apa semuanya sudah kau beritahukan padanya?"

"Apakah kau si Naga api menjadi marah karena merasa malu? Sehingga aku juga kau bawa-bawa?" jawabnya mengejek.

"Dengan terus terang, sewaktu aku melakukan perbuatanku itu, aku sudah menduga akan akibatnya. Tetapi aku sedikitpun tidak menghiraukan. Dengan ilmuku Tok liong-ciang aku menanam permusuhan ini, biarlah sekarang juga aku menggunakan ilmuku itu untuk membereskan persoalan ini. Kau bocah kau hendak menuntut balas dendam kematian ibumu, silahkan maju. Kecuali ilmu seranganku Tok liong ciang aku tidak akan menggunakan ilmu lain untuk menghadapimu!" kata orang tua bermuka merah.

Kata-katanya itu di ucapkan dengan suara datar, tidak menunjukan rasa takut, juga tak menunjukan rasa penyesalan. Agaknya t idak pandang Ho Hay Hong sama sekali.

Lam kiang Tay bong segera menyela sambil tertawa dingin:

"Ini bukan, terhitung kemurahan hati mu, semua orang rimba persilatan tahu, kau si Naga, hanya serupa ilmu serangan naga apimu yang terkenal itu. Kecuali itu kau masih memiliki kepandaian ilmu apalagi yang pantas kau banggakan?" "Kawan ucapanmu itu memang betul! Sebentar, setelah aku membereskan bocah ini aku hendak belajar kenal lagi denganmu, aku ingin melihat, kau  Lam  kie Gw at cu selama beberapa puluh tahun ini, mendapat tambahan ilmu kepandaian apa lagi?." berkata si-Naga  api sambil tertaw a.

Ho Hay Hong berkata dengan suara nyaring:

"Tak perlu banyak bicara. Majulah, biar aku dapat melaksanakan keinginanku!"

Orang tua muka merah itu berdiri tegak, tanpa bergerak, katanya dengan sikap jumawa:

"Meskipun aku adalah musuh besarmu tetapi kau masih harus menghadapiku dengan peraturan dari orang tingkatan muda. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan penyerangan lebih dulu, kalau kau bermaksud hendak menuntut balas, berbuatlah sesukamu!"

Tiat Chiu Khim yang mendengarkan pembicaraan mereka, baru tahu permusuhan ant ara mereka. Ia buru- buru berbisik bisik ditelinga Ho Hay Hong:

"Gunakanlah gerak tipu keempat dari ilmu garuda sakti, untuk menghancurkan ilmu serangan tangan naga apinya. Ingat baik baik:"

Peringatan itu menarik perhatian Ho Hay Hong. tanyanya:

"Kecuali gerak tipu keempat itu, apakah gerak tipu lainnya tidak bisa menghancurkan ilmunya?"

"Bisa sih bisa, tetapi kau masih belum hapal betul, tidak boleh menggunakan secara sembarangan." kata si gadis perlahan. Ia menambah keterangannya lagi: "Umpama gerak tipu pertama, harus digunakan dengan tambahan sedikit variasi atau perubahan, baru berhasil menundukkan dia. Tetapi, dalam keadaan mendesak, aku tidak dapat memberi penjelasan sampai ke detail-detailnya, hanya gerak t ipu ke empat, tidak perlu variasi atau perubahan, sudah cukup untuk mengalahkan dia, asal nyalimu dan tenagamu cukup besar"

Ho Hay Hong menganggukkan kepala tanda mengerti, tetapi ia melakukan gerakan pembukaan dari ilmu silat Kun Hap Sam kay.

Tiat Chiu Khim yang menyaksikan, alisnya dikerutkan, wajahnya menunjukkan perasaan khawatir.

Ia masih belum sempat membuka mulut. Ho Hay Hong sudah membuka serangannya.

Orang tua bermuka merah itu tertaw a terbahak bahak, satu tangannya dengan tiba-tiba menerobos dari serangan Ho Hay Hong, lalu menyerang batok kepalanya. Yang mengherankan, ialah sewaktu ia melakukan serangannya, telapakan tangannya merah membara, seolah-olah besi selagi dibakar.

Ho Hay Hong mengelakan serangan  tersebut kemudian menggunakan gerak tipu ketiga untuk menutuk serangan selanjutnya dari orang tua itu, sedang kakinya lantas melakukan tendangan mengarah lutut musuhnya.

Tiat Chiu Khim semakin kesal, selagi hendak memperingatkan t idak boleh menggunakan ilmu silat itu untuk menghadapi musuhnya, Tio Kang sudah menyerang dengan lengan jubahnya. Lengan jubah yang gerombongan dan panjang, ternyata mengandung hembusan angin yang sangat  kuat, lengan jubah itu merupakan sebuah bukit yang mendidih, sehingga Ho Hay Hong merasa tidak dapat bernapas.

Dalam keadaan sangat berbahaya, terpaksa ia menarik kembali kakinya, kemudian menggunakan jari tangannya menghembuskan hembusan angin, barulah berhasil mematahkan serangan lawannya.

Ia sudah agak mengerti ilmu silat yang dinamakan serangan naga api berbisa. Dengan tiba-tiba ia mengeluarkan pekikan nyaring dan lompat setinggi lima kaki, di tengah udara dua lengan tangannya bergerak bagai burung terbang, kemudian menukik dan menyambar lawannya.

Pada waktu itu wajah orang bermuka merah nampak sedikit heran, ia berkata:

"Tak kusangka engkau juga mempelajari ilmu silat garuda sakti."

Lengan jubahnya dikebut-kebutkan, hembusan angin yang hebat telah memaksa Ho Hay Hong turun lagi.

Tiat Chiu Khim lantas berseru:

"Kau lompat terlalu tinggi oleh karenanya maka sewaktu kau menukik dan melakukan serangan tanganmu sudah banyak kehilangan!"

Ho Hay Hong dalam hati terkejut, ia membenarkan pendapat gadis itu.

O-ood-e-w -ioo-O