Rahasia Kampung Setan Jilid 23

 
Jilid 23

MUKA Ho Hay Hong mendadak merah, kemudian berkata sambil tertaw a terbahak-bahak:

"Keliru, kau selalu anggap aku baik sekali dengannya, padahal orang yang kucinta sebetulnya bukanlah dia!"

Ia sebetulnya hendak menggunakan kesempatan itu untuk mengutarakan isi hatinya tetapi mendadak terdengar suara yang tidak asing lagi baginya tengah berseru: "Betul dia. betul dia, jangan membiarkan ia kabur lagi."

Ho Hay Hong terkejut, karena suara itu dikenalnya sebagai suara Tang siang Sucu.

Di samping Tang siang Sucu adalah seorang pemuda tampan, di sisi pemuda itu adalah seorang laki-laki berusia lanjut berjubah kuning.

Ketika Ho Hay Hong melihat laki-laki tua itu, dalam hati terkejut, karena lelaki tua itu tidak lain adalah guru Tang siang Sucu sendiri, Lan kiang Tay bong! Disamping itu masih ada empat bintang yang masih belum sembuh dari luka-lukanya hingga nampaknya masih letih, namun kalau dibanding keadaan mereka sewaktu baru keluar, sudah jauh lebih baik.

Sedang di belakang empat "bintang" adalah delapan pengawal yang terkenal sebagai tukang pukul Tang siang Sucu.

Ho Hay Hong tidak menduga bahwa Tang siang Sucu yang baru mengalami kekalahan sedikit saja sudah mengerahkan seluruh kekuatannya bahkan gurunya juga dibawa.

Maka seketika itu lantas berkata pada gadis kaki telanjang dengan suara perlahan:

"Kau jangan ribut-ribut dulu, urusan ini biarlah aku yang menghadapi!"

"Apakah mereka hendak menangkap ku?" tanya si gadis heran.

Ho Hay Hong tahu bahwa gadis in i sifatnya t inggi hati, apabila diberitahukan terus terang, pasti akan menimbulkan kemarahannya. maka lalu  menjawab sambil menggeleng:

"Aku pikir bukan demikian maksud mereka. Sebab antara kau dengannya tokh tidak pernah terjadi perselisihan."

Mata si gadis ditujukan kepada Tang-siang Sucu kemudian bertanya kepada Ho Hay Hong dengan suara pelahan:

"Apakah kau kenal dengan orang itu?" "Kenal," jawabnya singkat. "Bagaimana orangnya? Bagaimana hubungan persahabatannya dengan kau?"

"Perlu apa kau menanyakan soal itu?"

"Orang itu sering mengejar-ngejar aku, aku merasa jemu!"

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong  mendadak merasa tidak senang terhadap Tang siang Sucu, jawabnya:

"Dia memang paling suka berbuat ceriw is demikian, kau t idak perlu hiraukan."

"Aku memang tidak marah, sebaliknya dengan kau " "Apa katamu?"

"Aku pernah menanyakan padanya tentang kepergianmu, dia."

"Apa kata dia?"

"Dia kata bahwa kau suruh aku jangan menghiraukan dirinya!"

"Aku suruh kau?" tanya Ho Hay Hong terheran-heran, "aku tokh tidak pernah berkata demikian terhadapmu, mengapa ia memfitnah demikian?"

"Siapa tahu apa maksudnya, dia kata hubungannya denganmu baik sekali, lebih dari saudara sendiri."

Ho Hay Hong sangat mendongkol, ia bertanya-tanya kepada hati sendiri: "Apakah Tang siang Sucu suka pada gadis in i, sehingga perlu mengadu domba demikian, supaya gadis in i menjauhi aku?" Semakin dipikir semakin mendongkol, dengan sikap dingin ia mengawasi Tang siang Sucu.

Tang siang Sucu tersenyum dan menyapa padanya: "Saudara, kita benar-benar berjodoh, sekarang kita

bertemu lagi!"

Dalam hati Ho Hay Hong meskipun merasa jemu terhadap sifat rendah saudaranya itu, tetapi diluarnya tetap berlaku manis.

"Lukamu sudah sembuh ?" pemuda itu  balas menanya.

"Terima kasih atas perhatianmu, lukaku sudah disembuhkan oleh suhu."

"Syukurlah. Kalau dugaanku tidak keliru, kedatanganmu ini tentu hendak membuat balas dendam ke kampung setan !"

"Dugaanmu hanya tepat sebagian, sebagian lagi aku minta saudara rela"

Begitu ucapan itu keluar dari mulut Tang siang Su cu, delapan pengaw alnya lantas berpencaran keempat penjuru, hingga orang-orang yang sedang berjalan terpaksa menyingkir dan terbukalah suatu lapangan kosong.

"Apa maksudmu?" tanya Ho Hay Hong.

"Aku minta saudara rela supaya dia ikut kita pergi!"

Dijalan raya itu meski masih ada banyak orang yang ingin tahu, tetapi karena menyaksikan delapan pengaw al Tang siang Su cu semuanya membaw a senjata tajam, lagi pula sikap mereka menunjukkan sikap tidak baik, maka akhirnya pada lari menyingkir, hanya ada tiga orang dari kalangan Kang ouw yang rupanya tidak takut, yang tetap tinggal disitu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.

Lam kiang Tay-bong yang harus pegang derajatnya, tidak mau campur tangan urusan anak-anak muda, maka ia hanya berdiri di samping sebagai penonton.

"Saudara dengannya ada permusuhan apa? Mengapa harus bawa dia? jelaskan dulu duduk perkaranya!" kata Ho Hay Hong tenang.

Oleh karena dua muka pemuda itu seolah-olah pinang dibelah dua, maka hal itu menimbulkan keheranan orang-orang yang menonton.

Tang siang Su cu menyaksikan sikap tenang Ho Hay Hong, diam-diam ia juga merasa kagum.

"Permint aanku ini, bukan tidak ada sebabnya. Kau tahu bahwa aku disiksa ekakek penjinak garuda, hingga harus mengalami luka-luka berat. Semua ini ialah lantarannya gadis in i, maka aku merasa t idak senang dan penasaran. Aku pikir hendak bawa sendiri gadis ini ke kampung setan, sekaligus hendak menuntut balas dendam terhadap kakek penjinak garuda.  Sudikah kiranya saudara memberi bantuan?"

"Dia sekarang sudah meninggalkan kampung setan, permint aan saudara, barangkali aku tidak bisa terima!"

Tang siang Su cu tertaw a tergelak-gelak, dan berkata:

"Aku lihat saudara adalah seorang tinggi hati, sudah tentu tidak mau berdamai. Tetapi nona ini bagaimanapun juga kita akan bawa pergi, nampaknya terpaksa saudara harus mengalah sedikit!"

"Apakah maksud saudara hendak menggunakan kekerasan?" Tanya Ho Hay Hong juga sambil tertaw a terbahak-bahak.

"Benar," jaw abnya sambil menganggukkan kepala.

Mendengar jawaban itu, delapan pengaw al dengan serentak bergerak. Empat menyerang Ho Hay Hong, empat lagi menyerbu gadis kaki telanjang.

Ho Hay Hong selagi hendak membuka jurus untuk menghajar empat pengaw al sombong Itu, mendadak dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan orang yang bergerak diantara delapan pengaw al dengan kegesitan luar biasa, kemudian disusul oleh suara kelepak-kelepok beberapa kali, delapan orang itu setiap orang mendapat hadiah tamparan di kedua pipi masing- masing.

Delapan pengaw al yang biasanya tidak pandang mata orang lain, kali ini benar-benar sangat terkejut. Karena melihat gelagat tidak beres, terpaksa mundur teratur.

Kalau mereka tadi menyerbu dengan cepat, sekarang mundurnya lebih cepat lagi. Dalam waktu sekejap mata saja, lapangan di tepi jalan sudah kosong, hanya tinggal gadis kaki telanjang seorang, berdiri disitu dengan sikap tenang.

Pipi delapan pengaw al pada merah dan bengkak semua, dibawah mata demikian banyak orang, begitu sangat memalukan. Maka semua pada menundukan kepala. Ho  Hay Hong lantas berkata dengan tenang. "Saudara,  aku  hendak bicara dimuka, mau tidak mau

kau harus dengar. Dia sekarang sudah tidak ada hubungannya   lagi  dengan   kampung    setan,   segala

permusuhan anggap saja sudah habis, siapapun tidak boleh mengganggu seujung rambutnya. Jikalau  tidak, aku siorang she Ho lebih dulu yang akan mencegah!"

Dengan langkah lebar ia berjalan kehadapan si gadis itu, sinar matanya yang tajam menyapu muka semua orang sejenak, kemudian berdiri dengan sikap menantang.

Pemuda tampan yang berdiri disamping Tang siang Sucu lantas maju dan berkata:

"Jangan bangga dulu, aku Seesiang Sucu disin i, ingin belajar kenal dengan kepandaianmu!"

Dua tangannya lalu dipentang, tangan itu mengeluarkan hembusan angin hebat, yang menyerbu Ho Hay Hong

Ho Hay Hong geser kakinya, lompat kekiri sejauh tiga kaki. Kemudian mengangkat tangannya, dengan beruntun melancarkan serangan hingga tiga kali.

Serangannya itu meskipun tidak seberapa hebat tetapi mengandung macam macam gerak tipu yang sangat aneh, dapat  menutup lawannya dari segala sudut, sehingga sulit untuk mengelak.

Seesiang Sucu yang t idak menduga akan menghadapi serangan semacam itu, sesaat menjadi kelabakan dan terpaksa mundur tiga langkah. Tang siang Sucu yang  menyaksikan  keadaan demikian, dalam hatinya terkejut, sebab ia tahu benar bahwa kepandaian Ho Hay Hong dahulu tidak seberapa tinggi, tetapi sekarang mendadak seperti bertambah beberapa kali lipat, entah apa sebabnya?

Suatu pikiran terlint as dalam otaknya, ia maju menghampiri dan berkata:

"Saudara, ada suatu persoalan aku harus menanyakan kau!"

"Katakanlah."

Sambil  melirik kearah si  gadis, Tang  siang Sucu berkata:

"Apa kau mengakui bahwa hubungan antara aku dengan kau bukan hubungan biasa?"

"Benar, aku mengakui bahwa kau adalah saudaraku!" "Kalau  begitu,  aku  sekarang  hendak  tanya padamu,

manakah  sebetulnya yang  lebih berat,  saudara ataukah

wanita?"

"Kau jelaskan dulu duduk persoalannya!"

"Tidak perlu aku menjelaskan duduk perkaranya aku tanya kau, mana sebetulnya yang lebih berat, saudara ataukah perempuan?"

Ho Hay Hong tidak dapat meraba maksud yang sebenarnya dari pertanyaan itu, maka sesaat tidak bisa menjawab dan berdiri melongo.

Sementara itu, gadis kaki telanjang juga tujukan matanya ke arahnya meskipun tidak menunjukan sikap apa-apa tetapi agaknya juga ingin mengetahui bagaimana reaksi Ho Hay Hong.

Ketika menyaksikan Ho Hay Hong ragu-ragu, ia lantas berkata,

"Jawablah padanya, sudah tentu saudara lebih berat!" Ho Hay Hong mendadak angkat muka dan menjaw ab:

"Benar, saudara lebih berat daripada perempuan. Tetapi Tan siang Sucu karena perbuatanmu selama ini sangat tercela, kau, suka mengandalkan pengaruh gurumu untuk melakukan perbuatan sewenang-wenang sebetulnya t idak pantas menjadi saudaraku!"

"Kalau memang benar saudara lebih berat maka kau harus serahkan dia kepadaku."

"Aku tidak berhak atas kemerdekaannya!"

"Kalau begitu harap saudara jangan campur tangan biarlah aku yang bertindak sendiri."

"Tidak bisa, dia sudah putuskan hubungan dengan kampung setan!"

"Bulak balik itu itu saja. Mulutmu mengatakan saudara lebih berat, tetapi dalam hatimu anggap wanita sebagai pusaka!"

"Tang siang Sucu. sifatmu kejam, tanganmu ganas, kau suka menindas kaum yang lemah, segala kejahatan kau selalu turut ambil bagian. Ini sudah sangat mengecewakanku, janganlah coba menghina aku lagi!"

"Asal aku menyebut dia, kau lantas melupakan segala galanya. Maka aku juga tak mau mengaku saudara lagi padamu. Kita lihat saja!" Tang siang Sucu menutup kata-katanya yang bersifat ancaman kemudian menggapai kepada orang-orangnya seraya berkata:

"Turun tangan!"

Dengan serta merta empat bintang dan delapan pengawalnya beserta See siang Sucu menghunus senjata masing-masing dan mengurung Ho Hay Hong dari empat penjuru.

Wajah Ho Hay Hong mendadak berubah, katanya dengan suara keras:

"Tahan dulu!"

Matanya di tujukan ke arah barat yang saat  itu mendadak muncul tiga orang tua pakaian aneh dan berjalan cepat menghampiri ke arahnya.

Tiga orang tua itu berkata nyaring:

"Ada urusan apa? Heh, kalian sungguh berani, diwaktu siang hari bolong hendak melakukan pertempuran dekat markas Bengcu rimba hijau, apa itu bukan suatu perbuatan yang tidak sopan?"

Tiga orang tua itu adalah tiga tokoh rimba  hijau daerah selatan yang merupakan pembantunya Bengcu. Mereka itu adalah Leng hay Hek kheng, orang tua hidung bengkok dan orang tua mata burung yang mengenakan pakaian warna merah.

Tiga orang tua itu semula sangat galak, tapi begitu melihat Lam kiang Tay-bong berada disitu, semua nampak terperanjat dan tidak berani berlaku galak lagi. Mereka juga melihat gadis kaki telanjang dan Ho Hay Hong, terutama ketika melihat Ho Hay Hong wajah mereka berubah seketika. Satu diantaranya berkata:

"Kiranya adalah kau bocah yang berani mati ini, kau benar-benar berani mati sekali, Lam-kiang Tay-bong kau juga berani ganggu barangkali kau sudah bosan hidup !"

Mulutnya meskipun berkata demikian, tapi dalam hati diam-diam terkejut, sebab Ho Hay Hong dalam usia yang masih demikian muda ternyata sudah memiliki kepandaian ilmu silat t inggi sekali.

Apa yang tak habis mengherankannya ialah orang- orang yang diganggunya hampir semuanya merupakan tokoh-tokoh terkuat yang namanya sudah terkenal.

Kesimpulan mereka bertiga hampir bersamaan, ialah bocah itu mungkin baru-baru mendapat nama, jikalau tidak mengapa selalu menggunakan jiw anya sendiri sebagai barang permainan, sebab lawan-lawan yang dipilihnya selalu merupakan orang-orang kuat  yang sudah terkenal namanya.

Tiga orang tua itu mendadak mendapat pikiran lain: "Bocah yang tak ketahuan asal-usulnya ini bukan saja berkepandaian sangat tinggi tetapi juga bernyali besar. Bagai mana lihaynya orang yang dihadapinya, sedikitpun tidak merasa takut. Jikalau kita dapat membujuknya menjadi kaki tangan Bengcu, ini merupakan suatu pahala yang paling besar.”

Tiga orang itu yang masing-masing mempunyai pikiran demikian, maka tidak berlaku kasar lagi terhadapnya, hanya berdiri di tempat masing2 sebagai penonton. Lam kiang Tay bong menganggap bahwa tiga orang itu masih terhitung orang-orang yang mempunyai kedudukan, maka lantas menanya pada mereka:

"Bagaimana keadaan Liong ceng Houw sie?"

Liong ceng Houw sie yang berkedudukan sebagai Bengcu rimba hijau, juga merupakan seorang yang namanya sangat terkenal, bagi orang biasa sudah tentu tak berani menyebut namanya begitu saja. Tetapi Lamkiang Tay bong lain keadaannya, maka tiga orang itu sedikitpun tidak merasa berang, dengan berbareng mereka menjawab:

"Bengcu baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Cianpwee!"

"Liong ceng Houw sie sedang mengumpulkan kekuatan, lama sudah ingin menelan partai-partai lainnya di daerah Tiong goan apakah itu benar?"

"Tidak ada kejadian semacam itu, harap Cianpwee jangan percaya desas-desus orang!" jawab tiga orang itu.

"Aku tidak perduli ia mempunyai rencana apa, aku hanya mengharapkan dia jangan sampai tujukan usahanya pada diriku!"

"Sudah tentu Bengcu kita selamanya menjunjung tinggi kepada Cianpwee, bagaimana berani mengandung maksud demikian?"

Mulutnya meskipun berkata demikian, tapi sikapnya menunjukkan kebanggaan dan kesombongannya, jelas mereka tidak begitu memandang mata kepada Lam  Kiang Tay bong. Ho Hay Hong membuka mulut bertanya pada tiga orang itu:

"Liang hay Hokkheng, dia kau amankan ditempat mana ?"

"Dia ? Haha, kau jangan khawatir, dia sekarang berada di tempat yang paling aman!" jawab Liang hay Hek kheng sambil tertawa terbahak-bahak.

"Dimana sekarang Liong ceng Houw-sie berada?

Bolehkah undang dia kemari?"

Tiga orang tua itu ketika mendengar Ho Hay Hong menyebut nama Bengcu begitu saja, dalam hati merasa tidak senang, maka lalu bertanya:

"Kau ada keperluan apa?"

"Aku hendak menjumpai dengannya?"

"Bengcu tidak sembarangan menemui orang, kau bicara dengan kita saja!"

"Aku minta bebaskan nona itu" "Hanya untuk itu saja?"

"Karena Bengcu anggap tinggi kedudukannya, tidak

sudi menemuiku, maka aku terpaksa mencari kalian untuk minta kembali nona itu!"

Tiga orang tua itu karena masing-masing mempunyai pikiran serupa hendak menarik diri anak muda itu, maka kata-kata Ho Hay Hong itu meski didengarnya pedas, tetapi dia juga tidak ingin kebentrok dengannya, maka lantas menjawab dengan sabar:

"Sangat menyesal sekali, kita bertiga tidak berhak membebaskan diri nona itu" "Bengcu tidak suka menemui orang, dan kau bertiga tidak bisa mengambil keputusan. apa nona itu harus menjadi t aw anan seumur hidup?"

"Kita sangat baik perlakukan dia, harap kau jangan khaw atir!"

"Kau bertiga tidak perlu coba-coba memperdayai aku. lekas panggil Bengcumu keluar!" kata Ho Hay Hong dengan alis berdiri.

Karena jawaban licik tiga orang tua itu telah menimbulkan kemarahan Ho Hay Hong. lalu mengeluarkan plat emas lambang kebesarannya, diperlihatkan dimata tiga orang tua itu, kemudian berkata dengan suara nyaring:

"Aku adalah Bengcu rimba hijau daerah utara, lekas undang Liong ceng Houw-sie luar. Jikalau aku akan mencari sendiri, hal in i aku rasa sangat tidak enak akibatnya bagi kita semua!"

Tiga orang tua itu ketika melihat lambang kebesaran itu, wajah mereka berubah seketika, dengan sikap terheran-heran mengaw asinya, lama baru berkata:

"Apa? Tuan adalah."

Tiga orang tua itu memang sudah dengar kabar bahwa golongan rimba hijau daerah utara sudah mengangkat Bengcu baru tetapi mereka sesungguhnya tidak menduga bahwa Bengcu itu ternyata masih demikian muda, sudah tentu sangat mengherankan mereka. Ho Hay Hong setelah membuka kartu dengan kedudukan sebagai Bengcu. Ia lantas berkata dengan suara keras:

"Bagaimana? Benarkah Liong hong Houwsie demikian congkak !"

Tiga orang tua itu saling berpandangan sejenak kemudian berkata:

"Maaf, tuan kiranya adalah Bengcu rimba hijau daerah utara!"

Mereka meskipun diliputi dengan perasaan heran, tetapi karena sudah biasa suka mengejek golongan rimba hijau daerah utara, maka ketika melihat Bengcunya, sudah tentu tidak mau melepaskan kesempatan mana, dengan berbareng berkata sambil tertaw a:

"Kita orang kira Kay see Kim kong itu adalah Bengcu yang sebenarnya tak diduga belum diangkat secara resmi, sudah binasa ditanganmu, jelas ini merupakan suatu tragedi yang tidak enak. Haha."

Tiga orang tua itu setelah merasa puas tertaw a lalu berkata lagi:

"Kalau kita tinjau dengan sebenarnya, sebab-sebab sahabat sahabat golongan rimba hijau daerah utara yang selalu tidak bisa bangun, semua itu kita harus mencari kesalahannya dipundak Bengcu yang lama. Locianpwee itu meskipun seorang yang berambisi besar, hendak membangun seluruh kekuatan golongan rimba  hijau tetapi oleh karena ia sendiri kurang kuat, maka akhirnya mengalami kegagalan total. Kita dapat dengar cerita dari salah seorang didaerah selatan ia pada waktu locianpwee berkunjung keselatan untuk meninjau, pernah mengeluarkan suara besar, hal itu telah menimbulkan tidak suka seorang anak muda yang belum dikenal, dengan satu kali pukul locianpwee itu telah jatuh  dari atas kudanya, hingga akhirnya pulang keutara dengan kehilangan muka. Hanya kita tidak tahu benar hal itu benar-benar kejadian atau tidak!"

Ho Hay Hong yang menyaksikan tiga orang tua itu menghina nama baik golongan rimba hijau daerah utara, lantas bertanya dengan nada gusar:

"Apa maksudnya perkataan ini?"

Kembali tiga orang kakek itu saling berpandangan sejenak, mendadak tertaw a terbahak-bahak, lama baru berkata:

"Dengan terus terang, sudah lama kita mendengar kabar bagaimana keadaan sahabat-sahabat kita didaerah utara, juga sudah lama turut prihatin, hari in i kita merasa beruntung telah bertemu muka dengan Bengcu, sudah tentu ingin mencari tahu keadaan sebenarnya. Harap Bengcu jangan marah dulu!"

"Aku tahu bahwa golongan rimba hijau daerah utara, karena selalu timbul cakar-cakaran sendiri, sehingga keadaan sendiri tidak terurus, hal ini sering terjadi buah tertaw aan sahabat-sahabat golongan rimba hijau daerah selatan. Tetapi, aku kira kita sama-sama dari satu sumber, dengan sendirinya tidak seharusnya ada pikiran untuk memecah belah sehingga terbagi menjadi golongan selatan dan utara!"

Dengan sikapnya yang agung ia memandang tiga orang itu, ketika mereka melihat kasak-kusuk sendiri, sedikitpun tidak perhatikan ucapannya. Seketika itu lantas naik pitam. Ia berkata lagi dengan suara marah:

"Hanya, sahabat-sahabat golongan selatan setelah mendengar keteranganku ini, apabila ada yang merasa tidak senang, boleh mencari aku, aku pasti dapat memuaskan hatinya!"

Liang hay Hek kheng tidak tahu kalau Ho Hay Hong sudah marah benar, ia masih bicara seenaknya sambil tertaw a.

"Sudah tentu sahabat-sahabat didaerah utara jikalau mendapat bimbingan Bengcu pasti akan dapat kemajuan pesat, aku dan sahabat-sahabat di daerah selatan juga sudah tentu merasa gembira, bagaimana berani timbul perasaan tidak puas. Aku kira itu adalah Bengcu sendiri terlalu banyak pikiran!"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: "Di-hadapan banyak jago dunia rimba persilatan, si tua bangka ini berani berlaku demikian congkak, jikalau tidak kuberi hajaran sedikit benar-benar akan anggap aku sebagai seorang yang tak ada harganya sama sekali!"

Setelah berpikir demikian, ia kendalikan hawa amarahnya, dengan sikap pura-pura tidak mengerti, ia berkata sambil tertaw a dan menganggukkan kepala:

"Ya, kita satu sama lain harus saling menghormat, saling bantu, baru nampak persahabatan yang sebenarnya! Oleh karena itu, maka kalian bertiga aku minta tunjukkanlah sikap persahabatannya, agar membebaskan kemerdekaan nona itu!"

Liong hay Hek kheng pura-pura merendahkan diri, berkata: "Kedudukan kami sangat rendah, dengan sesungguhnya tidak berani berlaku lancang, harap Bengcu maafkan saja!"

Ho Hay Hong lantas unjukkan sikap marah, katanya: "Kau   sudah   terang   tidak   pandang   mata padaku,

semua   ucapanmu   tidak   berani   mengambil  putusan

sendiri, hanyalah merupakan suatu alasan saja!"

"Bengcu keliru! Aku hanya seorang berkedudukan rendah, bagaimana berani bertindak lancang melepaskan nona itu. Apalagi Liong cing Houw sie sudah  masukkan dia sebagai seorang tawanan kelas berat, kita lebih-lebih tak berani berlaku sembarangan lagi!" kata Liang hay Hek kheng.

"Saat ini belum w aktunya Bengcu kita menemui tamu, sebab Bengcu belum bangun dari tidurnya, harap tuan suka menunggu sebentar!" berkata orang tua hidung bengkok.

Mendengar kata kata dan sikap sombong itu, Ho Hay Hong tidak dapat kendalikan amarahnya lagi, ia berkata dengan suara keras.

"Apa? Liong ceng Houw sie berani bertingkah di hadapanku?"

"Maaf, ini adalah aturan yang ditetapkan oleh Bengcu kita, maka kita tak berani membantahnya!" berkata orang tua hidung bengkok itu.

"Jikalau di waktu tidur tengah hari kita berani membangunkan Bengcu, kita pasti akan menimbulkan tidak senangnya, apabila itu di anggap salah, siapapun tidak berani membela. Tentang ini harap tuan maklum!" berkata Liang hay Hek kheng.

"Kamu bertiga jelas sudah mengejek aku dengan alasan yang bukan-bukan, perbuatan yang  tidak sopan ini benar-benar merupakan suatu kejahatan. Lekas pergi, jika tidak, jangan sesalkan kalau aku nanti bertindak keras!"

Tiga orang itu masih ragu, tiada mau berlalu, sikapnya menunjukkan keberatan.

Tetapi Ho Hay Hong mengerti, bahwa sikap berkeberatan itu hanya sikap pura-pura tiga orang itu, maka hawa amarahnya lantas meluap, dengan mendadak ia lompat melesat setinggi tiga tombak, dengan satu gerak tipu garuda sakti terjun ke laut, dengan cepat menyerbu ke baw ah.

Lima rupa gerakan ilmu silat garuda sakti itu sangat aneh sekali, maka ketika ia mengeluarkan ilmunya itu, wajah tiga orang itu pucat seketika.

Di tengah udara Ho Hay Hong menjeritkan suara pekikan yang mirip dengan suara burung garuda, dengan mulutnya mengeluarkan suara itu menyerang t iga orang itu.

Liang hay Hek kheng yang paling sial, ialah yang pertama diserang dadanya, hingga seketika itu jatuh terlentang, mulutnya mengeluarkan darah.

Gadis kaki telanjang mendadak terkesima, otaknya berpikir keras, ia berkata dalam hati sendiri: ” Ini adalah gerakan dari ilmu silat garuda sakti!” Belum lagi lenyap pikirannya, tangan Ho Hay Hong sudah menjatuhkan serangannya ke atas punggung siorang tua hidung bengkok, hingga orang tua itu terhuyung-huyung dan jatuh ke tempat yang jauh sekali. Orang tua itu merasa malu dan marah, dengan satu gerakan membalikkan tangan, ia balas menyerang.

Tetapi, pada saat itu Ho Hay Hong sudah pindah tempat dan serangan orang tua itu lantas mengenai kawannya sendiri, dan orang itu mengeluarkan suara jeritan, dan bareng jatuh rubuh di tanah.

Liang hay Hek-kheng perlahan-lahan  bangkit lagi, tetapi dalam perasaannya, seluruh tenaganya telah lenyap hingga ia terkejut dan khaw atir, tapi ia tidak bisa berbuat lain, hanya mulutnya yang berteriak-teriak seperti orang gila.

Orang tua hidung bengkok juga sudah lompat bangun, dengan mendadak ia nampak berkelebatnya sesosok bayangan orang, tahu-tahu Ho Hay Hong sudah berdiri di hadapan matanya, hingga wajahnya pucat pasi, badannya gemetaran.

Sekarang tiga orang itu baru tahu bahwa anak muda itu benar-benar memang berkepandaian sangat tinggi, mereka sangat menyesal, tapi sudah terlambat.

Ho Hay Hong yang menyaksikan orang tua itu ketakutan demikian rupa. t idak menyerang lagi, mulutnya berkata kepadanya dengan nada suara dingin:

"Kuberikan waktu yang paling singkat, suruh Liong ceng Houw-sie keluar menemuiku atau membebaskan nona itu. Salah satu diantara dua ini terserah kau hendak pilih yang mana. Jikalau kau berani melawan dan tidak dengar perint ahku, aku akan kirim kau ke neraka dengan segera!"

Ia lalu angkat tangan meskipun itu hanya gertak sambal saja, tetapi orang tua hidung bengkok itu sudah ketakutan setengah mati, maka lantas buru-buru angkat kaki, lari terbirit-birit dan tidak memperdulikan sahabatnya lagi.

Tinggal orang tua bermata burung, ia tahu gelagat tidak beres, maka buru-buru bimbing Liang hay Hek kheng untuk lari meninggalkan tempat itu.

Kejadian itu hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat saja, tetapi orang-orang yang menyaksikan itu sudah berubah anggapannya terhadap Ho Hay Hong.

Lam kiang Tay bong tidak mengagulkan kedudukannya yang tinggi lagi, ia berkata dengan suara berat:

"Sahabat she Ho, harap kau suka menjawab pertanyaanku dengan terus terang, ilmu silat yang kau gunakan tadi bukankah ilmu silat garuda sakti?"

"Benar." jaw ab Ho Hay Hong singkat.

"Apakah itu kakek penjinak garuda yang mengajarkan padamu?"

"Kakek penjinak garuda sudah menjadi musuhku, tidak mungkin ia sudi menurunkan kepandaiannya kepadaku!"

"Apakah di dalam dunia pada dewasa ini masih ada orang lain yang mengerti ilmu silat ini?"

"Tepat !" "Siapakah orangnya?" tanya Lam-kiang Tay bong heran.

"Tentang ini..maaf aku t idak dapat memberitahukan!" "Aku tahu namamu Ho Hay Hong, dengan muridku Ho

Hay Thian adalah sepasang saudara kembar, tahukah kau riwayat dirimu sendiri?"

"Aku tahu tidak banyak, tetapi juga cukup jelas!" "Kalau begitu, kau pasti juga tahu bagaimana

kematian ibumu?"

"Aku hanya dengar bahwa ibu bekerja terlalu keras, sehingga meninggal dunia."

Ho Hay Hong ketika mengucapkan keterangan itu, perlahan-lahan menundukkan kepala, hatinya merasa sedih.

"Bukan, dia telah dibunuh secara menggelap dan pengecut oleh Tio Kang yang bergelar naga api. Sebelum menemukan ajalnya sendiri masih belum tahu yang sebenarnya, dia harus dikasihani!"

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong, maka lantas bertanya:

"Benarkah ada kejadian serupa, Siapakah orang yang bernama Tio Kang itu?"

"Tentang orang ini, kau juga pernah melihatnya, dia adalah orang tua bermuka merah di dalam kampung setan itu”

Ho Hay Hong berdiri tertegun sambil berpikir: "Heran, ibuku kalau benar dibunuh secara gelap oleh orang tua bermuka merah, mengapa ia sendiri tidak tahu, kakekku juga tidak tahu, sebaliknya hanya Orang tua itu yang tahu?"

"Apa kau ada bukti?" demikian ia bertanya.

"Peristiw a yang sudah lama in i, kalau diusut, akan menyangkut orang banyak, pendek kata si naga api Tio Kang itu adalah musuh besar yang membunuh ibumu, ini adalah hal yang sebenar-benarnya! Perbuatan itu dilakukan olehnya juga atas kemauan kakek penjinak garuda. Didalam dunia dewasa ini selain aku, sudah tidak ada orang lain yang tahu!"

"Tolong kau ceritakan kejadian pada waktu itu! Jikalau tidak aku tidak akan percaya!"

"Ibumu setelah diusir oleh kakek penjinak garuda, telah hidup terlunta-lunta dikalangan Kang ouw, tetapi karena memikirkan nasib anaknya, ia juga tidak boleh pergi begitu saja. Pada suatu hari, ketika ia menginap dalam suatu rumah penginapan, pada waktu tengah malam mendengar suara ketukan pintu, ia merasa heran lalu dibukanya pintu kamar.

”Diluar dugaannya diluar kamar tiada terdapat seorangpun juga. ia kira salah mendengar, selagi hendak balik menutup pintu, dari luar tiba-tiba menghembus angin dingin, mulai saat itulah dalam tubuhnya sudah kemasukan hembusan angin dingin yang sangat berbisa, hingga tidak lama kemudian mati di kampung orang.

”Aku sebetulnya tidak tahu, hanya waktu itu aku kebetulan jalan ditempat yang sunyi, tiba-tiba mendengar suara rint ihan orang, ketika aku menghampiri dan melihat, ternyata disitu terdapat ibumu dan seorang sahabat baiknya diwaktu masih hidup, ibumu dengan dibimbing oleh sahabat karibnya sedang meninggalkan pesan yang terakhir.

”Aku berdiri disamping, dan dapat menangkap kata- katanya, yang semua merupakan kata-kata perpisahan. Aku sebetulnya hendak pergi, dengan tiba-tiba dua orang yang berada dalam dukungan ibumu, telah menangis semua.

”Aku perhatikan tangisan dari orok itu, suara tangisan mereka sangat nyaring, jauh berbeda dengan tangisan orok biasa, maka timbullah maksudku untuk menurunkan kepandaianku. Aku minta kepada supaya dua orok itu boleh kubaw a pulang untuk dirawat, tetapi sahabat karib ibumu itu kukuh tidak bersedia memberikan, ia hanya memperbolehkan aku salah seorang oroknya.

”Aku tidak dapat berbuat apa-apa, terpaksa aku terima permint aannya! Ibumu bagai seorang ibu bijaksana, dengan sendirinya sangat menyinta kepada anaknya, maka sebelum meninggal dunia, ia pesan wanti-wanti kepadaku supaya meraw at anaknya dengan baik.

”Aku lihat mukanya saat itu telah gelap, tidak mirip dengan seorang yang mati secara wajar, maka aku periksa dengan teliti, baru tahu bahwa ibumu itu terluka ilmu pukulan yang dinamakan tinju sakti dari naga api.

"Ilmu pukulan itu adalah ilmu paling ampuh yang dimiliki oleh si naga api Tio Kang. Tio Kang sebetulnya belum lama mendapat nama, aku sesungguhnya tidak dapat mengerti apa sebabnya ia begitu kejam menggunakan ilmu pukulan yang tunggal untuk menyerang seorang wanita yang lemah. ”Diam-diam aku merasa benci, maka aku mengambil keputusan untuk meraw at orok itu sampai dewasa, kemudian aku perint ahkan ia menuntut balas untuk ibunya! Waktu itu bila ada serangan beracun itu yang berada didalam tubuh ibumu sudah mulai naik kebagian hati sehingga tidak ada obat untuk menolong lagi.

”Demikianlah akhirnya ia telah menutup mata. Peristiw a berdarah ini telah menjadi pikiranku sehingga sekarang, tak diduga hari ini, sepuluh tahun lebih setelah peristiw a itu, aku baru mendapat kesempatan untuk menceritakan.”

Mata jago tua itu memandang Tang siang Sucu sejenak, kemudian berkata lagi:

"Aku bawa satu orok pulang kegunung, mulai saat itu aku rawat sendiri dengan segala obat-obatan untuk menguatkan badannya, disitulah aku menemukan tanda rajah lukisan "Burung garuda" diatas lengan tangannya, maka aku lalu memastikan bahwa orok itu adalah anak laki-laki kakek penjinak garuda!

”Kakek penjinak garuda dahulu pernah bercekcok denganku, lama aku memikirkan soal itu, tetapi akhirnya aku anggap bahwa mengambil murid adalah soal penting, maka aku kesampingkan soal permusuhan dengannya, dan aku raw at sehingga dewasa.

”Selama beberapa tahun aku coba mencari keterangan tentang Tio Kang, ternyata orang she Tio itu sudah lama mengabdi kepada kakek penjinak garuda, waktu itu aku merasa heran, karena ibunya orok itu adalah isteri kakek penjinak garuda, mengapa kakek penjinak garuda memerint ahkan Tio Kang mengambil jiwanya? ”Teka-teki itu kusimpan sehingga sekarang. Dari salah seorang sahabat karib, aku baru mengetahui segala urusan mengenai diri kakak penjinak garuda dan sahabat-sahabatnya, ia suruh orang membinasakan istrinya sendiri.

”Aku anggap kakek penjinak garuda terlalu kejam, ia sudah mengusir istrinya, itu sudah cukup untuk melampiaskan kemarahannya, perlu apa harus mengambil jiwanya? Oleh karena itu maka aku membuka rahasia in i, supaya kau tahu sebab-sebab yang sebenarnya atas kematian ibumu!"

Ho Hay Hong setelah mendengar cerita itu, wajahnya menunjukkan sikap marah sekali. Ia berkata kepada diri sendiri: "Jikalau aku tahu bahwa orang tua bermuka merah itu adalah musuh besarku, tadi waktu aku lihat ia unjuk diri, pasti aku tidak melepaskan  kesempatan baik ini untuk menuntut balas, sayang sekarang sudah terlambat !"

Kemudian ia pikir: "Anak yang tidak dapat menuntut balas kematian ibunya, bagaimana bisa disebut sebagai anak manusia?"

Ia telah mengambil keputusan menebalkan mukanya sendiri, minta obat kepada gadis kaki telanjang, maka ia tarik tangan gadis itu kesamping kemudian berkata padanya dengan suara pelahan:

"Penuturan Lam kiang Tay bong tadi, apa kau sudah dengar dengan baik?"

"Tak kusangka kau juga seorang yang berdiri disatu garis denganku !" "Sebelum dapat menuntut balas dendam ibuku, aku mati masih sangat penasaran, sekarang aku harap kau dapat menolong aku sedikit !"

"Apa kau suruh aku menalangi dirimu melakukan balas dendam ibumu ?"

"Bukan, aku hanya mengharap kau memberikan kesempatan bagiku supaya dapat pertahankan jiwaku !"

"Mendengar perkataanmu ini, seolah-olah jiw amu berada ditanganku? Sudah tentu aku juga tidak mengharap kau mati penasaran, tetapi aku tidak tahu dengan cara bagaimana? harus membantu dirimu ?"

"Kau tahu diriku terkena serangan ilmu pukulan San hoa Ciang lik yang sangat berbisa, aku pernah berobat kepada seorang tabib kenamaan didaerah utara, tapi karena kurang semacam obat, ia tidak berdaya menyelamatkan jiwa ku."

"Obat apa yang kau perlukan ?" "Liong yan hiang !"

Dengan perasaan tegang Ho Hay Hong mengeluarkan

perkataan itu, kemudian baru menanya lagi: "Apa kau masih ada obat itu ?"

"Aku masih ada sedikit, tetapi kutaruh dirumah ibu sana."

Ho Hay Hong sudah tentu tidak enak meminta gadis itu lekas mengambil, maka lantas menundukkan kepala dan berkata dengan perasaan kecewa.

"Aku terpaksa akan meninggalkan penyesalan seumur hidup !" Gadis itu mendadak tertaw a dan berkata: "Mengapa kau cemas ? Aku tokh tidak berkata tidak punya, dan aku tokh juga bisa pergi mengambil !"

Ho Hay Hong t idak menduga bahwa gadis yang tinggi hati ini mendadak berubah demikian jinak, dalam kegirangannya ia lantas berkata:

"Kalau begitu, aku terpaksa merepotkan kau!" "Kudamu kau berikan  padaku, aku akan pulang

sebentar dan segera kembali."

Dengan cekatan ia lompat keatas kuda dalam waktu sekejap mata kuda menghilang dari mata Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong berdiri tertegun sambil berpikir: ” ia demikian baik terhadapku, bagaimana aku harus membalas kebaikannya?”

Pada saat itu, dengan mendadak terdengar teriakan orang yang sangat nyaring terdengar didalam telinganya: "Siapa adalah Bengcu rimba hijau daerah utara."

Ho Hay Hong angkat muka, dari jauh tampak serombongan orang naik kuda lari ke arahnya. Orang yang pertama tubuhnya hanya setinggi kira-kira delapan kaki, dibahunya terdapat kerudung kulit harimau, orang itu nampaknya sangat berwibawa, dibelakangnya diiringi oleh banyak pengaw alnya.

Ho Hay Hong setelah berhadapan dengan orang yang matanya bersinar tajam itu, diam-diam terkejut: ”Orang ini nampaknya bukan orang sembarangan, sikapnya juga sombong, apakah dia adalah Liong ceng-houw sie?”

Ia perhatikan mata orang itu, yang benar-benar bersinar tajam bagaikan mata naga, dibawah janggutnya tumbuh kumis dan janggut yang sangat lebat, tetapi dipelihara indah maka diam-diam ia memastikan bahwa orang itu pasti orang yang menduduki kursi Bengcu rimba hijau daerah selatan.

Berhadapan dengan orang seperti itu, Ho Hay Hong yang juga menjadi pemimpin rimba hijau daerah utara, sudah tentu tidak boleh bersikap lemah. Maka ia lalu menghampiri dengan langkah lebar, kemudian berkata sambil tertaw a:

"Aku adalah Bengcu golongan rimba hijau daerah utara, bolehkah kiranya aku minta tanya nama tuan yang mulia?"

Orang itu menjawab dengan suara yang nyaring:

"Aku adalah Liong ceng Houw sie, sudah lama aku dengar bahwa jago-jago rimba hijau daerah utara sudah mengangkat Bengcu yang baru, maka dengan ini aku datang memberi selamat!"

Ia memberi hormat dengan menyoja, Ho Hay Hong buru-buru membalas hormat seraya berkata.

"Aku tidak berani menerima penghormatan sebesar ini sebagai seorang yang t idak memiliki kepintaran apa-apa, maka untuk selanjutnya aku mengharap petunjuk Bengcu yang berharga!"

Liong ceng Houw sie yang berhadapan  dengan seorang pemuda yang usianya masih muda sekali, tetapi sangat berw ibawa, dan sopan santun budi bahasanya, maka dalam hati diam-diam memuji Ho Hay Hong.

"Kita merupakan saudara serumpun, maka tuan tidak perlu merendahkan diri?" demikian ia berkata. Pada saat itu, ulu hati Ho Hay hong mendadak merasa muak. hingga racun ilmu pukulan San hoa Ciang-lek dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Ia sangat jengkel karena racun itu dalam situasi yang sangat penting baginya itu mendadak bekerja, bukankah itu tidak akan menodai nama baik golongan rimba hijau daerah utara?

Ia mengharap dengan sangat kedatangan gadis kaki telanjang, karena hanya dengan obat gadis itu, baru tertolong jiw anya.

Tetapi orang yang dinanti-nantikan kedatangannya itu, tetapi t idak tampak bayangannya.

Dalam keadaan cemas, otaknya membayangkan bagaimana nanti nasibnya apabila obat Liong yang hiang itu hilang atau sudah digunakan untuk keperluan lain?

Berbagai kekuatiran timbul dalam pikirannya namun demikian diluarnya masih tetap menunjukan sikap seperti biasa. Sebab berhasil atau tidaknya ia menundukkan kawanan golongan rimba hijau daerah selatan,  erat sekali hubungannya dengan nasib seluruh rimba hijau daerah utara.

Perasaan kuatir itu semakin lama semakin menjadi- jadi, orang-orang disekitarnya seperti bergoyang-goyang, meskipun itu tidak mungkin, tetapi in i ada suatu bukti bahwa racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja, mendadak ia ingat bahwa ia masih membawa salinan dari ilmu silat garuda sakti, ia pikir, apabila ia nanti mati, pelajaran ilmu silat yang sangat berharga itu pasti akan terjatuh ditangan orang-orang jahat. Daripada terjatuh ditangan mereka, lebih baik dihancurkan saja. Dengan mengeraskan hatinya, ia  mengeluarkan salinan ilmu silat garuda sakti dari dalam sakunya, kemudian dirobek-robek hingga menjadi berkeping- keping.

Tang siang Sucu tertarik oleh kepingan kitab itu, ia berusaha merebutnya, tapi tidak berhasil, hanya mendapatkan beberapa lembar kepingan kecil.

Lembaran yang dapat dipungutnya itu kebetulan lembaran lembaran bagian yang ada lukisan gambar seorang yang sedang menengadah menyedot hawa matahari dan rembulan. Ia segera berseru.

"Saudara gambar apakah ini ?"

Ho Hay Hong mendadak mendapat suatu akal, ia hendak menggunakan kesempatan itu untuk mengulur waktu, mungkin dapat diperpanjang sehingga kedatangan gadis kaki telanjang. Maka ia lalu menjawab sambil tertaw a:

"Dengan terus terang, kitab-kitab yang ku robek-robek ini adalah salinan pelajaran ilmu silat garuda sakti !"

Tang-siang Su cu membuka lebar kedua matanya, memandang gambar orang-orangan dalam lembaran kertas yang berada ditangan nya, sementara dalam hatinya diam-diam berpikir: ”orang-orang dalam gambar ini menunjukkan gerak-gerik yang sangat aneh, setiap gerakan merupakan suatu gerak tipu yang istimewa, apakah benar itu gerakan dari ilmu silat garuda sakti ?”

Buru-buru ia menyimpannya kedalam, saku  dan memunguti robekan-robekan kertas yang berterbangan ditanah. Ho Hay Hong yang menyaksikan perbuatan Tang siang Sucu, diam dan berpikir: ”apabila ia berhasil mengumpulkan kembali kepingan-kepingan kertas itu, ini berarti bahwa salinan pelajaran ilmu silat garuda sakti akan terjatuh kedalam tangannya.”

Tetapi karena saat itu hawa dingin dalam tubuhnya sedang bekerja, ia tidak berani bergerak sembarangan, hingga diam-diam merasa jengkel sendiri.

Sementara itu mendadak terdengar suara. Liong ceng Houw sie: "Dihadapan Bengcu golongan rimba hijau daerah utara apabila aku tidak memperkenalkan orang- orangku, dianggapnya tentu kurang sopan. Mari,  mari kita semua sudah menjadi saudara, semuanya saling mengenal!"

Perkataan Liong ceng Hauw sie ini,  justru yang diharapkan oleh Ho Hay Hong, maka ia buru-buru memberi hormat seraya berkata:

"Sudah lama aku dengar bahwa saudara-saudara didaerah selatan banyak terdapat yang berkepandaian tinggi, inilah merupakan suatu kesempatan yang paling baik bagi kita untuk saling mengenal, aku sangat berterima kasih apabila tuan sudi memperkenalkan!"

"Tiga pembantu utamaku ini, tuan sudah mengenalnya, tidak perlu aku perkenalkan lagi." berkata Liong ceng houw sie. "Ini adalah Hok kauw cia yang namanya sangat terkenal disekitar daerah Tong-touw ouw. Ini adalah pembantuku yang paling kuandalkan, Tee Kang, gelarnya Yu sin Pat kwa ciang. Dahulu ilmu silatnya Yu-sin Pat kwa ciang sangat kesohor didaerah Su-swie, tahun dulu musim semi ia baru masuk sebagai anggauta kita." Ho Hay Hong mengaw asi orang she The itu sejenak, ternyata merupakan seorang bermata sipit dan berhidung seperti burung kakak tua, sinar matanya tajam. Orang tipe demikian pastilah seorang yang banyak akalnya.

The Kang yang melihat Ho Hay Hong mengawasi dirinya, segera maju keluar dari rombongannya dan berkata sambil memberi hormat:

"Aku yang rendah seorang yang tidak berguna, tadi aku dengar tiga kawan kita pulang setelah menerima pelajaran tuan, aku diam-diam merasa kagum. Kini aku pikir dengan menggunakan kepandaianku yang tak berarti, hendak belajar kenal dengan kepandaian tuan!" 

Ho Hay Hong meskipun tahu bahwa saat itu ia sudah seperti macan kertas, tetapi untuk mempertahankan nama baik dan wibawa pemimpin rimba hijau daerah utara, bagaimanapun juga tidak boleh menunjukkan kelemahan. Maka lalu  pura-pura gembira, kemudian menjawab sambil tersenyum:

"Boleh, boleh. Aku juga sudah lama mendengar nama ilmu silat Yu sin Pat kwa ciang itu, maka juga ing in belajar kenal, tetapi harap kau suka tunggu sehingga Beng-cu selesai memperkenalkan semua anggautanya, barulah kita mulai!"

"Sudah tentu!" berkata The Kang sambil tertawa girang, kemudian kembali kerombongannya.

Menampak sikap orang itu. Ho Hay Hong mengerti bahwa kedudukannya sendiri sudah terpandang dalam mata mereka. Liong ceng Houw sie sementara itu melanjutkan lagi memperkenalkan orang-orangnya satu persatu kepada Ho Hay Hong, tetapi kecuali Hok kauw cia dan Pat kwa Yu-sin The Kang sudah tidak tahu lagi satu persatu nama tokoh rimba hijau daerah selatan itu, bahkan muka mereka juga tidak bisa melihat jelas karena selama itu, perhatiannya dipusatkan untuk memikirkan gadis kaki telanjang yang masih belum ke mbali.

Sekarang, ia diam-diam merasa menyesal, sebab ada kemungkinan ia akan menemukan kejadian yang tidak menyenangkan.

Liong ceng houw sie sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ho Hay Hong, ia masih berkata:

"Aku dapat dengar laporan tiga pembantuku bahwa didalam rumah penginapan Khen an Cie Saw tuan sudah memukau kepandaian tuan, bertempur dengan orang yang sedang melakukan tugasku, bahkan melukai beberapa diantaranya!

”Tetapi akhirnya, Ho Beng cu karena seorang diri, dalam keadaan marah lantas berlalu,  hanya meninggalkan seorang nona berbaju ungu yang kemudian dibawa pulang oleh tiga pembantuku. Benarkah ada kejadian itu?" mendengar ucapan Bengcunya, semua orang golongan rimba hijau daerah selatan itu lalu tertawa besar, agaknya mengandung maksud mengejek.

Ho Hay-Hong mengerti bahwa Bengcu rimba hijau daerah selatan itu sengaja mengejek dirinya, tetapi karena mengingat bahwa gadis baju ungu itu kini berada dalam tangannya, sudah tentu terpaksa mengendalikan hawa amarahnya.

Liong ceng houw sie agaknya melihat sikap Ho Hay Hong tidak senang, benar-benar berpaling memandang orang-orangnya, seolah-olah memberi sesuatu teguran terhadap sikap orang-orangnya yang kurang sopan. namun ia tak marah.

Orang-orangnya setelah di pandang oleh pemimpinnya, semua lantas berhenti tertaw a. Tetapi karena Ho Hay Hong lama tak memberi jawaban, mereka kasak-kusuk sendiri, agaknya sedang menghina pemimpin golongan rimba hijau daerah utara, yang didalam mata mereka sudah tidak mampu melindungi kawan wanitanya.

Ho Hay Hong juga tahu bahwa orang-orang itu pandang rendah dirinya. Selagi hendak membuka mulut untuk menegur, Liong ceng Houw sie sudah berkata lagi:

"Tadi tiga pembantuku karena berlaku kurang sopan terhadap Ho Bengcu, telah pulang dalam keadaan bonyok. Mereka pun menyampaikan maksud Bengcu bahwa apabila tidak membebaskan gadis baju ungu itu, semua tanggung jawab Ho Bengcu hendak timpahkan diatas pundakku. Sekarang aku datang memenuhi permint aanmu, benarkah Ho Bengcu pernah berkata demikian?"

Ho Hay Hong ketika mendengar ucapan itu, segera mengerti bahwa tiga orang yang pernah dihajarnya itu tentu merasa tidak senang hingga menambahi bumbu dalam keterangan mereka, dengan maksud agar pemimpin mereka marah. Tetapi karena kesalah pahaman sudah tidak dapat dielakkan lagi, membantah juga tak ada  gunanya, bahkan mungkin akan ditertawakan oleh pemimpin rimba hijau daerah selatan in i maka lalu jawabnya dengan suara dalam:

"Memang benar, aku anggap perbuatan menghina seorang wanita lemah, bukanlah perbuatan yang harus dilakukan o leh seorang gagah. Entah bagaimana anggapan Bengcu?"

Liong ceng Houw sie tertaw a terbahak-bahak. "Ucapan Ho Bengcu memang  cukup beralasan. Tetapi

yang   menimbulkan  persoalan  kini  adalah  Ho   bengcu

sendiri. Ho Bengcu penyebabnya bukanlah tiga pembantuku, mana boleh dianggap sebagai perbuatan yang menghina seorang w anita lemah? Jelas Ho Bengcu hendak menjatuhkan beberapa tokoh kuat rimba hijau daerah selatan dengan sengaja menimbulkan onar demikian?"

OoodwooO