Rahasia Kampung Setan Jilid 20

 
Jilid 20

DELAPAN ORANG ITU lalu memberi hormat kepada Ho Hay Hong, setelah itu balik kembali ke markasnya.

Gadis baju ungu melanjutkan perjalanannya dengan Ho Hay Hong. Ditengah perjalanan ia bertanya:

"Ho koko, apa kau tak keberatan aku ikut kau ?"

Ho Hay Hong sungguh berat untuk menjawab, sebab kepergiannya ke selatan itu sebetulnya hendak mengadakan pertemuan yang penghabisan dengan gadis kaki telanjang, tetapi jikalau gadis baju ungu itu berada disampingnya, bagaimana ia harus memberi keterangan? 

Gadis baju ungu itu ketika melihat Ho Hay Hong t idak bisa menjawab, mendadak kebut kudanya hingga kuda itu kabur seperti terbang.

Ho Hay Hong hampir jatuh dari kuda, pada saat itu ia masih belum dapat memikirkan bagaimana harus menjawab pertanyaan gadis itu.

Ketika tiba di persimpangan jalan gadis itu mengambil jalan yang salah, maka Ho Hay Hong buru-buru bertanya:

"Adik jalan in i menuju kebarat, untuk apa kau kebarat?"

Gadis itu sambil menggigit bibir menjawab dengan suara sedih:

"Kita pergi mencari Hoa chiu-tho, mungkin ia dapat menolong jiwamu ! Ho Hay Hong segera teringat kepada orang tua bermuka kurus yang banyak akalnya itu, dalam hatinya masih merasa benci maka lantas menjaw ab:

"Buanglah jauh-jauh pikiran seperti itu, Hoa chiu Hwa tho itu manusia macam apa, bagaimana ia mau menolong jiwaku?"

Gadis itu menggelengkan kepala, ia larikan kudanya semakin kencang sehingga pohon-pohon dikedua belah pihak seperti lari mundur dengan pesatnya.

Kuda itu benar-benar kuda jempolan, dalam waktu sekejap sudah lari beberapa puluh pal jauhnya.

Berada diatas kuda yang lari demikian pesat Ho Hay Hong memeluk erat pinggang gadis kekasihnya.

Gadis itu mendadak berpaling dan berkata kepada Ho Hay Hong:

"Ho koko, apa kau sudah lupa bahwa kau kini sudah menjadi ketua atau pemimpin besar golongan  rimba hijau ?"

"Ini ada hubungan apa dengan diriku?" tanya Ho Hay Hong tidak mengerti.

”Hwa chiu Hwa tho adalah  ialah satu anggota golongan rimba hijau daerah utara, pemimpin berada dalam kesulitan sudah seharusnya ia berusaha memberi pertolongan, ini bukankah berarti ada baiknya bagimu?"

"Kau melupakan satu hal, Kay tee Kim kong adalah saudara tua Hwa chiu Hwa tho. Oleh karena Kay tee Kim kong binasa ditangan ku, sudah pasti ia akan mengetahui bahwa racun dalam tubuhku itu adalah perbuatan tangan saudara tuanya, bagaimana mau menolong jiw a musuh yang membunuh saudaranya ?"

Mendengar perkataan itu, harapan dalam pikiran gadis itu, telah lenyap seketika. Ho Hay Hong mengibuli padanya: "Mati hidup tergantung ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa, adik, kau juga tidak perlu terlalu berduka."

Tak lama kemudian, dua orang itu tiba-tiba disamping sebuah kolam besar. Didekat kolam itu terdapat sebaris rumah yang terbuat dari bambu, Waktu itu hari sudah gelap, dari jendela didalam rumah memancarkan sinar lampu pelita.

Gadis baju ungu itu menambat kudanya disebuah pohon, sedang Ho Hay Hong mengetok pintu salah satu rumah ditepi empang.

Dengan pelahan ia mengetok tiga kali dari dalam terdengar suara orang bertanya: "Siapa?"

Ho Hay Hong segera mengenali bahwa suara itu adalah suaranya Hwa ciu hwa tho. Karena dahulu ia sudah pernah mengalami kejadian tidak enak, maka t idak berani berlaku ayal, ia berkata:

"Empek, bolehkah aku numpang tanya, dimana tempat tinggal Hwa ciu hwatho?"

"Ada keperluan apa kau mencari dia?" tanya suara dari dalam.

Ho Hay Hong memperlamban suaranya ia menjawab dengan suara yang dibikin-bikin.

"Aku adalah pemimpin rimba hijau enam propinsi daerah utara, aku ada sedikit keperluan  hendak berjumpa dengannya?" Mendengar jaw aban itu, dari dalam rumah terdengar suara seruan kaget, kemudian disusul oleh terbukanya pintu. Hw a ciu hwa tho yang kurus kering tampak diambang pintu, Sepasang mata yang tajam menatap wajah Ho Hay Hong.

Sesaat orang tua itu tampak tercengang, kemudian berubah marilah, katanya dengan suara gusar:

"Kau bocah ini yang ke mbali datang mengacau!"

Sehabis berkata, ia hendak menutup pintu lagi.  Ho Hay Hong mendorong dengan sekuat tenaga dan masuk kedalam dengan langkah lebar, gadis baju ungu mengikuti di belakangnya, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Kau bocah ini berulang-ulang mencari aku, apakah maksudmu sebetulnya?" tanya Hw a ciu hwa tho marah.

Ho Hay Hong dengan kedudukannya  sebagai pemimpin seolah-olah tidak menghiraukan kemarahan tuan rumah, ia duduk diatas kursi dan berkata sambil tertaw a dingin.

"Aku ada urusan penting mencari kau untuk memint a bantuan, apa kau tak suka?"

Ia mengeluarkan plat emasnya, diletakkan diatas meja, matanya teras mengaw asi orang tua itu.

Hoa ciu hwa-tho begitu melihat tanda itu, wajahnya berubah seketika, ia bertanya dengan terheran-heran:

"Apa? kau kau benar-benar memiliki tanda kepercayaan ini?" "Benda emas in i adalah Tok-hing lojin jit beberapa tokoh rimba hijau daerah utara yang datang sendiri dirumahku, dan diberikan padaku dengan kedua tangan!"

Ia mengeluarkan lagi lambang atau ke besaran Ngo jiauw lim dan menambahkan keterangannya: "Kekuasaan didaerah Ho siang See-san, Oh kun Khan bin dan daerah utan yang dahulu dikuasai oleh saudaramu Kay tee Kimkong sekarang semua sudah berada di bawah kekuasaanku apakah kau Ho ciu hwa tho berani menyatakan tidak percaya?"

Hoa ciu hwa tho sejenak berdiri tertegun memperhatikan sepatunya. Sikapnya mendadak berubah ia berkata sambil tertaw a: "Y a, Ya Bengcu silahkan duduk!"

Ia seolah-olah sudah perlakukan pemuda itu sebagai tetamu agung, sikapnya sengaja menghormat:

Ho Hay Hong lantas berkata:

"Dengan terus terang, aku kini terluka bagian dalam maka aku datang kepadamu untuk minta bantuan!"

"Tidak menjadi soal !" berkata Hoa chiu Hwa tho sambil tertaw a.

Ia mempersilahkan Ho Hay Hong membuka bajunya, tangannya meraba tulang rusuk dan berbagai bagian didadanya, lama baru berkata:

"Bengcu telah terkena serangan San hwa ciang lik, serangan ini sudah masuk kebagian dalam daging, jikalau kurang teliti, tidak dapat diketahui." "Cianpwee, apa kau dapat menyembuhkan lukanya?" tanya gadis berbaju ungu cemas, Hoa chin Hw a tho berpikir sejenak, baru berkata:

"Tentang ini . . . meskipun aku belum yakin sepenuhnya, tetapi urusan Bengcu, sudah  seharusnya aku akan berusaha keras untuk melakukan !"

Dari dalam kamar ia mengeluarkan sebuah tempat tidur dari kayu lalu menyuruh Ho Hay Hong rebah diatasnya Ia mengambil juga peti obat-obatan. Lama ia berpikir kemudian baru memilih beberapa macam obat ramuan, lalu dimasaknya.

Selagi orang tua itu repot memasak obat, dengan cepat Ho Hay Hong berbisik-bisik di telinga gadis baju ungu:

"Adik, aw as kau jaga akal bangsat itu ketika obat itu mengeluarkan baunya kau harus menutup hidungmu jangan bernapas, supaya tidak kemasukan hawa racun dari obatku !"

"Aku mengerti, dan jangan khawatir," menjaw ab gadis itu sambil menganggukkan kepala.

Hoa chiu Hw atho mengambil kotak jarum itu dicelupkan dalam cairan obat. lalu ditusukkan dibeberapa bagian jalan darah tubuh Ho Hay Hong, kemudian menepuknya beberapa kali.

Ho Hay Hong perlahan-lahan seperti pingsan ia biarkan dirinya d ipale oleh tabib itu. Dan tenaganya telah lenyap. Apabila Hoa chiu hwa tho ada mengandung maksud jahat, juga terpaksa membiarkan segala perbuatannya. Gadis berbaju ungu dengan  perasaan  tegang mengaw asi segala perbuatannya, jika mengetahui gelagat tidak beres, ia akan turun tangan dengan segera.

Ia teringat kejadian beberapa hari berselang ketika ia sendiri d i bawa oleh Ho Hay Hong berobat kepada orang tua itu. bagaimana perhatian kepada dirinya, ingat akan itu ia merasa terharu, dan ia tidak menduga bahwa kali  ini adalah tiba giliran dia yang harus menjaga keselamatan Ho Hay Hong.

Hoa chiu Hwa tho mencabuti jarum masnya dan dimasuki kedalam kotaknya, kemudian menyuruh gadis itu untuk mengambil air dingin ke kamar belakang.

Selagi hendak mengambil air, gadis itu mendadak ingat, apabila ia pergi, Ho Hay long pasti berada dalam bahaya. Maka ia tak jadi pergi.

Hoa-chiu Hwa tho agaknya menangkap sikap ragu- ragu dari gadis itu, maka lantas berkata sambil tersenyum.

"Jikalau kau merasa khawatir, biarlah aku yang mengambil sendiri."

Pelahan-lahan ia masuk kedalam, setelah tidak tampak bayangannya. Ho Hay Hong mendadak bangkit dan duduk lalu berkata:

"Adik,kau jangan takut, aku tadi hanya berpura-pura saja !"

Gadis itu terkejut, ketika ia memperhatikan keadaan Ho Hay Hong, ia tertaw a sendiri dan diam-diam hatinya merasa lega.

Ho Hay Hong berkata dengan suara perlahan: "Orang tua itu benar mengandung maksud jahat, waktu ia memeriksa tubuhku menggunakan tangan sangat berat, untung aku sudah siap siaga jikalau tidak aku akan pingsan benar-benar."

"Apa sekarang kau merasa sedikit enak?" tanya gadis dengan penuh perhatian.

"Sekarang ini aku merasa tidak ada perobahan apa- apa. Seperti biasa. Serangan ilmu San hwa cian lik itu benar-benar hebat, orang yang terkena serangannya tidak tahu bahwa dirinya sudah terluka. Hai, aku dengar kongkong berkata bahwa dalam tiga hari pasti  mati tetapi aku sendiri masih belum tahu terluka di bagian mana, coba kau pikir heran atau t idak?"

"Ucapan kongkong, sudah tentu tidak bisa salah lagi, Ho koko kau harus berlaku sabar !"

"Adik, jikalau aku adu untung masih bisa hidup lagi, aku t idak akan lupakan kau"

Gadis itu menundukkan kepala, pikirannya kalut, sementara itu tabib tua itu sudah balik kembali dengan tangan menenteng sepanci air dingin.

Ho Hay Hong memejamkan matanya pura-pura pingsan sedang gadis itu usap mukanya sambil menghela napas pelahan.

Pada waktu itu asap dari obat telah mengepul pula, gadis itu buru-buru menutup pernapasannya, tetapi hal ini sudah diketahui oleh Hw a chiu Hw a tho, maka lantas berkata sambil tersenyum: "Nona jangan takut jikalau aku akan bermaksud mencelakakan dirimu sekalipun ada sepuluh nyawa, juga tidak akan lolos dari tanganku?"

Sehabis berkata demikian, matanya mengawasi ujung kakinya sendiri. Gadis baju ungu itu menampak sikap aneh orang tua itu matanya juga dialihkan ke ujung kaki orang tua itu.

Hoa chiu Hwa tho mengangkat sedikit ujung kakinya, tampak benda berkelipan dan itu ternyata sebuah jarum yang menancap diujung kakinya. Melihat itu, gadis itu terkejut.

Ho chiu Hwa tho mencabut dengan jarinya, sebuah jarum halus sepanjang setengah dim berada ditangan.

"Hanya dengan sebuah jarum ini,  sudah cukup membinasakan jiw amu."

"Apa artinya perkataanmu ini?" tanya gadis itu bingung.

"Kau hanya memperhatikan aku masak obat dan gerakanku ketika memeriksa lukanya tapi kau tidak perhatikan ketika aku lew at disampingmu, jikalau kakiku menginjak kakimu, jarum in i akan menembusi jalan darahmu, sudah tentu kau tidak akan terhindar dari kematian!"

Mendengar keterangan itu, gadis baju ungu itu seketika mengeluarkan keringat dingin.

Hoa chiu Hw a tho berkata pula: "Sekarang coba kau berdiri, aku beritahukan lagi sebuah benda yang sangat mengejutkan kau!" Gadis itu buru-buru bangkit dari tempat duduknya, matanya mengaw asi kursi, entah sejak kapan ditengah kursi itu terdapat sebilah golok tajam.

Dengan ujung kaki Hoa chiu Hwa tho menyentuh ujung kursi, golok tajam itu mendadak melesat keatas, apabila golok itu mengenakan sasarannya, orang yang terkena serangan tidak ampun lagi pasti mati.

Hoa chiu Hwa tho berkata:

"Kau hanya tahu diriku berbahaya, sebaliknya  kau tidak tahu bahwa dalam rumah ini hampir setiap sudut ada pesaw at. Orang begitu masuk kedalam rumah, berarti jiw a dan raganya sudah berada didalam tanganku!

Sehabis berkata, ujung kakinya menendang sudut kursi, golok tajam itu sudah menghilang dari tempatnya dan bekas lubang tadi.

Sesaat itu gadis itu merasa seperti terkepung oleh ancaman bahaya, maka diam-diam pikirannya merasa kalut , Didalam rumah tabib tua misteri itu, jiw a manusia seolah-olah tidak berarti apa-apa. Asal tuan rumah mau dengan satu gerakan tangan atau kaki, sudah cukup membinasakan jiw a Ho Hay Hong dan jiwanya sendiri.

Ia tak berani lagi menjamin keselamatan jiwa kekasihnya, sebab ia sendiri juga sudah berada didalam guha macan, ini berarti bahwa hidup atau matinya, hanya tergantung oleh pikiran dan kehendak tabib tua itu.

Hoa chiu hw a tho tertaw a bangga, ia agaknya merasa bangga dengan perasaan takut gadis itu, tetapi diluarnya ia masih berlaku sangat hormat. Dengan sikap menghormat ia mempersilahkan gadis itu duduk.

Gadis itu tahu bahwa kursi itu tersembunyi golok tajam, maka ia tidak berani duduk lagi.

"Nona jangan khawatir. duduklah saja mana tanpa setahuku akan mencelakakan dirinya?" demikian  tabib tua itu berkata sambil tertaw a.

Gadis itu diam-diam berpikir: ”Kamar ini penuh dengan pesaw at rahasia, kalau ia hendak mengambil jiwaku, memang sangat mudah. Rahasia kursi ini ia sudah dibuka sendiri, sudah tentu tidak akan menggunakan cara yang sangat bodoh untuk mence lakakan diriku.”

Berpikir demikian, hatinya merasa tenang maka lantas ia duduk di tempatnya semula. Hoa ciu hwa tho memandang Ho Hay Hong sejenak, lalu berkata:

"Tahukah nona bahwa orang ini adalah musuh besarku, yang telah membunuh saudara tuaku?"

Gadis itu terkejut dan bertanya:

"Habis kau mau apa?"

"Aku berkata demikian bukan karena mengandung maksud jahat, aku hanya mau tanya padanya, ada permusuhan apakah ia dengan saudaraku itu?"

"Kay see Kimkong datang bersama anak buah dan pembantunya datang menyerbu rumahku dengan maksud hendak membasmi semua orang serumah tanggaku. Tindakan yang melanggar hukum ini setiap orang boleh saja menerjangnya atau membunuhnya. jadi bukan salah dia. Cianpwee adalah seorang yang mengerti aturan dan keadilan, apakah kau hendak limpahkan kesalahan kepada dirinya dan hendak menuntut balas atas kematian saudaramu itu?"

"Bagaimana aku berani, dia adalah ketua atau pemimpin besar golongan rimba hijau daerah utara, aku Hoat ciu hw atho hanya seorang rakyat kecil yang tidak berarti, bagaimana aku ada hak mencampuri urusannya? Hanya keponakanku itu ketika mendengar Kematian ayahnya telah menangis demikian sedih sehingga mau tidak mau aku harus turun tangan juga, untuk menunjukkan keadaan yang sebenarnya."

"Maksud Cianpwee?"

"Sudah lama aku menunggu, usahaku ini bagaimana boleh di sia-siakan begitu saja? Kee Cing kau keluar!"

Seorang muda berusia tiga puluhan keluar dari dalam kamar. Ketika gadis baju ungu itu melihat orang itu, hawa amarahnya meluap seketika. Jikalau bukan sebab sedang menghadapi Ho Hay Hong yang dalam keadaan bahaya, ia benar-benar akan menghajarnya.

Orang muda itu dengan sinar mata dingin memandang padanya sejenak lalu bertanya kepada pamannya:

"Paman ada urusan apa?"

"Musuh besar yang membinasakan ayahmu, sekarang berada disini." berkata Hw a chiu Hwa tho.

Orang muda itu membelalakkan matanya menatap Ho Hay Hong, tiba-tiba ia dapat mengenali siapa adanya orang muda itu, maka ia lantas berseru:

"Bagus bocah, kiranya adalah kau!" Dengan mata beringas penuh hawa marah ia terus mengaw asi Ho Hay Hong, seolah-olah seekor singa buas hendak menerkam mangsanya. Akhirnya ia berkata dengan suara keras:

"Musuh yang membunuh ayah, itu adalah  suatu musuh yang paling besar. Bocah, kembalikanlah jiwa ayahku."

Ia bertindak maju hendak menyerang, dan selagi gadis baju ungu hendak merint angi, Hoat chiu Hwe tho lebih dulu sudah menyela seraya berkata:

"Anak, kau harus pikir masak-masak dulu, orang ini sekarang sudah menjadi pemimpin besar golongan rimba hijau daerah utara!"

Orang muda itu terperanjat, ia merandek dan lama baru menyahut.

"Tidak perduli siapa dia, bagaimanapun juga sakit hati harus dibalas, aku baru bisa tenang!"

Gadis baju ungu menghunus pedangnya dan membentak dengan suara nyaring:

"Manusia tidak tahu malu, kalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh melawan aku. Orang sakit kau hendak serang, apakah itu perbuatan orang gagah?"

Hoa-chiu Hwa tho mendadak menggerakkan tangannya ke arah Ho Hay Hong. Pemuda itu mendadak mengeluarkan suara rint ihan, karena entah dari mana datangnya, tubuh Ho Hay Hong sudah terikat oleh rantai besi.

Meskipun ia meronta coba mematahkan rantai besi itu, tetapi t idak berhasil.

"Bengcu Tayjin, aku tahu bahwa kau berlagak pingsan, dengan pengalamanku yang luas, bagaimana kau dapat mengelabui diriku? Dalam mataku, perbuatanmu ini hanya suatu perbuatan yang sangat bodoh." berkata Hoa chiu Hwa tho dingin.

Ho Hay Hong meski sudah masuk perangkap, tetapi masih berlaku tenang, katanya sambil tertaw a nyaring:

"Hoa chiu Hw a tho, aku juga sudah tahu isi hatimu. Satu sama lain tokh mengandung maksud tidak baik, kau tidak dapat salahkan aku kurang sopan terhadapmu. Hahaha."

Laki muda yang ayahnya mati ditangan Ho Hay Hong tanpa banyak bicara tangannya menyambar sebilah golok dan menyerbu dengan kalap.

Hoa chiu Hwa tho kini berdiri sebagai penonton sambil terbahak-bahak.

Gadis baju ungu menyerang dari samping dengan pedangnya, tetapi serangan pedang gadis itu tertahan oleh hembusan angin yang keluar dari tangan Hoa chiu Hwa tho.

"Nona kecil, kau beristirahatlah sebesar!" kata tabib tua itu dingin.

Tangannya dengan cepat menotok kedinding, dari atas segera turun jaring kawat yang mengurung gadis itu. Pedang ditangannya yang terlibat oleh jaring, juga jatuh ditanah.

Gadis itu bergulingan ditanah, tetapi jaring melibat semakin kencang, hingga akhirnya ia tidak bisa bergerak lagi. Anak lelaki Kay see Kim kong sudah tanggalkan goloknya dileher Ho Hay Hong, bentaknya dengan suara keras:

"Anjing kecil, tutup mulutnya."

Gadis baju ungu yang menyaksikan bahaya mengancam diri kekasihnya, sedangkan ia sendiri tidak berdaya hampir saja jatuh pingsan.

Tetapi Ho Hay Hong sendiri malah tertaw a dan berkata:

"Haha tak perlu kau turun tangan, aku juga tidak bisa hidup lebih dari t iga hari, beginipun baik, ada orang yang tolong mengurusi jenazahku, hingga aku tidak usah repot-repot mencari tempat untuk kuburanku."

Lelaki itu marah, selagi hendak menggerakkan goloknya, hembusan angin dingin menyambar tangannya. Kemudian terdengar suara orang berkata dengan diiringi oleh suara tertaw a dingin: "Heh, heh, bagus sekali! Hoa chiu Hw a tho kau sungguh hebat, pemimpinmu sendiri hendak kau bereskan juga."

Mendengar suara itu, lelaki muda dan Hoa-chiu Hwa tho terkejut, dua-duanya berpaling mengawasi ke pintu.

Di ambang pintu rumahnya berdiri seorang berambut panjang dan berpakaian hitam, sepasang mata orang itu memancarkan sinar tajam, pinggangnya menyoren sebilah pedang panjang dengan sarungnya yang terbuat dari kulit ikan, sikapnya keren.

Orang itu tak lain dari pada Tee soan hong Tok Bu Gouw: Ilmu pedang Tee-soan Bin kiam Tee soan hong, sudah lama terkenal di daerah utara. Diwaktu Kay tee kim kong masih hidup juga memberi sedikit muka padanya, apalagi adiknya.

Maka dengan munculnya orang itu, membuat tabib tua dan keponakannya diam-diam mengeluh.

Lebih dulu Tee soan-hong mengamat-amati Ho Hay Hong, kemudian mengaw asi plat emas yang diletakkan di atas meja, lalu menggumam sendiri:

"Berani melawan Bengcu, melanggar peraturan paling besar, harus dihukum mati, Hoa chiu Hw a-tho, kau juga salah satu orang gagah dari rimba hijau, mengapa tidak mentaati peraturan sendiri? Apakah kau menghendaki supaya golongan rimba hijau daerah utara terpecah belah lagi?"

Hoa chiu Hw a tho bungkam dalam seribu bahasa, sementara itu lelaki anaknya Kay see Kim kong lantas maju menghampiri dan berkata dengan suara keras:

"Bolehkah kau jangan mencampuri urusan kita?"

"Aku sebetulnya tidak ingin campur tangan, tetapi karena ucapan mu ini, sekarang mau tidak mau akan campur tangan juga."

Dengan mendadak, kakinya menyapu, lalu terdengar suara halus, setelah itu ia berkata sambil tertaw a nyaring:

"Hoa chin Hwa tho, kau sudah gila, mengapa aku Tok Bu Gouw kau juga hendak serang secara membokong? Benar-benar tidak t ahu diri." Gadis baju ungu itu kini baru tahu bahwa benda yang disapu oleh kakinya tadi, ternyata adalah sebilah belati tajam. Ia merasa sangat heran karena ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Waktu itu Hoa ciu Hwa tho sedikitpun tidak berkisar dari tempatnya, darimana datangnya belati itu?

Tetapi dengan cepat ia sadar, bahwa di dalam ruangan itu memang banyak terdapat banyak sekali alat rahasia. Untung Tok Bu Gouw seorang yang  sangat cerdik dan juga banyak akalnya, hingga Hoa chiu Hw a- tho tidak berdaya. Kalau orang lain pasti sudah binasa oleh senjata tadi.

"Tee soan-hong, tahukah kau bahwa aku hendak menuntut balas atas kematian saudaraku?" tanya Hoa- chiu Hw a tho sambil tertaw a dingin.

"Aku tidak perduli, bagaimanapun juga aku melarang kau mengganggu dirinya?" kata Tee soan Hong dingin.

"Kentut, mengapa kita tidak boleh ganggu? Mengapa kita tidak boleh menuntut balas" tanya anak Kay see Kim-kong gusar.

"Bocah, Kau tahu apa? Dia adalah Bengcu rimba h ijau daerah utara, sekalipun aku sendiri juga harus mendengar perint ahnya, jangankan kau, Hm! Kalau kau hendak menuntut balas, kau coba saja.".

Sehabis berkata, ia berdiri melintang didepan Ho Hay Hong sambil menolak pinggang. Anak Kay see Kim kong jeri menghadapi jago tua kenamaan itu, hingga mundur beberapa langkah, lama t idak bisa bicara. Tee soan hong mengambil plat emas diatas meja lalu diangkat tinggi-tinggi dan diperlihatkan kepada Ho chiu Hwa tho, kemudian bertanya dengan suara bengis:

"Tua bangka, kau mau mengobati atau tidak? Lekas jawab !"

Hoa chiu Hwa tho diam-diam berpikir, ”kalau Tee soan hong meskipun seorang jago ternama tetapi dengan hak apa mencampuri urusan ini?"

Maka ia lalu menjawab dengan nada suara dingin:

"Dia adalah musuh besarku, yang membunuh saudara tuaku sendiri. Aku tidak membinasakannya, sudah enak baginya. Kini suruh mengobati luka dalamnya, kau jangan harap !"

Anak laki-laki Kay see Kim kong teringat kematian ayahnya, mendadak gelap mata. Tanpa banyak pikir lantas menyerbu dan menyerang Ho Hay Hong yang menggeletak tidak berdaya.

Tee-soan hong mendadak mengangkat tangan kanannya, membuat satu lingkaran.

Anak Kay-see Kim kong mendadak matanya kabur, dalam perasaannya, Tee soan-hoan seperti berubah menjadi banyak orang yang mengancam dirinya dari berbagai jurusan.

Ia terkejut dan menjerit, buru-buru membatalkan serangan, tangannya digunakan untuk menangkis serangan tangan Tee soan hong.

Saat itu, tiba-tiba tampak berkelebatnya sinar pedang, kemudian disusul oleh suara jeritan anak laki-laki Kay see Kim kong-yang sudah rubuh ditanah dengan keadaan mandi darah.

Ternyata sebelah tangannya sebatas lengan sudah terpapas menjadi dua potong.

Sementara itu Tee soan hong masih tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak.

Hoa chiu Hw a tho yang menyaksikan kejadian itu, sekalipun ia sudah banyak pengalaman juga merasa jeri.

Ia benar-benar tidak menduga, keponakannya baru saja bergerak tangannya sudah terkutung. Betapa sedih, mengenaskan dan panas hati perasaannya waktu itu.

Tee soan hong yang sifatnya berangasan, sedikitpun tidak mau mengasih hati. Dengan suara bengis ia membentak Hw a chiu Hwa tho.

"Tua bangka,kan mau mengobati atau tidak ?"

Hoa chiu Hw a tho ketakutan, tanpa sadar sudah mundur selangkah, pikirannya bingung, hingga saat itu belum bisa menjawab.

Ho Hay Hong menyaksikan semua kejadian itu dalam hati merasa bersyukur, ia pikir orang in i bukan sanak bukan saudara, tetapi berulang-ulang melepas budi kepadaku. Maka di kemudian hari aku harus membalas budinya ini.

Diam-diam telah berubah pandangannya terhadap jago tua yang dahulu ia membencinya.

Tee soan hong berkata pula dengan suara bengis: "Hoa chiu  Hw a tho, kau juga salah  seorang anggauta

rimba   hijau   daerah   utara,   sekarang   bengcu   dalam kesusahan, seharusnya kau menggunakan kesempatan ini menunjukkan kesetianmu agar mendapat nama baik dari saudara-saudara kita.

”Diluar dugaan karena urusan pribadimu, bukan saja kau menolak mengobati, sebaliknya malah hendak turun tangan terhadap Beng cu yang sedang dalam keadaan bahaya. Hati kejammu seperti ini, pasti akan menimbulkan kemarahan semua saudara-saudara

”Jika soal in i aku siarkan, ha ha, Hoa chiu Hoa tho, bukan maksudku hendak menggertak kau, kau sendiri juga tahu, bagaimana selanjutnya kau bisa tancap kaki di daerah utara? Bahkan ada kemungkinan besar, mulai besok pagi, banyak jago rimba persilatan yang membenci atas perbuatanmu, akan datang mengambil batok kepalamu, kalau kau tidak percaya, kau boleh coba saja!"

Hoa chiu Hwa tho mendengar perkataan itu, kebuasannya lenyap seketika, sikapnya diliputi oleh perasaan kebingungan, agaknya merasa jeri menghadapi urusan itu.

Ho Hay Hong semula mengira bahwa jabatan Beng cu itu hanya merupakan nama kosong belaka, tak ia duga bahwa urusannya akan membuat akibat demikian rupa.

Kedudukan itu ternyata mempunyai wibawa demikian besar, hingga diam-diam semangatnya terbangun, ia bertekad hendak mempertahankan kewibawaannya, untuk membangun kembali kekuatan rimba hijau daerah utara.

Sementara itu gadis berbaju ungu juga berkata:

"Ya, Hoa chiu Hwa tho. kau berani melawan Bengcu, ini juga berarti berani melawan semua orang dari golongan rimba hijau daerah utara, perbuatanmu ini pasti akan mendapat pembalasan yang setimpal."

Dalam pihak chiu Hwa tho juga merasa sedih mengingat nasib anak laki Kay see Kim kong yang terkutung tangannya, ia sebetulnya hendak marah terhadap Tee soan hong, tapi juga ini telah di desak oleh Tee soan hong, hingga kedudukannya semakin sulit.

Lama ia berdiam, akhirrya ia berkata.

"Bocah ini bukanlah Bengcu, orang she Ho, kau jangan coba membohongi aku!"

Tee soan hong seorang cerdik, dari suara jawaban itu ia sudah dapat menerka perasaan tak senang tabib tua itu, maka lalu membolang balingkan pedangnya dan berkata dengan sikap yang lebih galak ia berkata:

"Tua bangka. kau anggap aku si orang she Ho ini orang macam apa?"

Secepat kilat ia menggerakkan pedangnya, hingga ujung baju Ho chiu Hw a tho robek  oleh ujung pedangnya, Hoa chiu Hw a ho terperanjat, buru-buru menangkis dengan tangannya sambil lompat mundur terbirit-birit.

Tee soan hong pura-pura marah, ia maju lagi sambil mengancam hendak menyerang, Hoa chiu Hwa tho buru- buru berseru:

"Tunggu dulu, tunggu dulu, aku hendak bicara."

Tee soan hong masih marah, dengan pedang ditangan ia berkata: "Kau ingin berkata apa? Jikalau tidak memuaskan hatimu, aku si orang she Tok benar-benar tidak akan pandang muka kau lagi!"

Ho Hay Hong diam-diam mengagumi ilmu pedangnya yang aneh itu, tetapi ia juga dikejutkan oleh perkataannya yang dikeluarkan dengan tidak sengaja tadi. Dalam hatinya berpikir: ”Tadi ia jelas menyebut dirinya sendiri orang she Ho, tetapi mengapa kemudian berbalik mengatakan orang she Tok? Apakah she yang disebutkan belakangan tadi hanya she palsu?"

Sementara itu Hoa chiu Hw a tho telah berkata. "Tee soan hong, siapakah sebetulnya bocah ini, mengapa kau membantu dia mempersulit kedudukan? Apakah kau benar-benar hendak bermusuhan denganku?"

Mendengar pertanyaan itu, Tee soan hong marah, ia berkata:

"Hah, bagus sekali, katamu bolak-balik itu-itu saja, kau tetap masih tidak mau."

Jago tua itu sudah marah benar-benar melihat sikap  Ho chiu Hoa tho yang plint at-plintut itu. pedangnya diputar dengan cepat melakukan serangan terhadap Hoa chiu Hoa tho.

Hoa-chiu Hoa tho terpaksa lompat mundur sambil berkata:

"Sudah, sudah, kalau begitu, hari ini kalau bukan kau yang mampus, biarlah aku yang mati!"

Ia menyambar sebatang ruyung digunakan untuk menahan serangan Tee soan hong. Sebagai orang Kangouw kaw akan, ilmu ruyungnya juga bukan ilmu sembarangan, setiap serangan dilancarkan dengan hebat oleh karena ruangan itu kurang luas, sehingga ilmu pedang Tee soan hong tidak dapat digunakan dengan leluasa.

Untuk sementara ia tidak berdaya menghadapi Hoa chiu Hoa tho.

Selagi pertempuran berjalan sengit, pintu mendadak terbuka, seorang tua yang wajahnya mesum dan rambutnya aw ut-aw utan, telah masuk tanpa diundang. Ketika menyaksikan pertempuran hebat itu, ia terkejut dan terheran-heran.

Hoa chiu Hoa tho ketika  melihat orang tua itu, mendadak lompat mundur sambil berseru: "Tahan dulu!"

Tee soan hong juga terkejut ketika melihat orang tua itu, ia berkata sambil tertaw a dingin:

"Angin apa yang meniup kau si dewa racun tikus sampai datang kemari?"

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Hoa chiu Hoa tho:

"Tua bangka lekas kau memberi hormat padanya, tuan penolongmu telah datang!"

Hoa chiu Hoa tho berkata dengan suara marah: "Kau jangan mengoceh yang tidak karuan."

Namun demikian, dengan sikap yang menghormat sekali ia memberi hormat kepada si dewa racun tikus dan mempersilahkannya duduk. Dewa racun Tikus itu ketika melihat pelat emas diatas meja, matanya celingukan mencari-cari, agaknya sedang mencari orang yang berhak memiliki pelat emas itu.

Tee soan hong mengetahui maksud orang tua itu, maka ia lantas berkata:

"Tidak perlu mencari, Bengcu sudah di bikin susah oleh tua bangka berhati binatang ini."

Dewa racun tikus itu semakin heran, ia menunjuk gadis berbaju ungu yang berada didalam jala seraya berkata:

"Apakah dia itu bengcu?"

"Itu dia Bengcu!" berkata Tee soan hong sambil menunjuk Ho Hay Hong yang terlentang di bale-bale dalam keadaan terikat.

Mata si Dewa racun tikus memandang Ho Hay Hong dalam kesannya. Bengcu ini meskipun usianya masih muda belia tetapi nampaknya memang seorang gagah.

Hoa chin Hwa-tho berkata:

"Saudara Kong jangan percaya omongannya, bocah ini dengan hak apa bisa menyatakan dirinya Bengcu?"

"Aku hanya dengar kata dari beberapa sahabatku. Bengcu yang baru sudah ada orangnya, bahkan mendapat dukungan luas, hem benar tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa. Tak kuduga sebelum melihat wajah Bengcu, lebih dulu melihat lambang kekuasaan, bagaimanakah sebetulnya urusan ini?”

Ho Hay Hong sebetulnya ingin menyatakan bahwa ia adalah Bengcu rimba hijau yang baru diangkat. Tetapi mengingat bahwa keadaannya pada saat itu, jikalau ia berkata demikian berarti merendahkan derajatnya sendiri, maka akhirnya membatalkan maksudnya.

"Dewa racun tikus, kau juga merupakan seorang jago kenamaan dari golongan rimba hijau, kau melihat Bengcu dalam kesulitan. mengapa tidak mencari tahu sebab- sebabnya? Apakah beginilah sifatmu sebagai jago tua itu?" berkata Tee soan hong dingin.

Dewa racun tikus mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berkata:

"Tok Bu Gouw, apa maksud perkataanku ini?"

Ho Hay Hong yang sejak tadi memperhatikan keadaan orang tua itu dari matanya bercahaya dan urat-uratnya menonjol, ia mengetahui bahwa orang tua itu memiliki kekuatan tenaga dalam sangat hebat, maka ia sangat khaw atir pada Tee soan hong.

Tee soan hong sedikitpun tak marah, berkata sambil tertaw a dingin.

"Orang kata sekalipun binatang saja juga masih bisa mengenali tuannya, sedangkan engkau Dewa Racun Tikus yang namamu sudah terkenal, sebagai jago angkatan tua dari golongan rimba hijau, tak kusangka sikapmu demikian plintat-plintut."

Dewa Racun Tikus mendelikkan matanya, wajahnya nampak sangat buas, ia berkata:

"Benarkah dia itu bengcu? Tee soan hong, kau jangan mengoceh tak karuan!"

Sambil berkata demikian, tinjunya telah diangkat tinggi-tinggi agaknya hendak menyerang Tee soan hong. Ho Hay Hong tahu benar bahwa orang tua itu beradat berangasan, sedikit salah saja bisa menimbulkan perkelahian, maka ia terpaksa tidak bisa tinggal diam, sambil menggertak gigi ia berkata dengan suara keras:

"Dewa Racun Tikus dengar, aku adalah Bengcu yang baru di angkat, perbuatanmu seperti in i apakah kau tahu akibatnya?"

Suara itu bagaikan guntur, sehingga menimbulkan suara gemuruh di dalam ruangan yang sempit itu. Sebagai orang kangouw yang ulung, si Dewa Racun Tikus ketika mendengar suara itu bukan kepalang terkejutnya.

Dengan mata membelalak ia menatap wajah Ho Hay Hong, lalu berkata pada diri sendiri:

"Kau. benar adalah Bengcu Bengcu katanya masih muda belia. berwajah tampan. benar. benar kau adanya"

Ia agaknya sedang mengingat-ingat  kembali gambaran Bengcunya yang baru diangkat dari mulut kawan-kawannya, tiba-tiba sekujur badannya lemas seketika, ia duduk lagi  di atas kursinya, mulutnya menggumam sendiri: "Ouw, benar benar kau. kau benar adalah Bengcu, sedikitpun tak salah !"

Hoa chiu Hwa tho hendak mengalihkan perhatian si Dewa Racun Tikus, maka dia bertanya dengan suara keras:

"Dewa Racun Tikus, apa kedatanganmu ini hendak berobat kepadaku?"

Si Dewa Racun Tikus angkat muka, matanya menatap Hoa chiu Hw a tho, agaknya sudah mengetahui semuanya. Dengan mendadak ia berjalan menghampiri Hoa chiu Hwa tho mulutnya menanya dengan suara tinggi:

"Orang sering kata siapa yang tak mampu menuntut balas dendam bukanlah seorang yang jantan. Hoa chiu Hwa tho bicaralah dengan sejujurnya, kau menangkap Bengcu kita yang baru, apakah maksudmu hendak menuntut balas kematian saudara tua mu?"

Hoa chiu Hwa tho tidak menduga kalau Dewa Racun Tikus itu bakal berbalik menanya dirinya, hingga sesaat itu mulutnya bungkam tidak bisa menjawab.

Dewa Racun tikus yang hampir seumur hidup dalam dunia Kang ouw sudah tentu kenal baik bagaimana sifatnya manusia dari golongan Kang ouw. Seketika itu ia yakin benar atas dugaannya, maka lantas marah dan berkata kepada t abib tua itu:

"Bagus! Hoa chiu Hwa tho, kau benar-benar seorang lihay, sekalipun aku memerlukan pengobatan darimu, tetapi sekarang sudah tidak perlu lagi. Hari in i aku hendak berbuat apa-apa untuk kepentingan golongan rimba hijau daerah utara, mari, mari, kita berdua selamanya bersahabat baik, tetapi dalam hal in i karena menyangkut kepentingan umum, terpaksa aku menyingkirkan kepentingan pribadi, itu semua demi untuk kepentingan umum."

Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu hatinya merasa terharu, ia sungguh tidak menduga bahwa orang-orang dari golongan rimba hijau yang biasanya dianggap sebagai berandal, ternyata mengenal apa artinya keadilan dan menjunjung tinggi kesetia kawanan, kalau begitu selama itu pandangan atas diri mereka ternyata salah.

Hoa chiu Hw a tho meskipun berkepandaian tinggi, tetapi ia paling takut menghadapi orang tua itu, ia ada melatih semacam ilmu yang mengandung racun tikus, maka ia mendapat julukan Dewa Racun Tikus, ilmu serangannya itu justru merupakan ilmu yang dapat menghancurkan ilmunya sendiri yang dinamakan Pik hoa- koan.

Hoa chiu Hwa tho terkenal namanya dengan ilmu serangannya Pek ho koan, tetapi ilmu itu paling takut menghadapi ilmu serangan t ikus, maka betapapun panas hatinya, ia juga t idak berani berlaku keras.

Hoa chiu Hw a tho yang juga memiliki pengetahuan ilmu tabib sangat luas, biasanya tak pandang mata kepada segala orang, jika ia t idak memandang balas jasa yang berupa barang pusaka, ia tidak akan memberikan obat kepada orang sakit, sekalipun terhadap familinya sendirinya, juga tidak terkecuali. Hanya terhadap Dewa racun tikus agaknya lain, ia selalu mengalah dan takut setengah mati terhadapnya.

Pada saat itu, oleh karena Bengcunya dalam keadaan bahaya, Dewa racun tikus yang ingin membela keadilan tidak perdulikan persahabatannya dengan tabib tua itu, dengan lantas ia hendak membinasakannya.

Hoa chiu Hw a tho, ketakutan setengah mati, ia mundur berulang-ulang seraya berkata:

"Saudara tunggulah, dengarlah keteranganku."

"Tidak perlu, kalau aku mendengar keteranganmu,  aku nanti akan teringat kembali hubungan persahabatan kita, sehingga tidak tega turun tangan, maka lebih baik kau jangan berkata apa-apa, supaya kau tidak berada dalam kesulitan." demikian si Dewa Racun Tikus memotong.

Tee-soan hong mendadak menyelak: "Dewa racun tikus tahan dulu."

Dewa racun tikus pada saat itu sebetulnya sudah akan membuka serangannya, ketika mendengar suara Tee soan hong buru-buru tarik kembali serangannya dan bertanya: "Kau ada usul apa?"

"Bengcu terluka bagian dalam, kalau bangsat tua Hoa chiu Hwa tho ini yang mengobati, sudah pulih kembali kesehatannya, jikalau kau membinasakannya, bukankah bengcu juga sudah mati? Maka pikirlah dulu untuk mereka!"

Mendengar perkataan itu, bukan kepalang girangnya Hoa chiu Hwa tho, ia bersedia menerima baik segala permint aan supaya jangan mati konyol.

Racun tikus benar-benar mulai sangsi, ia berpikir sejenak lalu berkata.

"Maksudmu.?"

"Sudah tentu kita harus mengingat kepentingan Bengcu kita, tentang permusuhan pribadi kita kesampingkan dulu, dikemudian hari tokh bisa dibereskan!" berkata Tee soan hong sambil tertaw a.

"Baik, Hoa chin Hwa tho, kau boleh kesampingkan dulu dendam sakit hatimu, obati dulu Bengcu kita!"

Hoa chin Hw a tho pura-pura berlaku lemas dengan terpaksa, ia menganggukkan kepala dan berkata: "Baiklah dengan memandang muka saudara ku nanti melakukan segala perint ahmu!"

Diam-diam ia merasa girang, karena dengan demikian berarti terhindar dari kematian, maka tanpa ayal lagi, ia lantas menyalakan api dan mulai masak lagi obat yang diperlukan. Kemudian ia membuka rantai yang mengikat Ho Hay Hong.

Si Dewa racun tikus menyaksikan semua perbuatan Hoa chiu Hwa tho setelah selesai baru berkata:

"Hoa chiu Hwa-tho tentang persahabatan kita untuk sementara jangan dibicarakan dulu, harap kau jangan main gila . ."

"Sudah tentu perint ah saudara, siaot e pasti akan lakukan !" menjawab Hoa-ciu Hwa tho.

Setelah itu ia juga mengambil beberapa rupa obat untuk mengobati luka tangan keponakannya.

Apa yang terjadi disitu telah diketahui semua oleh anaknya Kay see Kim kong, tahu bahwa harapan untuk menuntut balas sudah tidak ada lagi, maka satu-satunya hanya disimpan dalam hati tanpa mengeluarkan sepatah kata pun juga, ia masuk kedalam tidak keluar. 

Hoa chiu Hwa tho mengambil sedikit bahan obat, dipoleskan ketubuh Ho Hay Hong sambil diurut perlahan- lahan. Untuk pertama kalinya ia mengobati tangan musuhnya maka perasaannya sesungguhnya tidaklah enak baginya.

Sementara itu Tee soan hong juga sudah membabat jaring yang melibat tubuh gadis baju  ungu.  Setelah bebas kembali  gadis berbaju ungu itu buru-buru menghampiri Ho Hay Hong dan menghiburnya dengan kata-kata lemah lembut.

Dewa racun tikus menyaksikan semua itu dan sambil berpikir: "Beng-cu yang baru diangkat ini romannya tampan, bakatnya juga baik, dia memang seorang yang mempunyai bakat paling baik untuk menjadi seorang gagah, hanya usianya yang masih begitu muda muda, apakah ia dapat mengendalikan semua anak buahnya? Apakah ia dapat memegang kewajibannya dengan baik?"

Dengan mendadak Hoa chiu Hw a tho berkata.

"Luka Bengcu sangat berat, aku sebetulnya masih yakin dapat menyembuhkan lukanya, tetapi sayang sekarang ini masih kurang serupa obat. Dengan tidak adanya obat itu, aku t idak berdaya sama sekali. Saudara bukan aku tidak mau mengeluarkan tenaga mungkin ini adalah takdir."

Dengan mata mendelik Dewa racun tikus berkata.

"Hoa chiu Hw a tho, apa kau pikir hendak main gila?" "Saudara, aku sudah berbuat sebisa-bisanya, tetapi

kenyataannya memang begitu, ini bukan tenaga manusia yang dapat menyembuhkannya. Jikalau kau  tidak percaya kau boleh bunuh mati aku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar itu gadis baju ungu terkejut dan lantas menyelak.

"Kurang obat apa? Katakanlah !" Gad is itu nampaknya sangat bingung, sehingga mengherankan si Dewa Racun Tikus, dalam hatinya bertanya-tanya kepada diri sendiri: Gadis cantik ini pernah apa dengannya? Mengapa demikian besar pengertiannya? apakah istrinya ?"

Hoa chiu Hwa teh dengan  sinar  mata dingin mengaw asi padanya, lalu menjawab:

"Obat ini sangat berharga dan jarang ada, kuceritakan juga tak bisa berbuat apa-apa. Obat itu berupa liurnya naga yang sudah berusia ribuan tahun, dalam ilmu obat batas liur itu dinamakan Liong yan hiang!"

"Benarkah kau t idak menyimpan obat itu?" tanya Tee soan hong dingin.

Dengan tiba-tiba mata gadis berbaju ungu itu mengembang air, berkata kepada Ho Hay Hong dengan suara pelahan:

"Ho koko, benarkah kau hendak berpisah denganku untuk selama lamanya?"

"Aku selamanya tidak suka membohongi, kalau tidak percaya kau boleh geledah!" berkata Hoa chiu Hwa tho marah.

Tee soan hong benar-benar membuka peti Hoa chiu Hwa tho dengan ujung pedangnya, ramuan-ramuan obat didalam peti dikorek-korek sehingga berantakan ditanah.

Sementara itu Hoa chiu Hwa Tho tak bisa berbuat apa-apa mengaw asi perbuatan itu dengan hati mendongkol.

Tak lama kemudian, Tee soan hong berkata dengan marah:

"Tak ada ya sudah. Jalan, biarlah aku yang pergi mencari obat itu." Gadis berbaju ungu itu sungguh tidak menduga Tee soan hong demikian besar perhatiannya terhadap diri Ho Hay Hong, dalam hatinya berpikir dan bertanya kepada diri sendiri: "Apakah dia sudah mengerti segala-galanya bahwa Ho koko itu adalah."

Si Dewa Racun Tikus dengan hati murung berkata kepada Ho Hay Hong sambil memberi hormat:

"Bengcu urusan ini kita tidak bisa berbuat  apa-apa, aku harus minta diri lebih dahulu, semoga Tuhan selalu beserta kamu."

Ia menarik napas panjang, dengan langkah kaki sempoyongan berjalan keluar meninggalkan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong meskipun mulutnya diam saja, tetapi dalam hatinya diam-diam merasa lega. Karena obat yang dibutuhkan itu, banyak sekali dimiliki gadis  kaki telanjang, untuk mendapatkan obat itu baginya bukan merupakan soal susah.

Karena ada harapan hidup, perasaannya yang mulai gembira, ia berkata kepada Tee soan hong.

"Tee soan hong. terima kasih atas semua bantuanmu adik, marilah kita melanjutkan perjalanan keselatan."

Selagi hendak meninggalkan rumah itu, ia terkejut menyaksikan sikap Tee soan hong yang mengaw asi tanda rajah lukisan dilengannya.

Gadis berbaju ungu itu buru-buru menarik ujung bajunya dan berkata dengan suara pelahan:

"Ho koko, mari kita lekas jalan, jangan sampai terjebak oleh akal busuknya Hoa chi Hwa tho lagi." Ho Hay Hong diam-diam memperhatikan sikap dan gerak-gerik Tee soan hong, sebetulnya ingin berhenti sebentar, tetapi sudah dipisah oleh gadis berbaju ungu, maka terpaksa meninggalkan rumah itu.

Sementara itu Tee soan hong berdiri di dalam kamar dengan perasaan mendelu, pada saat itu mungkin pikirannya sedang memikirkan masa lampau yang menyedihkan, wajahnya tampak diliputi oleh perasaan duka, air matanya mengalir keluar.

Ho Hay Hong yang baru berjalan beberapa langkah ketika menoleh dan menyaksikan keadaan Tee  soan hong hatinya semakin heran. Selagi hendak menanya tangannya sudah ditarik oleh gadis berbaju ungu.

Tanpa berkata apa apa sigadis memberi isyarat kepada Ho Hay Hong naik kuda. kemudian ia sendiri juga naik dan kaburkan kudanya dengan cepat kuda itu dilarikan menuju ke kota.

"Kau hendak kemana?" tanya Ho Hay Hong. "Selatan!" jawab gadis itu sigap.  "Benarkah kau

hendak ikut pergi?" "Mengapa tidak ?"

Ho Hay Hong bungkam, sementara otaknya berpikir:

Maksudmu ke selatan tidak lain hanya hendak menjumpai dia, untuk minta obat Liong yan hiang? Jikalau kau ikut, bukankah menyulitkan dirimu ?"

Mendadak ia dapat satu akal, katanya:

"Didaerah selatan keadaan rimba persilatan sangat ruwet, tidak dapat dibandingkan dengan daerah utara. Kau belum mempunyai pengalaman sedikitpun juga tanpa sadar kita mungkin bisa terjebak akal busuk kawanan bangsat, aku pikir sebaiknya kau jangan ikut saja!"

"Ada kau disampingku, apapun aku tidak takut!"

Ho Hay Hong tidak bisa berbuat apa-apa, hanya dalam hatinya mengeluh.

"Apa kau sedikitpun tidak memikirkan kongkongmu yang sudah tua? Ia hidup seorang diri, perlu ada orang yang meraw ati dikampungnya. Kau harus tahu bahwa perjalananku ini belum diketahui masih bisa hidup atau tidak, apabila mati di selatan, kau seorang diri tanpa sanak saudara bagaimanapun juga aku merasa berat, sebaiknya."

Belum habis ucapannya sudah menimbulkan kecurigaan gadis itu, ia menghentikan kudanya dan bertanya dengan heran:

"Ho koko kalau aku menyatakan hendak ikut keselatan kau lantas mengajukan banyak soal supaya aku jangan ikuti. Sebetulnya kau ada urusan apa yang perlu harus mengelabui mataku? Mengapa kau rupanya t idak senang kalau aku ikut kau."

Ho Hay Hong tidak bisa berkata apa-apa, lama baru menjawab:

"Adikku, kau jangan salah paham, aku hanya  takut kau mendapat kesulitan dijalan."

"Aku rela menderita, mengapa tidak boleh?"

Namun demikian, dalam hatinya sangat resah, ia mengalihkan pembicaraannya ke soal lain, lantas tidak menyebut-nyebut lagi persoalan itu. Setelah perjalanan mereka mulai memasuki daerah selatan, hawa udara tidak sedingin seperti di utara, tetapi karena dua orang itu masing-masing ada urusannya sendiri, maka sepanjang jalan tidak banyak yang dibicarakan.

Ho Hay Hong mendadak ingat sesuatu, Ia berkata:

"Aku pikir Tee soan hong Tok Bu Gou pasti bukan seorang she Tok, nama Tok Bu Gouw itu aku duga pasti adalah nama samaran. Apa kau tidak dengar diwaktu ia sedang bicara tanpa disengaja sudah menyebutkan dirinya sendiri orang she Ho, aku kira nama sebetulnya tentu orang she Ho!"

"Kau ini benar-benar sangat aneh, usiamu sendiri masih belum terang. sudah mengurusi urusan orang lain. Aku heran selagi menghadapi bahaya maut, kau masih mempunyai pikiran semacam itu, memikirkan diri orang lain

"Apa maksudnya perkataan ini? Aku tidak mengerti!" "Kau masih hendak tanya orang lain, lantaran

urusanmu, hatinya bingung tidak karuan, sedang kau sendiri."

Ho Hay Hong melihat sikap gadis itu nampak murung, tidak berani bicara lagi.

Dua muda mudi itu setiap hari melakukan perjalanan tanpa kenal siang atau malam, mereka hanya berhenti jikalau hendak makan. Maka pada hari ketiga diwaktu pagi mereka sudah tiba dikota Kay hong.

Kota itu merupakan kota dagang yang penting bagi daerah utara dan selatan, kira-kira enam puluh pal dari kota itu, disitulah letaknya Kampung Setan yang terkenal angker dan hampir diketahui oleh semua penduduk daerah tengah.

Ho Hay Hong meskipun melakukan perjalanan jauh dan belum makan, tetapi ia tak merasa letih, apalagi Kampung Setan sudah berada didepan matanya. Terdorong oleh semangatnya yang menyala-nyala sehingga lupa semua keletihan dan kelaparan.

Tetapi, tidak demikian dengan keadaan sigadis, kesedihan dan keletihan selama beberapa hari itu, membuatnya yang biasa hidup senang dan dimanja, badannya nampak banyak kurus.

Ho Hay Hong khaw atir kesehatan gadis itu terganggu, maka ia t idak melanjutkan perjalanannya, mencari rumah penginapan untuk beristirahat dulu.

-ooo0dw0ooo-