Rahasia Kampung Setan Jilid 18

 
Jilid 18

KARENA gerakan tangan Ho Hay Hong itu mengandung hembusan angin demikian hebat, delapan orang dari pasukan angin puyuh yang setiap orang sudah merupakan orang-orang yang banyak pengetahuan dan pengalaman, tidak berani mendekati anak muda itu, semua lompat mundur dan membatalkan maksudnya hendak menangkap.

Ho Hay Hong dengan hawa amarah yang sudah meluap, telah berkata dengan suara keras sambil menuding orang tua kurus kering:

"Kau sebetulnya berani mengeluarkan benda dalam sakumu untuk diperlihatkan pada orang banyak atau tidak?"

"Jikalau barang yang kukeluarkan dari dalam sakuku tidak cukup untuk membuktikan kesalahanku, bocah, kau mau apa lagi." berkata orang tua kurus kering itu sambil tertaw a dingin.

"Kalau memang begitu, aku akan mengutungi kedua tanganku sendiri sebagai hukuman rumah tangga!"

Tindakan dari perkataan Ho Hay Hong itu, sangat menarik semua perhatian orang, It Jie Hui kiam berkata dengar suara gusar:

"Hay Hong, apakah kau sudah gila?" Hud sim Totiang lantas bangkit dan berkata:

"Hay Hong berani berbuat dan mengeluarkan perkataan demikian, pasti mengetahui benar sebab musababnya, aku bersedia menjadi wasit antara kalian berdua!"

Orang tua kurus kering itu lantas berkata: "Baik, begitulah kita tetapkan."

Sehabis  berkata, ia  lalu mengeluarkan semua isi

barang dalam sakunya, diletakkan diatas meja.

Pada waktu itu, semua orang pada berdiri dengan mata ditujukan keatas meja, barang-barang itu hanya terdiri dari barang yang tak berarti, antaranya sepotong sapu tangan, tiga tail uang perak recehan, sebuah cermin kecil dan sebungkus obat bubuk tetapi tidak ada tanda perint ah Ngo jiauw leng.

Ho Hay Hong yang menyaksikan itu agak terkejut, ia bertanya kepada diri sendiri apakah tanda perint ah itu sudah disembunyikan?

Hudsim Totiang yang bertindak sebagai wasit, saat itu juga mengulurkan tangannya merogoh kedalam saku orang tua itu, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala: "Kecuali barang-barang in i, sudah tidak ada barang lain. Hay Hong coba kau ceritakan apa yang telah kau lihat!"

Orang tua kurus kering itu berkata: "Sekarang katakanlah, barang yang mana yang kau anggap merupakan bukti kesalahanku? Jikalau kau tidak menjelaskan duduk perkaranya, kau harus menepati janjimu mengutungi sepasang lenganmu sendiri!" Pada waktu itu, keadaan mendadak berubah besar, Ho Hay Hong yang menganggap akan dapat membuktikan kesalahan orang tua itu, sekarang berbalik tidak menguntungkan pihaknya sendiri, sebagai tanda perintah Ngojiauw ling tidak terdapat dalam saku orang tua itu. Maka ia lantas berpikir:

"Apakah Kay see Kim kong belum mengembalikan padanya? Tidak mungkin, aku telah menyaksikan sendiri Kay see Kim kong diam-diam sudah mengembalikan tanda itu. tetapi mengapa sekarang tidak ada?"

It Jie Hui kiam agaknya dapat memahami maksud Ho Hay Hong, diam-diam ia merasa sedih, karena satu- satunya cucu yang diharapkan akan mengangkat nama baiknya, sekarang telah menghadapi kesulitan, sebentar lagi akan kehilangan dua tangannya.

Orang-orang rimba penilaian selalu menghargai dan menjunjung tinggi kepercayaan, setiap ucapan yang sudah dikeluarkan t idak boleh ditarik kembali, baikpun ia seorang yang berkedudukan tinggi, juga tidak boleh membela keluarganya yang salah dihadapan orang banyak.

Sementara  itu orang tua kurus  kering itu terus mendesak dengan kata-katanya:

"Lekas jawab, jikalau tidak kau harus lekas buntungi lengan tanganmu sendiri!"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: "Jika aku melanggar janji, pasti akan membuat nama baik kakekku tercemar."

Oleh karena berpikir demikian maka ia lantas berkata dengan tegas. "Baik, hari ini aku jatuh ditanganmu, hitung-hitung nasibku yang sial, tetapi kau juga jangan merata bangga lebih dulu, kau harus tahu bahwa kalau kau menghendaki orang lain tidak tahu perbuatanmu, janganlah kau berbuat. Mengenai kedokmu cepat atau lambat pasti akan terbuka!"

Ho Hay Hong sudah menghunus pedangnya, pedang itu sudah akan digunakan untuk menebas lehernya sendiri, dengan tiba tiba, salah seorang dari tiga kakek tua mendadak mengeluarkan suara jeritan, kemudian jatuh roboh ditanah.

Ketika semua mata orang-orang yang disitu dengan heran dialihkan kepadanya, orang itu ternyata sudah binasa dengan mengeluarkan banyak darah dari lubang telinga, hidung dan mulut.

Kejadian itu menggemparkan semua tamu It Jie Hui kiam, mereka tidak tahu apa sebabnya orang itu mati mendadak dengan mengeluarkan banyak darah?

Ho Hay Hong berseru dengan suara keras: "Itu adalah akibat dari racun dalam teh."

Mendengar perkataan itu, wajah semua orang

berubah, air teh dalam cangkir yang di pegangnya dilemparkan kelantai, Hud sim To tiang dengan cepat bergerak berada diambang pintu seraya berkata:

"Lotee, benarkah kau sudah menaruh racun didalam teh?"

Pada saat itu salah seorang yang berdiri didekat dinding tembok sebelah timur juga jatuh binasa dalam keadaan serupa, kejadian itu telah disusul lagi oleh yang lainnya.

Serentetan kejadian itu sudah cukup jelas untuk membuktikan kejahatan orang tua kurus kering itu, karena orang-orang yang berada disitu adalah orang- orang dari tokoh rimba persilatan yang masing-masing mempunyai nama baik, sudah tentu sangat marah maka dengan serta merta menatap orang tua itu.

Orang tua itu sedikitpun tidak takut, bahkan masih berani berkata sambil tertaw a dingin:

"Kay see Kim kong sebentar akan datang kalian semua sudah seperti ikan dalam jala, mengapa perlu banyak mulut menanya kepadaku"

Ho Hay Hong sangat marah, dengan cepat tangannya bergerak menyerang padanya.

It-jie Hui kiam takut cucunya tidak sanggup melawan orang tua itu, maka lantas berkata:

"Ho Hay Hong jangan gegabah, biarlah pasukan angin puyuh yang turun tangan!"

Khong Lip yang menjadi ketua barisan Angin puyuh lantas bergerak, dengan beruntun ia mengirim dua kali serangan dengan tinjunya, orang tua kurus kering itu memperdengarkan suara dihidung tangannya yang kurus di tekuk sedikit, kemudian menangkis serangan itu, dilain pihak Khong Lip mendadak mundur dua langkah.

Orang tua kurus kering itu berdiri di tengah-tengah kurungan orang banyak, tetapi sikapnya t idak berubah, ia berkata dengan nada suara dingin: "Siapa yang berlaku tidak sopan lebih dulu terhadapku, Kay see Kim kong akan mengambil jiwanya lebih dulu!"

It Jie Hui kiam sangat marah, ia berkata: "Kong Cie, aku selalu anggap kau sebagai orang yang jujur dan setia, tidak kusangka kau adalah seorang penghianat!"

"Tua bangka kau boleh sesalkan matamu sendiri yang sudah lamur, tidak setajam si anjing kecil itu!" berkata orang tua itu sambil tertawa dingin.

Mendadak dibelakang dirinya terdengar suara siulan, orang tua kurus kering itu wajahnya berubah seketika, ketika kepalanya menoleh kebelakang, tampak olehnya mata Ho Hay Hong berapi-api, membuat suatu posisi yang agak aneh bentaknya.

Ho Hay Hong dalam keadaan marah sudah timbul nafsunya hendak membunuh orang tua itu posisi kuda kuda yang dipertunjukkan itu merupakan pembukaan dari gerak tipu ilmu silat garuda sakti. Dalam gerak tipu garuda sakti yang terdiri dari lima macam perubahan, hanya gerak tipu yang pertama yang memperagakan bentuk kuda-kuda yang berdiri di atas tanah menghadapi musuhnya.

Empat gerak tipu yang lainnya, semua dilakukan dengan tubuh melayang ditengah udara, menyerang sambil menukik. Oleh karena itu orang tua kurus kering itu sama sekali belum tahu bahaya maut sudah berada dihadapan matanya, ia masih berani buka mulut besar.

"Anjing kecil yang tidak tahu diri, aku aku akan suruh kau lebih dulu merasakan tanganku !" Dengan mendadak Ia mengulurkan tangannya, tapi disetengah jalan dua jari tangan mendadak menyentil keatas menotok jalan darah penting Ho Hay Hong!

Ho Hay Hong sedikitpun t idak bergerak, ia menunggu sampai jari tangan itu tiba dibadannya tinggal jarak tiga dim saja, tangannya melingkar dengan tiba-tiba. Gerakan tangan itu menimbulkan serangan yang sangat hebat, hingga mengejutkan orang tua itu.

Sebab gerak tipu pembalasan yang nampaknya sangat sederhana itu, bukan saja sudah berhasil menutup serangannya sendiri, tetapi juga membuat dirinya tidak bisa menarik kembali serangannya lagi.

Ini berarti sudah meletakkan dia kesuatu sudut dan yang tidak berapa. Walaupun sudah beberapa puluh tahun ia hidup didunia Kangouw dan pengalaman dalam pertempuran, tetapi masih merasa tidak sanggup memecahkan serangan yang aneh itu.

Dalam keadaan tidak berdaya maka siulan itu terdengar pula, tetapi kali ini agak nyaring melengking ditengah udara, ia masih belum tahu apa  sebetulnya yang telah terjadi, dan tidak tahu bagaimana lawannya yang masih sangat muda itu bergerak, badannya sudah merasa sakit, dan kemudian jatuh menggeletak di tanah.

Ho Hay Hong maju selangkah, dengan jari tangannya ia menotok jalan darah kematian diatas tubuhnya, orang tua kurus kering itu hanya mengeluarkan suara keluhan tertahan, jiw anya sudah melayang.

Hud sim Totiang hendak mencegah tetapi sudah t idak keburu, ia hanya bisa menghela napas panjang saja. Kepala pasukan Angin puyuh Khong Lip, mengundurkan diri dengan perasaan malu, sebab ia belum berhasil mendekati musuhnya, tapi musuh itu sudah binasa di tangan Ho Hay Hong.

Dengan kepandaian yang dimainkan oleh Ho Hay Hong itu, semua orang dengan cepat berubah pandangan terhadap dirinya. Ia tidak lagi dianggap sebagai satu anak muda yang tidak tahu apa-apa.

Sementara itu It Jie Hui kiam sendiri juga terheran- heran, orang tidak tahu bagaimana perasaan orang tua pada saat itu, karena sekian lama ia tidak bisa berkata apa-apa.

Ho Hay Hong lalu berkata:

"Dia adalah salah seorang kepercayaan Bengcu rimba hijau enam propinsi daerah utara yang dahulu, sebab Bengcu yang dahulu sudah jatuh ditangan tuan-tuan sehingga kehilangan kedudukannya ia lalu menggunakan cara yang licik dan rendah hendak membasmi tuan- tuan.”

Setelah itu mendadak ia ingat tanda perint ah Ngo jiauw leng, maka lalu mengadakan penggeledahan dibadan orang tua itu, kosong tidak terdapat barang apa- apa lagi.

Ia semula mencurigakan diri Hud sim Totiang, dianggapnya membantu pihak orang tua itu, tetapi setelah digeledahnya sendiri, baru tahu bahwa dugaan sendiri itu keliru.

Ia memeriksa lagi dengan sangat hati-hati, dibagian pinggangnya ia meraba benda yang sangat keras, maka diam-diam merasa girang, karena barang itu ternyata disembunyikan didalam lapisan baju.

Selagi hendak mengeluarkan benda itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa nyaring, suara itu mengejutkan semua yang ada disitu tak lama kemudian, terdengar pula suara kata-katanya. "Bengcu rimba hijau daerah utara, Kay see Kim kong bersama anak buahnya telah datang untuk menjumpai It Jie Hui kiam locianpwee!"

It Jie Hui kiam bangkit dari tempat duduknya dan berkata sambil tertaw a terbahak-bahak:

"Siapa yang datang adalah tetamu, tuan-tuan mari lekas keluar menyambut padanya!"

Setiap orang dengan wajah serius berjalan keluar.

Kay see Kim kong memberi hormat dan berkata sambil tertaw a:

"Mari, mari, aku perkenalkan kepada tuan-tuan sekalian, saudara in i adalah Ciang-cin Thian cing."

Tangannya menunjuk seorang tua berbaju kuning yang hidungnya bengkok dan sinar matanya tajam.

Orang tua berbaju kuning itu lantas berkata sambil memberi hormat:

"Sudah lama aku mendengar nama besar It Jie Hui kiam, hari ini setelah bertemu muka, benar saja keadaanmu masih tak ubah semasa mudamu."

Kay see Kim kong berkata pula sambil menunjuk seorang tua yang alisnya tajam dan jidanya lebar. "Saudara in i adalah pembantuku yang penting, sahabat-sahabatnya memberikan nama gelar padanya Bambu hijau."

Kemudian ia perkenalkan si Bambu hijau kepada It Jie Hui kiam.

Bambu hijau memberi hormat dengan kata katanya yang memuji kepada It Jie Hui kiam.

Kay see Kim kong menunjuk lagi kepada beberapa orang seraya berkata.

"Saudara in i adalah Koan lok Sie gee, ini adalah Sutee Ciang thian Oh Gw at Seng, ini adalah Ciok bing sianseng, ini adalah Cee pek Ong jin, ini adalah si jago Pemabokan dia pun, ini adalah tiga serangkai dari keluarga Sin ini adalah Ban jin Siusu, ini adalah Toat hun Sie seng. setiap kali tangannya menunjuk satu orang, orang yang ditunjuk itu mengangkat tangan memberi hormat. Meskipun dua pihak merupakan musuh, tetapi saat itu diluarnya masih menunjukan sikap sangat menghormat dan ramah tamah.

Orang-orang dari pihak It Jie Hui kiam sangat terkejut mendengar nama-nama yang disebut oleh Kay see Kim kong, karena orang-orang itu semuanya merupakan orang-orang yang namanya sudah terkenal dalam golongan hitam didaerah utara.

Orang-orang itu diwaktu biasa sangat susah untuk dijumpai, tetapi kini telah muncul semuanya, jelaslah sudah bahwa Kay-see Kim kong sudah bertekad hendak membasmi pengaruh It Jie Hui kiam.

Tidak kecewa It Jie Hui kiam sebagai seorang jago kenamaan dan seorang pemimpin dari satu perkumpulan yang berpengaruh di daerah utara, meskipun dikitari oleh musuh-musuh yang sangat tangguh, ia masih berlaku tenang.

Setelah Kay see Kim kong selesai memperkenalkan orang-orangnya, ia lalu balas memperkenalkan orang- orang dipihaknya sendiri.

Pe rtama ia menunjuk imam yang berdiri disisinya dan berkata:

"Ini adalah Hud sim Totiang dari Ceng shia-pay, ini adalah si kepalan besi Ciam Sie, ini adalah murid kepala Oey touw Lo hud Pek ie Mo lek, ini adalah murid ketua Khong tong pay Cian hoa jin, in i adalah pemimpin rumah perguruan Eng hiong koan di Ho siok Kim Ciang Tayhiap, ini adalah Ciok tee Ko sim poei Touw,  ini  adalah anggauta pasukan Angin puyuh, ini adalah muridku yang tidak berguna, dan ini...”

Ketika matanya melihat Ho Hay Hong yang berdiri dibelakang orang banyak sambil memondong mayat orang tua kurus kering wajahnya berubah seketika. Dan katanya:

"Dia adalah cucu luarku, namanya Ho Hay Hong!"

Kay see Kim kong baru hendak membuka  mulut, ketika menampak mayat orang tua kurus kering dalam pondongan Ho Hay Hong, sikapnya mendadak berubah ia berkata sambil menunjuk Ho Hay Hong.

"Dia adalah cucu luar enghiong?"

"Benar, ada keperluan apa dengannya?" kata It Jie Hui kiam.

"Orang yang berada dalam pondongannya?" "Dia adalah penghianat dalam rumahku, dan menggunakan kesempatan selagi semua orang sibuk diam-diam telah meracuni persaudaraan keluarga Teng dan Co siang hui bertiga, hingga aku hukum mati padanya!"

Ho Hay Hong berkata dengan suara keras:

"Ho Hay Hong, seorang lelaki berani berbuat juga berani tanggung jawab. Kau harus berani mengakui bahwa perbuatan itu adalah atas perint ahmu."

Hud sim Totiang juga berkata.

"Tuan datang dengan demikian banyak pembantu, apakah hendak mencari kerewelan dengan Lo enghiong?"

"Tindakan Lo enghiong yang sewenang-wenang, telah membuat kita tidak berdaya melanjutkan kehidupan kita. Maka aku Hong-Lan Hiang terpaksa turun tangan mencampuri urusan in i!" jawab Kay see Kimkong sambil tertaw a dingin.

"Kalau begitu t idak perlu banyak bicara, kau sebutkan saja cara penyelesaiannya." berkata It Jie Hui kiam.

Dari rombongan Kay see Kim kong, Ciang ci thian ceng Baju menghampiri seraya berkata:

"Aku yang rendah seorang yang tidak berguna, ingin minta pelajaran ilmu kepandaian Lo enghiong yang tidak diwariskan kepada siapa pun juga."

Kepala rombongan pasukan Angin puyuh Khong Lip dari belakang dirinya mengambil sebuah perisai perak dan sebilah pedang panjang berkilauan, dengan sikap sangat hormat diberikan kepada It Jie Hui kiam. Tetapi It Jie Hui Kiam sebagai seorang pemimpin yang tidak mau menurunkan gengsinya, lantas bertanya kepada orang-orang pihaknya sendiri:

"Siapakah diantara saudara yang sudi melayani Ciang- cin Thianceng main-main beberapa jurus saja?"

Pek ie Mo lek segera maju keluar dan berkata sambil memberi hormat:

"Sudah lama aku mendengar nama besar tuan, boan seng yang tidak berguna dengan memberanikan diri untuk menemani tuan main-main beberapa jurus saja!"

Kepandaian ilmu silat murid Oey touw Lo hud ini sebetulnya sudah mencapai taraf yang tertinggi, terutama ilmunya Pek hui lee Sin keng, sudah amat sangat terkenal dalam rimba persilatan daerah utara.

Ciang cin Thian ceng t idak berani berlaku gegabah, ia telah melakukan gerakan sedikit, dengan mendadak tangannya melancarkan satu serangan, sedang dari mulutnya tercetus satu bentakan keras: "Tayhiap awas aku mulai lebih dulu?"

Dengan tangan kiri Pek ie Mo lek menutup serangan itu, lalu di susul oleh serangan dengan dari kakinya.

Ciang cin Thian ceng diam-diam terkejut, babak pertama lawannya sudah menyerang bagian bawah, apakah ia sudah tahu bahwa bagian bawah Ciang cin Thian ceng merupakan bagian yang paling lemah?

Dalam keadaan terheran-heran. Ciang-cin Thian ceng lompat melesat setinggi satu tombak lebih, menghindarkan serangan kaki itu, Sebagai seorang tokoh persilatan yang terkenal dengan serangan tangan geledek, kembali menggunakan tangan kosong menyerang musuhnya.

Tetapi serangannya kali in i juga dapat lelakon oleh Pek ie Mo-lek dengan gaya yang sangat tegas.

Selanjutnya, dua lawan itu bertempur sengit dalam ruangan yang luas.

Kay see Kim kong melirik kepada para pembantunya, Suat Cee Ciang thiam dan Ciok beng Sianseng lantas lompat keluar dan berkata dengan suara keras:

"Siapa yang hendak bertanding dengan kita berdua ?"

Sikepalan sakti Ciam Sie keluar dari rombongannya menghampiri dua orang yang jumaw a itu seraya berkata:

"Aku Ciam Sie sudah lama tidak berlatih, tulang tulangku rasanya sudah pada karatan, jika kalian tidak keberatan, salah satu diantara kalian boleh main-main denganku!"

Sebelum pihak lawannya menjawab, Kim ciang Tayhiap sudah lompat keluar dan berkata:

"Saudara Ciam jangan terburu napsu, mari kita bagi, seorang lawan satu !"

Suat tee Ciang thian maju menghampiri Ciam Sie, sedangkan Ciok beng Sianseng tanpa banyak bicara, sudah menyerang Kim-ciang Tayhiap dengan senjata kipasnya.

Dua pasang musuh itu segera bertempur sengit.

Kay see Kim kong mengandalkan jumlah orangnya yang banyak, kembali memberi isyarat dengan lirikan mata kepada Cee pak Ong jin dan si Pemabukan Tiat Pun. Dua orang itu mengerti, dengan beruntun lompat kedalam kalangan dan menantang kepada musuhnya.

Murid dari partay Khong tong pay Cian hoa jin segera keluar dan berkata pada si Pemabuk sambil tertaw a dingin:

"Pemabukan Tiat Pun, apakah kau masih kenali diriku?"

Si Pemabukan memandang Cian hoa jin sejenak, wajahnya mendadak berubah, katanya dengan suara gemas:

"Oh, kiranya kau sibocah ini juga ada disini, heh heh! Sungguh kebetulan, tuan besarmu hendak menagih hutang serangan pecutmu pada tahun yang lalu!"

Sehabis berkata, dengan secara kalap menyerang Ciam hoa jin.

Dengan cepat Ciam hoa jin sudah mengeluarkan senjata pecutnya yang lemas, diputar keatas, sehingga mengeluarkan suara tar, tar yang amat nyaring.

Si Pemabukan terkejut dan merandak ia agaknya masih ingat kekalahannya pada tahun yang lalu, pikirannya mulai goncang.

Kay see Kim kong mengerti bahwa si Pemabukan itu merasa jeri, maka lantas membentak padanya dengan suara keras:

"Tiat Pun kau berani mencemarkan nama baikku, hah?"

Tiat Pun ketakutan, dengan secara nekad dan tidak menghiraukan jiw anya sendiri, melakukan serangan membabi buta kepada lawannya. Cian hoa-jin perdengarkan beberapa kali suara dingin, pecutnya dikedut berulang-ulang sehingga Tiat Pun harus berputaran bagaikan gasing untuk mengelakkan serangan pecut yang hebat itu.

Ciok tee Kouw sim menghampiri Cee pak Ong jin dengan tindakan lebar, dua musuh itu masih menggunakan tata tertib kesopanan lebih dulu saling memberi hormat dengan menyoja, barulah saling menyerang.

Sementara itu, Kay see Kim kong sudah berkata lalu kepada Koan lok Sie gee

"Koan lok Sie gee. kalian berempat sudah mengikuti aku banyak tahun, selama itu belum pernah mendirikan pahala apa-apa, sekarang in i adalah saatnya bagi kalian untuk mengeluarkan semua kepandaian kalian!"

Koan lok Sie gee menganggukkan kepala, berempat menghampiri It Jie Hui-kiam.

Empat orang itu adanya sombong, seolah-olah sudah tidak ada orang yang lebih kuat lagi. Mereka hendak mendirikan pahala besar, maka menghampiri It Jie Hui kiam.

Dalam hati mereka, apabila berhasil menangkap hidup atau membinasakan It Jie Hui kiam, yang menjadi pemimpin dari pasukan Angin puyuh, jasa itu lebih besar dari pada merubuhkan satu diantara pembantunya.

Tetapi mereka sudah lupa bahwa lawannya itu adalah orang tingkatan tua yang namanya sudah terkenal didaerah utara, jadi bukan seorang lawan sembarangan. Bagi It Jie Hui kiam  yang harus pertahankan gengsinya, sudah tentu tidak mau meladeni segala manusia rendah begituan, maka lantas memberi isyarat kepada empat muridnya untuk melawan.

Tiga serangkai dari pihaknya Kay see Kim kong, yang sudah tahu tidak dapat menghindarkan diri dalam pertempuran hebat itu, juga lantas lompat keluar dan bersuara dengan suara keras:

"Siapa sudi melayani kita bertiga saudara ?"

It Jie Hui kiam melihat bahwa  dipihak  musuhnya masih ada Bun ciu Siu an, Toat-hun Sie seng dan sepuluh lebih tokoh-tokoh rimba hijau yang belum keluar, sedangkan dipihaknya sendiri kecuali delapan pasukan Angin puyuh, Hudsim Totiang, Ho Hay Hong dan ia sendiri, sudah tidak ada orang lain lagi.

Maka saat itu ia tidak bisa lantas mengambil putusan untuk memilih orangnya yang harus melawan tiga serangkai itu.

Dengan tidak bicara apa-apa Hud sim Totiang bertindak keluar dan berkata:

"Mari, mari. aku merasa tidak enak berdiri menganggur saja biarlah menemani kalian main-main beberapa jurus!"

Tiga serangkai keluarga Sin meskipun sudah tahu bahwa imam tua itu adalah tokoh senior satu dari partay Ceng shia pay, sekali pun dipihaknya sendiri ada tiga orang yang akan maju berbareng, juga belum tentu bisa mendapat kemenangan. Tetapi mereka sudah terlanjur menantang, sudah tentu tidak bisa mundur begitu saja, terpaksa dengan mengeraskan kepala, masing-masing menghunus senjata yang membuat mereka terkenal, maju menyerang.

Kay see Kim kong sementara itu sudah mengeluarkan perint ah kepada dua belas pelindung pribadinya, supaya mengepung delapan pasukan Angin puyuh.

Dua belas laki-laki tegap yang berdiri dibelakang dirinya, dengan serentak bertindak keluar menghampiri delapan pasukan Angin puyuh.

Delapan pasukan angin puyuh itu tanpa menunggu perint ah pemimpinnya, sudah menghunus senjata masing-masing dan menyerang dua belas orang itu sehingga terjadilah pertempuran sengit delapan lawan dua belas!

Ho Hay Hong merasa bahwa dirinya seperti dianak tirikan, maka lantas maju dan menantang. "Siapa yang berani melawan aku?"

It Jie Hui kiam buru-buru membentak. "Hay Hong, kembali !"

Tapi pada saat itu, dari pihak musuhnya sudah maju menghampiri empat laki-laki berbaju ungu, maka Ho Hay Hong lalu menjawab kakeknya:

"Biarlah aku turut menyumbangkan sedikit tenaga."

Nampak sikapnya yang sungguh-sungguh, sang kakek terpaksa meluluskan keinginannya seraya berkata:

"Kau harus berlaku hati-hati, mereka semua adalah orang-orang yang ganas dan kejam."

Ho Hay Hong mengangguk dan berkata. "Harap kongkong jangan khawatir. Ho Hay Hong tidak akan mengecewakan kau!"

Dengan tiba-tiba ia menggerakkan kepalan tangannya, dengan menggunakan salah satu gerak tipu dari ilmu Khun-hap Sam-kay yang dinamakan langsung menyerbu ke lawan menyerang orang yang menjadi kepala dari rombongan empat orang itu.

Kekuatan tenaga dalamnya yang sudah mendapat kemajuan sangat pesat, ditambah lagi dengan pengaruh ilmu silat garuda sakti, hingga kekuatan itu semakin sempurna.

Tidaklah mengherankan kalau musuhnya itu menangkis dengan kepalan tangannya, tiba-tiba terpental mundur.

Bukanlah kepalang terkejutnya Kay see Kim kong yang menyaksikan kejadian itu, dalam hatinya berpikir: "bocah ini usianya masih mula belia, nampaknya juga sangat sederhana, mengapa memiliki kekuatan tenaga demikian hebat, apakah ia sudah mendapat warisan tua bangka itu?

Saat itu, Ho Hay Hong kembali sudah menggerakkan tangannya, menyerang empat musuhnya secara berbareng dengan kekuatan yang lebih hebat.

Pandangan Kay see Kim kong terhadap Ho Hay Hong sesaat lantas berubah, pikirnya: "bocah ini usianya paling banter baru dua-puluh tahun, tetapi kekuatan tenaga dalamnya seperti seorang yang sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun, benarkah tua bangka itu berkepandaian sedemikian tinggi, sehingga dapat mendidik cucunya demikian rupa." Ia sebetulnya sudah akan turun ke gelanggang untuk melakukan pertempuran yang menentukan dengan It Jie Hui kiam, tetapi kini setelah menyaksikan pertempuran itu, perasaannya mulai bimbang, ia tidak berani berlaku gegabah lagi.

Dengan penuh perhatian yang menyaksikan jalannya pertempuran, terutama terhadap kepandaian Ho Hay Hong.

Mendadak Ho Hay Hong merubah gerak tipunya lagi, satu lengannya menekan bahu orang yang menjadi kepala dari empat orang itu, orang itu seketika juga lantas mengeluarkan jeritan ngeri, dengan badan sempoyongan ia mundur dan kemudian rubuh di tanah.

Kay see Kim kong benar-benar hampir tidak percaya kepada matanya sendiri, sebab orang itu terkenal dengan ilmu silatnya dari golongan keras, biasanya sudah kebal dengan senjata tajam, mengapa demikian mudah rubuh ditangan pemuda itu ?

Dengan cepat dihampirinya dan diperiksa luka- lukanya, ternyata tulang-tulang bagian bahu sudah remuk, hingga ia semakin terkejut dan terheran-heran.

Ditilik dari keadaan ini, jelaslah sudah bahwa bocah ini sudah memiliki kekuatan tenaga dari golongan orang kuat kelas satu, tapi mengapa ia belum pernah dengar namanya jago muda ini ?

Dipandangnya dengan penuh perhatian muka Ho Hay Hong, mendadak ia seperti pernah kenal dengan muka itu. agaknya sudah pernah bertemu muka dengannya, tapi entah di mana? Ia sudah tidak ingat lagi. Sementara itu Ho Hay Hong sudah melancarkan satu serangan lagi kembali satu korban telah jatuh, kali ini orang yang kena diserang sudah hancur bagian  dalamnya dan mati seketika itu juga.

Kaysee Kim kong kini tiba-tiba ingat bahwa bocah itu adalah sahabat anaknya sendiri, yang malah pertemuan itu pernah dilihatnya sedang bercakap-cakap dengan mesra bersama anaknya sendiri, ia tidak menduga sama sekali bahwa sahabat anaknya itu adalah cucu luar It Jie Hui kiam.

Mengingat akan itu, hawa amarahnya meluap, dadanya dirasakan mau meledak!

Bun jiu Sinsin yang menyaksikan dalam waktu sekejap Ho Hay Hong sudah merubuhkan dua lawannya dengan lantas lompat maju dan membentak dengan suara keras:

"Bocah, kau jangan bangga, aku hendak mengambil jiw amu!"

Tanpa banyak bicara, Ho Hay Hong menyambutnya dengan serangan telapak tangan yang menghembuskan sambaran angin hebat.

Dada Bu jin Siu sin seperti digenjot dengan palu besar, tanpa disadari sudah mengeluarkan seruan tertahan, mulutnya menyemburkan darah segar.

Ho Hay Hong maju tiga langkah dan berkata sambil menuding hidungnya:

"Mari, mari ! Berapa tinggi kepandaianmu, berani membentur aku?"

Bun jiu Siu sin mimpipun t idak menduga bahwa bocah ini memiliki kekuatan demikian hebat, dalam keadaan kaget dan ketakutan dan menahan rasa sakit di dadanya, ia tarik mundur dirinya.

Toat hun Sia su sebetulnya juga hendak menggunakan kesempatan itu untuk membinasakan Ho Hay Hang. tetapi setelah menampak Bu jin Sio su keadaannya demikian mengenaskan terpaksa membatalkan maksudnya, tidak berani buka suara lagi.

Dua lawan Ho Hay Hong yang masih hidup, sudah ketakutan setengah mati, buru-buru lompat mundur kebelakang Kay see Kim-kong.

Kay see Kim kong tidak memberi peringatan lebih dulu, tiba-tiba mengangkat tangannya menyerang Ho Hay Hong.

Kay see Kim kong yang  bertenaga  kuat  dari  pembaw aan alam, selama berkelana di dunia Kang ouw, barang siapa yang terpukul olehnya, setidak-tidaknya pasti terluka parah.

Ho Hay Hong yang tidak menduga sama sekali akan diserang secara pengecut, dalam keadaan tergesa-gesa menangkis dengan tangannya, tetapi tidak urung masih terpental mundur beberapa langkah.

"Kau adalah seorang Kang ouw yang sudah kesohor namanya. sungguh tak kusangka perbuatanmu demikian rendah. Heh. aku Ho Hay Hong t idak percaya, sekalipun orang-orang pada sohorkan kau mempunyai ilmu gaib, tetapi aku hendak mencobanya!"

It Jie Hui kiam lompat maju  dengan pedang terhunus di tangan, ia berkata kepada Ho Hay Hong:

"Hay Hong lekas mundur, disini tidak ada urusanmu!" Kemudian ia berkata kepada Kay see Kim kong:

"Kay see Kiam kong kau berani datang mengganggu rumah tanggaku, tentunya mengandalkan kepandaianmu yang tinggi, mari, mari, tulang-tulangku yang sudah tua ini biarlah kujajal padamu!"

Suara jeritan mengerikan mendadak terdengar sehingga memutuskan pembicaraan tadi. Ternyata Suat tee Ciang thiam sudah rubuh terlent ang dengan mulut menyemburkan darah, sedangkan lawannya, Ciam Sie berdiri dengan muka pucat lesu dan tangan menekan berat, jelas bahwa pertempuran antara mereka telah berkesudahan seri, dua-duanya dalam keadaan terluka !

Ho Hay Hong yang masih penasaran, tidak menghiraukan perint ah kakeknya, dengan satu tangan mendorong kakeknya, hingga It Jie Hui Kiam yang tidak terjaga juga lantas mundur selangkah.

Sementara itu Ho Hay Hong lantas berkata padanya dengan suara perlahan .

"Kongkong, kau sudah tua, beristirahatlah."

Tetapi It Jie Hui kiam yang terdorong mundur olehnya, disamping terkejut, ia lantas marah, bentaknya:

"Hay Hong, apakah artinya ini?"

"Usia Kongkong sudah terlalu lanjut, permainan yang sangat berbahaya ini harus cucumu yang melakukan. beristirahatlah dulu.”

Dengan alis berdiri It Jie Hui kiam berkata dengan suara bengis: "Haha, orang datang menghina, apakah aku It Jie Hai kiam harus menyerah mentah-mentah ? Kau anak-anak tahu apa ? Lekas mundur!"

Dengan langkah lebar Kay see Kim kong maju menghampiri dan berkata padanya:

"It Jie Hui kiam, tidak kecewa kau menjadi jago didaerah utara, dengan ucapanmu tadi, sudah cukup untuk menundukkan aku. Mari. mari! Marilah kita melakukan pertempuran yang memutuskan!"

Sebelum It Jie Hui kiam menjawab, Ho Hay Hong dengan satu gerakan manis yang dilakukan secara tiba- tiba, telah merebut perisai dan pedang dari tangan kakeknya, kemudian berkata kepada Kay see Kim kong dengan suara keras:

"Hong Lan Hiong, dengar! Aku adalah cucu luar, yang juga merupakan keturunan It Jie Hui kiam. kalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh coba-coba bertanding dengan aku dulu!"

Kay see Kim kang tertaw a terbahak-bahak dan berkata:

"Aku Kay see Kim kong mendapat nama dengan cara yang tidak mudah, bagaimana aku sudi terusak dibadanmu ? Haha, apalagi, aku menangkan kau juga berarti menghina satu anak anak, cuma cuma menjadi buah tertaw aan orang saja. Bocah, sekalipun kau mem punyai nyali cukup besar. tetapi sayang cita citamu t idak akan terlaksana, lebih baik kau minggir saja!"

Sementara itu, It Jie Hui kiam semakin marah, katanya: "Hay Hong, kau mau dengar perint ahku atau tidak?

Lekas jawab!"

Jago tua ini sudah marah benar-benar, ia sudah hendak menggunakan pengaruhnya untuk menundukan cucunya, tetapi semua anak buahnya termasuk delapan pasukan Angin puyuh sedang repot menghadapi musuh masing-masing, hingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Ho Hay Hong tidak menghiraukan kemarahan kakeknya, dengan pedangnya menyerang Kay see Kimkong.

Kay see Kimkong perdengarkan suara di hidung, dengan membalikan badan ia mengibaskan serangan pedang itu, kemudian balas menyerang dengan tinjunya.

Ho Hay Hong terdorong oleh kekuatan hebat, hingga mundur tiga langkah, ia diam-diam memuji kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat dari lawannya.

Kini ia tidak mau mengadu kekuatan lagi, sebaliknya lompat melesat setinggi lima enam tombak sambil mengeluarkan siulan panjang, kemudian melayang turun.

Kay see Kimkong merasa gemas karena diganggu teras menerus, kembali me lancarkan satu serangan tangan yang lebih hebat.

Tetapi, dalam waktu sangat cepat, Ho Hay Hong yang berada ditengah udara sudah melakukan perubahan gerakan sampai tiga kali, gerak tipu yang terakhir merupakan satu serangan yang ditujukan kepada bahu lawannya.

Kaysee Kimkong terkejut dan terheran-heran, ia pikir serangannya itu mengandung kekuatan ratusan kati beratnya, hembusan angin yang keluar dari tangannya, cukup untuk menangkis serangan yang betapapun hebatnya.

Tetapi, mengapa pemuda itu berhasil menembusi hembusan angin hebat itu, dan menyerang dirinya?

Ia masih belum mengerti apa sebabnya sementara itu Ho Hay Hong sudah melayang lebih t inggi lagi, kemudian menyambitkan pedang panjangnya.

Sinar putih bagaikan sinar geledek menyambar kearah kepala Kay see Kimkong, pemimpin golongan rimba hijau ini yang belum mengerti maksud Ho Hay Hong, buru- buru menundukkan kepalanya dan ketika sinar putih itu menyambar, hanya terpaut sedikit  saja.  kepalanya hampir terpisah dengan tubuhnya.

Kay see Kimkong tidak menduga bahwa Ho Hay Hong pandai menggunakan ilmu pedang terbang, maka ia tidak berani memandang ringan lagi. Sambil mengeluarkan suara bentakan keras, ia maju menyerang lagi.

Dilain pihak, Ho Hay Hong tiba-tiba mengeluarkan suara dari hidung sampai dua kali.

Pedang yang meluncur kearah Kay see Kim kong, ketika tidak mengenakan sasarannya, seolah-olah mendapat perint ah, dengan cepat memutar balik, tetapi kali in i t idak lagi menyerang Kay see Kimkong, sebaliknya meluncur kearah Giok beng sianseng yang berada disebelah kiri.

Kejadian itu menimbulkan kecurigaan Kay see Kimkong, ia menghentikan gerakannya dan matanya ditujukan kepada Giok beng-sianseng. Waktu itu. Kim ciang Tayhiap yang menjadi  lawan  Giok beng Sianseng. Wajahnya nampak pucat pasi tangannya menekan perut dalam keadaan tengkurep sedang sikutnya digunakan untuk menunjang badannya, agaknya terluka parah bagian dalamnya. Sedangkan Giok beng sianseng berdiri disamping sambil perlihatkan tertaw a iblis, tangannya sudah akan bergerak untuk menamatkan jiwa lawannya:

Justeru pada saat itulah, sinar perak berkelebat, mata Kay see Kimkong belum melihat  tegas, pedang terbang itu sudah meluncur kebelakang punggung Giok beng Sianseng.

Ciok beng Sianseng yang sedang memusatkan perhatiannya hendak menamatkan jiwa lawannya sendiri. Kay see Kim kong yang mengetahui bahaya mengancam orangnya, baru saja hendak memberi peringatan, tetapi sudah tidak keburu dengan disaksikan oleh matanya sendiri pahlawannya yang menjadi tangan kanannya itu sudah mengeluarkan suara jeritan ngeri dan jatuh rubuh di tanah.

Kay see Kim kong kesima, ia berdiri tertegun sambil berpikir: ”dia masih begitu muda, darimana kepandaian yang luar biasa itu?"

Dengan kecepatan luar biasa, Ho Hay Hong mengulapkan tangannya mencabut pedangnya yang sudah mengambil korban, muncratnya darah dari badan Ciok beng Sianseng telah mengejutkan dan menakutkan orang-orang pihak Kay see Kim kong.

Ciok-beng Sianseng yang masih belum binasa, bergulingan ditanah sambil menjerit-jerit, dan akhirnya mati dibawah kaki Kaysee Kim kong. Ciok beng Sianseng mati dalam keadaan masih memegang senjata kipas di tangannya, sehingga membuat Kay see Kim kong teringat  jasa-jasanya  di masa lampau dimana pahlawan itu pernah menyumbangkan tenaga yang tidak sedikit kepadanya.

Sementara itu, Kim ciang Tayhiap  pelahan-lahan sudah bangkit lagi dan balik ke belakang It Jie Hui kiam.

It-jie Hui kiam baru hendak bertindak untuk mencegah Ho Hay Hong, Kim ciang Tayhiap yang sudah mengerti maksudnya buru-buru mencegahnya dan berkata sambil menghela napas:

"Loenghiong sudahlah, dewasa in i dikalangan Kangouw banyak bermunculan jago muda, jago-jago muda itu rupa-rupanya sudah waktunya hendak menggantikan kedudukan orang-orang yang sudah tua. Biarlah kau memberi kesempatan padanya!"

"Mengapa Tayhiap membela dia?" tanya It  Jie  Hai kiam heran.

“Lo enghiong tentu sudah tahu sendiri. Dengan kepandaian yang diperlihatkan itu tadi, dari semua orang yang ada disini, mungkin dialah yang kepandaian paling tinggi!"

"Dari mana Tayhiap mendapat kesimpulan itu." "Dengan terus terang, ketika  cucumu mulai menunjuk

kepandaiannya,    aku    sudah    memperhatikannya  dari

samping, oleh karena terbokong oleh Ciok  beng sianseng” Kim c iang Tayhiap, dari mulutnya mendadak menyemburkan darah, setelah itu baru berkata lagi: "Dari pihak lawan. orang yang berkepandaian paling tinggi adalah Kay see Kimkong Ho Lan Hiong, tetapi telah menyaksikan dengan mata kepala  sendiri, cucumu melesat setinggi lima enam tombak, dengan gerak tipu serangannya yang luar biasa anehnya berhasil menyerang bahu Kay see Kim kong. Lo enghiong, aku lihat cucumu pasti mendapat didikan dari orang berilmu tinggi, kau jangan sangsikan kepandaiannya lagi!"

"Memang benar, ketika ia menyerang Kay see Kimkong, aku juga melihatnya dengan tegas. Aih, benarkah bocah ini dapat mempertahankan kedudukan kita.?"

Hingga saat itu, Ia masih setengah percaya setengah tidak, Tetapi Kim ciang Tayhiap mengerti  bahwa, jago tua itu karena perhatian terhadap cucu satu-satunya maka masih belum merasa lega.

Ia lalu menghiburnya sambil menepuk-nepuk bahunya: "Loenghiong, ingatlah kau dan aku dahulu, sewaktu masih muda, apakah bukan juga dianggap kurang sempurna atau kurang matang latihan kita, oleh orang-orang tingkatan tua, sehingga menyia-nyiakan banyak waktu, barulah bisa unjuk muka? Dan sekarang mengapa kita harus mengulangi tradisi buruk itu lagi?"

Kata-kata Kim Ciang  Tayhiap ini agaknya mengingatkan kenangannya dimasa muda dengan bersemangat ia berkata sambil tertawa terbahak-bahak:

"Tetap sepatah kata-kata lotee telah menggugah aku yang masih sedang mengimpi. memang, kita diw aktu muda juga dengan penuh ambisi hendak memperkembangkan kepandaian, tetapi selalu mendapat rint angan dari orang-orang tingkatan tua sehingga kepandaian kita terpendam beberapa tahun lamanya. Jikalau tidak, hasil yang kita capai sekarang mungkin lebih besar lagi."

Kini ia tidak merint angi Ho Hay Hong lagi, sambil tersenyum ia mengaw asi gerak gerik cucunya.

Ho Hay Hong merasa besar hati, karena baru pertama mencoba ilmu kepandaian yang baru saja habis dipelajari, ternyata sudah membaw a hasil yang sangat memuaskan.

Dengan ilmunya mengendalikan pedang, dia sudah berhasil membinasakan salah seorang tangan kanan Kaysee Kimkong, hingga ia semakin tidak ragu-ragu lagi, dengan tindakan lebar menghampiri Cee pak Ong-jin.

Ia memilih lawannya tidak memandang kepandaiannya yang lemah atau yang kuat, ia hanya merasa jemu menyaksikan t ingkah laku Cee pek Ong-jin yang congkak dan jumawa, maka hendak disingkirkannya lebih dulu.

Kematian Ciok beng sianseng yang mengerikan dan keadaan yang bergulingan ditanah sebelum putus nyawanya, membuat ngeri musuh musuh Ho Hay Hong. pandangan mereka terhadapnya telah berubah, tidak lagi dipandang sebagai bocah yang masih ingusan melainkan sebagai malaikat jibril.

Ketika ia berjalan menghampiri Cee pak Ong-jin, orang tua yang licik dan banyak akalnya serta tengik tingkah polanya itu, juga merasa jeri, sehingga mundur beberapa langkah.

Ciok tee Kouw sim yang menjadi lawannya, semula agak susah mencari jalan untuk menjatuhkan, sedangkan tingkah lakunya semakin congkak. Tetapi kini mendadak seperti orang ketakutan, maka lantas diejeknya:

"Tua bangka. percuma saja kau sudah hidup hampir enam puluh tahun, masih takut terhadap bocah yang masih ingusan? Haha. aku lihat, kemana kau hendak membuang mukamu"

Cee pek Ong-jin yang mendapat gelar Manusia sombong, sifatnya memang sangat sombong sekali. Ketika diejek demikian rupa oleh lawannya, dan seketika lantas naik pitam. Rasa takutnya lenyap seketika, ia maju menghampiri Ho Hay Hong seraya berkata dengan sombong:

"Bocah, minggir sedikit, jangan mengganggu aku. Nanti setelah aku membereskan orang ini, barulah menyusul kau, juga masih belum terlambat."

Ho Hay Hong yang mendengar kata-katanya yang terlalu sombong, tidak menjawab, sebaliknya mengeluarkan siu lan panjang dan lompat melesat setinggi lima tombak lebih.

Di tengah udara ia mendongakkan kepalanya dan mementang kedua tangan dan kaki nya, seolah-olah burung garuda yang sedang terbang.

Kay see Kim kong yang menyaksikan suara dan gerakan itu, menggumam sendiri: "Suara itu lagi, tadi ketika ia menyerang aku juga demikian gerakkannya."

Cee pak Ong jin yang belum merasakan lihaynya anak muda itu, telah membacok dengan menggunakan tangan kosong. Ho Hay Hong berputaran ditengah udara, kakinya digunakan sebagai ganti tangan, satu tendangan yang telah mengenakan pergelangan tangan orang tua itu, Cee pek Ong jin hanya merasakan sakit, hingga mulutnya mengeluarkan suara rint ihan kesakitan, lantas menarik kembali serangannya.

Tetapi gerakan Ho Hay Hong yang aneh itu tidak berhenti sampai disitu saja, sebelum lawannya berhasil memperbaiki posisinya, ia sudah menyerang lagi, hingga orang itu buru-buru mundur sejauh satu tombak lebih.

Tetapi Ho Hay Hong terus mengejar dengan serbuannya, sekalipun Cee pek Ong jin sudah lompat mundur setombak lebih, masih terkejar juga. Dalam marahnya, timbullah kekejamannya dengan  mengarahkan tenaga sepenuhnya, ia melancarkan serangan ke tengah udara.

Tetapi, serangan yang ganas itu sebagian besar telah dipunahkan oleh Ho Hay Hong, meski kaki kiri Ho Hay Hong terkena serangannya, namun kaki kanannya berhasil menendang jalan darah Khie hay hiat lawannya, hingga Cee pak Ong jin rubuh binasa seketika itu juga.

Sewaktu Ho Hay Hong melarang turun, kaki kirinya masih merasa sakit, hingga jalannya agak sempoyongan.

Kay see Kim kong tiba-tiba membuka mulut bertanya kepada orangnya:

"Suat-tee Ciang thian, tahukah ini kepandaian  ilmu apa ?"

Suat tee Ciang thian adalah seorang yang banyak pengalaman dan banyak pengetahuan berbagai ilmu silat merupakan orang yang paling dihargakan oleh Kay see Kim kong. Dan orang itu juga banyak membantu dirinya dalam usahanya mendirikan Kerajaan dalam rimba Hijau.

Suat tee Ciang thian yang luka-luka bersama-sama dengan lawannya, justru tidak mau ada orang yang menggantikan, maka ketika mendengar pertanyaan itu lantas berkata:

"Sianseng, lekas suruh orang menggantikan aku, aku hendak perhatikan gerakannya."

Tanpa menunggu perintah Kay see Kimkong, Kan hun sieseng sudah lompat keluar menghampiri Ciam sie.

Kepandaiannya sendiri meskipun tidak sebanding dengan lawannya, tetapi karena lawannya sudah terluka bagian dalamnya, sekali pun tidak bisa  menangkan padanya setidak-tidaknya juga tidak bisa dikalahkan. Selain dari pada itu, ia juga khawatir Kay see Kim kong suruh ia menghadapi Ho Hay Hong.

Dibawah perlindungan Bun-jin Siusu, Suat-tee Ciang thian dengan selamat t iba disisi Kay see Kim kong. Baru saja ia hendak berbicara, Ho Hay Hong sudah menghampiri sambil tertaw a dingin, mau tidak mau, ia terpaksa melepaskan niatnya hendak mencari keterangan tentang diri anak muda itu dan maju menyambut.

Suat tee Ciang thian pada saat itu telah berkata.

"Tadi ia pernah menggunakan ilmu mengendalikan pedang. Itu adalah kepandaian ilmu Kim kong Hweshio dari Ngo bie pay!"

Kay see Kim kong tercengang, ia berkata  dengan suara gusar: "Kim Kong Hw eeshio masih berani bermusuhan denganku? Itu adalah suatu perbuatan yang sangat bodoh?"

Si Pemabukan Tiet Pun mendadak lompat dari medan pertempuran dan berkata dengan suara nyaring:

"Apa kau murid dari golongan Ngo bie-pay?"

Sementara itu, Cian hoa jin sudah menyerang dengan tangan kosong, Tiat Pun mendadak membalikkan badan dan balas menyerang dengan satu gerak t ipu yang aneh, hendak mematahkan dua tangannya.

Cian hoa jin tidak menduga ia lawannya masih bisa menggunakan gerak t ipunya yang aneh itu. hingga untuk sesaat ia terkejut.

Ho Hay Hong bertanya sambil tertaw a dingin:

"Aku ingin tanya kepadamu, siapakah sebetulnya Kim Kong hw eeshio itu?"

"Bocah, kau pandai berlagak benar-benar sangat menjemukan. Hari ini aku akan paksa kau berkata sebenarnya!" kata Kay see Kim Kong.

Tangannya lalu bergerak, cahaya merah mendadak meluncur dari belakang telapak tangannya, Ho Hay Hong hanya merasa seperti terdorong oleh suatu kekuatan tenaga dalam yang hebat sekali, hingga tanpa dirasa ia sudah mundur lima langkah.

It Jie Hui kiam yang menyaksikan kejadian itu, lantas berkata dengan marah:

"Hong Lan Hiong, menghadapi satu bocah kau sudah menggunakan kekuatan hawa murni San hwa kie, apakah kau masih ada muka berkecimpungan di dalam dunia Kang-ouw ?"

Ho Hay Hong tidak mengerti sebabnya ia hanya merasa bahwa darah sekujur tubuhnya bergolak, dirinya seperti mengapung di tengah udara, hingga timbul rasa curiganya apakah sudah terluka oleh serangan musuhnya tadi.

Kay see Kimkong tidak menghiraukan protes It Jie Hui kiam. kembali melancarkan serangannya yang dahsyat itu.

Ho Hay Hong melihat tangan Kay see Kimkong bersinar merah, meskipun ia tidak mengerti sebabnya, tetapi ia tahu bahwa serangan itu mengandung hembusan angin luar biasa hebatnya maka buru-buru lompat mundur, mengetatkan serangannya.

It Jie Hui kiam  lompat maju sambil menyambar perisainya dan berkata dengan nada marah:

"Hong Lan Hiong, biarlah kuserahkan tulang tulangku yang sudah tua ini, mari kita berdua mengadu kepandaian!"

"Tua bangka, kau kubur dulu cucumu, nanti bicara lagi." kata Kaysee Kimkong dingin.

Ho Hay Hong yang mendengar ucapan itu. diam-diam terkejut. Apakah sebetulnya ilmu pukulan yang dinamakan San hwi khie itu? Mengapa demikian ganas?

Berbareng pertanyaan timbul dalam hatinya, akhirnya ia tidak dapat mengendalikan dirinya hingga bertanya kepada Kim ceng Tayhiap: "Lopek, apakah sebetulnya ilmu pukulan Sin hwa cianlek itu?"

Kim ciang Tayhiap sangat terharu mendengar pertanyaan itu, ia menggelengkan kepala tidak menjawab.

Melihat demikian, wajah Ho Hay Hong berubah, ia bertanya pula:

"Lopek, mengapa kau tidak menjawab? Apakah aku benar-benar harus mati?"

Kim ciang Tayhiap menundukkan kepala wajahnya murung, katanya dengan suara pelahan sekali:

"Aih! Anak, kau jangan tanya lagi, semua ini adalah aku yang mencelakakan dirimu ?"

Suatu firasat jelek terlint as dalam otak Ho Hay Hong mendadak ia lompat dia berkata dengan suara nyaring:

"Bagus bagus aku sudah dekat mati. Hong Lan Hiong. kau benar-benar hebat, tapi." ia tertaw a sinis kemudian berkata lagi.

"tetapi aku juga bukan orang lemah, sudah tentu aku tidak mau menjadi setan penasaran kembalikan jiwaku!"

Kim ceng Tayhiap berkata sambil menghela napas:

"Anak, sungguh tidak kusangka selagi namamu  hendak menanjak, telah digagalkan oleh tangan  iblis. Aih, sungguh kasihan dan menggemaskan. Sekarang umurmu hanya tinggal t iga hari saja, kau hendak berbuat apa, lakukanlah sesuka hatimu. Kau boleh menggunakan sisa waktumu yang sangat terbatas ini, berbuatlah apa yang kau sukai. Pergilah anak yang patut dikasihan i, dosa ini adalah aku yang menciutkan, bagaimana aku harus menghadap It Jie Hui kiam loenghiong."

Sehabis berkata demikian orang tua yang biasanya tinggi hati itu pelahan-lahan membalikan badan, diam diam mengucurkan air mata.

Dari kata-katanya orang tua itu Ho Hay Hong mengerti semua, sesaat darahnya mendidih, bagaikan orang kalap ia menyerbu Kay see Kim kong.

It Jie Hui kiam hendak mencegah, tetapi, kata katanya belum keluar dari bibir mulutnya, sudah menangis terisak-isak, hingga mengundurkan diri sambil menghela napas.

Ho Hay Hong sudah melupakan jiw anya sendiri yang terancam maut, ia pikir hidupku ini sebagai memimpi, tidak apa kalau aku memang harus mati, tetapi kawanan iblis ini harus kubasmi habis lebih dahulu.

-Odw-oo-w iO-