Rahasia Kampung Setan Jilid 17

 
Jilid 17

”SEANDAINYA aku berhasil menyembuhkan luka- lukanya, dan kau karena rasa bencimu yang sangat  dalam mungkin kau menggunakan kesempatan merusak batu wasiat itu, dengan demikian bukankah berarti aku repot tanpa mendapat hasil apa-apa?"

"Cianpwee menghendaki cara bagaimana?"

"Mungkin aku terlalu khawatir, dengan sebetulnya nona ini setelah sembuh lukanya namun nyaw anya masih tetap berada ditanganku, dengan satu pukulan tangan kosong saja sudah cukup aku mengirim dia kelain dunia."

Ho Hay Hong semakin curiga,  ia tidak mengerti maksud dan tujuan dari ucapan orang tua itu. Tetapi sebentar kemudian mendadak sadar, orang tua itu sengaja menakut-nakuti dengan perkataan, tentunya dengan maksud supaya ia menurut perintahnya.

"Jangan khaw atir, aku bukanlah orang yang suka melanggar janji, cianpwee boleh turun tangan!" demikian ia berkata.

Hoa chiu Hw a tho berjalan menghampiri lemari, dari dalam mengeluarkan sebuah peti kayu, dalam peti itu penuh obat-obatan. Ia mengambil beberapa rupa obat ramuan hingga sebentar kemudian dihadapannya sudah penuh tumpukan obat ramuan.

Obat ramuan itu dihancurkan olehnya sehingga menjadi bubuk, kemudian dari dalam ia mengambil sebuah perapian, obat itu dimasaknya.

Tidak lama kemudian, bau obat sudah memenuhi ruangan rumah itu, Ho Hay Hong kepalanya mendadak merasa puyeng, Hampir saja dia pingsan, dalam terkejutnya, ia buru-buru menutup jalan pernapasannya dan menggunakan kekuatan tenaga dalam mengusir keluar bau obat dari dalam tubuhnya Hoa chiu Hwa tho dengan sinar mata dingin memandang padanya, kemudian berkata: "Bocah, kekuatan tenaga dalammu boleh juga, kalau orang lain, hm hanya bau obat itu saja sudah cukup membuatnya menyerah !"

Kembali dari dalam peti obat ia mengambil beberapa rupa obat-obatan dimasukkan kedalam panci obat yang sedang dimasaknya sebentar kemudian bau obat yang tebal itu telah lenyap.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ”setan tua ini benar- benar banyak akalnya, untung aku tadi sadar dengan cepat kalau tidak pasti sudah rubuh ditangannya.”

Kini ia lebih berhati-hati menilik  gerak-geriknya, karena ia khawatir orang tua itu akan menggunakan kesempatan untuk mencelakakan dirinya.

Sementara itu gadis berbaju ungu itu sudah tidak  ingat orang sama sekali, nampaknya seperti sedang tidur nyenyak.

Ho Hay Hong yang menyaksikan Ho chiu Hwa tho repot masak obatnya, agaknya tidak menghiraukan orang yang sakit, hatinya merasa cemas, maka lalu bertanya:

"Cianpwee bolehkah aku numpang tanya, kapan kiranya obat itu bisa dimakan?"

"Tidak dapat ditentukan waktunya, mungkin sebentar lagi sudah masak, mungkin juga masih memerlukan waktu tiga jam lebih!" jawabnya hambar.

"Mana boleh jikalau racunnya bekerja sebelum obat datang, bukankah sangat berbahaya?" "Tidak usah kau cemas, apakah aku Hoa chiu Hw a tho harus dipersulitkan oleh obat racun buatanku sendiri?"

Orang tua itu meniup-niup asap yang mengepul diatas panci obat. Lalu memeriksa obat yang dimasaknya, tiba- tiba mengambil kotak jarum emas jarum itu dimasukan ke dalam obat yang sedang dimasaknya lalu diangkatnya dan secepat kilat ditusukan kebeberapa bagian jalan darah diperut gadis itu.

Gadis itu seolah-olah tidak merasakan sama sekali, hampir seluruh jalan darah di sekujur badannya ditusuk oleh jarumnya, namun ia tetap masih dalam keadaan pingsan, tidak lama kemudian, Hoa-chiu Hwa tho berkata sambil menarik napas:

"Tindakan pertama sudah selesai, harus melalui dua kali peraw atan saja sudah tidak menjadi soal."

Setelah itu tangannya mengambil beberapa ramuan obat lalu diborehkan diatas dada si gadis.

Beberapa saat lamanya Hoa chiu Hwa tho mengurut- urut tubuh gadis itu, jari tangannya dengan mendadak menotok salah satu bagian jalan darah diatas dada gadis itu.

Gadis itu menjerit dan tersadar, matanya tiba-tiba berlinang-linang, mulutnya berkata.

"Ho koko, aku tidak berbuat perbuatan itu, kau jangan salah paham!"

Mendengar ucapan itu, Ho Hay Hong terkejut, ia heran mengapa gadis itu mengucapkan perkataan demikian? Ketika mata gadis itu beradu dengan matanya sendiri, tiba-tiba ia merasa bahwa ia seperti dalam kebingungan, sehingga merasa malu sendiri.

Ho Hay Hong menduga gadis itu pasti sedang mengigau maka lantas berkata:

"Kau jangan bicara yang bukan-bukan, Hoa chiu Hwa tho cianpwee segera akan menyembuhkan lukamu."

Hoa chiu Hw a tho memperlihatkan jarum mas ditangannya kepada gadis itu seraya berkata.

"Tutup matamu!"

Gadis itu memejamkan matanya, Hoa hiu Hwa tho kembali menusukkan jarumnya diatas tubuh gadis itu, Gadis itu rupanya merasakan  sakit,  beberapa  kali merint ih, Ho Hay Hong t idak tega menyaksikan keadaan demikian, ia menundukan kepala dan mengalihkan pandangan matanya kebaw ah.

Dibagian yang bekas ditusuk oleh jarum itu nampak mengeluarkan asap hitam yang mengepul keluar dan buyar tertiup angin. Keadaan demikian itu berlangsung beberapa saat lamanya, wajah gadis itu perlahan-lahan tampak warna merah.

Hoa chiu Hwa tho mencabuti jarum-jarum yang berada ditubuh gadis itu kemudian berkata sambil menunjuk tanda hitam yang terdapat diujung jarum.

"Ini adalah racunnya ular berbisa yang usianya sudah ribuan tahun, racun semacam ini sedikit  saja  sudah cukup untuk membinasakan binatang buas seperti singa, harimau, banteng dan lain lainnya!"

"Apakah ia sudah sembuh sama sekali." bertanya Ho Hay Hong. "Benar, sebentar lagi ia bisa bergerak dengan bebas!" jawab Hoa chiu Hwa tho, sambil berkata tangannya mengambil batu wasiat diatas meja.

Ho Hay Hong dengan cepat membalik belati ditangannya dan berkata dengan suara keras:

"Tunggu dulu, aku hendak menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan setelah ia sembuh sama sekali."

Hoa chin Hw a tho dengan cepat menutuk jalan darah dileher gadis itu dan berkata dengan bingung:

"Bocah, apakah kau hendak melanggar janjinya?"

"Aku tidak percaya sepenuhnya padamu, harap tunggu sebentar, biar ia yang mengatakan sendiri."

Tidak lama kemudian gadis baju ungu itu melompat bangun, dengan bersemangat ia berkata kepada Ho Hay Hong:

"Ho koko, Ia benar-benar sudah menyembuhkan penyakitku!"

"Hoa chiu Hwa tho, batu wasiat ini sekarang menjadi milikmu, aku harap dalam hidupku ini tidak akan bertemu lagi denganmu!" berkata Ho Hay Hong. Ia lemparkan belati diatas meja, lalu bersama gadis berbaju ungu meninggalkan rumah bambu itu.

Hoa chin Hwa tho sambil memegangi batu wasiat bertanya kepada Ho Hay Hong:

"Dimana keponakanku sekarang?"

Gadis baju ungu yang mendengar pertanyaan itu tiba- tiba marah, Ho Hay Hong buru-buru menjaw ab: "Keponakanmu yang rendah daripada binatang itu sudah kupukul dan mungkin sudah terluka parah, barangkali tidak lama lagi pasti akan datang minta pertolonganmu, nanti setelah bertemu muka kalian boleh bicara sendiri."

Sambil menarik ujung baju gadis baju ungu, Ho Hay Hong berkata padanya:

"Kau boleh coba lagi, benar atau t idak Hoa chiu Hwa tho sudah memenuhi janjinya."

Gadis baju ungu itu menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian lompat melesat setinggi tiga tombak dan lari, Ho Hay Hong mengikuti dibelakangnya, dalam waktu sekejap mata dua muda-mudi itu sudah lari sejauh sepuluh pal lebih.

"Ho koko, aku benar-benar harus berterima kasih padamu oleh karena aku bukan saja  kau sudah kehilangan barang wasiatmu bahkan turut bersusah hati!" berkata gadis itu.

Ho Hay Hong diam saja tidak menjawab, sedang pikirannya melayang kediri gadis kaki telanjang, entah bagaimana keadaannya. Mengingat gadis kaki telanjang, ia benar-benar merasa t idak enak lagi.

Dua orang lari dengan berdampingan, dengan waktu singkat sudah t iba dihadapan sebuah kelenteng tua yang sudah rusak keadaannya. Saat itu mereka sudah merasa lelah, haripun sudah malam pula. tempat itu yang tadi dijadikan tempat untuk mengadakan pertemuan orang orang dan tokoh tokoh rimba hijau, kini ternyata sudah sepi sunyi, tidak tertampak bayangan seorangpun juga. Selagi Ho Hay Hong berdiri tertegun, pintu kelenteng mendadak terbuka dari dalam, tampak bayangan orang, hingga dua orang terkejut.

Orang itu setelah berada dihadapan mereka lantas berkata sambil tertaw a dingin:

"Bocah, sudah lama aku menunggu, tak kusangka sampai sekarang kau baru tiba.

Gadis baju ungu itu mendadak berseru. "Kau Tee soan hong Tok Bu Gouw?" "Benar, kau heran?" jawab orang itu.

Ho Hay Hong bertanya dengan suara tenang: "Tuan, ada keperluan apa?"

"Kalau kau pulang, kau beritahukan kepada It Jie Hui kam, Kay see Kim kong Hoa Hiong telah mengambil keputusan, tiga hari kemudian, akan memimpin anak buahnya menyerbu rumahnya." berkata Tee soan hong.

Ho Hay Hong terperanjat, sedangkan gadis baju ungu itu wajahnya pucat seketika, ia bertanya dengan perasaan terkejut: "Benarkah ucapanmu ini?"

"Seumur hidupmu aku belum pernah ngibul, percaya atau t idak terserah padamu sendiri, biar bagaimana aku sudah menunaikan tugasku untuk memberitahukan apa yang aku dengar dan aku rela membantu untuk kabarkan It Jie Hai kiam. Aku hanya mengharap agar It Jie Hui kiam tergerak hati nuraninya, supaya aku tidak menderita bathin seumur hidup." berkata Tee soan hong.

Sinar matanya yang bercahaya mendadak berkaca, dua butir airmata menetes turun. Ho Hay Hong merasa tertarik oleh kejadian itu, ia maju menghampiri dan berkata:

"Katakanlah terus terang, kau dan dia siorang tua itu sebetulnya masih ada hubungan apa, mengapa kau berlaku demikian baik hati terhadapnya ?"

"Aku berlaku baik hati?" berkata Tee-soan hong sambil tertaw a, "ha, ha, ha, kau tahu apa. Lekas pulang dan beritahukan kabar ini kepadanya, supaya lekas mengadakan persiapan." Dari pinggangnya ia membuka sebilah pedang panjang dan berkata pula: ”Ujung  pedang ini ada tanda dari darahku, tetapi aku bukanlah orang yang mudah dan sembarang an menuntut balas, dengan memandang muka It Jie Hui kiam, aku ampuni kau satu kali in i, Nah. ambillah."

Ho Hay Hong mengulurkan tangannya menyambuti pedang dari tangan Tee soan hong, ia masih mengenali bahwa pedang itu adalah pedang yang ia dapat pinjam dari tangan gadis baju ungu, yang kemudian digunakan untuk menyerang orang itu.

"Bagaimana kau tahu pedang ini kutitipkan kepada mereka?" demikian ia bertanya dengan heran.

"Mengapa aku t idak tahu? Hem, jangan banyak tanya lagi, pulanglah!"

Setelah berkata demikian, Tee soan hong lantas berlalu.

Ho Hay Hong yang tidak mendapat jaw aban orang aneh. Oleh karena saat itu pikirannya merasa khawatir keselamatan It Jie-hui kiam, maka ia tidak bisa berlaku ayal, buru-buru mengajak gadis baju ungu pulang. Pada saat itu, hari sudah menjelang pagi, ufuk timur sudah mulai terang. Ketika Ho Hay Hong tiba didepan rumah, sinar lampu didalam ternyata masih menyala, hingga menimbulkan keheranannya, ia bertanya-tanya kepada diri sendiri: "Apakah sudah terjadi apa-apa ?"

Dengan cepat dia maju dan menggedor pintu, tetapi pintu itu ternyata tidak terkunci hingga lantas terbuka. Apa yang dilihatnya didalam ruangan membuatnya terkejut, seketika ia berdiri tertegun.

Delapan anggota dari pasukan angin puyuh yang namanya menggemparkan daerah utara, masing-masing dalam keadaan lesu. sambil menundukkan kepala mereka duduk diatas kursi tanpa berkata apa-apa.

Sedang pakaian semua orang sudah robek tidak karuan macamnya, kecuali terdapat banyak kotoran tanah juga masih terdapat banyak tanda darah yang masih basah.

Beberapa diantaranya sudah di balut bagian kepala bahu. Lengan tangan atau paha, hampir tiada seorangpun yang utuh badannya. Dilihat sepintas lalu, orang sudah pasti menduga bahwa mereka habis melakukan pertempuran hebat dan mengalami kekalahan hebat pula.

It Jie Hui kiam duduk diantara mereka, wajahnya yang sudah keriputan yang biasanya ramah tamah nampak sedih, alisnya yang panjang dikerutkan, agaknya sedang berpikir keras.

Sedangkan Hud sim Totiang yang juga terdapat diantara mereka, dalam keadaan lesu jaga, hingga dalam ruangan yang luas itu tidak terdengar suara apa-apa. Mata Ho Hay Hong mengawasi wajah setiap orang yang ada disitu, ketika pandangan matanya jatuh kewajah orang tua kurus kering, diam-diam ia merasa mendongkol. Ia teringat apa yang terjadi dalam pertemuan orang-orang rimba persilatan dimuka pekarangan kelenteng tua, ia merasa gemas ingin sekali segera mengumumkan rahasia orang tua itu, yang menjadi penghianat didalam tubuh golongan angin puyuh.

Tetapi sebelum membuka mulut pikirannya mendadak berubah, sebab bagaimanapun juga masih banyak waktu lagi hingga tidak perlu tergesa-gesa supaya tidak akan timbul kejadian yang tidak diingini.

Dibelakang orang tua kurus kering itu berdiri serombongan anak muda. Seperti juga yang lainnya, sikap mereka nampak tertaw a. Tidak satupun yang membuka suara, hanya menganggukkan badan saja.

Ho Hay Hong tidak sabar lagi, ia segera membuka mulut bertanya:

"Apakah sebetulnya yang telah terjadi. Kepala Toako pasukan angin puyuh mengapa demikian lesu keadaannya, itu perbuatan siapa ?"

"Ai, panjang ceritanya” berkata Hud-tim  Totiang sambil menghela napas panjang mendadak berubah nadanya, "Kalian berdua pergi kemana ? Mengapa hingga sekarang hampir pagi hari baru pulang ? Tahukah kamu kakek kamu lantaran ini sampai sangat gelisah ?"

Ho Hay Hong memandang kepada It ji Hui kiam, dalam hati merasa malu. Khong Lio, salah satu anggota pasukan angin puyuh, bangkit dan berkata sambil tertaw a getir:

"Belum lama berselang, muncul seorang tua aneh dengan tangan membaw a sepasang kuali. Thian lam Lojin mendadak dipukul olehnya sehingga hancur tulang bahunya, dua kaw an kita maju hendak menolong juga dipukul terluka olehnya. Orang tua aneh itu t inggi sekali kepandaian ilmu silatnya. Sifatnya sangat aneh. mengambil jiw a manusia mudah seperti memites semut, kita semua orang tidak satu yang sanggup melawan dirinya, dan akhirnya."

Orang itu berhenti dan menarik napas, selagi hendak melanjutkan keterangannya, telah didahului oleh Hud sim Totiang:

"Sudah, sudah, kau harus beristirahat dulu sebentar, nanti boleh cerita lagi."

Sekali berkata matanya tajam menatap wajah  Kong lip, orang itu ditatap demikian rupa menundukkan  kepala, t idak berani membuka mulut lagi.

Ho Hay Hong mendadak mendapat firasat bahwa tatapan Hud sim Totiang itu ada mengandung maksud dalam, seolah-olah tidak ingin dirinya mengetahui sampai jelas urusan yang telah terjadi itu, Diam diam ia merasa tidak senang karena perbuatan itu berarti memandang rendah dirinya.

Perasaan tidak senang itu lantas bergolak  dalam hatinya, darah mudanya kembali  menguasai dirinya, maka lantas berkata dengan suara nyaring:

"Dalam keadaan aman, bagaimana seperti siluman  dan iblis dibiarkan berbuat seenaknya? Rasanya siapa pun ada hak untuk mengetahui urusan ini, jikalau Hud sim Totiang takut boanpwee mengetahui  urusan tersebut, itu tidak apa. Boanpwee sanggup dengan mengandalkan kekuatan tenaga sendiri untuk menyelidiki jejak orang Itu, boanpwe bersedia dengan seorang diri dan tenaga kekuatan sendiri untuk menyelidiki jejak orang itu!"

"Apa sebetulnya yang telah terjadi mengapa para toako dari pasukan angin puyuh nampaknya semua kehilangan semangat? Perbuatan siapakah ini sebetulnya?"

"Hai, hal in i sangat panjang ceritanya." berkata Hud sim tot iang sambil menghela napas panjang, dengan tiba-tiba nadanya berubah:

"Kalian berdua pergi kemana saja? Mengapa hampir pagi hari baru pulang, sehingga lo enghiong sangat gelisah, hampir semalam suntuk tak bisa tidur!"

Kata-katanya itu diucapkan dengan semangat menyala-nyala sehingga menarik perhatian semua orang yang ada disitu.

Gadis baju ungu juga tak dapat mengendalikan perasaannya, ia bertanya kepada It Jie Hui kiam:

"Kong kong, apalah sebetulnya telah terjadi, sehingga para toako kita berubah demikian rupa?"

"Anak-anak sebaiknya jangan mencampuri urusan orang tua." berkata It Jie Hui kiam sambil menghela napas. "Kongkong benarkah kau masih anggap aku sebagai anak-anak? Andaikata aku tahu, apakah itu salah?" kata gadis baju ungu.

Ho Hay Hong teringat suara siu lan yang panjang dan halus digunung Soat nian san. lalu bertanya.

"Mahluk tua yang aneh itu entah siapa namanya, menurut kabar yang tersiar dikalangan Kangouw agaknya sudah lama meninggal, Tak disangka ia masih hidup!"

Diam-diam ia perhatikan muka setiap orang yang ada disitu. Benar saja tampak olehnya wajah Hud sim Totiang agak berubah, maka ia sengaja berkata dengan nada suara gemas:

"Aku kira para toako dari pasukan angin puyuh pasti terjungkal ditangan mahluk aneh itu. Aku Ho Hay Hong bersumpah selama masih ada nyawa aku akan membersihkan kehinaan in i sekedar untuk menyumbang tenaga bagi rimba persilatan daerah utara."

Gadis berbaju ungu yang mendengar perkataan itu lantas berkata sambil tertaw a.

"Ho koko benar-benar seorang gagah berani yang patut dibuat teladan!"

It-jie Hui kiam berkata dengan nada suara kurang senang:

"Hay Hong aku t idak suka kau mencampuri urusan ini. Aku khawatir kau masih terlalu muda dan berdarah panas, nanti menimbulkan akibat yang tidak baik."

Gadis baju ungu membantah: "Kongkong aku anggap seorang lelaki sudah semestinya bercita-cita besar, Ho koko justru menunjukan cita-citanya seorang lelaki jantan, apakah Kongkong ingin pendam cita-citanya sehingga untuk selamanya t idak unjuk muka?"

Kata-katanya itu diucapkan dengan nada suara lemah lembut yang sangat menarik sehingga  menggerakkan hati Ho Hay Hong.

It Jie Hui kiam dengan perasaan t idak tenang menatap wajahnya sejenak, kebetulan beradu dengan sinar mata Ho Hay Hong yan menyala-nyala, sehingga dalam hati diam-diam terkejut. Mau tidak mau ia dipaksa menurut kehendaknya, maka lalu berkata sambil menghela napas:

"Baiklah, aku tak akan menghalangi kau mengetahui urusan ini, tetapi segala perbuatan harus dipikir dulu masak masak baru dilakukan,sehingga tidak sampai ada kesalahan!"

Hud sim Totiang diam-diam memberi isyarat pandangan mata kepada Khong Lip, maka Khong Lip lalu berkata:

"Benda pusaka itu adalah sebilah pedang pusaka yang terbuat dari emas murni. Oleh karena lama terpendam oleh salju diatas gunung, sehingga memancarkan sinarnya yang berkilauan, kita ketika  menyaksikan pedang itu, rasanya agak mirip dengan pedang Kim mo Sin kiam yang pada seratus tahun berselang membuat Kim mo Taysu mendapat nama di kalangan Kangouw.

"Maka aku pesan kepada saudara sekalian supaya beramai-ramai mengambil benda wasiat itu, diluar dugaan kita Orang tua aneh itu tanpa berkata apa-apa lantas menyerang kita. ia memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat tertinggi, meskipun kita lawan dengan tenaga beramai, tetapi belum sepuluh jurus sudah jatuh ditangannya.

”Orang tua aneh itu sangat ganas dengan senjatanya ia mengobrak-abrik barisan yang dibentuk oleh orang dari perkumpulan Ceng gee-hwee, kemudian mengejarnya sehingga orang orang itu kucar-kacir.

”Setelah itu orang tua aneh itu dengan ilmunya menyedot dengan telapak tangannya telah berhasil memiliki pedang pusaka itu. Dengan demikian semua orang yang datang kegunung itu hendak mencari benda pusaka tersebut, terpaksa pulang dengan tangan hampa.

”Semua orang merasa heran, jelas bahwa orang tua itu mempunyai kepandaian dan kekuatan untuk membinasakan semua orang yang datang  kesitu, tetapi ia tidak berbuat demikian,  ia hanya menyerang dan membuat kucar-kacir semua orang lalu suruh orang- orang itu pulang.”

Hud sim Totiang memandang Ho Hay Hong sejenak lalu berkata.

"Dia adalah Engsiu, pada enam puluh tahun berselang sudah menjagoi rimba persilatan daerah utara, Menurut apa yang ku ketahui ia keturunan seorang rendah, kepandaian ilmu silatnya didapatkan dari seorang aneh dari gunung Tiang pek san, kecuali pernah kalah ditangan kakek penjinak garuda, aku belum pernah dengar ada orang yang bisa mengalahkan padanya!"

"Kalau begitu Thian tie Lojin yang merupakan kepala dari lima orang kuat, juga bukan tandingannya?" bertanya gadis berbaju ungu. "Memang tidak semuanya benar, kita harus tahu bahwa usia Eng siu jauh lebih tua beberapa puluh tahun daripada Thian tie Lojin. Waktu Eng sui namanya sudah terkenal dikalangan Kang ouw, dia masih  merupakan satu anak kecil, sudah tentu tidak dapat disamakan dengannya!"

Orang yang mendengar jawaban itu sebagian besar merasa kurang puas, sebab mereka tidak dapat memastikan siapa yang lebih unggul dan lebih kuat diantara dua orang itu. Sementara itu gadis baju ungu bertanya pula:

"Apakah mereka berdua belum pernah mengadu kekuatan?"

"Tentang, ini kurang jelas bagiku. Aku hanya dengar berita bahwa Eng sui pernah kalah di tangan kakek penjinak garuda."

It Jie Hui Kiam tiba-tiba berkata: "Eng-siu dilahirkan dengan bentuknya yang aneh, tinggi badannya hanya delapan kaki, tetapi mulutnya lebar kepalanya besar, kumisnya seperti sapu lidi, sehingga mirip dengan Cho Po Ong, di jaman dahulu yang menitis lagi. Oleh karena kulit mukanya putih halus, maka orang-orang yang melihatnya, semua orang memberikan nama julukan padanya Eng siu! Permusuhan antara ia dengan kakek penjinak garuda aku mengetahui sangat jelas. Jikalau kalian ingin  dengar, aku boleh ceritakan dari asal- usulnya?"

"Kongkong kau benar-benar pandai memutar lidah, lekaslah ceritakan!" berkata gadis baju ungu sambil tersenyum. "Eng siu mempunyai sepasang saudara kandung, satu sama lain wajahnya sangat mirip sehingga tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya. Dahulu mereka bertiga berkelana didunia kang ouw sebelah utara, dalam waktu singkat namanya dapat menanjak. Sehingga orang-orang dunia kangouw memberikan julukan mereka tiga serangkai keluarga Ing.”

”Oleh karena nama julukan itu dalam sebutan agak mirip dengan julukan kakek penjinak garuda, bagi orang biasa sering menyebut keliru. Hal itu membuat kakek penjinak garuda merasa tidak senang, dari daerah selatan ia memerlukan datang ke utara untuk mencari Eng siu, dan minta supaya merubah nama julukannya."

”Pada waktu itu justru nama "Eng Siu” sudah sangat terkenal didalam rimba persilatan, sudah tentu tidak menerima permint aannya itu. Dalam keadaan marah keduanya lantas bertempur diatas gunung Tiang Pek San. Seratus jurus kemudian akhirnya kakek penjinak garuda dapat mengalahkan Eng-siu !"

"Nama baik yang dipupuk selama itu oleh Eng siu, dalam waktu sekejap telah runtuh. Dia adalah seorang yang keras kepala, sudah tentu tidak mau menyerah begitu saja, ia lalu  pergi mengasingkan diri kesuatu gunung yang sepi sunyi.”

”Disana dengan tekun ia mempelajari ilmu kepandaian perguruannya yang terampuh. Beberapa tahun kemudian ia turun gunung mencari jejak kakek penjinak garuda.”

”Antara dua musuh itu timbul pertempuran lagi, akhirnya ia masih dikalahkan oleh kakek penjinak garuda. Dalam marah dan malunya Eng siu hampir menyeburkan diri kedalam sumur." "Akhirnya sepasang saudara kandung itu telah mengambil keputusan mengorbankan jiw a mereka untuk membantu saudara tuanya melawan kakak penjinak Garuda.”

”Semula saudara yang kedua telah memusatkan seluruh kekuatan tenaganya ditelapak tangannya di salurkan kedalam tubuh Eng siu lalu ia sendiri menghabiskan jiw anya.”

”Bersamaan dengan itu saudara yang termuda juga membunuh diri setelah menyalurkan seluruh kekuatan tenaganya kepada saudara yang tertua. Dengan demikian dalam waktu satu hari kekuatan tenaga Eng siu berarti bertambah tiga kali lipat."

Berkata sampai disitu It Jie Hui kiam menunjukkan perasaan kagum, begitupun semua orang yang mendengarkan juga tergerak hatinya oleh pengorbanan dua saudara Eng-siu itu.

It Jie Hui kiam melanjutkan ceritanya.

"Eng siu setelah mengubur jenazah dua saudaranya, tidak lama kemudian dengan terang-terangan menantang kakek penjinak Garuda.

”Dua musuh lama itu bertempur satu hari satu malam, sehingga tenaga mereka hampir habis, barulah Eng siu dikalahkan lagi oleh ilmu silat garuda sakti  kakek penjinak garuda.

”Eng siu sangat sedih maka lantas membuang senjatanya dan berlalu. Tak disangka kalau Eng siu telah muncul lagi. Ai, rimba persilatan daerah  utara nampaknya benar-benar akan menghadapi bencana besar, aku It Jie Hui kiam mungkin juga tidak dapat mempertahankan kedudukanku lagi."

Ho Hay Hong yang mendengar ucapan itu bukan kepalang terkejut, ia buru-buru berkata:

"Kongkong harap jangan menempuh bahaya, aku."

Suatu pikiran yang terlint as dalam otaknya, ia lalu bertanya :

"Kongkong bukankah pernah mengatakan hanya ilmu silat garuda sakti yang dapat menundukkan orang tua itu?"

"Benar, untuk apa kau menanyakan soal ini?"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: "Aku ada membawa salinan kitab ilmu garuda sakti itu apakah memuat ilmu garuda sakti, jikalau benar ada memuat ilmu silat itu, segala persoalan akan menjadi beres."

Diluarnya ia masih tenang-tenang saja tidak berani menunjukkan sikap apa-apa, jawabnya:

"Tidak apa-apa, aku hanya menanyakan saja." "Saudara tulang-tulangku yang sudah tua ini kalau

tidak patah juga akan karatan, aku mati tidak apa apa hanya kamu semua yang masih muda belia, yang masih mempunyai hari depan yang cerah, bagaimana boleh terlibat dalam pertikaian in i?" berkata It-jie Hui kiam sambil menghela napas panjang.

Pada waktu itu perasaan semua orang telah terpengaruh oleh ucapan It Jie Hui kiam terutama gadis baju ungu yang menampak kongkongnya demikian sedih, air matanya mengalir keluar. Ho Hay Hong tidak berani melaporkan lagi tentang maksud Kay see Kim kong yang hendak menggempur pasukan angin puyuh, lebih-lebih kalau ia menceritakan itu semua, itu berarti memberi pukulan hebat kepada bathin orang tua itu.

Tetapi kalau hal itu tidak dilaporkan apabila Kay see Kim kong datang menyerbu serumah tangga It Jie Hui kiam pasti terancam, Ho Hay Hong mengerti bahwa dengan kekuatan tenaganya sendiri tidak sanggup menahan serangan musuh, maka saat it ia menjadi sangat bingung.

Dilain pihak orang tua kurus kering yang sejak tadi duduk diam itu telah membuka mulut:

"Lo enghiong tidak perlu terlalu gelisah.  Eng-siu adalah orang yang jujur, kalau orang t idak mengganggu dirinya sudah tentu ia tidak akan mengganggu kita !"

"Ini bukan suatu saran yang baik, aku It Jie Hui kiam adalah seorang pemimpin, yang oleh semua orang sudah dianggap sebagai ketua dari golongan persilatan yang menegakkan kebenaran, yang tujuannya membasmi kejahatan membantu rakyat yang lemah."

”Jikalau lantaran omongan Eng-siu lalu merobah cita- citaku, bukankah kau akan menjadi tertaw aan orang banyak?" berkata It Jie Hui kiam sambil menggelengkan kepala.

"Eng sin muncul lagi, pasti akan menimbulkan kekacauan. kita tidak boleh tinggal diam." berkata Hud sim Totiang.

Orang tua kurus kering itu berkata pula: "Totiang jangan anggap siaot ee seorang penakut. Sebetulnya orang-orang dari perkumpulan Ceng gie hwee dan pasukan angin puyuh sudah mengalami sendiri, kita melawan juga tidak ada gunanya."

Ho Hay Hong yang mendengarkan lantas naik pitam. Dengan pandangan matanya yang merah membara ia menatap wajah orang tua itu lalu berkata dangan suara keras:

"Musuh datang harus kita lawan, sudah seharusnya, Eng siu belum tentu merupakan orang yang mempunyai tiga Kepala dan enam tangan, mengapa kita harus takut padanya?"

Gadis berbaju ungu segera menunjang pendapat Ho Hay Hong, ia berkata:

"Betul, ucapan Ho koko sedikitpun tidak salah, kita tidak perlu takuti"

It Jie Hui kiam lantas berkata:

"Hay Hong, dengarlah kata-kataku, jangan terlalu mengandalkan kegagahanmu sendiri!"

Ho Hay Hong mengerti perasaan orang tua itu. ia berjalan menuju kedalam sambil menundukan kepala.

It Jie Hui kiam tiba-tiba merasa bahwa pemuda itu keras kepala, tidak mudah dielus, mirip sekali dengan ayahnya

Didalam kamarnya ia memasang pelita, dari dalam sakunya mengeluarkan salinan kitabnya Ilmu silat garuda sakti. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ia buru- buru menyimpannya lagi kitabnya kedalam saku, baru berkata:

"Masuk!" Gadis berbaju ungu mendorong pintu kamar dan melangkah masuk. Katanya dengan suara sedih:

"Kau marah terhadapku?"

Ho Hay Hong terkejut, "Aku tidak ada itu maksud." "Kalau begitu mengapa dengan mendadak kau

meninggalkan aku dan masuk ke kamar?"

Ho Hay Hong baru hendak menjawab: "Ini ada hubungan apa denganmu?" tetapi belum lagi diucapkan mendadak melihat mata gadis itu sudah basah  dengan air mata sikapnya sangat menyedihkan.

Seketika itu dipertahankan sekuat tenaga, tangan gadis itu ditariknya dan dipeluk erat-erat.

Ia merasakan bahwa tangan gadis dalam pelukannya itu gemetaran, jantungnya berdebaran.

Gadis baju ungu itu mandah dipeluk, airmata kegirangan mengalir keluar, tapi ia tidak berkata apa- apa.

Ho Hay Hong merasa menyesal atas t indakannya yang sudah meninggalkan gadis itu sendirian, maka ia berkata sambil menundukkan kepala:

"Maafkan aku, aku sangat menyesal atas perbuatanku."

Tanpa berkata apa-apa, gadis baju ungu memutar tabuh dan lari keluar dari kamar.

Tinggal Ho Hay Hong duduk seorang diri menghadapi pelita, pikirannya melayang jauh.

Ia mulai tidak berani menghadapi kenyataan, ia sesalkan dirinya sendiri bahwa dahulu sudah jatuh cinta kepada gadis kaki telanjang, sehingga kini ia tidak berani menyatakan cintanya dengan terus terang kepada gadis dihadapan matanya.

Ia tertawa masam, membiarkan perasaan kasihnya terpendam dalam lubuk hatinya.

Ia mengeluarkan lagi kitab dari dalam sakunya mulai dibuka lembarannya. Lembaran pertama terdapat tulisan dengan kata-kata:

"Barang siapa yang hendak masuk menjadi golonganku, lebih dahulu harus melakukan upacara hikmad. berlutut menghadap arwah Hay thian Kow yan Couwsu."

Sebagai seorang jujur, Ia lantas menghadap kearah timur dan berlutut. Dengan sangat hormat sekali ia memanggutkan kepalanya sampai t iga kali, setelah itu, ia baru bangkit dan membuka lagi lembaran yang kedua.

Dalam lembaran yang kedua itu terdapat tulisan yang berbunyi :

"Haythian Kow-yan dengan sifat-sifatnya yang kasar dan bodoh, tulang-tulangnya yang buruk, belajar ilmu silat: Orang banyak pada mengatakan padanya: kayu rapuh bukanlah bahan yang baik untuk diukir. Tetapi akhirnya ia berhasil ! Kepandaian ilmu silatnya yang luar biasa, telah menggemparkan dunia rimba persilatan. Apakah ini suatu kemujijatan? Bukan, melainkan rajin dan tekun belajar!"

Ho Hay Hong mengangguk-anggukkan kepala dan berkata sendiri. "Benar, kalau rajin segalanya akan tercapai!" Lembar ketiga ditulis :

”Orang yang mempelajari ilmu silat, hingga lupa makan dan lupa tidur, rajin belajar seumur hidup, apa benar ada hasilnya. Kataku tidak, pada akhirnya tulang- tulangpun tiada, yang ada hanya semangatnya."

Lembar keempat ditulis:

"Ketika aku mengarungi lautan Timur, aku lihat sebuah tumbuhan rumput aneh yang tumbuh diatas gunung yang tinggi kira-kira ratusan tombak. Menurut orang-orang daerah situ, rumput it namanya Hee lang, tetapi nama sebenarnya adalah Chiu oey. Maka itulah, apa yang benar dan apa yang salah dalam rimba persilatan kalau orang yang mengatakan benar ya benar, orang mengatakan salah ya salah. Apa yang dikatakan benar sebetulnya salah. Manusia terutama harus bisa menghargai dirinya sendiri."

Tulisan-tulisan yang terdapat dalam lembaran- lembaran selanjutnya, juga merupakan kata-kata mutiara, yang mungkin cuplikan dari sana sini.

Ho Hay Hong merasa agak kecewa, apa lagi setelah membaca sekian banyak, masih tidak menemukan pelajaran ilmu silat yang sedang dicari. Maka ia mulai putus asa.

Dengan tangan gemetaran ia membaca selembar demi selembar, sementara itu pikirannya teras diliputi olah kekhaw atirannya.

Ketika membaca sampai di bagian hampir penghabisan diri kitab itu matanya tiba-tiba menemukan tulisan dengan kata-kata: "Lima Gerakan ilmu Garuda Sakti."

Wajahnya berubah seketika dalam kegirangannya, ia segera bangkit dan dengan bersemangat ia baca berkali- kali kalimat itu, seolah-olah takut akan menghilang dari depan matanya.

Lama sekali ia baru membuka lembaran berikutnya, lalu lembaran itu hanya terdapat lukisan lima orang.

Dengan penuh perhatian ia memperhatikan  lukisan dari bentuk gerak-gerik orang dalam berbagai rupa, disamping setiap lukisan terdapat sebaris tulisan huruf kecil, yang merupakan penjelasan dari gerak gerik tipu silat itu.

Ia tidak sempat membaca dengan teliti diluar pintu terdengar suara tindakan kaki orang, buru-buru ia menyimpan kitabnya dan membuka pintu kamar. Orang yang datang itu adalah It-jie Hui kiam.

"Kau masih belum t idur?" tanya It ji Hui kiam. "Pikiranku sedang kalut, hingga tidak bisa tidur!""

jawab Ho Hay Hong.

It Jie Hui kiam mengulurkan tangannya mengusap usap rambut kepalanya dan berkata dengan suara lemah lembut!

"Ho Hay Hong aku suruh kau jangan sok berlagak gagah-gagahan, karena ini semata-mata hanya untuk kepentinganmu dikemudian hari, mengertikah kau maksudku?"

"Aku tahu Kongkong sangat memperhatikan diriku, tapi " It Jie Hut kiam menggelengkan kepala dan memotong ucapannya.

"Tidak perlu kau menjelaskan, aku telah mengambil keputusan besok suruh kau pergi ke daerah selatan untuk mengungsi sementara waktu!"

"Aku tidak ingin pergi, aku hendak berdiam disini mengaw ani Kongkong!" berkata Ho Hay Hong cemas.

"Anak kau jangan menuruti kemauanmu sendiri, benarkah kau hendak mengorbankan hari depanmu yang gilang gemilang?"

"Tidak aku kira ini justru waktunya unjuk diri!"

It Jie Hui kiam kala itu yang menyaksikan  sikap Ho Hay Hong yang demikian teguh, perasaannya mendadak mendelu, ia berkata:

"Dalam rumahku in i hanya kau seorang anak laki-laki, sekalipun kau tidak memikirkan dirimu sendiri, setidak- tidaknya juga harus memikirkan keluargaku?"

"Kongkong, teras terang aku beritahukan padamu, kau masih ada seorang cucu lain laki-laki yang masih hidup, dia adalah murid kepala Lam kiang Tay bong Tang siang Sucu!"

Menyebut diri Tang siang Sucu, dalam hatinya lantas timbul pertentangan sendiri, karena perbuatan dan sepak terjang Tang siang Sucu. Ia seharusnya tidak boleh mengakui sebagai saudaranya sendiri, tetapi dilain pihak perasaan lain mencegahnya ia berlaku demikian.

It Jie Hui kiam membelalakkan matanya dan bertanya dengan suara kaget: "Benarkah? Lam kiang Tay bong selamanya tak akur dengan kakek penjinak garuda, mengapa ia mau pungut Tang siang Sucu sebagai murid?"

"Mungkin ia hendak menggunakan itu untuk memaksa kakek penjinak garuda, Dari mulut Chim kian Sianseng aku dapat tahu tentang itu, Lamkiang Tay-bong dahulu adalah Lam kie Gw at cu."

Wajah It Jie Hui kiam nampak guram, agaknya sedang memikirkan apa apa lama tidak bisa bicara.

Ho Hay Hong yang telah mengetahui bahwa dalam kitab yang ia bawa ada memuat pelajaran ilmu  silat garuda sakti, maka nyalinya semakin besar, tanpa ragu- ragu sedikitpun juga ia berkata.

"Kongkong, masih ada suatu hal aku belum beritahukan padamu, aku dengar Tee soan hong, Tok Bu Gouw kata, Kay see Kim kong tiga hari kemudian hendak pimpin anak buahnya untuk datang menyatroni kemari?"

Wajah It Jie Hui kiam berubah seketika, lama  baru bisa berkata:

"Apa? Ucapan itu keluar dari mulut Tee-soan hong?" Menggunakan kesempatan itu Ho Hay Hong bertanya: "Kongkong, siapakah sebetulnya dia itu?"

"Kau jangan tanya aku, dikemudian hari kau jangan perhubungan dengannya mengerti?"

Perasaan curiga Ho Hay Hong semakin tebal, namun ia tidak berani bertanya langsung, maka lalu berkata:

"Dia minta kepada Kongkong mempunyai belas kasihan, supaya lekas memberitahukan padanya dimana jejak anaknya sendiri, agar ia tidak menderita hatin seumur hidup. Kong kong kau tahu jejak anaknya tetapi mengapa tidak mau memberitahukan padanya? Aku melihat orang itu meskipun luarnya seperti buas  dan tidak aturan tetapi sif atnya baik. Jikalau tidak ia tentu tidak akan memberitahukan padamu tentang maksud Kaysee Kim-kong yang hendak datang menyerbu!"

"Hay Hong. kau jangan coba membela dirinya lagi orang itu adalah seorang rendah yang tidak tahu malu, segala kejahatan ia b isa lakukan, maka kau jangan dekat dengannya!"

Karena matanya tajam menatap Ho Hay Hong demikian rupa, maka Ho Hay Hong terpaksa menurut namun dalam hati tetap tidak mengerti mengapa orang tua yang sabar dan baik hati itu begitu membenci kepada Tee soan hong.

Ia tidak ingin kakek luarnya itu tidak senang dan marah, maka lantas mengalihkan pembicaraannya ke lain soal:

"Aku lihat orang tua kurus kering itu bukanlah seorang yang baik orang itu luarnya sudah menunjukkan sifatnya yang licik. Kongkong harus berhati hati sedikit terhadapnya, jangan sampai terjebak akal muslihatnya."

It Jie Hui kiam  kaget, "Ho Hay Hong, apakah sebetulnya yang telah kau lihat?"

Dengan suara sangat perlahan Ho Hay Hong menceritakan semua apa yang telah disaksikannya dihadapan kelenteng tua itu kepada kakeknya, It Jie Hui kiam lantas berkata sambil tertaw a:

"Hay Hong kau pasti salah lihat!" "Tidak, orang itu benar adalah dia, sedikitpun aku  tidak salah lihat!"

"Aku tahu adatmu keras, kau pasti t idak mau mengaku salah kau harus tahu bahwa Kong locianpweemu itu sudah mengikuti aku banyak tahun, belum pernah terjadi sesuatu dengan dirinya, tidak mungkin karena kedatanganmu ini lantas begitu kebetulan ia berubah. kau jangan anggap lantaran diluarnya kelihatannya seperti orang licik, kau lantas menganggap keliru terhadap sifatnya !"

Karena melihat kakeknya itu tetap tidak mau percaya, maka ia tidak mau berkata apa apa lagi.

"Kau tidurlah! Kongkongmu juga perlu beristirahat." berkata It Jie Hui kiam.

Ho Hay Hong mengantar keluar kakeknya, kemudian balik lagi kedalam kamarnya dan mengeluarkan lagi kitabnya. Dibawah sinar pelita, ia mulai mempelajari dengan tekun ilmu silat  yang sudah lama menjadi idamannya itu.

Semalam suntuk ia tidak mendapat kesempatan untuk mengaso, meskipun merasa agak letih, tetapi karena bahaya sudah berada didepan matanya, ia menggertakkan gigi, untuk menelan rasa kantuknya.

Waktu matahari pagi muncul, ia tidak melihat  lagi gadis baju ungu, entah kemana ia pergi.

Ia telah mengambil keputusan tidak akan meninggalkan rumah itu setapakpun juga. karena rumah tangga keluarga kakeknya sedang menghadapi ancaman bahaya, maka siang malam ia terus mempelajari ilmu  silat garuda sakti tanpa mengaso. Disamping itu ia diam-diam juga mengawasi gerak- gerik orang tua kurus kering itu, tetapi penghianat yang sangat licin itu: Gerakkannya tetap seperti biasa, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan, betul-betul merupakan seorang Kang-ouw kawakan yang sangat berbahaya.

Dalam waktu satu hari satu malam, ia sudah berhasil memahami dua rupa gerakan, lalu mulai mengadakan latihan diruangan kamar dalamnya.

Pada hari berikut nya, ketika ia berada diluar, ia telah menyaksikan adanya perubahan yang tidak wajar. Orang-orang yang berada didepan rumahnya yang dahulu biasanya adalah pedagang pedagang biasa, kini mendadak datang rombongan orang-orang kasar seperti dari kawanan penjahat.

Orang-orang itu berjalan sambil menundukkan kepala, walaupun demikian, tokh tidak merobah sifatnya, air mukanya yang buas dan kejam tidak dapat ditutupi.

Ho Hay Hong dalam hati berpikir: ”Orang-orang ini pasti rombongan yang dikirim oleh Kay-see Kim kong untuk menyelidiki keadaan rumah kakeknya.”

Dilain fihak, It-jie Hui kiam juga mengundang banyak kawan-kawannya yang masih asing bagi Ho Hay Hong, orang-orang itu yang melihat Ho Hay Hong masih muda belia, ketika ia sedang melatih ilmu silat dengan membuka baju luarnya, tiada satupun yang ambil perhatian dirinya.

Ho Hay Hong sedikitpun tidak ambil pusing, ia masih tetap bertekun melatih ilmu silatnya garuda sakti. Karena beberapa malam ia tidak pernah tidur, maka matanya agak merah. It Jie Hui kiam yang menyaksikan itu segera menitahkan padanya supaya menghentikan latihannya.

Ho Hay Hong meskipun menerima baik perint ah kakeknya, tetapi ketika berada di kamarnya, ia masih terus melanjutkan latihannya.

Gerak tipu yang ketiga berhati! dipahami  diwaktu lohor bukan kepalang capainya, hingga sore itu juga ia melanjutkan pelajarannya digerak t ipu ke empat.

Ilmu silat garuda sakti itu nampaknya sangat sederhana, hanya terdiri dari lima macam gerak tipu, tetapi setiap gerak ada mengandung perobahan gerak tipu yang sangat luas sedikit kesalahan juga membaw a kegagalan total, inilah yang membuat Ho Hay Hong yang pintar dan cerdas itu merasa sulit.

Gerak tipu keempat berhasil juga dipecahkan setelah memikir hampir setengah malam, dalam keterangannya  ia berlatih didalam kamarnya hingga meja kursi dalam kamarnya banyak yang hancur berantakan oleh pukulannya.

Hari ketiga pagi-pagi sekali, ia sudah merasa terlalu letih maka ketika duduk di atas pembaringan ia lantas tertidur.

Entah beberapa lama ia tertidur telinganya tiba-tiba mendengar suara orang memanggil:

"Hokoko, Hokoko, kau lekas bangun!" Dengan pikiran masih belum sadar betul-betul ia membuka matanya dan bertanya: "Ada urusan apa?" Orang yang memanggil padanya itu bukan lain daripada gadis berbaju ungu yang selama beberapa hari itu ia belum pernah melihatnya.

Ketika Ho Hay Hong melihatnya lalu bertanya. "Selama beberapa hari ini kemana kau pergi?"

Gadis itu tiba-tiba saja berseru kaget: "Ah. bukan saja

matamu begitu merah, suaranya juga tidak berubah.”

Ho Hay Hong waktu itu tidak melihat bahwa udara sudah gelap, maka dalam hatinya berpikir. "Waktu aku tertidur, aku ingat hari masih pagi sekali, apakah aku sudah tidur satu hari lamanya?"

"Kongkong suruh aku pergi kedaerah selatan untuk mengungsi, aku dipaksa sehingga tidak berdaya sama sekali, tetapi." berkata gadis itu, wajahnya mendadak menjadi merah. "Tetapi aku ingat kau masih berada di  sin i, aku merasa berat maka aku memaksa pulang."

Mendengar ucapan itu hati Ho Hay Hong sangat tergerak. Lama tak dapat ia berkata apa-apa.

Semula ia mengira gadis itu marah dan menjauhkan diri dari padanya, tak disangka gadis itu bukan saja tidak menyesalkan perbuatannya yang tidak sopan sebaliknya menunjukkan cinta kasihnya sedemikian dalam, dengan berani ia datang mengunjungi meski pun tahu bahwa dirinya sedang menghadapi bahaya. Cinta kasih yang ditunjukkan oleh gadis itu sesungguhnya sangat mengharukan.

"Apakah Kongkong mu tahu kalau kau kembali?" demikian ia bertanya. "Aku masuk dari pintu belakang, kecuali kau, aku kira tidak ada orang lain yang tahu! Kongkong mengira pasti aku sudah pergi jauh ke daerah selatan, ia tentu tidak menyangka aku sekarang ini masih berada  disini,  Kalau ia tahu, entah bagaimana marahnya!" 

"Aku pikir hendak sembunyikan dulu, tetapi dimana harus kusembunyikan supaya jangan sampai ketahuan orang luar?"

"Aku pikir gudang belakang itu paling baik. asal pesan yang menjaga pintu jangan berkata apa-apa, siapa pun tidak bisa tahu!"

"Baiklah kau berdiam disana untuk beberapa hari, setelah urusan selesai, aku nanti datang  menjemput kau!"

Gadis itu menganggukkan kepala dan tersenyum, setelah itu dengan sekali enjot ia sudah melesat melalui lobang jendela.

Ho Hay Hong dengan semangat yang baru mulai mempelajari gerak t ipu kelima.

Baru saja lew at jam tiga malam, ia sudah berhasil memahami seluruhnya. Dengan semangat menyala-nyala ia mengadakan latihan di tengah lapangan.

Latihan itu menimbulkan perasaan takjub dan kaget baginya, karena setiap gerak kaki dan tangannya, selalu menimbulkan hembusan angin demikian hebat, sehingga tempat disekitar lima tombak, pasir-pasir dan batu-batu pada berhamburan dan beterbangan.

Esok tengah hari. It Jie Hui kiam telah  mengutus orang untuk panggil padanya. Ia menemui kakeknya diruangan tamu, disitu sudah berkumpul tujuh atau delapan orang-orang rimba persilatan yang masih asing baginya. Mereka itu menunjukkan sikap sangat serius, tiada sepatah kata keluar dari mulut masing-masing.

Dari keadaan dan sikap orang-orang itu, ia telah menduga bahwa bahaya telah mengancam, maka ia juga tidak berani membuka mulut. Menurut perint ah kakeknya, ia duduk disisinya.

Saat itu ia baru melihat bahwa diatas meja persegi, terletak sebuah sampul merah yang dikirim oleh Kay see Kim kong. dibawah nama Kay see Kim-kong masih terdapat beberapa nama yang ditulis dengan huruf kecil, hingga tidak dapat dilihat olehnya.

Hud sim Totiang mulai memecahkan kesunyian itu dengan kata-katanya:

"Ucapan Ho siauw hiap pada beberapa hari berselang, kini telah menjadi kenyataan. Tadi Kay see Kim kong telah mengutus anak buahnya untuk mengirim surat tantangan, tidak lama lagi barangkali akan disusul oleh pasukan perangnya. Pinto minta supaya saudara saudara tetap berlaku tenang, kita lihat dahulu kekuatan musuh, barulah mengambil keputusan!"

Pada waktu itu orang tua kurus kering itu keluar dari dalam ruangan membawa minuman teh. Dengan sikapnya yang sopan ia menganggukkan kepala kepada setiap tamunya, kemudian memberikan setiap tamunya secangkir teh.

Ho Hay Hong yang selalu waspada dan memperhatikan segala gerak-gerik orang tua itu, ketika itu, dapat melihat bahwa sinar mata orang tua itu mengandung napsu membunuh, maka tergeraklah hatinya, ia khaw atir bahwa dalam teh itu ada racunnya.

Pikiran itu hanya sepintas lalu terlint as dalam otaknya, tatkala melihat It Jie Hui kiam mengangkat cangkir mempersilahkan para tetamunya minum, tangannya segera bergerak menyampok cangkirnya hingga jatuh ketanah.

Perbuatan Ho Hay Hong itu menimbulkan kericuhan dengan sorot mata terheran-heran semua orang memandangnya. Sedang It-jie Hui kiam t idak menyangka bahwa cucunya berani melakukan perbuatan yang memalukan dirinya, maka seketika itu ia lantas marah  dan katanya:

"Ho Hay Hong, apa maksudnya perbuatanmu ini ?" "Dalam air teh ini ada racunnya, tidak boleh diminum!"

jawab Ho Hay Hong.

Jawaban ini kembali mengejutkan dan mengherankan semua orang sementara orang tua kurus kering itu lantas berkata dengan nada suara dingin:

"Apa maksudnya ini? Kau harus tanggung jawab dengan ucapanmu ini!"

"Kau masih hendak menyangkal? Hari ini aku akan membuka kedokmu dihadapan orang banyak, tahu!" Kata Ho Hay Hong.

Orang tua itu masih tetap berlaku tenang, ia berkata kepada It-jie Hai kiam sambil tertaw a sinis:

"It Jie Hui kiam lo enghiong,  apakah  ini  adalah perint ahmu?" It-jie Hui kiam membentak kepada Ho Hay Hong dengan suara keras:

"Hay Hong mengapa kau mengacau di sini? Lekas keluar!"

Ho Hay Hong sudah bertekad hendak membuka kedok orang tua itu, maka ketika mendengar perint ah kakeknya ia tidak keluar, sebaliknya malah berjalan menghampiri orang tua kurus kering, lalu berkata padanya dengan nada suara dingin:

"Manusia licik yang sangat rendah martabatnya, kau benar-benar sungguh pandai main sandiwara, jikalau perbuatanmu yang kau unjukkan dihadapan kelenteng tua, benar-benar juga akan kau kelabui Sekarang tidak perlu banyak bicara, aku tanya padamu, beranikah kau mengeluarkan apa yang kau simpan dalam sakumu, untuk diperlihatkan kepada orang banyak!"

Orang tua itu marah, ia berkata kepada It Jie  Hui kiam:

"It Jie Hui kiam, sudah bertahun-tahun aku mengabdi kepadamu, aku anggap selama itu sudah cukup berlaku setia membela dirimu, tak disangka cucumu ini demikian kasar perlakukan diriku, apakah in i peraturan dalam rumah tanggamu?"

Dengan wajah merah padam It  Jie  Hui-kiam memerint ahkan anak buahnya supaya menangkap Ho Hay Hong dan dihukum rotan lima puluh kali.

Delapan pasukan Angin puyuh segera  bergerak hendak menangkap Ho Hay Hong, tetapi Ho Hay Hong menyapu dengan dua tangannya, seraya berkata dengan suara keras. "Tunggu dulu!"

-ooo0d-w 0ooo-