Rahasia Kampung Setan Jilid 13

 
Jilid 13

 "TEECU merasa berdosa, tidak dapat menyelesaikan tugas yang suhu berikan dengan baik. Teecu sudah mencari kesegala pelosok, tetapi tidak menemukan jejak mereka. Dan karena urusan Ho-sutee, terpaksa pulang lebih dulu, harap suhu memberi keampunan atas dosa teecu kali ini!" menjawab Tan Song.

"Ah." sang suhu berdiri, katanya dengan suara bengis: "Apa? Tugasmu masih belum  selesai?  Apakah  aku perint ahkan kau turun gunung hanya untuk pergi pesiar atau main-main?"

Mendengar perkataan itu sam suhengnya yang berdiri disisi Ho Hay Hong wajahnya pucat  seketika,  senyum sin isnya yang tadi telah lenyap semua. Mata suhunya yang tajam kini ditujukan kepadanya, tanpa disadarinya sam suhengnya itu lantas berlut ut, untuk mendengar pertanyaan suhunya yang bernada bengis.

"Dan kau? Apa sama juga dengan Tan Song."

Tubuh sam suhengnya gemetaran, tidak dapat menjawab. Sang suhu yang menyaksikan keadaan demikian nampaknya sangat gusar. ia berkata:

"Baik, tugas yang suhu kalian perint ahkan kalian sedikitpun tidak pandang mata. Hari in i suhumu akan menjatuhkan hukuman kepada kamu berdua"

Sehabis berkata demikian, wanita cantik itu bangkit dari tempat duduknya, tangannya menyambar sebilah pedang pendek, dilemparkan kepada mereka seraya berkata:

"Dosa melanggar perint ah suhu, tidak boleh dipandang ringan. Kamu berdua kerjakan  sendiri, suhumu enggan turun tangan." Toa suheng Tan Sang dengan sinar matanya yang kejam menatap wajah Ho Hay Hong. berlut ut ditanah dan berkata kepada suhunya dengan suara gemetar.

"Suhu, teecu sebetulnya karena menganggap urusan Ho sutee sangat penting, maka terpaksa pulang lebih dulu.!"

Sang suhu pelahan-lahan rebah di kursi nya, memejamkan mata, t idak menghiraukan sedikitpun juga keterangan dua muridnya. Toa suheng dalam keadaan tidak berdaya, terpaksa mengambil pedang pendek ditanah, hendak membacok lengan tangannya sendiri!

Tetapi sesaat kemudian, ia agaknya tidak berani menanggung penderitaan hebat itu, sebelum pedang menyentuh dagingnya, dengan cepat ditariknya kembali dan berdiri bingung.

Sam suheng juga tampak tegang, keringat dingin sudah membasahi badannya, jelas seperti juga dengan toa suhengnya, tidak sanggup menahan penderitaan hebat itu.

Tan Song terpaksa memohon kepada suhunya lagi: "Suhu, ampunilah dosa teecu kali ini!"

Dewi ular dari Ho lan-san membuka dua matanya, katanya dengan suara gusar:

"Apa kau masih belum membereskan urusanmu sendiri ?"

Tan Song mendadak lompat, dengan mata beringas berkata: "Tidak, tidak, ini tidak aturan. Mengapa Ho sutee dibiarkan enak-enakan, tanpa mendapat hukuman, sedangkan dia adalah orang yang membunuh ji-sutee ?"

Seperti orang gila ia berteriak-teriak, hingga membuat suhunya tercengang. Ia sungguh tidak sangka bahwa Tan Song bernyali demikian besar, berani menentang putusannya. Maka ia lantas marah dan berkata:

"Berlut ut, siapa suruh kau berdiri?"

Tan Song menyahut dengan suara keras:

"Aku tahu, Ho Hay Hong sebetulnya memang anakmu, sudah tentu kau selalu membela dirinya!"

Mendengar perkataan itu wajah suhunya berubah seketika, katanya dengan suara bengis:

"Murid durhaka, lekas bereskan dirimu sendiri, supaya aku t idak perlu turun tangan!"

Tan Song tiba tiba berkata kepada sam-suteenya: "Sam sutee, urusan sudah menjadi begini kita masih

pikirkan apa lagi? Bagaimanapun juga kalau kita tokh memang mati. mengapa tidak berani mengadu jiw a dengannya?"

Setelah berkata demikian, mendadak menyambitkan pedang di tangannya kepada suhunya. Selain daripada itu, orangnya sudah lompat, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyerbu dan menyerang suhunya.

Sam-suheng berkata dengan suara parau: "Suhu, adatmu yang terlalu keras, kita semua sudah cukup merasakan. Ini adalah ketidak bijaksanaanmu, bukan salah kita." Hampir bersamaan pada waktu itu dengan menghunus pedangnya, dengan beruntun tiga kali menyerang suhunya.

Dua pihak terpisah tidak ada satu tombak, dan dua murid itu bergerak dengan berbareng. Betapapun tinggi kepandaian Dewi Ular, juga tidak sanggup menangkis. Dalam gusarnya, ia menggunakan lengan jubahnya, berulang-ulang menangkis serangan dua muridnya sambil mundur.

Pedang murid kepalanya yang disambitkan kearahnya dapat disampok jatuh oleh ilmunya Hut sin Khie kang tetapi Ia terpukul mundur dua langkah oleh serangan tangan yang hebat.

Serangan pedang muridnya yang ketiga, yang dilancarkan dengan bertubi-tubi, meskipun tidak mengenakan sasarannya, tetapi sudah membuat kursi duduknya hancur berkeping-keping. Murid ketiga itu tahu benar kekuatan dan kepandaian suhunya, kalau tidak diserang secara bertubi-tubi, nanti kalau sang suhu mendapat kesempatan, mereka berdua pasti akan binasa ditangannya. Maka, ketika serangan yang pertama tidak berhasil, serangan selanjutnya menyusul dengan gencar dan ganas !

Dewi Ular serangan menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, untuk menangkis serangan pedang muridnya yang ketiga, tetapi ia melalaikan serangan telunjuk jari murid kepalanya, yang dilancarkan dengan satu muslihat yang sangat licik

Serangan telunjuk dari tangan Tan Song mengenakan bahu kiri suhunya, kemudian di teruskan kebagian perut. Dengan mendadak wajah Dewi Ular berubah mulutnya menyemburkan darah dan jatuh rubuh ditanah.

Sungguh tidak diduga-duga, serangan Tan Song mengenakan dengan tepat bagian dari kie Hiat yang letaknya dekat pusar. Karena jalan darah in i merupakan salah satu jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia, begitu terkena serangan, seluruh kekuatan tenaga murni akan lenyap semua, Dewi Ular yang sudah memiliki kekuatan tenaga dalam sangat sempurna, kini juga sudah tidak berdaya.

Tan Song tidak menduga dengan demikian mudah dapat merubuhkan suhunya, hingga diam-diam merasa girang, Ia tidak berani berlaku ayal, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, lima jari tangannya dipentang hendak menyambar batok kepala suhunya.

Kalau serangannya itu berhasil, sekalipun ada obat yang manjur sekali, juga t idak dapat menolong jiw a Dewi ular lagi.

Dengan keadaan sangat kritis, Ho Hay Hong mendadak sadar akan apa yang telah terjadi dengan suhunya. Bukan kepalang marahnya tanpa banyak pikir, ia lantas bergerak menyerang toa-suhengnya.

To suhengnya yang sedang hendak menamatkan jiw a suhunya, tidak menduga Ho Hay Hong turun tangan, tidak ampun lagi, ia telah terpukul sehingga jungkir balik.

Ho Hay Hong meneruskan serangannya kepada sam- suhengnya.

Sam-suhengnya menggunakan pedang untuk menangkis serangan suteenya, tetapi terpental mundur oleh kekuatan tenaga Ho Hay Hong yang hebat. Meskipun Ho Hay Hong tahu bahwa kekuatan tenaganya pada waktu sekarang jauh lebih hebat dari dulu, namun ia masih tidak berani berlaku gegabah. Sam suhengnya yang terpukul mundur, diserangnya lagi dengan kekuatan tenaga yang lebih hebat.

Sam suhengnya tidak berdaya sama sekali, pedangnya jatuh ditanah, orangnya terpental mundur lagi beberapa langkah.

Toa suhengnya yang menyaksikan itu. segera maju menyerbu.

Ho Hay Hong tahu dirinya diserbu oleh toa suhengnya, buru buru meninggalkan sam suhengnya, menyambut! serangan toa suhengnya.

Pada saat itu, dalam ruangan itu mendadak muncul seorang gadis cantik berusia kira kira delapan belas tahun. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu sudah menghunus pedang panjangnya, menyerang sam suheng.

Gadis cantik itu belum pernah dilihat oleh Ho Hay Hong. entah sejak kapan berada digunung itu? Dalam hatinya waktu itu meski merasa heran, tetapi Ia tidak berani menghentikan serangannya. Dengan tiga kali beruntun, ia menyerang toa-suhengnya.

Tan Song yang melihat gadis cantik itu sudah menyerang sam sutenya, dalam hati menduga bahwa gadis itu pasti orang kepercayaan suhunya. Dengan munculnya gadis itu ia tahu kalau pertempuran itu dilanjutkan, pasti tidak menguntungkan fihaknya sendiri.

Dengan cepat ia dapat mengambil keputusan. Selagi Ho Hay Hong menyambuti serangannya. Ia telah lompat melesat setinggi tiga tombak, keluar  dari ruangan. Kemudian dengan menggunakan ilmunya, tubuhnya kabur kearah lembah Siang tang kok.

Ho Hay Hong sebetulnya hendak mengejar, tetapi karena melihat suhunya dalam keadaan pingsan, tidak tahu bagaimana keadaannya, maka dibatalkannya maksudnya. Ia pikir kemana toa suhengnya akan lari, dikemudian hari pasti akan tertangkap.

Semula ia sebetulnya merasa simpati terhadap toa suhengnya, tetapi setelah toa-suhengnya berani memberontak menentang suhunya, ia lantas berbalik menjadi benci. Sebab, sekalipun suhu ada salahnya, orang yang menjadi muridnya juga sudah seharusnya menerima dengan sabar, tidak boleh melawan apa lagi menyerang dengan tidak ingat daratan.

Dengan sangat hati-hati ia bimbing suhunya, keadaan suhunya lemah sekali, jelas sudah terluka parah, hingga hatinya merasa sangat pilu.

Sam suhengnya ketika menampak toa-suhengnya sudah kabur, hatinya mulai gelisah. Saat itu ia baru tahu bagaimana mental toa suhengnya, yang membiarkan dirinya menanggung dosa untuk menerima hukuman suhunya.

Ia coba melawan dengan nekad terhadap gadis cantik itu, namun usahanya itu semua tersia-sia. Mula-mula ia sangat penasaran, kemudian terkejut dan akhirnya ketakutan. Tanpa banyak pikir lagi. ia lantas lompat melesat setinggi t iga tombak, hendak lari keluar.

Tetapi Ho Hay Hong bertindak lebih cepat. Sudah mendahului sam suhengnya, berada ditengah tengah pintu, merint angi usaha sam-suhengnya yang hendak kabur.

Dengan sikap dan sinar mata dingin Ho Hay Hong mengaw asi padanya seraya berkata: "Sam-suheng, harap jangan melawan lagi. menyerahlah saja, ini akan lebih baik bagimu"

"Ho Hay Hong, kau memang orang jahat,  tidak kecewa kau menjadi anaknya siluman itu. Hm, kau suruh aku menyerah, enak saja? Kalau kau mempunyai kepandaian boleh keluarkan semua untuk melaw an aku," menyahut sam suheng gusar.

"Dahulu, kau adalah suhengku. Karena aku harus menghormatimu. maka selama itu aku selalu mengalah terhadapmu. Tetapi sekarang, kau sudah berkhianat terhadap suhu, apa kau kira aku takut padamu?"

Ia maju selangkah, terus menyerang.

Sam suhengnya buru-buru mengangkat tangannya, menyambuti serangannya, Keduanya ternyata sama- sama menggunakan tenaga dalam, ketika serangan mereka saling beradu, Ho Hay Hong masih tetap berdiri tegak, sedangkan sam suhengnya terpental mundur dua langkah. 

Sambil tertaw a dingin, Ho Hay Hong. maju lagi tiga langkah dengan beruntun melancarkan serangannya lag i. Kali ini serangannya ditujukan kepada dada suhengnya tanpa kenal ampun.

Sam suhengnya terperanjat, ia coba melawan tetapi tidak sanggup menahan serangan suteenya yang demikian hebat, terpaksa mundur terus-terusan. Ho Hay Hong terus mendesak, hingga serangan yang ketujuh, baru berhasil merubuhkannya.

Sam suhengnya mengerti bahwa kekuatan dan kepandaiannya sendiri tidak sanggup melawan suteenya. karena tidak mau terhina, maka lantas pukul hancur batok kepalanya sendiri.

Ho Hay Hong singkirkan jenasah suhengnya kebelakang kebun, untuk dikubur. Mengingat perubahan besar yang terjadi dalam perguruannya, ia juga merasa sedih.

Selesai mengubur jenasah suhengnya. ia balik keruangan tengah, Suasana sepi sunyi.

Tiba didalam ruangan tampak gadis cantik itu dengan wajah pucat pasi sedang memijat-mijat suhunya. Ia lalu tanya-tanya kepada diri sendiri: "Siapakah dia sebetulnya? Ada hubungan apa dengan suhu? Mengapa tanpa memikirkan berapa banyak tenaga dalam  yang baru dikeluarkan untuk menyembuhkan suhunya?

Karena mengetahui gadis Itu sedang menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menyembuhkan luka suhunya, maka ia tidak berani menanya. Setelah selesai dan gadis itu bangkit, ia baru bertanya dengan suara pelahan:

"Kau siapa?"

Gadis itu nampak sangat letih sekali, ia  tidak menjawab pertanyaan Ho Hay Hong, sebaliknya balas menanya: "Kau siapa?"

"Aku Ho Hay Hong!" jawab Ho Hay Hong terkejut. Mendengar jawaban, gadis itu tiba-tiba menundukkan kepala, dengan muka kemerah-merahan masuk  ke dalam.

Ho Hay Hong tidak berani mengganggu, tidak mau menanya lagi, membiarkannya masuk kedalam.

Tak lama kemudian Dewi ular sudah mendusin. Baru sembuh dari sakit, mukanya pucat pasi, matanya juga tidak bersinar.

Di waktu biasa, terhadap suhunya yang adanya agak aneh itu ia memang tidak mempunyai kesan baik, Ia selalu anggap bahwa suhunya itu mengubur masa muda, murid-muridnya di gunung yang sepi sunyi dan tidak pernah dirambah oleh kaki manusia itu, tetapi sekarang ia mengerti bagaimana perasaan seorang yang habis menderita batin.

Dengan penuh perhatian ia menanya : "Suhu, apakah suhu sudah baikan?"

"Sudah banyak baik, dimana mereka berdua?" jawab sang suhu dengan tidak bertenaga.

"Toa-suheng sudah merat, sam suheng sudah binasa."

Sang suhu menganggukkan kepala, dengan tetap tidak bertenaga, ia berkata:

"Selanjutnya kau jangan panggil dia suheng lagi!" "Baik," menjawab Ho Hay Hong.

Diam-diam ia merasakan bahwa suhunya itu kini telah

banyak berubah, peristiw a menyedihkan itu telah merubah sifatnya yang dingin menjadi hangat dan lemah lembut. "Siapa yang menyadarkan aku?"

"Perempuan muda itu Oh, ya, suhu dia itu siapa?" "Bakal isterimu di kemudian hari."

Ho Hay Hong terkejut. Ia tahu benar adat suhunya,

apa yang sudah dikatakan, tidak akan dirubah. Dalam hati meskipun merasa tidak puas, tetapi ia masih berusaha jangan sampai dikentarakan.

"Kau pikir bagaimana? Hay Hong!"

"Teecu kira masih terlalu pagi bagi tecu untuk mendirikan rumah tangga."

"Hay Hong, apakah ini adalah alasanmu untuk menolak?"

Karena Ho Hay Hong tidak suka memotong, seketika dia bungkam, tidak dapat menjawab.

"Aih, mungkin kau sudah mempunyai pandangan." berkata sang suhu sambil menarik nafas dalam-dalam. Agaknya merasa sangat kecewa, maka tidak berkata soal-soal itu lagi, lantas memejamkan matanya.

Ho Hay Hong tidak berani menanya secara langsung, pura pura menghela napas, kemudian baru berkata:

"Aku tidak pantas menjadi suaminya, karena teecu hanya merupakan satu anak haram."

Mendengar perkataan itu, sang guru membuka lebar matanya, menatap wajahnya, kemudian bertanya.

"Siapa yang mengatakan itu ?"

"Kakek penjinak garuda!" jawabnya terus terang. Ia mengira sesudah tahunya mendengar nama kakek penjinak garuda, pasti akan marah. Diluar dugaannya, suhunya hanya menghela napas pelahan dan kemudian berkata:

"Ho Hay Hong, kau jangan pikir yang tidak-tidak, kau jangan percaya ocehannya!"

Kata-katanya diucapkan dengan suara lemah lembut, bagaikan ibu terhadap anaknya.

Ho Hay Hong semakin berani, ia berkata.

"Suhu, harap suhu beritahukan terus terang, siapakah ayah bunda teecu yang sebenarnya? Suhu, urusan ini membuat tecu menderita bathin sepuluh tahun lebih, harap suhu jangan menyembunyikan apa-apa lagi."

Dewi ular angkat muka memandang wajahnya, tiba- tiba tertaw a nyaring dan berkata: "Pergi, pergilah tanya It Jie Hui Kiam. Sekarang juga kau turun gunung!" Dari dalam sakunya mengeluarkan sebungkus obat bubuk dan berkata pula:

"Ini adalah obat pemunah racun, kau ambillah, mulai hari ini kau jangan melihat aku lagi."

Menampak suhunya bersedih dan mengucurkan air mata, Ho Hay Hong terkejut, Belum lagi membuka mulutnya, sudah terdengar kata-kata suhunya: "Hay Hong, baik baik jaga dirimu sendiri, suhumu sudah mengambil keputusan, besok pagi akan meninggalkan tempat ini, tidak akan kembali lagi. Kalau  kau  masih ingat diriku, kau boleh rajin melatih ilmu silat yang kuwariskan padamu, ini seperti juga melihat diriku !" "Suhu, ini tidak mungkin, teecu hendak meraw at suhu seumur hidup." berkata Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.

Sang suhu mendadak bangkit, tanpa berkata apa-apa, terus lari masuk kekamar. Sebentar kemudian ia keluar lagi dengan membaw a gadis cantik itu tadi, keluar dari ruangan!

Ho Hay Hong mengejar, tetapi dicegah oleh suhunya dengan kata keras:

"Kau menjaga satu hari disini, besok pagi kau boleh bereskan semua barang-barangmu dan meninggalkan tempat ini !"

"Suhu. benarkah suhu tidak akan kembali lagi?" bertanya Ho Hay Hong.

Dengan perasaan  sedih ia menundukkan kepala, pikirannya kalut , tidak tahu bagaimana menghibur dirinya.

Sang suhu nampaknya sudah berencana hendak pergi, sebentar saja sudah berjalan sepuluh tombak lebih.

Ho Hay Hong tiba-tiba angkat muka dan berseru dengan suara nyaring:

"Suhu, apakah suhu tidak membawa  barang sedikitpun juga?"

Suhunya menyahut tanpa menoleh: "Sewaktu suhumu datang kemari juga dengan sepasang tangan kosong. Dan sekarang waktu pergipun tidak mau mengganggu barang-barang diatas meja sembahyang !"

"Suhu. kapan teecu baru bisa bertemu dengan suhu lagi ?" Dari jauh terdengar suara jawaban suhunya: "Mungkin masih ada waktu, tapi mungkin juga sudah tidak bisa bertemu lagi."

Dari suaranya yang gemetar, ia dapat menduga bahwa kedukaan suhunya, sesungguhnya tidak ada beda seperti dirinya sendiri.

Demikian besar rasa sedihnya, hingga tanpa sadar sudah berlut ut didepan meja sembahyang dan menangis seperti anak kecil.

Angin gunung meniup masuk, ketika ia mengangkat muka, hari sudah hampir gelap.

Ia memasang pelita, duduk mendekur diatas kursi sambil berpikir.

Dalam yang sunyi itu, hanya suara angin malam yang menderu deru, yang menambah kepedihan hatinya.

Entah berapa lama, mungkin karena terlalu letih, ia telah t idur pulas diatas kursi.

Dalam tidur, ia telah mengimpi diuber-uber setan, yang mendesak padanya terjun ke dalam jurang yang curam, hingga ketakutan setengah mati.

Tiba-tiba telinganya dapat menangkap suara aneh, suara itu seperti suara orang menjerit, juga seperti suara orang menggali tanah. Ia segera terjaga dan membuka matanya, menengok kebawah dinding sudut timur. Dibawah sinar pelita, tampak olehnya sesosok bayangan putih, yang sedang menggali tanah dengan menggunakan pedang. Orang baju putih itu tidak  lain dari pada toa suhengnya sendiri. Tan Song ! Tak disangka toa suhengnya itu begitu berani mati, malam-malam masih berani baik kembali!

Lama toa suhengnya itu menggali, tiba-tiba dari dalam tanah ia mengeluarkan sebuah kotak besi. Ia membuka kotak besi dan mengambil is inya.

Ho Hay Hong tidak bisa tinggal diam lagi, dengan mendadak ia lompat menyergap.

Toa suhengnya terkejut, mulutnya mengeluarkan suara jeritan, bersamaan  dengan itu badannya juga lompat mundur. Tetapi dengan demikian, barang dalam kotak besi itu lantas terjatuh.

Ho Hay Hong yang bermata jeli cekatan, dengan cepat menyambar barang itu tanpa dilihat, sudah dimasukkan kedalam sakunya.

Toa suhengnya yang dengan susah payah baru mendapatkan barang itu, sebaliknya d iambil o leh Ho Hay Hong, yang tanpa mengeluarkan tenaga, sudah barang tentu sangat murka.

"Anjing kecil, lekas kembalikan barangku. aku nanti ampuni jiwamu!" demikian katanya marah.

Ho Hay Hong sudah tentu tidak kembalikan. Dari sikap toa suhengnya yang berani, ia menduga mungkin toa suheng itu sudah tahu kalau suhunya sudah berlalu dari situ.

"Anjing kecil! Kau belum keluarkan, kalau belum melihat peti mati, aku mau hajar kau sampai mampus, baru tahu rasa." demikian toa suhengnya memaki. Kotak besi yang sudah kosong dilemparkan ketanah, lalu dia menghunus pedang panjangnya dan menyerang Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong lompat mundur dan berkata dengan nada dingin:

"Suheng. nyalimu benar-benar sangat besar,  kau masih berani masuk kedalam ruangan ini, heh ."

Dua tangannya melancarkan serangan dengan berbareng, hembusan angin yang ke luar dari tangannya telah berhasil menahan pedang toa suhengnya.

Tan Song maju menyerang lagi, dengan beruntun menggunakan gerak tipunya yang mematikan, kali ini serangannya ditujukan dada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong yang tanpa senjata di tangan, tidak berani menyambut dengan kekerasan, terpaksa lompat mundur.

Tan Song mendadak menarik kembali serangannya dan berkata:

"Mengingat hubungan kita dimasa yang lalu, aku tidak ingin menyusahkan kau. Harap kau kembalikan barangku itu?"

"Aku tidak takut padamu, kalau kau mempunyai kepandaian. boleh ambil dari tanganku."

"Baik, bocah, kalau kau berani melangkah keluar selangkah saja dari gunung Ho lan san in i, aku Tan Song nanti akan tunduk pada mu." berkata sang  suheng dengan mata mendelik, setelah itu, berjalan keluar dengan hati panas, sebentar sudah menghilang.

Ho Hay Hong yang sudah ingin mengetahui barang apa itu, tidak mengejar. Setelah suhengnya pergi jauh, buru2 dikeluarkannya barang itu dan diperiksanya di bawah lampu pelita.

Diluar dugaannya, barang itu ternyata sejilid kitab kulit, dikulitnya terdapat tulisan hurup yang berbunyi: Salinan Pelajaran Ilmu Silat Garuda Sakti.

Ia membuka lembarannya, didalamnya terdapat tulisan yang semuanya merupakan pelajaran ilmu silat. Seketika itu ia lantas tersadar. ”Pantas suheng tengah malam buta berani datang kemari, kiranya ia tidak dapat melupakan kitab ini yang merupakan pelajaran ilmu silat terampuh." Demikian ia berpikir.

Tetapi karena mengingat bahwa kitab itu adalah milik suhunya, maka ia harus mengembalikan padanya. Setelah menemukan suhunya, ia harus menjaga hati- hati, jangan sampai hilang.

Dengan sangat hati-hati ia simpan lagi kitab itu kedalam sakunya, kemudian keluar dari ruangan.

Pada saat itu, cuaca sudah mulai sedikit terang, angin pagi meniup sepoi-sepoi. Sekaligus ia lari beberapa puluh pal tanpa rintangan, dalam hatinya diam diam merasa geli, dianggapnya bahwa ucapan suhengnya tadi terlalu tekebur dan merupakan gertakan kosong belaka.

Tetapi sesudah tiba dikaki gunung, keadaan jauh berbeda. Jalan raya yang sepi, yang biasanya sedikit sekali orang berjalan saat itu tampak beberapa kelompok terdiri dari tiga atau lima orang, yang berdandan seperti petani atau tukang kayu, berjalan dengan menundukan kepala.

Orang-orang itu pada memakai topi rumput menutupi muka masing-masing, sehingga tidak diketahui wajah asli mereka: Gerakan mereka menunjukan bahwa orang- orang itu pada memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi.

Ho Hay Hong sudah mendapat firasat t idak baik orang orang itu sudah jelas mendapat tugas untuk mengamat- amati dirinya agak sangsi, karena toa suhengnya yang dibesarkan bersama-sama dengannya digunung Ho lan- san, mungkinkah berlaku kejam benar-benar terhadap dirinya?

Pada saat itu, udara cerah, ia anggap orang-orang itu tentu tidak berani menyerang secara terang-terangan. Maka ia berjalan seenaknya dengan hati tabah.

Setelah melalu i kupal Hong gwat teng, keadaan ternyata berubah jauh. Batu besar yang selalu diliputi oleh salju itu, kini tidak nampak lagi. Jalanan lebar yang penuh batu-batu kecil terbentang dihadapan matanya, Ia dahulu suka sekali duduk menikmati pemandangan alam ditempat itu.

Tetapi kini karena pikirannya kalut , ia tidak ingin duduk ditempat itu, namun demikian, ia masih berhenti sebentar, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Dengan tiba-tiba, dari dalam kupal terdengar suara orang membentak: "Berhenti!"

Ho Hay Hong merandek dan berpaling kearah kupal tampik olehnya tiga orang Kang ouw bertubuh tegap kekar dan berpakaian warna kuning menghampiri dan satu diantaranya berkata:

"Apakah kau Ho Hay- Hong?" "Benar! Aku adalah Ho Hay Hong." menjawab Ho Hay Hong terkejut.

Orang itu dari pinggangnya mengeluarkan senjata sepasang kampak, katanya dengan suara bengis:

"Lekas serahkan kitab ilmu silat garuda sakti! Aku  nanti ampuni jiwamu!"

Ho Hay Hong lantas naik pitam, pikirnya, ’suheng benar-benar menjual aku.’

"Suruh Tan Song datang mengambil sendiri!"

Baru saja menutup mulut, dari dalam kupal terdengar suara orang tertaw a, seorang pemuda cakap tampan berdiri tidak jauh dari situ, ia bukan lain dari pada Tan Song.

"Ho sutee, kau tidak percaya ucapanku? sekarang rugi sendiri. Untuk menghindari pertumpahan darah dan mengingat persaudaraan kita dimasa yang lampau, sebaiknya kau serahkan kitab itu dan aku juga tidak akan menyusahkan kau!" berkata Tan Song.

"Murid durhaka! Apa kau kira aku Ho Hay Hong mandah kau perhina?" jawab Ho Hay Hong.

Ketika melirik kepada tiga orang itu, ternyata mereka sedang menghampiri. Ia tahu bahwa pertempuran hebat sudah tidak dapat dicegah, maka sebelum musuhnya mendekati sudah diserang lebih dulu. Ia serbu dan serang dua orang yang letaknya paling dekat dengannya.

Dua orang sama sama menggunakan senjata kampak. Ketika diserbu oleh Ho Hay Hong, dengan cepat lompat melesat, kemudian lompat turun sambil menyerang dengan kampak masing-masing. Dua orang itu ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh yang mahir sekali, kekuatan tenaga dalam mereka juga cukup hebat. Dalam waktu singkat mereka merubah beberapa gerak tipu yang mematikan, untuk membinasakan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong tahu telah ketemu musuh tangguh. Ia tidak berani berlaku gegabah. Dengan satu gerak tipunya angin dan geledek menyambar seorang yang berada disebelah kanan.

Satu diantaranya mungkin tidak berani mengadu kekuatan tenaga, dengan cepat menarik kembali senjatanya dan lompat mundur sedang mulutnya membentak:

"Bocah, kau benar benar." suhunya dimaki perempuan hina, seketika naik darah. Dengan menggunakan kekuatan tenaga penuh melakukan serangan kepada orang itu.

Orang itu tidak menduga akan diserang secara mendadak hingga tidak keburu mengelak. Serangan itu mengenakan dengan telak.

Ia menjerit dan menekap perutnya sambil mundur terhuyung-huyung.

Berhasil dengan serangannya, Ho Hay Hong semangatnya bertambah. Tidak menunggu musuhnya maju, sudah menghajar lagi dengan gerak tipu pukulannya yang mematikan, kali ini kembali berhasil mematahkan tulang rusuknya, hingga orang itu jatuh dan tidak bisa bangun lagi.

Tan Song marah, Ia berkata dengan suara gusar: "Anjing kecil, kau benar tidak tahu diri, lihat pedang"

Dengan tiba-tiba sebatang benda bersinar telah melesat keluar dari tangannya. Begitu sinar berkelebat, sebilah pedang panjang meluncur dan terus menuju ke perut Ho Hay Hong.

Wajah Ho Hay Hong berubah, ia tahu bahwa suhengnya sudah menggunakan ilmu pedang terbangnya untuk mengambil jiwanya.

Karena ia sendiri juga sudah belajar ilmu itu,  maka tahu benar hebat dan ganasnya serangan pedang demikian dan tidak dapat dilawan dengan  tangan kosong. Maka ia lalu menggunakan ilmunya meringankan tubuh melesat setinggi tiga tombak.

Pedang terbang itu lew at dibawah kakinya, hanya terpaut sedikit saja akan dirinya. ”Benar-benar hebat."

Ia tahu bahwa pedang itu pasti akan kembali untuk menyerang, maka ditengah udara ia menggunakan ilmu naik tangga melesat setinggi lima kaki lebih.

Tan Song mengempos hawa, mendorong pedang terbangnya. Pedang itu benar saja  berputar dan membalikkan ujungnya, meluncur keatas.

Ho Hay Hong menduga toa suhengnya akan menggunakan serangan secara demikian, sehingga tidak keburu mempertahankan posisinya?. Tangan kirinya dengan cepat mendorong kebelakang. kemudian badannya melancar turun ke barat. Ketika pedang terbang itu, melesat setinggi lima enam tombak dengan hebatnya sudah tidak mengenai sasarannya. Dalam keadaan repot, orang yang berada dikiri  dengan cepat sudah menggerak tampaknya untuk membacok. Mereka berdua agaknya sudah tahu bahwa anak muda itu sangat tinggi kepandaiannya maka serangannya kali ini dilakukan dengan menggunakan gerak tipu yang paling ampuh.

Ho Hay Hong dengan tangan kiri. Memegang gagang pedang senjata lawannya tangan kanan meminjam kekuatan lawannya, menyerang satu musuh yang lain.

Orang itu wajahnya berubah, buru-buru lompat mundur.

Dalam keadaan demikian, Ho Hay Hong masih sempat melihat, dijalan raya dibelakang dirinya, muncul sepuluh lebih orang-orang Kang ouw yang lari menuju kearahnya.

Ia tahu jumlah musuh terlalu banyak hingga tidak mudah dilawan, maka ia memikirkan  suatu siasat, bagaimana harus menyingkir dari situ.

Satu-satunya jalan baginya adalah bukit kecil yang berada di sebelah selatan. Tempat itu terdapat banyak batu cadas yang tajam dan tumbuhan rumput panjang. Asal ia berhasil sembunyikan diri diantara pepohonan yang terdapat disitu, mungkin tidak mudah diketemukan oleh musuh-musuhnya."

Tetapi, dari atas bukit itu mendadak muncul seorang tua berjenggot panjang, yang berdiri menonton sambil peluk tangan.

Melihat sikap dan sinar mata orang tua itu, Ho Hay Hong dapat menduga bahwa orang tua itu pasti memiliki kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna hingga dalam hatinya diam-diam mengeluh. Musuhnya berbaju kuning bersenjata kampak itu ketika melihat datangnya bala bantuan, lantas memberi perint ah kepada kawannya:

"Lekas pencarkan diri, jangan membiarkan anjing kecil ini lari !"

Mendengar perint ah itu, bala  bantuan kecil yang berada disebelah selatan tempat yang baru tiba itu segera mengepung Ho Hay Hong.

Disamping bala bantuan musuh yang sudah mulai mengepung dirinya, Ho Hay Hong juga dapat melihat di bagian barat terhalang oleh sungai, diseberang sungai terdapat sepasukan barisan anak panah.

Ho Hay Hong tahu bahwa dari situ sudah tidak ada harapan untuk kabur, maka matanya ditujukan kearah utara. Tetapi disini juga tampak empat lelaki berpakaian warna ungu, siap dengan senjata lengkap. Diantaranya terdapat toa suhengnya Tan Song, mengaw asi padanya dengan sinar mata penuh kebencian. Dan sang  suheng ini, setiap saat bisa menggunakan ilmu pedang terbangnya, melakukan serangan terhadapnya dari jarak sepuluh tombak lebih.

Jelaslah sudah bahwa dari jurusan itu juga tidak memungkinkan lagi baginya untuk melarikan diri.

Harapannya yang terakhir kini ditujukan kearah timur, tetapi dibagian timur itu ternyata tampak lebih banyak jumlah orang yang menjaga. Kecuali orang-orang Kang- ouw yang menyamar menjadi petani, masih ada dua ekor harimau dan dua ekor singa yang turut bantu menjaga.

Binatang-binatang buas itu agaknya sudah terlatih baik, sebelum mendapat perintah, tidak mau bertindak. Baginya, enam ekor binatang buas itu tidak berarti apa apa, yang menarik perhatiannya ialah serombongan orang-orang katai berpakaian pelajar yang berada didekat binatang itu. Orang-orang kate itu nampaknya seperti tidak bertenaga, tetapi dari suara mereka, menunjukan kekuatan tenaga dalam yang sudah cukup sempurna, terutama dari sinar matanya yang tajam.

Orang orang kate itu seluruhnya  berjumlah  lima orang, masing masing memakai w arna merah. Dari sikap mereka menunjukkan bahwa sedikitpun mereka tidak pandang mata kepada Ho Hay Hong.

Dari gerak gerik mereka. Ho Hay Hong sudah merasa khaw atir, orang-orang yang kelihatannya tidak berarti itu, sesungguhnya merupakan lawan terberat.

Terhadap orang-orang demikian, sudah tentu ia tidak berani bertindak gegabah dengan resiko yang sangat besar, hingga ia kini benar-benar sudah berada dalam kepungan yang susah ditembus.

Beberapa kali ia mengadu kekuatan dengan orang- orang berpakaian kuning, kini  harus menghindarkan sedapat mungkin, jangan sampai menghamburkan tenaganya.

Pada saat itu, Mendadak ia dapat lihat  bahwa orang tua berjenggot panjang yang sombong berdiri dibagian barat itu sudah berjalan dan sebentar kemudian sudah tidak kelihatan bayangannya.

Dengan penuh keyakinan, Ho Hay Hong lompat melesat setinggi lima tombak lebih dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, terus lari keatas bukit. Musuh ternyata tidak mengejar, berkata dengan nada suara dingin:

"Anjing kecil t idak tahu diri, kau hendak kabur, ya ?"

Ho Hay Hong tidak menghiraukan, ia sedang berusaha naik kebukit

Ia kenal baik keadaan tempat itu. asal berhasil melalui bukit itu dia masuk kedalam rimba.

Tapi pada saat  itu, mendadak muncul  sesosok bayangan putih, yang tak lain dari pada kakek berambut panjang itu tadi. Ho Hay Hong terkejut, terpaksa menghentikan usahanya, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kakek itu memandang padanya dengan sinar matanya yang tajam, kemudian berkata sambil tertaw a.

"Heran, aku kira kau seorang pintar, tak dinyana ada jalan yang menuju ke-sorga kau tidak mau. sebaliknya menuju ke-neraka !"

Ho Hay Hong tidak menghiraukan ejekannya, ia berkata:

"Aku kira cianpwee bukanlah orang dari kawanan binatang anjing itu. sungguh tak kusangka cianpwee yang memiliki tulang-tulang bagaikan dewa, ternyata juga sudi berkelompok dengan kaw anan berandal!"

"Hahahaha disebelah utara sungai Toa kang orang yang berani mengatakan perkataan demikian terhadap aku, barangkali hanya kau seorang saja. Kau tentunya belum tahu siapa aku ini."

"Cianpwee berani menganggap diri sendiri seorang kuat nomor satu, daerah mana tentunya memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Baiklah, sekarang aku ingin minta pelajaran satu dua jurus saja."

Karena ia melihat empat penjuru sudah terkurung rapat, dalam keadaan cemas dan gusar, ia sudah tidak pikirkan lagi dengan nasibnya.

"Anak muda, kau ingin minta pelajaran dariku, aku bersedia mengiring kehendakmu. Kau boleh coba sambuti serangan tanganku ini, kalau kau sanggup, barulah kau ada hak untuk mencoba kepandaian ilmu silatku. Jika tidak, ini berarti salahmu sendiri, kau jangan sesalkan aku berlaku kejam !"

Ho Hay Hong mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyambuti serangan tangan kosong orang tua itu. Tiba-tiba bagian dalam tubuhnya terpukul oleh kekuatan tenaga yang sangat lunak, hingga seketika itu juga lantas menyemburkan darah dari mulut.

"Usiamu masih demikian muda, tetapi sanggup menyambuti seranganku. Sesungguhnya satu bakat yang sangat baik." berkata orang tua itu.

Ia mengangkat kembali tangannya, melancarkan serangan tangan kosong.

Serangannya itu nampaknya tidak bertenaga, tetapi setelah beradu, dengan mendadak berubah menjadi suatu serangan yang amat dahsyat.

Ho Hay Hong sejak mendapat bantuan kekuatan tenaga si kakek penjinak garuda, kekuatan tenaga dalamnya sudah banyak bertambah. Diluar dugaannya, baru saja bergebrak sudah terluka dalam tubuhnya. Maka ketika diserang untuk kedua kalinya, ia berlaku nekad. Sambil mengeluarkan siu lan panjang, ia sambuti serangan itu.

Kali in i lebih hebat akibatnya, darahnya dirasakan bergolak, matanya berkunang kunang. Sekarang ia baru tahu betapa hebat kekuatan tenaga orang tua itu.

Tanpa menggeser kakinya setapakpun juga, orang tua itu berkata dengan singkat:

"Aku lihat usiamu masih sangat muda sekali, hari depanmu tidak terbatas, maka kuberikan kesempatan padamu satu jalan hidup. Asal kau mau menyerahkan salinan kitab ilmu silat Garuda Sakti, kau pergi dengan bebas!"

Ia lihat Ho Hay Hong diam saja, lantas berkata lagi sambil tersenyum:

"Kalau kau mempunyai cita-cita besar, supaya namamu kesohor, aku juga suka memberi bantuan padamu. Kau boleh masuk golonganku. Dengan kepandaianmu ini, aku akan memberikan kau satu jabatan penting!"

"Apakah Tan Song sudah menjadi anggota golongan cianpwee?" demikian Ho Hay Hong balai menanya. "Dia sekarang sudah menjabat pangkat komandan pasukan lima bagian, mengurus segala urusan penting dalam golonganku. Kalau kau bersedia menjadi anggota golonganku, aku juga akan berikan kau pangkat tinggi."

Mendengar perkataan itu, alis Ho Hay Hong berdiri, katanya: "Apa kau kira aku ini seorang sebangsa Tan Song yang menjual martabatnya untuk mendapatkan nama dan kedudukan? Kau jangan salah melihat orang."

"Kalau begitu, kau serahkan salinan kitab garuda sakti, jikalau t idak, jiw amu dalam bahaya."

Ho hay Hong pikir bahwa salinan kitab Garuda Sakti  itu adalah milik suhunya, kitab itu merupakan suatu pelajaran ilmu silat yang tidak ada taranya, sudah tentu tidak boleh terjatuh ke tangan sembarang orang.

Apalagi kalau sampai terjatuh di tangan orang jahat, maka ia  harus  melindungi  sebaik-baiknya,  sekalipun jiw anya sendiri melayang, ia juga merasa bangga.

Karena berpikir demikian, ia telah siap dan kalau perlu ia korbankan jiwanya.

Pada saat itu, dari jauh tiba-tiba terdengar suara nyanyian berani: "Angin puyuh baru mulai, kawanan siluman sudah ketakutan setengah mati Angin puyuh timbul lagi jagad menjadi bersih."

Suara nyanyian itu menggema diangkasa yang sunyi dan ketika orang tua itu mendengar suara nyanyian itu matanya tiba tiba ditujukan ke arah jauh, mulutnya mengguman: "Ehm, kiranya pasukan angin puyuh sudah datang."

Ho Hay Hong segera berpikir, apabila saat itu tidak pergi, tunggu apalagi ? Selagi orang tua itu alihkan perhatiannya kepada pasukan angin puyuh, dengan tiba tiba ia lompat meleset setinggi lima tombak. dengan melalu i atas kepala orang tua itu, pergi melarikan diri. Sekaligus ia lari sejauh sepuluh tombak lebih, ketika ia menoleh ke belakang, orang tua itu ternyata tidak mengejar. Hanya sepuluh lebih pasukan orang-orang berbaju ungu dan beberapa ekor harimau yang coba mengejar dirinya.

Meskipun hatinya merasa lega, tetapi ia tidak berani berlaku gegabah. Dengan menahan rasa sakit dalam dadanya, ia menggunakan ilmu meringankan tubuh perguruannya, lari turun bukit dan menuju ke selatan.

Gerak kakinya sangat pesat, dalam waktu sekejap mata sudah menempuh jarak sepuluh pal lebih, hingga rombongan orang yang mengejar tertinggal jauh  dibelakangnya. tapi, sebentar kemudian, ia merasakan bahwa luka didalam dadanya semakin berat, hingga ia terpaksa mengendorkan tindakan kakinya.

Ia sangat gelisah, karena melihat, rombongan orang orang yang mengejar dirinya semakin dekat, suara mengaumnya binatang buas itu juga sudah terdengar samar samar.

Dalam keadaan demikian, apa mau perjalanannya itu kembali telah terhalang oleh sungai yang melintang dihadapan matanya.

Sungai itu cukup luas, kira kira sepuluh tombak lebih, airnya mengalir demikian deras, sekalipun pandai berenang, juga tidak dapat mengarungi air  yang mengalir demikian deras, maka ia diam-diam mengeluh sendiri.

Di depan matanya terhalang oleh sungai sedang di belakangnya dikejar oleh musuh, sekalipun ia seorang berani, juga merasa gelisah. Sambil mendongakkan kepala, ia berkata sendiri: "Apakah aku Ho Hay Hong harus binasa di tempat ini .?"

Pada saat itu, lukanya semakin berat, rasa sakit menusuk ulu hati dan tulang-tulangnya, hingga ia berhenti lari dan duduk di tanah.

Beberapa titik bayangan hitam, dari jauh nampak lari mendatangi ke arahnya. Ho Hay Hong mendadak mendapatkan satu akal. Ia tidak berani berlaku ayal, dengan cepat membuka sepatunya, diletakkan di tepi sungai. Kemudian merobek bajunya yang penuh tanda darah, dibuangnya ke pantai, tanah pasir ditepi sungai sengaja dibikin kalut.

Semua selesai, ia memeriksanya lagi dengan seksama, benar saja mirip dengan orang yang bekas menyeburkan diri kedalam sungai. Kemudian menahan rasa sakitnya, ia lari dan sembunyi dibelakang batu besar.

Tak lama kemudian, rombongan orang-orang berbaju ungu itu tiba ditempat itu. Dengan cepat mereka mendapat tahu bekas tanda yang ditinggalkan oleh Ho Hay Hong. Satu diantaranya berkata:

"Mungkin anjing kecil itu sudah ceburkan diri kedalam sungai"

Yang lainnya menyahut. "Ya, badannya sudah terluka parah, mungkin ia sudah tahu bahwa sudah tidak ada harapan lo los dari sin i. maka lalu mengambil keputusan membunuh diri."

Orang-orang itu masih coba mencari, tetapi tidak menemukan jejaknya. Orang yang tadi itu kembali berkata: "Air sungai ini mengalir deras sekali, anjing kecil pasti sudah tergulung olah arus ombak, mari kita bawa pulang saja barang- barangnya, untuk diberitahukan kepada loya!"

Usul itu segera diterima baik, maka mereka lantas beramai-ramai meninggalkan tempat itu!

Ho Hay Hong menunggu sampai orang-orang itu sudah tidak kelihatan, baru berani keluar dari tempat sembunyinya. Meskipun ia merasa puas dengan akalnya yang berhasil mengakali musuhnya, tetapi karena dalam tubuhnya terluka, masih belum bisa ia bersenyum.

Ia menghela napas panjang, dari jalan kecil berjalan menuju kejalan raya, dengan membaw a dirinya yang sudah terluka, pelan-pelan menuju ke kota.

Ia juga mengunjungi beberapa tabib dalam kota, tetapi mereka itu jika tidak mengatakan bahwa lukanya terlalu parah, ada juga yang mengatakan belum menemukan sebab-sebabnya, hingga tidak bisa memberikan obat yang tepat. Ia juga tahu bahwa luka bekas terpukul orang berkepandaian tinggi, tidak dapat disembuhkan oleh tabib biasa, maka akhirnya ia merasa kecewa.

Dengan langkah sangat lambat sekali ia berjalan dijalan raya dengan hati risau.

Dengan tiba-tiba telinganya menangkap suara derap kaki kuda, dari jauh semakin mendekat.

Delapan penunggang kuda melarikan kudanya dengan pesat, seolah-olah bukan berjalan ditengah-tengah kota. Menyaksikan keadaan orang gagah itu, hati Ho Hay Hong diam-diam mengeluh.

Delapan penunggang kuda itu karena membedal kuda masing-masing dengan sesukanya, membuat banyak orang, yang berjalan kaki pada lari menyingkir.

Tetapi mereka tidak menghiraukan, bahkan nampaknya sangat gembira.

Tetapi orang-orang banyak itu nampaknya tidak menyesalkan perbuatan para penunggang kuda itu, bahkan ramai-ramai melambai-lambaikan tangan kepada mereka, agaknya merasa bangga.

Ho Hay Hong diam-diam merasa heran maka ia lalu menanya kepada salah seorang: "Para penunggang kuda itu malaikat dari mana?"

Mendengar pertanyaan itu, orang itu menunjuk sikap heran kepadanya, ia tidak menjawab, sebaliknya balas menanya:

"Apakah sahabat dari daerah selatan?"

Ho Hay Hong tercengang, dari sikap orang itu agaknya mengandung maksud menghina. tetapi ia tidak marah, bahkan menjawab sambil menganggukkan kepala:

"Benar, aku yang rendah dari daerah selatan."

"Oh, pasti! saudara t idak tahu riw ayat mereka. Mereka delapan orang adalah rombongan dari pasukan Angin puyuh yang namanya sangat kesohor didaerah utara."

Ho Hay Hong segera teringat kepada suara nyanyian beramai yang didengarnya di Hong gw at teng, ketika dirinya sedang terkurung oleh musuh-musuhnya. "Apa yang dilakukan oleh pasukan Angin puyuh?"

Orang itu mengacungkan ibu jarinya dan berkata dengan sikap bangga:

"Pasukan Angin puyuh adalah pasukan terkuat didaerah utara, pasukan yang melindungi keamanan daerah utara yang paling gigih. Bagi orang-orang kang ouw yang sering bergerak di rimba persilatan, hampir tiada seorangpun yang tidak kenal!"

"Ow, benar mereka. Bolehkah aku numpang tanya, siapakah pemimpin mereka?"

"It-jie Hui-kiam!"

"Apakah It Jie Hui kiam berdiam dikota."

"Benar." jawab orang itu sambil menganggukkan kepala. "dia seorang tua sejak membentuk pasukannya Angin puyuh ini karena usahanya menumpas kaw anan penjahat yang menjadi pokok tujuannya yang utama, maka keamanan daerah ini sangat baik, kawanan berandal dan penjahat terpaksa lari ketempat  lain.  Hari ini kebetulan mereka hendak mengadakan pertemuan, kau boleh menyaksikan sendiri. mungkin dapat menambah pengetahuan."

Ho Hay Hong mengucapkan terima kasih, lantas berjalan menuju kebarat daya.

Tiba di suatu tempat, ia melihat banyak orang sedang berkerumun, mengitari sebuah panggung adu silat atau yang biasa disebut "lui tai". Dibelakang panggung berdiri sebuah gedung besar yang megah. Ia segera mengerti bahwa gedung megah itu pastilah kediamannya It-Jie Hui kiam, maka dengan cepat menghampirinya. Ia tidak mencari Ie jie Hui kiam lebih dulu, tapi  menuju ke rombongan orang banyak.

Benar saja, disitu ia segera melihat delapan penunggang kuda tadi duduk diatas panggung, beberapa muda-mudi berpakaian perlente berdiri di belakang delapan penunggang kuda tadi.

Disebelah kiri diatas sebuah kursi kebesaran duduk seorang Imam tua berusia kira-kira lima puluh tahun. Disamping Imam tua itu adalah seorang tua tinggi besar berusia enam puluh tahun yang nampaknya sangat agung.

Dibelakang orang tua itu, tampak seorang tua berkumis pendek, diatas perisai terlukis gambar dua bilah pedang bersilang. Dari lukisan itu ia mau menduga bahwa itu adalah t anda dari It-jie Hui-kiam!

Disamping orang tua berkumis pendek, ada seorang gadis berbaju ungu, gadis itu bukan saja berparas cantik sekali, tetapi juga seorang gagah perkasa.

Ho Hay Hong tidak berani banyak bergerak, takut lukanya kambuh, maka ia mencari tempat yang tidak banyak orang, menonton sambil berduduk.

Ia mengeluarkan sapu tangan, membersihkan debu dan kotoran dimukanya, sehingga tampak wajahnya yang cakap tampan.

Ia sedang memikirkan bagaimana nanti bertanya kepada It Jie Hui kiam. setelah bertemu muka dengannya?

Diatas panggung, gadis cantik berbaju ungu itu mendadak bangkit dari tempat duduknya, dari tangan orang tua berkumis pendek mengambil perisai perak, kemudian berkata:

"Sumoay disini ingin minta beberapa jurus pelajaran dari suheng, harap maafkan kalau perbuatanku ini rasanya kurang sopan!"

Suaranya demikian halus dan sangat menarik, hingga diam-diam Ho Hay Hong merasa heran, gadis cantik yang lemah gemulai seperti ini, apakah memiliki kepandaian tinggi?

Ia diam diam juga khawatir keselamatan diri gadis itu, karena dalam pertandingan senjata selalu tidak ada matanya, apabila kelengahan tangan, bisa membaw a akibat sangat hebat.

Ia ingin mengetahui sampai dimana tinggi kepandaian gadis itu, maka mulai perhatikan keadaannya. Tetapi parasnya yang cantik dan bentuk badannya yang indah, sesungguhnya tidak didapatkan tanda tanda memiliki kepandaian tinggi.

Seorang laki laki muda berusia kira kira tiga puluhan, yang memakai pakaian warna kuning, pelan-pelan berjalan menuju kepanggung, kemudian berkata sambil tertaw a.

"Sumoay jangan terlalu merendahkan diri, dalam pertandingan ilmu silat, yang diutamakan adalah kepandaian yang sesungguhnya, kau  boleh mengeluarkan seluruh kepandaian-mu dan jangan memikirkan karena aku adalah suhengmu, boleh bertanding denganku!"

Ditilik dari gerak kaki dan badan laki-laki itu, Ho Hay Hong dapat memastikan bahwa laki-laki itu pasti memiliki kepandaian tinggi. Ia tidak habis mengerti bagaimana gadis lemah gemulai itu berani menghadapinya.

Ia tidak ingin menyaksikan pertandingan itu, matanya ditujukan  keatas  panggung,  Dan   ia   melihat   kain berw arna warni yang terpancang tinggi, dengan tulisan tulisan huruf.

"Dengan mengadakan Pertandingan Ilmu Silat untuk Mencari Kawan dan Pertemuan Orang-Orang Gagah."

Menyaksikan bunyinya tulisan-tulisan itu,  ia  baru insyaf bahwa panggung itu didirikan untuk mengadakan pertandingan ilmu silat. Pikirnya: apakah It Jie Hui kiam mengadakan pertandingan ini untuk mencari anggota pasukan Angin Puyuh?

Pikiran itu sepintas lalu berkelebat dalam benaknya mendadak ia bangkit dari tempat duduknya.

Tetapi, ia ingat lagi dengan luka didadanya, ia tahu bahwa saat itu ia belum dapat melakukan pertandingan. Ia duduk lagi sambil menghela napas panjang.

-ooo0dw0ooo-