Rahasia Kampung Setan Jilid 12

 
Jilid 12

TERINGAT kematian Ji suhengnya yang sangat mengenaskan, kemarahan Ho Hay Hong  semakin  meluap, maka tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, U berkata dengan berani:

"Kakek penjinak garuda, meskipun kau seorang besar, yang tersohor namanya, tetapi perbuatanmu yang kejam dan tidak berprikemanusian sangat terce la. Dengan terus terang aku adalah orang yang pertama yang tidak puas terhadap sepak terjangmu."

Ucapannya yang gagah berani in i sungguh mengagumkan Chim Kiam sianseng dan semua orang- orangnya, kini mereka baru tahu bahwa anak muda yang belum ada namanya in i, sesungguhnya seorang kesatria yang gagah berani.

Pandangan mereka terhadap dirinya kini telah berubah, Chim Kiam sianseng diam-diam berpikir: "Kakek penjinak garuda pada beberapa puluh tahun berselang sudah kesohor dengan sepak terjangnya yang luar biasa, ia membunuh orang sama mudahnya dengan memitas semut. Aku sendiri juga tak berani mencela secara terang-terangan di hadapan mukanya, bocah she Ho ini benar-benar sangat berani.”

Kakek penjinak garuda menoleh kearah lain, katanya tidak senang:

"Aku yakin sudah cukup baik perlakuanku terhadap dirimu, apakah kau masih merasa kurang puas?"

Ucapan orang tua itu mengandung maksud sangat dalam, kecuali Ho Hay Hong yang mengerti apa yang dimaksudkan dalam perkataan, "cukup baik" itu, yang lainnya semua merasa heran.

Ho Hay Hong bungkam seketika, lama tidak membuka mulut.

"Kampung setan ini sudah lama  mengadakan larangan, barang siapa yang menginjak tanah ini, semua akan dihukum mati. aturan ini sudah tentu tidak terkecuali bagi kalian. Tetapi karena mengingat kalian mengembalikan burung garudaku, ini akan meringankan dosa kalian. Hukuman mati t idak akan kugunakan, hanya kalian masing-masing harus dihukum potong kaki dan tangan sendiri, sebagai peringatan bagi yang lain- lainnya."

Begitu mendengar keputusan itu, Chim-Kiam sianseng yang lebih dulu tidak tertahan lagi menahan kesabarannya, maka lantas berkata:

"Locianpwee, bolehkah boanpwee minta sedikit keterangan, kematian si Kakek hidung merah, betulkah karena hasutan locianpwee?"

Kakek penjinak garuda tidak menghiraukan keadaan Chim Kiam sianseng, jaw abnya singkat: "Aku t idak kenal siapa si Kakek hidung merah itu, kau jangan tanya kepadaku."

"Kalau begitu, sebelum boanpwee menjalani hukuman potong kaki tangan, ingin minta sedikit pelajaran dari locianpwe dulu!"

"Cee Bu Kie, nyalimu sungguh besar berani menantang aku . . ."

"Maaf, boanpwee sungguh tidak sanggup menahan penderitaan dari hukuman potong tangan kaki . . ."

Kakek penjinak garuda mengangkat tangannya, tiba- tiba meluncur hembusan angin hebat. Mata Khim Kiam sianseng membelalak. dengan mendadak mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, jari tangan telunjuknya menuding. Ia. tahu benar bahwa gerakan sederhana orang tua itu, sesungguhnya merupakan suatu gerak tipu serangan yang mematikan, maka ia terpaksa menggunakan ilmu simpanannya yang paling ampuh Kian khun cie. untuk menghadapinya.

Serangan dengan menggunakan jari tangan itu menimbulkan suara "ser, ser" yang cukup nyaring, hembusan angin meluncur ke luar, langsung mengancam jalan darah Khie-hay hiat didada si kakek penjinak garuda.

"Kau anak kemarin sore, baru miliki sedikit kepandaian saja, sudah tidak pandang mata orang tua, cis!" berkata kakek penjinak garuda. Baru saja menutup mulutnya, Chim Kiam sianseng sudah mengeluarkan seruan tertahan dan mundur terhuyung-huyung.

Mata orang banyak seperti dikaburkan, mereka tidak tahu dengan cara bagaimana kakek itu melakukan serangannya, tetapi Chim Kiam sianseng sudah dikalahkan.

Kepandaian luar biasa seperti itu, siapa yang mau percaya? Tetapi, percaya atau tidak, kenyataannya memang begitu, maka semua anak buah golongan Lempar batu, kini tiada satupun yang berani bergerak lagi.

Dengan kedua tangan menekap dada, Chim Kiam sianseng menahan rasa sakitnya, orang tidak dapat menduga, sampai dimana parahnya luka pemimpin in i. Yang sudah jelas ialah: luka itu pasti bukan luka biasa, kalau t idak, orang kuat seperti Chim Kiam sianseng, t idak mungkin sampai menderita demikian rupa.

"Siapa lagi yang berani berlaku gagah-gagahan?" berkata si Kakek penjinak garuda lambat-lambat.

Semua mata kini ditujukan kepada Ho Hay Hong, karena dengan keberaniannya yang ditunjukkan tadi, mungkin juga hanya ia yang berani melawan.

Dugaan orang-orang itu ternyata tidak meleset, dengan tidak merasa takut sedikitpun juga, ia maju menghampiri dan berkata dengan nada suara dingin:

"Aku juga tidak mau disiksa dengan hukuman potong kaki tangan, maka aku hendak menggunakan pelajaran yang kupelajari untuk belajar kenal dengan semua kepandaianmu !"

Dengan sinar mata berapi-api kakek itu memandangnya, lalu berkata dengan suara keras:

"Kau bocah yang tidak kenal budi, aku sudah ampuni jiw amu, ini adalah suatu perkecualian yang kubelum pernah berikan pada siapa pun juga. Tak kusangka kau berani bermusuhan denganku !"

Mendengar ucapan itu, dalam hati Ho Hay Hong mendadak timbul perasaan tidak enak.

"Maaf, karena perbuatanmu terlalu kejam kalau aku tidak mati, tokh akan menjadi seorang cacad seumur hidup. Dan kalau mau menjadi orang bercacad, tentu akan mati. Daripada mati konyol, bagaimana aku tidak berlaku nekad?" demikian ia berkata.

Chim Kiam sianseng maju selangkah dan berkata : "siauhiap, tunggu sebentar, biarlah aku mencoba lebih

dulu!"

Pemimpin Lempar batu itu baru bergerak sudah di kalahkan oleh Kakek penjinak garuda, dalam hati merasa sangat penasaran maka dengan menahan rasa  sakit dalam dadanya, ia maju lagi, diam-diam sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, hendak melakukan serangan pembalasan.

Sungguh tak diduganya, baru saja ia hendak melancarkan serangannya, dibelakang dirinya mendadak muncul tiga mahluk aneh berbulu kelabu yang menyergap dirinya. Satu diantaranya bahkan berkata padanya dengan nada suara gusar:

"Cee Bu Kie, apakah dirimu sudah tidak mau hidup lagi?"

Chim Kiam sianseng mengelak dan melompat sejauh tiga kaki, dan balas menanya dengan perasaan heran:

"Kau siapa? Bagaimana kau kenal aku Cee Bu Kie?" Mahluk aneh itu membuka kerudung berbulunya, seketika tertampak wajah seorang lelaki yang sudah lanjut usianya, rambut dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, namun wajahnya merah dan sinar matanya masih tajam.

Dengan pandangan mata marah memandang Chim Kiam sianseng.

Chim Kiam sianseng begitu melihat orang tua itu, keringat dingin keluar semua, ia buru buru berlut ut, dengan sikap sangat menghormat ia berkata:

"Kau. susiok, bagaimana susiok juga berada disini. ."

Orang-orang dari golongan Lempar batu mendengar pemimpinnya membahasakan orang tua itu susiok atau paman guru, juga buru-buru ikut berlutut, semua tidak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Orang tua bermuka merah Itu berkata dengan suara gusar:

"Cie Bu Kie, sejak kau rampungkan pendidikanmu dan turun gunung untuk mencari pengalaman, selama itu aku selalu berpeluk tangan, tidak mau tahu urusanmu. Karena aku pikir, kepandaianmu sudah cukup baik dan usahamu juga sudah berhasil. Tetapi, t idak kusangka kau berani berlaku begitu gila-g ilaan. dengan berani mati kau coba melawan Kakek penjinak garuda locianpwee, apakah kau sudah lupa pesan suhumu?."

Chim Kiam sianseng yang sudah mandi keringat dingin, menjaw ab dengan suara ketakutan:

"Tentu t idak berani, teecu selalu pegang teguh pesan tahu. tidak akan teecu lupakan untuk selama-lamanya." "Kau berani menentang Kakek penjinak garuda locianpwe, apakah itu juga pesan suhumu?"

Chim Kiam sianseng melengak. "Tecu bersalah, mohon pengampunan susiok!"

"Tidak perlu aku menghukum kau, lekas minta ampun kepada kakek penjinak garuda!"

Chim Kiam sianseng yang dengan secara tiba-tiba telah bertemu dengan susioknya, pikirannya sudah kalut. Ketika mendengar perkataan ini, tanpa banyak pikir lagi lantas berlut ut dihadapan kakek penjinak garuda seraya berkata:

"Atas perbuatan teecu yang kurang ajar tadi, harap locianpwee suka memberi maaf!"

"Bangun!" berkata kakek penjinak garuda dingin.

Chim Kiam sianseng menurut, berdiri di samping dengan sikap menghormat, sikapnya yang garang dan gagah tadi, seketika telah lenyap.

Ho Hay Hong yang menyaksikan itu, dalam hati merasa mendongkol dan geli.

"Apakah Cee Bu Kie ini murid jie-te ? Beberapa puluh tahun berselang ketika aku pergi kegunung Oey san. waktu itu ia masih seorang anak yang masih ingusan, tidak sangka kini sudah menjadi seorang dewasa yang sudah banyak kumisnya. Ho ho ho." berkata Kakek penjinak garuda.

Ucapan itu memang benar, usia Kakek penjinak garuda sudah lebih seratus tahun, baginya Cee Bu Kie seperti cucunya. "Bocah ini masih terlalu muda dan tidak tahu aturan, kau ampunilah dosanya kali ini, lepaskanlah dia pulang!" berkata orang tua wajah merah.

Kakek penjinak garuda menganggukkan kepala dan berkata.

"Baik. karena samtee yang mintakan ampun, biarlah aku ampuni dosanya."

Kemudian dengan sikap keren ia berkata kepada Chim Kiam sianseng:

"Untung susiokmu ada disini, jikalau tidak, sekalipun kau mempunyai tiga nyawa, juga tidak akan luput dari kematian. Lekas pulang, selanjutnya berlaku hati-hati sedikit. Banyak gunakan otak, jangan menuruti hawa napsu!"

"Bu locianpwee, boanpwee mengucapkan banyak banyak terima kasih, dia." berkata Chim Kiam sianseng.

Orang tua wajah merah itu agaknya sudah mengerti maksudnya, maka lantas membentak:

"Jangan banyak bicara, lekas turut perint ah bawa mereka pulang!"

Chim Kiam sianseng sangat girang,  buru-buru memberi hormat, lalu membawa seluruh anak buahnya, dengan terbirit-birit meninggalkan kampung setan.

Pada saat itu, dalam kampung setan itu hanya t inggal Ho Hay Hong, Kakek penjinak garuda dan lainnya.

Ho Hay Hong sedikitpun t idak merasa takut, sikapnya yang ditunjukkan pada waktu itu, benar-benar merupakan seorang kesatria tulen. Dengan mata sinar dingin Kakek penjinak garuda mengaw asinya kemudian berkata.

"Aku berikan kau dua pilihan: satu, kau: boleh memiliki pedang pusaka, tetapi kau musnahkan semua kepandaianmu: Dua, kepandaian dan kekuatanmu utuh tetapi kau harus serahkan kembali pedang pusaka itu !"

"Maaf, pedang pusaka itu sudah tidak ada dibadanku!" jawab Ho Hay Hong.

"Kalau begitu, kau memilih jalan yang pertama!" "Terima !" acuh tak acuh.

"Kau jangan kira aku tidak tega membunuh kau. Ini sebetulnya pikiranmu yang masih kekanak-kanakan. Kalau aku sudah marah, siapa  saja  kuperlakukan serupa."

"Aku tahu dalam keadaan marah, kau tidak kenal sanak saudara. Tetapi aku tidak perduli itu. Aku hanya ingin tahu, apa sebabnya kau selalu memaki aku anak haram?"

"Apa yang perlu kau ketahui? Kau memangnya anak haram." berkata sikakak gusar. Tetapi mendadak bungkam, sikapnya yang beringas mendadak berubah murung, agaknya sedang menindas perasaan duka dalam hatinya.

Perasaan rendah diri, kembali timbul dalam hati Ho Hay Hong. ia menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk melupakan kejadian yang memalukan itu.

"Kau tokh sudah tahu bahwa orang yang menggunakan ilmu pedang terbang itu adalah muridnya Dewi ular dari gunung Ho lan san, mengapa kau masih membunuhnya. Hm. apa maksudmu? Tolong kau jelaskan !"

"Siapa itu Dewi ular dari gunung Ho-lan san ?" "Suhuku!", berkata Ho Hay Hong dengan hati sedih,

"mungkin, ia denganmu masih ada sangkut paut, mungkin ia adalah kekasihmu dimasa muda."

Berkata sampai disitu. air matanya mendadak mengalir keluar.

Kakek penjinak garuda menghela napas berkata dengan suara parau:

"Oh, dia berada digunung Ho lan-san, ini benar- benar. "

Ketika mengetahui Ho Hay Hong mengucur air mata, wajahnya nampak sangat berduka, tetapi dengan cepat berpaling. Dengan menggunakan nada yang sangat kejam dan dingin ia berkata.

"Kau pergilah, turut perkataanku, pedang pusaka itu untuk menukar jiwamu!"

"Dengan terus terang, aku tidak sudi diganduli oleh nama busuk anak haram ini. Kau pasti tahu, lekas kau sebutkan nama ayah ku yang sebenarnya !"

Dengan tercengang Kakek penjinak garuda memandangnya, sejenak nampak ragu ragu, akhirnya berkata:

"Kau pergi tanya kepada It Jie Hui Kiam."

Sehabis berkata demikian, mendadak bangkit dan memakai topinya yang lebar, kemudian berlalu dengan tindakan lebar. Ho Hay Hong tidak mau melepaskan kesempatan yang baik itu, dengan suara keras ia bertanya:

"Siapakah ibuku? Kau beritahukanlah sekalian!"

Bayangan kakek penjinak garuda cepat menghilang kebelakang patung. Ketika angin mendesir, terdengar suatu kata katanya yang sangat pelahan sekali: "Kalau kau berani menanya lagi, jangan salahkan aku marah!"

Ho Hay Hong terkejut, entah sejak kapan, si Kipas besi Hok Yauw mendadak muncul dihadapan matanya. Ia ternyata belum mati! Ho Hay Hong terheran-heran, hampir lupa bahwa dirinya masih berada dikampung setan.

Ketika si Kipas besi Hok Yauw melihat Ho Hay Hong sebetulnya hendak menyingkir, tetapi sudah terlambat, Ho Hay Hong yang sudah melihat tegas siapa orangnya, sangat marah. Dalam hatinya berpikir: ’pantas hanya ia seorang tidak muncul lagi, kiranya ia adalah mata-mata dari dalam.’

Dalam marahnya dan teringat akan kematian jago- jago itu. ia tidak dapat kendalikan diri lagi, maka lintas menyerang dengan serentak.

Kipas besi Hok Yauw mengeluarkan seruan tertahan dan mundur terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya, jelas sudah terluka parah.

Kipas besi itu melalaikan kekuatan tenaga Ho Hay Hong, yang kini sudah jauh berbeda, kelengahannya itu harus dibayar mahal.

Orang tua muka merah Itu sangat marah, ia berkata: "Kau diberi ampun masih berani berlaku kurang ajar, lekas pergi, jikalau t idak, aku sangat terpaksa akan turun tangan ."

Ho Hay Hong yang sudah mendapat petunjuk baru, tidak lagi anggap ringan jiw anya seperti tadi. Dengan menekan hawa amarahnya, Ia berlalu dari kampung setan dengan tindakan lebar.

Berjalan belum lama, dari dalam rimba muncul seseorang yang mengejutkan padanya. Ketika ia angkat muka, baru ia tahu bahwa orang itu adalah si gadis kaki telanjang.

Karena sudah tidak begitu senang dengan sepak terjangnya, Ho Hay Hong hanya menegurnya dengan suara hambar:

"Apa kau ada urusan denganku?"

"Kau sudah terkena seranganku jarum menembus air, tidak sampai malam in i barang kali sudah mulai bekerja. Mengapa tidak lekas menyerahkan pedang pusaka itu?" menjawab gadis kaki telanjang sambil tersenyum.

"Kalau aku t idak mau menyerahkan padamu, kau mau apa?"

"Aku akan hadiahkan lagi kau beberapa buah jarum menembus air."

"Kau boleh coba saja!"

Gadis itu karena melihat Ho Hay Hong mukanya merah padam, hatinya menjadi lemas, katanya sambil tersenyum:

"Sebagai orang beradab, kita harus pegang aturan. Aku pikir akan memberikan mujijad Liong-yan hiang sebagai gantinya pedang pusaka itu, entah bagi mana pikiranmu?"

"Liong yan hiang meskipun obat mujarab, tetapi belum menggiurkan hatiku."

"Berulangkali aku mengalah terhadapmu. Itu semata- mata karena memandang muka ayah, kau  jangan berlaku keterlaluan."

"Aku juga karena memandang mukamu, jikalau tidak dengan kekuatan dan kepandaianku yang ada sekarang, sedikitpun tidak takut padamu, kalau tidak boleh coba."

"Mukamu bagaimana?"

"Aku melihat kecantikanmu susah dicari bandingannya di dunia ini, maka aku merasa sayang. Sebaliknya kau anggap aku takut padamu!"

Muka gadis itu merah membara, katanya sambil menundukkan kepala:

"Kau. . . bolehkah jangan berkata demikian ?" Menyaksikan sikap kemalu-maluan  gadis  itu,  Ho Hay

Hong  terkejut,  pikirnya:  ”Tapi  ia tokh  baik  baik saja,

mengapa disinggung soal mukanya, lantas tidak bisa bicara lagi?"

Ia tidak mau meladeni lagi, dan lantas membalikkan badan, melanjutkan perjalanannya.

Tetapi, gadis kaki telanjang itu mengejar Ho Hay Hong dengan cepat membalikkan, badannya dan berkata:

"Kau terus mengejar aku, jangan sesalkan kalau aku nanti berlaku t idak sopan terhadapmu!" "Kalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh coba melepaskan diri dari kejaranku!"

Ho Hay Hong mengeluarkan bungkusan yang didapatkan dari Yo Hong, meskipun ia tidak tahu apa aslinya, tetapi ia ingin mencobanya, bagaimana sebetulnya khasiatnya terhadap wanita?

Ia menemukan bungkusannya, ternyata hanya bubuk warna kuning. Ia coba mengendusnya, ternyata berbau amis dan pedas, Ia semakin bingung, pikirannya mulai bimbang capaikah kiranya bubuk semacam in i untuk menundukan kaum wanita?

Ia sebetulnya tidak ingin mencelakakan diri gadis kaki telanjang itu, tetapi karena terus mengikutinya, sesungguhnya juga merepotkan. Maka dengan mengeraskan hatinya, ia mengambil bubuknya dan disambitkan kepada gadis itu.

Bubuk warna kuning itu buyar karena tertiup angin, gadis kaki telanjang itu membuka lebar matanya dan bertanya:

"Ini barang apa? Mengapa baunya demikian pedas?"

Ia kira dipermainkan oleh Ho Hay Hong dalam mendongkolnya, lantas maju beberapa langkah dan melancarkan serangan.

Ho Hay Hong melengak, menampak keadaan gadis itu masih tetap seperti biasa, hatinya mulai merasa kecewa.

Kembali ia mengambil obat bubuknya dan disiramkan kemukanya!

Gadis itu mendadak merint ih dan berjongkok. Menyaksikan keadaan demikian, Ho Hay Hong merasa sangat menyesalkan, kepalanya ditepok sendiri menyesalkan perbuatannya yang sangat ceroboh.

Dengan pikiran tidak tenang ia mengaw asi si nona. tak lama kemudian, gadis itu mendadak bangkit dan bertanya:

"Hai, barang apakah sebetulnya itu? Kau mau beritahukan padaku atau tidak?"

Menyaksikan sikap gadis itu, hati Ho Hay Hong tergoncang, ia pikir sikap gadis itu agaknya sangat aneh.

Belum lagi ia menjawab, gadis itu sudah maju menghampiri dan bertanya lagi:

"Hai, mengapa kau tidak menjawab?"

Ho Hay Hong tidak berani memandang sebab dalam waktu sekejap itu, gadis itu agaknya sudah berubah segala-ga lanya. Wajahnya yang dingin, begitupun perkataannya, kini sudah t idak tampak lagi.

Matanya yang bening jail, penuh kemesraan. nada suaranya juga sudah berubah menjadi lemah lembut, bagaikan seorang istri terhadap suaminya

Terutama senyuman yang menggiurkan, segalanya  kini nampak penuh gaya penarik.

Ho Hay Hong mulai percaya khasiatnya obat itu, yang betul-betul dapat menundukkan wanita yang bagaimanapun galaknya. Tetapi ia sungguh tidak menduga, itu adalah permulaannya bahaya !

Ia kini benar-benar merasa menyesal atas perbuatannya, dengan menanggung perasaan tidak senang, ia mencoba lari untuk meninggalkan gadis itu. Ia coba menoleh, gadis itu ternyata terus mengikutinya dengan diam-diam. Dua orang terpisah sejarak sepuluh tombak lebih.

Ketika tiba di sebuah kota buru baru mencari rumah makan. Dengan pikiran tidak tenang Ia minta disediakan arak dan makanan, disatu sudut yang agak sepi ia duduk dan makan sambil menundukkan kepala.

Dengan tiba-tiba hidungnya telah mengendus bau harum, ia seperti sudah mendapat firasat tidak baik. ketika mengangkat muka, benar saja dihadapannya berdiri gadis kaki telanjang.

Ketika melihat paras sigadis yang ramah senyuman yang menggiurkan, ia tidak ingin melepaskan diri lagi. Kecantikan gadis itu bagaikan magnit menarik perasaannya.

Jiwanya yang kering kini mulai segar. Ia mulai memikirkan untuk mencari kebahagian hidup. Tetapi semuanya ini agaknya sulit tercapai, karena ia tidak mempunyai ayah ibu dan rumah tinggal.

Dibawah sinar lampu, kecantikan gadis kaki telanjang itu semakin menarik, Ho Hay Hong coba menindas hatinya yang tergoncang hebat, menarik sebuah kursi dan mempersilahkan gadis itu duduk.

Dengan tidak malu-malu gadis itu duduk dihadapannya. matanya memandang Ho Hay Hong, sehingga membuat anak muda itu merasa likat dan jengah.

Ia tidak mempunyai pengalaman bergaul dengan wanita, terutama wanita cantik. Inilah untuk pertama kalinya dalam hidupnya mengadakan hubungan demikian erat terhadap wanita muda, maka meskipun dalam pikirannya banyak kata-kata ingin dikeluarkan, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut.

Ia coba menabahkan hatinya, dengan suara terputus- putus ia berkata:

"Terhadap urusan tadi, aku merasa sangat menyesal. Perbuatanku tadi sebetulnya tidak disengaja, kiranya kau juga bisa memaafkan."

Gadis itu hanya tersenyum saja sambil menutupi mulutnya, kemudian menundukkan kepala.

Ho Hay Hong lantas bingung sendiri, karena gadis itu tetap diam saja. sehingga ia kehilangan keberanian untuk bicara lagi. Araknya diminumnya berulang-ulang untuk menutupi rasa kikuknya. Minum baru beberapa cawan, perutnya tiba-tiba merasa sakit. Ia terkejut dan bertanya- tanya kepada diri sendiri, apakah yang telah terjadi ?

Ia t idak menemukan jawabannya, sedang rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, ia bangkit dari tempat duduknya sambil memegangi perutnya, mendadak kakinya terasa lemas, ia tidak sanggup berdiri lagi, dengan badan sempoyongan ia rubuh kedepan, justru jatuh ketempat gadis kaki telanjang itu duduk, tidak ampun lagi lengannya lantas memeluk tubuh si nona.

"Kau kenapa?" tanya si nona dengan mata terbuka lebar mengaw asi padanya.

Ho Hay Hong tidak berani balas memandang, buru- buru menundukkan kepala, dengan napas memburu ia menjawab. "Mungkin, jarum menembus air itu racunnya sudah bekerja."

Sikap gadis itu menunjukan perasaan sangat menyesal, ia segera mengeluarkan obat Liong yan biang dari dalam sakunya, kemudian minta disediakan air kepada pelayan dan suruh Ho Hay Hong minum.

Kekuatan racun jarum menembus air itu hebat sekali, begitu menjalar meskipun sudah minum obat pemunahnya, juga tidak dapat disembuhkan dengan segera. Tubuh Ho Hay Hong gemetaran, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya.

Gadis itu mengeluarkan sapu tangan, dengan pelahan menghapus keringat yang membasahi jidatnya, dengan suara lemah lembut ia menanya:

"Kau sudah merasa baikan atau t idak?"

Kelakuannya itu lemah lembut dan sangat terbuka dalam waktu sangat singkat, perasaan marah Ho Hay Hong sudah lenyap, bagaikan asap tertiup angin.

Kejadian itu segera menarik perhatian semua tamu dalam rumah makan itu. Ho Hay Hong khaw atir perbuatan itu menimbulkan suara t idak baik baginya, lalu berkata kepada si gadis kaki telanjang dengan suara sangat perlahan:

"Aku akan beristirahat sebentar, pasti bisa baik kau pulanglah, jangan khaw atir. . . . memang pedang pusakamu aku sudah mengambil keputusan setelah

penyakitku sembuh aku nanti akan datang ke kampung setan untuk kembalikan pedang pusakamu " Dengan susah payah ia bicara demikian, banyak minta gadis itu pulang dulu, sehabis berkata, hampir sudah tidak bertenaga lagi. Ia berusaha hendak bangkit, tetapi kakinya terasa berat, selangkahpun tidak bisa menindak.

Kini ia baru tahu benar bahwa jarum penembus air itu luar biasa ganasnya, jadi apa yang diucapkan oleh gadis kaki telanjang itu semuanya betul.

"Begitupun baik, mencari sesuatu tempat untuk beristirahat sebentar, mungkin kau tidak begini menderita." berkata si gadis, kemudian  memberikan uang kepada pelayan rumah makan lain membimbing Ho Hay Hong berlalu.

Ia bawa Ho Hay Hong kesuatu rumah penginapan yang agak sepi, setiba dikamar,  hendak membantu membuka pakaian luarnya.

Ho Hay Hong dengan muka merah berkata:

"Tidak usah, aku bisa mengurus diriku sendiri, kau pulanglah!"

Gadis itu hanya menggelengkan kepala, tidak menyahut.

Dalam kamar rumah penginapan yang tidak luas di bawah sinar lampu pelita yang kurang terang Ho Hay Hong coba memandang keadaan si nona. Ia lihat gadis itu duduk di pinggir pembaringan dengan sikap tenang, matanya ditujukan keluar jendela, agaknya sedang berpikir keras. Tetapi bibirnya yang kecil mungil, sebaliknya tersungging senyuman yang menawan hati. Setelah mendapat sedikit waktu untuk beristirahat, rasa sakit dalam perut Ho Hay Hong pelahan-lahan mulai hilang. Maka ia lalu menanya:

"Nona, kau sedang memikirkan apa?"

Ketika daging mereka bersentuhan, Suatu perasaan aneh timbul dalam otak Ho Hay Hong, perasaan itu bagaikan strum listrik dengan cepat menjalar keseluruh tubuhnya, hingga sesaat itu jantungnya berdebar keras, wajahnya merah.

Gadis itu menghela napas, lama baru berkata:

"Kalau aku tahu lebih dulu, aku tidak akan menggunakan jarum tembus air untuk menyerang kau. Aku tahu kau adalah seorang jujur. pasti bisa mengembalikan pedangku."

Dari sikap gadis itu. jelas menunjukkan perasaan menyesal.

Ho Hay Hong merasa berat untuk melepaskan gadis itu, ia coba alihkan pembicaraannya kelain soal.

"Dari sudut mana, kau mengetahui aku seorang  jujur?"

Mendengar pertanyaan itu, gadis itu nampak terkejut. "Apa artinya pertanyaanmu ini?"

"Aku ingin mengetahui pandanganmu terhadap diriku

sebetulnya, aku bukan seorang jujur." Gadis itu tersenyum lembut.

"Itu adalah perkataanmu yang merendahkan diri!" Ho Hay Hong melihat ketika gadis itu tertaw a, sujennya dikedua pipinya dalam sekali, hatinya tergoncang  semakin keras.

"Kau pasti mempunyai banyak kaw an lelaki!"

Begitu ucapan keluar diri mulutnya, mendadak ia merasa menyesal. Tetapi ia sudah tidak keburu menarik kembali.

"Apa pula maksud pertanyaanmu ini?" demikian gadis itu bertanya.

Sesaat itu Ho Hay Hong gelagapan, terpaksa menjawab sekenanya:

"Aku....tidak ada maksud apa-apa!"

Tapi ia sangat menyesal, tidak seharusnya berlaku begitu berani, sehingga menimbulkan perasaan tidak senang si nona.

Untung gadis itu tidak marah, hingga ia baru merasa lega.

"Sakitmu sudah sembuh, aku juga merasa lega. Harap pegang janjimu, besok kau bawa pedang pusaka dan kembalikan padaku. Sampai berjumpa lagi."  berkata gadis kaki telanjang, kemudian perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar.

Tetapi langkahnya memberikan kesan kepada Ho Hay Hong bahwa gadis itu agak berat meninggalkan dirinya, maka seketika itu pikirannya bergolak lagi tak disadarinya, mulutnya mengeluarkan kata:

"Jangan kesusu pergi, aku masih punya banyak cerita yang hendak kubicarakan denganmu !" Gadis itu berpaling dan memandangnya sejenak dengan penuh tanda tanya, tetapi kakinya tidak bergerak.

Ho Hay Hong merasa agak kecewa, ia coba bangun dan berkata lagi:

"Duduklah disini. sudikah kau?"

Gadis itu tersenyum, tenang lantas menghampiri dan duduk dipinggir tempat tidur. "Kau masih ada urusan apa lagi?"

Ho Hay Hong sengaja mengerutkan keningnya, kemudian baru berkata:

"Kau pasti mengetahui nama ayah dan ibuku, harap kau pandang muka sesama orang Kang ouw, beritahukanlah pada ku."

Ia sebetulnya hendak menggunakan kesempatan itu untuk menahan gadis itu, supaya jangan berlalu buru- buru, tetapi baru berkata sampai disitu, hatinya mendadak merasa pilu airmata mengalir keluar.

Gadis itu menatap wajah Ho Hay Hong yang cukup tampan, kesedihan Ho Hay Hong membuatnya turut merasa sedih.

"Tentang itu It Jie Hui-Kiam tahu lebih jelas, kau boleh perlihatkan tanda rajah burung garuda dilenganmu, kemudian menanyakan jejak ayah bundamu, Ia pasti akan memberitahukan padamu. Hal ini sebetulnya tidak boleh kuceritakan padamu, tetapi karena melihat kau Sudah cukup banyak aku beritahukan padamu, kau jangan menanya lagi!" "Mungkin dalam hidupku ini, sudah tidak ada kesempatan untuk melihat ayah bundaku lagi. Aih, dengan terus terang, beberapa hari lagi, aku terpaksa akan meninggalkan daerah Tionggoan." berkata Ho Hay Hong dengan nada suara sedih.

Mendengar perkataan itu, gadis kaki telanjang itu mendadak menunjukkan perhatiannya yang serius, Ia bertanya.

"Kau hendak kemana ?"

"Ho lan san! Sejak kanak-kanak aku di besarkan digunung Ho lan san. aku berada didaerah Tiong goan ini hanya baru pada beberapa hari berselang. Aih, aku sungguh tidak menduga bahwa tempat yang meninggalkan kesan sangat dalam bagiku ini, terpaksa akan kutinggalkan untuk selama-lamanya !"

"Ow. Kau melakukan perjalanan begitu jauh, apakah tidak let ih? Aku selalu anggap kau seorang pendiam yang sangat, tak disangka demikian suka bergerak !"

"Tidak, aku lakukan itu karena terpaksa! Aku  juga tidak suka  penghidupan  mengembara  seperti  in i, tetapi "

Ia diam, tidak melanjutkan. Karena rahasia dalam perguruannya sekali tidak boleh diberitahukan kepada orang lain. Maka ia tertaw a getir, pelan-pelan rebahkan diri kepembaringan. Dengan dua tangannya ia gunakan untuk menunjang kepala, matanya memandang atas.

Sikap demikian mudah menimbulkan rasa simpatik kaum wanita, terutama selagi pengaruh obat sedang berjalan dalam tubuh gadis remaja seperti gadis kaki telanjang itu. Pelan-pelan gadis itu kehilangan sifat yang semula.

Ia memang memiliki sifat rangkap, kalau dingin, orang tidak berani mengajak bicara dengannya. Tetapi kalau lincah, penuh daya penarik dari keremajaannya, penuh gairah.

Dan pada saat itu, sikapnya yang dingin dan agak sombong, agaknya sudah tersapu bersih oleh pengaruhnya obat, Bagi perempuan lain, mungkin perasaannya sudah kalut , tetapi ia dapat bertahan lama, berkat kekuatan tenaga dalamnya yang sudah cukup sempurna.

Ia hanya merasa heran, mengapa napsu birahinya mendadak berkobar. Ho Hay Hong yang kini berada di hadapan matanya nampak semakin menyenangkan. Tetapi ia tidak mengerti itu apa sebabnya.

"Tak kusangka kalau kau terpaksa. Ow. orang yang memaksa kau melakukan perjalanan demikian jauh itu tentunya seorang yang sangat lihay sekali !"

Ho Hay Hong diam saja, sementara dalam hatinya berpikir: ”bagaimana aku harus menjelaskan? Orang itu adalah suhuku sendiri, kalau kuberitahukan bukankah akan membuat tertaw aannya ?"

Ketika ia memandang si gadis, tampak olehnya sikap gadis itu yang sedang memperhatikan  dirinya, pandangan matanya yang menggairahkan, sulit bagi hati seorang muda untuk tidak sampai runtuh !

Begitupun keadaan Ho Hay Hong pada waktu itu.  ia tak tahan godaan hatinya, tak sanggup menekan perasaannya. "Tidak lama lagi, aku sudah tidak ada waktu untuk bertemu denganmu lagi! Aku harus pulang ketempat kediamanku, diatas gunung Ho lan san, yang setiap tahun diliputi oleh salju."

Berkata sampai disitu, hatinya merasa pilu, suaranya juga berubah parau.

"Aku merasa sangat berat meninggalkan tanah Tiong goan yang indah permai in i, terutama dengan orang- orang dan sahabat-sahabat yang kujumpai. Sikapnya yang ramah tamah, membuatku tidak bisa melupakan untuk selama-lamanya. Sayang, keadaan demikian itu tidak bisa berlangsung lama.

Dengan penuh perhatian ia memandang si nona, tampak gadis itu sedang mendengarkan  dengan asyiknya.

Sinar rembulan menerangi pekarangan dalam rumah penginapan itu, malam itu indah tapi sunyi.

"Kita telah berjumpa. Ini berarti jodoh. Sebab kalau tidak ada jodoh, tentu tidak bisa saling bertemu. Dari gunung Ho-lan san yang letaknya demikian jauh, aku datang ke mari meskipun membaw a tugas berat, tetapi peruntunganku cukup baik, aku merasa senang terhadap orang-orang dan pemandangan di daerah Tionggoan. Keadaan di kediamanku kalau waktu musim semi tiba juga sangat indah, tetapi masih tidak dapat dibandingkan dengan keindahan disini" berkata Ho Hay Hong.

Sejenak ia berhenti, matanya diam-diam  melirik kearah sinona Nampak gadis itu masih mendengarkan dengan rasa puas, lalu melanjutkan ucapannya lagi: "Apa yang kurasakan sangat berat, ialah disin i aku telah berjumpa dengan seorang wanita cantik. Di tempat kediamanku hampir selalu diliputi oleh salju, jarang dikunjungi oleh manusia. Walaupun aku kadang-kadang juga bisa jalan-jalan ketempat yang berdekatan, tetapi penduduknya kebanyakan bangsa kasar, mana bisa dibandingkan dengan penduduk disini!"

"Kau bertemu dengan siapa?" Menyaksikan gadis Itu menunjukkan sikap menunggu, Ho Hay Hong lantas menjawab nakal:

"Jauh diujung langit, dekat didepan mata:" Ia takut gadis itu marah, maka sehabis berkata demikian, lantas menundukkan kepala, sedapat mungkin menghindarkan bentrokan mata dengan sinona.

Diluar dugaannya, gadis itu bukan saja tidak marah, bahkan tertaw a geli. "Bohong, aku tidak percaya!"

Sejak Ho Hay Hong kenal padanya, yang dilihatnya hanya sikap yang dingin ketus dan agung, belum pernah melihat demikian lemah lembut dan mesra. Maka diam- diam Ho Hay Hong merasa kaget.

"Apa yang kukatakan adalah sebenar-benarnya, nona adalah satu-satunya wanita paling cantik yang pernah kujumpai, sejak aku menjadi dewasa."

Gadis itu ketika mendengar kata-kata yang penuh pujian dan rayuan itu, mukanya lantas merah dan buru- buru menundukkan kepala.

Sikap demikian didalam pandangan mata Ho Hay Hong benar-benar sangat menarik, ditambah lagi dengan pemandangan alam di luar yang indah permai, memang mudah menimbulkan pikiran yang bukan-bukan. Ia segera ingat ucapan Yo Hong: ”obat ini mempunyai khasiat untuk menundukkan wanita yang betapapun galaknya, kau tidak percaya tunggu saja hasilnya!”

Diam-diam ia berpikir. Apakah ini yang dimaksudkan dengan perkataan "menundukkan”, itu? Apakah benar aku sudah berhasil menundukkan dia?

Ia diam-diam terkejut, tetapi juga merasa girang. Ia tidak dapat menguasai diri sendiri lagi, tangannya tidak tinggal diam, ditariknya tangan gadis itu dan digenggamnya erat.

Seketika itu sekujur badannya seperti terkena strum listrik, napsu birahinya berkobar. Melihat gadis itu tidak meronta, ia semakin berani.

Gadis yang dingin angkuh itu, kini telah berubah menjadi jinak, membiarkan dirinya dipeluk.

Tak lama kemudian, dari sela-sela matanya keluar tetesan air mata.

Gadis yang dingin dan ketus ini, entah apa sebenarnya mendadak berubah demikian lemah dan menurut!

Selagi dua makhluk itu tenggelam dalam kemesraan, hampir saja lupa daratan, diluar jendela tiba-tiba terdengar suara goresan kuku. Suara itu cukup nyata, sudah pasti perbuatan orang Kangouw yang mencari keterangan dengan menggunakan kukunya yang panjang.

Karena kedua muda-mudi itu sama-sama memiliki kekuatan tenaga dalam sudah sempurna, suara itu sudah tentu tidak bisa lo los dari telinga mereka. Dengan cepat mereka memisahkan diri, gadis kaki telanjang itu nampak kemalu-maluan, rasanya ing in sembunyi saja. Ia memandang Ho Hay Hong dengan sinar mata yang mengandung pertanyaan tanpa berkata apa-apa lantas lompat keluar melalui jendela.

Di bawah sinar rembulan, tampak olehnya dua sosok bayangan orang berdiri diatas tembok pekarangan, satu diantaranya bertanya kepada gadis itu:

"Apakah kau Ho Hay Hong sutee?"

Ho Hay Hong yang sementara itu baru hendak melompat keluar, untuk melihat apa yang telah terjadi ketika mendengar suara itu diam-diam terkejut. Pikirnya: “mengapa toa suheng mengetahui aku berada disin i? Ada urusan apa ia mencari aku?”

Sementara itu, ia telah mendengar suara jawaban sigadis dengan nada suara dingin: “Ada urusan apa  kalian berdua mencari aku?"

Dari jawaban nona itu, Ho Hay Hong segera mengetahui bahwa orang yang mencari padanya itu ada dua orang. Keringat dingin keluar seketika, pikirnya: “celaka mungkin toa-suheng dan sam suheng yang datang mencari aku.”

Kini ia dengar suara toa suhengnya yang berkata: "Jangan banyak tanya kalau kau kenal dia, lekas suruh dia keluar!"

Ho Hay Hong diam-diam sembunyikan diri dibelakang jendela, hanya kepalanya melongok keluar. Tampak olehnya tangan toa suhengnya menenteng sebuah kotak kayu, ia segera mengerti apa sebabnya toa suhengnya mencari dia. Ternyata ia sudah menemukan batok kepala  jie suheng, tetapi apa yang masih belum dimengerti adalah, bagaimana toa-suhengnya bisa menuduh kejadian itu kepadanya. Dalam hal ini pasti ada sebabnya.

Untuk menjelaskan duduk perkaranya, ia  lantas lompat keluar dan bertanya:

"Toa suhengkah yang datang?"

Toa suhengnya hanya memandang sebentar dengan mata dingin, kemudian berkata.

"Ho sutee, bagus sekali perbuatanmu!"

Gadis kaki telanjang itu lantas berkata dengan nada suara dingin:

"Kepala orang dalam kotak itu masih pernah apa denganmu?"

Sam suheng kini yang menjawab:

"Kau ini siapa? Boleh katakan jangan campur mulut?"

Ho Hay Hong diam-diam merasa khawatir, karena adat perempuan itu keras. Ucapan yang sombong itu, pasti akan menimbulkan kemarahannya. Ketika  matanya melirik kepadanya, benar saja. gadis itu mukanya merah padam, alisnya berdiri, agaknya sudah akan menggunakan kekerasan.

Ia buru-buru maju menghampiri dan menghadang dihadapannya seraya berkata:

"Mereka berdua adalah suhengku, harap kau sabar sedikit!"

Gadis itu mengeluarkan suara dihidung, kemudian berkata: "Dengan memandang mukamu, untuk sementara aku boleh berlaku sabar. Tetapi kalau ia mengeluarkan perkataan tidak keruan lagi, jangan sesalkan kalau aku akan segera bertindak:"

"Sudah tentu!" Jaw ab Ho Hay Hong sambil tertawa masam.

Ia lalu bertanya kepada Toa suhengnya: "Aku sesungguhnya tidak mengerti dengan ucapanmu tadi, bolehkah suheng memberi keterangan yang lebih jelas?"

"Ho sutee. kau juga tidak perlu menyangkal, aku sungguh tidak menduga kau ternyata begitu berani!" berkata toa suhengnya.

"Harap toa suheng terangkan  duduknya  perkara, siaot ee sesungguhnya tidak tahu."

"Kau berani menyangkal bahwa ji sutee bukan binasa ditanganmu ?"

"Toa suheng, ketahuilah olehmu, betapa pun besar nyali siaote, juga tidak berani membunuh ji suheng!"

"Kau berani menyangkal, bahwa kepala ji suheng bukan kau yang mengubur?"

"Tentang ini siaute akui, tetapi kematian ji-suheng sedikitpun tidak ada hubungannya dengan siaotee!"

"Tidak ada hubungan? Hm! Aku tahu benar bahwa kau memang sangat t idak puas terhadap kita bertiga, sebab perhubungan kita selama itu memang sudah tidak rukun. Tetapi tidak kuduga begitu kau keluar  dari pintu perguruan, lantas melakukan perbuatan yang melebihi binatang." "Aku selalu pandang suheng seperti saudara kandung sendiri, toa suheng jangan terlalu memfitnah siaotee!"

Pada saat itu, pikirannya terlalu kalut. Ia tahu benar bahwa ji suhengnya mati di dalam kampung setan, tetapi untuk menjaga nama baik gadis kaki telanjang itu, ia tidak mau me mberitahukan secara terus terang.

Sam-suhengnya berkata sambil tertawa dingin:

"Kalau begitu, jadi toa suheng yang salah, toa suheng memfitnah orang baik?"

Suara tertaw anya itu sangat menusuk telinga. Sam suhengnya itu agaknya benci sekali kepadanya, hingga kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya untuk memfitnah Ho Hay Hong.

"Sutee mana berani berbuat begitu, harap suheng menyelidiki du lu duduknya perkara yang sebenarnya!" berkata Ho Hay Hong.

"Bukti sudah cukup nyata, Ho sutee, jangan banyak bicara, besok pagi kau harus meninggalkan daerah Tionggoan, lekas pulang menghadap suhu, biarlah suhu yang memberi keputusan.:" berkata toa suhengnya.

"Toa suheng, janganlah sampai kena diadu domba oleh musuh ?" berkata Ho Hay Hong.

"Aku tokh bukan anak kecil, bagaimana bisa tertipu!" berkata toa suheng sambil tertaw a dingin, "sebaliknya adalah kau, Ho sutee yang pintar sekali, setelah membunuh orangnya, kau hendak menghilangkan buktinya dan memindahkan kesalahanmu kepada orang lain heh heh." "Baiklah, aku akan pulang, biar suhu yang mengadakan penyelidikan dalam soal ini!" berkata Ho Hay Hong tegas. Matanya memandang gadis kaki telanjang itu menundukkan kepala tidak berkata apa-apa, agaknya sedang memikirkan apa-apa.

Sabentar kemudian, mendadak ia membuka mulut: "Kalian  tidak  perlu  ribut-ribut, orang dalam  kotak ini,

akulah  yang  membunuh!" Tetapi,  ketika  mata gadis itu

ditujukan kepada dua orang tadi, ternyata sudah pergi.

Ho Hay Hong memandang gadis itu dengan penuh cinta kasih, katanya:

"Aku pasti kembali "

Berkata sampai disitu, perasaan sedih karena harus meninggalkan gadis itu mendadak timbul, hingga tenggorokkannya seperti tersumbat, tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.

Gadis kaki telanjang, itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga, lantas berlalu menuju kekampung setan.

Ho Hay Hong tidak mencegah, ia hanya menggumam sendiri: ”Pergilah tidak perduli ada rintangan apa saja, aku pasti kembali!"

-ooo0dw0ooo-

Ho lan-san yang diliputi oleh daun daun cemara tua dan salju, waktu itu sedang menginjak musim dingin hingga keadaannya nampak semakin sepi sunyi dan angker. Ditengah-tengah ant ara lembah Cian wan kok dan Siang tang kok, terdapat sebuah bangunan yang megah bagaikan istana. Tapi dikatakan istana, bukan istana, karena tiang tiang dan pengelarinya tidak mempunyai ukir-ukiran naga dan burung hong. Tetapi dikatakan bangunan penduduk biasa juga kurang tepat, karena terlalu megah!

Bangunan megah yang berdiri ditengah tengah gunung salju itu, benar-benar penuh misteri.

Ditempat itu tidak terdapat binatang-binatang buas atau burung terbang, juga jarang diinjak o leh kaki manusia, hingga setiap hari sepi sunyi. Sebelah kiri bangunan kecuali batang pohon bunga Bwee, hampir tidak tertampak pohon segar yang lain.

Ho Hay Hong dengan keadaan letih, sehabis melakukan perjalanan jauh, berlut ut di hadapan meja sembahyang, samping kiri meja sembahyang terdapat kursi kebesaran yang dihias dengan kulit harimau.

Diatas kursi itu duduk seorang wanita pertengahan umur berusia kira-kira empat puluh tahun, parasnya masih cantik, namun terlalu dingin, jarang unjukkan senyumnya. Rambutnya panjang sekali, juga masih hitam jengat.

Disamping kiri wanita cantik itu, berdiri dua pemuda tampan dan gagah, dibibirnya saban-saban menunjukan senyum menyendiri.

Ho Hay Hong dengan sikapnya yang sangat hormat sembayang dua kali, kemudian berkata:

"Tuhan Yang Maha Besar, aku Ho Hay Hong bersumpah selalu mematuhi pelajaran suhu, kalau dalam pengakuanku ini, ada sedikit saja yang kusembunyikan atau bohong, aku bersedia menerima hukuman yang paling berat."

Wanita cantik itu tetap duduk tidak bergerak, setelah mendengar Ho Hay Hong mengucapkan sumpahnya lalu berkata:

"Katamu, gadis berbaju putih itu sering bentrok dengan kau mengapa dua suhengmu ketika pergi mencari kau, telah menemukan kau sedang bercumbu- cumbuan dengan gadis itu."

Kata-katanya itu meskipun diucapkan dengan tenang, tetapi sangat berw ibawa, sehingga yang mendengarkan merasa jeri.

"Teecu bukannya sedang bercumbu-cumbuan dengannya, hanya karena adanya yang terlalu keras dan tidak mudah ditundukkan, terpaksa menggunakan obat bubuk, yang teecu beli dari seorang Kang ouw bernama Yo Hong, untuk mencobanya betul dapat menundukkan atau tidak?" berkata Ho Hay Hong.

"Benarkah Kakek penjinak garuda dan susioknya Chim Kiam sianseng sembunyikan diri di Kampung setan? Apakah kau tidak salah?"

"Teecu menggunakan seekor burung garuda raksasa yang dikurung oleh Cie lui Kiam khek sebagai penunjuk jalan, akhirnya burung raksasa itu terbang langsung kekampung setan dan hinggap di bahu Kakek penjinak garuda, teecu pikir sedikitpun tidak salah."

"Waktu Hay T ao terbunuh, kau berada dimana?" "ini." Ho Hay Hong berpikir sejenak, "malam itu, teecu sedang bertengkar dengan Lam kiang Tay-hong, disuatu tempat yang letaknya terpisah beberapa puluh pal dengan kampung setan, maka teecu tidak tahu keadaan matinya ji-suheng."

"Mengapa dengan lancang kau menguburnya?" "Teecu    tidak    tega    melihat     keadaannya    yang

menyedihkan,  juga  takut  jika  kepalanya terlantar, maka

tecu kubur bersama-sama kepalanya Pelajar berpenyakitan. Toa suheng: mengatakan teecu sengaja hendak menyembunyikan rahasia, semua itu tidak benar?"

Dengan sinar matanya yang tajam, wanita cantik itu menatap wajah Ho Hay Hong.

"Aku tahu sifatmu memang baik, tidak sampai kau berani melakukan pembunuhan terhadap sesama saudara dalam seperguruan. Tetapi, belum cukup satu bulan kau pergi mengembara, kekuatan tenaga dalammu sudah mendapat kemajuan demikian pesat, hal ini jauh daripada semestinya, itu, apa sebabnya?"

Ho Hay Hong diam diam terkejut, ia pikir: ” suhu ini benar-benar lihay. Tetapi aku tidak boleh memberitahukan tentang sikakek penjinak garuda yang memberi kekuatan tenaga itu, karena hal itu mungkin akan memperdalam rasa bencinya terhadap kakek itu. Bahkan mungkin akan memaki aku.”

Oleh karena berpikir demikian, ia tidak berani mengaku terus terang dan terpaksa membohong.

"Obat mujijat gadis baju putih yang dinamakan Liong yan hiang itu, kecuali bisa menyembuhkan penyakit dan memunahkan racun, juga bisa  menambah kekuatan tenaga. Teecu yang mendapat beberapa butir darinya dengan tak disangka sangka, kekuatan tenaga teecu menjadi bertambah."

Wanita cantik itu menganggukkan kepala dan berkata: "Benar. Liong yan hiang memang mempunyai khasiat

luar biasa !"

Setelah berkata demikian, ia menajamkan mata, katanya pula singkat.

"Kau mundur, panggil Tin Song maju!"

Ho Hay Hong girang, buru buru bangkit dan berdiri di samping. Ia berkata kepada toa suhengnya dengan suara pelahan.

"Suhu hendak menanya suheng”

Tin Seng dengan sikap menghormat berlutut dihadapan meja sembahyang dan berkata:

"Teecu bersedia menerima pertanyaan?" Sang suhu Dewi dari Ho lan-san mengeluarkan suara dari hidung, kemudian bertanya:

"Tugas yang kuberikan padamu, sudah selesai atau belum? Empat tukang menangis dari daerah See cee, kau sudah bereskan atau belum? Di mana kepala mereka sekarang? Mengapa kau tidak, bawa pulang sekalian?"

-ooo0d-w 0ooo-