Rahasia Kampung Setan Jilid 09

 
Jilid 09

HO HAY HONG terkejut, baru merubah perkataannya: "Dia kabur dengan cepat, aku tidak dapat mengejar." Kepada pengaw al itu memandangnya dengan perasaan bingung. perasaan herannya nampak semakin nyata.

"Kepandaian Siangcu tokh tidak dibaw ahnya, lagi pula mendapatkan luka oleh ciang-bun loya, sehingga ia menderita luka dalam, bagaimana bisa kabur ?"

Mendengar jawaban itu bukan kepalang  terkejutnya Ho Hay Hong. Pikirnya, pantas wanita itu berlalu tanpa pamitan, kiranya telah terluka ditangan Lam kiang Taybong. dan Kini sedang dikejar oleh Tang liang Sucu. Mungkin juga sudah tertangkap

Diam-diam ia merasa cemas, karena Lam kiang Tay- bong sebagai salah satu lima orang kuat dalam rimba persilatan, kepandaiannya pasti t inggi sekali.

Namun demikian, diluarnya mau tidak mau harus berlagak tidak senang.

"Jangan banyak bicara, nanti membangkitkan kemarahanku, mengerti?" demikian bentaknya.

Delapan pengaw al itu ketika mendengar ucapan itu, semua memandangnya dengan perasaan bingung.

Ho Hay Hong khaw atir mereka curiga lantas buru-buru berkata:

"Jangan khawatir, wanita itu walaupun sangat licin, tetapi Ciang bun loya lebih licin daripadanya, pasti tidak akan lolos dari tangannya!" sebentar ia berdiam pura- pura menghela napas, "aih. loya tergesa-gesa berpisah denganku, entah dia sudah tahu atau belum bahwa aku kehilangan dia. Ai, aku khawatir loya anggap aku dapat menyelesaikan sendiri, sehingga tidak campur tangan lagi, dengan demikian memberi kesempatan kepada wanita itu untuk melarikan diri. Kalian melihat loya atau tidak ?"

Delapan pengawal itu semakin bingung, satu diantara balas menanya:

"Bagaimana artinya ucapan Siangcu ini? Apakah ciang bun loya tidak pesan apa-apa kepada Siangcu?"

Ho Hay Hong terkejut. "Tidak, sebelum itu loya tidak pernah menyatakan apa-apa padaku !" demikian jawabnya.

"Heran, loya sebaliknya meninggalkan pesan kepada kita, perint ahkan kita semua mengikuti siangcu, dengan cepat melakukan penggerebekan, mencari jejak Khong ciok Gin cee dan putrinya Su to Siang, ajar supaya segera dibunuh."

Ho Hay Hong diam-diam berpikir. "sungguh jahat, kalau bukan aku yang kebetulan dianggap sebagai Tang liang Sucu mereka berdua benar-benar sulit akan meloloskan diri dari tangan orang-orang jahat ini."

Dengan pura pura berlaku t idak tahu, ia berkata:

"Apakah kalian sudah tahu kemana perginya Khong ciok Gin cee dan nona Su to itu?"

"Nona itu telah menghilang, sedang Khong ciok Gin cee kabur menuju kegunung Cong lam san, mungkin memberitahukan kepada ketua Cong lam pay, Pendekar baju kuning. Pendekar baju kuning adalah suhu tiga jago pedang, kalau ia mengetahui hal itu. Dia tentu tidak bisa tinggal diam. Kita sudah perint ahkan saudara kita untuk mencegat, dalam satu dua hari ini barang kali bisa mendapat kabar."

Ho Hay Hong anggap telah mendapat kesempatan untuk memberi peringatan kepada delapan pengawal, masa lantas berkata:

"Kalian bekerja kurang beres, dikemudian hari pasti akan menimbulkan kerewelan, bagaimana kalian sekarang harus bertanggung jawab padaku ?"

Delapan pengaw al itu tercengang, dengan serentak berkata.

"Siangcu, semua telah kita lakukan menurut perint ah siangcu sendiri !"

Ho Hay Hong terkejut, diam-diam berpikir: "Aku sebetulnya tidak boleh berlagak pintar sendiri, mengucapkan perkataan sembarangan."

Ia berlaku sangat cerdik, pura-pura berlagak lupa, kemudian berkata sambil mengangguk anggukkan kepala:

"Oh ya, benar, itu memang aku yang perintahkan, tetapi sekarang sudah kurubah rencanaku, kalau aku tidak memberikan keterangan, bagaimana kau mengetahui keadaan yang sebenarnya . . .

Hakekatnya apa yang dikatakannya "rencana", ia sendiri juga tidak tahu rencana apa, maka akhirnya ia berlagak marah dan berkata:

"Tidak bisa, aku perlu mencari Chim kiam sianseng lebih dulu untuk minta pertanggungan jawabnya, supaya orang-orangnya lain kali tidak berani bermusuhan lagi denganku !" Dengan satu tangan, ia mengangkat tubuh Srigala kuning dan membentak padanya.

"Lekas antar kita, baru aku ampuni jiwamu !"

Orang tua itu berkata sambil menganggukkan kepala "Tayhiap, lepaskan tanganmu, hamba segera

berangkat."

Selagi masih berdiri ditempatnya, delapan pengaw al itu berkata:

"Apakah siangcu sudah lupa, bahwa empat bintang kita masih menunggu perint ah didalam kelenteng tua ?"

Ho Hay Hong pikir, apabila tidak lekas pergi, nanti kalau Tang siang Sucu tulen datang, pasti akan terbuka kedoknya. Itu berarti memberi kesempatan bagi Srigala kuning untuk melarikan diri, tapi membahayakan kedudukan sendiri.

Maka ia lantas perint ahkan kepada delapan pengaw al untuk memberitahukan kepada empat bintang, tidak lama kemudian, empat laki-laki berpakaian pendek warna hijau berjalan menghampiri dengan langkan gesit.

Empat laki-laki muda itu memberi hormat padanya seraya berkata:

"Melaporkan kepada siangcu, kita berempat sudah melakukan penyelidikan seluruh daerah Hok san, tidak menemukan jejak musuh kita."

Karena Ho Hay Hong t idak mengerti pembicaraannya, jawabnya seenaknya:

"Tidak apa, cari saja pelan-pelan, pasti ketemu !" Dengan membaw a delapan pengawal di tambah empat bintang dari Lam Kiang Tay beng, di paksa Srigala kuning mengunjuk jalan, berjalan menuju ke barat.

Selagi mereka berjalan, terasa dari dalam rimba yang tidak jauh terdengar suara burung berbunyi, kemudian disusulnya dengan munculnya satu bayangan besar, terbang diatas kepala mereka dengan cepatnya, hingga sebentar sudah menghilang.

Ho Hay Hong sudah dapat melihat dengan tegas bahwa bayangan besar itu adalah bayangan seekor burung raksasa. Dalam hatinya lalu berpikir: ’Dari mana burung garuda ini? Apakah burung garuda dari kampung setan Itu?’

Belum lenyap pikirannya, ditepi jalan terdengar suara orang berkata: "Hendak melakukan perbuatan jahat, janganlah tergesa-gesa! Hai, semua jangan bergerak!"

Ketika sinar mata berhadapan dengan mata orang itu, mendadak ia terperanjat. Orang itu mengenakan pakaian berw arna kelabu, rambutnya putih. Itu adalah orang yang pernah dilihatnya didalam kampung setan.

Meskipun dalam hati agak khawatir, tetapi Ia masih berlaku tenang. Ia mengulapkan tangannya, memberi isyarat supaya semua orangnya berhenti, kemudian ia bertanya. "Sahabat ada urusan apa!"

Orang aneh berpakaian kelabu itu dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah semua orang sejenak, baru berkata.

"Kau jangan berlagak pilon, lekas serahkan kembali wanita kaki telanjang itu.  Siapa  berani  melanggar perint ah ini, akan kuambil kepala kalian!" Ho Hay Hong pikir, ”orang tua ini meskipun suaranya berat dan agak mirip dengan suara orang tua, tetapi tidak sesuai dengan bentuk badannya, sudah jelas kalau menyamar. Memang benar, orang itu adalah orang aneh yang pernah dijumpainya didalam kampung setan."

"Sahabat perkataanku sungguh hebat, tapi apakah benar tanganmu memiliki kekuatan tenaga itu? Pernah apa kau dengan nona kaki telanjang itu? Kalau tidak mempunyai hubungan rapat, jangan coba-coba campur tangan. Hem, kau ketahui bahwa anak muridnya Lam kiang Tay-bong selamanya tidak suka kepada orang- orang yang suka mencampuri urusanku. Sahabat, kau pikirkan dulu masak-masak."

Sebetulnya ia sudah dapat menduga bahwa orang itu adalah saudara tua perempuan kaki telanjang, tetapi untuk memegang derajat dirinya sendiri, ia tidak menyebutkan namanya, ia sengaja menyebutkan nama Lan kiang Tay bong, untuk menggert ak law annya

Dilain fihak, ini berarti diam-diam memberi petunjuk kepada orang itu, supaya dalam penyelidikan dapat mengetahui kemana perempuan itu dibaw a. Sebab ia tidak ingin pe rempuan kaki telanjang itu dapat celaka.

"Lam kiang Tay bong itu manusia apa? dengan mengandalkan kepandaiannya apa ia berani bermusuhan denganku? Heh sekarang aku sudah datang sendiri, suruhlah ia pulang lekas"

Ucapan orang aneh itu sungguh sombong, benar- benar tidak memandang mata kepada Lam kiang Tay bong. Bagi Ho Hay Hong, hal ini tidak berarti apa-apa, tetapi bagi anak buah Lam kiang Tay bong lain lagi halnya. Mereka, delapan pengaw al dan empat bintang seketika berubahlah wajahnya, mata mereka ditujukan kepada Ho Hay Hong, agaknya menantikan, perint ah untuk bertindak

Dalam keadaan demikian. Ho Hay Hong terpaksa pun harus marah. Ia membentak dengan suara keras:

"Apakah kau sudah makan nyali harimau, sehingga Lam kiang Tay bong loya kau juga berani menghinanya? Sudahlah, kala kau memang sudah bosan hidup, kita akan mengiringi kehendakmu."

Tangannya melambai, delapan pengawal dan empat bintang segera turun tangan menyerbu orang berbaju kelabu dengan senjata masing-masing.

Tamu aneh berbaju kelabu itu mendorong dengan kedua tangannya, suatu kekuatan tenaga yang hebat sekali meluncur keluar hingga mengejutkan orang yang mengurung dirinya. Semua lompat mundur,  tiada satupun yang berani maju lagi.

Orang aneh itu tertaw a terbahak-bahak, ia maju beberapa langkah, matanya mengaw asi Ho Hay Hong,

"Tentang urusanku, kau juga sudah tahu sendiri. Sekarang jangan banyak bicara, lekas serahkan kembali gadis kaki telanjang itu, jangan sampai kau kehilangan jiw a!"

"Apa kau kira hilangnya nona itu adalah perbuatan kita?" berkata Ho Hay Hong.

Ia sengaja berlaku lunak, pura-pura kaget.

"Apa kau masih mencoba mengelabuhiku? Hm! Kalau bukan karena garuda sakti telah melihat tuan muda sedang berada dalam kesulitan dan cepat melaporkan, aku masih belum tahu kalau Lam kiang Tay bong demikian kurang ajar!" berkata tamu aneh itu.

Setelah itu mulutnya mengeluarkan satu siulan kecil. Dari udara melayang turun seekor burung, benar saja adalah burung garuda raksasa itu yang lantas hinggap diatas bahu orang aneh itu.

Tamu aneh itu mengelus-elus tubuh burung garuda, kemudian berkata dengan suara dingin:

"Kalian sudah dengar atau belum? Suara burung tadi adalah suatu jawaban bahwa memang benar ada kejadian itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?"

"Hanya mengandalkan keterangan seekor binatang burung, mana boleh dipercaya? Kau tunjukkan buktinya!"

Tamu aneh itu ketika mendengar ucapan itu, marah sekali. Ia melesat setinggi lima enam tombak, ditengah udara ia menghardik "Bangsat, kau kepala batu." Dua tangannya dipentang, cepat bagaikan kilat menyerbu orang banyak, barisan delapan pengaw al dan empat binatang menjadi kacau, mereka pada lompat mundur, tapi Srigala Kuning Hak Tak yang tidak keburu lari, mati seketika itu juga.

Kejadian itu sangat menggemparkan, semua anak buah Lam kiang Tay bong tidak berani berkutik.

Burung garuda raksasa itu juga tidak tinggal diam, ia terbang berputaran ditengah udara,  kemudian melakukan suata gerakan, dari kedua sayapnya mengeluarkan hembusan angin yang luar biasa hebatnya. Ho Hay Hong geser mundur kakinya, dengan kedua tangannya ia menyerang dari samping.

Garuda itu terbang tinggi dan berputar putaran ditengah udara.

"Burung garuda ini sungguh bebat, tentunya burung peliharaan kakek penjinak garuda" berkata Ho Hay Hong, matanya ditujukan kepada tamu aneh itu.

Ia sengaja mengajukan pertanyaan demikian, hendak membuktikan dugaannya yang selama itu tersimpan dalam hatinya.

Tetapi tamu aneh itu sebaliknya menjawab tertawa dingin:

"Tidak perduli bagaimana, kedatanganku ialah hendak minta orang! Pertanyaanmu ini boleh kau ajukan kepada raja akherat."

"Sahabat, kau terlalu jumawa, apa kau kira aku benar- benar takut padamu?" berkata Ho Hay Hong, lalu maju tiga langkah, dan dengan mendadak melancarkan satu serangan. Bersamaan dengan itu, ia berkata dengan suara sangat perlahan:

"Jangan ribut-ribut! Tentang nona kaki telanjang itu juga merupakan suatu hal yang menjadi  perhatianku. Aku pikir, ini adalah perbuatan Lam kiang Tay bong. Kau boleh pura-pura bertempur denganku, tetapi jangan merusak rencanaku!"

Tamu aneh itu baru akan mengeluarkan serangannya, setelah mendengar perkataannya Ho Hay Hong, dengan cepat ditariknya kembali. Sambil maju  selangkah ia bertanya dengan suara perlahan juga. "Kau bukan orangnya Lam-kiang Tay-bong ?"

Ho Hey Hong pura-pura melancarkan serangan lagi, tetapi t idak disertai kekuatan tenaga.

"Apakah kau sudah lupa? Orang yang malam  itu berada disamping nona kaki telanjang itu, adalah aku sendiri." demikian ia mengingatkan kepada tamu aneh itu.

Tamu aneh itu membuka lebar matanya, memandangnya sekian lama, baru berkata: "Ow, ya betul, kau benar adalah orang itu, tetapi dengan cara bagaimana kau dapat melarikan diri ?"

Ia ajukan pertanyaan demikian sambil mementang lima jarinya, menyambar tubuh Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong hampir kesambar oleh kuku jarinya. Buru-buru ia menundukan kepalanya, katanya dengan perasaan t idak senang.

"Nona itu yang melepaskan aku, aku sudah berjanji dengannya, hendak mengembalikan pedangnya."

"Aku pikir ia tentu kau perdayai, dalam dunia dimana ada orang yang sudah mendapatkan barang pusaka, sudi mengembalikan lagi? Kau mungkin dapat membohongi dia tetapi aku tidak !"

Ho Hay Hong marah. "Pikiranmu banyak curiga. Bukan saja kau tidak akan menemukan dia, sebaliknya malah akan merusak urusan besar, Dikemudian hari kau jangan menyesal!"

Dengan kepalan tangan kirinya ia melakukan satu serangan. Tamu aneh itu tangannya tanpa bergerak sambil tertaw a dingin ia maju menerobos hembusan angin dari serangan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong terperanjat, buru-buru ia berkata:

"Apakah kau benar-benar sudah tidak memikirkan keselamatan jiwanya ?"

Tamu aneh itu merandek dan bertanya: "Apa artinya ucapanmu ini ?"

"Terus terang, ia sudah terluka di tangan Lam kiang Tay bong, bahkan lukanya sangat parah ."

Mendengar keterangan itu, tamu aneh itu mendadak lompat, ia berkata dengan suara gusar:

"Hah, iblis tua itu benar-benar sudah bosan hidup! Dia itu siapa, bagaimana boleh."

Berkata sampai disitu, agaknya merasa kurang tepat, maka buru-buru ia menutup mulut.

Dengan satu siulan perlahan, burung garuda yang terbang berputaran diudara itu menyambutnya dengan suara perlahan. Dan suara itu saling berpaduan, agaknya sedang melakukan percakapan antara dua mahluk itu, sebentar kemudian garuda raksasa itu terbang kearah barat, dalam waktu sekejap mata ia sudah menghilang.

"Sahabat, kau perint ahkan dia panggil bala bantuan?" tanya Ho Hay Hong. Pada bibirnya tersungging satu senyuman misterius.

"Aku pikir ia pasti pergi mengundang penghuni kampung setan. Kakek penjinak garuda yang namanya sangat kesohor." "Kau mengoceh, Lam kiang Tay bong terhitung manusia macam apa? Dengan aku seorang diri juga sudah cukup membuatnya gemetar, perlu apa minta bala bantuan? Kau ini selalu mengoceh tidak karuan, kebanyakan orangnya Lam kiang Tay bong juga!"

Tangan kirinya dengan kecepatan bagaikan kilat, mendadak menerobos melalu i ketiak Ho Hay Hong tangannya menekan bahunya.

Baru saja Ho Hay Hong hendak menjawab, mendadak bahunya dirasakan sakit, dengan kaki sempoyongan ia jatuh ketanah

Pada saat itu, sesosok bayangan kelabu mendadak melayang turun dari atas dengan menggunakan lengan jubahnya yang grombongan, mencegah serangan tamu aneh yang hendak dilancarkan kepada diri Ho Hay Hong yang sudah tidak berdaya.

"Kau tenang-tenang saja, jangan terburu napsu. Urusan ini biarlah aku sendiri yang membereskan "

demikian bayangan orang itu berkata.

Orang itu tinggi besar, matanya bersinar  ketika memandang orang-orang disekitarnya orang-orang itu pada ketakutan.

Luka Ho Hay Hong t idak terlalu parah hanya bahunya dirasakan sakit, seperti mau remuk. Pikirnya tulang bahunya pasti hancur mungkin lengannya akan bercacad. Sebagai pemuda berkepala batu, dengan menahan rasa sakitnya. ia lompat bangun, mengaw asi orang tidak dikenal yang datang secara tiba-tiba itu.

Muka orang itu sebagian besar tertutup oleh topinya yang lebar, tetapi kumis dibawah hidungnya sangat lebat. Rambut dikedua samping telinganya sudah beruban, dan ia tidak bisa melihat dengan nyata. Dapat dipastikan bahwa orang itu sudah lanjut usianya

Sejak munculnya orang tua itu. sikap galak tamu aneh itu mendadak berubah. Dengan sikap merendah ia berdiri disamping. Dari situ dapat diduga bahwa orang tua itu jauh lebih t inggi kedudukannya dari pada tamu aneh itu.

Kepandaian tamu aneh itu sudah hebat sekali, dan orang tua itu kedudukannya lebih tinggi lagi.

Anak buah Lam kiang Tay bong tidak ada yang berani bersuara, mereka hanya menyesalkan mengapa hingga saat itu, ia masih belum muncul. Kalau ia tidak datang, semua anak buahnya seperti terbenam dalam suasana tiada harapan untuk menolong diri sendiri

Anggota empat bintang, yang termasuk golongan termuda dari anak buah Lam Kiang Taybong, juga yang terhitung agak berani, coba berpikir hendak menempuh bahaya. Mereka saling berpandangan sejenak dengan serentak masing-masing menghunus senjata mereka.

Senjata itu terdiri dari empat jenis yang sangat ganjil, itu adalah senjata yang diciptakan oleh Lam Kiang Tay bong, khusus digunakan untuk anggauta empat bintang itu saja.

Senjata itu terdiri dari pedang yang terbuat dari besi murni, tiga yang lainnya adalah berbentuk papan papan catur, tulisan dan ukiran. Tiga jenis senjata itu terbuat dari bahan kulit yang hanya didapatkan didaerah Lam Kiang saja, kulit binatang itu sangat  kokoh  kuat, tahan api atau air. Senjata apa saja, begitu bersentuhan dengan tiga jenis senjata aneh itu lantas tidak berdaya. Bagi orang biasa, jangan harap bisa menarik kembali senjatanya apabila sudah melekat dengan senjata aneh itu.

Maka empat anggota bintang yang masih muda belia itu, sejak muncul dikalangan Kang ouw, belum pernah menemukan tandingan.

Kini mereka berada dalam keadaan terpepet, sudah tentu hendak berlaku nekad. Dengan satu pikiran dan satu tujuan, mereka berdiri mengawasi dua musuhnya, untuk siap menghadapi segala kemungkinan.

Ho Hay Hong mendadak teringat si orang tua itu, semangatnya terbangun seketika.

"Kau adakah Kakek penjinak garuda." demikian satu pertanyaan meluncur keluar dari mulutnya.

Peristiw a di tepi danau Liok ing auw yang di lukiskan melalu i keterangan Su-to Cian Hui, selalu di ingat oleh Ho Hay Hong.

Kini ketika berhadapan dengan orang yang dandanannya mirip seperti apa yang dilukiskan oleh  Su to Cian Hui, Ia segera menduga siapa adanya orang tua itu.

Orang tua itu memandang Ho Hay Hong dengan sinar mata guram, jelas bahwa semangatnya menurun. Dengan singkat tapi tegas ia menjawab:

"Wajah kasar kakek penjinak garuda sudah lama menghilang dari dunia, aku adalah penghuni kampung setan!" Ho Hay Hong tak mau percaya, katanya: "Kakek penjinak garuda, sudah terlalu lama aku mencarimu, dalam perjalanan mencari kau itu, juga aku telah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan. Kau jangan mengecewakan aku lagi. Kakek penjinak garuda. Kau harus mengaku terus terang, kau adalah manusia luar biasa dalam rimba persilatan, si kakek penjinak garuda!"

Orang tua rambut putih di desak terus oleh Ho Hay Hong, agar mengaku sebagai kakek penjinak garuda, tiba-tiba jadi naik darah.

"Aku beritahukan padamu, kakek penjinak garuda sudah lama mati, kalau kau masih banyak mulut, jangan sesalkan aku nanti t idak pandang dirimu lagi!"

Ho Hay Hong merasa bingung, mengapa kakek dari kampung setan ini begitu mendengar nama kakek penjinak garuda lantas marah Apakah dalam hal in i ada terkandung suatu rahasia besar?

Sebagai seorang muda yang beradat keras dan kepala batu, ia tidak kena digertak begitu saja, lalu berkata tegas:

"Sekalipun kau hajar aku sampai mati, aku juga akan tetap anggap kau kakek penjinak garuda. Kakek penjinak garuda, ditepi danau Liok ing ouw kau telah memancing orang berbagai partai untuk berkumpul, kemudian kau adu domba sesama mereka, apakah maksudmu yang sebenarnya?"

Orang tua itu marah sekali, orang tidak melihat bagaimana ia bergerak. Ho Hay Hong sendiri juga belum melihat dengan tegas, tahu-tahu lengan  tangannya sudah terpegang olehnya.

Gerakan itu bagi siorang tua sendiri merupakan suatu gerak biasa, meskipun usianya sudah lanjut, tetapi tenaganya kuat sekali, segera tangan Ho Hay Hong yang terpegang olehnya di rasakan sakit sekali, sepertinya bagaikan dijepit oleh bahan keras.

Oleh karenanya, maka Ho Hay Hong yang coba mempertahankan rasa sakitnya sampai mengucurkan keringat dingin, tubuhnya menggigil.

Tetapi, ia selamanya tak pernah minta ampun walau golok di tanggalkan diatas leher sekalipun.

Menderita, baginya sudah merupakan kebiasaan. Selama belajar ilmu silat digunung Ho lan san, segala penderitaan sudah pernah dialaminya, ia betul-betul seorang muda matang dalam gemblengan.

"Kakek penjinak garuda, sudah sepuluh tahun lebih kau tidak muncul dikalangan Kang ouw. Apa sebetulnya yang kau lakukan selama dalam persembunyianmu itu?" demikian ia bertanya.

Mulut orang tua itu mengeluarkan suara siulan perlahan, dari angkara muncul burung garuda raksasa itu, yang melayang turun dan berhenti disamping Ho Hay Hong Burung garuda itu seolah-olah sudah terdidik baik oleh orang tua itu, untuk menuruti segala perint ahnya. Dengan tiba-tiba paruhnya yang tajam mematok dada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong menjerit dan jatuh ditanah, telinganya mendengar suara orang sedang memaki dirinya. Karena semangatnya sudah runtuh, ia hanya mendengar kata- kata seperti anak haram yang sangat jahat dengan hak engkau hendak hidup, bangsat bajingan." dan sebagainya.

Mendengar kata-kata yang menyakiti hatinya, perasaan pedih dalam hatinya lebih hebat daripada rata sakit pada tubuhnya. Pikirannya kalut, hampir saja ia pingsan.

Pemuda empat bintang lompat dari empat penjuru, mengurung siorang tua dengan senjata ditangan. Tetapi siorang tua seolah-olah tidak menghiraukan gertakan empat pemuda itu.

Ia membiarkan dirinya dibuat bulan-bulanan senjata empat bintang, tapi sedikitpun ia tidak terganggu. Mulutnya menggumam sendiri: "Lam kiang Taybong terhitung manusia apa? Sewaktu namaku  sudah dikenal ia masih merupakan anak-anak baru  umur tiga tahun. Dia juga berani mengejar anak gadisku, sungguh ia tak tahu diri.”

Ho Hay Hong tiba-tiba lompat bangun, berkata dengan suara keras:

"Semua mundur, aku hendak bicara!" Dengan mata menatap wajah si orang tua ia berkata  lagi  sambil tertaw a dingin:

"Kakek penjinak garuda, kau jangan bangga dulu! Gadis kaki telanjang itu terjatuh dalam tanganku, mati hidupnya tergantung dengan sepatah perkataanku. Kalau demikian menghina diriku. Hm, ia juga tidak akan mengalami nasib baik !"

"Aku bukan kakek penjinak garuda! berkata orang tua itu dengan suara amat keras, "kalau kau berani mengganggu anak gadisku seujung rambutnya saja, batok kepala Lam kiang Tay bong sebentar akan berada didepan matamu. Kalau kau tidak percaya, boleh coba !"

"Belum tentu." jawab Ho Hay Hong sambil tertawa dingin.

Ia sebetulnya hendak menjelaskan bahwa tidak ada hubungannya dengannya Lam-kiang Tay bong, tiba-tiba dari tempat tidak jauh tampak api berkobar, dari empat penjuru terdengar suara hiruk  pikuk: "Lempar batu

.lempar batu." dan kata-kata kode rahasia golongan Lempar batu, yang diucapkan saling menyusul.

Akal baik timbul dalam otak Ho Hay Hong tanpa banyak pikir lagi, ia lantas berseru:

"Lempar batu Lempar batu.!" dan kode kode rahasia itu dapat didengarnya dari mulut Srigala kuning Hek Tek.

Orang banyak itu ketika mendengar seruan Ho Hay Hong, nampak terkejut. Hanya burung garuda raksasa itu, setelah mendapat tanda isyarat dari tamu aneh baju kelabu itu mendadak terbang tinggi, terus menyerbu tempat suara orang banyak itu.

Tidak jauh dari tempat itu, segera terdengar suara orang bertanya: "Sahabat, aku adalah anak buah cabang kedua belas, saudara dari mana, lekas menjawab!"

Tidak perduli benar atau tidak, Ho Hay Hong dan lantas menjawab: "Aku adalah pengurus cabang sungai Bang ce kiang, si Srigala kuning Hek Tek. Lekas utus orang mengundang Chim kiam sianseng datang kemari, tempat ini sangat gaw at!" Terdengar pula suara orang menanya Ia "Saudara Hek Tek minta tunggu sebentar, kita orang akan datang dengan segera!"

Sebentar kemudian, dari berbagai penjuru terdengar suara keresekan, suatu tanda banyak orang sedang bergerak.

Akan tetapi, Ho Hay Hong tidak melihat bayangan seorangpun juga, dari tempat yang tidak jauh telah terdengar suara ribut-ribut, kemudian disusul oleh suara jeritan yang jelas itu adalah perbuatan garuda raksasa yang sedang menerkam para korbannya.

"Kakek penjinak garuda, apakah kau sudah tidak menginginkan pedang pusaka garuda saktimu lagi?"

"Apa? pedang pusaka garuda sakti berada ditanganmu?" bertanya orang tua itu heran, kemudian berpaling kepada orang aneh berbaju kelabu dan bertanya kepadanya:

"Katakan, apa sebetulnya yang telah terjadi?" Orang itu gelagapan, lama baru bisa menjawab:

"Itu adalah urusan adik, tidak ada sangkut pautnya denganku!"

Mata orang tua itu nampak beringas, sejenak ia mengaw asi keadaan disekitarnya, kemudian berkata dengan suara, keras: "Apa tidak ada sangkut pautnya denganmu? Barang dijaga oleh kamu orang berdua, bagaimana bisa diambil oleh orang lain? Bukankah kau pernah mengatakan bahwa barang itu sudah disimpan baik-baik? Apakah semua itu hanya bohong belaka?”

Orang aneh itu berkata sambil menundukkan kepala: "Bukan, itu adalah maksud adik, aku tidak berani membohongi kau!"

Wajah orang tua itu nampak sangat bengis, katanya: "Oh, anak itu juga sudah belajar membohongi aku,

aku harus hajar dia!"

Ho Hay Hong yang mendengarkan pembicaraan mereka, mendapat firasat tidak beres. Meskipun  ia  sendiri tidak mengetahui sebab musababnya, tetapi ia tahu benar bahwa ia sendiri dengan t idak langsung telah mencelakakan diri gadis kaki telanjang itu, maka seketika itu hatinya merasa cemas, ia buru-buru memberi keterangan:

"Pedang garuda sakti itu adalah aku yang mencuri dari kampung setan, sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengannya."

"Oh, ini lebih mengherankan lagi," berkata orang tua itu sambil tertaw a dingin, "kau bisa keluar dari daerah terlarang yang terjaga keras? Apakah benar kau memiliki kepandaian luar biasa?"

Kemudian berpaling dan bertanya kepada orang aneh berbaju kelabu:

"Orang ini keluar masuk kampung setan! Agaknya ia tidak mendapat rint angan. Apakah kau pernah menggeledah dirinya?"

Orang aneh itu merasa ragu-ragu. matanya berputaran, akhirnya ia memaksakan diri untuk menjawab: "Lihat sih memang sudah melihat, tetapi ia berada ditangan adik, aku kira adik akan membunuhnya, tak kusangka adik telah melepaskan dia!"

"Ketika ia melepaskannya, apa kau tidak berada disitu?"

"Tidak semua itu adalah perbuatan adik seorang." "Kau   telah   menimpahkan   semua  tanggung  jawab

kepada diri adikmu seorang, ini sesungguhnya tidak adil,"

"Kakek penjinak garuda, kedatanganku inilah yang benar, kau harus mendengar keteranganku, pedang itu akulah yang mencuri, setelah itu aku pergi sedikitpun tidak ada sangkut pautnya dengannya" berkata Ho Hay Hong.

"Mengapa kau selalu melindungi dia, apakah dalam hal ini ada sebabnya?" berkata orang tua itu dingin.

Ho Hay Hong tidak menjawab, ia sendiri sebetulnya juga tidak mengerti mengapa ia demikian keras  hasratnya membela gadis itu. Setelah berpikir lagi sejenak, akhirnya ia menjawab juga:

"Aku kira  dia adalah satu-satunya yang masih mempunyai perasaan manusia diantara orang-orang dalam kampung setan."

"Kau katakan tidak ada hubungan dengannya, mengapa kau mengetahui sifatnya? Apakah kau kira aku boleh kau permainkan? Ataukah kau rela menanggung dosa lain orang supaya mendapat ketenangan hatinya ?" Berkata orang tua itu.

Ucapan orang tua itu sesungguhnya sangat tajam, sehingga Ho Hay Hong tidak dapat memikirkan suatu jawaban yang tepat untuk menjaw ab, ia hanya dapat menjawab:

"Aku terhadapnya sedikitpun tidak mengandung maksud apa-apa. Kau jangan salah melihat orang, tentang perkenalanku dengan dia hanya  secara kebetulan saja, yang melihatnya sepintar lalu, waktu ia sedang menjalankan tugas untuk kau, batok kepala jago tua she Hok dan anaknya."

"Batok kepala tiga orang itu? Ha. ha." Berkata orang tua itu, suara tertaw anya itu meskipun tidak nyaring, tetapi dalam pendengaran telinga orang lain sangat menusuk telinga.

Dengan tiba-tiba, orang tua itu berhenti tertaw a, matanya yang tajam seolah-olah menekan apa-apa. lalu mata itu dialihkan ke arah barat.

Pada waktu itu orang aneh berpakaian kelabu itu tiba- tiba lompat tinggi lima enam tombak, ditengah udara, bagaikan seekor burung elang terbang berputaran, ia berkata dengan suara nyaring:

"Adik jangan cemas, aku datang!" Baru sekian detik ia menutup mulut, dua sosok bayangan manusia datang dengan tiba-tiba.

Orang pertama datang rambutnya terurai, dengan wajah letih. Begitu melihat orang tua rambut putih lantas menghampirinya, seolah-olah bertemu dengan orang tua yang dicintainya. Dengan berseru, ia menubruk dalam pelukannya. Orang itu tak lain dari pada sigadis kaki telanjang.

Dibelakangnya diikuti oleh seorang tua rambut putih tetapi wajahnya masih seperti anak-anak, hanya hidungnya melengkung seperti burung betet, orang tua itu sedang terpegat oleh orang aneh berpakaian kelabu tadi. Karena masing-masing tidak mau mengalah, keduanya lantas baku hantam sendiri.

Kepandaian orang aneh berbaju kelabu yang luar biasa tingginya, saat itu barulah benar-benar disaksikan oleh orang banyak, kalau bukan karena Ho Hay Hong yang menghalangi disitu, barangkali akan meminta banyak korban.

Saat itu empat bintang dan delapan pengaw al, mulai hilang rasa takutnya, rasa takut itu diganti oleh perasaan dan sikap gembira, dengan penuh pengharapan mereka berdiri sebagai penonton.

Ho Hay Hong yang menyaksikan itu dalam hati segera timbul suatu perasaan. Karena melihat kepandaian yang sangat tinggi dari orang tua yang hidungnya melengkung itu, ia menduga bahwa orang tua itu pasti adalah Lam kiang Tay-bong sendiri.

Gadis kaki telanjang itu mengundurkan diri dari dalam pelukan si orang tua. Ketika ia angkat muka, matanya berhadapan dengan Ho Hay Hong. Seketika itu matanya terbuka lebar. Lama ia menatapnya dengan perasaan cemas. Ho Hay Hong tidak mengerti, ia menunjukkan sikap heran.

Mata kakek penjinak garuda selanya itu selalu  ditujukan kepada si orang tua hidung melengkung itu, namun mulutnya berkata kepada gadis kaki telanjang:

"Anak, bicaralah terus terang, pedang pusaka garuda sakti itu, betulkah dia yang mencuri ?" Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, ia berkata dengan perasaan heran:

"Yah, urusan ini apakah dia yang menceriterakan ?"

"Anak, mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku?"

"Ayah, orang ini jahat sekali, paling tidak bisa pegang janjinya ! Aku sangat menyesal tidak mendengar perkataanmu, sehingga terjadi kejadian seperti ini, orang ini beberapa hari berselang mencuri pedang pusaka garuda sakti dari dalam kampung setan. Ketika aku menemukannya, pedang pusaka sudah tidak berada didalam badannya, maka aku terpaksa membohongi kau, dan melepaskan dirinya. Tak kusangka Ia tidak boleh percaya, lama ia membohongi aku . . ."

Belum lagi habis ucapannya, disitu sudah tambah satu orang, ketika semua orang menyaksikan kedatangan orang itu. semua terkejut, mata mereka dengan bergantian memandang orang yang baru datang, yang ternyata adalah Tang-siang Sucu, dan dengan Ho Hay Hong, mereka tidak dapat membedakan mana Tang siang Sucu yang tulen dan yang palsu !

Gadis kaki telanjang berseru kaget:

"Dia."

Matanya beralih kewajah Ho Hay Hong, sikapnya menunjukkan perasaan keheran-heranan.

Tang siang Sucu memandang Ho Hay Hong sejenak, mendadak berkata sambil tertaw a:

"Bagus, saudara kembali kubertemu lagi denganmu, manusia benar-benar dimana saja bisa bertemu!" Gadis kaki telanjang itu agaknya baru mengerti duduk perkara, ia berkata kepada Ho Hay Hong:

"Kaubukan dia.?" Ho Hay Hong tahu bahwa ia telah menganggap Tang Siang Sucu sebagai dirinya,  ia sebetulnya t idak ingin memberi penjelasan, tetapi setelah ditegor demikian akhirnya ia menerangkan juga:

"Benar aku dengannya sangat mirip dan kau  pasti salah faham."

"Nona ini tentunya ada hubungan denganmu, ketika melihat aku lantas minta pedang, aku menjadi heran, lantas saling berdebat, dan akhirnya karena saling tidak mau mengalah, lantas menggunakan kekerasan" Berkata Tang siang Sucu.

Gadis kaki telanjang itu kini tersadar, Ia merasa kemalu-maluan.

Ho Hay Hong mengaw asi gadis itu sejenak, lalu berkata kepadanya:

"Anak buah Chim Kiam Sian Seng berada tidak jauh disekitar kita. harap kau suka perint ahkan garuda saktimu supaya menghentikan penyerangan, agar aku dapat minta kembali pedang garuda sakti dari tangan Chim Kiam Sian Seng! Tentang ini kau harap maafkan diriku, batas waktu hanya tinggal satu hari kalau lew at hari ini berarti aku kehilangan percaya darimu, maka aku terpaksa berkata terus terang saja kepadamu."

Gadis kaki telanjang itu dengan suara sangat perlahan menceritakan keterangan Ho Hay Hong kepada orang tua rambut putih Orang tua itu meskipun nampaknya tidak senang, tetapi menurut juga untuk memanggil pulang burung garudanya. Tak lama kemudian, sekelompok orang-orang Kang ouw muncul dari berbagai penjuru. Tetapi ketika orang orang itu menyaksikan apa yang telah terjadi, semua tertegun tidak berani maju lagi.

Akhirnya, mata orang banyak itu tertuju ke mayat Srigala kuning Heng Tek. wajah mereka berubah seketika, masing-masing segera menghunus senjata dan membentak kepada orang tua rambut putih.

"Hai kau tua bangka ini sesudah mengandalkan burung-burung menyerang kita. kembali  membunuh saudara kita dari cabang Hok san, apakah kau tidak pernah dengar nama Lempar Batu ?"

"Kamu anak anak kecil in i benar-benar tidak mempunyai mata, lekas panggil Chim Kiam, aku hendak hajar dia!"

Semua orang yang mendengar kata kata jumawa itu pada marah, dengan serentak melakukan penyerangan.

Ho Hay Hong cepat mencegah seraya berkata.

"Dia adalah kakek penakluk garuda, siapa yang tidak takut mati, boleh juga lawan?"

Dengan sinar mata dingin ia melirik Kakek penjinak garuda, di bawah sinar rembulan, tampak topinya menutup mukanya makin rendah, hingga jangan harap dapat melihat ekspresi dimukanya.

Ucapan Ho Hay Hong ini mengejutkan orang-orang dari golongan Lempar batu, semuanya berdiri terpaku, tiada satupun yang berani buka suara. "Sebaiknya kalian minta Chim Kiam Sian Seng yang datang sendiri untuk berurusan dengannya, kalian bukan tandingannya"

Tiada seorangpun yang berani membantah, hanya salah satu diantaranya yang coba memberi keterangan:

"Hari ini adalah hari ulang tahun golongan kita akan mengadakan perjalanan ke berbagai cabangnya.  Tadi kita telah dengar berita, mungkin sebentar lagi akan tiba.”

Tang siang Sucu menghampiri Ho Hay Hong berkata sambil tertawa cengar cengir: "Saudara, kau dengan Cie lui Kiamkhek mempunyai hubungan persahabatan baik. aku rasa putrinya Su to Cian hui, juga baik hubungannya denganmu. Aku juga ia sudah ikut namamu."

Ho Hay Hong sangat jemu terhadap pemuda yang ceriw is ini.

"Itu juga belum tentu semuanya benar, aku dengannya tidak mempunyai hubungan  baik, sementara." demikian ia menyahut.

Tetapi baru berkata sampai disitu, tiba-tiba melihat tangan Tang Siang Sucu bergerak menyambar tangannya. Dalam keadaan demikian, ia tidak keburu mengerahkan kekuatan tangannya, terpaksa ia lompat mundur beberapa tombak lalu katanya dengan suara keren: "Kalau kau mau berkelahi. berkelahilah secara jantan. Dalam tiga jurus kalau aku tidak dapat menangkan kau, boleh anggap aku yang kalah !"

Dengan tiba-tiba gadis kaki telanjang maju menghampiri dan menghalangi mereka, katanya: "Urusan denganku belum beres, kau harus bereskan dulu !"

Tang-Siang Sucu menoleh kemedan pertempuran kemudian berkata.

"Sahabatmu sudah kalah."

Ho Hay Hong berpaling benar saja. Orang aneh berbaju kelabu itu mundur terhuyung-huyung, sedang orang tua berjubah kuning yang hidungnya bengkung terus maju mendesak dengan serangannya yang hebat. Orang tua rambut putih agaknya tidak dapat menahan kesabarannya, ia maju menghampiri dan be diri berhadapan dengan orang tua hidung bengkung.

Orang tua hidung bengkung itu sedang minta keterangan asal usul lawannya, tiba-tiba tampak orang tua berambut putih berdiri hadapannya, wajahnya yang keriputan dan rambutnya yang putih bagaikan perak, seketika mengingatkan kepada diri seseorang, maka lantas berkata:

"Kau adalah kakek penjinak Garuda, kau masih hidup

?"

Ho Hay Hong terkejut dan girang, ia telah mendapat

kepastian bahwa orang tua rambut putih itu benar adalah si kakek penjinak Garuda, Dengan demikian, usahanya mencari orang tua itu ternyata tidak cuma-cuma.

Begitu nama kakek penjinak Garuda itu keluar dari mulut orang tua hidung bengkung, semua orang yang ada disitu membuka mata mereka lebar-lebar, memandang sikakek tanpa berkedip. Mereka sungguh tidak menduga bahwa tokoh rimba persilatan yang namanya pernah menggemparkan dunia Kangouw selama beberapa puluh tahun, kini telah muncul lagi !

"Kau mengaco, kakek penjinak garuda sudah lama mati !" demikian orang tua rambut putih itu membentak dengan suara keras dan wajah bengis.

Orang tua hidung bengkung itu lama berdiri tertegun, setelah menekan kegoncangan hatinya baru berkata:

"Kalau kau benar adalah si kakek penjinak garuda, itulah paling baik. Sudah beberapa puluh tahun aku t idak menemukan tandingan, tulang-tulangku rasanya sudah kaku dan sekarang bolehlah coba-coba mengadu kekuatan denganku !"

Setelah itu ia perint ahkan anak buahnya supaya semua mundur.

"Lam-kiang Tay bong, kau juga terhitung seorang ternama, biarlah aku mengalah dan  memberi kesempatan padamu untuk menyerang dulu sampai tiga jurus!" berkata orang tua rambut putih itu singkat.

Lam kiang Tay bong tidak marah, sebab orang dari tingkatan tua ini, ketika ia baru belajar ilmu silat, nama orang tua itu sudah kesohor lama, dan ilmu silat ciptaannya yang dinamakan Lima Jurus Gerak Burung Garuda Sakti, sesungguhnya sangat luar biasa.

Dalam kalangan Kang ouw tidak pernah menemukan tandingan. Kalau orang tua itu memberikan kesempatan padanya menyerang lebih dulu tiga jurus, sedikitpun tidak berlebih-lebihan. maka ia hanya menganggukkan kepala sambil mengerahkan seluruh kekuatannya, supaya jangan sampai kehilangan muka. Dua jago kenamaan dalam rimba persilatan, kini berhadapan sebagai musuh. Dapat dibayangan, hebatnya pertempuran yang akan berlangsung nanti.

Orang masih belum tahu bagaimana dimulainya, mereka hanya mendengar suara saling membentak, kemudian disusul oleh suara hebat, tetapi dimedan pertempuran tidak tertampak bayangan mereka berdua.

Semua orang yang ada disitu terheran-heran. Hampir dalam hati setiap orang di hadapkan pertanyaan, apakah demikian caranya bertempur orang-orang kuat kelas tinggi. Entah siapa yang mengeluarkan teriakan.

"Aaa diatas."

Begitu mendengar suara itu, semua mata lantas ditujukan keatas. Benar saja, ditengah udara tampak oleh mereka si Kakek penjinak garuda bersama Lam kiang Tay bong sedang berpegangan tangan, jidat mereka penuh keringat, tapi mata mereka dipejamkan, Dan keduanya berhenti mengapung ditengah udara.

Pemandangan ini merupakan suatu pemandangan aneh untuk mereka.

Ho Hay Hong yang berkepandaian agak tinggi dan lebih banyak pengetahuannya tentang ilmu silat, pasang mata benar-benar memperhatikan keadaan dua orang itu.

Ternyata dua orang tua itu meski mengapung ditengah udara dan bertempur dengan mengadu kekuatan tenaga dalam, tetapi kaki mereka selalu bergerak. Barulah ia sadar bahwa kedua orang tua itu bukannya pandai ilmu terbang, melainkan menggunakan kekuatan sepasang kaki masing-masing untuk mempertahankan badan mereka supaya jangan meluncur turun. Kepandaian semacam in i merupakan suatu ilmu  meringankan tubuh yang sudah tidak ada taranya.

Sementara itu Lam kiang Tay bong mendadak melayang turun, kemudian disusul oleh si Kakek rambut putih.

Lam kiang Tay bong menundukkan kepala. Sikapnya yang Jumawa tadi kini lenyap bagaikan asap tertiup angin. Wajahnya pucat pasi, semangat sudah runtuh.

"Lam kiang Tay bong, kalah atau menang adalah soal biasa, kau harus menginsyafi hal ini." berkata si kakek rambut putih.

Lam kiang Tay-bong diam saja, Sesaat itu ia seperti lebih tua beberapa puluh tahun

Hingga saat itu anak buahnya masih belum mengerti betul bagaimana sang pemimpin dikalahkan, perasaan curiga mendadak timbul dalam hati mereka masing- masing.

Ho Hay Hong agaknya dapat menyelami pikiran mereka, maka lantas berkata:

"Lam kiang Tay bong sudah kalah."

Mendengar perkataan itu, beberapa puluh pasang mata ditujukan kepadanya. Mereka merasa heran mengapa pemuda itu berani berkata demikian.

Tang siang Su cu sangat marah, katanya gusar. "Kau bangsat cilik ini, berani banyak mulut. Orang lain dapat mengampuni dosamu, tetapi aku t idak."

Sehabis berkata demikian, lalu melancarkan serangan dengan kedua tangan.

Tetapi dengan mudah, gadis kaki telanjang itu dapat menolak serangan hebat Tang siang Sucu.

"Budak hina, kau benar-benar berani melawan aku ?" berkata Tang siang Sucu gusar.

Wajah gadis itu berubah, dengan tiba-tiba tangannya bergerak lagi, sekaligus melontarkan tiga kali serangan.

Tang siang Sucu tidak sanggup perlahan-lahan kedudukannya, dengan beruntun mundur dua langkah, saat itu ia sudah marah benar-benar. Lalu ia mengeluarkan bentakan keras, sambil melakukan serangan pembalasan dengan menggunakan ilmunya Im yang khie kang.

Ilmu itu merupakan ilmu kepandaian simpanan Lam kiang Tay bong, yang tidak diturunkan kepada orang lain, kalau tidak orang yang terdekat. Orang yang tidak melihat hebatnya ilmu itu, begitu terkena serangannya, semua kepandaiannya akan musnah oleh hawa panas dan dingin yang terkandung dalam serangan itu, dan akhirnya binasa.

Tetapi gadis kaki telanjang yang sudah tinggi ilmu silatnya dan banyak pengetahuannya, dengan cepat melompat menyingkir hingga serangan Tang siang Sucu hanya mengenai sebuah pohon besar, yang roboh seketika. Kakek berambut putih yang menyaksikan kejadian itu, tiba-tiba menghampiri. Tang siang Sucu masih  belum tahu kedatangan orang tua itu. Bahunya sudah terpegang, bajunya robek terbeset.

Ho Hay Hong mendadak berseru kaget. "Apa kau juga ada."

Kiranya dilengan tangan Tang siang sucu, juga terdapat tanda cacah seekor burung garuda, yang bentuk dan besar kecilnya mirip benar dengan tanda pada dirinya.

Orang tua rambut putih itu ketika menyaksikan tanda cacahan itu, wajahnya mendadak berubah, katanya dengan suara bengis:

"Jahanam, kau juga seorang anak haram." jari tangannya bergerak, kulit dilengan Tang siang Sucu terkupas, hingga tanda gambar burung garuda itu lantas lenyap, hanya tinggal darah yang membasahi lengannya.

Perbuatan itu dilakukan dengan cepat sekali, maka Tang siang Sucu sedikitpun tidak dapat melawan. Ia meraba sakit dan marah, mulutnya mengeluarkan kata- kata keras:

"Tua bangka, kau telah menghapus tanda asal-usul diriku, aku yang sebatang kara tanpa sanak tanpa kadang, semua adalah perbuatanmu, satu hari kelak, aku akan suruh kau mengucurkan darah dihadapan mataku."

"Anak haram, sekalipun tandamu itu masih ada, dalam hidupmu ini juga jangan harap dapat menemukan ayah bundamu!" berkata si Kakek. Ho Hay Hong maju menghampiri, menatap si Kakek dengan sinar mata dingin, kemudian berkata sambil tertaw a mengejek:

"Kakek penjinak garuda, apa arti ucapanmu itu?"

Mata si Kakek dialihkan kepada Ho Hay Hong, sinar mata yang dingin dan buas itu membuat Ho Hay Hong bergidik, tetapi luarnya Ia masih tetap berlaku tenang, katanya dengan suara dingin:

"Kau adalah seorang yang mempunyai reputasi baik, Berbicara harus jangan asal keluar dari mulut saja, jangan sampai menjadi buah tertaw aan orang!"

Kakek itu semakin marah, dalam matanya, anak muda itu bagaikan duri, katanya gemas:

"Kau berdua ditakdirkan sebagai anak yang bernasib malang, seharusnya kuhabiskan jiwa kamu, tetapi mengingat."

Tiba-tiba ia menutup mulut, matanya yang bersinar buas menatap wajah mereka berdua, wajahnya menunjukan sikap berduka, katanya pula sambil menghela napas perlahan:

"Yah ini adalah takdir, siapa suruh aku beradat aneh, tidak berprikemanusian?"

Mata gadis kaki telanjang itu menatap Ho Hay Hong beradu dengan mata yang jernih tadi, agaknya mengandung perasaan menghina. Maka seketika itu ia lantas naik darah.

Dalam hatinya berpikir: ”kalau aku benar-benar anak haram, apakah dosanya? Apakah anak haram harus dihina." Hatinya mendadak merasa pilu, ia merasa simpati terhadap Tang siang Sucu yang bernasib serupa dengannya.

Ia merobek baju bagian lengan tangannya, diperlihatkan tanda cacahan burung garuda itu kepada Tang siang Sucu, kemudian, berkata dengan suara sedih:

"Ho Hay Thian, kau bernama Ho Hay Thian, dan aku bernama Ho Hay Hong. Muka kita mirip sekali, nama kita juga hanya terpaut satu huruf. Kita sama-sama mempunyai tanda cacahan burung garuda dilengan kita, tanda ini sudah ada sejak aku dilahirkan, aku pikir, kita berdua pasti mempunyai hubungan erat."

Tang siang Sucu terheran-heran, ia berkata.

"Ya, benar. Hal ini jelas bukan suatu hal yang kebetulan."

Matanya ditujukan kepada Ho Hay Hong dengan perasaan menyayang.

Kakek rambut putih tidak menghiraukan, mengajak orang aneh berbaju kelabu dan gadis kaki telanjang berlalu.

Sewaktu hendak meninggalkan tempat itu, gadis kaki telanjang t iba-tiba melemparkan segumpal kertas kepada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong menyambuti gumpalan kertas itu dengan hati bingung dan duka, dari jauh terdengar suara Kakek berambut putih:

"Kau berdua barulah anakku, ow, apakah luka mu parah? Lam kiang Tay-bong tadi kena kuhajar, meskipun tidak terluka, tetapi nama baiknya sudah runtuh, kali ini aku tentu merasa puas"

Ho Hay Hong mengingat kepada tugasnya sendiri. ia segera mendapatkan suatu pikiran, ia membiarkan si kakek tua itu pergi karena ia pikir masih ada seekor burung garuda yang berada dalam sangkar gedung  Cie lui Kiam kek, burung itu mungkin dapat di gunakan untuk menyelidiki sarang kakek itu.

Dari jauh tampak sinar api, anak buah golongan Lempar batu yang sejak tadi hampir terlupakan, kini mendadak berseru dengan bersemangat, bahwa pangcu mereka telah t iba.

-ooo0d-w 0ooo-