Rahasia Kampung Setan Jilid 08

 
Jilid 08

BUNGKUSAN obat yang disontek oleh ujung pedang Ho Hay Hong, tepat jatuh didepan dua orang dari golongan Kawa-kawa. Dua orang itu agaknya tertarik oleh bungkusan itu, mereka dengan serentak menghentikan pertempuran dan mengambilnya. Masing- masing makan separuh bungkus.

Toan-bok Bun Hw a berkata dengan suara nyaring: "Ho sianseng, kau bodoh sekali."

Mendengar kata-kata Toan-bok Bun Hw a yang

mengandung perhatian dan pernyataan sayang, dalam hati Ho Hay Hong berpikir.

‚Belum tentu obat itu demikian manjur tapi kalau lantaran mementingkan jiw aku, aku harus merendahkan derajat, apa perlunya?’ Ia t idak tahu entah sejak kapan, pelajar berpenyakitan itu diam-diam menghampirinya, dan berkata padanya dengan suara perlahan:

"Kepandaianmu mengendalikan pedang terbang cukup hebat, tetapi oleh karena ini mengingatkan aku kepada sesuatu hal."

Dengan perasaan heran Ho Hay Hong mengawasi pelajar berpenyakitan itu. Pikirnya perkataan orang itu pasti ada sebabnya, maka ia lalu  bertanya. "Urusan apa?"

"Beberapa hari berselang ketika aku berjalan melalui kota Thong koan, selagi hendak menuju kekota Lam leng, dari dalam rimba tiba-tiba lompat keluar seorang yang tidak kukenal, melambai-lambaikan tangan padaku. Aku merasa heran. Selagi hendak menanya, diluar dugaan orang itu lantas menghunus pedangnya dan disambitkan kepadaku. Orang itu juga  menggunakan ilmu pedang terbang, bahkan gerakannya dan caranya sangat mirip dengan siauhiap. Untung aku keburu menyingkir, kalau t idak, niscaya kini sudah mati di bawah pedang orang itu. Kini setelah melihat siauh iap pandai ilmu itu, teringatlah padaku keadaan tempo hari."

"Maaf. aku belum tahu, siapakah nama tuan yang terkenal?"

"Nama julukan adalah Peng si seng (pelajar berpenyakitan). Sebetulnya aku hanyalah seorang yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa !"

Mendengar disebutnya nama julukan orang itu,  Ho Hay Hong teringat pesan guru. Orang yang dimaksudkan oleh pelajar berpenyakitan itu pasti adalah Jie suhengnya.

"Kalau siauhiap tidak membuka kerudungmu, tadi aku masih mengira kau adalah orang yang menyerang aku hari itu! Apakah siauhiap kenal padanya?!"

"Dalam dunia Kang ouw pada dewasa  ini, bermunculan banyak jago-jago muda. Di antara mereka banyak yang mempelajari ilmu pengendalian pedang terbang. Aku belum melihat bagaimana romannya orang itu, maka tidak berani menduga sembarangan !"

"Kalau begitu aku juga tidak berani mengganggu terlalu banyak padamu. Hanya, hingga sekarang aku masih merasa heran. Orang itu tidak mempunyai hubungan permusuhan apa-apa denganku, tapi mengapa begitu bertemu muka, lantas menyerang tanpa minta keterangan lebih dulu."

"Tuan jangan memikirkan soal itu terlalu jauh. Biar bagaimana kita tidak akan mengerti. Terlalu banyak apa yang terjadi dalam dunia ini. Ada kemungkinan orang itu berbuat demikian hanya atas perintah orang saja."

Perkataanmu ini memang masuk akal, tetapi aku Peng sie seng sejak terjun didunia Kangouw, selamanya bertindak sangat hati-hati, baik dalam kata-kata maupun dalam perbuatan.

”Belum pernah aku melanggar batas-batas keadilan atau kebenaran. Apakah ini akibat suatu dendam dari perbuatanku yang tidak disengaja?"

Ho Hay Hong tersenyum getir, ia tidak dapat memikirkan suatu jawaban yang tepat untuk menjawab. Matanya dialihkan ke medan pertempuran, saat itu Kan lui Kiam khek sedang menghadapi lawan empat orang dengan seorang diri, nampaknya ia sudah mulai keteter.

Tiga pemuda baju kuning dari pihaknya Kan lu i Kiam khek yang sudah bertempur hampir setengah hari tanpa mengaso, badan mereka sudah mandi keringat, nampaknya juga tidak bisa tahan lebih lama lagi.

Pelajar berpenyakitan agaknya juga melihat gelagat tidak baik, maka lantas minta diri dan terjun karena pertempuran lagi.

Ia membantu laki-laki kurus pendek, untuk memperkuat kedudukannya. Namun demikian, karena jumlah musuh ada lebih banyak, kekalahan pihak Kan lui Kiam khek agak susah dihindarkan, kecuali terjadi sesuatu keajaiban.

Keajaiban itu mungkin hanya diharapkan kepada perempuan cantik kaki telanjang itu, tetapi sikap perempuan itu selalu dingin.

Ho Hay Hong tidak inginkan bantuan, walaupun dalam hatinya ia merasa cemas, sifatnya yang keras, t idak suka menundukkan kepala  minta bantuan orang. Dalam keadaan demikian, ia masih berusaha memulihkan tenaganya untuk melawan musuh-musuh.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Kan lu i Kiam khek: "Aku adu jiwa denganmu!"

Ho Hay Hong baru lihat bahwa jago pedang itu sudah berlumuran darah, dengan napas memburu menggempur Sam ceng sin. Sam Ceng siu menggunakan lengan baju tangan kirinya untuk menyerang, Kan lui kiam khek terpukul mundur.

Tiba-tiba dua orang yang tadi makan obat liong yan hiang dari perempuan kaki telanjang, menjerit-jerit dengan suara mengerikan. Ho Hay Hong mengira dua orang itu terluka di tangan Toan Bok Bun hwa, tapi ketika disaksikannya dengan seksama ternyata Toan Bok Bun hwa masih berdiri dengan sikap bingung, mengaw asi dua bangkai bekas lawannya.

Dua orang itu mengeluarkan darah matang  dari lubang hidung masing-masing. Siapapun  yang melihatnya tahu bahwa kematian mereka itu karena keracunan.

Ho Hay Hong segera mengerti bahwa obat dalam bungkusan yang dinamakan Liong yan hiang itu bukanlah obat mujijat, tetapi obat mencabut nyawa. Ia sungguh tidak mengira bahwa perempuan cantik kaki telanjang itu demikian kejadian, hendak meracuni dirinya, Mengingat kejadian itu, keringat dingin membasahi badannya.

Ia mulai merasa curiga. Perempuan kaki telanjang yang pernah dianggapnya sebagai perempuan yang masih berhati putih bersih, sebetulnya adalah satu iblis wanita yang kejam dan ganas. Tetapi, kalau ditilik dari luarnya, segala-gala yang dimilikinya, orang tidak berani gegabah menarik kesimpulan demikian terhadap dirinya.

Sementara itu, perempuan kaki telanjang itu masih berdiri berhadapan dengan Tie cu Sin kun, kedua fihak tidak mengunjukkan dengan gerakan apa-apa. Tetapi asal satu fihak bergerak, lantas disambut oleh serangan kematian dari fihak lawannya. Dalam keadaan demikian maka kedua fihak tidak berani melakukan tindakan lebih dulu.

Pada waktu itu, perempuan itu berpaling kearah dua orang yang mati keracunan dan berkata sambil tertaw a:

"Inilah upahnya orang rakus, hei kau sungguh beruntung."

"Sudah tentu, kau ingin supaya orang menutup mulut untuk selamanya, supaya orang lain tidak mengetahui rahasiamu. Untuk selanjutnya, aku tidak akan percaya kepada siapapun juga!" berkata Ho Hay Hong.

"Hei mendengar kata katamu ini, pada sebelumnya kau rupa rupanya percaya kepada diriku, betul t idak?"

"Tidak semuanya benar, aku hanya anggap kau t idak bisa menggunakan akal bangsat, tak disangka otakmu ternyata tidak sedemikian bodoh seperti apa yang aku kira!"

"Aku benci kepada orang rakus, umpama kau juga pernah mempunyai pikiran rakus kehilangan pedang itu, membuatku beberapa waktu tidak bisa tidur Maka aku mencobanya satu kali lagi, kalau kau memang seorang tamak, pasti tidak mau melepaskan begitu saja sesuatu kesempatan yang paling baik. Kalau kau benar begitu, ini berarti upah dari kerakusanmu."

"Hanya lantaran beberapa malam tidak bisa tidur, kau lantas menumpahkan kebencianmu kepada orang lain? Pikiran demikian, sebetulnya terlalu sempit."

Perempuan itu memperdengarkan suara tertawa dingin, dengan tiba-tiba ia me lancarkan tiga serangan dengan beruntun. Tie cu Sin kun tahu hebatnya serangan itu, seluruh kekuatan tenaga dikerahkan kepada kaki dan tangannya, dengan satu gerakan, badannya mendadak membongkok kebawah, hanya dua lengannya yang luar biasa panjangnya, yang bergerak-gerak.

Sungguh heran, serangan hebat perempuan itu sama sekali t idak berhasil menyentuh badan lawannya.

Orang yang menyaksikan keadaan dan gerakan Tie cu Sin kun, dengan sendirinya teringat kepada nama julukannya Tie cu Sin kun, yang berarti dewa Kawa- kawa, sebab sikap dan gerakannya sangat mirip dengan seekor Kawa kaw a raksasa!

Dengan sangat bangga Tie cu Sin kun berkata sambil tertaw a besar:

"Budak hina, hari ini kau juga boleh membuka matamu, ini adalah ilmu Tie cu Khi kang yang sangat kesohor di dalam kalangan rimba persilatan. Ha! ha! ha! Aku ingin melihat, kau bisa berbuat apa terhadapku?"

"Baik aku akan coba." berkata perempuan itu dingin.

Belum habis mengucapkan perkataannya badannya sudah bergerak, dan hanya tampak berkelebat bayangannya saja. orangnya sudah melesat setinggi tujuh delapan tombak.

Di tengah udara, tiba-tiba mementang kedua tangannya, badannya yang melayang turun dengan demikian agak merandek. Dengan tiba-tiba, bagaikan seekor burung garuda ia terbang rendah berputaran, lama t idak tampak gerakan apa apa. Bagi orang yang tidak mengerti, hanya mengagumi kepandaiannya yang bisa mengapung atau terbang ditengah udara. Tapi Tie cu Sinkun yang  menyaksikan itu, wajahnya mendadak pucat pasi, mulutnya berseru:

"Budak hina, kau ternyata juga pandai ilmu garuda sakti. ."

Ilmu silat garuda sakti yang terdiri dari lima jurus, telah keluar dari mulut Tie cu Sin-kun dalam sikap terheran-heran, jelas merupakan suatu ilmu luar biasa, jikalau tidak, tidaklah Tie cu Sin kun sampai ketakutan demikian rupa!

Dalam waktu sangat singkat Tie-cu Sin kun sudah merubah lima macam gerakan, hanya sepasang matanya yang besar, tetap mengaw asi perempuan kaki telanjang itu tanpa berkedip. Wajahnya menunjukkan perasaan hati yang amat tegang.

Bagaikan seekor Kaw a-kawa. Tie cu Sin kun merangkak ditanak, kadang-kadang menggerakkan dua lengan tangannya yang luar biasa panjangnya. Setiap kali tangannya bergerak, menimbulkan suara ser ser yang amat nyaring.

Perempuan kaki telanjang itu mendadak melayang turun. Tampaklah berkelebatnya sinar putih, keduanya saling mengadu kekuatan, tapi sebentar kemudian berpencar lagi.

Orang masih belum tahu benar dengan cara bagaimana pertempuran itu berlangsung tapi ternyata sudah ada kepastian siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Tie cu Sin kun seolah-olah kehilangan ambisinya yang berniat menjagoi rimba persilatan.

Ia menggumam sendiri sambil menundukkan kepala: "Nampaklah kau adalah orangnya si kakek penjinak garuda sakti. Kali ini aku benar sudah lamur mataku, sehingga harus menelan pil pahit seperti in i, aku tidak dapat mengalahkan orang lain, aih."

Untuk kedua kalinya perempuan ini mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari dalam sakunya dan dilemparkan kepada Ho Hay Hong, katanya:

"Obat bubuk ini adalah Liong yan hiang yang tulen, kau."

Tiba-tiba ia melihat sikap Ho Hay Hong berubah, kepalanya menengok kearah  lain. Ia pungut lagi bungkusan obatnya, dimasukkan kedalam tangan Ho Hay Hong, katanya lagi: "Dalam tubuhmu terluka parah, kalau biarkan lebih lama, harap kau sayang kepada dirimu sendiri, jangan sampai mengingkari janjimu padaku !"

Mendengar kata-kata sinona yang penuh perhatian, hati Ho Hay Hong tergerak. Ia tahu bahwa saat itu bukanlah waktunya untuk berlaku keras kepala lagi, maka lantas dibukanya bungkus itu mengambil obat bubuknya dan ditelan kedalam mulut sisanya dikembalikan. 

Tidak antara lama, hawa panas yang mengandung bau harum, mengalir diseluruh tubuhnya sudah terasa segar kembali. Ia coba menggerakkan tangan dan kakinya. Memang benar sudah seperti biasa lagi. Suatu bukti bahwa ucapan nona itu memang benar. Tetapi dengan demikian, berarti ia telah menerima budi lagi dari sinona, hingga tidaklah pantas kalau memperlakukannya dengan sikap dingin. Maka ia lantas memberi hormat seraya berkata:

"Terima kasih atas budi kebaikanmu, lain waktu apa bila masih ada umur, aku pasti akan membalas budimu ini."

"Aku lihat Sebaiknya aku ikut kau pergi mengambil pedang, supaya tidak terjadi kejadian seperti ini lagi!" berkata si nona. "Sekalian aku akan mengurus sesuatu urusan, urusan ini harus memerlukan waktu beberapa hari baru bisa beres. Aku ikut kau pergi mengambil pedang, apabila pulang agak lambat sedikit, mereka juga tidak akan menyalahkan aku!"

Dalam hati Ho Hay Hong berpikir: "kalau aku seorang diri minta kembali pedangku kepada Chim kiam sianseng, apabila ia tidak mau mengembalikan, mau tidak mau pasti akan terjadi pertempuran lagi. Aku sendiri tidak yakin akan dapat mengalahkan Chim kiam sianseng, salah-salah janjiku bisa meleset. Apa salahnya  pergi bersama-sama dengannya? Seandainya tidak bisa mengambil kembali pedang pusaka garuda sakti, ia yang sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri pasti juga t idak akan salahkan aku tidak bisa pegang janji.”

"Baik, kalau kau takut aku tidak bisa pegang janji, ikutlah pergi bersama-sama aku," demikian Ho Hay Hong berkata.

Sementara itu. Tie-su Sin kun tiba-tiba berkata dengan suara keras: "Semua anak buahku, dengarlah perint ah ku. Sekarang juga semua lekas meninggalkan tempat ini. Siapa yang tidak mau dengar perint ah, akan dihukum mati!"

Semua anak buah golongan Kaw a-kawa yang mendengar perint ah itu, lantas lompat keluar dari kalangan, dengan berkelompok-kelompok mereka berlalu meninggalkan medan pertempuran.

Hanya San-ceng sin yang nampaknya masih penasaran. Sebelum meninggalkan tempat itu, lebih dulu ia melancarkan satu serangan hebat kepada pundak Kan lui Kiam khek hingga jago pedang itu jatah rubuh ditanah.

Ho Hay Hong yang menyaksikan itu  nampaknya sangat marah, selagi hendak menimpukan pedangnya, tiba-tiba melihat mata Tie cu Sin kun mendelik, agaknya juga mengetahui perbuatan San ceng sin yang tidak menurut perintahnya, maka lantas menegurnya dengan suara gusar:

"San ceng siu, aku sudah mengeluarkan perint ah supaya lekas meninggalkan tempat ini. mengapa kau tidak mau dengar perintah ku? Apakah maksudmu?"

San ceng siu yang ingin  dapat pahala, setelah didamprat demikian pedas oleh pimpinannya, seketika menjadi gelagapan. lalu menundukkan kepala, tidak bisa menjawab.

"Lekas pulang," hardik Tie cu Sin kun "pergi melaporkan segala kesalahanmu!" San ceng siu menerima baik  perint ah itu dengan menggendong Bok khek siu yang terluka, ia lari keluar sebentar sudah tidak kelihatan.

Pihak musuh hanya tinggal Tie cu Sin Kun seorang yung masih belum undurkan diri, lainnya sudah tidak tampak bayangannya lagi.

Tie cu Sin kun yang masih penasaran dengan satu tangan memukul rubuh tiang bendera yang berada didepan pintu gerbang, kemudian berkata kepada perempuan kaki telanjang.

"Lain kesempatan aku akan minta pelajaran lagi ilmu garuda saktimu. Sampai ketemu lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lompat setinggi tujuh delapan tombak, menghilang melalui tembok pagar.

Dengan sangat hati-hati Toan bok Bun Hw a membimbing ayahnya, matanya ditujukan kepada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong tidak berani memandang sinona kemudian sinar mata si nona masih nampak perasaan tidak senang terhadap dirinya. Ia lalu teringat tadi selama mengawasi pertempuran, tentunya dianggap oleh si nona kalau ia menonton sambil bertepuk tangan, padahal ia sendiri sedang terluka parah.

Mengenai kesalah fahaman ini, kelihatannya t idak mau membuang waktu untuk memberi penjelasan, Ia berkata sang waktu nanti akan melenyapkannya sendiri.

Ia menghampiri Kan-lui Kiam khek, mengembalikan kitab garuda sakti yang diberikannya tadi, katanya: "Barang ini sekarang kukembalikan padamu. Orang- orang golongan kawa-kawa sudah mengundurkan diri. Tugasku sudah selesai, sekarang aku mohon diri!"

"Ho siauhiap harap jangan menolak, kitab ini merupakan benda pusaka yang tidak ternilai harganya, hanya seorang gagah dan berbudi luhur seperti siauhiap ini yang pantas memiliki benda itu." berkata Kan lui Kiam khek sambil menggoyangkan kepala.

Ia menyerahkan kitab pusaka itu kepada Ho Hay Hong dengan kedua tangannya tetapi Ho Hay Hong tetap menolak.

"Aku dapat berkenalan dengan Toan bok Tayhiap, ini sudah merupakan suatu kehormatan bagiku. Kitab ini sebaiknya kau simpan sendiri !"

Dengan tiba-tiba wanita cantik itu lari menghampiri, tangannya merebut kitab pusaka itu, katanya kepada Ho Hay Hong dengan nada suara dingin:

"Jangan membuang waktu mari kita jalan."

"Mengapa kau merampas kitab itu, lekas kembalikan!" berkata Ho Hay Hong.

"Kitab pusaka garuda sakti ini sebetulnya memang milikku, dengan hak apa kalian memilikinya?"

Kan lui Kiam khek hanya melihat berkelebatnya bayangan putih, tahu-tahu kitab ditangannya sudah direbut, tetapi kemudian ia tahu bahwa orang yang merebut kitab dari tangannya adalah seorang wanita muda berkaki telanjang, wajahnya lalu mengunjukkan senyum lebar dan berkata pada diri sendiri, sambil mengangguk-anggukan kepala yang penuh arti: "Ha ha. ini sama juga. sama juga"

"Toan bok Tayhiap suka memberikan padanya !" bertanya Ho Hay Hong.

"Sudah tentu .sudah tentu."

"Kalau begitu aku t idak bisa berkata apa-apa. Marilah kita jalan, tuan-tuan sampai bertemu lagi."

Dengan mengejek wanita kaki telanjang itu ia berlalu, ketika berjalan dihadapan pelajar berpenyakitan, Ho Hay Hong mendadak ingat sesuatu, ia berkata dengan suara perlahan:

"Tuan sebaiknya  pergi kearah Koan gwa untuk sementara waktu, dimana mungkin ada baiknya bagimu."

Pelajar berpenyakitan itu tercengang, tetapi ia segera mengerti maksud yang terkandung dalam ucapannya itu. Dengan sikap agak kaget, Ia menjawab sambil memberi hormat: "Terima kasih atas budimu"

Waktu itu udara cerah, Ho Hay Hong bersama wanita kaki telanjang berjalan ketengah jalan raya, ia sedang memikirkan bagaimana mencari keterangan tempat kediaman Chim kiam sianseng, supaya dapat memint a kembali pedangnya.

Tetapi pertama ia harus dapat mengelabui gadis itu. Sebab, kalau ia mengetahui bahwa sepasang pedang yang dibuat barang tanggungan kepada Chim kiam- sianseng, bukanlah tempat disimpannya pedang pasti akan menimbulkan kesan buruk bagi wanita Itu. Urusan mungkin bertambah ruwet. Pada saat itu, didepan tiba tiba timbul suara ramai, matanya segera melihat serombongan orang berkumpul entah sedang membicarakan apa.

Timbulah perasaan herannya, ia ingin mengetahui apa yang telah terjadi.

Wanita kaki telanjang yang selama itu berjalan kencang sambil menundukan kepala, mendadak berhenti dan berkata padanya:

"Disana terlalu ramai, mari kita mengambil jalan lain !"

Karena sikapnya yang tergesa-gesa, telah menimbulkan kecurigaan Ho Hay Hong ia pikir, gadis ini tentu tahu apa yang telah terjadi dengan orang-orang itu, hingga mengajak jalan melalui jalan lain. Mungkin takut kuketahui.

Karena berpikir demikian, ia tidak menghiraukan gadis itu, bahkan berjalan keorang banyak dengan langkah lebar.

Setelah berdesak-desak dengan orang banyak, tibalah Ho Hay Hong ketengah-tengah orang yang berkerumun. Disitu ternyata tampak tiga kepala manusia yang masih berlumuran darah, yang berada diatas sebuah meja persegi.

Diatas meja itu masih terdapat selembar kulit kambing yang lebar tebal, diatasnya terdapat tulisan yang ditulis dengan huruf-huruf besar yang warna merah: "Ini adalah sukma-sukma yang baru keluar dari kampung setan, siapa yang berani coba-coba memasuki kampung setan itu akan diperlakukan sama!" Ho Hay Hong berdiri terpaku, huruf-huruf besar itu baginya sudah tidak asing lagi, dari tangan w anita kaki telanjang ia pernah menyaksikan itu.

Dari kenyataan orang yang menonton, menunjukan bahwa kepala diatas meja itu adalah kepalanya orang- orang yang dikenal baik oleh mereka. Maka ia segera mengetahui bahwa tiga sukma penasaran itu, semua orang-orang daerah itu yang mempunyai  banyak kenalan. 

Ia memeriksa dengan seksama, tiba-tiba dapat mengenali bahwa salah satu diantaranya  yang berjenggot lebat, adalah jago tombak she Hoo yang kesohor namanya.

Dari situ, ia juga segera mengenali bahwa batok kepala disamping kepala jago tombak itu adalah batok kepala Hoo Yan San. Satunya lagi mesti pun masih asing, tapi mungkin juga ialah satu muridnya jago silat itu.

Ia diam-diam merasa bergidik, pikirannya kalut, apa yang telah terjadi malam itu agaknya masih jelas dalam ingatannya. Jago tombak itu dengan senjata pendek ditangannya, dengan gagah berani menggempur lawan- lawannya.

Waktu itu, ketangkasan dan keberanian jago tombak itu pernah menimbulkan rasa kagumnya, ia juga pernah merubah pandangannya terhadap jago tombak itu akhirnya menjadi salah satu korban dari keganasan dalam Kampung Setan.

Segala sudah berlalu selalu menimbulkan kenangan, dan apalagi jago tua itu pernah bertanding beberapa jurus dengannya. Lama sekali Ho Hay Hong berdiri terpaku, mengenangkan kembali semua yang telah terjadi.

Ketika tangannya menyambar tangan wanita kaki telanjang, biji matanya hampir melotot keluar. Katanya.

"Hm. waktu kau bicara tadi, aku sudah merasakan sikapnya agak berlainan, tak kusangka adalah suatu peristiw a yang demikian mengerikan."

Ia sendiri juga tidak mengerti, mengapa perasaannya terpengaruh demikian hebat oleh kejadian itu.

"Kau harus mengakui bahwa kematian jago tombak dan anaknya itu, adalah suatu dosa yang kau perbuat!" demikian ia berkata pula dengan suara keras.

Wanita kaki telanjang itu memandangnya dengan perasaan heran, jaw abnya:

"Kau harus salahkan mereka, suruh siapa mereka menyelidiki kampung setan?"

"Apa kau kata? Didalam dunia ini, dimana sajapun orang boleh pergi, apa kecualinya dengan kampung setan? Apakah tempat itu sudah kau beli."

Wanita itu mendadak menundukkan kepala.

"Demikian keras kau menggenggam tanganku, kalau itu orang lain, tangannya sudah terluka"

Kini Ho Hay Hong baru sadar bahwa perbuatannya itu agak keterlaluan, tetapi ia tidak sudi minta maaf kepada wanita itu, dengan suara meluap-luap ia berkata.

"Aku mengerti, maksudmu keluar dari kampung setan, bukan lain ialah hendak menggunakan batok kepala jago tombak dan anaknya, untuk memperingatkan orang- orang kampung yang masih bodoh itu, supaya mereka tidak lagi berani memasuki kampung setan, betul tidak ?"

Berkata sampai disitu, mendadak ingat sesuatu, katanya pula.

"Aku benar benar tidak mengerti, ada rahasia apakah sebetulnya dalam kampung setan itu? Kecuali beberapa manusia liar, ada apa lagi yang ada harganya untuk dirahasiakan ?"

"Kita balik membicarakan soal pedang pusaka itu saja, dimana kau simpan itu?" berkata wanita itu dingin.

"Masih ada satu hari. akulah yang akan memutuskan, baik kuserahkan kembali atau t idak, kau desak juga tidak ada gunanya."

"Kalau aku tahu hatimu demikian kejam, tidak nanti aku menerima permint aanmu." berkata w anita kaki telanjang.

Ho Hay Hong sebetulnya ingin berkata: "Kalau aku tahu kau datang, aku juga menerima baik permint aan Kan lui Kiam khek untuk menyimpan kitab pusaka itu."

Tetapi sebelum perkataan keluar dari mulutnya, ditengah jalan raya tiba-tiba tampak debu mengebul, seekor kuda dilarikan dengan kencang. Diatas kuda duduk mendekam seorang tua yang sekujur badannya penuh luka-luka.

Mata Ho Hay Hong berputar sejenak di atas senjata yang berada dipinggangnya, tiba-tiba lari menyongsong dan menarik tali kuda yang sedang lari kencang itu. Kuda itu mendadak berhenti, tetapi orang tua yang duduk diatas kuda seketika itu lantas jatuh ditanah. Ia bimbing bangun dan bertanya:

"Kong ciok Gin cee lo-enghiong, apakah artinya ini?"

Muka Khong ciok Gin cee penuh debu, wajahnya yang semula cerah, kini telah berubah pucat kuning. Dengan membuka matanya yang sayu, jago tua itu mengaw asi Ho Hay Hong sejenak, nampak semangatnya terbangun, katanya:

"Ho siauhiap, kau tak usah pergi lagi, semua sudah terlambat, Cie lui Kiamkhek sudah meninggal."

Berkata sampai disitu, jago tua itu tidak sanggup bertahan lebih lama, mulutnya menyemburkan darah segar.

Depan dada Ho Hay Hong penuh semburan darah, ia sudah tidak keburu membersihkan, sudah bertanya lagi:

"Apakah Song Sie dan Giok-hu Kie-su juga sudah."

Ia tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Kenyataannya, dengan kembalinya Khong-ciok Gin-cee dalam keadaan penuh luka-luka, mereka orang-orang yang memasuki kampung setan, mungkin bisa keluar dalam keadaan selamat?

"Sebetulnya tidak sampai begini mengenaskan." berkata Khong Ciok Gin cee, "kita bertiga menghadapi Tang-siang Sucu dan empat kaw annya, sekalipun kalah, juga tidak sampai begini hebat. Semua adalah gara- garanya si setan tua Lam kiang Tay bong yang turut campur tangan. Dengan satu serangan jarak jauh yang luar biasa ia telah menyerang Cie lui Kiam khek. setelah itu, Song Sie dan Giok-hu Kiesu, kedua-duanya juga mati ditangan iblis tua itu. Aih! Dendam sakit hati ini, entah kapan baru bisa dibalas. Ho siauhiap, kau tidak usah pergi lagi!" berkata Khong ciok Gin cee gemas.

"Benarkah Lam kiang Tay bong sedemikian ganas?" berkata Ho Hay Hong dengan suara keras.

Sedang Khong ciok Gin ce kenal dengan Ho Hay Hong, baru pertama kali ini menyaksikan sikapnya demikian beringas, hingga diam-diam merasa kaget.

"Semua ini adalah benar, Suto Cian Hui sudah melepaskan diri dari tangan Tang siang Su cu dengan menggunakan akal. Menampak sikapnya yang demikian menyedihkan, jangan-jangan ia mengambil putusan pendek. Aih! Ho siauhiap, sewaktu hendak menutup mata, Cie lui Kiam khek pernah meninggalkan kata-kata terakhir, ia minta kau supaya baik-baik perlakukan Cian Hui "

"Cie lui Kiam khek perlakukan diriku cukup baik, urusan ini sedapat mungkin akan ku lakukan!"  berkata Ho Hay Hong tegas, tapi mendadak hatinya merasa bingung sendiri. Karena urusan ini sangat mendadak untuk sementara, ia t idak tahu bagaimana harus berbuat.

"Mengenai rumah perguruan silat Kang lam Bu koan, kini sudah diteruskan oleh sutenya Kan lui Kiam khek. Kalau kau sudi boleh berdiam terus disana. Aku harus berangkat kegunung Cong lam san dengan segera. Ho siauh iap, harap kau baik-baik jaga diri sendiri!"

"Badan Lo enghiong penuh luka, mengapa tidak mengaso dulu untuk beberapa hari?" "Tidak bisa! Aku harus segera memberitahukan berita ini kepada ketua Cong lam-pay, Pendekar baju kuning. Dia adalah salah satu dari lima orang luar biasa dalam rimba persilatan. Namanya berendeng dengan Lam-kiang Tay bong. sudah tentu ia dapat menyelesaikan urusan ini!"

Ho Hay Hong tiba-tiba seperti baru sadar, katanya: "Oh, jadinya tiga jago pedang dalam rimba persilatan

itu adalah anak muridnya Pendekar baju kuning. Kalau begitu adalah paling baik. Pendekar baju kuning adalah salah satu dari lima orang luar biasa dalam rimba persilatan. Permusuhan ini tidak boleh di pandang ringan."

Khong ciok Gin cee tiba-tiba menggunakan suara pelahan, bisik bisik ditelinganya:

"Kata-kata Su to tayhiap, Burung garuda raksasa dalam sangkar itu, adalah milik si Kakek penjinak garuda. Burung itu sangat pintar! Kekuatan terbangnyapun besar sekali. Dengan susah payah ia berhasil menangkapnya, sebetulnya hendak dipersembahkan kepada ketua Cong lam pay, Pendekar baju kuning di waktu hari ulang tahunnya, tetapi ia takut garuda itu nanti mengamuk, maka ia tidak berani mengambil keputusan. Sejak Su to Cian Hui yang membawa berita itu kembali dari danau Liok ing ouw. ia telah dapat memastikan bahwa si Kakek penjinak garuda itu lagi, supaya tidak membaw a bencana bagi perguruannya. Harap kau membuka sangkar  itu, biar burung itu terbang bebas keangkasa. Ia juga mengatakan, bahwa dalam kampung setan juga terdapat seekor burung garuda sejenis itu. Malam itu ia telah menyaksikan sendiri burung itu terbang berputaran tidak mau pergi, beberapa kali me lakukan serangan terhadap kita. Ia mengerti bahwa dalam hal ini tentu ada sebabnya, ada kemungkinan bahwa si kakek penjinak garuda yang namanya sangat kesohor itu sembunyikan diri dalam kampung setan."

Hati Ho Hay Hong bercekat, pikirannya memang benar, sejak aku menemukan garuda raksasa itu perasaanku juga t idak aman kampung setan itu jelas ada hubungannya dengan Kakek penjinak garuda.

"Dan lagi." berkata pula Khong ciok Gin cee, "Kan lui kiam khek juga menyimpan sebuah benda rahasia, namanya kitab garuda sakti, kitab itu sebetulnya tergantung di leher burung garuda. Dalam kitab itu ditulis sebab musababnya si kakek penjinak garuda menghilang dari Kang ouw dan kepandaian ilmu silatnya. Karena sudah jelas bahwa kakek penjinak garuda itu masih hidup, kitab itu bagi kita juga tidak ada gunanya. Buanglah saja, supaya tidak menyusahkan orang lain. Ini adalah pesan Su to tayhiap, minta supaya disampaikan kepada Kan lui Kiam khek."

Setelah mendengar habis keterangan itu maka Ho Hay Hong menatap wajah perempuan kaki telanjang tanpa berkedip.

"Kau pernah apa dengan Kakek penjinak garuda?" demikian ia bertanya.

Perempuan itu tidak memperhatikan pertanyaan Ho Hay Hong, ia menjawab dengan suara hambar.

"Aku tidak kenal siapa itu Kakek penjinak garuda." "Kau  bohong!"  berteriak  Ho  Hay  Hong.  Mendengar

suara  keras  Ho  Hay  Hong  Khong  ciok  Gin-cee merasa tertarik, ia memandang gadis itu dengan seksama, mendadak membuka matanya dan berkata.

"Ho siauhiap, nona ini masih pernah apa denganmu?" Ho Hay Hong menjawab:

"Dia sahabatku, kau jangan salah faham."

Khong ciok Gin ce nampaknya merasa lega, sambil menarik napas ia berkata:

"Ia sangat mirip dengannya. Akh, sudah tidak ada waktu lagi. aku masih perlu melanjutkan perjalananku. Ho siauhiap, kita sampai ketemu lagi !"

Dengan napas masih memburu ia naik keatas kuda. setelah mengaw asi lagi Ho Hay Hong sejenak, lantas kaburkan kudanya.

Pikiran Ho Hay Hong agak kalut, tetapi diluarnya ia masih berlaku tenang.

"Kau tidak merahasiakan dirimu lagi. Kau tadi telah mengaku bahwa kitab pusaka garuda sakti itu adalah milikmu, ini sudah jelas bahwa mesti punya hubungan dengan Kakek penjinak garuda !" berkata sampai disitu ia pura pura berhenti, lama baru berkata lagi

"Sebetulnya. Kakek penjinak garuda itu bukanlah seorang hebat seperti malaikat, apa lagi ia sudah lama tidak unjuk diri dalam dunia Kang ouw. Kedudukannya dimasa lampau sudah diambil oleh orang lain. Taruh kata benar kau adalah orangnya Kakek penjinak garuda, aku juga t idak anggap apa-apa."

Ia memperhatikan perubahan sikap si nona. Pikirnya kalau benar dia adalah orangnya Kakek penjinak burung garuda, setelah mendengar perkataan itu, pasti akan marah.

Tetapi, wajah dan sikapnya wajar seperti biasa, tetap kaku dingin, hingga membuat ia kecewa.

"Kau benar-benar bagaikan sebuah patung, kalau kau masih belum mempunyai nama julukan aku pikir akan memberikan kau satu nama"

"Tidak halangan kau pilihkan nama untukku !" berkata perempuan itu dengan tiba-tiba.

Ho Hay Hong pura-pura berpikir agak lama, kemudian baru berkata:

"Hian peng Mo lie !"

Perempuan kaki telanjang itu ketika mendengar nama itu, merasa t idak senang, katanya:

"Mengapa tidak sebut aku Hian peng Y ao lie? Bukanlah lebih tidak enak didengar daripada Hian peng Molie?"

"Kalau kau suka dengan nama Hian peng Y ao lie, aku juga tidak bisa berbuat apa apa terserah padamu sendiri."

Perempuan itu hanya menunjukkan senyum dingin, tidak menyatakan apa-apa.

Dua orang itu berjalan tanpa berkata apa-apa, Ho Hay Hong mendadak membuka suara:

"Ku pikir, aku sendiri barangkali mempunyai sedikit hubungan dengan Kakek penjinak garuda, jikalau tidak, tak mungkin lenganku bisa ada tanda cakar garuda sakti!" "Apa maksudnya perkataanmu ini?" tanya wanita itu. ”Ucapanmu ini hanya sekedar mengungkap

pertanyaan dalam hatiku, mengapa kau merasa tidak tenang ?"

"Jangan pikirkan yang bukan-bukan, barangkali orang tidak mau mengenali." berkata sampai disitu, mendadak bungkam. Tetapi Ho Hay Hong sudah dapat menangkap tanda-tanda tidak wajar, hingga hatinya bercekat, namun diluarnya Ia bersikap marah-marah, katanya agak mendongkol:

"Tidak mengenali juga tidak apa, kalau kau benar- benar ada hubungannya dengan dia, aku juga tidak ingin mengenalnya. Hem jangan kau kira aku seperti orang yang bersifat suka menjilat pantat !"

"Kau benar-benar seorang jantan!" berkata wanita itu dingin.

Dari kata-kata wanita itu, Ho Hay Hong merasa bahwa wanita itu tidak kena dipancing, hingga dalam hati ia merasa kecew a. Ia berkata:

"Ini juga belum tentu, karena orang toh tidak mau mengenaliku, mana aku punya itu muka untuk minta berkenalan dengannya?"

Dengan tiba-tiba dalam otaknya terlint as suatu pikiran, lalu berkata lagi dengan nada suara dingin:

"Mungkin tanda cacah burung Garuda ditanganku ini yang hanya membaw a sial. Sebelumnya aku mempunyai sifat yang suka kepada burung Garuda dilenganku, umpama burung Garuda aneh yang kulihat  didalam kampung setan malam itu.” "Jika ia binatang peliharaan kampung setan, sehingga tidak dapat ditangkap sesungguhnya sangat sayang, tetapi apabila kita benar-benar dapat menangkapnya hidup-hidup, aku kira dengan kecerdikan yang luar biasa itu apabila kita didik dengan baik rasanya lebih baik dan lebih boleh dipercaya dari pada puluhan orang pengawal."

"Dia adalah binatang luar biasa. seumur hidupnya hanya mengabdikan kepada satu majikan saja, setia seumur hidup, tidak akan mau dengar perint ah orang kedua. Sekalipun kau dapat menangkapnya hidup-hidup juga t idak bisa mengendalikannya!"

"Benarkah ? Seandai aku berhasil menangkapnya dan kubawa pulang, umpama aku kurang hati-hati apabila ia juga dapat lari pulang?"

"Sudah tentu!"

"Ow, binatang luar biasa ini benar hebat! Tetapi kini aku mendapatkan suatu cara yang baik sekali, aku akan membaw anya ketempat yang jauhnya  ribuan pal  dari sin i, bagaimana ia bisa pulang kembali?"

"Kau boleh simpan saja pikiranmu yang bukan-bukan itu, jangankan hanya ketempat yang baru sejauh ribuan pal saja, sekalipun kau bawa ke Gurun pasir, dia juga dapat mencari arah letak tempat asalnya. Dengan mengikuti petunjuk sinar matahari, ia bisa mencari jalan untuk pulang lagi, kecuali kalau kau membunuhnya. Dia memiliki kekuatan tenaga terbang luar biasa satu hari bisa terbang ribuan pal, untuk kemudian balik kesamping majikan lamanya." "Aih, karena kau mengatakan demikian, aku juga tidak merasa tertarik lagi, coba pikir, aku sudah menggunakan banyak pikiran dan tenaga, dengan susah payah mendidiknya! pada akhirnya tokh ia masih kabur lagi,  apa gunanya?"

Diam-diam ia merasa girang, pikirnya: burung Garuda raksasa dalam sangkar ditaman Gedang rumah pendidikan ilmu silat Kanglam-Bu koan adalah burung peliharaan si kakek penjinak Garuda, alangkah baiknya kalau aku dapat menggunakannya untuk mencari jejak si kakek itu!

Diluarnya ia tidak mengatakan apa-apa, ia mengikuti perempuan kaki telanjang itu berjalan sambil menundukkan kepala, dalam waktu singkat ia menginjak kelain kota.

Kota itu bernama kota Hok-san, letaknya tepat ditengah-tengah daerah Kang lam, Kota itu mempunyai pemandangan alam yang indah, disamping itu penduduknya juga cukup banyak, kotanya cukup ramai, dijalan banyak orang lalu  lalang, diatas sungai juga banyak terdapat perahu sampan mundar mandir hilir mudik.

Ho Hay Hong diam-diam menjadi geli sendiri, dalam hati berpikir sedikit pun tidak mendapat hasil apa-apa, hanya menyusahkan dirinya saja. Aku harus lekas mencari letak markasnya perkumpulan lempar batu, supaya tidak menimbulkan rasa curiganya.

Tiba-tiba ia teringat pengalaman sewaktu bertemu muka dengan Chim kiam Sianseng dan tanda rahasia partai lempar batu, lalu  mengajak perempuan kaki telanjang itu menuju ke pantai sungai di mana banyak berkumpul orang-orang yang hendak  menyebrang sungai.

Tiba di pantai, ia lihat sungai itu airnya jernih sekali, pada waktu Itu hari sudah senja, angin meniup sepoi- sepoi, merupakan waktu yang paling baik untuk pesiar keatas air. Perahu-perahu sampan yang dihiasi dengan beraneka warna hampir sibuk semuanya, banyak orang bergembira pada berdiri ditepi sungai, juga ada yang berdiri diatas sampan untuk menikmati pemandangan alam sangat indah ini.

Ho Hay Hong memilih tempat yang terdapat banyak orang, ia mengambil sebuah besar, lalu dilemparkan ke dalam sungai sedang mulutnya berseru: "Lempar batu. . Lempar batu"

Kelakuan yang aneh itu segera menimbulkan perhatian orang-orang, baik yang berada di tepi sungai maupun yang berada didalam sampan. Sedangkan perempuan kaki telanjang itu sendiri juga mengawasinya dengan keheranan.

Ho Hay Hong agak kecewa, karena kelakuannya yang aneh itu ternyata tidak menimbulkan tindakan timpalan dari orang-orang dari golongan Lempar batu. Hari sudah senja sebentar lagi malam akan t iba. Dengan bergantinya hari, berarti akan hilang kepercayaannya.

Hatinya mulai gelisah, diambinya cobaan batu besar dan dilemparkannya kedalam sungai, sedang mulutnya masih berkaok-kaok. Lempar batu tidak berhentinya.

Kelakuannya itu kembali menimbulkan gelak tertawa orang banyak yang menyaksikannya. Ia agak mendongkol kepada orang-orang golongan lempar batu itu adalah satu partai besar. orang-orangnya pasti tersebar luas disegala pelosok. Nampaknya Partay lempar batu itu hanya satu partay kecil yang tidak berarti.

Dengan tiba-tiba. dibelakangnya terdengar orang batuk-batuk, kemudian dibarengi oleh kata-katanya. "Sudah cukup, sudah Cukup."

Ho Hay Hong diam-diam merasa girang ketika ia berpaling, dilihatnya seorang tua berdiri menghadap sungai. Pakaiannya berwarna kuning, sudah kumal dan banyak lubang, banyak mirip dengan tukang-tukang sampan. Melihat itu Ho Hay Hong agak kecewa.

Perempuan kaki telanjang itu mengawasi orang tua itu dengan mata tanpa berkedip tetapi orang tua itu tidak menghiraukannya, dari mulutnya terdengar serentetan bunyi sajak.

Ho Hay Hong tercengang. Dalam hati ia t idak mengerti mengapa orang tua itu bersajak? Sungguh tidak disangka orang tua seperti tukang sampan itu ternyata seorang terpelajar.

Pikiran itu hanya sepintas lalu saja terlint as dalam otaknya, mendadak ia teringat akan kode rahasia dalam partay.

Tidak perduli betul tidak, ia lantas menyambutnya dengan ucapan sajak juga.

Wajah orang tua bongkok itu menunjukkan senyuman, kemudian menegurnya:

"Sahabat, kau dari mana, ikutilah aku!" Tanpa menantikan jawaban Ho Hay Hong orang tua itu sudah membalikkan badannya dan berlalu. Belum lenyap perasaan terkejut Ho Hay Hong, orang tua itu sudah berjalan dan naik keatas sampan, tangannya dilambai-lambaikan kearahnya. Jelas bahwa orang tua itu memintanya lekas ikut dirinya.

Dengan perasaan tak tenang, Ho Hay Hong berkata kepada perempuan kaki telanjang dengan suara perlahan.

"Bolehkah kau tunggu sebentar?"

"Kau ada urusan, sudah tentu aku tidak dapat menghalangi urusanmu!" jawab perempuan itu.

"Maaf aku akan pergi dulu, sebentar akan kembali!"

Dengan cepat Ho Hay Hong lari keatas sampan, orang tua bongkok itu dari dalam keranjang bambu mengambil sebuah bungkusan dan diberikan kepada Ho Hay Hong, supaya dimakannya.

Ho Hay Hong t idak menolak. Diambil dan dimakannya bubuk hitam dalam bungkusan.

"Karena partai lempar batu semakin lama pengaruhnya semakin besar, maka kita harus berlaku sangat hati-hati, jangan sampai kemasukan mata-mata musuh. Umpama obat dalam bungkusan itu tadi, adalah obat yang khusus digunakan untuk menghadapi orang orang semacam itu. Jikalau orang itu berani menyamar sebagai saudara saudara golongan kita, obat itu dapat memaksanya membuka sendiri rahasianya. Bagi saudara saudara kita sendiri semua sudah sedia  obat pemunahnya makan lebih banyak juga tidak halangan. Saudara tentunya sesalkan perbuatan tadi, bukan?" Ho Hay Hong terperanjat, dari keterangan orang tua itu, dapat diduga bahwa bubuk hitam itu mengandung racun yang amat dahsyat.

Dengan pikiran kusut, terpaksa ia menjawab:

"Ah, tidak apa, kalau itu memang merupakan suatu peraturan dari perkumpulan, kira tokh harus menurutinya."

"Tadi saudara melemparkan batu ketengah sungai, tentunya ada urusan penting yang perlu saudara laporkan, marilah kita jangan membuang waktu." berkata orang tua itu sambil tertawa.

"Baik!" jawab Ho Hay Hong. Ia sebetulnya hendak melanjutkan kata-katanya, tetapi perutnya mendadak dirasakan sakit. Untung orang tua itu tidak memperhatikannya, jikalau tidak, pasti sudah terbuka kedoknya.

Dengan berusaha keras untuk menenangkan pikirannya, barulah ia melanjutkan kata-katanya:

"Pangcu telah perintahkan aku mengabarkan kepada saudara saudara dikota Hok san bahwa pada waktu belum lama berselang si kakek hidung merah tanpa sebab telah mati terbunuh ditepi danau Liok ing ouw. Kepandaian orang yang membunuhnya itu sangat t inggi. Pangcu sangat perhatikan kejadian itu, minta saudara- saudara di Hok san melakukan persiapan. Kalau mendengar suara tidak baik  harus segera memberi laporan kepada atasannya, supaya tidak menelan korban lebih banyak."

"Memang benar, kematian kakek hidung merah merupakan suatu kejadian yang sangat menyedihkan bagi kita. Aku si Sriga la kuning Hek Tek dengan mentaati peraturan partai, hendak menuntut dendam untuknya."

Ho Hay Hong mengeluarkan rint ihan perlahan tetapi tidak diperhatikan oleh si Srigala kuning.

"Pangcu ingin menggerakkan kekuatan di kota Hok san, Entah." demikian Ho Hay Hong yang baru berkata sampai disitu, pengaruh obat hitam tadi menimbulkan rasa sakit dalam perutnya, hingga ia tidak sanggup bertahan lagi.

Ia sudah akan berlaku nekad untuk membinasakan Srigala kuning itu lebih dulu. Tentang letak pusat partai lempar batu ia sudah tidak pikirkan lagi. Tetapi kekuatan tenaga dalam tubuhnya agaknya sudah lenyap seluruhnya hingga ia tidak dapat melaksanakan serangannya.

Iapun tahu bahwa orang tua bongkok yang menamakan diri Srigala kuning itu, adalah pemimpin cabang dikota Hak san, kepandaian ilmu silatnya sudah tentu tidak lemah.

Apabila serangannya itu tidak dapat membinasakannya, ia sendiri pasti juga sangat berbahaya keadaannya.

Wajahnya pelahan-lahan semakin pucat  pada akhirnya, kepalanya terasa mabuk hingga hampir tidak bisa berdiri.

Ia sudah mulai putus harapan, selagi hendak menggunakan sisa tenaganya, untuk menceburkan diri kedalam sungai, tiba-tiba teringat diri perempuan kaki telanjang yang ada membekal obat mujarab Liong yan hiang. Obat mujizat itu pertama membaw a pengaruh besar baginya, harapan hidup tumbuh lagi, tetapi akhirnya mendadak ia menarik napas karena Ia paling tidak suka untuk tunduk kepala minta-minta dihadapan kaum wanita, sekalipun pedang di tinggalkan diatas lehernya.

Srigala kuning agaknya dapat melihat perubahan sikap dan kelakuan anak muda itu, ia bertanya dengan perasaan heran:

"Saudara kenapa?"

Ho Hay Hong terkejut, buru-buru berusaha mempertahankan tubuhnya.

"Tiga hari t iga malam aku melakukan perjalanan terus menerus sehingga sampai di sin i, aku merasa terlalu letih!" jawabnya.

"Tiga hari tiga malam?" tanya Srigala kuning, "apakah saudara datang dari markas besar??"

"Benar!"

"Aneh," berkata orang tua itu sambil membuka matanya lebar-lebar, "mengapa pangcu bisa mengutus orang seperti kau untuk mengirim berita. Tempat ini letaknya hanya seperjalanan setengah hari saja dari markas besar. Sekalipun bagi seorang yang tidak mengerti ilmu silat, dengan jalan kaki satu hari satu malam juga bisa sampai, jangankan saudara sebagai orang pilihan, apakah saudara kesasar jalan?"

Ho Hay Hong yang dalam keadaan sulit coba menjawab seenaknya, tak disangka telah membuat kekeliruan. Dalam marahnya, ia masih berlaku keras kepala. "Kenapa? Apakah kau mencurigai aku dan pangcu?"

Dengan sinar mata keheran-heranan orang tua itu berkata:

"Saudara mengapa bicara tanpa aturan?"

Ho Hay Hong mendadak merendah  "Maafkan, pikiranku tidak karuan."

Pada saat itu ia, telah mengambil keputusan hendak tunduk kepala kepada perempuan kaki telanjang, maka lantas berkata kepada Srigala kuning:

"Kau tunggu sebentar aku hendak panggil sahabatku, sebentar akan kembali."

Ia menggemertakkan giginya berusaha mempertahankan sikapnya, pelahan-lahan jalan  turun dari sampan.

Dengan menggunakan kesempatan yang ada, ia berteriak memanggil: "Hai."

Baru sepatah kata keluar dari mulutnya ia dikejutkan oleh keadaan didepan matanya. Tepi sungai itu ternyata sudah kosong, entah ke mana perginya perempuan kaki telanjang tadi. Dalam keadaan putus asa, matanya mendadak gelap dan akhirnya jatuh pingsan.

Ketika ia membuka matanya kembali,  keadaan didepan matanya sudah berubah. Udara sudah gelap angin meniup kencang, sekitar dirinya berdiri serombongan laki-laki tegap dengan sinar mata bengis.

Ia bingung, masih ingat ketika ia jatuh pingsan, orang tua bongkok itu lompat keluar dari sampan, dengan muka menyengir menyerbu dirinya, mengapa dalam waktu sekejap keadaan sudah berubah? Ia berusaha menenangkan pikirannya, matanya  melihat orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Tak disangkanya bahwa orang-orang yang berdiri disekitarnya itu semua merupakan orang-orang yang sudah dikenalnya.

Tiba-tiba ia mencurigai dirinya berada dineraka, tetapi orang-orang disekitarnya benar-benar adalah delapan pengawal. Suatu pikiran terlint as dalam otaknya: "apakah aku telah tertangkap?"

Tetapi diantara delapan pengaw al itu terdapat Srigala kuning yang kini sudah menjadi taw anan. Wajah orang tua itu menunjukkan perubahan besar, dari kaget, marah berubah minta dikasihan i. Matanya mengaw asi tanah seolah-olah ing in berlut ut sambil meratap minta diampuni.

Ho Hay Hong t idak mengerti, mengapa Srigala kuning itu ketika mengawasi dirinya, yang juga menjadi t aw anan delapan pengawal, wajahnya mendadak menunjukkan sikap minta dikasihan i ?

Delapan pengaw al itu ketika melihat Ho Hay Hong sadar, semua mengangkat tinggi-tinggi tangan mereka, salah seorang diantaranya berkata dengan sikap sangat menghormat:

"Apakah Siangcu tidak mendapat halangan apa-apa? Manusia keparat dari golongan lempar batu ini sudah menyerahkan sendiri obat pemunahnya, tetapi kita tidak berani mengambil keputusan terhadapnya, maka minta petunjuk Siangcu!"

Mendengar perkataan mereka yang sangat menghormat, jelas bahwa dirinya sudah di anggap Tang Siang Sucu. Dalam hati Ho Hay Hong merasa geli sendiri. Berada dalam keadaan demikian, tampaklah disini kecerdikan Ho Hay Hong. Dengan meniru sikap  gaya Tang sian Sucu, ia tertaw a dingin berulang-ulang, kemudian berkata.

"Tua bangka kau tidak mempunyai mata, lekas ceburkan dalam air untuk umpan ikan !"

Orang tua bongkok itu mendadak unjukkan sifat yang takut mati, mendengar ucapan itu segera ia berlutut di hadapan Ho Hay Hong, dan dengan suara meratap ia minta diampuni.

"Siangcu, ampunilah dosaku si orang tua yang tidak mempunyai mata, lain kali aku tidak berani lagi."

Ho Hay Hong membentak sambil mendelikkan matanya.

"Lekas beritahukan dimana markas Lempar batu ! Aku dapat mengampuni jiw amu jikalau tidak akan kupotong batang lehermu !"

"Markas besar Lempar batu letaknya sangat dirahasiakan, hamba tidak dapat menyebutkan dimana letaknya. Siangcu sendiri pasti juga tidak dapat menemukan. Maka sebaiknya hamba yang mengantarkan tuan-tuan sekalian. Kalau Siangcu percaya, sekarang juga boleh berangkat!"

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ’Delapan pengaw al sudah ditanganku, tidak perlu takut padamu. Lagi pula aku tokh bukan Tang siang Sucu, sekalipun  harus bentrok dengan golongan Lempar batu tidak perlu takut’. Ia memandang keadaan disekitarnya, ternyata merupakan tempat belukar maka lalu bertanya kepada delapan pengawal: "Ini tempat apa ?"

Salah seorang dari delapan pengawal itu menjawab: "Disini  terpisah  sejarak  lima  pal dari sungai Yang-ce-

kiang, letaknya disebelah barat Hok san. Tempat  ini sunyi

sepi, jarang didatangi oleh manusia disebelah kanan, tidak jauh dari sini, ada sebuah kelenteng tua yang sudah rusak, aku pikir sekarang sudah malam, terpaksa minta Siangcu bermalam disini dulu"

Ho Hay Hong mencoba kekuatan tenaga dalamnya, ternyata tidak mendapat halangan suatu apa. Diam-diam ia merasa g irang.

"Kalian tadi apakah melihat wanita berkaki telanjang ditepi sungai ?"

Kepala rombongan delapan pengaw al itu yang badannya gemuk bagaikan kerbau, ketika mendengar pertanyaan itu, ia hanya memancarkan sinar heran.

"Bukankah tadi Siangcu telah mengajak padanya sendiri? Bagaimana sekarang menanyakan kepada kita?" demikian jawabnya.

-ooo0d-w 0ooo-