Rahasia Kampung Setan Jilid 07

 
Jilid 07

“MURID OEY TOUW LAO HUD, ceng hong kiam telah berbuat salah terhadapku, aku sedang mencarinya untuk membuat perbincangan, hm! Kedatanganmu sangat kebetulan?" berkata pemuda baju putih dengan alis berdiri.

Ho Hay Hong mundur selangkah, kembali menggores dengan pedangnya: "Kalau kau masih banyak bicara, jangan sesalkan pedangku ini tidak ada matanya!" Diam-diam ia mengerahkan kekuatan tenaganya, siap untuk menghadapi pertempuran.

"Ilmu Kiu coan Sin kang bukan berarti apa-apa sahabat! Hai. lihat serangan!" berkata pemuda itu sambil tertaw a dingin dan melakukan serangan dengan tangan kiri.

Ho Hay Hong tahu benar bahwa serangan itu adalah ilmu Bit cong Tay ciu in dari pelajaran perguruannya sendiri, tetapi dalam keadaan tergesa-gesa, ia tidak  dapat memikirkan suatu cara untuk menghadapinya, maka terpaksa lompat mundur.

Ia sekarang sudah seperti orang berada di atas punggung harimau, menggunakan gertakan sedikitpun tidak mempan, tapi juga tak bisa membuka kedoknya sendiri, hingga percuma saja semua kepandaiannya, untuk sementara ia tak mampu memberi perlawanan.

Iapun tahu bahwa ilmu Bit cong Tay-ciu in itu harus dilawan dengan ilmu silat yang terdapat dalam ilmu Khun koan sam-kay baru tidak akan terkalahkan. Tetapi  ia tidak dapat menggunakan ilmunya itu, karena bagian mana saja dari ilmu Khun goan sana kay, t idak akan lolos dari mata Sam suhengnya yang cerdik itu.

Terpaksa ia menggunakan gerak tipu saja, tapi diam- diam mengandung ilmu dari khun goan sam kay, dengan kaki berputaran seolah-olah gugup menyambuti serangan itu. namun sebenarnya sedang menempuh jalan yang paling aman.

Pemuda baju putih itu diam-diam merasa geli menyaksikan sikap gugup Ho Hay Hong, selagi hendak melakukan serangannya yang kedua, t iba tiba terdengar suara pertempuran, hingga membatalkan maksudnya.

Pada saat itu, api telah berkobar membakar rumah Kan lui Kiam khek.

Kebakaran yang timbul secara tiba-tiba diiringi pula angin sedang meniup kencang, sehingga sudah tidak keburu dipadamkan.

Depan rumah Kan lui Kiam khek terdapat banyak orang yang sedang bertempur sengit.

"Ow! Orang-orang golongan Kaw a-kawa sudah mulai menyerang." demikian pemuda baju putih itu  mengumam sendiri.

Dengan cepat ia meninggalkan Ho Hay Hong, ia melompat setinggi lima tombak lebih kemudian melayang turun kedalam rombongan orang yang sedang bertempur.

Ho Hay Hong agaknya mengerti maksud suhengnya, seketika itu darahnya menggolak, tanpa banyak pikir lagi, pedang ditangannya dilontarkan kearah suhengnya.

Tapi kemudian ia mendadak sadar bahwa ia tidak boleh menggunakan ilmu pedang terbang, karena ia berarti membuka kedoknya sendiri

Sebab ilmu pedang yang sudah ribuan tahun hampir menghilang dari dunia Kang-Ouw itu, dalam rimba persilatan dewasa itu, kecuali seorang tokoh partay dari ngo bie pay tidak ada lagi orang lain yang sanggup menggunakan.

Dewi Ular dari gunung Ho lan san meskipun juga faham ilmu itu. tetapi tidak sembarang menggunakan, apalagi alirannya juga agak berlainan dengan ilmu yang digunakan oleh tokoh ngo-bie pay. maka kalau Ho Hay Hong menggunakan ilmu itu, dengan sendirinya akan segera diketahui oleh Sam suhengnya.

Sementara itu pemuda baju putih yang mendengar suara angin dibelakangnya. segera mengetahui bahwa dirinya diserang dari belakang dengan cepat ia melayang turun, begitu kakinya menginjak tanah, tanpa menoleh lagi lantas menghunus pedangnya dan dilontarkan kebelakang.

Pedang yang melesat keluar dari tangannya itu beradu dengan pedang Ho Hay Hong hingga menimbulkan suara nyaring. Pemuda baju putih itu mendadak balikkan badannya, matanya terbuka lebar memandang Ho Hay Hong, seolah-olah menemukan kejadian aneh.

Bukan kepalang terkejutnya Ho Hay Hong. Pada saat itu, suatu pikiran mendadak terlint as dalam otaknya, menggunakan waktu yang sangat singkat itu. diam-diam mengendorkan kekuatannya, hingga pedangnya yang beradu dengan pedang pemuda baju putih, lantas jatuh ditanah.

Dengan sinar mata tajam pemuda baja putih itu mengaw asi dirinya, wajahnya menunjukkan perubahan dengan cepat, nampaknya merasa lega, tanpa berkata apa-apa lantas berlalu.

Perbuatan Ho Hay Hong tadi, maksudnya ialah hendak menunjukkan kepada lawannya bahwa ia tidak paham faham ilmu pedang terbang. Pemuda baju putih yang tidak banyak pikir, benar saja dapat dikelabui matanya. Ho Hay Hong melihat Sam suhengnya itu kembali kerumah Kan lui Kiam khek, tidak berani berlaku  ayal lagi, dengan gencar ia mengejar, sebentar kemudian sudah benda di medan pertempuran. Tetapi ia tidak mengetahui dengan tepat siapa kawan.

Selagi dalam keadaan bingung, mendadak tampak Toan bok Bun Hw a menggapai dirinya, nona itu sedang dikepung oleh tiga orang laki-laki bermuka hitam, yang saat itu hampir roboh ditangan musuhnya karena perhatiannya ditunjukan kepada Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong lompat setinggi dua tombak, dengan satu gerakan sepasang burung elang menyerobot  air, dua kakinya menyerang dua laki-laki yang mengepung Toan bok Bun Hw a. Sementara itu mulutnya bertanya dengan suara perlahan. "Mana satu adalah ayahmu? Siapa, siapa yang menjadi musuhmu."

Toan-bok Bun Hw a mendapat kesempatan mengaso, segera menjawab sambil menunjuk.

"Itulah ayah."

Ho Hay Hong melihat seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluhan, mukanya bersih, berpakaian ringkas, matanya bersinar tajam, saat itu sedang dikepung oleh empat musuh-musuhnya yang semua berpakaian warna biru.

Meskipun menghadapi empat musuh, tetapi orang tua itu dapat melawan dengan gagah berani, tidak ada tanda-tanda ia akan kalah.

"Kekuatan tenaga dalam ayahmu sungguh hebat." demikian Ho Hay Hong berkata sambil menganggukkan kepala. "Orang-orang berpakaian warna biru itu,  semua adalah orang orang golongan kaw a-kawa, pemimpinnya sendiri kini belum unjuk muka, t idak lama lagi barangkali akan tiba." berkata Toan bok Bun Hwa.

Sedang matanya menyapu keadaan disekitarnya, tiba- tiba ia berkata lagi.

"Ho sianseng, pemuda baju putih itu sudah mendekati ayah. Kini."

Tangan kiri Ho Hay Hong mendorong lawan yang berada dekat dengannya, sehingga orang itu sempoyongan mundur tiga langkah, kemudian ia lompat menyerbu pemuda baju putih tanpa berkata apa-apa,  lalu menyerang dengan tangan kosong.

Kan lui Kiam khek memandangnya sejenak, sinar matanya menunjukkan perasaan heran.

"Apakah siauhiap orang yang diundang oleh Cie-lui Kiam-khek? " demikian ia bertanya.

Ho Hay Hong hanya menganggukkan kepala, tangannya terus bergerak, jari tangan kiri monotok jalan darah Siang Gung badan pemuda baju putih, tetapi pemuda baju putih itu juga menggerakkan tangannya, lima jari tangannya mengancam batok kepala Ho Hay Hong.

Ia tahu bahwa ini adalah salah satu dari gerak tipu ilmu serangan Naga emas yang paling dahsyat, maka ia tidak berani berlaku gegabah. Dengan cepat ia membalikkan badan kebelakang, menghindarkan serangan tersebut, namun hembusan angin yang keluar dari tangan, yang lewat di mukanya, masih terasa sakitnya. Tiba-tiba ia menggunakan suara serak yang di buat- buat berkata kata:

"Apakah kau masih ada muka bertempur lagi?" "Apa maksudmu?" tanya pemuda itu heran.

"Heh heh! Kalau kau tetap membandel aku nanti akan beritahukan maksud kedatanganmu kepada Kan lui Kiam khek, aku lihat kau masih ada muka atau tidak?"

"Kau mengaco belo, kedatanganku ialah hendak membantu mengusir musuh!" berkata pemuda itu gusar.

"Hm! Kalau kau hendak bantu mengusir musuh, mengapa tidak lantas membunuh, satu dua musuh untuk diperlihatkan kepada tuan rumah?" berseru Ho Hay Hong dingin. "Jangan menipu orang, tahukah kau bahwa tentang rahasiamu kini sudah diberitahu oleh Naga lengan satu?!"

Sesudah berkata, ia maju menghampiri dan mementangkan lima jari tangannya, mengancam lima jalan darah pemuda baju putih.

Pemuda baju putih mundur selangkah dan berkata dengan suara keras:

"Siapa kau sebenarnya?"

Ternyata pemuda baju putih itu telah  mendapat kesan, bahwa serangan yang digunakan oleh lawannya yang berkerudung itu mirip benar dengan ilmu silat golongannya Khun goan Sam kay, namun disamping itu, juga bagian-bagian berikut nya merupakan gerak tipu campuran, entah dari golongan mana. Diam-diam ia mulai mencurigai asal-usul diri lawannya itu. Karena Ho Hay Hong tidak memberi jawaban, kembali menggunakan salah satu gerak tipunya yang paling berbahaya dalam ilmu silatnya, ilmu pukulan  tangan  naga emas, jari tangannya mencakar muka Ho  Hay Hong.

Serangan sederhana itu mengandung kekuatan tenaga dalam sangat hebat Ho Hay Hong miringkan kepalanya mengelakkan serangan tersebut, tangan kiri menyodok kedepan dengan secara berani menutup tangan lawannya.

Gerak tipu biasa itu, kalau digunakan dalam waktu biasa, tidak nampak kedahsyatan tetapi digunakan untuk menghadapi serangan serupa itu. sangat menakjubkan, hingga jangan harap pemuda baju putih dapat segera mengetahui asal usul dari gerak t ipu serangannya.

Ho Hay Hong tahu bahwa Sam suhengnya itu sudah timbul curiga. Kembali ia menggunakan suara yang dibikin-bikin sambil tertawa dingin.

"Bukankah aku sudah beritahukan padamu bahwa aku." berkata sampai disitu, mendadak ia mendapatkan satu akal maka ia lantas rubah: "baiklah, karena kau mendesak terus hendak mengetahui asal-usulku. Dan kalau aku merahasiakan diriku terus menerus, rasanya juga kurang pantas, salah-salah bisa dikatakan orang bahwa aku takut padamu!"

Ia sengaja berdiam dulu sebentar kemudian berkata pula sambil tertaw a dingin "tuan besarmu selalu tidak akan merubah nama, aku adalah murid kepala Lam kiang Tay bong, Tang siang Su cu. Aku berani mempermainkan kau, sudah tentu karena aku tidak takut kau akan menuntut balas. Heh! Aku ingin melihat kau masih mempunyai keberanian atau tidak?"

Dipermainkan demikian rupa, pemuda baju putih itu sangat mendongkol, katanya:

"Tang siang Sucu, kau perlakukan aku demikian tidak tahu aturan, selama aku masih bernyawa, pasti tidak akan tinggal diam,kau tunggu saja!"

Karena ia merasa bahwa rahasia sendiri sudah berada di tangan orang, kalau berdiam lebih lama,  mungkin tidak menguntungkan dirinya, maka lantas berlalu begitu saja.

Ho Hay Hong tidak menduga dengan mudah dan berhasil menghentak kabur Sam suhengnya, dalam hati ia merasa girang. Ia berkata kepada diri sendiri. "Muka dan potongan Tang siang Su cu sangat mirip denganku, kali ini aku sengaja menggunakan namanya untuk menggertak Sam suheng, biar Sam suheng dikemudian hari kalau berjumpa dengannya, kecurigaannya akan hilang sendiri"

Pada saat itu. tiba-tiba terdengar suara siulan menggema diudara. Ia pasang mata, mencari-cari siapa orangnya yang mengeluarkan siulan itu.

Diatas tembok pagar tinggi sebelah timur, tampak berdiri tiga orang, salah satu diantaranya, mempunyai bentuk luar biasa, hidungnya melengkung, matanya sipit, rambutnya putih meletak bagaikan perak, memakai pakaian jubah panjang warna merah darah, sedangkan badannya pendek dan kurus, tapi kaki dan tangannya panjang luar biasa. Begitupun kepalanya, luar biasa besarnya, hingga sepintas lalu mirip dengan kawa-kawa. Orang itu adalah pemimpin golongan kawa-kawa Tie cu Sin kun!

Dikanan kiri Tie-cu Sin kun, adalah dua laki-laki tua yang mempunyai badan seperti raksasa, kekuatan tenaga mereka juga sangat mengejutkan.

Tie cu Sin kun yang berbadan pendek kurus, berdiri ditengah dua raksasa, seperti anak kecil berusia tiga tahun berdiri disamping orang tuanya, setapakpun tidak berani berpindah dari tempat berpijaknya.

Dengan munculnya tiga orang luar biasa itu, semua orang-orang berpakaian warna biru yang sedang bertempur mendadak menghentikan pertempuran dan mengundurkan diri, kecuali berkobarnya api yang membakar gedung Kan lui Kiam khek, tidak terdengar suara orang bertempur lagi.

Dengan muka sedih Kan lui Kiam khek mengawasi bekas kediamannya yang sudah dimusnahkan oleh api. Gedung dan pekarangannya yang di bangun dengan keringat selama hampir seumur hidupnya, kini telah musnah dalam waktu sekejap mata di hadapan matanya sendiri. Bagaimana ia tidak sedih?

Ho Hay Hong diam-diam menghitung orang-orang di pihaknya sendiri, kecuali Kan lui Kiam khek dan putrinya. Hanya ada tiga orang tua berkumis pendek, seorang pelajar pertengahan umur dan tiga pemuda berbadan tegap, berpakaian warna kuning.

Sedangkan pihak musuh, kecuali Tie cu Sin kun yang paling susah dihadapi, masih ada tujuh belas orang kuat dari golongan rimba hijau. Jelas kekuatan kedua belah pihak mempunyai perbedaan yang sangat menyolok, rasanya sudah dapat dibayangkan, bagaimana sulitnya keadaan Kan lui Kiam khek.

Sebentar ia mengaw asi berkobarnya api, diam-diam berpikir: ’Kan lui Kiam khek meskipun tidak mempunyai hubungan apa-apa denganku, tetapi dilihat dari sepak terjang Tie cu Sin-kun yang sangat ganas ini, mau tidak mau aku harus turun tangan’

Toan bok Bun Hw a diam-diam  menghampiri dan berkata.

"Ho sianseng, apakah paman Su to membaw akan kau pesan lain lagi?"

Ho Hay Hong memandang padanya. Dari sikap sinona, ia segera dapat menduga apa yang terkandung dalam pertanyaannya. Ia sebetulnya ingin menjaw ab, ia sendiri hampir tidak sanggup mempertahankan kedudukannya tetapi kata-kata yang sudah sampai diujung bibir, ditelannya lagi, kemudian katanya:

"Aku dapat memahami perasaanmu pada saat ini. Meskipun aku sendiri tidak dapat memperbaiki keadaan yang sedang kita hadapi, tetapi aku bersedia sekuat tenaga untuk memberi perlawanan sehingga titik darah terakhir. Jikalau betul betul sudah tidak sanggup, aku sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa."

Dengan pandangan mata dari seorang yang sudah putus asa, Toan bok Bun Hw a berkata dengan suara sedih:

"Aih, paman Su to benar benar tidak memahami kesulitan ayah." Ho Hay Hong mendadak tidak sadar, katanya:

"Dia mengirim aku datang kemari, sudah merupakan usahanya yang paling besar, yang ia dapat lakukan. Kalian tidak akan dapat memahami  keadaannya, sekarang ini ia sudah dikurung oleh Tan Siang Su cu!"

Toan bok Bun Hwa membuka mata lebar-lebar "Apa? Apakah paman Suto juga.... ?" ia tidak dapat   melanjutkan kata-katanya, pikirannya sudah kalut, banyak urusan ia tak dapat memikirkan lagi.  katanya pula sambil menghela napas pelahan:

"Sudahlah, kita semua sedang menghadapi nasib buruk, perlu apa mengharapkan yang bukan-bukan. Ho sianseng, demikian besar perhatianmu terhadap kita, aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih padamu."

"Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku, aku adalah orang yang dikirim kemari o leh Su to tayhiap, seharusnya kau mengucapkan terima kasih padanya!"

Sehabis berkata, ia lantas berlalu dengan perasaan sedih, ia memikirkan tanggungannya sendiri, agaknya semakin lama semakin berat.

Mata Tie cu Sin kun yang tajam menyapu  semua orang sejenak, tiba-tiba berkata:

"Toan bok Tayhiap. sekarang kau sudah menghadapi jalan buntu, mengapa tidak segera menyerahkan kitab pusaka mu Rajawali sakti,supaya aku tidak perlu turun tangan membunuh kalian."

"Tie cu Sin kun, ucapanmu ini sesungguhnya terlalu menghina orang, aku hanya tahu bahwa barang pusaka peninggalan orang tua, harus disimpan oleh keturunannya, belum pernah dengar ada aturan, kalau orang tidak mau menyerahkan barangnya, lantas mau dibunuh seluruh rumah tangganya. Tie cu Sin-kun, kau perint ahkan orang-orangmu membakar rumahku, melukai orang-orangku, permusuhan kedua fihak sudah sedemikian dalam, apa kau kira dapat dibereskan dengan sepatah dua patah kata saja? Permint aanmu ini, tidak akan ku terima !" berkata Kan lui Kiam khek.

"Ha ! Ha ! Sedangkan binatang semut saja, masih sayangi jiwanya, apalagi manusia? Toan-bok Tayhiap, sekalipun kau tidak memikirkan dirimu sendiri, kau juga harus memikirkan orang-orangmu dan keluargamu.  Harus kau ketahui, begitu aku mengeluarkan perint ah, tidak dapat dibayangkan bagaimana akibatnya, nanti kau tidak keburu menyesal!" berkata Tie cu Sin kun sambil tertaw a terbahak-bahak.

"Iblis tua, perbuatanmu ini tidak beda dengan binatang, jangan bangga satu hari kelak akan ada orang yang mengambil batok kepalamu!" berkata Toan bok Bun Hwa.

"Nona kecil, kau tentunya anak perempuan Toan bok Tayhiap? Kau tidak perlu khaw atirkan diriku, aku dapat menjaga diriku, aku dapat menjaga diriku sendiri sebaik- baiknya." berkata Tie cu Sin kun sambil tertawa besar.

Ho Hay Hong tiba-tiba berkata. "Toan bok Tayhiap, pertempuran ini sudah tidak dapat dielakan lagi, mengapa tidak minta ia lekas menyebutkan caranya?"

Kata-kata Ho Hay Hong ini sudah merupakan satu tantangan, sehingga suasana yang memang sudah tegang, bertambah tegang Tie cu Sin kun tidak menyangka bahwa fihak lawannya yang sudah berada dijalan buntu, ternyata masih ada orang yang berani menyatakan perang padanya, lalu matanya terus menatap wajah anak muda itu tanpa berkedip.

Karena muka Ho Hay Hong ditutupi oleh kerudung sobekan bajunya, nampak semakin misteri, dengan sendirinya tidak berani berlaku gegabah. Ia berkata kepada raksasa di sebelah kirinya:

"San ceng siu, orang itu tidak berani menunjukkan wajah aslinya kepada orang, kau harus waspada kepadanya, jangan sampai mendapat kesempatan mengeruhkan keadaan."

Raksasa yang disebut San ceng siu itu hanya mengeluarkan siu lan dari mulutnya. Badannya bergerak, sebentar kemudian, tubuhnya yang seperti kingkong itu sudah berdiri tegak di tengah taman, semua terheran, sungguh t idak disangka seorang yang bertubuh bagaikan raksasa memiliki ilmu meringankan tubuh demikian hebat. Dari sini dapat diduga bahwa Tie cu Sin kun bukanlah orang sembarangan.

Pemimpin golongan Kaw a-kawa itu kembali berpaling dan berkata kepada raksasa di sebelah kanannya:

"Bok khek siu, kau juga harus menjaga keras Kan lui Kian khek, jangan sampai mendapat kesempatan memusnahkan kitab yang di sakunya karena sudah buntu jalan. Kitab ini besar sekali artinya bagiku,  sekali-kali tidak boleh dimusnahkan. Mengertikah kau maksudku?"

"Apa Sin kun hendak menggunakan kekerasan." bertanya Bok khek siu. Tie cu Sin kun tertaw a terbahak-bahak, memoyong ucapan Bok khek siu yang bagaikan gertakan, katanya sambil mengulapkan tangannya:

"Jangan. jangan banyak bicara lagi."

Badan Bok khek siu tidak tampak bergerak, tapi tubuhnya yang besar, tahu-tahu sudah berada di  hadapan Kan lui Kiam khek. Dengan sendirinya Kan lui Kiam khek dikejutkan oleh kedatangan raksasa  itu. Dengan cepat ia menutup dadanya dengan kedua tangannya dan mundur selangkah.

Ho Hay Hong dengan langkah lebar menghampiri seorang seperti bangsa pelajar berpenyakitan kemudian bertanya padanya:

"Kau pikir hendak memilih pertempuran cara bagaimana ?"

Wajah pelajar pertengahan umur yang seperti berpenyakitan itu menjawab acuh tak acuh:

"Lihat saja, kalau saatnya sudah tiba baru memilih rasanya juga masih belum terlambat !"

Mendengar nada suaranya yang seperti tidak bersemangat itu. Ho Hay Hong menggeleng-gelengkan kepala dan berkata:

"Kau agaknya kurang enak badan, aku lihat beberapa orang berpakaian warna biru itu lebih mudah dihadapi, biarlah kau saja yang membereskan mereka!"

Orang itu tersenyum, tidak berkata apa-apa. Tapi ketika empat orang berpakaian biru lari menghampirinya, mulutnya mendadak mengeluarkan suara bagaikan geledek: "Kaw anan tikus, kau berani!" Lengan jubahnya digerakkan, kekuatan tenaga dalamnya yang hebat, menyerang ke-empat orang itu.

Empat orang itu lompat kesamping, tidak berani menyambut. Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa heran. Waktu itu menengok kepadanya lagi, sepasang matanya yang tadi seperti mata orang sakit kini  mendadak bercahaya terang, hingga ia tertaw a sendiri, wajah berpenyakitan ternyata memang sudah pembaw aannya.

"Toan bok Tayhiap, aku masih memberi kesempatan untuk kau berpikir masak-masak, kalau tidak mau menurut, aku nanti akan mengeluarkan perint ah untuk membasmi serumah tanggamu." berkata Tie-cu Sin kun kepada Kan lui Kiam-khek.

"Kau boleh berbuat sesukamu, aku Kan-lui Kiam khek tidak sudi berdamai dengan musuh." menjawab Kan lui Kiam khek gusar.

Tie cu Sin kun marah, segera mengeluarkan perint ah kepada orang-orangnya mulai bertindak.

Mendengar perintah itu, orang-orang dari golongan kawa-kawa dengan serentak bergerak, hingga keadaan menjadi kalut. Tiga orang bertubuh besar memburu Toan bok Bun Hw a, sedang sekelompok orang orang berpakaian biru menyerbu tiga orang tua kumis pendek.

Kan lui Kiamkhek lompat t inggi, sebelum musuhnya, ia sudah turun tangan lebih dulu. dengan menggunakan ilmu silatnya golongan Coan lam pay yang terampuh menyerbu kedalam barisan Sam thay t io yang terdiri dari lima orang. Dalam waktu singkat barisan itu sudah dipukul pecah, hingga buru-buru undurkan diri.

Bok khek su dengan kegesitannya yang luar biasa, sebentar sudah berada dihadapan Kan-lui Kiamkhek.  Jago pedang itu merasakan serangan dari hembusan angin yang hebat, pandangan matanya mendadak menjadi kabur, ia buru-buru lompat mundur, ternyata Bok khek siu berdiri didepan matanya.

Ia tahu benar bahwa musuhnya itu adalah satu pahlawan terkuat Tie cu Sinkun, yang  memiliki kepandaian sangat tinggi, maka ia tidak berani berlaku gegabah. Dengan cepat ia menghunus pedangnya, tanpa banyak omong sudah menyerang musuhnya.

Dengan berani Bok khek sin menangkis serangan itu dengan tangan kirinya, Kan lui Kiam khek yang sudah banyak pengalaman, segera dapat mengenali gerak tipu apa yang digunakan oleh musuhnya, dengan cepat ia rubah gerakannya, serangannya ditujukan ke arah lain.

Sementara itu Ho Hay Hong yang belum mendapat lawan, melihat Toan bok Ban Hwa dikeroyok oleh tiga musuh, buru-buru lari kepadanya untuk memberi bantuan.

Dengan satu gerak tipu yang sangat aneh, ia menyerang salah satu musuh Toan bok Bun Hw a yang terdekat, karena serangannya yang tidak terduga-duga, lagi pula cepat luar biasa, musuhnya terperanjat, dalam keadaan tergesa-gesa balas menyerang dengan golok besarnya.

Tapi perbuatan musuhnya itu memberikan  kesempatan bagi Ho Hay Hong untuk melancarkan serangannya lebih jauh, golok ditangan musuh terbang keudara, pergelangan tangan tertendang oleh kakinya hingga musuhnya terhuyung-huyung dan jatuh ditanah.

Ho Hay Hong lompat tinggi, tangannya menyambar golok musuhnya yang terbang ketengah udara, ditengah udara golok itu berputaran sebentar, kemudian menurun kebawah.

Pada saat itu, Sun Teng siu telah menghampiri dengan langkah lebar. Ho Hay Hong yang mendengar suara angin, tangannya dengan cepat menyambar golok yang terbang menurun dan digunakan untuk menyontek.

Tapi sebelum bacokannya itu mengenai sasarannya, tiba-tiba golok terlepas dari tangannya, ketika ia berpaling, segera berhadapan dengan San beng siu siraksasa.

Ia tidak dapat membantu Toan-bok Bun Hw a lagi, karena ia hendak mencoba kekuatan si raksasa itu, entah sampai d imana kekuatan tenaga dalamnya.

Diam-diam ia mengerahkan kekuatan  tenaga dalamnya dan didorong melalui kepalan tangannya.

San-ceng siu memandang dengan matanya yang tidak bersinar ketika serangan Ho Hay Hong hendak mengenakan badannya, ia agaknya baru sadar dirinya sedang diserang. Lengannya yang besar bergerak, suatu kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat meluncur keluar mendorong mundur Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: ’orang ini benar- benar memiliki kekuatan tenaga dalam sangat hebat, tapi nampaknya kurang gesit hingga gampang diperdayakan.’ Pikiran itu sepintas lain terlint as dalam otaknya, sepasang tangannya dengan cepat sudah melakukan serangan lagi.

San ceng siu tetap mengaw asinya dengan matanya yang tidak bersinar, tetap menggunakan tangannya untuk menyambut serangan Ho Hay Hong.

Setengah jalan, Ho Hay Hong mendadak merubah gerak tipunya, ia menggunakan dua gerak tipu dalam ilmunya Khun hap Sam-kay,hembusan angin kuat menggempur dada si raksasa.

Kalau San ceng sin masih seperti pertama, lengannya yang sangat lambat menyambut serangan lawannya, Ho Hay Hong segera merubah serangannya dengan menggunakan jari tangan, untuk menotok jalan darah Siang seng hiat.

Apabila totokannya itu berhasil, biarpun dewa juga akan binasa.

Tetapi, kali ini Sat-ceng siu mendadak sangat gesit, sepasang lengan tangannya yang besar, nampaknya berat, tetapi kalau bergerak, ternyata gesit sekali.  Ho Hay Hong segera dapat merasakan betapa hebat kekuatan tenaga yang keluar dari tangan raksasa itu. 

Dengan cepat ia menarik kembali serangannya dan lompat mundur jauh-jauh.

Saat itu ia baru sadar, bahwa gerak lambat yang semula diperlihatkan oleh si raksasa itu tadi, tak lain dan tak bukan, ialah untuk memancing musuhnya masuk perangkap, kemudian diserangnya dengan hebat. Ia sendiri semula tidak menduga siasat si raksasa itu, hampir saja terjebak oleh akal busuknya. Kini setelah dipikir, diam-diam ia mengucurkan keringat dingin.

Dari sini ia dapat menarik kesimpulan, bahwa si raksasa itu bukan saja berkepandaian tinggi, tapi juga berw atak ganas kejam. Seorang yang diluarnya demikian kasar dan bodoh, ternyata memiliki sipat demikian buas dan kejam, ini paling mudah membuat  lawannya terjebak. Orang-orang semacam ini benar-benar sangat berbahaya.

Menggunakan kesempatan selagi ia lompat mundur, ia meninjau seluruh keadaan medan pertempuran. Kecuali pelajar pertengahan umur yang berkepandaian t inggi dan sangat berani, dengan seorang diri melawan empat musuh, dan tokh masih nampak lebih unggul, kawan- kawan yang lainnya semua sudah berada dalam posisi terjepit, terutama Toan bok Bun Hw a, yang keadaannya paling berbahaya.

Meskipun ia tadi sudah merobohkan salah seorang musuhnya, tapi tiga musuh yang mengeroyok padanya, masih tetap membuat si nona itu tidak berdaya.

Ia kini mulai menimbang kekuatan musuh dan kekuatan fihak sendiri. Pihak musuh masih ada seorang yang berkepandaian tinggi sekali, yang masih belum bertindak, sedang dipihaknya sendiri sudah mulai berantakan. Kalau saja kemenangan sudah terbayang di tangan musuh, mungkin jiw a orang-orang di pihaknya juga t idak terjamin semua.

Tiba-tiba ia ingat kepada kepandaian ilmu silatnya sendiri, mengapa tidak menggunakan ilmu pedang terbangnya untuk membantu Toan bok Bun Hwa? Begitu pikiran itu terlint as dalam otaknya, ia lantas bertanya kepada San ceng sin:

"Beranikah kau menyambut pedang terbangku?"

San ceng sin yang sudah mencoba kekuatan tenaga dalam Ho Hay Hong, telah mengetahui bahwa kekuatan anak muda itu masih selisih  jauh dengannya, maka lantas menjawab tanpa dipikir lebih dulu:

"Mengapa tidak berani? Kau keluarkan saja semua kepandaiannya!"

Ho Hay Hong sengaja mengeluarkan suara dihidung dulu, baru berkata:

"Sekarang aku tidak membaw a pedang, hingga aku tidak dapat menundukkan kau, benar-benar sangat menyesal!"

Sehabis berkata, ia sengaja menarik napas panjang dan menggoyang-goyangkan kepala.

Mendengar ucapan jumawa itu. San ceng-siu sangat marah, katanya:

"Kalau begitu, aku tunggu kau mengambil pedangmu!" "Baik! demikian kita tetapkan!" berkata Ho Hay Hong

kegirangan.

Ia mendapat kesempatan melepaskan diri dari lawannya yang tangguh. lantas menghampiri Toan Bok Bun Hw a. Dengan tiba-tiba membuka serangan dengan menggunakan dua tangan menyerang berbareng kepada dua musuh Toan bok Bun Hw a, setelah itu ia berkata dengan tergesa-gesa.

"Lekas pinjamkan pedangmu padaku!" Toan bok Ban Hwa segera lompat mundur dengan cepat menyerahkan sebatang pedang berikut sarungnya, Ho Hay Hong menyambuti pedang dari tangan Toan bok Bun Hw a, tangan yang lain digunakan untuk menotok jalan darah Sam lie hiat badan seorang musuh yang memburu Toan bok Bun Hwa.

Musuh yang tidak keburu menyingkir itu, kontan tertotok jalan darahnya, hingga seketika itu berdiri tegak bagaikan patung.

Toan bok Bun Hw a melirik sejenak kepada si anak muda, kemudian terjun lagi ke medan pertempuran untuk melawan dua musuhnya lagi.

Ho Hay Hong berkata padanya.

"Kau harus berusaha keras mempertahankan dirimu, jangan membuat orang lain merasa khawatir!"

Toan bok Bun Hw a yang mendengar perkataan itu, tiba-tiba dapat merasakan maksud yang terkandung dalam ucapannya, hingga kedua pipinya merah seketika.

Entah darimana datangnya tenaga, dalam pertempuran selanjutnya, dengan cepat Toan bok Ban Hwa sudah berhasil mendesak dua lawannya, sehingga terus menerus.

Ho Hay Hong juga tidak mengerti apa sebabnya, dengan perasaan heran ia membalikkan badannya, selagi hendak menghampiri San ceng siu lagi, si raksasa itu sudah menghampiri sendiri dengan marah-marah, katanya dengan suara keras:

"Heh, bocah, kau berani mengingkari janji, aku akan patahkan lehermu!" Ho Hay Hong tertawa menyeringai, dengan menghunus pedangnya ia berkata:

"Jangan banyak bicara!"

Secepat kilat pedangnya bergerak mengarah perut si raksasa yang mendekat.

Dengan beruntun San ceng sio menggerakkan tangannya sampai tiga kali, setiap kali dari bawah menyampok keatas, serangan itu benar-benar sangat aneh.

Ho Hay Hong merasa ujung pedang tertekan hebat, hampir t idak dapat menggerakkan.

Sambil tertaw a besar San ceng siu maju mendesak, Ho Hay Hong tiba-tiba merasa kabur matanya, entah sejak kapan, tangan besar lawannya sudah berada dihadapan matanya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tekanan musuh, dengan menggunakan jurus-jurus dari gerak tipu ilmu silatnya Khun hap San kay menyerang kepada musuhnya.

Dengan tiba-tiba dari arah selatan terdengar suara jeritan ngeri, Ho Hay Hong dan San ceng siu sama-sama berhenti bertempur, untuk menyaksikan apa yang telah terjadi.

Kemudian ternyata bahwa tiga orang laki-laki tua berkumis pendek dari fihak Kan lui Kiam khek, salah satu diantaranya mundur terhuyung-huyung sambil menekap mukanya dengan kedua tangannya, darah mengucur keluar dari sela-sela jari tangannya.

Dua yang lainnya, pakaiannya hancur, rambutnya awut-aw utan, wajah sangat bengis. Apa yang mengherankan Ho Hay Hong ialah: Bok khek siu, salah satu raksasa yang tadi bertempur melawan Kan lui Kiam khek, entah sejak kapan, sudah ganti lawan. Orang orang baju biru yang semula bertempur dengan tiga laki-laki tua berkumis pendek tadi. Kini mengertilah dia, bahwa tiga laki tua berkumis pendek itu sampai mengalami kekalahan hebat bukan lain  karena ganti lawan!

Ho Hay Hong yang menyaksikan kejadian itu, tidak terkendalikan hawa amarahnya, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, pedang meluncur keluar dari tangannya.

Dengan mengeluarkan sinar berkilauan pedang itu terbang meluncur kearah Bok khek sin yang sedang membanggakan kemenangannya. Ketika menyaksikan pedang itu meluncur ke arahnya, wajahnya berubah seketika dengan cepat mengeluarkan seluruh kekuatan tenaganya menyampok pedang terbang itu.

Ho Hay Hong mendengus, hawa putih bagaikan kabut keluar dari mulutnya, pedang yang berterbangan memburu mangsanya, memancarkan sinar semakin terang dengan menembus hembusan angin  tenaga dalam Bok khek Sin terus menikam.

Bukan kepalang terkejutnya Bok khek-Siu buru-buru menjatuhkan dirinya kebelakang. sehingga tubuhnya  yang gemuk rebah terlentang ditanah. Dengan demikian, pedang itu meluncur melewati dirinya, meskipun tidak kena, tetapi hal itu sudah menggemparkan medan pertempuran, hingga semua orang yang sedang bertempur, lantas menghentikan pertempurannya. Semua mata ditujukan kepada pedang yang berterbangan ditengah udara bagaikan naga terbang benar-benar merupakan suatu ilmu kepandaian luar  biasa.

Ketika Bok khek Siu bangun lagi, wajahnya merah padam, jelas bahwa dalam satu gebrakan itu ia sudah kehilangan muka benar-benar. Belum lagi hilang rasa kagetnya belakang dirinya merasa ada sambaran angin.

Ia buru-buru menengok, sambaran angin itu ternyata adalah pedang terbang itu juga. Seperti orang yang menghadapi setan, semangatnya terbang seketika. Karena keadaan sudah mendesak, terpaksa lompat t inggi untuk mengelakkan serangan pedang

Dua kali pedang itu tidak mengenai sasarannya kekuatan serangannya agak berkurang dan akhirnya berputar kembali ketangan pemiliknya. Ho Hay  Hong juga sudah menggunakan kekuatan tenaga terlalu banyak, kalau bukan sudah mempunyai dasar cukup kuat, barang kali ia sudah jatuh roboh ditanah.

Kepandaian ilmu menggunakan pedang terbang itu segera menggemparkan semua orang-orang golongan Kawa-kawa, termasuk Tie cu Sinkun sendiri.

Bagi mereka yang mengetahui tidak dapat meloloskan diri dari ancaman pedang terbang, diam-diam tidak melakukan serangan terhadap musuhnya lagi, karena mereka takut akan diserang oleh pedang  terbang pemuda baju hijau itu .

Tie cu Sin kun tidak bisa tinggal diam lagi, dengan gerak secepat kilat, ia sudah berada dihadapan Ho Hay Hong dan berkata padanya sambil tertaw a dingin: "Kepandaian ilmu pedang terbang jago  muda ini, benar-benar sangat mengagumkan. Hanya aku belum tahu, kau dari golongan Ngo bie pay atau bukan ? Tentang ini harap kau suka memberi jawaban padaku yang sejujurnya !"

"Kuberitahukan padamu juga tidak ada gunanya." menjawab Ho Hay Hong.

"Apa kau anggap aku seorang yang tidak ada gunanya

? "

Pada saat itu, tiba tiba terdengar suara gemuruh, gedung besar dan megah kediaman Kan lui Kiam khek telah roboh.

Kan lu i Kiam khek menyaksikan gedungnya yang dibangun dengan susah payah, ternyata sudah ludes dalam waktu sekejap mata. Air matanya mengalir keluar, dengan hati gemas ia berkata:

"Tie cu Sio kun, semua ini adalah perbuatanmu dan orang-orangmu yang kejam, gedung yang kubangun dengan keringatku sendiri selama sepuluh tahun, sekarang telah kau bikin rata dengan bumi. Apa salahku terhadapmu ? Dendam ini kalau tidak dicuci dengan darahmu, tidak akan habis !"

Tie cu Sin kun tertawa dingin, tanpa menoleh sedikitpun juga, terus melanjutkan tindakannya ia maju dua langkah, tangannya menyambar tangan Ho Hay Hong.

Dua orang terpisah kira-kira tiga kaki, kalau bagi orang biasa, dengan jangkauan tangan, tidak akan dapat menyentuh tangan Ho Hay Hong, tapi tangan dan kaki Tie cu Sin-kun yang luar biasa, kalau ia mengulurkan tangannya, dapat mencapai jarak tiga kaki lebih.

Ho Hay Hong terkejut menyaksikan gerakan itu, buru- buru lompat mundur.

Sebentar kemudian, tiba-tiba ia dikaburkan pandangan matanya oleh gerak tangan Tie cu Sin kun yang luar biasa, gerakan itu nampaknya sangat sederhana, tetapi menimbulkan bayangan yang beribu. Ia tahu bahwa serangan itu mengandung gerak tipu yang sangat berbahaya dan tidak mudah disambut, maka ia terpaksa loncat mundur lagi.

Tetapi matanya kembali  dikaburkan oleh sebuah kepala besar yang tahu-tahu berada dihadapan matanya. Tak dapat dicegah lagi, matanya beradu dengan mata besar itu.

Ho Hay Hong terkejut, buru buru menundukkan kepala, tetapi pada saat itu, pergelangan tangannya sudah tercekal oleh tangan musuhnya.

Ia coba meronta dengan sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil, sebaliknya ia sendiri yang terbetot oleh suatu kekuatan tenaga sangat kuat. hingga jatuh ngusruk kedepan. pedang terlepas dari tangannya dan jatuh ditanah.

Dalam keadaan seperti itu, telinganya seperti mendengar suara jeritan: "A ya ia dianiaya oleh siiblis."

Tatkala ia angkat muka, orang yang mengeluarkan suara jeritan itu adalah Toan-bok Bun Hw a.

Sementara itu, iapun tahu bahwa saat  itu semua orang sudah berhenti bertempur, mata mereka sedang ditujukan kepada dirinya. Jatuhnya kali ini, membuat malu dan marah, dengan tanpa banyak pikir lagi, tangan kirinya lantas bergerak menyerang Tie-cu Sin kun.

Tie cu Sin kun mempererat genggamannya, hingga Ho Hay Hong merasakan pergelangan tangannya seolah- olah akan remuk, rasa sakit mencekam hatinya.

Karena perlawanannya itu menimbulkan penderitaan hebat baginya, ia t idak berani mengulangi lagi.

"Aku sudah menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menekan urat nadimu, kalau kau tidak mau dengar kata-kataku dan masih berkepala batu, jangan sesalkan aku berlaku kejam!" berkata Tie cu Sin kun dingin.

Ho Hay Hong menundukkan kepala, tidak berani memandang mata lawannya.

"Kau mau apa" tanyanya perlahan.

Tie cu Sin kun tetap tidak menjawab, berpaling dan berkata dulu kepada San ceng siu.

"Jangan menonton keramaian disini, lekas ambil batok kepala Kan lui Kiam khek!"

San ceng siu menerima baik perint ah itu. Kemudian Tie cu Sin kun berkata kepada Ho Hay Hong.

"Kau bermusuhan dengan golongan Kaw a-kawa, bahkan menutup mukamu dengan kain, ini pasti ada sebabnya. Aku harus melihat dulu wajahmu, kemudian baru menetapkan dosanya!"

Kerudung kain ditariknya, selembar muka yang tampan terbentang dihadapannya, tetapi, muka pemuda itu ternyata belum pernah di kenalnya, maka lantas berkata lagi. "Kau ini rasanya tidak ada rasa permusuhan apa apa dengan golongan Kaw a-kawa mengapa memusuhi orang- orang golongan Kaw a-kawa dengan menutup muka?"

"Terdorong oleh perasaan keadilan dan atas kemauanku sendiri aku membantu Kan lui Kiam khek. Ini adalah kebebasanku sendiri, kau tidak perlu campur tangan!" jawab Ho Hay Hong dengan berani, kemudian memejamkan matanya.

"Melihat sikapmu  ini, kau juga terhitung seorang kesatria, kau juga pandai ilmu mengendalikan pedang, jelas bukan orang sembarangan. Mengapa tidak berani menyebut namamu?"

Ho Hay Hong tidak menjaw ab.

"Aku hanya pernah dengar bahwa golongan Ngo bie- pay angkatan tua, ada beberapa diantaranya yang pandai ilmu mengendalikan pedang, tapi tidak pernah dengar orang dari angkatan muda yang ada juga memiliki kepandaian seperti itu. Nampaknya kau benar memang murid kesayangannya ketua Ngo bie pay!"

"Kau boleh mimpi sendiri!" jawab Ho Hay Hong sambil mengeluarkan suara dihidung.

Ia telah melupakan bahaya yang mengancam dirinya sama sekali, ia membuka mata, mulutnya mengeluarkan tertaw a yang mengandung ejekan. Tetapi sebentar kemudian mendadak ia berhenti tertaw a, matanya ditujukan kepintu disebelah barat.

Disana tampak olehnya seorang perempuan berpakaian putih dengan kaki telanjang sedang berjalan melalu i pintu, ia seperti melihat sesuatu yang mengejutkan, mulutnya berseru: "Hai kau kemari sebentar."

Perempuan kaki telanjang itu sejenak nampak terkejut, perlahan-lahan menoleh kearah Ho Hay Hong.

Ia agaknya melihat bahwa pemuda ini rasanya pernah main-main berapa jurus dengannya, maka lantas membalikkan badannya, perlahan-lahan menghampirinya.

Tie cu Sin kun menekan tangan Ho Hay Hong lebih kencang, katanya dengan nada mara dingin:

"Apa dia sahabatmu? Gadis yang demikian cantik molek, kau tega hati menyeret padanya terjun kedalam air keruh?"

Tangan yang ditekan oleh Tie cu Sin-kun, menimbulkan rasa sakit yang hampir membuat Ho Hay Hong menjerit, tetapi ia masih coba menahan rasa sakitnya dan berlaku gembira. Sambil tersenyum ia berkata kepada perempuan itu:

"Senang sekali hari ini aku dapat melihat kau lagi"

Perempuan kaki telanjang itu memandangnya tanpa berkedip, mendadak berhenti berjalan, agaknya sedang memikirkan maksud yang terkandung dalam perkataan pemuda itu. Ho Hay Hong sudah berkata lagi:

"Hari in i, adalah hari kedua batas perjanjian kita, apakah Kau sudah menyesal, hingga perlu mencari aku?"

"Aku bukan mencari kau, aku ada keperluan lain!" menjawab perempuan itu sambil menggelengkan kepala. Ho Hay Hong pura-pura menarik napas panjang. "Aku mungkin akan terpaksa mengingkari janjiku, sebab sebab."

Perempuan kaki telanjang itu ketika mendengar perkataan demikian, lantas membuka mulut dan menanya:

"Kenapa?"

"Aku tidak ada waktu untuk mengambil pedang itu, mereka tidak mau melepaskan aku, mungkin aku tidak dapat memenuhi janjiku."

"Apa kau tidak bisa melepaskan diri? Apakah, begitu saja t idak mengerti?"

"Aku tidak dapat melepaskan diri, tangan orang ini kuat sekali, beberapa kali aku mencobanya, tetapi selalu tidak berhasil. Maaf, aku sebetulnya tidak ingin mengingkari janjiku, tetapi."

"Aku mengerti maksudmu!" berkata perempuan itu dingin. Lalu badannya berkelebat, tiba-tiba melancarkan serangan tiga kali beruntun kepada Tie cu Sin kun.

Tie cu Sin kun yang mendengarkan pembicaraan mereka ada mengandung gelagat t idak beres, diam-diam sudah siap sedia, tetapi ia tidak menduga bahwa serangan perempuan itu sedemikian cepat. Dengan agak tergesa-gesa ia menggerakkan lengan tangannya yang panjang, untuk menyambut serangan itu.

Karena ia melihat perempuan itu demikian cantik, ia tidak tega hati menggunakan tangan kejam, maka hanya menggunakan kekuatan tenaganya lima bagian saja. Ketika lengan tangan Tie-cu yang panjang itu sudah akan menyentuh dada perempuan itu,  secepat kilat, perempuan itu memutar badannya dan menggerakkan tangannya demikian gesit, untuk menyerang perut Tie cu Sin kun.

Bukan kepalang terkejutnya Tie cu Sin kun, Ia tidak mengira sama sekali bahwa perempuan cantik yang lemah gemulai itu memiliki kepandaian ilmu  silat demikian t inggi.

Dalam keadaan gugup, ia menarik tangan Ho Hay Hong dengan keras, untuk dijadikan perisai. Tapi perempuan itu dengan kecepatan luar biasa, serangan tangan kirinya dimiringkan kesamping, dua  jari tangannya mendadak mengancam t iga jalan darah tubuh Tie cu sin kun dan bagaikan gasing  dengan tangan menarik Ho Hay Hong. Tetapi, perempuan itu dengan sepasang tangannya yang putih halus, telah dapat memaksa Tie cu Sin kun berhenti berputar

Perubahan gerakan yang sedemikian gesit, tujuan sasarannya yang sangat jitu, menunjukkan bahwa perempuan yang usianya masih sangat muda sekali itu, adalah orang kuat berkaliber besar.

Tie cu Sin kun mengeluarkan ilmunya Sian-thian ceng- khie, kakinya berputar-putar bagaikan gasing dengan tangan menarik Ho Hay Hong.

Tetapi perempuan itu dengan sepasang tangannya yang putih halus, telah dapat memaksa Tie cu sin kun berhenti berputar.

Tie-cu Sin kun segera mengerti kalau bertemu dengan musuh tangguh luar biasa, mau tidak mau ia harus melepaskan Ho Hay Hong, yang didorongnya sejauh satu tombak lebih.

Bok khek sin yang menyaksikan  pemimpinnya demikian rupa, segera dapat mengerti bahwa hari itu menjumpai lawan yang luar biasa tangguhnya. Dalam hati raksasa itu mendadak timbul suatu pikiran, dengan diam-diam tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga ia menerjang perempuan muda itu.

Perempuan muda itu mengaw asi sebentar, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan "Kau mencari penyakit sendiri!" tanpa menoleh, satu tangannya bergerak memutar, tepat menotok jalan darah  Cie  len hiat dibagian Bok khek siu yang gendut.

Bok khek siu yang saat  itu baru saja hendak mengerahkan kekuatan tenaganya untuk menangkap hidup-hidup si nona, tiba-tiba merasakan sambaran angin, karena ia berperaw akan tinggi besar, maka tidak dilihatnya kalau perempuan itu sedang melakukan serangan pembalasan terhadap dirinya. Ketika ia mengetahui, ternyata sudah terlambat.

Sesaat tubuhnya seperti disambar geledek, tidak ampun lantas roboh terjungkal dan tidak ingat orang lagi.

Kejadian itu kembali merupakan suatu kejadian gaib hingga mata semua orang kini ditujukan kepada diri perempuan muda berkaki telanjang itu.

Banyak diantara mereka yang digiurkan oleh kecantikan perempuan aneh itu tetapi sebagian besar dikejutkan kepandaian ilmu silatnya yang luar biasa tinggi. Mereka sungguh tidak mengira bahwa seorang wanita yang masih demikian muda belia lemah gemulai, dalam satu gebrakan telah berhasil merubuhkan Bok khek siu yang mempunyai tubuh bagaikan raksasa !

Mata Tie ciu Sin kun berputaran dibadan Bok khek siu yang gemuk semangatnya runtuh seketika. Ini bukan berarti dia takut pada musuhnya, melainkan berat melepaskan kedudukan dan nama baik yang dipupuknya dengan susah payah.

Sekarang Ia menghadapi dua pilihan. Satu, menelan segala kepahitan dan pulang kembali dengan tangan hampa: kedua: tanpa perdulikan apa akibatnya, membinasakan musuhnya.

Yang tersebut duluan. baginya merupakan suatu perbuatan yang membuatnya kehilangan muka dan dijadikan buah tertaw aan oleh sahabat-sahabat rimba hijau, yang tersebut belakangan terlalu bahaya, karena apa bila mengalami kekalahan in i berarti tamatlah penghidupannya dalam kalangan Kang ouw, sedang nama baiknya juga akan hanyut.

Ho Hay Hong berusaha bangun, dengan langkah lebar ia menghampiri Kan-lui Kiam khek. Tetapi, jalan baru berapa langkah, pinggangnya tiba-tiba merasa sakit, hingga membongkokkan badan. Pemuda yang keras hati bagaikan baja itu, segala penderitaan masih sanggup melawan, tapi kali ini, rasa sakit yang dideritanya, ia benar-benar hampir tidak sanggup menahan. Ia mengatur pernapasan sendiri, tetapi beberapa kali harus berhenti setengah jalan, ini telah membuktikan bahwa dalam tubuhnya sudah terluka. Ini merupakan suatu luka dalam tubuh, mungkin itu ada perbuatan Tie cu Sin kun menekan perutnya, memandang Tie cu Sin kun dengan sinar mata berapi- api.

Pada saat itu, Tie cu Sin kun sudah mulai bertempur dengan perempuan cantik kaki telanjang itu, keduanya saling menyerang silih berganti, hingga menimbulkan hembusan angin hebat disekitar tempat mereka bertempur.

Sejak kapan Kan lui Kiam khek sudah berada disampingnya, dengan diam-diam menyusupkan sebuah bungkusan kedalam sakunya, ia terkejut dan bertanya:

"Toan bok Tayhiap, ini apa ?"

"Jangan bersuara, barang ini adalah kitab pusaka garuda sakti." berkata Kan-lui Kiam khek dengan suara perlahan, dengan terus terang aku merasa t idak sanggup melindungi keselamatan barang pusaka ini, karena aku melihat siauhiap seorang muda yang berjiwa besar dan gagah berani, timbullah rasa sukaku maka aku menghadiahkan barang ini kepadamu. Kau jangan menolak, ini mungkin ada gunanya bagimu!"

"Aku tidak mau!" berkata Ho Hay Hong sambil menggelengkan kepala.

"siauhiap, sekarang ini bukanlah waktunya untuk memperbincangkan soal menolak atau menerima, salah- salah barang ini bisa terjatuh dalam tangan Tie cu Sin kun." berkata Kan lui kiam khek, mendadak ia diam, ternyata ada empat tokoh golongan Kaw a-kawa bersama San ceng-siu sedang berjalan menghampiri. Ia tahu bahwa dirinya dalam pengawasan orang-orang Kawa- kawa, maka lantas memberi pesan dengan tergesa-gesa:

"Biar bagaimana, ia tidak boleh terjatuh di tangan Tie cu sinkun. Kalau ada apa-apa atas diriku, harap siauhiap jaga baik-baik anak perempuanku!"

Sehabis berkata demikian, lantas berlalu. Kebetulan berpapasan dengan lima orang itu, hingga sebentar kemudian lantas bertarung.

Dua orang lainnya menyerbu Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong yang saat itu dalam keadaan parah, keadaannya tidak beda dengan orang biasa, tapi ia lantas memegang erat-erat pedangnya, katanya dengan suara bengis.

"Jangan bergerak, kalau kamu berdua berani maju lagi selangkah saja, kupersilahkan coba-coba rasanya pedang terbang ini !"

Ucapannya benar-benar telah berhasil menggertak  dua orang itu, mereka lantas berhenti bertindak dan saling memandang.

Diam-diam Ho Hay Hong menghela napas dan berkata kepada diri sendiri. "Sungguh heran mengapa Kan lui Kiam khek t idak mengetahui kalau aku hanya merupakan macan kertas saja? Bahkan masih menyerahkan barang pusakanya, suruh aku simpan."

Tiba-tiba terdengar suara bentakan Tie cu sinkun sambil melompat setinggi lima tombak, iblis itu bertanya kepada perempuan berkaki telanjang.

"Kau ini murid siapa? Lekas jawab !" Keadaan Tie cu sinkun pada saat itu nampak sangat menakutkan, rambutnya pada berdiri, wajahnya benar- benar seperti iblis, dengan badan masih mengapung di tengah udara ia berkata lagi.

"Kau sembunyikan kepandaian, hanya menggunakan gerak tipu campur aduk, kau melawan aku, apakah kau anggap aku Tie cu sinkun anak berumur tiga tahun?"

"Kau situa bangka ini benar-benar tidak tahu  diri, kalau aku mengeluarkan kepandaian warisan perguruanku, kau boleh pikir sendiri, apakah sekarang ini masih bisa membuka mulut untuk bicara?" berkata nona baju putih itu.

Tiba-tiba tangannya dimasukkan kedalam saku. mengeluarkan sebuah bungkusan, kemudian dilemparkan kepada Ho Hay Hong seraya berkata dengan nada suara dingin:

”Bungkusan ini berisi barang mujarab dari keluarga kita namanya Liong yan biang, kau makanlah. Semua penderitaanmu akan lenyap seketika." ia berhenti sebentar dan berkata lagi:

"Kau ini benar-benar tidak mempunyai liangsim, demikian baik aku perlakukan kau, tapi kau tidak bisa pegangkan janji. apakah kau sedikitpun tidak pandang padaku? Oh sudahlah sekarang sudahlah sekarang setelah aku melihatmu, dalam hati aku merasa jemu!"

Ho Hay Hong masih memiliki jiwa kesatria, melihat sikap si nona bersifat menghina segera menolak pemberiannya. Dengan menggunakan ujung pedang ia menyontek bungkusan itu kemudian berkata. "Terimakasih atas kebaikanmu. Aku Ho Hay Hong meskipun jiw a dalam keadaan bahaya, juga tidak sampai demikian tebal muka, untuk menerima belas kasihan orang. Liong yan hiang meski obat mujijat luar biasa, tapi aku belum pikir untuk menggunakannya."

Perempuan berkaki telanjang itu mengaw asi padanya dengan sinar mata dingin, mulutnya tidak mengatakan apa-apa.

-ooo0dw0ooo-