Rahasia Kampung Setan Jilid 05

 
Jilid 05

TAK disangka-sangka, Hok Yam San kembali mengeluarkan suara jeritan ngeri. Ketika mata Ho Hay Hong di tunjukkan ke-arah anak muda itu, tampak berkelebat sesosok bayangan putih.

Orang masih belum tahu benar apa yang telah terjadi, Hok Yam San sudah rubuh di tanah.

Jago tua she Hok terpaksa mengeluarkan senjata tombaknya. Sambil memutarkan senjata tombak itu, ia lari menghampiri anaknya, tetapi Hok Yam San sudah jatuh pingsan.

Ho Hay Hong yang telah menyaksikan semua kejadian itu, telah mendapat kenyataan bahwa bayangan putih itu adalah orang tua rambut putih yang sangat misteri itu.

Ia t idak tahu dari mana datangnya orang tua itu, yang mengherankan adalah, hanya dalam waktu sekejap mata saja ia sudah merubuhkan dua orang dan kemudian sudah menghilang lagi. Kini terdengar suara jago  tombak she Hok yang berkata kepada dirinya sendiri.

"Siluman siluman, aku lihat kau hendak lari kemana?"

Tombak ditangannya dilontarkan kearah tempat menghilangnya bayangan orang misterius tadi. Dari tempat itu tiba-tiba terdengar suara orang: "Awas ini senjata rahasia!"

Sesosok bayangan putih lompat dari tanah, dengan satu gerakan dengan mudah berhasil  menyambut tombak panjang itu. Kemudian terdengar  suaranya: "Aha, sambitan tombak ini hebat sekali, apakah dilontarkan oleh Hok lo enghiong ?"

Jago tua she Hok terkejut. Katanya dengan suara nyaring: ”Cie lui Kiam khek kah disitu?"

Dari jauh nampak berkelebat sinar terang, lalu terdengar suara jawaban: "Apakah, disana Hok lo- enghiong?"

"Benar, sudah setengah hari aku berjuang disini. tapi hasilnya nihil" menjawab jago tua itu sambil menghela napas.

"Hei. dimana saudara kipas besi?" tanya Cie lui Kiam khek.

Lama pertanyaan itu tak ada yang menjaw ab, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi orang orang yang ada disitu.

Cie lui Kiam khek berkata pula dengan suara gemetar: "Apakah dia sudah?" Menghilangnya Kipas besi Hok Yauw dari tempat itu, menimbulkan kecurigaan Cie lui Kiam khek, Ia mengerti, apabila tak terjadi apa-apa, tokoh rimba persilatan yang terkenal berani itu tidak mungkin akan pergi secara diam diam.

Tetapi dengan kepandaiannya setinggi itu, menghilang tanpa bekas pasti ada sebabnya. Karena merasa cemas, dengan terbirit-birit ia menghampiri jago tua she Hok dan bertanya padanya dengan suara perlahan:

"Hok lo, apakah kau tadi melihat Hok Yauw?" Jago tua she Hok itu dengan wajah murung, dengan tangan kiri menggandeng anak lelakinya di tangan kanan menggenggam belati, matanya celingukkan dengan hati tidak tetap.

Terhadap pertanyaan Cie lui Kiam khek ia hanya menggelengkan kepala, mulut membisu dan tertaw a masam.

"Benar-benar ada setan, Hok Yauw biasanya berlaku sangat berhati-hati dan banyak akalnya, tapi kali ini baru pertama menyelidiki kampung setan, bagaimana menghilang secara mendadak? " berkata Cie lui Kiam- khek.

Si Ayam Emas diam-diam menghampiri Cie lu i Kiam- khek dan berbisik ditelinganya:

"Jangan tanya lagi, tua bangka itu mempunyai maksud tertentu, sekalipun ia tahu, juga tidak mau memberi keterangan!"

Cie lu i Kiam khek hanya menganggukkan kepala, selagi hendak mengatakan bahwa si Kipas  besi itu memang tidak senang pergi mengadakan penyelidikan kampung setan, tetapi sebelum maksudnya itu diutarakan, tiba tiba terdengar suara bentakan Giok-hu Kie su kemudian, tampak berkelebatnya sinar putih keluar dari tangannya, kearah timur.

Senjata rahasia yang dilancarkan oleh Giok hu Kie su tanpa terhalang menancap di atas sebuah pohon, bersamaan pada saat itu, sehelai kertas putih terbang melayang-layang ditengah udara.

Giok hu Kie su segera menyambar kertas itu, diatas lembaran kertas putih terdapat sebaris huruf dengan kata kata yang berbunyi. "Tidak dengar larangan, tak ada jalan lain, kecuali kematian."

Giok hu Kie su diam-diam terkejut, matanya mencari, tetapi t idak kelihatan bayangan seorang pun juga.

Tulisan diatas kertas itu sudah terang bukan tulisan setan. Giok hu Kie su yang bernyali besar, segera merobek-robek kertas itu, sehabis dibacanya. Dengan suara gusar ia berkata.

"Aku berani datang kemari, sudah tentu tidak takut segala bahaya. Kau main sembunyi, apakah masih ada muka mengaku sebagai seorang satria ?"

Belum lagi Giok ha Kie su menutup mulut, dari sebuah pohon cemara yang t idak jauh dari situ, terdengar suara burung berbunyi, kemudian disusul oleh melesatnya sebuah bayangan hitam yang meluncur turun dari atas pohon dan langsung menyerbu Giok hu Kie su. 

Wajah Giok ku Kie tu berubah seketika, sambil mengeluarkan suara bentakan keras, tangannya bergerak menyerang makhluk yang menyerbu dirinya. Tetapi, bayangan makhluk raksasa  itu merandek dengan kegesitan luar biasa memutar balik mengelakkan serangan Giok hu Kie su, kemudian balik menyerbu lagi.

Giok bu Kie su agak gagap, hingga kini diserbu oleh makhluk itu, dadanya dirasakan sakit, kemudian jatuh terlentang.

Makhluk itu masih hendak menyerbu lagi, Khong ciok Gin cee mendadak loncat melesat setinggi tiga tombak, kemudian menukik kebawah hendak menerkam makhluk tersebut. .

Mahluk Itu ternyata sangat cerdik. Ia telah mengerti bahwa dirinya hendak diterkam dari atas. Dengan sikap tidak berubah, tiba-tiba terbang lebih t inggi dua tombak, hingga Khong ciok Gin cee malah berada dibawahnya.

Dengan sendirinya Khong ciok Gin cee tidak berhasil usahanya hendak menerkam makhluk itu. Ia mengetahui gelagat t idak baik. dengan cepat melayang turun kearah selatan.

Diluar dugaannya, makhluk itu bergerak lebih gesit, kaki Khong-ciok Gin cee belum menginjak tanah, sudah diserbunya.

Khong ciok Gin cee tidak menduga makhluk itu demikian lihay, dalam terkejutnya ia sampai  lupa memberi perlawanan, hingga jiwanya terancam bahaya,.

Dalam saat yang sangat kritis itu, empat sekawan keluarga Liong, masing-masing menghunus senjatanya yang berupa sepasang roda besi, lalu lompat tinggi ketengah udara, dan menyergap makhluk hitam itu. Makhluk hitam itu terpaksa melepaskan usahanya hendak menyergap Khong ciok Gin cee,  dengan kegesitan luar biasa, menerobos serangan empat sekawan, kembali terbang tinggi melalui lawan-lawannya.

Gerakan luar biasa itu menarik semua orang yang menyaksikannya, hingga kini Cie-lui Kiam khek baru mengetahui bahwa makhluk hitam itu adalah Garuda raksasa.

Apakah burung Garuda ini terdidik baik oleh ahli silat?.

Begitulah pikir jago silat itu.

Sewaktu para orang berusaha hendak menangkapnya, burung itu sudah terbang menghilang ke hutan.

Jago tombak she Hok seolah olah teringat sesuatu dengan cepat menghampiri muridnya yang tiba-tiba menjerit tadi. Ternyata murid itu mukanya sudah berlumuran darah, keadaannya sangat mengerikan.

"Binatang itu sungguh ganas !" demikian jago tua itu berkata.

Ia periksa lagi keadaan anaknya. Pakaiannya sudah hancur dikoyak koyak, dibadannya terdapat banyak tanda cakaran kuku dan patokan paruh, keadaan  itu telah menambah keyakinannya.

Dilain pihak Cie lui Kiam khek pergi menolong Giok hu Kie su. Si Pematok ini pakaian bagian dadanya sudah dikoyak-koyak, didadanya terdapat tanda kuku yang sangat dalam, sehingga mengeluarkan banyak darah.

Meskipun lukanya tidak parah, tetapi menimbulkan rasa sakit yang tak terkira. Cie lui Kiam khek mengeluarkan obat bubuknya untuk mengobati lukanya dan berkata dengan serius.

"Kalau mau dikata bahwa tokoh tokoh rimba persilatan yang dahulu pernah menyelidiki keadaan dalam Kampung Setan ini. semua mati sebagai korbannya burung Garuda itu, rasanya tidaklah mungkin. Harus diketahui bahwa seekor binatang, betapapun cerdik nya, jikalau tak mendapat petunjuk manusia, tak mungkin begitu berani. Menurut dugaanku, dalam Kampung Setan ini pasti berdiam seorang yang berkepandaian  luar biasa."

Belum habis ucapannya, matanya tiba-tiba dipentang lebar, mengaw asi kejurusan barat. Ho Hay Hong yang sembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar, dapat mengikuti arah pandangan mata jago tua itu.

Di-bawah sebuah pohon besar, entah sejak kapan tampak berdiri seorang gadis berambut panjang, yang mengenakan pakaian serba putih.

Diam-diam ia merasa heran, dari mana munculnya wanita muda itu ?

Karena penerangan dari sinar bintang-bintang dilangit kurang terang, apalagi terpisah agak jauh, wanita itu tidak bisa terlihat dengan nyata, ia hanya merasa bahwa paras wanita baju putih itu cantik sekali, gaunnya yang berw arna putih sangat pendek, hanya mencapai batas lutut.

Di bawah lutut kelihatan jelas sepasang kakinya yang putih berisi karena dalam keadaan kaki telanjang, nampak seperti bidadari yang baru turun dari khayangan. Karena munculnya secara mendadak, apa lagi tempat itu terkenal sebagai daerah yang angker, maka timbul pikiran yang bukan-bukan.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa dalam kampung setan itu tampak seorang gadis jelita, barangkali t iada seorangpun yang mau percaya.

Percaya atau tidak, kenyataannya memang benar. Maka Cie lui Kiam khek yang banyak pengetahuan dan pengalaman, mau tidak mau harus percaya dengan kenyataan yang dihadapinya.

Sebagai pemimpin rombongan, sudah tentu ia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya. Maka dengan memberanikan diri. ia maju menghampiri gadis itu dan bertanya:

"Nona kecil, dari manakah kau datang?"

Tapi gadis itu seolah-olah tidak mengerti pertanyaannya. Atas pertanyaan jago pedang itu, dia tidak menjaw ab. hanya membuka matanya lebar-lebar mengaw asinya.

Sikap gadis itu, dalam keadaan biasa memang wajar, tetapi pada tempat dan keadaan seperti itu, sudah tentu menimbulkan kesan berlainan.

Maka Ciu lui Kiam khek yang di pandang secara demikian, dengan tiba-tiba timbul perasaan tegang. Ia coba mengendalikannya, kemudian menanya lagi:

"Nona kecil apakah, kau penduduk kampung ini?" Gadis kaki telanjang  itu  masih tetap memandangnya,

sinar matanya yang tajam, meskipun sebenarnya  ia belum   membuktikan   kesempurnaan   kekuatan tenaga dalamnya, tetapi sangat berpengaruh, sehingga seorang Kang-ouw kaw akan sebagai Cie-lui Kiam khek juga merasa keder dibuatnya, dan tidak berani memandang lama.

Hok Yam San yang sudah siuman dari pingsannya, saat itu mendadak membuka matanya yang sayu dan memandang arah kepada gadis cantik itu. Katanya kepada sang ayah dengan suara perlahan:

"Ayah. jangan jangan perempuan ini adalah perempuan cantik yang disebut oleh Sun-hong Kouw khek ?"

Ketika mendengar perkataan anaknya, jago tombak she Hok itu mendadak tegang, ia memandang muka semua orang yang ada disitu, ketika semua orang nampaknya tidak ambil perhatian, hatinya baru merasa lega. Berkata kepada anaknya:

"Jangan sembarangan omong, aw as ada yang mendengarkan!"

Percakapan antara ayah dan anak itu meski dilakukan dengan suara amat pelahan, tetapi semua  dapat didengar oleh Ho Hay Hong. Pemuda itu diam-diam merasa heran, apakah sebetulnya yang dikatakan sebagai rahasia oleh Sun hong Kouw khek?

Dan mengapa ayah dan anak itu nampaknya takut diketahui oleh orang lain?

Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, satu tangannya pelahan-lahan dimasukkan kedalam saku bajunya dan mengeluarkan sehelai kertas, kertas itu dikepalnya, lalu disambitkan kearah Cie lui Kiam-khek. Cie lui Kiam khek buru-buru menyambutnya. Setelah dibacanya tulisan dalam kertas itu, wajahnya berubah seketika. Katanya:

"Nona kecil, apakah artinya ini? Siapa yang menyuruh kau mengantarkan surat ini?"

Si Ayam emas Song Sie, buru-buru mengulurkan tangannya mengambil kertas dari tangan Cie lui Kiam khek dan membacanya. Diatas kertas itu ternyata tertulis kata-kata.

"Harap tuan habiskan jiw a sendiri, jangan sampai mengotori tanganku!"

Setelah membaca isi surat itu, Song Sie amat marah, katanya dengan suara keras.

"Kalau benar hendak mengambil jiw a kita, mengapa tidak mau menunjukan kepandaian? Hanya dengan sepotong kertas untuk menggertak orang, apakah itu perbuatan seorang gagah?"

Dengan sangat gemas ia meremas-remas kertas itu dan dilemparkannya ketanah, kemudian berkata kepada kawan-kawannya:

"Siapa diantara kalian yang sudah bosan hidup, boleh ikut dia pergi! Ha ha ha"

Gadis kaki telanjang itu ketika mendengar tertawa Song Sie, pandangan matanya dari wajah Cie-lu i Kiam khek dialihkan ke arah Song Sie.

Si Ayam emas itu ketika beradu pandangan matanya dengan mata si gadis, hatinya berdebar keras. Tapi gadis itu hanya memandang sejenak, tidak menyatakan apa-apa, kemudian membalikkan badannya dan berlalu.

"Nona. jangan pergi dulu, aku hendak tanya padamu," berkata Cie lui Kiam khek, tetapi sigadis tak menghiraukan dan melanjutkan perjalanannya.

Cie lu i Kiam-khek sangat marah, sambil mengeluarkan suara dihidung, kakinya bergerak mengejar.

Saat itu, dalam rimba terdengar suara yang amat riuh, Cie lu i Kiam khek merandek suara tambur itu semakin gencar, seolah-olah pasukan tentara yang hendak menyerbu musuh.

Cie lu i Kiam khek yang sudah banyak menghadapi musuh tangguh, lantas mengambil keputusan darurat, katanya dengan suara keras.

"Saudara-saudara harap berkumpul menjadi satu, jangan sampai dihabiskan satu persatu oleh musuh!"

Semua orang rimba persilatan yang ada disitu, juga tahu situasi telah gaw at, maka buru-buru berkumpul, satu sama lain berdiri saling membelakangi.

Ho Hay Hong juga dikejutkan oleh suara tambur yang sangat riuh itu, buru-buru sembunyikan diri kedalam gua. Namun demikian perasaannya masih tidak merasa tenang karena apabila ada orang masuk kedalam goa, dirinya pasti kepergok.

Suara tambur itu semakin mendekat akhirnya hanya terdengar suara orang berteriak-teriak memekakkan telinga. Sementara itu, dari berbagai penjuru rimba itu, lompat keluar serombongan orang-orang liar yang pada telanjang, dengan bulu dan rambut yang panjang.

Setiap orang membaw a satu tambur, dipukulnya amat nyaring. Muka mereka nampak beringas, tetapi gerakannya menunjukkan sipat mereka yang bodoh.

Semua orang yang menghadapi pemandangan itu, mempunyai kesan serupa, ialah seperti berada ditengah- tengah daerah manusia yang masih liar. Tetapi semua tahu bahwa tempat yang diinjaknya masih merupakan salah satu tempat dari daerah Tionggoan.

Cie lu i Kiam khek setelah pasang mata memandang mereka, telah menemukan rahasia manusia liar itu. Karena rombongan orang liar itu meskipun sekujur badannya dipoles dengan tanah, untuk menyaru sebagai orang liar, tapi ketika berjalan dengan gerakan mencak- mencak, mereka semua menggunakan ilmu meringankan tubuh sejenis ilmu terbang keatas rumput. Jelaslah sudah bahwa orang orang liar itu adalah orang-orang Kang ouw yang menyaru.

Nyalinya mulai bertambah besar, berkata kepada kawannya.

"Saudara-saudara jangan lengah, orang-orang ini adalah orang orang Kangouw juga yang menyaru, tidak susah untuk kita hadapi Asal kita berani dan berlaku tenang, kita pasti menang!"

"Suto Tayhiap benar, aku juga sudah lihat gerakan mereka!" berkata Khong ciok Gin cee.

Mereka semua adalah orang-orang Kang Ouw kawakan. Sudah tentu tidak mudah dibohongi. "Namun demikian," berkata pula Khong ciok Gin cee, "kita juga tidak boleh terlalu gegabah, kita harus ingat bahwa selama beberapa tahun sudah banyak orang yang coba menyelidiki Kampung Setan ini, tapi semua tak kembali.

Dalam hal in i pasti ada tersembunyi senjata yang sangat ampuh yang merenggut jiw a orang-orang itu. Maka kita perlu siap siaga lebih dulu, jangan sampai terbokong oleh musuh!"

Saat itu, orang orang liar Itu mendadak menghentikan suara tamburnya, suasana menjadi sunyi kembali. Tetapi sebentar kemudian mendadak disusul oleh suara teriakan mereka

"Awas!" demikian empat sekawan keluarga Liong mendadak memperingatkan kaw an-kaw annya. Kemudian memutar senjata masing-masing.

Dari jauh, hanya tampak sinar berkeredepan, tidak tampak bayangan orang dibarengi dengan suara teriakan-teriakan, lari ke tempat banyak orang berdiri.

Cie lui Kiam khek memperingatkan kepada kawan- kawannya.

"Saudara-saudara awas, in ilah serangan yang dinamakan meniup anak panah !"

Badannya segera diputar demikian rapat, hingga sebuah anak panah yang menyambar dirinya telah terjatuh, tidak satupun yang bisa menembus.

Pada waktu itu. Khong-ciok Gin cee mengeluarkan senjatanya yang istimewa, ialah sebatang tusuk konde yang agak besar bentuknya, dengan senjatanya yang istimewa itu, ia telah berhasil menangkis anak panah yang menghujani dirinya.

Giok hu Kie su yang lukanya belum sembuh, dilindungi oleh si Ayam emas Seng Sie. Orang she Song ini hanya dengan menggunakan sepasang tangan kosong, menyampok jatuh semua anak panah yang menyerang dirinya.

Jago tombak she Hok yang satu muridnya dan anaknya terluka. nampaknya yang paling beringas, dengan menggunakan senjata pendeknya, telan berhasil memukul jatuh semua anak panah.

Kawanan orang liar itu ketika menyaksikan serangannya telah gagal, masing-masing lalu mengeluarkan senjata pendek, dengan beringas menyerbu Cie lui Kiam khek dan kaw an kaw annya.

Jago tombak she Hok yang dendam sakit hati, yang bergerak lebih dulu, membuka satu serangan. Senjata pendeknya dilontarkan, tepat mengenai salah seorang musuhnya. Tangan kirinya juga tidak tinggal diam, dengan secara ganas menyerang salah seorang liar yang berada paling dekat.

Orang itu menjerit, tidak ampun lagi lantas jatuh dan binasa seketika itu juga. Dengan demikian, orang-orang liar itu menjadi kalap, maka mereka semakin beringas, suara mereka semakin keras.

Cie lui Kiam khek juga sudah turun tangan, karena melihat jumlah musuh tetap banyak dari pada fihaknya sendiri, maka ia bertempur secara nekad. Ketika pedangnya digerakkan, dengan cepat sudah memint a korban, seorang liar tertembus dadanya dan mati seketika itu juga.

Khong ciok Gin cee yang sudah pernah menghadapi pertempuran besar, bisa berlaku tenang. Hanya dengan dua tangan kosong, ia gunakan untuk memerangi dua orang musuh.

Dua orang liar yang diserang itu mengetahui hebatnya serangan itu, buru-buru lompat mundur, hingga terhindar dari kematian.

Tapi serangan Khong ciok Gin cee tidak berhenti sampai disitu saja, dengan sikap dan gerakan  yang  sama, serangan dialihkan kearah lain, kali ini ditujukan kepada dua orang yang berada dibelakangnya, yang sedang menyerang Giok bu Kie su.

Dan orang liar yang perhatiannya ditujukan kepada Giok hu Kie su, ketika diserang oleh Khong ciok Gin cee, tidak ampun lagi lantas rubuh binasa dua-duanya.

Khong ciok Gin ce selagi hendak melancarkan serangannya lagi, ditengah udara tiba-tiba terdengar suara aneh, seekor  burung Garuda terbang menukik hendak menyambar dirinya.

Karena ia sudah tahu keganasannya burung itu, maka ketika tampak burung itu muncul lagi, perasaannya lantas tegang. Buru-buru ia lompat mundur dan mengeluarkan senjata tusuk kondenya.

Senjatanya dilontarkan keatas sambil memperhatikan kawan-kawannya.

Serangan dengan senjata istimewa itu sangat hebat, tetapi burung Garuda itu dengan sangat cerdik dapat mengelak, kemudian berbalik menyerang Cie lu i Kiam khek.

Cie lui Kiam khek sudah disiapkan pedangnya, hingga burung Garuda itu kembali arahkan sasarannya kepada dirinya si Ayam emas Song Sie.

Burung raksasa itu agaknya bermaksud hendak mengacaukan barisan para tokoh rimba persilatan itu, karena ketika Song Sie melepaskan korbannya dan alihkan kepada diri burung itu, burung  yang  sangat cerdik itu lalu terbang lagi.

Dengan munculnya burung Garuda raksasa itu, telah mengingatkan Cie lui Kiam-khek kepada burung Garudanya yang terkurung dalam rumahnya. Kini mengertilah ia bahwa burung garuda itu  bukanlah burung sembarangan. Tetapi siapakah orangnya yang mempunyai kepandaian menjinakkan burung itu.

Kecuali Kakek penjinak Garuda, barangkali sudah t idak ada orang lain lagi. Kalau begitu, apakah si Kakek penjinak Garuda itu berani disekitar Kampung Setan ini ?

Tiba-tiba ia juga teringat kepada cerita Su to Cian Hui, tentang kakek ditepi danau yang sangat misterius itu.

Mendadak ia menepuk pahanya sendiri dan berseru: "Aha! Demikianlah rahasia Kampung Setan ini !"

Mendadak ia diliputi rasa  takut demikian hebat, seolah-olah bahaya maut sudah mengintai dirinya.

Khong ciok Gin cee belum pernah menyaksikan Cie lui Kiam khek ini ketakutan demikian rupa, maka lantas menanya:

"Su to Tayhiap, apakah artinya ucapanmu tadi ?" Cie lu i Kiam khek mengerti bahwa apa yang terpikir dalam hatinya itu tidak boleh diberitahukan pada kaw an kawannya. Tapi jikalau tidak, semua pasti akan binasa ditangan kawanan orang liar itu, maka ia terpaksa menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Tidak berarti apa-apa, masing-masing hati-hati sendiri-sendiri saja!"

Munculnya burung Garuda itu, seolah-olah memberi semangat kepada orang orang liar itu. Mereka berteriak- teriak semakin nyaring. Rombongan Cui lui Kiam khek yang harus menghadapi serangan dari atas dan depan, agaknya mulai kewalahan.

Keadaan berubah dengan cepat, beberapa puluh orang liar tiba-tiba berlompat-lompatan dengan golok terhunus ditangan, mulutnya bersorak sorai.

Cie lui Kiam khek diam-diam menghela napas, pikirnya: "pantas semua orang rimba persilatan yang pergi menyelidiki Kampung Setan ini tidak ada yang kembali, kiranya kecuali serangan manusia liar in i, juga masih harus menghadapi burung Garuda yang sangat ganas dan cerdik itu. Aih, kali in i aku benar-benar juga tidak bisa pulang lagi."

Mengingat itu semua, ia merasa menyesal. Tetapi semuanya sudah terlambat.

Dengan satu serangan tangan kosong ia berhasil memukul mundur dua orang liar. matanya ditujukan kedepan, dimana terdapat rimba lebat dan luas. Harapannya yang sudah pudar timbul lagi, pikirnya, kalau aku sekarang pura-pura kalah dan melarikan diri, selagi sikakek penjinak Garuda itu belum t iba disini, lari masuk kedalam rimba yang lebat itu, sikakek itu barangkali juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Pikirannya itu dengan cepat lantas akan dilaksanakan, ia mendekati Khong ciok Gin-cee, dan berkata padanya dengan suara pelahan.

"Lo enghiong. lekas beritahukan kepada semua kawan, kita harus mencari kesempatan untuk melarikan diri. Kau jangan tanya dulu, nanti setelah tiba dirumah, aku akan beritahukan padamu apa sebabnya!"

Sungguhpun Khong elok Gin cee tidak mengerti kelakuan kawannya itu tetapi karena menyaksikan sikapnya yang sungguh-sungguh, ia tahu pasti ada sebabnya, maka juga tidak menanya. Dengan cepat mendekati semua kaw an kaw annya untuk memberitahukan maksud Cie lui Kiam khek itu, kemudian mengikuti Cie lui Kiam khek melarikan diri ke dalam rimba.

Hanya jago tombak she Hok, karena panas hatinya dengan kematian muridnya dan luka anaknya, tidak mau lari. Dengan hati panas berkata kepada diri sendiri: "Siapa yang bernyali kecil, boleh kabur, disana ada dunia bebas, tidak ada bahaya!"

Dengan sikap mengejek, ia mengawasi berlalunya kawan-kawan itu, tiba-tiba maju tiga langkah. Dengan senjata yang dapat direbutnya dari tangan salah satu musuh. Ia tetap mengadakan berlawanan dengan gigih sambil melindungi anak muridnya.

Rombongan orang liar itu ketika melihat musuh musuhnya lari kedalam rimba, lalu memukul tambur masing-masing, menimbulkan suara amat riuh. Kita tinggalkan dulu orang-orang yang berusaha melarikan diri in i, sekarang mari kita balik kepada Ho Hay Hong, yang sembunyikan diri didalam goa yang sangat gelap.

Dengan badan didalam goa, ia tongolkan sedikit kepalanya, untuk menyaksikan pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Ia tidak meragukan dari mana datangnya orang liar itu, pikirannya ditujukan kepada burung Garuda yang muncul secara tiba-tiba itu. Karena pelat perak yang tertampak olehnya dibawah sayap burung itu, ternyata sama benar dengan pelat perak dibaw ah sayap burung Garuda yang dikurung oleh Cie lui Kiam khek.

Tiba-tiba hidungnya dapat mencium bau harum terbaw a oleh desiran angin, buru-buru sembunyikan kepalanya. Tetapi ternyata sudah tidak keburu! Sesosok bayangan putih berdiri dihadapannya.

Kedua fihak berdiri berpisah sejarak kira-kira tiga tombak. Karena keadaan dalam goa itu gelap maka Ho Hay Hong tidak melihat nyata wajah bayangan itu.

Munculnya bayangan putih secara tiba-tiba itu. sangat mengejutkannya, Ia berdiri terpaku, lama tidak bisa bicara.

Terlint as suatu pikiran hendak menyingkir tetapi keadaan tidak memungkinkan lagi.

Dalam keadaan kepepet itu timbullah pikirannya hendak memberi perlawanan. Matanya di buka lebar, hendak menegasi siapa adanya bayangan itu. Bayangan putih itu jelaslah bukan si-Kakek misteri itu, karena bukan rambutnya yang putih, melainkan seluruh pakaiannya. Juga merupakan seorang perempuan muda, yang sepasang kakinya dalam keadaan telanjang.

Hatinya mulai lega, ketenangan perempuan itu meski sangat menakjubkan, tetapi bagaimanapun juga jauh lebih lunak daripada si kakek rambut putih.

Perempuan itu berdiri tidak bergerak, dan ia berdiri juga tidak bergerak, keduanya berdiri tegak saling berpandangan bagaikan patung.

Perempuan muda kaki telanjang itu memandang dirinya dengan sinar mata dingin kemudian, lambat lambat mengeluarkan sepotong kertas dari dalam saku bajunya dan diberikan kepadanya.

Ho Hay Hong menyambar kertas itu dengan tegang. Ketika dibacanya, dikertas itu terdapat tulisan yang berbunyi: "Harap tuan habiskan jiw a sendiri, jangan sampai mengotorkan tanganku."

Meskipun perasaannya masih tegang, tetapi setelah membaca surat itu, Ia lantas berkata dengan nada mengejek:

"Aku t idak ingin mendengar nasihatmu. Jika aku ingin mati, aku bisa pergi sendiri, kalian tidak perlu ikut capek hati !"

Mendengar jaw aban itu, wanita muda itu mengeluarkan lagi sepotong surat dan diberikan kepada Ho Hay Hong. Dikertas itu kini terdapat tulisan yang berbunyi: "Siapa berani membangkang, harus menerima kematian, tanpa ampun."

Ho Hay Hong setelah membaca tulisan itu, bukan saja perasaan tegangnya lenyap seketika, bahkan dianggapnya sangat lucu.

"Kau selalu menggunakan tulisan untuk menggert ak orang, apakah aku benar-benar bisa mati?"

Kembali perempuan muda itu mengeluarkan sepotong kertas yang dibeberkan dihadapannya, diatas kertas itu terdapat tulisan: "Itu salahmu sendiri, jangan sesalkan aku buas."

Ho Hay Hong semakin geli katanya:

"Kalau kau mempunyai kepandaian membinasakan aku, sudah tentu aku t idak akan sesalkan perbuatanmu. Tetapi aku kira tulisanmu itu belum tentu dapat dipercaya seluruhnya."

Diam-diam iapun merasa heran mengapa perempuan itu tidak membuka mulut? Apakah ia seorang gagu?  Kalau benar demikian halnya, sesungguhnya sayang sekali.

Mata gadis kaki telanjang itu mendadak membelalak, memancarkan sinar tajam. Melihat perubahan itu, Ho Hay Hong dengan sendirinya lantas siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tidak sepatah kata keluar dari mulut gadis itu, tetapi kedua tangannya mendadak bergerak, bagaikan ular menyambar Ho Hay Hong. Ho Hay Hong yang sudah tidak ada jalan mundur, terpaksa menyambut dengan tangannya. Sebentar terdengar suara beradu yang sangat nyaring, tangan Ho Hay Hong tiba-tiba menjadi lemas, kehilangan tenaga

Dengan membalikkan telapak tangannya, gadis itu telah memukul jatuh Ho Hay Hong.

Dalam satu gebrakan gadis itu telah menjatuhkan seorang yang berkepandaian seperti Ho Hay Hong, kejadian itu sesungguhnya sangat mengherankan.

Ho Hay Hong sendiri juga tidak menduga bahwa gadis cantik molek yang kelihatan lemah gemulai itu mempunyai kepandaian demikian mengherankan. Ketika menyadari bahwa tadi ia agak memandang ringan, lawannya ternyata ia sudah terlambat.

Ia tahu bahwa dirinya telah tidak mempunyai kekuatan tenaga untuk memberi perlawanan, maka ia menyerah menunggu kematiannya.

Gadis kaki telanjang itu mengangkat badan Ho Hay Hong, lantas membaw anya pergi.

Ho Hay Hong merasa sangat malu. tetapi ia diam saja. Diam-diam ia berusaha memulihkan kembali tenaganya, tetapi t idak berhasil.

Gadis itu terus berjalan tanpa berhenti. Badan Ho Hay Hong yang berat, diangkatnya.seperti bukan apa apa.

Perjalanan itu nampaknya sangat panjang, gadis itu berjalan cukup cepat, tetapi begitu lama belum t iba juga ditempat tujuannya.

Akhirnya, Ho Hay Hong mendengar suara aneh, kemudian disusul dengan tiupan angin, ia segera mengerti bahwa kini mereka sudah keluar dari jalan dibawah tanah.

Suara aneh itu ia belum pernah didengarnya. Ketika ia membuka mata, benar saja sebuah patung besar berdiri tegak dihadapannya.

Dari penerangan sinar rembulan remang-remang, ia mencuri lihat wajah gadis itu. Bukan main cantiknya, hingga hatinya berdebar-debar.

Ia lupa bahwa jiw anya berada dalam tangan orang. Dengan tenang seenaknya ia menikmati kecantikan gadis itu. Diam diam ia juga membandingkan gadis itu dengan kecantikan Su to Cian Hui, yang disebut duluan adalah mempunyai kecantikan dari gadis agung pendiam, sedang yang tersebut belakangan mempunyai kecantikan dari gadis remaja yang lincah segar.

Gadis itu agaknya sadar bahwa dirinya dipandang orang. Sinar matanya yang tajam segera berubah. Agaknya ia ing in bertanya, tetapi karena merasa yakin keagungan seorang gadis, ia segan untuk menanya. Hanya pipinya kemerah-merahan. Agaknya ia merasa malu.

Sikap kemalu-maluan itu nampaknya semakin menggiurkan. Wajah gadis seperti ini belum pernah dilihat Ho Hay Hong. Aneh dalam segala-ga lanya. Kalau Ia memandang orang, matanya selalu tidak berkedip.

Orang Kang ouw kawakan seperti Cie lui Kiam-khek pun tidak akan sanggup berhadapan mata dengan gadis itu, apalagi dia. Tetapi ia lupa bahwa ia adalah seorang laki muda belia dan cakap rupawan, sudah tentu berlainan dengan Cie lui Kiam khek. Dari perubahan sikap gadis itu, Ho Hay Hong telah menarik kesimpulan bahwa gadis itu pastilah seorang yang mempunyai sifat lengkap. W anita semacam ini kalau bergerak lincah gesit bagaikan kuda liar. Kalau diam, angkuh agung melebihi wanita yang paling agung.

Gadis itu meletakkan Ho Hay Hong di tanah, sedang ia sendiri disamping seolah-olah sedang menantikan apa apa.

Ho Hay Hong yang biasanya diam tidak suka banyak bicara, pada waktu itu entah apa sebabnya, mendadak ingin bicara dengan gadis itu, Lama ia berpikir untuk mencari bahan pembicaraan, akhirnya berkata:

"Aku sudah mengerti, bahwa kau memang seorang penduduk Kampung Setan.  Meskipun sekarang kau menguasai jiwaku, tetapi aku juga menguasai salah satu barang pusaka kalian!"

Gadis itu mendengarkan dengan penuh perhatian.

Diwajahnya tertulis suatu perasaan kaget.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir. Gadis Itu  meski tidak bisa bicara, tetapi toh ia masih bisa mendengar,

"Urusan ini aku sebetulnya tidak ingin mengatakan," demikian ia berkata lagi, "tetapi, orang yang hendak berangkat mati, kukatakan juga tidak apa. Kau pasti akan merasa heran, mengapa aku bisa menguasai salah satu barang pusaka kalian? Terus terang, kampung setan ini dua hari berselang aku pernah datang satu kali, waktu  itu aku tidak mengetahui segala-galanya mengenai tempat ini, juga tidak diketahui oleh orang-orang kampungmu, kalau kau ingin tahu barang pusaka apa itu yang berada didalam tanganku, harap kau anggukkan kepala!"

Gadis itu setelah mendengarkan uraian yang panjang lebar itu, benar saja lantas menganggukkan kepala. Dengan demikian Ho Hay Hong membuktikan dugaannya.

"Barang itu merupakan sebilah pedang pusaka namanya pedang pedang Garuda sakti!"

Gadis  itu mendadak membuka mulut:

"Apa? Kaukah yang mencuri pedang pusaka itu?"

Ia agaknya tersadar bahwa dirinya sudah  salah omong. Ini Berarti ia sudah membuka rahasia tempat itu, maka buru buru ia menutup mulut. Tetapi Ho Hay Hong sudah mendengar dengan jelas, sehingga untuk sesaat ia merasa bingung. Pikirnya:

"Hm! Kau jelas bukanlah seorang gagu, mengapa pura-pura tidak bisa bicara?"

Namun demikian, ia tidak mau mengunjukkan perasaan herannya, katanya sambil tertaw a hambar.

"Semula aku kira kau seorang gagu, tak kusangka suaramu demikian merdu."

Gadis itu tidak dapat berlaku pura-pura lagi, katanya dingin.

Sikap tadi itu menunjukkan, betapa besar perhatiannya terhadap pedang pusaka itu hingga hati Ho Hay Hong tergerak. Ia pikir pedang itu pasti ada hubungannya dengannya jikalau  tidak, tidak nanti menunjukkan perhatiannya demikian besar. Tiba-tiba ia tidak ingin mati, hendak menggunakan pedang pusaka itu menukar jiwanya.

Maka ia pura-pura bersikap misterius, katanya sambil tertaw a:

"Ini maaf aku tidak dapat memberitahukan, kalian perlakukan diriku demikian buruk tanpa sebab, hendak mengambil jiwaku, tidak perlu aku berlaku baik."

"Kau benar-benar seorang pintar, aku kira ketika aku bicarakan soal in i tadi, dalam hatimu sudah ada rencana!"

"Sudah tentu, aku tidak mau mati konyol!" "Apa artinya ucapanmu ini?"

Ho Hay Hong yang sudah berpikir masak masak pura- pura berlaku hambar. kepalanya menengadah mengaw asi rembulan, katanya lambat-lambat.

"Kau juga tahu. bahwa bagi manusia yang terpenting ialah nyawa. Jikalau aku kehilangan nyawa tanpa mengetahui apa sebabnya, bukankah itu sangat penasaran? Maka itu, aku harus berusaha untuk mempertahankan jiwaku."

"Maksudmu, apakah kau ingin menggunakan pedang itu untuk menukar jiwamu?"

Ho Hay Hong pura pura kaget, lalu berkata sambil menganggukkan kepala.

"Ow, kau sungguh pandai, tepat sekali dugaanmu!"

Gadis itu nampak ragu-ragu. "Tentang ini aku harus menanya ayahku dulu baru bisa mengambil keputusan!"

"Ayahmu apakah kakek rambat putih itu ?" Gadis itu terkejut, katanya sambil menggelengkan kepala.

"Kau keliru, ayahku adalah. "

Dengan sinar mata dingin Ho Hay Hong memandang gadis itu, kemudian memotongnya.

"Kau tak perlu menjelaskan, aku sudah tahu siapa ayahmu!"

Gadis itu kembali terkejut, "siapa?" "Manusia liar!"

Mendengar  ucapan itu,  wajah gadis  itu berubah

seketika, katanya dengan suara keras: "Kau berani menghinaku."

Tangannya tiba-tiba diangkat, menampar dua kali dipipi Ho Hay Hong, lalu  berkata lagi. mengandung peringatan:

"Kalau kau berani mengatakan ucapan serupa itu lagi, jangan sesalkan aku berlaku tak kenal kasihan!"

Ho Hay Hong yang belum pernah terhina orang wanita, setelah ditampar pipinya, dalam hati sangat marah. Tetapi ia adalah seorang laki-laki berjiwa besar, dengan menekan hawa amarahnya, ia berkata dengan nada suara dingin:

"Mengapa membohongiku? Siapa ayahmu kau kira aku tak tahu? Hmm!"

"Pikirkan masak-masak ucapanmu tadi apakah tidak menyakiti perasaan orang? Kau disini menunggu keputusan ayah, aku tak mau bicara denganmu!" Pada saat itu, telinga Ho Hay Hong mendadak menangkap suara jeritan ngeri. Suara yang mengerikan itu datangnya dari arah selatan. Suara yang mengerikan itu seolah-olah keluar dari mulut seseorang yang mengalami nasib mengenaskan.

Mendadak ia bangkit, tetapi baru berjalan beberapa langkah, Ia sudah jatuh terduduk lagi, tahu bahwa Cie lui Kiam khek dan lain lainnya mungkin sudah ada yang dibinasakan oleh orang-orang dari Kampung Setan. Akan tetapi, ia sendiri nasibnya berada ditangan orang, sekalipun ingin memberi bantuan juga t idak bisa.

Suara jeritan itu, agaknya juga membingungkan gadis itu, matanya ditujukan ke-tempat gelap tanpa berkejap.

Dengan tiba tiba sesosok bayangan orang muncul dibawah patung. Dari mana datangnya dan sejak kapan bayangan itu berada di situ, Ho Hay Hong tidak tahu. Dengan mata tidak berkedip, ia mengawasi gerakan bayangan itu.

Bayangan orang itu diam-diam berjalan kesamping gadis berkaki telanjang, lalu menanya dengan suara perlahan:

"Kemana ayah?"

"Aku tidak tahu," jaw ab gadis itu agak bingung.

Bayangan orang itu mengangkat tangannya, rambut panjang dan putih yang menutupi kepalanya segera terbuka, lalu tampaklah satu wajah yang tampan.

Ho Hay Hong yang menyaksikan orang itu meskipun masih muda usianya, tetapi berkepandaian sangat t inggi. Semula dikiranya si Kakek yang dilihatnya ditepi danau Lok ing ouw, tetapi anggapan itu dibantahnya sendiri karena wajah yang dilihatnya ditepi danau itu jelas wajahnya seorang tua.

"Adik, disini masih ada yang hidup, bagaimana bisa terjadi?"

Pemuda itu mengedip-ngedipkan matanya yang tajam, berkata lagi kepada diri sendiri:

"Pantas aku tadi mendengar suara angin agak kotor, kiranya adalah suara napasnya?"

Ucapan itu sebetulnya tak disengaja, tetapi Ho Hay Hong yang mendengarkan, diam-diam merasa kaget. Ia sungguh tak menduga bahwa tamu aneh yang masih sangat muda usianya itu, ternyata memiliki kekuatan tenaga dalam demikian sempurna.

"Jangan sentuh dia, tunggu ayah sendiri yang membereskannya." demikian gadis itu berkata.

"Apa yang telah terjadi?" tanya sipemuda aneh. "Dia adalah orang yang mencuri pedang itu."

Pemuda itu memandang Ho Hay Hong lagi sejenak, Ho

Hay Hong lalu berkata:

"Memang benar, pedang Garuda sakti berada ditanganku!"

"Kau adalah orang yang mencuri pedang itu, mengapa tidak mau mengembalikan? Apakah kau tidak tahu bahwa Kampung setan ini angker?"

Melihat sikap pemuda yang amat sombong itu. Hati Ho Hay Hong merasa mendongkol, katanya: "Aku bukan orang daerah Tionggoan, perduli apa dengan Kampung dewa atau Kampung setan: Asal aku dibebaskan, pedang itu akan kukembalikan  kepada kalian, jikalau t idak aku tidak ingin mati konyol."

"Orang yang menginjak tanah Kampung setan, semua harus mati, tidak ada yang hidup, apakah kau belum mengerti?" berkata pemuda itu gusar, tangannya diletakkan dipundak Ho Hay Hong, hingga Ho Hay Hong merasa kesakitan. Pe muda itu berkata pula sambil tertaw a mengejek:

"Baru begini saja kau sudah meringis, benar-benar seorang yang tak ada gunanya."

Ho Hay Hong diam saja, ia melihat baju dibawah bagian lengannya sudah hancur semua, entah menggunakan kepandaian ilmu apa pemuda itu dapat menghancurkan bajunya sedemikian rupa. Meskipun ia mengagumi kepandaian pemuda itu, tetapi ia tidak suka dengan sikapnya yang sombong.

Pemuda itu menyentil dengan jarinya, hingga  baju yang sudah hancur itu menjadi berantakan. Selagi hendak mengejek lagi. matanya tiba-tiba dapat  lihat tanda cacahan seekor burung Garuda dilengan Ho Hay Hong, hingga seketika itu ia memandangnya dengan mata membelalak dan mulut menganga.

Cepat ia membalikkan badan dan berkata  kepada gadis kaki telanjang:

"Adik, apakah kau pernah dengar ceritera ayah." "Pernah, mengapa koko menanyakan soal ini?" jawab

gadis itu heran. "Coba kau lihat !"

Gadis itu tujukan matanya kearah lengan Ho Hay Hong yang ditunjukkan oleh pemuda misteri itu. Mendadak ia terkejut.

"Apa itu ?"

"Kau berani jamin tidak akan memberitahukan hal ini kepada ayah?" berkata pemuda itu, kemudian bisik-bisik ditelinganya: "Aku ingin bunuh dia !"

"Koko, jangan!" demikian gadis itu menentang maksud kokonya, "pedang pusaka itu adalah  barang sangat penting bagi kita, tidak boleh hilang untuk selama- lamanya."

"Adik, apakah kau benar benar tidak mengerti?" kata sang koko, kemudian dengan bisik-bisik: "dia bukan orang baik-baik, mau t idak mau harus dibunuh!"

"Jangan koko, kau terlalu egois." Dengan perasaan kurang senang pemuda itu menatap wajahnya, katanya sambil mengibaskan lengan bajunya.

"Baiklah, aku tidak mau perdulikan lagi. Selanjutnya kau juga jangan panggil aku koko lagi!"

Sehabis berkata demikian, ia lantas menghilang.

Gadis itu mengaw asi kearah menghilangnya pemuda tadi, otaknya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Sebentar kemudian, diw ajahnya terlint as suatu perasaan tegas, lambat-lambat membalikkan badan dan berkata kepada Ho Hay Hong:

"Baiklah, aku terima baik permint aan mu, untuk menukar pedang dengan jiw anya, tetapi aku harus ikut pergi mengambil, supaya kau t idak bisa menipu aku!" "Cara ini baik sekali, setelah mengambil kembali pedangmu, kau lantas bunuh aku!"

Gadis itu mengunjukkan paras cemberut, katanya sambil cibirkan bibirnya:

"Apa katamu? Apa kau kira aku orang semacam itu?"

Ho Hay Hong telah memikirkan bahwa pedang itu sudah berada dalam tangan pemimpin golongan Lempar batu, bagaimana ia harus mengambil kembali?

Karena kesulitan itu, maka akhirnya Ia berkata:

"Aku lebih suka mati ditanganmu tidak mau tertipu !" "Apa sebetulnya yang kau inginkan!?"

"Aku akan  pulang seorang  diri  untuk mengambil

pedang itu akan kuletakkan disuatu tempat yang sudah kita janjikan. Jikalau tidak, diwaktu aku menyerahkan pedang, kau masih mendapat banyak kesempatan untuk melakukan perbuatan yang tidak menguntungkan diriku."

"Kau pintar sendiri, apabila kau pergi tidak kembali, bukankah aku akan kehilangan dua-duanya?"

Ketika mengucapkan kata-kata terakhir, ia agaknya merasa bahwa ucapannya itu kurang tepat, hingga mukanya merah seketika.

Ho Hay Hong tidak memperhatikan perubahan kecil itu, berkata sambil membusungkan dada:

"Kalau kau sedikitpun tidak percaya kepadaku, aku juga t idak bisa berbuat apa apa, terserah pada yang kau kehendaki!"

Melihat sikap Ho Hay Hong yang sungguh-sungguh, gadis itu lantas berkata. "Baiklah aku mengalah lagi!" Matanya menatap wajah Ho Hay Hong, "hanya kau harus bersumpah dulu terhadap aku, tidak membocorkan rahasia Kampung setan kepada siapapun juga."

Ho Hay Hong terperanjat, Ia berusaha supaya perasaannya itu tidak terlihat oleh sigadis, katanya.

"Kau jangan khaw atir, tentang rahasia Kampung setan, apa yang kuketahui sebetulnya sedikit sekali!"

"Sekarang begini saja, setelah kau ambil pedang pusaka itu, kau tanam di bawah pohon kayu putih, satu- satunya pohon yang daunnya putih ditepi danau Lo king ouw. Kuberikan waktu sampai besok, sebelum tengah hari jikalau tidak, besok sore aku akan datang untuk mengambil pedang itu, kalau tidak ada, aku akan mencari kau untuk membuat perhitungan!"

"Tidak bisa, pedang itu kusimpan ditempat yang  sangat rahasia, setidak tidaknya masih harus makan waktu tiga hari baru dapat kuambil."

Dalam perhitungannya dalam waktu tiga hari itu masih ada kesempatan untuk minta kembali pedangnya kepada pemimpin golongan lempar batu. Tetapi itu juga merupakan suatu pertanyaan, dalam waktu itu bisa minta kembali pedangnya atau tidak, ia sendiri juga tidak berani memastikan. Meskipun sangat berbahaya, tetapi ia sudah tidak mempunyai pilihan lain, terpaksa menempuh jalan untung-untungan.

Gadis itu setelah menghitung-hitung sejenak kemudian berkata sambil menganggukkan kepala.

"Kuperhitungkan dari sudut yang paling buruk dulu, taruh kata kau kabur, dalam waktu tiga hari, paling banter kau dapat mencapai perjalanan t iga ratus pal, aku masih bisa menangkap kau kembali. Baiklah, aku terima baik permint aanmu ini."

Ho Hay Hong tertaw a, "demikianpun kita tetapkan !"

Kesan pemuda pendiam itu, gadis kaki telanjang ini meskipun sikapnya agak galak, tetapi hatinya masih putih bersih.

"Lekas kau pergi, sebentar kalau mereka datang kau tidak bisa pergi lagi! Lagi pula aku juga tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi dirimu hingga kedua pihak sama-sama tak ada untungnya!"

"Kenapa aku harus pergi yang agak aman."

"Sekarang ini semua penjuru sudah terkurung rapat kawan kaw anmu pasti sih, pergilah menuju kejalan bawah tanah, kemudian kau kabur kedanau lok ing ouw."

"Terima kasih atas kebaikanmu, dilain waktu"

Belum habis kata-katanya, pundaknya mendadak ditepuk oleh si gadis itu. seketika itu juga perasaan lemasnya lenyap, darah dalam tubuhnya mengalir seperti biasa lagi, begitupun kekuatan tenaga dalamnya juga sudah pulih kembali, hingga diam-diam ia merasa girang.

Ia t idak mau membuang waktu, dengan langkah lebar ia masuk kedalam gua, telinganya masih dengar kata- kata si gadis: "Setelah kau keluar dari dalam rimba, itu berarti kau sudah menginjak tanah bebas !"

Setelah, itu, terdengar suara keresekan. Mendadak gua itu gelap gulita, kiranya jalan masak kedalam gua itu sudah tertutup oleh patung besar itu. Ia tahu bahwa itulah jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya maka dengan menindas rasa takutnya, ia berlari-larian didalam jalan dibawah tanah itu.

Keluar dari jalan bawah tanah, terus lari menuju kekota. Saat itu baru saja lewat jam satu malam. Tanpa menoleh ia terus lari menuju ke gedung Kanglam Bu koan.

Tiba didepan pintu gedung, ruangan tamu masih terang benderang, jelaslah sudah terjadi apa-apa. Ia pura-pura jalan-jalan dulu ketaman, kemudian baru masuk keruangan tamu.

Dalam ruangan tamu itu tampak banyak orang sedang duduk dalam keadaan diam, mereka itu adalah Cie lui Kiam khek, Khong ciok Gin cee, si Ayam Emas Song Sie, dan Giok bu Kie su serta yang lainnya, sedang empat serangkai keluarga Liong tidak nampak.

Pakaian orang orang itu sudah hancur, di sana sisi di badan mereka terdapat banyak luka, seolah-olah baru melakukan pertempuran hebat.

Empat orang itu ketika melihat Ho Hay Hong kembali, semua membuka mata dan menganggukkan kepala kepadanya.Cie lui Kiam khek mencoba berlaku tenang, katanya sambil tertaw a:

"Menurut keterangan anakku, katanya Ho siauhiap juga pergi ke Kampung Setan?"

-oood0-0wooo-