Rahasia Kampung Setan Jilid 04

 
Jilid 04

"AKU DENGAR So hong Kowkhek katakan adalah muridnya Lam kiang Tay bong, Tang Siang Su cu. Namun sangat terkenal didaerah perbatasan, hampir semua orang tahu. Aku juga pernah dengar namamu. sayang tidak mendapat kesempatan bertemu muka denganmu, tak didugaha, ha, dengan terus terang, terhadap Lam kiang Tay-hong, aku sendiri tidak mempunyai ganjalan apa-apa dengannya, semua saling mengerjai, mengapa kita bisa bersahabat ?"

"So hong Kow khek omong kosong, kau jangan percaya padanya!" berkata Ho Hay Hong.

"Akh, saudara Ho. kau tidak perlu mengelabui  aku, aku tahu bahwa saudara Su to mempunyai anggapan lain terhadap Lam kiang Tay bong mungkin ada sedikit ganjelan. Tetapi kau tidak perlu gusar, Lam kiang Tay bong adalah orang besar. Lama kelamaan, pandangan itu pasti bisa berubah sendiri. Selama waktu ini kau juga tidak perlu mengadakan pertanyaan apa apa. Nanti setelah anggapan saudara Su to berobah, baru mencari jalan yang sebaik-baiknya, aku pasti melindungi rahasiamu." Ho Hay Hong diam-diam merasa heran, entah apa sebabnya Sun hong Kow khek mengatakan dirinya Teng siang Su Cu murid Lam kiang Tay bong?

Dia pikir Sun hong Kow khek pasti salah paham. Kesalahan paham ini Tampaknya tidak mudah dijelaskan hanya dengan sepatah dua patah kau saja. ia terpaksa menganggukkan kepala, membiarkan si Ayam emas mengoceh sendiri.

Si Ayam Emas ini betul-betul suka mengobrol, mulutnya tidak berhenti mengoceh sendiri sehingga Ho Hay Hong merasa sebal. Ia tahu bahwa orang she Hong ini sangat ingin bersahabat terhadap dirinya, hingga ia mau menduga bahwa Lam kiang Tay-hong itu pasti  orang berkepandaian luar biasa.

Kalau tidak, tidaklah mungkin si Ayam Emas  ini memuji dirinya demikian t inggi.

Selagi Ho Hay Hong hendak menyingkir Gok hu Kie su mendadak menghampiri dan berkata padanya:

"Saudara Ho jangan pergi dulu, mari kita minum bersama-sama."

Ho Hay Hong menyambuti cawan yang disodorkan kepadanya dan diminumnya sampai kering.

la belum pernah minum arak, sewaktu berdiam digunung Ho lan san, kecuali berlatih ilmu silat, waktunya terluang digunakan untuk membaca buku.

Setiap kali kalau melihat gurunya mabok arak, ia diam- diam merasa pilu, dianggapnya arak bukanlah barang yang bermanfaat bagi manusia. Dan kini setelah mencicipi sendiri, benar juga rasanya  pedas, keras, begitu masuk kedalam perut, rasanya mau muntah.

Perutnya merasa  panas, Giok-hu Kie su sudah menyodorkan secawan lagi. kali in i ia jadi serba salah. Karena merasa kurang sopan menolak, maka akhirnya dengan keraskan kepala, minum lagi arak yang disodorkan oleh Giok-hu Kie so.

Ia tahu bahwa Giok hu Kie su bangsa pemabokan, asal ketemu arak, lantas t idak kenal daratan.

"Manusia benar-benar dimana saja bisa ketemu," demikian Giok hui Kie-su mulai buka mulut lagi. "belum lama berselang aku juga pernah dengar dari mulut Siang- koan Lo, bahwa dalam dunia Kang ouw pada dewasa ini muncul seorang jago muda seperti kau ini, tak kusangka hari ini ketemu denganmu disini!"

Mendengar disebutnya nama Siangkoan Lo, pikiran Ho Hay Hong merasa tidak enak, ia memaksakan diri unjukkan senyumannya.

"Sebab musabab kematian Siang koan Lo sudah diketahui," demikian Giok hu Kie su berkata lagi, "pembunuhnya adalah seorang anak muda yang belum pernah muncul didunia Kang ouw. Aih dalam jaman kalut seperti sekarang ini, apa saja bisa terjadi. Dengan seorang bocah yang belum mendapat nama, telah berhasil membinasakan seorang yang namanya sudah sangat terkenal seperti Siang koan Lo."

Mendengar ucapan itu, hati Ho Hay Hong berdebar keras, tanyanya:

"Pembunuhnya sudah tertangkap atau belum?

Bagaimana rupanya?" "Usianya sebaya denganmu, mengenakan pakaian putih. Jangan kau kira usianya masih sangat muda sekali, tetapi hebat kepandaian ilmu silatnya. Hanya beberapa puluh jurus saja, sudah berhasil memukul Siang-koan Lo sehingga terjatuh kedalam selokan, Akh, bocah itu entah mempunyai permusuhan apa dengan Siang koan Lo? Ia telah turun tangan sedemikian berat, diluar  tidak tertampak tanda apa-apa, tetapi dalam tubuh sudah hancur." berkata Giok hie Kie su.

Ho Hay Hong diam-diam berpikir: "celaka, pukulan yang digunakan itu agak mirip dengan pukulan dari golongan Bit-cong dalam perguruannya, apakah Siang- koan Lo benar-benar binasa ditangan suheng?"

"Bocah itu sesungguhnya juga terlalu kejam," berkata pula Giok hie Kie-Su, "setelah membinasakan korbannya, mendadak mengeluarkan senjata belati, hendak memotong kepala Siang-koan Lo. Untung Khong ciok Gin-cee keburu tiba, ketika menampak bahwa orang yang dibinasakan itu betul adalah Siang koan Lo, lalu turun tangan mencegahnya, hingga bocah itu tidak berhasil memotong kepala Siang koan Lo."

Mata Ho Hay Hong terbuka lebar, kini ia telah mendapat kepastian bahwa Siang-koan Lo benar-benar sudah dibunuh oleh suhengnya!

Giok hu Kie su yang tidak memperhatikan perubahan sikap Ho Hay Hong, melanjutkan penuturannya.

"Untuk melindungi supaya jenazah sahabatnya t inggal utuh, Khong ciok Gin cee  bertempur sengit dengan pemuda itu, kekuatan tenaga dalam Khong-ciok Gin cee sudah cukup sempurna, tetapi bocah itu ternyata sangat membandel, dua orang itu bertempur beberapa puluh jurus, tidak ada yang kalah dan yang menang. Akhirnya pembunuh itu agaknya tahu gelagat, ia tahu bahwa sudah tidak mungkin untuk mengambil kepala korbannya maka lantas kabur ke tempat sepi dengan menggunakan ilmunya lari pesat."

Ho Hay Hong kini mendapat kesempatan untuk memperhatikan orang disebut Khong ciok Gin cee itu, ternyata adalah seorang yang telah lanjut usianya, tetapi sedikit pun tak ada tanda-tanda loyo, malah sebaliknya, semangatnya menyala-nyala, sinar matanya tajam, agaknya sangat berwibawa, memang benar seorang tokoh yang mahir sekali tenaga dalamnya.

Terdengar pula suara Giok hu Kie su yang bersemangat:

"Khong ciok Gin cee tidak mau mengerti, ia meninggalkan jenazah Siangkoan Lo, dengan menggunakan ilmunya lari pesat, pergi mengejar, ia ing in menangkap pembunuh itu, supaya dibuat sembahyang didepan jenazah sahabatnya. Apa mau dengan bocah Itu ternyata sangat licik, dengan satu akal licin, ia berhasil mengelabui mata Khong ciok Gin cee mengetahui dirinya tertipu, bocah itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

"Jago tua kita sangat penasaran, ia tidak mengerti apa maksud pembunuh itu? Andai kata benar mempunyai permusuhan dengan Siang koan Lo, tetapi orang sudah mati, tak perlu mengambil kepalanya lagi. Memang sungguhnya terlalu kejam. Disin i bisa diketahui bahwa pembunuh itu sesungguhnya tidak mempunyai perikemanusian. ”Ketika jago tua kita kembali ditempatnya, jenazah Siang koan Lo ternyata sudah tidak ada, hingga ia semakin penasaran, sehingga kini, ia baru tahu bahwa jenazah itu sudah dibawa pulang lebih dulu oleh orang lain. Setelah mengetahui duduk perkaranya, ia baru merasa lega.

"Sewaktu kau masih belum kembali, kita beberapa orang sudah berunding lama, tetapi tidak menghasilkan sesuatu keputusan, pembunuh itu sebetulnya mempunyai dendam apakah dengan Siang koan Lo? Sedangkan yang menjadi suhengnya seperti Cie lu i Kiam-khek juga tidak habis mengerti, siapa sebetulnya pembunuh itu? Apa maksud dan tujuannya melakukan pembunuhannya itu.

"Orang-orang yang mengaku diri sebagai orang-orang Kang ouw kawakan seperti kita ini, sudah merasa pusing kepala, memikirkan peristiw a ini. Yang lebih mengherankan ialah bahwa ilmu kepandaian pembunuh itu agak mirip dengan kepandaian ilmu silat Kakek penjinak Garuda yang sudah menghilang berapa tahun."

Ho Hay Hong bercekat, diam-diam merasa heran, mengapa orang yang menyaksikan kepandaian ilmu silat dari golongannya, semua mengatakan ada hubungan dengan si Kakek penjinak Garuda ! Apakah sebetulnya, hubungan si Kakek penjinak Garuda itu dengan gurunya sendiri? si Dewi ular dari gunung Ho lan san, mengapa memerint ahkan ia mencari jejak Kakek itu?

Semua itu seolah-olah suatu teka-teki, dan ia adalah orang yang yang diliputi oleh serentetan teka teki itu.

Lebih sulit ia memahami maksud gurunya, apa sebabnya memerint ahkan suhengnya untuk mengambil jiw a orang orang itu. Letak gunung Ho lan san jauh dari daerah Tionggoan, lama sudah putus perhubungan dengan dunia  luar. Apalagi sejak ia menanjak dewasa, tidak satu kalipun pernah melihat ada orang asing datang berkunjung, tetapi gurunya. Dewi Ular dari gunung Ho lan-san, belum pernah melangkah keluar dari gunung, bagaimana ia bisa mempunyai permusuhan dengan orang itu?

Perlahan-lahan ia mendekati jago tua Khong ciok Gin- cee, menganggukkan kepala dan tertaw a kepadanya. Jago tua itu menyambutnya dengan satu senyuman simpatik dan mempersilahkan ia duduk.

Ho Hay Hong menurut dan duduk disampingaya, kemudian berkata.

"Sangat tidak beruntung Hong lui Kiam khek telah binasa, kita semua merasa sedih!"

"Kebodohanku yang seharusnya patut disesalkan, jikalau tidak, pembunuhnya tidak bisa kabur dengan leluasa!"

"Mana bisa, Lo enghiong sudah mengeluarkan banyak tenaga. mana boleh disesalkan"

"Mungkin ini adalah takdir Tuhan Yang Maha Esa, aku sudah berbuat sebisanya, untuk memenuhi  kewajibanku."

"Lo enghiong, apakah penjahat itu telah kau pukul luka?"

"Tidak, kepandaiannya tinggi sekali, bahkan aku sendiri yang hampir saja terkena serangannya pedang terbang."

"Ia kabur kearah mana?" "Ke barat, aku mengejar sehingga beberapa puluh pal, akhirnya tertipu oleh akalnya yang siasat lic in. Bocah itu cerdik sekali, aku sebagai seorang Kang ouw kaw akan, juga masih kena dikelabuhi, dapat kita bayangkan betapa lic innya?"

Ho Hay Hong diam-diam menghitung perjalanan beberapa puluh pal, dengan ilmu lari pesat suhengnya itu, hanya memerlukan waktu sekejap saja. la kabur kearah barat menurut perhitungannya, suheng itu kini pasti berada didekat itu saja. Maka, sikapnya mendadak berubah murung.

"Kepandaian bocah itu agak mirip dengan kepandaian ilmu silat siKakek penjinak Garuda dahulu, apa yang kukhawatirkan adalah in i. Kalau benar dia adalah orangnya Kakek itu, urusan ini akan menjadi lebih runyam"

"Apakah Lo enghiong berani memastikan ?"

"Mungkin juga aku salah mata, tetapi asal-usul bocah itu  yang  tidak  jelas,   sesungguhnya   sangat mengkhaw atirkan !"

Dengan sikap sangat serius Cie lui Kiam khek menghampiri, kemudian berkata:

"Tahukah saudara-saudara bahwa jago tombak she Hok itu dengan membaw a semua anak muridnya, kini pergi ke kampung setan untuk mengadakan penyelidikan

!"

"Apa itu benar?" dengan serentak itu semua orang bertanya. "Saudara-saudara semua tahu, bahwa orang orang pergi ke kampung setan, betapa pun tinggi kepandaiannya, betapapun besar nyalinya, tiada satupun yang bisa kembali dalam keadaan hidup Selama beberapa tahun kampung setan sudah menjadi tanah kuburan, sungguh tidak dinyana Hok Lo enghiong yang berdiam didaerah ini, juga masih bisa punya pikiran ing in mendapat nama. Ini sesungguhnya terlalu bodoh!" berkata Cie lui kiam khek.

Jago pedang ini memang merasa kurang senang terhadap perbuatan orang tua she Hok itu, karena sepak terjangnya terhadap tetamunya membuatnya kehilangan muka.

"Menurut pandanganku, apa sebab orang tua she Hok itu demikian lupa daratan, semata-mata karena percaya omongan Sun hong Kow khek, yang ingin mendapatkan baju wasiat milik jago tombak itu"

"Dan dari manakah Sun-hong Kow-khe mendapatkan rahasia itu?. Saudara-saudara mungkin sudah tahu bahwa Sun heng Kow khek itu mempunyai sedikit kelebihan dalam caranya untuk mencari rahasia orang. Mungkin secara kebetulan ia mengetahui rahasia di kampung setan itu, dan kemudian ditambah dengan bumbu olehnya sendiri, untuk menipu baju wasiat milik jago tombak itu.

Tetapi kalau dilihat dari sifatnya orang itu yang selamanya tidak suka menipu orang, mungkin benar- benar mengetahui rahasia kampung setan."

"Kita semua adalah orang orang rimba persilatan yang paling dekat dengan tempat misterius itu, sebaiknya juga coba-coba pergi sekali-kali menengoknya. Ada atau tidaknya benda pusaka, ini adalah soal lain. Setidak- tidaknya rahasia yang berada didepan mata kita sendiri, harus lebih kita ketahui daripada orang dari tempat jauh, sehingga kita jangan sampai menjadi buah tertaw aan orang."

Ho Hay Hong tidak menyatakan pikiran,  tapi dalam hati ia tidak percaya, karena ia pernah pergi ketempat angker itu, bukan saja jiwanya tidak terancam, bahkan mendapatkan sebilah pedang pusaka. Desas-desus mengena kampung setan, ia anggap dilebih-lebihkan.

Diam-diam la telah mengambil keputusan akan pergi sekali lagi, untuk mengadakan penyelidikan sungguh- sungguh.

Orang-orang itu menyatakan pendapatnya yang berbeda-beda. Empat sekawan dari keluarga Liong beranggapan bahwa kampung setan ada harganya untuk diselidiki.

Khong ciok Gin cee dan Giok hu Kie su beranggapan bahwa kampung setan itu meski bukan diduduki oleh bangsa setan benar-benar, tetapi pasti ada faktor lain yang sangat ruw et sehingga menyebabkan orang yang pergi kesana mencari keterangan tidak ada yang balik kembali. Maka sebaliknya kita jangan mencari susah sendiri.

Si Ayam emas Song sie dan si Kipas besi Hok Yauw, sebaliknya t idak menyatakan pendapatnya, mereka dapat mengikuti keputusan orang banyak dan bersedia sebagai pelopor.

"Sun hong Kow khek adalah orang luar daerah kita, kalau nanti jago tombak she Hok itu benar-benar menemukan apa-apa, in i juga berarti jasanya Sun hong Kow khek. Aku anggap bahwa rahasia dikampung sendiri sampai terjatuh ditangan orang luar kampungnya, sangat memalukan bagi orang kampung kampung ini" berkata Cie lui Kiam khek.

"Benar, bisa jangan sampai ditertaw akan orang luar kampung sebagsai orang bodoh!" demikian empat sekawan keluarga Liong membenarkan.

"Kalau begitu, aku terpaksa tarik kembali pertanyaanku yang tadi!" Khong ciok Gin cee terpaksa tarik kembali pendapatnya yang pertama.

Giok hu Kie su yang masih menenggak arak, dengan muka merah berkata:

"Baiklah, kalau memang mau kesana kita harus bersatu hati!" pembicaraan telah selesai dengan satu keputusan bulat.

"Malam in i juga kita harus berangkat!" Demikian Cie lui Kiam khek mengusulkan.

Pada saat itu, mata si Kiam khek yang mengikuti pandangan mata si Kipas besi. wajahnya lantas berubah, katanya:

"Heran, apa perlunya tiga anggauta pelindung hukum golongan Lempar batu datang kemari?"

Mendengar perkataan itu, semua mata ditujukan kearah pintu, benar juga. Segera mereka menampak t iga pemuda baju merah berdiri dalam pekarangan, dengan tangan memegang pedang tanpa bergerak, bagaikan t iga buah patung. "Mereka datang mencari aku!" demikian Ho Hay Hong berkata.

Mendengar ucapan pemuda pendiam itu, orang banyak semakin heran. Semua tahu bahwa anak muda itu dirumah Suto Siang, hanya sebagai tamu. mengapa bisa mencari onar diluar? Ini agaknya tidak masuk akal, hingga semua mata ditujukan padanya dengan perasaan terheran-heran.

"Sejak kapan Ho siauhiap mengadakan perhubungan dengan orang-orang golongan lempar  batu?" tanya Cie lui Kiam khek.

"Belum lama berselang!" jawabnya singkat, lantas tidak berkata apa-apa lagi. Dibawah pandangan sembilan pasang mata, ia lari masuk kedalam kamarnya. Sekali enjot tubuh ia sudah berada diatas pengelari. mengambil pedang pusaka, lalu disimpannya diatas dada dan berjalan keluar.

Pedang pusaka itu panjang tiga kati Ho Hay Hong harus tegakkan badannya, untuk membaw a pedang itu didalam dadanya, kalau ia membongkok, pasti akan kelihatan. Maka ia terpaksa melempengkan dadanya seperti tengkorak, berjalan keruangan tamu, untung tidak diketahui orang.

"Ho siauhiap, apakah... " berkata Cie lui Kiam khek. Sebetulnya ia ingin berkata apabila ada bahaya apa apa, supaya di beritahukan kepadanya, tetapi t iba tiba ia ingat bahwa golongan Lempar batu bukankah golongan yang boleh dipandang ringan. Maka ia tidak melanjutkan kata katanya. Ho Hay Hong juga tidak ingin minta bantuan orang, maka jawabnya singkat.

"Aku terpaksa hendak pergi dulu, sampai berjumpa pula!"

Dengan membusungkan dada ia berjalan menghampiri tiga pelindung hukum, katanya sambil tertaw a.

"Aku segera datang, kiranya Chin kiam sianseng sudah menunggu terlalu lama, mari kita sekarang berangkat!"

Ia berpaling dan menganggukkan kepala kepada para tamu, tampak olehnya Su-to Cian Hui masuk keruangan tamu, dengan cepat la balik kembali, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah sapu, diberikan kepada gadis itu dengan disertai penjelasan.

"Sapu tangan ini adalah sapumu yang terjatuh didanau Lok ing-ouw!"

Su to Cian Hui merasa heran, ia mencari cari sapunya, benar-benar sudah tidak ada dalam sakunya.

Ia menerima sapu Itu tanpa mengucapkan terima kasih, hanya memandangnya sejenak, lantas menundukkan kepala.

Ho Hay Hong merasa heran, ia tidak tahu apa salahnya, sehingga gadis itu seperti tidak senang terhadapnya.

Ia tidak mau menanya, karena tentang kaum wanita, pengetahuannya jauh lebih sedikit kalau dibandingkan dengan pengetahuannya terhadap ilmu silat, ia tidak mengerti tentang hati perempuan, ia hanya anggap itu semuanya seperti mahluk-mahluk yang aneh. Seperti juga dengan suhunya Dewi Ular dari gunung Ho lan san, setiap hari bermuka masam, dengan sikapnya yang ketus dingin memerint ah murid-muridnya lelaki.

Dengan mengikuti tiga pemuda baju merah, ia tiba didanau Lee ing ouw.

"Kau bukankah pergi mengambil senjata?" tanya Chim-kiam Sian-seng heran.

Ho Hay Hong mengeluarkan pedang pusakanya dari dadanya. Karena pada pedang itu terdapat ukiran naga dan burung Hong maka sangat menarik perhatian. Chin kiam siangseng seorang jago yang mempunyai banyak pengetahuan tentang senjata tajam, segera memberi pujian.

"Pedangmu ini, bukan pedang sembarangan, tentunya merupakan senjatamu yang dapat dibanggakan!"

Sambil memasang kuda kuda Ho Hay Hong berkata.

"Chim kiam S ianseng, kau bertindaklah lebih dulu!" "Usiaku dua tiga kali lipat dari usiamu, seharusnya

memberikan kelonggaran bagimu," berkata Chim kiam Sianseng sambil tersenyum "dengan sepasang tangan kosong, aku akan melayani senjatamu, biarlah kau yang turun tangan lebih dulu!"

"Apa katamu? Aku bukankah orang yang  suka inginkan kelonggaran!"

"Perkataanmu ini menunjukkan kau seorang jantan, namun tidak akan merubah pendirianku. Mungkin kau sudah pernah dengar, bahwa aku Chim-kiam Sianseng yan dahulu biasa menggunakan senjata pedang tapi pedang itu sudah lama kuceburkan kedalam Liong ong- tham dan sejak hari itu aku telah bersumpah t idak akan menggunakan senjata lagi. Danau Lok Ing ouw meski bukan danau Liong ong tham, tetapi aku harus tetap pegang sumpahku!"

"Aku lebih suka mati ditanganmu, tidak mau menerima keuntungan pemberian orang."

Chim-kiam Sianseng perintahkan tiga pemuda baju merah itu mundur kemudian berkata:

"Kau jangan terlalu mengunggulkan diri, meskipun aku tidak menggunakan senjata, tetapi kekuatan sepasang tanganku tidak boleh kau pandang ringan, aku yakin sudah cukup untuk dapat menanggapmu!"

"Aku sudah mendapatkan suatu cara yang baik bagi kedua pihak!" berkata Ho Hay Hong. yang lantas mundur tiga tombak lebih. Perbuatannya itu mengherankan Chim-kiam Sianseng, ia tidak mengerti apa maksud anak muda itu.

"Aku akan menyerang kau dulu tiga kali, lalu kau menyerang aku dengan sama banyaknya, demikian kita saling menyerang sehingga ada salah satu yang kalah." demikian Ho Hay Hong berkata lagi.

"Cara ini sangat baik, dan kau mulailah  dulu!" sahutnya Chim kiam Sianseng

Ho Hay Hong tidak berkata apa-apa, manggutkan sedikit kepalanya, tiba-tiba menghunus pedangnya dan pedang itu segera memancarkan sinarnya berkilauan. Chim kiam Sianseng membelalakkan matanya, seolah- olah menghadapi barang ajaib, kemudian menanya dengan perasaan heran?

"Pedang itu apakah bukan pedang pusaka Garuda sakti?"

Ho Hay Hong t idak menyahut, diam-diam mengagumi mata pemimpin Lempar batu itu yang sangat tajam itu. Perasaan Chim kiam Sianseng mendadak menjadi tegang, tokoh rimba persilatan kenamaan yang selamanya tidak gampang, terpengaruh perasaannya, sekalipun gunung gugur dihadapan matanya, kali ini ketika menyaksikan pedang itu, sikapnya telah mengunjukkan perasaan t idak wajar. Katanya.

"Darimana kau dapatkan pedang pusaka ini?"

Hati Ho Hay Hong tergetar ketika mendengar pertanyaan itu, tetapi ia kendalikan perasaannya, supaya tidak mengunjukkan perubahan.

"Pedang ini adalah pedang keturunan keluargaku !"

Mendengar jaw aban itu, Chim kiam Sianseng hatinya tertaw a dingin, tidak menanya lagi Ia pasang kuda- kudanya, siap untuk menghadapi serangan lawannya.

Tetapi Ho Hay Hong masih berdiri mengerahkan kekuatan tenaganya, tidak ada tanda tanda hendak melakukan serangan, hingga diam diam lawannya merata heran.

"Kita terpisah dengan jarak yang sangat jauh sampai sekarang kau masih belum bergerak, apakah kau hendak menggunakan pedang terbang untuk menyerang aku?" demikian ia bertanya. Lubang hidung Ho Hay Hong pelahan-lahan mengeluarkan hawa putih, bagaikan ada ular putih yang keluar masuk dalam lubang hidungnya.

"Benar." demikian jawabnya singkat.

Pe rtanyaan Chim kiam Sianseng tadi, hanya duga- dugaan saja, tak dinyana bahwa pemuda itu benar-benar hendak menggunakan ilmu pedang terbang menyerang dirinya. Perasaan terkejut dan heran timbul dalam otaknya, ia sungguh tidak menyangka bahwa seorang muda yang masih belum dikenal orang dalam rimba persilatan, ternyata pandai menggunakan ilmu pedang yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan itu.

Tentang ilmu pedang itu, seumur hidupnya ia baru pernah melihat satu kali saja. itu adalah ilmu  pedang yang digunakan oleh akhli pedang, ketua dari partai Ngo bie pay Kim kong Hwee shio untuk menghadapi Cit ciu Sin-kun dari luar perbatasan.

Cit ciu Sin kun sudah lama terkenal sebagai satu iblis yang berkepandaian sangat tinggi, ilmunya Im yang kang belum pernah ketemu lawannya.

Untuk menghadapi lawan sangat tangguh itu, Kim kong Hw ee shio harus mengeluarkan ilmu simpanan pedang terbangnya, yang menghamburkan banyak tenaga murni.

Keadaan pertempuran waktu itu, seolah-olah masih terbayang dihadapan matanya, pedang yang meluncur keluar dari tangan Kim kong Hwee shio bagaikan naga terbang mengejar sasarannya, dan akhirnya berhasil menembusi dada Cit ciu Sin kun. Kematian iblis itu, disambut oleh tepukan tangan riuh oleh semua orang yang menyaksikan pertandingan.

Ia masih ingat bahwa waktu itu jarak antara Kim kong Hwee shio dengan Cit ciu Siu kun kira-kira sepuluh lebih, ilmu pedang terbang paderi dari Ngo bie pay membuat lawannya t idak berdaya, hingga akhirnya binasa.

Ia tahu benar betapa hebatnya ilmu pedang itu maka kini selagi hendak menghadapi ilmu pedang terbang Ho Hay Hong, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya dan ilmunya Liong Youw Khie kang, sebagian digunakan untuk melindungi seluruh badannya.

Wajah Ho Hay Hong yang putih perlahan-lahan berubah menjadi merah, matanya memancarkan sinar yang menakutkan.

Setelah menyemburkan hawa dari mulutnya, pedang Garuda sakti melesat dari tangannya, dengan mengeluarkan suara mendengung benda  putih berkilauan itu menuju keatas kening Chim  kiam Sianseng.

Badan Cim kiam Sianseng bergerak tangannya dikebutkan, hembusan angin yang luar biasa hebatnya meluncur keluar.

Pedang itu terbang melayang agak tinggi diatas kepalanya, begitu melewati kepala Cim kiam Sianseng lalu membuat satu lingkaran dan kemudian menikam balik.

Chin kiam Sian seng ternyata sangat cekatan, ketika dibelakang dirinya mendengar suara suara angin, tanpa menoleh, mendadak lompat miring sejauh lima tombak. Dari sin i dapat diukur, betapa mahirnya ilmu meringankan tumbuh Chin kiam Sian seng.

Pedang terbang yang tidak berhasil mengenakan sasarannya itu, melayang balik ke asalnya, ketangan Ho Hay Hong.

Chin Kiam Sian seng meskipun melayang turun ke tanah lagi dalam keadaan selamat, tetapi sikapnya sudah jauh berbeda dari semula, ia agaknya sudah dapat menjajaki sampai di mana tingginya kepandaian anak muda itu.

la tidak berani membuka mulut lagi, diam-diam mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, untuk melindungi seluruh badannya.

Jidat Ho Hay Hong sudah basah dengan peluh, sesungguhnya menggunakan ilmu pedang terbang itu menghamburkan banyak kekuatan tenaga dalam, kalau tidak diatur baik-baik, serangan selanjutnya tidak bisa memuaskan.

Ilmu pedang Ho Hay Hong sebetulnya masih jauh kalah dengan kepandaian suhengnya terutama toa suhengnya, dalam empat saudara seperguruan, toa suhengnya yang paling mahir dalam ilmu itu.

Ia dapat menggunakan serangan dengan beruntun sehingga tiga kali tanpa mengunjukkan  tanda-tanda lelah.

Sebentar kemudian, serangan kedua Ho Hay Hong keluar dari tangannya. Kali ini ia t idak menyerang secara langsung, melainkan secara berliku-liku. Pedang itu berputar-putaran membuat beberapa lingkaran, baru menuju ke arah sasarannya. Meskipun dengan cara bagaimana, pedang itu pada akhirnya tentu akan kembali kepada penyerangan. Chim kiam Sian seng yang sudah banyak menghadapi musuh tangguh, sudah tentu banyak pengalamannya, hingga tidak sampai dibikin kabur pikirannya, dengan tetap menggunakan siasat yang pertama, ia  dapat mengelakkan serangan tersebut.

Ho Hay Hong harus beristirahat lagi sebentar kembali melepaskan lagi pedangnya ke tengah udara. Dengan cepat pedang itu meluncur keangkasa sambil mengeluarkan suara mengaung, hingga Chim kiam Sian seng yang menyaksikan itu, wajahnya berubah seketika.

Dengan secara tiba-tiba terdengar suara pujian bagus, seolah-olah keluar dari mulut seorang wanita. Tetapi karena kedua fihak mencurahkan perhatiannya dalam pertempuran itu, tiada satupun yang ambil perhatian.

Dengan sinar matanya yang tajam.

Chim kiam Sian seng memusatkan perhatiannya kepada pedang yang berada diangkasa. Pedang berputaran sebentar ditengah udara, tiba-tiba meluncur turun, dengan sangat lajunya menuju kepada Ciam kiam Sian seng.

Chim kiam Sian seng yang sudah siap, dengan kekuatan tenaga sepenuhnya tangannya mendorong keatas, pedang itu karena terhalang oleh kekuatan tenaga Chim kiam Sian seng. berbalik arah dan meluncur balik ke tangan Ho Hay Hong.

Serangan Ho Hay Hong yang dilakukan dari angkasa kali ini, meski tidak mengenakan sasarannya, tetapi sudah menguncupkan hati Chim kiam Sian seng. sebab dengan cara seenaknya Ho Hay Hong meluncurkan pedangnya ketengah udara, bisa mengarah tujuannya dengan jitu.

Ho Hay Hong menarik kembali serangan pedangnya, sesaat itu, rasa lelahnya menjadi-jadi, hampir  saja  ia tidak bisa berdiri tegak. Ketika ia menoleh, matanya dapat lihat bayangan seorang gadis berbaju hijau. Mata gadis itu ditujukan kedirinya dengan rasa kagum. Tahu dirinya d iperhatikan, semangatnya terbangun lagi.

Seolah-olah ada semacam kekuatan yang mendorong padanya, akhirnya ia berdiri lagi, ia mengerti bahwa itu adalah semangat kesamaan yang mendorong padanya, meskipun ia tahu itu tiada gunanya, tetapi ia tokh berbuat demikian juga.

Gadis baju hijau itu adalah Su-to Cian Hui, tak disangka-sangkanya pada gadis itu datang seorang diri untuk menyaksikan pertandingan itu.

Dalam hati Ho Hay Hong tiba tiba timbul sesuatu perasaan, bahwa tenaganya tadi sebetulnya tidak cuma- cuma, setidak-tidaknya ia sudah dapat menarik perhatian gadis yang cantik tetapi agak t inggi hati itu.

Su to Cian Hui memandang dengan matanya yang jeli dengan perasaan kagum, ketika mengetahui dirinya diperhatikan oleh Ho Hay Hong, lantas berkata:

"Hei sungguh tidak kusangka bahwa kau juga bisa menggunakan pedang terbang."

Ho Hay Hong hanya membalas dengan satu senyuman, tiada sepatah kata keluar dari mulutnya. "Sekarang kau harus siap, aku akan melakukan serangan!" demikian Chim kiam Sian seng berkata. Sebelum itu, ia maju tiga tombak, berhenti kira-kira lima tombak dihadapan Ho Hay Hong.

Ia mengangkat tangan kanannya, dia mendorongnya lambat-lambat. Gelombang kekuatan tenaga dalam meluncur keluar dari kedua tangannya. Ho Hay Hong yang menyambuti serangan itu dengan kedua tangannya, mendadak mundur dua langkah.

Sebelum bisa berdiri tegak, suatu kekuatan hebat sudah menyusul, ia buru buru menyambut i lagi dengan kedua tangannya, tetapi ia terpental mundur lagi beberapa langkah.

Sekarang ia baru mengerti bahwa kekuatan tenaga dalam Chim kiam Sian seng ternyata jauh  lebih  hebat dari dirinya. Dalam lima tombak serangan jarak  jauh Chim Kiam Sian seng ternyata masih jauh hebat, bahkan kali in i hampir saja ia rubuh. Tetapi ia merasa penasaran, sebab sewaktu Chim kiam Sianseng melancarkan serangannya itu, kekuatan tenaga dalamnya sendiri belum terkumpul.

Chim kiam Sianseng agaknya sangat kagum. ia menganggukkan kepala dan berkata: "Serangan sudah selesai, sekarang adalah giliranmu."

"Aku membutuhkan sebatang bambu!" berkata Ho Hay Hong.

Chim kiam Sianseng merasa heran, terpaku menanya: "Apa? Kau tidak mau menggunakan pedang

pusakamu? Sebaliknya hendak menggunakan bambu?" "Suruhlah orang ambilkan bambu, kalau aku kalah sudah tentu aku akan ikut kau!"

Chim kiam Sianseng terpaksa menerima baik permint aannya. Ia memerint ahkan t iga pelindung hukum untuk mencarikan sebatang bambu.

Ho Hay Hong terpaksa menunggu. Ia bukan seorang bodoh. Justeru karena ia sudah biasa menggunakan bambu sebagai senjata, maka dengan menggunakan pedang, ia agak kurang leluasa.

Tidak lama kemudian tiga pemuda baju merah itu sudah kembali dengan membaw a sebatang bambu dan diberikan kepada Ho Hay Hong.

Pemuda itu membuat runcing bambunya, kemudian berkata kepada Chim-kiam Sianseng:

"Dalam tiga kali seranganku ini, apabila tidak bisa mengalahkan kau, aku rela mengikuti kau ke markasmu!"

Kepalanya menengadah, tangannya menggetar pada saat itu, kekuatan tenaganya sudah mulai pulih, hingga getaran tangannya itu menimbulkan suara mengaung.

Dengan menggunakan gerak t ipu pertama dalam ilmu silatnya yang luar biasa Khun-goan Sam kay bambunya digunakan sebagai senjata tombak, secepat kilat ditujukan empat bagian jalan darah terpenting depan dada lawannya.

Chim-kiam Sianseng menggeser kakinya tiga kaki, ujung bambu lewat lengan kirinya, hanya selisih sedikit saja. Jago tua kenamaan itu hampir mati diujung bambu runcing. Karena serangan tidak kena, Ho Hay Hong mendadak mengerahkan pedang ditangan kirinya, memapas bambunya menjadi dua potong, kemudian selagi Chim kiam Sian seng masih menoleh dalam perasaan heran, ilmu tombak Ho Hay Hong sudah dirubah menjadi ilmu pedang Ngo heng Kiam hoat.

Tiga kali ia melakukan serangan dengan beruntun mengarah mata Chim kiam Sianseng, yang kedua dan yang ketiga mengarah dada dan perut.

Chim kiam Sianseng terkejut, buru-buru mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh melompat kesamping.

Serangan Ho Hay Hong kali in i juga tidak berhasil, kembali ia memapas bambunya, hingga menjadi semakin pendek, hanya tinggal kira kira sekaki lebih sedikit.

Tetapi ia tetap gembira, dengan mendadak ilmu pedangnya dirubah menjadi ilmu serangan alat tulis, yang serangannya di utamakan mengarah jalan darah kematian.

Kali in i adalah tiga jalan darah Hong hwa. Siang-seng dan Khie hay yang dijadikan sasaran.

Chim kiam Sian seng benar-benar tidak mengira bahwa kepandaian anak muda ini demikian banyak coraknya, hingga wajahnya berubah seketika, ia mengeluarkan dua kali serangan dengan beruntun, mendesak mundur Ho Hay Hong.

Selagi hendak menanya asal usul pemuda itu, didanau Lok ing ouw terjadi perubahan yang tidak terduga-duga. Timbul gelora dipermukaan danau, dan disusul oleh munculnya air mancur setinggi satu tombak. Kejadian sangat ganjil, kalau tidak ada binatang gaib didalam air, dari mana datangnya kekuatan itu?

Su to Cian Hui yang menyaksikan pertandingan yang pertama-tama berseru:

"Celaka, Naga delapan kaki muncul lagi," Chim kiam Sian seng dengan cepat lompat mundur tiga tombak, matanya mengawasi danau, la benar-benar telah dikejutkan oleh kejadian aneh itu.

Mata Ho Hay Hong berputaran, agaknya ada yang dicari. Ditepi seberang danau, tampak olehnya seorang bertopi lebar dan warna hitam, sedang jongkok disana, tangannya sedang memegang sebatang pancing sepanjang tiga tombak lebih.

Ujung pancing dimasukkan kedalam danau, tangannya bergerak gerak berapa kali memukulkan pancing kepermukaan air.

Ia tidak dapat melihat tegas wajah orang tua  itu, tetapi entah apa sebabnya, begitu melihat potongan orang tua itu darahnya terasa mendidih dan dengan satu hentakkan keras ia lompat menerjangnya.

Topi lebar orang tua itu menutupi alisnya, seolah-olah ia takut dikenali orang. Ketika melihat seorang muda menyerbu dirinya dengan cepat ia menghentikan gerakannya dan lantas angkat kaki.

Gerakkannya itu bagaikan hantu, begitu bergerak, bagaikan kilat sudah menghilang ke dalam rimba lebat.

Ho Hay Hong karena kehilangan jejak orang yang diserbu, terpaksa urungkan niatnya untuk mengejar. Tidak lama seberlalunya orang itu, air mancur yang timbul dalam danau, perlahan-lahan juga turun sendiri, permukaan air telah tenang kembali.

Mengertilah Ho Hay Hong. apa sebabnya  mahluk dalam danau itu, demikian menggila, tentu itu semata- mata karena perbuatan orang tadi. Tetapi apa maksudnya orang tua itu berbuat demikian kembali merupakan suatu teka-teki.

Ia termenung memikirkan kejadian itu entah sejak kapan, tiga pelindung hukum golongan Lempar batu, sudah mengurung dirinya, Tiga pemuda itu satupun tak membuka mulut, berdiri seperti patung. Sebelum ia menegurnya, sudah didahului oleh Chim kiam Sianseng:

"Sahabat, kecil, kulihat kepandaian ilmu silatmu agak mirip dengan ilmu silat Khun goan Sam-kay ciptaan si Kakek penjinak Garuda yang dahulu namanya sangat termasyhur, apakah kau muridnya orang tua itu?"

"Aku tidak faham Ilmu silat yang dinamakan Khun goan Sam-kay!" jawab Ho Hay Hong sambil menggeleng kepala. Dalam hati diam-diam terperanjat, ia tidak sangka bahwa kepandaiannya ilmu silat Khun goan Sam- kay ternyata berasal dari si Kakek penjinak Garuda, jadi kalau begitu, Dewi ular dari gunung Ho lan san itu punya hubungan erat dengan si Kakek penjinak Garuda.

Sebab seluruh kepandaiannya didapatkan  dari suhunya yang bergelar Dewi ular itu, sedangkan kepandaian Dewi ular itu berasal dari daerah Tionggoan.

Seharusnya sang guru itu mengerti baik keadaan si Kakek penjinak Garuda, tapi mengapa menyuruh dia yang mencari jejaknya?. Chim kiam Sianseng yang tidak mendapatkan jawaban memuaskan, lalu bertanya lagi.

"Jikalau kau benar adalah murid si Kakek penjinak Garuda, soalnya menjadi lain,  aku bukan saja akan memerint ahkan semua orang golongan Lempar batu memperlakukan dirimu sebagai sahabat, bahkan akan memberikan surat jalan, supaya kalau kau ada kesulitan, segera mendapat bantuan"

"Terima kasih atas kebaikanmu, tetapi aku bukan apa- apanya si Kakek penjinak Garuda !"

Wajah Chim kiam Sianseng berubah seketika, lalu memerint ahkan tiga pelindung hukum menangkap pemuda itu.

Sesaat kemudian, tiga bayangan merah bergerak dari tiga jurusan, menyerbu Ho Hay Hong.

Mereka bertiga menggunakan ilmu silat Tay kie na-cu hoat, menangkap lawannya.

Disergap secara mendadak, Ho Hay Hong belum keburu memberi perlawanan mendadak telinganya  dibikin pengang oleh suara siulan yang keluar dari mulut salah seorang pelindung hukum itu.

Ketika ia menyadari bahwa itu adalah satu siasat saja, yang maksudnya untuk membingungkan pikirannya, tangannya sudah tertangkap olah lawannya, sehingga tidak bisa bergerak.

Salah seorang diantaranya merampas pedang pusaka diserahkan kepada Chim kiam Sianseng.

Sambil mempermainkan pedang pusaka Garuda sakti.

Chim kiam Sianseng berkata kepada Ho Hay Hong: "Kau sekarang sudah kujatuhkan, mati hidupnya tergantung padaku. Lekas beritahukan asal usulmu, jikalau t idak, aku akan anggap kau sebagai pembunuh si Kakek hidung merah. Kau akan kubawa pulang kemarkas untuk menerima hukuman !"

Ho Hay Hong yang sudah tidak bergerak, percuma saja dengan kepandaiannya. Mendengar perkataan Chim kiam Sianseng ia tahu bahwa orang tua itu jeri terhadap si Kakek penjinak Garuda maka lantas ia menggunakan suatu akal.

Sikapnya pura-pura dingin acuh tak acuh. seolah-olah tidak mengabaikan sikap Chim-kiam Sianseng.

"Si Kakek penjinak Garuda masih pernah apa denganku, kau tidak ada hak untuk menanyakan. Pendek kata, si Kakek hidung merah itu bukan aku yang membunuh." jawabnya dengan sikap acuh tak acuh.

"Dengan maksud baik aku menanyamu, mengapa kau keras kepala ? Terpaksa kuhadapkan kebagian hukum."

Su to Chian Hui diam-diam lompat turun dari atas pohon karena munculnya makhluk aneh dalam danau tadi, membuatnya ketakutan setengah mati. dan kini setelah bahaya telah lewat, ia berani unjukkan diri lagi. Katanya dengan suara lantang:

"Hei, orang tua baju kelabu, kau keliru. Dia adalah orangnya Lam kiang Tay bong!"

Chim kiam Sianseng terkejut. Matanya menatap si pemuda lalu berkata:

"Nona kecil, bagaimana kau tahu kalau dia orangnya Lam kiang Tay bong." "Karena dia adalah tamu ayahku!" "Siapa ayahmu!"

"Ayahku adalah Cie lui Kiam khek!"

Chim kiam Sianseng tersenyum. "Benar Cie lu i Kiam khek masih tergolong orang baik. Tetapi menurut apa yang aku tahu, Lam kiang Tay bong bukanlah orang baik-baik, bahkan Cie lui Kiam khek sangat membencinya. Mengapa ia suka menerima  orang menjadi tetamunya?"

"Tentang ini aku t idak tahu. Biar bagaimana dia adalah muridnya Lam kiang Tay bong, sedikitpun tidak salah. Kau t idak perlu banyak bertanya!"

Ho Hay Hong diam diam berpikir: ”aneh, mengapa ada orang yang mengatakan aku muridnya Lam kiang Tay bong itu wajahnya mirip dengan wajahku?"

Chim kiam Sianseng agaknya tidak mau percaya, tanyanya pula:

"Tahukah nona siapa namanya murid Lam kiang Tay bong?"

"Tang siang Sucu."

Jawaban itu memang sudah diduga oleh Ho Hay Hong. Maka ia tak merasa heran lagi. Sebaliknya dengan Chim kiam Sianseng: Matanya melotot, dia lantas menatap tajam kepadanya, sikapnya tampak aneh, katanya sambil angguk-anggukkan kepala.

"Oh. kiranya kau adalah murid kepala Lam kiang Tay bong. Nama Tang Siang Sucu ini aku pernah dengar, tak kusangka adalah kau!" Pemimpin Lempar batu Itu telah percaya keterangan Su to Cian Hui, sebab kepandaian Ho Hay Hong memang tidak lemah, benar-benar mirip anak murid seorang guru kenamaan. Tetapi, mendadak ia merasa  ragu-ragu, karena Lam kiang Tay bong adalah seorang berkepandaian tinggi yang adanya aneh, pikirannya cupat. terutama mudah tersinggung, sedikit salah kata saja, bisa menimbulkan permusuhan. Kalau benar pemuda ini adalah murid Lam kiang Tay bong, selanjutnya akan menjadi berabe.

Matanya tetap menatap wajah Ho Hay Hong, pikirannya bekerja, tetapi Ia tidak dapat menemukan suatu cara sebaik-baiknya untuk menyelesaikan persoalan itu. Ia belum tahu sampai di mana tingginya kepandaian jago tua itu.

Tetapi menurut kabar kalangan Kang ouw, ia adalah termasuk salah satu dari lima jago kuat dalam rimba persilatan pada dewasa ini. Baik usianya maupun wibawanya dan kepandaiannya, jauh lebih atas daripada dirinya sendiri.

Ia teringat asal-usulnya pedang pusaka Garuda sakti, pikirannya semakin goncang.

Memang, ditinjau dari sudut mana saja, pemuda itu sangat menyulitkan kedudukkannya.

Akhirnya ia mengambil suatu keputusan, lalu berkata Ho Hay Hong:

"Baiklah, kau sekarang pulang dulu, pedang ini akan kubawa pulang sebagai barang jaminan. Jikalau benar bahwa si Kakek hidung merah bukan kau yang binasakan, akan ku utus orangku kirim kembali pedang  ini dengan segera.

Tetapi kalau dikemudian hari dalam penyelidikanku terdapat kenyataan bahwa kakek hidung merah mati ditanganmu, aku t idak perduli kau murid siapa, aku akan menuntut balas atas kematian sahabatku!"

"Baik, aku berdiam di rumah Cie lui Kiam khek, kau jangan mengingkari janjimu!"

Chim kiam Sianseng lalu memerint ahkan t iga anggota pelindung hukumnya untuk membebaskan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong tahu bahwa perbuatan t iga pemuda itu tadi hanya melakukan perint ah atasannya maka ia tidak mendendam, sakit hati terhadap mereka.

Chim kiam Sianseng tidak membuang waktu, menyelesaikan urusannya lantas berlalu bersama anak buahnya.

Suto Chian Hui juga pulang  seorang  diri, meninggalkan Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong tahu bahwa gadis itu salah mengerti terhadap dirinya, tetapi ia tidak mau banyak bicara untuk memberi keterangan tentang dirinya. Ia yakin bahwa nanti dikemudian hari pasti menjadi terang sendiri.

Hari sudah mulai gelap, Ho Hay Hong tidak pulang kerumah penginapannya, sebaliknya berjalan menuju ke Kampung Setan.

Ia menduga Cie lu i Kiam kek, Giok-hu Kie su, Khong ciok Gin cee, Si Ayam emas Song Sie, SI Kipas besi Hok Yauw dan empat sekawan keluarga Liong tentu sudah berangkat ke Kampung Setan. Ia tidak suka bertemu muka dengan orang-orang itu, sifatnya memang suka menyendiri, sekalipun menjumpai bahaya besar, juga tidak mau minta bantuan orang.

Sepanjang jalan, pikirannya terus bekerja. Ia ingin sekali bisa bertemu muka dengan orang tua yang sangat misteri itu. Menurut penuturan Su to Cian Hui, ia telah menarik kesimpulan bahwa pembunuh besar-besaran ditepi danau Lok-ing ouw itu, pasti perbuatan orang tua misteri itu.

Ia tidak mau memberitahukan hal itu kepada Chim kiam Sian-seng. karena ia tidak ingin  menimbulkan urusan, sehingga menjadi rint angan bagi tindakannya sendiri.

Tidak lama kemudian, malam telah tiba, sinar rembulan menerangi seluruh jagat. Tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh. Suara itu seperti angin meniup rumput, juga mirip dengan suara pasir yang disambitkan kedalam air. Ia menghentikan langkahnya, dengan meminjam terangnya sinar rembulan, ia memandang keadaan disekitarnya.

Tidak jauh ditempat ia berdiri adalah sebuah rimba lebat, sedang dihadapannya adalah sebidang tanah yang banyak rumputnya yang panjang.

Pada saat itu tiada lain orang, kecuali dirinya sendiri, jaga t idak ada angin bertiup, dari mana datangnya suara aneh itu? Tiba tiba ia teringat kepada Kampung setan,  lalu Ia tanya kepada diri sendiri: apakah aku sudah menginjak tanah Kampung setan ?

Diam-diam ia mencari dari mana datangnya suara aneh itu, ternyata dari dalam rimba lebat itu. Ia sembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar sambil pasang mata, tidak lama kemudian, tampak olehnya seorang tua berambut putih seluruhnya berjalan keluar dari dalam rimba.

Rambut orang tua itu sangat panjang, dan pakaiannya yang berw arna hitam, nampak terlalu panjang, bukan saja menutupi ke dua kakinya, bahkan masih terseret banyak dibelakangnya.

Suara aneh itu tadi, adalah suara yang ditimbulkan oleh bajunya yang kepanjangan menyentuh tanah.

Ia segera dapat mengenali bayangan belakang orang tua rambut putih itu, sama benar dengan bayangan setan yang diketemukannya ditempat patung "Gak-hui".

Dia, manusia ataukah setan ? Ho Hay Hong sedang mengira ngira. Dengan perasaan tegang ia mengepal tangannya yang sudah keringat dingin. Dengan mendadak ia kehilangan keberaniannya, tidak berani mengganggunya.

Sesaat hatinya timbul perasaan ragu-ragu, ia tidak tahu harus menyelidiki atau tidak?

Ketika ia melihat lagi, orang tua berambut putih bagaikan bayangan setan itu sudah menghilang entah kemana. Ia merasa sangat heran, seolah-olah tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri.

Tetapi kemudian ia mengerti, di tempat itu mungkin terdapat lubang.

Ia menunggu sampai lama, bayangan orang tua itu tidak tampak keluar lagi. Lalu ia menguatkan semangatnya, pergi menghampiri tempat itu. Gerak kakinya tidak menimbulkan suara seluruh badannya tengkurap di tanah yang tumbuh banyak rumput. Matanya berputaran mencari-cari, benar juga. Ia telah menemukan sebuah gua, dugaannya tak keliru.

ia menunggu di tepi gua sambil memasang telinganya. Dari jauh seperti terdengar suara langkah kaki orang. Suara itu datang dari dalam gua, jelas bahwa dalam gua itu ada jalan di bawah tanah.

Ia merasa lega, suara tindakan kaki itu perlahan-lahan telah lenyap, jelas bahwa orang tua itu sudah pergi jauh

Dengan mendadak timbul perasaan ingin tahu. Selagi hendak melangkah masuk ke-dalam gua dari tempat yang tidak jauh mendadak terdengar suara orang yang tidak asing baginya.

"Ayah, kau menemukan apa?" itu adalah suaranya Hok Yam San.

"Ayah! Apa itu? Lekas kau kemari, aku takut!" demikian terdengar lagi suara pemuda she Hok itu.

Ho Hay Hong tahu bahwa anak murid keluarga Hok sudah memasuki daerah Kampung Setan ini, yang benar- benar sangat misteri.

Lalu terdengar suaranya sang ayah: "Jangan bicara keras-keras, apakah kau tidak tahu bahwa di belakang patung ini banyak tengkorak manusia?"

"Ayah." demikian terdengar suara Hok Yam San, dengan mendadak. Tak jauh disitu terdengar pula suara jeritan mengerikan, penuh ketakutan.

Hok Yam San yang menjadi takut oleh suara itu, lantas berteriak : "Ayah, itu adalah suaranya Cin Jie houw." Jago tombak she Hok mengeluarkan suara bentakan keras, dari dalam rimba tidak jauh tampak sesosok bayangan orang, terang berada di tengah udara berputaran sebentar, lalu menukik kebarat, dari mulutnya terdengar suara yang keras:

"Siluman, lekas tunjukkan mukamu."

-ooo0d-w 0ooo-