Rahasia Kampung Setan Jilid 01

 
Jilid 01

SUATU MALAM dimusim kemarau, udara terang tetapi suasana sunyi senyap. Seorang muda berpakaian warna hijau, seorang diri berjalan dijalan raya Lam-yang. Kepalanya mendongak keatas, memandang rembulan yang memancarkan sinarnya terang benderang di muka bumi.

Terkenanglah ia akan apa yang terjadi diwaktu yang lalu

Sepuluh hari berselang, angin bertiup dengan kencangnya, salju meliputi jagat. Gunung Ho lan san  yang letaknya menyendiri ditengah bumi yang sepi, suatu tempat yang sudah lama dilupakan. Disana, guru pemuda itu telah menyerahkan suatu tugas padanya.

Berkatalah sang guru:

"Ho Hay Hong! Dalam waktu satu bulan kalau kau tidak berhasil mencari keterangan jejak si Kakek penjinak Garuda, kau juga akan binasa dikampung orang."

Berangkatlah ia bersama empat kakak-kakak seperguruannya. Kakak-kakaknya juga membawa tugas sendiri-sendiri, tapi mereka tak suka berhubungan dengannya, sebab sang guru lebih sayang  kepada  Ho Hay Hong. ia terlalu dimanja oleh gurunya.

Meskipun gurunya juga memberikan tugas padanya dengan ancaman MATI, namun demikian, dalam pandangan empat saudara-saudara seperguruannya itu, tercermin anggapan bahwa guru mereka berat sebelah.

Siapakah guru mereka itu ? Si pemuda pun tidak tahu. Ia hanya tahu orang banyak menyebutnya DEWI ULAR dari gunung Ho-lan san. Siapa nama sebetulnya, ia juga tak tahu.

Terhadap gurunya, ia tidak begitu simpati, karena wajah sang guru setiap hari selalu asam, tidak menyenangkan.

Dan tentang dirinya sendiri, hingga saat itu masih merupakan suatu teka-teki. Sejak ia mengerti urusan, terus berada disamping gurunya.

Diantara kelima muridnya, ia adalah yang paling kecil. Ketika ia mulai belajar ilmu silat, empat suhengnya sudah mempunyai kepandaian cukup tinggi.

Pe rtama kali ia meninggalkan gurunya, ia merasa bingung. Ia tidak tahu sampai di mana tingginya kepandaian yang dimilikinya, namun ia harus segera turun gunung.

Ia terus berjalan menyusuri jalan yang ada. Banyak penderitaan dalam pengembaraannya itu, tetapi ia terus melanjutkan usahanya untuk memenuhi tugasnya.

Ia juga pernah mencari keterangan tentang diri si kakek penjinak garuda itu adalah seorang yang sangat kesohor namanya. Ia mulai timbul kepercayaan kepada diri sendiri, akan dapat memenuhi tugasnya.

Bagi orang yang tidak belajar ilmu silat, begitu mendengar nama si Kakek Penjinak Garuda, sikapnya segera menunjukkan perasaan kagum, komentar mereka hampir serupa:

"Memang benar, orang tua itu adalah manusia aneh, sudah sepuluh tahun lebih tidak ada kabar beritanya, kita selalu kangen kepadanya !" Ada jaga yang mengatakan: "Kakek penjinak Garuda adalah seorang tua yang hidup kesepian, Setengah dari umurnya ia mengabdi masyarakat, melakukan perbuatan mulia, hingga mendapat banyak pujian dari rakyat."

Kakek penjinak Garuda itu memang seorang yang beradat aneh, sering melakukan perbuatan gila-g ilaan. Setelah lanjut usianya ia selalu hidup ditempat sepi, agaknya sudah bosan dengan penghidupan ramai. Menurut dugaan orang, usianya yang sebenarnya orang tua itu, sedikitnya sudah lebih seratus tahun.

Sepuluh tahun berselang, kakek itu pernah mencari kawan hidup. Hal itu pernah menggemparkan rimba persilatan, dianggap sebagai suatu kejadian yang ganjil. Tetapi tidak lama kemudian, ada seorang pendekar wanita dari golongan tokoh terkemuka, dengan suka rela, mengorbankan usia remajanya, mengawini kakek yang sudah lanjut usianya itu.

Setahun kemudian, kakek itu mendadak menjadi gila, setiap hari membunuh binatang orang hutan yang menjaga pintu rumahnya, melepas tujuh ekor burung Garudanya yang sudah dipelihara selama sepuluh tahun lebih.

Setelah itu, ia pergi seorang diri meninggalkan rumah tangganya, dan selanjutnya tidak terdengar lagi apakah kakek itu muncul lagi didunia Kang ouw.

Semua itu merupakan bahan yang didapat oleh  Ho Hay Hong sepanjang perjalanannya.

Kakek penjinak Garuda itu hidupnya sebagai teka teki, menghilangnya juga merupakan suatu teka-teki. Ho Hay Hong berjalan sambil berpikir, bagaimana supaya bisa mencari jejak Kakek penjinak Garuda itu? Batas waktu yang di berikan oleh gurunya sudah hampir habis, tapi ia masih belum berhasil menemukan jejak orang tua itu. Ia mulai merasakan betapa berat tugas itu.

Melalui sebuah rimba, didepan matanya terbentang sebuah sungai yang lebar.

Ia terus berjalan ketepi sungai, kebetulan disitu tampak sebuah sampan sedang didayung kepantai, maka ia lantas berdiri menunggu.

Tidak lama kemudian, sampan itu sudah  berhenti ditepi sungai. Seorang tukang sampan yang mukanya hitam, menggapai padanya seraya bertanya.

"Apa tuan hendak menyebrang sungai?" "Ya " jawab Ho Hay Hong singkat.

Tanpa menunggu tukang sampan membuka  mulut lagi, ia sudah melangkah kesampan dan duduk didalamnya.

Tukang sampan mempersilahkan Ho Hay Hong minum teh.

Ho Hay Hong tidak menghiraukan, ia membersihkan pakaiannya yang penuh debu.

Tukang sampan itu tidak marah, dengan tenang mendayung sampannya ketengah sungai, menuju keseberang.

Dalam sampan itu sudah ada tiga orang yang duduk berpencaran. Dari pakaian mereka, tampaknya orang biasa. Ia t idak menghiraukan, mencari tempat yang agak tenang, duduk seorang diri! Ketika sampan t iba ditengah sungai, mendadak t imbul goncangan hebat. Ho Hay Hong terkejut, tukang sampan yang bermuka hitam itu memaki sendiri sambil menyusut keringat didahinya.

"Sialan, pasirnya makin lama makin banyak, beberapa tahun lagi, bakul nasiku barangkali akan terbalik."

Ho Hay Hong bangkit, berjalan menuju keburitan. ia mengambil sebatang bambu panjang, ditolaknya sampan supaya berlayar. Beberapa kali gerakan, sampan yang cukup besar itu sudah terlepas dari hambatan pasir dan melanjutkan perjalanannya.

Tukang sampan memandang pemuda itu dengan sikap heran, katanya:

"Terima kasih atas bantuan tuan, ongkosnya tuan tidak usah bayar."

Ho Hay Hong mengaw asi padanya dengan sikap dingin, katanya:

"Kau sebetulnya mempunyai tenaga cukup kuat untuk melepaskan sampanmu dari hambatan pasir"

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan beberapa potongan uang recehan dan diberikan kepadanya, tanpa menoleh lagi ia balik kedalam sampan.

Wajah tukang sampan merah padam,  sebentar ia berdiri terpaku, baru melanjutkan perjalanannya.

Ho Hay Hong duduk lagi dalam sampan, akal bangsat situkang sampan tidak dipikirnya lagi. Ia sudah tahu bahwa tukang tampan Itu pernah belajar ilmu silat, beberapa gerakan barangkali mengerti Matanya. mulai "langsir" ia merasa bahwa orang yang duduk di sebelah kanannya sedang memperhatikan dirinya.

Orang itu mengenakan pakaian warna kuning. Ketika matanya beradu dengan sinar mata Ho Hay Hong, dengan cepat dialihkannya kelain tempat, tidak berani memandang lagi.

Ho Hay Hong tidak heran atau kaget, karena ia sudah biasa dengan perlakuan demikian. Ia tahu bahwa didaerah Tionggoan banyak orang berkepandaian tinggi, asal ia berlaku hati-hati tentu, orang itu tidak akan mengganggunya.

Tiba-tiba ia merasa sangat letih, rasa kantuk yang belum pernah dirasakan selama diperjalanan, terus mengganggunya. Tanpa terasa ia sudah tertidur.

Entah berapa lama  ia sudah tertidur, ketika  ia mendusin, keadaan sudah berlainan.

Keadaan disekitarnya sudah berubah, sungai, sampan dan tukang sampan yang wajahnya hitam serta beberapa penumpang, sudah tidak nampak semua.

Sebagai gantinya adalah teriknya sinar matahari, suara ribut-ribut dalam kota dan ramainya orang serta kendaraan yang lalu lalang di jalan.

Sedangkan dia sendiri, ternyata berada didalam suatu rumah penginapan merangkap pula rumah makan yang ramai. Sesaat ia merasa bingung, ia  kucak-kucak matanya seolah-olah dalam mimpi. Tetapi tidak lama kemudian, tampak olehnya penumpang berbaju kuning yang bersama-sama dengannya didalam sampan tadi, duduk disampingnya. Bibirnya yang tipis, tersungging satu senyuman.

"Apa yang telah terjadi?" tanya Ho Hay Hong.

"Soal biasa," jawab orang baju kuning itu, "tadi malam, tukang sampan muka hitam itu telah memperdayakanmu dengan obat mabuk, maka aku bawa kau pergi. Begitulah duduk persoalannya."

"Oh, kalau begitu dia seorang jahat?" tanya Ho Hay Hong. Agaknya ia masih t idak percaya, meskipun ia tahu bahwa tukang sampan muka hitam itu  mempunyai sedikit kepandaian, tapi waktu itu ia tidak mau mengeluarkannya.

Memang si pemuda sudah merasa curiga, tetapi wajah tukang sampan yang nampaknya jujur dan tawarannya supaya ia tidak usah membayar uang  tambangan, menunjukkan ia bukan orang jahat.

"Dahulu aku pernah menumpang sampannya, dia juga pernah berbuat demikian," berkata orang baju kuning. "karena menganggap baru pertama kali ia melakukan kejahatan, aku hanya memberi peringatan saja padanya, suruh dia upaya jangan berbuat lagi. Ia terima  baik. Maka kali in i aku menyebrang sungai ini lagi, Lantas memperhatikan gerak-geriknya!"

Orang tua tertaw a sejenak, berkata lagi.

"Tidak kusangka ia ternyata masih belum merubah kelakuannya. Ia anggap mencari uang dengan cara demikian itu sangat mudah Ketika aku mengetahui melakukan kejahatan terhadapmu, aku tidak memberi ampun lagi padanya. Sekali pukul, tamatlah riwayatnya. "Terima kasih atas pertolonganmu." berkata Ho Hay Hong sambil menganggukkan kepala.

"Usiamu masih terlalu muda, pengalamanmu belum cukup. Meskipun mempunyai kepandaian tinggi, toh masih bisa diperdayakan. Waktu aku masih muda, juga pernah mengalami banyak kesulitan seperti kau, maka kau t idak usah mengucapkan terima kasih.

Kau harus tahu, bahwa didalam Dunia Kang Ouw banyak kejahatan, sering kali terjadi saling bunuh tanpa sebab. Sejak dahulu, entah berapa banyak jago-jago tingkatan muda yang mengorbankan jiw a dengan cuma- cuma, tanpa ia sendiri mengetahui apa sebabnya. Maka aku sering berkata bahwa siapa yang tinggal didalam kalangan Kang ouw sekarang ini, sebetulnya kita sudah menganggapnya "setengah-dewa". Kau adalah satu diantara banyak jago-jago muda yang akan dijadikan korban kejahatan. Sebetulnya, diwaktu sampai terbenam dalam pasir, kau tak perlu memamerkan kepandaianmu, supaya orang itu tidak memberikan obat mabuk padamu lebih banyak dari pada orang lain. Jikalau tidak, dengan kekuatan tenaga dalam yang kau miliki, asap dupa yang bisa memabokkan orang itu sebetulnya bukan apa-apa."

Ho Hay Hong mendengarkan penuturan Itu dengan mulut bungkam.

Orang berbaju kuning itu memandang padanya dan bertanya.

"Siapa namamu? Bolehkah kau memberitahukannya padaku?"

Ketika ia mengucapkan perkataan itu, orang berbaju kuning itu agaknya merasa kurang senang. Karena sebagai orang yang pernah memberi pertolongan, seharusnya Ho Hay Hong menanyakan nama tuan penolongnya terlebih dahulu. Tetapi kini sebaliknya, bahkan penolongannya yang menanyakan nama orang ditolong .

Apakah pemuda ini tidak mempunyai perasaan? demikian orang berbaju kuning itu berpikir.

"Namaku Ho Hay Hong." demikian si pemuda menjawab agak terkejut.

"Aku Siang koan Lo, sahabat-sahabat rimba persilatan memberi nama julukan padaku Hong lui Kiam khek!" demikian orang itu memperkenalkan dirinya.

Waktu menyebutkan nama gelarnya Siang koan Lo nampaknya bangga. Tetapi di luar dugaan, ketika Ho Hay Hong mendengar namanya, sedikitpun ia tidak menunjukkan rasa kagum atau kagetnya. Hanya memandangnya sejenak, lantas diam.

Siang koan Lo merasa kecew a, hatinya tak senang, karena ia adalah orang yang sangat disegani oleh orang- orang rimba persilatan, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam. Dikiranya Ho Hay Hong  pasti merasa kagum. Tetapi mengapa si pemuda tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Untuk menarik perhatian sianak muda itu. Siang koan Lo berkata pula.

"Dahulu, betapa jahat dan tenarnya kawanan kaw anan penjahat seperti Sepasang manusia buas dari Ho pak, Empat hantu dari Leng lam, Delapan belas siluman dari Kiem ie dan Si nenek mata satu dari gunung Tian pek san. Semua telah kubasmi dengan berserikat dengan Tiga jago pedang kenamaan. Dalam pertempuran itu, orang orang Kang-ouw kalau menyebut namaku, sedikit banyak mengunjukkan rasa kagumnya!"

Penjahat-penjahat yang namanya disebut diatas, semua adalah penjahat-penjahat yang sudah terkenal pada lima tahun berselang, Siang koan Lo sengaja menceritakan kejadian yang lama itu, maksudnya ialah hendak membangkitkan ingatan Ho Hay Hong. supaya dipuji olehnya.

Diluar dugaannya, hal itu ternyata malah belum menarik perhatian Ho Hay Hong. Hanya dengan singkat ia memberi pujiannya:

"Kau membasmi kejahatan untuk kepentingan orang banyak, tidak kecewa sebagai satu pendekar yang patut dihormati."

Siang-koan Lo masih belum merasa puas. Ia sudah banyak menerima pujian muluk, kata-kata pujian yang sederhana itu, tidak menimbulkan perasaan puasnya.

Selagi hendak berlalu, seorang pendeta gemuk tiba- tiba muncul didepan pintu. Dengan kedatangan pendeta itu, semua tetamu dalam rumah makan, lantas berhenti bercakap-cakap. Semua mata ditujukan kepada pendeta itu.

Tamu-tamu yang ada disitu agaknya sudah kenal padanya, wajah para tamu pada berubah. Mereka nampak sangat ketakutan, seolah-olah ia sedang menghadapi bahaya.

Dengan sinar mata dingin pendeta itu mengaw asi semua tamu yang ada disitu. Ia melepaskan Bok-hie, yang digendong dipunggungnya dan diletakkan ditanah. Dengan terus terang ia berkata kepada kasir rumah makan:

"Kasir lekas keluar, kali ini aku hendak minta derma tiga ratus tail perak ditempatmu ini!"

Bok-hie yang besar itu terbuat dari bahan besi, kalau tidak salah, beratnya kira-kira beberapa ratus kati. Tetapi pendeta itu memanggulnya diatas punggung, seolah-olah tidak berarti apa apa.

Dengan badan gemetaran kasir keluar dari dalam, berhenti sejarak tiga tombak didepan pendeta gemuk, dengar wajah yang minta dikasihani, ia berkata.

"Hut-ya, tolong kurangi sedikit jumlahnya. Belakangan ini keadaan sangat sepi, uang yang masuk tidak seimbang dengan uang yang keluar. Uang yang sekarang ada tinggal tidak seberapa, harap Hut-ya maafkan saja."

Pendeta gemuk itu mendelikan matanya, dengan  suara memotong ucapan kasir:

"Kasir, apa katamu? Apakah kau sedikit pun tidak tahu peraturan yang sudah ditetapkan Hut-ya mu?"

Kasir terkejut, ia mundur tiga langkah dengan sikap ketakutan. Ia masih hendak minta dikasihan i, tetapi pendeta gemuk itu dengan wajah merah sudah membentak padanya:

"Jangan banyak bicara, kau mau kasih atau tidak ?"

Dengan bertolak pinggang pendeta itu duduk diatas kursi, "Tiga ratus tail perak sudah keluar dari mulutku, satu pun tidak boleh kurang, kalau tidak aku hancurkan rumah makanmu ini!" Pada waktu itu dalam rumah makan itu sudah berkerumun banyak orang, menyaksikan kericuhan itu, tetapi t idak satupun yang berani membela sang kasir.

Para pelayan rumah makan itu berdiri ketakutan, dalam hati mereka mengharap agar kasir suka memberikan jumlah uang yang dimint a, supaya tidak sampai terjadi pengrusakan.

Diantara banyak penonton, tiba-tiba muncul empat pemuda, yang masing-masing membawa senjata ruyung dan sebagainya.

"Kurang ajar, kau manusia biadab, mengapa minta derma secara paksa? Kau sedikit pun tidak mempunyai perasaan cinta kepada sesama manusia, orang beribadat macam apa kau?" demikian salah seorang pemuda itu menegur sipendeta gemuk.

Tetapi pendeta itu sedikitpun tidak menghiraukan bahkan masih berkata kepada kasir dengan sikapnya yang jumawa:

"Lekas, hut-ya mu masih akan minta derma ke lain tempat."

Empat pemuda itu marah, tanpa banyak bicara lagi keempatnya maju menghampiri dan menyerang dengan senjata masing-masing.

Senjata ruyung jatuh dikepala dan pundak pendeta gemuk itu, tetapi pendeta gemuk itu tidak marah, ia membiarkan dirinya di buat bulan-bulanan oleh ruyung empat anak muda.

Siang koan Lo yang menyaksikan kejadian itu, berkata sambil tertaw a dingin: "Pendeta itu kiranya melatih ilmu kebal, pantas ia berani berlaku begitu galak!"

Sungguh aneh, pendeta gemuk itu menerima gebukan begitu rupa, bukan saja tidak merasa sakit, bahkan bergerakpun tidak. Empat pemuda itu mendadak berteriak kesakitan mundur terhuyung-huyung sebentar kemudian, tangan masing-masing telah bengkak, hingga tidak berani turun tangan lagi.

Tanpa menoleh pendeta gemuk itu masih duduk ditempatnya, hanya mulutnya yang menggumam.

"Bocah-bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, sedikit penderitaan ini hitung-hitung sebagai hajaran, aku lihat lain kali kau masih berani berlaku kurang ajar terhadap hut-ya mu atau tidak?"

Siang koan Lo diam-diam berpikir: ”Pendeta ini sungguh-sungguh jahat, ia telah menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk melukai empat pemuda itu. Rasanya aku perlu turun tangan sendiri.”

Selagi hendak meninggalkan tempat ia duduknya, tak disangka bahwa Ho Hay Hong yang duduk disampingnya sudah bertindak lebih dulu.

Anak muda itu menghampiri pendeta gemuk dan berkata padanya:

"Tahukah kau bahwa perbuatanmu ini t idak benar?"

Pe rtanyaan ini sangat aneh, dengan seorang yang sifatnya jahat seperti pendeta gemuk itu, sudah tentu dianggap sepi saja.

"Kalau kau mempunyai kepandaian, angkatlah dulu "Bok-hie" hut-ya mu, barulah kau nanti menegur aku!" demikian pendeta gemuk itu berkata dengan sikap menghina.

Ho Hay Hong tidak berkata apa-apa lagi, ia berjalan menghampiri Bok-hie, dua jari tangannya dimasukkan kedalam lobang Bok-hie, dengan mendadak ia angkat tinggi barang itu.

Tepuk tangan dan suara pujian terdengar riuh. Semua mengagumkan pemuda itu.

Diantara sorak sorai yang sangat riuh, pemuda itu mengangkat Bok-hie itu dan di lemparkan keluar, kemudian balik ketempatnya.

Pada waktu itu, terdengar suara orang berkata: "Pendeta jahat sekarang ketemu batunya. Lihat. Bok-

hienya sudah dilemparkan ke tempat sampah, hahaha"

Pendeta itu semula terkejut, setelah mendengar suara ejekan orang tua itu, lantas lompat dari tempat duduknya, dengan suara keras ia membentak Ho Hay Hong:

"Tak kusangka kau bocah yang masih ingusan, ternyata mempunyai kepandaian yang berarti, hm, kau berani mengganggu hut-ya-mu. Barang kali kau sudah bosan hidup."

Sehabis berkata, tangannya menyerang dada pemuda itu.

Serangan itu hebat, tetapi dapat dielakkan dengan mudah oleh Ho Hay Hong.

Dengan mengeluarkan suara di hidung, Ho Hay Hong. membalikkan tangan, menyambut serangan pendeta itu, ketika tangan mereka saling beradu, pendeta itu mendadak mundur selangkah, wajahnya berubah seketika dengan mata merah membara ia memandang Ho Hay Hong sejenak, tanpa berkata apa-apa lantas berlalu.

Ho Hay Hong mengaw asi berlalunya pendeta itu dengan perasaan heran, entah apa sebabnya tanpa melawan lagi ia lantas pergi.

Para tamu dalam rumah makan itu menyambut girang kemenangan Ho Hay Hong, hingga ia harus mengucapkan terima kasih kepada orang banyak.

Sementara itu Siang koan Lo tahu-tahu sudah berada di belakangnya, sambil menepuk-nepuk pundaknya ia berkata:

"Kekuatan tenaga dalammu cukup hebat, kalau kau mendapat latihan yang sempurna, pasti lebih hebat lagi hasilnya".

"Terima kasih." demikian Ho Hay Hong berkata. "Pendeta  jahat  itu  baru  mendapat  sedikit  kekalahan

sudah  berlalu,  pasti ia  ada  mengandung  maksud jahat,

kau harus hati-hati terhadapnya." berkata Siang koan Lo.

Kasir rumah makan merasa girang ketika menyaksikan Ho Hay Hong berhasil mengusir pendeta itu, ia buru-buru menghampiri dan mengatakan terima kasihnya.

Ho Hay Hong mengeluarkan uang perak potongan, diletakkan diatas meja dan lantas berlalu.

Kasir Ha terkejut, selagi hendak dikembalikan, Ho Hay Hong sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

Siang koin Lo mengaw asi berlalunya Ho Hay Hong dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya, ia menganggap pemuda itu seorang aneh, baik sikapnya maupun tingkahnya.

Dalam otaknya tiba-tiba terlint as suatu pikiran: "d ilihat dari luar, pemuda Itu sangat pendiam tetapi cerdik, sebetulnya merupakan satu jago yang banyak harapan dihari depan. Apabila ia memiliki ilmu kepandaian luar biasa. Mengapa aku tidak memperkenalkan ia kepada toako. Ia sekarang sedang dalam bahaya, sangat membutuhkan tenaga bantuan, kalau mendapat bantuan tenaga seperti orang she Ho ini berarti mengurangi ancaman bahaya.”

Demikian ia mengambil keputusan, segera mengejarnya.

Ho Hay Hong jalan sendiri sambil menundukkan kepala, gerakannya sangat cepat, sebentar saja sudah berada diluar kota, Waktu itu, ia sedang berada ditengah-tengah hutan.

Mendadak ia merandek, matanya memandang kesuatu arah, agaknya telah melihat apa.

Benar saja, dari sebuah jalan sempit datang lima orang, satu diantaranya ialah pendeta gemuk, bekas pecundangnya.

Pendeta itu segera menghampiri Ho Hay Hong, katanya sambil tertaw a dingin.

"Anjing cilik, kau berani mencampuri urusan hut-yamu, hari ini aku akan menghancurkan tulang-tulangmu."

Ho Hay Hong tidak menghiraukan ancamannya, dengan tenang ia mengaw asi kawan-kawan sipendeta. Yang berdiri disebelah kiri sipendeta adalah seorang berusia kira-kira empat puluhan, matanya sipit, hidungnya bengkok, bibirnya tebal, jenggotnya seperti jenggot kambing, di pinggangnya tergantung sebuah golok bintang tujuh.

Berdiri disebelah kanannya sipendeta, seorang bertubuh kurus kering dan jangkung hingga mirip dengan sebatang bambu, ia bermata satu.

Orang ketiga adalah seorang imam bertubuh gemuk, tangannya membaw a kebutan, kakinya panjang sebelah, hingga kalau berjalan ia seperti orang pincang.

Empat orang  itu  berdiri  dengan  sikap  garang, merint angi perjalanan Ho Hay Hong. Pendeta gemuk itu berkata pula: "Anjing cilik, dengar, tiga tuan besarmu adalah jago kenamaan dalam dunia persilatan pada dewasa ini, Git seng Koay khek, Ta gan Sin cu, dan Hai pai Tja. Kau satu bocah yang masih belum punya nama dikalangan Kang ouw, boleh merasa  bangga mati ditangan mereka."

Ho Hay Hong mengerti bahwa pertempuran itu sudah tidak dapat dihindarkan lagi, maka ia juga tidak banyak bicara, tangannya mematahkan sepotong bambu, menghampiri empat orang itu dengan t indakan lebar.

Cit seng Koay khek yang pertama-tama terkejut, ia sudah malang melintang banyak tahun dikalangan Kang ouw, tetapi belum pernah melihat seorang muda yang begitu berani.

Pendeta gemuk itu ketika  melihat Ho Hay Hong menggunakan sepotong bambu hendak digunakan untuk melawan empat orang, dianggapnya suatu hinaan besar. Dalam murkanya, ia lalu membuka serangan lebih dulu.

Ho Hay Hong lompat kesamping, belum  lagi  membalas, Cit seng Koay khek sudah menyerang dengan goloknya.

Empat orang itu namanya sudah terkenal dikalang Kangouw, oleh karena sifat mereka yang bersamaan, dengan cepat bergabung menjadi satu.

Setiap kali menghadapi musuh mereka hanya mencari caranya untuk merebut kemenangan, tidak perduli tata tertib dunia Kang ouw. Maka entah sudah berapa banyak orang-orang golongan baik-baik yang terbinasa ditangan mereka.

Orang-orang rimba persilatan asal mendengar nama mereka, benar-benar sangat gemas, semua mengharap agar manusia-manusia jahat itu lekas-lekas disingkirkan. Tak disangka bahwa orang orang yang kejahatannya sudah melewati batas itu, telah bertemu dengan Ho Hay Hong yang baru pertama kali menginjak dunia Kang-ouw.

Ho Hay Hong yang diserang secara pengecut Cit seng Koay khek, karena tidak ke buru menangkis, dengan cepat memutar setengah lingkaran, dengan satu gerak tipu wanita melemparkan alat tenun, ujung  bambu menikam lawannya.

Serangan Cit seng Koay khek mengenakan tempat kosong, ia buru-buru geser kakinya dan melakukan serangan dengan tinju. Ujung bambu lewat  dibaw ah sikut nya, terpaut sedikit saja mengenakan jalan darah Sam lie-hiat. Ia menggeram, golok ditangan kanannya membabat lengan kanan Ho Hay Hong. Tapi dapat dielakan secara manis.

Tok gan Tin cu pikir bocah ini benar-benar lihay, ia segera mementangkan jari tangannya, menyerang dari samping.

Ho Hay Hong lompat sejauh satu tombak mengeluarkan serangan yang berbahaya itu. Serangan Tok gan Sin cu tidak keburu ditarik kembali, sehingga jari tangannya menancap ke tanah. Andaikata jari tangan dengan kukunya yang runcing itu menancap ketubuh Ho Hay Hong, entah apa yang akan terjadi. Disini dapat diduga betapa ganas serangan orang itu.

Dengan wajah tanpa berobah Ho Hay Hong menatap senjata bambunya, menikam jalan darah Thay heng hiat tubuh Hui pat To jin.

Imam itu buru buru menyingkir, tetapi tidak urung jubahnya, kena kesambar sehingga robek.

"Anjing kecil, kau benar-benar mencari mampus, berani menantang aku!" demikian imam itu berkata dengan nada gusar. Lalu mengeluarkan senjata yang berupa kecer kuningan, menyerang lawannya. Kalau serangannya itu mengenai bambu Ho Hay Hong, sudah pasti senjata pemuda itu akan terpotong menjadi dua.

Tetapi Ho Hay Hong ternyata amat lincah dan cekatan sekali, ia angkat tinggi  bambunya,  mengelakkan serangan imam tua itu, dan merubah gerakannya, kali ini menikam mata kiri imam. Ho Hay Hong seolah-olah sudah tahu kejahatan dan kekejaman empat orang itu maka ia turun tangan tanpa merasa kasihan.

Kalau tidak berlaku gesit hampir saja ujung bambu pemuda itu menusuk sebelah mata kirinya. Justru karena itn imam itu lantas naik pitam.

Dengan kemarahan meluap-luap, ia menyambitkan senjata kecernya kemuka Ho Hay Hong.

Sementara itu, Tok gan Sin cu sudah lompat setinggi tiga tembok, kemudian melakukan serangan dari atas.

Ho Hay Hong harus melayani serangan dari dua pihak, setelah mengelakkan serangan Tok gan Sin cu, ia menyontek kecer Hui pat Tojin dengan bambunya.

Empat orang yang menyaksikan ketangkasan semua itu, diam-diam juga terkejut. Cit seng Koay khek tidak mau t inggal diam. Belum lagi Ho Hay Hong memperbaiki posisinya, ia sudah diserang dengan menggunakan tangan kosong.

Pendeta gemuk yang sangat membenci pemuda itu, ketika menyaksikan Ho Hay Hong dikeroyok oleh tiga kawannya, setelah mendapat kesempatan, ia juga turut menyerang.

Hai pat Tojin yang kecernya terpukul jatuh oleh Ho Hay Hong, mengeluarkan tiga buah lagi, disambitkan dengan berbareng.

Ho Hay Hong yang menghadapi empat kaw annya iblis itu, betapapun tinggi kepandaiannya, juga merasa keripuhan. Akhirnya ia telah mengambil keputusan nekad, dengan t iba-tiba ia membuka mulut dan tertaw a terbahak-bahak, dari mulutnya berhembus hawa putih. sedang mukanya yang putih mendadak menjadi merah bagaikan kepiting direbus.

Ia angkat tangannya untuk menyambuti serangan tangan kosong Cit seng Koay khek. Kedua kekuatan tenaga itu saling beradu, hingga menimbulkan suara nyaring. Hawa putih yang keluar dari mulut si pemuda semakin tebal, sedangkan Cit seng Koay khek terdorong mundur sampai beberapa langkah.

Sementara itu serangan hebat dari si-pendeta gemuk, sudah hampir menjangkau leher belakang Ho Hay Hong,

Dengan mendadak pemuda itu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, hingga tangan pendeta gemuk itu telah terbentur dengan kekuatan tenaga dalam yang tidak berwujud.

Pendeta itu tidak berani melanjutkan serangannya, buru-buru ditarik kembali. Selagi hendak menambah kekuatan tenaga dan hendak melancarkan serangannya lagi, kedudukan Ho Hay Hong sudah berubah.

Kalau Ho Hay Hong berhasil mengelakkan serangan dari dua lawannya, serangan senjata kecer dari Hai pat Tojin yang dilontarkan dari jarak cukup jauh. tidak berhasil dikelitkan, hingga sebuah kecer mengenakan lengan kirinya.

Dengan menahan rasa sakit, ia menggerakkan senjata bambunya, menikam Tok gan Sin Cu

Cit seng Koay khek dan pendeta gemuk itu terpukul mundur oleh Ho Hay Hong, kembali maju lagi, melancarkan serangannya. Sikap Ho Hay Hong mendadak berubah dari seorang pendiam, tiba-tiba jadi demikian beringas, matanya memandang Cit seng Koay khek sedemikian bengis.

Dengan menahan rasa sakit ia mencabut senjata kecer Hui pat Tojin yang tertancap dilengannya, darah mengucur keluar membasahi bajunya. Dengan senjatanya itu, tanpa memperdulikan lukanya sendiri, lantas melontarkan kepada Cit seng Koay khek. Disamping itu. ia masih melakukan serangan kepada pendeta gemuk.

Badannya tergoncang keras, karena hampir tak sanggup mengendalikan hawa amarahnya.

Hai pat Tojin yang menyaksikan perubahan itu, diam- diam merasa girang, kembali mengeluarkan tiga buah senjata kecernya dan disambitkan kearahnya.

Senjata itu mengeluarkan sinar berkeredepan meluncur ke arah Ho Hay Hong.

Pada saat itu, sesosok bayangan kuning tiba-tiba melayang dan menggagalkan serangan imam itu.

Ho Hay Hong berpaling, segera melihat diri Siang koan Lo.

Datangnya Siang koan Lo itu meskipun sudah menolong jiw a Ho Hay Hong, tetapi telah membangkitkan kemarahan Tok gan Sincu.

Dengan suara keras orang tua itu berkata:

"Bagus sekali perbuatanmu, nampaknya kau Siang koan Lo jaga hendak mencampuri urusan ini."

Cit-seng Koay-khek tidak kenal Siang-koan Lo, ia sangat gemas kepada pemuda pendiam yang sangat membandel itu. Tanpa banyak bicara, ia menyerang dengan golok pusakanya.

Ho Hay Hong telah melupakan keadaannya sendiri, dalam keadaan tergesa-gesa ia menggunakan bambunya untuk menangkis golok Cit seng Koay khek, seketika itu juga bambunya terpapas menjadi dua potong, hanya sepotong yang masih tinggal dalam tangannya.

Cit seng Koay khek tertawa girang,  lagi-lagi menyerang dengan goloknya.

Ho Hay Hong terpaksa mundur selangkah, dengan senjata bambunya yang tinggal sepotong, digunakan sebagai senjata totokan menghujani serangan kepada tiga-puluh enam jalan darah Cit seng Koay khek.

Karena serangannya yang demikian gencar dan hebat, membuat kelabakan Cit seng Koay khek. Ia merasa heran dan kagum akan kepandaian pemuda itu, senjatanya yang hanya terdiri dari sepotong bambu, tetapi dapat digunakan sebagai senjata rupa-rupa.

Karena memikirkan diri pemuda lawannya, gerakan agak lambat, sehingga terdesak oleh Ho Hay Hong dan hampir saja tertotok jalan darahnya.

Sebagai seorang kuat yang sudah  banyak pengalaman, begitu melihat gelagat tidak baik, buru-buru menenangkan pikirannya.

Selagi hendak melakukan serangan pembalasan, dalam otaknya tiba-tiba terlint as suatu bayangan, wajahnya berubah seketika, ia buru-buru lompat keluar dari gelanggang dan menanya dengan suara keras: "Kau ada hubungan apa dengan si Kakek penjinak Garuda? Lekas jawab."

Begitu pertanyaan itu keluar dari mulutnya, pertempuran lantas berhenti, semua mata ditujukan ke wajah Ho Hay Hong.

Ho Hay Hong sendiri menjadi bingung, dalam hati ia berpikir, aku sendiri masih belum tahu siapa dan dimana adanya si Kakek penjinak garuda itu. Bahkan kini sedang dalam perjalanan untuk mencari tahu dimana adanya orang tua itu, bagaimana kau menanya aku pernah apa dengannya?

Ia tidak menjawab, hingga Cit seng Koay  khek semakin heran. Dengan menahan perasaannya sendiri, ia berkata pula:

"Kalau kau memang orangnya Kakek penjinak garuda, kita juga t idak akan menyulitkan kau lagi"

Sehabis berkata demikian, ia memberi isyarat dengan mata kepada kawan-kaw annya seraya berkata:

"Jangan. Kakek penjinak Garuda adalah orang yang selalu kita hormati, kita tidak boleh menyusahkannya."

Tiga orang itu mengerti sikap mereka berubah seketika, dengan muka berseri-seri memandang Ho Hay Hong. kemudian berlalu bersama Cit seng Koay khek. Hanya pendeta gemuk yang agaknya masih penasaran, sambil tertaw a dingin ia berkata:

"He, he, tak disangka kau saudara kecil ternyata bukan orang sembarangan. hitung-hitung aku yang kelilipan debu." Mereka berempat berlalu tidak melalu i jalan raya, melainkan mengambil jalan kecil, sebentar kemudian sudah menghilang didalam rimba lebat.

Siang koan Lo lalu berkata:

"Saudara Ho, Kakek penjinak Garuda itu sebetulnya pernah apa dengan kau ?"

Ho Hay Hong benar-benar seorang aneh, begitu lawan-lawannya berlalu, lantas bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaganya, terhadap pertanyaan Siang koan Lo seolah-olah tidak masuk ketelinganya.

Pikirannya melayang ketempat jauh.

Pada suatu hari diwaktu hujan, angin lebat, di bagian dalam gunung Ho lan san, gurunya, Dewi ular dari gunung Ho lan san, telah memberikan sebungkus obat kepadanya, suruh makan seketika itu juga, kemudian berkata padanya, dengan muka masam.

"Hay Hong, sudah lima tahun kau belajar ilmu silat dengan suhumu, sekarang ku utus kau turun gunung untuk melakukan suatu tugas. Kuberi waktu kau satu bulan, untuk menyelidiki jejak si Kakek penjinak Garuda dimana ia berada. Setelah berhasil kau harus lekas pulang untuk melaporkan kepada. Obat yang kau makan tadi adalah obat beracun yang bekerjanya sangat lambat, yang tidak melebihi satu bulan, dan kalau obat itu sudah mulai bekerja, sekalipun dewa, juga sudah tidak sanggup menyembuhkannya."

Pada waktu itu, suhunya juga memerint ahkan empat suhengnya segera turun gunung, dengan memberikan tugas: "Toa suheng dalam waktu satu bulan harus membawa pulang kepala keempat orang tua yang terkenal sebagai tukang menangkis didaerah barat. Mereka itu adalah Hauw-tian, Hauw tee, Hauw hie dan Hauw song.

Jie suheng diperintahkan untuk mengambil batok kepala seorang tokoh kenamaan yang bergelar pelajar berpenyakitan. Batas waktunya juga satu bulan.

Sam suheng diperint ahkan mengambil batok kepala tiga jago pedang partay Cong lam-pay dan suheng keempat mendapat perint ah mengambil batok kepala paderi gereja Siau lim sie, Siang hui keng!”

Empat suhengnya itu semua memandang padanya penuh kebencian

Dikaki gunung mereka berpisah dengan sikap dingin, empat suhengnya agaknya tidak menyukai dirinya, sebab ia adalah murid paling kecil tetapi yang paling disayang oleh suhunya.

Sejak kecil ia dibesarkan diatas gunung Ho-lansan, tetapi, setiap hari mendapat perlakuan penuh kebencian dari empat suhengnya dalam hati selalu timbul bertanya mengapa ia diperlakukan demikian ?

Gurunya Dewi ular dari gunung Ho lan san, setiap hari menutup pintu, mengeram diri melatih ilmu kepandaian, tidak ada waktu untuk mengopeni dirinya, Suheng- suhengnya membenci dirinya, memperlakukannya dengan sikap dingin, sedangkan tempat kediamannya diatas gunung yang jauh dengan manusia, ia seperti sudah dilupakan oleh sesamanya. Demikianlah ia dibesarkan dalam suasana kesunyian dan kebencian, keadaan telah merubah sifatnya, segala apa yang diterimanya sudah menjadi biasa baginya.

Maka ketika ia mengetahui bahwa Siang koan Lo adalah salah satu dari tiga jago pedang dari partai Cong lam pay, ia sudah tahu bahwa orang  itu adalah  salah satu orang yang jiw anya dimaui oleh suhunya, dengan demikian, maka ia jaga tahu peristiw a akan berlangsung, bahkan tidak dapat dihindarkan.

Justru itulah, maka ia coba menyingkir dari orang tua itu, ia telah mengambil keputusan meninggalkan dia, sebab ia tidak ingin melanjutkan perhubungan itu, dan apabila perhubungan itu dilanjutkan. Ini berarti menyulitkan kedudukannya sendiri.

Tidak lama kemudian, ia sudah kembali, untuk menghadapi kejahatan. Setelah beristirahat cukup lama. kekuatan tenaganya sudah pulih kembali. Ia lalu bangkit, menepuk-nepuk debu diatas bajunya, kemudian berlalu begitu saja.

Siang koan Lo bukan saja menjadi bingung atas kelakuan pemuda itu. tetapi juga dengan perasaan mendongkol Ia lalu mengejarnya.

"Saudara Ho, dua kali aku menolong jiwamu, tidak lain karena aku ingin bersahabat denganmu. Tetapi kau perlakukan aku dengan sikap demikian, apakah kau sedikitpun tidak mempunyai perasaan?"

Ho Hay Hong perlahan-lahan mendorong tangannya Siang koan Lo yang diletakan diatas pundaknya, lama baru berkata: "Sudahlah, dalam dunia masih banyak orang yang lebih berharga untuk menjadi sahabatmu."

Siang koan Lo merasa kecewa mendengar jawaban itu, katanya dengan perasaan mendongkol:

"Bagus, benarkah kau tidak sudi pandang muka kepadaku. Kau jelaskan, orang yang bagaimana baru pantas menjadi sahabatmu?"

"Bukan maksud siaot ee hendak memilih sahabat," berkata Ho Hay Hong sambil menghela napas.

"Baiklah, kalau kau memang tidak sudi menjadi sahabatku, tetapi, apabila aku ingin meminta pertolongan kepadamu,  apakah   kau   sudi   menerima   baik permint aanku?"

Ho Hay Hong memandang pada dengan perasaan heran, meskipun tidak membuka mulut, tetapi dari pandangan matanya sudah jelas ada mengandung pertanyaan.

"Urusan ini benar-benar menjadi tanggung jaw abku sendiri," berkata pula Siang-koan Lo, "tetapi karena aku sendiri ada urusan penting, t idak bisa membagi waktuku untuk mengurus dalam waktu bersamaan, maka terpaksa minta pertolonganmu."

Ia sengaja diam-diam menantikan  perobahan sikapnya, tetapi Ho Hay Hong nampak mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menunjukkan reaksi apa- apa.

Akhirnya ia tidak berdaya, maka lalu  melanjutkan kata-katanya: "Saudara tuaku, Cie lui Kiam khek. waktu belakangan ini sering mendapat gangguan orang-orang rimba persilatan tanpa sebab, sehingga memusingkan sendirinya. Karena khawatir bahwa kepandaian dan kekuatannya sendiri tidak sanggup melayani  gangguan itu maka mengirim orangnya untuk minta aku datang memberi bantuan tenaga. Tetapi karena pada saat ini aku t idak bisa membagi waktuku maka aku pikir saudara Ho yang belum mempunyai kediaman tetap, bolehkah untuk sementara berdiam dirumah saudara tuaku itu, sekalian untuk memberi bantuan tenaga."

Ho Hay Hong setelah mendengar penjelasan itu, ternyata masih terbenam dalam kesangsian.

Siang koan Lo yang bisa melihat sikap orang, lalu berkata pula:

"Nampaknya saudara Ho t idak sudi membantu aku."

Ho Hay Hong didesak terus-terusan, terpaksa memotong perkataan orang tua itu dan berkata:

"Baiklah, aku terima baik permint aanmu." Siang koan Lo sangat girang, katanya: "Kebaikan anda, aku Siang koan Lo asal masih bisa bernapas, pasti tidak akan kulupakan"

Sehabis berkata demikian, Ia menggandeng tangan Ho Hay Hong, dengan tindakan lebar berjalan menuju kekota.

Tiba dikota. Siang-koan Lo mendadak berhenti dan menanya:

"Apakah saudara Ho pernah dengar kisahnya Cie lui Kiam khek?" "Aku hanya dengar ada seorang tua yang mempunyai nama julukan sikakek penjinak Garuda."

Mendadak ia diam, terang ia tidak mau banyak bicara, tetapi Siang koan Lo sudah salah tafsir, katanya sambil tertaw a getir:

"Sudah tentu si Kakek Penjinak Garuda itu adalah seorang paling kesohor dalam rimba persilatan didaerah selatan ini, saudara tuaku Cie lu i Kiam khek bagaimana dapat dibandingkan dengannya? Sayang orang tua itu sudah sepuluh tahun lebih belum pernah muncul didunia kangouw, entah kemana jejaknya."

Berkata sampai disitu mendadak ia lihat sikap Ho Hay Hong berubah, maka ia tidak melanjutkan perkataannya.

Tidak lama kemudian, Siang koan Lo mendadak berkata:

"Sudah sampai."

Saat itu mereka berdiri didepan sebuah gedung besar yang dikitari oleh pagar dinding tembok tinggi.

Ho Hay Hong tidak menyangka bahwa seorang rimba persilatan juga mempunyai kediaman demikian mewah.

Dari dalam rumah itu Ho Hay Hong  sama-sama mendengar suara seperti orang sedang melatih ilmu silat, perhatiannya lalu tertarik oleh papan merk yang tergantung di atas pintu gerbang, yang berbunyi: "KANG- LAM BU KOAN."

Perasaannya mulai tenang, ia belum pernah menginjak daerah Tionggoan", juga tidak tahu bahwa "BU KOAN" itu bagaimana rupanya, tetapi arti dari kata-kata itu sudah jelas menunjukkan bahwa gedung itu adalah  tempat untuk berlatih ilmu silat.

Dalam perjalanannya kali in i, sepanjang jalan ia juga pernah menjumpai tidak sedikit tokoh rimba persilatan daerah Tiong goan, yang ternyata sangat mengagumkan. Dan dalam gedung yang menjadi tempat untuk berlatih ilmu silat ini, tentunya terdapat banyak tokoh yang berkepandaian t inggi.

Ia ingin mengetahui kepandaian sendiri sebetulnya sampai dimana tingginya, karena selama itu ia masih belum tahu bagaimana kepandaiannya sendiri.

Dengan perasaan penuh tanda tanya ia membiarkan Siang-koan Lo mengetok pintu.

Dengan cara yang sangat aneh, Siang-koan Lo mengetok pintu, setiap mengetok tiga kali, ia  berhenti dan begitu seterusnya.

Ho Hay Hong mengerti bahwa cara mengetok itu pasti mengandung suatu tanda rahasia, maka ia mulai anggap bahwa tempat itu agak mirip dengan persekutuan rahasia.

Tidak lama kemudian, dari dalam terdengar suara langkah kaki orang, dan sesaat pintu lalu terbuka.

Mata Ho Hay Hong berkesiap, seorang gadis c ilik berusia kira kira tujuh tahun berdiri dihadapannya.

Gadis cilik itu mengenakan pakaian pendek, tubuhnya gemuk, kulitnya putih halus, biji matanya bulat hitam, benar-benar sangat menarik. Begitu melihat Siang koan Lo. segera memanggil siok- siok, atau paman, kemudian menubruknya dengan mesra, sehingga Siang-koan Lo tertawa girang.

Sebentar kemudian, gadis cilik itu agaknya baru melihat bahwa diluar pintu masih ada berdiri seorang pemuda tampan berpakaian warna hijau, ia lalu menanya sambil membuka lebar kedua matanya:

"Siok siok, siapa dia?"

"Dia adalah Ho siok-siok. lekas memberi hormat!" berkata Siang koan Lo sambil tersenyum.

"Apa Ho siok siok hendak belajar ilmu silat? Ow aku paling takut segala adat istiadat yang membosankan, kita tidak usah memberi hormat saja?" berkata gadis cilik itu sambil tertaw a.

"Jangan menduga yang tidak karuan, dia adalah sahabat baik siok siokmu, kepandaian ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari pada kepandaian siok-siokmu." berkata Siang koan Lo.

"Bagus, jadi Ho siok siok datang bertamu? Namaku Leng Leng, apakah nama in i baik?" berkata gadis cilik itu sambil menepok-nepok tangannya.

"Baik." menjawab Ho Hay Hong.

Baru saja dia hendak melangkah masuk Leng Leng sudah berkata lagi dengan sikapnya yang masih kekanak- kanakan:

"Paman-paman dahulu pernah datang kemari pada mengatakan bahwa Leng Leng paling baik mereka mengajarkan aku ilmu terbang segala! Ho siok-siok, kau bisa terbang atau tidak? Sukakah kau mengajar Leng Leng? Nanti Leng Leng akan memasakkan makanan yang enak untukmu."

Ho Hay Hong t idak mengira gadis cilik itu memajukan pertanyaan demikian, hingga sesaat tidak dapat menjawab.

Siang koan Lo memeluknya dan berkata padanya:

"Anak kecil jangan suka main main, lekas panggil ayahmu keluar."

Leng Leng yang belum mendapat jawaban dari Ho Hay Hong, agaknya merasa bahwa tamu ini agak luar biasa, lalu berkata sambil pentang lebar matanya:

"Hari ini enci juga pulang."

Setelah itu ia membalikkan badan dan lari masuk.

Ho Hay Hong mengikuti Siang koan  Lo  berjalan  melalu i lorong taman dan masuk ke ruangan tamu. Ia duduk dekat jendela, hingga bisa melihat pemandangan luar.

Ia membuka daun jendela, tampak sepuluh lebih anak anak muda setengah telanjang sedang melatih ilmu silat ditanah lapang.

Tidak jauh dari tempat itu terdapat sebuah rak besi, yang dengan berbagai jenis senjata tajam. Ia tersenyum terkenang kepada kejadian yang lalu, dimana dahulu dia belajar ilmu silat diatas gunung, keadaannya juga demikian.

Tidak lama kemudian, seorang laki-laki pertengahan umur berjalan masuk keruangan tamu, Siang Koan Lo mengatakan beberapa patah kata ditelinga laki-laki itu, kemudian barulah diperkenalkan padanya. "Ini adalah Ho Hay Hong siauhiap." demikian Siang koan Lo berkata kepada laki-laki itu, kemudian berkata pula sambil menunjuk laki-laki itu: "Ini adalah Cie  lui Kiam khek So to Siang, ha ha saudara Ho ini dalam suatu pertempuran telah mengalahkan empat iblis jahat, kepandaiannya sungguh hebat."

Cie lu i Kiam khek tersenyum dan berkata. "Cit seng Koay khek, Tok gan Sin cu, Hui pat Tojin dan si pendeta gemuk itu. semua adalah ib lis-iblis paling ganas dalam dunia Kang-ouw. saudara Ho dengan menggunakan sebatang bambu menjatuhkan mereka. Ini merupakan suatu kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam kalangan rimba persilatan." Ia berhenti sejenak.

"Tempatku ini sangat sederhana, tidak ada barang apa-apa untuk menyediakan kepada tetamu. harap saudara Ho memaafkan !"

"Tempat ini sangat baik," demikian Ho Hay Hong berkata sambil menggelengkan kepala.

Cie lui Kiam khek tahu dari mulut Siang koan Lo, tentang sifat pemuda pendiam ini,  maka ketika ia mendengar demikian, ia juga tidak marah. Setelah mengucapkan  kata-kata  seperlunya  lagi,   lalu memerint ahkan orangnya untuk menyediakan kamar bagi tetamu itu.

Menjelang senja. Siang koan Lo minta diri, dengan sikap sungguh-sungguh ia berkata kepada Ho Hay Hong:

"Ho siauhiap, harap jangan pandang kau saudara Cie hui Kiam-khek sebagai orang luar, aku sekarang hendak pergi, urusan disini seluruhnya boleh kuserahkan ditanganmu, sampai kita berjumpa lagi !" Ho Hay Hong mengantar Siang koan Lo sampai diluar pintu, mulai ia memperhatikan keadaan Cie lui  Kiam khek. Dari muka dan sikapnya, jago pedang  kenamaan ini bukanlah seorang dari golongan jahat.

Mengapa suhunya. Dewi ular dari gunung Ho lan san menghendaki jiwanya? Apakah suhunya itu benar-benar sudah tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat ?

Mendadak ia teringat kepada suhengnya yang diberikan tugas mengambil kepala jago pedang itu, apakah suheng sudah mencium jejak jago pedang ini ?

-oo0dw0oo-