Rahasia 180 Patung Emas Jilid 30 Tamat

 
Jilid 30

Tamat "Akan tetapi, bukan mustahil selama sekian tahun Lok Cing hui juga berhasil meyakinkan semacam kungfu khas," ujar Ciongli Hong. "Seperti kejadian dahulu, sesudah ayah berhasil mengalahkan Lok Cing hui dan mendapat gelar juara gelar nomor satu dunia persilatan, pernah mengatakan bahwa Lok Cing hui itu adalah tokoh yang ber-bahaya, sebabnya dia dikalahkan ayah mungkin ada sebagian disebabkan dia sengaja mengalah jika betul demikian halnya, nanti bila ayah bergebrak lagi dengan dia, anak berharap ayah harus berlaku waspada dan jangan terlampau meremehkan musuh."

"Sudah tentu, kalian jangan kuatir!" Ciongli Cin mengangguk.

Tiba-tiba Ciongli Thian-liong menimbrung, "Aneh, mengapa anak sama sekali tidak tahu menahu kejadian itu?"

"Kejadian apa yang tidak kau ketahui?" tanya Ciongli Cin.

"Yaitu, sesudah ayah berhasil merebut juara pertarungan dahulu, apa benar ayah merasa Lok Cing hui sengaja mengalah?" tanya Ciongli Thian-liong pula.

Kembali Ciongli Cin mengangguk, jawabnya, "Ya, tatkala itu ayah memang mempunyai perasaan begitu. Cuma kalian tidak perlu kuatir, dengan kungfu Pek-hoa hiang in ciang yang telah kuyakinkan sekarang pasti dapat kukalahkan dia."

"Cuma anak tetap tidak mengerti, mengapa hal itu tidak kuketahui, barangkali dahulu anak tidak hadir di tempat, maka tidak tahu..."

"Ya, memang, waktu itu kamu baru belasan tahun, mungkin kamu dengar dan sudah lupa," tukas Ciongli Cin.

Ciongli Thian-liong memandang sekejap Ih Kik pin dan lain-lain, lalu tidak bicara lagi dan makan dengan lahapnya.

Malamnya setelah lewat tengah malam, Ciongli Thian-liong bersama Ih Kik pin berlima diam-diam mendatangi penjara bawah tanah itu.

Setelah menyuruh pergi busu penjaga, Ih Kik-pin lantas mengeluarkan anak kunci untuk membuka gembok ruang tahanan Ih Keh ki dan Su Kiam-eng, berturut-turut mereka masuk di ruang itu dan serentak memberi hormat kepada Su Kiam-eng.

Dengan sendirinya Kiam-eng heran, ia membalas hormat dan bertanya, "Eh, mengapa kalian sedemikian sungkan padaku?"

Ciongli Put mendahului menanggalkan kedok kulit tipis pada mukanya, dengan air mata berlinang ia menjawab, "Bilamana Su siauhiap tidak menyadarkan kami mungkin selama hidup kami akan selalu menganggap musuh sebagai ayah dan tetap dikelabuinya."

"Ahh, jadi sekarang kalian sudah tahu jelas bahwa ayah kalian itu adalah barang gadungan?" tanya Kiam-eng girang.

Dengan suara pedih Ciongli Put menjawab, "Ya, sudah kami uji, dan memang bukan ayah kami . . . selama sekian tahun, meski kami juga merasa heran mengapa ayah sudi melakukan hal-hal yang tidak patut dan tersesat, sungguh tidak pernah terduga bahwa dia ternyata ayah kami yang palsu..."

Bicara sampai di sini suaranya menjadi tersendat-sendat dan sulit meneruskan.

Berturut Ciongli Hong dan Ciongli Thian-liong juga menanggalkan kedok kulit masing-masing sehingga pulihkan wajah asli mereka.

"Su siauhiap," tanya Ciongli Thian-liong kemudian dengan air mata bercucuran, "cara bagaimana engkau dapat mengetahui kepalsuan jahanam itu?" "Sangat sederhana alasannya," tutur Kiam-eng, "sebab kita yakin pribadi ayahmu pasti tidak begitu. Kita tahu, baik nama baik dan kungfu ayahmu tidak ada bandingannya di dunia ini, sama sekali tidak ada alasan bahwa beliau rela terjerumus sejauh ini."

"Jika begitu, apakah Su siauhiap juga tahu siapakah dia sesungguhnya?" tanya Ciangli Hong. "Apakah Ciongli-heng tahu bahwa kalian mempunyai seorang paman guru yang bernama Hin thian

kisu Lo Ging-yang?" tanya Kiam eng.

Ciongli Hong berlima sama tergetar kaget, seru mereka, "Hei, kau bilang Hin thian kisu Lo Ging yang? Bukankah dia sudah lama meninggal?"

"Bisa jadi dia belum meninggal," ujar Kiam-eng. "Cuma, hal ini hanya dugaan guruku saja, Soal benar atau tidak, aku pun tidak berani memastikan."

Segera Ciongli Thian-liong berkata kepada Ciongli Put, "Toako, aku tidak sabar lagi, biarlah sekarang juga kita membekuk bangsat tua itu."

Ciongli Put mengangguk, dengan rasa kikuk ia coba tanya Su Kiam eng, "Su-laute, apakah engkau sudi kiranya memaafkan segala kesalahan kami?"

Dengan tertawa Kiam-eng menjawab, "Tanpa sengaja kalian tertipu oleh kawanan penjahat sehingga terlanjur berbuat sedikit hal-hal yang berlawanan dengan kebenaran, tapi yang mengalami kesusahan sebenarnya adalah kalian sendiri dan bukan kami, kenapa mesti minta maaf apa segala?"

"Baiklah," ucap Ciongli Put dengan bersemangat "Pendek kata, sekarang juga kita pergi bersama untuk membekuk bangsat tua itu untuk dicincang hingga hancur luluh."

Belum lagi lenyap suaranya, tiba-tiba pintu besi di lorong sana gemerinting dengan lantang.

Ih Kik ping berdiri di samping sana, begitu mendengar suara nyaring pintu besi, seketika air mukanya berubah pucat, cepat ia melongok keluar ternyata pintu besi itu telah tertutup dengan sendirinya, Keruan kejutnya tak terhingga, teriaknya, "Hei, Ji Ing, siapa yang menyuruhmu menutup pintu?!"

Ji Ing adalah busu penjaga ruang bawah tanah itu. Akan tetapi yang menjawabnya sekarang bukan lagi Ji Ing melainkan gema suara gelak tertawa yang keras. Menyusul lantas terdengar suara "Kiam-ong Ciongli Cin" lagi menjawab, "Aku inilah yang menyuruhnya menutup pintu besi itu!"

Seketika air muka Ciongli Put berlima berubah hebat, mereka saling pandang, sampai sekian lama tidak sanggup bersuara.

Betapapun Su Kiam eng dapat berlaku tenang ia coba melangkah keluar ruang tahanan itu untuk memeriksa pintu besi lalu ia berpaling dan tanya Ciongli Put berlima, "Cara bagaimana dia dapat mengetahui bahwa rahasianya telah terbongkar oleh kalian?"

"Mungkin... mungkin kami terlampau banyak bertanya dan memancing pengakuannya sehingga menimbulkan rasa curiganya..." tutur Ciongli Put dengan lesu.

Maka terdengar "Ciongli Cin" di luar itu lagi tertawa dan berkata, "Hahaha, memang betul, Ciongli Put, justru karena kalian terlampau banyak mengajukan berbagai pertanyaan padaku mengenai masa lampau, dari situlah timbul rasa curigaku."

Seketika meledak rasa kejut dan murka Ciongli Put, ia menubruk ke pintu besi, seperti kesetanan yang memukul dan menendang pintu itu hingga menimbulkan suara keras, dampratnya kalap, "Bangsat tua! sesungguh kamu ini siapa? Mengapa kau bikin celaka ayahku, mengapa pula kamu memalsukan dia untuk membohongi kami? Coba katakan, ayolah katakan?l" Ciongli Cin palsu tertawa latah, katanya, "Jika kalian sudah tahu aku ini bapakmu yang palsu, tentu saja akan kuberitahukan duduknya perkara kepada kalian, Cuma, hendaknya kalian bersabar lagi."

Habis berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak, namun suara tertawanya semakin menjauh, nyata orangnya sudah meninggalkan rumah warna-warna itu.

Su Kiam-eng menjadi bingung, ucapnya he-ran, "Aneh, mengapa dia pergi malah?"

"Mungkin dia hendak menggunakan sesuatu cara untuk membinasakan kita di ruang bawah tanah ini," ucap Ih Kik pin.

Kiam-eng pikir memang bukan mustahil akan terjadi hal demikian, maka cepat ia tanya. "Apakah ada jalan tembus lain di ruang bawah tanah ini?"

Ih Kik pin menggeleng kepala, "Tidak ada kecuali membuka pintu besi itu, kalau tidak, betapapun tidak dapat kabur dari sini."

Kiam eng berpikir sejenak, katanya pula sambil menunjuk ruang tahanan Wi ho Lojin dan Hoat keng Taisu, "Harap Ih taihiap membuka dulu ruang ini dan bebaskan saja Wi locianpwe dan Hoat keng Taisu, habis itu barulah kita berunding lagi cara bagaimana meloloskan diri dari kurungan musuh."

Ih Kik pin mengiakan dan cepat mengeluarkan anak kunci untuk membuka gembok, apa yang diucapkan orang di luar sudah dapat di dengar semua oleh Wi ho Lojin dan Hoat keng Taisu, maka begitu keluar dari ruang tahanan, mereka pun tidak banyak bertanya lagi.

"Apakah pintu besi itu sulit dibuka?" tanya Wi-ho Lojin.

"Betul," jawab Ih Kik pin. "Tebal pintu itu lebih tiga dim, tombol buka tutup terletak di bagian luar, dari dalam sulit dibuka."

"Bagaimana dengan tenaga gabungan kita bersembilan?" tanya Wi-ho Lojin.

"Mungkin tidak berguna," tutur Ih Kik-pin dengan menyengir "Pintu besi ini sangat kukuh dan kuat luar biasa, untuk membukanya hanya ada satu jalan, yaitu dengan menggunakan dinamit."

" Wi-ho Lojin coba mendekati pintu itu, katanya, "Marilah kita coba-coba dulu!"

Segera mereka menaiki undak undakan batu, dengan berjubel-jubel bersembilan orang sama menahan daun pintu sekali teriak, serentak mereka mengerahkan tenaga untuk mendorong sekuatnya.

Akan tetapi pintu besi itu memang kukuh luar biasa, jangankan terbuka, bergeming pun tidak.

Namun Wi ho Lojin masih belum putus asa, kembali ia mengomando agar ke sembilan orang melancarkan pukulan dahsyat sekaligus, tenaga pukulan yang dilontarkan ke sembilan orang itu setiap kali cukup untuk merobohkan dinding rumah akan tetapi meski sudah berulang dicoba, pintu besi tebal itu hanya bergetar saja dan tetap tidak ada tanda akan terbuka.

"Wah, gagal," ucap Ciongli Thian liong dengan menyengir "Rupanya bagian atas dan bawah pintu ini terjepit oleh dinding dan lantai, untuk membukanya harus membongkar seluruh ruang ini kalau tidak, jangan harap akan dapat membuat pintu baja ini terbuka."

Pada waktu dibawa masuk tempo hari, kedua mata Wi lo Lojin sengaja ditutup, maka ia tidak tahu bagaimana bangunan ruang bawah tanah ini ia coba tanya, "Bagaimana luas ruang pendopo itu?"

"Kira-kira dapat memuat ratusan orang di bangun dengan batu-batu besar," tutur Su Kiam-eng. "Wah, jika demikian, rasanya tiada jalan lain bagi kita kecuali duduk di sini dan menunggu ajal saja,"

ucap Wi ho Lojin dengan tersenyum getir. Su Kiam eng coba memandang atap jalan tembus sana dan bertanya, "Kira-kira berapa tinggi atap ini?"

"Kurang-lebih dua tombak," jawab Ih Kik-pin.

"Jika begitu, bagaimana kalau kita mencari jalan melalui atap saja, yakni dengan cara menggangsir," ujar Kiam eng.

"Betul, boleh kita coba," kata Ih Kik pin, "Cuma untuk itu diperlukan waktu agak lama, sedikitnya dua jam, apakah dia mau membiarkan kita berbuat sesukanya selama dua jam di sini?"

Selagi Kiam eng hendak menjawab, tiba-tiba suara tertawa latah "Ciongli Cin" bergema pula di luar, "Hahahaha! Biarkan kuberi waktu dua jam untuk kalian berbuat sesukanya, Cuma untuk itu akan kulihat apakah kalian sanggup bertahan hidup selama dua jam itu? Hahahaha..."

Di tengah gelak tertawanya, mendadak dari bagian muka dan belakang di atas lorong tertuang masuk dua arus air yang deras.

Keruan Ih Kik pin terkejut, teriaknya, "wah" celaka! Rupanya dia hendak membenamkan kita dengan air bah!"

Kiranya sudah menjadi patokan umum, setiap ruang bawah tanah tentu ada saluran tembus hawa keluar sekarang air yang dituang dari atap lorong itu justru dialirkan melalui saluran tembus hawa itu.

Dua arus air bah dituangkan ke dalam lorong hanya dalam sekejap saja lorong itu sudah dibenami air setinggi dua dim.

Dalam keadaan, jelas "Kiam eng Ciongli Cin" sudah bertekad akan membunuh Su Kiam eng bersembilan dengan membenamnya dengan air bah, sebab ditaksir luas ruang bawah tanah dan lorongnya, tidak sampai satu jam pun air bah akan memenuhi seluruh ruang itu.

Karena itulah, demi melihat air terus mengalir masuk dari atap, air muka ke sembilan orang pun berubah seketika, mereka saling pandang tanpa bisa berbuat apa pun.

Tampaknya Ciongli Cin gadungan di luar itu sangat senang, dengan gelak tertawa ia berkata pula. "Hahaha, katanya kalian hendak menggangsir, kenapa tidak lekas kerjakan? ingin kulihat apakah air yang kutuang lebih cepat atau cara kerja kalian menggangsir terlebih cepat?"

Kiam-eng tidak mengerti air tuangan itu bersumber dari manakah datangnya air bah ini?"

Dengan gregetan Ciongli Put berkata, "Di sekitar ruang pendopo ini tidak ada sumber air, kukira pasti dia mengerahkan ratusan anak buah dan secara berantai mengangsuh air seember demi seember dan akhirnya dituangkan ke sini,"

Kiam eng mengangguk, "Ya, mungkin begitu. sekarang kita tidak boleh diam saja dan menunggu ajal, ayolah silahkan Ciengli Heng lekas mulai menggali."

Ciongli Put lantas memanggil kedua saudaranya dan Kho Sing tiong, katanya, "Jite dan Samte harap berdiri di atas pundakku dan pundak Kho-sute, lalu dengan pedang kalian cepat menggangsir bagian atap."

Kiranya tinggal lorong itu memang hampir dua tombak, untuk mencapai atapnya terpaksa harus seorang berdiri di atas pundak seorang lagi baru pedang dapat mengorek tanah di atap sana.

Ciongli Hong dan Ciongli Thian liong tidak berani ayal, cepat mereka melolos pedang dan melompat ke atas pundak Ciongli Put dan Kho Sing tiong, lalu mulai menggali tanah atap.

Soalnya menyangkut mati atau hidup mereka maka Ciongli Hong dan Ciongli Thian liong harus bekerja cepat lagi keras, Di mana pedang mereka bekerja, serentak tanah pun berguguran. Hanya dalam sekejap saja mereka sudah berhasil menggangsir sebuah lubang setinggi satu meter. Akan tetapi serangan air Ciongli Cin gadungan ternyata lebih cepat dalam waktu singkat betis semua orang sudah tergenang air.

Setelah melihat keadaan demikian, Ih Kik pin tahu sulit bagi mereka untuk kabur maka ia ingin tahu segala seluk-beluk urusan ini sebelum mati tenggelam, segera ia tanya, "Bangsat tua kau bilang hendak menceritakan duduk perkara yang sebenarnya kepada kami, sekarang tentu boleh kau ceritakan bukan?"

Ciongli Cin gadungan terkekeh di luar, ucapnya, "Sabar, jangan terburu napsu, nanti bila air sudah mencapai pinggang kalian barulah kumulai berkisah!"

Dengan suara gemas Ih Kik-pin berkata: "Hm, keadaan sudah menjauh ini, memangnya kamu masih jual mahal? Apakah kamu kuatir kami akan lolos?"

"Betul," kata Ciongli Cin gadungan. "Sebab kalau ada seorang saja dari kalian berhasil lolos dari sini, maka selanjutnya aku pun tak dapat lagi tidur nyenyak dan tidak bisa enak makan."

Sementara itu lubang galian Ciongli Hong dan Ciongli Thian-liong ternyata sudah mencapai setinggi lebih satu meter, tiba-tiba Su Kiam eng mendapat akal untuk lolos dengan hidup, diam-diam ia memanggil Wi ho Lojin, Hoat keng Taisu, Ih Kik pin dan lh Keh ki berempat untuk mundur ke pojok lorong sana, katanya dengan suara tertahan, "Melihat keadaan, sebelum kita berhasil menggangsir ke permukaan bumi sana, tentu air akan menggenangi seluruh ruangan ini dan kita pun tak berdaya lagi."

"Ya, tampaknya kita pasti akan mati terbenam seluruhnya di sini," ujar Keh ki sedih.

"Tidak, sekarang juga ada suatu cara untuk lolos dengan hidup," kata Kiam eng dengan tertawa.

Melihat cara bicara anak muda itu sangat yakin, Ih Kik pin menjadi girang, tanyanya cepat, "Bagaimana caranya, Su siauhiap?"

Kiam-eng menuding lubang yang sedang digali Ciongli Hong dan Ciongli Thian liong itu, katanya, "Hendaknya kita pun mulai menggangsir seperti mereka cuma kita tidak perlu menggali terlampau tinggi, cukup asalkan dapat dibuat sembunyi dua orang saja, dengan demikian kita pun takkan mati terbenam air."

"Tapi kalau cuma begitu saja kan tetap tak dapat lolos keluar?" tanya Ih Kik-pin tidak mengerti. "Masih ada harapan untuk lolos keluar," ujar Kiam-eng, "Nanti bila air sudah mencapai setinggi atap

lorong, tentu bangsat tua itu akan menyangka kita telah mati tenggelam, paling lama satu hari lagi dia

tentu akan membuka pintu besi sana untuk memeriksa keadaan kita, tatkala itu kita pun dapat menerjang keluar di luar dugaannya."

Kik pin merasa saran Su Kiam-eng itu cukup masuk diakal, dengan girang ia pun berseru, "Aha, betul ayolah lekas kita menggali."

Begitulah mereka lantas membagi diri menjadi beberapa kelompok, seorang berdiri di atas pundak seorang yang lain dan mulai menggangsir dengan giat.

Tidak seberapa lama, sudah lima lubang yang berhasil mereka gali, Dan pada saat itu juga air bah sudah naik sampai sebatang pinggang.

Tibalah saatnya bagi mereka untuk berpesan. Segera Ih Kik pin pura-pura terteriak kuatir, "Wah, celaka, air sudah naik sebatas dada, "Wahai, bangsat tua, kenapa kamu tidak berkisah, kamu kan sudah berjanji?"

Terdengar gelak tawa Ciongli Cin palsu di luar teriaknya, "Baiklah! Bukankah hal yang paling ingin diketahui kalian adalah siapakah gerangan diriku ini? Nah, biar sekarang juga kuberitahukan kepada kalian..."

Tanpa terasa Su Kiam-eng menukas ucapan orang, "Kamu ini Hin thian-kisu Lo Ging yang bukan?" "Haha, mengapa kamu menduga aku ini Hin-thian kisu Lo Ging yang?" tanya Ciongli Cin palsu. "Memangnya bukan?" jengek Kiam-eng.

Kembali Ciongli Cin gadungan terkekeh, katanya, "Bukan, aku ini tak lain-tak bukan adalah Bu tek sin pian In Giok-san, atau dengan perkataan lain, aku inilah ayah In Ang bi!"

Pengakuan ini bukan cuma membuat Su Kiam-eng melenggong, bahkan ke delapan orang lain juga ikut tercengang, semuanya melongo bingung hingga sekian lama dan tidak sanggup bersuara.

Bahwa tokoh maha jahat yang memalsukan Kiam-ong Ciongli Cin untuk membunuh ke 18 tokoh dunia persilatan dahulu itu ternyata bukan Hin thian kisu Lo Ging yang sebagai mereka duga melainkan adalah satu salah di antara ke 18 tokoh utama tadi, yaitu Bu tek-sin pian In Giok-san adanya!

Mungkinkah hal ini?

Memangnya siapa mau percaya bahwa dia benar Bu tek-sin pian In Giok san?

Sampai sekian lama Su Kiam eng melongo bingung, akhirnya ia pun meraung gusar dan mendamperat, "Omong kosong! jika benar kamu ini Bu-tek sian pian In Giok-san, mengapa berulang kali kamu bermaksud membunuh putrimu sendiri?"

"Hehe, hal itu disebabkan . . Ang bi itu bukankah putri kandungku, tahu?!" In Giok-san mendengus hambar.

"Ooh, In Ang-bi bukanlah putri kandungmu?" Kiam-eng menegas dengan melenggong.

"Betul," jawab Ciongli Cin gadungan alias Bu-tek-sin-pian In Giok san. "Dia adalah anak haram yang dilahirkan dari hubungan gelap istriku yang jalang itu dengan seorang ksatria munafik."

"Kesatria munafik? Siapa dia?" tanya Kiam-eng semakin tidak mengerti.

"Siapa lagi dia kalau bukan Ciongli Cin sendiri!" jengek Bu-tek sin pian In Giok-san.

Sekali ini bergilir bagi Ciongli Put, Giongli Hong dan Ciongli Thian liong yang meraung murka karena merasa ayah mereka dicerca, berbareng mereka berteriak, "Kentut busuk! Dasar bangsat keparat, sudah mencelakai ayah kami kau nista secara kotor!"

"Hehe, terserah kalian mau bilang apa," jengek Bu tek sin pian In Giok dengan terkekeh. "Ku paham, setiap anak memang selalu menganggap ayah sendiri pasti orang baik, mana ada anak yang percaya ayah sendiri dapat melakukan hal-hal yang kotor dan rendah. Aku tidak menyalahkan kalian. Cuma hendaknya kalian pun tahu, ayahmu kan juga manusia biasa, Setiap manusia biasa tidak mutlak pasti manusia baik-baik."

"Qmong kosong! Ngaco belo!" teriak Ciongli Put murka.

"Sudah lama ayahmu yang jahanam itu telah kubunuh sekarang kalian selekasnya pun akan mampus, untuk apa aku omong kosong?" kata In Giok san.

Setelah merandek sejenak, lalu ia mendengus pula, "Hm, sekarang sengaja hendak kuceritakan duduk perkara yang sebenarnya kepada kalian, soal kalian mau percaya atau tidak bukan urusanku, yang jelas apa yang kukatakan ini bukanlah dusta, dan ini sudah cukup bagiku..."

"Peristiwa itu berawal pada 19 tahun yang lalu, tatkala mana ayahmu belum lagi memperoleh gelar "jago nomor satu". Dia dan anggota keluarga kalian tinggal di kaki gunung Hoa-san, jadi bertetangga denganku. Suatu hari, untuk suatu keperluan aku harus mengadakan perjalanan keliling kang-ouw, waktu pulang lagi ke Hoa san pada suatu dini hari, ketika hampir sampai di rumah, mendadak kulihat ada seorang lelaki keluar dari rumahku hanya sekejap saja sudah menghilang di balik kabut subuh.

"Tentu saja timbul rasa heran dan curigaku, kuputuskan tidak segera pulang ke rumah melainkan bersembunyi di tengah gunung, malamnya diam-diam ku pulang ke rumah dan sembunyi di sekitar rumahku untuk mengintai. Benar juga, tidak lama kemudian kulihat orang lelaki itu muncul lagi, ternyata dia bukan lain daripada ayah kalian, Kiam ong Ciongli Cin!"

"Omong kosong! Mana mungkin ayah melakukan hal semacam itu?" teriak Ciongli Thian-liong bertiga saudara.

"Hehe, malahan waktu itu aku sendiri pun tidak percaya akan kejadian itu akan tetapi apa pun juga fakta nyata terpampang di depan mataku dan kusaksikan sendiri langsung. Masih juga timbul kesangsianku kalau-kalau ada orang menyamar sebagai Ciongli Cin, maka dengan sabar kutunggu lagi sampai pagi, kusaksikan dia keluar dari rumahku.

"Diam-diam aku membuntuti dia, akhirnya dapat kuketahui dengan jelas, ternyata tidak salah lagi, dia memang benar Ciongli Cin adanya, Hehe, waktu itu kalian pun sudah berumur belasan tahun tentunya kalian masih ingat anggota keluargaku di rumahku selain perempuan hina itu hanya terdapat seorang babu tua dan tiada orang ketiga lagi. Sebab itulah apa yang dilakukan ayahmu dengan mendatangi rumahku pada malam hari kukira cukup gamblang dan tidak perlu dijelaskan lagi.

"Waktu itu sungguh ingin kuperlihatkan diri untuk melabrak dia, akan tetapi setelah kupikir lagi, akhirnya aku harus bersabar dan menahan tekanan batin, sebab ku tahu diriku bukanlah tandingannya. jika aku sembarangan bertindak, akibatnya aku pasti akan terbunuh olehnya, Terpaksa aku harus berlagak tidak tahu sesuatu, namun secara diam-diam ku rancang tipu daya untuk menuntut balas...

"Tahun berikutnya, lahirlah Ang bi. Dihitung dari waktunya, jelas pada waktu perempuan hina itu mulai hamil aku memang tidak berada di rumah, maka dapat dibuktikan bahwa Ang bi memang bukan darah daging keturunanku. Akan tetapi Ang bi tetap kupandang sebagai putri kandungku, sampai dia tidak disusui lagi barulah kucari alasan untuk mengenyahkan si babu tua, lalu kubikin perempuan hina itu sakit parah dan akhirnya binasa. Kemudian kubawa Ang-bi meninggalkan pegunungan Hoa san..."

"Dua tiga tahun selanjutnya, dengan giat dan tekun kulatih ilmu pedang dengan harapan dalam pertemuan besar para ksatria dunia persilatan dapat kubunuh jahanam itu di depan umum.

"Akan tetapi yang kuhadapi lebih dulu justru adalah Tek pi sin-kun Pau Thian-bun dan aku telah dikalahkan olehnya sehingga sama sekali tidak sempat bergebrak dengan Ciongli Cin, malahan dari hasil pertandingan itu dia keluar sebagai nomor satu, Harapanku ternyata hampa belaka.

"Kebetulan pada waktu itu ketua Siau-lim pai mengusulkan dibentuknya kelompok diskusi ilmu pedang, tanpa pikir aku menyatakan setuju dan ikut menjadi anggota, Sejak itu, di samping mempelajari ilmu pedang bersama ke-17 tokoh yang lain, diam-diam aku pun tekun meyakinkan semacan kungfu berbisa yang sudah lama putus turunan di dunia persilatan, yaitu Pek-hoa-hiang-hun ciang.

"Dalam sekejap saja rasanya sepuluh tahun ilmu pedang ke 18 jago kelompok kami memang banyak memperoleh kemajuan. Namun tetap kusadari bukan tandingannya, Syukurlah akhirnya "Pek-hoa hiang hun-ciang" yang kuyakinkan juga sudah jadi, maka timbul suatu muslihatku, yakni dengan jalan menyamar sebagai dia untuk membunuh ke-18 tokoh utama dunia persilatan. Akan kujadikan dia musuh bersama dunia persilatan.

"Maka kucoba berunding dengan seorang teman baik agar suka menyaru sebagai diriku untuk hadir dalam kelompok diskusi di Hwe liong-kok, teman itu tidak tahu akan tipu muslihatku, ia merasa mendapat kesempatan baik dan suatu kebanggaan dapat ikut hadir dalam kelompok diskusi itu, maka tanpa pikir ia menyanggupi permintaanku.

"Selanjutnya aku lantas menyamar sebagai Ciongli Cin dan menuju ke Hwe liong-kok dengan membawa 18 butir pil racun Ke-18 biji pil racun itu adalah racikan dari berpuluh jenis racun yang paling jahat, bila sudah diminumkan pasti sukar tertolong lagi."

"Aku pura-pura mengatakan pil racun itu adalah obat kuat, kukatakan kepada ke-18 tokoh di Hwe- liong kok bahwa aku merasa ajalku sudah dekat, aku terharu oleh kegiatan mereka yang tekun meyakinkan ilmu pedang, maka dengan ikhlas kusumbanpkan obat kuat ramuanku itu untuk menambah tenaga dalam mereka... "Semula mereka rada sangsi, tapi sesudah ku bujuk dan kuberi penjelasan lagi, akhirnya mereka menerima juga, Haha, tidak lama kemudian jadilah pil racun diminum mereka. Dan tentu saja semuanya binasa keracunan.

"Namun suatu hal yang sama sekali tidak kuduga adalah pada hari itu ternyata Ang bi juga pergi ke Hwe-liong kok, sehingga peristiwa itu dapat dilihat olehnya, Bahkan karena terlampau kaget ia jadi sakit ingatan, Akan tetapi yang lebih di luar dugaanku adalah hadirnya seorang lagi, yaitu Kiam-ong Ciongli Cin.

"Bisa jadi dia memang juga sangat memperhatikan hasil diskusi ke 18 tokoh itu, maka pada hari itu pun diam-diam ia mendatangi Hwe liong-kok. Ketika dia melihat ke 18 tokoh itu mati keracunan, dia dapat menyusul diriku dan menegur aku mengapa kubunuh ke 18 orang itu dan sengaja memfitnah dia?

"Dengan sendirinya sukar bagiku untuk memberi penjelasan, maka terjadilah pertarungan sengit antara kami di dekat Hwe-liong-kok. Suatu ketika, aku berlagak terkena pedangnya dan roboh, segera ia mendekat dan bermaksud membuka kedokku untuk melihat sesungguhnya aku ini siapa. Pada kesempatan dia mendekat itulah langsung kuserang dia dengan Pek hoa-hiang-bun ciang dan tepat mengenai hulu hatinya. Dia menjerit dari kontan roboh terjungkal..."

"Hehe, apa yang terjadi ini sungguh sama sekali di luar perhitunganku. Jika tahu, ilmu pukulanku itu mampu membinasakan dia, tentu aku tidak perlu repot mengatur tipu muslihat dengan membunuh ke 18 tokoh untuk memfitnah dia lagi.

"Cuma, meskipun dapat membunuh dia, rasa dendamku tetap belum lenyap, sebab itulah sengaja ku rusak wajahnya supaya tidak kukenali kuambil keputusan akan menyamar sebagai Kiam-ong Ciongli Cin. Dengan berbuat demikian sudah tentu ada alasanku, yakni betapapun orang persilatan tidak boleh tahu bahwa sesungguhnya Bu-tek sin pian In Giok-san masih hidup di dunia ini.

Sekali-kali orang tidak boleh tahu bahwa ke 18 tokoh utama itu dibunuh secara licik dan keji oleh In Giok san.

"Nah, apa yang kuceritakan itulah peristiwa seluruhnya dan tiada secuil pun karangan, semuanya benar, Apakah sekarang kalian masih sangsi lagi?"

Dengan sendirinya Ciongli Thian liong bertiga sulit mempercayai uraiannya itu serentak mereka meraung murka pula, "Omong kosong! Ayahku mutlak bukan manusia semacam itu! Kamu sengaja memfitnah, kamu pasti Hin thian-kisu Lo Ging yang! Tentunya kamu dendam karena ayah telah memukulmu hingga terjerumus ke jurang, maka sengaja kau balas membunuh ayah, lalu mengarang cerita bohong lagi untuk merusak nama baik ayah dan keluarga kami."

"Hu tek sin-pian In Giok-san mendengus.

"Hm, mau percaya atau tidak boleh terserah padamu, yang jelas itulah kejadian yang sebenarnya." "Jika benar ceritamu, jadi pada hakikatnya Ang bi tidak tahu kamu ini ayahnya, lalu mengapa

kemudian kamu senantiasa hendak mencelakai dia pula?" tanya Kiam-eng.

"Kan sudah kukatakan tadi, dia bukanlah darah-dagingku, bukan putri kandungku, karena itulah sedikit pun tidak ada perasaan kasih sayangku padanya. Dengan sendirinya, alasan yang paling utama adalah karena dahulu dia menyaksikan sendiri terbunuhnya ke 18 tokoh utama itu olehku bahkan juga tahu Kiam-ong Ciongli Cin telah kubunuh. Maka aku tidak menghendaki penyakit linglungnya akan sembuh untuk kemudian malah membongkar rahasiaku sendiri.

"Hanya saja, tatkala kalian membawanya menemui aku, dari gerak gerik dan tutur kata kalian sudah kurasakan bahwa kalian sama sekali tidak tahu Kiam ong Ciongli Cin yang kalian hadapi bukanlah palsu, lantaran itulah seterusnya akupun tidak berniat membunuhnya lagi."

"Namun tempo hari pada waktu kami terkurung oleh kebakaran di Pek ho san-ceng, mengapa kau suruh Kiu ci lian hoa ciang Oh Ling untuk menolong kami?" tanya Kiam eng. "Kulakukan hal tersebut karena ku kuatir kalian tidak percaya Ciongli Cin telah dibunuh oleh budaknya sendiri. Pula kebakaran itu pun belum pasti dapat membinasakan kalian, maka demi membuat kalian percaya bahwa diriku ini orang baik, sengaja kusuruh Oh Ling menyelamatkan kalian dari kobaran api."

"Kamu sengaja membunuh ke 18 tokoh utama itu, tujuanmu adalah untuk memfitnah Kiam ong Ciongli Cin, kemudian kamu juga membunuh dia sendiri dan menyamar dia untuk melakukan kejahatan dengan begitu sengaja kau bikin busuk nama Kiam ong Ciongli Cin. Lalu sekarang mengapa kamu malah pura-pura mati untuk membersihkan tuduhan orang terhadap Ciongli Cin?"

"Soalnya semula aku ingin tetap menyamar sebagai dia hingga akhir hayat, akan tetapi kalian sudah keburu mencurigai diriku sebagai pembunuh ke l7 tokoh utama, terpaksa aku harus meninggalkan samaranku sebagai Kiam-ong Ciongli Cin," jawab In Giok san.

Sementara itu genangan air bah sudah mencapai sebatas dada, Kiam eng menaksir sudah tiba saatnya untuk bersandiwara mati tenggelam, maka ia mulai berlagak meronta sehingga menerbitkan gemercik air dan berteriak, "ln Giok-san, sesungguhnya antara kita sama sekali tidak ada permusuhan apa pun, mengapa kamu sengaja membenamkan kami?"

Mendengar beberapa orang itu mulai kelabakan oleh genangan air bah, In Giok-san sangat senang, dengan tertawa latah ia menjawab "Meski antara kita tidak ada permusuhan akan tetapi sesungguhnya kita adalah seteru yang tidak dapat hidup berdampingan, jika kalian tidak mati, cara bagaimana selanjutnya aku dapat hidup tentram? Hahahaha..."

Kiam-eng tidak bicara lagi, dengan berlagak menepuk air sehingga menimbulkan suara debur air yang riuh, orang lain juga menirukan cara dia memukul air.

Pada kenyataannya waktu itu air memang sudah pasang sampai bagian leher, orang yang berperawakan agak pendek pasti akan mati tenggelam bila tidak dapat berenang.

Karena tidak mendengar lagi Su Kiam eng-dengan tertawa In Giok san bertanya, "Eh, bagai mana Su Kiam eng kalian sudah mampus atau belum?"

Kiam eng tetap tidak menjawab, ia merasa akan lebih leluasa berbuat sesuatu bila pihak lawan menyangka pihak sendiri sudah mati, sebab tatkala air bah naik pasang hingga atap lorong biarpun untuk sementara mereka dapat sembunyi, di lubang galian mereka sehingga tidak sampai mati tenggelam, akan tetapi bila pihak lawan tidak segera membuka pintu untuk membuang air bah, akhirnya mereka tetap akan mati sesak napas di lubang galian yang tidak tembus hawa itu.

Karena belum juga mendengar suara jawaban Su Kiam-eng, dengan tertawa Bu tek sin pian In Gioksan berkata pula, "Haha, jika sekarang kalian tidak niat bicara, sebentar lagi ingin bicara pun tidak sempat pula."

Apa yang dikatakan memang tidak salah, tidak lama kemudian, air bah sudah naik pasang dan mencapai atap lorong..."

-ooo0ooo-

Subuh sudah hampir tiba. Terdengar suara mencicit kawanan tikus yang riuh bergema dari almari pakaian di kamar yang terletak di taman bunga itu.

Suara tikus itu adalah kode yang sudah dijanjikan antara Li hun nio-nio dan Su Kiam eng, dengan sendirinya Boh to Siangjin juga tahu tanda isyarat itu.

Akan tetapi ketika ia terjaga bangun atau suara tikus yang riuh itu, ia tetap menaruh curiga sebab Li hun nionio baru enam hari meninggalkan pulau itu, mana mungkin datang kembali dengan membawa Lok Cing hui dan lain-lain dalam waktu secepat itu?

Ia pikir jangan-jangan suara mencicit itu memang suara tikus tulen. Ternyata suara riuh mencicit itu makin lama makin ramai, Boh to Siangjin tidak berani ayal, cepat ia turun dari tempat tidur untuk membuka almari, ia putar tombol dalam almari, terdengar suara keriat- keriut, lalu sebuah pintu rahasia terbuka, yang menongol dulu adalah sebuah kepala manusia, itulah kepala Kiam ho Lok Cing hui.

Kedua pihak sama tidak kenal, namun kedua pihak sama-sama dapat menerka siapa pihak lain. Maka cuma tercengang sejenak segera Boh-to Siangjin mendesis, "Apakah di situ Lok-sicu, Lok Cing hui?"

"Betul, dan engkau tentulah Boh-to siangjin adanya," jawab Lo Cing hui dengan suara tertahan. "Ya, cara bagaimana Lok sicu dapat mencapai pulau ini sedemikian cepat?" tanya Boh-to Siangjin.

Lok Cing-hui tidak menjawab melainkan melongok keluar dan memeriksa keadaan kamar, lalu bertanya, "Di mana muridku si Kiam eng?"

Boh to Siangjin menghela napas, katanya dengan menyesal, "Su siauhiap tidak mau terima nasihatku, semalam dia menyusup keluar dan menemui Wi ho Lojin di kamar tahanan bawah tanah, malang dia kepergok dan tertawan oleh Thian-ong-pangcu."

Tergetar juga Lok Cing hui, cepat tanyanya pula, "Dan bagaimana keadaannya sekarang, di mana dia dikurung?"

"Silahkan Lok sicu keluar dulu, biar kuceritakan nanti," kata Boh to.

Cepat Lok Cing hui melangkah keluar dari almari, menyusul di belakangnya muncul pula Li-hun- nionio, Sam-bi-sin-ong dan It-sik-sin-kai, ke empat orang sama basah kuyup, rupanya mereka perlu berenang untuk mencapai lorong rahasia ini.

Lebih dulu Lok Cing-hui mendekati jendela dan coba mengintai keluar, setelah jelas tiada seorang pun di sekitar situ barulah ia putar balik untuk tanya Boh to Siangjin, "Apakah kamar ini tidak ada penjaga di luar?"

"Ada!" tutur Boh to. "Cuma Lok-sicu jangan ragu, lekas pergi menolong muridmu sekarang juga bisa jadi saat ini dia sudah..."

"Memangnya kenapa?" tanya Lok Cing hui kuatir.

Semalam seorang pengantar makanan memberitahukan padaku bahwa Thian ong pangcu telah mengerahkan beratus anak buahnya untuk mengangsuh air untuk menggenangi kamar tahanan bawah tanah, maksudnya hendak membenamkan muridmu dan kawan kawannya supaya mati kelelap..."

Tergetar hati Lok Cing hui, cepat ia berseru, "Baik, silahkan Siangjin sembunyi saja di lorong rahasia sana, sekarang juga ku pergi menyelamatkan Kiam-eng."

Habis bicara segera ia membuka pintu kamar dan menerjang keluar secepat terbang.

Menyusul Li-hun nionio, Sam bi sin-ong dan It sik sin kai juga menerjang keluar, Mereka sama sekali tidak pakai tedeng aling-aling, maka begitu muncul di taman segera mereka dipergoki oleh ketiga busu yang menjaga di situ.

"Hei, siapa itu? Berhenti!" bentak ketiga penjaga.

Sambil membentak ketiga busu itu pun memburu datang dan menghadang di depan Lok Cing-hui berempat.

Akan tetapi setelah mendekat dan melihat jelas siapa yang dihadapi mereka, seketika wajah mereka berubah pucat, serupa tikus ketemu kucing, tubuh mereka sama gemetar, takut dan lunglai.

Dengan sendirinya Lok Cing hui dan rombongannya tidak sungkan-sungkan lagi, segera Ik-sik sin kai dan Sam-bi sin-ong melompat maju, dengan cepat tangan mereka bekerja, tanpa perlawanan ketiga busu itu tertutuk roboh tanpa berkutik. Segera Lin-hun-nionio dan Lok Cing hui mendahului lari ke depan, langsung mereka menuju ke ruang pendopo dan hanya sekejap saja sudah sampai di lapangan depan pendopo.

Terlihat di situ ada dua barisan anak buah Thian-ong pang sedang mengangsuh air sumur dan secara berantai dikirim ke pojok dinding pendopo sebelah sana, air lalu di tuang ke pipa hawa yang menembus ke ruang bawah tanah.

Lok Cing hui berhenti di situ, ia berkata pelahan terhadap Li hun nionio, "Ternyata betul mereka sedang menuangkan air ke kamar tahanan, apakah Leng tocu tahu di mana letak pintu masuk ruang tahanan itu?"

Li hun-nionio menjawab, "Tahu, yaitu terletak di dalam sebuah kamar warna merah" yang terletak di belakang pendopo, Apakah Lok taihiap melihat keparat Thian ong pangcu itu?"

"Di tengah kedua barisan itu seperti tiada seorang pun yang berpotongan sebagai tokoh Pangcu." jawab Lok Cing hui.

"Jika begitu, tentu Thian-ong-pangcu dan anak muridnya berjaga dirumah warna merah itu," ujar Li hun-nionio. "Jika kita ingin menolong rombongan muridmu, kecuali menerjang masuk ke rumah warna merah itu untuk membuka kerangkeng besi, jalan lain kukira tidak ada. Cuma kita hanya berjumlah empat orang. serbuan kita begitu saja pasti akan kepergok..."

"Jika tidak ada pilihan lain, biarlah kita terjang dan labrak mereka sekuatnya," tukas Lok Cing hui. "Pada waktu kita menerjang masuk, hendaknya Leng tocu dan Pekli heng melemparkan granat berasap, pada saat itu juga kita lantas menyerbu ke dalam rumah warna merah itu, kita serang mereka secara mendadak, dalam keadaan tidak terduga, bisa jadi kita akan berhasil menyelamatkan rombongan muridku. itulah usulku, bagaimana pendapat kalian?"

Segera Sam-bi si-ong mengeluarkan tiga buah granat dan berkata, "Granat yang kusiapkan ini memang khusus hendak kugunakan untuk menghadapi mereka."

Melihat Li-hun nio-nio juga sudah siap dengan granat berasapnya, segera Kiam-ho Lok Cing-hui mendahului lari ke tengah lapangan sana.

Tanpa bicara It-sik-sin-kai bertiga lantas ikut lari ke sana, dengan ginkang yang tinggi, secepat terbang mereka lari melintasi kawanan penjaga di lapangan itu.

Ketika mendadak anggota Thian ong pang yang jaga di situ melihat empat sosok bayangan melayang tiba, serentak mereka berteriak "Wah, celaka! Ada musuh! Lekas cegat mereka!"

Selagi tubuh masih mengapung di udara, berbareng Li hun nionio dan Sam bi sin ong lantas melemparkan granat berbau busuk dan bertabir asap, terdengarlah suara ledakan keras, hampir seluruh lapangan seketika diliputi tabir asap tebal, keruan para anak buah Thian-ong pang sama berteriak kaget dan takut sebagian di antaranya kontan melemparkan ember dan lari ketakutan mencari selamat sendiri.

Dan justru pada saat ledakan granat itulah, Lok Cing hui dan It-sik-sin kai langsung menyerbu ke ruang pendopo menyusul Li hun nionio dan Sam-bi sin ong juga menerjang ke ruang pendopo.

Meski kehilangan daya pandang kedua matanya, namun terhadap seluk beluk di tengah pulau bagi Li hun-nionio hampir jelas serupa memegang tangan sendiri. Maka setelah masuk ruang pendopo segera ia menjadi penunjuk jalan dan lari ke ruang belakang.

Dengan sendirinya In Giok san yang berada di luar. Selagi ia hendak lari keluar untuk melihat apa yang terjadi seketika terlihat muncul tiga empat orang lawan keruan ia melenggong dan tanpa terasa berseru, "Hei. jadi ka... kalian..."

Karena masih dalam samaran sebagai Kiam-ong Ciongli Cin, maka ketika Lok Cing hui bertiga melihat dia muncul di situ padahal diketahui dia telah terbunuh oleh Ho Sam di Pek-ho san ceng, tentu saja mereka pun kaget luar biasa semuanya melongo dan berteriak kaget, "Hahh, kenapa engkau..." Begitulah teriakan kaget kedua pihak sama-sama terjadi setengah-setengah, tapi Bu tek-sin pian In Giok san langsung menghantam dengan telapak tangan kanan, tenaga pukulan dahsyat menyamber ke arah Lok Cing hui berempat.

Bahwa In Giok san serentak melancarkan serangan maut, tujuannya memang berharap akan dapat membinasakan ke empat lawan secara kilat dan di luar dugaan.

Namun Lok Cing hui dan kawannya meskipun dalam keadaan kaget karena mengetahui "Ciongli Cin" ternyata masih hidup, akan tetapi reaksi mereka pun tidak lamban, begitu serangan tiba sekaligus merekapun menolak dengan tenaga pukulan yang kuat.

Di antara mereka berempat, Lok Cing-hui adalah tokoh nomor dua dunia persilatan, It-sik-sin-kai dan Sam-bi sin-ong juga terhitung jago nomor empat dan lima, biarpun Li-hun-nionio tidak termasuk di antara ke-18 tokoh utama dunia persilatan, namun kungfunya juga bukan tokoh kelas rendah. Apalagi sekarang tenaga pukulan mereka dilontarkan sekuatnya, tentu saja dahsyatnya luar biasa bagai gugur gunung layaknya.

Terdengarlah suara "blang" yang keras, Bu tek sin pian In Giok-san bagai dikemplang dengan kuat, kontan ia terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, punggungpun menumbuk dinding, darah segar merembes keluar dari mulut, pelahan ia berjongkok, akhirnya ia jatuh terkulai dan tidak sanggup bangun lagi.

Tentu saja Lok Cing hui berbalik melenggong cepat ia melompat maju dan coba memeriksa keadaan lawan, terlihat sinar mata In Giok-san buram dan akhirnya terpejam, keruan ia terkejut dan berseru, "Hah, dia mati oleh pukulan kita!"

Li-hun nionio tidak tahu bahwa orang yang diserang mereka bersama itu adalah "Kiam ong Ciongli Cin", maka ia tidak terkejut. Ketika mendengar lawan mati terkena pukulan mereka tadi, segera ia lari ke arah pintu kerangkeng, ia putar pantek pintu sehingga pintu baja itu pelahan terpentang dengan sendirinya.

"Su siauhiap, Su siauhiap!!" teriak Li-hun nio-nio. "Bagaimana keadaan kalian? Ini, kami datang menolong kalian!"

Saat itu ruang bawah tanah itu masih tergenang air banjir, air sudah naik pasang sama tingginya dengan atap kamar sehingga apapun tidak kelihatan.

Melihat kamar tahanan itu sudah penuh digenangi air, Lok Cing-hui bertiga sama pucat dan kuatir, tanpa terasa air mata mata Lok Cing-hui menitik.

"Apakah dalam kamar tahanan penuh air?" tanya Li hun nionio.

It sik sin-kai menghela napas, sahutnya, "Ya, tampaknya Wi ho Lojin dan si bocah Kiam-eng sulit untuk..."

"Jika waktunya belum lama, kuyakin masih dapat ditolong," potong Li-hun-nio nio, "Biar kucoba mencari mereka di dasar air."

Habis bicara segera ia hendak terjun ke dalam air dan menyelam ke dasar kamar tahanan itu.

Tak terduga, pada saat itu juga, mendadak terdengar debur air, sebuah kepala manusia tahu-tahu tersembul ke permukaan air.

Siapa lagi dia kalau bukan Su Kiam eng yang mereka kuatirkan itu.

Girang sekali Lok Cing-hui, cepat ia tarik Su Kiam eng ke atas sambil berseru, "Hei, Kiam eng, kami sangka kamu sudah kelelap di dasar air." Rupanya sewaktu Su Kiam eng menyembunyikan kepalanya di lubang galian tadi, sayup-sayup ia dengar suara teriakan Li hun nionio, ia merasa heran, maka ia coba menyelam ke seberang sini untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata yang dilihatnya sang guru juga berada di situ, tentu saja hal ini sangat di luar dugaannya, dengan girang cepat ia tanya, "Hah, Suhu, mengapa secepat ini kalian memburu kemari?"

Dengan haru dan gembira kedua orang berangkulan, kata Lok Cing-hui, "Semua itu berkat lindungan Yang Maha Kuasa, kebetulan dia tengah perjalanan kami dapat bertemu dengan Leng-tocu. "

"Hai, jangan bicara bertele-tele, ingat yang lain, bagaimana dengan si tua Wi ho Lojin?" sela It-sik- sin-kai dengan tertawa.

Cepat Kiam-eng berteriak ke ruang bawah, "Paman Wi, Hoat keng Taisu, Ih taihiap, lekas kalian keluar, musuh sudah berhasil ditumpas oleh rombongan Suhu, suasana sudah aman!"

Hanya sekejap saja Wi ho Lojin, Hoat keng Taisu, Ih Kik pin, Ih Keh ki, Ciongli Put, Ciongli Hong, Ciongli Thian liong dan Kho Tiong-sing berturut turut pun muncul dari bawah air, semuanya merangkak keluar dari kamar tahanan bawah tanah itu.

Dengan sendirinya Lok Cing-hui bertiga kenal Hong in kiam hiap Ih Kik-pin dan ketiga Ciongli bersaudara. Sekarang beberapa orang itu pun terlihat muncul dari bawah air, hal ini membuat mereka merasa bingung dan tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, sebentar mereka memandang ketiga Ciongli bersaudara.

"Sebenarnya. sebenarnya bagaimana duduknya perkara?" tanya Cing hui kemudian.

"Suhu, mereka inilah yang tempo hari menyamar sebagai ketiga duta Thian eng-pang dan ketiga jago andalannya si pedang emas, perak dan baja, Sejak malam kemarin mereka pun menjadi korban keberingasan Thian-ong pangcu dan di kurung di sini."

Ucapan Su Kiam eng ini membuat Lok Cing-bui tambah bingung, dengan tidak mengerti ia tanya, "Aneh, mengapa bisa terjadi begitu? Masakah Ciongli Cin juga bertindak keji dan kejam terhadap anak muridnya sendiri?"

Kiam eng memandang mayat "Kiam ong Ciongli Cin" yang menggeletak di lantai itu, katanya dengan gemas, "Suhu, dia bukan Kiam ong Ciongli locianpwe melainkan Bu tek sio pian In Giok san, satu di antara ke 18 tokoh utama yang semula disangka sudah terbunuh itu!"

Habis berkata, ia mendekati mayat dan membeset kedok kulit yang menyelimuti wajah Bu tek sin pian In Giok san sehingga tertampaklah wajah aslinya.

Dan ternyata benar, manusia yang mengacau tokoh misterius yang ditakuti dan membentuk Thian ong pang di wilayah Tionggoan dan bermaksud menyikat semua aliran persilatan itu segera dapat dikenali oleh Lok Cing hui dan lain-lain sebagai satu di antara ke 18 tokoh besar dahulu, yaitu In Giok- san, si rujung sakti tanpa tandingan.

Bagi Wi-ho Lojin dan rombongannya tentu tidak terlampau heran dan terkejut karena tadi sudah mendengar sendiri pengakuan In Giok-san. sebaliknya rombongan Lok Cing hui sama melonjak kaget dan sama berseru mengenai tokoh misterius itu yang ternyata Bu tek sin piau adanya.

"Anak Eng, mengapa bisa dia? Sungguh aku tidak habis mengerti?" ucap Cing-hui. "Ya, ceritanya sungguh cukup panjang. " jawab Kiam-eng dengan mengulum senyum.

Suasana kemelut sudah mereda, keadaan sunyi cahaya sang surya memancar dengan teriknya di tengah lohor...

Dua buah sampan itu, yang sebuah berpenumpang Hong hun kiam-kek Ih Kik pin bersama Ciongli Put, Ciongli Hong, Ciongli Thian-liong, Ih Keh ki dan Kho Sing tiong berenam. Sampan yang lain memuat Kiam-ho Lok Cing-hui, Boh-to Siangjin, It sik sin-kai, Sam bi sin-ong, Wi-ho Lojin dan Su Kiam eng berenam.

Kedua sampan meluncur sejajar menuju ke arah timur.

Ke 12 orang tua dan muda itu tampak diam saja, tidak ada yang bersuara. Meski bencana yang timbul sudah berlalu, namun duka nestapa yang menimpa ketiga Ciongli bersuara dan guncangan perasaan bagi Lok Cing-hui dan rombongannya sukar untuk lenyap begitu saja dalam waktu singkat.

Di antara mereka itu, hanya Sam bi sin ong saja yang mempunyai perasaan yang tidak sama dengan orang lain, rupanya betapapun dia tidak dapat melupakan ke 180 patung emas yang baru saja dilihatnya di Li hun to tadi, yaitu ke-180 patung emas yang berasal dari kota emas yang misterius itu.

Akan tetapi Kiam-ho Lok Cing hui dan It-sik-sin kai secara tegas telah menyatakan ke 180 patung emas itu seluruhnya disumbangkan kepada Li hun nionio, yaitu untuk dana penampungan bagi ribuan wanita invalid yang usahakan oleh Li-hun nionio yang tuna netra tapi berhati sosial itu.

Sudah tentu keputusan Lok Cing-hui dan It-sik-sin kai itu membuatnya mendongkol, padahal sejak mula sebabnya dia ikut berlomba mati-matian untuk mendapatkan patung emas, tujuannya jelas untuk kepentingan sendiri, untuk memperkaya sendiri, sekarang ternyata andilnya itu harus ikut terbuang begitu saja..

Namun apapun dia tidak berani menyatakan tidak setuju, sebab ia cukup kenal watak Kiam-ho Lok Cing hui dan It sik-sinkai, untuk membatalkan dan main kekerasan jelas dia tidak berani, Tiada jalan lain terpaksa ia harus menyesali diri sendiri.

Tiba-tiba Su Kiam eng menghela napas dan bertanya kepada Lok Cing hui, "Suhu, setelah semua persoalan sudah selesai, lalu cara bagaimana kita harus memberi penjelasan kepada Ang-bi?"

Dengan tenang Lok Cing hui menjawab, "Apa boleh buat, tiada jalan lain terpaksa kita bicara terus terang padanya, kita bilang Thian ong pang-cu sudah kita bunuh dan Thian ong-pang sudah kita tumpas!"

"Dan kita juga memberitahukan bahwa Thian-ong pangcu itu tak lain tak bukan adalah samaran ayahnya?" Kiam eng menegas.

"Wah, tentang ini... Tidak, terpaksa kita beritahukan padanya bahwa sesungguhnya Thian-ong pangcu itu bernama Bu Ki-bin berjuluk Tok-liong sin kun (si naga berbisa maha sakti)," kata Lok Cing hui.

"Lantas siapakah Tok liong sin-kun Bu Ki-bin?" tanya Kiam eng dengan bingung.

"Tidak ada orang bernama Bu Ki bin dan berjuluk Tok liong sin-kun segala, hanya karangan belaka," ucap Cing hui.

"Oo, maksud Suhu hanya untuk membohongi dia saja, tegasnya apa yang terjadi ini takkan diberitahukan padanya?" tanya Kiam eng.

"Ya," sahut Lok Cing-hui dengan sorot mata bersinar "Habis, dengan alasan apa dan cara bagaimana akan kau beri penjelasan padanya? Pada akhirnya kan cuma akan mendatangkan penderitaan baginya bila dia tahu duduk perkara yang sebenarnya?"

Mau-tak-mau Kiam eng manggut-manggut dan menyetujui gagasan sang guru itu, ucapnya, "Ya, betul, memang itulah jalan yang terbaik!"

Semua orang tidak bicara lagi, sampai sekian lama, akhirnya Kiam eng berkata, pula, "Dan sekarang hanya tersisa suatu urusan saja, bilamana tecu sudah dapat menemukan mereka, maka tecu pun dapat beristirahat dengan tenang..." Lok Cing hui tersenyum, ucapnya, "Oo, apakah kau maksudmu hendak menemukan suhengmu dan istrinya si Kalana?"

Kiam-eng mengangguk, "Ya, betapapun tecu berkewajiban mencari dan menemukan kembali mereka!"

"Kamu tidak perlu repot lagi, ujar Kiam ho Lok Cing hui dengan tertawa. "Saat ini mereka berkumpul di suatu hotel di kota Han-yang, diam-diam ada anggota Kai-pang kelas tinggi bertugas menjaga keselamatan mereka."

"Aha, bagus sekali!" seru Kiam eng gembira. "Jadi Suhu sudah menemukan mereka? Mengapa tidak Suhu ceritakan sebelum ini?"

Lok Cing hui tertawa, "Ya sudah kutemukan mereka. Hari itu, setelah ku datang di Han-yang, lalu ku datangi rumah hiburan Goat hiang ih untuk mencari seorang perempuan penghibur di situ, namanya So Kiau-kiau, dari dia kuperoleh keterangan bahwa setelah belasan hari kau berangkat si gendak Lau bu lai Te Long yang bernama So Jiu-kiok itu benar saja kelihatan pulang ke Goat-hiang-ih.

"Dan ternyata benar juga So Jiu kiok itu didalangi Te Long, dia telah mengurung suhengmu dan Kalana di rumah seorang sanak familinya di kampung, Oleh karena sehabis itu dia lantas di tinggal pergi oleh Te Long dan sejauh itu lelaki itu tidak pulang So Jiu-kiok menjadi bingung dan kelabakan sendiri. Di samping dia harus menjaga kedua tawanan, di lain pihak dia tidak memperoleh sumber penghasilan, tentu saja ia tidak tahan, Akhirnya terpaksa ia kembali lagi ke Goat-hiang ih dan melakukan pula profesinya yang semula, yaitu menerima tamu. Dengan cara halus yakni dengan memberi hadiah uang, disamping sikap keras, yaitu ku ancam dia dengan kekerasan akhirnya kuminta dia membawaku ke desa dan berhasil kutemukan suhengmu dan istrinya."

Su Kiam eng bersorak gembira oleh keterangan itu, "Aha, bagus! Syukurlah suheng dan suso telah ditemukan dengan selamat, dapatlah kita merayakannya sebagai pesta keluarga bahagia!"

"Eeh, nanti dulu!" tiba-tiba Sam bi-sin-ong menyela. itu saja belum, justru yang sedang kunantikan adalah ingin hadir pada pesta bahagia perkawinanmu!"

Muka Kiam-eng menjadi merah, jawabnya dengan menyengir, "Ahh, Locianpwe jangan bergurau, belum secepat itu, pacaran saja belum!" .

"Hai, tua bangka, kamu ingin hadir pada pesta nikah bocah itu dengan siapa?" tanya It sik-sin-kai kepada Sam bi sin ong.

Moncong Sam bi sin-ong merot ke arah Ih Keh ki yang duduk di atas sampan yang lain dan menjawab, "Siapakah lagi kalau bukan budak itu?"

Tentu saja It sik sin-kai menjadi kelabakan, cengkeram lengan Lok Cing-hui dan berteriak, "Hei, Lok- heng, tentu kau tahu sudah tidak janji yang telah kuberikan kepada kalian guru dan murid, memangnya kau kira untuk aku berbuat susah payah begitu?"

"Hahahaha!" Lok Cing-hui tergelak, "Sabar dulu, jangan gelisah. Bagaimana cara kita menempatkan nona Ih, tentu begitu pula cara kita menempatkan muridmu si Kalina."

Maka meledaklah suara tertawa riang di tengah kedua sampan itu..."

T A M A T