Rahasia 180 Patung Emas Jilid 29

 
Jilid 29 

Kiam-eng mengangguk, "Betul, mungkin belasan hari lagi baru rombongan guruku akan sampai di sini, sungguh aku tidak sabar lagi untuk menunggu sekian lama, maka ingin kupergi ke sana untuk bertemu dulu dengan mereka."

Namun Boh-to Siangjin tetap merasa kuatir, ucapnya. "Kukira di ruang pendopo sana pasti terdapat banyak anak buah Thian-ong-pangcu, maksudmu hendak menyusup ke sana tentu tidak mudah dan pasti akan kepergok, maka lebih baik janganlah kau pergi ke sana. "Siangjin tidak tahu, ada sementara urusan yang tampaknya tidak mudah terlaksana, tapi bilamana dikerjakan dengan sungguh-sungguh, terkadang segalanya akan berubah lancar dan tidak ada kesulitan apa pun."

"Apakah kau dapat yakin pasti akan berhasil seratus persen?" tanya Bah-to. "Dengan sendirinya tidak sebab itulah kuperlu juga bantuan Siangjin." "Bantuanku? Cara bagaimana dapat kubantu!" Boh-to melengak.

"Dapat, yaitu bila tocu sudah pergi dari sini, hendaknya Siangjin mulai memperhatikan keadaan apabila diketahui jejakku kepergok musuh, Siangjin dapat pura-pura berteriak sakit perut dan bilang kepada mereka bahwa kepergianku itu adalah atas suruhanmu untuk memanggil Thian-ong pangcu."

"Tapi bila Siausicu tertangkap selagi sudah menyusup ke ruang bawah taa&h, lalu apa alasanku?" ujar Boh-to.

"Boleh diatur begini, jika nanti Siangjin melihat tecu dibawa kembali ke sini dan aku sengaja ribut- ribut dengan mereka, itu menandakan tecu dipergoki mereka sebelum menyusup ke ruang bawah tanah. Dengan begitu siangjin boleh berlagak sakit perut dengan alasan seperti tadi, Apabila tecu kembali dengan bungkam, itu tandanya tecu kepergok setelah masuk ke ruang bawah tanah! Tatkala itu Siangjin pun tidak perlu berlagak sakit perut segala melainkan katakan saja tidak tahu menahu akan kelakuanku itu."

"Apakah Thian-ong-pangcu mau percaya?" tanya Boh-to Siangjin.

"Umpama tidak percaya juga tidak menjadi soal, "ujar Kiam-eng. "Yang jelas, sebelum seluruh naskah terjemahan kitab pusaka usai, tidak nanti Siangjin dicelakai olehnya."

Melihat tekat anak muda itu sudah bulat, terpaksa Boh-to mengangguk setuju.

"Baiklah. Setelah bertemu dengan Wi-ho Lo-jin dan nona Ih, apakah akan kau selamatkan mereka?" "Tidak, segala sesuatu akan kulakukan menurut keadaan nanti," jawab Kiam-eng. Nah, aku pergi

dulu."

Ia mendekati pintu dan pelahan membukanya, ia menoleh dahulu keluar, terlihat seorang penjaga sedang kencing dibalik pagar bambu sana, cepat ia menyelinap keluar dan menyusup ke tengah semak bunga di taman.

Setelah mengalami pengamatan secara cermat selama lima hari, ia tahu penjaga di luar taman itu seluruhnya ada tiga orang. Setiap satu jam berganti kelompok penjaga, jaraknya dengan waktu ganti penjaga sekarang masih ada seperempat jam, maka ia akan menunggu bilamana kawanan penjaga sibuk bertukar tugas barulah kesempatan itu akan digunakan untuk menyusup keluar taman.

"Benar juga, tidak lama kemudian terlihatlah tiga penjaga baru datang hendak alih tugas dengan kawannya.

Ketika penjaga yang akan diganti sangat senang, mereka menyongsong kelompok pengganti itu dan menyapa dengan tertawa, "Silahkan melaksanakan tugas dengan baik, segera kami akan pergi tidur"

Pada saat itulah tanpa ayal Kiam-eng lantas merunduk ke tepi pagar bambu, dengan ringan ia melompat lewat pagar dan melayang secepat tebang ke arah sebuah rumah.

Setiba di bawah emper, melihat sekitar tidak ada orang, dengan lagak tuan besar segera ia menuju ke sebuah bangunan megah. Rupanya bangunan megah yang dituju adalah ruang pendopo Li-hun-to.

Agaknya penjagaan di Li-hun-to sangat ketat, baru belasan langkah Kiam-eng menuju ke sana segera terlihat dua peronda mendatang dari depan, cepat Kiam-eng menyelinap ke tempat gelap setelah kedua peronda itu lalu barulah ia meneruskan perjalanan ke depan.  Tak terduga, baru beberapa langkah, sekonyong-konyong dari pojok rumah berkelebat ke luar seorang, lengan Kiam-eng sempat terpegang dan ditegur, "Hwesio ciilk, untuk apa tengah malam buta kamu keluyuran kemari?"

Kiam-eng terkejut, ia lihat lawan adalah seorang tua bermuka buruk, ia tahu orang adalah begundal Thian-Ong-pang, sedapatnya ia bersikap tenang dan menjawab, "Engkau ini busu Thian-ong-pang bukan?"

Si kakek bermuka buruk melengak juga melihat ketenangan Kiam-eng yang tak gentar itu, jawabnya sambil berkedip-kedip, "Betul, memangnya kenapa?"

"Aha, bagus sekali!" seru Kiam-eng dengan lagak gembira. "Mari, ingin kuberitahukan suatu rahasia padamu!"

Sembari bicara ia pun menarik si kakek ke pojok yang gelap sana.

Tentu saja si kakek muka buruk merasa bingung, ia coba tanya pula, "Rahasia apa yang hendak kau beritahukan padaku?"

Melihat sekeliling tidak ada orang, dengan berlagak penuh rahasia ia mendesis, "Rahasia ini tidak boleh didengar orang lain", harap engkau mendekatkan telingamu, akan kubisiki langsung."

Dengan sendirinya timbul rasa ingin tahu si kakek muka buruk, tanpa sangsi ia miringkan kepala dan mendekatkan telinga ke mulut Kiam-eng dan berkata, "Silahkan bicara, rahasia apa?"

Kiam eng sengaja bisik-bisik halus di telinga orang, "Rahasia yang ingin kuberitahukan padamu adalah... ajalmu sudah tiba!"

Begitu kata "tiba" terucapkan, langsung kedua jarinya menutuk buta hati lawan sekuatnya. Kontan kakak muka buruk mendelik kaku dan pelahan roboh terkapar.

Namun Kiam-eng keburu meraih tubuh orang sehingga tidak sampai roboh, ia seret korbannya ke pojok rumah dan dibiarkan bersandar dinding lalu tinggal pergi.

Akan tetapi sebelum melangkah jauh, tiba-tiba timbul suatu pikirannya, "Ah, dengan akal ini akan jauh lebih aman daripada masuk ke sana secara diam-diam."

Segera ia putar balik dan mengangkat mayat si kakek muka buruk, ia terus menuju ke sebuah rumah batu kecil menyusuri emper rumah yang gelap, Pintu dan jendela rumah kecil itu terbuka, sekali pandang saja dapat diketahui pasti tidak ada penghuninya melainkan sebuah gudang penaruh barang peralatan.

Kiam-eng membawa mayat si kakek ke dalam gudang itu, ia taruh mayat orang di lantai, ia coba meraba bagian leher mayat, ditemuinya bahwa si kakek muka buruk isi memang benar memakai kedok kulit yang amat tipis. Tentu saja Kiam eng sangat girang, dengan sangat hati-hati ia lepaskan kedok tipis orang, lalu dipakainya sendiri.

Ternyata kakek yang memakai kedok itu wajah aslinya terlebih tua daripada wajah berkedok, malahan Kiam-eng mengenali dia sebagai salah seorang budak tua Ciongli Cin.

Kiam-eng merasa heran dan tidak mengerti, ia pikir sekitar Ciongli Cin terdapat sekian banyak yang berhati buruk, pantas dia tertimpa bencana.

Selesai memakai kedok tipis, menyusul Kiam eng mencopot lagi pakaian dan sepatu si kakek untuk dipakai, selesai menyamar baruIah ia melangkah keluar gudang dan menuju ke ruang pendopo sana.

Hanya sebentar saja sudah tiba di depan pintu pendopo, Terlihat di situ berdiri dua penjaga itu dengan golok terhunus, ketika melihat kedatangan "si kakek muka buruk", kedua penjaga itu serupa menghadapi atasan langsung, dengan sikap tegang mereka berdiri tegak hormat. Dari sikap tegak hormat kedua penjaga itu Kiam eng tahu kedudukan "sendiri" tidak rendah, maka ia sengaja berlagak angkuh dan melangkah masuk ruang pendopo, dua busu setengah umur sedang main catur, melihat datangnya si kakek, mereka pun seperti melihat atasan dan serentak berdiri tegak memberi hormat dan menyapa, "Congsunling tiba!"

Mendengar sebutan "Congsunling" (pengawas-umum) itu barulah Kiam-eng tahu kedudukan sendiri sekarang adalah seorang cukup berkuasa untuk memberi perintah.

Tentu saja hati Kiam eng sangat girang, dengan angkuh ia hanya balas mengangguk sekedarnya dan menjawab dengan menirukan suara si kakek muka buruk, "Teruskan main catur kalian, biar kumasuk ke sana!"

Sembari bicara, langsung ia masuk ke belakang, Setiba di ruang belakang dengan cepat dapat ditemukan kamar warna merah.

Di depan pinfu kamar tampak seorang penjaga duduk di bangku dan lagi mengantuk, Pelahan Kiam- eng mendekat dan menepuk bahu orang. Tentu saja penjaga itu terjaga bangun. Melihat sang komandan datang mengontrol, ia terkejut dan melonjak bangun dengan suara gemetar, "Go Cang... Congsunling datang, maaf jika hamba agak... agak lengah dan... dan mengantuk..."

Dengan lagak sang komandan Kiam-eng berkata, "Tidak perlu takut, tidak ada maksudku hendak menghukum dirimu, cuma saja kau tahu bahwa mengantuk pada waktu dinas, bilamana kebetulan kedatangan musuh, tentu akibatnya dapat kau-bayangkan."

Berulang busu itu mengiakan dan menyatakan tidak berani lengah lagi. "Sekarang coba buka pintu, ingin kuperiksa ke dalam," kata Kiam-eng ketus. Cepat itu busu membuka pintu, dan menyilakan sang komandan masuk.

Dengan lagak angkuh Kiam eng melangkah ke dalam, dilihatnya di dalam kamar memang betul ada lagi sebuah pintu besi, ia mendekat dan pegang engkol pintu, diputarnya ke kanan dan ke kiri beberapa kali, maka terdengarlah suara keriat-keriut, pelahan pintu besi itu terbuka dengan sendirinya.

Di balik pintu adalah undak-undakan batu yang menjurus ke bawah tanah, ada sebuah lorong pendek, di sisi lorong sebelah kanan ada dua buah pintu lagi, jelas itulah pintu kamar tahanan bawah tanah.

Di lorong itu juga ada seorang penjaga sedang meronda kian kemari, melihat kemunculan sang komandan, cepat ia memberi hormat dan menyapa.

Kiam-eng menuruni undakan batu itu dan berkata. "Boleh kau keluar sebentar, ada urusan hendak kubicarakan dengan mereka."

Busu itu mengiakan dan segera meninggalkan kamar merah itu.

Setelah mendekati salah satu pintu, Kiam-eng melihat di daun pintu ada sebuah jendela kecil, ia coba melongok ke daIam, terlihat di kamar tahanan itu ada dua buah ranjang yang berbaring di situ jelas Wi- ho Lojin dan Hoat-keng Taisu.

Yang tersebut duluan mungkin sudah terkurung terlampau lama maka wajah tampak kurus dan pucat.

Segera Kiam-eng memanggilnya dengan gelombang suara, "Param Wi, paman Wi bangunlah!."

Sebenarnya Wi-ho Lojin tidak tidur benar, begitu mendengar bisikan suara itu, serentak ia pentang mata dan bangun duduk.

Pelahan Kiam eng mengetuk jendela kecil pada daun pintu itu, kembali ia mendesis, "Paman Wi, inilah aku adanya, Su Kiam-eng!" Melihat wajah pada lubang jendela, Wi-ho Lojin terperanjat dan berseru, "Hah, kamu " Kiam-eng

kuatir orang tua itu menyebut namanya, cepat ia memotong, "Ya wanpwe telah membunuh Congsunling di taman sengaja menyamar dia untuk masuk kemari."

Kejut dan juga girang Wi-ho Lojin, cepat ia turun dari tempat tidur dan mendekati jendela itu, desisnya, "Ai, berani amat kamu ini tidakkah terlampau berbahaya?"

Kiam-eng tersebut, "Sebenarnya wanpwe mau masuk ke sini secara diam-diam, tak terduga kepergok diruang tamu sana oleh Congsunling, untung dia menilai rendah akan kemampuanku maka dapat kusergap dengan mudah dan kubunuh. Sekarang wanpwe menyamar sebagai Congsunling dan takkan menemui bahaya,"

Kejut dan juga girang Wi ho Lojin, ia coba tanya pula, "Menurut cerita Hoat-keng Taisu, katanya kamu menyaru sebagai hwesio cilik dan ikut mendampingi Boh-to Sianjin."

"Betul, wanpwe sedang berusaha mencuri kitab pusaka, semua ini sesuai dengan rencana kami semula," tutur Kiam eng.

"Lalu apakah Jian-lian-hok-leng yang kau bawa pulang itu telah berhasil memulihkan penyakit Iinglung nona ln?" tanya Wi-ho Lojin.

"Ya, sudah berhasil," jawab Kiam-eng.

"Apakah dia tahu siapa pengganas yang membunuh ke-18 tokoh besar dunia persilatan dahulu itu?" "Tahu, malahan dia masih ingat benar wajah asli si penganas, akan tetapi. "

"Waktunya sangat mendesak, lekas kaukatakan!" desak Wi-ho Lojin.

"Dia melihat jelas si pengganas itu tak-Iain-tak-bukan ialah Kiam-ong Ciongli Cin!" "Hahh! Mengapa bisa dia? Kiam-ong Ciongli Cin, katamu?"

"Betul, Semula kami pun tidak ada yang percaya bahwa Kiam-ong Ciongli Cin adalah si pengganas yang membunuh ke 18 tokoh besar itu, maka guruku, It-sik-sin-kai, nona ia dan wanpwe berempat lantas berangkat menuju ke Pek-ho-san-ceng. "

Begitu ia ceritakan pula secara lengkap apa yang dialaminya di Pek-ho-san-ceng tempo hari.

Tidak kepalang kejut dan heran Wi-ho Lojin oleh berita yang sukar dimengerti itu, ucapnya "Jika begitu, jadi Kiam-ong Ciongli Cin sudah difitnah oleh si pengganas yang sebenarnya dan akhirnya juga menjadi korban keganasan jahanam itu."

"Betul, dan si pengganas yang sesungguhnya itu adalah Thian-ong pangcu ini. Cuma sejauh ini wanpwe belum lagi mengetahui persis siapa dia sebenarnya?" ucap Su Kiam-eng akhirnya.

"Ai, sungguh mengerikan dan sungguh mengejutkan!" kata Wi-ho Lojin dengan menghela napas. "Tak tersangka seorang raja pedang juga bisa terbunuh. Dan sekarang apa yang hendak kau lakukan?"

"Thian-ong-pangcu telah mengirim kami pulau ini, kami ditempatkan di rumah yang dahulu dihuni oleh Li hun-nionio. Kamar itu sekarang sudah diubah menjadi ruang kerja, beberapa bulan yang lalu ketika ketiga duta Thian-ong-pang menyerang pulau ini, wanpwe dibawa oleh Li-hun-nionio meninggalkan pulau ini melalui sebuah lorong rahasia di bawah tanah, sebab itulah wanpwe ragu ada sebuah jalan rahasia yang menembus ke kamarnya.

"Pada malam pertama kami tiba di sini segera kumasuk lorong rahasia itu untuk menyelidiki keadaan, hasilnya dapat kutemui Li-hun-nionio di lorong bawah tanah itu. Rupanya dia sudah tahu Thian- ong-pangcu sengaja menduduki pulaunya ini untuk dijadikan markas besar, maka diam diam ia menyusup pulang ke pulau ini dan berniat membunuh Thian-ong-pangcu. Beberapa hari yang lalu, lantaran Hoat-keng Taisu tertawan musuh, maka dia lantas menggantikan wanpwe meninggalkan Li-hun- to ini untuk menyampaikan berita kepada guruku."

"Dan bilakah kiranya gurumu akan datang ke-mari?" tanya Wi-ho Lojin.

"SuIit untnk kukatakan," tutur Kiam-eng, "Ketika berada di Lo san tempo hari, pernah kuminta bantuan Sam-bi sin-ong pergi ke Hanyang untuk memberitahukan kepada guruku, namun setelah Sam-bi sin-ong berangkat, ternyata jejak Sam-bi sin-ong ditemukan oleh Thian-ong pangcu, maka pada kedua kami lantas dibawa meninggalkan Lo-san, dan sekarang rombongan guruku tentu memburu ke Le-san dan menubruk tempat kosong. Bilamana Li-hun-nionio tidak sempat bertemu dengan guruku di tengah jalan, terpaksa kita masih harus menunggu lagi sementara waktu."

"Jika begitu, harus minta bantuan Boh to Siangjin mengulur waktu, tidak cepat-cepat menyelesaikan terjemahan kitab sebelum rombongan gurumu memburu tiba."

"BetuI, sampai saat ini baru 64 potong tulisan pada medali emas itu berhasil disalinnya, masih tersisa 111 potong belum pernah dijamahnya, Kukira masih dapat mengulur waktu 30 hari lebih."

"Bagus sekaIi, sekarang lekas kau tinggalkan tempat ini dan selanjutnya jangan kemari lagi, sebab kalau sampai kepergok, bagimu tidak sulit untuk kabur namun Boh to Sianjin pasti sukar menyelamatkan diri."

"Apakah paman Wi juga bermaksud menunggu kedatangan guruku baru akan meninggalkan tempat ini?"

"Betul, kalau tidak, apakah kamu bermaksud menolong kami keluar dari sini"

"Ya, Cuma kalau paman Wi tidak terlampau menderita terkurung di sini, bolehlah pergi bersama nanti setelah rombongan guruku tiba."

"Baiklah, kita putuskan demikian. Sekarang lekas kau pergi saja."

"Tidak, kabarnya nona Ih terkurung di kamar sebelah, ingin kubicara dulu dengan dia."

"Oya, sejak nona Ih dikurung di kamar sebelah, setiap dia hanya menangis melulu, boleh juga kau tengok dan mengobrol dengan dia, cuma janganlah tinggal terlebih lama."

"Baiklah, silahkan paman Wi istirahat, wanpwe mohon diri."

Bicara sampai di sini, Kiam-eng lantas meninggalkan Wi-ho Lojln dan menuju ke kamar yang kedua.

Ruang bawah tanah kedua keadaan serupa dengan kamar yang pertama, pada daun pintu juga terdapat sebuah lubang jendela kecil. Waktu Kiam eng melongok ke dalam ruangan, terlihat kamar ini terpajang sangat indah, pada hakekatnya mirip kamar tidur kaum putri. Tentu saja Kiam-eing terheran- heran, pikirnya. "Sungguh aneh, mengapa Keh ki mendapat pelayanan sebaik ini!"

Betapapun juga, ia bersyukur sang kekasih ternyata tidak mendapat perlakuan kejam, ia lihat Ih Keh ki sedang tidur nyenyak di tempat tidur yang lunak, ia tidak sampai hati mengganggu tidur si nona. Tapi demi teringat si nona bisa jadi juga senantiasa mengharapkan bertemu dengan dirinya, segera ia menggunakan gelombang suara untuk memanggilnya, "Keh-ki, bangunlah, Keh-ki !"

Ih Keh ki tampak membalik tubuh di tempat tidurnya, namun tidak mendusin.

Kembali Kiam-eng memanggil, "Keh ki, bangunlah kemari, ini dia kudatang menjengukmu!"

Sekali ini Keh Ki terjaga bangun. Namun disangkanya cuma dalam mimpi saja mendengar suara panggilan Su Kiam-eng, maka ia cuma termangu-mangu saja duduk di tempat tidurnya. Mendadak air mata tampak mengalir.

Terdengar si nona lagi mengguman, "Oo Kiam eng, tidak perlu lagi kaupanggil diriku, selama hidup ini kita tidak dapat bertemu pula..." Hati Kiam-eng tidak tega melihat ucapan putus asa si nona, cepat ia mendesis pula, "Jangan sedih, Keh-ki, ini dia, lihatlah aku berada di sini!"

Seketika tubuh Keh-ki seperti tergetar, ia berpaling dan memandang ke arah pintu, melihat sebuah wajah yang jelek di lubang jendela, segera pula ia terkejut dan berseru, "Hei . . , kamu Sin Kong-ting... Tengah malam buta untuk. untuk apa kau datang kemari?"

"Jangan bersuara, Keh-ki," desis pula Kiam-eng. "Inilah aku Su Kiam-eng, dengan menyamar Congsualing sengaja kudatang menjenguk dirimu."

lh Keh-ki seperti tidak percaya kepada telinga sendiri, kedua matanya terbelalak bulat, dengan tercengang ia pandang wajah "Sin Kong-ling," sampai sekian lama baru tercetus suaranya yang gemetar, "Apa . . . apa katamu? Eigkau Su , Su Kiam-eng?

"Betul" berulang Kiam-eng mengangguk.

Mendadak Keh ki melompat turun dari tempat tidur dan lari ke depan pintu, dengan kaki berjinjit sehingga wajahnya yang cantik setengah tersembul di lubang jendela, serunya dengan kejut dan gembira, "Hah, engkau . , . engkau benar kakak Eng?"

"BetuI," kembali Kiam-eng mengangguk, "Ku dengar kamu terkurung di sini, sudah sekian lama kucari dan ingin menemuimu. Keh-ki kamu tampak kurus!"

Air mata Keh-ki bercucuran, ucapnya tersendat, "Oh, kakak Eng, apakah ini bukan dalam mimpi?"

"Tidak, mutlak bukan mimpI," ucap Kiam-eng tertawa.

Pelahan Keh-ki meraba wajah Kiam eng, gumamnya dengan berbisik, "Oo, selalu kurenungkan, bisa jadi pada suatu hari engkau akan berada di sampingku pada saat aku tertidur, dan. dan sekarang

engkau ternyata benar datang. "

Kiam eng memegangi tangan si nona yang halus katanya dengan mesra, "Akupun sering berkata kepada diriku sendiri, asalkan aku masih hidup, pada suatu hari pasti akan menemukan dirimu, dan sekarang ternyata benar telah kutemui dikau."

"Tanggalkan kedok kulit itu, biar kulihat wajahmu." pinta Keh-ki.

"Jangan, busu penjaga sel ini lagi menunggu di ruang atas, bila kubuka kedok dan kepergok dia, urusan tentu bisa runyam," ucap Kiam-eng.

Keh-ki tersenyum pedih, "Wajahmu tidak kau-perlihatkan padaku sekarang, mungkin seterusnya tidak sempat kulihat lagi wajahmu."

Kiam eng coba menghiburnya, "Tidak, takkan terjadi hal demikian. Selang beberapa hari lagi rombongan guruku pasti akan menyusul kemari, tatkala itu tentu akan kuselamatkan dari tempat ini."

Sedikitpun Keh-ki tidak menampilkan rasa girang, dengan menunduk dan menangis ia menjawab, "Tidak, semua itu tidak ada gunanya. "

"Tidak ada gunanya bagaimana?" tanya Kiam-eng.

Dengan pedih Keh-ki berkata, "Sungguh, kakak Eng, Aku menjadi menyesal! bilamana kita tidak pernah kenal, tentu akan lebih baik. "

"Ai, aku tidak paham maksud ucapanmu," kata Kiam-eng dengan kening bekernyit. "Mungkin kelak engkau akau paham," kata Keh-ki. "Bolehkah aku diberi mengerti sekarang?" tanya Kiam-eng.

"Tidak, tidak! Tidak dapat kukatakan padamu, tidak dapat kukatakan."

Seketika timbul rasa curiga Kiam-eng, pikirnya, "Meski dia terkurung di sini, akan tetapi dari keadaan ruang ini terlihat jelas Thian-ong-pang-cu tidak memandangnya sebagai musuh, jangan-dia sudah... sudah..."

Berpikir demikian, seketika hati seperti tersayat-sayat, dengan suara berat ia tanya, "Kek-ki, memangnya mereka mengapakan dirimu?"

Keh-ki menengadah dan tersenyum getir, ucapnya, "Engkau jangan salah paham, mereka cukup baik terhadapku."

"Ya, sangat baik sehingga kamu dianggapnya sebagai orang sendiri," jengek Kiam-eng tanpa terasa, "Coba katakan, sebab apa mereka berlaku baik kepadamu?"

"Tidak dapat kukatakan "ucap Keh-ki pedih dan menunduk. "Aku cuma dapat... dapat mengatakan padamu bahwa... bahwa aku tetap suka padamu, Sekalipun aku mati, tetap aku suka padamu seperti dahulu."

Meski demikian jawaban si nona, Kiam eng tambah yakin akan kebenaran dugaannya sendiri, tanpa terasa badan sekujur badan gemetar, ucapan pedih, "Tanpa kaukatakan juga kutahu. Namun kamu harus memberitahukan kepadaku, siapakah yang telah menghinamu? Siapa dia? Apakah Si duta nomor satu?

Atau nomor dua?"

Kembali Keh-ki menggeleng kepala dan menjawab, "Tidak, semuanya tidak, Engkau salah paham, aku tidak terhina apa-apa, tidak terhina,"

Kiam-eng menjadi bingung, katanya tidak mengerti. "Habis, sesungguhnya urusan apa?"

"Biar aku saja yang memberitahukan padamu."

Sekonyong-konyong berkumandang suara seorang dari belakang.

Tergetar tubuh Kiam eng, tanpa menoleh pun ia tahu pendatang itu adalah si duta nomor satu. Sekuatnya ia tenangkan diri, lalu berpaling dan menyapa si duta nomor satu yang sedang menuruni undakan lorong bawah tanah.

"Aha, engkau pun datang, Tadi kutemukan penjaga sedang mengantuk di sini, maka kuturun kemari untuk melihatnya."

"Hahaha, begitukah?!" si duta nomor satu tergelak, "Sudahlah, Su Kiam-eng, tidak perlu main sandiwara lagi, sudah cukup lama kudengarkan di atas sana."

Pikiran Kiam-eng bekerja secepat kilat, segera ia melangkah ke arah orang, sambil terbahak ia ia berkata, "Haha, jangan bergurau, masa aku kauanggap sebagai Su Kiam eng segala!"

Belum habis ucapannya, mendadak ia menubruk maju, sebelah telapak tangan menghantam sekuatnya.

Ia sudah bertekad apapun juga harus menerjang keluar ruang bawah tanah ini, sebab ia percaya meski pihak lawsa sudah tahu dia adalah Su Kiam-eng, halnya sangat mungkin belum lagi mengetahui dia juga menyamar sebagai hwesio cilik Ngo-Iiau, maka asalkan berhasil menerjang keluar dari tempat ini, di bawah kegelapan maka secepatnya dia dapat memulihkan samarannya sebagai Ngo-liau untuk kabur kembali ke tempat semula, seumpama tetap tidak dapat mengelabui pihak lawan, paling-paling Boh-to Siangjin juga dibawa kabur masuk ke lorong rahasia di bawah tanah.

Sebab itulah pukulannya tadi telah menggunakan segenap tenaganya. Angin pukulan dahsyat menyambar ke depan namun si duta nomor satu rupanya juga sudah siap siaga, Begitu melihat lawan bergerak, serentak ia pun menolak dengan sebelah tangan sambil membentak, "Kembali!"

Kedua telapak tangan segera terbentur, di tengah suara "brak" yang keras, keduanya sana sama tergetar mundur dua tiga tindak.

Begitu tergetar mundur segera Kiam-eng mendesak maju lagi. SeIagi dia hendak menyerang pula, tiba tiba di atas undak-undakan sana muncul pula dua orang, Yang seorang adalah si duta nomor dua, Maka sadarlah Kiam-eng bahwa dirinya telah terkurung dan sukar lolos lagi.

"Ya, Sudalah," ucap Kiam-eng dengan menyengir dan urung menyerang lagi. "Aku cuma ingin tahu, cara bagaimana kalian mengetahui akan kedatanganku."

"Sederhana sekali," jawab Thian-ong pangcu menuruni undak undakan, "Sebab anak buahku yang sedang meronda menemukan mayat Sia kong- ting."

Kiam-eng mengangkat pundak, ejeknya terhadap diri sendiri, "Oo, kukira dia akan sulit ditemukan setelah kusembunyikan di gudang kecil itu. Tahu begitu, seharusnya kukubur dia saja waktu itu."

Thian-ong-pangcu terkekeh, ucapnya, "Baiklah, sekarang dapatkah kau katakan padaku, cara bagaimana dapat kausampai di tempat ini?"

Kiam-eng menyadari dirinya sukar untuk lolos juga tahu paling lambat esok nanti pihak lawan akan tahu dirinya pun menyamar sebagai si hwesio cilik Ngo-liau, maka ia ambil keputusan akan mengaku terus terang agar Boh-to Siangjin tidak ikut menderita.

Maka dengan tertawa Kiam-eng menjawab, "Biar kuberitahu sejujurnya aku ini Ngo-liau yang ikut datang bersama Boh-to Siangjin."

Air muka Thian-ong pangcu berubah seketika, ucapnya tercengang, "Hah, kiranya begitu, tak tersangka kalau si bocah ini bisa bertindak demikian."

"Sebelumnya sudah kuduga engkau pasti akan mencari Boh-to Siangjin, maka tiga hari sebelum kau minta Boh-to Siangjin membuka upacara berdirinya Kui-goan-si, diam-diam kuculik Ngo-liau yang tulen... Apa yang kukatakan ini, tentu dapat kau terima tanpa penjelasan seterusnya."

"Ya, kutahu," Thian-ong-pangcu mengangguk "Dan sekarang apakah Boh-to Siangjin belum lagi mengetahui akan penyamarannya.

"Jika dapat kubiarkan dia tahu, untuk apa pula kuculik Nga-liau?" jawab Kiam-eng dengan menyengir.

Seketika timbul napsu membunuh Thian-ong-pangcu, katanya, "Dengan berbuat demikian, jadi kamu hendak merampas kitab pusaka yang kudapatkan itu?"

"Tentu saja," jawab Kiam eng.

"Hm, apa betul Boh-to belum lagi mengetahui akan penyamaranmu sebagai Ngo-liau?" jengek Thian- ong-pangcu pula, "Sebentar akan kubuktikan hal ini. Sekarang ingin katanya padamu, apakah gurumu tahu beradanya dirimu di sini?"

"Sejauh ini aku berusaha mengadakan kontak dengan guruku, cuma sayang kurang mujur, usahaku selalu gagal" tutur Kiam-eng. "Pertama kuminta bantuan Sam-bi-sin-ong dan jejaknya keburu diketahui olehmu sehingga cepat-cepat kau pindahkan kami diri nasib malang dan ditawan olehmu..."

"lni menandakan nasibmu memang hares berakhir sampai disini," ucap Thian-ong pangcu dengan menyeringai. "Apakah kau merasa dapat kabur dari pulau ini dengan hidup?" "Ya, mungkin tidak dapat," sahut Kiam-eng tertawa.

"Betul, maka sebelum kutamatkan riwayat hidupmu, biarlah kujelaskan semua urusan dan duduk perkara yang sebenarnya."

"Maksudmu, sekarang hendak kau beritahukan padaku siapa engkau sesungguhnya?"

"BetuI," Thian-ong pangcu mengangguk. "Itukan persoalan pokok yang senantiasa ingin kau-ketahui begitu bukan?"

"Bagus, bahwa sebelum mati kuketahui siapa dirimu, sungguh aku sangat senang, Nah, sekarang boleh kau katakan saja."

Pada saat itulah tiba-tiba ia Keh-ki yang terkurung di ruang bawah tanah itu sedang ribut dan berteriak, "Tidak, jangan kau katakan padanya! Kumohon jangan kau beritahukan padanya!"

Dengan tertawa senang Thian-ong-pangcu berkata, "Keh-ki untuk selamanya kamu tak dapat mengikat jodoh dengan dia, apa alangannya bila kuberitahukan padanya?!"

"Tidak, kumohon jangan kaukatakan padanya!" jerit pula Keh ki memohon, "Biarlah aku berjanji padamu takkan menyukai dia lagi, aku cuma memohon sudilah kau bebaakan dia... mohon bebaskan dia..."

Thian ong pangcu terbahak, "Hahaha, budak bodoh, dia sudah hampir mati, mengapa kamu perlu merasa malu!"

Mengapa Kiam-eng paham segala duduk perkara, teriaknya, "Tidak apa, Keh-ki, aku pun sudah tahu siapa dia sebenarnya!"

Ik Keh-ki serupa orang yang mendadak di-vonis mati, seketika ia menangis tergerung-gerung sambil berteriak "Tidak, aku tidak tahu sama sekaIi! Kakak Eng, aku berani bersumpah, sebelum kukenal engkau aku tidak tahu apa pun..."

Kiam-eng menghela napas, katanya sambil menatap Thian-ong-pangcu, "Baiklah, Ciongli Cin, sekarang boleh kembali pada wajahmu yang asli!"

Thian-ong pangcu tertawa keras sampai sekian lama, benar juga ia lantas menanggalkan kedok kulitnya sebagai "Theng-wangwe" dan pulihlah wajahnya yang asli.

Siapa lagi dia kalau bukan Kiam-ong Ciong-li Cin, si raja padang yang termashur itu.

Padahal dua bulan yang lalu diketahui Kiam-ong Ciongli Cin telah dipenggal kepalanya di Pek-ho- sanceng. Namun kalau direnungkan kembali sekarang, segala apa yang terjadi itu tidak mengherankan Su Kiam-eng lagi, sebab yamg mati dahulu itu jelas hanya seorang anak buah Ciongli Cin saja.

Yang membuatnya heran dan tidak habis mengerti sekarang adalah, seorang yang dikenal sebagai tokoh nomor satu di dunia persilatan sebagai Kiam-ong Ciongli Cin ini, mengapa sudi berbuat kotor dan rendah seperti ini?

Padahal dalam hal nama, siapakah di dunia saat ini mampu melebihi dia? juga tiada seorang pun jago silat lain yang kungfunya lebih tinggi dari dia, lalu untuk apa dia berbuat culas seperti ini? Apa tujuannya? Apa pula yang masih diharapkannya lagi?

Kiam-eng tahu berbagai tanda tanya itu selekasnya akan mendapat jawabannya, maka ia tidak mau banyak pikir, segera ia berpaling dan berkata kepada si duta nomor satu, "Dan jika tidak meleset dugaanku, anda ini tentunya "Hong-bun-kiam-hiap Ih Kik pin, Ih-taihiap adanya?"

Si duta nomor satu mengangguk, ia tidak menanggalkan kedok kulitnya, juga tidak berkata menjawab, sebab pikirannya lagi kusut akibat tangisan anak perempuannya si Keh-Ki yang sangat sedih itu. Lalu Kiam-eng berpaling juga kepada si duta nomor dua yang berdiri di dekat pintu sana dan berucap, "Dan engkau? Apakah engkau ini Pi-lik-kiam Kho Seng-tiong?"

Si duta nomor dua hanya mengangguk dan bersuara perlahan, ia pun tidak membuka kedok. Mendadak Thian Ong-pangcu alias Kiam-ong Ciongli Cin menukas. "Dan duta nomor tiga adalah Pat-

pi-lo-cin dan Cing-liat, dia adalah muridku yang paling kusayang akan tetapi dia telah dibinasakan di

tempat Sai-hoa to."

"Jika begitu, jadi ketiga pedang emas, perak dan besi itu adalah ketiga putramu sendiri, Ciong li Put, Ciongli Hong dan Ciongli Thian-liong?" tanya Kiam-eng.

"Betul, memang mereka adanya" Ciongli Cin mengangguk.

"Dan sekarang tentu engkau dapat dapat mengakui bahwa ke-18 tokoh memang betul terbunuh olehmu secara keji," tanya Kiam eng dengan tatapan tajam.

"Betul, memang akulah yang membunuh mereka," kembali Ciongli Cin mengangguk. "Sebenarnya apa alasanmu membunuh mereka tanpa kenal ampun?" tanya Su Kiam-eng.

"Sebab mereka betul-betul sebuah kelompok diskusi ilmu Pedang dan bermaksud mengungguli diriku, jelas hal ini tidak dapat kuterima."

"HEH, mungkin bukan begitu alasanmu?" jengek Kiam-eng.

Ciongli Cin mendengus, "Hm, kalau bukan, memangnya kau kira apa alasannya kubunuh mereka?" "Aku pun tidak tahu," jawab Kiam-eng. "Namun kuyakin mutlak engkau bukan kuatir karena ilmu

pedang mereka akan mengunggulimu, lantas kaubunuh mereka secara keji Sebab kelompok diskusi

mereka itu sudah terbentuk sekian tahun lamanya dan selama itu tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan mengunguli kungfumu."

"Hehe, dari ucapanmu ini hanya menunjukkan kebodohan kalian guru dan murid," kata Ciongli Cin. "Sebab pada hakikatnya sebelum kubunuh mereka, kungfu ke-18 orang itu rata-rata sudah dapat menandingiku dengan sama kuat, Apabila kubiarkan mereka saling belajar lagi lebih Iama, memangnya kaukira aku tahan melihat kemajuan mereka?"

"Dari mana kautahu kemajuan kungfu mereka sudah dapat menandingimu?" tanya Kiam-eng. "Aku pernah menyamar dan menguji lima orang di antara mereka secara terpisah dan semuanya

berakhir dengan kemenanganku secara susah payah," tutur Ciongli Cin.

"Dan lantaran ada gejala mereka mengunggulimu, maka engkau sengaja membunuh mereka secara keji, apa perbuatan ini tidak terlampau kotor?"

"Apanya yang kotor? Yang kuat hidup dan yang lemah mampus, ini kan hukum alam dan juga hukum yang wajar di dunia persilatan."

"Masih kuingat benar, Kiam-ong Ciongli Cin yang dahulu ada seorang tokoh yang berjiwa besar dan berpikiran bersih, sungguh bedanya seperti langit dan bumi dibandingkan dirimu sekarang."

"Heh?, hal itu disebabkan dahulu kamu cuma melihat satu sisi pribadiku saja tidak tahu sampai tulang sungsumku," Ciongli Cin terkekeh.

"Akan tetapi aku merasa engkau tidak serupa Kiam-ong Ciongli Cin yang dahulu." kata Kiam-eng. Mendadak Ciongli Cin mendelik, katanya geram. "Anak sialan, jika kamu tiada persoalan lain lagi, menyusul selanjutnya adalah waktunya riwayatmu harus tamat,"

Kiam-eng menyadari bilamana malam ini tidak timbul sesuatu keajaiban, maka dirinya pasti binasa, juga lantaran mereka pasti akan mati, maka ia merasa tidak perlu mengunjuk keIemahan di depan musuh, dengan mengangkat pundak ia menjawab, "Masih ada sedikit urusan yang belum jelas bagiku, sebenarnya ingin kuminta keteranganmu lagi. Tapi bila engksu tidak sabar pula, Ya apa boleh buat, silahkan turun tangan saja."

"Urusan apa," boleh tanya saja, ingin kuberi kesempatan padamu agar mati dengan rela tanpa penasaran."

"Bahwasanya engkau mengirim orang untuk merintangi suhengku dan diriku sendiri ketika mencari Jian-lian-hok-leng, dengan sendirinya tujuanmu adalah ingin mencegah dipulihkannya penyakit hilang ingatan In Ang-bi dan agar kedokmu yang busuk itu tidak terbongkar, Akan tetapi tentang kota emas itu, apakah kau temukan sabelum diketahui suhengku atau setelah sesudah suhengku menemukan kota misterius itu?"

"Kutemui kota kuno itu setelah suhengmu menemukannya lebih dulu," jawab Ciongli Cin terus terang. "Maka dalam hal ini aku harus berterima kasih kepada kalian guru dan murid, sebab kalau gurumu tidak mengirim suhengmu ke daerah purba di selatan itu untuk mencari Jian-lian-hok-Ieng, maka selama ini juga tidak dapat kutemukan harta karun sebanyak itu."

"Oh, jadi ke-180 patung emas itu semuanya telah kau boyong ke pulau ini?" tanya Su Kiam-eng. "Memang betul, cuma sayang, biarpun masalah ini diketahui olehmu sekarang juga tidak ada

gunanya lagi," ujar Ciongli Cin.

"Apakah suhengku juga kau tawan dan terkurung di pulau ini?" tanya Kiam-eng pula.

"Tidak," jawab Ciongli Cin sambil menggeleng, "Menurut cerita Sai-hoa-to, katanya suhengmu bersama Kalana diculik oleh Lo-bu-lai Te Long dan disekap di suatu tempat."

"Suatu tempat itu maksudnya di mana!" desak Kiam-eng.

"Entah, aku pun tidak tahu," kembali Ciongli Cin menggeleng kepala, "Bagiku, setelah kota emas itu kutemukan, maka suhengmu pun tidak ada manfaatnya lagi, Maka aku juga tidak tanya lebih jelas tentang jejak suhengmu kepada Sai-hoa-to."

Mendadak Kiam eng menunjuk ruang bawah tanah tempat ditahannya Wi-ho Lojin dan Hoat keng Taisu, tanyanya, "Mereka berdua kan tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa tidak kau bebaskan mereka saja?"

"Tidak bisa," jawab Ciongli Cin dengan tertawa. Barang siapa sudah berani berlawanan denganku, tidak seorang pun dapat kubebaskan."

Ia terlekeh, lalu menyambung lagi dengan bertanya, "Nah, apa yang perlu kautanyakan." Terpaksa Kiam-eng menjawab, "Tidak ada lagi."

Ciongli Cin lantas menoleh terhadap si duta nomor satu alias Hong-hun-kiam-kek Ih Kek-pin dan si duta nomor dua Pi lik kiam Kho Seng tiong, katanya, "Nah, boleh kalian hajar bocah ini, mampuskan dia tanpa ampun!"

Habis berucap ia sendiri lantas menyurut mundur hingga di tepi undakan sana.

Keadaan yang dihadapi Su Kiam-eag sekarang adalah lorong itu adalah jalan buntu sehingga tidak mungkin kabur ke arah lain, padahal biarpun kungfu Su Kiam-eng maha tinggi juga sulit melawan kerubutan Hong-hun-kiam-kek Ih Kek-pin dan Pi-lik-kiam Kho Seng tiong. Katakanlah Su Kiam-eng berhasil lolos di bawah kerubutan Ih Kek-pin dan Kho Seng-tiong umpamanya, mutlak dia juga tidak mampu lolos dari rintangan Kiam-ong Ciongli Cin sendiri yang masih mengawasi di situ.

Maka setiap orang dapat menarik kesimpulan akan posisi sekarang, yaitu kematian Su Kiem-eng sudah tidak perlu disangsikan lagi.

Dalam pada itu, setelah mendapat perintah sang pimpinan, serentak Hong-hunkiam-kek Ih kek pin dan Pi-lik kiam Kho Tiong seng melangkah ke depan terus mendesak ke arah Su Kiam-eng.

Dengan sendirinya semua percakapan dan tanya jawab antara Kiam-ong Ciongli Cin dan Su Kiam- eng itu dapat didengar juga oleh Wi-ho lojin dan Hoat-keng Taisu yang terkurung di ruang sebelah itu, tentu saja mereka pun tidak tahan, berbareng mereka menggedor pintu besi dan berteriak-teriak. "Hai, si tua Ciongli Cin, apa yang kulakukan ini apakah sesuai dengan nama dan kedudukanmu sebagai tokoh nomor satu? Bilamana dapat mengampuni orang hendaknya diampuni, tapi perbuatanmu jangan kelewat batas?"

"Hahahaha!" Ciongli Cin terbahak-bahak senang, "Kalian tidak perlu ribut, sebentar lagi pun akan tiba giliran kalian untuk kukirim ke surga,"

Sementara itu lh Kek-pin dan Kha Sang-tiong sudah berhadapan dengan Su Kiam-eng daIam hanya beberapa langkah saja, Namun Su Kiam-eng tidak kelihatan gentar, sebab ia pun sudah mengambil keputusan dengan tekad akan bertempur mati-matian, betapapun kalau musuh dapat dibinasakan seorang akan berarti kembali modal, bila membunuh dua berarti untung satu, jika begitu, maka mati pun dia takkan menyesal Dan dia percaya akan kemampuan sendiri untuk membinasakan musuh lebih dari satu.

Siapa tahu selagi kedua pihak sudah hampir bergebrak, mendadak lh Keh-ki yang terkurung di ruang bawah tanah itu berteriak, "Ayah, mohon engkau dengarkan dulu perkataan ini!"

Dengan sendirinya Hong-hun-kiam-kiap lh Kok-pin terperanjat, tanpa terasa ia menjawab. "Keh-ki, kau mau bicara apa?"

"Serahkan dia kepada anak, dan anak berjanji pasti dapat membujuk mereka agar ikut bergabung dengan kita," seru Keh-ki.

"Tidak bisa," jawab Hong-hun-kiam-kek Ih Kok-pin. "Apa yang kulakukan ini adalah atas perintah pimpinan."

"Jangan ayah," ratap Keh-ki. "Jika ayah membunuhnya, segera juga anak membunuh diri dengan menggigit lidah sendiri."

Hong-hun-kiam-kek Ih Kek-pin menghela napas pelahan, ucapnya, "Ai, jangan bodoh, Keh-ki, ayah berjanji pasti akan mencarikan jodoh bagimu, anak muda yang jauh lebih baik daripada dia kan masih banyak."

"Tidak, ayah," seru Keh ki. "Anak berani bicara berani berbuat, Kalau tidak percaya boleh ayah buktikan nanti, cuma janganlah engkau menyesal jika anak berbuat nekat."

Dengan sendirinya Hong hun-kiam-kek Ih Kek-pin cukup kenal watak keras sang anak, sebab itulah ia merasa serba salah, terpaksa ia menoleh dan minta petunjuk Ciongli Cin, "Cukong, si budak Keh-ki bilang dia sanggup membujuk mereka untuk bergabung dengan kita, bagaimana pendapat Cukong akan usulnya?"

"Huh, jika anak muda ini mau bergabung dengan kita, maka batu pun akan berubah lunak." jengek Ciongli Cin. "Akan tetapi bukan... bukan mustahil Keh ki memang dapat membujuknya, bagaimana kalau cukup memberi kesempatan padanya!" sambung Hong-hun-kiarn-kek Ih kek-pin.

Ciongli Cin tampak termenung, sejenak kemudian barulah ia mengangguk dan berkata. "Baiklah, akan kuberi waktu sepuluh hari, jika benar sepuluh hari dia benar dapat membujuknya

untuk bergabung dan bekerja bagi yang kita, maka akupun dapat mengampuni jiwanya."

Dengan ucapannya itu, jelas bermaksud bila dalam sepuluh hari Su Kiam-eng tetap tidak mau tunduk dan bergabung maka sekalipun Keh ki benar membunuh diri dengan menggigit lidah sendiri juga takkan dipedulikan lagi.

Akan tetapi mendadak Pi-llk-kiam kho seng-tiong mengajukan pertanyaan "Tapi, cara bagaimana Cukong menghendaki dia tunduk dan bergabung dengan kita."

"Yaitu dia harus menjadi anggota aktif pang kita," jawab Ciongli Cin dengan tertawa.

"Akan tetapi kalau dia cuma lahirnya saja menyatakan mau menjadi anggota pang kita dan batinnya tidak, apakah pimpinan lantas percaya dan mau menerimanya begitu saja?" tanya Kha Seng-tiong.

"Ya, dengan sendirinya kita tidak menerima begitu saja penggabungannya," ujar Ciongli Cin dengan tertawa, "Tentunya juga akan kita uji dulu ketulusannya, akan kusuruh dia menghukum mati dua-tiga orang, bila mana tugas itu dia laksanakan dengan baik barulah dapat kita mengakui akan kesungguhansya menjadi anggota pang kita."

Pi lik-kiam Kho Seng-tiong paham siapa dua-tiga orang yang hendak dihukum mati seperti yang dimaksudkan Kiam-ong Ciongli Cin itu, maka segera ia mengangguk dan berkata dengan tertawa. "Ya, betul, memang perlu diuji lebih dulu."

Lalu Hong-hun kim-kiam-kek Ih Kek-pin bertanya kepada Keh-ki, "Anak Ki, Pangcu sudah menyanggupi permohonanmu, sekarang cara bagaimana hendak kaubujuk dia?"

"Jika begitu harap dia dikurung saja di ruang sekamar anak ini," pinta Kek-ki.

"Omang kosong!" bentak Ih Kek-pin mendadak. "Seorang nona semacam dirimu mana boleh didapatkan bersama dia dalam ruangan yang sama?"

"Masa ayah memandang putri sendiri sedemikian hina?" ucap Kek-ki kurang senang.

Dengan terbahak-bahak Ciongli Cin menyambung, "Betul, Kik-pin, masakah perlu kau-kuatir terjadinya hal-hal yang buruk? Jika kamu sudah menyanggupi permintaannya, terpaksa juga harus membiarkan mereka berada dalam suatu ruangan agar dia dapat membujuknya. Pula, kalau anak muda itu nanti mau menggabungkan diri dalam pang kita, apa alangannya jika sekalian kamu menjodohkan putrimu kepadanya?"

Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin mengiakan secara samar-samar dan tidak membantah lagi, ia menatap Kiam-eng dan mendengus, "Nah, anak muda, sekarang kamu telah diberi kesempatan untuk hidup jika kamu berani main gila terhadap anak perempuanku, lihat saja nanti kalau tidak kucincang tubuhmu hingga hancur lebur,"

Bahwa jiwanya dapat selamat tanpa susah payah, tentu saja Kiam-eng sangat gembira, segera ia memberi hormat dan menjawab, "Jangan kuatir, setelah putrimu menyelamatkan diriku, masa aku malah membalasnya dengan kejahatan kukira engkau sendiri yang suka menghina putrimu."

"Sekarang mundur dan berdiri di depan dinding sana, akan kubuka pintu ruangan bagimu," kata Ih Kek-pin.

Kiam-eng menurut, ia mundur dan berdiri di pojok lorong sana. Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin mengeluarkan sebuah anak kunci, dibukanya gembok pintu besi, lalu menyurut mundur beberapa langkah dan berkata kepada Kiam eng, "Baiklah, sekarang kau boleh masuk ke sana."

Kiam-eng menuju ke pintu ruangan bawah tanah itu, tapi ia tidak lantas masuk ke sana melainkan berpaling dan memberi hormat kepada Kiam-ong Ciongli Cin, katanya dengan tertawa.

"Ciongli-pangcu, ingin kuberi nasihat padamu bilamana engkau masih menghendaki Boh-to Siangjin menerjamahkan kitab pusaka ilmu pedang itu bagimu, kukira janganlah engkau membikin susah padanya."

"Tentu, selama tenaganya masih diperlukan, mana mungkin kubikin susah dia," ujar Kiam-ong Ciongli Cin.

Maka Kiam-eng tidak banyak omong lagi dan memasuki ruang bawah tanah. Cepat Hong-hun-kiam- hiap Ih Kek-pin menggembok lagi pinta besi, habis itu baru putar tubuh dan meninggalkan lorong bawah tanah bersama Ciongli Cin.

Ketiga busu yang dinas jaga ruang bawah tanah itu turun kembali keruang itu, menyusul pintu besi kamar tahanan itu pun mengeluarkan suara gemerantang dan merapat kembali, lalu suasana pulih kembali dalam kaadaaa sunyi senyap.

Sekarang Kiam-eng merasa sudah bebas, seakan ikan mendapat air, tanpa rikuh lagi ia memeluk Ih Keh-ki dan mendekapnya erat-erat, diciumnya si nona dengan mesra...

Sampai sekian lama Keh-ki membiarkan dirinya dalam pelukan anak muda itu, katanya kemudian lirih, "Sudahlah, kita bicara urusan penting saja, Dengarkan ucapanku."

Kiam-eng masih terus menciumi wajah Ih Keh-ki yang ayu itu dengan rakus, katanya dengan cengar- cengir, "Tidak, apa pun tidak perlu kau-katakan, aku takkan terbujuk olehmu."

"Sesungguhnya aku pun tidak ingin membujukmu supaya tunduk dan mengekor kepada mereka," kata Keh-ki. "Cuma perlu ingat, engkau hanya ada waktu hidup sepuluh hari, betapa pun kita harus mencari jalan selamat yang paling baik."

Kedua tangan Kiam-eng mendekap wajah si nona dan dibelai-belainya dengan penuh rasa mesra, sampai sekian lama barulah ia berucap dengan tertawa, "Engkau besar tidak membujuk diriku agar mengekor pada mereka?"

"Benar," jawab Keh-ki. "Jika ada maksudku membujukmu, tentu aku pun takkan dikurung di tempat seperti ini."

"Ehm, bagus, berdasarkan ucapanmu ini, biar-pun aku mati bagimu juga cukup berharga." kata Kiam-eng.

"Akan tetapi aku justru tidak ingin engkau mati," kata Keh-ki.

"Sudah tentu kita tidak sudi mati konyol," tukas Kiam-eng, "Kita dapat mencari akal untuk kabur dari sini, Ketahuilah, tatkala aku bertekad datang kemari untuk menjengukmu, sekuatnya, Boh-to Siangjin telah mencegah padaku agar jangan menyerempet bahaya, akan tetapi aku tidak menerima nasehatnya dan tetap datang kemari Apakah kau tahu sebab apa aku tetap nekat datang menjengukmu?"

Saking terharunya sampai Ih Keh-ki menitikkan air mata, dirangfeulnya anak muda itu dengan erat, ucapnya, "Ya, kutahu, kutahu! Kakak Eng, tahu engkau sangat baik padaku."

Kiam-eng mengusap air mata si nona, katanya dengan tertawa, "Cuma, resiko yang kutempuh malam ini juga mendatangkan hasil yang paling besar, Hasil yang menyenangkan ini adalah tiada akhirnya aku pun tahu persis siapa Thian-ong pangcu, ternyata dia tak-Iain-tak-bukan adalah kakek- gurumu sendiri." Dengan kikuk Keh-ki berkata, "Ya, aku pun tidak tahu mengapa kakek guru bisa berubah sehebat itu, dahulu jelas dia bukan manusia kotor begini..."

"Apakah kau tahu siapa dia setelah kamu diculik di daerah sana?" tanya Kiam eng. Keh ki mengiakan.

"Kemudian apakah ayahmu tidak pernah memberi penjelasan sebab apa kakek-gurumu bertindak jahat begini dan sama sekali berlawanan dengan kepribadiannya pada masa lampau?"

"Tidak pernah, ayah juga tidak mengerti mengapa dia berbuat jahat sejauh ini. "

"Ooh, apa betul begitu?"

"Ya, setelah aku dikirim pulang ke Tionggoan, diam-diam ayah pernah memberitahukan padaku bahwa beliau sama sekali tidak mengerti mengapa kakek guru mendadak bisa berubah. Pernah ayah membujuknya agar jangan berbuat jahat, akibatnya ayah malah didamprat habis-habisan dan diancam. Mungkin tidak dapat kaulihat, biarpun ayahku di-angkat sebagai duta nomor satu Thian-ong-pang, namun batinnya senantiasa tersiksa dan merasa berdosa. "

"Apa benar begitu jalan pikiran ayahmu?" Kiam-eng menegas.

"Memangnya untuk apa kudusta padamu? Kautahu, bilamana aku tidak dilarang oleh kakek guru untuk meninggalkan ruang bawah tanah ini, tentu sudah lama ayah membawaku kabur sejauh-jauhnya," tutur Keh-ki.

"Oo, jika begitu, kukira urusan ini selekasnya pun akan tamat."

"Apa maksudmu? Selekasnya akan tamat bagaimana?" tanya Keh-ki.

"Maksudku riwayat kakek gurumu segera akan tamat. Termasuk juga organisasinya Thian ong-pang ini, dalam waktu yang singkat pasti akan runtuh seluruhnya dan bubar."

"Engkau yakin akan dapat menghancurkan. Engkau sanggup?"

"Kukira sanggup," jawab Kiam-eng. "Apakab ayahmu sering datang menjengukmu!" "Ya, sedikitnya satu kali setiap hari ayah pasti datang menjengukku."

Dipulau ini seluruhnya ada berapa orang penghuni, maksudku anggota Thian-ong-pang yang masih tinggal di sini?"

"Termasuk seratus anak buah Thian-ong-pang, seluruhnya kira"kira seratus tiga puluhan orang," tutur Keh ki.

"Oo, jadi busu yang dapat diandalkan di pulau ini hanya belasan atau likuran orang saja." Kiam-eng menegas.

"Betul," jawab Keh ki. "Cuma menurut cerita, busu andalan Thian-ong-pang tersebar di seluruh jagat, akan tetapi kakek guru hanya mengizinkan likuran orang busu yang paling terpercaya saja ikut tinggal di pulau ini."

"Baik, sekarang aku pun tidak perlu menunggu kedatangan rombongan guruku untuk menumpas musuh, seorang diri pasti aku ada akal untuk membasmi Thian ong-pang secara keseluruhannya."

"Engkau benar yakin mampu? Memangnya apa akalmu?" tanya Keh-ki.

"Wah, rahasia alam tidak boleh kubocorkan, sementara isi engkau jangan tanya, biarlah selang beberapa hari lagi baru akan kuberitahukan padamu." "Hm, penyakitmu yang lama kembali kambuh lagi," omel Keh-ki "Pendek kata, jika tidak kau ceritakan padaku, malam ini engkau pasti tidak dapat tidur. "

Padahal, karena asyik bercengkeram dan berkisah akan pengalaman masing-masing selama berpisah sehingga tanpa terasa hari pun sudah pagi, meraka baru sadar pagi hari sudah tiba tatkala orang mengantar sarapan pagi kepada mereka.

Tidak lama setelah makan pagi, benar juga tampak Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin datang menjenguk.

Ia berdiri di luar pintu dan memandang ke dalam melalui lubang jendela yang kecil itu, tanyanya dari luar, "Bagaimana Keh-ki?"

Keh ki tertawa, jawabnya, "Ayah, ini kan baru hari pertama, masakan begitu cepat dia mau terima bujukanku?"

Hong-huo-kiam-hiap lh Keh-pin melirik Kiam-eng sekejap, lalu bertanya pula, "Dia tidak membikin susah padamu?"

"Di sini hanya ada dua orang yang suka membikin susah padaku," jawab Keh ki. "Yang satu orang adalah kakek guru yang paling kuhormati, yang kedua adalah ayah yang paling kusayangi Merekalah yang telah membuat susah padaku."

Ih Kek-pin menjadi kikuk, katanya, "Hm, jangan sembarang omong, Bukankah sebelum ini ayah sudah... sudah berkata padamu. "

"BetuI, ayah pernah bilang apa yang terjadi ini adalah karena terpaksa," potong Keh-ki dengan menangis. "Soalnya dia adalah guru ayah, juga kakek guru anak, Bilamana dia menyuruh kita harus begini atau begitu, terpaksa kita harus berbuat sesuai perintahnya. "

Agaknya Hong hun-kiam-hiap Ih Kik-pin merasa tidak enak untuk bicara hal-hal ini di depan Su Kiam eng, cepat ia memotong, "Baiklah, Keh-ki, kuharap dia dapat kau bujuk dan mau terima saranmu, Biarlah petang nanti kudatang menjengukmu lagi,"

Habis bicara segera ia putar balik hendak tinggal pergi. Mendadak Su Kiam-eng berseru, "Tunggu dulu IK-taihiap!"

Hong-nun-kiam-hiap Ih Kek-pin mendekati lubang jendela lagi, tanyanya dengan dingin, "Apa pula yang hendak kau katakan?"

"Ada suatu urusan kumohon bantuan Ih-taihiap untuk disampaikan kepada gurumu CiongIi- locianpwe," kata Kiam-eng tersenyum. "Tujuh tahun yang lalu, pernah gurumu meminjam pada guruku sebiji Ya-beng-cu (mutiara bercahaya pada waktu malam), katanya akan dipergunakan untuk sesuatu keperluan, Padahal sebenarnya Ya-beng-cu itu adalah milikku yang kutitipkan kepada guruku, Meski sekarang diriku menjadi tawanan pang kalian, namun tetap kuharapkan gurumu sudi mengembalikan mutiara mestika itu, apabila gurumu tidak mau mengembalikan barang milikku, tentunya dia memberi alasan yang jelas, pantas bukan?"

"Oo, adalah terjadi hal demikian?" ucap Hong hun-kiam-hiap daagan ragu.

"Benar terjadi, jangan-jangan lh-taihiap menang tidak tahu kejadian itu?" kata Kiam-eng.

lk Kek-pin mengangguk, ucapnya, "Ya, aku memang tidak tahu, Tetapi, baiklah, akan kubantu menanyakannya kepada guruku. Apakah masih ada urusan lain?"

"Ada lagi suatu permintaanku," ujar Kiam eng tertawa "Kumohon disediakan lagi sebuah tempat tidur. Di ruang ini jelas cuma ada-sebuah ranjang, kan tidak enak hati jika aku harus mengangkangi tempat tidur putrimu?" Hong-hun-kiam-hiap tidak bicara lagi, segera ia tinggal pergi.

Setelah sang ayah meninggalkan lorong bawah tanah barulah Ih Keh-ki bertanya kepada Kiam-eng, "Apakah benar kakek guruku meminjam sebiji mutiara mestika kepada gurumu? Kenapa hal itu terjadi? Aku kok tidak tahu menahu kejadian ini."

"Tidak, tidak pernah terjadi" Kiam-eng menggeleng cepat. "Aku sengaja membuat perkara saja." "Apa maksud tujuanmu sengaja mengada-ada?" tanya Keh-ki bingung.

"Sudah tentu ada tujuannya, bahkan sangat besar manfaatnya." tutur Kiam-eng "Malahan sangat erat hubungannya dengan soal mati-hidup kita, apakah kita dapat pergi dari sini dengan hidup dan dapatkah kuhancurkan Thian-ong-pang, semuanya bergantung pada akalku ini."

"Ooh, apakah dapat kau jelaskan lagi?" tanya Keh-ki dengan heran.

"Begini, apabila tidak meleset dugaanku, sebentar lagi pasti akan datang beritanya, kuharap kamu suka bersabar sementara," ujar Kiam-eng tersenyum.

Benar juga, tidak sampai satu jam kemudlan, Hong-hun kiam-hiap Ih Keh-pin datang lagi bersama dua anak buah dengan menggotong sebuah tempat tidur ke lorong bawah tanah, ia keluarkan anak kunci dan membuka gembok pintu supaya kedua orang dapat membawa tempat tidur itu ke dalam ruang tahanan, habis itu ia memberi tanda agar kedua orang itu mengundurkan diri Iebih dulu. ia sendiri lantas barkata kepada Su Kiam-eng.

"Menurut guruku, katanya mutiara mestika yang kau maksudkan itu sudah lama hilang, akan tetapi bila kamu mau menyerah dan bergabung dengan pang kami, maka guruku bersedia memberi ganti rugi seratus kati emas murni, bagaimana pendapatmu?"

"Aku berpendapat sangat lucu!" jawab Kiam-eng dengan gelombang suara.

Hong hun-kiam hiap Ih Kek pin tampak melengas, ia menegas dengan melotot, "Apa kata.."

Tetap dengan gelombang suara Kiam-eng menjawab dengan tertawa, "Aku bilang merasa lucu dan geli, Sebab pada hakekatnya gurumu tidak pernah pinjam Ya-beng cu apa segala kepada guru-ku, hal itu cuma sesuatu yang kukarang dan mengada-ada saja."

Rupanya Hong-hun kiam-hiap Ik Kek-pin merasa dipermainkan, dengan gusar ia membentak, "Kurang ajar! Memangnya apa maksudmu dengan berbuat demikian?"

Cepat Kiam-eng menjelaskan dengan gelombang suara pula, "Jangan emosi, Ih-taihiap, dengarkan dulu keteranganku. Bukankah engkau pernah menyatakan kepada putrimu bahwa engkau merasa bingung entah mengapa gurumu berubah sedemikian jauh dan tersesat ke jalan yang gelap. Mengapa selama ini engkau tidak menaruh curiga bahwa bakau mustahil gurumu dihadapanmu ini sebenarnya adalah guru gadungan?"

Tubuh Hoa-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin tergetar serupa tersengat arus listrik, dengan mata terbelalak ia berseru, "Kamu... kamu sembarangan omong!"

"Tidak, aku tidak sembarangan omong, melainkan bicara dengan asal-asalan," jawab Kiam-eng dengan tenang dan tetap dengan bisikan gelombang suara. "Soalnya bergantung padamu, Tampaknya engkau tidak punya keberanian untuk menghadapi kenyataan. Namun sekarang ingin kukatakan padamu bahwasanya sebelum ke-18 tokoh besar dunia persilatan dibunuh oleh Thian ong-pangcu yang sekarang, lebih dulu gurumu sudah menjadi korban keganasannya dan terbunuh olehnya, Lalu dia memakai kedok kulit wajah gurumu dan menyamar sebagai gurumu dalam segala hal, sekaligus memimpin kalian untuk berbuat kejahatan sesuai maksud tujuannya yang keji."

"Apabila, apa yang kukatakan ini tidak dapat Ih-taihiap terima, boleh coba kau gunakan caraku untuk memancing dia, coba saja bagaimana reaksinya, Yang pasti kuberani bertaruh dengan nyawaku bahwa gurumu yang sekarang ini pasti barang gadungan dan bukan gurumu yang asli." Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin menatap Su Kiam eng dengan pandangan kaku, sekujur badan tampak gemetar seperti orang terserang penyakit demam, sampai agak lama kemudian baru mendadak putar tubuh terus Iari keluar seperti orang di ancam keluar lorong bawah tanah dan menuju ke ruang pendopo, malahan langsung menuju ke tepi pantai.

Sampai di sana, ia berdiri mematung dengan napas terengah-engah, sampai lama sekali barulah pelahan membalik tubuh dan melangkah pulang ke tengah pulau.

Saat itu Kiam-ong Ciongli Cin berada di kamar tulis di tengah taman dan sedang mengawasi cara kerja Boh-to Siangjin menerjemahkan kitab pusaka. Ketika melihat kedatangan Hong-hun kiam hiap Ih Kek-pin, segera ia menegur, "Bagaimana, apakah dia sudah mau?"

"Belum, ia menyatakan hendak mempertimbangkannya lebih jauh, hehe..." jawab Ih Kek-pin tertawa, sementara ini ia dapat menahan gejolak hatinya dan telah pulih ketenangannya.

Segera Kiam-ong Ciongli Cin berkata kepada Boh-to Siangjin dengan tertawa, "Nah, kau dengar sendiri? Su Kiam-eng sudah menyatakan mau mempertimbangkan untuk bergabung dan menjadi anggota pang kami. Maka hendaknya Siangjin juga bekerja dengan hati dan menerjemahkan dengan tepat, jangan lagi coba main gila. Hal itu tentu akan merugikan dirimu sendiri."

Boh to Siangjin hanya diam saja tanpa memberi sesuatu reaksi.

Hong-hun-kiam-hiap lh Kek-pin segera menukas, "Suhu, menurut pendapatmu, sebab apa mendadak ia menagih mutiara mestika sebagaimana dikatakannya itu?"

"Ehm, apakah kau tahui" tanya Ciongli Cin malah.

"Ia bilang mutiara itu hendak diberikan kepada putriku." ucap Ik Kek-pin.

"Ooh," Ciongli Cin tertawa, "Mereka memang suatu pasangan yang setimpal dan rupanya memang sudah ditentukan harus menjadi suami-istri, asalkan saja dia benar-benar mau bergabung dengan pang kita secara sungguh-sungguh dan lkhlas, maka bolehlah kau jodoh kan Keh-ki kepadanya."

Hong-hun Kiam-hiap Ih Kek-pin mengangguk "Ya, memang ada maksud demikian padaku. Tadi anak Ki juga bertanya dan minta sesuatu padaku seingatnya pada waktu ulang tahunnya yang kesepuluh dahulu, Suhu pernah memberi hadiah patung batu kemala hijau kepadanya, waktu itu kumala mestika dibuatnya mainan, tapi kuambil dan kusimpan dengan alasan supaya tidak pecah atau hilang Kejadian itu sudah hampir sepuluh tahun lalu, tecu sendiri sudah lama lupa, mungkin suhu masih ingat peristiwa dahuIu itu?"

Kiam-ong Ciongli Cin manggut-manggut, katanya, "Ya. betul, kuingat batu kemala mestika yang kuberi kepada Keh-ki itu, semula juga sumbangan seorang sahabat. Mungkin batu mestika itu kemudian disimpan ibunya dan kamu sendiri pun lupa. Sayang istrimu sudah mangkat lebih dulu, entah di mana dia menyimpan batu mestika itu?"

"Kukira tersimpan di Pek ho-san-ceng," ucap Ih Kek-pin dengan lagak mengingat-ingat, "sayang, karena terburu-buru tempo hari, sama sekali tecu tidak membawa sesuatu benda berharga dari rumah, apalagi barang simpanan keluarga. "

"Ya, sudahlah, tidak apa," ujar Ciongli Cin tertawa. "Boleh mengatakan kepada Keh-ki. apabila nanti dia berhasil membujuk Su Kiam-eng bergabung dengan pang kita, aku berjanji pasti akan memberi hadiah benda lain yang jauh lebih berharga. "

"Baiklah, apakah sekarang ada tugas lain yang perlu tecu kerjakan?" tanya Ih Kek-pin kemudian. "Tidak ada lagi, boleh kau pergi saja," kata Kiam-ong Ciongli Cin.

Sesudah memberi hormat, segera Hong~hun-kiam hiap Ih Kek-pin mengundurkan diri. Keluar dari taman, dia gemetar seperti punya demam kambuh kembali, langsung ia lari ke halaman gedung terbesar di tengah pulau itu dan berteriak-teriak, "Keempat sute, lekas kemari, kalian kemari!"

Ketiga pedang emas, perak dan besi, alias Ciongli Pit, Ciongli Han dan Ciongli Thian-Ian, bersama Pi- lik-kiam Kho Sam-tong, saat itu memang tukar pikiran tentang ilmu pedang di dalam rumah, demi mendengar suara teriakan sang suheng yang agak tergopoh itu, serentak mereka lari keluar dan bertanya, "Toa-suheng, ada urusan apa?"

Langsung Ih Kek-pin mencengkeram sebelah lengan Ciongli Put, ucapnya dengan pedih, "Adik Put, kini semua persoalan sudah dapat kutemukan jawabannya!"

Sudah tentu Ciongli Put merasa bingung oleh sikap dan ucapan Hong-hun-kiam-hiap itu, tanyanya, "Toa-suheng, sesungguhnya ada urusan apa? Lekas katakan yang jelas!"

Mendadak air mata Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek pin bercucuran, ucapnya dengan tersedat, "Adik Put, baru sekarang kutemui suatu rahasia. Kuharap kalian jangan kaget, sebab rahasia ini merupakan berita buruk bagi kalian. Ketahuilah bahwa... bahwa... ah, marilah kita bicara saja di dalam kamar sana..."

Suasana di Li-hun-to seharian masih tetap tenang saja seperti biasa, tiada terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Hong-hun-kiam-hiap Ih Kek-pin bersama Ciongli Put, Ciongli Hong, Ciongli Thian-liong dan Kho Sang- tiong masih tetap bergiliran melaksanakan tugas pengawasan di sekeliling pulau, pada waktu lohor, mereka tetap makan siang bersama Kiam ong Ciongli Cin, semuanya berjalan seperti biasa.

Akan tetapi betapa tajamnya pandangan Ciongli Cin, dia justru dapat melihat gerak-gerik antara anak muridnya itu ada sesuatu yang tidak beres, maka pada suatu ketika ia pun bertanya.

"Anak Put, sebenarnya ada urusan apakah antara kalian ini?"

Cepat Ciongli Put menjawab dengan berlagak tertawa. "Ah, tidak ada sesuatu ayah, biasa-biasa saja

!"

Ciongli Cin mengamati-kembali mereka satu per satu, katanya kemudian dengan tersenyum, "Tapi kulihat kalian seperti memiliki sesuatu pikiran yang tidak kalian katakan, Apakah barangkali kalian merasa kuatir akan kedatangan Lok Cing-hui bersama begundalnya yang akan menyatroni tempat ini?"

Dengan mengikuti nada ucapan orang, Ciongli Put menjawab, "Betul, memang anak dan para suheng semua merasa kuatir juga auwki dengan ketangguhan ayah kami yakin musuh takkan mampu berbuat apa-apa, akan tetapi bila terjadi pertarungan, betapapun toh akan mendatangkan kerepotan juga, Soalnya di Lo-san tempo hari, jejak yang ditemukan nyata itu dikenali sebagai jejak Sam-bi sin-ong, padahal bisa jadi bekas kaki Lok Cing hui yang diam-diam telah menyusup ke sana."

"Biarpun betul Lok Cing hui dapat menyusup ke sana juga kalian tidak perlu kuatir," ucap Ciongli Cin, "Coba kalian pikir, berapa orang pembantu yang dapat diajak serta? PaIing-paling juga cuma beberapa begundal yang sudah kita kenal itu. Padahal kekuatan di pihak kita jelas tidak lebih lemah daripada mereka, apalagi kita telah menduduki Li-hun-to yatsg strategis ini, maju bisa menyerang, mundur dapat bertahan. Untung kalau mereka tidak coba-coba menyerbu kemari, kalau datang, biar sekali jaring kita ringkus mereka seluruhnya."

Tiba-tiba Ciongli Hong menyambung, "Ayah, ilmu sakti Pek hoa-hiang hun ciang yang dilatih ayah itu sudah pernah asuji pada diri It-sik-sin-kai dan Lau-ho-li, daya serang pukulan sakti ayah itu memang luar biasa, Cuma, betapapun Lok Cing hui juga bukan lawan empuk, apakah ayah yakin dapat mengalahkan dia dengan mudah?"

Ciongli Cin terbahak-bahak, "Hahaha, mengapa tidak? Kau tahu kemampuan Lok Cing-hui selisih tidak jauh dengan It-sik-sin-kai, jika pengemis tua itu dapat kukalahkan, dengan sendirinya Lok Cing hui pun dapat kubereskan."