Rahasia 180 Patung Emas Jilid 27

 
Jilid 27 

Kiam-eng berlagak keisengan, ucapnya dengan setengah menggerundel, "Ai, setiap hari hanya menumpang kereta, entah sampai kapan baru akan berakhir?"

"Apakah kamu merasa bosan menumpang kereta?" tanya Thian-ong pangcu tertawa. "jika begitu, biarlah esok lusa kita ganti menumpang kapal saja,"

"Menumpang kapal?" Kiam-eng pura-pura heran." Di manakah dapat menumpang kapal?" "Di sungai, di laut, di sana banyak kapal"

"Lalu, kita akan menumpang kapal sungai atau kapal laut?" "Coba kau terka?!" sahut Thian-ong-pangcu tertawa.

Kiam-eng berlagak garuk-garuk kepala dan berpikir sejenak, lalu menggeleng kepala dan berkata," Wah, aku tidak dapat menebaknya, selamanya aku tidak pernah meninggalkan biara, pada hakikatnya tidak kenal jalan mana pun, dan masa kutahu di mana ada kapal sungai atau kapal laut?"

Tiba-tiba Boh-to menyela dengan tertawa "Ngo-liau, tempat ini adalah daerah perbatasan antara Siamsai dan Ohpak, jika Thian-ong-pangcu bilang esok lusa dapat ganti menumpang kapal itu berarti esok lusa akan dapat mencapai Tiang kang, maka yang akan kita tumpangi adalah kapal sungai."

Benar juga, pada waktu menjelang lohor hari ke tujuh kereta mereka tiba di tempat tambang sungai Tiangkang, yaitu Thian-ho kau.

Setelah menunggu tidak terlalu lama, dengan lancar mereka bertiga dapat menumpang sebuah kapal terus berlayar menuju ke hilir.

Berada di kapal yang melaju di tengah sungi Thian-ong-pangcu yakin Boh-to dan Ngo-liau tidak nanti kabur, maka pengawasannya tidak ketat lagi seperti sebelumnya, ia sendiri sempat berjalan-jalan ke atas geladak kapal.

Untuk pertama kalinya selama tujuh hari dalam perjalanan ini Boh-to mendapat kesempatan untuk bicara langsung dengan Su Kiam-eng.

Kiam-eng sengaja membuka pintu kamar lebar-lebar agar pada waktu Thian-ong-pangcu turun dapat melihatnya langsung, dengan demikian supaya percakapannya dengan Boh-toh Siangjin tidak sampai didengar olehnya.

Begitulah ia lantas berkata terhadap Boh-to Siangjin, "Apakah Siangjin tahu ke manakah tempat tujuan perjalanan kita yang terakhir ini?"

"Sukar untuk diraba," jawab Boh-to. "Cuma tempat yang akan dituju sangat mungkin adalah markas besar Thian-ong-pang mereka."

Kiam-eng mengangguk "Ya, aku pun berpikir demikian, maka baginya boleh dikatakan mencari penyakit sendiri dengan membawa kita ke sana."

"Akan tetapi kamu sudah putus kontak dengan pihak gurumu, dengan tenaga dirimu sendiri mungkin sukar membereskan mereka." "Betul, namun bila Hoat-keng Taisu mengetahui kita menumpang kapal ini, bisa jadi akan dapat mengadakan kontak lagi dengan guruku."

"Hoat-kong Taisu apa? Dia kan terluka parah dan tidak dapat bergerak, memangnya dia sanggup lagi membuntuti kereta kita"

"Kutahu lukanya tidak terlampau parah, dengan kekuatan lwekangnya, asal minum obat dan istirahat sementara waktu, kuyakin dia akan sembuh seperti sediakala. Soalnya, sesudah dia sembuh dan dapat bergerak, dapatkah dia menyusul kereta kita . . ."

"Sekalipun dia dapat menyusul kereta kita, tapi dia kan tidak tahu siapakah kita ini, cara bagaimana dia akan menyampaikan kabar kepada gurumu?"

"Tempo hari waktu kuangkat dia ke dalam kereta, diam-diam telah kujejalkan secarik kertas pada bajunya, bila dia membaca suratku itu dan kalau dapat menyusul kereta kita, tentu dia akan terus menguntit sehingga menyaksikan kita menumpang kapal, lalu dia akan putar ke Hanyang untuk memberitahukan kepada guruku."

"Oo, kiranya begitu," ucap Boh-to. "Pantas waktu itu Siausicu memberi isyarat agar aku berusaha menolong Hoat-keng Taisu, rupanya Siau-sicu sudah mempunyai rencana tertentu."

"Tecu hanya berbuat sepenuh tenagaku saja, soal apakah dapat terlaksana sesuai harapan kita, semua itu terserah kepada nasib."

"Umpamanya Hoat-keng Taisu dapat menyusul kereta kita dan melihat kita menumpang kapal namun dia tidak dapat ikut naik kapal, memangnya cara bagaimana dia dapat melacak lebih lanjut?"

"Dia dapat mengejar mengikuti sepanjang sungai," ujar Kiam-eng. "Jangan Siangjin sangka kungfunya rendah sehingga dengan mudah dapat dilukai oleh Thian-ong-pangcu, sesungguhnya hal itu disebabkan dia tidak tahu siapa lawannya, bilamana Iebih dulu dia tahu lawannya ialah Thian-ong- pangcu, sedikitnya dia mampu bergebrak beberapa puluh jurus. Betapapun dia terhitung tokoh utama Siau-lim-pai, kungfunya tentu bukan jago silat kelas rendah, jika sekarang dia mau mengejar pelayaran kapal sepanjang sungai, kukira dengan mudah dapat dilakukannya."

Selagi Boh-to mau bicara lagi, tiba-tiba terlihat Thian-ong-pangcu turun dari atas cepat ia ganti pokok pembicaranya, "Orang beragama janganlah memikirkan soal mati dan hidup, biarpun ajal sudah di depan mata pun akan berarti hidup paham tidak?"

"Ya, tecu tidak berani sembarangan berpikir lagi," jawab Kiam-eng.

"Eh, apa yang sedang kalian perbincangkan?" segera Thian-ong-pangcu bertanya begitu melangkah masuk kamar.

"Ngo-Iiau merasa kuatir setelah selesai kuterjemahkan ke-178 potong medali emas itu, lalu kami akan kau bunuh, maka aku sedang memberi petuah kepadanya," jawab Boh-to.

Thian-ong-pangcu melirik Kiam-eng sekejap, lalu bertanya, "Ngo-liau, mengapa kamu bisa punya kecurigaan begitu?"

Kiam-eng angkat bahu dan menjawab dengan tertawa, "Memangnya Sicu tidak mempunyai kehendak begitu!"

"Tidak ada," jawab Thian-ong-pangcu serius, "Biarpun aku bukan lelaki sejati, sedikitnya juga tidak nanti membalas susu dengan air tuba makanya kalian jangan kuatir."

"Mudah-mudahan begitu adanya," kata Kiam-eng tertawa. "Padahal Siangjin dan diriku kan orang yang tidak memiliki sesuatu kepandaian lain jika engkau membunuh kami tentu akan mencemarkan nama kebesaran Thian-ong-pangcu yang terhormat." "Ya, tentu saja, maka sekali lagi kalian jangan kuatir," kata Thian-ong-pangcu.

"Dan sekarang tentunya Sicu dapat memberitahukan kepada kami ke mana kami akan dibawa?" tanya Boh-to Siangjin.

"Sekarang belum dapat kukatakan, kita masih perlu menempuh perjalanan sungai selama beberapa hari lagi."

"SeteIah menggunakan kapal tersebut, apakah perlu menempuh parjalanan darat lagi?" tiba-tiba Kiam-eng ikut bertanya.

"Ya, masih perlu menempuh belasan hari perjalanan baru akan tiba di tempat tujuan." "Apakah tempat itu merupakan markas besar Thian-ong-pang kalian?" Kiam-eng menegas.

Thian-ong-pangcu bekernyit kening, sahutnya "Hai, kamu si keledai gundul cilik ini sungguh ceriwis, ada-ada aaja pertanyaanmu. Untuk apa kau tanya hal ini?"

"Aku cuma tanya sekenanya, jika keberatan janganlah Sicu jawab, kenapa mesti marah pada ku?" Thian-ong-pangcu mendengus dan tidak menanggapi lagi, ia berpaling dan berkata kepada Boh to

Siangjin "Tadi sudah kupinjam alat tulis kepada juragan kapal, sebentar juga akan diantar kemari

Hendaknya Sangjin meneruskan terjemahan seperti sebelumnya."

"Kapal ini berguncang terus menerus, aiii! bagaimana aku dapat menulis?" ujar Boh to Sangjin. "Siangjin boleh menulis dengan pelahan, sedikit atau banyak tidak menjadi soal, dengan demikian

Siangjin juga dapat membuang waktu ehm betul tidak?"

Boh-to tahu sukar untuk menolak, terpaksa mengangguk dan menjawab. "Baiklah, bisa menulis akan kutulis, kalau tidak dapat terpaksa berhenti.

Tengah bicara, terlihat seorang kelasi kapal membawa alat tulis dan tatakan tinta turun ke ruang kabin, setiba di depan kamar ia berhenti dan bertanya, "Apakah tuan tamu di kamar ini perlu alat tulis?"

Thian-ong-pangcu menunjuk sebuah meja kecil sambil dia berkata, "Betul, taruh saja di atas meja." Setelah menaruh alat tulis di meja, kelasi itu pun mengundurkan diri.

Thian-ong-pangcu merapatkan pintu kamar lalu mengeluarkan tiga potong medali emas dan diserahkan kepada Boh-to Siangjin katanya, "Inilah medali ke-27, 28 dan ke-29, harap Siangjin kerjakan."

Maka sejak hari ini Boh-to Siangjin mulai lagi dengan pekerjaan penerjemah, Su Kiam-eng tetap melayani di sampingnya dan diam-diam mengapalkan isi kitab pusaka..."

Empat hari kapal itu berlayar, hari ini kapal berlabuh di Ciat-kang. Tiba-tiba Thian-ong-pangcu datang berkata, "Lekas bebenah, di sinilah kita mendarat!"

Tidak banyak perbekalan Boh-to dan Kiam-eng, maka dalam waktu singkat mereka sudah selesai bebenah dan ikut Thian-ong-pangcu meninggalkan kapal dan menuju ke kota.

Baru saja sampai di piatu gerbang kota, mendadak sebuah kereta kuda membedal keluar dari dalam kota, pengemudi kereta adalah seorang tua bermuka codet.

Begitu sampai di depan Thian-ong-pangcu, mendadak kereta berhenti, si kusir melompat turut dan memberi hormat sambil menyapa, "Apakah anda ini Thi-soa-no Lu Yaa-sin!"

"BetuI, siapakah saudara terhormat ini?" jawab Thian-ong-pangcu. "Namaku Coa Ji, berjuluk Goa-to-kui (setan golok)," jawab kusir bermuka codet itu". "Ada perintah untuk menyambut kedatangan Lu-heng bertiga, sekarang silakan kalian naik kereta."

"Adakah Coa-heng membawa Thian-ong-hu (jimat raja langit) tanda pengenal?" tanya Thian ong- pangcu.

"Ada, apakah Lu heng perlu lihat." tanya Coa Ji. "Betul, coba kulihat dulu."

Coa Ji mengeluarkan sepotong medali emas yang berukir gambar malaikat, setelah Thian-ong pangcu memeriksa sejenak dan tampaknya memang asli lalu ia berkata kepada Boh-to dan Kiam-eng.

"Ayo, kita menumpang kereta ini."

Berturut-turut mereka naik ke dalam kereta, selesai merapatkan pintu barulah Coa Ji melompat ke atas, kereta diputar dan dilarikan kembali ke dalam kota.

Di dalam kereta tersedia rangsum dan air minum, sebab itulah kereta tidak berhenti di dalam kota melainkan terus dilarikan keluar gerbang seIatan.

Rupanya Coa Ji itu belum lagi tahu bahwa yang menyamar Lu Yan-sin justru adalah Thian-ong- pangcu sendiri, ia merasa dirinya sederajat dengan Lu Yan-sin bertiga, sama-sama anak buah Thian-ong- pang, sekarang dirinya yang harus menjadi kusir dan memapak mereka, dinilai demikian rasa harga dirinya turun satu tingkat, sebab itulah ia rada mendongkol.

Setelah jauh meninggalkan kota, Coa Ji lantas menyingkap terpal kabin kereta dan bicara dengan Lu Yan-sin," katanya, "Lu-heng, maaf bila kutanya sesuatu padamu, hendaknya Lu-heng jangan marah."

"Ehm, boleh taja, silakan bicara," sahut Thian-ong-pangcu acuh tak acuh.

"Nama kalian bertiga sudah kudengar cukup lama, sekarang dapat berjumpa langsung, sungguh aku merasa sangat beruntung dan bahagia, Ehm ehm, kukira kalian bertiga tentunya juga Busu Thian

ong-pang."

"Memang betul," jawab Thian-ong-pangcu.

"Sudah berapa lama kalian masuk menjadi anggota?" tanya Coa Ji pula. "Kira-kira setengah tahun. Dan Coa-heng sendiri sudah berapa lama?"

Coa Ji terkekeh bangga, "Hehe, sudah setahun lebih kumasuk Thian-ong-pang."

"Wah, jika demikian, seharusnya Coa-heng adalah Toako kami, sekarang Coa-heng harus menjadi kusir kami, sungguh hati kami merasa tidak enak."

"Ah, tidak apa, mungkia cara mengatur Sam-sucia yang kurang tepat dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian."

"Tapi kan bikin susah Coa-heng?" ujar Thian ong-pangcu dengan lagak menyesal.

"Tidak apa, kan urusan dua tiga hari saja, bilamana disuruh menjadi kusir jangka panjang, biarpun sebulan aku digaji selaksa tahil perak juga akan kutinggalkan."

"Betul juga, betapapun Coa-heng adalah tokoh yang terkenal di wilayah selatan dan utara sungai, kalau Pang kita dapat menarik Coa-heng untuk menjadi anggota dan hanya memberi tugas sebagai kusir yang rendah ini, sungguh terlampau tidak pantas." Rupanya Coa Ji itu suka disanjung orang, dia sangat senang dan berkata, "Ah, mana! Haha, selama hidupku berkecimpung di dunia kangouw, rasanya baru sekarang aku bertemu dengan seorang kawan sejati yang kenal perasaanku."

"Sudah setahun Coa-heng masuk Thian ong-pang, kuyakin engkau pasti cukup kenal baik terhadap Thian-ong-pang, entah bagamana pula pandangan Coa-heng terhadap sang Pangcu?"

"Tidak baik, juga tidak jelek!" jawab Coa Ji.

"Apa artinya, dapatkah Coa-hscg memberi sedikit penjelasan?"

"Apa yang kukatakan tidak baik, pada garis besarnya ada dua butir. Pertama, beliau kurang pandai menggunakan pembantu, kedua, dia tidak percaya kepada anak buah, Yang kumaksudkan tidak pandai menggunakan pembantu dapat ku beri contoh seperti kejadian sekarang, aku diperintahkan menjadi kusir kereta untuk memapak kaIian. Bagi siapapun pekerjaan demikian kan cukup dikerjakan pembantu rendahan saja. Apa yang ku katakan ini sama sekali bukan maksudku hendak meremehkan Lu-heng bertiga. Betul tidak menurut pendapat Lu-heng?"

"Betul, betul!" Thian-ong-pangcu mengangguk

"Kedua, apa yang kumaksudkan tidak percaya kepada anak buah, kukira hal ini pun Lu-heng sependapat denganku. Misalnya sejak Lu-heng masuk Thian-ong-pang hingga sekarang, pernahkah bertemu muka dangan sang Pangcu?".

"Belum pernah?" jawab Thian-ong-pangcu, "Dan apakah kautahu siapa nama dan akt sang Pangcu?" "Tidak tahu," kembali Thian-ong-pangcu menggeleng.

"Nah, inilah yang kumaksudkan tidak percaya kepada anak buah," ucap Coa Ji. "Coba pikir, pada waktu kita bersumpah menjadi anggota, meski setiap bulan kita digaji seribu tahil perak, namun kita diharuskan mutlak tunduk kepada setiap perintah, mendaki gunung golok atau terjun ke laut minyak mendidih juga tidak boleh membantah. ini kan sama seperti sudah menjual diri kepadanya, sebaliknya siapa Pangcu kita sama sekali tidak kita ketahui, ini kau lelucon yeog tidak lucu?"

"Betul, cara demikian sang Pangcu tidak percaya kepada annk buah, sungguh bukan cara yang tepat untuk mencari pembantu setia."

"Cuma, peduli amat, persetan dia, bilamana pada suatu hari benar-benar kita disuruh mengantar nyawa, hehe "

"Coa-heng kau bicara demikian, apakah tidak kuatir kuIaporkan?" tanya Thian-ong-pangcu tertawa.

Berubah pucat juga air muka Coa Ji, cepat ia berkata dengan menyengir, "Ah, kuyakin Lu-heng takkan berbuat demikian, betul tidak? Kita sama-sama alat Thian-ong-pangcu, kukira sedikit-banyak Lu- heng juga kurang puas terhadap Thian-ong pang, bukan?"

"Betul Coa-heng jangan kuatir, aku cuma bergurau saja," jawab Thian ong pangcu.

"Cuma persoalannya juga harus ditinjau kembali, Thiao-ong-pang juga mempunyai sisi yang baik," ujar Coa Ji. "Misalnya honorarium seribu tahil perak tiap bulan, imbalan ini sesungguhnya tidak jelek, jauh lebih bagus daripada seorang kepala regu di larang mereka."

"Entah, aku tidak pernah menjadi garsaf, dari mana kutahu?"

"Paling-paling cuma satu per sepuluh honorarium kita, hanya seratus tahil perak sebulan!" "Oo, itu pun lumayan!" ujar Thian-ong-pangcu,.

"Makanya kubilang honorarium seribu tahil perak sebulan bagi kita boleh dikatakan sangat tinggi dan tidak tercela." "Kecuali hoaorarium yang tinggi, Coa-heng menganggap dalam hal apa lagi Thian ong pang dapat dipuji."

"Wah, sukar untuk kukatakan!" Coa Ji menggeleng.

"Ada juga sesuatu yang sukar kupahami," kata Thian-ong-pangcu pula, "Selama itu menyuruh kita masuk Thian-ong pneg, semua tidak pernah menjelaskan sesungguhnya apa yang dilakukan Thian-ong- pang. Apakah Coa-heng tahu sebenarnya apa yang dikerjakan Thian-ong-pang?"

"Menurut perkiraanku, Thian-ong-pangcu pasti seorang tokoh top dunia persilatan," ujar Coa Ji. "Dia membentuk Thian-ong-pang, tujuannya tidak lalu hanya ingin menguasai dan merajai dunia persilatan."

"Hanya untuk merajai dunia persilatan apakah kelop bila setiap bulan harus mengeluarkan biaya beberapa ratus ribu tahil perak?"

Akan tetapi dia kan mempunyai sumber pendapatan yang lain?!" ucap Coa Ji, "Dia dapat menarik uang pelindung kepada berbagai aliran dan perguruan. Kabarnya sekarang sudah ada beberapa perguruan dan aliran besar yang membayar uang pelindung kepadanya."

"Di dunia persilatan juga tidak kurang orang sakti, caranya bertindak secara tidak semena-mena, bilamana merangsang kemarahan beberapa tokoh sakti jaman ini, mungkin dia takkan berhasil merajai dunia persilatan sebagaimana harapannya."

"Hehe, masakah dia gentar?" jengek Coa Ji, "Kiam-ong Ciongli Cin adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan sekarang, akan tetapi kabarnya dia juga sudah terbunuh oleh seorang anak buah Thian-ong- pang. Yang tersisa sekarang tinggal Kiam-ho Lok Cing-hui dan kelompok It-sik-sin-kai, hanya mirip kunang-kunang saja, masakah mampu menandingi kemilau cahaya rembulan. Maka tak dapat kubayangkan siapa lagi yang sanggup menandingi Thian-ong-pangcu?"

"Jika begitu, kau berarti kita kesa4sr?"

"Memang betul juga," Coa Ji mengangguk "Cuma kalau Thian-ong pangcu tidak mengubah caranya memakai orang, mungkin kekuasaannya juga takkan tahan lama. Entah orang lain, yang jelas aku sendiri..."

"Engkau kenapa?" Thian-ong-pangcu menegasi dengan tertawa.

"Bila aku disuruh menjadi Busu boneka selamanya, lebih baik kujadi garong saja, Lebih baik menjadi kepala nyata daripada menjadi ekor kerbau. Betul tidak?"

"BetuI, ucapan Coa-heng cocok dengan pikiranku... Eh, ya, menurut perintah, Coa-heng di suruh mengirim kami ke mana?"

"Ke Kam-li-koan, tengah malam nanti dapat sampai di sana." tutur Coa Ji. "Memangnya ada urusan apa Lu-heng bertiga diperintahkan di Kam-li-koan sana?"

"Maaf, ini rahasia, tidak dapat kuberitahukan," ujar Thian-ong-pangcu.

"Kita kan sama-sama orang Thian-ong-pang, apa halangannya kau katakan?"

"Oo, jika Coa-heng ingin tahu, boleh juga kubeberkan sedikit, cuma Coa-heng harus juga rahasia." "Tentu Lu-heng tidak perlu kuatir."

"Begini, kami bertiga diperintahkan membereskan nyawa seseorang di Kam-li-koan..." "Ah, memangnya membereskan nyawa siapa?" "Dia juga Busu Thian ong-pang, namanya Ok-poan koan Tong Pin..." "Hah! Ok-poan-koan Tong Pin juga menjadi Busu Pang kita?"

"Betul, Coa heng kenal orang ini bukan?"

"Tidak cuma kenal saja, sebab dia adalah kakak seperguruanku." Thian-ong-pangcu berlagak kaget, katanya.

"Ai, kiranya Tong Pin adalah suhengmu, wah, ini.... ini..."

"Jika suhengku itu juga anggota pang kita, sebab apa jiwanya hendak dibereskan?" potong Coa Ji cepat.

"Aku sendiri tidak jelas, konon disebabkan dia tidak setia terhadap pang kita."

"Wah, kenapa suhengku itu bisa tidak setia terhadap pang kita?" seketika Coa Ji berubah tegang. "Menurut dugaanku, mungkin suhengmu serupa pikiran Coa-heng yang bercabang, sering

mengunjukkan rasa tidak puas terhadap pang kita."

Kembali Coa Ji terperanjat dan menghentikan kereta, ia berpaling dan berkata lagi dengan prihatin: "Wah, janganlah Lu-heng mencampur adukkan urusan suhengku dengan diriku. Mungkin aku ini suka bicara terus terang dan sering mencerocos seperti kentut, padahal terhadap pang kita sesungguhnya aku sangat patuh dan tetap setia tenagaku sudah tidak diperlukan, kalau tidak tentu aku akan bekerja mati- matian dan setia sampai akhir hayat."

Melihat sikap Coa Ji yang mendadak sontak berubah 180 derajad dan bicara dengan gugup, tentu saja Boh-to dan Kiam-eng tertawa geli.

Thian-ong-pangcu juga terbahak, katanya: "Coa-heng jangan kuatir, bahwa Coa-heng mau bicara terus terang padaku, itu menandakan engkau memandang diriku sebagai sahabat sejati, masakah aku tega membuat laporan tentang ucapan Coa-heng tadi, kan terlalu?"

Coa Ji merasa lega, berulang ia mengucapkan terima kasih, "Nah, begitulah jadi tidak sia-sia perkenalan kita ini."

"Cuma," ucap Thian-ong-pangcu dengan kening berkernyit, "Jika Ok-poan-koan Tong Pin itu adalah suhengmu, lalu cara bagaimana aku harus turun tangan padanya?"

"Tidak soal, tidak menjadi soal!" sahut Coa Ji cepat. "Biarpun Tong Pin itu suhengku, namun selama ini kami tidak begitu akrab, pribadinya memang sulit bergaul, pikirannya cupat, sudah lama kami tidak saling berhubungan. Silahkan saja Lu-heng turun tangan sebagaimana mestinya, bila Lu-heng tidak menolak, jika perlu ddapat kubantu malah."

"Jika demikian, kami bertiga boleh tidak perlu sangsi lagi," ujar Thian ong-pangcu tertawa. "Bicara terus terang, inilah tugas pertama yang diberikan atasan, betapapun kami tidak berani menolak dan membangkang."

"Ya, ya, tentu saja tidak boleh membangkang." seru Coa Ji, "Cuma, pada waktu turun tangan hendaknya kalian hati-hati. Bukan sengaja aku membual, kepandaian suhengku itu beberapa kali lebih tinggi daripadaku, senjata andalannya Poan koan-pit sudah pernah mengalahkan gembong bandit ternama di beberapa propinsi selatan."

"Wah, bila begitu, entah kami bertiga mampu membereskan dia atau tidak?" ujar Thian-ong pangcu dengan berlagak kuatir.

"Lu-heng jangan kuatir," ucap Coa Ji, "tiba saatnya nanti boleh kuberi bantuan seperlunya, dengan tenaga kita berempat masakah dia mampu terbang ke langit." "Baiklah, sllakan Coa-heng meneruskan perjalanan," Thian-ong-pangcu mengangguk. "Menurut perintah atasan, tengah malam nanti suheng-mu akan lalu di Kam-li-koan dengan meEUi ,. keres, kalau kita tidak keburu mencegatnya tiba lebih dini, urusan kan bisa runyam."

Berulang Coa Ji mengiakan, segera ia melarikan kereta kuda ke depan dengan cepat.

Diam-diam Boh to Siangjin dan Su Kiam-eng tahu sekali ini Coa Ji pasti akan tamat riwayatnya. Tapi lantaran orang memang penjahat yang pantas menerima ganjarannya, maka mereka tidak merasa cemas baginya sebaliknya bersyukur akan kematiannya.

Sepanjang jalan Coa ji tidak berani membual lagi dengan membungkam dia mengendarai keretanya, Menjelang tengah malam sampailah mereka di kota Kam-Ii-koan.

Ketika sampai di pintu gerbang kota, Coa Ji berpaling dan bertanya, "Lu-heng, apakah kita akan menunggunya di dalam kota?"

"Tidak, hendaknya Coa-heng membawa kereta ini keluar gerbang selatan, biarlah kita menunggunya di sana." sahut Thian-ong-pangcu.

Segera Coa Ji melarikan kereta ke dalam kota, setelah menyusur jalan raya lalu keluar pintu gerbang selatan. Karena di tengah malam buta, jalan raya sudah sepi dari orang lalu lalang.

Ketika kereta sampai di dekat sebatang pohon tua, Thian-ong-pangcu berseru, "Nah, sudahIah, boleh berhenti di sini!"

Coa Ji mengiakan dan menghentikan kereta, lalu berpaling dan bertanya, "Lu-heng, apa benar suhengku akan lalu di sini?"

Thian ong-pangcu menyodorkan sebuah lentera berkerudung dan menjawab, "Ya, harap Coa heng menyalakan lentera ini!"

Coa Ji menerima lentera itu, mendadak ia berkata dengan terkejut, "Oya, pada waktu kuterima perintah dari atasan untuk membawa kalian bertiga, aku juga diharuskan membawa sebuah lentera ini, sekarang Lu-heng minta lentera ini dinyalakan, jangan-jangan nyala lentera ini ada manfaat khusus?"

Thian-ong-pangcu melangkah keluar kereta sambil menjawab, "Betul, harap Coa-heng menyalakan lentera!"

Coa Ji merasa sangsi namun tidak berani bertanya lebih lanjut, segera ia keluarkan alat ketik api dan menyalakan lentera, lalu bertanya "Digantung di mana?"

Thian ong pangcu menunjuk ke depan, "Silahkan Coa-heng membawa lentera ke tengah jaIan sana, harap lentera digoyang-goyangkan 18 kali ke arah depan!"

Coa Ji tambah heran dan was-was, tanyanya bingung, "Apa artinya Lu-heng menyuruhku berbuat demikian?"

"Sesudah kau laksanakan tentu Coa-heng akan tahu" ucap Thian-Ong-pangcu.

Coa Ji merasa ragu pula sejenak, akhirnya ia menurut juga, ia bawa lentera ke tengah jalan dan digoyang-goyangkan 18 kali ke kanan dan ke kiri.

Hanya dalam sekejap seja lantas terdengar suara gemertak roda kereta bergerak dari jalan depan sana.

Tidak lama kamudian, sebuah kereta kuda tampak mendekat dengan cepat. Coa Ji merasa keadaan ini sangat berbeda seperti apa yang diceritakan "Lu Yan-sin," ia merasa tidak tentram, cepat ia putar balik ke depan Thian-ong-pangcu dan bertanya, "Lu-heng, kereta yang datang dari depan itu apa benar kereta yang ditumpangi suhengku?"

"Yang mengendarai kereta itu adalah seorang Busu lain dari pang kita, suhengmu duduk di dalam kereta," sahut Thian-ong-pangcu dengan tertawa.

Coa Ji tambah heran, "Jadi suhengku memang sudah tahu akan menerima hukuman dan atas perintah sengaja datang kemari untuk pelaksanaan hukumannya?"

"Tidak, dia belum lagi tahu," Thian-ong-pangcu menggeleng.

Tengah bicara, kereta tadi sudah sampai di bawah pohon Pengendaranya adalah seorang kakek berbaju hitam dan segera melompat turut, dari dalam kereta berbareng juga melompat keluar seorang tua dengan menyandang sepasang senjata Poan-koan-pit di punggung, mereka lari ke depan Thian-ong- pangcu dan sama menyembah sambil berucap, "Hamba Tong Pin dan Soa Goat menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu."

Demi mendengar Tong Pin menyebut "Lu Yan-sin" sebagai Pangcu, seketika muka Coa Ji berubah pucat serupa mayat dan melongo.

Thian-ong-pangcu tidak ambil pusing terhadap Coa Ji yang kaget setengah mati itu, ia hanya bicara terhadap Tong Pin dan Soa Goan-hiong "Perlihatkan Thian-ong-hu!"

Cepat Tong Pin berdua mengeluarkan Thian ong-hu dan dipersembahkan, "Mohon pangcu memeriksanya!"

Thian-ong-pangcu hanya memandang sekali Thian-ong-hu yang dipegang mereka itu tanpa menerimanya, lalu berkata, "Baiklah, simpan kembali!"

Setelah Tong Pin berdua menyimpan kembali Thian-ong-hu, segera Thian-ong-pangcu bertanya pula, "Bagaimana keadaan di sana?"

"Semuanya baik," jawab Tong Pin dengan hormat.

"Apa tidak terjadi sesuatu yang tak terduga!" tanya lagi Thian-ong-pangcu. "Tidak ada, segalanya berjalan lancar," tutur Ok-poan-koan Tong Pin.

Thian-ong-pangcu manggut-manggut, lalu menuding Coa Ji dan bertanya, "Katanya Coa Ji ini adalah adik seperguruanmu?"

"Betul, biasanya dia dapat bekerja giat dan cepat, mohon Pangcu memberi bantuan seperlunya," jawab Tong Pjn sambil memandang Coa Ji sekejap.

Dengan tertawa Thian-ong-pangcu menjawab, "Setiap busu pang kita, asalkan bekerja giat dan cepat, melaksanakan tugas dengan setia, dengan sendirinya akan kuberi kebaikan dan kenaikan pangkat yang wajar sebaliknya kalau cuma lahirnya saja tunduk, tapi dalam batin membangkang malahan di belakangku suka berolok-olok terhadap pribadiku, maka sulitlah bagiku untuk mengangkatnya ke atas."

Air muka Tong Pin berubah pucat, tanyanya gugup, "Apakah suteku ini telah berbuat sesuatu kesalahan?"

"Boleh kautanya sendiri padanya," jengek Thian-ong-pangcu.

Segera Tong Pin tanya Coa Ji dengan suara agak gemetar, "Sute, apa yang telah kau lakukan" Dengan gemetar mendadak Coa Ji berlutut dan menyembah terhadap Thian-ong-pangcu, katanya,

"Ooh, hamba sungguh punya mata tapi buta, dosa hamba sungguh harus dihukum mati seribu kali,

mohon... mohon Pangcu sudi mengampuni hamba satu kali ini, selanjutnya hamba pasti tidak berani sembarangan mengoceh lagi dan hamba bersumpah akan mengabdi dengan setia terhadap pang kita..." Mendadak Thian-ong-pangcu memotong, "Baik, dapat kuampuni satu kali kematianmu..."

Girang Coa Ji seperti putus lotere, beruIang ia menyembah dan berucap, "Banyak terima kasih atas budi kebaikan Pangcu, beribu terima kasih..."

Tiba-tiba Thian-ong-pangcu tergelak, "Hahaha, namun kau sendiri bilang dosamu harus dihukum mati seribu kali, sekarang aku cuma mengampuni kematianmu satu kali saja, lalu cara bagaimana menyelesaikan akan hukuman mati yang masih 999 kali?"

Coa Ji melenggong, segera air muka tambah pucat lagi, kembali ia menyembah tanpa berhenti dan memohon, "Mohon belas kasihan Pangcu, sungguh hamba memang suka banyak omong, sekali bicara laatas menerocos serupa kentut, padahal..."

Thian-ong-pangcu tidak mau mendengar lagi lebih lanjut, ia berpaling dan berkata kepada Tong Pin, "Nah, Tong-busu, jika kujatuhkan hukuman sesuai peraturan pang kita, bagaimana dengan pendapatmu?"

"Hamba tidak ada pendapat lain," jawab Tong Pin dengan menunduk takut "Jika suteku berbuat salah, mohon Pangcu memberi hukuman setimpal sesuai peraturan pang kita,"

"Dia adalah busu pang kita, namun dia justru menilai diriku selaku pangcu dengan segala kejelekan, katanya aku tidak pandai menggunakan tenaga pembantu, katanya dia tidak sudi menjadi busu boneka selamanya, katanya bila tiba saatnya dia akan kabur meninggalkan Pang kita, waktu kuberitahu bahwa aku mengemban tugas hendak mencabut nyawa Tong Pin yang tidak setia terhadap Pang kita, ia menjadi takut dan segera menyatakan bersedia membantu membunuhmu."

"Coba, manusia yang takut mati dan tamak hidup, orang yang tidak setia dan tidak berbudi seperti ini, menurut pendapatmu cara bagaimana harus membereskan dia?"

"Pantas dihukum mati," jawab Tong Pin, "Nah, mengingat dia itu sutemu, maka boleh kau suruh dia membereskan diri sendiri," ucap Thian-ong-pangcu.

Segera Tong Pin berpaling dan membekuk terhadap Coa Ji, "Dengar tidak keputusan pangcu Sute?"

Muka Coa Ji seketika berubah pucat serupa kertas, ia mengangguk tanda menurut. segera ia merogoh pinggang dan mengeluarkan sebilah belati, ujung belati mengarah hulu hati sendiri seperti siap membunuh diri, mendadak ia berteriak keras sekali, ujung belati membalik terus menikam ke perut Thian-ong-pangcu.

Itulah perbuatan nekat antara hidup atau mati, asalkan sergapannya berhasil, maka ada harapannya untuk menyambung hidup.

Akan tetapi Ok-poan-koan Tong Pin yang terdiri di sebelahnya sudah siap siaga, begitu nampak ujung belatinya membalik, serentak ia maju menendang sambil membentak, "Kau mau apa?"

Tujuan Coa Ji dengan tindakan nekat itu adalah berharap akan mencari hidup, sama sekali ia tidak menduga suheng sendiri akan merintanginya, maka baru saja belatinya terjulur setengah jalan, lebih dulu kepalanya sudah kena tendangan Tong Pin.

"Plak," kontan kepala pecah dan otak berhamburan, sambil menjerit ngeri kontan ia terjungkal, setelah berkelojotan beberapa kali, lalu putus nyawanya.

Habis menendang mati sutenya, Tong Pin masih kuatir sang Pangcu belum puas, cepat ia berlutut dan menyembah, "Ampun Pangcu jika suteku ini berani berbuat khianat!"

Thian-ong-pangcu tertawa, katanya, "Bangunlah! Dia bukan kamu dan kamu bukan dia, urusannya tidak ada sangkut-pautnya denganmu silahkan kau tanam mayatnya dan segera kita berangkat" "Tidak perlu ditanam, dibuang saja!" Tong Pin sambil berbangkit Lalu ia angkat jenazah Coa Ji dan dibawa ke tepi jalan sana serta dilemparkannya ke tengah semak belukar, kemudian putar balik."

Thian-ong-pangcu mendekati kereta dan berkata kepada Boh-to dan Kiam-eng, "Silakan kalian turun, kita harus ganti kereta!"

Boh-to dan Kiam-eng menurut saja dan berganti menumpang kereta yang dibawa kemari oleh Sia Goan-hiong tadi setelah Thian-ong-pangcu juga sudah di atas kereta, ia keluarkan dua potong kain hitam dan berkata, "Maaf, demi keamanan, mulai sekarang terpaksa kututup mata kalian."

"Apa artinya ini?" protes Boh-to dengan mendongkol.

"Artinya tempat yang hendak kita tuju itu tidak boleh diketahui oleh kalian," kata Thian ong-pangcu. "Aku kan bukan orang persilatan, apa salahnya biarpun kutahu tempat tujuan kita?" ujar Boh-to

Siangjin.

"Betapapun kukuatir kelak akan kau bocorkan tempat yang kita datangi nanti," sahut Thian-ong- pangcu.

"Sicu tidak perlu kuatir, tidak nanti kuberitahukan tempat itu kepada siapa pun," kata Boh-to tegas. "Tidak, lebih baik tetap kututup saja mata kalian" kata Thian-ong-pangcu.

"Apakah begini caranya Sicu memperlakukan tamu"

"Ya, jika Siangjin ingin pulang ke Tai-hin-si dengan hidup, mau-tak-mau mata kalian harus ditutup." "Baiklah, memangnya kami ini tawananmu, apa dayaku?" kata Boh-to menyesal.

Tanpa omong lagi segera Thian ong pangcu menutup mata Boh to dan Kiam-eng dengan kedua potong kasa hitam, Ialu menyuruh Sia Goan-hiong melarikan keretanya, sedangkan Tong Pin mengintil dari belakang dengan mengendarai kereta yang dibawa Coa Ji tadi.

Perjalanan kedua kereta itu berlanjut dari tengah malam hingga pagi, setelah berhenti tidak lama di suatu tempat yang sepi, lalu meneruskan lagi perjalanan, sebentar belok ke timur, Ialu putar ke barat sehingga Boh-to Siangjin dan Kiam-eng yang berada dalam kereta tidak tahu berada di mana.

Dua hari kemudian, kereta sampai di suatu tempat, dengan dipapah Tong Pin dan Soa Goan-hiong, Boh-to dan Kiam eng dipindahkan lagi ke suatu kapal dan entah berlayar menuju ke mana.

Kira-kira setengah hari kapal berlayar, kembali Boh-to dan Kiam-eng dibawa mendarat dan berganti menumpang tandu serta digotong ke tempat yang tidak jelas.

Akan tetapi pada saat itu juga Kiam-eng pun tahu sudah tiba di "markas besar" Thian-ong-pang.

Benar juga, tidak lama mereka menumpang tandu, berhentilah mereka dan dibawa masuk ke sebuah rumah, Mereka didudukkan di kursi, lalu terdengar Thian-ong-pangcu berkata, "Baiklah, sekarang boleh buka penutup mata mereka!"

Karena dikerundung selama dua hari dua malam, pada waktu kain hitam dibuka, seketika Boh-to dia Kiam-eng merasa silau dan sukar memandang. SeIang agak lama barulah daya pandang mereka pulih seperti biasa.

Waktu mereka mengamati sekitarnya, ternyata mereka berada di dalam sebuah kamar tulis yang dipajang sangat indah, Mereka sama merasa heran karena tak terduga.

Maklumlah, semula mereka mengira Thian-ong-pangcu pasti akan memasukkan meraka ke kamar tahaanan, sekaraag tempat mereka berada ternyata sebuah kamar tulis indah, dengan sendirinya mereka heran dan terkejut. Mereka coba mendekati jendela dan memandang keluar, terlihat di luar kamar adalah sebuah taman bunga yang kecil indah dikitari pagar bambu sekeliling, di tengah taman ada kolam dan gardu pemandangan segala, tanaman teratur rajin indah, terasa menyenangkan sekali.

"Seterusnya apakah kami akan tinggal di kamar ini?" Boh-to coba tanya Thian-ong-pangcu. "Betul, sampai Siangjin selesai menerjemahkannya," sahut Thian-ong~pangcu.

"Jika begitu, bolehkan pulihkan wajahku yang dulu."

"Tentu saja boleh, silakan mengaso sebentar, segera kuperintahkan mencuci muka kalian." "Maaf jika kutanya lagi, apakah tempat ini merupakan pangkalan pusat pang kalian?"

"Siangjin tidak perlu urus hal ini, cukup satu hal saja perlu Siangjin ingat, pada waktu istirahat kalian boleh bergerak bebas di taman, namun dilarang keras keluar taman barang selangkah pun."

"Mengapa dilarang melangkah keluar taman?" tanya Boh-to Siangjin. "Alasannya sama seperti kututup mata kalian."

"Baiklah, sekarang yang paling kuharapkan adalah mencuci badan..."

Thian ong-pangcu mengangguk setuju, ia memberi tanda kepada Tong Pin dan Soa Goan-hiong, ketiganya lantas mengundurkan diri.

Kiam-eng memandangi mereka keluar taman, lalu tersenyum senyuman gembira dan akhirnya tidak tertahan ngikik tawanya.

"Apa yang kau tertawakan, Ngo-liau?" tanya Boh-to heran.

Kiam-eng mendekati padri tua itu dan berbisik lirih, "Apakah Siangjin tahu tempat apakah ini!" "Tldak tahu," jawab Boh-to.

"Tempat ini adalah sebuah pulau kecil yang terletak di tengah danau Tongling, sudah dua kali pernah kudatang kemari" tutur Kiam-eng tersenyum.

"Ooh, jadi kita berada di tengah sebuah pulau kecil?" Boh-to menegas dengan heran.

"Betul, bukan saja pernah dua kali kudatang ke pulau ini, bahkan kamar ini pun pernah kumasuki." "Lantas, apakah nama pulau kecil ini?"

"Li-hun-to!"

"Li-hun-to? Ehmm... rasanya pernah kudengar nama pulau ini..."

"Pemilik pulau ini sebenarnya seorang perempuan buta, namanya Liehun-nionio Leng Jing-jing!" "Ahh, jadi Li-hun-nionio yang memiara ribuan perempuan cacat itu?" Boh to menegas.

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Sekarang dia berada di sini atau tidak?"

"Tidak ada, sudah sejak beberapa bulan yang lalu Thian-ong-pangcu mengutus ketiga utusannya ke sini untuk memaksa dia menggabungkan diri dengan Thian-ong-pang, tapi tidak digubris olehnya. Maka ketiga duta itu lantas melakukan penyerbuan ke pulau ini. Waktu itu aku baru saja pulang dari wilayah selatan dan bermaksud menceritakan pengalaman perjalananku mencari kota emas itu, ada maksudku hendak memberi bantuan padanya untuk melawan kawanan penyerbu, namun wataknya ternyata sangat keras, dia menolak bantuanku, akibatnya banyak anak buahnya terbunuh akhirnya tetap kubantu dia lolos dari bahaya maut dengan meledakkan sebuah granat berasap."

"Ribuan perempuan cacat yang dikumpulkannya itu juga terbunuh?"

"Tidak, pada waktu dia menerima surat tantangan ketiga duta Thian-ong-pang, semua perempuan cacat itu lantas dipindahkan ke Moko san, Maka yang terbunuh waktu diserbu musuh hanya para perempuan yang menguasai ilmu silat."

"Oh, sudah lama juga kudengar Li-hun-to adalah sorganya kaum perempuan cacat, ternyata Thian- ong-pangcu tega melakukan perbuatan ganas terhadap kaum wanita yang tidak berdosa ini. sungguh perbuatan keji dan menggemaskan."

"Waktu itu aku pun tidak mengerti sebab apa mengincar Li-hun-to, baru sekarang kupaham maksud tujuan meraka menduduki pulau ini."

"Memangnya apa tujuannya?" tanya Boh-to.

"Menduduki pulau ini untuk dijadikan markas pusat Thian-ong-pang mereka!" "Oya. ".

"Kita lihat, Li-hun-to ini dikelilingi danau, posisinya sangat strategis untuk dipertahankan, sebab itulah pulau itu terpilih untuk dijadikan markas pusat mereka."

"Oh, kiranya begitu, sepanjang jalan Thian ong-pangcu mengerudungi mata kita, maksudnya agar kita tidak tahu ke mana hendak dibawa, Tak terduga akhirnya sampai di tempat yang sudah ku kenal. Bisa jadi ini melambangkan riwayatnya sudah hampir tamat."

"Memang betul, yang paling menggelikan adalah kita justru ditaruh di kamar ini. ".Kata Kiam eng

lagi.

"Kamar ini kenapa?"

"lni kan bekas kamar tidur Li-hun nionio Leng Jing-jing, waktu itu justru dari kamar inilah kubawa Li- hun-nionio lolos dari pulau ini."

"Ah, maksudmu ada jalan rahasia di kamar ini?" Boh-to melengak.

"Betul, cuma orang Thian-ong-pang sudah merombak kamar ini, entah waktu merombak jalan rahasia itu ditemukan mereka atau tidak?"

Bicara sampai di sini, Kiam-eng coba melongok keluar karnar, melihat keadaan sepi, lalu ia mendekati sebuah almari pakaian dinding di pojok sana, ia buka piatu elmari lalu memutar sepotong kayu gantungan baju, beberapa kali diputar, terdengarlah suara berkeriut, pelahan dinding yang terletak di balik almari lantas bergerak menurun sehingga terlihatlah sebuah jalan bawah tanah yang gelap gulita.

Melihat itu, Boh-to terkejut dan bergirang, sahutnya, "Omitohud! Tampaknya jiwa kita belum ditakdirkan harus tamat di sini!"

Kiam-eng juga sangat girang, segera ia putar lagi kayu gantungan baju sehingga pintu rahasia itu merapat kembali seperti semula, lalu pintu almari ditutup katanya dengan gembira, "Thian-Ong-pangcu pasti tidak tahu di dalam kamar ini ada jalan rahasia, maka kita masih ditaruh di sini. Haha, sungguh Thian memang tidak pernah membuat buntu bagi umatnya."

"Jalan bawah tanah ini menembus ke mana?" tanya Boh-to Siangjin. "Ke tepi pantai, keluar dari lorong adalah danau," tutur Kiam-eng. "Jika begitu, bila tidak ada kapal, tetap kita sukar kabur dari pulau ini."

"Untuk ini kita dapat berusaha nanti. Asalkan Thian-ong-pangcu tidak tahu jalan rahasia ini menembus kemana, tentu kita masih sempat berdaya."

Selagi Boh-to hendak bicara lagi, tiba-tiba Kiam-eng mendengar ada orang melangkah datang, cepat ia memberi tanda diam sambil mendesis, "Sst ada orang datang!"

Tidak lama, muncul empat lelaki berbaju ringkas dengan membawa dua ember penuh air panas dan beberapa alat mandi setelah masuk kesana peralatan itu ditaruh di situ, seorang di antaranya mengeluarkan sepotong garam kristal dan ditaruh di meja, katanya, "Pangcu bilang dengan garam ini dapat membersihkan hiasan pada wajah kalian, boleh kalian cuci sendiri saja."

"Baiklah, terima kasih." kata Kiam-eng.

Ke empat orang itu memberi hormat dan segera mengundurkan diri.

Setelah menutup pintu kamar dan merapatkan tabir jendela, Kiam-eng dan Boh-to membuka baju untuk mandi.

Hanya sebentar saja keduanya sudah pulih pada wajah semula. Dengan sendirinya Su Kiam eng kembali pada wajah si hwesio cilik "Ngo Iiau"

Kemudian ke empat lelaki tadi datang kembali menyingkirkan peralatan, tidak lama pula dua lelaki datang membawakan makanan selesai menaruh makanan di meja, seorang diantaranya berkata, "Pangcu bilang, perjalanan jauh tentu membuat kalian lelah, selesai bersantap boleh silakan istirahat bebas, Besok pangcu akan datang menemui kalian."

Habis bicara mereka terus tinggal pergi, "Dengan sendirinya Boh-to dan Kiam-eng berpikir dan tanpa terasa bergumam "Ehm, rasanya boleh coba kuselidiki walaupun harus menyerempet bahaya..."

"Menyelidiki apa?" tanya Boh-to Siangjin. "Ooh, maksudku mencari Wi-ho Lojin dan Ih Keh-ki," jawab Kiam-eng.

"Kau kira mereka juga terkurung di Li-hun-to ini?" tanya Boh-to.

"Betul, juga ke-180 patung emas itu, kukira berada semua di pulau ini." "Maksudmu hendak keluar untuk menyelidikinya?"

"Ya, bagaimana pendapat Siangjin?"

"Kukira, Thian-ong-pangcu pasti menaruh penjaga di luar untuk mengawasi kita, bila Siau-sicu keluar, mungkin akan kepergok..."

"Betul juga, cuma Thian-ong-pangcu kan tidak tahu aku ini samaran Su Kiam-eng, maka pengawasannya terhadap kita mungkin tidak seketat dugaan kita, Asalkan aku berlaku lebih hati-hati, mungkin dapat menghindari pengawasan penjaga."

"Tujuanmu kan terletak pada kitab pusaka ilmu pedang, sekarang nasksh ilmu pedang belum selesai kuterjemahkan, bilamana asal-usulmu ketahuan, kan berarti tamat segalanya".

"Yang kupertimbangkan justru hal ini," ujar Kiam-eng." Namun dengan susah payah barulah kita sampai di sini, bila kesempatan baik iai tidak kugunakan uatuk menyelidik kan berarti sia-sia perjalanan ini, Pula kalau urusan kitab pusaka dibandingkan dengan Wi ho Lojin, jelas kurasa lebih penting menolong dulu manusianya..." "Ya, menolong orang memang penting, Bila kelak yang dapat membantu Siausicu menumpas kawanan iblis mungkin juga berdasarkan ilmu pedang sakti ini."

"Benar, cuma sayang bangsat tua itu tidak mau menyerahkan seluruh ke-178 potong medali itu kepada Siangjin, bila sisa ke-144 potong itu mau dia serahkan padamu, tentu urusan akan mudah diselesaikan."

"Tempat ini adalah daerah kekuasaannya, bisa jadi besok juga dia akan menyerahkan sisa ke-144 potong medali itu kepadaku," ucap Boh-to dengan tersenyum.

Kiam-eng merasa hal itu memang bukan mustahil, maka katanya dengan tertawa, "Betul, jika benar dia serahkan seluruh sisa medali emas pada Sianjin, lebih dulu akan kuapalkan seluruh isi kitab pusaka itu, habis itu baru kupergi menyelidiki keadaan pulau ini, bila dapat menemukan Wi-ho Lojin dan nona Ih, langsung aku berusaha menolong mereka dan kubawa kemari untuk kemudian bersama-sama melarikan diri melalui jalan rahasia di sini".

"Omitohud!" ucap Boh-to, "Biarpun perhitungan Siausicu itu terlampau muluk-muluk, bisa jadi Budha akan memberkahimu sehingga usahamu berhasil."

Selesai bersantap, keadaan di luar sudah mulai remang-remang magrib, karena ingin tahu keadaan taman di luar itu, segera Kiam-eng keluar Boh-to Siangjin dan berjalan-jalan di sekeliling taman.

Taman itu hanya dikelilingi pagar bambu, sebab itulah keadaan di luar taman dapat terlihat dengan jelas. Ternyata perumahan di luar taman tidak banyak berbeda dengan keadaan beberapa bulan yang lalu.

Satu-satunya yang tidak sama adalah diberbagai jalan dan halaman dijaga oleh orang bersenjata yang cukup ketat, suasana terasa kereng dan seram.

Diam-diam Kiam-eng mendengus melihat keadaan begitu, setelah berada kembali dalam kamar, Boh-to berkata dengan lirih, "Sudah kau lihat sebanyak itu penjaga di mana-mana, cara bagaimana kamu dapat menyusup keluar?"

"Tidak menjadi soal, tidaklah sulit untuk menghindari pengawasan kawanan penjaga ini," ujar Kiam- eng." Yang sulit adalah tidak diketahui Wi-ho Lojin dan dan nona Ih apakah terkurung di pulau ini? Dan kalau terkurung di sini, maka disekap di kamar mana?"

"Kaubilang pernah dua kali datang ke pulau ini, masakah tidak dapat kau raba tempat yang sangat mungkin menjadi tempat tahanan mereka?" seru Boh-to.

"Meski pernah dua kali kudatang kemari, namun tidak pernah tinggal lama di sini sehingga sukar bagiku untuk meraba dimana mereka di tahan."

"Sesungguhnya berapa luasnya Li hun-to ini?"

"Dibilang besar memang tidak besar, dikatakan kecil juga tidak kecil. Yang jelas perumahan di pulau ini kira-kira ada 300 buah."

"Ya, memang tidak mudah untuk menemukan tmpat tahanan mereka di antara ke-300 buah kamar itu, menurut pendapatku, untuk sementara ini, lebih baik dibatalkan dulu keinginan Siau-sicu akan menyelidiki keadaan pulau ini."

"Baiklah, biar kita tidur nyenyak semalaman, segala urusan tunggu sampai besok saja," kata Kiam- eng.

Di dalam kasar ada dua tempat tidur, tanpa pusing lagi mereka lantas buka baju dan tidur.

Untuk pertama kalinya mereka mendapatkan tempat tidur yang baik sejak mereka jatuh dalam cengkeraman Thian-ong-pangcu, sebab itulah hanya sebentar saja mereka rebah dan segera terpulas. Akan tetapi mungkin tidur mereka terlampau dini sehingga ketika Kiam-eng mendusin, ia coba melongok keluar jendela, ternyata saat itu baru tengah malam.

Ia merasa cukup segar dan bersemangat sehingga tidak merasa mengantuk lagi, timbul suatu pikirannya, ia coba mendekati Boh-to Siangjin, terlihat padri tua itu pun mendusin, dengan suara tertahan ia tanya," Siangjin juga mendusin!"

"Ya, saat ini seperti baru tengah malam bukan?" jawab Boh-to. "Memang, masih cukup lama tibanya pagi," kata Kiam eng. "Jika begitu, ayolah tidur lagi."

"Tidak, tecu tidak dapat tidur pula."

Boh-to bangun duduk, katanya," Jika demikian, di bawah rak buku kulihat ada papan catur bagaimana kalau kita main catur untuk membuang waktu."

"Tidak, kuingin turun untuk melihat keadaan," ujar Kiam-eng. "Turun melihat keadaan apa!?"

"Maksudku ingin masuk ke jalan bawah tanah sana untuk menyelidiki keadaan di sana," sahut Kiam- eng sambil menunjuk almari, "Bisa jadi Thian-ong-pang sudah menemukan jalan rahasia itu dan jalan tembusnya sudah disumbat"

"Ya, boleh juga coba kau periksa keadaan di situ," Boh-to mengangguk setuju. "Akan tetapi, bilamana kau masuk ke situ, lalu mendadak mereka datang lantas bagaimana?"

"Pada saat tengah malam begini kukira takkan terjadi," ujar Kiam-eng. "Apabila mereka datang, janganlah Siangjin membuka pintu begitu saja melainkan dengan suara keras kau tanya dulu apa keperluan kedatangan mereka, dengan demikian tentu suara Siangjin dapat kudengar di bawah sana dan cepat kukeluar lagi ke sini."

"Baiklah, silakan Siausicu lekas turun ke sana"

Su Kiam-eng lantas melompat ke depan almari dia pelahan membuka piatu almari, diputarnya tangkai gantungan baju, takala pintu rahasia terbuka, cepat ia melangkah turun ke bawah.

Jalan di bawah tanah gelap gulita, jari sendiri pun tidak terlihat. ia keluarkan geretan api sekedar penerangan dan maju ke depan.

Ia ingat di tengah jalan rahsia itu ada sebuah kamar yang cukup luas, di langit kamar terpasang sebutir mutiara mestika yang bercahaya, di depan kamar dirintangi sebuah pintu besi, harus menembus pintu besi itu baru dapat mencapai tepi pantai.

Ia juga ingat waktu masuk ke situ bersama Li-hun-nionio dahulu, pernah dia culik juga ketiga busu Thian-ong-pang dan dibawa ke kamar rahasia itu, di situlah kemudian Li-hun-nionio membunuh mereka. Ai, bilamana ketiga sosok mayat mana menggeletak di sana, tentu baunya tak terperikan.

Benar juga, baru saja ia melangkah lebih maju lagi, segera tercium bau mayat yang busuk, Untung bau busuk mayat itu tidak terlampau bacin sebagaimana bayangannya.

Sebaliknya bau mayat itu pun seakan-akan memberi petunjuk baik padanya, yaitu menandakan pihak Thian-ong-pang belum lagi mengetahui adanya jalan rahasia ini, kalau tidak tentu mayat itu sudah disingkirkan dan kamar rahasia itu di bersihkan.

Setelah yakin jalan rahasia ini belum diketahui musuh, ia tambah semangat, dengan penuh gairah ia melangkah ke depan dengan cepat, maka cuma sebentar saja ia sudah sampai di kamar rahasia itu. Siapa tahu, baru saja sebelah kakinya selangkah masuk kamar rahasia itu, sekonyong-konyong bagian pinggang terasa kesemutan. kontan sekujur badan tak bisa berkutik dan langsung roboh terkapar

Ia tahu terperangkap, akan tetapi tidak tahu siapakah yang menyergapnya itu, sebab mutiara mestika yang bercahaya terang dan terbingkai di langit-langit kamar itu sudah hilang dan keadaan kamar gelap gulita.

Selagi ia bermaksud bersuara untuk menegur, terasa sebuah tangan yang dingin terjulur tiba dan mencengkeram kuduknya, menyusul hiat-to bisu pun tertutuk sehingga ingin berteriak pun tidak mampu Iagi.

Kemudian lawan mengangkatnya bagai mencengkeram anak ayam saja sambil tertawa terkekeh lagi, terdengar orang mengomel, "Huh, akhirnya berhasil kutangkap seekor, agaknya malam ini nyonya besar dapat mencicipi bagaimana lezatnya hati manusia panggang."

Dari suaranya Kiam-eng dapat menduga pihak lawan adalah seorang perempuan setengah baya.

Rada heran juga Kiam-eng setelah mengetahui pihak lawan adalah seorang perempuan, Tapi demi mendengar orang menyatakan ketidak merasakan enaknya hati manusia panggang, mau-tak-mau ia mengkirik juga dan kuatir.

"Wah. celaka! Rupanya siluman pemakan manusia yang kupergoki ini."

Cuma, apa pun dia belum lagi khilap, ia tahu, pihak lawan sama sekali bukanlah setan atau siluman, malahan ia dapat memastikan lawan pasti seorang anak buah Li hun-nionio yang tidak sempat kabur dari pulau ini dan terpaksa sembunyi di lorong bawah tanah ini. Bahwa orang bermaksud makan hati manusia, alasannya mungkin ada dua.

Pertama, karena sulit mendapatkan makanan, dalam keadaan lapar apa pun tentu akan disantapnya, Kedua, bisa jadi saking bencinya terhadap pihak Thian-ong pang, maka setiap musuh yang tertangkap ingin dilalapnya sekadar melampiaskan rasa dendamnya.

Akan tetapi, meski sudah tahu siapa pihak lawan, namun hati Kiam-eng tetap tidak tenang, sebab hiat-to kelumpuhan dan hiat-to bisu tertutuk, selain tidak bisa bergerak juga tidak sanggup berbicara sehingga sulit baginya untuk menerangkan siapa dirinya, karena itu dia tetap sukar terhindar dari nasib menjadi santapan lezat orang.

Betapa dia berharap lawan akan membuka hiat-to bisunya, asalkan dia dapat bersuara, begitu lawan tahu siapa dirinya, seketika dia akan bebas dari bahaya, Akan tetapi terlampau kecil harapannya hiat-to bisunya akan dibuka oleh lawan, sebab pada hakikatnya orang menyangkanya pasti anak buah Thian-ong pang.

Yang dipikir Iawan sekarang hanya ada satu, yaitu membuat tawanan tidak dapat lolos dan juga tidak mampu berteriak minta toIong, dengan begitu dapatlah dia menikmati hati manusia panggang yang lezat.

Berpikir demikian, diam-diam Kiam-eng menyesal, pikirnya, "Ah, sudahlah! Mungkin indah suratan nasibku harus berakhir secara begini..."

Selagi menyesali nasib sendiri, tiba-tiba Kiam-eng merasa tubuhnya dilemparkan orang, "bluk", rupanya dia telah dilemparkan ke pojok dinding kamar.

Menyusul terdengar pihak lawan lagi berguman, "Mengapa cuma turun satu orang ini saja? jangan jangan keparat ini baru saja menemukan lorong rahasia ini dan belum sempat melapor kepada atasannya lantas turun lebih dulu ke sini?"

Sejenak kemudian mendadak cahaya terang berkelebat. Rupanya pihak lawan telah mengetik api untuk menyalakan lentera minyak di situ.

Ketika lentera menyala sehingga Kiam-eng dapat melihat jelas wajah pihak lawan, tanpa terasa ia bsrterlak, "Ah, kiranya engkau!" Akan tetapi teriakannya tidak mengeluarkan suara, sebab pada saat itu lidahnya kaku kelu.

Kiranya orang perempuan yang menyatakan ingin mencicipi rasanya hati manusia panggang itu tak- Iain-tak-bukan adalah Li-hun-nionio Leng Jing-jing.

Dengan sendirinya Leng Jing-jing tidak tahu tawanannya itu adalah Su Kiam-eng pula. "Dia seorang buta total, maka ia pua tidak tahu tawarannya itu berbentuk seorang hwesio cilik, Selagi menyalakan lentera, lalu ia mengeluarkan sebilah belati dan mendekati Kiam-eng, ia berjongkok di depan anak muda itu sambil terkekeh, tanyanya kemudian, "Nah, sudah kau lihat jelas tidak? Kau kenal siapa nyonya besar bukan?"

Dia bertanya begitu tanpa mengharapkan jawaban dari tawanannya, maka segera ia menyambung lagi dengan tertawa, "Haha, bisa jadi kau tidak tahu siapa nyonya besarmu ini. Biarlah ku-beritahu, nyonya besar adalah pemilik Li-hunto ini, aku inilah Li-hun-nionio Leng Jing-jing?!"

Pada waktu lawan menyalakan lentera, timbul juga rasa girang Kiam-eng, sebab ia perkirakan bila pihak lawan melihat dirinya adalah seorang "hwesio cilik", tentu orang akan heran dan sangat mungkin akan membuka hiat-to blsuaya uatuk diraiotai keterangan.

Akan tetapi setelah tahu jelas pihak Iawan adalah Li-hun-nionio, seketika juga ia menyadari keadaan bisa runyam, sebab Leng Jing jing itu seorang buta, pada hakekatnya orang takkan tahu dia seorang "hwesio cilik" sehingga tidak mungkin tertarik untuk menanyainya. Padahal dinyalakannya lentera minyak itu sebenarnya tidak perlu bagi seorang buta namun Leng Jing-jing mungkin sengaja hendak membuat tawanannya melihat jelas siapa dia sekadar untuk melampiaskan kepuasan batin saja.

Kiam-eng menyadari bilamana malam ini dirinya tidak sempat bicara, maka dia pasti akan mati di tangan Li-hun-nionio, sebab itulah ia sangat gelisah, dalam hati ia menjerit, "Wahai Leng-tocu! Apabila engkau tidak tanya sejelasnya siapa diriku dan segera membunuhku, maka engkau pasti akan menyesal selama hidup!"

Namun sama sekali Li-hun-nionio tidak dengar jeritan hati Su Kiam-eng, sebaliknya tertampak air muka nyonya buta itu mulai beringas, dengan terkekeh ia berkata pula, "Nah, tentu kamu tidak menyangka nyonya besar dapat menyusup kembali ke pulau ini bukan? Hehehe, biar kuberitahu, semula kukira tidak mudah untuk menuntut batas kepada Thian-ong-pang kalian. Akan tetapi kemudian kupikir maksud tujuan penyerbuan kalian ke Li-hun-to ini bukanlah ingin menaklukkan nyonya besar, juga bukan ingin memaksa aku membayar uang pelindung. Tetapi kalian menduduki Li-hun-to tidak lain ingin menjadikan pulau ini sebagai pusat perkumpulan Thian-ong-pang kalian.

Sebab itulah segera aku menyusup pulang kemari, inilah kesempatan baik bagiku untuk menuntut balas, Nyonyamu ingin melalap kalian satu persatu, bilamana Thian-ong-pangcu dan ketiga duta kepercayaanmu itu mengetahui anak buahnya menghilang berturut-turut, tentu mereka akan mencari dan menyelidiki seluruh pelosok pulau ini, dan akhirnya pasti juga akan menemukan lorong rahasia ini.

Tatkala itu akan tibalah saat runtuhnya Thian-ong-pang kalian, hehehe..."

Senang dan juga ngeri hati Su Kiam-eng mendengar uraian tersebut, berulang ia berteriak dalam hati, "Sungguh jalan pikiran bagus! Akan tetapi Leng-tocu, aku adalah Su Kiam-eng dan bukan orang Thian-ong-pang..."

Terlihat Li-hun-nionio berhenti sejenak, lalu mendengus pula, "Hehe, sekarang akan kukorek hatimu untuk kumakan, bila kau anggap caraku ini terlampau kejam, maka kamu harus menyalahkan pangcu kalian dan ketiga dutanya, sebab tanpa alasan mereka membunuhi sekian banyak anak buahku, bahkan membuat ribuan anak perempuan cacat kehilangan tempat berteduh..."

Bicara sampai di sini, sebilah tangannya lantas meraba ke arah Su Kiam-eng. Maksudnya hendak merobek dada baju tawananya untuk kemudian dada orang akan ditubles dengan belati.

Tapi lantaran kedua matanya buta, sebelah tangannya itu tidak berhasil meraih dada baju Su Kiam- eng, sebaliknya kena meraba kepalanya yang gundul. Keruan Lang Jing-jing terkejut dan heran, serunya, "Hah, mengapa kepala gundul? Apakah kau anak kecil?"

Tersembul rasa sangsinya, ia coba meraba sekujur tubuh Su Kiam-eng, akhirnya dia berseru kaget, "Hah, aneh, jangan-jangan kamu seorang hwesio?!"

Girang sekali Kiam-eng, teriaknya dalam hati, "Betul memang betul! Ayolah lekas membuka hiat-to bisuku dan menanyai aku!"

Tetapi Li-hun-nionio tidak membuka hiat-to bisunya melainkan cuma termenung dengan miringkan kepala, sejenak kemudian, mendadak ujung belatinya mengacung ke hulu hati Su Kiam-eng sambil mendengus, "Huh, orang beragama ternyata juga masuk komplotan Thian-ong-pang, ini membuktikan kamu pasti sampah masyarakat kaum agana budha. Nah, lekas mengatakan kamu berasal dari perguruan mana?!"

Karena sampai sekian lama belum mendapatkan jawaban, barulah teringat oleh Leng Jing-jing bahwa hiat-to bisu orang tertutuk olehnya, segera ia menutuk lagi untuk membuka hiat-to bisu Kiam-eng, lalu bertanya pula, "Nah, lekas katakan, kamu ini berasal dari perguruan atau aliran mana?"

Begitu hiat-to bisu terbuka, hal ini sama saja menemukan kembali jiwanya bagi Su Kiam-eng, tanpa terasa ia menghela napas lega yang panjang lalu berseru, "Aiii, Leng-tocu, hampir saja jiwaku, melayang ditanganmu!"

"Hei, jangan mimpi! Memangnya kaukira nyonya besar dapat mengampuni jiwamu?" teriak Leng Jing-jing.

Kiam-eng tertawa, "Haha, bilamana Leng-tocu tahu siapa aku ini, tentu engkau akan berkeringat dingin!"

"Huh, peduli apakah kamu ini hwesio setan atau ketua Siau-ilas-pai sekalipun, sekali kamu sudah masuk Thian-ong-pang, tetap berani kubinasakan dirimu!" jawab Leng Jing-jing tegas.

"Aii, sampai sejauh ini masakah Leng-tecu belum lagi mengenali suaraku?" tanya Su Kiam-eng. "Peduli siapa kamu, yang pasti selamanya nyonya basar tidak sudi berkenalan dengan hwesio. "Aku ini kan Su Kiam-eng adanya, Leng-tocu!" seru anak muda itu.

Seketika Li-hun nionio Leng Jing-jing melenggong, ucapnya dengan bingung, "Apa katamu?"

"Aku ini Su Kiam-eng, Leng-tocu!" kata Kiam-eng pula dengan tertawa. "Apabila Leng-tocu tidak percaya, biarlah kusebutkan tiga orang saksi."

"Tiga . . . tiga saksi siapa?" tanya Leng Jing-jing dengan suara agak gemetar.

"Pertama Pui Piu, kedua Ban Hui-siu, ketiga Tang Jian-sik, bau busuk mayat mereka masih memenuhi seluruh ruangan ini," tutur Kiam-eng.

Cepat Leng Jing-jing menarik kembali belatinya, tanpa terasa ia rangkul Su Kiam-eng, teriaknya dengan kejut dan girang, "Oo, Su Kiam-eng! Mengapa kamu bisa datang kemari?!"

"Sudilah Leng-tocu membuka dulu hiat-to keiumpuhanku?" pinta Kiam-eng.

Cepat Leng Ling-jing memenuhi permintaan anak muda itu sembari berkata, "Terima kasih terhadap langit dan bumi, untung aku tidak telanjur membuat kesalahan besar. Cuma, sungguh sukar dimengerti, mengapa Su-siauhiap bisa berubah menjadi hwesio kepala gundul?"

Kiam-eng bangun dan duduk, jawabnya dengan tertawa," Kalau aku tidak menjadi hwesio, tentu aku takkan sampai di sini." "Ai, janganlah jual mahal, lekas ceritakan cara bagaimana kau datang ke pulau ini?" tanya Leng Jing- jing tidak sabar.

"Panjang sekali jika kuceritakan," kata Kiam-eng," Bagaimana kalau kita kembali dulu ke lorong rahasia sana barulah nanti kuceritakan sejelasnya."

"Bukankah lebih aman bila kau ceritakan di sini?" ujar Leng Jing jing heran.

"Tidak, biarlah kita bicara di sana saja," kata Kiam-eng sambil berbangkit, "Supaya aku dapat segera masuk lagi ke kamar tidur sana bila keburu ada ada orang datang, dengan demikian penyamaranku dapatlah tetap dipertahankan."

Sembari bicara ia terus mendahului melangkah ke ujung lorong sana.

Li-hun nionio menyusulnya dari belakang sembari bertanya pula, "Apakah Su-siauhiap tidur di kamar tulis itu?"

"Betul, sekamar denganku ada lagi Boh-to Siangjin dari Tai-hin-si di kota Tiang-an." "Hahh, cara bagaimana kalian datang ke pulau ini?" tanya Leng Jing-jing.

"BermuIa daripada Thian-ong-pangcu mengundang Boh-to Siangjin dari Tai-hin-si untuk menerjemahkan kitab pusaka yang tersembunyi dalam medali emas yang ditemukan pada ke-180 patung emas itu. Sudah kuduga akan tindakannya itu, maka lebih dulu kutemui Boh-to Siangjin untuk mengatur siasat, akhirnya kucukur rambut menjadi hwesio cilik pelayan Boh-to Siangjin dan bergelar Ngo liau..."

"Aha, bagus sekali! Su siauhiap sungguh hebat, setiap lubang selalu kaususupi. Dan sekarang Boh-to Siangjin itu sudah mulai bekerja baginya?"

"Betul, lebih dulu kami ditempatkan di suatu biara kuno, kemudian Thian-ong-pangcu mengetahui kemunculan Sam-bi-sin-ong yang sedang menguntitnya, lalu dia menggunakan akal mengelabuhi musuh, kami dibawa lagi ke sini. Ketika tiba di sini menjelang magrib. Sebelum tiba di sini, lebih dulu mata kami dikerudungi Thian-ong-pangcu. Akan tetapi setiba di pulau ini segera ku-kenali Li hun-to milik Leng-tocu ini, Yang lucu ini."