Rahasia 180 Patung Emas Jilid 26

 
Jilid 26 

"Pernah lihat satu kali di alun-alun Tiang-an yaitu seorang tukang jamu memamerkan kepandaiannya memain pedang, cukup menarik juga"

"Huh, tukang jamu saja masakah paham permainan pedang segala? Ketahuilah tukang ngamea begitu pada umumnya tikak mempunyai kungfu sejati, semuanya cuma permainan kembangan untuk menipu orang saja."

"Engkau sendiri pandai main pedang tidak?" tanya Kiam eng.

"Kalau tidak bisa, buat apa membawa pedang segala?" jawab Theng An dongkol. "Apakah kau mau perlihatkan permainan pedangmu padaku?" kata Kiam-eng.

Theng An menggeleng kepala. "Tidak, sekarang tidak boleh!" "Tidak boleh atau memang tidak bisa?"

Kiam-eng sengaja berolok-olok.

Theng An tergelak, "Hahaha, kamu si keledai gundul cilik ini ternyata pandai juga memancing emosiku, biarlah kukatakan padamu, caramu tak takkan mempan bagiku."

Habis itu kembali ia berputar meronda di bawah pagoda.

Karena akalnya tidak mempan, Kiam-eng tersenyum dan mengangkat bahu terhadap Boh-to Siangjin, selagi ia hendak bicara sekonyong-konyong terasa bayangan orang berkelebat, seorang kakek beruban tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

Nyata si kakek ini tak-lain-tak-bukan adalah Sam-bi-sin-ong Pekli Ge.

Sama sekali dia tidak tahu hwesio ciilk yang berhadap dengan dia ialah Su Kiam-eng, terlebih tidak tahu tujuan Kiam-eng mengajak ngobrol iseng dengan Theng An justru membuat kesempatan agar dia dapat menyusup ke atas pagoda, sebab itulah begitu sampai di situ, langsung dia menyergap Boh-to Siangjin, ia ancam dada padri tua itu dengan belati serta melototi Su Kiam-eng sambil membentak tertahan, "Jangan bersuara jika ingin selamat."

Su Kiam-eng tidak dapat menahan rasa gelinya sehingga mengikik, lalu berkata dengan bisikan gelombang suara, "Apa kabar, PekIi-locianpwe?!"

Sam-bi-sin-ong melenggong, ia mengamati orang dengan terbelaIak, lalu bertanya dengan gelombang suara yang lirih, "Kamu ini siapa?"

"Ooh, aku ini Ngo-Iiau, aslinya berguna Su Kiam-eng!"

Sam-bi sin-ong terkejut dan menegas, "Hah, bocah hebat, kamu sudah menjadi hwesio sekarang?" "Ya, soalnya aku sudah lama hidup merantau, maka ingin hidup tentram daripada menjadi pencuri

serupa Locianpwe," jawab Kiam-eng dengan tertawa.

Segera Sam-bi-sin-ong paham duduknya perkara, ia bebaskan Boh-to Siangjin dan mengomel. "Sialan, kamu ini serupa air saja, lubang sekecil apa pun kaumasuki, Melihat gelagatnya, sekali ini

tampaknya aku telah kedahuIuanmu lagi."

"Jangan kuatir Looianpwe, tujuanku kan bukan terletak pada ke-180 patung emas itu." kata Kiam- eng. Dengan jelalatan Sam-bi-sin-ong mendekati meja dan memegang naskah salinan huruf dari medali emas itu serta diperiksa, katanya kemudian. "Apakah tujuanmu hanya terletak pada ilmu pedang ini?"

"Betul, cuma yang lebih utama bagiku adalah berusaha supaya musuh tidak berhasil mendapatkan ilmu pedang sakti ini, jadi bukan sengaja hendak kukangkangi sebagai milik sendiri."

Sam bi-sin ong memandang Boh-to sekejap, lalu bertanya," Cara bagaimana kalian membuatkan salinan baginya?"

"Dengan sendirinya pakai resep tertentu, kalau tidak mengurangi bahan dan tenaga, ya teori babi minyak dan imbuhi buEttbn," sahut Kiam-eng.

"Masa dia tidak curiga?" tanya si kakek, "Tentu saja curiga, namun dia pasti takkan mencurigai diriku."

"Kamu harus hati-hati, setelah Boh-to Siangjin habis menerjemahkannya, pasti dia takkan membiarkan kalian pergi dari sini dengan hidup."

"Hal ini memang sudah kuperhitungkan," ujar Kiam-eng tersenyum. "Apakah gurumu sudah tahu kamu berada di sini?" tanya si kekek. "Tidak tahu," jawab Kiam-eng dengan menggeleng.

"Sejak kau pulang dari daerah selatan belum pernah menemui gurumu?" "Sudah bertemu."

"Jika begitu, apakah Jian-lian-hok-leng itu tidak membuat pulih daya ingatan nona In?" tanya Sam- bi-sin-ong.

"Ya, sudah, penyakit nona In sekarang sudah sembuh," Kiam-eng mengangguk.

"Apakah dia tahu siapa si pangganas yang membunuh ke~18 tokoh persilatan masa lampau itu?" "Tahu, sebab ia menyaksikan sendiri siapa si pengganas itu."

"Memangnya siapa pengganti itu?" "Kiam-ong Ciongli Cin!"

"Hah .. . Siapa katamu?" "Kiam-ong Ciongli Cin!"

"O Allah . . . Mengapa bisa dia?!"

"Di dunia ini kan banyak terjadi hal-hal yang aneh dan sukar untuk dimengerti?" "Lalu, apa alasan Kiam-ong Ciongli Cin membunuh ke-18 tokoh Itu?"

"Entah, sebab itulah kami pergi ke Pek-ho-san-ceng untuk mencari dia dengan harapan akan jelas duduknya perkara, namun. . ."

"Dia kabur?!"

"Tidak, dia di rumah."

"Dia tidak mengaku sebagai pembunuh ke-l8 tokoh itu!" "Betul, ia bilang orang telah memalsukan dia bahkan ia tahu siapa dan orang macam apa si pengganas itu."

"Oo, siapakah gerangannya?"

"Semula dia tidak mau bercerita, ia menyatakan menaruh simpatik terhadap si pembunuh itu, Dari nada ucapannya dia seperti menganggap terbunuhnya ke-18 tokoh itu adalah akibat perbuatan sendiri. Kemudian guruku memohon dengan sangat agar dia suka memberitahukan siapa nama pengganas itu, selagi dia hendak bicara lagi sekonyong-konyong seorang budak tua mendekati dia dan mernbisiki sesuatu padanya, air maka Kiam-ong Ciongli Cin tampak berubah, ia minta kami menunggu sebentar, lalu pergi dengan tergesa-gesa."

"Apakah dia kedatangan tamu lain?" tanya sam-bi-sin-ong. "Semula kami pun menyangka kedatangan tamu Iain . . ." "Memaognya tidak?"

"Wakta itu kami dijamu di Pek-ho-ting, sebuah gardu pemandangan di tengah taman belakang, sesudah dia pergi kami lantas mulai mempelajari apa yang dia ceritakan itu. Kami merasa betapapun Kiam-ong Ciongli cin tetap mencurigakan."

"Kemudiaan?"

"Tidak lana kemudian, budak tua yang bernama Ho Sam datang mengantarkan semacam santapan terkenal. . . yaitu Ang-sio-hi-lau (kepala ikan satu asam manis)."

"Sudahlah, jangan bicara hal yang tidak penting, ceritakan yang pokok saja."

"Harap Lociancpwe dengarkan dengan cermat, justru santapan kepala ikan itu lain daripada yang lain."

"O, ya kupaham sekarang!"

"Locianpwe paham apa?" Kiam-eng berbalik tanya.

"Yaitu si pembunuhnya memang betul Kiam-ong Ciongli Cin, maka dia ingin membunuh kalian untuk menghabisi saksi, lebih dulu ia mengatur siasat agat dia dipanggil pergi oleh budaknya, lalu menaruh racun dalam makanan untuk disuguhkan kepada kalian agar binasa, begitu bukan?"

"Tatkala itu kami tidak berpikir sampai ke situ. Waktu disuguhi santapan lezat, tentu saja kami ingin cepat melahapnya . . ."

"Kemudian siapakah yang mengetahui bahwa di dalam hidangan ditaruh racun?" "Tidak ada, sama sekali hidangan itu tidak diberi racun."

"Oo, lantai bagaimana bentuk hidangan ltu?"

"Hidangan itu memang luar biasa, sebab bukan kepala ikan melainkan sebuah kepala manusia." "Hahh, sebuah kepala manusia?" Sam-bi-sin-ong menegas dengan melengak.

"Betul, coba Locianpwe terka, kepala siapakah yang dihidangkan itu?" "Tentunya bukan kepala Kiam-Ong Ciongli Cin."

"Justru itulah kepala Kiam-ong Ciongli Cin." "Busyet! jadi Kiam-ong Ciongli Cin telah dibunuh orang?" Sam-bi-sin-ong menegas.

"Betul," jawab Kiam-eng. "Demi untuk mencegah Kiam-ong Ciongli Cin menceritakan nama-nya, maka si pengganas itu telah memperalat seorang anak buahnya yang memang sudah diselundupkan ke Pek-ho san-ceag, yaitu si budak tua Ho Sam, untuk membunuh Kiam-ong Ciong-li Cin. Ho Sam itu bertugas sebagai koki di dapur, sebab itulah ketika kami mengetahui buah kepala Kiam-ong, segera kami tahu Kiam-eng terbunuh di dapur. Cepat kami memburu ke sana, benar juga di dapur kami menemukan mayat Kiam-ong."

"Dan di mana Ho Sam?"

"Dengan sendirinya sudah kabur tanpa bekas."

"Sungguh sukar dibayangkan dapat terjadi hal begini, ternyata begitu mudah Kiam-ong dibunuh orang."

"Seorang budak yang setiap hari tampak begitu rajin dan setia, bilamana dia ingin mencelakai majikannya, tentu saja dapat dilakukannya dengan mudah sekali."

"Ooh, lantas kemudian kalian meninggalkan Pek-ho-san-ceng?"

"Tidak, pada saat kami menemukan mayat Kiam-ong, diam-diam si pembunuh bersama anak buahnya telah menyiram minyak di sekeliling perkampungan dan menyalakan api, tampaknya sekaligus mereka ingin mengurung kami di tengah lautan api."

"Keparat!" damperat Sam-bi-sin-ong. "Lalu cara bagaimana kalian membobol dan lolos dari kepungan?"

"Kiam-ong masih punya seorang budak setia, samanya Kiu-ci-lian-hoa-ciang Oh Ling, apakah Locianpwe kenal dia?"

"Ya, ku tahu. Bagaimana dengan dia?"

"la yang membawa kami lolos melalui lorong bawah tanah sehingga kami terhindar dari mati konyol di lautan api."

"Lalu cepat kaudatang kemari untuk mengintai kemunculan musuh?"

"Ya, sudah kuduga si pengganas itu adalah orang berkedok baju hijau, jika jelas Kiam-ong Ciongli Cin bukan orang berkedok baju hijau maka kupIkir untuk menemukan dia harus kutunggu di Tai-hin-si ini, sebab Boh to Siangjin ini mahir bahasa dan tulisan Thian-tiok, bilamana orang ingin mendapatkan ilmu pedang yang tersembunyi di dalam ke 180 patung emas itu, pasti dia akan datang mencari Boh-to Siangjin, Dan ternyata betul, dia dapat kupergoki, cuma tidak kusangka dia juga menyamar sebagai Theng-wangwe."

"Aku pun tidak menyangka kamu bisa berubah menjadi seorang hwesio cilik, hahaha . . ." "Locianpwe telah membuntuti dia sepanjang jalan, apakah sudah diketahui siapa dia sebenarnya?"

"Tidak tahu, tindak-tanduknya sangat misterius, lebih sering menghilang daripada muncul di depan umum."

"Jika begitu, cara bagaimana Locianpwe menguntitnya sampai di sini?"

"Berhasilnya knbuntuti dia adalah karena dari sepotong handuk dan seekor anjing pelacak."

"Oo, kiranya Locianpwe menggunakan anjing pemburu untuk mengikuti jejak mereka, lalu handuk itu diperoleh dari arena?" "Handuk itu kutemukan sebelum kutinggalkan kota emas di selatan sana," tutur Sam-bi-sin-ong. "Kupikir handuk itu pasti milik saah seorang ketiga jago pedang anak buah si baju bijau, maka setiba di Thian-ti segera kubeli seekor anjing pelacak yang terlatih untuk menguntit jejak mereka."

"Sekarang ada delapan orang anak buahnya ikut berada di sini, apakah diantaranya terdapat ketiga jago pedang andalannya?"

"Ada, cuma mereka sudah sama berganti rupa dan sukar diketahui siapakah di antaranya adalah pedaag emas atau pedang perak."

Bicara sampai di sini, sekaligus Sam-bi-sin-ong mengukuti ke 26 potong medali emas ke dalam bajunya, katanya pula dengan tertawa," Dengan susah payah kubuntuti mereka selama ini dan belum mendapatkan sesuatu apa pun, sekarang ke-26 potong medali emas ini biarlah kubawa."

"Ah, kiranya selera Lociaapwe juga cuma sekian saja." Muka San bi-sin-ong menjadi merah. "Kau-bilang apa?"

"Maksudku, Locianpwe telah menempuh perjalanan berlaksa li jauhnya, memangnya sudah puas melulu menpatkan beberapa potong medall emas ini!"

"Tentu saja belum, betapapun aku masih ingin mendapatkan ke-180 patung emas." "Jika begitu, beberapa medali emas itu tidak boleh Locianpwe bawa pergi malam ini." "Sebab apa?" tanya si kakek tidak mengerti.

"Sebab itu akan menyingkap rumput mengejutkan ular." jawab Kiam-eng.

"Tidak menjadi soal," ujar Sam bi-sin ong dengan tertawa. "Kubawa anjing pelacak, masa kukuatir mereka dapat kabur dari incaranku."

"Sudah sekian bulan Locianpwe membuntuti mereka, mengapa belum lagi turun tangan?" "Soalnya belum ada kesempatan baik untuk turun tangan," jawab si kakek.

Kiam-eng menggeleng dan tertawa," Ah, kukira bukan soal kesempatan melainkan oleh karena engkau tidak yakin akan mampu menang."

Sam-bi sin-ong seperti terkena bagian yang jitu ia menyengir dengan muka merah, katanya, "Ucapanmu memang betul. Jangankan si baju hijau, melulu ketiga jago pedang anak buahnya saja sukar untuk dilawan."

"Jika Locianpwe sudah tahu sukar menghadapi mereka melulu mengandalkan tenaga sendiri, mengapa engkau tidak mau bekerja sama saja dengan kami?"

"Bekerja sama cara bagaimana?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Saat ini guruku dan It-sik-sin-kai berada di cabang Kai-pang kota Han-yang, Locianpwe boleh menyampaikan berita kepada mereka, kita bekerja sama untuk menumpas Thian-ong-pang, habis itu berdasarkan kepandaian masing masing kita berlomba mencari ke l80 patung emas, barangsiapa menemukannya lebih dulu akan menjadi hak miliknya Nah, bagaimana, setuju?"

Sam bi-sin-ong menggeleng kepala, katanya, "Cara begitu tidak adil, aku kan cuma sendirian, sebaliknya kalian berjumlah sekian orang, begitu Thian-ong pang runtuh, kesempatan untuk menemukan patung emas tadi lebih banyak berada di pihak kalian, akhirnya aku cuma berjuang sia-sia belaka untuk keuntungan orang lain?" "Habis apa kehendak Locianpwe?" tanya Kiam-eng dengan tertawa.

"Bilamana kalian menemukan patung emas, sedikit banyak aku harus mendapatkan bagian." "Tetapi kalau Locianpwe yang menemukan patung lebih dulu, lalu bagaimana?"

"Jika kutemukan lebih dulu ke-180 patung emas, dengan sendirinya akan menjadi milikku seluruhnya," jawab Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Wah, apakah itu adil?" ujar Kiam-eng tertawa.

Sam-bi-sin-ong memperlihatkan sikap yang licik, katanya, "Bilamana Su-laute anggap tidak adil, bolehlah kuberi satu patung kepada setiap orang sekedar sebagai tanda kenang-kenangan."

Yang dituju Su Kiam-eng melulu ingin menangkap dan membunuh si pengganas untuk menyelamatkan Wi-ho Lojin dan Ih Keh-ki, terhadap ke 180 patung emas memang tidak diperhatikannya, maka segera ia mengangguk setuju, "Baik, sekarang kuharap kau taruh kembali ke-26 potong medali emas itu di atas meja."

Sam-bi-sin-ong benar-benar mengembalikan ke-26 potong medali emas itu sambil bertanya, "Setiba di Han-yang nanti, asalkan dapat kutemukan markas cabang Kai-pang di sana pasti akan dapat menemukan juga gurumu?"

"Betul," kepala cabang Kai-pang di sana berjuluk Tok-kwh-io-ban (si perkasa kaki satu), biasanya dia tinggal di kelenteng Khonghucu," jawab Kiam-eng.

Sam-bi-sin-ong coba mengintai ke bawah pagoda, katanya kemudian, "Keparat itu terus menerus meronda di sekitar pagoda, bila kuturun sekarang juga pasti akan diketahuinya."

"Cara bagaimana Locianpwe naik kemari tadi?" tanya Kiam-eng.

"Kulihat kamu asyik bicara dengan dia, kesempatan itu kugunakan untuk menyusup ke sini." tutur si kakek.

"Nah, boleh kita ulangi lagi cara demikian," ujar Kiam-eng.

Lalu ia mendekati jendela dan melongok keluar, dilihatnya Theng An lagi mondar-mandir di bawah, segera ia berseru, "Hei, Theng An"

Theng An menengadah dan menjawab dengan agak heran," Heh, kamu belum tidur?" "Aku tidak dapat tidur," jawab Kiam-eng, "Apakah jam dinasmu belum habis?" "Sudah dekat," kata Theng Ang. "Apakah Siangjin sudah tidur?"

Kiam-eng berlagak menoleh, dilihatnya Sam-bi sin-ong telah merosot kebelakang pagoda melalui jendela yang lain, maka ia berkata terhadap Theng An "BeIum, Siangjin lagi sibuk mengoreksi naskah terjemahannya."

"Jika begitu jangan mengganggu dia, lekas tidur saja," kata Theng An.

"Sungguh aku tidak dapat tidur, sungguh terlampau iseng terkurung di sini," kata Kiam-eng. "Ooh, makanya kau ajak mengobrol padaku?" tanya Theng An tertawa.

"Betul, sinar bulan malam ini sangat indah, sungguh malam yang asyik untuk mengobrol iseng. . ."

"Cis, persetan. Lebih baik kaubaca kitabmu saja!" omel Theng An, lalu ia tidak bicara lagi melainkan meneruskan rondanya. Buru-buru Kiam-eng berputar ke jendela sebelah sana dan melongok keluar, ternyata bayangan Sim- bi siia ong tidak tertampak lagi, ia tahu kakek itu sudah menghilang di tengah hutan sana, sungguh lega hatinya, ia putar balikkan disamping Boh to Siangjin.

Cara bicaranya dengan Sam-bi-sin ong tadi dilakukan dengan bisikan gelombang suara, maka sama sekali Boh-to Siangjin tidak tahu menahu apa yang dibicarakan mereka, sekarang padri tua itu bertanya dengan suara tertahan," Apakah Sam-bi-sin ong sudah pergi?" 

"Ya, sudah pergi," Kiam-eng mengangguk. "Apa yang kau bicarakan dengan dia?"

"Semula dia hendak merampas ke-26 potong medali emas ini, ketika aku berunding dengan dia dan minta dia menyampaikan berita kepada guruku di Hanyang, supaya bekerja sama untuk menumpas Thian-ong-pang, ia pun merasa perlu menumpas dulu Thian-ong-pang baru dapat merampas ke 180 patung emas itu, sebab itulah ia berjanji akan bekerja sama denganku, sekarang dia sudah berangkat ke Han-yang untuk memberi kabar kepada guruku."

"Setelah rombongan gurumu datang segera dapat menumpas kawanan Thian-ong-pang ini?" tanya Boh-to Siangjin.

"Kira-kira bisa," ujar Kiam-eng.

"Bagus jika begitu." ucap Boh-to dengan gembira." Namun untuk pergi datang ke Han-yang entah diperlukan waktu berapa hari?"

Kiam-eng coba menghitung sekadarnya, lalu tae jawab," Kira-kira perlu sebulan."

"Wah, mana boleh jadi?" kata kata Boh-to. "Kan sudah kujanjikan kepada Thian ong-pangcu bahwa untuk menyalin seluruh tulisan pada medali emas ini diperlukan waktu 17-18 hari, bilamana naskah terjemahannya ini sudah selesai ku-kerjakan, mana dia mau tinggal lagi di sini?"

"Betul, maka mulai besok hendaknya Siang-jin memperlambat cara bekerjamu, sehari cukup menyalin lima medali saja dan jangan lebih."

"Untuk itu kan diperlukan alasan?"

"Siangjin boleh pakai alasan kuatir salah menterjemahkanya, maka sengaja memperlambat cara bekerja, jika dia tidak setuju, boleh juga Siangjin pakai alasan kurang sehat dan perlu istirahat beberapa hari, dengan cara mengulur waktu begitu, kukira dapat ditarik panjang hingga sebulan."

Boh-to Siangjin berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa," Ya, kukira hanya begitulah jalan yang terbaik."

Esok paginya, selesai Boh-to dan Kiam-eng sarapan pagi, datanglah Thian-ong-pangcu di atas pagoda, ia ambil naskah terjemahan dan dibaca, lalu menatap Boh-to-Siangjin serta menegur dengan aseran, "Mengapa tidak kau betulkan?"

"Semalam sudah kucocokkan lagi hingga belasan helai dan tidak menemukan sesuatu kesalahan, memangnya cara bagaimana harus kubetulkan!"

"Omong kosong!" omel Thian ong-pangcu sambil melemparkan naskah terjemahan. "Kalau tidak ada kesalahan, mengapa tidak dapat ku selami dengan baik?"

"Mengenai hal ini, maaf, aku pun tidak mengerti," ucap Boh-to tenang.

"Hm, biar kukatakan padamu, kini sudah kuterima kabar ada lagi seorang yang mahir bahasa Thian- tiok, selang beberapa hari lagi dapat kudatangkan dia ke sini, bilamana nanti diketahui sengaja kau terjemahkan dengan salah, hm, lihat saja kalau tidak kubeset kulitmu." "Baiklah, jika begitu biar kita menunggu saja, hari ini aku ingin istirahat," kata Boh-to.

"Tidak, kamu tetap harus bekerja seperti biasa, ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu."

Habis berkata, Thian-ong-pangcu mengeluarkan lagi sepuluh potong medali emas dan ditaruh di meja.

"Ke sepuIuh potong medali ini hendaknya kau simpan kembali saja," kata Boh-to sambil menggeleng.

"Kamu berani membangkang perintahku?" seketika Thian-ong-pangcu mendelik.

"Bukankah kau minta kucocokkan lagi naskah terjemahanku?" tanya Boh-to. "Semalam sudah ku cocokkan belasan lembar dan masih bersisa 16 lembar yang belum kukoreksi, maka malam ini jelas tak dapat kuterjamahkan yang baru."

"Untuk mencocokkan 16 helai naskah terjemahan masa perlu waktu sehari penuh, kan terlalu lambat!" seru Thian-ong-pangcu.

"Mengoreksi tidak lebih sederhana daripada menterjemahkannya, bila Sicu tidak percaya, lain hari boleh kau tanya kepada orang undanganmu yang baru itu."

Thian-ong-pangcu mendengus pelahan dan menyimpan kembali ke-l0 potong medali emas itu, lalu tinggal pergi.

Kiam-eng coba mendengarkan dengan cepat di ambang pintu, setelah yakin orang sudah turun ke bawah pagoda barulah ia berkata kepada Boh-to Siangjin. "la bilang beberapa hari lagi akan mengundang seorang ahli bahasa Thian-tiok untuk mengantikan Siangjin, apakah dapat dipercayai?"

Boh-to tersenyum, katanya, "Aku tidak berani di dunia ini tidak ada orang kedua lagi yang mahir bahasa Thian-tiok, yang jelas jika dia ingin mencari lagi satu orang kemari, kukira tidak semudah itu."

"Betul, jika benar dia mendapatkan seorang ahli bahasa yang lain, tentu tadi dia tidak perlu minta Siangjin menerjemahkan lagi ke-l0 medali baru itu."

Boh-to mengangguk dan coba mendekati jendela dan memandang jauh keluar, tiba-tiba dilihatnya si Thian Hok pada berdiri,di ruang pendopo biara sana sedang kasak-kusuk bicara dengan Thian-ong- pangcu. Tampaknya Thian-ong-pangcu bersikap khawatir, dapat diduga tentu terjadi sesuatu urusan, maka ia berpaling dan memberi isyarat kepada Kiam-eng.

Waktu anak muda itu mengintai ke sana, ia pun merasa Thian-ong-pangcu seperti lagi berunding sesuatu urusan penting cuma jaraknya terlampau jauh sehingga sukar diketahui apa yang dibicarakan mereka.

"Ya, meIihat sikap mereka yang agak tegang itu, salah apa telah terjadi?" seru Kiam-eng. "Apakah tidak dapat kau dengar?" tanya Boh-to Sianjin.

"Tidak, jaraknya terlampau jauh. . ." tengah bicara, terlihat si Theng Hok gadungan memberi hormat kepada pemimpinnya, lalu bergegas-gegas pergi.

Menyusul lantas terdengar Thian-ong-pangcu berteriak ke arah pendopo," Nomor empat dan nomor lima, kau kemari"

Kedua orang kuat itu mengiakan dan muncul, mereka memberi hormat dan berkata, "Suhu ada perintah apa?"

Thian ong-pangcu bicara perlahan beberapa kata kepada mereka, kedua orang tampak menganggak, lalu melangkah ke arah pagoda. Kiam-eng mengira mereka diperintahkan ke atas pagoda untuk melakukan sesuatu, tapi ternyata mereka lantas berdiri di tempat setelah berada di bawah pagoda sehingga mereka menempati posisi segi tiga bersama penjaga yang sudah berada di situ.

Tergerak hati Kiam-eng, cepat ia menarik Boh-to menjauhi jendela, katanya dengan suara tertahan," Wah, melihat gelagatnya, sangat mungkin kedatangan orang lagi."

"Betul, cuma tidak diketahui siapakah gerangan pendatang baru ini?"

"Pada saat ini memang banyak orang persilatan yang ikut mengincar ke-180 patung emas, misalnya Kui-kok ji busiang, Tok-pi-sin-kun Pau Thian-bun dan lain-lain. . ."

"Apakah mereka itu sangat lihai!" tanya Boh-to Siangjin.

"Ya, cuma kalau dibandingkan Thian-ong-pangcu jelas selisih jauh."

"Jika mereka bukan tandingan Thian-ong-pangcu mengapa mereka berani main berebut dengan dia." "Soalnya daya tarik ke-180 patung emas itu terlampau besar sehingga membuat mereka melupakan

nyawa sendiri,"

"Wah, jika benar ada penguntit baru ke sini rasanya tidak baik bagi kita."

"Jika mereka berani muncul dan bertarung dengan Thian-ong-pangcu, kita kan dapat menyaksikan pertarungan antara mereka dengan menarik keuntungan tanpa susah, kenapa Siangjin bilang tidak baik."

"Apakah kamu tidak kuatir Thian-ong-pang-cu akan pergi dari sini? jika dia tinggal pergi, tentu gurumu akan tukar menemukan kita."

"Kupikir, apabila yang datang adalah Tok-pi-sin-kun atau Kui-kok-ji-bu-siang, tentu Thian-ong- pangcu takkan meninggalkan tempat ini, sebab pertama, ke-180 patung emas itu kan tidak berada di sini. Kedua, Thian-ong-pangcu tidak perlu gentar terhadap pendatang-pendatang ini, Ketiga, bila pindah dari sini, Tok-pi-sin kun dan yang lain tetap akan menguntit lagi. Nah, buat apa dia bertindak demikian?"

Boh-to pikir beralasan juga ucapan Kiam-eng itu, katanya tertawa, "Betul juga, cuma tujuan mereka mungkin tidak terletak pada ke 180 patung emas melainkan pada Lo han-kiam-hoat yang sakti ini."

"Jika mereka ingin merampas ke-178 potong medali emas dari tangan Thian-ong pangcu kan juga bukan pekerjaan mudah?" ujar Kiam-eng.

Bicara sampai di sini tiba-tiba teringat olehnya untuk mencoba memancing keterangan dari ketiga orang yang berjaga di bawah itu, segera ia mendekati jendela dan berseru ke bawah, "Aha, mengapa kamu telah bertambah dua orang kawan?!"

Salah seorang di antaranya menengadah dan mengomel, "Keledai gundul cilik, jangan gembar-pmbor seperti di rumahmu."

Dari suaranya Kiam-eng serasa seperti suara Kwa Eng-seng, si pedang perak, dengan tertawa ia menjawab," Apa salahnya berteriak di tengah siang bolong?"

Orang itu mengomel pula," Keledai gundul cilik macam mu ini tidak mirip orang beribadat . . . Eh, tahun ini berapa umurmu?"

"Enam belas, dan engkau" jawab Kiam-eng "Aku kenapa?" orang itu menegas. "Berapa usiamu tahun ini?" "Untuk apa kau tanya usiaku? Yang jelas cukup untuk menjadi bapakmu."

"Menurut tukang nujum, nasibku ditakdirkan buruk, waktu aku dilahirkan sudah kematian ayah, kemudian aku diangkat anak oleh seorang sial, tidak berapa hari dia juga mati, katanya lantaran "ciong" oish diriku."

"Dasar keledai gundul cilik, bisa juga kamu memaki orang dengan main putar kayun." damperat orang itu.

"Soalnya kami kalian kurung di sini, sungguh kesal sekali, maka ingin mencari teman mengobrol. Dua hari yang Ialu hanya ada seorang penjaga di sini, mengapa sekarang bertambah lagi dua orang, apakah karena kuatir kami melarikan diri?"

"Huh, biarpun kamu tumbuh sayap juga sukar kabur dari sini, masakah kami takut kalian. . ." Seorang temanya mendadak menyela," Lau-go, untuk apa kamu mengoceh dengan dia?" Orang tadi mengangkat pundak, lalu tidak menggubris Kiam-eng lagi.

Kiam-eng pura-pura menggerundel, lalu meninggalkan jendela, katanya dengan tertawa kepada Boh- to Siangjin, "Ya, tampaknya memang betul pasti mereka memergoki orang lain mengintai di sekitar sini, maka memperketat penjagaan untuk menjaga segala kemungkinan."

"Ada lagi sesuatu yang menarik, si Theng Hok palsu itu tadi bergegas-gegas pergi dari sini, entah menuju ke mana?" ujar Boh-to Siangjin.

"Besar kemungkinan mencari musuh yang sembunyi di sekitar sini . . . Eh, ada tiga orang naik ke sini, lekas Siangjin duduk di tempat."

Cepat Boh-to Siangjin duduk di depan meja dan berlagak lagi mengoreksi naskah terjemahannya. Tidak lama, pintu kamar terbuka, Thian-ong-pangcu masuk dengan membawa dua anak buahnya. "Ada, urusan apa?" tanya Boh-to dengan lagak heran.

Thian-ong-pangcu ambil medali emas dan naskah terjemahan di atas meja, katanya dengan tertawa, "Hari ini Siangjin tidak perlu bekerja lagi. Dengarkan saja perintahku ini."

La!u ia berpaling dan berkata kepada kedua anak buahnya, "Baik, mulai"

Serentak kedua anak buahnya menanggalkan pakaian sendiri, satu potong demi satu potong dilemparkan ke onggokan rumput kering sana.

Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng benar-benar heran dan terkejut, tanya Boh-to dengan bingung, "He, ada apa kau suruh mereka melepas pakaian di depanku?"

"Jangan banyak bertanya, sebentar tentu Siangjin tahu sendiri." kata Thian-ong-pangcu tertawa. Terlihat kedua anak buahnya terus melepas pakaian sehingga tersisa baju dan celana dalam saja,

akhirnya ikat kepala dan sepatu juga ditanggalkan, habis itu baru berhenti.

Thian-ong-pangcu berpaling dan berkata kepada Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng, "Nah, sekarang giliran kalian yang lepas pakaian."

"Memangnya apa artinya ini?" tanya Boh-to dengan gusar. "Jangan tanya, Iekas buka baju," jawab Thiat-ong-pangcu.

Dengan tegas Boh-to Siangjin berbangkit katanya dengan gusar "jika tidak kau katakan urusannya, mati pun aku tidak mau lepas pakaian!" "Baik," Thian-ong-pangcu tertawa. "Boleh juga kukatakan padamu. Soalaya ada orang bermaksud mencelakai Siangjin, maka akan kugunakan akal melarikan dirimu ketempat lain dan menyuruh mereka menyaru sebagai kalian."

"Memangnya siapa yang akan mencelakai diriku?" tanya Boh-to.

"Kukatakaa juga kamu tidak tahu," ujar Thian-ong-pangcu. "waktunya tidak banyak lagi, ayo lekas buka pakaian."

"Sebab apakah orang ingin mencelakai diriku? "tanya Boh to pula.

Thian-ong-pangcu memperlihatkan sikap tidak sabar lagi, katanya dengan aseran, "Untuk merintangimu menerjemahkan kitab pusaka bagiku, . . . Nah, engkau mau melepas pakaian atau tidak?"

Boh-to Siangjin menghela napas dan terpaksa membuka baju.

Kiam-eng tahu maksud lawan hendak menyuruh mereka berdua menyaru sebagai kedua anak buahnya dan kedua anak buahnya berbalik menyamar sebagai dirinya dan Boh-to, ia pun tahu dengan cara demikian, maka dirinya tentu akan putus kabar dengan rombongan gurunya.

Namun keadaan sudah mendesak dan tidak ada pilihan lain, terpaksa ia pun ikut membuka pakaian. Tidak lama mereka pun tersisa baju dan celana dalam saja.

"Baiklah, sekarang kalian berganti pakaian dan dikenakan lagi," kata Thian-ong-pangcu.

Kedua anak buahnya lantas memakai pakaian padri milik Boh-tin dan Kiam-eng, sedangkan Kiam- eng dan Boh-to juga mengenakan baju mereka. Lantaran wajah tidak berubah sehingga dandanan mereka kelihatan lucu dan janggal.

Thian-ong-pangcu lantas mengeluarkan sebuah kotak dan menyodorkan dua lembar kedok kulit kepada kedua anak buahnya, "lni, boleh kalian memasang ini pada Siangjin dan hwesio cilik itu."

Kedua orang itu menerima kedok kulit dan mulai mengubah muka Boh-to dan Su Kiam eng, hanya sebentar saja Boh-to dan Kiam-eng sudah berubah tuntas menjadi dua lelaki kekar.

Dengan sendirinya, mereka pun merubah Boh-to dan Su Kiam-eng, hanya sebentar saja Boh-to dan Kiam-eng sudah berubah tuntas menjadi dua lelaki kekar.

Dengan sendirinya, mereka pun melengkapi Boh-to dan Kiam-eng masing-masing dengan sebatang golok. Habis itu Thian-ong pangcu sendiri yang merias wajah kedua anak buahnya sehingga mirip wajah Boh-to dan Kiam-eng, lalu mencukur pula rambut mereka . . .

Tidak kurang dari satu jam barulah selesai pekerjaan merias itu, bergantian Thian-ong-pangcu mengamati keempat orang, akhirnya ia manggut-manggut tanda puas, lalu berkata kepada Boh-to Siangjin, "Nah, mulai sekarang kalian harus berlagak sebagai anak buahku, kamu nomor enam, Ngo-liau nomor tujuh, Tahu tidak?"

Belum lanjut ucapan Boh-to segera Thian-ong-pangcu rassoEorig, "Terhadap diriku kesan harus mengaku hamba!"

"Baik namun hamba kan tidak mahir ilmu silat," kata Boh-to dengan menyengir. "lni tidak menjadi soal, cukup kalian mengikuti segala perintahku saja."

"Apakah aku . . . apakah hamba akan dibawa pergi dari sini?" tanya Boh-to pula. "Betul." Thian-ong-pangcu mengangguk. "Tempat ini sulit untuk dipertahankan, maka hendak kubawa kalian ke suatu tempat yang aman."

"Tempat apa?" tanya Boh-to.

"Setiba di sana nanti kau tahu sendiri," ujar Thian-ong-pangcu. "Sekarang ayolah ikut padaku turun ke bawah."

Habis bicara ia lantas mendahului keluar.

Boh-to dan Kiam-eng mengikutinya meninggalkan pagoda dan masuk ke pendopo biara sana, tertampak di situ sudah duduk dua orang, melihat kedatangan sang Pangcu, serentak mereka berdiri.

"Sudah selesai berbenah?!" tanya Thian ong-pangcu. Seorang di antaranya mengiakan dengan hormat.

Lalu Thian-ong-pangcu berkata kepada Boh-to Siangjin, "Sementara ini mereka boleh duduk di sini, hendaknya jangan kalian berusaha kabur!"

"Jangan kuatir, biarpun ingin kabur pun rasanya sulit," jawab Boh-to.

"Ya, kuyakin Siangjin juga tidak berani kabur, sebab sekalipun Siangjin dapat kabur, kan ke-800 anggota Tai-hin si juga sulit melarikan diri." kata Thian-ong-pangcu dengan tertawa.

Baru lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara derap kuda lari yang riuh di luar biara. Waktu mereka memandang keluar, tertampak Theng Hok sudah datang lagi dengan menggiring enam ekor kuda.

Segera Thian-ong-pangcu memberi perintah kepada salah seorang anak buahnya. "Baiklah, sekarang bawa kemari kereta di tengah hutan itu."

Anak buahnya mengiakan dia berlari pergi.

Tidak lama terdengar suara gemerisik roda kereta, sebuah kereta kuda sudah berada di depan biara.

Thian-ong-pangcu meninggalkan pendopo dan berseru," Nomor empat dan nomor lima, naik keatas dan bawa kemari Boh-to Siangjin dan si hwesio cilik Ngo-liau, yang lain angkat semua perbekalan ke dalam kereta."

Anak buahnya sama mengiakan dan segera melaksanakan tugas, Hanya sebentar saja si nomor empat dan nomor lima sudah turun lagi dengan membawa" Boh-to Siangjin" dan "Ngo-liau".

Kiam-eng tahu aksi yang diatur Thian-ong-pangcu itu adalah Boh-to Siangjin dan Ngo-liau palsu itu akan dimuat dalam kereta, lalu beramai-ramai mereka mengawal kereta kuda itu meninggalkan daerah pegunungan agar musuh yang sedang mengintainya dapat mengikuti jejak mereka kemudian Boh-to dan dirinya diam-diam akan diselundupkan ke tempat lain.

Dengan begitu bilamana si penguntit mengetahui Boh to Siangjin yang berada di dalam kereta itu palsu, tentu Boh-to yang asli sudah menghilang entah ke masa perginya.

Sungguh suatu akal yang bagus. Namun bagi Su Kiam-eng untuk tujuan mencuri kitab pusaka memang tidak menambah kesulitan soalnya hanya mengenal bagaimana caranya mengadakan kontak dengan gurunya nanti.

Ia tahu pihak lawan pasti takkan memberitahukan ke mana mereka tuju, namun sekarang tak tertahan ia coba tanya seorang anak buah Thian-ong-pang di sebelahnya, "Eh, Sicu, sekarang aku bukan lagi Ngo-liau, tentunya boleh kau beritahukan padaku ke mana kami hendak di-bawa?"

Orang itu tertawa, "Huh, lucu juga caramu bicara si keledai gundul cilik ini." "lngat, jangan kau sebut lagi diri sebagai keledai gundul ciiik," kata Kiam-eng sambil menuding hidung orang, "Jika kau bilang begitu lagi, tentu segala usaha gurumu akan sia-sia belaka."

"Oya, betuI, seharusnya kusebut dirimu sebagai nomor tujuh . . ."

Dengan lagak "orang sendiri", Ialu Kiam-eog menarik ujung baju orang dengan mendesis, "Jika kita sudah orang sendiri, tentunya dapat kaukatakan padaku, ke mana kita akan pergi sekarang?"

Orang itu menggeleng," Entah, aku sendiri tidak tahu."

Mestinya Kiam-eng bermaksud memancing keterangan orang agar diam-diam ia dapat meninggalkan isyarat bagi gurunya bila kelak rombongan sang guru menyusul tiba, sekarang pihak lawan ternyata juga tidak tahu kemana mereka mau pergi, diam-diam ia menghela napas, pikirnya," A", tampaknya sudah ditakdirkan aku harus melabrak Thian-ong-pangcu sendirian."

Sementara itu Boh-to Siangjin dan Ngo liau palsu sudah digiring ke dalam kereta, segera Thian-ong- pangcu berkata kepada Boh-to dan Kiam eng "Nomor enam dan nomor tujuh, segera naik kuda dan mengikut di belakang kereta, paham tidak!"

Boh-to mengangguk sebagai tanda tahu, lalu bersama Su Kiam-aag menaiki kuda masing masing, Menyusul Thian-ong-pangcu memberi tanda agar semua orang naik kuda, ia sendiri lantas duduk di dalam kereta, Theng An tetap menjadi kusir, rombongan mereka terus berangkat meninggalkan pegunungan itu.

Theng Hok mendahului di depan sebagai pembuka jalan menuju ke jurusan timur, Boh to Siangjin dan Su Kiam-eng mengintil di belakang kereta sesuai perintah Thiaa-ong-pangcu tadi, ke-enam anak buah yang lain juga mengawal di belakang.

Malamnya kereta mereka sampai dikota Po-ting, setelah bermalam, esoknya mereka melanjutkan perjaIanan. Waktu lohor mereka telah melintasi kaki gunung Hoa-san, dan ketika magrib tiba, rombongan mereka sudah sampai di benteng yang termashur, yaitu Ciongkoan.

Ciongkoan terletak suatu belokan sungai Kuning, merupakan suatu benteng yang strategis, di belakang menjulang gunung tinggi, di depan menghadapi sungai Kuning atau Hongho yang deras arusnya.

Benteng penting itu merupakan sebuah kota besar dengan penduduk yang padat dan merupakan tempat berkumpulnya kaum pedagang, lalu lintas dalam kota sangat ramai.

Setelah Theng Hok membawa kereta ke dalam kota, lalu berhenti di depan sebuah hotel tua yang cukup megah.

Melihat kedatangan rombongan tamu, kaum pelayan hotel lantas menyambut keluar, ada yang membawa kuda ke istal, ada yang membongkar muatan kereta, dengan sendirinya mereka memandang Thian-ong-pangcu dan Boh-to Siangjin palsu di dalam kereta sebagai tamu utama, maka sikap mereka sangat menghormat dan membawa mereka ke dalam hotel!"

Thian-ong-pangcu minta tiga buah kamar besar, ia sendiri bersama Boh-to dan Ngo-liau palsu menepati satu kamar, ke delapan orang yang terbagi dalam dua kamar, Baru saja berada di kamar, segera tiga orang setengah baya dengan dandanan sebagai saudagar muncul dari sebuah kamar yang berdekatan dan diam-diam masuk ke kamar Thian-ong-pangcu.

Sesudah berada dalam kamar, ketiga orang berdandan sebagai saudagar itu memberi hormat kepada Thian ong-pangcu dan berkata, "Hamba Lu Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-ilo menyampaikan sembah bakti kepada Pangcu!"

Thian-ong-pangcu mengangguk dan menjawab ketus, "PerIihatkan Thian-Ong-hu!" "Yang mengaku bernama Lu Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-lia itu cepat mengeluarkan sebuah medali yang berukir malaikat serta disodorkan ke depan.

Thian-Ong-pangcu mengamat-amati ketiga tanda pengenal itu, lalu manggut-manggut dan mengembalikan medali tanda pengenal itu kepada mereka kemudian bertanya. "Sudah berapa lama kalian masuk Pang kita?"

"Hamba sudah masuk hampir setengah tahun." jawab Lu Yan-sin.

"lmbalan jasa setiap bulan sudah diterima dengan cukup?" tanya sang Pangcu. "Ya, sudah terima cukup," jawab Lu Yan sin..

"Konon kamu Thi-sofl-sin jarang ada tandingannya dengan ilmu pukulanmu yang lihai itu, bahwa Thian-ong-pangcu mendapatkan anggota seperti dirimu, sungguh aku sangat senang," kata Thian-ong- pangcu.

Dengan merendah Thai-soa-cio Lu Yan-si menjawab," Ah, terima kasih atas pujian Pangcu, Seterusnya masih diharapkan bimbingan Pangcu."

Thian-ong-pangcu mengangguk, lalu berpaling dan tanya Ong Ji, "Bagaimana dengan Lin-boi piaukiok yang kau buka di kota ini, cukup maju bukan?"

"Terima kasih Pangcu, lumayan juga perusahaan kami itu," jawab Ong Ji dengan sikap hormat. "Mestinya hamba hendak menutup piaukiok

berbuat demikian."

"Ya, tentu saja tidak perlu," ucap Thian-ong-pangcu. "Sebelum ada tugas baru yang kuberikan padamu, kamu si Kim jia--jie (si tumbak emas) Ong Ji tetap menjabat pemimpin umum Sin-heng- piaukiok."

Habis ini ia berpaling dan tanya Khong Cing-lin, "Dan kamu, kabarnya kamu si Jiau-bin-hou (si macan ketawa) ini jebolan Lo-han-tong dari Siau-lim-si, apa betul?"

"Betul," Jiau-bin hou Khong Cing-lin menjawab dengan hormat. "Cuma sudah lama hamba bukan lagi anak murid Siau-lim."

Dengan tertawa Thian-Ong pangcu berkata pula," Dsri lebih 1208 orang anggota Pang kita sekarang, hanya kalian bertiga yang untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk bertemu dengan sang Pangcu. Maka kuharap kalian harus bekerja sebaik baiknya bagi Pang kita, kelak tentu akan mendapat kenaikan tingkat yang lebih terpercaya."

Dengan gugup dan bersyukur cepat Lau Yan-sin, Ong Ji dan Khong Cing-lin menjawab dengan hormat, "Baik, hamba bersumpah akan bekerja mati-matian bagi kejayaan Pang kita."

"Sekarang ada tugas yang perlu kalian laksanakan, apakah kalian faham ilmu merias muka?" tanya Thian-ong pangcu.

"Paham sedikit," jawab Lu Yan-sin.

Thian ong-pangcu menunjuk Boh-to Ngo-liau palsu, katanya," Ada maksudku mengirim kedua orang ini ke Thangtian, tapi berhubung sesuatu hal, aku dan dua orang ternyata harus segera menuju ke tempat lain sehingga tidak dapat mengawal sendiri, sebab itulah kupanggil kalian bertiga untuk membantu. . ."

"Apakah maksud Pangcu hendak menyuruh hamba bertiga menyaru sebagai Pangcu dan kedua orang kepercayaan untuk mengirim kedua orang ini ke Thiguaa?" tanya Lu Yan-sia. "Betul," Thian-ong pangcu mengangguk," Hwesio tua ini adalah Boh to Siangjin dari Tiang-an, dia sedang melakukan sesuatu pekerjaan penting bagi Pang kita, maka keselamatannya menjadi sangat penting bagi Pang kita."

"Pangcu jangan kuatir, hamba bertiga bersama akan melindungi siangjin sampai di Thai guan dengan selamat," ucap Lu Yan-sin.

"Bagus, sekarang coba paafgil kemari nomor enam dan nomor tujuh," kata Thian-ong pangcu.

Si macan ketawa Khong Cing-lin lantas keluar dan menuju ke kamar sebelah, ia memberi hormat kepada keempat orang yang berada di situ dan menyapa," Numpang tanya, siapakah di antara kalian nomor enam dan nomor tujuh?"

Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng menjawab, Kami berdua, ada urusan apa?"

Tentu saja Khong Cing-lin tidak tahu bahwa orang yang mengaku nomor enam di depannya sekarang sebenarnya adalah Boh-to Siangjin, dengan sangat hormat ia berkata," Pangcu mengundang kalian sekarang juga ke kamar beliau."

Boh-to saling pandang sekejap dengan Su Kiam-eng, tanpa bicara mereka lantas ikut menuju ke kamar Thian-ong-pangcu. Melihat mereka sudah datang Thian-ong-pangcu menyuruh Khong Cing-lin menutup pintu, lalu menunjuk Boh to Siangjin dan Su Kiam eng serta berkata kepada Lu Yan-sin bertiga," Kedua orang inilah orang kepercayaanku, seorang bergelar nomor enam dan yang lain nomor tujuh. Sekarang juga kalian bertiga boleh merias wajah sendiri sesuai dengan wajah kami."

Lu Yan-sin mengiakan dan segera mengeluarkan peralatan rias, mereka mulai bersolek dengan menggunakan model sang pangcu dan Boh-to Siangjin serta Kiam-eng.

Tidak terlalu lama, Lu Yan-sin bertiga sudah berubah menjadi Thian-ong-pangcu bersama kedua orang kepercayaannya, yakni nomor enam dan nomor tujuh.

Berbareng Thian-ong-pangcu juga bekerja sendiri dengan merias wajah si nomor enam dan nomor tujuh, ia pun merias Boh-to Siangjin menjadi Kim-jio-jiu Ong Ji dan "Ngo-liau" menjadi Jiau bia-hou Khong Cing-lin. Akhirnya ia sendiri pun menyamar sebagai Thi-soa-cio Lu Yan-sin. Kemudian kedua kelompok lantas saling tukar pakaian, maka jadilah Lu Yan-sin bertiga menjadi Thian-ong pangcu dan kedua anak buahnya si nomor enam dan si nomor tujuh, sebaliknya Thian-ong-pangcu bertiga juga berubah menjadi rombongan Lu Yan-sin bertiga.

Kemudian Thian ong-pangcu memanggil masuk Theng Hok, ia perintahkan Lu Yao-sin bertiga harus bertindak menurut petunjuk Theng Hok-lalu ia membawa kedua orang yang menjadi pengikutnya, yaitu Boh-to yang menyaru sebagai Ong Ji dan Su Kiam-eng yang kembali menjadi Khong Cing-lin meninggalkan kamar dan masuk ke kamar yang semula ditempati Lu Yan-sin bertiga.

Dengan sendirinya Boh-to Sianjin tahu apa maksud Thian-ong-pangcu main tukar itu, namun sekarang ia pura-pura tidak tahu dan sengaja tanya, "Sicu, kau rias kami menjadi nomor enam dan nomor tujuh, sekarang dari nomor tujuh berubah lagi menjadi Kim jio-jiu Ong Ji dan Jiau-bia-hou Khong Cing-lin, sesungguhnya apakah kehendakmu?"

Thian-ong-pangcu tertawa, jawabnya, "Maksud tujuanku, supaya si penguntit membuntuti Boh-to Sianjin palsu, sebaliknya Siangjin yang asIi kubawa ke suata tempat yang lain."

"Berulang Sicu bilang ada orang menguntit, namun selama dua hari kan tidak terlihat munculnya orang lain yang tak dikenal?"

Gemerdep sinar mata Thian-ong-pangcu, katanya, "Soalnya penguntit itu adalah seekor rase tua yang licik dan licin. tidak nanti dia dipergoki olehmu dengan mudah."

"Memangnya siapakah rase tua yang Sicu maksudkan?" timbrung Kiam-eng mendadak. "Terus terang, sampai saat ini pun aku tidak tahu siapa dia," tutur Thian-og-pangcu. "Cuma jelas kutahu ada orang sedang menguntit jejak kita."

"Berdasarkan apa Sicu tahu jelas sedang dibuntuti orang?" tanya Kiam-eng pula.

"Berdasarkan bekas tapak kaki," tutur Thian-ong~pangcu. "Di sekitar biara kuno sudah kulabur selapis pasir, pada esok hari kuminta kingjin dan-ngorski apakah terjamah kemasukan beberapa bekas kaki di atas pasir, dari bekas kaki itu dapat kuduga pendatang itu adalah seorang tokoh terkemuka dunia persilatan, tampaknya penyatron itu ada maksud hendak naik ke atas pagoda, sebab itulah hendak kupindahkan kalian ke suatu tempat lain yang lebih aman untuk menghindari terjadinya sesuatu di luar dugaan.

Dari keterangan ini Kiam-eng tahu bekas kaki itu pasti tinggalan Sam-bi-sin-ong tempo hari diam diam ia merasa menyesal. Tapi ia berlagak heran dan coba tanya lagi, "Jika begitu, lantas Sicu hendak membawa kami ketahui bukan?"

"Besok pagi!"

Esok paginya Thian-ong-pangcu palsu dan rombongan Theng Hok lantas membawa berangkat Boh-to Sianjin dan Ngo-liau palsu menuju ke Thaiguan.

Tidak lama setelah mereka berangkat, Thi-soa cio Lu Yan-sin yang telah menyamar sebagai Thian ong-pangcu bersama Ong Ji dan Khong Cing-lin yang juga sudah menyamar itu lantas meninggalkan hotel dengan membawa Boh-to Siangjin dan Su Kiam-eng dengan menyewa kereta lalu menuju ke selatan, arah yang mereka tempuh justru terbalik dengan jurusan yang diambil rombongan Theng Hok.

Siang melanjutkan perjalanan dan malam menginap. lewat lohor hari kelima, selagi kereta dilarikan di jalan raya sekitar Hantung, Thian-ong pangcu yang menumpang dalam kereta entah menemukan apa, tiba-tiba ia bersuara, "Hm, kenapa bisa terjadi begini . . ."

"Ada urusan apa?" tanya Boh-to Siangjin.

"Hm, tadinya kukira si penguntit sudah dapat kita tinggalkan, tak tersangka sekarang muncul lagi penguntit yang lain!" jengek Thian-ong-pangcu.

"Siapa yang sedang membuntuti kita?" tanya Boh-to. "Seorang hwesio tua." kata Thian-ong-pangcu.

Boh-to Siangjin merasa hal itu agak luar biasa ucapnya keras, "Mengapa bisa seorang hwesio tua?" "Aku juga heran." ujar Thian-ong-pangcu. "Ku-dapatkan dia membuntuti kita mulai pagi tadi."

Mendengar seorang hwesio tua membuntuti mereka, hal ini juga agak di luar dugaan Si Kiam-eng, ia coba membuka pintu kereta dan melongok keluar sambil bertanya, "Dimanakah hwesio tua itu?"

"Agak jauh di belakang kita Thian ong-pangcu tertawa, "Dia memakai jubah kelabu, memanggul tongkat hajar. Ada tidak?"

Kiam-eng memandang jauh ke belakang, benar juga terlihat seorang hwesio tua dengan memanggul tongkat berada 20-50 meter di belakang, dari kecepatannya menempuh perjalanan jelas memang sedang membuntuti kereta mereka, Tentu saja ia heran, pikirnya "Aneh, dari manakah hwesio tua ini?"

Sembari berpikir ia pun menoleh dan berkata kepada Thian-ong-pangcu, "Dari mana Sicu tahu dia sedang membuntuti kita? Mungkin ia juga sedang menempuh perjalanan sendiri serupa kita."

"Tidak, sejak pagi dia terus mengikuti kereta kita dalam jarak tetap, gerak-geriknya mencurigakan, jelas memang sedang membuntuti kita."

Sampai di sini, ia membuka jendela depan dan memberi pesan kepada kusir kereta, "Hei, setelah membelok pada jalan simpang di depan, hendaknya kereta diberhentikan!" "Baik tuan." jawab kusir, "Apakah kalian hendak membuang air?"

"BetuI, selama perjalanan sejauh ini, kan perlu turun untuk melemaskan otot," ujar Thian-ong- pangcu.

Rupanya tidak jauh di depan adalah sebuah bukit, setelah kereta membelok tentu akan menghilang dalam pandangan si penguntit, sebaliknya si penguntit tidak tahu bahwa kereta berhenti di balik pengkolan sana, tentu dia akan menampakkan diri dan tidak dapat main kuntit lagi.

Benar juga, setelah si kusir melakukan perintah dan membelokkan kereta dan berhenti di pengkolan sana, dan baru saja Thian-ong-pangcu dan Boh-to Sianjin turun dari kereta, segera si hwesio tua tadi tampak muncul dari dari belokan.

Usia Hwesio itu lebih 60-an, tubuhnya kekar welas-asih, namun tongkat padri yang di pegang terbuat dari baja, bobotnya seratus kati lebih itulah sekali pandang. hwesio tua ini pasti seorang jago tangguh

Menyadari bahwa jejaknya telah diketahui, maka begitu melihat kereta sudah berhenti di situ, seketika ia melenggong dan berhenti.

Dengan tersenyum Thian-ong-pangcu menyongsongnya dan menegur dengan tertawa, "Eh siapakah gelar terhormat suhu ini?"

Sikap hwesio tua ini cukup tenang juga, jawabnya. "Jika Sicu tidak tahu siapa gelaranku, kan dapat kau tanya dia!"

"Tanya siapa?" Thian ong-pangcu menegas dengan heran. "Dia!" jawab si hwesio sambil menuding Su Kiam-eng.

Keruan Kiam-eng melengak, ucapnya, "He, dari mana kukenal dirimu?"

Thian-ong-pangcu juga melengak namun segera ia menyadari si hwesio tua tentu telah menyangka "Ngo-Iiau" sebagai Khong Cing-lin, maka tergelaklah dia.

Ia tahu siapa dia.

"Terhadap dia, ki daripadakii," ujar hwesio itu...

Sembari bicara, sorot matanya mendadak berubah tajam mengkilat, katanya terhadap Jiau-bin-hou dengan meinbantak, "Nah, binatang, lekas berlutut untuk menerima kematian!"

Su Kiam-eng berlagak kaget, ro-yd ia tidak tahu Khong Cing-lin adalah bekas murid siau-lim pay yang telah dipecat, tapi begitu melihat sikap keras si hwesio tua, segera ia mengerti antara Khong Cing- lin dan hwesio tua ini pasti ada hubungan yang luar biasa.

Yang membuatnya serba susah adalah dirinya harus tetap bertindak sebagai Khong Cing-lin atau lebih baik memberitahukan kepada si hwesio tua bahwa sesungguhnya dirinya cuma menyamar dan bukan Khong Cing-lin.

Sungguh suatu pilihan yang serba sulit baginya, sebab itulah seketika ia tidak berdaya dan cuma berdiri bingung.

Sebaliknya Thian-ong-pangcu lantas tahu, tujuan si hwesio tua bukan terhadap dia, maka hatinya terasa lega, dengan berlagak melerai ia coba membujuk si hwesio tua, "Jangan marah du!u, Toasuhu, ada urusan apa marilah bicarakan baik-baik"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, pendek kata hari ini aku cuma melaksanakan tugas pembersihan perguruan kami saja," kata si hwesio tua gusar. "Oo, kiranya Taisu ini padri saleh dari Siau-Iim-pai. Numpang tanya siapakah gelar suci Taisu!" tanya Thian~ong-pangcu.

"Aku Hoat-keng, pejabat pengawas biara," jawab si hwesio tua.

"Ah, kiranya Hoat-keng Taisu adanya, maaf jika aku kurang hormat tadi."

"Hm, Sicu tidak perlu sungkan, Hari ini aku hanya ingin menumpas kaum sampah bagi perguruan kami dan tidak ada sangkut-paut dengan orang lain."

"Betul juga," ujar Thian ong pangcu." Cuma pernah kudengar khabar, katanya sudah lama Khong Cing-Iin telah dipecat oleh perguruan kalian, jika hal ini betuI, maka segala tindak tanduk tanduk Khong Cing lin di luaran seyogyanya tidak ada sangkut paut lagi dengan pihak Siau-lim-pai dan untuk apa lagi Taisu selalu ikut campur urusan orang lain?"

"Biarpun dia sudah dipecat oleh perguruan kami, namun tindak-tanduknya yang buruk diluaran selalu merugikan nama anak murid Siau-lim-pai, malahan baru bulan yang lalu ia membunuh seorang muridku."

"Oh, jika damikian, jadi Taisu sudah jelas akan membuat perhitungan dengan dia?" "Betul, maka kuminta Sicu menyingkir dulu," kata Hoat-keng Taisu.

Thian-ong-pangcu terbahak-bahak, katanyg, "Khong-heng dan aku adalah sahabat sehidup-semati, jika sekarang dia menghadapi kesulitan, mana boleh kutinggal diam tanpa ikut campur, Apabila Taisu hendak membunuh dia, lebih dulu Taisu harus bereskan dulu diriku."

Melihat kedua pihak sukar mencapai sepakat Kiam-eng tahu pertarungan sengit sulit dihindarkan lagi dan Hoat-keng Taisu tentu bisa celaka, ia pikir kalau seorang padri tua Siau-lim-pai sampai mati konyol begitu saja sungguh akan terasa sayang, maka cepat ia memberi pesan kepada Boh-to Siangjin dengan bisikan gelombang suara, "Harap Siangjin lekas membujuk si iblis agar jangan main bunuh, kalau tidak jiwa Hoat-keng Taisu pasti akan segera melayang."

Boh-to Siangjin tampak mengangguk, lalu berseru, "Lo-heng, mohon dengarkan dulu pendapatku." "Ong-heng mau bicara apa?" tanya Thian-ong-pangcu selaku Lu Yan sia palsu.

"Soalnya hari ini aku tidak ingin menyaksikan pembunuhan apabila Lu heng masih menghendaki tenagaku, kuharap engkau jangan bertindak melampaui batas," kata Boh-to.

Dengan sendirinya Thian-ong-pangcu dapat menangkap arti perkataan Boh-to itu, ia pikir bila dirinya terang-terangan membunuh orang segolongan agamanya, teatu akan menimbulkan antipati si padri tua dan mungkin takkan rela menerjemahkan kitab pusaka dengan sejujurnya, Pula kemunculan Hoat-keng bukan untuk merecoki dirinya, biarkan hari ini kuampuni jiwanya.

Setelah mengambil keputusan demikian, segera ia menjawab, "Baiklah, mengingat kehormatan Ong- heng, biarlah kuberi jalan hidup baginya."

Hoat-keng Taisu tidak tahu seluk-beluk persoalannya, ia sangka mereka sengaja berolok-olok, seketika ia naik pitam, sekali tongkatnya tergerak, dihati bengis ia membentak, "Sicu mau menyingkii atau tidak?"

"Tetap seperti ucapanmu tadi, jika Taisu hendak mengganas, harus menerobos dulu rintanganku ini." kata Thian-ong-pangcu dengan ketus.

Hoat-keng Taisu tidak tahan lagi, sambil angkat tongkatnya ia membentak, "Baik, boleh terima beberapa jurus seranganku"

Berbareng tongkat terus mengempIang kepala Thian-ong-pangcu secepat kilat. Ilmu silat Siau-lim-pai terkenal karena kekerasannya, sekarang Hoatkeng Taisu mengemplang sekuatnya, tentu saja dahsyatnya luar biasa, tenaga hantamannya dengan batu raksasa ribuan kati yang menimpa dari udara, sungguh lihai tak terperikan.

Namun bagi Thian ong-pangcu, Hoat-keng Taisu sungguh merupakan lawan yang paling tidak berarti yang pernah ditemuinya, bilamana bukan karena keadaan, betapapun ia sungkan bergebrak dengan orang. Maka ketika tongkat lawan menyambar tiba, ia masih tetap berdiri diam saja, ketika tongkat sudah tinggal beberapa senti di atas kepala barulah ia angkat tangan kanan menyambut sambaran senjata musuh.

Pada hakikatnya Hoat-keng tidak tahu bahwa lawan yang dihadapinya adalah tokoh yang tidak ada tandingannya di jaman ini, ia tambah murka demi nampak orang hendak menangkap tongkatnya begitu saja, maka ia pun tidak mengganti gerak serangan lagi melainkan tetap mengemplang sekuatnya.

Menurut kebiasaan, apabila pihak lawan terlihat berani menyambut serangan keras juga, ini menandakan kemampuan lawan pasti melebihi dirinya maka bila tahu gelagat, seharusnya lekas menarik kembali serangannya agar tidak terperangkap oleh musuh yang lebih kuat.

Namun sekarang Hoat-keng Taisu tidak berbuat demikian, sebab ia anggap To-soa-sio Lu Yan-sia yang dihadapinya sekarang tidak nanti sanggup menangkis kemplangan tongkatnya yang dahsyat, jika lawan tidak tahu diri, biarkan saja fe'sr dia tabu rasa.

Begitulah, maka terdengar suara "brak" yang keras, tongkat beradu dengan telapak tangan.

Hoat-keng mengira tangan orang pasti akan hancur, selagi ia merasa senang, tak terduga mendadak tongkat yang tergenggam itu terasa sukar dipertahankan lagi dan kena direbut lawan.

Sungguh kejadian ini sama tak terduga olehnya seketika ia melongo, dan pada detik itulah terdengar "blang" sekali, dadanya tersodok oleh gagang tongkat yang dihantamkan kembali oleh Thian-ong pangcu.

Serangan balik Thian-ong pangcu ini dilakukan dengan cepat dan tepat, namun juga terbatas, sehingga Hoat-keng tidak sampai binasa melainkan cuma menyemburkan darah segar saja, lalu jatuh terduduk,

Kuatir Thian-ong-pangcu menambahi serangan lain, cepat Boh to Siangjin membentak," Sudah cukup, Lu-heng!"

Thian-ongpangcu melemparkan tongkat, katanya dengan tertawa, "Baiklah, sekarang kita kembali dan melanjutkan perjalanan."

Melihat Hoat-keng Taisu terluka parah dan tidak dapat bergerak, segera Kiam-eng berkata kepada Boh-to Siangjin, "Ong-heng, hwesio itu terluka cukup berat, jika tidak ada yang menolongnya, cepat atau Iambat dia bisa mati di tempat sunyi ini."

Bohto mengangguk, "BetuI, dan dapatkah Lu-heng menyanggupi suatu permintaanku?"

Thian-ong-pangcu terbahak, jawabnya, "Rasanya Ong-heng takkan memohon kutolong dia bukan?" "Tidak, maksudku hanya Lo-heng membawa dia dengan kereta kita, setiba di tempat yang ada orang

barulah kita lepaskan dia, dengan demikian dia akan mendapatkan kesempatan untuk hidup.

"Ong-heng tidak perlu kuatir baginya," ujar Thian ong-pangcu tertawa. "Lukanya tidak terlampau parah, takkan mati."

"Permohonanku kan tidak merugikan Lu heng, maka kuharap Lu heng suka mempertimbangkannya," kata Boh-to.

"Jangan kau kira dia tumpah darah dan luka parah, yang benar dia masih sanggup membunuh orang, bila kupondong dia ke dalam kereta bisa jadi dia akan bertindak keji terhadap kalian." "Tidak, Lu-heng dapat menutuk dulu hiat-to kelumpuhannya," sela Kiam-eng.

Thian ong-pangcu melenggong, ia pandang Kiam-eng dan berkata, "Aneh, sukar dimengerti bahwa kamu paham sebanyak ini . . ."

"Kudengar cerita dari nomor tiga, katanya engkau mahir menutuk hiat-to orang, sekali tutuk seketika orang akan lumpuh, bahkan dapat kau-bikin dia roboh berapa lama pun sekehendakmu tanpa dia bisa berkutik, betuI tidak?"

"Oo, kiranya kaudengar dari cerita si nomor tiga . . ." kata Thian-ong-pangcu dengan tertawa. "Ucapan Khong-heng memang benar," tukas Boh-to Siangjin, "Nah, Lu-heng, boleh kau tutuk dia

lebih dulu dan membawanya ke dalam kereta, menolong jiwa satu orang melebihi awal membangun

candi tujuh tingkat, jika Lu-heng menolong dia, selanjutnya dia pasti takkan mencari balas lagi padamu."

Thian-ong-pangcu termenung sejenak, lalu angkat pundak dan berkata, "Ya, sudahlah, berada bersama orang semacam kalian sungguh hanya membuat repot saja."

Habis berkata ia terus mendekati Hoat-keng Taisu.

Tentu saja Hoat-keng terheran-heran mendengar percakapan mereka tadi, namun ia tetap tidak percaya bahwa permintaan "Ong Ji" terhadap "Lu Yan-sin" itu memang bermaksud baik terhadapnya. Maka ketika didekati "Lu Yan-sin" ia menjadi kuatir dan murka, bentaknya," Bangsat, karana kurang hati- hati sehingga aku dicederai olehmu, sekarang mau bunuh boleh kau bunuh, jika kamu ingin menghina diriku, tentu Budha takkat mengampunimu."

Hoat keng Taisu membalikkan badan untuk menghindarkan tutukan orang, tongkat diraihnya dan sekuatnya menyerampang kaki lawan.

Thian ong-pangcu tergelak, sama sekali ia tidak menghindar, sebaliknya mendepak malah dengan kaki, "blang", kontan tongkat Hoat keng mencelat jauh ke sana, Hoat-keng sendiri tergetar jatuh terjungkal, kesempatan itu digunakan lagi Thian ong-pangcu untuk menutuk, baru saja Hoat keng terguling, lalu menggeletak kaku dan tak bisa berkutik lagi.

"Wah, lihai amat" teriak Kiam-eng." Bagian hiat-to mana yang kau tutuk?" "Hiat-to kelumpuhan," jawab Thian-ong-pangcu.

"Diperlukan waktu berapa lama baru dapat bergerak lagi?" tanya Kiam-eng pula. "Paling cepat satu setengah jam."

Kiam-eng maju mendekati Hoat-keng Taisu, katanya, "Biarlah kupondong dia ke dalam kereta." "Kau kira aku sanggup mengangkat dia atau tidak?"

"Jika tidak kuat, lebih baik kamu menjadi cukong saja." Thian-ong-pangcu berseloroh.

Setelah mengangkat tubuh Hoat-keng Taisu, diam-diam Kiam-eng menjejalkan secarik kertas ke dalam baju orang, lalu berlagak kepayahan mengangkat tubuh Hoat-keng dan dibawa ke dalam kereta, lalu berucap dengan napas yang dia buat terengah, "Wah, berat juga, tapi dapat juga kupikul dia."

Thian-ong pangcu tertawa, ia memberi tanda dan berkata, "Baiklah, sekarang semua naik kereta lagi dan meneruskan peijalanan."

Maka kereta berangkat lagi berdetak-detak, kira kira belasan li, tertampaklah di depan ada sebuah kota kecil. Thian-ong-pangcu menyuruh kusir mengangkat Hoat-keng Taisu dan dibaringkan di tepi jalan, lalu melanjutkan perjalanan ke depan.

"Bilakah hiat-to yang tertutuk itu akan terbuka?" tanya Kiam-eng kemudian. "Kira-kira setengah jam lagi akan terbuka dengan sendirinya," jawab Thian-ong-pangcu.

"Hari sudah hampir gelap, malam ini Sicu bermaksud menginap di mana?" tanya Kiam-eng pula. "Seadanya. lihat saja nanti kalau ada tempat di situ juga kita bermalam."