Rahasia 180 Patung Emas Jilid 25

 
Jilid 25 

"Dia sudah memiliki harta benda yang berlimpah, dengan sendirinya dia dapat membuang golok jagalnya" perbuatan baik orang semacam ini mungkin cuma untuk membuat tentram hatinya saja.

"Bisa jadi begitu, namun perbuatan baik cara demikian kan lebih baik daripada tetap berbuat jahat, betul tidak?" tanya Boh-to-Siang-jin dengan tertawa.

Kiam-eng mengangguk, ia coba tanya lagi Siang-jin, maaf jika aku tanya sesuatu, mohon Siang-jin jangan marah". "Urusan apa?" jawab Boh-to-Siang-jin.

"Apakah ilmu silat Siang-jin bersumber dari Siau-lim-si?" tanya Kiam-eng.

Boh-to-Siang-jin tampak melengak, lalu tertawa dan menjawab, "Oo, apakah Siau-si-cu mengira ada kemampuan kung-fu pada diriku?"

"Masa tidak?" Kiam-eng berbalik heran.

"Ya, aku memang tidak pernah berlatih kung-fu," kata Boh-to.

Kiam-eng tetap tidak percaya, ucapnya, "Sinar mata Siang-jin tajam berkilauan, kalau tidak berlatih kung-fu, mustahil bila terdapat gejala demikian?"

"Dahulu Wi-ho-Lo-jin juga berkata demikian padahal aku memang tidak pernah belajar kung-fu segala. Cuma dalam agama Budha memang juga ada ajaran panca tertib yang dapat menyehatkan tubuh dan menghilangkan penyakit, dalam hal inilah mungkin aku rada menguasainya".

"Apa itu panca tertib?" tanya Kiam-eng.

"Yaitu tertib makan minum, tertib tidur, tertib badan, tertib istirahat dan tertib pikiran. Kalau makan terlampau kenyang, maka badan gemuk dan darah tinggi, gangguan banyak. Makan terlalu sedikit juga mengganggu kesehatan. Tertib tidur juga begitu, tidur tidak cukup membuat semangat lesu dan tubuh letih. Tidak terlampau banyak juga membuat peredaran darah kurang lancar dan beku, semua ini bukan cara yang baik. Selain itu, ke tiga tertib lain pada dasarnya seperti berlatih lwe-kang saja, itulah yang disebut lima tertib."

Sampai di sini baru Kiam-eng percaya padri tua itu memang tidak mahir ilmu silat, tapi hal ini pun menambah rasa sedihnya, sebab kalau si baju hijau berkedok sudah merencanakan akan turun tangan bilamana Boh-to-Siang-jin berhasil itu berarti dirinya wajib membela keselamatan Boh-to-Siang-jin.

Padahal dalam pertarungan terang maupun gelap nanti, jelas bukan pekerjaan mudah jika mesti juga memperhatikan keamanan pribadi Boh-to-Siang-jin.

Rupanya Boh-to-Siang-jin pandai membaca air muka orang, melihat Kiam-eng diam saja, dengan tersenyum ia tanya, "Siau-si-cu, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Oo, tidak memikirkan apa-apa ... "

"Ada rasa kuatirmu bagi diriku, bukan?" tanya Siang-jin.

Karena isi hatinya tertebak, Kiam-eng pun tidak menyangkal, jawabnya sambil mengangguk, "Betul, te- cu memang mengira Siang-jin menguasai kung-fu sakti, maka tadi berani aku mohon bantuanmu, jika Siang-jin ternyata tidak paham ilmu silat, maka ... "

"Itu tidak menjadi soal," ucap Boh-to-Siang-jin. "Baik akan dibalas dengan baik dan jahat mendapat ganjaran jahat. Aku yakin diri tak sampai mati konyol".

"Namun bila Siang-jin sampai ikut susah bukankah dosa te-cu teramat besar ... "

Kedatangan Siau-si-cu ini bukan mendatangkan bencana bagiku melainkan justru membawakan kebebasan bagiku."

Kiam-eng melengak, "Apa artinya Siang-jin ini?"

"Kalau Siau-si-cu tidak datang, pada hakikatnya tentu tidak aku ketahui maksud tujuan jahat si baju hijau berkedok, dan bila dia minta bantuanku untuk menerjemahkan kitab ilmu pedangnya, tentu tak terpikir olehku bahwa selesai aku lakukan apa yang dimintanya segera pula akan menghadapi bahaya terbunuh olehnya. Sebaliknya sekarang hal itu telah diketahui, tiba saatnya nanti tentu kita dapat berjaga-jaga lebih dulu, bukankah hal ini sama dengan Siau-si-cu telah membebaskan bencana bagiku.

"Ucapan Siang-jin ini hanya sekadar untuk mengurangi rasa pedih te-cu saja," kata Kiam-eng. "Tidak, aku bicara dengan sungguh-sungguh ... " kata Siang-jin. "Kalau Siau-si-cu tidak datang, tentu aku akan mati tanpa apa sebabnya. Dan sekarang aku telah mendapatkan kesempatan ke dua"

Sampai di sini, ia berpaling memandang cuaca di luar, ucapnya kemudian, "Malam sudah larut, silakan Siau-si-cu istirahat". Kiam-eng lantas mohon diri dan kembali ke kamar yang telah disediakan si padri penyambut tamu. Semalaman ini tidak terjadi apa pun.

Esok paginya, selagi Kiam-eng sarapan pagi, si padri penerima tamu membawakan secangkir teh kepadanya serta membisikinya, "Siau-si-cu, Theng-lo-si-cu itu sudah tiba, silakan kau bawa suguhan teh ini ke ruang tamu".

Kiam-eng mengiakan dan menerima cangkir teh, tanyanya, "Jadi Theng-wang-we sudah berada di kamar Siang-jin?"

"Betul bilamana Siau-si-cu masuk ke situ, tentu Cu-ji akan memperkenalkan Theng-lo-si-cu kepadamu," tutur padri penerima tamu.

Su-Kiam-eng lantas membawa teh ke kamar Boh-to-Siang-jin, terlihat Theng-wang-we itu sedang duduk bicara dengan padri tua itu. Segera ia menyodorkan cangkir teh dan memberi hormat, "Silakan" Theng- lo-si-cu minum."

Theng-wang-we hanya mengangguk dan menerima cangkir teh sambil tetap bicara dengan Boh-to-Siang- jin.

Terdengar Boh-to-Siang-jin lagi bertanya, "Lo-si-cu membawa berapa orang pengikut?"

"Hanya satu orang," jawab Theng-wang-we. "Dia bernama Theng-Hok, setiba di Kau-goan-si apabila Siang-jin ada keperluan boleh suruh dia mengerjakannya, budak itu cukup cekatan ... "

"Ah, aku kira tidak perlu lah, cukup aku dilayani Ngo-liau saja".

"Oo, Siang-jin juga membawa pengikut?" tanya Theng-wang-we rada melengong.

"Betul, aku bawa seorang hwe-sio cilik," tutur Boh-to-Siang-jin. Yakni, yang ada di sini ini, namanya Ngo-liau, sudah sekian bulan menjadi pelayanku. Pekerjaannya cukup memuaskan, maka hendak aku bawa dia pergi bersama".

Theng-wang-we memandang sekejap kepada Kiam-eng, ucapnya dengan tersenyum. "Boleh juga, karena kudaku cukup longgar untuk beberapa orang penumpang saja".

Boh-to-Siang-jin lantas memberi pesan kepada Su-Kiam-eng, " Nah, Ngo-liau, sesudah sarapan, hendaknya bebenah dan bawa rangsel ke dalam kereta, segera kita akan berangkat".

Kiam-eng memberi hormat dan menjawab, "Lapor Siang-jin, te-cu sudah sarapan."

"Jika begitu, marilah kita berangkat sekarang juga," kata Boh-to terhadap Theng-wang-we.

Theng-wang-we mengangguk dan berbangkit, "Baiklah, berangkat sekarang, menjelang magrib nanti mungkin dapat tiba di tempat tujuan".

Kiam-eng lantas memanggul rangsal yang sudah disiapkan dan meninggalkan kamar bersama Theng- wang-we serta Boh-to-Siang-jin.

Kawanan hwe-sio penghuni Tai-bin-si sudah berbaris menanti di luar biara, di tengah suasana gembira itulah Boh-to-Siang-jin naik ke atas kereta kuda yang mewah diikuti Theng-wang-we, Su-Kiam-eng dan Theng-Hok. Begitu cambuk menggelar, segera kuda berlari meninggalkan biara megah itu.

Hampir setengah jam kemudian barulah kereta itu meninggalkan kota Tiang-an.

Kiam-eng tahu apabila si baju hijau berkedok ingin menggunakan tenaga Boh-to-Siang-jin untuk menerjemahkan kitab, tempat yang paling baik untuk "turun tangan" tentu terletak dalam perjalanan kereta menuju ke Kau-goan-si ini.

Jika sepanjang jalan ternyata tidak terjadi sesuatu, itu menandakan si baju hijau berkedok sesungguhnya tidak tahu bahwa Boh-to-Siang-jin paham tulisan Sansekerta. Dan jika demikian halnya, jelas harapannya pun akan kosong belaka.

Sebab itulah diam-diam ia berdoa semoga si baju hijau berkedok lekas muncul. Jalan raya di luar kota cukup lebar dan rata maka kecepatan kereta kuda menjadi langgeng dan mantap. Menjelang lohor, kereta mereka sudah lewat Sat-oh, perjalanan sudah dilalui lebih dari separoh.

Sepanjang jalan Theng-wang-we dan Boh-to-Siang-jin selalu berunding tentang pekerjaan yang harus dilakukan setelah biara Kau-goan-si diresmikan. Dengan sendirinya Kiam-eng dan Theng-Hok tidak ada andil untuk bicara. Untung pemandangan sepanjang jalan sangat menarik sehingga tidak terasakan kejenuhan.

Tidak lama tertampaklah lahan luas di sekeliling jalan raya, kendaraan dan orang lalu lalang pun mulai sepi.

"Inilah tempat yang paling bagus untuk turun tangan, bilamana si baju hijau berkedok tidak datang, rambutku bisa ubanan memikirkannya," demikian pikir Kiam-eng.

Namun di tengah laju kereta kuda yang semakin jauh, suasana tetap aman tentram tanpa timbul sesuatu tanda yang mencurigakan.

Mau-tak-mau Kiam-eng mulai merasa kecewa tanpa terasa ia bersuara, "Aneh. "

Mendengar suara anak muda itu, Theng-Hok yang duduk di sebelahnya berpaling dan bertanya, Siau-su- hu, kau bilang aneh apa?"

Kiam-eng menjawab sekenanya, "Coba kau lihat, orang ramai bilang pepohonan itu di pegunungan Le- san sangat indah, namun sekarang terlihat tidaklah demikian".

"Oo, musim semi di daerah utara memang lebih terlambat, saat ini pepohonan baru mulai bersemu, dedaunan baru mulai menghijau, dengan sendirinya pemandangan tidak seindah sebagai diceritakan orang".

"Kiranya begitu." kata Kiam eng. "Dan entah perlu berapa lama lagi baru pepohonan di sini akan tumbuh indah?"

"Perlu sebulan dua bulan lagi tentu pemandangan indah akan muncul secara semarak dan mempesona," tutur Theng-Hok.

"Kabarnya pemandangan pegunungan Le-san jaga tidak jelek, entah betul atau tidak?* tanya Kiam-eng.

"Betul," sahut Theng-Hok. "Pemandangan waktu senja di Le-san merupakan salah satu keindahan alam di daerah sini, dipandang dari jauh, cahaya matahari waktu senja yang menimpa pepohonan yang hijau permai itu sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan". 

"Jika begitu, setiba kita di Le-san tentu dapat aku nikmati pemandangan alam yang mempesona itu," ujar Kiam-eng dengan berlagak girang.

"Tidak," kata Theng-Hok sambil menggeleng "Kita akan menuju ke Le-san melalui sebuah jalan setapak sehingga tidak dapat menyaksikan pemandangan yang indah itu".

"Oo, mengapa harus melalui jalan setapak?" tanya Kiam-eng heran.

"Melalui jalan, setapak itu dapat menghemat waktu satu jam untuk mencapai Kau-goan-si, ini menurut cerita Lo-ya kami," tutur Theng-Hok.

Rupanya Boh-to-Siang-jin juga mengikuti ucapan Theng-Hok itu, ia coba tanya Theng-wang-we, "Untuk menuju ke Kau-goan-si apa betul harus melalui jalan setapak yang lebih dekat?"

"Betul, melalui sebuah jalan kecil sedikitnya akan mempersingkat belasan li perjalanan, cuma jalan setapak itu memang sulit ditempuh," tutur Theng-wang-we.

"Sulit ditempuh katamu, dalam hal apa maksudmu?" tanya Boh-to-Siang-jin.

"Jalan pegunungan itu terlampau sempit untuk dilalui kereta, juga banyak batu perintang." "Tidak apa, asal saja tidak ada gangguan keamanan," ujar Boh-to dengan tertawa.

Tidak lama kemudian, lereng gunung Le-san juga kelihatan di depan, pada saat itu juga kereta membelok ke sebuah jalan simpang.

Beberapa li kemudian, kereta pun memasuki jalan pegunungan yang sempit, ternyata benar jalan tidak rata dan banyak batu besar, suasana pun sepi.

Kiam-eng coba melongok ke luar kereta, pikirnya, "Inilah tempat paling baik dan juga yang terakhir, bila si baju hijau tetap tidak muncul, ini menandakan dia takkan menyatroni Boh-to-Siang-jin. Ai, semoga dia akan muncul ... "

Namun kereta sudah menempuh lagi beberapa li pula dan tetap aman.

Boh-to-Siang-jin coba tanya Theng-wang-we, "Apakah Kau-goan-si sudah dekat?" "Betul, tujuh-delapan li lagi dapat tiba di sana," jawab Theng-wang-we.

"Jalan pegunungan ini sedemikian sunyi, kelak mungkin tidak ada orang mau datang sembahyang ke Kau-goan-si," ucap Boh-toh-Siang-jin.

"Tidak apa, beberapa hari lagi akan aku kirim beberapa pekerja untuk meratakan jalan pegunungan ini, bilamana jalanan rata dan lebar, suasana tentu tidak terasa sepi".

"Ya, gagasan yang baik ... " Boh-to manggut-manggut.

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kusir kereta menjerit kaget dan kereta pun berhenti mendadak.

Air muka Theng-wang-we berubah, ia membuka jendela depan dan bertanya "Ada apa, Theng-An?"

Kusir kereta bernama Theng-An, ia menuding ke depan dan berkata dengan agak gemetar, "Coba lihat Lo-ya, di sana ... di sana ada tiga orang jahat ... "

Waktu Theng-wang-we memandang ke sana, seketika air mukanya berubah pucat pasi, serunya takut, "Wah, celaka! lekas putar balik kereta ini!"

Kiranya beberapa puluh meter di depan sana berdiri sejajar tiga orang jahat dengan golok terhunus dan bersikap buas.

Wajah mereka sama menyeringai, ketika Theng-An memutar keretanya, mereka pun tidak merintangi melainkan tetap berdiri dengan terkekeh.

Dengan gugup Theng-An memutar keretanya sesuai perintah sang majikan, tapi segera ia menjerit kaget lagi dan terkesima.

Ternyata di belakang, di arah datangnya tadi juga berdiri tiga orang jahat dengan golok terhunus.

Diam-diam Kiam-eng merasa senang demi melihat enam orang musuh muncul serentak, pikirnya, "Bagus, ternyata perhitunganku tidak sampai meleset, akhirnya musuh muncul juga".

Cuma, biarpun merasa senang, pada lahirnya dia berlagak ketakutan, sebab saat ini adalah seorang "hwe-sio cilik" yang tidak kenal ilmu silat segala, dia tidak dapat bergebrak dengan lawan melainkan harus menyerah "diculik" oleh musuh.

Theng-wang-we juga ketakutan hingga gemetar, dengan bingung ia tanya Boh-to-Siang-jin, "wah, bagaimana baiknya, Siang-jin?"

Boh-to-Siang-jin tahu ke enam orang jahat yang muncul itu mungkin sekali adalah anak buah si baju hijau berkedok yang dikirim untuk menculik dirinya, maka dia tidak terlampau takut, dengan tenang ia menjawab, "Jangan kuatir Lo-si-cu biarkan aku hadapi mereka".

Sembari bicara ia terus turun dari kereta dengan sewajarnya.

Kiam-eng menyusul turun dan ikut ketat di belakang Boh-to-Siang-jin, tampaknya seperti minta perlindungan padri tua itu, tapi yang benar dia yang melindungi orang, sebab dia belum lagi memastikan bahwa ke enam orang jahat yang muncul ini apakah anak buah si baju hijau atau bukan. Jika benar anak buahnya, dengan sendirinya mereka takkan membikin celaka Boh-to-Siang-jin, sebaliknya kalau bukan, maka dia harus berjaga akan segala kemungkinan. Setelah turun dari kereta, segera Boh-to-Siang-jin memberi hormat kepada ke tiga orang jahat yang berdiri di depan tadi sambil bertanya, "Numpang tanya, dari manakah ke enam Si-cu ini, ada urusan apa menghalangi jalan lalu kami?"

Serentak ke enam orang itu mendesak maju ke arah kereta, seorang di antaranya mengangkat goloknya dan mendengus, "Hm, maksud kedatangan kami masakan kamu si keledai gundul tua ini tidak tahu?"

"Apakah kalian hendak merampok kami?" tanya Boh-to-Siang-jin dengan ramah. "Betul," jawab orang itu sambil menyeringai.

Padahal orang beragama seperti diriku jelas tidak membawa harta benda apa pun, apakah kalian tidak salah sasaran?"

"Kamu tidak punya harta benda, yang lain kan ada, bahkan takkan habis diambil, "ucap orang jahat itu dengan tergelak.

Dengan hormat Boh-to berucap pula, "Harap kalian sudi memberi jalan, sekali ini Theng-lo-si-cu bersamaan hendak mengurus upacara peresmian Kau-goan-si, dia juga tidak membawa harta benda yang berlebihan".

Namun orang jahat itu tidak menggubrisnya lagi, mendadak goloknya menuding Theng-wang-we yang masih berada dalam kereta sambil membentak "Ayo, kenapa kalian tidak lekas menggelinding ke luar?!"

Dengan gemetar ketakutan Theng-wang-we terus "menggelinding" ke luar kereta, ia menyembah dan meratap, "Ampun. Toa-ya, hari ini memang benar aku tidak membawa sesuatu harta apa pun, kalau tidak percaya silakan kalian menggeledah ... "

Theng-Hok juga sudah ke luar dan berlutut serta ikut memohon, "Ya, benar, Lo-ya kami memang tidak membawa sesuatu benda berharga, mohon tuan-tuan sudi memberi ampun."

Orang jahat itu mendengus dan memberi tanda kepada ke tiga kawannya yang berada di depan sana. "Coba geledah kereta mereka!"

Tiga orang di antaranya lantas melompat ke atas kereta, seorang mendepak Theng-Hok hingga terguling ke luar kereta, dua orang lagi menyusup ke dalam ruang kereta untuk menggeledah, akan tetapi mereka sudah digeledah sekian lama, yang ditemukan cuma belasan tahil perak saja dan tidak ada harta benda lain.

"Dirodok!" segera seorang di antaranya mencaci maki. Ternyata benar tidak membawa barang berharga apa pun".

Orang pertama yang menjadi pemimpinnya lantas membentak pula, "Coba geledah tubuh mereka!"

Salah seorang lantas mendekati Theng-wang-we dan menyeretnya bangun, kontan ia robek baju dada orang dan menggeledah sekujur badannya, namun tetap tidak menemukan sesuatu barang bernilai.

Pemimpin jadi tambah gusar, "Binasakan dia!"

Keruan Theng-wang-we ketakutan dan cepat berlutut dan menyembah pula sambil meratap, "Oo, ampun tuan! Biarlah sekarang juga aku perintahkan kaum budak mengambil uang ke rumah, berapa banyak kalian minta pasti aku berikan asalkan jiwaku diampuni ... "

Orang yang menggeledah tubuhnya itu sudah angkat golok dan hendak membacoknya, mendengar permohonan Theng-wang-we itu, cepat ia menahan golok dan coba tanya kawannya, "Bagaimana Lo- toa? Boleh juga alasannya, bagaimana kalau kita turuti permintaannya?"

Orang tadi termenung sejenak lalu mendengus "Hm, apa betul berapa aku minta tentu akan kau beri?" "Benar, benar ..." berulang Theng-wang-we menyembah.

Berbinar-binar mata orang jahat itu, ucapnya sambil menyeringai, "Baik, jika begitu, karena kalian seluruhnya lima orang, boleh kau bayar lima ribu tahil perak".

Berulang Theng-wang-we menyatakan setuju lalu berseru kepada budaknya, "Nah, Theng-Hok, lekas pulang dan bawa kemari lima ribu tahil perak!"

Theng-Hok mengiakan dan berbangkit hendak lari turun gunung.

Namun pemimpin tadi mendadak mengangkat golok dan merintangi jalan larinya sambil membentak, "Nanti dulu! Urusan pembayaran itu tentu dapat aku kirim orangku sendiri untuk mengambilnya, kamu boleh menggelinding kembali ke dalam kereta saja".

Dengan takut Theng-Hok mengiakan dan menyurut mundur ke samping kereta.

Lalu si pemimpin membentak pula terhadap Theng-wang-we dan Boh-to-Siang-jin, "Kalian dengar tidak? Semuanya menggelinding kembali ke dalam kereta!"

Theng-wang-we seperti mendapat pengampunan hukuman mati, cepat ia merangkak ke atas kereta sebaliknya Boh-to-Siang-jin hanya berdiri diam saja begitu pula Su-Kiam-eng juga tidak bergerak. Rupanya hati ke dua orang mempunyai perasaan yang sama, yaitu ke enam penjahat ini jangan-jangan bukan anak buah si baju hijau berkedok yang dinantikan itu.

Soalnya dari nada beberapa orang jahat ini yang diincar hanya harta benda melulu, jelas cuma kaum begal biasa, dan bila benar cuma kaum begal biasa, untuk apa lagi sungkan-sungkan dengan mereka.

Sebab itulah pikiran Su-Kiam-eng sedang berputar dengan cepat apakah harus bertindak terhadap kawanan begal ini atau tidak.

Melihat mereka berdiri diam saja, wajah pemimpin penjahat itu berubah beringas dan mengangkat golok untuk menakut-nakuti, "Eh, apakah kalian berdua keledai gundul ini sudah bosan hidup?"

Boh-to-Siang-jin menyebut budha dan berucap perlahan. "Ke enam si-cu hendaknya dengarkan nasihatku. Theng-lo-si-cu dan kami ini hendak meresmikan pembukaan biara suci Kui-goan-si di atas gunung ini besok pagi, bilamana Theng-lo-si-cu kalian culik, tentu upacara pembukaan Kui-goan-si besok akan gagal, ini kan tidak baik, ketahuilah bahwa ... "

Dengan sendirinya kawanan penjahat itu tidak sudi mendengarkan khotbah padri tua itu, dengan bengis ia membentak dengan berlagak hendak membacok, "Ayo, kau mau naik ke atas kereta atau tidak?"

Su-Kiam-eng bertekad hendak melihat perubahan selanjutnya, maka ia berlagak takut dan menarik mundur Boh-to-Siang-jin, ucapnya gugup

"Wah, Siang-jin marilah lekas naik ke atas kereta!"

Melihat Kiam-eng tidak mau turun tangan, Boh-to-Siang-jin mengira anak muda itu sudah tahu jelas mereka adalah anak buah si baju hijau maka ia berlagak menghela napas panjang dan naik ke atas kereta dengan ogah-ogahan.

Menunggu setelah Su-Kiam-eng juga sudah masuk ke dalam kereta, si pemimpin penjahat lantas berkata kepada seorang kawannya, "Lo-ji, kamu menjadi kusir, Lo-sam dan Lo-si bertugas mengawasi mereka, Lo-go dan Lo-lak mengawal dari belakang bersamaku.

Begitulah kereta itu lantas meneruskan perjalanan di lereng pegunungan itu di bawah ancaman kawanan bandit itu.

Di antara ke lima penumpang, sikap Boh-to yang kelihatan paling tenang, tanpa berkedip mengamati ke dua penjahat yang duduk di dalam kereta sehingga membuat mereka merasa kikuk, seorang di antaranya melotot dan mendamprat, "Keledai tua, untuk apa kau pandang kami?"

"Jika tuan tidak memandangku, dari mana tahu aku pandang kalian?" jawab Boh-toh. "Hm, kamu tidak takut mati barangkali?" jengek orang itu.

"Manusia hidup sejak purbakala siapa yang tidak mati? Mati adalah salah satu proses hidup yang pasti akan dilalui manusia, kenapa mesti takut?"

"Hm, bilamana golok tuan besar sudah mampir di lehermu, jangan kamu menjerit minta tolong nanti?" orang jahat itu menakut-nakuti.

"Tidak, golokmu takkan sanggup membunuhku," jawab Boh-to-Siang-jin. "Oo, apakah kamu minta dicoba?" tanya orang itu dengan gusar. "Boleh saja silakan!" kata Boh-to.

Orang itu menoleh dan berseru kepada pemimpinnya, "Lo-toa, keledai gundul tua bangka ini tidak tahu diri, bagaimana kalau aku binasakan dia saja?"

Pemimpinnya menggeleng dan menjawab, "Jangan, dia masih perlu aku manfaatkan."

Orang jahat itu mengangkat pundak dan berkata pula terhadap Boh-to-Siang-jin, "Nah mengingat ke lima ribu tahil perak itu, biarlah sementara ini jiwamu aku ampuni, hmm ... "

Boh-to-Siang-jin lantas tanya Theng-wang-we dengan tertawa, "Apakah Theng-lo-si-cu tahu, selain menuju ke Kui-goan-si, adakah jalan ini juga dapat menembus ke tempat lain lagi?"

Dengan takut-takut Theng-wang-we memandang kawanan penjahat di dalam kereta, lalu menggeleng dan menjawab. "Aku tidak ... tidak begitu jelas ... "

Boh-to-Siang-jin lantas memejamkan mata seperti orang lagi bersemadi dan tidak bicara lagi.

Setelah kereta berjalan perlahan belasan li lagi, tiba-tiba kereta berhenti di bawah pohon yang rindang. Rupanya mereka sudah sampai di ujung jalan, ke depan lagi sudah tidak dapat dilalui kereta.

Penjahat yang menjadi pemimpin lantas membentak, "Baiklah, semuanya turun!"

Berturut-turut Theng-wang-we, Boh-toh-Siang-jin, Su-Kiam-eng, Theng-Hok dan Theng-An turun dari kereta diam-diam Kiam-eng mengamati sekitarnya, terlihat sekeliling hanya hutan lebat belaka. sejauh mata memandang tidak nampak sebuah rumah pun.

Kiam-eng pikir apalagi ke enam penjahat ini adalah anak buah si baju hijau berkedok, tentu akan membawa mereka berlima ke suatu tempat yang baik agar Boh-to-Siang-jin dapat menerjemahkan kitab pedang dengan santai. Bilamana mereka dibawa ke sebuah gua atau biara bobrok atau tempat lain yang kurang baik, itu membuktikan bahwa kawanan penjahat ini memang kaum begal biasa. Tatkala itu dirinya tidak perlu sangsi lagi untuk menyikat mereka.

Tengah Kiam-eng berpikir, si pemimpin penjahat sedang mengacungkan golok dan membentak ,"Ayo jalan, mengikuti jalan kecil ini!"

Salah seorang penjahat ini segera mendahului melintasi jalan kecil berliku itu disusul oleh Theng-wang- we, Boh-to-Siang-jin dan lain-lain.

Rombongan mereka berjalan kira-kira satu li di jalan kecil yang berliku-liku itu, setelah menerobos hutan, mendadak pandangan terbeliak terang, rupanya mereka sudah sampai di depan sebuah biara kuno.

Bangunan biara kuno ini cukup luas, cuma sebagian besar sudah rusak dan retak, hanya ruang pendopo dan beberapa rumah di belakang biara serta sebuah pagoda tujuh tingkat yang kelihatan masih bertengger dengan tegaknya. Dipandang dari luarnya kompleks biara ini, dahulu sebuah biara megah yang ternama dan ramai dikunjungi penganutnya.

Tadinya Kiam-eng mengira pihak lawan akan membawa mereka ke sebuah gua atau kelenteng bobrok, dengan demikian akan terbukti ke enam orang itu memang kawanan penjarah biasa dan ada hubungan dengan si orang berbaju hijau, tapi sekarang biara ini terlihat agak luar biasa, ia merasa kalau si baju hijau menggunakan tempat ini untuk memaksa Boh-to-Siang-jin menerjemahkan kitab pedang juga bukan mustahil, maka ia mengambil keputusan akan melihat gelagat selanjutnya.

Setiba di depan biara kuno, kepala penjahat ikutan memberi perintah kepada dua kawannya, "Lo-ji, Lo- sam, boleh kalian membawa keledai gundul tua itu ke puncak pagoda!"

Ke dua orang itu mengiakan, segera Boh-to dan Kiam-eng digiring ke pagoda tujuh tingkat yang terletak di samping kiri biara.

Setelah berada di dalam pagoda, terlihat ada sebuah tangga batu melingkar ke atas. Salah seorang penjahat mendahului mendekati tangga batu disusul ke tiga orang, menuju ke puncak pagoda. Ternyata di dalam pagoda terawat dengan bersih, malahan tersedia sebuah meja dan sebuah bangku, di pojok kanan lantai ada seonggok rumput kering, tampaknya di sinilah sarang kawanan begal itu.

Setelah membentak dan menyuruh Boh-to-Siang-jin dan Kiam-eng masuk ke ruang pagoda, lalu ke dua bandit menggembok pintu kamar dan ditinggal turun lagi.

Kiam-eng coba pasang telinga, terdengar ke dua bandit tadi sudah sampai di bawah pagoda, lalu ia berkata perlahan terhadap Boh-to-Siang-jin. "Bagaimana Siang-jin menurut pandanganmu?"

Dengan tersenyum padri tua itu menjawab "Tampaknya memang betul, cuma bikin susah Theng-wang- we dan kaum budaknya ... "

"Bilamana mereka adalah anak buah si baju hijau, paling lambat pada malam nanti si baju hijau sendiri pasti akan muncul untuk menemui Siang-jin" ujar Su-Kiam-eng. "Tatkala mana bolehlah Siang-jin minta dia membebaskan Theng-wang-we bertiga."

"Apakah dia mau?" kata Boh-to ragu.

"Mungkin mau, sebab beradanya Theng-wang-we bertiga di sini kan tidak berguna baginya," ujar Kiam- eng.

"Aku kira dia pasti takkan membebaskan Theng-wang-we, sebab sepulang Theng-wang-we di Tiang-an, bukan mustahil berita tentang diculiknya diriku akan segera tersiar."

"Betul juga, namun Siang-jin hendaknya berkukuh pada permintaanmu ini, apabila mereka tidak mau membebaskan Theng-wang-we, Siang-jin harus tegas menolak untuk menerjemahkan kitab pedang baginya."

"Apakah maksud Siau-si-cu karena kuatir sukar melindungi keselamatan Theng-wang-we bertiga?" tanya Boh-to-Siang-jin.

"Benar, sesudah Siang-jin menerjemahkan kitab, tentu dia akan turun tangan mencelakai kita. Waktu itu dengan sendirinya akan aku bawa Siang-jin untuk kabur. Tapi untuk membawa serta Theng-wang-we bertiga jelas sulit untuk aku lakukan sekaligus."

"Baik, begitu si baju hijau datang, segera akan aku ajukan permohonanku," kata Boh-to-Siang-jin.

Selagi Kiam-eng hendak bicara pula, tiba-tiba terdengar langkah dua orang menaiki tangga menuju ke atas, cepat ia mendesis, "Ssst, jangan bersuara, mereka datang!"

Segera Boh-to-Siang-jin duduk di atas onggokan rumput kering dengan sikap sedang bersemedi. Tidak lama, pintu kamar pagoda dibuka dari luar, yang masuk adalah si kepala penjahat itu.

Ia memandang sejenak terhadap Boh-to Siang-jin lalu bertanya, "Siang-jin, apakah engkau tidur?"

Perlahan Boh-to membuka mata dan menjawab dengan tersenyum, "Oo, tidak. Adakah sesuatu petunjuk Si-cu?"

"Ada suatu hal yang perlu aku beritahukan padamu," kata si kepala penjahat. "Mungkin kau sangka kami berenam ini kawanan begal biasa bukan?"

"Memangnya bukan?" Boh-to berlagak bodoh.

"Ya, kami memang bukan kawanan begal biasa," tutur orang itu.

"Meski kata-kata begal dan bandit berbeda, namun maknanya kan sama saja?" ujar Boh-to-Siang-jin. "Tapi kami pun bukan kaum bandit," tukas orang itu dengan tertawa.

"Oo, orang macam apakah kalian ini?" tanpa Siang-jin dengan lagak terbelalak bingung.

"Siapa kami ini selekasnya Siang-jin pasti akan tahu," ujar orang itu, "Sekarang biarlah aku perkenalkan dulu pemimpin kami kepadamu."

Sampai di sini, mendadak ia membalik tubuh dan berseru dengan hormat, "Silakan Pang-cu masuk!" Bayangan orang berkelebat di depan pintu, tahu-tahu Theng-wang-we melangkah masuk dengan tersenyum simpul.

Seketika Boh-to-Siang-jin dan Su-Kiam-eng sama melengong dan berbangkit sambil berseru, "Hei jadi ... jadi engkau ... Theng-wang-we?!"

Memang tidak salah, orang yang masuk ini benar-benar adalah Theng-wang-we alias Theng-lok-ie.

Hal ini sungguh mimpi pun tak terpikir oleh Boh-to-Siang-jin dan Su-kiam-eng. Tak tersangka biang keladi kawanan penculik mereka itu justru adalah Theng-wang-we yang mengundang Boh-to-Siang-jin untuk khotbah pada peresmian pemugaran Kui-goan-si ini.

Seketika Boh-to-Siang-jin dan Su-Kiam-ang hanya melongo saja dan tidak sanggup bicara.

Theng-wang-we tertawa dan langsung mendekat dan duduk di bangku, ucapnya dengan tertawa, "Silakan duduk, Siang-jin, duduk perkara segalanya biarlah nanti aku ceritakan padamu."

Boh-to-Siang-jin menghela napas panjang, ucapnya dengan tidak habis mengerti, "Jadi ... jadi engkau ... Theng-wang-we adalah pemimpin mereka berenam?"

"Betul, silakan Siang-jin duduk untuk bicara dengan baik-baik," sahut Theng-wang-we.

Boh-to-Siang-jin tetap memandangnya dengan terbelalak bingung, katanya pula, "Dan untuk ... untuk keperluan apakah kau tipu diriku ke sini?"

"Sama sekali aku tidak bermaksud jahat padamu, hendaknya Siang-jin jangan kuatir, silakan duduk dulu!"

Perlahan Boh-to-Siang-jin duduk dan bertanya pula dengan tidak mengerti, "Bukankah Theng-wang-we mengundangku kemari untuk meresmikan pembukaan kembali Kui-goan-si?"

"Bukan, pada hakikatnya tidak ada Kui-goan-si segala," jawab Theng-wang-we tertawa.

Boh-to-Siang-jin berlagak marah dan mengomel, "Lantas, untuk maksud apa kau culik diriku ke sini?"

Theng-wang-we berdehem, lalu berucap, "Pertama, ingin aku beritahukan kepadamu bahwa aku bukanlah Theng-wang-we yang asli, Theng-wang-we sudah meninggal beberapa bulan yang lalu."

"Oo, jadi kamu bukan Theng-wang-we?!" Boh-to-Siang-jin menegas dengan melongo.

"Betul, Theng-wang-we yang asli sudah aku bunuh!" kata Theng-wang-we gadungan dengan mengangguk.

"Hahh! Tapi wajahmu wajahmu mirip dengan Theng-wang-we asli?"

"Wajah kan dapat dirias, sebab aku telah memakai kedok kulit wajah Theng-wang-we asli Setelah aku

katakan semua ini, sekarang tentu Siang-jin paham duduknya perkara, bukan?" "Untuk apa kau bunuh Theng-wang-we?" Boh-to-Siang-jin berlagak gusar.

"Sebab dia seorang hartawan jahat, orang baik munafik," tutur Theng-wang-we gadungan "Di satu pihak dia berlagak sosial, suka membantu yang miskin dan gemar menyumbang untuk amal, namun di lain pihak dia melepas uang panas, menjadi rentenir terhadap kaum miskin. Manusia semacam ini tidak ada gunanya hidup di dunia ini."

"Biarpun Theng-wang-we bukan manusia baik kamu kan juga tidak berhak membunuhnya. Jangan- jangan caramu membunuh Theng-wang-we juga ada maksud tujuan tertentu."

"Aha, memang betul!" seru Theng-wang-we gadungan dengan tergelak. "Sebab utama aku bunuh Theng- wang-we adalah karena aku ingin menetap selamanya di kota Tiang-an ini".

"Menetap di kota Tiang-an ini sebagai Theng wang-we?" Boh-to-Siang-jin menegas. "Tepat, sebab ada kepentinganku untuk melakukan pergantian tubuh ini." Dengan sinar mata tajam Boh-to-Siang-jin menatap orang, katanya pula, "Aku kira kamu ini pasti seorang pelarian dari penjara?"

"Tidak, kalau cuma pelarian penjara tidak perlu berbuat demikian". "Habis orang macam apakah dirimu ini sebenarnya?" tanya Boh-to. "Pernahkah Siang-jin dengar istilah Thian-ong-pang?"

"Tidak pernah. Apa artinya Thian-ong-pang?" Boh-to-Siang-jin menggeleng.

"Siang-jin bukan orang persilatan, dengan sendirinya tidak tahu apa itu Thian-ong-pang. Ya, pendek kata, Thian-ong-pang adalah sebuah organisasi yang memimpin dunia persilatan, dan aku inilah pemimpin besar organisasi itu".

"Sebagai kepala sebuah organisasi sebesar itu, sepantasnya kan ada nama dan ada she?" ucap Boh-to dengan memandang lekat.

"Tentu saja," sahut Theng-wang-we gadungan Thian-ong-pang-cu. "Cuma namaku tidak pernah kau ketahui, sebab biarpun aku beritahukan namaku juga tidak ada faedahnya bagimu".

"Baiklah, sekarang tentunya boleh kau katakan maksud tujuanmu menculik diriku ke sini?" tanya Boh-to.

"Betul," jawab Thian-ong-pang-cu. "Sebabnya aku undang Siang-jin ke sini adalah agar kau mau menerjemahkan sedikit bahasa Thian-tiok".

"Untuk menerjemahkan bahasa Thian-tiok kenapa mesti menculik diriku ke sini?" ujar Boh-to kurang senang.

"Sebab bila Siang-jin bekerja di sini akan terjamin keamanannya," tutur Thian-ong-pang-cu. "Sungguh aku tidak paham keteranganmu ini," Boh-to-Siang-jin menggeleng.

"Baiklah, biarkan aku jelaskan. Yang ingin aku minta diterjemahkan adalah sejilid kitab ilmu pedang. Padahal saat ini tidak sedikit tokoh persilatan yang ikut mengincar kitab pedang ini, maka tidak dapat aku bawa kitab itu kepada Siang-jin untuk diterjemahkan di Tai-bin-si, sebab hal itu akan berarti mendatangkan bahaya bagimu".

Boh-to-Siang-jin terdiam sejenak, katanya kemudian, "Akan tetapi lebih baik Si-cu mengirim pulang diriku saja ke Tai-bin-si".

"Jadi Siang-jin menolak menerjemahkan kitab bagiku?" tanya Thian-ong-pang-cu.

"Ya, sebagai orang beribadat tidak dapat aku bantu kejahatan," jawab Boh-to dengan tenang.

Thian-ong-pang-cu tertawa, "Aku harap Siang-jin jangan menolak, asalkan Siang-jin mau menerjemahkan bagiku, aku rela menyumbangkan seribu tahil emas bagi biara kalian dan juga akan memugar biara kuno ini."

"Omitohud! Budha takkan suka transaksi semacam ini," kata Boh-to.

"Hendaknya Siang-jin mempertimbangkannya, sebab sudah menjadi tekadku untuk menyelesaikan urusan ini tanpa pikirkan apa yang harus aku lakukan."

"Itu kan keinginanmu sendiri yang muluk-muluk!" jawab Boh-to dengan dingin.

"Jadi apa pun juga Siang-jin tidak bersedia menerjemahkan kitab pedang bagiku?" Thian-ong-pang-cu menegas dengan tegas.

Boh-to mengangguk, "Betul, tidak dapat aku cemarkan ibadah suci yang telah aku tunaikan selama hidup ini."

"Sekalipun harus mengorbankan beratus jiwa penghuni Tai-bin-si juga tetap Siang-jin tak mau membantuku?"

"Apa katamu?" Boh-to-Siang-jin menegas dengan terkejut dan juga gusar. Dengan ketus Thian-ong-pang-cu menjawab, "Asalkan Siang-jin menjawab satu kata 'tidak' saja maka segenap penghuni Tai-bin-si akan kau temukan binasa di tengah kobaran api!"

"Sebab musabab terus berputar, hukum karma takkan berhenti, jika si-cu berani membunuh orang tak berdosa, akhirnya pasti akan mendapat ganjaran setimpal, harap si-cu suka mempertimbangkan secara masak".

"Hm, kalau kau kira aku cuma main gertak saja, bagaimana kalau sekarang juga aku bunuh satu di depanmu?!" ancam Thian-ong-pang-cu.

Bicara sampai di sini, ia berpaling dan berkata kepada penjahat yang menjadi pemimpin penculik tadi, "Nomor satu dengarkan perintah!"

"Orang itu menjawab dengan hormat, "Hamba siap!"

"Seret ke luar hwesio cilik ini dan bunuh dia! perintah Thian-ong-pang-cu sambil menuding Su-Kiam-eng.

Orang itu mengiakan dan melangkah ke depan, sekali jambret leher baju Su-Kiam-eng terus diseret ke luar.

Kiam-eng berlagak ketakutan dan meronta-ronta, teriaknya "Ampun ... tolong! Ada perampok hendak membunuh orang, tolong ... "

Kontan orang itu menghadiahi Kiam-eng dengan tamparan dan membentak, "Diam! Buat apa berkaok- kaok? Supaya kau tahu, sampai kerongkonganmu bejat juga takkan didengar orang!"

Sembari bicara ia terus menyeret Kiam-eng ke luar.

Boh-to berlagak kuatir dan juga gusar, ia melototi Thian-ong-pang-cu dengan sikap murka, habis itu mendadak ia berlagak menyerah, ia menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah, hendaknya kau lepaskan dia ke sini!"

"Jadi Siang-jin sudah mau?" jengek Thian-ong-pang-cu.

"Ya, akan aku terjemahkan kitab ini bagimu," sahut Boh-to-Siang-jin dengan lesu.

Segera Thian-ong-pang melongok ke luar kamar dan berseru, "Nomor satu, bawa dia kembali sini!"

Sementara itu Su-Kiam-eng sudah diseret orang itu ke tingkatan ke lima, demi mendengar sang pang- cu, segera Kiam-eng diseret kembali lagi ke atas.

Kiam-eng berlagak seperti anak kecil yang ketakutan, ia sembunyi di belakang Boh-to-Siang-jin dengan gemetar.

Boh-to merangkulnya dan menghiburnya, "Jangan takut Ngo-liau, urusan sudah beres!"

Thian-ong-pang-cu lantas mengeluarkan sebuah medali emas dan diserahkan kepada Boh-to-Siang-jin katanya dengan tertawa, "Nah, barang semacam inilah yang aku minta diterjemahkan Siang-jin, silakan memeriksanya dulu!"

Boh-to mengamat-amati medali emas itu, lalu membaca perlahan, "Pedang bergerak ... cepat membawa angin ... "

Begitulah dengan penuh perhatian Thian-ong-pang-cu mengikuti apa yang disuarakan Boh-to-Siang-jin itu terkadang ia pun manggut-manggut tanda dapat meresapi makna daripada apa yang diuraikan padri tua itu.

" ... berat badan dibuat ringan, gesit serupa kera ... bagai harimau mendekam ... Nah, apakah sudah cukup?" demikian akhirnya Boh-to bertanya.

"Apakah sudah habis?" tanya Thian-ong-pang-cu. "Belum, masih ada sebagian," jawab Boh-to.

"Baiklah, Siang-jin tidak perlu membaca lagi, di laci meja ada alat tulis, silakan Siang-jin mulai menerjemahkannya saja.

"Tadi Si-cu bilang medali emas itu seluruhnya berjumlah beberapa biji?" "Ada 180 biji, yang aku pegang cuma 178 biji."

"Oo, lantas ke mana perginya yang dua biji itu ?" tanya Boh-to.

Dengan suara geram Thian-ong-pang-cu menjawab, "Dua biji yang lain telah dicuri oleh seorang maling cilik, hmm ... "

Jika Si-cu tidak dapat menemukan kembali ke dua biji medali emas itu, biarpun kami dapat aku terjemahkan seluruh ke-178 biji medali ini kan tidak ada gunanya, betul tidak?"

"Tidak bisa jadi dari ajaran ke-178 jurus ilmu pedang ini dapat aku raba bagaimana cara ke dua jurus yang hilang itu," ujar Thian-ong-pang-cu, "Pendek kata, engkau jangan ikut campur urusan ini, cukup kau terjemahkan saja sebaik-baiknya."

"Malam ini kira-kira dapat aku terjemahkan isi enam biji medali, mulai esok, jika satu hari aku selesaikan 10 biji, maka seluruhnya diperlukan antara 17 hari. Padahal aku pamit hanya akan tinggal tiga hari di Kui-goan-si, bila lebih dari tiga hari tidak pulang, mungkin akan ... "

"Tidak menjadi soal," sela Thian-ong-pang-cu "Dapat aku kirim orang untuk memberitahukan kepada mereka bahwa Siang-jin ingin tinggal beberapa hari lebih lama di Kui-goan-si, dengan demikian tentu mereka takkan gelisah".

"Baiklah, harap Si-cu segera mengirim kabar kepada mereka," kata Boh-to.

Lalu Thian-ong-pang-cu mengeluarkan lagi lima biji medali emas dan ditaruh di atas meja katanya, "Siang-jin dan Siau-su-hu ini boleh silakan bermalam di sini, makan minum setiap hari tentu akan aku suruh kirim kemari. Jika Siang-jin ada keperluan lain boleh saja berseru ke bawah pagoda, tapi dilarang turun agar tidak menimbulkan salah paham ... Nah, sekarang aku pergi dulu, sebentar aku datang lagi."

Habis berucap, dengan sopan ia memberi salam kepada Boh-to-Siang-jin, lalu tinggal pergi bersama anak buahnya itu.

Kiam-eng menyaksikan pintu kamar digembok dari luar, namun tidak terdengar suara langkah mereka menuruni pagoda, ia tahu mereka tentu masih berdiri di luar pintu. Maka ia menuding pintu untuk memberi tahu bahwa Thian-ong-pang-cu masih berada di luar. Kemudian ia sengaja berseru, "Ai, sungguh sangat menakutkan sekali!"

Boh-to-Siang-jin pura-pura mengomel, "Ngo-liau, kamu adalah orang beribadat, kalau bicara juga harus sopan"

"Ya, mohon ampun jika kelakuan kurang pantas," sahut Kiam-eng cepat. "Namun ... namun benarkah Siang-jin hendak menerjemahkan kitab pedang baginya?"

"Tentu, demi jiwa beratus orang penghuni Tai-bin-si, apa dayaku bila tidak aku laksanakan kehendaknya?" ujar Boh-to-Siang-jin.

"Selesai Siang-jin menerjemahkan baginya, apakah dia akan membebaskan kita?"

"Mudah-mudahan begitu. Kita tidak paham ilmu silat, tentunya dia takkan membikin susah kita". "Ai, semoga Budha melindungi keselamatan kita ... "

"Sudahlah, dia bilang di laci ada alat tulis lekas kau keluarkan!"

Kiam-eng mengiakan dan coba menarik laci lalu dikeluarkannya alat tulis, sebuah penggosok tinta, kertas pun dibentang di meja, sambil bekerja sembari memperhatikan suara di luar. Terdengar langkah Thian- ong-pang-cu telah menuruni tangga, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, "Keparat! Biarpun kelicinanmu melebihi siluman rase pun sekali ini juga kena aku kibuli, coba ke mana akan kau lari nanti?!"

Melihat alat tulis sudah siap, Boh-to-Siang-jin lantas duduk dan memberi tanda menuding ke pintu, maksudnya bertanya apakah orang sudah pergi? Kiam-eng mengangguk dan menjawab lirih, "Sudah pergi, bolehlah Siang-jin mulai menerjemahkannya".

"Aku tidak paham ilmu silat, ingin membuat palsu juga sulit cara bagaimana sebaiknya aku salin kitab bahasa Hindu ini?" tanya Boh-to dengan perlahan.

"Sangat mudah." kata Kiam-eng. "Boleh Siang-jin menerjemahkan keras dengan lunak, kalau cepat kau tulis lambat, dan begitu pula sebaliknya. Dengan begini pun sudah cukup membuat dia pusing selamanya."

"Jika begitu, dengan cara bagaimana Siau-si-cu akan mencuri isi kitab pusaka ini?" tanya Boh-To ragu.

Kiam-eng berkerenyit kening, jawabnya, "Ya, memang serba susah, kalau menyalin satu kopi lain mungkin akan diketahuinya. Aku kira akan lebih baik pakai daya ingat untuk menghafalkannya secara paksa".

"Melihat tulisan di medali emas ini, setiap potong medali dapat diterjemahkan dua-tiga ratus huruf. Katakanlah tiga ratus huruf, dari ke-178 potong medali itu akan berjumlah 50 ribu huruf apakah Siau-si- cu sanggup menghafalkan sebanyak ini?"

"Setiap hari menghafalkan tiga ribu huruf rasanya masih sanggup," kata Kiam-eng "Pula Siang-jin menerjemahkannya langsung, tentu mempunyai kesan cukup mendalam dan tentu dapat membantuku mengingatnya sebagian, betul tidak?"

"Baik, memang setiap hari aku selalu bergaul dengan kitab, untuk menghafalkan satu kitab pedang mungkin tidak menjadi soal. Cuma sehabis aku terjemahkan ke-178 medali emas ini, mungkin Thian- ong-pang-cu itu pun akan segera membunuh kita. Tatkala itu apakah Siau-si-cu ada akal untuk menyelamatkan diri?"

"Berada di puncak pagoda ini memang sangat sulit untuk kabur, apalagi harus aku bawa Siang-jin," ujar Kiam-eng setelah termenung sejenak. "Begini saja selang dua hari lagi hendaknya Siang-jin pakai alasan tidak biasa tinggal di puncak pagoda ini dan minta dia memindahkan kita ke ruang tengah di bawah, tatkala itu dapatlah aku mencari akal untuk meloloskan diri dengan aman."

Boh-to mengangguk, "Baiklah, sekarang boleh aku mulai menerjemahkan".

"Ia ambil sepotong medali emas dan diamati, lalu pegang pensil dan dicelup pada tinta bak yang telah digosok Kiam-eng, katanya, "Huruf yang terukir di medali pertama ini terdiri dari sebuah pantun, agaknya tidak ada sangkut-paut dengan ilmu permainan pedang, biarlah aku terjemahkan menurut apa adanya."

Habis itu ia lantas mulai menulis.

Setengah jam kemudian, berturut Boh-to selesai menerjemahkan tulisan pada tiga buah medali sesuai petunjuk Su-Kiam-eng tadi, ia salin tulisan itu secara terbalik, kalau di situ disebut "lunak" ia terjemahkan menjadi "keras," kalau dikatakan "kuat", ia tulis menjadi "lemah" dan begitu seterusnya.

Pada waktu ia hendak istirahat, kebetulan Thian-ong-pang-cu dan seorang anak buahnya datang membawakan santapan.

Thian-ong-pang-cu membawa sebuah lampu minyak, lampu dicangkolkan di dinding, lalu bertanya dengan tertawa. "Sudah berapa banyak halaman terjemahanmu?"

Boh-to-Siang-jin menyodorkan tiga helai hasil terjemahannya dan menjawab, "Baru sekian, silakan si-cu membacanya".

Thian-ong-pang-cu menerima hasil terjemahan itu dan dibaca sekadarnya, lalu berkata dengan manggut- manggut, "Ehm, bagus, sangat bagus terjemahan Siang-jin".

Lalu ia simpan ke tiga lembar salinan ilmu pedang bersama ke tiga buah medali emas, dengan tertawa ia tanya pula, "Agaknya ilmu pedang ini tidak bernama, bukan?"

"Apakah Si-cu bermaksud memberi judul padanya" tanya Boh-to.

"Betul, mengingat ilmu pedang itu berjumlah 180 jurus pula ada sangkut paut dengan agama Budha, maka boleh aku beri nama sebagai Lo-ha-kiam-hoat saja, bagaimana pendapat Siang-jin?" "Aku tidak dapat memberi komentar," sahut Boh-to.

"Silakan Siang-jin bersantap, habis makan hendaknya terjemahkan pula tiga buah medali yang lain sesuai rencana, lalu boleh istirahat," kata Thian-ong-pang-cu.

"Jadi Si-cu hendak membiarkan kami berdua bermalam juga di sini?" tanya Boh-to dengan pandangan dingin.

"Ya, sebentar akan aku suruh antara dua buah selimut," jawab Thian-ong-pang-cu.

"Sebenarnya aku harap diperbolehkan bermalam di ruang tengah bawah sana bilamana Si-cu tidak kuatir aku lari ... "

"Haha, biarpun Siang-jin ingin lari juga sulit lolos," tukas Thian-ong-pang-cu dengan tergelak. "Bahwa sengaja aku taruh Siang-jin di sini bukan lantaran kuatir Siang-jin melarikan diri melainkan demi keselamatan".

"Sungguh aku tidak mengerti ucapanmu ini?" tanya Boh-to.

"Singkat kata, aku kuatir Siang-jin akan dibunuh orang," ujar Thian-ong-pang-cu.

"Huh, selamanya aku tidak pernah bertengkar dengan siapa pun, memangnya siapa yang akan membunuhku?"

"Tentu ada, yaitu orang yang hendak merintangi Siang-jin supaya tidak menerjemahkan kitab pusaka ini bagiku".

"Ah, tidak perlu Si-cu berpikir macam-macam," jengek Boh-to tetap tidak percaya. "Bahwa Si-cu membawa aku ke sini kan tidak diketahui oleh orang lain?"

"hal ini sulit dipastikan." kata Thian-ong-pang-cu. "Justru ada seorang tua bangka senantiasa mengikuti jejakku, bisa jadi semua tindakanku ini telah diikuti olehnya dengan jelas ... "

"Siapakah dia?" tanya Boh-to.

Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin ... Pernahkah Siang-jin mendengar nama orang ini?" Boh-to menggeleng, "Tidak pernah. Apakah ilmu silatnya lebih tinggi daripadamu?"

"Huh," jengek Thian-ong-pang-cu. "Paling-paling dia cuma terhitung nomor lima atau nomor enam di antara beberapa tokoh utama dunia persilatan. Memang sudah tergolong tokoh terkemuka tapi kalau dibandingkan diriku, paling banter dia cuma mampu bertahan seratus jurus".

"Jika begitu, mengapa Si-cu mesti gentar terhadap dia?"

"Soalnya, selama ini dia tidak mau muncul secara terang-terangan untuk menemuiku, dia adalah orang yang terkenal paling licin dan licik di dunia persilatan, sejauh ini dia hanya mengincar ke-180 patung emas yang aku dapatkan itu, ketika dia tahu bahwa ... "

"Eh, nanti dulu, apa itu yang disebut ke-180 patung emas?" potong Boh-to Siang-jin.

Seketika Thian-ong-pang-cu merasa terlampau banyak omong, ia tidak melanjutkan, katanya dengan tertawa, "O, tidak. Mungkin Siang-jin sudah lapar, silakan makan saja, aku tidak mengganggu lagi".

Sampai di sini ia memberi salam dan lantas mengundurkan diri bersama anak buahnya, pintu kamar digembok pula dari luar dan ditinggal turun ke bawah.

Boh-to saling pandang dengan Su-Kiam-eng dengan tertawa, keduanya lantas duduk dan makan. Sembari makan Kiam-eng pun menghafalkan kembali kunci ilmu pedang yang diterjemahkan Boh-to- Siang-jin itu.

Setelah menghafalkan dua-tiga kali, rasanya hafal di luar kepala, berbareng juga dapat memahami maknanya, maka tanpa terasa ia bergerak menurut keterangan yang ditulis pada medali emas itu.

Dengan sendirinya Boh-to-Siang-jin tahu anak muda itu sedang menirukan gerak ilmu pedang yang disalinnya itu, ia coba tanya lirih, "Bagaimana?" "Betul, ini memang semacam permainan pedang maha sakti," jawab Kiam-eng dengan prihatin. "Melulu tiga jurus pembukaan ini saja mencakup banyak gerak perubahan yang ajaib."

"Apakah tanpa menirukan gerak sikap ke-180 patung emas pun Siau-si-cu sanggup menyelami ilmu pedang yang dimaksud?" tanya Boh-to.

"Ya, sejak umur sepuluh te-cu sudah berlatih ilmu pedang dan sampai sekarang sudah sepuluh tahun lamanya. Banyak ilmu pedang hanya aku baca kunci pengantarnya saja sudah dapat aku pahami intisari selanjutnya,"

"Dan bagaimana dengan Thian-ong-pang-cu itu?" tanya Boh-to. "Tentu ia pun begitu," jawab Kiam-eng.

"Jika begitu, dalam ke tiga helai salinanku tadi telah aku beri beberapa kalimat yang tidak beres, mungkin akan diketahui olehnya?"

"Tidak, tentu dia akan berpikir lebih jauh sehingga bingung, inilah penyakit orang pintar umumnya". "Setelah Siau-si-cu berhasil meyakinkan Lo-han-kiam-hoat ini, dapatkah kau kalahkan dia?" "Mungkin dapat," jawab Kiam-eng sembari berpikir. "Cuma dia sangat ulet dan kuat ... "

Selagi hendak bicara pula, tiba-tiba terdengar langkah orang menaiki tangga, cepat ia memberi tanda kepada Boh-to-Siang-jin, lalu angkat mangkuk dan berlagak lagi makan.

Sebentar kemudian pintu kamar pun terbuka Theng-Hok membawa dua buah selimut dan dilemparkan ke onggokan rumput kering, lalu putar balik hendak pergi lagi.

"Eh, nanti dulu, Theng-Hok ... " panggil Boh-to-Siang-jin.

Theng-Hok putar balik lagi, jawabnya sambil hormat, "Siang-jin ada pesan apa?"

Sambil mengamati orang Boh-to bertanya dengan tertawa, "Kamu ini Theng-Hok asli atau gadungan?" "Coba Siang-jin menerka sendiri," Theng-Hok tertawa.

"Aku kira kamu ini palsu".

"Ya, tetapi kedok kulit yang aku pakai asli."

"Jika demikian, tampaknya segenap keluarga Theng-wang-we telah kalian bunuh?"

Theng-Hok hanya tersenyum tanpa menjawab selang sejenak baru berkata pula. "Adakah sesuatu ingin Siang-jin minta aku kerjakan?"

Boh-to menaruh mangkuk dan menuding peralatan makan di atas meja, katanya, "Kami sudah makan kenyang, ambil saja semua ini".

Theng-Hok mengiakan, dikukutnya semua peralatan makan itu dan dibawa pergi.

Boh-to berbangkit dan mondar-mandir sekitar, lalu berkata perlahan terhadap Su-Kiam-eng. "Kau lihat mungkinkah Thian-ong-pang-cu menyembunyikan ke-180 patung emas itu di rumah Theng-wang-we?"

Tersentak pikiran Kiam-eng oleh pertanyaan Boh-to-Siang-jin itu, ia mengangguk dan menjawab, "Ya, bukan mustahil"

"Apakah kamu ingin merebut kembali ke-180 patung emas itu?"

"Tentu saja ingin. Cuma urusan ini bukan yang terpenting sekarang, yang perlu sekarang adalah cara bagaimana mencuri kitab pusaka, lalu berusaha menolong nona Ih dan Wi-lo-cian-pwe".

"Saat ini musuh belum tahu kamu ini Su-Kiam-eng, dapatkah kau robohkan dia selagi dia tidak siap siaga?" "Hal ini pun sudah aku pertimbangkan dan terasa kurang sip, sebab biarpun dia kita tangkap di sini karena Wi-lo-cian-pwe dan nona Ih masih berada dalam cengkeramannya, ia yakin te-cu pasti tidak berani membunuh dia, maka dia pasti menolak untuk menyerah. Bahkan dia masih ada delapan orang anak buah, untuk kabur dari sini pun tidak mudah bagi kita. Sebaliknya kalau sergapanku gagal, maka akibatnya susahlah untuk dibayangkan".

Boh-to-Siang-jin pikir ucapan anak muda itu cukup beralasan, ia duduk kembali di depan meja dan mulai menulis lagi.

Sembari menggosok tinta bagi padri itu, diam-diam Kiam-eng pun menghafalkan kalimat terjemahan Boh-to itu. Oleh karena setiap kalimatnya sekarang sama berisi, maka tidak sulit baginya untuk menghafalkannya.

Satu-dua jam berlalu pula, tulisan pada medali emas ke empat, ke lima dan ke enam sudah berhasil disalin oleh Boh-to-Siang-jin.

Dengan sendirinya, seperti ke tiga medali yang pertama, dalam terjemahan berikut ini pun diberi sedikit "penyakit" oleh Boh-to.

Setelah menghafalkan beberapa kali, Kiam-eng merasa sudah paham benar di luar kepala tulisan kunci itu, maka ia lantas melongok ke luar jendela dan berseru ke bawah pagoda, "Wahai, Thian-ong-pang-cu!"

Malam sudah gelap keadaan di bawah pagoda gelap gulita, tapi baru selesai Kiam-eng berteriak, segera di tengah kegelapan ada orang menjawab "Ada apa?"

Dari suaranya, yang menanggapi itu jelas adalah Theng-Hong.

Kiam-eng berseru pula, "Siang-jin sudah selesai menerjemahkan lagi yang tiga helai, lekas suruh Pang- cu kalian mengambilnya, kami akan tidur."

"Baik, segera aku datang!" jawab Theng-Hok.

Tidak lama pintu terbuka dan Theng-Hok melangkah masuk, Boh-to-Siang-jin menyerahkan tiga helai terjemahan dari tulisan ke tiga medali emas itu sambil bertanya, "Kemanakah pang-cu kalian?"

Dengan hati-hati Theng-Hok menerima ke tiga helai salinan ilmu pedang itu dan menjawab, "Pang-cu kami lagi duduk semadi di ruang bawah".

"Apakah sudah mulai berlatih ilmu pedang sakti ini?" tanya Boh-to tersenyum. "Ehm, mungkin begitulah," Theng-Hok tertawa.

"Terhadap ilmu silat sama sekali aku tidak paham, setelah menerjemahkan ilmu pedang ini bagi pang-cu kalian, hatiku jadi tergelitik untuk melihat betapa hebat ilmu pedang ini. Besok hendak aku minta pang- cu kalian agar sudi memainkannya untuk menambah pengalamanku".

"Baik, tentu akan aku sampaikan kehendak Siang-jin ini," kata Theng-Hok sambil tinggal pergi.

Boh-to-Siang-jin tampak letih, ia duduk di onggokan rumput kering dan berkata, "Sudah jauh malam, boleh kita istirahat."

Esoknya Boh-to menerjemahkan lagi sepuluh buat medali emas, hubungan ke dua pihak tambah akrab. Cuma mungkin Thian-ong-pang-cu belum berhasil memahami Lo-han-kiam-hoat, maka sepanjang hari dia hanya berkerenyit kening dan tenggelam dalam lamunannya.

Hari ke tiga, kembali Boh-to menerjemahkan lagi sepuluh buah medali emas, Thian-ong-pang-cu sendiri yang datang mengambil hasil salinan itu. Tidak lama kemudian, mendadak ia datang lagi dengan marah- marah, bentaknya sembari menuding Boh-to, "Keledai gundul tua bangka, rupanya ku sengaja main gila

... "

Diam-diam Bo-to terkejut, sedapatnya ia berlagak senang dan bertanya, "Eh Si-cu ini kenapa."

"Kamu sengaja salah menerjemahkan kunci pelajaran ilmu pedang ini, memangnya kau kira aku tidak tahu?" omel Thian-ong-pang-cu.

Boh-to berlagak kaget dan menjawab, "Oo, maksudmu aku salah menerjemahkan?" Thian-ong-pang-cu melemparkan ke-26 helai salinan kitab ke atas meja, katanya dengan bengis "Aku bilang kamu sengaja menerjemahkannya dengan keliru".

Boh-to menyebut budha dan menjawab, "Aha apakah si-cu tidak salah sangka? Sebelum ini memang sudah berpuluh tahun tidak pernah aku baca bahasa Thian-tiok, bisa jadi hasil terjemahanku itu kurang tepat menggambarkan maknanya. Tapi bila dikatakan aku sengaja menerjemahkan dengan salah, sungguh ini tuduhan yang berat".

"Hm tidak perlu kau sangkal," omel Thian-ong-pang-cu. "Aku tahu benar kamu sengaja menerjemahkan dengan salah agar aku gagal meyakinkan ilmu pedang ini".

"Apakah Si-cu dapat menunjukkan di mana, terjemahanku yang sengaja aku buat salah?" tanya Boh-to.

Thian-ong-pang-cu tidak menjawab langsung dengan mata melotot ia berkata dengan beringas "Pokoknya kamu mengaku atau tidak?"

Dari ucapan ini Boh-to tahu orang tidak yakin tahu kesengajaan dirinya membuat salah terjemahan itu, maka dengan tersenyum ia menjawab "Aku merasa tidak pernah sengaja berbuat salah cara bagaimana Si-cu menyuruhku mengakuinya?"

"Sudah hampir 60 tahun aku belajar segala macam ilmu pedang di dunia ini, betapa hebat dan aneh semacam ilmu pedang, sekali pandang dapat aku pahami. Sekarang hasil terjemahan itu ternyata tidak dapat aku latih, kalau bukan sengaja kau bikin salah, mustahil aku tidak dapat memahaminya!"

"Sama sekali aku tidak mengerti ilmu silat, mana aku berani membuat salah apa yang aku tulis jangan- jangan ilmu pedang ini memang sangat hebat dan terlalu dalam?"

"Omong kosong!" Thian-ong-pang-cu meraung gusar. "Betapa hebat dan mendalamnya sesuatu ilmu pedang juga sukar menyulitkanku".

"Di dunia ini kan tidak cuma aku saja yang mahir bahasa Thian-tiok," kata Boh-to-Siang-jin. "Jika Si-cu tidak percaya padaku, silakan mencari orang pandai yang lain kenapa mesti marah-marah padaku".

"Tidak, aku tidak mencari orang lain," ucap Thian-ong-pang-cu tegas, "Akan tetapi kamu harus menerjemahkannya bagiku sebaik-baiknya dan sejujurnya.

"Maaf, jika Si-cu minta aku terjemahkan, untuk itu harus percaya penuh padaku, kalau tidak tentu aku pun tidak berani menulis lagi".

Thian-ong-pang-cu mengeluarkan sebuah bungkusan yang cukup berat dan ditaruh di meja, katanya, "Inilah ke-26 potong medali yang telah kau salin itu, boleh coba kau teliti kembali, coba barangkali ada kalimat-kalimat yang tidak tepat dan hendaknya dikoreksi".

Habis itu, dengan marah-marah ia tinggal pergi.

Kiam-eng mendekati pintu dan pasang telinga, terdengar orang sudah menuruni pagoda itu, berubah ia berpaling dan menjulur lidah terhadap Boh-to-Siang-jin, ucapnya lirih, "Wah, berbahaya, aku sangka apa yang dilakukan Siang-jin telah diketahui olehnya".

"Jelas dia telah menaruh curiga, maka berlagak marah-marah untuk memancing apakah benar aku sengaja menerjemahkan dengan salah ... "

"Ia minta Siang-jin menelitinya kembali, apakah Siang-jin perlu sembarangan mengoreksi beberapa huruf di antaranya?" tanya Kiam-eng.

"Tidak perlu, nanti kalau dia datang lagi akan aku katakan tidak menemui sesuatu kesalahan."

Kiam-eng coba menuju ke jendela dan melongok suasana malam di luar, sekilas dilihatnya di kejauhan hutan sebelah kiri biara sana ada bayangan orang berkelebat terus menghilang, tergerak hati Kiam-eng, pikirnya, "Eh, apakah itu anak buah Thian-ong-pang-cu?"

Ia coba melongok ke jendela lain, terlihat seorang anak buah Thian-ong-pang-cu sedang meronda di bawah, maka dapat dipastikan bayangan tadi pasti bukan orang Thian-ong-pang-cu. Diam-Diam ia bergirang, cepat ia mendekati Boh-to-Siang-jin dan membisiknya, "Siang-jin, ada kedatangan orang!" "Siapa?" tanya Boh-to melengong.

"Entah, baru saja aku lihat sesosok bayangan orang berkelebat lewat di hutan sana. jelas orang itu bukan anak buah Thian-ong-pang-cu".

"Dari mana kau tahu orang itu bukan anggota Thian-ong-pang-cu?" tanya Boh-to.

"Kemarin dan semalam Thian-ong-pang-cu hanya menugaskan seorang berjaga di bawah pagoda, anak buahnya yang lain sama berada di ruang pendopo biasa. Keadaan malam ini juga sama, yang berjaga di bawah saat ini adalah si Theng-An palsu, maka aku yakin bayangan yang aku lihat itu pasti bukan anggota Thian-ong-pang".

"Habis, siapakah dia?"

"Bisa jadi Sam-bi-sin-ong-Pek-li-Pin".

"Jika benar dia, lalu apa yang akan dilakukan Siau-si-cu?" tanya Boh-to.

"Mungkin Sam-bi-sin-ong sudah tahu Siang-jin sedang dipaksa menerjemahkan kitab bagi Thian-ong- pang-cu, maka dia pasti akan ingin naik ke sini untuk melihat. Biar aku bantu dia naik kemari."

"Untuk apa kau bantu dia naik ke sini?"

"Akan aku minta dia memberitahukan guruku, bilamana guruku tahu Thian-ong-pang-cu berada di sini, tentu beliau akan mengajak bala bantuan kemari untuk mengerubut dan menangkapnya".

"Apakah Sam-bi-sin-ong mau bekerja sama dengan kita?"

"Seyogianya mau, sebab dengan tenaga seorang saja pada hakikatnya dia bukan tandingan Thian-ong- pang-cu."

"Cara bagaimana akan kau bantu dia naik ke sini?" tanya Boh-to Siang-jin pula.

"Akan aku pancing Theng-an yang berjaga di bawah itu untuk mengobrol, kesempatan itu mungkin akan digunakan Sam-bi-sin-ong untuk menyusup ke atas sini.

"Pintu pada setiap tingkat pagoda ini sama digembok, cara bagaimana dia dapat merambat ke atas?"

"Jika bayangan orang itu benar Sam-bi-sin-ong adanya, dengan kung-fu nya yang sudah aku kenal, aku yakin tidak sulit baginya untuk menggunakan Pia-hou-kang (ilmu cecak merambat) dan naik ke sini."

"Baiklah, jika begitu lekas kau coba".

Kiam-eng lantas mendekati jendela yang rapat menghadap biara dan coba melongok ke bawah, dilihatnya Theng-An sudah mengitar ke situ segera ia menegur, "Hai, selamat malam, Theng-An!"

Mendengar suara teriakan itu, Theng-An mendongak dan mengenali "si hwe-sio cilik Ngo-liau" Ia menjawab, "Ada urusan apa, hwe-sio cilik?"

"Mengapa engkau terus menerus mengitari pagoda?" tanya Kiam-eng dengan tertawa. "Masa kamu tidak mengerti?" jawab Theng-An.

"Ya, aku tidak mengerti."

"Aku lagi menjaga keselamatan kalian. Nah, mengerti sekarang?" "Tidak mengerti, coba katakan lebih jelas!"

"Sudahlah kalau tidak mengerti. Lekas kau tidur saja!" omel Theng-An.

"Aku tidak dapat tidur, maka ingin mengobrol iseng denganmu ... Eh, senjata yang tergantung di pinggangmu itu pedang bukan?"

"Betul, masa kamu tidak pernah melihat pedang?"