Rahasia 180 Patung Emas Jilid 24

 
Jilid 24 

It-sik-sin-kai tertawa, "Aku kira dia pasti takkan mengaku sebagai pembunuh ke-18 tokoh, dan juga pasti tidak mau mengaku dia adalah si baju hijau berkedok dan Thian-ong-pang-cu segala, maka ketika kita ragu dia memang benar si pengganas dan tetap menyangkal akan perbuatannya, biarlah kita mohon maaf padanya, lalu mohon diri pula".

"Kemudian dia menantang dia untuk duel di suatu tempat, begitu?" Lok-Cing-hui menegas.

"Betul," si pengemis tua mengangguk. "Segera pula kita mengirimkan kartu undangan para ksatria kepada para pimpinan golongan dan aliran di dunia persilatan, biar kita mengadakan lagi suatu pertemuan besar. Tatkala itu dia pasti juga akan hadir. Bilamana dia sudah hadir di tempat, lalu kita mengumumkan dosanya di depan orang banyak. Aku kira cara ini akan lebih baik, entah bagaimana pendapat Lok-heng?"

Cing-hui mengangguk setuju. "Bagus, seumpama dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya, jika aku bunuh dia di tengah pertemuan itu, tentu orang ramai takkan mencela tindakanmu itu".

Tapi kalau dia mengaku terus terang benar dia pembunuh ke-18 tokoh itu, lalu bagaimana?" sela Su- Kiam-eng.

"Itu menandakan dia sudah siap siaga sepenuhnya dan mungkin kita akan menjadi mangsanya pula, maka bila gelagat tidak baik, segera kita berusaha mundur teratur untuk kemudian mencari jalan lain".

"Baik, boleh kita laksanakan caramu ini," sambut Lok-Cing-hui.

Berunding sampai di sini, ternyata Pek-ho-san-ceng yang termashur yang mereka tuju pun sudah tampak di depan sana.

Selama beberapa puluh tahun Kiam-ong Ciong-li-Cin tetap tegak di tengah dunia persilatan sebagai jago nomor satu, maka perkampungan Pek-ho-san-ceng tempat kediamannya di Hou-ge-san juga merupakan "tanah suci" bagi dunia persilatan.

Meski Hou-ge-san bukan pegunungan ternama Pek-ho-san-ceng juga cuma sebuah perkampungan yang agak lebih luas daripada kampung umumnya namun bukan gunungnya yang dikenal melainkan penghuninya, maka dalam pandangan orang persilatan umumnya Pak-ho-san-ceng adalah sebuah perkampungan agung yang harus dipuja.

Dahulu Kiam-ho Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai sudah pernah berkunjung ke Pek-ho-san-ceng, pula kung-fu dan nama ke dua orang setingkatan dengan Ciong-li-Cin, sebab itulah mereka tidak mempunyai sesuatu perasaan apa-apa demi melihat Pek-ho-san-ceng.

Hanya Su-Kiam-eng dan In-Ang-bi yang baru pertama kali berkunjung ke perkampungan agung ini, betapapun mereka diliputi perasaan was-was. Terutama In-Ang-bi mengingat selekasnya akan dapat berhadapan dengan musuh pembunuh ayah, darah panas seakan-akan bergolak dalam rongga dadanya, mata pun merah.

Tidak lama kemudian rombongan mereka pun sampai di luar Pek-ho-san-ceng.

Bangunan Pek-ho-san-ceng yang terkenal ini memang hebat, megah dan luas, lebih dari 50 buah gedung berderet-deret dirimbuni oleh pepohonan yang teratur. Pada pintu gerbang perkampungan terpampang papan mereka dengan tulisan Pek-ho-san-ceng (perkampungan bangau putih). Sesuai nama perkampungannya, terlihat beratus bangau putih hinggap di sana-sini dengan sikap yang anggun dan tenang.

Melihat keadaan kampung yang hebat itu, diam-diam Kiam-eng merasa gegetun, pikirnya, "Sungguh sukar dipercaya jika penghuni perkampungan megah seperti ini nanti ternyata seorang pengganas yang membunuh ke-18 tokoh itu."

Dalam pada itu tampak seorang tua berbaju kelabu berdandan kaum hamba tampak muncul dari dalam kampung. Melihat Kiam-ho dan It-sik-sin-kai dengan dua anak muda tiba di situ, orang tua itu berseru kaget dan cepat memberi hormat katanya, "Aha, sungguh luar biasa. Mungkin sudah beberapa tahun kedua juragan tua tidak pernah berkunjung kemari, entah angin apa yang meniup kalian ke sini hari ini?"

Kiam-ho tertawa, jawabnya, "Ditiup oleh angin topan! Eh, Oh tua, tampaknya kamu masih seperti dulu, sedikit pun tidak tambah tua".

"Ah, masa!" seru si hamba. "Rambut pun sudah ubanan, mana tidak tambah tua?!" "Oh tua, apakah Ceng-cu kalian berada di rumah?" tanya It-sik-sin-kai tertawa.

"Ada, ada!" jawab si hamba alis Oh tua. "Silakan tunggu sebentar, biar aku lapor kepada majikan!" Habis itu segera ia lari masuk lagi ke dalam kampung.

Setelah orang itu pergi jauh, Kiam-eng coba tanya sang guru, "Su-hu, siapakah orang tua ini?"

"Doa seorang hamba tua perkampungan ini," tutur Lok-Cing-hui. "Dia she Oh bernama Ling, dahulu sering ikut berkecimpung di dunia kang-ouw bersama Kiam-eng".

"Jika demikian, tentu kung-fu nya juga tidak rendah," ujar Kiam-eng.

"Tentu saja, "Cing-hui mengangguk. "Pada waktu 20 tahun yang lalu, setiap orang semua kenal Kiu-ci- lian Oh-Liang".

"Di perkampungan ini, kecuali Kiam-ong bersama ke tiga muridnya, terdapat tokoh kelas tinggi siapa pula?" tanya Kiam-eng.

"Orang yang setingkat Oh-Ling, aku kira ada belasan orang, selain itu aku pun tidak tahu jelas," tutur Cing-hui.

"Ya, dahulu pernah juga aku coba kepandaian Oh-Ling, setelah ratusan jurus baru dapat aku kalahkan dia," tutur It-sik-sin-kai.

Terkesiap Su-Kiam-eng, pikirnya, "Busyet! Kalau seorang budak di perkampungan ini saja mampu bergebrak ratusan jurus melawan si pengemis sakti ini, bagiku kan perlu ribuan jurus untuk bisa mengalahkan kaum budak di sini?"

Setelah termenung sejenak kemudian ia tanya pula, "Su-hu, bilamana Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah Thian-ong-pang-cu atau si baju hijau berkedok, tentunya kaum budaknya juga pasti akan tahu".

"Ya, tentunya begitu," Lok-Cing-hui mengangguk.

"Jika begitu, dari sikap Oh-Ling tadi adalah Su-hu melihat sesuatu yang mencurigakan?" "Tampaknya dia bersikap sewajarnya tidak ada sesuatu yang dibuat- buat ... " sahut Lok-Cing-hui.

"Sikap wajar bagi seorang kang-ouw kawakan seperti Oh-Ling, bukan mustahil juga sengaja dibuat- buat," ujar si pengemis tua.

Cing-hui manggut-manggut, lalu katanya kepada In-Ang-bi, "Eh, Ang-bi, sebentar kalau bertemu dengan Ciong-li-Cin, hendaknya kamu jangan sembarangan bertindak".

"Ya, aku tahu, segalanya aku serahkan kepada Su-hu," sahut Ang-bi dengan menunduk.

Tengah bicara terlihat Kiu-ci-lian-hoa-ciang (si pukulan bunga teratai sembilan jari) Oh-Ling muncul pula bersama seorang tua berbaju panjang warna putih.

Usia orang tua ini antara 80-an, alis dan jenggotnya sudah putih seluruhnya. Perawakannya tinggi besar, wajahnya masih merah bercahaya, sorot matanya berkilauan, sikapnya kereng dan juga menampilkan rasa welas-asih dan membuat orang merasa segan dan hormat.

Memang tidak salah, orang inilah jago nomor satu jaman ini, Kiam-ong Ciong-li-Cin adanya.

Begitu sampai di mulut kampung, serentak ia terbahak dan menyapa, "Aha, bagus sekali sudah sekian tahun kalian tidak berkunjung kemari, tadinya aku sangka kalian sudah tidak sanggup berjalan lagi!"

"Selamat Ciong-li-heng." sahut Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai berbareng.

"Selamat, selamat, sama-sama selamat!" seru Ciong-li-Cin dengan tergelak. "Ai, angin apakah yang meniup kalian ke sini?"

"Tadi sudah aku beri jawaban kepada Oh tua, kalian ditiup ke sini oleh angin topan!" kata Cing-hui. "Angin topan apa maksudmu?" tanya Ciong-li-Cin dengan melengak.

"Maksudnya, mestinya kami tidak datang kemari, tapi terpaksa datang! "tutur Cing-hui. "Oo, apa pula artinya ucapanmu?" Ciong-li-Cin berubah tidak mengerti.

Lok-Cing-hui tersenyum, "Sukar untuk dijelaskan secara singkat, kenapa Ciong-li-heng tidak mempersilakan kami masuk ke rumah untuk bicara lebih lanjut?"

"Benar, memang harus begitu," cepat Ciong-li-Cin memberi hormat. "Silakan!"

Maka rombongan Su-Kiam-eng lantas dibawa tuan rumah ke ruang tamu yang terpajang mewah. Setelah duduk dan teh disuguhkan, lalu Lok-Cing-hui berkata terhadap Kiam-eng dan Ang-bi, "Eh, Kiam-eng dan Ang-bi, lekas kalian memberi sembah kepada Ciong-li lo-cian-pwe!"

Kiam-eng mengiakan dan memberi hormat kepada Ciong-li-Cin, sedangkan In-Ang-bi agak ogah ogahan, ia hanya memberi hormat sekadarnya saja.

Kiam-ong Ciong-li-Cin tidak menaruh perhatian, dengan tertawa ia berkata, "Eh, sejak kapan Lok-heng menerima lagi anak murid perempuan itu?"

"Belum lama," sahut Cing-hui. "Bagaimana pandangan Ciong-li-heng masakah bisa salah lagi?" ujar Ciong-li-Cin tergelak.

Lok-Cing-hui memandang sekeliling ruangan tanyanya kemudian, "Eh, kenapa beberapa anak muridmu tidak satu pun kelihatan hadir di sini?"

"Ya, bulu mereka sudah tumbuh lengkap, mana mereka mau tinggal di sini hanya untuk mendampingi seorang tua bangka seperti diriku?" ujar Ciong-li-Cin.

Sampai di sini, tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu, katanya pula, "Kedatangan Lok-heng dengan membawa ke dua murid kesayanganmu ini, jangan-jangan ada maksudmu hendak dicoba-coba dengan beberapa muridku yang tidak becus itu?"

Lok-Cing-hui menggeleng kepala dan menjawab, "O, tidak, janganlah Ciong-li-heng salah paham, tidak ada sesuatu maksudku bertanya tentang anak muridmu".

"Oo, aku kira ... Oya, kabarnya muridmu Gak-Sik-lam jauh pergi ke wilayah selatan untuk mencari Jian- lian-hok-leng, hasilnya dia menemukan sebuah kota emas di rimba raya purba sana, kemudian lantaran sesuatu dia menjadi cacat total, apakah betul kejadian itu?"

"Memang betul," jawab Lok-Cing-hui.

"Dan sekarang di mana dia?" tanya Ciong-li-Cin pula.

"Entah, mati-hidupnya sampai kini tidak aku ketahui," tutur Cing-hui.

Ciong-li-Cin menghela napas gegetun, "Ai, pemuda berbakat seperti itu ternyata berubah menjadi cacat tanpa tangan dan kaki, sungguh memilukan hati ... "

"Dan apakah Ciong-li-heng tahu sebab apa muridku diutus ke hutan purba di selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng?"

"Aku tahu," Ciong-li-Cin mengangguk. "Konon Lok-heng ingin menyembuhkan penyakit putri kesayangan Bu-tek-sin-pian In-Giok-san?"

"Ya, dan bagaimana pandangan Ciong-li-heng tentang tindakanku ini, pantas atau tidak?"

"Sudah tentu pantas dan harus dihargai bilamana untuk mencari tahu seluk-beluk siapa pembunuh ke-18 tokoh dahulu itu".

Setelah melirik Kiam-eng sekejap, lalu Ciong-li-Cin tanya pula, "Kabarnya kemudian Lok-heng mengirim lagi muridmu yang kedua ini, lalu bagaimana hasilnya?"

"Sudah mendapatkan Jian-lian-hok-leng yang aku cari itu," sahut Lok-Cing-hui. "Syukurlah, dan apakah penyakit ling-lung nona In itu pun sudah disembuhkan?" "Ya, sudah sembuh seluruhnya," Lok-Cing-hui mengangguk.

Air muka Ciong-li-Cin tampak agak berubah ia memandang sekejap ke arah In-Ang-bi, lalu berkata dengan ragu. "Jangan-jangan inilah nona ... "

"Betul, dia inilah In-Ang-bi!" potong Kiam-ho Lok-Cing-hui.

Sikap Ciong-li-Cin memperlihatkan rasa kurang tentram, setelah mengamat-amati In-Ang-bi sejenak, baru saja mau bicara lagi, tiba-tiba bayangan orang berkelebat, seorang budak setengah umur masuk ke ruang tamu dan melapor, "Ceng-cu, perjamuan sudah siap di Pek-ho-ting!"

Ciong-li-Cin mengiakan dan segera berbangkit, "Mari, kita makan dulu, sembari bersantap sambil bicara".

It-sik-sin-kai tertawa, "Sungguh aneh, tidak aku lihat Ciong-li-heng memberi perintah menyiapkan perjamuan, mengapa perjamuan sudah disiapkan secepat ini?"

"Ada tamu agung berkunjung, dengan sendirinya harus aku layani dengan perjamuan, masakah urusan biasa begini perlu aku beri perintah lagi kan lucu?" ujar tuan rumah.

"Betul, betul, setiap tempat yang didatangi pengemis tua, minatnya yang terbesar adalah makan! Begini cepat cara pembantumu menyiapkan perjamuan, sungguh sangat cocok dengan seleraku," seru It-sik- sin-kai dengan tergelak.

Ciong-li-Cin tersenyum, "Malahan malam ini Ang-heng dapat pula minum sejenis arak ternama, yaitu arak yang sengaja aku pesan dari Heng-hoa-cun!"

"Aha, maksudmu hun-cin {arak harum)?!" seru si pengemis tua.

"Betul," Ciong-li-Cin mengangguk. "Konon arak ini simpanan ratusan tahun yang lalu. Aku sendiri belum mencicipinya, entah bagaimana rasanya ... "

Sembari bicara ia terus mendahului melangkah ke luar ruang tamu.

Cepat It-sik-sin-kai mengintil di belakang tuan rumah sambil berkaok. "Wah, alangkah sedapatnya arak harum itu, sungguh menyenangkan. Jika benar arak simpanan ratusan tahun, rasanya tentu tidak perlu disebut-sebut lagi".

Hanya sebentar mereka sudah sampai di sebuah gardu pemandangan di tengah taman, terlihat di situ sudah siap satu meja besar penuh aneka macam santapan. Karena malam sudah tiba ada dua pelayan memegang lentera dan berdiri tegak di situ.

Kiam-ong Ciong-li-Cin menyilakan para tai-su-nya mengambil tempat duduk, ia sendiri menuangkan arak bagi mereka dan mengajak minum.

Setelah menegak satu cawan arak harum, berulang-ulang It-sik-sin-kai memuji kelezatan arak simpanan ratusan tahun itu, lalu mereka asyik bicara tentang arak yang termashur itu.

Melihat beberapa orang tua itu asyik bicara tentang arak, In-Ang-bi menjadi rada gelisah, diam-diam ia sentuh Kiam-eng dan memberi isyarat agar anak muda itu berusaha mengingatkan urusannya kepada ke tiga orang tua.

Kiam-eng juga merasakan bilamana Kiam-ong Ciong-li-Cin benar adalah si pembunuh, caranya mengulur waktu begini memang menguntungkan dia, maka dengan tertawa ia lantas bersuara. "Su-hu, coba lihat, sama sekali su-moai tidak mau minum arak dan malu untuk makan, bisa-bisa dia sakit perut karena kelaparan nanti".

"Oya," Cing-hui tertawa, lalu berkata kepada Ciong-li-Cin, "Ciong-li-heng, tadi kita membicarakan urusan Ang-bi, entah apakah Ciong-li-heng menaruh minat terhadap peristiwa terbunuhnya ke-18 tokoh di Hwe- liong-kok dahulu itu?"

Senyuman Ciong-li-Cin seketika lenyap dari wajahnya serupa awan mendung yang datang mendadak, dengan lesu ia menaruh cawan arak dan terdiam sekian lama, kemudian baru berkata sambil menatap Ang-bi, "Nona In, pada hari ayahmu tertimpa malang, apakah kau pun berada di Hwe-liong-kok?" "Betul," jawab Ang-bi dengan dingin. "Waktu itu aku sembunyi di puncak tebing Hwe-liong-kok sana". "Jika begitu tentu kau lihat sendiri siapa pembunuh ke-18 tokoh itu?"

"Betul, malahan si pembunuh itu kemudian kabur melalui sampingku sehingga dapat aku lihat dengan jelas".

"Siapakah dia?" tanya Ciong-li-Cin dengan sorot mata tajam.

"Siapa lagi ialah kamu sendiri. Kamu inilah si pembunuh ke-18 tokoh itu!" teriak Ang-bi sambil berdiri dan menuding tuan rumah tadi.

Seketika suasana di gardu perjamuan itu menjadi tegang.

Namun Ciong-li-Cin tetap duduk di tempatnya, hanya air mukanya yang tampak masam, sorot matanya berkilat dan menatap tajam In-Ang-bi, sampai lama sekali tetap tidak bersuara.

Sikapnya itu sukar bagi orang untuk menarik kesimpulan apakah jago nomor satu itu sedang marah atau lagi terkejut dan gelisah.

Melihat sikap Ciong-li-Cin itu, Lok-Cing-hui pun mulai goyah rasa curiganya terhadap tuan rumah. Melihat orang hanya diam saja, tanpa terasa ia berkata kepada In-Ang-bi dengan setengah mengomel. "Jangan sembarangan omong, Ang-bi".

Mendadak tercetus jengekan Ciong-li-Cin, ucapnya. "Tidak, dia tidak sembarangan omong!" "Hah, jadi ... jadi Ciong-li-heng memang ... " berbareng Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai berseru.

Ciong-li-Cin mengangguk, jawabnya, "Betul, orang yang dilihat nona In di Hwe-liong-kok dahulu itu memang benar ialah diriku. Cuma, orang itu bukanlah pribadiku sendiri, di situlah bedanya!"

Lok-Cing-hui menghela napas lega, ucapnya "Ya, memangnya sudah aku duga bahwa ada orang sengaja hendak memfitnah Ciong-li-heng".

Dengan tatapan tajam It-sik-sin-kai tanya Ciong-li-Cin. "Dari ucapanmu ini, agaknya kau pun sudah tahu siapa gerangan orang yang menyamar sebagai dirimu untuk membunuh ke-18 tokoh itu?"

"Betul, memang sudah lama aku tahu," jawab Ciong-li-Cin.

Hal ini agak di luar dugaan Lok-Cing-hui, tanyanya dengan heran, "Jika begitu, mengapa selama ini Ciong-li-heng selalu tutup mulut?"

"Sebab aku menaruh simpati terhadap si pembunuh itu," jawab Ciong-li-Cin tegas. Cing-hui terkesiap, "Kau bilang ... kau bilang bersimpatik terhadap si pembunuh?"

"Betul," Ciong-li-Cin mengangguk. "Itulah sebabnya selama ini aku tidak mau ikut campur terhadap drama dunia persilatan itu sejauh ini aku harap peristiwa sedih itu biar terlupakan begitu saja, sebab cara demikianlah cara yang terbaik ... "

"Sedemikian Ciong-li-heng ingin melindungi si pembunuh, aku kira masih ada alasan lain, bukan?" tanya si pengemis tua.

"Benar," wajah Ciong-li-Cin tampak pedih. "Sebab kematian ke-18 tokoh itu memang sesuai dengan dosanya".

"Hah, memangnya apa kesalahan ke-18 orang itu?" tanya Cing-hui dengan kaget.

"Ai, kalau aku katakan mungkin sukar dipercaya orang." Ciong-li-Cin menghela napas. "Jika kalian adalah orang yang dapat mempercayai pribadiku, sebaliknya jangan kalian usut peristiwa ini. Di dunia ini memang banyak persoalan dan kejadian yang dari luar tampaknya sangat bagus dan indah, padahal dibaliknya adalah urusan yang busuk dan jahat. Maka lebih baik jangan kita ikut campur ... "

"Tidak bisa jadi," teriak si pengemis* tua mendadak. "Ciong-li-heng menyuruh kami mempercayai kematian ke-18 orang itu sesuai dengan dosa mereka, untuk itu perlu kau ceritakan duduk perkara sejelasnya." "Betul Ciong-li-heng, memangnya si pembunuh yang sesungguhnya itu orang macam apa?" tukas Cing- hui.

Ciong-li-Cin terdiam sejenak, katanya kemudian, "Jika tidak aku katakan, mungkin kalian akan mencurigai diriku sebagai si pembunuhnya, begitu bukan?"

"Terus terang, memang begitu," si pengemis tua mengangguk.

"Baiklah, jika kalian barkeras ingin tahu, biarlah aku ceritakan ... " Ciong-li-Cin angkat cawan arak dan diminum seteguk, setelah berpikir sebentar dengan khidmat lalu berkisah, "Tentang si pembunuh itu, kalau diceritakan sungguh sangat harus dikasihani. Dia itu seorang anak terbaik ..."

Bicara sampai di sini, mendadak ia berpaling dan memandang ke arah pintu pagar taman berbentuk bundar itu, "Ho Sam, ada apa gugup?".

Waktu itu Cing hui berempat lagi mendengarkan cerita tuan rumah sepenuh perhatian sehingga mereka sama terkesiap oleh teguran itu. Ketika menoleh mereka lihat seorang budak tua sedang lari masuk ke situ dengan sikap gugup.

Setiba di depan gardu budak tua itu lantas berteriak, "Lo-ya, wah celaka!" "Ada urusan apa?" tanya Ciong-li-Cin dengan muka masam.

Melihat air muka sang majikan menunjuk rasa kurang senang, budak tua itu baru merasa sikap gugupnya itu kurang hormat, ia tidak berani berteriak lagi melainkan mendekati sang majikan dan bicara lirih di tepi telinganya.

Setelah mendapat laporan, serentak sikap Ciong-li-Cin berubah hebat dan berbangkit, katanya kepada Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai, "Silakan duduk dulu sebentar, ada urusan penting terpaksa harus aku tinggalkan sementara."

"Memangnya kedatangan siapa?" tanya Cing-hui bingung.

Ciong-li-Cin hanya menggeleng saja dengan prihatin, ia cuma bilang "sebentar aku beritahu", lalu tinggal pergi bersama si budak tua dengan tergesa.

Cing-hui saling pandang dengan It-sik-sin-kai dan terdiam sejenak, lalu It-sik-sin-kai melirik ke arah budak yang memegang lentera sekejap, kemudian ia coba tanya Lok-Cing-hui dengan bisikan gelombang suara, "Lok-heng, menurut pendapatmu? kira-kira apa yang terjadi?"

"Siapa tahu? Mungkin kedatangan tokoh apa-apa?" sahut Cing-hui dengan lirih. "Jika kedatangan tetamu, siapa kira-kira menurut pendapatmu?"

"Dari sikap gugup mereka majikan dan hamba agaknya yang datang adalah seorang tokoh maha lihai."

"Di dunia persilatan jaman ini, siapakah kiranya yang dapat membuat Kiam-ong Ciong-li-Cin merasa gugup? Jangan jangan yaitu si pembunuh ke-18 tokoh dahulu?"

"Ya, mungkin ... "

Dengan tersenyum Kiam-eng ikut bicara, "Jika demikian pendapat Su-hu dan Ang-pang-cu, apakah itu berarti kalian tidak mencurigai Kiam-ong lagi?"

"Memangnya kau kira dalam hal apa dia perlu dicurigai pula?" tanya Cing-hui.

"Sedikitnya, dia tidak mempunyai cukup fakta nyata untuk membuktikan bahwa dia bukan si pembunuh," kata Kiam-eng.

Cing-hui manggut-manggut, ia coba tanya si pengemis tua, "Bagaimana menurut pendapat Ang-heng?"

"Aku pun tidak dapat memberi kepastian," si pengemis tua menggeleng kepala. "Ia bilang sudah sejak dulu tahu orang itu menyamar sebagai dia untuk membunuh ke-18 tokoh, dikatakan pula kematian ke- 18 tokoh itu pantas dengan dosa mereka. Hal ini sungguh sangat di luar dugaan". "Memang," tukas Lok-Cing-hui. "Aku pun tidak percaya ke-18 tokoh terkemuka itu bisa melakukan hal- hal yang tidak baik".

Sampai di sini, ia coba tanya In-Ang-bi, "Eh, Ang-bi, sebelum ayahmu tertimpa malang, apakah pernah kau lihat ayahmu berbuat sesuatu yang membuatmu heran dan kuatir?"

"Tidak, pribadi ayahku aku yakin cukup dikenal oleh Su-hu, tidak nanti dia berbuat suatu kejahatan," sahut In-Ang-bi.

"Menurut ceritamu tempo hari, sebelum ayahmu berangkat ke Hwe-liong-kok, katamu sikapnya agak ganjil, sebentar senang sebentar sedih, seperti mengalami tekanan batin, begitu bukan?"

"Betul, tapi hal itu kan tidak dapat menantikan ayah dan ke-17 tokoh lain pernah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani?"

"Ya, mungkin adalah alasan lain bilamana In-lo-cian-pwe sebentar sedih," tukas Kiam-eng. "Bagaimana pendapatmu sendiri?" tanya Cing-hui.

"Kita tahu, tujuan ke-18 tokoh itu membentuk kelompok, diakui ilmu pedang adalah ingin melampaui ilmu pedang Kiam-ong Ciong-li lo-cian-pwe. Bilamana pada suatu hari mereka diberitahu bahwa Kiam- ong mau memberikan sesuatu obat mujarab untuk mempercepat keberhasilan latihan mereka. Coba menurut Su-hu bagaimana reaksi mereka kira-kira?"

"Ya, dengan sendirinya mereka akan merasa girang dan juga kuatir atau sedih," sahut Lok-Cing-hui.

"Betul, Kiam-eng memang mempunyai semacam obat mujarab yang disebut Tai-goan-sin-tan," sambung si pengemis tua. "Konon sesudah minum obat itu akan dapat menambah tenaga. Apabila ke-18 tokoh itu tahu Kiam-ong mau memberikan obat itu kepada mereka, tentu saja mereka akan gembira. Tapi di lain pihak mereka tentu juga sama sangsi, sebab biarpun Kiam-ong dikenal sebagai seorang tokoh yang terhormat dan jujur, bila dia tidak pikirkan untung-rugi terhadap kelompok diskusi ilmu pedang ke-18 tokoh itu dan berbalik mau mengorbankan obat untuk keberhasilan orang lain, hal sesungguhnya harus dipertimbangkan lebih mendalam. Manusia pada umumnya egoistis, mana ada orang yang mau membantu pihak lain untuk menjatuhkan dirinya sendiri".

"Makanya, sebabnya sebentar girang sebentar sedih In-lo-cian-pwe sebelum berangkat ke Hwe-liong-kok tentulah karena hal ini," kata Kiam-eng.

"Apabila waktu itu orang yang menyamar sebagai Kiam-ong itu memberikan sekotak obat racun dengan mengaku sebagai Tai-goan-sin-tan kepada 18 tokoh itu, bilamana kamu termasuk satu di antara mereka, coba, obat itu akan kau minum atau tidak?" tanya Lok-Cing-hui pula.

"Te-cu akan membuktikan dulu bilamana Tai-goan-sin-tan itu tulen barulah akan aku minum," jawab Kiam-eng.

Tapi menurut cerita Ang-bi, katanya tidak lama setelah Kiam-eng menyerahkan satu kotak kepada ke-13 tokoh itu, lalu racun mulai bekerja ini menandakan begitu isi kotak itu segera diminum mereka tanpa sangsi. Coba pikir, kenapa mereka bisa gegabah tanpa curiga?"

"Ya, hal ini sungguh sukar untuk dimengerti ... " sahut Kiam-eng sambil termenung".

"Bisa jadi sebelum si pembunuh memberikan Tai-goan-sin-tan palsu, dia telah meminta sesuatu imbalan tertentu dari ke-18 tokoh, lantaran itulah ke 18 tokoh itu tidak menaruh curiga sama sekali.

"Betul, pasti begitulah adanya," tukas Kiam-eng.

"Tapi masih ada sesuatu yang sukar dimengerti kata Cing-hui. "Menurut Ciong-li-Cin, dia bersimpatik terhadap pembunuh itu, ini membuktikan dia kenal baik orang itu. Sebaliknya si pembunuh pasti juga kenal Ciong-li-Cin. Jika keduanya saling kenal, mengapa pula si pembunuh perlu menyamar sebagai Ciong-li-Cin dan membuatnya menanggung tuduhan yang sukar membela diri?"

"Sebab itulah aku yakin apa yang diceritakan Ciong-li lo-cian-pwe pasti ada yang tidak jujur," kata Kiam- eng.

Lok-Cing-hui berkerenyit kening, ia pandang ke pintu pagar tembok dan berkata, "Aneh juga sudah sekian lama ia pergi belum lama kembali". "Apakah tidak mungkin dia akan kabur?" ujar It-sik-sin-kai.

"Tidak, jika dia si pembunuh, tentu sudah diketahuinya akan kedatangan kita, bila dia tidak kabur sebelumnya, sekarang tentu juga dia takkan kabur," ucap Lok-Cing-hui pasti.

Tengah bicara, tiba-tiba terlihat si budak tua yang datang melapor dengan gugup tadi muncul lagi dengan membawa sesuatu barang.

Sesudah dekat baru diketahui yang dibawanya adalah sebuah wajan besar yang masih mengepul panas.

Terbeliak pandangan It-sik-sin-kai, air liur hampir saja menetes sebab disangkanya wajan itu pasti berisi makanan enak, tanyanya dengan sikap rakus, "Eh, barangkali kau bawakan Ang-sio-hi untuk kami?"

Wajan panas ditaruh di atas meja batu oleh si budak tua, jawabnya dengan hormat, "Betul inilah masakan khusus yang dibuat oleh koki kepala kami".

Lok-Cing-hui lantas tanya juga. "Eh, apakah saat ini Ceng-cu kalian masih menemui tamu?"

"Betul," jawab si budak tua. "Lo-ya menyilakan tuan-tuan dahar dahulu, sebentar beliau dapat datang kemari".

Sambil mengamati budak tua itu Lok-Cing-hui tanya pula, "Siapa namamu?" "Hamba bernama Ho-Sam," si budak tua menjawab dengan hormat.

"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" "Belum lama, baru setahun lebih".

"Pantas belum aku kenal ... Baiklah, boleh kau pergi!" kata Cing-hui akhirnya. Dengan hormat Ho-Sam lantas mengundurkan diri ke luar taman.

Sementara itu It-sik-sin-kai lagi menatap wajan panas dan hampir saja mengeces, serunya dengan tertawa, "Aha, Lok-heng, kau tahu Ang-sio-hi kalau sudah dingin tentu kurang lezat, ayolah kita ... "

"Mau makan boleh silakan, kenapa sungkan," jawab Cing-hui tertawa.

Dengan gembira It-sik-sin-kai lantas membuka tutup wajan panas itu. Siapa tahu, begitu tutup wajan tersingkap, kontan ke empat orang sama berteriak dan melonjak kaget.

Ternyata isi wajan itu bukanlah Ang-sio-hi segala melainkan sebuah kepala manusia dengan darah yang berlumuran.

Yang lebih mengagetkan lagi bahkan kepala manusia itu jelas dikenal sebagai kepala Kiam-ong Ciong-li- Cin.

Masih tertampak jelas ke dua mata Kiam-ong melotot murka, kulit mukanya sudah berkerut karena direbus di dalam wajan, darah masih belepotan pada jenggot di bawah dagu, keadaan seram sekali.

Pucat pasi air muka Ciong-hui ber empat, mereka melongo memandangi kepala Kiam-ong Ciong-li-Cin yang melotot di dalam wajan itu. Sampai sekian lama mereka tidak dapat bicara apa pun.

Ke dua budak yang memegang lentera juga kaget setengah mati sehingga lentera pun terjatuh ke lantai dengan gemetar seorang di antaranya melihat kepala di dalam wajan dan berucap, "Oo, Allah! Buk ... bukankah itu kepala Lo-ya kami?!"

Lok-Cing-hui berputar cepat dan meraih lebar baju salah seorang budak itu sambil membentak "Lekas katakan, terletak di mana dapur kalian!"

Dengan gemetar budak itu menjawab, "Dapur terletak di ... di sana ..."

Cing-hui mengguncangkan tubuh budak itu sambil berseru, "Lo-ya kalian tentu terbunuh oleh Ho-Sam di dapur, lekas membawa kami ke dapur sana!" Budak itu mengiakan dengan gugup dan mendahului berlari sempoyongan ke luar taman dan menuju ke tengah gedung sana. Lok-Cing-hui berempat mengikut ketat di belakang orang. Setelah berputar dan menyusur beberapa ruangan, akhirnya sampai di depan pintu sebuah dapur yang tertutup rapat daun pintu dan jendelanya.

Terlihat asap masih mengepul di cerobong dapur di luar dapur juga masih ada dua pekerja sedang membersihkan alat perabot. Melihat gelagatnya agaknya mereka belum lagi mengetahui bahwa majikan mereka telah dibunuh orang.

Tanpa bicara Lok-Cing-hui menerjang maju, sekali tolak, pintu dapur lantas terpentang dan terlepas dari engselnya. Beramai mereka menerjang ke dalam dapur, bayangan Ho-Sam ternyata tidak kelihatan lagi. Hanya di samping tungku menggeletak sesosok mayat tanpa kepala dan darah segar memenuhi lantai.

Dan mayat ini jelas adalah mayat Kiam-ong Ciong-li-Cin.

Melihat rombongan Lok-Cing-hui menerjang paksa ke dalam dapur, ke dua pekerja di tepi sumur tadi merasa bingung. Tapi segera mereka pun ikut masuk ke dalam dapur, mereka menjerit kaget demi melihat kepala sang majikan sudah terpenggal.

It-sik-sin-kai mencengkeram salah seorang pekerja itu dan dibentak, "Lekas katakan, di mana koki kalian?"

Dengan gemetar pekerja itu menjawab, "Ialah ... ialah Ho-Sam!" "Ke mana dia?" bentak pula si pengemis tua dengan beringas.

"Hamba ... hamba tidak ... " jawab pekerja itu ketakutan. "Hamba tidak ... tidak melihat dia ke luar dari dapur ... "

"Mengapa pintu dan jendela dapur ini sama tertutup?"

"Kata si Ho-Sam hendak membuat semacam ... semacam makanan terkenal, maka ... maka orang lain dilarang ikut menyaksikan, dan .... dan kami lantas disuruh ke luar, tak terduga ... O, Tuhan, apakah dia yang membunuh Lo-ya!!"

"Hm, memangnya sejak kapan Lo-ya kalian masuk ke dapur?" "Belum lama mungkin belum ada ... belum ada setengah jam."

"Sesudah majikanmu masuk ke situ, adakah kau dengar sesuatu suara!" "Tidak ada, kami tidak ... tidak mendengar suara apa pun."

Selagi tanya jawab sekonyong-konyong terdengar suara teriakan ramai di tengah kampung, segera terlihat beberapa orang hamba berlari datang seperti kesetanan.

"Api! Kebakaran! Api! Di luar kedatangan serombongan musuh mereka menyiram minyak dan membakar, Pek-ho-san-ceng kita telah terkurung api!" demikian beberapa orang berteriak-teriak.

Air muka Lok-Cing-hui berubah, cepat ia tanya, "Musuh dari mana?"

Seorang budak menjawab, "Entah, tidak jelas! Mereka sama memakai kedok, berjumlah ratusan, diam- diam mereka menyiram minyak ke dalam pagar, sekarang api telah berkobar di sekeliling kampung, jalan ke luar telah dibuat buntu!"

Serentak mereka menerjang ke luar dapur dan melompat ke atas rumah, mereka coba memandang jauh keliling kampung, benar terlihat api berkobar di sana-sini, bahkan musuh pun seperti sudah menyusup ke dalam kampung untuk menyalakan api sehingga beberapa gedung pun mulai terjilat api, lidah api dan asap tebal membubung tinggi ke udara.

"Hm, ini tentu perbuatan Thian-ong pang-cu itu," jengek Lok-Cing-hui. "Ayo kita coba mencarinya di sekitar sana".

Habis berucap segera ia mendahului lari cepat ke arah pintu gerbang.

Cepat It-sik-sin-kai, Su-Kiam-eng dan In-Ang-bi ikut lari ke tengah perkampungan, terlihat beberapa orang sudah menggeletak di tepi pagar, namun tidak nampak jejak musuh.

Waktu diperiksa lagi ke sekitarnya terlihat lidah api sudah menjilat sekeliling pagar tembok sehingga berbentuk lingkaran api yang mengurung rapat Pek-ho-san-ceng, api berkobar dengan dahsyat, memang benar tidak ada jalan untuk lari.

Banyak penghuni Pek-ho-san-ceng yang berlari kian kemari dengan senjata terhunus, mereka seperti sedang mencari musuh, juga seperti lagi mencari jalan untuk menyelamatkan diri. Pendek kata, Pek-ho- san ceng yang termashur itu sekarang berada dalam keadaan kemelut.

Setelah mencari kian kemari, rombongan Su-Kiam-eng tetap tidak menemukan bayangan musuh. Padahal api sudah mulai merambat ke pusat kampung, tentu saja mereka agak cemas.

Tiba-tiba It-sik-sin-kai menengadah dan terbahak-bahak, "Hahahaha! Lok-heng, selama berpuluh tahun kita malang melintang di dunia kang-ouw, tak terduga hari ini nyawa kita harus amblas di sini. Bilamana berita ini tersiar, bukankah akan dijadikan bahan tertawaan kawan kang-ouw?"

Lok-Cing-hui tersenyum kecut, "Memang, padahal bagaimana macam Thian-ong pang-cu saja belum kita lihat, kematian ini sungguh membuat kita penasaran".

Baru habis ucapannya, tiba-tiba sesosok bayangan orang melayang tiba secepat terbang. Baru saja orang ini hinggap di tamah, segera pula in berkata kepada Lok-Cing-hui, "Harap kalian lekas mengikuti hamba!"

Yang datang ini ternyata salah seorang budak setia Kiam-ong Ciong-li-Cin, yaitu Kiu-ci-lian-hoa-ciang Oh-Ling.

Dengan girang Cing-hui bertanya, "Hei, Oh tua, apakah ada jalan lari?"

Oh-Ling berlari ke sebelah kanan halaman sana sambil menjawab, "Anda, lekas ikut padaku, ada jalan penyelamat di kamar tulis Lo-ya kami".

Segera Lok-Cing-hui dan rombongannya menyusul cepat ke sana.

Oh-Ling membawa mereka lari masuk ke kamar tulis Ciong-li-Cin, in geser sebuah rak buku, benar juga terlihat sebuah pintu rahasia di dinding belakang rak.

Setelah pintu dibuka, Oh-Ling berkata, "Ini sebuah jalan rahasia, dari sini dapat langsung menembus ke luar kampung sana".

Habis berkata segera ia mendahului menerobos ke balik pintu.

Cing-hui membiarkan Kiam-eng dan Ang-bi masuk dulu baru bersama It-sik-sin-kai ikut menyusup ke dalam pintu. Terlihat jalan di bawah tanah itu gelap gulita, apa pun tak terlihat. Untung jalan itu tidak terlalu luas. Ke dua dinding dapat diraba tangan, maka mereka dapat merambat maju ke depan tanpa halangan apa pun.

Sembari berjalan It-sik-sin-kai bertanya. "Oh tua, apakah Lo-ya kalian dibunuh oleh Ho-Sam?"

Oh-Ling menjawab dengan suara pedih, "Jika Lo-ya meninggal di dapur, jelas itu perbuatan Ho-Sam. Tadi aku lihat dia meninggalkan perkampungan ini dengan terburu buru, aku sangka dia pergi membeli sesuatu, sama sekali tak terpikir ... "

Sampai di sini, suaranya menjadi tersendat-sendat.

"Dan orang macam apakah Ho-San?" tanya Cing-hui pula.

"Hamba pun tidak tahu asal-usulnya." sahut Oh-Ling. Setahun yang lalu dia datang melamar pekerjaan kepada Lo-ya dan diterima untuk bekerja di dapur. Pernah aku tanya kepada Lo-ya tentang asal usul Ho- Sam, namun Lo-ya seperti serba susah untuk menjelaskan ... "

"Dia pasti orang Thian-ong-pang!" kata It-sik-sin-kai.

"Akan tetapi mengapa Lo-ya kami bila berhubungan dengan orang Thian-ong-pang?" tanya Oh-Ling bingung. "Betul, hal ini memang sangat sulit dimengerti," kata It-sik-sin-kai. "Mungkin kau pun tidak tahu bahwa sebab kematian ke-18 tokoh persilatan di Hwe-liong-kok dahulu itu, si pembunuhnya justru menyamar sebagai Lo-ya kalian. "

"Hah, apa katamu, Ang-pang-cu!" seru Oh-Ling kaget.

"Maksudku, si pembunuh ke-18 tokoh persilatan itu menyamar dalam bentuk sebagai Lo-ya kalian," tutur si pengemis tua.

Oh-Ling tidak habis mengerti tanyanya bingung, "Dari mana Ang-pang-cu tahu si pembunuh melaksanakan keganasannya dengan menyaru sebagai Lo-ya kami?"

"Menurut cerita nona In," sahut si pengemis tua. "Ia lihat sendiri Lo-ya kalian menyerahkan sebuah kotak kepada ke-18 tokoh, kotak itu katanya berisi obat kuat, tapi kenyataannya berisi racun yang sangat jahat. Sesudah diminum ke-18 tokoh, semuanya lantas binasa.

"Jika begitu, jadi kedatangan Ang-pang-cu berempat sekarang semula menyangka Lo-ya kami adalah si pembunuhnya dan berniat melabraknya?" tanya Oh-Ling.

"Betul, tapi sekarang, ia " si pengemis tua menghela napas panjang dan tidak melanjutkan.

Oh-Ling juga tidak bicara lagi, rombongan mereka terus merambat maju di lorong yang gelap itu, rasa duka dan malu diri meliputi perasaan Lok-Cing-hui. It-sik-sin-kai, Su-Kiam-eng dan juga In-Ang-bi.

Semula mereka mengira Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah si pembunuh ke-18 tokoh dan juga si pelaku baju hijau berkedok atau Thian-ong pang-cu, tapi sekarang dia sudah mati, bahkan kepalanya dipenggal orang dan dikukus segala hal ini sama dengan semacam sindiran tajam terhadap prasangka mereka.

Sekarang urusan sudah terbukti, maksud tujuan kepergian Gak-Sik-lam dan Su-Kiam-eng ke daerah selatan dengan harapan menyembuhkan penyakit ingatan In-Ang-bi agar si nona dapat memberi keterangan siapa si pembunuh ke-18 tokoh, sekarang tujuan tersebut jelas sudah gagal total.

Ya, si pengganas yang meracuni ke-18 tokoh persilatan di Hwe-liong-kok tidak perlu disangsikan lagi pastilah si baju hijau berkedok, namun sesungguhnya siapakah gerangan si baju hijau berkedok itu?

Begitulah mereka turun menyusuri lorong bawah tanah itu dengan bungkam, sementara itu Oh-Ling yang berjalan di depan sudah sampai di mulut gua. Ia menolak sepotong papan yang menjulur ke luar itu, lalu melompat ke atas.

Rupanya jalan ke luar lorong itu terletak di tengah sebuah rumah gubuk, di dalam gubuk ini penuh tertimbun kayu bakar dan dihuni seorang tukang kayu, dengan sendirinya tukang kayu ini adalah orang kepercayaan Ciong-li-Cin. Namun bagi orang yang tidak tahu seluk-beluknya tentu menyangka di dalam gubuk ini ada sebuah lorong di bawah tanah yang dapat menembus ke kamar tulis Ciong-li-Cin.

Setelah beberapa kaum hamba serta rombongan Lok-Cing-hui melompat ke luar dari lorong bawah tanah, tanpa bicara segera Oh-Ling mendahului berlari menuju kembali ke Pek-ho-san-ceng.

Lok-Cing-hui dan lain-lain juga merasa mungkin masih berada di luar perkampungan, maka begitu melihat Oh-Ling lari ke sana, serentak mereka pun menyusul dengan kencang.

Hanya sekejap saja mereka sudah berada lagi di luar Pek-ho-san-ceng, terlihat seluruh perkampungan sudah tertelan lautan api yang dahsyat, lidah api menjulang tinggi ke udara dan menerangi segenap pelosok perkampungan itu seperti di siang hari, namun tiada bayangan seorang musuh yang kelihatan, melihat gelagatnya musuh sudah mengundurkan diri.

Lok-Cing-hui mendengus, katanya terhadap It-sik-sin-kai, "Ang-heng, silakan mencari ke sebelah kiri bersama Oh tua, biar aku dan Kiam-eng mencari ke sebelah kanan, nanti kita berkumpul lagi di belakang kampung sana".

It-sik-sin-kai mengiakan, bersama Oh-Ling dan kawanan budak mereka terus lari ke sebelah kiri kampung.

Lok-Cing-hui juga lantas pimpin rombongannya menuju ke sebelah kanan, ke tiga orang berjajar dalam jarak beberapa meter dan terus mencari sepanjang jalan.

Tidak lama kemudian ke dua kelompok pun bertemu di belakang kampung, ternyata tidak menemukan sesuatu, bahkan jejak musuh pun tidak terlihat. Oh-Ling dan kawanan budak mencucurkan air mata menyaksikan Pek-ho-san-ceng tertelan lautan api hingga ludes.

"Lok heng," ucap It-sik-sin-kai dengan menghela napas, melihat gelagatnya, terasa sangat majemuk hubungan antara Ciong-li-Cin dan si pembunuh".

"Pembunuh yang mana?" tanya pengemis tua.

"Dengan sendirinya si pembunuh ke-18 tokoh persilatan itu," jawab Lok-Cing-hui. "Ho-Sam yang membunuh Ciong-li-Cin tadi tidak lebih hanya anak buah si pembunuh itu".

"Sebabnya Ho-Sam membunuh Ciong-li-heng tentu dengan maksud agar Ciong-li-heng tidak menyebutkan nama si pembunuh kepada kita".

"Betul, akan tetapi hubungan antara Ciong-li-heng dan si pembunuh sungguh ruwet dan sukar untuk diraba. Sudah jelas Ciong-li-heng terkekang oleh pembunuh itu, namun dia justru menyatakan bersimpatik terhadap pembunuh itu ... "

"Apakah mungkin terjadi, ada hubungan keluarga antara pembunuh itu dan Ciong-li-heng?" tanya si pengemis tua.

"Tidak mungkin," Lok-Cing-hui menggeleng. "Apabila sanak keluarga, tentu Ho- Sam tidak berani membunuhnya".

"Ya, mungkin di antara anak murid Ciong-li-heng ada yang tahu seluk-beluknya, cuma sayang tiada seorang pun di antara mereka berada di sini," kata It-sik-sin-kai sambil mendekati Oh-Ling dan bertanya, "Eh, Oh tua, memangnya berada di manakah anak murid Lo-ya kalian?"

"Entah," jawab Oh-Ling dengan tersendat. "Sepanjang tahun mereka pun jarang berkunjung kemari.

"Seharusnya kau cari mereka agar pulang ke sini untuk membereskan urusan yang semrawut ini," ujar si pengemis tua.

Oh-Ling menuding api yang berkobar, katanya dengan pedih, "Pek-ho-san-cen sudah ludes di telan lautan api, memangnya masih ada urusan apa yang perlu dibereskan?"

"Ya, sedikitnya perlu kau beritahu kejadian ini kepada mereka".

"Tentu ... tentu hamba akan berusaha mencari mereka ... " jawab Oh-Ling dengan menangis. "Dan sekarang, adakah sesuatu yang perlu bantuan kami?" tanya It-sik-sin-kai.

"Ang-pang-cu dan Lok-tai-hiap akan segera pergi?" Oh-Ling menegas.

"Sungguh menyesal kedatangan kami justru mendatangkan bencana maut bagi Lo-ya kalian?" jawab si pengemis tua. "Namun kami juga tidak dapat tinggal diam saja di sini dan membiarkan musuh kabur begitu saja".

"Baiklah, mohon kalian dapat menangkap si pembunuh secepatnya untuk membalas sakit hati Lo-ya kami," kata Oh-Ling.

It-sik-sin-kai mengangguk, ia mendekati Lok-Cing-hui dan mengajak, "Lok-heng, mari kita pergi!"

Lok-Cing-hui tampak sedang melamun tidak bicara dan tidak bergerak, entah apa yang lagi dipikirkan. "Apakah yang kau renungkan, Lok-heng?" tanya si pengemis tua dengan tercengang.

Lok-Cing-hui seperti terjaga sadar, sahutnya dengan tersenyum, "Oo, maaf, aku sedang memikirkan seorang ... "

"Memikirkan siapa?" tanya It-sik-sin-kai.

Cing-hui memandang beberapa kaum hamba itu, ingin bicara tapi urung, baru kemudian ia berkata singkat, "Ah, tidak ada, marilah kita pergi". Habis itu ia lantas mendahului melangkah pergi.

Rombongan mereka meninggalkan Hou-ge-san dan menuju ke kota Ge-ling yang terletak 50-an li jauhnya. Setiba di tempat tujuan hari belum lagi terang, pintu kota belum terbuka. Mereka lantas duduk di kaki tembok kota untuk menunggu.

Melihat Lok-Cing-hui jadi pendiam, It-sik-sin-kai coba tanya lagi, "Lok-heng, mau kah kau perkenalkan orang yang sedang kau pikirkan itu kepada kami?"

"Mungkin Ang-heng juga pernah mendengar cerita tentang orang itu," sahut Lok-Cing-hui. "Dia adalah Su-te Ciong-li-cin, namanya Hin-thian-kiau Lau-Ging-yang".

"Oo, jadi Ciong-li-Cin mempunyai seorang su-te?" pengemis tua menegas. "Ya, masa Ang-heng tidak pernah dengar?" Lok-Cing-hui mengangguk.

"Tidak, belum pernah aku dengar bahwa Ciong-li-Cin masih mempunyai seorang su-te". "Cuma, su-te Ciong-li-Cin itu konon pada 30 tahun yang lalu sudah dibunuhnya".

"O, Ciong-li-Cin membunuh su-te nya?" It-sik-sin-kai menegas dengan heran.

"Betul, itulah yang disebut pembersihan rumah tangga," Cing-hui mengangguk. "Soalnya kelakuan Hin- thian-kiau Lau-Ging-yang itu kurang baik, bawaannya dengki, banyak curiga dan cemburuan, sering hanya lantaran urusan kecil ia pun membunuh orang. Tidak jarang Ciong-li- Cin memberi nasihat cara menjadi manusia yang baik, namun tidak pernah dihiraukan Lau-Ging-yang. Pada suatu hari kembali Lau-Ging-yang membunuh seorang jago Siau-lim-pai hanya disebabkan urusan sepele. Tentu saja pihak

Siau-lim-pai minta pertanggung-jawaban Ciong-li-Cin. Saking gusarnya, Ciong-li-Cin menghajar sang su- te hingga terluka parah, bahkan didepak terjungkal ke dalam jurang".

"Lantas, mengapa Lok-heng teringat kepada orang ini?" tanya It-sik-sin-kai.

"Sebab kemarin Ciong-li-Cin pernah menyinggung bahwa si pengganas itu adalah seorang putra berbakti kepada orang tua. Sedangkan Hin-thian-kiau Lau-Ging-yang biarpun bukan seorang terpuji tingkah- lakunya, namun dia justru seorang yang sangat berbakti kepada ayah-bundanya".

"Akan tetapi Hin-thian-kiau kan sudah mati sekian lama?"

"Ya, tapi mungkin juga dia belum mati ... " It-sik-sin kai terbelalak, "Apa dasarnya Lok-heng berpikir begitu?"

"Pertama, Ciong-li-Cin bilang si pengganas adalah seorang putra berbakti, ke dua, Ciong-li-Cin menyatakan bersimpatik terhadap pembunuh itu, rasa simpatik ini bisa timbul dari rasa penyesalan, sebab apapun juga sebagai su-heng tentu mempunyai perasaan, apalagi mengingat dahulu dia membunuh Hin-thian-kiau dalam keadaan murka, sesudah terjadi dia pasti berduka dan menyesal. Bilamana kemudian diketahui sang su-te ternyata tidak jadi mati dalam jurang, dia pasti akan senang dan terhibur.

"Hal ini serupa seorang ibu sehabis menghajar putranya, kemudian tentu akan merasa pedih, dan seterusnya bukan mustahil akan tambah sayang terhadap putranya. Sebab itulah, ketika, meski Ciong-li- Cin sudah jelas tahu siapa si pembunuh, sejauh ini dia tetap tidak mau membeberkannya kepada orang lain".

"Wah, jika begitu, tampaknya si pembunuh sangat mungkin ialah Hian-thian-kiau Lau-Ging-yang," seru pengemis tua sambil menepuk paha.

Lak-Ging-hui berpikir sejenak, katanya kemudian kepada Su-Kiam-eng, "Kiam-eng, urutan ini perlu kau selidiki hingga terbukti".

"Baik, silakan Su-hu memberi petunjuk," jawab Kiam-eng dengan hormat.

"Sekarang Kiam-ong Ciong-li-Cin sudah meninggal, maksud kita ingin menangkap si pembunuh ke-18 tokoh itu terpaksa harus dicari jalan lain. Dahulu Wi-ho-Lo-jin pernah memberitahukan padamu bahwa Boh-to-Siang-jin yang tinggal di Tai-hin-si di kota Tiang-an sangat mahir tulisan Thian-tiok. Nah, coba pikirkan, mungkinkah si pembunuh itu akan mencari Boh-to-Siang-jin untuk minta jasanya agar menerjemahkan kitab ilmu pedang itu". "Ya, jika benar si pembunuh adalah si baju hijau berkedok, kecuali ada anak buahnya yang menguasai tulisan Thian-tiok, kalau tidak ada tentu dia akan minta jasa baik Boh-to-Siang-jin." jawab Kiam-eng.

"Maka boleh coba kau pergi ke Tiang-an," ujar Lok-Cing-hui. "Baik, kapan kiranya te-cu berangkat?" tanya Kiam-eng.

"Kalau mau pergi hendaknya cepat, kan diperlukan setengah bulan perjalanan dari sini ke Tiang-an".

"Lantas bilamana te-cu mendapatkan sesuatu hasil, cara bagaimana untuk mengadakan kontak dengan Su-hu?"

"Aku pikir akan putar balik dulu ke sekitar Oh-pak untuk mencari jejak su-heng mu, bilamana ada urusan perlu kontak denganku boleh kau minta bantuan Kai-pang ... " sampai di sini, Lok-Cing-hui berpaling dan tanya It-sik-sin-kai. "Ang-heng, adakah perwakilan Kai-pang kalian di daerah Oh-pak?"

"Ada, yaitu di dalam kota Hau-yang," tutur si pengemis tua. "Pemimpinnya seorang buntung sebelah kaki, namanya Tok-keh-lo-han, biasanya dia tinggal di kelenteng Khong-hu-cu".

"Nah, bilamana kau mau kontak denganku, boleh kau pergi ke Han-yang dan tanya saja kepada Tok-ka- lo-han itu," kata Cing-hui terhadap Su-Kiam-eng.

Anak muda itu mengeluarkan dua potong medali emas dan diserahkan kepada sang guru, katanya. "Kepergian te-cu ini mungkin akan kepergok sejauh, harap Su-hu pegang ke dua buah medali emas ini agar tidak jatuh ke tangan musuh."

Lok-Cing-hui menerima medali emas dan berkata, "Baiklah, boleh kau berangkat".

Selagi Kiam-eng hendak mohon diri kepada It-sik-sin-kai, tiba-tiba In-Ang-bi berkata, "Nanti dulu, tunggu sebentar!"

"Ada urusan apa?" Kiam-eng melengak.

Ang-bi tidak menjawab, ia memandang Lok-Cing-hui dan memohon. "Su-hu, bagaimana kalau aku ikut pergi bersama Su-su-heng?"

Kiam-eng terkesiap, berulang ia mengedipi sang guru. Cing-hui tahu maksudnya, dengan tersenyum ia berkata, "Jangan, kepergian su-heng mu ini sangat mungkin akan menghadapi berbagai keadilan, kung- fu mu sekarang belum cukup untuk membela diri, akan lebih baik untuk sementara kau tinggal bersamaku saja".

"Tapi ... tapi kalau Su-heng pergi sendirian bila mengalami kesulitan ... "

"Jangan kuatir," sela Kiam-eng. "Jika ada kesulitan, aku sendiri dapat mengatasinya".

Habis bicara ia lantas menjura dan mohon diri kepada sang guru dan si pengemis tua, lalu berangkat menuju ke utara ... "

***********

Setengah bulan kemudian, sampailah Su-Kiam-eng di Tai-hin-si di kota Tiang-an. Biara itu sangat megah, dengan sikap seperti seorang pelancong Kiam-eng memasuki ruang pendopo biara dan menyapa seorang hwe-sio menyambut tamu. Ia mengaku datang dari Bu-lim-teh-co dan minta hwesio itu melaporkan kepada Boh-to-Siang-jin.

Rupanya hwe-sio itu pun tahu Wi-ho-Lo-jin adalah sahabat Boh-to-Siang-jin, maka tanpa ayal permintaan Kiam-eng itu disambut dengan baik,

ia bawa anak muda itu ke ruang dalam.

Setiba di satu kamar dalam biara, hwesio itu mengetuk pintu dan berseru dengan hormat, "Lapor Cu-ji (pimpinan), seorang siau-si-cu (tuan muda darmawan) dari Bu-lim-teh-co mohon berjumpa dengan Cu- ji?"

Segera terdengar jawaban suara welas asih dari dalam kamar, "Baik, silakan masuk!" Perlahan hwesio menyambut tamu mendorong pintu, lalu berucap "Siau-si-cu silakan masuk!" Kiam-eng mengucapkan terima kasih, melangkah ke dalam kamar.

Ia lihat Boh-to-Siang-jin sedang duduk di tempat tidur, usianya sudah di atas sembilan puluh, ke dua alisnya putih bagai perak, namun air mukanya masih merah bercahaya. Sinar matanya tajam, jelas seorang padri saleh yang berilmu.

Ia mengamati Kiam-eng sejenak, lalu mengangguk dan berucap. "Silakan duduk, Siau-si-cu."

Kiam-eng tidak berani duduk, ia memberi hormat dan bertutur, "Cai-he Su-Kiam menyampaikan salam hormat!"

"Jangan banyak adat, Siau-si-cu, silakan duduk saja!" kata Boh-to-Siang-jin. Setelah mengucapkan terima kasih barulah Kiam-ong duduk di sebuah bangku.

"Sudah tiga-empat tahun tidak pernah aku lihat Wi-ho-Lo-jin, apakah dia baik-baik saja selama ini?" tanya Boh-to-Siang-jin.

Kiam-eng tidak segera menjawab, tapi berkata setelah merandek sejenak. "Apakah perlu Cai-he perkenalkan asal-usulku ... "

"O, tidak perlu," potong Boh-to-Siang-jin. "Sudah aku ketahui kamu ini ahli waris Kiam-ho Lok-Cing-hui". "Oo, dari mana Siang-jin mendapat tahu!" tanya Kiam-eng heran.

"Bukankah sudah kau sebut namamu sendiri sebagai Su-Kiam-eng?" "Oo, kiranya Siang-jin juga pernah dengar namaku ..."

"Nama kebesaran kalian guru dan murid sudah lama aku dengar!"

"Jika begitu tentu Siang-jin juga tahu guruku adalah sahabat baik Wi-ho-Lo-jin?"

"Ya, tentu saja tahu, apakah Siau-si-cu atas permintaan Wi-ho-Lo-jin membawakan suratnya untukku?"

"Tidak, Wi-lo-cian-pwe mengalami musibah, dua bulan yang lalu beliau diculik orang hingga sekarang belum diketahui di mana dia ... "

"Hah, mengapa bisa terjadi begitu?" tanya Boh-to-Siang-jin dengan terkesiap.

"Cukup panjang untuk diceritakan," tutur Kiam-eng. "Apakah Siang-jin tahu atas perintah guru pernah aku pergi ke wilayah selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng?"

"Pernah aku dengar secara kurang jelas, apakah diculiknya Wi-ho-Lo-jin ada sangkut pautnya dengan urusanmu itu?"

"Betul, jika siang-jin ingin tahu duduknya perkara dengan jelas, sudikah engkau mendengarkan ceritamu?"

"Baik, silakan," kata Boh-to-siang-jin.

Su-Kiam-eng lantas bercerita mulai dari terbunuhnya ke-18 tokoh persilatan di Hwe-liong-kok dahulu sehingga terculiknya Wi-ho-Lo-jin oleh begundal Thian-ong-pang belum lama ini.

Meski Boh-to-Siang-jin adalah seorang padri saleh yang sudah bersih dari perasaan manusiawi, tidak urung air mukanya memperlihatkan rasa heran dan kejut oleh cerita Kiam-eng itu.

"Tak tersangka Siau-si-cu bisa mengalami peristiwa yang aneh-aneh itu, saat ini berada dimanakah si baju hijau berkedok itu?" tanyanya kemudian.

"Bilamana aku tahu di mana beradanya orang berkedok itu tentu takkan datang kemari untuk mengganggu keterangan Siang-jin," jawab Kiam-eng.

"Oo, apakah barangkali aku dapat membantu Siau-si-cu untuk menemukan orang berkedok hijau itu?" tanya Siang-jin bingung.

"Ya, mungkin dapat." Kiam-eng mengangguk. "Mungkin dapat? Apa maksudmu?" tanya Siang-jin.

"Tadi sudah aku ceritakan, ke-180 patung emas yang berada di kota emas telah dibawa lari seluruhnya oleh si baju hijau berkedok itu, sedangkan nilai patung emas yang paling berharga bukan emasnya sendiri melainkan semacam ilmu pedang maha sakti yang terkandung dalam 180 patung itu, yaitu pada setiap patung tersimpan satu jurus ilmu pedang tersebut. Pada bagian leher setiap patung itu sembunyi sebuah medali yang bertuliskan kunci dari setiap jurus ilmu pedang yang bersangkutan ... "

"Baiklah, sekarang dapat aku pahami maksud kedatangan Siau-si-cu ini," kata Siang-jin dengan tersenyum.

"Dari Wi-lo-cian-pwe pernah aku dengar bahwa Siang-jin adalah satu-satunya orang yang paham tulisan Thian-tiok di negeri ini, sebab itulah guruku menyuruhku datang kemari untuk minta bantuan Siang-jin, untuk itu mohon Siang-jin suka membantu sedapatnya."

"Apakah Siau-si-cu menyangka orang berbaju hijau dan berkedok itu akan datang mencari diriku?" tanya Siang-jin setengah termenung.

"Ya, bisa jadi." Kiam-eng mengangguk. "Kecuali dia tidak menaruh minat terhadap ilmu pedang sakti itu. Cuma mohon Siang-jin pikirkan apakah mungkin dia tidak menaruh minat terhadap ilmu pedang maha sakti itu".

"Jika dia benar datang kemari," lalu cara bagaimana akan kau hadapi dia?" tanya Siang-jin.

"Mungkin dia takkan datang sendiri, umpama datang sendiri juga tidak sanggup aku tangkap dia, maka aku pikir ... "

"Jika dia cuma mengirim utusan untuk mengundang diriku lalu apa tindakanmu?"

"Jika begitu harap aku diperkenankan menyamar sebagai pelayan Siang-jin untuk ikut pergi ke sana."

"Ehm, gagasan bagus," ucap Siang-jin dengan tertawa. "Tapi apakah kamu tidak kuatir akan dikenali mereka?"

"Aku dapat menyamar," ujar Kiam-eng.

"Menyamar sebagai hwesio cilik perlu rambutmu dicukur, apakah kamu tidak keberatan rambutmu di cukur kelimis?"

"Demi menolong Wi-lo-cian-pwe dan nona Ih, apa artinya jika aku coba mengorbankan rambut saja?"

"Bagus," kata Boh-to-Siang-jin. "Umpama lagi bila tulisan pada medali ini disalin mereka dan di bawa kemari untuk minta bantuanku untuk menerjemahkannya, lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Itu terlebih mudah diselesaikan," ujar Kiam-eng. "Siang-jin boleh menerjemahkannya, lalu membuat satu salinan palsu untuk mereka, salinan yang tulen diberikan kepadaku".

"Di antara ke dua perumpamaan itu, Siau-si-cu kira cara mana yang akan dilaksanakan pihak lawan!" tanya Boh-to-Siang-jin.

"Aku kira cara pertama besar kemungkinan akan digunakan pihak lawan, sebab si baju hijau berkedok itu pasti tidak mau ada orang ke dua juga mempelajari ilmu pedang sakti itu, maka setelah Siang-jin selesai menerjemahkan yang dimintanya, sangat mungkin dia akan membikin susah Siang-jin, untuk itu tentu akan lebih mudah terlaksana bilamana dilakukan di luar biara."

Boh-to-Siang-jin mengangguk, katanya. "Jika begitu, kalau Siau-si-cu ingin menyamar sebagai hwesio cilik, rasanya hari ini juga perlu dicukur".

"Untuk ini juga tidak perlu tergesa-gesa biarlah tunggu dulu kedatangan mereka baru kita bekerja menurut keadaan, bisa jadi ... "

"Tidak, sebab esok juga aku harus memenuhi undangan ke Ju-san untuk meresmikan pembukaan sebuah biara baru, yaitu Kau-goan-si, ini merupakan pertama kali aku tinggalkan biara ini selama sekian tahun bisa jadi mereka akan menunggu diriku di sana."

"Oo, kiranya begitu, apakah Siang-jin tahu persis di Ju-san ada Kau-goan-si yang baru selesai dibangun?" tanya Kiam-eng.

"Benar biara itu dibangun atas sumbangsih hartawan terkenal Theng-wang-we di kota ini, dua bulan yang lalu dia sudah datang kemari untuk memohon kehadiranku di Kau-goan-si untuk upacara pembukaan secara resmi. Sebelum ini Theng-wang-we juga sering memberi sumbangan terhadap biara kami ini, maka tidak dapat aku tolak undangannya itu."

Kiam-eng meraba kepala dan berkata, "Jika begitu, memang sangat mungkin si baju hijau berkedok itu akan menculik Siang-jin dalam perjalananmu, maka bolehlah hari ini juga aku cukur rambut hingga kelimis."

Segera Boh-to-Siang-jin tepuk tangan dua-tiga kali dan segera seorang padri menolak pintu dan melangkah masuk untuk menerima perintah.

Boh-to-Siang-jin menunjuk Kiam-eng dan berkata, "Siau-si-cu ini cukur rambut untuk dibaptis, maka pergilah memanggil petugas yang bersangkutan".

Hwe-sio muda itu mengiakan dan mengundurkan diri.

Tidak lama kemudian seorang hwe-sio tua berkain kuning melangkah masuk dengan membawa sebuah kotak, seorang hwe-sio setengah baya ikut masuk. Keduanya memberi hormat kepada Boh-to-Siang-jin.

"Bing-tim," ucap Boh-to terhadap hwesio setengah baya. "Tentunya kau tahu Siau-si-cu ini dari Bu-lim- teh-co, bukan?"

Dengan hormat Bing-tim mengiakan. "Dan siapa lagi penghuni biara ini yang tahu hal ini?" tanya Boh-to pula.

"Hanya te-cu sendiri yang tahu dan tidak te-cu beritahukan kepada orang lain," tutur Bing-tim. "Bagus," Boh-to mengangguk. "Sekarang Siau-si-cu ini minta dicukur dan menjadi anggota biara kita,

hendak aku terima dia sebagai murid, maka jangan kau beritahukan kepada siapa pun bahwa dia datang

dari Bu-lim-teh-co mengerti?"

"Baik," sahut Bing-tim dengan hormat.

"Dan kalau ditanya orang, katakan dia ini hwe-sio cilik yang datang dari Ngo-tai-san." Kembali Bing-tim mengiakan.

"Baik, sekarang boleh kau carikan seperangkat baju yang cocok bagi Siau-si-cu ini," kata Boh-to-Siang- jin.

Bing-tim mengiakan dan segera mengundurkan diri.

Lalu Boh-to berpaling dan berkata kepada hwe-sio tua pembawa kotak, "Cu-kong Su-te, Siau-si-cu ingin meninggalkan khalayak ramai dan minta dicukur, silakan kau bantu melaksanakan keinginannya itu".

Tanpa ragu Cu-kong Hwe-sio lantas mendekati Su-Kiam-eng untuk melaksanakan tugas.

Sembari menerima pembaptisan itu kesempatan itu digunakan Kiam-eng untuk minta petunjuk berbagai filsafat agama Budha sehingga banyak menambah pengetahuan untuk bekal hidup selanjutnya.

Tidak lama kemudian rambut Kiam-eng pun selesai dicukur kelimis. Sekaligus Boh-to memberikan nama agama kepada Kiam-eng, yaitu Ngo-lian.

Dalam pada itu Bing-tim datang pula dengan membawa seperangkat baju padri dan sepasang sepatu. Segera Kiam-eng ganti pakaian serta merias muka seperlunya, dalam waktu singkat dia benar-benar berubah menjadi seorang hwe-sio muda, sedikit pun tidak ada bekas-bekas Su-Kiam-eng.

Kemudian Boh-to-Siang-jin mengajarkan lagi sekadar tata tertib dan tata cara orang yang beragama Budha, lalu Cu-kong disuruh membawanya untuk berkenalan dengan segenap penghuni biara. Seharian Kiam-eng belajar keagamaan pula dengan Boh-to-Siang-jin, petangnya, Bing-tim datang melapor, "Lapor Cu-ji, atas utusan Theng-wang-we katanya perlu bicara dengan Cu-ji.

"Silakan masuk," kata Boh-to-Siang-jin.

Tidak lama Bing-tim membawa masuk seorang budak setengah umur, setelah memberi hormat budak itu berkata, "Wang-we menyuruh hamba memberitahukan kepada Siang-jin bahwa esok pagi pukul sepuluh tepat Wang-we akan datang menjemput Siang-jin untuk berangkat bersama ke Kau-goan-si."

"Baik, aku sudah siap," kata Boh-to-Siang-jin "Entah Theng-lo-si-cu menumpang kereta atau naik kuda."

"Wang-we bilang tidak ingin kelihatan menyolok, maka ingin menumpang kereta cara sederhana, maka hamba disuruh tanya Siang-jin adakah beda pendapat?"

"O, tidak, sampaikan kepada Theng-lo-si-cu bahwa esok pagi aku siap menyambut kedatangannya". Budak tua itu membuat hormat, lalu mohon diri.

Setelah budak itu pergi jauh, Kiam-eng coba tanya Boh-to-Siang-jin, "Siapakah nama Theng-wang-we itu?"

"Lengkapnya dia bernama Theng-Loh-ie, terkenal sebagai salah seorang dermawan di kota Tiang-an ini, sehari-hari sangat murah hati dan suka padanya".

"Sudah berapa lama dia tinggal di kota ini?" tanya Kiam-eng pula.

"Dia asli kota Tiang-an ini, tahun ini berusia 68 tahun, hartanya berlimpah, cuma sayang tidak punya keturunan."

"Wah, orang berhati mulia justru tindak dikaruniai anak, sungguh tidak adil, "ujar Kiam-eng, Boh-to-Siang-jin hanya tersenyum saja tanpa tanggap.

Kiam-eng berkata pula, "Pernah te-cu mendengar orang berceramah, katanya, "Berbuat baik tanpa ada imbalan, tentu karena leluhur berbuat jahat. Berbuat jahat tanpa ganjaran, tentu karena leluhur berbuat amal. Bagaimana pendapat Siang-jin terhadap pikiran tersebut?"

Boh-to-Siang-jin tetap tersenyum tanpa menjawab. Selang sejenak, tiba-tiba ia tanya dengan tertawa, "Apakah Siau-si-cu setuju dengan jalan pikiran seperti itu?"

"Pengalaman dan pengetahuan te-cu terlampau dangkal, maka tidak berani memberi kesimpulan," jawab Kiam-eng.

"Ganjaran bagi perbuatan baik atau jahat, selalu datang melekat bagai bayang-bayang," tutur Boh-to- Siang-jin dengan tersenyum, "Hukum sebab dan akibat akan terus berputar selama tiga turunan tanpa putus. Ucapan Siau-si-cu tadi memang tepat. Kita ambil saja Theng-wang-we sebagai contoh, konon sebelum dia berusia 40, sama sekali dia tidak pernah berbuat baik, malahan harta bendanya itu diperoleh dari usaha uang panas, yaitu menjadi rentenir, apakah kau tahu arti rentenir ... "

"Ya, lintah darat, pengisap darah kaum miskin," tukas Kiam-eng dengan tertawa.

"Omitohud! Memang begitulah," ucap Boh-to-Siang-jin. "Cuma, asalkan golok jagal dilepaskan seketika pun menjadi Budha. Bahwa Theng-lo-si-cu dapat mencapai kesadaran, sungguh harus dipuji ... "