Rahasia 180 Patung Emas Jilid 23

 
Jilid 23 

"Ada dikatakan, bahkan menceritakan keadaan perkampungan ini dengan sangat jelas," jawab si jagal. "Jika begitu kenapa kau berani datang kemari?" tanya It-sik-sin-kai.

"Kenapa tidak berani? Kalau berhasil akan terima 10 kati emas, bila gagal paling-paling cuma mati saja, masa perlu gentar?"

Pengemis tua manggut-manggut, lalu tanyanya kepada Lok-Cing-hui, "Cara bagaimana Lok-heng akan membereskan orang ini!?"

"Dia kan bekas anak buah Ang-heng," ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa. "Silakan cara bagaimana sebaiknya akan Ang-heng bereskan dia."

Segera It-sik-sin-kai menyeret Ok-to-hu ke luar rumah, tanpa bicara lagi ia kepruk kepala orang dengan pentungnya, "prak", kontan kepala Ok-to-hu pecah dan otak berceceran dan roboh binasa.

Setelah pengemis tua itu masuk lagi ke dalam rumah baru Lok-Cing-hui berkata kepada In-Ang-bi, "Nah, sekarang ceritakan Ang-bi, siapakah si pengganas yang membunuh ke 18 tokoh dahulu itu?"

"Dia bukan lain dari pada Kiam-ong Ciong-li-Cin!" tutur In-Ang-bi.

Keterangan ini sungguh serupa bunyi guntur di siang bolong, semua orang sama melonjak kaget dan berseru, "Apa katamu? Kau bilang Kiam-ong Ciong-li-Cin?!"

Ang-bi mengangguk dan menjawab, "Betul, Kiam-ong Ciong-li-Cin!"

Pucat air muka Lok-Cing-hui berempat dan saling pandang dengan melongo.

Sungguh, ini benar-benar peristiwa yang mengagetkan orang, bilamana orang tidak mendengar sendiri keterangan itu ke luar dari mulut In-Ang-bi, mungkin tiada seorang pun di dunia ini mau percaya bahwa orang yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan di Hwe-liong-kok dahulu itu ialah Kiam-ong Ciong-li- Cin yang dipuja itu.

Dan sekarang, meski Lok-Cing-hui berempat tahu apa yang dikatakan In-Ang-bi itu pasti bukan omong kosong belaka, namun mereka tetap tidak berani percaya apa yang dikatakan itu adalah kejadian yang sebenarnya, sebab terlampau tidak masuk diakal bilamana dikatakan Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah si pengganas yang keji itu.

Walaupun Ciong-li-Cin bukanlah tokoh yang suka bertindak membela keadilan serupa kebiasaan Lok- Cing-hui, tapi ia pun seorang tokoh dari golongan putih yang sukar dicari ciri kejelekannya. Sejak mendapat nama sebagai tokoh utama, belum pernah diketahui dia berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan, apalagi sekarang dia sudah berusia hampir 80 tahun, juga tokoh utama yang dipuja oleh segenap orang persilatan, dengan alasan apakah dia perlu membunuh ke 18 tokoh dunia parsilatan itu?

Sebab itulah setelah Lok-Cing-hui berempat termangu-mangu sejenak, tanpa terasa mereka sama menggeleng kepala sebagai tanda tidak habis mengerti mengapa Kiam-ong Ciong-li bisa berbuat demikian?

In-Ang-bi memandang Lok-Cing-hui dengan sayu, katanya kemudian, "Paman Lok, apakah engkau tidak percaya atas keteranganku?"

"Ya, sungguh sukar untuk dipercaya," jawab Lok-Cing-hui.

Tanpa terasa air mata meleleh di pipi In-Ang-bi, ucapnya, "Jika begitu, paman Lok menganggap keteranganku hanya karangan belaka tanpa dasar?"

"Bukan begitu maksudku, aku percaya penuh apa yang kau katakan itu pasti betul," ujar Lok-Cing-hui. "Jika begitu ..." In-Ang-bi merasa bingung.

Lok-Cing-hui menghela napas, katanya, "Ang-bi, coba ceritakan saja dari awal hingga akhir apa yang menjadi sebab timbulnya peristiwa tragis itu?"

Ang-bi mengiakan dan mulai bertutur, "Urusan harus diceritakan mulai dari berakhirnya pertemuan besar tokoh persilatan belasan tahun yang lalu itu. Mungkin paman Lok masih ingat sesudah ayah dan ke-l7 tokoh lain mengalami kekalahan dari medan pertandingan itu, mereka lalu membentuk sebuah perhimpunan yang disebut Kiam-sut-gian-kiu-hwe (forum diskusi ilmu pedang)."

"Ya, betul," jawab Lok-Cing-hui. "Di antara ke-18 tokoh itu ada 12 orang berkedudukan sebagai ketua sesuatu perguruan. Dengan sendirinya mereka merasa malu karena dalam partandingan itu mereka tidak dapat masuk ke tingkatan atas, maka mereka lantas membentuk forum diskusi itu dengan harapan akan dapat menciptakan semacam ilmu permainan pedang maha sakti untuk mengalahkan Ciong-li-Cin dan juga diriku ... "

"Begitulah," sambung In-Ang-bi. "Tapi paman Lok mungkin juga tahu sesungguhnya ayahku dan kelompoknya itu tidak menaruh dendam kepada Ciong-li-Cin dan paman Lok, mereka hanya menjadikan kemahiran ilmu pedang kalian saja sebagai sasaran".

"Ini pun aku ketahui," kata Lok-Cing-hui. "Bahwa mereka dapat mengesampingkan perbedaan aliran- aliran dan golongan dan melulu mengutamakan memperdalam kung-fu sejati, hal ini memang harus dipuji. Sebab itulah aku sangat senang ketika mendengar kabar terbentuknya perhimpunan diskusi mereka itu. Ciong-li-Cin juga menunjuk rasa gembiranya. Cuma sayang forum diskusi itu hanya berlangsung dua kali, lalu dibubarkan entah apa sebabnya?"

"Tidak, tidak dibubarkan," ujar Ang-bi.

"Oo, tidak dibubarkan?" Lok-Cing-hui menegas dengan tercengang.

"Betul, sesudah dua kali berkumpul di antara kelompok ayahku itu, lalu timbul berbagai macam isyu di dunia persilatan, katanya biarpun tercipta kung-fu maha tinggi dari ke-18 tokoh itu dan dapat mengalahkan Kiam-ong Ciong-li-Cin, kemenangan itu pun dirasakan kurang sportif dan macam-macam isyu-isyu ... Paman Lok menurut pendapatmu, apakah tepat isyu yang disebarkan itu?"

"Tentu saja tidak tepat pandangan orang itu," jawab Lok-Cing-hui dengan prihatin. "Mereka tidak menyadari bahwa kung-fu sejati pada awalnya juga timbul dari hasil ciptaan orang banyak."

"Tentu saja tidak menyadari bahwa kung-fu sejati pada awalnya juga timbul dari hasil ciptaan orang banyak."

"Akan tetapi ayah dan kelompoknya justru sukar menahan derasnya isyu yang mencemoohkan itu. Maka kelompok diskusi mereka yang semula dibentuk secara terbuka itu lantas berubah menjadi berlangsung secara rahasia. Setiap tahun berkumpul satu kali, lamanya berkumpul sebulan tempatnya adalah Hwe- liong-kok.

Nona itu berhenti sejenak, lalu menyambung lagi, "Sejak kelompok diskusi itu berlangsung secara rahasia karena merasa ingin tahu sering aku minta ayah membawaku ikut dalam pertemuan mereka untuk menambah pengalaman. Akan tetapi permintaanku selalu ditolak ayah ... "

Lok-Cing-hui tersenyum dan menyela, "Waktu itu usiamu baru 13-14 tahun baru seorang dara cilik yang belum tahu urusan dengan sendirinya ayahmu tidak mau membawamu mengikuti pertemuan yang penting itu".

Muka Ang-bi menjadi merah, "Ya, namun aku justru sangat ingin tahu sebab setiap kali ayah pulang dari pertemuan itu jelas ilmu pedangnya lantas tambah maju setingkat".

"Sebenarnya ayahmu terkenal lihai dengan ruyungnya, tak tersangka kemudian dia jadi menyukai permainan pedang," ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa.

"Selama 20 tahun ayah mendalami permainan ruyung, rasanya tiada orang ke dua lagi yang dapat melampaui beliau, sebab itulah ayah merasa kurang tertarik lagi, lalu berganti haluan dan berlatih ilmu pedang, hanya tiga tahun hasilnya ternyata tidak lagi di bawah para pimpinan berbagai perguruan lain ... "

"Betul, ayahmu memang seorang jenius dunia persilatan," puji Lok-Cing-hui. Masih aku ingat waktu pertemuan besar dulu aku lihat dia bertanding dengan ... "

Sampai di sini ia berpaling ke arah Tiok-kiam-siang-sing dan menyambung dengan tertawa, "Tiok-kiam- siang-sing ini, pernah dia aku katakan sesuatu kepada Ang-pang-cu ... "

"Ya, Lok-heng bilang, bila berlatih lagi sepuluh tahun, ilmu pedang orang ini pasti akan mencapai lima besar. Ai, sayang orang pandai cekak umur, tahu-tahu dia sudah dicelakai orang."

"Peristiwanya terjadi pada pertemuan yang ke enam," tutur In-Ang-bi lebih lanjut dengan mencucurkan air mata. "Sebelum berkumpul, entah berita apa yang diterima oleh ayahku, dia kelihatan hati tidak tentram. Pernah aku tanya apakah terjadi sesuatu pada kelompok diskusinya, namun ayah tidak mau menjawab. Sebab itulah diam-diam keputusan akan ikut pergi melihat apa yang terjadi ... "

"Waktu itu kamu tidak tahu bahwa tempat berkumpul itu terletak di Hwe-liong-kok?" tanya It-sik-sin-kai.

"Betul," jawab Ang-bi, "Maka begitu ayah berangkat, diam-diam aku susul dan menguntit sampai di hwe- liong-kok. Keadaan lembah gunung itu sangat terjal, dengan susah payah dapatlah aku rambat sampai di puncak Hwe-liong-kok, waktu mengintip ke bawah, aku lihat kelompok ayah berjumlah 18 orang duduk melingkar di situ, mereka duduk diam saja seperti belum ada pembicaraan ... "

"Puncak tebing itu ada berapa tingginya dari dasar lembah!" tanya pula si pengemis tua.

"Kira-kira seratusan meter." tutur Ang-bi "Sebab itulah umpama mereka berbicara juga takkan aku dengar."

"Jadi begitu, dari mana kau tahu mereka tidak berbicara?" tanya pengemis tua.

"Sebab aku lihat mereka tetap duduk tenang saja tanpa bergerak dan juga tidak ada yang memperlihatkan sesuatu gerak tangan atau kaki ... "

"Jadi maksudmu, mungkin mereka sedang menunggu seseorang umpamanya?" tanya Lok-Cing-hui.

"Tepat," Ang-bi mengangguk. "Melihat gelagatnya, jelas mereka sedang menunggu seseorang. Sebab itulah waktu itu aku merasa heran dan tidak mengerti, sebab pertemuan kelompok ayah itu dilakukan secara rahasia, siapakah yang akan bertemu dengan mereka selagi mereka melangsungkan pertemuan rahasia? ... "

"Selagi aku sangsikan hal itu, tiba-tiba terlihat di puncak tebing sebrang sana ada setitik bayangan warna biru melayang turun ke dasar lembah bagai batu meteor cepatnya. Hanya dalam sekejap saja orang itu sudah sampai di dasar lembah, Waktu itu hanya dapat aku lihat orang itu adalah seorang kakek berambut putih berbaju biru."

"Orang itu mendekati kelompok ayahku yang sedang duduk itu serentak ke-18 tokoh itu berdiri dan memberi hormat kepada si kakek. Lalu mereka bicara sebentar dan terlihat si kakek mengeluarkan sesuatu serupa kotak dan diserahkan kepada ketua Siau-lim-pai, kemudian dia mohon diri dan berlari cepat ke arah puncak tebing tempat sembunyiku.

"Kuatir dipergoki, cepat aku sembunyi di tengah semak rumput yang lebat. Tidak lama aku lihat kakek berambut putih itu sudah sampai di atas dan melayang lewat belasan meter di samping tempat sembunyiku. Waktu itulah baru dapat aku lihat jelas dia bukan lain daripada Kiam-ong Ciong-li-Cin.

"Benar-benar kau kenali dia sebagai Ciong-li-Cin dan tidak keliru lihat?" Lok-Cing-hui menegas. "Tidak mungkin keliru pernah dua kali aku lihat dia, pasti tidak salah lagi," jawab Ang-bi. "Baik, teruskan ceritamu." Lok-Cing-hui mengangguk.

"Setelah aku lihat jelas dia adalah Kiam-ong Ciong-li-Cin, sama sekali tidak aku rasakan sesuatu keganjilan," tutur Ang-bi dengan pedih. "Siapa tahu setelah aku pandang lagi ke dalam lembah tiba-tiba aku lihat kelompok ayah yang berjumlah 18 orang itu sama terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ketika itu masih aku sangka mereka sedang berlatih semacam kung-fu aneh, tak terduga hanya sebentar saja aku lihat mereka sama roboh secara berturut-turut, lalu tidak bergerak lagi.

"Pada saat itu juga, mendadak aku lihat Kiam-ong Ciong-li-Cin yang baru pergi itu muncul kembali, cepat aku sembunyi lagi di tengah semak rumput. Aku lihat setiba di tepi tebing dan melongok ke dalam lembah, lalu ia menengadah dan terbahak-bahak gembira.

"Sampai sekian lama ia tertawa, habis itu baru dia meninggalkan tepi tebing curam itu dengan bersemangat riang. Setelah dia pergi jauh barulah aku cari jalan untuk turun ke dasar lembah, aku lihat tubuh ke-18 orang yang menggeletak di situ berubah hitam, mata telinga dan hidung berdarah, semua sudah meninggal ... Waktu itu rasanya aku pun roboh pingsan sehingga apa yang terjadi selanjutnya tidak aku ketahui. Nah, paman Lok, bukankah aku ... aku ... "

Lok-Cing-hui menghela napas gegetun, "Ya, lantaran melihat kematian ayahmu yang mengenaskan itu, batinmu terpukul hebat sehingga terganggu urat sarafmu, kemudian orang melihat kamu berkeliaran di sekitar Hwe-liong-kok, ada yang melaporkan hal itu padaku, maka berita tentang terbunuhnya ayahmu dan kelompoknya lantas tersiar dan menggemparkan dunia persilatan."

"Kemudian paman Lok lantas membawaku pulang ke Ciok-lau-san sini?" tanya In-Ang-bi dengan air mata bercucuran.

"Betul," sahut Lok-Cing-hui. "Waktu itu sudah dapat aku duga mungkin terganggunya pikiranmu mungkin lantaran menyaksikan kejadian yang menimpa ayahmu, maka aku putuskan harus ... harus menyembuhkan penyakitmu, dan ... syukurlah sekarang kesehatanmu sudah pulih kembali ... "

"Sejak ayah meninggal, sudah berulang berapa lamakah hingga sekarang?" tanya Ang-bi dengan menangis.

"Sudah tiga tahun tujuh bulan".

Mendadak Ang-bi merosot ke bawah tempat tidur dan berlutut di depan Lok-Cing-hui, ratapnya sambil merangkul kaki orang tua itu, "Oo, paman Lok, mohon engkau sudi membalaskan sakit hati ayah dan membunuh bangsat Ciong-li-Cin, cincang tubuhnya hingga hancur lebur. Berjanjilah paman aku mohon engkau berjanji ... "

Lok-Cing-hui mengangkat bangun nona itu, lalu ia mondar mandir di dalam kamar akhir ia berhenti dan menatap It-sik-sin-kai, katanya dengan tersenyum getir, "Ang-heng bagaimana pandanganmu?"

Si pengemis tua mengangkat bahu dan menjawab, "Aku tidak dapat memberi komentar apa-apa!"

"Apakah kau percaya si tua Ciong-li itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh di Hwe-liong- kok ini?" tanya Lok-Cing-hui.

"Mestinya aku tidak percaya," jawab pengemis, tua. "Tapi apa mau dikatakan lagi, kejadian itu disaksikan sendiri oleh nona In."

"Jadi kau percaya si tua Ciong-li-Cin adalah pembunuhnya?"

"Tidak, aku tidak mempunyai komentar apa pun," si pengemis tua menggeleng. "Dan bagaimana dengan pandangan Han-heng?" tangan Lok-Cing-hui terhadap Tiok-kiam-sian-sing Han- Keng-ting.

Sambil meraba dagu Han-Keng-ting termenung sejenak, katanya kemudian, "Rasanya aku pun tidak percaya Ciong-li-Cin dapat melakukan hal ini, namun apa yang terjadi itu dilihat sendiri oleh nona In ini menjadi ... menjadi aneh ... "

"Lantas apa alasan kalian tidak dapat mempercayai si tua Ciong-li-Cin adalah si pengganasnya?" tanya Lok-Cing-hui.

"Untuk memberi alasannya diperlukan mempelajari dulu sebuah musababnya ke 18 tokoh itu sampai dimusuhi dan dibunuh orang," ujar Tiok-kiam-sian-sing.

"Sebabnya ke-18 tokoh itu dibunuh, dengan sendirinya lantaran ada orang kuatir ilmu pedang yang akan diciptakan mereka itu akan jauh mengalahkan mereka dahulu pantas dicurigai."

"Jika begitu, jadi Kiam-ong Ciong-li-Cin, Kiam-ho Lok-Cing-hui, Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun dan engkau It-si-sin-kai juga tak terlepas dari tersangka?" tanya Tiok-kian-sian-sing.

"Memang begitulah," sahut si pengemis tua. "Selain itu masih ada lagi Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin, Lau-ho- li Cu-kat-Leng dan tokoh terkemuka yang lain."

"Coba kita bicara mengenai Ciong-li-Cin dahulu," ujar Lok-Cing-hui. "Menurut pendapat kalian, apa alasannya dia tidak membunuh orang dan bukan alasannya dia membunuh ke-18 toko itu?"

Untuk dia hanya perlu ditanyakan apa alasannya dia tidak membunuh orang dan bukan alasannya membunuh orang," tukas Tiok-kiam-sian-sing.

"Apa maksudku alasannya tidak membunuh orang?" tanya Lok-Cing-hui.

"Kita sama tahu, kung-fu Ciong-li-Cin diakui sebagai nomor satu di dunia. Untuk memadai dia sedikitnya ke-18 tokoh itu harus berlatih lagi belasan tahun. Padahal selama belasan tahun kemudian umpama Ciong-li-Cin masih hidup juga pasti sudah berwujud kakek-kakek yang loyo dan tidak lama lagi sisa hidupnya tidak nanti dia mau berlomba lagi dengan orang lain. Sebab itulah biarpun dipandang dari sudut mana pun, mutlak Ciong-li-Cin tidak ada alasan buat membunuh ke-18 tokoh itu."

"Ucapan Han-heng memang sama dengan apa yang kau pikirkan," kata Lok-Cing-hui, "Aku pun berpendapat tidak ada alasan bagi Ciong-li-Cin untuk membunuh mereka."

Tiok-kiam-sian-sing melirik In-Ang-bi sekejap lalu berkata pula, "Tapi nona In ini justru menyaksikan sendiri mereka dibunuh oleh Ciong-li-Cin. Hehe, lantas cara bagaimana memberi penjelasan akan fakta ini?"

"Hanya ada suatu dalih untuk menjelaskan peristiwa ini, yaitu Ciong-li-Cin yang dilihat nona, itu adalah Ciong-li-Cin palsu." ucap Lok Cing-hui.

"Hah, palsu?" seru Tiok-kiam-sian-sing dan Ang-bi berbareng dengan melengak.

"Ya, orang itu menyamar sebagai Ciong-li-Cin dan menghadiahkan sekotak racun dengan pura-pura menyatakan sebagai obat yang dapat menambah kekuatan mereka," tutur Lok-Cing-hui. "Mengingat Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah orang yang terhormat, ke-18 tokoh itu tentu saja tidak curiga, akibatnya mereka masuk perangkap orang itu."

"Perkiraan Lok-heng ini memang masuk di akal, namun masih perlu dibuktikan lagi." ujar It-sik-sin-kai tersenyum.

"Cara bagaimana membuktikannya." tanya Tiok-kiam-sian-sing.

"Sangat sederhana," kata Lok-Cing-hui. "Biar aku pergi ke Hou-ge-san untuk mengunjungi si tua Ciong-li setiba di sana apakah benar Ciong-li-Cin itu si pengganas atau bukan tentu segera akan ketahuan."

"Betul, pengemis tua bersedia mendampingi Lok-heng ke Hou-ge-san." tukas It-sik-sin-kai.

Tentu saja Lok-Cing-hui sangat senang dapat ditemani pengemis tua, segera ia memberi pesan kepada Su-Kiam-eng, "Anak Eng, boleh berbenah seperlunya, biar kita berangkat sekarang juga." Tidak lama Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai, Su-Kiam-eng dan In-Ang-bi berempat sudah meninggalkan Kiu- kiong-san dan menuju ke arah barat.

Hari ini mereka cuma menempuh sejauh 30 an li, lalu mondok di suatu pedusunan, esoknya mereka sampai di kota Cong-yang, di sini mereka menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan.

Hou-ge-san terletak ratusan li di sebelah barat kota Kang-leng, di tepi utara sungai Yang-ce dan berhadapan dengan Heng-bun-san yang terletak di seberangnya.

Menurut rencana Lok-Cing-hui, dengan menumpang kereta sampai di Liok-kau-keh, lalu akan menumpang kapal untuk menuju ke hulu, dengan demikian antara sepuluh hari kemudian akan sampai di tempat tujuan.

Mendengar akan menumpang kapal, It-sik-sin-kai lantas berkata, "Menumpang kapal tidak lebih cepat daripada menunggang kuda, mengapa kita tidak membeli empat ekor kuda saja!"

"Menunggang kuda memang bisa lebih cepat, tapi kurang aman," ujar Lok-Cing-hui dengan tertawa. "Apakah Lok-heng menganggap mereka masih akan membikin susah nona ini?" tanya si pengemis tua.

"Tidak, sebab kalau orang berkedok hijau itu benar Ciong-li-Cin adanya, bila dia melihat perjalanan kita ini, tentu ia tahu rahasianya telah terbongkar maka orang yang akan dibinasakannya tidak lagi hanya nona In seorang melainkan kita berempat. Maka menumpang kapal akan lebih aman daripada menunggang kuda, sekaligus juga mengurangi kerepotan harus mencari tempat bermalam setiap hari."

"Betul juga ucapanmu," si pengemis tua mengangguk. "Menumpang kapal juga lebih gampang untuk menjaga segala kemungkinan, pula dapat langsung mencapai Hou-ge-san ... "

"Dari sini ke Liok-kau-keh juga masih ratusan li jauhnya, maka selama dua hari ini kita perlu lebih berhati-hati," kata Lok-Cing-hui.

"Kira-kira kapan baru akan sampai di Liok-kau-keh?" tanya Kiam-eng. "Mungkin menjelang lohor esok lusa," jawab Lok-Cing-hui.

"Jika begitu, yang perlu kita perhatikan malam nanti," kata Kiam-eng. "Bila malam nanti tidak terjadi sesuatu, perjalanan selanjutnya tentu takkan menjadi soal lagi."

Maka pada waktu magrib, ketika mereka tinggal di hotel dalam kota Poh-kin untuk bermalam, kecuali In- Ang-bi, Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng bertiga belum lagi tidur dan sedang duduk semadi dalam kamar untuk menjaga segala kemungkinan.

Namun semalaman tetap tidak terjadi apa pun.

Menjelang lohor hari ke tiga, sampailah mereka dengan selamat di Liok-kau-keh, suatu tempat tambangan di hulu Tiang-kang. Setelah istirahat sekadarnya, lalu mereka mendatangi tempat penyeberangan.

Baru sampai di tepi sungai segera terlihat ada sebuah kapal barang berlabuh di situ. Kiam-eng merasa menumpang kapal barang akan lebih mantap, setelah minta persetujuan sang guru, ia lantas berseru, "Wahai bapak itu, apakah kapal kalian hendak berlayar menuju ke hulu?"

"Betul, akan berlayar ke Gi-jiong," sahut seorang anak kapal. "Kapal akan mengangkat jangkar?" tanya Kiam-eng pula.

"Hampir, tidak lama lagi," sahut si anak kapal. "Apakah tuan tamu ada barang muatan?"

"Bukan barang, kami berempat hendak pergi ke Hou-ge-san, apakah kapal kalian mau menerima penumpang?"

"Wah, untuk ini harus aku tanyakan dulu kepada juragan kapal," jawab anak kapal itu. "Jika begitu, mohon bantuanmu, coba ditanyakan," pinta Kiam-eng. Anak kapal itu mengiakan dan turun ke bawah anjungan, tidak lama kemudian muncul seorang tua dan menyapa, "Apakah tuan berempat ingin ke Hou-ge-san?"

"Betul, apa bisa?" tanya Kiam-eng.

"Tapi dalam kapal kami hanya ada dua kamar kabin, bilamana tuan berempat mau berdesakan sedikit boleh silakan naik kemari," jawab orang tua itu.

Su-Kiam-eng lantas tanya pendapat sang guru dan Lok-Cing-hui ternyata tidak keberatan. Mereka berempat lantas bergegas melompat ke atas kapal barang itu.

"Numpang tanya siapa she juragan yang terhormat?" tanya Lok-Cing hui kepada si juragan kapal.

"Aku she Lo bernama Ciok-cu, pemilik kapal barang ini." jawab si juragan kapal. "Silakan tuan-tuan turun ke bawah."

Lalu ia mendahului turun ke tingkat bawah diikuti Lok-Cing-hui berempat.

Lo-Ciok-cu membuka pintu sebuah kamar kabin dan berkata, "Begitulah kamar kabin kapal ini, sebuah lagi di sebelahnya, setiap kamar dapat dihuni dua tamu cuma perlengkapannya agak terlampau sederhana ... "

Di dalam kamar ternyata ada dua tempat tidur dan sebuah meja, Lok-Cing-hui mengangguk dan berkata dengan tertawa, "Beginilah sudah boleh, cukuplah asal ada tempat tidur".

"Tuan tamu membawa rangsum sendiri atau ingin menumpang makan juga bersama kami!" tanya pula si juragan kapal.

"Baiklah, biar bikin repot sekalian pada juragan, setiba di Hou-ge-san boleh diperhitungkan biaya seluruhnya." jawab Lok-Cing-hui.

"Baik, cuma, dengan begitu, kalian setiap orang mungkin perlu biaya dua tahil perak ... "

"Seorang dua tahil empat orang delapan tahil nanti aku bayar sepuluh tahil, hanya aku minta disediakan santapan yang agak baik," kata Lok-Cing-hui.

Lo-Ciok-cu tertawa, "Tentu, tentu! Silakan ke dua tuan tua tidur kamar ini, sedangkan pasangan suami- istri muda ini ... "

Ia berpaling dan berkata terhadap Su-Kiam-eng. "Silakan tidur kamar sebelah sana".

Muka In-Ang-bi menjadi marah, omelnya, "Sembarangan omong, pasangan suami istri siapa?"

Lo-Ciok-cu melengak, cepat ia berkata, "Oo, kiranya kalian bukan ... bukan ... Wah, lantas bagaimana ... ".

"Tidak apa-apa mereka adalah saudara sekandung, tidur sekamar juga tidak menjadi soal." sela Lok- Cing-hui.

Ada maksud Su-Kiam-eng agar sang guru yang tinggal sekamar dengan In-Ang-bi, sekarang gurunya berkata demikian, ia tahu orang tua itu sengaja hendak menjodohkan mereka ia menjadi gugup dan berkata cepat, "Tidak, Su-hu, lebih baik ... "

"Sudahlah aku perlu bicara dengan Ang-pang-cu, kalian kan saudara sekandung apa alasannya tinggal satu kamar?" potong Lok-Cing-hui.

Seketika Kiam-eng tidak dapat berbuat apa-apa karena sang guru dengan tegas-tegas menyatakan mereka adalah kakak beradik sekandung, terpaksa ia berkata kepada In-Ang-bi dengan menyengir, "Baiklah adik Bi, mari kita coba melongok kamar itu".

Lo-Ciok-cu lantas membawa mereka ke kamar sebelah, di situ juga ada dua tempat tidur, hati Kiam-eng rada lega, segera ia menaruh barang bawaan di tempat tidur, lalu berkata kepada juragan kapal, "Makan siang sudah kami lakukan di kota tadi, maka kami tidak perlu disediakan lagi."

"Baiklah, silakan mengaso, selekasnya kapal akan diberangkatkan," jawab Lo-Ciok-cu dengan tertawa sambil tinggal pergi. Sesudah juragan kapal pergi, Kiam-eng berkata kepada In-Ang-bi dengan suara perlahan, "Nona In, apabila kamu merasa tidak mau tinggal sekamar denganku, boleh kau katakan kepada guruku, aku kira akan lebih leluasa bila kamu tinggal satu kamar saja dengan guruku ..."

In-Ang-bi menunduk malu, jawabnya lirih, "Tidak, jika engkau tidak suka, boleh kau bicara sendiri kepada su-hu mu".

"Wah, biasanya guruku tidak suka menerima usulku, setiap aku bicara begitu lantai melotot, aku menjadi takut ... "

In-Ang-bi tertawa katanya, "Asalkan kita berlaku sebagai saudara sekandung, apa halangannya tinggal satu kamar?"

Mendengar si nona sendiri tidak keberatan tinggal satu kamar dengan dia, Su-Kiam-eng angkat pundak, katanya. "Kalau nona sendiri tidak keberatan, tentu saja aku terlebih tidak menjadi soal, Toh yang rugi bukan diriku, hehe ... "

"Apakah tinggal satu kamar denganmu aku akan rugi?" tanya Ang-bi tertawa.

"Betul." jawab Kiam-eng. "Kamu kan seorang gadis tinggal sekamar dengan seorang lelaki kan bisa ditertawakan orang?"

"Siapa yang akan mentertawai diriku?" tanya Ang-bin dengan tertawa.

"Mereka si juragan dan para anak kapalnya." kata Kiam-eng sambil menuding ke atas. "Bukankah sekarang mereka tahu kita ini saudara sekandung?" ujar Ang-bi.

Kiam-eng tahu sukar menolak lagi, terpaksa ia angkat pundak pula dan berkata, "Baiklah, waktu tidur malam tiba, mari kita menemui Su-hu dan Ang-pang-cu".

"Setelah menemui mereka boleh kita kembali ke kamar untuk berbincang-bincang, mau?" "Berbincang-bincang apa?" tanya Kiam-eng dengan kebat-kebit.

"Aku ingin tahu bagaimana pengalaman su-heng mu dan kau sendiri waktu mencari Jian-lian-hok-leng di selatan sana".

"Untuk ini, kan sama saja bila kita bicarakan di depan guruku?"

Ang-bi menunduk dan berucap kesal. "Beberapa hari ini tampaknya engkau selalu menghindari diriku, apakah aku membuat jemu padamu?"

"Oo, tidak jawab Kiam-eng cepat. "Sudahlah, jangan kau risau ... Eh, mari, kita ke kamar sebelah". Mereka lantas mendatangi kamar Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai.

"Bagaimana dengan kamar kalian?" tanya Cing-hui dengan tertawa. "Serupa dengan kamar ini," jawab Kiam-eng.

Lok-Cing-hui memandang In-Ang-bi, katanya dengan tertawa. "Ang-bi, biarpun muridku ini kurang adat , namun aku pun berada di sini, aku yakin dia takkan berani sembarangan berbuat, jangan kuatir".

"Janganlah paman Lok bicara demikian," jawab Ang-bi dengan hormat. "Jiwaku ini diselamatkan oleh paman dan Su-toa-ko, budi hidup kembali ini masakah tidak aku pikirkan untuk selanjutnya aku rela meladeni paman Lok dan Su-toa-ko sebagai budak".

"Hus, omong kosong!" justru Cing-hui dengan tergelak. "Jika kami perlu diladeni kaum budak dengan mudah dapat kami beli seorang atau dua orang, buat apa jauh-jauh pergi ke selatan untuk mencari Jian- lian-hok-leng segala?"

Ang-bi mencucurkan air mata katanya terharu, "Bila paman Lok tidak memberi kesempatan padaku untuk membalas budi, sungguh mati pun aku penasaran". "Jika kau ingin membalas budi aku kira memang ada suatu jalan, cuma entah kau tahu atau tidak?" ucap Lok-Cing-hui.

"Silakan paman Lok memberi petunjuk, sekalipun tubuh harus hancur lebur juga takkan aku tolak," sahut Ang-bi.

"Tidak segawat itu," kata Cing-hui. "Maksudku, asal saja kau mau mengangkat guru padaku maka itu pun dapat dianggap sebagai balas budi."

Ang-bi melengong, tapi segera ia kegirangan dan cepat menyembah, "Oo, sungguh bahagia sekali jika paman mau menerimaku sebagai murid masakah aku tidak mau. Harap Su-hu menerima penghormatanku ini".

Lok-Cing-hui membangunkan nona itu, katanya dengan tergelak, "Hah, lekas bangun! Cuma cara pengajaranku sangat keras, selanjutnya kamu jangan mengeluh".

Ang-bi lantas berpaling dan memberi hormat kepada Su-Kiam-eng, "Su-su-heng, terimalah hormatku juga".

"Ah, Su-moai tidak perlu banyak adat," cepat Kiam-eng membalas hormat.

It-sik-sin-kai juga mengucapkan selamat kepada Lok-Cing-hui, katanya, "Selamat Lok-heng. Cuma apakah kau tahu aku pun baru menerima seorang murid perempuan?"

"Oya, pernah aku dengar darimu, ada apa?" jawab Lok-Cing-hui.

"Rasanya pengemis tua sudah mempunyai firasat, bila jadi kelak antara dirimu dan aku akan berubah menjadi bermusuhan." ucap It-sik-sin-kai dengan gegetun.

"Mutlak takkan terjadi," Lok-Cing-hui menggeleng. "Aku cukup kenal watak muridku, aku yakin dia dapat mengaturnya sehingga semua pihak sama bahagia".

Merah muka Su-Kiam-eng dan berdebar juga hatinya, cepat ia memberi hormat dan berkata, "Su-hu, silakan bicara dengan Ang-pang-cu, murid mohon diri untuk kembali ke kamar ... "

Habis bicara segera ia hendak mengeluyur pergi.

Namun Lok-Cing-hui lantas mencegahnya, "Nanti dulu! Masih ada sesuatu perlu aku bicarakan denganmu".

Terpaksa Kiam-eng putar balik ucapnya dengan kikuk, "Su-hu ada apa?"

Mendadak Lok-Cing-hui bicara dengan prihatin. "Baru saja Ang-pang-cu memberitahu bahwa juragan kapal ini mungkin tidak beres, maka kamu harus berhati-hati".

Terkesiap Kiam-eng ia pandang It-sik-sin-kai dan bertanya, "Adakah sesuatu yang dilihat Ang-pang-cu?"

"Tidak ada," sahut si pengemis tersenyum "Soalnya sejak kita berangkat Cui-sia-san-ceng sepanjang jalan pengemis tua selalu mendapat perhatian orang. Namun ketika aku ikut numpang kapal bersama kalian, juragan kapal dan para anak kapalnya ternyata tidak memperhatikan diriku sama sekali, hal ini agak ganjil, maka ia perlu berhati-hati sedikit".

"Wan-pwe jangan menaruh perhatian, bisa jadi mereka sudah terbiasa mengembara kian kemari, maka tidak heran melihat orang semacam Ang-pang-cu," ujar Kiam-eng.

"Mungkin juga begitu, namun tidak ada salahnya berlaku hati hati," kata It-sik-sin-kai.

Su-Kiam-eng mengiakan, lalu mengundurkan dari kamar sang guru dan kembali ke kamar sendiri bersama In-Ang-bi serta berbaring tanpa membuka baju.

Pada saat itulah tubuh terasa berguncang sedikit, agaknya kapal itu sudah mulai meninggalkan tempat penyeberangan itu.

Kiam-eng tidak begitu menaruh perhatian terhadap sinyalemen It-sik-sin-kai, yang memenuhi benaknya sekarang hanya cara bagaimana kelak harus berusaha supaya "sama bahagia" bagi semua pihak. Yang jelas Ih-Keh-ki sudah tukar tanda mata dengan dirinya kecuali Kiam-ong Ciong-li-Cin memang benar adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh kalau tidak mustahil dirinya boleh ingkar janji dan meninggalkan nona itu!

Kalina juga jelas menaruh hati padanya, pula dia adalah adik istri sang su-heng, sekarang Kalina juga ikut ke Tiong-goan bersama It-sik-sin-kai masakah dirinya boleh bersikap dingin tanpa menggubris nona itu?

Mengenai In-Ang-bi, agaknya tepat dugaan Ih-Keh-ki yaitu ingin membalas budi dengan menyerahkan diri sebagai istrinya. Celakanya sang guru juga berniat menjodohkan mereka jelas dirinya tidak dapat membantah perintah sang guru.

Begitulah setelah berpikir lagi, Kiam-eng merasa sukar untuk melepaskan diri dari maksud baik ke tiga nona itu. Tentu saja pikiran anak muda itu menjadi kusut dan risau.

Mendadak pintu kamar diketuk orang beberapa kali. Cepat Kiam-eng melompat bangun dan bertanya, "Siapa itu?"

"Aku!" jawab suara seorang dengan malu malu, "Bolehkah aku masuk?"

"Tentu saja boleh, sebagian dari kamar ini kan menjadi hakmu!" sahut Kiam-eng.

In-Ang-bi menolak pintu dan melangkah masuk katanya dengan malu, "Su-hu menyuruhku ikut belajar lwe-kang kepada su-heng, katanya untuk berlatih Pen-lui-kiam-sut diharuskan berlatih lwe-kang dulu.

"Baiklah, silakan Su-moai duduk di tempat tidur," kata Kiam eng.

In-Ang-bi menurut ia duduk bersila di atas tempat tidur, tanyanya, "Apakah begini sikapnya?" "Begini," kata Kiam-eng sambil menaruh ke dua tangan di atas lutut. "Ke dua tangan ditaruh di siku

dengkul, jari tengah menahan ruas tulang dengkul. Nah, begitulah. Sebelum menarik napas hendaknya mengendurkan otot daging pikiran harus tenang dan dada lapang, bersihkan segala pikiran lain dilarang gelisah dan tegang lalu mengatur napas perlahan ...

In-Ang-bi mengikuti petunjuk itu dengan baik. Tak terduga, baru saja mata terpejam, segera ia membuka mata lagi dan menggeleng kepala katanya, "Wah, gagal, sulit bagiku untuk menghilangkan berbagai pikiran".

"Pada waktu mulai memang banyak halangan," ujar Kiam eng. "Tapi sedapatnya kamu jangan banyak berpikir, lambat-laun tentu dapat memusatkan pikiran dan lama lama akan memasuki keadaan lupa diri".

"Ya, tapi aku kira agar tidak banyak berpikir lebih dulu harus hilangkan dulu keruwetan batin," kata Ang- bi dengan tersenyum.

"Memangnya kamu ada keruwetan batin apa?" tanya Kiam-eng.

"Ada, misalnya, tidak habis aku pikir sebab apakah Toa-su-heng jauh-jauh menuju ke selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng bagiku dan sampai kini tidak pernah pulang? Kemudian engkau juga pergi ke sana dan cara bagaimana mendapatkan Jian-lian-hok-leng? Lalu bagaimana keadaan kota emas di sana? Semuanya itu adalah hal-hal yang ingin aku ketahui. Bilamana tidak kau ceritakan, tentu benakku akan selalu dipenuhi berbagai macam pikiran itu".

Kiam-eng menghela napas, katanya, "Baiklah belum lama kamu baru sembuh dari penyakitmu seharusnya tidak boleh tanya hal-hal itu. Jika kamu berkeras ingin tahu, bolehlah dengarkan ceritaku ... "

Lalu ia mulai berkisah sejak Gak-Sik-lam diperintahkan ke selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng sehingga menumpang kapal Lo-Ciok-cu ini, sampai hampir dua jam Kiam-eng bercerita.

Air mata Ang-bi bercucuran demi mendengar Gak-Sik-lam mengalami cedera berat dan sampai sekarang mati-hidupnya tidak diketahui, ratapnya sedih, "Demi diriku Toa-su-heng berubah menjadi cacat total, sungguh ... sungguh hatiku tidak bisa tentram".

"Apa pun yang terjadi dia tidak menyesali dirinya," ujar Kiam-eng. "Ia pun tidak mengharapkan balas budi darimu, pada hakikatnya sebabnya dia berubah cacat adalah karena dia bersahabat dengan Kalina dan tidak ada sangkut-pautnya dengan pencarian Jian-lian-hok-leng, untuk ini kamu tidak perlu berduka". Tidak bilamana dia tidak pergi ke daerah selatan tentu dia takkan mengalami nasib buruk seperti itu, maka sesungguhnya akulah yang membikin susah dia," ratap Ang-bi.

"Caramu berduka ini bukanlah semacam balas budi terhadapnya," ujar Kiam-eng. "Tapi apa ... apa yang dapat aku lakukan?" tanya Ang-bi terisak.

"Nanti kalau ilmu pedang sudah berhasil kau latih boleh kau bantu menemukan dia, dan ini pun sudah cukup".

"Ya, betul, kalau Toa-su-heng dan istrinya tidak kita temukan kembali sungguh aku tidak ingin ... " "Tidak ingin apa?" tanya Kiam-eng karena nona itu tidak melanjutkan ucapannya.

"Tidak mau menikah," sambung Ang-bi tegas.

Kiam-eng melengong, "Dan bila Toa-su-heng mengalami nasib malang, misalnya sudah meninggal, lantas bagaimana?"

"Jika begitu, aku akan mencukur rambut dan menjadi nikoh setiap hari aku berdoa bagi Toa-su-heng semoga arwah beliau menemukan kebahagiaan di nirwana".

Kiam-eng sangat terharu, namun ia lantas menggeleng kepala dan berkata, "Jika benar kamu berbuat demikian, pasti Toa-su-heng takkan senang".

"Tapi aku sudah bertekad berbuat demikian"

Kiam-eng menghela napas katanya sambil berbangkit, "Harap Su-moai istirahat dulu biar aku keluar sebentar".

Ia tinggalkan kamar dan masuk ke kamar sebelah dilihatnya sang guru dan It-sik-sin-kai sedang duduk semadi di tempat tidur. Ia tidak berani mengganggu diam-diam ia mengundurkan diri dan menuju ke geladak kapal.

Angin malam meniup semilir, cahaya bulan memancar lembut, kapal barang ini melaju perlahan menyongsong arus sungai.

Kiam-eng melihat juragan kapal sedang mengobrol iseng dengan anak kapal. Ia coba mendekat dan menyapa, "Laju kapal ini ternyata tidak cepat, juragan!"

"Ya, menyongsong arus, tentu saja lambat," sahut Lo-Ciok-cu tertawa. "Barang apakah yang dimuat kapalmu ini?"

"Suatu partai ikan asin". "Ikan asin dari mana?" "Hei-bun".

"Tempat tujuan adalah Gin-jiang?" "Betul".

"Sudah berapa lama juragan menjelajahi alur sungai ini?" "Sudah belasan tahun".

"Pantas, rasanya sudah pernah aku kenal," ucap Kiam-eng sambil menatap tajam. "Kalau tidak salah ingat, rasanya seperti pernah aku lihat juragan di kota tambangan Ka-hi".

"Oo, apa betul?" si juragan kapal tampak melengak.

"Sebabnya masih aku ingat adalah karena waktu itu juragan sedang ribut mulut dengan seorang tua di atas kapalmu dan hampir saja baku hantam ... Eh, ya ada persoalan apakah waktu itu?" Lo-Ciok-cu berpikir sejenak, lalu berkata seperti terjadi kejadian dahulu, "Oya, orang tua itu adalah penyewa kapalku, ia mengangkut satu partai kain sutra ke Ka-hi, di tengah jalan mengalami hujan badai, sebagian kain tersiram air hujan dan mengalami kerusakan, itu kan pembungkusannya yang kurang rapi dan bukan salah kami, namun dia menuduh kapal ini kurang baik dan macam-macam lagi, ia menuntut ganti rugi padaku. Lantaran itulah terjadi ribut mulut."

"O, kiranya begitu. Waktu itu karena ada urusan penting sehingga aku tidak tahu kejadian selanjutnya. Lalu bagaimana akhirnya juragan memberi ganti rugi?"

"Ah, tidak. Mana mau aku beri ganti rugi, kan bukan salahku".

"Ya, jika pembungkusannya yang kurang rapi, dengan sendirinya bukan risiko juragan ... Eh, hari ini tanggal berapa?"

"Tanggal 14 bulan delapan, besok adalah hari Tiong-ciu," jawab Lo-Ciok-cu.

"Pantas cahaya bulan seterang dan seindah ini," ujar Kiam-eng. "Menikmati cahaya membuka di atas kapal ternyata menyenangkan juga".

"Ya, namun orang yang setiap hari berada di kapal seperti kami tidak merasakan apa-apa lagi ... " Kiam-eng tertawa dan berjalan mengelilingi geladak kapal, lalu turun dan kembali ke kamar sang guru. "Baru saja kau bicara dengan siapa?" tanya Lok-Cing-hui dengan tersenyum.

Kiam-eng merapatkan pintu, jawabnya, "Dengan juragan kapal. Su-hu sudah dengar seluruhnya?" "Tidak begitu jelas, apa yang kalian bicarakan?" tanya Cing-hui.

"Bicara tentang kejadian tahun yang lalu juragan kapal itu ribut mulut dengan seorang penyewa kapal ... "

Mendadak It-sik-sin-kai membuka mata, tanyanya, "Apakah kejadian sesungguhnya?"

"Tidak," sahut Kiam-eng. "Dugaan Ang-pang-cu ternyata tidak keliru, kita memang sudah masuk perangkap musuh".

Air muka Lok-Cing-hui rada berubah, tanyanya lirih, "Maksudmu, kapal barang ini sengaja disediakan si kedok berbaju hijau itu untuk menjebloskan kita?"

"Kira-kira begitulah," Kiam-eng mengangguk "Mungkin dia berhasil mencari tahu bahwa kita ada maksud menumpang kapal maka dia mendahului datang ke Liok-kau-keh dan menyiapkan sebuah kapal barang untuk memancing kita kemudian akan mencari kesempatan untuk membunuh kita berempat."

"Sungguh hebat!" jengek It-sik-sin-kai. "Cuma tidak diketahui cara bagaimana mereka akan turun tangan?"

"Sudah sekadar aku periksa keadaan kapal ini, kecuali Lo-Ciok-cu seorang, sisanya adalah anak kapal seluruhnya, sebab itulah aku kira mereka tidak berani turun tangan secara terang-terangan, sangat mungkin mereka akan menaruh racun dalam makanan atau membakar kapal selagi kita tertidur nyenyak."

Lok-Cing-hui mengangguk, tanyanya pula, "Apakah tempat barang muatan juga sudah kau longok?"

"Tidak," jawab Kiam-eng. "Menurut orang she Lo itu katanya barang muatannya adalah satu partai ikan asin. Biarlah besok aku cari kesempatan untuk memeriksanya ... Ah, ada orang turun ke bagian kabin ini."

Benar juga, sejenak kemudian di luar kamar ada orang mengetuk pintu dan berseru, "Tuan tamu, ini antarkan santapan malam!"

Kiam-eng membukakan pintu, terlihat seorang anak kapal membawa senampan makanan dan berkata pula, "Inilah santapan malam tuan-tuan!"

"Baiklah, taruh saja di meja," jawab Kiam-eng. Segera anak kapal itu menaruh makanan dan sebotol arak di atas meja. Tanpa sungkan lagi si pengemis tua melompat maju, botol arak dipegang terus ditenggak begitu saja.

"Wah, boleh juga arak ini?" seru si pengemis tua sambil mengusap mulut.

"Ini arak Li-ji-ang, khusus disediakan oleh juragan kami," tutur si anak kapal sambil putar tubuh hendak tinggal pergi.

"Nanti dulu, dik!" seru It-sik-sin-kai.

"Bapak ini ada pesan apa?" tanya si anak kapal. "Kabarnya di kapal kalian ada ikan asin?"

Anak kapal itu mengangguk, "Betul, apakah bapak ini ingin makan ikan asin?" "Betul, memang hobiku suka makan ikan asin dapatkah kau bawakan sedikit?" "Wah, sulit! Itu barang juragan kami, tidak berarti aku sentuh."

"Apakah pemilik barang tidak ikut menumpang kapal?" tanya pengemis tua. "Ada, dia juga ikut menumpang kapal kami".

"Aha, bagus, biar aku minta langsung kepadanya," kata pengemis tua dengan gembira segera ia melangkah ke luar kamar.

Lok-Cing-hui dan Kiam-eng tahu pengemis tua itu ingin tahu kejadian gudang kapal maka setelah anak buah kapal pergi Cing-hui lantas berkata kepada Kiam-eng "Anak Eng, mungkin si baju hijau itu pun sembunyi di gudang lekas kau susul Ang-lo-cian-pwe."

Kiam-eng mengiakan dan segera meninggalkan kamar, sampai di geladak, dilihatnya It-sik-sin-kai sedang bicara dengan Lo-Ciok-cu, ia segera mendekat dan bertanya, "Ada urusan apa, Ang-pang-cu?"

Si pengemis tua tidak menjawab, malahan ia harus cengkeram leher baju Lo-Ciok-cu sambil menghardik, "Kamu juragan kapal brengsek, pengemis tua suka makan ikan asin, maka ingin aku minta sekati dua kati kepada pemilik ikan mengapa tidak boleh?"

"Bukan tidak boleh, cuma tidak leluasa," sahut Lo-Ciok-cu. "Ikan asin itu terisi dalam peti yang ditutup rapi, bila orang diharuskan membongkar peti hanya untuk mengambil satu-dua kati buat memenuhi permintaanmu, kan merepotkan".

"Jika begitu, biarlah aku beli satu peti, kan boleh?" kata It-sik-sin-kai.

"Ya, sudahlah, harap lepas tangan, biar aku bawa kamu ke sana." kata si juragan kapal kewalahan.

It-sik-sin-kai lepaskan cengkeramannya, "Nah, begitu baru kawan namanya. Ayo berangkat!"

Sambil berjalan Lo-Ciok-cu masih mengomel, "Sungguh aneh, ikan asin kan makanan asin, masakah enak dimakan?"

"Kesukaan tiap orang berbeda, tanpa ikan asin aku justru tidak napsu makan," ujar It-sik-sin-kai tertawa.

Kiam-eng lantas menyambung, "Eh, juragan kapal, memang begitulah watak Ang-pang-cu kita ini, suka terus terang, hendaknya engkau jangan marah".

"Ah, tidak apa-apa, cuma aku kuatir pemilik barangnya bilang tidak boleh." ujar Lo Ciok-cu. "Apabila ikan asin itu milikku, tentu aku beri gratis".

Tengah bicara mereka sudah sampai di mulut pintu kabin sana, mendadak It-sik-sin-kai mendorong Lo- Ciok-cu dan mendahului melompat ke bawah.

Hampir jatuh terjengkang oleh dorongan si pengemis tua itu, Lo-Ciok-cu merasa marah, mendadak ia berteriak, "Tuan Poa, ada penumpang hendak membeli ikan asin padamu!" Secepat kilat Kiam-eng cengkeram pergelangan tangan orang, ucapnya tersenyum, "Jangan ribut, juragan, marilah kita ikut turun ke sana".

Karena urat nadi terpegang, seketika pucat muka Lo-Ciok-cu, bentaknya marah, "He, apa-apaan ini?"

Sembari mendorong orang ke bawah, Kiam-eng berkata "Tidak apa-apa, aku kuatir kami akan terjatuh, maka aku pegang dirimu".

Lo-Ciok-cu meronta untuk melepaskan diri dari pegangan Su-Kiam-eng, tapi di tengah meronta itulah dia didorong ke gudang kapal.

Dalam gudang di dasar kapal itu seorang setengah umur berdandan sebagai saudagar tampak sedang menghadang It-sik-sin-kai yang sudah berada di situ sambil membentak, "Hei, ada apa? Apakah kalian ingin merompak?"

"Tidak, pengemis tua hanya ingin membeli itu peti asin padamu," jawab It-sik-sin-kai tertawa.

Orang setengah baya berdandan saudagar itu melengak dan menyusut mundur selangkah, ucapnya dengan aseran, "Sungguh aku tidak paham maksudmu?"

"Jika begitu, biar aku katakan sejelasnya," ujar si pengemis tua. "Tadi aku dengar kapal ini memuat ikan asin, padahal pengemis tua paling gemar makan ikan asin, maka ingin aku beli beberapa ekor padamu. Namun juragan kapal ini sangat pandai bekerja bagimu, ia bilang ikan asin milikmu dikemas dalam peti secara rapi dan tidak dijual eceran, terpaksa aku ambil keputusan untuk membeli satu peti saja".

"Oo, apakah betul begitu, juragan kapal?" tanya si saudagar terhadap Lo-Ciok-cu.

"Memang begitulah," sahut Lo-Ciok-cu. "Ia bilang mau beli satu peti, terpaksa aku bawa mereka ke sini. Akan tetapi, coba lihat tuan Poa, saudara cilik ini justru main kasar padaku".

Orang berdandan saudagar itu lantas berkata terhadap Su-Kiam-eng, "Adik ini, harap kau lepas tangan. Usahaku berdagang ikan asin hanya ingin mendapat keuntungan belaka, asalkan kalian tidak berniat jahat, biarlah aku jual satu peti kepada kalian".

"Itu tidak ada sangkut pautnya denganku, urusan jual beli silakan bicara langsung dengan Ang-pang-cu," jawab Kiam-eng tertawa.

Saudagar setengah baya itu tampak kikuk, terpaksa ia berkata terhadap It-sik-sin-kai, "Apakah benar bapak ini ingin membeli satu peti ikan asin?"

"Betul, lekas kau buka harga," sahut si pengemis tua.

"Satu peti lima tahil perak " kata saudara itu. "Cuma, apakah satu peti dapat kau makan habis?" "Tidak habis termakan biar aku buang ke laut saja," ucap Sin-kai.

"Ai, jangan bergurau," ujar si saudagar tertawa. "Begini saja, betapapun kita sudah kawan satu kapal. Biarlah aku beri gratis satu ekor ikan asin, cuma caramu membuka peti harus hati-hati, Jangan sampai merusaknya".

"Tidak, pengemis tua ingin membeli satu peti, ditaruh di mana ikan asinmu?"

"Itu di sana," sahut si saudagar sambil menunjuk satu tumpukan barang yang ditutup dengan kain layar.

It-sik-sin-kai mendekat ke sana dan menyingkap kain layar, benar juga di bawah kain layar tertumpuk 20 peti kayu yang berbau ikan asin. Segera ia tarik ke luar satu peti, dicongkelnya paku peti dan membuka tutup peti. Ternyata isi peti memang betul ikan asin belaka. Diam-diam ia merasa malu, ucapnya dengan menyengir. "Hehe ikan asin semacam ini pernah aku makan, rasanya memang enak ... "

Melihat isi peti memang benar ikan asin Kiam-eng merasa serba salah juga pikirnya, "Wah, jangan- jangan kapal barang ini memang tidak ada sesuatu yang licik, tadi si juragan kapal mengaku pernah ribut mulut di Ka-hi dulu mungkin cuma sekadar basa-basi saja".

Tengah berpikir, tiba-tiba terlihat sekilas wajah si saudagar menampilkan rasa senang. Tergerak hati Kiam-eng, serunya pula, "Aha, Ang-pang-cu ikan asin juga ada yang baik dan ada yang busuk. Jika ingin makan ikan asin yang baik, hendaknya dipilih yang cocok. Coba tumpahkan seluruh isi peti, supaya kita dapat memilih".

It-sik-sin-kai lagi merasa serba salah, ucapan Kiam-eng itu membuatnya girang katanya, "Aha, betul, biar aku pilih seekor yang paling baik".

Sembari bicara peti ikan itu lantas diputar balik, seluruhnya isi peti dituang ke lantai. Akan tetapi isinya tetap ikan asin belaka tanpa tercampur barang lain.

Kembali air muka It-sik-sin-kai berubah merah, katanya dengan menyengir terhadap Su-Kiam-eng, "Eh coba kau lihat, mana yang kau pilih!"

Dengan tertawa Kiam-eng menjawab. "Tampaknya kualitas ikan asin ini cuma kelas biasa saja dan tidak ada yang bagus. Aku kira kita ambil

menggoyang tangan. "Wah, jangan ikan asin yang aku angkut ini semuanya sama kualitasnya, jika kalian mau beli boleh beli apa adanya, kalau tidak jadi beli juga tidak menjadi soal, tapi jangan mencari urusan!"

"Hm, kenapa ribut," jengek Kiam-eng. "Tadi kau bilang harga ikan asin ini tiap peti lima tahil perak. Sekarang ingin aku tanya berapa peti ikan asin yang kau bawa ini?"

"Seluruhnya cuma 20 peti maka jangan sembarangan dibongkar," jawab si saudagar dengan gelisah.

"Satu peti seharga lima tahil perak, 20 peti sama dengan 100 tahil," kata Kiam-eng. "Jauh-jauh dari Hai- bun mengangkut ikan asin ke Gi-jiang memangnya hanya perdagangan bernilai 100 tahil perak yang kau lakukan?"

"Ya, orang semacam kami memang pedagang kecilan," ujar si saudagar.

"Tapi setahuku, perjalanan sejauh ribuan li, melulu biaya angkutan kapal saja sudah melebihi 100 tahil perak!" kata Kiam-eng.

Si saudagar melengak, katanya kemudian. "Sepanjang perjalanan kan masih dapat aku lakukan usaha lain untuk menambah penghasilan. Ikan asin ini hanya salah satu barang daganganku".

"Hahaha, jika begitu, anda ini kan bukan lagi berdagang kecil-kecilan?!" seru Kiam-eng tertawa.

Seketika si saudagar tidak dapat menjawab, akhirnya dari malu menjadi marah, teriaknya "Hm, aku berdagang menurut caraku sendiri, untuk apa kalian sengaja mencari perkara padaku?"

"Bukan mencari perkara, justru kami bermaksud membeli seluruh 20 peti ikan asin barang daganganmu ini".

"Tidak, tidak aku jual," jawab si saudagar tegas sambil menggeleng.

Kiam-eng tidak mengusutnya lagi, ia berpaling dan berkata kepada si pengemis tua, "Ang-pang-cu boleh kau bongkar saja isi ke 19 peti yang lain.

It-sik-sin-kai tampak ragu, ucapnya sambil garuk-garuk kepala, "Wah, ini ... ini kan agak repot ... "

"Tidak apa-apa, bongkar saja," kata Kiam-eng. "Dulu pernah aku dengar cerita bahwa ada seorang hartawan mendadak ingin makan hati lembu seketika juga dia suruh orang memotong lembu untuk mengambil hatinya. Sekarang kita hanya memilih satu ekor ikan asin di antara isi ke-20 peti ikan asin, kan pantas juga?"

Si pengemis tua tetap tidak berani gegabah, ucapnya sambil mengangkat pundak, "Apakah kau yakin akan mendapatkan ikan asin baik?"

"Ya, pasti dapat ditemukan," jawab Kiam-eng.

It-sik-sin-kai tahu anak muda itu sangat cerdas dan cermat, kalau tidak yakin akan sesuatu tentu takkan berani sembarang bertindak. Maka ia pun memberanikan diri mengambil satu peti ikan asin lagi dan dibuka. "Hai, berhenti! Kalian ini barangkali perompak!" teriak si saudagar dengan gusar dan bermaksud merintangi.

Akan tetapi ketika orang mendekat perlahan It-sik-sin-kai mendorongnya dan berkata, "Jangan mendekat berdiri di sana saja!"

Seketika orang itu merasa seperti ditolak suatu tenaga maha kuat, ia terhuyung mundur ke pojok dinding dengan muka pucat.

Segera It-sik-sin-kai menumpahkan lagi seluruh isi peti dilihatnya isinya tetap ikan asin belaka bercampur garam. Ia coba mengangkat lagi peti ke tiga ... "

Berturut-turut tujuh peti dibongkarnya dan tetap tidak menemukan barang lain kecuali ikan asin. Namun ketika ia meraih peti ke delapan dan bermaksud dibongkar, tiba-tiba si saudagar berteriak dengan kuatir, "Hai, jangan dibanting ..."

"Memangnya kenapa?" tanya si pengemis tua dengan tertawa.

Muka si saudagar tampak pucat dan berkeringat, ucapnya gemetar, "Tidak ... jangan ... jangan dirusak

... "

"Aneh, kan sudah tujuh peti aku bongkar, kenapa yang ini tidak boleh?" tanya It-sik-sin-kai heran. "Sebab isi peti ini bukan ikan asin," sambung Kiam-eng dengan tertawa.

It-sik-sin-kai pun menyadari hal itu, segera ia kerahkan tenaga dalam, dengan hati-hati ia copot paku pemantek peti, waktu tutup peti dibuka, ternyata isi peti tetap ikan asin juga. Tentu saja ia melengak, "Hah, ikan asin juga!"

"Coba dituang ke lantai seluruh isi peti." kata Kiam-eng.

Pengemis tua menurut, peti dibalik, setelah selapis ikan asin tertuang, di bawahnya ternyata bukan lagi ikan asin melainkan semacam bubuk berwarna kelabu dan menyebarkan bau dan menusuk hidung seperti bau belerang.

Air muka It-sik-sin-kai berubah seketika, jengeknya. "Kurang ajar! Kiranya mereka menyiapkan bubuk mesiu untuk meledakkan kapal ini".

Waktu melihat peti mulai ditumplek oleh It-sik-sin-kai, diam-diam sebelah tangan si saudagar sudah merogoh saku, kini mendadak tangan terangkat dan menyambitkan sesuatu ke arah si pengemis tua.

Akan tetapi baru saja tangannya bergerak. "sret", tahu-tahu sebilah belati menyamber lebih dulu dari samping dan tepat mengenai pergelangan tangannya.

Saudagar setengah baya itu menjerit kesakitan, tiga buah paku Song-bun-ting (paku gerbang akhirat) pun jatuh ke lantai.

Yang menyambitkan belati itu bukan lain daripada Su-Kiam-eng. Ia melirik sekejap ke tiga buah Song- bun-ting, katanya dengan terbahak. "Hah, juragan Poa rupanya engkau juga jual-beli paku maut ini!"

Sambil bicara, sekaligus ia pun menelikung tangan Lo-Ciok-cu, menyusul sebelah tangan menambahi suatu pukulan keras sehingga orang roboh meringkuk di pojok, lalu ia mendekati si saudagar setengah baya.

Pada saat itulah Lok-Cing-hui juga turun ke situ bersama In-Ang-bi.

Melihat Lo-Ciok-cu dirobohkan Su-Kiam-eng, cepat Lok-Cing-hui berseru, "Sabar dulu, biarkan dia hidup untuk dimintai keterangan!"

It-sik-sin-kai menunjuk mesiu yang berserakan di lantai, katanya, "Coba lihat Lok-heng, bilamana tadi aku tidak kepingin makan ikan asin, saat ini mungkin kita sudah hancur lebur dan tenggelam di dasar laut".

Lok-Cing-hui memandang tajam si saudagar setengah umur, tanyanya dengan dingin. "Siapa nama saudara ini?" Orang itu tidak menjawab, pergelangan tangan kanannya tertancap belati, darah mengucur tidak berhenti namun dia tidak berani menarik belati, sebab bila pisau ditarik, luka itu harus segera diobati, kalau tidak tentu darah akan merembes dengan derasnya. Padahal ke empat orang yang dihadapinya sekarang jelas tidak ada yang mau menolongnya, terpaksa ia dekap tangan yang luka itu dengan kuatir dan cemas.

Karena orang tidak menjawab pertanyaan sang guru mendadak sebelah kaki Su-Kiam-eng mendepak sehingga orang itu jatuh terguling, bentaknya, "Ayo bicara siapa namamu?"

Orang itu merintih perlahan dan perlahan merangkak bangun namun tetap membandel tanpa menjawab. Mendadak Kiam-eng pegang belati yang menancap di tangan orang terus ditarik.

Orang itu menjerit, darah pun mengucur deras dari lukanya, ia ketakutan sambil memegang pergelangan tangan, teriaknya, "Lekas, lekas memampatkan darahku! Aku mohon ... aku mohon dengan sangat, mampatkan darahku?"

Kiam-eng menyimpan kembali belatinya, ucapnya dengan tersenyum, "Jangan kuatir, sebelum kau jawab pertanyaan kami, aku jamin kamu takkan mampus!"

"Baik, akan aku jawab," sahut orang itu gugup. "Aku adalah anak buah Thian-ong-pang, aku she Pit bernama Eng-an, orang menyebutku dengan julukan Tang-hai-kau-liong (si ular dari laut timur) ... "

"Apakah pemimpin Thian-ong-pang itu Kiam-ong Ciong-li-Cin?" tanya Lok-Cing-hui.

Tang-hai-kau-liong Pit-Eng-an tampak melengong, jawabnya bingung, "Mana ... mana bisa Thian-ong- pang dipimpin Kiam-ong Ciong-li-Cin."

"Dari jawabanmu ini, jadi kamu sendiri juga tidak tahu siapa pemimpin Thian-ong-pang?" Cing-hui menegas.

"Ya, memang baru setengah tahun aku masuk Thian-ong-pang, belum sesuai untuk mengetahui siapa Pang-cu kami aku hanya petugas yang melaksanakan perintah atasan dengan upah seribu tahil perak sebulan," tutur Pit-Eng-an.

"Sekali ini, yang memberi perintah membunuh kami berempat dengan obat peledak itu datang dari Pang- cu kalian atau ke tiga Su-cia?"

"Atas perintah Su-cia (duta) nomor satu," tutur Pit-Eng-an. "Ia menyuruh kami menyamar menyewa kapal barang ini dan memancing kalian menumpang kapal bilamana kalian tidur nyenyak kami diharuskan menyundut mesiu untuk meledakkan kalian. Sungguh aku tidak tahu engkau ini Kiam-ho dan dia itu Kai-pang-pang-cu kalau tahu mampus pun aku tidak berani ... "

"Dari mana kau tahu aku ini Lok-Cing-hui, padahal belum aku beritahu namaku?" tanya Cing-hui.

Pit-Eng-an melengong, tiba-tiba ia berlutut pun menyembah, "Oo, ampun, mohon Lok-tai-hiap mengampuni jiwaku ... "

Lok-Cing-hui mendengus, katanya terhadap Su-Kiam-eng, "Anak Eng, boleh mampatkan darahnya.

Kiam-eng menutuk dua tiga tempat hiat-to orang untuk menghentikan cucuran darah, lalu membalut lukanya.

"Lok-heng, apa benar hendak aku ampuni jiwanya?" tanya It-sik-sin-kai bingung. "Memangnya ada yang kurang baik?" tanya Lok-Cing-hui.

"Membasmi kejahatan harus tuntas, aku pikir setiap orang yang rela manjadi antek bayaran Thian-ong- pang harus dibekuk dan dibunuh tanpa kecuali".

"Manusia bukan nabi, setiap orang bisa berbuat salah," ujar Lok-Cing-hui. "Maka aku pikir setiap orang yang tersesat perlu diberi nasihat supaya sadar, bila susah diperbaiki, kalau tertangkap lagi baru kita bunuh dia".

"Betul juga, dan sekarang Lok-heng hendak membebaskan dia?" tanya pengemis tua. "Ya, apakah saran Ang-heng?" jawab Lok-Cing-hui.

It-sik-sin-kai termenung sejenak, katanya kemudian, "Aku pikir, umpama akan kau bebaskan dia boleh tunggu setelah kita tiba di Hou-ge-san ... "

"Apakah Ang-heng kuatir kawanan anak kapal tidak mau tunduk kepada perintah kita?" tanya Cing-hui.

"Tidak, maksudku biar kita bawa mereka untuk menemui si tua Ciong-li-Cin," sahut pengemis tua. "Kalau Ciong-li-Cin benar pemimpin Thian-ong-pang, orang yang berdosa tentu merasa gentar ketika melihat kita membawa datang ke dua orang ini pasti dia akan menyangka rahasianya telah terbongkar, tatkala itu tanpa dipaksa pun dia akan mengaku terus terang sehingga kelihatan belangnya".

"Betul juga," Lok-Cing-hui mengangguk. "Cuma aku kuatir si orang berbaju hijau berkedok dan ketua Thian-ong-pang itu terdiri dari dua orang dan bukan seorang yang sama ..."

"Tapi aku yakin antara ke dua orang itu bisa jadi cuma terdiri dari seorang," kata pengemis tua.

"Tapi kalau dibilang ketua Thian-ong-pang adalah Ciong-li-Cin, hal ini agak aku ragukan kebenarannya," ujar Lok-Cing-hui. "Sebab bila benar dia ketua Thian-ong-pang masakah si duta nomor dua berani muncul dengan menyamar sebagai Ciong-li-Cin untuk memancing Kiam-eng?"

"Hal ini memang sangat aneh." kata pengemis tua. "Baiknya kepergian kita ke Hou-ge-san ini bukan untuk mencari perkara melainkan untuk mencari pembuktian, segala sesuatu tentu akan menjadi jelas setiba di Hou-ge-san sana".

Lok-Cing-hui mengangguk, lalu berkata pula terhadap Su-Kiam-eng, "Anak Eng, bubuk mesiu boleh kau lempar saja ke laut"

Kiam-eng mengiakan dan segera mesiu yang berserakan di lantai itu diisi kembali ke dalam peti ia bukan lagi peti lain dan ternyata tidak ada lagi isi mesiu kecuali ikan asin lalu ia angkat peti berisi mesiu itu ke geladak kapal dan dibuang ke laut.

Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai dan In-Ang-bi lantas mengurus Pit-Eng-an Lo-Ciok-cu ke geladak kapal dan menyuruh juragan kapal itu mengumpulkan anak buahnya untuk diberi pengertian seperlunya, lalu diperintahkan tetap berlayar menuju ke hulu.

Sepanjang jalan Tang-hai-kau-liong Pit-Eng-an dan Lo-Ciok-cu tidak berani main gila lagi maka kapal itu dapat berlayar dengan lancar dan tiba di Hou-ge-san dengan aman".

Lalu rombongan Lok-Cing-hui meninggalkan kapal dan tidak membikin susah pula Pit-Eng-an dan lain- lain, mereka terus menuju ke Pek-ho-san-ceng.

Waktu itu sudah dekat magrib pegunungan Hou-ge-san diselubungi oleh selapis kabut. Mereka meneruskan berjalan tanpa bicara.

Tiba-tiba It-sik-sin-kai berkata, "Lok-heng, apabila benar Ciong-li Cin adalah si baju hijau berkedok atau pemimpin Thian-ong-pang, lalu apa tindakanmu nanti?"

"Terpaksa menghadapi dia sebisanya," jawab Cing-hui.

"Wah, ini kurang baik," ujar pengemis tua. "Saat ini hanya kita beberapa orang saja yang tahu kemungkinan dia adalah pengganas yang membunuh ke-18 tokoh itu. Jika kita bertarung dengan dia, bisa jadi kawan dunia persilatan akan menyangka kita yang mencari perkara dan bermaksud memfitnah dia".

"Betul, kalau tidak ada bukti, siapa pun tak akan percaya Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah pelaku yang membunuh ke-18 tokoh itu." ujar Lok Cing-hui. "Lantas bagaimana kalau menurut pandangan Ang-heng, seyogianya apa yang harus kita lakukan?"

"Sebaiknya begini saja." ucap It-sik-sin-kai. "Jika terbukti dia memang si pengganas, bila dia tidak bermaksud membikin susah kita, maka kita pun jangan turun tangan ..."

"Wah, jika rahasianya sudah kita bongkar, mustahil dia mau tinggal diam?" ucap Lok-Cing-hui.