Rahasia 180 Patung Emas Jilid 22

 
Jilid 22 

"Hei, nanti dulu, engkoh cilik!" seru si budak tua tadi.

Kiam-eng menahan langkahnya, tanyanya sambil menoleh, "Apakah Lo-tiang ada sesuatu petunjuk padaku?"

"Eh, kan belum kau jawab pertanyaanku, apakah kau datang dari tempat Wi-ho-Lo-jin?" kata si budak tua.

"Betul," Kiam-eng menganggguk.

Dan sekarang kau mau kembali lagi ke tempat Wi-ho-Lo-jin?" Kembali Kiam-eng mengiakan.

"Jika begitu, mungkin majikan kami ingin titip sepucuk surat untuk Wi-ho-Lo-jin, apakah engkoh cilik dapat menunggu sebentar!"

Biarpun hati sendiri lagi bingung, tidak enak juga bagi Kiam-eng untuk menolak titipan orang, ia melangkah balik dan berkata, "Baiklah, sepantasnya memang harus aku temui majikanmu."

Si budak tua menaruh sapunya dan berkata, "Jika demikian, marilah ikut padaku."

Perkampungan ini tidak luas, hanya terdiri dari beberapa petak rumah bambu, namun bangunannya indah dan terawat baik, sekali pandang saja orang akan tahu tuan rumah pastilah seorang yang terpelajar.

Budak tua itu membawa Kiam-eng ke dalam ruang tamu dan menuang secangkir teh untuk tamunya, katanya kemudian, "Harap tuan muda duduk sebentar, biar aku laporkan kepada Ceng-cu."

Kiam-eng menerima suguhan teh itu dan menjawab, "Terima kasih, silakan!"

Tidak lama setelah budak tua itu masuk ke belakang, terdengarlah suara langkah dua orang datang. Cepat Kiam-eng menaruh cangkir teh dan berdiri.

Tapi orang yang muncul di ruang tamu ternyata sama sekali tak terduga oleh Kiam-eng, dia tak-lain-tak- bukan adalah gurunya sendiri, Kiam-ho Lok-Cing-hui.

Keruan Kiam-eng tercengang dan segera pula melonjak kegirangan sambil berteriak, "Aha, Su-hu Su-hu! Engkau ternyata benar berada di sini!"

Kiam-ho Lok-Cing-hui tersenyum, katanya sambil menuding si budak tua, "Anak Eng, lekas memberi hormat dulu kepada Han-lo-cian-pwe!"

Kembali Kiam-eng melengak, dengan heran bingung ia tatap si budak tua tadi, katanya dengan tergegap, "Jadi ... jadi engkau sendirilah Tiok-kiam-sian-sing Han-lo-cian-pwe?!"

Si budak tua mengelus jenggot dengan tersenyum, jawabnya, "Ya, maaf, jika tadi telah aku goda dirimu."

Cepat Kiam-eng berlutut dan menyembah, katanya, "Tidak, justru wan-pwe mohon dimaafkan."

Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting menunjuk kursi bambu dan berkata, "Silakan duduk, malah kita duduk saja untuk bicara."

Setelah ke tiga orang mengambil tempat duduk, dengan tertawa Lok-Cing-hui berkata, "Selamanya tadi Han-lo-cian-pwe tidak sengaja hendak bergurau denganmu, soalnya dia tidak tahu cara bagaimana membedakan dirimu Ini Su-Kiam-eng palsu atau tulen, terpaksa ia harus berusaha menguji dirimu."

"Oo, masakah te-cu bisa palsu?" ujar Kiam-eng.

"Mengapa tidak ada, justru tiga hari yang lalu Han-lo-cian-pwe sudah melihat seorang palsu," ucap Lok- Cing-hui dengan serius.

Keruan Kiam-eng melonjak kaget, "Hah, masakah ada orang memalsukan te-cu.

Kiam-ho Lok-Cing-hui mengangguk, tuturnya, "Betul. Pemuda yang memalsukan dirimu itu juga datang ke Cui-sia-san-ceng pada waktu seperti sekarang ini, tatkala mana Han-lo-cian-pwe juga sedang menyapu di depan rumah. Pemuda itu sebagai Su-Kiam-eng dan tanya Han-lo-cian-pwe apakah aku berada di sini atau tidak. Untung waktu itu aku lagi berdiri di depan jendela dan sedang menikmati pemandangan luar sehingga dapat melihat kepalsuannya, segera aku bisiki Han-lo-cian-pwe agar menjawab tidak terdapat orang yang dicarinya, dengan demikian orang itu dapat dikelabui. Tadi Han-lo- cian-pwe juga kuatir dirimu ini Kiam-eng gadungan, maka tidak berani bicara terus terang. Kemudian setelah diketahui kau datang dari tempat Wi-ho-Lo-jin barulah ia berani memanggil menahan kepergianmu ... "

"Tapi dari mana Su-hu tahu keaslian te-cu dan berani ke luar menemuiku?" tanya Kiam-eng heran. "Han- lo-cian-pwe yang memberitahukan padaku, diam-diam aku ke luar dan mengintip dari balik pintu, setelah jelas terlihat bukan barang gadungan barulah aku keluar bersama Han-lo-cian-pwe untuk menemuimu.

"Aneh juga, dari mana pihak musuh mengetahui tempat sembunyi Su-hu dan nona In di sini?" "Musuh sama sekali tidak tahu beradanya kami di sini," kata Lok-Cing-hui.

"Jika musuh tidak tahu, mengapa mengirim orang memalsukan murid untuk mencari keterangan ke sini?" tanya Kiam-eng.

"Menurut perkiraanku, pemuda yang menyamar sebagai dirimu tentu ada beberapa orang," ujar Lok- Cing-hui.

"Tempo hari pihak musuh sengaja membakar Bu-lim-teh-coh, tujuannya adalah membunuh nona In. Tetapi nona In tidak meninggal, juga diketahui aku sempat lolos, maka musuh mengutus beberapa pemuda menyaru sebagai dirimu untuk mencari keterangan kepada kawan-kawan Wi-ho-Lo-jin, maka ketika pemuda yang menyaru sebagai dirimu waktu datang kemari dan mendapat jawaban dari Han-lo- cian-pwe bahwa aku tidak pernah datang ke mari ia tidak coba menyelidiki diriku lagi di sini. Ini menandakan dengan jelas bahwa pihak musuh sama sekali tidak tahu di mana beradanya diriku.

"Mengapa waktu itu Su-hu tidak tangkap saja pemuda yang menyaru sebagai te-cu itu?" tanya Kiam- eng.

"Tidak, tak dapat aku lakukan, sebab dengan tindakan begitu pihak musuh akan tahu juga beradanya diriku di sini."

"Asalkan tidak melepaskan pemuda musuh itu, dari mana pihak musuh bisa tahu?" ujar Kiam-eng.

"Sebelum pihak musuh mengirim kawanan pemuda itu mencari keterangan, tentu sudah diberi petunjuk sasaran mana yang akan dimintai keterangan, dan kalau aku tangkap pemuda itu, setelah lama ditunggu tidak pulang, tentu musuh akan menyadari terjadi sesuatu di Cui-sia-san-ceng sini. Dengan begitu masakah mereka takkan tahu beradanya diriku di sini?"

Kiam-eng pikir benar juga uraian sang guru dengan muka merah ia berkata, "Ya betul, sama sekali te-cu tidak berpikir sampai di sini ... "

"Baiklah, sekarang coba ceritakan pengalamanmu pulang pergimu ke daerah selatan sana?" kata Lok- cing-hui.

"Di manakah nona In" tanya Kiam-eng. "Di dalam."

Kiam-eng lantas mengeluarkan Jian-lian-hok-leng dan berkata, "Su-hu, bagaimana kalau kita mengobati dulu nona In, habis itu baru te-cu ceritakan seluruh pengalaman perjalanan te-cu ke selatan sana."

Sejak tadi Lok-Cing-hui tidak bertanya tentang Jian-lian-hok-leng, soalnya ia kuatir yang dibawa pulang Su-Kiam-eng hanya cerita yang mengecewakan belaka. Sekarang terlihat obat mujarab itu dikeluarkan oleh anak muda itu, seketika kegirangan, langsung ia raih Jian-lian-hok-leng terus dibawa masuk ke dalam rumah sembari berkata, "Ayo, mari masuk ke sana"

Segera Kiam-eng dan Han-Keng-ting ikut ke dalam. Setiba di dalam sebuah kamar gubuk, terlihat In- Ang-bi berbaring di tempat tidur sedang termangu-mangu linglung, seperti keadaannya beberapa bulan yang lalu, wajahnya masih cantik, hanya air mukanya tidak menampakkan sesuatu perasaan, sorot matanya buram, seperti patung saja.

Melihat Lok-Cing-hui bertiga masuk ke situ, serentak ia bangun duduk dengan rasa takut-takut.

Kiam-eng mendekatinya dan bertanya dengan tersenyum ramah, "Nona In, masih kenal padaku tidak?"

In-Ang-bi memandangnya termangu sejenak, lalu menggeleng dan menjawab, "Tidak, aku tidak kenal dirimu, lekas menyingkir!"

"Kau kenal diriku, coba pikirkan, coba ingat-ingat!" kata Kiam-eng.

Nona itu berkedip-kedip sekian lama, lalu menggeleng kepala lagi dan menjawab, "Tidak aku tidak kenal dirimu."

"Ah, masa tidak kenal, coba diingat-ingat, ucap Kiam-eng dengan suara lembut. "Dahulu, aku, kamu, dan juga guruku, kita bertiga pernah tinggal bersama di sebuah gua, sering aku petik buah untukmu dan menangkap burung bagimu, ingat tidak?"

In-Ang-bi menggeleng kepala dan berkata, "Tidak tidak tahu!"

Kiam-eng menghela napas, ia tersenyum getir dan berkata kepada sang guru, "Su-hu, dia masih serupa dahulu."

"Ya, sehari saja tidak melihat diriku, ia pun akan terlupa sama sekali padaku," tutur Kiam-ho Lok-Cing- hui dengan gegetun. Kiam-eng mengangkat bahu ucapnya, "Semoga Jian-lian-hok-leng yang aku bawa pulang ini akan dapat memulihkan daya ingatannya."

"Mungkin akan berhasil," ujar Lok-Cing-hui sambil mengangguk. "Sudah aku siapkan ke tujuh macam obat yang lain, marilah sekarang juga kita coba meramunya untuk diminumkan padanya."

Sembari bicara ia mendekati samping tempat tidur dan membuka sebuah peti pakaian serta mengeluarkan sebungkus obat.

Ia buka bungkusan obat itu di atas meja, lalu Jian-lian-hok-leng disayatnya beberapa iris dan ditambahkan pada ramuan obat itu, kemudian dikeluarkannya dari bawah tempat tidur sebuah ceret obat, ramuan obat itu dituang ke dalam ceret, habis itu barulah ia bertanya kepada Han-Keng-ting. "Han- heng, apakah tersedia anglo kecil?"

"Ada, biar sekarang juga aku buatkan api," jawab Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting.

Habis berkata segera ia hendak melangkah pergi. Tapi baru saja sampai di ambang pintu kamar, tiba- tiba dari halaman sana bergema orang terkekeh, menyusul ada orang membentak, "Lok-Cing-hui, ayolah ke luar!"

Air muka ke tiga orang seketika berubah, sorot mata Lok-Cing-hui pun berbinar, jengeknya kurang senang terhadap Su-Kiam-eng, "Waktu datang kemari tadi, mengapa tidak kau perhatikan adakah dibuntuti orang?"

"Sudah," jawab Kiam-eng dengan tegang. "Sepanjang jalan te-cu selalu menaruh perhatian dan rasanya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan".

"Jika begitu, cara bagaimana mereka menemukan tempat ini?" ucap Lok-Cing-hui dengan wajah masam. Kiam-eng melongo dan tak dapat menjawab, terpaksa ia menunduk dengan muka merah.

Lok-Cing-hui mendengus sekali, lalu berkata kepada Han-Keng-ting, "Han-heng hari ini mungkin perkampunganmu akan ikut tertimpa bencana sungguh aku sangat menyesal."

Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting memandang ke luar jendela, lalu berkata dengan tersenyum, "Aku kira Lok-heng tidak perlu memikirkan hal ini, yang penting sekarang adalah menghadapi musuh."

"Musuh datang berapa orang?" tanya Lok-Cing-hui.

"Tiga," jawab Han-Keng-ting. "Selain itu ada juga dua buah karung goni, isi karung seperti manusia."

"Oo," Lok Cing-hui bersuara singkat, dengan tenang ia simpan Jian-lian-hok-leng dan bungkusan obat tadi ke dalam baju, lalu berkata, "Mohon bantuan Han-heng untuk menjaga nona In ini. Adapun ke tiga sahabat di luar itu, biarlah aku dan Kiam-eng saja yang membereskan mereka."

Sembari bicara ia terus melangkah keluar, Su-Kiam-eng ikut keluar juga. Setiba di halaman, tertampak ke tiga musuh yang berdiri di situ ternyata bukan lain daripada Sih-Hou, Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong. Tentu saja Kiam-eng merasa heran.

Sungguh, semula ia sangka pendatang pasti si duta nomor satu dan begundalnya, siapa tahu yang muncul justru si pedang emas Sih-Hou bertiga, hal ini sungguh di luar dugaannya.

Maklum, ia yakin hanya si duta nomor satu saja yang mampu menguntitnya ke sini, padahal Sih-Hou bertiga sudah jauh ditinggalkan di wilayah Thian-ti sana, sepantasnya tidak mungkin mereka membuntutinya sampai di sini.

Cuma tanda tanya ini segera terjawab setelah sorot matanya terbentrok pada ke dua karung goni yang di bawa oleh Kwe-Eng-sing dan Ku-Tai-hong itu.

Jelas, isi ke dua karung goni itu adalah manusia.

Malahan Kiam-eng yakin satu di antara orang yang berada dalam karung goni itu pastilah Wi-ho-Lo-jin.

Begitulah Sih-Hou lantas terkekeh pula demi tampak Lok-Cing-hui dan Kiam-eng sudah muncul jengeknya, "Lok tua, kedatangan kami hari ini adalah untuk merundingkan sesuatu bisnis denganmu." Dengan tak acuh Lok-Cing-hui melirik mereka sekejap, lalu ia tanya Kiam-eng, "Apakah pernah kau lihat ke tiga orang ini?"

Kiam-eng mengangguk, "Ya, sudah pernah aku lihat. Mereka adalah murid seorang yang mengaku sebagai Raja Rimba nama mereka adalah Sih-Hou, Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong dengan julukan pedang emas, pedang perak dan pedang baja. Mereka guru dan murid berempat yang merampok seluruh emas, yang terdapat di Kota Emas dan berulang bermaksud membunuhku untuk merintangi usahaku mengambil Jian-lian-hok-leng."

Terbeliak sorot mata Lok-Cing-hui, "Mereka merintangimu mencari Jian-lian-hok-leng?"

Kembali Kiam-eng mengangguk, "Ya, sebab itulah dapat dipastikan orang yang mengaku sebagai Raja Rimba itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan dahulu itu."

Lok-Cing-hui manggut-manggut kembali ia melirik hina terhadap Sih-Hou bertiga, lalu bertanya dengan ketus, "Benar atau tidak?"

Dengan tertawa Sih-Hou menjawab, "Aku tidak paham apa yang kau maksudkan? Kedatangan ini sekarang justru menghendaki Jian-lian-hok-leng itu."

"Untuk apa kalian menghendaki Jian-lian-hok-leng?" tanya Lok-Cing-hui. "Wah, hal ini tidak dapat aku jelaskan," Sih-Hou menggeleng.

"Apakah ke dua orang dalam karung itu adalah sandera yang hendak kalian tukar dengan Jian-lian-hok- leng?" tanya Lok-Cing-hui pula.

"Betul," Sih-Hou mengangguk dengan tertawa. "Biar aku perlihatkan barangnya baru kita berunding tentang jual-beli ini."

Sampai di sini ia lantas berkata kepada ke dua kawannya, "Nah, boleh buka karungnya."

Kwa-Eng-sing dan Ku-Tai-hong mengiakan, mereka lantas mengeluarkan pisau untuk memotong ikatan karung serentak menongol dua buah kepala manusia. Ternyata benar seorang di antaranya ialah Wi-ho- Lo-jin. Dan seorang lagi tak-lain-tak-bukan adalah Ih-Keh-ki. 

Tergetar hati Kiam-eng, seketika rasa girang dan keji bercampur aduk. Meski ia yakin pada suatu hari musuh pasti akan membawa nona Ih kepadanya, namun berpisah dengan kekasih betapapun adalah peristiwa yang membuatnya menderita.

Sekarang musuh ternyata benar membawakan kekasihnya ke sini, tentu saja ia kegirangan, akan tetapi di samping girang ia pun tahu untuk bisa

missing 17-18

akan membunuh nona Ih jika tidak aku katakan di mana engkau berada. Coba, orang lain kan ..."

"Wi-heng, persahabatan kita sudah berpuluh tahun lamanya aku yakin kau pun cukup kenal betapa pribadiku, apabila sekarang aku pun tidak menghiraukan mati-hidupmu coba lantas apa abamu?"

"Ya, kematianku tidak perlu disayangkan, yang penting kalau daya ingatan nona Ih tidak dapat dipulihkan, itulah yang akan mempengaruhi seluruh kepentingan dunia persilatan."

"Haha, bagus, bagus!" Lok-Cing-hui terbahak. "Manusia mana yang tidak akan mati yang penting harus mati dengan ikhlas dan berharga. Wi-heng, biarlah kau berangkat lebih dulu, nanti setelah si pengganas itu dapat aku bekuk, segera aku susul dirimu ke alam baka".

Wi-ho-Lo-jin tertawa, sahutnya, "Pikiran bagus! Tapi bagaimana dengan nona Ih ini?"

Dengan serius Lok-Cing-hui berucap sekata demi sekata, "Demi untuk menyembuhkan nona Ih aku sudah kehilangan seorang murid. Sedangkan Kiam-ong Ciong-Li-cin belum keluar tenaga sedikit pun bagi kaum kita kalau sekarang dia cuma kehilangan seorang cucu murid kan juga belum apa-apa?"

Sampai di sini, ia berpaling dan tanya Kiam-eng, "Betul tidak anak Eng?" Tergetar tubuh Kiam-eng, dengan suara agak gemetar ia mengiakan. Kembali Lok-Cing-hui memandang Sih-Hou bertiga dan berkata, "Nah, sudah jelas? Sekarang silakan kalian mulai!"

Sama sekali Sih-Hou bertiga tidak menyangka Lok-Cing-hui tega mengorbankan jiwa Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, seketika ia berbalik bingung dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Lok-Cing-hui mendengus, dengan ilmu gelombang suara ia coba tanya Su-Kiam-eng, "Anak Eng, bagaimana kung-fu ke tiga orang ini?"

Dengan cara yang sama Kiam-eng menjawab "Kira-kira setingkat dengan ke tiga duta Thian-ong-pang yang muncul baru-baru ini, Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin pernah bergebrak dengan mereka dan sukar menundukkan mereka dengan satu lawan tiga."

"Jika begitu, boleh kau hadapi si pedang emas biarlah aku membereskan yang dua lagi ... Nah, turun tangan saja!"

Selesai berkata begitu, serentak Lok-Cing-hui menerjang ke sana.

Apabila Sih-Hou bertiga tidak memegang sandera sebagai Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, biarpun mereka punya nyali sebesar gunung juga tidak berani datang kemari untuk bicara tentang bisnis dengan Lok- Cing-hui. Maka begitu melihat jago pedang itu menerjang tiba tentu saja mereka terkejut sehingga tidak sempat memikirkan mencelakai Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki melainkan cepat melompat mundur.

Akan tetapi betapa cepat gerak tubuh Lok-Cing-hui berkelebat cahaya kilat baru saja Sih-Hou bertiga melompat, pada saat itu pula ke dua telapak tangannya sudah menyambar sampai di depan dada Kwa- Eng-sing dan Ku-Tai-hong.

Jika berada dalam keadaan lain, dengan gabungan mereka berdua menghadapi Lok-Cing-hui seorang mungkin mereka mampu bertahan sekian jurus. Namun sekarang mereka sama merasa berat untuk melepaskan Wi-ho-Lo-jin dan Ih-Keh-ki, terpaksa mereka hanya dapat melayani musuh dengan sebelah tangan dan keadaan demikian tentu saja sangat tidak menguntungkan mereka.

Dalam pada itu secepat kilat pukulan Lok-Cing-hui tampaknya sudah akan mengenai dada mereka, pada saat itulah tiba-tiba terdengar Han-Keng-Ting yang diminta menjaga In-Ang-bi di dalam kamar itu berteriak kuatir, "Wah, celaka, Lok-heng, lekas kemari!"

Tentu saja Lok-Cing-hui terkesiap, mendadak gerak tubuhnya berubah meloncat balik ke samping, menuju ke rumah gubuk sana secepat terbang, terdengar suara "blang", langsung ia menjebol dinding dan menerobos ke dalam rumah.

Sekilas pandang sempat dilihatnya Tiok-kiam-sian-sing Han-keng-ting kena dipukul orang dan tampak sempoyongan mundur ke pojok rumah. Menyusul seorang berbaju hijau dan berkedok menerjang masuk terus menghantam pula dari jauh ke arah In-Ang-bi yang duduk termangu di tempat tidur sana.

Melihat itu, seketika Lok-Cing-hui menjadi murka, sambil meraung, tubuh yang masih mengapung itu pun berputar, dari jauh ke dua tangan menghantam sekaligus ke arah si baju hijau.

Meski kung-fu Lok-Cing-hui mengutamakan ilmu permainan pedang, namun tenaga pukulannya juga bukan kelas rendahan, sekarang tenaga pukulannya mendampar sedahsyat angin puyuh, lihainya tidak kepalang.

Terdengar si baju hijau tertawa panjang, pukulan yang semula terarah kepada In-Ang-bi mendadak berbalik menyambut serangan Lok-Cing-hui. Benturan tenaga pukulan tak terhindar lagi, seketika angin dahsyat mengguncang rumah gubuk dan menimbulkan bunyi kresek yang ramai bagai gempa bumi.

Karena tubuh Lok-Cing-hui masih terapung di udara, ia tergetar mencelat beberapa meter jauhnya dan menumbuk dinding rumah sebelah sana.

Si baju hijau berkedok juga tergetar mundur dua-tiga tindak. namun dia masih dapat berdiri dengan kukuh, habis itu lantas menerjang lagi ke dalam rumah dan kembali melancarkan pukulan terhadap In- Ang-bi.

Saat itu tubuh Lok-Cing-hui baru saja menumbuk dinding, untuk menolong In-Ang-bi sudah tidak keburu lagi. Pada detik yang gawat itulah sekonyong-konyong terdengar gemuruh di atap rumah, "blang" serupa sepotong batu raksasa jatuh dari langit, tahu-tahu atap rumah ambrol dan runtuh ke bawah. Apakah benar batu raksasa? Ternyata bukan melainkan seorang manusia!

Dengan ilmu "Jian-kin-tui" (daya anjlok 10-ribu kati) orang itu membobol atap rumah untuk menerjang ke bawah, belum lagi kaki menyentuh tanah, tongkat bambu yang dibawanya kontan menutuk ke muka si baju hijau betapa cepat serangannya sehingga hampir tidak terlihat jelas.

Pukulan si baju hijau saat itu baru terlontar setengah jalan, ketika melihat seorang anjlok dari atap rumah, ia pun tertegun, lantaran itulah tongkat bambu lawan sempat menyambar ke mukanya, hal ini membuatnya terkejut dan cepat melompat mundur keluar rumah, sekali loncat lagi lantas menghilang.

Sekarang pun Lok-Cing-hui dapat melihat jelas orang yang menerobos atap rumah itu bukan lain daripada Kai-pang-pang-cu, ketua himpunan kaum pengemis, It-sik-sin-kai Ang-Pek-ko adanya. Tentu saja ia berseru, "Aha, kedatangan Ang-heng sungguh sangat kebetulan, ayolah lekas kejar musuh!"

Si pengemis tua tertawa panjang sekali tongkat bantu menolak tanah, langsung tubuhnya membal ke atas serupa bola dan tetap menerobos keluar melalui lubang atap yang ambrol tadi.

Kiam-lo Lok-Cing-hui juga mengejar ke luar melalui pintu namun setiba di luar sudah tidak terlihat lagi bayangan si baju hijau berkedok, ia coba melompat ke atas rumah dan memandang jauh sekitarnya, yang terlihat cuma It-sik-sin-kai berdiri di ujung selatan rumah sana ia coba mendekatinya dan bertanya, "Apakah sudah kabur?!"

"Ya, kabur melalui jurusan ini," sahut si pengemis tua sambil menunjuk lereng sebelah selatan. "Mengapa Ang-heng tidak mengejar ke sana?" tanya Lok-Cing-hui.

Pengemis tua mengangkat bahu, ucapnya dengan menyengir, "Mengejarnya? Hehe, pengemis tua masih ingin hidup beberapa tahun lagi!"

Seorang ketua Kai-pang yang terhormat dan disegani dapat bicara seperti ini, sungguh Lok-Cing-hui dibuatnya tercengang, tanyanya pula, "Oo, apakah lawan sedemikian lihainya?"

"It-sik-sin-kai mengangguk, "Ya, masakah Lok-heng belum mendapatkan laporan muridmu si Kiam-eng?"

"Oo, jadi orang tadi itulah yang menyebut dirinya sebagai Raja Rimba? Ai, seketika aku tidak ingat padanya ..."

Bicara sampai di sini, mendadak ia meloncat turun dan memburu ke halaman sana, ternyata Su-Kiam- eng dan Sih-Hou bertiga sudah tidak terlihat lagi ia coba tanya si pengemis tua yang masih berdiri di atap rumah itu. "Ang-heng, apakah kau lihat muridku itu?"

It-sik-sin-kai melompat turun ke halaman dan menjawab, "Ya, tadi aku lihat dia bergebrak beberapa jurus dengan Sih-Hou, lalu aku lihat Kwa-Eng-sing berdua membawa lari Wi-ho-Lo-jin dan nona Ih sehingga dia juga mengantar ke sana.

Lok-Cing-hui berkerenyit kening, ucapnya, "Hm, hanya tenaganya saja sanggup menyelamatkan Wi-ho- Lo-jin dan nona Ih?"

"Anak muda itu banyak tipu akalnya, mungkin dia mempunyai caranya sendiri untuk menolong orang," ujar si pengemis tua dengan tertawa.

Namun Lok-Cing-hui tetap merasa tidak tentram, katanya, "Harap Ang-heng menjaga Han-heng dan nona In, biar aku susul ke sana ke sana sebentar!"

Habis berucap segera lari ke luar perkampungan secepat terbang.

Tapi baru saja sampai di mulut kampung lantas terlihat Su-Kiam-eng berlari pulang, ia berhenti dan bertanya, "Bagaimana, anak Eng?"

"Paman Wi dan nona Ih telah dibawa kabur ke lereng gunung oleh pedang perak dan pedang baja, mestinya te-cu ingin mengejar ke sana, namun terhalang oleh Sih-Hou," tutur Kiam-eng. "Akhirnya Sih- Hou juga kabur setelah menyambitkan beberapa pisau terbang ke arah te-cu."

Lok-Cing-hui manggut-manggut dan masuk kembali ke tengah kampung, katanya, "Ayo kembali ke sana, mungkin Han-lo-cian-pwe terluka, kita harus menolongnya dahulu". Setiba di dalam rumah, terlihat si pengemis tua sedang memeriksa keadaan luka Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting. Cepat Lok-Cing-hui mendekat dan bertanya, "Bagaimana keadaan luka Han-heng?"

"Tidak terlampau parah, hanya sekujur badan merasa tidak anak," tutur Han-Keng-ting dengan menyengir.

"Tidak terlampau parah?" jengek si pengemis tua. "Hm, kalau tidak lekas mendesak keluar racun dalam tubuhmu, selang setengah jam lagi mungkin jiwamu akan melayang".

Han-Keng-ting terperanjat, tanyanya kuatir, "Hah, maksudmu pukulan keparat itu berbisa?"

Dengan prihatin It-sik-sin-kai menjawab. "Betul, ia menguasai ilmu pukulan berbisa yang sudah menghilang dari dunia persilatan selama 300 tahun yaitu Pek-hoa-hiang-bun-ciang (pukulan seratus harum bunga pencabut nyawa)."

Terkesiap juga Lok-Cing-hui oleh keterangan itu cepat ia mengitar ke belakang Han-Keng-ting dan berkata, "Harap Han-heng lekas bersemadi pusatkan segenap tenaga dalam, biarkan aku bantu menghalau racun dalam tubuhmu."

Han-Keng-ting menurut dan duduk bersila sembari bertanya, "Memangnya apa itu Pek-hoa-hiang-hun- ciang?"

"Artinya gas racun dari ratusan bunga yang harum," tutur Lok-Cing-hui. "Pukulan berbisa ini sangat sulit dilatih, sedikit lengah saja dapat menjadi bumerang dan membuat orang yang melatihnya binasa sendiri. Namun bila berhasil diyakinkan maka lihainya tidak kepalang. Barang siapa terkena pukulannya berarti akan keracunan dan tidak sampai setengah jam pasti akan binasa bila tidak segera diobati. Sungguh lihai dan keji luar biasa".

Air muka Han-Keng-ting berubah agak pucat tidak berani ayal dan cepat menghimpun tenaga dalam sesuatu permintaan Lok-Cing-hui.

Dengan telapak tangan kanan Lok-Cing-hui menahan hiat-to di punggung orang, perlahan ia salurkan tenaga murni sendiri untuk membantunya menghalau hawa berbisa.

Kiam-eng mendekat dan memberi hormat kepada It-sik-sin-kai, tanyanya, "Ang-pang-cu apakah kepulanganmu ke Tiong-goan sini membuntuti jejak mereka?"

"Betul," jawab si pengemis tua dengan tertawa. "Setelah aku bawa nona. Kalian ke luar dari rimba raya itu di luar dugaan aku pergoki si baju hijau berkedok di kota Ting-ciong maka diam-diam lantas aku buntuti dia pulang ke sini."

"Dan bagaimana dengan Sam-bi-sin-ong?" tanya Kiam-eng. "Tadi ia pun berada di sini," jawab si pengemis tua.

"Hah, ia juga membuntuti jejak si baju hijau?" Kiam-eng terkesiap.

"Betul, cuma tujuannya membuntuti si baju hijau adalah untuk harta karun, maka dia tidak mau memperlihatkan diri."

"Lantas bagaimana dengan nona Kalina, apakah Ang-pang-cu telah mengantar dia pulang?" tanya Kiam- eng pula.

"Tidak malahan telah aku bawa dia ke Tiong-goan sini." tutur It-sik-sin-kai.

Kiam-eng terbelalak kaget, "Hahh, mana boleh Ang-pang-cu membawanya kemari?"

"Mengapa tidak boleh? Dia seorang nona yang pintar dan cerdik, dia tidak mau hidup sengsara dan miskin di daerah selatan yang terpencil dan kesepian itu maka ia memohon dengan sangat agar pengemis tua membawanya ke Tiong-goan, dengan sendirinya alasan yang terpenting adalah karma dia ingin mencari kakak perempuan dan ipar yang tidak jelas jejaknya itu ... Oya, apakah sudah kau temukan su-heng mu?"

"Belum," jawab Kiam-eng cepat. "Namun Ang-pang-cu, nona Kalina kan juga seorang nona yang lemah, setiba di Tiong-goan di negeri asing tanpa sanak dan saudara ini, cara bagaimana dia sanggup menjaga diri?"

"Hal ini pun sudah aku pikirkan, maka sesudah aku pertimbangkan beberapa hari, lalu aku tetapkan untuk menerimanya sebagai murid," tutur It-sik-sin-kai.

"Hah, dia kau terima sebagai murid?" Kiam-eng melengak. "Ya, memangnya tidak boleh?" ucap si pengemis tua.

"Tentu saja boleh," jawab Kiam-eng girang-girang kejut. "Soalnya hal ini aku ratakan sangat di luar dugaan. Dan sekarang dia berada di mana?"

"Oleh karena pengemis tua ingin meneruskan penguntitan terhadap si baju hijau, jika membawa serta dia tentu kurang leluasa, maka setiba di Tiong-goan lantas aku titipkan dia pada seorang Tiang-lo (tertua) pang kami agar diberi pelajaran sedikit dasar-dasar ilmu silat, nanti kalau aku ada waktu luang tentu akan aku ajarkan kung-fu langsung padanya."

Kiam-eng merasa Kalina kelak pasti akan menjadi seorang pesilat wanita kelas tinggi kalau dapat berguru pada It-sik-sin-kai, maka ia sangat bergirang bagi Kalina, dengan tertawa ia tanya pula, "Tempo hari setelah dia tahu kepergianku, apakah dia marah padaku?"

"Ya, dia sangat berduka," tutur si pengemis tua. "Hal itu pun merupakan salah satu alasannya untuk memohon pengemis tua membawanya ke Tiong-goan sini. Katanya pada suatu hari dia ingin mendapatkan seorang teman muda bangsa Han yang cakap dan gagah untuk dipamerkan padamu.

Muka Kiam-eng menjadi merah, katanya dengan tertawa, "Ai, syukurlah jika betul begitu ..."

It-sik-sin-kai anggap tidak tahu terhadap sikap Kiam-eng yang serba canggung itu, ia pandang In-Ang-bi yang duduk termangu di tempat tidur itu dan bertanya, "Apa dia ini putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san yang bernama In-Ang-bi itu?"

"Betul," Kiam-eng. "Tadi baru saja aku mau membuat api untuk memasak obat dan keburu Sih-Hou bertiga muncul di sini."

"Oo," It-sik-sin-kai bersuara singkat, mendadak ia meraba perut dan berucap dengan kening berkerenyit, "Wah, bicara tentang membuat api, aku jadi teringat akan sesuatu ... "

Kiam-eng menyangka si pengemis tua juga terluka dan perlu makan obat, cepat ia tanya, "Ang-pang-cu teringat urusan apa?"

Dengan bersungut It-sik-sin-kai menjawab, "Sudah dua hari pengemis tua tidak makan sesuatu"

"Oo, kiranya begitu," Kiam-eng tertawa geli. Harap Ang-pang-cu tunggu sebentar, bilamana racun dalam tubuh Han-lo-cian-pwe sudah dihalau ke luar, aku yakin dia akan menjamu Ang-pang-cu sepuasnya".

Si pengemis tua memandang kanan-kiri, katanya, "Tampaknya tiada seorangpun pelayan di sini".

"Ya, seperti tidak ada, Han-lo-cian-pwe ... " bicara sampai di sini, tiba=tiba Kiam-eng melihat Han-Keng- ting menghela napas panjang dan berbangkit perlahan. Dari dada kiri orang tua itu merembes keluar air darah hitam, jelas air racun yang terdesak ke luar dari dalam tubuh.

"Bagaimana, Han-heng, sudah baik?" tanya It-sik-sin-kai.

"Cukup baik," jawab Han-Keng-ting. "Syukurlah Ang-heng dapat melihat racun yang menyerang diriku ini, kalau tidak tamatlah riwayatku hari ini".

"Pada waktu bergebrak dengan dia di daerah selatan sana aku pun terkena pukulannya, untung dapat aku rasakan pada waktu yang tepat, kalau tidak tentu aku pun sudah binasa di selatan sana," tutur si pengemis tua.

"Sesungguhnya orang macam apakah dia dan dari mana asal-usulnya, mengapa dapat meyakinkan kung-fu berbisa selihai itu?" tanya Han-Keng-ting dengan masih ngeri.

"Agar dapat mengetahui siapa dia, jalan paling baik adalah lekas menyembuhkan penyakit linglung In- Ang-bi," ujar It-sik-sin-kai. "Betul, sekarang juga biar aku buatkan api untuk memasak obat dan sekalian mengolah makanan bagi kalian," kata Han-Keng-ting sambil melangkah keluar kamar.

Lok-Cing-hui coba memeriksa keadaan In-Ang-bi, nona itu tampaknya tidak mengalami cedera apa pun, ia merasa lega tanyanya terhadap It-sik-sin-kai, "Ang-heng, tadi kau bilang pernah bergebrak dengan orang yang mengaku sebagai Raja Rimba itu, hasilnya bagaimana?"

Pengemis tua angkat pundak, "Hanya 30-an jurus saja aku lantas kalah." "Oo, hanya 30-an jurus saja engkau melawan dia?" Lok-Cing-hui terkejut.

"Betul, sebab itulah urut-urutan kita beberapa orang ini perlu digeser sedikit, ujar It-sik-sin-kai. "Yang nomor satu adalah dia, nomor dua baru Ciong-Li-cin dan nomor tiga adalah dirimu nomor tiga adalah dirimu nomor empat Tok-pi-sin-kun ... "

Lok-Cing-hui terdiam sejenak dangan prihatin katanya kemudian terhadap Su-Kiam-eng, "Anak Eng mumpung Han-lo-cian-pwe sedang menyiapkan santapan boleh kau ceritakan pengalaman perjalananmu ke selatan sana."

Kiam-eng mengiakan segera ia mulai bercerita sejak dia menyamar sebagai Sai-hoa-to dan ditawan oleh Hu-kui-ong dan apa yang terjadi sepanjang perjalanannya.

Baru bercerita sampai mengetahui orang yang menculik sang su-heng ternyata bukan lain dari pada Sai- hoa-to Sim-Tiong-ho, saat itulah Han-Keng-ting sudah datang membawakan se nampan makanan dan sebuah anglo berapi.

Segera Lok-Cing-hui menaruh ceret obat di atas anglo dan dituangi dua mangkuk air, lalu mereka mulai makan bersama. Kiam-eng pun menyambung kisahnya.

Bercerita sampai Sai-hoa-to dilemparkan dari ruang besar tempat ke-180 patung emas dan dipukul mati oleh si orang berbaju hijau Lok-Cing-hui geleng-geleng kepala dan berkata dengan menyesal "Sungguh tidak nyana Sim-Tiong-ho ternyata juga manusia tamak ... 

"Waktu itu aku pun merasa sayang baginya," tukas It-sik-sin-kai, "tapi setelah dipikir lagi sekarang terasa pula tidak perlu menyesal. Meski ilmu pengobatannya tidak ada bandingannya, namun jiwanya justru tidak terpuji. Serupa si baju hijau berkedok itu, ilmu silatnya boleh dikatakan tidak ada tandingan di kolong langit ini, namun dia justru seorang gembong iblis yang kejam.

Lok-Cing-hui manggut-manggut, katanya terhadap Kiam-eng, "Baiklah, lanjutkan kisahmu".

Kiam-eng lantas bercerita pula cara bagaimana menemukan Jian-lian-hok-leng dan untuk ke dua kalinya masuk ke ruang pendopo istana kuno itu, di situ diketahui ke-180 patung emas telah diangkut pergi oleh si orang berkedok dan berbaju hijau, lalu dirinya melakukan penguntitan terhadap musuh dan berakhir tanpa sesuatu hasil, paling akhir ia pun pulang sampai di Bu-lim-teh-coh. Hampir setengah jam barulah habis ceritanya.

Kata Lok-Cing-hui setelah termenung sejenak, "Jadi menurut ceritamu itu, si orang berkedok dan berbaju hijau itu sama juga Pang-cu-Thian-ong-pang?"

Kiam-eng mengangguk, "Ya, orang berkedok dan berbaju hijau itu mengaku sebagai Raja Rimba, jelas ia sengaja memberi nama demikian, julukan Sih-Hou bertiga itu pun palsu, sebab meski mereka mengaku sebagai si pedang emas, pedang perak dan pedang baja segala, senjata yang mereka gunakan ternyata pedang biasa belaka"

"Coba aku lihat kedua medali emas yang kau dapatkan itu," kata Lok-Cing-hui. Kiam-eng menyerahkan ke dua medali emas kepada sang guru.

Setelah mengamat-amati ke dua potong medali emas itu. Cing-hui berkata, "Tulisan semacam ini tampaknya mirip tulisan Thian-tiok "

"Betul, paman Wi juga bilang itu huruf Thian-tiok," tukas Kiam-eng.

Lok-Cing-hui memandang It-sik-sin-kai dan Han-Keng-ting, katanya, "Apakah kalian tahu di negeri kita ada orang yang paham tulisan Thian-tiok?" "Wah, kurang tahu," si pengemis tua dan Tiok-kiam-sian-sing sama menggeleng.

"Cuma," sambung Han-Keng-ting, "aku percaya pasti ada orang paham tulisan Thian-tiok. Kota Tiang-an adalah tempat berkumpulkan orang terpelajar, aku yakin di sana dapat ditemukan orang yang mahir tulisan asing ini."

"Betul, di Tiang-an memang ada seorang paham akan tulisan Thian-tiok ini," ujar Kiam-eng. "Oo, siapa dia?" tanya Lok-Cing-hui cepat.

"Yaitu Boh-to-Siang-jin dari Tai-hin-si," tutur Kiam-eng. "Dari mana kau tahu?" tanya Cing-hui girang.

"Aku dapat tahu dari paman Wi. Maka bila sudah minum obat dan penyakit ingatan nona In belum dapat dipulihkan, te-cu akan coba pergi ke Tiang-an ... "

Lok-Cing-hui mengembalikan ke dua medali emas itu kepada Kiam-eng, katanya, "Bagus sekali apakah penyakit nona In dapat sembuh atau tidak selang beberapa hari lagi mungkin dapat diketahui".

Kiam-eng menyimpan kembali medali emas dan bertanya, "Su-hu, sekarang Paman Wi dan nona Ih masih berada dalam cengkeraman si baju hijau, cara bagaimana kiranya agar dapat kita menolong mereka?"

"Sedangkan di mana tempat bercokol musuh saja belum diketahui sampai saat ini, cara bagaimana kita dapat menolong mereka?" ucap Lok-Cing-hui dengan menyesal.

"Tadi Ang-pang-cu bilang Sam-bi-sin-ong juga sedang membuntuti jejak si baju hijau, bilamana dia mau kontan dengan kita tentu urusan akan beres," kata Kiam-eng.

"Tujuan Sam-bi-sin-ong hanya pada harta karun itu, sebelum dia berhasil mengetahui di mana si baju hijau menyembunyikan ke 180 patung emas, jelas dia takkan mau menemui kita."

"Dan kalau si orang berkedok berbaju hijau itu adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu, dia pasti juga takkan tinggal diam dan pasti akan berusaha membunuh nona In pula," kata Lok- Cing-hui. "Maka biarlah kita tunggu saja kedatangannya dan tidak perlu kita mencari dia."

Lalu katanya terhadap It-sik-sin-kai. "Ang-heng jika engkau sudah datang kemari maka harap kau pun tinggal sementara ini di sini sampai penyakit nona In dapat dipulihkan barulah berangkat lagi?"

"Boleh saja cuma untuk tinggal di sini rasanya ada sesuatu yang tidak biasa," kata Pengemis tua.

"Memangnya apa arti ucapan Ang-pang-cu ini?" tanya Han-Keng-ting cepat. "Kita kan kenalan lama, jika aku tinggal di sini kan lama juga seperti rumahmu, apanya yang terasa tidak biasa?"

It-sik-sin-kai menunjuk beberapa macam makanan di atas meja, katanya dengan tertawa, "Inilah yang terasa kurang biasa. Engkau suka makan sayur sayuran, pengemis tua justru gemas seakan enak sebangsa ikan dan daging".

"Oo, untuk ini kan mudah saja, biarlah aku turun gunung dan membelikan barang kegemaranmu," ucap Han-Keng-ting.

Namun Lok-Cing-hui lantas menggeleng kepala, "Tidak, untuk beberapa han ini Han-heng jangan meninggalkan Cui-sia-san-ceng ini."

"Sebab apa?" tanya Han-Keng-ting heran.

"Si baju hijau berkedok itu dan ke tiga muridnya pasti masih berada di sekitar pegunungan ini jika Han- heng meninggalkan perkampungan ini kan sama dengan memberi tambahan sandera bagi mereka?" kata Cing-hui.

"Jika begitu, biarlah nanti kalau ada orang datang dan kota baru akan aku pesan agar dibelikan ikan dan daging yang kita perlukan," ujar Han-Keng-ting.

"Pengemis tua gemar makan daging anjing dan sapi, bilamana di kota ada dijual, hendaknya kau pun minta dibelikan," ujar It-sik-sin-kai. Han-Keng-ting mengangguk, "Boleh, boleh ... "

Begitulah sembari makan sambil bicara selesai makan obat pun sudah masak, Lok-Cing-hui menuang air obat dalam mangkuk, sesudah agak dinding baru disodorkan kepada In-Ang-bi, katanya, "Ayo, minumlah!"

Melihat air obat warna hitam itu, In-Ang-bi tahu apa itu, ia tidak mau minum, sambil menggeleng kepala ia menyurut ke pojok tempat tidur dan berkata, "Tidak, aku tidak mau minum obat."

"Minumlah, sebentar paman membawamu pesiar ke bawah gunung lekas minum," bujuk Cing-hui dengan tertawa.

"Tidak, tidak mau," kembali In-Ang-bi menggeleng kepala.

Terpaksa Cing-hui menakutinya, "Ayolah minum kalau tidak biar aku suruh mereka mencekokimu." "Barang siapa berani mencekoki aku, akan aku gigit tangannya," jawab si nona dengan melotot.

Lok-Cing-hui merasa kewalahan, katanya terhadap It-sik-sin-kai dan Han-Keng-ting yang berdiri di belakang, "Ang-heng, harap kau pegang ke dua tangannya, dan Han-heng boleh pencet hidungnya!"

Seketika In-Ang-bi melonjak bangun dan bersikap siap menyerang sambil berteriak, "Tidak, jangan coba mendekat atau rasakan pukulanku!"

"Wah, galak amat nona ini," ucap It-sik-sin kai dengan tertawa.

"Sehari-hari dia sangat lembut tak tersangka suruh dia minum obat mendadak menjadi rewel begini," ujar Cing-hui tanpa berdaya.

"Bagaimana bila aku tutuk saja hiat-to kelumpuhannya?" tanya si pengemis tua.

"Eh, jangan," cepat Kiam-eng berseru, "Dia tidak mau minum, biar aku saja yang minum." Tentu saja Lok-Cing-hui melengong, tapi segera ia mengomel, "Busyet, kamu ini main gila apa?"

"Sungguh, biar aku minum saja," tegas Kiam-eng "Budak ini tidak tahu maksud baik orang, dia tidak mau minum obat kecantikan yang sudah kita sediakan ini, padahal setelah minum entah betapa dia akan berubah cantik molek. Maka, biar aku saja yang minum."

Ketika terlihat air muka In-Ang-bi agak tergerak, segera Kiam-eng berlagak pula hendak berebut mangkuk obat itu.

"Eh, kau bilang akan berubah bagaimana setelah minum?" tanyanya cepat dengan ragu. "Aku bilang akan berubah sangat cantik molek," jawab Kiam-eng.

"Apa betul?" In-Ang-bi menegas.

"Tentu saja betul, kalau tidak percaya biar aku saja yang minum," habis berkata Kiam-eng benar-benar mengambil mangkuk obat dari tangan sang guru.

In-Ang-bi menjadi gugup, serunya, "Eh, nanti dulu, itu kan hendak diminumkan padaku?!"

Kiam-eng berlagak mendekatkan mangkuk obat ke bibir dan menjawab. "Sebenarnya memang hendak diminumkan padamu, tapi kamu tidak mau minum, maka boleh berikan saja padaku"

Mendadak In-Ang-bi berseru. "Tidak, akan aku minum!"

"Jangan, obat ini sangat pahit, mungkin kamu tidak doyan." kata Kiam-eng. "Aku tidak takut pahit, bawa kemari, biar aku minum," seru Ang-bi.

Kiam-eng berlagak kewalahan sambil angkat pundak dan menyodorkan air obat itu.

Setelah menerima mangkuk obat, dengan mata terpejam, sekaligus In-Ang-bi menegak habis semangkuk obat itu. Habis itu dengan tegang ia lantas tanya. "Bagaimana?" Apakah sekarang aku sudah berubah cantik?"

"Huh, masakah begitu cepat," jengek Kiam-eng.

In-Ang-bi melengong, "Habis tunggu sampai kapan lagi?"

"Malam, nanti kamu perlu minum lagi semangkuk dan esok pagi-pagi juga minum semangkuk, dengan begitu, selang beberapa hari lagi baru akan berubah cantik."

"Bagaimana kalau ke dua mangkuk itu aku minum sekaligus sekarang saja?" tanya si nona.

"Tidak boleh, setiap tiga jam kemudian baru boleh minum satu kali bila sekaligus minum tiga mangkuk. bukannya berubah cantik, sebaliknya akan berubah buruk rupa".

In-Ang-bi terkejut, cepat ia mengangguk dan berkata, "Baik, aku menurut ... Eh, kau bilang kapan baru minum lagi?"

"Malam nanti," jawab Kiam-eng.

"Baiklah, aku tunggu sampai malam nanti," habis berkata si nona lantas rebah di tempat tidur. "Eh, lekas bangun kamar ini tidak dapat digunakan lagi," cepat Lok-Cing-hui memanggilnya. "Ada apa?" tanya Ang-bi bingung.

Lok-Cing-hui menunjuk atap yang berlubang besar itu, katanya, "Coba lihat, atap bolong sebesar itu bila hujan kan kamu bisa basah kuyup?"

In-Ang-bi menengadah dan memandang lubang atap, ucapnya sedih, "Ya, lantas apa yang dapat aku perbuat?"

"Bangun mari tidur di kamar lain saja," tukas Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting.

In-Ang-bi mengamat-amati Han-Keng-ting sejenak, lalu menggeleng kepala dan berkata, "Tidak, aku tidak mau ikut padamu".

"Habis, ingin dibawa siapa?" tanya Han-Keng-ting tertawa. Ang-bi menunjuk Su-Kiam-eng dan menjawab, "Dia!"

It-sik-sin-kai terbahak-bahak, "Haha, orang bilang anak gadis suka cakap, pamor ini ternyata benar. Meski daya ingatan nona ini terganggu, semua pandangannya ternyata tidak ngawur".

Muka Kiam-eng menjadi merah, ia teringat kepada ucapan Ih-Keh-ki yang menguatirkan setelah anak muda itu menyembuhkan penyakit ling-lung In-Ang-bi, lalu si nona akan merasa utang budi dan diperistri olehnya.

Seketika hati Kiam-eng berdebar.

Sementara itu Han-Keng-ting berkata padanya, "Kamar sebelah masih kosong, boleh kau bawa dia ke sana"

Kiam-eng tertawa rikuh, terpaksa ia berkata kepada In-Ang-bi, "Ayo bangun, biar aku bawa kamu ke sebelah".

Dengan gembira In-Ang-bi melompat turun dari tempat tidur, digulungnya kasur dan ikut Su-Kiam-eng ke kamar sebelah.

Menjelang magrib, In-Ang-bi minum obat mangkuk ke dua, lantaran dia suka berada bersama Su-Kiam- eng, Lok-Cing-hui lantas menyuruh anak muda itu meladeni si nona, mereka bertiga orang tua sepanjang malam berjaga di luar.

Semalaman berlalu dengan aman tanpa terjadi sesuatu, tidak timbul hal-hal seperti apa yang dikuatirkan semula. Esok paginya, kembali In-Ang-bi minum obat mangkuk ke tiga.

Dengan agak gelisah Kiam-ho Lok-Cing-hui dan Su-Kiam-eng sama menanti perkembangan selanjutnya, demi untuk menyembuhkan penyakit In-Ang-bi sejak tiga tahun yang lalu mereka guru dan murid bertiga sudah berusaha mencari Jian-lian-hok-leng, akibatnya Gak-Sik-lam menjadi korban dan menjadi cacat total, kehilangan tangan dan kaki. Su-Kiam-eng juga mengalami berbagai bahaya dan akhirnya dapat menemukan Jian-lian-hok-leng.

Jerih payah antara ke tiga guru dan murid itu bagi seorang sakit boleh dikatakan sungguh jarang ada bandingannya sejak dulu hingga sekarang. Namun begitu, apakah daya ingat In-Ang-bi dapat dipulihkan atau tidak masih tetap merupakan tanda tanya sebab mereka hanya tahu Jian-lian-hok-leng mungkin dapat menyembuhkan penyakit ling-lung In-Ang-bi, tapi tidak yakin "mutlak" akan dapat menyembuhkannya.

Setengah hari kembali sudah berlalu. Keadaan In-Ang-bi ternyata masih serupa sehari-harinya tanpa sesuatu perubahan.

Melihat Lok-Cing-hui agak murung, It-sik-sin-kai coba bertanya, "Lok-heng, dalam urusan pengobatan ini apakah pernah kau minta petunjuk Sai-hoa-to?"

"Pernah," jawab Cing-hui. "Pandangannya sama dengan aku yakin Jian-lian-hok-leng dapat memulihkan daya ingatannya".

"Adakah dia mengatakan setelah minum obatnya, diperlukan berapa lama baru akan kelihatan khasiatnya?" tanya pula si pengemis tua.

"Tidak," Cing-hui menggeleng kepala. "Tapi setahuku, penyakit nona In ini, setelah minum obat dia akan tertidur pulas. Akan tetapi, coba kau lihat, dia justru terus menerus mengoceh dengan muridku itu, sedikit pun tidak ada tanda mengantuk".

"Apakah bukan lantaran kadar obatnya kurang keras?" tanya pengemis tua.

Lok-Cing-hui berpikir sejenak, katanya kemudian "Aku kira tidak. Ramuan obatku ini pada 30 tahun lampau sudah pernah menyembuhkan penyakit seorang serupa nona In, malahan keadaan orang itu lebih parah daripada nona In, namun setelah minum tiga mangkuk obat, keadaannya lantas kelihatan banyak kemajuan".

"Jika begitu, apakah tidak mungkin ada pengaruh faktor lain?" ujar It-sik-kin-kai dengan tertawa. "Umpamanya karena nona In ini menaruh perhatian terhadap muridmu sehingga rasa kantuknya pun hilang."

Tergetar perasaan Lok-Cing-hui, ucapnya dengan tertawa, "Betul mungkin begitulah. Ayo kita panggil ke luar Kiam-eng saja."

Lalu ia melangkah cepat ke dalam rumah.

Setiba di luar kamar, terdengar ada suara tertawa di dalam kamar, entah geli karena apa suara In-Ang-bi sedang terkikik-kikik.

Tentu saja Cing-hui tercengang, ucapnya lirih, "Ternyata benar dugaanmu. Sejak kehilangan daya ingat, belum pernah budak ini tertawa riang seperti ini".

"Berapa umurnya tahun ini?" tanya It-sik-sin-kai.

"18 tahun, selang empat bulan lagi akan genap 19 tahun," tutur Lok-Cing-hui.

"Itulah usia seorang gadis yang ibarat bunga sedang mekar, pantas sekali kenal muridmu lantas jatuh hati." kata si pengemis tua dengan tertawa.

Cing-hui tersenyum, selagi ia hendak menolak pintu dan masuk ke situ, tiba-tiba terdengar In-Ang-bi lagi bicara, "Eh, sudah sekian lama kita mengobrol, ternyata belum lagi aku tanya siapa namamu?"

Ucapan ini membuat Lok-Cing-hui terkesiap pula, tanpa terasa ia tarik kembali tangannya yang hampir mendorong pintu, ia menoleh dan berkata kepada si pengemis tua, "Selama ini belum pernah ia tanya siapa namaku, tak tersangka seorang nona yang ling lung begitu bertemu dengan pemuda juga bisa timbul rasa sukanya ... " "Ssst, jangan bicara lagi, coba dengarkan apa yang sedang mereka bicarakan?!" desis It-sik-sin-kai.

Belum habis ucapannya, terdengar Su-Kiam-eng menjawab di dalam kamar, "Heh, masa kamu tidak tahu siapa aku?"

"Dahulu seperti pernah aku lihat dirimu, cuma tidak ingat lagi." "Aku she Su, bernama Kiam-eng".

"Su-Kiam-eng? Rasanya ... rasanya nama ini seperti pernah aku dengar ... ?" "Ya, coba ingat-ingat lagi lebih cermat!"

"Aku ... aku tidak ingat... Eh. Su-Kiam-eng, mengapa engkau tidak tanya siapa namaku?" "Aha, benar, numpang tanya siapa nama nona yang harum?"

"Aku she In, bernama Ang-bi!"

"Ehm, Ang-bi (mawar-merah), sungguh nama yang indah!" "Kau tahu aku ini putri siapa?"

"Tidak, justru aku ingin tahu, lekas katakan engkau ini putri siapa?"

"Hm, mengapa air mukamu berubah merah? Apa yang membuatmu tegang tampaknya?" "Oo, tidak apa-apa ... aku kira engkau pun tidak sudi menyebutkan nama ayahmu." "Omong kosong! Mengapa aku tidak mau menyebutkan nama ayah?"

"Jika begitu lekas katakan!"

"Ayahku adalah salah satu daripada ke-18 tokoh terkemuka dunia persilatan Tiong-goan, Bu-tek-sin-pian In-Giok-san!"

"Ahh, benar, tepat! Nah, lekas katakan lagi di mana ayahmu berada saat ini?"

"Sebentar, biar aku ingat-ingat dulu ... Ai, sungguh aneh rasanya sudah lama sekali aku tinggalkan ayahku ... sesungguhnya ke manakah beliau?"

"Coba ingat-ingat lagi dengan sabar, jangan terburu-buru ..." "Wahhh?" jerit Ang-bi tiba-tiba.

"Ada apa?!" tanya Kiam-eng.

"Teringatlah sekarang Ayah ... ayahku telah di ... dibunuh orang!" "Dibunuh orang di mana?" tanya Kiam-eng.

"Di Hwe-liong-kok! Dengan mata kepalaku sendiri aku saksikan dia dibunuh orang! Juga ke-17 tokoh yang lain, mereka pun terbinasa seluruhnya. Oo, Tuhan ... "

Suara bicara In-Ang-bi terdengar gemetar, sampai di sini mendadak ia menangis keras.

Sebaliknya Kiam-ho Lok-Cing-hui dan It-sik-sin-kai yang mendengarkan di luar menjadi bersemangat, serentak mereka menolak pintu dan melompat masuk sambil berteriak, "In-Ang-bi, wahai In-Ang-bi! Kamu masih kenal padaku tidak?"

Saat itu Ang-bi sedang menangis dengan mendekap mukanya, mendengar seruan Lok-Cing-hui, mendadak ia angkat kepala dan memandang Lok-Cing-hui dengan termangu-mangu hingga sekian lama, lambat-laun wajahnya menampilkan rasa girang dan kejut terus berteriak, "Aha, teringatlah aku! Engkau ini paman Lok! Ai, mengapa sejauh ini aku tidak ingat kepada paman Lok." Sungguh tak terperikan rata girang Lok-Cing-hui serunya, "Biar aku katakan padamu, soalnya kamu jatuh sakit payah, sekarang penyakitmu telah sembuh, maka dapatlah kamu teringat kepada paman Lok ini".

Mendengar dirinya jatuh sakit, In-Ang-bi melengong dan berkedip-kedip sambil mengingat-ingat, akhirnya ia seperti mulai paham duduknya perkara, wajahnya bersemu merah, tapi lantas menunduk dan menangis terguguk.

Lok-Cing-hui melangkah maju dan duduk di samping si nona, bujuknya, "Jangan menangis sekarang kamu kamu sudah sehat bukan?"

Tangis Ang-bi tambah duka ratapnya, "Akan tetapi ayah telah dibunuh orang! Ia terbunuh di Hwe-liong- kok, aku saksikan sendiri dia dibunuh orang ... "

Dengan bersemangat Lok-Cing-hui memandang It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng cepat ia tanya pula kepada In-Ang-bi, "Coba katakan siapakah orang yang membunuh ayahmu itu!"

"Aku lihat dia ... kemudian dia lalu di sampingku, dia ... dia seorang kakek berambut putih memakai baju biru dia ... dia ... "

"Dia siapa?" Lok-Cing-hui menegas dengan tak sabar.

Pandangan In-Ang-bi tampak hampa, ia termenung sampai sekian lama, dia seperti teringat akan orang itu, air mukanya mendadak berubah dan berseru, "Ialah ..."

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara "brak", pintu kamar ditolak orang hingga terpentang.

Dengan terkejut Lok-Cing-hui, It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng serentak membalik tubuh dan melancarkan pukulan ke arah pintu.

Terdengar teriakan kaget dua orang dua sosok bayangan cepat menghindari ke samping kanan-kiri pintu.

Dalam sekejap itu Lok-Cing-hui bertiga juga sempat melihat jelas wajah ke dua orang itu, tanpa terasa mereka bersuara heran dan menahan serangan lebih lanjut katanya dengan tercengang, "Hah kiranya engkau ... Wi-ho-Lo-jin!"

Segera kedua orang yang menghindar ke samping kanan-kiri pintu itu pun muncul kembali kiranya mereka adalah Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting dan Wi-ho-Lo-jin.

Dengan tersenyum Wi-ho-Lo-jin melangkah ke dalam kamar sambil berkata, "Aku tidak mati di tangan orang berkedok berbaju hijau itu, tapi hampir mampus dipukul kalian bertiga, memangnya ada apakah?"

Dengan girang dan kejut Lok-Cing-hui memberi salam dan bertanya, "Hei, cara bagaimana Wi-heng dapat meloloskan diri?"

Wi-ho-Lo-jin ambil tempat duduk dengan tenang, lalu menjawab, "Percaya atau tidak terserah padamu aku justru dibebaskan sendiri oleh si baju hijau berkedok itu."

"Masa dia mau membebaskanmu?" Lok-Cing-hui menegas dengan heran.

Soalnya dia membiarkan aku pulang untuk berunding suatu urusan dengan Lok-heng," tutur Wi-ho-Lo- jin.

"Oo, berunding urusan apa?" tanya Cing-hui dingin.

Wi-ho-Lo-jin memandang sekejap It-sik-sin-kai dan Tiok-kiam-sian-sing, katanya dengan rasa menyesal, "Urusan ini menyangkut nama baik Lok-heng, apakah kalian sudi menyingkir sebentar?"

Jika urusan menyangkut kehormatan pribadi Lok-Cing-hui, dengan sendirinya It-sik-sin-kai berdua tidak enak untuk ikut mendengarkan, segera mereka mengundurkan diri dari kamar.

Sesudah kedua orang keluar agak jauh, dengan suara tertahan Wi-ho-Lo-jin lantas berkata pula, "Si baju hijau berkedok itu tahu dari nona

MISSING 57-63 Orang yang disebut sebagai Ok-to-hu Cian-Kui, si tukang jagal jahat itu menyengir, jawabnya, "Betul, kiranya Ang-pang-cu masih kenal diriku!"

It-sik-sin-kai menjengek, ucapnya terhadap Lok-Cing-hui, "Masa Lok-heng tidak kenal orang ini?"

"Hanya pernah aku dengar dari cerita orang." jawab Lok-Cing-hui. "Kabarnya orang ini pernah menjabat To-cu di Kai-pang kalian, apa betul?"

"Memang betul," jawab It-sik-sin-kai dengan gegetun. "Sebenarnya dia cukup tangkas, cuma sifatnya agak kejam, suka main bunuh. Maka belasan tahun yang lalu sudah aku beri tanda khas pada mukanya dan memecat dia dari Kai-pang. Tak tersangka setelah meninggalkan Kai-pang perilakunya bertambah kejam, sudah lama ingin aku tumpas dia, namun sukar menemukan dia ... "

Sampai di sini, pengemis tua berpaling dan berkata kepada Ok-tok-hu, "Nah, lekas katakan, atas suruhan siapa kamu ditugaskan kemari membunuh nona In?"

Ok-to-hu Cian-Kui meludah sekumur darah segar, jawabnya ketus, "Huh, atas suruhan siapa memangnya kalian tidak tahu dan masih perlu tanya?"

"Jadi kamu sudah menghamba di bawah orang berkedok dan berbaju hijau itu?" tanya It-sik-sin-kai dengan beringas.

"Betul." jawab Ok-to-hu angkuh. "Dia cukup murah hati, paling sedikit jauh lebih baik dari padamu. Ang- Pek-ko."

"Hm, dia tidak mengatakan padamu bahwa pengemis tua berada di sini?" jengek It-sik-sin-kai.