Rahasia 180 Patung Emas Jilid 21

 
Jilid 21 

"Betul, justru lantaran itulah aku berusaha melihat wajah aslinya mereka." tukas Kiam-eng dengan menyesal.

Wi-ho-Lo-jin juga menghela napas menyesal, katanya pula dengan tertawa, "Cuma, apa pun juga akhirnya kita dapat membinasakan seorang di antara mereka, sedikit banyak ini kan ada hasilnya."

Kiam-eng coba memeriksa lagi sekujur badan si duta nomor tiga, namun tidak menemukan sesuatu benda apa pun. Segera ia berbangkit dan mengajak, "Marilah, lekas kita pergi dari sini."

Wi-ho Lo-jin mengangguk, "Betul, setelah ke dua duta itu tidak melihat Sam-bi-sin-ong mengejar mereka, bisa jadi mereka akan putar balik ke sini."

Habis bicara segera ia mendahului berangkat.

Satu jam kemudian, ke dua orang tua dan muda itu sudah berada di rumah makan dalam kota, ketika hampir selesai makan, tiba-tiba Wi-ho Lo-jin teringat sesuatu, ia coba menyapa seorang pelayan yang lagi membersihkan meja sebelah, "Eh, pelayan coba kemari!"

Si pelayan mengiakan dan cepat mendekat, tanyanya dengan hormat "Apakah juragan tua ingin tambah makanan lagi?"

"Tidak, aku cuma ingin membikin repot padamu ... " kata Wi-ho Lo-jin sambil menjejalkan sepotong uang pecah ke tangan si pelayan.

Karena mendapat persen, si pelayan tertawa gembira, berulang ia menjawab, "Ya, silakan juragan bicara!"

"Coba kau pergi ke Sun-hong-piau-kiok yang terletak di ujung jalan sana, carilah piau-su (tukang awal barang) Kip-siau-siang Ko-Giok-kun majikan Bu-lim-teh-coh ingin bicara dengan dia dan minta dia datang kemari."

Si pelayan mengiakan dan cepat mengundurkan diri.

Setelah pelayan pergi, Kiam-eng tanya si kakek, "Paman Wi, ada urusan apa engkau mencari Kip-sian- hong Ko-Giok-siang?"

"Dia itu terhitung sanak famili Lau-bu-lai Te-Long, bilamana Te-Long lagi bokek alias rudin dia suka mencari Kip-siau-hong untuk minta duit." tutur Wi-ho Lo-jin.

"Oo, dia tentu tahu seluk-beluk Lau-bu-lai Te-Long maksudmu?" tanya Kiam-eng.

"Ya, dari mulut Kip-sian-hong kalau tidak dapat dikorek keterangan mengenai jejak su-heng-mu, kan masih dapat minta bantuan si pencopet sakti Cio-Keh-siang untuk menyelidikinya. Cuma jejak si copet Cio-Keh-siang tidak menentu, mungkin sangat sulit untuk mencarinya ... "

"Dan bagaimana pribadi Piau-su Sun-hong-piau-kiok ini?" tanya Kiam-eng.

"Konon cukup lugu dan suka blak-blakan, senjata andalannya adalah sepasang tombak, katanya sangat dihargai oleh pimpinan umum Sun-hong-piau-kiok."

"Sai-hoa-to berkomplotan dengan Te-Long dan Oh-Kong untuk menculik su-heng ku, hasilnya sama sekali tidak diperoleh keterangan letak kota emas itu dari mulut su-heng ku. Maka aku merasa kuatir, jangan-jangan su-heng-ku sudah dibunuh oleh Sai-hoa-to.

"Tentu saja hal ini pun mungkin terjadi," ujar Wi-ho Lo-jin. "Jika Sim-Tiong-ho sudah rela terjerumus, dia

... ai, kalau tidak kau saksikan sendiri perbuatannya itu, sungguh aku tidak berani percaya dia dapat bertindak begitu."

Tengah bicara, terdengar pelayan sedang bersuara di luar, "Tuan ini silakan duduk!"

Supaya diketahui, pada umumnya cara pelayan hotel atau restoran menghadapi tetamu-nya suka berbeda-beda, bilamana melihat tamunya berbaju biasa-biasa saja, maka pelayan akan menyapa dengan suara yang datar. Kalau melihat tamunya berdandan perlente, maka pelayan akan berteriak dan melayaninya dengan hormat. Maka dari suara pelayan tadi dapat diduga tamu yang datang itu pastilah tamu kelas elit.

Semula Wi-ho Lo-jin dan Su-Kiam-eng menyangka yang datang ini Kip-sian-hong Ko-Giok-siang, maka mereka sama menoleh ke arah tangga loteng, tapi sekali pandang tanpa terasa Kiam-eng lantas berseru, "Aha, Ciong-li-heng!"

Kiranya tamu yang muncul ini bukanlah Ko-Giok-siang segala, namun Kiam-eng justru kenal orang ini.

Memang betul pendatang ini tamu golongan elit, dandanannya perlente, usianya baru 40-an, matanya besar dan alisnya panjang, pedang menggelantung di pinggang, perawakannya gagah dan anggun, sekali pandang saja orang tentu menduga dia pasti bukan orang sembarangan.

Begitulah demi mendengar suara teguran Su-Kiam-eng, orang itu lantas memandang ke sana dan melihat yang menegur sapa adalah Su-Kiam-eng ia pun bersuara kaget dan menjawab, "Aha, Su-lau-te, kiranya engkau juga berada di sini."

Kiam-eng memberi hormat dan menjawab, "Ya, sudah sekian lama tidak berjumpa. Bagaimana kalau Ciong-li-heng ikut minum bersama kami."

Orang itu menerima tawaran Kiam-eng dengan senang hati, ia mendekati meja Su-Kiam-eng, dipandangnya Wi-ho Lo-jin, lalu memandang Kiam-eng pula, tanyanya, "Lo-cian-pwe ini ... "

"Beliau inilah Wi-ho Lo-jin, pendiri Bu-lim-teh-coh," cepat Kiam-eng memperkenalkan mereka.

"Oo," orang itu bersuara penuh rasa kagum dan hormat, "Kiranya Wi-ho Lo-jin adanya, Selamat bertemu!"

Melihat Wi-ho Lo-jin tidak kenal pendatang ini, segera Kiam-eng memperkenalkannya lagi, "Paman Wi, Ciong-li-heng ini adalah Sam-kong-cu (putra ke tiga) Kiam-ong, Leng-siau-kiam-kek Ciong-li-Thian- liong."

Hendaknya maklum, Kiam-ong Ciong-li-Cin (ralat; nama Ciong-Li-cin sebelum ini hendaknya dibaca menjadi Ciong-li-Cin) mempunyai tiga putra dan seorang putri. Putra tertua bernama Ciong-li-Po, putra ke dua Ciong-li-Hong, putra ke tiga Ciong-li-Thian-liong dan putri tunggalnya Ciong-li-Giok-lan yang sudah menikah, semuanya mewarisi kepandaian sang ayah yang hebat. Di antara ke tiga putranya, yang paling disayang Kiam-ong Ciong-li-Cin adalah Ciong-li-Thian-liong, sebab bakat Ciong-li-Thian-liong jauh di atas ke dua kakaknya, jauh lebih sukses, meski ke tiga bersaudara itu tidak seperti ke dua murid Kiam-ho Lok-Cing-hui, yaitu Gak-Sik-lam dan Su-Kiam-eng, yang suka ikut campur urusan tetek-bengek, namun karena mereka adalah putra tokoh nomor satu di dunia, maka setiap orang persilatan biarpun tidak pernah berjumpa muka dengan mereka tentu juga pernah mendengar nama kebesaran mereka.

Begitulah, maka ketika mendengar tamu ini arwah putra Kiam-ong Ciong-li-Cin, cepat ia berbangkit dan membalas hormat serta menyatakan kagumnya.

Setelah ke dua orang berbasa-basi, lalu mereka duduk bersama Kiam-eng minta pelayan menambahi lagi sumpit dan cawan, dituangnya secawan arak bagi Ciong-li-Thian-liong, lalu ia angkat cawan sendiri dan mengajaknya menghabiskan secawan.

Setelah minum secawan arak, Ciong-li-Thian-liong menatap Su-Kiam-eng dan bertanya dengan tertawa, "Su-lau-te, kabarnya kau pergi ke daerah selatan yang masih biadab sana, bilakah engkau pulang kemari?"

"Baru paling kemarin dulu," Jawab Kiam-eng.

"Apakah kota emas itu sudah kau temukan?" tanya Ciong-li-Thian-liong pula. "Ya, sudah aku temukan."

"Apa benar di kota purba itu terdapat sejumlah emas?" "Betul, cuma ... "

"Ada apa?"

"Sudah digondol orang hingga ludes."

"Haha, aku tahu, tujuan Su-lau-te tidak terletak pada emas, kalau tidak, siapakah gerangan yang mampu berebut denganmu?"

"Hendaknya Ciong-li-heng jangan berkata seperti ini, ketahuilah orang yang datang ke selatan sana untuk ikut berebut emas, hampir tidak ada satu pun yang berkepandaian lebih rendah dari padaku."

"Oo, dan bagaimana dengan Jian-lian-hok-leng?"

"Ini memang bukan barang hendak mereka cari, maka berhasil aku bawa pulang kemari," "Bagus, dan sudah kau minumkan kepada nona In?"

"Belum, malahan belum lagi aku temui guruku."

"O, kiranya begitu. Tahun lalu waktu ayahku mendengar nasib buruk yang menimpa su-heng mu, beberapa kali ayah hendak menyuruh kami bersaudara membantu gurumu untuk mencari su-heng mu, namun tatkala itu kebetulan ayah lagi mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk meyakinkan beberapa macam kung-fu, kami bersaudara demi menjaga keamanan beliau, rasanya berat untuk meninggalkan rumah, maka sejauh ini kami belum sempat memberi bantuan sedikit pun, untuk itu selama ini kami merasa tidak enak hati. Dan sekarang apakah jejak su-heng mu sudah ditemukan?"

"Belum, sudah aku ketahui su-heng diculik oleh lau-bu-lai dan Oh-Kong, namun ke dua orang ini sudah aku binasakan di daerah selatan sana, maka saat ini tidak diketahui su-heng ku berada di mana."

"Waktu itu mengapa tidak kau tanyai mereka di mana su-heng mu dikurung mereka?" "Soalnya baru kemudian aku tahu diculiknya su-heng oleh mereka."

"Oo, lantas cara bagaimana Su-lau-te akan mencari lagi su-heng mu?"

"Aku pikir perlu mencari orang yang kenal baik Te-Long dan Oh-Kong untuk dimintai keterangan." "Aku juga sedang mencari seseorang, aku kira kita dapat saling membantu ... " "Siapa yang dicari Ciong-li-heng?" tanya Kiam-eng. "Putri su-heng ku. Ih-Keh-ki."

"Ah, mengenai nona Ih memang ada yang hendak aku beritahukan kepada Ciong-li-heng." "Oo, apakah kau tahu jejak Keh-ki?"

"Betul sebab dia ikut pergi ke daerah selatan bersamaku."

"Hahh, untuk apa dia ikut pergi bersamamu ke tempat sejauh itu?"

Kiam-eng lantas menceritakan pertemuannya dengan Ih-Keh-ki dan cara bagaimana nona itu berkeras minta ikut ke selatan, akibatnya sebelum tiba di kota emas nona itu telah diculik oleh si orang berkedok hijau.

"Wah, tokoh macam apakah orang berkedok hijau itu?" tanya Ciong-li-Thian-liong dengan tercengang.

"Ia mengaku sebagai Raja Rimba, kepandaiannya terlebih hebat daripada guruku, sekalipun ada tiga anak muridnya, kepandaiannya pun sepadan dengan ke tiga duta Thian-ong-pang yang akhir-akhir ini membikin kaum dunia persilatan kita itu. Mereka guru dan murid ber-empat telah merampas segala benda berharga di kota emas itu, berulang kali ingin mencelakai diriku dan merintangi usahaku mengambil Jian-lian-hok-leng. Menurut dugaanku, sangat mungkin mereka ber-empat adalah tokoh utama Thian-ong-pang."

"Lantas apa maksud tujuannya menculik Keh-ki?" ucap Ciong-li-Thian-liong dengan kuatir.

"Tujuannya yang utama mungkin ingin menyandera nona Ih untuk memaksa diriku agar menyerahkan Jian-lian-hok-leng."

"Oo, mereka juga berusaha merintangi usahamu menyembuhkan penyakit In-Ang-bi?" tanya Ciong-li- Thian-liong heran.

"Betul." jawab Kiam-eng.

Terpancar sinar aneh pada sorot mata Ciong-li-Thian-liong, katanya, "Jika demikian, jelas si orang berkedok hijau itulah pengganas yang membunuh ke-18 tokoh utama dunia persilatan kita itu."

"Mungkin begitulah adanya," Kiam-eng mengangguk setuju.

"Hm, jika betul ke tiga duta itu adalah komplotan orang berkedok hijau itu, maka janji pertemuanku menjadi sangat besar artinya."

"Oo, Ciong-li-heng ada janji pertemuan dengan siapa?" tanya Kiam-eng melengak. "Yaitu ke tiga orang yang mengaku sebagai duta Thian-ong-pang."

"Kapan terjadinya janji pertemuan kalian?"

"Lima hari yang lalu," tutur Ciong-li-Thian-liong. "Telah aku terima surat tantangan mereka untuk bertanding dengan mereka di danau Liang-ci malam nanti, katanya mereka ingin tahu apakah kung-fu ajaran ayahku lebih lihai atau kung-fu Thian-ong-pang yang lebih hebat,"

Kiam-eng tahu Thian-ong-pang memang sengaja mencari perkara di mana-mana, sekarang keluarga Kiam-ong juga menjadi sasaran mereka, dengan sendirinya langkah ini memang sudah dalam perencanaan mereka. Tapi bila teringat si duta nomor tiga kini sudah terbunuh olehnya, tanpa terasa ia tersenyum dan berkata, "Mungkin malam ini mereka tak dapat hadir sesuai janji kalian."

"Aku kira pasti akan hadir," ujar Ciong-li-Thian-liong. "Setiap kali ke tiga orang itu menyantroni orang selalu mereka menentukan waktu dan selalu pula hadir tepat pada waktunya sesuai janjinya."

"Tapi malam ini mereka akan mengingkar janji, sebab duta ke tiga di antaranya sudah mati aku bunuh." "Apa betul?" seru Ciong-li-Thian-liong girang dan bersemangat.

Kiam-ong mengangguk, katanya, "Betul, hal itu terjadi sejam yang lalu ... " Lalu ia ceritakan cara bagaimana membereskan Coan-san-cu Poa-Siu-ho dan kawannya dan cara bagaimana mengatur perangkap dan memancing ke tiga duta itu ke rumah gubuk Sai-hoa-to.

Ciong-li-Thian-liong manggut-manggut setelah termenung sejenak, katanya kemudian, "Satu di antara mereka telah kau bunuh, hal ini tentu saja merupakan suatu pukulan keras bagi mereka. Tapi bukan maksud mereka bertiga hendak mengerubut diriku, maka biarpun satu di antara mereka sudah mati mereka tetap dapat hadir sesuai dengan janjinya."

"Tentu saja," ucap Kiam-eng dengan tersenyum, "yang aku maksudkan hanya kemungkinan mereka tidak berhasrat lagi memenuhi janji pertemuannya dengan Ciong-li-heng sebab mereka baru kehilangan seorang su-te."

"Aku kira mereka tatap akan hadir. Mereka sudah membuat onar di berbagai tempat tujuannya justru hendak menegakkan nama kebesaran Thian-ong-pang, bilamana malam nanti mereka tidak memenuhi janji pertemuan, hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap kehormatan mereka."

"Betul juga ucapan Ciong-li-heng, semoga malam nanti mereka hadir memenuhi janjinya sehingga aku pun dapat ... "

"Kiam-eng, itu Kip-sian-hong Ko-Giok-siang sudah datang!" sela Wi-ho-Lo-jin tiba-tiba.

Waktu Kiam-eng menoleh, benar juga terlihat pelayan membawa seorang lelaki kekar dan muka penuh berewok sedang naik ke atas loteng, segera ia berdiri dengan tersenyum.

Wi-ho-Lo-jin ikut berdiri juga dan menyapa Kip-sian-hong, "Selamat datang, Ko-lau-te."

Kip-siau-hong memberi hormat dan menjawab, "Maaf, aku dengar Bu-lim-teh-coh kebakaran, lantaran waktu itu lagi sibuk mengawal barang, sesudah pulang banyak pekerjaan lagi sehingga belum sempat menyambangi Wi-lo-pek, sungguh menyesal dan sekali lagi mohon dimaafkan."

Wi-ho Lo-jin tertawa, tanpa memperkenalkan dia dengan Su-Kiam-eng dan Ciong-li-Thian-liong, langsung ia menarik Kip-siau-hong ke pojok ruang sana sambil berkata, "Mari, kita bicara saja di sebelah sana."

Kiam-eng tahu Wi-ho-Lo-jin tidak ingin mengganggu percakapannya dengan Ciong-li-Thian-liong, maka ia duduk lagi dan angkat cawan, katanya, "Mari, Ciong-li-heng, habiskan secawan!"

Tanpa sungkan Ciong-li-Thian-liong ikut angkat cawan dan sekali tengak menghabiskan isinya, ia melirik sekejap ke arah Ko-Giok-siang, tanyanya dengan suara tertahan, "Siapakah orang ini?"

"Seorang piau-su Sun-hong piau-kiok, terhitung sanak famili Lau-bu-lai Te-long," tutur Kiam-eng, "Rupanya Wi-lo-cian-pwe ingin mencari keterangan jejak su-heng ku kepadanya."

"Oo," lalu Ciong-li-Thian-liong bicara lagi urusan tadi, "Tentang ke tiga duta Thian-ong-pang itu, kan pernah kau lihat mereka, kira-kira betapa hebat kepandaian mereka?"

"Sulit untuk dibicarakan," jawab Kiam-eng setelah berpikir sejenak. "Apabila aku harus bergebrak dengan mereka secara resmi, rasanya sulit bagiku untuk mengalahkan mereka."

Ciong-li-Thian-liong tampak tenang dan berkata pula, "Jika begitu, kira-kira aku dapat mengalahkan salah satu di antaranya."

Kiam-eng tahu di antara ke tiga putra dan ke empat murid Kiam-ong Ciong-li-Cin, itu sama menganggap kepandaian mereka masih di atasnya, diam-diam ia merasa geli sendiri, sekalian ia pun mengumpak, "Paman Ciong-li memang satu tingkat lebih hebat daripada guruku, jika aku saja mampu bertempur sama kuatnya dengan salah seorang duta itu, dengan sendirinya Ciong-li-heng dapat mengalahkan salah satu di antara mereka."

"Sebenarnya juga tidak berani aku katakan kepandaianku lebih tinggi daripada Su-lau-te cuma usiaku memang lebih tua 20-an tahun, dalam hal pengalaman mungkin aku lebih banyak sedikit."

"Ya, memang betul," sahut Kiam-eng tertawa.

Dengan tersenyum penuh keyakinan Ciong-li-Thian-liong berucap pula, "sejak ke tiga duta itu muncul di dunia persilatan, boleh dikatakan mereka tidak pernah menemui kegagalan, tapi malam nanti ... hehehe ... "

"Ya, malam nanti silakan Ciong-li-heng menghadap si duta nomor satu, biar Wi-lo-cian-pwe dan aku mengerubut si duta nomor dua, aku yakin tak sampai mengalami kekalahan."

"Apa katamu?" tanya Ciong-li-Thian-liong dengan melengong.

Kiam-eng juga melengong, "Apakah Ciong-li-heng tidak mengizinkan aku ikut campur urusan ini?"

"Ya, yang mereka janjikan cuma aku sendiri, maka tidak ingin aku minta bantuan orang lain untuk mengalahkan mereka."

"Akan tetapi apakah mereka mau bertempur satu melawan satu dengan Ciong-li-heng?" tanya Kiam-eng.

Ciong-li-Thian-liong mengangguk, "Aku kira mau. Jika mereka tidak dapat mengalahkan diriku dengan satu lawan satu berarti mereka tidak mampu merobohkan putra raja pedang (Kiam-ong)."

"Pada waktu mulai mungkin mereka mau bertempur satu lawan satu denganmu, tapi bila Ciong-li-heng kelihatan di atas angin, mungkin ... "

"Tidak," Ciong-li-Thian-liong memotong sambil menggeleng. "Tidak nanti aku beri kesempatan kepada mereka untuk main kerubut."

Kiam-eng merasa putra raja pedang itu terlampau sombong sehingga timbul rasa anti pati-nya, namun ia tetap mengangguk dan berkata. "Baiklah, jika begitu, aku doakan semoga Ciong-li-heng memperoleh kemenangan total dan pulang dengan gemilang."

Agaknya Ciong-li-Thian-liong juga merasa kurang enak telah menolak maksud baik orang, ia berkata pula dengan menyesal, "Cuma saja aku tahu juga Su-lau-te sangat ingin mengetahui seluk beluk lawan, maka malam nanti Su-lau-te boleh juga datang ke Nio-ci-oh hanya saja aku minta janganlah Su-lau-te menampakkan diri, agar tidak ditertawai mereka bahwa aku sengaja menyiapkan pembantu di sana."

"Baiklah," kita Kiam-eng. "Di tempat manakah di sekitar Nio-ci-oh pertemuan Ciong-li-heng dengan mereka?"

"Di sebelah barat Nio-ci-oh," tutur Ciong-li-Thian-liong. "Di sana ada sebuah hutan cemara hitam, tempat pertandingan menurut perjanjian terletak di sebuah tanah kosong di dalam hutan situ."

Bicara sampai di sini ia lantas berdiri dan berkata pula, "Baiklah, sekarang aku mohon dulu. Makan minum ini biar aku bereskan ... "

Cepat Kiam-eng mencegah. "Jangan kalau urusan lain silakan saja Ciong-li-heng berangkat dulu, biarlah aku bereskan nanti ... "

Ciong-li-Thian-liong tertawa dan menepuk bahu Kiam-eng, "Baiklah, biarlah esok aku jamu kembali kalian."

Lalu ia memberi salam kepada Wi-ho-Lo-jin yang sedang bicara di sana terus tinggal pergi.

Melihat Ciong-li-Thian-liong sudah pergi. Wi-ho-Lo-jin mengajak Ko-Giok-siang bergabung dengan Kiam- eng, katanya, "Kiam-eng, tampaknya kurang cocok pembicaraanmu dengan putra Kiam-ong itu, bukan?"

"Ah, biasa, putra dan murid Kiam-ong memang sok bersikap angkuh, hanya begitu saja," ucap Kiam-eng dengan tersenyum.

"Dia menolak kehadiranmu di sana, bukan?" tanya pula Wi-ho-Lo-jin.

"Ya, tapi dia memberi kesempatan padaku untuk mengintip pertandingan mereka, jelas maksudnya supaya kita menyaksikan kebolehannya."

"Jika begitu, biarlah malam nanti kita pergi melihat betapa hebat kung-fu andalan raja pedang sampai di sini Wi-ho-Lo-jin berpaling dan berkata kepada Ko-Giok-siang. "Ko-piau-su, inilah murid kedua Kiam-ho Lok-Cing-hui, namanya Su-Kiam-eng."

"Wah, sudah lama aku kagumi nama Su-siau-hiap, selamat bertemu!" ucap Kip-sian-hong dengan hormat. Kiam-eng membalas hormat dan menjawab "Ah, Ko-cian-pwe jangan sungkan, marilah kita sambil makan sembari bicara."

Setelah menghabiskan secawan arak, Wi-ho-Lo-jin berkata sambil memandang Su-Kiam-eng "Baru saja sudah aku tanyai Ko-piau-su dengan jelas, menurut Ko-piau-su selama ini ia pun gemas terhadap tingkah-laku Lau-bu-lai Te-Long, biasanya jarang bergaul dan bicara dengan dia maka kurang jelas

seluk-beluknya akhir-akhir ini, hanya diketahui di Gang Pipa dalam kota ini Te-Long ada seorang gendak, bila ada duit Te-Long tentu mencari perempuan itu sehingga antara keduanya sudah boleh dikatakan suami-istri tidak resmi."

"Siapakah nama perempuan itu?" tanya Kiam-eng terhadap Ko-Giok-liang.

"Kalau tidak salah, seperti bernama So-Jiu-kiok, anak buah rumah pelacur Gwe-hiang-ih, ini aku dengar dari seorang kawan piau-su lain," tutur Ki-sian-hong.

"Dan bagaimana lagi dengan Oh-Kong, si setan pengisap darah, apakah Ko-cian-pwe tahu siapa kawan atau kenalannya?"

"Entah, dahulu cuma pernah sekali aku bertemu dengan Oh-Kong, sehingga dia boleh dikatakan asing bagiku."

Kiam-eng tahu sukar diperoleh keterangan lalu, terpaksa ia berkata, "Baiklah, banyak terima kasih atas petunjuk Ko-cian-pwe. Bilamana Ko-cian-pwe tidak ada urusan lain, marilah kita minum sepuasnya."

Lalu ia berteriak, "Pelayan, bawakan lagi satu guci arak!"

Cepat Ko-Giok-siang berdiri dan berkata, "Wah, jangan, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, maaf jika tidak dapat aku temani Su-siau-hiap lebih lama, maaf, sampai bertemu lagi."

Sembari berkata ia pun memberi salam dan mengundurkan diri.

Wi-ho-Lo-jin dan Su-Kiam-eng juga tidak menahannya, setelah mengantar kepergian orang, mereka duduk kembali di tempat semula.

"Apa yang diuraikan Ko-piau-su ini, apakah paman Wi dapat mempercayainya?" tanya Kiam-eng dengan tertawa.

"Seyogianya dapat dipercaya, minimal orang ini bukan begundel Lau-bu-lai Te-Long yang busuk itu." "Jika begitu, terpaksa aku cari keterangan lagi kepada perempuan bernama So-Jiu-kiok itu."

"Wah, tempat pelesir seperti itu, terpaksa tidak dapat aku pergi bersamamu." "Tentu saja tidak. Dan selama beberapa hari ini paman Wi tinggal di mana?" "Di ruang belakang Hok-san-kek-can dengan nama samaran Wi-Ho-lian."

"Baiklah, sekarang juga aku pergi ke Gang pipa, kembalinya akan aku mampir ke Hok-san-kek-can untuk menemui paman."

"Boleh juga, cuma sekarang waktunya masih dini, para nona penghuni Gwe--hiang-ih mungkin belum lagi bangun tidur."

"Itu tidak menjadi soal, bila perlu akan aku seret dia supaya bangun," ujar Kiam-eng dengan tertawa, lalu ia memberi hormat dan tinggal pergi.

Tidak lama sampailah dia di Gang Pipa.

Waktu itu baru lewat lohor, masih beberapa jam baru datang malam hari. Namun suasana gang pipa terasa sunyi sepi, tidak terlihat seorang tamu pun.

Sembari memandang ke sana dan melongok ke sini, Kiam-eng terus menuju ke ujung gang, akhirnya ditemukan sebuah rumah dengan papan merek "Gwe-hiang-ih". Langsung ia masuk ke situ."

Segera seorang nona berbaju tak teratur menyongsongnya dan menegur, "Mencari siapa?" Kiam-eng tidak pernah melihat seorang nona berbaju kedodoran setengah terbuka dan berdiri di depan seorang lelaki seberani itu, terutama buah dada dan pahanya yang cuma tertutup oleh kain tipis itu, betapapun jantung Kiam-eng berdebar juga, maklum, apa pun juga dia pemuda yang berdarah panas.

Maka dengan muka merah ia menjawab, "O, aku mencari ... mencari seorang nona ... "

"Hihi, melihat kelakuanmu yang masih malu-malu, apakah untuk pertama kali ini engkau datang ke tempat seperti ini," tanya nona itu dengan mengikik genit.

"Betul, memang baru pertama kali ini," jawab Kiam-eng dengan kaku.

Nona itu tersenyum dan melirik genit, ucapnya, "Pantas kau datang sendiri ini, Supaya kau tahu, pada saat demikian kami baru saja bangun tidur dan belum lagi bersolek."

"Tidak apa, supaya nona tidak salah paham, aku hanya ingin mencari seorang nona she So," ucap Kiam- eng lihai.

"Oo, untuk apa kau cari dia?" heran juga nona itu.

"Untuk mencari sedikit keterangan padanya," tutur Kiam-eng. "Apakah nona dapat membawaku untuk menemui nona So?"

Mendengar kedatangan Kiam-eng hanya ingin mencari "nona So," seketika sikap nona itu berubah dingin, ia menuding ke balik pintu angin sana dan berkata, "Dia tinggal di kamar nomor tiga sebelah kiri sana, boleh langsung kau cari sendiri saja,"

Habis berucap ia lantas tinggal pergi sendiri.

Terpaksa Kiam-eng melangkah sana. Dilihatnya pintu setiap kamar sama terbuka, kawanan perempuan jalan itu asyik berdandan, ada yang lagi berbedak, gosok gincu, kebanyakan dengan dada terbuka, sebagian telanjang paha.

Ketika terlihat kedatangan Su-Kiam-eng, sebagian perempuan bejat itu menjerit kaget dan berlagak malu, ada yang terus mengomel, "Busyet, mau masuk kan kudu permisi, masakah tanpa suara?!"

"Ai, engkau ini siapa?" "Wah, malu ahh!"

Tentu saja Kiam-eng rikuh oleh macam-macam cemoohan itu, cepat ia menunduk dan mendekati kamar nomor tiga di sebelah kiri, dilihatnya seorang nona dengan muka agak cantik sedang menggaris alis di depan cermin perunggu. Ketika dari bayangan cermin diketahui di depan pintu ada seorang lelaki, segera ia menoleh dan bertanya, "Hei, mau apa?"

Kiam-eng memberi salam dan bertanya, "Numpang tanya, apakah nona she So?" Nona itu mengangguk dan menjawab, "Ya, ada urusan apa mencari diriku?"

"Aku diperkenalkan oleh seorang piau su Sun-hong-piau-kiok, ada suatu urusan ingin bicara dengan nona So ... "

Nona So itu tampak agak melengong, lalu mengangguk dan berkata, "Baiklah, silakan masuk."

Kiam-eng melangkah ke dalam kamar dan duduk di sebuah bangku. Buru-buru nona Soh itu membedaki mukanya dan segera merapatkan pintu kamar habis itu langsung menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Su-Kiam-eng dengan tertawa genit, "Agak dini kedatanganmu, tapi tidak apa lah."

Mestinya Kiam-eng hendak mengelak, tapi dari pengalaman nona pertama tadi ia sudah "tahu rasa", diketahui bilamana mulai lantas menyatakan maksud tujuan kedatangannya, akibatnya mungkin akan runyam lagi. Maka ia pun tidak menolak dan langsung merangkul pinggang si nona katanya dengan tertawa, "Ternyata memang tidak bernama Kosong, nona So memang sangat cantik."

"Dari siapa kau dengar?" tanya nona Soh dengan senyuman menggiurkan. "Dari seorang piau-su kawan sekerjaku, coba kau terka siapa dia?" "Apakah Ho-piau-su," tanya nona So setelah berpikir sejenak.

"Betul, tidak cuma satu kali dia menyebut dirimu padaku, maka aku pun bertekad akan berkenalan denganmu ... "

"Padahal Ho-piau-su tidak sering datang kemari, kabarnya pengawasan bininya cukup ketat ... Bagaimana dengan dirimu?" tanya nona So dengan tertawa.

"Aku kenapa?" Kiam-eng merasa bingung.

"Maksudku istrimu mengawasimu dengan ketat atau tidak?" "Haha, aku justru masih bujangan, dari mana datangnya istri?" "Apa betul? Ah, bohong!"

"Betul, tahu ini umurku baru 20, aku ingin senang-senang dulu beberapa tahun baru akan berumah tangga."

Perlahan nona So merangkul leher Kiam-eng dengan tangannya yang putih halus, tanyanya dengan terkikik-kikik, "Siapa she dan namamu?"

"Ho-pit-mui (buat apa tanya)" jawab Kiam-eng.

Nona itu menyangka Kiam-eng mengaku she Ho, ia tertawa, "Aha, kiranya engkau juga she Ho?" "Betul, dan Ho-piau-su itu adalah keponakanku," tanya Kiam-eng.

"Cis, omong kosong!" omel si nona. "Usia Ho-piau-su itu jelas satu kali lipat daripada umurmu."

"Masa umur dapat dibuat patokan? Tentu kau tahu ada orang tua memanggil paman pada orang muda." "Pokoknya aku tidak percaya, aku lihat kalian tidak mirip paman dan keponakan."

"Sudahlah kalau tidak percaya, anggap saja aku cuma membual."

Si nona menciumi dada Kiam-eng dan tanya pula, "Apa tugasmu dalam Piau-kiok?" "Apa lagi, tentu juga piau-su," jawab Kiam-eng.

Nona So mencolek pipi anak muda itu dan berkata, "Wah, semuda ini usiamu sudah menjadi piau-su, sungguh luar biasa ... Eh, paling akhir ini pernah mengawal tidak?"

"Baru saja kemarin dulu aku pulang dari Kai-hong," jawab Kiam-eng dengan bangga. "Wah, sekali mengawal bisa mendapat hasil berapa?" tanya nona So.

"Tidak tentu. Kemarin mungkin Cong-piau-thau kami lagi gembira sehingga kami masing-masing diberi persen 20 tahil perak."

Mencorong sinar mata nona So, kontan ia kecup pipi Kiam-eng, menyusul ia memicingkan mata dan berlagak tidak tahan, gumamnya, "Oo, jantung hatiku, bawalah aku ke tempat tidur, aku ... aku ... "

Diam-diam Kiam-eng merasa geli, tanyanya, "Kamu kenapa?"

Nona So mencubit perlahan dan mengomel genit, "Ah, jangan pura-pura bodoh." "Eh, nanti dulu, masih ada yang perlu aku bicarakan denganmu."

"Bicaralah nanti di tempat tidur, kan sama saja?" ujar si nona. "Tidak, aku ingin bicara saja di sini."

"Kalau begitu lekaslah bicara." "Begini, baru saja di jalan raya sana aku lihat bekas pacarmu." "Bekas pacarku? Yang mana?" tanya si nona dengan melengong. "Lau-bu-lai Te-Long, siapa lagi?!"

Kembali nona So melengak, ucapnya, "Masa kau bilang dia bekas pacarku?"

"Huh, tidak perlu berlagak pilon," kata Kiam-eng agak kurang senang. "Sudah lebih dulu aku tahu kalian pernah gendakan."

Nona So itu terbelalak, serunya, "Ahh, rupanya engkau salah paham. Yang benar gendaknya ialah So- Jiu-kiok dan bukan aku."

Kiam-eng jadi melengong sendiri, ia pun berseru dengan terbelalak, "Apa katamu, jadi kamu ini bukan So-Jiu-kiok?"

Seketika sikap nona So berubah dingin dan melepaskan diri dari rangkulan Su-Kiam-eng, ucapnya dengan bertolak pinggang, "Huh, rupanya kamu sengaja mempermainkan diriku. Supaya aku tahu, aku ini bukan perempuan yang boleh dihina."

Haha berkata segera ia putar tubuh hendak ke luar.

Cepat Kiam-eng menariknya bertanya, "Hei, kau mau pergi ke mana?" "Boleh kau tunggu dan lihat saja nanti, buat apa gugup?" jengek nona So.

Lekas Kiam-eng mengeluarkan sepotong uang perak dan dijejalkan ke tangan si nona So, katanya, "Nah, cukup tidak?"

Melihat bobot uang perak ada lima tahil perak, secantik nona itu berganti sikap lagi, ucapnya dengan muka agak merah, "Apa ... apa artinya ini?"

Kiam-eng tahu dirinya sudah berada di atas angin lagi, katanya, "Artinya supaya kamu jangan gembar- gembor."

Nona So menunduk malu, katanya, Ai, "Ho-ya (tuan Ho) suka mempermainkan orang, aku tidak mau." "Eh, sini," Kiam-eng duduk kembali. "Coba beritahukan, siapa namamu?"

Kembali nona itu menjatuhkan diri ke pangkuan Kiam-eng, jawabnya malu-malu, "Namaku So-Kiau- kiau."

"Sesungguhnya di Gwe-hiang-ih ini adalah beberapa anak perempuan she So?" "Cuma dua, aku dan So-Jiu-kiok."

"So-Jiu-kiok tinggal di kamar mana?" "Sudah lama dia tidak tinggal di sini." "Oo, ke mana dia pergi?"

"Kabarnya ikut kabur bersama Lau-bu-lai." "Kapan terjadinya?"

"Kira-kira tiga bulan yang lalu." "Sekarang mereka tinggal di mana?" "Entah."

"Tidak ada seorang pun tahu?"

"Ya, pada waktu pergi, ada orang tanya dia namun dia tidak mau omong." "Pernah pulang kemari?" "Tidak pernah."

"Oo, apakah dia tidak mempunyai sanak famili di kota ini?" "Tidak ada."

"Begini, bilamana pada suatu hari So-Jiu-kiok pulang dan mampir ke sini, hendaknya diam-diam kau kirim kabar kepada seorang tua bernama Wi Ho-lian yang tinggal di Hok-an-kek-can, bila terjadi demikian nanti aku pesan si kakek Wi-Ho-lian memberi hadiah sepuluh tahil perak padamu. Mau?"

"Untuk apa kau cari So-Jiu-kiok?"

"Ingin aku tanya suatu urusan padanya." "Urusan apa?"

"Soalnya ada seorang temanku ditangkap Lau-bu-lai Te-Long, ingin aku tolong teman itu, namun tidak tahu Te-Long sembunyi di mana. Maka ingin aku usut melalui So-Jiu-kiok, asalkan dapat menemukan So- Jiu-kiok kan dapat menemukan So-Jiu-kiok kan dapat menemukan Te-Long."

"Oo, kiranya begitu ... " "Nah, kau mau tidak?"

"Tapi, So-Jiu-kiok dan aku akrab seperti saudara sendiri, mana boleh aku khianati dia?" "Bagaimana kalau aku tambah lagi sepuluh tahil perak?"

"Ho ya, apakah menjual seorang saudara sendiri hanya berharga 20 tahil perak, apakah tidak terlampau murah?"

"Habis, kau minta berapa?" "Seratus tahil perak."

"Baiklah, aku beri seratus tahil. Tapi bila tidak menemukan So-Jiu-kiok tidak masuk hitungan." "Tentu, kalau dia pulang, tentu aku berusaha menahannya tinggal di sini,"

"Baik, begitulah janji kita. Sekarang aku mau pergi." "Nanti dulu, Ho-ya, ada lagi yang hendak aku katakan ..." "Urusan apa?"

"Begini, rumah tinggal orang tuaku sudah hampir ambruk dan ingin aku perbaiki, sudah lama aku kumpulkan duit dan masih kurang beberapa

puluh tahil perak. Aku kira Ho-Ya dapat memberi bantuan." "Nah, di sini ada 15 tahil perak."

"Terima kasih, Ho-ya!"

Setelah meninggalkan Gwe-hiang-ih, dengan gembira Kiam-eng menuju ke Hok-an-kek-can untuk menemui Wi-ho-Lo-jin dan menceritakan pengalamannya.

Wi-ho-Lo-jin mengernyitkan kening setelah mendengarkan cerita Kiam-eng, katanya, "Masa kau minta aku tinggalkan di sini untuk menunggu kabarnya So-Jiu-kiok?"

"Apakah paman Wi tidak ingin membangun kembali Bu-lim-teh-coh?" "Memang ada niatku untuk itu," ucap Wi-ho-Lo-jin. "Cuma ... " "Jika paman Wi memang ada niat membangun kembali Bu-lim-teh-coh, kan kebetulan bila untuk sementara dapat tinggal di sini?"

"Apakah aku tidak perlu mengirimmu mencari gurumu?" tanya Wi-ho-Lo-jin.

"Cukup paman Wi memberitahukan tempatnya dengan jelas, biarlah aku pergi mencarinya sendiri." "Dan malam ini tidak jadi pergi ke Nio-cu-oh?" tanya Wi-ho-Lo-jin pula.

"Tentu saja pergi, esok lusa barulah aku berangkat ke Kiu-kiong-san untuk menemui guruku."

Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan bertanya pula "Apakah kau pikir ada kemungkinan So-Jiu-kiok akan kembali lagi ke Gwe-hiang-ih?"

"Ya, aku kira kepergian So-Jiu-kiok dari Gwe-hiang-ih adalah karena dibujuk oleh Lau-bu-lai agar membantunya menjaga su-heng ku suami-istri dan sekarang Lau-bu-lai sudah aku bunuh, bilamana sudah ditunggu sekian lama dan Lau-bu-lai belum lagi pulang, tentu So-Jiu-kiok tidak mau menjadi penjaga terus menerus dan akan kesepian, akhirnya dia tentu teringat kepada profesinya semula dan sangat mungkin akan kembali lagi ke Gwe-hiang-ih."

Wi-ho-Lo-jin merasa perhitungan Kiam-eng itu cukup beralasan, katanya, "Bagus, selang dua hari lagi segera akan aku bangun kembali Bu-lim-teh-coh, sebelum bangunan pulih kembali aku takkan meninggalkan Hok-an-kek-can ini."

Kiam-eng merasa senang dan berterima kasih katanya, "Sudah banyak sekali bantuan paman Wi terhadap kami guru dan murid, sungguh kami takkan pernah melupakan budi kebaikanmu ini."

"Ah, aku cuma kehilangan sebuah rumah minum saja, terhitung apa?" kata Wi-ho-Lo-jin dengan tertawa.

Tiba-tiba Kiam-eng teringat kepada ke dua potong medali emas dalam bajunya, segera ia mengeluarkan medali emas dan diberikan kepada Wi-ho-Lo-jin, katanya, "Bila paman Wi sudi, terimalah ke dua medali emas ini sekadar sumbangsihku untuk membangun kembali Bu-lim-teh-coh."

Wi-ho-Lo-jin menerima medali emas dan coba memeriksanya sejenak, lalu ia tanya, "Apakah ke dua medali emas ini aku ambil dari dua buah patung di antara ke-180 patung emas itu?"

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Waktu itu si orang berkedok sudah menunggu di luar pintu, terpaksa hanya ke dua medali ini yang sempat aku ambil."

"Kau kenal tulisan di atas medali ini?" tanah Wi-ho-Lo-jin. "Tidak," Kiam-eng menggeleng.

"Ini tulisan Hindu kuno."

"Ah, rupanya paman Wi paham tulisan Hindu kuno?"

"Tidak, aku cuma tahu tulisan pada medali emas ini adalah huruf Hindu kuno."

"Oo," Kiam-eng bersuara kecewa. "pernah juga aku pikir tulisan di atas medali emas ini adalah tulisan Hindu kuno, pula percaya apa yang dicatat dalam tulisan ini pastilah penjelasan ilmu pedang sakti itu."

"Jika begitu, mengapa kau berikan ke dua medali emas ini kepadaku?" tanya Wi-ho-Lo-jin dengan tersenyum.

"Ada dua alasan," kata Kiam-eng. "pertama, tidak ada yang paham tulisan Hindu kuno. Ke dua, medali emas semacam ini seluruhnya ada 180 buah, sedangkan yang aku dapatkan hanya dua buah. Dengan lain perkataan, di antara ke-180 jurus ilmu pedang sakti hanya aku dapatkan dua jurus sehingga terasa tidak apa gunanya, lantaran itulah terpaksa aku gunakan medali seperti emas biasa."

"Tapi bukan mustahil pada suatu hari akan dapat kau peroleh seluruh 178 buah patung emas yang lain?" "Wah, omong sih gampang, mana mungkin!"

"Tapi kalau terjadi." "Sekalipun dapat aku rebut ke-180 patung emas itu dari si orang berkedok hijau, tapi tulisan Hindu kuno ini tidak aku kenal, kan juga tidak ada gunanya."

"Oya, aku tahu ada seorang paham tulisan Thian-tiok (Hindu kuno) ini." "Aha, siapa dia?" tanya Kiam-eng cepat dengan bersemangat.

"Bo-toh-Siang-jin, padri saleh Tai-hin-sian-si di kota Tiang-an," tutur Wi-ho-Lo-jin, "Pada waktu mudanya pernah dia mengembara ke negeri Thian-tiok dan bermukim di sana selama sepuluh tahun."

Lalu ia kembalikan ke dua potong medali emas itu kepada Kiam-eng, katanya lagi dengan serius, "Simpan saja medali emas ini aku yakin lama lagi si orang berkedok hijau dan Thian-ong-pang akan mengacaukan dunia persilatan hingga kalang kabut, sedangkan kalian guru dan murid sanggup menumpas kawanan iblis dan menyelamatkan dunia persilatan atau tidak, kuncinya terletak pada ilmu pedang sakti ini dapat dikumpulkan olehmu secara lengkap atau tidak."

Terkesiap Kiam-eng, sahutnya khidmat, "Benar ucapan paman Wi, nanti setelah aku temui Su-hu dan menyembuhkan penyakit nona In, segera aku anggap merebut kembali ke-180 patung emas ini sebagai tugas utama."

"Untuk merebut kembali ke-180 buah patung emas, aku merasa ada suatu akal ... " kata Wi-ho-Lo-jin. Kiam-eng mengangguk dan tersenyum, "Aku kira tanpa penjelasan paman Wi pun aku tahu apa akal itu." "Bagus jika begitu, aku doakan usahamu lekas tercapai dan sukses," kata Wi-ho-Lo-jin.

Kiam-eng mengeluarkan sebuah granat berasap pedas dan diserahkan kepada kakek itu, katanya, "Inilah granat asap pedas buatan Sam-bi-sin-ong, bila malam ini terjadi sesuatu di luar dugaan, boleh paman Wi menggunakan granat ini untuk meloloskan diri."

Wi-ho-Lo-jin menerima granat itu, sembari mengamatinya ia coba tanya, "Dan Kau-hun-tan buatan Sai- hoa-to itu masih kau pegang berapa biji?"

"Tidak ada lagi, sudah habis," jawab Kiam-eng. "Dan granat asap pedas seperti ini?"

"Hanya tersisa sebuah ini saja."

"Jika begitu, mengapa tidak kau tahan untuk digunakan sendiri?"

"Bilamana musuh yang muncul malam nanti terdapat duta Thian-ong-pang nomor satu atau nomor dua, aku pikir akan aku hadapi salah satu di antara mereka untuk mengujinya, ingin aku tahu Leng-siau-kiam- hiap Ciong-li-Thian-liong berhasil merobohkan lawan lebih dulu atau diriku. Nanti paman Wi boleh mengintip dari samping, apabila melihat keadaan agak gawat, silakan melemparkan granat bertabir asap pedas ini, dengan demikian tentu kami dapat lolos dengan aman."

Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menerima granat asap pedas itu, katanya pula, "Jika tidak ada sesuatu yang tak terduga, aku yakin yang akan berhasil mengalahkan musuh adalah dirimu, dan yang kalah ialah Ciong-li-Thian-liong."

"Itu pun tidak tentu," ucap Kiam-eng. "Konon di antara ke tiga anak dan ke tiga murid Kiam-ong Ciong- li-Cin, kepandaian Ciong-li-Thian-li-ong inilah yang paling tinggi."

"Mungkin betul, namun aku percaya betapa hebatnya Ciong-li-Thian-liong tetap takkan melebihimu," kata Wi-ho-Lo-jin.

"Mungkin juga belum tentu," ujar Kiam-eng. "Guru ternama tentu melahirkan murid pandai. Jika Kiam- ong Ciong-li-Cin juga lebih unggul setingkat daripada guruku, mana mungkin kepandaianku lebih tinggi daripada Ciong-li-Thian-liong.

"Kau tahu, pertemuan para tokoh persilatan dahulu itu juga aku hadiri dan menyaksikan pertandingan yang berlangsung, aku lihat gurumu yang tidak sampai hari mengalahkan Ciong-li-Cin, hanya itu saja soalnya," tutur Wi-ho-Lo-jin tersenyum.

"Ya, pernah juga aku dengar hal ini cuma ada satu kali aku tanya Su-hu, namun aku justru di damprat oleh Su-hu, katanya kalau sudah kalah ya mengaku kalah, kenapa mesti pakai alasan dan mengemukakan hal-hal yang merugikan namun orang lain?"

"Justru begitulah pribadi gurumu yang luhur itu, setiap kali bila dia membantu orang, sedapatnya dia berbuat di luar tahu pihak lain."

Begitulah setelah mengobrol sampai sekian lama, tampaknya hari sudah mulai gelap, mereka lantas meninggalkan hotel setelah bersantap malam lalu berangkat menuju Nio-ci-oh.

Setiba di tepi danau itu hari pun sudah gelap.

Mereka mendapatkan hutan cemara hitam yang disebut Ciong-li-Thian-liong, selagi mereka hendak melompat ke atas pohon, tiba-tiba dari tanah lapang di tengah hutan sana berkumandang suara orang mendengus, "Hehehe, dini benar kedatangan kalian berdua!"

"itulah suara si duta nomor satu."

Wi-ho-Lo-jin dan Kiam-eng terkejut, cepat mereka sembunyi di balik pohon. Hal ini sungguh tak terduga oleh mereka. Sebab umumnya pertandingan di malam hari antara tokoh persilatan kebanyakan berlangsung pada waktu tengah malam. Padahal sekarang hari baru saja gelap, dan duta nomor satu dan nomor dua ternyata sudah menunggu di dalam hutan.

Yang lebih aneh adalah, begitu mereka berdua masuk ke dalam hutan dan masih berjarak puluhan meter dari tanah lapangan itu, ternyata pihak lawan sudah lantas tahu kedatangan mereka berdua, entah mengapa bisa terjadi demikian?

Selagi mereka heran dan kejut, terdengar si duta nomor satu terkekeh dan berucap lagi, "Kenapa?" Memangnya untuk apa kalian main sembunyi di balik pohon? Kalian yang satu adalah tokoh tertua dunia persilatan, seorang lagi adalah murid kesayangan Kiam-ho, masakah kalian tidak berani muncul secara terang-terangan?"

Mendengar begitu, Kiam-eng tahu kedatangan mereka berdua malam ini jelas sudah dalam perhitungan pihak lawan. Maka ia pun tidak perlu main sembunyi lagi, segera ia keluar dari tempat sembunyinya dan menuju ke tanah lapang sambil berkata, "Haha, peran utamanya kan belum datang, kalau kalian ingin lekas mampus kan juga tidak perlu tergesa-gesa?!"

Karena Kiam-eng sudah mendahului menampakkan diri, terpaksa Wi-ho-Lo-jin mengiringinya menuju ke sana.

Si duta nomor satu terbahak-bahak, "Haha-haha! Sungguh lucu! Memangnya kau kira siapa yang menjadi peranan utama malam ini?"

"Kiam-eng berhenti di tepi tanah lapang, jawabnya, "Kalian berjanji dengan Leng-siu-hiap-kiam Ciong-li- Thian-liong untuk bertanding di sini bukan?"

Kembali si duta nomor satu tergelak, lalu menggeleng kepala dan menjawab, Tidak, peran utama malam ini justru adalah dirimu."

"Oo, apakah Ciong-li-Thian-liong tidak jadi hadir?" tanya Kiam-eng melengong.

"Juga tidak," sahut si duta nomor satu dingin. "Saat ini mungkin Ciong-li-Thian-liong lagi kelonan dengan bininya di rumah mereka di Hou-ge-san."

Baru sekarang Kiam-eng menyadari duduk perkaranya, ia menyengir dan berkata, "Sungguh ilmu menyamar yang hebat, siapakah kiranya yang menyamar sebagai Ciong-li-Thian-liong siang tadi?"

"Ialah aku ini," tukas si duta nomor dua.

"Itu namanya senjata makan tuan," sambung si duta nomor satu, "biasanya kamu suka main samar menyamar, maka kami pun menggunakan caramu itu untuk menjebak dirimu. Malam ini akan kami gunakan kepala kalian berdua sebagai sesaji arwah duta nomor tiga Pang kami."

Sedapatnya Kiam-eng menenangkan diri, ucapnya dengan tertawa, "Baiklah, tentu takkan aku bikin kecewa kalian. Cuma sebelum bertempur aku sangat ingin tahu sedikit persoalannya, entah kalian berani memberi penjelasan atau tidak?" "Kamu ingin tahu urusan apa?" tanya si duta nomor satu.

"Apakah Pang-cu kalian yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan itu?"

"Betul, rasa juga tidak ada gunanya biarpun aku menyangkal," kata si duta nomor satu.

"Akan tetapi ke tiga orang yang ikut pergi ke daerah biadab di selatan bersama Pang-cu kalian itu justru selalu menyangkal hal ini, sungguh sangat menggelikan!"

"Hm, apa lagi yang hendak kau tanyakan?" jengek si duta nomor satu.

"Di antara ke-18 tokoh yang terbunuh itu 12 di antaranya adalah ketua berbagai aliran dari perguruan besar, namun betapa hebat kepandaian mereka toh pernah dikalahkan oleh Kiam-ong Ciong-li-Cin dan guruku, bahkan tokoh seperti Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun dan It-sik-sin-kai saja lebih lihai daripada mereka lantas untuk apa Pang-cu kalian juga membunuh mereka."

"Ini merupakan suatu rahasia yang tidak dapat dikatakan kepada orang luar," jawab si duta nomor satu.

Perlahan Kiam-ong mulai melolos pedang yang tersandang di punggung, ucapnya dengan tersenyum, "Nah, sudah selesai pertanyaanku, sekarang siapa yang ingin mampus dahulu?!"

Si duta nomor dua juga melolos pedang dan melangkah maju, katanya, "Biarlah aku belajar kenal denganmu."

Kiam-eng melirik hina sekejap padanya, lalu menoleh dan bertanya kepada si duta nomor satu, "Su-te mu ini pernah mengalahkan ketua perguruan besar mana?"

"Ketua Bu-tong-pai dan Kong-tong-pai," tutur si duta nomor satu.

"Wah, lihai juga," ujar Kiam-eng dengan "Dan entah diperlukan berapa jurus berhasil?" "Tidak banyak, pokoknya tidak melampaui seratus jurus," ucap si nomor satu.

"Jika begitu, dalam 20 jurus aku aku kalahkan su-te mu ini," ucap Kiam-eng.

"Hahaha, sungguh tidak nyana Kiam-ho mempunyai seorang murid yang suka omong besar tanpa tahu malu," jengek si duta nomor satu dengan terbahak.

Kiam-eng hanya tersenyum saja, "Bukti lebih penting daripada cuma omong kosong, boleh kau lihat saja nanti!"

Mestinya si nomor satu hendak bergebrak dengan Wi-ho-Lo-jin sekaligus, karena ucapan Kiam-eng itu, ia melangkah mundur dan berkata, "Baiklah, boleh mulai!"

Wi-ho-Lo-jin cukup kenal kemampuan Su-Kiam-eng, ia tahu anak muda itu paling banter hanya menempur sama kuat dengan lawan, sekarang Kiam-eng menyatakan akan mengalahkan lawan dalam 20 jurus, betapapun ia heran dan kuatir, ia coba melirik Kiam-eng dengan sorot mata sangsi dan bertanya dengan suara lirih, "Apakah benar aku atasi dia?"

Kiam-eng mengangguk perlahan, segera ia mendesak maju dengan pedang terhunus. Apakah benar anak muda ini yakin akan mengalahkan lawan dalam 20 jurus?

Tidak, sama sekali ia tidak punya pegangan apa pun. Namun dia sudah bertekad, apapun jadinya dia harus mengalahkan lawan dalam 20 jurus saja.

Alasannya yang memaksa omong besar dan mengambil keputusan begitu adalah karena ia pun tahu Wi- ho-Lo-jin jelas bukan tandingan salah seorang duta itu, apabila kedua pihak empat orang bertarung sekaligus, tentu Wi-ho-Lo-jin sukar terhindar dari nasib buruk, sebab itulah terpaksa ia omong besar supaya si duta nomor satu merasa bingung dan heran, dengan demikian orang dapat ditipu untuk menonton saja di samping, lalu ia sendiri akan bertindak mati-matian dengan segala cara untuk menang dalam 20 jurus dan membunuh si duta nomor dua, dengan demikian pula barulah dapat menghindarkan Wi-ho-Lo-jin dari rengutan maut.

Biarpun muluk-muluk cara berpikirnya, namun cara bagaimana menyerempet bahaya untuk memperoleh kemenangan, sedikit dia tidak punya rencana, yang ada cuma nekat saja. Begitulah ia mendekat lawan dangan senjata terhunus. Sebaliknya si duta nomor dua juga melangkah maju dengan pedang terangkat, jarak kedua pihak semakin dekat dan keduanya mendadak sama berhenti, empat mata saling tatap dan mulai memasuki ketegangan antara menyerang dan bertahan.

Keduanya terus saling tatap sekian lama, mereka mulai menggeser langkah dengan perlahan, masing- masing sama mencari peluang untuk melancarkan serangan kilat. Keduanya mempunyai pikiran yang sama, yaitu sekali mulai menyerang harus memberi pukulan fatal terhadap lawan.

Suasana terasa tegang di hutan cemara hitam itu, yang menyaksikan pun ikut menahan cepat.

Meski pada wajah si duta nomor satu memakai kedok tipis, namun dari sorot matanya tetap terlihat rasa tegang, sebab ia lihat mata Su-Kiam-eng memancarkan cahaya yang sangat teguh dan mantap, ia merasa kalau anak muda itu tidak yakin akan menang sebagaimana dikatakannya tadi tentu takkan omong besar bahwa dalam 20 jurus akan mengalahkan su-te nya.

Wi-ho-Lo-jin juga sangat tegang selama hidupnya sudah banyak juga adegan tegang yang pernah dilihatnya, namun keadaan seperti malam ini sungguh baru pertama kali dilihatnya. Dengan sendirinya ia sangat berharap Su-Kiam-eng akan menang, namun ia tahu mutlak anak muda itu takkan mampu berhasil dalam 20 jurus, sebab seorang yang mampu mengalahkan berbagai ketua perguruan besar, betapa tinggi kung-fu nya tentu dapat dibayangkan, sekalipun Kiam-ong dan Kiam-ho juga belum tentu mampu mengalahkannya dalam 20 jurus, apalagi Su-Kiam-eng?

Sebab itulah Wi-ho-Lo-jin sangat kuatir bagi Su-Kiam-eng.

Sekonyong-konyong kedua pihak saling gebrak. Hampir pada saat yang sama ke dua orang sama melancarkan serangan kilat. Terlihat sinar pedang berkelebat, terlihat pedang si duta nomor dua menusuk ke perut Su-Kiam-eng, sebaliknya ujung pedang Kiam-eng juga menyambar ke ulu hati lawan.

Bilamana serangan ke dua orang diteruskan, maka akibatnya ke dua pihak akan sama-sama terluka, namun pedang ke dua pihak mendadak ditarik kembali bersama, habis itu ke dua orang serentak melancarkan serangan lagi, yang seorang mengarah bagian bawah, yang lain menusuk bahu.

"Creng", akhirnya pedang ke dua pihak beradu juga dan menimbulkan suara nyaring.

Pada saat ke dua pedang saling bentur mendadak tubuh Kiam-eng mendak ke bawah, menyusul ke lima jari yang mencengkeram pedang mengendur sehingga pedang terbentur mencelat ke udara.

Akan tetapi begitu pedang terlepas dari tangan seketika juga tangan kiri melolos belati yang terselip dalam bajunya.

Dengan sendirinya si duta nomor dua tidak menyangka Su-Kiam-eng adalah lawan "empuk" begini, baru terbentur segera senjata terpental. Seketika ia jadi melengong sendiri. Padahal waktu itu ia gunakan tenaga sepenuhnya untuk membentur pedang lawan, begitu pedang Kiam-eng terpental, selagi ia hendak menusuk lagi, tapi sebelum pedang sempat ditarik kembali, tahu-tahu Su-Kiam-eng sudah mendesak maju di bawah pedangnya.

Seketika ia pun merasakan gelagat tidak menguntungkan, cepat ia hendak melompat mundur, namun sayang, sudah agak kasip, "Sret," belati Kiam-eng sempat menyayat paha kanannya dan menimbulkan luka yang cukup dalam dan panjang, seketika darah berceceran, ia menjerit kesakitan.

Kejadian ini mungkin tidak tersangka oleh siapa pun, sebab pertarungan baru berlangsung dua kali gebrak dan kalah menang sudah terlihat jelas.

Selagi Kiam-eng hendak menambahi sekali tikam lagi, mendadak serangkum angin dahsyat menyambar tiba.

Dengan sendirinya angin pukulan dahsyat ini dilontarkan si duta nomor satu demi untuk menyelamatkan kawannya. Betapa cepat serangan itu terpaksa Su-Kiam-eng terpaksa harus mengurungkan tikamannya dan melompat ke samping.

Kesempatan itu segera digunakan oleh si duta nomor dua untuk melompat mundur. Ia merasa terjebak oleh akal licik Su-Kiam-eng, maka ia sangat penasaran, tapi lantaran luka paha cukup parah dan tidak sanggup bertarung itu ia hanya dapat memaki Kiam-eng sambil menuding, "Anak keparat, terhitung apa caramu bertanding itu?" Memang, baru mulai bergebrak sudah sengaja membuat pedang sendiri terlepas dari cekalan, lalu menyerang lawan dengan belati, ini sudah di luar jurus melainkan tipu bertempur, tipu bertempur yang tidak pernah digunakan oleh siapa pun.

Ketika Kiam-eng melompat ke samping, serentak pula ia jemput kembali pedang sendiri.

Melihat si duta nomor satu tidak melancarkan serangan lebih lanjut, dengan berdiri tegak ia mendengus. "Siasat pertempuran tidak ada larangan untuk memakai tipu akal, barangkali kamu belum pernah membaca kitab siasat militer?"

Saking murka ke dua mata si duta tampak merah membaca, ia menoleh dan berteriak terhadap si nomor satu, "Bunuh dia, Si-ko, bunuh dia!"

Akan tetapi sikap si duta nomor satu justru sangat penting, terhadap akal Su-Kiam-eng yang aneh untuk merebut kemenangan itu agaknya dia cukup merasa kagum, dari hal ini ia pun merasakan bilamana malam ini ingin membereskan Su-Kiam-eng mungkin tidak mudah.

Segera ia menggeser ke samping kawannya dan berucap tenang, "Go-te, coba aku periksa keadaan lukamu."

Setiba di depan si duta nomor dua, ia berjongkok untuk memeriksa luka paha kawannya itu. Diam-diam ia merogoh ke luar segenggam jarum perak, lalu mendadak ia berputar dan ditebarkan, sambil membentak. Dengan gerakan "Boan-thian-boa-ah" atau hujan gerimis memenuhi udara, jarum perak itu berhambur bagai hujan ke arah Su-Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin.

Serangan ini agak di luar dugaan Su-Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin, keruan mereka terkejut oleh hujan jarum perak yang lembut itu, cepat mereka meloncat setingginya, kuatir pihak lawan menyerang lagi dengan senjata rahasia, sesudah mengepung di udara keduanya lantas melayang ke kanan-kiri secara terpencar.

Akan tetapi si duta nomor satu tidak menyambitkan jarum perak lagi, malahan pada waktu Kiam-eng dan Wi-ho-Lo-jin hinggap kembali di tanah dan menyelinap ke bilik pohon, ketika memandang lagi ke tempat semula, ternyata kedua musuh itu sudah menghilang.

Rupanya si duta nomor satu itu telah kabur dengan membawa kawannya yang terluka itu. Kiam-eng rada melengak, segera ia lari ke luar sambil berseru, "Lekas kejar, paman Wi!" Namun Wi-ho-Lo-jin cepat mencegahnya "Tidak, jangan, lekas kembali kemari!"

Terpaksa Kiam-eng putar balik dan bertanya "Memangnya kenapa, paman Wi?"

"Luas hutan cemara hitam ini ada beberapa li, pula di tengah kegelapan malam, mengejar musuh dalam hutan sangat mudah terjebak, biarkan mereka kabur saja."

Kiam-eng tahu ucapan Wi-ho-lo-jin memang masuk diakal, terpaksa ia batalkan niatnya mengejar musuh, katanya "Sungguh sayang, tadi seranganku ternyata tidak mengenai bagian tubuh yang fatal."

"Tapi malam ini kan kita yang tertipu ke sini, akhirnya dapat kau tumbangkan rencana jahat mereka, ini kan suatu hasil yang hebat," kata Wi-ho-Lo-jin tertawa.

"Caraku bertempur tadi boleh dikatakan untung-untungan," ujar Kiam-eng. "Syukurlah sekali serang lantas kena, kalau tidak, sungguh sukar dibayangkan bagaimana akibatnya ... "

"Betul, memang juga tidak aku duga akan caramu itu, sungguh terlampau bahaya caramu itu." "Dan juga kurang gemilang, bukan?" tanya Kiam-eng tertawa.

"Tidak, seperti kau katakan sendiri, siasat tidak melarang pakai tipu, pula aku paham sebabnya kamu harus bertempur mati-matian untuk mencapai kemenangan, yaitu kau kuatir pamanmu ini akan binasa nomor satu itu, betul tidak?"

Cepat Kiam-eng menyangkal, "Ah, masa begitu."

"Tidak perlu kau bohongi aku, jika bukan begitu tujuanmu, tentu tidak perlu bertempur cara begitu." Sampai di sini, ia lantas mendahului melangkah ke luar hutan, katanya, "Marilah kita pulang saja ke kota."

Kiam-eng mengikut di belakangnya, katanya "Paman Wi, aku pikir malam ini juga aku temui Su-hu, bagaimana pendapat paman?"

"Baik juga, supaya tidak sia-sia menempuh perjalanan ... " Wi-ho-Lo-jin mengangguk setuju. "Jika begitu, biarlah aku beritahukan tempat tinggal gurumu sekarang."

Ia memandang ke sekeliling, lalu mendekati anak muda itu dan membisikinya tempat tinggal Kiam-ho Lok-Cing-hui di Kiu-kiong-san dengan jelas.

Setelah mengingatnya dengan baik, Kiam-eng lantas memohon diri dan menuju ke selatan.

Dari Nio-ci-oh ke Kiu-kiong-san hanya berjarak 200-an li, sepanjang jalan Su-Kiam-eng menggunakan Gin-kang untuk berlari cepat, menjelang fajar ia sudah menempuh hampir setengah jalan dan sampai di kota Han-leng.

Setelah sekedar istirahat dan isi perut di kota segera Kiam-eng melanjutkan lagi perjalanan.

Siang hari tidak dapat berlari cepat dengan gin-kang, maka sehari ini hanya 50-li saja ditempuhnya, lalu bermalam di kota Tong-san.

Menjelang lohor hari ke tiga sampailah dia di Kiu-kiong-san yang rimbun dengan pepohonan dan lereng gunung yang indah.

Ia terus menuju ke arah menurut petunjuk Wi-ho-Lo-jin, sembari berjalan Kiam-eng pun berpikir entah rahasia tempat sembunyi guru dan In-Ang-bi, yaitu Cui-he-san-ceng, apakah diketahui musuh atau tidak? Apakah akan terjadi seperti Bu-lim-teh-coh tempo hari, ketika dirinya tiba di Cui-sia-san-ceng, tahu-tahu perkampungan itu sudah berubah, menjadi reruntuhan puing?"

Kira-kira setengah jam kemudian, perkampungan yang berada di tengah hutan bambu itu sudah kelihatan dari jauh, melihat perkampungan itu masih menghijau permai tanpa kurang apa pun Kiam-eng menghela napas lega.

Cui-sia-san-ceng bukan tempat asing bagi Su-Kiam-eng, sebab Ceng-cu atau kepala kampung, Tiok- Kiam-sian-sing Han-Keng-ting pada beberapa puluh tahun yang lampau juga seorang tokoh persilatan yang tenar, senjata andalannya pedang bambu cukup disegani baik kawan maupun lawan. Watak Han- Keng-ting ini tidak suka pada harta dan pangkat, pada usia 50-an dia sudah mengundurkan diri dari dunia ramai dan tirakat di perkampungan Cui-sia-san-ceng di lereng gunung Kiu-kiong-san ini.

Hubungan Han-Keng-ting dengan Wi-ho-Lo-jin sangat karib, hal ini pernah juga Kiam-eng dengar dari cerita sang guru, maka terhadap pribadi Tiok-Kiam-sian-sing Han-Keng-ting dia cukup menghormat dan mengaguminya.

Setiba di depan gerbang Cui-sia-san-ceng, terlihat seorang budak tua sedang menyapu daun bambu di dalam kampung, segera ia memberi salam dan menyapa, "Permisi Lo-tiang!"

Budak tua membalas hormat dan berkata, "Silakan masuk! Mau mencari siapa tuan muda ini?" "Aku Su-Kiam-eng, ingin bertemu dengan guruku," sahut Kiam-eng.

Budak tua itu tampak berkedip-kedip dan bertanya, "Siapakah guru tuan muda?" "Yaitu Kiam-ho Lok-Cing-hui!"

"Ah, mungkin tuan muda salah alamat?" ucap budak tua itu dengan heran. "Apa? Salah alamat?" Kiam-eng jadi melengong.

"Apakah kau tahu di sini tempat apa?" tanya si budak tua dengan tertawa. "Bukankah sini Cui-sia-san-ceng?" Kiam-eng menegas dengan bingung.

"Betul, di sini memang Cui-sia-san-ceng," si budak tua mengangguk. "Tapi apakah kau tahu siapakah Ceng-cu di sini?"

"Oo, apakah Ceng-cu nya bukan Tiok-kiam-sian-ceng Han-Keng-ting?" kata Kiam-eng dengan agak gugup.

"Betul, apabila tahu ceng-cu di sini adalah Tiok-kiam-sian-sing Han-Keng-ting, mengapa tuan bilang ingin menemui gurumu Kiam-ho Lok-Cing-hui?"

Dengan tegang Kiam-eng berkata pula, "Jika demikian, jangan-jangan guruku tidak pernah berkunjung kemari?"

"Ya, tidak, selamanya gurumu tidak pernah datang kemari," kata si budak tua.

Perasaan Kiam-eng sangat tertekan, ucapnya bingung, "Ah, mengapa su-hu ku tidak ke sini, padahal beliau bilang mau berkunjung kemari."

Si budak tua menggeleng kepala dan tetap menyapu gumamnya, "Sudah lebih sepuluh tahun budak tua menghamba pada majikan di sini dan selama ini tidak pernah aku dengar ada hubungan antara majikan dengan Lok-Cing-hui segala."

"Ya, memang antara guruku dan Han-ceng-cu tak kenal mengenal, tapi sebelum guruku datang kemari sudah dibekali surat perkenalan oleh Wi-ho-Lo-jin.

Si budak tua melirik Kiam-eng sekejap, lalu menyapu lagi dengan tertunduk, katanya, "Wi-ho-Lo-jin memang ada hubungan akrab dengan Ceng-cu kami, apakah tuan muda ini datang dari tempat Wi-ho- Lo-jin?"

Kiam-eng tidak menjawab, sebab pada saat itu hatinya diliputi perasaan ngeri dan membuat sekujur badan mengkirik, pikiran pun kacau.

Ia yakin, tidak mungkin sang guru berubah pikiran mendadak dan membawa In-Ang-bi ke tempat lain, tentu dalam perjalanannya ke Cui-sia-san-ceng inilah dicegat musuh.

Bila terjadi seperti ini, kalau sang guru tidak mengalami sesuatu, andaikan tidak jadi datang ke Cui-sia- san-ceng, tentu juga akan berusaha memberi kabar kepada Wi-ho-Lo-jin ke mana perginya, dan jika sang guru tidak mengirim sesuatu berita kepada Wi-ho-Lo-jin, ini menandakan beliau dan In-Ang-bi sudah ...

Ia tidak berani berpikir lebih jauh, sedapatnya ia menahan rasa takut dan dukanya, mendadak ia putar tubuh dan berlari ke bawah gunung.