Rahasia 180 Patung Emas Jilid 20

 
Jilid 20 

Waktu bocah bisulan itu menoleh dan bertanya, "Lihat apa?"

Mendadak telapak tangan Kiam-eng yang memegang pundak orang terus menebas tenggorokan orang. Karena tidak sempat mengelak, kontan leher si bisulan tertebas cepat. Ia hanya sempat bersuara kaget terus roboh terjungkal.

Ia tidak dapat bergerak lagi, sebab tebasan telapak tangan Su-Kiam-eng itu telah mematahkan tulang kerongkongannya.

Cepat Kiam-eng mengangkat tubuh orang dan dibawa lari ke suatu tempat ketinggian di sekitar situ.

Setelah mencapai tempat tujuan, ia taruh bocah bisulan itu di tanah, diamat-amatinya wajah orang dengan cermat, lalu ia menyingkap kedok tipis yang menutup muka orang.

Maka terlihatlah dengan jelas, bocah bisulan itu ternyata seorang pemuda yang berwajah gagah dan tangkas.

Kiam-eng tidak mengenalnya, ia coba menggeledah lagi badan orang, hasilnya tidak menemukan sesuatu benda yang dapat membuktikan siapa asal-usul pemuda ini. Segera ia buka baju dan sepatu lawan dan mulai menyamar.

Hanya sebentar saja sudah berubah menjadi bocah penjaja panganan yang kudisan itu.

Lalu ia jinjing keranjang makanan orang dan meneruskan perjalanan ke tanah pekuburan sana. Hanya sebentar saja ia sudah sampai di tempat tujuan. Ia coba memandang sekelilingnya, yang ada cuma makam belaka tanpa bayangan seorang pun.

Diam-diam ia membatin, saat itu musuh yang sembunyi di sekitar situ tidak tahu kapan dirinya akan pulang ke Bu-lim-teh-coh, maka kalau musuh menunggunya di tempat pekuburan ini, mestinya mereka sembunyi di dalam salah sebuah pekuburan. Lantai di kuburan manakah musuh bersembunyi?

Besar-kecil makam yang berada di tanah pekuburan umum ini tidak kurang dari 500 buah dengan sendirinya Kiam-eng tidak dapat menggeledahnya satu demi satu. Apalagi jika ia mencarinya secara demikian tentu rahasia penyamarannya akan terbongkar.

Sebab itulah setiba di pekuburan itu segera berteriak, "Ubi goreng! Yu-ca-kue, Kacang goreng! Semua masih hangat-gurih dan renyah!"

Sembari menawarkan jajanannya ia terus menuju ke tengah tanah pekuburan itu."

Mendadak terdengar suara "bluk" sekali, batu nisan sebuah makam di sebelah kiri mendadak ambruk, lalu sebuah kepala orang tua yang bengis, menongol dari lubang kubur serta menegur dengan kurang senang "Poa cilik, kamu main gila apa lagi?"

Kiam-eng terbahak, jawabnya, "Haha, aku kan lagi menjual kacang goreng?! Kacang gorengku masih hangat, gurih dan renyah, aku pikir kawanan setan dan arwah gentayangan di makam umum ini pun ingin makan kacang gorengku."

Sembari bicara Kiam-eng terus mendekati lubang kubur itu. "Ada berita apa yang kau peroleh?" tanya si kakek muka bengis. "Bicaralah di dalam nanti," kata Kiam-eng.

Tanpa bicara lagi si kakek lantas mengeret ke dalam kubur. Kiam-eng pun berjongkok dan menerobos ke dalam.

Terlihat luas ruang kubur itu ada tiga kali lima meter di bawah tanah, di dalam situ ada sebuah pelita minyak. Kecuali orang tua bermuka bengis tadi masih duduk meringkuk di situ dan orang sastrawan setengah baya dengan dandanan yang aneh.

Sekilas pandang dan mengetahui siapa mereka diam-diam Kiam-eng terkejut, pikirnya, "Hm, kiranya ke dua keparat ini."

Ke dua orang ini berjuluk "Lo-san-siang-mi-yang" atau sepasang bencong dari Lo-san. Lo-toa atau si kakek bernama Ubun-Pin, Lo-ji atau yang ke dua bernama Ubun-Giok. Keduanya adalah saudara sekandung, namun tidak normal pertumbuhan fisik mereka sehingga Lo-toa suka berubah menjadi lelaki dan Lo-ji bisa berubah menjadi perempuan hubungan antara ke duanya pun kurang beres. Namun mereka memiliki kung-fu yang tinggi, senjata rahasia jarum berbisa terlebih lihai. Mereka pernah muncul di Bu-lim-teh-coh, maka Kiam-eng kenal mereka.

Sekarang dengan cepat Kiam-eng sedang menimang-nimang keadaan, jika dirinya mendadak turun tangan, untuk membinasakan kakek bermuka bengis ini jelas tidak sulit tapi jarum berbisa Lo-san-siang- im-yang bisa menyamber cepat luar biasa di ruang kuburan yang sempit ini tentu sangat sulit menghindari jarum berbisa mereka. Lantas apa daya?

Karena kung-fu nya tinggi dan nyali besar, ia pikir setelah masuk ke dalam makam baru akan merobohkan musuh secara mendadak. Namun sama sekali tak terpikir bahwa dua orang musuh lain ternyata adalah tokoh ternama dengan jarum berbisa yang lihai itu, sebab itulah ia agak menyesal. Tahu begitu, sebelum masuk ke dalam makam tentu si kakek bermuka bengis itu sudah dibereskan dulu, habis itu cukup menunggu saja di mulut makam dan Lo-san-siang-mi-yang dapat dikubur hidup-hidup di situ.

Kini terpaksa ia tidak berani sembarangan bertindak melainkan hanya ikut duduk di situ bersama si kakek berwajah bengis.

Tapi baru saja duduk, Ubun-Pin lantas buka suara, "Poa cilik, kenapa batu kuburan tidak kau tutup?"

Kiam-eng mengiakan perlahan dan berbangkit lagi untuk menutup batu nisan. Pada kesempatan itu sebenarnya ia dapat kabur ke luar makam, namun dia tidak bertindak demikian, ia bertekad tetap menyamar sebagai "Poa cilik" dengan harapan akan mengetahui apa tujuan ke empat lawan ini mengeram di dalam makam ini, sebab ia menarik kesimpulan ke empat orang inilah yang membakar Bu- lim-teh-coh.

Setelah merapatkan batu nisan kuburan. Kiam-eng mundur kembali dan duduk di tempat tadi. Ubun-Pin lantas tanya lagi, "Apakah kau lihat di luar sana, Poa cilik?"

Kiam-eng menaruh keranjang makanan di lantai lalu menjawab, "Aku lihat orang yang sedang kita tunggu itu." Lo-san-siang-im-yang dan si kakek bermuka bengis tersentak bangkit, berbareng mereka tanya, "Su- Kiam-eng maksudmu?"

"Betul, bocah itu sudah pulang," tutur Kiam-eng. "Dia pulang sendirian?" tanya si kakek.

"Ya, pulang sendirian," kembali Kiam-eng mengangguk. "Dan sekarang dia berada di mana?" tanya Ubun-pin lagi.

Kiam-eng sengaja jual mahal, setelah merandek sejenak batu menjawab perlahan, "Jangan tergesa- gesa, biar aku tuturkan dengan perlahan."

Bilamana malam tiba, Ubun-Pin suka berubah menjadi lelaki perkasa, wataknya menjadi agak kasar, perkataan Kiam-eng membuatnya tidak sabar, teriaknya, "Keparat, pakai bicara perlahan segala? Apa kamu tidak kuatir 40 ribu tahil perak itu akan terbang meninggalkan kita?"

"Justru karena tidak mungkin terbang, maka aku minta kalian bersabar sebentar," ujar Kiam-eng dengan tertawa.

Ubun-Giok tertawa ngikik, ucapnya dengan suara yang dibuat lembut, "Poa cilik, ayolah jangan jual mahal lagi. Apa benar kau lihat Su-Kiam-eng itu sudah pulang?"

Meski bentuknya kelihatan banci, betapapun unsur kelihaiannya terlebih kuat, maka suara lembutnya yang dibuat-buat terasa memuakkan bagi pendengarnya.

Kiam-eng juga merinding, tapi ia berlagak bangor dan meliriknya sekejap sambil berucap, "Tidak cuma melihatnya saja, bahkan aku bicara dengan dia."

Melihat Kiam-eng tidak mau bicara terus terang, si kakek tampak kurang senang, omelnya, "Poa cilik, meski kedudukan kita berempat sama tingginya, tapi bicara tentang tingkatan, jelas kami terlebih tua dari padamu. Aku kira kamu perlu menghormati orang tua."

Kiam-eng angkat pundak, tuturnya kemudian "Begini yang terjadi. Pada waktu aku jajakan kacang goreng di sana, tiba-tiba aku lihat seorang berdiri termenung di samping reruntuhan puing Bu-lim-teh- coh. Waktu aku dekati baru aku kenali dia sebagai Su-Kiam-eng."

"Tentu dia terkejut demi melihat Bu-lim-teh-coh sudah berubah menjadi reruntuhan puing, begitu bukan?" tanya Ubun-Pin.

"Ya, kata Kiam-eng. "Waktu aku lihat dia berdiri termenung, kesempatan itu mestinya ingin aku gunakan untuk menutuk roboh dia. Namun pada saat itu juga mendadak ia berpaling ke arahku, sorot matanya tampak menampilkan rasa duka dan gusar seperti ingin membunuh orang untuk melampiaskan perasaannya. Sebab itulah aku tidak jadi turun tangan melainkan cuma menegurnya apakah dia datang mencari Bu-lim-teh-coh. Ia membenarkan dan menyatakan hendak menagih utang kepada Wi-ho-Lo-jin

..."

"Menagih utang? Utang apa?" tanya si kakek wajah bengis.

"Itulah, seketika aku pun tidak mengerti, maka aku pun tanya dia menagih uang apa, dan dia menjawab uang daun teh."

"Uang daun teh? Apa artinya itu?" tanya Ubun-Pin bingung.

"Artinya ia tahu pasti ada alasan terbakarnya Bu-lim-teh-coh, maka ia tidak mau terang-terangan mengaku sebagai Su-Kiam-eng melainkan pura-pura mengaku sebagai pedagang daun teh yang hendak menagih utang kepada Bu-lim-teh-coh."

"Oo, kiranya begitu. Baiklah coba ceritakan seterusnya."

"Waktu itu aku tanya dia berapa banyak utang Bu-lim-teh-coh kepadanya. Ia menjawab ada sekitar seratus tahil perak. Aku bilang Wi-ho-Lo-jin kan tidak mati, boleh kau cari dia untuk menagih utang padanya. Ia menjawab tidak diketahui ke mana perginya Wi-ho-Lo-jin. "Aku katakan padanya tahu di mana Wi-ho-Lo-jin berada dan bersedia memanggilnya, cuma, untuk itu berarti aku harus membuang waktu dan tidak dapat berjualan. Maka ...

"Sebelum aku katakan lebih lanjut maksudku segera ia mengeluarkan sekian uang receh dan diberikan padaku dan minta aku bawa menemui Wi-ho Lo-jin. Namun aku menolak, aku bilang cuma ada dua teman yang aku ketahui sering disinggahi Wi-ho-Lo-jin, namun tidak tahu pasti sebenarnya orang tua itu berada di mana. Aku suruh dia tunggu saja di sana, biar aku cari tahu di mana beradanya Wi-ho-Lo-jin baru akan datang lagi untuk membawanya ke sana. Aku bilang kalau dia kuatir aku lari setelah mendapat persen, maka hendak aku kembalikan saja uang pemberiannya itu.

"Namun dia menolak dan menyatakan percaya kepada keteranganku, ia minta aku pergi mencari Wi-ho- Lo-jin dan kalau dapat supaya orang tua itu diundang ke situ dengan pesan dicari oleh pedagang daun teh dari Bu-ih-san ... "

Sampai di sini, tiba-tiba Ubun-Pin menyela lagi. "Hm, menurut rencana kita semula kan seharusnya kau pancing dia ke sini, mengapa sembarangan kau langgar rencana semula?"

"Aku memang ingin melaksanakan rencana semula tapi pada saat terakhir tiba-tiba aku rasakan ada titik kelemahan dalam rencana kita itu," ujar Kiam-eng tertawa.

"Tidak lemah bagaimana?" tanya Ubun-Pin.

"Apakah kau tahu Su-Kiam-eng pernah menjadi pelayan di rumah minum Bu-lim-teh-coh?" tanya Kiam- eng.

"Ya, tahu," Ubun-Pin mengangguk. "Memangnya kenapa?"

"Justru di sini letak titik lemahnya," ucap Kiam-eng. Jika bocah itu pernah menjadi pelayan di Bu-lim-teh- coh, tentu dia sangat apal terhadap daerah ini, terutama sekitar Wi-go-san. Bila aku pancing dia ke tanah pekuburan ini, memangnya dia takkan curiga?"

"Ah, betul juga," kata Ubun-Ping. Wi-ho-Lo-jin jelas takkan sembunyi di tanah pekuburan ini. Hal ini memang kurang sempurna dan tak pernah terpikir oleh kita."

"Makanya, terpaksa aku ganti haluan dan mengubah rencana semula," tutur Kiam-eng "Lebih dulu aku bohongi dia agar menanti di sana, lalu aku pulang kemari untuk berunding dengan kalian."

"Begini saja, biarlah kita pergi ke sana dan beramai-ramai membereskan dia," ucap si kakek muka bengis.

"Wah, kurang baik," Kiam-eng menggelengkan kepala. "Di tempat terbuka dan di depan orang banyak, apa yang terjadi tentu gampang tersiar ke telinga gurunya, yaitu Kiam-ho Lok-Cing-hui, pula mudah membuat kabur pecah she Su itu."

"Dan kalau menurut pendapatmu, sebaliknya apa yang harus kita lakukan?" tanya si kakek muka bengis. "Biarlah kita ganti tempat dan melaksanakan sesuai rencana semula," kata Kiam-eng.

Ubun-Giok menimbrung, "Jika ingin ganti tempat, aku kira hanya ada suatu tempat yang paling cocok." "Tempat mana?" tanya Kiam-eng.

"Yaitu rumah gubuk tempat tinggal Sai-hoa-Sim-Tiong-ho," jawab Ubun-Giok.

"Aha, betul!" seru Kiam-eng setuju. "Wi-ho-lo-jin dan Sai-hoa-to adalah sahabat karib selama berpuluh tahun. Kalau di beritahu Wi-ho-Lo-jin sebagai di tempat Sai-hoa-to tentu Su-Kiam-eng akan percaya penuh tanpa curiga."

"Baiklah, sekarang kita bertiga segera menuju ke gubuk Sai-hoa-to itu," ajak si kakek muka bengis.

"Wah, tidak perlu terburu-buru," kata Kiam-eng. "Paling baik satu di antara kalian ikut pergi bersamaku untuk menjaga segala kemungkinan, bilamana urusan sampai ketahuan dapat kita cegah kaburnya bocah she Su itu."

"Betul, biar aku pergi bersamamu," tukas Ubun-Giok. Kehendak orang kebetulan bagi Su-Kiam-eng, ia mengangguk dan berkata, "Bagus, jarum mencabut nyawa kalian maha ampuh, bilamana Ubun-heng sudi ikut pergi bermaksud tentu urusan tidak perlu aku kuatirkan lagi."

"Lebih baik aku saja yang pergi, Lo-jin," kata Ubun-Pin.

Ubun-Giok memelototi sang kakak, ucapnya dalam hal apa kamu lebih kuat daripadaku? Maka kamu ingin berebut denganku?"

Lalu ia memberi tanda kepada Su-Kiam-eng dan berkata, "Ayo, kita berangkat!" Segera pula ia mendahului menerobos keluar makam itu.

Selagi Kiam-eng hendak ikut menerobos keluar, tiba-tiba Ubun-Pin menariknya dan membisikinya dengan nada mengancam, "Awas, Poa cilik, jika kau berani mengganggu saudaraku, bisa jadi aku bunuh dirimu."

Kiam-eng menepuk pundak orang, katanya tertawa, "Jangan kuatir, istri teman sendiri tidak boleh diganggu, apalagi dia adikmu."

Habis berucap ia lantas menerobos keluar.

Berturut-turut Ubun-Pin dan si kakek wajah bengis juga ikut menerobos keluar. Mereka meninggalkan tanah makam itu, lalu terpencar. Dua orang langsung menuju ke gubuk tempat tingga1 Sai-hoa-to, dua lagi menuju ke Wi-ho-lau.

Kiam-eng dan Ubun-Giok menelusuri jalan setapak sekian jauh, ditaksir jarak dengan Wi-ho-lau tinggal satu-dua li saja, selagi Kiam-eng hendak turun tangan menghabisi Ubun-Giok, sekonyong-konyong orang bencong itu berucap dengan suara genit, "Eh, Poa cilik, aku tidak sanggup berjalan lagi, marilah kita duduk mengaso sebentar."

Dan tanpa menunggu jawaban Su-Kiam-eng langsung ia duduk di tepi jalan.

Terpaksa Kiam-eng berhenti dan membalik tubuh, tanyanya, "Apakah Ubun-heng kelelahan?" "Ya, hampir mati kelelahan," ucap Ubun-Giok dengan gaya memikat.

Kiam-eng duduk di samping orang, ucapnya dengan tertawa, "Untung Su-Kiam-eng takkan tahu akan kedatangan kita, bolehlah kita mengaso sebentar di sini."

Karena duduk bertanding, kesempatan itu digunakan Ubun-Giok untuk menyandarkan kepala pada Su- Kiam-eng sambil bertanya, "Poa cilik, di dalam makam tadi, apa yang dikatakan kakakku terhadapmu?"

Kiam-eng sengaja mencolek dagu orang dan menjawab, "Ia memperingatkan aku agar jangan mengganggumu. Kalau aku tidak menurut, bisa jadi aku akan dibunuhnya."

"Huh, jangan percaya ocehannya," dengus Ubun-Giok dengan mulut menjengkit. "Dia memang cuma mementingkan diri sendiri. Siang hari ia sendiri sering mencari orang lelaki, tapi malam hari aku dilarang mencari lelaki. Sungguh terlalu egois."

"Maksudnya kan ingin membelamu, setiap kakak tentunya tidak suka adik sendiri diganggu orang," ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Akan tetapi bila siang hari dia kan jadi kakak perempuanku dan aku adalah adik lelakinya dan apa yang dilakukannya siang hari dengan orang lelaki tidak pernah aku larang."

Hal ini mungkin disebabkan dia ... dia sangat sayang padamu," kata Kiam-eng.

"Sayang kentut!" omel Ubun-Giok. "Aku justru tidak sayang padanya. Setiap lelaki lain pasti lebih tangkas daripada dia. Biar aku beritahukan padamu, dia ... "

Kiam-eng tahu apa yang akan dikatakannya, cepat ia memotong, "Sudahlah, aku tahu, tidak perlu kau katakan lagi."

Ubun-Giok mendongak dengan manja dan berucap, "Jika begitu, apakah engkau sudi berbaikan satu kali denganku?" "Tidak, bilamana diketahui kakakmu, jiwaku bisa melayang," Kiam-eng menggeleng.

Ke dua tangan Ubun-Giok merangkul pinggang Kiam-eng dengan erat, sorot matanya menampilkan cahaya kehausan yang sangat diharapkannya, desisnya, "Total, masakah aku beritahukan dia apa yang kita lakukan ini? Marilah kita ..."

Sembari berucap segera tangannya meraba dan hendak membuka celana Kiam-eng.

Namun tangan Kiam-eng tepat pada waktunya "meraba" hiat-to kelumpuhan orang, begitu ia tekan dengan kuat, tubuh Ubun-Giok bergetar sedikit, lalu terperosot ke tanah dan tak bisa berkutik lagi.

Dengan sendirinya si bencong tidak mengerti mengerti sebab apa si Poa cilik menutuk hiat-to kelumpuhannya, maka setelah terguling ia masih bingung dan heran, tanyanya, "Hei, Poa cilik, kamu main gila apa?"

Kiam-eng melolos belatinya dan mengancam di leher orang, ucapnya dengan tertawa, "Jangan bersuara keras-keras, bila kamu berteriak segera aku tusuk lehermu."

Tentu saja Ubun-Giok ketakutan, ucapnya dengan gemetar, "Hei, Poa cilik, apa artinya perbuatanmu ini? Kan aku terima segala permintaanmu, ke ... "

"Sialan." omel Kiam-eng. "Aku bukan Poa cilik atau Poa gede, Poa cilik sudah mampus, tahu?" Ubun-Giok terbelalak kaget, ia menegas, "Apa katamu?"

Sekata demi sekata Kiam-eng menjawab, "Aku bilang aku bukan Poa cilik segala, Poa cilik itu sudah mampus aku bunuh, tahu?"

"Hahh, lantas ... lantas siapa engkau?" tanya Ubun-Giok kaget. "Aku ini bernama 40 ribu tahil perak!" dengus Kiam-eng.

Ubun-Giok tahu apa arti ucapan itu dengan ngeri ia berkata "Oo, jadi ... jadi engkau ini Su ... Su Kiam eng?"

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Cuma kamu pun tidak perlu takut asal kau bicara sejujurnya apa yang aku tanyakan nanti, tentu kamu masih diberi kesempatan untuk hidup."

"Baik ... baiklah, silakan ... silakan tanya!" sahut Ubun-Giok dengan gemetar.

"Nah, coba katakan, kalian berempat ini membakar Bu-lim-teh-coh atas perintah siapa?" "Ti ... tidak, bukan ... bukan kami yang membakar Bu-lim-teh-coh ... "

"Habis siapa?"

"Entah, aku tidak tahu."

"Em, jangan bohong. Jika tidak bicara terus terang, sekali tubles aku tembus tenggorokanmu." "Betul, aku benar-benar tidak tahu apa pun, aku ... aduhh!"

Rupanya ujung belati Kiam-eng telah menusuk ke dalam tenggorokan orang, namun cuma masuk setitik saja, jadi boleh dikatakan cuma terluka lecet saja, akan tetapi hal itu sudah cukup membuat Ubun-Giok ketakutan setengah mati, mata tampak mendelik, rupanya jatuh pingsan.

Hal ini sama sekali di luar perhitungan Su-Kiam-eng. Setahunya, biarpun Lo-san-siang-im-yang ini orang bencong alias benci, sebentar luka menjadi lelaki dan lain saat berubah menjadi perempuan, namun pada waktu mereka menjadi perempuan, ilmu silat dan keganasan mereka tidak menjadi lemah. Tak tersangka sekarang hanya, termasuk sedikit saja sudah membuatnya semaput saking takutnya.

Kiam-eng coba memandang sekitar dan tidak terlihat ada air, terpaksa ia menyeret orang ke tengah hutan di dekat situ, hendak ditanyai lagi bila orang sudah siuman nanti.

Sebabnya Kiam-eng tidak mau melepaskan Giok ini adalah karena di antara ke tiga lawan itu hanya Ubun-Giok ini yang paling lemah, jika dari Ubun-Giok tidak dapat dikorek sesuatu keterangan, maka Ubun-Pin dan si kakek muka bengis jelas terlebih sulit lagi.

Akan tetapi sebelum lanjut ucapannya Su-Kiam-eng telah menambahi dengan sekali hantam pada belakang kepalanya sehingga mencelat dan jatuh terkabar.

Di tengah malam gelap. si kakek muka bengis tidak tahu jelas apa yang terjadi, namun suara panggilan "Nah-heng" yang diucapkan Ubun-Pin dan suara jatuhnya dapat didengarnya dengan jelas, maka cepat ia memburu ke sana dan bertanya, "Heh, Ubun-heng, ada apa?"

Kiam-eng mendekatinya dan menjawab, "Jangan kuatir, Na-heng, Ubun-heng cuma kena aku tutuk saja."

Melihat sorot mata Kiam-eng penuh rasa permusuhan, pula melihat Ubun-Pin menggeletak di situ, si kakek muka bengis terkesiap dan bertanya pula, "Poa cilik, kamu main gila apa?"

"Hm, main gila apa? Aku cuma ingin mengangkangi sendiri ke-40 ribu tahil perak itu," jengek Kiam-eng. "Keparat! Apa kamu sudah gila?!" damprat si kakek dengan gusar.

"Aku tidak gila, tapi keinginanku pasti akan terkabul," ucap Kiam-eng dengan tertawa.

Kejut dan gusar si kakek muka bengis, dengusnya, "Hm, hanya dengan tenagamu sendiri, memangnya kau mampu menangkap Su-Kiam-eng?"

"Ya, justru dia sudah dapat aku tangkap," Kiam-eng mengangguk.

Melengong juga si kakek, katanya kemudian, "Aha, kiranya begitu. Tapi ingin aku ingatkan padamu, jangankan saat ini masih ada aku Ok-sat-sin Na-Bu-hui di sini, andaikata dapat kau bunuh diriku dan ingin membawa Su-Kiam-eng untuk mengambil hadiah, mungkin sebelum kau dapatkan 40 ribu tahil perak hadiah itu kamu sudah harus menerima tuduhan membunuh kawan sendiri."

Kiam-eng angkat pundak, katanya "Aku kira tidak, tujuan cu-kong kita hanya pada diri Su-Kiam-ong dan takkan menghiraukan kematian anak buah sendiri.

Seketika wajah si kakek tambah beringas, ucapnya, "Tampaknya kamu akan main gila benar-benar?"

"Ya, umpama kamu dapat membunuhku, maka ke-40 ribu tahil perak itu pun akan menjadi milikmu," kata Kiam-eng dengan tertawa.

Mendadak Ok-sat-sin Na-Bu-hui, si kakek bermuka bengis, melolos batang golok tebal berlukis kepala setan dan mendesak maju, ucapnya sambil menyeringai, "Tepat ucapanmu, biarlah sekarang juga kita tentukan siapa yang berhak mengambil hadiah ke-40 ribu tahil perak itu."

Sejak menyamar sebagai "Poa cilik," Kiam-eng menyembunyikan pedangnya di tengah hutan, maka sekarang ia hanya menghadapi lawan dengan bertangan kosong. Namun ia tidak gentar sedikit pun, sebab Na-Bu-hui ini meski seorang tokoh terkemuka di kalangan hitam namun ia cukup yakin mampu membinasakannya dengan bertangan kosong maka dengan tersenyum saja ia hadapi orang.

Dengan sendirinya Na-Bu-hui tidak tahu Poa cilik alias Poa-Siu-ho yang berjuluk Coan-san-cu atau si tikus penyusup gunung, bukan lagi Poa-Siu-ho yang asli, hatinya tambah panas ketika dilihatnya "Poa cilik" menghadapinya dengan sikap pongah seakan akan pasti akan menang. Sambil meraung segera goloknya menebas ke pinggang Kiam-eng.

Begitu cepat dan dahsyat tebasan goloknya, jelas tidak kepalang lihainya.

Akan tetapi baru saja goloknya menyambar tahu-tahu "Poa cilik" yang berdiri di depan itu mendadak menghilang.

Malahan pada saat itu juga tiba-tiba serangkum angin kencang menyambar dari belakang.

Keruan ia terkejut dan cepat menjatuhkan diri ke samping, menyusul ke dua kaki lantas menendang secara berantai.

Caranya mengelak itu tidak bagus, namun cukup praktis juga di luar dugaan Su-Kiam-eng. Pukulan Kiam-eng itu bila diteruskan sebenarnya dapat mengenai perut lawan, akan tetapi tendangan lawan juga akan mengenai dadanya. Sambil berseru memuji, cepat Kiam-eng melompat mundur.

Kesempatan itu digunakan Na-Bu-hui untuk melompat bangun terus hendak kabur, namun Kiam-eng terus membayangi lagi jari kembali menutuk.

Setelah saling gebrak dan merasa menghadapi lawan berat, timbul curiga Na-Bu-hui, sambil mengelak ke balik pohon segera ia pun membentak, "Berhenti dulu, aku ingin bicara!"

Terpaksa Kiam-eng berhenti melihat orang berlindung di balik pohon, tanyanya dengan tertawa, "Kau mau kentut apa, lekas katakan!"

Na-Bu-hui coba mengamat-amati Kiam-eng dengan teliti, mendadak ia terkekeh dan bertanya "Hehe, sebenarnya siapa engkau?"

"Siapa lagi, aku kan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, memangnya kamu sudah pikun?" sahut Kiam-eng tertawa.

"Omong kosong," jengek Na-Bu-hui. "Berapa banyak bulu kalong di pantat Coan-san-cu pun aku tahu jelas, tidak perlu kamu bohong. Nah, sesungguhnya kamu ini siapa?"

"Haha, boleh juga pandanganmu," Kiam-eng terbahak. "Baiklah, biar aku katakan terus terang. Namaku ialah si 40 ribu tahil perak."

"Hahh, jadi engkau ini Su-Kiam-eng?" Na-Bu-hui menegas dengan muka pucat.

"Betul, jika aku dapat kau lawan, bukankah kamu akan menerima hadiah 40 ribu tahil perak?" ucap Kiam-eng.

Diam-diam Na-Bu-hui merasa jeri. Agaknya ia tahu betapa tinggi kepandaian Su-Kiam-eng, tanpa dibantu Lo-san-siang-im-yang dan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, sendirian tidak mungkin baginya untuk melawan Su-Kiam-eng. Padahal sekarang jelas ke tiga kawannya itu sudah tamat riwayatnya, maka dalam benaknya sekarang bukan lagi berpikir tentang cara bagaimana menawan Su-Kiam-eng untuk mendapatkan hadiah besar melainkan cara bagaimana mencari jalan singkat untuk meloloskan diri.

Begitulah dengan takut ia menyurut mundur berulang, habis itu mendadak ia melompat jauh ke belakang terus lari secepatnya.

Namun Kiam-eng sudah tahu maksud orang, sambil tertawa panjang ia melayang lewat di atas kepala lawan dan hinggap di depannya, sebelah tangan meraih, segera ia hendak mencengkram musuh.

Na-Bu-hui tidak berani balas menyerang, ia hanya menghindar ke samping dan berusaha menyusup ke tengah hutan yang gelap.

Akan tetapi gerakan Su-Kiam-eng terlebih cepat dari dia, kembali ia menghadang di depan ruang sambil menegur dengan tertawa, "Na-Bu-hui, sebaiknya kamu menerima nasib saja!"

Sembari bicara jarinya kembali menyambar bagian dada lawan.

Na-Bu-hui menyadari sukar meloloskan diri, terpaksa ia nekat dan melawan sekuatnya, ia putar golok dan balas membacok lengan kanan Kiam-eng.

Pertarungan ulangan ini terlebih payah bagi Ok-sat-sin Na-Bu-hui, soalnya setelah sekarang mengetahui lawannya adalah Su-Kiam-eng, rasa jeri tentu saja berpengaruh dalam benak Na-Bu-hui, maka setelah melawan beberapa gebrakan ia pun mulai panik.

Pada suatu kesempatan, "plak", telapak tangan Kiam-eng berhasil menebas patah tulang pergelangan tangan lawan sehingga golok yang dipegangnya mencelat ke udara.

Na-Bu-hui menjerit kaget dan terhuyung-huyung mundur beberapa tindak, butiran keringat pun menghias dahinya, ucapnya dengan menahan sakit "Berhenti dulu, aku mengaku kalah!"

"Hanya mengaku kalah saja tidak ada gunanya, kamu harus menjawab terus terang pernyataanku baru jiwamu dapat diselamatkan," jengek Kiam-eng.

Sambil memegangi pergelangan tangan yang patah Na-Bu-hui menjawab, "Baiklah, pasti aku jawab sebenarnya segala pertanyaan Su-siau-hiap ..." "Jika begitu, bolehlah kau duduk," kata Kiam-eng.

Na-Bu-hui menurut dan duduk dengan lesu seperti ayam jago yang sudah keok.

Kiam-eng bersandar di batang pohon, tanyanya dengan tertawa, "Nah, sekarang katakan, siapa cu-kong mu?!"

Ok-sat-sin Na-Bu-hui terdiam sejenak, akhirnya menjawab perlahan, "Thian-ong-pang!" "Aku tahu Thian-ong-pang, apakah tidak dapat menjawab lebih jelas lagi?"

"Kami berempat adalah petugas Thian-ong-pang dengan honorarium seribu tahil perak setiap bulan, kami hanya melaksanakan setiap tugas yang kami terima dari Thian-ong-pang, meski sudah sekian bulan kami bekerja bagi Thian-ong-pang, namun selama ini belum pernah kami lihat wajah sang Pang-cu, juga tidak tahu orang macam apakah beliau itu ..."

"Ya, aku tahu," tukas Kiam-eng. "Cara kalian menggabungkan diri pada suatu tengah ke tiga duta Thian- ong-pang mendadak berkunjung ke tempat tinggalmu dan menyuruhmu masuk Thian-ong-pang dengan janji akan memberi gaji seribu tahil perak setiap bulan. Kalian tidak perlu datang ke tempat Thian-ong- pang melainkan menunggu tugas saja di rumah, bilamana ada orang datang dengan membawa sebuah medali emas dengan ukiran raja langit, maka kamu harus tunduk kepada perintahnya ... Nah, begitu bukan?"

"Betul, memang begitulah. Kiranya engkau sudah tahu semuanya!" "Hm, lantas bagaimana penjelasanmu tentang 40 ribu tahil perak itu?"

"Itu terjadi setengah bulan yang lalu ketika salah seorang duta Thian-ong-pang datang menemuiku dan menyuruhku bergabung dengan Poa-siu-ho dan Lo-san-siang-im-yang untuk datang ke Bu-lim-teh-coh ... "

"Untuk apa?" tanya Kiam-eng.

"Ia memberi perintah kepada kami agar membakar Bu-lim-teh-coh serta bersembunyi di sekitar sini untuk menunggumu, serta berusaha menangkapmu."

"Baik, sekarang coba ceritakan dulu cara bagaimana kalian membakar Bu-lim-teh-coh dan apa yang terjadi?"

"Duta Thian-ong-pang itu memberitahukan kepada kami bahwa gurumu berada di Bu-lim-teh-coh, sebab itulah kami tidak berani turun tangan secara terang-terangan melainkan diam-diam menyiram dinding Bu-lim-teh-coh dengan dua emper minyak bakar pada waktu malam ... "

"Berhenti dulu," sela Kiam-eng. "Coba katakan, apa tujuan perintah duta Thian-ong-pang itu agar kalian membakar Bu-lim-teh-coh?"

"Katanya untuk membakar hangus gurumu." "Sebab apa mereka ingin membunuh guruku?"

"Hal ini tidak diberinya keterangan, cuma saja, bila Thian-ong-pang ingin merajai dunia persilatan, dengan sendirian Kiam-ho dan Kiam-ong berdua adalah sasaran yang harus ditumpasnya."

"Apakah si duta itu tidak memberitahukan pada kalian bahwa di Bu-lim-teh-coh juga ada seorang nona bersama In-Ang-bi?"

"Tidak."

Diam-diam Kiam-eng merasa heran, ia pikir kalau si duta tidak menyebut In-Ang-bi, apakah mungkin mereka bukan sekomplotan dengan si orang berkedok hijau? Dan kalau bukan orang sekomplotan, mengapa mereka pun ingin menangkapku?"

Setelah berpikir sejenak lalu ia tanya pula, "Jika begitu, lantas apa tujuannya kalian disuruh menangkap diriku?"

"Membabat rumput kalau tidak sampai akar-akarnya, tentunya mereka tidak merasa aman," ucap Na-Bu- hui.

"Ehm, betul juga. Coba bicara terus!"

"Setelah kami siram dinding Bu lim-teh-coh dengan minyak bakar, lalu kami sembunyi di tempat gelap dan keluarkan panah berapi yang sudah disiapkan dan membidikkannya, maka api pun segera berkobar dan Bu-lim-teh-coh pun menjadi api ... "

"Adakah Wi-ho-Lo-jin dan guruku menyelamatkan diri?"

"Ya, mereka menjebol atap rumah dan melayang ke luar dan kabur." "Kau lihat dengan jelas?"

"Tidak terlampau jelas, cuma aku lihat dua sosok bayangan orang melayang ke luar, hanya begitu saja,"

"Kemudian, beberapa sosok mayat yang kalian temukan di tengah reruntuhan puing Bu-lim-teh-coh?"

"Dua, sosok di antaranya dapat dikenali sebagai orang perempuan, mungkin dia itulah nona In-Ang-bi yang kau maksudkan."

"Betul, dia putri kesayangan Bu-tek-sin-pian In-Giok-san, ia yang menyaksikan sendiri terbunuhnya ke- 18 tokoh Bu-lim di Hwe-liong-kok dulu, sekarang kematiannya menjadi ... "

Sampai di sini mendadak Kiam-eng berhenti, wajah menampilkan rasa kejut dan takut ... "He, ada apa?" tanya Na-Bu-hui bingung demi lihat air muka Su-Kiam-eng yang aneh itu.

Kiam-eng tidak menjawab, sebaliknya sorot matanya tampak buram, tubuh pun lantas mendoyong ke samping dan akhirnya jatuh terkapar.

Ok-san-sin Na-Bu-hui melongo kaget, menyusul ia pun melonjak girang dan berseru, "He Ubun-heng, engkau bukan?"

Sesosok bayangan muncul dari balik pohon sana serupa bayangan setan. Siapa lagi dia kalau bukan Ubun-Pin.

Dengan girang Na-Bu-hui berseru pula, "Bagus, bagus sekali. Akhirnya kita yang menang!"

Perlahan Ubun-Pin mendekat, sebelah kakinya menginjak tubuh Su-Kiam-eng, tapi matanya menatap tajam terhadap Oh-sat-sin, ucapnya dengan dingin, "Na-heng, kau gunakan istilah 'kita', apakah tidak ada perasaan risi dalam hatimu?"

Muka Na-Bu-hui berubah merah, sahutnya, "Dengan ucapan Ubun-heng ini, apakah engkau bermaksud mengangkangi sendiri ke-40 ribu tahil perak itu?"

"Hm, andaikan ada maksudku memberi sebagian padamu, aku kira Na-heng juga takkan berani terima," jengek Ubun-Pin.

Dengan tergegap Na-Bu-hui menjawab, "Asal saja ... asal saja Ubun-heng ... "

"Setiap bulan kita menerima gaji seribu tahil perak, tentunya kita diharuskan setia melaksanakan tugas. Sekarang kamu sudah menyerah kepada musuh, apakah kamu masih punya muka untuk menerima hadiah?"

Na-Bu-hui menghela napas, tanyanya, "Tadi bukankah Ubun-heng juga tertutuk oleh bocah she Su itu?" "Betul, tapi ada kemampuanku melancarkan hiat-to sendiri, sahut Ubun Pin.

"Tapi kalau tidak aku ajak bicara padanya, mana ada waktu bagi Ubun-heng untuk menjebol hiat-to sendiri yang tertutuk?"

"Betul juga, maka boleh aku beri kelonggaran padamu, apabila Na-heng sayang pada nyawa sendiri, boleh silakan mencari selamat sekarang juga."

Berkerenyit kening Na-Bu-hui katanya, "Baiklah, cuma ... pergelangan tanganku ini mohon dibetulkan oleh Ubun-heng."

Ubun-Pin mengangguk, "Baik, namun janganlah Na-heng pakai akal licik, kalau tidak, jangan menyesal bila tanganku tidak kenal ampun."

"Ubun-heng jangan kuatir, mana berani aku balas kebaikan dengan cara busuk," sahut Na-Bu-hui dengan menyengir.

Ubun-Pin tersenyum, segera ia melangkahi tubuh Kiam-eng dan hendak membetulkan tulang pergelangan tangan Na-Bu-hui yang patah itu. Siapa tahu, pada saat ia melangkahi tubuh Su-Kiam-eng itulah, anak muda yang semula rebah diam saja itu mendadak menyambar ke dua kaki Ubun-Pin.

Keruan Na-Bu-hui terkejut dan berseru, "Awas, Ubun-heng!"

Namun sudah kasip, tahu-tahu Ubun-Pin sudah terangkat oleh Su-Kiam-eng terus dilemparkan sekuatnya ke batang pohon di sebelah sana.

Oleh karena gerakan Su-Kiam-eng sangat cepat lagi tak terduga, sama sekali tidak ada waktu bagi Ubun- Pin untuk melawan, maka terdengarlah jeritan ngeri, kepala Ubun-Pin membentur batang pohon dan hancur, kontan binasa.

Tentu saja Ok-san-sin Na-Bu-hui ketakutan, ucapnya dengan gemetar, "Jadi engkau tidak ... tidak terkena jarum-mautnya?"

Kiam-eng melompat bangun, dijemputnya sebuah jarum dari tanah, katanya dengan tertawa "Coba lihat, bukankah ini jarumnya?"

"Oo, kiranya jarumnya yang mengenai hiat-to mu," ucap Ok-sat-sin.

"Bukan begitu halnya," ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Pada waktu dia datang sudah aku ketahui lebih dulu, maka jarumnya ini dapat aku sambar dengan tanganku."

Dengan gemas Na-Bu-hui melirik sekejap mayat Ubun-pin dan memaki, "Orang banci ini tidak tahu diri, kebetulan kalau dia mampus."

"Dan kamu sendiri kenapa tadi berseru memperingatkan dia supaya awas?"

Air muka Na-Bu-hui berubah pucat, ucapnya gugup, "O, itu ... karena lupa, padahal aku merasa benci padanya ... "

"Kamu tidak perlu pakai alasan, sekarang tinggal sepatah katamu saja." "Baiklah, silakan Su-siau-hiap, bicara, tentu akan aku turut sepenuhnya."

"Aku cuma ingin tanya, bilamana aku tertawa kalian, cara bagaimana kalian akan memperlakukan diriku?"

"Dengan sendirinya kami akan ... akan memberitahukan ke tiga duta itu dan menerima ... menerima hadiah 40 ribu tahil perak ... "

"Ke tiga duta itu berada di mana saat ini?" tanya Kiam-eng.

"Entah mereka hanya meninggalkan pesan kepada kami berempat, bilamana Su-siau-hiap dapat ditawan, segera kami diharuskan mengirim kabar kepada mereka dengan merpati pos dan segera pula mereka akan memburu tiba."

"Di mana merpati pos yang kau katakan?" tanya Kiam-eng.

"Di atas pohon yang terletak di dekat tanah pemakaman sana."

Setelah berpikir, Kiam-eng mendekati orang dan berkata, "Mari, aku sambung tulang pergelangan tanganmu."

Dengan takut Ok-sat-sin menyurut mundur dan berkata, "Apa ... apa yang aku katakan adalah sejujurnya mohon Su-siau-hiap ... " "Kau hendak aku sambung tulangmu?" ujar Kiam-eng.

Ok-sat-sin tidak berani sangsi lagi, terpaksa ia mengangguk, "Ya, ya, terima kasih."

Setelah Kiam-eng membetulkan tulang tangan orang ia memberi tanda, "Ayo, kita ke dalam rumah."

Sesudah berada di dalam gubuk, Kiam-eng memberi tanda, supaya orang duduk ia sendiri lantas berbareng di tempat tidur, katanya, "Na-Bu-hui, kamu boleh istirahat sesukamu di sini tapi kalau kau berani sembarangan lari segera aku cabut nyawamu."

Berulang Ok-sat-sin mengiakan dan duduk di sebuah kursi bambu penurut seperti anjing piaraan. Kiam-eng tersenyum, ia rebah berbantalkan tangan dan memejamkan mata.

Apakah dia tidur? Tidak dia justru sedang merenungkan suatu urusan, yaitu cara bagaimana menggunakan merpati pos.

Asalkan ia paksa Ok-sat-sin melepaskan pos itu, ke tiga duta itu pasti akan memburu tiba. Tapi bila mereka sudah datang, lantas dirinya dapat mengapakan mereka?

Kung-fu ke tiga duta itu jelas maha tinggi, paling banter dirinya hanya sanggup melawan satu di antaranya, apabila tidak ada akal bagus untuk menghadapi mereka, kan sama saja seperti mengundang maut?

Tapi dengan akal bagus cara bagaimana supaya dapat menawan ke tiga orang itu sekaligus?

Dirinya memang masih dapat menyamar sebagai Coa-san-cu Poa-Siu-ho. Ok-sat-sin juga dapat dipaksa mengikuti perintah, tapi siapakah yang mesti menyamar sebagai "Su-Kiam-eng" yang tertawan?

Coba, kalau ada dua orang pembantu lagi tentu urusan akan menjadi mudah dipecahkan.

Teringat kepada pembantu, seketika terpikir olehnya akan Li-hun-nio-nio, tapi setelah berpikir lagi, tanpa terasa ia menggeleng kepala dan bergumam, "Tidak, dia sudah pergi ke Mo-po-san, pula ilmu silatnya tidak cukup kuat untuk membantuku ... "

Baru berucap sampai di sini, tiba-tiba di luar ada suara "plos" yang perlahan, seperti suara kaki orang menginjak ranting kayu kering. Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia melompat bangun.

Waktu ia pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat, benar juga terdengar ada suara langkah orang sedang mendekati rumah gubuk ini dengan perlahan.

Cepat ia turun dari tempat tidur dan mendekati Ok-sat-sin dengan perlahan serta membisikinya. "Ada orang datang, tapi kamu dilarang bersuara, kalau melanggar sekali hantam aku mampuskanmu."

Habis berkata segera ia menyelinap ke balik pintu dan atap melancarkan serangan maut.

Terdengar ketika pendatang itu sampai di depan pintu, mendadak berhenti dan tidak lantas masuk ke dalam gubuk. Sampai sekian lama ia berdiri diam di luar, lalu terdengar ia mendengus sekali dan segera menerjang ke dalam.

Kiam-eng cukup cekatan dengan gerak cepat ia menebas dengan telapak tangan dan tepat mengenai pinggang orang itu.

Tak terduga setelah terkena serangan, pendatang itu tidak mengeluarkan suara sedikit pun waktu jatuh juga tertampak ringan sekali.

Setelah diamati barulah Kiam-eng terkesiap. Kiranya yang terkena pukulannya itu bukanlah manusia melainkan cuma sehelai baju panjang.

Serentak terdengar suara gelak tawa nyaring di luar. "Hahahaha! Ayo, anjing keparat yang sembunyi di dalam itu, lekas menggelinding ke luar!"

Dari suara Kiam-eng yakin kepandaian lawan pasti tidak rendah, diam-diam ia terkejut.

Segera ia menggeser ke ambang pintu, ia lihat yang berdiri di luar sana adalah seorang kakek berambut putih, alias tebal dan mata besar, ia pikir lawan mungkin adalah orang kiriman ke tiga duta itu, padahal dirinya sendiri masih dalam samaran sebagai penjaga panganan yang kudisan, mungkin lawan mengenalnya sebagai Coan-san-cu Poa-Siu-ho, jika begitu dirinya masih boleh tetap menyamar dan mencari kesempatan baik untuk membekuk lawan.

Begitulah maka ketika ia menampakkan diri, ia tidak lantas bersuara melainkan cuma berdiri diam saja dengan tersenyum.

Sekilas mengetahui siapa yang muncul, kakek di luar itu melengong, serunya, "Heh, kiranya ... kiranya kau ... "

Kiam-eng mengangguk dan menjawab, "Betul, sangat di luar dugaanmu bukan?"

Si kakek menarik muka, jawabnya, "Betul, tampaknya kamu si bocah ini bukanlah orang yang sederhana."

"Tidak perlu heran," sahut Kiam-eng. Memangnya apa kehendakmu datang kemari tengah malam begitu?"

"Aku datang untuk menangkap setan," kata si kakek.

Begitu kata "setan" diucapkan, langsung ia menubruk maju, sebelah tangan terus mencengkeram.

Kiam-eng mengegos ke samping sambil berseru "Eh, janganlah Lau-heng salah paham, aku ini kan Coan- san-cu Poa-Siu-ho?!"

Mendengar penjelasan itu si kakek tidak berhenti menyerang, sebaliknya ia berputar cepat dan segera hendak mencengkeram lagi sambil berkata "Hm, justru karena kamu ini si Coan-san-cu, maka aku sengaja hendak membekuk tikus?"

Setelah mendengar nada ucapan orang dan gaya serangan orang yang indah, tahulah Kiam-eng bahwa orang bukanlah utusan ke tiga duta Thian-ong-pang, sekaligus ia pun tahu siapa pihak lawan, dengan girang segera ia melompat lagi ke samping sambil berteriak, "Berhenti dulu, paman Wi, aku ini Su-Kiam- eng!"

Si kakek berambut putih menghentikan gerak serangannya, ucapnya dengan melongo heran, "Apa ... apa katamu?"

Cepat Kiam-eng membuka kedoknya dan menjawab dengan tertawa, "Wah, kalau saja tidak mengenali gaya paman Wi yang indah, hampir saja kita saling labrak sendiri."

Kakek berambut putih ini memang benar samaran Wi-ho-Lo-jin, melihat lawannya memang benar Su- Kiam-eng adanya, ia melonjak kegirangan dan berseru, "Aha, kiranya kamu sudah pulang. Selama beberapa hari ini aku lihat kamu menyamar sebagai penjaja makanan di Wi-ho-lau, sama sekali tidak aku sangka akan dirimu."

Lantaran terharu dan kegirangan sehingga suaranya rada gemetar.

Kiam-eng menjawab dengan memberi hormat "Si penjaja makanan kudisan yang dilihat paman Wi selama beberapa hari itu memang betul adalah Coan-san-cu Poa-Siu-ho, menjelang malam tadi barulah wan-pwe merunduk ke sini."

"Oo, dan mengapa kamu menyamar seperti ini?" tanya Wi-ho-Lo-jin heran.

"Panjang sekali bila diceritakan," tutur Kiam-eng. "Silakan paman Wi masuk ke dalam rumah nanti aku ceritakan dengan jelas."

Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menuju ke dalam gubuk, tanyanya pula sambil menunjuk hutan sana, "Si banci Ubun-Pin yang menggeletak di dalam hutan itu pun dibunuh olehmu?"

"Ya, saat itu di dalam rumah masih ada seorang Ok-sat-sin Na-Bu-hui," jawab Kiam-eng.

Setelah berada di dalam rumah, Wi-ho-Lo-jin memandang sekejap terhadap Ok-sat-sin yang lesu itu, lalu tanya Kiam-eng lagi, "Mereka seluruhnya berapa orang?"

"Empat. Dua orang lagi adalah Ubun-Giok dan Coan-san-cu Poa-Siu-ho, keduanya sudah aku binasakan." "Bagaimana asal-usul ke empat orang ini?" tanya Wi-ho-Lo-jin tercengang.

"Mereka adalah anggota Thian-ong-pang, mereka inilah yang membakar Bu-lim-teh-coh," tutur Kiam- eng. "Apakah paman Wi sudah dengar cerita tentang ke tiga duta?"

Wi-ho-Lo-jin mengangguk dan menyuruh Kiam-eng duduk di tepi ranjang, katanya cepat "Sudahlah, jangan urus dulu Thian-ong-pang dan ke tiga duta segala, ceritakan saja pengalaman ke daerah selatan yang masih liar itu?"

"Syukur wan-pwe tidak mengecewakan harapan paman Wi, Jian-lian-hok-leng berhasil aku bawa pulang, akan tetapi apakah masih berguna?" ucap Kiam-eng dengan menyesal.

"Hah, jadi Jian-lian-hok-leng berhasil kau bawa pulang?" Wi-ho-Lo-jin menegas dengan gembira.

Kiam-eng mengeluarkan obat mujarab itu dan dilemparkan di atas ranjang, ucapnya dengan gemas, "Ya, lantaran barang ini, hampir saja aku menjadi mayat di daerah yang masih biadab itu. Sekarang barang ini berhasil aku bawa pulang, akan tetapi nona In justru sudah meninggal."

"Apa katamu? Nona In sudah meninggal?" Wi-ho-Lo-jin melonjak kaget.

Kiam-eng melengong, ucapnya dengan mata terbelalak, "Betul, masa paman Wi malah tidak tahu bahwa nona In sudah meninggal?"

"Betul tidak tahu, sebab sudah setengahan bulan aku tidak bertemu dengan gurumu," jawab Wi-ho-Lo- jin. "Apakah sudah kau temui gurumu."

"Belum, malahan wan-pwe tidak tahu saat ini Su-hu berada di mana?"

"Jika belum bertemu dengan gurumu, dari mana kau tahu nona In sudah meninggal?" tanya Wi-ho-Lo-jin bingung.

"Bukankah nona In sudah terkubur di lautan api?" Kiam-eng heran.

Wi-ho-Lo-jin melengak, tapi lantas terbahak-bahak, "Hahahaha, kiranya kau sangka perempuan yang mati terbakar itu sebagai nona In, hahahaha ... "

Kiam-eng juga melonjak girang dan berteriak, "Haha, jika begitu, jadi perempuan yang mati terbakar itu bukanlah nona In?"

Wi-ho-Lo-jin mengangguk, "Ya, orang perempuan itu adalah babu yang aku pekerjakan untuk melayani nona In."

Cepat Kiam-eng meraih lagi Jian-lian-hok-leng yang dilemparkan itu, jeritnya, "Oo, Tuhanku, hampir saja aku buang Jian-lian-hok-leng yang aku temukan dengan susah payah ini."

Sejenak kemudian, ia tanya pula, "Paman Wi, di mana Su-hu dan nona In saat ini?"

Wi-ho-Lo-jin melirik Na-Bu-hui sekejap, lalu berucap dengan lirih, "Gurumu dan nona In saat ini berada di rumah seorang sahabatku di lereng Kiu-kiong-san."

Kiam-eng merasa lega dan menghela napas panjang, "Terima kasih kepada langit dan bumi. Tadinya aku sangka segala jerih payah usahaku hanya sia-sia belaka."

"Kung-fu gurumu sudah mencapai puncaknya, kalau seorang nona saja tidak dapat dilindunginya, kau lucu jadinya?" ujar Wi-ho-Lo-jin dengan tertawa.

Berkata sampai di sini, tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu, tanyanya, "Oya, tidak lama setelah kau tinggalkan Bu-lim-teh-coh segera Sai-hoa-to diculik oleh musuh yang tidak jelas asal-usulnya dan tiada kabar beritanya sampai sekarang. Aku dan gurumu menduga dia pasti diculik untuk dibawa serta ke daerah selatan oleh komplotan yang juga mengincar kota emas itu. Adakah kau lihat dia ketika berada di selatan sana?"

Mendengar orang menyebut Sai-hoa-to, Kiam-eng mendengus, "Ya, aku lihat dia, sebelum tiba di selatan pun sudah aku lihat dia."

Melihat cara bicara anak muda itu agak aneh Wi-ho-Lo-jin tanya dengan heran, "Apakah saat ini dia masih berada dalam cengkeraman musuh?" "Tidak, saat ini dia sudah mati," sahut Kiam-eng.

"Hah, sudah mati? Siapa yang membunuh dia?" seru Wi-ho-Lo-jin kaget.

"Kalau dibicarakan dengan sebenarnya, orang yang membunuh dia selamanya adalah aku sendiri." "Kamu yang membunuh dia? Mengapa bisa begitu?" tanya si kakek bingung.

Kiam-eng menghela napas, tuturnya, "Untuk menjelaskan peristiwa ini, sebaliknya aku ceritakan mulai awal ... "

Begitulah segera ia mengisahkan pengalamannya sejak ia menyamar sebagai Sai-hoa-to dan diculik oleh Hu-kui-ong dan dibawa ke Hu-kui-san-ceng, lalu apa yang dialaminya sepanjang jalan serta apa yang ditemukannya setiba di kota emas, semuanya ia ceritakan dengan jelas.

Wi-ho-Lo-jin mendengarkan dengan penuh perhatian, ketika mendengar si orang berkedok hitam ternyata adalah samaran Sai-ho-to Sim-Tiong-ho, mau-tak-mau ia pun terkejut dan berseru, "Hahh, sungguh tak tersangka Sai-hoa-to bila berbuat demikian?"

"Manusia mati karena harta, burung binasa karena pangan, hal ini memang tidak perlu diherankan," ujar Kiam-eng gegetun. "Tidak berani aku bilang Sai-hoa-to itu berjiwa kotor, mungkin cuma lima dan pendiriannya yang kurang teguh."

Wi-ho-Lo-jin juga menyesal, katanya, "Yang paling sukar dimengerti adalah selama ini dia suka memandang hina terhadap orang sebagai Te-Long, Oh-Kong dan lain-lain, tak tersangka dia sendiri justru berkomplotan dengan mereka."

"Oya, apakah paman Wi tahu tempat tinggal Te-Long dan Oh-Kong itu?" tanya Kiam-eng tiba-tiba.

Wi-ho-Lo-jin menggeleng, "Entah, aku tidak tahu ke dua orang itu selama ini terluntang-lantung di dunia kang-ouw tanpa tempat tinggal yang tetap."

"Jika begitu, ke manakah aku cari dan menolong su-heng dan su-so ku?" ucap Kiam-eng dengan murung.

"Nanti dulu, agaknya Oh-Kong dan Te-Long juga mempunyai begundal, biarlah nanti aku carikan kabar bagimu ... "

Kiam-eng mengangguk, tanyanya, "Sejak Bu-lim-teh-coh dibakar, selama itu paman Wi tinggal di sini?"

"Betul, meski gurumu dari aku tidak tahu siapa yang membakar, tapi diketahui tujuan mereka adalah untuk membakar nona In. Sebab itulah aku masih terus tinggi di sini, tujuan utama adalah menunggu kepulanganmu agar dapat membawamu untuk menemui gurumu. Nah, bagaimana kalau sekarang juga kita menemui gurumu?"

"Tidak, aku pikir akan menghadapi dahulu ke tiga duta Thian-ong-pang itu, bilamana dugaanmu tidak keliru, sangat mungkin ke tiga duta itu juga anak buah di orang berkedok hijau, asalkan kita dapat menangkap adalah seorang di antaranya, tentu tidak sulit untuk mengetahui siapa sebenarnya orang berkedok hijau itu."

Wi-ho-Lo-jin berkerut kening, ucapnya, "Bukan sengaja aku agulkan orang lain dan mengasorkan diri sendiri, aku dengar ke tiga duta itu berkepandaian sangat tinggi dan berturut-turut telah mengalahkan para ke tua Siau-lim-pai dan lain-lain dalam keadaan begitu, mungkin tenaga kita berdua saja sulit menghadapi mereka."

"Betul, tapi ke tiga duta itu pasti akan datang, dan kita dapat menjebak mereka dengan akal." Wi-ho-Lo-jin matanya dangan tajam, "Akal apa yang akan kau pakai?"

Kiam-eng membisikinya akal yang terpikir olehnya. Berulang Wi-ho-Lo-jin mengangguk dengan tersenyum, ucapnya, "Ehm, akal bagus, cuma diperlukan dia ... "

Ia pandang Ok-sat-sin Na-Bu-hui dan menyambung lagi, "... untuk bekerja sama dengan kita." "Nah, Na-Bu-hui." segera Kiam-eng berkata, "lekas katakan, kamu ingin mati minta atau hidup?" "Semut saja ingin hidup, masakah aku masih ingin mati?" ucap Ok-sat-sin.

"Jika begitu, seterusnya kamu harus tunduk kepada perintahku," kata Kiam-eng.

"Baik, asalkan sesudah ke tiga duta itu ditangkap Su-siau-hiap, hendaknya segera bebaskan diriku," pinta Ok-sat-sin.

"Tentu aku bebaskan dirimu." kata Kiam-eng. Lalu katanya terhadap Wi-ho-Lo-jin, "Harap paman Wi menjaganya sementara, biar aku pergi menangkap merpati pos itu."

"Ya, mayat Lo-san-siang-im-yang dan Coan-san-cu itu juga sekalian boleh kau kubur supaya tidak dipergoki musuh," pesan Wi-ho-Lo-jin.

Kiam-eng mengiakan dan segera meninggalkan gubuk itu menuju ke tanah makam di lereng gunung sana.

Ketika mendekati jalan setapak tanah makam lebih dulu ia belok ke tempat kemarin untuk mengambil pedang dan bajunya lalu mayat Ubun-Giok dan Poa-Siu-ho dikuburnya, habis itu baru menuju ke tanah makam.

Ia mencari sekian lama, akhirnya ditemukan juga dua ekor merpati pos yang terkurung dalam sebuah kurungan kecil yang tergantung di dahan pohon. Segera ia ambil kurung burung itu dan dibawa lari kembali ke gubuk tadi ... "

****************

Dengan cepat dua hari telah berlalu. Menjelang lohor hari ke tiga, selagi Su-Kiam-eng sedang mengobrol iseng dengan Ok-sat-sin Na-Bu-hui di dalam gubuk, mendadak terdengar suara "plok" perlahan, ada orang melemparkan sebiji batu kecil dari luar rumah.

Dengan girang Kiam-eng mendesis. "Aha! itu dia mereka sudah datang. Harus kau kerjakan menurut pesanku, kalau tidak hanya ada mampus bagimu."

Habis berkata ia lantas rebah di tempat tidur dan bertegak lagi tidur nyenyak. Ok-sat-sin berjalan mondar-mandir di dalam rumah dengan sikap gelisah, seperti orang lagi menghadapi saat mati atau hidup.

Sejenak kemudian tiga sosok bayangan tampak masuk ke satu. Ternyata yang datang memang benar adalah ke tiga duta Thian-ong-pang.

Meski sudah tahu siapa yang akan datang namun sekilas melihat mereka mendadak muncul di situ serupa arwah halus, tidak urung Ok-sat-sin terkejut juga. Cepat ia memberi hormat dan menyapa.

Ke tiga duta itu berdiri diam sejenak di ambang pintu, lalu duta nomor satu mengangguk dan melangkah ke dalam serta bertanya. "Di mana ke tiga kawanmu!"

Ok-sat-sin menjawab dengan menunduk, "Sudah mati semua terbunuh oleh Su-Kiam-eng ini."

Sekilas pandang si duta nomor satu melihat Su-Kiam-eng yang rebah di tempat tidur, ia berpaling dan tanya Ok-sat-sin dengan heran, "Mereka bertiga dibunuh oleh dia, tapi kamu sendiri malah dapat menangkap dia?"

"Tidak," jawab Ok-sat-sin. "Dapatkah hamba menangkap bocah ini, sesungguhnya atas jasa Ubun Pin ... "

"Oo ... " si duta nomor satu bersuara perlahan, lalu duduk di kursi bambu dan bertanya pula, "Baiklah, coba ceritakan pengalamanmu."

Ok-sat-sin berlagak sangat menghormat, ia ambilkan kursi bambu yang lain dan sebuah kayu untuk tempat duduk si duta nomor dua dan tiga, lalu mulai bertutur, "Ini terjadi menjelang malam hari ke tiga yang lalu, Poa cilik yang menyamar sebagai penjaga makanan kudisan menemukan bocah ini berdiri termangu di depan reruntuhan puing Bu-lim-teh-coh, ia lantas mendekatinya dan mengajaknya bicara. Bocah she Su ini tanya Poa cilik sebab apa Bu-lim-teh-coh terbakar, Poa cilik menerangkan api lilin yang ambruk dan lumer akhirnya menjilat meja kursi terus menjalar ke seluruh rumah, ditanyai pula hendak mencari siapa.

"Bocah she Su ini pun cukup cerdik, ia pura-pura mengaku sebagai saudagar daun teh, katanya datang ke Bu-lim-teh-coh untuk menagih utang kepada Wi-ho-Lo-jin. Poa cilik memberitahukan bahwa ia tahu di mana Wi-ho-Lo-jin tinggal sekarang dan mau membawanya untuk menemui orang tua itu. Maka bocah she Su ini lantas ikut ke sini ... "

"Si duta nomor satu mendadak memberi tanda dan memotong, "Semula kan aku suruh kalian memancingnya ke tanah pemakaman itu, mengapa kalian memancingnya ke sini malah?"

"Soalnya tiba-tiba hamba teringat pada bocah she Su ini dahulu pernah berlagak menjadi pelayan Bu- lim-teh-coh, tentu dia sangat apal terhadap keadaan sekitar tempat ini, jika kita memilih tanah pemakaman, tentu akan menimbulkan curiga bocah ini, sebab tidak mungkin Wi-ho-Lo-jin bersembunyi di tanah makam. Karena itulah setelah kami berunding kami anggap rumah gubuk ini adalah tempat yang lebih baik."

Si duta nomor satu manggut-manggut sebagai tanda memuji, katanya, "Bagus, coba teruskan ceritamu."

Ok-sat-sin berdehem untuk membersihkan kerongkongannya, lalu bercerita lagi, "Setelah Poa cilik memancing bocah ini ke sini, hamba bertiga lantas muncul dan mengerubutnya. Setelah terjadi pertarungan sengit, Poa cilik dan Ubun-Giok terbunuh olehnya, kemudian Ubun Pin tertusuk tembus lagi perutnya oleh pedang bocah ini, namun hampir pada saat yang sama Ubun-Pin sempat menimpukkan sebatang jarum mautnya dan tepat mengenai dada orang ini. Kesempatan itu segera aku gunakan untuk mendepaknya hingga terjungkal. Beginilah kejadian keseluruhannya."

Si duta nomor satu menoleh ke arah Su-Kiam-eng yang rebah di tempat tidur, tanyanya pula, "Sudah kau tawarkan racun jarum yang mengenai bocah itu?"

"Ya, bilamana racun jarum maut Ubun-heng itu tidak ditawarkan dalam waktu setengah jam, tentu racun akan bekerja dan orang binasa. Karena hamba tahu yang ingin ditangkap ke tiga Su-cia-tai-jin (duta yang mulia) adalah orang hidup, maka telah aku gunakan obat penawar Ubun-heng untuk memunahkan racun dalam tubuh bocah itu, kemudian aku ganti dengan menutuk hiat-to pingsannya."

"Adakah dia membawa sebuah Jian-lian-hok-leng?" tanya si duta nomor satu. "Oya, ada, barang itu masih berada padanya," ucap Ok-sat-sin.

Segera si duta nomor satu berkata kepada duta nomor tiga, "Lak-te, coba ambil Jian-lian-hok-leng yang dibawanya itu."

Si duta nomor tiga mengiakan terus menuju ke depan tempat tidur, engkau terjulur dan bermaksud menggerayangi baju Su-Kiam-eng.

Siapa tahu mendadak sebuah telapak tangan Su-Kiam-eng menghantam, "blang," dengan tepat ulu hati duta ke tiga tersodok.

Hanya terdengar si duta nomor tiga menjerit, darah segar pun menyembur ke luar dari mulutnya, ke dua tangan memegang ulu hati, tubuh pun lantas dan roboh perlahan.

Kejadian mendadak ini membuat si duta nomor satu dan nomor dua terkejut, setelah terbangun sejenak, serentak mereka melompat bangun dan menubruk ke arah Kiam-eng.

"Blang", sebuah Kau-hun-tan meledak tepat pada waktunya di dalam rumah, asap kuning tebal pun bergulung-gulung memenuhi seluruh gubuk itu.

Di tengah kabut tebal terdengar si duta nomor dua menjerit, "Wah, celaka, kembali Kau-hun-tan lagi?"

Cepat si duta nomor satu membentak, "Si-te, lekas terjang ke luar dan jaga di depan pintu, jangan sampai bocah ini kabur!"

Si duta nomor dua tidak berani membuka mulut, ia hanya mengiakan dengan mulut terkatup terus melompat ke luar rumah.

Siapa duga baru saja ia melompat ke luar, sekonyong konyong serangkum angin dahsyat menyambar dari samping pintu. Meski dia menyadari apa yang terjadi pada waktu yang tepat, namun sukar baginya untuk menghindar dengan sempurna, maka terdengarlah luar suara "bluk", pinggang terkena pukulan sehingga dia jatuh terguling.

Ternyata yang menyergapnya adalah Wi-ho-Lo-jin yang berjaga di luar situ.

Cuma pukulan Wi-ho-Lo-jin ini jelas tidak tepat mengenai tempat fatal musuh, sebab si duta nomor dua hanya berguling satu-dua kali saja, lalu melompat bangun dengan gesit, berbareng ia pun balas menghantam ke arah Wi-ho-Lo-jin.

Si duta nomor satu yang berada di dalam rumah dapat mendengar suara pukulan yang mengenai kawannya itu, ia terkejut dan menyadari telah terjebak oleh perangkap Su-Kiam-eng. Ia curiga jangan- jangan yang menyergap di luar itu adalah Kiam-ho Lok-Cing-hui, seketika ia kehilangan semangat tempur, diam-diam ia keluarkan sejenis bubuk dan ditaburkan di muka si duta nomor satu yang menggeletak tak berkutik itu, lalu ke dua tangannya menyodok sekuatnya pada sebelah dinding gubuk itu, menyusul orangnya terus menerjang ke luar.

"Blang", dinding gubuk ambrol tersodok tenaga pukulan yang dahsyat sehingga berwujud sebuah lubang, secepat terbang si duta nomor satu lantas menerobos ke luar. Ia melompat ke tempat ketinggian di sebelah kiri sana sambil berseru, "Go-te, bagaimana keadaanmu?"

Lantaran asap tebal membanjir ke luar rumah, maka sukar baginya untuk melihat keadaan pertarungan antara duta ke dua dengan musuh. Padahal sesudah beberapa gebrakan si duta nomor dua melawan Wi- ho-Lo-jin, selera diketahuinya lawan tidak sulit untuk ditundukkan, tapi pada saat si duta nomor satu bersuara tanya kepadanya itulah mendadak Su-Kiam-eng lagi keluar dan ikut dalam pertempuran.

Dengan sendirinya si duta nomor dua tahu orang yang ikut mengerebutnya itu ialah Su-Kiam-eng, juga menyadari posisi sendiri menjadi gawat, maka hanya satu kali saja ia tangkis serangan Su-Kiam-eng, cepat ia melompat mundur dan melayang ke tempat ketinggian untuk bergabung dengan si duta nomor satu.

Melihat sang Go-te (adik ke lima) sudah melompat tiba, cepat si duta nomor satu bertanya padanya, "Go-te, siapa orang itu?"

"Entah, tidak aku kenal, seperti seorang kakek berambut ubanan," tutur si duta nomor dua. "Bagaimana kepandaiannya?"

"Lumayan, cuma mestinya dapat aku bereskan dia."

Si duta nomor satu memandang asap tebal yang masih menyelimuti sekeliling rumah, katanya, "Bagus jika begitu. Setelah asap buyar biarlah kita turun lagi untuk membereskan mereka."

Meski percakapan mereka dilakukan dengan suara tertahan, namun dapat di dengar oleh Su-Kiam-eng. Ia merasa tujuannya sudah tercapai setelah dapat merobohkan si duta nomor tiga dan tidak perlu terlibat pertempuran lebih lama dengan musuh, segera ia keluarkan sebiji granat

berasap pedas terus dilemparkan ke tanah ketinggian sana, berbareng itu ia berlagak tertawa menirukan suara Sam-bi-sin-ong, "Hahaha. kalian jangan lari dulu, inilah kakek datang menemui kalian!"

Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin adalah orang kosen nomor lima menurut urutan dunia persilatan, tokoh besar semacam dia, muncul di mana pun akan

membuat orang terkejut. Dengan sendirinya ke dua duta Thian-ong-pang itu pun terkesiap demi mendengar akan kedatangan kakek sakti itu.

Malahan menyusul lantas terdengar suara ledakan yang keras disertai asap hitam tebal, hal ini membuat ke dua duta itu lebih percaya lagi bahwa yang bersuara itu memang betul Sam-bi-sin-ong adanya. Tentu saja ia tidak berani berhenti lagi di situ, sembari bersuit panjang serentak mereka melompat pergi secepatnya.

Semua itu boleh dikatakan sudah dalam perhitungan Su-Kiam-eng, maka setelah kedua lawan sudah kabur, ia lantas tanya Wi-ho-Lo-jin, "Paman Wi, engkau tidak berhalangan bukan?"

"Ya, tidak apa-apa, obat salep buatan Sai-hoa-to itu memang sangat mujarab ... Eh, kamu tidak pernah bergebrak dengan duta nomor satu itu?"

"Tidak pernah, cuma Ok-sat-sin mungkin sudah mati terpukul olehnya," sahut Su-Kiam-eng. Tengah bicara, asap kuning di dalam dan luar rumah sudah mulai buyar, waktu mereka masuk ke sana dan memeriksanya, benar juga kepala Ok-sat-sin sudah remuk dan menggeletak binasa di situ. Akan tetapi yang paling membuat mereka terkejut adalah si duta nomor tiga itu. Ternyata buah kepalanya sudah lenyap.

Wi-ho-Lo-jin terbelalak heran dan berseru, "He, apakah kepalanya kau penggal?" "Tidak," Kiam-eng juga berseru heran. "Bilakah pernah aku penggal kepalanya?"

Ke dua orang lantas mendekat ke sana untuk memeriksanya dengan cermat, baru diketahui apa sebab buah kepala si duta nomor tiga itu hilang.

"Hoa-kut-cui!" seru mereka bersama dengan kaget,

Memang betul, buah kepala si duta ke tiga itu memang telah hancur luluh akibat Hoa-kut-cui atau air penghancur tulang.

Ini sungguh kejadian yang tak pernah terpikir oleh Su-Kiam-eng, dengan susah payah dan berharap dapat menawan hidup-hidup seorang musuh atau membunuh salah seorang duta itu, tujuannya adalah ingin melihat jelas wajah aslinya. Tak tersangka setelah seorang musuh dapat di bunuhnya, kepala yang penting itu justru telah dihancurkan dan sukar dikenali lagi.

Dengan menggertak gigi Kiam-eng berucap dengan gemas, "Hm, ini pasti perbuatan keji si duta nomor satu itu."

"Dia ternyata tega menggunakan Hoa-kut-cui untuk menghancurkan kepala su-te sendiri, dari perbuatan ini dapat diduga bahwa ke tiga duta ini pastilah tokoh yang sudah kita kenal dengan baik," ujar Wi-ho- Lo-jin setelah termenung sejenak.