Rahasia 180 Patung Emas Jilid 18

 
Jilid 18 

"Jangan hendaknya tetap kau tinggal di sini, selekasnya aku akan kembali ke sini," ucap Kiam-eng. "Tapi ... tapi berada bersama mereka, aku ... aku rada-rada takut" "Jangan takut," kata Kiam-eng tertawa, "Luka dalam mereka belum sembuh, tidak nanti mendapat mencelakaimu."

Sembari bicara ia pun mendekati Ji-bu-siang, ada keperluan aku harus pergi dan menjaga baik." "Kau percaya kepada kami?" tanya si setan kayu dengan tersenyum.

"Tentu saja," sahut Kiam-eng, lalu ia memberi tangan kepada Kalina dan segera melangkah, keluar kuil.

Setiba di luar, dilihatnya keadaan tepi, segera ia memotong beberapa ranting berdaun untuk hiasan tubuh agar tidak terlihat jelas, lalu melompat ke atas pucuk pohon terus melayang cepat ke arah puri raksasa itu.

Selagi melayang cepat antara pohon dan pohon, tiba-tiba terdengar suara mendesir, sesosok bayangan orang meloncat dari hutan sana.

Kiam-eng terkejut, cepat ia menurun dan melayang ke kanan, berbareng pedang pun dilolosnya. "Apakah Su-lau-te di situ?" terdengar suara It-sik-sin-kai bertanya.

Setelah menoleh dan mengenali pengemis tua itu, Kiam-eng sangat girang, serunya, "Aha, kiranya Ang- pang-cu!"

It-sik-sin-kai melompat enteng ke depan Su-Kiam-eng ucapnya dengan tertawa. "Tubuh Su-lau-te penuh dihiasi dedaunan, hampir saja aku sangka siluman!"

Kiam-eng simpan kembali pedangnya dan bertanya, "Adakah Ang-pang-cu menemukan sesuatu?"

"Tidak ada sudah aku telusuri beberapa kuil dan tidak menemukan sesuatu, sekarang baru mau coba memeriksa puri induk itu ... Dan kau sendiri, bagaimana?"

"Wan-pwe sudah mendapatkan Jian-lian-hok-leng dan menemukan ke 180 patung emas itu." "Apa betul? Di mana kau temukan?" tanya si pengemis tua.

"Justru di kuil induk itu ... " lalu Kiam-eng menceritakan apa yang dialaminya ketika menemukan Jian- lian-hok-leng.

Terheran-heran sekali It-sik-sin-kai, katanya, "Jika begitu, sekarang kau mau ke mana?"

Kiam-eng memperlihatkan sebuah medali emas, jawabnya, "Ingin aku ambil lagi barang seperti ini. Aku kira huruf yang terukir pada medali ini tentulah kunci dasar pelajaran ilmu pedang maha sakti, pada setiap patung emas itu terdapat sebuah medali emas seperti ini, maka ingin aku kumpulkannya agar tidak terjatuh ke tangan si orang berkedok hijau."

It-sik-sin kai memandangi huruf aneh pada medali emas itu, katanya sambil mengangguk, "Ya, huruf ini memang betul tulisan Thian-tiok."

"Oo, Ang-pang-cu paham tulisan Tian-tiok?" tanya Kiam-eng girang.

"Tidak," si pengemis tua menggeleng. "Cuma dahulu pernah aku kenal seorang padri Hindu, maka aku tahu huruf ini bahasa Thian-tiok."

"O, kiranya begitu," Kiam-eng agak kecewa, ia coba tanya lagi, "Dan padri Hindu itu apakah sekarang masih berada di Tiong-goan?"

"Entah, sudah belasan tahun tidak pernah aku lihat dia lagi," sahut pengemis tua. "Orang berkedok hijau itu mengaku sudah mempelajari selama setahun dan tidak dapat

memecahkannya, maka dapat dibayangkan ilmu pedang itu pasti sangat dalam dan sukar dimengerti.

Jika sekarang kita dapat mengumpulkan sisa ke-178 buah medali emas itu, lalu kita cari seorang yang mahir tulisan Thian-tiok dan minta dia menerjemahkannya menjadi bahasa Tiong-hoa kita, dan setelah kita pelajari ilmu pedang sakti ini, akhirnya pasti dapat mengalahkan si orang berkedok hijau. Bagaimana menurut pendapat Ang-pang-cu?" It-sik-sin-kai mengangguk, "Betul, sekarang juga aku ikut dan membantumu mengambil sisa ke-178 buah medali emas."

"Hal ini harus disebut kerja sama dan bukan membantu," ujar Kiam-eng tertawa.

It-sik-sin-kai tertawa, katanya, "Betapapun pengemis tua sudah terbiasa memakai pentung bambu dan tidak ingin berganti senjata lagi seperti pedang apa segala."

"Tidak perlu ganti senjata juga tidak jadi soal, kalau lebih banyak paham sejenis kung-fu lain kan ada gunanya juga?" kata Kiam-eng.

"Baiklah, bila ke-180 medali emas itu dapat dikumpulkan lengkap, bahkan dapat menemukan seorang yang paham bahasa Thian-tiok, biarlah pengemis tua juga belajar-belajar sedikit untuk menambah pengetahuan," ujar si pengemis dengan tertawa.

Kiam-eng merasa tentram, ucapnya gembira, "Jika begitu, marilah berangkat!"

Mereka lantas menggunakan gin-kang dan meneruskan perjalanan ke kuil raksasa itu, setiba di dekat tempat tujuan, tiba-tiba terdengar suara gemuruh ramai yang semakin menjauh.

Kiam-eng terkejut dan heran, "Ang-pang-cu, suara apakah itu?"

"Seperti suara guruh, namun suara guntur mengapa berbunyi dipermukaan bumi?" gumam si pengemis tua sambil berkerenyit kening.

"Mungkinkah suara lari segerombolan gajah?" tanya Kiam-eng. "Aha, betul, tentu suara lari kawanan gajah!" seru It-sik-sin-kai.

"Dari suaranya yang makin menjauh, agaknya ada dua-tiga li jauhnya." "Ya, apakah ingin menyusul ke sana untuk menambah pengalaman?" "Tidak tugas utama harus kita kerjakan dahulu!"

Segera keduanya merunduk ke arah kuil raksasa.

Mereka manjat sebatang pohon tua dan melayang ke wuwungan kuil raksasa itu, lalu Kiam-eng mendahului merayap ke wuwungan tengah dan coba melongok ke lapangan luas di depan bangunan besar itu terlihat rumput di lapangan luas itu semrawut seperti habis diinjak-injak oleh kawanan binatang.

Kiam-eng terkesiap melihat keadaan luar biasa itu, bisiknya kepada It-sik-sin-kai "Ang-pang-cu, apabila suara gemuruh tadi benar suara lari kawanan gajah, maka gerombolan gajah itu pasti pernah lari lewat di depan kuil raksasa ini."

"Untuk mereka tidak menerjang ke dalam kuil, kalau tidak bangunan ini pasti akan tamat riwayatnya," ujar si pengemis tua.

"Tadi si orang berkedok hijau dan ke tiga anak muridnya lari ketakutan oleh ular rawa raksasa yang bersarang di dalam kuil ini, entah sekarang mereka kembali lagi ke sini atau tidak?"

"Peduli amat, biarlah kita masuk saja ke sana!" kata It-sik-sin-kai.

Kiam-eng lantas membawanya ke bagian tengah kuil dan melongok ke halaman tengah sana ternyata tidak ada sesuatu tanda yang mencurigakan, segera ia mendahului melompat ke bawah dan disusul oleh si pengemis tua.

"Tempat apakah ini?" tanya It-sik-sin-kai sambil melongok kian kemari.

"Ruang tidur sebelah kanan kuil induk ... lekas Ang-pang-cu mengikuti diriku!" desis Kiam-eng sambil menyelinap ke luar dari ruang luas itu.

Setelah berputar kian kemari, hanya sebentar saja mereka sudah sampai di ujung serambi, yaitu di depan reruntuhan batu. "Di balik reruntuhan ini adalah ruang pendopo kuil raksasa ini," desis Kiam-eng sambil, menunjuk tumpukan batu. "Dan ke-180 patung emas itu justru berada di sebuah ruang luas di depan ruang pendopo sana."

It-sik-sin-kai mengamati reruntuhan itu tanyanya dengan tercengang, "Entah cara bagaimana terjadinya reruntuhan itu?"

"Ambruk dari wuwungan kuil dan kebetulan menyumbat pintu samping sini," tutur Kiam-eng. "Jika begitu, cara bagaimana kita masuk ke sana?" tanya pula pengemis tua.

Kiam-eng menunjuk lubang pada reruntuhan itu dan mendahului melompat ke atas, ia coba mengintip ke sebelah sana, terlihat ruang pendopo kuil itu kosong melompong tanpa bayangan seorang pun sedang gundukan api unggun yang menghadang di depan ruang besar itu sudah berubah menjadi gundukan orang, melihat gelagatnya si orang berkedok hijau dan ke tiga anak muridnya seperti tidak berada di situ.

Namun Kiam-eng tidak percaya bahwa seorang berkedok hijau tak berani datang ke sini hanya karena takut terhadap ular sawa raksasa. Ia coba mendengarkan dengan cermat setelah sekian lama dan tidak terdengar sesuatu suara mencurigakan barulah ia menerobos lubang batu itu dan melompat turun ke sana.

Setelah celingukan kian kemari, yang terlihatnya jenazah Sai-hoa-to saja.

Perlahan Kiam-eng mendekati pintu kamar besar itu, ia pasang telinga pula hingga sekian lama dan tetap tidak terdengar setitik suara apa pun maka ia bertanya mengapa si pengemis tua yang masih mengintip di lubang reruntuhan tadi.

Segera It-sik-sin-kai menerobos lewat lubang itu dan melompat turun sudah dekat ia tanya Kiam-eng, bagaimana?"

"Keadaan sunyi senyap, seperti tidak ada orang lain," tutur Kiam-eng.

It-sik-sin-kai menuding kamar besar itu dan bertanya, "Ruang yang ini?"

"Betul, ruang ini sangat luas, sangat mungkin dahulu adalah ruang berlatih kung-fu, ke-180 patung emas itu teratur menjadi dua baris di kanan ruangan ini."

"Jika begitu ayolah kita masuk ke situ," ajak si pengemis tua. "Jangan-jangan si orang berkedok hijau bersembunyi di dalam ..."

"Mungkin tidak, sama sekali tidak aku dengar ada sesuatu suara ... ayo, biar aku masuk lebih dulu." Sembari bicara segera ia hendak melangkah ke dalam dengan sebelah tangan siap di depan dada.

Mendadak Kiam-eng menarik pengemis tua itu dan mendesis, "Nanti dulu, biar wan-pwe menimpuk batu dan mencari jalan, dahulu."

It-sik-sin-kai melengak, "Cara bagaimana kamu akan lempar batu buat cari jalan?"

Kiam-eng putar ke sana dan membawa datang jenazah Sai-hoa-to, mendadak ia lemparkan mayat tabib sakti itu ke dalam ruangan.

Terdengarlah suara "bluk" yang keras, keadaan ruang itu tetap sunyi senyap.

Kiam-eng berpaling dan berkata kepada pengemis tua, "Mungkin si orang berkedok sudah, ke luar mencari kita, jelas dia tidak berada di sini."

"Bagus sekali, marilah kita masuk," ajak It-sik-sin-kai.

"Tunggu lagi sebentar." cegah Kiam-eng pula, "Biar aku buat obor dulu baru masuk ke sana."

Ia lihat di samping gundukan api unggun masih ada rumput kering, segera ia ikat rumput kering itu menjadi sepotong obor dan dinyalakan, lalu masuk ke ruang batu itu. Sesudah berada di dalam, di bawah cahaya obor, apa yang dilihatnya membuatnya tercengang.

Ternyata ke-180 patung emas yang semula berada di ruang besar itu kini seluruhnya sudah hilang terbang tanpa sayap.

It-sik-sin-kai terbelalak bingung, katanya, "Di mana ke-180 patung emas itu?"

Sampai sekian Kiam-eng melongo bingung, akhirnya ia berseru, "O, Tuhan, apakah yang terjadi?" "Ada apa?" tanya It-sik-sin-kai heran.

"Ke-180 buah patung emas itu, semuanya menghilang?!" seru Kiam-eng. "Oo, apakah kamu tidak salah lihat?" tanya pengemis tua.

"Salah lihat apa?" sahut Kiam-eng bingung.

"Mungkin bukan ruang yang ini?" ujar It-sik-sin-kai sambil menuding kamar besar itu.

"Tidak, jelas ruang inilah, tidak salah lagi mutlak tidak salah!" seru Kiam-eng sambil melonjak penasaran.

"Aneh juga," si pengemis tua ikut terkesiap. "Hanya dalam waktu tidak ada satu jam, masakah begitu cepat si orang berkedok mampu memindahkan ke-180 buah patung emas?"

"Betul, padahal setiap patung itu berbobot ribuan kati, mana mungkin dalam waktu singkat ini mereka berempat sanggup mengangkut pergi ke-180 patung ini. Sungguh aneh, sungguh ajaib!"

It-sik-sin-kai termenung sejenak, katanya kemudian, "Wah, jangan-jangan orang berkedok hijau itu menggunakan kawanan gajah untuk mengangkut ke-180 patung?"

Kiam-eng pikir memang benar juga, namun ia pun sangsi, katanya, "Tapi untuk mengangkut ke-180 buah patung sebesar itu sedikitnya diperlukan sembilan puluh ekor gajah besar, apakah dia mampu mengendalikan 60 ekor gajah sekaligus?"

"Dia mengaku sebagai 'raja rimba', mungkin tidak sulit baginya untuk menguasai 60 ekor gajah," kata pengemis tua.

Kiam-eng mengangguk, "Ya, betul juga. Namun ada satu hal yang sukar dimengerti. Tujuan orang berkedok hijau itu adalah untuk merintangiku mengambil Jian-lian-hok-leng, dia tidak tahu bahwa Jian- lian-hok-leng sudah aku dapatkan, mengapa dia tidak mencari perkara padaku sebaliknya malah membawa kabur ke-180 patung emas itu?"

"Ada beberapa kemungkinan. Pertama, dia kuatir ke-180 patung direbut oleh kita, maka dia mendahului mengangkut patung dan kemudian baru akan menghadapi kita. Ke dua, dia tidak sabar lagi berkutetan dengan kita di kota tua ini, maka membiarkan Jian-lian-hok-leng diambil olehmu, dan nanti dia akan mencegatmu di tengah jalan, maka patung diangkut pergi."

"Dan sekarang apa yang dapat kita lakukan?" tanya Kiam-eng.

"Jika kamu tidak ingin mengambil medali dalam patung, tentu saja dapat kau pulang saja ke Tiong-goan dengan membawa Jian-lian-hok-leng," kata It-sik-sin-kai.

"Tidak, nona Ih masih berada dalam cengkeraman mereka, betapapun harus aku kerjakan mereka dan berdaya menyelamatkan nona Ih."

"Kalau begitu tekadmu, lekas kita mengejar mereka!" ujar It-sik-sin-kai. "Tetapi," ucap Kiam-eng ragu, "Wah, bagaimana dengan nona Ka?"

"Nah, kan menjadi repot," ujar pengemis tua dengan tertawa. "Makanya ingin aku beri nasihat, kalau pacaran hendaknya cuma pilih satu saja, jangan kau kira pacar banyak lantas dapat rangkul sini dan peluk sana, terkadang justru bisa kehilangan semuanya."

Muka Kiam-eng menjadi merah, ucapnya, "Ke dua nona ini sejak mula tidak sengaja aku cari tapi ... ah, sudahlah, sekarang jangan bicara uraian ini. Mohon Ang-pang-cu sudi memberi bantuan, jadi?" "Maksudmu minta aku kembali ke kuil itu dan membawa nona Ka ke sini?" tanya si pengemis tua.

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Tapi bukan membawanya ke sini melainkan membawa dia kembali kepada suku bangsanya."

"Apakah dia mau?"

"Mohon bantuan Ang-pang-cu suka membujuknya, soalnya memang tidak dapat aku bawa dia pulang ke Tiong-goan, sebab masih banyak urusan yang harus aku kerjakan."

"Kamu sendirian dapat menolong nona Ih?" tanya It-sik-sin-kai.

"Akan aku coba, kalau gagal, terpaksa aku pulang ke Tiong-goan dulu untuk mencari jalan lain."

"Baiklah, sepanjang jalan hendaknya kamu waspada, aku kira si orang berkedok hijau pasti akan mencegat dan menyergapmu di tengah jalan."

"Wan-pwe tahu, Ang-pang-cu juga aku harap berhati-hati dalam perjalanan," jawab Kiam-eng sambil memberi hormat.

Habis berkata segera ia melangkah ke luar kuil besar itu.

Setiba di lapangan rumput, ia coba memeriksa bekas tapak kaki gajah yang acak-acakan itu, lalu mulai melacaknya lebih lanjut.

Ia terakhir kawanan gajah itu terakhir lari terlampau jauh, dengan kecepatan lari sendiri ia yakin dalam waktu setengah jam tentu dapat menyusulnya. Maka ia merasa tidak perlu gelisah.

Siapa tahu, meski dia sudah memburu tiga empat li jauhnya, cuaca yang semula terang itu mendadak bertabirkan kabut tebal, kabut yang lembab itu dengan cepat menyelimuti seluruh rimba raya sehingga membuatnya merasa sukar untuk bertindak.

Ia perlambat langkahnya dan meneruskan perjalanan sekian jauh, kabut tebal semakin pekat sehingga benda dalam jarak dua-tiga meter pun tidak tertampak lagi. Ia tahu hujan lebat mungkin segera akan turun, terpaksa ia berhenti dan duduk menunduk di bawah sebatang pohon raksasa.

Benar juga tidak lama ia duduk di situ, titik air hujan mulai turun, makin lama makin deras, akhirnya air hujan seperti dituangkan dari langit.

Ia termangu-mangu memandangi hujan lebat itu, sungguh hal ini kejadian paling buruk yang tak terduga.

Harapannya sekarang hanya ada satu, yaitu hujan lebat ini takkan berlangsung terlampau lama dengan begitu baru ada harapan akan dapat menyusul kawanan gajah itu kalau tidak, maka tamatlah segalanya.

Akan tetapi, tunggu punya tunggu, sejam hujan deras itu ternyata nampak ada tanda-tanda akan mereda.

Padahal genangan air hujan di dalam hutan sudah sebatas betis.

Melihat harapannya kandas, Kiam-eng menghela napas dan memejamkan mata sambil mengomel, "Ya, turunlah selebatnya, kalau sanggup silakan turun selama beberapa hari dan beberapa malam ..."

Hari pun mulai gelap, malam telah tiba.

Namun hujan pun mulai reda dan akhirnya berhenti.

Berhentinya hujan ternyata menambah kepekatan gelap rimba raya sehingga jari sendiri pun tidak kelihatan. Dengan sendirinya sukar menempuh perjalanan dalam kegelapan, terpaksa Kiam-eng manjat ke atas pohon dan rebah di antara dahan pohon untuk bermalam, diputuskan menunggu sampai terang pagi baru akan meneruskan perjalanan.

Untung habis hujan lebat sehingga tidak ada gangguan nyamuk di tengah hutan, anak muda dapat tidur nyenyak semalaman. Waktu mendusin keesokannya, hari pun sudah terang.

Ia lihat keadaan hutan masih basah becek, segera ia menggunakan gin-kang untuk melayang di atas pohon terus menuju ke depan.

Sekaligus ia lari lebih 30 li dan tetap belum menemukan jejak kawanan gajah, ia pikir gajah tentu tidak takut hujan, setelah lari sehari semalam mungkin sudah berada ratusan li jauhnya. Bilamana cara menyusulnya ini tidak salah arah, paling cepat baru dapat menyusulnya menjelang malam nanti. Tapi sesudah berhasil menyusulnya, lalu apa yang akan dilakukannya?

Kiam-eng terus mengejar sambil berpikir, paling akhir ia keputusan takkan terburu napsu, asal dapat menyusul kawanan gajah itu, dia akan bertindak melihat gelagat nanti, kalau tidak, dia akan pulang dulu ke Bu-lim-teh-coh, asalkan penyakit In-Ang-bi dapat disembuhkan, betapapun si orang berkedok hijau itu pasti akan ditemukan.

Dekat lohor, ia berada kembali di rawa-rawa itu, ia menemukan sampan yang pernah dibuatnya itu, namun terlihat sampan itu sudah terbelah menjadi tiga bagian dan tidak dapat digunakan lagi.

Keadaan sampan ini membuatnya tambah, yakin arah yang dikejarnya tidak salah lagi. Tapi juga diketahuinya untuk menyusul musuh jelas sukar lagi tercapai. Luas rawa-rawa ini beberapa li kecuali membuat lagi sebuah sampan rasanya tidak jalan lain untuk mengarunginya. Terpaksa mencari lagi sebatang pohon besar dan mulai lagi membuat sampan dengan telaten.

Lohor esoknya kembali sebuah sampan sudah jadi dibuatnya. Seperti juga dahulu, ia lemas lunglai kehabisan tenaga, ia rebah di samping sampan sehingga satu-dua jam, habis itu barulah ia sanggup mendorong sampan ke dalam rawa dan mendayungnya melaju.

Pada waktu menjelang senja, akhirnya sampan dapat menyebrangi rawa itu dan menepi.

Akan tetapi pada saat kakinya baru saja menginjak daratan, sekonyong-konyong terdengar suara mendenging, suara sambaran senjata rahasia menyambar ke mukanya.

Waktu Kiam-eng perhatikan, kiranya tiga pisau terbang.

Biarpun masih lelah, namun gerak-gerik Kiam-eng tidak lamban, cepat ia mendak dan melolos pedang terus menangkis ke atas terdengar "trang-tring" tiga kali, ke tiga pisau itu tersampuk jatuh, lalu ia berdiri dan membentak, "Kaum tikus dari mana main sergap secara licik, lekas menggelinding ke luar, coba aku lihat bagaimana cecongormu?!"

Baru lenyap suaranya, dari hutan di depan sana muncul tiga orang.

Ke tiga orang ini bukan lain daripada ke tiga murid si orang berkedok hijau, yaitu si pedang emas Sih- Hou, pedang perak Kwe-Eng-seng dan pedang baja Ku-Tai-hong.

Muka mereka masih memakai kedok hitam mereka mendesak tiba dari depan dan kiri kanan Su-Kiam- eng. Melihat gelagatnya jelas mereka ingin mencabut nyawa anak muda itu.

Diam-diam Su-Kiam-eng mengeluh, teringat olehnya waktu bertarung melawan ke tiga orang itu tempo hari ia sadar bukan tandingan mereka namun apa pun juga ia tidak mau mandah mati konyol.

Segera ia lolos pedang dan siap tempur.

Jelas Sih-Hou tidak memandang sebelah mata terhadap anak muda itu, dengan angkuh ia mendengus, "Hm, Su-Kiam-eng, coba apakah kamu masih sanggup kabur lagi dari tangan kami."

"Haha, boleh coba dulu!" jawab Kiam-eng tenang.

"Aku kira tidak perlu coba lagi," ucap Sih-Hou sambil menyeringai. "Boleh kau serahkan saja Jian-lian- hok-leng itu dan jiwamu akan aku ampuni kalau tidak, hehehe ... "

"Jangankan Jian-lian-hok-leng itu tidak aku temukan, umpama sudah aku dapatkan juga jangan harap akan kalian rebut dariku," jawab Kiam-eng ketus.

"Dusta!" bentak Sih-Hou, "Jika Jian-lian-hok-leng belum kau dapatkan, untuk apa terburu-buru kamu kembali ke sini?". "Aku kembali ke sini untuk menolong orang," Su-Kiam-eng.

"Untuk menolong jiwa jantung-hatimu kan sangat sederhana, asalkan kau serahkan Jian-lian-hok-leng itu, aku jamin Ih-Keh-ki akan dibebaskan dengan selamat," kata Sih-Hou.

"Aku pikir tidak perlu menggunakan Jian-lian-hok-leng sebagai syarat," ucap Kiam-eng. "Memangnya dengan cara bagaimana akan kau tolong Ih-Keh-ki?" tanya Sih-Hou.

"Dengan senjataku ini pasti dapat aku selamatkan nona Ih," seru Kiam-eng sambil mengangkat pedangnya.

"Hahaha, jika begitu, ayolah boleh kita coba," kata Sih-Hou sambil terbahak.

Habis berkata, ia memberi tanda kepada ke dua kawannya dan serentak mereka mendesak maju.

Kiam-eng merasa lebih menguntungkan bila turun tangan lebih dulu, maka begitu lawan mulai mendesak maju, dengan bentakan keras segera pedang bergerak, sekaligus ia menebas ke tiga lawan.

Jurus serangan ini merupakan serangan maut ilmu pedang halilintar perguruannya. Sekaligus ia serang tiga lawan dengan cara lihai.

Meski mulut Sih-Hou bicara meremehkan anak muda itu, padahal mereka pun tidak berarti memandang enteng ilmu pedang andalan Kiam-ho Lok-Cing-hui. Maka begitu sinar pedang menyambar tiba, cepat mereka melompat mundur berbareng mereka pasang barisan sambil menangkis.

Terdengar suara dering nyaring tiga kali hampir pada saat yang sama. Ini membuktikan betapa cepat gerak serangan pedang Su-Kiam-eng itu dan juga betapa bagusnya.

Dan begitu serangan lawan dapat ditangkis serentak Sih-Hou bertiga juga melancarkan serangan balasan. Pedang Si-Hou mendahului menebas pinggang Su-Kiam-eng, sedang pedang Kwe-Eng-seng langsung menusuk ulu hati anak muda itu, begitu pula pedang Ku-Tai-hong juga menusuk Kiam-eng.

"Tiga serangan dilontarkan berbareng, semuanya mengarah fatal dan merepotkan lawan, sebab dengan gerak apa pun, sulit bagi Kiam-eng untuk menghindarkan ke tiga serangan itu.

Jika dia menghindari tebasan Sih-Hou, rasanya sulit mengelakkan tusukan pedang perak Kwe-Eng-seng. Satu-satunya jalan menghindar yang pasti selamat baginya yaitu melompat mundur yang berarti akan tercebur ke dalam rawa-rawa.

Melihat gelagat tidak enak, cepat Kiam-eng tidak ke bawah pedang bergaya hendak menyabet bagian bawah ke tiga lawan, habis itu dia melompat ke belakang dengan jumpalitan dan menurun ke tengah rawa.

Cuma dia sudah mengincar dengan baik, dia tidak tercebur ke dalam air melainkan menancap kaki pada bagian buritan sampan. Menyusul ia meloncat lagi meninggalkan sampan, sebelah kaki meluncur di permukaan air dan sedikit meloncat lagi dengan ringan, tahu-tahu ia sudah melayang kembali ke daratan lagi.

"Gin-kang yang hebat!" seru Sih-Hou. "Sekarang coba lagi serangan ini!"

Berbareng itu, ujung pedangnya menusuk pula ke muka Su-Kiam-eng. Menyusul Kwa-Eng-seng dan Ku- Tai-hong juga memburu tiba, ke dua pedang serentak pun menusuk dada dan perut anak muda itu.

Kiam-eng menggertak satu kali sambil berputar dengan pedangnya sehingga serangan ke tiga lawan tertangkis, akhirnya sekalian pedangnya menyabet ke bahu kiri Ku-Tai-hong.

Setelah saling gebrak, Kiam-eng berusaha mendahului sambil bergeser kian kemari agar tidak terjebak dalam kepungan musuh, karena itulah seketika Sih-Hou bertiga pun tak berdaya menjatuhkan anak muda itu.

Tapi setelah belasan gebrakan, keadaan Kiam-eng terdesak lagi dan berulang ia harus menghadapi bahaya.

Kiranya di antara ke tiga pedang emas, perak dan baja itu, kung-fu pedang emas Sih-Hou terhitung paling tinggi dan si pedang baja Ku-Tai-hong paling rendah. Namun Ku-Tai-hong yang paling rendah kung-fu nya di antara lawan itu sama sekali tidak di bawah Kiam-eng, maka sekalipun satu lawan satu juga tidak ada harapan untuk menang bagi anak muda itu, apalagi sekarang dia harus satu melawan tiga.

Makin bertempur makin berdebar Kiam-eng, ia lihat serangan ke tiga lawan selalu ditunjuk ke tempat fatal pada tubuhnya, maka ia sadar lawan memang berniat membunuhnya. Ia pikir pertarungan ini jelas sulit untuk dimenangkan dirinya, kalau tidak lekas berusaha meloloskan diri, akhirnya pasti terbinasa.

Tapi cara bagaimana supaya dapat lolos diri kerubutan ke tiga lawan? "Ai, mendingan bilamana Sam-bi-sin-ong berada di sini ..."

Begitu teringat kepada Sam-bi-sin-ong baru teringat olehnya masih ada tiga buah granat berasap pedas pemberian kakek itu dan tiga buah Kau-Hun-tan lagi yang diambilnya dari Sai-hoa-to.

Keruan ia sangat girang, segera ia membentak, "Berhenti, biarlah aku serahkan Jian-lian-hok-leng yang kalian minta!"

Mendengar itu serentak Sih-Hou bertiga berhenti menyerang dan melompat mundur. Sih-Hou menjulurkan tangan kiri dan berkata, "Jika begitu, ayolah serahkan!"

Kiam-eng berlagak gusar dan penasaran, ucapnya, "Huh, kau bilang setelah aku serahkan Jian-lian-hok- leng segera akan kau bebaskan Ih-keh-ki, apa janjimu dapat dipercaya?"

"Ya, pasti aku laksanakan, apa manfaatnya kami membunuh nona itu?" jawab Sih-Hou dengan tertawa. "Jika begitu, lekas kau bebaskan nona Ih," ucap Kiam-eng.

Sih-Hou menggeleng, "Tidak, serahkan dulu Jian-lian-hok-leng dan baru kami bebaskan dia!" "Dan bagaimana jadinya jika kalian ingkar janji?" tanya Kiam-eng.

"Jangan kuatir, kan sudah aku katakan tidak ada gunanya kami membunuh dia." "Sekarang dia terkurung di mana?" tanya Kiam-eng pula.

"Tidak jauh hanya beberapa li dari sini," tutur Sih Hou. "Setelah kau serahkan Jian-lian-hok-leng segera kami kembali ke sana untuk membebaskan dia. Untuk ini tidak lebih daripada setengah jam saja dan kalian pasti akan berjumpa kembali."

Tiba-tiba Kiam-eng tersenyum, ucapnya, "Sebelum aku serahkan Jian-lian-hok-leng apa boleh aku minta sesuatu penjelasan?"

"Coba katakan asalkan dapat aku jawab tentu takkan aku bikin kecewa padamu," sahut Sih-Hou tertawa.

"Dengan berbagai daya upaya kalian merintangiku mengambil Jian-lian-hok-leng, sebenarnya maksud tujuanmu?"

"Kan sudah dikatakan guru kami, setiap benda di rimba raya ini adalah milik guru kami Jian-lian-hok-leng itu tumbuh di tengah rimba ini dengan sendirinya tidak boleh kau ambil semuanya."

"Hm, kung-fu kalian sangat tinggi, gurumu bahkan tidak ada tandingan di kolong langit ini, setiap tindak- tanduk kalian seharusnya tidak perlu main gelap-gelapan, kenapa dalam urusan ini kamu tidak berani bicara terus terang?"

"Kau anggap ucapanku tidak benar?" tanya Sih-Hou aseran.

"Ya, penjelasanmu seluruhnya omong kosong belaka!" kata Kiam-eng.

"Kalau begitu mamangnya kau kira apa maksud tujuan kami merintangimu mengambil Jian-lian-hok- leng?"

"Dengan sendirinya karena kuatir kami menyembuhkan penyakit ingatan In-Ang-bi sehingga rahasia kalian terbongkar." jawab Kiam-eng tegas.

"Sungguh aku tidak paham apa ucapanmu itu?" kata Sih-Hou sambil memiringkan kepala seperti orang tidak mengerti. "Kalau kamu tidak paham, biar aku katakan lagi dengan jelas," kata Kiam-eng. "Gurumu telah membunuh ke-18 tokoh besar di Hwe-liong-kok, kejadian itu dilihat oleh In-Ang-bi, saking kaget dan takutnya nona itu sakit ingatan. Karena yakin dia tidak dapat lagi menceritakan apa yang dilihatnya, maka jiwanya tidak kalian ganggu. Tapi kemudian ketika mengetahui guruku berniat menyembuhkan penyakitnya kalian merasa kuatir dan diam-diam berusaha mencelakai su-heng ku yang diutus ke sini oleh guruku untuk mencari Jian-lian-hok-leng. Sekarang kalian berusaha ingin merintangi usahaku dan memaksa aku menyerahkan Jian-lian-hok-leng dengan tujuan menutupi perbuatan jahat kalian supaya wajah asli kalian tidak tahukan. Betul tidak?"

"Tidak betul," jawab Sih-Hou sambil menggeleng. Guruku dan kami bertiga sangat jarang menginjak daerah Tiong-goan. Mengenai peristiwa yang timbul di Tiong-goan sama sekalian kami tidak tahu menahu, bicara tentang terbunuhnya ke-18 tokoh itu, lebih-lebih tidak ada sangkut-pautnya dengan kami."

"Wah, tampaknya meski gurumu dan kalian memiliki kung-fu maha tinggi, namun nyali kalian justru terlebih kecil daripada nyali tikus," ejek Kiam-eng.

Sih-Hou menjadi gusar, bentaknya, tidak perlu lagi banyak omong, lekas serahkan Jian-lian-hok-leng!"

Kiam-eng tertawa, ia merogoh saku baju dan berkata, "Tapi ingin aku tambahkan lagi, setelah aku serahkan Jian-lian-hok-leng, kalian juga harus membebaskan nona Ih, kalau kalian tidak menepati itu berarti kalian bukan manusia! ..."

Habis berucap, ia angkat tangan dan melemparkan sesuatu sambil berseru, "Nah, ambil!"

"Blang", terdengar suara gemuruh, suara ledakan dahsyat dengan asap kuning tebal, itulah ciri khas Kau-hun-tan buatan Sai-hoa-to.

"Wah, itu Kau-hun-tan!" "Betul, lekas tahan napas!"

Begitulah Sih-Hou bertiga berteriak panik dua-tiga kali, lalu tidak terdengar suaranya lagi, entah roboh pingsan atau sudah kabur.

Yang meledakkan Kau-hun-tan itu dengan sendirinya juga Su-Kiam-eng.

Rupanya tadi dia tidak berani melemparkan Kau-hun-tan lantaran hidung sendiri belum dipolesi dengan salep anti berbisa itu, kuatir senjata akan makan tuan, maka setelah melemparkan granat berbau pedas segera ia poles lubang hidung dengan salep, habis itu baru berani melemparkan Kau-hun-tan. Dengan sendirinya ia tidak kabur pada waktu granat pertama dilemparkan sebab tujuannya juga ingin meneroboskan Sih-Hou bertiga.

Di tengah kabut tebal diam-diam ia menyelinap ke tengah hutan, ia panjat ke atas pohon besar dan sembunyi di tengah kelebatan daun, ditunggunya dengan sabar.

Tidak lama kemudian asap tebal granat yang pedas dan kabut kuning mulai buyar tertawa angin.

Waktu Kiam-eng mengamati ke bawah, ternyata tidak terlihat Sih-Hou bertiga menggeletak di tanah, ia tahu ke tiga orang itu tidak sampai pingsan oleh asap berbisa, diam-diam ia merasa gegetun.

Ia sembunyi lagi sejenak di atas pohon, setelah yakin ke tiga lawan tidak berada lagi di sekitar situ barulah ia melompat turun dan berlari jurusan utara.

Sekarang ia sudah ambil suatu keputusan, setelah si orang berkedok hijau mengetahui dirinya sedang mengejarnya, mereka tentu mengadakan penjagaan yang ketat, dalam keadaan demikian, jelas tidak ada harapan akan dapat menolong Ih-Keh-ki, terpaksa pulang dulu ke Tiong-goan dengan membawa Jian-lian-hok-leng, habis itu baru datang lagi dan berdaya untuk menyelamatkan si nona.

Begitulah sepanjang jalan ia tidak memperhatikan lagi jejak kawanan gajah, ia terus melintasi bukit dan menelusuri hutan dan pulang ke Tiong-goan.

Waktu lohor hari ke empat, setelah menerobos hutan lebat, sampailah dia perkampungan suku Pek-ih yang cuma beranjak satu hari perjalanan ke kota Ting-ciong. Di perkampungan suku Pek-ih ini dahulu ia menitipkan ke dua ekor kuda hitam putih miliknya dan Keh-ki itu.

Sebenarnya ia merasa kalau ingin pulang ke Tiong-goan dengan aman seharusnya ia tinggalkan kuda tunggangannya itu. Tapi lantas terpikir lagi dari sini ke Bu-lim-teh-coh masih berjarak belasan ribu li, hanya dengan menunggang kuda mestika itulah dapat tiba di Bu-lim-teh-coh dengan cepat. Maka ia mengambil keputusan akan mencari Nan-si untuk minta kembali kudanya.

Setiba di depan kampung, ia lihat dua orang nona suku Pek-ih sedang mencuci pakaian di tepi sungai, dan terheran-heran ketika melihat kedatangan Kiam-eng.

"Kiam-eng mengangguk kepada mereka dan menyapa dengan tertawa, "Ke dua nona ini apakah masih kenal padaku?"

"Tentu saja masih kenal," jawab salah seorang nona itu, "Tempo hari kudamu kau dititipkan kepada Nansi, betul tidak?"

"Betul apakah nona Nansi itu sekarang berada di rumah?" tanya Kiam-eng pula. Kembali nona Pek-ih itu mengangguk dan menjawab, "Ada, cuma ..."

"Cuma apa?" tanya Kiam-eng.

Nona itu tersenyum, katanya kemudian, "Kau mau berkawan denganku?"

Kiam-eng tercengang, jawabnya dengan tertawa, "Tentu saja mau. Cuma sekarang aku lagi sibuk urusan penting dan tidak sempat bertamu rumahmu."

Nona Pek-ih tampak merasa kecewa, katanya, "Kau mau ambil kudamu ke rumah Nansi, bukan?" "Betul, obat-obatan sudah aku dapatkan, sekarang aku harus pulang ke Tiong-goan."

"Jika engkau mau berkawan denganku, dapat aku beritahukan suatu hal padamu," ucap nona Pek-Ih itu.

Nona Pek-ih yang lain cepat menjawil kawannya dan mendesis, "Ssst, jangan sembarangan omong, apa kamu minta mampus?"

Melihat kasak-kusuk mereka, Kiam-eng menjadi curiga, cepat tanyanya, "Tidak boleh sembarangan omong apa?"

Karena diperingatkan kawannya, nona Pek-ih yang pertama tadi nampak ragu, jawabnya sambil menggeleng kepala, "Oo, tidak, tidak jadi aku katakan."

"Katakanlah padaku, lain kali bila ada kesempatan tentu aku jadi tamu ke rumahmu, mau?" "Lain kali itu kapan?" tanya nona itu dengan gembira.

"Tidak pasti, yang jelas aku pasti akan datang kemari lagi dan tentu aku cari nona," jawab Kiam-eng. Setelah berpikir, nona Pek-ih itu berkata, "Ah, sukar dipercaya cara begini, takkan aku katakan."

"Ya sudahlah kalau tidak mau bicara, biar aku cari Nansi saja dan aku yakin dia pasti akan memberitahukan padaku."

Habis berkata segera Kiam-eng melangkah ke depan.

Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba berpikir sesuatu, ia menoleh dan tanya lagi, "Eh, nona, apakah beberapa orang itu yang minta kamu jangan memberitahukan hal itu padaku, bukan?"

Nona Pek-ki itu tampak melengak, jawabnya "Dan mana kau tahu?"

Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia mendekati tepi sungai tepi dan berkata. "Mereka adalah kawanan serombongan, sekali aku tebak saja tentu kena."

Nona Pek-ki itu bersuara ragu, katanya, "Benar ... benar mereka adalah kawanmu?" "Tentu saja benar, bilakah mereka sampai di sini?" tanya Kiam-eng. "Pagi tadi," tutur nona itu. "Mereka pesan kepada kami bilamana melihat kedatanganmu agar jangan memberitahukan mereka tinggal di rumah Nansi, kalau mereka akan membunuh ... Apakah benar mereka itu kawanmu?"

"Benar, cuma mereka terlampau ganas, Maka aku tidak suka berada bersama mereka," ujar Kiam-eng. "Dan sekarang apakah jadi kau cari mereka?" tanya nona Pek ih itu.

"Tidak, tidak jadi," jawab Kiam-eng. "Dan kau pun jangan katakan kepadaku mereka akan kedatanganku ini. Kalau tidak, bukan mustahil, kamu akan dibunuh mereka."

Dengan penuh harap nona Pek-ih itu berkata "Jika engkau tidak ingin menemui mereka, bagaimana kalau kau sembunyikan saja di rumahku?"

"Tidak, ada urusan penting harus aku cari Sinba, biarlah aku mampir, rumahmu lain hari saja," tolak Kiam-eng dengan cara halus.

Habis berucap, dengan tersenyum ia melambai tangan kepada mereka, segera ia angkat kaki dan berlari secepat terbang menuju ke Ting-ciong.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa Sih-Hou bertiga bisa menanti dirinya di rumah Nansi karena itulah ia tidak berani ayal lagi, untuk amannya ia pun mengambil jalan pegunungan yang sepi.

Waktu lohor esok harinya ia sudah berada kembali di kota Ting-ciong.

Ia tahu cepat atau lambat Sih-Hou bertiga pasti akan mengetahui dirinya telah lalu di perkampungan suku Pek-ih itu, maka ia tidak berhenti terlampau lama di Ting-ciong, setelah membeli baju dan perbekalan seperlunya segera ia tinggalkan kota itu dan meneruskan perjalanan pulang ke utara.

Setelah meninggalkan kota Tiong-cing, lebih dulu ia sembunyi dalam hutan, ia menyamar dirinya menjadi penduduk setempat, dengan begitu barulah berangkat lagi dengan leluasa.

Meski rimba raya yang menakutkan itu sudah ditinggalkannya, namun keadaan di depan mata sekarang tetap hutan belukar yang tidak ada batasnya. Hanya saja di hutan lebat sekarang ini tidak ada lagi binatang buas yang berkeliaran melainkan ada sebuah jalan dan terlihat orang yang berlalu lintas.

Teringat masih ada perjalanan berlaksa li jauhnya baru akan sampai di Tiong-goan, mau-tak-mau ia jadi terkenang kepada kuda putih kesayangannya.

"Tek-tok ... tek-tok ..." tiba-tiba bergema detak lari kuda dari belakang.

Waktu Kiam-eng menoleh, terlihat lima ekor kuda gagah sedang membedal tiba. Ia terkesiap, pikirnya, "Hm, jangan-jangan mereka telah memburu kemari?"

Oleh karena dia sudah menyamar maka ia tidak terlampau gugup, segera ia menyingkir ke tepi dan tetap meneruskan perjalanan.

Suara detak lari kuda semakin dekat, hanya sekejap saja sudah berada di belakangnya.

Waktu Kiam-eng menoleh lagi, dilihatnya ke lima kuda yang membedal tiba itu hanya ditunggangi tiga orang, dan ke tiga orang penunggangnya adalah Sih-Hou bertiga, ke dua ekor kuda yang tak berpenumpang itu ternyata kuda hitam putih miliknya dan milik Ih-Keh-ki itu.

Diam-diam Kiam-eng terkejut, pikirnya, "Kurang ajar! Rupanya kalian bermaksud memperalat kuda kami untuk memancing kemunculanku."

Tengah berpikir, Sih-Hou bertiga sudah membedal lewat bersama kudanya ...

Justru pada saat baru saja kuda terakhir melampaui Kiam-eng. Sih-Hou yang memimpin rombongan itu mendadak memberi tanda berhenti, ia putar kepala kudanya dan mengamat-amati Kiam-eng sejenak, lalu bertanya, "Hei adakah kau lihat seorang, pemuda bangsa Han lalu di sini?"

Perlahan Kiam-eng mengangkat kepala, jawabannya berlagak bodoh, "Seorang pemuda bangsa Han?" "Ya, pemuda berusia likuran, berbaju warna hijau, pemuda bangsa Han!" Kiam-eng pura-pura berpikir sebentar, lalu menggeleng dan menjawab, "Tidak, tidak aku lihat."

"Oo," Sih-Hou bersuara singkat, katanya terhadap kedua kawannya. "Wah, melihat gelagatnya, bocah itu seperti tidak menempuh jalan ini."

"Seumpama dia tidak melalui jalan ini, Thian-ti adalah tempat yang, harus dia lalui, biarlah kita menunggunya di Thian-ti saja." kata si pedang perak Kwa-Eng-seng.

Tiba-tiba si pedang baja Ku-Tai-hong menyambung, "Bocah itu mahir menyamar, untuk mencari dia rasanya sangat sulit."

"Justru lantaran dia pandai menyamar, makanya aku bawa kudanya kemari, aku yakin dia pasti merasa berat kehilangan kuda bagus ini, bila melihat kita membawa kudanya, tentu timbul hasratnya akan mencuri kuda. Dengan demikian kita pun ada kesempatan untuk menangkapnya.

Berkata sampai di sini, Sih-Hou membalik kudanya lagi dan berkata, "Ayo, kita mengejar lagi lebih lanjut!"

Tiba-tiba Kiam-eng memburu maju dan berseru, "Eh, ke tiga tuan ini tunggu sebentar, ada suatu urusan ingin aku rundingkan dengan kalian ..."

Mestinya Sih Hou sudah hendak melarikan kudanya, mendengar itu ia menoleh dan bertanya, "Ada urusan apa?"

Kiam-eng berkata dengan menyengir, "Kebetulan aku pun hendak menuju ke Thian-ti entah ke tiga tuan sudi tidak meminjamkan seekor kuda ini bagiku?"

Sih-Hou mendengus, menjawab "tidak" saja ia tidak sudi dan segera ia mengentak tali kendali dan membedalkan kudanya ke depan.

Kiam-eng masih terus mengejar dengan berlari serunya, "Apabila ke tiga tuan sudi meminjamkan seekor kuda tunggangan ini, aku bersedia kerja bakti juga bagi kalian."

"He, kerja bakti apa yang dapat kau lakukan bagi kami?" dengan setengah bergurau Kwa-Eng-seng menanggapi.

Sembari berlari Kiam-eng menjawab, "Pekerjaanku di Thian-ti adalah perawat kuda dari sini ke Thian-ti masih ada perjalanan selama lima-enam hari, apabila ke tiga tua sudi meminjamkan seekor kuda tunggangan bagiku, sepanjang jalan biar aku rawat kuda kalian."

Kwa-Eng-seng merasa tawaran itu tidak jelek. Ia coba berkata kepada Sih-Hou yang berada di depan, "Su-heng, ia bilang mau merawat kuda kita, untuk itu rasanya takkan mengganggu kecepatan perjalanan kita. Bagaimana kalau pinjamkan seekor kepadanya?"

Sih-Hou juga merasa Thian-ti masih cukup jauh, manusia dan kuda masih harus istirahat dalam perjalanan, jika sekarang ada orang mau menjaga kuda bagi mereka, rasanya akan sangat banyak meringankan bebannya. Maka ia lantas mengangguk dan menjawab, "Baiklah, boleh kau suruh dia naik saja!"

Kwa-Eng-seng lantas berkata kepada Kiam-eng dengan tertawa. "Nah, su-heng ku sudah terima tawaranmu, bolehlah aku naik kuda putih itu saja."

Girang sekali Kiam-eng, segera ia meraih tali kendali yang mengintil di belakang Ku-Tai-hong dan mencemplak ke atas kuda.

Kuda putih itu memang kuda tunggangannya, sekarang ia pinjam kuda dalam kedudukan sebagai suku bangsa setempat, tentu saja diam-diam ia merasa geli.

Melihat cara menunggang kuda Kiam-eng tidak tanggung, dengan tertawa Ku-Tai-hong tanya dia, "Hei, siapa namamu?"

"Aku she Peng dan bernama Tai-siu," jawab Kiam-eng dengan nama samaran perawat kuda di hotel Thian-ti yang pernah dikerjainya itu.

"Oo, di peternakan kuda mana di kota Thian-ti kamu bekerja?" tanya Ku-Tai-hong pula tanpa sangsi. "Oo, aku tidak bekerja melainkan menjadi perawat kuda di hotel Kun-beng-lo-can!" jawab Kiam-eng. "Oo, dan untuk apa kamu berada di sini?" tanya pula Ku-Tai-hong.

"Ada seorang kakekku tinggal di Tiong-ciong, aku minta cuti untuk menjenguk kakak," tutur Kiam-eng beralasan.

Begitulah empat orang berlima kuda makin lama makin cepat melarikan kudanya ke jurusan utara.

Sepanjang jalan, apabila Sih-Hou melampaui setiap orang, selalu ia berhenti mengamati orang lain itu. Dengan sendirinya mimpi pun tidak pernah mereka duga bahwa orang yang hendak mereka cari itu justru berada di samping mereka.

Semula Kiam-eng merasa tegang, tapi kemudian setelah mengetahui ke tiga lawan tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap dirinya, maka ia bertekad akan menunggu sampai di Thian-ti nanti baru akan berdaya untuk melepaskan diri.

Lohor hari ini mereka sampai di suatu dataran sunyi. Sih-Hou menoleh dan tanya Kiam-eng, "Hei, Peng- Tai-siu, apakah di sekitar sini ada pedusunan yang dapat dibuat tempat istirahat?"

"Tidak ada," jawab Kiam-eng. "Harus menempuh ratusan li lagi baru ada."

Sih-Hou lantas menghentikan kudanya di bawah pohon besar, aku tanya, "Kalau begitu, biarlah kita mengaso dulu di sini."

Mereka melompat turun kuda masing-masing, Sih-Hou menyerahkan kudanya kepada Kiam-eng, katanya dengan tertawa, "Nah, sekarang inilah waktunya kamu bekerja bakti."

Dengan senang hati Kiam-eng membawa ke lima ekor kuda itu ke sebuah sungai kecil dan membiarkan binatang tunggangan itu minum air, lalu membiarkan mereka makan rumput di tanah lapang.

Sih-Hou bertiga duduk santai di bawah pohon mereka mengeluarkan rangsum kering untuk isi perut. Hati Ku-Tai-hong ternyata tidak jelek, ia tanya Su-Kiam-ong, "Hai, Peng-Tai-siu, adakah kau bawa makanan?"

"Ada, bawa!" jawab Kiam-eng dari jauh. Lalu ia pun membuka rangselnya dan mengeluarkan rangsum untuk dimakan.

Tidak lama kemudian manusia dan kuda sama makan kenyang, Sih-Hou melompat bangun dan berseru, "Baiklah, sekarang kita berangkat!"

Kwa-Eng-seng masih duduk di tempatnya, katanya, "Su-heng, aku kira bocah itu mungkin tertinggal di belakang sana, bagaimana kalau kita tunggu lagi sebentar?"

"Tidak, bocah itu sudah mendahului kita meninggalkan pedusunan suku Pek-ih itu setengah harian, bila dia juga mendapatkan kuda, saat ini tentu sudah jauh di depan sana."

Habis berkata Sih-Hou lantas mencemplak ke atas kudanya.

Tidak berani membantah lagi, terpaksa si pedang perak dan pedang baja ikut naik kuda masing-masing dan rombongan mereka lantas melanjutkan perjalanan lagi.

Kira-kira beberapa li jauhnya, tiba-tiba memergoki tiga penunggang kuda dari depan.

Ke tiga penunggang kuda ini ternyata sudah kenal semua oleh Su-Kiam-eng, mereka adalah murid Tok- pi-sin-kun yaitu Ji-Liang, si harimau terbang putih, si macan tutul Tong-hong-Beng dan si cantik bulan purnama Tiau-Soat-lan.

Sebulan yang lalu, Tok-pi-sin-kun yang terpukul luka oleh Sam-bi-sin-ong, menurut Sam-bi-sin-ong katanya diperlukan istirahat setengah tahun baru luka Tok-pi-sin-kun dapat pulih kembali.

Sekarang sebulan baru lalu dan Ji-Liang bertiga muncul di sini, mungkin sekali luka Tok-pi-sin-kun sudah mulai sembuh, maka ke tiga muridnya diperintahkan ke selatan sini untuk mencari Su-Kiam-eng sekaligus menuntut balas terhadap Sam-bi-sin-ong, selain itu juga ikut dalam barisan perebut kota emas. Karena itulah diam-diam Kiam-eng terkesiap setelah mengenali ke tiga orang ini.

Cuma sekarang Kiam-eng dalam keadaan menyamar, ia yakin ke tiga orang itu tidak mungkin dapat mengenalnya, yang dikuatirkan bila Ji-Liang bertiga jadi bertarung dengan Sih-Hou bertiga, maka dirinya mungkin akan ikut terkena getahnya.

Benar juga begitu ke dua pihak sudah dekat, Ji-Liang bertiga lantas menghentikan kudanya, ke tiga orang berjajar di tengah jalan sehingga rombongan Sih-Hou terhalang.

Agaknya Sih-Hou bertiga juga mengenali Ji-Liang bertiga adalah murid Tok-pi-sin-kun, mereka pun berhenti, namun diam saja tanpa bersuara sikapnya tenang, seperti tidak memandang rombongan Ji- Liang sebagai lawan berat.

Setelah saling pandang dengan diam sejenak akhirnya Ji-Liang menjengek, "Hm, siang hari bolong kenapa pakai kedok segala apakah kalian dapat menanggalkan kain kedok?"

"Untuk apa?" Sih-Hou mendengus.

"Soalnya kami sedang mencari seorang," kata Ji-Liang. "Mencari siapa?" tanya Sih-Hou tertawa.

"Su-Kiam-eng!" jawab Ji-Liang.

"Hahaha, sungguh kebetulan, kami pun sedang mencari dia!" seru Sih-Hou.

Mendadak Ji-Liang menarik muka dan berkata, "Kalina mau menanggalkan kain kedok atau tidak?" "Hm, kau kira satu di antara kami ini Su-Kiam-eng, begitu?"

"Betul," Ji-Liang mengangguk.

"Lantaran muka kami tertutup kain, maka aku yakin satu di antara kami pasti Su-Kiam-eng? Hehe, sungguh lucu!"

Ji-Liang menuding kuda putih yang ditunggangi Su-Kiam-eng itu dan berkata, "Itu dia, kuda putih itu jelas aku kenal sebagai kuda Su-Kiam-eng!"

"Memang betul kuda itu milik Su-Kiam-eng, namun bocah she Su itu seharusnya menunggang kudanya kan?"

"Aku kira dia tidak punya keberanian begitu!" "Apa artinya?" tanya Sih Hou.

"Memangnya kamu tidak kenal kami bertiga?" jengek Ji-Liang.

"O, aku kenal kalian adalah murid Tok-pi-sin-kun!" jawab Sih-Hou.

"Jika begitu, tentu kau tahu keonaran yang dilakukan Su-Kiam-eng putar kami?" kata Ji-Liang.

Agaknya Sih-Hou sengaja hendak mengoceh lawan, ia menggeleng kepala dan berkata dengan tertawa, "Ah, maaf, kami tidak tahu keonaran apa yang diterbitkan Su-Kiam-eng di tempat kalian itu?"

Ji-Liang juga cukup licin, ia tidak mau menceritakan kejadian Su-Kiam-eng mengacau istana putar tempo hari, ia cuma menjawab, "Pendek kata, Su-Kiam-eng adalah orang yang harus kami binasakan."

"Kalau begitu jadi kita berdua pihak boleh dikatakan mempunyai tujuan yang sama," ujar Sih-Hou tertawa. "Bilamana Su-Kiam-eng dapat kami tangkap, tentu akan kami antar ke tempat kalian dan terserah cara bagaimana akan perlakukan dia."

"Agar kami dapat mempercayai perkataanmu, betapapun kalian harus menanggalkan dulu kain kedok kalian!" ucap Ji-Liang.

"Wah, cara ini kurang baik," kata Sih-Hou. "Sebab setelah kau lihat wajah kami maka seketika kalian harus binasa. Ini kan tidak untung bagimu?" Wajah Ji-Liang seketika berubah beringas, mendadak ia melompat turun dari kudanya dan melepaskan pedang lemas yang melibat di pinggangnya, bentuknya, "Nah, turun kemari, aku kira kalian takkan menitikkan air mata sebelum melihat peti mati!"

Serentak Tong-hong-Beng dan Tiau-Soat-lan juga ikut melompat turun dan melolos pedang siap tempur.

Sih-Hou bertiga saling pandang dengan tersenyum, dengan tenang mereka pun melompat turun dari kuda masing-masing dan melolos pedang dengan perlahan.

Kiam-eng berlagak takut dan menarik kudanya menyurut mundur hingga belasan meter jauhnya, lalu berdiri di sana dengan lagak gemetar.

Ji-Liang mendengus sekuatnya ia menyendal sehingga pedangnya yang lemas itu melurus tegak ia tuding Kiam-eng dan bertanya, "Ada apa dengan sahabat itu?"

"Dia bukan rombonganku dia cuma meminjam naik seekor kuda kami saja!" tutur Sih-Hou tertawa. "Hm, apa betul?" jengek Ji-Liang.

"Betul," Sih-Hou mengangguk. "Betapapun kalian juga murid perguruan ternama, seharusnya dapat kau lihat dia orang macam apa. Dia kan cuma seorang perawat kuda yang biasanya bekerja di Kun-beng-lo- can."

Ji-Liang mengamati Kiam-eng dengan sorot mata tajam, jengeknya kemudian, "He, hampir setiap pelayan dan pekerja di hotel Kun-beng-lo-can aku kenal, rasanya tidak pernah aku lihat orang seperti dia."

Tergetar hati Kiam-eng, cepat ia berseru "Omong kosong, sudah tiga-empat tahun aku bekerja sebagai perawat kuda tamu di Kun-beng-lo-can, masakah tidak kenal diriku?"

"Coba katakan, siapa namamu?" tanya Ji-Liang dengan melirik hina.

Diam-diam Kiam-eng menyesal telah mengaku bernama Peng-Tai-siu terpaksa ia menjawab, "Namaku Peng-Tai-siu, setiap tamu yang pernah tinggal di Kun-beng-lo-can tentu kenal padaku."

Ji-Liang menyangka tujuan Kiam-eng memalsukan nama Peng-Tai-siu hanya untuk menipu Sih-Hou bertiga dan tidak ada tujuan lain, tak diketahuinya bahwa dia justru adalah Su-Kiam-eng yang sedang dicarinya. Maka ia hanya mendengus saja setelah mendapat jawaban Kiam-eng itu, segera ia memandang Sih-Hou berkata pula, "Nah, boleh silakan memberi petunjuk beberapa jurus!"

Sih-Hou mengangguk, perlahan ia angkat pedang dan menuding dada Ji-Liang dari jauh, habis itu mendadak tubuhnya berputar, secepat kilat ia melompat balik ke sana, menerjang ke arah Su-Kiam-eng.

Perubahan mendadak ini membuat Ji-Liang bertiga melengong bingung.

Namun sebelum Su-Kiam-eng sudah tahu setelah Sih-Hoa mengikuti tanya-jawab antara Ji-Liang dengan dirinya, tentu sudah timbul curiga terhadapnya. Maka lebih dulu ia sudah waspada, dan begitu melihat gerak putar tubuh Sih-Hou, segera pula Kiam-eng ayun sebelah tangan sambil membentak, "Lihat pukulan!"

Berbareng itu ia pun putar kudanya, ke dua kaki mengempit kencang, serentak ia larikan kuda arah lain.

Memangnya kuda putih itu adalah kuda mestika seharian sanggup lari ribuan li, namun waktu lari pertama kecepatannya sukar melebihi kecepatan gerak tubruk seorang.

Namun waktu Kiam-eng ayun tangannya tadi sebuah granat berbau pedas telah dilemparkan, maka ketika Sih-Hou baru saja menerjang tiba terdengarlah suara ledakan dahsyat dan suasana pun serentak berubah sama sekali.

Asap hitam tebal dari ledakan itu segera menenggelamkan semua orang dalam lautan asap.

Lantaran sudah beberapa kali merasakan betapa lihainya granat berbau pedas itu, masih Sih-Hou bertiga terkejut, tapi juga tidak terlalu panik. Sebaliknya Ji-Liang bertiga menjadi kelabakan dan menjerit kuatir.

Di tengah kabut tebal itulah terdengar serentetan derap lari kuda, selagi semua orang berteriak panik, suara lari kuda itu semakin menjauh.

"Lekas kejar, bocah itu kabur!" teriak Sih-Hou.

Ji-Liang bertiga berulang-ulang bersin, tanyanya kemudian. "Siapa ... siapa bocah yang kau ... aciih ... yang kau maksudkan?"

"Dia itulah Su-Kiam-eng," jawab si pedang emas Sih-Hou. "Ahh, kiranya dia Su-Kiam-eng yang kita cari!".

"Wah, kejar, lekas susul dia!"

Namun ketika mereka dapat menenangkan diri dan membawa kuda mereka yang kaget meninggalkan lautan kabut, sementara itu Su-Kiam-eng sudah berada ratusan meter jauhnya.

Segera mereka membedal kuda dan mengejar mati-matian. Su-Kiam-eng juga melarikan kudanya secepat terbang. Karena kuda putih itu memang kuda mestika, kecepatan larinya jarang ada bandingannya, maka jarak antara Kiam-eng dan para pengejarnya semakin jauh, tidak lama kemudian Kiam-eng telah jauh meninggalkan mereka."

- * -

Dua bulan kemudian, suatu pagi hari, sampailah Kiam-eng di tanah air sendiri, di daerah Tiong-goan, di tepi danau Tong-ting yang luas itu.

Ia titip kudanya pada sebuah rumah penginapan, lalu menyewa perahu mengarungi danau Tong-ting, menuju ke Li-hun-to, pulau yang terletak di tengah danau.

Menjelang lohor, sampailah perahunya di pulau kecil itu.

Setelah membayar sewa perahu, secepat terbang ia lari ke tengah pulau. Tapi baru melintasi suatu tanah tanjakan, tiba-tiba terdengar suara desing busur, mendadak berpuluh anak panah serupa hujan menghambur ke arahnya.

Kejadian tak terduga ini membuat Kiam-eng terkejut, cepat ia melompat dan sembunyi di balik sebuah batu karang, lalu berteriak, "Jangan lepas panah! Aku Su-Kiam-eng, khusus datang untuk menyambangi Leng-to-cu kalian!"

Mungkin kawanan perempuan cacat yang tinggal di Li-hun-to sudah kenal nama Su-Kiam-eng, maka teriakan anak muda itu mereka tidak membidikkan panah lagi, segera suara seorang perempuan bergema dari dalam hutan sana, "Jika benar engkau Su-siau-hiap, silakan tampil ke depan, biar kami lihat dulu!"

Dalam perjalanan pulang ini Su-Kiam-eng sudah beberapa kali ganti rupa dengan kepandaian yang khas merias wajahnya, sekarang ia pun belum memulihkan wajah aslinya. Maka cepat ia membusuk mukanya hingga bersih dari polesan lalu muncul dari tempat sembunyinya.

Mungkin kawanan perempuan yang sembunyi di tengah hutan itu dapat mengenali dia sebagai Su-Kiam- eng, segera ada yang berseru, "Baiklah, silakan Su-siau-hiap tunggu sebentar, biar kami lapor dulu kepada Te-cu!"

Jelas nadanya sudah berubah hormat, namun mereka tetap tidak memperlihatkan diri.

Kiam-eng tahu Li-hun-to biasanya dilarang didatangi oleh kaum lelaki, maka ia tidak heran, bila diperlakukan dingin oleh lawan. Setelah mendengar ucapan lawan tadi, ia hanya tersenyum dan berdiri menunggu di situ dengan tenang.

Kedatangannya ke Li-hun-to ini bertujuan menjelaskan kepada Li-hun-to-cu Leng-Jing-jing tentang pengalamannya di kota emas itu, sebab ia pernah berjanji kepada Leng-Jing-jing bilamana menemukan kota emas, ia mau menyumbangkan seluruh harta benda yang diperoleh dari kota purba itu untuk dana kesejahteraan ribuan orang perempuan cacat di pulau itu.

Usahanya ternyata belum berhasil, maka ia merasa perlu memberi penjelasan kepada Leng-Jing-jing. Begitulah setelah menunggu sekian lama, terlihat Li-hun-to-cu Leng-Jing-jing yang ke dua mata-buta itu bergegas datang didampingi dua orang perempuan cacat yang lain.

Wajah Li-hun-nio-nio tampak menampilkan rasa girang, dengan langkah cepat ia mendekati Su-Kiam- eng dan memberi salam hormat, "maaf bila kedatangan Su-siau-hiap ini tidak sempat kami sambut dengan selayaknya!"

Kiam-eng membalas hormat dan menjawab, "Ah, terima kasih. Apakah Leng-to-cu baik-baik saja selama berpisah?"

Terkilas senyuman getir pada wajah Li-hun-nio-nio, jawabnya, "Terus terang, kurang baik!" "Oo," Kiam-eng terkesiap. "Adakah sesuatu kejadian yang tidak berkenan di hati Leng-to-cu"

"Tempat ini bukan tempat bicara yang layak silakan Su-siau-hiap duduk di rumah saja dan nanti kita bicara lebih lanjut," kata Li-hun-nio-nio dengan tersenyum.

"Baiklah, silakan!" Kiam-eng menyilakan tuan rumah.

Akan tetapi Leng-Jing-jing juga menyilakan dengan hormat. Setelah beramah-tamah ke dua nya lantas menuju ke tengah pulau dengan jalan berjajar.

Berada di bawah pimpinan Leng-Jing-jing Li-hun-to dibenahi hingga indah permai serupa sebuah taman alam. Namun sekarang dirasakan oleh Su-Kiam-eng di mana-mana terdapat pos penjagaan, perempuan yang dilihatnya sepanjang jalan semuanya bersenjata dan siap siaga serupa lagi menghadapi kedatangan musuh. Mau tak mau ia menjadi heran, ia pikir jangan jangan Li-hun-to segera akan diserang pihak musuh?

Beberapa kali ia bermaksud minta keterangan cuma dirasakan sebagai tamu yang baru saja bertandang, rasanya tidak sopan untuk banyak tanya ini dan itu.

Begitulah rombongan mereka lantas masuk ke ruang pendopo, segera pelayan menyuguhkan minuman, Li-hun-nio-nio mendahului bicara, "Su-siau-hiap ternyata, seorang yang suka pegang janji. Dan entah bagaimana dengan hasil perjalananmu ke kota emas itu?"

Kiam-eng menghela napas perlahan, tuturnya, "Pujian Leng-to-cu terhadap diriku sebagai orang yang suka janji sungguhan membuatku merasa malu."

Li-hun-to-cu tampak merasa agak kecewa, ucapnya, "Su-siau-hiap berkata demikian, jangan-jangan karena kota emas itu tidak ditemukan?"

"Tidak, kota emas itu telah aku temukan," kata Kiam-eng. "Cuma sayang aku tidak mampu menepati janjiku terhadap Leng-to-cu dahulu."

"Maksudmu harta benda di kota kuno itu sudah direbut orang?" tanya Li-hun-to-cu dengan terkesiap. "Ya, seluruhnya direbut orang," Kiam-eng mengangguk.

"Siapa perampas itu?" tanya Li-hun-nio-nio.

"Seorang berkedok kain hijau yang mengaku sebagai 'Raja Rimba'," tutur Kiam-eng. "Oo, Raja Rimba?" Li-hun-nio-nio menegas dengan tercengang.

"Betul, tapi sebutan lawan ini jelas sengaja dibuat-buat, sebenarnya dia orang Tiong-goan, harap Leng- to-cu ikuti ceritaku ini ..."

Agar orang dapat mengikuti kejadian seluruhnya dengan jelas, Kiam-eng mulai ceritanya dengan pembelian kuda putih mestika di tengah perjalanan itu, bagaimana berkenalan dengan Ih-Keh-ki dan menyelamatkan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, lalu cara bagaimana ia menyamar sebagai Oh-tok-hong dan menyusup ke istana putar.

Tok-pi-sin-kun, kemudian dapat merebut kembali peta asli dan bersama Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li serta Ih-Keh-ki menuju ke daerah selatan yang masih liar itu.

Setelah berada di tengah rimba raya purba, cara bagaimana mengalami berbagai bahaya dan akhirnya dapat mencapai kota emas. Lalu cara bagaimana menyingkap rahasia si orang berkedok hitam ternyata samaran Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, kemudian cara bagaimana ke-18 buah patung emas, dan untuk ke dua kalinya ketika ia masuk ke kuil raksasa diketahui ke semua patung emas telah diangkut bersih oleh si orang berkedok hijau. Semuanya ia kisahkan dengan jelas. 

Air muka Li-hun-nio-nio berubah-ubah mengikuti jalan cerita Su-Kiam-eng itu, di antaranya yang paling membuatnya terkejut dan tak terduga adalah kemunculan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho sebagai orang berkedok hitam dan menggunakan Gak-Sik-lam sebagai sandera serta bermaksud merebut kota emas itu.

Setelah mengikuti cerita Su-Kiam-eng itu, ia terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan berkata, "Perjalanan Su-siau-hiap ke daerah selatan ini sungguh suatu pengalaman yang luar biasa lagi orang hidup."

"Betul, di sana telah aku saksikan sisi manusia yang paling memalukan dan paling menakutkan!" ucap Kiam-eng dengan tersenyum getir.

"Mendingan aku terima nasihat Su-siau-hiap dan membatalkan perjalanan ke selatan, kalau tidak, tentu aku pun sukar terhindar daripada nasib terkubur di wilayah yang masih biadab itu," kata Li-hun-nio-nio.

"Sejauh ini aku rasakan harta karun di sana seyogianya menjadi bagian ribuan penghuni pulau To-cu ini," ucap Kiam-eng. "Namun usahaku ternyata gagal, sungguh aku merasa malu ... "

"Ah, janganlah Su-siau-hiap berkata demikian," cepat Li-hun-to-cu memotong. "Harta benda itu memang bukan milik kami, sekarang Su-siau-hiap sudi berkunjung kemari untuk memberi penjelasan pengalaman perjalananmu, melulu hal ini saja sudah cukup membuktikan kebesaran jiwa Su-siau-hiap yang luhur dan patuh pada janji yang pernah diucapkan. Untuk itu, biarlah atas nama ribuan perempuan cacat penghuni pulau ini aku sampaikan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap Su-siau-hiap."

Berkata sampai di sini, segera ia berbangkit dan hendak menyembah kepada Su-Kiam-eng.

Cepat anak muda itu bertanya dan berseru, "Wah, janganlah Leng-to-cu berlaku demikian, betapapun aku malu untuk menerima penghormatan sebesar api."

Setelah Li-hun-nio-nio duduk kembali, segera memerintahkan pelayan menyingkap perjamuan, lalu tanya pula terhadap Su-Kiam-eng, "Apakah Su-siau-hiap sudah bertemu dengan gurumu?"

"Betul, makanya aku pikir segera akan berangkat pulang ke Bu-lim-teh coh untuk menemui Su-hu," jawab Kiam-eng.

"Berangkatlah setelah dahar," pinta Li-hun-nio-nio. "Hanya perjamuan siang saja aku layani Su-siau- hiap, sesudah itu andaikan Su-siau-hiap tak mau berangkat juga terpaksa akan aku usir."

Kiam-eng menyangka orang cuma bercanda saja, ia tersenyum dan berkata. "Aku tahu, mungkin selamanya pulau To-cu ini tidak pernah menerima tamu lelaki, apalagi sampai bermalam di sini."

"Bukan begitu soalnya," tutur Li-hun-nio-nio. "Aku tidak berani menahan Su-siau-hiap bermalam di sini oleh karena ada alasan lain."

Melihat orang bicara dengan serius, segera Kiam-eng teringat kepada keadaan siaga yang dilihatnya tadi, ia coba tanya, "Apakah Leng-to-cu dapat memberitahukan alasannya?"

Li-hun-nio-nio termenung sejenak, lalu berucap dengan prihatin, "Boleh juga aku beritahu, namun Su- siau-hiap harus berjanji suatu hal padaku."

"Leng-to-cu minta janji harus apa dariku?" tanya Kiam-eng.

"Su-siau-hiap harus berjanji takkan ikut campur urusan orang lain."

"Asalkan Leng-to-cu tidak berbuat sesuatu yang tidak benar atau membantu pihak yang jahat, dengan sendirinya aku tidak perlu ikut campur urusanmu ... Apakah hari ini Leng-to-cu akan kedatangan tamu?"