Rahasia 180 Patung Emas Jilid 17

 
Jilid 17 

"Baiklah, biar aku tinggal saja di kuil ini," Kalina mengangguk.

"Paling lambat kami akan pulang pada waktu hari mulai gelap, maka jangan kamu sembarangan ke luar," pesan Kiam-eng.

"Ya, aku tahu, engkau jangan kuatir," jawab Kalina.

Kiam-eng merasa si nona sangat penurut diam-diam timbul rasa suka nya, ia coba pegang tangan si nona yang halus itu, ucapnya lembut, "Sekarang jangan bicara lagi, tidurlah sebaiknya."

Kalina bersuara perlahan dan sekalian menjatuhkan diri ke dalam pangkuan anak muda itu ... Setengah malaman itu berlalu tanpa terjadi sesuatu.

Malam gelap berganti remang fajar lagi, samar-samar keadaan sekitar kuil tempat mereka bermalam ini sudah mulai tampak. Bagian belakang kuil terlihat rada luas, yang dipuja di atas altar adalah patung yang duduk dengan badan telanjang kecuali patung ini tidak ada benda lain lagi dalam kuil ini. Melihat kotoran lembab yang tebal memenuhi lantai, jelas segala benda yang menghias kuil ini dahulu sudah lapuk semua menjadi tanah.

It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong semalaman hanya duduk semadi, ketika terdengar suara kicau burung dari luar kuil baru diketahui hari sudah menjelang pagi. Keduanya serentak membuka mata bersama.

Sekilas mereka melihat patung yang dipuja di kuil ini, serentak mereka melompat bangun ke sana untuk meraba badan patung, air muka yang semula menampilkan rasa girang dan bersemangat itu seketika buyar lagi dengan rasa kecewa.

"Hm, kembali patung batu ..." gumam mereka kesal.

Si pengemis tua mengulet kemalasan dan berdiri katanya, "Pek-li-Pin, mungkin pada waktu tidur pun selalu kau pikirkan ke-180 patung emas itu?"

"Memangnya Ang-heng sendiri tidak ingin melihat patung-patung emas itu?" jawab Sam-bi-sin-ong dengan menyengir.

"Sudah tentu aku pun ingin tahu cuma tidak ada niatku untuk berebut dan memilikinya," ujar pengemis tua.

"Jiwa luhur Ang-heng sungguh aku harus mengaku malu dan tidak sanggup mengikuti namun setiap benda di kota kuno ini kan tidak ada pemiliknya, apa salahnya jika kita mengambilnya?"

It-sik sin-kai tidak ingin banyak omong dengan dia, ucapnya dengan tertawa, "Betul juga ucapanmu. Cuma semalam sudah aku pikirkan dengan masak, aku kira ke-180 buah patung emas dan kuil yang dibangun dengan emas itu sangat mungkin sudah diusung pergi oleh orang."

"Berdasarkan apa Ang-heng berpikir begitu?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Sangat sederhana," tutur it-sik-sin-kai, "Orang berkedok hijau itu mengaku sebagai Raja Rimba, ini menandakan dia adalah kelahiran dan dibesarkan di tempat ini. Kau percaya tidak pada hal ini?"

"Tidak, dia dan ke tiga anak buahnya itu jelas orang dari Tiong-goan," jawab Sam-bi-sin-ong sambil menggeleng.

"Itu dia, kalau benar mereka orang Tiong-goan pula pada waktu Gak-Sik-lam datang kemari mereka sudah berkeliaran di sini, setelah mengalami waktu sekian lama, biarpun seluruh benteng kuno ini terbangun dari emas tentu juga sudah mereka boyong hingga bersih."

"Hahh, masa bisa jadi begitu?" Sam-bi-sin-ong melengong. "Memangnya kau kira takkan terjadi begitu?" ujar si pengemis tua.

Sam-bi-sin-ong mondar-mandir dengan gelisah akhirnya ia menggeleng kepala dan berkata, "Tidak tidak mungkin ... "

"Tidak mungkin bagaimana?" tanya si pengemis tua dengan tertawa.

"Aku yakin patung emas itu masih berada di benteng kuno ini," ucap Sam-bi-sin-ong dengan pasti. "Apa dasarnya, coba ingin aku dengar pendapatmu?" kata pengemis tua.

"Dalil ini sangat sederhana. Apabila segenap emas di sini sudah diangkut pergi oleh si orang berkedok hijau buat apa lagi ia tetap tinggal di sini?"

"Tujuannya tinggal di sini merintangi Su-lau-te yang hendak mengambil Jian-lian-hok-leng itu," ujar It- sik-sin-kai.

Tapi Jian-lian-hok-leng itu akan disembunyikan di dalam salah sebuah daripada ke-180 patung emas itu?" sampai di sini Sam-bi-sin-ong berpaling dan tanya Kiam-eng, "Betul tidak, Su-lau-te?"

"Betul, dari mana kau tahu?" jawab Kiam-eng. "Pernah aku dengar dirimu," kata Sam-bi-sin-ong.

"Apa betul? Seingatku tidak pernah aku beritahukan kepadamu?" ujar Kiam-eng dengan tercengang.

Sam-bi-sin-ong angkat dan berucap, "Tempo hari waktu kau bicara dengan nona Ih, diam-diam aku sembunyi dan mendengarkan di dekat kalian."

"Oo, kiranya begitu, mungkin mengenai Jian-lian-hok-leng itu disembunyikan di dalam patung ke berapa juga sudah kau ketahui?" kata Kiam-eng. Sam-bi-sin-ong menggeleng dengan tertawa jawabnya, "Wah, itu sih tidak aku ketahui. Cuma tujuanku tidak terletak pada Jian-lian-hok-leng, hendaknya kamu jangan kuatir."

Lalu ia berpaling dan berkata kepada It-sik-sin-kai, "Nah, dalilku ini cukup untuk membantah dugaanmu tadi atau tidak?"

"Belum cukup, sebab si orang berkedok belum tentu tahu Jian-lian-hok-leng disembunyikan di dalam salah sebuah patung emas." kata si pengemis tua.

Sam-bi-sin-ong melengak, "Oo, makanya dia tidak rela meninggalkan benteng kuno ini?"

"Begitulah sedangkan tujuannya menculik nona Ih justru hendak menunggu kalau Su-lau-te sudah menemukan Jian-lian-hok-leng nanti, dengan ancaman akan membunuh nona Ih, Su-lau-te hendak dipaksa menyerahkan bahan obat mujijat itu."

"Wah, jika begitu, kita justru dapat berlagak hendak mencari patung emas itu secara terang-terangan," gumam Sam-bi-sin-ong.

"Biarpun begitu, tentu orang itu pun dapat berpikir bilamana kita bertiga dapat dibunuh, tentu akan jauh lebih baik daripada memaksa Su-lau-te menyerahkan Jian-lian-hok-leng, sebab orang yang sudah terbunuh pun takkan menimbulkan lagi bencana di kemudian hari."

"Menurut pendapatmu, lalu cara bagaimana harus bertindak?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Menurut perkiraanku, tentang ke-180 patung emas itu sudah diangkut pergi oleh si orang berkedok atau belum, ini memang belum jelas. Maka kita tidak boleh tinggal diam dan harus tetap melacaknya, adapun cara mencarinya tetap harus lakukan secara diam-diam di luar tahu lawan."

"Cara bagaimana supaya tidak dilihat lawan?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Kita bertiga boleh mencarinya secara berpencar dan sedapatnya jangan sampai diketahui musuh. Kota kuno ini sangat luas, pula lebat dengan pepohonan, sedangkan pihak lawan cuma ada lima orang, asalkan kita berlaku sedikit cerdik, belum tentu lawan akan dapat menemukan kita," bicara sampai di sini si pengemis tua berpaling dan tanya Kiam-eng, "Bagaimana pendapatmu, Su-lau-te?"

Yang paling dikuatirkan Su-Kiam-eng sekarang adalah tentang kebenaran ke-180 patung emas yang mungkin sudah diangkut pergi oleh si orang berkedok hijau itu, soal cara bagaimana bertindak dan bahaya yang akan dihadapi tidaklah membuatnya gentar. Maka ia mengangguk dan menjawab, "Baiklah, biar kita mencarinya secara terpencar apakah akan berhasil atau tidak, paling lambat saat magrib besok kita tetap berkumpul lagi di sini."

Selesai mengambil keputusan, mereka berempat lantas makan kenyang babi panggang yang masih ada, setelah Kiam-eng memberi pesan lagi seperlunya kepada Kalina, lalu mereka bertiga mengulur ke luar dari kuil itu dari tiga buah pintu yang tidak sama.

Karena fajar baru saja, menyingsing, di luar kuil masih diliputi kabut yang tebal. Setelah keluar dari kuil itu, dengan cepat Kiam-eng menyusup ke dalam hutan dan berjongkok di tengah semak-semak untuk mendengarkan dengan cermat, setelah tidak mendengar sesuatu suara yang mencurigakan barulah ia meloncat ke atas pohon.

Ia merasa untuk menghindarkan mata-telinga musuh, cara terbaik adalah menggunakan rerimbunan hutan itu untuk menutupi gerak-geriknya. Serupa kera saja manjat pohon dan melayang dari satu pohon ke pohon yang lain.

Ketika melompat ke atas pohon tadi sekilas terpikir olehnya, "Ah, kenapa tidak aku gunakan daun pohon untuk menutupi tubuhku, jika berjalan di tanah datar juga tidak mudah diketahui musuh."

Berpikir begitu, ia lantas menebas beberapa ranting pohon berdaun dan digunakan untuk mengelilingi tubuhnya, lalu dibedolnya akar-akaran untuk menutup kepala dan kaki, hanya sebentar saja ia sudah berubah bentuk serupa orang liar.

Kemudian ia mulai merenung, ke mana sekiranya dia harus melacak?

Ke-180 buah patung emas itu bukanlah benda kecil, semalam dia sudah banyak menjelajahi berbagai tempat dan belum menemukan sebuah patung pun. Jika patung-patung itu masih berada di kota kuno ini, tentu terbayang di dalam kuil atau di dalam pagoda. Jika demikian halnya, lantas kuil atau pagoda mana yang besar kemungkinan dijadikan tempat penyimpanan patung emas sebanyak itu?

Teringat olehnya kuil yang ditemuinya pertama semalam itulah bangunan terbesar di benteng kuno ini, sangat mungkin ke-180 patung emas itu terletak di kuil itu.

Berpikir sampai di sini, segera Kiam-eng melompat jauh ke sana dan langsung menuju ke kuil yang dimaksud.

Setiap kali ia melintasi sebatang pohon tentu dia berhenti untuk mendengarkan dengan cermat, ketika yakin di sekitarnya tidak ada musuh dan bila ada tiupan angin yang menimbulkan suara gemersik daun barulah ia melayang lagi ke pohon yang lain.

Akhirnya, dalam keadaan tak diketahui setan sekali pun dia sampai di atas wuwungan kuil raksasa itu.

Ia mendekam diam di atas wuwungan kuil, setelah yakin pula di sekitarnya tidak ada musuh, selagi ia hendak melompat turun melalui ruang terbuka di halaman tengah, tiba-tiba terdengar suara orang bicara berkumandang dari depan kuil sana.

"Haha, Lo-toa, meski kita tidak memegang pita, akhirnya kita pun dapat mencapai benteng emas ini! "Memang, coba kau lihat bangunan raksasa ini, sesungguhnya sebuah puri atau sebuah kuil?" Tergetar hati Kiam-eng, tanpa melihat pun ia tahu itulah Kui-kok-ji-bu-siang.

Ia coba merambat ke tepi atap kuil dan mengintip ke bawah, terlihat kedua setan kayu dan lempung itu berdiri berjajar di tanah rumput di depan kuil besar itu dan sedang memandang kemegahan bangunan kuno ini dengan tercengang.

Saat itu terdengar si setan lempung sedang bicara, Sungguh aneh, kalau dibilang sebuah puri, mengapa tidak ada tembok sekitar. Kalau dikatakan kuil, ternyata di sekitar sini ada parit pelindung puri."

Diam-diam Kiam-eng merasa geli oleh komentar orang dogol itu, sebab apa yang dikatakan si setan lempung sekarang serupa benar dengan apa yang diucapkan It-sik-sin-kai kemarin.

Tertampak si setan kayu tepekur sejenak, lalu berkata, "Ya, juga sangat aneh benteng kuno ini disebut kota emas, padahal, coba kau lihat, bangunan ini kan dibuat dari batu belaka!"

"Betul," ujar si setan lempung, "cuma apa yang disebut kota emas kan tidak mesti terbuat dari emas seluruhnya. Yang kita lihat sekarang baru bangunan besar ini bisa jadi masih ada kuil dan ke-180 patung besar yang terbuat dari emas murni siapa tahu?"

"Eh, bagaimana kalau kita coba masuk ke sana untuk melihat keadaannya," kata si setan kayu. "Baiklah, mari kita masuk ke sana," si setan lempung mengangguk setuju.

Bicara sampai di sini mereka lantas melangkah maju bersama melintas sebidang tanah berumput dan mulai mendaki undak-undakan kuil menuju ke pintu depan.

Diam-diam Kiam-eng merasa senang melihat mereka masuk melalui pintu besar, ia pikir kedua setan dogol itu belum tahu adanya seorang yang menamakan dirinya sebagai "raja rimba" sekarang mereka masuk begitu saja, jika kebetulan si orang berkedok hijau dan anak buahnya berada di dalam kuil, maka pasti akan terjadi pertarungan pendahuluan.

Selagi berpikir, sekonyong-konyong terdengar si setan lempung menjerit kaget. Lalu terlihat kedua orang dogol itu melompat mundur ke luar secepat kilat. Ketika sudah hinggap di dekat undak-undakan batu air muka mereka kelihatan kaget dan heran.

Habis itu empat orang berkedok lantas muncul dari dalam kuil dan berdiri berhadapan dengan Kui-kok-ji- bu-siang.

Memang tidak salah lagi, ke empat orang berkedok hijau yang menyebut dirinya sebagai "Raja Rimba" beserta ke tiga anak buahnya, yaitu si pedang emas, pedang perak dan pedang baja. Sikap ke empat orang itu tetap garang dan menakutkan. Ji-bu-siang memandang mereka dengan curiga dan heran, perlahan si setan kayu pulih ketenangannya, tegurnya sambil menatap tajam si orang berkedok hijau, "Siapa engkau ini?"

"Raja Rimba!" jawab orang berkedok hijau itu dengan dingin.

Si setan kayu melengak, ucapnya dengan tidak mengerti, "Apa artinya raja rimba itu?"

"Aku menguasai segenap suku bangsa di daerah masih biadab ini dan segala jenis binatang buas, maka disebut raja rimba!"

"Hehe, maksudmu, kota emas ini pun termasuk dalam wilayah kekuasaanmu?" si setan kayu menegas dengan tertawa.

"Betul," si orang berkedok hijau mengangguk. "Maka barang siapa sembarangan menerobos ke wilayah kekuasaanku, semuanya harus mati."

Si setan kayu terkekeh, umpatnya, "Kentut busuk makmu! Jika kamu ini raja rimba segala, maka aku pun dapat menyebut diriku sebagai kakek moyangnya rimba ini!"

Si orang berkedok melangkah maju dua-tiga tindak, ucapnya dengan tertawa seram, "Hehe, tampaknya kalian takkan menitikkan air mata sebelum melihat peti mati. Pendek kata tidak perlu banyak bacot lagi, boleh kalian maju saja sekaligus."

Si setan kayu mengangkat alis, ucapnya dengan tertawa, "Hah, memangnya kamu ini ingin melawan kami berdua?"

"Betul dalam seratus jurus akan aku cabut nyawa tikus kalian berdua!" jengek si orang berkedok hijau. "Aha, barangkali kamu belum tahu siapa kami ini ya?" jawab si setan kayu dengan sorot mata tajam. "Tidak aku justru kenal kalian ini Kui-kok-ji-bu-siang, betul tidak?" kata si kedok hijau.

Seketika lenyap tertawa si setan kayu, katanya terkesiap, "Jika begitu, apakah kau tahu bahwa di dunia ini yang mampu mengalahkan kami berdua hanya Kiam-ong Ciong-Li-cin dan Kiam-ho Lok-Cing-hui saja?"

"Aku tahu," jawab si kedok hijau. "Tapi sebaliknya dalam seribu jurus aku dapat mengalahkan Kiam-ho dan Kiam-ong."

"Cis, omong kosong," damprat si setan kayu. "Kalau mau membual hendaknya lihat gelagat. Justru murid Kiam-ho yang bernama Su-Kiam-eng sekarang sudah berada di kota emas ini."

Si kedok hijau terbahak-bahak sambil menengadah, "Hahahaha! Aku tahu, tidak cuma Su-Kiam-eng saja, bahkan It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong juga sudah berada di sini. Akan tetapi sekarang mereka justru serupa kura-kura, mengeret dan tidak berani memperlihatkan tampangnya."

Si setan kayu tergetar, tanyanya dengan terbelalak, "Sesungguhnya siapakah anda ini sehingga berani omong besar begini?"

"Jika kalian Ji-bu-siang tidak percaya aku ini raja rimba, silakan turun tangan dan coba membuka kain penutup mukaku, kenapa mesti banyak bertanya?" kata si orang berkedok hijau. "Baik, tapi sebelum turun tangan, ingin aku minta sedikit keterangan lagi," ucap si setan kayu dengan rada gemetar.

"Lekas bicara," jengek orang berkedok hijau.

"Jika kau sebut dirimu sebagai raja rimba, tentu kau tahu benar sejarah kota emas ini," tanya si setan kayu. "Nah ingin aku tanya bilakah kota emas ini dibangun dan siapa pendirinya?"

Kota emas ini semula bernama Uko, dibangun lebih seribu tahun yang lalu oleh orang Kimi, mereka banyak menyerap kebudayaan barat dan mendirikan negara dengan nama Kamboja. Nah, apalagi yang ingin kau tanya?"

"Kemudian, ke mana perginya penghuni kota kuno ini?" tanya si setan kayu. "Hal ini tidak aku ketahui," jawab orang berkedok sambil menggeleng. Si setan kayu menuding kuil dan bertanya pula, "Menurut pendapatmu, bangunan ini puri atau kuil?" "Kuil," jawab orang berkedok. "Kuil tempat upacara."

"Wah, di dunia ini ternyata ada kuil upacara sebesar ini?" ucap si setan kayu dengan tercengang. "Nah, sudah habis belum bicaramu?" tanya si orang berkedok dengan tidak sabar.

"Belum, ingin aku tanya satu hal lagi," kata si setan kayu. "Apakah benar di kota kuno ini ada 180 buah patung emas dan istana yang dibangun dengan emas murni?"

"Benar, malah banyak lagi wuwungan kuil yang di hias dengan batu manikam yang tak terkira jumlahnya," sahut si orang berkedok.

"Dan semua benda mestika itu telah kau ambil semua?" tanya setan kayu.

"Betul, sebab aku lah yang pertama menemukan kota kuno ini, maka segala apa yang terdapat di sini adalah milikku," ucap si orang berkedok tegas.

"Omong kosong," seru si setan kayu dengan melotot. "Harta karun tanpa tuan, barang siapa melihatnya mendapat bagian. Mana boleh kau kangkangi sebagai milikmu sendiri?"

"Memangnya kalian juga ingin mendapat bagian?" jengek si orang berkedok hijau.

"Ya, setelah masuk gunung berharta karun, mana boleh pulang dengan tangan hampa, memang harus kau bagi sedikit kepada kami," seru si setan kayu.

"Betul juga ucapanmu, cuma perlu kau tanya dulu apakah tanganku ini setuju atau tidak," ujar si orang berkedok dengan mengangkat ke dua tangannya.

Si setan kayu mendengus, ia berpaling dan berucap kepada saudaranya, "Lo-ji, jauh-jauh kita ke sini dengan menghadapi berbagai bahaya, jerih payah kita ini tidak boleh tersia-sia, betul tidak?"

"Ya, tentu," sahut si setan lempung. "Setiap urusan yang sudah kita campur tangan tidak pernah ditinggalkan setengah jalan. Dengan sendirinya sekali ini juga tidak terkecuali."

Seketika wajah si setan kayu berubah beringas, ke sepuluh jarinya juga lantas mengeluarkan suara gemertak, ucapnya dengan menyeringai, "Jika begitu, marilah kita coba belajar kenal dengan orang yang mengaku sebagai raja rimba ini."

Sembari bicara ia pun menatap si orang berkedok hijau dan bertanya, "Tapi kau bilang seluruh harta karun di kota kuno ini sudah kau temukan jika begitu, mengapa engkau masih tinggal di sini, dan tidak mau angkat kaki?"

"Boleh juga aku beritahukan padamu," jawab si orang berkedok. "Banyak harta pusaka di kota ini yang telah aku angkat pergi, namun ke-180 patung emas itu lantaran mendadak timbul sesuatu di luar dugaan dan tidak dapat segera aku boyong pergi, maka sejauh ini aku masih tinggal di sini."

Mendengar bahwa ke-180 patung emas masih berada di kota kuno ini, Ji-bu-siang merasa senang, cepat si setan lempung bertanya, "Timbul sesuatu apa di luar dugaan?"

"Hm, mengapa harus aku beritahukan padamu?" jengek si orang berkedok.

Si setan lempung menuding kuil dan bertanya pula, "Apakah ke-180 patung emas itu tersimpan di dalam rumah pemujaan itu?"

"Betul, asalkan kalian mampu membunuhku, tentu dapat kalian memilikinya," ujar si kedok hijau dengan tertawa.

Segera si setan lempung berkata kepada kawannya, "Lo-toa, harta pusaka sudah berada di depan mata apa lagi yang kita tunggu?"

Habis bicara segera ia mulai melangkah maju ke arah si orang berkedok.

Kiam-eng mendekam di atas wuwungan kuil melihat sampai di sini ia tidak berani mengintip lebih lanjut, sebab ia tahu Ji-bu-siang pasti bukan tandingan si orang berkedok hijau, paling banyak beberapa puluh gebrakan saja Ji-bu-siang pasti akan dilukai kalau tidak terbinasa. Padahal kesempatan sekarang sukar dicari lagi, kalau dirinya tidak segera masuk ke dalam kuil untuk mencari patung emas dan mengambil Jian-lian-hok-leng, kelak mungkin tidak ada kesempatan lagi.

Karena itu, ketika melihat Ji-bu-siang mendekati si orang berkedok, cepat ia menyurut mundur dan coba melongok halaman tengah kuil, terlihat di bawah sana ada sebuah kamar besar, ia membuang ranting pohon dan akar-akaran yang membungkus tubuhnya, pedang dilolos dan segera ia lompat turun.

Di sekeliling dinding kamar batu itu juga banyak ukiran indah, namun tidak ada sesuatu benda lain, di lantai juga penuh debu tebal, jelas segala alat perabot yang pernah menghias ruangan ini pun kini sudah lapuk dan berubah menjadi debu.

Karena sejak tadi tidak terlihat munculnya Sai-hoa-to, Kiam-eng menduga si tabib sakti mungkin sembunyi di dalam kuil ini, maka ia tidak berani sembrono, dengan berjingkat ia coba mendekati satu- satunya pintu kamar batu itu.

Sesudah dekat, ia coba mengintai ke dalam, dilihatnya di balik pintu adalah sebuah serambi panjang, di kedua samping serambi banyak pula pintu batu bentuknya serupa pintu batu di mana ia berdiri sekarang. Sebab itulah ia menduga kamar-kamar ini dahulu tentu adalah kamar tidur para padri atau penghuni kuil ini.

Melihat di serambi panjang itu tidak ada orang segera Kiam-eng menyelinap ke luar, dengan gin-kang yang tinggi ia lari ke bagian dalam kuil itu. Sepanjang serambi itu pun penuh kotoran yang lembab, agar tidak meninggalkan jejak, maka ia gunakan gin-kang yang tinggi untuk melayang maju.

Setelah beberapa puluh meter jauhnya, ia tiba di suatu persimpangan jalan, ia coba celingukan ke kanan dan ke kiri, dilihatnya keadaan sama pula serambi yang panjang dengan kamar yang tak terhitung jumlahnya.

Diam-diam ia kagum dan gegetun, ia pikir kamar sebanyak ini bilamana dahulu digunakan sebagai kamar tidur kaum padri, maka betapa banyak kawanan padri di kuil ini, mungkin berjumlah dua-tiga ribu orang.

Ia taksir pendopo kuil ini seyogianya terletak di ujung serambi sebelah kiri, maka ia lantas belok ke kiri.

Karena dia sudah berada di bagian dalam kuil, maka meski pada waktu siang hari, keadaan serambi situ tetap gelap gulita, setelah ia merambat ratusan langkah, akhirnya sampai juga di ujung serambi itu.

Namun di situ ia di hadang oleh segundukan batu besar.

Setelah diperiksa dengan teliti baru diketahui reruntuhan batu besar yang menyumbat ujung serambi itu bukanlah buatan manusia melainkan karena runtuh sendiri karena lamanya.

Pandangan Kiam-eng perlahan beralih ke atas, terlihatlah di atas runtuhan batu besar setinggi belasan meter itu ada sebuah peluang seperti dapat didaki.

Segera ia simpan pedangnya, lalu merambat ke atas tumpukan batu, selagi ia hendak melongok ke sebelah sana melalui lubang runtuhan batu itu tiba-tiba terdengar di depan runtuhan batu sebelah sana bunyi suara letusan yang keras disertai kilatan api. Ia terkejut dan cepat melompat turun dan menyelinap ke dalam sebuah kamar batu.

Ia sangka jejaknya sudah diketahui Sai-hoa-to, maka si tabib sakti meledakkan Yan-mo-tan. Tapi setelah didengarkan sejenak dan tidak terlihat ada suara lain lagi, diam-diam ia merasa heran. Ia ke luar lagi dari kamar batu itu, dilihatnya dari lubang reruntuhan batu bagian atas sana ada gemerdepnya cahaya api serta kepulan asap tipis.

Ia sangka jangan-jangan memang Sai-hoa-to telah meledakkan Yan-mo-tan di sebelah sana.

Namun segera ia bantah dugaannya sendiri, sebab warna asap Yan-mo-tan si tabib sakti adalah kuning, sedangkan asap mengepul sekarang serupa asap dapur, jelas bukan asap Yan-mo-tan yang dapat membuat orang pingsan itu.

Akan tetapi suara letusan tadi jelas pula suara ledakan Yan-mo-tan ...

Begitulah Kiam-eng menjadi ragu dan termenung bingung, akhirnya ia merambat reruntuhan batu itu untuk melihat apa yang terjadi sesungguhnya di sebelah sana. Dengan menahan napas ia mendaki reruntuhan batu lagi dan mengintip ke sebelah, apa yang terlihat membuatnya rada terkesiap pula. Ternyata di depan reruntuhan sana adalah sebuah kuil besar. Cahaya api itu berasal dari segundukan api unggun di ruang pendopo kuil besar itu.

Seorang tua dengan sikap tegang tampak berjongkok di samping api unggun, siapa lagi dia kalau bukan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho.

Orang tua itu sedang menatap sebuah pintu batu di sebrang api unggun sembari menambahi ranting kayu kering pada gundukan api sehingga lidah api selalu dipertahankan dalam ketinggian beberapa meter sehingga pintu batu di baliknya terhalang rapat.

Sebaliknya dari balik pintu batu tatkala itu juga tampak lagi mengepulkan asap kuning yang tipis.

Ini membuktikan tadi Sai-hoa-to memang pernah meledakkan sebuah Yan-mo-tan, cuma sasarannya bukan Kiam-eng melainkan "musuh" yang berada di balik pintu batu.

Lantas siapakah gerangan yang terkurung di balik pintu batu itu?"

Mendadak teringat oleh Kiam-eng akan ucapan si orang berkedok hijau bahwa "lantaran timbul sesuatu hal yang tak terduga sehingga ke-180 patung emas belum sempat diangkut pergi itu, mau-tak-mau ia heran dan terkesiap juga sebab kalau si orang berkedok hijau mampu mengalahkan It-sik-sin-kai dengan mudah, apakah mungkin orang yang terkurung di dalam kamar batu itu sekarang memang terlebih lihai daripada si orang berkedok hijau? Dan oleh karena itulah si orang berkedok hijau menyuruh Sai-hoa-to mengurung musuh itu dan meledakkan Yan-mo-tan dengan tujuan agar musuh dibuat pingsan.

Tengah Kiam-eng berpikir, terlihat Sai-hoa-to mengeluarkan lagi sebuah Yan-mo-tan dan dilemparkan ke dalam kamar batu di depan. "Blang," granat itu meledak, asap kuning total lantas mengepul dari dalam kamar itu. Kemudian terlihat Sai-hoa-to merogoh keluar satu kotak kecil seperti tempat obat salep, dengan jari ia colek sedikit salep itu di depan hidung, lalu ia menuju ke kamar batu itu menyongsong asap tebal.

Melihat si tabib sakti sudah masuk ke kamar batu itu, cepat Kiam-eng pun menerobos lewat ke sana dan melompat turun di ruang pendopo kuil besar itu. Ia menahan napas dan merunduk ke samping pintu kamar batu, terlihat asap kuning lebat masih menyelimuti seluruh kamar, ia pikir asap ledakan Yan-mo- tan itu harus dapat buyar sekian lama, padahal napas sendiri tidak dapat ditahan sekian lama, lalu bagaimana baiknya?"

"Srat-sret-sret"? tiba-tiba terdengar suara gemersek, suara bergesernya sesuatu benda berat timbul dari dalam kamar batu.

Jelas orang itu sudah roboh pingsan oleh granat berasap Sai-hoa-to.

Pikiran Su-Kiam-eng bekerja dengan cepat, segera ia berdiri mepet dinding di samping pintu, ia siap menyergap Sai-hoa-to selagi. orang tidak berjaga-jaga.

"Srat-sret-sret," suara gemersek tadi sudah mendekati pintu besar. Segera terlihat ke dua tangan Sai- hoa-to merangkul sesosok makhluk aneh besar, ia melangkah mundur keluar dari batu itu.

Girang sekali Kiam-eng kesempatan baik itu tidak disia-siakan olehnya, telapak tangan kanan serentak memotong, "Plak," dengan tepat belakang kepala tertusuk dan tubuh terkulai.

Dan berbareng itu dari tangan Sai-hoa-to juga merosot jatuh ke lantai, ternyata sebuah kepala ular sawa sebesar kepala kerbau.

Belum pernah Kiam-eng melihat ular sawa sebesar itu, sungguh ia kaget setengah mati, baru sekarang ia paham "sesuatu di luar dugaan" yang dimaksudkan si orang berkedok hijau, rupanya di dalam kamar batu meringkuk seekor ular raksasa sehingga mereka tidak mampu masuk ke situ untuk mengambil ke 180 patung emas, sebab itulah dia menculik Sai-hoa-to dan memaksa tabib sakti itu menaklukkan ular raksasa itu dengan Yan-mo-tan ..."

"Hanya sekilas saja timbul pikirannya, selagi hendak berjongkok untuk memeriksa apakah ular raksasa itu sudah mati atau masih hidup, tiba-tiba dari belakang bergema suara langkah orang.

Tidak menoleh pun ia tahu pasti si orang berkedok hijau dan ke tiga anak buahnya telah pulang.

Cepat Kiam-eng mengangkat Sai-hoa-to dan dilemparkan ke dalam kamar batu, lalu ular sawa raksasa pun diseret ke dalam. Lantaran di dalam kamar masih penuh asap kuning maka bila sembunyi di situ untuk sementara tentu dapat mengelabui mata telinga si orang berkedok hijau.

Dan baru saja ia seret ular sawa itu ke dalam kamar, langkah ke tiga orang sudah terdengar di luar pintu. Namun tanpa gugup ia mendekati Sai-hoa-to lagi, ia rogoh keluar sebuah kotak kecil dari baju tabib sakti itu, ia buka tutup kotak dan coba dicolek dengan jari, terasa benar semacam salep, ia tahu salep itu dioles di depan hidung berarti tidak takut lagi akan pingsan terkena asap beracun.

Cepat ia gosok salep itu di bawah hidung dan terasa nyaman, maka tanpa kuatir lagi bernapas dengan leluasa.

Pada saat itulah terdengar suara si orang berkedok hijau berteriak di luar, "Hai, Sim-Tiong-ho sudah berhasil belum?"

Kiam-eng menirukan suara Sai-hoa- to dan menjawab, "Belum, awas, kalian jangan masuk dulu!"

Sembari berbicara ia pun mulai meraba-raba di dalam kamar dengan harapan sebelum dipergoki musuh akan dapat menemukan patung emas dan mendapatkan Jian-lian-hok-leng.

Terdengar orang berkedok hijau lagi bertanya, "Apakah ular raksasa itu gentar terhadap granat berbisamu?"

"Entah," jawab Kiam-eng tetap menirukan suara Sai-hoa-to. "Setelah aku ledakkan granat ke dua, lalu tidak terdengar lagi suaranya ... "

"Hendak hati-hati, semburan hawa berbisa sawa itu sangat lihai," ujar si orang berkedok hijau. "Ya, aku tahu ... aduhh!"

Si orang berkedok hijau terkejut mendengar suara jeritannya, cepat ia tanya, "Hei, ada apa?" Sembari meraba Kiam-eng menjawab, "aku ... aku tersembur hawa berbisanya?"

"Wah, celaka, lekas kau keluarkan!" seru si orang berkedok.

Kiam-eng tidak menjawab lagi, sebab ia telah berhasil meraba sebuah patung. Saking senangnya sampai tangan Kiam-eng rada gemetar.

Terasa patung emas yang tersentuh tangannya itu keras lagi lembab dan dingin, tingginya antara tujuh kaki, sekujur badan patung tidak mengenakan sesuatu, hanya tangan patung memegang sebatang pedang dengan gaya terangkat ke atas.

Ya, dia masih ingat, ke-180 patung itu tidak cuma terbuat dari emas murni, tapi semuanya punya sikap sendiri dan mencakup sejurus pelajaran ilmu pedang sakti.

Dengan sendirinya yang membuatnya kegirangan bukanlah nilai patung emas dan berharganya ilmu pedang itu melainkan karena merasa jerih payah perjalanannya yang jauh ini tidak sia-sia dan Jian-lian- hok-leng itu selekasnya akan ditemukannya.

Jian-lian-hok-leng itu tersembunyi dalam tubuh patung emas ke-14.

Akan tetapi di manakah letak patung emas ke-14 itu? Dan patung emas yang dapat dipegangnya sekarang ini patung yang ke berapa?

Bila asap kuning itu sudah buyar, berbareng itu jejak dirinya pasti juga akan diketahui oleh si orang berkedok. Tatkala itu biarpun dirinya dapat mengambil Jian-lian-hok-leng juga sukar lolos dari kerubutan lawan.

Pikiran demikian baru saja terbayang olehnya segera terdengar si orang berkedok lagi berteriak pula di luar, "Sim-Tiong-ho, bagaimana, Sim-Tiong-ho?"

Kiam-eng mengambil keputusan takkan menjawab agar pihak lawan menyangsikan dirinya telah mati kena semburan racun ular, dengan begitu pihak lawan tentu akan jeri terhadap keganasan racun ular dan tidak berani sembarangan menerobos ke dalam.

Terdengar lagi suara teriakan di luar, "Sim-Tiong-ho, bagaimana kamu di situ?" Lalu seorang anak buahnya berkata. "Su-hu, aku kira dia sudah mampus?!"

"Tidak, aku dengar dia masih bernapas dengan baik!" kata si orang berkedok. "Oo, jika begitu mungkin dia cuma pingsan keracunan dan belum putus napas."

"Juga tidak, setiap orang yang pingsan kena racun napasnya tentu cekak dan memburu, namun aku dengar suara napasnya sangat normal."

Kiam-eng terkesiap, ia pikir pihak lawan ternyata dapat mendengar suara napasnya dengan jelas, bahkan dapat menganalisa keadaannya dari suara napasnya kemahiran ini sungguh sangat mengejutkan.

Segera Kiam-eng bernapas dengan cekak dan berlagak ngos-ngosan, berbareng ia terus meraba kian kemari dengan harapan dapat mengetahui jelas keadaan barisan ke-180 patung emas itu, dengan begitu mungkin akan menjadi jelas tempat letak patung emas ke-14 yang dicarinya itu.

"Eh, suara napasnya berubah?!" terdengar si orang berkedok bergumam. "Berubah bagaimana, Su-hu?" tanya seorang anak buahnya.

"Ya, berubah memburu dan cekak."

"Jika begitu, mungkin racun ular telah menyerang jantungnya!"

"Tidak, meski ada tanda keracunan dari suara napasnya itu, namun dia masih terus berkeliaran di dalam kamar batu itu. Hm ... "

Setelah mendengus, lalu si orang berkedok berteriak "Sim-Tiong-ho, kamu sedang main gila di situ?"

Kiam-eng tidak memperdulikannya, ia terus meraba dan mencari di dalam kamar batu, sudah 12 patung emas telah dirabanya dan dirasakan setiap patung emas bergaya tidak sama, namun semuanya terletak di kaki dinding kamar. Hal ini merupakan semacam tanda menyenangkan baginya, sebab kalau patung emas itu terbaris di kaki dinding, asalkan dia sudah jelas meraba keadaan kamar itu, akhirnya dia dapat memperkirakan patung mana yang nomor satu dan patung emas yang nomor 14.

Yang membuatnya agak cemas adalah asap tebal kuning di dalam kamar itu kini telah mulai menipis.

Rupanya orang berkedok hijau itu sangat marah karena tidak mendapat jawaban Sai-hoa-to, kembali ia terkekeh dan mengancam "Sim-Tiong-ho, semalam kamu baru saja bersumpah akan bekerja dan setia padaku sekarang kamu sudah mulai berkhianat. Hehe, mungkin kau kira ada kesempatan bagimu untuk mengangkangi sendiri ke 180 patung emas di dalam kamar itu? Huh, biar aku katakan padamu, Kui-kok- ji-bu-siang baru saja aku celakai dengan pukulan maut, paling lama setengah jam lagi jiwa mereka pasti akan melayang. Maka tidak ada seorang pun mampu membuat diriku pergi dari sini. Padahal kamu sendiri sekarang berada di dalam ruangan batu ini dan tiada jalan ke luar lain, maka hari ini sudah pasti kamu akan mampus di sini."

Kiam-eng tetap diam saja menggubrisnya. Tapi tiba-tiba teringat olehnya ada kemungkinan masih ada sisa granat berasap pada Sai-hoa-to.

Maka cepat ia putar balik lagi ke samping Sai-hoa-to dan coba meraba bajunya, benar juga ditemukan empat buah granat berasap. Tentu saja ia sangat girang, ia pikir asap beracun setiap granat itu dapat bertahan antara seperempat jam dengan empat buah granat ini ditambah lagi tiga buah Yan-mo-tan pemberian Sam-bi-sin-ong berarti dapat bertahan lebih dari satu jam. Sedangkan dalam waktu satu jam lebih ini dirinya tentu dapat menemukan Jian-lian-hok-leng, kemudian ia dapat meledakkan granat bertabir asap milik Sam-bi-sin-ong itu untuk meloloskan diri dan mungkin ada harapan untuk menyelamatkan diri melalui lubang tumpukan batu tadi.

Berpikir sampai di sini, segera ia melemparkan sebuah granat pencabut nyawa milik Sai-hoa-to. "Blang", di tengah suara ledakan asap kuning tebal kembali menyelimuti seluruh ruang.

Tentu saja si orang berkedok hijau sangat gusar, teriaknya, "Sim-Tiong-ho, memangnya kau kira aku jeri terhadap granatmu ini?"

Kiam-eng tetap menirukan suara Sai-hoa-to menjawab, "Hahaha, mungkin benar kamu tidak jeri tapi jangan lupa, di sini masih ada seekor ular raksasa!" "Huh, kalau ular raksasa itu tidak terbius pingsan oleh granatmu, memangnya kamu berani masuk ke situ?" jengek si orang berkedok.

"Betul, tadi ular itu memang pernah terbius pingsan, tapi sekarang sudah aku buat ular ini siuman kembali," ucap Kiam-eng dengan tertawa. Agaknya si orang berkedok sangat jeri terhadap ular sawa raksasa itu, ia mendengus, "Hm, jika benar begitu, mengapa tidak kau lepaskan dia keluar?"

"Soalnya belum tiba waktunya." kata Kiam-eng.

"Memangnya apa yang kau tunggu?" tanya si orang berkedok hijau.

"Tunggu nanti kalau sudah apal aku pelajari jurus ilmu pedang dari ke-180 patung emas ini barulah akan aku suruh ular ini menyerang kalian," jawab Kiam-eng.

"Hm, kiranya tujuanmu adalah ilmu pedang sakti itu?" jengek si orang berkedok.

"Betul, sesudah berhasil aku pahami ilmu pedang itu, tanpa bantuan ular raksasa ini aku yakin dapat mengalahkanmu."

"Hehe, jangan kamu mimpi!" si orang berkedok terkekeh murka. "Betapa ajaib ilmu pedang itu, sudah setahun aku pelajari pun belum berhasil memangnya kamu Sai-hoa-to mampu?"

Sebenarnya Su-Kiam-eng tidak memperhatikan ilmu pedang sakti yang terkandung pada ke-180 patung emas itu. Tapi sekarang setelah mendengar cerita si orang berkedok bahwa sudah mempelajari selama setahun tetap tidak menghasilkan apa-apa, mau-tak-mau hatinya tergetar dan tarik, ia pikir dengan kemampuan lawan itu ternyata tidak sanggup memahami inti sari ilmu pedang sejati itu, hal ini menandakan ilmu pedang tersebut adalah semacam kepandaian ajaib yang tidak ada bandingannya.

Apabila dirinya dapat memahaminya dengan baik, bukanlah akan sangat mudah mengalahkan lawan?

Tapi ia lantas menggeleng kepala sendiri dan membatin, "Ah, tidak mungkin. It-sik-sin-kai saja dikalahkan olehnya dalam waktu singkat, kemahiran kung-fu nya jelas jauh di atas gurunya dan Kiam- ong Ciong-Li-cin jika tokoh selihai ini saja tidak sanggup memahami inti sari ilmu pedang terkandung pada ke-180 patung emas ini, mungkinkah dirinya mampu?"

"Sim-Tiong-ho, jika kamu tidak segera ke luar aku gunakan api untuk membakar mampus dirimu!", demikian terdengar si orang berkedok memang gusar di luar.

Kiam-eng terkejut dan tidak berani sembarang pikir lagi, ia coba meraba lagi ke depan, hanya sebentar saja sudah lebih 50 buah patung digerayanginya. Ketika ia maju lagi, ternyata dinding batu berukir menghadang di depan.

Ia melangkah lagi sampai 30-an tindak menyusuri kaki dinding dan meraba ujung dinding dan, lalu meraba lagi ke depan mengikuti dinding batu berikutnya, akhirnya ia dapat meraba patung emas lagi.

Dengan demikian segera ia mengerti bahwa ke-180 buah patung emas itu berjajar di bagian kanan dan kiri, masing-masing sisi ada 60 buah patung. Ada pun yang pertama dirabanya tadi adalah bagian kanan dinding, sebabnya cuma 50-an patung yang teraba olehnya adalah karena patung pertama yang teraba olehnya itu bukanlah, patung nomor satu.

Lantaran itu pula ia pun paham patung pertama yang dirabanya sekarang adalah patung nomor satu barisan sebelah kiri.

Segera ia meraba terus ke depan mengikuti patung nomor satu itu ketika meraba sampai patung nomor 14, terasa patung itu bergaya setengah berjongkok atau setengah mendak. Tapi ketika sekujur badan patung diraba, dirasakan pula tubuh patung yang bulat itu tidak ada sesuatu tempat yang dapat dibuat tempat menyimpan Jian-lian-hok-leng.

Padahal dalam surat sang su-heng tertulis dengan jelas bahwa "Jian-lian-hok-leng tersembunyi dalam patung emas ke-14", kata "dalam patung", tentu berarti di dalam perut patung.

Berpikir demikian, segera Kiam-eng menggunakan ke dua tangannya untuk merangkul pinggang patung, selagi hendak diputar sekuatnya, terdengar suara "serr" sebatang ranting kayu yang terbakar dilempar ke dalam kamar batu.

Menyusul ada lagi dua-tiga batang ranting berapi yang dilemparkan ke dalam dan jatuh di samping tubuh Sai-hoa-to, api pun terus menyala.

Nyata, si orang berkedok hijau benar-benar mulai menyerang dengan api.

Kiam-eng terkesiap, ia coba memutar patung emas yang dirangkulnya itu, namun segenap tenaga sudah dikerahkan ternyata tidak sanggup menggoyahkan patung itu sedikit pun.

Ia pikir jangan-jangan patung emas itu berkarat dan melengket dengan lantai. Namun segera terpikir pula olehnya emas tidak mungkin berkarat. Ia pikir bagian sambungan patung mungkin terletak pada leher patung.

Segera ia ganti tempat dan merangkul kepala patung serta diputar sekuatnya, terdengar suara "cit" sekali, kepala benar-benar dapat berputar.

Dengan cepat ia putar kepala patung hingga terlepas, lalu merogoh bagian leher patung, terasa tangan menyentuh sesuatu barang.

Apakah itu Jian-lian-hok-leng? Ternyata bukan melainkan sesuatu benda kecil yang berat dan serupa medali emas.

Kiam-eng sangat kecewa. Tapi lantas teringat olehnya bahwa ke-180 patung emas itu terbagi menjadi dua baris di kanan-kiri, sangat mungkin patung ke-14 pada barisan sebelah kanan itulah patung ke-14 yang dimaksudkan sang su-heng. Maka tanpa pikir ia masukkan benda seperti medali itu ke dalam saku, berlari ke sebelah kanan.

Sekarang ia sudah mengerti bahwa ruangan ini sangat luas, lebarnya lebih 20 meter dan panjang hampir 50 meter, cukup untuk memuat ratusan orang yang sedang berlatih kung-fu sekaligus.

Ya, ruang besar ini sangat mungkin adalah tempat berlatih kung-fu orang Kimi dahulu.

Ia lari sampai tengah ruangan, terlihat banyak lagi ranting kayu terbakar yang dilemparkan ke dalam oleh si orang berkedok hijau dan ke tiga anak buahnya. Lamat-lamat terlihat pula sebatang ranting berapi tepat terlempar di atas tubuh Sai-hoa-to.

Seketika timbul rasa tidak tega, cepat Kiam-eng mendepak menyingkirkan ranting kayu berapi itu ia angkat tubuh Sai-hoa-to dan dilemparkan ke luar pintu kamar.

Ia merasa keadaan sudah berkembang sejauh ini, biarpun si orang berkedok hijau tahu duduknya perkara juga takkan membuat keadaan bertambah gawat. Pula biarpun Sai-hoa-to mati juga setimpal namun jelek-jelek dia adalah si tabib sakti yang tidak ada bandingannya di dunia persilatan bilamana membiarkan dia mati konyol terbakar, rasanya agak sayang, maka Kiam-eng sengaja hendak menyelamatkan nyawanya.

Siapa tahu ketika Sai-hoa-to terlempar ke luar kamar, si orang berkedok hijau yang berjaga di luar itu mengira Sai-hoa-to tidak tahan oleh sebangsa api mereka dan kini hendak kabur ke luar. Maka begitu tampak Sai-hoa-to "melayang" ke luar, kontan ia menyongsongnya dengan suatu pukulan dahsyat.

Dan pukulan itu tepat mengenai muka Sai-hoa-to, "plok", kontan muka Sai-hoa-to hancur luluh, tubuh pun jatuh terguling di pendopo kuil itu, jiwa pun jelas melayang.

Sih-Hou mendekat dan coba mencungkil mayat Sai-hoa-to dengan sebelah kakinya, lalu berpaling dan melapor kepada si orang berkedok hijau "Su-hu, dia sudah mampus!"

"Hm, terlampau enak baginya!" jengek si orang berkedok hijau.

Melengong juga Kiam-eng yang berada di dalam ruang batu, tujuannya hendak menyelamatkan Sai-hoa- to, siapa tahu malah mempercepat kematiannya, sungguh tak terduga olehnya sejak mula. Diam-diam ia menyesali diri sendiri, bilamana tadi waktu ia lemparkan tubuh Sai-hoa-to ke luar lebih dulu ia menjelaskan apa yang terjadi, tentu jiwa tabib sakti itu takkan tamat.

Namun bila dipikir lagi, mendingan juga terjadi begini, sebab si orang berkedok tetap tidak tahu di dalam ruang batu masih ada orang, sebelum asap tebal buyar dan sebelum api ranting kayu yang berkobar itu padam, jelas musuh takkan menyerbu ke dalam.

Sembari berpikir ia pun melangkah ke sebelah kanan dengan berjingkat-jingkat perlahan, setiba di kaki dinding kanan, dengan cepat dapat dirabanya patung nomor satu. Pada saat itulah terdengar di luar si pedang perak Kwa-Eng-seng lagi berseru. "Su-hu, mungkin ular raksasa itu sudah mati?!"

Kiranya ke tiga orang itu bukanlah anak buah biasa melainkan anak murid si orang berkedok hijau.

Terdengar si kedok hijau menjawab, "Ya, betapa lihai bisa ular itu, kalau bukan sudah terbunuh oleh tua bangka Sim-Tiong-ho, masa dia berani masuk ke sana."

"Bagaimana kalau kita coba lihat ke dalam, Su-hu?" tanya si pedang baja Ku-Tai-hong.

"Jangan tergesa," ujar si kedok hijau. "Nanti kalau asap granat sudah buyar baru kita masuk ke sana."

"Si pengemis tua dan Sam-bi-sin-ong serta Su-Kiam-eng itu entah sudah minggat ke mana saja?" ucap si pedang emas Sih-hou.

"Pasti masih berada di sekitar sini," ujar si kedok hijau. "Si bocah keparat Su-Kiam-eng tidak nanti meninggalkan kota kuno ini sebelum mendapatkan Jian-lian-hok-leng."

"Sayang kita tidak tahu Jian-lian-hok-leng itu disembunyikan di mana," kata pula Sih-Hou. "Kalau tahu tentu kita tidak perlu repot begini."

"Tidak apa, kecuali Kiam-ho Lok-Cing-hui menyusul kemari sendiri, cepat atau lambat kita dapat menumpas mereka bertiga ... Eh, suara apa itu?"

"Su-hu mendengar suara apa?" tanya Sih-Hou.

"Aku dengar di dalam ruang seperti ada suara "cit" yang sangat perlahan," jawab si kedok hijau. "Apakah bukan suara ranting kayu yang terbakar itu?" ujar Sih-Hou.

"Bukan jelas itu suara gesekan logam ... Hm, jangan-jangan ..."

Si kedok hijau tidak meneruskan ucapannya sebab ia tidak percaya Su-Kiam-eng bertiga sudah menyusup ke dalam ruang batu itu. Padahal Kau-hun-tan granat pencabut nyawa Sai-hoa-to sudah meledak empat buah di dalam ruang itu asap kuning tebal memenuhi seluruh ruang sampai sekian lama, siapa yang tahan sampai lebih setengah jam di situ?

"Su-hu, jangan-jangan apa maksudmu?" tanya Sih-Hou pula.

"Oo, tidak ada apa-apa," ucap si kedok hijau. "Ssst, kamu jangan bersuara lagi, biar aku renungkan dulu."

"Apa yang dikatakan "renung" dulu sebenarnya berarti "mendengarkan" lagi.

Pada saat itu Su-Kiam-eng yang sembunyi di dalam ruangan juga sedang menahan napas agar tidak terdengar musuh, ia berdiri diam saja di samping patung ke-14 di sebelah kanan sana.

Sebab dia sudah menemukan Jian-lian-hok-leng di bagian leher patung itu, pula obat mujarab itu sudah disimpan dalam baju sendiri. Namun ia tidak berani bergerak, sebab ia tahu si kedok hijau sedang pasang telinga dan mendengarkan dengan cermat.

Meski ia tahu sudah tidak mungkin lagi untuk meninggalkan ruang batu itu secara diam-diam, umpama dia mau menyerempet bahaya dengan meledakkan Yan-mo-tan, untuk itu juga diperlukan mencari kesempatan pada waktu perhatian si kedok hijau lagi terpencar dan agak lengah, sebab detik itu merupakan detik antara mati hidup dan gagal atau berhasil usaha terakhir jika kurang beruntung dan tertangkap, maka itu berarti tamatlah segalanya.

Setelah itu dalam kedalaman lugu hatinya tetap lagi memikirkan kalau-kalau ada jalan untuk lolos dari ruang batu ini di luar tahu siapa pun, sebab ia sadar si kedok hijau masih memegang satu jurus maut yang tidak mungkin dilawan olehnya, yaitu lawan masih menyandera Ih-Keh-ki.

Apabila lawan mengetahui Jian-lian-hok-leng sudah ditemukan Kiam-eng, tentu lawan akan memperalat Ih-Keh-ki untuk mengancamnya dan memaksa Kiam-eng menyerahkan bahan obat mujarab itu.

Lantaran itulah makin dipikir makin dirasakan Kiam-eng akan lebih baik mencari jalan lolos di luar tahu musuh, kemudian ia pulang ke Tiong-goan, bilamana penyakit In-Ang-bi sudah disembuhkan, lalu akan datang lagi ke sini dan berdaya menolong Ih-Keh-ki, dengan begitu tentu dia dapat bertindak secara bebas dan tidak seperti sekarang, dengan cara bagaimana supaya berhasil lolos dengan aman?

Meski Kiam-eng sudah memeras otak tetap tidak mendapatkan sesuatu akal yang bagus. Padahal keadaan sekarang tidak ada waktu banyak berpikir lagi, sebab untuk asap berbisa yang memenuhi ruang itu lambat-laun sudah mulai tipis.

Perlahan ia siapkan sebuah Kau-hun-tan dan merunduk ke pintu, ia bertekad akan melemparkan granat maut itu bila sudah mendekati pintu keluar, dengan begitu agar dirinya tidak menarik perhatian si orang berkedok hijau.

Sekonyong-konyong kakinya menyandung sesuatu benda kenyal.

Ternyata badan ular sawa raksasa itu. Ular yang masih dalam keadaan pingsan.

Ini menimbulkan suatu pikirannya, segera ia berhenti ia keluarkan kotak salep yang diambilnya dari Sai- hoa-to itu, dipolesnya sedikit salep itu di bagian lubang hidung ular, lalu ia menyurut mundur dengan perlahan.

Tidak lama kemudian, benar juga badan ular itu mulai berkelojotan.

Dan pada saat itu juga terdengar Sih-Hou lagi bertanya, "Bagaimana, Su-hu?"

Lalu si orang berkedok menjawab, "Seperti tidak ada apa-apa. Cuma, boleh tunggu lagi sebentar ..."

Ular yang sudah pulih kembali kesadarannya itu mendadak mengangkat kepalanya ketika mendengar suara manusia di luar, lidah ular tampak mulur mengeret.

Mendengar suara yang aneh, cepat si orang berkedok hijau berkata lagi, "Awas, aku dengar lagi suara aneh tadi!"

Kepala ular makin menegak tinggi dan bergaya siap menyerang. "Suara apa, Su-hu?" tanya Sih-Hou.

"Entah, coba kau lemparkan sebatang ranting kayu berapi ke dalam."

Sih-Hou menurut, "berr", sebatang ranting terbakar dilemparkan ke dalam ruangan, tepat jauh di depan ular raksasa. Karena terkejut oleh sambaran api, serentak ular sawa raksasa itu menyambar ke luar pintu secepat terbang.

"Wah, celaka!" "Cepat lari!"

Demikian terdengar suara jeritan kaget orang ramai. Kiam-eng dapat mendengarkan si orang berkedok hijau dan ke tiga anak muridnya segera lari terbirit-birit meninggalkan kuil itu.

Tentu saja Kiam-eng tidak buang-buang kesempatan baik itu, cepat ia pun lari ke luar ruang batu, terlihat sebuah ruang pendopo kuil yang luas, ular dan ke empat orang tadi sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Dengan sendirinya keadaan beginilah yang sangat diharap-harapkannya, segera ia melompat lagi ke atas reruntuhan batu tadi dan menerobos kembali melalui lubang tumpukan batu semula, lalu lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Ia melompat turun ke belakang wuwungan kuil itu, dengan gin-kang nya yang tinggi ia lari kembali ke kuil tempatnya sembunyi semalam.

Tanpa menemui halangan apa pun akhirnya ia sampai lagi di tempat tujuan.

Melihat anak muda itu sudah pulang, Kalina sangat senang, tanpa terasa ia menjatuhkan diri ke pelukan Su-Kiam-eng, serunya dengan gembira, "Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya engkau pulang kemari." Karena sudah mendapatkan Jian-lian-hok-leng, perasaan Su-Kiam-eng juga sangat riang gembira, maka ia pun balas merangkul si nona dengan erat, ucapnya dengan tertawa, "Rasanya belum ada satu jam aku tinggalkan tempat ini, bukan?"

"Ya, akan tetapi aku rasakan seperti sudah berselang beberapa hari," kata Kalina dengan nada manja. "Sungguh takut akan ditawan oleh si orang berkedok."

Kiam-eng tertawa, ia pandang sekeliling kuil itu dan bertanya, "Apakah Ang-pang-cu dan Sam-bi-sin-ong belum pulang kemari?"

"Belum" jawab Kalina. "Adakah engkau memergoki orang berkedok hijau itu?"

"Ya," Kiam-eng mengangguk tertawa. "Cuma aku tidak dilihat olehnya. Biar aku beritahukan kabar baik padamu, Jian-lian-hok-leng sudah aku dapatkan."

"Hahh. sungguh?!" seru Kalina sambil melonjak gembira.

Kembali Kiam-eng mengangguk dan memperlihatkan Jian-lian-hok-leng, ucapnya, "Coba lihat ini bukan?"

Apa yang disebut Jian-lian-hok-leng itu ternyata tidak berdaun dan tidak berakar meski berasal sejenis tumbuh-tumbuhan atau akar-akaran, bentuknya setengah bulat seperti kepalan tangan, kulitnya hitam berkerut, bobotnya antara tiga kati sepintas pandang serupa sepotong talas.

Kalina merampas Jian-lian-hok-leng itu dan berseru dengan kejut-kejut girang, "Hah, benar memang benar benda ini! Dahulu pernah aku lihat benda serupa ini!"

"Tampaknya tidak berharga, akan tetapi mempunyai khasiat mujarab penenang dan membuat awet muda serta panjang umur," tutur Kiam-eng dengan tersenyum getir.

"Setelah minum barang ini, apakah benar daya ingatan In-Ang-bi itu akan pulih?" tanya Kalina. "Betul cuma masih harus diramu dengan bahan obat lain," sahut Kiam-eng.

Kalina memasukkan Jian-lian-hok-leng itu ke dalam baju Kiam-eng, ucapnya dengan tertawa riang, "Ayo, sekarang juga kita pulang ke Tiong-goan."

"Nanti dulu," kata Kiam-eng. "Kita tunggu dulu kembalinya It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong baru berangkat pulang."

Kalina menarik pemuda itu duduk di kaki dinding kuil, katanya, "Jika begitu, ayolah ceritakan pengalaman cara bagaimana mendapatkan Jian-lian-hok-leng?"

Kiam-eng lantas berkisah sejak dia memasuki puri tadi, baru saja mulai bercerita, tiba-tiba terdengar dua orang berlari masuk ke dalam kuil. Ia pikir tentu It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong telah kembali. Segera ia berdiri dan coba melongok ke arah pintu kuil.

Tapi sekali pandang berbalik membuatnya terperanjat.

Ternyata yang muncul itu bukanlah si pengemis tua berdua melainkan Kui-kok-ji-bu-siang.

Sekilas Ji-bu-siang melihat Su-Kiam-eng berada di ruang kuil itu, muka Ji-bu-siang berubah pucat dan memandangi anak muda itu dengan terbelalak sangsi, mendadak pula mereka membalik tubuh terus lari pergi.

"Berhenti, hei, berhenti!" bentak Kiam-eng.

Ji-bu-siang benar-benar lantas berhenti dan membalik tubuh, dengan menyengir si setan lempung menuding Kiam-eng dan berkata, "Anak muda, soalnya kami masih ada urusan penting, maka tidak mau mencari kesulitan padamu, memangnya kau kira kami jeri padamu?"

Kiam-eng mendekati ke dua orang itu katanya dengan mendengus, "Huh, kalian telah terkena pukulan berbisa si orang berkedok hijau itu, memangnya kau kira aku tidak tahu?"

Air muka Ji-bu-siang berubah pucat itu dan saling pandang, akhirnya mereka bersandar dinding dengan lesu, ucap si setan lempung dengan pedih, "Lo-toa, tampaknya kita ingin mati dengan tubuh sempurna pun tidak bisa lagi." Si setan baru menghela napas menyesal, tanyanya sambil menatap Kiam-eng, "Anak muda, dari mana kau tahu kami terkena pukulan berbisa si berkedok hijau?"

"Aku lihat sendiri," jawab Kiam-eng.

"Jika begitu, jadi kamu hendak membunuh kami selagi kami tidak mampu melawan?" tanya lagi si setan kayu dengan kuatir dan gusar.

"Tidak ada maksud begitu," ujar Kiam-eng.

Si setan kayu berubah girang tanyanya pula "Kalau tidak, untuk apa kau tunggu kami di sini?"

Kiam-eng tidak mau menjelaskan beradanya di kuil ini untuk bersembunyi, ia cuma menjawab dengan tersenyum, "Sebab ingin aku tolong kalian!"

Si setan kayu terbelalak heran dan sangsi, "ingin menolong kami?"

"Betul, menurut dugaanku, pukulan maut si orang berkedok hijau yang disebut Pek-hoa-hiang-hun-ciang (pukulan pencabut nyawa seratus bunga) itu mungkin dilatih dengan gas racun seratus bunga, jika benar bisa jadi dapat aku tawarkan racun yang telah meresap ke dalam tubuh kalian."

Ji-bu-siang saling pandang dengan kejut dan girang lalu si setan kayu berkata lagi terhadap Kiam-eng "Uraianmu memang benar dada kami masing-masing memang terkena pukulan si orang berkedok hijau, isi perut kami terluka parah yang paling celaka adalah terasa disusupi pula semacam racun jahat, kami lagi kebingungan karena tidak tahu kenapa keracunan, setelah mendengar ucapan mu sekarang, sangat mungkin memang terkena racun bunga pukulan keparat itu. Eh, engkau mempunyai obat penawar racun?"

"Ya, ada," Kiam-eng mengangguk. "Ada semacam obat anti racun yang aku bawa dan dapat menawarkan racun bunga yang menghinggapi kalian itu."

Sembari bicara ia pun mengeluarkan dua pil dan dilemparkan kepada Ji-bu-siang.

Setelah menerima pil itu, Ji-bu-siang coba menjilat dulu dengan lidah dan terasa bukan obat racun tanpa sangsi mereka lantas menelannya. Lalu duduk bersila di lantai untuk bersemedi.

Tidak seberapa lama daya obat itu mulai bekerja, Ji-bu-siang menumpahkan banyak kotoran, air muka pun berubah agak segar.

Si setan lempung membuka mata lebih dulu katanya dengan tertawa, "Su-Kiam-eng, memang benar racun bunga yang meresap dalam tubuh kami, sekarang sudah punah."

"Dan bagaimana keadaan luka dalam kalian?" tanya Kiam-eng.

"Masih sangat parah," tutur setan lempung, "Namun setelah racun bunga dipunahkan, luka dalam dapat kami sembuhkan sendiri dengan perlahan. Pokoknya kami tidak jadi mati."

"Tempo hari Lau-ho-li Cu-kat-Leng juga terkena pukulan si orang berkedok hijau, akan tetapi karena sudah lama keracunan, meski aku beri minum obat ini tetap sukar menyelamatkan jiwanya," tutur Kiam- eng.

"Sesungguhnya tokoh macam apakah orang berkedok hijau ini sehingga berhasil meyakinkan pukulan berbisa selihai ini?" tanya si setan lempung.

"Entah, aku pun tidak tahu siapa dia, hanya aku ketahui dia adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh dunia persilatan Tiong-goan dahulu itu," tutur Kiam-eng.

Si setan lempung terkejut, "Wah, jika benar dia si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh itu, gelagatnya tidak enak."

"Oo, apa betul?" Kiam-eng tersenyum.

"Ya," ucap si setan lempung dengan serius. "Biar aku bicara terus terang, hendaknya engkau jangan marah. Soalnya aku lihat kepandaian orang berkedok hijau itu seperti terlebih tinggi setingkat dibandingkan Kiam-eng dan gurumu." "Betul, aku pun merasakan dia terlebih hebat daripada guruku dan Kiam-ong," kata Kiam-eng. "Jika begitu, apakah sanggup kau hadapi dia?" tanya setan lempung.

"Tinggi ilmu silat seorang tidak menandakan dia dapat mengalahkan segalanya," ujar Kiam-eng tanpa menjawab langsung. "Apalagi ia pun ada titik lemah yang dapat kita cari, betul tidak?"

"Oo, kau kira di mana letak titik lemahnya? tanya si setan lempung kejut dan girang. "Pada mukanya," sahut Kiam-eng tertawa.

"Mukanya?" si setan lempung melengong.

"Ya, bahwa kepandaiannya di atas Kiam-ong dengan sendirinya dia merupakan tokoh tidak ada tandingan di dunia. Namun dia justru tidak berani memperlihatkan wajah aslinya kepada umum, ini menandakan titik lemahnya terletak pada mukanya."

"Tapi cara bagaimana akan kau singkap kedoknya itu?" tanya setan lempung.

"Tidak perlu menyingkap kedoknya, ada seorang tahu benar siapa dia," kata Su-Kiam-eng.

"Oo, siapa?" tanya setan lempung cepat. "Putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san, yaitu In-Ang-bi." tutur Kiam-eng.

Tapi engkau belum lagi menemukan Jian-lian-hok-leng yang diperlukan, bukan?" "Ahh, itu cuma soal waktu saja," Kiam-eng tersenyum.

Mendadak si setan kayu menimbrung dengan terbelalak, "Hei, Su-Kiam-eng, kau mau memberi obat penawar racun kepada kami berdua, apakah karena kau harapkan bantuan kami untuk mencari Jian-lian- hok-leng itu?"

"Tidak, tidak ada maksudku seperti itu?" Kiam-eng menggeleng dan tertawa. "Jika tidak, untuk apa kau mau menolong kami?" tanya setan kayu bingung.

"Jika kamu berkeras ingin tahu, alasannya hanya ada satu," sahut Kiam-eng dengan tersenyum. "O, alasan apa?"

"Yakni, berdasarkan prikemanusiaankah aku tolong kalian. Sebaliknya meski tingkah-laku kalian Kui-kok- ji-bu-siang membuat orang merasa gregetan, namun apa pun juga kalian tetap manusia. Nah, hanya begitu saja."

Jelas si setan kayu terharu oleh ucapan Kiam-eng itu mukanya yang semua agak pucat tampak bersemu merah, katanya, "Busyet! Selama berpuluh tahun, engkaulah orang pertama yang memandang kami berdua sebagai manusia!"

"Dan aku harap kalian jangan menyalah gunakan maksud baikku," pesan Kiam-eng.

"Ya sudahlah, meski engkau tidak mengharapkan bantuan kami, namun kami tidak bisa tidak membalas budi pertolonganmu," ujar si setan kayu. "Bilamana luka dalam kami sudah sembuh tentu akan kami bantu menemukan Jian-lian-hok-leng itu."

"Tidak perlu," Kiam-eng. "Bila kalian benar ingin membalas budi, cukup selanjutnya kalian mengurangi perbuatan kalian yang kurang baik itu."

"Huh, betapa pongah anak muda itu, apakah lantaran kau yakin mampu mengambil Jian-lian-hok-leng itu di bawah pengawasan ketat si orang berkedok hijau?" dengan si setan kayu kurang senang.

"Ya, luka dalam kalian belum sembuh, aku kira lebih baik jangan banyak bicara, lekas duduk mengaso saja," ujar Kiam-eng tertawa.

Si setan kayu mendengus perlahan, ia lantas memejamkan mata dan tidak buka mulut pula. Segera Kiam-eng menarik Kalina putar balik ke dalam ruang kuil dan duduk di dekat pintu kamar batu yang berjarak belasan meter dari Ji-bu-siang.

"Eh, mengapa tidak kau katakan kepada mereka bahwa Jian-lian-hok-leng sudah kau dapatkan?" tanya Kalina lirih.

Kiam-eng menjawab dengan suara tertahan "Jian-lian-hok-leng berkhasiat menyembuhkan luka dalam sekarang mereka juga terluka parah, bila mereka tahu ada obat mujarab yang tersedia padaku, mungkin akan timbul maksud jahat mereka untuk merampas muka tidak dapat aku beritahukan kepada mereka."

Kalina mengangguk paham, ucapnya dengan tertawa kagum, "Engkau memang pandai berpikir panjang. Aku lihat kelakuan mereka yang tidak genah itu, tampaknya memang bukan manusia yang mudah diperbaiki."

Dari jauh Kiam-eng melihat Ji-bu-siang lagi duduk semedi tanpa bergerak, ia coba mengeluarkan ke dua potong medali emas, disodorkan sepotong Kalina dan berkata dengan lirih, "Coba kau lihat barang apa ini?"

Medali emas itu kira-kira panjang 12 senti dan lebar 9 senti, bobotnya antara setengah kati. Ke dua sisi sama terukir huruf-huruf kuno yang tidak dikenal.

Setelah membalik-balik benda itu, kemudian Kalina bertanya, "Barang apakah ini?" "Aku pun tidak tahu, aku ambil dari dalam leher patung emas," tutur Kiam-eng. "Pada setiap patung emas itu terdapat benda seperti ini?" tanya Kalina.

"Mungkin begitu, dari kepala dua patung yang aku putar aku dapatkan kedua potong medali ini ..." bicara sampai di sini, tiba-tiba sinar matanya mencorong aneh dan menyambung pula, "Aha, betul aku tahu benda apakah ini!"

"Oo, benda apa?" tanya Kalina.

"Huruf yang tertulis di atas benda ini adalah kunci rahasia pelajaran ilmu pedang," desis Kiam-eng. "Kunci rahasia ilmu pedang?" ulang Kalina dengan tak mengerti.

"Ya, di tengah ke-180 patung emas itu tersembunyi semacam ilmu pedang jaman purba yang sangat dalam dan sukar dipelajari, sedangkan medali ini justru mencatat kunci pelajaran setiap jurus ilmu pedang ajaib itu."

Kalina terbelalak memandangi bumi aneh pada medali emas itu katanya, "Tapi tulisan apakah ini?"

"Bisa jadi tulisan ciptaan bangsa Kimi sendiri mungkin pula bahasa negeri Thian-tiok (Hindu atau Sansekerta)," kata Kiam-eng.

"Kenapa bila tulisan negeri Thian-tiok?" tanya Kalina heran.

"Soalnya kebudayaan bangsa Kimi berasal dari Thian-tok, maka tulisan ini sangat mungkin adalah tulisan Hindu Kuno," berkata sampai di sini, ia simpan kembali ke dua potong medali dan berdiri, katanya pula, "Aku kira, perlu aku pergi lagi ke sana."

"Untuk apa pergi lagi?" tanya Kalina ikut berdiri.

"Orang berkedok hijau itu belum mengetahui di dalam patung emas tersimpan benda begini, maka ingin aku pergi lagi ke sana untuk mengambil ke-178 potong medali yang lain, kalau tidak, bilamana diambil orang berkedok, hal itu sama seperti harimau tumbuh sayap, selanjutnya terlebih tidak ada lagi yang mampu mengatasi dia."

"Bagaimana kalau aku ikut pergi bersamamu?" tanya Kalina dengan harap-harap cemas.