Rahasia 180 Patung Emas Jilid 16

 
Jilid 16 

"Nah, lekas silakan!"

"Cuma engkau perlu hati-hati sedikit, setiba di kota emas, kalau engkau sampai mengambil sesuatu benda di sana, tentu aku akan membongkar kemunafikanmu agar selama hidup kamu akan menanggung malu."

"Baik, nah, lekas enyah!" bentak It-sik-sin-kai.

Sam-bi-sin-ong mendengus satu kali dan segera melompat pergi dengan cepat hanya sekejap saja sudah menghilang di tengah hutan sana.

Kemudian It-sik-sin-kai pun tampil dari dalam hutan, ia mendekati batu yang tadi dibuat tempat duduk Sam-bi-sin-ong itu, selagi ia hendak duduk dan baru saja tubuhnya setengah berjongkok, sekonyong- konyong ia tergeliat dan mulut tertumpah darah segar.

Keruan Kiam-eng terkejut dan cepat memburu maju untuk memayang orang tua itu, tanyanya kuatir, "Hei, Ang-pang-cu ..."

Cepat It-sik-sin-kai mendekap mulut anak muda itu sambil mendesis, "Ssst, jangan tanya lagi lekas duduk dan anggap saja seperti pengemis tua tidak terluka apa-apa."

Lalu ia dorong agar Kiam-eng duduk di atas batu.

"Cara bagaimana Ang-pang-cu sampai terluka?" tanya Kiam-eng.

"Mungkin kamu tidak percaya bila aku ceritakan. Si orang berkedok hijau itulah yang melukaiku." "Huh, masa kepandaian orang itu bisa melebihi Ang-pang-cu?" Kiam-eng menegas dengan terkesiap. "Ya, betapa tinggi kung-fu nya sungguh jarang aku lihat selama hidup ini ..."

"Memangnya bisa lebih tinggi daripada Kiam-ong Ciong-Li-cin?" tanya Kiam-eng pula dengan heran. "Pasti tidak di bawah Kiam-ong Ciong-Li-cin dan juga gurumu," tutur si pengemis tua dengan prihatin.

Sungguh berita yang sangat mengejutkan. Padahal sejak pertemuan besar para jago kelas wahid pada belasan tahun yang lalu itu, Kiam-ong Ciong-Li-cin dan Kiam-ho Lok-Cing-hui sudah diakui sebagai tokoh nomor satu dan dua yang tidak ada tandingannya. Malahan pernah ada orang yang berani memastikan bahwa selama Kiam-ong dan Kiam-ho masih hidup, mutlak takkan ada tokoh lain yang dapat mengungguli mereka.

Bahkan untuk mengungguli tokoh lain seperti Tok-pi-sin-kun, It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong yang merupakan tokoh nomor tiga, empat dan lima itu pun sulit sebab betapa tinggi kung-fu antara ke lima tokoh teratas itu boleh dikata tidak banyak selisihnya.

Misalnya Kiam-ong Ciong-Li-cin yang diakui sebagai nomor satu, meski dia dapat mengalahkan Sam-bi- sin-ong, namun untuk itu juga diperlukan melalui suatu pertarungan sengit baru akhirnya dapat menentukan kalah dan menang. Dan sekarang hanya dalam waktu setengah jam saja si orang berkedok hijau itu sudah dapat melukai It-sik-sin-kai, maka betapa tinggi ilmu silatnya sungguh sangat mengejutkan.

Begitulah, setelah termenung sejenak, kemudian Kiam-eng tanya pula dengan kuatir, "Sesungguhnya bagaimana kejadian yang dialami Ang-pang-cu tadi?"

"Waktu meloncat ke atas puncak tadi, aku lihat sesosok bayangan secepat terbang lari ke arah tenggara, segera aku kejar ke sana. Kira-kira beberapa li jauhnya tetap sukar aku susul, akhirnya dia sendiri yang berhenti untuk menghadapi aku, ia mengaku sebagai Raja Rimba, katanya barang siapa masuk ke wilayah kekuasaannya harus mati di bawah pukulannya. Cuma ia bilang pengemis tua adalah tokoh lain daripada yang lain, maka pengemis tua hanya di suruh menyembah dan minta maaf padanya, lalu jiwaku akan di ampuni. Hm, caranya bicara itu jelas memaksaku untuk bergebrak dengan dia, maka tanpa banyak bicara lagi segera aku labrak dia ..."

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, "Semula aku sangka gin-kang nya sangat tinggi dan kung-fu lain mungkin tidak seberapa, maka sebelum bergerak sudah aku remehkan dia, mungkin lantaran inilah sehingga pengemis di kalahkan dengan cepat ..."

Kiam-eng tidak tahan dan cepat tanya lagi "Memangnya sampai berapa lama Ang-pang-cu bergebrak dengan dia?"

"Lebih tiga ratus jurus," tutur si pengemis tua. "Pada jurus terakhir dadaku terkena pukulannya dan aku dikalahkannya."

Kiam-eng pikir jika gurunya hendak mengalahkan ketua Kai-pang ini, paling banter juga diperlukan ribuan jurus, maka kejutnya tak terperikan oleh cerita It-sik-sin-kai itu, segera ia tanya pula, "Adakah Ang-pang-cu mengenali asal-usul ilmu silatnya?"

"Tidak." si pengemis tua menggeleng. "Yang paling mengejutkan dan juga memalukan pengemis tua adalah sama sekali aku tidak kenal asal-usul kung-fu nya, tampaknya ilmu silatnya sangat majemuk, seperti segala macam ilmu silat di dunia sama dikuasainya, bahkan dia dapat menggunakan telapak tangan sebagai pedang dan memainkan ilmu pedang andalan Kiam-ong Ciong-Li-cin dan Peng-lui-kiam- hoat perguruanmu."

"Hah, masa bisa terjadi begitu?" seru Kiam-eng kaget.

Bahwasanya si orang berkedok hijau dan ke tiga anak buahnya sama mahir berbagai ilmu silat dari beberapa perguruan, biarpun hal ini cukup mengejutkan, namun masih dapat dimengerti bilamana pada waktu muda mereka pernah belajar pada berbagai perguruan itu. 

Akan tetapi si orang berkedok hijau itu juga mahir kung-fu andalan Kiam-ong dan Kiam-ho betapapun hal ini sukar dimengerti. Sebab kung-fu ke dua tokoh top itu sangat tinggi dan ajaib, siapapun sukar menirunya kalau tidak mendapat ajaran langsung dari ke dua tokoh itu sendiri.

It-sik-sin-kai menghela napas, tuturnya pula "Aku kira orang berkedok hijau itu pasti seorang tokoh yang sudah sangat kita kenal."

Dengan tak acuh Kiam-eng mengangguk dan menjawab. "Ya, kalau tidak, mengapa pakai kedok segala?" "Namun aku justru tidak habis pikir siapakah dia sebenarnya ..."

Kiam-eng juga tidak ingat tokoh dunia persilatan mana yang dalam waktu sepuluh tahun singkatnya itu dapat menguasai kung-fu yang melebihi Kiam-ong dan gurunya sendiri, maka ia coba tanya lagi, "Dari suara orang itu dapatkah Ang-pang-cu memperkirakan berapa usianya?"

"Ya, aku taksir lebih 90-an tahun," kata It-sik-sin-kai.

"Tepat, wan-pwe juga merasa dia seorang tua berusia lebih 90 tahun, berdasarkan ini, dapatkah Ang- pang-cu meraba beberapa tokoh yang sekiranya mencurigakan?"

Si pengemis tua menggeleng, "Tetap tidak teringat olehku. Dahulu dalam pertemuan besar itu. Tokoh pilihan yang hadir seluruhnya aku kenal dengan baik dan tiada satu pun di antaranya, perlu dicurigai, sebab orang mampu atau tidak mencapai sukses latihan kung-fu nya, pada umur 30-an sudah dapat dipastikan. Selewatnya umur 30, kalau

tidak ada penemuan istimewa, rasanya sukar mencapai kemajuan yang berarti. Dan bila orang berkedok hijau itu dahulu pernah hadir dalam pertemuan besar para ksatria itu, waktu itu usianya tentu juga sudah sekitar 50-an, dan dilihat dari kepandaiannya sekarang, waktu itu seharusnya dia sudah mampu menandingi Kiam-ong dan Kiam-ho."

"Ya, jika dia sebenarnya seorang kosen yang suka mengasingkan diri, sekarang dia sengaja muncul secara mendadak di dunia persilatan, mengapa pula dia tidak berani memperlihatkan wajah aslinya kepada umum?" kata Kiam-eng.

"Betul, makanya aku pun tidak mengerti ..." "Ke tiga anak buahnya juga mempunyai kepandaian yang hebat, tadi kalau Sam-bi-sin-ong tidak menggunakan granat asap pedas, mungkin dia akan dikalahkan lawan."

"Oo, orang berkedok hijau itu ada tiga anak buah?" si pengemis tua menegas dengan terkesiap.

"Betul," lalu Kiam-eng menceritakan munculnya Sih-Hou bertiga sesudah si pengemis tua mengejar musuh tadi.

"Wah, jika begitu, Sam-bi-sin-ong ternyata benar telah menyelamatkan jiwamu," kata It-sik-sin-kai.

"Ya, maka dalam hatiku juga sangat berterima kasih padanya. Cuma sayang dia tetap tidak lupa pada kota emas itu, betapapun bukanlah orang golongan kita."

It-sik-sin-kai menghela napas gegetun, "Si makhluk aneh Pek-li-Pin itu memang dikenal tidak menentu tindak-tanduknya dan terletak di antara baik dan buruk, sekarang ia pun mengincar kota emas itu, biarpun aku tonjolkan Kiam-ong atau gurumu untuk menasehati dia juga jangan harap membuatnya mundur teratur. Pendek kata, kalau dia tidak mencelakaimu, ya biarkan saja."

"Dan bagaimana dengan luka Ang-pang-cu, apakah parah?" tanya Kiam-eng.

"Mendingan, baru saja aku sudah minum obat, setelah istirahat semalam, tentu besok sudah dapat pulih seperti biasa."

"Jika begitu, marilah kita mengaso di tempat dara dekat parit sana, di sana tidak ada pepohonan, kalau ada musuh atau binatang buas akan lebih mudah diketahui ..."

Begitulah mereka bertiga lantas turun ke tempat datar di bawah dan duduk bersandar dinding tebing untuk istirahat. Semalaman pun dilalui tanpa terjadi apapun.

Paginya, Kiam-eng berhasil memburu seekor babi hutan. Mereka lantas bekerja keras, yang satu memotong hewan itu dan yang lain membuat api serta memanggang babi hutan itu.

Habis makan kenyang, sisa babi panggang itu dibagi menjadi tiga dan dibungkus dengan baik dan dibawa mereka, lalu melanjutkan perjalanan.

Menurut dugaan, si orang berkedok hijau dan ke tiga anak buahnya pasti akan berusaha merintangi mereka. Tak tersangka, meski sudah dua hari mereka menempuh perjalanan tidak terjadi lagi sesuatu.

Hari ke tiga, pada waktu magrib, ketika mereka menuruni lereng tebing yang curam menuju ke depan hutan yang tampaknya berada di sebuah selat, mendadak Su-Kiam-eng menghentikan langkahnya dan berkata, "Apabila kita tidak salah jalan, mungkin kita sudah hampir sampai di kota emas itu."

Semangat It-sik-sin-kai terbangkit, ucapnya dengan gembira, "Wah, semoga tepat perhitunganmu dan bukannya tersesat. Sungguh runyam bila terus menerus kita harus menelusuri rimba purba yang lebat dan banyak binatang buas ini."

Segera Kiam-eng mendahului memimpin ke depan dan masuk ke hutan yang terletak di tempat datar itu. Tidak seberapa jauh, tiba-tiba terasa dingin dan lembab luar biasa di dalam hutan, bahkan ada semacam bau busuk yang memualkan dan sangat menusuk hidung, ia tahu kembali ada gas racun lagi. Cepat ia berhenti dan mengeluarkan pil yang disimpannya dalam baju, disodorkannya kepada It-sik-sin-kai dan Kalina setiap orang satu biji, ia sendiri juga minum satu biji.

"Di tempat ini di mana-mana ada gas racun, kalau tidak membawa obat anti gas racun, mungkin sangat sulit untuk mencapai kota emas itu," tanya Kiam-eng.

Dahulu, cara bagaimana su-heng mu mencapai kota emas?" tanya si pengemis tua.

"Sebelum su-heng ku mencapai kota emas dia sudah cacat total, dia bawa ke sana oleh ayah nona Ka dan beberapa suku Pek-ih yang baik hati mungkin suku bangsa Pek-ih itu juga paham cara menghindari gas racun, maka dapat mencapai kota emas dengan aman."

Sembari bicara ia melanjutkan lagi ke depan.

Setelah beberapa puluh meter lagi, tiba-tiba dari dalam hutan di depan sana sayup-sayup terdengar suara rintihan yang lemah. Terkesiap hati Kiam-eng, ia menoleh dan mendesis, "Coba dengarkan, Ang-pang-cu, agaknya di depan ada orang."

It-sik-sin-kai coba mendengarkan dengan cermat, lalu katanya dengan lirih, "Dari suaranya seperti seorang sakit yang mendekati ajal, cuma sangat mungkin pula sesuatu perangkap yang diatur oleh si orang berkedok hijau, biarlah pengemis tua memeriksa dulu ke sana."

Habis berkata ia terus maju ke arah suara itu.

Hutan sangat lebat dan rapat, untuk lalu di situ hampir setiap kali harus memiringkan tubuh, pula hutan tidak tembus cahaya matahari, maka hanya sebentar saja si pengemis tua sudah lenyap dalam kegelapan.

Kiam-eng melolos pedang dan mengawal di samping Kalina, ia tahu semakin mendekati kota emas, semakin besar pula bahaya yang akan dihadapi. Bilamana si orang berkedok hijau itu hendak merintangi dia mengambil Jian-lian-hok-leng, jelas orang takkan membiarkan dia masuk ke kota itu dengan aman.

Kiam-eng pasang mata telinga dengan cermat, ia tunggu sebentar dengan diam, tiba-tiba terdengar suara It-sik-sin-kai di depan sana, "Su-lau-te, bolehlah kalian maju kemari!"

Segera Kiam-eng menarik Kalina dan menuju ke arah suara, setelah menerobos hutan yang rimbun, sekilas terlihat It-sik-sin-kai berdiri di samping seorang tua berbaju hijau, ia sangka si orang berkedok hijau telah dibekuk, dengan girang ia memburu maju.

Tapi setelah dekat dan diamati baru diketahui si kakek baju hijau ini adalah Lau-ho-li Cu-kat-Leng. "Huh, dia?!" seru Kiam-eng kaget. "Apakah dia keracunan dan akan mati?"

Keadaan Lau-ho-li Cu-kat Leng memang tampak payah, si rase tua yang biasanya disegani orang kang- ouw itu sekarang mukanya tampak pucat dan sinar mata buram, dengan kempas-kempis menggeletak di bawah pohon, agaknya memang sudah dekat dengan ajalnya.

Kiam-eng coba berjongkok dan memeriksa orang tua itu, katanya kemudian, "Lau-ho-li, apakah engkau terkena gas racun?"

Wajah Lau-ho-li kelihatan kaku, mulut setengah menganga, hanya terdengar suara "ah-uh" saja dan sukar untuk bicara.

Cepat Kiam-eng mengeluarkan dua biji pil anti racun dan dijejalkan ke mulut Lau-ho-li, lalu katanya kepada It-sik-sin-kai, "Tampaknya sangat parah keracunan, entah obatku dapat menyelamatkan dia atau tidak ... "

"Ya, coba saja," ucap si pengemis tua.

"Lau-ho-li ini semula berada bersama Sam-bi-sin-ong, yaitu karena ingin mendapatkan peta rahasia kota emas, jika peta itu sudah direbut oleh si orang berkedok hitam, dengan sendirinya kerja sama di antara mereka berdua tidak diperlukan lagi."

Tengah bicara, tiba-tiba kedua kaki Lau-ho-li kelihatan berkelojotan dua kali, kepala lantas miring, nyata sudah menghembuskan napas terakhir.

Kiam-eng melengong, tanyanya kepada si pengemis tua, "Aneh, mengapa bisa terjadi demikian?"

It-sik-sin-kai coba memeriksa kelopak mata Lau-ho-li, katanya kemudian, "Ah, kita salah duga. Lau-ho-li bukan mati keracunan melainkan mati terluka."

"Dia mengalami luka apa?" tanya Kiam-eng heran.

It-sik-sin-kai meraba kaki dan tangan Lau-ho-li, lalu membuka pula dada bajunya, maka terlihatlah ada sebuah bekas telapak tangan di bagian dada bekas tapak tangan itu ambles cukup dalam.

Rupanya Lau-ho-li mati terpukul musuh dengan pukulan yang dahsyat sehingga hancur isi perutnya. Melihat bekas telapak tangan itu, seketika air muka It-sik-sin-kai berubah, ucapnya, "Hm, kiranya dia!" "Dia siapa? Maksudmu si orang berkedok hijau?" Kiam-eng menegas. "Betul," jawab si pengemis tua. "Waktu aku juga kena pukulannya, keadaan serupa Lau-ho-li, tapi isi perutku tidak sampai tergetar hancur."

"Kung-fu Lau-ho-li meski di luar ke-10 tokoh terkemuka jaman ini, tapi bicara tentang tipu akal dia justru nomor satu di dunia. Tak tersangka dia juga tidak dapat lolos dari pukulan maut si orang berkedok hijau," ucap Kiam-eng dengan gegetun.

"Cuma kalau bicara tentang tingkah lakunya, kematian Lau-ho-li tidak perlu disayangkan," ujar It-sik-sin- kai.

"Mengingat sesama orang persilatan, biarlah kita mengubur dia," ajak Kiam-eng sambil melolos pedang.

Dengan sendirinya It-sik-sin-kai tidak membantah, ke dua orang lantas menggali liang untuk mengubur Lau-ho-li.

"Inilah mayat ke enam yang kita kubur sejak memasuki rimba raya ini," ucap Kiam-eng dengan menyesal. "Semoga selanjutnya takkan terjadi lagi ..."

"Ini sukar dipastikan, bukan tidak mungkin esok akan menjadi giliran kita ..." si pengemis tua tersenyum getir.

Kiam-eng terdiam sebentar, tanyanya kemudian. "Lain kali bila memergoki dia, umpamakan kita berdua mengerubut dia, menurut perhitungan Ang-pang-cu dapatkah mengalahkan dia?"

"Tidak, paling banter hanya dapat menandingi dia dengan sama kuat saja," jawab si pengemis tua.

"Wah, jika begitu, jelas kita pasti akan kalah, sebab dia masih ada tiga anak buah yang sangat lihai, " ujar Kiam-eng.

"Ya, tahu begini, malam tempo hari mestinya tidak boleh kita usir Pek-li-Pin," kata si pengemis tua. "Meski dia juga bukan tandingan si orang berkedok hijau, namun dia memiliki Yan-mo-tan untuk menghadapi Sih-Hou bertiga tentunya tidak menjadi soal."

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ada orang bergelak tertawa di belakang mereka, "Hahaha, jika begitu ucapan Ang-pang-cu, biarlah aku perlihatkan diri lagi."

Jelas itulah suara Sam-bi-sin-ong.

It-sik-sin-kai melengak, tapi lantas memaki, "Keparat, rupanya sejauh ini kamu masih membuntuti kami."

Terdengar Sam-bi-sin-ong yang sembunyi di dalam hutan itu tergelak pula dan menjawab, "Haha, aku hanya sendirian, kalau tidak membuntuti kalian, ke mana aku dapat pergi?"

"Lekas menggelinding ke luar!" bentak It-sik-sin-kai.

Maka terdengarlah suara gemersek daun pohon, lalu Sam-bi-sin-ong melompat turun dari kelebatan pohon, katanya sambil memberi hormat kepada si pengemis tua, "Ang-pang-cu, sekarang kita sedang menghadapi musuh tangguh, selanjutnya kita perlu bekerja sama jika ingin pulang ke Tiong-goan dengan hidup, maka jangan lagi Ang-pang-cu suka marah-marah padaku."

"Asal saja kamu Pek-li-Pin tidak melulu mementingkan diri sendiri saja tentu aku pun tidak perlu banyak omong."

"Baiklah kan sejak mula sudah aku katakan mau membantu Su-Kiam-eng mengambil Jian-lian-hok-leng," kata Sam-bi-sin-ong.

"Tapi kau pun harus mengerti, kerja sama kita hanya terbatas untuk menghadapi si orang berkedok hijau saja, mengenai emas di kota misterius yang hendak kau rebut itu adalah urusan sendiri," kata It-sik-sin- kai dengan kereng.

"Sudah tentu. Cuma menurut pandanganku, selama si orang berkedok hijau belum ditumpas, selama itu pula Su-Kiam-eng takkan mampu mengambil Jian-lian-hok-leng dan selamanya juga harta karun itu takkan aku peroleh." "Jadi maksudmu harus menumpas dulu si orang berkedok hijau?" tanya si pengemis tua.

"Betul," Sam-bi-sin-ong mengangguk. "Biarpun belum pernah aku bergebrak dengan orang itu, namun aku tahu kung-fu nya sangat tinggi dan sukar untuk ditandingi kita dengan satu lawan satu. Maka aku kira perlu gabungan kita baru dapat menumpasnya."

It-sik-sin-kai tampak marasa ragu, katanya, "Hm, selama aku berkecimpung di dunia kang-ouw belum pernah aku main kerubut ... "

"Akan tetapi jangan lupa, keadaan sekarang luar biasa, jika kamu benar-benar ingin membantu Su- Kiam-eng mendapatkan Jian-lian-hok-leng, maka untuk sementara kamu harus kesampingkan dahulu nama baik dan kedudukanmu di dunia persilatan."

"Lalu, siapa pula yang akan menghadapi ke tiga orang yang lain?"

"Dengan sendirinya dia yang harus melayani mereka," Sam-bi-sin ong menuding Su-Kiam-eng. Kamu saja tidak dapat menandingi mereka, masa Su-lau-te sanggup?"

"Bila ke dua pihak sudah berhadapan tentu dapat aku bantu dia dengan Yan-mo-tan, asalkan dia sanggup bertahan sebentar, mungkin kita sudah dapat membereskan si orang berkedok hijau."

Lalu It-sik-sin-kai tanya Su-Kiam-eng, "Dapatkah kamu bertahan sebentar di tengah Yan-mo-tan?"

"Mungkin bisa, kalau tidak tahan, biarlah aku berdiri diam saja, dengan cara begini sudah cukup membuat bingung mereka," ujar Kiam-eng.

"Baiklah, boleh lakukan cara begitu," kata si pengemis tua.

"Jika begitu, sekarang juga kita masuk saja ke kota itu," ajak Sam-bi-sin-ong.

"Sekarang juga? Kau tahu kota emas itu terletak di dekat sini?" It-sik-sin-kai menegas dengan heran.

"Betul," Sam-bi-sin-ong mengangguk. "Tadi waktu aku melayang di puncak pohon sudah aku lihat benteng emas itu. Kalau tidak percaya boleh coba kalian loncat ke atas untuk melihatnya sendiri."

Habis berkata ia terus mendahului meloncat lagi ke puncak pohon.

Tergetar juga hati It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng demi mendengar orang sudah menemukan kota emas atau benteng emas. Cepat mereka ikut meloncat ke atas.

Sudah berada di puncak pohon dan coba memandang jauh ke sana, seketika It-sik-sin-kai dan Su-Kiam- eng berseru gembira.

Ternyata memang benar, kira-kira beberapa li di tengah rimba sana berdiri menjulang tinggi lima buah pagoda itu mirip sumbu bunga teratai, tinggi tegak dan memantulkan cahaya ditimpa sinar matahari senja, dipandang dari jauh mirip lima buah obor raksasa, sungguh megah dan indah sekali.

Itulah Kota Emas!

Itulah Benteng Emas!

Benteng Emas purba yang sudah dilupakan oleh manusia!

Terbelalak Kiam-eng memandangi kemegahan bangunan kuno yang indah itu, darah serasa bergolak dalam rongga dadanya, sangat gembiranya hampir saja ia berteriak seperti orang gila.

Sebelum ini, betapapun ia ragu apakah di tengah rimba purba ini bisa terdapat sebuah bangunan kuno yang indah? Tapi percaya!

Cukup melihat bangunan ke lima pagoda raksasa itu saja sudah tidak sulit untuk membayangkan keadaaan di dalam benteng, juga tidak sulit untuk menerka dahsyat yang pernah menghuni kota itu dahulu dan orang mencatat dalam lembaran sejarah yang gemilang.

Akan tetapi, mereka itu termasuk orang apa? Suku bangsa apa? Negara mana? Mengapa pula mereka bisa punah?

Kiam-eng termenung sampai lama dan ingin menemukan setitik jawaban.

Setelah memandang sejenak, tiba-tiba It-sik-sin-kai berpaling dan tanya Sam-bi-sin-ong, "Pek-li-Pin, jika kota emas itu sudah kau temukan, mengapa kamu tidak datang sendirian ke sana?"

"Hehe, sebabnya aku dapat hidup panjang umur sampai sekarang, yang utama adalah karena aku selalu waspada dan hati-hati ... " jawab Sam-bi-sin-ong dengan tertawa. "Aku yakin si orang berkedok hijau pasti bersembunyi di sana untuk menjebak mangsanya."

"O, maka kau perlu cari beberapa pembantu begitu?" tanya si pengemis tua. "Betul. Sebaiknya bila kalian tidak aku bantu sama juga bahayanya, betul tidak?"

It-sik-sia-kai tidak menanggapi lagi, ia lompat turun dan berseru, "Ayo berangkat mumpung hari belum gelap, marilah kita masuk ke benteng itu!"

Ke tiga orang lantas melompat turun ke bawah. Segera It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong mendahului berangkat disusul oleh Su-Kiam-eng dan Kalina.

Setelah meneruskan perjalanan dua-tiga li, mendadak hutan lebat di depan menghilang yang muncul di depan mereka adalah sebidang tanah rumput yang lapang dan seperti pernah diolah manusia.

Dan bangunan raksasa yang misterius tadi kini pun sudah terlihat jelas di depan tanpa halangan apa pun.

Terlihat di bawah ke lima pagoda raksasa itu ada benteng kurung sepanjang dua li dipandang dari jauh seperti berlapis-lapis dan berderet-deret, sungguh sangat megah.

Cuma benteng batu raksasa ini tampaknya tidak mirip sebuah kota melainkan lebih mirip sebuah puri raksasa.

Selagi mereka berempat memandang dengan terkesima, lebih-lebih Kalina, wajahnya tampak pucat dan tubuh pun gemetar.

Kiam-eng memegang tangan si nona dengan erat, katanya lirih dengan menahan perasaan sendiri yang bergolak, "Jangan takut, nona Ka, masa tidak kau rasakan betapa indah bangunan benteng kuno ini"

Dengan gemetar Kalina menjawab, "Kabarnya ... kabarnya kota emas ini pernah ... pernah dimanterai oleh setan iblis ... barang siapa masuk ke sana pasti akan mati. Apakah benar kalian hendak ... hendak masuk ke sana?"

"Jangan percaya pada obrolan yang menyesatkan itu." ujar Kiam-eng tertawa. "Bukankah ayahmu dan su-heng ku pernah masuk ke sana, kemudian juga sama pulang dengan selamat?"

"Tapi sesudah pulang ayahku pernah jatuh sakit payah dan hampir saja meninggal," tutur Kalina.

"Sam-bi-sin-ong melirik si nona sekejap dengan rasa geli, lalu berkata kepada Kiam-eng, Su-Lau-te, tampaknya su-heng mu pernah berdusta juga."

"Apa maksudmu?" tanya Kiam-eng dengan melengak.

"Bahwa bangunan ini sebuah benteng kuno memang tidak salah, namun jelas bukan dibangun dengan emas seperti cerita su-heng mu itu."

"Apakah menurut bayanganmu, kau kira 'kota emas' ini dibangun dengan emas murni," tukas It-sik-sin- kai.

Muka Sam-bi-sin-ong agak merah, jawabnya, "Ya, mungkin yang dimaksud dia adalah ke-180 patung dan puri yang dibangun dengan lantakan emas, semuanya terdapat di dalam benteng kuno."

Kiam-eng menunjuk bangunan raksasa itu dan bertanya, "Menurut pandangan Ang-pang-cu, bangunan itu lebih tepat disebut benteng atau puri?"

"Aku pun tidak mengerti," jawab si pengemis tua. "Kalau dibilang benteng, ternyata tidak ada tembok bentengnya, dikatakan puri, nyatanya ada parit yang mengelilingi bangunan raksasa itu." Sam-bi-sin-ong mendahului jalan ke depan, katanya, "Peduli kelenteng atau benteng, marilah kita periksa ke sana dan semuanya akan jelas."

Setelah melintasi sebuah parit pelindung benteng yang lebarnya beberapa meter, lalu menelusuri sebuah jalan sepanjang beberapa ratus meter, kemudian mereka mendaki tiga tingkat panggung batu yang datar dan luas, lalu mendaki lagi banyak undak-undakan batu, akhirnya mereka berada di depan pintu gerbang bangunan yang bukan benteng dan bukan puri ini.

Baru sekarang mereka dapat melihat jelas, bangunan bukan benteng dan bukan puri ini disusun oleh batu-batu raksasa, dinding dan lantai penuh ditumbuhi lumut dan rumput, sebuah pagoda tinggi yang tepat menghadap pintu gerbang tingginya hampir seratus meter, dipandang dengan mendongak dapat membuat orang pusing kepala dan mata berkunang-kunang.

Ke dua samping gerbang adalah dua serambi yang luas dan lurus, panjangnya ada satu li, pilar batu yang besar berjajar dan sukar dihitung jumlahnya.

Meski di mana-mana sama tertutup oleh lumut dan debu, namun samar-samar terlihat jelas bangunan raksasa ini pernah mengalami masa jayanya yang gemilang. Hampir di mana-mana terdapat ukiran timbul gambar malaikat dan setan.

Mereka tidak berani langsung memasuki pintu gerbang itu, lebih dulu mereka meninjau di sekitar serambi dan melihat pilar dan dinding juga banyak terukir gambar timbul bidadari, semua gambar bidadari itu diukir telanjang bulat, hanya bagian kepala memakai topi bunga yang entah apa namanya, leher pun pakai hiasan kalung dan bagian pinggang memakai "gaun" yang terbuat mirip benang atau rumput.

Cuma gaya ukiran bidadari itu tampak sangat indah, semuanya bergaya seperti lagi menari, kelihatannya sangat suci dan anggun, tiada tanda-tanda cabul setitik pun.

"Aha, tempat ini tentu bekas sebuah puri raksasa untuk upacara adat!" kata It-sik-sin-kai sambil berhenti.

Sam-bi-sin-ong dan Su-Kiam-eng sama mengangguk dan menjawab, "Betul, tempat ini memang sebuah puri tempat upacara sembahyang."

"Bahkan berani aku katakan bahwa inilah puri upacara sembahyang yang terbesar sejak dulu sampai sekarang," ucap si pengemis tua dengan khidmat.

"Wah, melulu sebuah puri saja dibangun sebesar ini, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya keseluruhan kota emas ini," ujar Sam-bi-sin-ong dengan gegetun.

Sorot mata It-sik-sin-kai berpindah dari ukiran dinding ke wajah Kalina, tiba-tiba ia tanya "Nona Ka, suku Pek-ih kalian apakah sudah lama mengetahui tempat seperti kota emas ini?"

"Ya, sudah lama mengetahuinya," jawab Kalina, sambil mengangguk.

"Jika begitu, tentu kau tahu sejarah yang menyangkut kota emas ini?" tanya si pengemis tua dengan girang.

"Tidak, aku tidak tahu, orang dalam suku kami juga tiada seorang pun yang tahu sejarah kota emas ini mungkin sudah berumur ribuan tahun," tutur Kalina, "Suku Pek-ih kami tidak serupa bangsa Han kalian yang mempunyai catatan sejarah, maka sejauh ini kami cuma tahu di tengah rimba ini terdapat sebuah kota purba, lain tidak.

"Jika suku Pek-ih kalian sudah tahu adanya kota kuno ini, mengapa kalian merahasiakannya, padahal hubungan suku Pek-ih kalian dengan bangsa Han kami biasanya cukup akrab" tanya pula si pengemis tua.

"Soalnya kami menganggap kota kuno ini tempat bermukimnya setan iblis dan menakutkan, maka siapa pun tidak berani menyebutnya," tutur Kalina.

It-sik-sin-kai memandang lagi kian kemari, katanya kemudian, "Aku percaya orang yang menghuni kota ini dahulu pasti ada hubungan dengan negeri Tiong-goan kita. Sayang pengemis tua tidak banyak mengenyam sekolahan, entah di dalam kitab kita terdapat catatan mengenai kota emas ini atau tidak?" "Dahulu pernah aku baca sejilid buku yang berjudul 'Catatan adat istiadat Canla' karangan Ciu-Tat-koan pada jaman kerajaan Goan. Kitab itu menulis kebiasaan penduduk sebuah negeri Canla yang terletak jauh terpencil di selatan, entah kota emas ini apakah sama dengan negeri Canla yang ditulis itu ... "

"Bagaimana menurut penuturan dalam buku itu?" tanya It-sik-sin-kai.

"Kalau tidak salah ingat, kitab itu mencatat bahwa negeri Canla itu dibangun oleh orang Kimi (mungkin bangsa Khmer di negeri Kamboja sekarang) dan merupakan sebuah negeri yang kuat dan berpengaruh, sering menyerbu dan menaklukkan negeri lain, lalu menawan rakyat negeri yang dikalahkannya itu untuk disuruh kerja paksa menggali batu dan membangun istana, hidup bangsa kami itu sangat mewah dan boros, kehidupan orang Kimi itu dilukiskan dengan gambaran. Pangan mudah diperoleh, perempuan gampang didapat tempat tinggal mudah dibangun, alat perabot serba cukup, jual-beli lancar terlaksana. Hanya begitu saja yang aku ingat."

"Jika diumpamakan kota kuno ini benar negri Canla yang disebut dalam kitab karangan Ciu-Tat-koan itu, lalu segenap penduduknya pergi ke mana?" kata pengemis tua.

"Ada tiga kemungkinan. Pertama, karena kejayaan orang Kimi itu akhirnya menimbulkan iri negeri lain yang juga sama kuatnya dan akhirnya orang Kimi tertumpas habis. Kedua, mungkin terjadi semacam penyakit menular sehingga segenap rakyat negri ini mati semua. Ke tiga, mungkin terjadi pemberontakan kaum budak yang disuruh kerja paksa itu, segenap orang Kimi terbunuh habis, lalu semua harta benda negeri Canla dirampok habis dan dibawa kabur entah ke mana."

"Betul," It-sik-sin-kai mengangguk. "Dan kota kuno yang megah ini lambat-laun pun terkubur oleh rimba raya, lama kelamaan urusan negri ini pun terlupakan orang."

Sembari bicara mereka sambil menikmati ukiran dinding serambi, kata pula si pengemis tua dengan bersemangat, "Apa pun juga, yang jelas bangunan ini adalah sebuah kota purba yang luar biasa. Coba kau lihat ukiran timbul pada dinding ini takkan habis kita tinjau selama beberapa hari."

"Apakah Ang-heng bermaksud menikmati ukiran indah ini selama beberapa hari."

"Apakah Ang-heng bermaksud menikmati ukiran indah ini selama beberapa hari?" tanya Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Tidak, beberapa hari saja tidak cukup," jawab It-sik-sin-kai. "Harus aku nikmati dengan perlahan dan aku pelajari dengan teliti sehingga seluruh pelosok kota kuno ini."

"Tapi aku kira, urusan yang paling penting sekarang adalah mencari Jian-lian-hok-leng dan emas yang ingin aku dapatkan itu," tukas Sam-bi-sin-ong dengan tergelak.

"Baiklah, coba kita lihat dulu ke dalam puri raksasa ini," kata It-sik-sin-kai.

Waktu mereka putar balik ke pintu gerbang, hari ternyata sudah gelap, suasana itu tampak gelap gulita dan menimbulkan rasa seram seperti berada di tempat setan, juga menimbulkan keraguan jangan- jangan si orang berkedok hijau dan ke tiga anak buahnya mungkin bersembunyi di dalam dan siap menyergap setiap saat.

Maka It-sik-sin-kai lantas mencari beberapa gebung rumput kering dan diikat, lalu dinyalakan sebagai obor serta mendahului masuk ke sana.

Siapa duga, baru saja ia melangkah masuk pintu gerbang, kontan ia disambut oleh serangkum angin dahsyat yang menerjang dari depan.

It-sik-sin-kai berteriak kaget dan cepat mendak ke bawah, berbareng sebelah tangan terus menghantam.

Sam-bi-sin-ong dan Su-Kiam-eng yang mengikuti di belakangnya juga cepat setengah berjongkok untuk menghindar. Terdengar Suara "berrr" sesosok bayangan melayang lewat kepala mereka dengan cepat.

Waktu mereka menoleh, tanpa terasa mereka menghela napas panjang.

Ternyata bayangan itu adalah seekor macan tutul, setelah meloncat ke luar segera binatang buas itu menuruni undak-undakan batu dan menyusup ke dalam semak-semak.

"Busyet! Rupanya puri kuno ini telah dijadikan sarang oleh binatang buas," ucap Kiam-eng dengan terkejut. "Keparat!" caci It-sik-sin-kai. "Aku kira orang berkedok hijau itu hendak menyergap kita."

"Jika di dalam bangunan ini ada binatang buas, ini menandakan orang berkedok hijau itu tidak sembunyi di sini, maka bolehlah Ang-heng maju terus dan kuatir," ujar Sam-bi-sin-ong.

Belum lenyap suaranya, kembali terdengar suara "ser-ser" yang ramai dan melayang dari depan sana. Kembali si pengemis tua berteriak, "Semua lekas mundur, ini kawanan kelelawar!"

Cepat mereka melompat mundur ke serambi di luar, terlihat kawanan kelelawar berterbangan bergerombol terbang ke udara di luar gerbang yang gelap. Begitu banyak jumlah kelelawar itu sehingga serupa asap yang mengepul dari cerobong.

Sampai sekian lama baru kawanan kelelawar itu habis terbang ke luar. Kening Su-Kiam-eng berkerenyit, katanya, "Ada pendapatku, lebih baik kita menjelajahi seluruh kota ini, esok pagi baru kita masuk ke dalam puri itu. Dengan begitu rasanya akan lebih aman."

"Ya, aku kira begitu lebih baik," sahut It-sik-sin-kai setuju.

Meski Sam-bi-sin-ong sangat ingin lekas menemukan ke-180 patung emas, tapi ia pun merasa kurang aman bila harus mencarinya dalam kegelapan. Maka ia tidak membantah, segera mereka berempat menuju ke sebelah kanan melalui serambi yang panjang itu.

Setelah menelusuri serambi yang panjangnya hampir satu li itu dan membelok ke kanan, akhir nya mereka dapat mengitari puri raksasa itu.

Di belakang puri juga hutan yang lebat, ketika mereka memasuki hutan, ternyata di dalam hutan juga banyak bangunan dari batu, yang mengherankan adalah banyak rumah batu itu sama terkurung oleh akar pohon raksasa.

Itu menandakan bahwa sudah ribuan tahun tidak terdapat manusia di situ sehingga akar pohon pun tidak pernah ditebas, maka bangunan itu pun ditelan oleh tetumbuhan alam yang mirip jari-jari setan iblis itu.

Setelah menelusuri hutan sekian jauh, kembali mereka menemukan banyak rumah berhala yang megah dan jalanan yang lebar, cuma sebagian besar pun sudah terdesak oleh tetumbuhan liar sehingga berubah menjadi tumpukan puing.

Di dalam kota purba ini masih ada lebih 50 buah pagoda dan dua ratusan patung kepala manusia itu hampir sama, semuanya memakai topi berujung runcing dan tingginya belasan meter, semuanya diukir dari batu raksasa.

It-sik-sin-kai terheran-heran, katanya, "patung kepala manusia sebanyak ini entah melambangkan apa?"

"Aku kira patung kepala manusia ini merupakan ukiran kepala para raja yang pernah ikut membangun kota kuno ini, dia memerintahkan kepalanya diukir, maksudnya untuk memperlihatkan wibawa dan kekuasaannya," ujar Kiam-eng.

"Jika benar begitu, maka raja yang berkuasa di sini pasti tokoh yang berwatak keras dan tentu juga lalim."

Sam-bi-sin-ong tampak celingukan kian kemari dan berkata, "Aneh, sudah sekian jauh kita mengitari tempat ini, mengapa tidak terlihat sebuah bangunan yang terbuat dari emas?"

It-sik-sin-kai memandangnya dengan mendongkol, "Terhadap segala apa yang terdapat di dalam kota kuno ini, selain emas apakah tiada sesuatu lagi yang menarik bagimu?"

"Sudah tentu aku pun tertarik oleh kota purba ini," Sam-bi-sin-ong menyengir. "Cuma kedatanganku dari jauh ini, tujuan yang utama kan jelas adalah untuk mendapatkan emas ... "

"Huh!" jengek si pengemis tua dengan jemu dan segera melangkah lagi ke depan sambil berkata kepada Kiam-eng, "Su-lau-te, mari kita coba melihat ke tempat lain." Mereka berempat lantas menyusuri kota kuno itu tanpa tempat tujuan, sampai setengah malaman ternyata belum lagi mengelilingi seluruh kota itu.

"Wah, luas amat tempat ini," seru si pengemis tua. "Entah perlu berapa lama untuk bisa menjelajahi seluruh kota kuno ini?"

"Jika kota ini merupakan suatu negara, mungkin diperlukan perjalanan beberapa hari baru dapat menjelajahi seluruh tempat ini," ujar Kiam-eng.

"Kalau begitu, kota kuno ini tentu dapat memuat ratusan ribu penduduk," kata It-sik-sin-kai.

"Bila benar kota kuno ini adalah negeri Canla yang dimaksudkan Ciu-Tat-koan dalam bukunya itu, maka penduduknya bisa mencapai satu juta," kata Kiam-eng.

"Wah, ini kan jauh lebih besar daripada kota raja di negeri kita?" ucap si pengemis tua sambil menjulur lidah.

"Akan tetapi apakah kota kuno ini benar negri Canla dahulu atau bukan, hal ini tidak berani aku pastikan," kata Kiam-eng pula dengan tertawa.

"Aku yakin pasti benar negri Canla dahulu, kalau tidak masakah ada kota sebesar ini?" ujar It-sik-sin-kai.

Sembari bicara mereka sampai di depan setumpuk puing. Mendadak Sam-bi-sin-ong menarik It-sik-sin- kai dan membisikinya, "Awas, di tengah puing itu bersembunyi musuh!"

Kiam-eng dan It-sik-sin-kai terkejut dan serentak berhenti sambil tanya, "Kau lihat orang sembunyi di sana?"

"Ya," Sam-bi-sin-ong mengangguk. "Baru saja aku lihat sebuah kepala orang mengeret ke balik tembok onggokan puing sana."

"Apakah si orang berkedok hijau?" dengan tegang Kiam-eng ikut tanya.

"Entah, terlampau cepat kepala orang itu mengeret ke balik tembok, tak sempat aku lihat jelas siapa dia," jawab Sam-bi-sin-ong.

It-sik-sin-kai mendesis, "Biarlah kita bertindak menurut rencana, Su-lau-te melindungi nona Ka dan pengemis tua dan Pek-li-Pin menghadapi musuh."

Segera Sam-bi-sin-ong mengeluarkan tiga buah Yan-mo-tan dan diserahkan kepada Su-Kiam-eng, katanya lirih, "Aku beri tiga Yan mo-tan ini, kalau musuh memperlihatkan diri, setiap seminuman teh boleh aku lemparkan sebuah granat berasap ini dan aku jamin kalian takkan berhalangan."

Kiam-eng menerima ke tiga granat berasap itu dengan ucapan terima kasih.

Segera It-sik-sin-kai dan-Sam-bi-sin-ong tertunduk ke depan dan mengepung puing tembok itu dari dua jurusan. Hanya sekejap saja bayangan mereka sudah menghilang di balik kerimbunan pohon.

Perlahan Kiam-eng melolos pedang dan berdiri rapat di samping Kalina. Ia tahu setiba di kota kuno ini, kalau kepergok si orang berkedok hijau adalah kejadian yang sudah terduga. Cuma yang membuatnya tenang adalah kung-fu lawan sesungguhnya terlampau tinggi, pula orang sangat apal terhadap segala sesuatu di kota purba ini, berdasarkan kung-fu dan keuntungan tempat, untuk mengalahkan It-sik-sin- kai dan Sam-bi-sin-ong rasanya juga bukan mustahil, apalagi si orang berkedok hijau masih ada tiga anak buah yang langsung, maka Kiam-eng merasakan pertempuran yang bakal terjadi ini akan merupakan suatu pertarungan antara hidup mati.

Kalina juga merasakan tenangnya suasana, dengan takut ia merapat di samping Su-Kiam-eng, tanyanya lirih, "Kau lihat apakah si orang berkedok hijau atau bukan?"

Selagi Kiam-eng hendak menjawab, tiba-tiba meledak suara gelak tertawa It-sik-sin-kai di tengah puing sana, lalu dari tumpukan puing itu meloncat ke luar dua sosok bayangan.

"Blang," terjadi suara benturan keras, dua sosok bayangan yang melayang ke udara itu telah saling mengadu pukulan, lalu seorang di antaranya melayang turun lurus dan satu lagi tergetar oleh tenaga pukulan dan mencelat jauh ke sana.

Pandangan Kiam-eng cukup tajam, ia lihat yang melayang turun itu adalah It-sik-sin-kai dan orang yang tergetar mencelat itu adalah orang berkedok kain hitam. Keruan ia kegirangan dan berseru, "Ahh, kiranya dia!" Sembari bersuara segera ia tarik Kalina dan berlari ke onggokan puing sana.

Setiba di situ, ternyata betul, orang yang terkurung di situ memang betul si orang berkedok hitam.

Sekarang It-sik-sin-kai berdiri di depan musuh dan Sam-bi-sin-ong berdiri di belakangnya. Jarak masing- masing ada dua-tiga meter dan semuanya siap tempur.

Si orang berkedok hitam itu serupa seekor serigala yang terperangkap, berulang ia celingukan kian kemari, agaknya ingin mencari jalan untuk lolos, sikapnya kelihatan sangat tegang dan gelisah.

Melihat Kiam-eng memburu tiba, It-sik-sin-kai terbahak dan berkata, "Su-lau-te, inilah orang berkedok kain hitam yang menculik su-heng mu itu bukan?"

Dengan bersemangat Kiam-eng menjawab. "Betul, memang dia ini!"

Dia memang sangat gembira. Sejak pihak lawan menculik su-heng dan Kalana, selama ini dia telah berdaya upaya untuk mencari tahu siapa pihak lawan.

Akan tetapi pihak lawan terlampau licin, jejaknya misterius, caranya keji, semua itu tidak di bawah perbuatan si orang berkedok hijau. Namun sekarang tidak perlu pusing kepala lagi, pengganas yang menculik su-heng dan istrinya serta pembunuh para ketua Hoa-san-pai dan lain-lain itu kini sudah kelihatan belangnya.

Mendengar jawab Kiam-eng tadi, segera It-sik-sin-kai berpaling dan berkata kepada orang berkedok hitam. "Nah, sobat, sekarang biarpun kamu tumbuh sayap juga sukar terbang lagi. Kenapa tidak buka saja kedokmu agar kita bisa saling kenal?"

Si orang berkedok hitam tidak menjawab, mendadak kaki melejit, secepat kilat ia melayang ke sebelah kiri.

Akan tetapi, baru saja ia bergerak, Sam-bi-sin-ong yang berdiri di belakangnya tahu-tahu sudah menubruk tiba, tongkat berkepala ular terus menebas pinggang lawan sambil berseru, "Haha, apakah kamu ingin kabur begitu saja kawan?"

Tidak lemah juga orang berkedok hitam, tubuhnya yang mulai mengapung itu mendadak berjumpalitan dan melayang ke samping sehingga sabetan tongkat Sam-bi-sin-ong dapat dihindarkan. Lalu sebelah kakinya memanjat pilar batu yang tersisa di tengah puing itu, kembali tubuhnya melayang lagi ke sebelah kiri sana, nyata tujuannya hendak menyusup ke dalam hutan.

It-sik-sin-kai tidak membiarkan orang lolos begitu saja, melihat cara orang menghindari serangan Sam- bi-sin-ong segera ia tahu ke mana langkah lawan selanjutnya, maka sebelum si orang berkedok melayang ke hutan sana, lebih dulu sudah dicegat oleh si pengemis tua, pentung penggebuk anjing langsung mengemplang kepalanya.

Terhadap musuh umumnya kemplangan pentung bambu It-sik-sin-kai itu biasanya tidak pernah meleset, maka terdengarlah suara "plok", pundak kiri si orang berkedok hitam dengan tepat terpukul, kontan tubuhnya terbalik dan jatuh terbanting?.

Menyusul Sam-bi-sin-ong lantas memburu maju, tongkat kepala ular segera menutuk sehingga Koh-cing- hiat lawan kena ditutuknya. Maka si orang berkedok hitam tidak dapat bergerak lagi.

Kiam-eng sangat girang, secepat kilat ia melompat ke sana dan menarik kain penutup muka lawan. Seketika ia pun menjerit, "Hahh, ternyata kau!?"

Ia menjerit dengan melengong. Ketika It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong tahu jelas siapa orang berkedok hitam itu, mereka pun melongo sehingga tidak dapat bicara.

Kiranya orang berkedok kain hitam ini tak-lain-tak-bukan ialah Sai-hoa-to Sim Tiong-ho adanya!"

Hal ini mungkin mimpi pun tak pernah terpikir oleh siapa pun. Siapa yang menyangka orang yang menculik Gak-Sik-lam dan Kalana serta dua kali bermaksud mencelakai Su-Kiam-eng dan hendak membunuh para ketua Hoa-san-pai dan lain-lain ternyata adalah si tabib sakti yang dipandang sebagai kawan yang paling terpercaya oleh Su-Kiam-eng itu?

Sekujur badan Su-Kiam-eng terasa dingin bagai terendam air es. Untuk pertama kalinya ia merasakan manusia adalah makhluk yang paling menakutkan di dunia ini. Teringat olehnya untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, ketika itu si tabib sakti sedang memancing ikan di tepi sungai, tampaknya serupa seorang pertapa yang jauh dari keramaian dunia ...

"Wah, 180 patung emas, ada lagi bangunan kuil yang terbuat dari emas murni, cara bagaimana menilai barang-barang itu?"

"Hm, engkau Sai-hoa-to juga tertarik bukan oleh harta karun itu?"

"Ya, kalau saja kota emas itu dapat dikangkangi menjadi milik sendiri, maka jadilah aku orang kaya raya, memangnya siapa yang tidak tertarik?"

Itulah percakapan yang terjadi dahulu antara Wi-ho Lo-jin dan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Waktu itu Kiam- eng menyangka mereka hanya bergurau saja, siapa tahu si tabib sakti benar-benar tertarik oleh harta karun.

Oleh karena bertekad akan ikut berebut kota emas, maka Sai-hoa-to telah berperan menjadi dua tokoh yang berbeda. Di satu pihak ia membantu usaha Kiam-eng dengan nama dan wajah asli Sim-Tiong-ho, di lain pihak ia menyamar sebagai orang berkedok hitam untuk membuntutinya, pada waktu Kiam-eng membunuh Ih-Wan-hui dan Gu-Thong dulu, dia bersama Te-Long dan Oh-Sam lantas menyerbu ke penjara di bawah tanah, ia gunakan granat berasap untuk membawa lari Gak-Sik-Lam suami-istri.

Kemudian, mungkin Gak-Sik-lam tidak mau mengaku letak kota emas, maka dia sengaja membiarkan dirinya diculik anak buah Tok-pi-sin-kun dan bermaksud merebut peta kota emas, akhirnya ia berbalik "ditolong" oleh Su-Kiam-eng.

Begitulah makin dipikir makin gemas hati Kiam-eng, mendadak ia cengkeram Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho dan membentak, "Bagus sekali perbuatanmu, orang she Sim!"

Muka Sim-tiong-ho tampak merah padam, ia pejamkan mata dan tidak mau bicara. Kalau saja Hiat-to tidak tertutuk, sungguh ia ingin menyusup ke dalam bumi bilamana ada lubang.

Kiam-eng mengguncang-guncang tubuh tabib sakti itu dan berteriak, "Ayo bicara! Kamu tua bangka bermuka manusia tapi berhati binatang, kamu telah mengapakan su-heng dan istrinya?"

Karena tidak tahan diguncang sekerasnya itu, akhirnya Sim-Tiong-ho menyengir dan berucap, "Lepaskan aku, biar aku bicara sejelasnya."

Kiam-eng mendorongnya sehingga tabib itu terguling di tanah, bisiknya, "Lekas mengaku terus terang, kalau tidak, hm, jangan menyesal bila aku tidak kenal ampun lagi."

Perlahan Sim-Tiong-ho berkata, "Su-heng mu dan istrinya masih hidup, aku tidak mencelakai mereka ..." "Mereka berada di mana sekarang?"

"Di rumah Lau-bu-lai Te-Long." "Di mana rumah Lau-bu-lai?"

"Di suatu kota kecil dekat Han-yang." "Di mana letaknya, bicara yang jelas!"

"Biar aku katakan dengan jelas juga tidak ada gunanya sekarang, nanti kalau mau pulang ke Tiong-goan biarlah aku bawa kalian untuk menemui mereka."

"Tidak, sekarang juga harus kau katakan!" bentak Kiam-eng tak sabar. "Setelah aku katakan, segera akan kau bunuh diriku, begitu bukan?"

"Hm, orang yang ingin membunuhmu masih banyak, buat apa perlu aku turun tangan?"

"Jika begitu, setelah aku katakan tempat su-heng mu dikurung, selera akan kau bebaskan diriku?" tanya Sai-hoa-to. "Huh, memangnya begitu enak bagimu?" jengek Kiam-eng.

"Habis, cara bagaimana akan aku perlakukan diriku?" tanya pula si tabib sakti. "Hanya kung-fu saja akan aku musnahkan."

"Di tengah rimba raya yang banyak binatang buas seperti ini, jika kau punahkan kung-fu ku, itu terlebih kejam daripada sekali tusuk kau bunuh diriku. Seorang lelaki sejati harus bisa membedakan baik dan buruk, coba kalau dahulu tidak aku beri obat anti gas padamu, cara bagaimana kamu dapat mendatangi tempat ini?"

"Tapi jangan lupa, dua kali pernah aku hendak kau celakai."

"Itu perbuatan Te-Long dan Oh-Sam, aku tidak setuju dan tidak dapat mencegah mereka ..." "Jangan omong kosong, lekas katakan di mana su-heng ku terkurung?" bentak Kiam-eng.

"Jika kung-fu ku akan kau punahkan, ke sana atau ke sini akhirnya tetap mati, buat apa aku beri keterangan lagi?"

"Hm, jadi kamu berkepala batu dan tetap tidak mau mengaku?" "Ya, tidak!"

"Baik, biar kau rasakan dulu betapa enaknya otot-tulangmu dipuntir-puntir ... "

Bicara sampai di sini, sekali depak Kiam-eng membuat Sai-hoa-to terguling, segera pula ia hendak meremas iga orang.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara jeritan anak perempuan berkumandang dari jauh, "Kakak Eng, lekas kemari, tolong!"

Jelas itulah suara Ih-Keh-ki.

Seketika tubuh Kiam-eng tergeser dan urung menyerang Sai-hoa-to, sinar matanya mencorong terang dan berteriak, "Hm, Keh-ki, itulah suara Keh-ki!"

"Betul, memang betul suara nona Ih," Sam-bi-sin-ong juga berkata dengan terkejut.

Semula Kiam-eng menyangka nasib Ih-Keh-ki pasti lebih celaka dari pada selamatnya, sekarang mendadak terdengar suara jeritan minta tolong di kota emas ini, tentu saja ia terkejut dan bergirang, ia tidak sempat mengurus Sai-hoa-to lagi, cepat ia berkata kepada It-sik-sin-kai dan Sam-bi-sin-ong. "Harap kalian mengawasi dia dan menjaga nona Ka, biar aku pergi menolong nona Ih."

Habis berkata segera ia lari cepat ke sana.

Ia pun tahu Ih-Keh-ki pasti berada dalam cengkeraman si orang berkedok hijau, ia pun tahu kung-fu orang jelas sukar ditandingi, namun sekarang ia tidak peduli lagi semua itu, tujuannya hanya ingin menyelamatkan Ih-Keh-ki dengan cara apa pun.

Suara jeritan Keh-ki itu berkumandang dari sebuah pagoda di sebelah selatan sana, segera ia lari menurut ke arah suara. Tapi setiba di bawah pagoda itu, kembali ia dengar suara teriakan serupa, akan tetapi sekarang suara itu berkumandang dari pagoda lain yang terletak di kejauhan.

Segera pula Kiam-eng lari ke pagoda itu, baru beberapa puluh meter ia lari, tiba-tiba terdengar ada orang mengejar dari belakang, cepat ia lolos pedang dan menahan diri, sedikit mendak, sekonyong- konyong pedang menebas ke belakang.

Begitu pedang bergerak, serentak tubuh pun ikut berputar, terlihatlah sesosok bayangan meloncat ke atas untuk menghindarkan serangannya berbareng pihak lawan pun berseru, "Hei, Su-lau-te, aku inilah!"

Kiranya It-sik-sin-kai adanya.

Kiam-eng melengong, cepat ia tarik pedang dan bertanya, "Maaf, Ang-pang-cu, mengapa engkau tidak mengawasi Sai-hoa-to?" "Aku rasa keselamatan Su-lau-te terlebih penting daripada Sai-hoa-to maka sengaja aku susul kemari!" jawab si pengemis tua.

Kiam-eng juga merasa harapan tertolongnya Ih-Keh-ki akan jauh lebih besar bilamana dibantu pengemis tua ini, muka ia lantas menuding pagoda di kejauhan dengan pedang dan berkata, "Nona Ih berada di pagoda itu, mari lekas kita susul ke sana!"

Berbareng mereka lantas melompat ke depan, dengan gin-kang yang tinggi mereka lari ke sana secepat terbang.

Hanya sebentar saja mereka sudah sampai di bawah pagoda yang dituju, waktu mereka mendongak, terlihat tinggi pagoda itu ada 40-50 meter, pada sebuah jendela mendekati tingkat teratas terlihat si orang berkedok hijau berdiri di sana dengan memondong Ih-Keh-ki.

Darah panas Kiam-eng bergolak, selagi ia hendak menerjang ke atas, cepat It-sik-sin-kai mencegahnya dan berbisik, "Sabar dulu, jangan terperdaya!"

Si orang berkedok hijau juga sudah melihat kedatangan mereka di bawah pagoda dengan tergelak ia berteriak, "Pengemis tua, kalau berani ayolah kalian naik kemari."

"Hehe, kau kira pengemis tua tidak berani?" jengek It-sik-sin-kai. "Kalau berani, ayo, coba saja!" sahut si orang berkedok hijau.

"Baik, tapi kalau memang jantan janganlah kamu lari," seru si pengemis tua sambil tertawa.

Kembali si orang berkedok hijau terbahak-bahak, "Hahaha, lari atau tidak itu kan urusanku jika kalian dapat menangkap diriku barulah terhitung lihai."

It-sik-sin-kai tidak menanggapi lagi ia mendesis terhadap Su-Kiam-eng, "Boleh kau tunggu saja di bawah sini biar pengemis tua yang naik ke sana untuk melabraknya."

"Kan lebih baik aku ikut bersama Ang-pang-cu?" ujar Kiam-eng dengan lirih.

"Tidak, kau jaga saja di bawah pagoda jika dia melompat turun tentu dapat kau cegat dia, dengan begitu baru dia tidak sempat kabur."

Habis berkata ia taruh tikar bututnya, dengan memegang pentung penggebuk anjing segera ia melangkah ke pintu pagoda.

Selama berpuluh tahun bila bertempur dengan orang, tidak pernah It-sik-sin-kai menaruh tikar bututnya. Sekali ini di luar biasanya ia tinggalkan tikar butut, suatu tanda dia sangat prihatin terhadap pertarungan yang akan terjadi.

Menyaksikan pengemis tua itu masuk ke pagoda, hati Kiam-eng merasa kurang tentram, ia merasa membebaskan Ih-Keh-ki adalah kewajibannya sendiri, biarpun harus terjun ke lautan api atau masuk air mendidih seyogianya dilakukan olehnya, namun dia juga sungkan berbantah dengan It-sik-sin-kai, sebab pengemis tua itu adalah tokoh yang sama tingginya dengan gurunya, pula dia pernah dikalahkan orang berkedok hijau itu, jika orang tua itu tidak dibiarkan maju dulu akan berarti memandang rendah padanya dan hal ini tentu takkan dilakukan olehnya.

Lantaran itulah Su-Kiam-eng hanya diam-diam berdoa saja dengan harapan pengemis tua itu dapat kembali dengan selamat, apakah berhasil menolong Ih-Keh-ki atau tidak menjadi urusan kedua malah.

Ia coba menengadah, dilihatnya si orang berkedok hijau masih memondong Keh-ki dan berada di depan jendela, ia pikir selama beberapa hari ini si nona tentu kenyang menderita, ia coba berseru, "Keh-ki, adakah engkau mengalami cedera?"

Keh-ki diam saja berada dalam pondongan orang, tidak memberontak juga tidak menjawab.

Kiam-eng tahu si nona tentu tertutuk hiat-to bisu dan kelumpuhannya, maka tidak dapat bicara dan juga tidak dapat bergerak. Ia coba tanya si orang berkedok hijau, "Hei, bukalah hiat-to bisunya, biar dia bicara denganku, boleh?"

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan dia?" tanya si orang berkedok hijau. Kiam-eng juga sengaja hendak main ulur waktu dan memancarkan perhatian lawan, supaya It-sik-sin-kai ada kesempatan untuk menyergapnya, maka dengan tersenyum ia menjawab, "Asalkan kau buka hiat-to bisunya tentu akan tahu apa yang akan kami bicarakan kenapa mesti tanya lagi?"

"Hehe, kamu sangat suka kepada nona Ih ini bukan?" tanya pula orang itu dengan terkekeh. "Peduli apa kau tanya macam-macam?" jengek Kiam-eng.

Si orang berkedok hijau tertawa, "Meski aku bukan comblang, senang juga bila aku lihat pasangan kekasih berhasil menjadi suami-istri. Jika kamu benar suka kepada nona Ih ini, segera juga aku lempar mengembalikannya padamu."

Diam-diam Kiam-eng terkejut dan kuatir, ucapnya, "Biar aku katakan padamu, dia itu cucu angkat Kiam- ong Ciong-Li-cin, jika sampai kau bikin susah dia, tentu nanti Kiam-ong tidak tinggal diam."

"Hahahaha!" orang itu tergelak. "Kiam-ong Ciong-Li-cin itu terhitung barang apa, masakah hendak kau gunakan namanya untuk menggertak padaku?"

"Hm, kung-fu mu memang hebat, tapi hanya pandai membikin susah seorang nona, terhitung orang gagah macam apa itu?" jengek Kiam-eng.

"Ya, benar juga ucapanmu, biar aku lemparkan kembali nona Ih ini kepadamu," seru si orang berkedok dengan tertawa.

Habis berkata, kedua tangannya mendorong ke luar dan Ih-Keh-ki benar-benar dilemparkannya.

Tenaga lemparannya cukup kuat sehingga tubuh Ih-Keh-ki yang terlempar ke luar pagoda itu serupa panah yang terlepas dari busurnya, dengan cepat meluncur ke hutan di belakang Su-Kiam-eng berdiri sana.

Seorang biasa tanpa cedera pun kalau dilemparkan dari ketinggian seperti itu pasti juga akan terbanting mampus apalagi seorang yang hiat-to tertutuk dan tak bisa berkutik, kalau tidak cepat ditangkap tubuhnya, mustahil takkan terbanting hancur.

Karena itulah Kiam-eng sangat terkejut ia menjerit kuatir dan secepat kilat melayang ke sana.

Pada saat itulah terdengar suara bentakan It-sik-sin-kai di atas pagoda, menyusul terdengar pula suara tertawa panjang si orang berkedok hijau, nyata si pengemis tua sudah memburu sampai di atas pagoda dan mulai bergebrak dengan lawan.

Namun yang paling mendebarkan hati adalah si pihak Su-Kiam-eng sini, lantaran Ih-Keh-ki dilemparkan dari tempat ketinggian dan jelas daya luncurnya sangat cepat, maka Kiam-eng tidak sanggup sekali loncat mencapai tempat Ih-Keh-ki akan jatuh itu, maka baru saja ia memburu sampai setengah jalan sudah terdengar suara "bluk" yang keras, nyata Ih-Keh-ki sudah terbanting ke tanah,

Di tanah pegunungan itu banyak batu yang tidak rata dan tajam, maka akibatnya dapat dibayangkan. Kiam-eng menjerit, hancur luluh hatinya. Ia menubruk ke samping Ih-Keh-ki dan dirangkulnya erat-erat sambil meratap, "Keh-ki! O, Keh-ki!"

Tapi cuma dua kali saja ia berteriak dan mendadak ia berhenti dengan melongo.

Ternyata orang yang berada dalam pangkuannya itu meski sudah terbanting hancur, jelas sudah mati, namun sekali pandang saja Kiam-eng lantas mengenalnya bahwa nona ini bukanlah Ih-Keh-ki melainkan seorang gadis suku bangsa setempat yang memakai baju Ih-Keh-ki.

Hati Kiam-eng rada lega setelah mengetahui korban itu bukan Ih-Keh-ki. Ia tahu telah tertipu oleh akal si orang berkedok yang ingin memancingnya meninggalkan kawannya. Ia pun menyadari It-sik-sin-kai tentu juga akan menghadapi bahaya, maka tanpa ayal ia taruh mayat gadis itu dan putar balik ke arah pagoda tadi.

Tak terduga, baru saja ia sampai di bawah pagoda, dilihatnya It-sik-sin-kai sedang datang dari depan, ia terkejut dan heran, cepat ia berhenti dan tanya, "Hai, Ang-pang-cu tidak menyusul dia?"

"Tidak, dia sempat kabur," tutur si pengemis tua sambil menggeleng kepala.

Kiam-eng memandang ke atas pagoda dengan bingung, ucapnya kemudian. "Pagoda setinggi ini, cara bagaimana dia dapat kabur?"

"Ia menggunakan gin-kang maha tinggi dan melayang ke luar melalui jendela, ketika aku susul kemari sudah ketinggalan ..." tutur si pengemis tua dengan lesu. Lalu ia tanya dengan kuatir, "Bagaimana keadaan nona Ih itu?"

"Dia bukan nona Ih melainkan seorang gadis suku setempat, ia hanya memakai baju nona Ih," tutur Kiam-eng.

"Oo, apa maksudnya keparat itu main gila cara begini?" ucap It-sik-sin-kai dengan melengak. "Semula aku sangka orang itu pasti memasang perangkap di dalam pagoda, sekarang Ang-pang-cu

ternyata tidak mengalami sesuatu bahaya, mungkin yang akan celaka adalah Sam-bi-sin-ong malah ..."

"Ya, betul, Pek-li-Pin mungkin akan disergap mari lekas kita kembali ke sana," seru si pengemis itu. Habis bicara segera ia mendahului lari ke tempat reruntuhan tadi.

Kiam-eng segera menyusul dengan kencang hanya sekejap saja mereka sudah berada kembali di tempat reruntuhan tadi. Terlihat Sam-bi-sin-ong masih berjaga ketat di depan Kalina dengan memegang tongkat kepala ular, namun Sai-hoa-to yang semula rebah di sebelahnya kini sudah tidak tampak lagi.

Di udara situ masih mengepul asap hitam yang cukup tebal, jelas baru saja terjadi pertarungan sengit di situ.

Melihat It-sik-sin-kai dan Su-Kiam-eng sudah kembali, Sam-bi-sin-ong tampak merasa lega, dengan gembira dan juga kikuk ia berkata, "Ang-heng, sekali ini aku kehilangan orang yang kalian percayakan padaku."

It-sik-sin-kai sudah dapat menerka apa yang terjadi, tanyanya, "Sai-hoa-to telah dibawa lari mereka, begitu maksudmu?"

"Betul, tidak lama sesudah kalian pergi, ke tiga pedang emas, perak dan baja itu lantas datang. Langsung aku ledakkan Yan-mo-tan untuk melindungi nona Kalina, siapa juga sasaran mereka bukanlah nona ini melainkan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Ketika aku tahu maksud tujuan mereka, namun sudah nasib, Sai-hoa-to sudah dibawa kabur."

"Keparat," umpat It-sik-sin-kai dengan gemas. "Orang berkedok hijau itu memang pandai mengikat sahabat, dengan ditolongnya Sai-hoa-to ini, jelas selanjutnya dia akan bekerja sepenuh tenaga untuk keparat itu."

"Hm, tahu begini, seharusnya sekali kita hantam mampus dia tadi, sekarang kita berbalik tambah seorang musuh malah," ujar Kiam-eng.

"Adakah kalian melihat nona Ih?" tanya Sam-bi-sin-ong.

"Tidak," tutur Kiam-eng. "Si orang berkedok memperalat nona Ih untuk memancing kepergian kami dari sini tujuannya justru ingin menolong Sai-hoa-to ... "

Lalu ia ceritakan apa yang terjadi tadi.

Air muka Sam-bi-sin-ong tampak prihatin, katanya, "jika begitu, sekarang si orang berkedok hijau telah bertambah seorang pembantu Sai-hoa-to, kekuatannya sudah jauh di atas kita, tentu dia akan menghadapi kita secara terbuka."

"Betul, maka kita harus lekas memikirkan cara bagaimana menghadapi mereka," ujar Kiam-eng.

Sam-bi-sin-ong termenung sejenak, katanya, "Cara yang terbaik adalah menghindari pengintaian mereka, posisi kita dari terang berubah menjadi gelap."

It-sik-sin-kai mengangguk setuju, "Ya, untuk sementara ini terpaksa begitu, tetapi cara bagaimana supaya kita dapat melepaskan penguntitan mereka?"

"Ke tiga anak buahnya sekarang mungkin sedang membawa Sai-hoa-to untuk menemui bosnya, pada kesempatan ini hendaknya lekas kita mencari suatu tempat sembunyi," ucap Sam-bi-sin-ong. "Bagus, di sini banyak bangunan terpisah, biarlah kita sembunyi di dalam salah sebuah kuil," kata pengemis tua.

Setelah mengambil keputusan, diam-diam mereka meninggalkan reruntuhan puing dan menemukan sebuah kuil yang dikelilingi pepohonan, di situlah mereka sembunyi.

Kuil itu seluruhnya terkurung oleh pepohonan tua dan lebat dan hampir tidak tertembus cahaya rembulan. Sebab itulah di dalam kuil gelap gulita segala apa pun tidak terlihat. Untung di dalam kuil tidak bersembunyi binatang buas, mereka lantas duduk di ruangan tengah lantai terasa basah dan berbau tidak enak.

Kalina bersandar erat di samping Su-Kiam-eng katanya dengan takut, "Apakah kita akan sembunyi terus di sini?"

"Tidak," bisik Kiam-eng. "Sesudah hari terang segera kita tinggalkan tempat ini." "Mencari Jian-lian-hok-leng?" tanya Kalina pula lirih.

Kiam-eng mengangguk.

"Sesudah menemukan Jian-lian-hok-leng segera kita tinggalkan tempat ini?" kata Kalina. "Baik, sekarang lekas kau tidur saja," jawab Kiam eng.

"Aku tidak dapat tidur," ucap Kalina manja.

"Apakah kamu sangat takut?" tanya Kiam-eng tertawa.

Kalina menggeleng, "Tidak, berada di sampingmu, apa pun aku tidak takut."

Setelah berpikir, Kiam-eng tanya pula, "Pada waktu siang hari, sendirian kau berani sembunyi di sini atau tidak?"

"Mengapa harus sembunyi sendirian di sini." tanya Kalina malah.

"Soalnya besok juga kami akan pergi mencari Jian-lian-hok-leng itu, sangat mungkin akan aku pergoki si orang berkedok hijau itu, sekarang mereka bertiga dan pihak kita cuma bertiga yang mahir ilmu silat, bilamana bertempur, mungkin sukar melindungi keamananmu."