Rahasia 180 Patung Emas Jilid 15

 
Jilid 15 

"Begini saja, hendaknya kau bebaskan nona Ih itu kepadaku dan segera kami akan meninggalkan tempat ini, Setuju?"

"Tidak!" Kembali orang berkedok itu mendesak maju lagi.

Kiam-eng mulai merasakan pihak lawan ini pasti seorang gila yang suka membunuh, tentu saja ia sangat takut. Segera ia angkat pedang sekuat tenaga dan menuding ulu hati lawan dari jauh sambil membentak, "Berhenti! Kalau tidak bisa aku tembus perutmu dengan sekali tusuk!"

Agaknya orang berkedok itu seperti tahu Kiam-eng sudah kehilangan tenaga, sebab itu ia tidak gentar oleh gertakan anak muda itu dan masih terus melangkah maju dengan yang mantap. Ketika lengan baju orang itu menebas, serentak serangkum angin keras menyapu ke arah pedang Su- Kiam-eng, lalu dengan jarinya yang panjang perlahan menutuk tenggorokan anak muda itu.

Merasa tak berdaya dan jiwa pasti akan melayang, Kiam-eng menghela napas dan memejamkan mata untuk menerima ajal.

Tak tersangka, pada saat itu juga tiba-tiba di dekat situ ada suara orang membentak, "Lihat serangan!" Berbareng itu terdengar serangkum angin kencang menyambar tiba.

Waktu Kiam-eng membuka mata, tepat dilihatnya sepotong batu tersambit tiba dari hutan sebelah kiri sana langsung mengarah pelipis si orang berkedok kain hijau, sungguh cepat dan lihai sekali sambaran batu itu.

Agaknya si orang berkedok tidak mengira di sekitar situ masih tersembunyi musuh lain, dengan agak gugup ia menunduk untuk menghindari sambaran batu, menyusul ia terus melompat ke arah datangnya serangan. Hanya dalam sekejap saja sudah lenyap.

Dari tenaga serangan si orang berkedok tadi Kiam-eng dapat mengukur kung-fu lawan itu pasti tidak di bawah Sam-bi-sin-ong, tapi sekarang dia hanya diserang oleh sepotong batu kecil dan segera kabur begitu saja tanpa memberi perlawanan, mau-tak mau Kiam-eng merasa heran dan bingung.

"Aneh, jelas orang berkedok kain hijau ini adalah pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu itu, jelas pula kung-fu nya sangat tinggi, mengapa baru diserang oleh senjata rahasia begitu saja segera lari terbirit-birit?" demikian pikirnya.

Tanda tanya itu hanya terkilas saja dalam benak Kiam-eng, segera ia berpaling dan menegur ke sebelah kiri sana, "Orang kosen dari manakah yang memberi bantuan, mohon tampil sekedar menerima penghormatanku!"

Akan tetapi suasana tetap sunyi senyap tanpa sesuatu suara jawaban.

Namun, selagi Kiam-eng hendak mengulangi suaranya lagi, sekonyong-konyong di belakangnya ada suara gelak tertawa orang, "Hahaha, pengemis tua berada di sini!"

Keruan Kiam-eng melonjak kaget, sebab suara itu dirasakan cuma satu-dua meter di belakangnya, padahal biarpun tenaganya sekarang belum lagi pulih, namun mata telinga tetap tajam, bila ada orang mendesak pasti akan dapat didengarnya. Sedangkan orang sekarang sudah begitu dekat dibelakangnya dan dirinya ternyata tidak tahu menahu, maka dapat dibayangkan pendatang ini pasti seorang tokoh kelas tinggi yang sukar ditemui.

Maka cepat Kiam-eng berputar dan coba mengamatinya, terlihat orang yang berdiri di depan nya sekarang adalah seorang pengemis tua dengan baju penuh tambalan.

Usia pengemis tua ini antara 70-an, rambutnya sudah banyak berubah, perawakannya jangkung dan kekar, wajahnya yang kelihatan bersisi itu membawa tanda berperangai kasar. Pada ketiak kiri pengemis tua itu terkempit segulungan tikar butut, sebatang tongkat bambu terselip di tengah gulungan tikar, biarpun lahirnya kelihatan dekil dan rudin, namun membawa sikap yang kereng dan membuat orang merasa seram.

Setelah tahu siapa pendatang ini, cepat Kiam-eng menjura dan menyapa, "Ah, kiranya Ang-pang-cu yang telah menyelamatkan diriku. Sungguh wan-pwe sangat berterima kasih."

Kiranya pengemis tua ini tak-lain-tak-bukan ialah Kai-pang-pang-cu It-sik-sin-kai Ang-pek-ko, pengemis sakti satu tikar, ketua perhimpunan kaum jembel.

Begitulah si pengemis tua lantas terbahak-bahak dan berkata, "Haha, jangan berterima kasih segala. Rupanya kamu masih kenal pada pengemis tua!"

Dengan hormat Kiam-eng menjawab, "Lima tahun yang lalu pernah Ang-pang-cu berkunjung ke tempat guruku, meski waktu itu wan-pwe baru saja masuk perguruan, nama wajah Ang-pang-cu masih aku ingat benar."

"Betul," si pengemis sakti mengangguk. "Hanya satu kali pernah kau lihat pengemis tua pada tahun yang lalu dan sampai sekarang belum lupa, sungguh hebat juga daya ingatanmu." Kiam-eng tertawa katanya, "Kedatangan Ang-pang-cu ke tempat terpencil jauh ini entah ada keperluan apa?"

"Dengan sendirinya untuk kota emas itu, apa lagi?" jawab It-sik-sin-kai. "Sudah tahu buat apa kau tanya malah?"

"Oo," Kiam-eng bersuara singkat, seketika ia merasa bingung apa yang perlu dikatakan lagi. Diam-diam ia hanya merasa gegetun, sebab setahunya, si pengemis sakti ini adalah seorang tokoh terhormat dari golongan putih bersih, biarpun dia pemimpin kaum jembel, namun wataknya keras jiwanya luhur, cita- citanya tinggi, sekarang tokoh semacam ini juga ikut ikutan mengincar kota emas, bukankah perbuatan ini hanya merusak nama baik sendiri saja dan kurang bijaksana?

Agaknya It-sik-sin-kai tidak merasakan tindakan sendiri yang salah itu, segera ia tanya lagi dengan tertawa, "Cara Pek-li-Pin menutukmu itu sangat keras bukan?"

"Mendingan, biarlah wan-pwe mengaso lagi sebentar mungkin dapat pulih," jawab Kiam-eng. "Duduklah, biar aku bantu pijat dan urut tubuhmu," kata si pengemis tua.

"Terima kasih, aku kira tidak usah, justru nona Ka ini aku mohon Ang-pang-cu suka membuka hiat-to kelumpuhannya," pinta Kiam-eng.

It-sik-sin-kai mengangguk, segera ia lolos pentung bambu yang terselip dalam gulungan tikar butut, perlahan ia tutuk di tubuh Kalina, seketika itu dapat bergerak dan merangkak bangun.

Yang paling diperhatikan Kalina adalah keadaan Su-Kiam-eng, begitu berdiri segera ia mendekati anak muda itu dan bertanya, "Bagaimana, berat tidak lukamu?"

"Tidak apa-apa, jangan kuatir," ucap Kiam-eng tersenyum. "Ang-pang-cu ini telah menolongmu hingga kamu dapat bergurau lagi lekas kamu mengucapkan terima kasih."

Cepat Kalina mengangguk kepada It-sik-sin-kai sebagai tanda terima kasih.

Pengemis tua itu lantas duduk di tanah dan berseru, "Mari, mari, kita duduk dan mengobrol di sini."

Kiam-eng dan Kalina ikut di depannya melihat di situ masih ada sebagian kelinci panggang tentu saja napsu makan si pengemis terangsang, katanya sambil menunjuk kelinci panggang itu, "Sudah tiga hari pengemis tua tidak makan daging, entah boleh tidak aku ikut mencicipi kelinci panggang itu, ia sendiri juga makan lagi paha kelinci yang belum habis dilalap tadi.

Setelah menyikat sisa daging kelinci panggang itu, karena Kiam-eng diam saja, segera It-sik-sin-kai mendahului bicara, "Eh, saudara cilik, siapakah orang berkedok kain hijau tadi?"

"Ia mengaku sebagai raja rimba, padahal menurut dugaanku, dia pasti si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu itu," tutur Kiam-eng.

Tergerak hati si pengemis tua, tanyanya pula, "Oo, berdasarkan apa dapat kau pastikan dia adalah pembunuh ke-18 tokoh itu?"

"Apakah Ang-pang-cu tahu maksud tujuan kedatangan kami bersaudara seperguruan ke rimba purba ini secara berturut-turut?" tanya Kiam-eng malah.

"Tahu, semula gurumu mengutus su-heng mu Gak-Sik-lam ke rimba purba ini untuk mencari Jian-lian- hok-leng untuk mengobati penyakit In-Ang-bi, putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san. Kemudian entah apa yang terjadi atas su-heng mu hingga menjadi cacat badan, namun Jian-lian-hok-leng memang tidak sempat dibawa pulang ke Tiong-goan, maka gurumu mengutus lagi dirimu ke sini untuk mengambil Jian- lian-hok-leng, begitu bukan?"

"Ya," Kiam-eng mengangguk, "Mengenai sebab-musabab cacatnya su-heng, sekarang wan-pwe sudah tahu."

"Oo, bagaimana terjadinya?" tanya It-sik-sin-kai. "Hal itu terjadi ketika su-heng ku bertempur melawan serombongan suku Santo, dan dia tertimpuk oleh sepotong batu yang dilontarkan oleh seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya akibatnya su-heng tertawan oleh Sinba, putra kepala suku dan disiksa secara kejam hingga akhirnya cacat total. Orang berkedok kain hijau tadi itulah yang aku curigai sebagai orang yang menyerang su-heng ku secara menggelap."

"Oo, apa dasarnya?" tanya si pengemis tua. "Nona Kalina inilah yang memberi-tahukan padaku," tutur Kiam-eng. "Dia adalah adik istri su-heng ku, sedangkan pagi tadi wan-pwe juga kepergok oleh serombongan orang Santo, dalam pertempuran sengit kembali wan-pwe hendak diserang pula secara menggelap oleh orang yang tak dikenal, syukur keburu diketahui olehku sehingga sambitan batu tidak mengenai sasaran.

"Kemudian pada waktu wan-pwe tak bertenaga akibat habis dilukai oleh Sam-bi-sin-ong mendadak orang berkedok kain hijau itu muncul dan hendak membunuhku. Ia mengaku sebagai orang yang menyerang su-heng ku dahulu, sebab itu pula wan-pwe yakin dia pasti si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu itu. Sebabnya dia hanya menyerang kami berdua, suatu tanda tujuannya hanya ingin merintangi kami menemukan Jian-lian-hok-leng."

"Ya, memang betul, ia kuatir kalian mendapatkan Jian-lian-hok-leng dan menyembuhkan penyakit In- Ang-bi, akibatnya guci wasiatnya tentu akan terbongkar."

"Memang begitulah."

"Hm, pengemis tua terlambat datang selangkah dan tidak mengetahui duduknya perkara, kalau tidak, tadi masih sempat aku kejar dan membekuk dia."

"Bilakah Ang-pang-cu sampai di sini?" tanya Kiam-eng.

"Yaitu pada saat dia hampir membunuhmu. Maka urusan Sam-bi-sin-ong mencelakaimu seperti apa yang kau katakan itu sama sekali tidak aku ketahui. Memangnya apa yang terjadi?"

"Sebelum wan-pwe mendatangi rimba purba sepanjang jalan memang wan-pwe sudah direcoki Sam-bi- sin-ong dan Lau-ho-li ... ", begitulah Kiam-eng lantas menceritakan apa yang dialaminya itu.

It-sik-sin-kai sangat gusar, dampratnya, "Kurang ajar keparat Pek-li-Pin itu, jelek-jelek dia terhitung tokoh ke lima di dunia persilatan, ternyata bisa bertindak sekotor itu!"

Diam-diam Kiam-eng merasa heran, tanyanya, "Pang-cu memaki dia berbuat kotor, maksudmu dia membikin susah padaku atau karena tindakannya yang mengincar kota emas?"

"Dua-dua nya," jawab It-sik-sin-kai.

"Tidak pantas seorang tokoh seperti dia merecoki anak muda seperti dirimu. Juga tidak layak dia bertingkah serakah dan ikut-ikut mengincar kota emas segala."

Kiam-eng bertambah heran oleh ucapan si pengemis tua, pikirnya ,"Jika begitu. Ang-pang-cu sendiri kan tokoh nomor empat di dunia ini, baik nama maupun kung-fu jelas masih di atas Sam-bi-sin-ong, dan mengapa engkau sendiri sekarang juga datang kemari?"

Agaknya It-sik-sin-kai dapat meraba jalan pikiran anak muda itu, mendadak ia terbahak-bahak katanya, "Adik cilik, tentu kamu lagi sangsi akan pribadiku bukan? pasti kau tuduh aku cuma dapat memaki orang dan tidak mau memaki diri sendiri begitu bukan?"

Maka Kiam-eng menjadi merah karena isi hatinya terbongkar, ucapnya. "Ah, mana aku berani berpikir begitu. Bagaimana pribadi Ang-pang-cu kan cukup aku kenal ..."

Teringat olehnya pengakuan si pengemis tua tadi bahwa kedatangannya dengan sendirinya juga untuk kota emas itu, maka dia lantas berhenti dan tidak tahu cara bagaimana harus bicara lagi.

It-sik-sin-kai tertawa, katanya. "Biar aku beritahu, kedatangan pengemis tua ke rimba purba ini hanya ada dua tujuan. Pertama, ingin aku selidiki siapa yang membunuh anak buahku, yaitu To-kau-seng-jiu

Ki-Go. Ke dua, untuk memenuhi rasa ingin tahuku dan sekaligus ingin tahu bagaimana bentuk kota emas yang dihebohkan itu."

"Ahh, kiranya Ang-pang-cu belum lagi tahu siapa yang membunuh To-kau-seng-jiu Ki-tiang-lo itu?" seru Kiam-eng.

Mendengar anak muda itu, It-sik-sin-kai merasa Kiam-eng tentu tahu seluk-beluknya, dengan bersemangat cepat ia tanya, "Jadi kau tahu siapa yang membunuh Ki-tiang-lo?" Kiam-eng berpikir sejenak, lalu balas tanya, "apakah Ang-pang-cu tahu terbunuhnya Ki-tiang-lo lantaran dia ikut-ikutan berebut peta kota emas?"

It-sik-sin-kai manggut-manggut, jawabnya, "Ya, beberapa bulan yang lalu ketika Pang kami mengadakan rapat, diketahui Ki-tiang-lo dan Hek-jiu-kai Pang-Liat tidak hadir, setelah diusut baru diketahui mereka ikut-ikutan berebut peta kota emas segala. Tapi kemudian jenazah Ki-tiang-lo dapat ditemukan di dekat Kun-san oleh anak buah kami, oleh karena jenazah sudah membusuk, maka pengemis tua tidak dapat menemukan sesuatu tanda cara bagaimana kematian Ki-tiang-lo dan dibunuh oleh kung-fu macam apa

... Nah, jika kau tahu dia dibunuh oleh siapa, lekas beritahukan padaku."

"Ki-tiang-lo mati di bawah jarum berbisa Hu-kui-ong Liong-Ih-kong!" tutur Kiam-eng.

Seketika ke dua mata It sik-sin-kai terpancar cahaya yang mengejutkan, dengusnya dengan muka masam, "Hm, bagus sekali, dan sekarang Liong-Ih-kong juga datang ke rimba purba ini?"

"Mungkin tidak," jawab Kiam-eng. "Sebab setelah dia membunuh Ki-tiang-lo, lalu sebelah telapak tangannya dapat aku penggal."

"Hah, jadi waktu Ki-tiang-lo terbunuh kau pun hadir di tempat?" tanya It-sik-sin-kai dengan tatapan tajam.

"Ya, begini terjadinya ..." lalu Kiam-eng menceritakan tentang dirinya menyaru sebagai Sai-hoa-to dan ditawan oleh Hu-kui-ong serta dipaksa untuk bekerja sama dengan orang kaya yang rakus itu. Maka tidak lama setelah meninggalkan Hu-kui-san-ceng, lalu kepergok Ki-Go dan terjadi pertarungan dan seterusnya, semuanya ia ceritakan dengan jelas.

"O, jadi kematian Ki-tiang-lo itu sebenarnya akibat perbuatannya sendiri yang tidak baik gumam It-sik- sin-kai dengan kening berkerenyit.

"Demi mendapatkan peta mestika kota emas sudah banyak sekali korban yang jatuh, kalau aku pikir sungguh kematian mereka sia-sia belaka." Kiam-eng.

It-sik-sin-kai juga gegetun, "Ya, betul. Mengenai urusan kota emas itu, memang sudah lama aku dengar. Sudah pernah aku peringatkan para anak buah Pang kami agar jangan ikut campur berebut harta karun, tak tersangka Ki-tiang-lo tidak mau menurut nasihat sehingga mendatangkan petaka bagi diri sendiri."

"Dan sekarang apakah Ang-pang-cu masih hendak membuat perhitungan dengan Hu-kui-ong?" Kiam- eng.

"Tidak," jawab si pengemis tua dengan menggeleng, "Jika yang menyalahi dahulu adalah Ki-Go, bahkan Ki-tiang-lo melukai lagi Hek-liong-jiau Ting-Pin-sin, dalam keadaan begitu, kalau Hu-kui-ong tampil dan membunuhnya kan cukup beralasan?"

"Cara Ang-pang-cu menimbang sesuatu persoalan sedemikian bijaksana, sungguh wan-pwe merasa sangat kagum dan hormat," kata Kiam-eng.

Memang begitulah sifatku, dalam urusan apa pun tidak aku peduli sanak keluarga atau bukan yang utama adalah salah dan benar!" kata si pengemis tua dengan tersenyum.

"Dan sekarang Ang-pang-cu tetap ingin melihat kota emas itu?"

"Tidak lagi," It-sik-sin-kai menggeleng. "Kalau aku pergi ke kota emas itu, tentu akan menjadi sasaran bagi orang banyak, lebih aman aku pulang saja ke Tiong-goan."

"Jangan," cegah Kiam-eng. "Sekali Ang-pang-cu sudah tiba di sini, apa salahnya mendatangi tempat itu. Asalkan Ang-pang-cu tidak mengusik setiap benda di sana, siapa yang berani mencela kedatangan Ang- pang-cu ke sana?"

Si pengemis tua berkedip-kedip, katanya, "Aku cuma kuatir akan dicurigai oleh Sam-bi-sin-ong, dan Cu- kat-Leng bahwa kedatanganku juga ingin membagi rejeki. Kau tahu, bilamana mereka berdua bergabung untuk menghadapi pengemis tua, rasanya sukar bagiku untuk melawan mereka."

Kiam-eng tertawa, "Ah, Ang-pang-cu terlampau rendah hati. Sering guruku bilang ke-39 jurus ilmu pentung penggebuk anjing Ang-pang-cu adalah kung-fu khas dunia persilatan yang tiada bandingannya, biarpun Pek-li-Pin dan Cu-kat-Leng bergabung untuk menghadapi Ang-pang-cu juga bimbang dua kali lebih dulu, apalagi Sam-bi-sin-ong juga sok angkuh, rasanya dia tidak mau bergabung dengan si rase tua untuk mengerubut Ang-pang-cu."

"Haha, tampaknya kamu sangat berharap pengemis tua dapat ke kota emas, sebenarnya begitu bukan?"

"Ya, soalnya di rimba raya yang masih liar ini, di mana-mana binatang buas belaka, oleh karena itu wan- pwe berharap Ang-pang-cu sudi membantu," jawab Kiam-eng dengan tertawa.

"Baiklah," dengan senang hati It-sik-sin-kai menerima permintaan itu. Biarlah pengemis tua membantumu mengambil Jian-lian-hok-leng itu."

Kiam-eng sangat senang, "Wah, bisa mendapatkan bantuan Ang-pang-cu, aku yakin urusan pasti akan berhasil, biarlah sekarang juga wan-pwe mengucapkan terima kasih."

Pengemis tua menengadah memandang cuaca katanya, "Hari belum lagi gelap, kita masih sempat menempuh perjalanan cukup jauh pula."

"Ya, sekarang tenagaku pun sudah pulih, marilah berangkat," sahut Kiam-eng.

Begitulah mereka bertiga lantas meneruskan perjalanan ke depan, sembari jalan sambil bicara, kira-kira belasan li mereka menyusur hutan, tampak hari sudah mulai gelap, Kalina membawa mereka mendapatkan sebuah gua dan di dalam gua itulah mereka bermalam.

Esok paginya mereka meneruskan perjalanan.

Mungkin didampingi It-sik-sin-kai, maka sepanjang jalan selain membunuh beberapa ekor binatang buas, mereka tidak direcoki lagi oleh siapa pun.

Sampai lohor hari ke sembilan, mereka sampai di tengah hutan yang lebat di suatu lereng gunung yang seram dan berbahaya.

Setelah memandang sekitarnya, Kiam-eng berkata kepada It-sik-sin-kai, "Kalau wan-pwe tidak salah tafsir, pada saat seperti ini besok kita dapat mencari kota emas."

Kalina menggeleng, jawabnya, "Entah, selamanya belum pernah aku datang ke tempat seperti ini."

Kiam-eng coba memandang lagi sekelilingnya", tiba-tiba terlihat di tengah hutan di depan sana seperti menggeletak sesosok tubuh manusia. Ia terkejut dan berseru sambil menuding ke sana, "Hei lihat Ang- pang-cu, yang rebah di sana itu manusia atau bukan?"

Si pengemis tua memandang ke arah yang di tunjuk, dilihatnya di atas tanah berumput, di depan sana samar-samar memang menggeletak sesosok tubuh manusia. Segera ia berlari ke sana sambil menjawab, "Betul, manusia, marilah coba kita melihatnya."

Setelah mereka lari mendekat, ternyata benar seorang tua berdandan orang persilatan tersungkur kaku di situ.

Punggung orang tua itu ada luka bacokan, daerah yang melumuri sekujur badannya sudah beku, jelas sudah mati cukup lama.

Waktu It-sik-sin-kai membalik jenazah itu untuk diperiksa, tanpa terasa ia berseru kaget, "Hah, orang ini kan tokoh Cong-lam-pai, yaitu Bok-thian-tiau Hek-Tai-kian?"

Bok-thian-tian Hek-Tai-kian, si rajawali pencakar langit adalah salah satu tokoh terkemuka Cong-lam-pai, terkenal dengan gin-kang yang jarang ada bandingannya, sekali loncat konon dapat mencapai ratusan meter pada dinding tebing yang curam, sebab itulah namanya cukup terkenal di dunia persilatan.

Su-Kiam-eng juga pernah mendengar nama kebesaran "Bok-thian-tiau", keruan ia terkejut oleh keterangan It-sik-sin-kai, katanya, "Oo, jadi orang adalah Bok-thian-tiau Hek-Tai-kian? dari Cong-lam- pai?"

"Betul," kata It-sik-sin-kai setelah mengamati lagi jenazah itu. "Memang tidak salah lagi."

"Cong-lam-pai kan juga salah satu perguruan besar ternama di dunia persilatan Tiong-goan tak tersangka dia juga datang kemari dan ikut-ikutan berebut kota emas ..." ucap Kiam-eng dengan gegetun. Kembali It-sik-sin-kai memeriksa keadaan luka di punggung Hek-Tai-kian, katanya kemudian, "Inilah luka yang membinasakannya, senjata si pembunuh tampaknya adalah sebilah belati."

"Aneh kalau begitu," ujar Kiam-eng dengan melengong. "Kung-fu orang ini tidak rendah, mengapa punggung dapat ditikam orang secara keji"

"Ya, aku pun heran," kata si pengemis tua. "Jika di bunuh menggunakan senjata pendek untuk menikam punggung Hek-Tai-kian, maka dapat di bayangkan kung-fu nya pasti sangat tinggi. Dan bila benar demikian, mengapa pula dia pakai belati?"

Selagi Kiam-eng hendak menanggapi, tiba-tiba Kalina berteriak kaget, "Lihat, di sana juga ada sesosok mayat!"

Memang betul, kira-kira belasan meter sebelah sana, di bawah sebatang pohon tua juga tergeletak sesosok mayat.

Waktu It-sik-sin-kai dan Kiam-eng berlari ke sana, terlihat yang mati itu pun seorang tua, yang menyebabkan kematiannya juga bagian punggung tertikam.

"Hei, orang ini adalah Tong-pi-wan (si kera tangan panjang) The-Thian-sin, juga seorang tokoh Cong- lam-pai," kata It-sik-sin-kai.

Kiam-eng coba memandang sekitar situ, kata kemudian, "Coba cari lagi, mungkin masih ada korban lain."

Benar juga, kembali mereka menemukan sesosok mayat lagi di dekat situ.

Yang mati ini juga tokoh Cong-lam-pai, namanya Kim-ciang Toan-Yau-kui, si tombak emas. Akibat kematiannya juga punggung tertikam belati.

Kiam-eng menggeleng kepala dengan gegetun, ucapnya, "Ke tiga orang bukanlah tokoh sembarangan, tak tersangka ke tiga nya mati sekaligus di rimba raya ini. Entah siapa si pembunuhnya?"

"Tujuan si pembunuh pasti ingin mengangkangi sendiri kota emas itu, maka sangat mungkin si pengganas adalah si orang berkedok kain hijau itu," ujar It-sik-sin-kai.

Kiam-eng berpikir sejenak, ia lirik ke tiga sosok mayat itu itu sekejap, tiba-tiba katanya dengan tertawa, "Adakah Ang-pang-cu menemukan sesuatu tanda aneh pada ke tiga mayat itu?"

"Tanda aneh apa?" tanya si pengemis tua heran.

"Coba Ang-pang-cu periksa," kata Kiam-eng sambil menuding ke tiga mayat itu. "Bukankah air muka ke tiga orang ini ada yang luar biasa?"

Setelah It-sik-sin-kai memeriksa dengan teliti baru diketahui air muka yang ditampilkan ke tiga sosok mayat itu sama mengunjuk aman tentram, serupa orang yang lagi tidur nyenyak.

"Ya, memang aneh, mengapa air muka ke tiga orang ini sama mengunjuk tenang dan tentram?" ucapnya kemudian dengan heran.

"Makanya, kematian ke tiga orang ini cukup berharga untuk dipelajari!" tukas Su-Kiam-eng.

"Bisa jadi, pada saat mereka tidur nyenyak pengganas lantas membunuh mereka," kata si pengemis tua. "Tidak," Kiam eng menggeleng. "Mutlak ke tiga orang ini bukan terbunuh tatkala tidur nyenyak."

"Dari mana kau tahu?" tanya si pengemis tua.

"Pertama, luka yang membinasakan ke tiga orang ini sama di bagian punggung, aku yakin mereka tidak ada kebiasaan serupa dengan tidur bertiarap. Ke dua, apabila si pengganas membunuh orang pertama, ke dua orang yang lain pasti akan terjaga bangun."

It-sik-sin-kai merasa analisa Su Kiam-eng itu cukup beralasan, ia mengangguk, katanya dengan tertawa, "Betul, tak tersangka usiamu semuda ini sudah mahir membuat analisa yang tepat, sungguh pengemis tua sangat kagum. Akan tetapi kalau ke tiga orang ini bukan terbunuh selagi tidur nyenyak, mengapa pula air muka menunjuk sedemikian tenang?" "Hal ini menandakan sebelum mereka terbunuh mereka sudah berada dalam keadaan tak sadar," ujar Kiam-eng. Si pengemis tua terperanjat, "Maksudmu lebih dulu mereka terbius dan tak sadar, habis itu baru terbunuh?"

"Ya." Kiam mengangguk. "Ini membuat te-cu teringat pada seorang ..."

"Orang berkedok kain hitam yang menculik su-heng mu itu?" It-sik-sin-kai menegas.

"Betul, ia mempunyai semacam granat tabir asap yang dapat membuat orang pingsan. Mungkin pada waktu ke tiga orang ini sedang tidur nyenyak mendadak ia meledakkan granat berasap itu dan membuat mereka pingsan, lalu mereka dibunuhnya sekalian. Sebab itulah air muka mereka kelihatan sangat tenang, sebab dalam keadaan tidur dan pingsan, pada hakikatnya mereka tidak tahu apa yang terjadi dan tidak dapat merasakan sakit."

"Uraianmu memang tidak salah." sambut Kalina. "Waktu aku sampai di sini tadi masih aku cium semacam bau yang aneh."

"Nah, Ini bukti yang lebih menambah kebenaran analisa," kata Kiam-eng dengan tertawa.

"Sam-bi-sin-ong kan juga memiliki Yan-mo-tan, tapi melihat gelagatnya, tampaknya Yan-mo-tan si orang berkedok hitam itu jauh lebih lihai daripada senjata Sam-bi-sin-ong," ucap It-sik-sin-kai dengan melengak.

"Tapi juga ada akal untuk menahannya," tukas Kiam-eng, "Yaitu bila melihat dia melempar granat berasap itu, segera kita menahan napas. Tempo hari wan-pwe dan nona Ih sudah pernah menahan napas dan pura-pura pingsan, sebab itu kami berhasil membunuh dua orang begundalnya."

"Dan siapa ke dua orang yang terbunuh itu?" tanya si pengemis tua. "Yang satu bernama Te-Long dan yang lain bernama Oh-kang, keduanya adalah langganan yang suka minum teh di Bu-lim-teh-coh," tutur Kiam-eng.

"Jika begitu, masa tidak dapat kau perkirakan siapa orang berkedok kain hitam itu berdasarkan ke dua begundalnya yang kau bunuh itu?" tanya It-sik-sin-kai.

"Wan-pwe cuma tahu orang berkedok itu pasti juga salah seorang langganan Bu-lim-teh-coh, namun meski sudah aku ingat dan aku selidiki selama ini tetap belum ketahuan siapa kiranya yang pantas dicurigai."

"Menurut penglihatanmu, bagaimana tingkat kung-fu nya?" tanya pula si pengemis tua.

"Tidak begitu jelas, meski pernah dua kali aku lihat dia namun tidak pernah saling gebrak," tutur Kiam- eng.

It-sik-sin-kai menghela napas kesal, ucapnya, "Baiklah, sekarang marilah kita beramal sedikit dan mengubur ke tiga orang ini."

Kiam-eng melolos pedang, ia pilih sebidang tanah dan mulai menggali, si pengemis tua juga bantu menggali tanah dengan sepotong ranting kayu, setelah sibuk sekian lama barulah mereka berhasil mengubur Hek-Tai-kian bertiga.

Habis itu, si pengemis tua dapat memburu dua ekor ayam alas di sekitar hutan situ. Tetapi Kalina yang bertugas menyembelih ayam alas dan membuat api untuk memanggangnya. Setelah ke tiga orang kenyang makan baru melanjutkan perjalanan.

Setelah 20-30 li mereka menyusuri hutan lebat, selagi mereka merasa dahaga, tiba-tiba terlihat di kejauhan ada sebuah rawa kecil. Mereka bersorak gembira dan berlari cepat ke sana.

Akan tetapi, setiba di tepi rawa serentak mereka terperanjat.

Kiranya di tepi rawa itu kembali terlihat menggeletak dua sosok mayat.

Kedua orang yang mati ini yang satu berbaju putih dan yang lain berbaju kelabu. Keduanya sama tiarap tak bergerak di tepi rawa dengan kepala terbenam di dalam air, agaknya mereka sedang minum air dan mendadak menghembuskan napas terakhir dan binasa. It-sik-sin-kai dan Kiam-eng saling pandang dengan heran dan bingung. Si pengemis tua coba menarik ke dua sosok mayat itu dan diperiksa wajahnya, tanpa terasa ia berseru kaget lagi, "Hah, mereka ini Jing- sia-siang-hiap, Thian-kiam Tang-Sim dan Te-to Hang-Beng."

Kiam-eng juga tahu Jing-sia-siang-hiap adalah tokoh pilihan Jing-sia-pai, diam-diam ia pun merasa menyesal dan berkata, "Tubuh ke dua orang ini tidak terdapat bekas luka entah cara bagaimana mereka menemui ajalnya!"

"Mati keracunan," kata It-sik-sin-kai. "Coba kau lihat, dari lubang hidung kuping, mata dan mulut mereka keluar darah, jelas mereka mati selagi minum air. Agaknya air rawa di sini lebih dulu telah ditaruh racun entah oleh siapa."

Hati Kiam-eng terkesiap, "Wah, untung si pembunuh tidak menyembunyikan ke dua sosok mayat ini, kalau tidak tentu saat ini riwayat kita pun sudah tamat."

It-sik-sin-kai menatap Jing-sia-siang hiap dengan terharu, katanya, "Ke dua orang ini cukup mempunyai nama harum, tak tersangka mereka juga terdorong oleh keserakahan, akibatnya mereka pun mati di rimba raya ini, sungguh harus disesalkan."

"Kematian ke dua orang ini tidak sama dengan Hek-Tai-kian bertiga, entah si pembunuhnya si orang berkedok kain hitam atau kain hijau?" kata Kiam-eng.

Si pengemis tua menggeleng kepala, kembali ia mencari sepotong ranting kayu dan mulai menggali liang lagi. Meski Kiam-eng merasa enggan bekerja kasar, tapi melihat seorang pemimpin kaum jembel terhormat itu pun mau bekerja begitu, dengan sendirinya, ia tidak dapat tinggal diam dan cepat melolos pedang dan ikut menggali tanah.

Setelah Jiang-sia-siang-hiap dikubur, ternyata sudah menjelang malam pula.

Mereka bertiga mendapatkan suatu tempat agak datar di bawah pohon yang agak jarang dan bermalam di situ. Lantaran dalam sehari melihat lima tokoh kelas tinggi tewas secara mengerikan di tengah rimba raya itu, betapapun perasaan mereka agak tertekan, mereka duduk saling pandang dengan diam sampai sekian lama.

Akhirnya Kalina memecahkan kesunyian dan bertanya, "Kakak Eng, mengapa orang-orang itu sama ingin berebut emas yang terdapat di kota itu?"

Kiam-eng tersenyum getir, jawabnya, "Emas memang semacam benda yang paling berharga, apalagi jumlah sebegitu banyak dan sukar dihitung tentu saja sangat memikat hati siapa pun.

"Akan tetapi aku merasa tidak mengerti, bukankah orang Tiong-goan kalian di sana sama hidup serba cukup dan cukup baju dan cukup makan?" tanya Kalina pula.

"Betul, pada umumnya mereka sama hidup dengan baik," kata Kiam-eng.

"Jika begitu, mengapa jauh-jauh mereka datang ke sini untuk berebut emas? Apakah hidup orang itu tidak cukup bilamana sandang-pangan sudah terpenuhi semua?" tanya Kalina.

Kiam-eng merasa pertanyaan si nona terlampau kekanak-kanakan, jawabnya dengan tertawa, "Seharusnya begitu, namun lebih banyak orang yang merasa kurang puas meski sudah cukup sandang- pangan, mereka masih ingin menjadi orang yang kaya raya, dan inilah sifat buruk manusia umumnya, yaitu serakah atau tamak!"

"Umpama mereka berhasil menjadi kaya raya namun usia mereka kan juga takkan lebih tua daripada orang lain secara umum, masa hal ini tidak mereka pikirkan? Lalu untuk apa kekayaan yang mereka kumpulkan itu?"

"Ya, memang tidak terpikir oleh mereka" tukas It-sik-sin-kai. "Dalam benak mereka hanya terbayang emas intan dan batu permata. Biarpun sudah menguasai harta benda sedemikian banyak mereka masih ingin mendapat pangkat lagi. Itu namanya nama dan kedudukan menjadi harapan setiap orang."

Kalina memandang Su-Kiam-eng dengan termenung, katanya kemudian, "Aku rasa dirimu jauh lebih baik daripada yang lain. Engkau tidak menghendaki emas melainkan cuma ingin menolong menyembuhkan penyakit seorang nona meski harus menempuh bahaya dalam perjalanan jauh ini."

Kiam-eng hanya tertawa saja tanpa menanggapi. "Ucapan nona ini memang tepat," ujar It-sik-sin-kai. "Sudah berpuluh tahun pengemis tua berkelana di dunia kang-ouw, selama ini hanya pernah berkenalan dengan tiga orang pendekar sejati. Pertama ialah gurumu Lok-Cing-hui, ke dua ialah su-heng mu Gak-Sik-lam dan yang ke tiga ialah dirimu."

Teringat kepada nasib sang su-heng yang malang itu tanpa terasa Kiam-eng menghela napas panjang, ucapnya, "Ah, mana diriku sesuai untuk menyandang predikat pendekar sejati. Kalau dibandingkan su- heng ku sungguh wan-pwe masih ketinggalan jauh."

Selagi si pengemis tua hendak bicara pula, mendadak ia seperti menemukan sesuatu, sorot matanya mendadak berbinar dan air muka berubah agak tegang, ucapnya dengan lirih. "Kalian duduk saja dan jangan bergerak, di atas kita datang seorang musuh, biarlah pengemis tua yang menghadapi dia."

Habis berucap mendadak ia meloncat ke atas mengapung tinggi ke atas gunung.

Kalina tidak dapat mendengar ucapan si pengemis tua yang lirih itu, ia melongo heran ketika menyaksikan orang tua mendadak "terbang" ke atas, serunya, "Hei, hendak ke mana dia?"

"Ia melihat di atas gunung sana ada kedatangan musuh, maka hendak menangkapnya," tutur Kiam-eng lirih.

"Oo .. " Kalina bersuara bingung sambil memandang ke atas yang cuma dinding tebing yang gelap itu. "Di mana ada musuh?"

Kiranya tempat mereka berada sekarang terletak di tengah apitan dua puncak gunung, lereng di ke dua sisi berjarak puluhan meter dengan puncak gunung di atas sana, pula dinding tebing cukup curam. Kalina dapat melihat dinding tebing dan tidak terdapat bayangan seorang pun, maka ia tanya dengan sangsi.

Akan tetapi Kiam-eng dan It-sik-sin-kai menguasai lwe-kang yang tinggi, daya pendengaran mereka dapat mencapai sejauh puluhan meter, maka mereka dapat meraba musuh pasti sembunyi di atas gunung.

Begitulah Kiam-eng lantas mendesis, "Ssst, jangan bicara lagi, musuh berada di atas sana."

Benar juga, pada saat itu juga terdengar suara tertawa It-sik-sin-kai yang sudah berada di atas sana. "Haha, jangan lari kawan, marilah kita belajar kenal!"

Suaranya dari dekat terus menjauh, ketika kata terakhir diucapkan, agaknya orangnya sudah berada ratusan meter jauhnya.

Cepat Kiam-eng berdiri, dan rangkul pinggang Kalina terus di bawa lari mendaki tebing gunung segesit kera.

Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di atas gunung, terlihat puncak gunung di situ lebat dengan pepohonan yang hijau pekat. Sejauh mata memandang tidak terlihat bayangan musuh dan si pengemis tua.

Kiam-eng tertegun di situ, ia lepaskan Kalina katanya, "Cepat amat, hanya sebentar saja sudah lenyap!" "Mungkinkah si orang berkedok kain hitam itu?" tanya Kalina.

"Kalau bukan dia tentu juga si orang berkedok kain hijau, hanya satu di antara dua itu musuh kita sekarang," ujar Kiam-eng.

"Apa perlu kita susul ke sana?" tanya Kalina.

"Mereka lari ke mana pun tidak kita ketahui cara bagaimana akan menyusulnya?" ujar Kiam-eng. "Ai, aku memang bodoh, engkau tidak mentertawaiku bukan?" kata Kalina tertawa.

Kiam-eng menggeleng, kembali ia memandang sekitarnya, katanya kemudian, "Di sini hanya hutan belaka, bilamana salah mengejar dan tersesat tentu sukar lagi bergabung dengan Ang-pang-cu biarlah kita menunggunya saja di sini."

Mereka lantas duduk di atas batu padas situ, kata Kalina, "Entah Ang-pang-cu dapat membekuk orang itu atau tidak?" "Aku yakin tidak menjadi soal," ujar Kiam-eng. "Ang-pang-cu adalah tokoh nomor empat dunia persilatan jaman ini, bila dia tidak dapat mengalahkan orang itu, perkara ini menjadi tidak sederhana lagi."

"Apa artinya?" tanya Kalina.

"Maksudku, jika Ang-pang-cu tidak mampu mengalahkan orang itu, ini menandakan tinggi ilmu silat orang itu maha lihai. Dan, bila orang itu adalah si orang berkedok hitam, lantaran sasarannya hanya kota emas, maka persoalannya menjadi agak sederhana, akan tetapi bila orang itu adalah si orang berkedok hijau, maka sangat mungkin dia adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh Bu-lim dahulu itu dan ambisi orang ini jelas tidak cuma terbatas pada kota emas saja. Maka kalau sampai Ang-pang-cu tidak dapat menandingi dia, aku kira dunia persilatan umumnya kelak pasti akan mengalami malapetaka."

"Ya, semoga musuh ini bukanlah si berkedok hijau," ucap Kalina.

Baru saja nona itu habis bicara, tiba-tiba Kiam-eng merasa beberapa orang musuh mendadak tiba, diam- diam ia terkesiap dan cepat berdiri, serunya, 'Aha, kalian tidak perlu main sembunyi-sembunyi, silakan tampil saja!"

"Hehehehe!" terdengar serentetan orang tertawa sinis lalu dari hutan di depan dan kanan kiri muncul tiga orang berkedok.

Ke tiga orang ini memakai seragam warna kelabu, punggung masing-masing sama menyandang pedang, dandanan mereka serupa besar dengan seorang berkedok kain hijau.

Segera terpikir oleh Kiam-eng bahwa ke tiga orang ini sangat mungkin adalah anak buah si orang berkedok hijau, segera pula terpikir olehnya maksud tujuan musuh memancing pergi It-sik-sin-kai, jelas agar ke tiga anak buahnya ini dapat membereskan dirinya dengan lebih mudah.

Kiam-eng tidak berani ayal, segera ia melompat turun dari atas batu dan menghadang di depan Kalina, tanyanya dengan ketus, "Apakah kalian ini anak buah si raja rimba?"

Ke lima orang berseragam kelabu itu serentak berdiri dua-tiga meter di depan Su-Kiam-eng, seorang yang berdiri di tengah mendengus, "Hm, tidak perlu banyak bertanya, lekas lolos pedangmu"

Segera Kiam-eng tahu dugaannya tidak begitu ke tiga orang lawan memang benar anak buah si orang berkedok hijau. Mereka diperintah bila It-sik-sin-kai sudah di pancing pergi segera muncul untuk membunuh dirinya.

Kiam-eng pikir keadaan sekarang akan lebih baik kalau mengulur waktu sebisanya, maka ia tidak lantas melolos pedang sebagaimana diminta lawan, ia cuma balas menjengek, "Hm, bilamana kalian ingin mampus kan tidak perlu tergesa-gesa, orang she Su biasanya tidak mau keroco yang tak bernama!"

Orang yang berdiri di tengah itu mendengus, "Hm, maksudmu supaya kami memberi tahukan she dan nama?"

Dengan sendirinya Kiam-eng tahu tidak nanti pihak lawan mau memberitahukan namanya, namun ia sengaja mengangguk dan berkata, "Betul, kalau kalian bertiga sudah berani tampil untuk bermusuhan dengan aku Su-Kiam-eng, tentu nyali kalian tidak sekecil nyali tikus?"

"Hehehe, jadi kalau menuruti perkataanmu, bilamana kami tidak memberitahukan nama berarti sama dengan tikus, begitu?" orang itu terbahak.

"Ya, memang begitulah, kaum tikus artinya pengecut atau penakut!" kata Kiam-eng. Mendadak orang itu berhenti tertawa, jawabnya perlahan, "Aku Kim-Kiam Sih-Hou!" "Dan aku Cin-kiam Kwa-Eng-seng?" sambung yang berdiri di sebelah kiri.

Segera pula yang di sebelah kanan juga menyambung. Dan aku Thi-kiam Ku-Tai-hong!"

Padahal selama ini Su-Kiam-eng tidak pernah di dunia kang-ouw ada tokoh terkemuka terkenal dengan nama Kim-Kiam, Cin-Kiam dan Thi-Kiam (pedang emas, pedang perak dan pedang baja) segala, ia pikir sangat mungkin pihak lawan sengaja mengoceh sekenanya, maka ia lantas mengejek. "Huh, apakah itu nama asli kalian" "Tentu saja asli!" jawab Kim-Kiam Sih-Hou si pedang emas.

"Tapi tidak pernah aku dengar di dunia persilatan ada tokoh besar bernama seperti nama kalian ini," ucap Kiam-eng.

"Ini menandakan kamu masih agak ingusan cupet pengetahuan dan dangkal pengalaman," ejek Kim- kiam Sih-Hou.

"Mungkin betul tapi ingin aku peringatkan kalian hanya anak haram yang suka pakai nama samaran atau julukan palsu,"

Keruan Kim-kiam Sih-Hou menjadi murka "creng", segera ia lolos pedang dan membentak, "Anak keparat tidak perlu banyak bacot ayolah lolos pedangmu!"

"Eh sabar dulu, kenapa mendadak kamu marah-marah? Apa barangkali kamu memang anak haram?" ejek Kiam-eng dengan tertawa.

Kim-kiam Sih-Hou tambah murka ia memberi tanda kepada kedua kawannya, serentak mereka mendesak maju dengan senjata terhunus.

Kiam-eng meraba tangkai pedang dan tidak lantas dilolos, ucapnya, "Eh, nanti dulu ada yang ingin aku bicarakan lagi."

Namun Sih-Hou tidak memberi kesempatan bicara lagi padanya, sekali membentak, secepat kilat pedang lantas menusuk ke muka anak muda.

Begitu melihat gerak serangan lawan, segera Kiam-eng tahu ilmu pedang musuh sangat tinggi dan jauh di atas jago pedang seperti It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan sebagainya. Ia tahu pertarungan tidak mudah untuk menang, kalau salah tidak bahkan jiwa sendiri bisa melayang di rimba raya.

Ia pikir harapannya sekarang hanya semoga It-sik-sin-kai dapat mengalahkan orang berkedok kain hijau itu dan lekas memburu kembali ke sini untuk membantunya, dengan begitu baru dirinya ada harapan akan selamat. Tapi apakah pengemis tua itu sanggup mengalahkan orang berkedok hijau itu?

Padahal It-sik-sin-kai terkenal sebagai tokoh nomor empat jaman ini di dunia persilatan, bilamana orang berkedok hijau itu tidak yakin dapat menandinginya mustahil dia berani memancing pergi pengemis tua itu?

Lantaran itulah, biarpun Kiam-eng menaruh harapan atas diri It-sik-sin-kai, namun ia pun tahu harapan itu sangat tipis.

Tiba-tiba terlihat suatu akal dalam benak Su-Kiam-eng, mendadak ia berteriak, "Sam-bi-sin-ong, mengapa engkau tidak lekas muncul, mau tunggu kapan lagi?!"

Seruan Kiam-eng ini membuat Kim-Kiam bertiga melonjak kaget. Mestinya tusukan pedang Sih-Hou itu sudah membayar sampai di depan wajah Su-Kiam-eng, karena tarikan itu cepat ia menarik kembali pedangnya dan celingukan ke kanan dan ke kiri.

Kesempatan itu segera digunakan Su-Kiam-eng untuk balas menyerang, secepat kilat ia menusuk dengan jurus "Lui-tian-kau-cok" atau kilat dan guntur menggelegar, suatu jurus serangan paling lihai ilmu pedang perguruannya.

Sebabnya Kiam-eng berteriak supaya Sam-bi-sin-ong ke luar bukan karena dia melihat kakek itu bersembunyi di dekat situ melainkan cuma untuk menggertak pihak lawan saja, yaitu sekedar memecahkan perhatian musuh.

Dan tusukan Kiam-eng itu ternyata tidak sia-sia, secepat kilat menyambar ke depan, secepat pula terdengar suara "bret, dada baju Sih-hou sempat terobek.

Dengan kaget cepat Sih-Hou melompat mundur dua-tiga meter jauhnya, waktu ia periksa dada sendiri, terlihat baju robek cukup panjang, untung tidak terluka.

Diam-diam ia menghela napas lega, waktu ia celingukan lagi kian kemari dan tidak tampak munculnya Sam-bi-sin-ong, ia tahu tertipu oleh Su-kiam-eng, dari mana ia menjadi murka, bentaknya, "Anak keparat, bisa juga kamu berbuat licik, betapapun malam ini tuan besar harus mencincang tubuhmu hingga hancur lebur." Karena kuatir terjadi sesuatu atas diri Kalina maka Kiam-eng tidak melancarkan serangan susulan, melihat pihak lawan hanya terobek dada bajunya saja, diam-diam ia gegetun, ia menengadah dan terbahak-bahak, "Hahaha, kau bilang aku licik, memangnya apa maksudmu?"

"Jika tidak licik, mana itu Sam-bi-sin-ong, suruh dia ke luar?!" teriak Sih-Hou dengan gusar.

"Sam-bi-sin-ong kan tokoh nomor lima dunia persilatan jaman ini, kalian tidak takut padanya?" tanya Kiam-eng dengan tertawa.

"Takut apa? Kiam-ong dan Kiam-ho pun tidak aku takuti, masakah gentar terhadap seorang tua bangka macam Sam-bi-sin-ong segala?" jawab Sih-Hou pongah.

"Hahahaha!" mendadak terdengar suara gelak tertawa orang yang memekak telinga berkumandang dari hutan di belakang Sih-Hou.

Berbareng dengan kumandang suara tertawa itu, tahu-tahu Sam-bi-sin-ong benar-benar muncul dari dalam hutan dengan langkah santai dan membawa tongkat kepala ular.

Sama sekali Kiam-eng tidak menduga bahwa Sam-bi-sin-ong benar-benar mengintai di sekitar situ, keruan ia terkejut dan juga bergirang kaget ucapannya yang pura-pura itu menjadi sungguhan.

Padahal Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li menyatakan hendak menyusul ke tiga ketua Hoa-san-pai dan lain- lain untuk merebut kembali peta dan obat, siapa tahu mereka tidak pergi melainkan tetap menguntit dirinya dan ternyata sama sekali dirinya tidak mengetahuinya.

Yang membuatnya girang adalah kemunculan Sam-bi-sin-ong ini jelas akibat dibuat gusar oleh ucapan Sih-Hou tadi, dengan demikian dirinya sekarang tidak perlu kuatir lagi terhadap Sih-Hou bertiga.

Begitulah ketika Sih-Hou bertiga melihat yang muncul dari dalam hutan itu adalah Sam-bi-sin-ong, semuanya sama terkesiap, jelas Sih-Hou bukannya tidak takut terhadap Sam-bi-sin-ong melainkan karena menyangka kakek itu tidak nanti berada di situ, maka dia berani omong besar.

Serentak Sih-Hou bertiga lantas berbalik menghadapi Sam-bi-sin-ong dan seperti siap mengerubutnya.

Sam-bi-sin-ong tersenyum ejek, perlahan ia mendekat dan berdiri dua-tiga meter di depan Sih-Hou bertiga, setelah mengamat-amati orang sejenak, lalu berkata, "Tadi yang bilang tidak takut terhadap Kiam-ong dan Kiam-ho serta diriku apakah kamu ini?"

Dengan risi Sih-Hou mengangguk dan menjawab, "Betul akulah, yang bilang begitu."

"Di dunia persilatan jaman ini, orang yang tidak gentar terhadap diriku memang tidak sedikit," ucap Sam-bi-sin-ong.

"Tapi yang menyatakan tidak takut terhadap Kiam-ong Kiam-ho rasanya baru pertama kali ini aku dengar. Tampaknya saudara ini tentu mempunyai kung-fu maha sakti, makanya berani membual dan omong besar. Bilamana saudara benar seorang tokoh maha sakti, rasanya aku tidak boleh sia-sia-kan kesempatan bagus ini untuk belajar kenal denganmu."

Kim-Kiam Sih-Hou tahu urusan tidak mungkin didamaikan begitu saja, terpaksa ia menjawab dengan menyengir, "Aku bilang tidak takut terhadap Kiam-ong dan kamu Sam-bi-sin-ong sama sekali bukan karena membual dan omong besar, namun ada dasarnya, yaitu yang maksudkan bukan satu lawan satu, sebab kami bertiga ini selamanya A tidak pernah meninggalkan B dan C, dan begitu pula sebaliknya.

Untuk urusan apa pun atau di medan tempur, kami selalu maju bertiga sekaligus."

"Haha, kiranya begitu," Sam-bi-sin-ong terbahak. "Jadi maksudmu bila kalian bertiga maju sekaligus, maka di dunia ini pasti tidak ada tandingan?"

"Ya, kira-kira begitulah," Sih-Hou mengangguk.

"Wah, bahwa dengan gabungan kalian bertiga pasti dapat mengalahkan Kiam-ong atau Kiam-ho, kepandaian kalian ini tentu sangat luar biasa, betapapun aku menjadi tertarik dan ingin coba belajar kenal."

Tanpa bicara lagi segera Sih-Hou bertiga pasang kuda-kuda dan siap tempur. Sam-bi-sin-ong mengangkat bahu, perlahan ia melangkah maju menuju ke tengah mereka. Perlahan juga Sih-Hou bertiga menggeser sehingga si kakek terkepung di tengah.

Setelah kedua pihak berdiri diam sejenak, Sam-bi-sin-ong lantas mendahului membuka serangan, tongkat berkepala ular mendadak menyapu ke pinggang Cin-kiam Kwa-Eng-seng.

Namun Cin-kiam tidak mundur, ia berbalik maju dan memapak serangan Sam-bi-sin-ong dengan menegakkan pedang untuk menangkis tongkat lawan.

Pada saat yang sama serentak Kim-kiam Sih-Hou dan Thi-kiam Ku-Tai-hong juga menyerang kanan-kiri dengan pedang mereka.

Mendadak Sam-bi-sin-ong tertawa panjang, tongkat yang menyerampang tadi ditarik kembali berbareng tubuh pun berputar, tongkat berbalik menyodok ke muka Sih-Hou secepat kilat.

Tidak sampai begitu saja, karena dia berputar sehingga serangan Sih-Hou dan Ku-Tai-hong tadi dengan sendirinya juga mengenai tempat kosong.

Dengan begitu, jadi tongkat Sam-bi-sin-ong hanya digunakan untuk menyerang dan menghindar serangan lawan dengan gerakan yang gesit, cara bertempur ini boleh dikatakan agak terlampau berani.

Menyaksikan itu, mau-tak-mau Kiam-eng bersorak memuji. Cuma sebelum lenyap suara soraknya, ternyata cara bertempur kedua pihak sudah berubah lagi. Keunggulan serangan Sam-bi-sin-ong yang semula kelihatan hebat itu lambat-laun telah kehilangan daya tekanannya.

Nyata, biarpun nama Kim-Kiam Sih-Hou bertiga tidak terkenal di dunia kang-ouw, namun kung-fu mereka memang lain daripada yang lain.

Mereka seperti sudah sangat mendalam mempelajari berbagai ilmu pedang dari macam-macam perguruan ternama dunia persilatan, maka setiap jurus serangan mereka selalu merupakan inti ilmu pedang berbagai perguruan yang paling lihai, jurus serangan mereka hampir meliputi belasan perguruan terbesar dan terkemuka di daerah Tiong-goan, sebab itulah makin terkesiap hati Su-Kiam-eng.

Semula Kiam-eng berharap dapat mengenali dasar ilmu pedang Sih-Hou bertiga, dengan begitu dapat diketahui asal-usul kung-fu mereka untuk kemudian dicari cara pemecahan, namun sekarang harapannya itu ternyata gagal.

Yang membuat Kiam-eng terlebih gentar adalah Sih-Hou bertiga tidak cuma luas pengetahuannya dalam berbagai ilmu silat, bahkan tenaga mereka pun sangat ulet.

Maka setelah ratusan jurus, tampak Sam-bi-sin-ong sudah terdesak sehingga lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Melihat situasinya, Kiam-eng tahu bila dirinya tidak lekas turun tangan untuk membantu jelas sukar bagi Sam-bi-sin-ong untuk memperoleh kemenangan, segera ia berkata lirih terhadap Kalina, "Hendaknya kau duduk saja di sini dan jangan pergi ke mana-mana, biar aku bantu Sam-bi-sin-ong yang terdesak itu."

Kalina mengangguk, "Baiklah, engkau harus hati-hati, jangan sampai cedera." Kiam-eng tersenyum, dengan pedang terhunus segera ia tampil ke sana.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar suara ledakan yang keras, seluruh puncak gunung segera diliputi oleh asap tebal. Bau pedas yang keras seketika pula menusuk hidung.

Itulah granat berbau pedas. Ya, itulah salah satu granat andalan Sam-bi-sin-ong.

Segera Kiam-eng merasa hidung agak gatal-gatal geli, ia bersin dan cepat melompat mundur serunya, "Nona Ka, lekas mendekap hidungmu dan tahan napas!"

Kalina lantas mendekap hidung, namun bau pedas yang keburu terhisap olehnya membuatnya bersin beberapa kali sehingga air mata pun mengucur.

Memang begitulah kepandaian khas Sam-bi-sin-ong, apabila menemui lawan tangguh yang sukar ditandingi, segera ia menggunakan granat tabir asap. Jika lawan terhitung orang baik, yang digunakan adalah granat berbau harum. Jika sebaliknya tentu ia menggunakan granat berbau pedas atau berbau busuk. Tapi granat apapun yang digunakannya, ia sendiri dapat mengalahkan lawan di bawah perlindungan asap tebal itu.

Sekarang juga terdengar Sih-Hou bertiga yang terkurung oleh asap tebal itu sedang bersin terus menerus. Habis itu, lalu terdengar Cin-kiam Kwa-Eng-seng bersuara tertahan dan berseru, "Wah celaka, aku terluka!"

"Aduuh!" terdengar Thi-kiam Ku-Tai-hong juga menjerit kaget.

Menyusul lantas terdengar Kim-kiam Sih-Hou mencaci-maki, "Bangsat tua, terhitung jago apa menggunakan tabir asap sebagai pelindungmu?"

Sam-bi-sin-ong terbahak-bahak, "Hahahaha, granat berasap adalah salah satu senjata andalanku, betapa kurang gemilang senjata rahasiaku ini juga lebih terhormat daripada main kerubut seperti kalian ini?!"

Habis berkata, serentak tongkatnya berputar sehingga menerbitkan deru angin dahsyat. "Blang!"

"Aduuhh!"

Rupanya Sih-Hou juga terkena serangan sehingga menjerit.

Pada umumnya jago silat kelas tinggi tentu mahir mendengar suara angin untuk membedakan datangnya serangan. Tapi kalau tidak terbiasa bertempur di tempat gelap tentu sukar terhindar dari kecundang.

Bagi Sam-bi-sin-ong, jika dia sudah biasa menggunakan granat tabir asap sebagai pelindung dan untuk mencapai kemenangan, dengan sendirinya pula dia pasti sudah terbiasa bertempur di tempat gelap.

Begitulah maka terdengar suara orang bersin disertai suara benturan senjata dan suara jeritan berulang- ulang.

"Lo-ji dan Lo-sam, marilah kita angkat kaki saja!" terdengar seruan Sih-Hou.

Suara sambaran angin tongkat masih menderu-deru, namun tidak terdengar lagi suara bersin Sih-Hou bertiga, jelas mereka sudah mencari selamat alias kabur.

Sam-bi-sin-ong menghentikan putaran tongkatnya, gumamnya, "Hm, licin juga ke tiga keparat ini sehingga mereka sempat lari."

Gunung tinggi angin besar, dalam sekejap saja asap tebal tadi sudah buyar sebagian besar, samar-samar sudah dapat memandang sesuatu. Tapi pada saat itu Kalina dan Su-Kiam-eng masih terus menerus bersin sehingga ingus air mata pun bercucuran, keadaan mereka agak lucu dan konyol.

Dengan tertawa Sam-bi-sin-ong mendekati mereka dan bertanya, "Su-Kiam-eng, dari mana kau tahu aku buntuti dirimu?"

Kiam-eng kucek-kucek hidung untuk menghentikan bersin dan mengusap air dan ingus di mukanya, lalu menjawab dengan tersenyum, "soalnya caramu menguntit kurang pandai sehingga jauh sebelumnya sudah aku ketahui."

Sam-bi-sin-ong menarik muka dan berkata pula, "Hm, jika kamu tidak ingin bekerja sama denganku, pada saat menghadapi bahaya kamu justru menghendaki bantuanku memangnya apa maksudmu?"

"Bahwa engkau membuntuti diriku, ini menandakan masih ada kemungkinan diriku akan kau peralat. Maka tadi sengaja aku teriaki agar engkau tampil untuk menghalau musuh, masakah salah tindakanku ini?"

"Hm, omong kosong!" jengek Sam-bi-sin-ong untuk apa perlu aku peralat dirimu?"

Kiam-eng berpikir sejenak, katanya kemudian "Aku kira engkau dan Lau-ho-li tidak berhasil menyusul para ketua Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai di Thai-kek-bun, betul tidak?"

"Tidak, kami justru dapat menemukan mereka," sahut Sam-bi-sin-ong. "Jika begitu, apa peta dan obat itu sudah berhasil kau rebut?" "Tidak, makanya aku putar balik untuk membuat perhitungan denganmu!" "Oo, apa artinya?" tanya Kiam-eng bingung.

"Pada waktu mereka aku temukan, mereka ternyata sudah lama dibunuh orang," tutur Sam-bi-sin-ong.

Kiam-eng terkesiap dan berseru, "Hah, mereka terbunuh? Ke tiga ketua perguruan ternama itu terbunuh?"

"Betul, mereka mati terbunuh dengan punggung tertikam belati," tutur Sam-bi-sin-ong dengan mengangguk.

"Wah, tentu perbuatan si orang berkedok kain hitam itu."

"Orang berkedok kain hitam yang mana?" tanya Sim-bi-sin-ong dengan heran.

"Yaitu ke tiga orang yang menculik su-heng ku itu. Kemudian dapat aku bunuh dua di antaranya kini tersisa seorang saja."

"Dari mana kau yakin dia yang membunuh?"

"Dia memiliki semacam granat tabir asap yang dapat membuat orang pingsan, hari ini pernah kami temukan tiga sosok mayat di tengah rimba, yang mati ternyata adalah Hek-Tai-kian, The-Thian-siu dan Toan-Yan-kui dari Cong-lam-pai, mereka pun mati dengan punggung tertikam belati tapi lantaran ketika mati wajah mereka kelihatan tenang dan tentram saja setelah aku pelajari aku yakin mereka pasti terbunuh sehabis pingsan oleh asap berbisa si orang berkedok hitam. Kematian ke tiga ketua Hoa-san- pai dan lain-lain juga serupa dengan mereka, jelas itu pasti perbuatan orang berkedok hitam."

Sam-bi-sin-ong mengangguk, ucapnya kemudian, "Oo, analisamu memang tidak salah, kematian ke tiga ciang-bun-jin itu memang kelihatan sangat tenang ..."

"Pernah kau geledah tubuh ke tiga mayat ciang-bun-jin itu dan tidak menemukan peta dan obat begitu bukan?" tanya Su-Kiam-eng.

"Betul, jika menurut ucapanmu, jadi peta dan obat telah diambil oleh orang berkedok hitam itu?"

"Tentunya begitu. Dia membunuh ke tiga ketua perguruan besar itu, jelas tujuannya juga ke dua macam benda itu,"

Sam-bi-sin-ong berpikir sejenak, lalu tanya "Tadi kau sebut-sebut seorang yang menamakan dirinya sebagai 'raja rimba', orang macam apa pula dia?"

"Seorang tokoh misterius yang jauh terlebih lihai daripada si orang berkedok," jawab Kiam-eng. Dia sangat mungkin adalah si pengganas yang membunuh ke-18 tokoh persilatan dahulu itu. Tempo hari dia menyerangku secara menggelap dan hampir saja aku menjadi korban ..."

Lalu ia ceritakan apa yang dialaminya serta apa yang terjadi atas diri su-heng nya atas perbuatan si orang berkedok hijau.

Berulang Sam-bi-sin-ong mengangguk, tanyanya, "Jadi orang berkedok hijau yang kau katakan itu adalah orang yang menculik nona Ih?"

"Betul, sayang nona Ih di tangannya rasanya lebih banyak celaka daripada selamatnya." "Ke tiga orang tadi apakah anak buah si orang berkedok hijau?" tanya pula Sam-bi-sin-ong.

"Betul, dendam mereka serupa dengan orang berkedok hijau apalagi tujuan mereka hanya ingin membunuh diriku dan tidak mengincar peta, suatu tanda mereka pastilah anak buah si orang berkedok hijau.

"Padahal kung-fu ke tiga keparat tadi terhitung jago yang jarang ada tandingannya, jika si orang berkedok hijau mampu menguasai mereka, jelas kung-fu orang berkedok hijau sendiri pasti sangat tinggi

...."

"Ya, aku pun berpikir begitu, selanjutnya bisa jadi dunia persilatan akan terjadi malapetaka besar." "Dia merintangi kalian mengambil Jian-lian-hok-leng, dengan sendirinya dia kuatir penyakit ingatan In- Ang-bi disembuhkan sehingga akan terbongkar rahasia kekejamannya, maka kalau kau mau meninggalkan kehendak mengambil Jian-lian-hok-leng itu, mungkin selanjutnya takkan mendatangkan bahaya bagimu."

"Ini kan sama artinya dengan bertekuk lutut terhadap kejahatan?" ucap Kiam-eng tersenyum.

Sam-bi-sin-ong mengangkat bahu, "Dia membunuh ke-18 tokoh terkemuka, mungkin dia juga mempunyai maksud tujuan tertentu. Sekarang tujuannya sudah tercapai, asalkan kamu tidak mengusut seluk-beluknya, mungkin ia pun takkan membikin onar lagi di dunia persilatan."

"Hm, apakah engkau Sam-bi-sin-ong sendiri sekarang hanya ingin menemukan kota emas itu saja, begitu?" jengek Kiam-eng.

Sam-bi-sin-ong tertawa, "Betul, kalau tidak apa aku putar balik ke sini untuk mencari dirimu?"

"Padahal peta dan obat sudah tidak ada padaku lagi, apa gunanya kau cari diriku?" tanya Kiam-eng ketus.

"Meski peta sudah tidak berada padamu, aku yakin kamu pasti sudah apal jalan menuju ke kota emas." "Tidak, aku tidak ingat, apalagi apal segala" " sahut Kiam-eng menggeleng setelah berpikir.

"Ah, jangan kau bohongi aku, kamu ini pemuda macam apa masakah aku tidak tahu?" ucap Sam-bi-sin- ong dengan tertawa.

"Jika begitu, jadi engkau tetap akan mengikuti perjalananku?" tanya Kiam-eng.

"Betul, ini kan cuma menguntungkanmu dirimu tidak ada ruginya," Sam-bi-sin-ong mengangguk dengan tertawa. "Sebab sepanjang jalan dapat aku kawal dirimu sehingga tiba di tempat tujuan dengan aman dan dapat pula membantumu mengambil Jian-lian-hok-leng itu.

"Terima kasih atas maksud baikmu, namun aku sudah mendapat pembantu, yaitu Ang-pang-cu maka tidak perlu lagi bantuanmu," kata Kiam-eng.

Rupanya Sam-bi-sin-ong belum tahu akan kedatangan It-sik-sin-kai maka ia terkejut oleh ucapan Kiam- eng itu, "Apa katamu? Ketua Kai-pang It-sik-sin-kai juga datang kemari?"

Melihat orang tua itu terperanjat, diam-diam Kiam-eng merasa senang katanya sambil mengangguk, "Betul. Dia tidak serupa dirimu, tujuannya bukan untuk berebut harta karun di kota emas. Tapi dia mengejar si orang berkedok hijau, aku yakin sebentar lagi akan kembali ke sini."

Sam-bi-sin-ong menatap anak muda itu dengan tajam, "Nama kebesaran It-sik-sin-kai terletak di atas namaku, akan tetapi kalau bicara sesungguhnya, belum pasti dia dapat mengalahkan diriku, jika hendak kau gunakan dia untuk diriku, huh, kan lucu?"

"Apakah engkau tidak percaya bahwa Ang-pang-cu sudah tiba di daerah liar ini?" tanya Kiam-eng. "Ya, aku rada kurang percaya," ucap Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Jika begitu. bolehlah kau duduk dan menunggu sebentar."

"Sam-bi-sin-ong benar-benar duduk di atas batu di depan Su-Kiam-eng, ia berpaling dan tanya Kalina dengan tertawa, nona Ka, apakah benar tadi ada seorang pengemis tua berada bersama Kalina?"

"Ada, ilmu silatnya sangat tinggi, sekali loncat mencapai belasan meter tingginya," jawab Kalina. "Jika engkau tidak lekas pergi, sebentar bila dia datang kembali tentu aku minta dia menghajarmu."

Melihat gelagatnya, Sam-bi-sin-ong tahu It-sik-sin-kai memang sudah datang, maka hatinya rada kurang tentram, ia tahu jiwa pengemis tua itu sangat benci terhadap kejahatan dan tidak kenal ampun, bila kepergok dia urusan memang bisa repot, ia pikir paling aman lekas tinggal pergi saja, tapi bila pergi begitu saja kan juga malu, maka sedapatnya ia berlagak tenang.

"Hahaha, bagus sekali, memang sudah sekian tahun tidak pernah aku lihat dia, kalau sekarang dapat bertemu sobat lama di sini, terasa menggembirakan juga," serunya dengan tergelak. "Plok", mendadak dari dalam hutan melayang ke luar sesuatu benda dan jatuh di depan Sam-bi-sin-ong.

Waktu semua orang mengamatinya, ternyata gulungan tikar butut, jelas itulah barang milik It-sik-sin- kai.

Air muka Sam bi-sin-ong berubah, ia berdiri dan berseru, "Haha, Ang-pang-cu, mengapa engkau suka bercanda dengan kawan lama?"

Perlahan suara It-sik-sin-kai berkumandang dari dalam hutan, "Caraku bercanda ini masakah tidak dapat kau pahami?"

Seketika wajah Sam-bi-sin-ong berubah kecut, katanya. "Paham, jadi engkau mengusirku pergi dari sin!

... Bilamana tidak pergi setelah melihat tikarmu yang butut itu berarti memusuhi si pengemis tua, begitu bukan?"

"Begitu," jawab It-sik-sin-kai dari dalam hutan. "Kalau sudah tahu maksudku, mengapa tidak lekas enyah?"

"Hehehe," Sam-bi-sin-ong terkekeh. "Kan sederhana sekali jika menghendaki kepergian dari sini. Cuma setahuku, kebiasaan pengemis tua melempar tikar butut begini, sasaranmu hanya terbatas pada kaum keroco kelas kambing saja, sekarang kau pun menggunakan cara begini terhadapku, apakah engkau tidak merasa terlampau pongah?"

"Aku lempar tikar butut, maksudku memang bukan meremehkan engkau Sam-bi-sin-ong melainkan tidak ingin bertemu denganmu!" sahut It-sik-sin-kai ketus.

"Di antara kita kan, tiada perselisihan apa pun, apa halangannya sekedar bertemu?" ujar Sam bi-sin-ong.

"Tidak, kuatir bilamana bertemu denganmu, mungkin aku akan kehilangan kesabaranku alias tidak tahan."

"Tidak tahan apa?" tanya Sam-bi-sin-ong heran. "Kemarahanku!"

"Oo, adakah engkau marah padaku?" "Betul!"

"Huh, memangnya dalam urusan apa aku bikin marah padamu?" "Soalnya aku tidak tahan melihat tindak-tandukmu!"

"Oo, maksudmu mengenai tindakanku mengincar kota emas, begitu?" "Betul!"

"Hahahaha!" Sam-bi-sin-ong tergelak, "Dengan nama dan kedudukanku di dunia persilatan, memang terasa agak merosotkan derajatku jika datang ikut-ikutan mengincar kota emas segala. Akan tetapi nama dan kedudukanmu Ang-pang-cu akan malah di atasku lalu apa tujuanmu kedatanganmu ke sini?"

"Kedatanganku hanya ingin mengusut siapa pembunuh anggota kami si Tok-kau-seng-jiu, sama sekali bukan maksudku ikut mengincar kota emas dengan harta karunnya."

"Tok-kau-seng-jiu dari Pang kalian itu diketahui terbunuh oleh Hu-kui-ong di sekitar Kun-san sana, sedangkan Hu-kui-ong Liong-Ih-kong jelas tidak datang ke sini, masakah engkau tidak tahu hal ini?"

"Baru kemarin aku tahu dari cerita Su-Kiam-eng," jawab It-sik-sin-kai. "Sudah tahu duduknya perkara, untuk apalagi engkau masih berada di sini?"

"Su-Kiam-eng minta bantuanku untuk mengambil Jian-lian-hok-leng di kota emas, tentu kau tahu untuk apa dia ingin menemukan Jian-lian-hok-leng itu, maka pengemis tua mau membantunya dengan senang hati."

"Hehe, bukan mustahil diam-diam Ang-pang-cu pun mempunyai perhitungan sendiri?" "Tidak perlu banyak omong lagi. Akan aku hitung sampai tiga, apabila kamu belum lagi pergi, terpaksa pengemis tua tidak kenal sahabat lagi."

"Ah, tidak perlu pakai hitung segala. Dahulu dalam pertemuan besar para ksatria kita pun pernah bertanding selama dua hari dua malam tanpa ketahuan unggul dan asor, aku tidak ingin mengulangi pertarungan yang tidak ada kepastian begitu, biarlah sekarang juga aku pergi dari sini."