Rahasia 180 Patung Emas Jilid 13

 
Jilid 13 

Mereka mendapatkan sebatang pohon agak besar, dengan pedang mereka segera pohon itu ditebangnya.

Pedang sebenarnya senjata yang ringan, sekarang digunakan sebagai kapak untuk menebang pohon, dengan sendirinya sangat memakan tenaga. Maka mereka terpaksa kerja keras, setelah menebang lebih satu jam barulah batang pohon itu ditumbangkan. Padahal setelah menebang pohon, bagi pembuatan sebuah sampan, pekerjaannya itu paling banter baru terselesaikan satu bagian kecil saja.

Namun mereka tidak kenal lelah, menjelang petang ketika sang surya hampir terbenam, akhirnya sebuah sampan yang kasar dapat mereka selesaikan. Sementara itu mereka benar-benar sudah kehabisan tenaga dan lemas lunglai.

Cuma sekarang mereka sudah dapat mengatasi cara menyebrangi rawa-rawa itu, betapapun hal ini membangkitkan semangat mereka. Segera Kiam-eng membawa ransel ke dalam sampan, katanya, "Ayolah, kita dorong sampan ini ke dalam rawa!"

Namun Keh-ki lagi duduk lemas di samping sana, keluhnya, "Oo, biarlah aku mengaso sebentar lagi, sungguh melelahkan sekali?"

Sebenarnya Kiam-eng juga merasa letih tidak kepalang dan sangat ingin istirahat dulu, cuma ia merasa sampan sudah jadi, betapapun harus lekas-lekas meninggalkan tempat rawan ini. Maka ucapnya, "Berada di atas sampan kan juga dapat istirahat. Ayolah naik kemari!"

Keh-ki menghela napas perlahan, selagi ia hendak berdiri, tiba-tiba di tengah hutan sebelah sana ada orang berseru, "Aha, apabila nona Ih merasa lelah, bagaimana kalau aku bantu!"

Di tengah suara ucapan itu, bayangan orang berkelebat dan muncul tiga orang dari sana. Siapa lagi mereka kalau bukan It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan Im-yang-siang-pian Bok-Tat dan Bok-Tian.

Air muka Kiam-eng berubah kurang senang omelnya, "Hm, apakah kalian sudah lupa pada apa yang aku katakan pagi tadi?"

Kemunculan It-ji-kiam sekarang sudah bersikap lain daripada pagi tadi, ia menarik kening dan terbahak, "Haha, sesungguhnya kami tidak sengaja membuntuti Su-siau-hiap, bahwa kembali kita bertemu lagi di sini hanya secara kebetulan belaka."

"Hm, jika begitu, silakan kalian pergi dari sini!" jengek Kiam-eng.

Akan tetapi It-ji-kiam malah menyeringai, katanya, "Su-siau-hiap dan nona Ih sudah sangat kelelahan, dengan tulus hati kami memang sengaja hendak membantu, kenapa kalian tolak maksud baik kami?"

Sembari berkata ia terus mendekati Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki.

Tentu saja Kiam-eng marah, ia lolos pedang dan membentak, "Berhenti! Bila berani maju lagi jangan menyesal bila pedangku tidak kenal ampun lagi."

It-ji-kiam terkekeh beberapa kali, sekonyong-konyong ia pun melolos pedang yang tersandang di punggungnya terus menusuk Su-Kiam-eng.

Pada saat yang sama Im-yang-siang-pian juga mendesak maju ke arah Ih-Keh-ki. Tentu saja si nona was-was juga gusar, cepat ia siapkan pedangnya dan siap tempur, bentaknya nyaring, "Bagus kalian kawanan anjing yang tidak tahu budi dan suka ingkar janji, lihatlah apakah nonamu mau mengampuni kalian lagi ..."

Im-yang-siang-pian tertawa ngakak, berbareng ruyung mereka lantas menyerang. Cepat Keh-ki angkat pedangnya untuk menangkis. Ia sangka hanya dua lawan kelas rendahan saja, cukup beberapa gebrakan tentu dapat membereskan mereka.

Siapa duga, baru saja pedang membentur ruyung lawan, kontan ia merasakan tangan tergetar sakit, pedang pun mencelat terbentur ruyung Bok Tat.

Rupanya dia sudah kelelahan seharian sehingga tidak ada tenaga lagi untuk bertempur. Dan karena sedikit ayal, menyusul ujung ruyung Bok-Tian sempat menutuk hiat-to kelumpuhan.

Keadaan Kiam-eng tidak banyak lebih baik daripada Keh-ki sebenarnya dengan kepandaiannya boleh dikatakan terlampau mudah untuk membereskan lawan semacam It-ji-kiam. Tapi sekarang lantaran tenaga belum pulih, maka baru bergebrak beberapa jurus saja, serupa nasib Ih Keh-ki, pedangnya juga terbentur mencelat oleh senjata lawan.

Setelah membentur lepas pedang anak muda itu, It-ji-kiam tidak melancarkan serangan lebih lanjut, berbalik ia melompat mundur dan berucap "Nah, jika Su-siau-hiap tidak ingin menyaksikan cederanya nona Ih, aku harap sekarang juga kita sudahi pertempuran ini."

Sungguh tidak kepalang rasa murka Su-Kiam-eng, tapi ia pun tahu dalam keadaan tiada tenaga untuk mengatasi musuh, akan lebih baik kalau bersabar dan terima hinaan untuk sementara, kalau tidak mungkin jiwa sendiri pun akan melayang.

Maka sebisanya ia menahan rasa gusar dan mendengus, "Hm, bagus sekali, kalian yang menang. Lantas apa kehendak kalian, coba katakan!"

It-ji-kiam tertawa, "Apa pun juga kami harus mengaku utang budi kepada Su-siau-hiap, sudah dua kali Su-siau-hiap menyelamatkan jiwa kami bertiga, mana berani kami berbuat sesuatu yang tidak pantas terhadapmu. Kami hanya minta agar Su-siau-hiap sudi memberikan peta dan obat yang kau bawa, dan itu pun sudah cukup."

Kiam-eng menggertak gigi saking gemasnya, ucapnya, "Oo, jadi Khu-tai-hiap merasa cukup asalkan sudah mendapatkan peta dan obat yang aku bawa, apakah tidak terlalu murah hati caramu ini?"

Sama sekali It-ji-kiam tidak merasa malu, katanya, "Ya, memang cuma itulah yang aku minta. Jika orang lain, mungkin tidak cuma itu saja yang dikehendaki."

"Dan bagaimana lagi kalau tidak aku beri?" tanya Kiam-eng.

"Hehe, kalau begitu, maka yang pertama akan celaka dengan sendirinya ialah nona Ih," ucap It-ji-kiam dengan terkekeh.

Melihat Keh-ki yang menggeletak tak berkutik itu, Kiam-eng pikir ke tiga orang lawan sudah khilap karena pengaruh daya tarik harta karun, apa yang dikatakan bukan mustahil juga dapat dilakukannya. Jalan yang paling aman adalah memenuhi saja permintaannya dan nanti dapat mencari akal lagi untuk merebutnya kembali.

Segera ia melemparkan sebotol obat kepada It-ji-kiam dan berkata, "Baiklah, ambil ini!"

Cepat It-ji-kiam menyambar botol obat itu dan dimasukkan ke saku, ucapnya dengan tertawa "Dan mana lagi peta itu?"

"Suruh kalian agak menjauhi nona Ih dan segera aku beri peta yang kau minta," jengek Kiam-eng.

Terpaksa It-ji-kiam berkata kepada Im-yang-siang-pian, "Baiklah, ke dua su-te, boleh kalian menyingkir dulu."

Im-yang-siang-pian menurut dan menyingkir jauh ke samping sana.

Lalu Kiam-eng mendekati Keh-ki dan mengeluarkan peta, sembari membentang peta ia pun berkata,"Sesudah Khu-tai-hiap mendapatkan peta ini, perlu hati-hati sedikit, kalau tidak, bisa mendatangkan bencana maut ..."

Bicara sampai di sini, mendadak ia robek, sebagian peta itu.

Keruan It-ji-kiam kaget, bentaknya gusar, "Kurang ajar, berani kau robek peta itu?" Pedang bergerak dan segera ia hendak menyerang.

Namun Kiam-eng berdiri tenang saja, jengeknya, "Jangan terburu marah dulu, Khu-tai-hiap aku kan tidak merusak peta ini."

"Habis apa yang kau robek?" teriak It-ji-kiam sambil menahan gerak serangannya. Kiam-eng memperlihatkan ujung peta yang dirobeknya dan berkata, "Ujung peta ini adalah tulisan su- heng ku yang menerangkan tempat sembunyi Jian-lian-hok-leng, yang kalian cari kan emas dan bukan Jian-lian-hok-leng, maka ujung peta dengan tulisan ini perlu aku robek dan aku gunaksn sendiri."

Habis berucap, ujung peta yang dirobeknya itu dihancurkannya dan dibuangnya, lalu sisa peta dilemparkan kepada It-ji-kiam.

Cepat Khu Bu-peng menangkap peta itu dan memberi tanda kepada Im-yang-siang-pian, "Ayo, berangkat!"

Ke tiga orang serentak bergerak dan melompat ke arah sampan yang dibuat Su-Kiam-eng itu lalu diangkat dan dibawa lari ke arah rawa.

Akan tetap baru saja mereka lari beberapa langkah, sekonyong-konyong terdengar suara mendesir beberapa kali, dari dalam hutan melayang ke luar tiga sosok bayangan orang dan tepat menghadang di depan mereka.

Ke tiga orang ini ternyata adalah ketua Hoa-san-pai Poan-ti-lo-jin Oh-Lok-thian, ketua Tiam-jong-pai Bu- si-soh Lau-Kong-liang dan ketua Thai-kek-bun Ting-Go.

Keruan It-ji-kiam bertiga terkejut, cepat mereka mereka melemparkan sampan yang digotong itu dan melompat mundur, serentak mereka melolos senjata dan siap tempur.

"Hm, ke tiga Ciang-bun-jin mendadak muncul di sini, entah ada petunjuk apa?" jengek Khu-Bu-peng.

Ketua Hoa-san-pai, Poan-ti-lo-jin, si kakek setengah tahu, berkata dengan terbahak, "Haha, kalau sudah tahu mengapa Khu-tai-hiap sengaja tanya lagi? Dengan sendirinya kedatangan kami bertiga tiada urusan lain kecuali demi peta mestika itu."

It-ji-kiam menarik muka masam. dengusnya, "Hm, tindak-tanduk kalian bertiga apa takkan menurunkan derajat kedudukan kalian sebagai pimpinan perguruan terkemuka?"

Bu-si-soh, si kakek tanpa jenggot, ketua Tiam-jong-pai, ikut menimbrung, "Aha, aku justru ingin minta penjelasan padamu, di mana ada tanda menurunkan derajat kami hanya karena kemunculan kami menghadang perjalanan kalian di sini?"

"Betul," tukas Ting-Go, ketua Thai-kek-bun. "Kami bertiga kan tidak main rampas milik orang selagi orang lain dalam keadaan tak berdaya seperti perbuatan Khu-tai-hiap, kenapa kau bilang tindakan kami kurang pantas?"

Air muka It-ji-kiam berubah pucat, jawabnya, "Selama ini cukup baik hubungan antara kita, sekarang hanya lantaran secarik peta, lantas ke tiga Ciang-bun-jin tak mau kenal lagi pada sahabat lama, begitu?"

"Jika Khu-tai-hiap mau bicara tentang hubungan baik, sesungguhnya hubungan baik kami dengan Khu- tai-hiap kan tidak lebih baik daripada hubungan Khu-tai-hiap dengan Su-siau-hiap," ujar Bu-si-soh, si kakek tanpa jenggot.

"Betul," sambung Kian-kun-jiu Ting-Go, "Pernah dua kali Su-siau-hiap menyelamatkan jiwa kalian bertiga, kalian tidak tahu balas budi, sebaliknya malah merebut peta pada saat Su-siau-hiap keletihan dan kehabisan tenaga. Caramu yang kotor dan rendah serta memalukan itu masakah pantas untuk bicara tentang persahabatan segala dengan kami?"

"Habis, apa kehendak ke tiga Ciang-bun-jin," ucap It-ji-kiam dengan muka merah, dari malu menjadi gusar.

"Terhadap manusia yang rendah dan kotor, setiap orang boleh membunuhnya," jengek Poan-ti-lo-jin, si kakek setengah ling-lung.

Begitu habis ucapannya, serentak ia melompat maju dan sebelah tangan ketua menghantam.

It-ji-kiam menyadari bukan tandingan ke tiga lawan itu, maka begitu serangan lawan tiba, cepat, ia melompat mundur sambil berteriak, "Nanti dulu!"

Cepat Poan-ti-lo-jin menahan serangannya tanyanya dengan tertawa, "Khu-tai-hiap mau bicara apa lagi?" "Hm, yang dikehendaki ke tiga Ciang-bun-jin kan peta dan obat, karena aku tidak ingin cek-cok dengan kalian, biarlah aku berikan apa yang kau minta, ini," jengek It-ji-kiam.

"Jika betul begitu, lemparkan kemari obat dan petanya," kata Poan-ti-lo-jin.

Segera It-ji-kiam mengeluarkan peta dan obat serta dilemparkan kepada Poan-ti-lo-jin, lalu ia memberi tanda kepada Im-yang-siang-pian, "Ke dua su-te, marilah kita pulang saja!"

Habis bicara segera ia mendahului angkat kaki.

Siapa duga Poan-ti-lo-jin berbalik tidak membiarkan mereka pergi begitu saja, mendadak ia melompat ke sana dan menghadang di depan It-ji-kiam Khu-Bu-peng, ucapnya dengan tertawa, "Ehh, barangkali Khu- tai-hiap belum lagi mengerti makna ucapanku tadi ..."

Keruan air muka Khu-Bu-peng berubah hebat, cepat ia menyurut mundur dan melolos pedang, bentaknya, "Sesungguhnya apa kehendak Oh-ciang-bun-jin?"

"Tadi kan sudah aku katakan, manusia yang rendah dan kotor, setiap orang boleh membunuhnya, apa yang aku katakan bukan cuma untuk main-main saja ... "

Kejut dan gusar pula It-ji-kiam. "Hm, kenapa Oh-ciang-bun-jin tidak bicara terus terang saja bahwa kamu hendak membunuh orang untuk menghilangkan saksi."

"Hehe, boleh juga jika Khu-tai-hiap hendak bilang demikian, yang jelas hari ini tiada satu pun di antara kalian yang dapat pergi lagi," Poan-ti-lo-jin terbahak-bahak.

Habis bicara, tangan bergerak, kembali ia menghantam dengan telapak tangan. "Sekali ini, It-ji-kiam merasa tiada jalan lain terkecuali mengadu jiwa belaka."

Begitulah, dalam sekejap ke dua orang lantas saling gebrak dengan sengit di tengah hutan.

Serentak Bu-si-soh dan Kian-kun-jiu juga menemukan tandingan, yaitu bertarung dengan Im-yang- siang-pian sehingga terjadilah pertempuran tiga partai terdiri dari enam orang.

Saat itu hiat-to kelumpuhan Ih-Keh-ki yang tertutuk tadi sudah dibuka oleh Su-Kiam-eng. Karena tenaga ke dua orang belum lagi pulih, sebab itulah mereka hanya duduk menonton di samping.

Keh-ki berpendapat apa yang terjadi sekarang adalah gara-gara Su-Kiam-eng yang berhati terlalu welas- asih, maka berulang ia menggerundel "Coba lihat, semuanya gara garamu, karena kamu bermaksud baik dan menolong mereka bertiga, kalau tidak dan membiarkan mereka mampus, tentu takkan terjadi seperti sekarang ini."

"Mungkin betul ucapanmu," kata Kiam-eng dangan menyengir. "Syukurlah hukum karma segera akan terjadi juga. Kau lihat, malam ini mereka bertiga pun takkan lolos dari kematian."

"Tapi bagaimana dengan peta dan obatmu?" tanya Keh-ki.

"Lihat saja nanti, barangkali ke tiga Ciang-bun-jin itu mau mengembalikannya kepadaku ..." "Aduuhh!" mendadak suara jeritan seorang memotong ucapan Kiam-eng.

Kiranya perut Bok-Tat terkena tusukan pedang ketua Tiam-jong-pai si kakek tanpa jenggot, dengan jeritan ngeri itu kontan ia pun terguling dan binasa.

Tentu saja It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan Im-pian Bok-Tian menjadi gugup, segera mereka bermaksud kabur. Akan tetapi kesempatan itu tidak disia-siakan oleh lawan, dengan tepat punggung It-ji-kiam kena pukulan dahsyat Poan-ti-lo-jin sehingga isi perut hancur. Sedangkan Bok-Tat terhantam batok kepalanya oleh Ting-Go sehingga remuk dan mampus.

Setelah membereskan It-ji-kiam bertiga, Poan-ti-lo-jin lantas berpaling dan bicara terhadap Kiam-eng, "Su-siau-hiap, kami bertiga telah menumpas ke tiga manusia yang tidak tahu budi ini, cara bagaimana engkau akan berterima kasih pada kami?"

Kiam-eng berdiri dan memberi hormat, ucapnya, "Apabila Oh-ciang-bun-jin sudi mengembalikan peta dan obat padaku, sungguh selama hidup takkan aku lupakan kebaikanmu ini."

"Eh, jangan Su-siau-hiap bergurau denganku," ucap Poan-ti-lo-jin dengan tertawa. "Kau lihat sendiri peta dan obat ini aku rebut langsung dari It-ji-kiam sendiri."

"Betul, tapi peta dan obat itu semula adalah barang milikku," kata Kiam-eng.

"Oo, akan tetapi Su-siau-hiap sendiri kan tidak sanggup merebutnya kembali dari tangan It-ji-kiam?"

"Jika begitu cara bicara Oh-ciang-bun-jin, maka urusan ini tidak perlu disebut-sebut lagi," jengek Kiam- eng.

"Tidak kita masih harus bicara lebih lanjut ingin aku rundingkan sesuatu urusan dengan Su-siau-hiap," ujar Poan-ti-lo-jin.

"Hm, apakah maksudmu hendak menyuruh kami menjaga rahasia bagi kalian?" jengek Kiam-eng. "Yaitu agar jangan menyiarkan peristiwa kalian membunuh It-ji-kiam bertiga ini ke dunia kang-ouw, begitu bukan?"

"Memang betul," Poan-ti-lo-jin mengangguk "Untuk itu, jika Su-siau-hiap mau berjanji, segera kalian dapat ikut bersama kami ke kota emas."

"Maaf rasanya kami tidak tertarik oleh tawaranmu ini" Kiam-eng menggeleng kepala.

"Ehh, apakah Su-siau-hiap sudah tidak menghendaki lagi Jian-lian-hok-leng itu?" tanya Poan-ti-lo-jin.

Dengan ketus Kiam-eng menjawab, "Jian-lian-hok-leng itu memang menjadi sasaran kedatanganku ke wilayah selatan yang masih liar ini, mengapa kau bilang tidak aku kehendaki lagi?"

"Jika demikian, jadi Su-siau-hiap bermaksud menyiarkan peristiwa terbunuhnya It-ji-kiam oleh kami ini?" tanya Poan-ti-lo-jin dengan menarik muka.

"Hm, memangnya aku tidak ada pekerjaan dan terlampau iseng sehingga perlu banyak jual omong?" jawab Kiam-eng tak acuh.

"Jika begitu, mengapa Su-siau-hiap tidak mau ikut pergi ke kota emas bersama kami?" tanya Poan-ti-lo- jin.

"Soalnya aku tidak suka berada bersama orang yang tidak aku suka." jawab Kiam-eng tegas.

Muka Poan-ti-lo-jin menjadi merah, ucapnya dengan terkekeh, "Hehe, Su-siau-hiap ternyata berjiwa serupa gurumu, sungguh sangat mengagumkan. Cuma, bilamana peta dan obat sudah tidak kau pegang lagi, cara bagaimana engkau akan menemukan kota emas itu?"

"Dari sini ke kota emas itu masih berjarak sepuluh hari perjalanan, dalam sepuluh hari ini aku yakin ada jalan untuk merebut kembali peta dan obatku itu."

"Hahaha" Poan-ti-lo-jin tergelak, lalu katanya kepada kedua kawannya "Nah, kalian dengar tidak, tampaknya tidaklah mudah bila kita ingin bersahabat dengan Kiam-ho Lok-Cing-hui guru dan murid."

Bu-si-soh berdehem perlahan, tanyanya kemudian sambil menatap tajam Su-Kiam-eng, "Jadi benar- benar Su-siau-hiap tidak sudi ikut pergi ke kota emas itu bersama kami?"

"Betul, watakku sudah terbiasa keras dan kukuh, pendirianku sukar berubah," Kiam-eng mengangguk.

"Kalau begitu, kita harus bicara di muka sejelas-jelasnya," ujar Bu-si-soh. "Peta dan obat ini kami rebut dari tangan It-ji-kiam Khu-Bu-peng, maka antara kami dan Su-siau-hiap boleh dikatakan tiada persengketaan apa pun. Hal ini diakui Su-siau-hiap atau tidak?"

"Ya, dapat aku akui," jawab Kiam-eng.

"Bagus, selanjutnya, kami bertiga telah membunuh Khu-Bu-peng dan ke dua su-te nya, sedikit banyak hal ini dapat dikatakan kami ikut mengurangi rasa dendam Su-siau-hiap. Untuk ini kan sepantasnya Su- siau-hiap perlu berterima kasih kepada kami dan dengan sendirinya tidak pantas bila kau siarkan peristiwa terbunuhnya Khu-Bu-peng bertiga oleh kami, betul tidak?" "Kan sudah aku katakan tadi, tidak ada waktu iseng bagiku untuk menjual cerita urusan ini," kata Kiam- eng.

"Jika begitu maaf, kami ingin mendahului berangkat sekarang. Bila Su-siau-hiap yakin akan dapat merebut kembali peta dan obat, boleh silakan menyusul saja nanti," ujar Bu-si-soh dengan tertawa. Lalu ia memberi tanda kepada ke dua kawannya dan langsung menuju ke arah sampan.

Ke tiga orang menggotong sampan ke rawa, lalu naik ke atas sampan dan didayung, segera sampan itu meluncur ke depan dan dalam sekejap saja sudah menghilang dalam kegelapan malam.

Tidak kepalang gemas Keh-ki menyaksikan ke tiga orang itu pergi dengan merampas sampan yang mereka buat itu, makinya. "Hm, ke tiga tua bangka ini kan serupa bandit saja yang sengaja merampas milik orang. Huh, lagaknya saja tokoh pimpinan perguruan ternama, namun perbuatan kotor dan memalukan seperti ini tidak segan-segan dilakukannya."

"Sudahlah, tidak perlu memaki lagi," cepat Kiam-eng menghiburnya. "Bahwa mereka tidak mengganggu kita sudah harus bersyukur."

Keh-ki mengentak kaki, dijemputnya kembali pedangnya dan bertanya, "Lantas bagaimana selanjutnya, apa yang akan kau lakukan?"

Kiam-eng mengangkat bahu, katanya, "Sama sekali tak berdaya!"

"Bukankah tadi kau bilang ada jalan untuk merebut kembali peta dan obat yang dirampas mereka itu?" tanya Keh-ki dengan mendongkol.

"Ah, itu kan cuma basa-basi saja untuk sekadar menjaga muka ... "

"Jika tidak ada jalan untuk merebut kembali peta itu, mengapa tadi tidak kau terima tawaran mereka untuk pergi bersama?"

"Soalnya aku benar-benar tidak suka berkumpul dengan kawanan tua bangka yang licin dan licik itu," ujar Kiam-eng.

"Sungguh aku tidak mengerti, mengapa caramu bertindak sesuatu sedemikian bandel dan kepala batu tanpa memikirkan soal untung dan rugi?" tanya Keh-ki sambil memandang anak muda itu dari samping.

"Kepala batu memang betul," ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Sebabnya guruku mau menerimaku sebagai muridnya dahulu justru lantaran beliau suka pada watakku ini."

"Huh, betul apa segala, yang betul tanpa peta itu tentu takkan menemukan kota emas itu," jengek Keh- ki.

Kiam-eng merangkul bahu si nona, ucapnya dengan gelisah, biarlah aku katakan terus terang padamu, apa yang terlukis dalam peta itu sudah aku apalkan di luar kepala."

"Hah, apa betul?" si nona menegas dengan melengong.

"Betul, sebelumnya memang sudah aku bayangkan ada kemungkinan peta itu akan dirampas orang, maka lebih dulu sudah aku apalkan semua petunjuk yang terlukis dalam peta itu."

"Wah, jika begitu, biarpun peta telah direbut mereka, kita tetap dapat menemukan kota emas bukan?"

"Betul, asal kita membuat lagi sebuah sampan dan segera kita dapat berangkat," kata Kiam-eng sambil mengangguk.

"Tapi tanpa membawa obat anti gas racun tetap sulit juga bagi kita,"

Kiam-eng mengangkat lengan baju kiri dan berkata. "Dalam lengan bajuku masih tersimpan sepuluh biji pil anti racun."

Girang sekali Keh-ki, ia peluk anak muda itu dengan erat dan berseru, "Aha, kiranya engkau masih punya akal simpanan, kenapa tidak kau katakan sejak tadi, bikin aku sedih saja."

"Sekarang marilah kita tidur lagi semalam di atas pohon esok kita bekerja keras membuat sampan pula," kata Kiam-eng. Esoknya tidak lama setelah lewat lohor mereka sudah selesai membuat sampan ke dua yang cukup apik. Kuatir akan datang lagi musuh lain untuk merampas sampan itu, dengan menahan lapar langsung mereka mendorong sampan itu ke rawa, dengan menumpang sampan mereka mendayung sekuatnya meluncur ke depan.

Setelah memasuki rawa yang luas, melihat si nona agak pucat dan lesu, Kiam-eng tidak sampai hati, katanya, "Keh-ki, berikan dayungmu padaku, boleh kamu rebah dan mengaso dulu."

"Tidak, aku tidak lelah, aku cuma kelaparan sekali," jawab Keh-ki.

Kiranya dua kantung rangsum yang mereka bawa semula, kemarin oleh Kiam-eng telah ditaruh dalam sampan, kemudian sampan itu dibawa lari Poan-ti-lo-jin bertiga sehingga sisa rangsum pun ikut digondol pergi.

Kiam-eng menghela napas oleh keluhan si nona, ucapnya, "Jika begitu, harap tahan lagi sementara, setelah menyebrangi rawa ini, nanti kita menangkap satu-dua ekor binatang kecil untuk sekadar menangsal perut."

Keh-ki juga menghela napas, ucapnya lemah, "Entah betapa luas rawa ini, jika selama beberapa kali dan malam luas rawa ini tak tersebrangi, bukankah kita akan mati kelaparan di atas sampan ini?"

"Aku kira tidak segawat itu, tampaknya paling banter ... Hei, barang apakah itu?" seru Kiam-eng mendadak.

Keh-ki memandang ke sana sambil tanya, "Barang apa?"

Kiam-eng menuding sepotong benda serupa kayu hitam yang mengapung di permukaan sebelah kanan sana dan berkata, "Coba lihat, itu potongan kayu atau bukan?"

Waktu Keh-ki memandang ke sana, terlihat bonggol kayu itu sedang meluncur ke arah sampan mereka, keruan ia terkejut dan berseru, "Hah masakah bonggol kayu dapat berenang? Mungkin semacam makhluk aneh entah apa?"

Sementara itu bonggol kayu hitam itu sudah meluncur mendekat, waktu Kiam-eng mengamati lebih cermat, seketika ia menjerit, "Wah, celaka seekor buaya!"

Muka Keh-ki berubah pucat karena gugupnya cepat ia mendayung sekuatnya sambil berseru, "Ayo lekas dayung, jangan sampai tersusul!"

Mereka mendayung sekuatnya, namun kecepatan laju sampan tetap kalah cepat daripada renang buaya, hanya dalam sekejap saja buaya itu sudah menyusul sampai di samping sampan.

Cepat Kiam-eng mengayun pengayuh dan mengepruk sekerasnya pada kepala buaya itu. "Blang", dengan tepat kepala buaya kena dikemplang. Akan tetapi kulit buaya memang sangat tebal, agaknya buaya itu tidak mengalami cedera apa pun, ia cuma berguling satu kali di dalam air, lalu menerjang lagi ke arah sampan dengan cepat sekali.

Keh-ki juga menirukan cara Su Kiam-eng, ia angkat pengayuh dan mengemplang kepala buaya namun tetap tidak ada gunanya setelah berguling dalam air buaya itu mengejar lagi terlebih pesat.

Cepat Kiam-eng melolos pedang dan berkata, "Coba kau hantam lagi sekali kepalanya!"

Tanpa ayal Keh-ki angkat pengayuh dan mengepruk lagi kepala buaya, kembali buaya bergulingan di dalam air.

Selagi tubuh buaya itu terbalik di dalam air, kesempatan itu cepat digunakan oleh Kiam-eng untuk menusuk tenggorokan buaya dengan pedangnya. Serangan itu tempat mengenai titik lemah buaya itu, tertampak badan buaya yang besar itu berguling kian-kemari di dalam air, dari bagian luka di tenggorokan itu tersembur ke luar darah segar, setelah meronta sekian lama, akhirnya buaya itu tidak bergerak lagi dan tenggelam ke bawah.

Keh-ki menghela napas lega, ucapnya "Busyet, selama hidup tidak pernah aku lihat buaya sebesar ini."

Kiam-eng memandang sekeliling rawa, dilihatnya dari kanan-kiri sana kembali meluncur tiba pula dua ekor buaya, cepat ia berseru. "Awas, dua ekor buaya datang lagi." "Haya, sekali ini celakalah kita!" keluh Keh-ki kuatir.

"Jangan takut," ucap Kiam-eng. "Lekas lolos pedangmu, kita bunuh mereka menurut cara tadi!" Belum lenyap suaranya, ke dua ekor buaya itu sudah meluncur sampai di samping perahu mereka.

Dengan tangan kanan Kiam-eng memegang pedang dan tangan kiri mengangkat pengayuh ia incar benar hidung buaya terus mengemplang sekerasnya.

Siapa tahu buaya ini berbeda dengan buaya tadi, meski kena dikepruk kepalanya, dia tidak bergulingan di dalam air, sebaliknya cepat ia menyelam ke bawah air, setelah berputar di bawah air lalu ia menerjang lagi ke arah sampan.

Agaknya buaya itu hendak menggunakan siasat menumbuk terguling sampan itu, habis itu baru akan pesta makan daging manusia.

Buaya yang menjadi lawan Keh-ki itu juga sama licinnya, sejak awal tidak mau memperlihatkan bagian kelemahannya, meski beberapa kali Keh-ki menghantam kepala buaya itu, tetap buaya tidak mau membalik tubuh.

Seketika nona itu menjadi kehabisan akal, teriaknya kuatir, "wah, kakak Eng, buaya ini tidak mau membalik tubuh, sukar untuk menusuk tenggorokannya, bagaimana baiknya ini?"

Cepat Kiam-eng menjawab, "Tahan saja dengan sabar, tunggu setelah aku bereskan dulu buaya ini, nanti aku bantu ..,. "

Ia tidak meneruskan ucapannya, sebab dayungnya mendadak digigit buaya lawannya.

Cuma perbuatan buaya ini justru memberi kesempatan kepada Kiam-eng untuk menyerang bagian kelemahannya, segera ia tarik sekuatnya dayungnya dan karena buaya itu tidak rela melepaskan gigitnya, dengan sendirinya sebagian tubuhnya ikut terseret ke atas air sehingga tenggorokannya terlihat dengan jelas.

Cepat Kiam-eng menusuk dengan pedangnya dan tepat mengenai tenggorokan buaya, lalu ia lepaskan dayung dari gigitan buaya dan cepat berputar ke sebelah sana, katanya kepada Keh-ki, "Jangan memukul dia lagi, biarlah dayungmu digigit olehnya"

Keh-ki masih gugup dan bingung, ia tidak tahu cara bagaimana Kiam-eng membunuh buaya lawannya, maka ia menjawab dengan heran.

"Biarkan buaya menggigit dayungku bagaimana! Wah, kan bisa celaka? Jangan-jangan aku akan terseret ke dalam air"

Sembari bicara ia masih terus mengemplang kepala buaya dengan pengayuh.

"Jangan kuatir, biarlah dayungmu digigitnya olehnya, serupa memancing ikan nanti kau tarik dia ke permukaan tadi!" kata Kiam-eng.

Keh-ki memang gadis cerdas, segera ia paham maksud Kiam-eng, cepat ia menuruti petunjuknya ia sodorkan pengayuhnya ke arah buaya, dengan sendirinya buaya itu tidak tahu akan akal manusia kontan ia membuka mulut dan menggigit pengayuh sekuatnya dan segera pula Keh-ki menarik pengayuhnya sehingga kepala buaya ikut terbetot ke atas.

Tanpa ayal pedang Kiam-eng lantas menusuk dan tepat mengenai leher buaya ... " Begitulah tiga ekor buaya dapat mereka binasakan dalam waktu yang singkat.

Akan tetapi keadaan mereka sekarang menjadi letih sekali dan lemas lunglai," Keh-ki menaruh pedang dan pengayuhnya, katanya dengan menghela napas panjang. "Oo, bisa mati lemas aku."

"Kalau datang lagi dua ekor buaya mungkin aku tidak sanggup melawannya lagi."

Kiam-eng tahu di sekitar rawa pasti masih banyak mengintai kawanan buaya yang lain, maka ia tidak berani berhenti di situ, cepat ia mendayung sekuatnya sehingga sampan itu meluncur lagi ke depan. Mungkin nasib mereka lagi baik sehingga tidak diketahui kawanan buaya yang lain, maka perjalanan selanjutnya dirawa-rawa itu dapat dilalui dengan aman.

Malam tiba pula, akhirnya sampan mereka pun mencapai ujung rawa-rawa sana.

Di dekat tepi rawa sana mereka menemukan sampan pertama yang ditumpangi Poan-ti-lo-jin itu Kiam- eng menduga mereka tentu sudah pergi jauh dan sukar disusul lagi.

"Coba kau duduk menunggu sebentar di sini biar aku cari di sekitar sini, barangkali dapat menangkap seekor kelinci atau binatang kecil lain," kata Kiam-eng kepada Keh-ki.

"Jangan kau pergi jauh-jauh, berada sendirian di sini sungguh aku agak takut," ujar si nona.

"Baiklah, aku hanya akan mencari sejauh ratusan meter di sekitar sini, bilamana terjadi sesuatu bahaya, boleh kamu berteriak dan segera aku buru kembali."

Habis berkata ia lantas menuju ke tengah hutan yang hebat.

Ia berputar sebentar di tengah hutan dan ternyata tiada menemukan sejenis binatang kecil yang sekiranya dapat dimakan. Ia tahu setelah malam tiba, binatang kecil umumnya tentu sudah sembunyi di sarangnya dan sukar dicari lagi. Segera ia ganti haluan dan mencari buah-buahan di atas pohon.

Akan tetapi, hasilnya tetap nihil, tiada menemukan buah apa pun.

Ia menghela napas dan terpaksa putar balik ke tempat semula. Namun dilihatnya Ih-Keh-ki tidak berada lagi dalam sampan, keruan ia terkejut dan cepat berteriak, "Keh-ki, di mana kamu, Keh-ki!"

Namun keadaan sekitar sunyi senyap, mana ada suara jawaban Ih-Keh-ki?

Tentu saja Kiam-eng bingung dan tegang, kembali ia berteriak, "Keh-ki, di manakah kau, Keh-ki?!"

Tetap tidak ada jawaban. Ada juga suara jawaban, namun jelas itulah suara auman binatang buas sebangsa harimau.

Keruan hati Kiam-eng terkesiap, pikirnya kuatir, "Celaka, jangan-jangan dia kena digondol lari harimau?"

Terpikir demikian, sungguh tidak terperikan bingung pikirannya, segera ia melolos pedang dan menerjang ke tengah hutan secepat terbang, ditujunya tempat suara harimau mengaum itu.

Baru beberapa puluh langkah ia lari, sekonyong-konyong ia dipapak sesosok bayangan besar yang menerjangnya dari depan. Ia tidak peduli apakah bayangan ini harimau atau singa, sebelum bayangan besar itu menubruk tiba, cepat ia mendak setengah berjongkok ke bawah, pedang dipegang erat dengan ke dua tangan dan sekuatnya menusuk ke atas.

Binatang yang menubruk tiba itu memang benar seekor harimau buas, lantaran Su-Kiam-eng mendadak berjongkok ke bawah, harimau itu tidak keburu menahan daya tubruknya, pada saat dia menyambar lewat di atas kepala Kiam-eng itulah perutnya tepat tertusuk oleh pedang.

Maka terdengarlah suara raungan yang mengerikan, bagian perut harimau terobek dan tubuh yang besar itu terbanting di belakang Kiam-eng, ke empat kaki berkelojotan sebentar, lalu tidak bergerak lagi.

Menghadapi situasi begitu, sikap Su-Kiam-eng tidak kalah buasnya daripada binatang, serentak ia membalik tubuh dan melompat ke depan bangkai harimau, sekuatnya ia pentang mulut harimau dan ternyata tiada terdapat bekas darah pada gigi binatang buas itu, hatinya rada lega.

Segera ia berlari lagi kian kemari untuk mencari si nona, berulang ia pun berteriak, "Keh-ki, di mana kau?"

Hampir satu jam anak muda itu mencari ubek-ubekan dan hampir menjelajahi setiap jengkal tanah beberapa ratus meter di sekitar situ, namun bayangan si nona tetap lenyap tanpa bekas, Keh-ki telah menghilang secara misterius.

Semangat Su-Kiam-eng sekarang sungguh runtuh seluruhnya, dengan langkah yang berat ia putar kembali ke tepi rawa-rawa sana dan duduk di tepi sampan. Ia patah semangat dan berduka, ke dua matanya memandang nanar kegelapan malam yang menyelimuti jagat raya sambil bergumam perlahan, "Keh-ki, O, Keh-ki, ke mana kau pergi? Ke mana kau pergi?" Tanpa terasa air mata pun bercucuran membasahi pipinya.

Di tengah hutan yang gelap dan menakutkan itu, seorang nona yang selama ini selalu berdampingan dengan dia telah menghilang secara mendadak, tidak perlu disangsikan bagaimana nasibnya. Maka biarpun watak Su-Kiam-eng biasanya sangat teguh pendirian dan kuat imannya, sekarang pun goyah dan sukar menahan perasaannya.

Mengapa mendadak Ih-Keh-ki bisa menghilang?

Apakah benar nona itu digondol binatang buas dan mengalami nasib malang?

Tidak, Keh-ki adalah nona yang mahir kung-fu cukup tinggi, biarpun dalam keadaan lapar dan letih sekalipun datang seekor harimau buas juga si nona cukup kuat untuk menghadapinya, paling tidak ia pun dapat berteriak minta tolong. Akan tetapi Kiam-eng sendiri tidak terlalu jauh meninggalkan si nona, andaikan Keh-ki pernah berteriak minta tolong, rasanya dirinya pasti akan dapat mendengarnya.

Jika begitu, apakah Keh-ki juga masuk ke dalam hutan untuk mencari makanan?

Juga tidak. Meski dia menguasai kung-fu tinggi namun nyalinya kecil, di tengah hutan yang gelap ini jelas dia tidak berani sendirian masuk ke tengah hutan pula, seumpama benar ia sendiri masuk ke dalam hutan untuk mencari makanan, tadi Kiam-eng sendiri sudah berteriak-teriak memanggilnya, seharusnya si nona dapat mendengar dan memburu kembali ke sini.

Atau jangan-jangan ia diculik orang?

Berpikir demikian, seketika semangat Kiam-eng terbangkit. Tapi setelah dipikir lagi, kembali ia menunduk lesu. Sebab ia pun merasa Keh-ki tidak mungkin diculik orang, alasannya, bilamana Keh-ki diculik orang, tentu tujuan orang itu adalah peta kota emas dan obat anti racun. Padahal peta dan obat sudah lebih dulu dirampas oleh Poan-ti-lo-jin bertiga.

Kejadian itu sepantasnya tidak sama sekali tidak diketahui oleh pihak lawan, lalu untuk apa lagi dia menculik Keh-ki? Pula, andaikan pihak lawan tidak tahu bahwa peta dan obat telah dibawa lari oleh Poan- ti-lo-jin, sekarang setelah lawan menguasai Keh-ki, seharusnya lawan memperlihatkan dirinya untuk mengancam Kiam-eng agar menyerahkan peta dan obat. Dan mengapa sejauh ini lawan tidak pernah menampakkan diri?"

Oleh karena itu, setelah dipikir bolak-balik, ia merasa lebih besar kemungkinan Ih-Keh-ki digondol oleh binatang buas.

Hal ini membuat hati Kiam-eng serasa disayat-sayat sembilu, begitu pedih hingga sekujur badan sampai gemetar.

Perlahan ia berdiri, ia kumpulkan seikat rumput kering, ia keluarkan alat ketik api dan menyalakan rumput kering Itu, berkat cahaya obor itu ia coba mencari lagi di sekitar situ.

Sekali ini yang diperhatikan oleh Kiam-eng adalah permukaan tanah, sebab ia pikir bila Keh-ki benar digondol binatang buas, tentu akan meninggalkan bekas darah di permukaan tanah.

Meski obor itu sudah habis terbakar, namun tetap tidak menemukan sesuatu tanda.

Ia masih penasaran, menyusul ia membuat lagi segebung rumput untuk obor, begitulah berturut-turut ia membakar lima gebung obor dan untuk kedua kalinya ia mengelilingi tempat itu seluas ratusan meter dan hasilnya tetap sia-sia belaka.

Ia menghela napas panjang dan putar balik ke tempat sampan, ia duduk termenung. Kini ia benar-benar lelah lahir batin, ia pikir semoga hari lekas terang ...

Dan akhirnya fajar menyingsing juga, pagi sudah tiba dan hari terang.

Ia mulai mencari lagi dengan lebih teliti, dari pagi melacak hingga siang, lingkungan pencarian diperluas sekali lipat hasilnya ditemukan sebuah gua.

Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat di mulut gua, Kiam-eng kegirangan, cepat ia memburu ke sana. Setiba di depan gua ia berhenti dan membentak menegur, "Siapa itu yang sembunyi di dalam gua?" Namun tiada suara jawaban di dalam gua.

Segera Kiam-eng melolos pedangnya, perlahan ia melangkah ke dalam gua.

Ternyata gua itu sebuah gua alam dengan jalanan yang berliku dan melingkar makin ke dalam makin lebar, di dinding atas penuh batu dinding berbentuk payudara, stalaktit, cahaya di dalam gua agak guram, namun Su-Kiam-eng sangat berani, ia masuk terlebih dalam, kira kira sekian puluh meter jauhnya, mendadak di depan muncul sebuah terowongan raksasa, di sekitar terowongan yang luas itu penuh dinding batu yang berlapis-lapis seperti bangunan berlingkar, ternyata di situ ada lagi sebuah gua raksasa yang aneh.

Kiam-eng memeriksa sekeliling kaki dinding gua raksasa itu, setiba di bawah sebuah kaki dinding, mendadak ditemukan seorang gadis bertiarap di situ.

Gadis ini ternyata seorang suku Pek-ih, usianya sekitar 17-an, wajah cantik, terlihat dia bertiarap di kaki dinding dengan wajah ketakutan dan minta dikasihani.

Meski setiap saat Kiam-eng selalu waspada, tidak urung ia terkejut juga ketika mendadak menemukan gadis itu, cepat ia menyurut mundur dua langkah, lalu menegur, "Hei, kamu siapa?"

"Ssst!" gadis itu, memberi tanda agar jangan bersuara, lalu berucap lirih, "Jangan bersuara keras mereka akan mencari ke sebelah sini."

"Siapa yang akan mencari kemari?" tanya Kiam-eng bingung. "Orang Santo," jawab si gadis.

Kiam eng tahu orang Santo adalah suatu rumpun suku bangsa yang masih biadab, wataknya jauh lebih kejam dan buas daripada orang Kawa. Ia terkesiap oleh keterangan gadis Pek-ih, cepat ia tanya, "Apakah orang Santo hendak menangkap dirimu?"

Nona itu mengangguk, "Ya, Sinba, putra kepala suku Santo hendak merampas diriku ..."

Dengan sangsi Kiam-eng mengamati gadis suku Pek-ih yang jelita itu, tanyanya pula, "Apakah kamu ini gadis Pek-ih?"

Kembali nona itu mengangguk dan menjawab "Ya, namaku Kalina!"

Diam-diam Kiam-eng merasa heran ketika mengetahui nama si nona mirip dengan nama istri su-heng nya, yaitu Kalana. Ia coba tanya lagi "Sebab apa orang Santo hendak menangkapmu"

"Mereka hendak merampas diriku dan bukan hendak menangkapku," tutur gadis Pek-ih yang mengaku bernama Kalina itu.

"Memangnya apa bedanya merampas dan menangkap?" tanya Kiam-eng dengan tidak mengerti.

"Soalnya Sinba hendak merampas diriku untuk dijadikan istrinya, sekarang kau paham tidak?" kata Kalina.

"Oo, kiranya begitu," seru Kiam-eng setelah tahu duduknya perkara. "Sebab apakah ia perlu pakai merampas segala?"

"Semula mereka datang melamar secara baik-baik," tutur Kalina. "Namun ayahku tidak suka aku menjadi istri orang Santo, aku sendiri tidak suka pada Sinba, maka lamarannya telah kami tolak. Sinba sangat marah, ia mengancam hendak merampas atau menculik diriku. Maka ayah menyuruhku bersembunyi, sudah tiga hari aku sembunyi di sini."

"Aneh, mengapa orang Santo tidak tahu aturan?" ucap Kiam-eng penasaran.

"Tidak, memang ada kami ada peraturan boleh kawin paksa, apabila aku sampai direbut oleh Sinba, mau tak mau aku harus menurut untuk menjadi istrinya," tutur Kalina.

"Ahh, kiranya ada adat istiadat seaneh itu," ujar Kiam-eng. "Dan waktu dia hendak merebut dirimu, apakah kalian tidak dapat melawannya?" "Lawan memang bisa, namun kami bukan tandingan orang Santo, terpaksa aku lari dan bersembunyi," kata Kalina.

Kiam-eng manggut-manggut, tanyanya pula "Ada berapa jauh dari sini ke tempat tinggalmu?" "Kira-kira 50 li lebih."

"Jika begitu, mungkin setiap saat Sinba dapat menemukan dirimu."

"Betul, makanya aku minta engkau jangan bicara dengan suara keras ... Eh, apakah engkau bangsa Han?" tanya Kalina tiba-tiba.

"Ya, namaku Su-Kiam-eng ..."

"Untuk keperluan apa kau datang ke tempat seperti ini?"

"Mencari bahan obat-obatan ... Oya, numpang tanya, apakah kau lihat ada seorang nona lewat di sini?" "Seorang nona ..." Kalina bergumam dengan melengong.

"Betul ia datang bersamaku, semalam mendadak dia menghilang." "Aku tidak melihat dia. Mungkinkah dia dimangsa harimau?"

"Semula aku pun berpikir begitu, akan tetapi sudah sekian lama aku cari dia dan tidak menemukan sesuatu tanda bekas darah ..." Kiam-eng menghela napas, lalu meneruskan, "Entah apakah diculik oleh orang Santo atau tidak?"

"Tidak bisa jadi," ujar Kalina, "Meski orang Santo memang buas, namun mereka tidak berani memasuki rimba raya itu pada waktu malam hari."

Kembali Kiam-eng menghela napas, dengan lesu ia duduk di samping si nona.

Kalina menatapnya sejenak, lalu tanya pula, "Nona itu ada hubungan apa dengan dirimu?"

"Dia kawan baikku," jawab Kiam-eng lesu "Cuma diam-diam kami sudah mengikat janji, apabila dia tidak meninggal, pada suatu hari tentu dia akan menjadi istriku."

Kalina bersuara simpatik, ia coba menghibur.

"Mungkin ia cuma tersesat jalan saja, nanti tentu akan kau temukan dia." Kiam-eng cuma menyengir saja tanpa menanggapi. Ia pikir kecuali Ih-Keh-ki hanya diculik orang saja, kalau tidak jelas dirinya takkan bertemu lagi dengan dia untuk selamanya.

Dan sekarang betapa dia berharap Keh-ki hanya diculik orang, dengan begitu si nona masih ada harapan tetap hidup di dunia ini. Akan tetapi apakah benar Keh-ki hanya diculik orang saja? Siapa yang menculiknya?

Mungkinkah orang Santo yang menculik Keh-ki?... Tapi Kalina bilang orang Santo tidak berani keluyuran pada waktu malam, apa lagi masuk ke dalam hutan lebat itu. Maka Keh-ki pasti bukan diculik oleh suku bangsa yang masih biadab itu.

Kalau dikatakan nona itu diculik oleh orang persilatan Tiong-goan yang ikut berusaha mencari kota emas itu, ini pun tidak masuk di akal, sebab tujuan menculik Ih-Keh-ki tiada lain kecuali hendak digunakan sebagai sandera untuk memaksa Kiam-eng menyerahkan peta dan obat. Sekarang si nona sudah diculik, mengapa pihak penculik belum lagi memperlihatkan diri untuk mengajak berunding dengan dia?

Melihat anak muda itu diam saja, Kalina coba tanya, "Sebenarnya obat apa yang kalian cari di tengah rimba raya ini?"

"Jian-lian-hok-leng," tutur Kiam-eng.

"Hah, jadi kalian juga hendak mencari Jian-lian-hok-leng?" Kalina menegas dengan heran dan kejut. Terbangkit semangat Kiam-eng demi mendengar nada suara Kalina yang kejut dan heran itu, cepat ia tanya, "Jadi kau pun tahu obat yang mana Jian-lian-hok-leng?"

"Tahu," Kalina mengangguk. "Sebelum kalian sudah ada seorang bangsa Han juga pernah datang kemari untuk mencari Jian-lian-hok-leng ..."

"Oo. siapakah orang itu?" berdebur jantung Kiam-eng dan cepat tanya.

Tiba-tiba Kalina menghela napas duka, tuturnya, "Ia bernama Gak-Sik-lam, kalau dibicarakan ini masih terhitung kakak iparku."

Kiam-eng melonjak girang, serunya, "Aha, kiranya kamu ini adik Kalana?"

Kalina juga melengak, ucapnya dengan terkesiap, "Dari ... dari mana kau kenal kakak perempuanku itu?"

"Ya, aku kenal dia, sebab Gak-Sik-lam adalah su-heng ku dan dengan sendirinya kakak perempuanmu juga kakak iparku," kata Kiam-eng.

Kalina seperti belum percaya kepada apa yang didengarnya, perlahan ia berdiri dan bertanya pula setengah bergumam, "Apakah ... apakah benar engkau su-te Gak-Sik-lam?"

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Atas perintah guruku, su-heng ku sengaja mendatangi daerah yang masih terasing ini untuk mencari Jian-lian-hok-leng. Kemudian, entah mengapa dia mengalami cacat totol kaki dan tangan, Jian-lian-hok-leng yang berhasil ditemukannya disembunyikannya disembunyikan di kota emas. Kedatanganku sekarang justru hendak mencari kota emas itu untuk mengambil Jian-lian- hok-leng."

"Jika sudah pernah kau lihat kakakku, mengapa engkau tidak tahu sebab musabab cacatnya su-heng mu?"

"Soalnya setelah su-heng ku pulang ke Tiong-goan, hanya secara kebetulan di suatu tempat pernah berjumpa sejenak dengan mereka suami-istri ... ai, beginilah ihwalnya ..."

Begitulah lalu ia menceritakan sejak ia menyamar sebagai Sai-hoa-to untuk mencari su-heng kemudian banyak mengalami berbagai peristiwa dan akhirnya su-heng dan Kalana diculik pula oleh musuh, semuanya ia ceritakan dengan jelas.

Bercucuran air mata Kalina mengikuti kisah sedih itu, katanya kemudian dengan tersendat "Sungguh malang nasib kakak, semua ini gara-gara per ... perbuatan Sinba."

"Sinba?" Kiam-eng menegas dengan bingung "Maksudmu orang Santo yang hendak merebut dirimu untuk dijadikan istrinya itu?"

"Betul," Kalina mengangguk. "Semula yang diincar Sinba adalah kakak, maka kakak lari ke tengah hutan, apa yang terjadi serupa yang aku alami sekarang. Waktu itu kaki su-heng mu luka tergigit ular berbisa dan merangkak masuk ke dalam gua, kebetulan kakak juga sembunyi di gua itu maka kakak berusaha menolong su-heng mu dengan menghisap racun ular dari lukanya. Kemudian mereka pun jatuh cinta dan kawin di dalam gua.

"Ketika ayah mengetahui kakak mendapatkan suami seorang Han, ayah juga sangat gembira. Tapi kuatir Sinba akan mencari perkara lagi pada kakak, maka ayah menyuruh mereka tinggal sementara dulu di dalam gua dan diam-diam menyuruh orang membawakan makanan kepada mereka. Akan tetapi selang tidak lama, entah dari mana Sinba mendapat laporan rahasia itu ia bawa beberapa ratus orang Santo ke gua itu dan hendak membunuh su-heng mu ..."

Berkisah sampai di sini, Kalina mengusap air matanya dengan lengan baju, lalu menyambung lagi, "Ternyata su-heng mu sangat lihai, beberapa ratus orang Santo itu dilabrak su-heng mu hingga kocar- kacir. Namun kemudian entah sebab apa, mendadak su-heng mu roboh terguling dan tertawan oleh Sinba."

"Maksudmu su-heng ku tidak mampu melawan mereka?" Kiam-eng menegas dengan sangsi.

"Tidak," Kalina menggeleng. "Menurut cerita su-heng mu kemudian, katanya selagi dia melabrak orang Santo itu, tiba-tiba ia tersambit oleh sepotong batu dan kena hiat-to kelumpuhannya. Ia yakin orang Santo tidak mahir ilmu silat, yang menyerangnya secara menggelap itu sangat mungkin orang dari Tiong-goan." "Su-heng ku tidak melihat siapa orang yang menyerangnya itu?" tanya Kiam-eng.

"Ya, tidak. Waktu itu ia sedang bertempur dengan gagah perkasa, pada hakikatnya ia tidak menduga ada orang kosen bersembunyi di sekitar situ."

"Aneh juga," ucap Kiam-eng sambil berpikir. "Waktu itu su-heng sudah menemukan letak kota emas itu belum?"

"Belum, kota emas itu baru ditemukannya sesudah dia cacat total." tutur Kalina. "Jika begitu, mengapa dia dibuntuti oleh orang persilatan Tiong-goan?"

"Ya, su-heng mu juga tidak habis mengerti, maka ia pun sangsi jangan-jangan batu itu secara kebetulan saja dibentur oleh senjata orang Santo melejit serta tepat mengenai hiat-to kelumpuhannya ... "

"Aku tidak percaya, mana mungkin terjadi hal demikian?" Kiam-eng menggeleng kepala. "Mungkin Sinba tahu duduk perkara yang sebenarnya," ujar Kalina. "Boleh coba kau tanya dia ..."

Kiam-eng mengangguk, tanyanya pula, "Kemudian kaki dan tangan su-heng ku lantas dikutungi oleh Sinba?"

"Tidak," tutur Kalina lebih lanjut. "Sinba menawan dan membawanya pulang ke tempat bermukim sukunya, ia memberi perintah anak buahnya menindih kaki dan tangan su-heng mu dengan empat potong batu besar. Konon setiap potong batu itu bobotnya melebihi dua-tiga ratus kati ... "

Kiam-eng pikir bilamana hiat-to su-heng tidak tertutuk jangankan cuma batu sebesar dua-tiga ratus kati, biarpun batu ribuan kati juga takkan berguna.

Tapi dalam keadaan hiat-to tertutuk, batu dua-tiga ratus kati pun cukup untuk menindih remuk tulang kaki dan tangannya.

Maka cerita itu membuat Kiam-eng sangat murka, ucapnya dengan menggertak gigi, "Hm, kejam amat si Sinba itu, sungguh ingin aku mampuskan dia!"

Terdengar Kalina melanjutkan ceritanya, "Ketika ayahku mendengar berita tertawannya su-heng mu oleh Sinba, ayah tahu urusan bisa celaka, segera ia memilih ribuan pemuda tangkas dan kuat, pada malam itu juga diam-diam diselundupkan ke tempat pemukiman orang Santo dan berhasil menyelamatkan su-heng mu. Akan tetapi kaki dan tangan su-heng mu sudah hancur tertindih batu, ia bilang kalau dalam tiga hari dapat menemukan Som-ong (raja kolesom), Ho-siau-oh atau Jian-lian-hok-leng, mungkin cacat tangan dan kakinya dapat disembuhkan."

"Maka ayah sendiri lantas membawa sepuluh orang pemuda pilihan dan kakak dengan menggotong su- heng mu menjelajahi rimba raya untuk mencari obat yang diperlukan itu. Dua hari kemudian, dapatlah sebatang Jian-lian-hok-leng ditemukan, namun su-heng mu menolak lagi untuk makan obat mujarab itu, katanya boleh ditunda satu hari dengan harapan akan menemukan pula sebatang Jian-lian-hok-leng.

Apabila berhasil menemukan lagi Jian-lian-hok-leng yang lain barulah dia mau makan obat itu ... "

Kiam-eng paham sebab apa sang su-heng tidak mau makan Jiau-lian-hok-leng itu, saking terharu ia mencucurkan air mata, katanya, "Kemudian berhasil menemukan Jian-lian-hok-leng yang lain atau tidak?"

"Tidak," jawab Kalina lemah. "Memangnya kau kira Jian-lian-hok-leng itu gampang dicari?"

"Dan pada hari ke tiga, su-heng ku tetap tidak mau makan Jian-lian-hok-leng itu bukan?" Kiam-eng menegas dengan gegetun.

"Betul, dan kebetulan pada hari ke tiga juga mereka tiba di kota emas itu," tutur Kalina. "Tentang kota emas itu sebenarnya sudah lama kami mengetahuinya. Cuma sejak aku mulai remaja, tidak pernah aku dengar ada orang berani masuk ke kota emas itu, sebab menurut cerita, kota emas itu pernah dihuni setan iblis, barang siapa masuk ke sana tiada seorang pun pernah keluar lagi dengan hidup ... "

"Apakah benar terjadi begitu?" tanya Kiam-eng kuatir.

"Aku sendiri tidak tahu apakah benar atau tidak," jawab Kalina. "Yang jelas, di sini, biarpun suku Santo yang paling ganas itu pun tidak berani masuk ke kota kuno itu. Semua orang sama memandang kota emas sebagai setan iblis, konon di dalam kota kuno itu masih terdapat banyak benda-benda yang menakutkan."

"Jika begitu, mengapa ayahmu berani membawa su-heng ku ke sana?" tanya Kiam-eng.

"Itu atas permintaan su-heng mu," tutur Kalina. "Mungkin hal itu disebabkan rasa ingin tahu su-heng mu saja. Cuma ia bilang di dalam kota emas pasti ada Jian-lian-hok-leng dan obat-obat mujarab yang lain. Dengan harapan menyembuhkan cacat tubuh su-heng mu ke kota misterius itu. Sesudah masuk ke sana, su-heng mu minta semua orang berusaha mencari Jian-lian-hok-leng ke berbagai arah, hanya tersisa seorang saja untuk menjaganya ... "

"Lalu apa yang terjadi," tanya Kiam-eng.

"Orang yang disisakan untuk menjaganya adalah seorang yang agak bodoh." "Oo, orang itu melalaikan tugasnya menjaga su-heng ku?"

"Tidak. Soalnya mengenai Jian-lian-hok-leng yang dipegang su-heng mu itu, pada waktu semua orang sudah pergi, su-heng mu menyuruh penjaga yang bodoh itu agar menyembunyikan Jian-lian-hok-leng itu. Kemudian, ayah dan lain-lain tidak berhasil menemukan lagi barang lain di dalam kota kuno itu, mereka putar balik dan minta su-heng agar makan Jian-lian-hok-leng yang tersedia itu.

"Dengan sendirinya su-heng mu menolak. Maka ayah bertekad akan memaksanya makan obat itu, namun Jian-lian-hok-leng itu sudah hilang. Setelah ditanya akhirnya baru diketahui obat mujarab itu telah disembunyikan oleh su-heng mu. Penjaga itu pun mengaku dia yang menyembunyikannya atas permintaan su-heng mu, akan tetapi karena dia orang bodoh, ia tidak ingat lagi di mana ia menyembunyikan Jian-lian-hok-leng itu."

"Ai, apakah kau tahu sebab apa su-heng ku tidak mau makan Jian-lian-hok-leng itu?" tanya Kiam-eng.

"Pernah ia katakan bahwa Jian-lian-hok-leng itu akan dibawanya pulang untuk mengobati penyakit hilang ingatan seorang nona. Apa betul?"

"Betul. Jian-lian-hok-leng itu adalah obat mujarab yang sukar dicari boleh dikata cuma dapat diperoleh secara kebetulan dan sukar diperoleh jika sengaja dicari. Sebab itulah su-heng ku rela dirinya berubah cacat dari pada makan Jian-lian-hok-leng yang sangat berharga itu ... "

"Eh, mengapa engkau menangis!" tanya Kalina.

"Masa tidak kau rasakan kebesaran jiwa su-heng ku itu?" kata Kiam-eng.

"Ya, memang. Kakakku bilang su-heng mu rela mengorbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain, sungguh kebesaran jiwanya sangat mengharukan dan harus dipuji. Maka kemudian meski ke dua kaki dan ke dua tangannya dipotong supaya tetap bertahan hidup, cinta kakak terhadap su-heng mu juga tambah kuat dan rela mendampingi dan melayaninya selama hidup."

"Kemudian mengapa su-heng ku tidak membawa pulang Jian-lian-hok-leng itu?" tanya Kiam-eng.

"Setelah ayahku memotong ke dua tangan dan ke dua kakinya, tiba-tiba diterima laporan bahwa Sinba dan anak buahnya menyusul tiba. Cepat ayah membawa su-heng mu meninggalkan kota emas secara tergesa-gesa. Waktu itu su-heng mu dalam keadaan tak sadar, maka tidak sempat lagi membawa serta Jian-lian-hok-leng itu."

"Dan begitulah ayahmu lantas membawa su-heng ku meninggalkan rimba raya purba ini!"

"Ya, ayah merasa jalan paling aman adalah mengantar mereka suami-istri pulang ke Tiong-goan saja, kalau tidak, tentu Sinba tetap akan selalu mencari perkara padanya."

"Oo, tapi ... tapi rasanya ada satu hal yang terasa agak ganjil ... " "Hal apa?" tanya Kalina.

"Kau bilang ketika su-heng ku tiba di kota itu ke dua tangan dan kakinya sudah remuk tertindih batu. Jika begitu, cara bagaimana dia dapat melukis sebuah peta untuk dikirim kembali ke Tiong-goan melalui merpati pos?"

"Oo, kau bilang dia pernah melukis sehelai peta dan dikirim pulang ke Tiong-goan?" "Betul, peta itu dapat aku kenali benar-benar gaya tulis su-heng ku." "Wah, jika begitu ... sungguh aku pun tidak mengerti apa sebabnya ... "

"Aku kira, pasti sebelum su-heng bertemu dengan kakakmu, lebih dulu ia sudah menemukan kota emas itu."

"Ya, mungkin begitulah."

"Burung merpati terakhir yang dia kirim pulang itu membawa surat dengan berita bahwa ajal su-heng sudah dekat, sangat mungkin peta itu dikirim kembali ketika tiba-tiba ia diserang ular berbisa, karena ia tidak tahu cara menawarkan bisa ular, ia sangka ajalnya sudah dekat, maka cepat-cepat melepaskan merpati pos yang terakhir itu. Tak tersangka sesudah dia merangkak masuk ke gua itu dapat bertemu dengan kakakmu dan kakakmu yang menolongnya daripada mati kena gigitan ular."

"Betul, tentu begitulah adanya."

"Kau tahu dari sini ke kota emas masih ada berapa jauh?"

"Aku pun tidak tahu jelas. Mungkin perlu perjalanan selama beberapa hari."

Sungguh aku ingin segera mendatangi kota emas itu. Akan tetapi semalam kawanku itu mendadak hilang hal ini membuatku bingung dan entah apa yang harus aku lakukan ..."

"Adakah sesuatu barangnya berada padamu sekarang?" tanya Kalina. "Hanya ada pedang ini."

"Coba aku cium bau pedang itu." "Bau pedang?"

"Ya, dengan begitu mungkin dapat aku bantu menemukan dia."

Kiam-eng pikir si nona pasti memiliki daya cium yang melebihi orang biasa, dengan girang ia sodorkan pedang kepadanya dan bertanya, "Dari pedang ini dapat kau cium baunya dan akan menemukan dia?"

Kalina menerima pedang itu, dengan senyum memikat ia menjawab. "Pada umumnya suku bangsa terasing kami ini memiliki kepandaian khas seperti ini. Cuma apakah dapat menemukan dia tidak berani aku jamin."

Sembari bicara ia terus mengangkat pedang itu dan diciumnya berulang pada batang pedang dan bagian tangkainya, katanya kemudian dengan tertawa, "Ehm, bau batang pedang dan bagian tangkainya tidak lama, aku pikir bau yang terdapat pada kain hias tangkai pedang ini pasti bau kawanmu itu ... Dia menghilang di mana?"

"Di tepi rawa sana, kira-kira beberapa ratus meter dari sini," tutur Kiam-eng.

Kalina melangkah ke luar gua, katanya, "Jika begitu, marilah coba kita melihat ke sana."

Kiam-eng membawanya ke rawa sana, ia menunjuk sampan yang masih berada di situ, "Semalam dia berada di dalam sampan ini, aku pergi ke sekitar sini untuk mencari makanan, waktu aku kembali dia sudah hilang."

Kalina mendekati sampan itu dan berjongkok untuk mengendus bau yang terdapat di sampan itu lalu mengitar satu keliling sampan terus menuju ke hutan sana. Tapi baru dua-tiga langkah, ia berhenti dan berjongkok serta mengendus lagi kemudian ia menengadah dan berkata, "Kawanmu itu mungkin dibawa pergi oleh seorang Han."

"Hah, apa betul?" seru Kiam-eng kejut dan girang.

Kalina mengangguk, "Ya, sebab dapat aku cium bau seorang bangsa Han yang lain."

Kiam-eng pikir bilamana benar Ih-Keh-ki diculik oleh orang Han, maka untuk sementara keselamatan jiwanya tentu tidak perlu dikuatirkan. Maka ia merasa lega dan bertanya pula dengan girang, "Menurut dugaanmu mereka menuju ke arah mana?"

Kalina menuding ke depan dan melangkah maju ke sana, setiba di bawah sebatang pohon besar dan mengitar dua kali, mendadak wajahnya menampilkan rasa bingung dan berucap, "Aneh, entah mengapa baunya mendadak lenyap setiba di sini?"

Terkesiap hati Kiam-eng, serunya, "Ahh, tentu mereka melompat ke atas pohon."

"Maksudmu, orang itu pun serupa su-heng mu, mahir ilmu silat yang tinggi?" tanya Kalina dengan terheran-heran.

"Betul, kalau tidak, mana mungkin kawanku itu dapat diculik olehnya," ucap Kiam-eng dengan mengangguk

Kalina menengadah, memandang pohon itu, katanya, "Pohon setinggi ini betapapun aku tidak mampu merambatnya ke atas."

Kiam-eng mendekati si nona, katanya dengan tertawa kikuk, "Dapat aku gendong dirimu untuk meloncat ke atas, apabila tidak keberatan ..."

Wajah Kalina yang cantik dan putih halus itu bersemu merah katanya lirih dengan tersenyum malu, "Dahulu, pernah ayah mengundang seorang guru sekolah dan mengajarkan kami menulis dan membaca, sebab itulah aku tahu ada adat bangsa Han yang membatasi kebebasan antara lelaki dan perempuan.

Tapi sekarang demi untuk menolong orang terpaksa tidak perlu mempersoalkan adat begitu lagi."

Mendengar ucapan si nona, Kiam-eng berbalik tidak enak hati untuk menyentuhnya, katanya dengan serius, "Sungguh memalukan, justru tidak aku pikirkan hal ini. Jika begitu biarlah kita tidak perlu naik ke atas pohon."

Kalina melengak malah, "Masa engkau tidak paham ucapanku?"

"Paham, tapi kamu kan seorang gadis, betapapun tak dapat aku bikin susah padamu hanya karena ingin menolong kawanku itu."

"Ai, janganlah terlampau serius, lekas menggendongku ke atas pohon," ucap Kalina dengan tertawa.

"Tidak, aku pikir untuk sementara ini kawanku itu takkan mengalami bahaya dan tidak perlu terburu buru untuk menolongnya."

"Dari mana kau tahu dia takkan mengalami bahaya?" tanya si nona.

"Apabila orang yang menculiknya itu mau membikin susah padanya, tentu dia tak perlu dibawa lari. Kalau sekarang kawanku telah dibawa pergi, ini menandakan kawanku tidak akan diganggu keselamatannya."

"Namun, meski orang itu tidak membikin celaka kawanmu, bisa jadi dia akan menganiaya fisiknya sehingga membuatnya jauh tersiksa daripada mati."

Terkesiap juga Kiam-eng oleh ucapan itu, pikirnya, "Ya, betul juga, jika Keh-ki jatuh dalam cengkeraman beberapa bangsat cabul anak murid Tok-pi-sin-kun, tentu ... "

Ia tidak berani berpikir lagi, segera ia berkata pula, "Jika begitu, jadi benar nona tidak ..." "Tidak apa-apa, gendong saja diriku," sambung Kalina tanpa ragu.

Maka Kiam-eng tidak sangsi lagi, segera ia rangkul si nona.

Tak terduga, baru saja ia hendak meloncat ke atas pohon, tiba-tiba terdengar suara mendenging dari belakang, suara samberan senjata rahasia. Keruan Kiam-eng terkejut dan cepat mengegos terus berputar ke balik pohon.

"Crat", tahu-tahu sebatang tombak menancap batang pohon pada saat ia menggeser ke balik pohon itu. Melihat tombak panjang itu, seketika air muka Kalina berubah pucat, serunya kuatir, "Wah, celaka!

Orang Santo datang!" Betul juga baru lenyap suaranya, belasan orang suku Santo sudah muncul beberapa meter di depan sana.

Belasan orang Santo itu semuanya bertelanjang bulat, hanya bagian tertentu ditutup oleh sepotong kain, bentuk mereka rata-rata buas dan menakutkan.

Yang menjadi pemimpinnya seorang pemuda berusia likuran dengan tubuh kekar kuat, dengan wajah penuh rasa gusar, ia lagi melotot terhadap Su-Kiam-eng dan Kalina yang sembunyi di balik pohon, ia berterima dalam bahasa yang tak dikenal, entah apa yang diucapkannya.

Kiam-eng dapat meraba siapa pemuda kekar itu, segera ia menurunkan Kalina ke tanah, tanyanya dengan tertawa, "Apa dia ini Sinba?"

"Betul, dia sangat ganas, engkau harus hati hati" ucap Kalina agak gemetar. Kiam-eng mengangguk, tanyanya pula, "Apa yang ia katakan?"

"Ia bilang kakakku diperistri orang Han, sekarang aku pun hendak dibawa pergi orang Han, maka dia hendak menangkap kita untuk dijadikan santapan buaya," tutur Kalina.

Kiam-eng tertawa, "Jika aku bunuh dia, bagaimana akibatnya nanti?"

"Wah, jangan! Dia, putra kepala suku, jika kau bunuh dia, segenap suku bangsanya tentu akan menuntut balas terhadap suku Pek-ih kami."

"Jika hanya aku lukai dia bagaimana akibatnya?" "Mendingan begini saja ... "

"Kalau begitu, boleh kau katakan padanya bahwa aku ingin duel dengan dia, barang siapa menang akan mendapatkan dirimu. Yang kalah dilarang merecoki lagi urusan ini."

"Kau yakin akan dapat mengalahkan dia?" tanya Kalina ragu. "Mutlak dapat."

"Baik, akan aku katakan padanya ... "

Habis itu Kalina lantas bicara beberapa kalimat bahasa setempat terhadap Sinba. Tampak Sinba berjingkrak murka, mendadak ia lemparkan golok melengkung yang dibawanya ke tanah.

Segera Kalina berkata kepada Su-Kiam-eng, "Ia terima tantanganmu, cuma ke dua pihak dilarang pakai senjata, ia ingin duel dengan bertangan kosong.

"Bagus sekali. Mungkin dia agak gentar pada pedangku, ia sangka asalkan aku tidak menggunakan pedang tentu akan mengalahkan aku. Hahaha ... "