Rahasia 180 Patung Emas Jilid 12

 
Jilid 12 

Dengan menirukan cara yang sama Ih-Keh-ki juga berhasil melayang ke atas jalan setapak itu.

Akan tetapi pada detik baru saja Keh-ki hinggap di jalan setapak itu, kembali terdengar suara gemuruh, dari atas menggelinding tubuh lagi tiga potong satu raksasa.

Secepat kilat segera Kiam-eng dan Keh-ki melompat lagi ke depan, pada saat mereka sudah melompat sejauh beberapa meter ke sana, ke tiga potong batu raksasa kembali jatuh di atas jalan setapak dan membuat bagian jalan itu longsor lagi ke jurang dan menimbulkan suara gemuruh bagai gempa.

Jalan setapak itu melingkari sepanjang lereng gunung, Kiam-eng memperkirakan di atas puncak sana tidak terdapat batu raksasa terlampau banyak maka setelah lari menyusuri jalan setapak itu sekian jauhnya mendadak ia meloncat ke atas, ia terus mendaki puncak gunung sana.

Keh-ki tahu anak muda itu bermaksud mengejar dan menggempur musuh, maka tanpa pikir segera ia pun menyusul melompat ke atas.

Dinding tebing di situ penuh tumbuh pepohonan, pula jaraknya dengan puncak atas cuma beberapa puluh meter sana. Maka di bawah aling-aling pepohonan, dengan cepat ke dua orang dapat mencapai puncak tebing.

Dinding tebing ini penuh tumbuh berbagai jenis pohon kerdil dan akar-akaran, jarak dengan puncak tebing di atasnya cuma beberapa puluh meter, maka di bawah lindungan pepohonan dapatlah mereka merambat ke atas puncak tebing dengan cepat.

Di puncak tebing itu penuh dengan batu padas beraneka ragam bentuknya.

Dengan gusar Kiam-eng memandang sekeliling puncak situ, ternyata tidak menemukan jejak ke tiga orang berkedok tadi, segera ia meraung murka, "Anak kura-kura, kalau berani ayolah perlihatkan cecongor kalian!"

Ia yakin ke tiga orang berkedok itu pasti bersembunyi di balik batu karang yang bertebaran di situ, namun sekarang suasana tetap sunyi senyap tiada suara jawaban siapa pun. Kiam-eng mendengus, ia ambil keputusan akan mencari musuh di sekeliling batu karang yang tak terhitung jumlahnya itu. Segera ia bicara kepada Keh-ki dengan ilmu gelombang suara. "Keh-ki, jelas tadi aku lihat tiga orang berkedok di sini, sangat mungkin mereka adalah orang yang menculik su-heng ku, sekarang kita coba mencari mereka di tengah hutan batu karang ini namun harus awas ..."

Keh-ki juga gusar oleh cara licik musuh, sebelum habis mendengarkan suara Su-Kiam-eng itu segera ia mendahului menerjang ke tengah hutan batu karang.

Kuatir terjadi sesuatu atas si nona, cepat Kiam-eng ikut menerjang ke sana.

Lantaran batu karang yang berserakan di situ tinggi rendah tidak rata, ada yang lebih tinggi daripada manusia sehingga sangat baik digunakan tempat sembunyi. Maka setelah mereka menerjang ke tengah hutan batu karang, mereka ambil posisi punggung mengadu punggung, yang satu maju ke depan dan yang lain mundur. Mereka mulai mencari di sekeliling hutan batu karang itu.

Luas hutan batu karang itu ratusan meter persegi, di tengah batu karang juga ada pepohonan dan rumput alang-alang, maka masuk ke tengah hutan batu itu serupa memasuki sebuah Bin-hun-tiu atau lingkaran setan.

Kiam-eng terus melangkah maju dengan perlahan menuju ke tengah hutan batu, Keh-ki merapatkan punggungnya pada punggung anak muda itu dan menyurut mundur setindak demi setindak. Keduanya pisang mata telinga dengan cermat dan mencari dengan teliti.

Namun meski sebagian besar hutan batu karang itu sudah mereka jelajahi, tetap tidak menemukan bayangan seorang musuh pun.

Mau-tak-mau Keh-ki merasa ragu, desisnya "Hm, jangan-jangan mereka sudah lari!"

Kiam-eng mengangguk, ia tuding sebelah kiri dengan pedangnya dan berkata. "Coba kita mencari ke sebelah sana!"

Baru lenyap suaranya dan selagi hendak melangkah maju lagi, sekonyong-konyong di sekitarnya serentak terjadi letusan keras.

Menyusul suara letusan keras itu, dari berbagai penjuru lantas membanjir asap kuning yang bergulung- gulung menuju ke bagian tengah tempat Kiam-eng berada.

Keruan Kiam-eng kaget dan mengeluh bisa celaka. Tanpa ampun lagi kedua orang "ditelan" oleh gulungan asap tebal yang menyiarkan bau harum yang memabukkan itu.

Ya, asap kuning dari granat tabir asap itu sudah dikenal oleh Su-Kiam-eng. Beberapa bulan yang lalu, pada waktu Bun-In-tiok, itu ketua Hing-ih-bun, dapat dibekukannya, mendadak tiga orang berkedok kain hitam menerjang ke dalam gua di bawah tanah dan meledakkan granat tabir asap sehingga ia roboh tak sadarkan diri serta su-heng nya, yaitu Gak-Sik-lam dan Kalana digondol lari musuh. Granat tabir asap yang digunakan musuh waktu itu serupa dengan asap sekarang ini.

Sayangnya, meski dalam waktu singkat Kiam-eng menyadari bahwa ke tiga orang berkedok inilah yang menculik su-heng nya itu, namun dia sudah keburu roboh pingsan akibat asap kuning tebal itu.

Dengan sendirinya nasib Ih-Keh-ki tidak lebih baik daripada Kiam-eng, ia pun menggeletak tak sadarkan diri.

Suasana tetap sunyi senyap, asap kuning yang bertebaran di tengah hutan batu karang itu perlahan buyar tertiup angin dan akhirnya menghilang di udara.

Selang sebentar lagi, setelah asap kuning sudah lenyap seluruhnya, terlihat Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki tetap menggeletak di situ tanpa bergerak.

Lewat lagi tidak lama, tiga orang berkedok kain hitam perlahan muncul dari balik tiga potong batu padas besar dan melangkah maju.

Mereka berhenti beberapa meter dari tempat menggeletak Kiam-eng berdua, hanya berhenti sejenak, dua di antaranya lantas melangkah maju lagi. Tapi seorang lagi yang berperawakan lebih tinggi memberi tanda berhenti kepada ke dua kawannya sambil mendesis dengan suara tertahan. "Nanti dulu! Jangan sampai tertipu!" "Agaknya kedua kawannya melengak heran tanya mereka, "Tertipu?"

"Ya," jawab kawannya yang bertubuh jangkung itu. "Mereka sengaja pura-pura pingsan."

Kembali ke dua kawannya melengak kaget, serentak mereka melolos pedang dan bergerak hendak menyerang.

Namun si jangkung keburu memberi isyarat kedipan, lalu ia memberi komando, "Bunuh dia!"

Sambil membentak ke dua kawannya lantas mengayun pedang dan menusuk Su-Kiam-eng dan Ih-Keh- ki.

Ternyata Kiam-eng dan Keh-ki tetap rebah saja tanpa bergerak, jelas memang pingsan benar-benar.

Tampaknya pedang ke dua orang itu sudah hampir mengenai sasaran, cepat si jangkung bersuara lagi tepat pada waktunya dan disimpan lagi ke dalam sarung pedang, seorang diantaranya berucap dengan tertawa, "Ai, Lo-toa memang terlampau berhati-hati. Padahal di kolong langit ini siapakah yang mampu bertahan terhadap Kau-hun-tan (granat pencabut nyawa) Lo-toa?"

"Meski benar begitu, tapi bila mereka menahan napas dan tidak sampai terbius pingsan," ucap si jangkung dengan tertawa.

Setelah berhenti sejenak, lalu ia berkata pula "Baiklah, sekarang boleh kalian menggeledah tubuh mereka dan keluarkan barang bawaan."

Segera ke dua orang berkedok kain hitam itu berjongkok di samping Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki, melihat tangan Kiam-eng dan Keh-ki tetap menggenggam pedang masing-masing, mau-tak-mau mereka was- was, maka lebih dulu mereka bermaksud merampas pedang lawan, habis itu baru menggeledah tubuh mereka.

Siapa tahu, pada saat tangan hampir menyentuh pedang lawan, tiba-tiba kedua pedang lawan dapat bergerak serupa benda hidup saja dan menyambar ke atas.

Terdengar jeritan "Aduhh" dan "Auhh" dua kali, ke dua orang itu telah tertusuk pedang dari ulu hati menembus punggung.

Keruan si jangkung terkejut, ia bersuit nyaring dan cepat melompat mundur, sekali hinggap di atas sepotong batu padas, sekali melejit, tahu-tahu sudah menghilang secepat kilat.

Berbareng Kiam-eng dan Keh-ki melompat bangun, sekali depak mereka robohkan ke dua musuh yang tertembus oleh pedang mereka, lalu membentak dan mengejar musuh lagi.

Tapi lantaran terlambat sedikit, ketika mereka mulai mengejar, si jangkung sudah berada beberapa puluh meter di depan sana.

Kiam-eng tahu pihak lawan adalah tokoh pimpinan, asalkan dapat menawannya tentu akan dapat menolong su-heng nya suami-istri. Sebab itulah ia mengejar sekuat tenaga, sekali lompat beberapa meter jauhnya, sungguh secepat terbang.

Hanya sekejap saja lawan sudah tersusul dan cuma beberapa meter saja di belakangnya. Dan pada saat itu juga mereka sudah sampai di ujung puncak itu, bila maju lagi berarti akan terjerumus ke dalam jurang yang tak ketahuan betapa dalamnya.

Tentu saja Kiam-eng sangat girang, pikirnya "Hm, coba mau lari ke mana kamu? Kecuali bila kamu dapat terbang!"

Memang begitulah. Ujung puncak itu tidak cuma menghadapi jurang yang tak terperikan dalamnya, bahkan jarak dengan puncak tebing di sebrang sana juga beberapa puluh meter jauhnya, jarak sejauh ini, sekalipun Kiam-oh dan Kiam-ong juga tidak sanggup melintasinya, maka dalam keadaan demikian, kecuali kalau pihak lawan dapat terbang, kalau tidak, terpaksa harus menyerah atau melawan secara mati-matian.

Siapa duga, pada saat itulah tiba-tiba orang berkedok itu berjongkok dan meraih seutas tali di tanah, lalu serupa main akrobat saja ia terus mengayun ke puncak tebing di sebrang sana.

Kiranya sebelumnya dia sudah mengatur jalan mundurnya, yaitu mengikat seutas tambang besar di antara ke dua puncak tebing. Maka ketika Kiam-eng mengejar sampai di puncak tebing, lebih dulu lawan sudah melayang belasan meter jauhnya, bahkan dalam sekejap sudah mencapai puncak tebing di sebrang sana.

Sama sekali Su-Kiam-eng tidak menduga akan langkah pihak lawan tersebut, sungguh ia sangat mendongkol dan mencaci-maki.

Keh-ki yang menyusul tiba itu tidak sempat menyaksikan adegan tadi, dengan bingung ia tanya "Ada apa? Apakah dia terjun ke dalam jurang?"

"Tidak." sahut Kiam-eng dengan gusar. "Bangsat itu mengikat seutas tali di puncak sebrang sana, waktu aku buru ia sudah melayang lewat ke sana."

Keh-ki terbelalak memandang ke sebrang, ucapnya dengan terkesiap. "Hah, bisa terjadi demikian ... "

Melihat pihak lawan sudah menghilang di sebrang puncak sana, Kiam-eng tahu untuk mencari orang di lereng gunung seluas ini jelas sangat sulit dan serupa mencari jarum di dasar lautan. Maka ia menghela napas gegetun dan menyimpan kembali pedangnya, katanya sambil memberi tanda kepada Keh-ki. "Marilah kita pergi saja kita kembali ke sana untuk memeriksa ke dua bangsat tadi."

"Mereka sudah mati," ujar Keh-ki.

"Aku tahu," kata Kiam-eng. "Tapi mungkin dari wajah mereka dapat kita menemukan tanda-tanda pengenal siapakah bangsat yang lolos itu."

Ke dua orang lantas kembali ke hutan batu padas tadi, terlihat ke dua orang berkedok hitam tadi memang benar sudah berhenti bernapas dan menggeletak di situ bermandikan darah.

Kiam-eng mendekati mereka dan membuka kain kedoknya, tanpa terasa ia berteriak kaget, "Hah, kiranya mereka!"

Ke dua orang itu berusia sebaya, yaitu sekitar 50-an, seorang berkepala besar dan mata bulat, seorang lagi berwajah tirus serupa tikus, jelas bukan manusia baik-baik.

"Siapa ke dua orang ini?" tanya Keh-ki cepat.

Kiam-eng masih terheran-heran dan sangsi, katanya sambil menunjuk si kakek berkepala besar itu, "Orang ini bernama Lau-bu-lai (si bajingan tua tengik) Te Long ..."

Lalu ia tuding kakek bermuka tirus, "Dan yang ini bernama Gip-hiat-kui (si setan penghisap darah) Oh- Kong. Keduanya dikenal sebagai sampah masyarakat dunia persilatan Tiong-goan, perbuatan mereka kotor dan tidak tahu malu, suka memeras, mencuri dan sebagainya."

"Dari mana kau kenal mereka?" tanya Keh-ki pula.

"Soalnya ke dua orang ini juga tamu langganan Bu-lim-teh-co, sepanjang hari mereka suka ngendon di rumah minum itu," tutur Kiam-eng, "Apabila ada orang yang mudah ditipu atau digertak mereka, maka mereka lantas operasi. Waktu aku bekerja sebagai pelayan di rumah minum itu pernah aku saksikan sendiri mereka menggunakan akal licik untuk menipu harta benda seorang tua yang lugu."

"Jika begitu, apakah sudah kau ketahui siapa pula yang sempat lolos tadi?" tanya Keh-ki.

"Tidak tahu." jawab Kiam-eng. "Yang membuat tidak habis mengerti justru hal ini. Padahal kedua sampah dunia persilatan ini biasanya sangat jarang meninggalkan Bu-lim-teh-co, sepantasnya orang yang berhasil kabur itu juga salah seorang langganan rumah minum itu. Akan tetapi orang yang biasa bercokol di sana kecuali ke dua kakek itu, selebihnya aku tahu adalah orang yang bersih dan bisa menjaga diri. Sungguh tak dapat aku pikir sesungguhnya siapakah dia.

"Pula, hanya Wi-ho Lo-jin seorang saja yang tahu penyamaran sebagai pelayan rumah minum itu, bahkan hal kepura-puraanku mati tertimpuk oleh jarum berbisa Ih-Wan-hui juga cuma diketahui rahasiaku sehingga mereka sempat menyamar sebagai orang berkedok untuk menculik su-heng ku sehabis mengikuti jejakku waktu aku temui su-heng ku dengan menyamar sebagai Sai-hoa-to,"

"Tentu ke dua orang ini sudah mengetahui rahasia mu barulah dia menculik su-heng mu." ujar Keh-ki. "Tapi dari siapa mereka mendapat tahu tentang rahasia penyamaranku?" gumam Su-Kiam-eng sambil termenung.

"Mungkin kawanan pelayan rumah minum di sana yang membocorkan rahasia mu," kata Keh-ki. "Tidak, tidak mungkin," kata Kiam-eng. "Sebab para pelayan itu juga tidak tahu aku ini murid Kiam-ho

Lok-Cing-hui, terlebih tidak tahu aku menyamar sebagai Sai-hoa-to untuk berusaha menyelamatkan su- heng ku."

"Habis, mungkin Wi-ho Lo-jin yang terlena dan membocorkan rahasia mu?" "Mutlak tidak mungkin," Kiam-eng menggelengkan kepala.

"Apa mungkin Sai-hoa-to sendiri?"

"Juga tidak. Aku kenal dia bukanlah seorang yang suka banyak bicara."

"Kalau bukan begitu, bisa jadi lantaran ke dua orang ini mengetahui kepura-puraan kematianmu tertimpuk jarum berbisa itu, karena ingin tahu, maka diam-diam mereka mengawasi gerak-gerikmu. Akhirnya mengetahui kamu adalah Su-Kiam-eng, kemudian mengerti tujuanmu hendak menyelamatkan su-heng mu, maka mereka sengaja menyaru sebagai orang berkedok untuk menculik su-heng mu dan istrinya."

"Ya, hanya dugaan dugaan demikian terlebih masuk akal," Kiam-eng mengangguk setuju. "Akan tetapi orang yang berhasil kabur itu pasti juga langganan Bu-lim-teh-co. Lantas siapakah dia?"

"Boleh kau ingat-ingat lagi, coba di antara pengunjung Bu-lim-teh-co itu, siapa kiranya yang biasanya bergaul dengan kedua orang ini!" ujar Keh-ki.

"Tidak ada, satu pun tidak ada," tutur Kiam-eng. "Ke dua tua bangka ini termasuk orang yang tidak disukai, siapa pun merasa sebal terhadap mereka, hanya orang yang belum kenal watak mereka yang mau bergabung dengan mereka."

"Wah jika begitu aneh ..."

Kiam eng termenung lagi sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, "Bila dugaan kita tingkatkan, bahwa hari ini tiba-tiba ke tiga orang ini memasang perangkap di sini, jelas tujuan mereka juga ingin mendapatkan peta rahasia kota emas. Ini menandakan bahwa su-heng ku belum lagi memberitahukan kepada mereka letak kota ... "

"Ya, Ini sangat baik," ujar Keh-ki tertawa.

"Akan tetapi, ini pun menandakan bahwa su-heng ku dan istrinya tentu telah dicelakai oleh mereka," ucap Kiam-eng dengan sedih.

Keh-ki pikir benar juga perkiraan Kiam-eng ini, dengan prihatin ia berkata, "Ya, sayang serangan kita tadi terlampau keras sehingga mereka binasa seketika, mestinya kita tangkap hidup-hidup salah seorang di antaranya ..."

"Aku kira setelah membunuh ke dua orang ini kita masih dapat menawan orang yang satunya lagi, tak terduga dia ternyata sudah menyiapkan jalan lari yang bagus," kata Kiam-eng menyesal.

Keh-ki menghiburnya, "Sudahlah, tidak apa. Sekali ini dia tidak berhasil merampas peta pusaka tentu dia takkan berhenti begini saja. Selanjutnya kita harus tambah hati-hati, bila menemukan tanda jejak kita dibuntuti dia, harus kita cari akal untuk menawannya."

Kiam-eng merasa selain jalan ini memang tidak ada cara lain yang lebih baik, segera ia berdiri dan berkata, "Baiklah, marilah kita turun ke bawah."

Setelah turun dari puncak gunung, mereka terus menuju ke depan menyusuri jalan sempit, lereng gunung itu makin jauh makin tinggi, juga makin terjal. Terkadang menemui binatang buas melintas di dekat mereka, namun yang membuat mereka gembira adalah hawa pegunungan yang sejuk, rasa gerah selama beberapa hari terakhir ini kini terasa lenyap seluruhnya.

Setelah menempuh perjalanan setengah harian tiba-tiba Keh-ki bertanya, "Kakak Eng, kau bilang di pegunungan ini banyak gas racun, mengapa sejauh ini tidak pernah kita temui" "Di tempat ini masih ada jalan setapak yang dapat dilalui, bilamana sudah sampai di bagian yang tidak ada jalan yang dapat ditelusuri, aku kira di situ nanti akan timbul gas racun."

Maksudmu, tempat yang terdapat penduduk takkan ada gas racun," tanya Keh-ki.

"Betul," Kiam-eng mengangguk, "Coba pikir, siapa yang mau tinggal di tempat yang terdapat gas racun?"

"Akan tetapi di sekitar sini kan tidak kita temui penduduk?" ujar Keh-ki sambil memandang sekelilingnya.

"Ada, bilamana tidak ada penduduknya, tentu takkan ada jalan setapak begini." ujar Kiam-eng tertawa. "Kau kira ... eh, dengarkan, suara apa Itu?"

Tiba-tiba terdengar suara "dung-dung" yang sayup-sayup berkumandang dari kelebatan hutan yang jauh sana.

Keh-ki melengak, katanya, "Kedengarannya seperti bunyi gendang, betul tidak?"

Kiam-eng mendengarkan sejenak dengan cermat, katanya kemudian sambil mengangguk. "Ya, betul, itulah bunyi gendang perang suku setempat."

"Gendang perang apa maksudmu?" tanya Keh-ki heran.

"Menurut cerita Sai-hoa-to, katanya di daerah selatan sini ada semacam suku bangsa Kawa, dari suku ini terbagi lagi menjadi Kawa liar dan Kawa jinak, suku Kawa jinak sudah mulai berbaur dengan bangsa Han kita. Sedangkan Kawa liar masih hidup seperti dalam jaman purba yang primitif, mereka juga tahu bercocok tanam segala, namun sukar menggunakan kepala manusia sebagai sesajen untuk malaikat yang menjadi kepercayaan mereka. Setiap kali bilamana mereka hendak melakukan pemburuan kepala manusia, lebih dulu mereka menabuh genderang perang. Entah bunyi genderang sekarang ini berasal dari suku Kawa atau bukan?"

Bunyi genderang itu ternyata makin lama makin riuh, suaranya terkadang meninggi dan terkadang rendah penuh rasa misteri. "Tanpa terasa Keh-ki menjadi takut, katanya. "Hm, kamu menakut-nakuti aku ya?"

Kiam-eng melengong, "untuk apa aku menakut-nakutimu?"

"Habis, untuk apa mereka menggunakan kepala manusia sebagai sesajen?" ujar Keh-ki.

"Soalnya, menurut cerita, pada jaman Sam-Kok, ketika Cu-kat-Liang alias Kong-Beng memadamkan pemberontakan suku bangsa daerah selatan ini, ia lihat kehidupan suku Kawa ini sangat miskin dan menderita, maka ia telah mengajarkan mereka cara menanam padi. Kemudian diketahui pula tabiat suku ini terlampau kejam dan sukar ditundukkan, maka Kong-Beng lantas menguraikan suatu akal mengadu domba agar di antara sesama suku Kawa mereka saling membunuh dengan kejam untuk memusnahkan suku ini.

"Untuk itu Kong-Beng memberikan benih padi yang sudah direbus lebih dulu kepada suku Kawa, dengan sendirinya benih yang ditaburkan ini takkan bersemi. Waktu mereka datang lagi menegur. Kong-Beng lantas menjawab bahwa agar tanaman padi dapat tumbuh dengan subur diperlukan sesajen kepala manusia lelaki.

"Tahun berikutnya, Kong-Beng memberinya benih yang masih segar, berbareng ia mengajarkan cara memotong kepala seorang suku bangsa mereka untuk sesajen, hasilnya sangat memuaskan, biji padi tumbuh dengan baik. Tentu saja suku bangsa Kawa sangat senang sehingga untuk seterusnya setiap kali hendak melakukan tanam padi, lebih dulu mereka mencari korban untuk dipotong kepalanya dan digunakan sebagai sesajen.

"Karena tradisi yang turun temurun itu, akibatnya kaum lelaki dalam suku bangsa Kawa pun semakin berkurang. Akibatnya lambat-laun dapat dirasakan juga oleh mereka, merasa gelagat tidak baik, mereka mengubah tradisi yang sudah turun temurun itu, kini yang dijadikan korban oleh mereka adalah suku bangsa Han atau bangsa lain. Hasilnya ternyata tidak mempengaruhi panenan padi mereka. Maka seterusnya, setiap tahun menjelang panen padi, mereka lantas membentuk tim ksatria pencari kepala, untuk memburu kepala

MISSING PAGES 23-34

"Apakah kita akan diketahui mereka?" tanya Keh-ki dengan tegang. "Mungkin tidak," ujar Kiam-eng. "Bilamana sampai kepergok, hendaknya kamu berlaku hati-hati, biasanya panah dan tombak mereka dilumuri racun jahat, sekali-kali jangan sampai terluka oleh senjata mereka."

Dalam pada itu beratus orang Kawa itu sudah lari mendekati, tampaknya mereka akan lari lewat di bawah tempat sembunyi Kiam-eng berdua mendadak seorang kawa yang menjadi kepala kelompok itu berhenti di tempatnya, ia angkat tombaknya dan menuding ke belakang berbareng hidungnya tampak berkerut-kerut seperti sedang mengendus kian kemari dengan mulut komat-kamit entah apa yang dibicarakan.

Beberapa orang Kawa di belakang kepala kelompok itu juga lantas menarik hidung dan mengendus ke sana-sini, akhirnya pandangan mereka sama terpusat ke arah batu raksasa tempat sembunyi Kiam-eng dan Keh-ki itu, lalu mereka berteriak-teriak gembira.

Agaknya daya cium mereka teramat peka sehingga dapat mengendus bau orang asing yang sembunyi di balik batu?

Ketika kawanan orang Kawa itu berhenti di bagian bawah dan tidak meneruskan perjalanan mereka, segera Kiam-eng dan Keh-ki merasa gelagat tidak enak, maka perlahan mereka pun melolos pedang dan siap tempur.

"Aneh, cara bagaimana mereka dapat mengetahui beradanya kita di sini?" tanya Keh-ki dengan gelombang suara.

"Mungkin mereka dapat mencium bau kita," jawab Kiam-eng. "Coba dengarkan, mereka sudah mulai merambat ke atas sini."

Benar juga, ada seratusan orang Kawa tampak sedang mendaki dinding tebing, diam-diam mereka melakukan pengepungan terhadap Kiam-eng berdua.

Cepat Keh-ki mendesis lagi, "Wah celaka, Cara bagaimana harus kita hadapi mereka?"

"Tunggu nanti bila mereka mendekat, serentak kita terjang ke tengah gerombolan mereka, kita binasakan beberapa di antaranya secepat kilat, habis itu ... Hm, jika mereka berani mendesak maju lagi, segera kita terjang pula!"

Habis berkata, mendadak Kiam-eng berdiri dan melompat maju dari sisih batu raksasa itu. Menyusul Keh-ki juga melompat keluar dari sisi lain.

Dan begitu mereka mengunjuk diri, serentak mereka terjang ke tengah gerombolan orang Kawa itu, pedang mereka bekerja cepat tanpa kenal ampun.

Agaknya kawanan orang Kawa itu tidak menyangka Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki mahir kung-fu setinggi itu dan cukup berpengalaman tempur karena tidak berjaga-jaga, segera orang terkena pedang dan roboh terguling. Seketika suasana menjadi panik, beramai-ramai mereka menyurut mundur.

Ke empat orang Kawa yang membunuh tadi, setelah roboh tertusuk pedang Kiam-eng berdua, tubuh mereka lantas tergelincir ke bawah bagai kayu gelondong sehingga banyak kawannya yang di bawah terguling diterjang oleh ke empat sosok mayat itu.

Sesudah kawanan Kawa yang lain menyurut mundur, segera mereka pun menyadari apa yang terjadi, beramai-ramai mereka berteriak dan menerjang maju lagi dengan kalap, golok dan tombak mereda menyerang serabutan.

Kiam-eng tertawa panjang, sedikit mendak, secepat kitiran pedangnya berputar, beberapa senjata lawan yang menyambar tiba sama mencelat, menyusul ia menebas lagi sehingga tiga orang dibunuhnya pula.

Keh-ki juga memperlihatkan ketangkasannya beberapa "ksatria pencari kepala" itu dirobohkannya. Pedang ke dua orang tidak pernah bergerak percuma, masuk dibuat kocar-kacir tidak keruan.

Kiranya kawanan orang Kawa itu memang tangkas dan pemberani, namun kung-fu mereka terlampau rendah, hanya menguasai beberapa gerak serangan sederhana saja, untuk menghadapi suku bangsa lain mungkin boleh juga, jika digunakan melayani orang yang berkepandaian agak tinggi tentu akan mati kutu. Sikap itulah meski yang depan dirobohkan dan yang belakang segera menggantikannya, namun tetap sukar mendekati Kiam-eng berdua. Betapapun Kiam-eng tidak ingin banyak membunuh orang tak berdosa, katanya kemudian "Keh-ki, marilah kita tinggal pergi saja!"

"Sembari bicara segera ia mendahului melompat beberapa meter tingginya dan meninggalkan kalangan pertempuran.

Menyusul Keh-ki pun melompat ke luar, dengan gin-kang yang gesit mereka lari ke depan menelusuri pinggang gunung.

Kawanan suku Kawa itu segera menyambitkan tombak dan melepas panah yang menjadi senjata andalan mereka. Biasanya untuk menyerang musuh atau membunuh binatang buas hampir tidak pernah meleset, tapi keadaan sekarang justru terbalik. Tombak dan panah mereka pada hakikatnya sukar mengikuti laju Kiam-eng dan Keh-ki yang melayang ke depan secepat terbang itu.

Hanya dalam sekejap saja Kiam-eng berdua sudah meninggalkan musuh cukup jauh, waktu mereka menoleh dan tidak melihat dikejar musuh, mereka merasa lega.

"Kakak Eng, ternyata orang liar ini sedemikian tak berguna, selanjutnya aku takkan takut lagi terhadap mereka," ucap Keh-ki dengan tertawa.

"Menghadapi sebarisan orang liar sekian dengan sendirinya tidak sukar bagi kita untuk menghajar mereka," ujar Kiam-eng dengan tertawa.

Tapi bila mereka datang dalam jumlah banyak bagai lautan manusia, betapapun kita pasti kerepotan."

"Oo, masakah mereka dapat mengerahkan orang sebanyak itu untuk menyerang kita?" kata Keh-ki kuatir.

"Ini pasti akan terjadi, sebagai kita sudah membunuh puluhan orang mereka." ucap Kiam-eng. "Wah, lantas bagaimana baiknya?" tanya Keh-ki.

"Tidak perlu kuatir. Mereka harus pulang ke kampung mereka untuk mengumpulkan segenap laskar tempur mereka, untuk ini masih diperlukan waktu cukup lama, asalkan kita dapat lari ke luar wilayah kekuasaan mereka tentu tidak perlu takut lagi."

"Kita perlu lari berapa jauh lagi baru dapat terbebas dari wilayah pengaruh mereka?" tanya Keh-ki pula. "Wah, dari mana aku tahu," jawab Kiam-eng "Biarlah kita lari saja sejauhnya."

Begitulah mereka lantas berlari secepat terbang hingga 50-90 li jauhnya, setelah melintasi beberapa lereng gunung, lambat-laun mereka tiba lagi di dataran rendah, hawa kembali terasa gerah lagi.

Bahkan mulai sekarang yang muncul di depan mereka adalah rimba raya purba yang sukar dijajaki berapa luasnya.

Kiam-eng mengeluarkan peta dan coba mempelajarinya, katanya kemudian dengan tertawa getir, "Keh- ki, mulai sekarang kita harus menyusuri hutan lebat!"

Si nona tidak kenal betapa berbahayanya hutan purba itu, tanyanya dengan tertawa. "Memangnya kenapa?"

Kiam-eng menyimpan kembali petanya dan berkata. "Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi, cuma ingin aku peringatkan padamu, mulai sekarang baru kita benar-benar akan merasakan pahit-getirnya perjalanan.

Dengan tertawa binal dan penuh arti Keh-ki berucap, "Asalkan berada bersamamu, apa pun yang akan terjadi takkan aku takuti."

Kiam-eng tidak menanggapi lagi, ia mendahului menuju ke tengah rimba raya itu.

Setelah berada di dalam hutan, yang terlihat hanya pepohonan lebat belaka sehingga sinar matahari pun tidak tembus, maka keadaan dalam hutan itu terasa dingin dan seram sekali.

Berbagai pepohonan itu selain tinggi besar, bahkan berbentuk macam-macam dan aneh dan sukar dilukiskan. Ada dahan pohon yang mencuat miring berpuluh meter panjangnya serupa ular raksasa. Ada batang pohon bulat lingkar belasan meter, ada dahan pohon yang saling melingkar satu sama lain, semuanya berusia ribuan tahun sehingga bentuknya aneh dan ajaib, sungguh pemandangan yang menarik juga.

Selain itu di atas pohon banyak kawanan kera di tanah banyak ular dan binatang kecil lain ada pula suara raungan binatang buas berkumandang dari kejauhan.

Keh-ki merasa tertarik dan juga takut, katanya, "Kakak Eng, jika dalam hutan tidak ada ular, sungguh suatu tempat tamasya yang menyenangkan."

Kiam-eng menggunakan pedang untuk menebas rintangan tetumbuhan dan melangkah ke depan, katanya dengan tertawa, "Memangnya kau kira di tengah purba begini hanya ular saja yang menakutkan?"

Tidak soalnya aku cuma takut pada ular. selain ular tidak ada lagi yang aku takuti," kata Keh-ki. "Oo, kenapa bisa begitu?" tanya Kiam-eng heran.

"Sukar juga untuk aku jelaskan," kata Keh-ki. "Pendek kata, asalkan melihat ular, tubuhku lantas lemas, sungguh sangat menakutkan."

Sembari bicara mereka terus maju ke depan. Kira-kira beberapa li jauhnya, mendadak Kiam-eng berhenti dan berucap. "Eh, Keh-ki, adakah kau rasakan sesuatu?"

"Rasakan apa?" tanya Keh-ki bingung.

"Merasa tidak enak dalam dada?" tanya Kiam-eng.

Keh-ki coba menarik napas panjang, lalu mengangguk, "Ya, betul rasanya aku cium semacam bau harum yang aneh."

Cepat Kiam-eng mengeluarkan botol obat dan menuang satu biji pil kepada si nona, "Ini, telan lekas!" "Hah, apakah kita kena gas racun?" tanya Keh-ki kuatir.

Kiam-eng juga minum satu biji pil itu, katanya, "Betul, pasti gas racun." "Nah, gas racun apa itu?" Keh-ki menegas setelah minum pil tadi.

"Entah, meski aku tahu banyak nama gas racun, namun sukar untuk dibeda-bedakan satu sama lain. Sai-hoa-to hanya mengajarkan padaku menggunakan obat ini bagi gas racun apa pun dan dijamin pasti takkan berhalangan."

Benar juga, tidak lama setelah minum obat, rasa enek dalam dada mereka lantas longgar dan terasa segar, lenyaplah rasa tidak enak tadi. Segera mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Tapi baru ratusan langkah, tiba-tiba Kiam-eng berhenti lagi, sorot matanya yang tajam menatap ke sebelah kiri hutan yang lebat itu.

Keh-ki ikut berhenti dan bertanya, "Ada apa?"

Kiam-eng mendesis, "Awas, aku rasakan di sebelah sana ... "

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara mendengus, sesosok benda besar menubruk tiba dari kelebatan hutan sebelah kiri sana.

Kiranya seekor harimau besar. Keruan Keh-ki terkejut, cepat ia mengegos dan melompat jauh ke samping.

Sebaliknya Kiam-eng tidak menghindar, sebelum harimau menubruk tiba, ia mendak ke bawah dan pedang menusuk ke atas.

Karena tidak sempat menghindar, kontan perut harimau itu terbedah, sambil meraung keras, binatang buas itu roboh terguling dan binasa. Melihat cara anak muda itu membunuh harimau dengan sekali jadi, Keh-ki berkeplok memuji, "Bagus sekali, kakek Eng, caramu ... auhh!"

Yang membuatnya menjerit mendadak itu karena mendadak ada seekor ular sawa sebesar gelas mendadak menggelantung turun dari dahan pohon di atas kepalanya dan langsung membelit pinggangnya.

Sungguh adegan yang mendebarkan, apalagi pada dasarnya Keh-ki memang takut ular, kini mendadak dibelit seekor ular besar, keruan nyalinya hampir pecah dan sukma hampir terbang meninggalkan raganya.

Untung, betapapun dia juga seorang nona yang mahir kung-fu tinggi, begitu merasa dililit ular, cepat ke dua tangannya bekerja, dengan tepat leher ular dicekiknya dan digosok-gosokkan pada batang pohon sekuatnya sembari menjerit kuatir "Tolong, kakak Eng!" 

Tentu saja Kiam-eng tidak ayal, cepat melompat ke sana, sedang bekerja, kontan kepala ular ditebasnya hingga putus.

Meski ular itu sudah mati, namun tubuhnya yang panjang masih membelit pinggang Ih-Keh-ki, cepat Kiam-eng membebaskan si nona, dan setelah menarik napas lega, akhirnya Keh-ki duduk lemas di tanah.

Kiam-eng berjongkok dan tanya si nona, "Bagaimana, apakah terluka?"

Keh-ki menggeleng kepala, mendadak pecah tangisnya, teriaknya, "Oo, sungguh menakutkan ...aku ... "

Cepat Kiam-eng menghiburnya, "Ssst, jangan menangis, lihatlah, bukankah sekali tebas sudah aku binasakan ular besar ini?"

"Tidak, tadi aku ketakutan setengah mati, aku ingin menangis sepuasnya," ucap si nona.

"Sudahlah, bila kamu menangis lagi, mungkin akan memancing kedatangan ular sawah besar yang terlebih banyak," ujar Kiam-eng dengan tertawa.

Keh-ki melonjak kaget, cepat ia berhenti menangis dan memelototi anak muda itu, omelnya, "Hm, jangan sembarangan menakutiku."

"Benar, sebab ular paling suka dan juga paham seni suara, caramu menangis itu dapat disangka sedang menyanyi oleh ular ... "

Mau-tak-mau Keh-ki percaya oleh ucapan Kiam-eng itu, ia melompat bangun dan berseru, "Sudahlah, jangan mengoceh lagi, mari lekas kita tinggalkan tempat ini."

Begitulah mereka lantas meneruskan perjalanan di tengah rimba raya itu. Sudah lebih satu jam mereka tidak menemui serangan binatang buas lagi hanya satu soal yang mereka hadapi sekarang, yaitu malam, sebab hari sudah mulai gelap.

Padahal rimba raya lebat yang terpampang di depan mereka sekarang seperti tidak ada batasnya, dari mula sampai akhir tetap tidak terlihat sebuah tempat apa pun yang sekiranya dapat dibuat tempat berteduh.

Sembari berjalan Kiam-eng juga memperhatikan perubahan cuaca, katanya kemudian. "Keh-ki, mungkin malam ini harus kita lalui di tengah hutan ini."

"Cara bagaimana kita dapat bermalam di tempat macam ini?" ujar Keh-ki sedih.

"Coba kita melanjutkan perjalanan lagi sekian jauhnya, bilamana tetap tidak menemukan sesuatu gua atau tempat lain, terpaksa kita tidur di atas pohon," kata Kiam-eng.

"Wah, selama hidup belum pernah aku tidur di atas pohon." ujar Keh-ki. "Kau sendiri bagaimana, pernah?"

"Aku pun tidak pernah," tutur Kiam-eng. "Tapi di tengah rimba raya seperti ini, tidur di atas pohon akan lebih aman."

"Ai, baru sekarang aku tahu bahwa rimba raya di daerah selatan ini memang benar tidak enak dirasakan

... " "Apakah kamu menyesal?" tanya Kiam-eng.

"Tidak, aku cuma bilang tidak enak menjelajahi tempat semacam ini, tapi aku tidak menyesal."

"Baiklah jika begitu. Sesudah begini, aku harap membangkitkan ketabahanmu untuk mencapai kota emas itu bersamaku."

Malam semakin gelap. Di tengah hutan lebat itu sudah gelap gulita, ke lima jari sendiri saja tidak terlihat jelas. Terpaksa mereka merambat ke atas pohon dan duduk pada sebuah dahan yang besar.

Keseraman rimba raya dalam kegelapan malam sungguh sukar dilukiskan. Suara raungan binatang buas sahut menyahut, banyak pula suara aneh entah bunyi makhluk apa, ada yang melengking bagai pekikan setan. Dan yang paling sukar ditahan adalah nyamuk, beribu bahkan juta ekor nyamuk seakan-akan memenuhi hutan dengan suara mendenging yang tak terputus-putus di tepi telinga.

Sungguh Kiam-eng dan Keh-ki tidak tahan oleh gangguan nyamuk, mereka gunakan baju untuk menutupi muka. Walaupun begitu, banyak juga nyamuk, menerobos baju dan menyerang dengan ganasnya.

Tiada hentinya Keh-ki berkeluh-kesah, katanya, "Kakak Eng, harap carilah suatu akal untuk mengusir kawanan nyamuk ini, sungguh aku tidak tahan."

"Ai. enak saja kau bicara," sahut Kiam-eng dengan menyengir, "Kalau aku punya akal untuk mengusir nyamuk, kan sudah sejak tadi aku gunakan, masakah perlu kau minta?"

"Jika tidak bisa, marilah kita mencari suatu tempat tidur lain yang tidak ada nyamuknya, aku kira pasti ada sementara tempat yang tidak terdapat nyamuk."

Tiba-tiba benak Kiam-eng terkilas setitik sinar harapan, serunya, "Betul, marilah kita merambat lebih ke atas, aku kira di tempat tinggi tentu bebas dari nyamuk."

Habis bicara, ia singkap baju yang mengerudungi kepala dan merambat lagi ke pucuk pohon. Segera Keh-ki meniru dan merambat ke atas.

Setiba di pucuk pohon yang paling tinggi, benar juga tidak terdengar lagi denging nyamuk.

Gembira sekali si nona, serunya, "Aha, bagus sekali! Dari mana kau tahu di tempat ketinggian ini tidak ada nyamuk?"

"Hanya dugaan saja," sahut Kiam-eng tertawa. "Aku pikir di tempat ketinggian tentu angin terlebih keras dan nyamuk pasti tidak berani terbang kemari."

"Hebat juga caramu berpikir. Akan tetapi meski di pucuk pohon ini tidak ada nyamuk lagi cara bagaimana kita dapat rebah dan tidur?"

"Biarlah kita duduk saja sampai pagi, toh di bawah juga tidak dapat tidur ... Eh, kau lihat, apa itu?" "Apa maksudmu?" tanya Keh-ki kaget.

Kiam-eng menyingkap ranting pohon dan menuding kejauhan sana, katanya, "Lihatlah, itu cahaya api bukan?"

Kiranya di tempat beberapa li jauhnya ternyata ada gemerdep titik-titik api yang sedang bergerak-gerak kian kemari.

Girang sekali Keh-ki, serunya, "Aha, itu pasti pedusunan penduduk setempat mari kita coba menjenguk ke sana."

"Baik juga, hanya dikuatirkan pedusunan itu adalah tempat bermukim suku Kawa." kata Kiam-eng setelah termenung sejenak.

"Tidak menjadi soal," ujar Keh-ki. "Biarlah kita merunduk ke sana, jika tempat bermukim suku Kawa, boleh lekas kita mundur kembali. Apabila suku bangsa yang ramah baru kita tampil untuk minta mondok dan bermalam." Setelah berpikir lagi, akhirnya Kiam-eng mengangguk, "Boleh juga. Marilah kita gunakan gin-kang melintas ke sana di tempat ketinggian."

Setelah bicara segera ia mendahului melayang jauh ke sana dan segera disusul oleh Ih-Keh-ki, mereka hinggap dari pucuk pohon yang satu ke pucuk pohon yang lain, dengan ringan bagai burung mereka melayang ke arah tempat gemerdep api tadi.

Tidak lama mereka sudah sampai di dekat tempat yang di tuju, saat itu terdengar suara seruling dan orang bernyanyi berkumandang ke angkasa, sekaligus mereka pun dapat melihat tempat itu memang betul sebuah tempat pemukiman suku bangsa terasing.

Agaknya penduduk di situ seperti sedang berpesta-pora merayakan sesuatu, ada ratusan orang sedang menarik dan bernyanyi di tengah lapangan dengan membawa obor, inilah gemerdep titik api yang dilihat Kiam-eng dari kejauhan tadi.

Sesudah lebih dekat dan jelas terlihat apa yang berada di situ, tanpa terasa keduanya menarik napas dingin.

Ternyata memang betul tempat itu adalah pedusunan suku bangsa Kawa yang kejam itu.

Kiam-eng berhenti di atas pohon yang berjarak puluhan meter dari pedusunan itu, katanya kepada Keh- ki, "Coba lihat, memang betul tempat pemukiman orang Kawa."

Dengan mata terbeliak Keh-ki tanya, "Apa yang sedang mereka lakukan?"

"Mungkin mereka berhasil memburu kepala manusia dan sedang merayakannya dengan menari dan bernyanyi," tutur Kiam-eng.

"Ahh, betul, aku lihat mereka sedang melempar kian kemari sebuah kepala manusia" seru Keh-ki kaget dengan suara tertahan.

Memang benar, di antara beberapa ratus orang Kawa yang terdiri dari tua-muda dan laki-perempuan itu sedang mengelilingi sebuah cagak kayu sambil bernyanyi dan menari. Beberapa orang di antaranya sedang bermain melempar kian kemari sebuah kepala manusia, ada yang menjejali mulut kepala manusia itu dengan makanan, ada lagi yang memberi ciuman ketika menerima lemparan kepala itu.

Ketika seorang perempuan Kawa menerima lemparan kepala itu, dengan mesra ia cium pipinya dengan tertawa, lalu berkata dengan bahasa Han yang kaku, "Hehe, tentu kamu sangat senang di sini ya? Coba betapa mesranya kami terhadapmu. Di kampung halaman sendiri belum tentu akan mendapat perlakuan semesra ini, hendaknya kamu tinggal saja di sini dengan tentram ... "

Hampir tumpah Keh-ki menyaksikan adegan yang memualkan itu, cepat ia menarik Su-Kiam-eng dan berkata, "Sungguh menakutkan, kakak Eng, marilah kita pergi saja!"

"Nanti dulu," jawab Kiam-eng. "Di cagak sana teringat tiga orang Han, kau lihat tidak?" Keh-ki coba memandang kian kemari, tanyanya, "Di mana?"

Waktu Kiam-eng menuju ke sebelah kamar lapangan, benar juga Keh-ki dapat melihat tiga orang kakek yang berwajah tidak biasa terikat di cagak, katanya dengan terkejut, "Hei, dari dandanan mereka tampaknya mereka serupa orang persilatan?"

"Betul, bukan saja orang persilatan, bahkan nama mereka pun cukup terkenal," sahut Kiam-eng sambil mengangguk.

"Oo, kau kenal mereka?" si nona menegas.

"Ya, pernah bertemu satu kali dengan mereka," jengek Kiam-eng- "Mereka terhitung tokoh Kong-tong- pai, yang tengah itu bernama Khu-Bu-peng berjuluk It-ji-kiam, yang sebelah kiri bernama Yang-pian

Bok-Tat dan kakek sebelah kanan bernama Im-pian Bok-Tian, ke tiga orang itu pernah menguntit Li-hun- nio-nio dan bermaksud merampas peta, kemudian peta palsu dapat dibawa lari Kui-kok-ji-bu-siang, maka ke tiga orang ini bersama tokoh berbagai perguruan besar lain lantas mengejar mereka ..."

Setelah berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan dengan mengejek, "Huh, kedatangan mereka di rimba raya ini memang sudah dalam dugaanku, cuma dengan kepandaian ilmu silat mereka ternyata dapat ditawan begini saja oleh orang Kawa, sungguh kejadian ini agak mengherankan."

"Inilah akibat ketamakan mereka," ujar Keh-ki. "Bila mereka sudah jatuh di tangan orang Kawa kan berarti juga menghemat tenaga bagi kita untuk menghadapi mereka."

"Tidak, kita harus menolong mereka," ujar Kiam-eng.

Tentu saja Keh-ki melengak, "Hah, apakah kamu sudah gila? Mereka kan juga ingin berebut kota emas, untuk apa kau tolong mereka?"

Biarpun maksud tujuan mereka tidak baik, namun mereka belum terhitung manusia jahat yang tak terampunkan, maka ..."

"Tapi setelah mereka kau selamatkan, apakah kamu tidak kuatir mereka akan membalas air susu dengan air tuba dan berbalik berebut peta pusaka kota emas denganmu?"

"Bukannya aku tidak kuatir, soalnya ... "

"Soal apa?" sela si nona dengan tidak mengerti.

"Di pandang dari segi kemanusiaan, kita tidak dapat menyaksikan kematian orang tanpa memberi pertolongan, betul tidak?" ujar Kiam-eng tertawa.

"Tapi mereka kan hendak berebut peta denganmu? Lalu apa tindakanmu?"

"Boleh kita beri nasihat, apabila mereka tetap bandel barulah kita turun tangan dan menumpas mereka," kata Kiam-eng tenang.

"Kau yakin sanggup menumpas mereka?" tanya Keh-ki.

"Rasanya masih sanggup," kata Kiam-eng. "Baiklah, terserah kepadamu. Cuma sekarang mereka dikerubungi orang Kawa sebanyak itu yang sedang bernyanyi dan menari, cara bagaimana engkau akan turun tangan?"

"Tentu aku ada akal," ujar Kiam-eng. "Boleh kau tunggu di atas pohon sini dan saksikan cara kerjaku."

Habis berkata ia lantas melompat turun dengan lincah, dengan merunduk ia mendekati pedusunan orang Kawa itu.

Ia mengitari beberapa rumah gubuk, ia berjongkok dan bersembunyi di belakang sebuah rumah gubuk yang berjarak ratusan langkah dari lapangan, lalu mengeluarkan alat ketikan api untuk membakar rumah gubuk itu. Habis itu segera ia menyusup kembali ke dalam hutan untuk kemudian mengitar kembali ke sebelah lapangan yang lain.

Rumah gubuk sangat mudah terbakar, baru saja ia lari beberapa langkah gubuk itu sudah berkobar- kobar dengan hebat.

Begitu api menyala, seketika juga mengejutkan orang Kawa yang sedang nyanyi dan menari di lapangan itu. Seketika suasana kacau-balau, segenap orang Kawa sama lari ke tempat kebakaran.

Dalam sekejap saja lapangan itu hanya tersisa ke tiga orang tawanan yang terikat di cagak dan kepala manusia yang tergantung pada sebuah tiang yang terpancang di tengah lapangan.

Dan memang detik demikian inilah yang sedang dinantikan Su-Kiam-eng.

Secepat kilat ia melompat ke belakang It-ji-kiam Khu-Bu-peng bertiga, terlihat ke tiga orang itu sama diikat erat dengan tali kulit, kecuali bagian kepala yang masih dapat bergerak, sekujur seakan-akan penuh diikat oleh tali kulit itu sehingga sama sekali tak bisa berkutik.

Cepat Kiam-eng melolos pedang, lebih dulu ia potong tali kulit yang mengikat tubuh It-ji-kiam Khu-Bu- peng.

Sungguh mimpi pun Khu-Bu-peng tidak pernah membayangkan akan kedatangan penolong, keruan ia kegirangan seperti mau gila, ia menoleh dan memandang Kiam-eng dengan gembira, ucapnya, "Banyak terima kasih atas pertolonganmu, mohon tanya siapa nama saudara cilik yang mulia?" "Su-Kiam-eng," jawab Kiam-eng dengan ketus.

Terbangkit semangat It-ji-kiam, serunya gembira, "Aha, kiranya engkau murid Kiam-ho Lok-Cing-hui!"

Kiam-eng hanya mengangguk tak acuh, sesudah memotong tali kulit yang membelit tubuh It-ji-kiam, lalu ia bergantian memotong tali kulit Yang-pian Bok-Tat.

Begitu terbebas dari ringkusan tali kulit, serentak Khu-Bu-peng berlari ke sebuah gubuk yang berdekatan dan menyerbu ke dalam rumah, diambilnya sebatang pedang dan dua ruyung baja, lalu lari kembali dengan cepat.

Tapi pada saat yang sama mendadak seorang Kawa lari masuk lapangan, sekilas ia lihat Su-Kiam-eng sedang menolong tawanan, ia terkejut dan menjerit aneh, cepat ia lari ke tempat kebakaran sana, sembari lari sembari berteriak.

Dalam pada itu Kiam-eng sudah berhasil membebaskan Im-yang-siang-pian Bok-Tat dan Bok-Tian. Ia tahu orang Kawa segera akan memburu tiba, maka cepat ia berkata terhadap It-ji-kiam Khu-Bu-peng, "Jiwa kalian bertiga boleh dikatakan berhasil diketemukan kembali, selanjutnya tidak mungkin lagi mengalami nasib sebaik ini. Jika kalian tidak ingin terkubur di tengah rimba raya ini, maka lekas saja kalian pulang ke Tiong-goan."

Habis berucap, cepat ia meninggalkan lapangan itu dan menyusup masuk ke tengah hutan lebat.

It-ji-kiam melemparkan senjata kepada Im-yang-siang-pian, lalu memburu ke arah Su Kiam-eng sambil berteriak. "Hai, tunggu dulu. Su-siau-hiap!"

Su-kiam-eng berlagak tidak dengar, langsung ia menyusup ke tengah hutan semula dan melompat ke pucuk pohon, desisnya kepada Keh-ki. "Lekas ikut padaku!"

Habis itu segera ia gunakan gin-kang yang tinggi dan mendahului melayang ke depan dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon yang lain.

Apa yang terjadi sudah disaksikan Keh-ki dengan sembunyi di atas pohon, ia tahu anak muda itu bermaksud menghindari It ji-kiam bertiga, maka tanpa bicara ia terus menyusul ke arah Kiam-eng.

Dengan ringan mereka "terbang" di atas pohon dan ditaksir sudah cukup jauh meninggalkan tempat pemukiman suku Kawa itu barulah mereka hinggap dan berhenti mengaso di atas dahan sebuah pohon besar.

Betapapun Keh-ki merasa lelah juga, dengan napas tersengal ia tanya, "Apakah mereka menyusul kemari?"

"Ya, cuma di tengah hutan selebat ini mungkin sukar bagi mereka untuk menemukan kita," "Dan bagaimana dengan orang-orang Kawa itu?" tanya Keh-ki pula.

"Jika mereka tahu tawanan telah dibawa lari orang, mustahil mereka tidak segera mengejar!?" "Untung juga di tengah malam gelap sehingga mereka tidak dapat menemukan kita, betul tidak?" "Ya," Kiam-eng mengangguk. "Sudahlah, jangan bicara lagi, kita harus istirahat sebaik-baiknya.

Tadi si nona sudah menyaksikan sendiri dengan sangat mudah Kiam-eng dapat menyelamatkan Khu-Bu- peng bertiga, maka terhadap kecekatan dan kecerdikan anak muda itu makin dikaguminya, dengan sendirinya ia menuruti pesan Kiam-eng dengan suka hati, maka ia lantas memejamkan untuk menghimpun tenaga.

Malam yang panjang itu akhirnya dapat dilalui dengan aman.

Baru saja fajar menyingsing, segera terdengar suara riuh ramai berkumandang dari jauh, agaknya serombongan orang sedang memburu ke arah sini.

Mendengar suara itu, segera Kiam-eng tahu orang Kawa sedang mengejar kemari. Cepat bersama Keh-ki mereka meninggalkan tempat itu, tetap dengan menggunakan gin-kang mereka main "terbang" di antara pucuk pepohonan. Kepandaian "terbang melayang" begitu termasuk cara yang paling menguras tenaga, maka dalam keadaan biasa, kalau tidak sangat terpaksa tidak mau sembarangan menggunakan gin-kang semacam itu.

Semalam mereka sudah menggunakan gin-kang yang makan tenaga ini, sekarang demi menyelamatkan diri dari kejaran orang Kawa terpaksa mereka "terbang" lagi. Tapi lantaran mereka tidak mendapatkan makan minum yang baik, maka baru beberapa li mereka sudah merasa payah.

"Wah, kakak Eng, perutku kelaparan, jika lari lagi seperti ini, bisa jadi aku akan jatuh ke bawah " seru Keh-ki.

Segera Kiam-eng melayang turun ke bawah pohon, katanya. "Keluarkan rangsum dan makan sekadarnya, sambil makan kita dapat sembari lari."

"Tapi mulutku terasa kering dan sangat haus, sukar menelan rangsum kering," ucap si nona.

"Jika begitu, marilah lari lagi lebih lanjut, setelah menemukan sumber air barulah kita makan rangsum," ujar Kiam-eng.

Segera mereka menerobos hutan dan berlari pula sekian jauhnya, akhirnya dapatlah menemukan sebuah sumber air.

Baru sehari semalam mereka berada di tengah rimba raya, tapi kini demi melihat sumber air, rasa mereka serupa menemukan oasis di tengah gurun pasir. Serentak ke dua orang menubruk ke tempat air dan bertiarap terus minum sepuas-puasnya.

Sehabis cukup minum air, mereka mengeluarkan rangsum, sembari makan mereka meneruskan perjalanan ke depan.

Setelah satu-dua li lagi tiba-tiba Kiam-eng melihat di depan sana, di bawah pohon menggeletak tiga sosok tubuh orang. Jelas mereka adalah It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan Im-yang-siang-pian Bok-Tat dan Bok-Tian.

Terkejut juga Kiam-eng, cepat ia menarik Keh-ki dan mendesis, "Ssst, lihat, mereka menggeletak di sana."

Si nona juga sudah melihat ke tiga orang itu, katanya kuatir, "Cepat, mumpung mereka lagi terlelap dalam tidurnya, cepat kita mengitar lewat ke sana."

"Tidak," kata Kiam-eng. "Coba kau lihat air muka mereka berubah guram, jelas mereka kena gas racun dan bukan lagi tidur."

Waktu Keh-ki mengamati lebih cermat, benar juga terlihat air muka ke tiga orang itu berwarna gelap kebiruan, ucapnya terkejut, "Hah, apakah mereka sudah mati?"

"Tidak, hanya kena gas racun takkan mati dengan cepat ... Mari kita lihat keadaan mereka sembari bicara," segera Kiam-eng mendahului mendekat ke sana.

"Kembali akan kau tolong mereka lagi?" gumam Keh-ki dengan kening berkerenyit.

"Ya, tetap seperti alasan semula, kita tak dapat menyaksikan orang sekarat tanpa memberi pertolongan," kata Kiam-eng.

MISSING PAGES 55-56

mungkin tetap sukar terhindar dari serangan gas racun, maka "

"Setelah kalian minum obat yang aku berikan dalam waktu dua hari kalian tidak perlu kuatir akan keracunan lagi, padahal dalam dua hari aku kira kalian akan dapat ke luar dari hutan ini. Mengenai kawanan orang Kawa, dengan kepandaian kalian bertiga aku yakin tidak sulit untuk meloloskan diri dari kejaran mereka."

"Wah, jurus kawanan orang Kawa itu jauh lebih berbahaya daripada gas racun," ujar It-ji-kiam sambil menyengir. "Su-siau-hiap, bagaimana keadaan kami waktu tertawan tentu sudah kau lihat sendiri dan terbukti ucapanku bukan omong kosong belaka." "Ya, cara bagaimana kalian sampai tertawan oleh mereka?" tanya Kiam-eng.

"Begini," tutur It-ji-kiam. "Siang kemarin, selagi kami duduk mengaso di tengah hutan, mendadak kami disergap secara diam-diam oleh serombongan besar orang Kawa dari berbagai penjuru. Baru saja kami berdiri hendak lari, tahu-tahu berpuluh tombak sudah dilemparkan ke sekitar kami sehingga berwujud sebuah kurungan besar yang mengepung kami di tengah.

"Menyusul orang Kawa yang berjumlah dua-tiga ratus orang lantas muncul, mereka membawa tombak dan panah, ada yang nongkrong di atas pohon, ada yang siaga di bawah, semua siap tempur dan setiap saat dapat memuntahkan senjata mereka. Coba Su-siau-hiap pikir, dalam keadaan begitu, apabila kami sembarangan bergerak, dapatkah bebas dari serangan beratus tombak dan panah

"Makanya tanpa perlawanan kalian menyerah untuk ditawan?" Kiam-eng menegas.

"Ya," It-ji-kiam mengangguk. "Sama sekali kami tak berdaya, Ini pun membuat kami tahu betapa lihainya orang Kawa, maka bila Su-siau-hiap menyuruh kami kembali ke sana ini kan sama dengan menyuruh kami mengantar kematian belaka."

"Betapapun lihainya orang Kawa itu, namun bila kalian kembali ke sana kan tidak pasti akan dipergoki mereka?" ujar Kiam-eng. "Apalagi kalian dapat mengitari tempat pemukiman mereka. Dengan ketangkasan dan kecerdikan kalian bertiga aku yakin tidak sulit untuk menghindari serangan orang Kawa."

"Ah, tidak terjamin, kami tidak berani menyerempet bahaya lagi," ucap It-ji-kiam.

"Habis apakah kalian bertekad tak akan pulang ke Tiong-goan untuk selamanya?" tanya Kiam-eng.

"Maaf akan kelancanganku, ingin aku tanya suatu hal terhadap Su-siau-hiap," kata It-ji-kiam dengan tertawa.

"Silakan bicara saja, jangan sungkan." jawab Kiam-eng.

Dengan senyuman bersahabat It-ji-kiam berkata, "Yang ingin aku ketahui adalah urusan peta mestika itu, apakah sudah diperoleh Su-siau-hiap!"

"Betul, peta kota emas itu memang berada padaku," sahut Kiam-eng.

"Jika begitu, apakah Su-siau-hiap tahu bahwa saat ini banyak orang Bu-lim telah memasuki rimba raya purba di daerah selatan ini?" kata Khu-Bu-peng dengan cengar-cengir.

"Oo, memangnya ada berapa banyak orang yang datang ke rimba ini?" tanya Kiam-eng berlagak tidak tahu.

"Tidak terhitung kami bertiga, sedikitnya masih ada likuran orang yang sudah berdiri di sini," tutur Khu- Bu-peng.

"Oo, siapa saja mereka itu?" tanya Kiam-eng.

"Mereka adalah para ketua Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Thai-kek-bun dan tokoh terkemuka berbagai perguruan besar yang lain," tutur It-ji-kiam.

"Kedatangan mereka sama hendak membuntuti diriku?" jengek Kiam-eng.

"Ya, meski mereka sama menyatakan tidak berani mengusik Su-siau-hiap dan cuma ingin ikut menemukan kota emas serta mendapat bagian rejeki, namun hati manusia sukar diduga, siapa berani menjamin di antara mereka tidak ada yang berniat jahat? Maka kalau sekiranya Su-siau-hiap tidak menolak, kami bertiga bersedia membantu perjalanan Su-siau-hiap hingga menemukan kota emas itu. Soal nanti setelah tiba di tempat tujuan, berapa banyak Su-siau-hiap hendak memberi bagian kepada kami, sungguh kami takkan mempersoalkannya."

"Tidak," jawab Kiam-eng. "Maksud baik kalian biar aku terima dalam hati saja, soalnya aku tidak memerlukan bantuan orang lain."

Air muka It-ji-kiam menjadi merah, ucapnya dengan menyengir kikuk, "Kung-fu Su-siau-hiap maha tinggi, mungkin tidak perlu bantuan orang juga akan sampai di kota emas itu. Tapi setiba di sana, cara bagaimana Su-siau-hiap akan menghadapi berbagai tokoh terkemuka dunia persilatan yang selalu mengincar dirimu itu?"

Tentang kota emas itu memang bukan milikku sendiri, asalkan mereka tidak mengganggu diriku, apa yang akan dikerjakan mereka tentu juga takkan aku urus," ujar Kiam-eng.

"Oo, jadi maksud Su-siau-hiap, asalkan orang tidak mengganggu dirimu, maka siapa pun bebas berebut dan mengambil emas yang terdapat di kota emas itu?" It-ji-kiam menegas dengan sinar mata bersinar.

"Betul, kecuali sepotong Jian-lian-hok-leng yang disembunyikan su-heng ku di sana dilarang diambil, barang lain boleh silakan siapa pun untuk mengambilnya."

Dengan girang Khu-Bu-peng berseru. "Hah, jika begitu, jadi kami ..."

"Ya, dengan sendirinya kalian bertiga juga boleh ambil secara bebas" tukas Kiam-eng. "Cuma satu hal, kalian dilarang keras membuntuti kami, bilamana hal ini ketahuan, jangan menyesal bila aku tidak kenal ampun."

Khu-Bu-peng melengong sejenak, lalu berkata pula dengan tertawa, "Ya, ya, mulai hari ini kami akan berusaha mencari sendiri dan pasti takkan membuntuti Su-siau-hiap."

Kiam-eng mendengus, katanya sambil memberi tanda kepada Keh-ki, "Mari kita pergi, Keh-ki!" Habis bicara ia terus mendahului melangkah ke depan.

Dengan cepat ke dua orang menelusuri hutan lebat, tidak lama kemudian, tiba-tiba terlihat pepohonan di depan mulai jarang-jarang, sebaliknya di tanah banyak genangan air kotor.

Segera Kiam-eng berhenti dan berkata, "Wah Keh-ki, tampaknya kita kesasar ke daerah rawa rawa."

Keh-ki memandang sekeliling tempat itu dan benar tidak terlihat sebidang tanah yang kering, mau-tak mau ia merasa cemas, katanya, "Lantas bagaimana baiknya."

"Coba kita lanjutkan ke sana, apabila air rawa tidak dalam, biarlah kita melintas ke sebrang sana."

Begitulah mereka melangkah ke depan lagi. Beberapa puluh langkah kemudian, air rawa mencapai sebatas lutut, pepohonan pun semakin jarang sehingga sukar menggunakan gin-kang untuk "terbang" di pucuk pohon. Terpaksa mereka mundur kembali.

"Tampaknya rawa-rawa di sini sangat luas, jika kita ingin menyebrang ke sana mungkin hanya ada satu jalan!" ujar Kiam-eng.

"Cara bagaimana?" tanya Keh-ki.

"Menebang pohon dan membuat rakit," kata Kiam-eng.

"Wah, apakah tidak terlampau merepotkan?" Keh-ki berkerut kening. "Habis, selain cara ini memangnya ada akalmu yang lebih baik?"

"Mengapa kita tidak coba-coba mengitar dulu ke sana, bisa jadi akan menemukan tempat yang tidak berawa"

"Aku kuatir akan tersesat," ucap Kiam-eng. "Sekarang kita menempuh perjalanan menurut petunjuk dalam peta, jika main mengitar segala, bisa jadi akan kesasar."

Keh-ki pikir betul juga gagasan anak muda itu, tanyanya kemudian, "Untuk membuat sebuah rakit atau sampan diperlukan waktu berapa lama?"

"Asalkan kita bekerja keras, mungkin satu hari pun cukup."

"Akan tetapi dengan halangan ini, bukankah orang-orang yang membuntuti kita itu akan menyusul tiba?" tanya si nona.

"Tidak menjadi soal. Mungkin mereka belum lagi berani berebut peta dan obat yang aku bawa ini secara terang-terangan. Padahal tanpa obat yang kita siapkan ini, lambat atau cepat mereka akan mati kena gas racun." Segera Keh-ki menurunkan rangsal yang digendongnya dan berkata, "Baiklah, jika begitu boleh segera kita bekerja."