Rahasia 180 Patung Emas Jilid 11

 
Jilid 11 

Rupanya selagi lari cepat tadi diam-diam ia telah melolos pedang yang tersembunyi di dalam bajunya. Ketika mendadak membalik tubuh dan menyerang, dengan sendirinya ia berharap sekali tebas akan dapat menamatkan riwayat Su-Kiam-eng.

Namun apa pun Su-Kiam-eng adalah seorang pendekar muda gemblengan, menghadapi serangan mendadak begini baginya boleh dikatakan bukan soal. Dengan suatu gerakan sederhana saja "trang", dengan tepat sabetan pedang lawan dapat ditangkisnya.

Menyusul tubuhnya berputar dengan cepat sehingga pedang lawan dibuang ke samping, berbareng pedang sendiri pun bergerak cepat, dengan gaya "Sun-cui-tui-ciu" atau mendorong perahu menurut arus, sekaligus ia tebas kaki lawan.

Namun kakek itu pun tidak lemah, cepat ia menggeser ke samping, lalu dengan jurus "cui-tiong-lau-gwe" atau menjaring rembulan di dalam air, berbareng ia pun balas menebas.

"Creng", kembali ke dua pedang berbentur, si kakek merasa tergetar dahsyat, tanpa kuasa ia tergetar mundur dua-tiga tindak.

Kiam-eng terbahak-bahak, berturut-turut ia melancarkan lagi tiga kali tebasan. Setelah menangkis tiga kali dengan mati-matian, mau-tak mau kening si kakek mulai berkeringat.

Kiranya ilmu pedang andalan Kiam-ho Lok-Cing-hui, yaitu Peng-lui-kiam-hoat, ilmu pedang halilintar, adalah ilmu pedang yang mengutamakan keras dan dahsyat, setiap jurus serangannya mengandung tenaga beribu kati, bilamana lawan tidak memiliki tenagga dalam yang cukup, jarang ada yang mampu menandinginya dan tentu akan keok.

Dalam pada itu terdengar pula dua kali jeritan di belakang Su-Kiam-eng, rupanya si kakek penjual air minum dan kakek satunya lagi juga sudah dibereskan oleh Sam-bi-sin-ong.

Tentu saja Kiam-eng tidak mau ketinggalan, ia kerahkan segenap tenaganya, dengan suatu jurus indah ia bikin pedang lawan terpental ke udara, menyusul ia terus menubruk maju, ujung pedang mengancam ulu hati lawan sambil membentak, jangan bergerak!"

Air muka si kakek lawannya berubah pucat pasi, ucapnya dengan suara gemetar, "Harap Su-siau-hiap bermurah hati, aku ... aku ... "

"Siapa namamu?!" tanya Kiam-eng.

Cai-he Co-Him-sik, berjuluk Hoa-tiok-sian-sing ..." Ucap si kakek dengan suara gemetar. "Hoa-tiok-sian-sing?" Kiam-eng mengulang nama itu dengan melengak.

Sam bi-sin-ong lantas memburu tiba juga, serunya, "Aha, memang betul, dia ini Hoa-tiok-sian-sing Co- Him-sik, satu di antara Kang-lam-kiu-yat."

Mendengar nama Kang-lam-kiu-yat atau sembilan orang iseng daerah kang-lam. Su-Kiam-eng terkejut dan heran, katanya, "Apa? Jadi kalian ini Kang-lam-kiu-yat?"

Supaya maklum, Kang-lam-kiu-yat atau sembilan manusia iseng daerah kang-lam itu terkena mempunyai kung-fu andalan masing-masing dan juga memiliki kepandaian "seni" tertentu, misalnya seni lukis, seni tulis, seni musik, seni catur dan lain sebagainya, seringkali mereka berkumpul di pegunungan sunyi untuk menikmati hidup tenang dan bebas sebagai kaum seniman, biasanya tidak suka bergaul dengan orang persilatan umum nya, lantaran itulah orang persilatan memandang mereka sebagai tokoh kosen yang lebih suka iseng daripada berkecimpung di dunia kang-ouw yang ramai.

Dalam pandangan Su-Kiam-eng selama ini ia pun menganggap Kang-lam-kiu-yat sebagai tokoh dunia persilatan yang baik, sebab itulah ia terkejut dan heran demi mengetahui lawan yang dihadapinya sekarang adalah kesembilan tokoh itu.

Dengan tercengang ia pandang Hoa-tiok-sian-sing Co-Him-sik, katanya dengan tidak mengerti, "Sungguh aneh, kalian bersembilan tidak tinggal di pegunungan sunyi di daerah Tiong-goan sana, mengapa juga ikut-ikutan berebut peta segala?"

Merah jengah muka Hoa-tiok-sian-sing Co-Him-sik, ia menunduk malu dan tidak dapat menjawab, jika di bumi ada lubang sungguh ia ingin menyusup ke situ.

Perlahan Kiam-eng menarik kembali pedangnya, ia pandang Sam-bi-sin-ong dan berkata, "Sungguh tidak nyana daya tarik emas sedemikian besarnya sehingga kesembilan tokoh iseng terhormat dunia kang-ouw ini pun ikut-ikutan main licik seperti ini."

"Memangnya mereka juga cuma berlagak iseng dan sok alim belaka, pada hakikatnya mereka adalah manusia munafik." ucap Sam-bi-sin-ong dengan terkekeh.

Kiam-eng menghela napas menyesal, ia memberi tanda kepada si kakek dan berteriak, "Sudahlah, lekas enyah saja Hoa-tiok-sian-sing yang terhormat!"

Co-Him-sik seperti mendapat pengampunan besar, ia memberi hormat dan melompat dan segera kabur dengan cepat.

"Sungguh Su-lau-te seorang yang murah hati," ucap Lau-ho-li. "Jika menuruti watakku mustahil tidak sekali gebuk aku kirim dia pulang ke rumah nenek moyangnya."

Kiam-eng tidak menanggapi, ia putar ke bawah pohon tadi, sekali depak ia bikin tong air minum terguling, lalu Ih-Keh-ki dipondongnya menuju ke tepi sebuah sungai kecil, dengan sapu tangan ia celup air sungai untuk mengusap wajah si nona, tidak lama kemudian dapatlah Keh-ki siuman.

Waktu Keh-ki membuka mata dan mengetahui dirinya berada dalam pondongan Su-Kiam-eng ia terkejut dan malu, serunya, "Hai, kamu main gila apa?"

Perlahan Kiam-eng menurunkan si nona, jawabnya dengan tersenyum, "Yang main gila adalah si kakek penjual air minum dan bukan diriku,"

Keh-ki terkejut, dengan bingung ia tanya, "Maksudmu air yang aku minum tadi di campur dengan obat tidur?"

Kiam-eng mengiakan.

Keruan Keh-ki terperanjat, baru sekarang ia tahu duduknya perkara, serunya, "Wah, kiranya kita terjebak, lalu ... lalu apa yang terjadi?"

"Lalu kamu rebah dan berpulas, aku dan mereka lantas melabrak musuh dan membuat kocar-kacir delapan orang."

Sembari bicara Kiam-eng lantas kembali ke bawah pohon tadi, di situ Keh-ki dapat melihat ke delapan orang yang menggeletak tak bisa berkutik itu, ia tambah terkejut.

Dengan singkat Kiam-eng menceritakan apa yang terjadi tadi, lalu mencemplak ke atas kuda berkata. "Marilah berangkat, sebelum petang kita harus mencapai Ting-ciong."

Maka rombongan mereka berempat lantas berangkat tanpa menghiraukan ke delapan kakek yang menggeletak itu apakah masih dapat tertolong atau tidak.

Terhadap apa yang dialaminya tadi Keh-ki merasa tidak puas, ia mendekatkan kudanya ke samping Kiam-eng dan bertanya padanya, "Kakak Eng, kalian tadi juga ikut minum, mengapa roboh hanya aku saja?"

Kiam-eng tertawa, tuturnya, "Air yang kami minum tidak sampai masuk perut, maka tidak roboh." "Jadi sebelumnya sudah kau ketahui air minum itu diberi obat tidur?" tanya Keh-ki pula. "Tidak, sesudah air masuk mulut baru aku tahu," jawab Kiam-eng.

"Jika begitu, mengapa tidak kau katakan padaku?" omel si nona.

"Mestinya hendak aku beritahukan padamu namun tidak keburu lagi." sahut Kiam-eng tertawa.

Keh-ki menggigit bibir, tanyanya pula, "Mengapa air minum itu masuk mulut lantas kau tahu ada campuran obat tidur?"

"Itu pengalaman," tutur Kiam-eng tersenyum "Setelah telan pil pahit sekali ini, lain kali waktu kamu akan lebih hati-hati, barang apa pun yang kau makan, begitu masuk mulut janganlah segera kau telan.

Bilamana ujung lidah terasa agak kaku, itu berarti pada makanan ada sesuatu yang tidak beres."

Keh-ki mengangguk, ia pandang sekejap terhadap Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, lalu tanya pula, "Kemudian mengapa kalian bisa sama-sama berlagak roboh pingsan?"

"Itu pun salah satu pengalaman," tutur Kiam-eng. Dengan berpura-pura pingsan tentu kita dapat menyergap musuh secara tak terduga."

"Hm, tampaknya untuk berkecimpung di dunia kang-ouw memang diperlukan banyak pengalaman," kata Keh-ki. "Pantas ayahku selalu melarangku ke luar sendiri ... "

Kiam-eng menunjuk Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, katanya dengan tertawa, "Pek-li dan Cu-kat berdua lo-cian-pwe adalah kawakan kang-ouw, hendaknya kamu banyak minta petunjuk kepada mereka."

Sam-bi-sin-ong merasa ucapan Kiam-eng itu mengandung nada mengejek, dengan terbahak ia berkata. "Ah, janganlah Su-lau-te terlampau memuji, biar pengalamanku memang sedikit lebih banyak, tapi kalau bicara tentang kecerdasan dan ketabahan, masih jauh bilamana dibandingkan dengan Su-lau-te."

"Ah, mana bisa, apabila aku cukup cerdas tentu takkan terjeblos seperti sekarang ini," ujar Kiam-eng tertawa.

"Aku kira janganlah Su-lau-te berpikir demikian," ujar Lau-ho-li dengan tertawa. "Coba pikir, tadi kalau tidak ada kami berdua, jika Su-lau-te harus menghadapi. Kang-lam-kiu-yat sendirian, mungkin sangat sulit untuk meloloskan diri."

Begitulah sembari bicara mereka terus melanjutkan perjalanan, tanpa terasa sang surya sudah mulai condong ke barat, dipandang dari jauh samar-samar kota Ting-ciong sudah kelihatan dari jauh.

Ting-ciong adalah kota di tapal batas wilayah Hun-lam barat, merupakan pintu gerbang yang cukup penting banyak berhubungan dagang dengan negri tetangga, suatu daerah yang subur, penduduknya kebanyakan suku terasing dengan peradaban yang masih ketinggalan dan jauh berbeda dengan kota daerah Tiong-goan.

Setelah perjalanan beberapa bulan, akhirnya sampailah di tempat terpencil di daerah selatan yang penting ini.

Bagi Kiam-eng hal ini tidak terlampau menggembirakan, sebab ia tahu setiba di kota Ting-ciong baru tercapai setengah perjalanan saja, sedangkan perjalanan selanjutnya akan jauh terlebih sulit, bahkan boleh dikatakan, setiba di Ting-ciong baru merupakan permulaan daripada pencarian kota emas yang misterius dan penuh bahaya itu.

Begitulah setelah memasuki kota Ting-ciong, Ih-Keh-ki terus memandang ke sana dan melihat ke sini, katanya. "kakak Eng, di sini entah ada hotel atau tidak?"

"Seyogianya ada," jawab Kiam-eng. "Kota ini adalah kota dagang, mustahil tidak ada hotel." "Eh, apakah kita perlu mondok di rumah penginapan?" tanya Lau-ho-li tiba-tiba.

"Tentu saja," ujar Kiam-eng. "Kita perlu berhenti selama tiga hari di sini. Nanti kalau obat anti gas racun sudah selesai aku ramu barulah kita berangkat lagi."

Mendadak Sam-bi-sin-ong menunjuk jalan di depan sana, "Coba lihat, di sana ada sebuah hotel Hong- pin-kek-can, mungkin hotel yang diusahakan bangsa Han, marilah kita coba melongoknya ke sana.

Rombongan mereka lantas menuju ke hotel yang dimaksud. Setiba di depan hotel, segera seorang pelayan yang berdandan sebagai bangsa Han ke luar menyambut kedatangan mereka sambil menyapa, "Selamat datang! Apakah tuan-tuan datang dari Tiong-goan?"

Kiam-eng mengangguk, "Betul apakah masih tersedia kamar-kamar yang bersih?"

"Ada, ada!" jawab si pelayan cepat. "Marilah, silakan masuk, kuda tuan-tuan serahkan saja kepada hamba ..."

Sembari bicara ia terus mendekat dan menuntun kuda tetamunya.

Setelah menyerahkan kuda kepada si pelayan, pelayan yang lain sudah muncul lagi dan mengantar mereka ke dalam hotel.

Mereka berempat masing-masing mengambil sebuah kamar kelas satu, lalu minta pelayan menyiapkan satu meja santapan. Sesudah istirahat sekadarnya dan membersihkan badan, lalu mereka makan bersama.

Sambil makan Kiam-eng berkata kepada Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, "Sebentar sehabis makan harap kalian yang berusaha membeli perbekalan biar nona Ih bersamaku ke toko obat untuk mencari bahan obat. Setuju?"

Sam-bi-sin-ong mengangguk, katanya, "Baik, berapa banyak kira-kira perbekalan yang harus kita siapkan?"

"Aku kira cukup sediakan untuk perbekalan setengah bulan saja," kata Kiam-eng. "Apakah perlu menyewa beberapa orang kuli pemikul?" tanya Lau-ho-li.

"Tidak perlu," Kiam-eng menggeleng kepala. "Dahulu su-heng ku pernah menyewa kuli di sini, akan tetapi tidak lama memasuki daerah pegunungan, para kuli itu lantas lari pulang kemari, sekali ini kita tidak perlu menyewa kuli, biarlah kita memanggul perbekalan kita sendiri."

"Kau bilang mau meracik obat, apakah perlu sampai tiga hari?" tanya Sam-bi-sin-ong. "Betul, paling cepat tiga hari, mungkin lebih," sahut Kiam-eng

"Hm, tinggal tiga hari di sini, entah apa lagi yang akan terjadi?" ujar Sam-bi-sin-ong.

"Asalkan kalian menjaga peta itu sebaik-baiknya, memangnya takut apa pula?" kata Kiam-eng dengan tertawa.

"Betul, yang kita takuti sekarang hanya Tok-pi-sin-kun saja seorang," ujar Lau-ho-li dengan tertawa. "Padahal menurut cerita Pek-li-heng, katanya keadaan luka Tok-pi-sin-kun itu sukar sembuh dalam waktu setengah tahun ini. Maka aku yakin sanggup mempertahankan setengah helai peta yang aku pegang ini."

"Huh, cara si rase tua bicara seperti meremehkan beberapa ketua berbagai perguruan besar seperti Hoa- san, Tiam-jong, Thai-kek dan lain-lain," ujar Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

Lau-ho-li tertawa, "Memangnya kamu sendiri cukup menilai tinggi beberapa ketua itu?"

"Betapapun seekor harimau sukar melawan segerombol kera," ujar Sam-bi-sin-ong. "Jika sekaligus mereka datang sebanyak 20 orang, kan repot juga untuk menghalau mereka?"

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa, "Apalagi, kecuali beberapa ketua perguruan besar itu kan masih ada lagi serombongan lain yang juga tidak boleh diremehkan?"

"Oo, kau maksudkan rombongan siapa?" tanya Lau-ho-li.

"Yaitu kawanan yang menculik su-heng Su-lau-te itu," tutur Sam-bi-sin-ong. "Sejauh ini mereka belum lagi memperlihatkan diri, hal ini menandakan gerak-gerik mereka sangat dirahasiakan. Orang semacam ini jelas tidak mudah dihadapi." "Apakah Pek-li-heng menganggap mereka pun sudah tiba di wilayah selatan ini?" tanya Lau-ho-li.

"Ya, tentu," kata Sam-bi-sin-ong. "Mereka menculik Gak-Sik-lam, sama hal nya mendapatkan seorang penunjuk jalan."

"Belum tentu," ujar Lau-ho-li, "Bisa jadi Gak-Sik-lam tidak mau membeberkan letak tempat kota emas itu kepada mereka."

Sam-bi-sin-ong lantas berpaling dan tanya Kiam-eng, "Menurut pendapat Su-lau-te bagaimana?"

Kiam-eng menggeleng, "Sulit aku katakan. Meski su-heng ku mempunyai pendirian yang teguh, sekarang dia sudah cacat total, bahkan harus

memikirkan keselamatan istri tersayang. Maka sampai betapa ketahanannya di bawah ancaman musuh sangat sulit aku katakan ... "

"Benar, jika musuh menggunakan Kalana untuk memaksa pengakuan su-heng mu, lalu bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Sam-bi-sin-ong.

Aku kira dia pasti akan menceritakan tempat kota emas itu," ucap Kiam-eng dengan sedih, "Tempo hari, ketua Hing-ih-bun, yaitu Bun-In-tiok juga memperalat Kalana untuk memeras su-heng ku, lantaran tidak lega melihat istri sendiri dihina orang, terpaksa su-heng menyerah. Untung pada waktu itu aku hadir di sana, dan menyamar sebagai Sai-hoa-to, begitu aku dengar letak kota emas dari pengakuan su-heng ku, serentak aku turun tangan dan membekuk Bun-In-tiok ... "

"Ya, maka aku yakin mereka pasti sudah berada juga di daerah ini dan bisa jadi mereka sudah menuju ke tempat sasaran mendahului kita," ujar Sam-bi-sin-ong.

"Tapi mereka tidak didampingi Sai-hoa-to, masa mereka berani sembarangan masuk ke daerah berbahaya itu?" ujar Lau-ho-li.

"Di dunia persilatan belum tentu cuma Sai-hoa-to saja yang paham cara anti gas racun, apalagi meski di pegunungan ini banyak gas racun juga tidak setiap tempat ada racun, cukup berlaku hati-hati sedikit, rasanya juga takkan mati konyol begitu saja," kata Sam-bi-sin-ong.

Lau-ho-li mengangguk "Ya, jika mereka belum lagi mendahului kita, entah kedatangan mereka nanti akan melalui tempat ini atau tidak?"

"Aku kira harus lewat sini," kata Sam-bi-sin-ong. "Sebab untuk memasuki pegunungan Mo-pan-san, Ting-ciong adalah tempat yang harus dilalui."

"Jika begitu, asalkan dalam beberapa hari ini kita lebih menaruh perhatian terhadap orang yang lalu lalang di sini, bila menemukan orang yang patut dicurigai, hendaknya kita lantas ... "

Lau-ho-li tidak melanjutkan lantas apa melainkan cuma terkekeh-kekeh saja.

Begitulah, makan malam ini pun diakhiri di bawah tawa terkekeh Lau-ho-li. Kiam-eng dan Keh-ki lantas meninggalkan hotel dan menuju ke jalanan yang ramai.

Setelah melintas beberapa jalan, akhirnya menemukan sebuah toko obat yang diusahakan oleh bangsa Han. Begitu masuk ke toko obat itu, segera Kiam-eng tanya seorang tua yang berdiri di belakang meja, "Numpang tanya, apakah di sini dapat meracikkan obat?"

Melihat Su-Kiam-eng orang yang datang dari Tiong-goan, sikap si kakek sangat ramah, jawatnya dengan tertawa, "Tentu saja dapat. Obat apa yang tuan tamu hendak racik?"

"Aku perlu membuat semacam pit, harap sediakan kertas dan pensil biar aku beri resepnya," Kiam-eng.

Si kakek lantas mengeluarkan, alat tulis yang diminta, segera juga Kiam-eng membuka resep obat- obatan yang diperlukan, katanya, "Nah, berdasarkan resep ini harap dibuatkan 60 biji pil, harap juga jaga rahasia, jangan perlihatkan resep ini kepada orang lain."

Berulang si kakek mengiakan, ia terima resep dan dibaca sekali, air mukanya berubah heran dan bingung, tanyanya, "Resep obat tuan ini digunakan untuk penyakit apa?"

"Jangan kamu urus," jawab Kiam-eng tersenyum. "Pokoknya selesaikan pil yang aku pesan ini." "Baik-baik." si kakek mengiakan. "Dan kapan tuan tamu akan mengambil obatnya?" "Besok, bagaimana?"

"Wah, mungkin tidak keburu," ujar si kakek sambil menggeleng kepala. "Obat ini agak sulit diramu, paling cepat diperlukan waktu tiga hari."

"Jika begitu, bagaimana kalau malam lusa aku ambil obatnya? Untuk itu aku bersedia memberi ongkos satu kali lipat untukmu, jadi?"

Si kakek berpikir sejenak, katanya, "Malam lusa... itu harus dikerjakan mulai sekarang baru bisa selesai, aku kira ..."

Tanpa banyak omong Kiam-eng menyodorkan tiga tahil perak dan berkata, "ini sekadar uang lembur, ambil dulu, mengenai harga obatnya, nanti aku bayar waktu aku ambil obat."

Si kakek terkesima, katanya, "Wah, terlampau banyak. Tidak perlu pakai imbalan sebanyak ini."

"Tidak apa," kata Kiam-eng. "Harap Lo-tiang terima saja. Yang penting, malam lusa dapat aku terima obat yang aku pesan."

"Baik, baik, sekarang aku mulai kerjakan, sekarang juga ..."

"Ada lagi. Apabila ada orang tanya kepada Lo-tiang bilakah obatnya bisa jadi, jangan kau katakan malam lusa, tapi bilang saja harus tiga hari kemudian," pesan pula Kiam-eng.

"Ken ... kenapa begitu?" tanya si kakek heran.

"Tidak ada apa-apa, cukup kau laksanakan menurut pesanku," ujar Kiam-eng.

Karena sudah diberi persen, si kakek tidak berani banyak lagi, berulang ia mengangguk dan menjawab. "Ya, ya, tentu aku katakan menurut pesan tuan."

Setelah berbasa-basi lagi sejenak, lalu Kiam-eng menarik Keh-ki meninggalkan toko obat itu. "Kakak Eng, mengapa kau pesan dia bilang begitu, apa maksudmu?" tanya Keh-ki.

"Boleh coba kau terka," jawab Kiam-eng dengan tertawa.

Keh-ki berpikir sejenak, katanya kemudian "Ya, tahulah aku. Mungkin kau kuatir timbul maksud jahat Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li dan mendahului merebut obat yang kau pesan itu."

"Betul. Selain itu juga berjaga-jaga kalau direbut orang lain. Saat ini sangat mungkin kita dibuntuti orang banyak yang sangat memerlukan obat anti gas racun itu."

"Ai, caramu berpikir memang cukup jauh, aku sendiri tidak pernah berpikir hal-hal begitu," puji Keh-ki.

"Kecerdikanmu adalah tulus dan jujur, dengan sendirinya tidak pernah berpikir secara berliku-liku," kata Kiam-eng.

"Hm, bisa juga kau bicara," omel Keh-ki dengan lirikan berarti.

"Cuma, bicara sesungguhnya, jika kamu ingin berkecimpung di dunia kang-ouw, kamu perlu belajar sedikit hal yang berliku-liku, memang, maksud membikin celaka orang janganlah ada, tapi berjaga jaga agar tidak dicelakai orang kan perlu?"

Keh-ki merasa ucapan Kiam-eng itu sangat tepat, ucapnya dengan mengangguk, "Betul, ayahku pun sering memberi nasihat begitu padaku. Bilamana di rumah, sering aku rasakan aku paling nakal dan licin, tapi sekarang bila dibandingkan denganmu sungguh seperti si kerdil ketemu raksasa."

"Makanya, kamu perlu banyak belajar padaku," ujar Kiam-eng. "Huh, memangnya kamu ..." jengek Keh-ki.

"Aku kenapa? Memangnya aku tidak cukup licin?" tanya si anak muda. "Cukup, cuma kalau dibandingkan dengan Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li, aku kira masih selisih jauh," ujar Keh-ki.

"Masa? Eh, coba katakan, dalam hal apa aku bukan bandingan mereka?" tanya Kiam-eng dengan terbahak.

"Satu hal saja, apabila kamu lebih licin dari pada mereka, tentu petamu takkan direbut mereka," ucap si nona.

"Saat ini memang kelihatan mereka lebih unggul, tapi selang dua hari lagi, boleh kau lihat siapa sesungguhnya yang lebih unggul." ujar Kiam eng dengan tertawa.

"Memangnya ada akalmu untuk merebut kembali peta itu?" tanya Keh-ki.

"Tidak ada," sahut Kiam-eng sambil menggeleng kepala. "Memangnya begitu gampang untuk merebut kembali peta itu dari tangan Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li?"

"Habis apa yang hendak kau lakukan?" tanya pula si nona.

"Rahasia alam tidak boleh dibocorkan," Kiam-eng sengaja menjual mahal. "Selang dua hari lagi baru akan aku beritahukan padamu."

"Tidak sekarang juga aku ingin tahu," desak Keh-ki dengan manja.

"Tidak bisa," kembali Kiam-eng menggeleng kepala. "Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li adalah manusia yang teramat cerdik, jika sekarang juga aku katakan padamu, tentu mereka akan dapat merabanya dari gerak-gerikmu."

"Mana bisa," ujar Keh-ki. "Aku dapat berbuat tenang seperti tidak ada sesuatu urusan." "Itu bukan jaminan. pokoknya nanti saja aku katakan padamu," kata Kiam-eng.

"Bagus, rupanya diriku tidak ada harganya bagi pandanganmu, selama ini diriku kau anggap sebagai nona yang tidak tahu urusan." omel Keh-ki kurang senang.

"Jangan marah dulu," kata Kiam-eng. "Aku hanya bergurau denganmu. Padahal kalau peta itu jatuh di tangan mereka, lalu apa yang dapat aku perbuat?"

Mendengar anak muda itu mengaku cuma bergurau saja, Keh-ki tambah kurang senang, ucapnya dengan melotot, "Hm, aku tahu kamu ini memang sok membual."

Kiam-eng tidak menanggapi lagi, sebab waktu itu mereka sudah sampai di depan pintu hotel.

Tidak lama setelah mereka kembali kamar, Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li segera pula menyusul ke hotel, mereka sama menjinjing dua kantung rangsum kering. Dua kantung perbekalan itu dibawa ke kamar Kiam-eng oleh Sam-bi-sin-ong, katanya dengan tertawa, "Coba kau lihat, perbekalan sudah kami siapkan bukan?"

Kiam-eng coba memeriksa isi kantung, katanya, "Bagus, tapi kita masing masing perlu membeli seperangkat baju dan dua pasang sepatu, menjelajahi hutan belantara biasanya baju dan sepatu sangat cepat rusak."

"Betul, besok boleh kita beli lagi ... " ucap Sam-bi-sin-ong. "Tentang obat anti gas racun, apakah Su-lau- te sudah pesan pada toko obat?"

"Ya, seperti sudah terduga, mereka menyatakan memerlukan waktu paling sedikit tiga hari." sahut Kiam- eng.

"Jika begitu, biarlah kita tunggu saja," ujar Sam-bi-sin-ong. "Tiga hari kan tidak lama, hanya sekejap saja sudah lalu." .

Ia lihat Keh-ki berada di dalam kamar, ia tidak enak untuk banyak bicara, maka segera ia mengundurkan diri.

Kebetulan Lau-ho-li juga baru muncul dari kamarnya, melihat Sam-bi-sin-ong, dengan tertawa ia menyapa, "Pek-li-heng, malam belum larut, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu ke kota?"

Sam-bi-sin-ong pikir boleh sekalian membeli baju dan sepatu, maka ia menyatakan setuju. "Baik juga, Su-lau-te minta dibelikan baju dan sepatu, marilah kita jalan jalan ke pusat pertokoan."

Setelah ke dua kakek itu meninggalkan hotel sembari jalan Lau-ho-li tanya Sam-bi-sin-ong. "Bukankah Su-lau-te itu sudah selesai pesan obat anti gas racun?"

"Betul, menurut keterangannya, paling cepat juga diperlukan waktu tiga hari." tutur Sam-bi-sin-ong.

"Menurut pendapat Pek-li-heng, kira-kira Su-lau-te itu dapat dipercaya atau tidak?" tanya Lau-ho-li dengan tersenyum.

Sam-bi-sin-ong meliriknya sekejap, jawabnya "Peta berada padaku, peduli dia dapat dipercaya atau tidak, memangnya apa yang dapat diperbuatnya?"

"Bisa jadi sebelum menyerahkan peta, lebih dulu ia sudah membaca peta itu hingga semuanya sudah apal di luar kepala," ujar Lau-ho-li.

"Ya, bisa juga terjadi begitu," kata Sam-bi-sin-ong. "cuma peta tidak sama dengan tulisan, biarpun dia sanggup mengapalkan garis-garis dan titik-titik yang ruwet dalam peta itu."

"Walaupun betul juga ucapanmu, namun aku rasa perlu juga berjaga-jaga segala kemungkinan." ujar Lau-ho-li.

"Apakah kau kuatir dia akan meninggalkan kita dengan membawa lari obat yang sudah jadi itu?" tanya Sam-bi-Sin-ong dengan tertawa.

"Betul," Lau-ho-li mengangguk. "Bisa jadi besok atau lusa obat itu sudah selesai dibuat, sebaiknya dia sengaja membohongi kita bahwa pembuatan obat itu perlu waktu tiga hari. Padahal besok lusa setelah obat selesai dibuat, pada kesempatan kita lengah bisa jadi dia terus membawa obat itu dan meninggalkan kita"

Sam-bi-sin-ong termenung sejenak, katanya kemudian, "Aku kira tidak sampai seburuk itu, peta berada pada kita, seharusnya dia tahu kita dapat menyusulnya."

"Eh, bagaimana kalau kita coba mencari keterangan kepada toko obat yang bersangkutan? ujar Lau-ho- li.

"Minta keterangan apa?" Sam-bi-sin-ong melengak.

"Kita tanya mereka bilakah obat yang dipesan itu akan selesai dibuat," tutur Lau-ho-li tertawa. Jika mereka bilang perlu waktu tiga hari, terbukti Su-lau-te tidak ada maksud mengkhianati kita. Bila pengusaha toko obat bilang besok atau lusa dapat ambil obat, itu menandakan anak muda itu sengaja main gila."

"Ya, betul juga," Sam-bi-sin-ong mengangguk setuju. "Tapi dari mana kau tahu kepada toko obat mana harus kita cari keterangan?"

"Ini sangat sederhana," ujar Lau-ho-li. "Tadi terlihat dia pulang ke hotel dalam waktu singkat ini menandakan dia pesan racikan obat pada toko obat yang berdekatan dari sini. Coba kau lihat, di sana ada sebuah toko obat, marilah kita tanya dan minta keterangan pada mereka."

Toko obat yang dimaksud memang benar adalah toko obat yang didatangi Su-Kiam-eng tadi.

Begitu Lau-ho-li masuk ke toko obat itu, segera dilihatnya si kakek pemilik toko sedang meramu obat pesanan Su-Kiam-eng, ia lantas menyapa, "Lau-heng, tolong aku tanya sesuatu padamu."

"Kalian ingin tahu apa?" tanya si kakek.

"Tadi, apakah benar keponakanku datang kemari memesan obat padamu?" tanya Lau-ho-li. Si kakek balas tanya, "Yang dimaksudkan anda, apakah seorang pemuda berusia 18-19 tahun?"

"Betul, ia didampingi pula seorang nona remaja," tutur Lau-ho-li.

"Oya, betul ada, obat yang sedang aku ramu ini tiada lain adalah obat yang dipesan keponakanmu itu," sahut si kakek dengan tertawa.

"Wah, sangat bagus," ujar Lau-ho-li. "Lantas, berapa hari baru obat yang kami pesan itu bisa jadi?" "Tiga hari!" jawab si kakek.

"Apakah tidak dapat dibuat lebih cepat sedikit?" Lau-ho-li menegas. "Tidak, tiga hari saja sudah terhitung cepat," ujar si kakek.

"Ya sudahlah, tiga hari lagi biar keponakanku sendiri yang mengambil obatnya, maaf telah mengganggu," kata Lau-ho-li.

"Oh, tidak apa, apakah Anda tidak duduk dulu?" ujar si kakek. "Terima kasih," ucap Lau-ho-li.

Setelah meninggalkan toko obat, dengan tersenyum Sam-bi-sin-ong berkata, "Nah, benar tidak? Kan sudah aku katakan pasti tidak menjadi soal, dasar si rase tua memang sok curiga."

"Curiga atau tidak, caraku cari keterangan kan juga tidak salah?" ujar Lau-ho-li sambil mengangkat bahu.

Sam-bi-sin-ong menuju ke suatu jalan simpang, katanya "Ayo, kita beli dulu sepatu dan baju ..."

Setelah segala sesuatu perbekalan dilengkapi, mereka berempat lantas menunggu di kota itu. Selain makan dan tidur Su-Kiam-eng suka ngelayap keliling kota dengan membawa Ih-Keh-ki.

Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li tidak peduli tingkah laku kedua anak muda itu, sebab mereka yakin takkan terjadi sesuatu mengingat peta pusaka berada ditangan mereka. Apa lagi setelah jelas mengetahui obat yang sangat penting itu baru akan jadi tiga hari lagi, maka gerak-gerik Su-Kiam-eng tidak diperhatikan oleh mereka.

Ketika malam ke tiga tiba, seperti juga hari sebelumnya, setelah makan, Kiam-eng mengajak keluar lagi Ih-Keh-ki.

Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li sudah bosan dengan keadaan kota Ting-ciong di waktu malam, mereka sungkan keluar, mereka minum arak bersama, iseng di kamar.

Tanpa terasa malam sudah larut, namun ke dua kakek itu belum lagi mendengar suara Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki yang pulang ke hotel. Tentu saja hati mereka rada kurang tentram.

"Aneh sudah jauh malam begini, mengapa mereka belum tampak pulang hotel?" kata Lau-ho-li.

"Mungkin mereka asyik cumbu rayu sehingga lupa daratan untuk tidur," kata Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Aku kira tidak begitu halnya, bukankah malam kemarin mereka pulang ke hotel dengan sangat dingin?" ujar Lau-ho-li dengan kening berkerenyit.

"Sudahlah, jangan banyak curiga lagi, obat yang dipesan baru jadi besok, andaikan mereka hendak kabur juga belum waktunya." kata Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

Namun Lau-ho-li tetap sangsi ia berbangkit dan berkata. "Coba kita mencari keterangan lagi kepada toko obat kemarin itu."

"Ai, masakah kau ukur diri orang lain dengan dirimu sendiri yang licik dan licin, ayolah duduk lagi," ujar Sam-bi-sin-ong.

Lau-ho-li merasa tersinggung, jengeknya, "Hm, memang betul aku ini orang rendah yang sok curiga, tapi bila kamu Sam-bi-sin-ong ingin menemukan kota emas itu, dalam segala hal kan perlu juga menaruh perhatian."

Sam-bi-sin-ong tampak agak tergugah, tanyanya, "Memangnya kau sangsi Su-Kiam-eng dan anak dara itu sudah kabur meninggalkan kira?" "Tidak," sahut Lau-ho-li. "Cuma, sampai saat ini mereka belum tampak kembali hotel, aku kira telah terjadi sesuatu yang tak terduga."

"Peta berada pada kita, obat pun masih diramu oleh toko obat, memangnya siapa yang menaruh minat terhadap mereka saat ini!" ujar Sam-bi-sin-ong.

"Pendek kata, tetap aku ragukan kelakuan mereka," kata Lau-ho-li. "Bagaimana kalau sekarang kita ke luar untuk mencari mereka?"

"Baiklah," akhirnya Sam-bi-sin-ong menyerah. "Kamu si rase tua ini memang suka sangsi dan tegang."

Setelah mereka meninggalkan hotel, terlihat jalanan kota sudah sepi, hanya terkadang saja kelihatan satu-dua orang lalu. Diam-diam Sam-bi-sin-ong juga merasakan keadaan yang agak tidak beres, ucapnya, "Marilah kita coba mencarinya ke toko obat kemarin itu."

Habis berkata segera ia mendahului melangkah lebar ke arah toko obat yang dimaksud.

Hanya sebentar saja dia sudah berada di depan toko obat itu, dilihatnya si kakek pemilik toko sedang hendak menutup pintu, cepat Lau-ho-li menyapa, "Eh, tunggu sebentar, juragan!"

Melihat Lau-ho-li, si kakek agak heran, tanyanya. "Hei, Anda ini kan orang mencari keterangan kemarin dulu itu ... "

"Betul," potong Lau-ho-li. "Sekarang ingin aku tanya, obat yang dipesan keponakanku itu apakah sudah selesai dibuat?"

"Eh, kenapa tanya lagi, bukankah obat itu sudah diambil oleh keponakanmu itu?" tutur si kakek dengan terbelalak heran.

Seketika air muka Lau-ho-li berubah, tanyanya terkejut, "Apa kau bilang? Jadi obat yang di pesan sudah diambil?"

"Ya, baru diambil beberapa jam yang lalu" sahut si kakek.

Sungguh Lau-ho-li hampir gila oleh kabar itu, kontan ia cengkeram tangan si kakek pemilik toko dan membentak, "Keparat, Bukankah kau bilang obat itu baru jadi dalam tiga hari?"

Si kakek meringgis kesakitan, teriaknya "Aduuh, sakittt! Lepaskan, lekas lepaskan tanganku ... "

Baru sekarang Lau-ho-li ingat lawan bukan orang persilatan dan tidak boleh diperlakukan dengan kekerasan, cepat ia lepaskan pegangannya, lalu berkata pula, "Semula kau bilang obat itu baru jadi dibuat tiga hari, mengapa malam ini juga sudah selesai dan diambil keponakanku?"

Si kakek meraba tangannya yang kesakitan jawabnya dengan menangis, "Habis habis keponakannya

Anda terus menerus datang mendesak minta aku kerjakan dengan melembur dan harus jadi hari ini. Tidak ada jalan lain, semalam suntuk aku lembur hingga pagi Ai dasar maksud baik malah

mendapatkan balasan buruk, datang-datang Anda marah padaku lagi, padahal aku kan menuruti segala permintaan langganan, kalian minta cepat dan segera aku kerjakan, masakah aku malah disalahkan?"

Dengan marah-marah Lau-ho-li berpaling berkata terhadap Sam-bi-sin-ong, "Nah, coba kau lihat sendiri. Memangnya aku sudah curiga, namun kamu si tua ini justru bilang tidak perlu sangsi. Sekarang apa abamu?"

Air muka Sam-bi-sin-ong juga berubah kelam, jengeknya terhadap si kakek pemilik toko obat, "Kau bilang obat sudah diambil berapa jam yang lalu?"

"Ya, begitu gelap malam tiba obat lantas diambil," tutur si kakek. "Kalian kalian kan sesama anggota

keluarga?"

Sam-bi-sin-ong tidak menjawab lagi, ia memberi tanda kepada Lau-ho-li dan mendahului tinggal pergi, gumamnya sambil berlari, "Ayo cepat, coba mereka mampu lari berapa jauh?"

Dengan langkah lebar Lau-ho-li menyusul meninggalkan toko obat itu hanya dalam sekejap saja mereka sudah menghilang.

Si kakek pemilik toko melongo heran, sampai sekian lama barulah ia menutup pintu lagi, lalu masuk ke ruangan dalam, ditolaknya pintu sebuah kamar sambil berseru, "Anak muda, sekarang kalian boleh ke luar."

Dengan cepat dua orang menyelinap ke luar dari balik tempat tidur yang berkelambu, siapa lagi mereka kalau bukan Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki.

"Bagaimana, apakah mereka sudah pergi?" tanya Kiam-eng dengan tersenyum.

"Sudah mereka pergi dengan marah-marah, haha, sungguh lucu ... " si kakek tertawa geli.

"Bisa jadi mereka putar kembali ke hotel untuk mengambil barang bawaan, maka kami belum boleh ke luar sekarang juga," ujar Kiam-eng.

Si kakek menunjuk dua kursi di situ, katanya "Jika begitu, silakan duduk lagi sebentar. Silakan!"

Kiam-eng mengucapkan terima kasih dan duduk bersama Keh-ki, tanyanya dengan tertawa, "Tadi aku dengar Lo-tiang menjerit, apakah dia mencengkerammu hingga kesakitan?"

"Betul, besar amat tenaganya, hampir saja pergelangan tanganku patah dipuntirnya. Wah, sampai sekarang pun masih sakit," tutur si kakek sambil meraba tangannya. "Eh, mengapa kalian sengaja menghindari mereka? Katanya mereka adalah paman kalian. Jangan-jangan bukan?"

"Betul, memang bukan," kata Kiam-eng dengan tertawa "Mereka sebenarnya dua orang penjahat, kami dipaksa ikut mereka memburu harimau ke Mo-pan-san!"

"O, kiranya begitu," ucap si kakek dengan kejut. "Wah, itu kan permainan dengan taruhan jiwa." "Ya, makanya kami berusaha kabur meninggalkan mereka." tutur Kiam-eng.

Ia sengaja mengobrol ke timur dan ke barat dengan si kakek, ia menduga Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li mungkin sudah meninggalkan Ting-ciong dan menuju ke Mo-pan-san, lalu ia mohon diri, katanya. "Sudahlah, mungkin saat ini mereka sudah berangkat cukup jauh, biarlah kami mohon diri."

Setelah meninggalkan toko obat itu, ke dua orang lantas kembali ke hotel dengan menyusur deretan emper rumah yang gelap.

Agaknya sampai sekarang Ih-Keh-ki belum lagi jelas apa maksud tujuan perbuatan Su Kiam eng itu, saking ingin tahu kembali ia tanya, "Kakak Eng, sekarang bolehkah kau beritahukan padaku sesungguhnya apa yang telah kau rancang?"

"Ssst, sabar dulu, nanti setelah meninggalkan Ting-ciong baru akan aku jelaskan," desis Kiam-eng. "Apakah selekasnya kita akan meninggalkan kota ini?" tanya Keh-ki pula.

"Betul, kita kembali dulu ke hotel untuk mengambil barang dan kuda kita, segera pula kita berangkat," tutur Kiam-eng.

"Berangkat ke mana?" si nona menegas.

"Menurut tempat yang misterius itu, mencari kota emas!"

"Oo, apakah tanda-tanda pada peta itu sudah kau apalkan di luar kepala?" "Tidak, belum apal."

"Lantas cara bagaimana untuk menemukan kota emas itu?"

Kiam-eng tidak menjawab, dengan langkah cepat mereka berada kembali di hotel. Terlihat beberapa pelayan sedang asyik bicara dengan kuasa hotel, begitu melihat kemunculan Su-Kiam-eng dan Keh-ki, mereka sama bersuara kaget.

Salah seorang pelayan lantas menyongsong kedatangan mereka dan menegur. "Ai, bagaimana ini, ada urusan apa dengan ke dua tuan tamu yang itu, masakah rekening tidak dibereskan terus kabur begitu saja?"

"Mereka kabur, kami berdua kan tidak kabur?" jawab Kiam-eng. "Jangan kuatir, kami yang membayar semua biayanya. Sekarang siapkan kuda kami, segera kami akan berangkat."

Sembari bicara ia terus lari ke kamar sendiri. Waktu ia buka pintu kamar, terlihat ke dua kantung rangsum dan barang lain masih ada di situ.

Segera ia angkat ke dua kantung perbekalan dan berkata kepada Ih-Keh-ki, "Ayo, kau bawa barang yang lain."

Cepat Keh-ki bebenah dan membungkus rapi barang lain, lalu dijinjing dan dibawa ke ruang depan hotel bersama Kiam-eng sementara itu pelayan sudah menyiapkan kuda mereka di depan pintu hotel.

Selesai membayar biaya menginap dan sebagainya, Kiam-eng menggantung ke dua kantung perbekalan di pelana kuda, lalu meninggalkan hotel dengan Ih-Keh-ki.

Hanya sekejap saja ke dua orang sudah jauh meninggalkan kota perbatasan itu.

Inilah malam dengan sinar bulan purnama maka mereka dapat melihat jelas dengan pegunungan di sekitar mereka. Keh-ki merasa jalan yang mereka tempuh sekarang ini tidak mirip jalan ke Mo-pan-san, maka ia coba tanya, "Kakak Eng, sebenarnya kita hendak pergi ke mana?"

Sembari melarikan kudanya dengan cepat sambil Kiam-eng menjawab, "Dengan sendirinya pergi mencari kota emas itu."

"Akan tetapi aku ingat benar letak Mo-pan-san kan berada di belakang kita sana?" teriak Keh-ki dengan agak mendongkol.

"Betul, tapi kota emas yang kita cari itu tidak berada di pegunungan tersebut." tutur Kiam-eng dengan tertawa. "Apa katamu? Kota emas itu tidak berada di Mo-pan-san maksudmu?" si nona menegas dengan terbelalak.

Mendadak Kiam-eng menghentikan lari kudanya dan melompat turun, katanya, "Mari turun, aku perlihatkan sesuatu padamu."

Dengan rasa bingung Keh-ki ikut melompat turun, tanyanya dengan sangsi. "Melihat barang apa?"

Kiam-eng menuntun kuda ke dalam hutan, lalu duduk di tanah, dari dalam baju luarnya satu lipatan kecil kertas, ucapnya sambil menyodorkan gulungan kertas itu kepada Keh-ki, "Coba kau lihat!"

Keh-ki menerimanya dan dibentangnya gulungan kertas itu, tanpa terasa ia berseru terkejut dan girang, "Hahh ... bukankah ini peta kota emas itu?"

"Tepat," ucap Kiam-eng sambil mengangguk. "Memang inilah peta kota emas yang hendak kita cari itu "

"Akan tetapi, barang apalagi yang kau berikan kepada Sam-bi-sin-ong dan Lau-ho-li itu?" tanya Keh-ki melengak.

"Itu peta palsu," tutur Kiam-eng.

Baru sekarang Keh-ki paham duduknya perkara, serunya, "Busyet! Jadi yang kau serahkan kepada mereka itu adalah peta palsu yang kau dapatkan dari Kui-kok-ji-bu-siang itu?"

"Betul, dan sekarang tentu kau paham segalanya?" tanya Kiam-eng dengan terbahak.

Keh-ki melonjak kegirangan, serunya gembira, "Aha, sungguh tak tersangka! Tak terduga engkau mempunyai akal sebagus ini, haha "

Setelah tertawa riang sejenak, kesempatan itu digunakan oleh si nona untuk menjatuhkan diri ke dalam mencurigai perbuatanmu ini?"

"Dengan sendirinya mereka pun bukan orang bodoh dan mudah dikelabui," ujar Su-Kiam-eng. "Meski Sam-bi-sin-ong juga tua bangka yang licik dan licin namun tidak seperti Lau-ho-li yang banyak curiga. Waktu di Cap-peng-lang tempo hari ia lihat sendiri Kui-kok-ji-bu-siang menyerahkan peta padaku, dengan sendirinya ia pun tahu peta itu palsu. Kemudian Ji-bu-siang kabur dengan ketakutan, Sam-bi-sin- ong lantas minta peta padaku. Pada waktu itu ia yakin aku tidak berani menyerahkan peta palsu kepadanya, maka dalam hatinya tiada menaruh curiga sedikit pun. Lalu muncul Lau-ho-li, dengan menggunakan Sai-hoa-to sebagai sandera ia pun minta bagian setengah potong peta padaku. Lantaran ia pun menyaksikan aku berikan setengah helai peta kepada Sam-bi-sin-ong, jika Sam-bi-sin-ong tidak menyaksikan tulen dan palsunya peta yang aku berikan, dengan sendirinya Lau-ho-li juga tidak menaruh curiga."

Keh-ki terkikik senang, "Hihi, sungguh menarik. Dan sekarang dengan membawa peta palsu itu mereka telah mengejar kita ke pegunungan Mo-pan-san?"

"Ya, mungkin besok atau lusa mereka pun akan sadar telah tertipu olehku," kata Kiam-eng dengan tertawa. "Akan tetapi mereka tidak memegang peta asli, pada hakikatnya mereka jangan harap akan dapat menemukan kita."

"Cara bagaimana mereka akan menyadari tertipu olehmu?" tanya Keh-ki.

"Pada peta palsu yang aku berikan itu terdapat banyak nama tempat semuanya nama tempat karanganku sendiri," tutur Kiam-eng. "Apabila mereka mencari tempat pertama sesuai petunjuk pada peta, tentu akan diketahui nama tempat yang mereka datangi tidak sama dengan nama tempat dalam peta. Dengan begitu mereka pun akan menyadari telah tertipu olehku."

Kembali Keh-ki membentang peta, ia coba membacanya lagi di bawah penerangan cahaya bulan, katanya kemudian, "Sesungguhnya kota emas itu terletak di pegunungan yang mana?"

Kiam-eng menunjuk satu lingkaran kecil dalam peta dan berkata, "Di sini. Coba kau lihat, dalam lingkaran kecil ini kan tertulis dua huruf 'kota emas' betul tidak?"

"Wah, jika demikian, kan letaknya tidak jauh dari Tiong ciong," seru Keh-ki. "Menurut tanda-tanda dalam peta, agaknya kita masih harus melalui berbagai tempat baru akan sampai di kota emas itu."

"Betul ," ucap Kiam-eng. "Menurut perkiraan untuk mencapai kota emas masih diperlukan perjalanan selama belasan hari lagi"

"Coba lihat, beberapa huruf yang ditulis su-heng mu, seperti Pek-ih, Naga, Gawa, Yao dan sebagainya ... apa artinya ini?"

Itu nama-nama suku bangsa setempat," tutur Kiam-eng. "Jika perjalanan diteruskan menurut petunjuk peta, kita harus melalui tempat-tempat tinggal suku bangsa tersebut."

"Konon berbagai suku bangsa yang hidupnya masih biadab suka makan orang, entah beberapa suku bangsa di wilayah ini juga makan orang atau tidak?"

"Siapa tahu? Mudah-mudahan tidak. Biarlah kita berlaku lebih waspada," ujar Kiam-eng. "Wah, semoga jangan bertemu dengan manusia biadab yang suka makan orang, kalau tidak, bisa mati konyol kita," ujar Keh-ki.

"Betapapun liarnya mereka, dengan bekal kung-fu kita masakah perlu takut?" "Ya, tetapi kalau ... kalau mereka menggunakan ilmu hitam, kan bisa celaka?"

Menurut cerita Sai-hoa-to, asalkan kita tidak makan barang buruan mereka dan tidak sembarangan mengambil barang yang kita lihat, tentu kita akan aman."

"Aneh juga, mengapa dalam lingkaran kecil ini hanya tertulis dua huruf Kota emas saja dan tidak ada keterangan terletak di pegunungan atau tempat mana ... "

"Mungkin tempat yang dimaksud itu terletak di tengah hutan belukar yang tidak dikenal namanya dan tidak terdapat gunung segala."

"Menurut ceritamu, katanya su-heng mu hendak pergi ke Mo-pan-san untuk mencari Jian-lian-hok-leng, mengapa dia berbalik datang ke tempat yang tidak jelas namanya ini?"

"Bisa jadi di Mo-pan-san tidak terdapat Jian-Lan-hok-leng yang dicarinya itu, maka akhirnya su-heng ku mencari ke tempat seperti tersebut dalam peta ini."

"Akhirnya dia akan menemukan Jian-lian-hok-leng, akan tetapi mengapa obat mujarab yang telah ditemukan itu tidak dibawanya pulang ke Tiong-goan melainkan di taruh di kota emas itu? "Aku yakin tentu ada sebabnya, bisa jadi ada sangkut-pautnya dengan cacat tubuhnya itu ..." Bicara sampai di sini, mendadak beberapa puluh meter dalam hutan di belakang mereka timbul suara riuh bunyi burung.

Terkesiap hati Kiam-eng, cepat ia rebut peta dari tangan Keh-ki dan disimpan kembali lalu melompat bangun sambil melolos pedang dan membentak, "Siapa itu?!"

Keh-ki ikut melompat bangun dan memandang kian kemari, namun tidak terlihat munculnya musuh, katanya dengan kurang puas, "Ah, jangan sok tegang, mana ada orang?"

"Ada, pasti ada!" ucap Kiam-eng yakin. "Kalau tidak, tak mungkin kawanan burung dalam hutan bisa terbang terkejut."

Keh-ki pikir benar juga alasan anak muda itu kembali ia celingukan kian kemari dan coba membentak, "Hai, kawanan penyamun dari mana itu? Maling kecil yang buta, ayolah keluar menemui nonamu, kalau berani!"

Namun setelah suara ribut bunyi burung tadi suasana kembali sunyi senyap dan tiada terdengar suara yang mencurigakan lagi.

Keh-ki memandang Kiam-eng katanya, "Mengapa tidak ada sesuatu?"

Kiam-eng coba mendengarkan dengan cermat dan memang tidak terdengar sesuatu yang ganjil maka ia tertawa, "Ya, mungkin aku salah dengar. Bisa jadi ada ular atau binatang yang merambat ke atas pohon sehingga mengejutkan kawanan burung yang tidur di atas pohon itu."

Habis berkata, segera ia mendekati kuda dan berkata. "Ayo, kita mencari suatu tempat lain untuk bermalam."

Begitulah mereka lantas mencemplak lagi ke atas kuda dan melanjutkan perjalanan ke tengah lereng gunung. Meski di depan mata hanya tebing gunung yang terjal, tapi lantaran jaraknya dari Ting-ciong tidak jauh, maka tetap ada jalan setapak yang dapat dilalui kuda mereka.

Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh li di bawah cahaya bulan, akhirnya mereka menemukan sebuah gua alam. Segera mereka berhenti dan masuk ke gua itu, mereka membersihkan gua itu sekadarnya untuk dijadikan tempat pondokan.

Dengan sendirinya, Kiam-eng tidak dapat tidur benar-benar. Maklum, suara burung terkejut di hutan tadi tetap membuatnya curiga, ia merasa suara burung itu bukan terkejut oleh karena gangguan binatang melainkan kaget karena sesuatu gangguan lain. Maka ia tidak berani terlena, ia cuma berbaring di dalam gua dan mendengarkan dengan cermat, berbareng juga timbul pikirannya jangan-jangan ada orang

diam-diam membuntuti perjalanan mereka.

Ia pikir Kui-kok-ji-bu-siang sudah digertak lari, mungkin mereka tidak berani datang lagi. Tok-pi-sin-kun meski tahu letak kota emas yang dicari, namun dia terluka kena pukulan Sam-bi-sin-ong, sedikitnya perlu istirahat setengah tahun baru dapat pulih kembali, anak buahnya jelas tidak ada keberanian untuk ikut berebut harta karun ke lereng gunung yang berbahaya itu.

Maka sisanya hanya dimungkinkan oleh orang-orang Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Thai-kek-pai, Kong- tong-pai dan sebagainya seperti It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan lain-lain.

Rombongan Khu-Bu-peng itu berjumlah belasan orang, apakah mereka tahu peta yang dirampas Kui- kok-ji-bu-siang itu palsu atau bukan, yang jelas mereka tidak nanti mau berhenti begitu saja sebelum mendapatkan peta yang diharapkan itu. Sebab itulah setelah tidak berhasil menyusul Ji-bu-siang. mereka pasti juga akan menuju ke selatan untuk mengadu untung.

Akan tetapi mereka terkenal dari perguruan ternama dan golongan orang baik, jika main kuntit terasa malu bila diketahui akan perbuatan mereka itu. Karena itulah terpaksa main-main kuntit secara sembunyi-sembunyi sehingga mengejutkan kawanan burung tadi.

Berpikir sampai di sini, hati Kiam-eng merasa rada terhibur, sebab itu merasa orang yang diam-diam membuntutinya. Jika benar, maka dengan kung-fu sendiri, ditambah lagi Ih-Keh-ki, tentu mereka tidak perlu takut akan "dimakan" lawan.

Tampak Keh-ki juga sedang merenungkan sesuatu setelah berbaring diam sejenak, tiba-tiba ia mendesis. "Kakak Eng!" "Ada apa?" tanya Kiam-eng. "Engkau sudah tidur?"

"Ya. kantuk!"

"omong kosong," omel Keh-ki. "Kalau sudah tidur masakah dapat menjawab." "Habis, engkau sendiri tidak dapat tidur?" Kiam-eng balas tanya.

"Ya, hawa sangat panas, aku tidak dapat pulas ..."

"Kan sejak mula sudah aku katakan wilayah selatan ini tidak biasa bagimu dan jangan ikut kemari, namun kamu paksa minta ikut. Sekarang baru kau tahu rasa."

"Hm, aku cuma memberitahukan hawa sangat panas dan sukar pulas, aku kan tidak menyesali apa pun , kenapa engkau jadi omong macam-macam?"

"Baiklah, kalau tidak menyesali ya lekas tidur saja!" "Tidak, aku tidak dapat pulas, aku sedang berpikir ..." "Berpikir urusan apa?"

"Mengenai kota emas itu!"

"Bisa jadi pada jaman purba di tempat ini pernah mengalami kejayaan dan kemakmuran, maka meninggalkan sebuah kota emas yang megah ini."

"Akan tetapi, mengapa kemudian kota emas tidak ada penghuninya?"

"Mungkin terjadi peperangan antar suku, bisa juga berjangkit penyakit menular sehingga seluruh penduduk kota emas ini mati ludes,"

"Ya. aku kira hal yang belakangan ini lebih masuk akal, tentu semuanya mati ludes akibat penyakit menular. Coba kau lihat, hawa sedemikian panas, bilamana sepanjang tahun tinggal di tempat seperti ini, mustahil kalau tidak jatuh sakit dan mampus."

"Oo"

"Ada lagi, mengapa di dalam kota tanpa penghuni terdapat emas sebanyak itu?" "Siapa tahu. Mungkin di daerah sini memang menghasilkan emas."

"Kalau begitu, mengapa suku bangsa yang tinggal di sekitar kota emas itu tidak berusaha mengambil partai emas berjumlah besar itu?"

"Mungkin mereka belum lagi tahu emas adalah semacam benda yang berharga tinggi!"

"Ai, sungguh aku sangat ingin segera dapat tiba di kota emas itu, agar dapat aku lihat sesungguhnya bagaimana bentuk kota misterius itu."

"Segera tiba di sana? Haha, paling banter besok kita baru dapat mencapai sebuah tempat pertama seperti petunjuk dalam peta, suatu tempat yang jauh dari peradaban manusia."

"Tempat apakah itu?"

"Mungkin di tempat itu juga ada manusia ada gunung dan juga ada air."

"Persetan! Memangnya di tempat mana dunia ini tidak ada manusia? Dan di mana tidak ada gunung dan air?"

"Aku kan tidak pernah mendatangi tempat liar seperti itu, habis cara bagaimana harus aku katakan?"

"Begini, aku lihat jalan pegunungan ini makin lama makin sulit ditempuh, bilamana kuda kita sudah sukar melalui jalan ini, lalu cara bagaimana kita akan mengatur kuda tunggangan kita ini?" "Dapat kita mencari suatu rumah penduduk dan kita titip kuda padanya."

"Baru saja beberapa puluh li perjalanan kita tempuh, pada hakikatnya tiada terlihat sebuah rumah penduduk pun di sepanjang jalan."

"Bisa jadi besok akan kita temukan rumah penduduk," ujar Kiam-eng.

"Apabila tidak menemukan rumah penduduk, juga menghadapi jalan buntu yang sukar dilalui kuda, lalu bagaimana nanti?"

"Ai, janganlah kamu berpikir sejauh itu."

"Tidak boleh tidak harus aku pikirkan, kau tahu sangat berat bagiku bila aku harus kehilangan kuda kesayanganku si naga hitam."

"Tapi meski sekarang kau pikir dan gelisah juga tidak ada gunanya, lebih baik tidur saja secukupnya, ketahuilah besok kita masih menempuh perjalanan di lereng gunung yang sulit ini."

"Baiklah, ayo tidur ..."

Pada dasarnya Ih-Keh-ki memang bukan seorang nona yang mudah menyerah dan cepat sedih maka tidak lama ia pun terpulas.

Su-Kiam-eng tetap tidak berani tidur, lihat si nona sudah tidur nyenyak, perlahan ia lantas bangun dan duduk semadi, ia kesampingkan berbagai pikiran yang berkecamuk dalam benaknya dan berusaha memusatkan ketenangan batin.

Lwe-kang perguruannya memang semacam lwe-kang kelas tinggi, begitu memasuki alam ketenangan batin tidak lama kemudian segala kelelahan lahir batin pun tersapu bersih. Lantaran harus berjaga kemungkinan diserang musuh dan juga perjalanan esok yang masih harus ditempuh, maka ia gunakan semadi sebagai gantinya tidur.

Namun di luar dugaan, semalam suntuk ternyata tidak terjadi sesuatu apa pun. Ketika terdengar kicau burung yang merdu nyata fajar sudah menyingsing.

Su-Kiam-eng berdiri dan ke luar gua, ia merasa pagi yang sejuk itu sangat cocok untuk meneruskan perjalanan. Segera ia putar balik ke samping Ih-Keh-ki, perlahan ia tepuk bahu si nona dan berkata, "Bangunlah Keh-ki, sudah pagi!"

Keh-ki membalik tubuh dan bangun, ia kucek-kucek matanya yang masih sepet dan bertanya "Oo, hari sudah pagi?"

"Ya, masakah tidurmu belum lagi cukup?" ujar Kiam-eng tersenyum.

Si nona tertawa malu, "Marilah, kita mencari sumber air untuk cuci muka."

Mereka mendapatkan sumber air tidak jauh di luar gua, setelah cuci muka seperlunya, mereka mengeluarkan rangsum kering untuk mengisi perut. Lalu naik kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan.

Mereka meneruskan perjalanan menurut apa yang terlukis dalam peta, namun jalan pegunungan yang dilalui makin jauh makin sulit. Menjelang lohor, sampailah mereka di suatu lembah, di lembah gunung ini terdapat beberapa puluh rumah penduduk.

Girang sekali Kiam-eng melihat ada rumah penduduk, serunya, "Ah, bagus sekali. Kita dapat menitipkan kuda di sini."

"Entah suku apa yang tinggal di lembah ini?" tanya Keh-ki.

"Aku pun tidak tahu, marilah kita coba melihatnya ke sana," kata Kiam-eng.

Dengan menuntun kuda masing-masing mereka berjalanan mendekati lembah itu, terlihat penduduk lembah gunung ini berkulit badan putih meski baju mereka agak aneh, setiap orang perempuan berwajah cantik manis dan bertubuh ramping. "Ah, mereka ini tentu suku Pek-ih," seru Kiam-eng girang. "Inilah salah satu suku bangsa terasing yang paling ramah.

Melihat para wanita Suku Pek-ih itu rata-rata cantik molek hati Keh-ki merasa agak kuatir, katanya, "Hm, dari mana kau tahu mereka ini suku Pek-ih? Dari mana pula kau tahu watak mereka ramah? Bukan mustahil mereka justru suku makan orang."

Kiam-eng tertawa, katanya, "Jangan omong kosong. Aku tahu suku ini pasti Pek-ih dan tidak salah lagi, istri su-heng ku itu pun berasal dari suku bangsa ini."

"Wah, bagus sekali, agaknya kau pun dapat mencari istri di sini," ujar Keh-ki. Kiam-eng melengong, tanyanya dengan tertawa, "Hei, ada apa kamu ini?" "Memang kenapa, tidak boleh?" sahut Keh-ki dengan mencibir.

"Sudahlah, jangan sembarangan omong, mari kita menitipkan kuda di sana dan segera berangkat lagi

..."

Begitulah mereka lantas mendekati selat gunung sana.

Melihat dua orang asing memasuki daerah mereka, suku Pek-ih itu serentak merubung mereka. Yang lelaki memandangi Ih-Keh-ki, yang perempuan memandang Kiam-eng, semuanya dengan air muka penuh rasa heran dan kejut serta kagum.

Kiam-eng memberi salam kepada mereka, lalu bertanya, "Adakah diantara kalian yang paham bahasa Han?"

Seorang perempuan Pek-ih dengan wajah cantik tampil ke depan, katanya dengan tertawa. "Aku dapat bicara bahasa Han, mau kah kalian ke rumahku?"

"Bagus sekali!" seru Kiam-eng kegirangan "Siapakah nama Nona?" "Nan-si, dan engkau sendiri siapa?" jawab perempuan Pek-ih itu.

Kiam-eng jadi kikuk sendiri oleh jawaban spontan si Nan-si, katanya dengan tertawa, "Oo namaku Su- Kiam-eng ... Eh, nona Nan-si, ada suatu urusan perlu aku minta bantuanmu, apakah boleh?"

Nan-si mengangguk dan menjawab. "Boleh saja, silakan bicara."

Sembari menunjuk Keh-ki, Kiam-eng berkata "Aku dan adik perempuanku ini hendak mencari obat- obatan di pedalaman lereng gunung sana, akan tetapi setiba di sini kuda kami sukar meneruskan perjalanan lagi, maka maksud kami ingin titip ke dua ekor kuda di rumahmu, apakah boleh?"

Nan-si memandang Ih-Keh-ki sekejap, tanyanya dengan sangsi, "Benar dia adik perempuanmu?" "Ya, adik perempuan kangdungku," Kiam-eng mengangguk.

Jawaban ini membuat Nan-si tersenyum ramah terhadap Ih-Keh-ki, lalu ia berpaling dan berkata kepada Kiam-eng, "Baiklah, silakan kalian istirahat dulu ke rumahku."

Habis berkata segera ia hendak menuntun kuda Kiam-eng.

Sekilas Kiam-eng melihat air muka Ih-Keh-ki bersungut, cepat ia berkata, "Tidak, kami tidak dapat buang-buang waktu, kami segera harus berangkat lagi."

Nan-si tampak kurang senang, ucapnya, "Mengapa terburu-buru?"

"Soalnya ada seorang sakit sedang menantikan kepulangan kami dengan membawa obat, maka tidak boleh tinggal lama-lama dalam perjalanan ... " Sembari bicara Kiam-eng menyodorkan 20 tahil perak kepada Nan-si dan menambah, "Sedikit uang perak ini harap nona terima dengan baik sekadar mengganti ongkos perawatan kuda. Selang beberapa hari lagi bila kami pulang kemari, tentu kami akan sangat berterima kasih kepada nona.

Nan-si menerima uang perak itu dengan ragu, tanyanya, "Berapa hari lagi baru kalian akan pulang kemari?"

"Tidak pasti," jawab Kiam-eng. "Apabila obat yang kami cari sudah didapatkan, segera pula kami kembali ke sini."

"Pulangnya nanti apakah kalian sudi tinggal beberapa hari dirumahku?" tanya Nan-si.

"Baiklah, asalkan dengan cepat mendapatkan obatnya, dengan suka hati kami menerimanya undanganmu untuk merepotkanmu selama beberapa hari."

Nan-si sangat girang, serunya "Bagus, engkau jangan bohong ya?" "Tidak, pasti tidak!" jawab Kiam-eng.

"Baiklah," Nan-si mengangguk. "Sekarang serahkan kuda kalian kepadaku dan silakan kalian berangkat."

Kiam-eng dan Keh-ki menurunkan kantung perbekalan yang termuat di pelana kuda dan menyerahkan kuda kepada Nan-si, lalu mohon diri.

Setelah meninggalkan selat gunung itu, tanpa terasa Keh-ki mengomel, "Huh, tidak tahu malu. Sungguh tidak terduga di dunia ada nona sedemikian tebal kulit mukanya."

Cepat Kiam-eng menukas, "Tidak, memang begitulah watak suku bangsa mereka dan bukan sengaja ..." "Huh, bagus sekali, baru sekali bertemu kamu sudah membela dia," jengek Ih Keh-ki mendongkol.

Mau-tak-mau Kiam-eng rada aseran, ucapnya dengan kening berkerenyit, "Aneh juga, mengapa kau bicara tidak keruan juntrungannya?"

"Hm, kau sendiri yang bicara tidak keruan," jawab Keh-ki marah. "Memangnya dalam hal apa aku bicara tidak keruan?" tanya Kiam-eng.

"Habis, kau bilang aku ini adik kandungmu, coba jelaskan, apa maksudmu?" tanya Keh-ki dengan mata merah.

"Kiam-eng melengak, tapi ia lantas tertawa geli, tuturnya, "Ai, jangan salah paham. Coba pikir, jika aku tidak bilang begitu, mana dia mau terima titipan kuda kita?"

"Demi menitipkan kuda, lantas kamu sangka aku ini siapa dan apamu?"

Melihat si nona makin bicara makin sedih, Kiam-eng tidak berani berolok-olok lagi, ucapnya dengan tertawa, "Ya, sudahlah, anggap aku salah omong, biarlah aku minta maaf padamu, jadi?"

"Tidak perlu!" omel Keh-ki dengan mulut menjengkit.

"Habis apa yang harus aku lakukan?" tanya Kiam-eng dengan tertawa. "Kamu harus bersumpah!" kata si nona.

"Baik, baik aku bersumpah, bilamana pada suatu hari aku Su-Kiam-eng berubah pikiran dan jatuh hati pada gadis lain, biarlah aku mati di tengah hamburan batu."

Keh-ki melengong. "Apa artinya mati di bawah hamburan batu?"

Kiam-eng menuding ke atas dan menerangkan. "Coba kau lihat, sekarang kita sedang menempuh perjalanan di bawah tebing yang curam seperti ini, bilamana mendadak dari puncak gunung satu menggelinding beberapa potong batu besar, bukankah akan ..."

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong dari atas tebing sana benar-benar jatuh tiga potong batu raksasa seberat ribuan kati, karena batu membentur dinding tebing sehingga menimbulkan suara gemuruh.

Keruan Kiam-eng terperanjat, cepat ia tarik Keh-ki dan berseru, "Lekas mundur, Keh-ki!"

Reaksi Keh-ki juga sangat gesit dan cepat di bawah tarikan Kiam-eng, langsung ia pun melompat mundur.

Namun ke tiga potong batu raksasa yang jatuh dari atas tebing itu daya turunnya secepat kilat, pada saat mereka baru melompat mundur dua-tiga meter jauhnya, sebelum mereka berdiri tegak, terdengarlah suara gemuruh keras, ke tiga potong batu itu tepat jatuh di tengah jalan setapak hingga jalan di tepi tebing itu ambrol dan longsor.

Tempat berpijak Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki pun termasuk di bagian yang longsor, maka baru kaki mereka menyentuh tanah, seketika ikut tergelincir ke dalam jurang.

Dalam jurang itu sukar diukur, bilamana mereka terjerumus ke bawah, mustahil kalau tidak hancur lebur.

Akan tetapi, pada detik yang menentukan mati dan hidup itulah, serentak Kiam-eng dan Keh-ki mengeluarkan suitan panjang, tanpa berjanji mereka berbareng meloloskan pedang dan menancapkan pedang ke dinding tebing sekuatnya.

Dinding tebing hampir seluruhnya terdiri dari batu karang yang keras, akan tetapi tusukan kuat mereka berbareng itu, pedang masing-masing dapat ambles setengah meteran ke dalam dinding dan dengan demikian tubuh mereka tertahan sehingga terlolos diri rengutan maut.

Akan tetapi dalam keadaan menggelantung di atas jurang, keadaan mereka tetap sangat berbahaya. Ketika kebetulan Kiam-eng mendongak ke atas. Tiba-tiba dilihatnya di puncak gunung sana menongol tiga buah kepala manusia berkedok sedang memandang ke arah mereka berdua.

Keruan Kiam-eng kaget, serunya, "Keh-ki, di atas tebing ada musuh, lekas kita berusaha melompat ke atas jalan tadi."

Sambil bicara, jari tangan kirinya mencengkeram dinding tebing sekuatnya, tangan kanan digunakan menarik pedang yang menancap di dinding itu, menyusul ujung kaki memanjat dinding, dengan ringan dan cepat serupa burung terbang ia melayang ke bagian jalan setapak yang tidak longsor sana.