Rahasia 180 Patung Emas Jilid 09

 
Jilid 09 

Esok paginya, dia masih lelap tidur ketika terjaga bangun oleh suara berisik turunnya ruang tangga otomatis itu. Cepat ia lompat bangun, dilihatnya pendatang adalah lelaki kekar she Ciu kemarin itu, datang dengan membawa sebakul makanan.

Melihat makanan yang dibawakan semalam masih tetap di situ, orang itu merasa heran, tanyanya, "Hei, kenapa tidak kau makan?"

Kiam-eng menjawab dengan tertawa, "Semalam tidak lapar, tapi ini aku harus makan sekenyangnya."

lelaki itu tidak menanggapinya lagi ia taruh bakul makanan yang dibawanya itu dan membawa pergi bakul kemarin ke dalam ruang tangga, dari situ dibawa keluar lagi satu bakul lain dan menuju ke kamar tahanan sebelah kanan.

Dengan sendirinya Kiam-eng tahu makanan itu hendak diantarkan kepada Sin-jio Pan-Cong-bun, namun ia berlagak tidak tahu dan sengaja tanya, "Eh, Lau-heng (saudara), bakul itu kau bawakan untuk siapa?"

"Untuk ini kamu tidak perlu urus," jawab lelaki itu.

"Apakah di kamar sebelah juga ada orang tahanan?" tanya Kiam-eng pula.

Orang itu tidak menjawab, ia keluarkan anak kunci untuk membuka pintu pagar besi sebelah dan mendekati kamar tahanan Pan-Cong-hun, bakul kosong yang lain dan segera hendak tinggal pergi. Tiba- tiba ia dengar suara rintihan perlahan Pan-Cong-hun, ia terkesiap dan coba tanya, "Hei, kamu kenapa?"

Dengan suara lemah dan terputus-putus Sin-jio Pan-Cong-bun merintih pula, "Aduh ... entah ... entah mengapa ... kepalaku sakit sekali!"

"Apakah sangat parah sakitnya?" tanya lelaki itu dengan tertawa. "Ya, sakit sekali ... Mungkin ajalku sudah ... sudah tiba ... "

"Apakah perlu aku laporkan kepada Sin-kun?" tanya lelaki kekar tadi. "Tidak ... tidak perlu, bila aku lihat dia segera aku naik ... naik darah ..."

"Bisa jadi setelah melihat sakitmu parah dan mengingat usiamu sudah tua, mungkin Sin-kun akan membebaskanmu," ujar orang itu dengan tertawa. "Sudahlah, aku tahu hanya sesudah ... sesudah mati baru dapat aku tinggalkan tempat ini, kenapa perlu kau bicara begitu untuk mengejek? Auuh, sakit ..."

"Bangun dan makanlah, bisa jadi sesudah makan kenyang kepalamu takkan sakit lagi," ucap orang itu dengan tertawa.

Namun Pan-Cong-hun hanya merintih dan tidak menjawab lagi.

Orang itu juga tidak bicara pula, ia mengundurkan diri, pagar besi digembok kembali, lalu tinggal pergi dengan naik tangga otomatis itu.

Kiam-eng merasa lapar, segera ia meraih makanan dalam bakul yang ditaruh di luar pagar besi itu terus dimakan.

"Duk-duk-duk!" terdengar dinding diketuk tiga kali oleh Pan-Cong-hun di sebelah, cepat Kiam-eng menolak batu dinding yang sudah longgar itu dan bertanya, "Ada apa?"

Sin-jio Pan-Cong-hun memicingkan mata dan berkata dengan tertawa, "Bagaimana, cukup bagus bukan sandiwaraku?"

"Ehm, bagus," jawab Kiam-eng tertawa. "Sebentar sesudah aku makan kenyang bolehlah kita bertukar kamar tahanan."

"Kira kira masih lima jam lagi baru dia akan mengantarkan makanan pula," kata Pan-Cong-hun. "Jika begitu biarlah kita menunggu dengan sabar," ucap Kiam-eng.

Sehari ini mereka merasakan sang waktu berlalu dengan terlampau lambat. Akan tetapi betapapun lambatnya sang waktu tetap berlalu juga.

Tidak lama setelah petang, kembali lelaki kekar she Ciu itu datang lagi mengantarkan dua bakul santapan ke penjara di bawah tanah itu.

Salah satu bakul itu ditaruhnya di depan kamar tahanan Su Kiam-eng, ketika ia lihat Kiam-eng sedang tidur lelap dengan muka menghadap ke dinding, ia coba menegurnya, "Hei, ini santapan malam bagianmu!"

Kiam-eng tidak menjawab, juga tidak bergerak sama sekali, tidurnya seperti sangat nyenyak.

Orang itu tidak menggubrisnya lagi, ia jinjing bakul makanan yang lain, membuka pagar besi sebelah kanan dan menuju ke kamar tahanan Sin-jio Pan-Cong-hun.

Sekilas terlibat santapan siang yang ditaruh di depan pintu itu ternyata masih utuh, tentu saja ia heran dan sangsi, ia coba memandang Sin-jio Pan-Cong-hun yang berada di kamar tahanan, dilihatnya orang tua itu meringkuk diam saja. Seketika ia bersuara kaget.

Kiranya ia lihat Pan-Cong-hun menggeletak di atas dipan batu dengan muka menghadap ke bawah, kedua tangan mendekap kepala, tubuh tampak kaku, jelas sudah mati.

Sudah beberapa tahun lelaki itu bertugas mengantar makan untuk Pan-Cong-hun, lama-lama tentu timbul juga perasaan akrab, maka dia agak menaruh simpati terhadap ahli teknik itu. Sekarang diketahui orang tua itu menggeletak di situ, tampaknya seperti sudah mati, seketika ia menjadi gugup, cepat ia taruh makanan dan membuka selot pagar besi, lalu menekan tombol untuk menaikkan pagar besi dan menerobos ke dalam.

Cepat ia melompat ke depan Pan-Cong-hun dan diangkatnya sambil tanya, "Hei, kamu ... "

Namun cuma satu kata saja sempat di ucapkannya, sebab mendadak ia melengong dan segera roboh terkulai.

Sin-jio Pan-Cong-hun lantas melompat bangun dari rangkulan tangan orang itu, sekaligus menutuk pula hiat-to bisu orang, katanya dengan tertawa, "Aku kenapa? Aku kan tidak mati!"

Kiranya Sin-jio Pan-Cong-hun ini bukan lagi Pan-Cong-hun yang asli melainkan samaran Su-Kiam-eng. Anak muda itu tidak mengubah wajahnya, hanya baju dan sepatu Pan-Cong-hun saja yang dipakainya. Maka orang itu tidak dapat mengenalinya sebelum berhadapan dari dekat.

Setelah menutuk roboh orang itu, selera Kiam-eng mendekati dinding, dibukanya batu dinding yang longgar itu, lalu mendesis terhadap Pan-Cong-hun asli yang menunggu di kamar sebelah, "Hei, Lo-tiang, lekas menerobos kemari!"

Cepat Sin-jio Pan-Cong-hun melompat bangun dari dipan batu dan menerobos kembali ke kamar tahanan sendiri, ia pandang orang she Ciu yang menggeletak di lantai dengan kaku itu, ucapnya dengan agak kuatir, "Hei, apa ... apa dia mati?"

Kiam-eng menggeleng, jawabnya tertawa "Tidak, aku cuma menutuk hiat-to kelumpuhan dan hiat-to bisunya saja."

"Mendingan begitu," ujar Pan-Cong-hun lega. "Pada dasarnya orang ini tidak jahat, janganlah kau bunuh dia."

"Tidak, biasanya aku memang tidak suka membunuh orang," ujar Kiam-eng tertawa. Sembari bicara ia terus mengangkat orang she Ciu itu ke atas dipan batu.

Pan-Cong-hun lantas membuka baju dan sepatu Su-Kiam-eng yang dipakainya itu dan dikembalikan kepada anak muda itu, katanya dengan tertawa, "Nah, lekas kau pun kembalikan baju dan sepatuku."

Setelah kedua orang saling tukar baju dan sepatu, lalu Su-Kiam-eng mendahului meninggalkan kamar tahanan, menerobos pintu pagar besi dan masuk ke ruang tangga otomatis.

Di dalam ruang tangga naik-turun otomatis itu ada tiga buah tombak, Su Kiam-eng tidak paham cara mengatasinya, cepat ia tanya Pan-Cong-hun yang sudah ikut masuk ke situ, "Lo-tiang, cara bagaimana mengendalikan ruang naik-turun ini?"

Dengan sebuah jari Pan-Cong-hun menekan tombak sebelah kanan, katanya dengan suara tertahan, "Yang ini adalah tombol tutup buka pintu."

Benar juga, begitu tombol itu ditekan, segera pintu ruang tangga mulai merapat.

Sin-jio Pan-Cong-hun menekan lagi tombol yang tengah dan berkata, "Yang ini untuk naik!"

Kiam-eng sangat senang, katanya, "Entah bagaimana keadaan di atas sana, janganlah begitu kita keluar dari ruang tangga ini segera kepergok oleh Tok-pi-sin-kun."

"Agaknya tidak," ujar Sin-jio Pan-Cong-hun dengan tersenyum.

"Kabarnya dia selalu dikelilingi banyak perempuan cantik," tanya Kiam-eng.

Pan-Cong-hun mengangguk, "Ya, dia memang seorang maniak seks, satu hari hari tidak tidur dengan orang perempuan mungkin bisa mencret."

"Jadi di kamar tidurnya juga senantiasa tersedia perempuan cantik?" Kiam-eng menegas.

"Betul," tutur Sin-jio Pan-Cong-hun. "Kamar tidurnya sangat luas, di tengah kamar ada sebuah kolam air hangat dengan peralatan serba mewah, dia dan para perempuan cantik itu sering berendam di dalam kolam dan tidak segan segan main gila di dalam air. Maka bila maksudmu masuk ke kamarnya hendak mencuri peta, aku kira sangat sulit akan berhasil."

"Betapapun sulitnya juga harus coba," ucap Kiam-eng tegas. "Paling-paling ..." "Ssst ..." mendadak Pan-Cong-hun mendesis, "sudah sampai ..."

Baru lenyap suaranya, tepat juga ruang tangga itu lantas berhenti bergerak.

Sikap Pan-Cong-hun tampak tegang, tanyanya dengan ragu, "Bagaimana, buka tidak?" "Ehm, buka saja," sahut Kiam-eng dengan mengangguk.

Setelah Pan-Cong-hun menekan tombol, pintu ruang tangga mulai terbuka dengan perlahan. Yang pertama masuk ke pandangan Su Kiam-eng adalah sebuah ruang batu yang sangat luas dan ternyata kosong, tiada seorang pun terlihat. Dengan girang segera Kiam-eng hendak melangkah ke luar, akan tetapi Sin-jio Pan-Cong-hun keburu menariknya, "Jangan tergesa-gesa, hendaknya engkau ikut di belakangku saja."

Kiam-eng terkesiap, cepat ia menarik diri dan bertanya, "Apakah ruang batu ini pun terpasang alat perangkap?"

Sin-jio Pan-Cong-hun tidak menjawab, ia berjongkok untuk memeriksa sepotong batu lantai dekat pintu ruang tangga dengan sikap prihatin dan tegang.

Kiam-eng ikut berjongkok dan bertanya dengan suara lirih, "Apa yang Lo-tiang periksa di sini?"

Sin-jio menunjuk batu lantai itu, katanya, "Coba lihat ubin lantai ini, warna-warni ubin ini adalah semacam tanda rahasia, setelah memeriksa gambar ubin ini baru diketahui permainan apa yang terpasang di ruang batu ini ..."

Sembari bertutur ia terus memeriksa dengan teliti.

Kiam-eng menunggu dengan sabar, dilihatnya orang tua itu mengernyitkan kening, lalu termangu- mangu. Ia coba tanya lagi, "Bagaimana, Lo-tiang?"

Sin-jio termenung lagi sejenak, jawabnya kemudian, "Sungguh aneh, jangan-jangan semua tanda rahasia di tempat ini telah diganti seluruhnya oleh Tok-pi-sin-kun?"

Keterangan si ahli teknik tua itu membuat Kiam-eng merasa gelisah, ia pikir bilamana benar semua tanda rahasia di situ telah diganti, ini berarti Sin-jio Pan-Cong-hun takkan paham lagi seluk-beluk alat pesawat rahasia yang teratur di istana putar ini, dan ini berarti pula orang tua, itu tidak sanggup lagi membawanya menerobos keluar dari tempat musuh ini.

"Maksud Lo-tiang, engkau tidak paham lagi tanda rahasia yang terdapat di situ?" tanya Kiam-eng dengan cemas.

"Betul," jawab Pan-Cong-hun. "Cuma sedikit banyak masih dapat aku raba, kuatirnya rabaanku meleset atau keliru tafsir ..."

"Wah, lantas bagaimana?" tanya Kiam-eng dengan kuatir.

"Sekarang hanya ada satu jalan, yaitu harus berani menyerempet bahaya," tutur Pan-Cong-hun. "Asalkan langkah pertama kita sudah betul, segera aku tahu pesawat perangkat apa yang terpasang di ruang batu besar ini. Sebaliknya kalau salah langkah pertama, maka ... "

"Maka segera akan diketahui musuh?" tukas Kiam-eng.

"Betul, bahkan karena keliru menyentuh pesawat perangkap, akibatnya kalau tidak terluka parah atau mati, paling tidak pasti juga akan tertangkap musuh."

"Tapi kita juga tidak dapat terus menerus bersembunyi di ruang tangga ini kan." tanya Kiam-eng.

Sin-jio Pan-Cong-hun mengangguk, sorot matanya menyapu sekeliling lantai dekat pintu itu, mendadak ia tuding ubin pada sebelah kiri sana dan berkata, "Coba kau injak ubin itu, begitu menginjak segera kau tarik kembali kakimu secepatnya!"

Kiam-eng menurut, dengan hati-hati kaki kanan menginjak sekali pada ubin itu dan cepat ditarik kembali.

Melihat tiada sesuatu reaksi, Sin-jio Pan-Cong-hun tampak bergirang, katanya, "Ah, mungkin betul. Coba kau injak lagi ubin yang sebelah kanan ini!"

Segera Kiam-eng mengikuti petunjuk orang tua itu dan menginjak lagi satu kali pada ubin sebelah kanan yang dimaksud, akibatnya juga tidak menimbulkan sesuatu reaksi pesawat perangkap.

Pan-Cong-hun sangat girang, ia berdiri dan berkata, "Bagus, jelas ruang ini adalah Pek-cian-tin (kamar barisan seratus anak panah), Mari ikut padaku!"

Sembari bicara segera ia mendahului melangkah ke sebelah kiri. Kiam-eng ikut melangkah ke depan menurut cara si kakek sembari bertanya dengan suara perlahan, "Apa yang disebut Pek-cian-tin itu apakah berarti ada perangkap yang akan menghamburkan anak panah laksana hujan, begitu?"

"Ya, begitulah kira-kira," sahut Pan-Cong-hun mengangguk.

Kiam-eng melihat ruang batu itu seluas belasan meter, bilamana benar dari sekeliling ruangan terjadi hujan panah, memang sangat sukar untuk menyelamatkan diri. Karena itulah ia rada kuatir.

Namun Sin-jio Pan-Cong-hun justru tidak memperlihatkan rasa gentar, ia mendahului melangkah ke depan dan makin menurut ke sebelah kiri, ketika dekat kaki dinding sana, mendadak dinding batu bisa bergeser ke atas sehingga terlibat pula sebuah ruang batu yang lain.

Kiam-eng melengak, katanya heran, "Mengapa pintu rahasia ini dapat terbuka sendiri?"

Pan-Cong-hun tersenyum, "Asalkan tepat caramu melangkah, setiap pintu rahasia di sini akan terbuka dengan sendirinya bagimu."

Habis berkata kembali ia berjongkok untuk memeriksa ubin di dekat pintu ruangan baru ini. Kiam-eng tidak berani mengganggunya, dengan sabar ia menunggu di belakang orang.

Setelah memeriksa sejenak, tiba-tiba Sin-jio Pan-Cong-hun mendongak, katanya dengan menyengir, "Ternyata betul, seluruh tanda rahasia di tempat kediaman Tok-pi-sin-kun ini memang sudah diganti semua."

"Dan ruangan apakah yang ini?" tanya Kiam-eng dengan agak tegang.

"Entah," jawab Sin-jio. "Rasanya harus menyerempet bahaya lagi sekali, jika tepat cara jalan kita, maka ketahuanlah segenap alat perangkap yang teratur di istana putar ini ..."

Meski sangat tegang, namun Kiam-eng mempunyai keberanian menempuh bahaya, dengan tertawa ia tanya, "Dan sekarang ubin mana yang harus aku pijak?"

Dengan teliti Sin-jio Pan-Cong-hun memeriksa lagi sejenak, lalu menunjuk sebuah ubin di depan dan berkata, "Coba injak saja yang ini."

Ketika diinjak Kiam-eng, ternyata tidak salah tafsiran si kakek. Tentu saja mereka sangat gembira.

"Ruang ini bernama Thian-lo-te-bang (jaring langit dan jala bumi), bilamana pesawat rahasianya tersentuh, seketika akan tertebar jaring raksasa dari atas sehingga siapa pun akan terjaring dan dikerek ke dalam kurungan besi." demikian tutur Sin-jio.

Kiam-eng masih terus melangkah maju mengikuti cara si kakek, katanya dengan senang. "Jadi sekarang Lo-tiang sudah tahu seluruh cara pengaturan pesawat perangkap di sini?"

Sin-jio Pan-Cong-hun mengangguk, "Ya, begitulah. Dan ruang di depan itu adalah ruang Hoan-pan (papan putar), sedang ruang sebelah kanan tentulah ..."

Belum habis ucapannya, entah mengapa, mendadak seluruh ruang tempat mereka ini berputar. Keruan mereka terkejut, seketika mereka kelabakan dan tidak tahu apa yang terjadi.

"Wah, mungkin kita salah langkah?" seru Kiam-eng kuatir.

Sin-jio Pan-Cong-hun juga ketakutan, tapi setelah dia mengamati cara berputar kamar batu itu, cepat ia tarik Kiam-eng dan mendesis padanya, "Ssst, jangan bersuara, berdiri tegak dan jangan bergerak. Kita tidak salah langkah!"

"Kalau tidak salah langkah, mengapa ruang batu ini mendadak bisa berputar?" tanya Kiam-eng. "Aku kira Tok-pi-sin-kun sedang mengubah posisi setiap ruangan," tutur Sin-jio Pan-Cong-hun. "Dia

seorang licik dan selalu kuatir terjadi pengkhianatan, maka setiap hari dia ubah posisi ruang dalam istana

putar ini ... Coba kau lihat dinding batu itu!"

Waktu Kiam-eng memandang ke arah sana yang ditunjuk, terlihat dinding di sebelah sana sedang menurun ke bawah, di balik dinding ternyata gelap gulita dan tidak terlihat apa pun. Namun sesudah dinding batu itu ambles ke bawah, ruang batu ini pun mulai menggeser ke tempat yang gelap itu.

Setelah meluncur belasan meter jauhnya, "blang", ruang batu itu lantas menggeser lagi ke kiri dengan perlahan. Dan pada saat sama ada juga beberapa ruangan lain sedang bergerak dalam kegelapan, keadaannya sangat ruwet, rasanya seperti dunia mau kiamat.

Kejut dan tidak terperikan heran Su-Kiam-eng, tanyanya, "Dengan cara bergerak ke kiri dan bergeser ke kanan begini, diperlukan berapa lama baru seluruhnya dapat berganti posisi?"

"Sudah hampir selesai, mungkin bergeser lagi sekali ke kanan dan seluruhnya akan beres," ujar Sin-jio Pan-Cong-hun.

Benar juga, setelah ruang itu menggeser pula belasan meter ke kanan, lalu berhenti. Menyusul sebelah dinding mulai naik perlahan ke atas, ketika naik sampai titik puncaknya, seluruh ruangan batu lantas pulih pada bentuknya semula tanpa terlihat ada sesuatu perubahan dan bekas apa pun.

Perlahan Sin-jio Pan-Cong-hun menghela napas, katanya, "Ai, sekarang terpaksa harus memeras otak lagi."

"Oo, memangnya kenapa?" tanya Kiam-eng dengan melengak.

Dengan kesal Pan-Cong-hun menjawab. "Tadi dengan menyerempet bahaya kita telah berhasil menerobos dua lapis perangkap, dari pengalaman itu dapatlah aku pahami cara pengaturan segenap pesawat perangkapnya. Tapi sekarang mendadak posisinya berubah semua, lantaran aku tidak mengerti kode rahasia baru yang diganti Tok-pi-sin-kun, maka sekarang terpaksa kita harus mengulangi lagi dengan menyerempet bahaya."

"Ai, sungguh sial," ucap Kiam-eng dengan lesu. "Kenapa tidak siang tidak malam dia mengubah posisi perangkapnya melainkan pada saat sekarang dia melakukan hal itu, seperti sengaja hendak main gila dengan kita."

"Bisa jadi setiap hari pada saat seperti sekarang ini dia mengubah posisi perangkap istananya ini," kata Pan-Cong-hun. "Tahu begitu, mendingan kita bertindak nanti saja."

Sambil menggeleng kepala ia terus melangkah ke depan, katanya pula, "Ayolah, apakah akan untung atau akan buntung, mau-tak-mau harus kita hadapi."

Begitulah kedua orang lantas mendekati kaki dinding di depan sana, kembali ada lagi sebuah pintu rahasia terbuka dengan sendirinya dan muncul sebuah ruang batu yang lain.

"Tempo hari waktu aku datang kemari dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, pernah aku lalui banyak lorong yang panjang, lorong-lorong itu jelas tidak terpasang perangkap apa pun, kenapa kita tidak keluar melalui lorong-lorong itu saja?" bisik Kiam-eng.

Pan-Cong-hun menggeleng, "Tidak bisa. Di lorong-lorong itu selalu ada patroli anak buah Tok-pi-sin-kun, jika kita melalui lorong itu tentu akan kepergok mereka.

Habis bicara kembali ia berjongkok untuk meneliti tanda rahasia pada pintu kamar ke tiga.

Agak lama ia mengamatinya, kemudian menggeleng kepala dan berkata, "Wah, sungguh memusingkan. Ruang ini seperti Ban-hong-tin dan juga serupa Bi-hun-kiong ... "

"Apa artinya Ban-hong-tin dan Bi-hun-kiong?" tanya Kiam-eng cepat.

"Ban-hong-tin (barisan berlaksa tawon) artinya bilamana pesawat rahasianya terjamah olehmu, seketika akan berterbangan lebah berbisa beratus ribu jumlahnya. Sedangkan Bi-hun-kiong berarti istana asap bius, apabila tersentuh ruang itu seketika akan menghembus ke luar asap dupa yang dapat membius orang hingga tak sadar."

Setelah terdiam sejenak, lalu ia menuding sebuah ubin dan berkata, "Coba, boleh kau injak ubin ini. Bilamana terasa ada sesuatu yang tidak beres hendaknya cepat menarik kakimu."

Dengan tangan berpegang tepian pintu, Kiam-eng menjulurkan kaki kanan untuk coba menginjak ubin yang ditunjuk, terasa tempat yang tersentuh ujung kaki bisa ambles sedikit, ia tahu gelagat tidak menguntungkan, cepat ia tarik kembali kakinya dan berkata, "Wah, celaka, salah injak!" Baru lenyap suaranya, mendadak lima buah ubin dalam ruang ambles ke bawah, menyusul dari bawah lantai lantas mengepulkan asap panca warna yang tebal.

Sin-jio Pan-Cong-hun terkejut, cepat ia mendekap hidung dan melompat kembali ke ruangan batu semula sambil berseru, "Lekas menyingkir kemari!"

Cepat Kiam-eng ikut melompat kembali ke ruang tadi, karena reaksi mereka cukup cepat, maka ketika asap yang mengepul itu hampir melayang masuk ke ruang mereka, syukur pintu rahasianya keburu merapat sehingga mereka terhindar dari serangan asap berbisa itu.

"Wah, setelah salah menyentuh pesawat rahasia, bukankah semuanya diketahui oleh musuh?" ucap Kiam-eng dengan kuatir.

"Betul, lantas bagaimana baiknya," jawab Sin-jio dengan gugup.

Kiam-eng memandang sekelilingnya dan bertanya pula, "Kira-kita kapan musuh dapat memburu kemari?"

"Aku kira segera akan tiba di sini," tutur Pan-Cong-hun.

"Jika begitu, kita kan tidak sampai terjebak oleh asap berbisa itu, tentunya mereka takkan menemukan kita," ujar Kiam-eng.

"Betul, tapi mereka pasti akan mencari kian kemari hingga kita ditemukan."

Kiam-eng menunjuk ke dua sisi dinding batu dan bertanya, "Apakah di kanan-kiri situ juga terdapat ruang perangkap?"

"Ya, yang sebelah kiri itu besar kemungkinan Hui-to-tin (barisan pisau terbang) dan yang sebelah kanan mungkin Thai-san-ap-teng (gunung raksasa menindih kepala)," tutur Sin-jio Pan-Cong-hun dengan agak cemas.

Ketika melihat Su Kiam-eng merasa bingung, segera ia menjelaskan lebih lanjut, "Yang disebut hai-san- ap-teng itu adalah sepotong batu raksasa ribu kati akan anjlok dari atas."

"Oo," Kiam-eng bersuara singkat, lalu ia tuding sebelah kiri, "Jika begitu, marilah kita menerjang ruang Hui-to-tin saja!"

Dengan sendirinya Sin-jio Pan-Cong-hun juga tidak mau mandah ditawan musuh, cepat ia melangkah ke sebelah kiri disusul oleh Su-Kiam-eng.

Setiba di kaki dinding sebelah kiri, terbukalah pintu rahasia di dinding itu dan yang muncul memang betul juga sebuah ruang batu marmer.

Sekali ini Pan-Cong-hun hanya berjongkok dan memeriksa sebentar saja, lalu menunjuk salah sebuah ubin di situ, "Coba injak ubin ini!"

Tanpa ragu Kiam-eng menuruti petunjuk si kakek, sebelah kaki lantas menginjak ubin yang ditunjuk dan ternyata tidak menimbulkan sesuatu reaksi apa pun, segera Sin-jio mendahului melangkah ke dalam ruang itu, katanya, "Tidak salah lagi, ruang ini memang betul ruang Hui-to-tin!"

Kiam-eng ikut masuk ke situ, tanyanya, "Apakah sekarang Lo-tiang sudah tahu cara bagaimana kita harus melangkah?"

"Ya, sudah tahu seluruhnya," jawab Pan-Cong-hun.

"Jika begitu, lantas sekarang kita harus menuju ke mana?" tanya Kiam-eng pula. "Dengan sendirinya menuju ke luar istana putar," ujar Sin-jio.

"Tidak, kita masih harus mengunjungi kamar tidur Tok-pi-sin-kun," kata Kiam-eng.

Sin-jio Pan-Cong-hun melengak, ucapnya sambil menoleh, "Kau bilang kita masih harus mengunjungi kamar tidur Tok-pi-sin-kun?" "Betul, kita harus pergi ke sana." jawab Kiam-eng sambil mengangguk.

"Tapi ... tapi saat ini Tok-pi-sin-kun sudah tahu istananya ini diselundupi orang luar, mana boleh kita menuju ke kamarnya malah?" kata Sin-jio dengan kuatir.

Kiam-eng tersenyum, "Sesudah diketahui ada orang menyusup ke istananya, tentu dia akan menggeledah seluruh ruang istananya, maka kesempatan ini justru dapat kita gunakan untuk menyusup ke kamar tidurnya, cara ini kan sangat aman?"

Pan-Cong-hun pikir gagasan Kiam-eng itu memang benar juga, segera ia melangkah lagi dan berkata. "Baik, ikut saja padaku!"

Karena dia sudah tahu seluruh pengaturan pesawat rahasia dalam istana putar sekarang, maka dengan sangat mudah dapatlah mereka menerobos lewat beberapa ruang rahasia yang penuh perangkap.

Akhirnya mereka sampai di suatu ruang ketika pintu rahasia terbuka, ternyata ruang ini bukan lagi ruang batu melainkan sebuah terowongan kecil yang cuma bisa cukup diterobos seorang saja dengan merangkak.

Pan-Cong-hun menunjuk terowongan kecil itu dan mendesis, "Merangkak masuk ke dalam terowongan ini akan langsung mencapai kamar tidur Tok-pi sin-kun."

"Apakah terowongan ini tidak dipasang alat perangkap?" tanya Kiam-eng.

"Tidak ada, sebab terowongan ini disiapkan oleh Tok-pi-sin-kun sebagai jalan meloloskan diri bilamana terancam bahaya," tutur Sin-jio.

"Baik, mari kita masuk ke situ," kata Kiam-eng

Segera mereka menyusup ke dalam terowongan sempit itu dan perlahan merangkak ke depan.

Dengan sendirinya terowongan itu tidak ada penerangan, keadaan gelap gulita sehingga jari sendiri pun tidak terlihat, terowongan itu serupa liang tikus belaka.

Kiam-eng ikut di belakang Sin-jio, sembari merangkak ia coba tanya, "Kira-kira perlu berapa jauh untuk bisa mencapai kamar tidur Tok-pi-sin-kun?"

"Sangat dekat, sudah hampir tiba," jawab Sin-jio Pan-Cong-hun.

"Lo-tiang bilang kamar tidur Tok-pi-sin-kun itu ada tiga jalan tembus, apakah terowongan ini termasuk satu diantaranya?" tanya Kiam-eng pula.

"Betul," jawab Sin-jio. "Jalan tembus rahasia ini langsung menembus sebuah peti pakaian di dalam tidurnya, bilamana tutup peti terbuka, maka dapatlah kita berada di dalam kamarnya."

Tiba-tiba ia mendesis, "Sssst, jangan bersuara lagi, sudah hampir sampai!"

Mereka merangkak beberapa meter lagi ke depan dan sampailah di ujung terowongan itu. Kiam-eng coba meraba ke depan, dirasakan ujung terowongan itu agak lebih lebar, kira-kira seluas satu dua meter sehingga cukup untuk orang berdiri.

Ia tahu tentu di situlah lubang keluarnya, ia coba pasang telinga untuk mendengarkan dengan cermat, namun tiada setitik suara pun yang terdengar, Ia membisiki Sin-jio Pan-Cong-hun, "Di atas seperti tidak ada orang, marilah kita naik saja ke atas."

Sin-jio balas mendesis. "Baik, biar aku buka lubang keluar ini."

Ketika tangannya mulai meraba bagian atas terowongan, selagi dia hendak mengangkat penutup lubang, tiba-tiba di atas sana bergema suara orang bicara.

"Bagaimana?" demikian terdengar suara seorang lagi bertanya. Jelas itulah suara Tok-pi-sin-kun.

Pan-Cong-hun terperanjat, cepat ia tarik kembali tangannya dan membisiki telinga Su-Kiam-eng. "Coba dengarkan, Tok-pi-sin kun masih berada di kamarnya bukan?"

Kiam-eng menjawabnya dengan suara lirih, "Betul, sebaiknya kita jangan sembarangan bergerak dulu, coba dengarkan apa yang sedang dibicarakan dia." Setelah suara Tok-pi-sin-kun yang lagi bertanya tadi, lalu terdengar suara Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san sedang menjawab, "Sudah aku periksa ke sana dan ternyata tiada ditemukan orang tergeletak di Bi-hun- kiong sana."

"Sungguh aneh," kata suara Tok-pi-sin-kun. "Lalu bagaimana dengan yang ruang perangkap di sekitar Bi-hun-kiong?"

"Sudah aku periksa juga, semuanya tidak ditemukan jejak musuh," lapor Pau-Hai-san.

"Hi jangan-jangan terjadi sesuatu kerusakan pada pesawat pengamatan di Bi-hun-kiong?" tanya Tok-pi- sin-kun.

"Ya, hamba pun berpikir begitu. kalau tidak, mustahil si penerobos istana itu mampu menghilang secepat itu ... "

"Tapi di seluruh dunia ini hanya ada seorang saja yang mampu berkeliaran dalam istana putar ini tanpa halangan, orang itu ialah Sin-jio Pan-Cong-hun. Cuma ... ah, betul, adakah kau kirim orang memeriksa keadaan penjara di bawah tanah sana?"

"Ada, Yu-hou-hoat dan Yap-Hui sudah pergi ke sana dengan beberapa anak buah mereka, seluruh istana juga sudah aku perintahkan digeledah dengan teliti ... "

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara "ting-ting-ting-ting", suara genta yang dibunyikan sebagai tanda gawat sehingga pembicaraan Tok-pi-sin-kun dan Thian-ti-it-koai terputus.

"Ada terjadi apa?" terdengar Tok-pi-sin-kun menegur dengan suara kurang senang.

"Lapor Sin-kun, Su-Kiam-eng dan Pan-Cong-hun yang terkurung di penjara bawah tanah itu diketahui sudah menghilang!" demikian terdengar seorang memberi laporan.

"Apa katamu? Mereka menghilang? Cara bagaimana mereka dapat kabur dari sana?" tanya Tok-pi-sin- kun dengan kaget.

"Cia Sun yang sehari-hari bertugas sebagai pengantar rangsum itu ditemukan tergeletak di dalam kamar penjara, dia seperti lumpuh akibat hiat-to tertutuk, tidak dapat bergerak juga tidak dapat bicara, di antara dinding kamar tahanan itu satu sama lain terdapat sebuah lubang ... Mungkin dibobol oleh Su- Kiam-eng ..."

"Sudahlah?" bentak Tok-pi-sin-kun. "Cepat memberi perintah agar setiap jalan ke luar dijaga dengan ketat!"

Lalu terdengar orang tadi mengiakan dan mengundurkan diri.

"Pau-hou-hoat," kata Tok-pi-sin-kun pula, "lekas kau beritahukan kepada Biau-hou-hoat dan Yap-Hui berempat, suruh mereka jangan lagi menggeledah di dalam istana, semuanya supaya menunggu dan berjaga di luar istana. Aku kira si tua bangka she Pan dan Su-Kiam-eng belum lagi meninggalkan istana putar kita ini. Andaikan mereka dapat lolos dari istana ini juga belum tentu mampu kabur meninggalkan Thian-ti."

Terdengar Pau-Hai-san mengiakan juga dan mengundurkan diri.

"Bwe-hui, ambilkan bajuku!" Tok-pi-sin-kun memberi perintah pula kepada seorang selirnya.

Kemudian terdengar suara gemercik air, jelas Tok-pi-sin-kun sedang mandi di dalam kamar tidur dan baru sekarang berdiri di kolam mandi.

Menyusul lantas terdengar suara gemersek, suara orang memakai baju, kemudian terdengar pula Tok-pi- sin-kun berkata, "Bwe-hui, coba kamu duduk di sebelah sini. Bila melihat musuh menyusup ke dalam kamar tidur, hendaknya segera kau tarik tombol alarm."

"Baik, Sin-kun," terdengar suara seorang perempuan menjawab. Habis itu lantas terdengar suara orang berjalan yang makin menjauh.

Diam-diam Kiam-eng merasa senang, segera ia membisiki Pan-Cong-hun, "Baiklah, sekarang boleh kau buka lubang ke luar itu."

"Jangan, sabar dulu," sahut Pan-Cong-hun dengan suara tertahan. "Baru saja Tok-pi-sin-kun menyuruh Bwe-hui itu duduk di dekat tanda bahaya, apalagi kita naik ke sana dan dilihat dia, seketika dia akan menarik tombol tanda bahaya dan segera pula Tok-pi-sin-kun akan memburu kembali ke kamar tidurnya."

Diam-diam Kiam-eng membenarkan hal itu, ia menjadi bingung lantas bagaimana baiknya.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia mendapat akal, segera ia mendongak dan berseru, "Bwe-hui! Bwe- hui!"

Ia menirukan suara Tok-pi-sin-kun dan cukup mirip.

Maka terdengar Bwe-hui bersuara heran dan bertanya, "Hei, apakah di situ Sin-kun adanya?" "Betul," jawab Kiam-eng dengan suara tertahan. Lekas buka tutup peti pakaian ini!"

"Ya, baiklah ..." lalu terdengar suara orang berlari kecil mendekati peti pakaian di atas disusul dengan suara terbukanya tutup peti, segera cahaya lampu menyorot ke dalam terowongan sehingga menyilaukan mata. Nyata lubang ke luar itu sudah terbuka.

Tanpa ayal Kiam-eng melompat ke atas, langsung jarinya menutuk ke arah seorang perempuan cantik genit di depannya.

Perempuan yang bernama Bwe-hui itu kaget setengah mati ketika mengetahui orang yang melompat ke luar ternyata bukan Tok-pi-sin-kun adanya, sebelum dia sempat berteriak kaget sudah keburu jatuh pingsan kena tutukan Su-Kiam-eng.

Dia memang seorang perempuan teramat cantik, tubuhnya cuma mengenakan selapis baju merah sutra tipis, kulit badannya putih mulus dengan dada montok dan samar-samar tembus pandang dan sangat merangsang.

Belum pernah Kiam-eng melihat perempuan berbaju seberani ini, seketika ia menjadi malu sendiri dan kikuk. Cepat ia berpaling ke arah lain dan coba memandang sekeliling ruang itu.

Ternyata kamar tidur Tok-pi-sin-kun ini memang sangat luas dan mewah, di tengah kamar ada sebuah kolam mandi air panas berbentuk bunga, di tepi kolam ada beberapa buah patung lelaki dan perempuan telanjang terbuat dari batu marmer dengan gaya yang porno dan tidak sedap dipandang.

Selain itu, di dalam kamar masih banyak alat perabot yang indah permai dengan hiasan yang amat menakjubkan.

Timbul pikiran Kiam-eng, apabila sekarang peta pusaka itu tidak terbawa oleh Tok-pi-sin-kun, lantas kira-kira akan disembunyikan di mana?

Ia coba tanya Sin-jio Pan-Cong-hun, "Apakah kau tahu di mana Tok-pi-sin-kun menyimpan barang- barangnya yang berharga?"

"Wah, entah, dari mana aku tahu?" jawab Pan-Cong-hun dengan menggeleng.

Kiam-eng berpikir sejenak, kemudian ia lolos belati yang dibawanya, ia berjongkok dan membuka hiat-to pingsan Bwe-hui, melihat orang sudah siuman, segera ia ancam dengan belati pada ulu hatinya sembari bertanya dengan suara tertahan, "Jika kamu ingin hidup lebih lama, sekali-kali kamu tidak boleh menjerit!"

Bwe-hui ketakutan setengah mati sehingga mukanya pucat seperti mayat, jawabnya dengan suara gemetar, "Hamba tidak ... tidak berani. Siii ... siapakah Tuan?"

"Tidak perlu kau tanya siapa aku," jengek Kiam-eng. "Sekarang jawab pertanyaanku, peta rahasia kota emas yang diperoleh Pau-Thian-bun itu ditaruh di mana?"

"Peta rahasia kota emas apa?" Bwe-hui menegas dengan bingung. "Apa kamu ingin mati?" ancam Kiam-eng. "Sungguh hamba tidak tahu tentang peta kota emas segala," jawab Bwe-hui gemetar.

"Jika begitu, coba katakan, biasanya di mana Pau-Thian-bun menyimpan barang berharga," Bwe-hui menuding seluruh kamar tidur itu dan menjawab, "Tersimpan di dalam kamar ini, coba kau lihat, semua

... semua benda yang berada di sini adalah barang berharga yang tidak ada taranya, apabila engkau mau boleh ... boleh ambil saja, namun aku mohon janganlah mengganggu jiwa hamba, sebab hamba hanya

..."

Belum habis ucapannya, kembali jari Su-Kiam-eng bekerja lagi, ia tutuk pingsan perempuan itu, lalu berpaling dan berkata kepada Sin-jio Pan-Cong-hun, "Mungkin perempuan jalang ini memang tidak tahu peta pusaka yang dipegang Tok-pi-sin-kun itu, sekarang terpaksa kita harus bekerja keras untuk menggeledah kamar ini."

Pan-Cong-hun mengangguk setuju, katanya. "Ya, biar aku bantu mencarinya."

Segera mereka mulai membongkar peti dan membuka koper, namun meski segenap tempat yang dipandang mungkin menjadi tempat penyimpanan benda berharga telah diobrak-abrik tetap tiada sesuatu yang mereka temukan.

Mendadak Sin-jio berhenti dan berkata, "Percuma, mungkin peta itu terbawa pada tubuhnya, akan lebih baik lekas kita tinggalkan tempat ini saja, kalau tidak, bila iblis tua itu pulang kamar, tentu kita bisa celaka."

Bilamana tujuannya bukan untuk merebut kembali peta pusaka, betapapun Su-Kiam-eng tidak berani menerobos ke tengah istana putar yang berbahaya ini, sampai gurunya pun gentar untuk menerjang ke sarang musuh ini. Sekarang dia sudah sempat beroperasi di tengah istana musuh, masakah kesempatan bagus ini akan disia-siakan lagi?

Namun ia pun menyadari sudah sekian lama ia berada di kamar ini, kalau tidak mau kepergok oleh Tok- pi-sin-kun memang jalan paling aman harus lekas tinggal pergi. Sebab itulah, setelah ia pikir sejenak, segera ia mengambil suatu keputusan.

"Aku kira anak buah Tok-pi-sin-kun saat ini pasti sudah menjaga rapat sekeliling istana putar ini, biarpun kita dapat lolos dari istana ini juga sukar menerjang ke luar kepungan mereka," demikian kata Kiam-eng. "Maka menurut pendapatku, biarlah kita tetap bersembunyi sementara di dalam istana putar ini, boleh kita main kucing-kucingan dengan mereka ..."

"Wah, jika begitu, lebih aman kita sembunyi di dalam terowongan tadi saja," ujar Sin-jio Pan-Cong-hun. "Jika begitu, boleh engkau masuk ke sana dulu, sebentar lagi baru aku susul ke sana," kata Kiam-eng. "Apakah engkau akan tetap mencari peta itu?" tanya Sin-jio.

Kiam-eng menggeleng kepala, ia mendekati sebuah meja tulis, ia angkat pensil dan segera mulai menulis di dinding sebelah pintu.

"Bangsat tua she Pau, dapat menemukan peta pusaka di dalam kamar tidurmu, sungguh suatu pekerjaan yang tidak mudah!" demikian tulisannya.

Sin-jio Pau Cong-hun tidak mengerti maksud tujuan tulisan Kiam-eng, ia tanya. "Apa tujuan tulisanmu?"

"Ini cuma pancingan belaka, aku harap Tok-pi-sin-kun akan memberitahukan padaku di mana ia simpan peta pusaka itu." tutur Kiam-eng dengan tersenyum.

Seketika Cong-hun tahu maksud anak muda itu, ia terkesiap, "Apakah cara ini tidak terlampau bahaya?" "Tidak apa," sahut Kiam-eng. "Silakan Lo-tiang lekas sembunyi di dalam terowongan sana."

Sin-jio Pan-Cong-hun mendekati peti pakaian itu dan membuka tutup peti, lalu melompat ke bawah.

Kiam-eng menutup kembali tutup peti, lalu mendekati lagi Bwe-hui, ia tarik seutas tali sutra warna emas yang menggelantung di dinding, ia taksir tali ini tentu alat membunyikan alarm sebagai disebut Tok-pi- sin-kun itu, habis menarik tali itu segera ia menyelinap ke belakang kelambu tempat duduk Bwe-hui dan menunggu di situ dengan sabar.

Benar juga, hanya sebentar saja lantas terdengar suara langkah orang yang riuh di luar kamar. Yang datang ternyata benar Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun.

Begitu melangkah masuk kamar tidur sendiri, dengan segera ia dapat membaca tulisan di dinding yang ditulis Su-Kiam-eng tadi, seketika air mukanya berubah, tanpa menghiraukan Bwe-hui yang menggeletak di lantai, langsung ia terus melompat ke dalam kolam mandi.

Dengan lompatan cepat ia lompat lagi ke tepi kolam sebelah sana, ia rangkul sepasang patung laki- perempuan yang berpelukan dan diamatinya sejenak, menyusul tersembul senyuman mengejek pada wajahnya, lalu ia putar bagian kepala patung yang perempuan, setelah diputar beberapa kali, kepala yang cuma dipasang dengan derat putaran itu lantas terlepas, akhirnya ia menjulurkan tangan ke dalam leher patung perempuan itu dan dikeluarkan satu gulungan kertas serta cepat dimasukkan ke dalam baju. Habis itu mendadak ia membalik tubuh dengan sorot mata tajam ia menyapu pandang sekeliling kamar tidurnya.

"Hm, Su-Kiam-eng, betapapun licin akalmu ini, cuma sayang kamu terlampau menilai rendah kemampuanku," jengeknya dengan terkekeh. "Nah, sekarang lekas kamu menggelinding ke luar!"

Kiam-eng tidak menyangka orang secerdik ini ternyata sekaligus dapat mengetahui tipu muslihatnya, mau-tak-mau ia pun tegang jantung berdetak keras, namun dalam benak tetap tersimpan setitik harapan, maka sedapatnya ia menenangkan diri dan tetap berdiri di tempatnya dengan menahan napas dan tak bergerak.

Ia benar-benar menahan napas, sebab ia tahu daya pendengaran pihak lawan teramat peka, apabila ada suara napas, sebab ia tahu daya pendengaran Tok-pi-sin-kun.

Setelah bicara tadi, Tok-pi-sin-kun memang lantas memusatkan perhatian dan pasang telinga untuk mendengarkan dengan cermat, namun dia seorang yang tinggi hati. Setelah mendengarkan sebentar dan tidak terdengar suara napas orang ke tiga di dalam kamar, serentak ia menarik kesimpulan Su-Kiam-eng tidak berada lagi di dalam kamar, segera ia mendekati Bwe-hui dan berjongkok untuk memeriksanya.

Rupanya inilah kesempatan yang sedang ditunggu-tunggu oleh Su-Kiam-eng.

Tempat berjongkok Tok-pi-sin-kun saat ini berjarak cuma lebih satu meter saja dari tempat sembunyinya. Ia tahu kesempatan bagus ini sangat sukar dicari lagi, kalau tidak segera bertindak dengan menyerempet bahaya jelas tidak ada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri. Maka perlahan sebelah tangannya menyingkap kelambu dan dua jari tangan kanan perlahan menutuk ke hiat-to kelumpuhan Tok-pi-sin-kun.

Kelakuan Su-Kiam-eng itu serupa seorang anak kecil sedang menangkap kecapung, harus menyergapnya dari belakang dengan perlahan dan hati-hati. Bila tangan bergerak terlampau cepat tentu akan diketahui sasarannya.

Betapa cermat cara berpikir seorang tetap akan terjadi kelengahan.

Seyogianya kalau Tok-pi-sin-kun sudah tahu tulisan Su-Kiam-eng di tembok itu hanya tipu muslihat anak muda itu untuk memancingnya belaka, maka lebih dulu seharusnya ia periksa seluruh kamar tidurnya.

Namun Tok-pi-sin-kun terlampau tinggi hati, ia terlalu percaya pada telinga sendiri, ketika tiada suara napas orang ke tiga di dalam kamar yang terdengar olehnya, ia yakin Su-Kiam-eng dan Sin-jio Pan- Cong-hun sudah tidak berada lagi di dalam kamar, ia lupa bahwa untuk sementara musuh kan dapat menahan napas.

Sebab itulah jari Su-Kiam-eng yang menutuk itu tidak mengenai tempat kosong. Baru saja Tok-pi-sin- kun merasakan tubuhnya disentuh sesuatu benda dan bermaksud mengelak, namun sudah kasip, dan begitu tubuh tertutuk kaku, langsung ia terguling ke samping.

Su-Kiam-eng seperti habis melakukan sesuatu pekerjaan berat dan maha sulit, ia menghela napas lega dan mengusap air keringat yang sudah membasahi dahinya, habis itu ia tambahi lagi tutukan hiat-to pingsan Tok-pi-sin-kun.

Tapi pada saat tangan terjulur hendak merogoh baju Tok-pi-sin-kun untuk mengambil peta yang dicarinya itu, sekonyong-konyong seorang menerjang ke dalam kamar secepat terbang ...

Kiranya pendatang ini Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san adanya. Sekilas ia lihat Tok-pi-sin-kun sudah menggeletak di depan Su-Kiam-eng seketika air mukanya berubah hebat. Dengan mata mendelik dan membentak segera ia hendak menubruk maju.

Namun sebelah tangan Su-Kiam-eng lantas mengancam batok kepala Tok-pi-sin-kun, bentaknya dengan bengis, "Berhenti! Kalau tidak segera aku hancurkan kepalanya."

Thian-ti-it-koai terkejut dan cepat menahan gaya tubruknya, tanyanya dengan gusar, "Kurang-ajar! Kamu anak keparat ini barangkali sudah bosan hidup?!"

Kiam-eng tersenyum, ucapnya, "Memangnya apa maksudmu?"

Dengan gusar Thian-ti-it-koai membentak pula, "Kau berani mengganggu Sin-kun kami, apakah kamu ... "

"Karena Sin-kun kalian aku ganggu, lantas aku akan dihancur-leburkan, begitu bukan maksudmu" jawab Kiam-eng dengan tertawa.

Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san melengak, tapi segera ia membentak lagi dengan gusar, "Umpamanya bukan begitu, memangnya kau kira kamu mampu lolos ke luar dari sini?"

"Hal ini aku kira tidak menjadi soal bagiku, terkecuali bila kalian tidak memikirkan keselamatan nyawa Sin-kun kalian?" jawab Kiam-eng.

"Taruh Sin-kun kami di lantai dan kematian-mu dapat aku ampuni, kalau tidak, hm, jangan harap kamu dapat lolos dari sini dengan hidup." ancam Pau-Hai-san.

Kiam-eng tertawa, mendadak ia berseru "Pan-lo-tiang, sekarang bolehlah engkau ke luar kamar!"

Meski sejak tadi Sin-jio Pan-Cong-hun bersembunyi di terowongan sempit, namun ia dapat mengikuti suara apa yang terjadi di dalam kamar, ia dengar Su-Kiam-eng sudah berhasil dalam usahanya, maka ketika dipanggil segera ia merangkak keluar melalui peti pakaian itu.

Ketika melihat Tok-pi-sin-kun sudah berada dalam cengkeraman Su-Kiam-eng, saking senangnya orang tua itu tertawa lebar, ia melangkah ke sana dan duduk di tempat tidur Tok-pi-sin-kun yang terbuat dari gading itu dengan tertawa ia tanya, "Siau-ko (saudara cilik), cara bagaimana akan kau bereskan dia?"

"Menurut pendapat Lo-tiang, sebaiknya cara bagaimana kita bereskan dia?" Kiam-eng balas bertanya dengan tersenyum.

"Aku kira, dapat kita gunakan Pau-Thian-bun sebagai sandera untuk meninggalkan istana putar ini" ujar Sin-jio Pan-Cong-hun dengan tertawa.

"Ya, memang begitu pula maksudku," jawab Kiam-eng sambil menatap Thian-ti-it-koai. "Cuma sekarang juga tampaknya Pau-hou-hoat kita ini tidak dapat menerima kehendak kita ini, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Untuk itu biarlah serahkan padaku untuk menyelesaikannya," ucap Pan-Cong-hun.

Selesai bicara, mendadak ubin tempat berpijak Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san itu berputar sehingga tokoh andalan Tok-pi-sin-kun terlempar ke bawah lantai.

Rupanya setiap ubin batu marmer di dalam kamar tidur itu dapat bergerak berputar, atau dengan lain perkataan, setiap ubin kamar itu adalah papan berputar.

Oleh karena Sin-jio Pan-Cong-hun sendiri yang merancang dan membangun istana putar ini dahulu, dengan sendirinya ia paham setiap pesawat rahasia dalam istana, maka tadi ia sengaja duduk di tempat tidur gading Tok-pi-sin-kun dan diam-diam menekan tombol rahasia sehingga Pau-Hai-san terjeblos ke bawah.

Tentu saja Kiam-eng sangat girang, segera ia merogoh ke luar peta pusaka dari baju Tok-pi-sin-kun dan disimpan dalam baju sendiri, lalu ia panggul Tok-pi-sin-kun dan berkata, "Mari berangkat, Lo-tiang!"

Dengan gembira Pan-Cong-hun berjalan di-depan sebagai petunjuk jalan dan meninggalkan kamar tidur Tok-pi-sin-kun. Kiam-eng mengikuti rapat di belakang arsitek tua itu. Karena Tok-pi-sin-kun tertawan oleh mereka, dengan sendirinya mereka tidak perlu lagi menerobos berbagai kamar rahasia dalam istana itu melainkan langsung ke luar melalui sebuah lorong yang aman. Mungkin anak buah Tok-pi-sin-kun sama berjaga di luar istana, maka ketika Su-Kiam-eng dan Pan-Cong- hun melalui istana putar seluas itu tidak menemui seorang musuh pun.

Hanya sekejap saja mereka sudah dapat ke luar istana putar dengan selamat.

Malam masih pekat, suasana di luar pintu gerbang istana putar sunyi senyap dan tiada terlihat bayangan seorang pun.

Sungguh aneh, apakah anak murid Tok-pi-sin-kun sebenarnya tidak disuruh berjaga di luar istananya?

Ternyata tidak benar. Begitu berada di luar gerbang istana, segera Su-Kiam-eng merasakan di sekelilingnya bersembunyi musuh, dalam jumlah tidak sedikit.

Segera Kiam-eng mengempit Tok-pi-sin-kun dengan tangan kiri, tangan kanan memegang ujung belati mengancam tenggorokan Tok-pi-sin-kun, lalu teriaknya nyaring, "Nah, kalian melihat, Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun sudah berada dalam cengkeramanku, untuk apa lagi kalian main sembunyi di situ?"

Belum lenyap suaranya, dari tempat kegelapan melayang ke luar lima sosok bayangan orang.

Ke lima sosok bayangan orang ini adalah Co-hou-hoat Tok-po-po Biau-Kim-ki, Hoa-oh-tiap Yap-Hui, Tok- kat Im-Som-hiong, Giok-bin-lo-sat Lau-Giok-bi dan Goat-he-bi-jin Tiau-Cin-lan.

Sesudah melompat ke luar dari tempat sembunyi mereka, serentak mereka mengepung Su-Kiam-eng dan Pan-Cong-hun di tengah. Tok-po-po Biau-Kim-ki mengangkat tongkatnya dan menuding Su-Kiam- eng bentaknya dengan bengis, "Berhenti! Sungguh tidak kecil nyalimu si bocah ini berani kau recoki Sin- kun kami. Lekas lepaskan dia!"

"Lepaskan dia?" Kiam-eng menegas dengan tertawa. "Haha aku kira kamu Biau-Kim-ki sedang mimpi barangkali?"

Dengan gusar si nenek berbisa alias Tok-po-po membentak, "Kurang ajar! Jadi kamu tidak mau melepaskan dia?"

"Belum tiba waktunya untuk aku lepaskan dia," jawab Kiam-eng.

Tok-po-po mendengus murka, dengan langkah lebar ia mendekati Su-Kiam-eng.

Namun Kiam-eng lantas membentak, "Berhenti, berani maju lagi selangkah boleh kau tahu apa yang bakal terjadi."

Air muka Tok-po-po sebentar merah sebentar pucat, tanyanya dengan gusar, "Habis apa kehendakmu, lekas katakan!"

"Hm, apa kehendakku seharusnya dapat kau terka, kenapa mesti tanya lagi?" jengek Su-Kiam-eng.

Gusar dan kuatir juga si nenek, katanya, "Baik, bebaskan Sin-kun kami dan segera aku beri jalan hidup bagi kalian!"

"Tidak, kalian harus mundur dulu ke dalam istana, sesudah kami menempuh perjalanan suatu jarak tertentu baru dapat aku bebaskan Sin-kun kalian."

Mendadak Tok-kat Im-Som-hiong, si kalajengking berbisa menukas, "Tidak bisa, aku minta sekarang juga harus kau bebaskan Sin-kun kami."

"Huh, kalau tidak, lalu bagaimana?" jawab Kiam-eng sambil melirik.

"Jika begitu, maka jangan kau harap dapat hidup lagi," ucap Im-Som-hiong.

"Baik, aku tidak ingin hidup lagi, jika kamu berani, boleh coba maju saja," jawab Kian-eng ketus.

Im-Som-hiong jadi melengong malah, tapi segera ia membentak lagi, "Kalau kamu benar jantan, ayolah bebaskan guru kami, biar kita bertarung satu lawan satu."

"Memangnya kau kira aku gentar padamu?" jengek Kiam-eng. "Pada suatu hari pasti akan aku belajar kenal dengan kalajengking berbisa semacam dirimu ini. Cuma sekarang, aku pandang bukan waktunya untuk melayanimu." "Huh, aku sangka anak murid Kiam-ho Lok-Cing-hui tentu sangat perkasa siapa tahu juga sebangsa manusia yang tamak hidup dan takut mati!" sindir Im-Som-hiong.

Kiam-eng terbahak-bahak, "Haha, kau kira aku tidak berani bertempur denganmu?"

Diam-diam Im-Som-hiong merasa girang, ia sengaja menjawab, "Betul kabarnya ilmu pedang Peng-lui- kiam-hoat betapa lihainya aku justru tidak percaya takkan tahan sekali seranganku."

"Kamu benar-benar ingin menguji diriku?" tanya Kiam-eng.

"Aku justru kuatir kamu yang tidak berani." jawab Im-Som-hiong.

"Baik setelah aku bereskan gurumu segera aku tentukan unggul atau asor denganmu," jawab Kiam-eng, berbareng ia terus angkat belatinya dan berlagak hendak menubles tenggorokan Tok-pi-sin-kun yang dikempitnya itu.

Keruan Im Som-hiong dan begundalnya terperanjat, berbareng mereka berteriak "Hei, nanti dulu!"

Kiam-eng hentikan gerak menusuknya, dengan lagak tidak mengerti ia tanya dengan tertawa, "Ada apa lagi? Sesudah aku bunuh gurumu, memangnya kamu takkan sanggup bertempur lagi denganku?"

Maksud Im-Som-hiong sebenarnya cuma ingin memancing agar Su-Kiam-eng mau melepaskan gurunya untuk bertanding dengan dia, sekarang melihat lawan tidak dapat tertipu, seketika ia mati kutu dan tak berdaya, dengan menahan gusar ia tidak sanggup menjawab.

Terpaksa Tiau-Soat-lan si cantik bulan purnama, ikut bicara. "Im-su-heng menyelamatkan Su-hu terlebih penting dari urusan lain biarlah kita turuti permintaannya."

Juga Hoa-oh-tiap Yap-Hui, si kupu-kupu belang, ikut menyambung, "Jangan, jika kita lepaskan mereka pergi, bisa jadi Su-hu akan dicelakai mereka."

"Hal ini tidak perlu kalian kuatirkan, aku Su-Kiam-eng pasti bukan manusia yang sukar ingkar janji," kata Kiam-eng.

"Jika begitu, kalau kami membiarkan kau pergi, kira-kira di tempat mana akan kau lepaskan guru kami?" tanya Hoa-oh-tiap Yap-Hui.

"Biarkan kami meninggalkan 20-30 li dari ini, di sana segera kami bebaskan guru kalian, cuma kalian tidak boleh membuntuti kami, kalau tidak segera aku binasakan gurumu," ancam Kiam-eng.

Hoa-oh-tiap memandang Tok-po-po Biau-Kim-ki dan bertanya, "Bagaimana menurut pendapatmu. Biau- hoa-hoat?"

"Aku tidak punya pendapat apa pun, terserah kepada kalian saja," sahut Tok-po-po tak acuh. "Im-su-te, bagaimana pendapatmu?" tanya lagi Hoa-oh-tiap terhadap Im-Som-hiong.

Im-Som-hiong mengernyitkan kening, jawabnya, "Engkau kan Su-heng kami, kami menurut saja kepada jalan pikiranmu."

Hoa-oh-tiap lantas berkata, "Baiklah, boleh kalian pergi saja, Tapi bila kamu ingkar janji dan tidak membebaskan guru kami, selanjutnya jangan kau harap dapat berkecimpung lagi di dunia kang-ouw."

"Jangan kuatir," ucap Kiam-eng. "Sekarang kalian berlima aku harap mundur dulu ke dalam istana."

Hoa-oh-tiap berlima terpaksa menurut dan mengundurkan diri ke dalam istana putar. Kiam-eng lantas meninggalkan tempat musuh dengan cepat bersama Pan-Cong-hun.

Sesudah berlari beberapa puluh meter melihat si arsitek tua itu tidak dapat lari terlebih cepat, segera Kiam-eng merangkul pinggang orang tua itu dengan sebelah tangan, jadi sekaligus ia memanggul dan mengangkat dua orang, lalu berlari secepat terbang ke depan.

Sembari lari terkadang ia pun menoleh ke belakang untuk mengetahui apakah pihak musuh menepati janji atau tidak. Setelah berlari satu-dua li jauhnya, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan mengejar dari belakang. Tentu saja Kiam-eng gusar serentak ia berhenti lari dan membalik tubuh sambil membentak. "Keparat, kenapa kalian tidak menepati janji. Apakah jiwa guru kalian tidak kalian pikirkan lagi?"

Tapi lantas terdengar bayangan orang itu menjawab dari kejauhan, "Jangan ribut, aku inilah adanya."

Kiam-eng dapat mengenali suara Sam-bi-sin-ong, ia melengong dan menegur, "He, kenapa kau pun datang kemari?"

Bayangan orang ini memang benar Sam-bi-sin-ong Pek-li-Pin. Sekali lompat sampailah dia berhadapan dengan Su-Kiam-eng, katanya dengan tertawa, "Lekas serahkan salah seorang padaku mereka sudah hampir menyusul tiba."

Kiam-eng lantas menyerahkan Pan-Cong-hun kepada Sam-bi-sin-ong, katanya, "Ini Sin-jio Pan-Cong- hun, semula dia terkurung di penjara bawah tanah oleh Tok-pi-sin-kun, sekali ini berkat bantuannya barulah dapat aku lolos dari sarang musuh, mohon engkau suka membawanya jauh meninggalkan Thian- ti, setiba di tempat aman baru lepaskan dia untuk pulang ke Tiong-goan."

"Tidak," kata Sam-bi-sin-kun sambil menggeleng. "Aku kan membawa Yan-mo-tan yang dapat menyerang mundur musuh. Boleh kau serahkan Tok-pi-sin-kun padaku saja."

Kiam-eng pikir boleh juga hal ini, segera ia serahkan Tok-pi-sin-kun dan bertanya, "Apakah nona Ih masih berada di hotel Kun-ming sana?"

"Tidak lagi," jawab San-bi-sin-kun. "Dua-tiga hari yang lalu Tok-pi-sin-kun mengirim anak buahnya mencari ke segenap pelosok kota Kun-ming, karena itu nona Ih dan aku tidak berani tinggal lagi di sana, sekarang dia mondok di rumah seorang pemburu she Him di desa Cap-peng-lang, sebentar boleh langsung kau datang ke desa tersebut untuk menemuinya."

Habis bicara ia terus melompat pergi dengan membawa Tok-pi-sin-kun dan dalam sekejap saja sudah menghilang dalam kegelapan.

Su Kiam-eng juga tidak berani ayal, segera ia panggul lagi Sin-jio Pan-Cong-hun dan dibawa lari cepat ke jurusan utara. Lantaran sudah berkurang beban seorang Tok-pi-sin-kun, larinya sekarang dengan sendirinya tambah cepat. Tak lebih dari setengah jam ia sudah melampaui kota Kun-ming dan sampai di suatu pedusunan yang dikenal namanya.

Melihat di tengah kampung itu masih ada cahaya lampu, Kiam-eng menurunkan Pan-Cong-hun, katanya dengan menyesal, "Lo-tiang, jarak dari sini ke istana Tok-pi-sin-kun ada ratusan li jauhnya, aku kira tidak berbahaya lagi, biarlah kita berpisah saja di sini."

Pan-Cong-hun mengangguk, "Biarlah, biarlah aku masuk ke kampung sana untuk mencari pondokan barang semalam, besok baru aku berangkat pulang ke Tiong-goan."

Kiam-eng memberinya 20 tahil perak katanya dengan tertawa, "Sedikit uang perak ini harap Lo-tiang sudi menerimanya sekadar biaya perjalanan ke Tiong-goan, semoga bertemu pula kelak agar dapat aku balas budi kebaikan Lo-tiang."

"Ah, mana boleh berkata demikian," ujar Pan-Cong-hun. "Apabila tidak ditolong oleh saudara cilik, jelas selama hidupku ini tidak dapat melihat matahari lagi. Jadi engkaulah tuan penolongku masakah kau bilang membalas budi apa padaku."

"Tetapi bila tidak mendapat petunjuk jalan Lo-tiang betapapun aku tidak mampu lolos dari tempat Tok- pi-sin-kun itu," ujar Kiam-eng. "Maka apa pun juga kepulangan Lo-tiang ke Tiong-goan memerlukan sangu, maka sudilah kau terima sedikit tanda terima kasihku ini."

Terpaksa Sin-jio Pan-Cong-hun menerimanya dengan ucapan terima kasih dan kedua orang lantas berpisah.

Kiam-eng kuatir anak murid Tok-pi-sin-kun akan menguntit dan membikin susah Pan-Cong-hun, ia sengaja bersembunyi di sekitar pedusunan itu untuk mengawasinya, setelah sekian lama tidak terlihat ada orang menyusul tiba barulah ia berangkat menuju ke desa Cap-peng-lang sebagai disebut Sam-bi- sin-ong itu.

Setelah berlari tidak jauh, tiba-tiba teringat olehnya peta kota emas yang tersimpan dalam bajunya, ia pikir sebelum peta itu dirobek separoh untuk diserahkan kepada Sam-bi-sin-ong, kenapa dirinya tidak coba membacanya lebih dulu dengan teliti? Berpikir demikian, ketika melihat di depan sana ada sebidang hutan, segera ia membelok dan berlari menuju ke dalam hutan.

Hanya sebentar saja ia sudah berada dalam hutan, ia duduk di bawah pohon. Karena malam remang- remang, ia keluarkan alat ketik api dan sehelai kertas, ia gulung kertas menjadi sebuah lidi lalu mengetik api untuk menyalakan obor kertas, dengan penerangan itulah ia coba membaca peta.

Ternyata apa yang disebut peta itu cuma sehelai kertas belasan senti persegi, di atas kertas memang banyak terlukis garis malang melintang dan ruwet serta penuh huruf-huruf kecil.

Sekali pandang segera Kiam-eng tahu peta yang dipegangnya ini memang dilukis oleh sang su-heng, yaitu Gak-Sik-lam, sebab huruf yang tertulis dalam peta itu meski semuanya nama tempat, bahkan hurufnya sangat kecil serupa semut sehingga seketika sukar terlihat jelas, namun di samping peta itu terdapat belasan huruf yang ditulis dengan huruf agak besar, bunyi belasan huruf itu adalah, "Jian-lian- hok-leng tersembunyikan di dalam patung emas nomor 14 dari kanan".

Belasan huruf ini pun dapat dikenalnya dengan baik sebagai tulisan tangan sang su-heng Gak-Sik-lam.

Sampai saat ini Su-Kiam-eng tetap belum mengerti kalau sang su-heng sudah dapat pulang ke Tiong- goan bersama Kalana, mengapa tidak sekaligus ia bawa pulang Jian-lian-hok-leng yang dimaksudkan itu.

Tapi sekarang Su-Kiam-eng tidak sempat memikirkan soal ini terlebih lanjut, sebab dia terlampau gembira lantaran sudah mengetahui tempat penyimpanan Jian-lian-hok-leng yang sedang dicarinya itu. Pandangannya terus melacaki seluruh tulisan dalam peta itu, ia ingin tahu kota emas yang digemparkan orang kang-ouw itu apakah juga terletak di Mo-pan-san dan terlukis tidak dalam peta atau di tempat lain?

Akhirnya, sungguh hampir dia berteriak gembira, tiga huruf Mo-pan-san ternyata dapat dilihatnya dalam peta.

Akan tetapi pada saat itu juga sekonyong-konyong di depannya ada orang berucap dengan dingin, "Eh, anak muda, apa yang sedang kau baca di situ?"

Cepat Kiam-eng mengangkat kepala, segera diketahuinya yang berdiri di depan sana ternyata Kui-kok ji- bu-siang adanya. Keruan hatinya tergetar keras, cepat ia simpan peta pusaka ke dalam baju dan cepat melompat mundur beberapa meter jauhnya.

Kui-kok-ji-bu-siang saling pandang sekejap keduanya sama menampilkan senyuman ingin tahu serentak mereka melayang ke arah Su-Kiam-eng sambil bertanya pula, "Eh, anak muda, aku tanya apa yang sedang kau baca?"

Sungguh Kiam-eng merasa dirinya lagi sial benar, kenapa dalam saat dan di tempat begini dapat bertemu dengan ke dua setan iblis yang celaka ini.

Dari sikap orang Kiam-eng tahu mereka belum lagi mengetahui yang dibacanya itu adalah peta pusaka kota emas. Akan tetapi hal ini tidak mengurangi gawatnya keadaan, sebab kalau ke dua iblis itu sudah timbul rasa ingin tahu terhadap barang yang dipegangnya itu, maka mau-tak-mau mereka pasti ingin melihatnya. Dan apakah dirinya dapat memperlihatkan peta pusaka kepada mereka?

Dengan sendirinya tidak boleh. Tapi cara bagaimana supaya dapat meninggalkan mereka? Padahal dengan kemampuan ke dua gembong iblis itu pada hakikatnya tidak mungkin baginya untuk kabur begitu saja di depan mereka. Lalu apa yang harus diperbuatnya?

Selain itu, dalam benak Kiam-eng sekarang juga sedang memikirkan suatu soal lain, yaitu diketahuinya Kui-kok ji-bu-siang kan lagi memaksa Li-hun-nio-nio palsu untuk membawanya mencari Sai-hoa-to Sim- Tiong-ho, sekarang Li-hun-nio-nio gadungan itu tidak terlihat berada bersama mereka apakah lantaran mereka sudah tahu peta yang berhasil mereka rebut itu adalah barang palsu? Atau mereka belum lagi tahu peta itu palsu sebab Sai-hoa-to belum berhasil mereka temukan, maka berdasarkan petunjuk peta palsu itu mereka sengaja menyerempet bahaya dan ingin mencari kota emas di wilayah hutan belukar di selatan ini?

Ia merasa urusan ini perlu dipecahkan dulu dengan jelas maka setelah berpikir kilat, kemudian ia berlagak mendadak teringat sesuatu dan berteriak dengan kuatir "Wah, kalian yang satu tinggi dan yang lain pendek, jangan-jangan kalian ini Kui-kok-ji ..."

"Hehehe," si setan tanah liat terkekeh. "Boleh juga anak muda belia seperti kamu ini juga kenal nama kami berdua."

Kiam-eng berlagak kejut dan girang katanya pula, "Sungguh bagus sekali, ini namanya dicari sukar setengah mati, ditemukan tanpa susah payah!"

Air muka Ji-bu-siang rada berubah, tanya si setan ukiran kayu dengan dingin, "Kamu bocah ini siapa? Apa artinya ucapanmu tadi?"

Kiam-eng memberi hormat, lalu menjawab, "Aku Im-Som-hiong atas perintah guruku sebenarnya aku hendak pergi ke Tiong-goan untuk mencari kedua Lo-cian-pwe, untung di sini juga berjumpa dengan kalian."

Bok-tiau-bu-siang, si setan ukiran kayu tidak tahu siapa itu "Im-Som-hiong", ia melengong dan bertanya, "Siapa itu gurumu? Untuk apa dia menyuruhmu mencari kami berdua?"

"Guruku tak-lain-tak-bukan ialah Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun," jawab Kiam-eng.

Kembali berubah air muka Ji-bu-siang, cepat si setan lempung mendahului bertanya, "Apa katamu? Jadi kamu ini anak murid Tok-pi-sin-kun?"

"Betul aku ini murid beliau yang nomor tujuh dikenal dengan julukan Tok-kat!" jawab Kiam-eng seenak nya.

"Lantas ada urusan apa gurumu menyuruhmu mencari kami?" tanya si setan kayu.

"Su-hu mendengar kabar, katanya ke dua Lo-cian-pwe telah mendapatkan peta pusaka kota emas, maka beliau bermaksud bekerja sama dengan kalian," tutur Kiam-eng.

Si setan kayu saling pandang sekejap dengan setan lempung, lalu berpaling dan tanya Kiam-eng pula, "Memangnya cara bagaimana gurumu bermaksud bekerja sama dengan kami?"

"Begini," ujar Kiam-eng dengan tersenyum.

Menurut guruku, meski kalian sudah mendapatkan peta pusaka, tapi kalian tidak dapat menemukan Sai- hoa-to Sim-Tiong-ho, begitu bukan?"

"Memangnya lantas kenapa?" tanya si setan kayu sambil mengangguk.

Kiam-eng menarik alis dan berucap, "Apakah ke dua Lo-cian-pwe tahu di mana sekarang Sai-hoa-to itu?"

Terbeliak pandangan si setan kayu, ia menegas, "Jangan-jangan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho sekarang jatuh dalam cengkeraman gurumu?"

"Begitulah kira-kira," Kiam-eng mengangguk dengan tersenyum. "Ke dua Lo-cian-pwe memiliki peta tanpa Sai-hoa-to, sebaliknya guruku menguasai Sai-hoa-to tapi tidak memegang peta. Maka Su-hu menganggap dapat bekerja sama dengan ke dua Lo-cian-pwe, soalnya sekarang entah bagaimana pikiran kedua Lo-cian-pwe?"

Si setan kayu menatap tajam Su-Kiam-eng sekian lamanya, lalu bertanya. "Cara bagaimana supaya dapat aku percaya kepada ucapanmu ini?"

"Sederhana sekali," kata Kiam-eng. "Apabila ke dua Lo-cian-pwe sudah setuju akan bekerja sama dengan guruku, segera juga dapat aku bawa ke dua Lo-cian-pwe untuk menemui Su-hu."

"Hm, jadi maksudmu hendak membawa kami istana putar untuk menemui gurumu?" jengek setan lempung. "Untuk ini, rasanya kami perlu mempertimbangkannya semasak-masaknya."

"Su-hu juga sudah dapat menduga mungkin ke dua Lo-cian-pwe tidak sudi menemui beliau di istana putar, maka sebelumnya Su-hu sudah siap berjumpa dengan kalian di tempat lain," tutur Kiam-eng.