Rahasia 180 Patung Emas Jilid 08

 
Jilid 08 

"Gagasan itu ternyata mendapatkan kata sepakat di antara mereka, maka sejak tahun itu ke-18 tokoh itu lantas sering berkumpul, biasanya setiap bulan bertemu satu kali untuk mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing atas ilmu pedang gabungan itu. Siapa tahu baru sempat berkumpul dua kali saja, entah sebab apa, pertemuan serupa lantas bubar begitu saja."

"Untung juga mereka bubarkan pertemuan begitu, kalau tidak, bukankah kakek guru dan gurumu akan dikalahkan oleh mereka?" ujar Keh-ki.

"Bisa jadi," sahut Kiam-eng dengan tertawa.

"Cuma terhadap pertemuan mereka yang sengaja mendiskusikan ilmu pedang sakti itu tidak menimbulkan permusuhan guruku, sebaliknya beliau sangat senang, sebab di pandang dari sudut mengembangkan ilmu silat secara murni, diskusi begitu memang sangat bermanfaat."

Ia merandek sejenak, lain menyambung, "Sebaliknya, biarpun titik sasaran diskusi mereka itu adalah ingin mengalahkan kakek gurumu dan guruku, namun mereka pun tetap sangat menghormati ke dua beliau, sedikitnya tidak ada rasa permusuhan dan dendam. Bahkan Bu-tek-sin-pian In-Giok-san, satu di antara ke-18 tokoh terkemuka itu, tetap menjadi sahabat karib guruku."

"Kemudian mereka sekaligus diracun dan gugur seluruhnya di Hwe-liong-kok, aku pikir pengganas yang membunuh mereka itu sangat mungkin ialah Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun!" kata Keh-ki.

"Guruku juga menyaksikan hal ini, cuma sebelum diperoleh bukti nyata, betapapun tidak boleh sembarangan menuduh orang."

"Besok pada kesempatan kau masuk ke istana putar, kan sekaligus dapat kau selidiki hal tersebut. Bila berhasil menemukan bukti bahwa Tok-pi-sin-kun benar adalah pengganas yang membunuh ke-118 tokoh itu, hendaknya segera kita beritahukan kepada kakek guru dan gurumu untuk bersama-sama menumpasnya. Dengan begitu untuk mendapatkan Jian-lian-hok-leng itu tentu bukan soal dan tidak penting lagi."

"Tidak, biarpun sebelum penyakit ling-lung In-Ang-bi disembuhkan sudah diketahui siapa pengganas di Hwe-liong-kok itu, tetap juga akan aku dapatkan Jian-lian-hok-leng untuk mengobati penyakit In-Ang- bi," ucap Kiam-eng tegas.

"Su-heng mu juga berusaha hendak menyembuhkan penyakitnya, akibatnya dia sendiri menjadi cacat total, memangnya kamu tidak takut mengalami nasib serupa su-heng mu?" kata Keh-ki.

"Dalam kehidupan perguruan kami selalu tidak kenal apa artinya takut, asalkan urusan yang kami pandang pantas dilakukan, tentu kami laksanakan tanpa pamrih," ujar Kiam-eng. "Bagus, memang sudah aku ketahui kamu ini orang hebat," kata Keh-ki dengan tertawa. "Kelak bilamana penyakit In-Ang-bi sudah sembuh semoga aku tidak kau sepak begitu saja."

"Tampaknya kau sangka aku ada maksud tertentu terhadap In-Ang-bi," kata Kiam-eng tersenyum.

Keh-ki tertawa, untuk menandakan penyesalannya, mendadak ia menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu dan bercumbu rayu dengan dia.

Sehari itu mereka tidak meninggalkan hotel melainkan cuma bermesraan di dalam kamar.

Esok paginya datanglah Sam-bi-sin-ong mengajak Keh-ki ke luar kota untuk mengamati Oh-tok-hong ber empat. Walaupun merasa berat berpisah dengan Su-Kiam-eng, terpaksa Keh-ki ikut pergi bersama Sam- bi-sin-ong.

Menyusul Kiam-eng pun meninggalkan hotel dengan membawa pakaian Oh-tok-hong, lebih dulu ia membeli seekor kuda di dalam kota, lalu ke luar kota dan mencari suatu tempat sepi, ia keluarkan alat keperluan rias dan mulai menyamar.

Ia merencanakan akan berangkat lewat lohor ia taksir menjelang magrib sudah dapat tiba di istana putar musuh. Sebab "pulang" ke istana putar pada waktu malam tentu lebih sulit diketahui penyamarannya oleh anak murid Tok-pi-sin-kun. Dengan sendirinya ia menyamar dengan sangat teliti, lebih dari satu jam ia merias diri baru terasa puas.

Kemudian ia duduk mengaso di situ, setelah lewat lohor barulah ia menjeplak ke atas kuda dan dilarikan cepat ke Thian-ti.

Waktu asap dapur sudah banyak mengepul di rumah penduduk, sampailah dia di sekitar istana putar musuh.

Soan-kiong atau istana putar adalah bangunan yang megah menghadapi danau dan membelakangi bukit. Dipandang dari bentuknya serupa sebuah gedung besar orang kaya raya. Sepanjang mata memandang gedung susun berderet-deret, sedikitnya berjumlah ratusan. Tapi bila diamati lebih deretan bangunan itu ternyata bersambung satu sama lain, tidak ada satu pun yang berdiri sendiri sendiri. Sebab itulah bila dipandang begitu saja sangat mirip sebuah sarang tawon raksasa.

Di sekeliling istana putar itu banyak pepohonan tinggi besar dan menghijau permai.

Jalan yang menembus pintu gerbang istana putar itu dilandasi batu mengkilap, kedua samping jalan ada barisan tiang lampu yang rajin dan terasa kereng pula suasananya.

Sungguh, bagi orang yang tidak tahu seluk-beluknya tentu akan mengira majikan istana putar itu pasti seorang tokoh yang kereng luar biasa dan berwibawa.

Kiam-eng terus melarikan kudanya ke depan, diam-diam ia pun terkesiap melihat kemegahan kompleks bangunan istana putar itu.

Tiba-tiba pintu gerbang istana putar terbuka, dari dalam berlari ke luar tujuh penunggang kuda dengan cepat, segera pula Kiam-eng dapat mengenali dua di antara ke tujuh penunggang kuda itu adalah murid ke dua dan ke tiga Tok-pi-sin-kun, yaitu Ji-Liang dan Tong-hong-Bing.

Waktu diamati lagi, terlihat dua di antara rombongan itu adalah dua orang perempuan genit.

Segera pula Kiam-eng dapat memastikan mereka juga anak murid Tok-pi-sin-kun, cepat ia menunduk dan berlagak orang yang lelah dalam perjalanan jauh serta menyongsong rombongan mereka itu.

Ketika sudah agak dekat, mendadak terdengar Ji-Liang berteriak kaget, "Hei, bukankah itu Si-te (adik ke empat) sudah pulang?"

Dengan lagak lesu Kiam-eng mengangkat kepala dan memandang mereka sekejap, lalu pura pura kehabisan tenaga dan terperosot ke bawah kuda.

Ji-Liang bertujuh berseru kaget dan kuatir, serentak mereka melompat turun dari kuda masing-masing dan memburu maju untuk menolong.

Yang pertama mendekati Kiam-eng adalah Ji-Liang, cepat ia memayangnya bangun dan hanya kuatir "Engkau kenapa, Su-te?"

Kiam-eng menampilkan senyum getir, ucapnya dengan suara yang dibikin lemah, "Ti ... tidak apa, aku cuma ... cuma mengalami sedikit luka dalam dan ... dan menempuh perjalanan selama belasan hari, maka ... "

"Oo, lalu cara bagaimana kau lari pulang?" tanya Ji-Liang cepat. "Dan bagaimana pula dengan Toa-su- heng dan lain-lain?"

Kiam-eng tidak menjawab, ia cuma menghela napas panjang dan menunduk lemas, lagaknya itu seakan- akan hendak menyatakan sekarang jangan tanya dulu, biarlah aku mengaso sebentar.

Sebab itulah Tong-hong-Bing lantas menyambung, "Ji-ko, aku kira Si-te perlu istirahat dulu, marilah kita membawanya menemui Su-hu saja."

Ji-Liang mengangguk setuju dan segera mengangkat Kiam-eng dan dibawa jalan cepat ke arah istana putar.

Setelah menambat kuda masing-masing di tiang lampu, ke enam orang yang lain juga cepat menyusul di belakang Ji-Liang.

Dalam keadaan begitu, dengan sendirinya Kiam-eng tidak leluasa untuk memandang kian kemari, maka pemandangan sesudah memasuki pintu gerbang kompleks bangunan istana putar hampir tidak jelas lagi baginya. Waktu masuk ke dalam istana, yang terlihat cuma batu marmer belaka, baik lantai, dinding dan di mana-mana hampir melulu batu marmer yang bercahaya mengkilat.

Cuma, dari pajangan dalam bangunan yang terlintas di bawah pandangannya sudah cukup membuatnya terkesima, dilihatnya segala sesuatu di dalam istana putar itu sungguh teramat mewah, sama sekali tidak kalah dibandingkan istana raja.

Selagi heran, Ji-Liang yang memondongnya itu tiba-tiba berhenti di sebuah kamar batu marmer.

Entah cara bagaimana pula komunikasi diadakan, hanya sebentar saja Ji-Liang berada di situ, segera berkumandang suara seorang yang sangat dingin dari luar kamar, "Siapa itu?"

"Te-cu Ji-Liang adanya!"

"Oo, ada apa kau putar kembali ke sini?"

"Lapor Su-hu, Si-te Ki-Se-ki dapat pulang ke mari." "Oo, cara bagaimana dia dapat lari pulang?"

"Te-cu belum sempat tanya padanya, sebab Si-te mengalami luka dalam, waktu bertemu dengan kami segera ia jatuh terperosot dari kudanya."

"Dan sekarang?"

"Sudah te-cu bawa kemari."

"Baik, coba bawa dia menemuiku di Cip-gi-tia (ruang pendopo pertemuan)."

Baru saja Ji-Liang mengiakan, mendadak dinding marmer di depan terpentang bagian tengah sehingga berwujud sebuah pintu.

Berturut-turut Ji-Liang bertujuh lantas masuk ke ruangan sana dengan mengusung Su-Kiam-eng.

Di balik pintu adalah sebuah jalan lorong yang panjang sempit, atas bawah dan kanan kiri jalan seluruhnya terdiri dari batu marmer, meski jarak sepuluh langkah tentu tergantung sebuah lampu gelas yang indah, namun tetap terasa suasana yang seram.

Sebelum berada di tempatnya tentu takkan merasakan bahaya nya. Sekarang Su-Kiam-eng mulai merasakan dirinya seperti memasuki neraka, secara mendalam dirasakannya sekalipun dirinya berhasil menemukan peta rahasia kota emas, untuk kabur keluar istana putar yang aneh ini mungkin jauh lebih sulit daripada terbang ke langit. Sungguh, meski pengetahuannya dalam hal pesawat rahasia sangat sedikit, namun ia tahu di sekitar lorong sempit itu pasti banyak terpasang pesawat rahasia yang mengerikan di seluruh istana putar itu, mungkin cuma jalan lorong yang dilaluinya sekarang yang tidak terpasang perangkap. Akan tetapi lorong sempit ini paling-paling cuma seperseribu daripada seluruh luas istana putar, nanti bila dirinya berhasil mendapatkan peta lantas cara bagaimana akan dapat lolos dari tempat bahaya melalui jalan aman yang cuma seperseribu ini?

Selagi benak Kiam-eng diliputi berbagai tanda tanya itu tahu-tahu Ji Liang sudah berhenti di ujung lorong itu. Segera Kiam-eng merasa tegang pikirnya, "Ah, sudah sampai di tempat tujuan. Segera akan dapat aku lihat bagaimana wujud si iblis besar Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun!"

Namun di luar dugaannya, ketika dinding marmer di kanan ujung lorong itu mulai terbuka dengan perlahan, yang terlihat olehnya bukanlah ruang pendopo segala melainkan ada sebuah lorong lagi.

Seketika perasaan Kiam-eng tertekan, pikirnya "Wah, rupanya masih jauh!"

Memang tidak salah, setelah lorong ke dua ini ditelusuri ternyata masih ada lorong yang lain lagi, akhirnya mereka masuk ke sebuah kamar batu yang kecil, mendadak kamar batu itu mengapung ke atas dengan perlahan, entah berapa tinggi kamar itu naik ke atas, ketika berhenti, sebuah pintu terbuka secara otomatis, baru sekarang mereka benar-benar sampai di ruangan pendopo.

Cip-gi-tia atau ruang pendopo itu juga sebuah ruang batu marmer yang sangat luas, semuanya teratur indah dan megah, jauh untuk bisa dibandingi dengan ruang tamu umumnya. Cirinya yang khas adalah semua meja kursi di ruang ini juga terbuat dari batu marmer. 

Sebuah kursi marmer besar di tengah ruang saat itu diduduki seorang lelaki setengah umur berwajah putih cakap. Di belakang orang setengah baya ini berdiri dua pelayan gadis jelita berdandan seperti dayang keraton.

Kalau tidak melihat lengan baju kiri orang setengah umur itu ternyata kosong tanpa lengan, hampir Su- Kiam-eng tidak percaya bahwa orang inilah Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun yang namanya mengguncangkan dunia persilatan itu.

Menurut bayangan Su-Kiam-eng, selama ini ia sangka Tok-pi-sin-kun si malaikat sakti lengan tunggal pasti seorang kakek yang berwajah bengis dan aneh, sama sekali tak terduga bahwa tokoh termashur justru seorang lelaki setengah baya dengan wajah cakap dan sikap lembut.

Dengan sendirinya sebelumnya ia sudah tahu umur Tok-pik-sin-kun sudah melebihi 70, tapi tampaknya sekarang usia orang serupa setengah baya saja, diam-diam ia pikir pasti tokoh lengan satu itu mahir merawat diri dan banyak makan obat kuat awet muda.

Sekarang, begitu Tok-pi-sin-kun melihat Ji-Liang masuk dengan memondong satu orang, langsung ia lantas menegur, "Apakah parah lukanya?"

Dengan hormat Ji-Liang menjawab, "Seperti tidak terlalu parah, namun akibat kelelahan dalam perjalanan selama belasan hari sehingga kehabisan tenaga ... "

"Ya, taruh dia di lantai," potong Tok-pi-sin-kun sambil mengangguk. Perlahan Ji-Liang menurunkan Su-Kiam-eng.

Tok-pi-sin-kun berbangkit perlahan dan mendekati Kiam-eng ia berjongkok dan memegang urat nadinya sejenak lalu berucap dengan kening berkerenyit, "Ehm, hanya jantungnya berdenyut agak terlampau cepat yang lain semuanya normal."

Pada saat itu jantung Su-Kiam-eng memang berdebar terlebih keras daripada biasanya, ini disebabkan pikirannya diliputi ketegangan yang sangat.

Maklumlah, apa yang dihadapinya ini kan detik yang menentukan sukses atau gagal serta hidup dan matinya.

Untung juga ketegangannya itu menimbulkan denyut nadinya yang terlebih keras dari pada biasanya sehingga menambah kesungguhannya, dari sikap Tok-pi-sin-kun sesudah memeriksa nadinya, dapatlah Kiam-eng mengetahui dirinya telah berhasil mengelabui lawan.

Perlahan ia memandang lurus ke arah Tok-pi-sin-kun, dengan lagak ada napas tanpa tenaga ia berseru, "Su ... Su-hu ... "

Tok-pi-sin-kun mengiakan perlahan. "Padamu kan selalu terbawa Tai-hoan-po-beng-tan (pil sakti pelindung nyawa), mengapa tidak kau minum barang satu biji?"

"Tai-hoan-po-beng-tan ... pil itu telah ... telah hilang sewaktu te-cu bertempur," jawab Kiam-eng lemah.

Tok-pi-sin-kun berdiri lalu berpaling dan berkata terhadap Ji-Liang, "Beri minum sebiji Tai-hoan-po-beng- tan untuk Si-su-te mu!"

Si harimau terbang Ji-Liang cepat mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangnya ke luar satu biji pil sebesar kedelai kuning terus dijejalkan ke mulut Su-Kiam-eng.

Pernah juga Kiam-eng mendengar Tai-hoan-po-beng-tan adalah obat mujarab penyembuh luka dalam buatan khas Tok-pi-sin-kun, obat mujarab yang ces-pleng, maka setelah minum obat, sejenak kemudian ia pura-pura sembuh mendadak terus duduk.

Tok-pi-sin-kun duduk kembali di kursi batu marmer, katanya, "Sekarang coba ceritakan pengalamanmu."

Kiam-eng berlagak menyesal dan malu, tuturnya, "Cara bagaimana te-cu jatuh ke dalam cengkeraman Su-Kiam-eng mungkin Su-hu sudah mendapat laporan?"

Tok-pi-sin-kun mengangguk. "Ehm, aku dengar Su-Kiam-eng menyaru sebagai Peng-Tai-siu dan memukulmu hingga pingsan, kemudian bagaimana?"

"Entah berselang berapa lama setelah te-cu pingsan, ketika perlahan te-cu siuman kembali, te-cu merasa anggota badan kaku tak bisa bergerak, rupanya hiat-to kelumpuhan te-cu ditutuk orang sehingga tak sanggup berkutik. Segera te-cu menyadari apa yang terjadi, maka te-cu sengaja berlagak masih belum sadar dan diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk membuka hiat-to yang tertutuk ..."

Melihat penuturan "Oh-tok-hong" mendadak berhenti, Tok-pi-sin-kun tidak sabar, bentaknya, "Lalu bagaimana, teruskan!"

"Pada saat itulah te-cu mendengar ada suara, orang bicara di samping te-cu, yaitu seorang tua, seorang pemuda dan seorang nona, tatkala itu cuma mendengar suara orang tua itu adalah Sai-hoa-to Sim- Tiong-ho, namun tidak tahu siapa anak muda dan si nona. Cuma setelah mengenali suara Sai-hoa-to segera te-cu menyadari terjadi sesuatu di luar dugaan ..."

"Apa yang dibicarakan mereka waktu itu?" tanya Tok-pi-sin-kun.

"Te-cu dengar si nona berkata, "Kakak Eng, cara bagaimana akan membereskan ke empat orang ini". Pemuda yang dipanggil kakak Eng itu menjawab, "Ke empat orang ini adalah murid Tok-pi-sin-kun, seharusnya mereka dihukum mati saja, cuma kita masih perlu menuju ke istana putar musuh untuk merebut kembali peta pusaka, untuk menjaga kemungkinan di luar dugaannya, agaknya kita perlu mengatur langkah mundur ... "

"Lalu te-cu mendengar Sai-hoa-to menukas, "Betul, Tok-pi-sin-kun itu terhitung seorang gembong iblis yang berhati keji dan ringan tangan. Jika ia tahu kalian membunuh anak muridnya, tentu dia takkan melepaskanmu begitu saja. Maka aku kira untuk sementara ini jangan membunuh ke empat orang ini. Biarlah sekarang kita kurung dulu mereka, kemudian kalian menuju ke istana musuh untuk mencuri peta. Jika berhasil tentu tidak menjadi soal lagi, sebaliknya bila gagal, ke empat orang ini kan berguna dijadikan sandera untuk memeriksa Tok-pi-sin-kun menyerahkan peta."

"Lantas terdengar si pemuda menanggapi. 'Betul, memang begitulah maksudku.' Dan si nona pun setuju, katanya, 'Jika begitu, lantas ke empat orang ini akan dikurung di mana?' "

"Sai-hoa-to menjawab, "Kan di sini ada kereta kuda yang tersedia, biarlah aku bawa mereka ke Hoai- hoa, ada seorang sahabatku tinggal di kota itu.' "

"Pemuda itu menegas, 'Sim-lo-cian-pwe mempunyai sahabat yang tinggal di Hoai-hoa? dan Sai-hoa-to menjawab, Ya, namanya Tian-Hong berjuluk Cau-siang-hui (si terbang di atas rumput), seorang tokoh tua yang sudah lama mengasingkan diri, ada hubungan akrab antara dia dan aku.'

"Si pemuda menyatakan setuju, habis itu mereka bicara lagi sebentar kemudian baru te-cu tahu bahwa anak muda itu bernama Su-Kiam-eng, murid kedua Kiam-ho Lok-Cing-hui sedangkan si nona adalah cucu murid Kiam-ong Ciong-Li-cin, putri Hong-hun-kiam-hiap Ih-Kik-pin, namanya Ih-Keh-ki ..." "Kemudian cara bagaimana kamu dapat lolos dan pulang ke sini?" tanya Tok-pi-sin-kun.

"Sesudah te-cu tahu siapa anak muda dan si nona, meski hiat-to sudah berhasil aku jebol, namun te-cu merasa tidak mampu kabur di depan ke tiga musuh itu maka te-cu tetap berlagak pingsan. Tidak lama kemudian Su-Kiam-eng dan Ih Keh-ki lantas berangkat pada malam itu juga, menyusul Sai-hoa-to melemparkan kami ber empat ke dalam kereta dan menyuruh kusir membawa kereta ke luar kota menuju ke Hoai-hoa.

"Te-cu tunggu setelah beberapa li kereta meninggalkan kota barulah melompat turun dari kereta, tak terduga ketika akan meloloskan diri Sai-hoa-to sempat melancarkan suatu pukulan kepada te-cu meski tidak terlampau keras, namun te-cu tambah tidak sanggup menolong Toa-su-heng dan kedua kawan yang lain terpaksa te-cu kabur ke dalam hutan di tepi jalan."

"Kemudian ada maksud te-cu hendak mengejar ke sana untuk menolong Toa-su-heng bertiga, namun setelah te-cu pikir Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki berdua sudah berangkat menuju ke tempat Su-hu, kalau te-cu tidak lekas pulang untuk memberi lapor kepada Su-hu bisa jadi tempat kita ini akan kebobolan karena sama sekali tidak menduga akan disusupi musuh. Maka te-cu telah membeli seekor kuda siang dan malam membedal pulang kemari ... "

Sampai di siu, Tok-pi-sin-kun manggut-manggut tanda puas, katanya, "Ehm, seharusnya kamu mesti menyusul ke sana untuk menolong Toa-su-heng mu sebab ke dua su-heng mu yang lain kan tidak tertawan oleh Su-Kiam-eng bila mereka keburu pulang, memangnya kuatir akan kebobolan oleh datangnya Su-Kiam-eng berdua?"

Kiam-eng berlagak gugup dan menjura, "Ya, te-cu memang kurang pikir. Cuma te-cu mengira Ji-su-heng dan Sam-su-heng tidak tahu akan kedatangan Su-Kiam-eng ke Thian-ti sini, maka ... maka ..."

"Sudahlah," potong Tok-pi-sin-kun, "syukurlah jejak Toa-su-heng mu bertiga sudah diketahui, maka aku pun tidak mau menyalahkanmu lagi."

"Terima kasih atas kemurahan hati Su-hu," cepat Kiam-eng menjawab.

Lalu Tok-pi-sin-kun berkata terhadap Ji-Liang bertujuh, "Sekarang kalian sudah tahu jejak Toa-su-heng mu bertiga, maka aku beri batas waktu 40 hari, betapapun kalian harus berhasil membawa mereka pulang dengan selamat."

Cepat Ji-Liang mengiakan dengan hormat katanya, "Cuma te-cu merasa, apabila Toa-su-heng benar dibawa ke tempat kediaman Cau-siang-hui Tian-Hong dan dikurung di sana oleh Sai-hoa-to, kini cukup kita mengirim tiga kawan saja ke sana." rasanya te-cu bertujuh tidak perlu ikut pergi seluruhnya."

"Betul juga," Tok-pi-sin-kun mengangguk. "Maka boleh kau pergi bersama Tong-hong-Beng dan Ke-it- liong saja."

Ji-Liang, Tong-hong-Beng dan murid ke lima Tok-pi-sin-kun, Hwe-pian-hok Ke-It-liong, si kelelawar kelabu, ke tiga nya mengiakan dengan hormat dan mengundurkan diri.

Sorot mata Tok-pi-sin-kun yang tajam menyapu pandang sisa ke empat muridnya yang masih di situ katanya dengan bengis. "Aku yakin sekarang Su-Kiam-eng dan Ih-Keh-ki sudah sampai di Thian-ti, maka mulai malam ini kalian harus lebih waspada, bilamana melihat orang yang mencurigakan mendekati istana, harus cepat memberi laporan!"

Ke empat orang serentak mengiakan dengan sangat hormat, "Baiklah, sekarang kalian boleh ke luar," kata Tok-pi-sin-kun.

Maka Su-Kiam-eng lantas ikut ke empat su-te dan su-moai mengundurkan diri dari Cip-gi-tia dan masuk ke kamar batu kecil tadi untuk turun ke bawah, kemudian ke luar menelusuri lorong-lorong panjang itu.

Sekarang Su-Kiam-eng mulai menghadapi masalah kedua.

Ia tahu ke empat "su-te dan su-moai" yang bersamanya sekarang, yang seorang bernama Hoa-oh-tiap Yap-Hui, si kupu-kupu belang, seorang lagi bernama Tok-kiat Im-Som-hiong, si kalajengking berbisa. Adapun ke dua yang lain adalah su-moai (adik seperguruan perempuan), yang seorang bernama Goat- he-bi-jin Tiau-Soat-lan, si cantik bulan purnama, dan yang lain bernama Giok-bin-lo-san Lo-Giok-bi, si hantu bermuka putih. Masalahnya sekarang adalah, siapa di antara mereka itu yang bernama Hoa-oh-tiap Yap-Hui? Dan yang mana lagi yang bernama Giok-he-bi-jin Tiau-Soat-lan dan seterusnya.

Bilamana sekarang ia tidak dapat menyebut nama mereka dengan tepat, tentu kepalsuannya akan ketahuan juga.

Selain itu, ia masih harus memahami segala kebiasaan Oh-tok-hong, yang perlu segera diketahuinya adalah di mana letak kamarnya sendiri.

Untuk memancing keterangan, terpaksa Kiam-eng mengada-ada dan mengajak bicara mereka, tiba-tiba ia telah didahului, "Eh, Si-ko, aku dengar Su-Kiam-eng itu sangat ganteng dan cakap, apa betul?"

Yang bertanya ini adalah satu di antara ke dua su-moai itu usianya kira-kira 23 atau 24 alisnya lentik matanya jeli bibir merah dan gigi putih rajin bak biji ketimun, lagak lagunya genit senyumnya juga menggiurkan orang.

Dengan tak acuh Kiam-eng menjawabnya, "Oo, kau dengar dari siapa?"

Nona genit itu menjawab dengan tertawa, "Dari cerita Sam-su-ko ia menantangku berani memikat Su- Kiam-eng atau tidak maka perlu aku cari keterangan dulu mengenai orangnya."

"Jadi kamu bermaksud memikat Su-Kiam-eng itu."

"Betul," jawab si nona genit. "Sam-ko mengira aku si cantik bulan purnama ini tidak berani mengusik orang she Su itu, maka sengaja aku terima tantangannya, aku akan beraksi biar dia tahu kemampuanku."

Diam-diam Kiam-eng merasa girang, ia pikir sungguh kebetulan, selagi kebingungan karena tidak tahu siapa siapa di antara kalian sekarang kamu mengaku sebagai si cantik bulan purnama Tiau-

Soat-lan maka dengan sendirinya kawanmu itu adalah Giok-lo-sat Lo-Giok-bi.

Dengan tertawa ia pun menanggapi, "Kau ingin memikat Su-Kiam-eng, aku kira harapanmu sukar terkabul. Sebab di samping pemuda she Su itu aku lihat selalu ada seorang nona cantik namanya Ih-Keh- ki."

"Hm, budak sekecil itu tahu apa?" jengek Tiau-Soat-lan. "Anak ingusan seperti itu masakah aku pandang sebelah mata?"

Sementara itu satu di antara su-te juga ikut bertanya, "Eh, ya, Si-ko, sesungguhnya betapa cantiknya nona she Ih itu?"

Su-Kiam-eng berlagak mendengus dengan tertawa, "Hm, tampaknya kau pun menaksir anak gadis orang?"

Pemuda itu tertawa dan menjawab, "Ah, masakah Si-ko kuatir aku jatuh hati terhadap nona keluarga Ih itu?"

"Betul," jawab Kiam-eng sungguh sungguh, "Ih-Keh-ki itu putri kesayangan Hong-hun-kiam-hiap Ih-Kik- pin, coba bayangkan, betapa tinggi ilmu pedangnya ajaran raja pedang Ciong-Li-cin itu? Jadi nona Ih itu boleh diibaratkan setangkai mawar berduri"

"Haha, apabila Si-ko takut, biarlah aku si-kupu-kupu belang saja yang mengerjai dia," seru pemuda tadi dengan tergelak.

Diam-diam Kiam-eng gembira, sebab sekarang ia sudah kenal siapa mereka berempat ini. Ia pikir sekarang tinggal berusaha menemukan kamar Oh-tok-hong saja, lalu dapatlah ia melaksanakan operasinya dengan bebas di lingkungan istana putar musuh ini.

Dengan tertawa ia berkata pula "Jika Lak-te menaksir nona Ih biarlah aku mengalah tapi bila kamu berbalik tertusuk oleh duri mawar yang tajam itu kelak jangan mengeluh."

Hoa-oh-tiap tertawa senang ucapnya, "Tidak mungkin terjadi. Soalnya sekarang adalah Ih-Keh-ki itu benar cantik atau tidak? Bila wajahnya cuma biasa-biasa saja, kan tiada gunanya bagiku."

"Biarpun tidak aku ketahui bagaimana wajahnya tapi dari suaranya yang merdu itu aku kira tidaklah jelek," ujar Kiam-eng.

Si cantik bulan purnama ikut menimbrung. "Eh, Si-ko engkau belum lagi menjawab pertanyaanku tadi. Su-Kiam-eng itu cakap benar atau tidak?"

"Waktu itu aku sendiri jatuh pingsan pada hakikatnya tidak tahu jelas wajah Su-Kiam-eng, dari mana aku tahu dia cakap atau tidak?" tutur Kiam-eng.

Si cantik bulan purnama menarik alis, ucapnya dengan tertawa renyah "Aku yakin dia pasti sangat ganteng kalau tidak masakah Ih-Keh-ki itu mau mengikuti dia kian kemari."

Tengah bicara, mereka pun sudah keluar dari lorong panjang itu dan sampai di suatu serambi kecil. Serambi ini terletak di tengah istana putar, luasnya antara beberapa meter, sekelilingnya adalah kamar berloteng, seluruhnya lima tingkat dan tingginya 20-30 meter. Setiap tingkat ada pintu yang menghadap ke arah serambi bawah. Jelas tempat inilah merupakan jantung istana putar atau tempat kediaman Tok- pi-sin-kun.

Waktu Kiam-eng bersama ke empat "su-te dan su-moai" memasuki serambi tengah itu, mendadak terdengar di bagian atas ada seorang nenek berseru, "He, Si-kong-cu sudah pulang?"

Kiam-eng mendongak dan melihat di depan loteng tingkat tiga ada seorang nenek berambut ubanan, tulang pipinya menonjol, sedang memandang ke bawah, ia tahu nenek itu tentulah salah seorang pembantu andalan Tok-pi-sin-kun, yaitu Tok-po-po Biau-Kim-ki.

Dengan tertawa ia lantas menjawab, "Betul engkau belum tidur?"

Nenek itu memang betul Biau-Kim-ki, si nenek berbisa, salah satu pembantu Tok-pi-sin-kun yang disegani. Ia tertawa mendengar jawaban Kiam-eng, serunya, "Tidur? Hih, bilakah kau lihat nyonya tua tidur sedini ini? Ayolah naik kemari, lekas ceritakan pengalamanmu cara bagaimana kamu dapat lari pulang."

Kiam-eng menjadi ragu dan serba salah apakah harus naik ke atas untuk bicara seperti apa yang diminta itu. Tengah sangsi, terlihat ke empat "Su-te dan Su-moai" tadi telah terpencar dan masuk ke kamar masing-masing, bahkan diketahui mereka sama sekali tidak menggubris terhadap Tok-po-po Biau-Kim- ki.

Karena itulah Kiam-eng merasa dirinya pun tidak perlu menggubris permintaan nenek itu, segera ia berkata dengan menggeleng, "Biarlah bicara besok saja, aku sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh, aku harus istirahat dulu!"

Sembari bicara ia pun melangkah ke arah kamar di depan serambi sana.

Sebabnya dia menuju ke kamar itu karena menurut perhitungannya kamar Hoa-oh-tiap terletak nomor dua di sebelah kiri, sedangkan kamar Giok-bin-lo-sat, Goat-he-bi-jin dan lain-lain berurut-urutan dengan kamar Hoa-oh-tiap, ini menandakan kamar mereka pun terletak berurutan menurut urutan tua muda mereka.

Dan kalau begitu, Oh-tok-hong diketahui murid ke empat, sedang Hoa-oh-tiap nomor enam, itu berarti kamar Oh-tok-hong terletak ke dua di sebelah kiri Hoa-oh-tiap, sebab itulah ia langsung menuju kamar yang diincar.

Waktu ia tolak pintu kamar, terlihat alat perabot di dalam kamar sangat indah, kasur selimut di tempat tidur rajin teratur, ia yakin ini kamar Oh-tok-hong, maka tanpa ragu ia masuk ke situ.

Selagi ia hendak merapatkan pintu kamar tiba-tiba sebuah tangan mendorong pintu yang hampir merapat itu, waktu ia pandang, kiranya Tok-po-po Biau-Kim-ki adanya. Terkesiap hati Kiam-eng ia berlagak tersenyum getir dan berkata, "Sudah aku katakan aku lelah dan ingin istirahat dulu."

Si nenek terus melangkah ke dalam kamar ucapnya dengan menyengir, "Aku justru ingin tahu dulu pengalamanmu kabur pulang ke sini."

"Baru saja aku minum satu biji Tai-hoan po-beng-tan sehingga dapat berjalan," tutur Kiam-eng.

Si nenek tampaknya memang Sok usilan, bukannya pergi ia berbalik duduk di sebuah bangku batu di dalam kamar ucapnya dengan tertawa. "Boleh kau ceritakan dengan rebah di tempat tidurmu." Kiam-eng pura-pura kesal, ia duduk di tepi tempat tidur dan membuka sepatu lalu berbaring tanpa buka baju dengan malas ia berkata, "Aku terjungkal habis-habisan apanya yang berharga aku ceritakan?"

"Aku dengar kamu ditawan Su-Kiam-eng, kemudian cara bagaimana kamu berhasil kabur pulang," tanya si nenek.

Dari gelagatnya Kiam-eng dapat menilai si nenek ini pasti seorang perempuan ceriwis, perempuan bawel, ia pikir biarlah omong kosong sedikit juga tidak menjadi soal, maka ia ulangi ceritanya seperti apa yang dikatakan pada Tok-pi-sin-kun tadi. Akhirnya ia menyengir dan menambahkan, "Coba lihat, begitulah caraku lari pulang ke sini, lucu bukan?"

"Betapapun dapatlah kamu menyelamatkan jiwa, memangnya kamu tidak bersyukur?"

"Akan tetapi sebenarnya kesempatan itu ingin aku gunakan untuk menyelamatkan Toa-su-heng bertiga, akhirnya gagal sama sekali," kata Kiam-eng.

"Sekarang Ji-su-heng dan Sam-su-heng mu sudah memburu ke sana tentu keselamatan Toa-su-heng mu tidak menjadi soal lagi ... Eh, coba jawab, barang yang aku pesan itu sudah kau belikan atau tidak?"

Kiam-eng terkejut dan bingung, cepat jawabnya dengan menggeleng, "O, ya, belum, lupa." "Huh, kalau main perempuan tentu kamu tidak lupa," jengek si nenek kurang senang.

"Jangan sembarang omong," ujar Kiam-eng, "Kepergianku ke Tiong-goan ini sama sekali tidak pernah menjamah orang perempuan. Pengawasan Toa-su-heng teramat ketat."

"Ah, aku tidak percaya," kata si nenek. "Satu hari tanpa teman tidur orang perempuan, mana Oh-tok- hong bisa tidur nyenyak. Masih juga berani kau bilang tidak pernah main perempuan."

"Betul soalnya Toa-su-heng mengawasi kami dengan ketat, selain itu juga sukar mendapatkan perempuan cantik maka sekali saja tidak pernah main."

"Cis, omong kosong," omel si nenek. "Tiong-goan seluas itu, masakah seorang perempuan cantik saja tidak dapat kau temukan?"

"Ya, mungkin nasib lagi jelek," ujar Kiam-eng. "Cuma, bicara sesungguhnya, setelah aku lihat ke sana dan pandang kemari aku rasa betapa cantiknya perempuan Tiong-goan tetap tidak melebihi beberapa nona yang mendampingi Su-hu itu."

"Busyet, tampaknya kamu lagi menaksir si kundai emas yang meladeni gurumu itu?" goda si nenek dengan tertawa.

"Omong kosong," cepat Kiam-eng membantah, "Maksudku kan cuma untuk perumpamaan saja." Mendadak Tok-po-po berdiri dan tertawa ngekek, katanya, "Sin-kun, silakan masuk menemui muridmu."

Selagi Kiam-eng melengak bingung, tahu-tahu pintu kamar didorong orang, ternyata yang melangkah masuk itu memang betul Tok-pi-sin-kun adanya. Di belakang sang guru bahkan ikut pula dua orang tua, seorang gemuk dan seorang lagi kurus.

Melihat wajah Tok-pi-sin-kun yang menampilkan senyum dingin, diam-diam Kiam-eng merasa gelagat tidak enak, cepat ia melompat turun dan memberi hormat, sapanya, "Su-hu, mengapa engkau datang sendiri ke kamar te-cu?"

"Hehe, kan boleh aku datang menjenguk murid kesayanganku," sahut Tok-pi-sin-kun dengan terkekeh. "Gurumu dapat menerima murid Kiam-ho Lok-Cing-hui menjadi murid sungguh aku sangat bangga dan gembira."

Keruan Kiam-eng terkejut, seketika ia melongo dan tidak sanggup menjawab.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa belum seberapa lama ia masuk ke istana putar musuh seketika juga kedoknya lantas terbuka.

Ia coba merenungkan ucapan Tok-po-po yang terakhir tadi jelas nenek itu diperintah Tok-pi-sin-kun untuk menjajaki kepalsuan dirinya. Ia tidak habis mengerti dengan cara bagaimana Tok-pi-sin-kun dapat mengetahui penyamarannya? Jangan-jangan Oh-tok-hong berhasil lari pulang ke sini? Rasanya toh tidak mungkin. Andaikan Oh-tok- hong dapat pulang dengan selamat sedikitnya akan terlambat dua-tiga hari daripada dirinya yang menunggang kuda pilihan.

Habis ciri kelemahan apa yang dapat dilihat Tok-pi-sin-kun?

Selagi termenung bingung, mendadak Tok-pi-sin-kun menengadah dan bergelak tertawa, ia tuding kedua kakek gemuk kurus di belakangnya dan berkata "Begini, apabila kamu sanggup terka siapa di antara mereka ini Thian-ti-it-koai Bau-Hai-san dan siapa Hiat-pit-kui-su Uh-Bun-an maka bolehlah aku akui dirimu sebagai muridku."

Kiam-eng menyadari urusan bisa makin runyam bila dirinya tetap berlagak pilon, sedapatnya ia tenangkan diri dan segera mengusap mukanya sehingga kembali pada wajah aslinya, lalu berkata dengan tertawa, "Aha, rupanya Anda sudah tahu siapa diriku, buat apa mesti banyak omong kosong lagi!"

"Haha, bagus!" seru Tok-pi-sin-kun dengan tergelak. "Ahli waris Kiam-ho Lok-Cing-hui memang berani dan pandai. Kamu Su-Kiam-eng memang jauh lebih gesit daripada kesembilan muridnya."

"Ah, panglima yang kalah masa berani bicara tentang keperkasaannya," ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Cuma ingin aku tanya, cara bagaimana Anda dapat melihat penyamaranku."

"Bukan melihat melainkan dapat aku cium," ucap Tok-pi-sin-kun dengan tertawa. "Dapat mencium?" Kiam-eng menegas dengan melengong.

"Ya, sebab dapat aku cium bau khas badan ke sembilan muridku itu," tutur Tok-pi-sin-kun dengan bangga. "Tadi waktu aku pegang urat nadimu, aku rasakan bau badanmu tidak benar, seketika timbul rasa curigaku. Namun kepandaianmu merias muka memang hebat sehingga tidak berani aku pastikan hal itu, maka sengaja aku suruh Co-hou-hoat wakil pertama pembela agama, maksudnya si nenek Tok-po-po untuk menyelidiki dirimu. Hasilnya membuktikan kamu memang barang palsu, sebab pada hakikatnya

Co-hou hoat tidak pernah pesan minta dibelikan barang segala, juga di sampingku tidak ada pelayan yang bernama si kundai emas."

Bicara sampai di sini segera Tok-pi-sin-kun melangkah ke luar kamar sambil memberi perintah, "Bawa dia ke luar!"

Tok-po-po lantas memberi tanda pada Su-Kiam-eng, katanya, "Ayo jalan, ke luar sana"

Diam-diam Kiam-eng sudah mengamati keadaan, ia tahu tiada gunanya membantah, maka dengan bersitegang leher ia ikut ke luar.

Sementara itu di halaman tengah tadi sudah berdiri menunggu Hoa-oh-tiap, Tok-kat Giok-bin-lo-sat dan Goat-he-bi-jin berempat, bahkan ke tiga orang yang disuruh ke Hoai-hoa yaitu Pek-hui-hou, Kim-ci-pa dan Hwe-pian-hok juga hadir di situ.

Air muka Hoa-oh-tiap berempat tampak mengunjuk rasa heran dan bingung, ini menandakan mereka pun baru saja diberi tahu bahwa Oh-tok-hong adalah gadungan, makanya mereka kaget dan bingung.

Tok-pi-sin-kun berdiri di depan ke tujuh orang itu dengan air muka masam diliputi hawa membunuh, agaknya bila Su-Kiam-eng tidak memberi pengakuan sejujurnya, seketika dia akan turun tangan membunuhnya.

Kiam-eng pun berdiri beberapa langkah di depan mereka, wajah tetap dihiasi senyuman santai, sebab sebelumnya sudah dirancangnya jawaban apa yang akan diberikan.

Melihat ketenangan anak muda itu, Tok-pi-sin-kun mendengus, "Nah, bicaralah, telah kau apakan ke empat muridku itu?"

"Sudah dibawa pergi oleh Sai-hoa-to dan nona Ih." jawab Kiam-eng. "Dibawa ke mana?" tanya Tok-pi-sin-kun dengan menarik muka.

"Hal ini menyangkut mati-hidupku, mana boleh aku beritahukan begitu saja?" jawab Kiam-eng tenang. Sorot mata Tok-pi-sin-kun menampilkan napsu membunuh yang berkobar, ucapnya dengan tertawa dingin, "Jadi kamu berkenan tidak mau mengaku?"

"Ya, tidak!" jawab Kiam-eng tegas.

"Kau kira dengan sikap keras kepalamu ini nyawamu akan dapat dipertahankan?" jengek Tok-pi-sin-kun.

Kiam-eng tersenyum, "Ya, aku kira seharusnya begitu, sebab yang kau kehendaki ialah Sai-hoa-to Sim- Tiong-ho, jika aku kau bunuh lalu ke mana akan kau cari dia?"

"Akan tetapi bila kamu tetap tidak mau mengaku, untuk apa pula aku biarkan kamu hidup?" ujar Tok-pi- sin-kun.

"Apabila aku katakan terus terang aku takkan kau bunuh?" tanya Kiam-eng.

"Betul, yang aku kehendaki adalah kota emas itu, bilamana kau katakan di mana beradanya Sai-hoa-to, setelah aku kirim orang dan membawa dia kemari segera juga akan aku bebaskan dirimu."

Kiam-eng menggeleng kepala, ucapnya, "Akan tetapi, maaf, aku tidak percaya terhadap janjimu." Tok-pi-sin-kun mengangkat alis, "Jadi kamu bertekad ingin mati saja?"

"Dengan sendirinya tidak," ujar Kiam-eng. "Memangnya ada orang bosan hidup benar-benar?" "Habis, sesungguhnya apa kehendakmu?" tanya Tok-pi-sin-kun dengan gemas.

"Aku harap kau berikan kembali peta pusaka itu dan membebaskan diriku, segera pula akan aku bebaskan ke empat muridmu itu," jawab Kiam-eng.

Tidak kepalang gusar Tok-pi-sin-kun mendadak ia berputar dan menuju ke suatu pintu dan membentak, "Bawa dia ke kamar pelaksana hukuman!"

Segera Su-Kiam-eng digusur ke suatu kamar batu yang penuh berserak berbagai macam alat siksaan.

Begitu memasuki kamar batu itu, segera Tok-pi-sin-kun duduk di suatu kursi marmer dan membentak, "Nah, copot seluruhnya!"

Dua orang lelaki kekar yang berjaga di kamar siksaan itu segera mendekati Su-Kiam-eng dan mulai membelejeti pakaiannya.

Anak muda itu tahu sukar terhindar dari siksaan, namun ia tetap tenang saja tanpa melAWAN sebab ia maklum, jangankan cuma Tok-pi-sin-kun saja yang sukar dilawannya, bahkan cukup anak muridnya, asalkan maju dua orang sAja sudah cukup membuatNya mati kutu. Apalagi sekarang dirinya berada di tengaH isTana putar yang penuh perangkap itu, kalau Melawan bErarti akan menambah siksaan belaka.

Akan tetapi, ketika kedua lelaki kekar itu membelejeti dia hingga cuma tersisa sehelai celana dalam saja, mau-tak-mau ia mulai gugup, teriaknya, "Hei, masakah celana dalam ini juga akan kalian buka?"

Ucapannya menimbulkan gelak tertawa Pek-hui-hou bertujuh.

Tok-pi-sin-kun lantas memberi aba-aba, "Baiklah, boleh seret ke sana dan ikat sekencangnya!"

Segera ke dua lelaki tadi menyeret Kiam-eng ke atas sebuah bangku panjang yang disebut bangku harimau, dengan tali kulit kerbau seluruh tubuh diikat dengan erat.

"Maju!" perintah pula Tok-pi-sin-kun.

Seorang lelaki kekar segera mendongkel lutut Su-Kiam-eng, kawannya mengambil sepotong bata dan dijejalkan sekuatnya ke bawah paha.

Kiam-eng menjerit kesakitan.

Rupanya apa yang disebut bangku harimau itu adalah sejenis alat siksa yang lihai. Lebih dulu bagian kaki dan lengan korban diikat erat, lalu bagian lutut diganjal dengan batu bata, lutut bisa terbetot hancur dan sakitnya tak terperikan. Mendengar jeritan Su-Kiam-eng, Tok-pi-sin-kun tertawa senang, ucapnya dengan bengis, "He-he, sekarang mau mengaku atau tidak?"

Kiam-eng tetap tidak bicara dengan menahan rasa sakit, ia pikir untuk membohong diperlukan menderita sedikit, kalau tidak pihak lawan tentu tidak mau percaya.

"Baik, tambah lagi sepotong," perintah Tok-pi-sin-kun ketika melihat Kiam-eng hanya diam saja.

Segera lelaki kekar tadi menjejalkan lagi sepotong bata ke bawah kaki Kiam-eng sehingga rasa sakitnya berlipat, tak tertahankan lagi Kiam-eng pun menjerit.

"Bicara tidak?" bentak Tok-pi-sin-kun.

Namun Kiam-eng tetap menggertak gigi dan tidak mau bersuara, butiran keringat tambah menitik dari dahinya.

"Tambah lagi satu potong!"

Dan begitulah siksaan terus berlangsung, sampai tambahan batu bata ke delapan, sungguh Kiam-eng tidak tahan lagi, teriaknya, "Aduhh! Baik, aku akan bicara!"

Tok-pi-sin-kun menyeringai, "Nah, kalau begitu bicaralah lekas, Sai-hoa-to dan ke empat muridku itu berada di mana sekarang?"

Napas Kiam-eng kelihatan ngos-ngosan, katanya dengan terputus-putus. "Lepaskan ... lepaskan dulu diriku baru aku katakan!"

Dengan murka Tok-pi-sin-kun berteriak "Tambahi lagi sepotong!"

Keruan Kiam-eng ketakutan, cepat ia berseru "Baik, baik, akan aku katakan. Sai-hoa-to saat ini berada di luar kota Kiu-yang ... "

"Di tempat mana di luar kota Kui-yang?" tanya Tok-pi-sin-kun.

"Di ... di Pek-she-su, sebuah rumah berhala pekuburan luar kota Kiu-yang." "Apa betul? Tidak dusta?"

"Betul!"

"Ke empat muridku juga berada di sana?" "Ya."

"Mengapa anak muridku pun kalian bawa ke sana?" tanya Tok-pi-sin-kun.

Mestinya hendak kami gunakan sebagai sandera untuk memaksamu menyerahkan peta."

"Baik sekarang juga akan aku kirim orang ke Pek-she-su itu, kalau tidak menemukan Sai-hoa to dan anak-muridku segera juga akan aku hukum mati kamu si bocah keparat ini."

"Tentu ada di sana. Sekarang lepaskan diriku!" seru Kiam-eng.

Tok-pi-sin-kun lantas memberi tanda agar ke dua lelaki kekar tadi melepaskan Su-Kiam-eng, lalu ia memberi perintah kepada Pek-hui-hou Ji-Liang, "Kalian bertiga segera berangkat ke Kiu-yang, jangan lupa membawa merpati pos, kalau tidak menemukan sesuatu di rumah berhala itu hendaknya memberi kabar lebih dulu dengan merpati pos!"

Ji-Liang Tong-hong-Beng dan Ke-It-liong bertiga sama mengiakan dengan hormat lalu mengundurkan diri.

Mendengar Pek-hui-hou Ji-Liang disuruh membawa merpati pos, ternyata Kiam-eng tidak merasa gelisah sebab menurut perhitungannya, sekalipun mereka pergi dengan memacu kudanya, paling cepat juga diperlukan lima hari baru akan sampai di Kiu-yang, dan merpati pos yang dilepaskan di Kiu-yang paling cepat juga perlu dua hari baru dapat pulang sampai di Thian-ti, jadi pergi-pulang memerlukan waktu tujuh hari, selama tujuh hari, rasanya jauh daripada cukup bagi Sam-bi-sin-ong untuk datang menolongnya.

Sementara itu Yu-hou-hoat, wakil pertama pembela agama, yaitu Thiau-ti-it-koai Bau-Hai-san, mendadak bicara dengan tertawa, "Sin-kun, aku kira pengakuan bocah ini pasti tidak jujur, tujuannya tidak lain hanya untuk mengulur waktu saja."

Tok-pi-sin-kun menoleh dan bertanya, "Berdasarkan apa Co-hou-hoat berpendapat demikian?" Thian-ti-it-koai Bau-Hai-san tertawa, "Berdasarkan dia ini murid Kiam-ho Lok-Cing-hui."

"Hm, memangnya kau anggap mereka guru dan murid adalah manusia yang lebih suka mati daripada menyerah?" jengek Tok-pi-sin-kun.

"Betul," Thian-ti-it-koai mengangguk. "Sin-kun sendiri tentu jauh lebih kenal watak Lok-Cing-hui daripada ku, masakah Sin-kun tidak sependapat bahwa antara mereka guru dan murid sama-sama memiliki watak yang kepala batu?"

Tok-pi-sin-kun mengangguk, katanya dengan tertawa, "Walaupun betul, sukar untuk dimengerti untuk apa bocah ini sengaja mengulur waktu?"

"Maksudnya mengulur waktu dengan sendirinya ingin berdaya untuk meloloskan diri, atau sambil menunggu kedatangan gurunya untuk menolongnya," tutur Thian-ti-it-koai.

"Hahaha, mungkin betul juga," seru Tok-pi-sin-kun tergelak. "Cuma, apakah kau anggap bocah ini mampu lolos ke luar dari istana putar kita ini?"

"Dengan sendirinya dia tidak mampu, cuma ..."

"Kau kira Kiam-ho Lok-Cing-hui mampu memasuki istana putar kita ini?" potong Tok-pi-sin-kun.

Thian-ti-it-koai Bau-Hai-san berpikir sejenak, katanya kemudian, "Ini sukar untuk dikatakan, cuma Kiam- ho Lok-Cing-hui juga bukan kaum keroco, dia ... "

Tapi aku justru yakin, biarpun seratus orang Lok-Cing-hui juga jangan harap akan masuk ke istana putar kita ini," jengek Tok-pi-sin-kun.

Thian-ti-it-koai menyengir serba salah, katanya kemudian dengan tergegap, "Be... betul juga, namun kita pun perlu berjaga ... "

Tok-pi-sin-kun mengangguk setuju, lalu jengeknya terhadap Su-Kiam-eng, "Anak keparat, jika pengakuanmu tadi tidak benar, sebaiknya dalam beberapa hari ini kamu harus berusaha kabur dari tempat ini. Hm, kalau tidak, bilamana diketahui pengakuanmu cuma dusta belaka, maka, hehe, ingin aku lihat cara bagaimana akan kau tahan siksaanku."

Kiam-eng menghela napas panjang, katanya, "Jarak dari sini ke Kiu-yang tidak terlampau jauh, pergi- pulang paling lama hanya tujuh hari, benar atau tidak keteranganku boleh kau lihat saja nanti."

Tok-pi-sin-kun tertawa, katanya terhadap ke dua lelaki kekar tadi, "Bawa dia ke dalam Te-sim-lo (kamar tahanan pusar bumi)."

Kedua orang itu mengiakan dengan hormat, lalu menyuruh Kiam-eng memakai baju, kemudian menggusurnya masuk ke suatu pintu kecil ke kamar siksaan itu.

Begitu melangkahi pintu kecil itu, segera Kiam-eng merasakan kamar itu pun sebuah kamar batu marmer kecil, ia dengar kedua lelaki kekar di belakangnya tidak ikut masuk ke situ. Waktu ia menoleh, terlihat pintu batu sedang merapat dengan perlahan dan ke dua orang itu memang benar berdiri di luar sana.

Namun ia lantas tahu duduknya perkara, sebab sesudah pintu batu itu merapat, kamar batu yang kecil itu lantas mulai menurun ke bawah, ini menerangkan bahwa dengan tangan naik-turun otomatis itu dia akan langsung dikirim ke penjara pusar bumi yang disebut Tok-pi-sin-kun tadi.

Ruang naik-turun itu masih terus menurun, karena dalam ruangan tidak tembus hawa, maka sukar baginya untuk mengukur berapa dalam turunnya, yang jelas pasti sangat dalam. Dan dari istilah "Penjara Pusar Bumi" dapat dibayangkan tempat tahanan itu tentu di bawah tanah dan bukan di permukaan tanah. Tidak lama kemudian, ruang naik-turun itu tergetar sedikit dan berhenti. Menyusul pintu batu terbuka perlahan dengan sendirinya, di luar pintu adalah kamar penjara yang kelihatan lembab, gelap dan seram.

"Masuk!" terdengar suara perintah berkumandang dari atas.

Tidak ada pilihan lain bagi Su-Kiam-eng terkecuali melangkah keluar tangga turun-naik itu dan masuk ke penjara pusar bumi.

Pada saat ia melangkah ke ruang penjara itu, terdengar bunyi "blang" yang keras di belakang, dari atas anjlok sebuah pagar jeruji besi dan tepat menghalangi pintu penjara.

Kiam-eng membalik tubuh dan memegang pagar jeruji itu dan bermaksud mengangkatnya sekuatnya, siapa tahu pagar besi yang kelihatannya cuma beberapa ratus kati itu ternyata berbobot beberapa ribu kati, biarpun dia mengeluarkan segenap tenaga juga tidak mampu mengangkatnya sedikit pun.

Ia tahu pagar besi itu pasti digerakkan oleh sesuatu tombol, segera ia tinggalkan maksud mengangkat pagar besi itu melainkan berputar untuk mengamati keadaan sekeliling kamar penjara.

Terlihat kamar penjara ini luasnya cuma dua-tiga meter persegi, dinding sekeliling terbuat dari batu, mungkin karena terlalu dalam dari permukaan bumi, maka dinding tampak basah, lantai bahkan pecomberan belaka, untung di dalam kamar ada sebuah dipan batu yang dapat digunakan duduk dan rebah, selain dipan batu ini tiada terdapat barang lain.

Ia duduk di dipan batu itu, mau-tak-mau timbul juga semacam rasa takut mati, diam-diam ia tanya diri sendiri apakah mulai sekarang dirinya hanya bisa menunggu kedatangan Sam-bi-sin-ong yang akan menolongnya?

Namun djawabnya sendiri dengan tidak, hal ini tak dapat diandalkan, sebab seperti apa yang dikatakan Tok-pi-sin-kun seratus orang Kiam-ho Lok-Cing-hui saja jangan harap akan dapat memasuki istana putarnya. Jika begitu biarpun Sam-bi-sin-kun memahami sedikit seluk-beluk istana putar, mungkin juga tidak dapat menolongnya ke luar. Apalagi antara Sam-bi-sin-ong dan dirinya cuma ada hubungan kepentingan materi saja dan tidak ada hubungan batin. Bilamana menemukan kesulitan tidak mungkin orang mau menolongnya dengan mengorbankan diri sendiri. Bahkan bisa jadi timbul perubahan pendiriannya dan berbalik bekerja sama dengan Tok-pi-sin-kun untuk mengerjainya.

Sebab itu, cara bagaimana baiknya meloloskan diri dari istana putar musuh, jalan paling baik adalah mengandalkan usaha sendiri.

Namun urusan yang jauh tidak perlu dibicarakan yang jelas, sekarang saja sudah sulit, cara bagaimana dirinya bisa lolos dari kamar tahanan putar bumi ini?

Begitulah sembari berpikir ia pun mengamat-amati sekitarnya, tanpa terasa ia tertawa getir. Ternyata tempat ini bukan kamar penjara biasa, kalau tidak ada bantuan dari luar selama hidup jangan harap akan dapat lari keluar.

Akan tetapi, bantuan dari luar yang diharapkan itu kecuali Sam-bi-sin-ong saja, memangnya siapa lagi? Gurunya? Pada hakikatnya sang guru tidak tahu dia terkurung di istana putar musuh.

Apakah Sai-hoa-to? Dia kan berada dalam cengkeraman Sam-bi-sin-ong, mungkin ada niatnya menolong, namun apa daya, tenaga tak sampai.

"Blang-blang blang", tiba-tiba terdengar tiga kali suara aneh yang perlahan dan membuyarkan lamunannya. Ia tersentak sadar, sorot matanya memancarkan cahaya aneh, cepat ia mencari dinding sekeliling kamar, tercetus suaranya, "Siapa itu yang mengetuk dinding?"

Tidak ada jawaban. Tapi berselang tak lama, kembali terdengar suara ketukan lagi tiga kali.

Sekali ini Kiam-eng dapat mendengar suara itu datang dari dinding sebelah kanan, berbareng itu pun dapat diduganya timbulnya suara itu sangat mungkin datang dari sebuah kamar tahanan yang sama di sebelah situ. Jadi suara ketukan dinding itu sengaja dilakukan oleh seorang tahanan.

Berpikir begitu, ia menjadi girang, cepat ia melompat sebelah sana, sambil meraba dinding ia berteriak, "Hai! Hai! Engkau siapa?!"

Tetap tidak ada jawaban atau reaksi. Serentak ia pun paham duduknya perkara ia pikir bilamana pihak sana dapat mendengar suaranya, tentu orang itu tidak perlu mengetuk dinding lagi. Karena itu, segera ia pun menggunakan telapak tangan untuk memukul dinding tiga kali.

Blang-blang-blang!

Ternyata benar, segera datang suara jawaban. Kiam-eng sangat gembira, kembali ia pukul dinding empat kali. Ia pikir jika orang di sebelah sana juga orang tawanan. tentu orang akan menjawabnya dengan empat kali ketukan juga.

Dan "blang-blang-blang-blang", ternyata betul pihak sana juga balas menepuk dinding empat kali.

Girang Kiam-eng luar biasa, sudah ia ingin bisa lekas mengadakan pembicaraan dengan pihak sana. Tapi ia pun tahu kalau tidak mengorek dulu sebuah lubang yang menembus ke sebelah sana sebagai sarana komunikasi tentu sukar bicara dengan pihak sebelah. Sebab itulah cepat ia melolos keluar sebilah belati yang tersembunyi di sepatunya. Sekuatnya ia tancapkan belati ke celah-celah batu dinding.

Mungkin Tok-pi-sin-kun yakin biarpun tumbuh sayap pun anak muda ini takkan mampu kabur dari tempat tahanan ini, maka sejauh itu tidak merampas barang bawaannya. Dan sekarang belati yang digunakan Su-Kiam-eng ini adalah satu di antara barang perbekalannya. 

Dengan hati-hati Kiam-eng mengorek sekitar sepotong batu dinding, lama-lama celah batu pun mengendur dan makin mendalam ketika kemudian ia mendorong ke depan sekuatnya, berturut-turut ia tolak dua-tiga kali, akhirnya batu dinding itu bergerak, "srakk", batu itu ambles beberapa senti ke sebelah sana.

"Bagus! Dorong lagi, lekas dorong lagi!" terdengar suara seorang tua serak berkumandang dari tempat sebelah.

Kiam-eng sangat girang ke dua tangan digunakan sekaligus dan mendorong sekuatnya, maka terdengar suara "brak", sepotong batu terlempar ke ruang sebelah sama.

Untung tepat pada waktunya orang di sebelah sana sempat menangkap batu itu dan berkata dengan tertawa, "Wah, hampir saja terlempar ke lantai!"

Batu itu lebarnya 20-an senti dan panjang setengah meter, setelah batu ini terbongkar seketika dinding seperti terbuka sebuah lubang jendela.

Waktu Kiam-eng mengintip ke ruang sebelah, dilihatnya orang itu adalah seorang tua berwajah kotor dengan rambut semrawut, keruan ia melengak dan menegur, "Engkau siapa?"

"Dan kamu sendiri siapa?" orang tua itu pun melengak dan bertanya.

"Aku Su-Kiam-eng Kiam-ho Lok-Cing-hui ialah guruku, numpang tanya siapa Lo-tiang bapak yang mulia?"

Seketika air muka si kakek menampilkan rasa girang dan bersemangat, katanya, "Apa katamu? Siapa nama gurumu?"

"Kiam-ho Lok-Cing-hui!" jawab Kiam-eng.

"Jika begitu, jadi saudara cilik ini orang yang mahir kung-fu?" tanya si kakek.

"Betul, memangnya Lo-tiang sendiri bukan orang persilatan?" terkesiap juga Su-Kiam-eng. "Ya, sama sekali aku tidak paham ilmu silat," tutur kakek itu.

"Kalau Lo-tiang tidak mahir ilmu silat, mengapa Tok-pi-sin-kun mengurungmu di sini?"

Si kakek tersenyum getir, "Wah, panjang sekali kalau aku ceritakan. Meski aku tidak paham ilmu silat, namun Tok-pi-sin-kun justru sangat takut padaku."

"Memangnya mengapa?" tanya Kiam-eng tidak mengerti.

"Aku she Pen bernama Cong-hun, pernah kau dengar namaku tidak?" "Tidak ... " "Ya, aku maklum. Usiaku masih muda, apabila kamu berumur lebih 50 tentu tahu siapa aku ini." Kiam-eng tidak menanggapi melainkan menunggu cerita orang lebih lanjut.

Kakek itu menghela napas menyesal tuturnya pula, "Aku ini keturunan Pan-Ji, yaitu arsitek yang termashur di jaman dahulu. Agaknya bakat keturunan, aku mahir teknik bangunan dan terkenal sebagai Sin-jio (ahli teknik) ... "

Sebutan "Sin-jio" itu mengingatkan Kiam-eng kepada cerita yang pernah didengarnya dari sang guru bahwa di jaman ini ada seorang ahli teknik termashur bernama "Sin-jio Pan-Cong-hun" dan pernah diserahi tugas membangun istana raja serta bertugas mengatur berbagai alat pesawat yang rumit, sungguh seorang teknik yang jarang ada bandingannya.

Maka dengan terkejut ia menegas, "Oo, jadi Lo-tiang ini Sin-jio Pan-Cong-hun adanya?" Betul, rupanya kau pun pernah dengar namaku?" jawab si kakek dengan tertawa.

"Memang, pernah guruku bercerita padaku tentang Lo-tiang." tutur Kiam-eng. "Katanya Lo-tiang adalah seorang ahli teknik yang tidak ada bandingannya di jaman ini... Dan kenapa Lo-tiang bisa dikurung di sini oleh Tok-pi-sin-kun?"

Kakek itu menghela napas, "Dua puluh tahun yang lain, aku dimintai oleh Tok-pi-sin-kun untuk membangun istana putar ini. Setelah bangunan selesai berdiri, rupanya Tok-pi-sin-kun kuatir aku bocorkan rahasia bangunannya ini, mestinya dia hendak membunuhku untuk menghilangkan saksi, berkat permohonanku yang sangat dan minta belas kasihannya barulah dia mengurungku di sini. Kalau aku hitung, sampai sekarang sudah genap 16 tahun aku mendekam di sini."

"Oo, kiranya begitu," kata Kiam-eng dengan gegetun. "Jika demikian, bukankah Tok-pi-sin-kun itu membalas kebaikan dengan kejahatan?"

"Tidak, semua itu salahku sendiri. Lantaran tamak ingin mendapatkan keuntungan besar dan aku terima tawarannya, maka boleh dikatakan akibat keserakahanku sendiri." setelah menghela napas, lalu si kakek menyambung pula. "Dan selama 16 tahun ini, saudara cilik adalah tetanggaku yang pertama di sini. Tadi aku dengar suara anjloknya pagar besi, segera aku tahu ada orang lagi yang disekap di penjara bawah tanah ini ... Eh, sebab apa saudara cilik sampai ditawan Tok-pi-sin-kun?"

Kiam-eng lantas menuturkan sebab musababnya, akhirnya ia pun tanya, "Jika Lo-tiang sendiri yang membangun tempat ini, tentu Lo-tiang sangat paham seluk-beluk perangkap yang diatur di sini, mengapa Lo-tiang tidak berdaya upaya untuk melarikan diri?"

Kembali Pan-Cong-hun tertawa getir, katanya, "Memangnya begitu mudah untuk kabur dari sini? Jangankan aku sudah tua dan tidak paham ilmu silat, biarpun tokoh dunia persilatan terkemuka juga jangan harap akan kabur dan kamar tahanan ini!"

"Kira-kira berapa dalamnya jarak kamar tahanan ini dengan permukaan tanah?" tanya Kiam-eng.

"Antara 20 tombak (kurang-lebih 50 meter), naik-turun diperlukan ruang naik-turun otomatis, selain itu tidak ada jalan lain," tutur si kakek.

"Lantas cara bagaimana mereka mengantar makanan kepada Lo-tiang?" tanya Kiam-eng.

"Dibawa kemari oleh seorang pesuruh dengan naik turun otomatis itu, ia menaruh makanan di luar pagar besi tanpa membukanya."

"Jika Lo-tiang dapat meninggalkan kamar tahanan ini, adakah harapan untuk kabur dari istana putar ini?" tanya Kiam-eng.

"Aku sendiri yang merancang dan mengatur setiap alat pesawat di istana ini, dengan sendirinya aku sanggup meloloskan diri dari istana ini. Masalahnya sekarang adalah aku sendiri tidak mahir ilmu silat, sekalipun berhasil kabur dari istana ini akhirnya tetap akan dibekuk kembali ke sini."

Kiam-eng mulai memeras otak, sambil memegang dagu ia berpikir sejenak katanya kemudian, "Soal ini aku kira tidak perlu kuatir asalkan Lo-tiang mampu membawaku kabur keluar istana putar ini tentu dapat aku bawa Lo-tiang meninggalkan Thian-ti dengan aman." "Tapi cara bagaimana saudara cilik akan meloloskan diri dari kamar tahanan di bawah tanah ini?" ujar Pan-Cong-hun dengan tersenyum.

"Untuk ini biarlah aku cari jalannya," ujar Kiam-eng.

Si kakek menuding pagar besi dan bertanya, "Apakah tenagamu cukup kuat untuk membobol pagar besi ini?"

"Tadi sudah pernah aku coba," tutur Kiam-eng "setelah pagar besi ini anjlok ke bawah lalu seperti terkait oleh sesuatu alat betapapun sukar diangkat oleh tenaga manusia ..."

"Betul, setelah pagar besi anjlok, segera terkait oleh dua gelang besi yang terpasang di lantai, kecuali merusak dulu ke dua gelang besi itu. kalau tidak, betapapun sulit mengangkat pagar besi itu. Sedangkan gelang besi terpasang di luar pagar besi dan sukar dicapai oleh sepanjang lengan, coba cara bagaimana akan kau buka?"

"Aku kira kita dapat mencari akal untuk menyuruh mereka sendiri yang membukakan pagar besi ini," ujar Kiam-eng.

Pan-Cong-hun tertawa, "Kau bilang menyuruh mereka membukakan pagar besi ini? Haha, janganlah melucu! Sudah 16 tahun aku mendekam di sini, selama itu pagar besi ini hanya pernah dibuka dua kali."

"Sebab apa pagar besi ini perlu dibuka dua kali?" tanya Kiam-eng.

"Satu kali, mereka datang kemari untuk membersihkan kotoran. Satu kali lagi lantaran pesawatnya mengalami kerusakan dan mereka perlu minta bantuan untuk membetulkannya."

Kiam-eng berpikir pula agak lama, tanyanya kemudian, "Apakah setiap hari mereka datang membawakan makanan menurut waktu tertentu?"

"Betul, satu hari dua kali, pagi dan petang," tutur si kakek. "Jika begitu, malam ini jelas mereka takkan datang kemari?"

"Ya, makan malam bagianku sudah aku selesaikan, tadi sekarang harus menunggu lagi sampai pagi baru datang makanan pagi."

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong di atas kamar penjara itu berkumandang suara berisik.

Si kakek terkesiap, katanya cepat, "Wah, celaka, mereka datang, lekas betulkan batu yang terlepas ini." "Batu ini kan masih kau pegang," kata Kiam-eng.

Sin-jio Pan-Cong-hun memandang batu yang dipegangnya dan cepat dijejalkan ke lubang dinding yang dibobolnya tadi. Kiam-eng juga tidak berani ayal, cepat ia melompat ke atas dipan batu dan berlagak tidur.

Sejenak kemudian, tangga otomatis itu sudah turun sampai di luar kamar tahanan, lalu pintu tangga perlahan terbuka, dari dalam melangkah ke luar seorang lelaki tegap.

Sebelah tangan lelaki itu menjinjing satu bakul makanan dan ditaruh di luar pagar besi, lalu melongok beberapa kejap ke dalam kamar penjara, kemudian bersuara, "Su-Kiam-eng, inilah santapan malam untukmu."

Su-Kiam-eng berlagak terjaga bangun, sapanya dengan tertawa, "Eh, siapakah nama saudara yang terhormat?"

"Aku she Ciu," jawab orang itu.

Kiam-eng mendekati pagar besi untuk memeriksa makanan dalam bakul, katanya kemudian dengan tertawa, "Wah, ada ikan dan ada daging, boleh juga ya?"

"Di istana putar kita ini, yang dimakan senantiasa barang lezat dan mahal," tutur lelaki itu dengan tertawa. "Jika kami disuruh mengolah makanan yang sulit ditelan, haha, malah bikin repot belaka."

"Apakah saudara ini bertugas mengantar makanan bagi tawanan?" tanya Kiam-eng. Orang itu mengangguk, "Ya, asal saja kamu tidak membikin susah padaku, terkadang akan aku bawakan sedikit arak bagimu."

"Jangan kuatir, aku pasti takkan membuat onar dan merepotkanmu," janji Kiam-eng. "Bagus jika begitu," kata orang itu dengan tertawa. "Nah, sampai berjumpa besok." Habis itu ia lantas masuk kembali ke kamar tangga otomatis dan naik ke atas.

Perut Kiam-eng belum terasa lapar, melihat orang sudah pergi, segera ia mendekati dinding dan melolos lagi batu tadi, lalu berkata terhadap Pan-Cong-hun, "Yang datang itu pengantar makanan."

"Jika begitu boleh kau makan dulu, sebentar kita bicara lagi," ujar Pan-Cong-hun. "Tidak, aku belum lagi lapar," kata Kiam-eng.

Dengan tertawa Sin-jio Pan-Cong-hun berkata "Dipenjarakan di sini, satu-satunya kebaikan yang harus dipuji adalah makanannya selalu lezat kalau tidak tentu aku pun tidak tahan hidup sampai sekarang."

"Sekarang kita bicara lagi tentang pesawat rahasia dalam istana putar ini," kata Kiam-eng "Pernah aku dengar katanya kamar tidur Tok-pi-sin-kun itu setiap hari berganti tempat apa betul terjadi hal demikian?"

Pan-Cong-hun mengangguk, "Betul, soalnya watak Tok-pi-sin-kun itu suka curiga, kuatir orang menyergapnya, maka setiap hari ia ganti tempat tidur."

"Apa yang disebut ganti tempat tidur itu maksudnya ganti kamar tidur atau berubah tempat tidurnya saja?"

"Hanya pergeseran tempat tidur saja," tutur Pan-Cong-hun. "Di dalam istana putar seluruhnya ada 9 x 9

= 81 buah kamar. Setiap kamar terbuat dari batu marmer setiap kamar itu dapat berubah tempat dikendalikan dari pesawat pusat. Jika mengalami serangan senjata rahasia di sebuah kamar. Pada hari ke dua bisa jadi perangkap di kamar yang sama sudah berubah menjadi jebakan lain."

"Jika begitu bila ingin mengapalkan pengaturan pesawat rahasia di dalam istana putar itu tentu sangat sulit," tanya Kiam-eng.

"Betul di seluruh dunia ini hanya aku dan Tok-pi-sin-kun saja yang paham benar keadaan di dalam istana, orang lain sama sekali tidak tahu."

"Tadi aku turun ke sini dengan menumpang sebuah ruang yang bergerak naik-turun secara otomatis. Jika berdasarkan penuturan Lo-tiang bila sekarang aku masuk lagi ke ruang itu ke atas, maka bisa jadi ruang di atas sana sudah bukan lagi kamar penyiksa semula lagi?"

"Ya, begitulah," Pan-Cong-hun mengangguk dengan tertawa.

"Dan dapatkah sekali pandang Lo-tiang mengetahui adanya perubahan tempat tidur Tok-pi-sin-kun?" tanya Kiam-eng.

"Dapat," jawab Pan-Cong-hun. "Asalkan dapat ke luar dari kamar tahanan ini, bahkan aku sanggup memasuki kamar tidur Tok-pi-sin-kun di luar tahu setan sekali pun."

"Sampai Tok-pi-sin-kun sendiri juga takkan tahu?" Kiam-eng menegas dengan girang.

"Ya, untuk menuju ke kamar tidurnya ada tiga jalan rahasia yang langsung dapat ke luar masuk ke sana."

Kiam-eng sangat girang. "Bagus sekali, biarlah besok malam kita pun mulai bergerak." "Bergerak cara bagaimana?" si kakek menegas dengan berkedip-kedip.

Segera Kiam-eng memberitahukan rencananya untuk melarikan diri dari kamar tahanan ini. Kejut dan girang Pan-Cong-hun mengikuti rencana yang diuraikan Su-Kiam-eng itu, berulang ia manggut-manggut, katanya kemudian, "Bagus, sungguh bagus sekali! Tak tersangka saudara cilik dapat memikirkan akal sebagus ini!" "Hendaknya Lo-tiang jangan bergembira dulu," ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Bisa berhasil atau tidak juga belum diketahui dengan pasti."

"Berhasil, pasti berhasil!" seru Pan-Cong-hun. "Sekarang marilah kita jebol lagi sepotong batu ..."

Segera Kiam-eng mengerahkan tenaga dan membongkar sepotong batu lagi sehingga lubang itu cukup untuk diterobos tubuh satu orang, lalu ia kembalikan batunya sehingga tersisa lubang sepotong batu pertama saja, kemudian mengobrol dengan Pan-Cong-hun.

Semalam suntuk mereka bicara, karena untuk pertama kalinya selama 16 tahun ini Pan-Cong-hun dapat bicara dengan sesamanya, maka dia sangat bergairah, biarpun semalam suntuk tetap tidak terasa lelah.

Namun Su-Kiam-eng berharap orang tua itu dapat tidur nyenyak, maka katanya, "Sudahlah, biarlah sampai di sini saja, marilah kita tidur."

"Tidak, bicara terus, sudah 16 tahun tidak pernah aku bicara dengan siapa pun," ujar si kakek.

"Tapi bila engkau tidak tidur sebaik-baiknya^ mungkin besok malam akan kekurangan tenaga," ujar Kiam-eng dengan tertawa.

Sin-jio Pan-Cong-hun pikir ucapan anak muda itu pun betul, ia angkat pundak dan berkata. "Baiklah, semoga aku dapat tidur nyenyak ..."

Setelah menerobos kembali dan menyumbat lagi batu dinding, Kiam-eng rebah di dipan batu. Karena ada harapan akan lolos, perasaannya sangat senang, maka tidak lama kemudian ia pun tidur pulas.