Rahasia 180 Patung Emas Jilid 07

 
Jilid 07 

Sai-hoa-to merasa cerita Kiam-eng itu cukup masuk akal, katanya sambil mengangguk, "Ya, betul. Jadi selama ini kita sama tertipu oleh akal Tok-pi-sin-kun!"

"Betul, sekarang peta palsu itu berada di tangan Kui-kok-ji-bu-siang, Li-hun-nio-nio dipaksa membawa mereka untuk mencari Sim-lo-cian-pwe, sekarang para tokoh Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai, Thai-kek-bun dan lain-lain juga ikut menguntit dengan ketat dengan harapan akan dapat merebut peta itu."

"Hahahaha, tak tersangka di dunia persilatan terdapat manusia keblingar sebanyak itu, aku kira akhirnya mereka bisa mampus semua gara-gara peta palsu itu," ucap Sai-hoa-to dengan tergelak.

"Manusia mati karena harta burung binasa lantaran pangan," ujar Kiam-eng dengan gegetun. "Sejak rahasia Kota Emas tersiar di dunia persilatan hingga sekarang, sudah cukup banyak orang menjadi korban gara-gara ikut berebut peta itu. Namun masih banyak orang yang belum menyadarinya mereka tetap memandang emas terlebih penting daripada nyawa mereka, sungguh sukar untuk dimengerti ..."

Setelah termenung sejenak, kemudian ia tanya Sai-hoa-to. "Dan mengapa Lo-cian-pwe bisa jatuh dalam cengkeraman mereka?"

"Cukup panjang bila diceritakan," tutur Sai-hoa-to. "Tempo hari, setelah kau tinggalkan Bu-lim-teh-co dan mengunjungi gubukku, berturut-turut selama dua-tiga hari tidak aku lihat kemunculanmu di warung minum itu dengan menyamar diriku. Maka Wi-ho-Lo-jin menduga pasti terjadi sesuatu atas dirimu maka diam-diam bersama gurumu kami memeriksa keadaan gubukku dan diketahui kamu memang sudah tidak berada di situ lagi.

"Lantaran kepergianmu tidak meninggalkan suatu pesan tertulis di gubuk itu sebagaimana telah kita atur, maka kami memastikan kamu diculik orang dengan kekerasan yang tak dapat kau lawan. Cuma kami yakin orang yang menculik dirimu itu tiada lain tujuannya hanya memaksamu membawanya ke daerah selatan sini untuk mencari harta karun, apa pun juga keselamatanmu tidak perlu dikuatirkan, maka kami pun tidak cemas bagimu.

"Sejak itu, mau-tak-mau aku harus main sembunyi terlebih ketat, setiap hari aku sembunyi di dalam kamar dan main catur dengan gurumu.

Selang beberapa hari pula, pada suatu petang hari, tiba-tiba warung minum kedatangan seorang setengah umur berwajah murung, dia mencari keterangan kepada Wi-ho-Lo-jin tentang jejakku, katanya ibunya sakit keras dan bermaksud memohon pertolongan tabib sakti Sim-Tiong-ho untuk mengobati sakit ibunya.

"Orang itu menyamar seperti orang awam yang sama sekali tidak kenal ilmu silat, namun Wi-ho-Lo-jin tetap menjawab bahwa dia tidak tahu tempat tinggalku. Lain orang itu tanya Wi-ho-Lo-jin apakah Sai- hoa-to sering minum teh di warung itu. Wi-ho-Lo-jin mengiakan. Karena itulah orang itu menyatakan hendak menunggu kedatanganku di warung minum itu, sebelum menemui diriku dia tidak mau pulang

..."

"Hm, orang itu ternyata cukup sabar juga, sehari aku tidak muncul, tiap hari dia tetap menunggu di warung minum itu. Berturut-turut tiga hari telah lalu, Wi-ho-Lo-jin lantas berunding denganku untuk tanya dulu di mana tempat tinggal orang, kemudian akan mengirim orang untuk menyelidikinya. Jika benar di rumahnya ada ibunya yang lagi sakit keras barulah dapat dipastikan dia, memang bukan orang persilatan.

"Jika begitu halnya barulah akan aku terima! undangannya untuk mengobati ibunya yang sakit. Aku setuju atas gagasan Wi-ho-Lo-jin itu. Maka Lo-jin lantas bicara iseng dengan orang itu dan memancing keterangannya. Orang itu mengaku tinggal di Teng-keh-kau, namanya Teng-Hian-an, bekerja sebagai penjual minyak dan macam-macam keterangan lain.

"Wi-ho-Lo-jin merasa Teng-keh-kau terletak tidak jauh, diam-diam ia minta seorang kepercayaannya ke sana untuk menyelidiki orang she Teng itu. Hasilnya membuktikan bahwa di Teng-keh-kau memang betul ada seorang penjual minyak bernama Teng-Hin-an, malahan ibunya yang dikatakan sakit keras itu pun ditemukannya. Maka tanpa ragu aku ikut orang itu ke rumahnya untuk mengobati ibunya.

"Sebelum berangkat malahan aku sudah menyamar dan Wi-ho-Lo-jin memberi penjelasan sekadarnya kepada orang itu apa alasannya aku menyamar.

Setiba di tempat tinggal Teng-Hin-an hari pun sudah gelap. Setelah istirahat sekadarnya segera aku diundang Teng-Hin-an untuk memeriksa ibunya. Tanpa sangsi aku duduk di pinggir tempat tidur untuk memeriksa denyut nadi nenek yang sakit itu. Tapi siapa duga, hehe coba kau terka, apa yang terjadi kemudian?"

Kiam-eng tertawa dan menjawab, "Mendadak nenek itu membalik tangannya dan berhasil mencengkeram urat nadimu?"

"Hah, memang betul begitu," seru Sai-hoa-to. "Rupanya mereka sengaja mengatur perangkap licik begitu. Kemudian baru aku ketahui Teng-Hin-an memang betul ada, ibunya juga betul lagi sakit keras. Bedanya orang-orang tersebut yang ditemui orang kepercayaan Wi-ho-Lo-jin memang betul sebaliknya orang-orang yang aku temui palsu seluruhnya."

"Hihi, tipu akal mereka itu sungguh sangat bagus!" seru Keh-ki dengan tertawa.

"Memang," ujar Sai-hoa-to. "Waktu itu aku tidak habis mengerti meski sudah memeras otak untuk memikirkannya entah cara bagaimana mereka mengetahui aku sembunyi di Bu-lim-teh-co, sampai malam ini barulah aku paham duduknya perkara. Rupanya mereka itu adalah anak murid Tok-pi-sin-kun. Kiranya peta pusaka yang diperebutkan antara Hu-kui-ong, Bu-lim-sam-koai, Li-hun-nio-nio Kui-kok-ji- bu-siang dan lain-lain, semua itu adalah sandiwara yang telah mereka atur. Pantas juga mereka mau meninggalkan dirimu yang menyamar sebagai Sai-hoa-to gadungan untuk dibekuk oleh Hu-kui-ong, namun diam-diam berusaha lagi menculik diriku Sai-hoa-to yang tulen ini."

"Dan siapa pula nenek yang menyaru sebagai ibu yang sakit keras itu?" tanya Su-Kiam-eng.

Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho menuding si kakek baju hitam yang pertama dipukul pingsan oleh Su-Kiam-eng itu, tuturnya, "Samaran tua bangka ini. Waktu itu hari sudah gelap, di dalam kamar juga tidak ada lampu, maka aku kena dipukuli mereka.

"Kemudian mereka lantas menyembunyikan lo-cian-pwe di dalam peti mati?" tanya Kiam-eng pula.

"Betul, sepanjang jalan mereka tidak bicara, selama itu juga tidak pernah memperlihatkan senjata khas mereka, yaitu pedang lemas, sebab itulah sejauh ini aku tidak tahu mereka adalah anak murid Tok-pi- sin-kun."

"Dan sekarang semuanya menjadi jelas," ujar Kiam-eng. "Akhirnya kita tahu bahwa peta kota emas itu berada di tangan Tok-pi-sin-kun. Ada niatku hendak memperalat ke empat orang ini untuk memaksa Tok-pi-sin-kun menyerahkan peta, entah jalan ini dapat ditempuh atau tidak?"

"Aku kira rencanamu hanya akan sia-sia belaka, ujar Sai-hoa-to dengan menggoyang kepala. "Tok-pi- sin-kun pasti tidak mau menolong ke empat muridnya dengan melepaskan peta pusaka."

"Betul." tukas Ih-Keh-ki. "Menurut pendapatku, lebih baik bunuh saja ke empat orang ini dan segera kita berangkat ke Thian-ti, sedapatnya kita berusaha mencuri peta itu dari Tok-pi-sin-kun, aku kira cara ini lebih baik."

"Bunuh ke empat orang ini? ..." Kiam-eng berkerenyit kening.

"Ke empat orang ini bukan manusia baik-baik apa halangannya dibunuh saja?" ujar Keh-ki.

Kiam-eng merasa serba susah katanya, "Membunuh ke empat orang ini sebenarnya berarti menumpas empat bibit bencana bagi dunia persilatan, kalau perlu mestinya dapat aku binasakan mereka sejak tadi. Tapi sekarang, aku rasa keadaan sudah berbeda, mereka tidak mampu melawan lagi bila dibunuh dalam keadaan begini rasanya rada-rada ..."

"Betul, sekarang masih ada suatu cara lain," tukas Sai-hoa-to. "Jalan lain apa?" tanya Kiam-eng.

"Musnahkan ilmu silat mereka, lalu bebaskan mereka," sambung Sai-hoa-to.

"Betul," seru Kiam-eng girang. "Punahkan ilmu silat mereka dan jadilah mereka orang cacat yang tak berguna serta selamanya tidak mampu berbuat kejahatan lagi."

"Tapi sebelum kita kerjai mereka lebih dulu boleh kita minta pengakuan mereka," ujar Sai-hoa-to.

Kiam-eng menyatakan setuju. Lebih dulu ia seret keluar Hek-tok-hong Ki-Se-ki, dibukanya hiat-to untuk menyadarkan dia, lalu menutuk pula hiat-to kelumpuhannya agar setelah siuman orang tidak dapat melawan.

Tidak lama kemudian perlahan si kumbang hitam berbisa itu mulai siuman.

Seperti diceritakan tadi, ia pingsan kena pukulan Su-Kiam-eng di bagian belakang kepala ketika ia baru masuk ke tempat parkir itu, maka dia tidak tahu segala apa yang terjadi. Setelah siuman sekarang, ketika melihat di depannya berdiri Sai-hoa-to dan Su-Kiam-eng bertiga, seketika air mukanya berubah, serunya kaget "Hei cara ... cara bagaimana aku ditawan kalian?"

Kiam-eng tersenyum, "Coba kau pikir, sebelum kamu jatuh pingsan, apa yang sedang kau lakukan"

Dengan bingung Ki-Se-ki menjawab, "Aku, aku... Ah, ingatlah aku. Waktu itu aku datang ke sini hendak mencari paman guru, Peng-Tai-siu yang menjaga tempat ini bilang paman guruku tidak berada di sini, kemudian ... kemudian aku pergi menjenguk peti mati di dalam kereta dan.. dan mendadak belakang kepalaku dipukul orang dan... Hm, jangan-jangan kamu inilah yang menyamar sebagai Peng-Tai-siu?"

Kiam-eng tertawa, "Betul. Apakah kau tahu aku ini siapa?"

ki se-ki coba mengamat-amati Sai-hoa-to dengan wajah heran, kejut dan bingung, tapi segera ia pun menyadari duduknya perkara, tiba-tiba ia menjawab dengan ketus, "Hm, sudah tentu aku tahu siapa kamu ini."

"Sekarang kamu sudah jatuh dalam cengkeraman kami, kamu ingin hidup atau mati?" tanya Kiam-eng. "Biarpun aku minta mati, apakah kamu Su-Kiam-eng berani membunuh aku?" jengek Ki-Se-ki. "Memangnya kau kira aku tidak berani?" Kiam-eng menegas dengan tertawa. 

"Jika kau tahu siapa diriku, apakah kau berani."

"Aku tahu kamu ini murid ke lima Tok-pi-sin-kun, namamu Ki-Se-ki alias Oh-tok-hong, betul tidak?" potong Kiam-eng.

Seketika air muka Oh-tok-hong berubah pucat, "Jadi ... jadi semuanya sudah kau ketahui?"

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Meski bagus akal main selundup kalian ini, namun sayang kalian bernasib sial."

Seketika Oh-tok-hong merasa gelisah, tanyanya, "Dan di manakah ke tiga su-heng ku?" "Sudah mampus semua, tersisa kamu ini seorang," jawab Kiam-eng.

"Apa betul?"

"Kenapa tidak? Apakah kau kira aku perlu berdusta?"

Oh-tok-hong mulai kelihatan ada maksud menyerang, ucapnya dengan lunak, "Baiklah, apa yang ingin kau ketahui?" "Ada dua," ujar Kiam-eng. "Pertama, peta yang dikirim su-heng ku melalui merpati pos itu cara bagaimana diperoleh gurumu? Ke dua, di mana gurumu menyimpan peta itu?"

"Setelah aku katakan, apakah akan kau bebaskan diriku?" tanya Oh-tok-hong.

"Ya, cuma kamu harus mengaku dengan sejujurnya kalau tidak, nasibmu akan serupa Ke tiga su-heng mu, setelah merasakan siksaan baru binasa."

Muka Oh-tok-hong berubah pucat, katanya, "Baik, akan aku katakan terus terang. Peta yang dikirim su- heng mu dari wilayah selatan itu diperoleh kami secara tidak sengaja. Pada suatu hari, su-heng kami yang ke dua menemukan seekor merpati pos yang hinggap di atas pohon di dekat Thian-ti, pada kaki burung merpati terikat sebuah bumbung bambu kecil. Karena tertarik su-heng ku lantas membidik dan menangkap merpati pos itu.

"Hasilnya ditemukan sehelai peta di dalam bumbung bambu dalam peta itu terlukis dengan jelas oleh su- heng mu maka dapatlah kami ketahui bahwa dia menemukan sebuah kota emas purba di tengah hutan belukar pegunungan sana.

"Setelah mendapatkan peta pusaka itu, dengan sendirinya guru kami ingin memilikinya sendiri. Tapi lantaran tanah pegunungan tempat kota emas itu diketahui banyak gas racun yang jahat kalau tidak pergi bersama seorang yang ahli menawarkan gas racun tentu sulit untuk mencapai tempat tujuan. Sebab itulah guru kami memerintahkan kami berempat bersama Ca dan Co berdua mencari tabib sakti Sim-Tiong-ho. Inilah seluk-beluk urusan ini bilamana ada yang dusta biarlah aku mati secara tidak layak."

Lantaran dalam surat Gak-Sik-lam memang pernah menyatakan peta telah dikirimkan melalui merpati pos, maka Kiam-eng tidak sangsi terhadap keterangan Oh-tok-hong tentang peta itu diperoleh secara tidak sengaja. Segera ia tanya pula, "Lalu di mana gurumu menyimpan peta itu?"

"Mungkin guru kami menyembunyikan peta itu di kamar tidurnya yang terkenal sebagai Soan-kiong," tutur Oh-tok-hong.

Kening Su-Kiam-eng berkerenyit demi mendengar istilah "Soan-kiong" atau istana putar. Pikirnya, "Ternyata tidak terlepas dari dugaanku. Tapi urusan menjadi agak sulit sekarang."

Kiranya Soan-kiong atau istana putar yang terkenal itu adalah tempat berfoya-foya Tok-pi-sin-kun bersama anak muridnya, istana dibangun serupa istana raja, megah dan mewah. Banyak pesawat rahasia di dalam istana dan aneka macam gerak perubahannya, biarpun tokoh silat kelas wahid, kalau tidak paham seluk-beluk pesawat rahasia di dalam istana juga sukar menerobos ke dalam istana.

Sudah lama Su-Kiam-eng mendengar cerita tentang keajaiban dan kelihaian istana putar itu, sejak mula juga dia kuatir kalau Tok-pi-sin-kun akan menyimpan peta pusaka di tengah istana rahasia itu. Dari keterangan Oh-tok-hong sekarang terbukti dugaannya itu memang benar, keruan diam-diam ia mengeluh.

Setelah termenung sejenak, kemudian ia tanya lagi, "Kamu kan murid kesayangan Tok-pi-sin-kun aku kira kamu sangat apal terhadap seluk-beluk istana putar itu"

"Tidak, sangat terbatas pengetahuanku mengenai istana itu," jawab Oh-tok-hong. "Selain guruku, rasanya tidak ada orang ke dua yang tahu jelas peralatan rahasia di dalam istana putar itu."

"Hm, aku kira tidak masuk akal," jengek Kiam-eng.

"Tapi sesungguhnya memang begitu," kata Oh-tok-hong. "Istana itu dibangun langsung oleh guruku, waktu itu kami belum lagi masuk ke perguruan, sejauh ini guru kami juga tidak pernah menceritakan seluk-beluk pesawat rahasia di dalam istana, cuma selama beberapa tahun kami sering keluar-masuk istana, maka kenal sekadarnya keadaan di sana."

"Jika sekarang kamu dibebaskan pulang, dapatkah langsung kamu mendatangi kamar tidur gurumu di tengah istana putar itu?" tanya Kiam-eng.

"Tidak dapat. Selamanya Su-hu tidak pernah menerima kami di kamar tidurnya, pula letak kamar tidurnya juga berubah tempat setiap hari, biasanya guru menerima kami di ruang Cip-gi-tia (pendopo pertemuan besar), untuk masuk ke sana diperlukan pula perintahnya langsung."

"Jika begitu, jadi kalian pun tidak dipercaya penuh oleh gurumu?" tanya Kiam-eng. "Boleh juga dikatakan demikian," ujar Oh-tok-hong. "Su-hu kami memang berbeda daripada orang umumnya, beliau hanya menyuruh kami tunduk mutlak padanya, soal di dalam hati kami tidak menghormat dan tidak suka padanya, itu urusan lain dan tidak dipedulikannya."

Kiam-eng tertawa dan berkata kepada Sai-hoa-to, "Sim-lo-cian-pwe, kau kira keterangannya dapat dipercaya atau tidak?"

"Aku kira ada bagian yang tidak benar," ujar Sai-hoa-to.

Kiam-eng lantas menjengek terhadap Oh-tok-hong, "Hm, apa barangkali kamu ingin mencicipi rasanya tersiksa baru mau bicara sejujurnya?"

Muka Oh-tok-hong tampak pucat pasi, jawabnya dengan gusar. "Sialan! Sudah aku katakan sejujurnya, jika ada yang bohong, biarlah aku mati disambar geledek!"

"Ya, sudahlah sekarang boleh kau katakan lagi tokoh-tokoh penting di bawah gurumu, habis itu dapatlah aku lepaskanmu pulang," ujar Su-Kiam-eng.

"Selain kami ber sembilan saudara seperguruan yang ikut, di samping guruku ada lagi Thian-ti-it-koai Pau-Hai-san dan Tok-po-po Biau-Kim-ki, ditambah lagi Hiat-pit-kui-su Oh Bun-an ..."

Ia menuturkan semua anak buah gurunya, seakan-akan kalau Su-Kiam-eng mau mengampuni jiwanya, maka setiap rahasia gurunya juga pasti akan diceritakannya.

Kiam-eng mengingat dengan baik setiap keterangan Oh-tok-hong itu, akhirnya ia membelejeti pakaian orang sehingga tersisa baju dan celana dalam saja, habis itu dikeluarkannya belati untuk memotong otot tangan kanan dan otot kaki kiri.

Oh-tok hong tidak menyangka Su-Kiam-eng akan membuatnya cacat baru kemudian dibebaskan, seketika ia sangat berduka, ratapnya, "Oo, alangkah kejinya kamu, Su-Kiam-eng!"

"Hm, sedikit pun tidak keji," jengek Kiam-eng. "Manusia kotor dan rendah semacam dirimu ini, andaikan jatuh di tangan orang lain, bagaimana nasibmu tentu dapat kau bayangkan sendiri."

Habis berucap ia buka hiat-to kelumpuhan orang dan membentaknya, "Nah, sekarang lekas enyah! Dengan sebelah tangan dan sebelah kaki tentu kamu masih dapat bergerak. Andaikan kau yakin gurumu masih mau menerima orang cacat seperti dirimu, maka bolehlah kau pulang saja ke Thian-ti."

Terpaksa Oh-tok-hong menahan sakit pada lukanya, ia dapatkan sebatang ranting kayu untuk digunakan sebagai tongkat, lalu terpincang-pincang meninggalkan hutan itu.

Sesudah Oh-tok-hong pergi jauh, dengan suara tertahan Sai-hoa-to tanya Kiam-eng, "Kau belejeti pakaiannya, apakah kau ingin menyamar sebagai dia untuk menyelundup ke Thian-ti?"

Kiam-eng mengangguk, "Ya, memang begitulah maksudku."

"Tindakan ini mungkin sangat berbahaya," ujar Sai-hoa-to dengan kening berkerenyit. "Tok-pi-sin-kun bukan orang yang mudah direcoki. Istana putarnya juga bukan sembarangan tempat yang dapat diterobos begitu saja, apabila ... "

"Kalau tidak masuk sarang harimau cara bagaimana bisa memperoleh anak macan?" tukas Kiam-eng dengan tersenyum.

Setelah termenung sejenak, akhirnya Sai-hoa-to berkata, "Kan lebih baik aku saja yang pergi ke sana. Jika tiada bersama diriku toh dia takkan pergi ke selatan, maka dapat aku gunakan diriku untuk tawar menawar dengan dia."

"Tidak, tadi Lo-cian-pwe sudah bergebrak dengan Pek-hui-hou Ji-Liang, tentu Tok-pi-sin-kun takkan percaya lagi kepada kesungguhan hati Lo-cian-pwe, maka lebih baik aku saja yang pergi ke sana dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, aku kira harapan untuk berhasil akan lebih besar."

"Tapi cara bagaimana kau mampu masuk ke istananya yang hebat itu?" tanya Sai-hoa-to.

"Menurut pengakuan Oh-tok-hong tadi, biar pun anak murid Tok-pi-sin-kun juga diperlukan perintah langsungnya baru diperbolehkan masuk ke istana putar itu." "Tapi ia pun mengatakan Tok-pi-sin-kun tidak pernah menerima anak muridnya di kamar tidur nya. Lalu cara bagaimana kamu dapat memasuki kamarnya untuk mencari peta?"

"Biarlah aku lihat gelagatnya nanti untuk bertindak seperlunya," ujar Su-Kiam-eng.. Mungkin juga pada waktu aku dekati Tok-pi-sin-kun, secara di luar dugaan dapat aku atasi dia dan memaksanya menyerahkan peta."

Sai-hoa-to tetap menggeleng tanda tidak setuju, katanya, "Namun tetap aku rasakan tindakan demikian terlampau besar risikonya ... "

"Bila Lo-cian-pwe juga ingin pergi ke Thian-ti maka harus kita atur sedemikian rupa, yaitu pada saat Wan-pwe tertawan umpamanya, saat itulah baru Lo-cian-pwe menampilkan diri untuk bertemu dengan dia dan minta kebebasanku sebagai syarat imbalan membawa mereka ke hutan purba di selatan. Dengan begitu tentu keselamatanku pun akan terjamin."

"Bagus juga cara ini," ujar Sai-hoa-to, "Cuma, cara bagaimana supaya aku tahu kamu tertawan musuh?"

"Boleh kita gunakan batas waktu tiga hari," tutur Kiam-eng. "Selewatnya tiga hari dan Wan-pwe belum ke luar dari istana Tok-pi-sin-kun, itu menandakan aku telah ditawan mereka."

"Baiklah, boleh kita coba," kata Sai-hoa-to. "Namun satu hal harus selalu kau ingat, Tok-pi-sin-kun adalah iblis yang membunuh orang tanpa berkedip. Bilamana asal-usulmu diketahui dan tertangkap, hendaknya cepat kau katakan kau datang bersamaku. Dengan begini tentu dia tidak berani membunuhmu.

"Baik, akan aku ingat pesan Lo-cian-pwe ini," sahut Kiam-eng.

Lalu Sai-hoa-to memandang Ih-Keh-ki dan bertanya, "Dan bagaimana dengan nona Ih?"

"Setiba di dekat Thian-ti, kalau dia masuk istana Tok-pi-sin-kun dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, dengan sendirinya aku tinggal bersamamu," jawab Keh-ki.

Sai-hoa-to menggeleng, "Tidak, lebih baik nona Ih pulang saja sekarang!"

"He, ada apa?" tanya Keh-ki kurang senang. "Lo-cian-pwe tidak suka padaku?"

"Bukan begitu soalnya." jawab Sai-hoa-to. "Kamu ini putri kesayangan Hong-hun-kiam-hiap, apabila terjadi sesuatu halangan atas dirimu, wah, aku tidak berani bertanggung jawab."

"Hmm, tampaknya aku perlu juga menulis suatu surat pernyataan suka rela padamu," ujar Keh-ki dengan tertawa.

"Surat pernyataan apa maksudmu?" tanya Sai-hoa-to bingung.

"Sebab aku sudah menulis suatu surat pernyataan untuk dia," kata Keh-ki sambil menuding Kiam-eng.

Sai-hoa-to tidak mengerti ia coba tanya Su-Kiam-eng, "Sesungguhnya bagaimana persoalannya?"

"Begini," tutur Kiam-eng dengan tertawa "Tempo hari ketika ia tahu aku hendak pergi ke wilayah selatan, ia ribut dan minta ikut bersamaku. Aku bilang tidak berani menjamin keselamatannya. Lalu ia menulis sepucuk surat pernyataan untukku bilamana kelak harus berhadapan dengan ayahnya, supaya ayah ibunya tahu kepergiannya adalah atas kehendaknya sendiri dan tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Karena itulah terpaksa aku terima permintaannya untuk ikut serta."

Sai-hoa-to tampak serba susah, katanya kemudian, "Ai, sebenarnya untuk apa kamu ikut menyerempet bahaya ke daerah purba di selatan sana."

"Karena aku suka," ujar Keh-ki dengan tertawa.

"Apakah kau kira hutan purba itu sangat menyenangkan?" kata Sai-hoa-to. "Ai, sebenarnya tempat itu sangat berbahaya, setiba di sana tentu kamu akan tahu rasa ... "

"Biarlah, sekalipun tempat itu berbentuk gunung berapi juga tetap aku mau pergi," kata Keh-ki cepat. "Jika begitu, aku pun minta diberi surat pernyataanmu," ujar Sai-hoa-to sambil mengangkat bahu. "Baik, pada waktu bermalam di hotel tentu akan aku berikan surat pernyataanku," kata Keh-ki dengan girang.

Lalu Sai-hoa-to berkata kepada Su-Kiam-eng, "Masih ada persoalan ingin aku tanya padamu. Jika kamu harus menyamar sebagai Oh-tok-hong, apakah tidak kau kuatirkan Oh-tok-hong akan pulang ke Thian-ti dan membongkar rahasia penyamaran?"

"Hal ini sudah aku pertimbangkan lebih dulu," sahut Kiam-eng. "Sekarang Oh-tok-hong sudah cacat, biarpun dia pulang ke Thian-ti juga sukar memperoleh kepercayaan Tok-pi-sin-kun, maka aku yakin dia takkan pulang lagi ke Thian-ti."

"Hal ini sukar dipastikan," ujar Sai-hoa-to "Betapa kejinya Tok-pi-sin-kun masa tega membunuh lagi anak murid yang jelas sudah cacat?"

"Ya, memang, tapi sekalipun Oh-tok-hong pulang ke Thian-ti, sekarang dia baru terluka dan memerlukan waktu untuk merawat lukanya itu, bilamana sembuh barulah dia dapat meneruskan perjalanan, dengan begitu sedikitnya memakan waktu belasan hari. Sebaliknya keberangkatanku menggunakan kuda cepat, sekalipun dia segera berangkat dengan menyewa kereta, sedikitnya aku akan sampai di tempat tujuan beberapa hari lebih dulu."

Sai-hoa-to pikir uraian Su-Kiam-eng itu cukup beralasan, katanya kemudian, "Baiklah, jika begitu, ke tiga orang di dalam kereta itu pun boleh dibereskan sekalian."

Segera Kiam-eng menyeret keluar si kakek baju hitam yang tertutuk pingsan itu, ia buka hiat-to nya dan menutuk pula membuatnya lumpuh. Tak lama kemudian kakek itu pun siuman dan membuka mata, lalu Kiam-eng tanya dengan tertawa, "Apakah kau kenal aku?"

Kakek baju hitam itu adalah orang pertama yang disergapnya hingga pingsan maka dia tidak tahu segala apa yang terjadi kini setelah melihat jelas yang berdiri di depannya adalah Su-Kiam-eng yang anak murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui dan Sai-hoa-to yang semula ditawan dan disembunyikan dalam peti mati itu, keruan dia terkejut tak terhingga dan menjerit kaget, "Hahh ... ka ... kalian ... "

Ia hanya sanggup mengucapkan "kalian" saja lalu terlongong-longong seakan-akan sangsi apakah dirinya bukan dalam mimpi.

Untuk menguji apakah pengakuan Oh-tok-hong itu benar atau dusta, Kiam-eng memutuskan akan memeriksa juga dan mengorek keterangan si kakek baju hitam ini. Maka dengan tertawa ia berkata, "Mungkin sampai kini kau belum lagi jelas induknya perkara biarlah sekarang juga aku beritahukan padamu seluk-beluk apa yang terjadi. Dalam perjalanan tanpa sengaja kami menemui rahasia kalian maka aku lantas menyamar sebagai Peng-Tai-siu dan menyusup ke tempat parkir ini untuk merobohkan dirimu. Habis itu kalian ber enam juga dapat kami tawan satu per satu.

"Tadi Oh-tok-hong ber empat sudah mengaku segala sesuatu yang mereka lakukan dan sesudah kami musnahkan kung-fu nya kini mereka sudah kami lepaskan. Kini tersisa dirimu yang terakhir. Jika, kau mau mati segera juga dapat aku kirim dirimu ke tempat nenek moyangmu. Bilamana kau ingin hidup maka kamu harus menjawab terus terang pertanyaanku. Nah, katakan sekarang, kau mau mati atau ingin hidup?"

Ke dua mata si kakek baju hitam terbelalak serunya dengan bingung, "Hah, apa betul kami ber enam telah kalian tawan seluruhnya?"

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Nah, katakan, kamu she Ca atau she Coh?" "Coh," jawab si kakek. "Coh-Jian-po, itulah namaku."

"Bagus, dan sekarang bagaimana keputusanmu, mau mati atau ingin hidup?"

"Jika benar Oh-tok-hong ber empat sudah memberi pengakuan duduknya perkara, untuk apa pula aku banyak omong. Cuma, cara bagaimana supaya aku percaya pada apa yang kau katakan?"

"Kamu tidak perlu sangsi, cukup percaya sepenuhnya saja," ujar Kiam-eng.

"Kan ke empat kawanku sudah memberi pengakuan yang sebenarnya, buat apa kau tanya lagi padaku?" "Aku suka kepada orang yang jujur, jika apa yang kau katakan sama dengan pengakuan mereka itu menandakan kamu memang orang jujur dan segera akan aku bebaskan dirimu."

Meski Coh-Jian-po ini bukan tokoh persilatan kelas wahid, tapi ia pun cukup berpengalaman urusan dunia kang-ouw, ia tahu apa yang diuraikan Su-Kiam-eng itu pasti ada sebagian tidak benar, tapi demi mencari selamat, ia memutuskan akan memberi pengakuan yang sebenarnya, maka jawabnya,

"Baiklah, boleh kau tanya."

"Pertama, mengenai peta pusaka, peta yang ditemukan su-heng ku itu, cara bagaimana bisa jatuh di tangan Tok-pi-sin kun?" tanya Kiam-eng dengan tersenyum.

"Peta itu didapatkan Ji-Liang di hutan dekat Thian-ti." tutur Coh-Jian-po. "Secara kebetulan ia lihat seekor burung merpati hinggap di atas pohon pada kaki burung terikat sebuah bumbung bambu mini, ia tahu itulah merpati pos, maka burung itu ditimpuknya dengan batu dan ditangkapnya."

Kiam-eng mengangguk dan bertanya pula, "Dan sekarang peta itu berada di mana?"

"Kalau tidak selalu dibawa oleh Sin-kun kami tentu tersimpan di kamar tidurnya," tutur Coh-Jian-po.

"Jawabanmu semuanya cocok," ujar Kiam-eng dengan tertawa sambil melolos belati. "Sekarang bolehlah aku beri jalan hidup bagimu."

Coh-Jian-po mengira orang hendak membunuhnya, ia ketakutan hingga muka pucat, teriaknya "Tapi semua ... semua itu memang betul, aku tidak dusta. Apabila pengakuan mereka tidak sama dengan keteranganku, itu menandakan mereka lah yang bohong dan bukan ... diriku!"

Kiam-eng tertawa, "Jangan cemas, aku cuma memusnahkan saja kung-fu mu dan tidak bermaksud membunuhmu."

Habis berkata, langsung goloknya memotong urat kaki orang.

Maka Coh-Jian-po pun menjadi orang cacat selamanya, dengan pincang ia pun pergi menerima nasib.

Yang tersisa sekarang adalah Jing-liong-ong si kakek she Cah. Tanpa memeriksa mereka lagi segera Kiam-eng memusnahkan juga ilmu silat mereka dan melemparkan mereka di bawah pohon, lalu mendekati si kusir tua yang berjongkok di sana dengan gemetar itu, tanyanya, "Kalian sudah menerima ongkos sewa kereta belum?"

Ke dua kusir kereta itu menyembah berulang-ulang dan menjawab dengan suara gemetar, "Ti ... tidak, belum ... cuma kami ini tidak berani minta lagi, kami hanya mohon ... mohon jiwa kami diampuni saja!"

Kiam-eng mengeluarkan belasan tahil perak dan dilemparkan kepada mereka, ucapnya dengan tertawa, "Ambil dan bagilah uang perak ini, sekarang kalian boleh pergi atau mau bermalam dulu di sini boleh terserah kalian, kami sendiri segera akan pergi."

Kedua kusir itu terkejut girang dan bingung, tanya mereka, "Jadi ... jadi benar Tuan sudi mengampuni jiwa kami?"

"Aneh, kalian sudah sebegini tua, masakah masih tidak tahu urusan," kata Kiam-eng dengan kurang senang.

Cepat kedua kusir tua itu menyembah lagi, lalu memungut belasan tahil perak pemberian Kiam-eng itu dan cepat berlari pergi untuk membenahi keretanya, kemudian menyelamatkan diri dengan girang.

Kiam-eng lantas mengeluarkan alat rias dan diserahkan kepada Sai-hoa-to, katanya dengan tertawa, "Silakan Lo-cian-pwe menyaru sekadarnya, kalau tidak bilamana dalam perjalanan nanti kepergok orang- orang yang ingin rebut peta itu, bisa jadi mereka akan mengincar dirimu lagi."

Sai-hoa-to sendiri juga menyadari dirinya sangat bernilai bagi orang persilatan sekarang, maka ia terima tawaran Kiam-eng itu dan mulai menyamar.

Setiap tokoh dunia persilatan umumnya tidak asing terhadap ilmu rias, maka tidak seberapa lama selesailah Sai-hoa-to menyaru sebagai seorang kakek yang tidak menarik. Lalu ia membuat kotor bajunya, kedua lengan baju digulung pula, katanya dengan tertawa, "Coba lihat macam orang apa sekarang diriku ini?" Kiam-eng merasa tabib sakti sekarang lebih mirip seorang jongos, cuma dia tidak enak untuk bicara terus terang. Sebaliknya Keh-ki yang ceplas-ceplos itu lantas menanggapi dengan tergelak, "Haha, engkau mirip seorang jongos!"

"Betul," kata Sai-hoa-to dengan tertawa. "Maka mulai malam ini jadilah diriku budak pribadi nona." Keh-ki jadi melengak malah, ucapnya dengan rikuh, "Ah, mana ... mana boleh jadi?"

"Tidak apa," ujar Sai-hoa-to. "Kalau bicara tentang kung-fu, mungkin aku pun belum memenuhi syarat untuk menjadi jongosmu."

"Begini saja," tukas Kiam-eng dengan tertawa. Di depan umum, bolehlah Lo-cian-pwe mengaku sebagai budaknya, tapi dalam hubungan pribadi Lo-cian-pwe adalah kakek angkatnya, dengan demikian kedua pihak sama-sama tidak dirugikan."

"Boleh juga," kata Keh-ki dengan tertawa. Tapi sekarang masih kekurangan seekor kuda, lalu bagaimana baiknya?"

"Biarlah besok jika kita melewati sesuatu kota bolehlah kita membeli kuda untuk Sim-lo-cian-pwe," ucap Kiam-eng. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Sai-hoa-to, "Dari sini menuju ke Thian-ti kira-kira memerlukan berapa hari perjalanan?"

"Kuda tunggangan kalian adalah kuda pilihan apabila perjalanan dilakukan secara biasa saja mungkin setengah bulan akan tiba di sana," jawab Sai-hoa-to.

"Dan bagaimana bila menggunakan kuda biasa?" tanya Kiam-eng pula. "Untuk itu diperlukan beberapa hari lebih lama," sahut si tabib sakti.

"Jika demikian, biarlah aku berangkat lebih dulu, nanti setelah Lo-cian-pwe sudah membeli kuda bolehlah berangkat bersama nona Ih. dengan begitu, tiga-empat hari setelah aku tiba di Thian-ti tentu Lo-cian- pwe berdua juga akan menyusul tiba."

Diam-diam Keh-ki merasa gugup karena Kiam-eng menyatakan hendak berangkat lebih dulu, cepat ia berkata "Buat apa begitu? Apa salahnya kita bertiga berangkat bersama saja?"

"Kalau berangkat bersama, bilamana Oh-tok-hong menyewa kereta dan pulang ke Thian-ti, tentu kita akan ketinggalan mencapai tempat tujuan," ujar Kiam-eng.

"Asalkan perjalanan kita dipercepat sedikit, masakah kita kuatir ketinggalan?" kata Keh-ki.

"Kudamu dapat diandalkan, tapi kuda yang akan dibeli untuk Sim-lo-cian-pwe apakah dapat mengikuti lari kudamu?"

"Tapi bila perjalananmu terlampau cepat dan mendahului Ji-Liang dan Tong-hong-Bing, hal ini kan juga ganjil dan tidak masuk akal bukan?" ujar Keh-ki.

Kiam-eng melengak dan membenarkan alasan si nona, pikir pada waktu Ji-Liang berdua kabur tadi sudah mengetahui Oh-tok-hong berempat tertawan olehku, apabila begitu saja aku dahului mereka sampai di Thian-ti dengan menyamar sebagai Oh-tok-hong, akibatnya tentu runyam ..."

Sai-hoa-to juga merasa ucapan Ih-Keh-ki itu cukup beralasan, katanya dengan serba susah, "Ai terlampau cepat perjalanan kita, dikuatirkan akan mendahului Ji-Liang berdua malah. Terlalu lambat kuatir lagi disusul oleh Oh-tok-hong, bicara kian kemari, soalnya terletak pada kesalahan kita kenapa tidak membunuh saja si kumbang hitam berbisa itu. Apabila tadi kita bereskan dia, tentu takkan timbul persoalan sulit begini."

Su-Kiam-eng tidak menyesal Oh-tok-hong tidak dibunuhnya tadi, baginya membunuh seorang yang tidak mampu melawan terasa bukan perbuatan seorang lelaki sejati.

Melihat pemuda itu mengalami kesulitan oleh soal itu, padahal Keh-ki sangat ingin perjalanan bersama Su-Kiam-eng, maka dalam hati ia merasa senang, namun ia berlagak berkata dengan serius, "Sudahlah, biarlah kita bertiga tetap menempuh perjalanan bersama saja. Setiba di Thian-ti, apabila jelas Oh-tok- hong belum lagi tiba di sana barulah engkau menyaru sebagai dia."

Tiba-tiba Sai-hoa-to tertawa, katanya, "Begini, ada akalku yang lebih bagus." "Akal bagus apa?" tanya Kiam-eng cepat.

"Kau pernah berkunjung ke Thian-ti tidak?" tanya si tabib sakti.

"Belum pernah," Kiam-eng menggeleng kepala. "Tapi aku tahu jalan menuju ke sana."

"Baiklah jika begitu," ujar Sai-hoa-to. "Di dekat Thian-ti ada sebuah kota besar, namanya Kun-ming. Di tengah kota ada sebuah hotel besar bernama Kun-ming-lau-can, dahulu pernah aku tinggal di hotel itu, sekali ini aku pikir juga mondok saja di hotel itu ... "

Kiam-eng merasa ucapan si tabib sakti ada sedikit aneh, ia melengong dan bergumam, "Wah, lantas bagaimana selanjutnya."

"Maksudku, rasanya tidak mungkin dapat aku beli kuda sebagus kuda kalian itu," ujar Sai-hoa-to dengan tersenyum. "Sebaliknya jika membeli seekor kuda biasa, sukar pula untuk menempuh perjalanan bersama kalian. Sebab itulah aku putuskan takkan menjadi pengikut nona Ih, biarlah kalian berdua meneruskan perjalanan lebih dulu setelah aku dapatkan kuda baru menyusul ke sana. Setiba di sekitar Thian-ti nanti boleh kalian bersembunyi dulu, apabila melihat Ji-Liang berdua sudah pulang barulah kau temui Tok-pi-sin-kun dalam penyamaran sebagai Oh-tok-hong, sedangkan nona Ih tetap sembunyi di sekitar Thian-ti, kalau melihat Oh-tok-hong juga pulang ke sana, boleh langsung kau bekuk dia habis itu nona boleh menungguku di hotel Kun-ming-lo-can."

Keh-ki berseru girang, "Aha, bagus! Cara ini paling baik, syukur Sim-lo-cian-pwe dapat memikirkannya."

Diam-diam Sat-hoa-to merasa geli ucapnya penuh arti, "Aku kan orang tua yang sudah berpengalaman, masakah tidak dapat memikirkannya?"

Muka Keh-ki menjadi merah, dengan malu-malu ia melirik sekejap si tabib sakti, lalu menunduk tanpa bicara lagi.

Sai-hoa-to tergelak, mendadak ia menjauh ke sana dan berlari pergi secepat terbang.

Melihat kelakuan si tabib sakti betapapun Kiam-eng paham juga arti ucapannya tadi tanpa terasa mukanya pun merah, katanya kemudian terhadap Ih-Keh-ki, "Marilah kita pun berangkat!"

Segera mereka mencemplak ke atas kuda masing-masing dan dilarikan ke selatan di bawah sinar bulan purnama.

Sepanjang jalan mereka tidak menemukan jejak Ji-Liang dan lain-lain, juga tidak timbul perkara lagi.

Setengah bulan kemudian sampailah mereka di kota Kun-ming, dari kota ini ke Thian-ti sudah sangat dekat jaraknya.

Sampai di tengah kota, dengan mudah mereka mendapatkan Kun-ming-lo-can yang disebut Sai-hoa-to itu.

"Sekarang lebih dulu kita masuk hotel atau pergi ke Thian-ti?" tanya Keh-ki.

"Masuk hotel saja lebih dulu," ujar Kiam-eng. "Aku pikir Ji-Liang berdua tentu sudah jauh kita tinggalkan di belakang, paling cepat dua hari lagi baru mereka dapat tiba di sini."

Begitulah mereka hendak berhenti di depan hotel dan menyerahkan kuda kepada pelayan, lalu masuk ke hotel.

Waktu itu sudah malam hari, setelah pesan dua kamar dan cuci badan serta makan, Kiam-eng melihat dandanan penduduk setempat agak berbeda dengan orang Tiong-goan, segera ia panggil pelayan agar membelikan dua perangkat pakaian.

Setelah pelayan pergi, dengan tertawa Keh-ki berkata, "Aku lihat kota ini cukup ramai, kenapa kita tidak beli baju sendiri, sekaligus dapat melancong dan menikmati keramaian kota."

"Tidak," kata Kiam-eng. "Kota ini terlalu dekat dengan Thian-ti, bisa jadi anak buah Tok-pi-sin-kun banyak berkeliaran di sini, nanti setelah kita ganti baju baru yang dibelikan si pelayan barulah kita ke luar melancong." "Entah Ji-Liang berdua akan lalu di sini atau tidak kalau mereka pulang ke Thian-ti?" gumam Keh-ki.

"Besar kemungkinan akan lalu di sini," ujar Kiam-eng. "Cuma mulai besok pagi, lebih baik kita menunggu mereka saja di dekat Thian-ti sana."

"Bila mana melihat mereka sudah pulang, segera engkau akan mulai operasi?" tanya si nona.

"Tidak, harus aku tunggu lagi satu-dua hari baru akan pergi ke sana dengan menyamar sebagai Oh-tok- hong."

"Aku dapatkan suatu akal baik, entah kau setuju atau tidak?"

"Apabila kau minta ikut masuk ke istana putar musuh, maka lebih baik jangan kau katakan saja,",ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Huh, sok pintar," Keh-ki mencibir. "Mau tidak mendengarkan?" "Baiklah coba katakan," kata Kiam-eng.

Dengan suara tertahan Keh-ki bertutur, "Kita tunggu dulu bilamana sudah jelas Oh-tok-hong takkan pulang ke Thian-ti barulah engkau menyamar sebagai Oh-tok-hong dan aku menyaru sebagai anak gadis yang kau culik ... "

Cepat Kiam-eng menggeleng kepala dan memotong, "Tidak, tidak mungkin, nonaku yang baik!"

Keh-ki memohon dengan sangat, "Memangnya kenapa? Masakah kurang baik cara begitu? Apabila aku ikut masuk istana putar itu bersama-mu, jika ada bahaya kan dapat aku bantu?"

"Tidak mana boleh jadi," Kiam-eng tetap menggeleng. "Ini tidak, itu pun tidak lalu apa alasanmu?" omel Keh-ki.

"Alasanku cuma satu, yaitu kamu tidak boleh ikut menyerempet bahaya." "Engkau pergi sendirian, bukankah itu pun menyerempet bahaya?"

"Ada kepentinganku untuk menyerempet bahaya kamu tidak," ujar Kiam-eng.

"Mengapa tidak," jawab Keh-ki. "Aku kuatirkan bahaya yang akan menimpa dirimu, maka ingin aku bantu."

Mendadak Kiam-eng merangkul si nona dan berbisik di tepi telinganya, "Keh-ki, aku paham maksudmu, namun perlu kau pikirkan, apabila penyamaranku ketahuan, sekalipun kamu berada di sampingku, apakah dapat kau tolong diriku?"

Walaupun sejauh ini Keh-ki sangat mengharapkan "pernyataan perasaan" Su-Kiam-eng terhadap dirinya, sekarang mendadak anak muda itu merangkulnya, betapapun ia merasa malu juga cepat ia berseru, "He, apa-apaan ini, lekas lepaskan."

Namun Kiam-eng merangkulnya semakin erat ucapnya dengan tertawa, "Tidak, harus menyatakan takkan ribut lagi baru aku lepaskan kamu."

Meski ingin melepaskan diri, namun tenaga merasa sukar dikerahkan, Keh-ki menjadi gugup, serunya dengan muka merah, "Ayolah lepaskan kalau tidak segera aku berteriak."

"Silakan berteriak, aku tidak takut," kata Kiam-eng dengan tertawa.

"Berani kau ganggu diriku, akan aku minta ayah menghajarmu," ancam si nona.

Kiam-eng dapat melihat si nona cuma main manja saja, maka rangkulannya bertambah kencang katanya, "Kau lapor kepada kakek gurumu pun aku tidak takut. Yang penting, kamu harus berjanji lebih dulu."

"Berjanji apa?" Keh-ki berlagak pilon.

"Kamu harus berjanji takkan ribut dan ingin ikut ke istana putar musuh." "Tidak!" jawab si nona.

"Kalau begitu, terserah. Aku kira si pelayan sudah hampir pulang."

Baru selesai ucapan Kiam-eng, benar juga di luar kamar terdengar suara langkah orang.

Keh-ki menjadi gugup, ia meronta-ronta dan berteriak tertahan, "Lekas lepaskan! Kalau dilihat si pelayan kan malu!"

"Kamu berjanji dulu." kata Kiam-eng tertawa.

"Tek-tek-tek", terdengar pintu kamar diketuk orang.

Muka Keh-ki menjadi pucat, cepat ia berkata, "Baik, aku berjanji takkan ribut lagi." Barulah Kiam-eng melepaskan si nona, lalu berseru, "Siapa itu?"

Terdengar pelayan menjawab di luar kamar, "Hamba sudah pulang membeli pakaian!" "Masuk!" sahut Kiam-eng.

Pintu terdorong dan si pelayan melangkah masuk serta menyerahkan sebungkus pakaian kepada Su- Kiam-eng, sisa uang perak pun akan dikembalikan, namun Kiam-eng memberi tanda agar ambil saja sisa uang itu.

Dengan tertawa gembira si pelayan mengucapkan terima kasih dan mohon diri.

Kiam-eng membuka bungkusan pakaian dan memberikan baju orang perempuan kepada Keh-ki, katanya, "Nah, boleh coba kau pakai, apakah cocok atau tidak."

"Aku tidak mau." omel Keh-ki dengan lagak marah. "Hee ada apa?" Kiam-eng melengak.

"Kau ganggu aku," ucap si nona dengan menggigit bibir.

Kiam-eng tertawa, ia menggeser ke belakang orang dan memegang pundaknya perlahan, ucapnya, "Mengapa kau bilang aku ganggu dirimu."

"Habis kau ... kau rangkul sebegitu erat, apa namanya kalau bukan mengganggu?" kata Keh-ki.

"Jika hal itu kau anggap sebagai mengganggu, baiklah selanjutnya aku takkan mengganggumu cara begitu, sekarang silakan kau coba memakai baju ini."

"Tidak aku tidak mau." jawab Keh-ki dengan lagak manja.

"Lantas, kamu tidak ingin melancong dan melihat keramaian kota?" "Mengapa tidak, tentu saja aku mau!"

"Jika mau ikut, lekaslah ganti baju ini," ujar Kiam-eng.

"Coba katakan dulu, mengapa kau rangkul diriku," pinta Keh-ki.

Terpaksa Kiam-eng berbisik pula di tepi telinga si nona. "Soalnya aku ... aku suka padamu."

Keh-ki sangat girang, cepat ia berpaling menghadapi anak muda itu dan menegas dengan tertawa, "Apa betul ucapanmu ini?"

"Tentu saja betul," jawab Kiam-eng.

Keh-ki sangat gembira, langsung ia memeluk Kiam-eng dan membenamkan kepala di depan dadanya dan berkata, "Aku juga, ketika untuk pertama kali aku lihat dirimu lantas suka padamu."

Kiam-eng juga tergiur, tanpa tertahan ia menunduk dan mengecup perlahan pada leher si nona yang lembut itu, ke dua nya saling peluk dengan mesra dibuai asmara.

Selang agak lama, perlahan Keh-ki mengangkat wajahnya yang agak malu-malu, ucapnya dengan tatap mesra, "Engkau sudi ... sudi berdampingan selamanya denganku?"

"Mengapa tidak?" jawab Kiam-eng dengan tertawa riang. "Aku kuatir ayahmu yang keberatan dan bisa jadi akan menghajarku ..."

"Mana bisa ayah menghajarmu?" kata Keh-ki dengan melengak. "Kalau ayahmu tidak suka padaku, bukankah aku bisa dihajarnya?"

"Tidak, tidak, ayah pasti sangat suka padamu dan takkan menghajarmu!"

Kiam-eng menyodorkan lagi pakaian tadi katanya, "Nah lekas ganti dan segera kita pesiar ke luar." Keh-ki tidak segera menerima baju itu, katanya dengan tertawa manis. "Nanti dulu, aku bicara lagi." "Ai, apa yang hendak kau katakan lagi?" omel Kiam-eng.

"Bagaimana kalau kita saling tukar tanda mata lebih dulu?" ucap si nona dengan bergairah.

Kiam-eng melengong, jawabnya kemudian dengan tertawa, "Ai, mengapa perlu berbuat demikian."

"Aku merasa perlu," kata si nona dengan serius. "Dengan saling tukar tanda mata untuk menandakan kesungguhan hati kita."

"Akan tetapi padaku sekarang tidak terbawa sesuatu benda tanda mata apa pun yang berharga." ujar Kiam-eng.

"Ada, boleh gunakan pedangmu sebagai tanda mata. Kau beri pedangmu dan aku beri pedangku." "Baiklah, boleh begitu," ujar Kiam-eng dengan suka ria.

Maka kedua orang lantas saling tukar pedang dengan begitu barulah Keh-ki mendorong Kiam-eng keluar kamar, katanya dengan tertawa, "Ayo keluar, kau pun kembali ke kamarmu untuk ganti pakaian."

Setelah keduanya ganti baju, lalu mereka meninggalkan hotel dan pesiar menyusuri kota, kemudian keluar kota, menuju ke Se-san atau bukit barat,

Se-san terletak di tepi danau Thian-ti, pepohonan purba menjulang tinggi dengan lebatnya, di atas bukit ada bangunan kelenteng, pemandangan indah permai, merupakan salah satu tempat tamasya terkenal di kota Kun-ming.

Malam belum larut, angin meniup semilir, ke dua orang melangkah ke atas bukit. Sebelum meninggalkan hotel Kiam-eng sudah mencari keterangan kepada pelayan hotel tentang berbagai tempat tamasya termashur di sekitar kota, maka ia tahu di Se-san ada biara terkenal bernama Hoa-ting-si yang indah, langsung ia lantas menuju ke biara tersebut.

Setiba di depan biara itu, ternyata bangunan memang sangat megah dengan cat warna emas yang cemerlang dan tidak kalah dibandingkan biara besar di daerah Tiong-goan.

Di depan pintu gerbang biara itu ada dua patung penjaga pintu, di dalam pintu terdapat Su-tai-thian-ong, empat malaikat raksasa, di ruang tengah ada patung Budha gemuk dan Wi-to si pengawal. Pada ruang pendopo terpuja 500 patung Lo-han yang mengelilingi patung Budha bercat emas setinggi belasan meter, tinggi patung lain rata-rata juga beberapa meter semua tiang dan bendera biara terukir gambar kisah sejarah yang menarik, sungguh bangunan dengan arsitektur yang mengagumkan.

Para hwesio penghuni biara tidak ambil pusing terhadap tetamu pelancong, suasana terasa khidmat sehingga kawanan hwesio itu pun serupa Budha hidup yang agung.

"Sekitar Thian-ti ini adalah wilayah kekuasaan Tok-pi-sin-kun, mengapa di atas gunung ini terdapat sebuah biara semegah ini dengan penghuni para hwesio sebanyak ini?" kata Keh-ki dengan tidak mengerti.

"Istana putar Tok-pi-sin-kun terletak di selatan Thian-ti, dari sini masih berjarak lebih seratus li jauhnya," tutur Kiam-eng.

"Oo, marilah kita coba pesiar ke Thian-ti," ajak Keh-ki.

Sekeluarnya dari biara megah itu dan turun ke bawah bukit melalui sebuah jalan setapak, di kaki gunung itulah terletak danau Thian-ti yang teramat luas.

Thian-ti adalah sebuah danau alam luas sekelilingnya lebih dari 500 li, pemandangan di sekitar danau teramat indahnya, di permukaan danau yang dekat banyak perahu kecil meluncur kian kemari didayung oleh tukang perahu yang terdiri dari nona cantik. Penumpang perahu kebanyakan adalah tetamu yang sengaja ke luar pesiar di malam hari.

Keh-ki sangat tertarik, serunya, "Kakak Eng, marilah kita pun menyewa sebuah perahu pesiar, mau?"

Dengan sendirinya Su-Kiam-eng tidak membantah, segera ke dua orang menaiki sebuah perahu kecil yang berlabuh di tepi danau dan minta di dayung ke tengah danau.

Semalaman mereka pesiar dengan puas, sampai jauh malam barulah mereka pulang ke hotel.

Esok paginya, mereka tetap memakai baju penduduk setempat, muka agak dirias lain, lalu berangkat keluar kota, ke dua nya mengawasi dua tempat penting yang ramai dilalui orang.

Lewat lohor hari ke dua, selagi Kiam-eng berjongkok dan mengawasi orang lalu lalang di suatu tempat, tiba-tiba Ih-Keh-ki yang mengawasi di tempat lain berlari mendekati Kiam-eng dan memberi laporan, "Kakak Eng, sudah aku lihat mereka!"

Semangat Kiam-eng terbangkit, tanyanya sambil berdiri, "Kau maksudkan Ji-Liang dan Tong-hong-Bing?"

"Betul," jawab Keh-ki. "Mereka baru saja lewat dengan memegang kuda, tampaknya langsung menuju ke Thian-ti."

"Mereka tidak melihat dirimu?" tanya Kiam-eng.

"Tidak, aku sembunyi di atas pohon besar di tepi jalan, siapa pun tidak dapat melihatku," tutur si nona. "Bagus, sekarang marilah kita pulang ke hotel," ajak Kiam-eng.

Setiba di hotel, baru saja mereka duduk di dalam kamar, segera terdengar pintu diketuk orang. Kiam- eng menyangka pelayan membawakan teh, segera ia berseru, "Masuk!"

Begitu pintu terbuka, yang melangkah masuk ternyata seorang kakek berambut putih, bermata besar dan berdahi lebar.

Keruan Kiam-eng terkejut, serentak ia berdiri dan menegur, "Hei, siapa engkau ini?"

Si kakek merapatkan pintu kamar, lalu menjawab dengan tertawa, "Jangan tegang, aku bukan musuh!"

Dari suaranya Kiam-eng dapat menduga si kakek pasti seorang tokoh persilatan kelas tinggi diam-diam ia terkejut dan siap siaga, katanya pula, "Maaf, selama ini rasanya belum pernah aku kenal kamu."

"Tapi aku justru kenal kalian berdua," ujar kakek dengan tersenyum. "Juga aku tahu maksud kedatangan kalian ke Thian-ti sini."

Keh-ki meraih pedang yang tertaruh di atas meja dan siap melolos senjata, katanya dengan melotot. "Sesungguhnya kamu ini siapa?"

Dengan tertawa si kakek menjawab, "Aku Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin!"

Tergetar hati Kiam-eng, serunya, "Oo, engkau inilah Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin?"

Sejak terbukti Li-hun-nio-nio bukan penculik su-heng nya sebagaimana pernah diduganya semula, rasa curiga Kiam-eng lantas berpindah terhadap Sam-bi-sin-ong si kakek trisakti. Sebab di dunia persilatan hanya Li-hun-nio-nio dan Sam-bi-sin-ong saja yang mahir membuat granat tabir asap maka kemunculan Sam-bi-sin-ong secara mendadak sekarang dengan sendirinya membuat Kiam-eng terkejut dan juga senang. Sam-bi-sin-ong Pak-li-Pin mengangguk atas pertanyaan Ih-Keh-ki, ia tunjuk bangku batu di dalam kamar dan berkata, "Bolehkah aku duduk di situ?"

"Ya, silakan duduk!" ucap Kiam-eng. ia memang ingin mencari keterangan apakah si kakek ini penculik su-heng nya atau bukan?

"Kedatanganku tanpa diundang ini tentu sangat di luar dugaan kalian bukan?" ucap si kakek setengah duduk.

"Tidak, sedikit pun tidak di luar dugaan." jawab Kiam-eng. "Oo, apa betul?" si kakek tertawa.

"Betul," jawab Kiam-eng ketus. "Sebab selama ini memang sudah aku pikirkan dirimu." Si kakek tampak merasa tidak mengerti "Masa aku ini orang yang selalu kau pikirkan?"

"Sudahlah, Jangan berlagak pilon lagi sesungguhnya su-heng dan su-so ku telah diapakan olehmu?" tanya Kiam-eng langsung.

"Apa katamu? Jadi aku kau curigai sebagai orang yang menculik su-heng mu?" si kakek menegas dengan mata terbelalak.

"Memangnya bukan?" jengek Kiam-eng.

Si kakek menarik muka jawabnya, "Berdasarkan apa kau tuduh diriku sebagai penculik su-heng mu?"

"Berdasarkan granat tabir asap itu." jawab Kiam-eng. "Di dunia persilatan jaman ini, orang yang mahir membuat Yan-mo-tan (granat tabir asap) hanya Li-hun-nio-nio dan dirimu. Sedangkan Li-hun-nio-nio sudah aku selidiki dengan jelas bukanlah orang yang menculik su-heng ku."

Sam-bi-sin-ong tampak melengak demi mendengar istilah Yan-mo-tan atau granat tabir asap ucapnya, "Hah, jadi su-heng mu diculik orang di bawah ledakan granat bertabir asap tebal itu?"

Tujuan Kiam-eng menuduh si kakek sebagai penculik su-heng nya sebenarnya cuma suatu cara untuk memancing pengakuan orang saja, kini melihat air muka orang menampilkan rasa kejut dan penasaran secara wajar diam-diam ia merasa kecurigaan sendiri kembali salah sasaran lagi.

Walaupun anak kecewa, namun ia tetap tanya dengan ketus, "Betul. Jenis Yan-mo-tan itu dapat membuat orang pingsan, kalau tidak begitu masakah su-heng dan su-so ku dapat kau culik begitu saja."

Sam-bi-sin-ong berkerenyit kening, ucapnya, "Seharusnya pernah kau dengar Yan-mo-tan buatanku itu hanya ada tiga jenis, yaitu yang menyiarkan bau harum, busuk dan pedas."

"Jika kamu dapat membuat ke tiga jenis granat itu, apa sulitnya bila membuat lagi sejenis granat tabir asap yang dapat membuat orang pingsan?" ujar Kiam-eng.

Si kakek mengetuk tongkatnya dengan marah ucapnya, "Omong kosong! Meski aku bukan manusia bersih dan lelaki sejati, sedikitnya tidak nanti melakukan hal-hal yang kotor dan rendah."

"Jika bukan dirimu, lantas siapa lagi di dunia persilatan ini yang mampu membuat Yan-mo-tan?" tanya Kiam-eng.

"Setahuku, masih ada lagi seorang yang mampu membuatnya," tutur Sam-bi-sin-ong setelah termenung sejenak.

"Cuma, rasanya orang itu pun bukan sasaran yang pantas kau curigai." "Oo, siapa dia?" tanya Kiam-eng dengan girang.

"Tidak dapat aku katakan," jawab si kakek. "Sebab, kalau aku kau curigai masih ada alasannya sedangkan orang itu sama sekali tidak pantas kau curigai."

"Jika begitu, apa halangannya kau sebutkan saja," pinta Kiam-eng.

"Soalnya aku kuatir anak muda serupa dirimu ini akan sembarangan bicara dan bertindak," ujar Sam-bi- sin-ong.

Kiam-eng tertawa geli, katanya, "Hihi, jangan kau kira aku ini anak muda yang tidak dapat membedakan baik dan busuk. Jika Sam-bi-sin-ong sama bersihnya serupa Kiam-ong Ciong-Li-cin, tentunya aku pun takkan mencurigai dirimu."

Tiba-tiba si kakek juga tersenyum dan berucap, "Perkataanmu tidak salah, orang yang aku maksudkan justru adalah Kiam-ong Ciong-Li-cin."

Kiam-eng terkejut, ia berpaling dan tanya Keh-ki, "Hah, apa betul? Masa kakek guru kamu juga mahir membuat Yan-mo-tan?"

Ia merasa granat tabir asap itu biarpun bukan benda kotor, tapi juga tidak dapat dikatakan sebagai barang yang bermanfaat bagi umum. Sebab itulah ia kaget dan heran ketika mendengar Kiam-ong Ciong-Li-cin juga dapat membuat Yan-mo-tan.

Keh-ki tampak melengong, mendadak ia lolos pedang dan membentak sambil menuding Sam-bi-sin-ong, "Tua bangka, kamu berani sembarangan mengoceh? Mana mungkin kakek guru membuat Yan-mo-tan segala? Apakah kamu ..." sampai di sini tampaknya segera ia hendak melabrak si kakek.

Namun Sam-bi-sin-ong tetap duduk saja dengan tenang jawabnya kemudian dengan tersenyum "Sabar dulu, nona Ih, dengarkan lagi penjelasanku."

Kiam-eng merasa kalau urusan tidak benar betapapun Sam-bi-sin-ong tidak berani memfitnah Kiam-ong Ciong-Li-cin, maka cepat ia cegah Keh-ki dan berkata, "Sabar sebentar nona Ih, dengarkan dulu penjelasannya."

"Baik, coba katakan, berdasarkan apa kau berani menuduh kakek guru juga mahir membuat Yan-mo- tan."

"Ini bukan tuduhan kosong melainkan kenyataannya memang begitu ..." sahut Sam-bi-sin-ong dengan tersenyum.

"Kentut! Apabila kakek guru mahir membuat Yan-mo-tan, mengapa selama ini aku tidak tahu?" omel Keh-ki.

"Juga bukan kentut, sebab kepandaian membuat Yan-mo-tan kakek gurumu itu justru adalah ajaranku," tutur Sam-bi-sin-ong dengan tertawa.

"Hah, engkau yang mengajarnya?" Keh-ki menegas dengan bingung.

"Betul," kata si kakek. "Itu kejadian 30 tahun yang lalu. Waktu itu kakek gurumu belum menjadi tokoh nomor satu di dunia, hubungannya denganku tidak terlampau jelek, pada suatu hari ia menyaksikan aku halau beberapa musuh dengan meledakkan Yan-mo-tan, ia merasa tertarik dan tanya padaku cara bagaimana membuat granat berasap itu. Karena bangga, tanpa pikir lantas aku beritahukan padanya resep membuat Yan-mo-tan ..."

Sampai di sini, ia merandek sejenak, lalu menyambung, "Cuma, meski kakek gurumu dapat membuat Yan-mo-tan, namun belum pernah dia terdengar menggunakan ... Makanya aku berani bilang dia bukan sasaran yang pantas dicurigai."

"Sudah tentu, mana aku berani mencurigai beliau," tukas Kiam-eng dengan mengangguk.

Rasa marah Keh-ki seketika lenyap demi mendengar sang kekasih tidak menaruh curiga lagi, segera ia tanya pula, "Kau bilang mempunyai hubungan tidak jelek dengan kakek guruku, mengapa selama ini tidak pernah aku dengar cerita beliau?"

Sam-bi-sin-ong tampak merasa terharu, tuturnya, "Aku bilang hubungan kami tidak jelek, itu kan peristiwa 30 tahun yang lampau. Kemudian nama kakek gurumu tambah lama tambah cemerlang, pribadinya juga semakin jujur dan lurus, mau-tak-mau aku rasa diriku tidak sepadan dengan dia dan lambat-laun aku pun menjauhi dia. Sampai sekarang, sudah belasan tahun tidak pernah berjumpa dengan kakek gurumu."

"Benar juga, lantaran pribadi kurang lurus, dengan sendirinya kakek guru pun tidak mau bergaul lagi denganmu," ujar Keh-ki dengan tertawa. "Haha, memang begitulah, makanya selama ini pula tidak berani aku ceritakan pada siapa pun bahwa Kiam-eng Ciong-Li-cin pernah menjadi sahabatku," kata si kakek dengan tergelak, lalu ia pandang Kiam- eng dan menyambung, "Nah, bila aku tidak kau curigai lagi sebagai penculik su-heng mu, maka bolehlah kita mulai berunding suatu bisnis."

"Tapi tidak pernah aku nyatakan tidak curiga lagi," jawab Kiam-eng dingin.

Si kakek tampak kurang senang, "Jika benar aku culik su-heng mu, untuk apa aku cari dirimu lagi?"

"Dengan sendirinya disebabkan su-heng ku tidak mau memberitahukan di mana letak kota emas yang misterius itu," ucap Kiam-eng.

"Lantas cara bagaimana baru kau mau percaya aku ini bukan penculik su-heng mu?" tanya si kakek dengan aseran.

"Entah, sukar aku katakan, namun tidak mungkin aku tidak curiga," kata Kiam-eng.

"Ya, masa bodohlah, kau mau curiga boleh terserah padamu, yang penting sekarang ingin aku rundingkan suatu bisnis denganmu."

"Apakah urusan Sai-hoa-to, karena dia telah jatuh ke dalam cengkeramanmu?" tanya Kiam-eng.

"Betul." sahut Sam-bi-sin-ong dengan tertawa "Sejak kamu menyamar sebagai Sai-hoa-to dan kemudian berada di bawah tawanan Hu-kui-ong hingga kalian dapat membekuk anak murid Tok-pi-sin-kun, semua itu dapat aku saksikan dengan baik karena sejauh itu diam-diam aku kuntit di sekitarmu. Hari itu aku lihat Sai-hoa-to meninggalkan kalian dan hendak datang sendiri ke Thian-ti namun aku rasakan ketinggian kung-fu nya tidak cukup kuat untuk membantu usahamu, maka telah aku ajak dia istirahat ke suatu tempat, aku putuskan akan menggantikan dia untuk membantumu."

Dengan sendirinya Kiam-eng tahu apa yang telah terjadi atas diri Sai-hoa-to, jengeknya kemudian, "Lantas cara bagaimana akan kau gantikan Sai-hoa-to?"

"Begini," tutur Sam-bi-sin-ong. "Boleh kau masuk ke istana putar musuh dengan menyamar sebagai Oh- tok-hong, sementara itu aku dan nona Ih berjaga di tempat yang penting untuk menghalangi kepulangan Oh-tok-hong ke tempat gurunya itu. Kemudian bila dengan lancar dapat kau curi peta pusaka, hasilnya aku cuma minta satu per tiga bagian saja, dan segera aku bebaskan Sai-hoa-to. Jika malang kamu tertawan musuh, maka menjadi kewajibanku untuk menyerbu ke istana putar musuh untuk menolongmu. Bilamana terjadi demikian maka bagianku untuk kota emas itu adalah separuhnya. Nah, bagaimana pendapatmu, setuju?"

"Hm, jika benar aku tertawan musuh, apakah kamu mampu menyerbu ke istana musuh untuk menolongku?" jengek Kiam-eng.

"Rasanya sanggup," sahut Sam-bi-sin-ong dengan mengangguk. "Sebab aku pun ada hubungan cukup baik dengan Tok-pi-sin-kun, dapat aku gunakan kesempatan masuk ke istananya dan berdaya menyelamatkan dirimu ke luar.

Kiam-eng tahu sekali Sai-hoa-to sudah jatuh di tangan orang, kalau dirinya tidak menerima tawarannya tentu urusan bisa runyam, namun ia belum rela menerima begitu saja, katanya pula, "Gagasanmu juga tidak jelek, cuma sayang aku sudah berjanji pada Li-hun-nio-nio bila aku temukan kota emas itu nanti, seluruh kekayaan kota emas itu akan aku dermakan kepadanya untuk biaya Li-hun-to."

Sam-bi-sin-ong tertawa, katanya, "Sungguh aku sangat kagum terhadap keluhuran budimu, cuma aku kira, asalkan kau sumbangkan separuh hasil usahamu, ribuan perempuan cacat penghuni Li-hun-to itulah yang dapat merasakan hidup bahagia."

"Bagaimana kalau aku tolak tawaranmu?" tanya Kiam-eng.

"Jika begitu, terpaksa aku dekati Tok-pi-sin-kun untuk bekerja sama dengan dia," kata Sam-bi-sin-ong. "Kau pikir Tok-pi-sin-kun mau bekerja sama denganmu?" dengus Kiam-eng.

"Pasti mau, sebab padaku ada suatu kartu penentu, yaitu Sai-hoa-to," kata si kakek. "Jika begitu, mengapa kamu tidak langsung pergi mencari Tok-pi-sin-kun saja?" "Itu adalah dua sebab," jawab Sam-bi-sin-ong dengan tertawa. "Pertama, biasanya aku sangat kagum terhadap pribadi gurumu, aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian guru dan murid. Ke dua kendatipun aku bukan orang baik-baik, namun terkadang aku pun tidak suka bergaul dengan orang busuk. Akan tetapi bila kamu tidak suka menerima tawaranku, terpaksa aku pergi bergabung dengan Tok-pi-sin-kun."

Kiam-eng berlagak berpikir sejenak, lalu mengangguk dan berkata, "Baiklah, aku terima ... Dan sekarang Sai-hoa-to berada di mana?"

"Nanti kalau peta sudah kau dapatkan, dengan sendirinya akan aku bawa dia ke sini," kata si kakek. Sejenak kemudian ia sambung pula dengan tertawa. "Sesudah peta kau dapatkan, hendaknya kau potong peta itu menjadi dua, sebagian diserahkan padaku, dengan begitu barulah aku bebaskan Sai-hoa- to."

"Hm, kau kira aku akan mungkir janji?" jengek Kiam-eng.

"Ini kan cuma suatu pertimbangan keamanan belaka. Tujuannya yang utama bila sebagian peta itu aku simpan, kalau ada orang hendak merebutnya kan tidak akan berguna baginya?"

Kiam-eng pikir bila benar peta itu sudah diperolehnya, tentu dapat dibacanya dulu hingga apal di luar kepala, habis itu baru dipotong sebagian untuk diserahkan kepada kakek sialan ini dengan demikian tentu pula takkan kuatir lagi si kakek akan main gila. Maka ia pun mengangguk dan menjawab, "Baiklah, aku terima semua permintaanmu."

"Lalu kapan kau mau masuk ke tempat Tok-pi-sin-kun?" tanya si kakek dengan tertawa senang. "Lewat lohor esok segera aku berangkat," jawab Kiam-eng.

"Baik, tiga hari kemudian, apabila kamu belum juga pulang, itu menandakan kamu tertangkap musuh, dan segera akan aku pergi ke sana untuk menolongmu," habis berkata si kakek membuka pintu dan tinggal pergi.

Keh-ki melongok ke luar, hanya sekejap saja bayangan kakek itu sudah menghilang, ucapnya dengan gemas, "Hm, alangkah licinnya tua bangka ini!"

"Memangnya hendak kau buntuti dia untuk menolong Sai-hoa-to?" tanya Kiam-eng. "Ya, masa tidak baik?" ujar Keh-ki.

"Kurang baik," kata Kiam-eng. "Sebab biarpun Sai-hoa-to dapat kita bebaskan dari tawanan Sam-bi-sin- ong, kan dia dapat segera memberitahukan kepada Tok-pi-sin-kun untuk menggagalkan operasi kita?"

"Ai, sungguh runyam, mengapa Sai-hoa-to bisa tertawan olehnya?" kata Keh-ki dengan gegetun.

"Ilmu pengobatan Sim-lo-cian-pwe maha sakti kalau bicara tentang kung-fu jelas dia bukan tandingan Sam-bi-sin-ong," tutur Kiam-eng.

"Ya, aku rasakan juga tua bangka ini tidak boleh diremehkan," ujar Keh-ki. "Lahirnya kelihatan ramah tamah. namun sesungguhnya dia lebih sukar dilayani daripada Bu-lim-sam-koai dan Kui-kok-ji-bu-siang. Ia bilang pada waktu Hu-kui-ong menculikmu diam-diam ia sudah mulai mengikuti setiap kejadian, akan tetapi baru sekarang dia muncul, dari sini sudah dapat diketahui betapa licik dan licinnya rase tua ini."

"Kendati begitu, namun tindak kejahatannya tidak sebanyak Bu-lim-sam-koai dan Kui-kok-ji-bu-siang," kata Kiam-eng. "Malahan pernah aku dengar terkadang ia pun suka berbuat kebaikan."

"Dan bagaimana dengan kung-fu nya?" tanya Keh-ki pula.

"Konon sangat tinggi, terkenal sebagai tokoh ke lima di dunia persilatan jaman ini."

"Hah, jika begitu, gabungan tenaga kita berdua juga bukan tandingannya? Keh-ki menegas dengan terkesiap.

"Betul, malahan dia juga mempunyai senjata rahasia tiga macam Yan-mo-tan yang berbau harum, busuk dan pedas. Kalau kita bergebrak dengan dia, yang kecundang pasti kita."

"Su-kong (kakek guru) diakui sebagai tokoh nomor satu jaman ini, gurumu adalah tokoh nomor dua dan Tok-pi-sin-kun nomor tiga, tadi kau bilang Sam-bi-sin-ong adalah tokoh ke lima, lantas siapakah tokoh nomor empat itu?"

"Yaitu Kai-pang Pang-cu It-sik-sin-kai Ang-Pek-ko," tutur Kiam-eng. "Seorang kepala pengemis saja masa begitu lihai?" ujar Keh-ki.

"Jangan kau pandang rendah Kai-pang," kata Kiam-eng. "Di antara berbagai aliran dan golongan di dunia persilatan jaman ini yang paling berpengaruh justru adalah Kai-pang."

"Bagamana pula kung-fu ke-18 tokoh yang dahulu terbunuh di Hwe-liong-kok itu?"

"Di antara ke-18 tokoh itu, 12 orang di antaranya adalah penjabat ketua berbagai aliran dunia persilatan jaman ini dengan sendirinya kung-fu mereka pun terhitung kelas satu. Cuma kalau dibandingkan Sam-bi- sin-ong, mungkin mereka masih selisih sedikit di bawahnya."

"Jika kung-fu mereka tidak begitu tinggi mengapa mereka disebut sebagai ke-18 tokoh terkemuka dunia persilatan?" tanya Keh-ki.

"Sebabnya mereka disebut tokoh terkemuka konon berawal setelah pertemuan besar dunia persilatan belasan tahun yang lalu itu, ke-18 tokoh itu berturut-turut dikalahkan oleh kakek gurumu dan guruku, tapi lantaran mereka adalah ketua atau pemimpin sesuatu aliran atau golongan tersendiri, dengan sendirinya mereka kehilangan muka oleh kekalahan tersebut, maka ada orang mengusulkan agar mereka bersama-sama mempelajari sejurus ilmu pedang untuk menghadapi ilmu pedang kakek gurumu dan guruku yang sukar ditandingi itu."