Rahasia 180 Patung Emas Jilid 06

 
Jilid 06 

Tergetar hati Kiam-eng tanyanya terkejut, "Oo, dari mana kau tahu isi peti mati itu adalah orang hidup?"

"Malam kemarin dulu, waktu mereka mondok bermalam di Kong-beng-si di lereng Han-cing-san kebetulan aku pun bermalam di kuil itu." tutur Keh-ki. "Karena tertarik oleh gerak-gerik mereka yang mencurigakan, pada tengah malam diam-diam aku dekati mereka untuk menyelidiki hal yang sebenarnya, kebetulan aku lihat mereka sedang membuka tutup peti mati dan memberi makanan kepada orang yang sembunyi di dalam peti!"

"Apakah mereka bukan orang persilatan?" tanya Kiam-eng cepat.

Keh-ki mengangguk, "Betul, meski mereka berusaha menutupi asal-usul mereka, namun tetap dapat dibedakan." Segera Kiam-eng berpikir bukan mustahil orang di dalam peti mati itu adalah Toa-su-heng sendiri, yaitu Gak-Sik-lam. Sedangkan beberapa orang yang berkabung itu adalah komplotan orang berkedok yang menculik sang su-heng dan Kalana itu. Mungkin juga mereka meninggalkan Kalana di daerah Tiong-goan dan cuma Toa-su-heng saja yang dibawa ke daerah selatan untuk mencari kota emas.

Karena kuatir akan direcoki orang persilatan dalam perjalanan, maka Toa-su-heng disembunyikan di dalam peti mati untuk mengelabui mata telinga orang ... "

Berpikir demikian. tanpa terasa jantung Kiam-eng berdebar-debar, cepat ia tanya pula. "Siapa orang di dalam peti mati yang kau lihat itu?"

"Entah," Keh-ki menggeleng. "Mereka berenam berkerumun di sekitar peti mati, sukar untuk melihatnya dengan jelas dari tempatku mengintip."

Kiam-eng merasa kecewa, tanyanya pula, "Masa sama sekali tidak kau lihat?"

"Ya, yang terlihat cuma mereka sedang melayani makan orang dalam peti, tampaknya mereka memperlakukan orang dalam peti mati itu dengan sangat baik."

Diam-diam Kiam-eng berpikir, "Hm, mereka ingin membawa Gak-su-heng mencari kota emas misterius itu, dengan sendirinya mereka harus melayaninya dengan sebaik-baiknya."

Keh-ki tidak memperhatikan perubahan air muka Su-Kiam-eng itu, ia sambung lagi ceritanya dengan tertawa, "Aku pikir mereka menyembuhkan seorang hidup di dalam peti mati, tentu saja ada sesuatu rahasia mereka yang tidak boleh diketahui orang lain. Maka aku putuskan akan mengintip hingga sejelas- jelasnya. Mulai esok kemarin dulu diam-diam aku lantas membuntuti jejak mereka, cuma sayang sejauh ini tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekati peti mati itu ... "

Semakin dipikir Kiam-eng semakin yakin orang di dalam peti mati pastilah Gak-su-heng adanya. Tanpa terasa ia mendengus, "Hm, sekarang tahulah aku siapa orang di dalam peti mati itu!"

Keh-ki melengak tanyanya heran, "Oo, kau tahu siapa orang dalam peti mati itu?" "Ya, orang dalam peti itu adalah su-heng ku Gak-Sik-lam," jawab Kiam-eng pasti. "Su-heng mu Gak-Sik-lam?" Keh-ki menegas dengan terheran-heran.

"Betul," sahut Kiam-eng, "Apakah nona Ih belum pernah mendengar kisah pengalaman su-heng ku itu?" "Pernah," ucap Keh-ki sambil mengangguk, "cuma tidak begitu jelas. Konon su-heng mu ..."

Mendadak Kiam-eng melarikan kudanya ke luar hutan sambil berseru, "Ayo berangkat! Cepat kita menyusul mereka nanti akan aku ceritakan lagi."

Tetapi tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, cepat ia menahan kudanya pula dan melompat turun, katanya, "Eh, nanti dulu aku lupakan sesuatu!"

Keh-ki urung ikut keluar hutan, tanyanya dengan tertawa, "Ai, kamu ini seperti orang ling-lung saja!"

Kiam-eng lantas duduk di tanah, dikeluarkannya alat rias dan mulai menyamar sembari bicara. "Aku harus menyamar sebentar, kalau tidak tentu akan dikenali mereka."

Begitulah ia lantas memoles muka, leher dan kedua tangannya menjadi agak kehitam-hitaman, lalu bibir atas ditempel dengan kumis pendek, seketika berubahlah dia menjadi seorang berwajah kasar berusia setengah baya.

Keh-ki merasa kurang senang, ucapnya, "Huh, wajah yang cerah kenapa mesti dipoles sedemikian buruk?"

"Tidak begini tentu sukar menyelamatkan su-heng ku," ujar Kiam-eng tertawa.

"Tadi waktu kudamu melancangi kereta mereka sudah melihat dirimu?" kata si nona.

"Tidak apa, waktu itu aku larikan kudaku secepat terbang dengan kepala agak menunduk, tidak nanti wajahku dilihat mereka dengan jelas." Habis menyamar, Kiam-eng menyimpan kembali alat riasnya, lalu melompat ke atas kuda, katanya pula, "Ingat, nona Ih, selanjutnya kita saling mengaku sebagai saudara."

Keh-ki tidak menyatakan keberatan, ia ikut anak muda itu meninggalkan hutan bambu.

Begitulah mereka terus menyusul ke depan mengikuti bekas roda kereta. Di tengah jalan Kiam-eng lantas menceritakan kisah sang su-heng yang diperintahkan oleh gurunya ke daerah selatan untuk mencari Jian-lian-hok-leng, akhirnya berhasil menemukan sebuah kota emas di tengah hutan belukar yang telah lama dilupakan manusia, dan memperistrikan seorang gadis suku setempat. Kemudian entah mengapa sang su-heng mengalami cacat badan, kaki dan tangan buntung seluruhnya, peta kota emas yang sempat dikirim kembali melalui merpati pos ternyata jatuh di tangan orang persilatan sehingga rahasia kota emas tersiar luas di dunia kang-ouw dan menimbulkan banyak tokoh kalangan hitam dan golongan putih saling berebut peta pusaka, semua itu diuraikannya dengan jelas.

Keh-ki terheran-heran dan tertarik pula oleh cerita itu tanyanya kemudian, "Jika begitu apakah perjalananmu sekarang adalah untuk mencari kota emas?"

Kiam-eng menggeleng, "Tidak, yang hendak aku cari adalah Jian-lian-hok-leng, aku dan Su-hu tidak tertarik oleh kota emas itu. Kami menganggap tugas menyembuhkan penyakit In-Ang-bi jauh lebih penting daripada mendapatkan kota emas itu."

"In-Ang-bi yang kau katakan itu apakah putri Bu-tek-sin-pian In-Giok-san?" tanya Keh-ki.

"Betul, sebabnya dia kehilangan daya ingatan mungkin karena dia menyaksikan peristiwa pembunuhan ke-18 tokoh besar dunia persilatan di Hwe-liong-kok dulu, saking kaget dan takutnya hingga otaknya terganggu. Lantaran itulah kami berusaha memulihkan daya ingatnya, dengan begitu akan dapat dimintai keterangan tentang siapa si pengganas di Hwe-liong-kok itu."

"Berapa umur In-Ang-bi itu?" tanya Keh-ki pula. "Sebaya dengan dirimu."

"Dia sangat cantik bukan?"

"Juga tidak banyak berbeda denganmu."

"Jika begitu, bilamana Jian-lian-hok-leng itu berhasil kau dapatkan dan menyembuhkan penyakitnya, pasti dia akan rela menjadi istrimu."

Sama sekali tidak pernah timbul pikiran seperti ini, ucapan Ih-Keh-ki ini membuatnya marah semprotnya, "Omong kosong! Macam apakah ucapanmu ini?"

Keh-ki mengikik tawa, katanya, "Ini kan mungkin terjadi juga. Karena dia berterima kasih atas kebaikanmu yang telah menyembuhkan penyakitnya, dengan sendirinya ia rela menjadi istrimu sebagai balas budinya."

Berkerenyit kening Kiam-eng, "Sudahlah, hendaknya jangan bicara urusan ini."

"Boleh saja menyuruhku jangan bicara urusan ini, cuma kamu harus menyanggupi sesuatu padaku," kata Keh-ki dengan tertawa.

Kiam-eng merasa serba susah, tanyanya, "Kau minta aku sanggupi urusan apa?"

Keh-ki menatapnya tajam, ucapnya dengan tertawa, "Kamu harus berjanji dulu baru akan aku jelaskan."

"Ai, ucapan macam apa ini?" kata Kiam-eng tertawa. "Sebelum aku tahu apa permintaanmu, masakah aku harus berjanji lebih dulu?"

"Yang aku minta pasti pekerjaan yang dapat kau laksanakan," ujar Keh-ki. "Coba katakan saja, asalkan aku sanggup tentu akan aku terima."

"Tidak, aku minta engkau berjanji lebih dulu!"

Kiam-eng tidak tega menolaknya, katanya kemudian dengan mengangguk, "Baiklah aku berjanji. Katakan saja!" "Aku ingin pergi bersamamu ke daerah selatan sana untuk mencari Jian-lian-hok-leng," tutur Keh-ki.

Kiam-eng terperanjat, serunya, "Hah, mana boleh jadi! Setiap urusan dapat aku terima, hanya urusan ini tidak boleh."

"Mengapa tidak boleh?" tanya Keh-ki. "Kakek guruku dan gurumu adalah sahabat karib, dengan sendirinya kita berdua juga bukan orang luar. Mengapa tidak boleh aku ikut pergi bersamamu?"

"Ini bukan soal hubungan baik antar ke dua keluarga kita melainkan urusan hutan belukar di daerah selatan sana sangat berbahaya bukan tempat yang boleh sembarangan didatangi oleh seorang nona seperti dirimu."

"Numpang tanya betapa berbahayanya daerah selatan itu?" tanya Keh-ki dengan tersenyum.

"Di sana hutan belukar melulu dan jarang didatangi manusia, di mana-mana lereng gunung terjal berbahaya, di tengah hutan pun banyak gas racun dan rawa yang sukar dijelajah, apalagi binatang buas yang berkeliaran, seorang cantik seperti dirimu masakah tahan pergi ke tempat semacam itu?"

"Kau sendiri pernah pergi ke sana?" tanya Keh-ki dengan menahan tawa.

"Belum pernah," jawab Kiam-eng dengan melengak. "Cuma aku tahu tempat berbahaya itu mutlak tidak boleh didatangi anak perempuan."

"Apakah binatang buas di tengah hutan sana hanya menyerang anak perempuan dan tidak menyerang anak lelaki?" tanya Keh-ki.

"Bukan begitu soalnya ..."

"Kalau tidak, barangkali kau kira kung-fu ku tidak cukup kuat untuk membela diri?"

"Tidak, maksudku anak perempuan seperti dirimu tidak tahan derita, padahal di tengah hutan belukar begitu ..." Kiam-eng merandek sejenak, lalu menyambung, "seumpama engkau tahan derita namun engkau belum lagi memberitahukan ayah-bundamu bahwa engkau hendak pergi ke tempat sejauh itu, apabila aku bawa kamu ke sana dan terjadi sesuatu atas dirimu, sungguh aku tidak berani bertanggung jawab bilamana dimarahi ayah ibumu."

"Jangan kuatir," kata Keh-ki. "Ayah ibuku sudah lama tidak dapat memerintah diriku, ke mana pun aku suka boleh aku pergi ke sana, apalagi aku sendiri yang minta ikut, jika terjadi apa-apa aku jamin tidak ada sangkut-pautnya denganmu."

Kiam-eng menggeleng, "Tidak, apa pun juga engkau tidak boleh ikut." "Tidak, apa pun juga aku harus ikut pergi!" ucap Keh-ki ngotot.

Tentu saja Kiam-eng pusing kepala, ia pandang si nona dengan tercengang, katanya, "Nona Ih, kenapa engkau sedemikian bandel?"

"Meski aku bandel kan tidak berarti tidak pakai aturan, aku harap engkau jangan kuatir," ujar si nona.

"Aku tidak mau membawamu pergi, kamu justru ngotot mau ikut pergi, apa namanya ini kalau bukan tidak tahu aturan?"

"Alasan yang kau gunakan untuk menolak keikutsertaanku, bukan alasan yang kuat, maka aku tidak menurut."

Kiam-eng tahu Ih-Keh-ki ini memang seorang nona kepala batu, jika dirinya ingin melepaskan diri dari recokannya mungkin sangat sulit, maka ia angkat bahu dan berkata, "Terus terang ada teman seperjalanan seorang nona cantik seperti dirimu sungguh jauh melebihi harapanku. Soalnya aku kuatir ayah ibumu tidak mengerti duduknya perkara bilamana terjadi sesuatu atas dirimu apakah mereka mau memaafkan aku?"

"Ini soal mudah," ujar Keh-ki. "Biar aku tulis sepucuk surat pernyataan suka rela dan menjelaskan aku sendirilah yang minta ikut pergi bersamamu, apabila terjadi sesuatu urusan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Surat pernyataanku boleh kau bawa apabila benar terjadi sesuatu di luar dugaan atas diriku boleh kau perlihatkan surat pernyataanku kepada ayah-ibuku, dengan demikian tentu engkau akan bebas dan tanggung jawab. Baik tidak cara ini?"

Kiam-eng merasa cuma cara ini yang terbaik maka ia mengangguk dan berkata, "Baiklah, cuma tetap aku harap engkau mempertimbangkannya kembali, hutan belukar purba di selatan sana bukan lah tempat tamasya yang baik ... "

Mendadak Keh-ki menuding ke depan dan berkata, "Lihat itu, mereka sudah kita susul!"

Waktu Kiam-eng memandang ke sana, benar juga terlihat ke dua buah kereta kuda tadi sedang dilarikan dengan cepat kira-kira setengah li di depan, segera ia perlambat lari kudanya dan berkata "Lambatkan saja kuda kita, jangan kita membayangi mereka terlampau dekat agar tidak menimbulkan curiga mereka."

Keh-ki lantas juga memperlambat lagi kudanya, ucapnya dengan tertawa, "Kalau mau sebenarnya kita terjang maju saja dan menghalau mereka lalu membuka peti mati untuk menolong keluar su-heng mu."

"Wah, jangan," kata Kiam-eng. "Mereka memiliki sejenis granat asap berbisa yang dapat membuat orang pingsan, mereka juga menyandera su-heng ku sehingga kita tidak bisa bertindak apa-apa."

"Habis, cara bagaimana pula akan kau selamatkan su-heng mu?" tanya si nona.

"Ingin aku lihat dulu malam ini mereka akan tinggal di mana, lalu kita bertindak menurut keadaaan," kata Kiam-eng.

Karena mereka memperlambat lari kuda, ke dua kereta di depan kembali menghilang lagi di kejauhan. "Tempat apa di depan sana, apakah kau tahu?" tanya Keh-ki.

"Entah, aku pun baru pertama kali ini datang di wilayah Kui-ciu." jawab Kiam-eng.

"Semalam mereka menginap di Ciok-cing, hari ini mungkin mereka pun akan melanjutkan perjalanan hingga gelap baru akan berhenti."

Begitulah sembari bicara sambil melarikan kuda, tanpa terasa sang surya sudah condong ke barat. Tidak lama kemudian sampailah mereka di situ tempat yang bernama Si-ping, keduanya memperlambat lari kuda dan masuk ke dalam kota. Karena tidak tahu apakah penumpang kereta tadi berhenti atau tidak di kota, mereka coba mencari kabar di ujung kota sana. Setelah diselidiki, diketahui ke dua buah kereta itu tidak meninggalkan kota, segera mereka putar balik pula ke dalam kota.

Terlihat sebuah hotel yang terletak di jalan yang berderetan dengan pintu gerbang kota, segera Kiam- eng berkata terhadap Ih-Keh-ki, "Adik yang baik, marilah kita taruh dulu kuda kita di hotel, kemudian baru kita mencari di mana mereka mondok."

"Baik, juga perlu makan dulu, aku sudah kelaparan," ujar Keh-ki.

Keduanya lantas mendatangi hotel itu, melihat pakaian mereka cukup perlente, kuda tunggangan mereka pun luar biasa, cepat pelayan menyambut kedatangan mereka dengan tertawa dan menyapa dengan hormat, "Apakah kedua tuan tamu ingin bermalam di sini?"

"Betul, apakah ada kamar kelas satu?" tanya Kiam-eng.

"Ada, ada, di bagian belakang masih ada sebuah kamar mewah, apakah ... "

Belum lanjut ucapan si pelayan, cepat Keh-ki memotong, "Tidak, kami ini kakak beradik, maka minta dua kamar."

Si pelayan melengong, tapi lantas mengiakan lagi dengan hormat, "Oya, ada, dua kamar kelas satu!"

"Dan ada lagi ke dua ekor kuda ini, harus diberi komboran paling baik, di mana letak kandang kuda kalian?" tanya Kiam-eng.

Si pelayan menunjuk sebuah jalan samping hotel, katanya, "Di ujung lorong sana, jangan kuatir, tuan tamu hamba pasti akan memberi pesan kepada perawat kuda agar memberi makan kuda tuan sebaik- baiknya."

Kiam-eng dan Keh-ki lantas menyerahkan kuda mereka kepada seorang pelayan lain yang mendekati mereka lalu mereka masuk ke hotel.

Pelayan membawa mereka ke deretan kamar bagian belakang, dibukanya dua buah kamar yang berpintu tembus, katanya, "Bagaimana dengan kedua kamar ini. tuan?"

"Boleh," Kiam-eng mengangguk. "Sekarang hendaknya sediakan air mandi dan beberapa macam santapan, sehabis mandi segera kami bersantap."

Berulang si pelayan mengiakan dan mengundurkan diri.

Kiam-eng lantas tanya Keh-ki, "Hian-moai (adik yang baik), kamar mana yang kau pilih?" "lelaki kiri dan perempuan kanan, biarlah aku tidur di kamar sebelah kanan ini," kata Keh-ki. "Jika begitu, boleh kita mandi dulu, nanti kita makan bersama," ujar Kiam-eng.

Habis berkata ia lantas masuk ke kamar sendiri. Ia tutup pintu kamar dan menanggalkan baju luar serta digantungnya di dinding lalu membuka rangsal dan bermaksud mengeluarkan pakaian dalam. Selagi hendak keluar kamar untuk mandi begitu pintu kamar terpentang, mendadak Keh-ki menyelinap masuk ke kamarnya.

Semula Kiam-eng terkejut, ketika dilihatnya wajah si nona mengunjuk rasa kejut dan girang, cepat ia tanya, "Hei, ada apa?"

Keh-ki merapatkan pintu kamar, lalu membisiki anak muda itu, "Percaya atau tidak terserah yang jelas bisa terjadi hal kebetulan seperti ini."

"Hal kebetulan apa maksudmu?" tanya Kiam-eng.

"Apakah kau tahu bahwa mereka pun bermalam di hotel ini?" tutur Keh-ki.

Tadinya Kiam-eng menyangka pihak lawan yang mengangkut peti mati itu hanya akan mondok di rumah berhala sebangsa biara atau kelenteng, keruan ia terkejut dan heran atas keterangan Keh-ki itu, tanya, "Apa betul? Kau lihat mereka?"

Keh-ki menunjuk ke sebelah kanan dan mendesis, "Itu, mereka tinggal di kamar sebelah, aku kenali mereka dari suaranya."

"Bagus sekali," Kiam-eng berkeplok senang. "Dapatlah kita menghemat tenaga dan tidak perlu mencari mereka. Eh kamu tidak salah dengar?"

"Pasti tidak," jawab Keh-ki. "Yang tinggal di kamar sebelahku sana berjumlah tiga orang, tiga orang lainnya mungkin juga tinggal di kamar sebelahnya lagi."

"Aneh juga, mengapa mereka menginap di hotel?" ujar Kiam-eng.

"Mungkin di kota ini tidak ada kelenteng," kata Keh-ki. "Aku kira ke dua buah kereta diparkir di halaman belakang hotel, mumpung mereka tidak di tempat marilah kita coba memeriksanya."

Kiam-eng berpikir sejenak lalu berkata, "Jangan tidak perlu tergesa-gesa nanti sesudah hari gelap baru kita bicara lagi. Kita harus mencari suatu akal agar tidak meleset ... "

Ia berpikir pula kemudian ia dorong si nona dan berkata, "Nah, pergilah mandi dulu ingat jangan memperlihatkan sesuatu tanda mencurigakan. Habis makan malam nanti baru kita bertindak."

Keh-ki tidak tahu akal bagus apa yang terpikir oleh Kiam-eng, dengan rasa ragu ia mengundurkan diri dan kembali ke kamar sendiri.

Kiam-eng lantas menyembunyikan barang sendiri yang sekiranya dapat membocorkan identitas sendiri habis itu ia menuju ke kamar mandi.

Habis mandi, sementara itu pelayan pun sudah menyiapkan hidangan yang dipesan di kamar Kiam-eng, segera kedua muda-mudi itu mulai makan. Menyusul ia tanya pelayan, "Eh, kuda kami sudah diberi makan belum?"

"Sudah," jawab pelayan. "Siapa yang bertugas mengawasi kandang kuda?" tanya Kiam-eng pula. "Peng-Tai-siu, dia tukang rawat kuda yang berpengalaman, tidak nanti salah."

"Jika tukang rawat kuda berpengalaman, aku justru ada beberapa soal piara kuda ingin minta nasihat padanya, sebentar boleh kau minta dia datang kemari."

"Baiklah sekarang juga hamba akan memberitahukan dia," sahut si pelayan sembari memberi hormat dan mengundurkan diri.

Setelah pelayan pergi dengan suara tertahan Keh-ki tanya Kiam-eng, "Untuk apa kau panggil si tukang rawat kuda yang bernama Peng-Tai-siu itu?"

"Coba kau terka," kata Kiam-eng dengan tersenyum.

"Tidak dapat aku terka," jawab Keh-ki. "Harap jelaskan saja."

"Aku panggil Peng-Tai-siu itu kemari, hanya ingin minta petunjuk padanya tentang cara merawat kuda, lain tidak."

"Tidak, tentu ada maksud tertentu, lekas katakan padaku," omel Keh-ki.

"Engkau ini cucu murid perempuan Kiam-ong Ciong-Li-cin, jika urusan sederhana begini saja tidak dapat menerkanya, kan terlalu ..."

Keh-ki tahu orang hendak "membalas dendam" kejadian siang tadi, dengan mendongkol ia mengomel sambil mengangkat sebelah tangan, "Sialan! Jika banyak omong lagi, biar aku jotos dirimu!"

Kiam-eng bergaya mengelak, katanya dengan tertawa, "Sudahlah, mari kita makan dulu, sebentar tentu kau tahu sendiri."

"Tidak, aku minta sekarang juga kau beritahukan padaku."

Kiam-eng menuding ke belakang kanan, katanya lirih, "Tidak dapat aku katakan sekarang, sebab di tembok sebelah ada telinga."

Ucapan itu membuat Keh-ki tidak berani ngotot lagi, terpaksa ia bersantap.

Ketika mereka hampir selesai makan, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk orang, segera Kiam- eng bertanya, "Siapa?"

Suara serak seorang menjawab di luar, "Hamba Peng-Tai-siu, konon tuan tamu memanggil." "Betul, ayo masuk!" seru Kiam-eng.

Waktu pintu terbuka, seorang lelaki kurus berusia antara 38-an melangkah masuk. "Rapatkan kembali pintu," kata Kiam-eng.

Orang itu mengiakan dan menutup pintu, lalu memberi hormat dan menyapa dengan tertawa "Tuan tamu memanggil hamba, entah ada petunjuk apakah?"

Kiam-eng menunjuk kursi di sebelah sana dan berkata, "Silakan duduk dan minum dulu!"

Melihat seorang gadis cantik berada di situ Peng-Tai-siu tidak berani duduk, ia memberi hormat pula dan menjawab, "Ah, mana hamba berani biarlah hamba berdiri saja dan mendengarkan pesan Tuan."

"Duduk saja," kata Kiam-eng, "Aku dengar kamu ini ahli merawat kuda maka ingin minta beberapa nasihat padamu."

Peng-Tai-siu tetap tidak berani duduk, jawabnya dengan berdiri, "Baiklah, asalkan hamba tahu, tentu akan aku katakan. Cuma pengetahuanku pun terbatas mungkin akan mengecewakan Tuan."

"Jangan rendah hati, silakan duduk saja," kata Kiam-eng. Melihat tukang kuda itu memandangnya dengan kikuk, Keh-ki tertawa dan menyela, "Disuruh duduk, boleh duduk saja, jangan sungkan dan malu-malu, seperti anak perempuan saja."

Muka Peng-Tai-siu tampak merah terpaksa ia ambil tempat duduk dengan kikuk.

Kiam-eng menyodorkan secawan arak kepadanya dan berkata, "Mari, minum satu cawan."

Peng-Tai-siu tidak menolak lagi ia minum habis secawan arak itu, lalu berkata dengan tertawa, "Ai, bilamana dilihat juragan kami, bukan mustahil hamba akan segera disuruh pulang."

"Makanya aku suruh menutup pintu," ujar Kiam-eng. "Eh, kedua ekor kuda kami sudah kau beri makan?"

"Sudah," jawab Peng-Tai-siu. "Kedua ekor kuda Tuan sungguh kuda jenis Mongol yang bagus, sehari sanggup berlari ribuan li betul tidak?"

"Ya, pandanganmu memang tepat," kata Kiam-eng. "Kuda kami memang benar jenis kuda Mongol pilihan."

Ia berhenti sejenak, lalu tanya dengan suara lirih. "Kabarnya tadi ada kereta pengangkut peti mati di parkir di pekarangan belakang, betul tidak?"

"Betul," Peng-Tai-siu mengangguk. "Konon yang mati adalah seorang saudagar yang biasa ke luar negri dan meninggal dalam perjalanan ..."

"Peti mati ditaruh begitu saja di pekarangan hotel rasanya agak terlalu ... eh, kau lihat dijaga atau tidak?"

"Ada terlihat dijaga seorang kakek, waktu hamba datang dia sedang melipat kertas sembahyang," tutur Peng-Tai-siu.

Tiba-tiba Kiam-eng menuding pintu kamar dan berkata, "He, siapa itu yang datang?"

Waktu Peng-Tai-siu-menoleh, kesempatan itu segera digunakan Su-Kiam-eng untuk menghantam belakang kepalanya. Peng-Tai-siu terkejut, tapi segera jatuh kelenger.

Ih-Keh-ki pun kaget serunya tertahan, "Hei, ada apa? Kenapa kau pukul dia?"

"Ssst!" desis Kiam-eng sambil mengangkat Peng-Tai-siu. "Cepat, palang pintu kamar serapatnya."

Keh-ki tidak tahu apa maksud tindakan Su-Kiam-eng itu, namun ia tetap menuruti perintah anak muda itu pintu kamar segera dipalangnya dengan baik waktu ia putar balik dilihatnya Kiam-eng lagi sibuk membelejeti pakaian Peng-Tai-siu. Maka pahamlah dia duduknya perkara.

"Oo, kiranya begitu, jadi engkau hendak menyamar sebagai Peng-Tai-siu untuk mendatangi pekarangan tempat parkir kereta itu?" katanya dengan tertawa.

Kiam-eng mengangguk tanpa menjawab, cepat ia menanggalkan pakaian Peng-Tai-siu, lalu mengeluarkan pula peralatan rias, dengan gesit ia menyamar seperti tukang kuda she Peng itu.

Ilmu merias itu tampaknya sulit dipelajari, padahal asalkan dapat mengenali ciri khas wajah orang yang akan ditirunya tentu pekerjaannya takkan sulit. Kiam-eng adalah ahli rias, maka dalam waktu singkat dapatlah ia menyamar sebagai Peng-Tai-siu dengan sangat mirip.

Menyusul ia lantas memakai baju dan sepatu Peng-Tai-siu, lalu tanyanya kepada Ih-Keh-ki dengan suara perlahan, "Coba lihat, mirip tidak?"

Keh-ki mengangguk tersenyum, "Ehm, cukup mirip. Hari pun sudah gelap, tentu sukar dikenali lagi."

Kiam-eng lantas menutuk hiat-to tidur Peng-Tai-siu dan mendorongnya ke kolong ranjang, lalu berkata, "Aku pergi sebentar boleh kau datang lagi."

"Apakah perlu membawa rangsal?" tanya Keh-ki.

Kiam-eng mengangguk, baju sendiri dikeluarkan dan ditaruh di tempat tidur, katanya, "Coba tolong bebenah bagiku, taruh saja di kamarmu, setelah berhasil menyelamatkan orang segera kita berangkat." Habis bicara ia lantas meninggalkan kamar. Ketika sampai di halaman tengah segera kepergok si pelayan tadi. Dengan sendirinya pelayan itu tidak tahu "Peng-Tai-siu" di depannya ini bukan Peng-Tai-siu asli si tukang kuda itu, ketika melihat Su-Kiam-eng, segera ia mencegatnya, "He, A-Peng ada urusan apa kamu dipanggil ke kamar tuan tamu sana?"

Kiam-eng sengaja bisik-bisik di telinga si pelayan, "Ia tanya padaku bilakah kuda betina paling aman dikawinkan agar bisa segera hamil."

"Haha, aku kira urusan apa, rupanya tanya persoalan ini," seru si pelayan dengan tergelak, "Lalu bagaimana kau jawab?"

Dengan tersenyum Kiam-eng berkata perlahan "Aku katakan padanya apabila kuda jantan sedang berahi, pada saat itulah paling mudah hamil bagi kuda betina."

Si pelayan terpingkal-pingkal geli, katanya, "Hahaha, sialan, bisa saja kamu ... "

"Mereka sudah makan kenyang yang lelaki lagi keluar berak lekas kamu bebenah meja makannya," ujar Kiam-eng sambil mendorong si pelayan, ia sendiri lantas tinggal pergi.

Sekeluar hotel dan membelok ke gang kecil sebelah kanan baru puluhan langkah, benarlah terlihat sebuah pekarangan tempat parkir yang cukup luas.

Pada saat itu terlihat dua buah kereta dan enam ekor kuda berada di situ, kedua ekor kuda di antaranya dengan sendirinya adalah kuda Kiam-eng dan Keh-ki.

Setelah masuk ke halaman parkir, Kiam-eng melihat seorang kakek berusia 50-an berbaju hitam sedang berdiri di depan kuda putih miliknya itu, agaknya selagi menikmati kegagahan kuda perkasa itu.

Kiam-eng tahu si kakek pasti salah satu di antara ke enam orang penumpang kereta segera ia mendekat ke sana dan menyapa dengan tersenyum

"Ke dua ekor kuda ini sangat bagus bukan?"

Si kakek menoleh, ia mengangguk dan tersenyum demi melihat "Peng-Tai-siu", jawabnya, "Betul, ke dua ekor kuda ini telah aku lihat dalam perjalanan siang tadi. Tak tersangka mereka pun bermalam di hotel kalian ini."

"Tadi tuan tamu itu memberi pesan padaku agar merawat baik-baik kudanya, padahal tanpa dipesan juga pasti aku kerjakan tugasku dengan baik. Menghadapi kuda bagus sehebat ini masakah hamba berani sembarangan?"

"Apa pekerjaan orang itu?" tanya si kakek.

"Tidak jelas melihat tampangnya, seperti seorang piau-su (tukang kawal barang)," tutur Peng-Tai-siu palsu.

Si kakek menunjuk kuda hitam dan berkata pula, "Dan siapa pemilik kuda hitam ini?"

"Seorang nona cilik," jawab Peng-Tai-siu gadungan. "Konon adik pcrempuan tuan tamu seperti piau-su itu. Entah mengapa kedua kakak beradik seperti lagi bertengkar ..."

"Betul siang tadi kami melihat si pemuda lebih dulu membedal kudanya ke depan, lalu si nona mengejarnya dengan cepat kemudian terjadi susul menyusul kuda tunggangan mereka pun satu hitam dan satu putih semuanya kuda perkasa, sungguh sangat mengagumkan ... Eh, mereka tinggal di suatu kamar atau dua kamar?"

"Dua," jawab Kiam-eng alias Peng-Tai-siu gadungan. "Dari nada pembicaraannya mereka, aku yakin mereka pasti kakak beradik."

Bicara sampai di sini ia coba ganti pokok pembicaraannya, ia tanya, "Eh, mengapa tuan belum masuk untuk istirahat?"

"Ah, masih sore ..."

"Silakan mengaso saja, jangan kuatir, hamba akan jaga di sini, tanggung takkan terjadi apa-apa" "Tidak, kami berenam akan bergiliran jaga," ujar si kakek baju hitam. "Jika begitu, sampai kapan Tuan dinas jaga di sini?" tanya Kiam-eng. "Selang setengah jam lagi akan giliranku untuk istirahat," tutur si kakek. "Apakah Tuan sudah makan?" tanya Kiam-eng pula.

Si kakek mengunjuk rasa sangsi, katanya, "Baru saja habis makan, bukankah kau lihat tadi?" Cepat Kiam-eng menukas, "Oya, hamba lupa ... Eh, mengapa tuan tamu itu pun datang kemari!"

Waktu si kakek berpaling ke sana, secepat kilat Kiam-eng menyerangnya, dengan telak belakang kepala si kakek dipotongnya, menyusul ia tutuk pula hiat-to tidur orang, lalu menyeretnya ke lantai sebuah kandang kuda yang gelap dan kosong segera pula ia keluar dari situ dan mendekati kereta yang memuat peti mati.

Pada saat itulah sesosok bayangan kecil menyelinap ke tengah halaman, melihat pendatang ini Ih-Keh- ki, dengan suara keras Kiam-eng menegur "Kau mau apa, nona?"

"O, aku datang untuk menjenguk Naga Hitam ku, apakah sudah kau beri makan?" jawab Ih-Keh-ki.

"Sudah," jawab Kiam-eng alias Peng-Tai-siu palsu. "Cuma napsu makannya kurang baik, hanya sedikit saja yang dimakannya."

Sesudah dekat Keh-ki lantas bertanya dengan suara tertahan, "Bagaimana, sudah berhasil?" "Beres!" jawab Kiam-eng.

Keh-ki memandang sekitarnya dan bertanya pula, "Di mana orangnya?" "Tidur di dalam sana!" Kiam-eng menunjuk kandang kuda yang gelap itu.

"Jika begitu lekas menolong su-heng mu," desis Keh-ki sambil melompat ke arah kereta kuda.

Sesudah keduanya mendekati kereta, dari depan seorang segera menerobos masuk ke dalam bak kereta, seorang lagi menerobos masuk dari belakang, mereka coba meraba peti mati dan terasa tutup peti terpantek dengan kuat, cuma di bawah tutup peti terdapat beberapa lubang kecil. Kiam-eng tahu itulah lubang hawa untuk napas orang di dalam peti.

Segera ia tanya dengan mulut di dekat lubang hawa, "Hei, apakah yang di dalam peti ini Gak-su-heng?" Orang di dalam peti tidak menjawab.

"Aku Su-Kiam-eng," desis Kiam-eng pula. "Apakah yang di dalam peti Gak-su-heng adanya?" Tetap tidak ada jawaban apa pun.

"Tentu hiat-to bisunya tertutuk," ujar Keh-ki "Tidak perlu tanya lagi, buka saja tutup peti."

Kiam-eng tahu urusan tidak boleh ayal segera ia pegang tutup peti dan bermaksud mengungkapnya sekuat tenaga. Siapa tahu pada saat itulah tiba tiba terdengar orang berseru di ujung pelataran sana, "Go-cek! Go-cek!"

Tergetar hati Kiam-eng ia tidak tahu siapa yang dipanggil "Go-cek" (paman ke lima) cepat ia membisiki Ih-Keh-ki, "Lekas, ayo mengeluyur pergi dari depan sana!"

Muka kereta itu menghadap ke dalam, maka ke dua orang lantas menerobos ke luar melalui depan kereta agar tidak kepergok pendatang itu.

Ih-Keh-ki dapat bertindak cepat, sebelum di suruh lagi ia sudah melompat keluar kereta dan sembunyi di tempat gelap.

Dalam pada itu terdengar orang lagi berseru. "Go-cek! Go-cek, di mana engkau?"

Pendatang ini seorang lelaki kekar berusia 40-an, perawakan tinggi besar dan gagah sekali, namun berdandan sebagai saudagar, cara berjalannya juga berlagak hampa tak bertenaga.

Kiam-eng mengikuti jejak Ih-Keh-ki dan menerobos keluar kereta serta sembunyi di tempat gelap, lalu menggeser maju beberapa langkah. Kemudian tampil dan menegur, "Siapa itu?"

Melihat "Peng-Tai-siu", lelaki kekar itu bertanya, "Eh, kawan, kau lihat ke mana perginya Go-cek kami tadi?"

Kiam-eng menuding kereta dan berkata, "Apakah Tuan maksudkan paman tua yang menjaga peti mati itu ?"

lelaki kekar itu tampak sangsi dan menjawab, "Betul, ke mana dia?" "O, dia pergi berak," tutur Kiam-eng.

"Ia memberitahukan padamu?" tanya lelaki itu dengan pandangan tajam.

"Betul, ia bilang mau berak dan hamba disuruh mewakilkan dia jaga sebentar dan orang luar dilarang mendekati kereta."

"Sudah berapa lama ia pergi?" tanya pula si lelaki kekar. "Baru saja, belum lama," jawab Kiam-eng.

lelaki itu manggut-manggut, lalu bergumam sendiri, "Hm, mana boleh berlaku seceroboh itu, Go-cek sungguh terlalu gegabah, mau pergi kan harus memberitahukan lebih dulu ..."

Dengan tertawa Kiam-eng menukas, "Padahal kan juga tidak menjadi soal, hanya sebuah peti layon saja dan bukan benda berharga segala, apa halangannya ditinggalkan pergi sebentar?"

lelaki itu tampak melengak, segera ia menjawab dengan tertawa, "Oya, betul juga ... " sembari bicara ia terus melangkah mendekati kereta.

Kiam-eng mengikut di belakangnya dan bertanya, "Apa barangkali Tuan ingin bicara apa-apa dengan paman tua tadi?"

"Betul, ingin aku bicarakan sesuatu dengan dia ... "

"Jika Tuan tamu tidak dapat menunggu, katakan saja kepada hamba dan akan aku sampaikan padanya," ujar Kiam-eng.

"O, tidak, biarlah aku tunggu dia di sini," kata lelaki itu.

Sementara itu dia sudah sampai di belakang kereta ia singkap ujung tabir kereta dan melongok ke dalam sekejap pada saat ia menarik kembali kepalanya itulah segera Su-Kiam-eng memotong pula belakang kepala orang, kontan lelaki itu pun roboh.

Cepat pula Kiam-eng menutuk hiat-to tidurnya dan diseretnya ke tempat gelap, lalu buru-buru ia menyusup lagi ke dalam kereta.

Segera Kiam-eng bermaksud membuka tutup peti mati lagi sekuatnya ia angkat tutup peti sehingga menimbulkan suara keriat-keriut suara terlepasnya pantek akhirnya tutup peti mati itu dapat dibuka.

Akan tetapi apa yang masuk dalam pandangannya, seketika membuat Su-Kiam-eng terkesiap. Sebab orang yang berada di dalam peti mati itu sama sekali bukan su-heng nya, yaitu Gak-Sik-lam melainkan seorang kakek yang berkaki dan bertangan lengkap.

Usia si kakek antara 60-an, mukanya pucat dan pakaiannya rajin, tiada ubahnya serupa mayat yang didandani.

Cuma kakek itu bukan mayat melainkan orang hidup, saat itu matanya lagi melotot dan menatap Kiam- eng dan Keh-ki dengan terkejut.

Sejak mula Kiam-eng menyangka orang di dalam peti mati pasti sang su-heng Gak-Sik-lam, setelah diketahui bukan orang yang dicari, tentu saja Kiam-eng sangat kecewa dan duduk lemas serupa balon gembos, ia menghela napas panjang kesal. Bahwa yang terisi di dalam peti mati bukan Gak-Sik-lam, namun seorang kakek disembunyikan dalam peti mati, hal ini pasti merupakan suatu rahasia besar yang tidak boleh diketahui orang luar. Sebab itulah Keh-ki lantas tanya lebih dulu. "Eh, pak tua, engkau ini siapa? Mengapa ditaruh di dalam peti mati oleh mereka?"

Si kakek tidak menjawab, air mukanya juga kaku tanpa emosi, hanya sorot kedua matanya menampilkan rasa heran dan kaget.

Karena orang tidak menjawab, Keh-ki bertanya pula, "Hei, pak tua, mengapa engkau tidak bicara?"

Dan melihat si kakek tetap tiada gerak hendak buka mulut kembali Keh-ki berkata, "Jangan kuatir lekas kau ceritakan seluk-beluk urusanmu kepada kami, tentu akan kami tolong dirimu."

Namun si kakek tetap saja diam.

"Ai, kan sudah kau katakan hiat-to bisunya tertutuk, kenapa kau sendiri lupa?" ujar Kiam-eng. Baru Keh- ki menyadari urusannya, cepat ia membuka hiat-to bisu si kakek dan berkata pula, "Nah, sudah baik sekarang, lekaslah bicara!"

Si kakek menghembus napas perlahan, lalu buka mulut, "Dan hiat-to kelumpuhanku belum lagi dibuka, harap nona menolongku sekalian."

Segera Keh-ki hendak membuka pula hiat-to kelumpuhan orang, namun mendadak Su-Kiam-eng mencegahnya dan berkata, "Nanti dulu, tanya dulu sejelasnya baru menolongnya kan belum lagi terlambat."

"Sebab apa?" tanya Keh-ki dengan melengong.

Perlahan sorot mata Su-Kiam-eng berpindah ke muka si kakek, jengeknya, "Mereka menutuk hiat-to kelumpuhan kakek ini, jelas memandang si kakek memiliki kung-fu yang tinggi. Sekarang aku tanya lebih dulu, siapakah nama Lo-tiang (pak tua) yang terhormat?"

Air muka si kakek tetap kaku tanpa emosi namun dapat bersuara, ucapnya dengan tersenyum kecut, "Tadi aku dengar kamu mengaku sebagai Su-Kiam-eng, bilamana kamu benar Su-Kiam-eng adanya, seharusnya kau kenal suaraku."

Tergetar hati Kiam-eng, tanyanya dengan tatapan tajam, "Eh, Lo-tiang kenal diriku?"

"Tentu saja aku kenal," ujar si kakek dengan menyengir. "Sudah dua kali kamu menyamar sebagai diriku, masakah aku tidak kenal lagi akan dirimu?"

"Hah, jadi engkau ... engkau ini Sim-lo-cian-pwe?" tanya Kiam-eng terkejut.

"Betul masakah tidak kau lihat mereka memasang selapis kedok pada wajahku?" kata si kakek.

Dalam kegelapan memang Kiam-eng tidak memperhatikan wajah orang, cepat ia membuka hiat-to kelumpuhan si kakek sembari bertanya, "Siapa mereka itu? Mengapa Lo-cian-pwe bisa jatuh dalam cengkeraman mereka?"

Si kakek Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho masih tetap berbaring tanpa bergerak, tuturnya, "Siapa mereka itu sampai saat ini pun aku sendiri belum lagi jelas. Mengenai maksud tujuan mereka menculik diriku, jelas karena ingin mencari kota emas misterius itu. Apa yang terjadi dan aku alami tidak dapat aku jelaskan dalam waktu singkat, sekarang harus kita siap menghadapi musuh lebih dulu Kung-fu ke enam lawan rata-rata sangat tinggi seorang yang baru kau robohkan itu berbaju hijau bukan?"

"Bukan ia pakai baju hitam, serupa si kakek pertama tadi," jawab Kiam-eng.

"Jika begitu, orang yang berbaju hijau adalah pemimpin nya, bisa jadi dia yang membawa peta kota emas itu," tutur Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho "Sekarang, lekas kau tutup kembali peti mati ia lalu ke dua orang kau hantam pingsan itu diseret ke pelataran sana, kemudian berteriak-teriak untuk memancing kedatangan mereka. Dengan begitu akan dapat aku robohkan orang yang menjadi pemimpin mereka itu di luar dugaan mereka."

Kiam-eng masih ingin tanya lagi, tapi Sim-Tiong-ho lantas mendesaknya agar lekas mengerjakan pesannya tadi. Kiam-eng pikir memang benar lebih penting menghadapi musuh lebih dulu, maka cepat ia tutup peti mati itu sesuai perintah Sim-Tiong-ho, paku pantek ditancapkan lagi, lalu desisnya kepada Ih- Keh-ki, "Nona Ih, lekas sembunyi, nanti kalau serangan Sim-lo-cian-pwe sudah berhasil baru boleh kau keluar!"

Keh-ki merasa perangkap ini cukup menarik dan menyenangkan, dengan tertawa ia mengiakan dan melompat ke luar kereta bersembunyi di tempat gelap.

Kiam-eng juga melompat ke luar kereta, diseretnya si kakek baju hitam dan lelaki kekar tadi tengah pelataran, melihat Keh-ki sudah sembunyi dengan baik, lalu ia berteriak-teriak, "Wah, celaka! Ada maling! Maling! Lekas tangkap pembunuh! Ada pembunuh!"

Karena gemboran ini, para tamu hotel dan penduduk sekitar hotel sama terkejut, serentak orang banyak sama memburu ke pelataran parkir ramai-ramai.

Ketika semua orang sudah berkerumun di pelataran dan melihat di situ menggeletak dua sosok mayat, mereka sama mengira kedua orang itu mati menjadi korban keganasan si maling, banyak yang merasa takut sehingga mereka cuma menonton belaka tanpa ada yang berani mendekat.

Tidak lama kemudian barulah sisa ke empat orang berpakaian berkabung dan menginap di hotel itu memburu tiba.

Usia ke empat orang ini yang dua sebaya dengan lelaki kekar tadi, sama-sama setengah umur dua lagi lebih tua sedikit, kira-kira di atas 50-an. Seorang di antaranya berbaju hijau, wajahnya cerah, berdandan serupa seorang hartawan pedusunan. Namun sinar matanya berkilat, jelas seorang tokoh persilatan kelas tinggi.

Begitu tiba dan melihat di situ menggeletak dua orang kawannya, seketika air muka si baju hijau ini berubah hebat, sorot matanya yang tajam laksana sinar kilat itu menyapu pandang sekejap ke arah penonton yang berkerumun itu lantaran tidak menemukan jejak musuh, segera ia pandang "Peng-Tai- siu" dan menghardik, "Di mana malingnya!"

Sekenanya Kiam-eng menuding rumah penduduk dan berkata, "Sudah lari ke sana! Sehabis merobohkan kedua tuan tamu ini segera maling itu lari ke arah kereta, ketika hamba berteriak teriak maling, dia hanya sempat memegang peti mati, lalu lari dan melompat ke atas rumah penduduk"

Mendengar peti mati sempat dipegang si penyatron, air muka si kakek baju hijau tampak agak berubah, tanpa menghiraukan keadaan kedua kawannya yang menggeletak itu segera ia memburu ke tempat kereta yang bermuatan peti mati.

Ke tiga kawannya yang lain juga ikut memburu ke sana tanpa memikirkan kawan yang menggeletak dan entah mati atau hidup itu.

Segera si kakek baju hijau mendahului melompat ke atas kereta dan cepat membuka tutup peti mati. Ketika dilihatnya mata Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang terbujur di dalam peti mati itu terpejam dan kepala agak tergolek miring, dada pun bergerak naik turun dengan keras seperti terkena pukulan orang dari luar peti keruan ia terkejut dan kuatir cepat ia menjulurkan tangan dengan maksud mengangkat keluar Sim- Tiong-ho untuk diberi pertolongan.

Di luar dugaan, mendadak sebelah kaki Sim-Tiong-ho mendepak dan tepat mengenai dada si kakek baju hijau. "Blang", kontan kakek baju hijau menjerit tertahan, darah segar pun tersembur dari mulutnya dan terguling di samping peti mati.

Kedua lelaki setengah baya dan kakek satunya lagi sama sekali tidak menyangka Sai-hoa-to Sim-Tiong- ho yang tertutuk hiat-to bisu dan kelumpuhannya itu mendadak dapat bergerak, bahkan menyerang.

Tentu saja mereka terkejut. Melihat pemimpin mereka roboh terguling serentak mereka berteriak dan membentak, berbareng mereka menghantam Sim-Tiong-ho yang masih terbaring di dalam peti itu.

Pada detik gawat itu, syukur Su-Kiam-eng pun bertindak, dari belakang mereka segera sebelah kakinya menendang dan sebelah tangan menghantam pinggang si kakek. "Blang, bluk", kedua lelaki setengah umur tersapu oleh kaki Kiam-eng hingga terjungkal. Si kakek juga terkena pukulan dan tergetar beberapa tindak ke samping.

Akan tetapi mereka tidak terluka parah, dengan cepat mereka melompat bangun dan siap tempur pula.

Tentu saja, ketika mereka mengenali lawan yang menyergap mereka ternyata "Peng-Tai-siu" adanya mereka sama melongo dan tidak sanggup bersuara. Sementara itu Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho sudah melompat bangun dari peti mati, Ih-Keh-ki yang sembunyi di tempat gelap juga melompat ke luar.

Namun si kakek tidak memandang Sim-Tiong-ho dan Ih-Keh-ki, ia hanya menatap Su-Kiam-eng dengan terbelalak sambil membentak, "Engkau ini siapa?"

Kiam-eng mengusap mukanya sehingga obat rias tersapu bersih, lalu menjawab dengan tertawa, "Cai-he Su-Kiam-eng adanya, Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah guruku!"

Muka si kakek sebentar pucat sebentar hijau. Sorot matanya yang beringas berubah guram, lalu beringas lagi. Sekonyong-konyong ia berteriak murka, ke dua tangan terpentang bagai tangan iblis, langsung ia menerkam ke arah Su-Kiam-eng.

Diam-diam Kiam-eng sudah siap tempur, ketika orang menerjang tiba, cepat ia menggeser ke kiri, berbareng sebelah tangan memotong ke pinggang lawan.

Meski kung-fu Lok-Cing-hui terletak pada ilmu pedangnya, dalam hal ilmu pukulan juga cukup tangguh. Dengan sendirinya Su-Kiam-eng pun serba mahir berbagai kung-fu tersebut. Maka sekali dua serangan segera ia sudah merebut posisi mendahului.

Namun kung-fu si kakek juga bukan jago rendahan, begitu diserang, ia tidak gugup dan juga tidak mengelak, ia hanya mendak sedikit berbareng tangan kanan balas memotong pergelangan tangan Su- Kiam-eng yang menyerangnya, malahan dua jari tangan kiri sekaligus digunakan menyolok mata Kiam- eng.

Begitulah dalam sekejap terjadi pertarungan sengit antara seorang tua dan seorang muda.

Setelah menyaksikan beberapa jurus serang menyerang mereka Sai-hoa-to manggut-manggut merasa lega, segera ia pun mendekati salah seorang lelaki setengah baya dan mendengus, "Hehe, kawan, sekian jauh menempuh perjalanan, sesungguhnya di manakah ibumu yang katanya sakit keras itu?"

Orang itu tidak menjawab, mendadak ia lolos sebilah pedang lemas, secepat kilat ia mendahului menyerang.

Pedang lemas itu dibuat dari baja asli, lemas serupa sabuk, kalau tidak digunakan dapat dililitkan sebagai tali pinggang pemakainya harus seorang yang memiliki lwe-kang tinggi kalau tidak tentu akan terluka sendiri. Sekarang orang itu dapat memainkan pedang lemas itu dengan sangat lincah, sekali menyendal, pedang lemas berubah lurus keras dari gerakan ini dapat diketahui orang ini pun pasti bukan jago rendahan.

Meski Sai-hoa-to bertangan kosong, lantaran berhati welas asih dan suka menolong sesamanya sehingga dia tertipu dan tertawan, sudah setengah bulan ia terbaring di dalam peti mati, sudah sekian lama ia menahan rasa gemas, sekarang semangat tempurnya berkobar dengan hebat, mana dia gentar terhadap pedang lawan yang lemas itu. Ketika lawan mulai menyerang, ia tertawa panjang, dengan kung-fu tangan kosong melawan senjata tajam ia hadapi lelaki itu dengan tangkasnya.

lelaki setengah baya lain bermuka tirus, segera ia pun melolos pedang lemas, maksudnya hendak mengerubut Sai-hoa-to, namun Keh-ki keburu membentaknya, "Hai, kamu kemari dulu!"

lelaki itu agaknya tidak menyangka Ih-Keh-ki adalah rombongan Su-Kiam-eng, ia menoleh oleh seruan si nona dan bertanya dengan bingung, "Kau mau apa?"

Tangan kanan Ih-Keh-ki tersembunyi di belakang, tangan kiri menggapai, katanya dengan tertawa manis, "Engkau kemari dulu, ingin aku bicara denganmu!"

Melihat seorang nona cantik tertawa dan bicara ramah padanya, lelaki itu mengira Keh-ki menaksirnya, dengan kikuk ia mendekatinya dan bertanya, "Nona ingin bicara apa?"

"Engkau bernama siapa?" tanya Keh-ki dengan tertawa.

lelaki muka tirus itu, menjawab, "Cai-he Kim-ci-pa (si macan tutul) Tong-hong-Beng, ada keperluan apa nona tanya namaku?"

"Pedang lemas yang kau pegang itu tampaknya sangat bagus, cuma tidak tahu bisa digunakan atau tidak?" ujar Keh-ki. "Kenapa tidak bisa digunakan? Apakah nona ingin mencobanya?" kata Tong-hong-Beng.

"Betul, aku memang tertarik kepada pedangmu," sahut Keh-ki. "Aku dengar Tok-pi-sin-kun (si malaikat sakti tangan satu) Pau-Thian-bun dari Thian-ti di Hun-lam sangat lihai dengan Pan-liong-kiam-hoat nya, aku justru ingin belajar kenal!" habis berkata, secepat kilat Keh-ki melolos pedang yang disandangnya dan menyabet ke depan.

Kim-ci-pa Tong-hong-Beng tidak menyangka si nona juga salah seorang lawan, terlebih tidak mengira begitu melihat senjata sendiri lantas dapat menyebut asal-usulnya. Keruan ia terkejut dan cepat melompat mundur.

Walaupun cukup cepat lompatan mundurnya namun kung-fu andalan Ih-Keh-ki tidak memberi kesempatan menghindar baginya, terdengar suara "crit", lengan baju kanan Tong-hong-Beng tertusuk robek.

Kembali Tong-hong-Beng terkejut dan melompat mundur lagi beberapa langkah, damprat dengan mendelik, "Budak busuk, kamu ini siapa?"

Keh-ki menarik pula, dengusnya, "Hm, setelah rasakan kelihaian nona tentu kamu akan tahu sendiri, buat apa banyak bertanya?"

Dengan sendirinya Tong-hong-Beng tidak mau dipandang lemah, sekali pedang lemas menyendal langsung ia menerjang maju.

Ia pikir seorang nona cilik saja betapa tinggi kung-fu nya juga terbatas, cukup beberapa jurus saja satu dapat beres, siapa tahu setelah beradu senjata, makin lama makin terperanjat. Ketika mendekati belasan jurus, mendadak ia menarik pedang dan melompat mundur, ucapnya dengan terkejut, "Nanti dulu! Kamu ini apanya Kiam-ong?"

Keh-ki tertawa ngikik, "Anak murid Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun memang berpandangan tajam, nonamu bernama Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki, Kiam-ong adalah kakek guruku. Nah, mau apa?"

Kim-ci-pa Tong-hong-Beng tambah tercengang, katanya, "Guruku dan kakek gurumu tidak pernah bermusuhan apa pun, mengapa sekarang nona ikut campur urusanku?"

Kiranya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun di provinsi Hun-lam juga terhitung tokoh kelas satu dunia persilatan jaman ini, pada pertandingan besar dahulu untuk menentukan urut-urutan tokoh, dengan pedang Poan-liong-kiam andalannya telah mengalahkan belasan jago pedang daerah Tiong-goan akhirnya ia berhadapan dengan Kiam-ho-Lok Cing-hui, terjadi pertarungan seru dari pagi hingga sore, alhasil Lok-Cing-hui menangkan satu jurus.

Para tokoh yang hadir menyaksikan pertarungan pada waktu itu sama mempunyai suatu perasaan, yaitu bilamana Pau-Thian-bun tidak buntung sebelah tangannya, hasil dari pertandingan itu mungkin takkan diraih oleh Lok-Cing-hui. Walaupun begitu, sebagian besar tokoh dunia persilatan sama gembira karena Lok-Cing-hui dapat mengalahkan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, soalnya Pau-Thian-bun dikenal sebagai tokoh iblis besar berhati keji yang dibenci orang persilatan juga jahanam pengganggu kaum wanita yang ditakuti kaum hawa itu.

Konon apabila dia penujui seorang nona, tidak peduli apa pun asal-usul dan kedudukan si nona tetap dia akan berdaya mendapatkannya. Sebab itulah tidak sedikit jumlah nona baik-baik yang pernah dinodai olehnya. Tapi lantaran ilmu silatnya sangat tinggi, anak muridnya juga banyak, maka tokoh terkemuka seperti Kiam-ong dan Kiam-ho juga merasa sungkan padanya.

Dengan sendirinya, kebalikannya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun juga cukup jeri terhadap Kiam-ong dan Kiam-ho, maka sering dia memperingatkan anak muridnya agar jangan bentrok dengan anak murid kedua tokoh tertinggi tersebut.

Karena itulah ketika Kim-ci-pa Tong-hong-Beng mengetahui Ih-Keh-ki adalah cucu murid Kiam-ong Ciong-Li-cin, seketika ia menjadi ragu, sebab ia harus mempertimbangkan kemungkinan akibatnya. Sebab perguruannya sudah cekcok dengan Kiam-ho-Lok-Cing-hui jika sekarang cekcok lagi dengan Kiam-ong dan anak muridnya apabila Kiam-ho dan Kiam-ong bergabung datang minta pertanggung jawabannya, lalu cara bagaimana pihaknya akan menghadapinya.

Bilamana dia merasa sangsi dan ragu, Ih-Keh-ki justru tidak perlu banyak pikir, ia tuding Su-Kiam-eng yang sedang menempur si kakek, katanya dengan tertawa, "Biar aku katakan padamu, aku datang untuk membantu dia."

Kim-ci-pa Tong-hong-Beng adalah murid kesayangan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, ilmu pedangnya sudah mewarisi segenap kepandaian sang guru, andaikan tidak lebih kuat daripada Ih-Keh-ki, sedikitnya juga pasti lebih ulet daripada si nona. Sebab itulah ia tidak merasa jeri terhadap Keh-ki, maka ia balas mendengus melihat sikap Keh-ki yang meremehkan dia, "Hehe, jadi maksud nona sengaja hendak mencari perkara terhadap Thian-ti-pai kami?"

"Boleh juga dikatakan demikian," ujar Keh-ki dengan tertawa. "Apa pun kakek guru kami kan tokoh nomor satu di dunia, memangnya perlu takut terhadap gurumu?"

"Hm, kamu harus ingat benar-benar terhadap ucapanmu ini," jengek Tong-hong-Beng. "Memangnya mau apa?" jawab Keh-ki dengan sikap menghina.

"Aku minta kamu ingat pihakmu yang lebih dulu mencari perkara padaku dan bukan kami yang mencari perkara padamu, cukup begitu saja," jengek Tong-hong-Beng.

"Sudahlah, buat apa bicara bertele-tele, kau mau apa, silakan mulai saja," kata Keh-ki dengan ketus.

Tong-hong-Beng tidak banyak omong lagi, segera ia menerjang maju, pedang lantas menebas sambil membentak, "Terima serangan ini!"

Maka berlangsunglah pertarungan sengit.

Pada saat itu di sebelah sana Su-Kiam-eng justru sudah berhasil, sekali hantam tepat mengenai dada si kakek sehingga lawan tumpah darah dan jatuh terkapar tak bangun lagi.

Kakek itu juga murid Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, meski usianya lebih tua daripada Tong-hong-Beng, tapi kung-fu nya bukan ajaran langsung sang guru melainkan belajar dari salah seorang pembantu kepercayaan gurunya jago kelas menengah seperti dia dengan sendirinya bukan tandingan Su-Kiam-eng.

Setelah serangannya berhasil, waktu Kiam-eng memandang ke sana, dilihatnya Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang sedang menghadapi serangan gencar lelaki setengah baya itu rada-rada kewalahan, segera ia melompat ke sana dan berseru, "Silakan mundur dulu, Sim-lo-cian-pwe, biar aku bereskan bangsat ini!"

Sebabnya Sim-Tiong-ho agak kewalahan menghadapi serangan lawan adalah karena dia bertangan kosong, ia pikir kalau Su-Kiam-eng juga bertangan kosong rasanya juga sukar mengalahkan musuh, maka cepat ia menjawab, "Tidak, hendaknya kau cari sebatang pedang dahulu!"

Kiam-eng dapat melihat kung-fu yang dimainkan lelaki setengah umur itu adalah Poan-liong-kiam-hoat andalan Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun, ia pun menyadari bila bertangan kosong juga akan sukar mengalahkan lawan, maka cepat ia lari ke kamar Ih-Keh-ki untuk mengambil pedang sendiri, lalu lari kembali ke pelataran parkir dan berseru. "Silakan mundur, Sim-lo-cian-pwe, sekarang biar aku hadapi dia!"

Saat itu Sim-Tiong-ho lagi tercecer dan berulang menghadapi serangan bahaya, melihat Su-Kiam-eng datang kembali dengan bersenjata, cepat ia melompat mundur agar digantikan oleh anak muda itu.

Dengan pedang terhunus Kiam-eng memapak lelaki setengah umur itu, tanyanya dengan tersenyum, "Apakah Anda ini anak murid Tok-pi-sin-kun?"

"Hm, memang betul," jengek orang itu. "Aku Pek-hui-hou (si harimau putih terbang) Ji-Liang." "Peta kepunyaan su-heng ku itu cara bagaimana diperoleh kalian?" tanya Kiam-eng pula.

"Cara bagaimana memperolehnya, aku kira hal tidak penting, yang paling penting adalah kami memang sudah mendapatkan peta itu," jawab Ji-Liang dengan tersenyum licik.

Kiam-eng merasa jarak Thian-ti tidak jauh dari Mo-pan-san, bilamana peta wasiat itu jatuh ke tangan Tok-pi-sin-kun, mungkin sekali bukan direbut dari orang lain, tapi diperoleh dengan mencegat burung merpati sang su-heng yang dilepas pulang ke Tiong-goan itu. Apabila betul demikian, cacat badan sang su-heng bukan mustahil ada sangkut-pautnya dengan pihak Thian-ti-pai, maka ia mengajukan pertanyaan seperti tadi.

Maka jawaban Ji-Liang yang mencurigakan itu menambah rasa sangsi Kiam-eng, dengan dingin ia mengangguk, "Baik, boleh kita mulai!"

Habis berkata, langsung pedangnya mendahului menusuk ulu hati lawan.

Ilmu pedang andalan Kiam-ho-Lok-Cing-hui bernama "Peng-lui-kiam-hoat", ilmu pedang sambaran geledek, permainan pedang ini mengutamakan kekuatan sejati dan sejenis ilmu pedang yang mengutamakan kelincahan dan kegesitan.

Dengan sendirinya Pek-hui-hou Ji-Liang cukup kenal kelihaian Peng-lui-kiam-hoat, maka ketika tusukan Su-Kiam-eng tiba, ia tidak berani meremehkannya dan menangkis dengan penuh perhatian dan segenap kepandaiannya.

Begitulah terjadi pertarungan sengit, makin lama Kiam-eng makin tangkas.

Bicara sejujurnya, sebenarnya Pan-liong-kiam-hoat Thian-ti-pai tidak kalah hebat daripada Peng-lui- kiam-hoat andalan Kiam-ho-Lok-Cing-hui, namun setelah berlangsung ratusan jurus, terlihatlah Peng-lui- kiam-hoat terlebih kuat dan Su-Kiam-eng sudah menduduki posisi tak terkalahkan.

Hal ini ada dua sebab. Pertama, yang jahat tidak bisa lebih unggul dari yang baik. Ke dua, bakat Su- Kiam-eng memang lebih tinggi.

Karena ke dua unsur itu, dengan sendirinya Pek-hui-hou Ji-Liang kelihatan jauh lebih lemah. Sekuatnya ia bertahan beberapa puluh jurus lagi, mendadak ia melompat jauh ke samping sambil berseru, "Lo-ji, ayolah kita pergi saja!"

Belum lenyap suaranya segera ia mendahului lari ke luar pelataran parkir dan kabur dengan cepat.

Melihat su-heng nya kabur, Kim-ci-pa Tong-hong-Beng yang sedang bertempur sengit melawan Ih-Keh-ki juga tidak berani terlibat lebih lama lagi, sekali melompat mundur, secepat terbang ia pun lari.

Ih-Keh-ki suka menang, ia merasa kurang gemilang kalau lawan tidak langsung dijatuhkan olehnya, maka ketika melihat Kim-ci-pa melompat mundur, segera ia membentak dan memburu ke sana dengan maksud mencegahnya.

Namun Kiam-eng keburu berteriak, "Tidak perlu dikejar lagi, nona Ih, kembalilah sini!"

Keh-ki menahan gerak larinya dan berputar balik, dia memang seorang nona berwatak keras tapi sekarang dia mau menurut pada ucapan Su-Kiam-eng, sungguh suatu perubahan yang agak luar biasa.

Sembari menyimpan kembali pedangnya, ia tanya dengan tertawa, "Ada apa? Tampaknya hatimu menjadi lunak terhadap anak murid Tok-pi-sin-kun?"

"Bukan lunak melainkan kehendak ada tapi tenaga kurang," ujar Kiam-eng.

"Apa maksudmu? Memangnya engkau tidak mampu menawannya?" tanya Keh-ki dengan melengak.

"Betul," Kiam-eng mengangguk. "Sebab jika pertarungan berlangsung lebih lama lagi, untuk menang memang tidak menjadi soal, untuk menawan mereka itulah yang sulit"

"Tetapi kita kan dapat mengejar mereka, apabila mereka pun kehabisan tenaga, dengan mudah tentu dapat kita bekuk mereka," ujar Keh-ki.

Kiam-eng tersenyum, ia tunjuk ke empat orang yang menggeletak itu dan berkata, "Kita juga harus membereskan ke empat musuh ini bukan?"

Keh-ki pikir memang benar juga, maka tidak bicara pula.

Segera Kiam-eng menyongsong ke tempat Sai-hoa-to, dilihatnya orang tua itu baru melompat ke luar dari kereta, ia tahu tujuan orang masuk ke dalam kereta tentu ingin menggeledah tubuh si kakek baju hijau apakah membawa peta kota emas atau tidak, sesudah dekat ia lantas tanya, "Ada tidak?"

"Tidak ada," Sai-hoa-to menggeleng, "semula aku sangka peta berada padanya..."

"Tak mungkin peta itu dibawa olehnya melainkan pasti berada pada Tok-pi-sin-kun," ujar Kiam-eng, "Tidak nanti ia berikan peta itu kepada muridnya untuk dibawa ke Tiong-goan untuk kemudian dibawa pulang lagi ke Thian-ti." "Betul juga," kata Sai-hoa-to. "Tapi sebelum ini aku kan tidak tahu mereka ini anak murid Tok-pi-sin- kun?"

Tengah mereka bicara, seorang pelayan hotel dengan gemetar ketakutan mendekat dan bertanya dengan kaget, "Apa ... apa yang terjadi, Tuan?"

Melihat sekitarnya sudah berkerumun banyak orang, Kiam-eng tahu tidak leluasa lagi untuk bermalam di hotel, segera ia mengeluarkan beberapa tahil perak kepada pengurus hotel dan berkata, "Ah, tidak ada apa-apa, hanya urusan percekcokkan orang kang-ouw saja. Ini ongkos hotel kami, harap pelayan disuruh membawa kemari barang-barang kami, segera kami akan berangkat."

Pengurus hotel menerima uang sebanyak itu dengan terima kasih tak habis-habis, lalu bertanya pula, "Dan di mana ... di mana itu Peng-Tai-siu si tukang kuda, Tuan tadi memanggilnya dan menyuruhnya ke mana?"

"O, dia berada di kamarku, mungkin sudah hampir siuman," jawab Kiam-eng. "Ini, berikan padanya sedikit persen ini."

Lalu Kiam-eng memberi lagi sedikit uang perak.

Pengurus hotel tentu saja berharap orang-orang kang-ouw itu lekas pergi agar dia terbebas dari tanggung jawab, maka ia mengucapkan terima kasih pula dan cepat memberi perintah kepada pelayan agar membawakan barang-barang tetamunya ke situ.

Dua pelayan mengiakan dan berlari pergi dengan cepat.

Kiam-eng coba memeriksa keadaan luka beberapa musuh itu, diketahuinya si kakek berbaju hijau yang terkena tendangan Sai-hoa-to dan kakek berbaju hitam yang tumpah darah terkena pukulannya tadi terluka lebih parah, dua orang lainnya hanya terluka ringan saja dan tak berbahaya.

"Sim-lo-cian-pwe," kata Kiam-eng. "Apakah mereka dapat disembuhkan?"

"Dapat," jawab Sim-Tiong-ho. "Cuma, aku kira anak murid Tok-pi-sin-kun tidak ada harganya untuk disembuhkan."

Namun Kiam-eng mempunyai pertimbangan lain, ia angkat ke empat musuh itu ke atas kereta, lalu berseru terhadap orang yang berkerumun itu, "Di mana kusir ke dua kereta ini?"

Ke dua kusir kereta bercampur di antara orang banyak dan tidak berani memperlihatkan diri, kini mendengar seruan Su-Kiam-eng, terpaksa mereka tampil ke muka dan memberi hormat, katanya, "Tuan. sama sekali hamba berdua tidak ada hubungan apa pun dengan mereka kami cuma tukang kereta dari Ha-yang ..."

"Lekas bangun," kata Kiam-eng. "Mulai sekarang biarlah kami yang menyewa tenaga kalian, asalkan kalian mengendarai kereta dengan baik, setibanya di tempat tujuan pasti akan kami beri hadiah besar."

Biarpun enggan rasanya, namun kedua kusir itu tidak berani menolak, terpaksa mereka mengucapkan terima kasih dan berbangkit, lalu mengeluarkan kuda dari kandang dan siap untuk memberangkatkan kereta.

Tidak lama kemudian pelayan pun datang membawa rangsal, Kiam-eng lantas berkata kepada Sai-hoa-to "Sim-lo-cian-pwe, bagaimana kalau kita

berangkat saja sekarang dan boleh kita bicara lagi dalam perjalanan?"

"Betul, setuju, marilah berangkat!" jawab Sai-hoa-to sembari melompat ke dalam kereta.

Kiam-eng dan Keh-ki juga lantas mencemplak ke atas kuda tunggangan masing-masing dan dibedal ke luar pekarangan hotel, malam-malam juga mereka meninggalkan kota.

Kuda Kiam-eng mendahului lari ke depan. Beberapa li meninggalkan kota, tampaknya ke depan lagi hanya tanah ladang belaka dan tidak ada sesuatu tempat pondokan, segera anak muda itu putar balik dan berkata kepada Sai-hoa-to di dalam kereta, "Sim-lo-cian-pwe, tampaknya di depan tidak ada sesuatu kampung, marilah kita berhenti saja di bawah pepohonan yang rindang."

"Baik, terserah saja kepadamu," jawab Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Segera Kiam-eng merintis ke depan lagi, beberapa li kemudian dilihatnya di tepi jalan ada sebidang hutan yang cukup baik untuk berteduh, segera ia suruh kusir kereta membelok ke tepi jalan.

Sesudah kedua kereta berhenti di dalam hutan Kiam-eng menyusup ke dalam kereta untuk memeriksa keadaan luka kedua kakek.

Agaknya Sai-hoa-to dapat meraba maksud tujuan Su-Kiam-eng, katanya dengan tertawa, "Tadi sudah aku bagi mereka sedikit obat luka dalam, aku yakin mereka takkan mati."

"Sim-lo-cian-pwe bilang kakek berbaju hijau ini adalah pemimpin kelompok mereka, berdasarkan apa engkau menarik kesimpulan demikian?" tanya Kiam-eng.

"Setelah mereka menculik diriku, sepanjang perjalanan selalu kakek baju hijau ini yang memberi perintah terhadap mereka," tutur Sai-hoa-to.

"Jika begitu, sangat mungkin kakek berbaju hijau ini adalah murid pertama Tok-pi-sin-kun yang bernama Jing-liong-ong Su-go-Hiong" kata Kiam-eng.

Jin-liong-ong Su-go-Hiong, si raja naga hijau, meski murid utama Tok-pi-sin-kun, namun nama sendiri sudah terkenal di dunia persilatan selama lebih 20 tahun, kung-fu nya tidak lebih rendah daripada Kui- kok-ji-bu-siang, malahan kejahatannya terkenal melebihi mereka, sebab itulah Sai--hoa-to merasa girang demi mendengar ucapan Kiam-eng itu, katanya, "Aha, jika begitu, secara tidak sengaja telah aku tangkap seekor naga jahat."

Jika melulu bicara tentang ilmu silat, Sai-hoa-to jelas bukan tandingan Jing-liong-ong Su-go-Hiong, sebab itulah ia merasa serangannya tadi kalau tidak dilakukan secara mendadak sehingga berhasil, mungkin yang roboh dan tumpah darah bukan Su-go-Hiong melainkan ia sendiri.

Kiam-eng berkata pula sambil menunjuk lelaki setengah baya yang tertutuk pingsan itu, "Yang paksa mereka tampil ke muka dan memberi yaitu Oh-tok-hong Ki-Se-ki, yang terkenal sebagai penjahat cabul suka merusak kaum wanita itu.

Pada umumnya anak murid Tok-pi-sin-kun memang terkenal busuk dan sangat disegani orang kang-ouw, dengan sendirinya Sai-hoa-to juga pernah mendengar nama busuk Oh-tok-hong Ki-Se-ki, si kumbang hitam berbisa. Maka ia menggeleng kepala dan berkata, "Ah, untung kita menyergap mereka di luar dugaan dan berhasil merobohkan mereka, kalau tidak, bukan mustahil pihak kita yang akan kecundang dalam pertarungan tadi."

Tiba-tiba Ih-Keh ki menunjuk kedua kakek berbaju hitam yang lain dan bertanya, "Dan siapa ke dua orang ini? Tampaknya kepandaian mereka jauh dibandingkan Kim-ci-pa Tong-hong-Beng dan Pek-hui- hou Ji-Liang ..."

"Betul,"kata Kiam-eng,"ke dua orang ini mungkin cuma anak buah biasa Tok-pi-sin-kun. Setiap anak murid langsung Tok-pi-sin-kun pasti bersenjata pedang lemas, ke dua orang ini justru tidak ada.

"Sebenarnya Tok-pi-sin-kun Pau-Thian-bun itu mempunyai berapa orang murid?" tanya Keh-ki pula.

"Kabarnya berjumlah sembilan orang," tutur Kiam-eng. "Tapi di antaranya konon orang perempuan, semuanya tergolong tokoh lihai."

Melihat ke dua kusir kereta berdiri melongo di bawah pohon sana, segera Sai-hoa-to berseru terhadap mereka, "Hai, lekas kalian mengeluarkan kereta, tidur saja di bawah pohon, malam ini tidak meneruskan perjalanan lagi."

Dengan gugup kedua kusir itu mengiakan dan mengeluarkan jok kereta, mereka lantas berbaring di bawah pohon tanpa berani bicara lagi.

"Kalian jangan kuatir, kami bukan orang jahat pasti takkan membikin susah kalian," kata Sai-hoa-to pula dengan tertawa.

Sampai di sini ia menoleh dan tanya Ih-Keh-ki, "Apakah ayah nona adalah Hong-lui-kiam-hiap Ih-Kik- pin?"

"Oo, Lo-cian-pwe kenal ayahku?" jawab Keh-ki dengan mengangguk. "Meski belum kenal muka, namun siapa pun pasti kenal nama kebesaran Hong-lui-kiam-hiap," Sai-hoa-to dengan tertawa. Lalu ia tanya Kiam-eng. "Cara bagaimana kalian bisa berkenalan."

Kiam-eng lantas bercerita pengalamannya berjalan dengan Ih-Keh-ki, lalu menuturkan pula kisahnya sesudah diculik Hu-kui-ong Liong-Ih-kong dan seterusnya.

Sai-hoa-to tidak habis heran oleh cerita anak muda itu, katanya, "Sungguh aneh, lantas siapakah orang yang memalsukan peta dan dijual kepada Hu-kui-ong itu? Apa maksud tujuannya dengan berbuat demikian?"

"Tidak perlu disangsikan lagi, orang itu pasti anak buah To-pi-sin-kun," ujar Kiam-eng. "Karena kuatir orang banyak akan datang ke belantara selatan untuk mencari kota emas, maka Tok-pi-sin-kun sengaja mengirim orang itu dengan membawa Peta palsu untuk dijual kepada Hu-kui-ong habis itu dia sengaja pula menyiarkan bahwa peta kota emas telah jatuh di tangan Hu-kui-ong, orang banyak dipancing agar mencari Hu-kui-ong untuk merebut peta pusaka, dengan begitu Tok-pi-sin-kun dapat mendahului menuju ke daerah selatan untuk mencari kota emas."