Rahasia 180 Patung Emas Jilid 05

 
Jilid 05 

Bok-tiau-bu-siang hanya bermaksud memecah belah mereka dan tidak berniat menyerahkan peta pusaka, kini saran yang dikemukakan Bu-si-soh alias kakek tak berjanggut itu ternyata sangat adil, rasanya akal mengadu domba sendiri bisa gagal, tentu saja ia kuatir, cepat ia menanggapi "wah, cara begitu kurang aman. Jarak kota emas itu dari sini ada beberapa ribu li jauhnya, dalam hal ini bukan mustahil bisa terjadi lagi sesuatu, bilamana salah satu bagian peta itu hilang, kan bisa ke tiga bagian menjadi kertas tak berguna? Maka aku kira akan lebih aman bilamana diserahkan untuk disimpan Oh- ciang-bun-jin saja."

Habis berkata ia benar-benar melemparkan peta kepada Poan-ti-lo-jin. Siapa tahu, ketika peta itu ditangkap oleh Poan-ti-lo-jin, mendadak Ni-kik-bu-siang berteriak.

"Eh, Oh-ciang-bun-jin hendaknya jangan lupa pada janji kita ... Ayo, lekas angkat kaki!"

Mendengar seruan itu, orang-orang Tiam-jong-pai dan Thai-kek-pai mengira di antara Poan-ti-lo-jin dan Ji-bu-siang sudah ada persekongkolan lebih dulu, mereka menjadi kuatir peta pusaka akan dibawa kabur, serentak mereka menubruk ke arah Poan-ti-lo-jin.

Keruan Poan-ti-lo-jin terkejut, cepat ia melompat mundur.

Langkah demikian semakin menimbulkan curiga orang banyak, semuanya tambah yakin si kakek berniat tidak baik, mereka menerjang maju terlebih dahsyat.

Selagi keadaan berubah kacau, tiba-tiba It-ji-kiam Khu-Bu-peng berteriak, "He, jangan kalian tertipu, itu dia kedua Bu-siang telah kabur!"

Dengan bingung semua orang berhenti bertempur dan berpaling ke sana, benar juga terlihat Ji-bu-siang sudah menghilang di kejauhan.

Kian-kun-jiu Ting Go, ketua Thai-kek-bun, merasa bingung oleh ucapan Khu-Bu-peng. tanyanya, "Apa katamu, Khu-tai-hiap?"

"Peta yang diberikan Bok-tiau-bu-siang kepada Oh-ciang-bun-jin itu pasti bukan peta tulen, hendaknya kalian jangan tertipu!" seru It-ji-kiam Khu-Bu-peng.

Seketika semua orang merasa sadar, serentak mereka berpaling lagi dan berkata terhadap Poan-ti-lo-jin yang mereka kepung itu, "Harap Oh-ciang-bun-jin lekas periksa peta itu, coba apakah peta tulen atau palsu?" Cepat Poan-ti-lo-jin membentang gulungan kertas yang diterimanya dari lemparan Ni-kik-bu-siang tadi, sekali pandang ternyata cuma kertas kosong belaka tanpa satu huruf pun, kontan ia buang kertas itu sambil memaki, "Bangsat, kiranya cuma sehelai kertas pembersih pantat belaka!"

Baru sekarang semua orang yakin bahwa mereka memang tertipu oleh Ji-bu-siang. Bu-si-soh, si kakek kelimis mengentak kaki dan mengomel, "Oh-ciang-bun-jin juga kurang gesit tadi waktu menerima, gulungan kertas itu kenapa tidak segera kau periksa dulu?"

Poan-ti-lo-jin mendelik, jawabnya dengan gemas "Periksa dulu apa? Memangnya kalian memberi kesempatan padaku untuk memeriksanya?"

Segera Ting-Go tanya Khu-Bu-peng, "Khu-tai-hiap melihat mereka lari ke jurusan mana?" "Ke sana," jawab Khu-Bu-peng sambil menuding ke selatan.

Tanpa ayal Ting-Go mendahului lari ke sana sembari berseru, "Ayolah lekas kita kejar dan jangan cuma omong kosong saja di situ!"

Segera semua orang ikut lari ke sana, serupa segerombolan anjing hutan kelaparan saja, dalam sekejap mereka pun menghilang di tengah remang senja.

Di tempat yang ribut tadi kini hanya tersisa seorang Li-hun-nio-nio gadungan dan Kui-bin-po Ni-Jai-hoa bertiga yang terluka parah itu.

Melihat Poan-ti-lo-jin dan lain-lain sudah tidak kelihatan lagi, Su-Kiam-eng berkata kepada Li-hun-nio-nio dengan tertawa, "Akal Leng-to-cu telah berhasil dengan baik, selanjutnya ..."

Mendadak Li-hun-nio-nio Leng-Jing-Jing menjawilnya sambil mendesis, "Ssst, jangan bersuara, ada orang lari kembali ke sini!"

Kiam-eng terkejut, waktu memandang ke sana, benar juga terlihat dua sosok bayangan orang lagi berlari tiba dari arah timur, hanya sekejap saja sudah sampai di depan Li-hun-nio-nio.

Yang datang ini ternyata Bok-tiau dan Ni-kik-bu-siang yang baru saja kabur di tengah kekacauan tadi.

Li-hun-nio-nio hanya dapat mendengar ada orang datang, tapi sukar mengetahui siapa pendatang ini, maka ia coba tanya Su-Kiam-eng dengan gelombang suara, "Sim-sin-ih, siapakah kedua orang ini?"

"Ji-bu-siang," jawab Kiam-eng lirih, "entah mengapa mereka putar balik lagi." "Hm, ternyata tidak terlepas dari dugaanku..." jengek Li-hun-nio-nio.

"Oo, jadi sebelumnya Leng-to-cu telah menduga mereka akan putar balik?" tanya Su-Kiam-eng dengan tercengang.

"Betul, mau-tak-mau mereka pasti akan putar balik." "Sebab apa?" tanya Kiam-eng.

"Lihat saja kelanjutannya, tentu kamu akan tahu sendiri," ujar Li-hun-nio-nio.

Sementara itu Bok-tiau-bu-siang berkata terhadap Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing palsu dengan tertawa, "Leng-to-cu, luka ke tiga anak buahmu ini tidak ringan, kalau tidak diobati dengan baik, mungkin mereka tidak mampu pulang ke Li-hun-to."

"Hm, setelah kabur kalian putar balik lagi, jelas ada alasannya, lebih baik katakan terus terang saja," dengus Leng-Jing-jing palsu.

"Bagus, Leng-to-cu memang orang yang suka bicara blak-blakan," ujar Bok-tiau-bu-siang dengan terkekeh. "Sebab itu aku pun tidak perlu ber tele-tele. Nah, sebabnya kami putar balik lagi ke sini adalah ingin minta satu orang terhadap Leng-to-cu."

"Siapa yang kau minta?" tanya Leng-Jing-jing gadungan. "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho!" jawab Bok-tiau-bu-siang. "Hehe, jadi dia yang kau minta!" jengek Li-hun-nio-nio palsu dengan sikap angkuh.

"Pokoknya begini," sambung Bok-tiau-bu-siang tak sabar. "Apabila Leng-to-cu mau bicara secara jelas, maka kami pun akan membagi sedikit kebaikan untukmu, kalau tidak ... "

"Bagaimana kalau tidak?" tanya Leng-Jing-jing palsu.

"Aku kira Leng-to-cu tentu sudah tahu watak kami berdua, buat apa tanya lagi?" sahut Bok-tiau-bu-siang dengan tertawa.

"Apa pula membagi sedikit kebaikan yang kau maksudkan?"

"Jika Leng-to-cu mau menerangkan ke mana perginya Sai-hoa-to, maka kami akan menyembuhkan luka ke tiga anak buahmu ini kelak bila kota emas itu kami temukan, tentu akan kami bagi pula sedikit rejeki untukmu."

"Sedikit itu berapa?" tanya Leng-Jing-jing gadungan.

Bok-tiau-bu-siang berpikir sejenak, lalu berkata, "Akan kami bagi 10 kati emas murni untukmu."

"Huh, 10 kati emas murni?" jengek Li-hun-nio-nio gadungan dengan sikap meremehkan. "Hm, coba kau terka berapa banyak bagian Sai-hoa-to yang kau janjikan untuk dia?"

"Memangnya berapa banyak bagian yang kau janjikan?" tanya Bok-tiau-bu-siang. "Satu per sepuluh, tahu!" jengek Leng-Jing-jing palsu.

"Satu per sepuluh itu sama dengan berapa?" tanya Bok-tiau-bu-siang pula dengan ragu.

"Apabila kota emas itu terdapat simpanan emas murni satu laksa kati, itu berarti dia akan mendapat bagian seribu kati," tutur Li-hun-nio-nio palsu.

Bok-tiau-bu-siang sangat tertarik, tanyanya pula, "Apa betul di kota emas itu terdapat emas sebanyak itu?"

"Di kota emas itu ada 180 buah patung emas ditambah lagi banyak bangunan yang terbuat dari emas. Aku kira harta karun di sana tidak terbatas cuma satu laksa kati."

"Wah, jika betul terdapat emas sebanyak itu biarlah aku bagi juga satu per sepuluh untuk Leng-to-cu," seru Bok-tiau-bu-siang dengan girang.

"Cukup baik jumlah ini." ujar Li-hun-nio-nio palsu. "Tapi cara bagaimana supaya aku percaya kepada janjimu?"

"Leng-to-cu jangan kuatir, usia kami rata-rata sudah lebih 80 tahun, masa hidup kami sudah tidak panjang lagi, jumlah emas sebanyak itu tidak mungkin habis kami pakai, masakah kami perlu ingkar janji?"

"Baiklah, jika begitu, harap kalian menyembuhkan dulu ke tiga orang anak buahku." "Dan di manakah Sai-hoa-to itu?" tanya Bok-tiau-bu-siang.

"Sembuhkan dulu mereka, dengan sendirinya akan aku beritahu nanti."

"Di sini tidak leluasa untuk mengobati mereka, marilah kita mencari suatu tempat lain ..." "Jika begitu silakan bawa mereka," tukas Li-hun-nio-nio palsu.

Bok-tiau-bu-siang lantas mengangkat Kui-bin-po Ni-Jai-hoa, sedang Ni-kik-bu-siang mengangkat ke dua orang lainnya, segera mereka berangkat menuju ke utara.

Su-Kiam-eng menyaksikan menghilangnya mereka di kejauhan, lalu berdiri dan berkata dengan tertawa, "Hehe, tak tersangka Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho kini menjadi satu bagian daripada peta pusaka itu."

Li-hun-nio-nio juga berdiri, katanya, "Tapi sekarang kamu harus tunduk di bawah pimpinanku, kalau tidak, racun dalam perutmu tentu akan mencabut nyawamu." "Betul juga ucapanmu," ujar Kiam-eng dengan menyengir. "Dan sekarang kita pun boleh berangkat." Setelah turun dari bukit itu, kedua orang tetap berangkat ke depan.

"Malam ini kita jangan berhenti, harus menempuh perjalanan dan baru istirahat nanti menjelang fajar, mulai besok, sedikitnya kita harus menempuh seratus li dalam semalam," kata Li-hun-nio-nio.

"Dengan cara demikian, kira-kira kapan baru akan mencapai tempat tujuan?" tanya Kiam-eng.

"Asalkan tidak terjadi hal-hal di luar dugaan kira-kira dua setengah bulan dapat tiba di sana," jawab Leng-Jing-jing.

"Setiba di sana, dengan cara bagaimana akan kau temukan kota emas itu?" "Dengan sendirinya mencarinya menurut petunjuk peta."

"Tetapi, untuk itu kan perlu melihat dengan mata?!" Kiam-eng menegas.

"Hehe, kau maksudkan aku buta dan tidak dapat melihat. Memangnya orang lain juga tidak bisa melihat misalnya anak buahku?"

"Dan mataku takkan berguna lagi bagimu?" gumam Su-Kiam-eng dengan menyesal. "Matamu tidak dapat dipercaya," ujar Li-hun-nio-nio dengan tertawa.

"Leng-to-cu kan sudah menaruh racun dalam perutku apa pula yang kau kuatirkan?"

"Bagimu cukup menunggu mengambil satu per sepuluh bagianmu, untuk apa mesti ikut melihat peta segala?"

"Soalnya dahulu pernah beberapa kali aku kunjungi daerah selatan yang masih hutan belukar itu untuk mencari bahan obat, apabila Leng-to-cu mau memperlihatkan peta itu padaku, bisa jadi dengan cepat akan dapat aku temukan kota emas itu."

"Baik, setiba di daerah selatan akan aku perlihatkan peta itu padamu," kata Li-hun-nio-nio.

Sembari bicara sambil berjalan, tanpa terasa ufuk timur sudah mulai remang-remang. Waktu Kiam-eng memandang jauh ke depan, terlihat tidak jauh ada sebuah kota kecil, segera katanya, "Di depan ada sebuah kota, bagaimana kalau kita istirahat saja di sana?"

"Kota ini namanya Liong-tam, di luar kota ada sebuah kelenteng, biarlah kita tidur saja di kelenteng itu," ujar Li-hun-nio-nio.

Kiam-eng terkesiap, katanya, "Indra penglihatan Leng-to-cu kurang baik, mengapa sedemikian apal terhadap keadaan berbagai tempat?"

"Justru lantaran penglihatanku cacat, maka perlu aku ingat baik-baik keadaan setiap tempat. Mungkin kamu tidak percaya jika aku ceritakan. Berbagai tempat dan kota di sekeliling Li-hun-to kami dapat aku ingat dengan sangat jelas."

"Wah, daya ingat Leng-to-cu sedemikian hebat tangguh sukar membuat orang percaya."

"Setiap orang buta tentu mempunyai daya ingat yang melebihi orang biasa, sebab dia tidak dapat melihat sehingga tidak akan terganggu oleh, urusan lain ..."

Sembari bicara, sementara itu kota Liong-tam sudah dimasuki, karena fajar baru menyingsing banyak rumah penduduk dan toko belum buka pintu. Untung Su-Kiam-eng membawa sebuah kantung rangsum kering, mereka tidak perlu membeli makanan lagi, maka tanpa berhenti di kota, mereka langsung menuju luar kota sana.

Setiba di luar kota, Li-hun-nio-nio menuding ke arah kanan, katanya, "Jika aku tidak salah ingat, terus ke depan sana adalah sebuah kelenteng yang terletak di lereng bukit karang."

Kiam-eng membawa Leng-Jing-jing ke depan, tidak jauh, benar juga ada tanah pekuburan di lereng bukit kecil, terlihat juga sebuah kelenteng. "Ai, sedemikian apal Leng-to-cu terhadap keadaan berbagai tempat, apabila mau pulang sendiri ke Li- hun-to, aku yakin takkan mengalami kesulitan apa pun," ujar Su-Kiam-eng dengan gegetun.

Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing hanya tersenyum saja tanpa menanggapi.

Kedua orang menelusuri tanah pekuburan dan masuk ke kelenteng itu. Su-Kiam-eng membuka kantung yang dibawanya, digelarnya tikar dan duduk di situ, lalu mengeluarkan rangsum untuk dimakan.

Tengah makan, mendadak Li-hun-nio-nio menaruh rangsum dan berbisik, "Ssst, ada orang datang!"

Waktu Kiam-eng melongok keluar kelenteng benar juga terlihat seorang perempuan kampung membawa sebuah keranjang barang sesaji sedang menuju ke kelenteng ini.

"Tidak apa-apa, hanya seorang yang hendak sembahyang," Kiam-eng balas mendesis.

"Mengapa pagi-pagi begini ada orang sembahyang ke kelenteng?" ujar Leng-Jing-jing dengan curiga. "Mungkin orang yang hendak bayar nadar," kata Kiam-eng.

Baru habis ucapannya, terlihat perempuan kampung itu sudah memasuki kelenteng.

Usia perempuan kampung ini sekitar 30-an, berwajah pucat hijau, pakai baju kasar dan kumal. Begitu masuk dan melihat di dalam kelenteng sudah duduk sepasang suami-istri pengemis, ia rada terkesiap. Namun tidak berucap apa pun, segera ia menaruh keranjang dan mengeluarkan sesaji dan ditaruh di atas meja sembahyang, lalu mengeluarkan pula lilin dan dupa ..."

"Eh, adik ini, mengapa pagi-pagi sudah datang sembahyang?" tegur Leng-Jing-jing.

Perempuan kampung itu tampak malu-malu, jawabnya, "Soalnya suamiku jatuh sakit, sudah beberapa hari tidak dapat bangun. Aku sudah berujar kepada Toa-pe-kong dan sakit suami lantas sembuh, maka pagi ini ibu mertuaku segera menyuruhku membayar nadar ke sini!"

Apa yang dikatakan itu memang kejadian umum di kalangan orang udik yang bodoh, maka Li-hun-nio- nio tidak menaruh curiga lagi, katanya dengan tertawa, "Oo, kiranya begitu."

Perempuan kampung tertawa malu dan tidak menanggapi lagi. Ia mengeluarkan ketikan api dan menyalakan dupa, lalu mulai sembahyang.

Selesai sembahyang dan menancapkan dupa di hio-lo (tempat dupa), kemudian ia berdiri di tepi pintu untuk memandangi tanah pekuburan di luar sana.

Li-hun-nio-nio meneruskan makan rangsum, hanya sebentar saja mendadak tubuhnya tergetar- teriaknya, "Wah, celaka! Dupa itu... "

Belum lanjut ucapannya, "bluk", langsung ia jatuh terkapar di lantai.

Su-Kiam-eng juga berteriak dan bermaksud bangun tapi baru sedikit menegak ia pun jatuh terguling.

Cepat perempuan kampung itu berpaling dan tersenyum ejek, ia mendekati meja sembahyang dan mencabut ke tiga batang dupa tadi dan ditancapkan lagi secara terbalik sehingga api dupa pun padam. Lalu ia buka daun jendela agar udara membuyarkan asap dupa dalam ruangan kelenteng, habis ini barulah ia tertawa senang dan mendekati Li-hun-nio-nio.

Ia berjongkok di samping Li-hun-nio-nio yang tidak sadar itu, ia mulai meraba dan menggeledah, siapa tahu meski sekujur badan Leng-Jing-jing sudah digerayangi tetap tidak menemukan barang yang dicarinya.

Ia berkerut kening dan bergumam sendiri, "Aneh, peta itu disembunyikan ke mana oleh perempuan bangsat ini?"

Tiba-tiba pandangannya tertarik oleh pentung bambu yang terletak di samping "Sai-hoa-to", cepat ia raih pentung bambu itu, digepuknya bagian ujung bambu, benar juga terlihat satu gulung kertas terselip dalam bumbung bambu itu. Ia bersorak gembira dan cepat menyimpan gulungan kertas ke dalam baju sendiri. Lalu membalik tubuh untuk menggeledah baju "Sai-hoa-to". Tak tersangka sekonyong-konyong Su-Kiam-eng bertindak, secepat kilat ia cengkeram urat nadi pergelangan tangan perempuan kampung itu.

Keruan perempuan itu kaget setengah mati ia menjerit, "Haya! Kau ..."

Setelah berhasil memencet urat nadi orang, menyusul Kiam-eng tutuk pula hiat-to kelumpuhan perempuan kampung itu dan membiarkannya terkapar di lantai, ia sendiri lantas berdiri dan menegur dengan tertawa, "Haha, barang apa yang kau cari?"

Perempuan itu tidak menyangka "Sai-hoa-to" ternyata tidak jatuh pingsan oleh obat biusnya, ia gemetar ketakutan sehingga tidak sanggup menjawab.

Kiam-eng menarik muka, jengeknya, "Kamu ini siapa? Mengapa kau tahu rahasia penyamaran kami?"

Dengan gelagapan perempuan kampung itu menjawab, "Aku ... aku bermaksud ... bermaksud bekerja sama denganmu. Apakah ... apakah engkau tidak merasa bersekutu dengan seorang buta ..."

"Aku tanya kamu ini siapa?" potong Kiam-eng.

"O. aku ... aku Toh-Jiu-ang," sahut perempuan itu.

"Hah, kamu ini Toh-Jiu-ang?" Kiam-eng menegas dengan terbelalak.

"Ya, Sim-sin-ih." kata perempuan itu. "Aku tahu dalam hatimu tidak suka bekerja sama dengan to-cu kami, maka aku kira lebih baik kita saja yang bekerja sama. Asalkan engkau sudi, hamba bersedia menyerahkan diriku kepadamu. Apakah engkau mau?"

Su-Kiam-eng menghela napas panjang, ucapnya dengan tertawa, "Ai, sungguh tidak nyana kau berani mengkhianati Leng-to-cu ..."

"Itu kan membawa kebaikan bagimu," tukas Toh-Jiu-ang cepat. "Leng-to-cu cuma mau membagi satu per sepuluh bagian untukmu, sedangkan hamba mau membagi sama rata denganmu. Jika engkau sudi menerima diriku, maka setengah bagianmu juga akan menjadi milikku. Punyaku juga punyamu, bukan?"

"Oo, boleh juga gagasanmu ini ... " ucap Kiam-eng dengan tertawa.

Melihat orang seperti mau menerima usulnya tentu saja Toh-Jiu-ang sangat girang, cepat ia menambahkan lagi, "Jika begitu, harap lekas engkau membuka hiat-to ku, mumpung Leng-to-cu belum sadar, cepat kita bunuh dia."

Sungguh Kiam-eng tidak berani percaya bahwa perempuan secantik ini ternyata mempunyai hati berbisa maka ia hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

"Engkau jangan kuatir," kata Toh-Jiu-ang pula. "Biar aku katakan padamu, ia bilang menaruh racun dalam perutmu, semua itu cuma omong kosong belaka. Pada hakikatnya dia tidak tahu ilmu tenung dan urusan racun segala."

Tergerak juga hati Kiam-eng, tanyanya, "Apa betul keteranganmu ini?"

"Pasti betul, ucap Toh-Jiu-ang. "Ia kuatir engkau tidak mau tunduk kepada pimpinannya, maka ia pura- pura menenung dirimu. Ia sendiri yang katakan demikian padaku."

Diam-diam Kiam-eng merasa terhibur, katanya kemudian sambil mengangguk, "Kira-kira kapan dia akan siuman kembali?"

"Kira-kira setengah jam lagi," tutur Jiu-ang. "Untuk apa kau tanya urusan ini?"

Kiam-eng tidak menjawab, sebaliknya ia tanya lagi, "Adakah cara membuatnya mendusin sekarang juga?"

"Ingin kau tolong dia?" Toh-Jiu-ang menegas dengan muka pucat.

"O, tidak, aku cuma ingin membuktikan apakah perutku keracunan atau tidak. Jika tidak, segera akan aku terima usulmu untuk bekerja sama denganmu. Sebaliknya, ya, terpaksa maaf saja."

"Baik, boleh kau buka dulu hiat-to kelumpuhanku, segera hamba memberitahukan cara menyadarkan dia."

Kiam-eng menggeleng kepala, "Tidak, hendak kau katakan dulu cara membuatnya siuman."

"Boleh juga," kata Toh-Jiu-ang. "Namun perlu kau tutuk dulu hiat-to kelumpuhannya, kalau tidak, begitu siuman tentu hamba akan dibunuhnya."

Kiam-eng menurut dan menutuk hiat-to kelumpuhan Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing lalu berkata, "Nah sekarang katakan, cara bagaimana membuatnya sadar?"

"Aku membawa obat penawar, boleh kau beri minumkan dia satu biji, segera juga dia akan sadar."

Segera Kiam-eng meraba saku baju Toh-Jiu-ang, dikeluarkannya sebuah botol kecil dan peta kota emas, botol porselin kecil itu ditaruhnya di samping, lebih dulu ia periksa peta itu.

Untuk ke tiga kalinya dia mendapatkan peta, tapi baru pertama kali ini dia dapat melihat peta itu, maka dia sangat emosi sehingga tangan pun terasa gemetar.

Akan tetapi ketika pandangannya kontak dengan lukisan dan tulisan dalam peta, seketika tubuhnya tergetar tanpa terasa ia berseru "Oo, Tuhanku!"

"Ada apa?" tanya Toh-Jiu-ang dengan bingung dan sangsi.

Dengan lemas Kiam-eng jatuh terduduk di tikar, menunduk tanpa bersuara lagi, kelihatan lesu luar biasa. Dengan bingung Toh-Jiu-ang bertanya pula "Ada apakah, Sim-sin-ih?"

Kiam-eng menghela napas perlahan, dibukanya sumbat botol porselin dan dikeluarkan sebiji obat serta dijejalkan ke mulut Li-hun-nio-nio, lalu dibukanya hiat-to orang yang tertutuk.

Toh-Jiu-ang terkejut dan berseru, "Hei, mengapa kau buka hiat-to nya?"

Perlahan Kiam-eng berpaling, jengeknya sambil menatap perempuan itu, "Hm, kamu perempuan berbisa, memangnya kau kira aku ingin bekerja sama denganmu? Hm, jangan mimpi!"

Seketika Toh-Jiu-ang gemetar lagi, mohonnya, "Tidak menjadi soal bila engkau tidak mau bekerja sama dengan hamba, aku mohon lekas bebaskan hamba, kalau tidak, bila dia mendusin, tentu hamba akan dibunuhnya. Aku mohon ... mohon ..."

Kiam-eng berlagak tidak mendengar, ia sudah terlampau kesal dan tidak sudi bicara lagi.

Ketika Toh-Jiu-ang hendak memohon pula, terlihat Li-hun-nio-nio sudah mulai siuman. Begitu pulih kesadarannya, serentak teringat olehnya pernah jatuh pingsan, cepat ia bangun duduk dan berteriak, "Sim-sin-ih!"

"Aku ada di sini!" jawab Kiam-eng dengan tenang.

Cepat Li-hun-nio-nio tanya pula, "Bukankah kita terperangkap oleh perempuan udik?" "Betul ..."

Kedua tangan Li-hun-nio-nio terjulur dan meraba kian kemari, katanya pula dengan tegang, "Di mana kah pentung bambuku? Di mana?"

"Di sini," kata Kiam-eng sambil menyodorkan pentung bambu itu.

Setelah menerima pentung bambu, ketika terasa bagian ujung pentung, seketika air muka Li-hun-nio-nio berubah, jeritnya kaget, "Hai, celaka! Peta itu telah dirampas oleh perempuan kampung itu!"

Kiam-eng menyodorkan lagi peta yang dimaksud kepadanya dan berkata, "Tidak, peta masih berada di sini!"

Li-hun-nio-nio melengak, ia terima peta itu dan diraba serta diremas sejenak, agaknya dapat dirasakan peta yang dipegangnya memang betul peta semula, ia menjadi melengong malah, katanya. "Eh, sesungguhnya apa yang terjadi?" Dengan tenang Kiam-eng bertutur, "Waktu perempuan itu menyalakan dupa tadi, diam-diam memang sudah aku rasakan keganjilan, maka cepat aku tahan napas, lalu berlagak jatuh pingsan."

"Ai, syukur ada dirimu," seru Leng-Jing-jing girang. "Kemudian bagaimana?"

"Ia meraba tubuh Leng-to-cu dan tidak menemukan peta kemudian ditemukannya dalam pentung bambu, namun dia belum lagi puas meski sudah menemukan peta, kembali dia hendak menggerayangi tubuhku ..."

"Lalu kau tangkap dia?" tukas Leng-Jing-jing dengan girang.

"Betul sekarang juga dia tergeletak tidak jauh di depanmu," kata Kiam-eng.

Leng-Jing-jing melangkah ke depan dan dapat meraba kepala Toh-Jiu-ang, segera kedua tangan bekerja, dicekiknya leher Toh-Jiu-ang, katanya sembari menyeringai, "Sim-sin-ih, siapakah bangsat ini!"

"Coba Leng-to-cu menerkanya," kata Kiam-eng.

"Menerkanya? Cara bagaimana dapat aku terka?" ujar Leng-Jing-jing.

"Waktu kita menyamar sebagai pengemis dan diam-diam meninggalkan Li-hun-to, semua itu kita lakukan tanpa diketahui siapa pun sebaliknya perempuan udik ini tahu rahasia kita, dari sini aku kira tidak sulit bagi Leng-to-cu untuk menerkanya."

Air muka Leng Jing-jing tampak berubah lagi, serunya sangsi, "Hah, jangan-jangan bangsat ini anak buahku sendiri?"

"Sedikit pun tidak salah," tukas Kiam-eng. "Dia bukan lain daripada Toh-Jiu-ang, yaitu kau sebut dengan julukan sebagai Siau-yan-nio, si nona ayu!"

Mata Leng-Jing-jing mendelik, air muka dari terkejut berubah menjadi murka, mendadak ia menghardik terhadap Toh-Jiu-ang, "Siau-yan-nio, jadi kamu, betul?"

Siau-yan-nio Toh-Jiu-ang tampak gemetar hebat, jawabnya dengan terputus-putus, "Ya ... to-cu ... Jiu- ang mengaku salah, mohon ... mohon to-cu memberi ampun ..."

Kulit muka Leng-Jing-jing tampak berkerut-kerut, jengeknya, "Hm, bagus sekali! Sejak kecil aku besarkanmu, aku pandang dirimu serupa anak kandung sendiri, tak tersangka sama sekali kamu dapat mengkhianati aku. Coba katakan, di mana letak hati nuranimu?"

Dia seperti meluap murkanya, sampai di sini, mendadak cekikannya pada leher Toh-Jiu-ang diperkeras.

Ingin menjerit pun Toh-Jiu-ang tidak sempat lagi, hanya terdengar bunyi "krak-krok" dua kali dari kerongkongannya, sekujur badan lemas berkelojotan, lalu binasa.

Dengan tak acuh Su-Kiam-eng menyaksikan, kematian Toh-Jiu-ang, melihat cekikan Li-hun-nio-nio Leng- Jing-jing belum lagi dilepaskan, tampaknya seperti ingin patahkan tulang leher bekas anak buah itu, hati Kiam-eng tidak tega, katanya "Sudahlah, Leng-to-cu, dia sudah mati!"

Mendengar itu baru Leng-Jing-jing mengendurkan tangannya dan tertawa terkekeh, ucapnya "Hehe, untung bagi perempuan hina ini, seharusnya aku hukum mati dia dengan cara lebih kejam!"

Tiba-tiba Kiam-eng berkata, "Sebabnya dia berani mengkhianati to-cu, aku kira kesalahan terletak pada Leng-to-cu sendiri."

"Mengapa bilang aku yang salah?" tanya Leng-jing-jing dengan kurang senang.

"Selama ini yang diterima Leng-to-cu hanya orang perempuan cacat, akan tetapi Toh-Jiu-ang ini seorang nona cantik yang sehat dan tangkas, jika dia diharuskan tinggal selamanya di Li-hun-to yang terasing itu, jelas dia tidak dapat mematuhi peraturanmu yang ketat itu."

"Hm, kau kira dia seorang nona sehat?" jengek Leng-Jing-jing. "Memangnya bukan?"

"Biar aku katakan terus terang, dia seorang ciok-li (gadis batu)!" "Apa katamu? Dia seorang gadis batu?" Kiam-eng menegas dengan tercengang.

"Betul. Sebab itulah tidak lama setelah dia lahir ayah ibunya lantas membuangnya di tepi sungai."

"Wah, jika begitu, mengapa dia dapat menjadi perempuan penghibur di rumah pelacuran di Tiang-an? Mengapa pula dia bisa menjadi gundik Hu-kui-ong?" tanya Kiam-eng bingung.

"Kendati dia menjadi pelacur di Tiang-an, dia hanya menemani tamu minum arak dan tidak menemani tidur, sebab itulah tidak ada yang tahu seluk-beluk tubuhnya yang tidak normal itu," tutur Li-hun-nio-nio. "Kemudian dia diambil sebagai gundik oleh Liong-Ih-kong, walaupun kemudian tua bangka itu mengetahui gundiknya itu seorang gadis batu yang tidak dapat melakukan hubungan kelamin namun ia sendiri sudah tua bangka dan loyo, keinginan ada tenaga pun kurang, maka dia tidak mempersoalkan tubuh gundiknya yang abnormal itu. Apalagi punya gundik secantik itu pun cukup untuk menghibur hati dan menyedapkan mata, maka sejauh itu dia tetap memiaranya sebagai gundik kesayangan."

Kiam-eng merasa kikuk sendiri oleh cerita Leng-Jing-jing mengenai seluk-beluk orang lelaki dan perempuan, katanya dengan tertawa, "Oo, kiranya begitu, jadi aku lah yang salah duga."

Tampaknya rasa murka Leng-Jing-jing belum lagi lenyap, ia mendengus beberapa kali sambil memelototi mayat Toh-Jiu-ang, habis itu tiba-tiba seperti teringat sesuatu mendadak ia tertawa aneh terhadap Su- Kiam-eng, katanya, "Sim-sin-ih, peta itu sudah kau lihat bukan?"

"Betul, sudah aku lihat," jawab Kiam-eng terus terang.

"Kesempatan itu mestinya dapat kau gunakan untuk membawa lari peta, sebabnya kamu tidak berani berbuat demikian tentunya kuatir racun yang telah aku taruh dalam perutmu itu bukan?"

"Bukan?" jawab Kiam-eng sambil menggeleng.

Sekilas rasa kejut dan sangsi pada wajah Li-hun-nio-nio, tanyanya pula, "Habis kalau bukan, jadi kamu benar-benar ingin bekerja sama denganku?"

"Semula memang begitu maksudku, tapi sekarang tidak lagi," sahut Kiam-eng. "Sebab apa?" tanya Leng-Jing-jing dengan air muka berubah kecut.

"Sebab baru saja aku ketahui, biarpun aku mau bekerja sama denganmu, akhirnya juga takkan memperoleh sesuatu apa pun."

"Apa artinya ucapanmu ini?" tanya Leng-Jing-jing bingung.

"Soalnya, peta itu palsu!" ucap Kiam-eng tegas. Leng-Jing-jing melonjak bangun, serunya terkejut, "Apa katamu? Peta itu palsu? Dari mana kau tahu peta itu palsu?"

"Sebab aku kenal tulisan tangan Gak-Sik-lam," tutur Kiam-eng tenang. "Sedangkan tulisan dalam petamu itu pada hakikatnya bukan tulisan Gak-Sik-lam."

Melengong juga Leng-Jing-jing, tanyanya, "Sungguh aneh, cara bagaimana kamu Sai-hoa-to Sim-Tiong- ho mengenal tulisan tangan Gak-Sik-lam?"

"Bicara terus terang, aku ini bukan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho segala!"

Pada waktu bicara demikian suaranya sudah kembali pada suaranya sendiri, sebab itulah air muka Li- hun-nio-nio Leng-Jing-jing berubah hebat ia angkat pentung bambu dan berteriak bengis. "Bangsat! Jadi kamu berani menyamar sebagai Sai-hoa-to untuk menipuku! Lantas kamu ini siapa?"

Dengan tenang Kiam-eng menjawab, "Harap Leng-to-cu jangan marah dulu, silakan dengarkan penjelasanku."

"Siapa kamu ini, bicara!" bentak Li-hun-nio-nio gusar.

"Aku ini murid kedua Kiam-ho-Lok Cing-hui aku she Su bernama Kiam-eng."

Tergetar hebat tubuh Li-hun-nio-nio, ucapnya melengong, "Jadi ... jadi kamu ini murid Lok-Cing-hui?" "Betul, sekarang tentunya Leng-to-cu paham maksud tujuanku menyamar sebagai Sai-hoa-to bukan?"

Meski Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing terkenal sebagai iblis perempuan yang suka bertindak menurut kehendaknya, tapi demi mendengar Sai-hoa-to palsu di depannya ini ternyata murid tokoh dunia persilatan terkemuka, seketika ia pun merasa jeri dan tanpa terasa menyurut mundur selangkah, katanya, "Tapi kamu harus tahu jelas, sama sekali aku tidak tersangkut urusan menghilangnya su-heng mu Gak-Sik-lam."

"Ini cukup aku ketahui," ujar Kiam-eng. "Sebabnya aku menyaru sebagai Sai-hoa-to, tujuannya juga bukan hendak mencari Gak-su-heng ku."

Perlahan Li-hun-nio-nio menurunkan pentung bambunya, lalu bertanya, "Lantas, apakah kamu pun ingin berebut kota emas itu?"

"Tidak," Kiam-eng menggeleng. "Tujuanku hanya pada Jian-lian-hok-leng saja agar dapat aku gunakan untuk menyembuhkan penyakit nona In. Apabila Leng-to-cu ingin tahu lebih jelas duduknya perkara, silakan duduk saja dan mendengarkan keteranganku."

Li-hun-nio-nio tampak ragu sejenak, lalu duduk di atas tikar. Maka berceritalah Su-Kiam-eng kisah penyamaran dirinya sebagai Sai-hoa-to, ia pun menegaskan kembali sama sekali tiada maksud hendak berebut kota emas itu. Akhirnya ia berkata, "Pada waktu guruku mendengar cerita bahwa Leng-to-cu banyak mengumpulkan dan merawat orang perempuan cacat, beliau sangat kagum dan hormat terhadap keluhuran budi Leng-to-cu, maka beliau pernah pesan padaku apabila kelak berhasil menemukan kota emas itu, seluruh isi kota emas itu harus aku sumbangkan kepada Leng-to-cu. Tempo hari Leng-to-cu telah menaklukkan Sam-koai dan berhasil merampas peta aku kuatir Leng-to-cu tidak percaya padaku akan mampu mengobati gas racun daerah selatan, maka aku tidak berani menemui Leng-to-cu dengan wajah asli. Namun dalam hatiku sudah bertekad akan membantu Leng-to-cu untuk berebut kota emas itu. Tak tersangka selama beberapa hari ini peta yang diperebutkan dengan mati-matian oleh orang banyak ternyata cuma sehelai peta palsu belaka ..."

Bicara sampai di sini, ia menghela napas panjang.

Li-hun-nio-nio cukup kenal pribadi Lok-Cing-hui dan anak muridnya, ia tahu apa yang diuraikan Su-Kiam- eng itu pasti bukan omong kosong belaka, maka hilang lah rasa permusuhannya terhadap anak muda itu, dengan tertawa ia berkata, "Sebenarnya aku ini memang seorang iblis perempuan yang suka membunuh orang, tak tersangka bisa mendapat pujian orang kosen terkemuka jaman ini, sungguh aku merasa sangat bahagia."

"Yang dibunuh Leng-to-cu kebanyakan adalah manusia jahat, yang kau ambil pun harta yang tidak halal dan cukup dapat dipertanggungjawabkan, jadi tidak dapat dipersamakan dengan kaum iblis dunia persilatan umumnya, pula ..."

"Sudahlah," potong Li-hun-nio-nio tertawa, "lebih baik marilah kita coba mempelajari peta ini.

Kau bilang peta ini palsu, jika begitu tentulah permainan si tua bangka Liong-Ih-kong itu, peta tulen sengaja disembunyikannya dan peta palsu diserahkan kepada Sam-koai, begitu bukan?"

"Tidak ..." ucap Kiam-eng sambil berpikir. "Menurut dugaanku, yang main gila bukan dia melainkan orang yang menjual peta itu."

"Belum tentu," ujar Leng-Jing-jing. "Kabarnya dia menjual peta kepada Liong-Ih-kong dengan 500 tahil emas murni, tapi harga itu baru akan diterimanya bilamana Liong-Ih-kong sudah menemukan kota emas, yakni untuk memperlihatkan kesungguhan hatinya. Malahan ia terima dikurung, lagi di Hu-kui-san-ceng tempat Liong-Ih-kong semua ini membuktikan peta yang dijualnya kepada Liong-Ih-kong bukanlah peta palsu."

"Justru berdasarkan hal itulah aku menduga yang main gila pastilah dia." "Mengapa kau bilang demikian?"

"Tujuannya menjual peta palsu tidak lain hanya untuk pancingan belaka, yaitu sama seperti maksud Leng-to-cu menyuruh anak buahmu menyaru sebagai dirimu. Aku yakin dia pasti sudah mendapatkan peta aslinya, karena kuatir direbut orang, maka dia sengaja membuat sebuah peta palsu dan dijual kepada Liong-Ih-kong, kemudian dia sengaja menyebarkan berita bahwa Liong-Ih-kong telah mendapatkan peta pusaka, dengan tipu suara di timur pukul ke barat dipancingnya agar semua orang yang ingin berebut peta sama membuntuti jejak Liong-Ih-kong, dengan begitu ia sendiri diam-diam dapat menuju ke daerah selatan dan mencari kota emas itu berdasarkan petunjuk peta tulen.

"Ah, tepat sekali. Sebab itulah sepeninggal Liong-Ih-kong dari tempat kediamannya, serentak banyak tokoh kalangan hitam muncul untuk berebut petanya. Keparat, sungguh nenek dikibuli anak kecil, tak tersangka nyonya besar juga terjebak oleh tipu liciknya." 

Karena emosi, tanpa terasa ia pun mencaci maki dengan kata-kata kotor.

Meski dalam keadaan lesu, tidak urung Kiam-eng tertawa geli juga. Katanya kemudian, "Cuma ada juga yang tidak aku pahami, yaitu tokoh semacam Kui-kok-ji-bu-siang, setelah berhasil merampas peta, tetap mereka ingin mendapatkan seorang Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho, sebaliknya mengapa dia tidak memerlukan diriku?"

"Mungkin ia tahu kamu cuma seorang Sai-hoa-to gadungan, maka dia hendak mencari Sai-hoa-to yang tulen," ujar Leng-Jing-jing.

"Ini tidak mungkin. Sebab yang tahu aku ini Sai-hoa-to palsu hanya ketua Heng-ih-bun Bun-In-tiok bertiga saja dan ke tiga orang berkedok, dari mana penjual peta itu mengetahui aku ini Sai-hoa-to gadungan?"

"Atau bisa juga setelah kamu meninggalkan Bu-lim-teh-co, lalu dia pergi ke wi-go-san untuk mencari Sai-hoa-to, jadi kalian berselisih jalan."

"Tidak, ini pun tidak mungkin," Kiam-eng menggeleng kepala, "jika dia berniat menjual peta palsu kepada Liong-Ih-kong, mana bisa mendahului pembelinya mencari Sai-hoa-to. Padahal sebelum Liong- Ih-kong, kecuali Ih-Wan-hui tidak ada lagi orang kedua yang mencari Sai-hoa-to untuk diajak bekerja sama."

"Bila begitu, mungkin ia sendiri mempunyai cara menolak gas racun dan tidak memerlukan tenaga Sai- hoa-to," ujar Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing.

Kiam-eng mengangguk, "Ya, hanya perkiraan inilah yang lebih masuk akal, maka ada maksudku hendak cepat menuju ke selatan, semoga setiba di Mo-pan-san dapat menemukan jejaknya ..."

"Baik, biar aku pergi bersamamu," kata Leng-Jing-jing.

"Tidak," tukas Kiam-eng. "Penglihatan Leng-to-cu terganggu, tentu tidak leluasa menempuh perjalanan sejauh ini. Biarlah aku pergi sendiri saja, kalau dapat aku cegat orang itu dan merampas kembali petanya, segera aku berdaya memberi kabar kepada Leng-to-cu, dengan cara demikian aku kira lebih aman."

"Tapi pihak lawan tidak cuma satu orang saja kau sendiri apakah sanggup?"

"Aku akan bertindak menurut keadaan, jika tidak sanggup melawan dengan kekuatan, biar aku hadapi dengan akal," ujar Kiam-eng dengan tersenyum.

Leng-Jing-jing berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, "Baiklah, apabila peta sudah kau rebut, hendaknya jangan tamak dan ingin makan sendirian!"

"Leng-to-cu jangan kuatir," jawab Kiam-eng tegas. "Yang kami cari adalah Jian-lian-hok-leng itu, mengenai kota emas dan isinya, aku bersumpah takkan mengincarnya satu potong apa pun."

Leng-Jing-jing merasa ucapan sendiri agak terlalu menyinggung perasaan, cepat ia menambahkan dengan tertawa, "Ah, aku cuma bercanda saja denganmu. Padahal bila benar kau temukan kota emas itu, asalkan aku diberi bagian setengahnya saja sudah jauh daripada cukup."

Kiam-eng tertawa, tanyanya kemudian, "Dari sini pulang sendiri ke Li-hun-to, apakah tidak ada kesulitan bagi Leng-to-cu?"

"Tentu saja tidak ada kesulitan," jawab Leng-Jing-jing. "Jika Su-siau-hiap ingin berangkat sekarang, boleh silakan saja!"

"Jika begitu, baiklah aku mohon diri sekarang juga," ucap Kiam-eng sambil berbangkit. "Setelah tiba kembali di Li-hun-to mohon Leng-to-cu mengirim seorang anak buah ke Bu-lim-teh-co untuk menyampaikan berita tentang diriku kepada Wi-ho-Lo-jin agar beliau dan guruku tidak menguatirkan diriku." Leng-Jing-jing ikut berdiri dan berkata, "Baik pasti akan aku kerjakan pesanmu!"

Kiam-eng lantas memberi hormat dan mengucapkan sampai berjumpa pula lalu meninggalkan kelenteng itu dan menuju ke selatan dengan cepat.

Petangnya sampailah dia di perbatasan kota Won-ciu. Teringat sudah beberapa hari tidak pernah membersihkan badan, segera ia menanggalkan bajunya yang rombeng dan pulih kembali pada dandanan aslinya lalu mencari sebuah hotel.

Selesai mandi dan habis makan malam, ia jalan jalan ke luar hotel setelah pesiar kian kemari tanpa terasa sampai di suatu ujung jalan, dilihatnya di bagian dekat pintu gerbang kota sana sedang berkerumun orang banyak di depan sebuah pasar kuda, tampaknya ada orang lagi ribut mulut. Karena ingin tahu apa yang terjadi, ia coba mendekati tempat itu.

Mendengar sampai di sini dapatlah Kiam-eng menarik kesimpulan apa yang terjadi. Ia coba mendesak maju untuk melihat. Tertampak di tengah kerumunan orang banyak itu adalah seorang lelaki kekar setengah baya, yaitu pemilik peternak kuda, yang menderita adalah seorang lelaki berdandan sebagai kusir. Yang belakang ini kematian kakak, namun tidak terlihat rasa duka, seperti urusan akan beres apabila pemilik kuda itu mau memberi ganti rugi lebih banyak.

Pada saat itulah seorang tua penonton tampil ke muka dan coba menjadi penengah bagi pemilik kuda dan si penderita, katanya, "Eh, menurut pendapatku, rasanya kalian berdua pihak sama-sama salah. Engkau, pemilik kuda, sudah jelas tahu kudamu masih liar dan kurang jinak, seharusnya kau larang dicoba oleh kakaknya. Sebaliknya kamu, saudara ini, jika kakakmu kurang mahir naik kuda, seyogianya jangan main coba-coba. Maka menurut pendapatku sebaiknya kalian sama-sama mengalah sedikit.

Saudara pemilik kuda ini biarlah korban harta untuk menebus bala, hendaknya kau beri sedikit lebih. Sebaliknya saudara ini hendaknya juga jangan berkeras minta seribu tahil perak, terimalah tawarannya. Nah, kalian setuju tidak terhadap usulku?"

Si penderita berkata dengan lagak penasaran, "Memangnya dia mau tambah berapa?"

Si orang tua lantas berkata kepada pemilik kuda, "Lau-hia (saudara), kiranya berapa akan kau beri?"

"Memangnya aku takut? Boleh silakan mengadu pada pihak yang berwajib!" demikian terdengar seorang berteriak bengis.

"Keparat! Kudamu mendepak orang hingga mati, masih juga kamu berlagak garang begini? Kau kira aku tidak berani mengadukan dirimu?"

"Silakan! Apa yang aku takuti? Sejak mula sudah aku katakan kudaku ini sangat binal dan sukar dijinakkan, tapi kakakmu berkeras ingin membelinya katanya, dia sanggup menjinakkan kuda ini. Sekarang dia terbanting mampus, aku anggap lagi sial dan rela memberi ganti rugi seratus tahil perak, tapi kamu malah menggunakan kesempatan ini untuk memerasku dan minta aku beri seribu tahil perak. Hm, memangnya kau kira duitku terbuat dari tanah dan mudah dicari? Boleh silakan mengadu saja kepada yang berwajib, bahkan kakakmu mampus jatuh dari kuda, apa sangkut-pautnya dengan pemilik kuda. Mendingan kamu tidak mengadu dan akan mendapat ganti rugi seratus tahil perak, sekali kamu mengadu, huh, sepeser pun kamu jangan harap akan terima!"

"Ya, sudahlah, aku tambah lagi 50 tahil, kalau tidak mau boleh dia mengadu saja kepada yang berwajib," jawab si pemilik kuda.

"Tidak, paling sedikit tambah seratus tahil lagi kalau tidak biar aku adukan saja," ujar si penderita.

"Kamu salah, saudara," ucap si orang tua. "Bukanlah urusan enak membikin perkara. Coba pikir saja, pertama, untuk mengadukan perkara ini, lebih dulu perlu kau minta bantuan pengacara untuk menulis surat pengaduan. Padahal kaum pokrol bambu itu biasanya cuma mengutamakan uang tidak peduli salah atau benar, untuk menulis sehelai surat pengaduan saja lebih dulu harus kau bayar entah sepuluh atau dua puluh tahil perak. Malahan kalau dia sengaja membuat sedikit lubang pada surat pengaduan sehingga membuat perkaramu tidak memang juga belum kalah sehingga urusan berlarut-larut, maka, hehe, akhirnya sekalipun memang perkara juga kamu pasti sudah bangkrut."

Agaknya si penderita juga sangsi akan menang perkara bilamana mengadukan persoalan ini, maka lagaknya berubah lunak dan tampaknya seperti mau terima saran si orang tua, namun dia coba tahan harga, "Tidak kalau tidak 200 tahil, sedikitnya juga harus 170 tahil. Coba kalian pikir, kakak juga hidup menjadi kusir ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil kalau tidak diberi santunan yang layak cara bagaimana mereka dapat hidup selanjutnya?"

Si orang tua berpaling dan berkata lagi terhadap si pemilik kuda, "Betul juga alasannya. Maka aku mohon saudara ini hendaknya kasihan pada janda dan anak-anaknya, harap kau beri tambahan sedikit."

Pemilik kuda itu mendengus, katanya terhadap seorang pembantunya yang berdiri di belakangnya, "Lau- Sam, ambilkan 170 tahil perak!"

Anak buahnya mengiakan dan cepat berlari pergi. Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa beberapa bungkus uang perak. Pemilik kuda lantas menyerahkan ganti ruginya kepada si penderita, katanya, "Nah, ambil ini! Anggap aku yang sial!"

Setelah menerima santunan itu, si penderita pun tidak banyak omong lagi dan segera angkat kaki.

Penonton yang berkerumun pun lantas bubar. Si pemilik kuda agaknya menyesal karena kehilangan seratus tahil perak lebih, melihat penonton sudah bubar, segera ia berkata kepada pembantunya tadi, "Lau-Sam, ambilkan golok!"

"Untuk apa, juragan?!" tanya Lau-Sam.

"Potong kuda ini, biar kita makan daging kuda!" kata si pemilik.

"Ai, masakah perlu mengorbankan seekor kuda, juragan," ujar Lau-Sam terkejut.

"Menurut pandangan hamba, meski kuda ini tampak liar dan sukar dijinakkan, tapi aku lihat kuda ini keturunan bibit unggul yang sukar dicari. Kuda binal harus ditunggangi manusia galak. Aku yakin pada suatu hari kuda ini akan menemui majikan yang sanggup menjinakkan dia."

Pemilik kuda mendengus, "Hm, jika aku biarkan dia hidup lebih lama lagi, entah berapa banyak hartaku akan diludeskannya. Selama sebulan dia telah menjatuhkan dua pembeli hingga luka parah sehingga banyak ganti rugi yang aku keluarkan. Hari ini dia tambah celaka dan mendepak mati calon pembelinya, kuda celaka begini apa gunanya dibiarkan hidup?"

"Akan tetapi ..."

"Sudahlah, jangan banyak omong, lekas ambilkan golok!"

Terpaksa Lau-Sam mengiakan. Tidak lama kemudian ia datang kembali dengan menghunus sebatang golok mengkilat. Pemilik kuda memegang golok tajam itu, dengan beringas ia menuju ke kandang kuda.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang meleset cepat dan hinggap di depannya serta merintangi jalannya. Pemilik kuda berhenti dengan bingung, tanyanya, "Kamu ini siapa?"

Kiam-eng memberi hormat, jawabnya dengan tersenyum, "Aku datang untuk membeli kuda."

"Oo," pemilik kuda bersuara singkat. Segera pula ia memberi perintah, "Lau-Sam, bawa tuan tamu ini untuk memilih kuda."

"Tidak perlu pilih lagi, aku minta kuda itu," kata Kiam-eng tertawa sambil menunjuk kuda di dalam kandang yang mendepak mati orang tadi.

Dengan tegas pemilik kuda menggeleng kepala katanya, "Tidak, kuda itu tidak aku jual." "Apa alasanmu tidak menjual kuda itu?" tanya Kiam-eng dengan tertawa.

"Apa yang terjadi masakah tidak kau lihat?" ujar pemilik kuda.

"Aku lihat," jawab Kiam-eng. "Tapi apa yang dikatakan pembantumu itu pun betul. Kuda binal harus ditunggangi orang galak. Dan sekarang orang galak itu sudah datang."

Pemilik kuda melirik hina terhadap Kiam-eng, ucapnya, "Ah sudahlah, aku tidak ingin membayar ganti rugi 170 tahil perak lagi,"

"Eh, coba katakan, apabila kuda itu dapat aku jinakkan, berapa harganya akan kau jual?" tanya Kiam- eng tiba-tiba. "Bila benar ada orang mampu menundukkan dia, biar aku jual dengan separoh harga pun tidak menjadi soal. Cuma, betapapun aku keberatan Anda mencobanya.

"Ahh, tampaknya juragan memandang remeh diriku," ujar Kiam-eng tertawa.

"Sudah banyak aku lihat orang yang jauh lebih gagah dan kuat daripada Anda, namun akhirnya mereka terbanting jatuh oleh binatang itu," tutur si pemilik kuda.

"Begini, aku ingin tahu lebih jelas, setengah harga yang kau maksudkan itu sebenarnya berapa?" tanya Kiam-eng.

"Cukup 20 tahil perak saja!" ucap pemilik kuda.

Kiam-eng sangat girang, katanya, "Bagus! jika begitu, asalkan kuda itu dapat aku jinakkan, berarti kuda itu dapat kita jadikan jual-beli dengan harga 20 tahil perak, begitu bukan maksudmu?"

"Walaupun begitulah maksudku, namun tetap aku larang Anda mencobanya. Kan sudah aku katakan tadi, aku tidak ingin rugi lagi 170 tahil perak."

Mendadak tangan kanan Kiam-eng meraih ke depan, secepat kilat ia rampas golok yang dipegang pemilik kuda, tangan lain segera ia pegang ujung golok, sekali ia mengerahkan tenaga dan ditekuk "pletak", golok itu kontan patah. Lalu ia buang golok patah ke tanah, katanya dengan tertawa, "Nah, tenagaku yang kau lihat ini apakah cukup memenuhi syarat untuk menguji kebinalan kudamu?"

Pemilik kuda itu melengong oleh ketangkasan Su-Kiam-eng, ia terkesima sampai sekian lama, katanya kemudian, "Busyet! Kiranya Anda ini jago kelas tinggi dunia persilatan!"

"Sekarang apakah tetap kau larang aku coba kudamu?" tanya Kiam-eng dengan tertawa.

Tentu saja pemilik kuda tidak berani lagi bilang tidak, cepat ia memberi perintah kepada pembantunya, "Lau-Sam, lekas lepaskan kuda itu!"

Lau-Sam sangat senang, cepat ia lari ke sana untuk membuka pintu kandang, lalu bersama sang juragan menyingkir jauh ke samping pelataran sana. Tampaknya mereka sangat takut terhadap yang liar itu.

Dan begitu pintu kandang dibuka, serentak kuda liar itu membedal keluar, lalu berlari-lari perlahan mengitari pelataran dengan sikap gagah perkasa.

Sekujur badan kuda itu putih mulus tanpa seujung bulu warna lain, tinggi dan kekar, langkahnya mantap, ternyata seekor kuda bagus yang sukar dicari.

Diam-diam Kiam-eng sangat girang, perlahan ia mendekati kuda itu, sesudah dekat, mendadak kedua tangannya bekerja sekaligus, dengan erat ia cengkeram bulu suri kuda putih itu.

Kuda itu kaget dan meringkik panjang secepat anak panah ia melesat ke depan, seperti ingin melemparkan Su-Kiam-eng.

Akan tetapi baru saja ia melompat ke depan tahu-tahu Kiam-eng pun sudah meloncat ke atas punggungnya.

Seketika kuda putih itu mengamuk, serentak ia melonjak-lonjak sembari meringkik hingar-bingar sekuatnya ia bermaksud membanting roboh Su-Kiam-eng.

Meski Kiam-eng bukan penunggang kuda yang mahir, tapi kedua tangannya yang mencengkeram bulu suri kuda itu seperti melengket dan tak terlepaskan lagi, betapapun kuda itu meloncat dan meronta tetap sukar menjatuhkan anak muda itu.

Makin meloncat makin ganas kuda putih itu, mendadak berjingkrak lalu menyepak dan melonjak pula, sampai sekian lama belum lagi lelah, seperti tekad Su-Kiam-eng, sebelum menundukkan lawan takkan berhenti.

Semula pemilik kuda itu memejamkan mata dan tidak berani memandang, setelah ditunggu sekian lama dan belum terdengar Kiam-eng terbanting jatuh perlahan baru ia membuka mata. Lalu wajahnya mulai memperlihatkan rasa kejut dan girang sebab akhirnya diketahuinya bahwa Su-Kiam-eng adalah orang pertama yang sanggup bertahan paling lama di atas kuda binal itu. Saking gembiranya Lau-Sam ikut berkeplok dan berjingkrak, teriaknya tegang, "Lihat, coba lihat! Binatang itu ketemu batunya sekarang!"

Namun kuda putih itu tampaknya belum lagi mau tunduk terhadap orang yang menunggangi punggungnya itu, ia masih meloncat dan berjingkrak terus menerus jauh melebihi kuda umumnya apabila menghadapi penjinaknya.

Lebih satu jam kuda itu belum lagi tunduk, tahulah Kiam-eng bahwa tenaga kuda itu kuat luar biasa, keruan ia tambah girang. Segera ia eratkan cengkeramannya dan mengerahkan tenaga, kepala kuda itu ditekan ke bawah.

Kuda itu masih membangkang, namun sesudah meronta sejenak pula, akhirnya sukar lagi mengangkat kepala, baru sekarang ia tahu ketemu majikan yang lihai, terpaksa ia tunduk dan menyerah ia meringkik panjang, lalu tidak melawan lagi.

Pemilik kuda sangat girang, ia keplok tangan dan berseru, "Bagus, berhasil sekarang!"

Kiam-eng mengendarai kuda putih itu mengitar pelataran itu tiga kali, lalu melompat turun dan mengelus-elus leher kuda itu sebagai tanda sayang, dituntunnya sendiri kuda itu ke dalam kandang. Kemudian ia berikan 10 tahil perak kepada pemilik kuda, katanya. "Ini uang persekot, harap diberi pakaian kuda lengkap, esok pagi akan aku ambil kuda ini."

Setiba kembali di hotel, Kiam-eng sangat senang, malam ini ia tidur sangat nyenyak.

Esok paginya sehabis makan pagi segera ia meninggalkan hotel dan menuju ke peternakan kuda, ia bayar kekurangan harga kuda, lalu meninggalkan kota itu dengan mengendarai kuda putih yang perkasa itu.

Untuk menguji kekuatan lari kuda itu, sesudah keluar kota Wan-ciu segera Kiam-eng melarikan kuda itu secepat terbang. Agaknya kuda itu pun ingin pamer kemampuannya, serentak ia membedal secepat angin lesus, cepat lagi mantap larinya. Kiam-eng sangat senang mendapatkan kuda sebagus itu. Semua kuda dan kereta yang ada di jalan seluruhnya dilampaui oleh lari kuda putih itu dan tertinggal jauh di belakang.

Sehari ini Kiam-eng menempuh perjalanan sejauh lima ratusan li dan masuk ke wilayah Kui-ciu.

Hari ke dua, tetap ia melanjutkan perjalanan dengan kecepatan seperti kemarinnya, menjelang lohor ia melintasi suatu tempat yang sunyi. Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda lari cepat dari belakang.

Tergetar hati Kiam-eng, pikirnya, "Aneh, ternyata ada penunggang kuda yang dapat menyusul kudaku ini."

Meski lari kudanya sekarang belum mencapai titik tercepat tapi kuda umumnya biarpun lari sepenuh tenaga pasti sukar menyusulnya. Maka ia rasa heran dan sangsi demi terdengar ada penunggang kuda lain yang mampu menyusulnya, ia pikir kuda orang pasti juga kuda luar biasa.

Waktu ia menoleh benar juga terlihat seekor kuda hitam yang gagah luar biasa, penunggangnya seorang gadis berbaju putih.

Sekali pandang Kiam-eng lantas ingat kuda hitam ini adalah salah satu yang dilampauinya di tengah perjalanan tadi ia pikir bila tiba-tiba orang menyusulnya secepat ini, tentu karena penasaran kuda putih ini dapat melebihi kuda hitamnya dan sekarang sengaja hendak berlomba dengan dia. Ia pikir sangat kebetulan, boleh coba kita berpacu.

Segera ia kempit perut kudanya dengan kencang sambil membentak perlahan serentak kuda putih itu membedal terlebih cepat ke depan. Dalam sekejap saja lari kuda itu seperti terbang layaknya tumbuh- tumbuhan di tepi jalan seakan-akan melayang mundur ke belakang.

Melihat Kiam-eng percepat lari kudanya, gadis baju putih itu pun membentak perlahan dan mengejar dengan kuda hitamnya. Maka terjadilah pacu kuda hitam dan putih satu di depan dan yang lain menyusul di belakang semuanya lari secepat terbang.

Dalam sekejap saja beberapa li sudah lalu, waktu Kiam-eng menoleh, terlihat pihak lawan tidak pernah tertinggal dan selalu membuntuti dalam jarak beberapa meter di belakang. Tentu saja ia heran tahulah dia kuda hitam si gadis juga kuda perkasa yang jarang ada bandingannya, kekuatannya larinya tidak kalah daripada kuda putihnya sendiri. Seketika timbul rasa ingin berkenalan dengan si gadis segera ia memperlambat lari kudanya.

Sekejap kemudian si gadis baju putih sudah menyusul tiba dan lari sejajar dengan dia. Kiam-eng memberi hormat dengan tertawa, "Mengapa nona terus menerus membuntuti diriku?"

Baru habis berucap, seketika ia pun melengong ketika terlihat jelas si gadis baru berusia antara 17-18 tahun dan cantik sekali, alis lentik dan mata besar, bibir merah mungil pipi putih bersemu merah, kelihatan pula gerak-geriknya yang masih kekanak-kanakan, sungguh seorang anak dara yang sangat menarik.

Sebaliknya muka nona itu pun rada merah dan terkesima setelah melihat jelas Su-Kiam-eng adalah seorang pemuda gagah dan cakap. Agaknya semula ia bermaksud berolok-olok, setelah melihat lawan adalah pemuda cakap, seketika maksudnya semula dibatalkan, ia cuma mendengus perlahan dan menjawab, "Hm, mengapa kudamu tidak dilarikan lagi?"

"Lari... lari lagi?" Kiam-eng merasa bingung.

Alis si nona menjengkit, katanya dengan sikap yang memandang hina, "Hm, kau kira kuda putihmu dapat berlari cepat, sekarang tentu kau tahu bahwa di atas kuda bagus masih ada kuda yang lebih bagus, bukan?"

Kiam-eng tertawa demi mendengar ucapan "di atas kuda bagus masih ada kuda yang lebih bagus" itu, jawabnya, "Ya, betul, kuda hitam nona ini memang sangat hebat ..."

"Sekarang apakah kamu masih ingin berlomba lagi?" tanya si nona dengan sikap menantang.

Kiam-eng menggeleng jawabnya dengan tertawa, "Sudahlah, tidak perlu lagi. Coba lihat betapa mesranya kuda hitammu dengan kuda putihku? Mereka seperti menyesal baru sekarang berkenalan dan mengapa tidak sejak dulu-dulu. Jika harus berlomba lagi kan berarti kurang hormat."

Memang benar, pada saat itu kedua kuda hitam dan putih yang tadi berpacu mati-matian itu kini sedang saling mengendus dengan sikap sangat mesra.

Muka si nona baju putih tampak merah omelnya, "Kurang ajar tidak tahu aturan!" "Jangan menyalahkan mereka, mereka kan sebangsa!" ujar Kiam-eng.

Si nona melototinya sekejap, tapi lantas tertawa dan berkata pula, "Naga Hitamku itu biasanya sangat angkuh mungkin hari ini ia merasa menemukan tandingan tangguh maka merasa cocok dan sayang terhadap kuda putihmu."

"Betul, Naga Putihku itu biasanya juga sangat tinggi hati, baru sekarang untuk pertama kalinya dia tertarik oleh kawan sejenisnya." kata Kiam-eng.

Si nona melengong, "Oo, kudamu bernama Naga Putih?"

"Betul, tampaknya merupakan suatu pasangan setimpal dengan Naga Hitammu."

Muka si nona kembali merah, omelnya, "Cis, kalau bicara hendaknya tahu aturan sedikit, jangan sok menang sendiri."

Kiam-eng juga merasa ucapan sendiri agak sedikit bangor, cepat ia berkata dengan tertawa "O, maaf. Apakah boleh aku tahu siapa nama nona yang terhormat?"

"Aku bernama Ih-Keh-ki, berjuluk Pek-ih-sian-li (si dewi baju putih)."

Kiam-eng termenung sejenak dan bergumam, "Oo, Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki ..." "Apakah tidak pernah kau dengar?" tanya si nona.

"Karena pengalamanku cetek dan pengetahuanku dangkal sebelum ini tidak pernah aku dengar nama nona yang termashur," ucap Kiam-eng dengan menyesal.

Dengan agak malu Pek-ih-sian-li Ih-Keh-ki berkata pula, "Bicara terus terang julukan Pek-ih-sian-li sebenarnya aku beri sendiri ketika meninggalkan rumah." "Oo, ... " Kiam-eng bersuara singkat. Ketika melihat punggung si nona menyandang pedang, ia coba tanya, "Ilmu pedang nona tentu sangat tinggi."

Ih-Keh-ki tampak tertawa bangga, ucapnya. "Dalam hal ini memang aku tidak perlu rendah hati."

Diam-diam Kiam-eng tertawa geli, ia pikir bila si nona tahu siapa diriku, tentu kamu takkan berani membual. Segera ia berlagak hormat dan mohon petunjuk, katanya, "Numpang tanya, siapakah ayah nona yang mulia?"

"Ayahku adalah tokoh besar termashur di dunia persilatan jaman sekarang." "Oo, aku yakin ayah nona pasti juga punya julukan indah?"

"Tentu saja. Oya, aku lupa tanya siapa namamu yang terhormat dan apa pula julukanmu?" tanya Ih-Keh- ki,

"Aku she Su bernama Kiam-eng. Tidak punya julukan segala."

Si nona berkerut kening, ucapnya dengan lagak seperti lagi mengingat-ingat, "Su-Kiam-eng?... Nama ini rasanya seperti pernah aku dengar ..."

Kiam-eng tersenyum katanya, "Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah guruku," tukas Kiam-eng.

Ih-Keh-ki terkejut serunya dengan terbelalak. "Ahh! Pantas namamu seperti sudah aku kenal, kiranya engkau inilah murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui!"

"Betul," Kiam-eng tersenyum. "Sekarang giliran nona untuk memberitahukan nama ayahmu yang mulia."

Si nona tersenyum renyah, katanya, "Huh, jangan kau anggap dirimu sudah luar biasa, biar pun nama ayahku tidak melebihi gurumu, tapi kakek guruku justru jauh lebih terkenal daripada gurumu."

"Apa betul?" tanya Kiam-eng dengan tertawa. "Numpang tanya tokoh kosen manakah kakek guru nona?" "Kakek guruku tak-lain-tak-bukan ialah Kiam-ong Ciong-Li-cin!" tutur si nona.

Kiam-eng terkejut, seketika merah mukanya, serunya, "Hah, apa katamu? Kakek gurumu adalah Kiam- ong Ciong-Li-cin? Jika demikian, jadi engkau ini putri murid kedua Kiam-ong, putri Hong-hun-kiam-keh Ih-Kik-pin?"

"Betul," jawab Keh-ki tertawa. "Kakek guruku adalah jago nomor satu di dunia ini dan gurumu jago nomor dua. Sekarang kamu tidak bisa sombong lagi bukan?"

Sungguh suatu pertemuan yang tak terduga-duga ini, semula Kiam-eng mengira si nona adalah seorang gadis kampung dan belum tentu mempunyai kepandaian sejati, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa nona ini adalah orang dari perguruan Kiam-ong Ciong-Li-cin. Walaupun dalam pertandingan besar dunia persilatan dahulu Ciong-Li-cin pernah menang satu jurus dari gurunya dan berhasil menggondol gelar tokoh nomor satu di dunia, tapi menurut cerita gurunya sebenarnya bukan kung-fu gurunya benar-benar kalah melainkan gurunya menghormati orang tua dan sengaja mengalah kepada Ciong-Li-cin.

Namun apa pun juga sekarang kedudukan Kiam-ong Ciong-Li-cin jelas lebih tinggi daripada guru sendiri, sebab itulah Kiam-eng merasa agak malu atas sikap pamer sendiri tadi. Untung Ih-Keh-ki tiada maksud memusuhinya meski kata-kata nya agak pedas.

Segera Kiam-eng berkata pula dengan tertawa, "Sungguh, tidak pernah aku sangka nona adalah putri kesayangan Ih-tai-hiap, maaf jika kurang hormat"

Dengan nakal Ih-Keh-ki mencibir, ucapnya, "Hormatlah mulai sekarang kan masih keburu waktu."

Melihat cara bicara si nona sangat menarik, tanpa terasa Kiam-eng terpikat dan memandangnya dengan terkesima.

"Bagaimana, hatimu tidak terima bukan?" tanya Ih-Keh-ki dengan alis berkerenyit. Cepat Kiam-eng menjawab, "O, tidak. Sebab apakah hari ini nona Ih datang kemari?" "Aku keluar rumah untuk pesiar," tutur Keh-ki. "Ayahku suka bilang usiaku masih kecil, aku dilarang berkecimpung di dunia kang-ouw. Aku justru ingin berkelana di dunia kang-ouw, maka diam-diam aku lantas mengeluyur keluar."

"Oo, lantas ke mana tempat tujuanmu?" tanya Kiam-eng pula.

"Tidak ada tempat tujuan, ke mana pun jadi... Oya, bicara iseng saja sejak tadi denganmu hampir saja aku lupakan sesuatu urusan."

"Urusan apa?" tanya Kiam-eng.

"Aku temukan sesuatu urusan aneh." tutur Keh-ki "Urusan aneh apa?"

Ih-Keh-ki menoleh ke kanan dan ke kiri beberapa kali, tiba-tiba ia tunjuk sebidang hutan bambu tidak jauh di depan sana dan berkata, "Ayo kita tunggu saja di hutan bambu sana."

Habis berkata segera ia mendahului melarikan kudanya ke sana.

Kiam-eng merasa berat untuk meninggalkan si cantik, cepat ia menyusulnya. Hanya sekejap saja ke dua orang sudah berada di depan hutan bambu, langsung Keh-ki melarikan kudanya ke dalam hutan dan berkata, "Ikut kemari, biar aku perlihatkan sesuatu hal aneh padamu."

Kiam-eng mengikuti kehendak si nona, setelah puluhan meter menyusuri hutan bambu itu, kemudian Keh-ki menahan kudanya di suatu tempat yang agak tinggi, katanya "Nah, boleh kita tunggu saja di sini."

"Baik, tapi siapakah yang kau tunggu?" tanya Kiam-eng heran.

"Tadi sebenarnya aku lagi menguntit dua buah kereta kuda kemudian aku lihat kau larikan kuda putihmu melintasi kuda hitamku, karena penasaran, segera aku tinggalkan ke dua kereta itu untuk mengejarmu. Aku kira sebentar lagi ke dua kereta kuda itu pun akan sampai di sini."

Tergerak hati Kiam-eng, tanyanya pula, "Adakah sesuatu yang tidak beres pada ke dua kereta itu?" "Biarlah aku tahan harga dulu, nanti saja aku beritahu," ujar Keh-ki dengan tertawa misterius.

"Ai, memangnya kenapa kalau beritahukan padaku sekarang juga?" pinta Kiam-eng.

"Sabar dulu. Aku justru ingin menguji bagaimana Indra penglihatan anak murid Kiam-ho yang termashur itu?!"

"Jadi kedua kereta itu memang ada sesuatu yang mencurigakan?" "Betul ... Nah, itu dia, sudah datang! Coba lihat!"

Waktu Kiam-eng memandang jauh ke arah datangnya tadi benar juga terlihat tidak jauh di depan sana lari datang dua buah kereta kuda yang dilarikan dengan kecepatan sedang, karena jaraknya masih ada setengahan li, belum jelas terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Maka sembari memandang ia pun berkata, "Tadi aku pun melihat kedua buah kereta ini, cuma tidak aku perhatikan ada hal-hal yang kurang beres ..."

"Jika kamu tidak dapat melihat sesuatu keganjilannya, maka percumalah kamu menjadi murid Kiam-ho- Lok-Cing-hui," ujar Keh-ki.

Diam-diam Kiam-eng mendongkol, ia pikir budak cilik ini sok tahu, padahal anak dara yang masih hijau begini biarpun belajar lagi lima tahun juga belum tentu lebih tahu dari padaku.

Tengah berpikir, kedua buah kereta kuda mendekat. Kedua kereta itu memakai tutup kain terpal, pengendaranya adalah seorang kusir tua yang tidak menarik, tampaknya kusir sewaan yang diambil di tengah jalan.

Badan kereta kelihatan penuh debu, roda kereta juga kotor, jelas ke dua kereta ini datang dari tempat jauh. Sekarang kereta pertama telah lalu di depan Su-Kiam-eng.

Ketika melihat bagian belakang bak kereta menongol sebagian peti mati, mau-tak-mau Kiam-eng terkesiap, pikirnya, "Ah, kiranya kereta ini memuat peti mati ke kampung halaman, memangnya apa yang perlu diherankan?"

Sekejap kemudian, kereta kedua pun lalu di depannya. Di dalam kereta kedua tampak duduk beberapa orang yang berbaju belacu, yaitu pakaian orang berkabung, lain tidak ada.

Setelah kedua kereta itu lewat, dengan tertawa Ih-Keh-ki lantas tanya Kiam-eng, "Bagaimana, adakah sesuatu kejanggalan yang kau lihat?"

Kiam-eng tidak berani menjawab begitu saja, ia coba berpikir lebih cermat, lalu menjawab dengan tertawa, "Ada aku lihat sedikit, entah betul atau tidak ..."

"Coba uraikan," kata Keh-ki dengan tertawa.

Dengan perlahan Kiam-eng berkata, "Pertama dalam kereta ke dua, yaitu orang-orang yang berikatan belacu tanda berkabung itu, tampaknya mereka bukan sanak famili langsung keluarga musibah."

"Berdasarkan apa kau bilang demikian?" tanya Keh-ki.

"Orang-orang yang berkabung itu seperti berjumlah lima atau enam orang, tapi usia mereka rata-rata sudah lebih 40-an, tampaknya juga bukan saudara sekeluarga, pula tiada terdapat anak dan orang perempuan ... "

"Oo, lalu?" Keh-ki mengangguk. "Ke dua, bahwa di antara penumpang itu tidak terdapat orang perempuan dan anak-anak, itu menandakan bukan kereta pengangkut jenazah pulang kampung halaman, pula dari debu kotoran yang memenuhi badan kereta, jelas mereka datang dari tempat beratus li jauhnya. Jika perjalanan sebegitu jauh, rasanya para pengantar itu kan tidak perlu berbaju berkabung terus menerus ..."

"Dan apa lagi?" tanya Keh-ki dengan tersenyum.

"Paling akhir adalah mengenai peti mati pada kereta pertama itu," ujar Kiam-eng "Peti itu mestinya dapat dimuat seluruhnya ke dalam bak kereta tapi mereka sengaja menyisihkan sebagian di luar bak kereta seperti sengaja hendak memberitahukan kepada orang lain bahwa muatan kereta mereka adalah peti mati."

"Bagus! Dan dari beberapa titik tanda tanya itu dapat kau perkirakan bagaimana asal usul kedua kereta itu?" tanya Keh-ki dengan tertawa.

Dengan pasti Kiam-eng menjawab, "Aku terka di dalam peti mati itu pasti bukan terisi mayat melainkan

... "

"Melainkan apa?" tukas Keh-ki tersenyum.

Kiam-eng garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal katanya kemudian dengan tersenyum kecut, "Hal inilah yang sukar diraba, aku pikir mungkin berisi barang-barang yang perlu dirahasiakan."

"Bukan barang, tapi seorang hidup!" kata Keh-ki.