Rahasia 180 Patung Emas Jilid 04

 
Jilid 04 

Bong-to-jin terkejut, secepatnya ia melompat ke sana sambil berseru, "Hei, Lo-ji, engkau berada di mana?"

"Di sini!" terdengar suara Tam-thau-to berkumandang dari tempat beberapa meter jauhnya.

Bong-to-jin tidak berani berhenti di tempatnya sembari lari merunduk ke sana ia tanya lagi, "Bagaimana dengan Lo-sam?"

"Entah ..." jawab Tam-thau-to dari jauh.

"Adakah jalan untuk meloloskan diri?" tanya Bong-to-jin.

"Tidak ada, " jawab Tam-thau-to. "Api berkobar dengan hebat, sekeliling bukit terkurung dengan rapat." "Lekas kemari, kita bereskan perempuan keparat itu bersama!"

"Baiklah ... aduhhh!" mendadak Tam-thau-to juga menjerit, lalu tidak bersuara lagi.

"Hai, kenapa?!" tanya Bong-to-jin bingung dan cemas. Cepat ia berseru pula "Sim-Tiong-ho, engkau berada di mana?"

"Di sini, lekas kemari!" terdengar suara Li-hun-nio-nio menanggapi dengan terkekeh.

Tentu saja Bong-to-jin tidak berani mendekat ke sana, ia masih terus menunduk ke depan sambil memaki, "Perempuan busuk, Lo-ji dan Lo-sam telah diapakan olehmu?"

"Mereka telah tertawan oleh anak buahku, " jawab Leng-Jing-jing tertawa, "Jika kau mau menolong mereka, lekas kau serahkan peta itu."

Bong-to-jin terkejut serta tidak mengerti bahwa Tam-thau-to dan Hiau-su-sing bisa tertangkap oleh anak buah Leng-Jing-jing. "Kentut busuk, masakah Lo-ji dan Lo-sam bisa ditawan oleh anak buahmu begitu saja?"

"Ya, tentu kamu merasa heran bukan?" ucap Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. Bong-to-jin memang sangat heran, sebab meski dia belum pernah bergebrak langsung dengan Leng- Jing-jing, namun ia tahu lawan yang buta itu pasti tidak lebih tangguh daripada pihak sendiri bertiga. Jika lawan tidak menggunakan tabir asap untuk berlindung, salah seorang di antara mereka pasti dapat mengalahkan Leng-Jing-jing. Berdasarkan perhitungan ini, jelas anak buah Leng-Jing-jing pasti juga bukan tandingan pihaknya bertiga, dan mengapa Tam-thau-to dan Hiau-su-sing berbalik bisa tertawan malah?

Apalagi tadi hanya terdengar Tam-thau-to dan Hiau-su-sing menjerit satu kali dan tidak bersuara lagi, jelas waktu ditunduk oleh anak buah musuh sama sekali kedua kawannya itu tidak merasakan sesuatu sehingga dalam keadaan tidak terduga-duga hiat-to tertutuk. Dan jika apa yang dikatakan Leng-Jing-jing itu bukan gertakan belaka, ini berarti kung-fu anak buahnya sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur.

Selagi sangsi dan heran, terdengar Li-hun-nio-nio berkata pula dengan terkekeh, "Hehe, hidung kerbau (kata olok-olok bagi kaum to-jin), jika kamu masih ingin hidup, hendaknya lekas serahkan peta itu."

Bong-to-jin tidak menjawab dan berbalik tanya, "Apakah Sim-Tiong-ho juga telah kalian tawan?" "Belum, " Jawab Leng-Jing-jing dengan tertawa. "Cuma, jelas dia pun tidak mampu lolos."

Mendengar Sai-hoa-to belum tertangkap musuh, seketika timbul pula keberanian Bong-to-jin, segera ia berteriak lagi. "Sim-Tiong-ho, lekas kemari, biar kita bersama membinasakan perempuan busuk ini."

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar bisikan suara yang sangat lembut menyusup ke dalam telinganya, "Harap To-tiang merunduk ke sebelah sini!"

Bong-to-jin terkesiap, diam-diam ia menyadari kebodohan sendiri, cepat ia pun menggunakan ilmu mengirim gelombang suara untuk bertanya, "Tabib Sim, engkau berada di mana?"

"Tidak jauh, kira-kira cuma beberapa langkah di belakangmu, yakni di bawah pohon, " jawab Su-Kiam- eng dengan bisikan gelombang suara.

"Tadi aku berteriak memanggilmu, mengapa tidak kau jawab?" tanya Bong-to-jin pula sembari merunduk perlahan ke sana.

"Maaf, tadi aku tidak berada di sini, " bisik Kiam-eng pula.

"Oo, memangnya engkau pergi ke mana?" tanya Bong-to-jin heran. "Aku pergi mencari jalan lolos!"

"Dan sudah kau temukan tidak?" "Sudah!"

"Wah, bagus sekali. Apakah engkau masih ingat caranya lolos ke sana?" "Tentu saja ingat."

"Bagus, ayolah lekas kita berangkat!"

"Dan bagaimana dengan kedua saudara angkatmu?"

"Jangan urus mereka, peta berada padaku tanpa mereka berdua pun kita dapat menemukan kota emas." "Wah, ini kan tidak enak?" ujar Kiam-eng menirukan suara Sim-Tiong-ho.

"Tolol, apanya yang tidak enak. Tanpa mereka berdua, kan kita dapat bagian terlebih banyak."

"Oo, jika begitu, harap To-tiang maju kemari untuk menarik tanganku ... Hati-hati, jangan sampai menerbitkan suara."

Dengan berjingkat-jingkat Bong-to-jin mendekati Su-Kiam-eng dan mengulurkan sebelah tangan untuk meraba-raba sambil berbisik, "Ini, aku datang, engkau berada di ... aduhh!"

Jeritan kaget terakhir itu disebabkan urat nadi tangannya yang terjulur itu mendadak dicengkeram orang. Jelas orang yang menangkap tangannya itu ialah Su-Kiam-eng.

Setelah berhasil mencekam urat nadi orang, menyusul telapak tangannya lantas menghantam belakang kepala orang dengan keras, kontan Bong-to-jin jatuh kelengar.

perlahan Kiam-eng merebahkan tubuh orang, segera ia menggerayangi baju orang dan mendapatkan peta pusaka terus disimpan ke baju sendiri kemudian ia menggeser agak jauh ke samping.

Sementara itu asap tebal di sekitarnya sudah mulai buyar, cepat Li-hun-nio-nio melemparkan lagi beberapa buah granat asap, habis itu dia berseru pula, "Siau-yan-nio, apakah kamu berhasil membekuk musuh?"

Rupanya ada anak buahnya yang bernama Siau-yan-nio atau si molek cilik.

Leng-Jing-jing merasakan keadaan tidak enak, kembali ia berseru "Siau-yan-nio, bagaimana dengan dirimu?"

Namun tetap tidak ada suara jawaban si molek cilik.

Tentu saja Leng-Jing-jing curiga, jengeknya, "Perempuan hina, apa barangkali kau pun ingin makan sendiri?"

Dengan terkekeh segera ia menambahkan lagi "Huh, supaya kau tahu perempuan hina jika kau ingin makan sendiri hasilnya, jelas kamu cuma mimpi belaka. Di atas bukit ini sekarang, tanpa perintahku menghentikan api, siapa pun jangan harap dapat lolos."

Baru habis ucapannya, tiba-tiba di dekat hutan sana bergema suara Toh-Jiu-hong yang ketakutan, "Tolong! Sim-sin-ih tolong!"

Namun Su-Kiam-eng diam saja, diam-diam ia mengejek, "Hah, dalam keadaan demikian masakah ada hasratku untuk menolong perempuan cabul semacam dirimu ini!"

Dia sudah lama di bawah gemblengan Lok-Cing-hui sehingga terpupuk watak yang jujur dan tegas, dengan sendirinya tidak ada rasa simpatik terhadap seorang perempuan hiburan seperti Toh-Jiu-hong itu.

Agaknya Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing sudah tahu di tengah hutan masih ada seorang Toh-Jiu-hong, mendengar teriakannya yang minta tolong, dengan tertawa ia berkata, "Jangan kuatir nona Toh, aku tahu kamu tidak mahir ilmu silat, boleh kau rebah saja di situ, sabar sebentar, setelah aku dapatkan peta segera aku antar kamu pulang!"

Tapi Toh-Jiu-hong berteriak pula, "Tidak, kaki hamba digigit ular, aku bisa mati bila tidak lekas ditolong!" "Oo, apa betul!" tanya Leng-Jing-jing.

"Tentu saja betul, "seru Toh-Jiu-hong. "Sebelah kakiku sudah kaku, lekas tolong hamba Sim-Sin-ih, bilamana engkau menyelamatkan jiwaku, segera aku berikan peta pusaka itu."

Diam-diam Su-Kiam-eng tertawa geli, "Persetan, peta itu justru berada padaku, masa hendak kau tipu apa?"

Sebaliknya Leng-Jing-jing menyangka betul ucapan Toh-Jiu-hong itu, tanyanya dengan tegang, "Apa katamu? Peta berada padamu?"

"Betul." jawab Toh-Jiu-hong. "Peta yang asli sudah aku sembunyikan di suatu tempat. Peta yang kalian perebutkan sekarang adalah peta palsu. Siapa di antara kalian menyelamatkan jiwaku, segera aku berikan peta pusaka asli."

Tergerak juga hati Su-Kiam-eng, pikirnya, "Oo apa benar terjadi demikian?"

Secara di bawah sadar ia meraba peta yang berada dalam bajunya, dalam hati ia tidak percaya peta yang dipegangnya itu palsu. Namun dalam lubuk hatinya timbul juga keraguan bahwa apa yang dikatakan Toh-Jiu-hong itu bukannya tidak mungkin terjadi, sebab besar kemungkinan Hu-kui-ong Liong- Ih-kong juga kuatir ada orang hendak merebut peta itu, untuk keamanan peta asli sengaja diserahkannya kepada gundik kesayangannya itu untuk disimpan, lalu dibuatnya sehelai peta palsu yang selalu dibawanya untuk persiapan bila suatu ketika kewalahan menghadapi musuh, terpaksa ia menyerahkan peta palsu itu, kemudian dia akan kabur bersama Toh-Jiu-hong dengan membawa peta yang asli.

Berpikir sampai di sini, terasa tidak enak juga hati Kiam-eng, pikirnya pula, "Sayang sekarang asap tebal menyelimuti bumi, kalau tidak, sekali pandang saja akan ketahuan peta yang aku pegang ini asli atau palsu ..."

Terdengar Toh-Jiu-hong lagi berteriak pula, "Sim-sin-ih, lekas kemari menyelamatkan hamba, apabila aku mati, selamanya kalian pun takkan menemukan peta asli."

"Betul juga. Sim-sin-ih, lekas kau tolong dia, aku jamin pun takkan menyerangmu, " sambung Leng-Jing- jing.

Ketika meninggalkan Bu-lim-teh-co tempo hari Su-Kiam-eng sudah membawa berbagai macam obat penawar racun pemberian Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Maka ia menjawab ucapan Leng-Jing-jing tadi, "Jika aku sanggupi menyelamatkan dia, lalu cara bagaimana Leng-to-cu akan berurusan denganku?"

Habis berucap, agar musuh tidak menyerangnya mengikuti arah suaranya, cepat ia menggeser ke samping lain.

Terdengar Leng-Jing-jing menjawabnya dengan tertawa, "Dengan sendirinya kita harus bekerja sama. Engkau satu-satunya orang yang mahir menyembuhkan orang terkena gas racun, bila peta itu aku dapatkan, tetap aku tidak boleh kekurangan dirimu."

"Leng-to-cu adalah tokoh terkemuka dunia persilatan, apa yang kau katakan hendaknya dipegang teguh, " kata Kiam-eng.

"Jangan kuatir, tidak nanti aku ingkar janji." ujar Leng-Jing-jing. "Nah, lekas kau sembuhkan dia."

Su-Kiam-eng menggeser ke arah Toh-Jiu-hong sembari bertanya, "Nona Toh, kamu berada di mana?" "Di sini, lekas kemari" sahut Toh-Jiu-hong.

Kiam-eng mendekati orang mengikuti arah suara, ia coba mendengarkan dengan cermat, ia merasa ada suara langkah orang yang perlahan mengikutinya, segera ia membentak, "Leng-to-cu hendaknya jangan ikut kemari!"

Cepat Leng-Jing-jing menghentikan langkahnya, katanya dengan tertawa, "Memangnya engkau tetap tidak percaya padaku?"

"Apa mau dikatakan lagi, dalam keadaan demikian terpaksa aku harus berjaga akan segala kemungkinan, " ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Baiklah, aku tidak ikut ke sana, lekas kau obati dia, " ujar Li-hun-nio-nio.

Tanpa kuatir lagi Kiam-eng berjongkok di samping Toh-Jiu-hong, perlahan ia meraba sambil, "Di bagian mana yang digigit ular?"

"Ini, di sini, dekat lulut kaki kanan, " tutur Toh-Jiu-hong.

Kuatir menyentuh paha orang, Kiam-eng meraba mulai dari betis si nona dan merambat ke atas. Siapa tahu, ketika merasa sampai di dengkul sekonyong-konyong ke dua tangannya dipegang orang dan urat nadi terpencat.

"Perempuan hina, kiranya kau ..." bentak Kiam-eng gusar.

Akan tetapi segera terdengar suara terkekeh Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing dari jauh mendekat menyusul serangkum angin pukulan kuat menyambar kepalanya.

"Blang, " dengan telak kepalanya kena dihantam orang seketika ia jatuh kelengar.

******

Sekali lagi dia siuman dari pingsannya.

Keadaannya serupa kejadian dahulu, waktu sadar, ia merasakan dirinya berbaring dalam sebuah kamar yang indah, Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing dan Toh-Jiu-hong tampak duduk di depan tempat tidur dengan mengulum senyum.

Begitu melihat jelas Toh-Jiu-hong hadir di situ seketika Kiam-eng melengak bingung. Serentak ia bangun duduk, ia coba merogoh saku bajunya, ternyata peta sudah hilang, baru sekarang ia paham duduknya perkara.

"Hm, kiranya Siau-yan-nio yang kau sebut itu ialah Toh-Jiu-hong ini!" jengek Kiam-eng dengan tersenyum kecut.

Toh-Jiu-hong melirik genit, ucapnya dengan terkikik, "Hihi, memang begitulah. Tak kau sangka bukan?"

"Memang, " Jengek Kiam-eng. "Aku dengar setiap perempuan penghuni Li-hun-to semuanya cacat badan, namun tubuhmu tiada terlihat ada bagian yang cacat, maka sama sekali tidak aku sangka kamu juga anak buah Li-hun-nio-nio."

Toh-Jiu-hong hanya tersenyum saja tanpa menanggapi.

Kiam-eng menatapnya dengan tajam, tanyanya, "Tapi dari mana kau tahu Hu-kui-ong mendapatkan peta dan lebih dulu menyusup ke tempatnya?"

Toh-Jiu-hong memandang Leng-Jing-jing yang berada di sebelahnya, jawabnya dengan tertawa "Tiada halangannya aku katakan padamu. Soalnya hamba diperintahkan untuk mendekati Liong-Ih-kong, tujuan semula hanya ingin merampas harta bendanya, kemudian diketahui dia berhasil membeli peta pusaka itu, maka tujuanku pun berubah, diam-diam aku laporkan hal itu kepada To-cu kami untuk merebut petanya.

"Oo, kiranya begitu, " kata Kiam-eng, lalu ia tanya Leng-Jing-jing, "Leng-to-cu, apakah sekarang engkau tidak mau bekerja sama lagi denganku?"

"Jika tidak ada maksud bekerja sama denganmu tentu sejak tadi aku bereskan dirimu serupa aku kerjai Sam-koai itu, " ujar Leng-Jing-jing dengan tersenyum.

"Oo, Leng-to-cu sudah membinasakan Sam-koai?" tanya Kiam-eng dengan girang.

"Betul, " Li-hun-nio-nio mengangguk, "Jiu-hong sudah melemparkan mereka ke tengah kobaran api." "Bagus itu pun terhitung menumpas tiga penjahat bagi dunia persilatan, " ujar Kiam-eng.

"Tapi aku tidak berpikir demikian, " kata Leng-Jing-jing. "Aku tumpas Sam-koai, soalnya karena aku tidak menginginkan mereka ikut berebut harta karun denganku."

"Baiklah sekarang boleh kita bicara tentang rencana kerja sama kita, " ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Lantas cara bagaimana Leng-to-cu hendak bekerja sama denganku?"

"Begini, " kata Leng-Jing-jing, "setelah menemukan kota emas itu, aku beri satu per sepuluh bagian untukmu."

Padahal tujuan Su-Kiam-eng hanya terletak pada Jian-lian-hok-leng yang sangat penting untuk bahan obat, yang diharapkannya asalkan pihak lawan percaya padanya dan sudah cukup. Tapi ia berlagak kurang puas, jawabnya, "Masa cuma satu per sepuluh bagian saja? Hm, Sam-koai saja mau membagi satu per empat bagiku masa Leng-to-cu malah turun harga sejauh itu?"

"Ya, aku hanya dapat memberi bagian satu per sepuluh untukmu, " jawab Leng-Jing-jing.

Kiam-eng mengangkat pundak, ucapnya, "Lebih dulu ingin, aku tanya pula padamu, tanpa ikut serta dariku, apakah Leng-to-cu sanggup mencapai tempat tujuan?"

"Tidak sanggup!" jawab Leng-Jing-jing.

"Begitulah, " Kiam-eng tertawa. "Kalau Leng-to-cu tidak sanggup mencapai tempat tujuan tanpa ikut serta diriku, maka seyogianya aku diberi setengah bagian."

"Huh, hendaknya kau tahu diri sedikit, " jengek perempuan buta itu. "Bahwa Sam-koai menyatakan hendak memberi seperempat bagian untukmu, jelas itu dusta belaka. Bilamana mereka berhasil menemukan kota emas, tentu kamu akan dibunuh oleh mereka. Sebaliknya aku katakan mau memberi satu per sepuluh bagian untukmu, janji ini pasti aku laksanakan, kalau tidak, kau dapat juga aku janjikan seperempat atau setengah bagian untukmu, tapi apakah janji demikian akan terpenuhi atau tidak kan masih menjadi soal."

"Tapi ... tapi satu per sepuluh bagian rasanya terlalu ... terlalu sedikit ..." ucap Kiam-eng sambil berpikir.

"Tidak sedikit, " tukas Li-hun-nio-nio. "Kabarnya di kota emas itu ada 180 buah patung emas dan bangunan yang terbuat dari emas murni. Coba kau pikir, melulu ke 180 patung emas itu saja kamu akan mendapat bagian 18 buah patung. Masa kau bilang sedikit?"

Kiam-eng berlagak menimbang sebentar, lalu mengangguk dan berkata, "Ya, sudahlah. Lantas, kapan kita berangkat?"

"Hari ini juga, " lalu Leng-Jing-jing berkata kepada Toh-Jiu-hong, "Nah, Jiu-hong, boleh kau berikan barang-barang yang telah disiapkan."

Toh-Jiu-hong mendekati tempat tidur, ditariknya keluar satu bungkus baju rombeng dari kolong ranjang, ada lagi satu gulung tikar rusak dan sebatang pentung bambu, semua itu diserahkan kepada Su-Kiam- eng, katanya, "Kau paham ilmu rias bukan?"

"Maksudmu aku harus menyamar sebagai pengemis!" Kiam-eng berlagak heran dan bingung.

"Betul, kau jadi pengemis lelaki dan aku pengemis perempuan, " tukas Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. "Kita menyamar sebagai suami istri pengemis, sembari melakukan pekerjaan minta minta kita berangkat ke selatan."

"Oo, gagasan bagus, " ujar Kiam-eng dengan tertawa. "Tapi apakah Leng-to-cu tidak merasa kekurangan tenaga pembantu?"

"Dengan sendirinya sudah aku atur, " kata perempuan buta itu. "Diam-diam sudah aku tugaskan anak buahku mengikuti jejak kita, pula ... "

Sampai di sini, mendadak ia menoleh dan berseru keluar kamar, "Silakan Ciok-hou-hoat masuk."

Segera suara seorang perempuan mengiakan di luar kamar, lalu pintu didorong dan masuklah dia.

Ciok-hou-hoat (Ciok si pelindung hukum) yang masuk ini bukan saja seorang perempuan buta, bahkan perawakan dan wajahnya serupa benar dengan Leng-Jing-jing sehingga seperti pinang dibelah dua.

Kiam-eng melengak dan berseru heran, "Hei, Ciok-hou-hoat ini ... "

"Serupa benar denganku, bukan?" tukas Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing tertawa. "Betul, apakah kalian saudara kembar?" tanya Kiam-eng.

"Tidak, " Leng-Jing-jing tertawa. "Cuma dia memang juga perempuan buta. Namun wajahnya sekarang sengaja dirias serupa diriku."

"Oo, kiranya begitu, " baru Kiam-eng paham urusannya. "Memangnya apa maksud Leng-to-cu menyuruh dia menyamar sebagai dirimu?"

"Boleh coba kau terka, " kata Leng-Jing-jing dengan tersenyum.

Dengan sendirinya Kiam-eng tahu maksud tujuan orang, tapi pura pura memejamkan mata dan berpikir sejenak, lalu membuka mata dan berkata seperti baru mengerti persoalannya, "Aha, bagus! Tentu Leng- to-cu sengaja hendak memancing pergi orang yang berniat merampas peta itu."

"Betul, " Leng-Jing-jing mengangguk. "Yang sudah terjadi jangan terlupa, yang akan terjadi harus kita pikirkan, maka kita perlu bertindak hati-hati"

"Leng-to-cu memang cermat, sungguh aku sangat kagum, " ucap Kiam-eng.

Leng-Jing-jing tertawa, lalu katanya terhadap Ciok-hou-hoat tadi, "Ciok-hou-hoat, boleh kau berangkat lebih dulu bernama anak buahmu."

Ciok-hou-hoat mengiakan dengan hormat, lalu keluar kamar. "Sim-sin-ih, kau pun silakan mulai menyamar, " ujar Li-hun-nio-nio. "Satu jam lagi kita akan meninggalkan pulau dan berangkat ke selatan."

Kata "meninggalkan pulau" membuat Kiam-eng tercengang, katanya. "Oo, kiranya Leng-to-cu membawa diriku ke Li-hun-to sini?"

"Habis kau kira ini tempat apa?" ujar Leng-Jing-jing tertawa.

"Pernah aku dengar selama ini Leng-to-cu melarang orang lelaki menginjak pulaumu, mengapa sekali ini kau langgar peraturanmu sendiri?"

"Aku cuma melarang pulau ini didatangi kaum lelaki yang bermaksud jahat. Jika kedatangannya ada manfaatnya bagiku tentu tidak aku larang."

Habis berkata, sembari tertawa ia pun tinggal pergi.

Melihat Toh-Jiu-hong masih berdiri di situ, Kiam-eng tercengang, tanyanya, "Nona Toh masih ada urusan apa lagi?"

"Tidak ada, hanya atas perintah supaya mengawasi caramu menyamar, " jawab Toh-Jiu-hong.

Kiam-eng berlagak rikuh, katanya, "Ai, apa artinya ini, masa harus aku buka baju di depan mata nona?"

"Tidak menjadi soal, sudah sering aku lihat orang telanjang, tidak apa-apa, " kata Toh-Jiu-hong dengan tertawa.

"Kamu tidak apa-apa, aku yang repot, " seru Kiam-eng dengan lagak marah.

"Biar aku katakan terus terang. To-cu kami kuatir engkau tidak pandai menyamar, maka hamba disuruh tinggal di sini untuk membantu. Setelah aku bantu merias wajahmu, segera aku pergi."

"Tidak perlu, soal rias merias bagiku pun tidak asing, boleh kau pergi saja sekarang, " ujar Kiam-eng. Toh-Jiu-hong juga tidak ngotot, ia tersenyum dan melangkah pergi.

Kiam-eng merapatkan pintu kamar dan dipalang, lalu mulai menyamar.

Tidak lama berubahlah dia seorang pengemis tua dengan rambut kusut dan dekil, ia angkat gulungan tikar rongsok dan memegang pentung bambu, lalu membuka pintu kamar, tiba-tiba dilihatnya di depan pintu kamar sudah berdiri seorang pengemis perempuan tua.

Pengemis perempuan tua ini dengan sendirinya samaran Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. Ia sengaja mendongak dan tersenyum, tanyanya, "Sudah beres!"

Kiam-eng mengangguk dan menjawab, "Beres, coba lihat bagaimana kepandaianku menyamar?" "Kami sengaja mengolok-olok diriku bukan?" omel Leng-Jing-jing tertawa.

Baru Kiam-eng ingat kedua mata orang sudah buta, cepat ia minta maaf.

"Mari kita makan dulu, " ajak Leng-Jing-jing mendahului menuju ke ruang depan.

Setelah meninggalkan kamar tidur baru Kiam-eng dapat melihat wajah asli Li-hun-to yang terkenal di dunia persilatan ini. Diam-diam ia sangat kagum kepada Leng-Jing-jing yang pandai mengatur dan membangun pangkalannya ini.

Kiranya Li-hun-to adalah sebuah pulau kecil tengah Tong-ting-oh, danau ini sangat luas, sedangkan pulau kecil itu cuma selebar satu li persegi. Sebelum kedatangan Leng-Jing-jing, pulau ini adalah sebuah pulau kecil yang sunyi, tapi sekarang telah berubah menjadi sebuah taman yang sangat indah. Ada ratusan rumah di tengah pulau pepohonan teratur dengan baik, apabila tidak menyaksikan penghuni pulau ini seluruhnya orang perempuan cacat, tentu orang akan merasakan berada di suatu pulau impian.

Melihat kawanan perempuan cacat yang bekerja di tengah pulau, mau-tak-mau timbul rasa iba tapi bila melihat pula ketenangan dan kesantaian kawanan wanita itu seperti kehidupan sehari-hari dilewatkan dengan aman sejahtera, betapapun ia sangat kagum dan menghormati 'keluhuran' budi Leng-Jing-jing. Maklum, bilamana seorang perempuan buta dapat mengorbankan kepentingan sendiri untuk menolong sesamanya, menghimpun sekawanan orang perempuan cacat yang terlantar di suatu pulau sehingga mereka terhindar dari kelaparan dan kedinginan, jiwa yang luhur dan welas asih ini sungguh sukar dibandingi mereka yang setiap hari berdoa dan bersujud.

Sebab itulah diam-diam Su-Kiam-eng mengambil keputusan, asalkan tenaga sendiri sanggup, selayaknya dirinya membantu Leng-Jing-jing menemukan kota emas itu dan bila menemukan patung emas, yang perlu diambilnya juga terbatas pada Jian-lian-hok-leng saja.

Setiba di ruangan makan yang indah, Kiam-eng dan Leng-Jing-jing duduk di suatu meja yang sudah penuh barang santapan, mereka makan minum dengan dilayani dua dayang cilik.

"Ciok-hou-hoat yang menyamar sebagai Leng-to-cu itu apakah sudah berangkat?" tanya Kiam-eng sembari makan.

"Betul, dia sudah meninggalkan pulau ini, " jawab Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. "Betapa tinggi ilmu silatnya?" tanya Kiam-eng pula.

"Kiranya setingkat dengan para jago pengawal Liong-Ih-kong."

"Jika begitu, apakah Leng-to-cu tidak kuatir dia menghadapi bahaya?"

"Seharusnya tidak sampai terjadi, " ujar Leng-Jing-jing. "Dan sudah aku beri pesan padanya, apabila menemukan lawan yang sukar ditandingi, boleh serahkan saja peta yang dibawanya."

"Oo, ia membawa sehelai peta palsu?" tanya Kiam-eng dengan melengak.

"Tentu saja peta palsu, memangnya aku biarkan dia membawa peta yang asli?" ujar Leng-Jing-jing dengan tertawa.

"Leng-to-cu sungguh tidak malu disebut ksatria kaum wanita, sungguh aku sangat kagum." "Ah, yang benar saja. Di mulut kau bilang kagum, dalam hati mungkin lain?"

"Sungguh, aku benar-benar kagum lahir batin terhadap Leng-to-cu."

Li-hun-nio-nio tertawa, ia minum arak seteguk, lalu berkata, "Sebelum ini, aku dengar Sai-hoa-to Sim- Tiong-ho adalah seorang tokoh yang angkuh dan berpribadi lain daripada yang lain, sesudah berjumpa sekarang, aku rasa ... "

"Silakan Leng-to-cu memberi kritik, " tukas Kiam-eng dengan tertawa. "Engkau tidak marah?"

"Pasti tidak. Betapa aku rasakan ada manfaatnya bilamana dapat aku dengar kelemahan sendiri dari mulut orang lain."

"Begini, aku rasakan kamu Sai-hoa-to ini sesungguhnya seorang yang licik dan licin, " sambung Leng- Jing-jing dengan tertawa.

Kiam-eng tertawa kikuk, "Betul juga kritik Leng-to-cu. Tapi apakah dapat memberi sedikit keterangan yang lebih jelas?"

"Boleh, " jawab Leng-Jing-jing. "Kamu dipanggil ke Hu-kui-san-ceng oleh Hu-kui-ong, semula kau mau bekerja sama dengan dia. Tapi ketika Sam-koai muncul dan berebut peta dengan dia, kau lihat Hu-kui- ong sukar mempertahankan petanya, segera pula kau ganti haluan dan menebas sebelah tangan Liong- Ih-kong, waktu itu ada maksudmu membawa lari peta, cuma lantaran menurut perhitunganmu sukar mengalahkan Sam-koai lalu kamu pura-pura mau bekerja sama dengan Sam-koai. Kemudian Sam-koai terjebak oleh perangkapku, kembali kamu berlaku licik dengan merobohkan Bong-to-jin di tengah kabut tebal. Sekarang kamu jatuh juga dalam cengkeramanku, mungkin kau pun tidak setulus hati hendak bekerja sama denganku melainkan ingin mencari kesempatan untuk merebut kembali peta pusaka ini."

"Hahahaha, jika cara demikian jalan pikiran Leng-to-cu, jelas itu salah wesel, " seru Kiam-eng dengan terbahak. "Sebabnya aku lakukan tindakan begitu terhadap Liong-Ih-kong dan Sam-koai, semua itu disebabkan mereka terhitung tokoh kalangan hitam. Sekarang aku menyatakan mau bekerja sama dengan Leng-to-cu, hal ini timbul dari lubuk hatiku yang sejujurnya tanpa tipu muslihat apa pun. Jika Leng-to-cu tidak percaya, apa boleh buat biarlah aku pergi saja."

"Kau bilang Liong-Ih-kong dan Sam-koai adalah tokoh kalangan hitam, apakah nyonya besar tidak terhitung tokoh kalangan hitam?" tanya Leng-Jing-jing.

"Leng-to-cu telah menolong anak perempuan sebanyak ini selagi mereka terancam bahaya, ini kan sama dengan Bodhisatwa penolong kaum sengsara, mana bisa dianggap orang jahat?"

"Akan tetapi dalam pandangan orang persilatan aku dianggap sebagai iblis perempuan yang suka merampok dan membunuh orang tanpa berkedip."

"Untuk menghidupi kaum wanita cacat sebanyak ini, terkadang Leng-to-cu perlu bertindak agak keras, untuk ini tidak dapat dikatakan jahat, " ujar Su-Kiam-eng.

Jing-jing tertawa, "Sedemikian hormat dan sanjungmu terhadapku, tampaknya kamu memang" sangat kagum padaku. Jika begitu, ketika aku nyatakan mau membagi satu per sepuluh untukmu, mengapa kamu menyatakan tidak puas?"

"Hal ini tidak dapat dicampurkan, sesungguhnya satu per sepuluh bagian memang terlampau sedikit."

"Begitu saja. Asalkan kamu bekerja sama sejujurnya denganku, bilamana kota emas itu sudah kita temukan, tentu akan aku beri lagi semacam benda mestika yang sukar dicari."

"Oo, benda mestika apakah itu?" tanya Kiam-eng. "Jian-lian-hok-leng!" jawab Leng-Jing-jing.

"Hahh, jadi Leng-to-cu juga sudah tahu urusan ini?" tanya Kiam-eng terkejut.

"Tahu, " Leng-Jing-jing mengangguk. "Cuma, meski Jian-lian-hok-leng itu memang benda mestika yang sukar dicari, aku justru tidak tertarik olehnya."

"Apakah Leng-to-cu tahu apa sebabnya Kiam-ho-Lok-Cing-hui menyuruh muridnya yang pertama yaitu Gak-Sim-lam, menuju ke wilayah selatan yang masih liar itu untuk mencari Jian-lian-hok-leng?"

Kembali Leng-Jing-jing mengangguk, "Tahu hendak digunakannya Jian-lian-hok-leng untuk menyembuhkan penyakit seorang nona yang bernama In-Ang-bi, yaitu putri kandung Bu-tek-sin-pian In- Giok-san. Kabarnya mungkin nona In itu menyaksikan sendiri terbunuhnya ke 18, tokoh utama dunia persilatan di Hwe-liong-kok dulu, saking kaget dan takutnya dia kehilangan daya ingatan. Sebab itulah Lok-Cing-hui hendak menyembuhkan penyakitnya agar siapa si pembunuh di Hwe-liong-kok itu dapat diketahui dari keterangan nona In dan sekaligus menumpas pengganas bagi dunia persilatan.

"Bagaimana pendapat Leng-to-cu terhadap tindakan Kiam-ho-Lok-Cing-hui dan anak muridnya?" tanya Kiam-eng pula.

"Kiam-ho-Lok-Cing-hui adalah pendekarnya pendekar, dengan sendirinya aku sangat kagum kepadanya, " jawab Li-hun-nio-nio.

"Ya, aku pun kagum sekali terhadap mereka guru dan murid, " ucap Kiam-eng dengan senang. "Sebab itulah bila kita mendapatkan Jian-lian-hok-leng seyogianya kita berikan kepada Lok-Cing-hui."

"Yang jelas aku tidak memerlukan barang semacam itu, cara bagaimana akan kau lakukan atas bahan obat itu boleh terserah padamu."

Kiam-eng menaruh mangkuk nasi, katanya, "Baiklah, sudah cukup kenyang. Marilah kita siap berangkat."

Leng-Jing-jing memberi tanda agar pelayan mengambilkan handuk, katanya pula dengan tersenyum, "Masih ada sesuatu yang tidak pantas aku katakan, hendaknya engkau jangan marah ..."

"Silakan bicara saja, akan aku dengarkan dengan senang hati."

"Begini. Aku harapkan engkau bekerja sama denganku dengan tulus hati, bilamana engkau bermaksud busuk dan hendak merampas dan bawa lari peta pusaka, maka engkau pasti akan mati dengan cepat, sebab sekarang tidak aku tahu guna-guna dalam makanan yang telah masuk perutmu dan setiap saat dapat aku perintahkan untuk mencabut nyawamu."

"Hah, kamu bisa main tenung?" Kiam-eng melonjak kaget.

Leng-Jing-jing mengangguk dengan tertawa, "Betul, kepandaian ini aku belajar dari seorang kepala suku di Kim-sah-kang dahulu, Cuma engkau jangan kuatir, biarpun guna-gunaku sudah masuk perutmu, tanpa perintahku dia takkan mencelakaimu."

Betapapun Kiam-eng tetap kuatir, tanyanya cepat. "Tenung apa yang kau mainkan atas diriku?" "Tenung naga!" jawab Leng-Jing-jing.

Kiam-eng tidak asing terhadap permainan guna-guna, ia tahu "tenung naga" itu jadian dari binatang melata sebangsa ular berbisa, kelabang dan sebagainya, semacam tenung yang paling lihai.

Keruan ia tarkejut pula dan berteriak, "Wah, tidak bisa jadi! Lekas kau keluarkan guna-guna itu dari tubuhku. Mana boleh kau turun tangan keji terhadapku."

"Kenapa kamu tegang dan gugup, memangnya kamu tidak berniat bekerja sama denganku?" tanya Leng- Jing-jing tertawa.

"Mengapa tidak? Cuma engkau tidak boleh menggunakan cara begini untuk memeras diriku!" seru Kiam- eng.

"Bila engkau bekerja sama denganku secara jujur, kan tidak perlu takut, nanti kalau aku pandang sudah dapat aku punahkan tenungku, dengan sendirinya akan aku punahkan tanpa kau minta."

"Tetapi bila nanti engkau ingkar janji, lalu bagaimana?" tanya Kiam-eng.

"Tidak nanti begitu. Betapapun aku juga manusia, tidak mungkin aku kemaruk pada sepersepuluh bagianmu itu. Kamu jangan kuatir."

Kiam-eng tahu tidak ada gunanya banyak omong lagi. Ia tahu jika ingin lawan menghapuskan tenung baginya, untuk itu hanya ada satu jalan, yaitu kembali pada wajah aslinya dan menerangkan segalanya terhadap perempuan buta itu. Namun cara ini pun ada risikonya, sebab, pertama, bila orang tahu dirinya bukan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho yang sebenarnya, bisa jadi orang tidak percaya bahwa dirinya sudah berhasil belajar cara mengobati gas racun segala dan tidak mau lagi mengajaknya ikut mencari kota emas.

Kedua, bila orang tahu dirinya adalah murid Kiam-ho-Lok-Cing-hui, mungkin karena takut terhadap gurunya dan nekat membunuhnya sekalian untuk menghilangkan saksi hidup.

Maka setelah dipikir, akhirnya ia merasa lebih baik tetap mengaku sebagai Sai-hoa-to saja. Begitulah ia lantas menghela napas dan berkata, "Baiklah, perjalanan jauh baru kenal kekuatan kuda, sesudah lama baru tahu hati manusia. Pada suatu hari nanti tentu Leng-to-cu akan jelas kepribadianku."

Leng-Jing-jing tidak banyak omong lagi, ia melangkah keluar ruangan, katanya, "Ya, sekarang marilah ikut padaku."

Setelah meninggalkan ruang makan, Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing membawa Su-Kiam-eng ke tepi pantai dan menumpang sebuah perahu nelayan, lalu meluncur meninggalkan Li-hun-to dan menuju ke arah Wan-kang.

Tong-ting-oh merupakan hulu dari berbagai sungai di wilayah Oh-lam, meliputi beberapa ratus li di sekitarnya. Li-hun-to terletak di permukaan danau di timur laut Wan-kang atau sungai Wan maka perahu nelayan itu berlayar cukup lama baru mencapai hulu sungai.

Perahu merapat di tepi danau di suatu tempat yang sepi, Kiam-eng mendahului melompat ke daratan, melihat sekelilingnya tiada orang lain, katanya kepada Li-hun-nio-nio, "Lo-po-cu, bolehlah engkau naik kemari!"

"Lo-po-cu" atau si nenek tua adalah sebutan yang telah disepakati mereka di atas perahu tadi, maka sesudah mendarat jadilah mereka satu pasangan suami istri pengemis tua.

Meski ke dua mata buta, namun Leng-Jing-jing sangat apal terhadap keadaan sekitar Tong-ting-oh perlahan ia berdiri, begitu kaki bekerja, dengan ringan ia meloncat meninggalkan perahu dan hinggap di samping Su-Kiam-eng, lalu menjulurkan tangan kiri dan berkata, "Mari, biarkan aku pegangi pentung bambu!"

Kiam-eng menyodorkan ujung pentung dan membawanya berangkat. Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa kota emas yang terletak beribu li jauhnya, setiap manusia yang sehat pun akan merasakan perjalanan panjang ini sangat menakutkan, tapi sekarang sungguh lelucon yang tidak lucu.

Menjelang magrib, sampailah mereka di suatu kota kecil bernama Soa-tau, jarak dengan Tong-ting-oh cuma likuran li saja.

Memandangi cahaya senja di ufuk barat, Kiam-eng hanya tersenyum getir belaka, katanya, "Lo-po-cu dengan kecepatan jalan seperti ini, bilakah baru kita akan mencapai tempat tujuan?"

"Jangan patah semangat, pada suatu hari tentu akan tiba di sana, " ujar Leng-Jing-jing dengan tertawa. "Tapi ketika kita sampai di sana, partai barang itu mungkin sudah bersih diangkut orang."

"Tidak bisa, " ujar Li-hun-nio-nio. "Kecuali kita berdua, siapa pula yang dapat menemukan barang- barang itu?"

"Kan masih ada seorang yang berhasil menculik Gak-Sik-lam itu?" desis Su-Kiam-eng. "Jangan kuatir. Meski mereka berhasil menculik Gak-Sik-lam, belum pasti Gak-Sik-lam mau

menceritakan di mana beradanya partai barang itu. Katakanlah Gak-Sik-lam mau memberitahukan

tempat tersimpannya harta karun, pasti juga mereka tidak mampu mencapai tempat tujuan." "Berdasarkan apa kau katakan demikian?" tanya Su-Kiam-eng.

"Mereka kan kurang seorang Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho?!" ujar Leng-Jing-jing.

"Kendati begitu, akan lebih baik juga jika kita bisa mencapai tempat tujuan dengan lebih cepat."

"Tentu, beberapa hari lagi, jika sudah jelas kita tidak dibuntuti orang, segera kita berganti cara berjalan malam dan siang istirahat"

"Lantas, malam ini kita berhenti di mana?" tanya Kiam-eng pula. "Kamu lelah tidak?" Leng-Jing-Jing berbalik tanya.

"Baru sejauh ini lantas lelah, tentu selama hidup ini takkan mencapai tempat tujuan, " jawab Kiam-eng dengan tertawa.

"Jika begini, biarlah kita bermalam di suatu tempat dekat Tho-hoa-kang nanti, " kata Leng-Jing-jing. "Berapa jauhnya jarak Tho-hoa-kang dari sini?" tanya Kiam-eng.

"Kira-kira 40-an li."

"Wah, jika begitu, tengah malam baru akan sampai di sana." "Betul. Istirahat setengah malaman kan cukup bagi kita?"

Maka mereka meneruskan perjalanan. Agar sesuai dengan keadaan penyamaran mereka, perjalanan mereka dilakukan sangat lambat, bila berada di jalan yang tidak rata, Su-Kiam-eng harus pula memegangi Leng-Jing-jing sehingga sering menimbulkan pujian orang lalu dan menganggap mereka adalah pasangan pengemis yang setia.

Tengah malam sampailah mereka di Tho-hoa-kang, mereka mendapatkan sebuah kelenteng, di serambi depan kelenteng itu mereka menggelar tikar rongsokan dan mengeluarkan rangsum kering untuk tangsal perut. Kemudian mereka bersandaran di kaki dinding dan memejamkan mata.

Tak terduga, baru saja mereka memicingkan mata segera terdengar suara orang melangkah masuk kelenteng. Sedikit membuka mata, Kiam-eng melihat pendatang ini adalah seorang pengemis setengah umur dengan wajah yang jelek. Tanpa tertahan hati Kiam-eng rada tergetar.

Sesudah masuk ke dalam kelenteng, pengemis setengah umur itu berbaring di samping meja sembahyang, tiba-tiba ia bersuara "huwaak" dan masuk menumpahkan darah segar.

Mendengar suara aneh itu, Leng-Jing-jing tanya dengan bisikan gelombang suara, "Sim-sin-ih, siapa itu yang datang?"

"Seorang pengemis setengah tua, " jawab Kiam-eng dengan sama lirihnya. "Ia seperti terluka parah dan tumpah darah."

"Kau lihat dia seperti sekaum kita bukan?" "Ya, tampaknya begitu."

"Dia melihat kita tidak?"

"Belum ... Ah, dia tumpah darah lagi, biar coba aku periksa dia ..."

Bicara sampai di sini, Kiam-eng lantas berdiri mendekat ke sana, tanyanya. "Lau-te (saudara), engkau kenapa?"

Pengemis setengah tua itu kaget mendengar suara Kiam-eng, waktu ia menengadah dan melihat Kiam- eng berdandan sebagai pengemis, dari kaget ia berubah girang, cepat ia balas tanya, "Engkau orang ... orang Kai-pang kita?"

Kiam-eng mengangguk dan menjawab, "Ya. Apakah engkau sakit?"

Pengemis itu tidak menjawab, sebaliknya cepat tanya pula. "Bagus sekali. Engkau termasuk anggota wilayah mana?"

Dengan samar-samar Kiam-eng menjawab. "Pengemis tua biasa luntang-lantung kian kemari termasuk wilayah mana memang ..."

"Siapa kepalamu?" potong pengemis itu.

Kiam-eng berlagak tidak sabar, ucapnya dengan kening berkerenyit, "Eh, kenapa tidak kau beritahukan dulu keadaan penyakitmu?"

"Aku tidak sakit, tapi terluka dalam ...", tutur pengemis itu dengan cemas. "Apakah kepalamu si Coa tua di Han-yang?"

"Betul, cuma, biasanya aku sangat jarang bertemu dengan beliau ..."

Dengan rasa sangsi pengemis itu memandangi Kiam-eng sejenak, lalu tanya pula, "Apakah kamu tidak mahir ilmu silat?"

"Jika mahir ilmu silat, tentu sudah lama aku cari hidup dengan jalan lain, " tutur Kiam-eng dengan menyengir.

"O, kiranya begitu, pantas kamu tidak kena diriku..." pengemis tua itu seperti menyadari duduknya perkara. "Biar aku beri tahu, aku adalah To-cu pertama Kai-pang kita, Hek-jiu-kai (si pengemis tangan hitam) Pang-Liat."

Kiam-eng pura-pura bersuara kaget dan cepat memberi hormat, "Ai, kiranya Pang-to-cu adanya. Maafkan mata pengemis tua sudah lamur sehingga kurang hormat. Maaf!"

Kembali Hek-jiu-kang Pang-Liat muntah darah lagi, lalu memejamkan mata dengan napas terengah, katanya kemudian, "Aku dipukul satu kali oleh Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing, isi perutku terluka parah dan sudah dekat ajal. Sekarang ada suatu urusan penting harus aku beritahukan padamu, hendaknya dalam sepuluh hari harus kau capai kota Han-yang dan menyampaikan pesanku kepada Coa-to-cu, tahu tidak?"

Melihat luka orang memang sangat parah, hanya Sai-hoa-to asli saja yang mampu menolong jiwanya, maka cepat ia menjawab dengan hormat, "Baik, silakan Pang-to-cu memberi pesan."

"Sampaikan kepada Coa-to-cu bahwa Tiang-lo kita To-kau-seng-jiu telah dibunuh oleh Hu-kui-ong Liong- Ih-kong, peta juga sudah berganti jatuh di tangan Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. Kemarin dia membawa tiga jago pilihan anak buahnya telah berangkat ke wilayah selatan untuk mencari harta pusaka. Diam- diam aku buntuti perjalanan mereka, sayang diketahui mereka, akibatnya aku terkena pukulan maut Leng-Jing-jing dan ... "

Bicara sampai di sini, kembali ia tumpah darah darah menurut.

"Pang-to-cu terluka kena pukulan Leng-Jing-jing di tempat mana?" tanya Kiam-eng, ia tahu yang dimaksud tentu Ciok-hou-hoat yang menyamar sebagai Leng-Jing-jing itu.

Sinar mata Pang-Liat tampak buram, napas pun empas-empis, jawabnya lemah, "Aku kepergok mereka di ... dia dekat Ma-jik-tong ... "

"Di mana letak Ma-jik-tong itu?" tanya Kiam-eng pula.

Mendadak tubuh Hek-jiu-kai Pang-Liat mengeluarkan suara "pletak-pletok", yaitu suara buyarnya lwe- kang seorang. Ia menghela napas dan berucap lemah, "Ingat, harus ... harus lekas menyampaikan pesanku kepada Coa-to-cu dan ... dan suruh dia lekas melaporkan kepada Pang-cu..."

Habis berkata, kepalanya tergolek ke samping dan berhentilah napasnya.

Cepat Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing melompat ke samping Kiam-eng, katanya dengan tertawa, "Ang- pang-cu mereka juga terlalu, masakah mengirim jago kelas kambing seperti ini untuk ikut berebut pusaka."

"Bisa jadi ikut sertanya berebut pusaka oleh orang semacam To-kau-seng-jiu dan Hek-jiu-kai ini adalah tindakan mereka pribadi di luar tahu Ang-pang-cu mereka, " ujar Kiam-eng dengan tertawa.

"Untung engkau bukan pengemis sungguhan, kalau tidak, tentu urusan bisa gawat. Sebab It-sik-sin-kai Ang-Pek-to itu memang tidak boleh dipandang remeh."

"Jarak Ma-jik-tong dari sini tidak jauh bukan?" tanya Kiam-eng.

"Ya, mungkin cuma 30 li di depan sana. Jika kita percepat perjalanan kita, mungkin tidak lama lagi dapat menyusul Ciok-hou-hoat berempat."

"Apakah Leng-to-cu bermaksud menyusul mereka?" tanya Kiam-eng.

Leng-Jing-jing menggeleng, "Tidak, aku cuma omong sekadarnya. Kita tidak boleh mendekati mereka, bahkan berjarak makin jauh makin baik.

Ia merandek sejenak, lalu menyambung, "Sekarang boleh kau seret Hek-jiu-kai ini ke belakang kelenteng. Kita tidur lagi."

Kiam-eng membawa rakyat Pang-Liat ke belakang kelenteng, dikuburnya di lubang pembuangan sampah sekadarnya, lalu putar balik ke dalam kelenteng dan tidur di sebelah Ling-Jing-jing.

Baru saja fajar menyingsing mereka lantas bangun dan berangkat menuju ke selatan.

Sepanjang jalan tidak terjadi sesuai. Memasuki malam ke empat, selagi mereka menyusuri kaki bukit Kuda Putih, tiba tiba tidak jauh di depan berkumandang suara benturan senjata yang terputus-putus, lalu terdengar lagi.

"He, di depan ada orang lagi bertempur!" seru Kiam-eng tertarik.

"Ya, dari suaranya seperti lebih lima atau enam orang, " tukas Leng-Jing-Jing. "Bolehkah kita melihatnya ke sana?"

"Baik, cuma jangan sampai kepergok mereka, juga tidak boleh ikut campur urusan tetek-bengek." "Jika salah satu pihak itu Ciok-hou-hoat berempat, lalu bagaimana?"

"Sama!"

"Tempat bertempur seperti tepat di tengah jalan ini, marilah kita putar ke atas bukit, mungkin takkan dilihat mereka ... Ayo!" Ia pegang Leng-Jing-jing mengitar ke atas bukit, setelah melintasi sebuah tanjakan, diam-diam mereka menurun ke samping sebuah dinding tebing, lalu mengintai ke bawah. Terlihatlah yang sedang bertempur itu terdiri dari tiga lelaki dan empat perempuan, satu di antara ke empat orang perempuan itu tak-lain-tak-bukan adalah Ciok-hou-hoat yang menyamar sebagai Li-hun-nio-nio itu.

Ke tiga orang lelaki itu, seorang memegang pedang, dua orang lagi bersenjata ruyung, usia mereka rata- rata sudah lebih setengah abad, namun gerak-gerik mereka masih tangkas dan kuat, Ciok-hou-hoat berempat tampak tercecer hingga cuma mampu menangkis dan tidak sanggup balas menyerang.

Mendengar suara pertarungan yang sengit itu cepat Leng-Jing-jing berbisik dengan gelombang suara, "Siapa mereka, Sim-sin-ih?"

"Kebetulan dapat aku terka dengan tepat ..." bisik Kiam-eng. "Mereka adalah Ciok-hou-hoat berempat dan tiga orang tua."

"Kau kenal mereka?"

"Tidak kenal. Cuma dari gaya ilmu silat mereka, tampaknya mereka orang Kong-tong-pai." "Bagaimana keadaan mereka?"

"Mendingan Ciok-hou-hoat, tapi ke tiga kawannya jelas tidak dapat tahan lama lagi." "Kedengarannya dua orang lawannya bersenjata ruyung bukan?"

"Betul!"

"Hm, mereka itu Im-yang-siang-pian!"

"Im-yang-siang-pian?" Su-Kiam-eng menegas.

"Ya, jago terkemuka Kong-tong-pai, keduanya saudara sekandung. Yang tua bernama Im-pian (ruyung negatif) Bok Tat, adiknya bernama Yang-pian (ruyung positif) Bok-Tat."

"Dan orang tua ke tiga bersenjata pedang tampaknya terlebih lihai daripada Im-yang-siang-pian!" "Kau lihat pada kening kirinya ada sebuah uci-uci bukan?"

"Betul. Siapa dia?"

"Dia su-heng Im-yang-siang-pian, namanya It-ji-kiam (Si pedang satu huruf) Khu-Bu-peng. Hm, tak tersangka golongan Kong-tong-pai yang mengaku sebagai perguruan ternama dan berkelakuan baik juga ikut dalam barisan perebutan harta karun ini."

"Di antara ke tiga anak buah Leng-to-cu itu, siapa namanya yang pada mukanya ada panunya?"

"O, dia bernama Kui-bin-po (si nenek muka setan) Ni-Jai-hoa, dia termasuk salah seorang jago pilihan anak buahku. Memangnya kenapa?"

"Selekasnya dia akan kalah!" "Oo ... "

"Apakah perlu aku turun ke sana untuk membantu mereka?" tanya Kiam-eng. "Tidak!"

"Leng-to-cu sampai hati menyaksikan mereka gugur dalam pertempuran?"

"aku kira tidak segawat itu. Bila mereka tidak sanggup tertahan, tentu mereka dapat kabur." "Hm, aku kira mereka tak bisa kabur lagi!"

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara "trang" satu kali, senjata Kui-bin-po Ni-Jai-hoa terbentur mencelat oleh ruyung Yang-pian Bok-Tian. Sembari menjerit kaget Ni-Jai-hoa melompat mundur, akan tetapi agak kasip, pundaknya tersabet ruyung kontan ia jatuh terduduk. Sekali berhasil, serentak Yang-pian Bok-Tian berputar, ruyung menyabet lagi kedua perempuan yang mengerubut Im-pian-Bok-Tat.

Kedua orang perempuan itu berusia 40-an, seorang cacat hidung, mukanya buruk menakutkan. Seorang lagi bibir sumbing sehingga sehingga kelihatan barisan giginya, wajahnya tidak banyak lebih menarik daripada lawannya.

Mereka mengerubut Bok-Tat dan sekadar dapat mengimbangi, sekarang ketambahan Bok-Tian, seketika mereka terdesak di bawah angin, tampaknya kekalahan mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sementara itu It-ji-kiam yang satu melawan satu menghadapi Ciok-hou-hoat sudah dapat melihat pihak sendiri pasti akan menang, tentu saja ia tambah girang, katanya dengan tergelak, "Haha, Leng-to-cu, aku bilang biarpun emas sangat berharga, tapi iwa terlebih bernilai. Aku kira lebih baik serahkan saja peta pusaka itu, kalau tidak, bisa jadi jiwamu pun akan amblas."

Ciok-hou-hoat yang menyamar sebagai Leng-Jing-jing itu diam saja dan tetap bertempur dengan tekun, ia menggunakan senjata tongkat berkepala naga seperti Leng-Jing-jing, gerak serangannya lincah, tenaga juga cukup kuat. Cuma sayang ke dua matanya buta, betapapun kurang menguntungkan. Maka setelah berlangsung sekian lama, biarpun belum lagi kalah, tapi setiap orang dapat melihat tiada kesempatan menang baginya.

Melihat kedua orang perempuan itu segera akan kalah, tiba-tiba Kiam-eng teringat suatu soal tanyanya kepada Leng-Jing-jing yang berada di sebelahnya dengan bisikan gelombang suara, "Leng-to-cu, jika Ciok-hou-hoat itu menyamar sebagai dirimu, ketika bertempur dengan musuh seharusnya ia pun perlu menggunakan granat tabir asap."

"Betul, " jawab Leng-Jing-jing dengan gelombang suara yang sama lirihnya. "Mungkin begitu musuh muncul segera mereka bertempur sehingga Ciok-hou-hoat tidak mendapat kesempatan untuk menggunakan granat tabir asapnya."

"Granat tabir asap Leng-to-cu sungguh lihai, sampai Sam-koai yang kosen itu pun kena kau kerjai, " ujar Kiam-eng. "Cuma aku rasakan, bilamana granat tabir asap Leng-to-cu itu dapat ditambahi lagi dengan obat bius, begitu lawan mencium asapnya seketika jatuh kelengar, cara demikian kan lebih hebat."

"Hal ini pun pernah aku pikirkan, " ujar Leng-Jing-jing. "Tapi kemudian aku pikir kurang praktis, maka tidak pernah aku buat granat jenis demikian."

"Kenapa kau bilang kurang praktis, apa maksudnya? tanya Kiam-eng.

"Kau tahu kedua mataku buta, ke mana pun perlu dilayani dan mendapat bantuan orang. Jika aku buat granat tabir asap yang dapat membuat lawan pingsan, bilamana aku gunakan, bukankah anak buahku sendiri juga akan menjadi korban. Inilah yang aku maksudkan kurang praktis."

"Kabarnya Sam-bi-sin-ong (kakak sakti tiga macam bau) juga mahir membuat Yan-mo-tan (granat tabir asap), entah selain membuat granat yang mengandung tiga macam bau harum, busuk dan pedas, adalah pernah dia membuat juga granat tabir asap yang dapat membuat orang pingsan"

"Entah, dia kan tokoh aneh dunia persilatan yang beroperasi sendirian, tentu saja dia dapat membuat senjata khas semacam itu."

"Wah, anak buahmu yang cacat hidung itu, tampaknya segera akan kaok!" seru Kiam-eng tiba-tiba.

"Blang" tahu-tahu pinggang perempuan hidung gerowong itu kena sabet ruyung Im-pian Bok-Tat, menyusul tubuh lantas terbanting, serupa Kui-bin-po Ni-Jai-hoa, meski tidak binasa, tapi tidak sanggup merangkak bangun lagi.

Kembali 20 30 jurus berlangsung lagi, perempuan bibir sumbing akhirnya juga kecundang, dengkul kanan tersabet ruyung Bok-Tian, saking sakitnya sampai senjata dibuangnya, lalu menungging sambil menjerit dan memegangi dengkul.

Dengan demikian tinggal Li-hun-nio-nio gadungan saja alias Ciok-hou-hoat, melihat sang su-heng belum lagi berhasil menundukkan lawan, segera Im-yang-siang-pian memburu ke sana sambil membentak, "Leng-Jing-jing, ke tiga anak buahmu sudah terluka, jika kamu tidak menyerah, segera kami membunuh mereka lebih dulu." Mendengar ucapan demikian, mendadak Ciok-hou-hoat putar tongkat dan melompat mundur, jengeknya, "Baik, biar nyonya besar mengaku kalah. Tapi setelah aku serahkan peta, apakah kalian menjamin takkan mengganggu jiwa kami?"

"Tentu saja kami jamin, " jawab It-Ji-kiam Khu-Bu-peng. "Jika kami berniat membinasakan kalian, sejak tadi kedua su-te ku ini sudah turun tangan."

"Hm, kalian tidak membunuh mereka bertiga, mungkin sengaja kalian atur untuk memancing nyonya besar supaya menyerahkan peta. Setelah aku berikan peta, lalu kalian akan turun tangan keji, begitu bukan?"

"Tidak, tujuan kami adalah peta dan bukan membunuh, " sahut It-ji-kiam Khu-Bu-peng.

"Apakah kalian tidak gentar bilamana aku tuntut balas kelak?" tanya Ciok-hou-hoat. "Tidak takut, " jawab Khu-Bu-peng tegas, "Bicara secara blak-blakan, dahulu kami mengira Leng-to-cu mempunyai kung-fu yang luar biasa tapi setelah kami uji tadi baru diketahui kepandaianmu juga cuma sekian saja. Dengan kung-fu mu ini, kalau ingin menuntut balas pada kami, hah, takkan berlebihan jika aku katakan cuma mimpi belaka, "

"Baik, sekarang akan aku serahkan peta kepada kalian, tapi tidak lebih dan sebulan aku bersumpah pasti akan aku rebut kembali." kata Ciok-hou-hoat.

Habis bicara ia terus mengeluarkan gulungan peta palsu dan dilemparkan kepada Khu-Bu-peng.

Cepat It-ji-kiam Khu-Bu-peng menjulurkan tangan hendak menangkap gulungan peta itu. Tak tersangka pada saat itu juga sekonyong-konyong gulungan peta itu seperti terbentur oleh sesuatu benda dan mendadak melenceng terbang ke samping kanan.

Dalam sekejap itu semua orang dapat melihat jelas ada orang menyambitkan semacam senjata rahasia kecil sebangsa jarum dari kegelapan sebelah kiri dan tepat mengenai gulungan peta sehingga membelok ke kanan.

Air muka It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan Im-yang-siang-pian berubah hebat, berbareng mereka membentak dan serentak melompat ke sana untuk memburu gulungan peta.

Namun mereka tetap terlambat satu langkah, tampaknya peta sudah hampir tersusul, tapi tahu-tahu keburu ditangkap seorang lain.

Orang itu berusia hampir 50-an, bertubuh tinggi kurus, mukanya tirus serupa kera dan pucat pasi seperti kertas, tapi dihias sepasang alis tebal lurus ke atas sehingga terlihat serupa setan jangkungan.

Setelah menangkap gulungan peta dan dimasukkan ke dalam baju, dia tidak lantas kabur melainkan tetap berdiri tegak di tempat semula.

Sebaliknya setelah melihat jelas wajah lawan, seketika It-ji-kiam Khu-Bu-peng dan Im-yang-siang-kiam serupa melihat hantu benar-benar, cepat mereka menahan gerakan memburu maju tadi dan tidak berani sembarangan menerjang lagi.

Air muka Khu-Bu-peng sebentar hijau sebentar pucat, katanya kemudian dengan menyengir, "Aha, aku kira siapa, kiranya Bok-tiau-bu-siang Yan-tai-hiap adanya ... "

Mendengar sama itu, terkesiap juga hati Su-Kiam-eng yang sembunyi di balik tebing sana, keluhnya, "Celaka! Rupanya ke dua setan iblis Kui-kok-ji-bu-siang juga ikut dalam perebutan harta karun ini."

Apa yang disebut Kui-kok-ji-bu-siang atau dua setan dari lembah hantu itu terdiri dari dua bersaudara, yang tua bernama Yau-It-lim berjuluk Bok-tiau-bu-siang si setan ukiran kayu, yang muda bernama To- Sin berjuluk Ni-kik-bu-siang si setan buatan lempung. Keduanya terhitung tokoh terkemuka kalangan hitam.

Perawakan keduanya juga berlainan, yang satu jangkung, yang lain pendek gemuk, usia mereka tampaknya belum ada 50-an, namun sebenarnya sudah lebih 80, keduanya sudah terkenal sejak lebih 50 tahun yang lalu.

Malahan nama buruk mereka juga melebihi Bong-to-jin, Tam-thau-to dan Hiau-su-sing bertiga, tapi lantaran mereka malas bergerak dan cuma gemar makan dan tidur, dalam setahun hanya satu kali saja meninggalkan sarang setan mereka untuk merampok sehari-hari cuma tiduran saja di sarangnya, maka mereka diberi julukan sebagai setan patung ukiran kayu dan buatan lempung.

Apalagi beberapa tahun terakhir ini mereka tidak lagi muncul di dunia kang-ouw, maka lambat-laun nama mereka pun dilupakan orang. Tak terduga malam ini mereka bisa muncul mendadak di sini, sungguh boleh dikata maha sial bagi It-ji-kiam Khu-Bu-peng bertiga.

Biasanya ke dua setan jangkung dan pendek itu selalu berada bersama ke mana pun pergi, maka begitu It-ji-kiam menyebut nama Yau-tai-hiap tadi segera dari sana berkumandang suara tertawa aneh terkekeh-kekeh, menyusul si setan buatan lempung To-Sin pun muncul dengan langkah yang mirip goyang sampan.

Perawakan To-Sin ini justru berlawanan dengan Yau-It-lim yang jangkung itu, tubuhnya pendek, paling- paling cuma satu meter saja, perutnya gendut mukanya gemuk penuh daging lebih dan berwarna hitam, mata besar dan mulut lebar, sungguh buruk sekali dan aneh.

Ia berdiri beberapa meter di belakang It-ji-kiam Khu-Bu-peng bertiga, mengambil posisi menggencet dari muka dan belakang bersama Yau-It-lim.

Dalam pada itu Bok-tiau-bu-siang Yau-it-lim yang berdiri diam dengan wajah dingin lagi berkata, "Khu- Bu-peng, kau mau bicara apa lagi?"

Meski Khu-Bu-peng sangat jeri terhadap ke dua hantu itu, namun penasaran juga baginya bila peta dirampas orang begitu saja. Dengan menyengir terpaksa ia menjawab, "Cara kalian bertindak ini terasa kurang bersahabat, dengan susah payah kami bersaudara baru berhasil mendapatkan peta ... "

"Tidak perlu omong kosong." potong si hantu buatan lempung To-Sin dengan tertawa aneh. "Ke dua pihak kita pada hakikatnya bukan sahabat segala, dengan sendirinya dapat bertindak secara kurang bersahabat."

Khu-Bu-peng merasa malu sehingga mukanya merah padam, dengan gemas ia balas mendengus, "Hm, jika demikian cara bicara To-cian-pwe, itu menandakan urusan ini tidak dapat diselesaikan secara damai?"

"Coba berikan penjelasan apa yang kau maksudkan diselesaikan secara damai?" tanya To-Sin dengan mengunjuk rasa tidak mengerti.

"Harta karun yang tiada pemiliknya, barang siapa ikut melihatnya mendapat bagian, " ucap It-ji-kiam Khu-Bu-peng. "Tegasnya kami bersedia bekerja sama dengan kalian untuk mencari kota emas itu, entah bagaimana pendapat kalian?"

"Tidak, " jawab To-Sin tegas. "Orang yang berukuran serupa dirimu saja sama sekali belum memenuhi syarat untuk bekerja sama dengan kami."

Yang-pian Bok-Tian berwatak berangasan, tentu saja ia tidak tahan oleh ucapan To-Sin, dengan murka ia membentak, "Baik, jika To-cian-pwe memandang hina kami, biarlah sekarang juga aku belajar kenal dengan kepandaianmu!"

"Seharusnya begitu, " ucap To-Sin dengan tertawa lucu. "Bila dapat mengalahkan kami berdua, peta tetap akan menjadi milik kalian."

Yang-pian Bok-Tian tidak banyak omong lagi mendadak ia melangkah maju, ruyung terus menyabet sambil membentak, "Terima serangan!"

Ia berjuluk Yang-pian, ruyung positif, ini menandakan dia mengutamakan kekerasan tenaga. Ternyata serangannya sekarang memang sangat kuat, sedikitnya bertenaga lima atau enam ratus kati.

Namun To-Sin tidak menangkis, juga tidak mengelak, serangan lawan dianggapnya seperti tidak ada, ia tetap berdiri tegak tanpa bergerak.

"Blang, " dengan tepat ruyung Bok-Tian mengenai pinggang lawan, tapi rasanya seperti mengenai gumpalan barang yang lunak, sama sekali To-Sin tidak bergeming, sebaliknya Bok-Tat tergetar oleh daya tolakan lawan sehingga terhuyung-huyung ke belakang.

Kejadian ini membuat Khu-Bu-peng terkejut cepat ia berseru "Berhenti dulu, Sam-su-te, dengarkan ucapanku!" Sebenarnya dengan nekat Bok-Tian hendak menyerang pula, dengan penasaran ia menoleh dan tanya "Ada petunjuk apa, Su-heng?"

Dengan prihatin Khu-Bu-peng berkata, "Yau dan To berdua cian-pwe tidak dapat kita tandingi, biarlah kita mengalah saja!"

"Kenapa Su-heng berkata demikian, " seru Bok-Tian dengan muka merah padam. "Manusia mengutamakan kehormatan, jika kita mengalah begini saja, apakah takkan dijadikan bahan tertawaan orang?"

"Tidak, " jawab Khu-Bu-peng tegas, "Yau dan To berdua cian-pwe bukanlah tokoh biasa, jika kita mengalah kepada mereka bukanlah sesuatu yang memalukan."

Yang-pian Bok-Tian juga menyadari kung-fu mereka bertiga masih selisih jauh dibandingkan kedua setan iblis itu, jika pertarungan diteruskan pihaknya pasti akan berakhir dengan terluka atau binasa. Terpaksa ia bertiga penasaran dan menjawab, "Baiklah, engkau adalah su-heng, terpaksa aku harus menurut!"

Khu-Bu-peng lantas memberi hormat kepada Ji-bu-siang, katanya, "Nah, kami menyadari bukan tandingan kedua cian-pwe, biarlah kami mengalah suka rela, semoga kedua cian-pwe selekasnya menemukan kota emas itu."

Habis berkata, ia simpan kembali pedangnya dan memberi tanda kepada Im-yang-siang-pian, lalu hendak tinggal pergi.

Mendadak Bok-tiau-bu-siang Yau-It-lim yang jangkung itu membentak, "Kembali sini!"

It-ji-kiam Khu-Bu-peng menyangka pihak lawan merasa terharu oleh sikapnya yang suka mengalah, maka sekarang mau memberi sedikit bagian padanya, maka dengan girang ia putar balik dan memberi hormat, tanyanya dengan tertawa "Yau-cian-pwe ada petunjuk apa?"

"Ingin aku tanya padamu, peta ini sudah melalui beberapa tangan sebelum ini?" tanya Yau-It-lim dengan kaku.

"Sudah empat kali berganti pemegang, " jawab Khu-Bu-peng dengan tersenyum. "Pertama dapat dibeli oleh Hu-kui-ong Liong-Ih-kong, kemudian dirampas Bu-lim-sam-koai, tidak sampai setengah hari direbut lagi oleh Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing dan sekarang peta itu jatuh di tangan Yau-cian-pwe."

"Jika begitu, tentunya kau pun tahu sekarang di sekitar sini masih bersembunyi tidak sedikit orang yang sedang mengincar peta ini." ucap Yau-It-lim.

"Betul. Tapi dengan kung-fu ke dua Cian-pwe yang sudah sempurna, siapa lagi yang berani merebut peta dengan ke dua Cian-pwe?" ujar Khu-Bu-peng.

"Walaupun betul begitu, tapi kalau mereka tidak coba-coba mungkin juga belum rela mengundurkan diri."

"Apakah ... apakah maksud Yau-cian-pwe menghendaki bantuan kami?" tanya Khu-Bu-peng dengan tertawa.

"Betul, ingin aku pinjam kepala kalian bertiga sekadar menyembelih ayam untuk menakuti kera, biar orang-orang itu tahu diri dan cepat enyah!"

Keruan Khu-Bu-peng terkejut, tanpa terasa ia menyurut mundur dua langkah, katanya dengan menyengir, "Ah, jangan bergurau, Yau-cian-pwe. Kami kan sudah rela mengalah, masakah belum cukup?!"

"Belum cukup, " Jengek Yau-It-lim. "Aku justru ingin membuat setiap orang yang mengincar peta ini supaya paham, barang siapa berani merecoki kami berdua, bagi mereka hanya ada satu jalan, yaitu jalan kematian."

Pucat pasi muka Khu-Bu-peng, sedapatnya ia menyengir dan berkata, "Dengan perkataan Yau-cian-pwe ini, apakah sengaja hendak bermusuhan dengan Kong-tong-pai kami?"

Ia menonjolkan nama Kong-tong-pai, maksudnya memperingatkan lawan agar jangan sembarangan bertindak, "kalau kami bertiga dibunuh, kelak segenap tokoh Kong-tong-pai pasti akan menuntut balas." Siapa tahu Bok-tiau-bu-siang Yau-It-lim justru tidak gentar sedikit pun, sebaliknya ia terbahak dengan suaranya yang serupa gembreng pecah, katanya, "Hahaha, jangan kau gunakan nama Kong-tong-pai untuk main gertak, hari ini sekalipun ketua Kong-tong-pai kalian datang sendiri di sini juga tetap kami bunuh tanpa ampun!"

Habis berkata, dengan muka masam ia terus melangkah ke depan.

Khu-Bu-peng menyadari urusan tidak dapat didamaikan lagi, cepat ia melolos pedang dan siap tempur dengan mati-matian.

Berbareng Im-yang-siang-pian juga membalik tubuh menghadapi Yau-It-lim dan bermaksud mengeroyoknya.

Tak terduga, pada saat pertarungan yang sengit segera meletus itu, tiba-tiba terdengar suara mendesir angin menggema di sekeliling situ. Dalam sekejap saja muncul sepuluh orang dan merubung dari empat penjuru.

Ke sepuluh orang itu terbagi menjadi tiga kelompok. Yang mendesak maju dari jurusan timur terdiri dari tiga orang kakek berbaju hijau, semuanya berpedang. Yang datang dari barat adalah tiga orang kakek barbaju biru, senjata mereka terdiri dari satu pedang dan dua golok.

Ada pun yang muncul dari hutan di lereng bukit sana adalah empat kakek berbaju hitam, senjata mereka terdiri dari pedang, seruling dan kipas. Wajah ke sepuluh kakek berbeda-beda, hanya ada satu persamaan, yaitu pelipis muka sama menonjol dan sinar mata sama mencorong terang jelas mereka bukan orang biasa.

Air muka Ji-bu-siang rada berubah juga demi melihat jelas kedatangan ke sepuluh kakek itu, Yau It-lim mengangkat alis dan mendengus, "Huh, bagus sekali! Tak terduga ke tiga ketua Hoa-san-pai, Tiam-jong- pai dan Thai-kek-bun juga memburu kemari dengan tokoh-tokoh perguruannya. Bagus, bagus sekali. hehehe ..."

Memang betul, ke sepuluh kakak yang muncul ini, tiga di antaranya adalah ketua Hoa-san-pai, Tiam- jong-pai dan Thai-kek-bun.

Ketua Hoa-san-pai bernama Oh-Lok-thian berjuluk "Poan-ti-lo-jin", si kakek setengah mengerti. Sedang ketua Tiam-jong-pai adalah Bu-si-soh Lau-Kong-liang, si kakek tanpa janggut.

Adapun ketua Thai-kek-bun bernama Teng-Go berjuluk Kian-kun-jiu, si tangan sakti.

Sekarang yang paling gembira dengan sendirinya ialah It-ji-kiam Khu-Bu-peng bertiga, sebab Kong-tong- pai ada hubungan erat dengan Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai dan Thai-kek-bun. Sekarang para kakek itu muncul pada saat pertarungan berlangsung, jelas itu menandakan para kakek itu ada maksud membantu mereka. Dan kalau 13 orang melawan Ji-bu-siang tentu saja kelebihan.

Benar juga, begitu selesai ucapan Bok-tiau-bu-siang Yau-It-lim tadi, segera ketua Hoa-san-pai, Poan-ti- lo-jin Oh-Lok-thian menanggapi, "Eh, ada apa? Memangnya kami tidak boleh datang kemari?"

Kakek ini berjuluk "Poan-ti" alias setengah mengerti, soalnya dia memang rada pikun, terhadap urusan apa pun selalu cuma setengah paham dan sedikit mengerti, namun dalam hal ilmu silat justru paling tinggi dalam perguruannya, sebab itulah ia diangkat sebagai ketua setelah ketua angkatan yang lalu terbunuh di Hwe-liong-kok.

Kembali Yau-It-lim terkekeh terhadap ucapan Oh-Lok-thian, dengusnya, "Boleh, tentu saja boleh datang. Cuma kami merasa heran, mengapa kalian Hoa-san-pai, Tiam-jong-pai dan Thai-kek-bun bisa bergabung menjadi satu?"

Dengan tertawa Poan-ti-lo-jin Oh-Lok-thian menjawab, "Masa kamu tidak paham? Bergabungnya ke tiga perguruan kami jelas akan mendapatkan peta pusaka, kalau tercerai berarti satu per satu akan kalian gempur hancur, sebab itulah kami perlu bergabung."

"Tetapi setelah peta dapat kalian rebut, lalu cara bagaimana akan kalian atur?" tanya Yau-It-lim dengan tertawa licik.

"Sangat sederhana sekali, " ujar Poan-ti-lo-jin. "Bila kota emas sudah kami temukan, akan kami bagi sama rata." "Yang aku maksudkan adalah setelah peta dapat kalian rebut, lalu siapa yang akan memegangnya?" "Mana suka! Siapa pun yang memegangnya tidak menjadi soal!"

Yau-It-lim sengaja mengeluarkan peta, katanya dengan tertawa, "Sebabnya kalian menunjuk pasti satu orang. Sebab sekaligus kalian datang sepuluh orang, perkelahian yang pasti kalah tidak nanti aku lakukan, maka hendak aku serahkan peta ini. Tapi entah kepada siapa harus aku serahkan?"

Terbeliak mata Poan-ti-lo-jin Oh-Lok-thian, dengan girang ia menjawab, "Boleh serahkan saja kepadaku. Biar aku yang menyimpannya, tanggung aman!"

Melihat wajah Poan-ti-lo-jin yang memperlihatkan mata rakus itu, ketua Tiam-jong-pai, si kakek tanpa janggut Lau-Kong-liang, merasa kuatir, cepat ia ikut bicara, "Tidak, siapa yang menyimpan peta itu perlu dirundingkan lebih dulu!"

Poan-ti-Lo-jin melengak, ia tanya Lau-Kong-liang, "Eh, masakah Lau-ciang-bun-jin sangsi terhadap diriku?"

"Bukan sangsi, " sahut Lau-Kong-liang dengan tertawa yang dibuat-buat, "Agar adil, aku kira peta itu tidak boleh dipegang satu orang saja ..."

"Tapi peta hanya ada satu, kalau tidak dipegang oleh satu orang saja, bagaimana caranya beberapa orang dapat memegang sehelai peta?" tanya Poan-ti-lo-jin.

"Ini soal mudah, " ujar Lau-Kong-liang, si kakek kelimis alias tanpa janggut, "Kita dapat menggunting peta itu menjadi empat potong, setiap perguruan kita memegang satu bagian."