Rahasia 180 Patung Emas Jilid 03

 
Jilid 03 

Lebih dulu Hu-kui-ong mengajak minum satu cawan, lalu bicara, "Paling akhir ini apakah Sim-heng pernah mendengar kabar bahwa murid pertama Kiam-ho-Lok-Cing-hui yang bernama Gak-Sik-lam menemukan sebuah kota emas purba di tengah hutan belukar di daerah selatan yang masih liar sana?"

Sai-hoa-to berlagak tertarik oleh cerita itu, serunya girang dan kejut, "Oya, pernah aku dengar kabar itu. Jangan-jangan Liong-heng telah menemukan Gak-Sik-lam?"

"Tidak, " Hu-kui-ong menggeleng dan tertawa "Cuma dapat aku beli sehelai peta."

"Hahh, siapakah yang menjual peta mestika itu kepadamu?" tanya Sai-hoa-to dengan melengak.

"Maaf, aku sudah berjanji pada kawan itu takkan membocorkan namanya, " jawab Hu-kui-ong.

"Mengapa sahabat itu mau menjual peta mestika itu kepada Liong-heng?" tanya Sai-hoa-to dengan terheran-heran.

"Alasan yang paling kuat adalah karena ia sendiri tidak sanggup mendatangi daerah liar sejauh ribuan li itu untuk mencari kota emas yang dimaksud, " tutur Hu-kui-ong, "Maka dia mengambil keputusan untuk menjual petanya. Tempo hari dia datang menemuiku dan tanya padaku berani bayar berapa. Aku jawab asalkan dijamin tidak palsu, aku berani bayar 100 tahil emas murni, tapi dia minta 500 tahil dan caranya menjamin adalah menggunakan pribadinya sebagai sandera, ia rela ditahan di tempatku ini sampai kota emas itu aku temukan berdasarkan petunjuk peta dan aku pandang pekerjaan sudah selesai. Maka tanpa sangsi lantas aku beli petanya."

"Sekarang dia berada di tempatmu ini?" tanya Sai-hoa-to. "Betul, aku kurung dia di suatu tempat yang sangat aman." "Dan bagaimana dengan peta itu?"

"Dengan sendirinya sudah berada padaku."

Sai-hoa-to berpikir sejenak, katanya kemudian, "Jadi maksud Liong-heng ingin bekerja sama denganku

... "

"Betul, " tukas Hu-kui-ong, "karena di tengah rimba raya di daerah selatan yang masih liar itu di mana- mana terdapat gas racun, sedangkan Sim-heng terkenal sebagai ahli gas racun, maka aku harap dapat bekerja sama denganmu."

Sai-hoa-to mengangguk, "Baik, lalu setelah menemukan kota emas, berapa banyak bagianku?" "Sim-heng mengharapkan berapa?" Hu-Kui-ong balas tanya.

"Aku minta sepertiga bagian kota emas itu, " ucap Sai-hoa-to.

Hu-kui-ong melonjak kaget, teriaknya dengan mendelik, "Busyet! Sepertiga bagian katamu? Wah, mengapa napsu makanmu sebesar itu?"

"Mestinya ingin aku minta setengah bagian, tapi mengingat peta itu dibeli olehmu, maka aku cuma minta sepertiga. Jika Liong-heng merasa keberatan, apa boleh buat, biarlah anggap tidak ada dan batal saja." Kening Hu-kui-ong berkerenyit, "Baiklah, memang sudah aku duga kamu ini pasti akan ... "

Sai-hoa-to terbahak-bahak, "Hahaha, janganlah Liong-heng bicara demikian, kalau aku tidak ikut dalam ekspedisi ini, betapapun Liong-heng tidak dapat menjelajahi rimba purba itu. Kalau aku cuma minta sepertiga bagian kan pantas dan adil?"

"Jika begitu, biarlah kita pastikan persekutuan ini, " kata Hu-kui-ong. "Dan bilakah kiranya Sim-heng siap berangkat?"

"Kalau Sim-lo-te tidak perlu membawa apa-apa, biarlah tengah malam nanti kita boleh berangkat, " kata Hu-kui-ong.

******

Dengan cepat sang waktu berlalu, sang surya terbenam dan tidak lama rembulan pun terbit. Akhirnya tengah malam pun tiba.

Di tanah lapang di depan Hu-kui-san-ceng saat itu menyala sebuah lentera, di bawah cahaya lampu terlihat di tanah lapang itu diparkir empat buah kereta kuda, di samping setiap kereta berdiri seorang centing dan beberapa langkah dari samping kereta berdiri pula satu baris terdiri dari tujuh orang bersenjata.

Usia ke tujuh orang itu rata-rata 50-60 tahun dengan wajah berlainan, namun sama berseragam pakaian hijau ringkas, senjata mereka terdiri dari pedang, golok, ruyung, tombak dan sebagainya. Semuanya bersinar mata tajam dengan pelipis menyembul, suatu tanda orang yang memiliki lwe-kang tinggi.

Saat ini juga Sai-hoa-to dan Hu-kui-ong muncul dari dalam perkampungan, di belakang Hu-kui-ong ikut seorang perempuan cantik dengan dandanan mewah beserta dua orang dayang cilik, keduanya membawa bungkusan kecil, tampaknya perempuan cantik itu seperti istri muda Hu-kui-ong dan bermaksud membawa si cantik dalam perjalanan.

Setiba di tanah lapang, Hu-kui-ong memandang sekeliling kepada ke tujuh kakek berbaju hijau, habis itu ia berpaling dan berkata terhadap Sai-hoa-to dengan tertawa, "Ke tujuh orang ini adalah jago pengawalku, pada masa lampau nama mereka pun cukup beken di dunia kang-ouw, biarlah aku perkenalkan mereka padamu."

Lalu ia mulai menuding dari sebelah kanan, "Ini Kui-kiam (pedang setan) Ko-Tong-leng!" "Ini Yau-to (golok siluman) Lu-Gi-sam!"

"Ini Coa-long-kun(si ular cakap) Kiong-Thian-eng!" "Ini Hek-sat-sin (si malaikat maut hitam) Giam-Hian!"

"Ini Thong thian pit (si potlot penembus langit) Ko-It-hui!" "Ini Thian-lui-ciang (si pukulan geledek) Tio-Ban-san!" "Dan Itu Hek-liong-ciau (si cakar naga hitam) Ting-Pia-sin!"

Satu per satu Sai-hoa-to menegur sapa dengan mereka, dalam hati terperanjat tak terkatakan, sebab ke tujuh nama dan julukan yang didengarnya sekarang memang terdiri dari jago kalangan hitam termashur masa lampau, semuanya manusia yang terkenal kejam dan buas, dan tokoh-tokoh yang namanya membuat rontok nyali orang ini sekarang justru menjadi jago pengawal Hu-kui-ong, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.

Sehabis memperkenalkan ke tujuh jagonya, lain Hu-kui-ong bertanya kepada Ko-Tong-leng, "Apakah semua orang siap?"

"Sudah siap seluruhnya, " jawab Kui-kiam Ko-Tong-leng dengan hormat.

"Baik, biar aku dan Hu-jin (nyonya) menumpang kereta pertama, Sim-sin-ih dan kalian bertujuh terbagi menjadi tiga kereta. Sekarang marilah berangkat"

Sesudah mengatur dan berada dalam kereta. Hu-kui-ong lantas memberi perintah berangkat kepada kusir keretanya, suara roda kereta lantas berdetak menggelinding ke depan, beriring-iring ke empat kereta itu meninggalkan Hu-kui-san-ceng.

Tengah malam buta dengan sendirinya sepi orang berlalu lalang, setelah kereta kuda meninggalkan jalan pegunungan, akhirnya melintas ke jalan raya terus menuju ke selatan. Di tengah jalan sama sekali belum menemui orang lain.

Sai-hoa-to dan Kui-kiam Ko-Tong-leng bersama dalam kereta kedua dan menyusul erat di belakang kereta pertama.

Tidak lama meninggalkan jalan pegunungan, tiba-tiba Ko-Tong-leng berkata lirih terhadap Sai-hoa-to, "Sim-heng boleh istirahat, aku perlu keluar sebentar."

Habis bicara, segera ia melompat keluar kereta dan lari masuk ke tengah hutan di tepi jalan.

Sai-hoa-to tersenyum, tanpa sungkan ia lantas berbaring di dalam kereta dan pejamkan mata untuk tidur sekadarnya.

Dia, orang yang kita sebut sebagai "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho" ini, dengan sendirinya dia adalah samaran Su-Kiam-eng.

Sekarang tidak sedih atau kuatir sedikit pun, sebab ia tahu bilamana ingin mencari peta mestika itu dari tubuh Hu-kui-ong jelas sangat sulit, maka sudah dibatalkan niatnya main curi, ia mengambil keputusan akan "bekerja sama" dengan Hu-kui-ong dalam kedudukannya sebagai Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho. Ia pikir "kerja sama" demikian dapat dilaksanakan sebab yang dituju Hu-kui-ong adalah kota emas sedang sasaran sendiri adalah Jian-lian-hok-leng apalagi harus masuk ke rimba purba di daerah yang masih biadab, kalau dapat menempuh perjalanan beramai tentu jauh lebih aman daripada pergi sendiri. Jadi prinsipnya sekarang asalkan Hu-kui-ong tidak mengetahui kepalsuannya, maka ia sendiri pun tidak mau sembarangan bertindak.

Karena pikirannya tidak ada sesuatu ganjalan maka begitu mata terpejam akhirnya ia benar-benar terpulas.

Tapi tidak lama tidur ia lantas terjaga bangun oleh sesuatu getaran, waktu membuka mata, dilihatnya Kui-kiam Ko-Tong-leng sudah berada lagi di dalam kereta dan duduk di sebelah segera ia bangun dan bertanya dengan tertawa, "Baru saja Ko-heng pergi ke mana?"

Dengan tersenyum Ko-Tong-leng menjawab, "Buang air sekalian melihat-lihat ... " "Adakah kelihatan dibuntuti orang, " tanya Kiam-eng pula.

Ko-Tong-leng mengangguk dengan tertawa, "Betul, sangat mungkin ada kawan dari segolongan sedang giat mencari dan menyelidiki Gak-Sik-lam dan peta mestika itu, maka kita harus waspada."

"Kawan yang menjual peta itu, sebelum menjualnya kepada Liong-heng apakah pernah menyuruh orang lain menjual kemari?" tanya Su-Kiam-eng.

"Dia bilang tidak. Cuma, apa pun kita hati-hati, " tutur Ko-Tong-leng.

"Sungguh aku tidak habis mengerti, " ucap Kiam-eng setelah termenung sejenak, "jika kawan itu memperoleh peta, mengapa dia tidak mencari sendiri kota emas itu menurut petunjuk peta, sebaliknya malah menjual peta kepada orang lain!"

"Tentang ini masa ceng-cu kami belum bercerita kepada Sim-heng?"

"Liong-ceng-cu mengatakan sahabatnya itu tidak sanggup pergi ke daerah liar yang jauh itu, tapi aku tidak paham, tidak sanggup yang dimaksudkan itu dalam hal apa?"

"Sim-heng sekarang sudah merupakan orang kita sendiri, biarlah aku beberkan sedikit keterangan ini. Kawan yang menjual peta itu adalah seorang yang buntung sebelah kaki."

"Oo, kiranya demikian. Apakah dia mahir kung-fu?" tanya Kiam-eng.

"Tidak hanya mahir, malahan tergolong seorang tokoh, cuma dia kehilangan sebelah kaki, untuk menempuh perjalanan yang jauh ke rimba purba di daerah yang masih belukar tentu tidak leluasa, makanya diputuskan menjual peta sekadar mendapat keuntungan." "Lima ratus tahil emas murni bukan lagi jumlah sekadar, " ujar Kiam-eng.

"Betul, tapi yang diperolehnya ini mungkin tidak ada satu per seribu dari nilai keseluruhan kota emas itu."

"Benar juga ucapanmu, " Kiam-eng mengangguk. "Dan cara bagaimana dia memperoleh peta mestika itu?"

"Hal ini dia tidak mau bercerita, " kata Ko-Tong-leng. "Yang jelas dia bersedia aku kurung di tempat kami sampai kota emas itu ditemukan, maka kesungguhan atau kejujurannya tidak perlu disangsikan."

"Dahulu pernah aku pergi ke Mo-pan-san tempat itu memang bukan tempat manusia, " tutur Kiam-eng. "Selain seluruh lereng gunung penuh gas racun, juga banyak binatang buas. Yang paling celaka adalah cuacanya yang tidak tetap, sebentar panas, lain saat dingin sangat sukar menyesuaikan diri."

"Kabarnya suku bangsa In di sana suka membunuh manusia, entah betul tidak?"

"Betul, cuma yang paling menakutkan bukan hal ini melainkan para kepala suku di sana yang pandai main tenung."

"Oo, lantas bagaimana baiknya?" seru Ko-Tong-leng dengan jeri, agaknya cukup luas juga pengalamannya, maka ia tahu betapa lihainya ilmu hitam itu.

Kita harus hati-hati, sebelum kita melintas daerah kekuasaan mereka, sebaiknya kita memberikan sedikit hadiah kepada kepala suku setempat.

"Urusan ini apakah pernah Sim-heng bicarakan dengan ceng-cu kami?" tanya Ko-Tong-leng.

"Sudah pernah aku singgung, " Kiam-eng mengangguk. "Maka Liong-ceng-cu sudah menyiapkan banyak hadiah ... Hei, terjadi apa?"

Kiranya sebelum habis bicaranya, mendadak kereta berhenti.

"Kasihan Tuan! Kasihani pengemis yang miskin dan sakit-sakitan ini, tidak mampu bekerja cari nafkah, mohon belas kasihan..."

Begitulah kereta berhenti, segera terdengar suara orang minta-minta yang mohon belas kasihan.

Air muka Ko-Tong-leng berubah, serentak ia pun melompat keluar kereta. Segera Su-Kiam-eng juga ikut melompat ke luar.

Terlihatlah di depan kereta pertama yang ditumpangi Hu-kui-ong Liong-Uh-kong itu terhalang oleh seorang pengemis tua yang berdiri di tengah jalan.

Usia pengemis tua itu antara 70 an, rambut kusut dan muka kotor, bajunya compang-camping penuh tambalan, tangan memegang tongkat bambu, mukanya jelek dan dekil, jelas bukan manusia baik-baik.

Pada saat itu Hu-kui-ong Liong-Uh-kong masih duduk senang di dalam keretanya dan tidak keluar, ketika mendengar Ko-Tong-leng memburu tiba, segera ia berseru. "Tong-leng, pengemis ini memang harus dikasihani, berilah sedikit uang perak dan dia pergi!"

Seorang pengemis menghadang di tengah jalan pada tengah malam buta dan minta sedekah, dengan sendirinya keadaan ini tidak bisa, sekali lihat saja setiap orang akan tahu berdatangan pengemis tua ini pasti mempunyai tujuan tertentu.

Dengan sendirinya Hu-kui-ong juga tahu munculnya pengemis itu tidak bermaksud baik, tapi ia tidak ingin mencari perkara, pendiriannya jika pihak lawan menghendaki uang, maka berikan saja.

Sudah tentu Ko-Tong-leng paham kehendak sang majikan, segera ia mengeluarkan sepotong uang perak seberat lima tahil dan dilemparkan kepada pengemis tua itu sambil membentak, "Ini, ambil!"

Pengemis itu menangkap uang perak yang dilemparkan padanya itu, dengan lagak yang dibuat-buat ia mengamati uang perak itu, lalu perak itu dibuangnya ke tanah sambil mendengus, "Hm, setengah malam an pengemis tua menunggu di sini tanpa tidur, akhirnya para tuan besar baru tiba, tak tersangka sedekah yang aku peroleh cuma lima tahil perak. Hehe, bukankah kalian sengaja hendak bergurau dengan pengemis tua?"

Sampai di sini Ko-Tong-leng pun tahu maksud kedatangan lawan, segera ia balas mengejek, "Siapakah nama sahabat yang terhormat?"

"Huh, macam apa pertanyaanmu ini?" jawab si pengemis dengan ketus. "Karena nasib malang aku terjerumus menjadi pengemis dan terpaksa minta-minta, tapi kau tanya namaku segala, memangnya sengaja kau hina kakek moyangku?"

"Jika begitu, ayolah bicara saja blak-blakan apa maksud kedatanganmu ini?" tanya Ko-Tong-leng.

Dengan angkuh si pengemis menjawab, "Sudah lama aku dengar kekayaan Hu-kui-ong yang tiada bandingannya, sekarang aku datang untuk minta sedekah."

"Bicara yang lebih jelas, " jengek Ko-Tong-leng.

Mendadak pengemis tua itu tertawa, katanya sambil menuding Ko-Tong-leng, "Serupa dirimu, pengemis juga ingin menjadi pegawai Hu-kui-ong."

"Bagus sekali, tapi untuk ini harus lulus ujian, " ujar Ko-Tong-leng.

"Boleh saja asalkan Liong-ceng-cu sudah menyatakan setuju, " ujar si pengemis.

Mendengar itu, Hu-kui-ong membuka tirai keretanya dan melongok keluar, ia pandang si pengemis tua beberapa kejap, tiba-tiba berseru, "Aha, kiranya Kai-pang-tiang-lo To-kau-seng-jiu, maaf, maaf, Ai, mengapa Ki-heng sengaja bergurau denganku?"

Kiranya pengemis tua ini memang betul salah seorang Tiang-lo atau sesepuh Kai-pang (organisasi pengemis), namanya Ki-Go dan berjuluk To-kau-seng-jiu atau si tangan sakti pejagal anjing.

Karena dirinya dikenali Hu-kui-ong, segera pengemis tua alias Ki-Go memberi hormat dan menjawab dengan tertawa, "Ah, mana aku berani bergurau dengan Liong-ceng-cu. Soalnya pengemis tua suka cari perkara sehingga saking marahnya bulan lalu aku diusir Pang-cu, sekarang pengemis tua serupa anjing yang tidak punya majikan, terpaksa mesti memohon pertolongan kepada Liong-ceng-cu."

Hu-kui-ong tahu urusan tidak mudah diselesaikan, segera ia turun dari keretanya, katanya dengan tersenyum, "Ai, Ki-heng sungguh pintar berkelakar. Padahal aku ini cuma seorang keroco dunia persilatan, mana sanggup menerima tokoh besar To-kau-seng-jiu seperti dirimu ini."

"Jika begitu, jadi Liong-ceng-cu memandang hina pada pengemis tua?" jengek To-kau-seng-jiu Ki-Go.

"Ah, mana aku berani, " sahut Hu-kui-ong dengan tertawa. "Bila Ki-hong kekurangan ongkos, mengingat sesama orang persilatan, tentu akan aku beri sekadarnya."

"Hahaha, biasanya pengemis tua berkelana kian kemari dan diberi makan di mana pun, untuk apa aku minta ongkos segala?"

"Lantas apa maksud kedatangan Ki-heng malam ini, harap katakan terus terang, " tanya Liong-ceng-cu.

"Sudah tahu kenapa Liong-ceng-cu tanya pula?" ujar Ki-Go. "Kedatanganku ini tidak lebih hanya ingin minta bagian secangkir minuman saja."

"Bagian secangkir minuman apa?" tanya Hu-kui-ong dengan tenang.

Ki-Go angkat pundak dan tertawa, katanya, "Ai, Liong-ceng-cu sungguh pandai berlagak pilon. Saat ini setiap orang persilatan tahu Liong-ceng-cu telah mendapatkan peta mestika, bila Liong-ceng-cu ingin mengangkanginya sendiri, wah, kan terlalu serakah namanya."

"Kabar ini Ki-heng dengar dari siapa?" tanya Hu-kui-ong dengan muka kecut.

"Hal ini tidak penting, yang jelas sudah banyak orang yang tahu, " jawab Ki-Go dengan tertawa. "Lantas, apa kehendak Ki-heng?" jengek Hu-kui-ong.

"Takaran makan pengemis tua tidak banyak, yang aku harapkan cukup bila Liong-ceng-cu mau mengakui satu bagian hak pengemis tua." "Hm, memangnya bagaimana kalau aku tolak?" jengek Hu-kui-ong.

Ki-Go mengangkat bahu, "Aku kira lebih baik Liong-ceng-cu pertimbangkan lagi lebih masak. Apabila Liong-ceng-cu bersedia memberi satu bagian padaku, dengan sendirinya pengemis tua akan membantu Liong-ceng-cu, kalau tidak, mungkin sukar bagi Liong-ceng-cu untuk lolos dari jarak seratus li di sekitar sini."

"Hahahaha!" Hu-kui-ong bergelak tertawa, "Sungguh usul yang baik, sungguh gagasan yang bagus! Tapi belum lagi aku ketahui apakah kemampuan To-kau-seng-jiu sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembantuku."

"Eh, apa barangkali Liong-ceng-cu ingin menguji pengemis tua?" tanya To-kau-seng-jiu Ki-Go dengan tertawa.

Mendadak Hu-kui-ong berhenti tertawa, jengeknya, "Betul. Tadi kau bilang ingin menjadi pembantuku, untuk itu perlu diuji."

"Baik, pengemis tua siap, " jawab Ki-Go dengan hormat.

Hu-kui-ong berpaling dan berkata kepada ke tujuh jagonya yang berdiri di belakang itu, "Ping-sin, coba maju dan belajar kenal beberapa jurus dengan Ki-tiang-lo!"

Hak-liong-jiau, si cakar naga hitam Ting-Ping-sin mengiakan, segera ia tampil ke depan, ia berdiri dua tiga meter di depan To-kau-seng-jiu Ki-Go, lalu berkata dengan normal, "Mohon pengajaran Ki-tiang-lo!"

"Jangan sungkan, " jawab Ki-Go sambil membalas hormat. "Pengemis tua yang menerima ujian, maka diharap kemurahan hati Ting-tai-hiap!"

Kendati di mulut ia bicara dengan santai, yang benar sedikit pun dia tidak berani ayal, matanya menatap tajam kedua telapak tangan Ting-Ping-sin, sebab pernah didengarnya ke dua telapak tangan si Cakar Naga Hitam itu lain daripada yang lain, kecuali lengannya yang lebih panjang daripada manusia umumnya, setiap kuku jarinya yang dipiara panjang lebih lima senti itu mengandung racun, barang siapa tercakar olehnya, jiwa segera melayang.

Sama halnya, Ting-Ping-sin juga tidak berani meremehkan lawannya, sebab ia pun pernah dengar ke 36 gerak permainan tongkat To-kau-seng-jiu yang disebut "Pak-kau-pang-hoat" (ilmu tongkat penggebuk anjing) juga sangat lihai.

Kedua pihak sama berhadapan dengan diam sejenak, tiba-tiba To-kau-seng-jiu menengadah dan tertawa. "Haha, bagaimana, pengemis tua yang akan diuji, masakah ..."

"Haiit!" mendadak Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin menerjang maju sambil membentak, telapak tangan kanan terpentang bagai cakar, secepat kilat ia cengkeram muka lawan.

Tak tahunya To-kau-seng-jiu justru sengaja memancingnya turun tangan lebih dulu, tapi ketika melihat serangan musuh sedemikian aneh dan cepat mau tak mau ia terperanjat juga, cepat ia menggeser ke samping, tongkat berputar, segera ia sodok perut lawan.

Ternyata sodokan tongkatnya cuma gerak pura-pura saja, selama ini dia suka menggunakan siasat tertentu, yaitu tidak menyerang secara sia-sia, ia pasti menunggu saat yang meyakinkan sekali serang berhasil baru mau melancarkan serangan maut, kalau tidak, biasanya ia hanya pura-pura menyerang saja untuk membingungkan lawan.

Dengan sendirinya Ting-Ping-sin kenal kebiasaan aneh pengemis tua itu, ia pun tahu meski serangan musuh cuma gerakan pura-pura saja, tapi bilamana dirinya ayal dan sudah siap menghindar atau bertindak tepat mematahkannya, tentu kesempatan tersebut akan digunakan pihak lawan untuk menyerang lebih lanjut.

Cuma sekarang timbul jalan pikirannya yang lain, ia merasa serangan tongkat lawan meski cukup lihat, tetapi bilamana tidak terkena bagian yang fatal, rasanya dirinya masih sanggup menahan sodokan itu dan berbareng juga mencakar pihak lawan. Ia yakin dengan cara "luka bersama" ini akan lebih menguntungkan dirinya, sebab asalkan kulit daging lawan terkena kuku cakarannya yang berbisa, maka pertarungan ini pun akan berakhir.

Sebab itulah, begitu timbul pikiran demikian serentak ia pun melaksanakan serangan berbahaya yang penuh risiko itu. Maka ketika sodokan tongkat To-kau-seng-jiu itu kelihatan cuma gerakan palsu, serentak ia menerjang maju kedua telapak tangan bergerak terus mencakar seraya tertawa aneh.

Dalam sekejap itulah terdengar suara "bret" dan "plok" dua kali, kalah menang pun terjadi. Baju dada To-kau-seng-jiu tercengkeram robek meski orangnya tetap berdiri di tempatnya.

Sebaliknya Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin terkena sodokan tongkat, tulang iga patah dua, tubuhnya pun terpental beberapa meter jauhnya.

Namun si Cakar Naga Hitam teramat senang, cepat ia merangkak bangun dan bergelak tertawa, katanya sambil menuding si pengemis tua, "Haha, roboh, robohlah!"

Namun si pengemis tua To-kau-seng-jiu tidak roboh, ia berbalik menanggapi dengan tertawa, roboh telur busuk nenekmu, untuk apa kau suruh pengemis tua roboh?!"

Ting-Ping-sin terkekeh senang, katanya dengan suara penuh semangat, "Hah, tampaknya kamu belum lagi menyadari, biar aku katakan padamu, dadamu indah terkena cakar naga hitam berbisa."

To-kau-seng-jiu coba menunduk dan memeriksa sekadar baju dadanya yang robek itu, lalu berucap dengan tertawa. "Memangnya lantas kenapa?"

"Kenapa? Huh, sudah hampir mampus belum lagi tahu, " jengek Ting-Ping-sin. "Cakarku yang berbisa ini bilamana merembes ke pembuluh darah, hari ini pada tahun depan adalah hari ulang tahun kematianmu si pengemis sialan ini."

"Hahaha, memang benar cakar naga hitam berbisa yang jahat ini dapat mematikan korbanmu bilamana racun sudah masuk darah, " sahut To-kau-seng-jiu dengan terbahak. "Tetapi, coba tanya kepada dirimu sendiri, apakah cakaranmu telah melukai si pengemis tua?"

"Kau bilang belum terluka, bukankah dadamu sudah robek?" seru Ting-Ping-sin seraya menunjuk baju dada si pengemis tua yang koyak itu.

"Hihihi!" To-kau-seng-jiu tertawa sembari menyingkap baju dadanya, "coba kau lihat sendiri."

Dengan sendirinya, serangan balasan hanya gerakan palsu belaka dan tidak menyerampang benar, sebaliknya Hu-kui-ong juga lantas menarik tongkatnya, lalu berubah menyabet kepala lawan.

Kedua orang sama-sama tokoh terkemuka dunia persilatan, kepandaiannya mereka pun seimbang maka pertarungan berlangsung hingga puluhan jurus tetap belum ketahuan unggul dan asor.

Hanya bajuku yang robek terkena cakaranmu, di bawah baju kan ada kulit tubuhku yang tidak lecet sedikit pun, sebab di sini masih ada lagi satu lapis kulit yang lain."

Betul juga, di bawah bajunya ternyata masih ada baju lain lagi, yaitu baju yang terbuat dari kulit binatang.

Melihat itu, sungguh tidak kepalang kaget, gusar dan juga malu Ting-Ping-sin, ia menjerit sekali dan roboh terjengkang, semaput seketika saking kekinya.

Sebenarnya luka Ting-Ping-sin sendiri cukup parah, sebab tulang iganya patah dua, sebabnya dia tidak seketika jatuh pingsan adalah lantaran terdorong oleh rasa gembira kemenangannya. Tapi ketika diketahui pihak lawan ternyata tidak terluka oleh cakarannya yang berbisa itu, seketika juga ia lemas seperti balon gembos dan jatuh semaput.

Hu-kui-ong juga tidak menyangka anak buah sendiri yang akan roboh lebih dulu, keruan ia menjadi murka, dengusnya sekali dan berkata kepada ke enam pengawalnya, "It-hui, angkat dia ke atas kereta!"

Thong-thian-pit Ko-It-hui mengiakan dan tampil ke muka, ia angkat Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin ke atas keretanya.

Hu-kui-ong sendiri lantas mendekati To-kau-seng-jiu, dengan wajah masam ia menjengek, "Hm, ternyata boleh juga pengemis tua, akan tetapi jika kamu ingin bekerja padaku, kamu masih perlu aku uji sendiri.

To-kau-seng-jiu mengangguk dan menjawab, "Boleh, cuma harus kita bicarakan di muka, bilamana beruntung pengemis tua yang menang, tatkala mana yang diminta pengemis tua tentu tidak cuma satu bagian saja."

"Tentu saja." ujar Hu-kui-ong tegas "Jika aku kalah, biarlah aku persembahkan peta pusaka kepadamu." "Bagus, sekarang silakan Liong-ceng-cu memberi petunjuk, " seru si pengemis tua.

Baru saja lenyap suaranya, serentak Hu-kui-ong sudah melancarkan serangan, sekali tongkat bergerak, langsung ia sodok dada pengemis tua To-kau-seng-jiu. Betapa cepat serangannya sungguh sukar dilukiskan.

To-kau-seng-jiu tidak berani ayal, sama cepatnya ia geser ke samping, berbareng tongkat penggebuk anjing balas menyerampang kaki Hu-kui-ong.

Begitulah tongkat dan pentung silih berganti saling serang dan menimbulkan suara gemuruh laksana angin badai.

Su-Kiam-eng dan ke enam jago pengawal asyik mengikuti pertarungan itu di samping, sudah tentu ia tidak pusing siapa di antara kedua orang itu yang akan keluar sebagai pemenang, sebab ia tahu biarpun To-kau-seng-jiu yang menang juga dirinya tidak bakalan ikut susah, bahkan dirinya takkan absen dalam perjalanan ke Kota Emas, maka posisi dirinya sekarang boleh dikata seteguh gunung, sedikit pun dia tidak perlu resah. Malahan dia berharap kedua orang itu sama-sama terluka atau boleh juga mampus seluruhnya. Atau biarkan To-kau-seng-jiu saja yang menang, sebab ia merasa Hu-kui-ong yang sudah kaya raya itu toh masih ingin berebut Kota Emas segala, sungguh terlalu serakah.

Pertarungan Hu-kui-ong dan To-kau-seng-jiu terus berlangsung hingga ratusan jurus dan tetap belum jelas siapa yang akan keok, lama-lama Kiam-eng merasa sebal, katanya terhadap Ko-Tong-leng, "Ko- heng, kau kira pertarungan ini ..."

"Jangan kuatir, " potong Ko-Tong-leng, "pasti Ceng-cu kami yang akan menang." "Dari mana kau tahu?" tanya Kiam-eng dengan tersenyum.

Tiba-tiba Ko-Tong-leng menahan suaranya dengan tertawa, "Biar aku katakan padamu, kung-fu andalan Ceng-cu kami sampai saat ini belum lagi dikeluarkan."

"Oo, dia mempunyai kung-fu andalan apa?" tanya Su-Kiam-eng.

"Sebentar lagi Su-heng akan tahu sendiri." sahut Ko-Tong-leng dengan menyengir.

"Jika benar ada kung-fu andalan Ceng-cu yang ampuh, mengapa tidak lekas dikeluarkannya?" ujar Kiam- eng dengan kening berkerenyit.

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar teriakan aneh To-kau-seng-jiu sambil tergetar mundur dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk.

Melihat si pengemis tua mendadak kalah, Kiam-eng terkejut dan heran, waktu ia memandang dengan cermat, ia menarik napas dingin, diam-diam ia membatin, "Busyet, kiranya inilah kung-fu andalan Hu- kui-ong"

Kiranya terlihatnya pada dahi To-kau-seng-jiu yang jatuh terduduk itu menancap sebatang jarum hitam.

Bahwa warna jarum itu, tidak perlu ditanya lagi tentu berbisa. Terlihat kening si pengemis tua yang terkena jarum itu mulai bersemu hitam, lambat laun pun menjalar hingga selebar mukanya. Dengan sendirinya To-kau-seng-jiu sendiri menyadari terkena jarum berbisa, tapi tenaga untuk mencabut jarum pun tidak punya lagi, ia hanya melotot dengan sorot mata yang buram, ucapnya dengan suara gemetar, "Jadi ... Jadi dalam batang tongkatmu itu tersembunyi jarum berbisa?"

Dengan sikap santai Hu-kui-ong mengangkat pundak, sahutnya dengan tersenyum senang, "Dalam bajumu boleh pakai baju kulit lagi, masa dalam tongkatku tidak boleh tersembunyi jarum berbisa?"

To-kau-seng-jiu tidak dapat bicara lagi, begitu kepalanya tergolek ke samping, kontan tubuhnya roboh dan putus napas.

Berulang Su-Kiam-eng menghela napas, pikirnya, "Manusia mati karena harta, burung mati karena pangan. Inilah orang ke empat yang binasa demi memperebutkan Kota Emas ..." Tampaknya membunuh orang bagi Hu-kui-ong merupakan pekerjaan rutin saja, sama sekali dia tidak memandang lagi terhadap mayat To-kau-seng-jiu, segera ia putar tubuh dan memberi tanda, "Ayo, semuanya naik kereta dan berangkat!"

Tetapi pada saat semua orang beramai-ramai hendak naik kembali kereta masing-masing, tiba-tiba seorang menyelinap keluar dari kegelapan di tepi jalan dan mendekati mayat To-kau-seng-jiu, ia berjongkok dan memeriksanya sekejap, lalu berlagak terkejut dan berteriak, "Haya, bukankah ini Kai- pang-tiang-lo To-kau-seng jiu Ki-Go? Astaga, siapakah yang membunuh Kai-pang-tiang-lo?*

Orang yang gembar-gembor ini bertubuh gemuk besar, berdandan sebagai padri, seorang Thau-to (hwesio berambut) setengah baya.

Melihat jelas siapa pendatang ini, air muka Hu-kui-ong rada berubah juga, malahan ke enam pengawalnya serentak berseru kaget, "Hah, Tam-thau-to!"

"Ya, dia Tam-thau-to, satu diantara Bu-lim-sam-koai!"

Nyata, Tam-thau-to atau si padri tamak yang muncul ini jauh lebih mengejutkan mereka daripada kemunculan To-kau-seng-jiu tadi.

Dan memang betul, baik mengenai ilmu silat maupun soal ketenaran, jelas To-kau-seng-jiu sukar menandingi Tam-thau-to yang terhitung satu di antara Bu-lim-sam-koai atau tiga orang kosen dunia persilatan ini.

Diam-diam Su-Kiam-eng juga terkesiap demi mendengar pendatang ini ialah Tam-thau-to. Soalnya dahulu pada waktu ilmu pedang yang dilatihnya baru mulai menanjak, pada saat itu juga Kiam-ho-Lok- Cing-hui lantas sering memberi petuah kepadanya.

Menurut cerita gurunya, tokoh-tokoh kalangan hitam jaman ini ada tiga orang yang sekali-kali jangan direcokinya. Ke tiga orang itu ialah Tam-thau-to, Bong-to-jin dan Hiau-su-sing, yakni si Thau-to tamak, si To-jin latah dan si Su-sing (sastrawan) cabul.

Ke tiga tokoh ini terhitung ke tiga manusia aneh dunia persilatan, ilmu silat mereka hampir setingkat. Menurut ajaran agama masing-masing seyogianya Thai-to yang beragama Budha itu pantang tamak, to- jin pantang latah, dan orang terpelajar pantang berbuat cabul. Namun tingkah laku mereka bertiga justru terbalik, yang satu berusaha mencari harta sebanyaknya dengan cara apa pun juga. Seorang lagi latah, sombong seakan-akan dunia ini aku kuasa. Dan yang ke tiga moralnya boleh dikata sudah bobrok, tiap malam harus main perempuan, baik secara halus maupun secara paksa, kalau perlu juga main bunuh.

Ke tiga orang itu juga saling berkomplot dengan akrab, barang siapa membuat sakit hati mereka, maka ke mana pun akan mereka buru, baru selesai bila mana lawan sudah terbunuh.

Sudah lama ada maksud guru Kiam-eng akan menumpas ke tiga jahanam dunia persilatan itu, cuma sejauh itu sukar menemukan mereka, maka cita-cita sang guru belum terkabul. Maka Kiam-eng diperingatkan sebelum ilmu pedangnya berhasil terlatih dengan sempurna, hendaknya Kiam-eng jangan sembarang bertindak bilamana kebetulan memergoki ke tiga tokoh jahanam tersebut.

Sebab itulah Su-Kiam-eng terkesiap dan rada tegang demi mendengar padri pendatang itu ialah Tam- thau-to.

Dalam pada itu karena teriakan ke enam pengawal Hu-kui-ong, lalu berlagak terkejut pula dan berteriak, "Aha, kiranya engkau Hu-kui-ong Liong-Ih-kong yang berada di sini. Mengapa engkau membunuh tetua Kai-pang ini?"

Hu-kui-ong mendengus dan menarik muka "Sudahlah, jika maksud kedatanganmu sudah aku ketahui, buat apalagi berlagak dan main sandiwara?"

"Ai, sungguh, siapa pun boleh dibunuh, hanya orang Kai-pang yang tidak boleh dibunuh, " ujar Tam- thau-to dengan menyesal. "Coba kau pikir, apabila Kai-pang Pang-cu It-sik-sin-kai (si pengemis sakti satu tikar) Ang-Pek-ko mengetahui kau bunuh Tiang-lo mereka, tentu dia akan mengerahkan segenap anggotanya untuk minta pertanggungan jawabmu. Jika terjadi begitu, nah, coba cara bagaimana kamu yang kaya raya ini dapat hidup dengan aman dan tentram?"

Ucapan ini pun ada benarnya. Kai-pang adalah organisasi terbesar di Tiong-goan, ilmu silat ketuanya, yaitu It-sik-sin-kai Ang-Pek-ko pasti tidak di bawah Hu-Kui-ong, malahan jago Kai-pang yang lain tak terhitung jumlahnya, bilamana mereka benar mengerahkan anggotanya untuk mencari perkara, betapapun Hu-kui-ong bukan tandingan Kai-pang.

Karena itu, ucapan Tam-thau-to tadi membuat air muka Hu-kui-ong berubah lagi, sekilas timbul hasrat membunuh, jengeknya, "Dengan ucapan Tai-su tadi, maksudmu hendak mengancam diriku?"

"O, tidak, tidak!" jawab Tam-thau-to sambil menggeleng. "Sama sekali tidak ada hubunganku dengan Ang-Pek-ko, hendaknya Liong-ceng-cu jangan kuatir."

"Jika begitu, jadi Tai-su takkan menyampaikan kejadian ini kepada Ang-pang-cu?" tanya Hu-kui-ong dengan tersenyum.

"Sudah tentu takkan aku beritahukan padanya, " kata Tam-thau-to dengan menggeleng. "Cuma ... cuma

... "

"Jelas Tai-su maksudkan imbalannya jika mesti merahasiakan urusan ini bagiku, begitu bukan?" tukas Hu-kui-ong.

"Aha, Liong-ceng-cu memang orang yang suka blak-blakan, maka aku pun tidak perlu main putar sana dan belok sini lagi, " ujar Tam-thau-to dengan tertawa. "Yang aku maksudkan adalah peta pusaka itu harus diserahkan padaku."

"Wah, betapa besar napsu makanmu, Tai-su bicara dengan perhitungan atau tidak?" tanya Hu-kui-ong dengan tertawa.

"Jangan terburu-buru, belum lagi habis ucapanku, " ujar Tam-thau-to dengan tersenyum. "Memangnya ada petunjuk apa lagi?" tanya Hu-kui-ong melengak.

"Yakni, selain peta pusaka, aku minta pula seluruh harta benda Liong-ceng-cu, " kata Tam-thau-to "Haha, hahahaha!" Hu-kui-ong terbahak-bahak keras "Orang bilang Tam-thau-to maha serakah, ternyata memang tidak omong kosong. Hahahaha..."

"Malahan harus ditambah lagi istri dan selir serta kawanan pelayananmu!" sambung Tam-thau-to dengan kalem.

Mendadak Hu-kui-ong ayun tongkatnya sambil membentak, "Biarlah tongkat ini pun aku berikan sekalian!"

Jarak ke dua orang ada beberapa meter jauhnya, betapapun tongkat Hu-kui-ong itu takkan mencapai sasarannya.

Namun Tam-thau-to tidak berani ayal, cepat ia meluncur ke samping, katanya dengan tertawa, "E-eh, jangan sungkan, tuanmu tidak doyan makan jarum!"

Rupanya yang diayunkan Hu-kui-ong itu bukanlah tongkat melainkan jarum berbisa.

Karena sergapannya gagal, segera Hu-kui-ong memberi tanda kepada ke enam jago pengawalnya sambil membentak, "Maju sekaligus, binasakan sampah agama Budha ini!"

Serentak ke enam orang mengiakan, Kui-kiam Ko-Tong-leng berenam segera menimbruk maju, dengan cepat Tam-thau-to terkepung di tengah.

Walaupun Tam-thau-to terhitung tokoh terkemuka kalangan hitam, jika dia disuruh satu lawan enam, betapapun akan lebih banyak mati daripada hidupnya. Namun sekarang Tam-thau-to sama sekali tidak terlihat gentar, ia hanya tertawa terkekeh sambil memandang ke enam orang yang mendesak maju selangkah demi selangkah itu, agaknya dia sudah siap menghadapi lawan dengan penuh keyakinan.

Gemerdep sinar mata Hu-kui-ong, tiba-tiba ia mendekati Su-Kiam-eng dan membisikinya, "Aku kira Bong-to-jin dan Hiau-su-sing itu pasti juga berada di sekitar sini, apakah sebentar Sim-heng dapat membantu padaku?"

"Sudah tentu, " jawab Kiam-eng dengan mengangguk. "Hendaknya Liong-ceng-cu jangan kuatir."

Meski Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho terkenal sebagai tabib sakti, namun kung-fu nya juga terhitung jago kelas satu. Setelah mendapat "jaminan" dan "Sim-Tiong-ho", dengan sendiri hati Hu-kui-ong merasa lega. Segera ia pun mendesak maju ke arah Tam-thau-to, maksudnya hendak mengerubut dan membinasakan padri itu sebelum ke dua kawannya muncul.

Akan tetapi Tam-thau-to tetap kelihatan tenang luar biasa, katanya dengan terkekeh, "Haha, apakah Liong-ceng-cu benar-benar hendak main-main denganku?"

"Betul, " bentak Hu-kui-ong mendadak sambil mengemplang dengan tongkat, "Terimalah tongkatku ini!"

Sekali dia mulai menyerang, serentak ke enam anak buahnya juga turun tangan, dalam sekejap terjadilah hujan senjata terhadap Tam-thau-to.

"Berhenti!" mendadak terdengar suara bentakan menggelegar menggoncang seluruh kalangan.

Hu-kui-ong terkesiap, cepat ia menarik kembali tongkatnya dan melompat mundur, tanpa diperintah ke enam anak buahnya serentak juga menyurut mundur dan sama memandang ke arah datangnya suara.

Segera pula mereka dapat melihat orang yang membentak itu. Dia seorang To-jin setengah umur berjubah terlukis pat-kwa, sikapnya gagah perkasa kepalanya besar dan matanya bulat, dia berdiri dengan tegak seperti malaikat di atap sebuah kereta dengan tangan kiri mencengkeram Hek-liong-jiau Ting-Ping-sin yang pingsan terluka itu.

Tidak perlu ditanya pun dapat diketahui bahwa to-jin ini adalah Bong-to-jin, salah seorang tokoh aneh dari pada Bu-lim-sam-koai.

Sejak mula Hu-kui-ong memang sudah menduga cepat atau lambat Bong-to-jin dan Hiau-su-sing pasti akan muncul, maka dia tidak merasa heran dan kejut, sebaliknya ia mendengus demi melihat Ting-Ping- sin tercengkeram di tangan lawan, katanya, "Huh, hebat juga Bong-to-jin, apakah hendak kau gunakan pesuruhku itu untuk mengancam padaku?"

"Ya. jika kau rasakan tidak cukup, di sini masih ada seorang cantik, " tukas seorang dengan suara yang tajam melengking sambil menerobos ke luar dari kolong kereta.

Orang ini berdandan sebagai orang terpelajar setengah baya, mukanya putih kurus, ketika menerobos ke luar dari dalam kereta, kedua tangannya memondong gundik kesayangan Hu-kui-ong yang molek itu.

Keruan air muka Hu-kui-ong berubah, bentuknya dengan mendelik, "Hiau-su-sing, berani kau ganggu selir kesayanganku?"

Hiau-su-sing tertawa terkekeh, "Hehe, biarpun selir kesayangan sri baginda sekarang juga pernah aku pakai, hanya seorang gundik Liong-Ih-kong saja terhitung apa?"

Pucat pasi muka Hu-kui-ong saking gemarnya teriaknya murka, "Bangsat cabul, apakah kalian cuma dapat memerasku dengan cara kotor begini?"

"Hah, jika kau minta main senjata tulen juga, boleh, " jengek Bong-to-jin. "Soalnya kami menimbang nama kebesaran Hu-kui-ong diperoleh secara tidak mudah, maka urusan ini hendaknya kau pikirkan dengan masak-masak."

"Betul, " sambung Hiau-su-sing, "asalkan kau mau menyerahkan peta itu, tentu kami takkan mempersulit dirimu. Nah, boleh kau pikirkan dengan baik."

"Jangan mimpi, " jawab Hu-kui-ong tegas. "Jika kalian menginginkan peta pusaka dariku, lebih dulu kalian harus melangkahi mayatku."

"Huh, dasar tua bangka yang tidak tahu diri." damprat Bong-to-jin dengan gusar. "Memangnya kau kira tidak dapat aku bunuh kamu?"

"Betul, jika berani ayolah turun kemari, " teriak Hu-kui-ong.

Bong-to-jin menuding si cantik yang berada dalam pelukan Hiau-su-sing, katanya, "Apakah dia pun tidak kau pikirkan lagi?"

"Tidak, silakan kalian turun tangan saja!" jawab Hu-kui-ong.

"Baik, jika begitu boleh kita selesaikan dengan cara kekerasan." seru Bong-to-jin dengan tergelak. Di tengah ucapannya itu secepat terbang ia melayang turun dari atap kereta, Ting-Ping-sin yang dipegangnya itu segera digunakan untuk menyerampang ke enam jago pengawal Hu-kui-ong.

Menyusul Hiau-su-sing juga melompat turun ia pun menggunakan gundik kesayangan Hu-kui-ong sebagai senjata, si molek yang dipegangnya juga disabetkan ke arah Hu-kui-ong.

Dengan cara demikian, mau-tak-mau semangat tempur Hu-kui-ong dan anak buahnya menjadi banyak terpengaruh.

Sekalipun Hu-kui-ong tidak memikirkan jiwa seorang gundiknya, namun manusia tetap manusia, sekarang lawan menggunakan gundik kesayangan nya sabagai senjata untuk menyerangnya, jika dia tidak balas menyerang, ini berarti dia harus terserang melulu. Bila balas menyerang, tentu gundik kesayangan itu yang akan menjadi korban.

Kematian gundik kesayangan oleh serangan sendiri dan mati dibunuh musuh tentu ada perbedaan besar, sebab itulah demi melihat Hiau-su-sing mencengkeram kedua kaki gundik kesayangan dan diserampangkan ke arahnya, seketika ia pun merasa bingung dan cepat melompat mundur.

Sama halnya keadaan ke enam jago pengawalnya, ketika melihat Bong-to-jin mencengkeram Ting-Ping- sin dan disabetkan ke arah mereka, dengan sendirinya mereka tidak sampai hati melukai kawan sendiri, beramai-ramai mereka pun melompat mundur.

Dengan demikian Bong-to-jin dan Hiau-su-sing menjadi seperti tidak mendapat perlawanan, Hu-kui-ong dan ke enam jago pengawalnya didesak hingga kalang kabut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Tam-thau-to untuk melancarkan serangan maut, dalam sekejap saja Giam-Hian dan Ko-It-hui yang sedang menghindar kian kemari itu berturut kena disergap Tam-thau-to dan sama roboh binasa.

Meski ke tujuh jago Hu-kui-ong itu terhitung jago kelas satu kalangan hitam, tapi bila dibandingkan Tam- thau-to, Bong-to-jin dan Hiau-su-sing jelas bedanya sangat jauh, apalagi Tam-thau-to menyerang dalam keadaan lawan lagi panik, dengan sendirinya anak buah Hu-kui-ong itu sukar terhindar dari maut.

Melihat dua jago pengawalnya gugur, maka Hu-kui-ong menjadi merah, segera ia berteriak murka. "Serang saja, tidak perlu ragu!"

Untuk memperlihatkan tekadnya akan menyerang tanpa kenal kasihan, mendadak ia angkat tongkat menghantam gundik kesayangan yang terpegang oleh Hiau-su-sing itu.

Jika Hu-kui-ong sudah kalap tanpa menghiraukan keselamatan gundik kesayangan sendiri, Hiau-su-sing berbalik merasa kasihan terhadap si cantik ketika tongkat Hu-kui-ong menyambar tiba, cepat ia menarik "senjata" dan dilemparkan ke samping, lalu ia keluarkan sebuah kipas lempit dan mulai menempur Hu- kui-ong dengan senjata andalannya ini.

Sisa ke empat jago pengawal Hu-kui-ong itu tetap mempunyai rasa setia kawan dan tidak tega melukai Ting-Ping-sin yang diperalat lawan sebagai senjata itu, maka mereka masih terus terdesak mundur oleh Bong-to-jin.

"Aduhh!" mendadak Lu-Gi-sam menjerit dan roboh menyusul kedua kawannya tadi.

Melihat keadaan tersebut Su-Kiam-eng tahu pihak Hu-kui-ong pasti akan kalah. Namun ia juga terharu oleh rasa setia kawan ke empat jago pengawal yang masih tersisa itu. Maka begitu Lu-Gi-sam juga dirobohkan, cepat ia berteriak, "Lekas kalian lari saja, apakah benar kalian juga ingin menjual nyawa bagi Liong-Ih-kong?"

Mendengar itu, seketika Ko-Tong-leng, Kiong-Thian-eng dan Tio-Ban-san juga menyadari tidak ada harganya menjual nyawa bagi Hu-kui-ong, tanpa berjanji serentak mereka melompat mundur dan segera kabur dengan cepat.

Mimpi pun Hu-hui-ong tidak menyangka "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho" bisa mendadak ganti haluan, melihat para anak buahnya sudah kabur hampir saja ia pingsan saking gemasnya, sembari menempur Hiau-su- sing dengan sengit ia pun mencaci meski, "Sim-Tiong-ho, kamu anjing keparat, dalam hal apa aku bersalah padamu? Mengapa kamu ..."

"Blang", mendadak pinggang tertonjok oleh kipas lempit Hiau-su-sing tubuhnya yang gemuk itu langsung terguling.

Namun tonjokan kipas Hiau-su-sing itu jelas tidak melukai lawan dengan parah, terbukti setelah roboh terguling segera Hu-kui-ong, menggelinding beberapa kali ke sana, lalu melompat bangun dan bermaksud kabur.

Tak terduga gerakan Hiau-su-sing bertiga juga tidak kurang cepatnya, serentak mereka melompat maju dan menghadang di depan Hu-kui-ong, berbareng mereka pun menyerang seperti sekali hantam ingin membinasakan lawan itu.

Dengan kung-fu Hu-kui-ong, untuk melawan salah satu di antaranya masih sanggup, tapi kalau Sam-koai mengerubutnya berbareng, baginya hanya ada jalan kematian belaka.

Pada detik yang menentukan itulah, sekonyong-konyong Hu-kui-ong angkat sebelah tangannya sambil berteriak, "Nanti dulu, dengarlah ucapanku!"

Serentak Hiau-su-sing bertiga berhenti menyerang.

"Hehe, dalam keadaan demikian, memangnya apa yang hendak kau katakan pula?" jengek Tam-thau-to dengan terkekeh.

Air muka Hu-kui-ong mengunjuk rasa gusar dan juga cemas, ia goyang-goyang tangannya dan berkata, "Coba kalian lihat, barang apakah ini!"

Rupanya dia memegang segulung kecil kertas.

Tergetar juga hati Sam-koai, dengan tegang Tam-thau-to bertanya. "Yang kau pegang apakah peta pusaka Kota Emas?"

"Betul, " jawab Hu-kui-ong seperti mendapat angin. "Asalkan kalian menyerang, lebih dulu peta ini akan aku hancurkan."

"Dan kau pun pasti akan mampus!" tukas Bong-to-jin dengan gusar.

"Hm, katakan saja, kalian menginginkan petaku ini atau menghendaki nyawaku?" jengek Hu-kui-ong. Cepat Tam-thau-to menjawab. "Sudah tentu kami menginginkan peta, untuk apa kami minta nyawamu?" "Jika begitu, bilamana aku serahkan peta ini dan ..."

"Segera kami memberi jalan hidup bagimu, " sambung Hiau-su-sing dengan tertawa. "Tidak, ucapan orang semacam Hiau-su-sing tidak dapat aku percaya!" kata Hu-kui-ong.

"Haha, lantas perkataan siapa yang dapat kau percaya?" tanya Hiau-su-sing dengan tertawa.

"Dia, " sahut Hu-kui-ong sambil menuding Bong-to-jin "Apakah yang dikatakan Bong-to-jin justru dapat aku percaya."

"Baik, asalkan kau serahkan petamu itu, aku jamin seujung rambutmu pun takkan kami ganggu, " ucap Bong-to-jin.

"Selain itu, ada lagi suatu syaratku, " tukas Hu-kui-ong.

"Coba katakan dulu, asalkan dapat aku lakukan lalu akan aku terima, " ujar Bong-to-jin.

Dengan mendelik Hu-kui-ong berucap sekata demi sekata, "Lebih dulu harus kalian bunuh Sai-hoa-to Sim-Tiong ho, lalu akan aku serahkan peta pusaka ini."

Tanpa pikir Bong-to-jin mengangguk, katanya, "Baik, apa susahnya membunuh dia, coba aku lihat!" Habis berucap, segera ia menubruk ke arah "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho".

Akan tetapi, baru saja bergerak, mendadak ia berhenti pula dengan melengong.

Kiranya ia tidak melihat lagi "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho", sebab entah sejak kapan Su-Kiam-eng sudah mengeluyur pergi.

Bong-to-jin berpaling dan bertanya kepada kedua kawannya dengan bingung, "Hai, ke mana perginya Sai-hoa-to itu?"

"Keparat, " Tam-thau-to mencaci maki. "Tentu pada waktu kita lengah dan diam-diam, dia merat!"

Mengetahui "Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho" telah kabur, sungguh gusar Hu-kui-ong tak terkatakan dengan melotot ia menyapu pandang sekeliling, mendadak ia menuding ke tempat gelap sebelah sana sambil membentak, "Lihat, itu dia!"

Sam-koai mengira betul dan sama menoleh, kesempatan itu segera digunakan Hu-kui-ong untuk melompat secepatnya dan terlepas dari kepungan Ke tiga lawan tangguh itu.

Ketika Sam-koai mengetahui tertipu sementara itu Hu-kui-ong sudah berada beberapa meter jauhnya.

Dengan kemampuan Hu-kui-ong, sekali dia lolos dari kepungan, tentu bukan pekerjaan mudah lagi bagi Sam-koai untuk menyusulnya. Sebab itulah mereka terkejut juga ketika mengetahui lawan sempat kabur.

Tentu saja mereka tidak rela menyaksikan orang lolos begitu saja, sambil membentak aneh ke tiga orang serentak mengejar secepatnya.

Akan tetapi pada saat mereka baru mulai bergerak, tahu-tahu Hu-kui-ong yang sudah berada beberapa meter di depan sana menjerit ngeri, lalu terlihat tangan kirinya terlepas dari tubuhnya, menyusul darah segar pun muncrat serupa air mancur.

Jelas kelihatan tangan kiri Hu-kui-ong yang sudah berpisah dengan tuannya itu masih menggenggam erat peta pusaka yang diperebutkan orang banyak itu.

Hu-kui-ong sendiri tidak putar balik untuk mengambil tangan kiri yang sudah terkutung dan peta pusaka yang masih tergenggam itu, setelah menjerit ngeri tadi segera ia melompat terlebih cepat ke sana dan menghilang dalam sekejap.

Menyusul dari kegelapan di tepi jalan lantas melayang keluar sesosok bayangan hitam. Pada tangan pendatang ini terhunus pedang, ia berjongkok, dengan tenang ia jemput tangan kutung yang ditinggalkan Hu-kui-ong, dipentangnya jari yang menggenggam erat itu dan diambilnya peta, lalu ia tetap berdiri tegak di situ, sama sekali tiada maksud hendak dan kabur.

Sam-koai bersuara heran dan saling mengedip lalu serentak merunduk ke depan, dengan cepat mereka kepung perampas peta itu di tengah.

Orang yang berhasil memapas kutung tangan kiri Hu-kui-ong ini ternyata bukan lain daripada Su-Kiam- eng yang menyamar sebagai Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho itu.

Melihat Sam-koai mengepung tiba, Kiam-eng melemparkan pedang yang dipegangnya, katanya dengan tertawa, "Jangan tegang, aku pikir antara kita sebenarnya dapat bekerja sama."

Melihat sikap lawan cukup ramah dan bersahabat, hal ini rada di luar dugaan Sam-koai, segera Tam- thau-to mendengus, "Sim-Tiong-ho, apa maksud ucapanmu, kami tidak paham."

"Hahaha, aku bilang kita dapat bekerja sama, memangnya apa yang sukar dipahami?" seru Kiam-eng dengan terbahak.

"Bekerja sama bagaimana?" tanya Tam-thau-to.

Kiam-eng mengacungkan peta yang dipegangnya dan berkata dengan tertawa, "Kita berempat dapat pergi mencari Kota Emas itu bersama, setelah berhasil, kita bagi sama rata."

"Ehm, saran bagus!" seru Hiau-su-sing dengan terkekeh. "Cuma peta pusaka itu kan berada padamu." "Menurut pendapatmu, supaya aman, siapa kiranya yang wajib menyimpan peta ini, " tanya Kiam-eng. "Sudah tentu lebih aman jika berada dalam penyimpanan kami, " tukas Hiau-su-sing.

"Bilamana aku serahkan peta ini, apakah kalian mau bekerja sama denganku?" tanya Su-Kiam-eng.

"Betul, " kata Hiau-su-sing. "Jika memang begitu maksudmu, asalkan peta kau serahkan, segera kami mengakui satu bagian hak kamu." Su-Kiam-eng di antara ke tiga tokoh aneh itu hanya Bong-to-jin saja yang dapat pegang janji, maka ia coba berpaling dan tanya Bong-to-jin, "Bagaimana menurut pendapat To-tiang?"

"Betul, aku jamin hak kamu, " Bong-to-jin mengangguk.

Segera Kiam-eng melemparkan peta kepada imam itu, katanya, "Baik, ambil!"

Bong-to-jin tangkap peta itu dan dibentangnya setelah membaca sekejap, wajahnya tampak berseri-seri, katanya "Peta ini sudah kau lihat belum?"

"Belum, " jawab Kiam-eng. "Si tua bangka she Liong itu terlalu kikir, ini pula alasanku bekerja sama dengan dia."

"Dan alasan apa pula yang membuatmu mau bekerja sama dengan kami?" tanya Bong-to-jin dengan tertawa.

"Soalnya saat ini orang yang mengincar Kota Emas itu terlampau banyak, " tutur Su-Kiam-eng. "Aku tahu kung-fu kalian bertiga sangat tinggi, hanya kalian saja yang mampu membuka jalan ke sana. Inilah alasannya mengapa aku mau bekerja sama dengan kalian."

Di dunia ini tidak ada orang yang tidak suka diumpak. Tentu saja Sam-koai sangat senang dipuji tinggi kung-fu nya. Dengan terbahak Bong-to-jin berkata, "Bagus, memang cuma Sai-hoa-to saja yang punya pandangan luas. Biarlah kami berjanji akan memberi satu bagian hak-mu. Cuma kami pun serupa Liong- Ih-kong, sebelum tiba di Kota Emas itu, betapapun kamu tidak boleh melihat peta ini."

"Mengapa tidak boleh?" tanya Kiam-eng dengan lagak kecewa dan kurang senang.

"Konon di tengah hutan belukar di daerah selatan banyak gas racun, sebabnya cuma tabib sakti serupa Sai-hoa-to dirimu saja yang tidak gentar terhadap gas racun, " kata Bong-to-jin. "Maka bila sekarang sampai kau baca peta ini, mungkin kami akan kau tinggalkan dan pergi sendiri ke sana."

"Ah, mana bisa begitu, " ujar Kiam-eng dengan menyengir. "Saat ini terlampau banyak orang yang mengincar kota emas itu, betapapun aku tidak dapat mencapai tempat tujuan itu dengan sendirian."

"Tapi bila kami memperlihatkan peta ini padamu, kan tetap dapat kau tinggalkan kami setiba di wilayah selatan sana, " ujar Bong-to-jin.

"Jika tetap begitu pendirianmu, biarlah aku tidak membaca peta itu, " kata Kiam-eng.

Bong-to-jin menyimpan peta pusaka itu dalam bajunya, lalu berucap dengan gembira, "Nah, bereslah urusannya. Sekarang kita mencari dulu suatu tempat untuk bermalam."

Hiau-su-sing lantas mengangkat gundik kesayangan Liong-Ih-kong tadi, ucapnya dengan tertawa tak sabar, "Siapa namamu sayangku?"

Meski hiat-to kelumpuhan si cantik tertutuk, namun mulutnya dapat bicara, dengan malu-malu ia menjawab, "Hamba bernama Tio Hui-yan."

"Hah, kamu bernama Tio-Hui-yan?" Hiau-su-sing menegas.

Tampaknya si cantik juga bukan perempuan baik-baik, mungkin juga sudah berpengalaman di dunia hiburan, ia melempar lirikan menggiurkan terhadap Hiau-su-sing, lalu menjawab dengan tertawa malu, "Menurut Liong-ceng-cu, katanya tubuh hamba seringan burung walet(yan), seperti hendak terbang (hui) terbawa angin, maka beliau memberikan nama Hui-yan padaku. Toa-ya suka memanggil nama apa terhadap hamba, boleh silakan panggil saja dan hamba pasti menurut saja."

Hiau-su-sing sangat gembira, katanya dengan terbahak, "Haha, bagus sekali! Sebenarnya siapa namamu semula?"

"Asalnya hamba bernama Toh-Jiu-hong!" tutur si cantik.

Hiau-su-sing melengak "Toh-Jiu-hong? Namamu ini seperti bukan nama yang pantas bagi anak gadis keluarga baik-baik."

"Ya, hamba memang orang Bi-hiang-lau (rumah hiburan) di kota Tiang-an, " tutur Toh-Jiu-hong dengan tertawa.

"Aha, betul, aku ingat, " seru Hiau-su-sing dengan girang. "Kamu memang bunga hiburan kenal di Tiang- an. Haha, sejak kapan kamu ambil oleh Liong-Ih-kong?"

"Musim semi tahun yang lalu, dengan tiga ribu tahil perak hamba ditebus oleh Liong-Ih-kong sejak itu hamba lantas ikut dia."

"O, kiranya begitu. Biar aku katakan padamu, si tua bangka Liong-Ih-kong selain banyak uangnya, dalam hal lain dia boleh dikatakan tidak sanggup. Maka mulai sekarang juga bolehlah kau ikut padaku saja."

"Boleh saja, cuma hamba kuatir, setelah beberapa hari lagi, bisa jadi Toa-ya akan merasa bosan dan meninggalkan diriku."

Hiau-su-sing menggeleng kepala dan berkata, "Tidak, pasti tidak. Aku Liu-Hui bukanlah manusia yang suka pada yang baru dan bosan pada yang lama."

"Baguslah jika begitu, selanjutnya biarlah hamba ikut Liu-toa-ya, " kata Toh-Jiu-hong.

Tak tertahan rasa gembira Hiau-su-sing, tanpa sungkan ia kecup pipi si cantik, lalu mata terpejam menarik napas dalam-dalam, nikmatnya serupa ikan mendapat air.

Kening Bong-to-jin berkerenyit melihat kelakuan kawannya itu, omelnya, "Lo-sam (saudara ke tiga) tahan sedikit dong!"

"Oya, betul, " seru Hiau-su-sing cepat. "Kita memang perlu mencari dulu suatu tempat bermalam."

Bong-to-jin lantas memberi tanda kepada "Sai-hoa-to" dan segera mendahului berlari ke arah barat daya. Su-Kiam-eng dan Tam-thau-to menyusul kencang di belakangnya. Hiau-su-sing memondong Toh- Jiu-hong mengikut paling akhir, dengan enteng dan cepat ke empat orang terus berlari ke barat-selatan.

Hanya sekejap saja sudah lebih 20 li dilalui mereka, ketika mendaki sebuah tanjakan bukit, tiba-tiba Bong-to-jin yang di depan meninggalkan jalan umum dan membelok ke atas bukit. Lalu berbaring di lereng bukit yang dapat mengintai ke bawah.

Tam-thau-to dan lain-lain ikut berbaring di situ.

"Memangnya ada sesuatu yang tidak beres?" Su-Kiam-eng berlagak tidak mengerti.

"Ssst, tidak apa-apa, " desis Bong-to-jin dengan suara tertahan. "Hanya untuk berjaga-jaga saja kalau dikuntit orang."

Ke empat orang berbaring dengan diam dan coba mengintai sejenak di atas bukit, ternyata tiada terdapat penguntit, sebaliknya menemukan di kejauhan di atas bukit sana ada setitik cahaya lampu. Mereka tahu mungkin tempat sebangsa kelenteng atau rumah berhala lain. Segera mereka berangkat menuju ke arah cahaya lampu itu.

Tapi setelah menempuh beberapa ratus meter jauhnya, sesudah dekat baru diketahui cahaya itu bukan sinar lampu, juga tidak ada kelenteng dan sebagainya melainkan ada orang menyalakan api unggun di tengah hutan sana.

Mereka merasa heran, di tengah musim panas, tengah malam buta pula, mengapa ada orang membuat api unggun di tengah hutan?

Merasa ada sesuatu yang ganjil, Sam-koai tidak mau maju lebih dekat lagi, mereka berhenti di pinggir hutan ke tiga nya saling memberi isyarat Bong-to-jin lantas putar balik ke sana dan sengaja mencaci maki. "Keparat, aku kira ada kelenteng di sini, siapa tahu cuma segundukan api, ayolah pergi!"

Tam-thau-to, Hiau-su-sing dan Su-Kiam-eng segera ikut putar balik tapi baru saja mereka hendak melangkah, tiba-tiba dari dalam hutan bergema suara tertawa aneh yang menggetar sukma, "Hehehehe, seratus kali mendengar tidak lebih baik daripada satu kali lihat. Tak tersangka Bong-to-jin yang termashur juga kabur ketakutan oleh segundukan api unggun."

Dari suaranya dapat diperkirakan orang itu tentu seorang perempuan setengah tua.

Air muka Bong-to-jin rada berubah, cepat ia putar balik lagi dan tertawa, "Haha bagus sekali entah nona tua siapa yang sedang menanti kedatanganku di tengah hutan?"

Kembali perempuan dalam hutan itu terkekeh dan berkata, "Jika ingin tahu siapa nyonya besar, boleh silakan masuk kemari tentu segera akan tahu!"

Bong-to-jin memang seorang tinggi hati dan tidak mau kalah, tentu saja dia tidak ingin dipandang sebagai penakut, dengan bersitegang leher segera ia melangkah ke tengah hutan dan berdiri tegak di depan api unggun, bentaknya, "Ini tuanmu sudah berada di sini, silakan tampil saja!"

Seorang perempuan setengah baya berbaju hitam dengan mata cekung tampak muncul dari balik pohon serupa badan halus saja, ucapnya dengan tertawa. "Dan masih ada lagi tiga orang mengapa tidak masuk sekalian?"

"Ini dia datang!" di tengah seruan ramai itu Tam-thau-to, Su-Kiam-eng dan Hiau-su-sing yang memondong Toh-Jiu-hong itu pun menyelinap masuk ke dalam hutan.

Begitu melihat jelas si perempuan baju hitam, tanpa terasa Hiau-su-sing lantas berteriak, "Aha, Leng- toa-ci adanya!"

"Kau bilang dia siapa, Lo-sam?" tanya Bong-to-jin kepada kawannya dengan bingung.

Seperti orang sakit kepala, Hiau-su-sing berkerut kening, jawabnya dengan menyengir, "Inilah 'Li-hun- nio-nio Leng-Jing-jing' yang sering aku ceritakan kepada Toa-ko itu."

Bong-to-jin dan Tam-thau-to sama terkesiap demi mendengar siapa perempuan baju hitam ini, hati Su- Kiam-eng juga tergetar, pikirnya, "Bagus sekali kedatangannya. Apakah Toa-su-heng diculik oleh dia atau bukan mungkin sebentar pun dapat diketahui."

Ia menyangsikan su-heng jatuh dalam cengkeraman Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing ini tentunya berdasarkan keterangan Sai-hoa-to Sim-Tiong-ho tempo hari. Jika di dunia persilatan sekarang hanya Li- hun-nio-nio dan Sam-bi-sin-ong saja bisa menggunakan granat tabir asap, maka Leng-Jing-jing tentunya tidak terlepas dari prasangka.

Apalagi kemunculannya sekarang ini tidak perlu ditanyakan lagi pasti juga ingin berebut peta pusaka, ini pun tidak dapat membuktikan bukan dia yang menculik Gak-Sik-lam, sebab kalau su-heng nya sampai mati pun tidak mau menerangkan di mana letak kota emas itu terpaksa Leng-Jing-jing harus ganti sasaran dan berusaha merebut peta pusaka.

Karena itulah kemunculan Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing yang namanya saja cukup merontokkan nyali orang, tentu saja membuat Sam-koai merasa tidak tentram, sebaliknya membangkitkan semangat Su- Kiam-eng.

Terlihat kedua mata Li-hun-nio-nio yang buram itu berkedip-kedip, dengan tertawa renyah ia berkata, "Nah, sekarang kalian tentu paham maksud tujuanku mengundang kalian ke sini, bukan?"

"Tidak, tidak paham, " Bong-to-jin sengaja berlagak pilon.

Li-hun-nio-nio tertawa, ia berpaling dan tanya Hiau-su-sing, "Apakah kau pun tidak paham, Liu-Hui?"

"Ya, aku pun tidak paham, entah ada petunjuk apa Leng-to-cu sengaja memancing kami ke sini?" jawab Hiau-su-sing dengan menyengir.

Li-hun-nio-nio mendengus, "Hm, baiklah, jika kalian benar tidak paham biarlah aku katakan terus terang maksud nyonya besar mengundang kalian ke sini ialah ingin minta sedekah peta pusaka itu kepada kalian."

"Hah, sungguh lucu!" seru Bong-to-jin dengan tergelak. "Aku lah yang biasanya minta cermat kepada orang, siapa tahu sekarang berbalik ada orang minta sedekah padaku."

"Ini bukan letusan, " jengek Li-hun-nio-nio. "Kau tahu penghuni Li-hun-to kami berjumlah lebih seribu orang perempuan cacat, mereka tidak dapat mencari nafkah, tapi sehari-hari harus makan. Kalian bertiga adalah manusia yang utuh dan sehat, tentunya lebih mudah mencari makan, maka nyonya besar sengaja minta derma kepada kalian, ini kan masuk akal!"

"Dan bila kami tidak mati memberi sedekah lantas bagaimana?" jawab Bong-to-jin dengan tertawa. "Ini menandakan kalian tidak punya rasa simpati, " ucap Leng-Jing-jing dengan dingin. "Dan kau tahu terhadap manusia yang tidak punya rata simpatik, biasanya ada caraku sendiri untuk menghadapinya."

"Bagus, memang juga sudah lama aku dengar nama kebesaran Li-hun-nio-nio, syukur malam ini dapat bertemu tanpa terduga, kebetulan dapat aku minta petunjuk padamu, " ucap Bong-to-jin.

"Betul, " tukas Tam-thau-to dengan terkekeh. "Kabarnya granat tabir asap Leng-to-cu sangat lihai, karena belum pernah lihat, maka aku tidak mau percaya. Sekarang inilah kesempatan baik untuk mengujinya."

"Hm, granat tabir asap nyonyamu dengan sendirinya sulit untuk mengurung ke tiga tokoh kosen semacam kalian ini." jengek Leng-Jing-jing. Tapi malam ini nyonya besar justru mempunyai jimat lain untuk menaklukkan kalian sehingga tumbuh sayap pun kalian tidak dapat kabur!"

"Haha, bagus!" Bong-to-jin tertawa keras. "Nah, jangan cuma omong kosong belaka, lekas pertunjukkan jimat andalanmu itu!"

Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing menunjuki sekelilingnya dan berucap, "Coba kalian lihat, aku kira jimat yang aku maksudkan sekarang pun sudah aku keluarkan."

Serentak Sam-koai dan Su-Kiam-eng berpaling dan memandang sekitarnya, terlihatlah di sekeliling bawah bukit sana api mulai berkobar. Rupanya diam-diam Leng-Jing-jing telah memerintahkan anak buahnya menyalakan api sehingga seluruh lereng bukit itu terkurung oleh api.

Sama sekali Sam-koai dan Kiam-eng tidak menyangka akan tindakan Leng-Jing-jing ini, keruan mereka terperanjat.

Dengan gusar Bong-to-jin menuding Li-hun-nio-nio dan membentak, "Perempuan keparat, dengan caramu ini, apakah kau sendiri dapat kabur dengan selamat?"

"Jangan tegang, " ujar Leng-Jing-jing dengan terkekeh-kekeh. "Api itu takkan menjalar ke atas bukit. Lantaran ke dua mata nyonya besar kehilangan penglihatan sehingga tidak sanggup mengejar dan menangkap musuh, maka sengaja aku gunakan api untuk mengurung kalian di sini. Ini namanya tutup pintu untuk menangkap maling. Kalian paham tidak?"

Seketika timbul hasrat membunuh Bong-to-jin, tanyanya dengan menyeringai, "Memangnya kau kira dengan cara begini akan dapat merampas peta yang aku pegang ini?"

"Tentu saja, " Leng-Jing-jing mengangguk tertawa. "Jika malingnya sudah terkurung dalam rumah, mustahil tidak dapat ditangkap?"

Mendadak Bong-to-jin memanjang maju, sebelah tangan terus menebas muka perempuan buta itu sambil membentak, "Baik, boleh kita coba-coba dulu!"

"Blang", tiba-tiba terdengar suara letusan dan bergema tepat di depan Li-hun-nio-nio, dalam sekejap dari atas tanah lantas timbul asap tebal sehingga bayangan tubuh perempuan buta itu teraling-aling dengan ketat.

Inilah tanda pengenal Li-hun-nio-nio Leng-Jing-jing. Setiap kali dia bergebrak dengan orang tentu dia meledakkan dulu granat tabir asap agar lawan juga main raba dalam kegelapan seperti dia. Dengan demikian baru dia anggap adil. Padahal, yang menarik keuntungan dengan sendirinya adalah dia.

Ketika tebasan tangan Bong-to-jin dilontarkan dan mendadak merasa pihak lawan sudah tidak berada di tempat semula, tentu saja ia terkejut dan cepat menarik kembali serangannya serta menyurut mundur.

"Blang-blang-blang!" dalam sekejap terdengar empat kali suara letusan granat tabir asap seketika seluruh bukit tertutup oleh asap tebal dan gelap.

"Lo-toa, engkau tidak apa apa bukan?" tanya Tam-thau-to dalam kegelapan. "Tidak apa apa, " jawab Bong-to-jin.

"Jangan bersuara, " seru Hiau-su-sing, "Jika bersuara tentu akan di ... aduhh!" Keruan Bong-to-jin terkejut, cepat ia tanya. "Hei, Lo-sam, kenapa?" Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar angin keras menyambar tiba dari sebelah kiri. Biarpun tinggi ilmu silatnya, namun tidak biasa bertempur dalam kegelapan. Cepat ia menangkis dengan suatu pukulan keras sembari menggeser ke samping kanan.

Tak terduga kepandaian Leng-Jing-jing mendengarkan suara angin untuk menentukan posisi lawan memang lebih mahir daripada orang lain. Baru saja Bong-to-jin berdiri tegak, tahu-tahu perempuan buta itu sudah memburu tiba pula dan hendak mencengkeramnya.

Dalam kegelapan asap tebal Bong-to-jin hanya tahu lawan sedang menyerang, tapi tidak jelas bagian mana yang diarah. Ia tidak berani sembarangan menangkis, terpaksa ia menyurut mundur lagi. Siapa tahu, baru dua-tiga langkah, mendadak punggungnya menumbuk sebatang pohon.

Untung tidak keras benturan itu, cepat ia berputar ke belakang pohon dan berjongkok di situ serta tidak berani sembarang bergerak lagi.

Terdengar Li-hun-nio-nio tertawa terkekeh dekat di depannya sembari berkata, "Hei, Bong-to-jin di manakah engkau?"

Bong-to-jin diam saja, bernapas keras pun tidak berani.

"Hihi, bagaimana kamu ini?!" Leng-Jing-jing terkekeh geli. "Kabarnya kamu Bong-to-jin ini seorang tokoh yang latah dan tinggi hati, mengapa malam ini kamu berbuat seperti kura-kura yang suka menyembunyikan kepala?"

Saking gemasnya Bong-to-jin mencaci maki "Perempuan keparat, jika berani jangan pakai ..."

"Blang", belum habis ucapannya, sekonyong-konyong suatu arus tenaga pukulan menghantam batang pohon tempat sembunyinya itu sehingga pohon itu bergetar hebat.